• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 5. Tampilkan semua postingan

perjanjian lama 5

 


.IV PENGAKUAN DOSA: MAN HIKMAT DIPEROLEH KEMBALI (AYB 42:1-6) 

.V PEMULIHAN: KEMENANGAN HIKMAT AYUB (AYB 42:7-17) 

A. Hikmat Ayub Dibenarkan (Ayb 42:7-9) 

B. Hikmat Ayub Diberkati (Ayb 42:10-17) 

 

 

MAZMUR 

  

 

Di antara kitab-kitab kuno, tidak ada kitab yang demikian menarik hati manusia seperti Kitab Mazmur 

ini. Di dalam Alkitab tidak ada kitab lain yang berisi pengalaman religius yang demikian beragam 

seperti di dalam kitab ini. Di sini iman bangsa Israel terungkap dengan jelas, sebab Israel mengetahui 

kebenaran penyataan ilahi dari pengalaman. Di dalam berbagai Mazmur, pemahaman Israel tentang 

masa lalu dipadukan dengan penyembahan sehingga menjadi abadi. Pengalaman pribadi di sini 

dikaitkan dengan kehidupan bersama bangsa Israel. Oleh sebab  itu, di dalam Kitab Mazmur ada  

unsur universal yang hanya bisa muncul dari ekspresi gabungan berbagai pengalaman rohani manusia 

dalam banyak periode sejarah dan dalam berbagai situasi kehidupan. Setiap orang didorong oleh 

keinginannya untuk memberi  tanggapan kepada Allah yang hidup. Mereka semua dipersatukan 

oleh keinginan hati mereka untuk menanggapi dengan memakai perasaan terdalam mereka. Setiap 

jenis pengalaman religius tercermin di dalam ujian hidup sehari-hari dan diproyeksikan ke dalam 

hidup orang percaya masa kini. Dengan demikian di dalam setiap Mazmur ada  suatu keabadian 

yang menjadikan kitab ini senantiasa dapat dikenakan kepada setiap zaman di dalam sejarah.  

 

Istilah "Mazmur" berasal dari LXX yang memakai nama Psalmoi, untuk kumpulan kidung ini. Salah 

satu naskah Alkitab yang utama, Codex Alexandrinus, menambahkan sebutan "Pemazmur" dengan 

memakai istilah Yunani Psalterion. Sekalipun demikian, Alkitab berbahasa Ibrani menyebutkan kitab 

ini dengan nama Tehillîm, yang artinya "Puji-pujian." Di dalam sastra para rabi istilah ini kemudian 

diambil alih menjadi Séper Tehillîm yang artinya "Kitab Puji-pujian." Akar kata dari istilah Ibrani dan 

Yunani itu berarti memainkan alat musik. Seiring dengan waktu istilah ini  menjadi berarti 

bernyanyi dengan iringan alat musik, sebuah ciri dalam ibadah Israel yang dipopulerkan dengan 

menyanyikan lagu-lagu kaum Lewi. Banyak Mazmur memberi  bukti bahwa Mazmur ini  

dipakai oleh paduan suara dan para peserta ibadah sebagai lagu pujian sedang  yang lain tidak 

demikian. Akan namun , seluruh kumpulan Mazmur ini mengungkapkan kerinduan yang terdalam dan 

penuh semangat dari Israel secara keseluruhan untuk beribadah di hadapan Allah.  

Salah satu hal pertama yang tampak saat  membaca kitab ini ialah bahwa setiap Mazmur mempunyai 

judul sendiri. Bagaimana judul-judul itu bisa ditafsirkan dengan tepat merupakan persoalan paling 

sulit di dalam kitab ini. Kadang-kadang, penulisnya yang ditekankan pada judulnya, sedang kali yang 

lain hubungan yang ditekankan. Alasan penggubahan sebuah Mazmur kadang-kadang juga 

dikemukakan. Judul-judul tertentu mengacu kepada pemakaian Mazmur ini  di dalam ibadah 

umum. Judul-judul yang lain menunjukkan hasil yang diinginkan dari permainan alat musik tertentu. 

Yang lain lagi melukiskan sifat dasar dari Mazmur ini  seperti; 

1) Sebuah kidung untuk dinyanyikan dengan bantuan alat musik (mizmor),  

2) Sebuah nyanyian (shir),  

3) Lagu kebangsaan (maskil) atau  

4) Sebuah ratapan (mittam).  

 

Semua Mazmur kecuali tiga puluh empat di antaranya memiliki semacam judul yang ditulis di atas 

Mazmur ini . Ketiga puluh empat Mazmur pertama judul disebut sebagai "anak-anak yatim piatu" 

Yahudi. Di antara Mazmur-mazmur yang berjudul, tujuh puluh tiga memakai nama ie Dawid yang 

pada umumnya diterjemahkan sebagai Mazmur Daud. Sekalipun demikian, istilah ini  mungkin 

juga berarti "milik Daud," "berkaitan dengan Daud," "tentang Daud," "untuk Daud," "dipersembahkan 

kepada Daud," "dengan gaya Daud," atau "oleh Daud." Judul-judul ini  tidak selalu menunjukkan 

penulis Mazmur itu, entah yang mengacu kepada Daud atau kepada yang lainnya. LXX 

menambahkan nama Daud untuk lima belas Mazmur yang tidak disebut demikian di dalam naskah 

Page 50 of 130

Ibrani aslinya. Di samping itu ada tujuh puluh tiga Mazmur yang menyebut Daud (delapan puluh 

delapan di dalam LXX), dua belas dikaitkan dengan Asaf, dua belas dengan bani Korah, dua dengan 

Salomo, satu dengan Etan dan satu dengan Musa.  

 

Sekalipun judul-judul ini  tidak termasuk di dalam naskah asli, judul-judul itu didasarkan pada 

tradisi yang cukup kuno. Suatu perbandingan antara Naskah Masoret dengan LXX menunjukkan 

bahwa judul-judul ini  sudah ada sebelum terjemahan LXX sebab beberapa  petunjuk tentang 

musik sudah tidak bisa dimengerti oleh para penerjemah LXX dan judul-judul ini  tidak menjadi 

baku. Sekalipun judul-judul di atas itu bukan merupakan bagian dari naskah asli, judul-judul itu layak 

untuk dipertimbangkan sebab menunjukkan usaha pertama manusia untuk menulis sebuah pengantar 

untuk Kitab Mazmur.  

 

STRUKTUR.  

 

Sekalipun Kitab Mazmur tampaknya tidak memiliki perencanaan, itu tidak berarti bahwa mazmur-

mazmur yang tercantum di dalamnya tidak disusun secara pasti. Sekalipun pokok pembahasannya 

tidak teratur, sistem pengaturan yang diikutinya jauh lebih jelas. Kitab ini dibagi menjadi lima bagian 

yang terdiri atas kumpulan beberapa  mazmur. Menurut Midrash on the Psalms, sebuah tafsir Mazmur 

Yahudi kuno, pembagian menjadi lima jilid dibuat sesuai dengan kelima Kitab Taurat. Jadi mungkin 

para penyusun kitab ini sejak semula memiliki maksud untuk memparalelkan lima tanggapan umat ini 

dengan lima Panggilan Allah.  

 

Bukti berikutnya tentang adanya sebuah rencana yaitu  kehadiran sebuah kidung pujian pada akhir 

dari masing-masing kelima jilid itu. Mzm 41;  72;  89;  106;  150  berisi kidung pujian untuk setiap 

jilid, sedang  pasal Mzm 1 merupakan pengantar umum kepada mazmur lainnya. Mzm 2;  42;  73;  

90;  107 merupakan pengantar kepada masing-masing jilid.  

 

Pengaturan yang cermat ini merupakan bukti bahwa edisi final dari kitab ini dirancang untuk sesuai 

dengan skema ibadah Yahudi. ada  hubungan yang menakjubkan di antara empat Kitab Taurat 

pertama dengan empat jilid pertama Kitab Mazmur. sebab  seorang penganut Yudaisme Palestina 

menyelesaikan pembacaan Taurat setiap tiga tahun, sangat mungkin bahwa penggunaan Mazmur 

dijadwalkan untuk sesuai dengan hal ini . Menurut tradisi kuno, tampaknya delapan bagian dari 

Taurat diperuntukkan bagi hari-hari Sabat sepanjang dua bulan bersamaan dengan bagian-bagian yang 

cocok dari kitab para nabi. N. H. Snaith (Hymns of the Temple, hlm. 18) menunjukkan bahwa 

serangkaian mazmur mungkin dipakai dengan cara serupa itu. Menurut perhitungannya pembacaan 

Kitab Keluaran diawali pada hari Sabat ke empat puluh dua, pembacaan Kitab Imamat selesai dibaca 

pada hari Sabat ke tujuh puluh tiga, Kitab Bilangan pada hari Sabat ke sembilan puluh dan Kitab 

Ulangan pada hari Sabat yang ke seratus tujuh belas. Hari-hari Sabat ini sesuai persis dengan setiap 

pasal pertama dalam setiap jilid Kitab Mazmur. Tidak ada mazmur yang bisa lebih cocok daripada 

Mzm 1 untuk mempersiapkan tiga tahun "merenungkan Taurat" yang akan datang. Mzm 23, 

misalnya, akan mendampingi pembacaan kisah Yakub di Betel.  

 

PENGUMPULAN DAN PERTUMBUHANNYA.  

 

Pengaturan mazmur yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sebuah proses pertumbuhan. Jauh 

sebelum kitab ini terbentuk seperti sekarang, sudah ada kumpulan-kumpulan mazmur yang lebih 

kecil. Secara bertahap, kumpulan-kumpulan yang lebih kecil ini dijadikan satu.  

 

Di dalam pengelompokan menjadi lima jilid sekarang, ikatan kelompok yang lebih kecil masih 

kelihatan. Selain kumpulan mazmur Daud, ada beberapa  mazmur yang dikaitkan dengan bani Korah 

dan Asaf. Pada Mzm 72:20 dinyatakan bahwa, "Sekianlah doa-doa Daud bin Isai," sekalipun masih 

ada mazmur-mazmur Daud lainnya sesudah itu. Kumpulan-kumpulan lebih kecil lainnya termasuk 

Mazmur Ziarah dan Mazmur Haleluya. Berbagai bagian tertentu juga menunjukkan kecenderungan 

Page 51 of 130

yang jelas untuk memakai kata Yahweh atau Elohim, yang menunjukkan keberadaan kata-kata itu 

sejak semula pada kumpulan-kumpulan khusus. Kumpulan-kumpulan berikut mungkin sekali sudah 

beredar secara terpisah sebelum kemudian dipersatukan:  

 

Mzm 3:1-41:13. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk 

memakai nama Yahweh (272 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 15 kali pemakaian nama 

Elohim).  

 

Mzm 51:1-72:20. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk 

memakai nama Elohim (208 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 48 kali pemakaian nama 

Yahweh).  

 

Mzm 50; 73:1-83:18. Kumpulan mazmur perserikatan bani Lewi yang dikaitkan dengan Asaf.  

 

Mzm 42:1-49:20. Kumpulan mazmur serikat bani Lewi yang dikaitkan dengan bani Korah.  

 

Mzm 90:1-99:9. Mazmur-mazmur Sabat yang dikaitkan secara erat dengan ibadah Sabat.  

 

Mzm 113:1-118:29. Mazmur-mazmur Halel dari Mesir, dikaitkan dengan ibadah pada Perayaan 

Paskah (bdg. Mzm 136).  

 

Mzm 120:1-134:3. Nyanyian Ziarah yang mungkin dikidungkan oleh para peziarah saat  berziarah 

menuju ke Bait Allah.  

 

Mzm 146:1-150:6. Mazmur haleluya yang dinyanyikan pada perayaan-perayaan.  

 

T. H. Robinson (The Poetry of the Old Testament) dan lain-lain menunjukkan bahwa sebelum menjadi 

lima kelompok, kitab ini terdiri dari tiga kelompok. Ketiga kelompok ini, 1-41-42-89-90-150, 

mungkin telah dibagi lagi menjadi bentuk yang sekarang untuk disesuaikan dengan pembagian Kitab 

Taurat. Terlepas dari apakah teori ini bisa dibuktikan atau tidak, pemahaman yang benar tentang.sifat 

susunan Kitab Mazmur ini penting. Melalui proses bertahap berupa pengumpulan, penyusunan 

kembali dan perbaikan, Allah memelihara harta ini, yaitu tanggapan Israel atas penyataan diri-Nya.  

 

PENANGGALAN.  

 

Sistem penanggalan yang tepat untuk Kitab Mazmur tidak mungkin dibuat. Orang-orang yang 

bertanggung jawab atas edisi terakhir Kitab Mazmur dan juga para pengumpul sebelumnya, berusaha 

untuk menyediakan sebuah kitab nyanyian bagi angkatan mereka sendiri. Pada saat-saat mengalami 

tekanan dan kesulitan, mereka berusaha menghidupkan kembali semangat masa lalu untuk mencukupi 

kebutuhan zaman mereka. Proses perbaikan dan penyesuaian membuat banyak mazmur kelihatan 

lebih baru daripada bentuk aslinya. N. H. Snaith (Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 285) 

mengatakan, "Sedikit Mazmur kalau tidak ditulis sebelum masa pembuangan tentu seluruhnya ditulis 

sesudah masa pembuangan. beberapa  mazmur mungkin mengandung unsur-unsur yang berbeda 

waktu lebih dari seribu tahun." beberapa  pakar mengikuti pendapat Duhm dan mengatakan bahwa 

sebagian besar mazmur digubah pada zaman Makabe. Sekalipun demikian, arus masa kini di kalangan 

pakar seperti Gunkel, Snaith, Patterson, Oesterley dan lain-lain cenderung menyebutkan tanggal yang 

lebih dini. Frasa, "Buku Doa dan Puji-pujian Bait Allah Yang Kedua," bisa tetap berlaku untuk 

seluruh kumpulan sebab penyuntingan terakhir dilaksanakan sesudah masa pembuangan. Akan namun  

banyak Mazmur berasal dari zaman sebelum pembuangan, dengan beberapa  unsur yang asal-usulnya 

yaitu  pada masa pra-Daud. Pengenalan akan bahan yang dini dan yang kemudian ini menjadikan 

Kitab Mazmur malah lebih berharga sebagai catatan tentang seluruh sejarah tanggapan Israel kepada 

Allah selaku Umat Pilihan-Nya.  

Sekalipun penting untuk mengetahui latar belakang sejarah dan tanggal yang tepat dari suatu nas 

waktu menafsir, hal itu tidak terlalu merupakan keharusan saat  menafsirkan Mazmur dibandingkan 

dengan nas Perjanjian Lama lainnya. sebab  universalitas kebenaran yang ada  di dalamnya, kitab 

ini tidak terlalu perlu memperhatikan latar belakang sejarah itu. Pesan-pesannya yang tidak tergantung 

waktu menjadikannya bisa digunakan pada zaman pra-pembuangan, pasca-pembuangan dan pada 

zaman kita. Sekalipun demikian, keabadian ini jangan membuat kita tidak berusaha untuk mengetahui 

latar belakang saat  mazmur tertentu digubah sejauh hal itu dimungkinkan. Gaya penulisan, sebutan-

sebutan pada peristiwa sejarah tertentu, bahasa yang dipakai, pemikiran-pemikiran teologis yang 

terungkap dan bukti-bukti di dalam nas lainnya tetap harus dipelajari, sebab setiap nas menjadi makin 

hidup jika latar belakang itu dipahami secara benar. Sekalipun keadaan makin hidup itu sangat 

diperlukan, sikap dogmatis dalam menyebutkan penulis, tanggal serta situasi waktu penulisan tidak 

pada tempatnya sebab setiap pesan kitab ini bersifat abadi. Harus diingat bahwa sejarah memiliki cara 

untuk berulang berkali-kali.  

 

BENTUK SYAIR. 

 

Orang Ibrani telah mewariskan kepada dunia sebuah bentuk pengungkapan syair yang sederhana dan 

kekanak-kanakan. Ungkapan berbentuk syair itu lebih berasal dari hati ketimbang dari keinginan 

untuk mengungkapkannya dengan keindahan seni. sebab  bahasa Ibrani yaitu  bahasa bergambar, 

setiap kata yang dipakai itu jelas dan gamblang. Akar-akar kata kerjanya menggambarkan tindakan 

yang kelihatan, sedang  pemakaiannya memberi  ruang untuk memakai imajinasi yang kuat. Di 

dalam bahasa ini ada  ungkapan perasaan yang sangat kuat yang cocok untuk menunjukkan 

kerinduan religius yang membara.  

 

Sekalipun puisi Ibrani tidak memiliki sajak dan lemah sistem metrisnya, puisi Ibrani memiliki ciri-ciri 

penggantinya. Sebaliknya dari dasar-dasar utama sajak Inggris ini, orang Ibrani menggunakan dua ciri 

khusus yang utama-penekanan aksen (irama) dan paralelisme. Menurut F. C. Eiselen (The Psalms and 

Other Sacred Writings) irama yaitu  "pengulangan harmonis dari hubungan suara tertentu." Pola 

aksen yang terdiri dari dua, tiga atau empat hitungan irama memungkinkan dibuatnya pengulangan 

harmonis ini. beberapa  suku kata yang tanpa tekanan di antara setiap hitungan irama disusun secara 

bergantian di antara suku kata yang panjang dan suku kata yang pendek. Bentuk pengaturan semacam 

ini tergantung pada irama di dalam setiap anak kalimat dan keseimbangan irama di antara anak-anak 

kalimat itu. Hasilnya yaitu  suara yang naik dan turun secara menyenangkan sehingga sanggup 

mengungkapkan semangat yang hidup, kepastian yang tenang, keceriaan, ratapan atau ungkapan 

emosional lainnya.  

 

Ciri khusus utama yang kedua di dalam syair Ibrani ialah keseimbangan di antara bentuk dan makna 

yang dinamakan paralelisme. Sang penyair mengemukakan sebuah pemikiran; kemudian pemikiran 

itu diperkuat lagi dengan pengulangan, variasi atau kontras. Ada tiga bentuk utama paralelisme yang 

dapat dijumpai di seluruh Kitab Mazmur.  

 

1. Sinonim. Baris kedua mengulangi baris pertama dengan kata-kata yang sedikit berbeda (bdg 

Mzm 1:2).  

2. Antitetis. Baris kedua merupakan kontras yang tajam dari kalimat pertama (bdg Mzm 1:6).  

3. Sintetis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan menambah pemikiran semula (bdg 

Mzm 7:1).  

 

Tiga bentuk yang kurang utama membantu menambah kekayaan dan keragaman dari syair Ibrani.  

 

1. Introver. Kalimat kedua paralel dengan kalimat ketiga dan kalimat pertama paralel dengan 

kalimat keempat (bdg Mzm 30:8-10; 137:5,6).  


2. Klimaktis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan membawa pemikirannya kepada 

klimaks (bdg Mzm 29:1,2).  

3. Emblematis. Kalimat kedua melanjutkan pemikiran kalimat pertama dengan mengangkatnya ke 

alam yang lebih tinggi atau dengan memakai sebuah simile (bdg Mzm 1:4).  

 

Ada faktor-faktor lain yang menjelaskan keefektifan paralelisme. Inti masalahnya ialah harapan dan 

kepuasan pembacanya. Kalimat pertama akan selalu menimbulkan suatu rasa berharap, sedang  

kalimat-kalimat berikutnya akan memuaskan harapan ini . Penyair bisa membuat variasi dengan 

mengubah tingkat pengharapan atau cara memuaskan pengharapan itu dengan memakai kontras untuk 

menunjukkan apa yang tidak diharapkan. Paralelisme yang dipergunakan ini kadang-kadang lengkap, 

kadang-kadang tidak lengkap dengan satu unsur yang tidak ada; dan pada saat-saat tertentu 

ditambahkan sebuah unsur pelengkap untuk memberi  rasa puas yang lebih baik. Bukan hanya 

paralelisme namun juga irama berpola menghasilkan rasa penantian pemuasan ini. G. B. Gray (The 

Forms of Hebrew Poetry, 1915) telah memberi nama kepada dua jenis irama dasar ini. "Irama yang 

menyeimbangkan" menghasilkan kepuasan tertentu sebab jumlah penekanan aksennya sama  

(Mzm 2:2 atau Mzm 3:3). "Irama yang menggema" menghasilkan perasaan berbeda dengan 

memberi  tekanan yang lebih sedikit pada kalimat kedua dibandingkan dengan kalimat pertama 

(Mzm 3:2). Yang paling sering dipakai dari bentuk yang kedua yaitu  irama Quinah, yang dipakai 

dalam ratapan dan nyanyian penguburan.  

 

Di samping paralelisme dan irama, dua unsur lain mempengaruhi syair Ibrani. Ini bukan karakteristik 

khusus, sebab ini ada  di dalam semua syair. Yang pertama yaitu  sifat emosional yang 

menghasilkan suatu ekspresi yang memuncak. Kata-kata atau frasa khusus yang penuh kuasa dapat 

menghasilkan hal ini. Pemakaian suara tekak yang banyak dapat menampilkan suasana keras. Bunyi 

mendesis yang tajam dapat mengungkapkan kemenangan atau kesedihan atas sebuah kekalahan. Kata 

yang meniru suara dapat dengan mudah menunjukkan pesannya. Unsur kedua yaitu  nilai membantu 

ingatan Bari sebuah syair yang membantu pembaca mengingatnya. Sebagai ganti pemakaian sajak, 

pemazmur kadang-kadang memanfaatkan pengaturan akrostik. Setiap baris atau beberapa  baris akan 

diawali dengan huruf-huruf dalam abjad Ibrani. Mzm 119 merupakan contoh yang baik sekali sebab  

setiap baris di dalam kelompok delapan baris diawali dengan huruf yang sama. Kedua puluh dua 

huruf dalam abjad Ibrani dipakai dalam kelompok-kelompok yang berurutan. Cara semacam itu 

membuat mazmur ini  lebih mudah dihafalkan. Sesungguhnya, hanya delapan atau sembilan 

mazmur yang disusun demikian secara keseluruhan. Masing-masing mazmur ini bersifat sebagai 

amsal dan akan mengalami suatu keterpisahan pemikiran jika saja pengaturan menurut abjad ini tidak 

dipakai.  

 

berdasar  gaya pokoknya, syair Ibrani sangat berbeda dengan syair modem. Sekalipun demikian, 

pola syair Ibrani memiliki kemiripan yang erat dengan pola syair Timur Dekat. ada  beberapa  

kesamaan dalam gaya antara syair-syair di Israel dengan yang di Mesir dan Mesopotamia. Akan 

namun , kesamaan yang paling mencolok tampak jelas jika syair Ibrani dibandingkan dengan syair-syair 

Ugarit. Syair Ugarit pada dasarnya merupakan jenis Kanaan-Siria. Kanaan dan Siria berhubungan 

dekat dengan Israel di sepanjang sejarah pra-pembuangan. Kemiripan-kemiripan utamanya yaitu  

dalam hal metafora, frasa, irama dan paralelisme-semua berkenaan dengan gaya penulisan dan 

pemakaian frasa. Perbedaan secara religius dan teologis jauh melebihi semua kesamaan ini.  

 

 

KLASIFIKASI.  

 

Suatu perbandingan sekilas dari syair-syair di dalam Mazmur menunjukkan bahwa syair-syair itu 

tidak dikelompokkan menurut pokok bahasannya. Pokok-pokok ini , yang dibahas atau 

disinggung, meliputi pengalaman manusia. Sekalipun berbagai topik itu terlalu banyak untuk 

didaftarkan, lima pokok utama dapat dikenali:  

1. Kesadaran akan kehadiran Allah.  

2. Pengakuan akan perlunya mengucap syukur.  

3. Persekutuan pribadi dengan Allah.  

4. Mengingat peranan Allah dalam sejarah.  

5. Perasaan dibebaskan dari musuh.  

 

Telah ada banyak usaha untuk mengklasifikasi mazmur-mazmur menurut sebuah patokan yang sudah 

dipertimbangkan sebelumnya. Mowinckel dan lain-lain memusatkan klasifikasi mereka pada isi 

dengan mengembangkan berbagai sub-divisi berdasar  topik secara rinci. Yang lain berusaha 

mengungkapkan suasana hati dari penulis setiap mazmur. Kalangan yang lain lagi telah 

menggunakan berbagai jenis mazmur sebagai kriteria klasifikasi. Ini berawal hanya dengan 

pembagian menjadi tiga yaitu nyanyian pujian, doa dan kidung iman. Baru-baru ini Gunkel telah 

melaksanakan pekerjaan yang sangat berharga dengan mengidentifikasi lebih jauh jenis-jenis atau 

kategori ini. Dasar pikiran pokoknya ialah bahwa mazmur pada mulanya merupakan nyanyian 

pemujaan yang dipakai saat  Israel beribadah. Oleh sebab  itu Gunkel menggolongkan setiap 

mazmur menurut "rumusan yang berulang secara tetap" dari setiap jenis tertentu. Gunkel menemukan 

lima jenis utama sebagai berikut:  

 

1. Nyanyian Pujian.  

2. Ratapan Nasional.  

3. Mazmur Kerajaan (termasuk Mazmur Mesianis).  

4. Ratapan Individu.  

5. Ucapan Syukur Individu.  

Kepada jenis-jenis ini  Gunkel menambahkan beberapa  jenis minor yang masing-masing jenisnya 

hanya diwakili oleh beberapa mazmur saja.  

6. Nyanyian Ziarah.  

7. Ucapan Syukur Bangsa.  

8. Syair Hikmat.  

9. Liturgi Taurat.  

10. Jenis-jenis Campuran.  

 

Jenis-jenis ini merupakan skema yang terakhir dan paling mutakhir dari Gunkel (bdg. N. H. Snaith 

dalam Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 235 dst.). Sebelumnya, Gunkel telah memasukkan 

juga jenis-jenis minor lainnya seperti "Berkat dan Kutuk" serta "Mazmur Nubuat" (bdg. John 

Patterson, The Praises of Israel, hlm. 32). Kepada jenis-jenis ini masih dapat ditambahkan Mazmur-

mazmur Mesianis.  

Sekalipun usaha untuk merumuskan sebuah sistem klasifikasi itu sangat menarik, ada  suatu 

keadaan tidak menentu sekitar Kitab Mazmur yang tidak memungkinkan klasifikasi secara mutlak. 

Keadaan tidak menentu ini disebabkan oleh sifat abadi dan universal dari kumpulan ini. Sebetulnya, 

setiap metode klasifikasi memberi  pandangan yang berbeda tentang Kitab Mazmur sehingga 

memungkinkan seseorang memahami banyak seginya yang ada.  

 

NILAI ABADI.  

 

Kitab Mazmur mula-mula yaitu  sebuah kesaksian yang hidup tentang iman Israel. Setiap mazmur 

merupakan bukti tentang pemikiran dan perasaan dari orang Ibrani yang tidak terhitung jumlahnya. 

Semua mazmur-mazmur itu menggemakan aspirasi dan harapan dari orang laki-laki dan wanita  di 

setiap era sejarah Israel. Di dalamnya tercermin kesulitan dan pergumulan umat Allah. Mazmur-

mazmur itu menunjukkan peziarahan dari keraguan menuju kepastian dalam abad-abad kritis dari 

pimpinan Allah ini. Setiap mazmur itu senantiasa menunjuk kepada kemenangan atas keputusasaan 

oleh iman kepada Allah yang hidup. Sejarah Israel jelas akan kurang tanpa bukti-bukti mengenai 

tanggapan iman kepada penyataan Allah ini.  

 

KEDUA, Kitab Mazmur merupakan suatu latar belakang yang penting bagi pelayanan Yesus. Dia 

mempelajari Mazmur di dalam lingkungan keluarga Yahudi-Nya. saat  dibaptiskan, misiNya 

diutarakan dengan memakai kata-kata dari salah satu mazmur. Di kayu salib, sebuah mazmur diingat 

oleh-Nya pada saat-saat terakhir-Nya di situ. Mazmur lebih banyak dikutip di dalam Perjanjian Baru 

dibandingkan dengan kitab lain apa pun dari Perjanjian Lama. ada  sekitar seratus acuan atau 

petunjuk langsung dari Kitab Mazmur di dalam Perjanjian Baru. Frasa-frasa dan ayat-ayat dibawa 

untuk menjelaskan, sifat dan pesan Yesus selaku Mesias.  

 

KETIGA, Kitab Mazmur terbukti merupakan sumber yang sangat diperlukan untuk bahan ibadah. 

Orang Kristen di seluruh dunia telah terbantu untuk menghampiri Allah secara pribadi di dalam 

penyembahan. Mzm 51 mengutarakan pikiran dari orang berdosa yang bertobat. Mzm 32 

menunjukkan betapa sukacita yang bisa dialami oleh seorang yang memperoleh pengampunan dosa. 

Mzm 23 mengungkapkan rasa percaya yang biasa dimiliki oleh banyak anak Tuhan. Mzm 103 

menyampaikan pujian kepada Allah yang seharusnya dilakukan semua orang percaya. Mazmur-

mazmur yang lain memuaskan kebutuhan ibadah yang mendasar, memperkaya pengalaman pribadi 

setiap orang yang mencari.  

 

Akhirnya, Kitab Mazmur telah menjadi kitab puji-pujian sepanjang zaman. Tidak ada kitab pujian lain 

yang telah dipakai demikian lama oleh demikian banyak orang. Kitab ini dibaca, dikidungkan atau 

dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun. Samuel Terrien mengatakan tentang hal ini , "Tidak ada 

kitab pujian dan doa lain yang sudah dipakai selama waktu demikian lama dan oleh demikian banyak 

orang laki-laki’ dan wanita  yang sangat beragam" (The Psalms and Their Meaning Today, hlm. 

vii). Pada zaman informal, Kitab Mazmur memberi  suatu bahasa yang sangat diperlukan untuk 

penyembahan. Melalui ciptaan Luther, "A Mighty Fortress Is Our God," ciptaan Isaac Watts, "Jesus 

Shall Reign," dan juga, "O God, Our Help in Ages Past," pesan Kitab Mazmur berkumandang di 

seluruh dunia.  

 

 

MAZMUR 

 

 

SUSUNAN YANG ADA SEKARANG DARI KITAB MAZMUR JELAS MENUNJUKKAN 

GARIS BESARNYA SENDIRI:  

 

• JILID I. MZM 1:1-41:13. 

• JILID II. MZM 42:1-72:20. 

• JILID III. MZM 73:1-89:52. 

• JILID IV. MZM 90:1-106:48. 

• JILID V. MZM 107:1-150:6. 

 

 

 

 

AMSAL 

  

 

AJARAN DARI AMSAL.  

 

Inti dari Kitab Amsal ialah ajaran tentang prinsip moral dan prinsip etika. Keunikan kitab ini yaitu  

bahwa sebagian besar isinya merupakan ajaran yang disajikan dengan cara memperlihatkan 

kontrasnya. Yang terutama patut diperhatikan ialah pasal Ams 10; 11; 12; 13; 14; 15, di mana hampir 

setiap ayat dipisahkan dengan kata "namun ."  

 

Pada bagian pertama, pasal Ams 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9, juga dipergunakan kontras-antara yang baik 

dan yang jahat. Kebaikan dalam bagian ini ditunjukkan secara menonjol oleh beberapa kata-hikmat, 

didikan, pengertian, kebenaran, keadilan, kejujuran, pengetahuan, kebijaksanaan, ilmu, pertimbangan-

pertimbangan-namun  khususnya hikmat, yang muncul tujuh belas kali pada bagian ini dan dua puluh 

dua kali pada bagian selebihnya dari kitab ini. Teks penting dari kitab ini ialah pernyataan terkenal 

pada Ams 1:7, "Takut akan TUHAN yaitu  permulaan pengetahuan," yang diulang pada akhir bagian 

ini (Ams 9:10). Pernyataan ini muncul kembali kata per kata secara alfabetis (dengan klausa dibalik) 

dalam Mzm 111:10, dan dalam bentuk yang hampir sama, sebagai klimaks dari Ayub pasal Ams 28, 

yang menggambarkan secara puitis sekali pencarian akan hikmat.  

 

Yang unik pada bagian Amsal ini ialah personifikasi hikmat sebagai seorang wanita . Ini terlihat 

pertama kali dalam Ams 3:15. Sebetulnya, kata ganti dalam Ams 3:15-18 yang merujuk pada hikmat 

dapat diterjemahkan dengan "itu" (Ing., it) maupun "dia" (Ing., she),  namun  personifikasi ini  

diterima sebab  rujukan-rujukan sesudahnya. Ams 7:4 membuka jalan bagi personifikasi ini , 

"Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku wanita ."’ Personifikasi itu menjadi jelas 

dalam pasal Ams 8;  9, di mana Hikmat mengundang orang-orang tidak berpengetahuan untuk ikut 

dalam perjamuannya. Hanya di dalam Kitab Amsal dan hanya pada bagian pertama inilah hikmat 

dipersonifikasikan seperti itu.  

 

Untuk memahami bagian pertama ini orang perlu sekali mengenali personifikasi ini . sebab  kata 

"hikmat" dalam bahasa Ibrani merupakan kata benda jenis feminin, maka wajar jika kata ini 

dipersonifikasikan sebagai seorang wanita . Lebih penting lagi, penulis Amsal membedakan 

antara "hikmat," wanita  yang bijaksana, dengan wanita  sundal, wanita  asing. 

Sebagaimana hikmat berarti semua kebajikan, demikian juga barangkali wanita  asing ini  

melambangkan dan menyiratkan segala dosa.  

 

Kontrasnya sengaja dipersiapkan secara artistik. Hikmat berseru-seru di jalan-jalan (Ams 8:3). Ia 

mengajak, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" (Ams 9:4). Sebaliknya, wanita  

bebal yang mengajak menikmati air curian dan yang tamu-tamunya, yaitu  penghuni dunia orang 

mati (Ams 9:17,18), memberi  undangan yang sama, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah 

ke mari" (Ams 9:16). Hikmat mengajak orang tak berpengalaman untuk membuang dosa; wanita  

sundal mengajaknya untuk menuruti nafsunya.  

 

Dengan demikian, bagian ini, Ams 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9, mempertentangkan dosa dengan 

kebenaran. Kata-kata seperti "hikmat," "didikan," "pengertian," dan sebagainya pada seluruh bagian 

ini bukan saja berarti kecerdasan dan kecakapan manusia, melainkan juga berlawanan dengan hal 

yang jahat. Jadi, yang dimaksud hikmat di sini yaitu  sifat moral. Perlu diperhatikan bahwa ini 

merupakan pemakaian yang khusus. Pada sebagian besar pemakaian dalam Perjanjian Lama, hikmat 

yaitu  sekadar kecakapan atau kecerdikan. Bahkan dalam Kitab Pengkhotbah di mana hikmat juga 

ditekankan, hikmat yaitu  sekadar kecerdasan manusia dan sebab nya termasuk di dalam kesia-siaan 

(Pkh 2:12-15). Hanya dalam Ayb 28 dan dalam mazmur-mazmur tertentu (37:30; 51:8; 90:12; 

111:10) konsep dari Kitab Amsal mengenai hikmat tampak nyata. Bahkan hikmat (kebijaksanaan) 

yang membuat Salomo termasyhur dalam kitab-kitab sejarah, sebenarnya bukan hikmat ini. Salomo 

Page 58 of 130

termasyhur sebab  kecakapannya dalam ilmu alam (1Raj 4:33) dan hukum (1Raj 3:16-28) dan 

kecerdikannya yang luar biasa (1Raj 10:1-9). Amsal menambahkan konsep tentang ketajaman 

mental, kelurusan moral, yang merupakan satu-satunya hal yang menjadikan akal budi berarti.  

 

Pada bagian kedua, Amsal Salomo, Ams 10:1-22:16, ajarannya disajikan, nyaris hanya melalui 

pernyataan satu ayat. Pada seluruh pasal Ams 15, ajaran diberikan lewat kontras yang ditunjukkan 

oleh kata "namun " di tengah hampir setiap ayat. sebab nya, lebih sering muncul persamaan gagasan 

daripada perbedaan.  

 

Bagian ini meliputi pokok yang luas dan tak teruraikan. namun , sudut pandangnya konsisten. Salomo 

membedakan hikmat dengan kebodohan. Dan sebagaimana dalam Bagian 1, ini bukan pertentangan 

antara kecerdasan dengan kebodohan akal budi manusia, melainkan pertentangan antara hikmat 

(kebijaksanaan) moral dengan dosa. Pada bagian ini, hikmat tidak pernah dipersonifikasikan, namun  

sinonim-sinonim yang sama untuk kata itu pada Bagian I dipakai di sini-pengertian, kebenaran, 

didikan/ajaran. Orang bodoh juga mempunyai sinonim-sinonim: pencemooh, pemalas, orang curang. 

Bagian-bagian berikutnya (lihat Garis Besar) melanjutkan tema ini. Seperti ditunjukkan oleh Toy 

(Crawford H. Toy, ICC dalam Proverb, hlm. xi), etika dalam kitab ini sangat tinggi. Di sini 

ditekankan tentang kejujuran, kesetiaan, penghargaan terhadap jiwa dan hak milik. Orang didorong 

untuk memperjuangkan keadilan, cinta kasih, dan belas kasihan kepada orang lain. Suatu kehidupan 

rumah tangga yang baik, disertai didikan yang hati-hati terhadap anak-anak dan kedudukan yang 

terhormat bagi wanita tercermin di sini.  

 

Mengenai pandangan keagamaan, Tuhan dipahami sebagai pencipta moralitas serta keadilan, dan 

tersirat juga monoteisme. namun , di sini sedikit sekali disebut tentang Hukum Taurat dan nubuat 

(Ams 29:18), keimaman dan persembahan kurban (Ams 15:8; 21:3,27). Sang penulis sendiri yang 

berbicara, dengan mengajarkan prinsip-prinsip bahwa perilaku yang benar berasal dari Tuhan.  

 

KEPENULISAN.  

 

Nama Salomo muncul pada tiga bagian kitab ini-Ams 1:1; 10:1; 25:1. Jadi, ada klaim bahwa bagian-

bagian pokok kitab ini ditulis oleh Salomo, sesungguhnya dia juga menulis semua bagian, kecuali 

Bagian III, Ams 22:17-24:22; IV, Ams 24:23-34; dan VI, Ams 30:1-31:31. Para sarjana kritis 

membantah klaim ini. Toy (op. cit. hlm. xix), yang membantah bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa 

dan berpendapat bahwa Yesaya dan para nabi bukanlah penulis kitab-kitab yang berkaitan dengan diri 

mereka, cukup wajar untuk tidak mengakui Salomo sebagai penulis karya ini. berdasar  banyak 

petunjuk internal, dia menyatakan bahwa kitab ini  ditulis pada zaman pasca-Pembuangan. Driver 

(S. R. Driver, Introduction to the Literature of the Old Testament, edisi keempat, hlm. 381 dst.) 

berpendapat bahwa bagian-bagian kitab ini berasal dari zaman pra-Pembuangan, namun  sedikit saja-

kalaupun ada-yang ditulis oleh Salomo. Pfeiffer (Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old 

Testament, hlm. 649-659) meneliti ciri-ciri khas internal Kitab Amsal dan berpikir untuk menetapkan 

tanggal dari berbagai strata. sebab  sastra hikmat di Mesir pada sekitar 1700-1500 SM murni bersifat 

sekular, dia berkesimpulan bahwa strata keagamaan dalam Amsal pasti berasal dari abad keempat 

SM. Setelah puas merekonstruksi sejarah pemikiran di Israel, dia menetapkan tanggal Kitab Amsal 

dalam kaitan dengan perkembangan itu. Kesimpulannya yaitu  bahwa kitab ini diselesaikan sesudah 

400 SM dan beberapa waktu sebelum akhir abad ketiga SM.  

 

W. F. Albright ("Some Canaanite-Phoenician Sources of Hebrew Wisdom" dalam Wisdom in Israel 

and the Ancient Near East, disunting oleh M. Noth dan D. W. Thomas, hlm. 13) mempelajari 

kemiripan bahasa Kitab Amsal dengan bahasa Ugarit, lalu dia berpendapat bahwa kitab ini  

"seluruh isinya barangkali berasal dari zaman pra-Pembuangan, namun  bahwa kebanyakan dari 

padanya disampaikan secara lisan hingga abad kelima. Dia berpendapat bahwa Salomo mungkin 

menulis bagian intinya. Lihat juga artikel oleh salah seorang murid Albright, Cullen I. K. Story, "The 

Book of Proverbs and Northwest Semitic Literature," JBL, LXIV (1945), 319-337. Charles T. Fritsch 

Page 59 of 130

(The Book of Proverbs, IB, Vol. IV, hlm. 775) berdasar  alasan-alasan seperti itq mengemukakan 

pendapat yang sangat mirip. Oesterley (W. O. E. Oesterley, The Book of Proverbs, hlm. xxvi) 

memberi tanggal sebelum zaman Pembuangan untuk sebagian besar kitab itu, namun  untuk Bagian I, 

Ams 1:1-9:18, dan Bagian VI, Ams 30:1-31:31, dia memberi tanggal abad ketiga "dan sangat 

mungkin lebih belakangan lagi."  

 

Faktanya yaitu  bahwa perhatian paling teliti atas bukti-bukti internal ini tidak dapat menetapkan 

tanggal untuk kitab ini  atau kumpulan-kumpulannya. Sekalipun amsal-amsal sekular mungkin 

lahir lebih dulu daripada amsal-amsal keagamaan, atau sekalipun aforisme satu baris ada lebih dulu 

daripada bentuk-bentuk amsal yang lebih maju, toh perkembangan bentuk-bentuk amsal yang rumit 

dan bersifat keagamaan pasti telah berkembang sepenuhnya sebelum zaman Salomo. Sekalipun 

Yeremia melawan orang-orang bijaksana pada zamannya (Yer 18:18), hal ini tidak memberi  bukti 

apa-apa mengenai tanggal penulisannya. Dia juga menentang para imam, para nabi dan para raja, 

namun  itu tidak membuktikan bahwa jabatan-jabatan ini berasal dari zaman pasca-Pembuangan! 

Pendekatan paling menjanjikan untuk menentukan tanggal penulisan berdasar  kriteria internal 

ialah pendekatan Albright melalui perbandingan kata-kata dan bentuk-bentuk dalam bahasa Ugarit.  

 

Bukti-bukti eksternal kita tidak begitu lengkap seperti yang kita harapkan, namun  itu tidak boleh sama 

sekali dihilangkan. Sebagai contoh, Ams 15:8 dikutip dengan rumusan, "Ada tertulis," dalam 

Dokumen Imam Zadok (kolom XI, baris 20; C. Rabin, The Zadokite Documents, hlm. 58). Ini 

menunjukkan bahwa kitab ini  dianggap sebagai kanonik pada abad kedua SM. Karya Salomo 

mengenai "amsal dan perumpamaan" disebut dalam Kitab Yesus bin Sirakh 47:17, bertanggal sekitar 

180 SM. Meskipun demikian, tidak ada bukti eksternal sebelum ini. Oesterley menyatakan adanya 

kasus peminjaman dari Amsal oleh Story of Ahikar dalam abad kelima (lih. tafsiran tentang Ams 

23:14).. Pendapat orang mengenai tanggal penulisan Kitab Amsal sangat dipengaruhi oleh 

pandangannya tentang kitab-kitab lainnya. Jika orang berpendapat bahwa Pentateukh belum ditulis 

sampai 400 SM dan Kitab-kitab para nabi sebagian besar berasal dari zaman pasca-Pembuangan, 

maka dia pasti akan menolak bahwa Salomo menulis Kitab Amsal. namun , jika tanggal penulisan 

ditetapkan pada zaman pra-Pembuangan untuk Pentateukh, Mazmur dan Kitab-kitab Para Nabi 

(sebagaimana oleh pengarang ini) maka tampaknya tidak ada alasan yang kuat untuk menyangkal 

anggapan tradisional bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang menyebut namanya.  

 

Fritsch (op. cit., hlm. 770) keberatan terhadap kebiasaan mengagung-agungkan kebijaksanaan Salomo 

padahal "dia telah melakukan banyak kekeliruan yang bodoh dalam segala bidang sepanjang 

hidupnya." Rasanya ini yaitu  penilaian yang kasar terhadap raja Israel yang paling cemerlang ini. 

Bahwa dia telah melakukan kesalahan-kesalahan pada masa pemerintahannya yang panjang selama 

empat puluh tahun, itu yaitu  jelas; namun  arkeologi memberi  kesaksian mengenai kecakapan 

Salomo di bidang arsitektur, kemampuan dalam pemerintahan, dan berbagai penemuan dalam bidang 

teknik yang berhubungan dengan pengecoran tembaga di Ezion-Geber. Memang, pada masa tuanya 

dia bersifat menindas (1Raj 12:10), namun  kemunduran pada masa tuanya itu jangan sampai membuat 

kita lupa pada kecemerlangannya saat  muda. Lebih banyak kritikus menyatakan keberatan terhadap 

karakter Salomo sebab  dia memiliki banyak sekali isteri. Akan namun , penelitian yang cermat 

terhadap berbagai teks (dan itu yaitu  satu-satunya sumber kita) memperlihatkan bahwa teks-teks itu 

tidak menggambarkan Salomo sebagai manusia penuh nafsu. Sebagai seorang raja penting atas suatu 

wilayah yang mencakup banyak raja kecil dari negara-negara kota (polis), Salomo pasti mengadakan 

banyak perjanjian. Tentu saja, dalam banyak kasus, perjanjian-perjanjian seperti itu dikuatkan oleh 

perkawinan Salomo dengan anak wanita  para raja kecil itu, sebagaimana kebiasaan kuno dan 

sebagaimana dalam kasus aliansi dengan Mesir (1Raj 9:16,17). Tidak diragukan bahwa perkawinan-

perkawinan Salomo sebagian besar merupakan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik. Kesalahan 

Salomo sebagian besar bukan terletak pada nafsu, melainkan pada tindakannya mengizinkan para 

isterinya-yang dari segi politik penting-membawa masuk penyembahan kafir mereka ke dalam kota 

Allah (1Raj 11:7-9).  

Kita sama sekali tidak mengetahui siapa penulis bagian-bagian lain dari Amsal (III, Ams 22:17-

24:22*; IV, Ams 24:23-34; VI, Ams 30:1-31:31). Lihat berbagai keterangan di dalam Tafsiran. 

sebab nya, kita tidak mungkin bersikap dogmatis mengenai tanggal penulisan bagian-bagian ini , 

kecuali mengatakan bahwa kita tidak perlu menetapkan tanggal penyuntingan final kitab ini  

sesudah berdasar  tradisi zaman Alkitab berakhir-yaitu sekitar 400 SM.  

 

KUMPULAN-KUMPULAN DALAM KITAB AMSAL.  

 

Toy (op. cit., hlm. vii, viii), dan orang-orang lain yang mengikuti pandangannya berpendapat bahwa 

munculnya kalimat atau ayat yang sama pada ‘banyak bagian kitab ini menunjukkan adanya penulis-

penulis berbeda untuk bagian-bagian itu. Toy mencatat lebih dari lima puluh persamaan, meskipun 

sebagian tidak terlalu mirip. Dia secara kurang hati-hati mengabaikan Ams 15:13; 17:22. Sebagian 

besar dari persamaan ini diberi perhatian dalam bagian Tafsiran tentang pembahasan ini. Toy tidak 

memberi  perhatian yang cukup terhadap fakta nyata bahwa dalam banyak.hal bagian dari sebuah 

ayat diulang dengan variasi-variasi yang mungkin penting. Pengulangan ini  tidak memberi  

bukti apa-apa mengenai adanya kumpulan amsal dari penulis-penulis berbeda. Kadang-kadang 

pengulangan ini  juga berada dalam bagian yang oleh Toy dianggap merupakan kumpulan yang 

menyatu, seperti Ams 14:12; 16:25. Di sini Toy terpaksa memberi  kesan bahwa ada kumpulan-

kumpulan tambahan. Lebih jauh, ada pengulangan serupa pada sebuah karya dari Mesir yang 

dianggap ditulis oleh penulis yang sama (bdg. Tafsiran dari Ams 22:28). Kelihatannya pendapat Toy 

didasarkan pada asumsi yang keliru. Jelas bahwa ada beberapa kumpulan berbeda dalam Amsal, 

sebagaimana ditunjukkan oleh judul-judulnya; namun  bukti-bukti internal berupa kesamaan-kesamaan 

ini tidak cukup untuk membantah bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang dinyatakan berasal dari 

dia.  

 

AMSAL DAN SASTRA HIKMAT LAIN.  

 

Sebagaimana penulisan puisi pada zaman purba tidak terbatas pada bangsa Ibrani, demikian juga 

bentuk sastra dari Amsal bukanlah khas Ibrani. Kita tidak perlu heran jika menemukan kumpulan-

kumpulan amsal di Mesir dan Mesopotamia pada zaman purba. Beberapa karya seperti itu patut 

diperhatikan, namun  ada dua yang paling penting-Story of Ahikar dan Wisdom of Amen-em-opet, yang 

harus dianggap rendah dalam beberapa detail.  

 

Salah satu yang paling tua di antara karya-karya Hikmat ini yaitu  Instruction of Ptah-Hotep, yang 

berasal dari sekitar 2450 SM di Mesir. Ada beberapa hal dalam karya ini  yang diduga memiliki 

persamaan dengan Kitab Amsal, namun  gaya penulisannya seperti amsal dan dalam beberapa hal 

gagasan-gagasannya sama. Misalnya, dalam Instruction of Ptah-Hotep ada perintah agar anak-anak 

taat, perintah agar rendah hati, bersikap adil, berhati-hati jika berada di meja orang yang terhormat, 

lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dan sebagainya. Jelas nasihat yang saleh seperti itu 

sudah ada sejak lama dan merupakan sifat lazim masyarakat Timur. Persamaan antara tulisan-tulisan 

itu dengan Amsal tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul kitab yang kita bicarakan ini. 

Pandangan serupa berlaku untuk Instruction of Ani dan sastra Mesir mula-mula lainnya. Beberapa 

karya sastra Mesopotamia patut diperhatikan. Apa yang dikenal sebagai Ayub versi Babel, berjudul I 

Will Praise the Lord of Wisdom, mengingatkan kita pada Ayub dam Alkitab kita. Di situ diceritakan 

seorang laki-laki dengan penyakit hebat yang disembuhkan oleh dewa-dewa. Ada juga Dialogue 

about Human Misery, yang kadang-kadang disebut Kitab pengkhotbah versi Babel. Kesamaan kata-

katanya dengan Kitab Pengkhotbah kecil sekali, namun  di dalamnya ada beberapa petuah.  

Berbagai batu tulis dari Babel yang berasal dari abad kedelapan SM atau sebelumnya, berisi juga 

amsal-amsal yang menasihati orang untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, tidak berkata-kata 

gegabah, tidak ikut dalam pertengkaran orang lain, dsb. Lagi-lagi, sebab  prinsip-prinsip moral ini 

sangat umum, maka keberadaannya di dalam batu-batu tulis itu tidak membuktikan apa-apa mengenai 

asal-usul Kitab Amsal, kecuali bahwa kitab itu dengan demikian seharusnya dianggap bertentangan 

Page 61 of 130

dengan latar belakangnya. Sebagaimana Musa mungkin mengambil dari hukum-hukum Hammurabi, 

dan sebagaimana Daud menggunakan beberapa bentuk puisi Kanaan, demikian juga Salomo dan para 

penerusnya mempunyai kekayaan materi latar belakang untuk digunakan sebagai ilustrasi. namun , 

dalam semua hal ini, bahan kuno yang bersifat umum itu dibentuk lagi oleh sang penulis Ibrani, yang 

dengan ilham Roh Allah menulis penyataan Allah bagi umat-Nya. (Semua tulisan ini dapat dilihat 

secara enak dalam koleksi hasil suntingan James B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to 

the Old Testament, edisi kedua).  

 

Yang lebih penting bagi penelaahan kita ialah Story of Ahikar, sebuah cerita dari Mesopotamia yang 

dibumbui banyak amsal. Cerita ini  telah lama dikenal, sebab ada bagian-bagiannya yang muncul 

pada tulisan-tulisan pengarang Kristen mula-mula. namun  pada tahun 1906, sebelas lembar papirus 

yang memuat kisah ini  ditemukan dalam penggalian-penggalian terhadap koloni Yahudi di 

Elefantin, Mesir. Salinan ini berasal dari sekitar 400 SM. Ahikar yaitu  penasihat Raja Sanherib dan 

Raja Esarhaddon di Asyur (Siria) sekitar 700 SM. Dia mengadopsi kemenakan laki-lakinya, yang 

dengan tipu muslihat membujuk raja untuk mengeksekusi Ahikar. namun , sang eksekutor yang 

bersahabat dengan terhukum, menyembunyikan Ahikar untuk sementara, kemudian memulihkan 

kedudukannya saat  murka raja telah mereda. Dua pertiga dari buku kecil ini berisi ucapan-ucapan 

Ahikar yang menampilkan beberapa  persamaan dengan Amsal. W. O. E. Oesterley dalam The Book 

Of Proverbs (hlm. xxxvii-lii) mencatat tiga puluh tiga persamaan, yang barangkali merupakan jumlah 

yang agak dibesar-besarkan. Story (op. cit. hlm. 329-336) juga memberi  perbandingan-

perbandingan penting. Sebagian besar dari persamaan-persamaan ini bersifat umum. Misalnya, Ahikar 

memperingatkan orang untuk tidak memandang wanita  yang dandanannya merangsang atau 

menaruh nafsu birahi terhadapnya, sebab  ini yaitu  dosa terhadap Allah (bdg. Ams 6:25, dsb.). Dia 

juga mendesak seorang ayah untuk menundukkan anak laki-lakinya saat  anak itu masih muda, jika 

tidak maka dia akan memberontak saat  dia merasa lebih kuat (bdg. Ams 19:18). namun , disangsikan 

bahwa ada kaitan langsung antara amsal-amsal Ahikar dengan amsal-amsal dalam Alkitab. Lebih 

jauh, amsal-amsal dari Ahikar kurang memiliki nilai moral seperti Kitab Amsal. Amsal-amsal ini  

tidak menampilkan perbedaan antara orang bijaksana dengan orang berdosa, yang menjadi ciri khas 

dari Amsal; sebaliknya amsal-amsal itu lebih bersifat sekular. Meskipun demikian, Kitab Amsal 

kadang-kadang memakai latar belakang sekular ini untuk mengembangkan ajaran moralnya. 

Sesungguhnya, sulit menentukan-jika ada ketergantungan-karya mana yang menjadi peminjam. Story 

of Ahikar, kendatipun berlatar belakang Asyur, telah beredar di antara bangsa Yahudi dan di 

kemudian hari di antara orang-orang Kristen. Salinan terbaik yang kita miliki yaitu  dari sumber 

Yahudi. Amsal-amsal Ahikar sangat mungkin dipengaruhi oleh Kitab Amsal atau oleh 

perbendaharaan amsal umum bangsa Yahudi, (lihat Tafsiran tentang Ams 23:14 mengenai 

kemungkinan Ahikar meminjam dari Amsal).  

 

Beberapa orang menganggap kasus ini  berbeda dengan Wisdom of Amen-em-Opet bangsa Mesir. 

Kumpulan amsal yang luar biasa ini bahkan lebih banyak memiliki kesamaan dengan kitab dalam 

Alkitab daripada yang dimiliki Ahikar. Tanggal penyusunannya tidak pasti. Papirus di atas lebih baru 

daripada karya ini, namun  papirus sendiri tidak dapat diketahui tanggalnya. F. Ll Griffith mengerjakan 

penerjemahan utama dari bahasa Mesir. Oesterley melaporkan tanggal yang diberikan oleh Griffith 

untuk kitab ini  ialah abad ketujuh sampai keenam SM, sedang H. O. Lange bahkan memberi  

tanggal yang lebih belakangan. Oesterley sendiri menetapkan tanggal karya ini  yaitu  abad 

kedelapan atau sesudahnya (The Wisdom of Egypt, hlm. 9, 10). Albright mendukung tanggal lebih 

awal, kira-kira 1100-1000 SM (op. cit. hlm. 6). Jika tanggal ini diterima, gagasan apapun mengenai 

asal-usulnya pasti bermuara pada karya asli bangsa Mesir. John A. Wilson (ANET, hlm. 421),  dalam 

terjemahannya atas karya ini , tidak mempunyai komitmen apapun mengenai tanggal penulisan.  

 

Sifat dari persamaan-persamaan ini  harus diamati. Dalam telaahnya yang tajam, Oesterley 

melihat bahwa Wisdom of Amen-em-Opet sama sekali tidak berciri Mesir. Karya ini memiliki etika 

yang tinggi serta konsep mulia tentang Allah-menunjuk pada semacam monoteisme. Dia menyatakan 

bahwa "yang seperti itu tidak ditemukan di manapun dalam sastra Mesir zaman pra-Kristen" (op. cit.,  

Page 62 of 130

hlm. 24). Oesterley menemukan beberapa persamaan dengan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama 

selain Amsal, misalnya Ul 19:14; 25:13-15; 27:18; 1Sam 2:6-8; Mzm 1; Yer 17:6 dst.). namun  ayat-

ayat ini tidak terlalu penting, sebab  sebagian besar membicarakan tema-tema yang juga ada  

dalam Kitab Amsal, di mana ada  banyak persamaan-Oesterly mencatat lebih dari empat puluh 

persamaan (The Book of Proverbs, hlm. xxxvii-liii). Persamaan-persamaan itu ada  dengan banyak 

bagian dari Amsal. namun , yang paling menonjol yaitu  dengan bagian Ams 22:17-23:14. Semuanya 

kecuali lima dari ayat-ayat ini memiliki persamaan dengan Amen-em-Opet. Yang paling mencolok 

dari semua, kitab Mesir ini dibagi menjadi tiga puluh pasal (yang cukup panjang) dan ditutup dengan 

nasihat untuk menaati tiga puluh pasal ini. Bagian ini dalam Kitab Amsal, yang meluas sehingga 

mencakup Ams 22:17-24:22, katanya berisi tiga puluh petuah (Oesterley, op. cit. hlm. 192). Kata 

pengantar dari bagian ini dalam Amsal yaitu  "Bukankah sudah kusuratkan bagimu beberapa perkara 

yang indah" (Ams 22:20, dalam Terjemahan Lama). Ini bisa dengan lebih benar dibaca dengan 

sedikit sekali vokal yang berbeda, "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu" (dari Alkitab versi 

Bahasa Indonesia Sehari-hari). Harus diakui bahwa penemuan hanya tiga puluh petuah dalam enam 

puluh sembilan ayat ini agak tidak terduga. Dan tiga puluh petuah ini  nyaris tidak sepanjang tiga 

puluh pasal dari kitab Mesir itu. Toh, persamaannya menonjol. Oesterley (The Wisdom of Egypt, hlm. 

105) menunjukkan fakta yang aneh bahwa bagian Ams 22:17-23:12 mempunyai persamaan dengan 

seluruh ayat kecuali tiga ayat pada bagian-bagian yang terserak dalam karya Mesir itu. namun , bagian-

bagian lain dari Amsal yang mempunyai lebih sedikit persamaan, yakni pada umumnya persamaan 

dengan pasal X dan pasal XXI dari Amen-em-Opet. Dari sini dia menjelaskan dengan cukup masuk 

akal bahwa penggunaan bahan pinjaman berbeda pada bagian-bagian yang berlainan dari dua kitab 

itu. Tidak ada karya yang meminjam langsung dari karya lainnya. Pada beberapa bagian, dua-duanya 

diambil dari sumber petuah-petuah yang sama. namun  dari keunikan karya bangsa Mesir itu Oesterley 

berpendapat bahwa dua-duanya bersumber pada latar belakang hikmat dan teologi Ibrani:  

 

Barangkali kita bisa melihat lebih jauh. Banyak yang telah diperoleh dari bacaan, "Tiga puluh petuah 

sudah kutuliskan untukmu." Jelas bahwa tiga puluh petuah dalam bagian Amsal ini bukan disalin dari 

kitab bangsa Mesir yang terdiri dari tiga puluh pasal di atas. Sebenarnya, separuh terakhir dari bagian 

dalam Kitab Amsal tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kitab Mesir itu. Kata "tiga puluh" 

dalam Amsal mungkin mengikuti contoh "tiga puluh" pada karya bangsa Mesir, namun  bagaimanapun 

juga, itu bukan dipinjam secara meniru mentah-mentah. Sebaliknya, kita perlu melihat di sini contoh 

lain tentang pemakaian khusus bilangan dalam sastra Hikmat. Contoh-contoh yang terkenal ialah 

keterangan-keterangan yang berbentuk klimaks "tiga hal… bahkan, ada empat hal" yang terlalu sulit 

untuk dimengerti (Ams 30:18 dst.) atau "enam perkara bahkan, tujuh perkara" (Ams 6:16-19). 

Keterangan-keterangan itu dapat dicocokkan dengan sastra Ugarit. Baal dikatakan membenci dua 

persembahan, bahkan tiga (C. H. Gordon, Ugaritic Literature, hlm. 30). Baal merebut enam puluh 

enam kota, bahkan tujuh puluh tujuh kota (ibid.,  hlm. 36). Kemudian, tujuh puluh tujuh saudara, 

bahkan delapan puluh delapan yang disebutkan (i bid.,  hlm. 55). Banyak contoh lain dapat diberikan. 

Tampaknya dalam petuah-petuah dari Amen-em-Opet dan dalam Ams 22:20 kita mempunyai dua 

contoh pemakaian tertulis dari bilangan tiga puluh, yang mungkin dapat diperbanyak jika sumber-

sumber kita mengenai Hikmat bangsa Mesir dan bangsa Ibrani kuno lebih lengkap. Mengenai 

perbandingan-perbandingan yang rinci dari Kitab Amsal dengan peribahasa-peribahasa Mesir, lihat 

tafsiran atas ayat-ayat di dalam Tafsiran.  

 

Kita juga perlu menyebut dua kitab apokrif, Yesus bin Sirakh, kira-kira dari tahun 180 SM, dan 

Kebijaksanaan Salomo, yang mungkin sedikit lebih belakangan. Yang luar biasa menarik, kitab-kitab 

ini dalam beberapa hal mencontoh Kitab Amsal. namun , dua-duanya berasal dari zaman belakangan, 

dan memperlihatkan perkembangan lebih jauh dalam personifikasi hikmat dan dalam soal-soal lain. 

Materi-materinya diambil dari Kitab Amsal, bukan sebaliknya, dan sebab  itu kita tidak perlu banyak 

mengacu pada kitab-kitab ini  untuk tujuan kita sekarang.  

 

AMSAL 

 

I. PENGHARGAAN SALOMO TERHADAP HIKMAT, YAITU TAKUT AKAN TUHAN. 

AMS 1:1-9:18. 

A. Pendahuluan. Ams 1:1-7 

B. wanita  bijaksana, Hikmat, lawan wanita  jahat. Ams 1:8-9:18 

 

II. BEBERAPA MACAM AMSAL SATU AYAT DARI SALOMO. AMS 10:1-22:16 

A. Amsal-amsal yang menampilkan kontras. Ams 10:1-15:33 

B. Amsal-amsal yang kebanyakan menampilkan persamaan. Ams 16:1-22:16 

 

III. AMSAL-AMSAL ORANG BIJAK, TIGA PULUH AMS 22:17-24:22 

IV. AMSAL-AMSAL ORANG BIJAK, TAMBAHAN. AMS 24:23-34 

V. AMSAL-AMSAL SALOMO YANG DISUNTING OLEH PEGAWAI-PEGAWAI HIZKIA. 

AMS 25:1-29:27 

 

VI. TAMBAHAN YANG TERAKHIR. AMS 30:1-31:31. 

A. Perkataan-perkataan Agur. Ams 30:1-33. 

B. Perkataan-perkataan Lemuel. Ams 31:1-9. 

C. Syair alfabetis tentang isteri yang cakap. Ams 31:10-31. 

 

 

PENGKHOTBAH 


Kitab Pengkhotbah mendapat  namanya dari Alkitab versi Yunani, yang judulnya yaitu  ekkle-

siaste-s, "sidang. Secara harfiah nama ini  dalam bahasa Ibrani yaitu  qõhelet, "orang yang 

bersidang/berhimpun." Ini dianggap mempunyai arti:  

1) "orang yang menghimpun" amsal-amsal bijak (bdg. Pkh 12:9,10), atau  

2) "orang yang berbicara di hadapan sidang/perhimpunan," yaitu seorang pengkhotbah atau 

pembicara, dengan pengertian bahwa orang menghimpun suatu kelompok orang untuk berbicara 

kepada mereka. Pengertian umum dari masing-masing hal itu yaitu  bahwa kata ini  

merupakan suatu judul teknis untuk menunjukkan suatu jabatan.  

 

 

 

Hingga abad kesembilan belas diyakini secara umum bahwa Salomo menulis seluruh kitab ini . 

Kini sebagian besar pakar sependapat bahwa Salomo bukan sang penulis, sebaliknya karya ini  

disusun pada zaman-zaman sesudah Pembuangan. namun , mereka biasa mengasumsikan bahwa 

Salomo yaitu  tokoh sentral kitab ini , dan bahwa seorang penulis yang tidak dikenal 

menggunakan dia sebagai alat sastra untuk menyampaikan pesannya. Dia tidak bermaksud menipu 

para pembacanya yang mula-mula, dan pasti kenyataannya tidak seorang pun disesatkan. Tidak 

adanya kepastian tentang kepenulisannya tidak menghancurkan kanonitas kitab ini .  

 

T U J U A N.  

 

Maksud utama sang penulis ialah menunjukkan berdasar  pengalaman pribadi bahwa apabila 

semua tujuan dan berkat-berkat duniawi itu sendiri dijadikan tujuan akhir, akan membawa kepada 

kekecewaan dan kehampaan. Kebajikan paling mulia dalam hidup ini ialah menghormati dan 

mematuhi Allah, dan menikmati hidup ini sepanjang orang dapat melakukannya. Jadi, sang penulis 

yaitu  orang yang penuh iman; dia hanya sangsi pada usaha dan hikmat manusia.  

 


PENGKHOTBAH 

 

 

I. PENDAHULUAN PKH 1:1-3 

A. Judul Pkh 1:1 

B. Tema Pkh 1:2,3 

 

II. TEMA DIPERLIHATKAN (I) PKH 1:4-2:26 

A. Melalui Kehidupan Manusia Secara Umum Pkh 1:4-11 

B. Melalui Pengetahuan Pkh 1:12-18 

C. Melalui Kesenangan Pkh 2:1-11 

D. Melalui Nasib Semua Manusia Pkh 2:12-17 

E. Melalui Kerja Keras Manusia Pkh 2:18-23 

F. Kesimpulan: Nikmatilah Hidup Sepanjang Anda Bisa Pkh 2:24-26 

 

III. TEMA DIPERLIHATKAN (II) PKH 3:1-4:16 

A. Melalui Hukum-hukum Allah Pkh 3:1-15 

B. Melalui Kefanaan Pkh 3:16-22 

C. Melalui Penindasan Kejahatan Pkh 4:1-3 

D. Melalui Pekerjaan Pkh 4:4-6 

E.  Melalui Penumpukan Kekayaan Secara Kikir Pkh 4:7-12 

F. Melalui Sifat Sementara dari Popularitas Pkh 4:13-16 

 

IV. KATA-KATA NASIHAT (A) PKH 5:2-7 

V. TEMA DIPERLIHATKAN (III) PKH 5:8-6:12 

A. Melalui Kekayaan yang Dapat Dinikmati Pkh 5:8-20 

B. Melalui Kekayaan yang Tidak Dapat Dinikmati Pkh 6:1-9 

C. Melalui Kepastian Nasib Pkh 6:10-12 

 

VI. KATA-KATA NASIHAT (B) PKH 7:1-8:8 

A. Kehormatan Lebih Berharga daripada Kemewahan Pkh 7:1 

B. Ketenangan Hati Lebih Baik daripada Kesembronoan Pkh 7:2-7 

C. Sikap Hati-hati Lebih Baik daripada Gegabah Pkh 7:8-10 

D. Hikmat Disertai Kekayaan Lebih Baik daripada Hikmat Belaka Pkh 7:11,12 

E. Sikap Pasrah Lebih Baik daripada Sikap Mendongkol Pkh 7:15-22 

F. Sikap Tidak Berlebihan Lebih Baik daripada Sikap Keterlaluan Pkh 7:15-22 

G. Laki-laki Lebih Baik daripada wanita  Pkh 7:23-29 

H. Berkompromi Kadang Lebih Baik daripada Berjalan Lurus Pkh 8:1-8 

 

VII. TEMA DIPERLIHATKAN PKH 8:9-9:16 

A. Melalui Keanehan Kehidupan Pkh 8:9-13 

B. Kesimpulan: Nikmatilah Hidup Sepanjang Anda Bisa Pkh 8:14-9:16 

 

VIII. KATA-KATA NASIHAT PKH 9:17-12:8 

A. Beberapa Pelajaran tentang Hikmat dan Kebodohan Pkh 9:17-10:15 

B. Beberapa Pelajaran tentang Pemerintahan Para Raja Pkh 10:16-20 

C. Beberapa Pelajaran tentang Sikap Berhati-hati Berlebihan Pkh 11:1-8