• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tuhan Tritunggal

 


A. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan 

Menguasai pola pikir dan struktur keilmuan serta materi ajar Pendidikan Agama 

Kristen dalam perspektif Alkitabiah maupun  ilmu pengetahuan lainnya sehingga dapat 

menjawab apa, siapa, bagaimana dan mengapa  Sifat Tuhan  Tritunggal dan KasihNya 

harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

 

B. Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan 

1. Menganalisis ajaran Alkitab tentang Tuhan  Tritunggal 

2. Menganalisis sejarah terbentuknya dokrin Ketritunggalan Tuhan  

 

C. Pokok-Pokok Materi 

1. Ajaran Alkitab tentang Tritunggal 

2. Sejarah terbentuknya dokrin Ketritunggalan Tuhan  

 

D. Uraian Materi 

1. Ajaran Alkitab Tentang Tuhan  Tritunggal 

Dokrin KeTritunggalan Tuhan  atau Trinitas merupakan salah satu dokrin yang 

istimewa dan unik bagi umat Kristen. Dikatakan istimewa dan unik sebab iman 

Kristen berkayakinan bahwa Tuhan  itu esa, namun juga ada tiga yang yaitu  Tuhan . 

Dokrin ini sangat penting bagi perkembangan iman Kristen sebab  berkaitan dengan 

siapakah Tuhan  yang disembah, bagaimana cara kerjaNya, bagaimana manusia harus 

mendekatiNya. namun  sekaligus juga menjawab beberapa pertanyaan praktis yang 

sering muncul dalam kehidupan umat Kristen maupun dalam kehidupan bersama 

dengan sesama yang beragama lain, misalnya siapakah yang harus disembah, apakah 

Tuhan  Bapa, Tuhan  Anak atau Tuhan  Roh Kudus, apakah Tuhan  Bapa lebih tinggi 

kedudukanNya dari Tuhan  Anak dan Tuhan  Roh Kudus ?. sebab  itu pada kegiatan 

belajar satu ini kita akan meneliti dokrin TriTunggal Tuhan  dengan berusaha 

menemukan ajaran Alkitab tentang dokrin ini. 

 

a. Keesaan Tuhan  

Agama orang Ibrani Kuno sangat mempertahankan iman yang monoteistis, dan 

telah berkali-kali dinyatakan kepeda Israel dengan berbagai cara. Misalnya dalam 

Keluaran 20:2-3. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “dihadapanKu” yaitu  ‘al 

panai yang secara harafiah berarti “di Muka-Ku”. Hal ini mengungkapkan bahwa 

Tuhan  telah menunjukkan realitas-Nya yang unik melalui apa yang telah dilakukan-

Nya, sehingga Ia berhak menuntut penyembahan, pengabdian dan ketaatan mutlak dari 

bangsa Israel. Tuhan  melarang untuk menyembah berhala (ay. 4) sebab  Dia sajalah 

Tuhan . 

Selain itu sebuah petunjuk yang jelas tentang Tuhan  itu tunggal atau esa terdapat 

dalam Syema Israel di Kitab Ulangan 6. Ini yaitu  kebenaran yang luar biasa dari 

Tuhan  yang harus diajarkan oleh para orang tua Israel kepada anak-anak mereka. 

Dalam Ulangan 6:13,14 menunjukkan bahwa Tuhan  itu Esa, dan tidak ada dewa-dewa 

bangsa lain di sekitar Israel yang harus dianggap benar dan layak untuk dilayani dan 

disembah (bdg. Kel 15:11; Zakh. 14:9). Selain dalam Perjanjian Lama, maka dalam 

Perjanjian Baru  Yakobus 2:19 menganjurkan untuk percaya kepada Tuhan  yang Esa. 

Dalam 1 Korintus 8:4,6 Rasul Paulus juga menggarisbawahi keunikkan Tuhan  dengan 

mengemukakan “…tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Tuhan  lain daripada Tuhan  

yang esa…bagi kita hanya ada satu Tuhan  saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal 

segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus, yang 

olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang sebab  Dia kita hidup”. 

Keesaan Tuhan  berarti bahwa, pertama,  hanya ada satu Tuhan  saja dan bahwa 

sifat dasar atau watak Tuhan  tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi (Ul. 4:35; I Raja. 

8:60; Yes. 45:5-6). Tuhan  tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu atau dapat diuraikaan 

menjadi bagian-bagian tertentu. Tuhan  itu sederhana, menurut angka Ia hanya satu, 

bebas dari segala bentuk paduan. Tuhan  itu Roh adanya sehingga tidak dapat diurai. 

Yang berinkarnasi menjadi manusia dan mati disalibkan yaitu  Anak, namun tidak 

berarti bahwa Bapa yang mengutus Anak ke dalam dunia dan Roh Kudus yang 

membaharui orang percaya kepada Anak, tidak bersama-sama dengan Dia. 

Kedua, Tuhan  itu esa sebab  ketiga Oknum tersebut memiliki satu hakikat atau 

substansi yang tidak saja sama namun  satu. Hakikat yang satu ini yaitu  hidup, terang, 

kasih, kebenaran, kemuliaan, kekuasaan, kekekalan, dan lain-lain. Seperti Bapa 

sempurna demikian juga Anak dan Roh Kudus. Suatu keesaan tidak sama dengan 

suatu kesatuan. Satu kesatuan ditandai dengan sifat tunggal. namun  keesaan Tuhan  

memberikan peluang bagi adanya perbedaan-perbedaan pribadi di dalam sifat dasar 

ilahi. Dengan demikian keesaan Tuhan  menyatakan secara tidak langsung bahwa ketiga 

Oknum Tritunggal bukanlah hakikat-hakikat yang terpisah di dalam hakikat Ilahi itu. 


 

b. Konsep Keilahian Tiga Oknum 

Tritunggal dalam teologi  Kristen berarti bahwa ada tiga Oknum kekal  dalam 

hakikat Ilahi yang satu itu, yang masing-masing dikenal  sebagai Tuhan  Bapa, Tuhan  

Anak dan Tuhan  Roh Kudus, yang dapat dikatakan sebagai tiga kepribadian Tuhan . 

saat  berbicara tentang adanya Tiga Oknum yang merupakan Tuhan  maka juga perlu 

dipelajari dari kesaksian Alkitab. Selain Bapa yang telah disebut sebagai Tuhan  dalam 

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, maka dalam 1 Korintus 8:4; 1 Timotius 

2:5-6, dapat ditemukan berbagai kasus di mana Yesus menyebut Bapa sebagai Tuhan . 

sedang  ayat kunci menurut Millard Erikson yang menunjukkan keilahian Yesus 

terdapat dalam Filipi  2:5-11. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “rupa” yaitu  

kata μορφη (morphe) yang berarti seperangkat ciri khas yang membentuk keadaan 

sesuatu. Bagi Paulus yang yaitu  seorang ortodoks dan dibina dalam ajarana Yahudi 

yang ketat ini merupakan pernyataan yang mengherankan sebab  mencerminkan iman 

gereja mula-mula, dan mengemukakan penyerahan yang mendalam terhadap 

keilahian Yesus. Bukan hanya soal penggunaan kata μορφη, namun  juga oleh 

ungkaopan “setara” ισα” dengan Tuhan . Ayat 6 ini melukiskan bahwa Yesus itu setara 

dengan Tuhan , namun  tidak berusaha untuk mempertahankannya. Selain itu saat 

menghadap kayafas, Yesus sangat menekankan keilahian-Nya, dan juga saat Thomas 

menyapaNya dalam Yohanes 20:28. 

Selain Yesus dalam Alkitab juga menunjukkan Roh Kudus yaitu  Tuhan . 

Misalnya dalam kisah Ananis dan Safira (KPR. 5:3-4) yang menekankan bahwa 

berdusta kepada Roh Kudus (ay.3) disamakan dengan berdusta kepada Tuhan  (ay.4). 

Roh Kudus juga dilukiskan memiliki sifat-sifat Tuhan  dan dapat melakukan apa yang 

dilakukan Tuhan . Misalnya menginsyafkan manusia akan dosa, kebenaran dan 

penghakiman (Yoh. 16:8-11), melahirkan kembali atau memberi hidup baru (Yoh. 

3:8). Dalam 1 Petrus 1:2, Petrus menyebut para pembaca suratnya sebagai orang-

orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Tuhan , Bapa kita, dan dikuduskan oleh Roh 

untuk taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. 

 

c. Ke-Tritunggalan Tuhan  

Perjanjian lama mencatat bahwa Tuhan  berkali-kali memakai kata ganti jamak 

(Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yes. 6:8) serta kata kerja jamak (Kej. 1: 26; 11:7) untuk 

menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Nama Tuhan  yang dipakai dalam ayat-ayat ini 


yaitu  Elohim yakni sebuah istilah jamak. Keadaan jamak yang melukiskan 

KeTritunggalan ini dapat ditemukan dalam kenyataaan berikut : 

a. Tuhan dibeda-bedakan dari Tuhan Tuhan  (Kej. 19:24; Hos. 1:7; Zach 3:2). 

b. Anak Tuhan  dibeda-bedakan dari Tuhan  Bapa (Yes 48:16 bdg. Maz. 45:7-8; Yes. 

63:9-10) 

c. Roh juga dibedakan dari Tuhan  Bapa (Kej. 1:1; 6:3; Bil. 27:18). 

Selain itu dalam Perjanjian Lama dikemukakan Malaikat Tuhan yang bukan 

malaikat biasa, sebab  Malaikat Tuhan itu berfirman atas namaNya sendiri dan mau 

disembah (Kej. 16:10; Yos.5; Hak.21). Istilah Malaikat Tuhan dalam Perjanjian 

Lama merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua dalam ke-Tuhan an sebelum 

penjelmaan-Nya, dan merupakan pertanda dari kedatangan-Nya sebagai manusia di 

kemudian hari. Malaikat Tuhan disamakan dengan Tuhan, namun berbeda dengan 

Tuhan. Dalam Perjanjian Lama ditemukan juga pernyataan tentang Roh Tuhan  yang 

memberi ilham kepada manusia (Yeh. 11:5). Kadang juga diperlihatkaan Oknum 

yang lebih dari satu (Maz. 33:6; 45:6-8; Yes. 63:8-10). Dalam beberapa ayat Alkitab 

juga ketiga Oknum Ilahi dihubungkan satu dengan yang lain dan ditampilkan setara. 

Misalnya dalam formula baptisan dalam Amanat Yesus (Mat. 28:19-20). Nama yang 

digunakan dalam ayat-ayat ini yaitu  dalam bentuk tunggal, meskipun ada tiga 

Oknum yang termasuk. Selain itu hubungan ketiga Oknum ini juga terdapat dalam 

berkat Paulus (2 Kor. 13:13). Pada saat pembaptisan Yesus, ketiga Oknum 

Tritunggal hadir. Sang Anak dibaptis, Roh Tuhan  turun seperti burung merpati, serta 

Tuhan  Bapa mengucapkan kata-kata pujian tentang Sang Anak. Petrus juga 

menekankan hubungan ketiga Oknum Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam khotbahnya 

pada hari Pentakosta (Kis. 2:33,38).  

Injil Yohanes juga memberikan bukti yang kuat tentang kesetaraan Tritunggal. 

Rumusan rangkap 3 dijumpai berkali-kali sebagaimana diamati oleh George Hendry 

yang dikutip Erikson, yakni Anak diutus oleh Bapa (14:24), dan berasal dari Dia 

(16:28). Roh diberikan oleh Bapa (14:16), diutus oleh Bapa (14:26) dan berasal dari 

Bapa (15:16). Sekalipun demikian , Anak sangat terlibat dalam kedatangan Roh 

Kudus; Anak mendoakan kedatangan-Nya (14:6), Bapa mengutus Roh dalan nama 

Anak (14:26), Anak akan mengutus Roh dari Bapa (15:26). Pelayanan Roh Kudus 

dipahami sebagai kelanjutan dari pelayanan Anak. 

Yesus dalam pelayanan-Nya pun menunjukkan persatuan-Nya dengan Bapa, 

dengan mengatakaan “Aku dan Bapa yaitu  satu “(10:30) dan “Barangsiapa telah 

melihat Aku, ia telah melihat Bapa”(14:9). Dia berdoa agar para murid-Nya bersatu 

sebagaimana Dia dan Bapa yaitu  satu juga (17:21). 

 

2. Latar Belakang Munculnya Dokrin Tritunggal 

Sepanjang dua abad pertama tarikh Masehi tidak ada usaha yang serius untuk 

menggumuli masalah-masalah teologis dan filosofis yang berkaitan dengan ajaran 

Tritunggal. Ditemukan penggunaan formula Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun  tidak 

ada usaha untuk menjelaskannya secara rinci. Misalnya Yustinus dan Tatian 

menekankan kesatuan hakikat antara Firman dan Bapa dengan perumpamaan tidak 

mungkin memisahkan terang dari sumbernya, yakni matahari. Yang menunjukkan 

bahwa sekalipun Firman dan Bapa itu berbeda, keduanya tidak dapat dipisahkan. 

Istilah Tritunggal tidak pernah dipergunakan dalam Alkitab. Orang yang pertama 

menggunakan istilah ini yaitu  Tertulianus. Menurut Tertulianus, terdapat tiga wujud 

dari Tuhan  yang Esa. Sekalipun ketiga wujud itu berbeda menurut angka, sehingga 

dapat dihitung, namun merupakan penyataan dari suatu kekuatan tunggal yang tidak 

terpisahkan. Sebagai ilustrasi dari persatuan di dalam Ke-Tuhan an, Tertulianus 

menunjuk pada persatuan antara akar dan tunasnya., sumber air dengan sungainya, 

matahari dengan terangnya. Bapa, Anak, dan Roh merupakan zat yang sama, 

diperluas menjadi tiga perwujudan, namun tidak terbagi. Tertulianus menggunakan 

istilah Tritunggal berdasarkan apa yang dikemukan dalam 1 Yohanes 5:7. Kata-kata 

“…Ketiganya yaitu  satu” menjadi indikasi dari Tritunggal. Istilah Tritunggal 

dipergunakan Tertulianus dengan pengertian bahwa substansi Tuhan  yaitu  satu, 

namun ada tiga Oknum, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Penjelasan Tertulianus 

memiliki kelemahan sebab  ia membedakan Oknum I dan Oknum II dalam 

derajatNya. Menurut Tertulianus Oknum II, yakni Anak lebih rendah derajatnya dari 

Oknum I sebagai Bapa. Setelah Tertulianus muncul Origenes yang mengemukakan 

bahwa  bukan hanya Anak yang lebih rendah dari Bapa, namun  Oknum III, yaitu Roh 

Kudus lebih rendah dari Anak dan Bapa. Bahkan Arians menyangkali keilahian Anak 

dan Roh Kudus. 

Pada akhir abad ke-2 dan permulaan abad ke-3, muncul dua usaha untuk 

menghasilkan definisi yang lebih tepat tentang hubungan antara Kristus dengan Tuhan . 

Pandangan ini disebut Monarkhianisme (harafiah,”satu-satunya kekuasaan tertinggi”), 

sebab  menekankan keunikan dan persatuan Tuhan . Usaha yang pertama dikenal 

dengan pandangan monarkhianisme dinamis, pencetusnya yaitu  seorang pedagang 

kulit hitam dari Bizantium yang bernama Theodotus. Ia memperkenalkan pandangan 

ini di Roma sekitar tahun 190. Theodotus berpendapat bahwa sebelum dibaptis Yesus 

yaitu  manusia biasa, walaupun benar-benar saleh. Dan pada saat dibaptis, Roh atau 

Kristus hinggap diatas-Nya dan Yesus dapat melakukan berbagai mujizat. Dan bagi 

Theodotus Yesus yaitu  manusia biasa, diilhami, namun  tidak didiami oleh Roh 

Kudus. 

Pada parohan kedua abad ke-3, tampil Paulus dari Samosata yang 

mempertahankan bahwa Firman (Logos) tidak merupakan wujud yang berkepribadian 

dan mampu hidup sendiri. Hal ini berarti Yesus Kristus bukan Firman. Tapi menurut 

Paulus dari Samosata, Firman itu merujuk pada perintah dan ketetapan Tuhan . Tuhan  

memerintahkan dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dengan perantaraan 

manusia yang namanya Yesus. Inilah yang dimaksudkan dengan logos dalam 

Yohanes 1.  Dengan demikian terdapat unsur kesamaan antara Tertulianus dengan 

Paulus dari Samosata, yaitu kenyataan bahwa Tuhan  hadir secara dinamis di dalam 

kehidupan manusia yang namanya Yesus, namun sama sekali tidak terdapat kehadiran 

Tuhan  yang benar-benar nyata di dalam diri Yesus. 

Usaha kedua dikenal dengan pandangan monarkhianisme modalis yang berusaha 

meneguhkan dokrin Tritunggal. Monarkhianisme modalis juga berusaha 

mempertahankan dokrin kesatuan Tuhan , namun  juga mengakui keilahan penuh Yesus 

Kristus. Menurut pandangan monarkhianisme modalis istilah Bapa menunjuk kepada 

Ke-Tuhan an itu sendiri, dan setiap gagasan bahwa Firman atau Anak itu kepribadian 

yang lain dari Bapa agak sulit diterima oleh golongan ini. Adapun tokoh dari gerakan 

ini yang menonjol yaitu  Noetus dari Smirna, yang aktif pada akhir abad ke-2 dan 

Sabellius yang menulis dan mengajar di bagian awal abad ke-3 dan yang 

mengembangkan pemikiran dokrin gerakan ini sehingga memperoleh bentuk yang 

lengkap dan cangkih.  

Gagasan pokok dari golongan ini yaitu  hanya ada satu Ke-Tuhan an yang dapat 

disebut dengan berbagai cara sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Istilah-istilah ini 

tidak menunjukkan kepada pembedaan yang nyata, namun  sekedar merupakan nama 

yang dianggap cocok dan dapat digunakan pada saat-saat yang berbeda. Bapa, Anak 

dan Roh Kudus itu identik, ketiganya merupakan penyataan yang berturut-turut dari 

Oknum yang sama. Hal ini berarti pemecahan monarkhianisme  modalis terhadap 

paradox ketigaan dan keesaan yang digagaskan bukanlah bahwa Tuhan  yaitu  tiga 

Oknum dengan tiga nama, namun  satu Oknum dengan tiga nama, tiga peranan, atau 

tiga kegiatan yang berbeda. 

Selain itu gagasan lainnya dari modalisme ialah Sang Bapa ikut menderita 

bersama dengan Kristus, sebab Bapa benar-benar hadir di dalam dan secara pribadi 

identik dengan Yesus, Sang Anak. Pandangan ini dikenal sebagai Patripassianisme”, 

dan pandangan ini dianggap sesat sebab  dianggap bertentangan dengan filsafat 

Yunani bahwa Tuhan  tidak dapat merasakan penderitaan atau kesakitan. 

Pendapat yang beragam dan saling bertentangan ini dianggap mengganggu 

keberadaan dan pertumbuhan gereja sehingga diabad ke-4 gereja mengadakan siding 

dengan tujuan merumuskan rumusan yang benar bagi Tritunggal. Pada siding gereja 

di Nicea (Tahun 325 Ses M) dibuat kesimpulan bahwa hanya ada satu bukan tiga 

Tuhan , dan bahwa Anak dilahirkan secara kekal dari subsatansi Bapa, sebab  itu Anak 

sederajat dengan Bapa. Dan pada siding gereja berikutnya tahun 381 di Kontantinopel 

lebih dipertegas lagi rumusan tentang Oknum Roh Kudus dengan dikemukakan 

bahwa Roh Kudus juga sederajat dengan Anak dan Bapa. 

Pada masa reformasi dan sesudahnya kesalahpamahamn tentang dokrin Tritunggal 

muncul lagi secara berulang-ulang. Misalnya golongan Arminians demi menegaskan 

kesatuan Tuhan , cenderung merendahkan Oknum Anak dan Roh Kudus, dan Oknum 

Bapa dianggap derajatNya lebih tinggi. Selain  itu dari golongan Lutheran juga 

mengikuti modalisme dengan menganggap keberadaan Bapa, Anak dan Roh Kudus 

hanyalah model yang berbeda dari Tuhan  yang satu. 

Pemahaman tentang hakikat Tuhan   merupakan sumbangan pemikiran Origenes 

tentang keesaan Tritunggal. Dan pada sidang gereja tahun 325 di Necia status 

dogmatis tentang keesaan Tuhan  diterima dengan menggunakan istilah homo-usios 

(satu hakekat), sehingga bermakna satu hakekat, keberadaan dasar, essens atau 

substansi. 

Salah satu tokoh yang paling kreatif dalam sejarah teologi Kristen yaitu  

Augustinus dalam karyanya De Trinitate, ini merupakan karyanya yang terbesar di 

mana ia memperkerjakan kecerdasan berpikirnya yang luar biasa untuk memecahkan 

persoalan Tritunggal. Augustinus lebih menekankan persatuan Tuhan  dari pada 

ketigaan Tuhan . Menurut Augustinus Tiga anggota Tritunggal bukanlah Oknum-

Oknum yang tersendiri, namun  setiap Oknum mempunyai hakekat yang identik dengan 

Oknum yang lain atau dengan substansi ilahi itu sendiri. Oknum-Oknum tersebut 

berbeda berkenaan dengan hubungan mereka di dalam Ke-Tuhan an. Dalam De 

Trinitate analogi yang didasarkan pada kegiatan pikiran disajikan dalam tiga tahap 

atau tiga Trinitas, yaitu : 

1. Pikiran, pengetahuan tentang dirinya, dan cintanya pada dirinya; 

2. Daya ingat, pengertian dan kehendak; 

3. Pikiran yang mengingat Tuhan , mengetahui Tuhan  dan mengasihi Tuhan . 

  Augustinus menarik kesimpulan bahwa manusia secara sadar memusatkan perhatian 

pada Tuhan , ia sepenuhnya memperlihatkan gambar Penciptanya. 

Dengan demikian dokrin Tritunggal merupakan bagian yang sangat penting dari 

iman Kristen. Masing-masing dari ketiga Oknum ini harus disembah sebagai Tuhan  

Tritunggal. Dokrin tersebut tidak masuk akal dari sudut pandang manusia sehingga 

tidak seorang akan menciptakannya. Menurut Millard J. Erikson, Orang Kristen tidak 

menganut dokrin Tritunggal sebab  dokrin itu nyata dan secara logis kuat dan 

meyakinkan, namun  menganutnya sebab Tuhan  telah menyatakan bahwa demikianlah 

keadaan-Nya. Erikson mengutip pernyataan seseorang demikian : 

Cobalah menjelaskan, dan anda akan hilang akal; namun  cobalah 

mengingkarinya, maka jiwa anda akan hilang. 

 

Dalam sebauh artikel yang ditulis oleh Samuel T. Gunawan dikemukakan beberapa 

pandangan yang keliru tentang Tritunggal atau Trinitas, sebagaai berikut : 

1. Triteisme, yakni pandangan yang menolak keesaan Tuhan  dan percaya pada tiga 

Tuhan . 

2. Monarkkianisme, yang menekankan bahwa Tuhan  anak hanyalah merupakan mode 

lain dari pernyataan Tuhan  Bapa. 

3. Sabellianisme. Sabelius dari Ptolomais yang menyatakan bahwa Bapa, Anak dan 

Roh Kudus yaitu  tiga bentuk eksistensi atau manifestasi dari satu Tuhan . Dalam 

pandangan ini , Tritunggal bukan berkaitan dengan natur Tuhan , namun  hanya cara 

Tuhan  menyatakan diriNya. 

4. Arianisme, Arius seorang penatua yang anti Trinitarian dari Alexandria 

mengajarkan Tuhan  yang kekal yang esa dari Anak yang diperanakkan oleh Bapa, 

dank arena itu, Anak memiliki permulaan (diciptakan). Jadi Arius 

mengsubordinasikan anak pada Bapa. sedang  Roh Kudus yaitu  yang pertama 

diciptakan oleh Anak. Dan Tuhan  Bapa satu-satunya yang sama sekali tidak 

mempunyai permulaan. 

5. Socinianisme, Socinus pada abad ke enam belas mengajarkan bahwa yaitu  keliru 

untuk mempercayai pribadi-pribadi dari Trinitas memiliki satu hakekat yang esa. 

Paham mengajarkan bahwa hanya ada satu zat yang ilahi yang terdiri hanya satu 

pribadi. Socinus melakukan penyangkalan terhadap pra eksistensi Anak dan 

menganggap Anak hanya seorang manusia. Dan ia mendefinisikan Roh Kudus 

sebagai kebajikan atau tenaga yang mengalir dari Tuhan  kepada manusia. 


Marsionisme

 


MARSIONISME

Ada banyak ajaran yang memakai  dasar agama Kristen sebagai basis. Termasuk pula yang 

mengherankan yaitu ajaran Marsionisme: asal usul, aliran ajarannya, dan larangannya yang mana 

ternyata tidak sesuai firman Allah. sebab  itulah sebaiknya umat Kristen berhati-hati dan mengetahui 

bagaimana ajaran serta doktrin ini  diterapkan pada jemaatnya. Sebaiknya utamakan manfaat 

berdoa bagi orang Kristen supaya tidak terjerat aliran sesat ini . Ada baiknya pula mengetahui lebih

jelas tentang ajaran gereja ini supaya dapat menghindari. Oleh sebab  itu, sebaiknya pahami dengan 

jelas mengenai ajaran Marsionisme: asal usul, aliran ajarannya, dan larangannya.

Asal Usul Ajaran Marsionisme

Bagi yang tidak pernah mendengar ajaran yang satu ini, ajaran Marsionisme merupakan salah satu 

ajaran yang didirikan oleh Marsion. Ajaran ini timbul pada kisaran abad kedua. Marsion ini sendiri lahir 

dan tumbuh di Sinope, Pontus, Asia Kecil pada tahun 70 hingga 150. Ajaran Marsionisme ini sendiri 

tercetus sebab  berasal dari aliran gnostic yang banyak dipercaya dan diterapkan oleh dirinya. Sehingga 

berkembang menjadi pemahaman berupa aliran sesat dalam agama Kristen dan kemudian 

diberitahukan pada banyak orang Kristen di masa ini .

Tidak hanya berupa pengajaran saja, tetapi aliran ini juga dikembangkan berupa banyak buku oleh para 

penerus dan pengikutnya. Termasuk oleh Tertulianus melalui buku-buku yang dia terbitkan. Pada 

perkembangannya di masa sekarang, ajaran Marsionisme ini mulai ditinggalkan orang dan tidak 

dipercayai lagi, sebab  dianggap eksklusif dan tidak konstruktif terhadap sejarah pengakuan iman rasuli 

mengenai Tuhan Yesus yang tertulis dalam Alkitab.

Aliran Ajaran Marsionisme

Bagi yang tidak mengetahui mengenai ajaran Marsionisme, sebenarnya pusat dari inti pandangan dan 

pengajaran yaitu  perbedaan yang dikemukakan antara Allah di Perjanjian Lama dan Allah pada 

Perjanjian Baru. Dikatakan oleh ajaran ini  bahwa Alkitab mengisahkan dua Allah, yang mana Allah 

di Perjanjian Lama merupakan Allah yang lebih kejam dan melupakan prinsip kasih tentang Alkitab. 

Digambarkan bahwa Allah pada masa lalu ini kejam dan mudah menghukum umat. Bahkan Allah pada 

masa lalu digambarkan sebagai Allah yang tidak adil dan tidak sempurna. Berbeda dengan Allah pada 

Perjanjian Baru yang lebih penuh kasih dan penyayang. Allah di Perjanjian Baru lebih pemurah dan 

tergambar dengan baik melalui diri Yesus Kristus.

Sehingga pada dasarnya ajaran aliran ini mempercayai bahwa Allah pada Perjanjian Baru dan Lama 

merupakan Allah yang berbeda. Ada dua Allah di dunia dan keduanya memiliki sifat yang berlainan 

sesuai gambaran di Alkitab pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada ajaran ini selanjutnya 

percaya bahwa Yesus tiba-tiba datang ke kota Kapernaum. Kedatangan ini kemudian bertujuan untuk 

membuang dan mengasingkan Allah pada Perjanjian Lama ke Hades dan menebus jiwa manusia melalui 

Yesus Kristus serta membebaskan mereka dari kekejaman Allah Perjanjian Lama ini . Akibat hal ini, 

Marsion sendiri dikatakan dan lekat dengan julukan sebagai “the first born of satan” atau dikenal juga 

dengan sebutan “Anti Christ”.

Larangan Ajaran Marsionisme

Dalam pandangan ajaran yang dikatakan ini  di atas, pastinya ajaran ini memiliki banyak 

pertentangan dari umat Kristen di masa ini . Sehingga banyak jemaat yang berasal dari Filipi 

diingatkan oleh Polikarpus untuk tidak mempercayai pandangan doktrin yang dikemukakan oleh 

Marsion. Tidak hanya itu saja, aliran ini juga memakai  Injil Lukas sebagai dasar, sehingga banyak 

umat yang tertipu oleh doktrin yang disebarkan. Selain itu, aliran ini juga memiliki beberapa larangan 

bagi para pengikutnya. Dikatakan bahwa para pengikut Marsionisme pantang untuk makan daging. Tidak

hanya itu saja, pengikut aliran ini juga tidak diperbolehkan menikah. Namun demikian bukan berarti 

menentang prinsip dasar pernikahan Kristen itu sendiri. Bahkan pada prakteknya masih menerima 

pengikut yang merupakan suami istri.

Sehingga pada akhirnya banyak pengikutnya sendiri yang merasa janggal akan larangan yang 

dikemukakan dalam ajaran aliran ini . Tak hanya itu saja, aliran Marsionisme juga melarang 

pengikutnya untuk minum minuman keras terutama yaitu minum anggur. Ajaran ini juga mengajarkan 

bahwa pengikutnya harus mengikuti pedoman hidup askese. Bahkan yang paling bertentangan yaitu 

dalam ajaran ini  memberikan pembaptisan bagi orang yang sudah meninggal. Dari sisi ini sudah 

jelas gereja di dunia menyatakan penolakan terhadap doktrin ini  dan menganggap aliran ini 

sebagai aliran sesat yang harus dijauhi oleh umat Kristen di dunia. Pandangan dan larangannya tidak 

satupun yang sesuai dengan prinsip hidup umat Kristen yang sesungguhnya.


Ortodoks1

 



Gereja Kristus yang Satu dan untuk Selama-lamanya 

Di dunia masakini begitu banyak aliran keagamaan yang menamakan dirinya Kristen atau Gereja. Namun 

demikian sering kita jumpai bahwa dalam masalah ajaran, aliran-aliran yang satu amat berbeda dengan 

aliran yang lain. Belum lagi bagi banyak orang hanya mengenal Kekristenan dalam dua bentuk saja yaitu: 

Katolik Roma dan denominasi-denominasi Protestan. Dua bentuk inipun sementara masing-masing 

menyatakan dirinya sebagai ajaran Injil yang benar dan sejati atau sebagai Gereja Kristus yang benar, 

dalam realitanya banyak praktek dan ajarannya itu saling bertentangan satu dengan yang lain. Demikian 

pula dalam apa yang kita sebut dengan denominasi-denominasi Protestan, begitu banyak aliran yang satu 

sungguh-sungguh berbeda akidah dan ajarannya dengan yang lain. Dan semuanya itu mengaku sebagai 

Gereja yang benar. Kita yang mencintai kebenaran dan mencari kebenaran dijadikan bingung sebab nya. 

Mungkinkah dengan Kitab Suci yang satu, Allah yang Satu, Yesus yang satu, Roh Kudus yang Satu, terdapat 

Iman atau pengajaran dan Gereja yang bermacam-macam dan saling bertentangan dan kontradiksi satu 

dengan lainnya itu? 

Menurut Kitab Suci, jikalau yang dimaksudkan yaitu  Gereja Kristus dan ajaran Injil Kristus yang sejati 

jelas tidak mungkin, sebab  Kitab Suci mengatakan :”…….satu tubuh…..” ( Efesus 4:4), “satu Tuhan, satu 

Iman….” (Efesus 4:5). Surat Efesus yang sama ini menegaskan bahwa yang disebut Tubuh Kristus itu yaitu  

Jemaat (Ekklesia, Iglesia, Igreja, Gereja): ”Jemaat (Ekkelsia= Gereja) yang yaitu  TubuhNya….” ( Efesus 

1:23). Jikalau hanya ada satu tubuh, dan yang dimaksud dengan Tubuh itu yaitu  Gereja, jadi menurut 

Alkitab Gereja itu hanya satu saja. Gereja yang satu itu yang bagaimana, yatu yang memiliki “satu Iman” 

sebab  memiliki “satu Tuhan”. Berarti jikalau imannya tidak satu, ajarannya tidak satu, pemahamannya 

tentang Tuhan yang satu itu tidak satu, pastilah itu bukan bagian dari “satu Tubuh” atau Gereja yag 

dimaksud itu. Demikianlah kesimpulan yang dapat kita ambil mengenai adanya macam-macam aliran 

ajaran yang semuanya mengaku Kristn dan semuanya mengaku Gereja, tak mungkin semuanya itu benar 

dan tak mungkin semuanya itu Gereja Kristus. Sebab jikalau mereka itu yaitu  bagian dari Gereja Kristus 

yang hanya satu pastilah ajarannya itu satu dan sama dimana-mana. Lalu mengapa ada macam-macam 

aliran pengajaran seperti itu. Kitab Suci mengajarkan bahwa ada Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh 

yang lain ( II Korintus 11:4). 

Dan Kitab Suci juga mengatakan tentang adanya Injil yang lain dan yang berbeda dari Injil yang diberitakan 

oleh Rasul dan yang diterima oleh Gereja ( Galatia 1: 8-9), dan Kitab Suci juga mengajarkan tentang adanya 

ajaran-ajaran bidat ( Titus 3:10-11). Itulah sebabnya terjadi munculnya ajaran-ajaran-ajaran yang 

bermacam-macam itu. Dan menurut Kitab Suci ajaran yang bermacam-macam yang tak sesuai dengan 

ajaran Rasul dan Iman Gereja Kristus yang benar itu membawa kutuk ( Galatia 1:8-9), mendatangkan dosa 

dan hukuman ( Titus 3:10-11). Padahal mengenai ajaran Imanl yang benar itu Kitab Suci mengatakan 

demikian:”…….iman yang sudah sekali bagi sekalian (Yunani: “apax”)dikaruniakan kepada segala orang 

suci” ( Yudas 1:3, TL). Sayang terjemahan baru Alkitab bahasa Indonesia tak menterjemahkan kata 

penting “apax” ini dalam Alkitab terjemahan sekarang. Padahal kata ini bermakna bahwa Iman Kristen 

yang benar itu yaitu  “sudah sekali” yaitu sekali pada jaman rasul itu saja diberikan kepada segala orang 

suci (Gereja), dan iman yang sekali diberikan kepada Gereja itulah, iman “bagi sekalian” orang dan bagi 

sekalian jaman. Berarti sampai kapanpun Gereja itu imannya hanya satu itu dan tak akan pernah berubah.  

 

Jadi jika ada ajaran yang selalu berubah-ubah dan berbeda dengan iman rasuliah sepanjang segala jaman 

pastilah itu bukan Injil yang satu itu yang diajarkan. Dan kelompok yang mengaku dirinya Gereja dan 

mengikuti ajaran yang beurbah-ubah dan saling kontradiksi itu pastilah bukan Gereja yang benar yaitu 

Tubuh Kristus yang hanya satu itu. Tidak ada Wahyu yang bermacam-macam diluar Wahyu di dalam Yesus 

Kristus yang satuu itu, dan tak ada ajaran yangbeubah-ubah diluar ajaran yang : sudah sekali bagi sekalian 

“ itu, serta tak Gereja yang bermacam-macam kecualiu Tubuh Kristus yang hanya satu sejak jaman Rasul 

itu. Padahal mengikuti ajaran yang berbeda dengan ajaran rasul yaitu ajaran yang diterima dan dipelihara 

oleh Gereja Kristus yang satu dari jaman purba tanpa perubahan itu menyebabkan orang tertimpa kutuk, 

dosa dan hukuman ( Galatia 1:8,9, Titus 3:10-11). 

Untuk mengetahui keberadaan Gereja Kristus yang berasal dari jaman para Rasul dan tetap memelihara 

Iman Rasuliah tak berubah itu, kita perlu melakukan pelacakan Sejarah Umat Awal dari jaman permulaan 

sampai kini, dan kita mengambil kesimpulan dari pelacakan ini. Banyak orang telah diberi informasi yang 

keliru mengenai keberadaan Gereja Kristus yang Rasuliah dan satu itu dengan pemahaman bahwa Gereja 

Purba selalu dianggap berada dibawah ketundukan dengan Sri Paus, dan hanya merupakan bagian dari 

Gereja Roma Katolik saja, sedang  dari pihak denominasi-denominasi Protestan memiliki anggapan yang 

serupa pula mengenai segala sesuatu sebelum munculnya Protestantisme dan sesudah zamannya para 

rasul, sebab  latar-belakang sejarahnya yang memang merupakan protes terhadap Gereja Roma Katolik. 

Dan segala sesuatu sebelum munculnya Reformasi Protestan dianggap masih termasuk dalam Zaman 

Kegelapan. Dalam cara pandang yang demikian ini tentulah orang hanya melihat Kekristenan sebagai 

termasuk dalam Katolik Roma atau jika tidak pasti itu termasuk dalam salah satu denominasi-denominasi 

Protestan. Itulah sebabnya banyak orang tak dapat meletakkan keberadaan Gereja Rasuliah Purba yang 

hanya satu itu secara tepat dalam spektrum Roma Katolik atau Protestan ini. 

Gereja Kristus yang Rasuliah dan hanya satu itu bukan bagian dari sejarah Gerakan Reformasi, sebab  itu 

harus berasal dari jaman purba dari awal Kekristenan itu sendiri Itulah sebabnya Gereja Rasuliah Purba 

itu bukan termasuk denominasi Protestan. Juga Gereja Purba yang Rasuliah itu tak pernah merupakan 

bagian sejarah dan pemikiran yang mempengaruhi benua Eropa Barat yang sangat besar dipengaruhi oleh 

ajaran Santo Agustinus, filsafat Skolastikisme sebagaimana yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas 

dalam Gereja Roma Katolik, dan yang kemudian juga dikembangkan oleh Martin Luther dan Calvin dalam 

sejarah Protestantisme. Yang juga dipengaruhi oleh pemusatan lembaga kepausan, sejarah Rennaisance, 

Pencerahan, Reformasi Protestan dan Kontra-Reformasi Roma Katolik serta Revolusi Perancis. Dan oleh 

pengaruh-pengaruh itu munculnya pemahaman-pemahaman Iman Gereja Barat baik yang berpusat di 

Roma maupun dalam komunitas Protestan. sebab  Kristus adealah orang Yahudi dan para RasulNya juga 

orang-orang Yahudi, mereka berasal dari Timur Tengah, bukan dari Eropa. Maka Gereja yang Rasuliah 

pastilah berasal dari Timur Tengah ini juga. 

Maka Gereja Rasuliah ini tak turut ambil bagian dari sejarah Gereja Barat itu, sehingga bukan merupakan 

bagian dari Gereja Roma Katolik ataupun komunitas Protestan modern. Jadi bukan termasuk kategori 

Gereja Barat. Apalagi secara geografis yang dimaksud Gereja Barat yaitu  wilayah Gereja sekitar Eropa 

Barat, baik sekitar daerah Mediterania maupun daerah-daerah Skandinavia. sedang  secara etnis yang 

termasuk dalam lingkup Gereja Barat yaitu  bangsa-bangsa Latin (Itali, Spanyol, Perancis) dan bangsa-

bangsa Anglo-Saxon (Jerman, Belanda, Inggris) serta bangsa-bangsa Skandinavia (Denmark, Swedia, 

Skandinavia). Dan jika kita masukkan aliran-aliran Protestan, maka termasuk pula bangsa Amerika dan 

Kanada. Padahal jika kita lihat dalam Perjanjian Baru umat dalam Gereja Purba itu yaitu  bangsa Syria, 

Yahudi, Etiopia, dan Yunani, sehingga Gerejanya bukan termasuk Gereja Barat baik secara geografis, etnis 

maupun historis dan aqidahnya. Gereja Rasuliah Purba inilah yang disebut Gereja Orthodox dan berasal 

dari zaman awal munculnya Kekristenan itu sendiri. Gereja Orthodox yaitu  Gereja Purba yaitu Gereja 

Perjanjian Baru itu sendiri yang masih hadir di dunia ini tanpa berubah baik dalam ajaran, ibadah, maupun 

ethos dan cara pemerintahan Gerejanya sejak zaman para Rasul itu sendiri. Sejarah Gereja Orthodox lebih 

berlatar-belakangkan zaman Patristik Purba, Zaman Konsili-Konsili Ekumenis dalam lingkup Kerajaan 

Byzantium, Munculnya Islam, Penyebaran ke Eropa Timur dan Rusia, Penjajahan Turki, Penyerangan 

Bangsa Tartar, Penjajahan Komunis, Kemerdekaan negara-negara Balkan, dan sampai kepada zaman 

modern ini. 

Yang ikut ambil bagian dalam latar-belakang sejarah Gereja Orthodox di Timur ini yaitu  Gereja-Gereja 

Timur lainnya yaitu Gereja-Gereja yang disebut Monofisit atau Oriental Orthodox atau Non-Kalsedon 

(Koptik, Syria-Yakobit: di Indonesia ini dipromosikan dengan Nama Kanisah Orthodox Syria oleh 

“YAYASAN Study Orthodox Syria” pimpinan sdr. Bambang Noorsena S.H. yang tadinya yaitu  mantan 

anggota Gereja Orthodox Indonesia; kemudian Armenia, Ethiopia, dan Thomas India) serta Gereja yang 

disebut Nestorian (“Gereja Timur Assyria”, “Pre-Efesus”). 

Istilah “Orthodox” bukanlah nama aliran Gereja, sebab  sebenarnya Gereja Orthodox tak 

mempunyai nama. Orthodox berasal dua kata Yunani “orthos = lurus, benar” dan “doxa = 

pengajaran, pendapat, kemuliaan.” Jadi “orthodoxa” artinya yaitu  “ajaran yang lurus.” 

Untuk mengetahui Gereja Orthodox ini secara baik kita harus melacak 2000 tahun sejarah Gereja itu sampai 

kini. Dengan demikian kita dapat melokasikannya secara benar dalam spektrum Roma Katolik-Protestan 

itu. 

Agar kita dapat mengetahui lebih jelas dan mendalam tentang Gereja Kristus yang sejati ini, marilah kita 

membahas mengenai sejarah Gereja Orthodox selama 2000 tahun itu dalam bagiannya yang pertama. 

Namun sebelumnya akan kita bicarakan latar-belakang sejarah keselamatan yang direncanakan Allah sejak 

zaman Adam sampai dengan datangNya Yesus Kristus di dunia itu. Kemudian pembahasan sejarah itu akan 

kita bagi dalam lima bagian. Bagian pertama yaitu  awal perkembangan Iman Kristen sebagai fondasi dari 

keberadaan Gereja Orthodox selanjutnya. Bagian kedua akan membahas masa perumusan theologi Kristen 

yang Orthodox mengenai dua-kodrat dari Kristus yang satu dalam Konsili-Konsili Ekumenis Gereja Purba. 

Bagian Ketiga akan membicarakan situasi Gereja Orthodox sesudah Konsili-Konsili Ekumenis, sampai 

jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki. Bagian Keempat yaitu  Masa penjajahan Turki atas ummat 

Orthodox sampai akhir masa penjajahan Turki itu. Dan Bagian kelima akan membahas situasi Gereja 

Orthodox di abad kedua puluh dan kedua puluh satu ini serta munculnya Gereja Orthodox di Indonesia. 

Disamping tentang sejarahnya, buku ini dalam bagiannya yang kedua juga akan membahas tentang aqidah 

dan keyakinan Iman Gereja Orthodox berdasarkan Syahadat (Pengakuan Iman ) Nikea, yang dirumuskan 

pada Konsili Ekumenis Pertama tahun 325 dan yang diratifikasikan pada Konsili Ekumenis Kedua tahun 

381. Rumusan yang mana mrupakan garis besar dari ajaran Rasuliah sebagaimana yang tercatat dalam 

Alkitab dan yang selalu dipercayai oleh Gereja Universal yang Orthodox. Dalam bagian tentang aqidah atau 

pengajaran dan keyakinan iman itu pembahasan akan dibagi dalam bagian-bagian mengenai : Allah, karya 

Allah, Ciptaan: Malaikat, Iblis dan roh-roh jahat, serta penciptaan manusia. Kemudian dilanjutkan dengan 

pembahasan mengenai Yesus Kristus dan karyaNya, makna keselamatan yang diakibatkan oleh karya 

Yesus Kristus, serta Roh Kudus dan karyaNya, termasuk makna Gereja, sakramen-sakramen, kehidupan 

sesudah mati dan hari kiamat yang ditandai dengan dengan kedatangan Yesus Kristus yang kedua untuk 

menegakkan Kerajaan yang kekal. 

Bagian yang ketiga dari pembahasan buku ini adakah mengenai kehidupan Ibadah dari Gereja Orthodox 

itu. Termasuk di dalamnya yaitu  mengenai simbolisme Gedung gereja Orthodox, simbolisme kedudukan 

para rohaniwan Orthodox. Makna Sakramen-Sakramen Gereja Orthodox, Sholat harian tujuh kali sehari, 

Puasa dalam Gereja Orthodox serta zakat persepuluhan. Dan tertib-tertib ibadah lainnya, termasuk yang 

menyangkut kelahiran, kematian, pengudusan rumah, serta doa-doa yang menyangkut seluruh kebutuhan 

kehidupan.  

 

Bagian yang keempat atau yang terakhir dari buku ini akan membahas tentang kehidupan akhlak dan moral 

Orthodox sebagai akibat suatu praktek kehidupan yang diakibatkan oleh iman kepada aqidah serta 

pelaksanaan ibadah dalam kehidupan. 

Dengan demikian buku ini akan menjadi timba yangmenolong orang dapat mengambil air kebenaran yang 

sulit dan dalam dari Sumur Kitab Suci, agar orang menemukan kebenaran sejati, dengan demikian 

diselamatkan. 

 

Sejarah Gereja Ortodox Sejak Abad Pertama : Zaman Rasul-rasul Sampai Kini 

  

A. Zaman Purba 

Masa Pembentukan: Tiga Abad yang pertama : dari Yesus Kristus s/d Konstantinus Agung 

 

Abad 1 s/d Awal Abad 4: 

Gereja mulai muncul diatas dunia ini sejak Yesus Kristus diturunkan Allah dari sorga, sebagai Kalimatullah 

( Firman Allah ) yang menjelma menjadi manusia ( Yohanes 1:14, Galtia 4:4). Selama lebih kurang tiga 

setengah tahun Beliau mengajar dan berkarya, dan berpuncak pada peristiwa sengsara, penyaliban, 

kematian, penguburan, kebangkitanNya secara jasmani dari antara orang mati, serta kenaikanNya ke sorga. 

Peristiwa sengsara s/d kebangkitan ini akhirnya menjadi isi pokok berita (kerygma) dari para murid 

setiaNya yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peritiwa turunNya Roh Kudus yang 

dijanjikan Almasih atas mereka, pada hari Pentakosta ( Kisah 2). Dan kesengsaraan s/d kebangkitan Sang 

Kristus itulah inti Injil, yang semula diberitakan secara lisan.sebab  Kristus tak pernah menulis Kitab 

ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya ini, 

sebab  Dia sendiri yaitu  Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma Rasuliah secara lisan itu mula-

mula disebarkan hanya disekitar daerah Palestina saja, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas yang 

baru, yang disebut sebagai : Ekklesia, yang dari sinilah timbul kata Gereja ( berasal dari bahasa Portugis 

Igreja, sepadan dengan kata Spanyol : Iglesia, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu). 

Para Rasul itu akhirnya menyebar kemana-mana, mulai dari Yerusalem dan seluruh Palestina, kemudian 

ke seluruh Siria, dan Asia Kecil ( kini negara Turki) serta Yunani dan Afrika Utara terutama di Alexandria 

(Mesir) dan Karthago ( Libia). Inilah batas sebelah barat dunia Timur pada saat itu. sedang  ke Timur 

lagi Injil tersebar ke Edesa, Mesopotamia ( Irak, Babilon), dan Persia, yaitu daerah Siria Timur, sebab  yang 

menerima Injil di daerah timur ini yaitu  suku-suku yang berbahasa Siria, sampai ke India Selatan. 

sedang  ke Barat lagi Injil diterima di benua Eropa Barat dari Roma di Itali, Spanyol, dan yang nantinya 

akan berkembang ke seluruh Eropa. 

Dengan demikian kita melihat Injil tersebar dari Timur ke Barat dan di seluruh benua: Asia, Afrika dan 

Eropa. Memang Iman Kristen itu pada dasarnya yaitu  Agama Timur ( Timur Tengah). Pada saat inilah 

dokumen-dokumen yang akhirnya menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru mulai dituliskan oleh para rasul 

sebagai pemimpin Gereja itu kepada Gereja-Gereja ( Roma. Korintus, Galatia, Efesus, dll.) dan para 

pemimpin Gereja sebagai murid mereka secara langsung ( Titus, Timotius, Filemon, dll) yang telah mereka 

dirikan dan mereka pilih itu. Gereja ( Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci ( Perjanjian Baru) 

dipakemkan. Pada saat ini orang-orang non-Yahudi mulai diterima sebagai anggota ummat Allah, sesudah  

penyelesaian masalah penerimaan mereka, dan penyelesaian masalah dogmatis mengenai kedudukan 

Taurat, dalam Rapat Agiung (Konsili) para Rasul yang pertama di Yerusalem (Kisah 15). Konsili segenap 

Gereja inilah yang menjadi landasan adanya Konsili-Konsili di sepanjang sejarah Gereja itu. Orang-orang 

yang berobat itu hanya perlu beriman kepada Yesus Kristus tanpa harus menjadi Yahudi dengan mengikuti 

ritus-ritus Taurat, lalu dibaptiskan serta menjadi anggota Ekklesia yang dipimpin/ digembalakan oleh para 

“Presbyter” (“Penatua”) dan “Episkop (“Penilik Jemaat”) –Kisah 20:17,28 -, yang mereka ini menerima 

pentahbisan dari para Rasul sendiri ( Kisah 14:23), sebagai mata-rantai pelanjut-ganti pelayanan rasuliah.  

 

Para Rasul sendiri tidak menjadi “Gembala” ( “Episkop/Presbyter”) secara lokal dari Gereja lokal tertentu 

secara permanen dimanapun. Masing-masing kelompok ekklesia itu memiliki ciri khasnya dan masalah-

masalahnya sendiri, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Perjanjian Baru. Namun seluruh ekklesia 

diapnggil untuk memegang doktrin yang sama dan melaksanakan akhlak hidup dan ibadah yang sama pula. 

Pada zaman awal ini Gereja harus menghadapi ajaran sesat pen-Taurat-an Injil yang segera dapat 

diselesaikan, serta pe-mythologi-an Injil dalam wujud aliran “gnostikisme” yang hendak mencampur-

adukkan Injil dengan ajaran kafir Yunani-Romawi. Dengan keras para Rasul harus melawan ini 

sebagaimana yang kita lihat dari tulisan-tulisan Rasul Yohanes dan Rasul Paulus. Dengan kematian para 

rasul semuanya menjadi martyr (syuhada), kecuali Rasul Yohanes yang meninggal sebab  umur tua, Gereja 

berlanjut dipimpin oleh para murid rasul itu. 

Penganiayaan yang sudah dimulai oleh Nero pada zaman Rasul Paulus dan Petrus berlanjut sampai abad 

kedua. Saat ini Iman Kristen dianggap “Agama Tidak Sah “ (“Religio Illicita”) di seluruh Kekaisaran Roma. 

Mereka yaitu  penjahat dimata pemerintah Roma,sebab  menolak menyembah kaisar sebagai “tuhan” dan 

“ilah”. sedang  orang Kristen yang berada disebelah timur Mesopotamia yaitu dibawah Kerajaan Agung 

Persia, juga mengalami aniaya sebab  cemburu dari para pendeta agama Zoroaster, agama resmi negera 

Persia. Orang Kristen di Kekaisaran Roma dituduh” memberontak terhadap negera, pembunuh bayi-bayi 

dan memakan daging dan minum darah mereka (“ Makan dan Minum Daging dan Darah Anak Manusia”). 

Penganiayaan ini bersifat sporadis, mereka tak perlu dikejar-kejar namun jika ketahuan mereka harus 

dihukum.  

 

Diantara para pemimpin yang menderita dari aniaya abad ini yaitu  : Ignatius dari Antiokia, pengganti 

ketiga dari Rasul Petrus di Antiokia, Syria, sebagai Episkop ( 110 Masehi), Polykarpus, Episkop dari 

Smyrna, yang yaitu  murid Rasul Yohanes ( 156 Masehi) dan Yustinus Martyr(Syuhada). Yustinus Martyr 

ini memiliki seorang murid dari Syria bernama Tatianus. Dia pulang ke Syria sesudah  kematian Yustinus 

dan menterjemahkan Injil dari bahasa asli Yunani ke bahasa Syria, dalam bentuk yang diurutkan sesuai 

dengan urutan cerita, bukan empat bentuk terpisah seperti yang kita kita kenal, dan terjemahan ini terkenal 

sebagai “Diatessaron” , dan inilah Injil yang digunakan oleh Gereja Syria untuk waktu yang lama sampai 

akhirnya diganti dengan keempat Injil seperti seluruh Gereja lainnya, dalam bentuk terjemahan “Peshitta”, 

yang menjadi Kitab Suci Gereja Syria sampai sekarang. 

Disamping itu Gereja Syria menggunakan Perjanjian Lama bukan dari terjemahan Ibrani atau Septuaginta, 

namun dari Targum Aramia dari Perjanjian Lama yang berlaku di Babilonia. Ajaran Tatianus ini 

dipengaruhi oleh aliran gnostik “enkraitisme” yang menekankan pelajangan, dan asketisisme. Para 

pemimpin Kristen awal ini meninggalkan tulisan-tulisan yang bersama dengan “Didakhee”, “Surat 

Kepada Diognetus”, “Surat-Surat Klemen dari Roma” , “Surat Barnabas” (bukan Injil Palsu Barnabas 

yang dipromosikan Islam!!!), “Gembala Hermas” , serta tulisan-tulisan pembelaan iman (apologetik) 

dari Athenagoras dari Athena, Melito dari Sardis, serta Theofilus dari Antiokia serta dari theoloog 

yang terbesar dari abad kedua Ireneus dari Lyons, semuanya tadi memberikan gambaran yang jelas sekali 

mengenai iman dan kehidupan dari Gereja Perjanjian Baru yang berlanjut sampai abad kedua itu. 

Perkembangan yang paling penting pada abad kedua ini yaitu  munculnya para pembela iman 

( “apologist” ), yang membela Iman Kristen dari serangan Agama Yahudi, Agama Kafir Berhala, serta Bidat-

bidat yang muncul di sekitar Gereja. Juga berkembangnya Aqidah (Doktrin) Gereja serta permulaan 

Theologia sesudah zaman Rasuliah, ditegakkannya pemerintahan Gereja bagi masing-masing jemaat lokal 

yang dipimpin oleh Episkop (”Penilik Jemaat” ), Presbyter(“Penatua”) dan Diakon. Zaman ini pula 

fondasi pertama dari Ibadah dan Liturgi Kristen serta kehidupan Sakramental Gereja yang berlandaskan 

dari Ibadah Israel namun yang sudah terpisah dari Synagoga (Rumah Ibadah Yahudi) dan mulainya 

pembentukan Kitab Suci dari Gereja Perjanjian Baru itu terjadi. 

Pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua banyak tulisan palsu mengenai Kristus bermunculan. 

Tulisan-tulisan ini disebut tulisan-tulisan ‘apokrifa” ( jangan dikacaukan dengan “Anaginoskomena’ dari 

Perjanjian Lama!!) serta tulisan-tulisan “pseudopigrafa” . Biasanya tulisan-tulisan memakai nama salah 

seorang rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai masa kecil Yesus Kristus, kehidupan 

Perawan Maryam dan kegiatan-kegiatan karya para rasul. Dan sebagaian daripadanya menjadi kisah dalam 

Al-Qur’an terutama tentang masa kecil Kristus. Bersama dengan itu, muncul pula aliran “gnostikisme” , 

yaitu suatu bidat Kristen yang mengubah iman Kristen menjadi semacam ajaran kebatinan. 

Dalam melawan ajaran bidat gnostik inilah Gereja yang Rasuliah itu menyebut ajaran asli yang rasuliah itu 

sebagai ajaran (“doxa”) yang “lurus” (“orthos”) , Ortho+ doxa = Orthodox. 

sedang  ajaran “gnostik” itu sebagai ajaran (“doxa”) yang berbeda atau menyimpang 

(“heteros”), hetero+ doxa = Heterodox. Akibat dari melawan ajaran gnostik inilah munculnya theologia 

dari para “apologis” (“pembela-iman”). Jauh di sebelah timur di dearah Syria, Bardaisan yaitu  penulis 

yang terkenal mengenai masalah theologi. Namun dia mencampur-adukkan Injil dengan astrology dan 

mythologi, dan ajarannya tentang Allah kedengaran sangat aneh. Allah yaitu  satu yaitu Bapa, Roh Kudus 

yaitu  berjenis wanita sebagai “Bunda Kehidupan”, dan Anak Allah yaitu  keturunan dari Bapa dan Roh 

Kudus, Sang Bunda Kehidupan.Sehingga akhirnya Bardaisan dari Syria inipun dikucilkan dari Gereja. 

Akibat dari ajaran Gnostik ini pada para apologis yaitu  penekanan “ mata-rantai rasuliah” (“suksesi 

apostolik”, “silislah rasuliah”) sebagai penjamin ajaran yang benar dan tak terputus dari para rasul, yang 

diterus-sampaikan secara tak terputus dari gereja kepada gereja, dari generasi kepada generasi, dari 

tempat ke tempat, dan penerus-sampaian tanpa putus dari zaman rasuliah ini disebut sebagai “Paradosis” 

atau “Traditio”. 

Dan penyampaiannya itu dilakukan melalui pentahbisan dari para Episkop yang dapat dilacak dari mata 

rantai pentahbisan sejak zaman rasul-rasul. Dan para Episkop ini pengajaran dan prakteknya itu identik 

antara satu dengan yang lain, dan secara bersama ajaran mereka itu identik dengan ajaran para rasul Yesus 

Kristus sendiri. Sebagai akibat yang lain, Gereja mulai kokoh dalam keputusannya tulisan-tulisan mana 

yang menjadi bagian kanon Kitab Suci berdasarkan : 

1. tulisan-tulisan itu harus berasal dari zaman rasul. 

2. harus ditulis oleh rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka 

3. harus sesuai dengan ajaran rasuliah tanpa putus yang disampaikan sebagai paradosis dalam 

Gereja 

4. harus digunakan secara merata di seluruh gereja sejak awal 

5. harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik. 

  

Dari kriteria inilah akhirnya tersaring dari tulisan-tulisan rasuliah purba itu 27 kitab yang akhirnya kita 

kenal sebagai “Kitab Suci Perjanjian Baru” itu. Dan Kitan Suci Perjanjian Baru inilah yang berisi “Berita 

Gembira” (“Evanggelion”, “Evanggel”, “Injil”) tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia 

itu. sebab  memang Injil itu pada mulanya bukanlah suatu Kitab macam apapun namun peristiwa dan 

karya Almasih yang diberitakan secara lisan oleh para muridNya yang diberi gelar 

sebagai “apostolos” (“orang yang diutus” atau “rasul”) itu. 

Dalam tulisan-tulisan para apologis, para martyr (syuhada) dan para kudus dari abad kedua ini kita ketahui 

bahwa masing-masing jemaat Kristen lokal itu dipimpin oleh seorang Episkop/Uskup ( Penilik Jemaat) 

yang dilaksanakan oleh para Presbyter/ Imam ( “Penatua”) dan dilayani oleh Para Diakon. Terutama dalam 

tulisan-tulisan Ignatius ( Magnesia 6:1, Filadelfia 4, Smyrna 8:2). Ignatius juga mulai menggunakan istilah 

“Katholik” untuk menyebut sifat Gereja. Ini berasal dari kata “ Kath’ (menurut, sesuai dengan) dan “holon “ 

( sepenuhnya, kepenuhan). Ini yaitu  kwalitas sifat yang menjelaskan bagaimana Gereja itu, jadi bukan 

nama suatu agama, misalnya:Roma Katolik, Anglo-Katolik, Katolik Bebas, Katolik Lama,dll. Dan kata ini 

(Katholik =Kath + Holon) bermakna kwalitas sifat gereja itu yaitu  penuh, sempurna, lengkap, utuh, tanpa 

kekurangan apapun di dalamnya dari kepenuhan kasih-karunia, kebenaran dan kekudusan Allah. 

Demikianlah Gereja Rasuliah Perjanjian Baru pada abad yang kedua itu mulai menyebut dirinya sebagai 

Gereja yang “katholik” artinya bukan sekte-sekte yang main comot sana-sini dari kepenuhan dan keutuhan 

ajaran Rasuliah itu. Demikian juga Gereja purba itu disebut sebagai “Orthodox” artinya bukan yang 

menyimpang dari ajaran Rasul tadi. 

Dalam “Didakhee” dan “Pembelaan dari Yustinus Martyr” dan “Ireneus” ditemukan juga penjelasan 

mengenai bagaimana ibadah Kristen zaman abad kedua itu dilakukan, terutama ibadah hari Minggu yang 

berpusat pada kotbah dan Perjamuan Kudus, dan juga tentang baptisan. 

Menginjak pertengahan abad ketiga, yaitu tahun 249 Kaisar Desius naik tahta, dia mengadakan 

penganiayaan secara universal, dan penganiayaan itu dilanjutkan sampai zaman Kaisar Valerianus (253-

260). Orang Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai “tuhan” dan “ilah”, 

para rohaniwan Kristen harus dikejar dan dibunuh, harta milik Gereja harus disita. Baru di zaman 

Gallenius, anak dari Valerianuslah penganiayaan dihentikan .Pada saat itu perkembangan yang luar biasa 

terjadi dalam Gereja. Namun penganiayaan yang berat itu mengakibatkan suatu krisis besar dalam Gereja. 

Timbul pertanyaan dalam Gereja mengenai bagaimana memperlakukan orang-orang yang selama masa 

aniaya itu sebab  diancam rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, mereka ini disebut kaum 

“lapsi”. Ada yang melarang mereka masuk Gereja lagi, ada yang bersikap agak lunak. Akibatnya terdapat 

beberapa kelompok garis-keras yang menganggap Gereja terlalu lunak akan masalah para “lapsi” itu yang 

memisahkan diri dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang “Orthodox” dan “Katholik” itu. 

Diantara mereka yang memisahkan diri dari Gereja yaitu  Tertulianus (c. 220 ), penulis agung dan peletak 

dasar Theologia Latin di Gereja barat dari Afrika utara. Dia menggabung dengan gerakan bidat yang 

didirikan Montanus yang telah mulai pada akhir abad kedua, dan menyatakan diri sebagai Gereja “Nubuat 

Baru” dari Roh Kudus yang lebih sempurna dari Gereja ‘Perjanjian Kedua” ( Perjanjian Baru) dari Kristus. 

Ciri gerakan Montanisme ini yaitu  penekanan pada “karunia lidah” dan “nubuat-nubuat” serta penekanan 

bahwa Kerajaan Seribu Tahun akan segera datang di pulau Frigia, Asia Kecil. 

Pembela agung Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik ini pada saat itu yaitu  Kiprianus dari 

Karthago (meninggal tahun 258). Dia meninggal sebagai Martyr sesudah  membela Gereja Rasuliah yang 

Orthodox dan Katholik itu melawan aliran garis keras yang memisah dari Gereja sebab  masalah kaum 

“lapsi” tadi. Aliran yang dilawan dalam tulisan-tulisan Kiprianus ini yaitu  aliran “Novatianisme” yang 

didirikan oleh “Novatianus” yang berada di Roma. Novatianus menyebut alirannya sebagai “ Gereja Murni”. 

Kiprianus membela Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu dengan menekankan perlunya “mata-

rantai rasuliah” dalam ajaran dan “mata-rantai rasuliah” dalam pentahbisan para episkop dalam melawan 

apa yang disebut sebagai gereja-gereja “murni” yang hanya bersifat rohani yang abstrak dan tak nampak 

mata dari orang yang merasa dirinya lebih baik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu,serta 

yang mengangkat-angkat diri sendiri ini. Dia menekankan bahwa Gereja Kristus itu ada bagi penyembuhan 

orang berdosa, dan Kiprianuslah yang mengatakan juga bahwa “extra ekklesia nulla salus est “ (diluar 

Gereja,- yaitu diluar persekutuan kongkrit dari ummat yang percaya secara pribadi kepada Kristus 

dibawah pimpinan rohani Episkop dan berlandaskan suksesi rasuliah disekitar meja perjamuan kudus dan 

pemberitaan firman oleh presbyter – tidak ada keselamatan ). 

Abad ketiga ini menyaksikan juga perkembangan theologi secara formal dengan didirikannya sekolah 

theologia di Alexandria, Mesir oleh Pantaenus dan Klemen dari Alexandria ( meninggal kira-kira 

tahun 215 ). Yang akhirnya dikepalai oleh seorang penulis, sarjana, dan theoloog termasyhur: Origenes ( 

meninggal tahun 253). Theologi Alexandria ini menekankan bahwa filsafat Yunani yang non-Kristen itu 

dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Injil. Dan ciri khas dari pendekatan Alexandria ini yaitu  

tafsiran secara alegoris terhadap Kitab Suci, sedang  dalam tradisi Syria-Antiokhia yang tak lama 

kemudian akan berkembang yaitu  tafsiran harafiah berdasarkan tata-bahasa dan sejarah penulisan Kitab 

Suci.  

 

Kedua pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik, pada abad-abad berikutnya. Karya Origenes 

itu sangat luar biasa dan tak terhitung jumahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian sistimatis 

dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Karya Origenes ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia 

para bapa-bapa Gereja Yunani pada abad-abad berikutnya. Namun demikian secara ajaran banyak 

pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, sebab  tak Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili 

Ekumenis V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja. 

Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan bersama dengan Tertulianus, Kiprianus, 

Klemen dan Origenes yaitu  Dionysius dari Alexandria ( wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat 

235) Gregorius Pelaku Mukjizat di Kappadokia ( wafat 270) dan Methodios dari Olympus ( wafat 311) 

Orang-orang ini semuanya memperkembangkan theologia Kristen Orthodox terutama meletakkan 

landasan bagi pembahasan tentang Allah yang Esa dalam hubunganNya dengan Kalimatullah dan Rohullah 

sendiri yang terkenal sebagai ajaran Tritunggal Kudus yang dalam abad berikutnya akan menjadi 

pembahasan hangat dalam Gereja. Paulus dari Samosata dan Lukianus (Lusian) dari Antiokia terkenal 

akan ajaran bidatnya mengenai sifat ke-Tritunggal-an Allah. 

Mereka ini hidup pada akhir abad ketiga. Dari abad ketiga ini kita juga mendapatkan tulisan-tulisan yang 

menolong kita untuk melihat kehidupan liturgis dan kanonik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan 

Katholik ini pada abad ketiga itu, yaitu: Pengajaran-Pengajaran Para Rasul dari Siria serta Tradisi 

Rasuliah karya Hippolytus dari Roma ( wafat tahun 235). Tulisan yang pertama itu memberikan 

peraturan-peraturan mengenal jabatan hirarkis serta praktek-praktek sakramental dalam Gereja Syria, 

serta menjelaskan pertemuan liturgis jemaat. Dan tulisan kedua menjelaskan hal yang sama yang berlaku 

di Gereja Roma dengan lebih panjang dan detail. 

Abad keempat dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan kepada Gereja oleh 

Kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. sesudah  

surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasan dalam Kerajaan Romawi. Pada tahun 

312, Konstantinus menghadapi peperangan melawan Maxentius. Sebelum peperangan di Jembatan 

Milvianus di Roma, Konstantinus berdoa, serta mendapat penglihatan Salib Bersinar di langit dengan 

tulisan: Dengan Tanda Ini, Kalahkan. Dia memerintahkan para prajuritnya untuk mengenakan tanda 

salib ini pada perisai dan jubah mereka, Konstantinus memenangkan peperangan itu. Konstantinus segera 

bergerak untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen, serta menunjukkan 

kecenderungannya kepada Iman Kristen. Sebelum kematiannya Konstantinus membangun suatu kota 

di Byzantium bagi ibu-kota yang baru dari Kerajaannya itu, dan kota itu 

disebut “Konstantinopel“ (kini: ”Istambul” , di Turki) untuk menghormatinya. Konstantinus sendiri baru 

dibaptiskan diatas ranjang menjelang kematiannya pada tahun 337. Bersama dengan ibunya Maharatu 

Heleni, dia menemukan Salib Asli Kristus di Yerusalem, serta keduanya diakui sebagai orang suci dalam 

Gereja Orthodox sampai kini. 

Iman Kristen diakui sebagai agama resmi Kerajaan Byzantium pada tahun 380, oleh ketetapan 

Kaisar Theodosius. Dengan demikian Kekaisaran Romawi terbagi dalam dua bagian: Romawi Barat 

berpusat di Roma dan Romawi Timur berpusat di Konstantinopel. Pembagian Kerajaan menjadi Barat dan 

Timur ini, akhirnya membentuk perkembangan wilayah Gereja menjadi Gereja Barat berpusat di Roma dan 

Gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem. Sementara itu ummat 

Kristen Syria yang tinggal di Kekaisaran Persia, makin mengalami aniaya sebab  dicurigai sebagai antek 

musuh Kerajaan Persia, sebab  sekarang Kerajaan Romawi musuh bebuyutan Persia, telah menjadi 

Kristen: Kerajaan Byzantium. 

B. Zaman Konsili 

Masa Konsili –Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah Yang Satu dan Orthodox : abad ke IV ( tahun 

325) s/d abad ke VIII (tahun 787). 

Pada saat pemerintahan Konstantinus ini Gereja mendapatkan kembali harta miliknya, serta terbebas dari 

aniaya dari luar. Namun ketenteraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat yang berasal 

dari dalam. Pertama yaitu  munculnya aliran perpecahan Donatisme di Afrika Utara, yang dipimpin oleh 

Donatus, yang menolak Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan “lapsi” pada saat 

penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantinus membiarkan Gereja untuk menyelesaikan 

masalahnya sendiri, dia menggunakan kekuatan militer untuk memihak, pada pertama kalinya pihak 

Donatis, dalam memaksakan keputusannya. Perpecahan Donatisme ini menyebabkan lenyap-punahnya 

Gereja Afrika Utara (Libia, Moroko, Aljazair) yang dulu pernah jaya. 

1. Konsili Agung Ekumenis Pertama ( 325 Masehi) di Nikea dan Kedua (381) di Konstantinopel 

Kemudian muncul masalah dari Alexandria, Mesir. Arius seorang presbiter mengajarkan bahwa Allah yang 

Esa itu hanya Bapa saja, Anak Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, yaitu  

makhluk pertama dan yang terluhur yang diciptakan Allah dalam wujud roh. Dibantu oleh ciptaan 

pertama ini Allah menciptakan ciptaan yang lain. Dia bukan Firman Allah (Kalimatullah) yang 

kekal yang berada satu di dalam Allah sejak kekal. Ajaran ini jelas bertentangan dengan ke-Esa-an Allah, 

sebab Allah Yang Esa, tak pernah dan tak mungkin dibantu oleh makhluk siapapun dalam mencipta, sebab  

Dia mencipta langsung melalui FirmanNya sendiri yang berada satu di dalam DiriNya. Ajaran ini jelas 

mempersekutukan Allah dengan makhluk, inilah ajaran musyrik. Ajaran Arius yang disebut Arianisme ini 

(yang di zaman modern ini dimunculkan kembali oleh Saksi-Saksi Yehuwah) menimbulkan keresahan 

dalam Gereja. 

Akhirnya sebagaimana di zaman Para Rasul, Gereja Rasuliah Purba yang Orthodox pada abad keempat 

inipun menyelesaikan masalah ini dalam Konsili, yang diadakan di kota Nikea pada tahun 325, dipanggil 

oleh raja Konstantinus. Seluruh pemimpin Kristen (dihadiri 318 Episkop) dari segenap “Oikumene” ( 

“dunia yang beradab”) dari Gereja yang satu dan tidak terpecah-pecah itu, berkumpul mengadakan Konsili 

Agung yang pertama ini. Itulah sebabnya Konsili ini disebut “Konsili Ekumenis.” sesudah  melalui doa dan 

pembahasan theologis yang mendalam berdasarkan iman rasuliah, Konsili menemukan rumusan 

berdasarkan data Kitab Suci bahwa“Kalimatullah” (Logos), Firman, atau Anak Allah itu kekal dan ilahi, 

Dia diperanakkan(dikeluarkan dari dalam dzaat-hakekat) dari Bapa sendiri sejak kekal, bukan dijadikan 

dan bukan diciptakan. Dia berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa yang satu itu. Dia yaitu  ”homo-

ousios” ( = satu dzat-hakekat, satu essensi) dengan Bapa. Dengan demikian Dia yaitu “Allah Sejati” , 

sebab  Dia yaitu  Firman Allah/Kalimatullah yang sejati, yang keluar dari “Allah Sejati” (Sang 

Bapa), yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) segala sesuatu dijadikan oleh Allah. Firman Allah yang 

kekal dan yang sama inilah, tanpa meninggalkan kesatuannya dalam Dzat-Hakekat Allah telah diutus turun 

ke bumi oleh Allah, mengambil daging kemanusiaan, dan lahir sebagai manusia dari Sang Perawan Maryam 

oleh Kuasa Roh Kudus, sebagai manusia Yesus Kristus (Yoshua Ha-Masiah, Isho de-Mesiha, Isa Almasih): 

Mesias Israel dan Juru Selamat dunia. Namun keputusan Konsili ini tidak segera diterima oleh seluruh 

Gereja sampai masa waktu yang lama. Pertikaian mengenai pribadi Kristus terus berlanjut, sehingga 

banyak konsili-konsili lokal diadakan untuk membahas masalah ini. Pihak Arianisme mendapat dukungan 

kuat dari kekuasaan pemerintah, sedang  para pembela Iman Orthodox sebagaimana yang telah 

dinyatakan dalam Konsili Nikea itu sangat dianiaya dan dibunuh oleh pemerintah dan pendukung-

pendukung bidat Arianisme ini. 

Masalah ini berlanjut sampai tahun 381, ketika diadakan Konsili Ekumenis yang kedua di 

Konstantinopel, untuk menyelesaikan masalah bidat baru yang dimunculkan oleh Makedonius, yang 

disebut bidat Makedonianisme. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus yang yaitu  Roh Allah 

sendiri itu bukan ilahi dan tidak kekal. Dia hanya daya-aktif Allah saja (seperti yang juga diajarkan Saksi-

saksi Yehuwah). Berdasarkan data-data Kitab Suci dan Iman Rasuliah yang selalu dipelihara Gereja 

Orthodox ini, maka Konsili mendeklarasikan bahwa Roh Kudus itu yaitu  ilahi (“Tuhan”) , yang “keluar 

dari Bapa” berarti berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa bersama Firman Allah sendiri, 

sehingga “bersama Bapa dan Putra” artinya sebagaimana Putra sebagai Firman Allah sendiri itu berada 

satu dalam Hakekat Bapa, demikianlah Roh Kudus sebagai Roh Allah sendiripun satu bersama kesatuan 

Putra dalam Bapa, dalam satu Hakekat Ilahi yang sama “disembah dan dimuliakan” . Demikianlah 

keilahian Firman Allah/Putra dan Roh Allah/Roh Kudus ditekankan namun ke-Esa-an Allah tak dilanggar. 

sebab  baik Firman maupun Roh itu berada satu di dalam hakekat Allah (Bapa) yang hanya satu itu. Pada 

saat inilah rumusan Konsili Pertama dan Kedua ini baru diteguhkan kembali menjadi satu rumusan 

Pengakuan Iman (Syahadat), yang menjadi Pengakuan Iman Orthodox sampai sekarang dengan 

nama “Pengakuan Iman (Syahadat) Nikea”. 

Para tokoh spiritual (bapa-bapa Gereja) yang sangat berjasa membela Iman Rasuliah yang Orthodox, 

menentang Arianisme dan Makedonianisme pada saat ini yaitu  Bapa “Aghios Athanasius 

Agung” Episkop dari Alexandria,Mesir (meninggal tahun 373) yang banyak mengalami aniaya dari 

kelompok Arianisme dan pemerintah, serta tiga Episkop dari Kappadokia (Asia Kecil) Bapa “Aghios 

Basilius Agung” (wafat: 379), saudara laki-lakinya Bapa“Aghios Gregorius dari Nyssa” serta sahabat 

mereka berdua Bapa “Aghios Gregorius Nazianzus Pakar Theologia” (wafat: 389). Mereka ini banyak 

menderita aniaya dari pemerintah dan pengikut Arianisme, namun tanpa takut mereka menjelaskan Iman 

Kristen yang sejati tentang Keilahian Kristus dan Roh Kudus di dalam kesatuan hakekat dari Allah yang Esa 

(Bapa), yang sampai sekarang tetap menjadi standard aqidah ajaran dan theologia Gereja Orthodox. 

Pada saat pertikaian Arianisme ini Gereja tidak berhenti dalam menyebarkan Injil, sehingga seorang 

rohaniwan yang bernama Ulfilas dikirim dari Gereja Timur di Konstantinopel untuk menginjili suku-suku 

bangsa Jerman dan menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa itu. Namun sebab  yang mendapat 

dukungan pemerintah saat ini yaitu  kelompok Arianisme, yang diajarkan kepada suku-suku Jerman ini 

yaitu  theologia Arius mengenai Kristus. Baru kemudian ketika suku-suku yang sudah menjadi Kristen 

namun yang mengikuti bidat Arianisme ini mulai menyerang Roma, mereka secara pelan-pelan mengikuti 

ajaran Orthodox yang waktu itu dipelihara oleh Gereja Roma juga, sehingga pada abad-abad kemudian 

mereka menjadi Roma Katolik. Dalam Konsili Nikea itu ditetapkan sebagai “Hukum Kanon” bahwa 

Gereja Roma itu menjadi yang utama untuk seluruh Gereja Barat di Eropa barat, 

Gereja Alexandria untuk seluruh Afrika, dan Gereja Antiokhia untuk Syria dan seluruh daerah Timur, 

jadi termasuk Gereja di Persia dan India (Kanon 6), dan keluhuran Gereja Yerusalem sebagai asal-usul 

munculnya Iman Kristen diakui (Kanon 7). sedang  dalam Konsili kedua di Konstantinopel suatu Hukum 

Kanon ditegaskan bahwa: ”Episkop Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah 

Episkop di Roma, sebab  Konstantinopel yaitu  Roma Baru” ( Kanon 3). 

Masing-masing pusat Kekristen yang berjumlah lima (Pentarkhi) ini dipimpin oleh Episkop yang bergelar 

Paus,dari kata Pappas = Bapak (terutama Roma dan Alexandria) atau Patriarkh, dari kata Pater =Bapak, 

Arkhi = Pemimpin. Kanon tentang Konstantinopel ini nantinya menjadi suatu persaingan kedudukan 

antara Gereja Alexandria yang tadinya berada di tingkat kedua sesudah Roma, dan sekarang 

Konstantinopel sebagai Ibukota Kerajaan yang baru harus menduduki tempat itu. Pada saat ini di Antiokhia 

juga telah berkembang tradisi theologia yang berbeda pendekatannya dari Alexandria. Jika Alexandria 

menekankan “alegori”, maka Antiokhia lebih menekankan pendekatan “literal, tata-bahasa, dan 

kesejarahan” atas Kitab Suci. Sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian Kristus, 

Antiokhia lebih menekankan kemanusiaan Kristus. Sayang Siria dan Mesir harus konflik nantinya, padahal 

keduanya seharusnya saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang utuh bagi pendekatan atas Kitab Suci.  

 

Pada saat ini Gereja Syria di Persia sedang mengalami penganiayaan yang hebat di bawah para shah (raja) 

Persia ( 340-363, 379-401). Pada abad keempat ini terjadi juga perkembangan liturgis, yaitu dari Liturgi 

Yakobus yang awal yang berasal dari Yerusalem danm Siria maka doa-doa telah ditambahkan ke dalamnya 

jadilah doa-doa Liturgi Aghios Basilius Agung dan Liturgi Yohanes Krisostomos (wafat: 407), yang 

sampai sekarang menjadi Liturgi-Liturgi utama Gereja Orthodox. Dari kotbah katekisasi dari Aghios 

Yohanes Krisostomos dan Aghios Kyrillos dari Yerusalem (wafat: 386) terlihat bahwa Sakramen 

Baptisan dan Krisma (Pengurapan) yang dirayakan pada abad keempat itu hampir tak berubah sedikitpun 

tetap dilaksanakan oleh Gereja Orthodox masakini. Pada saat ini Puasa Paskah 40 hari (Catur 

Dasa) dan Perayaan Paskah seperti yang tetap dirayakan oleh Gereja Orthodox masakini itu sudah betul-

betul mapan. Disamping itu kita juga menyaksikan pada abad keempat ini perkembangan kehidupan 

kerahiban yang sedang memekar terjadi di Mesir - dipimpin oleh Aghios Antonius Agung – dan di Syria 

(rahib-rahib Syria inilah yang nantinya banyak dijumpai Nabi Muhammad di padang-padang gurun dalam 

perjalanan perdagangannya dari Mekah ke Syria, dan banyak mempengaruhi pendapatnya mengenai 

Kekristenan dan keagamaan pada umumnya) serta Eropa Barat. Diantara para rahib suci dari zaman ini 

yang berasal dari Timur yaitu : Paulus dari Thebes (Mesir), Pakhomius ( Mesir), Hilarion, Sabbas 

(Palestina), Makarius dari Mesir, Epiphanius dari Siprus, dan Efraim dari Syria. sedang  rahib suci dari 

Barat pada saat ini yaitu : Yerome, Yohanes Kassianus, serta Martinus dari Tour. Para Episkop Suci 

terkenal dari abad keempat ini yaitu : dari Timur Aghios Nikholas dari Myra di Lysia ( yang budaya Barat 

mengubah dia menjadi tokoh mythologis “Santa Claus” /Sinter Klaas), Aghios Spyridon, dan dari Barat 

yaitu  Santo Ambrosius dari Milano, Itali. 

2. Konsili Agung Ekumenis Ketiga (431) di Efesus dan Keempat (451) di Kalsedonia. 

Sejak keputusan Konsili kedua tentang kedudukan Konstantinopel. Alexandria selalu berusaha untuk 

menyaingi Konstantinopel. Secara kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di 

Konstantinopel yaitu  seorang Syria dari Antiokhia, bernama: :Nestorius. Sebagai seorang Syria maka 

tradisi theologia Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, yaitu tradisi yang 

menekankan kemanusiaan Kristus. Maka Nestorius lebih menekankan kemanusiaan Kristus, sehingga 

menolak gelar “Theotokos” ( “Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah” yaitu Kalimatullah yang 

menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk menyebut Maryam. Menurut Nestorius 

yang dilahirkan Maryam hanyalah seorang “manusia” yang di dalamnya “Kalimatullah/Firman Allah” itu 

bersemayam, jadi bukan Kalimatullah/Firman Allah itu sendiri yang menjadi manusia, bertentangan 

dengan apa yang telah diakui dalam kedua konsili sebelumnya. Kesempatan ini digunakan oleh Gereja 

Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia dan kedudukan Konstantinopel yang 

dianggap menggeser kedudukan Alexandria itu, melalui Aghios Kyrillos dari Alexandria. Dia ingin 

menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan demikian mempermalukan 

Konstantinopel, serta melawan pemahaman theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria, 

Antiokhia, yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak Alkitabiah, dan tidak rasuliah. Dan 

inilah kesempatan yang baik. 

Jadi sebenarnya konflik ini yaitu  yaitu  konflik antara Mesir dan Syria (bukan dengan unsur Yunani 

dalam Gereja Timur itu). Aghios Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam 

sebagai “Theotokos” ,sebab  Dia yang dilahirkan olehnya yaitu  “Firman” yang yaitu  “Allah”, yang “telah 

menjadi manusia” (Yohanes 1:1,14). Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan dalam penjelmaanNya 

sebagai manusia, maka Maryam memang melahirkan Firman Allah dalam penjelmaanNya sebagai manusia. 

Jadi Maryam memang “Theotokos” . Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan bertobat pada 

peringatan Aghios Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh Aghios Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus, 

sejumlah kecil Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandria serta menolak 

ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini. , dimana ditegaskan bahwa Maryam yaitu  Theotokos, sebab  

yang dilahirkan Maryam tak lain yaitu  “Firman Allah” yang sama dan yang satu yang menjelma menjadi 

manusia. Baru pada tahun 433 sajalah keputusan Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan 

akhirnya diakui sebagai Konsili Ekumenis Ketiga. 

Sementara itu Gereja Syria di Persia akibat penganiayaan para shah yang begitu kejam akibat provokasi 

dari para Majus atau pemimpin Agama Zoroaster penyembah api itu, sebab  dicurigai menjadi antek 

Byzantium yang beragama Kristen, musuh bebuyutan Persia itu, memutuskan untuk memiliki Patriarkh 

sendiri, lepas dari Antiokhia, sebab  Antiokhia berada dalam wilayah Byzantium. Dan untuk meyakinkan 

Shah Persia bahwa mereka bukan antek Byzantium, maka secara alamiah mereka menerima theologia Syria 

dari Nestorius, sebab  selama ini Gereja Syria, di Persia, memang menghormati tulisan-tulisan Theodoros 

dari Mopsuestia, guru dari Nestorius. Demikianlah meskipun Nestorius akhirnya meninggal sebagai rahib 

di padang gurun Libia, ajarannya tetap dipertahankan oleh Gereja Syria di Persia. 

Maka Gereja Syriapun terpecah menjadi dua, yaitu : 

1. di Syria Barat yang mengikuti definisi dari Kyrillos dari Alexandria 

 2. di Syria Timur yang mengikuti definisi Nestorius, orang Syria itu. 

Sejak saat itu Gereja Syria Timur ini terkenal dengan nama Gereja Nestorian, meskipun sebenarnya mereka 

sendiri tak pernah menyebut diri mereka demikian. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh Nestorianisme 

yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja 

Orthodox.. Sehingga ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai Gereja Orthodox Pre-

Kalsedonia. Dan Gereja Persia yang sebenranya merupakan bagian dari Gereja Orthodox Antiokhia ini 

menjadi Gereja yang amat misioner, sehingga sampai mengabarkan Injil di China, dan bahkan pada abad 

ketujuh di Indonesia : di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada berita bahwa mereka juga ada di Kerajaan 

Majapahit.  

 

Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima oleh semua pihak, sebab  masih timbul 

kontroversi mengenai ajaran Aghios Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan ajaran 

Aghios Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun sesudah  

saling berdialog tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang dimaksud oleh 

Aghios Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib bernama Eutyches, mengajarkan bahwa yang 

dimaksud oleh Kyrillos yaitu  bahwa Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) saja, yaitu 

kodrat Ilahi, sebab kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahiNya. Ajaran ini menimbulkan kegelisahan 

kembali di dalam Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri bersama Patriarkh 

Dioskoros dari Alexandria dan Eutykhes pada tahun 449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa 

mereka pengikut ajaran Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar Episkop, namun tidak 

diterima sebagai Konsili yang sah, malah disebut sebagai “Latrocinium”atau “Konsili Para Perampok” . 

Ajaran tentang Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) ini akhirnya terkenal sebagai 

ajaran Monofisitisme, yang ditolak oleh Gereja dan dinyatakan bidat. 

Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan pada tahun 451, di 

kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis 

Keempat, dan berhasil membela ajaran Aghios Kyrillos dari Alexandria serta ajaran Konsili Ekumenis 

Ketiga di Efesus tahun 431. Ini juga memuaskan tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan 

Kristus yang sejati yang secara jelas harus diakui. Definisi dogmatis dari Konsili Kalsedonia ini mengikuti 

secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh Paus Santo Leo dari Roma, yang tidak turut hadir dalam 

Konsili itu, namun hanya mengirim wakil-wakilnya. 

Menurut definisi Konsili Kalsedonia ini Kristus itu memiliki “satu hypostasis” ( menegaskan tradisi 

theologia Alexandria) dalam “dua kodrat” ( menegaskan tradisi theologia Syria, Antiokhia) – ilahi dan 

manusiawi. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah sempurna dan manusia sempurna. 

Sebagai Allah (yaitu:Firman Allah) Dia “satu Dzat-Hakekat/Essensi” dengan Sang Bapa (Allah yang Esa) dan 

dengan Roh Allah sendiri. Dan sebagai manusia, Dia satu “hakekat/ esensi” dengan segenap manusia. 

Keilahian dan kemanusiaan Kristus itu menyatu/manunggal dalam satu hypostasis /pribadi namun tidak 

campur-baur dan tidak kacau-balau dan tidak terpisah-pisah serta tidak terbagi-bagi. Kristus itu 

satu pribadi yang sekaligus Allah dan Manusia. 

Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini sebab  dianggap berbau 

Nestorianisme, suatu tuduhan yang tidak tepat dan tidak fair memang. Mereka menegaskan bahwa Kristus 

hanya memiliki “satu kodrat” saja, meskipun kodrat itu telah menjelma, padahal menurut mereka Konsili 

ini mengatakan Kristus memiliki “dua kodrat” yang dianggap sebagai kesesatan Nestorius, namun mereka 

tidak menggabungkan bahwa “dua kodrat” itu dalam satu pribadi, atau satu hypostasis, yang jelas tak 

bersangkutan dengan ajaran Nestorius. 

Demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox alur utama. Para pendukung 

Konsili Kalsedonia akhirnya mengangkat Patriakh Kalsedonia di Mesir : Proterius (452-457), penentang 

Kalsedonia memilih Patriarkh tandingan mereka, yaitu Timotius Si Kucing. Sejak itulah Gereja Mesir 

terpecah dua, yang Orthodox Kalsedonia yang tetap bersatu dengan seluruh Gereja universal, dan yang 

menolak Kalsedonia, yang kemudian terkenal dengan Gereja Koptik Orthodox, serta mengikuti faham 

“satu-kodrat” (monophysis). 

Demikian juga di pihak Syria, ada yang mengikuti langkah Gereja Alexandria dalam memeluk faham “satu-

kodrat” ini. namun ada yang tetap dengan Gereja Universal yang menerima Konsili Kalsedonia. Dengan 

demikian Gereja Syria sebelah Barat terpecah lagi antara yang “Orthodox” (kaum Monophysit, 

menyebut Gereja Syria yang Orthodox ini sebagai: Malkaya/Melkit, atau para pengikut Raja/Malak) 

dan yang “Monophysit”. 

Pihak Monophysit ini oleh perjuangan Yakub Burdana ( Yakub Baradeus) berhasil mengorganisasi suatu 

lembaga kegerajaan Syria Monophysit, yang akhirnya terkenal dengan nama Gereja Syria Orthodox atau 

Gereja Yakobit. Gereja Yakobit Syria, inilah yang di Indonesia dipopulerkan dengan nama “Kanisah 

Orthodox Syria” oleh Yayasan Study Orthodox Syria, pimpinan saudara Bambang Noorsena, sesudah ia 

keluar dari keanggotaannya, yang pada saat itu bersama dengan Pdt. Yusuf Roni, dalam Gereja Orthodox 

Indonesia.  

 

sedang  yang Orthodox alur utama tetap melanjutkan Kepatriarkhan Syria Antiokhia yang memiliki 

hubungan dengan Gereja-Gereja Aleksandria Orthodox, Konstantinopel, Yerusalem, dan Roma. Gereja 

Armenia sebab  sedang menghadapi perang dengan Persia sehingga tak terwakili dalam Konsili 

Kalsedonia, menolak hasil Konsili itu serta mengikuti faham “satu-kodrat”, demikian pula Gereja Thomas 

India yang terkait dengan Gereja Persia dan Gereja Syria, dan Gereja Ethiopia yang terkait dengan Gereja 

Koptik. Lima Gereja ( Koptik, Syria-Yakobit, Armenia, Thomas-India, dan Ethiopia) inilah yang dalam buku-

buku sejarah Gereja terkenal dengan nama : Gereja-Gereja Monofisit, atau pada masakini akibat hubungan-

hubungan ekumenis, untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental Orthodox, atau 

Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia. sedang  Gereja Orthodox 

Alur Utama, disebut Gereja Orthodox Timur, atau Gereja Orthodox Kalsedonia atau Gereja Orthodox 

Yunani. ( - Kata “Yunani” itu tak berarti menunjuk etnik Yunani, sama seperti “Roma” Katolik tak menunjuk 

pengikutnya sebagai bangsa Roma, namun untuk menunjuk ekspresi karya sastra theologis utama dari 

para bapa Gereja Timur yaitu  menggunakan bahasa Yunani, meskipun jika mereka itu berkebangsaan 

Syria misalnya Efraim dari Syria, Yohanes Khrisostomos, atau berkebangsaan Koptik, misalnya Athanasius 

dari Alexandria, Kyrilos dari Alexandria, Klemen dari Alexandria dan lain-lainnya, sebagaimana Gereja 

Barat menggunakan bahasa Latin, maka Gereja Baratpun sering disebut “Gereja Latin”.-) Meskipun sudah 

berkali-kali ada usaha untuk mempersatukan mereka yang memisah ini baik di zaman purba maupun pada 

zaman modern ini, namun mereka masih tetap terpisah dari Gereja Orthodox. 

Konsili Ekumenis yang Ketiga dan yang Keempat ini menetapkan beberapa Kanon yang bersifat disipliner 

dan bersifat praktis. Dalam Konsili Ketiga di Efesus, ada larangan membuat Pengakuan Iman yang lain, atau 

mengarang “Pengakuan Iman Yang Berbeda” (Kanon 7) dari apa yang sudah dirumuskan dalam Konsili I 

dan Konsili II. Kanon ini digunakan sebagai dasar bagi menentang penambahan atas Pengakuan Iman Nikea 

oleh Gereja Barat dengan kata “filioque” (“dan Sang Putra”) ketika berbicara tentang Roh Kudus. Menurut 

aslinya Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa”, tetapi menurut tambahan filioque dari Gereja Barat ini, Roh 

Kudus itu keluar dari “ Sang Bapa dan Sang Putra”. Konsili Keempat di Kalsedonia, memberikan 

Konstantinopel Ibukota yang baru atau Roma Baru itu “ kehormatan-kehormatan yang sejajar dengan 

ibukota Roma yang lama” , sebab  ibukota yang baru itu dihormati dengan adanya “kaisar dan senat” ( 

Kanon 28). Pada saat ini kita menyaksikan kemunduran di Gereja Barat dengan jatuhnya Roma ke tangan 

bangsa Barbarian. 

Masuknya Gereja Barat pada zaman ini ke dalam apa yang disebut “Zaman Kegelapan” sangat cepat 

terjadi sesudah  meninggalnya Agustinus, Episkop dari Hippo ( 430). Agustinus menulis banyak buku yang 

sangat mengundang perdebatan terutama di Gereja Timur, yang isinya sangat mempengaruhi seluruh 

sejarah Gereja Barat, baik yang Roma (Katolik) maupun yang Reformasi (Protestan), namun yang tak 

diterima oleh Gereja Timur. Sementara itu Gereja Timur masih sedang dalam zaman keemasan dan 

kejayaannya.  

 

3. Konsili Agung Ekumenis Kelima ( 553) di Konstantinopel dan Konsili Agung Ekumenis Keenam 

(680-681) di Konstantinopel 

Pada abad keenam ini Kaisar Yustinianus menginginkan kesatuan Gereja dan kesatuan negara sekaligus. 

Oleh sebab  itu dia berusaha agar pihak Monofisit dapat disatukan kembali kepada Gereja Orthodox. 

Usahanya ini dengan mengadakan suatu Konsili di Konstantinopel (553) , yang akhirnya diakui 

sebagai Konsili Kelima, dimana di dalam Konsili ini suatu tulisan yang disebut sebagai “Tiga Pasal” yang 

disenangi pendukung Kalsedonia, namun yang direndahkan oleh mereka yang menolak Kalsedonia, 

dikutuk Yustinianus secara resmi. Tulisan ini yaitu  tulisan dari Theodoret dari Cyrus, Ibas dari Edessa, 

serta Theodorus Mopsuestia yang semuanya yaitu  orang-orang Syria. Tetapi kutukan itu tak bisa 

diterima para pendukung Konsili Kalsedonia, sebab meskipun mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran 

yang salah dan kabur dari tiga penulis ini, namun tidak ada alasan untuk mengutuk mereka. Usaha 

Yustinianus untuk menyatukan pihak Monofisit ini akhirnya tak berbuah, dan pihak Monofisit sendiri tidak 

yakin untuk bisa menyatu kembali dengan Gereja Orthodox. 

Disamping menolak ajaran yang salah dan kabur dari “Tiga Pasal” , Konsili ini juga menolak beberapa 

ajaran Origenes dari Alexandria yang sangat tidak Orthodox, misalnya bahwa jiwa manusia sudah ada 

sebelum masuk kedalam tubuh jasmani untuk lahir di dunia ini, dan lain-lain. Dan Konsili ini menegaskan 

kembali rumusan Konsili Kalsedonia bahwa Yesus Kristus yaitu  “satu dari Tritunggal Kudus” (artinya: Dia 

Ilahi yang satu hakekat dengan Allah sendiri dan RohNya yang ada di dalam hakekat Allah). Dan Hypostasis 

Kalimatullah yang satu dan yang sama inilah telah memanunggalkan secara "hypostatik" dalam DiriNya 

sendiri yang satu itu dua kodrat yang saling berlawanan: Allah dan Manusia., tanpa campur-baur (Yang 

Ilahi tidak menjadi Manusia, Yang Manusiawi tidan menjadi Ilahi) dan tanpa terpisah-pisah (Yang Ilahi dan 

Yang Manusia manunggal secara tak terpisah dalam Satu Hypostasis). 

Yustinianus sangat giat menyerang sisa agama kafir Yunani, serta menutup Universitas Athena dari 

pengaruh kafir Yunani, serta hanya mempromosikan ilmu-ilmu Kristen saja. Dia membangun banyak 

Gereja, terutama di Betlehem, Yerusalem, dan Gunung Sinai. Karyanya yang terbesar yaitu  Gereja Aghia 

Sophia, yang pernah dijadikan Masjid oleh bangsa Turki sejatuhnya Konstantinopel, dan sekarang menjadi 

Museum. Gereja Konstantinopel pada saat ini sudah menggunakan praktek-praktek liturgis yang telah 

dilakukan di Palestina dan Syria. Praktek Ibadah Gereja Konstantinopel saat ini, digabung dengan Ibadah 

Kristen Yahudi dari abad-abad awal Kekristenan, serta sholat-sholat tujuh waktu yang telah berkembang 

di biara-biara, dan praktek-praktek Liturgis di Yerusalem. untuk membentuk suatu synthesis agung 

pertama kali dari ibadah Liturgis Gereja Orthodox. Sehingga biarpun Gereja Orthodox itu disebut sebagai 


Ortodoks2

 



Gereja Orthodox “Yunani”, namun ibadahnya dan aqidahnya yaitu  ibadah dan aqidah “Semitik” dari ujung 

kaki sampai ujung rambut. Di dalam pikiran orang-orang Kristen Timur pada abad keenam ini, 

Konstantinopel yaitu  Tahta Ke-Episkop-an yang pertama dalam “Sistim Pentarkhi” , yaitu : pertama 

Konstantinopel, sesudah itu baru Roma,Aleksandria, Antiokia dan Yerusalem. 

Sejak saat itu Patriarkh Konstantinopel memakai gelar “Patriarkh Ekumenis” yang tentu saja seperti yang 

dapat diduga Episkop Romalah yang menentang akan hal ini, terutama Paus Santo Gregorius Agung, yang 

mengkompilasi ‘Liturgi Pra-Sidikara” , yang tetap digunakan Gereja Orthodox sampai sekarang pada saat 

Puasa Catur Dasa, namun yang tak dikenal oleh Gereja Roma Katolik. 

Di Gereja Barat pada abad keenam ini, disamping Paus Gregorius Agung, Santo Benediktus dari Nursia 

(480-542) dan para muridnya sangat mempengaruhi sejarah selanjutnya Gereja Barat. Disamping 

itu Santo Columba dan Santo Agustinus dari Canterbury yaitu  misionaris-misionaris Gereja Barat 

yang bekerja di Inggris dan Irlandia. Pada tahun 589 di Toledo, Spanyol, Gereja Barat tanpa persetujuan 

Gereja Timur dan bertentangan dengan Kanon ketujuh dari Konsili Ekumenis 

Ketiga, menambah kata “filioque” pada Pengakuan Iman Nikea untuk menekankan keilahian Kristus 

dalam menghadapi Kaum Barbarian yang mengikuti faham Arianisme, sebab  penginjilan Ulfilas yang telah 

kita sebut sebelumnya. Namun tambahan ini mengakibatkan dampak yang sangat tidak kecil bagi Sejarah 

Gereja. 

Sementara itu di Semenanjung Arabia Sang Bayi Muhammad yang nantinya akan menjadi Nabi besar bagi 

agama Islam telah lahir pada abad keenam ini (tahun 570). Semenanjung yang mana dikelilingi oleh orang-

orang Kristen Timur (Non-Kalsedonia/Monofisit di Mesir maupun Ethiopia yang mempunyai Koloni di 

Yemen, serta Monofisit di Syria Barat, dan Pre-Efesus/ Gereja Timur Assyria/ Nestorian di Persia, serta 

Orthodox/Kalsedonian yang banyak melakukan perdagangan di Semenanjung Arab) dan orang-orang 

Yahudi terutama di Madinah. Ketika lahirnya bayi Muhammad sudah dalam keadaan sebagai anak-yatim, 

pada masa kecil dia diasuh oleh kakeknya Abdul-Muttalib, sesudah  kakeknya meninggal diasuh pamannya 

Abu Thalib yang sering berdangang ke Syria. Dan kanak-kanak Muhammadpun diajak dalam perjalanan 

dagang ini. Dalam pergaulannya berdagang ini Muhammad yang masih muda itu banyak bertemu dengan 

orang-orang Kristen Timur, yang biarpun dalam rumusan Kristologinya berbeda antara Orthodox, 

Monofisit, dan Nestorian ini, namun praktek ibadahnya dan ethos kehidupannya tak banyak beda satu sama 

lain. Mendengar dan memperhatikan dari mereka inilah akhirnya Muhammad melestarikan banyak hal 

dari apa yang dijumpai dari agama-agama terdahulu ini dalam agama Islam, sehingga hal ini menerangkan 

banyaknya kemiripan-kemiripan antara praktek-praktek Iman Kristen Orthodox dan agama Islam.  

 

Menginjak abad ketujuh, muncullah tulisan yang mengatas-namakan diri sebagai ditulis oleh Dionysius 

dari Areopagus, murid Rasul Paulus. Tulisan ini diterima dengan tangan terbuka baik oleh mereka yang 

menolak Konsili Kalsedonia (Monofisit), maupun pembela Konsili Kalsedonia (Orthodox). Namun dalam 

tulisan Dionysian ini ada mengandung ajaran yang bermasalah yaitu bahwa Yesus Kristus, Firman 

Allah/Anak Allah yang menjelma itu, hanya memiliki satu kehendak dan tindakan insani -ilahiah atau 

ilahi-insaniah saja, yang sama sekali membaurkan dua kegiatan dan tindakan yang berbeda dari kodrat 

ilahiNya dan kodrat manusiawiNya. Ajaran ini disebut sebagai monothelitisme ( artinya: Kristus hanya 

memiliki satu kehendak insani-ilahiah/ilahi -insaniah) atau mononergisme ( artinya: Kristus hanya 

memiliki satu tindakan, kegiatan atau energi insani-ilahiah/ilahi-insaniah saja). Banyak yang berharap 

bahwa rumusan ini akan mempersatukan kembali perpecahan kaum Monofisit kepada Gereja Orthodox. 

Namun harapan itu tak pernah terjadi, sebab  ajaran ini ditentang mati-matian oleh Aghios Maximos Sang 

Pengaku Iman (wafat: 662) dari Konstantinopel, yang umurnya 10 tahun lebih muda dari Muhammad, 

serta Paus Santo Martin dari Roma (wafat: 665). Menurut keduanya ini Kristus memiliki kepenuhan 

kehendak, energi, tindakan, dan perbuatan ilahi, yang satu dan sama dengan kehendak Bapa dan RohNya. 

Namun Kristus juga memiliki kepenuhan kehendak, energi, tindakan, dan perbuatan manusiawi yang 

sama dengan semua manusia lainnya. Keselamatan itu terjadi dalam fakta bahwa Yesus Kristus sebagai 

manusia sejati, secara bebas dan secara sukarela menyerahkan kehendak manusiawinya ( yang persis sama 

dengan kehendak segenap manusia lainnya) kepada kehendak ilahiNya (yang yaitu  kehendak Allah 

sendiri). Sehingga Anak Allah yang ilahi ini menjadi manusia yang nyata dan sejati dengan kehendak 

manusiawi yang nyata dan sejati, sehingga sebagai manusia yang nyata Dia dapat memenuhi “seluruh 

kebenaran Allah” dalam ketaatan yang sempurna dan sukarela kepada Sang Bapa. Melalui tindakan 

manusiawiNya yang nyata itulah Yesus Kristus membebaskan semua manusia dari dosa dan maut sebagai 

Adam yang Baru dan yang terakhir. Aghios Maximos dan Santo Martin sangat menderita sekali dalam 

penganiayaan pemerintah sebab  menentang bidat monothelitisme ini. Mereka dipenjara, disiksa, dan 

lidah Maximos dipotong agar tidak bisa berkotbah oleh kekuasaan pemerintah yang sangat ingin 

menggunakan monothelitisme sebagai jalan menyatukan kembali kaum Monofisit. 

Namun akhirnya ajaran kedua orang suci inilah yang menang. Konsili Ekumenis Keenam yang 

diadakan di Konstantinopel tahun 680-681 meneguhkan secara resmi ajaran mereka dan secara resmi 

pula menghukumkan Patriarkh Sergius dari Konstantinopel, serta Paus Honorius dari Roma yang 

mengajarkan monothelitisme, bersama semua pendukung mereka. Di kalangan ummat Syria ada yang 

memegang teguh ajaran ini, terutama yang dipimpin oleh Rahib Maron, dan memisahkan diri dari Gereja, 

sehingga mereka disebut ummat Maronit yang sampai sekarang masih banyak kita jumpai di Libanon, 

namun yang sudah menggabung dengan Gereja Roma Katolik sejak zaman Perang Salib. Sehingga, makin 

terpecah lagilah Gereja Syria ini. Aghios Maximos menulis buku-buku rohani yang mendalam pada saat ini, 

demikian pula Aghios Yohanes Klimakus dari Gunung Sinai menulis “Tangga Naik ke Yang 

Ilahi” serta Aghios Andreas dari Kreta mencipta Kidung Kanon Pertobatan, yang masih tetap dilagukan 

dalam Gereja Orthodox pada saat Masa Puasa Agung Catur Dasa. 

Nabi Muhammad sedang ditengah-tengah misinya untuk menyebarkan dan menegakkan agama Islam, 

ketika Byzantium dibawah Kaisar Heraklius berperang melawan Persia, serta merebut Salib asli yang 

dirampas mereka, lalu dibawa ke Konstantinopel. Kedatangan Salib itu disambut meriah, sehingga 

dilestarikan dalam pesta Gereja Orthodox sebagai “Pesta Pengangkatan Salib” setiap tanggal 14 

September. Kekaisaran dalam keadaan terkuras habis tenaganya sebab  perang melawan Persia ini, 

sehingga sewafatnya Nabi Muhammad, ketika daerah-daerah Byzantium di Mesir, Palestina dan Syria 

direbut Islam tak banyak yang dapat dilakukan. Disamping itu ummat Monofisit yang sangat banyak di 

daerah itu memang membenci Byzantium sebab  Iman Kalsedonian mereka. Sehingga ketika Islam muncul 

tak ada perlawanan dari mereka, sebaliknya mereka yang mengundang tentrana Muslim untuk bersama-

sama melawan Byzantium, sebab  dianggap dengan berada di bawah Islam mereka bebas dari tekanan 

Byzantium. Hal yang terbukti salah di kemudian hari, yang effeknya masih dapat dirasakan sampai 

sekarang.. Demikian juga sikap ummat Nestorian di Persia. Islam diharapkan membebaskan mereka dari 

tekan Shah Persia, dan merekapun ternyata keliru. Dalam tingkat non-politik Byzantium dan Islam 

mempunyai hubungan yang baik, misalnya para pedagang Arab justru dibangunkan Mesjid untuk mereka 

beribadah di Konstantinopel dan mereka tak pernah dipaksa menjadi Kristen. Kalifah al-Ma’mun 

mengadakan hubungan yang baik dengan Kaisar Byzantium terutama dalam hal mendapatkan nashak-

naskah Yunani dan klasik yang akan diterjemahkan dalam bahasa Arab. Orang-orang Kristen Byzantium 

secara tingkat sosial saling mengadakan kontak dengan kaum Muslim. sebab  sikap kaum Monofisit dan 

Nestorian inilah sebabnya mengapa dengan mudah daerah-daerah Kristen Orthodox itu ditaklukkan Islam 

sebab  memang tidak ada perlawanan dari penduduk setempat, malah mereka diundang oleh kaum 

Monofisit di Mesir, Syria, dan Libanon serta kaum Nestorian di Irak dan Persia. 

Karya Konsili Kelima dan Konsili Keenam ini dilanjutkan lagi di Konstantinopel, di ruangan berkubah 

(Trullo) dari istana Kerajaan untuk membahas peraturan 102 buah Hukum Kanon, yang disebut Kanon 

Konsili Quinisext (Kelima-Keenam). Dalam Hukum Kanon ini ditegaskan orang menikah boleh ditahbis 

jadi diaken dan kemudian presbyter, namun yang sudah ditahbis tak boleh menikah jika tadinya tidak 

menikah. Dan hanya orang yang tidak menikah saja yang harus jadi Episkop. Ditetapkan juga batas umur 

orang yang akan ditahbis, serta larangan rohaniwan berpartisipasi dalam politik atau dalam 

perekonomian. Juga larangan orang awam masuk ke Ruangan Mezbah tanpa perlu, serta melarang 

perkawinan campuran, dan masih banyak lagi. 

 

4.Konsili Ekumenis Ketujuh dan Terakhir (787 ) di Konstantinopel 

Pada saat abad kedelapan ini kekalifahan Islam sudah tersebar di seluruh Timur Tengah, dan Byzantium 

telah sering mengalami serangan tentara kaum Muslimin Arab dari arah selatan. Syria yang berbatasan 

dengan Byzantiumpun sudah berada dibawah kedaulatan Islam. Kaum Muslimin tak henti-hentinya 

menyerang ajaran Tritunggal Kudus, Keilahian Kristus, Penyaliban, Kebangkitan, dan penggunaan Ikon 

(gambar-gambar agamawi) dalam Gereja. Gambar-gambar itu dianggap sebagai berhala, sebab  Islam 

memang anti-gambar. Serangan Islam ini sedikit-banyak mempengaruhi sebagian orang Kristen. Apalagi 

saat itu di Byzantium, sedang bangkit diantara kaum intelektual aliran filsafat Neo-Platonisme yang 

meremehkan benda jasmani dan menekankan hal yang bersifat “idea”. Ikon yaitu  benda jasmani, maka 

berdasarkan pandangan filsafat kafir ini, maka ikonpun direndahkan dan diremehkan. Kedua faham ini 

mempengaruhi Kaisar Leo III dari Isauria ( 717-741) dan Kaisar Konstantinus V ( 741-775), yang sudah 

lama ingin menaklukkan Gereja pada kehendak raja. Masalah ini digunakan sebagai alasan untuk menekan 

Gereja dan melarang penggunaan Ikon dalam Gereja. sesudah  mengadakan sidang tahun 753 dan disitu 

dinyatakan bahwa Allah itu tak kelihatan jadi tak dapat digambar, sebagaimana pula argumentasi kaum 

Muslimin (dan beberapa ayat Alkitab yang melarang penggunaan patung, yang juga dilarang Gereja 

Orthodox) yang mempengaruhi argumentasi sidang tadi, maka perintah dikeluarkan bahwa semua gambar 

harus dihapus dan semua ikon dibakar. Perlawanan terhadap Ikon ini dikenal sebagai Gerakan Bidat 

Ikonoklasme.  

 

Ikonoklasme  

 

Memang Gereja Timur melarang penggunaan patung dari zaman purba sampai sekarang, namun sejak 

zaman katakombe ( terowongan bawah tanah tempat persembunyian mereka dan digunakan untuk 

penguburan dan ibadah, pada saat zaman aniaya) telah menyatakan iman mereka dalam wujud simbol-

simbol dan gambar-gambar, dan itulah permulaan ikon, yang asalnya berasal dari perintah Allah kepada 

Musa untuk membuat patung kerubim dan gambar-gambar kerubim di Kemah Suci, dan juga dilukisnya 

gambar-gambar semacam itu di Bait Allah yang dibangun Salomo (Sulaiman). Orang Kristen Orthodox yang 

mempertahankan penggunaan ikon dibunuh dan dianiaya oleh Kaisar ini, sehingga terjadi pertumpahan 

darah yang hebat diantara ummat Kristen Orthodox oleh aniaya tentara raja. Para Episkop banyak yang 

ditekan untuk secara resmi menentang penggunaan Ikon. Sehingga tahun 762 dan 775, terkenal 

sebagai “dekade berdarah” dalam sejarah Gereja Timur ini, sebab  banyaknya orang Kristen Orthodox, 

terutama diantara para rahib yang dipenjara, disiksa, dan dibunuh sebab  mempertahankan Ikon itu. 

Gereja tidak hendak tunduk pada kehendak manusia, sebab  hanya Kristus, dan bukan Kaisar, itulah Kepala 

Gereja. Tuhan tidak berlama-lama membiarkan ummatNya menderita. 

Pada tahun 780 Maharatu Theodora naik tahta ( 780-802). Penganiayaan dihentikan dan Konsili diadakan 

di kota Nikea pada tahun 787 untuk membahas mengenai masalah Ikon ini. Inilah Konsili Ekumenis 

yang Ketujuh dan Terakhir dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang satu, yang secara tanpa putus 

berjalan dalam sejarah sampai abad kedelapan itu. Konsili ini menjelaskan makna Theologia Ikon, 

mengikuti penjelasan yang dilakukan oleh Aghios Yohanes Damaskinos (Yuhana Al-Mansyur) dari 

Damaskus Syria. Yuhana Al-Mansyur yaitu  anak seorang pegawai tinggi dari kalifah Islam di Damaskus, 

Syria. Diapun akhirnya diangkat menjadi pegawai tinggi dari kalifah Yazid di Syria ini. Entah sebab  apa dia 

tinggalkan karir duniawinya, dan masuk ke biara, serta akhirnya menjadi presbyter. Pada saat 

penganiayaan orang-orang Kristen Orthodox di Byzantium, Aghios Yohanes bebas dari aniaya itu sebab  

dia hidup dalam wilayah Islam. Sehingga dia bebas menulis dan mengkritik para penentang Ikon tanpa 

ditangkap tentara raja. Argumentasi yang berdasarkan Alkitab dan Iman Rasuliah dalam tulisan Aghios 

Damaskinos inilah yang diikuti dalam Konsili Ketujuh ini. 

Inti terpokok Iman Kristen yaitu  Yesus Kristus. Dan Dia yaitu  “Firman yang Menjadi manusia” (Yohanes 

1:14). Dengan demikian Yesus Kristus yaitu  Firman Allah yang ber “Inkarnasi” ( “Mendaging”). Maka 

“Inkarnasi Kristus” sebagai Firman Allah itulah inti iman Kristen. Allah memang tak dapat dilihat, jadi tak 

dapat digambar apalagi dipatungkan. Itulah sebabnya Perjanjian Lama,- dan dalam hal ini sikap Al Qur’an 

juga - serta Iman Orthodox sendiri melarang Allah ( Bapa) digambar. Namun dalam Yesus Kristus, Allah 

melalui “FirmanNya” telah menjadi nampak, yaitu menjadi daging. Maka kedagingan dari kemanusiaan 

Firman itu sekarang dapat digambar untuk membuktikan bahwa Firman betul-betul jadi manusia. Disitulah 

tempatnya Ikon itu. Menolak Ikon berarti menolak bahwa betul-betul Yesus Kristus itu manusia, yaitu 

menolak Inkarnasi Firman Allah. Islam hanya percaya Firman Allah yang diturunkan menjadi Kitab: “Al-

Qur’an” . Oleh sebab  itu penegasan makna Wahyu dalam Islam yaitu  dalam wujud “Kaligrafi” (“Tulis 

Indah Huruf Arab”), membuat ikon atau gambar dalam Islam memang akan bertentangan dengan inti 

kewahyuan Firman sebagai tulisan. Namun menolak “ikon” dalam Iman Kristen justru sebaliknya, sebab  

itu berarti menolak kemanusiaan, kewujud-dagingan, dan Inkarnasi dari Firman Allah yang menjadi 

manusia itu. “Kaligrafi” (Tulis Indah Huruf Arab) dalam Islam itulah “Ikonografi” dalam Iman Kristen 

Orthodox. sebab  yang ditekankan pada “ikonografi” itu justru yaitu  fakta “inkarnasi” serta fakta 

“kemanusiaan kongkrit” dari Penjelmaan Firman Allah/Kalimatullah yang menjadi daging, maka 

Konsili dengan tegas mengatakan bahwa Allah (Bapa) dilarang diwujudkan dalam gambar apalagi dalam 

patung. Demikian juga berlaku bagi Roh Kudus, serta keberadaan Kristus sebelum jadi manusia. Dengan 

kata lain larangan hukum Musa untuk tidak menggambarkan Allah dalam bentuk apapun tetap dijaga 

dengan keras, namun fakta Inkarnasi dari Firman Allah menjadi manusiapun dijaga keras dengan ekspresi 

yang kongkrit dalam wujud “ikonografi”. 

Jelas ikon berbeda dari dan bukan merupakan berhala. Sebab berhala yaitu  penggambaran Allah secara 

bentuk makhluk dan diberi bakti dan sembah sebagai ilah, ikon bukan gambarNya Allah, dan tak diberi 

bakti seperti Allah sendiri. Dengan Ikon ditegaskan bahwa oleh Inkarnasi Firman Allah maka segala sesuatu 

yang jasmani sekarang dikuduskan oleh Kristus, yang jasmani ini terutama yaitu  ummat manusia yang 

telah ditebus dalam Kristus. Itulah sebabnya isi dari Ikonografi, bukan hanya Kristus saja, namun semua 

mereka yang menjadi dampak langsung dari Inkarnasi itu, yaitu para orang-orang yang telah dikuduskan 

oleh Kristus dalam Roh Kudus: Theotokos, para Nabi, para Rasul, dan segenap orang suci. Demikianlah 

ikonografi menjelaskan bahwa melalui Kristus yang yaitu  “ikon” (Gambar) dari Allah yang tak kelihatan 

(Kolose 1:15), segenap manusia yang ditebus olehNya dikembalikan kepada kodrat asli (“fitrah”) yang 

atasnya manusia diciptakan menurut “gambar (eikon, demuth) dan rupa (omoiousin, tselem) Allah“ ( 

Kejadian 1:26). Jadi pertentangan masalah Ikon bukanlah sekedar pertentangan masalah lukisan, dan 

bukan pula masalah berhala, namun masalah betulkah Firman Allah telah menjadi manusia, dan betul-betul 

berwujud jasmani, yang dengan begitu dapat dilukis, tanpa melanggar larangan penggambaran Allah dan 

keilahian yang tidak nampak itu. 

Pada abad ini Aghios Yohanes Damaskinos mencipta Kidung-Kidung Kanon Sembahyang Fajar 

Paskah dan Kidung-Kidung Dukacita untuk upacara penguburan dalam Gereja Orthodox serta Kidung 

Hasta-Nada yaitu kumpulan kidung-kidung yang menggunakan delapan Irama yang berbeda yang 

dilagukan secara berputar dalam tiap minggu, Semuanya ini tetap menjadi bagian ibadah Gereja Orthodox 

sampai sekarang. Juga dia menulis buku yang disebut “Exposisi Lengkap Iman Orthodox” yang 

merupakan pembahasan sistimatis seluruh doktrin Kekristenan Orthodox sejak zaman purba yang dapat 

ditemukan dalam bukunya “Sumber Ilmu-Pengetahuan” . Dia juga menulis buku polemik menyanggah 

tuduhan Islam. 

Pada saat abad kedelapan ini Gereja Barat mengalami banyak pertobatan dari suku-suku Barbarian. 

Pemberita Injil terbesar Gereja Barat pada abad ini yaitu  Santo Bonafasius ( wafat tahun 754). Untuk 

pertama kalinya pada abad Paus Roma menjadi pemimpin-pemimpin duniawi yang menguasai tanah-tanah 

di Itali, serta mengadakan hubungan dengan raja-raja yang baru muncul dari keluarga Carolingian yang 

berasal dari suku-suku Barbar ini. Dari keluarga inilah Karel Agung muncul, yang pada tanggal 25 

Desember 800 dimahkotai untuk mendirikan Kerajaan di Eropa Barat yang telah hilang, dengan nama 

Kerajaan Romawi Suci, jadi mengadakan perpecahan politik dengan Kerajaan Byzantium. Agar dapat 

mendirikan Kerajaan Baru dengan dukungan Paus Roma ini, maka Karel Agung menyerang keabsahan 

Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur. Dia menuduh Gereja Timur sebagai “penyembah berhala” sebab  

sikapnya terhadap ikon, serta menuduh Gereja Timurlah yang menghilangkan “filioque” dari Pengakuan 

Iman yang ditambahkan oleh Konsili Toledo (tahun 589) dari Gereja Barat ini. 

Tuduhan-tuduhan ini termaktub dalam buku “Liber Carolini” yang telah diserahkan lebih dahulu kepada 

Paus Hadrianus I di Roma oleh Karel Agung, pada tahun 792. Namun pada tahun 808 Paus Leo 

III mengadakan reaksi atas tuduhan Karel Agung terhadap Gereja Timur ini, sehingga dia membuat 

Pengakuan Iman Nikea tanpa “filioque” diukirkan pada suatu lempeng perak dan di letakkan di pintu 

Gereja Santo Petrus. 

Sesudah Konsili tahun 787 itu, perlawanan terhadap ikon berlanjut terus di Kerajaan Byzantium. Ketika 

Ratu Irini meninggal pada tahun 802, Kaisar Leo dari Armenia menjadi Kaisar. Pada tahun 812 dia 

memerintahkan ikon-ikon supaya dijauhkan tempatnya dari jemaat. Pada saat Mingu Palem tahun 

815 Aghios Theodoros, mengadakan arak-arakan membawa ikon-ikon di Konstantinopel, namun dicegat 

oleh tentara kerajaan , semua orang itu dianiaya dan disiksa serta banyak yang mati dibunuh.. Hanya pada 

sat pemerintahan Ratu Theodora pada tahun 843, ikon-ikon betul-betul dikembalikan ke Gereja secara 

resmi, pada Minggu Pertama Masa Puasa Catur Dasa, dan disebut sebagai “Kemenangan Orthodoxia” 

yang sampai sekarang pada Minggu Pertama Puasa Catur Dasa ini masih diperingati dan dirayakan dalam 

Gereja Orthodox.. Pengembalian Ikon ini disebut “Kemenangan Orthodoxia” , sebab  ini menutup 

lingkaran pembahasan Kristologi sejak Nikea (325) sampai pada batasnya yang tertuntas. 

Pada saat Nikea dituntaskan keyakinan bahwa Yesus itu betul-betul “Allah sejati yang keluar dari Allah 

sejati” dan “Satu Dzat Hakekat dengan Sang Bapa”. Konsili kedua (381) menegaskan kesatuan Keilahian 

Yesus Kristus ini dengan Bapa dan Roh Kudus, serta Konsili ketiga ( 431) menegaskan bahwa keilahian tadi 

tidak hilang ketika Dia berada dalam rahim Maryam, sehingga Maryam disebut Theotokos. sedang  

Konsili Keempat (451) menegaskan sifat hubungan dan kesatuan antara keilahian dan kemanusiaanNya, 

dan Konsili Kelima (553) meneguhkan apa yang dirumuskan oleh Konsili Keempat. sedang  Konsili 

Keenam menegaskan dan meneguhkan akan sifat kemanusiaan Kristus yang memiliki kehendak manusia 

yang sempurna, sehingga “monothelitisme” ditolak. Integritas kemanusiaan Kristus itu secara lebih 

kongkrit dan tak diragukan lagi ditegaskan dalam Konsili Ketujuh dengan bukti bahwa Dia dapat dilukis 

dalam Ikon sebab  Dia betul-betul menjadi manusia yang nampak dan dapat dilihat. Demikianlah dalam 

seluruh Konsili yang tujuh buah ditegaskan keilahian penuh dan kemanusiaan penuh dari Kristus yang satu 

itu secara tuntas. Dan itulah “inti Iman Kristen Orthodox:”. Oleh sebab  itu penegasan secara kongkrit dan 

tuntas dari kemanusiaan Kristus dalam Ikon itu menutup dan memeteraikan kebenaran Orhodoxia, 

sehingga itu disebut “Kemenangan Orthodoxia” yang telah dibuka dan diawali dengan penegasan secara 

kongkrit dan penuh akan keilahian Kristus dalam Konsili Petama. 

C. Zaman Penyebaran ke Utara 

Masa Pasca-Konsili Ekumenis: 

Dari Penginjilan Bangsa Slavia (863) sampai jatuhnya Konstantinopel (1453) ke Tangan Turki 

1. Penginjilan Negara-Negara Eropa Timur (863) 

Meskipun usaha Karel Agung untuk memasukkan Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur dalam Kerajaan 

Romawi Suci yang didirikannya itu tak berhasil, Paus di Roma makin memaksakan kuasanya kepada 

seluruh Gereja di Barat. Paus-paus yang kuat seperti Nikholas I ( 858-867 ) menekan keras semua pengaruh 

awam dan memusatkan semua kekuasaan pada hierarkhi Paus. Usaha sentralisasi pada Paus ini dtunjang 

oleh dokumen-dokumen palsu “Dekrit Isidorus Dari Seville” dan “Donasi Konstantinus” yang ternyata 

karangan kaum Frankish dan Jermanik itu sendiri, yang menyatakan bahwa Paus di Roma mempunyai 

kekuasaan politis atas seluruh wilayah sekitar Roma, sehingga wilayah itu disebut “negara kepausan”. 

Sementara itu yang menjadi Patriarkh di Gereja Timur yaitu  Photius. Dia mengutus dua orang kakak-

beradik (Konstantinus dan Methodius) berbangsa Yunani: untuk menyebarkan Injil ke Moravia diantara 

bangsa Slavia. Mereka tiba disana pada tahun 863, dan mereka telah menciptakan alfabet Slavia yang 

berdasarkan alfabet Yunani (sekarang disebut alfabet Slavonik Lama atau Bulgaria Lama) untuk 

menterjemahkan kitab-kitab Gerejawi ke dalam bahasa Slavia ini. sebab  Gereja Orthodox selalu percaya 

pasa inkarnasi Injil pada budaya setempat. Misi dari kedua kakak-beradik itu konflik dengan misi Gereja 

Barat yang juga ada di Moravia ini. Gereja Barat memaksakan bahwa hanya bahasa Ibrani, Yunani dan Latin 

saja yang boleh digunakan sebagai bahasa keagamaan Gereja. sebab  para misionaris ini dari Gereja Barat 

kedua kakak-beradik ini melaporkan situasi tadi ke Paus Hadrianus II (tahun 869), serta mereka 

mendapatkan restu atas usaha mereka dari Paus Roma juga. Konstantinus meninggal pada tahun 869, serta 

menjadi rahib sebelum meninggal dengan nama Kyrilos, serta diakui sebagai orang suci Gereja. sebab  

itulah alfabet yang mereka ciptakan itu terkenal dengan nama huruf“Kyrilik” ( “Cyrillic”) yang digunakan 

di banyak negara-negara Eropa Timur dan Rusia sampai sekarang. Methodius diangkat menjadi Episkop, 

dan ketika dia kembali kepada karya misinya, dia ditangkap dan dipenjarakan oleh para misionaris Gereeja 

Barat tadi dengan pertolongan Raja Louis Orang Jerman. Ketika Paus Yohanes mengetahui hal itu pada 

tahun 873, dia menuntut agar Methodius dibebaskan. Namun ketika Methodius meninggal, semua karyanya 

musnah, sebab  para muridnya banyak yang ditangkap,dibuang atau dijual sebagai budak oleh kekuasaan 

negara Romawi Suci Jermanik, yang benci Byzantium, melalui para rohaniwan Gereja Barat itu. Sebagian 

lagi ada yang melarikan diri ke Bulgaria dan terjadi banyak pertobatan disana. Dan ummat Bulgaria ini 

akhirnya terkait dengan Gereja Konstantinopel. Dari Serbia ini usaha misi Gereja Orthodox di Timur 

berkembang ke daerah-derah Serbia, serta pada akhirnya ke Kiev serta Rusia Utara. Inilah sungguh-

sungguh masa gerakan misi yang sangat luar biasa bagi Gereja Timur. 

2. Konflik Terbuka Gereja Timur dan Gereja Barat (861-886) 

Ketegangan-ketegangan yang sudah kita lihat antara Gereja Timur dan Gereja Barat ini menjadi konflik 

terbuka untuk pertama kalinya antara tahun 861-886. Pada saat itu ada dua partai yang saling berebut 

pengaruh di Konstantinopel baik secara politis maupun gerejawi, yang satu Partai Konservatif dan lainnya 

Partai Moderat. Untuk mencapai perdamian dalam Gereja maka Patriarkh Phtoius yang tadinya orang 

awam itulah yang dijadikan pemimpin Gereja. Partai Konservatif yang ekstrim tidak puas akan hal ini, lalu 

meminta bantuan Paus di Roma, menggunakan nama baik Ignatius, Patriarkh yang sekarang sudah 

pensiun untuk melawan Photius dan pemerintah yang memilih dia. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh 

Paus Nikholas untuk ikut campur-tangan pada masalah Gereja Timur ini, sebab  perkembangan sentralisai 

kepausan di Barat itu. Paus Nikholas lalu mengadakan Konsili di kota Konstantinopel pada tahun 861 untuk 

menyelesaikan pertikaian kedua partai itu. Namun ketika para utusan Paus tiba di Konstantinopel Photius 

memang Patriarkh yang sah, dan semuanya diselesaikan dengan damai. Namun ketika para utusan itu 

kembali ke Roma, Paus Nikholas tidak mau menerima hasil keputusan tadi, lalu mengadakan Konsilinya 

sendiri di kota Roma pada tahun 863, dia memecat Photius serta menyatakan bahwa Ignatius yang sudah 

pensiun itu harus jadi Patriarkh yang sah. Namun pernyataannya ini tak diperdulikan oleh siapapun di 

Gereja Timur. 

Pada tahun 866 dan 867 Gereja Bulgaria sesuai dengan situasi politiknya kadang-kadang memihak Roma , 

namun kadang-kadang memihak Konstantinopel. Pada tahun 867 Photius mengadakan Konsili yang 

dihadiri oleh 500 Episkop yang mengutuk Paus Nikholas sebab  ikut campur-tangan masalah internal dari 

Gereja Bulgaria. Namun pada tahun yang sama itu terjadi suatu perubahan politik di Konstantinopel, 

Basilius I menjadi Kaisar dengan membunuh Kaisar sebelumnya, dan untuk alasan politiknya dia memecat 

Photius sebagai Patriarkh dan Ignatius yang pensiun diangkat lagi menggantikannya. Pada tahun 869 Paus 

Hadrianius II pengganti Paus Nikholas di Roma, mengutuk Photius lagi atas masalah Bulgaria. Namun pada 

tahun 877, situasi menjadi berubah ketika Photius harus menjadi Patriarkh lagi sebab  Ignatius yang saleh 

itu meninggal dunia. Pada tahun 879 suatu Konsili yang sangat besar diadakan oleh pimpinan Photius dan 

utusan Paus dari Roma juga diundang datang. Dalam Konsili yang dipimpin oleh Photius ini sendiri, maka 

dipilah-jelaskan oleh Patriarkh Photius mengenai kedudukan Paus di Roma dalam hubungannya dengan 

Patriarkh dan Gereja Konstantinopel. Serta hal itu diterima oleh Paus Yohanes VIII yang menjadi Paus yang 

baru di Roma. Konsili tahun 863 dan 869 yang mengutuk Photius dinyatakan batal dan tak berlaku, serta 

dengan tegas diakui bahwa Konsili tahun 787 tentang “ikon” diakui sebagai Konsili Ketujuh, serta 

Pengakuan Iman Nikea “tanpa filioque” diteguhkan kembali. 

Photius secara resmi diakui sebagai orang kudus Gereja. Dia yaitu  seorang theoloog yang banyak menulis 

buku, terutama mengenai masalah “filioque” yang mengajarkan Ke-Esa-an Allah dengan mengatakan 

bahwa Roh Kudus itu hanya keluar dari Bapa saja, sebagaimana Firmanpun diperanakkan dari Sang Bapa 

yang satu dan yang sama itu. Dia membela Tradisi Gereja yang otentik dalam menentang pernytaan diri 

Paus Nikhloas yang berlebih-lebihan itu, dan akhirnya menjaga kesatuan dengan Gereja Roma serta Paus 

Yohanes VIII. Dia yang mensponsori misi besar-besaran kepada bangsa Salvia. 

Abad kesembilan ini secara umum dapat dikatakan sebagai abad yang sangat penting bagi Gereja Timur. 

Ini yaitu  abad kebangkitan di Gereja Timur, sedang di Gereja Barat ini yaitu  abad sentralisasi yang makin 

bertambah di sekitar diri Paus. Satu-satunya theoloog yang dapat disebut dari Gereja Barat pada saat ini 

yaitu  John Scotus Erigena (wafat 877). 

3. Penginjilan Rusia ( 988) 

Menginjak abad kesepuluh kita masih berjumpa dengan kebangkitan ilmu di Gereja timur, dimana ilmu-

ilmu dari para penulis non-Kristus Yunani itu mulai dipelajari kembali, tiulisan para Bapa Gereja mulai 

dikumpulkan, serta “Kisah Hidup Para Orang Kudus” mulai dikompilasi untuk menjelaskan sisi 

kharismatis dari pengalaman Gereja dimana dibuktikan bahwa sepanjang segala zaman Roh Kudus masih 

berkarya dengan segala macam mukjizatnya dan pengudusannya seperti yang nampak dalam kehidupan 

mereka ini, serta “Lavra Agung” ( Biara Terbesar di Gunung Athos Yunani) didirikan oleh Aghios 

Athanasios dari Gunung Athos (960), Aghios Simeon Neos Theologos menulis sangat luas dan 

mendalam mengenai makna pengalaman “Dibaptis dalam Roh Kudus” serta pengalaman melihat Terang 

Tak Tercipa serta menyatu tenggelam dalam Terang tadi yang yaitu  tenggelam dalam Roh Kudus. Gereja 

dan negara Byzantium makin saling merembesi, terutama Gereja makin mengendalikan masalah-masalah 

perkawinan dan keluarga. 

Pada tahun 869 Tsar Boris dari Bulgaria dibaptiskan dengan Kaisar Mikhael III dari Konstantinopel 

sebagai “ Bapak Baptis” (‘Bapa Selam”, “Papa Serani”). Sehingga dengan demikian Gereja Bulgaria secara 

kokoh berada dalam persekutuan dengan Gereja Konstantinopel, terutama pada saat anaknya Tsar 

Sumeon Gereja Bulgaria makin berkembang. Pada akhir abad kesembilan suatu sekte Bidat Bogomil, 

suatu sekte dualisme yang menolak keilahian Kristus dan Sakramen-Sakramen Gereja sedang berkembang, 

namun ditolak Gereja, mereka berkembang sampai ke Serbia, terutama di Bosnia. Kebanyakan dari anggota 

sekte ini menjadi Muslim ketika Turki menguasai daerah Bosnia. 

Pada tahun 988 para bawahan dari penguasa wilayah Kiev dibaptis di sungai Dnieper dibawah 

pimpinan Pangeran Vladimir yang Agung, dengan demikian memulai sejarah Gereja Orthodox di Ukraina 

dan Rusia. Valdimir menerima Iman Kristen Orthodox dari Konstantinopel, sesudah  mengadakan 

penyelidikan dari semua agama yang ada, dia menemukan tidak ada agama yang keindahannya melebihi 

Kekristenan Orthodox. Dia dibaptis di Konstantinopel dengan Kaisar Basilius sebagai Bapak Baptisnya. 

Akhirnya dia menikah dengan Puteri Anna dari Konstantinopel, untukmengokohkan pertalian keluarga 

Kerajaan. Sesudah baptisannya itu Vladimir mengalami suatu pengalaman pertobatan yang sungguh-

sungguh, sehingga banyak menanamkan prinsip-prisip Kristen dalam kerajaan yang dipimpinnya, serta dia 

mengabarkan Iman Kristen Orthodox kepada seluruh bawahannya. sebab  apa yang dilakukan dan 

kekudusan hidupnya ini ia telah diakui sebagai orang kudus Gereja bersama dengan neneknya Putri Olga 

yang telah menjadi Kristen sebelumnya, dan banyak mempengaruhi dia dalam keputusannya untuk 

menjadi Kristen. 

Pada akhir abad kesembilan sampai masuk abad kesepuluh Gereja Barat mengalami salah satu periode 

yang paling gelap dalam sejarah. Gelombang-gelombang baru penyerbuan menghancurkan keamanan 

kekaisaran yang diciptkan Karel Agung. Ggereja Barat menderita dominasi para penguasa-penguasa dari 

antara kaum awam. Komunikasi dengan Gereja Timur sama sekali terputus. Namun demikian terjadilah 

permulaan gerakan pembaruan di Gereja Barat yang dimulai dari Biara Cluny di Perancis. 

D. Zaman Perpecahan 

4. Perpecahan ( Skisma ) Besar (1054): Gereja Barat (Roma Katolik) Pecah Dengan Gereja Timur ( 

Orthodox) 

  

Masuk ke dalam abad kesebelas kita temui peristiwa menyedihkan, yaitu perpecahan besar-besaran antara 

Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Konstantinopel). Peristiwa ini dimulai dengan larangan 

penggunaan Liturgi Gereja Timur Yunani di Italia Selatan oleh Paus Roma, serta sebagai balasannya 

dilaranglah penggunaan Liturgi Gereja Barat Latin di Konstantinopel oleh Patriarkh. Pada tahun 1053 Paus 

di Roma mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk bertemu dengan Patriarkh yang sedang 

menjabat: Mikhael Kerularios. Tetapi Patriarkh tidak mau menerima mereka, sebab  dia melihat bahwa 

tujuan kedatangan mereka mempunyai motivasi politik. sebab  lelah menunggu dan sebab  jengkel 

merasa tidak dihormati,, maka kepala rombongan utusan ini, yaitu: Kardinal Humbert, pada tanggal 16 

Juli 1054, menempatkan dokumen “pengkutukan” ( “anathema” ) dan pengkucilan terhadap Patriarkh 

Mikhael Kerularius dan semua yang bersimpati kepadanya, diatas mezbah (altar) Gereja Aghia Sophia, 

namun dia tetap memuji Konstantinopel sebagai “Kota yang Amat Orthodox”. Kutukan ini landasannya 

sebab  Gereja Timur tidak menggunakan “filioque”, mengijinkan para Presbyter (“Rohaniwan Tertahbis”) 

menikah, kesalahan-kesalahan liturgis sebab  tidak sama dengan yang dipraktekkan dalam Gereja Latin. 

Tindakan Kardinal Humbert ini ditanggapi Patriarkh Mikhael Kerularios dengan mengadakan Konsili Para 

Patriarkh dan Episkop-Episkop Gereja Timur dengan menyatakan “anathema” dan “pengkucilan” terhadap 

semua yang bertanggung jawab atas peristiwa “16 Juli 1054”. Dia mendaftar semua yang dianggap 

penyalah-gunaan Gereja Latin. Sejak saat itu usaha untuk menyatukan kembali antara Gereja Barat yang 

kemudian dikenal sebagai Gereja Roma Katolik dengan Gereja Timur yang tetap disebut sebagai Gereja 

Orthodox atau Orthodox Yunani menjadi tak mungkin lagi. Maka terjadilah skisma (perpecahan) yang 

permanen sampai sekarang. Semua usaha untuk persatuan tak satupun membuahkan hasil, bahkan 

pengangkatan secara simbolik “anathema tahun 1054” ini yang dilakukan di zaman modern pada tahun 

1966 oleh Paus Paulus VI dari Gereja Roma Katolik dan Patriarkh Athenagoras dari Gereja Orthodox itupun 

tak berdampak apa-apa dalam usaha kesatuan Gereja ini. Gereja Barat (Roma Katolik) tetap terpisah dari 

Gereja Timur ( Orthodox) dan tetap berjalan menurut jalannya sendiri sampai kini. 

5. Masa Perang Salib 

Dengan hampir kebanyakan daerah Kristen Orthodox di sebelah timur di kuasai Islam terutama Palestina, 

maka sulit bagi orang-orang Kristen di Barat untuk mengadakan ziarah ke Tanah Suci. Maka di Gereja Barat 

timbul suatu gerakan untuk merebut Tanah Suci dari tangan musuh. Maka oleh kotbah-kotbah beberapa 

pemimpin Gereja di Barat Perang Salib merebut Tanah Suci itu dimulai pada tahun 1096. Mereka bergerak 

maju menuju ke Timur dari Eropa Barat dengan dipimpin Uskup dan para pastor serta tentara-tentara 

Katolik Barat. Gerakan ini tak terpisah dari apa yang terjadi di Gereja Barat. Pada pertengahan abad 

kesebelas ini terjadi pembaharuan di Gereja Barat yang berpusat pada diri Paus. Gerakan ini sering disebut 

sebagai“Pembaharuan Gregorian” menggunakan nama dari penggerak utamanya yaitu Paus Gregorius 

VII atau Hildebrand.  

 

Tujuan Gerakan ini yaitu  untuk menegakkan Gereja Katolik Roma kokoh terpisah dari ketergantungan 

kepada kekuasaan pemerintah manapun. Akibatnya, ini makin amat sangat memperluas pernyataan diri 

Paus di Roma akan kedudukannya. Sehingga usaha untuk berdamai dengan Gereja Timur makin sulit. 

Misalnya pada tahun 1089 untuk mengadakan hubungan yang baik, Gereja Timur meminta pengakuan 

iman dari Paus Urbanus II, dia menolak melakukannya, sebab dia merasa jika memberikan pengakuan iman 

itu berarti Uskup Roma dapat dihakimi oleh orang lain di dalam Gereja. Dan pada saat Perang Salib yang 

pertama tahun 1096 itulah kedudukan Paus di Roma sebagai penguasa sudah mapan sekali. Pada akhirnya 

para tentara perang salib inilah yang memeteraikan skisma (perpecahan) diantara dua Gereja ini. Para 

pasukan Salib itu merebut Yerusalem pada tahun 1099, serta mengusir ummat Islam dari situ, namun juga 

mendirikan suatu Hierarkhi Kegerajaan Latin, dan mengusir Patriarkh Timur yang sah baik di Yerusalem 

maupun di Antiokhia. Sejak saat itu baik di Palestina maupun di Syria terbentuk suatu Kepatriarkhan Latin 

Ritus Timur, sebagai tandingan dari Kepatriarkhan Timur Orthodox yang sah. Kaum Roma Katolik (Latin) 

yang menggunakan Ritus Timur, yaitu Tata Ibadah dan Spiritualitas Gereja Orthodox, baik di Palestina 

maupun di Syria itu akhirnya dikenal dengan nama kaum “Melkit” , yaitu nama yang tadinya digunakan 

oleh kaum “Monofisit” ( Yakobit) di Syria untuk menyebut Ummat Kristen Syria Orthodox yang membela 

rumusan Kalsedonia. Sehingga sekarang Gereja dari Tradisi Syria ini terbagi jadi lima bagian, yaitu: Syria-

Antiokhia Orthodox (Kalsedonia) yang tetap bersatu dengan segenap Gereja Orthodox alur utama lainnya 

dan meskipun mereka yaitu  orang Syria asli dan Patriarkhnya yang sekarang (1997) Ignatius IV yaitu  

orang Syria mereka disebut “Orthodox Yunani”, hasil pemaksaan Hirarkhi Latin pada saat Perang Salib: 

Syria-Roma Katolik Ritus Timur : “Maronit” dan “Melkit” , serta kelompok yang memisahkan diri pada 

Konsili Kalsedon Syria-Antiokhia Yakobit ( Monofisit, Oriental Orthodox), dan Ummat Syria di Persia yang 

memisah dari Gereja Antiokhia dan menerima Nestorius sebagai simbol theologi mereka: Syria-Kaldea 

(Pre-Kalsedonian) yang disebut Gereja “Nestorian” atau Gereja Persia. 

Sementara itu di Gereja Barat terjadi pembaharuan-pembaharuan Cistercian dari Ordo Benediktin 

(sekarang terkenal sebagai “trappist” ). Wakil terbesar dari Gerakan ini yaitu  Bernard dari Clairvaux. 

Dia berkotbah kepada para pasukan Salib dan ikut berperang bersama Abelard. Gerakan Carthusian dari 

kebiaraan para petapa juga terjadi pada zaman ini. 

Di daerah-daerah yang diduduki Islam terutama di Syria dan Irak, orang-orang Kristen setempat 

(Monofisit, Nestorian, Orthodox) yang menjadi kelompok minoritas yang dilindungi (ahlul dzimma) 

diminta untuk menterjemahkan karya sastra, dan ilmu-ilmu pengetahuan Kristen Timur, maupun Yunani 

klasik dari bahasa Yunani atau terjemahan Syria ke dalam bahasa Arab, oleh para kalifah Islam. Hal ini 

terjadi pada saat pemerintahan Kalifah Al-Ma’mun yang mendirikan Balai Terjemahan yang disebut 

sebagai Baitul Hikmat. Terjemahan keilmuan dari Gereja Timur ke dalam bahasa Arab itu sangat 

membantu perkembangan keilmuan dalam Islam. Terjemahan bahasa Arab ini akhirnya juga tersebar 

sampai ke kalifahan Islam di Eropa, Cordova, Spanyol. Disana karya terjemahan bahasa Arab itu 

diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin. Dari situlah orang-orang Kristen Barat yang selama ini 

terkurung dalam zaman kegelapan menemukan kembali keilmuan Kristen dari Gereja Timur melalui Islam, 

dan dengan demikian membantu bangkitnya filsafat Skolastikisme di Barat yang berpuncak pada tulisan-

tulisan Thomas Aquinas. 

E. Zaman Kesesakan 

Ancaman Turki, Perkembangan Orthodoxia di luar Konstantinopel, dan Usaha-usaha Penyatuan 

Gereja (abad 12 s/d abad 14) 

a. Ancaman Turki 

Menginjak abad kedua belas kekaisaran Byzantium dibawah wangsa Comnenus, harus menghadapi tiga 

musuh sekaligus. Dari Barat harus menghadapi Pasukan Salib, dari selatan harus menghadapi ancaman 

kekalifahan Arab, serta musuh baru yang muncul yaitu  bangsa Turki yang berasal dari Timur. Mereka 

yaitu  suku Tartar, yang telah memeluk agama Islam ketika mereka menghancurkan Bagdad. 

Kaisar Alexios Comnenus menetapkan bahwa Gunung Athos di semenanjung Khalkidiki, Yunani, harus 

menjadi pusat kerahiban Gereja Orthodox, dan sampai sekarang menjadi pusat spiritualitas Gereja 

Orthodox internasional. Theologia Iman Kristen Orthodox pada saat ini sudah begitu mapan, yang pada 

pokoknya merupakan Theologia dari Ketujuh Konsili bersama dengan praktek-praktek awal Gereja Purba, 

serta penjelasan-penjelasannya dalm tulisan para Bapa Gereja. Sehingga theologia Iman Kristen Orthodox 

bukanlah pendapat perorangan namun Iman segenap Gereja itu sendiri, sikap yang mana tetap menjadi ciri 

khas dari Gereja Orthodox masakini juga. Perorangan boleh menggunakan gaya dan caranya sendiri dalam 

menyampaikan iman yang satu dan yang sama irtu, namun isinya yaitu  iman yang tak berbeda dari Iman 

yang sejak zaman purba diimani Gereja sejak awal, dibela dan dijelaskan dalam Ketujuh Konsili, serta 

dijabarkan oleh para Bapa Gereja dan dihidupi dalam perayaan-perayaan Ibadah dan Liturgi Gereja.  

 

Sementara itu di Kiev, Rusia, Kekristenan Orthodox terus berkembang. Pada tahun 1124 dilaporkan terjadi 

kebakaran 600 buah gedung Gereja, menunjukkan banyaknya gedung Gereja saat itu, dan sekaligus 

perkembangan Kekristenan disitu. Rusia mewarisi theologia dan liturgi yang sudah mapan dari sejarah 

Kekristenan me;lalui Byzantium dan seluruh iman Gereja Purba tanpa dikurangi, diubah ataupun 

ditambah. Sehingga Iman Gereja Orthodox Rusia ataupun Gereja Orthodox dimanapun yaitu  satu dan 

sama. Pada awal abad ini Pangeran Vladimir Monomakhos menulis buku “Amanat Untuk Anak-

Anakku” suatu nasihat kepada anak-anaknya bagaimana seharusnya menjadi pemimpin Kristen. 

Sementara itu Gereja Serbia pada tahun 1217 mendapat restu dari Konstantinopel untuk menjadi Gereja 

mandiri melalui usaha Sava, dan pada tahun 1219 Sava sendiri diangkat menjadi Episkop Agung yang 

pertama oleh Patriarkh Manuel dari Konstantinopel. Hal ini terjadi sesudah  Kaisar Byzantium 

memberikan ummat Serbia kerajaan bagi mereka di tanah asli mereka. Ini terjadi atas usaha pemimpin 

mereka Nemanya ( 1113-1199). Pada saat abad dimana Gereja Serbia diakui sebagai Gereja mandiri, 

demikian pula Gereja Bulgaria, dengan Episkop Agung dari Tvorno sebagai pemimpin Gereja Bulgaria. 

Gereja Barat bersama dengan sentralisasi kepausan juga menyaksikan bangkitnya aliran Victoria dari 

Theologia Agustinian yang dipimpin oleh Hugo (meninggal 1141) dan Richard dari Santo Victor. Juga 

pada saat ini Petrus Lombardus menulis karyanya yang terkenal “Kalimat-Kalimat” . 

b. Perang Salib Keempat dan Konsili Lyons 

Abad ketiga belas diawali dengan apa yang dianggap sebagai peneguhan terakhir dari Skisma Gereja Barat 

dengan Gereja Timur, yaitu peristiwa Perang Salib Keempat. Pada tahun 1204 Pasukan Salib Roma 

Katolik itu gagal menyerang Islam, mereka berbalik menyerbu Konstantinopel. Kota Kristen itu dirampok 

habis-habisan. Mereka menghancurkan dan mencuri benda-benda suci dari gereja-gereja. Mereka 

memporak-porandakan dan menajiskan altar-altar (mezbah-mezbah). Banjir darah memenuhi 

Konstantinopel. Diperkirakan orang Kristen Orthodox yang mati dalam Perang Salib Keempat di tangan 

ummat Latin ini jauh lebih banyak dari ummat Islam yang mati di tangan mereka selama Perang Salib itu. 

Seorang Kardinal Latin Thomas Morosini diangkat sebagai Patriarkh Konstantinople, sementara 

Patriarkh yang sah diusir dalam pembuangan. Demikian juga seseorang bernama Frank diangkat jadi 

kaisar, sementara bersama Patriarkh yang sah, Kaisar Konstantinopel melarikan diri dari serbuan tadi. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, orang-orang Latin Roma Katolik dari Gereja Barat, menjadi musuh 

yang terang-terangan di dalam pikiran orang-orang Kristen Orthodox di Timur. Tulisan-tulisan dari Gereja 

Orthodox saat ini mulai diarahkan untuk menyerang Kepausan dan Gereja Latin Roma Katolik itu sendiri. 

Pemerintahan orang Latin Roma Katolik di Konstantinopel berakhir sampai tahun 1261, ketika 

Kaisar Mikhael Paleologos, berhasil merebut Konstantinopel kembali dari tangan ummat Roma Katolik 

Latin itu, serta menempatkan kembali Patriarkh yang sah pada tempatnya. 

Kaisar Mikhael III dalam situasi yang tak dapat ditahan sebab  dari Timur diserang Turki, dan dia sendiri 

tak dapat menjamin bahwa Pasukan Salib dari Gereja Barat tidak akan kembali menyerang lagi. Oleh 

sebab nya, demi alasan politik, dia mengrim utusan para Episkop menghadiri Konsili dari Gereja Barat 

di Lyons pada tahun 1274 dengan harapan mendapatkan sympathy serta bantuan ekonomi dan militer 

bagi kerajaan yang hampir roboh itu. Gereja Barat mengusulkan pada utusan-utusan Kaisar asal mau 

mengakui Paus di Roma sebagai penguasa tertinggi, mereka boleh menjalankan tata-ibadah Timur milik 

mereka sendiri, dan boleh tanpa menggunakan “filioque” , asal doktrin keluarnya Roh Kudus dari “Bapa 

dan Putra” diakui, dan tidak disangkal sebagai bidat. sebab  dalam keadaan terdesak maka usulan Konsili 

itu diterima oleh para utusan Mikhael, yaitu: Paus di Roma yaitu  Penguasa Tertingggi, “filioque” harus 

diterima – untuk yang pertama kalinya hal ini dituntut dalam sejarah. Namun ternyata janji orang-orang 

barat itu kosong belaka. Mikhael tak pernah mendapat bantuan apapun sampai matinya pada tahun 1282. 

Melihat fakta ini, maka akta penyatuan Gereja di Lyons ini langsung ditolak oleh semua Episkop dari Timur, 

segera sesudah  Mikhael meninggal. sebab  dianggap menyalahi Iman Gereja dengan tindakannya itu, maka 

Kaisar Mikhael meninggal tanpa diberikan upacara pemakaman secara Gerejani. 

c. Gereja Rusia dan Gereja Barat 

Sementara itu pada abad ketiga belas ini Rusia berada dibawah penyerbuan bangsa Mongolpada tahun 

1237 dan dijajah oleh kaum Tartar ini. Negara Kiev runtuh pada tahun 1240. Pada tahun 1231 Alexander 

Nevsky menjadi Pangeran di Novgorod dan pada tahun 1240 berhasil memimpin bangsa Rusia memukul 

mundur orang-orang Roma katolik Swedia yang menyerang Rusia. Dia juga berhasil mengadakan 

perundingan dengan Khan Batu, untuk meringankan beban jajahan mereka atas rakyat Rusia, dia rela 

membayar upeti kepada orang Mongol asalkan negaranya mendapatkan damai. Dia pulang dari Mongol 

dengan mendapat gelar Pangeran Agung Kiev. Dia meninggal pada tahun 1263, dan diakui sebagai orang 

suci Gereja sebab  kekudusan pribadinya, hikmat praktis, dan diplomasinya – yang semuanya itu 

didedikasikan demu rakyatnya atas nama Kristus. 

Abad ketiga belas ini di Gereja Barat disebut sebagai “abad paling agung.”. sebab  Gereja Barat mulai 

menemukan lagi keilmuan melalui terjemahan bahasa Latin dari bahasa Arab karya-karya Kristen Timur 

yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani dan terjemahan Syria oleh orang-orang Kristen Timur dalam 

daulat Islam seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya. Muncullah kegiatan “skolastikisme” yang 

menetukan arah theologi Gereja Barat selanjutnya. Diantara tokoh-tokoh skolastis ini yaitu  Duns Scotus 

serta Albertus Magnus dan muridnya Thomas Aquinas yang menulis “Summa Theologia” yang 

menggunakan prinsip-prinsip logika dan filsafat daripada prinsip-prinsip Alkitab, yang mendominasi 

theologi resmi Gereja Katolik Roma sampai Konsili Vatikan Kedua pada paruhan terakhir abad keduapuluh. 

Disinilah yang membedakan cara berteologi Gereja Orthodox dan Roma Katolik. sebab  Gereja Orthodox 

tetap setia pada prinsip theologia konsili, serta penjabaran para bapa gereja, yang dialami dalam liturgi, 

theologia yang mana yaitu  iman am Gereja dan berlandaskan Alkitab, bukan filsafat. 

d. Gregorios Palamas: Essensi (Dzat Hakekat) Allah dan Energi Allah 

Pada abad keempat belas kita jumpai perdebatan theologia yang menarik di Gereja Timur, sekitar theologia 

Aghios Gregorios Palamas. Dia yaitu  seorang rahib di Gunung Athos, dimana praktek Doa Yesus : ‘Tuhan 

Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah hamba orang berdosa ini” dengan menyatukan pikiran dan hati 

melalui disiplin tubuh yang ketat. dan berfokuskan pada “Nama Yesus” itu dilaksanakan. Sehingga mereka 

mengalami keteduhan batin (“hesykhia”) tenggelam dalam hadirat Roh Kudus dalam penyatuan dengan 

Yesus Kristus. Itulah sebabnya metode doa yang sampai sekarang tetap digunakan oleh ummat Orthodox 

ini, disebut sebagai“hesykhasme” Banyak dari para rahib ini maupun ummat awam Orthodox dalam 

pengalaman doa mereka secara demikian mengalami persekutuan dan panunggalan yang nyata dengan 

Allah, termasuk mendapatkan penglihatan rohani akan Terang Ilahi yang Tak Tercipta., seperti yang dilihat 

para murid ketika Yesus dimuliakan diatas gunung. Pada tahun 1326 pengalaman melihat Terang Ilahi Tak 

Tercipta dalam praktek Doa Yesus itu dikecam oleh Barlaam dari Kalabria, Itali. Dia yaitu  orang Yunani 

namun yang mengikuti faham humanisme dari “renaissance” Gereja Barat yang menggunakan filsafat dan 

ide theologia Barat dimana kemungkinan bagi manusia untuk mengalami persekutuan dan pengalaman 

panunggalan dengan Allah itu disangkal. Kecaman dari Barlaam ini dihadapi oleh Gregorios Palamas yang 

membela posisi Iman Kristen Orthodox bahwa manusia dapat mengalami persekutuan dan panunggalan 

dengan Allah secara sungguh-sungguh melalui Kristus dan oleh Roh Kudus di dalam Gereja. 

Suatu Konsili padsa tahun 1346 mendukung pengajaran Gregorios Palamas ini. Dalam pengajaran itu 

ditegaskan bahwa panunggalan yang dimaksud bukanlah panunggalan secara “pantheistis” seperti yang 

diajarkan filsafat kafir, namun panunggalan secara Kristologis, Pnevmatologis dan Ekklesiologis. Artinya 

oleh iman melalui baptisan kita manunggal dengan kematian dan kebangkitan Kristus artinya manunggal 

dalam kehidupan Kristus sendiri. Hidup Kristus itu disampaikan kepada manusia oleh Roh Kudus, dan 

pengalaman hidup Kristus, yang yaitu  Hidup Allah sendiri, oleh Roh Kudus itu dialami dalam pengalaman 

sakramental, ibadah dan doa dalam persekutuan Gereja. 

Dengan demikian kita mengalami hidup Allah tadi secara nyata. Menyatu pada hidup 

Allah bukanlah menyatu pada “Essensi” ( Dzat-Hakekat) Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh filsafat 

“pantheisme” mistik, sebab  itu tidak mungkin. Namun menyatu dengan tindakan, hadirat dan energi 

Allah yang memang tak tercipta dan bersifat ilahi.( misalnya yang nampak dalam wujud terang ilahi tadi). 

Energi-energi Ilahi ini disalurkan atau dikaruniakan kepada manusia melalui Rahmat Ilahi atau Kasih 

Karunia Allah,dan terbuka bagi partisipasi, ma’rifat dan pengalaman manusia. 

Pada Konsili yang diadakan pada tahun 1347 dan 1351 sekali posisi Gregorios Palamas ini diteguhkan 

persis seperti yang diajarkan Alkitab dan Tradisi Theologis Gereja Orthodox sepanjang segala abad. Sejak 

saat itu perbedaan theologis mengenai “Essensi, Supra-Essensi”(“Adi Dzat-Hakekat”) dan “Energi-

energi” Ilahi menjadi bagian resmi dari Doktrin Gereja Orthodox.. Banyak orang sebab  tak mengerti 

posisi Iman Kristen Orthodox akan perbedaan essensi dan energi ilahi ini menuduh Gereja Orthodox yaitu  

Gereja Mistik, dalam arti pantheisme, yang juga amat ditolak oleh Gereja Orthodox. Gereja Orthodox yaitu  

Gereja yang sangat kharismatis, dengan penekanannnya pada pengalaman Roh Kudus oleh Energi Ilahi 

secara nyata, namun dengan corak yang amat berbeda sekali dari penghayatan Gerakan Kharismatik 

modern. Sementara itu Kaisar Yohanes V Paleologos masih mengharapkan bahwa Gereja Barat akan 

memberikan bantuan dari serangan Turki yang makin mendesak itu. Dia mengadakan persekutuan dengan 

Gereja Roma tanpa ada usaha untuk penyatuan secara resmi. Pada abad keempat belas ini Gereja Barat 

sendiri sedang mengalami masalah internal. Pausnya ditawan di Avignon, dan ada tiga orang yang 

menyatakan diri sebagai Paus. Inilah yang disebut “Skisma Besar” dalam Gereja Barat. 

e. Situasi di Rusia, Serbia dan Bulgaria 

Rusia bagian selatan masih dibawah penjajahan Tartar pada abad keempat belas ini, namun bagian utara 

merdeka dari penjajahan dan dibawah pimpinan Pangeran Yohanes Kalita sebagai bupati 

dan Metropolitan ( Episkop Agung yang Berkedudukan di Ibu Kota ) Alexis sebagai pimpinan Gereja. 

Orang yang sangat berjasa bagi pembangunan Rusia utara ini yaitu  Aghios Sergios Radonesh, yang lahir 

tahun 1314 dan menjadi rahib tahun 1334. Dia hidup dalam segala kesederhanaan, melaksanakan puasa, 

tinggal dalam hutan, hidup dalam doa yang mendalam. Akibatnya banyak orang yang menjadi muridnya, 

Sehingga hutan itu menjadi perkampungan dan akhirnya berubah menjadi kota. Dia menjadi Bapa Rohani 

dari Metropolitan Alexis. Dia dipenuhi karunia-karunia Roh Kudus: kesembuhan ilahi, penglihatan-

penglihatan yang luar biasa, serta mengetahui hati orang. Para pemimpin nasional selalu mohon 

nasihatnya. Dan ketika pangeran Dimitri Donskoi akan mengusir penjajah Tartar, dia diberkati oleh 

Aghios Sergios ini, sehingga dia mendapat kemenangan dan membebaskan Rusia sekali dan untuk 

selamanya dari penjajahan Tartar. 

Pada saat yang sama Aghios Stephanos dari Perm mengadakan penginjilan diantara suku-suku Zyria, 

menterjemahkan kitab-kitab Gereja ke dalam bahasa mereka dengan menggunakan alfabet yang 

diciptakannya untuk mereka. Usaha penginjilan ini akan menjadi fondasi bagi usaha penginjilan 

selanjutnya dalam Gereja Orthodox Rusia baik di antara suku-suku Siberia, Jepang, Alaska, maupun Korea.  

 

Serbia mengalami perkembangan yang pesat dibawah pimpinan rajanya Stefanus Dushan dan Gereja 

Serbia menjadi keptriarkhan mandiri pada tahun 1346. sedang  Gereja Bulgaria dibawah 

pimpinan Aghios Klemen dari Ochrid dan pertapaan kerahiban Zoografou bagi ummat Bulgaria dibangun 

di gunung Athos, Yunani. 

f. Usaha Penyatuan Yang Terakhir : Konsili Ferrara-Florence 

Menginjak abad kelima belas Gereja Barat sedang mengalami gejolak mengenai hubungan antara Paus dan 

Konsili-Konsili Gereja. Ada yang mengatakan kuasa Paus berada diatas Konsili-Konsili, ada yang 

mengatakan Konsili-Konsili diatas Paus. Salah satu Konsili Gereja Barat pada saat ini, Ferrara –

Florence (1438-1439) didukung para paus. Wakil-wakil Gereja Timur ikut datang demi untuk meminta 

bantuan lagi dalam perjuangannya melawan Turki. Yang ikut hadir dari Timur saat itu yaitu  

Kaisar Yohanes VIII, dan Patriarkh Yosef dari Konstantinopel dan Metropolitan dari Kiev, seorang 

Yunani bernama Isidoros yang diterima dalam “derajat yang sama” dengan kaum Latin. Meskipun dalam 

Konsili ini diputuskan suatu doktrin yang sangat keras mengenai kekuasan Paus, “filioque” dan “api 

penyucian” , Kaisar Byzantium amat tak perduli dengan ajaran dan theologia, asalkan dia dibantu Gereja 

Barat melawan Turki melalui penyatuan dengan Gereja Barat. 

Semua Episkop Orthodox mau menandatangani keputusan ini, kecuali Markus Evgenikus, Episkop dari 

Efesus. Tiga keputusan doktrinal Konsili ini sangat berlawanan dengan ajaran Orthodox mengenai 

kedudukan Paus, mengenai “filioque” dan sekaligus mengenai “api penyucian” yang memang tak dipercayai 

adanya oleh Gereja Orthodox. Hasil usaha penyatuan di Florence ini tidak diumumkan sampai tahun 1452 

di Konstantinopel di Gereja Aghia Sofia. 

F. Zaman Penjajahan 

Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Turki (1453) dan Masa Turkokratia (abad 15 s/d abad 19) 

1. Orthodoxia di bawah Islam 

Serangan pasukan Turki yang terus menerus, serta bantuan Gereja Barat yang selalu diharapkan namun 

tak pernah terbukti itu, akhirnya dampaknya tak dapat dibendung lagi. Dibawah pimpinan Sultan 

Muhammad II, pada tanggal 29 Mei 1453, pasukan Turki Muslim berhasil menyerbu Konstantinopel dan 

menjebolnya. Konstantinopelpun jatuh ke tangan Turki, dan ini menandai runtuhnya Kekaisaran 

Byzantium.. Dan Muhammad II merebut kota itu serta menamakannya “Istanbul” sampai saat ini. Gereja 

Aghia Sophia dijadikan Mesjid. Berturut-turut Serbia pada tahun 1459, Yunani pada tahun 1459-60, Bosnia 

pada tahun 1463 (dimana banyak kaum “Bogomil” yang keluar dari Gereja itu akhirnya menjadi Muslim), 

dan akhirnya Mesir pada tahun 1517, jatuh ke tangan Turki. Selama 400 tahun sesudah itu bangsa Turki 

Muslim menjajah ummat Kristen Orthodox di seluruh bekas wilayah Kerajaan Byzantium. Inilah masa yang 

terkenal dalam sejarah Gereja Orthodox sebagai masa "Turkokratia" atau masa “Kekuasan Penjajahan 

Turki”.  

Pada saat ini Patriarkh Konstantinopel dalam keadaan yang sangat sulit, sebab  sekarang harus berada 

dibawah kekuasaan Penguasa yang bukan Kristen. Dari waktu ke waktu Sultan yang berbeda-beda 

memperlakukan para Patriarkh dengan cara yang berbeda-beda juga. Sering mereka dipecat dan diganti 

sekendak Sultan, banyak diantaranya yang mati digantung tanpa sebab-sebab yang jelas.. Tak jarang pula 

Sultan memperjual-belikan kedudukan Patriarkh ini bagi siapa yang mau membayar paling mahal kepada 

Sultan. Patriarkh dijadikan sebagai “Ethnarkh” yaitu pemimpin masyarakat Kristen Orthodox, yang harus 

menarik pajak pada ummat Kristen yang ada di seluruh wilayah Turki. Ummat Kristen Orthodox dilarang 

menjadi tentara, namun mereka ditarik pajak untuk hal itu. Mereka tidak diijinkan menjadi saksi dalam 

pengadilan, serta tidak diperkenankan untuk mengajukan orang Muslim ke pengadilan. Mereka dilarang 

membangun Gereja yang baru, hanya kadang-kadang dijinkan membangun Gereja lama yang telah rusak. 

Mereka dilarang membangun rumah lebih tinggi dari rumah-rumah kaum Muslimin, dilarang naik kuda 

yang hanya diperuntukkan bagi kaum Musliminm saja, mereka hanya boleh naik keledai saja. Mereka harus 

mengenakan pakaian dan topi yang berbeda dari Kaum muslimin. 

Dengan berlalunya waktu, anak-anak mereka banyak yang diambil secara paksa oleh pemerintah untuk di-

Islamkan dan dijadikan pasukan pemerintah yang disebut “Jannisari”. Sering mereka menjadi korban 

amukan massa tanpa ada perlindungan hukum, gereja-gereja mereka dirusak, atau rumah-rumah mereka 

diserbu. Meskipun tidak selalu terjadi demikian. Ummat Kristen diijinkan murtad ke Islam dan akan diberi 

prioritas-prioritas tertentu jika mereka melakukan, namun ummat Islam diancam hukum mati jika sampai 

menjadi Kristen. Dan dalam keadaan semacam ini penginjjilan sangat mustahil dilakukan. Memang ada 

disana-sini pertobatan dari Islam ke Iman Kristen Orthodox, namun segera hal itu ketahuan orang tadi pasti 

akan dibunuh. Demikianlah situasi Ummat Kristen Orthodox pada zaman Turkokratia Muslim ini.  

 

Sesudah kejatuhan Konstantinopel itu hal yang pertama dilakukan oleh Patriarkh Gennadios 

Skholarios yaitu  menolak akta penyatuan Florence. Dia dibawah tekanan yang kuat dari Agios Markos 

dari Efesus dalam tindakannya ini. Aghios Markos yaitu  pembela yang amat kokoh dari Iman Orthodox., 

dan menyebut usaha persatuan di Florence itu sebagai “penyatuan fasik”. Demikianlah kejatuhan 

Byzantium tidak berarti kejatuhan Orthodoxia. Biarpun secara manifestasi kesejarahan Gereja Orthodox 

mengalami kegoncangan-kegoncangan, namun iman dan kehidupan Gerejawinya sama sekali tak tersentuh 

oleh perubahan-perubahan luar ini. Imannya tetap utuh terlindungi asli dan murni tanpa ada pengurangan 

ataupun penambahan, sejak zaman rasul sampai masa abad keruntuhan Byzantium ini, dan bahkan sampai 

abad modern inipun. 

2. Kerajaan Rusia Orthodox 

Dengan jatuhnya Byzantium ke tangan kaum Muslimin, benih terbentuknya kekaisaran Rusia mulai 

berakar di Moskow. Ivan III Yang Agung (1462-1505), Pangeran dari Moskow, dapat mengalahkan Rusia 

utara dan menyatukan dengan daerah Rusia lainnya. Dia menikah dengan puteri Sophia Paleologos dari 

Byzantium pada tahun 1472, serta menerima gelar Tsar ( bentuk bahasa Slavia untuk kata “Kaisar”) dan 

mengambil alih lambang Garuda Berkepala Dua dari Byzantium, serta menyebut Moskow sebagai Roma 

Ketiga , sebagaimana Konstantinopel disebut sebagai Roma Kedua (Roma Baru). 

Di Rusia pada abad kelima belas ini terjadi permasalahan mengenai peranan Gereja dalam kehidupan 

politik dan sosial dari bangsa itu. Kelompok “bukan pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Nilus dari Sora 

( Nil Sorsky) mengajarkan bahwa Gereja terutama biara tak boleh memiliki dan menguasai tanah yang 

luas, serta harus bebas dari pengaruh dan kendali langsung dari pemerintah, demi semangat kemiskinan 

dan kerendahan hati. sedang  kelompok “pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Yosef dari Volotsk, 

sehingga kelompok ini sering disebut “Yosefit”, mengajarkan bahwa Gereja dan negara harus memiliki 

hubungan yang erat, dan bahwa Gereja harus melayani kebutuhan sosial dan politik dari bangsa Rusia yang 

sedang muncul ini.