• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Kisah santa santo 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah santa santo 9. Tampilkan semua postingan

Kisah santa santo 9

 


u yang 

sedang mengandung, bayi-bayi yang belum 

dilahirkan dan gerakan pencinta kehidupan 

(pro-life); P: 16 Oktober

GERARDUS († 1138)

Kakak Santo Bernardus ini mula-mula tidak 

mau masuk biara. namun  sesudah  terluka dalam 

perang, ditawan dan secara ajaib bebas lagi, ia ikut 

adiknya yang hidup suci menurut aturan yang keras.

P: 30 Januari

GERARDUS dari HUNGARIA (980-1048)

Suatu saat  abbas Gerardus, pemimpin biara 

Santo Giorgia di Venesia Italia, meletakkan jabatan 

sebab  ingin bertapa di Tanah Suci. namun  malang 

baginya, kapalnya terdampar di pantai Yugoslavia. 

Disitu ia bertemu dengan seorang abbas dari 

Hungaria. Abba situ berhasil meluluhkan hati 

Gerardus susaha  tinggal di negerinya. Gerardus 

disambut baik oleh keluarga Raja Stefan, bahkan 

diminta menjadi guru pribadi putera mahkota 

Emerik.

Sebenarnya ia tidak suka tinggal di istana. Ia 

lebih senang tinggal di sebuah pertapaan di hutan, 

jauh dari kota. Beberapa waktu kemudian, ia 

diangkat menjadi uskup Hungaria Selatan. Penduduk 

wilayah itu sebagian besar belum beriman Kristen, 

sedangkan mereka yang telah dibaptispun belum 

cukup hidup menurut cita-cita Injil. Maka mulailah 

pekerjaan Gerardus yang senjatanya: siang malam 

menyusuri lorong-lorong di kota dan tanpa mengenal 

lelah menuruni dan mendaki lembah dan bukit 

mengunjungi dusun-dusun untuk berkotbah; 

memberi makan kaum miskin dan gelandangan; 

menghibur orang-orang jompo dan mengangkut 

mereka yang sakit dengan kereta ke rumah sakit di 

kota. Seluruh warga Hungaria segan dan 

menyayangi Gerardus. Tapi Raja Stefan yang kudus 

itu digantikan oleh seorang tak beriman, yang 

membenci dan mengejar-kejar orang Kristen.

Uskup Gerardus dengan tekad besar ingin 

menunjukkan jalan yang benar kepada raja yang 

baru. Namun ditengah perjalanan menuju istana ia 

disergap oleh tentara kerajaan di tepi sungai Donau. 

Bagaikan hujan batu mereka melemparinya, 

sehingga tubuh Gerardus remuk memar, dan 

akhirnya tak bernyawa lagi. Sebelum gerombolan itu 

menyingkirkan jenasah yang hancur itu, seorang 

diantara mereka menghunjamkan tombaknya ke 

lambung Gerardus dan menembus jantungnya, 

seperti perbuatan seorang tentara Romawi di 

Golgota terhadap Tuhan Jesus.

Gerardus (980-1048), uskup dan martir; lahir 

di venesia dan meninggal di Hungaria. B: 

Gerard, Gerd, Gert (♂); Gerda (♀); P: 24 

September

GERASIMOS († 475)

yaitu  sahabat Santo Eutimios dari 

Yerusalem. Ia bertapa dekat Yeriko dan membina 

rahib-rahib muda. Suatu saat  ada seekor singa 

yang kakinya tertusuk duri, Gerasimios mencabut 

duri itu dan sejak itu ia ditemani oleh singa itu.

P: 5 Maret

GERLACH (1100-1172)

Bertobat sesudah  diberitahu bahwa isterinya 

meninggal. Waktu itu ia sedang berpesta-pora. Lalu 

ia berziarah ke Yerusalem dan merawat orang sakit. 

Namun akhirnya ia kembali ke Belanda dan tinggal 

dalam lubang batang pohon yang kosong.

P: 19 Januari

SANTA GERMANA 

dari PIBRAC (1579-

1601)

Pibrac yaitu  

sebuah dusun kecil di 

Perancis di mana 

Germana dilahirkan 

sekitar tahun 1579. Ia 

menghabiskan seluruh 

hidupnya di sana. Germana seorang gadis yang 

selalu sakit-sakitan. Ia tidak cantik. Tangan 

kanannya cacat dan tak dapat digunakan. Ayahnya 

kurang memperhatikannya. Ibu tirinya tidak suka ia 

berada dekat anak-anaknya yang sehat. Jadi, 

Germana tidur di kandang bersama domba-

dombanya, bahkan pada musim dingin. Bajunya 

compang-camping dan ia menjadi bahan olok-olok 

anak-anak lain. Sepanjang hari Germana menjaga 

kawanan dombanya di padang. jika  ia pulang ke 

rumah pada malam hari, ibu tirinya acap kali 

berteriak padanya dan memukulinya.

Namun demikian, gadis malang ini berbicara 

kepada Tuhan dan ia ingat bahwa Tuhan senantiasa 

bersamanya sepanjang waktu. Setiap hari ia selalu 

ambil bagian dalam Perayaan Misa. Ia meninggalkan 

kawanan dombanya dalam penjagaan malaikat 

pelindungnya. Tak pernah sekali pun domba-domba 

itu keluar melewati batas tongkat gembalanya yang 

ia tancapkan ke tanah. 

Germana seringkali mengumpulkan anak-

anak kecil dan mengajarkan iman kepada mereka. Ia 

ingin agar hati anak-anak itu dipenuhi cinta Tuhan. 

Semampunya, ia juga berusaha membantu mereka 

yang miskin. Ia membagi sedikit makanan yang 

diberikan kepadanya dengan para pengemis. Pada 

suatu hari di musim dingin, ibu tirinya menuduh 

Germana mencuri roti. Wanita itu mengejarnya 

dengan tongkat. namun , yang jatuh dari celemek 

baju Germana bukanlah roti, melainkan bunga-

bunga musim semi.

Sekarang, orang-orang tidak lagi 

memperoloknya. Malahan, mereka mengasihi dan 

mengaguminya. Ia boleh tinggal dalam rumah 

ayahnya, namun  Germana memilih untuk tetap tidur 

di kandang. Hingga, suatu hari pada tahun 1601, 

saat  usianya dua puluh dua tahun, ia ditemukan 

wafat di atas tempat tidur jeraminya. Hidupnya yang 

sarat dengan penderitaan sudah berakhir. Tuhan 

mengadakan mukjizat-mukjizat untuk menunjukkan 

bahwa ia seorang kudus.

Germana Pibrac / Germana Cousin (1579-

1601), gadis miskin penggembala domba di 

Toulouse Perancis yang menderita sakit paru-

paru; P: 15 Juni

GERMANOS (634-733)

yaitu  uskup Konstantinopel. Ia 

menulis:”Bila kita menghormati gambar Jesus, kita 

tidak menghormati cat dan kayu. Kita menyembah 

dalam roh dan Kebenaran Tuhan Yang tidak 

kelihatan.” sebab  tidak menolak penghormatan 

gambar dalam gerja, ia dipecat dan dikurung oleh 

Kaisar. 

P: 12 Mei

GERMANUS (378-448)

yaitu  seorang pegawai tinggi pemerintah. Ia 

dipilih menjadi uskup Auxerre Perancis, meskipun 

tidak menyukainya. Kemudian ia meninggalkan 

isterinya. Harta miliknya ia gunakan untuk 

membangun gereja dan biara. Dua kali ia diutus ke 

Inggeris susaha  membersihkan umat dari bidaah 

Pelagianisme dan ikut berperang melawan 

penyerang Saxon. Germanus dengan giat 

mengKristenkan kembali seluruh wilayah 

keuskupannya.

A: yang asli (L); P: 31 Juli

SANTA GERTRUDE dari HELFTA (1256-

1302) 

Gertrude masuk sebuah biara di Saxony 

saat  ia masih amat muda. Di bawah bimbingan 

Santa Mechtildis, ia tumbuh 

menjadi seorang biarawati yang 

riang gembira dan kudus. Sr. 

Gertrude seorang yang 

menyenangkan serta cerdas. Ia 

menguasai bahasa Latin dengan 

amat baik. Sesungguhnya, pada 

mulanya ia kurang suka belajar 

agama dan juga mata pelajaran 

yang lain. namun , saat  ia berusia 

duapuluh enam tahun, Yesus 

menampakkan diri kepadanya. 

Yesus berkata bahwa mulai saat 

itu, Sr. Gertrude hanya akan 

berpikir tentang mengasihi-Nya serta berusaha 

untuk hidup kudus. Sekarang, Sr. Gertrude mulai 

belajar Kitab Suci dengat antusias. Pengetahuannya 

tentang agama Katolik kita yang kudus menjadi 

semakin luas.

Yesus menampakkan diri kepada Santa 

Gertrude banyak kali. Tuhan menunjukkan Hati-Nya 

yang Mahakudus. Dua kali Yesus mengijinkan St. 

Gertrude mengistirahatkan kepalanya di Hati-Nya 

yang Mahakudus. Oleh 

sebab  kasihnya yang 

amat besar kepada 

Yesus, Mempelai Ilahi-

nya, St. Gertrude 

berusaha untuk 

memperbaiki kelemahan-

kelemahannya dan 

menjadi lebih baik dari 

sebelumnya. Ia percaya kepada Yesus dengan 

segenap hati dan sebab nya senantiasa dipenuhi 

rasa damai dan sukacita.

Santa Gertrude memiliki  devosi yang 

mendalam kepada Yesus dalam Sakramen 

Mahakudus. Ia senang sekali menerima Komuni 

Kudus sesering mungkin, meskipun pada masa itu, 

hal demikian masih belum lazim. St. Gertrude juga 

amat berdevosi kepada St. Yosef, bapa asuh Yesus. 

Ia menulis banyak doa yang amat indah. sesudah  

menderita selama sepuluh tahun, akhirnya suster 

yang kudus ini bersatu dengan Hati Yesus Yang 

Mahakudus, yang menjadikan-Nya pengantinnya.

Gertrud/ Gertrud Agung (1256-1302), suster 

yang dikaruniai pengalaman mistik. B: Gerda, 

Trudis; L: tujuh cincin; P: 16 Nopember

GERTRUD dari NIVELLES PERANCIS (626-

659)

yaitu  puteri Raja Pippin, yang menjadi 

abbas dalam biara yang didirikan ibunya Santa 

Iduberga (P: 8 Mei). Gertrud yaitu  wanita 

terpelajar dan pembantu orang miskin. Santo 

pelindung persatuan hidup suami-isteri yang 

diancam perceraian dan orang-orang yang tergoda 

untuk menjadi musuh satu sama lain.

L: abbas wanita dengan tongkat yang dipanjati 

tikus; P: 17 Maret

GERVASIUS dan PROTASIUS (abad ke-4)

Santo Ambrosius menemukan kerangka dua 

martir ini (P:19 Juni) berdasar  suatu ilham pada 

tahun 386 di dekat makam Santo Nabor, Felix (P:12 

Juli) dan Santo Viktor (P: 8 Mei) dalam suatu gereja 

di Milano Italia. Demikian pula halnya dengan 

makam dan tulang-belulang Santo Nazarius dan 

Selsus yang ditemukan pula pada waktu itu.

P: 28 Juli

GIACINTA MARESCOTTI (1585-1640)

Masuk biara sekadar iseng dan semula hidup 

bersenang-senang saja. namun  sesudah  menderita 

sakit keras, ia bertobat dan melakukan perbuatan 

silih yang berat. Ia mendirikan perkumpulan karya 

utama menolong orang miskin dan tahanan.

B: Gia, Hiacinta, Sinta; P: 30 Juni

GILBERTUS (1085-1189)

yaitu  pastor paroki di Sempringham 

Inggeris. Ia mengumpulkan beberapa wanita dari 

parokinya untuk mendirikan biara, yang kemudian 

ditambah bruder dan imam. Setiap biara menurut 

aturan Santo Gilbert ini terdiri dari bagian suster, 

bagian bruder dan bagian imam. Mereka bersama-

sama mengurus doa, rumah sakit dan asrama yatim 

piatu, namun  hidup terpisah. Dengan bijaksana 

Gilbert memimpin ordonya dan baru berhenti sesudah  

menjadi buta. 

P: 4 Februari

SANTA GIANNA BERETTA MOLLA 

(4 Oktober 1922-22 Januari 1937)

   KELUARGA BERETTA

Gianna dilahirkan di Magenta, Milan, Italia 

pada tanggal 4 Oktober 1922 sebagai anak 

kesepuluh dari tigabelas putera-puteri pasangan 

Alberto dan Maria Beretta. Pasangan anggota Ordo 

Ketiga Fransiskan yang saleh ini menganggap 

membesarkan dan mendidik anak-anak sebagai 

suatu pemenuhan tanggung jawab kepada yang 

ilahi. Meski disibukkan dengan tigabelas jiwa kecil, 

Maria tidak pernah melalaikan 

karya misionarisnya, dan 

meski mereka tidak dihimpit 

kemiskinan, keluarga Beretta 

mengajarkan pada anak-anak 

untuk hidup dalam 

kesederhanaan, ugahari dan 

sukacita. Setiap pagi keluarga 

Beretta bersama segenap 

anak-anak mereka ikut ambil 

bagian dalam Misa dan setiap 

sore mereka mendaraskan 

Rosario bersama yang 

dilanjutkan dengan 

penyerahan diri kepada Hati Yesus Yang Mahakudus. 

Sesudahnya, seluruh keluarga bersantai bersama, 

terkadang dengan bermain piano dan menyanyi, 

atau sekedar bercakap mengenai apa-apa yang 

terjadi sepanjang siang. Virginia, anak terbungsu, 

mengenangnya sebagai berikut, 

“Tidak pernah ada kata-kata kasar atau tak 

terkendali mengganggu ketenangan keluarga, 

pun tidak pernah ada teguran dari ibu tanpa 

dukungan ayah atau sebaliknya; senantiasa 

kompak, mereka mencintai anak-anak 

mereka dan berusaha  memberikan formasi 

yang baik dan sempurna kepada mereka. 

Suasana rumah penuh ketenangan dan 

kedamaian, namun  hukuman dan perbaikan-

perbaikan yang perlu tidak pernah dilalaikan.”

Maria dan Alberto Beretta memastikan bahwa 

masing-masing anak menekuni suatu profesi agar 

dapat melaksanakan pelayanan Kristiani kepada 

warga  dan mempengaruhi dunia professional 

dengan teladan hidup Kristiani. Kedelapan anak-

anak Beretta yang berhasil mencapai usia dewasa 

[lima dari antara mereka meninggal dalam usia yang 

masih amat belia] yaitu :

Amelia wafat dalam usia 26 tahun;

Ferdinando menjadi seorang dokter;

Francesco menjadi seorang insinyur sipil;

Enrico belajar kedokteran dan di kemudian 

hari menjadi seorang imam Capuchin, 

mengabdikan diri pada karya misi di Brazil;

Zita menekuni ilmu farmasi;

Guiseppe belajar teknik dan kemudian 

menjadi seorang imam diosesan;

Gianna menjadi seorang dokter;

Virginia menjadi seorang dokter dan biarawati 

Canossian yang bekerja sebagai misionaris di 

India. 

   MASA KANAK-KANAK.

Oleh sebab  bimbingan agama yang seksama 

dari orangtua dan Amelia - saudari tertuanya -, 

Gianna diperkenankan menyambut Komuni Pertama 

dalam usia lima setengah tahun dan dua tahun 

kemudian menyambut Sakramen Krisma. Sejak saat 

itu, Gianna tidak pernah absen dalam Misa dan 

menyambut Komuni Kudus setiap hari tak peduli 

bagaimanapun situasi dan kondisinya.

Gianna bukan seorang yang cemerlang dalam 

belajar. Ia bahkan tak dapat ikut berlibur bersama 

keluarga sebab harus tinggal belajar di rumah demi 

memperbaiki nilai-nilainya yang buruk. Ia 

mengalami masa-masa kelabu di sekolah, namun  

pada akhirnya dapat mengatasi kesulitan dalam 

studi dengan ketekunannya. Ia mengerti bahwa 

ketekunan yaitu  kehendak Allah.

367

Tuhan menganugerahkan kepada Gianna 

suatu keindahan istimewa dalam tatapannya yang 

manis dan mendalam, yang memancarkan 

kelembutan, jiwa yang murni, hati yang pemurah, 

dan siap menerima segala yang baik. Salah seorang 

guru mengenangnya sebagai berikut,

“Seorang anak terkasih yang tahu bagaimana 

membangkitkan simpati dan kasih sayang 

dari mereka yang menghampirinya sebab  

karakternya yang manis dan bersahaja. 

Kehalusan perasaannya yang tanpa dosa dan 

jiwanya yang tulus tahu bagaimana 

mendatangkan atas dirinya simpati dan kasih 

sayang dari mereka yang datang kepadanya. 

Wajahnya senantiasa tersenyum, meski 

terkadang diselimuti suatu tabut melankolis 

yang memohon belas kasih. Saya berusaha 

membaca melalui kedalaman matanya yang 

lembut pikiran-pikiran yang pada saat-saat 

yang singkat itu menganggu hatinya, namun  

tiada pernah saya mendengar satu kata 

kejengkelan atau keletihan atau 

pemberontakan terluncur dari mulutnya…. 

Menunaikan tugasnya di rumah, di sekolah, 

dalam warga , baginya merupakan suatu 

tugas yang suci.”

Seorang teman sekolah menulis, “Gianna memiliki 

iman yang begitu memikat hingga mereka semua 

yang berjumpa dengannya, meski sejenak saja, 

merasa tertarik pada Gereja, di mana kita rindu 

untuk ikut ambil bagian dengan kesalehan yang 

terlebih mendalam.”

Pada tanggal 22 Januari 1937, Amelia wafat 

dalam usia 26 tahun sesudah  lama menderita sakit. 

Sungguh suatu peristiwa yang meyedihkan bagi 

seluruh keluarga dan suatu pukulan hebat bagi 

368

Gianna. Sekonyong-konyong ia mengalami dunia 

penderitaan. namun  melalui penderitaan ini, imannya 

tumbuh semakin kuat. Sr Virginia mengenang 

Gianna “menggapai surga” pada masa ini, 

“Setiap hari ia akan melewatkan waktu dalam 

meditasi. Praktek ini menjadi sumber 

kekuatannya. Tengah hari ia akan berhenti di 

gereja untuk suatu kunjungan kepada 

Sakramen Mahakudus. Rosario senantiasa 

ada di sakunya dan ia mendaraskan Salam 

Maria di setiap kesempatan.” 

Gianna biasa meluahkan masalah dan perasaan 

hatinya kepada Amelia, dan ia amat merindukan 

kakaknya itu. Ia berusaha mengikuti teladan yang 

ditinggalkan Amelia dan mendapatkan kekuatan 

sebab dianggap pantas memiliki saudari yang begitu 

mengagumkan.

   RETRET ROHANI

sesudah  wafat Amelia, Alberto Beretta 

memindahkan keluarganya ke Genoa agar anak-

anak dapat lebih mudah melanjutkan pendidikan di 

universitas. Tahun-tahun yang dilewatkan di Genoa 

amat penting bagi formasi rohani Gianna, seorang 

gadis remaja 15 tahun yang pendiam, yang tengah 

mencari panggilan hidupnya.

Musim semi 1938, seorang imam Yesuit 

memberikan retret Latihan Rohani St Ignatius bagi 

murid-murid sekolah. Gianna ikut ambil bagian 

dalam retret ini bersama Virginia. Banyak rahmat 

yang ia terima di sana meninggalkan bekas yang 

menandai seluruh sisa hidupnya. Ia masuk ke 

kedalaman nilai-nilai fundamental kehidupan rohani 

- perlunya rahmat dan doa, kejijikan akan dosa, 

meneladani Kristus, matiraga. Terlebih lagi, ia mulai 

melihat karya kerasulan sebagai suatu ekspresi luar 

biasa dari belas kasihan. Di antara ketetapan 

hatinya, ia menulis: 

1. Melakukan segalanya demi Tuhan.... Demi 

menyenangkan-Nya, aku tidak akan 

menonton film tanpa terlebih dahulu yakin 

bahwa film itu pantas dan tidak asusila....

2. Aku lebih suka mati dibandingkan  melakukan 

dosa berat....

3. Mendaraskan “Salam Maria” setiap hari 

agar kiranya Tuhan memberiku kematian 

yang kudus....

4. Aku hendak menjauhi dosa berat seolah ia 

yaitu  ular dan aku ulang, aku lebih suka 

mati seribu kali dibandingkan  menghina Tuhan.

5. Aku hendak memohon Tuhan untuk 

menolongku agar jangan masuk neraka dan 

sebab nya aku menghindari segala yang 

dapat mencelakai jiwaku.

6. Aku memohon kepada Tuhan untuk 

membantuku memahami kerahiman-Nya 

yang dahsyat.

7. Aku berniat taat pada M.M. dan tekun 

belajar meski aku tidak menyukainya, demi 

kasih kepada Yesus.

8. Sejak hari ini, aku hendak bersujud dalam 

doa di pagi hari di gereja seperti yang aku 

lakukan di kamarku di petang hari di kaki 

pembaringanku.

9. Kerendahan hati yaitu  jalan tersingkat 

mencapai kekudusan. Mohon Tuhan 

menghantarku ke surga.

Sebagai langkah awal dari “program hidup”-nya 

yang baru, Gianna memutuskan untuk mengabdikan 

diri sepenuhnya pada studi. Hasilnya, ia 

menyelesaikan tahun pelajaran dengan nilai-nilai 

yang mengagumkan!

   AKSI KATOLIK

Sejak usia 12 tahun, seperti anggota 

keluarganya yang lain, Gianna terlibat aktif dalam 

Aksi Katolik, yakni suatu gerakan yang bertujuan 

mengerahkan awam Katolik untuk mengamalkan 

hidup rohani yang terlebih mendalam. Dengan 

demikian, pada gilirannya, akan menginspirasi 

berbagai ragam karya amal kasih dan karya 

apostolik di setiap tingkatan warga . 

Dalam lingkungan ini, ketetapan hati Gianna 

semakin dikuatkan dan dimatangkan. Pada masa 

kuliah, ia dipercaya menjadi pemimpin dalam Aksi 

Katolik. Segenap waktu luang dibaktikan bagi karya 

apostolik. Ia mengorganisir rapat, retret dan ziarah 

rohani bagi para gadis. Meski masa perang 

mempersulit karya misi, Gianna tetap bertekun dan 

bekerja tanpa kenal lelah demi kebajikan jiwa-jiwa 

yang membutuhkan kekuatan rohani lebih dari 

sebelumnya. Gianna mengatakan:

“Janganlah takut membela kehormatan Allah, 

membela Gereja, Paus dan para imam. Inilah 

saatnya bertindak. Janganlah kita tinggal 

acuh tak acuh di hadapan kampanye musuh 

melawan agama dan moral. Kita dari Aksi 

Katolik, haruslah yang pertama-tama 

membela pondasi kokoh dan tradisi sakral 

Kristiani di tanah air kita.”

Bersama para anggota lainnya, Gianna biasa 

mengunjungi mereka yang miskin dan mereka yang 

sakit, membawakan makanan dan obat-obatan serta 

membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah 

tangga. Gadis-gadis muda tertarik oleh teladannya 

yang cemerlang dalam kurban dan doa; mereka 

datang meminta nasehat dan mengikuti saran serta 

bimbingannya. Selama tiga tahun sebelum 

perkawinannya, ia diangkat sekaligus sebagai Ketua 

dan Delegasi dari seluruh wilayahnya. Gianna 

mengamalkan motto Aksi Katolik sepanjang 

hidupnya: Doa - Perbuatan - Kurban.

   DOKTER GIANNA BERETTA 

Bulan Mei 1942, Maria Beretta wafat sebab  

serangan jantung. Empat bulan kemudian, Alberto 

menyusul isterinya. Pada waktu itu Gianna baru saja 

tamat sekolah menengah atas dan sedang berpikir 

untuk menjadi seorang misionaris medis di Brazil. Ia 

mengambil kuliah kedokteran di Milan. 

Sesungguhnya seringkali nyaris mustahil mengikuti 

kuliah sebab Milan sedang dalam situasi peperangan 

yang hebat. Bom-bom berjatuhan meratakan segala 

yang ada dan orang meninggalkan kota menuju 

tempat yang lebih aman. Sementara hidup terasa 

berat dan nyaris tak tertahankan, Gianna 

membenamkan diri dalam meditasi dan 

mencurahkan isi hatinya kepada Yesus. Usai perang, 

ia melanjutkan kuliah di Pavia bersama Virginia. 

Gianna percaya bahwa profesi sebagai seorang 

dokter tidak seperti profesi lainnya,  sebagaimana 

ditulisnya dalam catatan yang diberinya judul 

“Keindahan Misi Kita”:

“Dalam berbagai macam cara, setiap orang 

dalam warga  berkarya dalam pelayanan 

bagi kemanusiaan. Dokter memiliki 

kesempatan yang tak dimiliki seorang imam, 

sebab misi kita tidak berakhir saat  

pengobatan tak lagi dapat membantu. Masih 

ada jiwa yang harus dibawa kepada Tuhan. 

Yesus bersabda, `Barangsiapa mengunjungi 

mereka yang sakit, ia menolong Aku.” Ini 

tugas imamat. Sama seperti para imam dapat 

menjamah Yesus, demikian pula kita para 

dokter menjamah Yesus dalam tubuh pasien 

kita: yang miskin, yang muda, yang tua, dan 

anak-anak. Yesus membuat dirinya kelihatan 

di tengah kita. Banyak dokter 

mempersembahkan diri kepada-Nya. Jika 

kalian telah menunaikan profesi duniawi, jika 

kalian melakukan ini dengan baik, kalian akan 

menikmati hidup ilahi “sebab saat  Aku 

sakit, engkau menyembuhkan Aku.”

Pada tanggal 30 November 1949 Gianna menerima 

gelar dalam ilmu kedokteran dan bedah dengan nilai 

mengagumkan. Dua tahun kemudian, 7 Juli 1952, 

demi cintanya kepada anak-anak dan demi 

membantu para ibu, ia meraih gelar spesialis anak-

anak. Gianna menggabungkan diri dengan 

Ferdinando di suatu klinik kesehatan pribadi di 

Mesero, dekat Magenta. Kantor praktek mereka 

senantiasa dipadati pasien. 

Gianna mendengarkan keluhan para pasien 

dengan sabar dan ramah. Suatu hari seorang laki-

laki berkeluh-kesah atas kelahiran anaknya yang 

cacat. Gianna memahami kesedihan hatinya, 

menenangkannya dan mendorongnya untuk 

mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi 

menyelamatkan nyawa sang bayi. Kali lain, seorang 

wanita  pekerja yang sudah berumur 

menghadapi kehamilan yang tak diharapkan; ia malu 

akan bagaimana tanggapan orang. Gianna 

meyakinkan, “Bukankah itu suatu sukacita dan 

kebanggaan? Dalam hal ini kita tidak perlu 

menghiraukan apa yang dikatakan orang.”  Di masa-

masa ekonomi sulit, kerap para pasien membayar 

biaya pengobatan dengan telur, ayam, dll, 

sementara Gianna memberi mereka uang untuk 

membeli makanan atau obat-obatan. Sebab 

katanya, “Jika aku merawat pasien yang tak 

memiliki  apa-apa untuk dimakan, lalu apa 

gunanya pengobatan?” Gianna mengangap 

profesinya sebagai suatu pelayanan, bukan hanya 

terhadap tubuh, melainkan juga terhadap jiwa 

mereka yang dirawatnya.

   usaha  MENEMUKAN PANGGILAN HIDUP

Sejak masa kanak-kanak, Gianna menyimpan 

kekaguman dan kecintaan pada karya misi. Maria 

dan Aksi Katolik menyalakan semangat ini dalam 

hatinya. dibandingkan  membeli, kerap Maria menjahit 

sendiri baju-baju anaknya agar ia dapat 

mengirimkan uang yang ia sisihkan itu untuk karya-

karya misi. Gianna berharap dapat menggabungkan 

diri dengan kakaknya Alberto dalam karya misi di 

Brazil dengan memberikan pelayanan kesehatan 

yang memang sungguh amat dibutuhkan di sana. 

Namun demikian, rintangan demi rintangan 

menghalangi keinginannya dan bapa pembimbing 

rohani menasehatinya untuk menanti. Gianna 

melewatkan tahun-tahun panjang dalam 

ketidakpastian akan panggilan hidupnya. 

Ketidakpastian ini amat menggelisahkan 

hatinya, teristimewa dalam merencanakan masa 

depan. Gianna melipatgandakan doa agar dapat 

lebih baik mengenal kehendak Allah. Melalui 

bimbingan rohani yang cukup panjang, akhirnya ia 

mengerti bahwa ia dipanggil untuk hidup 

berkeluarga. Ia menulis, 

“Segala sesuatu memiliki tujuannya sendiri 

dan tunduk pada suatu hukum. Segalanya 

berkembang ke arah suatu tujuan yang telah 

ditetapkan. Tuhan telah menggariskan suatu jalan 

bagi masing-masing kita, panggilan hidup kita dan 

hidup dalam rahmat yang tersedia bagi hidup 

jasmani kita. Harinya akan datang saat  kita 

menjadi sadar akan mereka yang berada di 

sekeliling kita, dan saat  hal ini terjadi, kita akan 

menjadi manusia-manusia baru. Suatu masa yang 

sakral dan juga tragis dalam perjalanan dari kanak-

kanak menuju remaja. Masalah masa depan kita 

diajukan pada masa ini ... bukan berarti kita harus 

memutuskan masalah ini dalam usia limabelas 

tahun, namun  setidak-tidaknya kita dapat 

menyelaraskan diri sepanjang jalan ke mana Allah 

memanggil kita. Baik kebahagiaan duniawi maupun 

kebahagiaan kekal kita tergantung pada mengikuti 

panggilan kita ini dengan seksama.” 

“Apa itu panggilan? Panggilan yaitu  suatu 

anugerah dari Allah dan sebab nya berasal dari 

Allah. Jadi, jika panggilan yaitu  suatu anugerah 

dari Allah, yaitu  tergantung kita untuk 

mengusaha kan segalanya dalam kuasa kita untuk 

mengenal kehendak Allah. Kita patut berjalan di 

sepanjang jalan yang Tuhan kehendaki bagi kita, 

bukan dengan “mendobrak pintu”, namun  sesuai 

bilamana Tuhan menghendakinya dan sebagaimana 

Tuhan menghendakinya.” 

Kepada mereka yang heran bahwa ia 

meninggalkan kerinduan hidup dalam karya misi di 

Brazil, ia menjawab, “Segala jalan Tuhan indah 

sebab tujuannya satu dan sama: untuk 

menyelamatkan jiwa kita sendiri dan berhasil 

menghantar sebanyak mungkin jiwa-jiwa ke surga, 

demi memuliakan Allah.”

   MEMBINA HIDUP BERKELUARGA

Kesibukan kerja tidak menghalangi Gianna 

melakukan aktifitas-aktifitas kegemarannya: 

melukis, berolahraga ski dan panjat gunung, 

menikmati fashion (meski berhati-hati untuk tetap 

sederhana), simponi, opera, teater pun konser. 

“Seorang santo yang sedih, sungguh kasihan,” 

demikian katanya. 

Keluarga Molla tinggal di bangungan yang 

berhadapan dengan kantor praktek Gianna. Putera 

mereka, Pietro, yaitu  seorang insinyur dan 

berprofesi sebagai Direktur Teknik. Perjumpaan demi 

perjumpaan menghantar Gianna dan Pietro saling 

menaruh hati. Dalam artikel  hariannya, Pietro 

menulis, “Semakin mengenal Gianna, semakin aku 

yakin bahwa Tuhan tak dapat memberikan anugerah 

yang terlebih besar selain dari cinta dan 

kebersamaan dengannya.”

Pada tanggal 24 September 1955, P 

Giusseppe - kakak Gianna - memimpin Upacara 

Sakramen Perkawinan antara Gianna Beretta, 33 

tahun, dengan Peitro Molla, yang sepuluh tahun 

lebih tua, di Basilika San Martino di Magenta. Gianna 

mengenakan gaun pengantin amat indah dari kain 

satin putih - kain terbaik dan terindah yang dapat 

ditemukannya - sebab katanya kepada saudarinya, 

“Tahukah engkau, aku memilih bahan yang terindah 

sebab sesudahnya aku hendak membuat kasula 

darinya untuk Misa Perdana salah seorang 

puteraku.” [Di kemudian hari The Society of St 

Gianna mendapatkan potongan kain ini dan dijahit 

menjadi kasula.] Sementara Gianna berjalan menuju 

altar dengan dihantar Ferdinando, kakaknya, semua 

yang hadir menyatakan hormat dan kekaguman 

mereka dengan tepuk tangan meriah yang 

menggema hingga Gianna tiba di altar.

Gianna dan Pietro kemudian tinggal di sebuah 

rumah kecil dekat perusahaan di mana Pietro 

bekerja. Gianna rindu menjadi seorang ibu dan 

mendamba banyak anak. Dua minggu menjelang 

pernikahan, ia menulis kepada Pietro, “Dengan 

pertolongan dan rahmat Allah, kita akan 

mengusahakan yang terbaik untuk menjadikan 

keluarga baru kita sebuah Senakel kecil di mana 

Yesus berkuasa atas segala kasih sayang, kerinduan 

dan tindakan kita.... Tinggal sedikit hari lagi dan aku 

merasa tergerak akan pemikiran untuk menghampiri 

dan menyambut 'Sakramen Cinta kasih'. Kita akan 

menjadi rekan kerja Allah dalam penciptaan dan 

dengan demikian kita akan dapat memberi-Nya 

anak-anak yang mengasihi dan melayani-Nya.”

Setahun sesudah  perkawinan, Pietro dan 

Gianna penuh bahagia menyambut putera pertama 

mereka, Pierluigi yang dilahirkan pada tanggal 19 

November 1956 dan dibaptis beberapa hari 

sesudahnya oleh P Giuseppe. Pada tanggal 11 

Desember 1957, Maria Zita (Mariolina) dilahirkan 

dan dibaptis beberapa hari sesudahnya oleh P 

Giuseppe. [Mariolina meninggal dunia dalam usia 

enam tahun, kurang dari dua tahun sesudah  wafat 

Gianna Beretta Molla, sebab  sakit.] Selanjutnya 

pada tanggal 15 Juli 1959, Laura dilahirkan. Sebagai 

ucapan syukur kepada Tuhan, sesudah kelahiran 

masing-masing anak, Gianna mengambil sejumlah 

besar uang dari tabungannya untuk disumbangkan 

kepada karya-karya misi. 

Gianna membesarkan anak-anaknya dengan 

penuh kasih sayang. Ia tak pernah dapat 

membayangkan seorang ibu tega memukul anaknya. 

“Kita harus dapat mengajar mereka dengan bujuk 

rayu dan di atas segala pengajaran, sejak awal 

mula, segalanya yaitu  anugerah dari Tuhan dan 

harus dihormati sebagai suatu anugerah.”

Gianna dan Pietro mengalami semakin 

bertambahnya tugas tanggung jawab dengan 

kehadiran anak-anak. Namun, Gianna berhasil 

menunaikan segala tugas tanggung jawab sebagai 

isteri, ibu, pengurus rumah tangga, dokter. 

Kekuatan batinnya yang luar biasa diwujudkannya 

menjadi antusiasme yang bersinar cemerlang 

melalui segala pekerjaan yang ia lakukan. Orang 

terkagum-kagum mendapati bahwa ia memiliki  

cukup waktu untuk mengerjakan semuanya. Di 

rumah, ia mengurus semuanya dengan 

mengagumkan; ia juga seorang jago masak yang 

senang menjamu teman sahabat dan sanak keluarga 

di akhir pekan.

Gianna memberikan perhatian istimewa pada 

pendidikan rohani anak-anak. Meski mereka masih 

belia, Gianna mendaraskan doa bersama mereka di 

sore hari dan berbicara kepada mereka mengenai 

kasih Yesus. Anak-anak akan merefleksikan 

perbuatan-perbuatan mereka sepanjang hari dan 

berbincang bagaimana Yesus mungkin kurang 

senang atas beberapa dari perbuatan mereka.

   PILIHAN YANG GAGAH BERANI

Kehamilan selalu merupakan suatu 

pengalaman yang berat dan sulit bagi Gianna. Pada 

setiap kehamilan ia mengalami hyperemesis, yakni 

mual dan muntah berlebihan. Ia juga mengalami 

gangguan usus dan lambung yang mengakibatkan 

rasa sakit yang hebat. Namun demikian, Gianna 

selalu menolak obat-obatan penahan sakit, sebab ia 

beranggapan bahwa obat-obatan yang demikian 

tidak mengijinkannya untuk menjadi diri sendiri. 

Pada bulan September 1961, di akhir bulan 

kedua kehamilannya, diagnosa dokter mendapati 

sebuah fibroma di rahimnya. Fibroid ini cukup besar 

hingga mengancam kelangsungan kehamilan dengan 

menghimpit janin. Tiga pilihan dihadapkan dalam 

kasusnya:

1. Pengangkatan rahim (hysterectomy) guna 

menyingkirkan fibroid. Resikonya 

    rendah; namun , berdampak pada kematian janin 

dan meniadakan 

    kemungkinan kehamilan di masa mendatang. 

Seturut moralitas Katolik, 

    dalam kasus ini hysterectomy bertujuan 

menyelamatkan nyawa ibu dengan 

    mengangkat rahim yang terjangkit kanker 

(dengan dampak yang tak 

    diinginkan kematian bayi yang belum dilahirkan). 

2. Menyingkirkan fibroid sekaligus mengakhiri 

kehamilan, sehingga 

    memungkinkan kehamilan di masa mendatang. 

Pilihan ini, yang menyangkut 

    aborsi langsung, secara moral Katolik tidak dapat 

diterima.

3. Menyingkirkan fibroid dan melanjutkan kehamilan 

penuh resiko. Sebab ia 

    seorang dokter, Gianna tahu benar tingginya 

resiko yang harus ia hadapi. Kendati nasehat para 

dokter dan banyak orang, Gianna mendesak untuk 

mengambil pilihan ini. Ia mengatakan, “Dokter tidak 

seharusnya ikut campur. Hak hidup anak sama 

dengan hak hidup ibu. Dokter tidak dapat 

memutuskan; yaitu  dosa membunuh bayi dalam 

rahim.”  

Gianna tidak pernah memikirkan 

kemungkinan aborsi. Ia memilih, dengan sukarela 

dan kemurahan hati yang besar dari pihaknya, untuk 

melanjutkan kehamilan penuh resiko demi 

kelangsungan hidup bayinya. Kegagahan yang 

dilakukan St Gianna yaitu  ia memilih hidup bagi 

anaknya dalam situasi yang sulit dan tanpa 

kepastian, pun tanpa peduli resiko bagi dirinya 

sendiri. [Dengan ultrasonik dan teknologi canggih 

sekarang ini, lebih banyak informasi dapat diperoleh 

para dokter dalam bedah modern, namun  tidak di 

awal tahun 1960-an.]

Kepada saudaranya, Gianna berkata, “Bagian 

yang tersulit belum datang. Engkau tidak mengerti 

hal-hal seperti ini. saat  saatnya tiba, tinggal dia 

atau aku.” Lagi, di kesempatan lain, kepada Pietro, 

Gianna berbicara dengan suara tegas dan tatapan 

mata yang tajam, “Jika engkau harus memilih antara 

aku dan sang bayi, janganlah ragu; aku mendesak, 

selamatkan si bayi.”

Gianna mempercayakan keselamatan dirinya pada 

doa dan penyelenggaraan ilahi, “Ya aku banyak 

berdoa akhir-akhir ini. Dengan iman dan 

pengharapan aku mempercayakan diriku pada 

Tuhan.... Aku percaya pada Tuhan, ya; namun  

sekarang tergantung padaku untuk menunaikan 

kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku 

memperbaharui persembahan diriku kepada Tuhan. 

Aku siap untuk segalanya, demi menyelamatkan 

bayiku.” 

Gianna melewatkan tujuh bulan selanjutnya 

hingga kelahiran sang bayi dalam kekuatan 

semangat yang tak tertandingi. Selama itu, ia 

mohon kepada Tuhan untuk menjaga bayi dalam 

rahimnya agar tak mengalami kesakitan. Jumat 

Agung, Gianna dibawa masuk RS Bersalin Monza. 

Keesokan harinya, 21 April 1962, sebab  

keadaannya yang tak memungkinkan, ia melahirkan 

seorang bayi wanita  melalui operasi caesar.

   WAFAT ST GIANNA

Kondisi Gianna semakin memburuk segera 

sesudahnya. Ia memohon bantuan ibunya untuk 

tinggal dekatnya dan menolongnya, sebab ia tak 

dapat menahannya lagi. Penderitaannya tampak 

bagai suatu kurban yang dramatis dan perlahan, 

yang menyertai kurban Kristus di salib. Masih 

sempat ia berkata kepada saudarinya, “Andai saja 

engkau tahu bagaimana hal-hal dinilai secara 

berbeda di saat ajal! ... Betapa sia-sia tampaknya 

hal-hal yang di dunia ini begitu kita pentingkan!” 

Gianna Beretta Molla wafat pada tanggal 28 April 

1962 dalam usia 39 tahun. Wajahnya tampak damai 

tenang, segala tanda kesakitan sama sekali sirna 

dan ia tampak dipenuhi kebahagiaan. 

Pada hari Minggu, seluruh keluarga Molla dan 

Beretta bersama segenap kerabat menuju Gereja 

Santa Perawan Maria Bunda Penghiburan. P 

Guiseppe merayakan Sakramen Baptis atas bayi 

wanita  yang dinamai Gianna Emanuela: nama 

pertama sebagai kenangan akan ibunya dan nama 

kedua menegaskan iman mereka akan kehadiran 

Allah dalam keluarga dan dalam hati segenap 

anggota keluarga. sesudah  pembaptisan, semua 

pulang ke rumah. Tidak ada perayaan besar, namun  

roh Gianna terasa hadir, dengan kasih keibuan 

melingkupi seluruh keluarga. Pierluigi memandang 

kepada ibunya dalam peti jenazah:

“Mengapakah Mama di sana?”

“Apakah ia Mama?”

“Apakah Mama melihatku, menyentuhku dan 

memikirkanku?”

Tercekam emosi, Pietro tak dapat menjawab. 

Pierluigi melanjutkan, 

“Untuk Mama pastilah ada sebuah rumah 

mungil dari emas.”

Peti jenazah berselimut bunga mawar ditempatkan 

di bawah altar gereja. Sungguh suatu yang tak 

lazim, namun  merupakan ungkapan penghargaan dan 

penghormatan orang banyak, termasuk para klerus, 

yang meyakini bahwa jenazah yang terbujur di sana 

yaitu  relikwi seorang martir yang kudus. Mereka 

yang berduyun-duyun datang memadati gereja yakin 

bahwa surga telah diperkaya dengan seorang santa 

baru. 

   SANTA GIANNA

Pada tanggal 24 April 1994, dalam tahun 

yang dicanangkan sebagai Tahun Keluarga, Gianna 

Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus 

II. Dalam beatifikasi yang dihadiri oleh suami, 

saudara-saudari beserta putera-puteri Beata Gianna 

ini, Bapa Suci mengajukan B. Gianna sebagai 

teladan segenap ibu,

“Seorang wanita  dengan kasih yang luar 

biasa, seorang istri dan ibu yang mengagumkan, ia 

memberi kesaksian dalam hidup sehari-hari akan 

nilai-nilai Injil. Dengan berpegang pada wanita  

ini sebagai teladan kesempurnaan Kristiani, kita 

hendak memuji segenap para ibu keluarga yang 

penuh semangat, yang memberikan diri sepenuhnya 

kepada keluarga, yang menanggung derita dalam 

melahirkan, yang siap sedia bagi segala karya dan 

segala rupa kurban, agar yang terbaik dari mereka 

dapat dibagikan kepada sesama.” 

Gianna Emanuela, yang sekarang yaitu  

seorang dokter dan pejuang Gerakan Pencinta 

Kehidupan, menyampaikan kesaksiannya,

“Mama sayang, terima kasih telah memberiku 

hidup dua kali: saat  Mama mengandung aku dan 

saat  Mama mengijinkanku dilahirkan … Hidupku 

rindu untuk menjadi kelanjutan hidupmu, sukacita 

hidupmu, antusiasmu, dan ia mendapati kepenuhan 

artinya dalam keterlibatan dan dedikasi penuh 

kepada siapapun yang hidup dalam penderitaan. 

Mama sayang, mohon bantuan doamu senantiasa 

bagi segenap ibu dan segenap keluarga yang 

berpaling kepadamu dan mempercayakan diri 

mereka kepadamu.”

Pada tanggal 16 Mei 2004, Gianna Beretta 

Molla dikanonisasi oleh paus yang sama. Pesta St 

Gianna dirayakan pada tanggal 28 April. 

   SAKSI GERAKAN PENCINTA KEHIDUPAN

Santa Gianna percaya bahwa hak istimewa 

menjadi seorang ibu, menjadi seorang rekan kerja 

Allah dalam menghadirkan kehidupan baru, berarti 

senantiasa membela dan melindungi anaknya, entah 

di dalam ataupun di luar rahim, bahkan hingga pada 

tahap menyerahkan hidupnya sendiri. Dalam dunia 

kedokteran sekarang ini, yang terlebih modern dan 

canggih, terbuka lebar kemungkinan untuk 

menyelamatkan hidup Gianna bersama bayinya. 

Namun betapa tragis, justru di masa sekarang ini 

keputusan hidup dan mati atas bayi-bayi yang belum 

dilahirkan, dibuat berdasar  alasan-alasan yang 

sepele dan kehamilan seringkali diakhiri dengan 

alasan-alasan yang tidak sesuai dengan prinsip 

agama dan moral.

“Jadilah  saksi  hidup  dari  keagungan  dan  keindahan 

Kekristenan.” ~ S. Gianna Beretta Molla

SANTO GILDAS (500-

Santo kita ini dilahirkan 

sekitar tahun 500 di Inggris. 

Sebagai seorang pemuda ia 

bertekad untuk 

mempraktekkan gaya hidup 

mengurbankan diri. Ia 

melakukan ini guna membantu 

dirinya sendiri semakin dekat 

pada Tuhan. Gildas 


bersungguh-sungguh dengan komitmen Kristianinya. 

Ia merasa bertanggung jawab untuk berdoa dan 

berkurban demi silih atas dosa-dosa yang dilakukan 

orang sejamannya. Ia menulis khotbah-khotbah 

berusaha meyakinkan orang untuk meninggalkan 

kejahatan. Ia mendorong mereka untuk 

menghentikan hidup penuh skandal. Sebab Gildas 

begitu peduli, tulisan-tulisannya terkadang terasa 

terlalu kritis. Sesungguhnya, ia tidak bermaksud 

mengutuk siapapun. Ia memohon orang untuk 

berbalik kepada Tuhan.

Gildas yaitu  seorang rohaniwan yang 

mengamalkan hidup seorang pertapa. Ia tidak 

memilih hidup doa yang hening sebab ia hendak 

melarikan diri dari dunia sekelilingnya. Ia memilih 

gaya hidupnya demi membantu diri bertumbuh 

semakin dekat pada Tuhan. Ia lebih sadar dari orang 

kebanyakan mengenai hal-hal yang sangat keliru 

dalam warga . Sayangnya, banyak orang tidak 

cukup sadar akan Tuhan dan hukum-Nya. Mereka 

bahkan tidak menyadari kejahatan yang tengah 

membinakasan mereka. Itulah sebabnya mengapa 

sebagian orang dalam Gereja - para imam, uskup, 

dan kaum awam baik laki-laki maupun wanita  - 

pergi kepada Gildas mohon nasehat mengenai hal-

hal rohani yang mendalam.

Menjelang akhir hidupnya, Gildas 

mengamalkan hidup bertapa di sebuah pulau kecil di 

Brittany. Meski ia menginginkan kesendirian guna 

mempersiapkan jiwanya menyongsong maut, para 

murid mengikutinya juga ke sana. St Gildas 

menyambut mereka sebagai suatu pertanda bahwa 

Tuhan menghendakinya untuk membagikan karunia-

karunia rohaninya kepada yang lain. Gildas yaitu  

bagaikan “nurani” warga . Terkadang, kita tak 

suka mendengar mengenai dosa, namun  dosa itu 

nyata. Terhkadang kita juga dicobai untuk 

melakukan yang salah atau menjadi lalai. Pada saat 

itulah kita dapat memanjatkan sebuah doa singkat 

kepada St Gildas. Kita memohon bantuannya untuk 

memperolehkan bagi kita kekuatan niat untuk 

melakukan hal yang benar.

GILLES dari ASSISI OFM (1262)

Teman dan pengikut Santo Fransiskus ini 

diutus ke Tunisia, namun  misinya gagal. Lalu ia 

bertapa di Perugia Italia.

B: Aegidius, Egidius, Gil(les); P: 23 April

SANTO GILES

Giles dilahirkan di Athena, Yunani. saat  

orangtuanya meninggal dunia, ia mempergunakan 

banyak warisan yang 

mereka tinggalkan 

untuk menolong orang-

orang miskin. Sebab itu, 

dan teristimewa sebab  

Tuhan mengadakan 

banyak mukjizat dengan 

perantaraannya, Giles 

mendapati diri sebagai 

seorang pemuda yang 

amat dikagumi. Giles 

tidak menghendaki 

pujian dan kemashyuran 

ini sama sekali. Maka, 

agar dapat melayani Tuhan dalam hidup yang 

tersembunyi, ia meninggalkan Yunani dan berlayar 

ke Perancis. Di sana, ia hidup seorang diri dalam 

kegelapan hutan. Ia membuat tempat tinggal dalam 

sebuah gua di balik semak belukar yang rimbun. 

Giles hidup tenang di sana, aman dari bahaya besar 

kepala mendengar dirinya dipuji. 

namun , suatu hari seorang raja dan para 

pengawalnya pergi berburu ke hutan itu. Mereka 

mengejar kijang yang biasa datang ke gua Giles. 

Kijang itu lenyap dari pandangan mereka dengan 

masuk ke dalam gua Giles yang tersembunyi di balik 

semak belukar yang rimbun. Salah seorang 

pengawal membidikkan anak panah ke rerimbunan 

semak, dengan harapan anak panah itu mengenai si 

kijang. saat  mereka menyibak semak belukar, 

mereka mendapati Giles duduk terluka oleh anak 

panah.

“Siapakah engkau dan apa yang engkau 

lakukan di sini?” tanya raja. St Giles menceritakan 

kisah hidupnya kepada mereka. sesudah  

mendengarnya, mereka mohon pengampunan. Raja 

mengutus para tabibnya untuk merawat luka santo 

kita. Meski Giles memohon agar ditinggalkan 

seorang diri, raja sungguh merasa kagum 

kepadanya hingga raja kerap datang menjenguknya. 

Giles tidak pernah menerima hadiah-hadiah raja. 

namun , pada akhirnya, ia setuju raja mendirikan 

sebuah biara besar di sana. Giles menjadi pemimpin 

biaranya yang pertama. Biara ini menjadi begitu 

terkenal hingga seluruh kota datang ke sana. saat  

St Giles wafat, makamnya di biara menjadi tempat 

ziarah yang ramai dikunjungi para peziarah.   

“Tuhan  tidak  mengukur  kemurahan  hati  kita  dengan 

berapa  banyak  yang  kita  berikan,  melainkan  berapa 

banyak  yang  kita  tinggalkan.”  ~  Uskup  Agung  Fulton 

Sheen


BEATO GILES MARIA (1729-7 Februari 1812)

Nama lengkapnya sebagai seorang religius 

yaitu  Broeder Giles Maria dari St Yosef. Broeder 

Giles Maria dilahirkan dekat 

Taranto, Italia, pada tahun 

1729. Semasa kanak-

kanak, ia belajar membuat 

tali tampar dan cakap 

dalam usahanya.

saat  usianya 

duapuluh lima tahun, Giles 

menyadari panggilan Tuhan 

untuk masuk dalam suatu 

ordo religius dan 

mempersembahkan hidup 

kepada Tuhan. Giles 

menggabungkan diri dalam 

Rahib-rahib St Petrus Alcantara di Naples. Dan hal 

luar biasa apakah yang ia lakukan hingga 

dimaklumkan “beato”? Ia pantas mendapatkan 

kehormatan yang demikian sebab  dua keutaman 

yang membimbingnya sepanjang kehidupan 

religiusnya. Keutamaan-keutamaan itu yaitu  

kesahajaan dan kerendahan hati.

Broeder Giles Maria berusaha  menyongsong 

setiap hari yang baru dengan kerinduan untuk 

melayani Tuhan. Ia amat bersyukur atas 

panggilannya dan hal itu diungkapkannya dalam 

hidup sehari-hari. Broeder Giles naik turun ruangan-

ruangan dan menyusuri lorong-lorong biara di mana 

ia tinggal. Ia yaitu  seorang penjaga pintu. Ia 

membuka pintu dengan segera dan dengan senyum 

ramah setiap kali tamu menarik tali untuk 

membunyikan lonceng biara. Dengan lembut ia 

memberikan perhatian kepada kaum miskin, kaum 

tuna wisma, dan mereka yang sakit yang datang di 

depan pintunya. Ia diserahi tanggung jawab 

membagi-bagikan makanan dan derma yang berhasil 

dihimpun oleh komunitas. Broeder Giles Maria 

senang hati melakukannya. Tak peduli berapa 

banyak yang ia berikan kepada mereka yang 

membutuhkan, masih tetap banyak saja yang tersisa 

bagi yang lain. Ia tahu St Yosef yang melakukan ini. 

Bagaimanapun, bukankah St Yosef yang dulu 

memelihara dan menopang hidup Yesus dan Maria. 

Boreder Giles Maria menyebarluaskan devosi kepada 

St Yosef sepanjang hidup religiusnya. sesudah  

melewatkan hidup yang setia kepada Tuhan dan 

panggilan hidup yang dipilihnya, Broeder Giles Maria 

dari St Yosef wafat pada tanggal 7 Februari 1812. Ia 

dimaklumkan “beato” oleh Paus Pius IX pada tahun 

1888.

GIOVANNI BATTISTA ROSSI (1698-1764)

Sewaktu belajar teologi di Roma ia sangat 

keras terhadap dirinya, sehingga menderita epilepsy 

yang terus mengganggunya. Imam ini menaruh 

perhatian besar terhadap orang miskin, penderita 

sakit, tahanan dan wanita gelandangan, meskipun ia 

sendiri amat miskin. Giovanni menjadi bapa 

pengakuan yang dicari-cari orang. 

P: 23 Mei

GISELA (985-1060)

yaitu  ratu Hungaria dan ibu dari Santo 

Emerik (P: 4 Nopember). Dengan rajin ia 

memajukan penginjilan, namun  ditahan sesudah 

suaminya meninggal. Ia dibebaskan oleh kaisar 

Jerman dan kemudian menjadi pimpinan biara.

P: 7 Mei

SANTO GLEB dan SANTO BORIS († 1015)

Kedua bersaudara ini dilahirkan di 

penghujung abad kesepuluh. Mereka yaitu  putera-

putera St Vladimir dari 

Kiev, pangeran Kristen 

pertama di Rusia. Ayah 

mereka memiliki  banyak 

isteri sebelum menjadi 

Kristen. Sesudah memeluk 

agama Kristen, Vladimir 

hidup sebagaimana 

diajarkan Yesus dalam Injil. 

Boris dan Gleb yaitu  

putera-putera Vladimir dari 

isterinya yang seorang 

Kristen bernama Anna. 

Mereka semua yaitu  

orang-orang Kristen yang saleh. 

Dalam usaha  mendapatkan kekuasaan yang 

terlebih besar sesudah  Raja Vladimir wafat, putera 

sulungnya menyusun rencana untuk membunuh 

Boris dan Gleb. Boris diperingatkan mengenai hal ini 

sewaktu ia kembali bersama pasukannya dari suatu 

pertempuran melawan suku-suku pengembara. Para 

prajurit serta-merta bersiap untuk membela Boris 

dari saudara sulungnya, namun  Boris melarang. 

“yaitu  lebih baik jika aku saja yang mati,” katanya, 

“dibandingkan  banyak orang harus mati.” Maka, ia 

menyuruh para prajuritnya pergi sementara ia duduk 

sendirian menanti. Sepanjang malam ia 

merenungkan para martir yang tewas dibunuh oleh 

kerabat dekatnya sendiri. Ia merenungkan betapa 

kosong jadinya hidup ini jika kita mengutamakan 

hal-hal duniawi. Yang utama, menurut pendapatnya, 

yaitu  perbuatan-perbuatan baik, kasih sejati dan 

iman yang benar. saat  pagi tiba, para pembunuh 

yang disewa kakaknya tiba dan mulai menyerangnya 

dengan tombak. Boris tidak melawan, hanya 

menyerukan damai kepada mereka.

St Gleb dibunuh tak lama sesudahnya. 

Saudara sulungnya yang keji mengundang Gleb 

datang ke istana untuk suatu kunjungan 

persaudaraan. Saat menyeberangi sungai, perahu 

Gleb diserang oleh orang-orang bersenjata yang 

garang. Pada mulanya, Gleb ketakutan dan 

memohon pada mereka agar jangan membunuhnya. 

Namun demikian, ia tak hendak mempertahankan 

diri dengan kekerasan, bahkan saat  ia melihat 

bahwa mereka bertekad membunuhnya. Malahan, St 

Gleb dengan tenang mempersiapkan diri untuk mati. 

“Aku dibunuh,” katanya, “untuk suatu alasan yang 

tidak aku ketahui. namun  Engkau mengetahuinya, ya 

Tuhan. Dan aku tahu Engkau bersabda, demi nama-

Mu saudara akan bangkit membunuh saudaranya.” 

Hanya beberapa tahun sesudah  wafat mereka, 

warga  Rusia mulai pergi berziarah ke makam 

kedua bersaudara ini. Mukjizat-mukjizat terjadi. St 

Boris dan St Gleb disebut martir sebab mereka 

menerima kematian seperti Kristus, yakni tanpa 

mempertahankan diri dengan kekerasan. Mereka 

wafat pada tahun 1015. Pada tahun 1724, Paus 

Benediktus XIV memaklumkan mereka sebagai 

santo. 

GODELIVA (1045-1070)

Ditinggalkan oleh suaminya, sesudah  menikah 

beberapa waktu lamanya. Kemudian ia diperlakukan 

dengan kasar dan kejam oleh mertuanya. sebab  

didesak oleh ayah Godeliva dan uskup setempat, 

maka suaminya pura-pura rujuk kembali, namun  

kemudian menyewa orang susaha  membunuh 

Godeliva.

A: disayang Tuhan; B: Godeliv; P: 6 Juli

GODRIKUS (1065-1170)

Semula yaitu  tukang catut dan pembuat 

pedang. Namun akhirnya ia terkenal sebagi 

peziarah. Ia menjelajahi Skotlandia, Spanyol, Roma 

dan Yerusalem. Dengan kaki telanjang ia berkeliling 

Eropa bersama ibunya yang sudah lanjut. Kemudian 

Godrikus bertapa di Walpole untuk menebus dosanya 

yang banyak. Ia dikaruniai Tuhan dapat meramal 

masa depan, menjinakkan binatang buas dan 

berbahaya (ular berbisa). Godrikus yaitu  penyair 

liris pertama dalam bahasa Inggris.

A: penuh dengan Tuhan; P: 21 Mei

SANTO GODFREY († November 1115)

Godfrey hidup pada abad keduabelas. Ia 

mendapatkan pendidikan dari para biarawan Mont-

Saint-Quentin. Godfrey menjadi seorang imam 

biarawan. Ia dipilih menjadi kepala biara di 

Champagne, Perancis. Biara itu mengalami 

kemunduran; hanya enam biarawan saja yang masih 

tinggal. Para biarawan menyukai Godfrey. Mereka 

tahu bahwa ia yaitu  seorang kudus. Mereka 

percaya bahwa ia dapat membantu mereka untuk 

menemukan kembali sukacita hidup yang 

mengurbankan diri. Sebentar saja, komunitas telah 

hidup kembali dan calon-calon baru menggabungkan 

diri dengan mereka. Biara Champagne menjadi 

pusat doa dan sukacita rohani. 

Pada akhirnya, abas mereka ditahbiskan 

sebagai uskup agung. Kepadanya dipercayakan 

Keuskupan Rheims, Perancis 

yang terkenal. Godfrey merasa 

sedih meninggalkan biara 

kecilnya. Meski demikian, ia tahu 

bahwa Tuhan menghendakinya 

menjangkau orang-orang di 

Rheims juga. Ia tetap menjalani 

hidup sebagai seorang biarawan 

yang bersahaja. Tempat 

tinggalnya sederhana namun  

bersih. Makanannya sederhana. 

Terkadang, koki menyiapkan 

makanan yang menurut Godfrey 

terlalu mewah. Maka ia akan 

menunggu hingga koki selesai 

melaksanakan tugasnya. 

Kemudian ia memanggil orang-

orang miskin yang tinggal di 

sekitar sana. Diberikannya 

makanan itu kepada mereka untuk dibawa pulang 

bagi keluarga mereka. Uskup Agung Godfrey 

menderita akibat aniaya dalam keuskupannya. 

Beberapa hal yang terjadi sungguh keliru. saat  

Godfrey berusaha meluruskan mereka yang terlibat, 

terkadang nasehat-nasehatnya dilawan dan 

ditentang. Seorang bahkan berusaha membunuhnya. 

Itulah saat saat  Godfrey bertanya-tanya apakah 

yang dilakukannya lebih mendatangkan celaka 

dibandingkan  kebaikan. namun  orang-orang yang 

berkehendak baik menghargai dan mengasihinya. 

Sbelum dapat mengundurkan diri, ia wafat. Itu 

terjadi pada bulan November 1115.

GOLINDUH († 591)

yaitu  wanita bangsawan Persia yang 

menderita banyak sebab  bertobat menjadi Kristen. 

Ia dihormati sebagai martir.

P: 13 Juli

GONZALES de SANTA CRUZ SJ (1568-1628)

Mendirikan reduktiones, yaitu desa-desa bagi 

orang Indian di Paraguay dan Brasilia Selatan guna 

melindungi mereka dari pemerasan kolonis Spanyol 

dan untuk memajukan taraf hidup penduduk.

P: 17 Nopember

GONZALO GARCIA OFM (1557-1597)

Lahir di Bassein India dan sebagai pemuda 

mengikuti pater-pater Jesuit ke Jepang sebagai 

penterjemah. sebab  tidak diterima dalam Serikat 

Jesuit ia menjadi pedagang di Makao dan Manila, 

tempat ia masuk Ordo Saudara Hina-Dina. Sebagai 

Bruder ia kembali ke Jepang (1593). Sesudah 

bekerja baik sebagai penghubung ia ikut disalibkan 

di Nagasaki.

GOTTFRIED atau GEOFFREY (1097-1127)

Tertarik pada cita-cita kemiskinan Santo 

Norbert. Maka ia mengubah istananya di Cappenberg 

Jerman menjadi suatu biara. Isterinya dan dua 

saudara wanita nya masuk biara lain yang 

didirikannya juga. Akhirnya ia sendiri menjadi 

biarawan Premonstratens dan beramal bagi kaum 

miskin.

 A: Tuhan ialah damai; P: 19 Januari

GREGORIUS (abad ke-4)

Dijuluki ‘Penerang’, sebab  membawa terang 

Injil kepada bangsa Armenia. Meskipun beristeri, ia 

menjadi misionaris. Ia lama dipenjarakan atas 

perintah raja. Namun raja itu kemudian bertobat dan 

mengakui Gregorius sebagai uskup dan pemimpin 

Gereja di Armenia. Pada hari tuanya ia menyerahkan 

keuskupannya kepada anaknya dan mengundurkan 

diri kedalam biara.

P: 10 Oktober

SANTO PAUS GREGORIUS AGUNG (540-12 

Maret 604)

Santo Gregorius dilahirkan pada tahun 540 di 

Roma. Ayahnya seorang anggota Majelis Tinggi dan 

ibunya yaitu  Santa Celia. 

Gregorius belajar filsafat dan 

saat  masih muda usianya, 

telah diangkat menjadi 

Gubernur Roma. saat  

ayahnya meninggal, Gregorius 

merombak rumahnya yang 

besar menjadi sebuah biara. 

Selama beberapa tahun ia 

hidup sebagai seorang 

biarawan yang saleh dan 

kudus. Kemudian Paus 

Pelagius mengangkatnya 

menjadi salah seorang dari 

ketujuh Diakon Roma. saat  Paus wafat, Gregorius 

dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama 

sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu. 

namun  ia seorang yang sangat kudus serta 

bijaksana, sehingga semua orang tahu bahwa ia 

akan menjadi seorang paus yang baik. Gregorius 

berusaha menghindar dengan menyamar dan 

menyembunyikan diri dalam sebuah gua, namun  

akhirnya mereka menemukannya dan ia diangkat 

juga menjadi paus.

Selama empatbelas tahun ia memimpin 

Gereja. Meskipun ia selalu sakit, Gregorius 

merupakan salah seorang paus terbesar Gereja. Ia 

menulis banyak artikel  dan juga merupakan seorang 

pengkhotbah yang ulung. Ia mencurahkan 

perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah 

sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai abdi 

semua orang. Ia yaitu  paus pertama yang 

menggunakan gelar “abdi para abdi Tuhan.” Semua 

paus sesudahnya menggunakan gelar ini.  St. 

Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih 

istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-

orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka 

dengan makanan yang enak. St. Gregorius juga 

amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang 

disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu saat , semasa 

ia masih seorang biarawan, ia melihat anak-anak 

kulit putih dijual di pasar budak di Roma. Ia 

bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan 

diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. St. 

Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat 

untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih 

Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal 

Tuhan itu. sesudah  ia menjadi paus, salah satu hal 

pertama yang dilakukannya yaitu  mengirimkan 

beberapa biarawan terbaiknya untuk 

memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris. 

Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak 

penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk 

Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya. 

Santo Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.

Gregorios Agung (540-640), paus dan 

pujangga gereja; lahir di Roma. Ia dihormati 

sebagai pelindung para penyanyi gereja (koral 

Gregorian). Selain Gregorius Agung masih 

ada  Gregorius II (†731), Gregorius III 

(†741), Gregorius VII (†1085) dan Gregorius X 

(†1276) sebagi paus yang kudus. L: tiara dan 

tongkat dengan palang salib; P: 3 September

”Aku  mengerti  dari  pengalaman  bahwa  sebagian  besar 

waktu  saat   aku  bersama  dengan  saudara-saudaraku,  

aku belajar banyak hal tentang Sabda Tuhan yang tidak 

dapat  aku  pelajari  seorang  diri;  jadi  kalianlah  yang 

memberitahukan kepadaku apa yang harus aku ajarkan.” 

~ Santo Gregorius Agung

SANTO GREGORIUS dari NAZIANZE (330-

390) dan SANTO BASILIUS AGUNG (330-

379)

Basilius dan Gregorius dilahirkan di Asia Kecil  

pada tahun 330. Sekarang daerah ini  dikenal 

dengan nama Turki. Keluarga 

Basilius: nenek, ayah, ibu, 

dua saudara serta seorang 

saudarinya semuanya yaitu  

orang kudus. Sedangkan 

orangtua Gregorius yaitu  

Santa Nonna (P: 5 Agustus) 

dan Santo Gregorius Tua 

(uskup Nazianze; P: 1 

Januari). Basilius dan 

Gregorius saling bertemu dan menjadi sahabat karib 

di sekolah di Athena, Yunani. 

Basilius kemudian menjadi seorang guru yang 

tersohor. Suatu hari, saudarinya yaitu Santa 

Makrina, menyarankan agar ia menjadi seorang 

biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik 

saudarinya, pergi ke tempat yang sunyi dan di sana 

mendirikan biaranya yang pertama. Regula 

(=peraturan biara) yang ditetapkannya bagi para 

biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja 

Timur masih menerapkannya hingga saat ini.

Keduanya, Basilius dan Gregorius, menjadi 

imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan berani 

berkhotbah menentang bidaah 

Arianisme yang menyangkal 

bahwa Yesus yaitu  Tuhan. 

Ajaran sesat ini 

membingungkan banyak orang. 

saat  menjadi Uskup 

Konstantinopel, Gregorius 

mempertobatkan banyak orang 

dengan khotbah-khotbahnya 

yang mengagumkan. Hal itu 

membuatnya hampir saja 

kehilangan nyawanya. Seorang 

pemuda berencana untuk 

membunuhnya. Pada saat-saat 

terakhir, pemuda ini  bertobat serta memohon 

pengampunan dari Gregorius. Santo Gregorius 

sungguh mengampuninya serta membawanya ke 

jalan yang benar dengan kelemahlembutan serta 

kebaikan hatinya.

Empatpuluh empat khotbah Santo Gregorius, 

243 suratnya, serta banyak puisinya kemudian 

diterbitkan. Buah penanya masih amat penting 

hingga saat ini. Banyak penulis mendasarkan karya-

karya mereka pada buah penanya itu. Basilius, 

sahabat Gregorius, seorang yang amat lembut serta 

murah hati. Ia selalu menyediakan waktu untuk 

menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong 

orang-orang miskin itu untuk menolong mereka 

yang lebih miskin dari mereka sendiri. “Berikanlah 

makanan terakhirmu kepada pengemis yang 

mengetuk pintumu,” desaknya, “dan percayalah 

akan belas kasihan Tuhan.” Basilius 

menyumbangkan segala miliknya dan membuka 

sebuah dapur umum. Di sana orang sering 

melihatnya mengenakan celemek dan melayani 

mereka yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379 

dalam usia empatpuluh sembilan tahun. Sementara 

Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia 

enampuluh tahun. Ia dimakamkan di Basilika Santo 

Petrus di Roma. 

Gregorios, santo pelindung para penyair; P: 2 Januari

GREGORIOS dari NYSSA (335-395)

Menikah dengan Theosebeia. Oleh adiknya, 

yaitu Santo Basilius, ia ditahbiskan uskup. namun  

kemudian ia diberhentikan, sebab  pengurusan 

keuangannya kacau. A membela ajaran benar pada 

Konsili Konstantinopel I (381) dengan pandai dan 

berani. Ia menulis artikel -artikel  teologi yang sangat 

mendalam.

L: artikel  dan pena dari bulu ayam; P: 9 Maret

GREGORIUS THAUMATURGOS (213-270)

Artinya ‘pembuat mukjijat’, yaitu  seorang 

ahli hukum. Ia belajar di bawah bimbingan Origenes. 

Akhirnya ia menjadi misionaris dan uskup 

Naokaisarea (Turki), kota yangtelah ditobatkannya. 

Gregorius menulis artikel  teologi praktis.

A: gregorius = yang siap siaga; P: 17 Nopember

SANTO PAUS GREGORIUS VII, (1023-

1085)

Nama asli paus kita ini yaitu  Hildebrand. Ia 

dilahirkan di Italia sekitar tahun 1023. Pamannya 

seorang biarawan di Roma, Hildebrand pergi ke biara 

di mana pamannya berada untuk memperoleh 

pendidikan. Kelak, Hildebrand menjadi seorang 

biarawan Benediktin di Perancis. namun , sebentar 

saja di sana, ia sudah dipanggil kembali ke Roma. Di 

Roma ia diserahi kedudukan yang amat penting di 

bawah beberapa paus hingga ia sendiri akhirnya 

diangkat sebagai paus.

Selama dua 

puluh lima tahun, ia 

menolak untuk dipilih. 

namun , saat  Paus 

Alexander II wafat, para 

kardinal telah 

bersepakat untuk 

memilih Hildebrand 

sebagai paus yang baru. 

Dengan suara bulat 

mereka memutuskan: 

“Hildebrand ditetapkan 

sebagai penerus St. 

Petrus!” “Mereka 

membawaku ke tahta suci,” demikian ditulisnya 

kelak. “Protes-protesku tidak mereka hiraukan. 

Kegentaran memenuhi hatiku dan kegelapan 

sepenuhnya melingkupi aku.” Sebagai paus, 

Hildebrand memilih nama Gregorius VII. 

Masa  itu  sungguh  merupakan  masa  gelap 

bagi Gereja Katolik. Para raja dan kaisar ikut campur 

dalam  urusan-urusan  gereja.  Mereka  menetapkan 

orang-orang  yang  mereka  inginkan  menjadi  para 

uskup,  kardinal  dan  bahkan  paus.  Banyak  dari 

antara mereka yang ditetapkan itu bukanlah orang-

orang yang baik. Mereka memberikan teladan yang 

buruk bagi  umat.  Hal  pertama yang dilakukan  St. 

Gregorius  yaitu   melewatkan  beberapa  hari 

lamanya  dalam  doa.  Ia  juga  meminta  yang  lain 

untuk berdoa baginya. Ia sadar bahwa tanpa doa tak 

ada  sesuatu  pun  yang  dapat  diselesaikan  dengan 

baik  bagi  Tuhan.  Sesudah  itu,  ia  mulai  bertindak 

dengan  memperbaiki  pelayan-pelayan  gereja.  Ia 

juga mengambil  langkah-langkah yang perlu untuk 

menghindari campur tangan negara dalam masalah 

Gereja.  Hal  ini  amatlah  sulit  mengingat  para 

penguasa  semuanya  menentang  perubahan  itu. 

Namun demikian, beberapa di antara mereka mulai 

mau bekerjasama.   

Seorang penguasa, Kaisar Henri IV dari 

Jerman, memicu  Paus Gregorius banyak 

menderita. Kaisar muda itu seorang berdosa dan 

amat rakus terhadap harta. Ia tidak mau berhenti 

mencampuri urusan gereja. Ia bahkan mengirimkan 

orang-orangnya untuk menangkap Bapa Suci. 

namun , penduduk Roma menyelamatkan paus dari 

penjara. Paus Gregorius engekskomunikasikan 

kaisar. Hal itu tidak menghentikan Henry IV. Ia 

menetapkan pausnya sendiri. Tentu saja orang yang 

ditetapkannya itu bukanlah paus sesungguhnya. 

namun  Henry berusaha meyakinkan rakyat bahwa 

paus yang ditetapkannya itulah paus yang benar. 

Kemudian, sekali lagi, kaisar mengirimkan 

pasukannya untuk menangkap paus. Bapa Suci 

dipaksa meninggalkan Roma. St. Gregorius tiba 

dengan selamat di Salerno di mana akhirnya ia 

wafat pada tahun 1085. Pesannya yang terakhir 

yaitu , “Aku cinta keadilan dan benci kejahatan. 

Oleh sebab itulah sekarang aku mati dalam 

pengasingan.” Paus Gregorius VII dinyatakan kudus 

oleh Paus Paulus V pada tahun 1606. Paus Gregorius 

VII (Hildebrand) dikenal sebab  keberaniannya yang 

luar biasa. Ia berdiri tegak membela Yesus dan 

Gereja-Nya.

P: 25 Mei

BEATO GREG