Perjanjian lama 2


 Membangun kembali kota itu.

Ketika  pada akhirnya ia  pergi  ke Yerusalem, ia  bertugas  sebagai  gubernur  sipil  dengan

kuasa dari raja Persia.

ESTER

“Allah mengatur di belakang layar”

RINGKASAN CERITA

Ester, anak angkat pamannya, Mordekhai dijadikan ratu oleh Raja Persia Xerxes, yang juga

dikenal  dengan  nama  raja  Ahasyweros.  Perdana  menterinya,  Haman,  membenci  orang

Yahudi dan bersekongkol untuk melenyapkan mereka. Sasaran utamanya ialah Mordekhai.

Ester  dengan kepintarannya membuat raja mengalihkan  keputusannya terhadap bangsa

Yahudi, dan Haman akhirnya digantung. Mordekhai kemudian diberi kekuasaan dan bangsa

Yahudi memperingati peristiwa itu dengan perayaan.

TEMPAT KEJADIAN

Kisah ini terjadi di ibu kota Persia, Susan, pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros yang

memerintah pada tahun 486-465 S.M.

TUJUAN KITAB ESTER

Ada tiga alasan mengapa kitab ini ditulis:

1. Alasan yang paling utama ialah untuk menerangkan kepada bangsa Yahudi mengenai

asal mula Perayaan Purim yang mereka rayakan antara tanggal 13 dan 15 bulan Adar

(Februari-Maret). Lihat Ester 9:20-32 dan Est 3:7.

2. Alasan lain yang jelas mengapa kitab itu ditulis ialah untuk memperingatkan umat

terhadap  anti-Semitisme.  Bangsa  Yahudi  adalah  umat  Allah  yang  istimewa,  yang

menduduki tempat yang unik dalam sejarah dan memiliki  kuasa untuk bertahan

melawan  segala  yang  jahat.  Ester  merupakan  salah  satu  episoda  sejarah  yang

menarik.

3. Kitab  ini  juga  memperlihatkan  kuasa  Allah  untuk  mengendalikan  peristiwa  dan

memelihara umat-Nya, bahkan pada saat segala sesuatu tampaknya tak bersahabat

dengan mereka.

CIRI-CIRI ISTIMEWA

1. Kitab  ini  tidak  pernah  sekali  pun  menyebut-nyebut  Allah,  namun  kehadiran-Nya

terasa di mana-mana.

2. Kitab ini menggambarkan istana Persia dan adat-istiadatnya secara mendetail.

3. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab dalam Alkitab yang judulnya diambil

dari nama wanita.

4. Banyak orang meragukan nilai kitab ini, sebab  nasionalisme Yahudinya yang sangat

kuat dan kurangnya acuan kepada Allah. Namun kisah dan pesan yang disampaikan

tidak boleh diabaikan.

AYUB

“Mengapa orang tak berdosa harus menderita”

ORANG-ORANG ISRAEL YANG BIJAKSANA

Selain oleh para nabi  dan imam, umat Allah juga dilayani  oleh sekelompok orang yang

dinamakan "Orang-orang berhikmat". Mereka ini adalah para pembimbing dan penasihat

yang menghabiskan waktu mereka untuk memutuskan cara-cara yang paling bijaksana dan

paling benar untuk menjalani kehidupan dan menjalankan pemerintahan. Hasil penelitian

mereka selalu diterapkan dalam kehidupan nyata. Kita mengetahui hal ini dari kitab-kitab

mereka  yang  biasanya  disebut  "Kitab  Hikmat"  (Ayub,  Amsal,  Pengkhotbah,  ditambah

beberapa Mazmur). Kadangkala mereka memberikan nasihat mereka dalam bentuk pepatah

yang singkat dan jelas atau "amsal". Selain itu mereka juga berbicara mengenai masalah-

masalah besar dalam kehidupan, terutama masalah penderitaan.

SIAPAKAH AYUB?

Apa yang kita ketahui mengenai Ayub tidak lebih daripada apa yang digambarkan pada

permulaan kitab itu. Rupanya ia orang yang terkenal (Yeh 14:14,20), namun oleh sebab 

tidak ada acuan terhadap sejarah orang Israel,  Ayub mungkin hidup jauh sebelum umat

Allah  bermukim  di  Kanaan.  Beberapa  orang  berpendapat  bahwa  kisah  mengenai

penderitaannya  dipakai  oleh  beberapa  penulis  yang  tak  dikenal  sebagai  latar  belakang

untuk membicarakan masalah penderitaan. Kita pun tidak tahu kapan kitab itu ditulis. Minat

terhadap hikmat Allah sudah ada sejak zaman Salomo, dan kitab ini mungkin ditulis pada

zaman pemerintahannya.

POKOK PERMASALAHAN

Kitab ini menyangkut suatu pertanyaan abadi yaitu "Mengapa orang yang tak berdosa harus

menderita?" Ayub adalah seorang yang baik yang tiba-tiba kehilangan segalanya. Seperti

banyak dari penderitaan kita, rasanya hal ini tidak adil. Jawaban baku teman-temannya --

bahwa Allah menghakimi orang yang jahat, dan oleh sebab nya pasti Ayub telah melakukan

kejahatan -- sama sekali tidak cocok. Mereka mengatakannya dengan berbagai cara. Elifas

sopan  dan  sedikit  berbau  mistik.  Bildad,  seorang  tradisionalis,  mengutarakannya

berdasarkan pendapat yang sudah lama dikenal, sementara Zofar adalah pembantah Allah

yang kurang ajar dan kasar. Ketiga mereka pada akhirnya kehilangan kesabaran terhadap

Ayub.  Sesungguhnya,  pada  percakapan  ketiga,  Bildad  hanya  berbicara  sedikit  sekali,

sementara Zofar menolak untuk berbicara lagi. Ayub berdebat dengan kedua orang itu dan

dengan Allah;  dan  dengan demikian  ia  mengajukan  pertanyaan-pertanyaan yang hanya

dapat dijawab dalam Perjanjian Baru. Oleh sebab  Elihu masih muda, ia tidak dihargai oleh

yang lain. Argumentasinya penuh dengan keyakinan orang muda, namun  juga agak kacau

dan tidak matang. Percakapan dengan Elihu mungkin baru belakangan ditambahkan pada

kitab itu.

MAZMUR

“Pujian dan ucapan syukur”

BAGAIMANA MAZMUR DIKUMPULKAN

Mazmur merupakan kumpulan puji-pujian dan doa yang dikumpulkan selama kurun waktu

yang panjang dalam sejarah umat Israel, paling tidak sejak zaman Daud sampai sesudah

pembuangan ke Babel. Kita boleh juga menamakannya sebagai 'kumpulan dari kumpulan-

kumpulan',  sebab  seratus  lima  puluh  mazmur  itu  dibagi  dalam  lima  buku: Maz  1:1-

41:13; Maz 42:1-72:20; Maz 73:1-89:52; Maz 90:1-106:48; Maz 107:1-150:6. Walaupun para

ahli  Alkitab melihat adanya beberapa perbedaan dalam kelompok-kelompok Mazmur ini,

namun   itu jelas bukan mengenai  isi  pokoknya.  Lain dengan buku nyanyian kita,  Mazmur

berisi doa dan ucapan syukur, permohonan dan puji-pujian yang tidak beraturan urutannya.

Beberapa Mazmur ditulis  lebih  dari  satu  kali,  Sebagai  contoh, Mazmur 14 = Mazmur 53;

Mazmur  60:5-12 = Mazmur  108:6-13;  Mazmur  14 = Mazmur  40:13-17.  Kita  menemukan

beberapa Mazmur yang diulang dalam kitab- kitab lain dalam Perjanjian Lama, dan kita juga

menemukan Mazmur yang tidak berada dalam kumpulan utama. Dalam penelitian ini kita

akan mengelompokkan mazmur-mazmur berdasarkan pokok yang berbeda, dan melihat apa

saja yang dapat kita pelajari darinya dewasa ini.

PUISI IBRANI

Sebagian besar puisi masa kini bersanjak, namun  tidak demikian halnya dengan puisi Israel

kuno. Para penyair cenderung untuk membandingkan suatu ungkapan dengan ungkapan

yang lain, kadang-kadang hal yang sama diulang dengan cara yang berbeda, kadangkala

dengan kebalikannya. Sebagai contoh, lihatlah Mazmur 146:3: "Janganlah percaya kepada

para  bangsawan,  kepada  anak  manusia  yang  tidak  dapat  memberikan  keselamatan."

atau Mazmur 11:5: "Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang

yang mencintai kekerasan." Kadang pemikiran itu dilanjutkan dalam ayat berikutnya. Puisi

semacam  ini  tidak  terlalu  banyak  kehilangan  arti  pada  waktu  diterjemahkan  ke  dalam

bahasa lain dan ini berarti bahwa kita tetap dapat menikmatinya pada masa kini. Beberapa

pemazmur  mulai  menulis  setiap  baris  atau  sejumlah  baris  dengan  huruf  yang

sama. Mazmur 119 memakai hampir seluruh alfabet Ibrani dengan cara ini.

MAZMUR DAN PENYEMBAHAN

Sejumlah besar mazmur pada mulanya merupakan doa-doa atau puji-pujian pribadi, namun 

banyak  yang  kemudian  ditulis  untuk  penyembahan  umum.  Ada  yang  ditujukan  untuk

pemimpin biduan atau untuk para penyanyi  Rumah Tuhan seperti  'bani  korah'.  Mazmur-

mazmur itu dipakai untuk upacara penyembahan di Rumah Tuhan, terutama pada waktu

diadakan upacara-upacara besar. Seperti halnya buku nyanyian kita yang berisi beraneka

macam pujian yang ditulis oleh penggubah yang berbeda-beda, pada tempat dan situasi

yang berbeda pula, Mazmur berisi penyembahan bangsa Israel sepanjang zaman.

AMSAL

“Jadilah bijaksana!”

KITAB KEBIJAKSANAAN

Amsal merupakan hasil karya beberapa penulis, tiga di antaranya dikenal dengan nama --

Salomo, Agur dan Lemuel. Paling sedikit satu bagian dari kitab ini ditulis oleh orang yang

tidak dikenal.  Kitab ini  kebanyakan berisi  petuah-petuah Salomo (Ams 10:1-22:16;  25:1-

29:27). Dia dikenal sebagai penulis 3.000 Amsal dan 1.005 lagu-lagu (1Ra 4:31-32). Kitab ini

berisi hasil penelitian lengkap yang telah dikumpulkan oleh Salomo dan para penulis lainnya

dari  berbagai  sumber,  ditambah dengan pengalaman hidup mereka sendiri.  Tujuan dari

kitab  ini  jelas  terangkum  dalam  pembukaannya  (Ams  1:2-6).  Penekanan  yang  sering

diulang-ulang dalam kitab ini adalah takut akan Tuhan.

APAKAH AMSAL ITU?

Pengajaran dengan memakai Amsal merupakan salah satu cara mengajar yang paling kuno

di dunia ini. Dalam pengajaran seperti itu dipakai kalimat-kalimat sederhana, yang mudah

diingat dan diturunkan dari generasi ke generasi. Salomo adalah seorang yang mepunyai

keahlian dalam berbagai bidang. Dia bukan hanya seorang raja, namun  juga seorang filsuf

yang memiliki  kemampuan intuisi dan pengertian yang luar biasa, dan ia juga seorang

ilmuwan murni.  namun   sayang, dalam kehidupan pribadinya, ia tidak selalu hidup sesuai

dengan hikmat yang diketahuinya.

HIKMAT DARI ALLAH

Dalam  Amsal,  hikmat  dikatakan  sudah  ada  bersama  Allah  sepanjang  zaman.  Hikmat

dipersonifikasikan sehingga seringkali dianggap pelambang Kristus (Ams 8:23-31; lihat Yoh

1:2;  Ibr  1:2;  Kol  2:3).  Dijelaskan bahwa hikmat tersedia bagi  semua orang.  Orang yang

bijaksana adalah mereka yang tanggap pada perintah Allah, sedangkan orang yang bodoh

mengabaikannya. Hikmat sangat penting di dalam dunia kehidupan (Ams 4:7).

BENTUK

Banyak  usaha  dilakukan  untuk  menganalisis  Kitab  Amsal.  Beberapa  komentator

mengemukakan tiga bagian yang ditandai  dengan judul  'amsal  salomo' (Ams 1:1;  10:1;

25:1). Selanjutnya ada pendapat bahwa amsal dengan kata ganti orang kedua adalah amsal

yang  diperuntukkan  bagi  Salomo  yang  diajarkan  oleh  guru-gurunya,  sedangkan  amsal

dengan kata  ganti  orang ketiga  adalah amsal  yang dibuat  oleh Salomo sendiri.  Namun

demikian, hal ini sukar dipastikan.

PENGKHOTBAH

“Apa sebenarnya hidup ini?”

APA ISI PENGKHOTBAH?

Seseorang yang membaca Pengkhotbah untuk pertama kalinya akan kaget dengan adanya

perpaduan yang aneh antara iman dan fatalisme yang terdapat dalam kitab itu. Kadang-

kadang penulis seakan-akan pasrah pada semua kegagalan dan kesia-siaan hidup; pada

kesempatan lain ia seakan-akan menasihatkan kita untuk menikmati  hidup selagi  masih

bisa dilakukan; dan sementara itu terdapat banyak petunjuk bahwa Allah mengetahui apa

yang sedang terjadi dan bahwa kita harus bergantung pada-Nya serta melayani Dia, dan

bahwa  pada  suatu  ketika  kita  harus  bertanggung  jawab  kepada-Nya.  Beberapa  orang

berpendapat bahwa perbedaan pandangan ini  merupakan hasil  pemikiran dari  beberapa

penulis, yang masing-masing mencoba untuk saling memperbaiki, dan bukan hanya hasil

seorang penulis. Mereka melihat bahwa kitab ini bertentangan dengan isinya sendiri dan

dengan banyak ajaran alkitabiah lainnya.  namun ,  kita tidak perlu mengambil  kesimpulan

seperti itu jika kita mengerti bahwa Pengkhotbah merupakan semacam traktat Perjanjian

Lama  yang  diperuntukkan  bagi  orang-orang  dunia.  Para  penulis  seakan-akan  berkata:

"Kalau begitu marilah kita melihat bagaimana rasanya hidup tanpa Allah. Apa yang akan

Anda peroleh jika hanya hidup untuk hal-hal duniawi? Hidup menjadi sia-sia dan tanpa arti,

menjengkelkan dan penuh dengan penderitaan. namun , Allah bisa mengubah semua itu!

SIAPA PENULIS PENGKHOTBAH DAN KAPAN DITULIS?

Penulis mengatakan bahwa ia adalah anak Daud (Pengk 1:1) dan raja Yerusalem. Sementara

orang berpendapat bahwa ia tentu Salomo, walaupun namanya tidak ditulis dalam kitab itu.

Jelas bahwa cara hidup dan perhatiannya terhadap kebijaksanaan tercermin di sini, dan hal

ini merupakan kesimpulan yang kita harapkan dari padanya setelah ia menjalani kehidupan

panjang yang seringkali bersifat duniawi. Kesulitan dengan pandangan ini ialah bahwa ia

berbicara mengenai para penerusnya di Yerusalem (Pengk 2:9), dan yang jelas hanya ada

seorang  penerus.  Hal  lain  ialah  bahwa  bahasa  yang  dipakai  untuk  menulis  kitab  ini

digunakan jauh sesudah zaman Salomo. Oleh sebab nya jika Pengkhotbah merupakan hasil

karyanya,  maka  kemungkinan  bahasanya  diperbarui.  Atau  mungkin  juga,  seperti

diperkirakan oleh sementara orang, kitab ini merupakan suatu studi berdasarkan nasihat-

nasihat Salomo. Oleh sebab  hal-hal di atas, maka penentuan tahun penulisan secara tepat

menjadi sangat sukar. Jika betul kitab itu tulisan Salomo pada masa-masa akhir hidupnya,

maka  kemungkinannya  ialah  bahwa kitab  itu  ditulis  paling  awal  sekitar  tahun 940  SM.

Apabila kitab itu hasil karya orang lain, maka kemungkinannya ditulis paling lambat sekitar

tahun 200 SM.

SI PENGKHOTBAH

Penulis biasa memanggil dirinya Kohelet, kata yang boleh jadi berarti pengkhotbah, guru,

juru  debat  atau  bahkan  berarti  pemimpin  suatu  parlemen  (Pengk  1:1).  Pada  waktu

membicarakan masalah hidup dan mati,  yang ada dalam pikirannya adalah kepentingan

orang  lain  (Pengk  12:9-12).  Oleh  sebab  itu,  kita  juga  dapat  mengambil  pelajaran  dari

pengalaman dan nasihatnya pada saat kita membaca kitab ini.

KIDUNG AGUNG

“Sebuah kisah cinta”

JUDUL

Nama Kidung Agung merupakan terjemahan harafiah dari judul dalam bahasa Ibrani yang

artinya cara untuk menyatakan lagu yang terbaik atau terindah.

PENULIS

Ada delapan acuan kepada Salomo dalam Kidung Agung, dan secara tradisional ia danggap

sebagai  penulisnya.  Bait  pertama dapat  berarti  nyanyian  itu  ditulis  oleh Salomo,  namun 

dapat juga berati "untuk" atau "tentang" Salomo. Selain nama Salomo, tidak diberikan latar

belakang sejarah lainnya. Oleh sebab  itu, tidak mungkin untuk menentukan penulis atau

waktu penulisan kitab itu dengan pasti. Namun demikian, tidak ada hal dalam kitab ini yang

menolak bahwa waktu penulisan terjadi pada masa Salomo.

ISI

Kidung  Agung  pada  dasarnya  merupakan  puisi  cinta.  Isinya  merupakan  puji-pujian  dan

penyataan sukacita dalam kisah cinta antara seorang pria dan wanita. Bahasanya berbobot

dan ekspresif; di dalamnya terkandung suatu apresiasi terhadap daya tarik fisik yang ditulis

dengan  gamblang dan  tanpa  tedeng aling-aling.  Nama Allah  tidak  disebut-sebut  dalam

Kidung Agung dan banyak orang menganggap bahwa kitab ini dimasukkan dalam Alkitab

oleh sebab  kitab ini merupakan gambaran nyata dari kasih Allah kepada umat-Nya. Namun,

Kidung Agung sendiri tidak mengandung maksud agar pembaca mencari arti tersembunyi di

dalamnya.

BENTUK

Para ahli Alkitab akan melihat suatu kesatuan dalam kitab ini; dan jelas bahwa pengulangan

kata-kata,  ungkapan  dan  buah  pikiran  menunjukkan  karya  penulisan  yang  biasa.  Tidak

selalu mudah untuk mengidentifikasikan tokoh-tokoh yang berbeda, atau mengetahui siapa

yang sedang berbicara dan kapan berbicaranya. Di samping dua orang kekasih itu, rupanya

terdapat  sekelompok  teman  yang  berada  bersama  mereka  pada  saat-saat  tertentu,  di

antaranya adalah putri-putri Yerusalem, demikian juga dengan warga Yerusalem.

LATAR BELAKANG

Latar  belakang  syair  kebanyakan  di  daerah  pedesaan,  boleh  jadi  pada  musim  semi,

walaupun hal ini boleh jadi ditulis semata-mata sebagai bagian dari puisi. Si penulis pasti

sangat akrab dengan cerita-cerita rakyat; ia menyebutkan dua puluh satu jenis tanaman

dan lima belas kelompok binatang.

YESAYA

“Keselamatan dan penghakiman”

PESANNYA

"Yesaya" berarti  "Tuhan adalah keselamatan" dan dia adalah nabi  keselamatan.  Namun,

keselamatan dan penghakiman selalu bersama-sama dalam Alkitab; jika Anda tidak mau

diselamatkan, maka Anda akan dihakimi. Oleh sebab  itu, Yesaya menggabungkan kedua

tema  ini:  penghakiman  (Yes  1:1-35:10)  dan  keselamatan  (Yes  40:1-66:24).  Kedua  tema

utama ini dipadukan dengan adanya bagian bersejarah tentang Raja Hizkia (Yes 36:1-39:8).

WAKTU

Yesaya menerima visinya pada masa pemerintahan empat orang raja yaitu Uzia, Yotam,

Ahas dan Hizkia (Yes 1:1). Raja Uzia wafat pada tahun 740 sebelum Masehi (lihat Yes 6:1),

dan Hizkia pada tahun 687 sebelum Masehi, dengan demikian visi-visi Yesaya mencakup

kurun waktu setengah abad.

NUBUATAN

Yesaya adalah seorang nabi, bukan semata-mata seorang pengkhotbah dan Kitab Yesaya

merupakan  buku  nubuatan,  bukan  hanya  buku  sejarah.  Yesaya  tidak  hanya  mampu

menganalisis keadaan, namun  juga memiliki  banyak visi. Nubuatan mengatakan bahwa

ada Allah yang mengetahui hari depan dan yang mengungkapkan sebagian rencana-Nya

kepada para nabi.

LATAR BELAKANG

Waktu Yesaya mulai bekerja, Israel sedang berada di ambang kehancuran. Dalam tahun 722

sebelum Masehi kerajaan utara dengan kesepuluh sukunya dikalahkan oleh bangsa Asyur

(2Ra 17). namun  kerajaan selatan, Yehuda, sedang menuju nasib yang sama. Secara sosial,

politis  mereka sudah rusak,  demikian juga iman percaya mereka.  Kerajaan utama telah

dihukum dan musnah. namun , Yehuda berbeda. Negeri itu harus dihakimi, namun  oleh sebab 

adanya perjanjian abadi dengan Allah, maka Yehuda juga akan diselamatkan. Pada suatu

saat,  dari  Yehuda  akan  datang  seorang  Hamba  Tuhan,  Sang  Juruselamat  yang  akan

menyelamatkan bukan hanya Yehuda, namun  seluruh dunia.

CARA PENULISAN DAN KESATUAN

Menurut  pasal Yes  1:1,  penulisnya  ialah  Yesaya.  Namun  demikian,  seringkali  orang

beranggapan bahwa ketiga  bagian  kitab  Yesaya (Yes  1:1-35:10; Yes  36:1-39:8; Yes  40:1-

46:13) ditulis oleh penulis yang berbeda-beda. Alasan ini didasarkan pada bentuk penulisan

yang jelas berbeda antara pasal Yes 1:1-35:10 dengan bagian lain, juga munculnya nama-

nama Bel dan Nebo, dewa-dewa Babel dan bahkan nama Koresy, penakluk dari kerajaan

Babel dan nubuatan Yesaya mengenai kembalinya bangsa Yehuda dari pembuangan jauh

sebelum pembuangan itu  sendiri  terjadi.  namun   kitab  itu  sendiri  menekankan mengenai

kemampuan Allah untuk mengungkapkan hari depan (misalnya Yes 41:21-27; 42:8,9; 44:6-

8; 48:3). Tidak ada bukti tertulis bahwa terdapat dua atau lebih kitab Yesaya dan tidak ada

bukti tentang penulis-penulis lainnya. Perjanjian Baru mengutip dari berbagai bagian dari

kitab ini dan mengacunya ke Yesaya.

YEREMIA

“Kesia-siaan formalitas”

MASALAH NUBUATAN

Kitab  Yeremia sulit  dibaca secara  berurutan  sebab  panjang dan  tidak memiliki   pola

kronologis yang teratur.

PENJELASAN

Pertama, tidak ada alasan mengapa suatu buku harus dibuat dalam urutan kronologis yang

teratur.  Kitab  ini  tidak  dimaksudkan  sebagai  buku  sejarah,  walaupun  berisi  fakta-fakta

sejarah.  Yeremia  merupakan  kitab  nubuatan,  bukan  semata-mata  buku  sejarah.  Kedua,

dalam pasal Yer 36 diterangkan bahwa telah terjadi penulisan kembali  dari  kitab aslinya.

Raja Yoyakim membaca naskah aslinya, namun  kemudian dibakarnya. Secara umum dapat

dikatakan bahwa pasal Yer 1:1-20:18 kebanyakan ditulis pada masa pemerintahan Yosia dan

sisanya dari masa pemerintahan Yoyakim, yaitu Yoyakim dan Zedekia. Selain itu, bagian

pertama terutama berisi  nubuatan ditambah dengan sedikit  biografi dan sejarah,  namun 

bagian kedua merupakan biografi dan sejarah ditambah sedikit nubuatan.

KEHIDUPAN DAN ZAMAN YEREMIA

Yeremia menjadi nabi selama lebih dari empat puluh tahun: dari tahun ketiga belas Raja

Yosia,  yaitu  tahun  627  SM  sampai  penghancuran  kota  Yerusalem dan  permulaan  masa

pengasingan dalam tahun 587/6 SM. Yeremia dibesarkan pada masa pemerintahan Raja

Manasye yang membelot dari Tuhan, dan melihat sedikit perbaikan pada zaman reformasi

Yosia, namun  tidak terjadi pertobatan secara nasional. Pada permulaan masa ini Asyur dan

Mesir merupakan dua kekuatan besar. Bangsa Asyur dikalahkan oleh Babel pada tahun 612

SM dan demikian halnya dengan Mesir yang dihancurkan di Karkemis pada tahun 605 SM.

Sejak saat itu Yeremia terus menerus mendorong Yehuda untuk menyerah kepada Babel,

untuk menerima segala konsekuensi dari dosa-dosa mereka yaitu Pembuangan. Dia tahu

bahwa masa Pembuangan akan berakhir dengan pengampunan dan pemulihan Allah secara

dramatis.

PESIMIS ATAU OPTIMIS?

Yeremia sering disebut "Nabi Kehancuran". namun  dia juga "Nabi yang Pengharapannya tak

pernah goyah". Hukuman atas dosa tidak dapat dihindari, namun  di atas semua itu Yeremia

melihat bahwa Allah selalu menunggu untuk mengampuni. Yeremia membeberkan tiga dosa

yang utama:

 penyembahan berhala. Yer 7:30-8:3; 19:1-15

 amoralitas. Yer 5:1-9

 nubuatan palsu: Yer 7:3-11; 14:11-16; 23:9-40

Ajaran Yeremia yang utama ialah bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui dosa-dosa kita

atau bahkan menyesalinya saja. Pertobatanlah yang dituntut oleh Allah.

RATAPAN

“Kota yang sedang berduka”

JUDUL

Kitab ini tidak memiliki  judul dalam kitab Perjanjian Lama Ibrani, namun  dikenal dengan

kata pertamanya, yaitu "How". Judul "Nyanyian pemakaman" atau "Ratapan" diberikan oleh

rabi-rabi bangsa Yahudi yang mula-mula.

PENULIS

Penulisnya  tidak  dikenal.  Kitab  ini  ditempatkan  sesudah  Yeremia  dalam  Septuaginta,

kemungkinan  besar  hal  ini  disebabkan  oleh  hubungan  sejarah  kedua  kitab  tersebut.

Pandangan penulis terhadap raja yang bertakhta pada masa itu (Rat 4:20) dan mengenai

ketergantungan  kepada  bangsa-bangsa  lain  berbeda  dari  pandangan  Yeremia.  namun ,

penulis dan Yeremia (yang dijuluki "nabi cengeng") memiliki  temperamen yang serupa,

dan keduanya melihat penghakiman Tuhan di balik tragedi yang mereka tulis (lihat Rat 2:1-

8). Jika kitab ini merupakan suatu kesatuan, sudah hampir pasti bahwa penulisnya hidup

pada zaman yang sama dengan Yeremia.

WAKTU

Penentuan waktu penulisan secara tepat tergantung kepada apakah karangan ini  ditulis

oleh seorang atau beberapa penulis. Pendapat yang masuk akal ialah bahwa pasal Rat 1-

4 ditulis  oleh  seorang  saksi  mata  pada  waktu  jatuhnya  Yerusalem dan  pemulaan  masa

Pembuangan (yaitu tahun 587 SM), dan bahwa pasal Rat 5 ditambahkan pada tahun 550 SM

waktu mereka sudah menjalani masa Pembuangan untuk beberapa waktu.

BENTUK

Kitab ini merupakan suatu koleksi puisi yang tersusun rapi, sebagian besar ditulis dalam

bentuk  "nyanyian  pemakaman"  --  kecuali  pasal Rat  5.  Pasal Rat  1-4 merupakan  puisi

"akrostik", setiap baik berikutnya dimulai dengan sebuah huruf dari alfabet Ibrani secara

beraturan. (Terdapat sedikit pengecualian terhadap aturan ini dan pasal Rat 3 merupakan

puisi  akrostik  yang  lebih  lengkap).  Boleh  jadi  pola  ini  sebagian  dimaksudkan  untuk

memudahkan penghafalan dalam tata ibadah.

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

2Ra  25:8-12 harus  dibaca  sebagai  latar  belakang  kisah  Kitab  Ratapan.  Pembuangan

merupakan suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah kaum Yehuda, dan merupakan

salah satu pengaruh terbesar dalam mengembangkan pengertian mereka tentang Allah.

Kejatuhan Yerusalem yang menghancurkan dalam tahun 587 SM menuntut penjelasan dan

inilah  yang  diberikan  oleh  si  penulis.  Sebagian  besar  dari  tanda-tanda  yang  kelihatan

mengenai  pilihan  Tuhan  atas  Yehuda  sudah  dihancurkan  (kota,  Bait  Allah,  kebaktian-

kebaktian dll.). Dengan berani penulis menghadapi kenyataan pahit dari dosa orang Yeuda,

dan maksud Allah yang terssembunyi daalam pemurnian melalui penghakiman. Jawaban

atas pertanyaan (yang sering diajukan oleh mereka yang berada dalam pencobaan) "Di

manakah  Tuhan?",  dijawab  oleh  penulis  dengan  tantangan  yang  berarti  dalam,  yaitu:

"Cobalah untuk mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh Tuhan".

YEHEZKIEL

“Laporan seorang penjaga”

LATAR BELAKANG

Dalam tahun 597 SM raja Babel, Nebukadnezar mengangkut raja Yoyakim ke Babel bersama

dengan  sepuluh  ribu  penduduk  utama  bangsa  Israel.  Pemerintahan  boneka  yang

ditinggalkannya  di  Yerusalem  memberontak,  dan  dalam  tahun  587  SM  Nebukadnezar

menghancurkan seluruh kota dan mengangkut lebih banyak penduduk ke pembuangan.

PENULIS

Diperkirakan  bahwa kitab  Yehezkiel  disusun  oleh beberapa pengarang atau  ditulis  lama

sesudah pengarangnya meninggal, namun  pemakaian kata ganti orang pertama, waktu yang

tepat,  data  pribadi  yang  diberikan  secara  rinci,  dan  gaya  penulisan  yang  sama  dalam

keseluruhan  kitab  merupakan  indikasi  kuat  bahwa  Yehezkiel  sendiri  yang  memastikan

bahwa semua nubuatannya ditulis dan menjelang akhir hidupnya ia menyusunnya dengan

cermaat ke dalam bentuk buku. Yehezkiel dibesarkan di Yehuda dan boleh jadi pada masa

remajanya ia dipengaruhi oleh pembaruan raja Yosia dan nubuatan Yeremia. Dia seorang

imam yang dibuang ke Babel pada tahun 597 SM, kemungkinan bersama-sama dengan raja

Yoyakim,  dan  tulisannya  sangat  dipengaruhi  oleh  latar  belakang  keimamannya.  Dalam

pembuangan ia  bermukim di  Tel-Abib  di  tepi  sungai  Kedar.  Lima tahun kemudian,  pada

waktu  ia  berumur tiga  puluh tahun,  ia  mendapat  penglihatan  dari  Tuhan dan  dipanggil

menjadi nabi. Dia mungkin saja memiliki  kedudukan penting (Yeh 8:1; 14:1), walaupun

kebanyakan  orang  menolak  peringatannya  (Yeh  3:25),  atau  tidak  menganggapnya

denganserius (Yeh 33:30-32).

ISI KITAB

Dalam kitab Yehezkiel, kita dapat membaca kisah kehidupan nabi itu dan nubuat-nubuatnya

yang mencakup kurun waktu mulai dari tahun 597 sampai 570 SM. Kitab Yehezkiel terbagi

dalam empat  bagian  penting.  Pasal Yeh  1-24 khususnya  berisi  nubuatan  yang  diberikan

sebelum tahun 587 SM pada waktu Yehezkiel memperhadapkan umat dengan dosa mereka,

serta menunjukkan bahwa kejatuhan Yerusalem tidak dapat dihindari dan merupakan dosa

yang  sepatutnya  mereka  terima.  Pasal Yeh  25:1-32:32 merupakan  nubuatan  tentang

penghakiman terhadap bangsa- bangsa yang ada di sekeliling Yerusalem. Pasal Yeh 33:1-

39:29 ditulis setelah kejatuhan Yerusalem dan Yehezkiel mendorong orang-orang buangan

untuk bertobat dari dosa-dosa lama mereka, dan menjadi anggota masyarakat baru yang

menyerahkan diri untuk melayani Tuhan. Bagian akhir berisi harapan tentang kembalinya

bangsa Israel dari pembuatan sampai padda akhir zaman, dan berisi penglihatan Yehezkiel

tentang  Yerusalem  baru.  Kita  akan  lebih  banyak  belajar  dari  kitab  Yehezkiel  jika  kita

melihatnya sebagai  pesan kepada suatu bangsa yang istimewa,  yang sungguh-sungguh

memerlukan pertolongan dalam suatu keadaan yang nyata.

DANIEL

“Orang yang diberi karunia penglihatan”

SIAPAKAH DANIEL

Daniel  adalah  seorang tawanan perang yang ditangkap oleh  Nebukadnezar,  raja  Babel,

pada  waktu  Yerusalem  jatuh.  Bersama-sama  dengan  orang  Yahudi  dari  golongan  atas

lainnya, Daniel diangkut ke Babel, dididik, dan dipekerjakan pada pemerintah. Dia bekerja di

bawah  Nebukadnezar,  Belsyazar  dan  Darius  dari  tahun  605  SM sampai  536.  Namanya

berarti "Allah adalah hakimku", namun  di Babel ia diberi nama baru. Seperti nama aslinya

yang mengandung nama Allah Israel, yaitu El, maka nama barunya pun mengandung nama

dewa Babel, Bel. Beltsazar mungkin berarti "Semoga dewa Bel melindungi raja". Perhatikan

tiga hal mengenai Daniel, yaitu dia adalah seorang yang sangat bijaksana, sangat mudah

bergaul dan rajin berdoa.

JAWABAN ATAS PERTANYAAN YANG MENGIBAKAN

Mazmur 137, sama seperti halnya nubuatan ini, ditulis di Babel: "Di tepi sungai-sungai Babel

di  sanalah  kita  duduk  sambil  menangis,  apabila  kita  mengingat  Sion."  Hidup  dalam

pengasingan sangat  menghancurkan  moral  bangsa Yahudi.  Mereka merasa bahwa Allah

telah meninggalkan mereka. Oleh sebab  itu, mereka menggantungkan harpa mereka dan

menolak  untuk  bernyanyi:  "Bagaimanakah  kita  menyanyikan  nyanyian  Tuhan  di  negeri

asing?" Itulah pertanyaan mereka yang mengibakan. Daniel menjawab pertanyaan mereka.

Ia menunjukkan bahwa Allah tetap Allah, walaupun mereka berada di Babel.

DANIEL DAN ANTIOKUS EFIFANUS

Bagian kedua kitab Daniel berisi gambaran yang mengandung nubuatan yang dapat kita

lihat sudah digenapi secara detail dalam pemerintahan Antiokus Efifanus, yang memerintah

sebagian besar Asia Kecil, Siria dan Palestina dari tahun 175 sampai 164 SM. Banyak penulis

tentang Daniel menolak adanya nubuatan di kitab kedua ini dan berpendapat bahwa kitab

ini, sebenarnya, ditulis sekitar tahun 165 SM, bukan oleh Daniel namun  oleh seorang penulis

tak dikenal. Keberatan mereka yang utama rupanya menyangkut konsep nubuatan sebagai

ramalan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, khususnya nubuatan yang sangat

rinci. namun  nubuatan-nubuatan ini mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Tuhan Yesus

(Matius 24:15) dan harus diakui bahwa paling tidak dua, mungkin tiga nubuatan digenapi: di

zaman  dan  pada  Akhir  Zaman.  Keempat  binatang  buas  yang  dilukiskan  dalam Daniel

7 boleh jadi ditafsirkan dalam tiga cara, yaitu sebagai kerajaan-kerajaan besar dunia, masa

lalui, sekarang dan masa yang akan datang.

HOSEA

“Umat yang tidak setia; Allah yang setia”

WAKTU PENULISAN

Raja-raja  yang  disebutkan  dalam Hos  1:1 merupakan  petunjuk  tentang  kurun  waktu

terpanjang  bagi  berlakunya  nubuatan  Hosea,  yaitu  dari  780-692  SM,  namun   rupanya

sebagian besar karyanya ditulis dalam periode antara tahun-tahun terakhir pemerintahan

Yerobeam  dan  jatuhnya  Samarian  --  yaitu  dari  kira-kira  tahun  755-722  SM.  Hosea

merupakan penulis kedua dari empat penulis yang dikenal sebagai nabi abad kedelapan

(Amos, Hosea, Yesaya dan Mikha).

PENULISNYA

Hosea  adalah  satu-satunya  nabi  dari  kerajaan  Israel  utara  yang  tulisannya  dapat

diselamatkan. Ayahnya bernama Beeri, namun  tidak diceritakan mengenai kota kelahirannya

atau latar  belakang masa mudanya.  Beberapa orang berpendapat  bahwa Hosea adalah

seorang tukang roti, sebab ia menunjukkan pengetahuan yang terinci mengenai usaha ini

(Hos 7:4-8). namun  ia juga memiliki  banyak pengetahuan mengenai perladangan (Hos

10:11-13; 13:3), oleh sebab nya kita tidak dapat menentukan secara pasti. Mungkin yang

paling ialah bahwa Hosea bekerja sebagai seorang nabi profesional.

UNTUK SITUASI BAGAIMANA TULISANNYA DITUJUKAN

Hampir semua nubuatan dalam Hosea ditujukan bagi bangsa Israel (biasanya disebut Efraim

-- nama suku terbesar),  walaupun ada beberapa yang ditujukan kepada Yehuda.  Agama

orang Israel sudah sedemikian bobrok; secara resmi mereka menyembah Allah, namun  di

mana-mana ibadah mereka bercampur dengan penyembahan berhala dan paham Baalisme.

Negeri  itu cukup stabil  dan makmur di  bawah pemerintahan Yerobeam, namun   beberapa

tahun sesudah kematiannya terjadi  kemunduran yang sangat  cepat,  baik  dalam bidang

ekonomi maupun politik. Mereka terombang-ambing di antara kekuasaan Asyur dan Mesir,

namun  mereka mengabaikan Allah. Akhirnya mereka dikalahkan oleh Asyur dalam tahun 721

SM.

KELUARGANYA

Hidup kekeluargaan Hosea agar tragis. Allah memerintahkannya untuk menikahi seorang

wanita  yang  tidak  setia  kepadanya.  Hosea  mencintai  istrinya,  Gomer,  dan  mereka

memperoleh  tiga  orang  anak  yang  nama-namanya  sungguh-sungguh  merupakan  pesan

bagi Israel. Namun, tak lama kemudian Gomer melarikan diri dan menjadi seorang pelacur.

Hosea  masih  mencintainya,  dan  pada  akhirnya,  waktu  Gomer  menjadi  budak,  ia

membelinya  kembali.  Status  Gomer  sebagai  istrinya  kemudian  dipulihkan,  walaupun

sebelumnya ia harus menjalani masa penyucian terlebih dahulu.

PESANNYA

Hubungan perkawinan Hosea sendiri memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan

antara  Allah  dan  Israel.  Allah  mengasihi  Israel  dan  bahkan  pada  waktu  mereka

meninggalkan Dia dan menyembah dewa-dewa lain,  Allah masih mengasihi  mereka dan

rindu untuk memulihkan mereka menjadi umat-Nya kembali. Oleh sebab  penderitaan yang

dialaminya,  Hosea dapat  menjelaskan betapa Allah menderita  sebab  kasih-Nya kepada

umat  yang  tidak  setia.  Oleh  sebab   itu,  Hosea  menyerang penyembahan  berhala  yang

dilakukan  oleh  orang  Israel  dan  memanggil  mereka  untuk  bertobat  serta  kembali

menyembah  Allah  yang  mengasihi  mereka  dan  yang  dengan  penuh  sukacita  akan

mengampuni mereka serta memulihkan mereka.

YOEL

“Penghakiman dan belas kasihan”

SIAPAKAH YOEL?

Nama Yoel berarti "Yehova adalah Allah". Itulah nama anak tertua Samuel (1Sa 8:2), namun 

tidak banyak yang kita ketahui tentang nabi Yoel selain gambaran singkat mengenai dirinya

sendiri dalam Yoe 1:1. Umum berpendapat bahwa ia adalah salah satu dari sekian banyak

nabi Perjanjian Lama yang terdahulu. Boleh jadi ia telah mengenal baik nabi Elia maupun

Elisa di masa mudanya. Ia bernubuat di kerajaan selatan, yaitu Yehuda, mungkin dalam

zaman pemerintahan Yoas (2Ra 11 dan 2Ra 12).

APA LATAR BELAKANGNYA?

Ungkapan  kuncinya  adalah  "Hari  Tuhan".  Negeri  ini  baru  saja  dihancurkan  oleh  hama

belalang,  dan  bagi  Yoel  peristiwa  ini  mengandung  makna  spiritual.  Ia  percaya  bahwa

belalang-belalang itu merupakan hukuman ilahi, yaitu reaksi Allah terhadap dosa manusia.

namun  hukuman yang lebih besar akan segera tiba: Yehuda dikelilingi oleh bangsa-bangsa

yang  jahat  bagaikan  sekumpulan  belalang.  Harapan  mereka  satu-satunya  hanya

pertobatan.  Kitab  ini  memfokuskan  penghakiman  yang  sudah  lampau  (belalang),

penghakiman yang sedang dihadapi (bangsa-bangsa), tersedianya belas kasihan Allah dan

panggilan Allah untuk bertobat (Yoe 1:13-20; 2:12-17).

APA PESANNYA?

Walaupun demikian,  Yoel  adalah seorang nabi  harapan.  Sebenarnya ia  dinamakan "nabi

kebangunan rohani" (Yoe 2:18-32). Kita dapat melihat hal ini terutama dalam peristiwa Hari

Pentakosta  pada  waktu  nubuatan  Yoel  digenapi.  Tentu  saja  beberapa  nubuatan  masih

menunggu  penggenapannya  (Yoe  2:28,29;  Kis  2:16-21).  namun   kita  juga  dapat  melihat

dalam kitab  Yoel  suatu  ramalan  mengenai  berkumpulnya kembali  orang  Israel  di  tanah

leluhur mereka dan mengenai penghakiman atas bangsa-bangsa (Yoe 3:2-7; Mat 25:32).

KITAB NUBUATAN YANG SANGAT INDAH

Sebagai literatur, Yoel merupakan kitab yang indah. Tidak pernah ditemukan dalam kitab-

kitab lain gambaran yang begitu terperinci  mengenai  kehancuran yang disebabkan oleh

awan belalang yang bergulung-gulung. Dan berkat kepandaiannya, Yoel melihat kumpulan

belalang  ini  sebagai  suatu  ilustrasi  yang  luar  biasa  mengenai  rombongan  musuh  yang

mengelilingi Yehuda yang akan membawa penghukuman dari Allah.

AMOS

“Nabi bagi masyarakat yang makmur”

SANG NABI

Amos bukan seorang nabi profesional. Ia seorang penggembala (Amo 1:1) dan boleh jadi

seorang peternak domba yang senantiasa pergi ke pasar untuk menjual domba-dombanya.

Mungkin dalam rangka perjalanan niaganya itulah ia mulai berkhotbah. Tempat tinggalnya

di Tekoa,  dua belas mil  di  sebelah selatan Yerusalem. sebab  ia berkhotbah di  kerajaan

Israel  bagian  utara,  maka  tentu  saja  ia  tidak  diterima  dengan  baik  --  orang  selatan

berkhotbah di utara (Amo 7:12)! Walaupun ia bukan seorang nabi profesional (Amo 7:14), ia

telah mendengar suara Allah dan ia merasa tidak memiliki  pilihan lain selain berkhotbah

(Amo 1:12).

WAKTU PENULISAN

Amos menandai waktu khotbahnya dengan "dua tahun sebelum gempa bumi". Gempa bumi

itu  merupakan  suatu  peristiwa  bersejarah  yang  penting  (lihat Amo  8:8;  9:5;  Zak  14:5),

namun  waktunya yang tepat tidak lagi dapat dilacak. Waktunya mungkin sekitar tahun 760

SM. Dua orang Raja disebutkan di sini, yaitu Uzia yang memerintah dari tahun 783-742 SM

dan Yerobeam II dari tahun 786-746 SM.

KEADAAN SAAT ITU

Amos berkhotbah kepada suatu masyarakat yang belum pernah mengalami keadaan sebaik

itu.

1. Masa damai.  Kerajaan Asyur yang penuh kuasa dipimpin oleh penguasa-penguasa

yang lemah, sehingga Israel dibiarkan begitu saja.

2. Masa  kemakmuran.  Perdagangan  maju  dan  untuk  beberapa  waktu  Israel  cukup

makmur.

3. Masa  penuh  masalah.  Kekayaan  tidak  dibagi  rata  dalam  masyarakat.  Si  kaya

bertambah kaya, sedangkan si miskin bukan hanya bertambah miskin, namun  dengan

sengaja ditindas oleh si kaya. Pada waktu yang bersamaan mereka mulai melupakan

Allah dalam kehidupan mereka. Mereka tetap menampilkan sikap beragama mereka,

namun  semua itu tidak berarti apa-apa bagi mereka.

GAYANYA

Amos tentunya seorang pemberani. Khotbahnya langsung pada sasaran. Ia tidak pernah

berpura-pura dengan kata-katanya, bahkan waktu berdebat dengan seorang imam (Amo

7:17). Nubuatannya penuh dengan penghakiman dan kebinasaan. Ia menggambarkan Allah

sebagai seekor singa yang mengaum-aum, dan kita dapat membayangkan bagaimana ia

menyampaikan  khotbahnya  bak  singa  sedang  mengaum  kepada  para  pendengar  yang

enggan mendengar dan malu, yang ketenteramannya sudah diganggunya dengan kasar.

Secara keseluruhan, ada saat-saat kelembutan di dalam nubuatnya dan kitab ini diakhiri

dengan suatu pesan pengharapan.

OBAJA

“Si Penuntut balas sudah datang”

PENULIS

 OBAJA. Namanya berarti  "hamba Tuhan", namun   jati  dirinya yang sebenarnya tidak

jelas. Beberapa orang dalam Perjanjian Baru memakai nama ini.

 NAHUM. Namanya berarti "penghibur". Tidak ada yang diketahui tentang dia, kecuali

bahwa ia adalah penduduk asli Elkosy, mungkin sebuah kota yang letaknya duapuluh

mil  di  sebelah  barat  daya  Yerusalem.  Sebenarnya,  kedua  "nama"  tersebut  lebih

menunjukkan fungsi kedua nabi tersebut daripada tentang jati diri mereka.

WAKTU PENULISAN

  OBAJA.  Penentuan  waktu  penulisan  banyak  bergantung  pada  waktu  penaklukkan

Yerusalem yang dimaksud dalam ayat Oba 1:10-14. Penaklukkan ini mungkin yang

dilakukan oleh bangsa Babel dalam tahun 587 SM (jika demikian halnya, maka Obaja

ditulis  pada pertengahan abad keenam),  atau penaklukkan oleh bangsa Arab dan

Filistin di abad kesembilan. Kebanyakan ahli berpegang pada abad keenam.

  NAHUM. Waktu penulisan ialah antara tahun 663 SM, ketika Tebe ditaklukkan oleh

bangsa Asyur (lihat Nah 3:8-10) dan kekalahan Niniwe, ibukota Asyur, oleh tentara

gabungan antara Medes dan orang Babilonia di tahun 612 SM seperti digambarkan

dengan jelas dalam Nah 2:6-8.

LATAR BELAKANG

Kesamaan yang terdapat dalam kedua kitab itu ialah suasana kebencian dari musuh-musuh

umat Allah. Obaja menyerang Edom dan Nahum, Asyur. Kedua bangsa yang sedang berada

di puncak kekuasaan itu bersikap congkak dan menindas. Bangsa Edom adalah "sepupu

dekat" bangsa Israel --  Esau, nenek moyang bangsa Edom adalah saudara Yakub --  dan

permusuhan antara kedua bersaudara itu tercermin dalam peperangan yang sering terjadi

antara  Israel  dan Edom. Asyur  yang berada di  puncak kejayaannya merupakan sumber

ketakutan bagi seluruh Asia barat, dan bertanggung jawab atas kekejaman yang luar biasa

dalam peperangan, terutama terhadap Mesir.

CIRI-CIRI

Kedua  kitab  nubuatan  ini  ditulis  dalam bentuk  puisi,  dan  berisi  gambaran  yang  paling

realistis  mengenai  pengepungan dan penyerangan terhadap sebuah kota dalam seluruh

Perjanjian  Lama.  Kedua  nabi  mengungkapkan  keinginan  untuk  membalas  dendam,

membayangkan dengan penuh sukacita setiap detail dari keruntuhan musuh-musuh bangsa

Israel.  Hal  yang  tidak  biasa  dari  kedua  kitab  ini  ialah  tidak  adanya  tulisan  mengenai

hukuman terhadap bangsa Israel dan panggilan untuk bertobat yang merupakan hal yang

umum dalam tulisan-tulisan Amos dan Mikha di  abad kedelapan.  Dalam Perjanjian Baru

tidak terdapat acuan langsung terhadap kedua kitab ini.

YUNUS

“Bagaimana mungkin Allah memberkati orang jahat?”

NABI YANG LAIN DARIPADA YANG LAIN

Walaupun kitab Yunus dimasukkan dalam kumpulan kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama,

kitab ini lain daripada yang lain. Pertama, kitab ini merupakan kisah tentang insiden yang

terjadi dalam kehidupan sang nabi. Pesan yang sebenarnya pendek sekali (Yun 3:4). Juga,

rupa-rupanya kitab ini ditulis oleh orang lain yang berbicara tentang Yunus sebagai orang

ketiga, tidak seperti kitab-kitab lainnya dalam Alkitab. Selain dari kitab ini, yang kita ketahui

tentang  Yunus  ialah  bahwa  ia  berkhotbah  di  kerajaan  utara  pada  waktu  pemerintahan

Yerobeam II (2Raj 14:25), yaitu sekitar tahun 780 SM. namun  hal ini tidak berarti bahwa kitab

ini disusun seawal itu. Boleh jadi kitab ini ditulis lama sesudah itu, yaitu ketika bangsa Israel

memerlukan pelajaran yang oleh Yunus harus dipelajari dengan susah payah.

BAGAIMANA HALNYA DENGAN IKAN PAUS ITU?

Orang-orang modern sukar untuk menerima kisah Yunus, sebab  tidak mudah bagi mereka

mempercayai bahwa ia dapa