Gereja Kristus yang Satu dan untuk Selama-lamanya
Di dunia masakini begitu banyak aliran keagamaan yang menamakan dirinya Kristen atau Gereja. Namun
demikian sering kita jumpai bahwa dalam masalah ajaran, aliran-aliran yang satu amat berbeda dengan
aliran yang lain. Belum lagi bagi banyak orang hanya mengenal Kekristenan dalam dua bentuk saja yaitu:
Katolik Roma dan denominasi-denominasi Protestan. Dua bentuk inipun sementara masing-masing
menyatakan dirinya sebagai ajaran Injil yang benar dan sejati atau sebagai Gereja Kristus yang benar,
dalam realitanya banyak praktek dan ajarannya itu saling bertentangan satu dengan yang lain. Demikian
pula dalam apa yang kita sebut dengan denominasi-denominasi Protestan, begitu banyak aliran yang satu
sungguh-sungguh berbeda akidah dan ajarannya dengan yang lain. Dan semuanya itu mengaku sebagai
Gereja yang benar. Kita yang mencintai kebenaran dan mencari kebenaran dijadikan bingung sebab nya.
Mungkinkah dengan Kitab Suci yang satu, Allah yang Satu, Yesus yang satu, Roh Kudus yang Satu, terdapat
Iman atau pengajaran dan Gereja yang bermacam-macam dan saling bertentangan dan kontradiksi satu
dengan lainnya itu?
Menurut Kitab Suci, jikalau yang dimaksudkan yaitu Gereja Kristus dan ajaran Injil Kristus yang sejati
jelas tidak mungkin, sebab Kitab Suci mengatakan :”…….satu tubuh…..” ( Efesus 4:4), “satu Tuhan, satu
Iman….” (Efesus 4:5). Surat Efesus yang sama ini menegaskan bahwa yang disebut Tubuh Kristus itu yaitu
Jemaat (Ekklesia, Iglesia, Igreja, Gereja): ”Jemaat (Ekkelsia= Gereja) yang yaitu TubuhNya….” ( Efesus
1:23). Jikalau hanya ada satu tubuh, dan yang dimaksud dengan Tubuh itu yaitu Gereja, jadi menurut
Alkitab Gereja itu hanya satu saja. Gereja yang satu itu yang bagaimana, yatu yang memiliki “satu Iman”
sebab memiliki “satu Tuhan”. Berarti jikalau imannya tidak satu, ajarannya tidak satu, pemahamannya
tentang Tuhan yang satu itu tidak satu, pastilah itu bukan bagian dari “satu Tubuh” atau Gereja yag
dimaksud itu. Demikianlah kesimpulan yang dapat kita ambil mengenai adanya macam-macam aliran
ajaran yang semuanya mengaku Kristn dan semuanya mengaku Gereja, tak mungkin semuanya itu benar
dan tak mungkin semuanya itu Gereja Kristus. Sebab jikalau mereka itu yaitu bagian dari Gereja Kristus
yang hanya satu pastilah ajarannya itu satu dan sama dimana-mana. Lalu mengapa ada macam-macam
aliran pengajaran seperti itu. Kitab Suci mengajarkan bahwa ada Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh
yang lain ( II Korintus 11:4).
Dan Kitab Suci juga mengatakan tentang adanya Injil yang lain dan yang berbeda dari Injil yang diberitakan
oleh Rasul dan yang diterima oleh Gereja ( Galatia 1: 8-9), dan Kitab Suci juga mengajarkan tentang adanya
ajaran-ajaran bidat ( Titus 3:10-11). Itulah sebabnya terjadi munculnya ajaran-ajaran-ajaran yang
bermacam-macam itu. Dan menurut Kitab Suci ajaran yang bermacam-macam yang tak sesuai dengan
ajaran Rasul dan Iman Gereja Kristus yang benar itu membawa kutuk ( Galatia 1:8-9), mendatangkan dosa
dan hukuman ( Titus 3:10-11). Padahal mengenai ajaran Imanl yang benar itu Kitab Suci mengatakan
demikian:”…….iman yang sudah sekali bagi sekalian (Yunani: “apax”)dikaruniakan kepada segala orang
suci” ( Yudas 1:3, TL). Sayang terjemahan baru Alkitab bahasa Indonesia tak menterjemahkan kata
penting “apax” ini dalam Alkitab terjemahan sekarang. Padahal kata ini bermakna bahwa Iman Kristen
yang benar itu yaitu “sudah sekali” yaitu sekali pada jaman rasul itu saja diberikan kepada segala orang
suci (Gereja), dan iman yang sekali diberikan kepada Gereja itulah, iman “bagi sekalian” orang dan bagi
sekalian jaman. Berarti sampai kapanpun Gereja itu imannya hanya satu itu dan tak akan pernah berubah.
Jadi jika ada ajaran yang selalu berubah-ubah dan berbeda dengan iman rasuliah sepanjang segala jaman
pastilah itu bukan Injil yang satu itu yang diajarkan. Dan kelompok yang mengaku dirinya Gereja dan
mengikuti ajaran yang beurbah-ubah dan saling kontradiksi itu pastilah bukan Gereja yang benar yaitu
Tubuh Kristus yang hanya satu itu. Tidak ada Wahyu yang bermacam-macam diluar Wahyu di dalam Yesus
Kristus yang satuu itu, dan tak ada ajaran yangbeubah-ubah diluar ajaran yang : sudah sekali bagi sekalian
“ itu, serta tak Gereja yang bermacam-macam kecualiu Tubuh Kristus yang hanya satu sejak jaman Rasul
itu. Padahal mengikuti ajaran yang berbeda dengan ajaran rasul yaitu ajaran yang diterima dan dipelihara
oleh Gereja Kristus yang satu dari jaman purba tanpa perubahan itu menyebabkan orang tertimpa kutuk,
dosa dan hukuman ( Galatia 1:8,9, Titus 3:10-11).
Untuk mengetahui keberadaan Gereja Kristus yang berasal dari jaman para Rasul dan tetap memelihara
Iman Rasuliah tak berubah itu, kita perlu melakukan pelacakan Sejarah Umat Awal dari jaman permulaan
sampai kini, dan kita mengambil kesimpulan dari pelacakan ini. Banyak orang telah diberi informasi yang
keliru mengenai keberadaan Gereja Kristus yang Rasuliah dan satu itu dengan pemahaman bahwa Gereja
Purba selalu dianggap berada dibawah ketundukan dengan Sri Paus, dan hanya merupakan bagian dari
Gereja Roma Katolik saja, sedang dari pihak denominasi-denominasi Protestan memiliki anggapan yang
serupa pula mengenai segala sesuatu sebelum munculnya Protestantisme dan sesudah zamannya para
rasul, sebab latar-belakang sejarahnya yang memang merupakan protes terhadap Gereja Roma Katolik.
Dan segala sesuatu sebelum munculnya Reformasi Protestan dianggap masih termasuk dalam Zaman
Kegelapan. Dalam cara pandang yang demikian ini tentulah orang hanya melihat Kekristenan sebagai
termasuk dalam Katolik Roma atau jika tidak pasti itu termasuk dalam salah satu denominasi-denominasi
Protestan. Itulah sebabnya banyak orang tak dapat meletakkan keberadaan Gereja Rasuliah Purba yang
hanya satu itu secara tepat dalam spektrum Roma Katolik atau Protestan ini.
Gereja Kristus yang Rasuliah dan hanya satu itu bukan bagian dari sejarah Gerakan Reformasi, sebab itu
harus berasal dari jaman purba dari awal Kekristenan itu sendiri Itulah sebabnya Gereja Rasuliah Purba
itu bukan termasuk denominasi Protestan. Juga Gereja Purba yang Rasuliah itu tak pernah merupakan
bagian sejarah dan pemikiran yang mempengaruhi benua Eropa Barat yang sangat besar dipengaruhi oleh
ajaran Santo Agustinus, filsafat Skolastikisme sebagaimana yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas
dalam Gereja Roma Katolik, dan yang kemudian juga dikembangkan oleh Martin Luther dan Calvin dalam
sejarah Protestantisme. Yang juga dipengaruhi oleh pemusatan lembaga kepausan, sejarah Rennaisance,
Pencerahan, Reformasi Protestan dan Kontra-Reformasi Roma Katolik serta Revolusi Perancis. Dan oleh
pengaruh-pengaruh itu munculnya pemahaman-pemahaman Iman Gereja Barat baik yang berpusat di
Roma maupun dalam komunitas Protestan. sebab Kristus adealah orang Yahudi dan para RasulNya juga
orang-orang Yahudi, mereka berasal dari Timur Tengah, bukan dari Eropa. Maka Gereja yang Rasuliah
pastilah berasal dari Timur Tengah ini juga.
Maka Gereja Rasuliah ini tak turut ambil bagian dari sejarah Gereja Barat itu, sehingga bukan merupakan
bagian dari Gereja Roma Katolik ataupun komunitas Protestan modern. Jadi bukan termasuk kategori
Gereja Barat. Apalagi secara geografis yang dimaksud Gereja Barat yaitu wilayah Gereja sekitar Eropa
Barat, baik sekitar daerah Mediterania maupun daerah-daerah Skandinavia. sedang secara etnis yang
termasuk dalam lingkup Gereja Barat yaitu bangsa-bangsa Latin (Itali, Spanyol, Perancis) dan bangsa-
bangsa Anglo-Saxon (Jerman, Belanda, Inggris) serta bangsa-bangsa Skandinavia (Denmark, Swedia,
Skandinavia). Dan jika kita masukkan aliran-aliran Protestan, maka termasuk pula bangsa Amerika dan
Kanada. Padahal jika kita lihat dalam Perjanjian Baru umat dalam Gereja Purba itu yaitu bangsa Syria,
Yahudi, Etiopia, dan Yunani, sehingga Gerejanya bukan termasuk Gereja Barat baik secara geografis, etnis
maupun historis dan aqidahnya. Gereja Rasuliah Purba inilah yang disebut Gereja Orthodox dan berasal
dari zaman awal munculnya Kekristenan itu sendiri. Gereja Orthodox yaitu Gereja Purba yaitu Gereja
Perjanjian Baru itu sendiri yang masih hadir di dunia ini tanpa berubah baik dalam ajaran, ibadah, maupun
ethos dan cara pemerintahan Gerejanya sejak zaman para Rasul itu sendiri. Sejarah Gereja Orthodox lebih
berlatar-belakangkan zaman Patristik Purba, Zaman Konsili-Konsili Ekumenis dalam lingkup Kerajaan
Byzantium, Munculnya Islam, Penyebaran ke Eropa Timur dan Rusia, Penjajahan Turki, Penyerangan
Bangsa Tartar, Penjajahan Komunis, Kemerdekaan negara-negara Balkan, dan sampai kepada zaman
modern ini.
Yang ikut ambil bagian dalam latar-belakang sejarah Gereja Orthodox di Timur ini yaitu Gereja-Gereja
Timur lainnya yaitu Gereja-Gereja yang disebut Monofisit atau Oriental Orthodox atau Non-Kalsedon
(Koptik, Syria-Yakobit: di Indonesia ini dipromosikan dengan Nama Kanisah Orthodox Syria oleh
“YAYASAN Study Orthodox Syria” pimpinan sdr. Bambang Noorsena S.H. yang tadinya yaitu mantan
anggota Gereja Orthodox Indonesia; kemudian Armenia, Ethiopia, dan Thomas India) serta Gereja yang
disebut Nestorian (“Gereja Timur Assyria”, “Pre-Efesus”).
Istilah “Orthodox” bukanlah nama aliran Gereja, sebab sebenarnya Gereja Orthodox tak
mempunyai nama. Orthodox berasal dua kata Yunani “orthos = lurus, benar” dan “doxa =
pengajaran, pendapat, kemuliaan.” Jadi “orthodoxa” artinya yaitu “ajaran yang lurus.”
Untuk mengetahui Gereja Orthodox ini secara baik kita harus melacak 2000 tahun sejarah Gereja itu sampai
kini. Dengan demikian kita dapat melokasikannya secara benar dalam spektrum Roma Katolik-Protestan
itu.
Agar kita dapat mengetahui lebih jelas dan mendalam tentang Gereja Kristus yang sejati ini, marilah kita
membahas mengenai sejarah Gereja Orthodox selama 2000 tahun itu dalam bagiannya yang pertama.
Namun sebelumnya akan kita bicarakan latar-belakang sejarah keselamatan yang direncanakan Allah sejak
zaman Adam sampai dengan datangNya Yesus Kristus di dunia itu. Kemudian pembahasan sejarah itu akan
kita bagi dalam lima bagian. Bagian pertama yaitu awal perkembangan Iman Kristen sebagai fondasi dari
keberadaan Gereja Orthodox selanjutnya. Bagian kedua akan membahas masa perumusan theologi Kristen
yang Orthodox mengenai dua-kodrat dari Kristus yang satu dalam Konsili-Konsili Ekumenis Gereja Purba.
Bagian Ketiga akan membicarakan situasi Gereja Orthodox sesudah Konsili-Konsili Ekumenis, sampai
jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki. Bagian Keempat yaitu Masa penjajahan Turki atas ummat
Orthodox sampai akhir masa penjajahan Turki itu. Dan Bagian kelima akan membahas situasi Gereja
Orthodox di abad kedua puluh dan kedua puluh satu ini serta munculnya Gereja Orthodox di Indonesia.
Disamping tentang sejarahnya, buku ini dalam bagiannya yang kedua juga akan membahas tentang aqidah
dan keyakinan Iman Gereja Orthodox berdasarkan Syahadat (Pengakuan Iman ) Nikea, yang dirumuskan
pada Konsili Ekumenis Pertama tahun 325 dan yang diratifikasikan pada Konsili Ekumenis Kedua tahun
381. Rumusan yang mana mrupakan garis besar dari ajaran Rasuliah sebagaimana yang tercatat dalam
Alkitab dan yang selalu dipercayai oleh Gereja Universal yang Orthodox. Dalam bagian tentang aqidah atau
pengajaran dan keyakinan iman itu pembahasan akan dibagi dalam bagian-bagian mengenai : Allah, karya
Allah, Ciptaan: Malaikat, Iblis dan roh-roh jahat, serta penciptaan manusia. Kemudian dilanjutkan dengan
pembahasan mengenai Yesus Kristus dan karyaNya, makna keselamatan yang diakibatkan oleh karya
Yesus Kristus, serta Roh Kudus dan karyaNya, termasuk makna Gereja, sakramen-sakramen, kehidupan
sesudah mati dan hari kiamat yang ditandai dengan dengan kedatangan Yesus Kristus yang kedua untuk
menegakkan Kerajaan yang kekal.
Bagian yang ketiga dari pembahasan buku ini adakah mengenai kehidupan Ibadah dari Gereja Orthodox
itu. Termasuk di dalamnya yaitu mengenai simbolisme Gedung gereja Orthodox, simbolisme kedudukan
para rohaniwan Orthodox. Makna Sakramen-Sakramen Gereja Orthodox, Sholat harian tujuh kali sehari,
Puasa dalam Gereja Orthodox serta zakat persepuluhan. Dan tertib-tertib ibadah lainnya, termasuk yang
menyangkut kelahiran, kematian, pengudusan rumah, serta doa-doa yang menyangkut seluruh kebutuhan
kehidupan.
Bagian yang keempat atau yang terakhir dari buku ini akan membahas tentang kehidupan akhlak dan moral
Orthodox sebagai akibat suatu praktek kehidupan yang diakibatkan oleh iman kepada aqidah serta
pelaksanaan ibadah dalam kehidupan.
Dengan demikian buku ini akan menjadi timba yangmenolong orang dapat mengambil air kebenaran yang
sulit dan dalam dari Sumur Kitab Suci, agar orang menemukan kebenaran sejati, dengan demikian
diselamatkan.
Sejarah Gereja Ortodox Sejak Abad Pertama : Zaman Rasul-rasul Sampai Kini
A. Zaman Purba
Masa Pembentukan: Tiga Abad yang pertama : dari Yesus Kristus s/d Konstantinus Agung
Abad 1 s/d Awal Abad 4:
Gereja mulai muncul diatas dunia ini sejak Yesus Kristus diturunkan Allah dari sorga, sebagai Kalimatullah
( Firman Allah ) yang menjelma menjadi manusia ( Yohanes 1:14, Galtia 4:4). Selama lebih kurang tiga
setengah tahun Beliau mengajar dan berkarya, dan berpuncak pada peristiwa sengsara, penyaliban,
kematian, penguburan, kebangkitanNya secara jasmani dari antara orang mati, serta kenaikanNya ke sorga.
Peristiwa sengsara s/d kebangkitan ini akhirnya menjadi isi pokok berita (kerygma) dari para murid
setiaNya yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peritiwa turunNya Roh Kudus yang
dijanjikan Almasih atas mereka, pada hari Pentakosta ( Kisah 2). Dan kesengsaraan s/d kebangkitan Sang
Kristus itulah inti Injil, yang semula diberitakan secara lisan.sebab Kristus tak pernah menulis Kitab
ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya ini,
sebab Dia sendiri yaitu Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma Rasuliah secara lisan itu mula-
mula disebarkan hanya disekitar daerah Palestina saja, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas yang
baru, yang disebut sebagai : Ekklesia, yang dari sinilah timbul kata Gereja ( berasal dari bahasa Portugis
Igreja, sepadan dengan kata Spanyol : Iglesia, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu).
Para Rasul itu akhirnya menyebar kemana-mana, mulai dari Yerusalem dan seluruh Palestina, kemudian
ke seluruh Siria, dan Asia Kecil ( kini negara Turki) serta Yunani dan Afrika Utara terutama di Alexandria
(Mesir) dan Karthago ( Libia). Inilah batas sebelah barat dunia Timur pada saat itu. sedang ke Timur
lagi Injil tersebar ke Edesa, Mesopotamia ( Irak, Babilon), dan Persia, yaitu daerah Siria Timur, sebab yang
menerima Injil di daerah timur ini yaitu suku-suku yang berbahasa Siria, sampai ke India Selatan.
sedang ke Barat lagi Injil diterima di benua Eropa Barat dari Roma di Itali, Spanyol, dan yang nantinya
akan berkembang ke seluruh Eropa.
Dengan demikian kita melihat Injil tersebar dari Timur ke Barat dan di seluruh benua: Asia, Afrika dan
Eropa. Memang Iman Kristen itu pada dasarnya yaitu Agama Timur ( Timur Tengah). Pada saat inilah
dokumen-dokumen yang akhirnya menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru mulai dituliskan oleh para rasul
sebagai pemimpin Gereja itu kepada Gereja-Gereja ( Roma. Korintus, Galatia, Efesus, dll.) dan para
pemimpin Gereja sebagai murid mereka secara langsung ( Titus, Timotius, Filemon, dll) yang telah mereka
dirikan dan mereka pilih itu. Gereja ( Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci ( Perjanjian Baru)
dipakemkan. Pada saat ini orang-orang non-Yahudi mulai diterima sebagai anggota ummat Allah, sesudah
penyelesaian masalah penerimaan mereka, dan penyelesaian masalah dogmatis mengenai kedudukan
Taurat, dalam Rapat Agiung (Konsili) para Rasul yang pertama di Yerusalem (Kisah 15). Konsili segenap
Gereja inilah yang menjadi landasan adanya Konsili-Konsili di sepanjang sejarah Gereja itu. Orang-orang
yang berobat itu hanya perlu beriman kepada Yesus Kristus tanpa harus menjadi Yahudi dengan mengikuti
ritus-ritus Taurat, lalu dibaptiskan serta menjadi anggota Ekklesia yang dipimpin/ digembalakan oleh para
“Presbyter” (“Penatua”) dan “Episkop (“Penilik Jemaat”) –Kisah 20:17,28 -, yang mereka ini menerima
pentahbisan dari para Rasul sendiri ( Kisah 14:23), sebagai mata-rantai pelanjut-ganti pelayanan rasuliah.
Para Rasul sendiri tidak menjadi “Gembala” ( “Episkop/Presbyter”) secara lokal dari Gereja lokal tertentu
secara permanen dimanapun. Masing-masing kelompok ekklesia itu memiliki ciri khasnya dan masalah-
masalahnya sendiri, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Perjanjian Baru. Namun seluruh ekklesia
diapnggil untuk memegang doktrin yang sama dan melaksanakan akhlak hidup dan ibadah yang sama pula.
Pada zaman awal ini Gereja harus menghadapi ajaran sesat pen-Taurat-an Injil yang segera dapat
diselesaikan, serta pe-mythologi-an Injil dalam wujud aliran “gnostikisme” yang hendak mencampur-
adukkan Injil dengan ajaran kafir Yunani-Romawi. Dengan keras para Rasul harus melawan ini
sebagaimana yang kita lihat dari tulisan-tulisan Rasul Yohanes dan Rasul Paulus. Dengan kematian para
rasul semuanya menjadi martyr (syuhada), kecuali Rasul Yohanes yang meninggal sebab umur tua, Gereja
berlanjut dipimpin oleh para murid rasul itu.
Penganiayaan yang sudah dimulai oleh Nero pada zaman Rasul Paulus dan Petrus berlanjut sampai abad
kedua. Saat ini Iman Kristen dianggap “Agama Tidak Sah “ (“Religio Illicita”) di seluruh Kekaisaran Roma.
Mereka yaitu penjahat dimata pemerintah Roma,sebab menolak menyembah kaisar sebagai “tuhan” dan
“ilah”. sedang orang Kristen yang berada disebelah timur Mesopotamia yaitu dibawah Kerajaan Agung
Persia, juga mengalami aniaya sebab cemburu dari para pendeta agama Zoroaster, agama resmi negera
Persia. Orang Kristen di Kekaisaran Roma dituduh” memberontak terhadap negera, pembunuh bayi-bayi
dan memakan daging dan minum darah mereka (“ Makan dan Minum Daging dan Darah Anak Manusia”).
Penganiayaan ini bersifat sporadis, mereka tak perlu dikejar-kejar namun jika ketahuan mereka harus
dihukum.
Diantara para pemimpin yang menderita dari aniaya abad ini yaitu : Ignatius dari Antiokia, pengganti
ketiga dari Rasul Petrus di Antiokia, Syria, sebagai Episkop ( 110 Masehi), Polykarpus, Episkop dari
Smyrna, yang yaitu murid Rasul Yohanes ( 156 Masehi) dan Yustinus Martyr(Syuhada). Yustinus Martyr
ini memiliki seorang murid dari Syria bernama Tatianus. Dia pulang ke Syria sesudah kematian Yustinus
dan menterjemahkan Injil dari bahasa asli Yunani ke bahasa Syria, dalam bentuk yang diurutkan sesuai
dengan urutan cerita, bukan empat bentuk terpisah seperti yang kita kita kenal, dan terjemahan ini terkenal
sebagai “Diatessaron” , dan inilah Injil yang digunakan oleh Gereja Syria untuk waktu yang lama sampai
akhirnya diganti dengan keempat Injil seperti seluruh Gereja lainnya, dalam bentuk terjemahan “Peshitta”,
yang menjadi Kitab Suci Gereja Syria sampai sekarang.
Disamping itu Gereja Syria menggunakan Perjanjian Lama bukan dari terjemahan Ibrani atau Septuaginta,
namun dari Targum Aramia dari Perjanjian Lama yang berlaku di Babilonia. Ajaran Tatianus ini
dipengaruhi oleh aliran gnostik “enkraitisme” yang menekankan pelajangan, dan asketisisme. Para
pemimpin Kristen awal ini meninggalkan tulisan-tulisan yang bersama dengan “Didakhee”, “Surat
Kepada Diognetus”, “Surat-Surat Klemen dari Roma” , “Surat Barnabas” (bukan Injil Palsu Barnabas
yang dipromosikan Islam!!!), “Gembala Hermas” , serta tulisan-tulisan pembelaan iman (apologetik)
dari Athenagoras dari Athena, Melito dari Sardis, serta Theofilus dari Antiokia serta dari theoloog
yang terbesar dari abad kedua Ireneus dari Lyons, semuanya tadi memberikan gambaran yang jelas sekali
mengenai iman dan kehidupan dari Gereja Perjanjian Baru yang berlanjut sampai abad kedua itu.
Perkembangan yang paling penting pada abad kedua ini yaitu munculnya para pembela iman
( “apologist” ), yang membela Iman Kristen dari serangan Agama Yahudi, Agama Kafir Berhala, serta Bidat-
bidat yang muncul di sekitar Gereja. Juga berkembangnya Aqidah (Doktrin) Gereja serta permulaan
Theologia sesudah zaman Rasuliah, ditegakkannya pemerintahan Gereja bagi masing-masing jemaat lokal
yang dipimpin oleh Episkop (”Penilik Jemaat” ), Presbyter(“Penatua”) dan Diakon. Zaman ini pula
fondasi pertama dari Ibadah dan Liturgi Kristen serta kehidupan Sakramental Gereja yang berlandaskan
dari Ibadah Israel namun yang sudah terpisah dari Synagoga (Rumah Ibadah Yahudi) dan mulainya
pembentukan Kitab Suci dari Gereja Perjanjian Baru itu terjadi.
Pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua banyak tulisan palsu mengenai Kristus bermunculan.
Tulisan-tulisan ini disebut tulisan-tulisan ‘apokrifa” ( jangan dikacaukan dengan “Anaginoskomena’ dari
Perjanjian Lama!!) serta tulisan-tulisan “pseudopigrafa” . Biasanya tulisan-tulisan memakai nama salah
seorang rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai masa kecil Yesus Kristus, kehidupan
Perawan Maryam dan kegiatan-kegiatan karya para rasul. Dan sebagaian daripadanya menjadi kisah dalam
Al-Qur’an terutama tentang masa kecil Kristus. Bersama dengan itu, muncul pula aliran “gnostikisme” ,
yaitu suatu bidat Kristen yang mengubah iman Kristen menjadi semacam ajaran kebatinan.
Dalam melawan ajaran bidat gnostik inilah Gereja yang Rasuliah itu menyebut ajaran asli yang rasuliah itu
sebagai ajaran (“doxa”) yang “lurus” (“orthos”) , Ortho+ doxa = Orthodox.
sedang ajaran “gnostik” itu sebagai ajaran (“doxa”) yang berbeda atau menyimpang
(“heteros”), hetero+ doxa = Heterodox. Akibat dari melawan ajaran gnostik inilah munculnya theologia
dari para “apologis” (“pembela-iman”). Jauh di sebelah timur di dearah Syria, Bardaisan yaitu penulis
yang terkenal mengenai masalah theologi. Namun dia mencampur-adukkan Injil dengan astrology dan
mythologi, dan ajarannya tentang Allah kedengaran sangat aneh. Allah yaitu satu yaitu Bapa, Roh Kudus
yaitu berjenis wanita sebagai “Bunda Kehidupan”, dan Anak Allah yaitu keturunan dari Bapa dan Roh
Kudus, Sang Bunda Kehidupan.Sehingga akhirnya Bardaisan dari Syria inipun dikucilkan dari Gereja.
Akibat dari ajaran Gnostik ini pada para apologis yaitu penekanan “ mata-rantai rasuliah” (“suksesi
apostolik”, “silislah rasuliah”) sebagai penjamin ajaran yang benar dan tak terputus dari para rasul, yang
diterus-sampaikan secara tak terputus dari gereja kepada gereja, dari generasi kepada generasi, dari
tempat ke tempat, dan penerus-sampaian tanpa putus dari zaman rasuliah ini disebut sebagai “Paradosis”
atau “Traditio”.
Dan penyampaiannya itu dilakukan melalui pentahbisan dari para Episkop yang dapat dilacak dari mata
rantai pentahbisan sejak zaman rasul-rasul. Dan para Episkop ini pengajaran dan prakteknya itu identik
antara satu dengan yang lain, dan secara bersama ajaran mereka itu identik dengan ajaran para rasul Yesus
Kristus sendiri. Sebagai akibat yang lain, Gereja mulai kokoh dalam keputusannya tulisan-tulisan mana
yang menjadi bagian kanon Kitab Suci berdasarkan :
1. tulisan-tulisan itu harus berasal dari zaman rasul.
2. harus ditulis oleh rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka
3. harus sesuai dengan ajaran rasuliah tanpa putus yang disampaikan sebagai paradosis dalam
Gereja
4. harus digunakan secara merata di seluruh gereja sejak awal
5. harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik.
Dari kriteria inilah akhirnya tersaring dari tulisan-tulisan rasuliah purba itu 27 kitab yang akhirnya kita
kenal sebagai “Kitab Suci Perjanjian Baru” itu. Dan Kitan Suci Perjanjian Baru inilah yang berisi “Berita
Gembira” (“Evanggelion”, “Evanggel”, “Injil”) tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia
itu. sebab memang Injil itu pada mulanya bukanlah suatu Kitab macam apapun namun peristiwa dan
karya Almasih yang diberitakan secara lisan oleh para muridNya yang diberi gelar
sebagai “apostolos” (“orang yang diutus” atau “rasul”) itu.
Dalam tulisan-tulisan para apologis, para martyr (syuhada) dan para kudus dari abad kedua ini kita ketahui
bahwa masing-masing jemaat Kristen lokal itu dipimpin oleh seorang Episkop/Uskup ( Penilik Jemaat)
yang dilaksanakan oleh para Presbyter/ Imam ( “Penatua”) dan dilayani oleh Para Diakon. Terutama dalam
tulisan-tulisan Ignatius ( Magnesia 6:1, Filadelfia 4, Smyrna 8:2). Ignatius juga mulai menggunakan istilah
“Katholik” untuk menyebut sifat Gereja. Ini berasal dari kata “ Kath’ (menurut, sesuai dengan) dan “holon “
( sepenuhnya, kepenuhan). Ini yaitu kwalitas sifat yang menjelaskan bagaimana Gereja itu, jadi bukan
nama suatu agama, misalnya:Roma Katolik, Anglo-Katolik, Katolik Bebas, Katolik Lama,dll. Dan kata ini
(Katholik =Kath + Holon) bermakna kwalitas sifat gereja itu yaitu penuh, sempurna, lengkap, utuh, tanpa
kekurangan apapun di dalamnya dari kepenuhan kasih-karunia, kebenaran dan kekudusan Allah.
Demikianlah Gereja Rasuliah Perjanjian Baru pada abad yang kedua itu mulai menyebut dirinya sebagai
Gereja yang “katholik” artinya bukan sekte-sekte yang main comot sana-sini dari kepenuhan dan keutuhan
ajaran Rasuliah itu. Demikian juga Gereja purba itu disebut sebagai “Orthodox” artinya bukan yang
menyimpang dari ajaran Rasul tadi.
Dalam “Didakhee” dan “Pembelaan dari Yustinus Martyr” dan “Ireneus” ditemukan juga penjelasan
mengenai bagaimana ibadah Kristen zaman abad kedua itu dilakukan, terutama ibadah hari Minggu yang
berpusat pada kotbah dan Perjamuan Kudus, dan juga tentang baptisan.
Menginjak pertengahan abad ketiga, yaitu tahun 249 Kaisar Desius naik tahta, dia mengadakan
penganiayaan secara universal, dan penganiayaan itu dilanjutkan sampai zaman Kaisar Valerianus (253-
260). Orang Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai “tuhan” dan “ilah”,
para rohaniwan Kristen harus dikejar dan dibunuh, harta milik Gereja harus disita. Baru di zaman
Gallenius, anak dari Valerianuslah penganiayaan dihentikan .Pada saat itu perkembangan yang luar biasa
terjadi dalam Gereja. Namun penganiayaan yang berat itu mengakibatkan suatu krisis besar dalam Gereja.
Timbul pertanyaan dalam Gereja mengenai bagaimana memperlakukan orang-orang yang selama masa
aniaya itu sebab diancam rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, mereka ini disebut kaum
“lapsi”. Ada yang melarang mereka masuk Gereja lagi, ada yang bersikap agak lunak. Akibatnya terdapat
beberapa kelompok garis-keras yang menganggap Gereja terlalu lunak akan masalah para “lapsi” itu yang
memisahkan diri dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang “Orthodox” dan “Katholik” itu.
Diantara mereka yang memisahkan diri dari Gereja yaitu Tertulianus (c. 220 ), penulis agung dan peletak
dasar Theologia Latin di Gereja barat dari Afrika utara. Dia menggabung dengan gerakan bidat yang
didirikan Montanus yang telah mulai pada akhir abad kedua, dan menyatakan diri sebagai Gereja “Nubuat
Baru” dari Roh Kudus yang lebih sempurna dari Gereja ‘Perjanjian Kedua” ( Perjanjian Baru) dari Kristus.
Ciri gerakan Montanisme ini yaitu penekanan pada “karunia lidah” dan “nubuat-nubuat” serta penekanan
bahwa Kerajaan Seribu Tahun akan segera datang di pulau Frigia, Asia Kecil.
Pembela agung Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik ini pada saat itu yaitu Kiprianus dari
Karthago (meninggal tahun 258). Dia meninggal sebagai Martyr sesudah membela Gereja Rasuliah yang
Orthodox dan Katholik itu melawan aliran garis keras yang memisah dari Gereja sebab masalah kaum
“lapsi” tadi. Aliran yang dilawan dalam tulisan-tulisan Kiprianus ini yaitu aliran “Novatianisme” yang
didirikan oleh “Novatianus” yang berada di Roma. Novatianus menyebut alirannya sebagai “ Gereja Murni”.
Kiprianus membela Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu dengan menekankan perlunya “mata-
rantai rasuliah” dalam ajaran dan “mata-rantai rasuliah” dalam pentahbisan para episkop dalam melawan
apa yang disebut sebagai gereja-gereja “murni” yang hanya bersifat rohani yang abstrak dan tak nampak
mata dari orang yang merasa dirinya lebih baik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu,serta
yang mengangkat-angkat diri sendiri ini. Dia menekankan bahwa Gereja Kristus itu ada bagi penyembuhan
orang berdosa, dan Kiprianuslah yang mengatakan juga bahwa “extra ekklesia nulla salus est “ (diluar
Gereja,- yaitu diluar persekutuan kongkrit dari ummat yang percaya secara pribadi kepada Kristus
dibawah pimpinan rohani Episkop dan berlandaskan suksesi rasuliah disekitar meja perjamuan kudus dan
pemberitaan firman oleh presbyter – tidak ada keselamatan ).
Abad ketiga ini menyaksikan juga perkembangan theologi secara formal dengan didirikannya sekolah
theologia di Alexandria, Mesir oleh Pantaenus dan Klemen dari Alexandria ( meninggal kira-kira
tahun 215 ). Yang akhirnya dikepalai oleh seorang penulis, sarjana, dan theoloog termasyhur: Origenes (
meninggal tahun 253). Theologi Alexandria ini menekankan bahwa filsafat Yunani yang non-Kristen itu
dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Injil. Dan ciri khas dari pendekatan Alexandria ini yaitu
tafsiran secara alegoris terhadap Kitab Suci, sedang dalam tradisi Syria-Antiokhia yang tak lama
kemudian akan berkembang yaitu tafsiran harafiah berdasarkan tata-bahasa dan sejarah penulisan Kitab
Suci.
Kedua pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik, pada abad-abad berikutnya. Karya Origenes
itu sangat luar biasa dan tak terhitung jumahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian sistimatis
dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Karya Origenes ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia
para bapa-bapa Gereja Yunani pada abad-abad berikutnya. Namun demikian secara ajaran banyak
pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, sebab tak Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili
Ekumenis V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja.
Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan bersama dengan Tertulianus, Kiprianus,
Klemen dan Origenes yaitu Dionysius dari Alexandria ( wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat
235) Gregorius Pelaku Mukjizat di Kappadokia ( wafat 270) dan Methodios dari Olympus ( wafat 311)
Orang-orang ini semuanya memperkembangkan theologia Kristen Orthodox terutama meletakkan
landasan bagi pembahasan tentang Allah yang Esa dalam hubunganNya dengan Kalimatullah dan Rohullah
sendiri yang terkenal sebagai ajaran Tritunggal Kudus yang dalam abad berikutnya akan menjadi
pembahasan hangat dalam Gereja. Paulus dari Samosata dan Lukianus (Lusian) dari Antiokia terkenal
akan ajaran bidatnya mengenai sifat ke-Tritunggal-an Allah.
Mereka ini hidup pada akhir abad ketiga. Dari abad ketiga ini kita juga mendapatkan tulisan-tulisan yang
menolong kita untuk melihat kehidupan liturgis dan kanonik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan
Katholik ini pada abad ketiga itu, yaitu: Pengajaran-Pengajaran Para Rasul dari Siria serta Tradisi
Rasuliah karya Hippolytus dari Roma ( wafat tahun 235). Tulisan yang pertama itu memberikan
peraturan-peraturan mengenal jabatan hirarkis serta praktek-praktek sakramental dalam Gereja Syria,
serta menjelaskan pertemuan liturgis jemaat. Dan tulisan kedua menjelaskan hal yang sama yang berlaku
di Gereja Roma dengan lebih panjang dan detail.
Abad keempat dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan kepada Gereja oleh
Kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. sesudah
surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasan dalam Kerajaan Romawi. Pada tahun
312, Konstantinus menghadapi peperangan melawan Maxentius. Sebelum peperangan di Jembatan
Milvianus di Roma, Konstantinus berdoa, serta mendapat penglihatan Salib Bersinar di langit dengan
tulisan: Dengan Tanda Ini, Kalahkan. Dia memerintahkan para prajuritnya untuk mengenakan tanda
salib ini pada perisai dan jubah mereka, Konstantinus memenangkan peperangan itu. Konstantinus segera
bergerak untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen, serta menunjukkan
kecenderungannya kepada Iman Kristen. Sebelum kematiannya Konstantinus membangun suatu kota
di Byzantium bagi ibu-kota yang baru dari Kerajaannya itu, dan kota itu
disebut “Konstantinopel“ (kini: ”Istambul” , di Turki) untuk menghormatinya. Konstantinus sendiri baru
dibaptiskan diatas ranjang menjelang kematiannya pada tahun 337. Bersama dengan ibunya Maharatu
Heleni, dia menemukan Salib Asli Kristus di Yerusalem, serta keduanya diakui sebagai orang suci dalam
Gereja Orthodox sampai kini.
Iman Kristen diakui sebagai agama resmi Kerajaan Byzantium pada tahun 380, oleh ketetapan
Kaisar Theodosius. Dengan demikian Kekaisaran Romawi terbagi dalam dua bagian: Romawi Barat
berpusat di Roma dan Romawi Timur berpusat di Konstantinopel. Pembagian Kerajaan menjadi Barat dan
Timur ini, akhirnya membentuk perkembangan wilayah Gereja menjadi Gereja Barat berpusat di Roma dan
Gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem. Sementara itu ummat
Kristen Syria yang tinggal di Kekaisaran Persia, makin mengalami aniaya sebab dicurigai sebagai antek
musuh Kerajaan Persia, sebab sekarang Kerajaan Romawi musuh bebuyutan Persia, telah menjadi
Kristen: Kerajaan Byzantium.
B. Zaman Konsili
Masa Konsili –Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah Yang Satu dan Orthodox : abad ke IV ( tahun
325) s/d abad ke VIII (tahun 787).
Pada saat pemerintahan Konstantinus ini Gereja mendapatkan kembali harta miliknya, serta terbebas dari
aniaya dari luar. Namun ketenteraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat yang berasal
dari dalam. Pertama yaitu munculnya aliran perpecahan Donatisme di Afrika Utara, yang dipimpin oleh
Donatus, yang menolak Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan “lapsi” pada saat
penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantinus membiarkan Gereja untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri, dia menggunakan kekuatan militer untuk memihak, pada pertama kalinya pihak
Donatis, dalam memaksakan keputusannya. Perpecahan Donatisme ini menyebabkan lenyap-punahnya
Gereja Afrika Utara (Libia, Moroko, Aljazair) yang dulu pernah jaya.
1. Konsili Agung Ekumenis Pertama ( 325 Masehi) di Nikea dan Kedua (381) di Konstantinopel
Kemudian muncul masalah dari Alexandria, Mesir. Arius seorang presbiter mengajarkan bahwa Allah yang
Esa itu hanya Bapa saja, Anak Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, yaitu
makhluk pertama dan yang terluhur yang diciptakan Allah dalam wujud roh. Dibantu oleh ciptaan
pertama ini Allah menciptakan ciptaan yang lain. Dia bukan Firman Allah (Kalimatullah) yang
kekal yang berada satu di dalam Allah sejak kekal. Ajaran ini jelas bertentangan dengan ke-Esa-an Allah,
sebab Allah Yang Esa, tak pernah dan tak mungkin dibantu oleh makhluk siapapun dalam mencipta, sebab
Dia mencipta langsung melalui FirmanNya sendiri yang berada satu di dalam DiriNya. Ajaran ini jelas
mempersekutukan Allah dengan makhluk, inilah ajaran musyrik. Ajaran Arius yang disebut Arianisme ini
(yang di zaman modern ini dimunculkan kembali oleh Saksi-Saksi Yehuwah) menimbulkan keresahan
dalam Gereja.
Akhirnya sebagaimana di zaman Para Rasul, Gereja Rasuliah Purba yang Orthodox pada abad keempat
inipun menyelesaikan masalah ini dalam Konsili, yang diadakan di kota Nikea pada tahun 325, dipanggil
oleh raja Konstantinus. Seluruh pemimpin Kristen (dihadiri 318 Episkop) dari segenap “Oikumene” (
“dunia yang beradab”) dari Gereja yang satu dan tidak terpecah-pecah itu, berkumpul mengadakan Konsili
Agung yang pertama ini. Itulah sebabnya Konsili ini disebut “Konsili Ekumenis.” sesudah melalui doa dan
pembahasan theologis yang mendalam berdasarkan iman rasuliah, Konsili menemukan rumusan
berdasarkan data Kitab Suci bahwa“Kalimatullah” (Logos), Firman, atau Anak Allah itu kekal dan ilahi,
Dia diperanakkan(dikeluarkan dari dalam dzaat-hakekat) dari Bapa sendiri sejak kekal, bukan dijadikan
dan bukan diciptakan. Dia berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa yang satu itu. Dia yaitu ”homo-
ousios” ( = satu dzat-hakekat, satu essensi) dengan Bapa. Dengan demikian Dia yaitu “Allah Sejati” ,
sebab Dia yaitu Firman Allah/Kalimatullah yang sejati, yang keluar dari “Allah Sejati” (Sang
Bapa), yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) segala sesuatu dijadikan oleh Allah. Firman Allah yang
kekal dan yang sama inilah, tanpa meninggalkan kesatuannya dalam Dzat-Hakekat Allah telah diutus turun
ke bumi oleh Allah, mengambil daging kemanusiaan, dan lahir sebagai manusia dari Sang Perawan Maryam
oleh Kuasa Roh Kudus, sebagai manusia Yesus Kristus (Yoshua Ha-Masiah, Isho de-Mesiha, Isa Almasih):
Mesias Israel dan Juru Selamat dunia. Namun keputusan Konsili ini tidak segera diterima oleh seluruh
Gereja sampai masa waktu yang lama. Pertikaian mengenai pribadi Kristus terus berlanjut, sehingga
banyak konsili-konsili lokal diadakan untuk membahas masalah ini. Pihak Arianisme mendapat dukungan
kuat dari kekuasaan pemerintah, sedang para pembela Iman Orthodox sebagaimana yang telah
dinyatakan dalam Konsili Nikea itu sangat dianiaya dan dibunuh oleh pemerintah dan pendukung-
pendukung bidat Arianisme ini.
Masalah ini berlanjut sampai tahun 381, ketika diadakan Konsili Ekumenis yang kedua di
Konstantinopel, untuk menyelesaikan masalah bidat baru yang dimunculkan oleh Makedonius, yang
disebut bidat Makedonianisme. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus yang yaitu Roh Allah
sendiri itu bukan ilahi dan tidak kekal. Dia hanya daya-aktif Allah saja (seperti yang juga diajarkan Saksi-
saksi Yehuwah). Berdasarkan data-data Kitab Suci dan Iman Rasuliah yang selalu dipelihara Gereja
Orthodox ini, maka Konsili mendeklarasikan bahwa Roh Kudus itu yaitu ilahi (“Tuhan”) , yang “keluar
dari Bapa” berarti berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa bersama Firman Allah sendiri,
sehingga “bersama Bapa dan Putra” artinya sebagaimana Putra sebagai Firman Allah sendiri itu berada
satu dalam Hakekat Bapa, demikianlah Roh Kudus sebagai Roh Allah sendiripun satu bersama kesatuan
Putra dalam Bapa, dalam satu Hakekat Ilahi yang sama “disembah dan dimuliakan” . Demikianlah
keilahian Firman Allah/Putra dan Roh Allah/Roh Kudus ditekankan namun ke-Esa-an Allah tak dilanggar.
sebab baik Firman maupun Roh itu berada satu di dalam hakekat Allah (Bapa) yang hanya satu itu. Pada
saat inilah rumusan Konsili Pertama dan Kedua ini baru diteguhkan kembali menjadi satu rumusan
Pengakuan Iman (Syahadat), yang menjadi Pengakuan Iman Orthodox sampai sekarang dengan
nama “Pengakuan Iman (Syahadat) Nikea”.
Para tokoh spiritual (bapa-bapa Gereja) yang sangat berjasa membela Iman Rasuliah yang Orthodox,
menentang Arianisme dan Makedonianisme pada saat ini yaitu Bapa “Aghios Athanasius
Agung” Episkop dari Alexandria,Mesir (meninggal tahun 373) yang banyak mengalami aniaya dari
kelompok Arianisme dan pemerintah, serta tiga Episkop dari Kappadokia (Asia Kecil) Bapa “Aghios
Basilius Agung” (wafat: 379), saudara laki-lakinya Bapa“Aghios Gregorius dari Nyssa” serta sahabat
mereka berdua Bapa “Aghios Gregorius Nazianzus Pakar Theologia” (wafat: 389). Mereka ini banyak
menderita aniaya dari pemerintah dan pengikut Arianisme, namun tanpa takut mereka menjelaskan Iman
Kristen yang sejati tentang Keilahian Kristus dan Roh Kudus di dalam kesatuan hakekat dari Allah yang Esa
(Bapa), yang sampai sekarang tetap menjadi standard aqidah ajaran dan theologia Gereja Orthodox.
Pada saat pertikaian Arianisme ini Gereja tidak berhenti dalam menyebarkan Injil, sehingga seorang
rohaniwan yang bernama Ulfilas dikirim dari Gereja Timur di Konstantinopel untuk menginjili suku-suku
bangsa Jerman dan menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa itu. Namun sebab yang mendapat
dukungan pemerintah saat ini yaitu kelompok Arianisme, yang diajarkan kepada suku-suku Jerman ini
yaitu theologia Arius mengenai Kristus. Baru kemudian ketika suku-suku yang sudah menjadi Kristen
namun yang mengikuti bidat Arianisme ini mulai menyerang Roma, mereka secara pelan-pelan mengikuti
ajaran Orthodox yang waktu itu dipelihara oleh Gereja Roma juga, sehingga pada abad-abad kemudian
mereka menjadi Roma Katolik. Dalam Konsili Nikea itu ditetapkan sebagai “Hukum Kanon” bahwa
Gereja Roma itu menjadi yang utama untuk seluruh Gereja Barat di Eropa barat,
Gereja Alexandria untuk seluruh Afrika, dan Gereja Antiokhia untuk Syria dan seluruh daerah Timur,
jadi termasuk Gereja di Persia dan India (Kanon 6), dan keluhuran Gereja Yerusalem sebagai asal-usul
munculnya Iman Kristen diakui (Kanon 7). sedang dalam Konsili kedua di Konstantinopel suatu Hukum
Kanon ditegaskan bahwa: ”Episkop Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah
Episkop di Roma, sebab Konstantinopel yaitu Roma Baru” ( Kanon 3).
Masing-masing pusat Kekristen yang berjumlah lima (Pentarkhi) ini dipimpin oleh Episkop yang bergelar
Paus,dari kata Pappas = Bapak (terutama Roma dan Alexandria) atau Patriarkh, dari kata Pater =Bapak,
Arkhi = Pemimpin. Kanon tentang Konstantinopel ini nantinya menjadi suatu persaingan kedudukan
antara Gereja Alexandria yang tadinya berada di tingkat kedua sesudah Roma, dan sekarang
Konstantinopel sebagai Ibukota Kerajaan yang baru harus menduduki tempat itu. Pada saat ini di Antiokhia
juga telah berkembang tradisi theologia yang berbeda pendekatannya dari Alexandria. Jika Alexandria
menekankan “alegori”, maka Antiokhia lebih menekankan pendekatan “literal, tata-bahasa, dan
kesejarahan” atas Kitab Suci. Sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian Kristus,
Antiokhia lebih menekankan kemanusiaan Kristus. Sayang Siria dan Mesir harus konflik nantinya, padahal
keduanya seharusnya saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang utuh bagi pendekatan atas Kitab Suci.
Pada saat ini Gereja Syria di Persia sedang mengalami penganiayaan yang hebat di bawah para shah (raja)
Persia ( 340-363, 379-401). Pada abad keempat ini terjadi juga perkembangan liturgis, yaitu dari Liturgi
Yakobus yang awal yang berasal dari Yerusalem danm Siria maka doa-doa telah ditambahkan ke dalamnya
jadilah doa-doa Liturgi Aghios Basilius Agung dan Liturgi Yohanes Krisostomos (wafat: 407), yang
sampai sekarang menjadi Liturgi-Liturgi utama Gereja Orthodox. Dari kotbah katekisasi dari Aghios
Yohanes Krisostomos dan Aghios Kyrillos dari Yerusalem (wafat: 386) terlihat bahwa Sakramen
Baptisan dan Krisma (Pengurapan) yang dirayakan pada abad keempat itu hampir tak berubah sedikitpun
tetap dilaksanakan oleh Gereja Orthodox masakini. Pada saat ini Puasa Paskah 40 hari (Catur
Dasa) dan Perayaan Paskah seperti yang tetap dirayakan oleh Gereja Orthodox masakini itu sudah betul-
betul mapan. Disamping itu kita juga menyaksikan pada abad keempat ini perkembangan kehidupan
kerahiban yang sedang memekar terjadi di Mesir - dipimpin oleh Aghios Antonius Agung – dan di Syria
(rahib-rahib Syria inilah yang nantinya banyak dijumpai Nabi Muhammad di padang-padang gurun dalam
perjalanan perdagangannya dari Mekah ke Syria, dan banyak mempengaruhi pendapatnya mengenai
Kekristenan dan keagamaan pada umumnya) serta Eropa Barat. Diantara para rahib suci dari zaman ini
yang berasal dari Timur yaitu : Paulus dari Thebes (Mesir), Pakhomius ( Mesir), Hilarion, Sabbas
(Palestina), Makarius dari Mesir, Epiphanius dari Siprus, dan Efraim dari Syria. sedang rahib suci dari
Barat pada saat ini yaitu : Yerome, Yohanes Kassianus, serta Martinus dari Tour. Para Episkop Suci
terkenal dari abad keempat ini yaitu : dari Timur Aghios Nikholas dari Myra di Lysia ( yang budaya Barat
mengubah dia menjadi tokoh mythologis “Santa Claus” /Sinter Klaas), Aghios Spyridon, dan dari Barat
yaitu Santo Ambrosius dari Milano, Itali.
2. Konsili Agung Ekumenis Ketiga (431) di Efesus dan Keempat (451) di Kalsedonia.
Sejak keputusan Konsili kedua tentang kedudukan Konstantinopel. Alexandria selalu berusaha untuk
menyaingi Konstantinopel. Secara kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di
Konstantinopel yaitu seorang Syria dari Antiokhia, bernama: :Nestorius. Sebagai seorang Syria maka
tradisi theologia Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, yaitu tradisi yang
menekankan kemanusiaan Kristus. Maka Nestorius lebih menekankan kemanusiaan Kristus, sehingga
menolak gelar “Theotokos” ( “Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah” yaitu Kalimatullah yang
menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk menyebut Maryam. Menurut Nestorius
yang dilahirkan Maryam hanyalah seorang “manusia” yang di dalamnya “Kalimatullah/Firman Allah” itu
bersemayam, jadi bukan Kalimatullah/Firman Allah itu sendiri yang menjadi manusia, bertentangan
dengan apa yang telah diakui dalam kedua konsili sebelumnya. Kesempatan ini digunakan oleh Gereja
Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia dan kedudukan Konstantinopel yang
dianggap menggeser kedudukan Alexandria itu, melalui Aghios Kyrillos dari Alexandria. Dia ingin
menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan demikian mempermalukan
Konstantinopel, serta melawan pemahaman theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria,
Antiokhia, yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak Alkitabiah, dan tidak rasuliah. Dan
inilah kesempatan yang baik.
Jadi sebenarnya konflik ini yaitu yaitu konflik antara Mesir dan Syria (bukan dengan unsur Yunani
dalam Gereja Timur itu). Aghios Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam
sebagai “Theotokos” ,sebab Dia yang dilahirkan olehnya yaitu “Firman” yang yaitu “Allah”, yang “telah
menjadi manusia” (Yohanes 1:1,14). Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan dalam penjelmaanNya
sebagai manusia, maka Maryam memang melahirkan Firman Allah dalam penjelmaanNya sebagai manusia.
Jadi Maryam memang “Theotokos” . Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan bertobat pada
peringatan Aghios Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh Aghios Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus,
sejumlah kecil Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandria serta menolak
ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini. , dimana ditegaskan bahwa Maryam yaitu Theotokos, sebab
yang dilahirkan Maryam tak lain yaitu “Firman Allah” yang sama dan yang satu yang menjelma menjadi
manusia. Baru pada tahun 433 sajalah keputusan Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan
akhirnya diakui sebagai Konsili Ekumenis Ketiga.
Sementara itu Gereja Syria di Persia akibat penganiayaan para shah yang begitu kejam akibat provokasi
dari para Majus atau pemimpin Agama Zoroaster penyembah api itu, sebab dicurigai menjadi antek
Byzantium yang beragama Kristen, musuh bebuyutan Persia itu, memutuskan untuk memiliki Patriarkh
sendiri, lepas dari Antiokhia, sebab Antiokhia berada dalam wilayah Byzantium. Dan untuk meyakinkan
Shah Persia bahwa mereka bukan antek Byzantium, maka secara alamiah mereka menerima theologia Syria
dari Nestorius, sebab selama ini Gereja Syria, di Persia, memang menghormati tulisan-tulisan Theodoros
dari Mopsuestia, guru dari Nestorius. Demikianlah meskipun Nestorius akhirnya meninggal sebagai rahib
di padang gurun Libia, ajarannya tetap dipertahankan oleh Gereja Syria di Persia.
Maka Gereja Syriapun terpecah menjadi dua, yaitu :
1. di Syria Barat yang mengikuti definisi dari Kyrillos dari Alexandria
2. di Syria Timur yang mengikuti definisi Nestorius, orang Syria itu.
Sejak saat itu Gereja Syria Timur ini terkenal dengan nama Gereja Nestorian, meskipun sebenarnya mereka
sendiri tak pernah menyebut diri mereka demikian. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh Nestorianisme
yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja
Orthodox.. Sehingga ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai Gereja Orthodox Pre-
Kalsedonia. Dan Gereja Persia yang sebenranya merupakan bagian dari Gereja Orthodox Antiokhia ini
menjadi Gereja yang amat misioner, sehingga sampai mengabarkan Injil di China, dan bahkan pada abad
ketujuh di Indonesia : di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada berita bahwa mereka juga ada di Kerajaan
Majapahit.
Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima oleh semua pihak, sebab masih timbul
kontroversi mengenai ajaran Aghios Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan ajaran
Aghios Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun sesudah
saling berdialog tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang dimaksud oleh
Aghios Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib bernama Eutyches, mengajarkan bahwa yang
dimaksud oleh Kyrillos yaitu bahwa Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) saja, yaitu
kodrat Ilahi, sebab kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahiNya. Ajaran ini menimbulkan kegelisahan
kembali di dalam Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri bersama Patriarkh
Dioskoros dari Alexandria dan Eutykhes pada tahun 449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa
mereka pengikut ajaran Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar Episkop, namun tidak
diterima sebagai Konsili yang sah, malah disebut sebagai “Latrocinium”atau “Konsili Para Perampok” .
Ajaran tentang Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) ini akhirnya terkenal sebagai
ajaran Monofisitisme, yang ditolak oleh Gereja dan dinyatakan bidat.
Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan pada tahun 451, di
kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis
Keempat, dan berhasil membela ajaran Aghios Kyrillos dari Alexandria serta ajaran Konsili Ekumenis
Ketiga di Efesus tahun 431. Ini juga memuaskan tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan
Kristus yang sejati yang secara jelas harus diakui. Definisi dogmatis dari Konsili Kalsedonia ini mengikuti
secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh Paus Santo Leo dari Roma, yang tidak turut hadir dalam
Konsili itu, namun hanya mengirim wakil-wakilnya.
Menurut definisi Konsili Kalsedonia ini Kristus itu memiliki “satu hypostasis” ( menegaskan tradisi
theologia Alexandria) dalam “dua kodrat” ( menegaskan tradisi theologia Syria, Antiokhia) – ilahi dan
manusiawi. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah sempurna dan manusia sempurna.
Sebagai Allah (yaitu:Firman Allah) Dia “satu Dzat-Hakekat/Essensi” dengan Sang Bapa (Allah yang Esa) dan
dengan Roh Allah sendiri. Dan sebagai manusia, Dia satu “hakekat/ esensi” dengan segenap manusia.
Keilahian dan kemanusiaan Kristus itu menyatu/manunggal dalam satu hypostasis /pribadi namun tidak
campur-baur dan tidak kacau-balau dan tidak terpisah-pisah serta tidak terbagi-bagi. Kristus itu
satu pribadi yang sekaligus Allah dan Manusia.
Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini sebab dianggap berbau
Nestorianisme, suatu tuduhan yang tidak tepat dan tidak fair memang. Mereka menegaskan bahwa Kristus
hanya memiliki “satu kodrat” saja, meskipun kodrat itu telah menjelma, padahal menurut mereka Konsili
ini mengatakan Kristus memiliki “dua kodrat” yang dianggap sebagai kesesatan Nestorius, namun mereka
tidak menggabungkan bahwa “dua kodrat” itu dalam satu pribadi, atau satu hypostasis, yang jelas tak
bersangkutan dengan ajaran Nestorius.
Demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox alur utama. Para pendukung
Konsili Kalsedonia akhirnya mengangkat Patriakh Kalsedonia di Mesir : Proterius (452-457), penentang
Kalsedonia memilih Patriarkh tandingan mereka, yaitu Timotius Si Kucing. Sejak itulah Gereja Mesir
terpecah dua, yang Orthodox Kalsedonia yang tetap bersatu dengan seluruh Gereja universal, dan yang
menolak Kalsedonia, yang kemudian terkenal dengan Gereja Koptik Orthodox, serta mengikuti faham
“satu-kodrat” (monophysis).
Demikian juga di pihak Syria, ada yang mengikuti langkah Gereja Alexandria dalam memeluk faham “satu-
kodrat” ini. namun ada yang tetap dengan Gereja Universal yang menerima Konsili Kalsedonia. Dengan
demikian Gereja Syria sebelah Barat terpecah lagi antara yang “Orthodox” (kaum Monophysit,
menyebut Gereja Syria yang Orthodox ini sebagai: Malkaya/Melkit, atau para pengikut Raja/Malak)
dan yang “Monophysit”.
Pihak Monophysit ini oleh perjuangan Yakub Burdana ( Yakub Baradeus) berhasil mengorganisasi suatu
lembaga kegerajaan Syria Monophysit, yang akhirnya terkenal dengan nama Gereja Syria Orthodox atau
Gereja Yakobit. Gereja Yakobit Syria, inilah yang di Indonesia dipopulerkan dengan nama “Kanisah
Orthodox Syria” oleh Yayasan Study Orthodox Syria, pimpinan saudara Bambang Noorsena, sesudah ia
keluar dari keanggotaannya, yang pada saat itu bersama dengan Pdt. Yusuf Roni, dalam Gereja Orthodox
Indonesia.
sedang yang Orthodox alur utama tetap melanjutkan Kepatriarkhan Syria Antiokhia yang memiliki
hubungan dengan Gereja-Gereja Aleksandria Orthodox, Konstantinopel, Yerusalem, dan Roma. Gereja
Armenia sebab sedang menghadapi perang dengan Persia sehingga tak terwakili dalam Konsili
Kalsedonia, menolak hasil Konsili itu serta mengikuti faham “satu-kodrat”, demikian pula Gereja Thomas
India yang terkait dengan Gereja Persia dan Gereja Syria, dan Gereja Ethiopia yang terkait dengan Gereja
Koptik. Lima Gereja ( Koptik, Syria-Yakobit, Armenia, Thomas-India, dan Ethiopia) inilah yang dalam buku-
buku sejarah Gereja terkenal dengan nama : Gereja-Gereja Monofisit, atau pada masakini akibat hubungan-
hubungan ekumenis, untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental Orthodox, atau
Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia. sedang Gereja Orthodox
Alur Utama, disebut Gereja Orthodox Timur, atau Gereja Orthodox Kalsedonia atau Gereja Orthodox
Yunani. ( - Kata “Yunani” itu tak berarti menunjuk etnik Yunani, sama seperti “Roma” Katolik tak menunjuk
pengikutnya sebagai bangsa Roma, namun untuk menunjuk ekspresi karya sastra theologis utama dari
para bapa Gereja Timur yaitu menggunakan bahasa Yunani, meskipun jika mereka itu berkebangsaan
Syria misalnya Efraim dari Syria, Yohanes Khrisostomos, atau berkebangsaan Koptik, misalnya Athanasius
dari Alexandria, Kyrilos dari Alexandria, Klemen dari Alexandria dan lain-lainnya, sebagaimana Gereja
Barat menggunakan bahasa Latin, maka Gereja Baratpun sering disebut “Gereja Latin”.-) Meskipun sudah
berkali-kali ada usaha untuk mempersatukan mereka yang memisah ini baik di zaman purba maupun pada
zaman modern ini, namun mereka masih tetap terpisah dari Gereja Orthodox.
Konsili Ekumenis yang Ketiga dan yang Keempat ini menetapkan beberapa Kanon yang bersifat disipliner
dan bersifat praktis. Dalam Konsili Ketiga di Efesus, ada larangan membuat Pengakuan Iman yang lain, atau
mengarang “Pengakuan Iman Yang Berbeda” (Kanon 7) dari apa yang sudah dirumuskan dalam Konsili I
dan Konsili II. Kanon ini digunakan sebagai dasar bagi menentang penambahan atas Pengakuan Iman Nikea
oleh Gereja Barat dengan kata “filioque” (“dan Sang Putra”) ketika berbicara tentang Roh Kudus. Menurut
aslinya Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa”, tetapi menurut tambahan filioque dari Gereja Barat ini, Roh
Kudus itu keluar dari “ Sang Bapa dan Sang Putra”. Konsili Keempat di Kalsedonia, memberikan
Konstantinopel Ibukota yang baru atau Roma Baru itu “ kehormatan-kehormatan yang sejajar dengan
ibukota Roma yang lama” , sebab ibukota yang baru itu dihormati dengan adanya “kaisar dan senat” (
Kanon 28). Pada saat ini kita menyaksikan kemunduran di Gereja Barat dengan jatuhnya Roma ke tangan
bangsa Barbarian.
Masuknya Gereja Barat pada zaman ini ke dalam apa yang disebut “Zaman Kegelapan” sangat cepat
terjadi sesudah meninggalnya Agustinus, Episkop dari Hippo ( 430). Agustinus menulis banyak buku yang
sangat mengundang perdebatan terutama di Gereja Timur, yang isinya sangat mempengaruhi seluruh
sejarah Gereja Barat, baik yang Roma (Katolik) maupun yang Reformasi (Protestan), namun yang tak
diterima oleh Gereja Timur. Sementara itu Gereja Timur masih sedang dalam zaman keemasan dan
kejayaannya.
3. Konsili Agung Ekumenis Kelima ( 553) di Konstantinopel dan Konsili Agung Ekumenis Keenam
(680-681) di Konstantinopel
Pada abad keenam ini Kaisar Yustinianus menginginkan kesatuan Gereja dan kesatuan negara sekaligus.
Oleh sebab itu dia berusaha agar pihak Monofisit dapat disatukan kembali kepada Gereja Orthodox.
Usahanya ini dengan mengadakan suatu Konsili di Konstantinopel (553) , yang akhirnya diakui
sebagai Konsili Kelima, dimana di dalam Konsili ini suatu tulisan yang disebut sebagai “Tiga Pasal” yang
disenangi pendukung Kalsedonia, namun yang direndahkan oleh mereka yang menolak Kalsedonia,
dikutuk Yustinianus secara resmi. Tulisan ini yaitu tulisan dari Theodoret dari Cyrus, Ibas dari Edessa,
serta Theodorus Mopsuestia yang semuanya yaitu orang-orang Syria. Tetapi kutukan itu tak bisa
diterima para pendukung Konsili Kalsedonia, sebab meskipun mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran
yang salah dan kabur dari tiga penulis ini, namun tidak ada alasan untuk mengutuk mereka. Usaha
Yustinianus untuk menyatukan pihak Monofisit ini akhirnya tak berbuah, dan pihak Monofisit sendiri tidak
yakin untuk bisa menyatu kembali dengan Gereja Orthodox.
Disamping menolak ajaran yang salah dan kabur dari “Tiga Pasal” , Konsili ini juga menolak beberapa
ajaran Origenes dari Alexandria yang sangat tidak Orthodox, misalnya bahwa jiwa manusia sudah ada
sebelum masuk kedalam tubuh jasmani untuk lahir di dunia ini, dan lain-lain. Dan Konsili ini menegaskan
kembali rumusan Konsili Kalsedonia bahwa Yesus Kristus yaitu “satu dari Tritunggal Kudus” (artinya: Dia
Ilahi yang satu hakekat dengan Allah sendiri dan RohNya yang ada di dalam hakekat Allah). Dan Hypostasis
Kalimatullah yang satu dan yang sama inilah telah memanunggalkan secara "hypostatik" dalam DiriNya
sendiri yang satu itu dua kodrat yang saling berlawanan: Allah dan Manusia., tanpa campur-baur (Yang
Ilahi tidak menjadi Manusia, Yang Manusiawi tidan menjadi Ilahi) dan tanpa terpisah-pisah (Yang Ilahi dan
Yang Manusia manunggal secara tak terpisah dalam Satu Hypostasis).
Yustinianus sangat giat menyerang sisa agama kafir Yunani, serta menutup Universitas Athena dari
pengaruh kafir Yunani, serta hanya mempromosikan ilmu-ilmu Kristen saja. Dia membangun banyak
Gereja, terutama di Betlehem, Yerusalem, dan Gunung Sinai. Karyanya yang terbesar yaitu Gereja Aghia
Sophia, yang pernah dijadikan Masjid oleh bangsa Turki sejatuhnya Konstantinopel, dan sekarang menjadi
Museum. Gereja Konstantinopel pada saat ini sudah menggunakan praktek-praktek liturgis yang telah
dilakukan di Palestina dan Syria. Praktek Ibadah Gereja Konstantinopel saat ini, digabung dengan Ibadah
Kristen Yahudi dari abad-abad awal Kekristenan, serta sholat-sholat tujuh waktu yang telah berkembang
di biara-biara, dan praktek-praktek Liturgis di Yerusalem. untuk membentuk suatu synthesis agung
pertama kali dari ibadah Liturgis Gereja Orthodox. Sehingga biarpun Gereja Orthodox itu disebut sebagai




