• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Ortodoks1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ortodoks1. Tampilkan semua postingan

Ortodoks1

 



Gereja Kristus yang Satu dan untuk Selama-lamanya 

Di dunia masakini begitu banyak aliran keagamaan yang menamakan dirinya Kristen atau Gereja. Namun 

demikian sering kita jumpai bahwa dalam masalah ajaran, aliran-aliran yang satu amat berbeda dengan 

aliran yang lain. Belum lagi bagi banyak orang hanya mengenal Kekristenan dalam dua bentuk saja yaitu: 

Katolik Roma dan denominasi-denominasi Protestan. Dua bentuk inipun sementara masing-masing 

menyatakan dirinya sebagai ajaran Injil yang benar dan sejati atau sebagai Gereja Kristus yang benar, 

dalam realitanya banyak praktek dan ajarannya itu saling bertentangan satu dengan yang lain. Demikian 

pula dalam apa yang kita sebut dengan denominasi-denominasi Protestan, begitu banyak aliran yang satu 

sungguh-sungguh berbeda akidah dan ajarannya dengan yang lain. Dan semuanya itu mengaku sebagai 

Gereja yang benar. Kita yang mencintai kebenaran dan mencari kebenaran dijadikan bingung sebab nya. 

Mungkinkah dengan Kitab Suci yang satu, Allah yang Satu, Yesus yang satu, Roh Kudus yang Satu, terdapat 

Iman atau pengajaran dan Gereja yang bermacam-macam dan saling bertentangan dan kontradiksi satu 

dengan lainnya itu? 

Menurut Kitab Suci, jikalau yang dimaksudkan yaitu  Gereja Kristus dan ajaran Injil Kristus yang sejati 

jelas tidak mungkin, sebab  Kitab Suci mengatakan :”…….satu tubuh…..” ( Efesus 4:4), “satu Tuhan, satu 

Iman….” (Efesus 4:5). Surat Efesus yang sama ini menegaskan bahwa yang disebut Tubuh Kristus itu yaitu  

Jemaat (Ekklesia, Iglesia, Igreja, Gereja): ”Jemaat (Ekkelsia= Gereja) yang yaitu  TubuhNya….” ( Efesus 

1:23). Jikalau hanya ada satu tubuh, dan yang dimaksud dengan Tubuh itu yaitu  Gereja, jadi menurut 

Alkitab Gereja itu hanya satu saja. Gereja yang satu itu yang bagaimana, yatu yang memiliki “satu Iman” 

sebab  memiliki “satu Tuhan”. Berarti jikalau imannya tidak satu, ajarannya tidak satu, pemahamannya 

tentang Tuhan yang satu itu tidak satu, pastilah itu bukan bagian dari “satu Tubuh” atau Gereja yag 

dimaksud itu. Demikianlah kesimpulan yang dapat kita ambil mengenai adanya macam-macam aliran 

ajaran yang semuanya mengaku Kristn dan semuanya mengaku Gereja, tak mungkin semuanya itu benar 

dan tak mungkin semuanya itu Gereja Kristus. Sebab jikalau mereka itu yaitu  bagian dari Gereja Kristus 

yang hanya satu pastilah ajarannya itu satu dan sama dimana-mana. Lalu mengapa ada macam-macam 

aliran pengajaran seperti itu. Kitab Suci mengajarkan bahwa ada Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh 

yang lain ( II Korintus 11:4). 

Dan Kitab Suci juga mengatakan tentang adanya Injil yang lain dan yang berbeda dari Injil yang diberitakan 

oleh Rasul dan yang diterima oleh Gereja ( Galatia 1: 8-9), dan Kitab Suci juga mengajarkan tentang adanya 

ajaran-ajaran bidat ( Titus 3:10-11). Itulah sebabnya terjadi munculnya ajaran-ajaran-ajaran yang 

bermacam-macam itu. Dan menurut Kitab Suci ajaran yang bermacam-macam yang tak sesuai dengan 

ajaran Rasul dan Iman Gereja Kristus yang benar itu membawa kutuk ( Galatia 1:8-9), mendatangkan dosa 

dan hukuman ( Titus 3:10-11). Padahal mengenai ajaran Imanl yang benar itu Kitab Suci mengatakan 

demikian:”…….iman yang sudah sekali bagi sekalian (Yunani: “apax”)dikaruniakan kepada segala orang 

suci” ( Yudas 1:3, TL). Sayang terjemahan baru Alkitab bahasa Indonesia tak menterjemahkan kata 

penting “apax” ini dalam Alkitab terjemahan sekarang. Padahal kata ini bermakna bahwa Iman Kristen 

yang benar itu yaitu  “sudah sekali” yaitu sekali pada jaman rasul itu saja diberikan kepada segala orang 

suci (Gereja), dan iman yang sekali diberikan kepada Gereja itulah, iman “bagi sekalian” orang dan bagi 

sekalian jaman. Berarti sampai kapanpun Gereja itu imannya hanya satu itu dan tak akan pernah berubah.  

 

Jadi jika ada ajaran yang selalu berubah-ubah dan berbeda dengan iman rasuliah sepanjang segala jaman 

pastilah itu bukan Injil yang satu itu yang diajarkan. Dan kelompok yang mengaku dirinya Gereja dan 

mengikuti ajaran yang beurbah-ubah dan saling kontradiksi itu pastilah bukan Gereja yang benar yaitu 

Tubuh Kristus yang hanya satu itu. Tidak ada Wahyu yang bermacam-macam diluar Wahyu di dalam Yesus 

Kristus yang satuu itu, dan tak ada ajaran yangbeubah-ubah diluar ajaran yang : sudah sekali bagi sekalian 

“ itu, serta tak Gereja yang bermacam-macam kecualiu Tubuh Kristus yang hanya satu sejak jaman Rasul 

itu. Padahal mengikuti ajaran yang berbeda dengan ajaran rasul yaitu ajaran yang diterima dan dipelihara 

oleh Gereja Kristus yang satu dari jaman purba tanpa perubahan itu menyebabkan orang tertimpa kutuk, 

dosa dan hukuman ( Galatia 1:8,9, Titus 3:10-11). 

Untuk mengetahui keberadaan Gereja Kristus yang berasal dari jaman para Rasul dan tetap memelihara 

Iman Rasuliah tak berubah itu, kita perlu melakukan pelacakan Sejarah Umat Awal dari jaman permulaan 

sampai kini, dan kita mengambil kesimpulan dari pelacakan ini. Banyak orang telah diberi informasi yang 

keliru mengenai keberadaan Gereja Kristus yang Rasuliah dan satu itu dengan pemahaman bahwa Gereja 

Purba selalu dianggap berada dibawah ketundukan dengan Sri Paus, dan hanya merupakan bagian dari 

Gereja Roma Katolik saja, sedang  dari pihak denominasi-denominasi Protestan memiliki anggapan yang 

serupa pula mengenai segala sesuatu sebelum munculnya Protestantisme dan sesudah zamannya para 

rasul, sebab  latar-belakang sejarahnya yang memang merupakan protes terhadap Gereja Roma Katolik. 

Dan segala sesuatu sebelum munculnya Reformasi Protestan dianggap masih termasuk dalam Zaman 

Kegelapan. Dalam cara pandang yang demikian ini tentulah orang hanya melihat Kekristenan sebagai 

termasuk dalam Katolik Roma atau jika tidak pasti itu termasuk dalam salah satu denominasi-denominasi 

Protestan. Itulah sebabnya banyak orang tak dapat meletakkan keberadaan Gereja Rasuliah Purba yang 

hanya satu itu secara tepat dalam spektrum Roma Katolik atau Protestan ini. 

Gereja Kristus yang Rasuliah dan hanya satu itu bukan bagian dari sejarah Gerakan Reformasi, sebab  itu 

harus berasal dari jaman purba dari awal Kekristenan itu sendiri Itulah sebabnya Gereja Rasuliah Purba 

itu bukan termasuk denominasi Protestan. Juga Gereja Purba yang Rasuliah itu tak pernah merupakan 

bagian sejarah dan pemikiran yang mempengaruhi benua Eropa Barat yang sangat besar dipengaruhi oleh 

ajaran Santo Agustinus, filsafat Skolastikisme sebagaimana yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas 

dalam Gereja Roma Katolik, dan yang kemudian juga dikembangkan oleh Martin Luther dan Calvin dalam 

sejarah Protestantisme. Yang juga dipengaruhi oleh pemusatan lembaga kepausan, sejarah Rennaisance, 

Pencerahan, Reformasi Protestan dan Kontra-Reformasi Roma Katolik serta Revolusi Perancis. Dan oleh 

pengaruh-pengaruh itu munculnya pemahaman-pemahaman Iman Gereja Barat baik yang berpusat di 

Roma maupun dalam komunitas Protestan. sebab  Kristus adealah orang Yahudi dan para RasulNya juga 

orang-orang Yahudi, mereka berasal dari Timur Tengah, bukan dari Eropa. Maka Gereja yang Rasuliah 

pastilah berasal dari Timur Tengah ini juga. 

Maka Gereja Rasuliah ini tak turut ambil bagian dari sejarah Gereja Barat itu, sehingga bukan merupakan 

bagian dari Gereja Roma Katolik ataupun komunitas Protestan modern. Jadi bukan termasuk kategori 

Gereja Barat. Apalagi secara geografis yang dimaksud Gereja Barat yaitu  wilayah Gereja sekitar Eropa 

Barat, baik sekitar daerah Mediterania maupun daerah-daerah Skandinavia. sedang  secara etnis yang 

termasuk dalam lingkup Gereja Barat yaitu  bangsa-bangsa Latin (Itali, Spanyol, Perancis) dan bangsa-

bangsa Anglo-Saxon (Jerman, Belanda, Inggris) serta bangsa-bangsa Skandinavia (Denmark, Swedia, 

Skandinavia). Dan jika kita masukkan aliran-aliran Protestan, maka termasuk pula bangsa Amerika dan 

Kanada. Padahal jika kita lihat dalam Perjanjian Baru umat dalam Gereja Purba itu yaitu  bangsa Syria, 

Yahudi, Etiopia, dan Yunani, sehingga Gerejanya bukan termasuk Gereja Barat baik secara geografis, etnis 

maupun historis dan aqidahnya. Gereja Rasuliah Purba inilah yang disebut Gereja Orthodox dan berasal 

dari zaman awal munculnya Kekristenan itu sendiri. Gereja Orthodox yaitu  Gereja Purba yaitu Gereja 

Perjanjian Baru itu sendiri yang masih hadir di dunia ini tanpa berubah baik dalam ajaran, ibadah, maupun 

ethos dan cara pemerintahan Gerejanya sejak zaman para Rasul itu sendiri. Sejarah Gereja Orthodox lebih 

berlatar-belakangkan zaman Patristik Purba, Zaman Konsili-Konsili Ekumenis dalam lingkup Kerajaan 

Byzantium, Munculnya Islam, Penyebaran ke Eropa Timur dan Rusia, Penjajahan Turki, Penyerangan 

Bangsa Tartar, Penjajahan Komunis, Kemerdekaan negara-negara Balkan, dan sampai kepada zaman 

modern ini. 

Yang ikut ambil bagian dalam latar-belakang sejarah Gereja Orthodox di Timur ini yaitu  Gereja-Gereja 

Timur lainnya yaitu Gereja-Gereja yang disebut Monofisit atau Oriental Orthodox atau Non-Kalsedon 

(Koptik, Syria-Yakobit: di Indonesia ini dipromosikan dengan Nama Kanisah Orthodox Syria oleh 

“YAYASAN Study Orthodox Syria” pimpinan sdr. Bambang Noorsena S.H. yang tadinya yaitu  mantan 

anggota Gereja Orthodox Indonesia; kemudian Armenia, Ethiopia, dan Thomas India) serta Gereja yang 

disebut Nestorian (“Gereja Timur Assyria”, “Pre-Efesus”). 

Istilah “Orthodox” bukanlah nama aliran Gereja, sebab  sebenarnya Gereja Orthodox tak 

mempunyai nama. Orthodox berasal dua kata Yunani “orthos = lurus, benar” dan “doxa = 

pengajaran, pendapat, kemuliaan.” Jadi “orthodoxa” artinya yaitu  “ajaran yang lurus.” 

Untuk mengetahui Gereja Orthodox ini secara baik kita harus melacak 2000 tahun sejarah Gereja itu sampai 

kini. Dengan demikian kita dapat melokasikannya secara benar dalam spektrum Roma Katolik-Protestan 

itu. 

Agar kita dapat mengetahui lebih jelas dan mendalam tentang Gereja Kristus yang sejati ini, marilah kita 

membahas mengenai sejarah Gereja Orthodox selama 2000 tahun itu dalam bagiannya yang pertama. 

Namun sebelumnya akan kita bicarakan latar-belakang sejarah keselamatan yang direncanakan Allah sejak 

zaman Adam sampai dengan datangNya Yesus Kristus di dunia itu. Kemudian pembahasan sejarah itu akan 

kita bagi dalam lima bagian. Bagian pertama yaitu  awal perkembangan Iman Kristen sebagai fondasi dari 

keberadaan Gereja Orthodox selanjutnya. Bagian kedua akan membahas masa perumusan theologi Kristen 

yang Orthodox mengenai dua-kodrat dari Kristus yang satu dalam Konsili-Konsili Ekumenis Gereja Purba. 

Bagian Ketiga akan membicarakan situasi Gereja Orthodox sesudah Konsili-Konsili Ekumenis, sampai 

jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki. Bagian Keempat yaitu  Masa penjajahan Turki atas ummat 

Orthodox sampai akhir masa penjajahan Turki itu. Dan Bagian kelima akan membahas situasi Gereja 

Orthodox di abad kedua puluh dan kedua puluh satu ini serta munculnya Gereja Orthodox di Indonesia. 

Disamping tentang sejarahnya, buku ini dalam bagiannya yang kedua juga akan membahas tentang aqidah 

dan keyakinan Iman Gereja Orthodox berdasarkan Syahadat (Pengakuan Iman ) Nikea, yang dirumuskan 

pada Konsili Ekumenis Pertama tahun 325 dan yang diratifikasikan pada Konsili Ekumenis Kedua tahun 

381. Rumusan yang mana mrupakan garis besar dari ajaran Rasuliah sebagaimana yang tercatat dalam 

Alkitab dan yang selalu dipercayai oleh Gereja Universal yang Orthodox. Dalam bagian tentang aqidah atau 

pengajaran dan keyakinan iman itu pembahasan akan dibagi dalam bagian-bagian mengenai : Allah, karya 

Allah, Ciptaan: Malaikat, Iblis dan roh-roh jahat, serta penciptaan manusia. Kemudian dilanjutkan dengan 

pembahasan mengenai Yesus Kristus dan karyaNya, makna keselamatan yang diakibatkan oleh karya 

Yesus Kristus, serta Roh Kudus dan karyaNya, termasuk makna Gereja, sakramen-sakramen, kehidupan 

sesudah mati dan hari kiamat yang ditandai dengan dengan kedatangan Yesus Kristus yang kedua untuk 

menegakkan Kerajaan yang kekal. 

Bagian yang ketiga dari pembahasan buku ini adakah mengenai kehidupan Ibadah dari Gereja Orthodox 

itu. Termasuk di dalamnya yaitu  mengenai simbolisme Gedung gereja Orthodox, simbolisme kedudukan 

para rohaniwan Orthodox. Makna Sakramen-Sakramen Gereja Orthodox, Sholat harian tujuh kali sehari, 

Puasa dalam Gereja Orthodox serta zakat persepuluhan. Dan tertib-tertib ibadah lainnya, termasuk yang 

menyangkut kelahiran, kematian, pengudusan rumah, serta doa-doa yang menyangkut seluruh kebutuhan 

kehidupan.  

 

Bagian yang keempat atau yang terakhir dari buku ini akan membahas tentang kehidupan akhlak dan moral 

Orthodox sebagai akibat suatu praktek kehidupan yang diakibatkan oleh iman kepada aqidah serta 

pelaksanaan ibadah dalam kehidupan. 

Dengan demikian buku ini akan menjadi timba yangmenolong orang dapat mengambil air kebenaran yang 

sulit dan dalam dari Sumur Kitab Suci, agar orang menemukan kebenaran sejati, dengan demikian 

diselamatkan. 

 

Sejarah Gereja Ortodox Sejak Abad Pertama : Zaman Rasul-rasul Sampai Kini 

  

A. Zaman Purba 

Masa Pembentukan: Tiga Abad yang pertama : dari Yesus Kristus s/d Konstantinus Agung 

 

Abad 1 s/d Awal Abad 4: 

Gereja mulai muncul diatas dunia ini sejak Yesus Kristus diturunkan Allah dari sorga, sebagai Kalimatullah 

( Firman Allah ) yang menjelma menjadi manusia ( Yohanes 1:14, Galtia 4:4). Selama lebih kurang tiga 

setengah tahun Beliau mengajar dan berkarya, dan berpuncak pada peristiwa sengsara, penyaliban, 

kematian, penguburan, kebangkitanNya secara jasmani dari antara orang mati, serta kenaikanNya ke sorga. 

Peristiwa sengsara s/d kebangkitan ini akhirnya menjadi isi pokok berita (kerygma) dari para murid 

setiaNya yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peritiwa turunNya Roh Kudus yang 

dijanjikan Almasih atas mereka, pada hari Pentakosta ( Kisah 2). Dan kesengsaraan s/d kebangkitan Sang 

Kristus itulah inti Injil, yang semula diberitakan secara lisan.sebab  Kristus tak pernah menulis Kitab 

ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya ini, 

sebab  Dia sendiri yaitu  Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma Rasuliah secara lisan itu mula-

mula disebarkan hanya disekitar daerah Palestina saja, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas yang 

baru, yang disebut sebagai : Ekklesia, yang dari sinilah timbul kata Gereja ( berasal dari bahasa Portugis 

Igreja, sepadan dengan kata Spanyol : Iglesia, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu). 

Para Rasul itu akhirnya menyebar kemana-mana, mulai dari Yerusalem dan seluruh Palestina, kemudian 

ke seluruh Siria, dan Asia Kecil ( kini negara Turki) serta Yunani dan Afrika Utara terutama di Alexandria 

(Mesir) dan Karthago ( Libia). Inilah batas sebelah barat dunia Timur pada saat itu. sedang  ke Timur 

lagi Injil tersebar ke Edesa, Mesopotamia ( Irak, Babilon), dan Persia, yaitu daerah Siria Timur, sebab  yang 

menerima Injil di daerah timur ini yaitu  suku-suku yang berbahasa Siria, sampai ke India Selatan. 

sedang  ke Barat lagi Injil diterima di benua Eropa Barat dari Roma di Itali, Spanyol, dan yang nantinya 

akan berkembang ke seluruh Eropa. 

Dengan demikian kita melihat Injil tersebar dari Timur ke Barat dan di seluruh benua: Asia, Afrika dan 

Eropa. Memang Iman Kristen itu pada dasarnya yaitu  Agama Timur ( Timur Tengah). Pada saat inilah 

dokumen-dokumen yang akhirnya menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru mulai dituliskan oleh para rasul 

sebagai pemimpin Gereja itu kepada Gereja-Gereja ( Roma. Korintus, Galatia, Efesus, dll.) dan para 

pemimpin Gereja sebagai murid mereka secara langsung ( Titus, Timotius, Filemon, dll) yang telah mereka 

dirikan dan mereka pilih itu. Gereja ( Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci ( Perjanjian Baru) 

dipakemkan. Pada saat ini orang-orang non-Yahudi mulai diterima sebagai anggota ummat Allah, sesudah  

penyelesaian masalah penerimaan mereka, dan penyelesaian masalah dogmatis mengenai kedudukan 

Taurat, dalam Rapat Agiung (Konsili) para Rasul yang pertama di Yerusalem (Kisah 15). Konsili segenap 

Gereja inilah yang menjadi landasan adanya Konsili-Konsili di sepanjang sejarah Gereja itu. Orang-orang 

yang berobat itu hanya perlu beriman kepada Yesus Kristus tanpa harus menjadi Yahudi dengan mengikuti 

ritus-ritus Taurat, lalu dibaptiskan serta menjadi anggota Ekklesia yang dipimpin/ digembalakan oleh para 

“Presbyter” (“Penatua”) dan “Episkop (“Penilik Jemaat”) –Kisah 20:17,28 -, yang mereka ini menerima 

pentahbisan dari para Rasul sendiri ( Kisah 14:23), sebagai mata-rantai pelanjut-ganti pelayanan rasuliah.  

 

Para Rasul sendiri tidak menjadi “Gembala” ( “Episkop/Presbyter”) secara lokal dari Gereja lokal tertentu 

secara permanen dimanapun. Masing-masing kelompok ekklesia itu memiliki ciri khasnya dan masalah-

masalahnya sendiri, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Perjanjian Baru. Namun seluruh ekklesia 

diapnggil untuk memegang doktrin yang sama dan melaksanakan akhlak hidup dan ibadah yang sama pula. 

Pada zaman awal ini Gereja harus menghadapi ajaran sesat pen-Taurat-an Injil yang segera dapat 

diselesaikan, serta pe-mythologi-an Injil dalam wujud aliran “gnostikisme” yang hendak mencampur-

adukkan Injil dengan ajaran kafir Yunani-Romawi. Dengan keras para Rasul harus melawan ini 

sebagaimana yang kita lihat dari tulisan-tulisan Rasul Yohanes dan Rasul Paulus. Dengan kematian para 

rasul semuanya menjadi martyr (syuhada), kecuali Rasul Yohanes yang meninggal sebab  umur tua, Gereja 

berlanjut dipimpin oleh para murid rasul itu. 

Penganiayaan yang sudah dimulai oleh Nero pada zaman Rasul Paulus dan Petrus berlanjut sampai abad 

kedua. Saat ini Iman Kristen dianggap “Agama Tidak Sah “ (“Religio Illicita”) di seluruh Kekaisaran Roma. 

Mereka yaitu  penjahat dimata pemerintah Roma,sebab  menolak menyembah kaisar sebagai “tuhan” dan 

“ilah”. sedang  orang Kristen yang berada disebelah timur Mesopotamia yaitu dibawah Kerajaan Agung 

Persia, juga mengalami aniaya sebab  cemburu dari para pendeta agama Zoroaster, agama resmi negera 

Persia. Orang Kristen di Kekaisaran Roma dituduh” memberontak terhadap negera, pembunuh bayi-bayi 

dan memakan daging dan minum darah mereka (“ Makan dan Minum Daging dan Darah Anak Manusia”). 

Penganiayaan ini bersifat sporadis, mereka tak perlu dikejar-kejar namun jika ketahuan mereka harus 

dihukum.  

 

Diantara para pemimpin yang menderita dari aniaya abad ini yaitu  : Ignatius dari Antiokia, pengganti 

ketiga dari Rasul Petrus di Antiokia, Syria, sebagai Episkop ( 110 Masehi), Polykarpus, Episkop dari 

Smyrna, yang yaitu  murid Rasul Yohanes ( 156 Masehi) dan Yustinus Martyr(Syuhada). Yustinus Martyr 

ini memiliki seorang murid dari Syria bernama Tatianus. Dia pulang ke Syria sesudah  kematian Yustinus 

dan menterjemahkan Injil dari bahasa asli Yunani ke bahasa Syria, dalam bentuk yang diurutkan sesuai 

dengan urutan cerita, bukan empat bentuk terpisah seperti yang kita kita kenal, dan terjemahan ini terkenal 

sebagai “Diatessaron” , dan inilah Injil yang digunakan oleh Gereja Syria untuk waktu yang lama sampai 

akhirnya diganti dengan keempat Injil seperti seluruh Gereja lainnya, dalam bentuk terjemahan “Peshitta”, 

yang menjadi Kitab Suci Gereja Syria sampai sekarang. 

Disamping itu Gereja Syria menggunakan Perjanjian Lama bukan dari terjemahan Ibrani atau Septuaginta, 

namun dari Targum Aramia dari Perjanjian Lama yang berlaku di Babilonia. Ajaran Tatianus ini 

dipengaruhi oleh aliran gnostik “enkraitisme” yang menekankan pelajangan, dan asketisisme. Para 

pemimpin Kristen awal ini meninggalkan tulisan-tulisan yang bersama dengan “Didakhee”, “Surat 

Kepada Diognetus”, “Surat-Surat Klemen dari Roma” , “Surat Barnabas” (bukan Injil Palsu Barnabas 

yang dipromosikan Islam!!!), “Gembala Hermas” , serta tulisan-tulisan pembelaan iman (apologetik) 

dari Athenagoras dari Athena, Melito dari Sardis, serta Theofilus dari Antiokia serta dari theoloog 

yang terbesar dari abad kedua Ireneus dari Lyons, semuanya tadi memberikan gambaran yang jelas sekali 

mengenai iman dan kehidupan dari Gereja Perjanjian Baru yang berlanjut sampai abad kedua itu. 

Perkembangan yang paling penting pada abad kedua ini yaitu  munculnya para pembela iman 

( “apologist” ), yang membela Iman Kristen dari serangan Agama Yahudi, Agama Kafir Berhala, serta Bidat-

bidat yang muncul di sekitar Gereja. Juga berkembangnya Aqidah (Doktrin) Gereja serta permulaan 

Theologia sesudah zaman Rasuliah, ditegakkannya pemerintahan Gereja bagi masing-masing jemaat lokal 

yang dipimpin oleh Episkop (”Penilik Jemaat” ), Presbyter(“Penatua”) dan Diakon. Zaman ini pula 

fondasi pertama dari Ibadah dan Liturgi Kristen serta kehidupan Sakramental Gereja yang berlandaskan 

dari Ibadah Israel namun yang sudah terpisah dari Synagoga (Rumah Ibadah Yahudi) dan mulainya 

pembentukan Kitab Suci dari Gereja Perjanjian Baru itu terjadi. 

Pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua banyak tulisan palsu mengenai Kristus bermunculan. 

Tulisan-tulisan ini disebut tulisan-tulisan ‘apokrifa” ( jangan dikacaukan dengan “Anaginoskomena’ dari 

Perjanjian Lama!!) serta tulisan-tulisan “pseudopigrafa” . Biasanya tulisan-tulisan memakai nama salah 

seorang rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai masa kecil Yesus Kristus, kehidupan 

Perawan Maryam dan kegiatan-kegiatan karya para rasul. Dan sebagaian daripadanya menjadi kisah dalam 

Al-Qur’an terutama tentang masa kecil Kristus. Bersama dengan itu, muncul pula aliran “gnostikisme” , 

yaitu suatu bidat Kristen yang mengubah iman Kristen menjadi semacam ajaran kebatinan. 

Dalam melawan ajaran bidat gnostik inilah Gereja yang Rasuliah itu menyebut ajaran asli yang rasuliah itu 

sebagai ajaran (“doxa”) yang “lurus” (“orthos”) , Ortho+ doxa = Orthodox. 

sedang  ajaran “gnostik” itu sebagai ajaran (“doxa”) yang berbeda atau menyimpang 

(“heteros”), hetero+ doxa = Heterodox. Akibat dari melawan ajaran gnostik inilah munculnya theologia 

dari para “apologis” (“pembela-iman”). Jauh di sebelah timur di dearah Syria, Bardaisan yaitu  penulis 

yang terkenal mengenai masalah theologi. Namun dia mencampur-adukkan Injil dengan astrology dan 

mythologi, dan ajarannya tentang Allah kedengaran sangat aneh. Allah yaitu  satu yaitu Bapa, Roh Kudus 

yaitu  berjenis wanita sebagai “Bunda Kehidupan”, dan Anak Allah yaitu  keturunan dari Bapa dan Roh 

Kudus, Sang Bunda Kehidupan.Sehingga akhirnya Bardaisan dari Syria inipun dikucilkan dari Gereja. 

Akibat dari ajaran Gnostik ini pada para apologis yaitu  penekanan “ mata-rantai rasuliah” (“suksesi 

apostolik”, “silislah rasuliah”) sebagai penjamin ajaran yang benar dan tak terputus dari para rasul, yang 

diterus-sampaikan secara tak terputus dari gereja kepada gereja, dari generasi kepada generasi, dari 

tempat ke tempat, dan penerus-sampaian tanpa putus dari zaman rasuliah ini disebut sebagai “Paradosis” 

atau “Traditio”. 

Dan penyampaiannya itu dilakukan melalui pentahbisan dari para Episkop yang dapat dilacak dari mata 

rantai pentahbisan sejak zaman rasul-rasul. Dan para Episkop ini pengajaran dan prakteknya itu identik 

antara satu dengan yang lain, dan secara bersama ajaran mereka itu identik dengan ajaran para rasul Yesus 

Kristus sendiri. Sebagai akibat yang lain, Gereja mulai kokoh dalam keputusannya tulisan-tulisan mana 

yang menjadi bagian kanon Kitab Suci berdasarkan : 

1. tulisan-tulisan itu harus berasal dari zaman rasul. 

2. harus ditulis oleh rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka 

3. harus sesuai dengan ajaran rasuliah tanpa putus yang disampaikan sebagai paradosis dalam 

Gereja 

4. harus digunakan secara merata di seluruh gereja sejak awal 

5. harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik. 

  

Dari kriteria inilah akhirnya tersaring dari tulisan-tulisan rasuliah purba itu 27 kitab yang akhirnya kita 

kenal sebagai “Kitab Suci Perjanjian Baru” itu. Dan Kitan Suci Perjanjian Baru inilah yang berisi “Berita 

Gembira” (“Evanggelion”, “Evanggel”, “Injil”) tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia 

itu. sebab  memang Injil itu pada mulanya bukanlah suatu Kitab macam apapun namun peristiwa dan 

karya Almasih yang diberitakan secara lisan oleh para muridNya yang diberi gelar 

sebagai “apostolos” (“orang yang diutus” atau “rasul”) itu. 

Dalam tulisan-tulisan para apologis, para martyr (syuhada) dan para kudus dari abad kedua ini kita ketahui 

bahwa masing-masing jemaat Kristen lokal itu dipimpin oleh seorang Episkop/Uskup ( Penilik Jemaat) 

yang dilaksanakan oleh para Presbyter/ Imam ( “Penatua”) dan dilayani oleh Para Diakon. Terutama dalam 

tulisan-tulisan Ignatius ( Magnesia 6:1, Filadelfia 4, Smyrna 8:2). Ignatius juga mulai menggunakan istilah 

“Katholik” untuk menyebut sifat Gereja. Ini berasal dari kata “ Kath’ (menurut, sesuai dengan) dan “holon “ 

( sepenuhnya, kepenuhan). Ini yaitu  kwalitas sifat yang menjelaskan bagaimana Gereja itu, jadi bukan 

nama suatu agama, misalnya:Roma Katolik, Anglo-Katolik, Katolik Bebas, Katolik Lama,dll. Dan kata ini 

(Katholik =Kath + Holon) bermakna kwalitas sifat gereja itu yaitu  penuh, sempurna, lengkap, utuh, tanpa 

kekurangan apapun di dalamnya dari kepenuhan kasih-karunia, kebenaran dan kekudusan Allah. 

Demikianlah Gereja Rasuliah Perjanjian Baru pada abad yang kedua itu mulai menyebut dirinya sebagai 

Gereja yang “katholik” artinya bukan sekte-sekte yang main comot sana-sini dari kepenuhan dan keutuhan 

ajaran Rasuliah itu. Demikian juga Gereja purba itu disebut sebagai “Orthodox” artinya bukan yang 

menyimpang dari ajaran Rasul tadi. 

Dalam “Didakhee” dan “Pembelaan dari Yustinus Martyr” dan “Ireneus” ditemukan juga penjelasan 

mengenai bagaimana ibadah Kristen zaman abad kedua itu dilakukan, terutama ibadah hari Minggu yang 

berpusat pada kotbah dan Perjamuan Kudus, dan juga tentang baptisan. 

Menginjak pertengahan abad ketiga, yaitu tahun 249 Kaisar Desius naik tahta, dia mengadakan 

penganiayaan secara universal, dan penganiayaan itu dilanjutkan sampai zaman Kaisar Valerianus (253-

260). Orang Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai “tuhan” dan “ilah”, 

para rohaniwan Kristen harus dikejar dan dibunuh, harta milik Gereja harus disita. Baru di zaman 

Gallenius, anak dari Valerianuslah penganiayaan dihentikan .Pada saat itu perkembangan yang luar biasa 

terjadi dalam Gereja. Namun penganiayaan yang berat itu mengakibatkan suatu krisis besar dalam Gereja. 

Timbul pertanyaan dalam Gereja mengenai bagaimana memperlakukan orang-orang yang selama masa 

aniaya itu sebab  diancam rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, mereka ini disebut kaum 

“lapsi”. Ada yang melarang mereka masuk Gereja lagi, ada yang bersikap agak lunak. Akibatnya terdapat 

beberapa kelompok garis-keras yang menganggap Gereja terlalu lunak akan masalah para “lapsi” itu yang 

memisahkan diri dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang “Orthodox” dan “Katholik” itu. 

Diantara mereka yang memisahkan diri dari Gereja yaitu  Tertulianus (c. 220 ), penulis agung dan peletak 

dasar Theologia Latin di Gereja barat dari Afrika utara. Dia menggabung dengan gerakan bidat yang 

didirikan Montanus yang telah mulai pada akhir abad kedua, dan menyatakan diri sebagai Gereja “Nubuat 

Baru” dari Roh Kudus yang lebih sempurna dari Gereja ‘Perjanjian Kedua” ( Perjanjian Baru) dari Kristus. 

Ciri gerakan Montanisme ini yaitu  penekanan pada “karunia lidah” dan “nubuat-nubuat” serta penekanan 

bahwa Kerajaan Seribu Tahun akan segera datang di pulau Frigia, Asia Kecil. 

Pembela agung Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik ini pada saat itu yaitu  Kiprianus dari 

Karthago (meninggal tahun 258). Dia meninggal sebagai Martyr sesudah  membela Gereja Rasuliah yang 

Orthodox dan Katholik itu melawan aliran garis keras yang memisah dari Gereja sebab  masalah kaum 

“lapsi” tadi. Aliran yang dilawan dalam tulisan-tulisan Kiprianus ini yaitu  aliran “Novatianisme” yang 

didirikan oleh “Novatianus” yang berada di Roma. Novatianus menyebut alirannya sebagai “ Gereja Murni”. 

Kiprianus membela Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu dengan menekankan perlunya “mata-

rantai rasuliah” dalam ajaran dan “mata-rantai rasuliah” dalam pentahbisan para episkop dalam melawan 

apa yang disebut sebagai gereja-gereja “murni” yang hanya bersifat rohani yang abstrak dan tak nampak 

mata dari orang yang merasa dirinya lebih baik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu,serta 

yang mengangkat-angkat diri sendiri ini. Dia menekankan bahwa Gereja Kristus itu ada bagi penyembuhan 

orang berdosa, dan Kiprianuslah yang mengatakan juga bahwa “extra ekklesia nulla salus est “ (diluar 

Gereja,- yaitu diluar persekutuan kongkrit dari ummat yang percaya secara pribadi kepada Kristus 

dibawah pimpinan rohani Episkop dan berlandaskan suksesi rasuliah disekitar meja perjamuan kudus dan 

pemberitaan firman oleh presbyter – tidak ada keselamatan ). 

Abad ketiga ini menyaksikan juga perkembangan theologi secara formal dengan didirikannya sekolah 

theologia di Alexandria, Mesir oleh Pantaenus dan Klemen dari Alexandria ( meninggal kira-kira 

tahun 215 ). Yang akhirnya dikepalai oleh seorang penulis, sarjana, dan theoloog termasyhur: Origenes ( 

meninggal tahun 253). Theologi Alexandria ini menekankan bahwa filsafat Yunani yang non-Kristen itu 

dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Injil. Dan ciri khas dari pendekatan Alexandria ini yaitu  

tafsiran secara alegoris terhadap Kitab Suci, sedang  dalam tradisi Syria-Antiokhia yang tak lama 

kemudian akan berkembang yaitu  tafsiran harafiah berdasarkan tata-bahasa dan sejarah penulisan Kitab 

Suci.  

 

Kedua pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik, pada abad-abad berikutnya. Karya Origenes 

itu sangat luar biasa dan tak terhitung jumahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian sistimatis 

dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Karya Origenes ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia 

para bapa-bapa Gereja Yunani pada abad-abad berikutnya. Namun demikian secara ajaran banyak 

pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, sebab  tak Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili 

Ekumenis V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja. 

Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan bersama dengan Tertulianus, Kiprianus, 

Klemen dan Origenes yaitu  Dionysius dari Alexandria ( wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat 

235) Gregorius Pelaku Mukjizat di Kappadokia ( wafat 270) dan Methodios dari Olympus ( wafat 311) 

Orang-orang ini semuanya memperkembangkan theologia Kristen Orthodox terutama meletakkan 

landasan bagi pembahasan tentang Allah yang Esa dalam hubunganNya dengan Kalimatullah dan Rohullah 

sendiri yang terkenal sebagai ajaran Tritunggal Kudus yang dalam abad berikutnya akan menjadi 

pembahasan hangat dalam Gereja. Paulus dari Samosata dan Lukianus (Lusian) dari Antiokia terkenal 

akan ajaran bidatnya mengenai sifat ke-Tritunggal-an Allah. 

Mereka ini hidup pada akhir abad ketiga. Dari abad ketiga ini kita juga mendapatkan tulisan-tulisan yang 

menolong kita untuk melihat kehidupan liturgis dan kanonik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan 

Katholik ini pada abad ketiga itu, yaitu: Pengajaran-Pengajaran Para Rasul dari Siria serta Tradisi 

Rasuliah karya Hippolytus dari Roma ( wafat tahun 235). Tulisan yang pertama itu memberikan 

peraturan-peraturan mengenal jabatan hirarkis serta praktek-praktek sakramental dalam Gereja Syria, 

serta menjelaskan pertemuan liturgis jemaat. Dan tulisan kedua menjelaskan hal yang sama yang berlaku 

di Gereja Roma dengan lebih panjang dan detail. 

Abad keempat dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan kepada Gereja oleh 

Kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. sesudah  

surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasan dalam Kerajaan Romawi. Pada tahun 

312, Konstantinus menghadapi peperangan melawan Maxentius. Sebelum peperangan di Jembatan 

Milvianus di Roma, Konstantinus berdoa, serta mendapat penglihatan Salib Bersinar di langit dengan 

tulisan: Dengan Tanda Ini, Kalahkan. Dia memerintahkan para prajuritnya untuk mengenakan tanda 

salib ini pada perisai dan jubah mereka, Konstantinus memenangkan peperangan itu. Konstantinus segera 

bergerak untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen, serta menunjukkan 

kecenderungannya kepada Iman Kristen. Sebelum kematiannya Konstantinus membangun suatu kota 

di Byzantium bagi ibu-kota yang baru dari Kerajaannya itu, dan kota itu 

disebut “Konstantinopel“ (kini: ”Istambul” , di Turki) untuk menghormatinya. Konstantinus sendiri baru 

dibaptiskan diatas ranjang menjelang kematiannya pada tahun 337. Bersama dengan ibunya Maharatu 

Heleni, dia menemukan Salib Asli Kristus di Yerusalem, serta keduanya diakui sebagai orang suci dalam 

Gereja Orthodox sampai kini. 

Iman Kristen diakui sebagai agama resmi Kerajaan Byzantium pada tahun 380, oleh ketetapan 

Kaisar Theodosius. Dengan demikian Kekaisaran Romawi terbagi dalam dua bagian: Romawi Barat 

berpusat di Roma dan Romawi Timur berpusat di Konstantinopel. Pembagian Kerajaan menjadi Barat dan 

Timur ini, akhirnya membentuk perkembangan wilayah Gereja menjadi Gereja Barat berpusat di Roma dan 

Gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem. Sementara itu ummat 

Kristen Syria yang tinggal di Kekaisaran Persia, makin mengalami aniaya sebab  dicurigai sebagai antek 

musuh Kerajaan Persia, sebab  sekarang Kerajaan Romawi musuh bebuyutan Persia, telah menjadi 

Kristen: Kerajaan Byzantium. 

B. Zaman Konsili 

Masa Konsili –Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah Yang Satu dan Orthodox : abad ke IV ( tahun 

325) s/d abad ke VIII (tahun 787). 

Pada saat pemerintahan Konstantinus ini Gereja mendapatkan kembali harta miliknya, serta terbebas dari 

aniaya dari luar. Namun ketenteraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat yang berasal 

dari dalam. Pertama yaitu  munculnya aliran perpecahan Donatisme di Afrika Utara, yang dipimpin oleh 

Donatus, yang menolak Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan “lapsi” pada saat 

penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantinus membiarkan Gereja untuk menyelesaikan 

masalahnya sendiri, dia menggunakan kekuatan militer untuk memihak, pada pertama kalinya pihak 

Donatis, dalam memaksakan keputusannya. Perpecahan Donatisme ini menyebabkan lenyap-punahnya 

Gereja Afrika Utara (Libia, Moroko, Aljazair) yang dulu pernah jaya. 

1. Konsili Agung Ekumenis Pertama ( 325 Masehi) di Nikea dan Kedua (381) di Konstantinopel 

Kemudian muncul masalah dari Alexandria, Mesir. Arius seorang presbiter mengajarkan bahwa Allah yang 

Esa itu hanya Bapa saja, Anak Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, yaitu  

makhluk pertama dan yang terluhur yang diciptakan Allah dalam wujud roh. Dibantu oleh ciptaan 

pertama ini Allah menciptakan ciptaan yang lain. Dia bukan Firman Allah (Kalimatullah) yang 

kekal yang berada satu di dalam Allah sejak kekal. Ajaran ini jelas bertentangan dengan ke-Esa-an Allah, 

sebab Allah Yang Esa, tak pernah dan tak mungkin dibantu oleh makhluk siapapun dalam mencipta, sebab  

Dia mencipta langsung melalui FirmanNya sendiri yang berada satu di dalam DiriNya. Ajaran ini jelas 

mempersekutukan Allah dengan makhluk, inilah ajaran musyrik. Ajaran Arius yang disebut Arianisme ini 

(yang di zaman modern ini dimunculkan kembali oleh Saksi-Saksi Yehuwah) menimbulkan keresahan 

dalam Gereja. 

Akhirnya sebagaimana di zaman Para Rasul, Gereja Rasuliah Purba yang Orthodox pada abad keempat 

inipun menyelesaikan masalah ini dalam Konsili, yang diadakan di kota Nikea pada tahun 325, dipanggil 

oleh raja Konstantinus. Seluruh pemimpin Kristen (dihadiri 318 Episkop) dari segenap “Oikumene” ( 

“dunia yang beradab”) dari Gereja yang satu dan tidak terpecah-pecah itu, berkumpul mengadakan Konsili 

Agung yang pertama ini. Itulah sebabnya Konsili ini disebut “Konsili Ekumenis.” sesudah  melalui doa dan 

pembahasan theologis yang mendalam berdasarkan iman rasuliah, Konsili menemukan rumusan 

berdasarkan data Kitab Suci bahwa“Kalimatullah” (Logos), Firman, atau Anak Allah itu kekal dan ilahi, 

Dia diperanakkan(dikeluarkan dari dalam dzaat-hakekat) dari Bapa sendiri sejak kekal, bukan dijadikan 

dan bukan diciptakan. Dia berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa yang satu itu. Dia yaitu  ”homo-

ousios” ( = satu dzat-hakekat, satu essensi) dengan Bapa. Dengan demikian Dia yaitu “Allah Sejati” , 

sebab  Dia yaitu  Firman Allah/Kalimatullah yang sejati, yang keluar dari “Allah Sejati” (Sang 

Bapa), yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) segala sesuatu dijadikan oleh Allah. Firman Allah yang 

kekal dan yang sama inilah, tanpa meninggalkan kesatuannya dalam Dzat-Hakekat Allah telah diutus turun 

ke bumi oleh Allah, mengambil daging kemanusiaan, dan lahir sebagai manusia dari Sang Perawan Maryam 

oleh Kuasa Roh Kudus, sebagai manusia Yesus Kristus (Yoshua Ha-Masiah, Isho de-Mesiha, Isa Almasih): 

Mesias Israel dan Juru Selamat dunia. Namun keputusan Konsili ini tidak segera diterima oleh seluruh 

Gereja sampai masa waktu yang lama. Pertikaian mengenai pribadi Kristus terus berlanjut, sehingga 

banyak konsili-konsili lokal diadakan untuk membahas masalah ini. Pihak Arianisme mendapat dukungan 

kuat dari kekuasaan pemerintah, sedang  para pembela Iman Orthodox sebagaimana yang telah 

dinyatakan dalam Konsili Nikea itu sangat dianiaya dan dibunuh oleh pemerintah dan pendukung-

pendukung bidat Arianisme ini. 

Masalah ini berlanjut sampai tahun 381, ketika diadakan Konsili Ekumenis yang kedua di 

Konstantinopel, untuk menyelesaikan masalah bidat baru yang dimunculkan oleh Makedonius, yang 

disebut bidat Makedonianisme. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus yang yaitu  Roh Allah 

sendiri itu bukan ilahi dan tidak kekal. Dia hanya daya-aktif Allah saja (seperti yang juga diajarkan Saksi-

saksi Yehuwah). Berdasarkan data-data Kitab Suci dan Iman Rasuliah yang selalu dipelihara Gereja 

Orthodox ini, maka Konsili mendeklarasikan bahwa Roh Kudus itu yaitu  ilahi (“Tuhan”) , yang “keluar 

dari Bapa” berarti berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa bersama Firman Allah sendiri, 

sehingga “bersama Bapa dan Putra” artinya sebagaimana Putra sebagai Firman Allah sendiri itu berada 

satu dalam Hakekat Bapa, demikianlah Roh Kudus sebagai Roh Allah sendiripun satu bersama kesatuan 

Putra dalam Bapa, dalam satu Hakekat Ilahi yang sama “disembah dan dimuliakan” . Demikianlah 

keilahian Firman Allah/Putra dan Roh Allah/Roh Kudus ditekankan namun ke-Esa-an Allah tak dilanggar. 

sebab  baik Firman maupun Roh itu berada satu di dalam hakekat Allah (Bapa) yang hanya satu itu. Pada 

saat inilah rumusan Konsili Pertama dan Kedua ini baru diteguhkan kembali menjadi satu rumusan 

Pengakuan Iman (Syahadat), yang menjadi Pengakuan Iman Orthodox sampai sekarang dengan 

nama “Pengakuan Iman (Syahadat) Nikea”. 

Para tokoh spiritual (bapa-bapa Gereja) yang sangat berjasa membela Iman Rasuliah yang Orthodox, 

menentang Arianisme dan Makedonianisme pada saat ini yaitu  Bapa “Aghios Athanasius 

Agung” Episkop dari Alexandria,Mesir (meninggal tahun 373) yang banyak mengalami aniaya dari 

kelompok Arianisme dan pemerintah, serta tiga Episkop dari Kappadokia (Asia Kecil) Bapa “Aghios 

Basilius Agung” (wafat: 379), saudara laki-lakinya Bapa“Aghios Gregorius dari Nyssa” serta sahabat 

mereka berdua Bapa “Aghios Gregorius Nazianzus Pakar Theologia” (wafat: 389). Mereka ini banyak 

menderita aniaya dari pemerintah dan pengikut Arianisme, namun tanpa takut mereka menjelaskan Iman 

Kristen yang sejati tentang Keilahian Kristus dan Roh Kudus di dalam kesatuan hakekat dari Allah yang Esa 

(Bapa), yang sampai sekarang tetap menjadi standard aqidah ajaran dan theologia Gereja Orthodox. 

Pada saat pertikaian Arianisme ini Gereja tidak berhenti dalam menyebarkan Injil, sehingga seorang 

rohaniwan yang bernama Ulfilas dikirim dari Gereja Timur di Konstantinopel untuk menginjili suku-suku 

bangsa Jerman dan menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa itu. Namun sebab  yang mendapat 

dukungan pemerintah saat ini yaitu  kelompok Arianisme, yang diajarkan kepada suku-suku Jerman ini 

yaitu  theologia Arius mengenai Kristus. Baru kemudian ketika suku-suku yang sudah menjadi Kristen 

namun yang mengikuti bidat Arianisme ini mulai menyerang Roma, mereka secara pelan-pelan mengikuti 

ajaran Orthodox yang waktu itu dipelihara oleh Gereja Roma juga, sehingga pada abad-abad kemudian 

mereka menjadi Roma Katolik. Dalam Konsili Nikea itu ditetapkan sebagai “Hukum Kanon” bahwa 

Gereja Roma itu menjadi yang utama untuk seluruh Gereja Barat di Eropa barat, 

Gereja Alexandria untuk seluruh Afrika, dan Gereja Antiokhia untuk Syria dan seluruh daerah Timur, 

jadi termasuk Gereja di Persia dan India (Kanon 6), dan keluhuran Gereja Yerusalem sebagai asal-usul 

munculnya Iman Kristen diakui (Kanon 7). sedang  dalam Konsili kedua di Konstantinopel suatu Hukum 

Kanon ditegaskan bahwa: ”Episkop Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah 

Episkop di Roma, sebab  Konstantinopel yaitu  Roma Baru” ( Kanon 3). 

Masing-masing pusat Kekristen yang berjumlah lima (Pentarkhi) ini dipimpin oleh Episkop yang bergelar 

Paus,dari kata Pappas = Bapak (terutama Roma dan Alexandria) atau Patriarkh, dari kata Pater =Bapak, 

Arkhi = Pemimpin. Kanon tentang Konstantinopel ini nantinya menjadi suatu persaingan kedudukan 

antara Gereja Alexandria yang tadinya berada di tingkat kedua sesudah Roma, dan sekarang 

Konstantinopel sebagai Ibukota Kerajaan yang baru harus menduduki tempat itu. Pada saat ini di Antiokhia 

juga telah berkembang tradisi theologia yang berbeda pendekatannya dari Alexandria. Jika Alexandria 

menekankan “alegori”, maka Antiokhia lebih menekankan pendekatan “literal, tata-bahasa, dan 

kesejarahan” atas Kitab Suci. Sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian Kristus, 

Antiokhia lebih menekankan kemanusiaan Kristus. Sayang Siria dan Mesir harus konflik nantinya, padahal 

keduanya seharusnya saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang utuh bagi pendekatan atas Kitab Suci.  

 

Pada saat ini Gereja Syria di Persia sedang mengalami penganiayaan yang hebat di bawah para shah (raja) 

Persia ( 340-363, 379-401). Pada abad keempat ini terjadi juga perkembangan liturgis, yaitu dari Liturgi 

Yakobus yang awal yang berasal dari Yerusalem danm Siria maka doa-doa telah ditambahkan ke dalamnya 

jadilah doa-doa Liturgi Aghios Basilius Agung dan Liturgi Yohanes Krisostomos (wafat: 407), yang 

sampai sekarang menjadi Liturgi-Liturgi utama Gereja Orthodox. Dari kotbah katekisasi dari Aghios 

Yohanes Krisostomos dan Aghios Kyrillos dari Yerusalem (wafat: 386) terlihat bahwa Sakramen 

Baptisan dan Krisma (Pengurapan) yang dirayakan pada abad keempat itu hampir tak berubah sedikitpun 

tetap dilaksanakan oleh Gereja Orthodox masakini. Pada saat ini Puasa Paskah 40 hari (Catur 

Dasa) dan Perayaan Paskah seperti yang tetap dirayakan oleh Gereja Orthodox masakini itu sudah betul-

betul mapan. Disamping itu kita juga menyaksikan pada abad keempat ini perkembangan kehidupan 

kerahiban yang sedang memekar terjadi di Mesir - dipimpin oleh Aghios Antonius Agung – dan di Syria 

(rahib-rahib Syria inilah yang nantinya banyak dijumpai Nabi Muhammad di padang-padang gurun dalam 

perjalanan perdagangannya dari Mekah ke Syria, dan banyak mempengaruhi pendapatnya mengenai 

Kekristenan dan keagamaan pada umumnya) serta Eropa Barat. Diantara para rahib suci dari zaman ini 

yang berasal dari Timur yaitu : Paulus dari Thebes (Mesir), Pakhomius ( Mesir), Hilarion, Sabbas 

(Palestina), Makarius dari Mesir, Epiphanius dari Siprus, dan Efraim dari Syria. sedang  rahib suci dari 

Barat pada saat ini yaitu : Yerome, Yohanes Kassianus, serta Martinus dari Tour. Para Episkop Suci 

terkenal dari abad keempat ini yaitu : dari Timur Aghios Nikholas dari Myra di Lysia ( yang budaya Barat 

mengubah dia menjadi tokoh mythologis “Santa Claus” /Sinter Klaas), Aghios Spyridon, dan dari Barat 

yaitu  Santo Ambrosius dari Milano, Itali. 

2. Konsili Agung Ekumenis Ketiga (431) di Efesus dan Keempat (451) di Kalsedonia. 

Sejak keputusan Konsili kedua tentang kedudukan Konstantinopel. Alexandria selalu berusaha untuk 

menyaingi Konstantinopel. Secara kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di 

Konstantinopel yaitu  seorang Syria dari Antiokhia, bernama: :Nestorius. Sebagai seorang Syria maka 

tradisi theologia Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, yaitu tradisi yang 

menekankan kemanusiaan Kristus. Maka Nestorius lebih menekankan kemanusiaan Kristus, sehingga 

menolak gelar “Theotokos” ( “Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah” yaitu Kalimatullah yang 

menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk menyebut Maryam. Menurut Nestorius 

yang dilahirkan Maryam hanyalah seorang “manusia” yang di dalamnya “Kalimatullah/Firman Allah” itu 

bersemayam, jadi bukan Kalimatullah/Firman Allah itu sendiri yang menjadi manusia, bertentangan 

dengan apa yang telah diakui dalam kedua konsili sebelumnya. Kesempatan ini digunakan oleh Gereja 

Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia dan kedudukan Konstantinopel yang 

dianggap menggeser kedudukan Alexandria itu, melalui Aghios Kyrillos dari Alexandria. Dia ingin 

menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan demikian mempermalukan 

Konstantinopel, serta melawan pemahaman theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria, 

Antiokhia, yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak Alkitabiah, dan tidak rasuliah. Dan 

inilah kesempatan yang baik. 

Jadi sebenarnya konflik ini yaitu  yaitu  konflik antara Mesir dan Syria (bukan dengan unsur Yunani 

dalam Gereja Timur itu). Aghios Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam 

sebagai “Theotokos” ,sebab  Dia yang dilahirkan olehnya yaitu  “Firman” yang yaitu  “Allah”, yang “telah 

menjadi manusia” (Yohanes 1:1,14). Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan dalam penjelmaanNya 

sebagai manusia, maka Maryam memang melahirkan Firman Allah dalam penjelmaanNya sebagai manusia. 

Jadi Maryam memang “Theotokos” . Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan bertobat pada 

peringatan Aghios Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh Aghios Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus, 

sejumlah kecil Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandria serta menolak 

ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini. , dimana ditegaskan bahwa Maryam yaitu  Theotokos, sebab  

yang dilahirkan Maryam tak lain yaitu  “Firman Allah” yang sama dan yang satu yang menjelma menjadi 

manusia. Baru pada tahun 433 sajalah keputusan Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan 

akhirnya diakui sebagai Konsili Ekumenis Ketiga. 

Sementara itu Gereja Syria di Persia akibat penganiayaan para shah yang begitu kejam akibat provokasi 

dari para Majus atau pemimpin Agama Zoroaster penyembah api itu, sebab  dicurigai menjadi antek 

Byzantium yang beragama Kristen, musuh bebuyutan Persia itu, memutuskan untuk memiliki Patriarkh 

sendiri, lepas dari Antiokhia, sebab  Antiokhia berada dalam wilayah Byzantium. Dan untuk meyakinkan 

Shah Persia bahwa mereka bukan antek Byzantium, maka secara alamiah mereka menerima theologia Syria 

dari Nestorius, sebab  selama ini Gereja Syria, di Persia, memang menghormati tulisan-tulisan Theodoros 

dari Mopsuestia, guru dari Nestorius. Demikianlah meskipun Nestorius akhirnya meninggal sebagai rahib 

di padang gurun Libia, ajarannya tetap dipertahankan oleh Gereja Syria di Persia. 

Maka Gereja Syriapun terpecah menjadi dua, yaitu : 

1. di Syria Barat yang mengikuti definisi dari Kyrillos dari Alexandria 

 2. di Syria Timur yang mengikuti definisi Nestorius, orang Syria itu. 

Sejak saat itu Gereja Syria Timur ini terkenal dengan nama Gereja Nestorian, meskipun sebenarnya mereka 

sendiri tak pernah menyebut diri mereka demikian. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh Nestorianisme 

yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja 

Orthodox.. Sehingga ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai Gereja Orthodox Pre-

Kalsedonia. Dan Gereja Persia yang sebenranya merupakan bagian dari Gereja Orthodox Antiokhia ini 

menjadi Gereja yang amat misioner, sehingga sampai mengabarkan Injil di China, dan bahkan pada abad 

ketujuh di Indonesia : di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada berita bahwa mereka juga ada di Kerajaan 

Majapahit.  

 

Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima oleh semua pihak, sebab  masih timbul 

kontroversi mengenai ajaran Aghios Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan ajaran 

Aghios Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun sesudah  

saling berdialog tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang dimaksud oleh 

Aghios Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib bernama Eutyches, mengajarkan bahwa yang 

dimaksud oleh Kyrillos yaitu  bahwa Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) saja, yaitu 

kodrat Ilahi, sebab kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahiNya. Ajaran ini menimbulkan kegelisahan 

kembali di dalam Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri bersama Patriarkh 

Dioskoros dari Alexandria dan Eutykhes pada tahun 449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa 

mereka pengikut ajaran Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar Episkop, namun tidak 

diterima sebagai Konsili yang sah, malah disebut sebagai “Latrocinium”atau “Konsili Para Perampok” . 

Ajaran tentang Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) ini akhirnya terkenal sebagai 

ajaran Monofisitisme, yang ditolak oleh Gereja dan dinyatakan bidat. 

Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan pada tahun 451, di 

kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis 

Keempat, dan berhasil membela ajaran Aghios Kyrillos dari Alexandria serta ajaran Konsili Ekumenis 

Ketiga di Efesus tahun 431. Ini juga memuaskan tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan 

Kristus yang sejati yang secara jelas harus diakui. Definisi dogmatis dari Konsili Kalsedonia ini mengikuti 

secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh Paus Santo Leo dari Roma, yang tidak turut hadir dalam 

Konsili itu, namun hanya mengirim wakil-wakilnya. 

Menurut definisi Konsili Kalsedonia ini Kristus itu memiliki “satu hypostasis” ( menegaskan tradisi 

theologia Alexandria) dalam “dua kodrat” ( menegaskan tradisi theologia Syria, Antiokhia) – ilahi dan 

manusiawi. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah sempurna dan manusia sempurna. 

Sebagai Allah (yaitu:Firman Allah) Dia “satu Dzat-Hakekat/Essensi” dengan Sang Bapa (Allah yang Esa) dan 

dengan Roh Allah sendiri. Dan sebagai manusia, Dia satu “hakekat/ esensi” dengan segenap manusia. 

Keilahian dan kemanusiaan Kristus itu menyatu/manunggal dalam satu hypostasis /pribadi namun tidak 

campur-baur dan tidak kacau-balau dan tidak terpisah-pisah serta tidak terbagi-bagi. Kristus itu 

satu pribadi yang sekaligus Allah dan Manusia. 

Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini sebab  dianggap berbau 

Nestorianisme, suatu tuduhan yang tidak tepat dan tidak fair memang. Mereka menegaskan bahwa Kristus 

hanya memiliki “satu kodrat” saja, meskipun kodrat itu telah menjelma, padahal menurut mereka Konsili 

ini mengatakan Kristus memiliki “dua kodrat” yang dianggap sebagai kesesatan Nestorius, namun mereka 

tidak menggabungkan bahwa “dua kodrat” itu dalam satu pribadi, atau satu hypostasis, yang jelas tak 

bersangkutan dengan ajaran Nestorius. 

Demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox alur utama. Para pendukung 

Konsili Kalsedonia akhirnya mengangkat Patriakh Kalsedonia di Mesir : Proterius (452-457), penentang 

Kalsedonia memilih Patriarkh tandingan mereka, yaitu Timotius Si Kucing. Sejak itulah Gereja Mesir 

terpecah dua, yang Orthodox Kalsedonia yang tetap bersatu dengan seluruh Gereja universal, dan yang 

menolak Kalsedonia, yang kemudian terkenal dengan Gereja Koptik Orthodox, serta mengikuti faham 

“satu-kodrat” (monophysis). 

Demikian juga di pihak Syria, ada yang mengikuti langkah Gereja Alexandria dalam memeluk faham “satu-

kodrat” ini. namun ada yang tetap dengan Gereja Universal yang menerima Konsili Kalsedonia. Dengan 

demikian Gereja Syria sebelah Barat terpecah lagi antara yang “Orthodox” (kaum Monophysit, 

menyebut Gereja Syria yang Orthodox ini sebagai: Malkaya/Melkit, atau para pengikut Raja/Malak) 

dan yang “Monophysit”. 

Pihak Monophysit ini oleh perjuangan Yakub Burdana ( Yakub Baradeus) berhasil mengorganisasi suatu 

lembaga kegerajaan Syria Monophysit, yang akhirnya terkenal dengan nama Gereja Syria Orthodox atau 

Gereja Yakobit. Gereja Yakobit Syria, inilah yang di Indonesia dipopulerkan dengan nama “Kanisah 

Orthodox Syria” oleh Yayasan Study Orthodox Syria, pimpinan saudara Bambang Noorsena, sesudah ia 

keluar dari keanggotaannya, yang pada saat itu bersama dengan Pdt. Yusuf Roni, dalam Gereja Orthodox 

Indonesia.  

 

sedang  yang Orthodox alur utama tetap melanjutkan Kepatriarkhan Syria Antiokhia yang memiliki 

hubungan dengan Gereja-Gereja Aleksandria Orthodox, Konstantinopel, Yerusalem, dan Roma. Gereja 

Armenia sebab  sedang menghadapi perang dengan Persia sehingga tak terwakili dalam Konsili 

Kalsedonia, menolak hasil Konsili itu serta mengikuti faham “satu-kodrat”, demikian pula Gereja Thomas 

India yang terkait dengan Gereja Persia dan Gereja Syria, dan Gereja Ethiopia yang terkait dengan Gereja 

Koptik. Lima Gereja ( Koptik, Syria-Yakobit, Armenia, Thomas-India, dan Ethiopia) inilah yang dalam buku-

buku sejarah Gereja terkenal dengan nama : Gereja-Gereja Monofisit, atau pada masakini akibat hubungan-

hubungan ekumenis, untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental Orthodox, atau 

Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia. sedang  Gereja Orthodox 

Alur Utama, disebut Gereja Orthodox Timur, atau Gereja Orthodox Kalsedonia atau Gereja Orthodox 

Yunani. ( - Kata “Yunani” itu tak berarti menunjuk etnik Yunani, sama seperti “Roma” Katolik tak menunjuk 

pengikutnya sebagai bangsa Roma, namun untuk menunjuk ekspresi karya sastra theologis utama dari 

para bapa Gereja Timur yaitu  menggunakan bahasa Yunani, meskipun jika mereka itu berkebangsaan 

Syria misalnya Efraim dari Syria, Yohanes Khrisostomos, atau berkebangsaan Koptik, misalnya Athanasius 

dari Alexandria, Kyrilos dari Alexandria, Klemen dari Alexandria dan lain-lainnya, sebagaimana Gereja 

Barat menggunakan bahasa Latin, maka Gereja Baratpun sering disebut “Gereja Latin”.-) Meskipun sudah 

berkali-kali ada usaha untuk mempersatukan mereka yang memisah ini baik di zaman purba maupun pada 

zaman modern ini, namun mereka masih tetap terpisah dari Gereja Orthodox. 

Konsili Ekumenis yang Ketiga dan yang Keempat ini menetapkan beberapa Kanon yang bersifat disipliner 

dan bersifat praktis. Dalam Konsili Ketiga di Efesus, ada larangan membuat Pengakuan Iman yang lain, atau 

mengarang “Pengakuan Iman Yang Berbeda” (Kanon 7) dari apa yang sudah dirumuskan dalam Konsili I 

dan Konsili II. Kanon ini digunakan sebagai dasar bagi menentang penambahan atas Pengakuan Iman Nikea 

oleh Gereja Barat dengan kata “filioque” (“dan Sang Putra”) ketika berbicara tentang Roh Kudus. Menurut 

aslinya Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa”, tetapi menurut tambahan filioque dari Gereja Barat ini, Roh 

Kudus itu keluar dari “ Sang Bapa dan Sang Putra”. Konsili Keempat di Kalsedonia, memberikan 

Konstantinopel Ibukota yang baru atau Roma Baru itu “ kehormatan-kehormatan yang sejajar dengan 

ibukota Roma yang lama” , sebab  ibukota yang baru itu dihormati dengan adanya “kaisar dan senat” ( 

Kanon 28). Pada saat ini kita menyaksikan kemunduran di Gereja Barat dengan jatuhnya Roma ke tangan 

bangsa Barbarian. 

Masuknya Gereja Barat pada zaman ini ke dalam apa yang disebut “Zaman Kegelapan” sangat cepat 

terjadi sesudah  meninggalnya Agustinus, Episkop dari Hippo ( 430). Agustinus menulis banyak buku yang 

sangat mengundang perdebatan terutama di Gereja Timur, yang isinya sangat mempengaruhi seluruh 

sejarah Gereja Barat, baik yang Roma (Katolik) maupun yang Reformasi (Protestan), namun yang tak 

diterima oleh Gereja Timur. Sementara itu Gereja Timur masih sedang dalam zaman keemasan dan 

kejayaannya.  

 

3. Konsili Agung Ekumenis Kelima ( 553) di Konstantinopel dan Konsili Agung Ekumenis Keenam 

(680-681) di Konstantinopel 

Pada abad keenam ini Kaisar Yustinianus menginginkan kesatuan Gereja dan kesatuan negara sekaligus. 

Oleh sebab  itu dia berusaha agar pihak Monofisit dapat disatukan kembali kepada Gereja Orthodox. 

Usahanya ini dengan mengadakan suatu Konsili di Konstantinopel (553) , yang akhirnya diakui 

sebagai Konsili Kelima, dimana di dalam Konsili ini suatu tulisan yang disebut sebagai “Tiga Pasal” yang 

disenangi pendukung Kalsedonia, namun yang direndahkan oleh mereka yang menolak Kalsedonia, 

dikutuk Yustinianus secara resmi. Tulisan ini yaitu  tulisan dari Theodoret dari Cyrus, Ibas dari Edessa, 

serta Theodorus Mopsuestia yang semuanya yaitu  orang-orang Syria. Tetapi kutukan itu tak bisa 

diterima para pendukung Konsili Kalsedonia, sebab meskipun mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran 

yang salah dan kabur dari tiga penulis ini, namun tidak ada alasan untuk mengutuk mereka. Usaha 

Yustinianus untuk menyatukan pihak Monofisit ini akhirnya tak berbuah, dan pihak Monofisit sendiri tidak 

yakin untuk bisa menyatu kembali dengan Gereja Orthodox. 

Disamping menolak ajaran yang salah dan kabur dari “Tiga Pasal” , Konsili ini juga menolak beberapa 

ajaran Origenes dari Alexandria yang sangat tidak Orthodox, misalnya bahwa jiwa manusia sudah ada 

sebelum masuk kedalam tubuh jasmani untuk lahir di dunia ini, dan lain-lain. Dan Konsili ini menegaskan 

kembali rumusan Konsili Kalsedonia bahwa Yesus Kristus yaitu  “satu dari Tritunggal Kudus” (artinya: Dia 

Ilahi yang satu hakekat dengan Allah sendiri dan RohNya yang ada di dalam hakekat Allah). Dan Hypostasis 

Kalimatullah yang satu dan yang sama inilah telah memanunggalkan secara "hypostatik" dalam DiriNya 

sendiri yang satu itu dua kodrat yang saling berlawanan: Allah dan Manusia., tanpa campur-baur (Yang 

Ilahi tidak menjadi Manusia, Yang Manusiawi tidan menjadi Ilahi) dan tanpa terpisah-pisah (Yang Ilahi dan 

Yang Manusia manunggal secara tak terpisah dalam Satu Hypostasis). 

Yustinianus sangat giat menyerang sisa agama kafir Yunani, serta menutup Universitas Athena dari 

pengaruh kafir Yunani, serta hanya mempromosikan ilmu-ilmu Kristen saja. Dia membangun banyak 

Gereja, terutama di Betlehem, Yerusalem, dan Gunung Sinai. Karyanya yang terbesar yaitu  Gereja Aghia 

Sophia, yang pernah dijadikan Masjid oleh bangsa Turki sejatuhnya Konstantinopel, dan sekarang menjadi 

Museum. Gereja Konstantinopel pada saat ini sudah menggunakan praktek-praktek liturgis yang telah 

dilakukan di Palestina dan Syria. Praktek Ibadah Gereja Konstantinopel saat ini, digabung dengan Ibadah 

Kristen Yahudi dari abad-abad awal Kekristenan, serta sholat-sholat tujuh waktu yang telah berkembang 

di biara-biara, dan praktek-praktek Liturgis di Yerusalem. untuk membentuk suatu synthesis agung 

pertama kali dari ibadah Liturgis Gereja Orthodox. Sehingga biarpun Gereja Orthodox itu disebut sebagai