Segenap hatimu.”
Seperti telah diterangkan, bahwa “kayu” melambangkan “keumat an,” sedangkan “emas” yang
menyalutnya yaitu lambang dari “kemuliaan Allah” atau “sifat Ilahi.” Maka papan-papan yang terbuat
dari kayu sittim untuk Kemah Suci yaitu lambang dari Orang-orang pilihan yang disalut kemuliaan
Tuhan (Roh Kudus!) sehingga menjadi benteng kekudusan Gereja-Nya.
1Pet.4:12-14 “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang
kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya,
_________ 28
bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh
bergembira dan bersukacita pada waktu Ia berkata kata kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu
dinista sebab nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”
Emas penyalut papan-papan dari kayu sittim tsb tentunya yaitu emas yang telah dimurnikan; dan
cara pemurniannya yaitu dengan api. Sejajar dengan itu, dalam kehidupan rohani, iman perlu
dimurnikan supaya memiliki kadar “iman akan kemuliaan Allah,” dan itulah iman yang rela
menderita sebab kebenaran! Iman murni yaitu iman yang menguduskan hati: “Ia sama sekali tidak
mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman”
(Kis.15:9). Jadi, iman sejati, yang benar, yaitu iman yang bertujuan mencari kemuliaan-Nya, dan bukan
mencari hal-hal duniawi.
Yoh.5:44 “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima kemuliaan seorang dari yang lain dan yang
tidak mencari kemuliaan yang datang dari Allah yang Esa?”
Yoh.7:18 “Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, namun barangsiapa
mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.”
Orang-orang percaya pencari kemuliaan Tuhan dilambangkan oleh papan-papan
dalam Kemah Suci, yang disalut emas dan menjadi benteng kesucian bagi Gereja-
Nya. Dengan para pelayan Tuhan yang telah teruji imannya ini, maka nama Tuhan
akan dipermuliakan!
BERDIRI TEGAK DALAM KESUCIAN
Firman Tuhan mengatakan: “Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu
penaga yang berdiri tegak, sepuluh hasta panjangnya satu papan dan satu setengah hasta lebarnya
tiap-tiap papan” (Kel.26:15-16).
Satu hasta sama dengan 54 cm. Jadi, papan-papan yang dipakai sebagai dinding Kemah Suci
tingginya yaitu 10 hasta = 5,4 meter. Suatu ukuran yang cukup tinggi bagi suatu ruangan. namun
mengandung resiko roboh bila tidak dapat berdiri tegak, apalagi Kemah Suci ini didirikan di padang
gurun yang berhembus angin yang cukup kencang!
Demikian pula halnya dengan kehidupan orang-orang percaya, yang lalu dipilih Tuhan
untuk menjadi penunjang kekudusan dalam Gereja Tuhan! Sebagaimana dengan papan-papan yang
disalut emas, begitu juga dengan Orang-orang pilihan yang disalut Kemuliaan Allah, yakni Roh Kudus,
yang yaitu “Roh Kemuliaan,” maka perlu mereka menuruti pimpinan Roh agar memiliki kehidupan
rohani yang dapat berdiri teguh di tengah badai hidup dunia ini.
Rahasia yang disembunyikan Tuhan dalam diskripsi papan-papan dalam Tabernakel, dapat
menjadi arahan hidup rohani! Sebab, seperti papan-papan yang berdiri tegak, begitulah seharusnya
kehidupan iman orang-orang pilihan-Nya yang mau berpartisipasi dalam pembangunan Tubuh Kristus,
Kemah Suci!
Flp.1:27 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan
apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa
berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil.”
Yang sanggup berdiri teguh yaitu mereka yang hidupnya berpadanan dengan Injil Kristus,
sebab memiliki iman yang timbul dari Berita Injil. Itulah orang-orang yang percaya Injil, yang
berkata kata bahwa Yesus yaitu : Allah yang menjadi umat , mati bagi dosa umat , bangkit dan
naik ke sorga dan akan datang kembali sebagai Raja dan Hakim atas seluruh umat umat ! Secara
khusus disebut “Injil Kristus” sebab berhubungan dengan Pribadi Yesus yang diurapi Allah, dilantik,
menjadi Penguasa atas seluruh umat (Wah.12:10)!
Miliki iman dari Injil Kristus, yakni iman yang mempercayai dan metaati Yesus, yang
telah dijadikan oleh Allah Bapa sebagai Tuhan dan Kristus (Kis.2:36), sebab Dia
yaitu “Tuan segala tuan dan Raja segala raja” (Wah.17:14; 19:16).
Iman yang timbul dari berita Injil tentu memiliki standard Injil; dan bila iman mutu ini dimiliki
orang percaya, pastilah mereka dapat berdiri tegak bersama, seperti halnya dengan papan-papan Kemah
Suci tsb. Paulus mengatakan dalam surat Roma 12:3: Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan
kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang
_________ 29
lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, namun hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga
kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Ukuran yang diberikan Tuhan bagi papan-papan yaitu 10 hasta panjangnya dan 1,5 atau 3/2
hasta lebarnya. Sebagai Perencana dari Kemah Suci, yang menetapkan ukuran-ukuran, tentunya Allah
“menyembunyikan rahasia” ini bagi orang banyak, seperti dinyatakan Yesus saat berbicara tentang
perumpamaan-perumpamaan: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga,
namun kepada mereka tidak” (Mat.13:11).
Angka 10 memiliki arti “kesempurnaan hukum ilahi.” Sebagaimana halnya dengan Torat
yang memiliki 10 hukum dinyatakan demikian: “Taurat Tuhan itu sempurna ……” (Maz.19:8). Itulah
sebabnya Allah memberikan kepada umat tangan yang berjari 10, untuk memperingatkan mereka agar
yang dilakukan sesuai dengan hukum Tuhan; begitu juga dengan jari kaki yang berjumlah 10, agar
umat berdiri atau memiliki pendirian diatas hukum ilahi!
Angka 1,5 atau 3/2 memiliki arti “mengikuti jalan Yesus.” Sebab Yesus sendiripun sebagai Allah
(angka tiga merujuk kepada Tritunggal Allah), telah rela menjadi umat (Yesus yaitu pribadi kedua
dari Tritunggal Allah). Setiap orang percaya yang mau taat kepada Allah harus bersedia mengikuti Jalan
Inkarnasi yang dipraktekkan Yesus dengan Menyangkal diri dan memikul salib (Luk.9:23). Ukuran satu
setengah hasta dapat kita temukan dalam ukuran tinggi dari beberapa perabot di Kemah Suci:
1. Kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga dari Mezbah Korban Bakaran, tempat korban-korban
dibakar, yang diletakkan setengah dari tinggi ukuran mezbah, yang 3 hasta (Kel.38:1, 4). Dan
kita tahu, bahwa Mezbah Korban Bakaran yaitu lambang dari korban Yesus di atas kayu
salib. Ini berarti, mengikuti jalan Yesus yaitu mengikuti jalan salib!
2. Meja Roti Pertunjukan, yang dibuat dari kayu penaga berukuran “dua hasta panjangnya,
sehasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya” (Kel.25:23), merupakan kiasan dari
persekutuan dengan Firman Sepenuh. Perlu diketahui, bahwa roti yang ada di atas meja ini
berjumlah 12; dan angka 12 itu memiliki arti “kesempurnaan pemerintahan ilahi.” Sebab,
bila pembaca menelusuri diskripsi pemerintahan Allah di Yerusalem Baru (baca Wah.21:9-
27), maka akan ditemukan serba angka 12! Bahkan, konstelasi bumipun dilingkupi dengan 12
bintang (Zodiac), dengan pengaturan waktu 12 bulan (satu tahun), 5x12 menit (satu jam), 5x12
detik (satu menit). Di takhta Allahpun kita melihat adanya 24 = 2x12 tua-tua bersama dengan
Dia (Wah.4:10).
3. Tabut Perjanjian, yang keterangannya demikian: “Haruslah mereka membuat tabut dari kayu
penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah
hasta tingginya” (Kel.25:10). Tabut Perjanjian yaitu kiasan dari Persekutuan yang
sempurna dengan Kristus sebagai Mempelai. Jadi Tuhan menghendaki orang percaya
menanjak menuju kepada persekutuan yang sempurna sebagai Pengantin wanita dengan
Kristus, Sang Mempelai laki-laki.
Papan-papan kayu penaga pilihan, yang merupakan bayangan dari orang percaya, yang terpilih
menjadi “Benteng Kesucian Gereja Tuhan,” yaitu mereka yang memiliki iman dari Berita Injil
Seutuhnya (Full Gospel), sebab beroleh berita dari Pemberita “yang memberitakan sepenuhnya Injil
Kristus” (Paulus: “I have fully preached the Gospel of Christ” Rom 15:19), dan “dilakukan dengan
penuh berkat Kristus” (in the fullness of the blessing of the Gospel of Christ Rom.15:29). Itulah berkat
persatuan bagi orang-orang pilihan-Nya, yang mau hidup dalam kekudusan Tuhan. Haleluyah!
Orang percaya yang dipilih Tuhan menjadi “Benteng Kesucian Jemaat Tuhan,” yaitu
mereka yang:
1. Mengikuti jalan Yesus, jalan salib.
2. Masuk dalam persekutuan Injil Sepenuh (Full Gospel).
3. Mendambakan persekutuan dengan Kristus sebagai Mempelai.
_________ 30
Ada dua alasan, yang menyebabkan papan-papan itu dapat berdiri tegak. Yang pertama, sebab
papan-papan tersebut bergandengan satu sama lain, seperti dituliskan dalam Kel.26:17 “Tiap-tiap papan
harus ada dua pasaknya (yad) yang disengkang satu sama lain; demikianlah harus kauperbuat dengan
segala papan Kemah Suci.” Yang kedua, sebab setiap papan berdiri diatas dua alas perak: “Dan
haruslah kaubuat empat puluh alas perak di bawah kedua puluh papan itu, dua alas di bawah satu papan
untuk kedua pasaknya (yad), dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan untuk kedua pasaknya (yad)
(Kel.26:19).
Alasan pertama, yang membuat rohani berdiri tegak, dicontohkan oleh Paulus setelah ia bertobat.
Dia tidak ingin membuat suatu aliran baru tanpa melibatkan rasul-rasul awal, walaupun ia mendapat
wahyu jauh melebihi mereka, namun ia berlaku seperti papan-papan yang disengkang atau dibuat rapat
dengan dua pasak/tangan. sebab itu, ia justru menemui Yakobus, Kefas dan Yohanes untuk berjabat
tangan sebagai tanda persekutuan! (Gal.2:9).
Orang-orang pilihan Tuhan yang dapat berdiri teguh dalam kekudusan, yaitu
mereka yang berusaha melakukan persekutuan kudus, seperti dinyatakan dalam
Maz.119:63 “Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan
orang-orang yang berpegang pada titah-titah-Mu.”
Alasan kedua, yang membuat papan-papan berdiri tegak dituliskan dalam dalam Kel.38:27
“Seratus talenta perak dipakai untuk menuang alas-alas tempat kudus dan alas-alas tiang tabir itu,
seratus alas sesuai dengan seratus talenta itu, jadi satu talenta untuk satu alas.” Sedangkan alas papan,
dalam Kel.26:19 dituliskan: “dua alas di bawah satu papan.” Jadi setiap papan didirikan di atas dua
talenta perak. Ukuran berat talenta ada bermacam-macam, namun dapat disimpulkan dari 2Raj.5:23, bobot
tersebut dapat dipikul satu orang, kira-kira 35-40 kg.
Alkitab juga memberi rahasia rohani untuk logam perak dalam Bil.3:48 “Berikanlah perak itu
kepada Harun dan anak-anaknya sebagai uang tebusan untuk orang-orang yang kelebihan itu." Jelas,
dalam arti rohani, logam perak melambangkan penebusan.
jika papan-papan itu berdiri di atas dua alas perak dengan dua pasak/tangannya, maka hal itu
berarti setiap orang percaya yang terpilih menjadi “Benteng kekudusan bagi Jemaat” hanya dapat
terpelihara dalam kekudusan bila tetap bersekutu dengan Yesus, yang telah membayar harga tebusan
dengan darah-Nya! sebab itu, Paulus memperingatkan jemaat di Galatia, agar mereka tidak bergeser dari
hidup menurut Roh kepada hidup menurut daging dengan firman ini: “Hai orang-orang Galatia yang
bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah
dilukiskan dengan terang di depanmu?” (Gal.3:1).
Orang-orang pilihan Tuhan yang dapat berdiri teguh dalam kekudusan, yaitu
mereka yang tetap bersekutu dengan Yesus, sebab menghormati Sang Penebus,
yang menebus bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah-Nya yang
mahal! (1Pet.1:18-19).
BERDIRI TEGAK DENGAN PERJANJIAN DARAH
Firman Tuhan mengatakan: “Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu
penaga yang berdiri tegak, sepuluh hasta panjangnya satu papan dan satu setengah hasta lebarnya tiap-
tiap papan” (Kel.26:15-16).
_________ 31
Telah diterangkan di depan, bahwa papan-papan dari kayu penaga yang tersalut dengan emas
murni dan berukuran cukup tinggi tersebut dapat berdiri tegak, sebab mereka disekang satu sama lain
dan masing-masing berdiri di atas dua alas perak, yang berbobot satu talenta setiap alas. Namun, ada
lagi satu alasan lainnya. Dan berikut ini yaitu keterangan yang diberikan oleh firman Tuhan.
Kel.26:26-30 " Juga haruslah kaubuat kayu lintang dari kayu penaga: lima untuk papan-papan pada sisi yang
satu dari Kemah Suci, 27 lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi yang kedua dari Kemah Suci, dan
lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi Kemah Suci yang merupakan sisi belakangnya, pada sebelah
barat. 28 Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari
ujung ke ujung. 29 Papan-papan itu haruslah kausalut dengan emas, gelang-gelang itu haruslah kaubuat dari
emas sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu haruslah kausalut
dengan emas. 30 lalu haruslah kaudirikan Kemah Suci sesuai dengan rancangan yang telah
ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."
Umat Israel yang dipimpin Musa keluar dari negeri perbudakan Mesir, pada saat tiba di gunung
Horeb, maka oleh Tuhan dilakukan ikatan perjanjian dengan mereka. Namun, sebab mereka melalaikan
perjanjian Tuhan (Ul.29:25), maka sebagian besar dari mereka mati di padang gurun. Itulah sebabnya,
sebelum memasuki tanah perjanjian, maka Musa mengadakan lagi ikatan perjanjian yang baru dengan
mereka, yang terdiri kebanyakan dari generasi baru. Marilah kita membacanya.
Ul.29:1, 12 "Inilah perkataan perjanjian yang diikat Musa dengan orang Israel di tanah Moab sesuai dengan
perintah TUHAN, selain perjanjian yang telah diikat-Nya dengan mereka di gunung Horeb...... untuk masuk ke
dalam perjanjian TUHAN, Allahmu, yakni sumpah janji-Nya, yang diikat TUHAN, Allahmu, dengan engkau
pada hari ini."
Untuk mengesahkan perjanjian, maka Allah memakai darah! Hal ini dijelaskan dalam surat
Ibrani 9:15-20 “sebab itu Ia yaitu Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang
telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus
pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. Sebab di mana ada
wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. sebab suatu wasiat barulah
sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.
Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah. Sebab sesudah Musa
memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu
dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan
seluruh umat, sambil berkata: "Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu."
Supaya kita dapat berdiri tegak dalam iman, seperti halnya dengan papan-papan Kemah Suci yang
terpalang dengan kayu lintang, maka kita harus terikat dalam satu ikatan kasih Kristus sebab korban
darah-Nya di atas kayu salib!
Hanya mereka yang senantiasa memandang kepada Kristus yang tersalib akan selalu
hidup menurut Roh dan tidak menuruti nafsu dagingnya (Bacalah Gal.3:1-5), sehingga
_________ 32
dalam satu Roh kita bersekutu dalam satu tubuh dan satu pengharapan akan
kemuliaan sesuai dengan perjanjian-Nya! (Kol.1:27).
BERDIRI TEGAK OLEH PELAYANAN KASIH
yaitu suatu fakta, yang bukan menjadi rahasia lagi, bahwa orang-orang dapat dipersatukan bila
ada pelayanan yang baik dalam persekutuan. Itulah sebabnya, Tuhan juga menggambarkan Gereja-Nya
sebagai Tubuh-Nya, yang terdiri dari bermacam-macam anggota tubuh, yang harus berfungsi dengan baik
untuk dapat saling melayani. Untuk maksud itulah Allah memberikan rupa-rupa karunia bagi orang
percaya, seperti dinyatakan dalam firman-Nya ini.
1Kor.12:4-6 “Ada rupa-rupa karunia, namun satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, namun satu Tuhan. Dan ada
berbagai-bagai perbuatan ajaib, namun Allah yaitu satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”
Karunia-karunia, yang diberikan oleh Roh Kudus dimaksudkan oleh Tuhan agar setiap orang
percaya dapat melakukan pelayanan yang dianugerahkan kepadanya, sehingga Gereja-Nya secara ajaib
dapat tetap berdiri tegak dalam kesucian, walaupun diterpa oleh pelbagai kejahatan dan kehancuran
moral. Dan semuanya itu tentunya bermuara dari satu Tuhan, yakni Yesus Kristus yang telah tersalib.
Sehingga dapat dikatakan, bahwa karunia-karunia Roh yang dianugerahkan, itu juga bersumber dari salib
Kristus. Dan korban-Nya di kayu salib itu juga memberikan dorongan bagi orang percaya untuk berani
berkorban dalam pelayan.
Ingatlah, walaupun seseorang sudah menerima karunia, namun bila hatinya tidak memiliki
dorongan, mereka akan “menyimpan” atau “memendam dalam tanah” karunia-karunia tsb, seperti telah
dilakukan oleh “orang yang menerima satu talenta” dalam perumpamaan Injil Mat.25:24-30.
Kasih Kristus, yang telah dibuktikan di atas kayu salib, yaitu dorongan super-kuat
bagi setiap orang percaya untuk melayani Tubuh Kristus, sehingga dengan demikian
orang-orang pilihan-Nya akan berdiri tegak oleh “Pelayanan Kasih,” bagaikan kayu
lintang yang memalang papan-papan Kemah Suci!
Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus demikian: “Sebab kasih Kristus yang menguasai
kami, sebab kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka
semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi
hidup untuk dirinya sendiri, namun untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”
(2Kor.5:14-15).
Itulah sebabnya, Paulus meminta murid-muridnya melakukan “Pelayanan Kasih” yang akan
memuliakan nama Tuhan.
2Kor.8:6-7 “Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan
kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu,
-- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam
kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.”
Demikian juga saat menerangkan tentang Kesatuan Tubuh Kristus kepada jemaat di Efesus, maka
hal itu akan dapat terjadi, jika setiap anggota jemaat berfungsi dengan baik dalam pelayanan, yang
disertai dengan kasih!
Efs.4:16 "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -- yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua
bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun
dirinya dalam kasih."
Kayu-kayu lintang yang terbuat dari kayu penaga yang disalut emas yaitu
bayangan dari orang-orang pilihan-Nya, yang bersedia menjadi pengikat orang-orang
pilihan-Nya (yang dilambangkan oleh papan-papan), sehingga dengan Pelayanan
Kasih yang beralaskan salib-Nya, membuat Gereja Tuhan berdiri tegak!
XI. MEJA ROTI PERTUNJUKAN YANG DISALUT EMAS
Kayu sittim yang dipilih Tuhan secara khusus untuk Kemah Suci, bukan hanya dipakai sebagai
perabot di _________ – untuk Mezbah Korban Bakaran yang disalut tembaga – dan untuk papan-papan
dinding Ruangan Suci di ketiga sisinya, yang disalut emas, namun juga untuk perabot Meja Roti
Pertunjukan. Dan inilah diskripsinya dalam kitab Keluaran.
Kel.25:23-30 “Lagi haruslah engkau membuat meja dari kayu penaga, dua hasta panjangnya, sehasta lebarnya
dan satu setengah hasta tingginya. 24 Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni dan membuat
bingkai emas sekelilingnya. 25 Haruslah engkau membuat sekelilingnya jalur pinggir yang setapak tangan
lebarnya dan kaubuatlah bingkai emas sekeliling jalur pinggirnya itu. 26 Haruslah engkau membuat untuk
meja itu empat gelang emas dan kaupasanglah gelang-gelang itu di keempat penjurunya, pada keempat
kakinya. 27 Gelang itu haruslah dekat ke jalur pinggirnya sebagai tempat memasukkan kayu pengusung,
supaya meja itu dapat diangkut. 28 Haruslah engkau membuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan
menyalutnya dengan emas, dan dengan itulah meja harus diangkut. 29 Haruslah engkau membuat
pinggannya, cawannya, kendinya dan pialanya, yang dipakai untuk persembahan curahan; haruslah engkau
membuat semuanya itu dari emas murni. 30 Dan haruslah engkau tetap meletakkan roti sajian di atas
meja itu di hadapan-Ku." Keterangan serupa diulangi lagi dalam Kel.37:10-16.
Meja ini ditempatkan dalam Ruangan Suci pada sisi utara, seperti dinyatakan dalam Kel.26:35
“Meja itu haruslah kautaruh di depan tabir itu, dan kandil itu berhadapan dengan meja itu pada sisi
selatan dari Kemah Suci, dan meja itu haruslah kautempatkan pada sisi utara.”
TEMPAT UNTUK ROTI SAJIAN
Meja yaitu perabot yang dipergunakan untuk pelbagai keperluan. Namun, khusus yang di
Ruangan Suci dipakai untuk meletakkan roti sajian, yang disebut “Roti Pertunjukan” atau “Shewbread.”
Dan perintah-Nya berbunyi: “Dan haruslah engkau tetap meletakkan roti sajian di atas meja itu di
hadapan-Ku." Terjemahan KJV berbunyi: “And thou shalt set upon the table shewbread before Me
always” (Kel.25:30).
Dalam arti rohani, “roti” jelas menunjukkan Firman Tuhan, sebab itu Tuhan Yesus juga
berkata kata diri-Nya sebagai “Roti Hidup,” seperti dinyatakan dalam Yoh.6:35 Kata Yesus kepada
mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa
percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Juga dalam Yoh.6:48, 51 “Akulah roti hidup…… Akulah
roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-
lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Sebagai roti atau makanan untuk kehidupan umat , demikian juga Firman-Nya diberikan
kepada orang percaya, agar mereka memperoleh kehidupan kekal. Namun untuk maksud tersebut, sebab
Dia sendiri telah naik ke sorga, maka diperlukan adanya orang-orang pilihan-Nya, yang dapat menjadi
perwakilan-Nya, bahwa Firman Hidup itu ada dalam kehidupan mereka. Atau dapat bersaksi, bahwa
“Kristus yang hidup di dalam diriku!”
Hal itu terjadi dalam diri Paulus, sehingga ia berkata “Aku telah disalibkan dengan Kristus;
namun aku hidup, namun bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, yaitu hidup oleh iman dalam Anak Allah (=I
live by the faith of the Son of God = aku hidup oleh iman dari Anak Allah), yang telah mengasihi aku dan
menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal.2:19b-20).
“Aku telah disalibkan dengan Kristus” menunjukkan dirinya yang lama telah “mati,” namun
hidup dalam suatu hidup yang berbeda, sebab “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus
yang hidup di dalam aku,” bahkan hidupnya bukan lagi dikendalikan dengan imannya – “bukan lagi iman
Paulus,” – namun “iman Kristus”
Sebagai orang pilihan-Nya, bagaikan kayu sittim yang dipilih menjadi “Meja” dari “Roti
Pertunjukan” demikianlah hidup Paulus, yang berkata kata Kristus hidup dalam dirinya, meminta
kepada jemaat Filipi keinginan ini: “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus,
supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu
teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil.”
Jadilah orang pilihan yang diliputi sifat ilahi – seperti kayu sittim yang disalut emas –
sehingga menjadi kesaksian bahwa Kristus hidup dalam diri anda, sebab Firman-Nya
nampak dalam praktek hidupmu. Itulah “hidup yang berpadanan dengan Injil
Kristus.”
TUNJUKKAN WAJAH-NYA
Seperti halnya kayu sittim yang disalut emas dan dijadikan Meja, yang di atasnya terletak “Roti
Sajian/Pertunjukan” sehingga disebut “Meja Roti Pertunjukan,” begitulah seharusnya kehidupan orang-
orang pilihan-Nya. Kata “sajian” atau “shew” – “pertunjukan,” diterjemahkan dari kata “pânı̂ym,” yang
sebenarnya berarti “muka.” Kayu sittim yang ada dalam Kemah Suci itulah lambang orang-orang
pilihan-Nya, yang menunjukkan wajah Kristus kepada umat , agar mereka percaya dan taat kepada-
Nya.
A. WAJAH-NYA NAMPAK DALAM PERSEKUTUAN FIRMAN.
Salah satu pemakaian perabot meja yaitu untuk makan. Di meja makanlah orang-orang selain
berkumpul untuk makan, juga bercakap-cakap dalam suasana menyenangkan. Bahkan, Tuhan Yesus
sendiri menjanjikan ini kepada murid-murid-Nya: “bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan
Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku
Israel” (Luk.22:30). Memerintah bersama Tuhan dirahasiakan dalam kata “meja itu haruslah kautempatkan
pada sisi utara,” sesuai dengan Maz.48:3 “Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, yaitu
kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.”
Istilah “makan minum semeja” menunjuk kepada persekutuan pribadi, yang tentu disertai
percakapan, percakapan melalui persekutuan doa dan firman-Nya. Sedangkan janji memerintah bersama-
Nya hanya berlaku bagi yang setia mengikut Dia sampai akhir, walaupun mengalami pencobaan-
pencobaan, seperti dinyatakan dalam ayat 28: “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku
dalam segala pencobaan yang Aku alami.” Haleluyah!
Ketaatan anda kepada firman-Nya akan menyucikan jiwamu (1Pet.1:22)! Dan ini membutuhkan
kesediaan untuk rela menderita, saat firman-Nya bertentangan dengan pikiran, perasaan dan kehendak
kita! Itulah yang dimaksud Tuhan saat mengatakan kalimat: “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama
dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.”
Anak Allah menjelma menjadi pribadi Yesus, agar umat dapat bersekutu erat
sehingga menjadi serupa dengan Dia dalam kekudusan jiwa (1Yoh.2:2-3)! Tunjukkan
wajah-jiwa-Nya dalam hidupmu! Itulah kerinduan Tuhan.
B. WAJAH-NYA NAMPAK DALAM KEPENUHAN KRISTUS.
Persekutuan pribadi pasti didambakan oleh mereka yang ingin mencapai hidup serupa Kristus atau
mencapai ukuran rohani serupa Kristus, seperti halnya dengan ukuran Meja Roti Pertunjukan tsb, yang
dua hasta panjangnya, sehasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Ukuran yang ditentukan
Pencipta ini tentu mengandung maksud rohani, untuk berkata kata inilah ukuran rohani yang layak bagi
persekutuan dengan Firman, sehingga seseorang dapat menjadi saksi kehidupan, sebab wajah Kristus
nyata dalam dirinya!
Angka “dua” yaitu angka yang menunjuk kepada pribadi kedua dari Allah, Tuhan Yesus!
Penjelmaan-Nya selain dimaksud untuk menebus, juga memberi teladan hidup, agar orang percaya
bertindak serupa Dia. Haleluyah!
Efs.4:7, 11-13 “namun kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian
Kristus. 11.Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil
maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi
pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman
dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai
dengan kepenuhan Kristus.”
Kepenuhan Kristus nyata jika setiap anggota tubuh-Nya berada di bawah otoritas Kristus
sebagai Kepala! Dan hal ini dicapai melalui pembangunan rohani serta pekerjaan pelayanan, sampai
tercapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Alah.
Orang pilihan-Nya yang mau taat mengikuti perintah-perintah Tuhan Yesus dan
bimbingan para pejabat yang dianugerahkan Tuhan, hidupnya akan masuk dalam
kesatuan Tubuh Kristus, seperti halnya dengan kayu sittim yang dikerjakan orang-
orang yang diurapi Roh sehingga tepat menurut ukuran Tuhan (Kel.31:1-11).
C. WAJAH-NYA NAMPAK DALAM KESATUAN KUDUS GEREJA-NYA.
Ukuran lebar dari Meja Roti Pertunjukan yaitu satu hasta. Angka satu, selain menunjuk kepada
pribadi Pertama dari Allah Tritunggal, Allah Bapa, juga berkata kata hal kesatuan! Dan kesatuan yang
sejati yaitu persatuan yang berdasarkan kebenaran! Dengarkan pernyataan Pemazmur tentang
persekutuan yang dilakukannya.
Maz.119:63 “Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada
titah-titah-Mu.”
Orang yang takut akan Tuhan yaitu mereka, yang percaya bahwa Firman-Nya pasti akan menjadi
kenyataan, seperti dinyatakan dalam Maz.33:8-9 “Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah
semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi
perintah, maka semuanya ada.”
Takut terhadap ucapan Allah, yang pasti terjadi, disebabkan ada rasa penghormatan kepada
Pribadi yang berfirman itu Benar. Inilah yang disebut “Ketakutan yang suci”! Sebab hanya dengan
“roh takut akan Tuhan,” maka seseorang dapat mentaati firman-Nya dan dengan demikian menguduskan
jiwanya (1Pet.1:22), bahkan menyempurnakan kesucian hidupnya, sesuai dengan pernyataan firman-Nya
ini.
2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari
semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan
Allah.”
Tentunya hal ini sangat berbeda dengan kesatuan yang tidak suci, yang dibuat orang-orang
berdosa justru untuk melawan hukum-hukum Tuhan. Mereka kelak diliputi ketakutan luar biasa, sebab
akan menghadapi penghukuman dari Tuhan, yang tampil sebagai Hakim atas dunia. Dan itulah yang telah
dinubuatkan, saat Tuhan berkata kata diri-Nya!
Wah.6:15-17 Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang
berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di
gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan
sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu." Sebab sudah tiba
hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?
Bukti ketaatan seseorang yaitu menuruti nasihat dan perintah-perintah Tuhan! Sebab merupakan
kerinduan Bapa di sorga, bahwa setiap orang yang telah ditebus oleh darah Anak-Nya akan menghormati
Anak itu, Yesus (Yoh.5:23), dan menjadikan Dia sebagai teladan hidup dengan menyelaraskan pikiran
mereka dengan pikiran Kristus, sehingga diubah menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya tsb
(2Kor.3:18)! Sebab itu, Paulus menasihatkan demikian:
Flp.2:1-5 “Jadi sebab dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas
kasihan, 2 sebab itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu
jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah
dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap
orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, namun kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam
hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Dengan menjadikan Yesus sebagai Tuhan atau Tuan, berarti juga menjadikan Dia sebagai Kepala
bagi Gereja-Nya, “Tubuh Kristus,” yang terdiri dari banyak anggota, namun dalam satu kesatuan yang
kudus. Dan hal ini disebabkan sebab setiap anggota Tubuh-Nya berada dalam pimpinan Roh Kudus.
Haleluyah!
Seperti halnya dengan Meja Roti Pertunjukan, yang dibuat dari kayu sittim dalam ukuran yang
ditetapkan, begitulah juga setiap anggota Tubuh-Nya harus mengalami “pemotongan ke-akuannya”
sehingga sesuai dengan standard firman-Nya! Penderitaan sebab menuruti kehendak Roh itulah yang
membuat Roh-Nya, Roh Kemuliaan, dicurahkan kepada mereka, seperti dinyatakan oleh rasul Petrus ini:
“Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya
kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia berkata kata kemuliaan-Nya. Berbahagialah
kamu, jika kamu dinista sebab nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu”
(1Pet.4:13-14).
Ketahuilah, bahwa “Roh Kemuliaan” khususnya dilimpahkan kepada mereka, yang rela
menderita sebab masuk dalam kesatuan Tubuh Kristus, seperti halnya dengan kesatuan
suami-isteri, sebab komitmen untuk bersatu bagi kemuliaan Yesus!
Apa kata Tuhan Yesus dalam doa-Nya menjelang berpisah dari murid-murid-Nya untuk lalu
disalibkan? Dengarkanlah ucapan ini: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, namun juga untuk
orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu,
sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,
supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada
mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita
yaitu satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu,
_________ 36
• Meja Roti Pertunjukan dibuat dari kayu sittim/penaga, yang
disalut emas murni. Ukurannya: panjang 2 hasta, lebar 1 hasta,
tinggi 1,5 hasta (Kel.25:23-30) – Bayangan orang-2 pilihan-Nya
yang disalut kemuliaan ilahi (Roh Kudus). Mencapai: Kepenuhan
Kristus (Efs.4:13), Kesatuan Roh, Pemotongan daging.
Akan dipahalai dengan Kemuliaan: “a crown of gold round
about” (Kel.25:24-25).
agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama
seperti Engkau mengasihi Aku” (Yoh.17:20-23).
Wajah Kristus akan nampak dalam Gereja-Nya, suatu Kesatuan yang kudus dari anggota-
anggota Tubuh-Nya, bila Dia menjadi Kepala, sehingga dunia akan tahu, bahwa Yesus
telah ditetapkan/dipredestinasikan sebagai Kepala segala sesuatu (Efs.1:9-10).
D. WAJAH-NYA NAMPAK DALAM KESEDIAAN “DIPECAHKAN.”
Ukuran tinggi 1,5 hasta sama dengan 3 hasta dibagi 2. Angka 3 yaitu angka Tritunggal, yang
sedia dibagi atau diremukkan. Dan hal itu terjadi dalam diri Anak Allah, pribadi Allah kedua, yang
menjadi Roti Hidup bagi umat , agar orang percaya masuk ke dalam persekutuan Tubuh-Nya, seperti
yang kita lakukan dalam Perjamuan Suci: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan
syukur, yaitu persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan yaitu
persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor.10:16).
Pengikut Tuhan sejati yaitu mereka, yang rela mengikuti gaya hidup-Nya, sedia dipecahkan
keinginan dagingnya demi persatuan Tubuh Kristus! Paulus berkata kata kepada jemaat di Galatia firman
Tuhan ini: “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa
nafsu dan keinginannya” (Gal. 5:24).
Seperti kayu sittim yang dipotong dengan ukuran tinggi 1,5 hasta, begitulah sikap setiap
orang pilihan yang ingin menampilkan wajah Kristus dalam persekutuan Jemaat Tuhan;
mereka sedia dipotong keinginan dagingnya demi supaya Kristus, sebagai Kepala Gereja,
nyata kepada dunia.
E. WAJAH-NYA NAMPAK DALAM KEMULIAAN ILAHI GEREJA-NYA.
Bila seseorang suka bersekutu dengan Allah yang Mahamulia dalam doa dan firman, maka
pastilah kemuliaan-Nya terimbas dalam hidupnya. Hal ini telah dialami oleh Musa, tatkala ia tinggal
bersama Tuhan di atas gunung selama 40 hari 40 malam.
Kel.34:29 “saat Musa turun dari gunung Sinai -- kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa saat ia turun dari gunung itu --
tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh sebab ia telah berbicara dengan TUHAN.”
Hal ini bukan terjadi hanya bagi Musa, namun juga bagi Stefanus, seperti yang kita baca ini:
“Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat
muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat” (Kis.6:15). Bahkan, Tuhan Yesus sendiri saat
berada di atas gunung berdoa bersama ketiga murid-Nya, Matius mencatat demikian: “Enam hari
lalu Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka
Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan
mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti
terang” (Mat.17:1-2).
Bayangan kemuliaan ini dinyatakan dalam pembuatan Meja Roti Pertunjukan, yang dibuat dengan
“bingkai emas sekelilingnya” – atau dalam terjemahan bahasa Inggris ditulis: “a golden crown round
about,” seperti yang kita baca di bawah ini.
Kel.25:23-25 "Lagi haruslah engkau membuat meja dari kayu penaga, dua hasta panjangnya, sehasta lebarnya dan satu
setengah hasta tingginya. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni dan membuat bingkai emas sekelilingnya
(and make thereto a crown of gold round about). Haruslah engkau membuat sekelilingnya jalur pinggir yang setapak
tangan lebarnya dan kaubuatlah bingkai emas sekeliling jalur pinggirnya itu (and thou shalt make a golden crown to
the border thereof round about).”
Jadilah orang pilihan yang rela diproses melalui
“penderitaan Kristus,” sampai anda dapat
memancarkan “Wajah Kristus” kepada dunia,
sebab hidup anda sesuai Firman-Nya, sehingga
Kristus dipermuliakan dan juga diri anda.
Haleluyah!
XII. MEZBAH DUPA YANG DISALUT EMAS
Perabot berikutnya di dalam Ruangan Suci dari Kemah Suci, yang dibuat dari kayu sittim tersalut
emas, yaitu Mezbah Dupa. Untuk diskripsinya kita dapat membaca dalam ayat-ayat berikut ini.
Kel.30:1-6 “1.Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah kaubuat itu dari kayu penaga;
2.sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, namun haruslah dua hasta
_________ 37
tingginya; tanduk-tanduknya haruslah seiras dengan mezbah itu. 3.Haruslah kausalut itu dengan emas
murni, bidang atasnya dan bidang-bidang sisinya sekelilingnya, serta tanduk-tanduknya. Haruslah kaubuat
bingkai emas sekelilingnya. 4.Haruslah kaubuat dua gelang emas untuk mezbah itu di bawah bingkainya;
pada kedua rusuknya haruslah kaubuat gelang itu, pada kedua bidang sisinya, dan haruslah gelang itu
menjadi tempat memasukkan kayu pengusung, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut. 5.Haruslah
kaubuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan kausalutlah dengan emas. 6.Haruslah kautaruh tempat
pembakaran itu di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, di
mana Aku akan bertemu dengan engkau.”
Bahan dasar dari Mezbah Dupa yaitu kayu penaga/sittim, yang melambangkan keumat an,
namun terpilih sebab mau dipanggil untuk hidup kudus, seperti dikatakan dalam 1Pet.1:14-16
“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu
kebodohanmu, namun hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang
kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Pet.1:14-
16).
Dan tatkala mereka menanggapi panggilan tersebut dengan mentaati firman-Nya serta tidak
menuruti hawa nafsunya, atau dengan perkata lain “berani memisahkan dirinya dari kehidupan
lamanya,” maka Tuhan akan memilih orang percaya tersebut untuk menjadi alat-alatnya, serupa dengan
kayu sittim yang dijadikan perabot dalam Kemah Suci!
Untuk membuat orang-orang pilihan-Nya berbeda dengan umat duniawi, maka Allah sumber
segala anugerah, menganugerahkan sifat-sifat ilahi-Nya, seperti halnya dengan perabot-perabot dalam
Ruangan Suci yang disalut emas, seperti dinyatakan dalam surat Kolose ini.
Kol.3:12-14 “sebab itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah
belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang
terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap
yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas
semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
Kata “kenakanlah” dari bahasa Yunani enduō, memiliki makna menenggelamkan ke dalam
penutup badan, seperti halnya dengan “pakaian” yang dianugerahkan kepada imam besar dalam Kel.28:2
“Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan,”
Begitulah yang terjadi dengan Tuhan Yesus saat menjadi umat dan juga orang-orang percaya, yang
terpilih untuk melayani. Roh Kudus dianugerahkan agar mereka disalut dengan “pakaian kudus” yakni
sifat-sifat ilahi yang mulia: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran
serta kasih ilahi/agape sebagai pengikat yang menyempurnakan. Haleluyah!
JADILAH PENYEMBAH YANG BENAR
Salah satu pelayanan terpenting dalam Tubuh Kristus yaitu menjadi “Penyembah-penyembah,”
seperti dikatakan oleh Tuhan sendiri: “namun saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa
penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa
menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus
menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Yoh.4:23-24).
Penyembah yang dikategorikan sebagai “penyembah benar,” yaitu yang menyembah dalam roh
dan kebenaran. Mereka yaitu orang-orang pilihan, yang memiliki iman seperti bapak Abraham, bukan
seperti para penyembah berhala, seperti dinyatakan oleh Yosua: Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa
itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek
moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.
namun Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia
menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak
kepadanya” (Yos.24:2-3).
Bapa “Abraham diambil,” berarti Dipisahkan Allah dari bangsanya untuk menjadi “Bangsa
Pilihan” yang kudus, yang menyembah kepada Allah yang benar. sebab itu, setelah Abraham pergi
menurut firman-Nya, maka Alkitab mencatat demikian: saat itu TUHAN menampakkan diri kepada
Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di
situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. lalu ia pindah dari situ ke
_________ 38
pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di
sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN (Kej.12:7-
8).
Apa bedanya antara penduduk di seberang sungai Efrat dengan Abraham? Perbedaan terbesar
terletak kepada sesembahan yang mereka sembah! Para “Penyembah berhala” membuat berhala,
sedangkan Abraham membuat mezbah setelah Allah berkata kata diri-Nya, seperti tertulis ini: saat
itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada
keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.
Para penyembah berhala berusaha “mencari allah,” namun Allah mencari Abraham, dengan
menampakkan diri kepadanya serta memberikan Perjanjian!
Jelas sudah, bahwa Allah memberikan perjanjian yang tidak mungkin diterima secara lahiriah,
sebab dirinya sudah tua dan isterinya mandul serta sudah berhenti haid (Roma 4:19), namun hanya
mungkin diterima melalui iman. Itulah sebabnya, Allah mempertegas perjanjian itu justru pada saat
Abraham dan Sarah sangat lanjut usianya dengan “Perjanjian darah,” sebab Abraham diminta untuk
menyunat setiap laki-laki dalam keluarganya: “Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang,
perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu”
(Kej.17:10-11).
Disebut “perjanjian” sebab dua pihak yang berjanji harus memenuhi kewajibannya. Dari pihak
Allah, Dia akan menggenapi apa yang dijanjikan; namun dari pihak umat harus memotong kulit
khatannya, yang tentunya sangat sakit! Begitulah bila anda ingin menjadi orang pilihan-Nya, anda harus
berani menderita dalam jiwamu, saat mentaati firman-Nya! Bila tidak, rohani akan mati, artinya
hubungan dengan Tuhan terputus! Sebab Tuhan berkata: “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki
yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang
sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku" (Kej.17:14).
Dan itulah yang terjadi dalam kehidupan Musa, yang hampir dibunuh Tuhan, seperti tertulis dalam
Kel.4:24-25 “namun di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk
membunuhnya. Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, lalu disentuhnya
dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: "Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku."
Rupanya Zipora tidak tega dengan peraturan sunat, sehingga menolak saran Musa untuk
menyunatkan anak mereka. Namun saat diketahui, bahwa Tuhan justru akan membunuh Musa, maka
Zipora rela mentaati perintah tsb. Dan hal ini pasti dilakukan dengan dengan hati yang pedih!
Bukankah hal inipun dilakukan Tuhan Yesus saat Dia harus mengikuti kehendak Bapa?
Praktik membuat perjanjian dengan sunat lahiriah ini sekarang tidak dilakukan orang percaya,
sebab Tuhan ingin kita melakukan secara rohaniah, yakni “sunat hati” (Kis.7:51), dan hal ini dialami
dalam penyembahan yang benar: “sebab kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah
(which worship God in the spirit = menyembah Allah di dalam roh), dan bermegah dalam Kristus Yesus
dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah (have no confidence in the flesh)” (Flp.3:3).
Abraham, bapa orang percaya berani memisahkan diri dari keluarganya, bangsanya, bahkan
negerinya, bahkan juga dalam melakukan sunat atas dirinya dan keluarganya, sebab adanya janji Tuhan,
seperti dinyatakan dalam Ibrani 11:16 “namun sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik
yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, sebab Ia telah
mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” Itulah “Kota Allah” seperti dinubuatkan dalam Mazmur 46:5
“Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.”
Sunat hati – berpisah dari hal-hal duniawi, untuk membuat perjanjian-Nya menjadi
efektif dalam kehidupan orang-orang pilihan-Nya, harus dilakukan para penyembah
yang beriman kepada hal-hal sorgawi, dan tidak berharap hal-hal lahiriah, yakni
merindukan untuk berdiam bersama Allah dalam “Kota Allah.”
GLADI BERSIH DAHULU!
Dalam setiap acara besar, agar dapat berjalan dengan baik, maka perlu dilakukan latihan-latihan.
Mendekati hari-hari puncaknya dilakukan sekian kali gladi kotor, dan akhirnya menjelang puncaknya
dilakukan gladi bersih. Acara terbesar yang akan datang yaitu pertemuan yang amat meriah antara
_________ 39
Gereja-Nya, sebagai “Mempelai wanita ,” dengan Tuhan Yesus sebagai “Mempelai Laki-laki.”
Apakah anda sudah melakukan latihan-latihan bagi pertemuan paling puncak ini? Dengarkanlah firman
nubuat ini.
Wah.19:6-8 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti
deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! sebab Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi
Raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! sebab hari perkawinan Anak
Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain
lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu yaitu perbuatan-perbuatan yang
benar dari orang-orang kudus.]
Umat Tuhan, khususnya para “Pelayan Kristus,” yang ingin memastikan dirinya sebagai
“Mempelai wanita ,” atau “Tubuh Kristus,” harus melatih dirinya masing-masing dalam ibadah,
seperti diperintahkan Tuhan dalam surat Paulus kepada anak rohaninya.
1Tim.4:6-10 “Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang
pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang
telah kauikuti selama ini. namun jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.
Latihan badani terbatas gunanya, namun ibadah itu berguna dalam segala hal, sebab mengandung janji, baik
untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.
Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, sebab kita menaruh pengharapan kita kepada Allah
yang hidup, Juruselamat semua umat , terutama mereka yang percaya.”
Terdidik dalam soal-soal pokok iman dan ajaran sehat tidak hanya dengan mendengarkan dan
belajar firman-Nya, namun harus dengan melatih diri dalam ibadah. Sebagaimana kita ketahui, bahwa
ibadah itu menyangkut tiga sisi umat : roh, jiwa dan tubuh. Injil Matius pasal enam, menjelaskan
bahwa ada tiga bentuk ibadah, yakni: pemberian/derma (korban materi), doa dan puasa.
Untuk melakukan ketiga bentuk ibadah ini, dibutuhkan latihan yang disertai dengan jerih payah
dan perjuangan! Semua ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, bila seseorang berpengharapan
mencapai kemuliaan seperti dikatakan firman-Nya: “Kristus yang yaitu pengharapan akan kemuliaan!”
(Kol.1:27). Dan itulah yang dilakukan rasul Paulus, seperti yang kita baca dalam ayat-ayat berikut ini.
2Kor.11:27 “Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap
kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian.”
Flm.1:6 “Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di
antara kita untuk Kristus.”
MELATIH DIRI MEMUJI DALAM PENYEMBAHAN
Hal ini khususnya sangat penting, tatkala kita mengalami masalah-masalah dalam perjalanan iman
yang wajib dilakukan. Bukannya seperti umat Israel di padang gurun yang acapkali menggerutu, sehingga
banyak diantara mereka dibinasakan (1Kor.10:10); namun lakukanlah seperti Daud, walaupun sedang
berada dalam bahaya diserang orang Filistin, dikejar-kejar raja Saul, bahkan oleh anaknya sendiri,
Absalom, ia tidak lupa memuji Tuhan.
Maz.56:1-5 “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Merpati di pohon-pohon tarbantin yang jauh
(Jonathelemrechokim = dove of silence of distances = Merpati membisu di tempat jauh). Miktam dari Daud,
saat orang Filistin menangkap dia di Gat. Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku,
sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari,
bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong. Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;
kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat
dilakukan umat terhadap aku?”
Sebagaimana dengan Tuhan Yesus yang dikiaskan sebagai “Domba yang kelu,” maka saat
dikejar-kejar Saul, Daud mengkiaskan dirinya sebagai “Merpati membisu.” Untuk mengamankan dirinya
dari kejaran itulah Daud menyingkir ke Gat, ke daerah musuh Saul. Inspirasi yang dituliskan dalam
Mazmur ini berkata kata , bahwa Tuhan menilai Daud memiliki “ketulusan hati” dan bukannya kebencian
dalam menghadapi ayah mertuanya, Saul! Bahkan, dalam keadaan terjepit seperti ini, dia justru memuji-
muji Firman-Nya, sebab percaya bahwa Allah akan menggenapi janji-Nya, yang telah menetapkan
dirinya sebagai raja (melalui nubuat nabi Samuel).
_________ 40
Penyembahan kepada Allah, yang disertai puji-pujian atas Firman-Nya dan ketulusan
hati, walaupun harus melalui “jalur penderitaan dalam pimpinan-Nya,” sungguh-
sungguh merupakan bau yang sangat harum bagi-Nya!
Daud dapat menerima cara Tuhan menangani hidupnya sebab menyadari, bahwa sebagai
kandidat raja dirinya perlu diuji dan dilatih untuk mempercayai Firman Nubuat sebagai dasar
pemerintahannya. Sebab itu, walaupun diuji melalui jalur derita, ia rindu “mempersembahkan hidup yang
berbau harum.” Dan hal itu dibuktikan saat ia berpeluang kedua kalinya untuk membunuh mertuanya,
yang tertidur pulas “sebab Tuhan membuat mereka (Saul dan tentaranya) tidur nyenyak” (1Sam.26:12).
Setelah mengambil tombak dan kendi dari sebelah kepala Saul, pergilah Daud dan Abisai ke
seberang jauh di puncak gunung, lalu mengatakan perkataan ini: “Mengapa pula tuanku mengejar
hambanya ini? Apa yang telah kuperbuat? Apakah kejahatan yang melekat pada tanganku? Oleh sebab
itu, kiranya tuanku raja mendengarkan perkataan hambanya ini. Jika TUHAN yang membujuk engkau
melawan aku, maka biarlah Ia mencium bau korban persembahan” (1Sam.26:18-19a).
Daud mempercayai, bahwa Tuhan bukan hanya sebagai Allah Pencipta, namun juga sebagai Raja
di atas segala raja, yang patut dipuji-puji dan disembah. Sebab itu, dalam Mazmur yang dinyanyikannya
dikatakannya demikian: Orang melihat perarakan-Mu, ya Allah, perarakan Allahku, Rajaku, ke dalam
tempat kudus. Di depan berjalan penyanyi-penyanyi, di belakang pemetik-pemetik kecapi, di tengah-
tengah dayang-dayang yang memalu rebana. "Dalam jemaah pujilah Allah, yakni TUHAN, hai kamu
yang berasal dari sumber Israel!" …… Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu,
ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami. Demi bait-Mu di Yerusalem, raja-raja menyampaikan
persembahan kepada-Mu” (Maz.68:25-30).
Bau harum yang berada dalam Ruangan Suci memang dihasilkan oleh pembakaran ukupan, yang
diletakkan di atas Mezbah Dupa, yang disalut emas, dengan ukuran seperti dinyatakan dalam Kel.30:1-3,
yang berbunyi: “Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah kaubuat itu dari kayu
penaga; sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, namun haruslah
dua hasta tingginya; tanduk-tanduknya haruslah seiras dengan mezbah itu. Haruslah kausalut itu dengan
emas murni, bidang atasnya dan bidang-bidang sisinya sekelilingnya, serta tanduk-tanduknya. Haruslah
kaubuat bingkai emas sekelilingnya.”
Dalam pelajaran numerology (Biblical Numerics), angka 4 menunjuk kepada ciptaan. Sebab 4
yaitu angka setelah




