• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 1. Tampilkan semua postingan

Perjanjian lama 1


 KEJADIAN

“Segalanya Bermula Dari Sini”

PENTINGNYA KITAB KEJADIAN

Isi Alkitab tidak akan berarti banyak tanpa Kitab Kejadian. Kitab ini menjawab pertanyaan-

pertanyaan "penting" seperti mengapa kita berada di sini dari mana kita datang. Kejaian

berbicara tentang awal mula dunia, manusia, masyarakat, keluarga, bangsa-bangsa, dosa

dan keselamatan. Khususnya, Kejadian bercerita tentang lahirnya bangsa Yahudi.

GAYA PENULISAN KITAB KEJADIAN

1. Kitab  Kejadian  mengajarkan  kebenaran  dengan  menceritakan  kisah-kisah,  bukan

dengan memberikan pelajaran dalam bentuk yang lebih formal.

2. Kisah-kisah  yang  diceritakan  bersifat  sangat  manusiawi.  Tidak  ada  upaya  untuk

menutup-nutupi fakta, bahkan pahlawan-pahlawan besar sekalipun digambarkan apa

adanya.

3. Semua  kisah  diceritakan  dengan  penuh  keagungan  dan  dengan  gaya  yang

mengharukan. Dinilai dari standar apa pun, disimpulkan bahwa Kitab Kejadian ditulis

dengan cemerlang.

PENULIS KITAB KEJADIAN

Penulisnya tidak dikenal, namun  Perjanjian Baru secara tidak langsung menunjukkan bahwa

Kitab Kejadian ditulis oleh Musa dan pendapat ini tidak pernah dipertanyakan oleh gereja

sampai saat ini. Kita tidak tahu bagaimana kitab ini ditulis, namun  cukup beralasan untuk

menerima  Musa  sebagai  editor  yang  mengumpulkan  sejumlah  kisah  dan  fakta,  yang

beberapa di antaranya mungkin sudah lama beredar luas sebelum masa Musa.

NILAI KITAB KEJADIAN

Banyak orang mungkin menilai bahwa ilmu modern dan sejarah telah meremehkan nilai

Kitab  Kejadian.  Kendatipun demikian,  kita  tetap  dapat  membaca Kitab  Kejadian dengan

penuh kepercayaan akan nilai kebenarannya berdasarkan dua alasan, yaitu:

1. sebab   di  antara  semua  argumentasi  ilmiah  atau  sejarah  yang  mempertanyakan

ketepatan  Kitab  Kejadian  selalu  terdapat  lebih  dari  satu  yang  mendukung  Kitab

Kejadian.

2. Sebagian besar dari  yang diperdebatkan bukan terutama mengenai kebenaran itu

sendiri,  melainkan  tentang  cara-cara  pendekatan  modern  terhadap  kebenaran.

Apapun  anggapan  kita  tentang  kebenaran,  Kitab  Kejadian  tetap  merupakan

kebenaran.  Di  atas  segalanya,  Kitab  Kejadian  merupakan  kebenaran  yang

diungkapkan oleh Allah sendiri mengenai diri-Nya, kita dan dunia tempat kita hidup.

KELUARAN

“Lahirnya Satu Bangsa”

MENGAPA KELUARAN?

"Keluaran"  adalah  judul  kitab  Musa  yang  kedua  dalam  Perjanjian  Lama.  Sebenarnya

penggambaran mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir hanya sebagian dari isi kitab

itu.

MENGENAI APA?   

Kitab Keluaran terdiri dari tiga bagian penting.

1. Riwayat  Musa:  bagaimana  ia  diselamatkan  waktu  masih  bayi;  bagaimana  ia

dibesarkan di istana Firaun; bagaimana ia dipanggil  oleh Allah dari semak belukar

yang menyala; bagaimana ia menantang Firaun untuk membebaskan bangsanya dari

perbudakan;  dan  bagaimana  akhirnya  ia  memimpin  bangsanya  dengan  penuh

kemenangan menyeberangi Laut Merah menuju ke padang belantara Gunung Sinai.

2. Bagian kedua dari  Kitab Keluaran berisi  komunikasi  Allah dengan Musa di  Gunung

Sinai, pemberian Sepuluh Perintah Allah dan perintah-perintah lainnya.

3. Bagian terakhir terutama menceritakan tiga hal, yaitu: pembuatan Tabut Perjanjian

tempat menyimpan loh batu yang berisi Sepuluh Perintah Allah; pembuatan Kemah

Suci  untuk  tempat  menyimpan  kotak  Tabut  Perjanjian;  dan  aturan-aturan  terinci

tentang peribadatan.

APA ARTI KITAB KELUARAN BAGI KITA DEWASA INI?

Catatan  utama  dalam  Kitab  itu  ialah  tentang  penebusan,  yaitu  pembebasan  dari

perbudakan.  Kitab  Keluaran  memberikan  banyak  ilustrasi  yang  membantu  kita  untuk

mengerti penebusan kita sendiri melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Domba Paskah (Kel 12:1-

11) jelaslah melambangkan Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia (Yoh 1:29).

Kristus disebut sebagai Anak Domba Paskah oleh Paulus (1Ko 5:7), sementara itu Petrus

menamakan-Nya sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1Pe 1:19). Pada

bagian terakhir Kitab Keluaran kita diingatkan bahwa sebagai umat yang sudah ditebus, kita

dipanggil  untuk  menjadi  umat  penyembah  Allah.  Allah  mengajar  umat-Nya  dengan

memakai alat-alat bantu visual. Kemah Suci melambangkan kehadiran Allah di antara umat-

Nya. Perlu kita ingat bahwa Kristus dikatakan berdiam (berkemah) di antara kita (Yoh 1:14).

Jadi, Kitab Keluaran merupakan contoh bagaimana Perjanjian Lama menerangi Perjanjian

Baru. Bilamana kita mempelajari Kitab Keluaran kita melihat cara Allah melepaskan umat-

Nya dari perbudakan serta rencana-rencana selanjutnya bagi mereka, dan kisah ini berlaku

bagi setiap orang yang menyadari kebutuhannya untuk ditebus.

IMAMAT

“Peraturan mengenai kehidupan dan penyembahan”

MENGAPA IMAMAT?

Sebagian besar isinya menyangkut imam-imam bangsa Lewi, namun  pengulangan kata-kata,

"Berbicaralah kepada orang Israel..." menunjukkan bahwa kitab itu juga diperuntukkan bagi

semua orang. Kitab itu harus dianggap sebagai bagian dari Pentateukh, lima kitab pertama

dari  Alkitab.  Keluaran  menceritakan  bagaimana  Allah  membebaskan  bangsa  Israel  dari

Mesir  dan  membuat  perjanjian  dengan  mereka.  Imamat  menerangkan  bagaimana

kehidupan dan penyembahan bangsa perjanjian itu diatur.

SIAPA PENULISNYA?

Tak ada nama penulis disebut dalam Imamat. Sebagian besar bahan tulisan diberikan oleh

Allah kepada Musa di  Sinai,  namun   kita  tidak  dapat  mengatakan kapan atau oleh  siapa

semua bahan tulisan itu pada akhirnya disatukan dan disusun.

MENGENAI APA?

Imamat  terutama  terdiri  dari  hukum-hukum  dan  peraturan-peraturan,  namun   terdapat

kerangka cerita dan ilustrasi yang menunjukkan bahwa semua peraturan ini cocok dengan

sejarah  yang  sebenarnya.  Secara  umum kitab  itu  terbagi  atas  dua  bagian,  pasal-pasal

mengenai  Hari  Penebusan  Dosa  terdapat  di  bagian  tengah.  Bagian  pertama  adalah

mengenai pemulihan hubungan dengan Allah -- peraturan mengenai korban dan penyucian.

Bagian akhir adalah tentang hidup sebagai umat Allah.

HUKUM

Sebagian  besar  hukum  dalam  Imamat  adalah  mengenai  upacara  keagamaan,  namun 

terdapat juga hukum mengenai kebersihan dan sikap moral yang serupa dengan Sepuluh

Perintah. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara hukum-hukum yang berbeda-beda

itu; semuanya mencerminkan maksud Allah terhadap bangsa Israel dan semuanya harus

dipatuhi.  Dalam  Perjanjian  Baru  pengorbanan  Kristus  membawa  penyucian  yang

menyeluruh, oleh sebab  itu hukum-hukum mengenai korban dan upacara penyucian tidak

lagi berlaku. Kendati demikian, semua hukum itu sangat berguna untuk menjelaskan apa

arti kematian Kristus bagi kita.

KORBAN

Ada enam korban yang digambarkan dalam Imamat, yang digolongkan ke dalam tiga jenis.

1. KORBAN PERSEMBAHAN. Bertujuan untuk memuliakan Allah dan mempersembahkan

diri kepada-Nya.

 korban bakaran: binatang utuh dibakar

 korban sajian: termasuk di dalamnya persembahan bukan binatang

2. KORBAN KESELAMATAN. Tujuannya ialah untuk menjaga hubungan dengan Allah.

 korban perdamaian: sebagian korban dibakar, sisanya dimakan dalam o suatu

acara makan bersama

3. KORBAN PENYUCIAN. Tujuannya untuk menghapus dosa dan memperbarui hubungan

dengan Allah.

 korban penghapus dosa: untuk dosa-dosa terhadap Allah

 korban penebus salah: di mana ada ganti rugi yang harus dibayar

 korban pentahbisan: bagi para imam

BILANGAN

“Bangsa Israel di padang gurun”

MENGENAI APA?

Nama kitab  ini  dalam Alkitab  Ibrani  berarti  "di  padang  gurun"  dan  judul  itu  mencakup

semua peristiwa yang dilukiskan dalam kitab itu. Judul "Bilangan" dipakai oleh sebab  kitab

itu  mencatat  "penjumlahan"  bangsa  itu  pada  tahun kedua (pasal Bil  1)  setelah  mereka

meninggalkan  Mesir  dan  tahun  keempat  puluh  (pasal Bil  26).  Sebagian  isi  kitab

menceritakan  pengalaman  bangsa  Israel  selama  empat  puluh  tahun  sebelum  mereka

memasuki  Tanah  Perjanjian.  Dalam  banyak  hal  Bilangan  menjadi  bacaan  yang

menyedihkan, oleh sebab  banyak dari penderitaan bangsa Israel adalah akibat langsung

dari  ketidaksetiaan  dan  ketidaktaatan.  Orang  boleh  mengatakan  bahwa  Bilangan

merupakan catatan mengenai kegagalan manusia terhadap kesetiaan ilahi.

APA KESAN KESELURUHAN?

Salah satu cirinya ialah bahwa kitab ini tidak mencoba untuk menyajikan kepada kita suatu

narasi penuh atau kisah bersambung yang ketat. Sebagai perbandingan, hanya sedikit yang

diceritakan mengenai masa-masa yang dilewati di padang gurun, namun  peristiwa-peristiwa

tertentu ditonjolkan dan digambarkan secara panjang lebar. Kesan keseluruhan ialah bahwa

Allah tetap berkuasa melawan pemberhalaan dan imoralitas bangsa Israel. Sebagian Kitab

Bilangan bersifat sejarah dan sebagian lagi bersifat undang-undang.

SIAPAKAH TOKOH-TOKOH UTAMA YANG DISEBUT DALAM KITAB BILANGAN?

Sudah jelas bahwa Musa banyak sekali disebut dalam kitab ini -- perhatian Musa terhadap

Hobab (Bil 10:29-32); doanya di Tabera (Bil 11:10-15); reaksinya terhadap kecaman (Bil 12);

imannya yang kurang (Bil 13); keprihatinannya terhadap kehormatan Allah (Bil 14:13-19);

ketidakikutsertaannya masuk ke dalam Tanah Perjanjian (Bil 20:2-13). Harun juga disebut,

terutama  dalam hubungannya  dengan  pemberontakan  Korah  (Bil  16).  Miryam,  saudara

perempuan  Musa,  juga  merupakan  salah  seorang  tokoh  dalam  kitab  ini.  Pasal Bil

12 menceritakan bagaimana ia dihukum oleh sebab  iri hati. Nama-nama lain yang disebut

termasuk Yosua dan Kaleb, dua orang mata-mata yang berani percaya kepada Allah dan

hanya mereka berdua dari generasi itu yang diizinkan masuk ke Kanaan. Kisah mengenai

Bileam dan Balak juga dicatat dalam kitab itu (pasal Bil 22-24).

APA KESUKARAN-KESUKARAN YANG DIHADAPI?

Para  kritikus  Alkitab  mengajukan  sejumlah  pertanyaan  tentang  ketepatan  sejarah  dan

statistik dari kitab ini. Sebagian besar, walaupun tidak semua, dari kitab ini dapat diterima

jika  kita  menyadari  bahwa  para  penulis  bangsa  Ibrani  tidak  selalu  mengikuti  urutan

kronologis peristiwa-peristiwa secara ketat. Mereka lebih mementingkan arti dan pentingnya

peristiwa.

ULANGAN

“Suatu tantangan bagi umat Allah”

NAMA

Nama Ibrani untuk Kitab Ulangan dirangkum dalam baris pembukaan yang berbunyi "inilah

perkataan-perkataan  itu".  Nama Ulangan  diambil  dari  kata  Yunani  yang  berarti  "hukum

kedua" yang merupakan terjemahan yang sedikit kurang tepat dari "salinan dari hukum ini"

(Ula 17:18).

STRUKTUR KITAB ULANGAN

Dalam Ulangan kita membaca pengulangan dan penekanan kembali dari perjanjian yang

dibuat antara Allah dan bangsa Israel di Sinai. Bentuk perjanjian dibuat sesuai dengan pola

umum naskah perjanjian di daerah Asia Timur Dekat kuno yang terdiri dari latar belakang

historis,  daftar  kewajiban,  uraian  mengenai  berkat  dan  kutuk,  serta  pengaturan  untuk

menyimpan dan membaca dokumen perjanjian. Dalam Ulangan pola ini ditampilkan dalam

bentuk tiga  pidato Musa di  depan bangsa Israel  sebelum ia wafat  untuk mengingatkan

mereka apa artinya menjadi umat Allah.

PENULIS DAN WAKTU PENULISAN

Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa sebagian besar  bahan didapat langsung dari

Musa sendiri. Pendapat bahwa seluruh kitab ini dibuat selama masa reformasi Hizkia atau

Yosia, atau bahkan setelah masa pengasingan tidak dapat didukung, sebab  tidak ada isi

kitab yang berhubungan dengan tradisi  Raja Daud atau Bait Allah; kedua fakta ini amat

penting di kemudian hari. Pada kenyataannya pola hidup yang digambarkan cocok dengan

latar  belakang  kehidupan  bangsa  Israel  sebelum  adanya  kerajaan.  Namun  demikian,

rupanya telah terjadi  beberapa penyuntingan dan penyusunan kembali  sehingga sangat

sukar untuk menentukan kapan akhirnya kitab itu diterbitkan. Contoh-contoh perjanjian dan

prinsip-prinsip  yang terdapat  dalam Keluaran  seringkali  dikemukakan secara  berbeda di

dalam Ulangan. Mungkin hal  ini  dilakukan untuk memenuhi situasi  yang berbeda, namun 

andaikata uraian itu disesuaikan untuk kebutuhan zaman yang kemudian, itu tidak berarti

bahwa tidak seluruh isi kitab didasarkan pada bahan-bahan dari Musa.

MENGAPA ULANGAN DITULIS?

Tujuan utama dari pidato-pidato Musa ialah untuk meyakinkan bangsa Israel sebagai umat

Allah sebelum ia menyerahkan tampuk pimpinan kepada Yosua dan bangsa itu berjuang

melawan orang Kanaan. Secara keseluruhan Ulangan mengajarkan isi dan arti agama Israel,

menantang mereka untuk melaksanakan peraturan-peraturannya dan mendorong bangsa

itu  untuk  menyerahkan  diri  sekali  lagi  pada  pelayanan  kepada  Allah.  Kitab  itu

menggambarkan  "kehidupan  berbahagia"  dalam  persekutuan  dengan  Allah  sambil

menikmati segala berkat-Nya, dan membandingkannya dengan akibat yang akan terjadi jika

mereka  melalaikan  perjanjian.  Kitab  itu  hampir  dapat  digambarkan  sebagai  suatu  kitab

"undang-undang" bagi bangsa Israel dan bukan hanya sebagai buku pegangan bagi para

pemimpin mereka.

YOSUA

“Merebut Tanah Kanaan”

BAGAIMANA KITAB ITU DITULIS

Yosua  lebih  dikenal  sebagai  pahlawan  daripada  sebagai  penulis  kitab  itu.  Baik  tradisi

maupun kitab itu sendiri (Yos 24:26) mengakui bahwa banyak bahan tulisan berasal dari

Yosua.  Sebagian berasal  dari  hasil  kesaksian pandangan mata,  namun   kemudian seorang

penyunting  rupanya  telah  menyatukan  semua  bahan  ke  dalam bentuk  yang  kita  kenal

sekarang (Yos 4:8, 9; 7:26; 8:28; 24:29, 30).

YOSUA

Pada  waktu  keluar  dari  Mesir  Yosua  masih  seorang  pemuda  dan  kemudian  ia  menjadi

asisten pribadi Musa. Ia ternyata seorang tangan-kanan yang dapat dipercaya dan setia.

Laporan golongan kecilnya, bersama Kaleb, mengenai pengintaian di Kanaan menunjukkan

bahwa ia seorang yang beriman dan berani. Ia adalah pengganti alamiah bagi Musa dan

mengambil  alih  pimpinan  pada  usia  tujuh  puluh  tahun.  Yosua  menempatkan  suku-suku

bangsa Israel di Kanaan dan ia meninggal pada usia 110 tahun.

TUJUAN KITAB YOSUA

Kitab Yosua merupakan kitab yang pertama dan terkemuka yang berisi penuturan sejarah

mengenai  bagaimana  Allah  memenuhi  janji-Nya  untuk  membawa  umat-Nya  ke  tanah

perjanjian. Tema itu dapat ditemukan dalam Yos 1:11: "Menduduki negeri yang diberikan

Tuhan Allahmu kepadamu..."

PENAKLUKAN KANAAN

Merebut negeri itu bukan suatu tugas yang mudah. Yosua memimpin bangsa yang masih

terdiri dari suku-suku melawan bangsa-bangsa yang sudah mapan. Setelah merebut kota-

kota kunci seperti Yerikho dan Ai, Yosua terlibat dalam pertempuran-pertempuran di bagian

tengah, selatan dan utara Kanaan. Meskipun ia berhasil dengan gemilang, tugasnya belum

selesai pada saat ia mulai menempatkan suku-suku bangsa Israel di pemukiman mereka

masing-masing (Yos 13:1).

BAGAIMANA MENAFSIRKAN YOSUA

Walaupun Yosua merupakan sebuah kitab sejarah, isinya banyak berbicara kepada orang

Kristen masa kini. Ibrani 4:1-11 menunjukkan bahwa kitab itu dimaksudkan sebagai sarana

untuk memberi  semangat  kepada orang Kristen,  sehingga mereka tidak kehilangan apa

yang sebetulnya ingin Allah berikan kepada mereka. Meskipun Yosua berbicara mengenai

peperangan dan daerah geografis, kita dapat menerapkan prinsip-prinsip yang dipakai oleh

Allah pada masa itu dalam peperangan rohani yang kita hadapi dan wilayah rohani yang

dapat kita miliki.

HAKIM-HAKIM

“Lingkaran Dosa”

HAKIM-HAKIM

Hakim-hakim  merupakan  kitab  yang  penting  sebab   memberikan  gambaran  mengenai

hubungan antara Yosua,  yang memimpin bangsa Israel  masuk ke Kanaan,  dengan Saul,

Daud dan raja-raja Israel  lainnya.  Selama masa hakim-hakim, Israel  lambat laun belajar

untuk menjadi suatu bangsa dan bukan lagi sebagai dua belas suku yang berdiri sendiri-

sendiri.

PENULISNYA

Kita tidak tahu siapa penulis kitab itu. Mungkin juga dikumpulkan dari catatan-catatan pada

masa itu dan lama sesudahnya baru diterbitkan. Tiga kali dinyatakan dalam kitab itu bahwa

"pada masa itu Israel tidak mempunya raja" (Hak 17:6; 18:1; 21:25), hal ini mengisyaratkan

bahwa kitab itu diterbitkan beberapa waktu sesudah kerajaan dibentuk.

SIAPA HAKIM-HAKIM ITU?

Judul kitab itu agak membingungkan, sebab  kedua belas "hakim-hakim" itu tidak semata-

mata mengurusi  masalah hukum; mereka adalah para pangeran yang diilhami oleh Roh

Kudus untuk memberikan semacam kepemimpinan karismatis pada saat-saat diperlukan.

Ada dua belas hakim, dan yang menarik ialah bahwa Yefta menyebut Allah sebagai "Tuhan,

Hakim" (Hak 11:27), memakai panggilan yang sama seperti  yang diberikan kepada para

hakim. Mereka menyadari bahwa mereka dipimpin oleh kuasa ilahi dan bukan semata-mata

pilihan manusia.

LINGKARAN DOSA

Kitab ini terdiri dari pendahuluan (Hak 1:1-2:5) dan lampiran (Hak 17:1-21:25), dan sisanya

berisi kisah dari kedua belas hakim dan enam masa penindasan. Lingkaran peristiwa yang

terjadi:

1. Rakyat hidup sejahtera. Tidak ada keperluan khusus dengan Allah. Oleh sebab  itu,

Allah  ditinggalkan  dan  ilah-ilah  dari  negara  tetangga  yang  kafir  mengambil  alih

kedudukan Allah.

2. Penindasan.  Allah  meninggalkan  mereka  menurut  kemauan  mereka  sendiri.  Allah

membiarkan mereka mengurus diri mereka sendiri! Moab dan Amon, bangsa Filistin

dan orang Midian semuanya berbalik menyerang Israel.

3. Pertobatan. Israel mengakui kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah, memohon

pengampunan.  Setiap  kali  Allah  selalu  bersedia  mengampuni  dan  memulihkan

mereka.

4. Pembebasan.  Seorang hakim muncul  untuk membebaskan umat Allah.  Setiap kali

jelas bahwa Allahlah yang menyelamatkan melalui hakim itu.

5. Rakyat kembali hidup sejahtera... lingkaran dosa berulang kembali.

RUT

“Imbalan Kesetiaan”

LATAR BELAKANG

Rut digambarkan sebagai kitab tentang kesetiaan manusia. Penulisnya tidak diketahui. Kitab

itu menunjuk pada masa Hakim-hakim dan memberikan gambaran mengenai kehidupan

sehari-hari bangsa Israel pada waktu itu. Cerita itu sendiri hanya meliputi jangka waktu kira-

kira sepuluh tahun.

TUJUAN

Pada dasarnya Rut merupakan kisah persahabatan Rut dengan ibu mertuanya, Naomi. Kitab

ini  memiliki  daya tarik  tersendiri,  sebab mengingatkan kita bahwa Raja Daud adalah

seorang keturunan Rut dan suaminya, Boas. Lebih dari itu, dilihat dari sudut kemanusiaan,

Yesus dapat menelusuri nenek moyangnya melalui Rut (Mat 1:5). Dengan demikian kitab ini

menceritakan kepada kita bahwa keluarga penebus, yang darinya seribu tahun kemudian

dilahirkan Sang Penebus, memiliki  seorang anggota keluarga yang bukan Yahudi.

KISAH-KISAH UTAMA

Rut  memberikan  gambaran  sekilas  tentang  adat  istiadat  perkawinan  pada  masa  itu.

Merupakan kewajiban dari famili terdekat janda yang memiliki  anak untuk menggantikan

kedudukan suaminya yang sudah meninggal itu. Tanggung jawab ini biasanya jatuh pada

saudara  laki-laki  orang  yang  sudah  meninggal  itu  (Ula  25:5-10).  Suami  Rut,  Mahlon,

meninggal tanpa meninggalkan anak. Boas bukanlah iparnya, namun  ia diceritakan sebagai

seorang sanak dari Naomi (Rut 2:1). Rut harus menunjukkan kepada Boas bahwa ia tertarik

pada kemungkinan untuk menikah lagi, dan hal ini dilakukannya (Rut 3:1-18). Boas tahu

bahwa ia masih memiliki  hubungan keluarga dengan Rut, namun  ia mengatakan bahwa

masih ada sanak yang hubungannya lebih dekat daripada dia. Hanya jika sanak terdekat itu

menolak,  maka baru ada kemungkinan bagi  Boas untuk menggantikannya.  Dalam pasal

empat  kita  membaca  tentang  proses  bagaimana  akhirnya  Rut  menjadi  istri  Boas.  Ada

masalah lebih lanjut, yaitu siapa saja yang mengawini Rut diminta untuk menyelamatkan

sebidang tanah yang dijual oleh Naomi atas namanya. Keluarga terdekat itu tidak bersedia

melakukannya (Rut 4:6), dan oleh sebab nya ia kehilangan haknya (Rut 4:7, 8). Dengan

demikian terbuka jalan bagi Boas untuk menikahi Rut.

1 SAMUEL

“Bagaimana bangsa Israel mendapat seorang raja”

KISAH TENTANG TIGA ORANG

Pada mulanya 1 dan 2 Samuel merupakan satu kitab. Namun demikian, sebab  kitab kedua

melulu bercerita mengenai raja Daud, maka yang pertama mengisahkan ketiga orang tokoh

yang hidupnya saling berkaitan satu sama lain yaitu Samuel, Saul dan Daud. Riwayat yang

diceritakan tidak utuh; siapapun yang mengumpulkan seluruh kisah itu tentu mengambilnya

dari  beberapa  sumber.  Hal  itu  tidak  menjadi  masalah  asal  kita  ingat  bahwa bagi  para

penulis  kuno arti  suatu  kejadian  lebih  penting daripada ketepatan waktu.  Kitab  Samuel

bukan hanya semata-mata sebagai sejarah,  namun   merupakan cerita tentang bagaimana

Allah  menangani  umat-Nya.  Dalam pada  itu  riwayat  yang  diceritakan  sungguh-sungguh

terjadi.  Bahkan,  pahlawan  bangsa  seperti  Daud  digambarkan  sebagai  orang  yang

bermasalah dan seorang manusia biasa.

"KAMI MENGINGINKAN SEORANG RAJA"

Kitab Hakim-hakim menyimpulkan bahwa anarki merajalela di Israel pada masa itu, sebab 

"Israel  tidak  memiliki   raja"  (Hak  21:25).  Samuel,  hakim terakhir,  walauoun  terkenal

namun   pengaruhnya  hanya  setempat  dan  terbatas.  Umat  Israel  memerlukan  seorang

pemimpin  bangsa.  Oleh  sebab   itu,  permohonan  mereka  untuk  mendapat  seorang  raja

bukanlah  semata-mata  sebagai  suatu  kecaman  terhadap  kepemimpinan  Samuel,  namun 

menunjukkan betapa manusiawinya pengharapan mereka. Pada kenyataannya hanya Allah

yang  dapat  memimpin  mereka  untuk  memperoleh  kemenangan;  kekalahan-kekalahan

mereka tidak disebabkan sebab  mereka tidak memiliki  seorang raja, namun  oleh sebab 

mereka telah melupakan perjanjian dengan Allah (1Sa 10:18,19;  12:6-15).  Mereka telah

mengikuti cara-cara penyembahan orang kafir. Gagasan mengenai pembentukan kerajaan

itu sendiri  tidak salah,  namun   mereka menginginkan seorang raja seperti  bangsa-bangsa

kafir  yang  ada  di  sekitar  mereka.  Samuel  memperingatkan  mereka  bahwa  raja-raja

memiliki  potensi untuk kebaikan dan kejahatan, seperti yang akan mereka lihat sendiri di

kemudian hari.

BANGSA FILISTIN

Oleh sebab  bangsa Israel  tidak  membinasakan orang Filistin  ketika  mereka menduduki

Kanaan, maka negara tetangga Israel ini terus menerus menjadi ancaman bagi keamanan

mereka.  Kita  membaca mengenai  bangsa Amori,  Amalek dan  Amon,  namun   kebanyakan

mengenai bangsa Filistin. Bangsa-bangsa ini tinggal di lima kota pantai yaitu Asdod, Gat,

Ekron, Gaza dan Askelon, dan mereka mengurung Israel (1Sa 13:19-21). Saul dan Yonatan

memulai suatu revolusi, namun  raja Daudlah yang akhirnya menumpas bangsa Filistin dan

yang lainnya secara tuntas.

2 SAMUEL

“Keluarga Daud”

GARIS KETURUNAN DAUD

II  Samuel  seringkali  dianggap  sebagai  Sejarah  Kehidupan Daud.  Di  dalamnya  kita  baca

tentang keberhasilan, kegagalan dan dosa-dosa Daud, khususnya mengenai liku-liku dan

perjuangan hidup yang harus dialaminya. Namun, terselip dalam kisah ini suatu janji yang

kemudian digenapi  di  dalam Kristus.  Daud bukan saja pilihan Allah pada waktu itu;  dia

menjadi awal garis keluarga yang akan membawa kepada Sang Penebus sendiri.

MUSUH-MUSUH DAUD

Daud  memiliki   karunia  besar  untuk  menjadi  pemimpin  pasukan  militer.  Dia  menarik

"orang-orang perkasa" yang kegagahannya menjadi legenda di zaman mereka. Pada saat ia

sudah  menguasai  seluruh  bangsa  Israel,  ia  mengkonsolidasikan  kerajaannya  dengan

mengalahkan  negara-negara  tetangga  yang  susah  dikendalikan  dengan  melancarkan

serangkaian serangan (2Sa 8:1-14; 10:1-9; 11:1; 12:26-31). Tindakan ini melindungi daerah

kekuasaannya dari  serangan musuh dan memberinya kekuasaan atas daerah yang lebih

luas daripada yang pernah ada sebelumnya.

PEMERINTAHAN DAUD

Sekali-sekali kita membaca siapa yang berkuasa dalam pemerintahan Raja Daud (2Sa 8:15-

18; 20:23-26). Kemampuan Absalom untuk menimbulkan ketidakpuasan rakyat (2Sa 15:1-6)

menunjukkan bahwa Daud bukanlah orang yang dapat memerintah dengan baik. Walaupun

Daud  dapat  mendorong  timbulnya  kesetiaan  yang  sungguh-sungguh,  namun   kenyataan

bahwa Absalom dapat menimbulkan perang saudara berarti ada kemungkinan bahwa pada

waktu raja mulai tua, ia kehilangan kontrol dalam banyak hal. Sensus yang diadakannya

dianggap sebagai suatu kekeliruan sebab hal itu boleh jadi dihubungkan dengan rencana

kerja paksa (2Sa 24:1-10), sesuatu yang kemudian dieksploitasi secara kejam oleh anaknya,

Salomo.

MASALAH RUMAH TANGGA DAUD

Poligami tidak dilarang dalam Perjanjian Lama, namun  kisah kehidupan rumah tangga Daud

menunjukkan kejelekan-kejelekannya. Pada masa itu memiliki  banyak istri dan gundik

serta  keluarga  besar  merupakan  simbol  status.  Namun,  keluarga  semacam  itu  dapat

menimbulkan bahaya. Setiap anak merupakan calon pewaris takhta, dan jika anak itu keras

kepala, ia menjadi ancaman bagi sang ayah. Di samping itu, Daud bukanlah orang-tua yang

terbaik. Dia gagal mendisiplin anak-anaknya dan sebagai akibatnya ia harus menanggung

derita.

1 RAJA-RAJA

“Kerajaan Israel bersatu dan terpecah”

ISI KITAB

I Raja-raja merupakan bagian pertama dari kisah yang pada mulanya merupakan satu kitab

yang  menceritakan  mengenai  kehidupan  bangsa  Israel  selama  empat  abad  sesudah

kematian Daud dan pembuangan bangsa Israel ke Babel. Kitab itu menceritakan bagaimana

suatu negara yang kuat dan bersatu terpecah menjadi dua; bagaimana kerajaan utara yang

lebih  besar  yang terus menerus berpaling dari  Allah akhirnya dimusnahkan;  bagaimana

Yehuda juga gagal untuk memelihara perjanjian dengan Allah dan bagaimana negeri  itu

juga  dilanda  bencana,  yang  mencapai  puncaknya  pada  penghancuran  Yerusalem  dan

pembuangan besar-besaran ke Babel. I Raja-raja merangkum 120 tahun pertama dari kisah

yang lengkap.

SIAPA PENULISNYA?   

Kitab  ini  mungkin  ditulis  oleh  seorang  nabi  atau  sejumlah  nabi  yang  menulis  di  Babel

selama  masa  pembuangan,  sekitar  tahun  550  SM.  Bahan  tulisan  diambil  dari  berbagai

sumber,  seperti  catatan resmi pemerintah atau kumpulan kisah-kisah tentang para nabi

yang kemudian disatukan sedemikian rupa untuk memberikan tekanan pada pokok-pokok

yang ingin diungkapkan oleh si penulis.

TUJUAN PENULISAN

Dalam I dan II Raja-raja penulis tidak ingin mencoba untuk memberikan suatu kisah yang

lengkap dari seluruh peristiwa yang terjadi pada masa itu. Ia menceritakan dengan panjang

lebar mengenai peristiwa dan tokoh-tokoh yang dianggapnya penting seperti Salomo atau

Elia,  namun   tokoh  lainnya  hanya  diceritakan  secara  sepintas.  Raja-raja  hanya  menulis

mengenai  pentingnya peristiwa yang terjadi  dalam hubungannya dengan perkembangan

kehidupan rohani manusia.

PANDANGAN PENULIS

Masalah  yang ditunjukkan  oleh  penulis  ialah  betapa  pentingnya  bagi  umat  Allah  untuk

menjaga  perjanjian  mereka  dengan-Nya.  Manusia  dan  bangsa-bangsa  keduanya  dinilai

sampai  seberapa  jauh  mereka  mencari  dan  mengikuti  kehendak  Allah.  Jika  mereka

mengasihi  Allah  dan  patuh  pada  perintah-perintah-Nya,  maka  Allah  akan  memberkati

mereka;  jika  mereka  berpaling  dari-Nya,  maka  bencara  akan  menimpa  mereka.  Dalam

banyak hal sikap seorang raja dianggap sebagai gambaran dari sikap bangsa itu secara

keseluruhan; dalam satu segi seorang raja merupakan wakil dari rakyatnya.

METODE PENULISAN

Kisah  mengenai  kedua  bangsa  Israel  dan  Yehuda  mudah  diikuti  jika  kita  tahu  metode

penulisan  yang  dipakai.  Kita  selalu  diberi  kisah  baru  mengenai  setiap  negeri  secara

berurutan. Sebagai contoh, gambaran peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seorang raja

Israel  diikuti  oleh kisah raja-raja Yehuda yang naik takhta selama pemerintahannya dan

seterusnya.

2 RAJA-RAJA

“Pembaruan dan pemberontakan”

MENGENAI KITAB ITU

II Raja-raja melanjutkan kisah tentang kerajaan Israel dan Yehuda beberapa saat sebelum

kematian Elia,  dan diteruskan sampai  Israel  dihancurkan dan Yehuda dibuang ke Babel.

Diceritakannya kembali  kisah Elia  dalam II  Raja-raja  mengingatkan  kita  bahwa kitab ini

merupakan bagian kedua dari satu kitab Raja-raja yang utuh. Tidak ada alasan yang jelas

mengenai pembagian kitab menjadi  I  dan II  Raja-raja, namun   oleh sebab  panjang kedua

kitab hampir sama, kemungkinannya ialah hal itu dilakukan untuk mempermudah penulisan

dalam dua gulungan.  Beberapa kisah  yang kita  temukan dalam Raja-raja  juga terdapat

dalam Tawarikh,  walaupun penulis  Tawarikh menulis  dari  sudut  yang agak berbeda dan

hanya menulis tentang kerajaan selatan, yaitu Yehuda.

MENGAPA KITAB ITU DITULIS?   

II Raja-raja meliputi kurun waktu kurang lebih 270 tahun, dua kali lebih panjang daripada

periode yang meliputi I  Raja-raja. Namun, sebagian besar kisah menceritakan kehidupan

Elisa. Seperti juga dalam I Raja-raja, tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dalam

kerohanian bangsa, seperti Hizkia dan Yosia diceritakan dengan panjang lebar. Sedangkan

yang lain, walaupun mereka memerintah dalam jangka waktu yang lama dan membawa

kemakmuran, hanya diceritakan secara sepintas saja. Orang Yahudi mengakui bahwa semua

kitab sejarah sungguh-sungguh memiliki  maksud rohani, dan mereka mengelompokkan

kitab-kitab tersebut dalam "nabi-nabi terdahulu".

PARA NABI

Banyak dari nabi-nabi penulis (yang dikenal dalam Kitab Suci bangsa Ibrani sebagai "nabi-

nabi yang belakangan") melayani dalam periode yang terangkum dalam II Raja-raja, dan

kitab-kitab  yang  mereka  tulis  memberikan  kepada  kita  banyak  informasi  mengenai

seberapa jauh korupsi yang terjadi dalam kedua negeri itu. Namun demikian, hanya sedikit

sekali yang kita pelajari mengenai karya Raja-raja dan pengaruh mereka. Diceritakan bahwa

Hizkia pergi menemui Yesaya, namun  Amos, Hosea, Mikha dan Yeremia tidak disebut-sebut

sama sekali. Penulis kitab Raja-raja lebih menekankan mengenai bagaimana para raja dan

rakyatnya menanggapi pesan-pesan Allah daripada menulis tentang bagaimana dan dari

mana mereka menerima pesan itu.

RAJA-RAJA

Sukar untuk membuat suatu daftar tentang semua raja dan masa pemerintahan mereka,

sebab  waktu kurang setahun selalu  dihitung sebagai  setahun.  Yang sering terjadi  ialah

seorang putra menjabat sebagai pejabat sementara bersama-sama sang ayah, kemudian

waktu pemerintahan itu  dihitung sebagai  masa pemerintahan mereka berdua.  Hal  yang

sering membingungkan ialah mengenai nama-nama raja. Ada seorang Raja Yehoram dan

Raja Yoahas, baik di Israel maupun di Yehuda, dan sebab  kedua nama ini sering disingkat

sebagai Yoram dan Yoas, maka kita harus berhati-hati dalam membedakan mereka.

1 TAWARIKH

“Sejarah kerohanian bangsa Israel”

TENTANG APA I TAWARIKH?   

I Tawarikh merupakan buku sejarah yang khususnya menceritakan pemerintahan Raja Daud

(1000-961 SM).  Pasal-pasal  pembukaan (1Ta 1-9)  merupakan  ringkasan  tentang sejarah

mula-mula bangsa Israel dengan menuliskan silsilah keturunan yang dimulai dari Adam dan

seterusnya.  Kitab  ini  secara  singkat  juga  menyebutkan  kejatuhan  Saul  dan  kenaikan

Salomo. namun , sisanya melulu bercerita mengenai Daud.

BAGAIMANA CARA PENULISAN I TAWARIKH?

I  Tawarikh tidak ditulis  oleh seorang penulis,  namun   oleh seorang penyusun tulisan yang

dengan  pandainya  menggabungkan  sejumlah  tulisan  yang  terdahulu  (lihat 1Ta  9:1;

29:29,30)  untuk  dijadikan  suatu  kesatuan  sejarah.  Tradisi  Yahudi  menegaskan bahwa si

penyusun itu ialah Ezra. Kitab ini merupakan bagian dari suatu karya yang terdiri dari empat

jilid,  yang  termasuk  didalamnya  2  Tawarikh,  Ezra  dan  Nehemia.  Ada  beberapa  usul

mengenai masa penyusunan kitab itu. Jika Ezra dianggap sebagai penyunting, maka kitab

itu boleh jadi disusun dalam abad keempat sebelum Masehi.

MENGAPA I TAWARIKH DITULIS?

Kisah sejarah yang terdapat dalam I Tawarikh ditulis dengan suatu tujuan tertentu; tidak

hanya mencatat fakta-fakta sejarah, namun  juga mengemukakan arti dari apa yang terjadi. 1

Tawarikh merupakan kitab sejarah yang ditulis menurut pandangan Tuhan. Kitab ini ditulis

pada  waktu  umat  Allah  hidup  dalam  lingkungan  yang  bersiifat  sangat  duniawi.  Negeri

mereka telah hancur sebab  perang, akibatnya banyak dari mereka yang runtuh imannya.

Mereka tidak lagi dapat melihat campur tangan Allah dalam masalah-masalah mereka atau

percaya bahwa Dia adalah Allah yang menepati apa yang telah dijanjikannya. I Tawarikh

menjelaskan  mengapa  peristiwa  sejarah  berjalan  sedemikian  rupa  dan  mengapa  masih

mungkin menekuni iman.

APAKAH 1 TAWARIKH DAPAT DIPERCAYA?

Si penyusun seakan-akan memilih peristiwa sejarah untuk membuktikan argumentasinya,

dan sebagai akibatnya banyak fakta sejarah bangsa Israel yang terlewatkan dan gambaran

sejarah yang disusunnya agak berbeda dengan yang ditemukan dalam Samuel atau Raja-

raja.  Dari  kisah-kisah  yang dihilangkan terdapat  kisah Elia  dan peristiwa-peristiwa yang

kurang berkenan dalam kehidupan Daud. Walaupun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa

I  Tawarikh tidak akurat.  Si  penyusun tidak mengada-ada,  ia  semata-mata memakai  apa

yang ada untuk menarik pelajaran tertentu untuk masa itu. Sejarah masih ditulis dengan

cara seperti itu. Sebenarnya, sukar untuk menulis sejarah tanpa memilih fakta yang dapat

dibuktikan. dan itulah yang dilakukan oleh si Penyusun.

2 TAWARIKH

“Pelajaran mengenai Kesetiaan”

ISI II TAWARIKH   

II  Tawarikh  menceritakan  kisah  umat  Allah  dengan  pemeritahan  Raja  Salomo.  Kitab  itu

menelusuri  berbagai  kejadian yang menimpa Yehuda selama hampir  empat ratus tahun

sampai akhirnya negeri  itu hancur,  rakyatnya dibuang dan ibukotanya dihancurkan (587

SM). Kisah kehancuran ini bukan merupakan kata akhir Tawarikh. Kalimat-kalimat terakhir

dari  kitab  ini  menunjuk  kepada  masa  depan  yang  penuh  harapan  ketika  bangsa  ini

dipulihkan melalui maklumat raja Kores (2Ta 36:23).

MENGAPA KITAB INI DITULIS

Si penyusun memiliki  tiga alasan untuk menyusun kitab ini:

1. Untuk  menafsirkan  jalannya  sejarah.  Ia  menerangkan  mengapa  beberapa  raja

memerintah dengan damai dan sejahtera sedangkan yang lain memerintah dalam

pergolakan. Rahasia keberhasilan itu terletak pada kesetiaan kepada Allah.

2. Untuk mengajar. Si penyusun tidak puas hanya dengan menguraikan masa lalu dalam

tulisannya. Ia ingin menghimbau umat Allah untuk belajar dari kesalahan-kesalahan

yang terjadi sepanjang sejarah, dan setia kepada-Nya sekarang.

3. Untuk  menggugah  iman.  Banyak  orang  Yahudi  merasa  Allah  telah  meninggalkan

mereka.  Dengan menjelaskan  sebab-sebab  dari  penderitaan  mereka,  si  penyusun

mendorong mereka untuk kembali percaya kepada Allah yang besar dan berkuasa.

Untuk  komentar  terinci  mengenai  mengapa  2  Tawarikh  ditulis  bacalah  komentar

mengenai 1 Tawarikh.

CIRI KHUSUS

1. Si penyusun setia kepada keluarga Daud dan memperlihatkan bagaimana Allah tetap

setia memenuhi janji-Nya bahwa takta Daud akan tetap aman (2Ta 21:7) kendati Ia

memiliki  alasan untuk tidak melakukannya.

2. Kerajaan Israel Utara dianggap melakukan kesalahan, sebab  memisahkan diri dari

takta Daud (2Ta 13:1-12). Dalam seluruh kitab tindakan bangsa israel dianggap jahat

(misalnya 2Ta 21:6,13).  Sejarah  bangsa  Israel  diabaikan  kecuali  kisah  yang dapat

dipakai sebagai peringatan untuk tidak melakukan kesalahan.

3. Peristiwa dalam sejarah dipakai sedemikian rupa sehingga arti kerohaniannya dapat

ditonjolkan.  Si  penyusun tidak mengada-ada maupun memutarbalikkan sejarah; ia

juga bukannya tidak teliti.  1 dan 2 Raja-raja memberikan gambaran sejarah yang

lebih lengkap tentang kisah bangsa Israel dan Yehuda, namun  kedua kitab itu tidak

menunjukkan  motivasi  yang  sama  untuk  menggunakan  sejarah  guna  mengajar

masalah rohani.

EZRA

“Bangsa yang bangkit dari debu”

LATAR BELAKANG

Yerusalem dihancurkan oleh tentara Babel pada tahun 587 S.M. dan bangsa Yehuda dibuang

ke pengasingan.  Peristiwa itu terjadi  hampir  lima puluh tahun sebelum Kerajaaan Babel

ditumbangkan  oleh  bangsa  Persia.  Penguasa  mereka,  Koresy,  mengambil  suatu

kebijaksanaan  baru  dengan  mengizinkan  orang-orang  buangan  kembali  ke  tanah  air

mereka, memberikan segala bantuan yang diperlukan untuk membangun kembali rumah-

rumah ibadah dan menyelenggarakan ibadah mereka kembali. Banyak orang Yahudi yang

sudah betah tinggal di pengasingan dan mereka tidak ingin kembali ke tanah air mereka.

Kitab Ezra dimulai  dengan kembalinya orang-orang Yahudi kurang lebih tahun 538 S.M..

Pasal Ezr 1-6 menceritakan apa yang terjadi dua puluh dua tahun kemudian ketika di bawah

pimpinan  Zerubabel  mereka  menghadapi  banyak  kekecewaan,  namun   akhirnya  mereka

dapat menyelesaikan pembangunan kembali Rumah Tuhan. Ezra sendiri tidak diperkenalkan

sampai  pasal Ezr  7:1.  Ia  memimpin  serombongan  orang  buangan  kembali  ke  tanah  air

mereka pada tahun 458 S.M.. Pasal Ezr 7-10 menceritakan cara Ezra membangun kembali

bangsa itu menjadi bangsa yang hidupnya berkenan kepada Allah. Perlu dicatat bahwa ada

masa tenang selama hampir enam puluh tahun di antara pasal Ezr 6:22 dan Ezr 7:1.

KITAB ITU

Kitab Ezra merupakan bagian dari suatu kisah bersambung yang dimulai dari permulaan I

Tawarikh sampai pada akhir Nehemia.

Perhatikan:

1. Ezra mungkin tidak menulis kitab itu sendiri, walaupun bagian kedua kisah itu diambil

dari catatan hariannya.

2. Seringkali  sukar  untuk  menentukan  berbagai  tahun  kejadian.  Kisah  mengenai

perlawanan di bawah Artahsasta (Ezr 4:7-24) menunjuk pada masa yang kemudian

dibandingkan dengan apa yang terjadi pada bagian permulaan kitab ini.

3. Ezra bukanlah semata-mata catatan sejarah. Si Penulis menggunakan sejarah untuk

mengajar  kita  bagaimana  Allah  menangani  umat-Nya.  Pengajaran-pengajaran  itu

masih berlaku sampai saat ini.

EZRA

Ezra adalah seorang terpelajar yang menjadi Menteri Negara urusan orang Yahudi dalam

pemerintahan Artahsasta. Kehidupannya yang boleh jadi sangat mengesankan di hadapan

raja ditandai dengan tiga sifat, yaitu: ia berdedikasi tinggi mempelajari kitab suci (Ezr 7:10);

ia  memperagakan keberanian  untuk  percaya kepada Allah (Ezr  8:21-23)  dan ia  dengan

rendah hati menunjukkan solidaritas terhadap bangsanya (Ezr 9:6-15).

NEHEMIA

“Pembangunan kembali tembok Yerusalem”

LATAR BELAKANG SEJARAH

Setelah  kematian  Salomo,  kerajaan  Israel  terpecah  menjadi  dua  --  kerajaan  utara  dan

selatan. Ibukota kerajaan utara ialah Samaria, dan dalam tahun 722 SM kota itu direbut oleh

bangsa Asyur dan banyak rakyatnya dijadikan tawanan. Hal yang hampir sama terjadi juga

terhadap kerajaan selatan, Yehuda, ketika Yerusalem direbut oleh bangsa Babel pada tahun

586 SM. Dalam tahun 539 SM bangsa Babel sendiri dikalahkan oleh bangsa Persia -- dan

raja Persia mendorong sebagian orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka. Kira-kira

50.000 orang kembali dan memulai tugas untuk membangun kembali Rumah Tuhan, namun 

kemudian  mereka  menjadi  kecil  hati  dan  hanya  mampu  membangun  fondasinya  saja.

Sejarah selanjutnya agak ruwet, namun  rupanya kira-kira enam belas tahun kemudian Allah

mengirimkan dua orang nabi,  Hagai  dan Zakharia,  untuk menggugah semangat  rakyat.

Mereka  sudah  menempati  rumah  mereka  masing-masing,  namun   mengabaikan

pembangunan kembali Rumah Tuhan. Sebagai akibatnya, pekerjaan pembangunan dimulai

lagi dan kali ini Rumah Tuhan dapat diselesaikan. Dalam tahun 486 SM serombongan lagi

orang Yahudi kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Ezra. Ezra berusaha sebaik mungkin

untuk membangun semangat bangsanya dan mengangkat moral  serta kehidupan rohani

mereka, namun  ia banyak menemui kekecewaan. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun

445 SM Allah berbicara kepada seorang lain,  yaitu Nehemia dan menugaskannya untuk

secara  khusus  menekuni  pembangunan  kembali  tembok  kota  yang  sudah  hancur  itu.

Beberapa orang menempatkan kisah kembalinya Ezra sesudah Nehemia, namun  keterangan

tersebut tidak meyakinkan.

SIAPAKAH NEHEMIA?

Sebagai  pengurus  minuman  raja,  Nehemia  mencicipi  lebih  dahulu  anggur  yang  akan

disajikan kepada raja untuk membuktikan bahwa minuman itu tidak mengandung racun.

Hanya orang yang paling dipercaya dapat menduduki posisi tertinggi ini dalam istana raja

Persia. Namun demikian, hati Nehemia lebih cenderung untuk melakukan tugas yang Allah

bebankan kepadanya. Ia digambarkan sebagai seorang pengusaha yang hidupnya penuh

diwarnai  doa.  Nehemia  tidak  melupakan  bangsanya  sendiri.  Ia  bersedia  meninggalkan

kehidupan mewah dalam istana dan pergi ke Yerusalem untuk me


perjanjian lama 1

 


Otoritas Perjanjian Lama 

 Untuk mempelajari kitab Perjanjian Lama kita tidak bisa 

mempelajarinya dari perspektif sastra dan menghargainya 

sebagai karya sastra. sebab  Perjanjian Lama yaitu  penyataan 

diri Allah yang memiliki otoritas dari Allah. Kitab Perjanjian Lama 

yaitu  tulisan yang diilhamkan Allah yang memiliki otoritas 

sebagai perkataan Allah (II Tim. 3:16). Keotoritasan Kitab 

Perjanjian Lama ini diakui oleh Yesus dan murid-murid-Nya. 

Dimana Kristus sering mengutip kitab-kitab Perjanjian Lama 

sebagai dasar pengajaran-Nya (mis. Mat. 4:1-11). Paulus juga 

sering mengutip kitab Perjanjian Lama dalam pengajarannya. 

Dalam empat suratnya yang utama, yaitu Surat Roma, 1 dan 2 

Korintus, Galatia tampak jelas bahwa Paulus berpegang pada 

Perjanjian Lama. Ia engutip Perjanjian Lama lebih dari 90 kali 

dan sebagian besar kutipan ini  terdapat dalam surat-surat 

itu. 

 

Penulisan Kitab Perjanjian Lama 

 Penulisan Kitab Perjanjian Lama kemungkinan dimulai 

pada zaman Musa, kira-kira tahun 1500 BC. Dan diakhiri pada 

zaman sesudah  pembuangan, yaitu kira-kira tahun 400 BC. Oleh 

sebab  itu, penulisan kitab Perjanjian Lama ditulis kira-kira 1000 

2 

 

tahun. Penulisannya pun berasal dari berbagai tempat dengan 

latar belakang yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki 

pekerjaan yang berbeda dan hidup dalam zaman yang berbeda.  

Bahasa yang digunakan untuk menulis kitab Perjanjian Lama, 

yaitu bahasa Ibrani dan Aram. Kedua bahasa ini merupakan 

anggota rumpun bahasa yang disebut bahasa Semit. Suatu 

nama yang berasal dari Sem, anak laki-laki Nuh. Orang Semit 

aslinya berasal dari Jazirah Arab. Mereka migrasi ke 

Mesopotamia, Siria, Palestina dan bagian-bagian Afrika. 


LATAR BELAKANG KITAB PL 

 

 Untuk mengetahui latar belakang Kitab Perjanjian Lama 

secara menyeluruh maka kita perlu memperhatikan beberapa 

hal, di antaranya:  

 

Sejarah Perjanjian Lama 

 Sejarah Perjanjian Lama ini sangat berkaitan dengan 

keadaan pada zaman itu. Khususnya kerajaan-kerajaan atau 

bangsa-bangsa yang berkuasa saat itu. Untuk dapat mengetahui 

dengan lebih jelas maka perhatikanlah peta berikut ini: 

 

Catatan: Peta pada zaman Abraham dalam kitab Kejadian.  

Dimana pada waktu itu yang berkuasa di daerah Timur Tengah 

yaitu Orang Het, Orang Babel dan Orang Mesir. 

 

 

Catatan: Peta diatas menjelaskan tentang peristiwa Bangsa 

Israel kembali ke Kanaan sesudah  diperbudak di Mesir.  Dalam 

kitab Kejadian dijelaskan Yusuf di dijual dan akhirnya menjadi 

penguasa di Mesir.  Lalu orang Israel dibawa Yusuf ke Mesir,  

Namun sesudah  Yusuf mati, orang Israel diperbudak di Mesir.  

Tuhan mengutus Musa membawa bangsa Israel kembali ke 

tanah Kanaan.  Tanah yang diberikan Tuhan kepada bangsa 

Israel sesuai janji Tuhan kepada Abraham. 


Catatan: Bangsa Israel dibawah kepemimpinan Musa kembali Ke 

Tanah Kanaan, sesudah  Musa mati.  Musa digantikan Yosua.  

Yosua yang membawa bangsa Israel menguasai tanah Kanaan, 

dan membaginya kepada kedua belas suku Israel sehingga 

bangsa Israel menetap di tanah Kanaan. 


Catatan:  sesudah  bangsa Israel menetap di Tanah Kanaan, 

bangsa Israel masih dipimpin Yosua.  Lalu Yosua mati digantikan 

hakim-hakim, pada zaman Samuel bangsa Israel minta raja.   

Raja pertama bernama Saul. Lalu Saul digantikan Daud dan 

daud digantikan Salomo.  sesudah  Salomo mati, kerajaan Israel 

pecah jadu dua yaitu Kerajaan Selatan atau Yehuda ibu kota 

Yerusalem, dan kerajaan Utara atau kerajaan Israel ibu kota 

Samaria. Pada zaman itu muncul banyak nabi.  Dibawah peta 

para nabi. 

 

 

sebab  kejahatannya, kerajaan Utara dengan ibu kota Samaria 

dibuang ke Asyur. 

 

 

sebab  kejahatannya, kerajaan Yehuda dibuang ke Babel. 

 

Dunia Perjanjian Lama 

 Dunia Perjanjian Lama sebenarnya berada pada daerah 

Timur Dekat Kuno yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah. 

Dimana kisah-kisah yang dicatat dalam kitab Perjanjian Lama 

beraada di lingkungan Timur Tengah yang meliputi kawasan 

Mesopotamia di Timur, Asia Kecil di Utara, Siro Palestina dan 

Mesir di Barat dan Semenanjung Arabia di Selatan.  

1. Kawasan sabit yang subur. Daerah ini meliputi lembah dan 

delta sungai Nil, dataran sempit sepanjang pantai Laut 

Tengah daerah Palestina dan lembah sungai Tigris dan Efrat. 

Daerah ini merupakan daerah pertanian sebab  dialiri aliran 

air sungai. 

 

Sabit yang subur  


2. Mesopotamia. Nama Mesopotamia berarti 'negeri di antara 

sungai-sungai', yaitu sungai Tigris dan sungai Efrat. 

Mesopotamia merupakan negeri asal orang-orang Israel 

sebab  para leluhur Ibrani tinggal di daerah Haran di Padan-

Aram antara sungai Tigris dan Efrat. 


 

3. Asia Kecil. Daerah Asia Kecil terletak di Barat Laut 

kawasan sabit yang subur. Daerah ini terdiri dari 

pegunungan dan perbukitan. Walaupun begitu, daerah 

ini merupakan jembatan yang menghubungkan Asia 

Tengah dengan Eropa.  

 

 

4. Siro Palestina. Daerah ini merupakan daratan yang 

menjadi jembatan antara benua Afrika dan Asia. Daerah 

ini sangat subur khususnya di sepanjang pesisi Laut 

Tengah. Bagian Utara Siro Palestina meliputi negara 

Siria dan Libanon sekarang. Sedang bagian Selatan 

meliputi bangsa Israel dan sebagian dan sebagian 

Yordania. 

 

 

5. Mesir. Mesir terletak di sebelah Barat Daya Palestina 

daerah ini subur sebab dialiri sungai Nil. Kerajaan Mesir 

ini memiliki hubungan yang erat dengan sejarah Israel 

sebab bangsa Israel pernah dijajah selama 350 tahun. 

 


Palestina 

 Pada awal abad ke-XII sM, bangsa-bangsa Laut yang 

berasal dari sekitar pulau Kreta atau Yunani mencoba menyerbu 

Mesir. sebab  gagal sebagian dari mereka termasuk yang 

dikenal sebagai orang Filistin mendarat di pantasi Palestina 


 

bagian Selatan. Dalam abad ke-V sM, Herodotus (bapak sejarah) 

menyebut daerah ini sebagai Siria Filistin (en te Palaistine Surie, 

Herodotus 1105). Kemudian kata Yunani Palaistina muncul 

dalam bahasa Latin sebagai Palestina. Tanah itu biasa disebut 

juga sebagai tanah Kanaan, diambil dari penduduknya yang 

utama. Tanah itu dikenal sebagai tanah Perjanjian, yaitu 

perjanjian yang diadakan Allah dengan Abraham (Kej. 17:7-8). 

sesudah  pendudukan Israel, tanah itu disebut negeri Israel (I Sam. 

13:19). 

 Tanah Palestina panjangnya kira-kira 242 km dan Dan ke 

Bersyeba (Utara-Selatan) dan lebarnya 160 km dari Laut Tengah 

ke sungai Yordan (Timur - Barat). Negeri Palestina terbagi dalam 

empat daerah utama yang membujur dari Utara ke Selatan, yaitu 

dataran pantai, daerah perbukitan tengah, cela Yordan dan 

dataran tinggi trans Yordania. Wilayahnya terbagi atas: daerah 

Galilea di Utara, Samaria di daerah Tengah - Utara Palestina, 

Yehuda di bagian Selatan-Tengah Palestina, dataran Negev 

(padang rumput kering) di Selatan, dan semenanjung Sinai yang 

membentuk perintang besar antara Palestina dan Mesir. 

KANONISASI KITAB PL 

 

 

 Sebenarnya kata "kanon" tidak ada dalam Alkitab, namun 

akar kata kanon terdapat dalam I Raj. 14:15, Ayub 14:15, yaitu 

dari kata "qaneh", artinya gelagah. Gelagah ini biasanya 

digunakan sebagai alat pengukur. Sehingga Kanonisasi Kitab 

Perjanjian Lama menunjuk pada kitab-kitab yang diilhamkan 

Allah memiliki otoritas tertinggi untuk iman dan praktek 

keagamaan bagi masyarakat Ibrani, selanjutnya menjadi ukuran 

atau standar yang dipakai untuk menilai kitab-kitab sejarah, 

tradisi dan ajaran agama yang ditulis belakangan. 

 

Proses Pembentukan Kanon PL 

 Memang tidak ada informasi yang jelas tentang proses 

pembentukan Kanon Kitab Perjanjian Lama, namun secara garis 

besar, proses pembentukan kanon kitab Perjanjian Lama dapat 

dijelaskan sebagai berikut: 

1. "Ucapan yang berotoritas". Pada mulanya penyataan Allah 

kepada umat Ibrani dalam kebanyakan kasus disampaikan 

dengan lisan. Misalnya: perkataan "beginilah firman Tuhan 

dan dengarlah firman Tuhan" (Ul. 5:1; Yeh. 5:5). Ucapan-

uacapan yang berwenang ini diteruskan kepada generasi-

generasi berikutnya sebagai "Firman Tuhan" dalam bentuk 

tradisi lisan (bnd. Yes. 48:17). 

2. Dokumen-dokumen tertulis yang resmi. Suatu perkataan, 

ucapan yang berotoritas yang diilhamkan oleh Allah dicatat 

dan dipelihara untuk masyarakat Ibrani dalam bentuk tulisan 

(Kel. 34:3-4). 

3. Mengumpulkan dokumen-dokumen. Proses pengumpulan 

kitab Perjanjian Lama memerlukan waktu yang lama. Hal ini 

disebabkan sebab  proses penulisan kitab Perjanjian Lama 

yang dilakukan kira-kira 1000 tahun dan ditulis diberbagai 

tempat yang berbeda. 

4. Menyortir dokumen-dokumen tertulis dan menetapkan kanon. 

Kira-kira ada empat periode penting dalam sejarah Perjanjian 

Lama ketika penyortiran dokumen-dokumen dan penetapan 

sebuah kanon yaitu  penting sekali bagi keagamaan 

masyarakat Ibrani: a). Selama pengalaman di Sinai sesudah 

peristiwa keluaran; b). Selama perlihan dari teokrasi ke 

monarki di Israel; c). Pada masa keruntuhan Yerusalem dan 

sesuadah itu pembuangan ke Babel, dan; d). Sebagai bagian 

dari pembaharuan di bawah pimpinan Ezra (ahli kitab), 

Nehemia (gubernur), pada masa pasca pembuangan di 

Yerusalem. 

 

Kriteria Penyaringan Kanon 

 Ada beberapa kriteria yang dipakai dalam proses 

penyaringan guna menetapkan kanon Perjanijian Lama, yaitu: 

1. Sifat ilham ilahi yang hakiki dan otoritas yang dapat dikenal 

oleh para pemimpin keagamaan masyarakat Ibrani melalui 

penerangan oleh Roh kudus. Misalnya, penyataan langsung 

dari Roh Allah dalam kasus Musa dan ketujuh puluh nabi  

dalam Bil. 11:16-30, dan penggenapan perkataan ilahi, 

seperti dalam Yer. 28:9; 44:28). 

2. Siapa penulisnya merupakan satu faktor penting dalam 

menilai kitab-kitab untuk kanonitas. Pada umumnya, orang-

orang yang menulis kitab-kitab yang terhimpun dalam kanon 

Ibrani menduduki jabatan kepemimpinan yang ditunjuk oleh 

Allah seperti pemberian hukum, nabi, raja dan imam. 

3. Isi tiap-tiap kitab diteliti sehubungan dengan konsistensi 

internal dan pengajarannya dan kesatuan menyeluruh dari 

tema dan berita dengan pengalaman perjanjian yang tersurat 

dalam kitab-kitab lain yang diakui sebagai "firman Tuhan". 

4. pemakaian  dokumen-dokumen atau kitab-kitab tertentu oleh 

masyarakat Ibrani tidak dapat diragukan lagi telah 

mempengaruhi penyaringan kanon. Kitab-kitab yang dibaca, 

dipelajari, disalin dan ditaati oleh umat Israel selanjutnya 

diakui sebagai kanon. 

 Pada hakekatnya, kita harus menerima bahwa Roh Kudus 

yang sama mengilhami penulis-penulis manusia untuk menulis 

kitab-kitab itu, juga telah membimbing para pemimpin Ibrani 

selama proses penyaringan kanon. 


 

Pembagian Kitab Perjanjian Lama 

                  

 Dalam Yudaisme, Alkitab Ibrani dikenal dengan sebutan 

''tanakh", di dalamnya mencerminkan tiga bagian dari Perjanjian 

Lama, yaitu: 'T' untuk Torah atau Taurat, 'N' untuk Nebiim atau 

nabi-nabi, dan 'K' untuk ketubim atau tulisan-tulisan. 

Pengelompokkan ini telah ada sejak abad ke-II sM. Hal ini 

dijelaskan dalam prolog Ben Sirakh dan Talmud Babelonia (Baba 

Bahtra 14b - 15a) serta tokokh-tokoh Yahudi dan Kristen selama 

empat abad pertama sesudah Kristus, yaitu Philo, Yosefus, 

Melito, Tertulianus, Origenes, Eusebius, Hieronimus dan 

Agustinus. 

 Kitab Suci umat Ibrani hanya berjumlah 24 kitab bukan 39 

kitab. Hal ini disebab kan dalam Kitab Suci umat Ibrani, kitab 

Samuel, Raja-raja, Tawarikh, Ezra - Nehemia dianggap satu 

kitab. sedang  12 kitab nabi kecil dipandang sebagai kitab 

kedua belas Nabi yang menyatu. Di bawah ini akan dijelaskan 

pembagian kanon Perjanjian Lama Yahudi dan Kristen: 

TANAK KATOLIK ROMA 

DAN ORTODOKS 

PROTESTAN 

Torah Pentateukh Pentateukh 

1. Bereshith 

(Kejadian) 

2. Shemoth 

(Keluaran) 

3. Wayiqra 

(Imamat) 

4. Bemidbar 

1. Kejadian 

2. Keluaran 

3. Imamat 

4. Bilangan 

5. Ulangan 

1. Kejadian 

2. Keluaran 

3. Imamat 

4. Bilangan 

5. Ulangan 

(Bilangan) 

5. Debarim 

(Ulangan) 

Nevi'im (Nabi 

Awal) 

6. Yosua 

7. Shofetim 

(Hakim-hakim 

8. Samuel 

9. Melakim (Raj-

raja) 

10. Yesaya 

11. Yeremia 

12. Yehezkiel 

13. Tereasar (Dua 

belas) 

Hosea 

Yoel 

Amos 

Obaja 

Yunus 

Mikha 

Nahum  

Habakuk 

Zefanya 

Hagai 

Zakharia 

Maleakhi 

Sejarah 

6. Yosua 

7. Hakim-hakim 

8. Rut 

9 - 10. I & II 

Samuel 

11-12. I & II Raja-

raja 

13-14. I & II 

Tawarikh 

15-16. Ezra dan 

Nehemia 

17. Tobit 

18. Yudit 

19. Ester, 

termasuk  

tambahan 

pada kitab 

Ester   

 

Syair dan 

Kebijaksanaan 

20. Ayub 

21. Mazmur 

22. Amsal 

23. Pengkhotbah 

24. Kidung Agung 

25. Kebijaksaan 

Salomo 

26. Eklesiastikus  

(Kebijaksanaan 

Sejarah 

9. Yosua 

10. Hakim-hakim 

11. Rut 

12.   I & II Samuel 

13.   I & II Raja-

raja 

14.   I & II 

Tawarikh 

15 - 16. Ezra dan  

Nehemia 

17. Ester 

 

 

 

 

Syair dan Hikmat 

18. Ayub 

19. Mazmur 

20. Amsal 

21. Pengkhotbah 

22. Kidung Agung 

 

 

Yesus bin 

Sirakh)  

Ketu'bim 

14. Tehilim 

(Mazmur) 

15. Ayub 

16. Mishle (Amsal) 

17. Rut 

18. Shir Hashirim 

(Kidung Agung) 

19. Kohelet 

(Pengkhotbah) 

20. Ekah 

(Ratapan) 

21. Ester 

22. Daniel 

23. Ezra-Nehemia 

24. Dibre Hayamin 

(Tawarikh) 

Nabi-nabi 

27. Yesaya  

28. Yeremia 

29. Ratapan 

30. Barukh, 

termasuk surat  

nabi Yeremia 

31. Yehezkiel 

32. Daniel termasuk  

tambahan pada 

kitab Daniel, 

Susana, Lagu 

Pujian Ketiga 

Pemuda, Dewa 

Bel dan Naga. 

33. Hosea 

34. Yoel 

35. Amos 

36. Obaja 

37. Yunus 

38. Mikha 

39. Nahum 

40. Habakuk 

41. Zefanya 

42. Hagai 

43. Zakharia 

44. Maleakhi 

45. I Makabe 

46. II Makabe 

Nabi-nabi 

23. Yesaya 

24. Yeremia 

25. Ratapan 

26. Yehezkiel 

27. Daniel 

28. Hosea 

29. Yoel 

30. Amos 

31. Obaja 

32. Yunus 

33. Mikha 

34. Nahum 

35. Habakuk 

36. Zefanya 

37. Hagai 

38. Zakharia 

39. Maleakhi 

  


Introduksi Kitab-Kitab Perjanjian Lama 

(Kitab-kitab Pentateukh) 

 

 Para rabi Yahudi dalam Septuaginta menyebut lima kitab 

pertama Perjanjian Lama dengan sebutan "Penta - Teuchos" 

(Pentateukh) atau lima jilid kitab". sedang  dalam frase Ibrani 

"lima kitab" itu disebut "mashab chomeshi torah" artinya "lima 

per-lima jilid Torah" yang terdiri atas lima bagian. Pemahaman ini 

penting mengingat banyak pakar Alkitab yang tidak mengakui 

kesatuan Pentateukh). 

 Pentateukh juga diindikasikan sebagai Torah sebab  

berjanra hukum, perintah, peraturan dan petunjuk yang 

diintruksikan Tuhan melalui Musa kepada umat Israel. Kata 

Torah berasal dari akar kata 'yarah', artinya 'mengarah atau 

membidik ke arah' yang tepat. Seluruh Pentateukh ditulis oleh 

Musa. Kecuali mungkin bagian terakhir kitab Ulangan yang 

mengisahkan kematian Musa.     

 Pentateukh merupakan basis seluruh penjelasan akan 

kedatangan Mesias yang diurapi Allah dan diutus di kalangan 

bangsa Israel. Sebagai umat pilihan Allah, Israel boleh dikatakan: 

"Penjaga Perjanjian Lama, sebagai penerima perjanjian dan 

sebagai kanal Mesias (The Channel of Messiah, Rm. 3:2; 9:1-5). 

Intisari Kitab Pentateukh, yaitu: 


KEJADIAN Permulaan  Pemilihan Bangsa 

KELUARAN Penebusan Penebusan 

Bangsa 

IMAMAT Kekudusan Pengudusan 

Bangsa 

BILANGAN Pengembaraan Pengarahan 

Bangsa 

ULANGAN Pengulangan Pengajaran 

Bangsa 

 

Kitab Kejadian 

1. Judul Kitab 

Ada beberapa judul yang biasa dipakai untuk menyebut kitab 

Kejadian, di antaranya: 

   Tanakh menyebutnya b'eresyith "pada mulanya". 

   Talmud menyebutnya Book of Creation of the World 

   "Kejadian" diambil dari Genesos dari Septuaginta 

menunjuk pada "awal terjadinya segala sesuatu di langit 

dan di bumi". 

2. Tahun Penulisan 

Kitab ini ditulis oleh Musa dalam perjalanan bangsa Israel dari 

tanah Mesir ke tanah perjanjian, yaitu antara th. 1450 - 1410 

sM. 

3. Tema 


Tema kitab Kejadian yaitu  berkat dan kutuk. Artinya setiap 

orang Israel yang taat akan menerima berkat dari Allah, namun  

bagi mereka yang tidak taat akan menerima hukuman dari 

Allah. Hal ini nyata dalam kehidupan Adam dan Hawa, 

bahkan Nuh. 

4. Tujuan 

Tujuan penulisan kitab Kejadian yaitu  untuk memberi  

survei hostoris singkat tentang wahyu Allah sejak awal 

penciptaan hingga orang Israel dibawa ke Mesir untuk 

dibentuk menjadi bangsa yang Theokrasi.  

5. Tokoh Penting 

Adam dan Hawa, Nuh, Abraham dan Sara, Ishak, Yakub 

yang kemudian disebut Israel dan Musa sebagai mediator 

umat-Nya.  

6. Ide Kunci 

Pada mulanya: Kejadian bukan hanya sekedar asal mula, 

(beginning) namun juga merupakan kitab "semua asal mula 

atau asal usul segala sesuatu". Dimana dalam kitab ini 

diceritakan asal usul semua yang ada: penciptaan alam 

semesta, penciptaan manusia, kejatuhan manusia dalam 

dosa, janji penyelamatan Allah, dll.   

7. Garis Besar 

a. Riwayat manusia dan keturunannya (psl 1-11). 

   Penciptaan manusia pertama: Adam 

   Kejatuhan manusia pertama: Hawa 

26 

 

   Kematian manusia pertama: Habel 

   Hukuman manusia pertama: Air bah 

   Penyebaran manusia pertama: Menara Babel 

b. Riwayat manusia dan kovanan-Nya (psl. 12-36). 

   Bapak leluhur: Abraham, Ishak dan Yakub. 

   Berkat kovenan: Tanah, bangsa, nama 

c. Riwayat Manusia dan kekuasaannya (psl. 37-50). 

   Kerajaan Mesir di bawah pemerintahan Firaun 

   Keselamatan Mesir di bawah pemerintahan Yusuf 

8. Pasal dan Ayat Mas 

Pasal penting dalam ayat ini, yaitu: 

Pasal 12, sedang  ayat penting dalam kitab Kejadian 

yaitu  3:15; 12:3. 

 

Kitab Keluaran 

1. Judul 

Ada beberapa sebutan untuk menyebut kitab Keluaran, di 

antaranya: 

   Tanakh menyebutnya me'elleh shemoth, artinya inilah 

nama-nama", diambil dari kata pertama kitab Keluaran. 

   Septuaginta menyebutnya exodus, artinya "keluar" (exit) 

atau "keluaran" atau "berangkat pergi" (departure).   

 

 

 

2. Tujuan 

   memberi  penjelasan mengenai kehidupan bangsa 

Israel di Mesir dan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari 

tanah Mesir. 

   memberi  penjelasan mengenai pertolongan Tuhan 

kepada bangsa Israel.  

3. Tema 

   Tema kitab Keluaran, yaitu Penebusan. Penebusan ini 

nyata pada saat: pertama: tulah kesepuluh. Dimana 

malaikat maut melewati rumah orang Ibrani sebab  

adanya percikan darah domba di ambang pintu, sehigga 

semua anak sulung orang Ibrani tidak mati. Kedua, 

pembebasan dari perudakan di Mesir. Dimana sesudah  

hampir 400 tahun bangsa Israel diperbudak di Mesir, 

mereka dibebaskan untuk kembali, dibawa ke tanah 

perjanjian.    

4. Tokoh Penting 

Tokoh penting dalam kitab Keluaran, yaitu Musa. Musa 

(Mosheh) artinya "diangkat dari air". Musa merupakan anak 

laki-laki orang Ibrani. sebab  takut dibunuh orang Mesir, 

ibunya menghanyutkannya ke sungai Nil. Akhirnya ia 

ditemukan oleh putri Firaun dan diangkat sebagai anak. 

sesudah  dewasa ia dipanggil untuk membawa bangsa Israel 

keluar dari tanah Mesir ke tanah Kanaan. Panggilah itu nyata 

dari penglihatan akan semak yang menyala-nyala. Kemusian 

28 

 

jadilah Musa pemimpin bangsa Israel dan membawa mereka 

keluar dari tanah Mesir.       

5. Peristiwa penting 

Ada beberapa peristiwa penting terjadi pada saat bangsa 

Israel keluar dari Mesir. Salah satunya: peristiwa musa 

menerima hukum-hukum Taurat di gunung Sinai (Kel. 19:4-7). 

Penerimaan hukum Taurat ini penting sebab hukum Taurat 

merupakan pedoman bagi kehidupan bangsa Israel pada 

zaman itu. Baik itu dalam ibadah, kehidupan sehari-hari 

maupun dalam peradilan.    

6. Pasal dan Ayat Mas 

Pasal penting dalam kitab ini, yaitu psl 12 - 14 yang mencatat 

penebusan Israel dari perbudakan dalam penggenapan janji 

Allah. Ayat-ayat pentingnya, yaitu 6:6; 19:5-6.   

7. Garis Besar 

a. Penebusan dari Mesir (psl. 1 - 18) 

   Dalam perbudakan / perhambaan (psl. 1 - 11) 

   Keluar dari perbudakan / penebusan (psl. 12 - 14) 

   Perjalanan ke Sinai / peribadahan (psl. 15-18) 

b. Penyataan Allah (psl. 19 - 40) 

   Pemberian hukum (psl. 19 - 40) 

   Pendirian tabernakel (psl. 25 - 31) 

   Palanggaran hukum (psl. 32-34) 

   Pembangunan tabernakel (psl. 35 - 40) 


Kitab Imamat 

1. Judul  

Ada beberapa sebutan untuk kitab Imamat, yaitu: 

   Tanakh menamainya we'yiqra, artinya 'and he called' atau 

dan ia telah memanggil'. 

   Talmud menyebutnya torat kohanim (Law of the Priest) 

artinya 'hukum dan imam'. 

   Septuaginta memberi judul Levitikon dari ungkapan 

Levitical Biblion, diterjemahkan: "Kitab Imamat Orang 

Lewi" atau singkatnya: 'Kitab Imamat'.  

2. Tujuan 

Kitab Imamat ditulis dengan tujuan untuk mendidik bangsa 

Israel: 

   Bagaimana menyembah dan berjalan bersama Allah. 

   Bagaimana bangsa Israel telah memenuhi panggilan 

Allah sebagai suatu banga para imam.  

3. Tema 

Tema utama kitab Imamat yaitu  Kekudusan. Hal ini nyata 

dalam pasal 11:45 yang berisi perintah supaya bangsa Israel 

hidup dalam kekudusan sebab Allah yaitu  kudus. Hal ini 

penting sebab  Allah yang kudus hanya dapat dihampiri 

dalam kekudusan.   

4. Pasal dan ayat mas 

Pasal penting dalam kitab ini, yaitu pasal 16 yang berkaitan 

dengan "Hari Pendamaian" (yom kippur / the day of 

30 

 

Atonement) yang menjadi hari terpenting dalam kalender 

Ibrani sebab  hari itu merupakan satu-satunya hari dimana 

imam besar diperbolehkan masuk di dalam ruang mahakudus 

untuk mempersembahkan korban penebusan bagi umat. 

"sebab  pada hari itu harus diadakan pendamaian bagi kalian 

untuk mentahirkan kalian. Kalian akan ditahirkan dari segala 

dosa kalian di hadapan Tuhan" (Ibr. 16:30).   

5. Garis Besar 

a. Hukum persembahan (psl. 1 - 17) 

   Hukum pengorbanan (1 - 7) 

   Hukum para imam (psl. 8 - 10) 

   Hukum pentahiran (psl. 11 - 15) 

   Hukum pendamaian (psl. 16-17)  

b. Hukum Pengudusan (psl. 18 - 27) 

   Pengudusan bagi umat Allah (psl. 18-20) 

   Pengudusan bagi kaum Lewi (psl. 21 - 22) 

   Pengudusan bagi tata ibadah (psl. 23 - 24) 

   Pengudusan dalam tanah Kanaan (psl. 25 - 26) 

   Pengudusan melalui nazar (psl. 27 

 

Kitab Bilangan 

1. Judul 

Ada beberapa sebutan untuk kitab Bilangan, yaitu: 

   Tanakh menamainya bemidvar, in the wilderness, artinya 

(di gurun) atau 'wayedaver, and 'he spoke' (dan ia 

berkata). 

   Septuaginta menyebutnya arithmoi, numbers yang oleh 

Vulgata diterjemahkan Numeri atau bilangan.  

2. Periode penulisan 

Kitab Bilangan ini ditulis antara tahun 1450 - 1410 sM. 

3. Tujuan 

Tujuan kitab Bilangan, yaitu: 

   Untuk mengajar kita bahwa Tuhan tidak pernah 

membiarkan dan meninggalkan umat-Nya walau umat-

Nya sering memberontak kepada-Nya. 

   Peringatan bagi kita bahwa saat menghadapi pencobaan 

dan persoalan iman dapat menjadi lemah. 

4. Tema 

Tema utama kitab Bilangan yaitu : Pemeliharaan Allah yang 

tak putus-putusnya terhadap umat-Nya. Memang judul kitab 

ini diambil dari menghitung bilangan orang Israel, namun 

sebenarnya kitab ini lebih menjelaskan tentang 

pengemabaraan bangsa Israel di padang gurun selama 

hampir 40 tahun. Dimana Allah terus memenuhi kebutuhan 

mereka, sekalipun umat terus menerus memberontak dan 

melanggar hukum-hukum-Nya. Allah menyediakan mereka 

air, manna dan makanan permintaan ketika mereka 

32 

 

bersungut-sungut dan memberontak melawan Allah, dengan 

sabar Ia menangani masalah mereka.   

5. Pasal dan Ayat Mas 

Pasal penting dalam kitab ini, yaitu pasal 14. Pasal ini 

menjelaskan tentang titik balik bangsa yang sedang krisis, 

dimana mereka telah menerima laporan buruk dari kedua-

belas mata-mata, kecuali Yosua dan Kaleb, bangsa Israel 

menolak masuk untuk menaklukkan tanah Kanaan, tanah 

perjanjian.   

6. Tokoh Kunci 

Tokoh-tokoh penting dalam kitab Bilangan, yaitu: Musa, 

Harun, Yosua, Kaleb dan Balak.   

7. Garis Besar 

a. Persiapan generasi lama di Sinai ((psl. 1 - 10) 

   Posisi dan sensus umat (psl. 1 - 4) 

   Perintah Allah dan pengudusan umat (psl. 5 - 9) 

   `Perjalanan ziarah ke tanah perjanjian (9 - 10)  

b. Kegagalan Generasi Lama di Moab (psl. 11 - 25) 

   Ketidak-puasan di sepanjang perjanan (11 - 12) 

   Ketidak-percayaan di Kadesy-Barnea (psl. 13 - 14) 

   Kedisiplinan dari Tuhan (psl. 15 25). 

c. Persiapan generasi baru (psl. 26 - 36) 

   Pengaturan ulang bangsa Israel (psl. 26 - 27) 

   Peraturan persembahan dan nazar (psl. 28 - 30) 

   Pembagian wilayah tanah perjanjian (psl. 31 - 36)  


 

Kitab Ulangan  

1. Judul 

Ada beberapa sebutan untuk kitab Ulangan ini, yaitu: 

   Tanakh menamainya: elleb baddevarim atau devarim, 

artinya "inilah preambul pidato... ". Kaum Yahudi juga 

menyebut mishnebat torah, repetition / copy of the law, 

artinya "pengulangan atau salinan hukum". 

   Septuaginta memberi judul: to deuteronomion touto, pada 

versi Inggris, deuteronomy disalah-artikan sebagai 

'pemberian hukum ke dua' (second law-giving), yang 

seharusnya diterjemahkan 'salinan hukum ini'. 

   Ulangan, mempunyai arti yang lebih akurat, artinya hukum 

yang sama ditinjau, dikembangkan dan diulang dari 

hukum yang aslinya diberikan di Sinai.  

2. Tujuan 

   Untuk menegaskan akan  kebutuhan hakiki bagi anak-

anak untuk mengasihi dan menaati Allah. 

   Untuk mengingatkan kembali kepada kita tentang hukum-

hukum Allah dan penyertaan-Nya kepada orang percaya.   

3. Tema 

Tema kitab ini, yaitu awasilah dirimu agar tidak alpa. Dimana 

sesudah  mengembara 40 tahun di padang gurun, umat Israel 

segera masuk tanah perjanjian. Sebelum mereka masuk, 

mereka perlu diingatkan kembali tentang semua hal yang 

telah Allah kerjakan bagi mereka dan tentang hukum Allah 

yang kudus dan hakiki bagi mereka agar dapat menjaga 

keadaan mereka di tempat itu dan berfungsi sebagai umat 

Allah yang kudus dan imamat yang rajani (Ul. 4:18).  

4. Pasal dan Ayat Penting 

Pasal kunci dalam kitab ini, yaitu: psl. 27 yang menjelaskan 

inagurasi kovenan Israel dan psl. 28-30 menjelaskan janji 

mengenai Israel di masa dekat, yaitu berkat bagi mereka 

yang taat dan laknat bagi mereka yang tidak taat. 

Ayat kunci dalam kitab inni, yaitu: psl. 6:4-5. Ayat-ayat ini 

merupakan kunci iman kaum Yahudi hingga saat ini. 

Sehingga perlu terus dihafalkan dan dilafalkan seumur hidup, 

agar mereka tidak menyembah ilah-ilah lain. Referensi 

pendukungnya: 10:12-13; 30:19-20.  

5. Garis Besar 

a. Pengulangan pidato Musa (psl. 1) 

b. Sejarah bangsa Israel sebagai peringatan (psl. 2 - 4) 

c. Anjuran percaya satu Tuhan dan ajaran mengasihi Allah 

(psl. 5 - 11) 

d. Norma tata ibadah dan nazar umat percaya (psl. 12 - 26) 

e. Peringatan: berkat dan kutuk (psl. 27 - 28) 

f. Ajakan untuk mereformasi kovenan dan hidup bagi Tuhan 

(psl. 29 - 30) 

g. Nyanyian Musa serta pelantikan Yosua (psl. 31 - 32) 


Introduksi Kitab-Kitab Perjanjian Lama 

Kitab - Kitab Sejarah 

 

 sesudah  mempelajari kitab Pentateukh, sekarang kita akan 

memepelajari kitab-kitab sejarah yang menjelaskan tentang 

kehidupan umat Allah sejak menduduki tanah perjanjian sampai 

mereka dideportasi dan kehilangan tanah pusaka leluhur mereka. 

Secara lebih terinci kitab-kitab itu menceritakan: kisah tentang 

penaklukkan dan pendudukan Kanaan, kepemimpinan hakim-

hakim, berdirinya pemerintahan raja-raja, pecahnya Israel 

menjadi kerajaan Utara dan Selatan, jatuhnya kerajaan Utara 

kepada Aram, kerajaan Selatan dideportasi ke Babilon dan 

kembalinya Yerusalem di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia. 

 Kitab-kitab ini mempersiapkan kita untuk kedatangan 

Kristus, Sang Mesias. Hal ini dijelaskan dalam diagram berikut 

ini: 

Kitab Sejarah Peristiwa Persiapan Mesianik 

 

Yosua  

Hakim-Hakim 

Rut 

 

Pendudukan tanah 

Penindasan Bangsa 

Theokrasi: 

Mencakup periode 

ketika Israel dipimpin 

Allah (1405-1043 sM)  

 

I Samuel 

II Samuel 

I Raja-raja 1-10 

I Raja-raja 11-22 

II Raja-raja 1-17 

Stabilitasi bangsa  

Ekspansi bangsa 

Pemulihan bangsa 

Perpecahan bangsa 

Kemerosotan 

Kerajaan Utara 

Monarki: 

Menelusuri monarki 

Israel dari berdirinya 

hingga 

kehancurannya (586 

sM) 

36 

 

II Raja-raja 18-25 

I Tawarikh 

II Tawarikh 

 

Deportasi 

Kerajaan Selatan  

Persiapan Bait Suci 

Penghancuran Bait 

Suci 

Ezra 

Nehemia 

Ester 

Rekonstruksi Bait 

Suci 

Rekonstruksi Kota 

Suci 

Perlindungan Israel 

 

Reformasi: 

Menjabarkan 

pulangnya 

.................. sesudah  

70 tahun 

pengasingan (605-

536) 

     

Kitab Yosua 

1. Judul 

Tidak seperti kitab Pentateukh, kitab Yosua ini mengambil 

nama tokoh utamanya, yaitu Yosua, anak Nun, abdi Musa 

sebagai judul kitab. Memang dalam kitab ini diceritakan 

bagaimana Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke tanah 

Kanaan. 

2. Tokoh Yosua 

Yosua bin Nun dari suku Yusuf (separuh keturunan Efraim) 

yang lahir di Mesir. Pada waktu bangsa Israel keluar dari 

tanah Mesir, ia masih sangat muda (Kel. 33:11). Nama asli 

Yosua sebenarnya yaitu  Hosea (Bil. 13:8; Ul. 32:44) yang 

berarti "keselamatan". Namun, selama pengembaraan di 

padang belantara Musa mengubah namanya menjadi 

Yehoshua (disingkat Yosua) artinya "Yahwe keselamatan 

atau selamat Yahwe" (Bil. 13:16). Hal ini mengantisipasi 


 

nubuatan dan peringatan bagi Yosua dan Kaleb dan para 

pengintai lainnya bahwa jika  mereka mengalahkan musuh 

dan merebut tanah itu, semuanya yaitu  pertolongan Tuhan, 

bukan sebab  kemampuan sama sekali. 

Yosua dipilih Musa menjadi pembantu pribadinya dan hadir di 

Gunung waktu Musa menerima Taurat (Kel. 24:13, dst.). Ia 

menjadi penjaga kemah pertemuan ketika Musa bertemu 

dengan Allah (Kel. 33:11). Yosua diberi tanggung jawab untuk 

memimpin bala tentara Israel waktu mengalahkan bangsa 

Amalek dan Rafidim (Kel. 17:9). Kemudian ia menjadi salah 

satu pengintai tanah Kanaan (Bil. 13:8). Akhirnya ia diangkat 

menjadi pemimpin bangsa Israel menggantikan Musa (Ul. 

31:14-15). Yosua yaitu  salah satu perancang strategi 

terbaik dalam sejarah. Walau begitu, keberhasilan bangsa 

Israel menaklukkan tanah Kanaan sebenarnya berasal dari 

YESHUA panglima perang yang sesungguhnya, Juru selamat 

satu-satunya. Jadi Tuhan sendirilah yang membawa 

kemenangan bagi Israel dan mengalahkan musuh-musuh 

Israel serta memberi  tanah itu kepada mereka.     

3. Penulis dan Tahun Penulisan 

Sebenarnya tidak ada bukti yang menjelaskan siapa penulis 

kitab Yosua. Dalam psl. 8:32 dijelaskan bahwa pada masa 

kehidupan Yosua ada kegiatan-kegiatan tulis menulis di 

antara umat Israel. Oleh sebab  itu, sangat memungkinkan 

jika  kitab Yosua merupakan catatan sejarah pada zaman 


itu. Dan kemungkinan ditulis oleh Yosua sendiri. sedang  

tahun penulisannya, sebab  ditulis pada zaman kehidupan 

Yosua maka tahun penulisannya, yaitu: 1400-1370 sM.   

4. Tujuan  

Tujan Kitab yosua, yaitu menunjukkan kesetiaan Allah 

terhadap kovenan-Nya (bnd. Kej. 15:18; Yos. 1:2-6; 21:43-

45). Peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam kitab Yosua 

merupakan yang terpilih untuk menyatakan campur tangan 

Allah secara khusus demi umat-Nya untuk melawan segala 

macam rintangan yang hebat. Penggenapan janji-janji Allah 

yang terbukti pada kelahiran Ishak melalui Abraham dan Sara 

dan dalam pemilihan tanah serta kota-kota perlindungannya 

yaitu  pekerjaan Allah yang tak seorang pun dapat 

melakukan sekuat apapun orang itu (lih. Rom. 4). 

5. Tema 

Tema kitab Yosua yaitu  pendudukan, penaklukkan dan 

pembagian tanah perjanjian. Tema ini sesuai dengan isi kitab 

Yosuam, dimana dalam bab ini diceritakan bagaimana Israel 

masuk ke tanah Kanaan. Mereka berhasil kembali merebut 

tanah perjanjian yang telah dijanjikan kepada mereka sejak 

zaman Abraham. sesudah  semua dapat direbut kembali maka 

tanah ini  dibagi sesuai perintah Tuhan kepada ke-12 

suku Israel.  

 

 

39 

 

6. Garis Besar 

a. Penyerbuan Kanaan (psl. 1-5) 

   Pengangkatan Yosua (psl. 1) 

   Perintah Yosua kepada Israel  

   Penghancuran Yerikho (psl. 2) 

   Penyerangan Yordan (psl. 3 

   Peringatan dan pentahiran Israel (psl. 4-5) 

b. Penaklukkan Kanaan (psl. 1) 

   Persyaratan kemenangan (psl. 5) 

   Penyerbuan di pusat ( psl. 6-8) 

   Penyerbuan di Selatan (psl. 9-19) 

   Penyerbuan di Utara (psl. 11) 

   Peninjauan kemenangan (psl. 12)  

c. Pembagian Kanaan (ps. 13-31) 

   Untuk Ruben, Gad, Manaseh (psl. 13) 

   Untuk Yehuda dan Kaleb (psl. 14-15) 

   Untuk sembilan suku, Efraim (psl. 16-18) 

   Untuk Yosua (psl. 19) 

   Untuk kubu-kubu perlindungan (psl. 20) 

   Untuk kota-kota kaum Lewi (psl. 21) 

d. Penutup (psl. 22-24) 

   Pertikaian mezbah (psl. 22) 

   Pidato Yosua (psl. 23) 

   Pesan terakhir Yosua (psl. 24) 


 

 

Kitab Hakim-hakim 

1. Judul 

Judul kitab ini diambil dari gelar yang dianugerahkan kepada 

para pemimmpin bangsa yang diangkat Tuhan untuk 

memerintah bangsa Israel antara zaman Yosua hingga 

zaman monarkhi. Shophetim (pada hakim, penguasa, 

pembebas atau penyelamat) bertugas memperhatikan 

kerohanian bangsa yang diatur sesuai hukum-hukum Tuhan. 

Seorang hakim tidak hanya memelihara hukum keadilan dan 

menyelesaikan pertikaian, melainkan juga membebaskan 

mereka dari penindasan musuh. Judul kitab ini diekspresikan 

paling indah, sebagai berikut: "Maka Tuhan membangkitkan 

hakim-hakim yang melepaskan mereka dari tangan para 

penjarah mereka (2:16).     

2. Penulis 

Sulit untuk menentukan siapa penulis kitab Hakim-hakim 

sebab tidak ada informasi yang jelas. Namun menurut tradisi 

orang Yahudi penulis kitab Hakim-hakim yaitu  Samuel hal 

ini didasarkan pada kehidupan Samuel yang sering mencatat 

peristiwa dan tokoh penting dalam kehidupan bangsa Israel 

pada waktu itu (bnd. 1 Taw. 29:29). 

3. Tahun Penulisan 

sebab  ditulis oleh Samuel, kemungkinan besar tahun 

penulisannya antara tahun 1050-1000 sM.  

41 

 

4. Tujuan 

Tujuan kitab Hakim-hakim, yaitu: 

   Untuk memperingatkan bangsa Israel bahwa ketaata akan 

membawa berkat, sebaliknya ketidak-taatan akan 

mengundang disiplin dan hukuman Allah. 

   Mengingatkan bangsa Israel bahwa ketika umat Allah 

berbalik kepada Tuhan, berseru kepada-Nya dan 

bertobat, Allah yang setia panjang sabar dan penuh belas 

kasihan, meresponinya dengan penyelamatan. 

5. Tema  

Tema-tema kitab Hakim-hakim, yaitu kegagalan bangsa 

Israel. Nuansa kegagalan ini nampak jika kita 

membandingkan antara kitab Yosua dan Hakim-hakim. 

Dimana Israel berangkat dari pekik kemenangan dan ratap 

kegagalan, dari kebebasan ke penindasan, dari kemajuan ke 

kemerosotan. 

Memang secara historikal, kitab ini menjembatani jenjang 

antara zaman Yosua dan zaman Samuel dan mengawali 

bentuk monarkhi di bawah kepemimpinan raja Daud. Namun 

kitab ini mencatat tujuh siklus pelanggaran - penindasan - 

permohonan - pembebasan. Dari ketidak-taatan pertama 

(sejak zaman Adam), sejarah memaparkan pola kehidupan 

manusia berdosa sampai ke periode Hakim-hakim, dimana 

setiap pelanggaran hukum (2:11-13) senantiasa diikuti oleh 

penghukuman melalui tangan musuh (2:14-15), sehingga 


terhimpit dan terhukum untuk berteriak minta tolong agar 

Tuhan melepaskan mereka dari malapetaka itu (2:15), dan 

sebab  kesetiaan Allah kepada kovenan-Nya, Tuhan 

mengangkat Hakim-hakim untuk melepaskan mereka dari 

hukuman (2:16). Itu sebabnya kitab ini juga melangsir 

kebutuhan sebuah monarkhi di Israel. Ketika setiap 

melakukan setiap apa yang benar menurut pandangan sendiri 

(21:15), maka itulah pertanda betapa bangsa ini 

membutuhkan kepemimpinan seorang raja yang adil. 

Secara doktrinal, kitab Hakim-hakim menarik perhatian kita 

kepada sejumlah kebenaran esensial, yaitu peringatan Tuhan 

supaya orang Israel hidup dalam kehendak-Nya da juga 

providensia-Nya yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel.     

6. Tokoh Kunci 

Tokoh-tokoh penting dalam kitab Hakim-hakim, yaitu: Barak, 

Debora, Gideon, Yefta, Simson. Kendati nama Debora lebih 

mengemuka, namun yang tercantum dalam deretan orang 

beriman justru Barak (Ibr. 11:32). 

7. Garis Besar 

a. Kemerosotan Hakim-hakim (psl. 1-2) 

   Kondisi politik (psl. 1-2) 

   Kondisi rohani (psl. 2) 

b. Penugasan Hakim-hakim (psl. 3-16) 

   Pembebasan dari Mesopotamia oleh Otniel (psl. 3) 

   Pembebasan dari Moab dan Elihud 

   Pembebasan dari Filistin oleh Samgar 

   Pembebasan dari Kanaan oleh Debora (psl. 4-5) 

   Pembebasan dari Midian oleh Gideon (psl. 6-8) 

   Pelayanan dan perilaku Abimelek (psl. 9) 

   Pelayanan hakim Tola ( psl. 10) 

   Pelayanan hakim Yair 

   Pembebasan dari Amon oleh Yefta (psl. 11-12) 

   Pelayanan hakim Ebzan 

   Pelayanan hakim Elon 

   Pelayanan hakim Abdon 

   Pembebasan dari Filistin oleh Simson (13-16)) 

c. Kemurtadan Hakim-hakim (psl. 17-21) 

   Mikha dan migrasi suku Dan (psl. 17-18) 

   Memerangi Benyamin (psl. 19-21) 

 

Kitab Rut 

1. Judul 

Nama kitab ini diambil dari salah satu tokoh utamanya, yaitu 

Rut. Rut yaitu  seorang muda dari Moab. Ia yaitu  menanti 

Naomi. Ia merupakan nenek buyut Daud dan salah satu 

wanita yang masuk dalam silsilah Mesias (Mat. 1:5). 

2. Penulis 

Seperti penulis kitab Hakim-hakim, penulis kitab ini juga tidak 

jelas. Namun tradisi Yahudi menunjuk Samuel sebagai 

44 

 

penulisnya. Walaupun demikian, sebenarnya pendapat 

ini  tidak memiliki alasan yang kuat sebab penulis kitab 

Rut menyebut Daud, sedang  Samuel sudah meninggal 

sebelum Daud naik takhta (4:17, 22). 

3. Periode penulisan 

Kalau kitab Rut ditulis oleh Samuel maka kemungkinan besar 

kitab ini ditulis sekitar tahun 1000 sM. 

4. Tujuan 

   Untuk menunjukkan pada orang Yahudi kerinduan Allah 

untuk menyelamatkan bangsa-bangsa non-Yahudi. 

   Untuk menunjukkan pada orang Yahudi bahwa di tengah-

tengah masa kemurtadan orang Israel, ternyata masih 

ada orang yang saleh. 

5. Tema 

Tema kitab Rut yaitu  keselamatan bangsa-bangsa. Hal ini 

sesuai dengan isi kitab ini sendiri yang menceritakan 

bagaimana Allah menyelamatkan Rut, orang Moab. 

Walaupun Rut bukan seorang Yahudi namun  ia memiliki iman 

dan ketaatan yang biasa kepada Allah (lih. 1:16). Ia memiliki 

loyalitas, integritas dan cinta murni dalam dalam kelemahan 

masa hakim-hakim. Rut yaitu  seorang figur iman dan 

ketaatan di tengah-tengah kemurtadan umat Allah. Rut telah 

membuktikan betapa Allah tetap setia pada kovenan-Nya.   

6. Kanonisasi Kitab 

Kitab Rut yaitu  kitab penting yang harus dibaca pada hari 

raya Pentakosta (penuaian gandum), sebagai pertanda 

pentingnya tradisi Yahudi dalam narasi ini, sehingga Tanakh 

menempatkan kitab Rut di posisi Ketubim (kitab-kitab sakral / 

puisi), sedang  Talmud menempatkannya sebelum kitab 

Mazmur. Versi Inggris dan Indonesia mengikuti pembagian 

Septuaginta, menempatkan kitab ini sesudah  kitab Hakim-

hakim sebab terindikasi ada latar belakang sejarah. Tradisi ini 

diikuti oleh Vulgata dan didukung oleh veri-versi Perjanjian 

Lama masa kini.   

7. Garis besar dan kerangka kitab 

Garis besar kitab Rut, yaitu: 

   Pasal I   Keputusan dan iman Rut 

   Pasal II  Hak dan kewajiban Rut 

   Pasal III  Permohonan Rut 

   Pasal IV  Berkat dan silsilah Rut 

Kerangka kitab: 

1:1-15  Introduksi 

1:6-18  Episode I: Kembalinya Naomi dan keputusan Rut 

1:19-22  Interlude: Pulang ke Betlehem 

2:1-17  Episode II: Perencanaan Naomi bagi Rut dan 

Boas 

2:18-22  Interlude: Percakapan antara mertua dan menantu 

3:1-15  Episode III: Pelaksanaan rencana Naomi 

3:16-18  Interlude: Percakapan antara Naomi dan Rut 

46 

 

4:1-12  Episode IV: Kekuatan hukum penebusan Boas 

atas Rut 

4:13-17  Inklusio 

4:18-20  Konfirmasi Mesianik: Silsilah Daud, leluhur Yesus. 

 

I dan II Samuel 

1. Judul 

Dalam Tanakh, kitab I & II Samuel digabung menjadi satu 

kitab. Kedua kitab ini menuliskan sejarah periode awal 

kerajaan Israel. Pada awalnya I Samuel mengisahkan tentang 

bagaimana munculnya tokoh Samuel sebagai nabi, imam, 

dan Hakim, yang kemudian digeser oleh Saul sebagai raja 

pertama. sedang  II Samuel mempersiapkan 

pemerintahan Daud. 

Dalam naskah aslinya, kitab Samuel ini hanya satu kitab 

namun  kemudian dibagi menjadi dua oleh para penerjemah 

Septuaginta (LXX). Kemudia pembagian diikuti oleh Jerome 

(Vulgata) dan versi-versi modern. Judul kitab ini bervarisi dari 

waktu ke waktu, yaitu: kitab kerajaan (LXX), kitab Raja-raja 

(Vulgata), dan Samuel (tradisi Ibrani dan sebagian besar 

versi-versi modern).        

2. Penulis 

Identitas penulis tidak jelas diketahui, namun Talmud Yahudi 

menyebut Samuel sebagai penulisnya. Meskipun judulnya 

diambil dari nama tokohnya, hal itu bukan berarti ia menulis 

semua kitab Samuel, sebab kematiannya tercatat dalam I 

Samuel 25:1. Bukti internal menyebutkan bahwa Samuel 

memang menulis sebuah kitab (I Sam. 10:25). I Tawarikh 

29:29 menunjuk Natan dan Gad sebagai penulis peristiwa-

peristiwa yang tercatat dalam kitab Samuel. Rupanya ia 

menulis sesudah masa pemerintahan Salomo, sebab I Sam. 

27:6 menunjukkan bahwa kerajaan sudah terbagi dua.       

3. Periode Penulisan 

Kalau memang kitab Samuel ditulis oleh Samuel, Natan dan 

Gad maka kemungkinan periode penulisannya sekitar tahun 

390 sM, sebab mereka hidup pada zaman itu.  

4. Tujuan  

   memberi  penjelasan mengenai keberadaan bangsa 

Israel yang hidup dalam masa peralihan, yaitu dari sistem 

Theokrasi menjadi sistem Monarkhi. 

   Mencatat asal usul dinasti Daud. 

   memberi  penjelasan akan kegagalan bangsa Israel 

sebagai pelajaran bagi generasi penerus supaya tidak lagi 

melakukan kegagalan yang sama seperti pendahulunya.  

5. Tema dan Inti Berita 

Tema kitab I & II Samuel, yaitu dosa dapat menggeroti 

kemenangan menjadi kemalangan. Hal ini nyata dari isi kitab I 

& II Samuel. Dimana kegagalan pemimpin dan bangsa untuk 

menaati firman Tuhan menyebabkan mereka harus 

menghadapi penderitaan dan kemalangan. 

Kitab Samuel diawali dengan kelahiran Samuel sebagai hasil 

pergumulan doa ibunya. Kata Shemuel berarti 'didengar Allah' 

atau 'namanya Allah'. Samuel yaitu  hamba Allah yang saleh 

yang memimpin bangsa Israel sebagai nabi, imam dan hakim. 

Namun kesalehannya tidak cukup mempengaruhi anak-

anaknya adan bangsa Israel untuk setia kepada Allah. Ia 

tidak berhasil mempimpin bangsa Israel untuk tetap bertahan 

pada pemerintahan Theokrasi. Bangsa Israel menolak sistem 

Theokrasi dan meminta seorang raja. Kemudian Allah 

memerintahakan Samuel mengurapi Saul sebagai raja 

pertama. sebab  ketidak-taatannya, Saul ditolak sebagai raja. 

Sekali lagi Allah mengutus Samuel mengurapi Daud, seorang 

yang berkenan di hati Allah sebagai ganti Saul. 

Kitab ini menelusuri masa transisi bangsa Israel dari masa 

pemerintahan hakim hingga masa penguasaan raja dan dari 

masa Theokrasi menjadi masa Monarkhi. Bani Israel tidak 

menghendaki Allah menguasai hidup mereka, sebab mereka 

lebih suka melakukan apa yang baik menurut pandangannya 

sendiri. Pada intinya, akar dosa manusia sejak mulanya 

yaitu  melawan pemerintahan Allah sebagai raja atas 

mereka.   

6. Garis Besar 

Garis besar kitab I Samuel 

a. Samuel, hakim terakhir (psl. 1-8) 

   Panggilan Samuel (psl. 1-3) 

 

   Pengutusan Samuel (psl. 4-7) 

   Prihatin Samuel (psl. 8) 

b. Saul, raja pertama (psl. 9-15) 

   Pemilihan atas Saul (psl. 9-12) 

   Penolakan atas Saul (psl. 13-15) 

c. Daud, raja pilihan (psl. 16-31) 

   Daud sebagai gembala, diurapi (psl. 16) 

   Daud mengalahkan Goliat, disambut Saul (psl. 17) 

   Daud sahabat Yonatan, ditolak Saul (psl. 18-19) 

   Daud sebagai pelarian, diburu Saul (psl. 20-26) 

   Daud dilindungi Yonatan (20) 

   Daud dilindungi Ahimelek, Akhis (psl. 21) 

   Daud dilindungi pasukannya (psl. 22-26) 

   Daud mencari perlindungan Filistin (psl. 27-31) 

   Saul mencari petenung di Endor (psl. 28) 

   Daud diusir dari Filistin (psl. 29) 

   Daud menghancurkan bangsa Amalek (30) 

   Saul mangkat (31) 

Garis besar kitab II Samuel: 

a. Kemenangan Daud (psl. 1-10) 

   Perayaan raja (psl. 1-5) 

   Persatuan kerajaan (psl. 5-6) 

   Perjanjian kerajaan (psl. 7) 

   Perjuangan raja (psl. 8-10) 

 

 

b. Pelanggaran Daud (psl. 11) 

   Perzinahan 

   Pembunuhan  

c. Permasalahan Daud (psl. 12-24) 

   Urusan keluarga (psl. 12-13) 

   Urusan kerajaan (psl. 13-24) 

 

Kitab Raja-raja 

1. Judul 

Aslinya kitab I & II Raja-raja merupakan satu kitab saja sama 

seperti kitab Samuel dan kitab Tawarikh. Biasa disebut "Raja-

raja" (Ibrani: Melechim). Judul ini sebenarnya sesuai dengan 

isinya sebab kitab ini menelusuri sejarah raja-raja Israel dan 

Yehudan dari masa Salomo sampai masa pembuangan di 

Babel. 

2. Penulis 

Penulis kitab Raja-raja ini tidak jelas. Ada yang mengatakan 

Yehezkiel, Ezra dan lain-lain. Orang Yahudi mengakui 

Yeremia sebagai penulis semua kitab Raja-raja kecuali 

bagian terakhir kitab II Raja-raja sebab Yeremia mati di Mesir, 

bukan di Babilon (Yer. 43:6-7).  

3. Periode Penulisan 

Dibebaskannya Yehoakin dari penjara yaitu  peristiwa 

terakhir yang tercatat dalam II Raja-raja. Hal itu terjadi pada 

tahun ke-37 masa pemerintahannya dan kira-kira terjadi pada 

 

 

tahun 560 sM. Kitab ini tidak mungkin ditulis sepulangnya 

kaum Yahudi dari masa pembuangan di Babel (538 sM), 

sebab  penulisannya tidak menyebutkan hal itu. Oleh sebab  

itu, kemungkinan kitab ini ditulis antara tahun 560-538 sM. 

4. Tujuan. 

Tujuan penulisan kitab ini, yaitu: 

   Sebagai catatan sejarah tentang kerajaan-kerajaan 

bangsa Israel yang terpecah belah. 

   Sebagai peringatan bahwa ketidak-taatan akan 

mendatangkan bencana. 

5. Tema dan Inti Berita 

Tema kitab ini, yaitu: Ketidak-taatan membawa kehancuran 

bagi kerajaan. Hal ini sesuai dengan isi kitab ini, yaitu 

dijelaskan tentang ketidak-taatan bangsa Israel. Hal ini 

dimulai sejak zama raja Salomo. Pertama-tama Salomo hidup 

taat pada Tuhan, namun pada masa tuanya ia mulai menjauh 

dari Tuhan sebab  pengaruh para istrinya. Akibatnya kerajaan 

terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Utara dan Kerajaan 

Selatan. Walaupun mereka mengalami perpecahan, namun 

raja-raja Israel dan Yehuda tetap melakukan hal-hal yang 

tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sehingga akhirnga kedua 

kerajaan itu ditaklukkan dan diasingkan oleh kerajaan lain. 

Kerajaan Utara dan Israel jatuh ke tangan bangsa Asiria pada 

tahun 722 sM. sedang  kerajaan Selatan atau Yehuda 

jatuh ke tangan bangsa Babilonia pada tahun 586 sM. Dalam 


 

situasi seperti itu sebenarnya para nabi terus 

memperingatkan bangsanya bahwa Allah tidak akan 

menghukum mereka jika mereka bertobat. Jadi kitab Raja-

raja ini mengajarkan bahwa ketidak-setiaan dan melanggar 

titah Allah pastilah mendapatkan ganjaran Allah dan jatuhnya 

kerajaan. Kedua kerajaan runtuk sebab  kegagalan raja-raja 

untuk memerintah dengan adil serta tidak mengindahkan 

kebenaran Allah.    

6. Garis Besar 

Di bawah ini akan dijelaskan garis besar kitab I Raja-raja, 

yaitu: 

a. Kesatuan Kerajaan: 40 tahun (psl. 1-11) 

   Takhta raja Salomo (1-2) 

   Himat raja Salomo (3-4) 

   Bait Suci didirikan raja Salomo (5-8) 

   Kejayaan raja Salomo (psl. 9-10) 

   Kejatuhan raja Salomo (11) 

b. Kerajaan terpecah: 80 tahun (psl. 12-22) 

   Penyebab pecahnya kerajaan (12) 

   Pemerintahan Yerobeam di Israel (13) 

  Dosa raja 

  Peringatan nabi Allah 

  Dosa nabi Allah 

  Penghakiman atas raja 

   Pemerintahan Yerobeam di Yehuda (14) 

 

 

   Pemerintahan dua raja di Yehuda: Abiyam dan Asa 

(15) 

   Pemerintahan 5 raja di Israel (16): Nadab, Baasha, 

Ela, Zimri, Omri. 

   Pemerintahan Ahab di Israel (17-22) 

  Dosa Ahab: penyembahan berhala 

  Pelayanan nabi Elia di Karmel 

 Perang api dengan Baal 

 Pembantaian nabi-nabi Baal 

 Pelarian nabi Elia 

  Perang melawan Siria  

  Dosa Ahab 

 Perampasan tanah Nabot 

 Pembunuhan pemilik tanah 

  Kematian Ahab yang memalukan 

   Pemerintahan Yehosafat di Yehuda 

   Pemerintahan Ahasia di Israel 

Garis besar kitab II Raja-raja: 

a. Bubarnya kerajaan Israel (psl. 1-17) 

   Pemerintahan Ahazia di Israel (psl. 1) 

   Pemerintahan Yoram di Israel (2-8) 

  Terangkatnya nabi Elia 

  Ekspedisi raja Yoram 

  Pelayanan nabi Elia 

   Pemerintahan Ahazia di Yehuda 

 

 

   Pemerintahan Yehu di Israel (psl. 9-10) 

   Pemerintahan Atalya, Yehoas di Yehuda (psl. 11-12 

   Pemerintahan Yoas di Israel (13) 

   Pemerintahan Amasia di Yehuda (14) 

   Pemerintahan Yerobeam II di Israel 

   Pemerintahan Azaria di Yehuda (psl. 15) 

   Pemerintahan Zakharia, Salum di Israel 

   Pemerintahan Menahem, Pekhanya di Israel 

   Pemerintahan Yotam, Ahas di Yehuda 

   Pemerintahan Ahaz di Yehuda (psl. 16) 

   Pemerintahan Hosea di Israel (17) 

  Penurunan kerajaan di Israel 

  Perzinahan rohani Israel 

  Pembubaran kerajaan Israel  

b. Bertahannya kerajaan Yehuda (psl. 18-25) 

   Pemerintahan Hizkia (psl. 18-20) 

   Pemerintahan Manasye, Amon (21) 

   Pemerintahan Yosia (psl. 22) 

   Pemerintahan Yoahas (psl. 23) 

   Pemerintahan Yoyakim, Yoyakin (psl. 24) 

   Pemeritahan Zedekia (psl. 25) 

  Kehancuran Bait Allah 

  Deportasi ketiga ke Babel 

   Pembebasan raja Yoyakin di Babel  


 

Kitab Tawarikh 

1. Judul 

Hingga tahun 180 sM, kedua kitab Tawarikh ini masih 

menyatu dengan judul Ibraninya: "Riwayat hari ini" (the words 

/ affairs of the days) yaitu tawarikh Israel dari Adam hingga 

pengasingan di Babel dan dekrit Koresy yang mengijinkan 

kaum Yahudi pulang ke negerinya. Kitab ini terkadang disebut 

"miniatur Perjanjian Lama". 

Septuaginta membagi kitab Tawarikh menjadi dua bagian, 

dengan judul "Yang Terhapus" (of things omitted), ini merujuk 

pada hal-hal yang terhapus dari kitab Samuel dan kitab Raja-

raja. Judul Tawarikh (Chronicorum) berasal dari Jerome 

dalam Vulgata (385) -405, yaitu Chronicorum Liber. Yang 

dimaksudkan yaitu  "Tawarikh Sejarah Suci" (The 

Chronicles of the whole of sacred history).   

2. Penulis 

Penulis kitab Tawarikh tidak jelas, namun tradisi Yahudi 

merujuk pada Ezra sebagai penulisnya. Ada konsistensi cara 

penulisan dalam seluruh kitab ini walaupun terindikasi 

beberapa beberapa sumber digunakan untuk menyusunnya, 

sehingga disimpulkan hanya seorang editor yang telah 

menyusun kitan ini sebagai produk finalnya. Dari beragam 

sumber termasuk catatan para nabi, Samuel (I Taw. 29:29), 

Yesaya (II Taw. 32:32) dan lainnya (II Taw. 9:29; 12:15; 

 

 

20:34; 33:19), secara khusus menyebut kitab ini sebagai 

"kirab raja-raja Yehuda dan Israel" (II Taw. 16:11; 25:26). Isi 

kitabnya menunjuk penulisnya dari golongan imam sebab  

fokusnya yang kuat terhadap Bait Allah, imamat dan garis 

teokratis Daud dan kerajaan Selatan yaitu Yehuda. Bahwa 

Ezra yaitu  penulis kitab ini juga didukung oleh tema umum 

kitab Ezra - Nehemia yang berisi pembangunan dan inagurasi 

Bait Allah.  

3. Periode Penulisan 

Kalau kitab ini ditulis oleh Ezra maka kemungkinan besar 

ditulis sekitar tahun 450 - 425 sM.  

4. Tujuan 

Tujuan kitab Tawarikh, yaitu: 

   Untuk mengingatkan kaum remnan yang pulang dari 

pengasingan bahwa mereka berasal dari keturunan raja 

Daud dan bahwa mereka yaitu  umat pilihan Allah. 

   Untuk mengajar bahwa masa purbakala sarat dengan 

pelaharan bagi masa kini mereka. Bidat, berhala, kawin 

campur dengan bangsa lain, serta kurangnya persatuan 

yaitu  kelanjutan penyebab kehancuran mereka. 

5. Tema dan Inti Berita Kitab 

Tema kitab ini, yaitu Allah setia dengan Kovenan-Nya". 

Walaupun bangsa Israel sering memberontak kepada Al