• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Injil sinoptik 13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Injil sinoptik 13. Tampilkan semua postingan

Injil sinoptik 13

 


alam  melaksanakan  tugasnya.  Feliks  menunda

tugasnya yang harus dilakukannya (24:22-27) tetapi oleh sebab  campur tangan Allah, Festus

mengganti Feliks. Ayat 8 Menunjukkan bahwa Paulus membantah bahwa dia telah bersalah

terhadap hukum Taurat, Bait Allah dan bahkan juga kepada Kaisar. Ayat 9 memberitahukan

bahwa Festus ingin mengambil hati orang-orang Yahudi sehingga ia meminta Paulus supaya

ia  di  adili  di  Yerusalem.  Festus  adalah  wali  negri  yang  baru,  oleh  sebab   itu  dia  belum

berpengalaman dengan masalah yang seperti  ini  dan disamping itu  dia  juga masih  ingin

mencari popularitas dan dukungan dari orang-orang Yahudi. Dengan demikian maka Festus

meminta kepada Paulus supaya perkaranya disidangkan di Yerusalem.

Kemudian  pada ayat  10-12  Paulus  memberikan  reaksinya  bahwa ia  sangat  tidak

setuju dengan permintaan Festus itu. Rencana persidangan di Yerusalem sangat tidak masuk

di akal bagi Paulus. Di Yerusalem Paulus harus diselamatkan dari rencana pembunuhan atas

dirinya, dan rasanya sangat bodoh untuk kembali kesana lagi. Sekalipun Paulus tidak dapat

dibuktikan  bersalah.  Festus  nampaknya  bersedia  berunding  dengan  orang-orang  Yahudi

dengan  mengorbankan  Paulus,  dan  Paulus  tentu  saja  mengkwatirkan  akibat  dari  sikap

semacam itu.  Tinggal satu tindakan untuk mengelak bahaya ini  yang masih terbuka bagi

Paulus sebagai warga negara Roma yaitu meminta pertimbangan Kaisar. Dia yakin bahwa di

Roma ia akan diadili  dengan baik.  Selanjutnya jika kita melihat  ayat  11 maka akan jelas

bahwa ayat itu akan menunjukkan bahaya kematian di tangan orang Yahudi sesungguhnya

menantikan Paulus di Yerusalem. Rasul itu mengemukakan bahwa ia akan rela menjalani

hukuman mati apabila memang terbukti bahwa dirinya bersalah. Tetapi hukuman mati harus

dijatuhkan oleh pemerintah Roma, dan bukan oleh orang Yahudi.  sebab  itu Paulus naik

banding  kepada Kaisar.  Kemudian  ayat  12  memberitahukan bahwa peserta  sidang  yang

dipimpin oleh Festus (bukan Sanhedrin) mengijinkan Paulus naik banding kepada Kaisar.

Ayat 13 menunjukkan bahwa ketika Paulus menunggu saat yang baik bagi Feliks

untuk memberangkatkannya kepada Kaisar, datanglah tamu Agung yang berkunjung ke kota

itu. Tamu Agung itu adalah Raja Agripa II. Dia adalah cucu dari Herodes Agung dan anak dari

Herodes  Agripa  I  yang  telah  membunuh  Yakobus  (anak  Zebedeus)  dan  tamu  yang  lain

adalah Bernike, yaitu adik dari Agripa II sendiri. Menurut Morgan (seorang penafsir Alkitab)

bahwa Agripa II pada saat itu hidup secara asusila bersama adiknya sendiri (Bernike). Pada

waktu itu Bernike hidup dengan kakaknya sendiri sebagai suami isteri dan selain itu juga ia

juga sering hidup secara asusila. Morgan juga mengatakan bahwa pada waktu Bernike masih

kecil ia pernah menikah dengan pangeran Galkis pamanya sendiri. 

Selanjutnya  pada  ayat  15-23  Festus  berkata  kepada  Agripa  dan  Bernike  yang

sepertinya  membela  Paulus,  namum  sebenarnya  perkataannya  itu  berdasarkan  sistem

hukum Romawi. Dalam ayat ini kita melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Festus ini adalah

bahwa ia menunjukkan kelemahan orang-orang Yahudi yang ingin mendapatkan hadiah atau

mendapatkan  Paulus  dengan  tanpa  melalui  persidangan  yang  benar.  

Dalam gambaran yang diberikan Festus kepada Agripa dan Bernike memang ia (Festus)

tidak memutarbalikkan kebenaran.  Dari  segala-galanya memang jelas bahwa orang-orang

Yahudi tidak saja ingin memeriksa Paulus, tetapi mereka ingin membunuhnya. Pada zaman

itu  Hukum Romawi  tidak  membenarkan  suatu  penghukuman  tanpa  adanya  pemeriksaan

yang baik. Oleh sebab  Festus juga meminta pertimbangan dari Agripa maka Agripa meminta

supaya dia sendiri (Agripa) langsung mendengar sendiri persoalannya dari Paulus.

Pada ayat  24-27 menunjukkan bahwa Festus mengucapkan kata-kata pembukaan

yang  singkat  untuk  memperkenalkan  Paulus  kepada  para  hadirin.  Bangsa  Yahudi  telah

menuntut  hukuman  bagi  Paulus.  Tetapi  apa  yang  belum  dikatakan  dahulu  oleh  Festus,

dikatakannya sekarang yaitu bahwa orang ini tidak patut menerima hukuman mati. Sekarang

orang  ini  (Paulus)  naik  banding  kepada  Kaisar.  Dalam  hal  ini  Festus  berada  dalam

kesukaran,  yaitu  dengan  cara  bagaimana  ia  menulis  surat  pengantarnya  kepada  Kaisar.

Yang sangat menarik perhatian kita disini adalah bahwa semenjak perkara Paulus berjalan

senantiasa  dikatakan  bahwa  tidak  ditemukan  kesalahan  apapun  padanya  (21:34;  23:30;

24:22; 25:7,18,27; 26:31,32). Dengan terus terang Festus mengatakan keinginannya bahwa

pemeriksaan sekarang ini  akan memberikan bahan-bahan bagi laporannya.  Terlebih-lebih

sebab  Agripa pasti dapat dianggap sebagai seorang ahli di bidang ini, maka Festus telah

mencurahkan segala pengharapannya kepadannya.

Selanjutnya  kita  masuk  fasal  26,  fasal  ini  masih  dalam  konteks  dimana  Paulus

dihadapkan kepada Agripa.  Pada ayat  1 dikatakan bahwa sang Raja Agripa memberikan

kesempatan kepada Paulus untuk membela diri. Maka sang rasul memberi isyarat dengan

tangannya sebagai tanda menghormati raja itu. Lalu setelah itu dia mulai berbicara untuk

mengutarakan pembelaanya. Kemudian dalam ayat 2-5 Paulus mengungkapkan rasa terima

kasihnya  sebab   diberi  kesempatan  menyajikan  pembelaanya  di  hadapan  Raja  Agripa,

sebab  Raj Agripa sangat mengenal kebiasaan dan masalah orang-orang Yahudi. Memang

Agripa menerima takhtanya dari Roma tetapi  ia juga memahami orang-orang Yahudi dan

tergolong sebagai Raja yang sering membantu setiap persoalan orang-orang Yahudi. Oleh

sebab  itu Paulus percaya bahwa ia (Agripa) dapat memahami atau mengetahui tentang apa

yang terjadi padanya setelah ia menjelaskan hal ini  kepadanya (Agripa). Selanjutnya

Paulus  menyampaikan  pembelaanya,  dimana  ia  berusaha  menyakinkan  Agripa  bahwa

pemberitaannya  hanyalah  merupakan  penggenapan  Iman  Yahudi  yang  telah  diwariskan

kepadanya. Sang Rasul mengisahkan pendidikanya, pertama-tama ditengah bangsanya, di

Tarsus Kilikia dan baru kemudian di Yerusalem. Lalu setelah itu Paulus mengatakan bahwa

semua orang Yahudi mengenal bahwa ia adalah seorang dari Mazhab Farisi  yang sering

dianggap sebagai mazhab garis keras dalam agama Yahudi.

Kemudian  pada  ayat  6-8  Paulus  menjelaskan  bahwa  ia  menghadap  pengadilan

sebab  mengharapkan kegenapan janji. Dan bagi orang Farisi salah satu janji yang sangat

penting adalah terkait  dalam harapan akan adanya kebangkitan. Sekarang Paulus dibawa

kepada pengadilan justru sebab  mengaharapkan kegenapan janji yang sudah diyakini oleh

nenek moyang mereka secara turun temurun itu.  Menurut Paulus bagi setiap orang yang

memahami  janji  Allah  yang  telah  dianugerahkan  kepada  para  nenek  moyang,  maka

seharusnya akan mempercayai bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati.

Selanjutnya ayat 9-11 Paulus menjelaskan bahwa dahulu ia sebagai orang Yahudi ia

termasuk golongan yang menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi ia memiliki pandangan yang

demikian bukan sebab  hanya sekedar ikut-ikutan tetapi  sudah dia  pikirkan dengan baik.

Keputusan itu adalah keyakinannya sendiri. Untuk menjelaskan hal itu Paulus menceritakan

sikap hidupnya sebagai orang Farisi. Bersamaan dengan itu Paulus mengakui dosa-dosanya,

sebab  tindakan-tindakannya  itu  melawan  anak-anak  Allah.  Dalam  kerja  sama  yang  erat

dengan Sanhedrin,  ia  menghambat  orang-orang yang menghambat  nama Yesus sebagai

Mesias.  Pada  waktu  itu  rupanya  Sanhedrin  sangat  memperhitungkan  pribadi  Paulus.

Kepadanya  dipercayakan  perintah-perintah,  suaranya  juga  adalah  suara-suara  yang

menentukan. Juga dalam rumah-rumah ibadah dia sangat menyulitkan orang yang percaya

kepada Kristus Yesus. juga keluar Palestina Paulus pergi  dan mengunjungi rumah-rumah

ibadah  dengan  maksud  untuk  membinasakan  orang-orang  ayng  percaya  kepada  Yesus

Kristus.

Ayat 12-15 ini adalah satu-satunya dari tiga kisah pertobatan Paulus yang berisi kata-

kata  sukar bagimu menendang ke galah ransang.  Kata sukar disini  artinya ‘menyakitkan’

sedangkan galah ransang adalah sebuah tongkat yang bias any dibuat sebagai pelecut atau

pemukul hewan-hewan penarik beban. Kalimat ini merupakan sebuah kiasan yang dijumpai

di dalam bahasa Yunani dan bahasa Latin, tetapi ketika itu tidak dikenal di dalam bahasa

Ibrani  atau  Aram.  Mungkin  ungkapan  ini  menunjukkan  bahwa  nurani  Paulus  tidak

sepenuhnya sejahtera ketika menganyiaya orang-orang Kristen. Kita jangan berpikir bahwa

pada saat itu Paulus sudah menyadari dosanya. Sebab di bagian yang lain dia menceritakan

bahwa dia  menganyiaya  gereja  tanpa pengetahuan (1Timotius 1:13).  Sekalipun demikian

jauh di  dalam pikiranya ada   semacam keyakinan bahwa mungkin  saja  Stefanus dan

orang Kristen lainya itulah yang benar; dan sekarang Tuhan menunjukkan kapadanya bahwa

tekanan ini  mereupakan tekanan yang datang dari Tuhan. 

Ayat 16-18 Paulus mengatakan kepada Agripa bahwa dirinya telah dipanggil  oleh

Tuhan. Pengalaman itu menyakinkan dirinya bahwa Yesus yang di anyiayanya selama ini,

hidup,  dan telah mengutus dia  kepada bangsa ini  yaitu  bangsa Israel  dan juga bangsa-

bangsa  lain.  Paulus  membuka  persoalan  inti  kepada Raja  Agripa.  Pemberitaanya  bukan

hanya kepada orang Israel tetapi  juga kepada orang yang bukan Israel;  semuanya harus

dicerahkan, yaitu berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah.

Dengan demikian mereka akan memperoleh engampunan dosa dan mendapat bagian dalam

apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan oleh iman kepada Kristus.  Ayat

yang merupakan rangkuman dari pemberitaan Paulus. 

Kemudian ayat 19-21 merupakan rangkuman sederhana tentang semua pengalaman

pemberitaan Injil  rasul  Paulus.  Paulus pertama-tama memberitakan tentang pertobatan di

Damsyik,  kemudian di  Yerusalem lalu diseluruh wilayah Yudea dan juga kepada bangsa-

bangsa bukan Yahudi, sebagaimana ditugaskan kepadanya. Selanjutnya Paulus mengatakan

bahwa sebab  ketaatan untuk tugas itulah orang-orang Yahudi menangkapnya di Bait Allah

dan mencoba membunuhnya. Mungkin Festus tidak mengerti akan hal ini tetapi jika benar

bahwa Agripa adalah orang yang memahami Yudaisme maka dia akan mengetahui mengapa

orang-orang Yahudi itu mau membunuh Paulus, yaitu sebab  mereka tidak mau orang yang

bukan Yahudi  sejajar  dengan mereka  sebagai  orang  yang mendapat  keselamatan  (umat

pilihan).  Kemudian  ayat  22-23,  Paulus  mengakhiri  pembelaannya  dengan  menandaskan

bahwa pemberitaan yang disampaikannya tidak lebih daripada apa yang telah dinubuatkan

oleh Musa dan para Nabi,  yaitu  bahwa Mesias harus menderita  sengsara dan bahwa Ia

adalah yang pertama yang bangkit dari antara orang mati dan bahwa Ia memberikan terang

kepada orang Yahudi  dan non Yahudi.  inilah alas an yang membuat Paulus sebelumnya

demikian menekankan kebangkitan. Harapan orang Yahudi sejak dahulu tentang kebangkitan

sekarang  telah  memperoleh  makna  yang  baru  sebab   kebangkitan  Kristus.  Kebangkitan

Mesias bukanlah kebangkitan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan awal dari kebangkitan itu

sendiri.  Kristus  adalah  “Yang  sulung  dari  orang-orang  yang  telah  meninggal”  (1Korintus

15:20). “Yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Kolose 1:18). Selanjutnya pada ayat

24 Festus berkata dengan suara keras dengan nada yang amat kesal bahwa Paulus sudah

gila sebab  gagasan-gasan atau ilmunya yang sangat tidak masuk akal bagi seorang Romawi

seperti  Festus.  Jadi  sebab  gagasan-gagasan Paulus ini   tidak masuk diakal  Festus

maka dia menganggap bahwa Paulus bukanlah orang yang waras lagi. Tetapi selanjutnya

pada ayat 25-27, Paulus menjawab bahwa dirinya tidak gila dan dia mengatakan kebenaran

dengan  pikiran  yang  sehat.  Paulus  kemudian  mengajak  Agripa  untuk  membela

kewarasannya  dan  kebenaran  yang  baru  saja  dikemukakan  olehnya.  Dia  mengingatkan

Agripa  bahwa  kebangkitan  Kristus  bukan  merupakan  peristiwa  yang  belum  didengarnya

sebab tidak terjadi di tempat ang terpencil dimana tidak ada orang yang dapat melihatnya.

Setiap  orang  membandingkan  amanat  ini   dengan  amanat  para  nabi,  pasti

berkesimpulan bahwa pandangan Paulus ini  adalah benar; sebab  itu Paulus langsung

mengajukan  pertayaan  ini   kepada  raja,  “Percayakah  engkau  …kepada  para  nabi?”

tetapi  kemudian  Paulus  memberikan  jawaban sendiri  dengan mengatakan  bahwa Paulus

tahu  bahwa Agripa  percaya  kepada mereka.  Pertanyaaan ini  menempatkan  Agripa  pada

posisi  yang sulit.  Selaku wakil  pemerintah Roma dan rekan sejawat Festus, ia tidak ingin

dianggap gila sebab  menyetujui pendapat Paulus. Sehingga tidaklah menguntungkan bagi

dia untuk mempercayai apa yang dikatakan Paulus dan mengakui bahwa dirinya percaya

kepada para nabi. Disisi lain jika ia berkata bahwa ia tidak percaya kepada para nabi maka itu

akan  merusak  hubungannya  dengan  orang-orang  Yahudi.  sebab   itu  Agripa  berusaha

mengelak dengan berkata, “hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen.” Kemudian

ayat 29 Paulus menanggapi  apa yang dikatakan oleh Aripa itu dengan sangat serius dia

berkata bahwa dia berdoa supaya Agripa dan bahkan semua yang mendengarnya pada saat

itu menjadi sama seperti dirinya yang percaya kepada Kristus Yesus, kecuali hukuman yang

dia tanggung. 

Ayat 30-32 memberitahukan bahwa ketika Paulus mengakhiri pembelaanya, Festus,

Agripa  dan  Bernike  mengundurkan  diri  bersama  dengan  para  penasihat  mereka  untuk

merundingkan masalah ini lebih lanjut. Jelas bahwa Paulus tidak melanggar peraturan sama

sekali, sehingga tidak dapat dijatuhi hukuman mati ataupun hukuman penjara baginya. Agripa

berkata bahwa seharusnya dia  sudah bisa bebas tetapi  sebab  ia meminta naik  banding

maka ia harus menuruti jalur hukum dengan baik.

b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)

Pada  bagian  ini  Lukas  menceritakan  Perjalanan  Paulus  dari  Palestina  ke  Italia  dan

penerimaan  dirinya  di  Roma.  Lukas  menceritakan  kisah  perjalanan  itu  sangat  rinci

menunjukkan  bahwa  peristiwa  ini  sangat  penting  bagi  tujuan  penulisannya.  Motif  dari

perjalanan  ini  menurut  susunan  penulisan  Lukas  bukanlah  untuk  menceritakan  tentang

permulaan  dari  pemberitaan  Injil  di  Roma,  tetapi  lebih  menunjukkan  penolakan  Injil  oleh

orang Yahudi di Roma dan penerimaannya oleh orang non Yahudi. kenyataan ini membawa

salah satu motif pokok dari keseluruhan kitab ini kepada puncaknya – yakni penolakan atas

Israel dan munculnya gereja bukan Yahudi.

Kisah Para Rasul 27:1-5 memberithukan bahwa perjalanan Paulus ini diawali dengan

kata Kami,  itu berarti  bahwa Lukas dan Aristarkus mendampingi Paulus untuk menuju ke

Roma dan  dalam bagian  lain  Alkitab  seperti  dalam Kolose  4:10;  Filipi  1:24  mengatakan

bahwa Lukas melayani  Paulus selama di  penjara Roma. Pasukan Kaisar  yang dimaksud

dalam ayat ini adalah perwira polisi yang ditugaskan untuk membawa tahanan-tahanan ke

Roma. ‘Adramitium’ adalah nama pelabuhan di Asia kecil yang menjadi nama kapal. Perwira

Yulius juga ramah kepada Paulus sejak permulaan perjalanan hingga sampai  pada akhir

perjalananya.  Pada  ayat  6  dikatakan  bahwa  di  Mira  mereka  berganti  kapal,  mereka

meninggalkan  kapal  yang  sebelumnya  mereka  tumpangi  dan  menaiki  kapal  pengangkut

gandum yang berlayar dari Aleksandria menuju Italia. Pada saat itu Mesir merupakan sumber

utama persediaan gandum bagi Roma, dan pengankutan gandum di antara Aleksandria dan

Roma merupakan bisnis penting yang langsung ditangani oleh negara.

Ayat  7  mengisahkan  selanjutnya  perjalanan  dari  Mira  ke  wilayah  yang  tekanan

anginnya keras dan yang membuat perjalanan agak sulit. Dengan usaha yang keras mereka

melewati kesulitan itu hingga mereka sampai di Kinidus, yaitu sebuah tanjung yang terletak di

daerah barat daya Asia kecil.  Dari  sana mereka harus memilih diantara menunggu angin

yang lebih baik dan baru berlayar ke Barat atau Keselatan langsung menju Kreta. sebab 

angin sepertinya tiak bersahabat maka mereka memilih alternatif yang kedua dan berlayar ke

selatan  melalui  Salmone  yang  terletak  pada  ujung  timur  Kreta  dan  kemudian  berlayar

sepanjang pantai menuju ke Barat. Ayat 8 memberitahukan bahwa setelah mereka berlayar

sepanjang  pantai  dengan  susah  payah,  maka  mereka  tiba  di  sebuah  pelabuhan  yang

dinamakan pelabuhan Indah ditengah-tengah pulau itu.

Ayat 9 menjelaskan bahwa tantangan untuk melanjutkan perjalanan akan lebih besar,

sebab   mulai  pertengahan bulan  sepetember  sampai  November  adalah  masa berbahaya

untuk pelayaran di laut tengah. Waktu puasa ada dalam masa ini (Imamat 23:26-32). Maka

oleh  sebab   itu  Paulus  memperingatkan  mereka  seperti  pada  ayat  10-13,  untuk  tidak

berlayar, tetapi perwira itu tidak mau mendengarkannya, sehingga mereka terus melanjutkan

pelayaran. 

Ternyata  tidak  seberapa  lama  lagi  angin  berubah  menjadi  angin  yang  sangat

kencang, seperti yang dikatakan dalam ayat 14 bahwa angin tiba-tiba berubah menjadi angin

badai yang bertiup dari  Timur Laut.  Ayat  15 ketika itu mereka sudah tidak jauh lagi  dari

Feniks tujuan pelayaran mereka. Tetapi sebab  kapal itu tidak tahan kepada angin haluan,

mereka akhirnya menyerah saja dan membiarkan kapal terobang ambing. Kemudian ayat 16,

dimana setelah mereka tiba di pulau kecil Kauda mereka merasa perlu untuk mengangkat

skoci yang terikap pada kapal itu. Ketika itu skoci ini  sudah demikian penuh berisi air

sehingga hanya dapat dinaikkan ke atas kapal dengan susah payah. Selanjutnya ayat 17

mereka mengusahakan untuk meliliti  kapal itu dengan tali. Mungkin supaya kapal itu tidak

pecah jika dipakai kembali. Kapal itu kini terapung-apung dibawa arus ke barat daya menuju

Kirene.  Dilepas  di  Afrika  Utara  ada   sebuah daerah beting berbahaya yang bernama

Sirtis, sebab  takut terseret kesana maka para pelaut itu menurunkan layar. Dan sekarang

mereka berlayar dengan memkai dorongan angin. Pada keesokan harinya (ayat 18) badai

belum mereda sehingga mereka perlu  membuang muatan kapal.  Sampai  pada keesokan

harinya juga (ayat 19) badai juga belum reda maka peralatan kapal juga sebagian harus

dibuang untuk mengurangi beban. Selanjutnya ayat 20, sebab  para pelaut hanya bergantung

pada matahari dan bintang untuk navigasi, akhirnya harapan untuk tertolong sudah tidak ada

lagi. Sebab mereka tidak tahu dimana mereka berada dan sedang kemana mereka diseret

oleh badai itu.

Kemudian pada ayat 21-22 Lukas menuliskan bahwa setelah beberapa hari lamanya

mereka dalam keadaan yang sangat sulit itu maka mereka tidak dapat lagi berpikir dengan

jernih, sehingga mereka tidak mau makan. Tetapi dalam keadaan seperti itulah maka Paulus

berdiri untuk menasehati mereka, supaya mereka bertabah hati. Paulus juga menghiburkan

hati  semua orang yang ada dalam kapal  itu dengan berkata bahwa tak satupun diantara

mereka yang akan mati ditelan oleh ombak atau badai itu. Tetapi kalau kapal yang mereka

tumpangi Paulus berkata bahwa itu akan hancur. Ayat 23-24 adalah berisi tentang apa yang

menjadi alas an Paulus mengatakan bahwa mereka tidak akan binasa oleh badai itu. Paulus

berkata  bahwa Malaikat  Allah  telah  datang  menguatkan  hatinya  dan  mengatakan  bahwa

mereka tidak akan ada yang binasa. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah berkehendak

agar Paulus menghadap Kaisar, oleh sebab  itu nyawa Paulus di jamin oleh Allah ditengah-

badai apapun Tuhan akan menolongnya. Kemudian Paulus kembali menegaskan (ayat 25-

26) supaya mereka tabah sebab  dia percaya pada apa yang dikatakan oleh Allah, tetapi

mereka harus mendamparkan kapal itu di suatu pulau.

Pada ayat 27-29 dijelaskan bahwa pada malam yang keempat belas mereka masih

terombang ambing di Laut Adria. tetapi anak-anak kapal merasa bahwa mereka sudah dekat

dengan daratan sehingga mereka membuang empt sauh di buritan sebab  takut kapal itu aan

terkandas di  salah satu  batu  karang.  Laut  Adria  yang dimaksud disini  adalah  Laut  yang

terletak antara Pulau Malta dan Italia dan diantara Yunani dan Kreta. Kemudian ayat 30-32

menjelaskan  bahwa  sejumlah  anak-anak  kapal  berusaha  untuk  melarikan  diri,  mereka

seolah-olah hendak membuang sauh di  haluan kapal  itu.  Pada hakekatnya mereka ingin

berkayuh terus  hingga  ke  daratan.  dengan sebuah sekoci  tentulah  batu  karang  itu  tidak

seberapa membahayakan. Kemudian Paulus berbicara demikian positif tentang akibat-akibat

dari  usaha menyelamatkan diri  sendiri.  Hal  ini  Paulus ketahui  bukanlah sebab  dia  suah

menglihat suatu penglihatan dari Tuhan, tetapi murni sebab  keyakinannya akan janji Tuhan

bahwa  Tuhan  akan  menyelamatkan  mereka  dari  bahaya  itu  dan  oleh  sebab   itu  Paulus

hendak mengingatkan orang-orang disitu supaya mereka tidak egoistis dan membuat jalan

sendiri yang tidak mengikuti kemauan Tuhan. Dan akhirnya Paulus berbicara kepada kepala

pasukan  dan  sehingga  mereka  memotong  tali-tali  sekoci  supaya  tidak  ada  yang  dapat

melarikan diri. Ayat 33-36 menjelaskan bahwa setelah malam berlalu dan menjelang siang

Paulus  kembali  berbicara  kepada  anak-anak  kapal,  dimana  mereka  masih  harus

mengorbankan banyak tenaga. Sudah berhari-hari lamanya mereka tidak makan, oleh sebab 

itu  Paulus  menasehati  mereka  agar  makan  sebab  mereka  masih  harus  mengeluarkan

segenap kekuatan mereka. Pada saat ini Paulus sekali lagi mengingatkan mereka bahwa tak

satupun diantara mereka yang akan binasa. Kemudian tampaknya mereka mengikuti  apa

yang dikatakan oleh Paulus dan Paulus memimpin doa syukur dan kemudian mereka makan.

Kemudian ayat 37 Lukas memberitahukan berapa jumlah orang yang ada di dalam

kapal itu, yaitu dua ratus tujuh puluh enam jiwa banyaknya. Ayat 38 menjelaskan bahwa

setelah mereka kenyang mereka membuang gandum ke laut untuk meringankan kepal itu.

Sebab jika kapal itu semakin ringan maka kemungkinan untuk selamat semakin besar. Pada

Ayat 39 Lukas memberitahukan bahwa ketika hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk

yang rata pantainya. Sekarang teluk itu bernama teluk St. Paulus. Namun pada waktu itu

mereka tidak tahu nama teluk itu, dan setelah mereka berunding mereka memutuskan untuk

mendamparkan kapal itu disana.

Kemudian pada ayat 40 kita melihat ada tiga tindakan yang mereka lakukan untuk

berusaha mencapai daratan itu.  Yang pertama, mereka memotong tali  sauh, yang kedua

mereka mengulurkan tali-tali kemudi sehingga mereka dapat mengemudikan kapal itu, dan

yang ketiga mereka menikkan layar kecil di tiang depan; dengan demikian kapal itu mendapat

angin yang cukup untu bisa memasuki teluk itu. Lalu pada ayat 41 ternyata rencana yang

bagus  itu  gagal  sebab   kapal  itu  melanggar  busung  pasir  sehingga  haluanya  sekaligus

terpancang dan tidak dapat bergerak lagi. Dan datanglah badai yang menerpa buritan kapal

sehingga membuat buritan kapal itu menjadi hancur dan tidak tertolong lagi.

Selanjutnya pada ayat 42-44 Lukas menuliskan tentang kepanikan orang-orang yang

ada dalam kapal  yang sudah hancur  itu.  Para  Prajurit  mengetahui  bahwa mereka harus

menjamin para tahanan itu dengan nyawa mereka sendiri. Tetapi pada saat yang demikian ini

para tahanan itu sangat mudah untuk melarikan diri, oleh sebab  itu tampa berpikir panjang

maka para prajurit itu hendak membunuh semua para tahanan itu. Tetapi kepala pasukan itu

atau  Yulius  menggagalkan  maksud  para  Prajurit  itu  demi  kepentingan  Paulus.  Yulius

menyuruh  semua  orang  yang  pintar  berenang  untuk  lebih  dahulu  berenang  menuju

kedaratan. Kemudian yang lainya menyusul dengan menggunakan pecahan-pecahan kapal

dan papan-papan sampai akhirnya semuanya mereka sampai kedaratan.

Pasal  28:1 berbicara  dimana  setelah  rombongan  Paulus  tiba  di  darat  mereka

menemukan bahwa pulau itu adalah pulau Malta yang terletak sekitar seratus mil di sebelah

selatan Sisilia. Malta adalah Istilah Kanaan yang berarti tempat perlindungan, yang ditinggali

oleh masyarakat  keturunan Fenesia.   Dalam ayat 2 Lukas mengatakan bahwa penduduk

pulau itu (). Kata barbaroi tidak berkonotasi bahwa Lukas merendahkan mereka,

tetapi menjelaskan bahwa bahasa mereka sulit dimengerti. Keramahan mereka membuktikan

bahwa mereka adalah suku yang tergolong baik. Selanjutnya pada ayat 3 Lukas menulis

tantang tangan Paulus yang digigit oleh ular beludak. Ada beberapa teolog yang meragukan

ayat  ini  sebab   sekarang di  pulau Malta  tidak  ada  ular  beludak;  tetapi  pada tahun 1835

seorang ilmuan yang bernama Lewing menyaksikan bahwa ia melihat ada ular beludak di

pulau itu. Waktu orang-orang disana melihat bahwa Paulus digigit ular beracun maka mereka

segera bereaksi, sehingga pada ayat 4-6 mereka menduga bahwa Paulus adalah seorang

pembunuh yang harus mati. Mereka berpikir bahwa karam kapal adalah hukuman baginya

dan itupun tidak cukup sehingga dewi keadilan seperti  yang mereka yakini  akhirnya ingin

membunuh Paulus. Akan tetapi setelah Paulus mengibaskan ular itu kedalam api dan Paulus

sama sekali tidak sakit, sementara orang-orang disitu menanti-nanti apa yang akan terjadi

kepada Paulus,  dan sampai  lama akhirnya mereka melihat  bahwa Paulus tidak apa-apa,

sehingga mereka menyangka bahwa Paulus adalah dewa, sebab  dia tidak tersentuh oleh

nasib manusia biasa. sebab jika dia adalah manusia biasa maka dia akan mati sebab  ular itu

adalah ular yang sangat beracun. Kemudian ayat 7-10 Lukas menjelaskan bahwa setelah itu

Paulus menginap di rumah Gubernur Publius yang menyambutnya dengan sukarela dan ia

menyembuhkan orang-orang sakit  menurut Firman Tuhan (Lukas 10:8-9). “Ketika itu ayah

Publius terbaring sebab  sakit demam dan disentri. Biasanya dimanapun Paulus tinggal dia

akan selalu memberitakan Injil, maka sangat mungkin bahwa adanya jemaat Kristen di Malta

adalah hasil pelayanan Paulus sewaktu mereka singgah disana, yang dalam nats ini tidak

terlalu dijelaskan oleh Lukas, sebab  Lukas sepertinya menitik beratkan penulisannya tentang

bagaimana Tuhan menolong dan mencukupkan apa yang mereka butuhkan untuk sampai ke

Roma.

Selanjutnya ayat 11-16 Lukas menuliskan bahwa setelah tiga bulan lamanya mereka

tinggal di Malta maka mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dalam penulisannya,

Lukas  sangat  teliti  sekali,  sehingga  sampai  lambang  kapal  yang  mereka  tumpangi  juga

disebutkan disini. Lambang kapal ini  adalah Dioskuri, lambang ini melukiskan Kastor

dan Poluk yaitu saudara kembar yang menurut Mythologi Yunani lahir dari Zeus dan Leda

dan sesudah keduanya mati diangkat ke langit sebagai bintang dan kemudian dipuja oleh

para pelaut sebagai dewa pelindung kapal mereka. Setelah mereka sampai di Putioli Lukas

mencatat  bahwa  mereka  bertemu  dengan  orang-orang  yang  sudah  percaya  disana  dan

mereka tinggal disana selama tujuh hari. Paulus mengucap syukur atas pertemuan itu dan

Lukas  mengatakan  bahwa  hati  Paulus  terhibur  dan  hatinya  semakin  dikuatkan.  Akhirnya

setelah  tujuh  hari  mereka  meninggalkan  tempat  itu  dan  kembali  melanjutkan  perjalanan

mereka menuju ke Roma dan sesampainya disana Paulus tidak ditahan seperti narapidana

lainnya.  Paulus tinggal  di  sebuah rumah yang disewanya sendiri.  Hal  itu  mungkin  terjadi

sebab  pertolongan Yulius kepala perwira yang membawanya ke situ.

Kemudian ayat  17-20 Lukas mencatat  bahwa setelah tiga hari  mereka sampai  di

Roma,  Paulus  memanggil  orang-orang  Yahudi  yang  terkemuka  di  kota  itu  dan  dia

menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada mereka. Dia mengatakan bahwa dia

tidak  menolak  satupun  dari  hukum  Yahudi  dan  sebagai  orang  yang  tidak  bersalah,  ia

diserahkan selaku tahanan kepada pemerintah Roma. Sekalipun sebenarnya orang-orang

Romawi ingin membebaskanya, namun orang-orang Yahudi mengajukan keberatan terhadap

keputusan itu, sehingga Paulus beranggapan bahwa satu-satunya cara untuk lolos adalah

dengan meminta naik banding kepada Kaisar.  Sekalipun demikian Paulus tidak membuat

tuduhan apapun kepada orang-orang Yahudi, sehubungan perlakuan mereka terhadapnya.

Dia  menjadi  tahanan  hanya  sebab   pengharapan  Israel,  dengan  itu  Paulus  hendak

mengatakan  bahwa  iman  Kristen  yang  dianutnya  merupakan  penggenapan  sejati  dari

pengharapan umat Allah.

Ayat  21-22 menjelaskan bahwa Pemimpin-peminpin  Yahudi  di  Roma mengatakan

bahwa mereka tidak menerima surat atau utusan dari Yerusalem dengan tuduhan apapun

terhadap Paulus.  Selanjutnya  secara  tidak  langsung mereka  mengatakan  bahwa mereka

tidak tahu apa-apa tentang sekte yang dianut oleh Paulus selain mendengar bahwa sekte itu

dimana-mana mendapat kecaman yang keras. Secara logis bahwa para pemimpin Yahudi

tidak mengemukakan seluruh kebenaran. Mustahil bahwa mereka tidak mendengar apa-apa

tentang  gereja  Kristen  di  Roma,  padahal  di  surat  Paulus  kepada  Jemaat  di  Roma

menunjukkan bahwa di Roma sudah ada gereja Kristen yang sangat bersemangat. Kemudian

mustahil  juga  jika  mereka  mengatakan  tidak  mendengar  apa-apa  tentang  Paulus  dari

Yerusalem sebab hubungan antara orang Yahudi di Yerusalem dan di Roma tetap terjalin

dan  berkesinambungan.  Sekalipun  demikian,  jelas  tidak  ada  tuduhan  sah  yang  dapat

diarahkan kepada Paulus, sehingga orang-orang Yahudi menganggap bahwa lebih bijaksana

untuk tidak melibatkan diri dalam kasus Paulus agar tidak menimbulkan amarah pemerintah

Roma. Ayat 23 menjelaskan bahwa pada hari  yang telah ditentukan berkumpullah orang-

orang (para pemimpin Yahudi) di rumah yang ditempati Paulus. Pada kesempatan ini Paulus

memberitakan tentang kerajaan Allah dengan berusaha menyakinkan mereka tentang Yesus.

kedua hal ini jelas merupakan konsep yang sinonim. Paulus berusaha menunjukkan bahwa

hal-hal  tentang  Yesus  dan  kerajaan  Allah  merupakan penggenapan  yang sempurna  dari

hukum Musa  dan  nubuat  para  nabi  dan  bahwa  iman  nenek  moyang Israel  memperoleh

penggenapannya di dalam iman Kristen.

Kemudian  pada ayat  24-27  Lukas  menulis  bagaimana tanggapan  para  pemimpin

Yahudi  di  Roma  terhadap  pemberitaan  Paulus.  Dari  antara  mereka  ada  yang  menjadi

percaya, tetapi sebagian besar menolaknya. Melihat hal ini Paulus mengutip Yesaya 6:9, 10

yang melukiskan kebebalan dan kekerasan rohani dari umat Allah. Keadaan mereka tidak

tertolong lagi sebab mereka tidak mampu berbalik kepada Allah untuk disembuhkan. Ayat 28

merupakan  puncak  dari  Kisah  Para  Rasul,  dalam  ayat  ini  Lukas  menuliskan  perkataan

Paulus,  “Keselamatan  yang  dari  pada  Allah  ini  (sekarang:  mulai  sekarang)  disampaikan

kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya.”  Sampai  disini  kita  melihat

pergerakan pemberitaan Injil, disamping itu kita juga melihat bahwa banyak pemimpin Yahudi

yang ada di Roma menolak Injil sama seperti pemimpin Yahudi yang ada di Yerusalem yang

menolak  Yesus  sebagai  Mesias  dan  bahkan menyalibkan-Nya.  Jadi  sifat  para  pemimpin

Yahudi  dan  sebagian  besar  orang  Yahudi  lainya  menunjukkan  sifat  penolakan  mereka

terhadap  Injil  dan  juga  pemberitanya  yang  dalam  waktu  itu  kemanapun  Paulus  pergi

memberitakan Injil orang-orang Yahudi banyak menolaknya dan malah orang-orang yang non

Yahudi menerima dia dan Injil yang dia beritakan. Jadi ayat 28 ini merupakan klimaksnya,

dimana oleh sebab  pemberontakan Israel sudah sempurna maka sekarang Injil memperoleh

tempat di kalangan bangsa bukan Yahudi.

Selanjutnya ayat 29 kita melihat bahwa setelah selesai Paulus berbicara maka orang

yang mendengarnya  bubar  dengan berbagai  perbedaan pendapat.  Kemudian  ayat  30-31

adalah merupakan ayat penutup dari Kisah Para Rasul yang bisa dikatakan sebagai akhir

yang tiba-tiba. Disini Lukas tidak menjelaskan tentang bagaimana akhir pemenjaraan Paulus.

Tetapi  walaupun demikian Lukas tetap memberitahukan tentang aktifitas Paulus di  Roma

selama dua tahun, dimana ia tinggal dirumah yang dia sewa sendiri dan dia menerima orang-

orang  yang datang  kepadanya  dan  bahkan ia  memberitakan  Injil  kepada siapapun yang

datang  kepadanya.  Namun  sampai  akhir  kitab  ini  kita  tidak  tahu  tentang  hasil  dari

persidangan dimana dia  telah  naik  banding  kepada  Kaisar,  apakah dia  dinyatakan  tidak

bersalah dan dibebaskan atau sebaliknya dia dinyatakan bersalah dan dihukum mati? Atau

ada opsi yang ketiga, barangkali  kasus itu diabaikan saja. Sampai pada akhir Kisah Para

Rasul  ini  kita  tidak  menemui  penjelasan  dari  Lukas  mengenai  hal  itu.  Tetapi  jika  kita

memperhatikan ayat 30 ini maka kita akan lebih condong setuju dengan beberapa penafsir

Kisah Para Rasul yang mengatakan bahwa kemungkinan Paulus dibebaskan setelah dua

tahun penahananya dan sesudah itu  ia melibatkan diri  dalam pelayanan selanjutnya dan

akhirnya ditahan kembali di Roma. Tradisi mengatakan bahwa Paulus dihukum mati di Roma

sekitar atau sesudah tahun 64 Masehi, itu berarti ada dua atau tiga tahun antara penulisan

Kisah Para Rasul dengan kematian Rasul Paulus. Hal ini menguatkan dugaan bahwa hasil

naik bandingnya Paulus tidak membawa dia kepada hukuman mati,  sebab jika itu  terjadi

pastilah Lukas akan menuliskanya. Lagi pula Philo seorang sejarawan Yahudi berkata bahwa

penahanan selama dua tahun adalah penahan yang paling lama dalam hukum Roma, dan

setelah itu dia bisa dilepaskan. Pada akhirnya kita melihat bahwa Injil Kristus tidak dapat di

bendung atau ditahan, dengan penuh kuasa Injil tersebar sampai kemana-mana. Sudahkah

anda  pergi  memberitakan  Injil?  Apakah  anda  sendiri  adalah  orang  yang  berusaha

membendung Injil? Jika anda bukan seorang yang membendung atau menahan Injil maka

anda harus pergi memberitakannya.