Seperti disebutkan dalam 2 Tim.3:16 bahwa tulisan yang diwahyukan
Alkitab itu berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan dst. Jadi jelas bahwa Alkitab itu diwahyukan,
atau dihembusi Roh Tuhan . Yang diwahyukan itu Alkitabnya (Dr. H.
Hadiwijono). Bagimana proses pewahyuan itu? Yaitu melalui para nabi,
contoh misalnya Mat.1:22, dikatakan”Hal itu genaplah apa yang
difirmankan oleh Tuhan, lewat para nabi” (tentang kelahiran Tuhan
Yesus Kristus). Demikian juga dalam Mat.2:15, genaplah apa yang
difirmankan Tuhan oleh para nabi (Bahwa Yesus harus diungsikan ke
Mesir).
Para nabi itu tentunya dibimbing dan dan dipimpin oleh Roh Kudus (2
Pet.1:21). Dengan demikian ada dua pihak yang terlibat dalam
pengilhaman Alkitab, yaitu Roh Kudus (Tuhan ) yang mengilhami dan
manusia. Bagaimana keduanya bekerjasama dalam pengilhaman ini?
Hal ini dijawab dalam berbagai teori pengilhaman.
Teori pengilhaman
Ada bermacam-macam teori pengilhaman.
1. Pengilhaman yang mekanis.
Dalam pengilhaman mekanis, penulis hanya sebagai mesin yang
menulis gagasan-gagasan dari Tuhan , baik idenya bahasa
tulisannya dari kata ke kata didektekan kepada manusia. Dalam
pengilhaman ini manusia sangat pasif. Contoh misalnya dalam
agama Hindu, Kitab Weda dan upanisat itu diterima dari para
dewa dan dibisikkan kepada resi dan dituliskan. Umat Islam
mepercayai bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, Tuhan
mengirim utusanNya (nabi) untuk membimbing umatnya dalam
kebenaran, dengan kitab Sucinya masing masing. Dalam Agama
Islam, kitab Taurat diwahyukan kepada Musa, Jabur (Mazmur)
diwahyukan kepada Daud; Kitab Injil diwahyukan kepada nabi Isa
dan yang terakhir kitab Qur’an, sebagai kitab terakhir, yang
diwahyukan kepada nabi Mokhamat. Dan semua itu merupakan
copi dari Kitab Suci yang asli yang ada di Sorga. Sebenarnya ada
lagi Satu Kitab Suci yang diwahyukan kepada nabi Ibrahim,
sayanya keberadaan Kitab Suci ini tidak ditemukan lagi di dunia
ini. Umat Muslim sangat menghargai kepada Kitab Kitab
sebelumnya, sebagai kitab yang yang membimbing umat
manusia (Sura 3:3-4a, Sura 5:68). Bagi Umat Islam Al Qur’an
bukan hanya suatu penyataan Tuhan yang baru, namun juga Kitab
yang meneguhkan kitab yang sebelumnya, menjelaskan
ketidakpastian dan menyempurnakan kebenaran dari Kitab kitab
sebelumnya
Pewahyuan Al Qur’an, dilakukan oleh malaekat Tuhan , mulai
tahun 610 AD (masehi), secara bertahap dan terjadi selama 23
tahun dan selesai tahun 632, beberapa saat sebelum
kematiannya. Ayat yang terakhir dikirim oleh Tuhan sendiri
dengan sebuah kalimat penutup:Hari ini Aku telah
menyempurnakan agamamu bagimu dan menyempurnakan
anugerahKu padamu dan telah memilihkan bagimu agama yaitu
Al-Islam (Sura 5:3). Menurut agama Islam Al Qur’an yaitu Kitab
Suci yang paling luas dan lengkap. Terdiri dari 114 Bab atau
Sura, 86 sura diwahyukan di Mekkah dan 28 sura di Madina.
Dengan ayat ayat yang berbeda beda panjang pendeknya. Yang
paling pendek yaitu sura 103, 108,110
Pengilahaman ini tidak cocok dengan pengilhaman Alkitab,
sebab:
a. Lukas menulis Injilnya yang ditujukan kepada Theofilus, Matius
kepada orang Yahudi.
b. Kalau didektekan tentu gaya bahasa dan penulisannya mestinya
seragam. sedang kitab-kitab dalam Alkitab tidak seragam
dan memiliki gaya bahasa sendiri sendiri.
c. Bakat, latar belakang hidup, latar belakang budaya, cara berfikir
ternyata ternyata sangat mempengaruhi tulisan-tulisan mereka.
Daud yang latar belakangnya masyarakat agraris, berbeda
dengan Musa yang latar belakangkan kerajaan dan kaum
intelektual, yang memperhatikan masalah tertib hukum dsb.
d. Jarak antara peristiwa dan penulisan memicu munculnya
interpretasi yang kadang berbeda satu dengan yang lain.
2. Pengilhaman pasif atau negatip.
Dalam pengilhaman ini para penulis dijaga dan diilhami oleh Roh
Kudus, sehingga benar senantiasa. Memang gaya bahasa dan
tulisannya berbeda, namun tidak dapat menyeleweng dan salah.
Misalnya kalau dikatakan dalam Kejadian 1 bahwa penciptaan
dilaksanakan dalam waktu enam hari itu pasti benar.
Pandangan ini tidak sesuai dengan Alktab sebab menurut Alkitab
yang diilhamkan bukan manusianya, namun tulisannya (pak
Harun). Menurut hemat saya keberatan pak Harun kurang bisa
diterima, sebenarnya sulit membedakan antara penulis dan
tulisannya, kalau yang dikatakan Alkitab itu tulisannya
diwahyukan, sebenarnya yang dimaksud juga diwahyukan
melalui penulisnya. Menurut hemat saya pengilhaman ini
memang masih ada kesalahan-kesalahan manusiawi. Disana ada
data historis yang salah dan pemahaman-pemahan yang salah
apalagi jika dibandingkan dengan ilmu pengetahuan sekarang
ini.
3. Pengilhaman Dinamis.
Dalam pengilhaman Dinamis ini hati penulis diperbaharui oleh
Roh Kudus, dilahirkan kembali, sehingga hanya orang yang baik
dan benar saja yang bisa dipakai sebagai perantara firman
Tuhan. Sehingga semakin penulis dekat dengan kejadiannya
semakin dapat dipercaya. Karena tulisan para rasul lebih bisa
dipercaya daripada tulisan sebelum dan sesudah para rasul.
Keberatan terhadap pengilhaman ini yaitu bahwa tidak
senantiasa orang yang benar dan baik yang dipakai oleh Tuhan .
Bileam seorang dukun yang disuruh mengutuki Israel malah
memberkatinya (Bil. 23:4), Kayafas memberitakan perlunya
Kristus mati tersalib (Yoh.11:50,51). Sebelum para murid
mengakui Yesus sebagai Anak Tuhan , Iblis sudah tahu bahwa Ia
yaitu anak Tuhan (Luk.4).
4. Pengilhaman Organis
Dalam pengilhaman ini penulis bertindak sebagai organ atau alat
(Kis.9:13, dimana Tuhan memakai manusia sebagai alat). namun
alat disini bukan alat yang mati namun alat yang hidup. Dan
seperti organ tubuh setiap organ itu memiliki tempat dan
fungsinya sendiri-sendiri. Matius yang menulis uratnya untuk
orang Yahudi berusaha menghindarkan kata-kata yang bisa
menjadi sandungan dan digantikan dengan kata yang lain.
Misalnya kata Kerajaan Tuhan , diganti dengan kerajaan Sorga.
Lukas yang seorang tabib, memiliki perhatian kepada orang
miskin dan wanita dan karenanya bersikap keras terhadap orang-
orang yang kaya.
Walau tempat dan fungsinya berbeda-beda namun semuanya
demi kepentingan tubuh yang satu, yaitu untuk kemuliaan nama
Tuhan. Jika hal itu dikenakan pada pengilhaman, maka beberapa
hal perlu diperhatikan:
a. Pertama, bahwa memang Pengilhaman itu yaitu karya Roh
Kudus dalam hidup manusia, Roh inilah yang memberi gagasan
dan mendorong manusia untuk memberitakannya baik secara
tertulis maupun lisan (Mat.1:22; 2:15; 2 Pet.121; Luk.10:16).
b. Walau demikian, karena ia yaitu organ yang hidup, maka
kepribadian, latar belakang hidup, budaya, cara fikir dan adat
istiadat tidak ditiadakan: Misalnya konsep menciptakan manusia
dari debu tanah; Pergilah sampai ke ujung Bumi; Tuhan
menegakkan bumi pada alasnya; Tuhan membuka tingkap-
tingkap langit dan mencurahkan air dst. Hal itu menunjukkan
betapa latarbelakang mereka sama sekali tidak ditiadakan.
c. Penulis sadar persis akan pimpinan Tuhan, itulah sebabnya
dalam Galatia 1:8 dikatakan bahwa walau malaekat yang
memberitakan Injil, namun jika tidak sesuai dengan yang
diberitakan penulis harus ditolak, itu semua karena ia sadar
bahwa Injil yang dia beritakan sesuai dengan kehendak Tuhan .
3
d. Penulis bisa membedakan mana kehendak Tuhan dan mana
kehendak manusia. Dalam 1 Kor.7:6,7 dikatakan oleh Paulus
bahwa sebaiknya pelayan Tuhan itu tidak kawin, namun itu hanya
pertimbangan Paulus. Namun dalam 1 Kor.7:10 dikatakan
seorang isteri jangan undur dari suaminya itu yaitu kehendak
Tuhan . Perlu dicatat disini bahwa jika dikatakan sesuatu itu yaitu
kehendak Tuhan tidak berarti bahwa Tuhan membisikkan hal itu
kepada penulis. Penulis biasanya mencari referensi dari
Perjanjian Lama dan melalui pergumulan dalam hidupnya.
e. Dengan demikian sebenarnya Alkitab itu yaitu 100% manusiawi
dan juga 100% ilahi. Sifat manusiawi alkitab itu nampak dalam
bentuk sastranya dimana didalamnya ada sejarah (Kejadian,
keluaran, hakim-hakim, Samuel, Tawarikh), ada petuah dan
pepatah (amsal, Mazmur), perumpamaan (dalam Injil-Injil); Tata
ibadah, yang didalamnya ada pengakuan ada pentahbisan ada
pujian dsb. Karena itu dalam pemakaiannya harus hati-hati tidak
dapat disamakan begitu saja. Kita harus melihat bagaimana
konteks Alkitab itu sendiri dan bagaimana konteks kita saat ini.
Dari bahasa yang dipakai saja (PL bahasa Ibrani, PB bahasa
Yunani) nampak bahwa Alkitab itu muncul di tengah-tengah
sejarah.
f. Sifat ilahi Alkitab. Kalau tadi dikatakan bahwa gagasannya dari
Tuhan , tidak berarti bahwa Alkitab itu dibisikkan kepada manusia
dalam bisikkan ilahi. Lalu Bagimana? Isi seluruh Alkitab itu
yaitu tentang cinta kasih Tuhan kepada manusia. Cinta kasih
Tuhan itu nyata dalam keterlibatan Tuhan dalam sejarah umat
manusia. namun cinta kasih itu bukan begitau saja diterima oleh
manusia, bahkan sering manusia menolak cinta kasihnya. Itulah
sebabnya dalam Alkitab ada tindakan Tuhan yang tidak enak bagi
manusia. Sebagai contoh Kitab Hakim-hakim berisi tentang
pemberontakan, hukuman, pertobatan dan pengembalian
manusia. Kasih itu Akhirnya perpuncak adalam kehadiran Tuhan
Yesus Kristus.
g. Keilahian Alkitab itu juga nampak dalam bahwa Alkitab itu berisi
tentang kesaksian manusia tentang penyataan Tuhan dalam diri
Yesus Kristus. Jadi Alkitab itu tidak identik dengan Firman Tuhan ,
namun merupakan kesaksian iman manusia tentang sang Firman
itu sendiri. Seperti yang dikatakan dalam Yoh.20:31 namun semua
yang tercantum disini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa
Yesuslah Mesias Anak Tuhan supaya kamu oleh imanmu
memperoleh hidup dalam namanya”. Lalu siapa yang
menghendaki mencatat? Pertama manusia sendiri, namun di lain
pihak Tuhan menghendaki mencatatnya ( Kel.17:14; Yes.8:1;
Yer.30:1).
h. Mengapa perlu dicatat? Sebab orang tidak bisa terus menerus
mempertahankan tradisi lisan sebab dengan tradisi lisan itu ada
4
dua bahaya: di satu pihak akan ada pengurangan dan
pengausan, di lain pihak ada peluasan dan banyak bumbu
bumbunya dan menjadi interpretative. Contoh: Peristiwa
pemanggilan para penjala ikan menjadi penjala manusia. Di Injil
Matius dan Markus,tidak ada kisah seperti yang diceriterakan
Lukas tentang perintah Yesus untuk menjala dan mendapat ikan
yang luar biasa banyaknya sampai jalanya robek (Luk.5:1-11;
Mat.4:18-22; Mark.1:16-20).
i. Pencatatan itu sendiri kemudian menimbulkan pemilihan mana
kitab yang otentik dan yang tidak otentik atau apa yang
biasanya disebut sebagai persoalan kanonisasi Alkitab.
Penggunaan Alkitab
Dari cara pengilhamannya maka cara penggunaan Alkitab juga akan
menjadi berbeda. Sebagai perbandingan kita akan melihat cara
penggunaan Al Qur’an dan Alkitab, sbb.:
1. Dalam Al Qur’an karena Qur’an yaitu diturunkan
secara utuh dalam bisikan ilahi, maka, ia tidak boleh diubah-ubah
bahkan diterjemahkan, ia juga menjadi norma hukum (undang-
Undang) bagi umat, yang harus dilaksanakan secara utuh. Jika
dalam Qur’an tidak ada hukumnya maka memakai Hadis para nabi,
jika dalam hadis nabi tidak ada, maka memakai qias atau analogi,
jika tidak ada analogi maka memakai fatwa para ulama. Dalam
Alkitab bukan firman menjadi buku, namun firman menjadi daging
dan Alkitab yaitu kesaksian tentang firman yang menjadi daging
ini. Alkitab merupakan hasil pergumulan para penulis yang
menyaksikan firman yang menjadi daging itu. Alkitab yaitu alat
yang dipakai untuk bergaul dan berkomunikasi dengan Tuhan .
Artinya, dalam Alkitab itu disaksikan kepada kita bahwa Tuhan
dahulu telah berkarya dan berfirman kepada umatnya dalam hidup
mereka sehari-hari, dengan itu pula Tuhan bermaksud
memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan masih berkenan
berfirman dan berkarya di tengah-tengah umatnya sampai
sekarang.
2. Dalam kenyataannya masih sering umat Kristen
mempergunakan Alkitab sebagai kitab Undang-Undang. Hal itu
tidak sama sekali salah, sebab kadang-kadang Tuhan Yesus juga
memakai dengan cara yang sama. Misalnya ketika Tuhan Yesus
dicobai di padang gurun (Mat.4:4,7). Kepada Pemuda kaya raya
Tuhan Yesus menyuruh mengacu hidupnya pada apa yang tertulis
dalam Alkitab ( Mat.19:17-19). namun cara semacam itu tidak boleh
senantiasa dilakukan, karena dalam setiap perkataan ada konteks
yang berbeda. Paulus mengingatkan agar kita tidak menjadikan
Firman Tuhan sebagai hukum yang tertulis dan mematikan (2
Kor.3:6). Kadang-kadang para pembaca harus turut aktif
5
memikirkan dan mengambil keputusan sendiri. Contoh Kisah
perempuan yang kedapatan berbuat zinah (Yoh.8:1-11). Contoh
yang tepat tentang menggunakan Alkitab yaitu dalam
Perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37),
ketika Mereka bertanya bagimana memperoleh hidup yang kekal,
Tuhan Yesus menunjuk apa yang terdapat dalam Hukum Taurat
(ay.26), ketika mereka ingin membenarkan dirinya dengan bertanya
siapa sesama manusia itu? Tuhan Yesus membuat sebuah
perumpamaan dan pendengar disuruh menggumulkan dan
memutuskan untuk dirinya sendiri. Begitulah umat harus
memberlakukan Alkitab agar tidak menjadi Firman yang mematikan.
Sebagai contoh; Bagaimana mencari kehendak Tuhan dalam kasus
tertentu.;
a. Tidak semua kasus, kita bisa menemukan jawaban secara
langsung dalam Alkitab.
b. namun kalau itu kehendak Tuhan pasti tidak akan bertentangan
dengan Alkitab.
c. Kehendak Tuhan pasti tidak akan merugikan orang lain.
d. Kita bisa minta pertolongan orang lain untuk menemukan
kehendak Tuhan .
e. Dalam mencari kehendak Tuhan kita ambil keputusan sendiri dan
bisa saja keputusan kita salah. Jika keputusan itu salah harus
ditobati dan mencoba mencari aspek positif dari keputusan yang
salah ini. Dengan demikian mencari kehendak Tuhan itu
menuntut pemikiran, pertimbangan, pembicaraan pemilihan.
6
jika merunut secara keseluruhan mengenai kisah para nabi dalam Perjanjian Lama,
kita bisa memperhatikan bahwa seseorang menjadi nabi bukan sebab kemauannya sendiri,
melainkan sebab seseorang itu dipilih oleh Tuhan. Dalam hal ini, Tuhanlah yang memiliki
inisiatif untuk menentukan siapa yang akan menjadi utusan-Nya. Dalam Tradisi Kristiani,
misalnya menyebutkan bahwa Tuhan telah menetapkan Yeremia sebagai seorang nabi
sebelum dia lahir dari kandungan.1 Dengan dipilihnya seseorang untuk menjadi nabi, maka ia
secara tidak langsung mendapat perutusan dari Tuhan sendiri untuk memberi nubuat kepada
orang lain maupun bangsa-bangsa lain.
Tugas dan peranan pokok panggilan kenabian berdasar tradisi kenabian Perjanjian
Lama, pertama-tama yaitu untuk mengingatkan bangsanya, khususnya Israel, yang lupa
akan perjanjian kasih dengan Tuhan, dan dari sini lalu menyerukan pertobatan.2 Seorang nabi
juga identik dengan penglihatannya di masa yang akan datang. memiliki penglihatan di
masa yang akan datang bukan berarti bahwa seorang nabi itu dianggap sebagai peramal.
Penglihatan tentang masa depan ini merupakan rahmat yang diterima oleh para nabi saat ia
dipilih oleh Tuhan untuk memberi nubuat kepada bangsa-bangsa.
berdasar pemahaman singkat mengenai apa itu nabi, kita akan mengulas lebih
dalam mengenai salah satu tokoh nabi besar dalam kisah Perjanjian Lama, yakni Nabi
Yesaya. Dalam kisahnya, Nabi Yesaya merupakanseorang nabi yang sering disebut
“pangeran para nabi” sebab keagungan sapuan bukunya dan caranya yang kuat dalam
menggambarkan tema keadilan dan penebusan, yang berpuncak pada nubuatan besar tentang
Mesias dan zaman mesianik. Berkaitan dengan pemahaman singkat mengenai gambaran
seorang nabi, tulisan ini akan lebih mendalami tempat kitab Nabi Yesaya dalam Kitab Suci,
kemudian menjelaskan Nabi Yesaya dan pribadinya, nubuatnya serta konteks sejarahnya.
2. Tempat Kitab Nabi Yesaya dalam Alkitab
Kitab Suci merupakan sebuah buku dimana sejarah dan kehidupan para nabi mendapat
tempatnya. Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Lama menjadi buku yang pertama jika
seseorang ingin mempelajari dan mengetahui sumber informasi mengenai para nabi Israel.
Demikian juga dengan kitab Nabi Yesaya, kitab Nabi Yesaya merupakan bagian dari kitab
nabi-nabi besar dalam perjanjian lama. Di antara semua kitab para nabi, Kitab Yesaya
2 Sudarman, Nabi-nabi Israel dalam Perjanjian Lama:Sebuah pendekatan Sejarah Agama, dalam jurnal Al-
Adyan/Vol. VIII, no. 2/Juli – Desember/ 2013, hlm. 1.
merupakan kitab yang sangat panjang dan tebal. Kitab Yesaya ini seringkali dibagi menjadi
tiga bagian. Pada bagian pertama disebut Proto Yesaya (1-39), kemudian Deutero Yesaya
(40-55), kemudian Trito Yesaya (56-66).
Proto Yesaya berasal dari Nabi Yesaya yang berkarya pada zaman sebelum
pembuangan Babel (740-700 SM).
Deutero Yesaya berasal dari nabi lain (anonym) yang berkarya pada zaman
pembuangan Babel (597-538 SM).
Trito Yesaya berasal dari nabi lain (anonym) yang berkarya pada zaman
sesudah pembuangan Babel. (538-530 SM).
Ketiga bagian kitab ini juga menubuatkan sesuatu yang berbeda, misalnya dalam
bagian pertama yang menubuatkan bernada ancaman terhadap Bangsa Israel yang tidak mau
bertobat. Kemudian pada bagian kedua bernada hiburan bagi bangsa Israel. Kemudian bagian
ketiga bernubuat tentang harapan kepada bangsa Israel yang mengalami ketakutan dan
kegelisahan. Oleh para kolektor naskah, semua nubuat ini kemudian dikumpulkan dan
disatukan dalam suatu kitab yang diberi nama ‘Kitab Yesaya’.3
3. Istilah “Nabi” dan Gejala Kenabian
Istilah ‘nabi’ berasal dari bahasa Ibrani ‘Navi’, yang berarti mengalir seperti mata air.
Selain itu kata ‘nabi’ memiliki makna yang berarti memberi keterangan dan mengabarkan.
Dengan demikian bisa diambil kesimpulan bahwa bahasa Ibrani inilah yang paling sering
digunakan untuk menjelaskan istilah ‘nabi’. Melalui para nabi dalam tradisi alkitabiah, Tuhan
telah menyatakan rencana-Nya dalam hal keselamatan dan menyatakan firman-Nya kepada
para bangsa untuk memberitakan suatu peristiwa di masa depan.
Secara singkat dalam Perjanjian Lama, seorang yang digelari “nabi” atau ‘navi’ juga
digelari sebagai “pelihat”, dalam bahasa Ibrani yakni Haro’eh.4 Istilah ‘pelihat’ secara jelas
menunjukkan karakteristik seorang nabi, yaitu seseorang yang mendapat penglihatan dan
mendengar suara Tuhan dan diutus untuk menyampaikannya kepada umat maupun bangsa-
bangsa. Kemampuan ini merupakan suatu karunia yang disebut karunia kenabian. Misalnya:
“Mari kita pergi kepada pelihat”, sebab nabi yang sekarang ini disebutkan dahulu sebagai
3 P. Hendrik Njiolah, Pr., Mengenal nabi Yesaya, nabi Yeremia, nabi Yehezkiel dan nabi Amos, Yogyakarta:
Yayasan Pustaka Nusatama, hlm. 46.
4 V. Indra Sanjaya, Pr.,… dan Firman Tuhan datang kepadaku, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 58.
pelihat (1 Sam. 9:9). Istilah ‘pelihat’ yang dikenakan pada seorang nabi juga melekat pada
diri Yesaya. Dalam ayat pertama Kitab Yesaya tertulis “Penglihatan yang telah dilihat
Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan
Hizkia, raja-raja Yehuda.” (Yes. 1:1).
Gejala kenabian dalam Nabi Yesaya tentu bisa dilihat dari latar belakang bagaimana
Yesaya itu bisa terpilih menjadi seorang nabi. Tradisi kenabian memang terus muncul dalam
sejarah Bangsa Israel, demikian juga nabi Yesaya yang dinyatakan sebagai nabi besar dalam
sejarah bangsa Israel. Pernyataan dalam kitab suci yang mengakui bahwa Yesaya merupakan
seorang nabi dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi Yesaya saat ia berjumpa dengan
malaikat. Perjumpaan dengan malaikat itu menjadi tanda bagi Yesaya untuk menjalankan
misi yang diberikan Tuhan kepadanya. Kehidupan pada zaman nabi Yesaya dipenuhi oleh
situasi sulit, peperangan dan kemerosotan iman. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa
gejala kenabian seringkali muncul saat situasi bangsa, khususnya Bangsa Israel mengalami
situasi sulit dan krisis iman. Dari situlah seorang nabi diutus oleh Tuhan untuk mengingatkan
kepada bangsa Israel untuk mengingat janji mereka kepada Tuhan serta mau untuk bertobat
dari perbuatan-perbuatan mereka yang jahat.
4. Nabi Yesaya dan Pribadinya
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa nabi merupakan seseorang atau
pribadi yang mendapat perutusan langsung dari Tuhan. Perutusan Tuhan memang kadang
kala sangat memberatkan hati para nabi yang diutusnya. Dalam Perjanjian Lama, berbagai
reaksi diutarakan oleh para nabi saat mendapat perutusan dari Tuhan. Misalnya nabi Yunus
yang pada mulanya melarikan diri dari hadapan Tuhan saat ia mendapat perutusan untuk
mempertobatkan Bangsa Niniwe (Yun. 1:1-3). Demikian juga Samuel yang pada awalnya
belum mengenal suara Tuhan saat ia dipanggil oleh Tuhan, bahkan ia mengira bahwa Eli-
lah yang memanggil Samuel (1 Sam. 3:1-21).5
Dari kedua contoh reaksi nabi terhadap panggilan Tuhan ini dapat diambil
kesimpulan bahwa nabi sebagai pribadi juga memiliki sisi manusiawi dengan segala
kekurangannya. Seorang nabi juga memiliki kebebasan pribadi dalam menerima panggilan
Tuhan, bisa saja mereka menolak panggilan Tuhan untuk memberikan nubuat kepada
manusia.
Kisah panggilan Nabi Yesaya bisa menunjukkan bagaimana kepribadian sang nabi
sangat berpengaruh dalam menangkap Firman dari Tuhan. Dalam kitabnya, Tuhan berkata
“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” kata-kata Tuhan ini
bukanlah suatu kalimat perutusan yang diutarakan kepada nabi Yesaya. Pertanyaan ini justru
mengandaikan kepekaan dari Nabi Yesaya dan kepekaannyalah yang membuat dia bersedia
menawarkan dirinya untuk menjadi seorang utusan Tuhan, meskipun dia sendiri tidak tahu
untuk apa dan kepada siapa dia diutus.6 Dan atas pertimbangan pribadinya, Yesaya akhirnya
menanggapi pertanyaan Tuhan ini dengan kalimat, “ini aku, utuslah aku” Hal ini
merupakan keputusan personal yang diutarakan nabi Yesaya sebab iman dan pengalamannya
akan Allah.7
Dalam kisah penglihatan Nabi Yesaya (Yes. 6:5), kita ditunjukkan bagaimana reaksi
Nabi Yesaya saat ditampakki oleh malaikat. Ia sadar bahwa ia berada dalam keadaan yang
nyaris mati, celaka dan takut sebab ia berhadapan dengan Tuhan balatentara yang kudus.
Yesaya sadar bahwa ketakutan yang dialaminya disebabkan oleh ketidaksempurnaannya
secara moral di hadapan Tuhan sehingga ia pun mengakui dosanya dan dosa Bangsa Israel
bahwa mereka yaitu orang-orang yang najis bibir.8
Kata ‘najis’ mengungkapkan ketidaklayakan untuk diterima di hadirat Tuhan sebab
keadaan fisik yang sudah terkontaminasi oleh hal yang najis.9 Yesaya menyadari bahwa
Tuhan yaitu pribadi yang kudus yang terpisah darinya dan bangsanya, bukan sebab
melalaikan peribadatan, tetapi sebab keberadaan Tuhan yang sempurna secara moral dan
menghukum umat-Nya yang najis.10 Kesadaran akan dosanya dan dosa bangsanya
menunjukkan intropeksi diri Yesaya bahwa ia tidak lebih baik dari orang-orang sebangsanya.
Sikap ini juga menunjukkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kekudusan Tuhan
yaitu mutlak.11
5. Nabi Yesaya dan Nubuatnya
Penglihatan Yesaya di Bait Suci Yerusalem mau menegaskan misinya untuk
menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel yang keras kepala (Yes. 6:9-13). Seperti
yang tertulis dalam kitabnya, misi yang dilakukan oleh nabi Yesaya tidaklah mudah Di satu
pihak, Yesaya harus menyampaikan firman Tuhan kepada Bangsa Israel, tetapi di lain pihak
Bangsa Israel tidak mau mendengarkan firman Tuhan, mereka menutup telinga, mata dan hati
mereka terhadap firman Tuhan (Yes. 6:10) Kendati demikian, Yesaya tidak menyerah (Yes.
8:16), melainkan ia tetap memperingatkan Bangsa Israel akan kejahatan mereka dan
hukuman yang akan menimpa mereka (Yes. 1:2-9), jika mereka tidak bertobat dan
berhenti berbuat jahat (Yes. 1:16-20).
Sembari memberi nubuat kepada Bangsa Israel mengenai ancaman hukuman bagi
mereka yang tidak mau bertobat, Yesaya juga menubuatkan janji keselamatan bagi bangsa
Israel yang mau bertobat.12 Nubuat tentang pemulihan kembali bangsa Israel yang tidak mau
mendengar firman Tuhan diyakini sebagai nubuat yang pasti terwujud, sebab Allah akan
mengembalikan para hakim dan para penasehat mereka seperti dahulu (Yes. 1:26a). Sesuai
dengan janji-Nya kepada Daud (2 Sam. 7:12-16), Tuhan akan membangkitkan seorang raja
dari keturunan Daud (Yes. 11:1), yang akan mendasarkan dan mengokohkan kerajaan
Yehuda dengan keadilan dan kebenaran untuk selama-lamanya (Yes. 9:6).13
Nubuat Yesaya tentang kelahiran seorang raja ideal dari keturunan Daud sangatlah
penting, sebab dari nubuat itulah muncul sebuah harapan akan kedatangan Raja Mesias,
yang akan menuntun Bangsa Israel menuju pertobatan dalam naungan Tuhan. Nubuat tentang
kehadiran raja ideal ini tertulis dalam Yes. 7:10-17; Yes. 9:1-6; dan Yes. 11:1-10.
saat raja Ahaz mengalami situasi yang terdesak dan ketakutan saat menghadapi
peperangan, Yesaya menyerukan agar mereka jangan takut, melainkan harus tetap tinggal
tenang dan percaya teguh pada perlindungan Tuhan. Dengan demikian Yesaya meneguhkan
hati mereka dengan menubuatkan kelahiran seorang anak laki-laki yang akan dinamakan
‘Immanuel’ yang berarti ‘Allah beserta kita’. Dari situ anak laki-laki ini menjadi
pertanda bahwa Allah selalu menyertai mereka (Yes. 7:11), sehingga mereka tidak perlu takut
akan bahaya apapun, sebab kelahiran anak laki-laki ini juga menjadi penjamin
keselamatan bagi mereka (Bangsa Israel).
Istilah mengenai nabi palsu tidak banyak diperdebatkan dalam sejarah Bangsa Israel.
Akan tetapi permasalahan mengenai nabi palsu ini memang cukup kompleks, entah itu sebab
dari sisi manusianya maupun dari sisi Allah sendiri. Kita tidak bisa langsung memberi label
bahwa nabi itu dikatakan sebagai nabi palsu sebab tidak ada kriteria yang memadai
mengenai nabi palsu, bahkan dalam Perjanjian Lama pun tidak menjelaskan secara detail
mengenai nabi palsu.
Nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan merupakan nabi yang secara pribadi mengalami
sendiri perjumpaan dengan Tuhan dan menerima panggilan dari Tuhan itu secara langsung.
Nubuat yang diberikan para nabi kepada bangsa ataupun orang lain merupakan nubuat dari
Tuhan sendiri, seperti yang banyak ditulis dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi tidak semua
nubuat dari para nabi itu dapat dialami langsung oleh orang yang menerima nubuat ini .
Nubuat memang menjanjikan sesuatu yang baik kepada orang yang menerimanya, akan tetapi
jika janji ini tidak ditemukan, tentu orang ini akan merasa kecewa dan
menganggap orang yang bernubuat ini sebagai nabi palsu.
Dalam konteks sejarah bangsa Israel persoalan mengenai nabi palsu sebenarnya tidak
menjadi perdebatan yang serius bagi seluruh bangsa Israel, khususnya sesudah pembuangan.
Dalam PL sendiri hanya mengingatkan bangsa Israel untuk berhati-hati terhadap nabi palsu.
Itupun hanya sebagian kecil orang yang mengalami kekecewaan sebab pengharapan yang
diberikan oleh para nabi.15
7. Nabi Yesaya dan Konteks Sejarahnya
Nabi Yesaya hidup pada zaman pemerintahan Raja Ahaz (736-716 SM). Pada
zamannya, raja Ahaz mendapat penilaian jelek dalam tradisi deuteronomis. Dalam Kitab
Raja-raja dituliskan “Ia tidak melakukan apa yang benar di mata Yahweh Allahnya, seperti
Daud bapa leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakukan raja-raja Israel” (2 Raj. 16:2-3).
Penilaian jelek itu dilatarbelakangi peristiwa peperangan yang terjadi antara Israel dan Siria.
Situasi perang itulah yang juga melatarbelakangi warta kenabian Yesaya. Berhadapan dengan
raja Ahaz yang tidak percaya kepada Allah, maka Yesaya tampil sebagai nabi yang
memberikan kepercayaan kepada rajanya.16 Yesaya mewartakan nubuatnya yang termasyhur
mengenai Immanuel yang berarti ‘Allah beserta kita’.
Pelayanan Yesaya berkisar dari sekitar 740 hingga 680 SM (Yes. 1:1), dan kitab
Yesaya memuat tulisan-tulisan nubuat yang ditulis sepanjang periode ini. Ia memulai
pelayanannya menjelang akhir pemerintahan Uzia (790–739 SM) dan berlanjut hingga
pemerintahan Yotam (739–731 SM), Ahaz (731–715 SM), dan Hizkia (715–686 SM).
Yesaya hidup lebih lama dari Hizkia beberapa tahun sebab masih mencatat kematian
Sanherib pada tahun 681 SM (Yes. 37:37-38). Hizkia digantikan pada tahun 686 SM oleh
putranya yakni Manasye, yang menggulingkan penyembahan kepada Yahweh dan menentang
pekerjaan Yesaya.
Dari peristiwa ini , dapat disimpulkan bahwa ada berbagai macam situasi yang
terjadi pada zaman Nabi Yesaya. Pertama, terjadi kemerosotan hidup keagamaan Bangsa
Israel di Kerajaan Yehuda, praktek penyembahan berhala terus terjadi pada saat itu. Sembari
beribadat kepada Tuhan di Yerusalem, bangsa Israel juga pergi mempersembahkan dan
membakar kurban di tempat-tempat pemujaan berhala. Kedua, terjadi krisis politik besar di
kerajaan Yehuda. Krisis politik pertama terjadi pada akhir zaman pemerintahan Raja Yotam
dan pada awal zaman pemerintahan Raja Ahaz, yaitu timbul peperangan antara koalisi
Kerajaan Aram dan Kerajaan Israel melawan kerajaan Yehuda. Krisis politik kedua terjadi
pada zaman pemerintahan Raja Hizkia, yang memutuskan untuk memberontak terhadap Raja
Asyur.17 Dalam konteks kemerosotan agama dan krisis politik inilah yang menempatkan Nabi
Yesaya sebagai nabi yang diutus Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan ini .
8. Refleksi Teologis
Dari pemahaman singkat mengenai Nabi Yesaya ini dapat dipetik sebuah refleksi
mengenai seluk beluk kehidupan seorang nabi. Dari kisah nabi Yesaya ini kita bisa melihat
bagaimana kita diberi pemahaman mendasar mengenai istilah nabi sebagai orang yang diutus
oleh Allah dan juga dikatakan sebagai pelihat sebab mereka telah menubuatkan sesuatu yang
terjadi di masa yang akan datang. Demikian juga panggilan nabi Yesaya ini juga
dilatarbelakangi oleh konteks sejarah dan kepribadian yang melekat pada nabi Yesaya. Dapat
dikatakan bahwa panggilan nabi Yesaya merupakan peristiwa yang sangat menarik sebab
panggilannya juga berasal dari inisiatif Tuhan untuk mempertobatkan bangsa Israel,
menghibur mereka dan juga memberi harapan kepada mereka. Panggilan nabi Yesaya untuk
memberi nubuat ini bukanlah suatu perutusan yang mudah, ia sendiri bahkan tidak diterima
oleh bangsanya, mereka menutup diri terhadap pewartaan Nabi Yesaya.
Bercermin dari panggilan nabi, mungkin ada di antara kita yang dipanggil Tuhan
dengan memiliki karakter pelayanan seperti yang dimiliki oleh Yesaya. Dalam pelayanan
yang di lakukan, mungkin bukan umat semakin bertumbuh secara rohani, tetapi semakin buta
terhadap hal-hal rohani. Mungkin juga mengalami perasaan tidak disenangi dan ditolak oleh
umat yang dilayani. Tentu hal ini akan memberatkan hati kita dalam melakukan pelayanan.
Dari sini kita bisa meyakinkan diri bahwa pelayanan kita dijamin oleh penyertaan Tuhan
jika itu dijalani dengan tulus. Dengan penyertaan Tuhan kita semakin disadarkan bahwa
keberhasilan pelayanan dalam konteks nabi Yesaya ini yaitu menghasilkan umat yang
kudus. Penting unutk memelihara umat yang hidup dalam kekudusan, sehingga meskipun
dalam jumlah sedikit, mereka yaitu umat yang berkenan kepada Tuhan.