u yang
sedang mengandung, bayi-bayi yang belum
dilahirkan dan gerakan pencinta kehidupan
(pro-life); P: 16 Oktober
GERARDUS († 1138)
Kakak Santo Bernardus ini mula-mula tidak
mau masuk biara. namun sesudah terluka dalam
perang, ditawan dan secara ajaib bebas lagi, ia ikut
adiknya yang hidup suci menurut aturan yang keras.
P: 30 Januari
GERARDUS dari HUNGARIA (980-1048)
Suatu saat abbas Gerardus, pemimpin biara
Santo Giorgia di Venesia Italia, meletakkan jabatan
sebab ingin bertapa di Tanah Suci. namun malang
baginya, kapalnya terdampar di pantai Yugoslavia.
Disitu ia bertemu dengan seorang abbas dari
Hungaria. Abba situ berhasil meluluhkan hati
Gerardus susaha tinggal di negerinya. Gerardus
disambut baik oleh keluarga Raja Stefan, bahkan
diminta menjadi guru pribadi putera mahkota
Emerik.
Sebenarnya ia tidak suka tinggal di istana. Ia
lebih senang tinggal di sebuah pertapaan di hutan,
jauh dari kota. Beberapa waktu kemudian, ia
diangkat menjadi uskup Hungaria Selatan. Penduduk
wilayah itu sebagian besar belum beriman Kristen,
sedangkan mereka yang telah dibaptispun belum
cukup hidup menurut cita-cita Injil. Maka mulailah
pekerjaan Gerardus yang senjatanya: siang malam
menyusuri lorong-lorong di kota dan tanpa mengenal
lelah menuruni dan mendaki lembah dan bukit
mengunjungi dusun-dusun untuk berkotbah;
memberi makan kaum miskin dan gelandangan;
menghibur orang-orang jompo dan mengangkut
mereka yang sakit dengan kereta ke rumah sakit di
kota. Seluruh warga Hungaria segan dan
menyayangi Gerardus. Tapi Raja Stefan yang kudus
itu digantikan oleh seorang tak beriman, yang
membenci dan mengejar-kejar orang Kristen.
Uskup Gerardus dengan tekad besar ingin
menunjukkan jalan yang benar kepada raja yang
baru. Namun ditengah perjalanan menuju istana ia
disergap oleh tentara kerajaan di tepi sungai Donau.
Bagaikan hujan batu mereka melemparinya,
sehingga tubuh Gerardus remuk memar, dan
akhirnya tak bernyawa lagi. Sebelum gerombolan itu
menyingkirkan jenasah yang hancur itu, seorang
diantara mereka menghunjamkan tombaknya ke
lambung Gerardus dan menembus jantungnya,
seperti perbuatan seorang tentara Romawi di
Golgota terhadap Tuhan Jesus.
Gerardus (980-1048), uskup dan martir; lahir
di venesia dan meninggal di Hungaria. B:
Gerard, Gerd, Gert (♂); Gerda (♀); P: 24
September
GERASIMOS († 475)
yaitu sahabat Santo Eutimios dari
Yerusalem. Ia bertapa dekat Yeriko dan membina
rahib-rahib muda. Suatu saat ada seekor singa
yang kakinya tertusuk duri, Gerasimios mencabut
duri itu dan sejak itu ia ditemani oleh singa itu.
P: 5 Maret
GERLACH (1100-1172)
Bertobat sesudah diberitahu bahwa isterinya
meninggal. Waktu itu ia sedang berpesta-pora. Lalu
ia berziarah ke Yerusalem dan merawat orang sakit.
Namun akhirnya ia kembali ke Belanda dan tinggal
dalam lubang batang pohon yang kosong.
P: 19 Januari
SANTA GERMANA
dari PIBRAC (1579-
1601)
Pibrac yaitu
sebuah dusun kecil di
Perancis di mana
Germana dilahirkan
sekitar tahun 1579. Ia
menghabiskan seluruh
hidupnya di sana. Germana seorang gadis yang
selalu sakit-sakitan. Ia tidak cantik. Tangan
kanannya cacat dan tak dapat digunakan. Ayahnya
kurang memperhatikannya. Ibu tirinya tidak suka ia
berada dekat anak-anaknya yang sehat. Jadi,
Germana tidur di kandang bersama domba-
dombanya, bahkan pada musim dingin. Bajunya
compang-camping dan ia menjadi bahan olok-olok
anak-anak lain. Sepanjang hari Germana menjaga
kawanan dombanya di padang. jika ia pulang ke
rumah pada malam hari, ibu tirinya acap kali
berteriak padanya dan memukulinya.
Namun demikian, gadis malang ini berbicara
kepada Tuhan dan ia ingat bahwa Tuhan senantiasa
bersamanya sepanjang waktu. Setiap hari ia selalu
ambil bagian dalam Perayaan Misa. Ia meninggalkan
kawanan dombanya dalam penjagaan malaikat
pelindungnya. Tak pernah sekali pun domba-domba
itu keluar melewati batas tongkat gembalanya yang
ia tancapkan ke tanah.
Germana seringkali mengumpulkan anak-
anak kecil dan mengajarkan iman kepada mereka. Ia
ingin agar hati anak-anak itu dipenuhi cinta Tuhan.
Semampunya, ia juga berusaha membantu mereka
yang miskin. Ia membagi sedikit makanan yang
diberikan kepadanya dengan para pengemis. Pada
suatu hari di musim dingin, ibu tirinya menuduh
Germana mencuri roti. Wanita itu mengejarnya
dengan tongkat. namun , yang jatuh dari celemek
baju Germana bukanlah roti, melainkan bunga-
bunga musim semi.
Sekarang, orang-orang tidak lagi
memperoloknya. Malahan, mereka mengasihi dan
mengaguminya. Ia boleh tinggal dalam rumah
ayahnya, namun Germana memilih untuk tetap tidur
di kandang. Hingga, suatu hari pada tahun 1601,
saat usianya dua puluh dua tahun, ia ditemukan
wafat di atas tempat tidur jeraminya. Hidupnya yang
sarat dengan penderitaan sudah berakhir. Tuhan
mengadakan mukjizat-mukjizat untuk menunjukkan
bahwa ia seorang kudus.
Germana Pibrac / Germana Cousin (1579-
1601), gadis miskin penggembala domba di
Toulouse Perancis yang menderita sakit paru-
paru; P: 15 Juni
GERMANOS (634-733)
yaitu uskup Konstantinopel. Ia
menulis:”Bila kita menghormati gambar Jesus, kita
tidak menghormati cat dan kayu. Kita menyembah
dalam roh dan Kebenaran Tuhan Yang tidak
kelihatan.” sebab tidak menolak penghormatan
gambar dalam gerja, ia dipecat dan dikurung oleh
Kaisar.
P: 12 Mei
GERMANUS (378-448)
yaitu seorang pegawai tinggi pemerintah. Ia
dipilih menjadi uskup Auxerre Perancis, meskipun
tidak menyukainya. Kemudian ia meninggalkan
isterinya. Harta miliknya ia gunakan untuk
membangun gereja dan biara. Dua kali ia diutus ke
Inggeris susaha membersihkan umat dari bidaah
Pelagianisme dan ikut berperang melawan
penyerang Saxon. Germanus dengan giat
mengKristenkan kembali seluruh wilayah
keuskupannya.
A: yang asli (L); P: 31 Juli
SANTA GERTRUDE dari HELFTA (1256-
1302)
Gertrude masuk sebuah biara di Saxony
saat ia masih amat muda. Di bawah bimbingan
Santa Mechtildis, ia tumbuh
menjadi seorang biarawati yang
riang gembira dan kudus. Sr.
Gertrude seorang yang
menyenangkan serta cerdas. Ia
menguasai bahasa Latin dengan
amat baik. Sesungguhnya, pada
mulanya ia kurang suka belajar
agama dan juga mata pelajaran
yang lain. namun , saat ia berusia
duapuluh enam tahun, Yesus
menampakkan diri kepadanya.
Yesus berkata bahwa mulai saat
itu, Sr. Gertrude hanya akan
berpikir tentang mengasihi-Nya serta berusaha
untuk hidup kudus. Sekarang, Sr. Gertrude mulai
belajar Kitab Suci dengat antusias. Pengetahuannya
tentang agama Katolik kita yang kudus menjadi
semakin luas.
Yesus menampakkan diri kepada Santa
Gertrude banyak kali. Tuhan menunjukkan Hati-Nya
yang Mahakudus. Dua kali Yesus mengijinkan St.
Gertrude mengistirahatkan kepalanya di Hati-Nya
yang Mahakudus. Oleh
sebab kasihnya yang
amat besar kepada
Yesus, Mempelai Ilahi-
nya, St. Gertrude
berusaha untuk
memperbaiki kelemahan-
kelemahannya dan
menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Ia percaya kepada Yesus dengan
segenap hati dan sebab nya senantiasa dipenuhi
rasa damai dan sukacita.
Santa Gertrude memiliki devosi yang
mendalam kepada Yesus dalam Sakramen
Mahakudus. Ia senang sekali menerima Komuni
Kudus sesering mungkin, meskipun pada masa itu,
hal demikian masih belum lazim. St. Gertrude juga
amat berdevosi kepada St. Yosef, bapa asuh Yesus.
Ia menulis banyak doa yang amat indah. sesudah
menderita selama sepuluh tahun, akhirnya suster
yang kudus ini bersatu dengan Hati Yesus Yang
Mahakudus, yang menjadikan-Nya pengantinnya.
Gertrud/ Gertrud Agung (1256-1302), suster
yang dikaruniai pengalaman mistik. B: Gerda,
Trudis; L: tujuh cincin; P: 16 Nopember
GERTRUD dari NIVELLES PERANCIS (626-
659)
yaitu puteri Raja Pippin, yang menjadi
abbas dalam biara yang didirikan ibunya Santa
Iduberga (P: 8 Mei). Gertrud yaitu wanita
terpelajar dan pembantu orang miskin. Santo
pelindung persatuan hidup suami-isteri yang
diancam perceraian dan orang-orang yang tergoda
untuk menjadi musuh satu sama lain.
L: abbas wanita dengan tongkat yang dipanjati
tikus; P: 17 Maret
GERVASIUS dan PROTASIUS (abad ke-4)
Santo Ambrosius menemukan kerangka dua
martir ini (P:19 Juni) berdasar suatu ilham pada
tahun 386 di dekat makam Santo Nabor, Felix (P:12
Juli) dan Santo Viktor (P: 8 Mei) dalam suatu gereja
di Milano Italia. Demikian pula halnya dengan
makam dan tulang-belulang Santo Nazarius dan
Selsus yang ditemukan pula pada waktu itu.
P: 28 Juli
GIACINTA MARESCOTTI (1585-1640)
Masuk biara sekadar iseng dan semula hidup
bersenang-senang saja. namun sesudah menderita
sakit keras, ia bertobat dan melakukan perbuatan
silih yang berat. Ia mendirikan perkumpulan karya
utama menolong orang miskin dan tahanan.
B: Gia, Hiacinta, Sinta; P: 30 Juni
GILBERTUS (1085-1189)
yaitu pastor paroki di Sempringham
Inggeris. Ia mengumpulkan beberapa wanita dari
parokinya untuk mendirikan biara, yang kemudian
ditambah bruder dan imam. Setiap biara menurut
aturan Santo Gilbert ini terdiri dari bagian suster,
bagian bruder dan bagian imam. Mereka bersama-
sama mengurus doa, rumah sakit dan asrama yatim
piatu, namun hidup terpisah. Dengan bijaksana
Gilbert memimpin ordonya dan baru berhenti sesudah
menjadi buta.
P: 4 Februari
SANTA GIANNA BERETTA MOLLA
(4 Oktober 1922-22 Januari 1937)
KELUARGA BERETTA
Gianna dilahirkan di Magenta, Milan, Italia
pada tanggal 4 Oktober 1922 sebagai anak
kesepuluh dari tigabelas putera-puteri pasangan
Alberto dan Maria Beretta. Pasangan anggota Ordo
Ketiga Fransiskan yang saleh ini menganggap
membesarkan dan mendidik anak-anak sebagai
suatu pemenuhan tanggung jawab kepada yang
ilahi. Meski disibukkan dengan tigabelas jiwa kecil,
Maria tidak pernah melalaikan
karya misionarisnya, dan
meski mereka tidak dihimpit
kemiskinan, keluarga Beretta
mengajarkan pada anak-anak
untuk hidup dalam
kesederhanaan, ugahari dan
sukacita. Setiap pagi keluarga
Beretta bersama segenap
anak-anak mereka ikut ambil
bagian dalam Misa dan setiap
sore mereka mendaraskan
Rosario bersama yang
dilanjutkan dengan
penyerahan diri kepada Hati Yesus Yang Mahakudus.
Sesudahnya, seluruh keluarga bersantai bersama,
terkadang dengan bermain piano dan menyanyi,
atau sekedar bercakap mengenai apa-apa yang
terjadi sepanjang siang. Virginia, anak terbungsu,
mengenangnya sebagai berikut,
“Tidak pernah ada kata-kata kasar atau tak
terkendali mengganggu ketenangan keluarga,
pun tidak pernah ada teguran dari ibu tanpa
dukungan ayah atau sebaliknya; senantiasa
kompak, mereka mencintai anak-anak
mereka dan berusaha memberikan formasi
yang baik dan sempurna kepada mereka.
Suasana rumah penuh ketenangan dan
kedamaian, namun hukuman dan perbaikan-
perbaikan yang perlu tidak pernah dilalaikan.”
Maria dan Alberto Beretta memastikan bahwa
masing-masing anak menekuni suatu profesi agar
dapat melaksanakan pelayanan Kristiani kepada
warga dan mempengaruhi dunia professional
dengan teladan hidup Kristiani. Kedelapan anak-
anak Beretta yang berhasil mencapai usia dewasa
[lima dari antara mereka meninggal dalam usia yang
masih amat belia] yaitu :
Amelia wafat dalam usia 26 tahun;
Ferdinando menjadi seorang dokter;
Francesco menjadi seorang insinyur sipil;
Enrico belajar kedokteran dan di kemudian
hari menjadi seorang imam Capuchin,
mengabdikan diri pada karya misi di Brazil;
Zita menekuni ilmu farmasi;
Guiseppe belajar teknik dan kemudian
menjadi seorang imam diosesan;
Gianna menjadi seorang dokter;
Virginia menjadi seorang dokter dan biarawati
Canossian yang bekerja sebagai misionaris di
India.
MASA KANAK-KANAK.
Oleh sebab bimbingan agama yang seksama
dari orangtua dan Amelia - saudari tertuanya -,
Gianna diperkenankan menyambut Komuni Pertama
dalam usia lima setengah tahun dan dua tahun
kemudian menyambut Sakramen Krisma. Sejak saat
itu, Gianna tidak pernah absen dalam Misa dan
menyambut Komuni Kudus setiap hari tak peduli
bagaimanapun situasi dan kondisinya.
Gianna bukan seorang yang cemerlang dalam
belajar. Ia bahkan tak dapat ikut berlibur bersama
keluarga sebab harus tinggal belajar di rumah demi
memperbaiki nilai-nilainya yang buruk. Ia
mengalami masa-masa kelabu di sekolah, namun
pada akhirnya dapat mengatasi kesulitan dalam
studi dengan ketekunannya. Ia mengerti bahwa
ketekunan yaitu kehendak Allah.
367
Tuhan menganugerahkan kepada Gianna
suatu keindahan istimewa dalam tatapannya yang
manis dan mendalam, yang memancarkan
kelembutan, jiwa yang murni, hati yang pemurah,
dan siap menerima segala yang baik. Salah seorang
guru mengenangnya sebagai berikut,
“Seorang anak terkasih yang tahu bagaimana
membangkitkan simpati dan kasih sayang
dari mereka yang menghampirinya sebab
karakternya yang manis dan bersahaja.
Kehalusan perasaannya yang tanpa dosa dan
jiwanya yang tulus tahu bagaimana
mendatangkan atas dirinya simpati dan kasih
sayang dari mereka yang datang kepadanya.
Wajahnya senantiasa tersenyum, meski
terkadang diselimuti suatu tabut melankolis
yang memohon belas kasih. Saya berusaha
membaca melalui kedalaman matanya yang
lembut pikiran-pikiran yang pada saat-saat
yang singkat itu menganggu hatinya, namun
tiada pernah saya mendengar satu kata
kejengkelan atau keletihan atau
pemberontakan terluncur dari mulutnya….
Menunaikan tugasnya di rumah, di sekolah,
dalam warga , baginya merupakan suatu
tugas yang suci.”
Seorang teman sekolah menulis, “Gianna memiliki
iman yang begitu memikat hingga mereka semua
yang berjumpa dengannya, meski sejenak saja,
merasa tertarik pada Gereja, di mana kita rindu
untuk ikut ambil bagian dengan kesalehan yang
terlebih mendalam.”
Pada tanggal 22 Januari 1937, Amelia wafat
dalam usia 26 tahun sesudah lama menderita sakit.
Sungguh suatu peristiwa yang meyedihkan bagi
seluruh keluarga dan suatu pukulan hebat bagi
368
Gianna. Sekonyong-konyong ia mengalami dunia
penderitaan. namun melalui penderitaan ini, imannya
tumbuh semakin kuat. Sr Virginia mengenang
Gianna “menggapai surga” pada masa ini,
“Setiap hari ia akan melewatkan waktu dalam
meditasi. Praktek ini menjadi sumber
kekuatannya. Tengah hari ia akan berhenti di
gereja untuk suatu kunjungan kepada
Sakramen Mahakudus. Rosario senantiasa
ada di sakunya dan ia mendaraskan Salam
Maria di setiap kesempatan.”
Gianna biasa meluahkan masalah dan perasaan
hatinya kepada Amelia, dan ia amat merindukan
kakaknya itu. Ia berusaha mengikuti teladan yang
ditinggalkan Amelia dan mendapatkan kekuatan
sebab dianggap pantas memiliki saudari yang begitu
mengagumkan.
RETRET ROHANI
sesudah wafat Amelia, Alberto Beretta
memindahkan keluarganya ke Genoa agar anak-
anak dapat lebih mudah melanjutkan pendidikan di
universitas. Tahun-tahun yang dilewatkan di Genoa
amat penting bagi formasi rohani Gianna, seorang
gadis remaja 15 tahun yang pendiam, yang tengah
mencari panggilan hidupnya.
Musim semi 1938, seorang imam Yesuit
memberikan retret Latihan Rohani St Ignatius bagi
murid-murid sekolah. Gianna ikut ambil bagian
dalam retret ini bersama Virginia. Banyak rahmat
yang ia terima di sana meninggalkan bekas yang
menandai seluruh sisa hidupnya. Ia masuk ke
kedalaman nilai-nilai fundamental kehidupan rohani
- perlunya rahmat dan doa, kejijikan akan dosa,
meneladani Kristus, matiraga. Terlebih lagi, ia mulai
melihat karya kerasulan sebagai suatu ekspresi luar
biasa dari belas kasihan. Di antara ketetapan
hatinya, ia menulis:
1. Melakukan segalanya demi Tuhan.... Demi
menyenangkan-Nya, aku tidak akan
menonton film tanpa terlebih dahulu yakin
bahwa film itu pantas dan tidak asusila....
2. Aku lebih suka mati dibandingkan melakukan
dosa berat....
3. Mendaraskan “Salam Maria” setiap hari
agar kiranya Tuhan memberiku kematian
yang kudus....
4. Aku hendak menjauhi dosa berat seolah ia
yaitu ular dan aku ulang, aku lebih suka
mati seribu kali dibandingkan menghina Tuhan.
5. Aku hendak memohon Tuhan untuk
menolongku agar jangan masuk neraka dan
sebab nya aku menghindari segala yang
dapat mencelakai jiwaku.
6. Aku memohon kepada Tuhan untuk
membantuku memahami kerahiman-Nya
yang dahsyat.
7. Aku berniat taat pada M.M. dan tekun
belajar meski aku tidak menyukainya, demi
kasih kepada Yesus.
8. Sejak hari ini, aku hendak bersujud dalam
doa di pagi hari di gereja seperti yang aku
lakukan di kamarku di petang hari di kaki
pembaringanku.
9. Kerendahan hati yaitu jalan tersingkat
mencapai kekudusan. Mohon Tuhan
menghantarku ke surga.
Sebagai langkah awal dari “program hidup”-nya
yang baru, Gianna memutuskan untuk mengabdikan
diri sepenuhnya pada studi. Hasilnya, ia
menyelesaikan tahun pelajaran dengan nilai-nilai
yang mengagumkan!
AKSI KATOLIK
Sejak usia 12 tahun, seperti anggota
keluarganya yang lain, Gianna terlibat aktif dalam
Aksi Katolik, yakni suatu gerakan yang bertujuan
mengerahkan awam Katolik untuk mengamalkan
hidup rohani yang terlebih mendalam. Dengan
demikian, pada gilirannya, akan menginspirasi
berbagai ragam karya amal kasih dan karya
apostolik di setiap tingkatan warga .
Dalam lingkungan ini, ketetapan hati Gianna
semakin dikuatkan dan dimatangkan. Pada masa
kuliah, ia dipercaya menjadi pemimpin dalam Aksi
Katolik. Segenap waktu luang dibaktikan bagi karya
apostolik. Ia mengorganisir rapat, retret dan ziarah
rohani bagi para gadis. Meski masa perang
mempersulit karya misi, Gianna tetap bertekun dan
bekerja tanpa kenal lelah demi kebajikan jiwa-jiwa
yang membutuhkan kekuatan rohani lebih dari
sebelumnya. Gianna mengatakan:
“Janganlah takut membela kehormatan Allah,
membela Gereja, Paus dan para imam. Inilah
saatnya bertindak. Janganlah kita tinggal
acuh tak acuh di hadapan kampanye musuh
melawan agama dan moral. Kita dari Aksi
Katolik, haruslah yang pertama-tama
membela pondasi kokoh dan tradisi sakral
Kristiani di tanah air kita.”
Bersama para anggota lainnya, Gianna biasa
mengunjungi mereka yang miskin dan mereka yang
sakit, membawakan makanan dan obat-obatan serta
membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah
tangga. Gadis-gadis muda tertarik oleh teladannya
yang cemerlang dalam kurban dan doa; mereka
datang meminta nasehat dan mengikuti saran serta
bimbingannya. Selama tiga tahun sebelum
perkawinannya, ia diangkat sekaligus sebagai Ketua
dan Delegasi dari seluruh wilayahnya. Gianna
mengamalkan motto Aksi Katolik sepanjang
hidupnya: Doa - Perbuatan - Kurban.
DOKTER GIANNA BERETTA
Bulan Mei 1942, Maria Beretta wafat sebab
serangan jantung. Empat bulan kemudian, Alberto
menyusul isterinya. Pada waktu itu Gianna baru saja
tamat sekolah menengah atas dan sedang berpikir
untuk menjadi seorang misionaris medis di Brazil. Ia
mengambil kuliah kedokteran di Milan.
Sesungguhnya seringkali nyaris mustahil mengikuti
kuliah sebab Milan sedang dalam situasi peperangan
yang hebat. Bom-bom berjatuhan meratakan segala
yang ada dan orang meninggalkan kota menuju
tempat yang lebih aman. Sementara hidup terasa
berat dan nyaris tak tertahankan, Gianna
membenamkan diri dalam meditasi dan
mencurahkan isi hatinya kepada Yesus. Usai perang,
ia melanjutkan kuliah di Pavia bersama Virginia.
Gianna percaya bahwa profesi sebagai seorang
dokter tidak seperti profesi lainnya, sebagaimana
ditulisnya dalam catatan yang diberinya judul
“Keindahan Misi Kita”:
“Dalam berbagai macam cara, setiap orang
dalam warga berkarya dalam pelayanan
bagi kemanusiaan. Dokter memiliki
kesempatan yang tak dimiliki seorang imam,
sebab misi kita tidak berakhir saat
pengobatan tak lagi dapat membantu. Masih
ada jiwa yang harus dibawa kepada Tuhan.
Yesus bersabda, `Barangsiapa mengunjungi
mereka yang sakit, ia menolong Aku.” Ini
tugas imamat. Sama seperti para imam dapat
menjamah Yesus, demikian pula kita para
dokter menjamah Yesus dalam tubuh pasien
kita: yang miskin, yang muda, yang tua, dan
anak-anak. Yesus membuat dirinya kelihatan
di tengah kita. Banyak dokter
mempersembahkan diri kepada-Nya. Jika
kalian telah menunaikan profesi duniawi, jika
kalian melakukan ini dengan baik, kalian akan
menikmati hidup ilahi “sebab saat Aku
sakit, engkau menyembuhkan Aku.”
Pada tanggal 30 November 1949 Gianna menerima
gelar dalam ilmu kedokteran dan bedah dengan nilai
mengagumkan. Dua tahun kemudian, 7 Juli 1952,
demi cintanya kepada anak-anak dan demi
membantu para ibu, ia meraih gelar spesialis anak-
anak. Gianna menggabungkan diri dengan
Ferdinando di suatu klinik kesehatan pribadi di
Mesero, dekat Magenta. Kantor praktek mereka
senantiasa dipadati pasien.
Gianna mendengarkan keluhan para pasien
dengan sabar dan ramah. Suatu hari seorang laki-
laki berkeluh-kesah atas kelahiran anaknya yang
cacat. Gianna memahami kesedihan hatinya,
menenangkannya dan mendorongnya untuk
mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi
menyelamatkan nyawa sang bayi. Kali lain, seorang
wanita pekerja yang sudah berumur
menghadapi kehamilan yang tak diharapkan; ia malu
akan bagaimana tanggapan orang. Gianna
meyakinkan, “Bukankah itu suatu sukacita dan
kebanggaan? Dalam hal ini kita tidak perlu
menghiraukan apa yang dikatakan orang.” Di masa-
masa ekonomi sulit, kerap para pasien membayar
biaya pengobatan dengan telur, ayam, dll,
sementara Gianna memberi mereka uang untuk
membeli makanan atau obat-obatan. Sebab
katanya, “Jika aku merawat pasien yang tak
memiliki apa-apa untuk dimakan, lalu apa
gunanya pengobatan?” Gianna mengangap
profesinya sebagai suatu pelayanan, bukan hanya
terhadap tubuh, melainkan juga terhadap jiwa
mereka yang dirawatnya.
usaha MENEMUKAN PANGGILAN HIDUP
Sejak masa kanak-kanak, Gianna menyimpan
kekaguman dan kecintaan pada karya misi. Maria
dan Aksi Katolik menyalakan semangat ini dalam
hatinya. dibandingkan membeli, kerap Maria menjahit
sendiri baju-baju anaknya agar ia dapat
mengirimkan uang yang ia sisihkan itu untuk karya-
karya misi. Gianna berharap dapat menggabungkan
diri dengan kakaknya Alberto dalam karya misi di
Brazil dengan memberikan pelayanan kesehatan
yang memang sungguh amat dibutuhkan di sana.
Namun demikian, rintangan demi rintangan
menghalangi keinginannya dan bapa pembimbing
rohani menasehatinya untuk menanti. Gianna
melewatkan tahun-tahun panjang dalam
ketidakpastian akan panggilan hidupnya.
Ketidakpastian ini amat menggelisahkan
hatinya, teristimewa dalam merencanakan masa
depan. Gianna melipatgandakan doa agar dapat
lebih baik mengenal kehendak Allah. Melalui
bimbingan rohani yang cukup panjang, akhirnya ia
mengerti bahwa ia dipanggil untuk hidup
berkeluarga. Ia menulis,
“Segala sesuatu memiliki tujuannya sendiri
dan tunduk pada suatu hukum. Segalanya
berkembang ke arah suatu tujuan yang telah
ditetapkan. Tuhan telah menggariskan suatu jalan
bagi masing-masing kita, panggilan hidup kita dan
hidup dalam rahmat yang tersedia bagi hidup
jasmani kita. Harinya akan datang saat kita
menjadi sadar akan mereka yang berada di
sekeliling kita, dan saat hal ini terjadi, kita akan
menjadi manusia-manusia baru. Suatu masa yang
sakral dan juga tragis dalam perjalanan dari kanak-
kanak menuju remaja. Masalah masa depan kita
diajukan pada masa ini ... bukan berarti kita harus
memutuskan masalah ini dalam usia limabelas
tahun, namun setidak-tidaknya kita dapat
menyelaraskan diri sepanjang jalan ke mana Allah
memanggil kita. Baik kebahagiaan duniawi maupun
kebahagiaan kekal kita tergantung pada mengikuti
panggilan kita ini dengan seksama.”
“Apa itu panggilan? Panggilan yaitu suatu
anugerah dari Allah dan sebab nya berasal dari
Allah. Jadi, jika panggilan yaitu suatu anugerah
dari Allah, yaitu tergantung kita untuk
mengusaha kan segalanya dalam kuasa kita untuk
mengenal kehendak Allah. Kita patut berjalan di
sepanjang jalan yang Tuhan kehendaki bagi kita,
bukan dengan “mendobrak pintu”, namun sesuai
bilamana Tuhan menghendakinya dan sebagaimana
Tuhan menghendakinya.”
Kepada mereka yang heran bahwa ia
meninggalkan kerinduan hidup dalam karya misi di
Brazil, ia menjawab, “Segala jalan Tuhan indah
sebab tujuannya satu dan sama: untuk
menyelamatkan jiwa kita sendiri dan berhasil
menghantar sebanyak mungkin jiwa-jiwa ke surga,
demi memuliakan Allah.”
MEMBINA HIDUP BERKELUARGA
Kesibukan kerja tidak menghalangi Gianna
melakukan aktifitas-aktifitas kegemarannya:
melukis, berolahraga ski dan panjat gunung,
menikmati fashion (meski berhati-hati untuk tetap
sederhana), simponi, opera, teater pun konser.
“Seorang santo yang sedih, sungguh kasihan,”
demikian katanya.
Keluarga Molla tinggal di bangungan yang
berhadapan dengan kantor praktek Gianna. Putera
mereka, Pietro, yaitu seorang insinyur dan
berprofesi sebagai Direktur Teknik. Perjumpaan demi
perjumpaan menghantar Gianna dan Pietro saling
menaruh hati. Dalam artikel hariannya, Pietro
menulis, “Semakin mengenal Gianna, semakin aku
yakin bahwa Tuhan tak dapat memberikan anugerah
yang terlebih besar selain dari cinta dan
kebersamaan dengannya.”
Pada tanggal 24 September 1955, P
Giusseppe - kakak Gianna - memimpin Upacara
Sakramen Perkawinan antara Gianna Beretta, 33
tahun, dengan Peitro Molla, yang sepuluh tahun
lebih tua, di Basilika San Martino di Magenta. Gianna
mengenakan gaun pengantin amat indah dari kain
satin putih - kain terbaik dan terindah yang dapat
ditemukannya - sebab katanya kepada saudarinya,
“Tahukah engkau, aku memilih bahan yang terindah
sebab sesudahnya aku hendak membuat kasula
darinya untuk Misa Perdana salah seorang
puteraku.” [Di kemudian hari The Society of St
Gianna mendapatkan potongan kain ini dan dijahit
menjadi kasula.] Sementara Gianna berjalan menuju
altar dengan dihantar Ferdinando, kakaknya, semua
yang hadir menyatakan hormat dan kekaguman
mereka dengan tepuk tangan meriah yang
menggema hingga Gianna tiba di altar.
Gianna dan Pietro kemudian tinggal di sebuah
rumah kecil dekat perusahaan di mana Pietro
bekerja. Gianna rindu menjadi seorang ibu dan
mendamba banyak anak. Dua minggu menjelang
pernikahan, ia menulis kepada Pietro, “Dengan
pertolongan dan rahmat Allah, kita akan
mengusahakan yang terbaik untuk menjadikan
keluarga baru kita sebuah Senakel kecil di mana
Yesus berkuasa atas segala kasih sayang, kerinduan
dan tindakan kita.... Tinggal sedikit hari lagi dan aku
merasa tergerak akan pemikiran untuk menghampiri
dan menyambut 'Sakramen Cinta kasih'. Kita akan
menjadi rekan kerja Allah dalam penciptaan dan
dengan demikian kita akan dapat memberi-Nya
anak-anak yang mengasihi dan melayani-Nya.”
Setahun sesudah perkawinan, Pietro dan
Gianna penuh bahagia menyambut putera pertama
mereka, Pierluigi yang dilahirkan pada tanggal 19
November 1956 dan dibaptis beberapa hari
sesudahnya oleh P Giuseppe. Pada tanggal 11
Desember 1957, Maria Zita (Mariolina) dilahirkan
dan dibaptis beberapa hari sesudahnya oleh P
Giuseppe. [Mariolina meninggal dunia dalam usia
enam tahun, kurang dari dua tahun sesudah wafat
Gianna Beretta Molla, sebab sakit.] Selanjutnya
pada tanggal 15 Juli 1959, Laura dilahirkan. Sebagai
ucapan syukur kepada Tuhan, sesudah kelahiran
masing-masing anak, Gianna mengambil sejumlah
besar uang dari tabungannya untuk disumbangkan
kepada karya-karya misi.
Gianna membesarkan anak-anaknya dengan
penuh kasih sayang. Ia tak pernah dapat
membayangkan seorang ibu tega memukul anaknya.
“Kita harus dapat mengajar mereka dengan bujuk
rayu dan di atas segala pengajaran, sejak awal
mula, segalanya yaitu anugerah dari Tuhan dan
harus dihormati sebagai suatu anugerah.”
Gianna dan Pietro mengalami semakin
bertambahnya tugas tanggung jawab dengan
kehadiran anak-anak. Namun, Gianna berhasil
menunaikan segala tugas tanggung jawab sebagai
isteri, ibu, pengurus rumah tangga, dokter.
Kekuatan batinnya yang luar biasa diwujudkannya
menjadi antusiasme yang bersinar cemerlang
melalui segala pekerjaan yang ia lakukan. Orang
terkagum-kagum mendapati bahwa ia memiliki
cukup waktu untuk mengerjakan semuanya. Di
rumah, ia mengurus semuanya dengan
mengagumkan; ia juga seorang jago masak yang
senang menjamu teman sahabat dan sanak keluarga
di akhir pekan.
Gianna memberikan perhatian istimewa pada
pendidikan rohani anak-anak. Meski mereka masih
belia, Gianna mendaraskan doa bersama mereka di
sore hari dan berbicara kepada mereka mengenai
kasih Yesus. Anak-anak akan merefleksikan
perbuatan-perbuatan mereka sepanjang hari dan
berbincang bagaimana Yesus mungkin kurang
senang atas beberapa dari perbuatan mereka.
PILIHAN YANG GAGAH BERANI
Kehamilan selalu merupakan suatu
pengalaman yang berat dan sulit bagi Gianna. Pada
setiap kehamilan ia mengalami hyperemesis, yakni
mual dan muntah berlebihan. Ia juga mengalami
gangguan usus dan lambung yang mengakibatkan
rasa sakit yang hebat. Namun demikian, Gianna
selalu menolak obat-obatan penahan sakit, sebab ia
beranggapan bahwa obat-obatan yang demikian
tidak mengijinkannya untuk menjadi diri sendiri.
Pada bulan September 1961, di akhir bulan
kedua kehamilannya, diagnosa dokter mendapati
sebuah fibroma di rahimnya. Fibroid ini cukup besar
hingga mengancam kelangsungan kehamilan dengan
menghimpit janin. Tiga pilihan dihadapkan dalam
kasusnya:
1. Pengangkatan rahim (hysterectomy) guna
menyingkirkan fibroid. Resikonya
rendah; namun , berdampak pada kematian janin
dan meniadakan
kemungkinan kehamilan di masa mendatang.
Seturut moralitas Katolik,
dalam kasus ini hysterectomy bertujuan
menyelamatkan nyawa ibu dengan
mengangkat rahim yang terjangkit kanker
(dengan dampak yang tak
diinginkan kematian bayi yang belum dilahirkan).
2. Menyingkirkan fibroid sekaligus mengakhiri
kehamilan, sehingga
memungkinkan kehamilan di masa mendatang.
Pilihan ini, yang menyangkut
aborsi langsung, secara moral Katolik tidak dapat
diterima.
3. Menyingkirkan fibroid dan melanjutkan kehamilan
penuh resiko. Sebab ia
seorang dokter, Gianna tahu benar tingginya
resiko yang harus ia hadapi. Kendati nasehat para
dokter dan banyak orang, Gianna mendesak untuk
mengambil pilihan ini. Ia mengatakan, “Dokter tidak
seharusnya ikut campur. Hak hidup anak sama
dengan hak hidup ibu. Dokter tidak dapat
memutuskan; yaitu dosa membunuh bayi dalam
rahim.”
Gianna tidak pernah memikirkan
kemungkinan aborsi. Ia memilih, dengan sukarela
dan kemurahan hati yang besar dari pihaknya, untuk
melanjutkan kehamilan penuh resiko demi
kelangsungan hidup bayinya. Kegagahan yang
dilakukan St Gianna yaitu ia memilih hidup bagi
anaknya dalam situasi yang sulit dan tanpa
kepastian, pun tanpa peduli resiko bagi dirinya
sendiri. [Dengan ultrasonik dan teknologi canggih
sekarang ini, lebih banyak informasi dapat diperoleh
para dokter dalam bedah modern, namun tidak di
awal tahun 1960-an.]
Kepada saudaranya, Gianna berkata, “Bagian
yang tersulit belum datang. Engkau tidak mengerti
hal-hal seperti ini. saat saatnya tiba, tinggal dia
atau aku.” Lagi, di kesempatan lain, kepada Pietro,
Gianna berbicara dengan suara tegas dan tatapan
mata yang tajam, “Jika engkau harus memilih antara
aku dan sang bayi, janganlah ragu; aku mendesak,
selamatkan si bayi.”
Gianna mempercayakan keselamatan dirinya pada
doa dan penyelenggaraan ilahi, “Ya aku banyak
berdoa akhir-akhir ini. Dengan iman dan
pengharapan aku mempercayakan diriku pada
Tuhan.... Aku percaya pada Tuhan, ya; namun
sekarang tergantung padaku untuk menunaikan
kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku
memperbaharui persembahan diriku kepada Tuhan.
Aku siap untuk segalanya, demi menyelamatkan
bayiku.”
Gianna melewatkan tujuh bulan selanjutnya
hingga kelahiran sang bayi dalam kekuatan
semangat yang tak tertandingi. Selama itu, ia
mohon kepada Tuhan untuk menjaga bayi dalam
rahimnya agar tak mengalami kesakitan. Jumat
Agung, Gianna dibawa masuk RS Bersalin Monza.
Keesokan harinya, 21 April 1962, sebab
keadaannya yang tak memungkinkan, ia melahirkan
seorang bayi wanita melalui operasi caesar.
WAFAT ST GIANNA
Kondisi Gianna semakin memburuk segera
sesudahnya. Ia memohon bantuan ibunya untuk
tinggal dekatnya dan menolongnya, sebab ia tak
dapat menahannya lagi. Penderitaannya tampak
bagai suatu kurban yang dramatis dan perlahan,
yang menyertai kurban Kristus di salib. Masih
sempat ia berkata kepada saudarinya, “Andai saja
engkau tahu bagaimana hal-hal dinilai secara
berbeda di saat ajal! ... Betapa sia-sia tampaknya
hal-hal yang di dunia ini begitu kita pentingkan!”
Gianna Beretta Molla wafat pada tanggal 28 April
1962 dalam usia 39 tahun. Wajahnya tampak damai
tenang, segala tanda kesakitan sama sekali sirna
dan ia tampak dipenuhi kebahagiaan.
Pada hari Minggu, seluruh keluarga Molla dan
Beretta bersama segenap kerabat menuju Gereja
Santa Perawan Maria Bunda Penghiburan. P
Guiseppe merayakan Sakramen Baptis atas bayi
wanita yang dinamai Gianna Emanuela: nama
pertama sebagai kenangan akan ibunya dan nama
kedua menegaskan iman mereka akan kehadiran
Allah dalam keluarga dan dalam hati segenap
anggota keluarga. sesudah pembaptisan, semua
pulang ke rumah. Tidak ada perayaan besar, namun
roh Gianna terasa hadir, dengan kasih keibuan
melingkupi seluruh keluarga. Pierluigi memandang
kepada ibunya dalam peti jenazah:
“Mengapakah Mama di sana?”
“Apakah ia Mama?”
“Apakah Mama melihatku, menyentuhku dan
memikirkanku?”
Tercekam emosi, Pietro tak dapat menjawab.
Pierluigi melanjutkan,
“Untuk Mama pastilah ada sebuah rumah
mungil dari emas.”
Peti jenazah berselimut bunga mawar ditempatkan
di bawah altar gereja. Sungguh suatu yang tak
lazim, namun merupakan ungkapan penghargaan dan
penghormatan orang banyak, termasuk para klerus,
yang meyakini bahwa jenazah yang terbujur di sana
yaitu relikwi seorang martir yang kudus. Mereka
yang berduyun-duyun datang memadati gereja yakin
bahwa surga telah diperkaya dengan seorang santa
baru.
SANTA GIANNA
Pada tanggal 24 April 1994, dalam tahun
yang dicanangkan sebagai Tahun Keluarga, Gianna
Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus
II. Dalam beatifikasi yang dihadiri oleh suami,
saudara-saudari beserta putera-puteri Beata Gianna
ini, Bapa Suci mengajukan B. Gianna sebagai
teladan segenap ibu,
“Seorang wanita dengan kasih yang luar
biasa, seorang istri dan ibu yang mengagumkan, ia
memberi kesaksian dalam hidup sehari-hari akan
nilai-nilai Injil. Dengan berpegang pada wanita
ini sebagai teladan kesempurnaan Kristiani, kita
hendak memuji segenap para ibu keluarga yang
penuh semangat, yang memberikan diri sepenuhnya
kepada keluarga, yang menanggung derita dalam
melahirkan, yang siap sedia bagi segala karya dan
segala rupa kurban, agar yang terbaik dari mereka
dapat dibagikan kepada sesama.”
Gianna Emanuela, yang sekarang yaitu
seorang dokter dan pejuang Gerakan Pencinta
Kehidupan, menyampaikan kesaksiannya,
“Mama sayang, terima kasih telah memberiku
hidup dua kali: saat Mama mengandung aku dan
saat Mama mengijinkanku dilahirkan … Hidupku
rindu untuk menjadi kelanjutan hidupmu, sukacita
hidupmu, antusiasmu, dan ia mendapati kepenuhan
artinya dalam keterlibatan dan dedikasi penuh
kepada siapapun yang hidup dalam penderitaan.
Mama sayang, mohon bantuan doamu senantiasa
bagi segenap ibu dan segenap keluarga yang
berpaling kepadamu dan mempercayakan diri
mereka kepadamu.”
Pada tanggal 16 Mei 2004, Gianna Beretta
Molla dikanonisasi oleh paus yang sama. Pesta St
Gianna dirayakan pada tanggal 28 April.
SAKSI GERAKAN PENCINTA KEHIDUPAN
Santa Gianna percaya bahwa hak istimewa
menjadi seorang ibu, menjadi seorang rekan kerja
Allah dalam menghadirkan kehidupan baru, berarti
senantiasa membela dan melindungi anaknya, entah
di dalam ataupun di luar rahim, bahkan hingga pada
tahap menyerahkan hidupnya sendiri. Dalam dunia
kedokteran sekarang ini, yang terlebih modern dan
canggih, terbuka lebar kemungkinan untuk
menyelamatkan hidup Gianna bersama bayinya.
Namun betapa tragis, justru di masa sekarang ini
keputusan hidup dan mati atas bayi-bayi yang belum
dilahirkan, dibuat berdasar alasan-alasan yang
sepele dan kehamilan seringkali diakhiri dengan
alasan-alasan yang tidak sesuai dengan prinsip
agama dan moral.
“Jadilah saksi hidup dari keagungan dan keindahan
Kekristenan.” ~ S. Gianna Beretta Molla
SANTO GILDAS (500-
Santo kita ini dilahirkan
sekitar tahun 500 di Inggris.
Sebagai seorang pemuda ia
bertekad untuk
mempraktekkan gaya hidup
mengurbankan diri. Ia
melakukan ini guna membantu
dirinya sendiri semakin dekat
pada Tuhan. Gildas
bersungguh-sungguh dengan komitmen Kristianinya.
Ia merasa bertanggung jawab untuk berdoa dan
berkurban demi silih atas dosa-dosa yang dilakukan
orang sejamannya. Ia menulis khotbah-khotbah
berusaha meyakinkan orang untuk meninggalkan
kejahatan. Ia mendorong mereka untuk
menghentikan hidup penuh skandal. Sebab Gildas
begitu peduli, tulisan-tulisannya terkadang terasa
terlalu kritis. Sesungguhnya, ia tidak bermaksud
mengutuk siapapun. Ia memohon orang untuk
berbalik kepada Tuhan.
Gildas yaitu seorang rohaniwan yang
mengamalkan hidup seorang pertapa. Ia tidak
memilih hidup doa yang hening sebab ia hendak
melarikan diri dari dunia sekelilingnya. Ia memilih
gaya hidupnya demi membantu diri bertumbuh
semakin dekat pada Tuhan. Ia lebih sadar dari orang
kebanyakan mengenai hal-hal yang sangat keliru
dalam warga . Sayangnya, banyak orang tidak
cukup sadar akan Tuhan dan hukum-Nya. Mereka
bahkan tidak menyadari kejahatan yang tengah
membinakasan mereka. Itulah sebabnya mengapa
sebagian orang dalam Gereja - para imam, uskup,
dan kaum awam baik laki-laki maupun wanita -
pergi kepada Gildas mohon nasehat mengenai hal-
hal rohani yang mendalam.
Menjelang akhir hidupnya, Gildas
mengamalkan hidup bertapa di sebuah pulau kecil di
Brittany. Meski ia menginginkan kesendirian guna
mempersiapkan jiwanya menyongsong maut, para
murid mengikutinya juga ke sana. St Gildas
menyambut mereka sebagai suatu pertanda bahwa
Tuhan menghendakinya untuk membagikan karunia-
karunia rohaninya kepada yang lain. Gildas yaitu
bagaikan “nurani” warga . Terkadang, kita tak
suka mendengar mengenai dosa, namun dosa itu
nyata. Terhkadang kita juga dicobai untuk
melakukan yang salah atau menjadi lalai. Pada saat
itulah kita dapat memanjatkan sebuah doa singkat
kepada St Gildas. Kita memohon bantuannya untuk
memperolehkan bagi kita kekuatan niat untuk
melakukan hal yang benar.
GILLES dari ASSISI OFM (1262)
Teman dan pengikut Santo Fransiskus ini
diutus ke Tunisia, namun misinya gagal. Lalu ia
bertapa di Perugia Italia.
B: Aegidius, Egidius, Gil(les); P: 23 April
SANTO GILES
Giles dilahirkan di Athena, Yunani. saat
orangtuanya meninggal dunia, ia mempergunakan
banyak warisan yang
mereka tinggalkan
untuk menolong orang-
orang miskin. Sebab itu,
dan teristimewa sebab
Tuhan mengadakan
banyak mukjizat dengan
perantaraannya, Giles
mendapati diri sebagai
seorang pemuda yang
amat dikagumi. Giles
tidak menghendaki
pujian dan kemashyuran
ini sama sekali. Maka,
agar dapat melayani Tuhan dalam hidup yang
tersembunyi, ia meninggalkan Yunani dan berlayar
ke Perancis. Di sana, ia hidup seorang diri dalam
kegelapan hutan. Ia membuat tempat tinggal dalam
sebuah gua di balik semak belukar yang rimbun.
Giles hidup tenang di sana, aman dari bahaya besar
kepala mendengar dirinya dipuji.
namun , suatu hari seorang raja dan para
pengawalnya pergi berburu ke hutan itu. Mereka
mengejar kijang yang biasa datang ke gua Giles.
Kijang itu lenyap dari pandangan mereka dengan
masuk ke dalam gua Giles yang tersembunyi di balik
semak belukar yang rimbun. Salah seorang
pengawal membidikkan anak panah ke rerimbunan
semak, dengan harapan anak panah itu mengenai si
kijang. saat mereka menyibak semak belukar,
mereka mendapati Giles duduk terluka oleh anak
panah.
“Siapakah engkau dan apa yang engkau
lakukan di sini?” tanya raja. St Giles menceritakan
kisah hidupnya kepada mereka. sesudah
mendengarnya, mereka mohon pengampunan. Raja
mengutus para tabibnya untuk merawat luka santo
kita. Meski Giles memohon agar ditinggalkan
seorang diri, raja sungguh merasa kagum
kepadanya hingga raja kerap datang menjenguknya.
Giles tidak pernah menerima hadiah-hadiah raja.
namun , pada akhirnya, ia setuju raja mendirikan
sebuah biara besar di sana. Giles menjadi pemimpin
biaranya yang pertama. Biara ini menjadi begitu
terkenal hingga seluruh kota datang ke sana. saat
St Giles wafat, makamnya di biara menjadi tempat
ziarah yang ramai dikunjungi para peziarah.
“Tuhan tidak mengukur kemurahan hati kita dengan
berapa banyak yang kita berikan, melainkan berapa
banyak yang kita tinggalkan.” ~ Uskup Agung Fulton
Sheen
BEATO GILES MARIA (1729-7 Februari 1812)
Nama lengkapnya sebagai seorang religius
yaitu Broeder Giles Maria dari St Yosef. Broeder
Giles Maria dilahirkan dekat
Taranto, Italia, pada tahun
1729. Semasa kanak-
kanak, ia belajar membuat
tali tampar dan cakap
dalam usahanya.
saat usianya
duapuluh lima tahun, Giles
menyadari panggilan Tuhan
untuk masuk dalam suatu
ordo religius dan
mempersembahkan hidup
kepada Tuhan. Giles
menggabungkan diri dalam
Rahib-rahib St Petrus Alcantara di Naples. Dan hal
luar biasa apakah yang ia lakukan hingga
dimaklumkan “beato”? Ia pantas mendapatkan
kehormatan yang demikian sebab dua keutaman
yang membimbingnya sepanjang kehidupan
religiusnya. Keutamaan-keutamaan itu yaitu
kesahajaan dan kerendahan hati.
Broeder Giles Maria berusaha menyongsong
setiap hari yang baru dengan kerinduan untuk
melayani Tuhan. Ia amat bersyukur atas
panggilannya dan hal itu diungkapkannya dalam
hidup sehari-hari. Broeder Giles naik turun ruangan-
ruangan dan menyusuri lorong-lorong biara di mana
ia tinggal. Ia yaitu seorang penjaga pintu. Ia
membuka pintu dengan segera dan dengan senyum
ramah setiap kali tamu menarik tali untuk
membunyikan lonceng biara. Dengan lembut ia
memberikan perhatian kepada kaum miskin, kaum
tuna wisma, dan mereka yang sakit yang datang di
depan pintunya. Ia diserahi tanggung jawab
membagi-bagikan makanan dan derma yang berhasil
dihimpun oleh komunitas. Broeder Giles Maria
senang hati melakukannya. Tak peduli berapa
banyak yang ia berikan kepada mereka yang
membutuhkan, masih tetap banyak saja yang tersisa
bagi yang lain. Ia tahu St Yosef yang melakukan ini.
Bagaimanapun, bukankah St Yosef yang dulu
memelihara dan menopang hidup Yesus dan Maria.
Boreder Giles Maria menyebarluaskan devosi kepada
St Yosef sepanjang hidup religiusnya. sesudah
melewatkan hidup yang setia kepada Tuhan dan
panggilan hidup yang dipilihnya, Broeder Giles Maria
dari St Yosef wafat pada tanggal 7 Februari 1812. Ia
dimaklumkan “beato” oleh Paus Pius IX pada tahun
1888.
GIOVANNI BATTISTA ROSSI (1698-1764)
Sewaktu belajar teologi di Roma ia sangat
keras terhadap dirinya, sehingga menderita epilepsy
yang terus mengganggunya. Imam ini menaruh
perhatian besar terhadap orang miskin, penderita
sakit, tahanan dan wanita gelandangan, meskipun ia
sendiri amat miskin. Giovanni menjadi bapa
pengakuan yang dicari-cari orang.
P: 23 Mei
GISELA (985-1060)
yaitu ratu Hungaria dan ibu dari Santo
Emerik (P: 4 Nopember). Dengan rajin ia
memajukan penginjilan, namun ditahan sesudah
suaminya meninggal. Ia dibebaskan oleh kaisar
Jerman dan kemudian menjadi pimpinan biara.
P: 7 Mei
SANTO GLEB dan SANTO BORIS († 1015)
Kedua bersaudara ini dilahirkan di
penghujung abad kesepuluh. Mereka yaitu putera-
putera St Vladimir dari
Kiev, pangeran Kristen
pertama di Rusia. Ayah
mereka memiliki banyak
isteri sebelum menjadi
Kristen. Sesudah memeluk
agama Kristen, Vladimir
hidup sebagaimana
diajarkan Yesus dalam Injil.
Boris dan Gleb yaitu
putera-putera Vladimir dari
isterinya yang seorang
Kristen bernama Anna.
Mereka semua yaitu
orang-orang Kristen yang saleh.
Dalam usaha mendapatkan kekuasaan yang
terlebih besar sesudah Raja Vladimir wafat, putera
sulungnya menyusun rencana untuk membunuh
Boris dan Gleb. Boris diperingatkan mengenai hal ini
sewaktu ia kembali bersama pasukannya dari suatu
pertempuran melawan suku-suku pengembara. Para
prajurit serta-merta bersiap untuk membela Boris
dari saudara sulungnya, namun Boris melarang.
“yaitu lebih baik jika aku saja yang mati,” katanya,
“dibandingkan banyak orang harus mati.” Maka, ia
menyuruh para prajuritnya pergi sementara ia duduk
sendirian menanti. Sepanjang malam ia
merenungkan para martir yang tewas dibunuh oleh
kerabat dekatnya sendiri. Ia merenungkan betapa
kosong jadinya hidup ini jika kita mengutamakan
hal-hal duniawi. Yang utama, menurut pendapatnya,
yaitu perbuatan-perbuatan baik, kasih sejati dan
iman yang benar. saat pagi tiba, para pembunuh
yang disewa kakaknya tiba dan mulai menyerangnya
dengan tombak. Boris tidak melawan, hanya
menyerukan damai kepada mereka.
St Gleb dibunuh tak lama sesudahnya.
Saudara sulungnya yang keji mengundang Gleb
datang ke istana untuk suatu kunjungan
persaudaraan. Saat menyeberangi sungai, perahu
Gleb diserang oleh orang-orang bersenjata yang
garang. Pada mulanya, Gleb ketakutan dan
memohon pada mereka agar jangan membunuhnya.
Namun demikian, ia tak hendak mempertahankan
diri dengan kekerasan, bahkan saat ia melihat
bahwa mereka bertekad membunuhnya. Malahan, St
Gleb dengan tenang mempersiapkan diri untuk mati.
“Aku dibunuh,” katanya, “untuk suatu alasan yang
tidak aku ketahui. namun Engkau mengetahuinya, ya
Tuhan. Dan aku tahu Engkau bersabda, demi nama-
Mu saudara akan bangkit membunuh saudaranya.”
Hanya beberapa tahun sesudah wafat mereka,
warga Rusia mulai pergi berziarah ke makam
kedua bersaudara ini. Mukjizat-mukjizat terjadi. St
Boris dan St Gleb disebut martir sebab mereka
menerima kematian seperti Kristus, yakni tanpa
mempertahankan diri dengan kekerasan. Mereka
wafat pada tahun 1015. Pada tahun 1724, Paus
Benediktus XIV memaklumkan mereka sebagai
santo.
GODELIVA (1045-1070)
Ditinggalkan oleh suaminya, sesudah menikah
beberapa waktu lamanya. Kemudian ia diperlakukan
dengan kasar dan kejam oleh mertuanya. sebab
didesak oleh ayah Godeliva dan uskup setempat,
maka suaminya pura-pura rujuk kembali, namun
kemudian menyewa orang susaha membunuh
Godeliva.
A: disayang Tuhan; B: Godeliv; P: 6 Juli
GODRIKUS (1065-1170)
Semula yaitu tukang catut dan pembuat
pedang. Namun akhirnya ia terkenal sebagi
peziarah. Ia menjelajahi Skotlandia, Spanyol, Roma
dan Yerusalem. Dengan kaki telanjang ia berkeliling
Eropa bersama ibunya yang sudah lanjut. Kemudian
Godrikus bertapa di Walpole untuk menebus dosanya
yang banyak. Ia dikaruniai Tuhan dapat meramal
masa depan, menjinakkan binatang buas dan
berbahaya (ular berbisa). Godrikus yaitu penyair
liris pertama dalam bahasa Inggris.
A: penuh dengan Tuhan; P: 21 Mei
SANTO GODFREY († November 1115)
Godfrey hidup pada abad keduabelas. Ia
mendapatkan pendidikan dari para biarawan Mont-
Saint-Quentin. Godfrey menjadi seorang imam
biarawan. Ia dipilih menjadi kepala biara di
Champagne, Perancis. Biara itu mengalami
kemunduran; hanya enam biarawan saja yang masih
tinggal. Para biarawan menyukai Godfrey. Mereka
tahu bahwa ia yaitu seorang kudus. Mereka
percaya bahwa ia dapat membantu mereka untuk
menemukan kembali sukacita hidup yang
mengurbankan diri. Sebentar saja, komunitas telah
hidup kembali dan calon-calon baru menggabungkan
diri dengan mereka. Biara Champagne menjadi
pusat doa dan sukacita rohani.
Pada akhirnya, abas mereka ditahbiskan
sebagai uskup agung. Kepadanya dipercayakan
Keuskupan Rheims, Perancis
yang terkenal. Godfrey merasa
sedih meninggalkan biara
kecilnya. Meski demikian, ia tahu
bahwa Tuhan menghendakinya
menjangkau orang-orang di
Rheims juga. Ia tetap menjalani
hidup sebagai seorang biarawan
yang bersahaja. Tempat
tinggalnya sederhana namun
bersih. Makanannya sederhana.
Terkadang, koki menyiapkan
makanan yang menurut Godfrey
terlalu mewah. Maka ia akan
menunggu hingga koki selesai
melaksanakan tugasnya.
Kemudian ia memanggil orang-
orang miskin yang tinggal di
sekitar sana. Diberikannya
makanan itu kepada mereka untuk dibawa pulang
bagi keluarga mereka. Uskup Agung Godfrey
menderita akibat aniaya dalam keuskupannya.
Beberapa hal yang terjadi sungguh keliru. saat
Godfrey berusaha meluruskan mereka yang terlibat,
terkadang nasehat-nasehatnya dilawan dan
ditentang. Seorang bahkan berusaha membunuhnya.
Itulah saat saat Godfrey bertanya-tanya apakah
yang dilakukannya lebih mendatangkan celaka
dibandingkan kebaikan. namun orang-orang yang
berkehendak baik menghargai dan mengasihinya.
Sbelum dapat mengundurkan diri, ia wafat. Itu
terjadi pada bulan November 1115.
GOLINDUH († 591)
yaitu wanita bangsawan Persia yang
menderita banyak sebab bertobat menjadi Kristen.
Ia dihormati sebagai martir.
P: 13 Juli
GONZALES de SANTA CRUZ SJ (1568-1628)
Mendirikan reduktiones, yaitu desa-desa bagi
orang Indian di Paraguay dan Brasilia Selatan guna
melindungi mereka dari pemerasan kolonis Spanyol
dan untuk memajukan taraf hidup penduduk.
P: 17 Nopember
GONZALO GARCIA OFM (1557-1597)
Lahir di Bassein India dan sebagai pemuda
mengikuti pater-pater Jesuit ke Jepang sebagai
penterjemah. sebab tidak diterima dalam Serikat
Jesuit ia menjadi pedagang di Makao dan Manila,
tempat ia masuk Ordo Saudara Hina-Dina. Sebagai
Bruder ia kembali ke Jepang (1593). Sesudah
bekerja baik sebagai penghubung ia ikut disalibkan
di Nagasaki.
GOTTFRIED atau GEOFFREY (1097-1127)
Tertarik pada cita-cita kemiskinan Santo
Norbert. Maka ia mengubah istananya di Cappenberg
Jerman menjadi suatu biara. Isterinya dan dua
saudara wanita nya masuk biara lain yang
didirikannya juga. Akhirnya ia sendiri menjadi
biarawan Premonstratens dan beramal bagi kaum
miskin.
A: Tuhan ialah damai; P: 19 Januari
GREGORIUS (abad ke-4)
Dijuluki ‘Penerang’, sebab membawa terang
Injil kepada bangsa Armenia. Meskipun beristeri, ia
menjadi misionaris. Ia lama dipenjarakan atas
perintah raja. Namun raja itu kemudian bertobat dan
mengakui Gregorius sebagai uskup dan pemimpin
Gereja di Armenia. Pada hari tuanya ia menyerahkan
keuskupannya kepada anaknya dan mengundurkan
diri kedalam biara.
P: 10 Oktober
SANTO PAUS GREGORIUS AGUNG (540-12
Maret 604)
Santo Gregorius dilahirkan pada tahun 540 di
Roma. Ayahnya seorang anggota Majelis Tinggi dan
ibunya yaitu Santa Celia.
Gregorius belajar filsafat dan
saat masih muda usianya,
telah diangkat menjadi
Gubernur Roma. saat
ayahnya meninggal, Gregorius
merombak rumahnya yang
besar menjadi sebuah biara.
Selama beberapa tahun ia
hidup sebagai seorang
biarawan yang saleh dan
kudus. Kemudian Paus
Pelagius mengangkatnya
menjadi salah seorang dari
ketujuh Diakon Roma. saat Paus wafat, Gregorius
dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama
sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu.
namun ia seorang yang sangat kudus serta
bijaksana, sehingga semua orang tahu bahwa ia
akan menjadi seorang paus yang baik. Gregorius
berusaha menghindar dengan menyamar dan
menyembunyikan diri dalam sebuah gua, namun
akhirnya mereka menemukannya dan ia diangkat
juga menjadi paus.
Selama empatbelas tahun ia memimpin
Gereja. Meskipun ia selalu sakit, Gregorius
merupakan salah seorang paus terbesar Gereja. Ia
menulis banyak artikel dan juga merupakan seorang
pengkhotbah yang ulung. Ia mencurahkan
perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah
sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai abdi
semua orang. Ia yaitu paus pertama yang
menggunakan gelar “abdi para abdi Tuhan.” Semua
paus sesudahnya menggunakan gelar ini. St.
Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih
istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-
orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka
dengan makanan yang enak. St. Gregorius juga
amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang
disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu saat , semasa
ia masih seorang biarawan, ia melihat anak-anak
kulit putih dijual di pasar budak di Roma. Ia
bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan
diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. St.
Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat
untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih
Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal
Tuhan itu. sesudah ia menjadi paus, salah satu hal
pertama yang dilakukannya yaitu mengirimkan
beberapa biarawan terbaiknya untuk
memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris.
Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak
penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk
Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya.
Santo Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.
Gregorios Agung (540-640), paus dan
pujangga gereja; lahir di Roma. Ia dihormati
sebagai pelindung para penyanyi gereja (koral
Gregorian). Selain Gregorius Agung masih
ada Gregorius II (†731), Gregorius III
(†741), Gregorius VII (†1085) dan Gregorius X
(†1276) sebagi paus yang kudus. L: tiara dan
tongkat dengan palang salib; P: 3 September
”Aku mengerti dari pengalaman bahwa sebagian besar
waktu saat aku bersama dengan saudara-saudaraku,
aku belajar banyak hal tentang Sabda Tuhan yang tidak
dapat aku pelajari seorang diri; jadi kalianlah yang
memberitahukan kepadaku apa yang harus aku ajarkan.”
~ Santo Gregorius Agung
SANTO GREGORIUS dari NAZIANZE (330-
390) dan SANTO BASILIUS AGUNG (330-
379)
Basilius dan Gregorius dilahirkan di Asia Kecil
pada tahun 330. Sekarang daerah ini dikenal
dengan nama Turki. Keluarga
Basilius: nenek, ayah, ibu,
dua saudara serta seorang
saudarinya semuanya yaitu
orang kudus. Sedangkan
orangtua Gregorius yaitu
Santa Nonna (P: 5 Agustus)
dan Santo Gregorius Tua
(uskup Nazianze; P: 1
Januari). Basilius dan
Gregorius saling bertemu dan menjadi sahabat karib
di sekolah di Athena, Yunani.
Basilius kemudian menjadi seorang guru yang
tersohor. Suatu hari, saudarinya yaitu Santa
Makrina, menyarankan agar ia menjadi seorang
biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik
saudarinya, pergi ke tempat yang sunyi dan di sana
mendirikan biaranya yang pertama. Regula
(=peraturan biara) yang ditetapkannya bagi para
biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja
Timur masih menerapkannya hingga saat ini.
Keduanya, Basilius dan Gregorius, menjadi
imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan berani
berkhotbah menentang bidaah
Arianisme yang menyangkal
bahwa Yesus yaitu Tuhan.
Ajaran sesat ini
membingungkan banyak orang.
saat menjadi Uskup
Konstantinopel, Gregorius
mempertobatkan banyak orang
dengan khotbah-khotbahnya
yang mengagumkan. Hal itu
membuatnya hampir saja
kehilangan nyawanya. Seorang
pemuda berencana untuk
membunuhnya. Pada saat-saat
terakhir, pemuda ini bertobat serta memohon
pengampunan dari Gregorius. Santo Gregorius
sungguh mengampuninya serta membawanya ke
jalan yang benar dengan kelemahlembutan serta
kebaikan hatinya.
Empatpuluh empat khotbah Santo Gregorius,
243 suratnya, serta banyak puisinya kemudian
diterbitkan. Buah penanya masih amat penting
hingga saat ini. Banyak penulis mendasarkan karya-
karya mereka pada buah penanya itu. Basilius,
sahabat Gregorius, seorang yang amat lembut serta
murah hati. Ia selalu menyediakan waktu untuk
menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong
orang-orang miskin itu untuk menolong mereka
yang lebih miskin dari mereka sendiri. “Berikanlah
makanan terakhirmu kepada pengemis yang
mengetuk pintumu,” desaknya, “dan percayalah
akan belas kasihan Tuhan.” Basilius
menyumbangkan segala miliknya dan membuka
sebuah dapur umum. Di sana orang sering
melihatnya mengenakan celemek dan melayani
mereka yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379
dalam usia empatpuluh sembilan tahun. Sementara
Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia
enampuluh tahun. Ia dimakamkan di Basilika Santo
Petrus di Roma.
Gregorios, santo pelindung para penyair; P: 2 Januari
GREGORIOS dari NYSSA (335-395)
Menikah dengan Theosebeia. Oleh adiknya,
yaitu Santo Basilius, ia ditahbiskan uskup. namun
kemudian ia diberhentikan, sebab pengurusan
keuangannya kacau. A membela ajaran benar pada
Konsili Konstantinopel I (381) dengan pandai dan
berani. Ia menulis artikel -artikel teologi yang sangat
mendalam.
L: artikel dan pena dari bulu ayam; P: 9 Maret
GREGORIUS THAUMATURGOS (213-270)
Artinya ‘pembuat mukjijat’, yaitu seorang
ahli hukum. Ia belajar di bawah bimbingan Origenes.
Akhirnya ia menjadi misionaris dan uskup
Naokaisarea (Turki), kota yangtelah ditobatkannya.
Gregorius menulis artikel teologi praktis.
A: gregorius = yang siap siaga; P: 17 Nopember
SANTO PAUS GREGORIUS VII, (1023-
1085)
Nama asli paus kita ini yaitu Hildebrand. Ia
dilahirkan di Italia sekitar tahun 1023. Pamannya
seorang biarawan di Roma, Hildebrand pergi ke biara
di mana pamannya berada untuk memperoleh
pendidikan. Kelak, Hildebrand menjadi seorang
biarawan Benediktin di Perancis. namun , sebentar
saja di sana, ia sudah dipanggil kembali ke Roma. Di
Roma ia diserahi kedudukan yang amat penting di
bawah beberapa paus hingga ia sendiri akhirnya
diangkat sebagai paus.
Selama dua
puluh lima tahun, ia
menolak untuk dipilih.
namun , saat Paus
Alexander II wafat, para
kardinal telah
bersepakat untuk
memilih Hildebrand
sebagai paus yang baru.
Dengan suara bulat
mereka memutuskan:
“Hildebrand ditetapkan
sebagai penerus St.
Petrus!” “Mereka
membawaku ke tahta suci,” demikian ditulisnya
kelak. “Protes-protesku tidak mereka hiraukan.
Kegentaran memenuhi hatiku dan kegelapan
sepenuhnya melingkupi aku.” Sebagai paus,
Hildebrand memilih nama Gregorius VII.
Masa itu sungguh merupakan masa gelap
bagi Gereja Katolik. Para raja dan kaisar ikut campur
dalam urusan-urusan gereja. Mereka menetapkan
orang-orang yang mereka inginkan menjadi para
uskup, kardinal dan bahkan paus. Banyak dari
antara mereka yang ditetapkan itu bukanlah orang-
orang yang baik. Mereka memberikan teladan yang
buruk bagi umat. Hal pertama yang dilakukan St.
Gregorius yaitu melewatkan beberapa hari
lamanya dalam doa. Ia juga meminta yang lain
untuk berdoa baginya. Ia sadar bahwa tanpa doa tak
ada sesuatu pun yang dapat diselesaikan dengan
baik bagi Tuhan. Sesudah itu, ia mulai bertindak
dengan memperbaiki pelayan-pelayan gereja. Ia
juga mengambil langkah-langkah yang perlu untuk
menghindari campur tangan negara dalam masalah
Gereja. Hal ini amatlah sulit mengingat para
penguasa semuanya menentang perubahan itu.
Namun demikian, beberapa di antara mereka mulai
mau bekerjasama.
Seorang penguasa, Kaisar Henri IV dari
Jerman, memicu Paus Gregorius banyak
menderita. Kaisar muda itu seorang berdosa dan
amat rakus terhadap harta. Ia tidak mau berhenti
mencampuri urusan gereja. Ia bahkan mengirimkan
orang-orangnya untuk menangkap Bapa Suci.
namun , penduduk Roma menyelamatkan paus dari
penjara. Paus Gregorius engekskomunikasikan
kaisar. Hal itu tidak menghentikan Henry IV. Ia
menetapkan pausnya sendiri. Tentu saja orang yang
ditetapkannya itu bukanlah paus sesungguhnya.
namun Henry berusaha meyakinkan rakyat bahwa
paus yang ditetapkannya itulah paus yang benar.
Kemudian, sekali lagi, kaisar mengirimkan
pasukannya untuk menangkap paus. Bapa Suci
dipaksa meninggalkan Roma. St. Gregorius tiba
dengan selamat di Salerno di mana akhirnya ia
wafat pada tahun 1085. Pesannya yang terakhir
yaitu , “Aku cinta keadilan dan benci kejahatan.
Oleh sebab itulah sekarang aku mati dalam
pengasingan.” Paus Gregorius VII dinyatakan kudus
oleh Paus Paulus V pada tahun 1606. Paus Gregorius
VII (Hildebrand) dikenal sebab keberaniannya yang
luar biasa. Ia berdiri tegak membela Yesus dan
Gereja-Nya.
P: 25 Mei
BEATO GREG




