• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Teori tritunggal 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori tritunggal 3. Tampilkan semua postingan

Teori tritunggal 3


 u  

menghadirkan diri-Nya kepada makhluk insani sebagai Anak 

(diwahyukan) dan sebagai Roh Kudus (terwahyukan). Roh 

Kudus ada di dalam hati kaum beriman untuk membuat 

mereka menerima kehadiran-Nya. Barth juga menandaskan 

bahwa ketiga cara Allah mewahyukan diri dilatarbelakangi oleh 

kehadiran-Nya yang bataniah.118 Kedua, yaitu  Ludwig 

Feuerbach (1804-1872), berpandangan bahwa Allah yaitu  

proyeksi manusia akan kasih yang murni. Oleh sebab  itu, 

perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam pribadi Allah 

yaitu  sesuatu yang tidak dapat dipertahankan. Tritunggal 

baginya bukanlah sebuah pengungkapan jati diri Allah, 

melainkan hanyalah suatu cara bagi Allah untuk 

memproyeksikan kasih.

Selanjutnya pada abad ke 20, konsep tentang Tritunggal 

semakin beragam dari berbagai pihak. Hal itu dapat dilihat dari 

beberapa pandangan berikut: 

Dari Roma Katolik hadir Karl Rahner (1904-1984), dengan 

menyatakan bahwa di dalam Allah tidak ada lebih dari satu 

subjektifitas, satu pusat kegiatan rohani, dan satu kehendak. 

Sedangkan yang tiga di dalam Allah menurutnya hanyalah 

cara bersubsistensi yang terpilah-pilah dan ketigaan itu pun 

bersangkut-paut dengan komunikasi diri Allah kepada ciptaan-

Nya. Andaikata tidak demikian maka Allah tidak sungguh-

sungguh mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia, namun  

hanya tanda-tanda yang mengacuh pada-Nya atau pekerjaan 

yang mengungkapkannya.120 

Sedangkan dari gereja Timur ada Dumitru Staniloe (1903-

1993), yang mengatakan bahwa apa yang Allah nyatakan 

tentang diri-Nya sendiri yaitu  yang berkaitan dengan 

bagaimana Allah berhubungan dengan dunia,dan kasih 

Trinitarian yaitu  titik tolak dari pengenalan akan Allah. Hal ini 

dapat terlihat dari gerakan Allah ke arah ciptaan-ciptaan dan 

membangun persatuan dengan mereka dan esensi ilahi yaitu  

 

subjek rangkap tiga yang pada waktu bersamaan yaitu  

kesatuan. Jadi, sebagai tiga subjek ketiganya saling menetrasi 

dan yang satu secara sempurna menjadi interior bagi yang lain 

dalam persekutuan yang penuh dan sempurna.121 Selain itu, 

ada juga Vladimir Lossky (1903-1958), yang menyatakan 

bahwa dalam Trinitas ketiga pribadi maupun kesatuan sama-

sama tidak lebih utama dari yang lain, sebab  Allah mutlak 

satu menurut natur-Nya dan mutlak tiga menurut pribadi-

pribadi-Nya.122 

Dari gereja Barat hadir pandangan Jϋrgen Moltmann 

(1928), menurutnya Tritunggal yaitu  tiga subjek ilahi dalam 

hubungan kasih yang mutual. Keesaan Allah yaitu  sebuah 

kesatuan pribadi-pribadi dalam hubungan dan masing-masing 

pribadi berbeda antara satu dengan yang lain, namun Allah 

yaitu  satu kesatuan yang tidak terbagi.123 Selain itu ada pula 

pandangan dari Wolfhart Pannenberg (1928) menuturkan 

bahwa tritunggal yaitu  tiga penampakan dari satu medan dan 

diidentifikasikan sebagai cinta kasih atau dengan kata lain, 

keesaan Allah yaitu  reaksi dari peleburan masing-masing 

 

pribadi.124 Terakhir pandangan yang mewakili pada masa ini 

yaitu  berasal dari Thomas F. Torrance (1913) yang 

berpendapat bahwa Allah yaitu  satu keberadaan, tiga pribadi 

dan tiga pribadi itu yaitu  satu Allah, dan doktrin Tritunggal 

menyatakan natur keberadaan Allah yang sangat berpribadi, 

bukan ketiga pribadi berada di dalam keberadaan Allah, namun  

ketiga pribadi itu yaitu  Allah yang esa. Allah yaitu  suatu 

kepenuhan dari keberadaan berpribadi di dalam diri-Nya 

sendiri dan keberdaan-Nya yang esa itu bukanlah esensi 

abstrak, melainkan (aku yaitu ) yang sangat berpribadi. Lebih 

lanjut Torrance menambahkan, bahwa nama Bapa mungkin 

merujuk kepada seluruh atau prinsip ke-Allahan atau 

sebaliknya kepada pribadi Bapa, dan Anak keluar dari 

keberadaan Bapa bukan dari pribadi Bapa.  Bagi Torrence, 

keesaan yaitu  suatu keberadaan yang tidak dapat dibagi-

bagi dan ketiga pribadi yaitu  yang tidak dapat dipisahkan. 

Mereka yaitu  tiga pribadi yang aktif, namun  tidak sebagai trio 

objek ilahi, melainkan sebagai yang Tritunggal secara intrinsik 

dan kekal.

Bagian yang paling sulit bagi orang kristen biasa mungkin 

yaitu  bahwa dalam perdebatan dan pergumulannya, gereja 

mula-mula dipaksa dipaksa menggunakan istilah dari luar 

Alkitab untuk mempertahankan konsep-konsep Alkitab. Ini 

perlu sebab  aliran-aliran bidat menyalugunakan Alkitab untuk 

mendukung gagasan-gagasan mereka yang keliru. Athanasius 

memberi  pandangannya sekilas tentang apa yang terjadi di 

konsili (352), saat  para Uskup yang berkumpul menolak 

klaim Arius bahwa Anak tidaklah kekal, melainkan diciptakan 

oleh Allah, yang lalu  menjadi Bapa-Nya. Awalnya di 

ajukan satu pertanyaan kepada konsili bahwa Anak berasal 

“dari Allah”. Ini berarti bahwa Ia bukan dari sumber yang lain, 

dan bukanlah suatu ciptaan. Akan namun  mereka yang 

bersimpati dengan Arius setuju dengan frasa itu, sebab  

menurut pandangan mereka, semua ciptaan berasal dari Allah. 

Akibatnya konsili dipaksa mencari sebuah kata yang 

meniadakan semua kemungkinan interpretasi Arian. Bahasa 

Alkitab tidak dapat memecahkan persoalan ini, sebab  

konfliknya terutama justru mengenai bahasa Alkitab itu sendiri. 

Ini mengingatkan kita bahwa untuk memahami suatu 

ungkapan, kita harus mempertimbangkan dalam konteks

tertentu, sebab  artinya tidak mungkin ditarik dengan 

mengulang ungkapan itu sendiri. Kamus merupakan contoh 

yang jelas akan hal ini, sebab  kamus menjelaskan arti kata-

kata dalam kaitannya dengan kata-kata dan frasa-frasa yang 

lain. Oleh sebab  itu, untuk berpikir dengan jelas mengenai 

Tritunggal, kita harus memegang erat sejarah pembahasan 

dalam sejarah gereja. 

Augustinus dalam bukunya De Trinitate, menuliskan bahwa 

tidak ada subjek lain dimana kesalahan lebih berbahaya atau 

penyelidikan lebih sulit, atau penemuan kebenaran lebih 

membangun. Helvellyn yaitu  sebuah gunung di English Lake 

Distrik, memiliki bagian yang terkenal yang dikenal sebagai 

Stiding Edge. Di situ, jalan kecil ke puncak harus melewati 

punggung bukit yang sempit dan permukaan gunung di kedua 

sisi punggung itu begitu curam. Jalan itu dapat dilalui dengan 

mudah dalam cuaca baik. Akan namun  banyak pejalan kaki 

yang walau dengan berhati-hati tetap terjadi kemalangan, 

sebagaimana disaksikan oleh peringatan disepanjang jalan. 

Jalan ini  tidak direkomendasikan bagi siapapun yang 

takut ketinggian. Eksplorasi akan Tritunggal juga menimbulkan 

perasaan yang sama, sebab  siapapun sulit menjaga 

 

kesimbangan pada jalan kecil yang sempit, dengan bahaya 

yang mengamcam di kedua sisi- dan sudah banyak yang gagal 

menjaga keseimbangan mereka. 

Gereja-gereja di Tinur dan Barat telah mengalami 

kecenderungan-kecenderungan yang berbeda ke arah 

ketidakseimbangan pada satu sisi atau sisi yang lainnya. 

Gereja timur sejak permulaan menghadapi bahaya 

subordinasionisme, yang melihat Anak dan Roh sebagai 

derivasi dengan status ilahi yang tidak benar-benar jalas. 

Pandangan ini mewabah sampai timbulnya kontroversi-

kontroversi pada abad ke-4. Saat itu belum dikembangkan 

istilah yang menyatakan bahwa Allah ada tiga (pribadi) tanpa 

merusak keberadaan-Nya yang Tunggal. Sesudah itu, mulai 

dengan duatu fokus pada tiga pribadi. Gereja Timur terkadang 

cenderum melihat Bapa bukan hanya sekedar sumber dari 

subsistensi dari pribadi Anak dan Roh, namun  juga sebagai 

sumber keilahian mereka.  Dengan demikian mudah untuk 

melihat bagaimana Anak dapat dipandang sedikit kurang ilahi 

dari pada Bapa, memiliki keilahian melalui derivasi, bukan dari 

diri-Nya sendiri. Teologi terbaik dari gereja Timur telah 

menghindari bahaya-bahaya ini. Akan namun , dengan 

kebangkitan minat gereja Barat terhadap teologi Timur akhir-

akhir ini, di gereja Barat telah muncul model teologi sosial dari 

Tritunggal, yang berfokus pada pembedaan ketiga pribadi 

yang mana sering cenderum kepada triteisme yang longgar. 

Gereja Barat sendiri pernah lebih condong ke arah 

modalisme. Modalisme di sini diartikan pengaburan atau 

pemudaran distingsi-distingsi pribadi yang kekal. Ini dapat 

terjadi entah dengan memperlakukan pernyataan diri Allah 

sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus sekedar bentuk-bentuk 

(modus-modus) penyataan diri yang berturut-turut, oleh satu 

Allah yang berpribadi tunggal atau alternatif lainnya, dengan 

suatu keengganan mengakui bahwa penyataan Allah dalam 

sejarah manusia menyampaikan kepada kita sesuatu tentang 

siapa Dia yang sebenarnya. Secara umum Tritunggal gereja 

Barat telah didasarkan pada keutamaan dari satu esensi ilahi 

itu dan memiliki beberapa kesulitan untuk memberi  

perlakuan yang sama bagi distingsi-distingsi tiga pribadi itu. 

Bagi kita yang merupakan gereja hasil dari penginjilan 

Barat, kecenderungan modalistis merupakan ancaman yang 

paling langsung. Pengaruh kuat Augustinus tampak jelas. 

Dalam paruh kedua dari De Triniatate, Augustinus dengan 

 

enggan memberi  analogi untuk Tritunggal dengan 

menyadari keterbatasan analogi-analogi itu.126 Akan namun , 

analogi-analogi itu ini  telah berdampak besar selama 

bertahun-tahun. Analogi itu didasarkan pada keutamaan 

esensi Allah di atas ketiga pribadi, sebab  kesatuan atau 

ketunggalan Allah yaitu  titik tolaknya. Ia mencari refleksi-

refleksi tentang Tritunggal pada akal budi manusia. Atas dasar 

ini ia sulit memberi  pembahasan yang setara bagi distingsi-

distingsi pribadi dari ketiga pribadi-Nya. Contohnya, ia 

menggambarkan Tritunggal dalam arti seorang pengasih 

(Bapa), yang dikasihi (Anak) dan kasih yang di antara 

keduanya (Roh). 

lalu , Aquinas mendiskusikan de Deo uno (Allah yang 

tunggal) secara terpisah dari de Deo trino (Allah yang 

Tritunggal). Dalam summa contra gentiles, ia menahan 

pembahasan tentang Tritunggal sampai buku 4, sesudah  

mempertimbangkan doktrin Allah secara mendetail dalam buku 

1. Di bagian 1 dalam summa theologia, ia mendiskusikan 

eksistensi dan atribut Allah dalam pertanyaan 1-25, dan baru 

beralih ke Tritunggal dalam pertanyaan 27-43. Pola ini menjadi 

 

 

standart dalam buku ajaran teologi di gereja Barat. Dalam 

kelompok-kelompok Protestan, Charles Hodge menghabiskan 

hampir dua ratus lima puluh halaman untuk membahas 

eksistensi dan atribut Allah sebelum akhirnya beralih kepada 

fakta bahwa Allah yaitu  Tritunggal. Louis Berkhof mengikuti 

prosedar yang sama.127 

Kecenderungan ini diperburuk oleh tekanan-tekanan 

pencerahan. Seluruh gagasan tentang penyataan dipandang 

bermasalah dalam kerangka pikir kantian. Sebagai ganjaran 

dari ketidak beresan ini, friedrich Schleimacher membatasi 

pembahasannya tentang Tritunggal menjadi sebuah apindeks 

dalam the Christian faith. Bahkan B. B. Warfield memain-

mainkan posisi modalis saat  menyarankan (tapi ditolak) 

kemungkinan bahwa aspek-aspek tertentu dari hubungan 

antara Bapa dan Anak dalam sejarah manusia mungkin yaitu  

hasil dari suatu kovenan antar pribadi-pribadi dari Tritunggal 

dan dengan demikian tidak mewakili relaitas kekal dalam 

Allah.128 J. I. Pacer memberi  satu bab dalam Knowing God 

 

untuk membahas Tritunggal, sesudah  sepertiga buku ini , 

namun  kemudia melanjutkan seolah-olah tidak ada satupun 

yang terjadi.129  

Sesuai dengan sudut pandang pencerahan, fokus perhatian 

mulai dari abad ke-18 belas berpindah dari Allah kepada 

dunia. Kalimat-kalimat terkenal dari Alexander Pope 

meringkaskan keadaan ini. Maka kenalilah diri sendiri, 

janganlah berpikir untuk meneliti Allah sebab  studi yang 

pantas bagi manusia yaitu  manusia itu sendiri. Dispilin-

disiplin ilmu baru bermunculan pada abad ke-19 di abdikan 

untuk manusia (psikologi, sosiologi, antropologi, dsb). 

Sebaliknya, terjadi perkembangan yang mencolok dalam hal 

kesadaran historis. Sarjana-sarjana Alkitab mencari Yesus 

historis. Teologi Alkitab di bawah tekanan dari dunia kantian 

untuk menarik diri dari pemikiran tentang kekekalan dan 

ontologi, cenderung membatasi referensi pernyataan-

pernyataan Alkitab tentang Bapa dan Anak kepada dimensi 

historis semata. Kasus klasik dalam hal ini yaitu  Oscar 

Cullmann bahwa Perjanjian Baru memiliki Kristologi yang 

 

murni bersifat fungsional.130 Masalah dengan alur pemikiran ini 

yaitu  bahwa, jika referensi pernyataan-pernyataan Alkitab 

secara eksklusif menyangkut dunia ini, maka Allah secara 

niscaya belum menyatakan diri-Nya sebagaimana Ia ada 

secara kekal. 

Kaum Injili memiliki masalah khusus mereka sendiri. 

Biblisisme merupakan ciri yang kuat. Terperosoknya Pasca-

reformasi ke dalam agama individual yang berpusat pada 

pribadi yang mengabaikan gereja dan dunia telah membuat 

banyak orang yang meragukan kredo-kredo ekumenis dan 

lebih memilih untuk menerima pemahaman-pemahaman 

mutakhir dari studi-studi biblika, tanpa mempedulikan apapun 

yang mungkin menjadi motivasi dibalik studi-studi itu. Aspek-

aspek utama dari doktrin gereja tentang Tritunggal sering 

diejek atau diabaikan sebagai spekulasi yang tak alkitabiah. 

Perlawanan terhadap doktrin ortodoks cenderung lebih sering 

berasal dari mereka yang menekankan Alkitab dengan 

mengorbankan ajaran-ajaran gereja. Orang-orang ini lupa 

bahwa gereja dipaksa untuk menggunakan bahasa di luar 

 

Alkitab sebab  bahasa Alkitab sendiri terbuka bagi beragam 

interpretasi. 

Hari ini kebanyakan orang-orang Kristen Barat termasuk 

kita yaitu  modalis-modali praktis. Hal ini berjalan sebab  

beriringan dengan kurangnya pemahaman umum atas doktrin 

Tritunggal yang historis. Bermuculannya analogi generik 

tentang tiga orang yang sama-sama memiliki aspek manusia 

yang umum yang telah dipertimbangkan dan ditolak oleh 

Gregory dari Nyssa dan lainnya, baru-baru ini diterima oleh 

banyak teolog. Analogi ini salah sebab , pertama, manusia 

tidak dibatasi oleh tiga orang. yaitu  mungkin untuk 

membayangkan satu atau lima triliun orang, sedangkan 

Tritunggal terdiri dari hanya tiga –tidak lebih, tidak kurang. 

Terlebih lagi tiga orang manusiamerupakan entitas-entitas 

pribadi terpisah, sedangkan tiga pribadi dari Trinitas berbagian 

dalam substansi yang sama, mendiami satu dengan yang lain, 

menempati ruang ilahi yang identik. Analogi ini membawa 

kepada triteisme atau pantheon131 bukan Tritunggal. Analogi-

analogi lain yang sering dipakai  oleh kaum Injili, seperti 

 

analogi daun semangi, satu tangkai dengan tiga daun. Akan 

tetepi setiap daun hanya sepertiga dari keseluruhan, 

sementara tiga pribadi dari Tritunggal baik bersama-sama 

maupun secara terpisah yaitu  Allah sepenuhnya. Analogi ini 

merusak keilahian dari ketiganya dan sekali lagi mereduksi 

menjadi modalisme. Seperti yang ditekankan oleh Gregory 

Nazianzen pada akhir orasi teologinya yang kelima, tidak ada 

analogi dalam dunia di sekitar kita yang secara memadai bisa 

menyampaikan doktrin Tritunggal. 

Colin Guntom telah menyampaikan argumen bahwa 

kecenderungan ke arah modalisme, yang diwarisi Augustinus, 

merupakan akar dari ateisme dan agnostisisme yang telah 

mengonfrontasi gereja Barat. Di mana konfrontasi yang terjadi 

di gereja Barat lebih hebat dari gereja Timur. Apapun 

keabsahan klaim Guntom, Trinitarianisme gereja Barat telah 

merasakan sulitnya mematahkan belengu-belengu yang 

dipasangkan oleh Augustinus.  

Gereja Timur telah melihat kecenderungan modalisme dari 

gereja Barat. Sebagai salah satu contoh utama, klausa 


filioque132 itu sendiri menurut mereka telah mengaburkan 

distingsi antara Bapa dan Anak dengan menganggap kedua 

berbagian secara identik dalam processio (keluarnya Roh). 

Menurut Gereja Timur, sebab  Bapa bukan Anak, dan Anak 

bukan Bapa, bagaimana Roh dikatakan keluar dari keduannya 

tanpa diferensiasi atau kualifikasi? Di mata gereja Timur, 

kurangnya distingsi ini menyisahkan permasalahan bagi 

keseluruhan doktrin Tritunggal gereja Barat.  

Sebaliknya, Gereja Barat dengan cepat menunjukan apa 

yang dilihatnya sebagai bahaya subordinasionisme, dan bukan 

triteisme, di gereja Timur. Dalam pengalaman saya sendiri 

yang terbatas, banyak orang dari gereja Barat menolak rujukan 

kepada hubungan-hubungan antara pribadi-pribadi dan 

tampaknya berpandangan bahwa rujukan yang demikian 

menyanggah kesetaraan atau bahkan kesatuan (oneness) dari 

ketiga pribadi. Sebagian, ini terjadi mungkin sebab  kurangnya 

perhatian yang diberikan kepada masalah itu dalam 

Protestanisme yang konservatif. 

 

 

Saya percaya bahwa pemulihan ajaran tentang Tritunggal 

pada tingkat dasar, tingkat hamba Tuhan dan ornag percaya 

biasa, akan menolong merevitalisasi kehidupan bergereja dan 

pada gilirannya, kesaksian gereja dalam dunia. Dalam 

peribadatan, menurut Paulus, pengalaman Kristen seluruhnya 

bernatur Tritunggal, mengalir dari keterlibatan ketiga pribadi 

Allah dalam merencanakan dan mendapatkan keselamatan 

kita. Rekonsiliasi yang diadakan oleh Kristus telah membawa 

setiap orang yang menjadi bagian dari jemaat ke dalam 

persekutuan dengan Tritunggal yang kudus. Baik orang Yahudi 

maupun non-Yahudi, kita memiliki jalan di dalam atau oleh Roh 

Kudus melalui Kristus kepada Bapa (Ef. 2:18). Dengan 

demikian, doa, penyembahan, dan persekutuan dengan Allah 

menurut definisinya bernatur Tritunggal. sebab  Bapa telah 

membuat diri-Nya dikenal melalui Anak “bagi kita dan 

keselamatan kita” di dalam atau melalui Roh Kudus, maka kita 

semua terbawa dalam gerak terbalik ini. Kita hidup, bergerak 

dan ada dalam atmosfir yang sepenuhnya Tritunggal. Kita 

mengingat kembali perkataan Yesus kepada perempuan 

Samaria, bahwa penyembah-penyembah yang benar mulai 

sekarang akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran 

 

 

(Yoh. 4:21-24). Betapa sering kita telah mendenggar bahwa 

hal ini menyangkut aspek batiniah yang dikontraskan dengan 

aspek jasmaniah, kepada kerohanian dari pada penyembahan 

material, kepada ketulusan yang dipertentangkan dengan 

formalisme. Artinya yaitu  bahwa segenap pengalaman 

Kristen akan Allah, termasuk penyembahan, doa, ataupun 

yang anda miiliki tidak dapat dielakan bernatur Tritunggal. 

Seberapa seringkah anda telah mendengar hal ini diajarkan, 

dikhotbahkan, atau ditekankan. Poin pentingnya yaitu  bahwa 

pada tingkat yang paling mendasar dari pengalaman Kristen, 

yang dapat disamakan dengan apa yang disebut Polayi 

sebagai tacit dimension (dimensi yang tak terungkap) dari 

pengetahuan ilmiah133, yaitu bahwa hal ini diketahui oleh 

semua orang percaya meskipun tanpa mereka sadari. Hal ini 

nantinya akan menjembatani kesenjangan antara tingkat 

pengalaman yang belum diutarakan dan pemahaman teologis 

 

133 Tacit knowledge atau pengetahuan tak terungkap yaitu  

pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia normal. Pengetahuan ini 

tidak ditulis dan diuraikan, namun tersimpan dalam ‘gudang’ pengetahuan 

kita. Hal ini muncul dari pengalaman, observasi, intuisi dan informasi yang 

terekam oleh otak kita dan sebagian besar didapatkan melalui asosiasi 

dengan orang lain, dan merupakan bagian integral dari kesadaran kita. 

yang telah maju, sehingga pengalaman ini secara eksplisit, 

secara nyata dan secara strategis terealisasi dalam 

pemahaman gereja dan anggota-anggotanya. 

Pada tingkat yang paling dasar, pandangan yang jelas 

mengenai Tritunggal seharusnya sangat mempengaruhi cara 

kita memperlakukan sesama manusia. Bapa memajukan 

kerajaan-Nya melalui Anak-Nya, Anak memuliakan Bapa, Roh 

berbicara bukan mengenai diri-Nya namun  mengenai Anak, dan 

Bapa memuliakan Anak. Semua akan menyebut Yesus 

“Tuhan” oleh Roh Kudus untuk kemuliaan Bapa. Masing-

masing dari ketiga pribadi itu bersuka akan kebaikan pribadi-

pribadi lainnya. Di Filipi 2:5-11, Paulus mendorong jemaat 

yang menerima suratnya untuk mengikuti teladan Kristus yang 

berinkarnasi. Kristus tidak menggunakan kesetaraan-Nya 

sendiri. Sebaliknya, Ia mengosongkan diri-Nya, dengan 

mengambil natur manusia dan dengan demikian 

menambahkan “rupa seorang hamba”. Ia taat sampai mati di 

salib, untuk memperoleh keselamatan kita. Dengan demikian, 

pengikut-pengikut-Nya harus membentuk hidup mereka seturut 

teladan hidup-Nya. Tindakan-tindakanya dalam pelayanan di 

dunia selaras dengan sikap-sikapnya sebelumnya sebab  apa 

yang Yesus lakukan seperti itulah Allah (melihat kepentingan-

kepentingan orang lain). Kontras dengan tujuan dari seluruh 

manusia yang telah jatuh ke dalam dosa yaitu  pengejaran 

kepentingan diri, namun  Allah secara aktif mengejar 

kepentingan-kepentingan pihak lain. 

Dalam bidang politik, pemahaman yang semestinya akan 

Allah Tritunggal, sejauh yang diberikan oleh penyataan-Nya 

dan sejauh kapasitas kita, seharusnya membawa kepada 

sesuatu yang sangat berbeda. sebab  Allah mencari 

kepentingan dan kesejahteraan pihak lain, sedangkan dalam 

dosa kita lebih dahulu mencari kepentingan diri kita, maka 

hanya masyarakat yang didasarkan pada ajaran Tritunggal 

yang dapat mencapai bentuk-bentuk yang benar-benar 

mendekati keseimbangan yang semestinya antara hak dan 

tanggung jawab, kebebasan dan keteraturan, damai dan 

keadilan.  

Saya pikir telah cukup banyak berbicara mengenai rongga-

rongga hampa yang serius dalam kesadaran Kristen masa kini 

tentang Allah Tritunggal, pada saat yang sama harganya 

sangat besar. Oleh sebab  itu, marilah kita mengakhiri 

bersama Augustinus. Ini yaitu  bidang dan pemikiran yang 

berbahaya, katanya sebab  ajaran sesat begitu banyak di 

kedua sisi. Pandangan-pandangan yang salah tentang Allah 

dapat memutar-balikan dan merusak penyembahan dan 

pelayanan kita, hidup dan kesaksian gereja dan pada akhirnya 

berimbas pada kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan 

dunia di sekitar kita. Studi yang saksama tentang Tritunggal 

juga mengandung bahaya karna pasti akan membawa kita 

rasa gentar dan penyembahan lebih dekat dan lebih penuh. Itu 

membebankan kepada kita suatu tanggung jawab yang besar 

dan hak istimewa untuk menjalani hidup dengan saleh. 

Tritunggal yaitu  suatu misteri, seperti kata Calvin, yang lebih 

untuk disembah dibandingkan  diteliti. Studi Tritunggal memang sulit 

sebab  kita berhadapan dengan perkara-perkara yang terlalu 

besar bagi kita, yang dihadapannya kita harus bersujut dalam 

penyembahan, mengakui sepenuhnya ketidak cukupan kita. 

Sebagaimana yang ditulis Barth, bahwa ketepatan secara 

eksklusif hanya ada pada hal yang mengenainya telah kita 

pikirkan dan katakan, bukan pada apa yang telah kita pikirkan 

dan katakan. Rujukan Lonergan, tidak ada pemahaman yang 

mengandung banyak kebenaran mengenai hal ini, sebab  ini 

yaitu  perkara-perkara di luar kemampuan kita. Akan namun , 

 

perenungan akan Tritunggal juga memberi  kita banyak 

upah sebab  ini yaitu  Allah kita, yang sungguh-sungguh telah 

menjadikan diri-Nya dikenal oleh kita (sampai batas 

pemahaman kita), memberi  diri-Nya kepada kita, dan 

dengan demikian oleh Roh memberi  melalui Anak jalan 

kepada Bapa dalam kesatuan keberadaan-Nya yang tidak 

terbagi-bagi. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu kita mengenal 

Bapa dan Anak-Nya Yesus Kristus, yang telah diutus-Nya, 

dalam kuasa dan oleh anugerah Roh Kudus. Dalam kehadiran-

Nya ada hidup dan sukacita yang kekal, bukan hanya bagi kita, 

namun  juga bagi mereka yang ada di luar kita. Marilah bertekun 

di tengah-tengah bahaya untuk hadiah yang besar dan sangat 

menakjubkan. Tuhan Memberkati kita semua. Amin.  

 

 

DAFTAR ISTILAH 

Pembicaraan mengenai Tritunggal tidak pernah lepas dari 

serangkaian istilah teologis. Untuk menolong anda saat  membaca 

buku, di bawah ini saya daftarkan beberapa istilah teologis yang 

mungkin tidak familiar jika anda tidak belajar teologi secara formal. 

ab extra, karya-karya Tritunggal: tindakan-tindakan ini dilakukan 

oleh ketiga Pribadi dalam kaitannya dengan dunia; penciptaan, 

providensi dan anugerah. Ini yaitu  tindakan-tindakan yang 

bebas, sebab  Allah tidak berkewajiban untuk menciptakan atau 

mendatangkan keselamatan sesudah  kejatuhan. 

ad intra, karya-karya Tritunggal: tindakan-tindakan yang dilakukan 

oleh ketiga pribadi dalam kaitannya dengan relasi-relasi internal 

Mereka sendiri, tanpa berkaitan dengan ciptaan. 

ada, keberadaan: sesuatu yang ada – suatu eksisten. 

adopsionisme: Suatu ajaran di masa Gereja awal yang 

berpandangan bahwa kristus menjadi Anak Allah dalam 

kebangkitan-Nya. 

anhypostasia: Dogma bahwa natur manusia Kristus tidak memiliki 

eksistensi pribadi pada dirinya sendiri, kecuali di dalam 

persatuan yang diterima oleh natur manusia itu di dalam 

inkarnasi. Ini berarti bahwa Anak Allah tidak menyatakan diri-Nya 

dengan seorang manusia (yang akan memicu  dua entitas 

pribadi), namun  dengan sebuah natur manusia. 

antropomorfis: Mendiskripsikan Allah dengan istilah-istilah 

manusia. 

apofatik: Mengenal Allah (menurut gagasan yang dominan dalam 

gereja Timur) terutama mengenai kontemplasi mistis, dibandingkan  

 

melalui proposisi-proposisi positif atau aktivitas intelektual. Kita 

harus mengosogkan pikiran kita kategori-kategori logis dan 

intelektual serta berdoa dalam ketidaktahuan. 

apropriasi: Pengantribusian sebuah karya Ilahi kepada satu Pribadi 

dari Tritunggal. Karya Allah. Namun masing-masing karya secara 

khusus diatribusikan (diapropriasikan) dengan satu pribadi. Jadi, 

hanya Anak yang berinkarnasi dan hanya Roh Kudus yang 

datang pada hari pentakosta. Ini tidak menyangkal bahwa dua 

pribadi lainnya juga terlibat dalam setiap tindakan ini. 

arian, kaum: Orang-orang yang memegang pandangan-pandangan 

atau sama dengan pandangan Arius (± 276-337), yang 

mengajarkan bahwa Anak Allah yaitu  suatu ciptaan yang 

menjadi ada pada suatu waktu, dan menjadi agen yang melalui-

Nya dunia dijadikan, namun  tidak sama kekalnya dengan Bapa, 

juga tidak dari keberadaan yang sama. 

atribut-atribut: Karakteristik-karakteristik khusus Allah, seperti 

kekudusan, kedaulatan, keadilan, kebaikan, kemurahan dan 

kasih. 

binitarianisme: Ide bahwa Anak yaitu  Allah, bersama Bapa, namun  

Roh Kudus bukan. Beberapa pernyataan di dalam Perjanjian 

Baru terlihat binitarian, namun  pernyataan-pernyataan ini tidak 

hanya merujuk kepada Roh, dan bukan menyangkal 

keikutsertaan-Nya dalam Allah. Kaum pneumatomachii di abad 

ke-4 yaitu  kaum binitarianis, dan ajaran ini ditolak oleh gereja 

karna diangap sesat. 

deifikasi: Menurut gereja Timur, tujuan keselamatan yaitu  

dijadikan serupa dengan Allah. Hal ini Roh Kudus kerjakan di 

dalam kita. Defikasi tidak memicu  pengaburun distingsi 

antara pencipta dan ciptaan, namun  berfokus pada persatuan dan 

 

persekutuan yang dikaruniakan Allah kepada, di mana kita 

dijadikan pengambil bagian dalam natur (kodrat) Ilahi (2 Pet. 

1:4). 

doketisme: Ajaran (dianggap sesat) di masa gereja awal bahwa 

kemanusiaan Kristus hanyalah kelihatan namun  bukan riil. Istilah 

ini yaitu  derivasi dari kata kerja Yunani dokein “tampak atau 

kelihatan”. 

doksologi: Suatu pujian, biasanya kepada Allah. 

dyotheletisme: Doktrin bahwa ada dua kehendak (yang selaras) 

dalam Kristus yang berinkarnasi. Doktrin ini bersuposisi bahwa 

kehendak yaitu  properti dari natur-natur Kristus (ilahi dan 

manusia), bukan dari pribadi-Nya. 

energi-energi: Menurut Gregory Palamas, esensi Allah tidak dapat 

diketahui. Kita berhubungan dengan energi-energi Allah, kuasa-

kuasa-Nya yang sedang berkerja dalam ciptaan. 

enhypostasi: Dogma yang dirumuskan pada Konsili Konstantinopel 

II (533) bahwa pribadi Kristus yang berinkarnasi yaitu  Anak 

yang kekal, yang mengambil natur manusia yang dikandung oleh 

Roh Kudus dalam kandungan Anak Dara Maria ke dalam 

persatuan. Di balik hal ini terdapat ajaran Alkitab bahwa manusia 

dijadikan menurut gambar Allah sehingga secara ontologis 

kompatibel dengan Allah pada tingkat ciptaan. Jadi, Anak Allah 

memberi  kepribadian bagi natur manusia yang diterima. 

eskatologis: berkaitan dengan hal-hal terakhir, dari kata Yunani 

eschatos (terakhir). 

esensi Allah: Apa adanya Allah, keberadaan-Nya (dari esse, ada). 

Eunomius: orang yang dianggap penyesat pada abad ke-4. Seperti 

Arius, ia menganggap bahwa Anak yaitu  ciptaan sehingga 

tidak memiliki keberadaan yang sama dengan Bapa. 

 

generatio (kekal): Properti unik Anak dalam relasi dengan Bapa. 

sebab  Allah itu kekal, relasi antara Bapa dan Anak yaitu  

kekal. Ini tidak boleh dipahami atas dasar generatio atau perihal 

memperanakan pada manusia, sebab  Allah yaitu  rohani. 

Kapasitas kita tidak mampu memahami hal ini. 

hermeneutika: Prinsip interpretasi yang menentukan bagaimana 

teks-teks atau realitas harus dipahami. 

homoousios: “Dari keberadaan yang sama,” yang berarti bahwa 

Anak dan Roh yaitu  dari keberadaan yang sama dan identik 

dengan Bapa. 

homoiousios: “Dari keberadaan yang mirip atau serupa,” sebuah 

istilah yang dipakai  oleh banyak orang yang takut bahwa 

kredo Nicea menyamakan Bapa dengan Anak. Banyak dari 

penganut paham ini memberi dukungan mereka bagi 

penyelesaian kontroversi Tritunggal pada tahun 381. 

hipostasis: Dari kata Yunani yang berarti sesuatu yang memiliki 

sebuah eksistensi yang konkrit. Dalam hal Tritrunggal, kata ini 

berarti “Pribadi”. Maka, di akhir kontroversi pada abad ke-4, kata 

ini merujuk kepada apa yang berdistingsi di dalam Allah, 

bagaimana Dia yaitu  tiga, sementara ousia dikhususkan untuk 

satu keberadaan Allah. 

katafatik: Dalam teologi Ortodox, katafatik terdiri dari afirmasi-

afirmasi positif (berlawanan dengan teologi apofatik, yang 

didasarkan pada negasi-negasi). Menurut Dionysius Areopagus, 

ini membawa kita pada pengetahuan tertentu akan Allah, namun  

dengan suatu cara yang tidak sempurna. Cara yang sempurna, 

satu-satunya cara yang tepat bagi Allah, yang natur-Nya tidak 

dapat diketahui, yaitu  metode apofatik – yang pada akhirnya 

akan membawa kita kepada ketidaktahuan total. 

 

kenotisisme: Didasarkan pada kata kerja Yunani kenoō 

(mengosongkan, Flp. 2:7), gagasan bahwa di dalam inkarnasi-

Nya Kristus melepaskan dari diri-Nya beberapa atribut Ilahi 

(kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahadiran). 

konsubstansialitas: Dogma bahwa Anak dan Roh Kudus yaitu  

dari substansi yang sama dengan Bapa. Ini berarti bahwa ketiga 

Pribadi yaitu  sepenuhnya Allah dan Allah seutuhnya. 

Kristologi Logos: Pada masa gereja awal, ada sejumlah spekulasi 

dari lingkaran-lingkaram helenistik dan gnostik tentang sebuah 

keberadaan pra-eksisten, Sang Logos. Penulis Injil Yohanes 

menggunakan istilah ini dalam merujuk kepada Kristus pra-

inkarnasi (Yoh. 1:1-18). Banyak Bapa Gereja ante-Nicea 

menggunakan istilah ini, namun  menambahkan beberapa konsep 

yang spekulatif sehingga pemikirannya cenderung menempatkan 

Anak dalam posisi subordinat dalam relasi dengan Bapa. 

Macedonian, kaum: Orang-orang yang dianggap pengikut 

Macedonius, uskup Konstantinopel dari tahun 324 sampai ia 

diturunkan pada tahun 360. Mereka menyangkal keilahian Roh 

Kudus. Macedonius sendiri mungkin tidak memegang 

pandangan ini. 

modalisme: pengaburan atau pengapusan distingsi-distingsi yang 

riil, kekal, dan tidak dapat direduksi lagi antara ketiga Pribadi 

Tritunggal. Bahaya ini tiimbul saat  kesatuan Allah, atau 

keidentikan ketiga Pribadi, terlalu ditekan sampai mengorbankan 

distingsi-distingsi pribadi. Bahaya ini juga dapat memgemuka 

saat  terdapat satu penekanan yang pervasif pada sejarah 

keselamatan, sampai-sampai menghapus rujukan apapun pada 

realitas kekal. saat  terjadi demikian, pernyataan Allah dalam 

sejarah manusia sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak lagi 

dipandang menyatakan siapa adanya Dia secara kekal di dalam 

diri-Nya. 

monarki/ monarkianisme: Kekuasaan tunggal, kekuasaan pada 

satu pihak. Ini merujuk pada kepada kesatuan (unity) Allah, ke-

satu-an (onenes)-Nya (bdk. Ul. 6:4). Di gereja Timur, yaitu  

umum untuk mendasarkan monarki pada Bapa. Akan namun , ini 

juga sering membawa kepada subordinasi Anak dan Roh – atau 

pada modalis, di mana Pribadi-pribadi lainnya direduksikan 

hanya sedikit lebih dari pada atribut-atribut. 

monistik: Mereduksikan realitas hanya pada satu prinsip. 

monotheletisme: Ide bahwa di dalam Kristus yang berinkarnasi 

hanya ada satu kehendak. Pandangan ini ditolak oleh gereja 

sebab  “kehendak” dipandang sebagai predikat dari kedua natur 

Kristus. Jika hanya ada satu kehendak, natur manusia Kristus 

akan dikurangi atau lebih buruk. 

natur Allah: Seperti apa Allah itu (Kasih, adil, kudus, mahakuasa, 

dst.). aspek-aspek khusus dari natur-Nya disebut atribut-atribut. 

Pada abad ke-4, natur Allah terkadang dipakai  sebagai 

sinonim untuk esensi dan keberadaan-Nya. 

Neoplatonisme: Suatu gerakan pada abad ke-3 dan ke-4 yang 

didasarkan pada dan mengadaptasi beberapa aspek filsafat 

Plato, bersama unsur-unsur dari sumber-sumber lainnya, 

termasuk   Kekristenan. Neoplatonisme berpengaruh sampai 

taraf tertentu terhadap Clement dari Aleksandria, Origen dan 

Agustinus sebelum ia menjadi Kristen. 

notiones: Dalam teologi Latin, notiones yaitu  karakteristik yang 

menentukan yang dimiliki Pribadi-pribadi Ilahi. Thomas Aquinas 

berpegang bahwa ada lima notiones: ketidak-berasal-usulan 

(innascibility), paternitas, filiasi, spirasi, dan processio. 

 

ontologis: berkaitan dengan keberadaan, yang ada. 

ordo: (Yunani: taxis) yaitu  relasi-relasi antara ketiga Pribadi 

Tritunggal memperlihatkan suatu ordo: Bapa memperanakan 

Anak dan mengutus Roh Kudus di dalam atau melalui Anak. 

Relasi-relasi ini tidak dapat dibalik. 

ordo salutis: Ordo keselamatan atau cara kita dibawah pada 

keselamatan oleh Roh Kudus dan dipelihara di sana. Itu cakupan 

panggilan efektif, regenerasi, iman dan pertobatan, pembenaran, 

adopsi, pengudusan, ketekunan, dan pemulihan, semuanya 

diterima dalam persatuan dengan Kristus. 

ousia: Keberadaan (yang ada). sebab  adanya satu Allah, Ia hanya 

memiliki satu ousia. Kata itu menunjuk kepada satu keberadaan 

Allah. 

panentheisme: Pandangan bahwa sementara Allah dan ciptaan 

berdistingsi, Allah ada di dalam ciptaan dan ciptaan ada di dalam 

Allah. Jadi, Allah secara integral terjalin dengan ciptaan dan 

bergantung padanya sama seperti ciptaan tergantung pada Dia. 

pantheisme: Pandangan yang menidentifikasikan Allah dengan 

ciptaan. Jadi, ciptaan harus disembah. 

paralelisme: Puisi Ibrani yang sajaknya bukan dalam kata-kata 

namun  ide-ide. Sering satu pernyataan diulang dalam bentuk yang 

sedikit berbeda. Ini tampak jelas di dalam Mazmur. 

perikhoresis: Keberdiaman mutual (saling mendiami) ketiga Pribadi 

Tritunggal dalam satu keberadaan Allah. 

pneumatomachii: “Pejuang-pejuang melawan Roh”, orang-orang 

yang sementara menerima keilahian Anak, tidak berpegang 

bahwa Roh Kudus yaitu  Allah. Menjadi terkenalnya mereka 

pada abad ke-4 memicu  dilaksanakannya konsili 

Konstantinopel (381), yang menyelesaikan pergunjingan 

Tritunggal dan menyatakan bahwa pandangan ini bidah (sesat). 

predikasi analogis: Argumen yang didasari pada analogi, di mana 

dua hal yaitu  serupa, namun  tidak semuanya sama. Ini dapat 

berbentuk mengantribusikan kepada Allah karakteristik-

karakteristik yang ada dalam ciptaan (mis. Kebaikan), 

meniadakan semua keterbatasan yang ada dalam ciptaan dan 

ketidakcukupan yang berdosa dari karakteristik-karakteristik 

sampai pada tingkat yang tidak terbatas. Theologi skolastik di 

gereja Barat sering menggunakan metode ini dalam membahas 

Allah. Akan namun  Protestanisme pada umumnya telah menolak 

pendekatan ini, dan mendasarkan pembahasan tentang Allah 

pada penyataan Alkitab. 

pribadi-pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ada banyak 

perdebatan tentang apakah pribadi yaitu  istilah yang tepat atau 

memadai untuk ketiganya, sebab  dalam pemakaian  

modernnya kata ini mengandung makna individu-individu yang 

terpisah. Akan namun  alternatif-alternatif yang diajukan tidak ada 

kata yang berhasil membuktikan diri cocok untuk 

menggantikannya, sebab  kata-kata itu menghasilkan pandangan 

tentang Allah yang kurang dari berpribadi. 

processio: Diperanakan dari Anak secara kekal dan processio kekal 

Roh Kudus. Kedua hal ini dipadankan dengan misi-misi, 

pengutusan Anak dan Roh dalam sejarah. Gereja Timur 

menyebutkan diperankannya Anak oleh Bapa sebagai processio 

sebagai kesalahan. Bagi gereja Timur, ini yaitu  

pencampuradukan Bapa dan Anak yang khas dilakukan oleh 

gereja Barat. 

processio kekal: Relasi kekal Roh Kudus dengan Bapa (dan 

dengan Anak, dalam pandangan gereja Barat). 

properti-properti: Peternitas, filiasi, spirasi aktif, spirasi pasif 

(processio) dan ketidak-berasal-usulan (lih. nationes). 

protologi: Doktrin tentang hal-hal yang pertama (dari kata Yunani 

prōtos, pertama). Itu dapat berhubung dengan penciptaan atau 

dengan pra-eksistensi ilahi di dalam kekekalan. 

relasi-relasi: Relasi antara Bapa dan Anak, Anak dan Bapa, Bapa/ 

Anak dan Roh Kudus, dan Roh Kudus dan Bapa/ Anak. Ini 

dipandang secara berbeda di gereja Timur dan Barat. Relasi-

relasi di antara ketiga pribadi berbeda, dimana Bapa yaitu  yang 

pertama, Anak yang kedua, dan Roh Kudus yang ketiga. Bapa 

memperankan Anak dan memancarkan Roh kudus; Ia tidak 

diperanakan maupun ber-processio. Anak diperankan dan 

(menurut gereja Barat) berbagian bersama Bapa dalam 

pemancaran atau pengutusan Roh, dan tidak ber-processio dari 

Bapa dan dari (atau melalui) Anak, namun  tidak memperanakan 

dan tidak diperanakan. Relasi ini tidak dapat dibalik. 

Sabellianisme (lih. modalis): Sebellius berpegang, bahwa Allah 

yang esa menyatakan diri-Nya secara berurutan sebagai Bapa, 

Anak dan Roh Kudus, dan bahwa ini bukanlah distingsi-distingsi 

pribadi yang kekal. 

Sofia (sophia, hikmat): yaitu  sebuah tema yang dikembangkan 

oleh teologi Ortodoks Rusia selama dua abad terakhir. Tema ini 

memiliki daya tarik bagi teolog-teolog feminis, atas dasar yang 

tidak relevan bahwa kata sophia yaitu  nomina feminin. 

spirasi: Karakteristik yang mendifinisikan Roh Kudus: processio dia 

dari (spirasi pasif) atau diembuskannya Dia oleh (spirasi aktif) 

 

Bapa. Gereja Barat menegaskan bahwa Roh juga ber-processio 

dari Anak (klausa filioque). 

subordinasionisme: Ajaran bahwa Anak dan Roh Kudus memiliki 

keberadaan atau status yang lebih rendah dari Bapa. 

substansi: “bahan” yang membentuk seseorang atau sesuatu. Ada 

satu substansi yang identik yang dimiliki secara penuh dan 

mutlak oleh Bapa, Anak dan Roh. 

theofani: Penampakan Allah di dalam Perjanjian Lama dalam 

bentuk manusia atau ciptaan lain. 

Trinitas sosial: Suatu pemahaman akan Tritungal yang melihat 

ketiga Pribadi sebagai sebuah komunitas yang saling 

berinteraksi. Premis dasarnya yaitu  bahwa ketiga Pribadi 

memiliki prioritas di atas keberadaan (esensi) yang esa. 

Trinitas ekonomi: Tritunggal sebagaimana yang dinyatakan dalam 

ciptaan dan keselamatan – yang bertindak dalam sejarah 

manusia. 

Trinitas ontologis/ imanen: Tritunggal dalam diri sendiri, atau 

ketiga Pribadi saat  Mereka berelasi satu dengan yang lain, 

tidak disangkutkan dengan ciptaan. 

tritheisme: Kepercayaan bahwa ada tiga allah. Ada 

pandangan bahwa penekanan yang berlebihan pada ketiga 

Pribadi dapat membawa pada suatu kepercayaan bahwa 

ada tiga Allah, bukan satu.