pengajar
bida’ahאdanאsesat.אNamun,אdiאsisiאlain,אsebab אmerekaאmasing-masing kembali kepada
Mshikha dan Para Rasul-Nya, kita melihat bahwa Kebaikan-Nya yaitu sedemikian
rupa bahkan dosa terburuk manusia sekalipun akan diri mereka sendiri tidak bisa
menjadikan Tahbisan batal. Jika ada orang telah menerima Tahbisan Sah maka tidak
ada dan tak seorang pun di bumi bisa mengubah hal itu; tidak organisasi gerejawi dan
/atau Sinode Keuskupan apapun.
Mengapa?
Tahbisan Suksesi Rasuliah tidak dilahirkan oleh Gereja, namun Ruakh ha-Kodesh. Para
Uskupאhanyaאpipaא saluranאanugerahא IlahiאbagiאuskupאBaruאTertahbis,א sebabא“Bundaא
Gereja”א yaitu א Ruakhא ha-Kodesh yang melahirkan Uskup pengganti Para Rasul di
bumi bagi Jemaat. Bunda Gereja bukan Maria, dan bukan pula Sinode Keuskupan
dengan kepalanya Patriak/Paus. Siapa yang berani membatalkan Suksesi Rasuliah
Uskup yang dilahirkan Ruakh ha-Kodesh?
Realitas besar dari kedua persfektif ini dari Gereja Rasuliah dan Ortodoks, Satu Kudus
Katolik, baik itu di Timur dan Barat yaitu intisari elemen-elemen dari Tahbisan Uskup,
meskipun keduanya memiliki perihal pokok argumentasi dan pertentangan antara saudara-
saudara Roma Katolik dan Ortodoks bagian Timur (Eastern), satu sama lain tidak eksklusif.
Satu sisi ditujukan untuk menyatu dengan yang lain (Khususnya dalam persfektif Ortodoks
bagian Timur). Kedua aspek, pemahaman Barat dan Timur (eastern), doktrin dan Iman, dari
Jemaat Tak terbagi terdiri dari keseluruhan kebenaran dari apa yang disebut Suksesi
Rasuliah, dan apa adanya, bagi jemaat secara keseluruhan.
Tragis, Gereja Roma menghapuskan otoritas dari Para Uskup untuk bertindak tanpa ijin dan
otoritas kepausan, tapi kita harus mengingat bahwa keabsahan sacramental juga yaitu
bagian sangat penting dari keuskupan.
saat kita melihat tragedi dari gereja tak terbagi dan Kekeristenan, kita masih bisa seringkali
berkata di mana Gereja "ada." Kita bisa melakukan itu dengan melalui dan melihat apa yang
diajarkan, diyakini, dan dipraktekkan dalam istilah-istilah Iman tradisional dari Jemaat
Rasuliah dan Katolik, Ortodoks, Kudus, dan Satu.
Namun, ini juga bisa dikatakan bahwa kita tidak selalu berkata, dengan keyakinan, di mana
Gereja tidak ada.
Jemaat Rasuliah dan Katolik, Ortodoks, Kudus, Satu dari Maran kita, Juruselamat dan
MarYah Yeshua Mshikha bar Alaha tidak bisa pernah dibubarkan sebagai Jemaat oleh sebab
jemaat terbagi, lemah dan/ atau gagal dalam suatu bagian atau dalam suatu aspek.95 Apa yang
95 Jemaat Rasuliah tidak bisa bubar sebelum Kedatangan Maran Yeshua ke Bumi. Jemaat Rasuliah bisa saja
gagal melakukan Perintah-perintahאMaranא Yeshua,א danא bahkanא mengajarkanא “Ajaran-ajaranא Sesat”א sepertiא
kita ketahui dalam Sejarah Gereja selama 2000 tahun.
Contoh, Gereja-gereja Ortodoks bagian Timur dan Oriental melihat Gereja-gereja Barat: Gereja Roma
Katolik, Anglikan, Katolik Lama dan Gereja-gereja Ortodoks Katolik Independen serta kelompok-kelompok
Protestantismeאdipandangאsesatאdanאbida’ah.א
Namun sebaliknya, Gereja-gereja ini juga memandang hal yang sama terhadap Gereja-gereja Ortodoks
bagianאTimurאdanאOriental.אSemuaאsalingאtuduhא“bida’ah”אdanא“sesat”אsehinggaאsemuaאsesat.אTidakאadaאyangא
tidak jatuh dalam kesesatan dalam pandang pihak lain namun diri sendiri melihatnya tidak ada cacat sama
sekali.
Sebenarnya, setiap zaman para diakon, imam, uskup, uskup agung, patriak, dan paus yaitu manusia biasa
yang bisa jatuh dalam perbuatan dosa dan seringkali berbuat dosa oleh sebab kelemahan daging manusia.
(Igeret Roma 7:19-20) namun apakah kelemahan para Pelayan Maran ini mencemari Suksesi Rasuliah dan
Pengakuan Iman, kitab Suci, Tradisi Kudus, dan Wahyu dan bahkan Alaha sendiri? Tidak sama sekali.
Mengapa?אSebabאDosaא terkaitא kepadaא “pribadiא individual”א siא pelayanא ituא sendiri.א Sekalipunא seorangאUskupא
sesat dalam mengajar dan moralnya bobrok tidak bisa mengkhamiri Suksesi Rasuliah yang ada dalam dirinya.
IniאdisebabkanאSuksesiאRasuliahאyaitu א“dayaאkuasa”אAlaha sendiri yang dicurahkan oleh Ruakh ha-Kodesh
pada diri seorang uskup. Ruakh ha-Kodesh tidak bisa dipenjara oleh manusia melalui perbuatan dosa-
dosanya, Ruakh ha-Kodesh bebas tak tersentuh oleh apapun. Letak persoalannya, jika uskupnya penuh dosa,
hatinya penuh kebencian, dan pikirannya dipenuhi agenda politik gerejawi, maka yang bisa sesat yaitu
ajaran-ajaran yang dikembangkannya menjadi ajaran-ajaran dan moral gereja seperti halnya Konsili-konsili
Gereja yang merupakan formulasi consensus rasional manusia yang bisa salah sebab semua hasil rumusan itu
bukan Wahyu-wahyu Ilahi melainkan Tafsir Kolektif, dan begitu juga hasil pemikiran Tafsir Subyektif
Individual jelas bisa sangat salah. Oleh sebab itu, Gereja Nasrani Ortodoks Katolik negara kita tidak bisa
menerima begitu saja semua ajaran-ajaran dari Gereja Rasuliah, dan apa lagi ajaran-ajaran Gereja Reformasi
Protestantisme; hanya dua saja yang bisa diterima secara sah yaitu Suksesi Rasuliah dan Pengakuan Iman
Rasuli (tahun 70 M) yang dijabarkan dalam Pengakuan Iman Nikea (325 M), selebihnya dahi harus
dikrenyitkan dengan penuh curiga. Dan begitu juga Tradisi Yudaisme itu sendiri yang berasal dari Yahudi
Rabbinik harus diwaspadai memilah mana yang benar dan mana yang salah, dan ini yaitu tugas Uskup
beserta Dewan Keuskupan untuk menentukan, bukan tugas umat awam.
Kalau begitu masih adakah yang murni? Ada. Jemaat Rasuliah Setia tetap ada sepanjang zaman sebab Maran
Yeshua berjanji akan menyertainya. Kriteria yang dilihat utamanya: Jemaat Rasuliah tetap mengacu kepada
Yudaisme Perjanjian Baru dengan menjalankan apa yang dilakukan Para Rasul-Nya. Contoh, Para Rasul
membentuknya sebagai Jemaat dari Maran kita Yeshua Mshikha yaitu kemanunggalan total
dengan Mshikha, kelanjutan jemaat yang bisa dilihat dengan Para Rasul-Nya dan para
pengganti mereka – dalam Iman yang mereka ajarkan, dan dalam partisipasi jemaat dalam
Liturgi Qurbana dalam komunitas.
Dalam ringkasan ini, kita berdoa bahwa melalui "pernyataan" ini perihal keuskupan Jemaat
dan apa yang kita percaya dan pegang erat sebagai pusat kebenaran-kebenaran mengenai
pemahaman kuno perihal Tahbisan Kudus Uskup, yang lainnya juga sama seperti pikiran
kita, yang kita temukan pada diri mereka sendiri dalam kesepakatan dengan posisi doktrinal
yang diterbitkan pada iman rasuliah akan lebih baik lagi tahu dan memahami siapa kita
melalui apa yang kita ajarkan, nyatakan dan akui dalam: Gereja Nasrani negara kita dalam
kesatuannya dengan Gereja Ortodoks Katolik Australia, via Sinode Para Uskup Internasional,
Rohaniawan dan orang beriman.
Bab VI -- Uskup Berkeliling (Vagante Episcopi)
Jabatan Uskup yaitu setua Kekeristenan itu sendiri. Awal tahun 90-an Masehi, Mar
Klementinus dari Roma, dalam suatu Surat Kirimannya yang ditujukan kepada komunitas
Jemaat Rasuliah di Korintus, mengingatkan saudara-saudaranya kaum Mshikhanim (Kristen)
bahwa Para Rasul telah melantik dan mengurapi para uskup sebagai para pengganti mereka
yang sah, dan hal itu akan melawan kehendak Alaha sendiri jika ada orang menghilangkan
jabatan mereka. Pada awal Kekeristenan, para laki-laki disebut episkopoi (Ibrani, mebaqqer)
menerima otoritas dari para pendahulu mereka dengan tumpang tangan untuk melaksanakan
kepenuhan kuasa spiritual yang dianugerahkan oleh Yeshua Mshikha pada Para Rasul-Nya.
Kemudian Para Uskup mendelegasikan fungsi khusus, seperti ajaran, pengampunan dosa-
dosa, kesembuhan, dan konseling, kepada para pelayan yang bertindak sebagai para penolong
mereka. Jabatan uskup dengan demikian lebih kuno dari pada Imam dan Diakon, atau
tahbisan-tahbisan kecil lainnya dalam Jemaat, semua ini akhirnya menjadi mapan pada abad
ke-2 M., yang kemudian disebut ketetapan rasuliah tahbisan uskup.
Para Rasul dan Para Pengganti mereka berfungsi dalam dua hal: 1) Beberapa yaitu
permanen melekat pada kota khusus dan wilayah geografis di mana mereka melayani bagi
kesejahteraan spiritual suatu komunitas orang percaya Mshikha (Mshikhanim), 2) sementara
itu lainnya, diilhami oleh sabda-sabda dari Pendiri mereka memerintahkan mereka mengajar
semua orang dan bangsa, melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah negeri jauh
menyebarluaskan pesan Iman mereka. Para pemimpin ini menjelajah jauh dari Timur Tengah
kantong Kekeristenan (Mshikhanuth), menembus bahkan ke negeri-negeri terjauh seperti
India, sebagaimana dilakukan Shliakh Mar Thoma. Para Rasul Yeshua seperti Mar Thoma,
Mar Tulmai (Bartholomew), Mar Shimon Keipha, Thaddeus (Mar Addai), Mar Mari, dan
Mar Andreos,yang tidak tetap tinggal dalam suatu wilayah untuk melayani bagi suatu
komunitas yang mapan, dengan demikian mereka ini dipandang sebagai pengelana pertama,
beribadah hari Sabat. Mempertahankan Suksesi Rasuliah, Kepemimpinan Jemaat hanya ada pada Uskup dan
tidak mengenal adanya Kepatriakan atau Kepausan. Jemaat dipimpin oleh Mebaqqer, Zakan, dan Shamasha.
Setiapא keuskupanא yaitu א “Independen”א tidakא adaא Uskupא diא atasא uskup.א Selaluא adaא Nabi-nabi untuk
membimbing Jemaat dalam kebenaran, dll.
atau Uskup-uskup "berkelana" (Wandering Bishops). Dan semua Para Rasul sebenarnya
yaitu “Uskup-uskup Berkelana” yang tidak tinggal diam pada satu tempat, kecuali
“Uskup” Mar Ya’aqub ha-Tzadik saudara Maran yang ditahbiskan dan dipilih oleh Maran
Yeshua Mshikha , dan Para Rasul sebagai “Uskup Berdiam Tetap” di Yerusalem untuk
menjaga Pusat administrasi Jemaat dari semua Jemaat-jemaat Mshikha yang didirikan Para
Rasul Mshikha di seluruh dunia. Jemaat Yerusalem atau dikenal sebagai Nasrani Yahudi para
pengikut Jalan Tuhan atau Jalan Nasrani, sebab Yeshua yaitu Orang Nasrani (Kisah 20:5;
22:8). Jemaat Yerusalem mengutus Duta-duta Besarnya (Shlikhim) ke seluruh dunia sesuai
Amanah Agung Maryah Yeshua (Mattai 28:16-20). Fungsi kedudukan Uskup Pertama dalam
JemaatאMshikhaאyaitu אsebagaiא“Penilik”אterhadapאsemuaאParaאRasulאsebagaimanaאdijelaskanא
dalam tulisan Mar Klementinus. 96
96 Surat Kiriman Mar Klemintinus dalamא tulisanא ‘Pengakuan-pengakuan’אmenjelaskanא kepadaא kitaא tentangא
kepemimpinanאMarאYa’aqubאsebagaiאMebaqqerאJemaatאYerusalem:
“....Dia menerima laporan (I:66; cf. II:73), menangani persoalan (I:66-69), mengirimkan Surat-surat
otorisasi dengan perwakilan-perwakilan resmi (IV:35), dan bahkan memberi tugas khusus
kepada Shimon Keipha (I:72). Mar Ya’aqub dirujuk sebagai “Kepala dari Uskup-uskup” (Primus
Inter Pares) dan dia ini digambarkan seperti kedudukan "Kayafas … kepala dari Imam-imam."
Aturan kepemimpinannya, bahkan membawahi Rasul-rasul (Shlikhim), juga dijelaskan pada Kisah
Rasul 21:17-22:23 di mana dia yaitu sosok pemimpin yang mengeluarkan titah atau aturan-aturan
untuk diikuti oleh para petobat non-Yahudi. Dia yang memanggil Paulus (Shaul) sebab berselisih
terhadap para pengikut Yahudi dengan kabar berita meniadakan Torah dengan menyuruhnya
melakukan ritual pentahiran empat orang yang sedang melaksanakan kaul Nazar, dan selanjutnya
memerintahkan Paulus, "namun bagi mereka Orang-orang non-Yahudi yang telah menjadi percaya,
kami mengirimkan Surat dengan keputusan kami bahwa mereka harus berhenti dari apa saja yang
dipersembahkan kepada berhala-berhala dan dari darah dan dari apa yang dicekik [contoh., daging
dari binatang yang secara ritual tidak disembelih dengan pisau seperti yang diwajibkan oleh Torah]
dan dari percabulan" (Kisah. 21:25).
DalamאKitabאMa’aseiאha’SheelahאMarאThomaאdikatakan:
"Pada waktu itu semua Rasul-rasul (Shlikhim) kita berada di Yerusalem, Simon yang disebut Keipha
dan Andreos saudaranya, Ya’aqub anak dari Zebedee dan Yokhanan saudaranya, Filipus dan
Bartholomeus (Tulmai), Thoma dan Mattityahu pemungut cukai, Ya’aqub anak Alphaeus dan Simon
orang Kanaan, dan Yudas saudara Ya’aqub: dan kami membagi wilayah-wilayah dari dunia ini,
bahwa setiap orang satu dari kami harus pergi ke wilayah yang jatuh kepada dia dan kepada bangsa
ke mana Tuhan mengutus dia. – Kisah Rasul Mar Thoma 1:1 Peshitta AESV
Jadi awalnya semua Para Rasul yaitu Uskup-uskup Berkelana (Wandering Bishop) atau sering disebut
Episcopi Vagante dan bahkan Maran Yeshua sendiri yaitu Uskup Vagante sebagai Rasul Alaha sang Bapa
(Yokhanan 5:36-37). Dia tak punya murid, dan sesudah bertemua dengan Shimon Keipha dan Andreas
saudaranya, Filipus, dan lainnya barulah punya murid-murid. Maran Yeshua berkelana dari satu desa ke desa
lain dari satu kota ke kota lain, tidak ada tempat pusat pengajaran tetap dan permanen semacam pusat pertemuan
ibadah dan gedung Gereja.
Jadi seorang uskup harus melayani dan memiliki wilayah keuskupan hanyalah sesudah komunitas-komunitas
orang percaya Mshikha terbentuk sehingga perlu pelayan yang tetap tinggal di suatu wilayah, namun, tidaklah
keharusan seorang Uskup wajib ditahbiskan dalam bagi suatu wilayah dan Uskup untuk pentahbis harus
memiliki wilayah keuskupan. Ini hanyalah aturan administratif Gereja mapan dikemudian hari, dan bukan
sesuatu yang wajib dan mutlak.
Kemudian, kategori lainnya para uskup berkelana masuk dalam pemandangan ini. Kaisar Konstantinus
menetapkan Kekeristenan sebagai Agama Negara dalam Edik Milano tahun 313 M., dan mulai memaksakan
kesatuan semu pada Komunitas-komunitas Kristen. Sebelum pada masa ini, ada orientasi pluralistik yang kuat
dari komunitas-komunitas dan dari para pemimpin mereka. Mengakui devosi umum terhadap Mshikha dan
ajaran-ajaran-Nya, mereka berbeda luas dalam doktrin dan praktek. Dengan persyaratan Konstantinus telah
mengubah; "ortodoksi" yang dideklarasikan sebagai yang mengikat atas semua. Mereka yang tidak mau
berkompromi dengan Kaisar dipaksa meninggalkan komunitas dan meninggalkan tempat tinggal mereka.
Mereka menjadi para pengelana. Gnostik, Arian, Nestorian, Monofisit, dan para pemimpin Kristen lainnya yang
tak mau berkompromi menjadi uskup-uskup berkelana. Suatu trend baru terjadi. Mereka yang berkompromi
terhadap Kaisar dan Uskup-uskup diijinkan tetap tinggal di tempat tinggal dan jabatan mereka dan menikmati
dukungan negara, sementara itu mereka yang berselisih diminta untuk pergi dan menjadi para pengelana.
Namun, para pengelana itu tidak tanpa para pengikut, bagi keluarga, rohaniawan yang berselisih dan kumpulan-
kumpulan mengikuti mereka kemana pun mereka pergi, seringkali mendorong para pihak berwenang ortodoks
bertindak dengan menganiaya mereka. Kisah lainnya yaitu akrab dan menyedihkan. Salah satu Gereja yang
banyak berkompromi dengan Kekaisaran Byzantium Romawi Timur yaitu Uskup-uskup Kepatriakan Gereja
Ortodoks Byzantium-Yunani yang berkedudukan di Konstantinople. Contoh, Uskup-uskup kompromis ini
setuju dengan menghilangkan doktrin Reinkarnasi dalam Jemaat Ortodoks Awal yang umum diyakini sejak
abad ke-1 sampai ke-6 M.
Catatan sejarah bahwa jemaat Kristen awal percaya pada Reinkarnasi (Ibrani: Gilgulim) dan perjalanan jiwa-
jiwa kembali kepada kesatuan dengan Alaha. Ini semua diubah oleh dekrit Kekaisaran sesudah lebih 500 tahun
dipercayai umum dalam dunia Kristen sesudah kematian Mshikha, dan bahkan Bapa – bapa Gereja Kuno juga
meyakini dan menuliskannya dalam Tulisan-tulisan mereka.
Kaisar Yustinianus pada tahun 545 M., dengan kemampuannya dan kekuasaanya sebagai Kaisar Romawi
menghentikan keyakinan reinkarnasi. Dia memaksa para cardinal yang memerintah untuk menyusun titah paus
bahwa jika ada orang yang percaya bahwa jiwa-jiwa datang dari Alaha dan kembali kepada Alaha akan
dihukum mati.
“Jika ada orang menyakini pra-keberadaan yang menakjubkan jiwa-jiwa, dan yakin restorasi
semesta yang dahsyat (Ibrani: Tikkun Olam) yang terjadi kemudian: biarlah ia di anathema.”
(Anathemas melawan Origenes), mencantumkan titah-titah dari Konsili Ekumenis Kelima, 545 M,
dalam Bapa-bapaאNikeaאdanאPaskahאNikea,2אdאser.,318א:14א).”
Apa artinya ini mengatakan restorasi semesta? Bagian ini ditujukan langsung pada ajaran yang diterus
sampaikan dari Yeshua ha-Mashyakh kepada Murid-murid-Nya bahwa umat manusia berasal dari Alaha dan
ditakdirkan menjadi satu dengan Alaha sebagaimana ia yaitu satu dengan Alaha. Itulah sebabnya Yeshua
berkata,א kitaא yaitu א “Anak-anakאTerang”א sebab roh kita diciptakan dari Terang Ilahi itu sendiri. Saat orang
yahudi mencoba hendak merajam Dia dengan batu sebab menyebut diri-Nya sang Anak Alaha, Yeshua
mereposn mereka dengan mengingatkan mereka bahwa kita semua yaitu Alaha-Alaha (elohim).
Yeshua berkata kepada mereka: Bukankah ada tertulis dalam kitab Torahmu, Aku berkata, Engkau
yaitu alah-Alaha (elohim)? Jika Dia menyebut mereka Alaha-Alaha (elohim), sebab sabda Alaha
(divarאd’Alaha) ada bersama mereka, dan Kitab Suci tidak bisa dihapuskan; Masihkah kamu berkata
kepada Dia, yang sang Bapa telah sucikan dan utus ke dalam dunia, Engkau menghujat; sebab Aku
berkataאkepadamu,א“Akuאyaitu אsangאAnakאAlaha”?— Beshora Mar Yokhanan 10:34-36; Mazmur
8:6Peshitta AESV
Kemudian, sebelum Mshikha disalibkan, Ia menyingkapkan dalam doa bahwa Ia ingin murid-murid-Nya
menjadi satu dengan Alaha sama seperti Dia adanya.
20 Tidak hanya bagi mereka Aku berdoa, tapi juga bagi mereka yang akan percaya pada-Ku melalui
pemberitaan mereka ini; 21 agar mereka semua menjadi SATU;sebagaimana Engkau,
BapaKu,[yaitu ] dalam Aku, dan Aku di dalam-Mu; agar MEREKA juga menjadi SATU dalam
KITA; agar dunia bisa percaya, bahwa Engkau telah mengutus Aku. 21 agar mereka semua menjadi
SATU; sebagaimana Engkau, Bapa-Ku, [yaitu ] dalam Aku, dan Aku didalam Engkau; sehingga
MEREKA juga menjadi SATU dalam KITA; agar dunia bisa percaya, bahwa Engkau mengutus Aku.
22 Dan kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, Aku berikan kepada mereka; agar mereka
menjadi SATU,sebagaimana KITA yaitu SATU. 23 AKU DI DALAM MEREKA, dan Engkau di
dalam Aku; agar mereka sempurna menjadi SATU; dan agar dunia bisa mengetahui bahwa Engkau
mengutus Aku, bahwa Engkau mengasihi mereka sebagaimana juga Engkau mengasihi Aku. –
Beshora Mar Yokhanan 17:20-23 Peshitta AESV
Kesatuan “roh-roh Manusia” yaitu dalam sang Anak Alaha, bukan dalam sang Bapa dan Roh Kudus. Sebab
segala sesuatu diciptakan di dalam dan melalui Dia (sang Anak) – Kolose 1: 16-17; Yokhanan 1:3.
Selanjutnyaאdikatakan,א“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku
di dalam dia.”א(Yokhanan6:56א)
Kitaאtinggalאdalamא“GambarאAlaha”א(Tselemאha-Elohim), kita semua manusia diciptakan dalam Gambar Alaha,
yaitu sang Anak Alaha yang kita kenal MarYah Yeshua Mshikha sebagai perwujudan Kemanusiaan-Nya, dan
dalam Keilahian-Nya kita dimanunggalkan. Pemanunggalan ini sudah dimulai di bumi melalui pemanunggalan
Tubuh dan Darah Yeshua dalam ibadat Qurbana Kudus.
Selanjutnya, Archbishop JSM Ward mengajarkan dalam penjelasan Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan
Iman Nikea, pasal 1:
Kami percaya pada Satu Keilahian Tak Berwujud, Tak Terbatas, Kekal dan mencakup Semua; Dia
yang sebelum semua Waktu, Menjelma langsung sebagai sang Tlitayutha dari Hakikat Ehad, agar
Alaha bisa berkarya dalam Ciptaan: yang pada Mulanya sang Ehad menjadi Dua, Bapa dan Bunda,
dan dari Mereka Memperanakkan sang Anak melalui Dia diciptakan Waktu dan Ruang dan semua
Ciptaan, lima belas Jagat Keberadaan1: dan saat itu Menjelmakan langsung, Alaha berdiam dalam
Jagat-jagat tertinggi ini.
Kami percaya bahwa tiap jiwa yaitu abadi dan berisi dalam jiwa itu sendiri suatu Percikan Api
Ilahi, yang bersumber dari Alaha dan akhirnya akan kembali kepada Alaha. Bahwa tiap
Percikan Ilahi turun melalui semua Jagat-jagat Lebih Tinggi hingga jiwa itu menjadi tenggelam
dalam benda pada Jagat Fisik. Bahwa melalui hidup fisik tak terbilang jiwa itu berkembang hingga
jiwa tidak lagi membutuhkan kembali kepada Jagat Fisik: yang kemudian jiwa itu, melintas naik ke
atas melalui semua Jagat-jagat Para Orang Kudus dan Para Malaikat kembali bersekutu kembali
dengan Alaha. Bahwa dalam proses ini jiwa dicobai, diuji dan diperdayai oleh mereka yang Alaha
tugaskan melaksanakan tugas-tugas itu, hingga jiwa belajar untuk berbalik dari yang jahat dan hingga
jiwa itu akhirnya kembali dari mana jiwa itu datang.
Kami percaya pada Anak Ilahi yang secara berkala turun melalui semua Jagat-jagat Fisik, agar Dia
bisa menolong saudara-saudari-Nya yang rendah hati, dan membawa kepada masing-masing alam
wahyu lebih tinggi tentang Kebenaran. Dia yang terakhir turun ke dunia ini3 sebagai Maran Yeshua
Mshikha Kita, Dia yang yaitu Alaha dan Manusia: dilahirkan dari seorang Perawan, Dia dicobai,
menderita dan Mati di kayu Salib, sehingga dengan demikian Dia bisa menebus demi kita bagi orang
benarאuntukאKeselamatan…..
Percikanא Apiא Ilahiא merupakanא “roh-rohא manusia”א yangא diciptakanא dariא Terangא Alaha sendiri melalui dan di
dalamא sangא Anak,א sehinggaא manusiaא diא sebutא “Alaha-Alaha”א dalamא bentukא pluralא sebagaimana ditegaskan
kembali oleh Maran Yeshua kepada para ahli Torah dan Rabbi-rabbi Farisi yang telah merombak Isi Alkitab.
Denganא demikianא “percikan-percikanא Ilahiא iniא disebutא “Saudara-saudari-Nya”א sehinggaא Iaא disebutא olehא Marא
Shaul bahwa Dia yaitu GAMBAR ALAHA yang tidak kelihatan, yang SULUNG, lebih utama dari segala yang
diciptakan,…א(Kolose1:15א).א
Alaha menciptakan segala sesuatu membuat BLUE PRINT (Rancang Bangun) dahulu seperrti seorang arsitek
sebelum membangun suatu bangunan. Rancang Bangun inilah disebut sebagai Gambar Alaha yang Hidup dan di
dalam dan melalui Rancang Bangun inilah segala sesuatu diciptakan. Dan Yeshua sebagai Gambar Alaha Hidup
yaitu yang pertama diciptakan, sehingga disebut SULUNG dari semua ciptaan. Gambar Alaha yang Hidup ini
memang diciptakan di dalam sang Anak Alaha, yaitu Hikmat Alaha sendiri di dalam Pikiran Bapa, dan dalam
Hidup Ruakh ha-Kodesh. Namun, sang Anak Alaha tidaklah diciptakan sebab Ia yaitu Terang Sejati dari
Terang itu sendiri. Waspyaitu dengan istilah Gambar Alaha di sini, yaitu memang tercipta dan dalam Gambar
Alaha yang tercipta inilah segala sesuatu diciptakan dan akan kembali kepada Sumber Gambar Alaha sendiri.
Inilah yang disebut roh-roh kembali manunggal dengan Gambar Alaha, yang Sulung itu dalam sang Anak. Sang
Anak di dalam Bapa dan Roh Kudus. Sang Anak Alaha yaitu Terang Sejati, maka Gambar-Nya yang Tercipta
itupun yaitu Terang Ilahi sehingga dari sinilah terjadi Percikan-percikanא Ilahiא yangא disebutא “roh-roh”א yangא
menjadi manusia yang tercipta sesudah roh bertemua dan masuk dalam BENDA membentuk tubuh manusia.
Gambar Alaha Tercipta itu, yang SULUNG menjelma menjadi Anak Manusia yang disebut Yeshua Mshikha di
bumi.
Maka pemanunggalan itu harus terejawantahkan melalui Kesatuan Tubuh dan Darah Yeshua. Dengan demikian,
pemanunggalan Insan dan Khalik terjadi dalam Gambar Alaha Tercipta itu sendiri, bukan dalam Keilahian
Abadi sang Alaha Tlithayutha Kudus sebagaimana disalahpahami banyak orang Kristen dan Non-Kristen.
Wujud proses pemanunggalan ini terkait erat dengan doktrin reinkarnasi saat roh-roh telah mengalami
kesempurnaanא danאmelaluiא restorasiא semestawiא (Tikkunא l’Olam).א Justruא yangא takאmeyakiniא reinkarnasiא inilahא
yang disebut pikiran sesat seperti yang diyakini Uskup-uskup Ortodoks Timur dan Kaisar Yustinianus.
Seorang teolog terkenal Origenes yang menulis sekitar tahun 250 M., tentang pra-keberadaan jiwa. Ia
mengajarkan bahwa sumber sejati jiwa yaitu Alaha dan jiwa melakukan perjalanan kembali untuk
pemanunggalan dengan Alaha melalui pelajaran-pelajaran yang dipelajari dalam berkali lipat ganda kehidupan.
Dia mengajarkan bahwa Mshikha datang untuk memperlihatkan kepada kita apa yang kita bisa perbuat dan
menjadi. Selama berabad-abad ini menjadi sudut pandang arus utama Kekeristenan tapi 300 tahun kemudian
ajaran ini menjadi isu besar dan keyakinan ini dijadikan illegal sebab kaisar Konstantinus percaya ajaran ini
yaitu א berbahayaא bagiא Kekaisaranא untukא percayaא padaא reinkarnasi.א Padaא halא iniא akibatא “rasaא ketakutannya”א
sendiri akan menjelma kembali sesuai dengan perbuatan dan kekejaman yang dialkukan akan menuai akibat
perbuatan dalam kehidupan mendatang. Sehingga ia melawan agar menghibur hatinya yang gelisah sebab
ketakutan akibat Tabur Tuai yang diterimanya kelak. Pada umumnya semua para pemimpin ketakutan akan
Tabur Tuai akibat perbuatan mereka, cenderung untuk melenyapkan doktrin Reinkarnasi untuk menutupi rasa
takut mereka sendiri, bukan sebab doktrin reinkarnasi salah dan sesat, melainkan didukung Alaha sendiri, oleh
Yeshua dan Para Rasul dan banyak datanya dalam catatan Kitab Suci dan tulisan-tulisan Para Bapa Gereja.
Pada abad ke-6 M., Kaisar Yustinianus dan Paus Vigilius tidak sepakat atas apakah atau tidak ajaran-ajaran
Origenesא harusא dikutukא sebagaiא bida’ah.א Pausא mendukungא ajaranא itu sebagai konsisten dengan ajaran-ajaran
Mshikha. Kaisar memutuskan untuk membasmi keyakinan itu meskipun Paus dan Gereja percaya kepada
Reinkarnasi. Fakta bahwa doktrin reinkarnasi yaitu bagian dari teologi Kristen selama 500 tahun lebih tidak
menggoyahkan tekad Kaisar.
Kaisar Yutinianus menginginkan karya-karya tulis Origenes dan ajaran-ajarannya dikutuk dan dilenyapkan tapi
Paus Vigilius dari gereja Roma Katolik menolak untuk menandatangani dekrit kepausan mengutuk ajaran-ajaran
Origenes perihal reinkarnasi. Sebagai hasil dari ketidaksetujuannya, Kaisar menangkap Paus dan dijebloskan ke
dalam penjara. Pada tahun 543 M, Yustinianus meminta diselenggarakan Konsili Umum Kelima Gereja dan
memberitahukan Paus agar ia akan menandatangani apa pun doktrin yang ditetapkan konsili. Dalam hal itu,
dibawah pengawalan, Paus meloloskan diri untuk menghindari dipaksa untuk mengutuk karya tulis Origenes.
Kaisar memerintahkan konsili untuk melanjutkan meskipun Paus menolak hadir.
Ada alasan logis mengapa Kaisar melawan konsep bahwa semua umat manusia aslinya berasal dari Alaha dan
kembali kepada Alaha via siklus kelahiran dan kematian. Yustinianus diyakinkan oleh para cardinal pejabat
tinggi bahwa ini bukan minat kekaisaran untuk membiarkan karya tulis Origenes berlanjut disalin dan
didistribusikan. Kelompok berkuasa dari Kardinal dan uskup menjelaskan bahwa jika setiap jiwa suatu kali
pra-ada bersama dengan Alaha, kemudian Mshikha bukan sesuatu yang khusus yang datang dari Alaha.
Para Kardinal ini meyakinkan Kaisar bahwa jika masyarakat menyadari mereka yaitu anak-anak Alaha
mereka mungkin akan mulai percaya bahwa mereka tidak membutuhkan lagi seorang Kaisar, atau
membayar pajak, atau mematuhi Gereja Kudus. Tapi sejak mereka meyakini bahwa hanya Mshikha yang
datang dari Alaha dan Alaha menciptakan jenis jiwa-jiwa baru pada suatu waktu konsepsi dan hanya Gereja
Kudus bisa membawa jiwa-jiwa kepada Alaha. Dengan demikian memproteksi Kekaisaran atau tuntunan
gereja, semua orang akan dijebloskan ke Neraka selama-lamanya dan terputus dari Alaha. Doktrin ini bisa
diterima Kaisar. Suatu kali Yustinianus memahaminya sebagai bahaya politik inheren dalam ajaran-ajaran
Origenes, sisanya yaitu pemikiran Kaisar sendiri. Di sinilah kita melihat sudut kepentingan politis gerejawi
bermain api dengan bersekongkol dengan Kaisar demi mempertahankan jabatan dan kedudukan gereja.
Justru para Uskup-uskup kompromistis inilah yang mengajarkan dan mencekoki Kaisar dengan ajaran-ajaran
sesat demi kepentingan gereja. Ini salah satu kesesatan para uskup Gereja Ortodoks Timur Byzantium – Yunani
dan Roma yang kita benci perbuatan busuk mereka ini, dengan ajaran-ajaran sesatnya.
Konsili, sebagaimana diinstruksikan oleh Kaisar, menghasilkan empat belas kutuk baru dan paling pertama
mengutuk reinkarnasi dan konsep jiwa-jiwa pra-ada dengan Alaha. Paskah Konsili-konsili dan binasanya
Kekaisaran Byzantium Romawi Timur oleh kehendak Alaha, para uskup Ortodoks Timur yang sesat tidak bisa
lagi bersekongkol dengan Kaisar dan semua ajaran-ajaran Konsili-konsili wajib dan mutlak dikritisi kembali
latar belakang sejarah lahirnya dekrit-dekrit ini . Para Uskup ini serinhkali membuat dalil ucapan dalam
Kisahא Rasulא א15:28 “Sebabא yaitu א keputusanא Ruakhא ha-Kodeshא danא keputusanא kami,...”א yaitu א hasilא Konsiliא
Yerusalem tahun 50 M., dan tidak boleh dipakai sebagai landasan teori pembenaran untuk Konsili-konsili
lainnya, harus ada suara Roh Kudus sendiri yang mensahkan suatu keputusan Gerejawi Ekumenis melalui
Wahyu – wahyu dari Alaha, jika tidak ada, maka keputusan ini א yaitu א “lemah”א danא “bersifatא lokalא danא
relatifאsementaraאsaja.”א
Dengan demikian, hasil rumusan Konsili-konsili Ekumenis sejak tahun 325 M sampai 787 M yang diyakini
Gereja-gereja Ortodoks Timur Kalsedon yaitu tidak normatif bagi semua orang percaya. Pemaksaan ajaran-
ajaran Konsili Ekumenis yaitu pelanggaran berat bagi Hak Azasi Manusia, maka penjajahan semacam ini
mutlak dihapuskan dari muka bumi ini. Kita bersyukur Gereja-gereja Ortodoks Oriental tidak ikut
terkontaminasi dosa-dosa dari Gereja-gereja Ortodoks Kalsedonia yang sombong dan angkuh itu, sejak Konsili
Ekumenis ke-3 M., di Efesus, contohnya Gereja Rasuliah Assyria yang ada di wilayah Kerajaan Persia. Sebab
Konsili Efesus 341 M., mengajarkan ajaran sesat yang tidak pernah diajarkan Para Rasul dan Maran Yeshua.
Ajaran keyakinan kultus Bunda Maria pengganti dewi orang Yunani – Efesus, dewi Arthemis yang bergelar
Theotokos (Bunda Alaha) sesuatu yang tak pernah menjadi ajaran Jemaat Awal, kecuali ajaran yang
dikembangkan kemudian.
Pra-328 M., Dionisyus Alexander dari Gereja Ortodoks Koptik Alexandria – Mesir menyebut Maria sebagai
Theotokos ("Pelahir Alaha "). (McNally TJ. What Every Catholic Should Know about Mary. Xlibris
Corporation, 2009 , p. 186).
Dari zaman awal, transmisi otoritas rasuliah ada di luar dari arus utama Gereja-gereja Roma,
Konstantinople, Antiokia, dan lainnya. Banyak dari transmisi ini dikutuk oleh "saudari-
saudariא kelompokא besar"א lainnyaא sebagaiא bida’ah.א Sebaliknya,א validitas tahbisan-tahbisan
rasuliah mereka diakui oleh mereka para pengkritik. Sehubungan tradisi awal, dengan pandai
mereka bersilat lidah tapi tidak diciptakan oleh Mar Augustinus, ortodoksi dan validitas
suksesi rasuliah tidak dipandang identik. Para Uskup bisa jadi Bidat-bidat, namun bisa
menjalankan jabatan mereka sebagai pelayan-pelayan sakramen dalam tata cara yang sah.
Doktrin ini (dikenal sebagai doktrin tahbisan menurut konsep Augustinus) dipegang hingga
sekarang ini oleh Gereja Roma Katolik. Disediakan bagi "uskup-uskup berkelana" dengan
memegang intensi yang sama saat mentahbiskan para pengganti mereka sebagaimana secara
tradisional dipegang oleh dunia Kekristenan sakramentalis selama berabad-abad, mereka bisa
menerus sampaikan daya kuasa suci mereka dan melayankan sakramen-sakramen dalam hal
yang para paus akan akui sebagai yang sah. Hal semacam itu yaitu ciri dan status dari yang
disebut uskup-uskup berkelana sebagaimana ada masa kini.
Bab VII -- Keuskupan Berkelana Modern
Uskup-uskup berkelana ada sepanjang sejarah. Pada Abad
Pertengahan, uskup-uskup lokal sering mengeluh kepada Paus tentang
perjalanan uskup yang berpergian untuk melaksanakan fungsi jabatan
Tahun 430 M, seorang uskup Katolik memperingatkan: Jika Maria disebut Bunda Alaha (Theotokos), ia akan
dijadikan seorang sosok dewi, dan Bangsa-bangsa akan tersandung. (Chapman, John. "Nestorius and
Nestorianism." The Catholic Encyclopedia. Vol. 10. New York: Robert Appleton Company, 1911. 4 Aug. 2011
Uskup ini lebih suka menyebut istilah “pelahir Mshikha” (Kristotokos) - (Ott L. Fundamentals of Catholic
Dogma, 4th ed . TAN Books, Rockford (IL), Nihil Obstat:אJeremiahאJ.אO’אSullivan. Imprimatur: + Cornelius, 7
October 1954., Printed 1974, TAN Books, p. 196).
Meskipun ada keberatan ini, istilah Theotokos tampaknya menjadi lebih meluas diterima pada abad ke-5 M.
Kebundaan ilahiah Maria diproklamasikan dalam Konsili Efesus 431 M...Kebundaan Ilahi Maria bukan obyek
independen atau deklarasi dogmatik eksklusif. Pernyataan ditambahkan dalam teks mendefenisikan pribadi dan
kodrat Yeshua Mshikha. (The Four Marian Dogmas. Catholic News Agency.
Banyak sarjana percaya bahwa Maria dideklarasikan Bunda Alaha dan diijinkan dihormati tinggi sebab
kebutuhan dunia Hellenis bagi prinsip jenis kelamin perempuan sorgawi. Mereka berkata ini yaitu kompromi
denganא penyembahanא berhalaא dalamא aturanא bagiא Kekeristenanא untukא menjadiא dapatא diterimaא…iniא memangא
benarא sekaliא …(Rozettא E. Mother Mary and the Goddess.
http://www.interfaithmary.com/pages/mary_goddess.html viewed 08/05/11)
Persoalannya,א sebab א dalamא bahasaא Yunani,א kataא untukא Rohא Kudusא yaitu א “Pneuma”א dalamא jenisא kelaminא
NETRAL (tidak perempuan ataupun laki-laki, sedangkan dalam bahasa Ibrani-Aramaik, tidak ada masalah
sebab Ruakh ha-Kodesh atau Rukha d’Kudsha yaitu berjenis kelamin perempuan). Ini juga terjadi dalam
bahasanא Latin,א “Spiritus”א yaitu א dalamא jenisא kelaminא laki-laki. Inilah efek bias yang terjadi melupakan akar
budaya Kekeristenan dalam budaya Ibrani-Aramaik Yudaisme Alkitabiah.
ke berabagai wilayah untuk menyediakan para uskup, seperti meneguhkan orang muda dan
menahbiskan ima m dan diakon. Pada zaman modern, seiring Reformasi, kegiatan ini
kadang-kadang menjadi penyebab komunitas besar meninggalkan Gereja Roma. Salah satu
sebab celebrant seperti melibatkan Uskup Perancis, Dominique Marie Varlet (1724-1767),
Uskup dari Babilon saat bepergian melalui Belanda, mulai melayani kelompok terisolasi
dalam minoritas Katolik yang tersisa di negeri Kalvinis. Uskup Varlet akhirnya dibujuk untuk
melimpahkan keuskupan pada pemimpin kelompok Katolik Belanda dengan mentahbiskan
Petrus Codde (1688-1704), dan pada tahun 1724, Gereja Katolik Lama Belanda lahir.
Dengan gigih, komunitas saleh ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai gereja Katolik
yang terpisah dari Roma, namun itu enggan diakui sebagai tubuh Katolik sah oleh para paus,
dan masih mempertahankan status ini hingga hari ini. Dalam catatan dewan terbaru dari
Gereja Katolik Roma (dikenal sebagai Konsili Vatikan II), Gereja Katolik Lama kecil -
Belanda terdaftar di bagian atas daftar para pengamat, jauh di depan seperti lembaga-lembaga
keagamaan Protestan besar sebagaimana Gereja Anglikan atau Presbiterian, sebab validitas
dipertanyakan.
Tempat lain di mana berkelana uskup-uskup yang berlimpah ada di wilayah misionaris
Kristen kuno selatan India, di mana, menurut tradisi lokal, yang terbesar dan paling kuat dari
semua uskup berkelana, Rasul Mar Thoma, terletak pada sebuah makam tidak jauh dari kota
Madras.
Orang-orang Kristen dari Mar Thoma, awalnya
Brahmana dari pantai Malabar, terus selama
berabad-abad sebagai rangkaian komunitas-
komunitas yangsangat independen, menegaskan
hak-hak mereka terhadap paus dan leluhur yang
mengklaim yurisdiksi atas mereka. Dan
terjadilah seorang imam Katolik Lama Belanda
yang keras pendiriannya datang ke India dan
faksi orang-orang Kristen India Selatan melihat
hal tak wajar Paus yang berkedudukan di
Vatikan – Roma menjadi nenek moyang
mereka dari komunitas yang independen
sebelumnya mejadi dibawah tekanan, sehingga uskup-uskup mereka akhirnya meninggalkan
Gereja Roma Katolik bergabung dengan Gereja Syria Ortodoks Malankara India beserta
ribuan umat, dibawah pimpinan Uskup Agung Antonio Francisco Xavier Alvares (1836 –
1923), menerima Imam Joseph Rene Vilatte dari Gereja Katolik Lama Belanda yang berada
dalam misi di Amerika Utara dengan mentahbiskannya menjadi Uskup bagi Katolik Lama -
Amerika.
Pada perkembangan Keuskupan-keuskupan di Amerika Utara selanjutnya ada dua tokoh pada
abad ke-20 yang mengembangkan Keuskupan-keuskupan Independen, satu jalur Inggris,
yakni Suksesi Rasuliah dari Archbishop Arnold Harris Matthew (1852-1919) yang
mendirikan Gereja Roma Lama Katolik di Inggris dari suksesi rasuliah Gereja Katolik Lama
Belanda. Kemudian penggantinya Pangeran – Uskup Rudolph de Landes-Berghes tahun
1914 membawa misi ke Amerika. Satunya lagi, Prancis Amerika, yakni Archbishop Joseph
René Vilatte (1854-1929) akhir abad ke-19 yang telah menerima tahbisan dari Uskup Agung
Antonio Francisco Xavier Alvares dari India Selatan. Vilatte membawa arus suksesi Syria
asli dari Gereja India Selatan ke Amerika Serikat. Tidak terikat oleh aturan-aturan tradisional
dan batasan-batasan mengenai konsekrasi para uskup lainnya, dari kedua tokoh inilah
melahirkan banyak Uskup-uskup berkelana di seluruh dunia. Juga ada tokoh-tokoh Uskup-
uskup dari Gereja Ortodoks Russia Amerika, Armenia, Syro-Kaldea, Koptik, dll. Semua
melebur menjadi satu dalam satu keuskupan dengan multi-tahbisan yang disebut Gereja-
gereja Ortodoks Katolik Independen dengan berbagai nama yurisdiksionalnya di seluruh
dunia.
Bab VIII -- Otoritas Rasuliah dan Suksesi
I. Para Pemimpin Tertahbis Melaksanakan Pelayanan dan Otoritas Yeshua
Mattai 10:1, 40 – Yeshua menyatakan kepada Para Murid-Nya, "ia yang menerima kamu,
menerima Aku, dan ia yang menolak kamu, menolak Aku dan sang Bapa mengutus Aku."
Yeshua memberi otoritas-Nya dengan bebas kepada para rasul kuasa bagi mereka untuk
mempertobatkan dunia dengan efektif.
Mattai 16:19; 18:18 - para rasul diberi otoritas Mshikha untuk membuat keputusan yang
terlihat di bumi yang akan disahkan di surga. Alaha membangkitkan manusia di dalam
Mshikha dengan meninggikan pemimpin yang dipilihnya dan memberkati mereka dengan
otoritas dan anugerah yang mereka butuhkan untuk membawa tentang pertobatan bagi semua.
Tanpa otoritas pusat di Jemaat, akan ada kekacauan (seperti yang ada pada Protestan).
Lukas 9: 1; 10:19 - Yeshua memberi para rasul otoritas mengatasi alam dan supranatural
(penyakit, setan, ular, dan kalajengking).
Lukas 10:16 – Yeshua memberitahu para rasul-Nya, "orang yang mendengarkanmu,
mendengarkan Aku." saat kita mendengar pengajaran para uskup perihal iman, kita
mendengar Mshikha sendiri.
Lukas 22:29; Mattai 16:19 – Sang Bapa memberi kerajaan kepada sang Anak, dan sang
Anak memberi kerajaan kepada para rasul. Karunia ditransfer dari sang Bapa kepada sang
Anak kepada para rasul.
Bilangan 16:28 - otoritas sang Bapa ditransfer kepada Musa. Musa tidak berbicara atas
dirinya sendiri. Ini yaitu transfer riil otoritas.
Pikei Avot 1:1-2 Maryah memberi Torah kepada Mosha di Sinai dan Mosha
mewariskannya kepada Yoshua. Yoshua mewariskan Torah itu kepada Tua-tua, Tua-tua
kepada Nabi-nabi, dan Nabi-nabi mempercayakan Torah itu kepada Tua-tua Majelis
Sanhedrin. Tua-tua Sanhedrin akan selalu mengatakan tiga hal ini: Cermat dalam pengadilan.
Jadikan banyak talmidim (Murid-murid). Dan bangunlah pagar tembok perlindungan
sekeliling Torah. 2. Dunia tidak lenyap oleh sebab tiga perkara: Torah, ibadat kepada
Alaha, dan perbuatan baik. Sang Bapa memberi Ajaran-ajaran kepada sang Anak, sang
Anak memberi nya kepada para Rasul-Nya dan selanjutnya para Rasul melanjutkannya
kepada para pengganti mereka (Kisah 14:23) sebagaimana dikatakan dalam Pengakuan Iman
Sefasha tahun 100 M., dari Jemaat Yerusalem: “Aku menyatakan bahwa Masorah dan Torah
yang diberikan kepada kami melalui Dua Belas Terpilih akan terus ada dalam hatiku dan
pada mulutku, sebab merekalah yang memberi nya kepada kami, melalui Maran Yeshua
…” (Sefasha, butir 11).
Yokhanan 5:30 – Sama halnya, Yeshua sebagai manusia tidak melakukan apapun dari diri-
Nya sendiri, namun Dia bertindak di bawah otoritas dari sang Bapa.
Yokhanan 7: 16-17 - Yeshua sebagai manusia menyatakan bahwa otoritas-Nya bukan milik-
Nya sendiri, melainkan dari Alaha sang Bapa. Dia mentransfer otoritas ini untuk orang lain.
Yokhanan 8:28 – Yeshua mengatakan Dia tidak melakukan apapun pada otoritas-Nya
sendiri. Demikian pula, para rasul tidak akan melakukan apa pun pada otoritas mereka
sendiri. Otoritas mereka berasal dari Alaha.
Yokhanan12:49 - Otoritas sang Bapa ditransfer kepada sang Anak. Sang Anak tidak dari
diri-Nya sendiri. Ini yaitu pengalihan wewenang ilahi.
Yokhanan 13:20 – Yeshua berkata, "dia yang menerima siapa pun yang Aku utus, menerima
Aku." Dia yang menerima para rasul, menerima Mshikha sendiri. Dia yang menolak para
rasul dan penerus mereka, menolak Mshikha. Kasus yang terjadi masih dalam masa Rasul
Yokhanan di Efesus, di mana Diotrefes menganggap dirinya lebih tinggi, lebih berkuasa dan
otoritatif dari rasul Yokhanan sehingga ia menolak sang Rasul (3 Yokhanan 1:9-11), maka
diaא yaitu א menolakא Mshikhaא danא disebutkanא sebagaiא “anti-Mshikha”א א1) Yokhananא א.(2:8
Barangsiapa menolak Suksesi Rasuliah mereka yaitu anti-mshikha (anti-Kristus).
Yokhanan 14:10 - Yeshua mengatakan Sabda Dia berbicara tidak atas kuasa-Nya sendiri,
namun dari sang Bapa. Karunia ini yaitu dari sang Bapa kepada Yeshua kepada para rasul.
Yokhanan 16: 14-15 - Apa yang sang Bapa punya, sang Anak memiliki, dan sang Anak
memberi kepada para rasul. Otoritas tidak berkurang atau dikurangi.
Yokhanan17:18; 20:21 – Sebagaimana sang Bapa mengutus sang Anak, sang Anak
mengutus para rasul. Otoritas ilahiah Para rasul telah ditetapkan.
Kisah Para Rasul 20:28 - Para Rasul yaitu para gembala dan wali yang ditunjuk oleh Roh
Kudus / 1 Keipha 2:25 – Yeshua yaitu Gembala dan Penjaga. Para rasul, oleh kuasa sang
Roh, melaksanakan pelayanan dan otoritas Mshikha.
Yeremia 23: 1-8; Yehezkiel 34: 1-10 – Para gembala harus menggembalakan domba, sebab
mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alaha.
Yokhanan 21:15-17 – Yeshuaא berkataא kepadaא Shimonא Keipha,א “Gembalakanlahא Domba-
domba-Ku”אsebanyakא tigaאkali.אShimonאKeiphaאyaitu אseorangא rasulאMshikhaאyangאdisebutא
jugaא sebagaiא “penilik”א (Uskup).א Banyakא kelompokא Kristenא Protestanא saatא membacaא Injilא
Mattai hanya membaca Mandat Yeshua,pasal 28:19-20, namun tidak mau memperhatikan ayat
16 bahwa perintah itu diberikan kepada 11 Rasul. Mandat Agung Yeshua kepada Para Rasul-
Nya; pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku, baptislah, ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang Akuא perintahkanא kepadamuא…אPerkataanא iniא ditujukanא kepadaא א11 rasulא saja,א
bukan kepada setiap pembaca Injil. Sebelum Kitab Injil dituliskan orang-orang percaya tidak
mengutip perkataan Yeshua ini, mereka tunduk dan taat kepada Ajaran-ajaran Rasul. Sebab
Para Rasul telah memberitahukan bahwa Mandat Agung itu diberikan kepada para rasul saja
(Mattai 28:16, 20; Markus 16: 14-20; Kisah 1:8-11).
Namun, 1600 tahun kemudian kelompok Reformasi Protestan telah memutarbalik dan
menyelewengkan Ayat-ayat ini ditujukan bagi Pembaca kitab Injil sebab yang ada di depan
mata mereka bukan Mshikha yang Hidup, namun Kitab Suci Tertulis benda mati yang dengan
mudah dibelokkan pengertian tiap ayat yang ada di dalamnya. Efeknya lahirlah Jemaat-
jemaat Tafsir Kitab Suci dan ini bukan yang disebut Jemaat-jemaat Rasuliah dan tidak
dibangun di atas Para Nabi, para Rasul, dan Yeshua Mshikha sebagai batu penjuru landasan
Jemaat yang dibangun-Nya (Mattai 16:18; Efesus 2:20). Gereja-gereja Protestan dibangun
di atas landasan tafsir Alkitab dan batu penjurunya yaitu para pendiri gereja mereka
sendiri.
Efesus 2:20 - Iman Mshikhanim (Kristen Sejati) dibangun di atas dasar para rasul. Kata
"landasan" membuktikan bahwa itu tidak mati seiring dengan para rasul telah wafat semua,
namun diterus sampaikan melalui suksesi.
Efesus 2:19-20; Wahyu 21: 9,14 - kata-kata "rumah tangga," "Mempelai Anak Domba," dan
"Yerusalem baru" semua metafora bagi Jemaat yang dasarnya yaitu para rasul. Kitab Suci
sama sekali tidak ada menyebutkan Iman Reformasi Protestantisme, justru melawan
Reformasiא Protestantismeא denganא berkata;א א…“ supayaא kamuא tetapא berjuangא untukא
mempertahankan Iman yang satu kali disampaikan kepada orang-orangאkudus.”(Yudasא1:3א
Peshitta AESV).
II. Otoritas Ditransmisi melalui Sakramen Tahbisan
Kisah Para Rasul 1: 15-26 - Hal pertama Simon Keipha* lakukan sesudah Yeshua naik ke
surga yaitu dilaksanakannya suksesi rasuliah. Mar Matthias ditahbiskan dengan otoritas
rasuliah sepenuhnya. Hanya Jemaat Katolik (Seutuhnya) yang bisa menunjukkan garis
keturunan rasuliah tak terputus kepada para rasul dalam persatuan dengan semua para rasul
melalui sakramen tahbisan dan dengan demikian mengklaim untuk mengajar dengan otoritas
Mshikha sendiri.
*Catatan: Mengapa Shimon Keipha selalu tampil di depan dan pertama kali diantara para rasul? Ini
disebabkan umur Shimon Keipha paling tua diantara semua Para Rasul dan Yakub ha-Tzadik lebih
tua 20 tahun dari semua para rasul. Dalam Tradisi Yahudi yang disebut “Tua-tua” yaitu mereka
yang telah berusia 50 tahun ke atas dan dipandang sepuh serta dihormati yang lebih muda sebagai
wujud dari pelaksanaan perintah “Hormatilah orang tuamu.” Perilaku ini yaitu umum bagi
masyarakat Yahudi dan umumnya diantara bangsa-bangsa Asia. namun dalam tradisi Yunani-Latin
mereka yang dihormati sebab pengetahuan filsafatnya yang tinggi.
Sebaliknya, dalam Tradisi Yahudi bukan “pengetahuan” yang menjadi utama namun etika yang lebih
tua. Jadi ini bertabrakan pemahaman Gereja-gereja Yunani-Latin melihat sosok Shimon Keipha
sehingga mereka berpikir wewenang dan keutamaan Shimon Keipha dilihat dari pengetahuannya.
namun ternyata mereka salah sebab Shimon Keipha dalam sikap dan pengetahuan masih berada
dibawah Rav Mar Shaul sehingga Keipha ditegur oleh Mar Shaul. (Galatia 2:11-12) Begitu pula
pengetahuan Shleeha Mar Yokhanan lebih tinggi dari pengetahuan Shimon Keipha.
Kemudian, Keipha yaitu eks-gerilyawan Zeloti (Sicarii) yang sudah terbiasa dalam kepemimpinan
olah keprajuritan dalam garis komando militer. Dua faktor ini yang membuat Shimon Keipha selalu
harus berada di ujung tombak barisan kepemimpinan, sebagai penggerak utama dari Para Rasul
sehingga ia diberikan amanah oleh Maran Yeshua untuk menolong saudara-saudaranya, bukan
berarti semua harus tunduk dalam keutamaan Shimon Keipha. Sebaliknya, Yakub ha-Tzadik yang
terpilih sebagai penentu dalam Sidang Konsili Yerusalem (Kisah 15) dan juga sebagai Uskup Jemaat
Perdana Rasuliah Yahudi di Yerusalem dan bukan Shimon Keipha.
Propaganda Gereja Roma Katolik yang menekankan supremasi kedudukan Shimon Keipha (Petrus)
yaitu salah total sebab ketidakpahaman tradisi Yahudi dan kontekstual siapa Shimon Keipha.
Tidak ada mandat Maran Yeshua semua Para Rasul tunduk kepada Shimon Keipha. Sebaliknya,
dalam naskah tulisan Mar Klementinus mengatakan: “....Dia menerima laporan (I:66; cf. II:73),
menangani persoalan (I:66-69), mengirimkan Surat-surat otorisasi dengan perwakilan-perwakilan
resmi (IV:35), dan bahkan memberi tugas khusus kepada Shimon Keipha (I:72). Mar Ya’aqub
dirujuk sebagai “Kepala dari Uskup-uskup” (Primus Inter Pares) dan dia ini digambarkan seperti
kedudukan "Kayafas … kepala dari Imam-imam." Aturan kepemimpinannya, bahkan membawahi
Rasul-rasul (Shlikhim), juga dijelaskan pada Kisah Rasul 21:17-22:23 di mana dia yaitu sosok
pemimpin yang mengeluarkan titah atau aturan-aturan untuk diikuti oleh para petobat non-
Yahudi. Dia yang memanggil Paulus (Shaul) sebab berselisih terhadap para pengikut Yahudi
dengan kabar berita meniadakan Torah dengan menyuruhnya melakukan ritual pentahiran empat
orang yang sedang melaksanakan kaul Nazar,…..
Kisah 1:20 - Penerus Yudas Iskariot dipilih. Kewenangan jabatannya ("keuskupan")
dihormati meskipun dosanya mengerikan. Keharusan untuk memiliki suksesi rasuliah agar
Jemaat bertahan hidup dipahami oleh semua. Alaha tidak pernah berkata, "Aku akan
memberi kepadamu pemimpin dengan otoritas selama 400 tahun, tapi sesudah Alkitab
dikompilasi, kamu semua lakukanlah menurut kehendakmu sendiri."
Kesalahan dan dosa Reformasi Protestan yaitu Bibliolatria (penyembahan Alkitab/kultus
Alkitab) di mana tiap orang boleh menafsirkan ayat-ayat sesuka hati mereka tanpa ketaatan
kepada Jemaat Rasuliah dan tak memiliki suksesi rasuliah, namun mereka tiap orang menjadi
punya otoritas dan hak mendirikan jemaat dan membangun doktrin sesuai keinginannya
sendiri. Jika kita menjelaskan suksesi rasuliah selalu mereka akan melawan dan menolak agar
mereka tetap bisa berbuat sesuai keinginannya dengan menafsirkan sendiri isi Kitab Suci.
Kisah Para Rasul 1:22 - Secara harfiah, "seseorang harus ditahbiskan" untuk menjadi saksi
dengan kami tentang kebangkitan-Nya. Pentahbisan Rasuliah diperlukan untuk mengajar
dengan otoritas Mshikha.
Catatan: Kesaksian itu ada dua bentuk. Pertama, Kesaksian Tertulis merupakan catatan Tertulis kita
sebut Alkitab dan Lisan dalam berbagai ekspresi lainnya seperti Sakramen-sakramen (Qadishothim),
Ritus, Doa-doa, Shahadat, Masora dan Limuda, dan semua praktek kehidupan jemaat. Kedua, Para
Pengganti Rasul (Uskup, Imam, dan Diakon) melalui Tahbisan Suksesi Rasuliah sebagai Kelanjutan
Saksi-saksi Mata Hidup yang bisa dibuktikan dalam catatan sejarah silsilah para pengganti otentik
sampai kepada salah satu Rasul itu sendiri sepanjang abad. Kesaksian Tertulis bisa dimanipulasi dan
ditafsirkan dengan segala macam tafsir dan klaim, namun Kelanjutan Saksi-saksi Mata Hidup tidak
bisa dimanipulasi sama sekali sebab dengan ketat dilestarikan sepanjang abad dan tidak bisa
dibohongi.
Kisah Para Rasul 6: 6 - Otoritas kerasulan ditransfer melalui penumpangan tangan
(Pentahbisan). Otoritas ini telah menerus sampaikan diseberang dua belas rasul sebagai
Jemaat telah tumbuh.
Kisah Para Rasul 9: 17-19; Kisah 13:1-3 - Bahkan Paulus, yang dipilih langsung oleh
Mshikha, hanya menjadi pelayan sesudah penumpangan tangan oleh uskup. Ini yaitu bukti-
teks yang kuat untuk kebutuhan Pentahbisan sakramental untuk menjadi penerus sah dari para
rasul.
Kisah Para Rasul 13: 3 - Otoritas kerasulan ditransfer melalui penumpangan tangan
(Pentahbisan). Otoritas ini harus datang dari seorang uskup Jemaat Rasuliah.
Kisah Para Rasul 14:23 - Para rasul dan orang-orang yang baru-ditahbiskan ditunjuk para
tetua untuk memiliki otoritas di seluruh Jemaat.
Kisah Para Rasul 15: 22-27 – Para pengkhotbah Sabda harus diutus oleh para uskup dalam
kesatuan dengan Jemaat. Kita harus menelusuri kuasa itu kepada para rasul.
2 Korintus 1: 21-22 – Rav Mar Shaul menulis bahwa Alaha telah menugaskan orang-orang
tertentu dan memeteraikan mereka dengan Roh Kudus sebagai jaminan.
Kolose 1:25 - Paulus menyebut jabatannya sebagai "jabatan Ilahi." Jabatan yang memiliki
para penerus. Jabatan itu tidak berakhir pada kematiannya. Atau itu bukan jabatan hanya pada
dirinya sendiri. Lihat juga Ibrani 7:23 – jabatan berlanjut dengan penggantinya yang lain
sesudah wafat pemegang jabatan sebelumnya.
1 Timotius 3: 1 - Paulus memakai kata "mebaqqer" (episcopoi/penilik/uskup) yang
menuntut suatu jabatan. Semua orang mengerti bahwa Paulus memakai mebaqqer dan
jabatan ini dimaksudkan untuk melanjutkan sesudah kematiannya oleh orang-orang yang akan
menggantikannya.
1 Timotius 4:14 – Dan otoritas rasuliah ditransfer melalui penumpangan tangan
(Pentahbisan), tidak hanya menumpangkan tangan, namun banyak lagi tata cara bagaimana
melakukan pentahbisan ini. Hanya untuk mempersingkat bahasa tulisan disebutkan
“menumpangkanאtangan”א(Ibrani:א“semikhah”).אBagiאmerekaאpenganutאdoktrin Sola Skriptura
(hanyaאAlkitab)א akanא terjebakאdalamא apaא yangא ‘tersurat’א sajaא danא takאmengenalא bagaimanaא
sebenarnya proses pentahbisan yang sebenarnya.
Contoh, Saatא siswaא sekolahאmelakukanא ‘upacaraא benderaא17אAgustus’א adaאbanyakא tahapan-
tahapan dan isi bagaimana upacara itu dilakukan dan tata cara itu sudah dibakukan menjadi
tradisiא17אAgustus.אnamun אucapanאringkasnyaאhanyaאmengatakanא“upacaraאbendera”,אapakahא
hanya menaikkan bendera? Tentu saja tidak. Sayangnya para penganut Hanya Alkitab
melakukanא“tumpangאtangan”אhanyaאtumpangאtanganאsajaאdiikutiאdoa-dosa dalam pelantikan
para pelayan gereja mereka. Ini suatu kesalahan TAFSIR. Tapi sayangnya saat kita beritahu
yangאbenar,אmerekaאspontanאmenolakאsebab אfaktorאpsikologisאmerasaא“malu”אtelahאmeakukanא
kesalahan.
1 Timotius 5:22 - Paulus mendesak Uskup Timotius untuk berhati-hati dalam penumpangan
tangan (menahbiskan orang lain). Karunia otoritas yaitu kenyataan dan tidak dapat
digunakan tanpa pandang bulu. Artinya, tahbisan suksesi rasuliah dianugerahkan kesetiap
orang yang dipilih diantara anggota jemaat yang mampu dan cakap memimpin, bermoral
baik, dan layak dijadikan teladan. Pemilihan ini tak boleh bersifat pilih kasih dengan
membedakan suku, bangsa dan bahasa. Hal ini kita bisa baca dalam nasihat Paulus bagi calon
pentahbisan USKUP (1 Timotius 3:1-7), dan bagi IMAM dan DIAKON (1 Timotius 3:8-13).
Ini jelas sekali menyebutkan kriteria yang pantas ditahbiskan. Juga sekaligus ini yaitu
FAKTA bahwa Suksesi Rasuliah itu yaitu realitas nyata disebutkan dalam Alkitab. Bagi
orang-orang Kristen yang menolak Tradisi Kudus Suksesi Rasuliah identik dengan
menginjak-injak Alkitab itu sendiri dan merasa dirinya lebih benar dari pada pernyataan
Kitab Suci serta menutup mata bagi fakta obyektif ini, dan semakin tertutup sikapnya maka
semakin tenggelam kedalam dosa menghujat Ruakh ha-Kodesh kendatipun hidupnya
kelihatan seorang Kristen yang baik, namun ia penghujat Roh Kudus.
2 Timotius 1: 6 - Paulus kembali lagi mengingatkan Timotius karunia Alaha yang unik yang
ia terima melalui penumpangan tangan (pentahbisan).
2 Timotius 4: 1-6 - Pada akhir kehidupan Paulus, Paulus menugaskan Uskup Timotius
dengan jabatan pelayanannya. Kita harus menelusuri garis keturunan rasuliah benar kembali
ke seorang uskup awal kepada Para Rasul sendiri. Setiap Uskup punya daftar silsilah tercatat
dari abad kea bad tanpa putus, dan bisa ditelusuri siapa pentahbisnya dan siapa yang
ditahbiskan. Dan begitulah turun temurun dari satu uskup ke uskup lain.
Ini yang menandai bahwa suatu Jemaat itu sah yaitu Jemaat yang dibangun di atas para
nabi, para rasul dan Yeshua Mshikha sebagai landasan Batu Karang Utama. (Efesus 2:20;
Mattai 16:18-19). Jika ada pelayan yang mengaku sebagai hamba Tuhan tak punya silsilah
ini, maka ia yaitu pelayan palsu (2 Korintus 11: 12-15) yang mengangkat dirinya sendiri
sebagai pelayan. Sekalipun ia bisa melakukan berbagai mujizat, Yeshua sudah mengantisipasi
hal ini dengan berkata: Enyahlah Aku tak mengenalmu! (Mattai 7:21-23), maka sia-sialah
pekerjaan kita yang kita sangka menuju kebenaran namun ternyata menuju jurang maut.
2 Timotius 2: 2 - Ayat ini menunjukkan maksud Alaha yaitu untuk mengalihkan kekuasaan
kepada penerus (di sini, Paulus kepada Timotius untuk generasi ke-3 dan ke-4). Ini terus
berlanjut sesudah kematian para rasul hingga hari ini.
Titus 1: 5; Lukas 10: 1 – Zakanim (Para Penatua) Jemaat ditahbiskan dan memegang
otoritas. Alaha punya anak-anakNya berpartisipasi dalam pekerjaan Mshikha. Para Rasul
yaitu Para Pengganti Mshikha di bumi yang melanjutkan pekerjaan Mshikha, demikianlah
seterusnya wewenang dan amanah yang dimiliki para rasul didelegasikan kepada para
pengganti rasul, yakni diakon, Imam, dan Uskup yang berkarya melayani pekerjaan Mshikha
di bumi. (Yokhanan 13:19-20). Tanda Pengutusan Mshikha bagi pelayan bukan hanya
‘perasaanא fiktifא emosional’א namun א harusא terbuktiא lewatא catatanא silsilahא sejarahא danא prosesא
pentahbisan yang nyata dengan saksi-saksi dari para pentahbis yang sah juga. Dengan
demikianא “merekaא inilahא yangא diutusאMshikha.”אAdaא banyakא yangאmengakuiא “diutus”א tapiא
hanya fiktif, mereka akan mempertanggungjawabkan semuanya kelak sebab ini yaitu dusta
yang disengaja.
1 Yokhanan 4: 6 – Barangsiapa mengenal Alaha mendengarkan kita (para uskup dan
penerus para rasul). Ini yaitu cara kita melihat kebenaran dan kesalahan (bukan hanya
dengan membaca Alkitab dan menafsirkannya untuk diri kita sendiri). Jika kita telusuri
sebenarnya, bila kita jujur bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab berbicara kepada diri
pribadi kita langsung sebab anda belum lahir pada waktu 2000 tahun lalu. Anda mengutip
ayat-ayat Alkitab hanya seperti kutipan ucapan-ucapan seseorang yang anda anggap
bijaksana dan bermanfaat dan anda yakini serta jadikan pedoman hidup. Apakah perkatan itu
ditujukan kepada anda? Tidak sama sekali. Jika kita mengutip perkataan seseorang tanpa ijin
bukankah ini tindakan mencuri? Anda berniat baik namun perilaku anda mencuri. Bisakah ini
dibenarkan, sekalipun itu yaitu isi Alkitab? Tidak. Ini yaitu dosa mencuri. Bagaimana agar
anda tidak jatuh dalam dosa mencuri? Masuklah kedalam Jemaat Rasuliah itu sendiri yang
yaitu kelanjutan umat Perjanjian Baru di mana para rasul mengalamatkan surat-surat
Kirimannya dan begitu juga umat Israel dalam kitab Tanakh milik mereka yang sudah
digenapi dalam Yeshua dengan mendirikan Jemaat Perjanjian Baru yang dilayani Para Rasul
dan Penggantinya.
Keluaran 18: 25-26 - Musa menunjuk berbagai kepala atas umat Alaha. Kita melihat hirarki,
transfer otoritas dan suksesi. Jadi tidak ada petunjuk mengangkat diri sendiri di sini. Tokoh
Reformasi Protestantisme seperti Martin Luther, John Calvin, Ulrich Zwingly, dll. yaitu
orang-orangyang mengangkat dirinya sendiri menjadi pemimpin sebab mereka bukan
USKUP (hanya Martin Luther yang yaitu Imam yang tak punya otoritas mendirikan Jemaat
dan mentahbiskan para pelayan), sikap ini diikuti semua orang yang mengambil kesempatan
dalam keadaan kaca balau saat itu di Eropa abad ke-16 hingga saat ini. Akhirnya untuk
melegalkan entitas pergerakan Reformasi Protestantisme dan kelompok-kelompok sempalannya
mereka memformulasi Menolak Suksesi Rasuliah dan menutup mata mereka dengan sengaja
terhadap fakta Alkitabiah dengan memutarbalikkan tafsir dan kenyataan sejarah, lalu berbalik
menyerang Gereja-gereja Rasuliah.
Keluaran 40:15 - Urapan Fisik menunjukkan bahwa Alaha memaksudkan suatu imamat
abadi dengan suksesi tak terputus yang bisa diidentifikasi. Jemaat (Ibrani: Qahal) bukan suatu
entitas fiktif dan khayalan dalam dunia ide Platonisme, namun harus ada garis benang merah
sejarah yang tak putus sepanjang abad.
Bilangan 3: 3 - Anak-anak Harun yang secara resmi menjadi Imam-imam "diurapi" dan
menerima "pentahbisan" untuk melayani dalam jabatan '"Imam-imam." Ini yaitu perintah
Maryah Alaha sendiri yang memisahkan satu suku keturunan Lewi untuk menjadi Imam-
imam yang melayani Dia dan mengantarai antara umat dan Alaha.
Demikian pula, Maryah Yeshua Mshikha telah memilih dan mentahbiskan Dua Belas Rasul
dan Tujuh Puluh Murid menjadi Pelayan Keimamatan menurut Aturan Melkisedek selama-
lamanya. (Markus 3:14- 19; Kisah 1:24-26; Lukas 10:1; Yokhanan 15:16; Ibrani 7-9) Jika
Yeshua seperti pemimpin Agama-agama lainnya, tentu Dia tak perlu memilih dan
mentahbiskan Para Murid-Nya secara khusus, namun faktanya Dia memilih dan mentahbiskan
khusus. (Mattai16:18-19; Markus 4:11; Yokhanan 20:21-23) dan juga memilih Rabbi Shaul
sebagai rasul (Kisah 9). Sebagaimana masa Keimamatan Harun harus memiliki silsilah
jabatan Imam demikian pula keimamatan dari para imam Melkisedek dalam Perjanjian baru
memiliki SILSILAH dari para Uskup sepanjang sejarah. Ini bukti yang tak bisa direkayasa
sepanjang masa. Ini merupakan BUKTI OTENTIK sebagai Pelayan – Imam Sah dipilih dan
ditahbiskan Ruakh ha-Kodesh melalui proses pentahbisan (Semikhah). Tanpa ada bukti sah
ini, maka mereka akan menjadi para pelayan palsu – imam palsu. Ini sangat menyakitkan hati
merekaא yangא sudahא merasaא dirinyaא menjadiא “pelayan”א atauא “rohaniawan”א namun FAKTA
TIDAK BISA DISANGKAL. Ini membutuhkan kerendahan hati dan pertobatan jika memang
orang ini mengakui beriman kepada Yeshua Mshikha, kecuali dia menjadi pelayan
malaikat Terang Palsu dengan memakai nama Yeshua Mshikha dalam ajaran-ajaran
keagamaannya.
Bilangan 16:40 - Menunjukkan maksud Alaha perihal suksesi tak terputus dalam kerajaan-
Nya di bumi. Jika seorang imam tidak ditahbiskan oleh Harun dan keturunannya, ia tidak
memiliki otoritas.
Suatu Kerajaan atau Negara harus melantik resmi para pengganti penerus kepemimpinan dan
tidak bisa tiap orang mengangkat dirinya sendiri, jika ini dilakukan maka orang lain pun akan
melakukan hal yang sama, sehingga terjadilah kekacauan dan perang. Masing-masing
membuat kerajaan-kerajaannya sendiri lalu memerangi yang lain. Dalam gereja Kristen
Reformasi Protestantisme dan sempalannya; jika seseorang tidak setuju dengan pemimpinnya
maka orang ini akan membuat organisasi tandingan dan ajaran-ajaran baru menurut tafsirnya
sendiri sehingga kita heran jumlah sekte-sekte kelompok reformasi Protestan sudah mencapai
44.000 di seluruh dunia dengan masing-masing berbeda tafsir satu sama lain. Gereja-gereja
Reformasi Awal (Abad ke-16) sudah lenyap dan tidak diketahui lagi yang mana sekarang ini.
Bilangan 27: 18-20 - menunjukkan maksud Alaha bahwa, melalui "penumpangan tangan,"
orang itu yang ditugaskan dan memiliki kewenangan.
Ulangan 34: 9 - Musa meletakkan tangan di atas Yoshua, dan sebab ini, Yosua dipatuhi
sebagai penggantinya, penuh dengan roh kebijaksanaan. Dalam Alkitab tercatat bahwa Rasul
yang diurapi dilawan oleh Diotrefes (3 Yokhanan 1:9), orang yang melawan Rasul dan
penggantinyaאdisebutאyaitu אsebagaiא“anti-mshikha”א(antikristus)1 –א Yokhanan 2:18-19, dan
mereka yang menentang Suksesi Rasuliah yaitu perwujudan dari para anti-mshikha.
Sirakh 45:15 - Musa menahbiskan Harun dan mengurapi dia dengan minyak. Ada
pengalihan wewenang melalui pentahbisan formal.
“GEREJA TANPA TAHBISAN SUKSESI
RASULIAH BUKAN GEREJA MARAN
EASHOA MSHEEKHA (TUHAN YESUS
KRISTUS)”




