liban Yeshua tiga hari sebelumnya, Tuhan sendiri
muncul di samping mereka dan mengajar mereka dari Kitab Suci Yahudi. “Dan
Dia menjelaskan kepada mereka hal-hal mengenai diri-Nya di dalam seluruh
kitab-kitab yang dimulai dari Mosheh dan dari seluruh Para Nabi” (Luk. 24:13-
36). Sekali lagi, sebagai pengikut-Nya, kita juga harus bisa menceritakan
bagaimana Yeshua disingkapkan di dalam Kitab Suci Yahudi.
4. “Gereja” lahir pada hari raya Yahudi Shavu’ot (Pentakosta) di antara orang-orang
Yahudi di Yerusalem. Khotbah Petrus selama perayaan itu (Kis. 2:1-41) seluruhnya
yaitu Yahudi, banyak mengutip dari para nabi dan David, yang tidak akan berarti
apa-apa bagi Goyim (orang-orang bukan Yahudi) yang dapat mendengarnya (jika
hadir). sebab itu, sepertinya 3000 orang yang diselamatkan pada hari itu
semuanya yaitu orang Yahudi. Para anggota gereja baru yang paling mula-mula
bertemu secara teratur di Bait Suci, tempat di mana Goyim (orang-orang bukan
Yahudi) secara eksplisit dilarang (Kis. 2:46). Perhatikan bahwa rasul Petrus dan
Yohanes tercatat pergi ke Bait Suci untuk berdoa pada waktu kurban minchah
(sore) (Kis. 3:1), dan pelayanan mereka berlanjut secara eksklusif di antara orang-
orang Yahudi, “yang di antaranya ada puluhan ribu orang Yahudi yang telah
menjadi percaya dan berapi-api bagi Torah” (Kis. 21:20). Bahkan sesudah mereka
dipenjara namun secara ajaib diloloskan, seorang malaikat berkata-kata kepada mereka,
“Pergilah, berdirilah di Bait Suci dan beritakanlah segala firman hidup ini kepada
bangsa itu,” (Kis. 5:20).
Penglihatan Petrus dan kunjungannya ke rumah Kornelius, seorang ger tzeddeq
(“orang asing yang takut akan Elohim”) yang menghadiri sinagoga dan
menjalankan kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi Yahudi (Kis. 10),
menyebabkan krisis hati nurani bagi Petrus. Pertama, dalam penglihatannya dia
mengatakan bahwa dia tidak akan pernah memakan binatang yang “tidak kosher”
yang diperlihatkan kepadanya, dan kedua, dia memiliki keraguan bahkan untuk
memasuki rumah orang non-Yahudi. Ini menunjukkan, antara lain, betapa
mendalamnya Petrus dalam menjaga Torah, bahkan setelah menghabiskan tiga
tahun di bawah pengajaran Yeshua.
5. Belakangan, saat Konsili Yerusalem menulis surat mereka kepada Goyim
(orang-orang bukan Yahudi) mengenai hubungan mereka dengan Torah, mereka
menasihati mereka untuk pertama-tama berpantang terhadap hal-hal yang akan
membuat mereka menjadi kejijikan bagi orang-orang Yahudi, dengan asumsi
bahwa mereka nantinya akan berlanjut untuk belajar Torah Mosheh dan Kitab-
Kitab Suci Yahudi lainnya (Kis. 15:19-21), “Sebab, sejak dahulu, Kitab Mosheh
diberitakan di setiap kota, dan sampai sekarang Kitab itu dibacakan di sinagoga-
sinagoga pada setiap hari Shabbat.”
6. Rasul Paulus dibesarkan sebagai seorang Yahudi yang menjaga Torah, yang
belajar di bawah didikan Rabbi Gamaliel di Yerusalem (Kis. 22:3) – cucu dari
Rabbi Hillel yang terkenal. Rabbi Sha’ul (demikian Paulus biasa dipanggil) sudah
terkenal dalam kepemimpinan Yahudi pada zamannya, dan bahkan memiliki
hubungan dengan Sanhedrin dan Imam Besar Yisra’el (Kis. 9:1-2). namun bahkan
setelah pertobatannya di jalan menuju Damaskus (Kis. 9:1-21), ia masih
mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Yahudi. Dalam Kis. 23:6 ia mengaku,
“Aku yaitu (bukan “dulunya”) seorang Farisi.” Dia bahkan menyatakan bahwa
sehubungan dengan ketaatan kepada Torah, dia “tidak bercela”, yang
menunjukkan bahwa dia menjaga gaya hidup Yahudi sampai hari kematiannya
(Flp. 3:6). Paulus bersaksi bahwa dia menjaga Torah sepanjang hidupnya (Kis.
25:7-8, lihat juga Kis. 28:17).
Paulus mengambil sumpah Nazir (Kis. 18:18), hidup “dalam ketaatan Torah” (Kis.
21:23-24), dan bahkan mempersembahkan kurban-kurban di Bait Suci Yahudi
(Kis. 21:26). Perhatikan bahwa Paulus tidak hanya membayar kurban-kurbannya
sendiri untuk dilepaskan dari sumpah Nazirnya, namun juga membayar kurban-
kurban untuk empat orang percaya Yahudi lainnya! Perhatikan juga bahwa ini
dilakukan atas permintaan khusus Yakobus, kepala Gereja Yerusalem (dan
saudara tiri Yeshua).
Paulus secara teratur menghadiri sinagoga. “Mereka tiba di Tesalonika, tempat
yang ada sinagoga orang-orang Yahudi. Dan sebagaimana yang biasa bagi
Paulus, ia masuk ke antara mereka. Dan selama tiga Shabbat ia bertukar pikiran
dengan mereka tentang kitab suci” (Kis. 17:1-2).
saat Paulus menulis kepada gereja-gereja Goyim (non-Yahudi), “Semua
tulisan suci diilhami Elohim dan bermanfaat untuk pengajaran, untuk teguran,
untuk perbaikan, untuk pendidikan dalam kebenaran, sehingga manusia Elohim
yang diperlengkapi untuk setiap pekerjaan baik dapat menjadi sempurna” (2 Tim.
3:16-17), tentu saja dia merujuk kepada Kitab-kitab Suci Yahudi, sebab Perjanjian
Baru waktu itu belum disusun bagi gereja Kristen.
Bahkan, untuk memahami tulisan-tulisan Paulus, kita perlu mengingat
pelatihannya sebagai seorang Rabbi saat dia mengutip Kitab Suci dalam tulisan-
tulisannya. Misalnya, saat dia menulis, “Dan mereka semuanya telah minum
minuman rohani yang sama; sebab mereka meminum dari batu karang rohani
yang mengikuti mereka; dan batu karang itu yaitu Mesias” (1 Kor. 10:4), dia
mengutip dari sebuah cerita yang belakangan dituliskan di dalam Talmud (yaitu,
bahwa sejak saat Mosheh memukul batu karang di Horev dan mengeluarkan air
hingga kematian Miryam (Kel. 20:1), batu karang pemberi air ini “mengikuti anak-
anak Yisra’el melalui padang gurun dan menyediakan air bagi mereka setiap hari”
(Taanit, 9a dan Bava Metizia, 86b).
7. Banyak denominasi Kristen mengaku percaya pada otoritas baik Kitab Suci
“Perjanjian Lama” dan Perjanjian Baru, sementara secara fungsional
menyingkirkan studi Torah ke tumpukan debu sejarah. Jika Kitab-kitab Suci
Yahudi dianggap serius sepenuhnya, tradisi-tradisi denominasi ini berusaha untuk
menjelaskan pembacaan mereka (contohnya, janji-janji perjanjian yang dibuat
kepada etnis Yisra’el) dan merampas maksud teks tersebut sebagai hanya berlaku
semata-mata kepada Gereja.
Ini picik dan tidak konsisten, sebab mustahil untuk memahami tulisan-tulisan
Perjanjian Baru (termasuk Gereja itu sendiri) sementara mengabaikan konteks
budaya dan theologis yang menjadi bagiannya. Selain itu, harus diingat bahwa teks
Yunani dari Perjanjian Baru memperoleh otoritas dan kebenarannya dari Kitab-
kitab Suci Yahudi, dan bukan sebaliknya.
Dengan kata lain: Meskipun memungkinkan bahwa Kitab-Kitab Suci Ibrani itu
benar dan Kitab-Kitab Suci Yunani itu tidak, yaitu mustahil bagi Kitab-Kitab
Suci Yunani itu benar jika Kitab-Kitab Suci Ibrani itu tidak.
Banyak ahli theologi Kristen mundur sampai sejauh hal ini, membaca Perjanjian
Baru (dan khususnya pemikiran-pemikiran tertentu yang dianggap berasal dari
Rasul Paulus) sebagai filter interpretasi untuk mempelajari teks Ibrani. Para ahli
theologia dengan tradisi-tradisi Barat ini harus secara sadar mengingat ucapan, “a
text without a context is a pretext”; “sebuah teks tanpa konteks yaitu dalih” dan
bertobat dari ajaran-ajaran sesat mereka tentang “Replacement Theology”
(Theologi Penggantian) dan sikap anti-Semitisme.
Jadi benar, untuk alasan ini (dan banyak alasan lainnya), penting, bahkan vital, bagi
orang Kristen untuk mempelajari Torah sebagai bagian dari seluruh nasihat Elohim (2
Tim. 2:15).
Namun perlu dicatat, bahwa artikel ini tidak mendukung doktrin salah bahwa
orang Kristen dibenarkan (atau minimal, dikuduskan) oleh syarat-syarat perjanjian yang
diberikan di Sinai (yaitu, sefer habrit yang diberikan kepada Mosheh dan disahkan oleh
70 tua-tua Yisra’el). Tidak, pandangan itu salah sebab berbagai alasan (yang akan
dijelaskan dalam artikel Olam HaTorah). Artikel ini hanya menyatakan bahwa orang
Kristen seharusnya “sadar Torah” dan menganggap serius pembacaan sederhana,
konteks, dan maksud dari Kitab Suci Yahudi saat kata-kata Yeshua dan para rasul-Nya
dibaca. Hanya dengan demikian Kitab Suci Perjanjian Baru akan dipahami dalam
konteks interpretasi yang tepat.
Kita semua – apakah lahir sebagai orang Yahudi atau bukan – menjadi bagian dari
mishpachah (keluarga) Elohim terkasih melalui kasih dan anugerah Elohim yang
diperluas melalui Putra-Nya Yeshua. Dialah satu-satunya Juruselamat dan Pembela kita,
dan tidak ada zechut (jasa) atau kapparah (penutupan pendamaian) lain di hadapan
YHVH selain di dalam Yeshua. Mereka yang menolak Yeshua, binasa secara rohani – baik
mereka yang dilahirkan sebagai orang Yahudi atau bukan (1 Yoh. 5:12).
Semua ini mengarah kepada pertanyaan terkait:
Bagaimana Kita Dapat Menjadi Murtad dari YHVH?
Itu terjadi secara perlahan-lahan, dalam tahapan-tahapan yang halus. Si Jahat tidak
datang kepada kita di suatu hari dan langsung berkata-kata , “Berhentilah mempelajari Kitab
Suci,” sebab dia tahu kita akan segera menolak ini sebagai anjuran jahat. Tidak,
sebaliknya dia datang dan memberi tahu kita bahwa kita tidak perlu belajar terlalu dalam,
“Lagi pula, TUHAN Yesus mengasihi kamu dan telah menyelesaikan masalah dosa-
dosamu dengan kasih karunia-Nya, jadi kamu bisa tenang, bukan? Sudah memperoleh
jaminan keselamatan.” “Kamu tidak bisa dibenarkan di hadapan Tuhan dengan
perbuatan-perbuatan baikmu,” desisnya, “Jadi mengapa harus repot-repot belajar
Torah? Biar pendeta dan ahli theologia saja yang belajar seperti Torah itu!”
Sesudah beberapa waktu, kita belajar semakin sedikit, semakin malas, sampai akhirnya
kita sama sekali meninggalkan pelajaran Kitab Suci yang serius (walaupun kadang-
kadang masih membaca renungan harian). Kita tidak berpikir bahwa ini seharusnya
membuat kita khawatir, bagaimanapun, sebab kita masih menghadiri ibadah dan
“berusaha menjadi orang baik” dengan menghindari dosa yang lebih besar.
Namun, gaya hidup seperti ini pada akhirnya mengarah kepada kemurtadan, sebab
tanpa mempelajari Kitab Suci sebagai prioritas utama kita, kita akan segera melupakan
panggilan TUHAN dalam hidup kita. Dosa-dosa kecil dengan segera tidak lagi terlalu
mengganggu kita; dan kita mendapati diri kita berkompromi di sana-sini, dengan hati
yang terbagi-bagi terhadap hal-hal yang biasanya membuat kita mengernyitkan dahi...
Kita mulai lupa bahwa kita selalu berjalan di atas tempat suci di hadapan Hadirat YHVH,
dan hidup kita akan menjadi semakin dan semakin najis dan diluar jangkauan dari rasa
takut akan Elohim. Menghadiri ibadah akan segera menjadi bukan keharusan, meskipun
kita memastikan akan menghadiri hari-hari raya besar, setidaknya supaya kelihatan
beribadah. Kemudian dosa-dosa yang lebih besar datang, dan bersama mereka datanglah
masalah, rasa kesal, rasa malu, putus asa, dan rasa “keterasingan” dari Yeshua.
Keluarga kita akan melihat hal ini. Begitu juga sahabat-sahabat kita. Kesaksian dan
pengakuan kita akan ternoda. Segera anak-anak kita akan berpikir bahwa belajar Kitab
Suci dan ketaatan kepada Firman Elohim yaitu “pilihan gaya hidup”, dan mereka akan
tergelincir lebih jauh ke dalam gaya hidup mereka sendiri yang malas, najis dan terasing
dari Tuhan (חס־ושלום khas-vesholem—kiranya Surga melarang).
Penyembuhan untuk kejatuhan kepada kemurtadan ini yaitu kembali kepada Torah
(instruksi) dan Kitab Suci-Nya, dan dengan mempelajarinya dengan segenap hati, jiwa,
pikiran, dan kekuatan kita...
Ingatlah akan perintah yang pertama dan terbesar-Nya:
ָך׃ ֹאֶדֶֽ ָכל־מְׁ ָך ּובְׁ שְׁ ָכל־ַנפְׁ ָך ּובְׁ ָבבְׁ ָכל־לְׁ הָוה ֱאֹלֶהיָך בְׁ ָת ֵאת יְׁ ָאַהבְׁ וְׁ
ve’ahavta ‘et Adonai ‘eloheikha bekhol levavekha uvekhol nafshekha uvekhol me’odekha
Lagipula, bukankah Amanat Agung TUHAN Yeshua yaitu menjadikan bangsa-bangsa
itu murid-murid-Nya? Dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang Dia
perintahkan? (Mat. 28:19-20)
Memelihara Torah: Kembali Kepada Perjanjian
Sinai?
Beberapa orang, sesudah menemukan sukacita dalam akar Ibrani dari iman mereka,
ingin membawanya kepada “tingkatan berikutnya” dengan menjadi “pemelihara Torah,”
yang artinya mereka wajib mengikuti perintah-perintah yang ada dalam tulisan-tulisan
Mosheh, dan diinterpretasikan oleh otoritas-otoritas Rabbinik tertentu sebagai
halakhah, atau “cara berjalan” dalam kehidupan Yahudi. Posisi ini disebut “neo-
Ebionisme,” dinamakan sesuai sekte orang Ebionit yang, meskipun mereka tampaknya
menerima Yeshua sebagai Mesias, menolak ajaran-ajaran Paulus dan bersikeras bahwa
tulisan-tulisan Mosheh harus ditaati dengan ketat bagi pengikut Yeshua yang sejati.
Orang Neo-Ebionit akan berkata-kata bahwa sebab Yeshua dan para pengikut-Nya yang
mula-mula yaitu “pemelihara Torah”, kita juga harus demikian. Mereka akan
menunjukkan bahwa satu-satunya referensi dalam Tanakh untuk perjanjian baru (brit
chadashah) yaitu dalam Yeremia 31:31-34, di mana dinyatakan dengan jelas bahwa
YHVH akan memberikan Torah-Nya di bagian dalam kita dan akan menuliskannya pada
hati kita:
ֲתֶבָנהָנַתִתי ַעל־ִלָבם ֶאכְׁ ָבם וְׁ ִקרְׁ ֹוָרִתי בְׁ ֶאת־תֶֽ
natatti ‘et-torati beqirbam ve’al-libbam akhtavennah
Kemudian Matius 5:17-20 akan dikutip sebagai teks bukti bahwa Yeshua secara eksplisit
mengajar para pengikut-Nya untuk memelihara perintah-perintah Mosheh (yaitu,
Torah):
ה ּתֹור
ים יאִׁ נ בִ
ים ּסֹופ רִׁ ים פ רּושִׁ
ִׁם י מ ַהש ַמל כּותֶ
Segera sesudah mengatakan hal-hal ini, Yeshua melanjutkan dengan menjelaskan apa
yang Dia maksudkan dengan berkata-kata bahwa kebenaran kita harus melebihi kebenaran
para ahli Torah dan orang Farisi. “Kamu telah mendengar apa yang telah dikatakan
kepada mereka pada zaman dahulu... namun Aku berkata-kata kepadamu...” (Mat. 5:21-48).
namun perhatikan bahwa dalam setiap kasus Yeshua mengambil p'shat (makna lahiriah)
dari perintah itu dan memindahkannya ke dalam, ke “bagian dalam”, dengan
“menuliskannya pada hati kita”:
Lama (ditulis pada loh-loh batu) Baru (ditulis pada hati)
Jangan membunuh (Kel. 20:13; Ul. 5:17) Jangan marah / dendam (Mat. 5:21-24)
Jangan berzinah (Kel. 20:14; Ul. 5:18) Jangan bernafsu kepada (Mat. 5:22-32)
Jangan bersaksi palsu (Kel. 20:16; Ul.
5:20)
Kejujuran yang sederhana (Mat. 5:33-37)
Keadilan mata ganti mata (Kel. 21:24) Pengampunan (Mat. 5:38-42)
Kasihi sesama; bencilah musuh (Im.
19:18)
Kasihi semua orang (Mat. 5:43-48)
Kebenaran luar Kebenaran di dalam (Mat. 6:1-4)
Doa yang dirumuskan Doa yang tersembunyi (Mat. 6:5-6)
Religiusitas yang mencolok Puasa yang tersembunyi (Mat. 6:16-18)
Bagian luar Batiniah (Mat 7:12)
Batiniah, dan Bukan Lahiriah
Jelaslah bahwa midrash Yeshua mengenai perintah-perintah ini dimaksudkan untuk
mengalihkan fokus dari kebenaran yang hanya berupa tampilan lahiriah (seperti yang
dipengaruhi oleh beberapa pemimpin Yahudi pada zaman Yeshua) menuju kepada
motivasi hati secara batiniah. Dalam pengertian inilah kebenaran kita harus melampaui
bentuk-bentuk ketaatan lahiriah yang terperinci seperti yang dipraktekkan oleh para ahli
Torah dan orang Farisi. Yeshua meletakkan Torah ke bagian dalam dan menuliskannya
pada hati kita.
Bahkan, Yeshua mengutarakan kata-kata keras bagi orang-orang Yahudi yang berpegang
pada “tradisi-tradisi para tua-tua”, namun “membuat tidak berlaku firman Elohim” demi
tradisi Yahudi:
ּסֹוְפִרים ְפרּוִשים
Matius 23:2-3 yaitu teks bukti lain yang akan dikutip oleh seorang neo-Ebionit untuk
mendukung pandangan bahwa para pengikut Yeshua harus menjalankan ajaran para
rabbi:
ּסֹוְפִרים ְפרּוִשים
Sepintas tampaknya Yeshua mengatakan bahwa para pengikut-Nya harus
mempraktekkan dan memelihara tradisi-tradisi Yahudi sebagaimana yang diuraikan
ahli-ahli Torah dan orang-orang Farisi. Namun, saat kita membaca dengan cermat
konteks dari perikop ini, kita memperhatikan bahwa kata-kata ini tidak diragukan lagi
menunjukkan ironi dan cemoohan sebab mereka hanya menampilkan kebenaran luar
yang mereka tunjukkan secara lahiriah (Mat. 23:13-36). Jika Yeshua benar-benar
bermaksud agar para pengikut-Nya mempraktekkan dan memelihara apa yang diajarkan
para ahli Torah dan orang Farisi, mengapa Dia terus mengecam mereka sebagai orang
munafik yang “menutup kerajaan surga di hadapan orang-orang,” melakukan “kepura-
puraan” dalam doa-doa mereka yang panjang, dan melakukan perjalanan panjang
menyeberangi lautan untuk membuat satu orang petobat menjadi “anak neraka” yang
dua kali lipat dari diri mereka sendiri? Apakah Yeshua ingin kita mempraktekkan dan
memelihara hal-hal semacam ini? Sebaliknya, keseluruhan konteks perikop ini
menunjukkan bahwa para pengikut Yeshua tidak boleh tunduk pada otoritas mereka.
Interpretasi ini lebih lanjut dibuktikan dengan pernyataan Yeshua bahwa kita harus
tunduk kepada-Nya saja sebagai Guru dan tidak boleh menyebut siapa pun “rabbi,”
sebutan tradisional para pemimpin Yahudi saat itu (Mat. 23:8).
Perjanjian dan Torah
Sebenarnya, Torah itu apa? Seperti diketahui, kata itu sendiri berasal dari akar kata yang
artinya “arah”, atau “tujuan”, atau “instruksi”. namun bukankah semua istilah ini relatif
terhadap sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mendasar sebagai tujuan atau “gol” dari
instruksi semacam itu? Lagipula, apa artinya memberi instruksi atau mengarahkan
seseorang tanpa tujuan? Apakah Anda akan menghadiri sebuah kelas pengajaran jika
tidak ada pengetahuan yang disampaikan? Apakah Anda akan membaca peta yang
memiliki petunjuk arah yang tidak mengarah ke mana pun?
Jadi, apa tujuan dari Torah? Bukankah – pada akhirnya – diperdamaikan dengan
Elohim, berada dalam hubungan yang hidup dengan Dia, singkatnya, berada dalam
persekutuan yang penuh kasih dengan Dia? Tapi bagaimana itu bisa dilakukan? Apakah
melalui perilaku “mengikuti aturan”, atau adakah hal lain yang perlu disediakan untuk
mencapai tujuan ini?
Bukankah “Torah” pada dasarnya yaitu tanggapan manusia terhadap “sesuatu yang
lain”, dan bukankah hal yang lebih mendasar ini yaitu perjanjian Elohim?
Torah yaitu fungsi dari perjanjian – sebagai tanggung jawab manusia – dan sebab itu
Torah telah berubah dalam terang perjanjian Elohim yang berbeda. Misalnya, para
patriark paling awal – dari Adam hingga Noah hingga Avraham – semuanya menjalankan
Torah dalam artian bahwa mereka berhubungan dengan Elohim melalui perjanjian.
Pertimbangkan bahwa Noah, Avraham, dan bahkan Mosheh sendiri mempersembahkan
kurban darah kepada Elohim sebelum Torah tambahan diberikan di Sinai (Kel. 5:3).
Mengingat perbedaan ini, kita perlu membatasi topik dan mengajukan pertanyaan:
Apakah kita terikat untuk memelihara syarat-syarat perjanjian yang dibuat dengan
Yisra’el di Sinai, atau apakah memang ada perjanjian baru yang telah diberlakukan
dengan cara yang mana kita sekarang dapat mendekat kepada Elohim? Dengan kata lain,
apakah kehidupan, pengurbanan kematian, dan kebangkitan Yeshua hanyalah sarana
untuk memperbaharui hubungan perjanjian Sinai dengan Elohim, atau apakah itu
merupakan jalan yang benar-benar baru untuk ada dalam hubungan dengan Dia?
Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan apa yang kita maksud
dengan “Torah” dan tanggung jawab perjanjian kita di hadapan YHVH.
Sekarang apa yang Yeshua ajarkan kepada kita tentang perjanjian baru dengan Elohim?
Apakah Dia fokus pada ritual, doa wajib atau tradisi-tradisi para tua-tua sebagai sarana
memelihara Torah? Tidak, Dia mengatakan bahwa Torah dijalankan oleh tanggapan hati
kita terhadap kematian dan kebangkitan pengurbanan-Nya bagi kita, dan ditunjukkan
dengan mengasihi Elohim dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita, dan
dengan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. “Pada kedua perintah ini,” kata-
Nya, “tergantung seluruh hukum dan para nabi” (Mat. 22:35-40; lihat juga Yoh. 15:12-
14).
Dengan kata lain, mengasihi Elohim dan sesama yaitu sasaran atau maksud dari Torah,
dan, seperti yang ditulis Paulus dalam Roma 13:10, “Kasih yaitu penggenapan hukum”
(lihat juga Gal. 5:14).
ܐ ܵ ܹ݁ܗ ܚܲܘܒ ܪܼܝܒ ܐ ܠܼܩܲ ܵ ܼܝܫܬ ݂ ܒ
ܵ
ܪ ܠ ܐ ܸܡܼܛܠ ܵܣܼܥܲ ܵ ܚܲܘܒ ܼܝܗ ܕ
ܵ
ܵܢܡܲܘܵܣܐ ݈ܗܲܘ݂ ܡܲܘܠ ݂܀ ܕ
chubba l’qariveh bishta la sa’ar metul d’chubba mulayeh hu d’namusa
ܠܹ݁ܗ ܼ ܝܪ ܟ ܹ݁ ܵܐ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܓ ܚܕ ܼܲ ݂ܐ ܒ ܵ
݂ ܸܡܠܬ ܠܹ݁ ܼܡܲ ܵܗܝ ܸܡܬ ݂ ܒ ܸܚܒ
ܲ
ܼ ܬ ݂ ܕ ܟ ܵ ܪܼܝܒ ݂ ܠܼܩܲ ܝܟ ݂ ܼܐܲ ܵܫܟ ܦ ݂܀ ܼܢܲ
kulleh geir namusa bachda melta metmale b’hay d’tachev l’qarivakh eikh nafshakh
Torah Yeshua yaitu kasih. saat kita benar-benar mengasihi Elohim dan sesama kita,
oleh fakta itu kita menggenapi maksud dari berbagai peraturan, keputusan, dan
ketetapan seperti yang terdapat dalam tulisan-tulisan Mosheh. Maka dalam pengertian
ini, dan berdasar janji-janji perjanjian baru yang kita miliki di dalam Yeshua, kita
sungguh-sungguh memiliki arah, tujuan, dan instruksi untuk perjalanan hidup.
Halakhah Yeshua yaitu jalan kasih, dan kasih ini sepenuhnya melampaui peranan
tingkah laku mentaati aturan sebagai cara kita untuk benar-benar berkomunikasi dengan
Elohim dan dengan sesama kita.
Olam HaTorah
Belas Kasihan Mengalahkan Penghakiman
ܘ ܸܙܠܘ ܦ
ܲ
ܐ ܚܵܢܵܢܐ ܵܡܼܢܲܘ ܼܝܼܠ ܥܹ݁ ܵ ݂ ݈ܐܵܢܐ ܒ
ܵ
ܐ ܘܠ ܵ
ܚܬ ܒ ܸ
݂ ܕ
ܵ
ܝܪ ܠ ܹ݁ ݂ ܓ ܼܝܬ ݂ܐ ܸܐܬ ܐܩܪܹ݁ ܸ
ܐ ܕ ܼܝܩܹ݁ ܕ
ܠܼܙܲ
݂
ܵ
ܵܛܝܹ݂݁ܐ ܸܐܠ ݂܀ ܠܼܚܲ
zel yilaf manav chnana ba’e na v’la devchta la geir ‘etit deqre l’zaddiqe ‘ela l’chataye
Pengantar
Dalam Kitab Suci Ibrani, hukum YHVH (torat Adonai) mengacu pada pewahyuan
kehendak Elohim bagi umat manusia untuk hidup benar di hadapan-Nya dalam terang
realitas dan kekudusan-Nya:
ִשיַבת ָנֶפש ִמיָמה מְׁ הָוה תְׁ ִתי׃ תֹוַרת יְׁ ִכיַמת ֶפֶֽ הָוה ֶנֱאָמָנה ַמחְׁ ֵעדּות יְׁ
torat Adonai temimah meshivat nafesh ‘edut Adonai ne’emanah machkimat peti
ֵרי ה׃ ַאשְׁ הָוֶֽ תֹוַרת יְׁ ִכים בְׁ הֹלְׁ יֵמי־ָדֶרְך ַהֶֽ ִמֶֽ תְׁ
‘ashrei temimei darekh haholekhim betorat Adonai
Dengan berfungsi sebagai “kaca pembesar” dari kondisi rohani kita, Torah YHVH
menyingkapkan standar kehidupan ilahi yang dituntut dari seorang tzaddiq (orang
benar) dan juga kebenaran tentang kebutuhan kita sendiri untuk dibebaskan dari diri kita
sendiri. Meskipun demikian, untuk dibenarkan di hadapan YHVH, hukum sebagai
hukum menuntut agar kita hidup sebagai pribadi-pribadi yang sempurna secara moral,
tanpa memandang keturunan, kelemahan, status sosial, pendidikan, dan sebagainya.
הָוה ֱאֹלֵה דִֹשים ִכי ֲאִני יְׁ ִייֶתם קְׁ ֶתם ִוהְׁ ַקִדשְׁ ִהתְׁ יֶכם: וְׁ
vehitqadishtem vihyitem qedoshim ki ‘ani Adonai ‘eloheikhem
Seperti yang Yeshua sendiri katakan dalam Mat. 5:48:
ܘ ܝܠ ܗܼܘܲ ܹ݁ ܘ݂ܲܢ ܵܗܟ ݈ܢܬ ܐ ܼܐܲ ܡܼܝܪܹ݁ ܵܢܐ ܓ ܼܲ ܝܟ
ܘ݂ܲܢ ܼܐܲ ܲܘܟ ܐܒ ܲ
ܼ ܵܝܐ ܕ ܫܼܡܲ ܼܲ ܒ ܡܼܝܪ ܕ ܀ ݈ܗܘ݂ܲ ܓ
h’vav hakhil antun g’mire aykana davukun d’vashmaya g’mir hu
Dan seperti yang dikatakan Yakobus, orang Benar:
ܝܵܢܐ ܝܪ ܼܐܲ ܹ݁ ܠܹ݁ܗ ܓ ܼ ܟ ܪ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܕ ݂ܐ ܵܢܼܛܲ ܵ ܚܕ ܼܲ ܥ ܘܒ
ܲ
ܠܹ݁ܗ ܵܫܼܪ ܼ ݂ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܠܟ ܒ ܼܝܲ ܼܚܲ ݂܀ ܸܐܬ
ayna geir d’kuleh namusa natar v’vachda shara l’khuleh namusa etchayav
Memang, bahkan suara hati nurani kita memberikan kesaksian untuk suatu “keharusan”
untuk selalu melakukan apa yang kita tahu (secara intuitif) itu benar.
Rabbi Hillel berkata-kata , “Apa yang dibenci oleh dirimu sendiri, jangan lakukan itu pada
orang lain” (Mishnah, Avot).
ܠ ܼ ܝܢ ܵܡܐ ܟ ܹ݁ ܵܨܒ ܘ݂ܲܢ ܕ ܘ݂ܲܢ ܐ݈ܢܬ ܕ ܸܢܥܒ ܘ݂ܲܢ ܕ ܝ ܠܟ ܼܢܲ ܵܢܐ ݈ܐܵܢܵܫܐ ܒ ܼܲ ݂ ܵܗܟ ܘ݂ܲܢ ܵܐܦ ݈ܢܬ ܘ ܼܐܲ ܕ ܸ ܥܒ
ܝܪ ܵܗܼܢܲܘ ܠܗܘ݂ܲܢ ܹ݁ ܼܝܹ݁ܐ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܓ ܢܒ
݂܀ ܼܘܲ
kul ma d’tzaven ‘tun d’nebdun l’kun b’nay ‘nasha hakhana af antun ‘ved l’hun hanav geir
namusa vanviye
Aspek moral dari hukum diekspresikan secara konkret dalam luchot ha’even, loh-loh batu
bertuliskan Aseret Hadiberot – Sepuluh Perintah – dan merupakan persyaratan moral
mendasar yang diberikan oleh YHVH Elohim Yisra’el kepada umat-Nya.
Akan namun , hukum moral Elohim tidak berubah atau menyesuaikan diri terhadap
kelemahan dan kerapuhan umat manusia, dan untuk selamanya tetap berdiri sebagai
kebenaran dari tuntutan Elohim bagi jiwa manusia untuk tidak bercela di hadapan-Nya.
Jika kita tidak menyadari hal ini, itu sebab kita secara moral tertidur atau mati; namun,
saat kita sadar dan menjadi hidup, hidup itu sendiri menjadi tragis. Seperti yang
dikatakan Rasul Paulus, “Dan pada suatu waktu aku pernah hidup tanpa torah, namun
saat perintah itu datang, dosa hidup kembali dan aku mati” (Rom. 7:9).
Ini yaitu pengakuan akan kondisi keberdosaan kita, dan hal ini sendiri merupakan
anugerah dari surga, sebab tanpa kesadaran ini kita tidak akan pernah tahu kebutuhan
hati kita akan suatu pengharapan kekal yang dapat menanggulangi vonis hukuman
pembuangan dan kematian kekal yang ditempatkan atas kita semua... Kita tidak akan
pernah mengejar teshuvah (pertobatan).
Dalam tradisi Yahudi, hukum moral seringkali disamakan dengan Torah Mosheh, yaitu
613 mitzvot, mishpatim, dan chuqqim spesifik yang ditemukan dalam kumpulan tulisan
Mosheh. Dalam tradisi rabbinik, berbagai perintah, keputusan, dan ketetapan ini
selanjutnya dilengkapi dan didefinisikan oleh “Hukum Lisan”, yang dianggap mengikat
dalam agama Yahudi. Bahkan, dalam beberapa tradisi Yudaisme Ortodoks, klaim
tersebut bahkan lebih jauh lagi, bahwa Elohim sendiri terikat kepada Torah Mosheh sama
seperti seorang insinyur terikat pada cetak biru dari seorang arsitek.
Potensi sumber kebingungan mengenai status hukum Elohim yaitu meskipun benar
bahwa aspek moral yang mendasari Torah Mosheh itu memang tidak berubah (seperti
yang diteguhkan Yeshua sendiri), berbagai hukum seremonial dan sipil, yang merupakan
fungsi ekspresi perjanjian hukum, mungkin tidak demikian. Dengan kata lain, jika YHVH
membuat perjanjian baru dengan Yisra’el, maka, meskipun aspek moral dari hukum itu
akan tetap mengikat selamanya (misalnya, “kasihilah YHVH, Elohimmu” dan “kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”), ekspresi ritual dari perjanjian mungkin
mengalami perubahan, berdasar syarat-syarat perjanjian yang baru.
Artikel eksplorasi ini berusaha untuk menunjukkan bahwa Torah Mosheh, dengan
ekspresi perjanjian yang ditentukan di Sinai sebagai hukum seremonial dan sipil, tidak
dapat diubah dan dimiliki secara eksklusif oleh bangsa Yisra’el, namun tunduk kepada
tujuan dan rencana yang lebih besar dari YHVH untuk menebus seluruh umat manusia
dari kondisi terasing dan terhilang dari Dia.
Mendefinisikan Istilah-istilah
Pertanyaan tentang apakah “Torah” itu kekal dan tidak berubah, pertama-tama
mengharuskan kita mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah “Torah”. Berikut
yaitu beberapa cara untuk memahami istilah ini:
1. Torah sebagai tulisan Mosheh. Seringkali orang menganggap kata Torah
merujuk pada lima kitab pertama dari Alkitab Ibrani: Kejadian, Keluaran, Imamat,
Bilangan, dan Ulangan (kadang-kadang disebut “chumash.”). Di antara banyak
orang Yahudi Ortodoks, Torah secara harfiah mengacu pada huruf demi huruf
yang ditulis di atas perkamen kosher seperti yang didiktekan dari surga dan dicatat
dengan sempurna oleh Mosheh di atas Gunung Sinai. Tulisan-tulisan Mosheh ini
telah dipelihara dengan cermat oleh para ahli Torah Yahudi (soferim; juru tulis)
selama ribuan tahun dalam bentuk Sefer Torah, atau gulungan kitab Torah, yang
dianggap sebagai benda paling suci dalam kehidupan orang Yahudi.
Perhatikan bahwa Torah dalam pengertian ini tidak hanya merujuk pada
perkamen-perkamen fisik yang membentuk Sefer Torah, namun juga berbagai
mitzvot, chuqqim, dan mishpatim yang ditetapkan pada perjanjian Sinai, dengan
Sepuluh Perintah sebagai fondasi yang mendasarinya.
2. Torah sebagai Hukum Tertulis dan Lisan. Pemahaman Yahudi yang lebih
tradisional tentang kata Torah mengacu pada gulungan kitab Torah Tertulis
Mosheh dan Torah Lisan, keduanya dipercayai diturunkan kepada Mosheh di
Sinai. Torah Tertulis (disebut Torah shebikhtav) terdiri dari Lima Kitab Mosheh;
Torah Lisan (disebut Torah sheb’al peh) kemudian disusun sebagai Mishna dan
Talmud, dan menyediakan komentar otoritatif resmi untuk Torah Tertulis.
Seringkali kata-kata para nabi (nevi’im) dan tulisan-tulisan (ketuvim) dimasukkan
dalam penggunaan kata Torah ini (meskipun mereka diberikan posisi lebih rendah
dalam hal otoritas pewahyuan). Jadi, dalam penggunaan ini, Torah mengacu pada
apa yang biasanya disebut Kitab Suci Perjanjian Lama (yaitu, Tanakh) serta
Mishna/Talmud.
3. Torah sebagai Halakhah dan Tradisi Yahudi. Definisi Torah sebelumnya
tidak benar-benar memberikan keadilan bagi pandangan tradisional (dan
Rabbinikal), yang menganggap Torah tidak hanya Torah tertulis dan lisan, nevi’im
dan ketuvim (yaitu, Nakh), namun juga seluruh korpus dari Literatur religius
Yahudi seperti yang diekspresikan sebagai pandangan mayoritas para rabbi dan
keputusan hukum mereka sejak masa penghancuran Kuil Kedua (periode
Sanhedrin dan zugot) hingga saat ini. Secara kolektif pandangan Torah ini dapat
disebut sebagai halakhah, garis transmisi dari Elohim kepada Mosheh (dalam
Torah), melalui para nabi, melalui orang-orang dari Majelis Agung, para Rabbi
Talmud dan literatur Talmud, hingga beberapa hukum-hukum abad pertengahan
dan respon mereka. Singkatnya, halakhah mengacu pada kumpulan korpus
hukum, adat istiadat, dan tradisi rabbinik Yahudi. Halakhah juga mencakup
gagasan rabbinik gezerah – menempatkan “pagar” di sekeliling perintah-perintah
Torah tertulis untuk memastikan kepatuhan terhadap mitzvot.
Yang cukup menarik, tradisi Yahudi tampaknya berjalan dua arah dengan gagasan
tentang Torah sebagai halakhah. Di satu sisi, ia cenderung menghitung berbagai
perintah Kitab Suci dan terlibat dalam berbagai diskusi halakhik (hukum)
mengenai makna dan penerapan kasus hukum, dan di sisi lain ia cenderung
menyaring berbagai perintah kepada prinsip-prinsip yang lebih umum, yang
jumlahnya semakin sedikit dan sedikit. Sebagai contoh, dalam Makkot 23b-24a
pembahasan dimulai dari penjumlahan 613 perintah yang disebutkan dalam
Torah, hingga pengurangan jumlah oleh David menjadi 11 (Mazmur 15), hingga
pengurangan jumlah oleh Yesaya menjadi enam (Yesaya 33:15-16); hingga
pengurangan jumlah oleh Mikha menjadi tiga (Mikha 6:8); hingga pengurangan
jumlah oleh Yesaya menjadi dua (Yesaya 56:1); hingga satu perintah penting oleh
Habakuk (“namun orang benar akan hidup oleh imannya” – Habakuk 2:4).
Berkaitan dengan ini, penting untuk diperhatikan bahwa rasul Paulus sebelumnya
telah menyaring perintah-perintah kepada prinsip iman yang sama ini (Rom. 1:17,
Gal. 3:11, Ibr. 10:38).
4. Torah sebagai Instruksi Ilahi. Kata Torah berasal dari akar kata ירה (yod-
resh-hey) yang berarti “menembakkan anak panah” atau “tepat mengenai
sasaran”. Dalam bentuk kata bendanya, kata tersebut pada dasarnya berarti “arah”
atau “instruksi” kepada umat manusia tentang penyingkapan kehendak Elohim.
Jika dipahami dengan cara yang paling umum ini, Torah jelas mendahului
pemberian hukum Sinaitik kepada Yisra’el, seperti yang ditunjukkan oleh contoh
berikut:
• Adam dan Havvah diperintahkan bahwa hanya ada satu Elohim yang kepada-
Nya mereka harus taat dalam hubungan perjanjian (Kej. 2:16-17). Ini pada
dasarnya yaitu perintah pertama (“Akulah YHVH, Elohimmu.”)
• Sesudah dosa mereka (yang pada intinya merupakan pelanggaran terhadap
perintah kedua, “Elohim lain-lain tidak akan ada bagimu di hadapan-Ku”),
Adam dan Havvah diberikan anugerah janji penebusan (Kej. 3:15) dan hukum
pengurbanan darah (Kej. 3:21).
• Baik Qayin maupun Hevel membawa persembahan-persembahan kepada
YHVH, namun persembahan Hevel dianggap sebagai persembahan yang benar
(yaitu, darah) sedangkan persembahan Qayin ditolak (Kej. 4:3-7).
• Setelah Qayin membunuh saudaranya, diberikan perintah keenam: “Engkau
tidak akan membunuh” (Kej. 4:10-16).
• Hanokh yaitu orang yang begitu saleh sehingga Elohim berkenan kepadanya,
sebab ia berjalan sendiri dengan Elohim, sehingga dia “tidak ada” lagi pada
akhirnya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang berkenan dan orang lainnya
tidak, jika tidak ada instruksi dari YHVH?
• Shet dan putranya Enos mulai memanggil Nama YHVH (Kej. 4:26), dan
keturunan mereka Noah “berjalan sendiri dengan Elohim” (Kej. 6:9).
• Banjir Besar yaitu penghakiman YHVH terhadap kerusakan dan kekejaman
di seluruh dunia, sebab segala daging telah merusak jalannya di atas bumi
(Kejadian 7).
• Noah mempersembahkan kurban kepada YHVH dan membedakan antara
binatang yang “tahir” dan “tidak tahir” (Kej. 7, 8:20). Elohim selanjutnya
memberikan kepadanya hukum-hukum tentang larangan makan darah (Kej.
9:4) dan melembagakan otoritas pemerintahan manusia terhadap
pelanggaran-pelanggaran berat (Kej. 9:6-7).
• Humanisme penyembahan berhala dari Babel kuno dihakimi oleh YHVH (Kej.
11).
• Perjanjian yang Elohim buat dengan Avraham bersifat unilateral dalam arti
bahwa hanya Elohim yang berpartisipasi dalam ritual perjanjian (Kej. 15:9-21).
Tanggapan iman Avraham diperhitungkan kepadanya sebagai tzedaqah
(kebenaran).
• Tentang Avraham ada tertulis bahwa “akibat Avraham yang mendengarkan
(shema) terhadap suara-Ku, dan dia menjaga (shamar) tanggung jawab-Ku,
perintah-perintah-Ku (mitzvot), ketetapan-ketetapan-Ku (chuqqim), dan
hukum-hukum-Ku (torah) (Kej. 26:5).
• Noah, Avraham, Yitzhaq, dan Ya’aqov semuanya mempersembahkan kurban-
kurban yang diterima kepada YHVH, dengan demikian menyiratkan
pemahaman tentang hukum-hukum pengurbanan.
• Mosheh menaati perintah-perintah YHVH dan pergi ke Mitzrayim untuk
membebaskan orang Yisra’el dari perbudakan sebelum dia diberikan hukum di
Gunung Sinai.
Jadi, dalam pengertian yang paling umum dari istilah ini, Torah dapat dipahami secara
sederhana sebagai instruksi tentang bagaimana hidup benar di hadapan Elohim dan
dengan manusia. Yang disyaratkan dalam definisi ini yaitu penegakan suatu perjanjian
antara Elohim dan manusia di mana ruang lingkup dari apa yang merupakan Torah (yaitu
syarat-syarat perjanjian) dapat dipahami.
Dalam hal ini, delapan perjanjian yang dinyatakan dalam Kitab Suci (Perjanjian Edenik,
Adamik, Noahik, Avrahamik, Palestina, Mosaik, Davidik, dan Perjanjian Baru) masing-
masing menyajikan seperangkat hukum yang berbeda (walaupun tidak eksklusif satu
sama lain) tentang bagaimana menjadi benar dalam berhubungan dengan Elohim.
Terlebih lagi masing-masing perjanjian pada akhirnya didasarkan pada janji Benih yang
akan datang yang akan menyingkirkan qelalah (kutuk) atas umat manusia dan
mengembalikan anak-anak manusia kembali kepada Elohim.
Mempertanyakan Dogma Maimonides
Kekekalan Torah Mosheh (atau perjanjian yang diberikan di Sinai) yaitu salah satu
prinsip paling mendasar dari iman Yahudi. Bahkan, prinsip kesembilan Rambam
(Mishneh Torah) yaitu percaya bahwa hukum yang diberikan kepada Mosheh di
Gunung Sinai seluruhnya tidak dapat diubah dan tidak pernah akan digantikan oleh
bentuk lain dari Torah: Ani ma’amim be’emunah sh’leimah, shezot ha-Torah lo t’hei
muchlefet velo t’hei Torah acheret me’eit ha-borei yitbarakh sh’mo (“Aku percaya dengan
keyakinan penuh bahwa Torah tidak akan berubah dan tidak akan ada lagi Torah dari
Sang Pencipta, terpujilah Nama-Nya“). Bahkan sekarang ini keyakinan akan kekekalan
Torah ini diekspresikan setiap kali seremoni Keriat Torah selesai di sinagoga, saat
gulungan Torah diangkat dan orang-orang mendeklarasikan:
ל׃ ָרֵאֶֽ ֵני ִישְׁ ֵני בְׁ זֹאת ַהתֹוָרה ֲאֶשר־ָשם ֹמֶשה ִלפְׁ וְׁ
vezot hattorah ‘asher-sam Mosheh lifnei benei Yisra’el
saat pernyataan ini dideklarasikan, diklaim bahwa gulungan yang diangkat di hadapan
jemaah sepenuhnya identik dengan Torah yang diterima Mosheh sendiri saat berada di
Gunung Sinai ribuan tahun yang lalu. Dengan demikian, respon ini yaitu semacam
“memilih percaya” terhadap pekerjaan soferim (juru tulis; ahli Torah) dan pekerjaan
mereka dalam melestarikan gulungan-gulungan Torah selama berabad-abad.
Perubahan Tekstual oleh Soferim
Namun, merupakan fakta sejarah bahwa naskah asli Torah bukanlah aksara persegi
(disebut ketav Ashurit) yang telah dilestarikan selama berabad-abad oleh soferim (juru
tulis; ahli Torah), melainkan ketav Ivri – aksara awal yang menyerupai aksara Fenisia
kuno. Pernyataan ini lahir bukan hanya oleh ahli paleo-linguis terpercaya, namun oleh
otoritas Yahudi sendiri, sebab Talmud (Sanhedrin 21b) sendiri mengatakan:
Mar Zutra atau, seperti yang dikatakan beberapa orang, Mar ‘Ukba berkata-kata : Awalnya
Torah diberikan kepada Yisra’el dalam huruf Ibrani dan dalam bahasa suci [Ibrani];
kemudian, pada zaman Ezra, Torah diberikan dalam aksara Ashshurith dan bahasa
Aramaik. [Akhirnya], mereka memilih untuk Yisra’el aksara Ashshurith dan bahasa
Ibrani, meninggalkan huruf-huruf Ibrani dan bahasa Aramaik untuk hedyototh. Siapa
yang dimaksud dengan ‘hedyototh’? — R. Hisda menjawab: Orang Cuthea (yaitu, orang
Samaria). Dan apa yang dimaksud dengan huruf-huruf Ibrani? —R. Hisda berkata-kata :
Aksara libuna’ah.
Kata “mereka” dalam pernyataan ini mengacu pada orang-orang dari Majelis Agung, dan
khususnya, Ezra sang Juru Tulis yang mentransliterasi aksara Ibrani kuno ke dalam
aksara Aramaik pada zamannya. Ezra melakukan ini untuk menjauhkan orang Yahudi
dari orang Samaria pindahan yang tinggal di Yisra’el sesudah kembalinya tawanan
Yahudi di Babel (Torah Samaria masih menggunakan ketav Ivri yang lebih tua dan masih
ada sampai sekarang).
Sekarang pertanyaan yang perlu ditanyakan yaitu : Dengan otoritas apa Ezra
menerjemahkan Torah menjadi ketav Ashurit, khususnya sebab Mosheh sendiri dalam
Torah menyatakan: “Kalian tidak akan menambah atas perkataan, yang aku
memerintahkan »kalian, dan kalian tidak akan mengurangi dari dia, untuk menjaga »
perintah-perintah YHVH, Elohim kalian, yang aku memerintahkan »kalian” (Ul. 4:2)?
Tidak ada korespondensi satu-banding-satu antara kedua aksara, baik dalam morfologi
maupun dalam fonetik, jadi bukankah jelas bahwa transliterasi Ezra merupakan
perubahan nyata dalam Torah itu sendiri?
Selain itu, penambahan hiasan kaligrafi dari soferim, secara khusus tagin (atau
“mahkota”) yang dipasangkan kepada tujuh dari 22 huruf aksara Ashurit, dengan ini
patut dicurigai, begitu pula spekulasi-spekulasi mistik yang dilontarkan oleh berbagai
pengikut Kabbalah mengenainya.
Catatan penting: Tuhan Yeshua mendukung pembagian tiga bagian Tanakh (Torah,
Nevi’im, Ketuvim; Luk. 24:44) maupun otoritas Torah (Mat. 5:17-18) dan dengan
demikian menyetujui transliterasi Ezratik, dan oleh sebab itu orang Kristen tidak perlu
meragukan otoritas dari teks Ibrani dari Perjanjian Lama ....
Perubahan Torah di Olam Haba
Orang-orang bijak percaya tentang adanya dua olam (dunia): Dunia sekarang ini (olam
hazeh) dan dunia yang akan datang (olam haba), dengan sebuah dunia ‘transisi’ Mesianik
di suatu masa di titik pertemuan (setiap olam mencerminkan durasi waktu yang ‘tidak
dapat ditentukan’, namun bukan ‘durasi tak terbatas’). Pertanyaan yang perlu
dipertimbangkan yaitu apakah Torah, yang dipahami di sini merujuk pada berbagai
mitzvot yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Mosheh, akan tetap sebagai perintah-
perintah “abadi”, atau apakah kondisi-kondisi dunia akan diubah sedemikian rupa
sehingga perintah-perintah itu tidak lagi akan berlaku?
Beberapa orang bijak Yahudi (seperti Rebbe Schneerson) mengatakan bahwa dalam
yemot HaMashiach (hari-hari Mesias) Torah akan ditaati dengan lebih ketat, namun di
olam haba – dunia yang akan datang – “mitzvot akan ditiadakan,” yang mana berarti
bahwa mereka tidak lagi akan dibutuhkan, sebab mereka akan menjadi “seperti cahaya
lilin yang ditiadakan dalam nyala terang cahaya matahari di tengah hari”. Dengan kata
lain, di surga sendiri tidak akan ada serangkaian mitzvot yang akan diikuti dengan
cermat, sebab Substansi dari apa yang dimaksudkan oleh perintah-perintah itu akan
terwujud sepenuhnya. Seperti yang dikatakan Schneerson, “Di dunia yang akan datang,
mitzvot akan ditiadakan. Hukum-hukum Torah tidak lagi menjadi isi dari hubungan ilahi
dengan realitas ekstrinsik. Sebaliknya, mereka akan sepenuhnya dan secara tegas
disadari di dalam dunia yang tidak lagi terpisah dari sumbernya, tidak terhalang oleh
‘hukum-hukum’ yang mendefinisikan dunia fana dan terbatas.”
Berlawanan dengan dogma Rambam, tidak semua orang bijak Yahudi setuju dengan teori
pendiktean Torah sebagai dokumen yang kekal:
“Kami sama sekali tidak mengakui apa yang diletakkan Maimonides, bahwa
keseluruhan Torah tidak akan berubah, sebab tidak ada bukti yang menentukan untuk
ini – baik dari nalar dan logika maupun dari Alkitab. Sungguh, orang-orang bijak
memberitahu kita bahwa Yang Kudus akan memberikan Torah baru di masa depan.
Jika Raja kita akan berkehendak untuk mengubah Torah, atau menukarnya dengan
yang lain, apa pun yang diinginkan sang Raja, apakah itu akan turun di atas Gunung
Sinai atau gunung-gunung perkasa lainnya, atau bahkan di lembah, di sana untuk
muncul kedua kalinya di depan mata semua yang hidup, kami akan menjadi yang
pertama-tama melakukan kehendak-Nya, apa pun perintah-Nya.”
R’ Avraham Hayim Viterbo (dikutip dari Marc Shapiro. Littman:2004, dalam The
Littman Library of Jewish Civilization)
Perubahan Torah di Zaman Mesianik
Dalam yemot hamashiach – hari-hari Mesias – banyak orang bijak Yahudi berdebat
bahwa Torah akan mengalami perubahan. Sebagai contoh, sebuah bagian dalam
Vaiyiqra Rabah 9:7 menyatakan: ‘Di Waktu Yang Akan Datang semua kurban akan
ditiadakan, namun ucapan syukur tidak akan ditiadakan.’ Bagian ini dikutip oleh banyak
otoritas, termasuk Nahmanides dalam komentarnya tentang Imamat 23:17. Tampaknya
ini mengacu pada zaman mesianik dan bukan waktu kebangkitan, sebab teks bukti yang
dikutip dari Yeremia 33:11 yaitu nubuatan mesianik.
Dalam Imamat Rabba, disebutkan bahwa semua kurban dan doa-doa akan dihapuskan
dalam hari-hari Mesias, kecuali untuk persembahan-persembahan syukur dan doa-doa
ucapan syukur, sebab , seperti yang dijelaskan oleh Isaac ben Judah Abrabanel (1437-
1508), dalam hari-hari bahagia itu akan tidak ada Kecenderungan Jahat dan dengan
demikian tidak ada dosa, sehingga tidak akan diperlukan persembahan-persembahan
atau doa-doa untuk pendamaian pelanggaran. Tentu saja, Imamat Rabba ditulis pada
abad kelima, yaitu sekitar empat ratus tahun setelah penghancuran Kuil Kedua dan
penghentian ritual kurban, yang membuatnya relatif mudah bagi para penulis untuk
memikirkan kemungkinan semacam itu.”
Perubahan Torah di Olam Hazeh
namun bahkan di zaman ini, yang disebut olam hazeh, kita menemukan bukti bahwa
Torah tidaklah tak dapat diubah dan bersifat kekal seperti yang dipertahankan oleh
Rambam dan tradisi Rabbinik. sebab itu, menjadi pelajaran untuk mempertimbangkan
bagaimana Mosheh sendiri mengubah Torah selama masa hidupnya saat dia pertama
kali menginstruksikan b’nei Yisra’el untuk makan Paskah di rumah masing-masing (Kel.
12) namun kemudian memperingati pelaksanaannya “di tempat yang YHVH akan memilih
untuk membuat nama-Nya bertabernakel di sana” (Ul. 16:2). Kemudian juga, Torah
diubah untuk mengizinkan memakan daging yang tidak disembelih di tempat suci
sebagai tindakan pengurbanan (bandingkan Im. 17 dan Ul. 12:15-16). Hal ini juga terlihat
dari berbagai hukum tentang pengumpulan manna yang ditiadakan setelah bangsa
Yisra’el menduduki negeri itu. Singkatnya, sebab keadaan sejarah telah berubah,
beberapa hukum lama yang diberikan kepada generasi padang gurun ditiadakan, dan
hukum yang lebih baru dibuat.
Yeshua juga menunjukkan bahwa Mosheh telah mengubah pengertian Torah Elohim
dalam olam hazeh. Sebagai contoh, pertimbangkan ayat ini dari Injil Matius:
Kata-kata Yeshua ini dengan jelas menyiratkan bahwa Mosheh diizinkan untuk
memerintahkan hal-hal yang tidak berasal dari YHVH “sebab kekerasan hati manusia.”
Artinya, Elohim mengizinkan Mosheh untuk membuat “hukum” tentang perceraian
sebab Dia tahu bahwa orang-orang akan bertindak bertentangan dengan kehendak-Nya
yang sempurna.
Pertimbangkan juga bagaimana Raja David tampaknya telah melampaui (yaitu,
mengubah) kata-kata literal Torah sehubungan dengan perjanjian YHVH dengannya –
dan selanjutnya pewahyuan yang datang kepadanya sebagai nabi Hashem (YHVH).
sebab bahkan David menambah kepada kata-kata Mosheh dengan merancang dan
merencanakan Beit Hamiqdash – Kuil Kudus – yang akan dibangun oleh putranya
Salomo di Yerusalem:
Apa yang terjadi di sini? Jelas bahwa Raja David mengubah Torah Mosheh dari tempat
suci yang berpusat di mishkan, menjadi tempat suci yang berpusat di Kuil. Selain itu, ia
juga mengubah tugas kohanim (para imam) dan persyaratan usia mereka (ditambah lagi
menambahkan jadwal baru pelayanan bagi mereka). Perhatikan khususnya bahwa teks
dari 1 Tawarikh menyatakan bahwa perubahan kepada pola yang secara eksplisit
diperintahkan kepada Mosheh disetujui sebagai akibat dari pewahyuan dari YHVH
sendiri.
ית׃ פ ִנֶֽ ֲאכֹות ַהַתבְׁ ִכיל כֹל ַמלְׁ הָוה ָעַלי ִהשְׁ ָתב ִמַיד יְׁ ַהכֹל ִבכְׁ
hakkol bikhtav miyyad Adonai ‘alai hiskil kol mal’akhot hattavnit
Seseorang mungkin berpendapat bahwa ini bukan benar-benar perubahan Torah, namun
kemudian kita perlu menafsirkan dengan agak longgar arti istilah “perubahan” di sini,
sebab modifikasi David atas pola suci yang diperintahkan Mosheh untuk diikuti
menyentuh setiap aspek dari mishkan dan bagian-bagiannya, termasuk peran keimaman
itu sendiri dan aktivitasnya. Bahkan secara nyata, perubahan formulasi Mosheh dari
mishkan kepada Beit Hamiqdash merupakan perubahan besar dalam kehidupan orang-
orang Yahudi, dan hanya dibenarkan jika Raja David benar-benar dan secara ilahi diberi
wewenang untuk melampaui instruksi-instruksi jelas yang diberikan oleh YHVH dalam
Torah Mosheh.
Selanjutnya, menurut para rabbi sendiri, Torah (entah bagaimana) diubah saat Kuil
Kedua dihancurkan pada tahun 70 M dan sistem pengurbanan ditinggalkan. namun
apakah ini tidak mempengaruhi arti Torah, terutama saat Anda mempertimbangkan
bahwa hampir separuh dari 613 perintah Torah tertulis ditemukan dalam kitab Imamat,
Torat Kohanim (hukum para imam), dan banyak tulisan yang ditemukan di dalam
Talmud didasarkan pada itu? Hanya melalui penafsiran ulang rabbinik (yaitu,
perubahan) dari Torah maka Yudaisme – sebagai suatu sistem yang tidak berbasis Kuil –
dapat terus ada di dunia, terlepas dari ajaran Yohanan ben Zakkai, orang bijak Yahudi
pada abad pertama, yang dianggap berjasa dengan dogma bahwa pengurbanan hewan
dapat diganti dengan doa dan perbuatan-perbuatan kebaikan:
Rabban Yohanan ben Zakkai pernah berjalan dengan muridnya, Rabbi Joshua, di dekat
Yerusalem setelah penghancuran Kuil. Rabbi Joshua melihat kepada reruntuhan Kuil
dan berkata-kata : “Celaka bagi kita! Tempat di mana penebusan bagi dosa-dosa orang
Yisra’el melalui ritual pengurbanan hewan telah menjadi reruntuhan!” Kemudian
Rabban Yohanan ben Zakkai mengucapkan kata-kata penghiburan ini kepadanya:
“Jangan bersedih hati, anakku. Ada cara lain untuk mendapatkan penebusan meskipun
Kuil telah dihancurkan. Kita sekarang harus mendapatkan penebusan melalui
perbuatan-perbuatan kebaikan.” sebab ada tertulis, “sebab Aku menginginkan
kebaikan (ֵחֵסד chesed), dan bukan kurban (ז ַבח zevach).” (Hos. 6:6). Siddur Sim
Shalom, (Avot DeRabbi Natan) Jules Harlow, ed. (New York: United Synagogue of
Conservative Yudaism)
לֹא ִתי וְׁ ַדַעת ֱאֹלִהים ֵמעֹלֹות: -ִכי ֶחֶסד ָחַפצְׁ ָזַבח וְׁ
ki chesed chafatzti velo-zavach veda’at ‘elohim me’olot
ֵחֵסד זֶַבח
ַדַעת
עֹלָה
Bahkan, “Yudaisme tanpa Kuil” ini memotong hampir separuh dari perintah-perintah
eksplisit yang diberikan oleh Elohim kepada Mosheh dalam Torah sekaligus menegakkan
Yudaisme rabbinik sebagai otoritas penafsiran Torah bagi orang Yahudi di seluruh
Diaspora. Pastinya perubahan otoritas ini menunjukkan perubahan dalam Torah!
Brit Chadashah dan Torah
Setelah Yeshua datang untuk menebus Yisra’el dari dosa-dosanya (sebagai Mashiach ben
Yosef – Hamba yang Menderita dari Yesaya 53), Kuil Kedua dihancurkan dan orang-
orang Yahudi mulai menderita Galut (pembuangan) selama hampir 2000 tahun.
Berbagai teknik penafsiran kemudian dipakai oleh tradisi rabbinik untuk mendirikan
suatu bentuk ibadah Yahudi yang tidak memerlukan kehadiran Kuil di bumi, dan Torah
menjadi hal ketaatan batiniah, dengan doa-doa menggantikan kurban-kurban hewan,
dsb..
Orang percaya Yahudi Mesianik sebaliknya memahami bahwa Perjanjian Baru (Yer.
31:31-33) mulai digenapi, suatu keadaan “sudah tapi belum” yang menunggu
penggenapan eskatologis lengkap saat Yeshua datang kembali sebagai Mashiach ben
David untuk mendirikan kerajaan-Nya di Yerusalem. Sementara makna batiniah dari
Torah, yang disaring sebagai perintah untuk mengasihi Elohim dan sesama melalui kuasa
Ruach Haqodesh (Roh Kudus) yang mendiami, menjadi prinsip penuntun kehidupan
iman.
Kitab Ibrani menyediakan penjelasan utama Perjanjian Baru tentang perjanjian “baru”
ini, mengutip langsung dari referensi Yeremia untuk mendirikan penerapannya melalui
karya Mashiach demi kita (Ibr. 8:8-12). Menariknya, kata “baru” yang dipakai yaitu
καινός kainos, dalam bahasa Yunani, sebuah kata yang bukan memiliki arti “diperbarui”,
melainkan “belum pernah terdengar”, “sama sekali baru”, atau “unik”. Perjanjian baru
mengubah cara memperoleh pembenaran dan kebenaran di hadapan YHVH (melalui
iman di dalam kasih karunia Elohim sebagaimana didemonstrasikan dalam
mempersembahkan Putra-Nya sebagai kapparah (penebusan, pendamaian) dosa kita),
namun itu tidak mengubah makna batin dari Torah untuk mengasihi YHVH dan mengasihi
sesama (seperti yang akan dibuktikan oleh contoh-contoh dari tulisan-tulisan perjanjian
baru ini):
• Terhadap seorang pun janganlah berhutang apa saja kecuali mengasihi seorang
terhadap yang lain, sebab dia yang mengasihi orang lain telah menggenapi torah.
Sebab, “Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi
dusta, jangan mengingini,” dan seandainya ada suatu perintah yang lain, ia sudah
disimpulkan dalam firman ini, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Kasih
tidak berbuat yang jahat kepada sesama, sebab itu kasih yaitu penggenapan
torah. (Rom. 13:8-10)
• Sebab seluruh torah digenapi dalam satu perkataan, yaitu: “Kasihilah sesamamu
seperti dirimu sendiri!” (Gal. 5:14)
• Sebab, inilah berita yang telah kamu dengarkan dari semula, bahwa kita
seharusnya mengasihi seorang terhadap yang lain. (1 Yoh. 3:11)
• “Oleh sebab itu, segala apa saja yang kamu inginkan agar manusia lakukan
kepadamu, demikian jugalah kamu lakukan kepada mereka, sebab inilah isi
Torah dan Kitab Para Nabi. (Mat. 7:12)
• Dan seorang dari mereka, seorang ahli torah, bertanya sambil mencobai Dia dan
berkata-kata , “Guru, manakah perintah terbesar di dalam Torah?” Dan YESHUA
berkata-kata kepadanya, “Kasihilah YHVH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Inilah perintah yang
pertama dan yang terbesar. Dan yang kedua, yang sama dengan itu: Kasihilah
sesamamu seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh
isi Torah dan Kitab Para Nabi.” (Mat. 22:35-40)
• Dan tampaklah seorang ahli torah berdiri untuk mencobai Dia dan mengatakan,
“Guru, dengan berbuat apa aku dapat mewarisi hidup yang kekal?” Dan Dia
berkata-kata kepadanya, “Apa yang telah tertulis di dalam Torah? Bagaimana kamu
membacanya?” Dan sambil menjawab, dia berkata-kata , “Kasihilah YHVH, Elohimmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu dan dengan segenap pikiranmu; dan kasihilah sesamamu seperti
dirimu sendiri.” Dan, Dia berkata-kata kepadanya, “Engkau telah menjawab dengan
benar, lakukanlah itu, maka kamu akan hidup.” (Luk. 10:25-28)
Kesimpulan
Untuk mengajukan pertanyaan apakah “Torah” dapat diubah jelas sedikit lebih rumit
daripada yang kita duga sebelumnya. Pertama kita perlu mendefinisikan apa yang
dimaksud dengan kata “Torah,” dan kemudian kita perlu mempertimbangkan apakah
makna Torah itu dapat berubah.
Jika Torah dipahami secara umum merujuk kepada “hukum moral” sebagai perintah
secara akal budi manusia untuk hidup sesuai kewajiban, jelas bahwa prinsip universal
semacam itu tidak dapat diubah, namun juga secara langsung menimbulkan rasa
keterbuangan di dalam hati kita, sebab dengan demikian kondisi moral kita terungkap.
Suara hati nurani yaitu saksi bahwa kita semua melanggar standar-standar kepatutan
dan kesucian secara terus-terusan. Kita semua memiliki perasaan intuitif moralitas
“sebab dan akibat”, namun kita hidup baik dalam keadaan keputusasaan hidup secara
sadar, atau kita (secara tidak rasional) berharap dikecualikan dari putusan hukum.
Namun, sama seperti tidak mungkin 2+2 tidak sama dengan 4, demikian juga tidak ada
pengecualian-pengecualian yang sah terhadap kewajiban untuk mematuhi hukum moral
Elohim yang sempurna (Namun, perhatikan bahwa hukum yang dipahami demikian
yaitu “cermin” hanya jika kita memilih untuk melihat “ke dalamnya” (sebagai lawan dari
melihat “kepadanya”). Dengan kata lain, dibutuhkan integritas dan keberanian pribadi
untuk melihat kepada diri sendiri dan mengakui keterbuangan dan kesalahan Anda di
hadapan hukum moral. Dengan melakukan demikian, bagaimanapun, sebuah
pengharapan diperkenalkan untuk kasih karunia dan pembebasan ilahi, sebuah
kebenaran “asing” yang dapat diperoleh melalui iman).
Jika Torah dibatasi han




