• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label kontradiksi alkitab 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontradiksi alkitab 4. Tampilkan semua postingan

kontradiksi alkitab 4


 an Markus lebih tertarik menuliskan pernyataan sang kepala 

pasukan tentang keTuhanan Yesus, di sisi lain Lukas lebih meniliknya dari 

segi kemanusiaan Yesus, sebagai salah satu tema pokok dalam kitabnya. 

sebab  itulah, ia menangkap pernyataan kepala pasukan seperti yang 

tertulis dalam kitabnya. 


74. Apakah Yesus mengatakan “TuhanKu, TuhanKu mengapa Engkau 

meninggalkan Aku?” dalam bahasa Ibrani (Matius 27:46) atau dalam 

bahasa Aram? (Markus 15:34) 

(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Ibrani) 

Pertanyaan apakah Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani atau bahasa Aram 

di atas kayu salib dapat dijawab. sedang  alasan mengapa Matius dan 

Markus mencatat dalam dialek yang berbeda mungkin sebab  sesudah  

peristiwa itu terjadi, cara membicarakan peristiwa itu adalah dalam bahasa 

Aram, dan mungkin juga disebabkan oleh para penerima Injil itu sendiri. 

namun , semua itu bukan masalah yang valid bagi Alkitab. 

Sebagian orang memperkirakan Markus 15:34 menggunakan bahasa Aram 

dalam Perjanjian Baru, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani.” namun  sebagian 

lainnya meragukan Yesus berbicara dalam bahasa Aram, sebab  orang-

orang di sekitar situ mendengar Yesus memanggil Elia (Matius 27:47 dan 

Markus 15:35-36). Dengan penjelasan semacam ini orang akan 

mengatakan bahwa Yesus berteriak, “Eli, Eli” dan bukan “Eloi, Eloi” 

Mengapa? sebab  dalam bahasa Ibrani, Eli dapat berarti “Tuhanku”, 

ataupun kependekan dari Eliyahu, yaitu Elia. namun  dalam bahasa Aram, 

Eloi hanya dapat berarti “Tuhanku”, sehingga tidak mungkin dikelirukan 

dengan nama nabi Elia. 

Perlu diperhatikan bahwa kata “lama” (mengapa) sama-sama dipakai 

dalam bahasa Ibrani dan bahasa Aram dan sabakh merupakan kata kerja 

yang terdapat bukan saja dalam bahasa Aram namun  juga Kitab Mishnah 

berbahasa Ibrani. 

Tampaknya Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani, lalu mengapa tercatat 

juga kata-kata-Nya dalam bahasa Aram? Perlu diketahui bahwa Yesus 

tinggal dalam kelompok masyarakat multi-bahasa. Ia amat mungkin dapat 

berbicara bahasa Yunani (bahasa yang digunakan orang Yunani dan Roma), 

bahasa Aram (digunakan oleh masyarakat Timur Dekat) dan bahasa Ibrani, 

bahasa pengajaran dalam agama Yahudi, yang telah dihidupkan dalam 

bentuk Mishnah Ibrani yang ditulis pada masa-masa pembangunan Bait 

Tuhan kedua kalinya. Bahasa Ibrani dan Aram sama-sama berasal dari 

bahasa Semit, dan sama-sama muncul dalam kitab Injil, jadi hal ini  di 

atas tidaklah mengherankan. Tidak menjadi masalah bagi orang Kristen 

jika salah satu penulis kitab Injil menggunakan bahasa Ibrani sedang  

yang lainnya menggunakan bahasa Aram yang amat mirip dengan bahasa 

Ibrani itu. Alasan perbedaan penggunaan kedua bahasa itu mungkin 

disebabkan sebab  saat  mereka mengingat dan mendiskusikan kisah 

tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus, mereka 

mempercakapkannya dalam bahasa Aram.  Alasan di atas hanyalah 


kemungkinan, kendati demikian pertanyaan Shabbir ini tetap tidak menjadi 

masalah, kecuali Markus menuliskannya dalam bahasa Arab! 

(Bivin/Blizzard 1994:10) 

75. Apakah ucapan Yesus yang terakhir adalah, “Ya Bapa, ke dalam 

tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46) atau “Sudah 

selesai”? (Yohanes 19:30) 

(Kategori: ayat-ayat diartikan secara sempit) 

“Apa ucapan Yesus yang terakhir sebelum Ia mati?” itulah inti pertanyaan 

Shabbir untuk menggiring kepada pertentangan di atas. Namun pertanyaan 

di atas tidak menunjukkan pertentangan melainkan hanyalah pernyataan 

yang berbeda dari dua pihak penyaksi pada saat kejadian, tergantung 

dimana posisi mereka menggambarkan kejadian ini dari perspektif yang 

berbeda. Lukas bukanlah saksi mata langsung dalam peristiwa ini, jadi ia 

mencatat kata-kata penyaksi yang ada di sana pada saat itu. sedang  

Yohanes adalah saksi mata peristiwa itu. Apa yang mereka berdua tuliskan 

adalah moment-moment yang terakhir dari Yesus sebelum wafatNya. 

Dalam keseluruhan ke 4 Kitab Injil, ada tercantum 7 tahapan perkataan 

yang diucapkan Yesus selama Ia tergantung di kayu salib, yang diistilahkan 

dengan “7 perkataan salib”. Tampak dari narasi penulisan maupun topiknya 

bahwa 5 perkataan salib yang pertama diucapkan Yesus dalam jeda waktu 

yang berbeda! (1) “Ampunilah mereka”, (2) “Engkau bersama Aku di 

Firdaus”, (3) “Inilah anakmu!... Inilah ibumu”, (4) “Mengapa Engkau 

meninggalkan Aku”, (5) “Aku haus”, (6) “Sudah selesai”, (7) “Kuserahkan 

nyawaKu”. 

Namun perkataan salib yang ke-6 dan ke-7 adalah ucapan yang dicatat 

sebagai perkataan-perkataan yang paling akhir sesaat sebelum Yesus 

menyerahkan nyawa-Nya. 

Jika Yesus mengatakan „sudah selesai‟ kemudian disusul „Ya Bapa, ke 

dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku‟, ataupun sebaliknya, maka 

sebenarnya kedua perkataan salib yang terakhir ini justru merupakan 

sebuah induk kalimat dengan diikuti anak kalimatnya. Dan pencatatan 

terhadap salah satu dari klausa kalimat itu (yang mana saja!) tetap akan 

terhisap sebagai ucapan Yesus yang terakhir. 

Dapat dikatakan, Lukas menuliskan kata terakhir Yesus yang ia anggap 

penting bagi kitabnya yang memang lebih menitikberatkan pada 

kemanusiaan Kristus yang menyerahkan nyawa-nya kepada Bapa 

(perhatikan pertanyaan sebelumnya). Disisi lain, Yohanes mengutip ucapan 

terakhir Yesus dengan melihat kepada penggenapan nubuat yang dilakukan 

Yesus, sehingga ia menuliskannya dengan “sudah selesai”. Dengan 

pemahaman ini, tidak ada pertentangan dalam ayat-ayat ini melainkan 

hanya perbedaan penekanan saja. 

76. Apakah kepala perwira di Kapernaum datang sendiri kepada Yesus 

dan meminta-Nya untuk menyembuhkan hambanya (Matius 8:5) atau 

ia mengirimkan beberapa orang tua-tua Yahudi dan teman-temannya 

menghadap Yesus? (Lukas 7:3-6) 

(Kategori: ayat diartikan secara sempit dan salah memahami maksud 

penulis) 

Keadaan di atas bukan sebuah pertentangan melainkan lebih merupakan 

kesalahpahaman terhadap isi cerita dan maksud penulis. Kepala perwira 

pada awalnya mengirimkan pesan kepada Yesus melalui orang tua-tua 

Yahudi. Dan tentu tidak menutup kemungkinan bahwa ia juga datang 

kepada Yesus sesudah  terjalin kontak dengan Yesus (dihubungi orang tua-

tua Yahudi). Matius menyebutkan kepala perwira yang menghadap, sebab  

memang dia yang punya urusan (yang membutuhkan). Dari cerita-cerita 

lainnya kita tahu baha perbuatan seseorang yang disuruhkan untuk 

dikerjakan kepada orang lain adalah sebenarnya dilakukan melalui dirinya. 

Contoh paling jelas dapat kita lihat dari baptisan yang dilakukan oleh 

murid-murid Yesus namun  Alkitab mengistilahkan bahwa Yesuslah yang 

membaptis (Yohanes 4:1-2). 

77. Apakah Adam mati pada saat ia memakan buah (buah pengetahuan 

yang baik dan yang jahat, Kejadian 2:17), atau ia hidup sampai 

berusia 930 tahun? (Kejadian 5:5) 

(Kategori: salah memahami cara kerja Tuhan dalam sejarah) 

Kitab Suci menggambarkan kematian dalam tiga bentuk, yaitu: 1) mati 

secara fisik, yang ditandai dengan berakhirnya kehidupan di bumi; 2) mati 

secara roh, yang ditandai dengan terputusnya hubungan dengan Tuhan; 

dan 3) kematian kekal, yaitu di dalam neraka. Mati yang dibicarakan dalam 

Kejadian 2:17 adalah kematian nomor dua yaitu terpisah dari Tuhan, 

sedang  kematian yang disebutkan dalam Kejadian 5:5 adalah kematian 

yang pertama, yaitu mati secara fisik yang diakhiri dengan berakhirnya 

kehidupan di dunia ini. 

Seperti kekeliruan kebanyakan para Muslim, Shabbir pun melihat hal di 

atas sebagai kontradiksi sebab  ia tidak memahami pengertian maut secara 

rohani yang artinya terpisah total dari Tuhan, sebab  dia tidak melihat 

bahwa Adam memiliki hubungan langsung dengan Tuhan yang dimulai 

sejak pertama kali tinggal di Taman Eden. Padahal, pemisahan rohani 

(yaitu kematian rohani) jelas-jelas ditunjukkan dalam Kejadian pasal 3 

saat  Adam diusir keluar dari Taman Eden dan jauh dari hadirat Tuhan. 

Ironisnya, peristiwa diusirnya Adam dari Taman Eden juga terdapat dalam 

Al Qur‟an (Sura 2:36). Keduanya diusir keluar tanpa alasan, sebab (seperti 

yang diyakini oleh umat Islam) Adam telah diampuni dosanya. Bila tidak 

berdosa, tentulah mereka tidak akan kehilangan Firdaus, suatu tempat 

yang memang diciptakan Tuhan tadinya bagi ciptaan-Nya semula. Ini 

merupakan contoh bagaimana Al Qur‟an meminjam cerita dari kitab 

sebelumnya tanpa pemahaman sebenarnya atau signifikansinya, sehingga 

terciptalah asumsi sendiri yang melatari kontradiksi di atas. 

(Untuk lebih memahami pengertian dan signifikansi tentang kematian 

rohani dan bagaimana hal ini  telah memicu  perselisihan hampir 

di semua front di antara umat Kristen dan Islam, baca artikel yang berjudul 

“The Humaneutical Key” oleh Jay Smith) 

78. Apakah Tuhan menetapkan usia manusia hanya sampai 120 tahun 

saja (Kejadian 6:3) atau lebih? (Kejadian 11:12-16) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Dalam Kejadian 6:3 kita baca: 

“Berfirmanlah Tuhan: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam 

manusia sebab  manusia itu adalah daging, namun  umurnya akan seratus 

dua puluh tahun saja.” 

Shabbir menganggap pernyataan ini bertentangan dengan usia orang-

orang yang pada waktu itu yang mencapai usia lebih dari 120 tahun seperti 

yang disebutkan dalam Kejadian 11:12-16. Saya yakin hal ini terjadi 

sebab  Shabbir salah membaca atau salah memahami ayat bacaan di atas. 

Seratus dua puluh tahun usia yang disebutkan Tuhan dalam Kejadian 6:3 

tidak mungkin berbicara mengenai batas usia manusia sementara orang-

orang yang lebih tua umurnya disebutkan dalam kitab Kejadian (malahan 

dalam pasal-pasal yang berdekatan, termasuk Nuh sendiri). Angka itu lebih 

ditujukan untuk jangka waktu yang diberikan oleh Tuhan selama 120 tahun 

sebelum air bah betul-betul didatangkan. Itulah jangka waktu peringatan 

kepada Nuh, seperti yang kita baca dalam 1 Petrus 3:20: “Tuhan tetap 

menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya.” 

Dengan demikian ayat dalam Kejadian 6:3 akan selaras dengan yang 

terdapat dalam Kejadian 11. 

(Geisler/Howe 1992:41) 

79. Selain Yesus apakah tidak ada orang lain yang telah naik ke surga 

(Yohanes 3:13) atau ada? (2 Raja-raja 2:11) 

(Kategori: salah memahami ayat) 

Memang ada beberapa orang yang telah naik ke surga tanpa harus mati 

seperti misalnya Elia dan Henokh (Kejadian 5:24). Dalam Yohanes 3:13 

pengetahuan yang superior dari Yesus, tentang hal-hal surgawi sedang 

ditonjolkan. Yesus sedang mengatakan “Tidak ada orang lain yang 

pertama-tama dapat berbicara mengenai hal ini seperti Aku, sebab  Aku 

telah turun dari surga.” Ia menyatakan tidak seorangpun yang pernah naik 

ke surga dan membawa pesan itu ke bawah seperti yang Ia bawa. Ia tidak 

menyangkal bahwa ada orang lain yang juga naik ke surga seperti Elia dan 

Henokh, namun  Yesus lebih menekankan bahwa tidak ada orang di bumi ini 

yang telah ke surga dan balik, dengan membawa pesan seperti yang 

disampaikan-Nya. 

80. Apakah Abyatar (Markus 2:26) atau Ahimelekh (1 Samuel 21:1; 

22:20) yang menjadi imam besar saat  Daud masuk ke dalam Bait 

Tuhan dan memakan roti persembahan untuk Tuhan? 

(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Ibrani dan konteks 

historis) 

Yesus mengatakan bahwa peristiwa di atas terjadi pada hari-hari Abyatar 

menjabat sebagai imam besar, padahal jika kita baca dalam 1 Samuel, 

bukan Abyatar yang menjabat sebagai imam besar pada saat itu, 

melainkan ayahnya, Ahimelekh 

Bandingkan dengan gaya bahasa Ibrani yang berbunyi, “…saat  Raja Daud 

menjadi gembala…” bukankah ini tidak dianggap sebagai kesalahan, 

walaupun Daud belum menjadi raja pada saat itu? Maka sama halnya 

dengan Abyatar, yang segera menjadi imam besar, dan itulah dia yang 

paling diingat orang dengan gelarnya. Lagipula peristiwa itu benar-benar 

terjadi “pada hari-hari Abyatar”, sebab ia benar hidup dan hadir dalam 

peristiwa itu. Kita tahu mengenai hal itu dari 1 Samuel 22:20, saat  

Abyatar melarikan diri dari kejaran orang-orang Saul sebab  seluruh 

keluarga ayahnya dan kota mereka telah dihancurkan. Dengan demikian, 

pernyataan Yesus ini dapat diterima. 

(Archer 1994:362) 

81. Apakah tubuh Yesus dirempahi menurut tradisi orang Yahudi 

sebelum Ia dikuburkan (Yohanes 19:39-40) atau para perempuan 

datang merempah-rempahinya sesudah  Yesus dikuburkan? (Markus 

16:1) 

(Kategori: ayat diartikan sempit) 

Yohanes 19:39-40 menyebutkan bahwa Yusuf dan Nikodemus datang 

merempahi tubuh Yesus dengan 50 kati minyak mur dan mengkafani-Nya 

dengan kain lenan. Kita juga tahu dari penulis kitab Injil sinoptik bahwa 

sesudah  dirempah-rempahi, tubuh Yesus ditaruh di dalam sebuah kubur 

batu yang besar. Meskipun kitab sinoptik tidak menyebutkan tentang 

merempahi tubuh Yesus pada saat dikuburkan bukan berarti tubuh Yesus 

tidak dirempah-rempahi. Tidak ada pertentangan dalam cerita ini. 

Yesus mati sekitar jam 3 sore (Markus 15:34-37). Yusuf dan Nikodemus 

harus mempersiapkan proses penguburan secara cepat sebelum hari Sabat 

mulai, mulai dari menghadap Pilatus untuk minta izin penguburan,, 

menurunkan jenazah Yesus, membeli kain lenan dan rempah-rempah, dan 

perempahan, pengkafanan hingga kepada persiapan masuk ke kubur batu. 

Dan para wanita tahu semua proses pemakaman yang dilakukan terhadap 

Yesus (Matius 27:61). Anda tentu tidak berpikir bahwa Yusuf dan 

Nikodemus hanya membungkus tubuh Yesus lalu menguburkannya di 

dalam bukit batu. 

Jikalau Markus 16:1 diartikan bahwa para wanita datang dengan maksud 

untuk melakukan keseluruhan proses pemakaman, maka mereka juga 

seharusnya juga akan mengkafani-Nya kembali dengan kain lenan, 

walaupun ini tidak disebutkan. Mereka bukan datang untuk pemakaman. 

Jadi lebih benar mengartikan mereka memberi  rempah-rempah 

tambahan atas tubuh Yesus sesudah  Yusuf dan Nikodemus sebagai bentuk 

penghormatan terakhir kepada guru mereka. 

82. Apakah para perempuan membeli rempah-rempah sesudah  hari 

Sabat (Markus 16:1) atau sebelum hari Sabat? (Lukas 23:55 – 24:1) 

(Kategori: ayat diartikan secara sempit) 

Dalam beberapa kisah detail tentang kebangkitan Yesus di dalam Injil, 

terungkap bahwa ada dua kelompok perempuan dalam perjalanan menuju 

kubur batu dan berharap akan saling bertemu di sana. Perhatikan 

pertanyaan nomor 86 untuk lebih jelasnya mengenai dua kelompok ini. 

Jelaslah bahwa Maria Magdalena dan kelompoknya membeli rempah-

rempah sesudah  hari Sabat, seperti yang tertulis dalam Markus 16:1. 

sedang  Yohana dan teman-temannya membeli rempah-rempah 

sebelum hari Sabat seperti yang disebutkan dalam Lukas 23:56. Hanya 

Lukas yang menceritakan tentang Yohana dan kelompoknya, menandakan 

Lukas hendak menekankan peran penting Yohana dan teman-temannya 

dalam kisah kebangkitan Yesus. 

83. Apakah perempuan-perempuan mendatangi kubur Yesus 

„menjelang fajar menyingsing‟ (Matius 28:1) atau „sesudah  matahari 

terbit‟ (Markus 16:2) 

(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit) 

Untuk meniadakan salah paham yang tidak perlu seperti di atas mari kita 

perhatikan sejenak terhadap empat ayat di bawah ini: 

   Matius 28:1; „menjelang menyingsingnya fajar…pergilah mereka 

menengok kubur itu‟ 

   Markus 16:2; „dan pagi-pagi benar…sesudah  matahari terbit (just 

after sunrise)…pergilah mereka ke kubur (on their way to the tomb)‟ 

   Lukas 24:1; „namun  pagi-pagi benar…mereka pergi ke kubur‟ 

   Yohanes 20:1; pagi-pagi benar saat  hari masih gelap…pergilah 

Maria Magdalena ke kubur itu‟ 

Dari keempat ayat di atas kita mudah menemukan jawaban mengenai hal 

ini. dari kitab Lukas kita mengerti bahwa pagi-pagi sekali mereka 

berangkat pergi ke kubur. Dari kitab Matius kita lihat bahwa matahari 

sedang siap menyingsing saat  mereka berangkat pergi. Yohanes 

menjelaskan kepergian perempuan-perempuan saat  matahari belum 

benar-benar terbit, melainkan keadaan masih gelap menjelang pagi. Dan 

Markus menyatakan bahwa matahari terbit saat  mereka sedang pergi 

dalam perjalanan. Tentu waktu terus bergulir seiring dengan terbitnya 

matahari selama perjalanan perempuan-perempuan itu keluar dari 

Yerusalem. 

84. Apakah para perempuan yang pergi ke kubur hendak meminyaki 

tubuh Yesus dengan rempah-rempah (Markus 16:1; Lukas 23:55 – 

24:1), atau untuk melihat kuburan (Matius 28:1) atau tanpa maksud 

apa-apa? (Yohanes 20:1) 

(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit) 

Jawaban pertanyaan ini berkaitan dengan nomor 81 di atas. Kita tahu 

bahwa mereka pergi ke kubur untuk memberi  rempah-rempah 

tambahan pada tubuh Yesus, seperti yang diinformasikan Lukas dan 

Markus. namun  walaupun Matius dan Yohanes tidak memberi  alasan 

yang spesifik mengenai hal ini bukan berarti bahwa mereka pergi tanpa 

alasan tertentu. Mereka hendak menambahkan rempah-rempah, walaupun 

tidak semua penulis kitab Injil menyebutkan hal ini . Kita tentunya 

tidak berharap bahwa semua pernak-pernik cerita akan dituliskan persis 

sama dalam setiap kitab Injil. Ke-empat Kitab Injil itu adalah kesaksian dari 

4 penulis yang berbeda segi cakupannya, bukan fotocopy yang satu 

terhadap lainnya. 

85. saat  para perempuan tiba di kubur batu, apakah batu itu „sudah 

terguling‟ (Markus 16:4, Lukas 24:2), „telah diambil dari kubur‟ 


(Yohanes 20:1) atau mereka melihat malaikat yang melakukannya? 

(Matius 28:1-6) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Tuduhan Shabbir ini sangat dibuat-buat. Matius tidak mengatakan bahwa 

para perempuan melihat malaikat menggulingkan batu itu. sesudah  

mencatat para perempuan pergi ke kubur, Matius menceritakan tentang 

gempa bumi yang terjadi saat  mereka masih dalam perjalanannya. Ayat 

2 menyebutkan, “Maka terjadilah gempa bumi yang hebat.” Bahasa asli 

Yunani menyebutkannya dengan, “dan saat itu telah terjadi gempa bumi 

yang hebat.” saat  para perempuan ini berbicara dengan malaikat di ayat 

5, kita tahu dari Markus16:5 bahwa mereka telah mendekati kubur batu 

dan masuk ke dalamnya, sedang  malaikat itu duduk di tempat di amna 

tubuh Yesus dibaringkan sebelumnya. Oleh sebab  itu, jawaban atas 

pertanyaan ini adalah bahwa “batu itu telah terguling” saat  para 

perempuan tiba di kubur Yesus. Tidak ada pertentangan apapun dalam hal 

ini dengan pemakaian bahasa ilustratif “batu telah diambil dari kubur.” 

86. (Dalam Matius 16:2; 28:7; Markus 16:5-6; Lukas 24:4-5; 23) Para 

perempuan diberitahukan mengenai apa yang telah terjadi dengan 

tubuh Yesus, sedang  dalam Yohanes 20:2 disebutkan bahwa 

Maria Magdalena tidak diberitahukan. 

(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit) 

Malaikat memberitahukan kepada para perempuan bahwa Yesus telah 

bangkit dari kematian. Kitab Matius, Markus dan Lukas menceritakan hal 

ini. perbedaan semu mengenai jumlah malaikat akan jelas jika kita 

menyadari bahwa ada dua kelompok perempuan disini. Maria Magdalena 

dan kelompoknya (luhat ayat-ayat terdapat istilah “kami”) mungkin 

berangkat dari rumah Yohanes. Sebaliknya, Yohana dan beberapa 

perempuan lain yang tidak disebutkan namanya, berangkat dari tempat 

Herodes di bagian kota lainnya. Yohana adalah isteri Khuza, bendahara 

Herodes (Lukas 8:3) dan sebab  itu kemungkinan besar ia dan teman-

temannya berangkat dari istana Herodes. 

Dengan demikian ini, jelas bahwa malaikat pertama (yang menggulingkan 

batu dan memberitahukan Maria Magdalena dan Salome tentang 

keberadaan Yesus) telah menghilang, saat  Yohana dan kawan-kawannya 

datang. saat  mereka tiba di sana (Lukas 24:3-8) ada dua malaikat yang 

menampakkan diri dan memberitahu mereka kabar baik, dan sesudah  itu 

mereka bergegas memberitahukan kepada para rasul. Dalam Lukas 24:10, 

perempuan-perempuan itu disebutkan bergabung semuanya, sebab  

mereka bersama-sama menemui para rasul. 

Kini kita mulai tahu mengapa Maria Magdalena tidak melihat para malaikat. 

Yohanes 20:1 menyebutkan bahwa Maria datang ke kubur dan kita tahu 

dari kitab lainnya bahwa Salome dan Maria yang lain ada bersamanya, 

(walau Maria Magdalena diduga berjalan lebih cepat mendahului yang lain). 

saat  dilihatnya batu kubur itu terguling, ia sendiri langsung lari 

memanggil para rasul dan mengira bahwa Yesus telah diambil orang. 

sedang  Maria yang lain dan Salome (yang ditinggalkan Maria 

Magdalena) berusaha mencari tahu dengan melihat ke dalam kubur Yesus, 

dimana akhirnya mereka menemukan malaikat yang memberitahukan 

mereka apa yang telah terjadi. Jadi kita lihat bahwa para malaikat telah 

memberitahukan kepada para perempuan itu, namun  Maria Magdalena 

sendiri pergi sebelum sempat bertemu dengan para malaikat itu. 

87. Apakah pertemuan pertama antara Maria Magdalena dengan Yesus 

yang telah bangkit itu terjadi pada saat kedatangannya yang pertama 

ke kubur (Matius 28:9) ataukah kedatangannya yang kedua (Yohanes 

20:11-17)? Dan bagaimana reaksinya? 

(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit) 

Telah kita ketahui bersama dari jawaban terakhir bahwa Maria Magdalena 

sendiri berlari mendapatkan para rasul sesudah  ia melihat batu kubur itu 

telah terguling. Oleh sebab  itu, saat  dikatakan dalam Matius 28:9 bahwa 

Yesus bertemu dengan mereka, Maria Magdalena tidak ada disana. Namun 

di dalam Markus 16:9 kita melihat bahwa Yesus menampakkan diri-Nya 

pertama-tama kepada Maria Magdalena sesudah  ia, Petrus dan Yohanes 

kembali ke kubur untuk pertama kalinya (Yohanes 20:1-18). Dari sini kita 

melihat bahwa Petrus dan Yohanes melihat kubur itu kosong dan kembali 

ke rumah meninggalkan Maria yang menangis di pintu kubur itu. Disinilah 

Maria kemudian melihat dua malaikat di sisi kubur batu dan akhirnya 

bertemu dengan Yesus. 

Sebenarnya ada beberapa masalah sehubungan dengan cerita kebangkitan 

Yesus ini, dan beberapa diantaranya telah disinggung di sini. Kami ingin 

sekali menjelaskan seluruh cerita ini, sayangnya buku ini tidak akan cukup, 

sebab  itu kami hanya menjawab hal-hal yang dipermasalahkan oleh 

Shabbir. Jika anda belum puas dengan penjelasan di atas, anda dapat 

membaca cerita lengkapnya dalam buku John Wenham yang berjudul 

“Easter Enigma” (terbitan terbaru tahun 1996, Paternoster Press). 

Diakui bahwa penjelasan atau uraian peristiwa di atas tidak semuanya 

merujuk kepada teks spesifik dari kitab Injil. Meskipun demikian, 

penjelasan ini  tetap dapat diterima sebab  setiap penulis kitab Injil 

melaporkan dari sudut pandang yang berbeda; dengan kata lain tidak 

masalah jika ada penambahan atau pengurangan detail cerita pada setiap 

kitab Injil yang berbeda, sebab  hal ini  justru akan menambah 

(bukan mengurangi) kredibilitas kitab Injil. Cerita yang sepertinya berbeda 

dan berpotensi memicu  konflik akhirnya dapat diselesaikan dengan 

melihat pada beberapa sudut pandang, sehingga penyelesaian semacam itu 

justru akan membebas kitab Injil dari usaha-usaha kolusi diantara si 

penulis asli kitab itu sendiri maupun dari para editornya di kemudian hari. 

 

 

88. Apakah Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menunggu-

Nya di Galilea (Matius 28:10) atau Ia akan pergi kepada Bapa dan 

Tuhan-Nya (Yohanes 20:17)? 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Kontradiksi semu di atas mempersoalkan, “Apa yang diinstruksikan Yesus 

kepada murid-murid-Nya?” Shabbir memakai ayat dalam Matius 28:20 dan 

Yohanes 20:17 untuk menunjukkan terjadinya pertentangan di dalam 

Alkitab. Padahal kedua ayat ini terjadi pada waktu yang berbeda, pada hari 

yang sama sehingga tidak ada alasan meyakini bahwa Yesus hanya 

memberi  satu buah perintah kepada murid-murid-Nya. 

Satu lagi kelalaian Shabbir dalam membaca ayat dan pasal-pasal Alkitab 

yang mengabaikan situasi di seputar kebangkitan Yesus pada hari Minggu. 

(Saya katakan hari Minggu sebab  hari itu adalah hari pertama dalam satu 

minggu). Kedua ayat di atas sebenarnya tidak saling bertentangan 

melainkan saling melengkapi, sebab  kedua ayat di atas tidak menunjuk 

pada waktu dan kejadian yang sama. Matius 28:10 berbicara mengenai 

kelompok perempuan yang bertemu dengan Yesus dalam perjalanan 

mereka pulang untuk menceritakan kepada murid-murid Yesus. Yaitu Kubur 

kosong! Dan pada saat itulah mereka menerima instruksi pertama kali dari 

Yesus untuk diteruskan kepada murid-murid-Nya yang lain. 

sedang  Yohanes 20:17 terjadi beberapa waktu sesudah  ayat di atas, 

(untuk memahami keterangan waktu, perhatikan bacaan mulai dari awal 

pasal ini) dan terjadi saat  Maria sendiri berdiri di dekat kubur dan 

menangis sebab  kejadian yang menimpanya. Ia melihat Yesus dan 

disanalah Yesus memberi  instruksi lain lagi untuk diteruskan kepada 

para muridNya. 

89. sesudah  mendengar perintah Yesus, apakah para murid kembali ke 

Galilea dengan segera (Matius 28:17) ataukah setidaknya sesudah  40 

hari kemudian? (Lukas 24:33,49; Kisah Para Rasul 1:3-4) 

(Kategori: tidak membaca seluruh ayat dan salah mengutip ayat) 

Pertentangan di atas mempersoalkan kapan para murid kembali ke Galilea 

sesudah  peristiwa penyaliban. Kelihatannya ada pertentangan dalam Matius 

28:17 yang menyatakan bahwa mereka segera kembali, sedang  dalam 

Lukas 24:33,49 dan Kisah Para Rasul 1:4 dikatakan bahwa mereka baru 

kembali sesudah  40 hari. namun  sebenarnya kedua asumsi di atas adalah 

salah. 

Yesus menampakkan diri banyak kali kepada mereka, kadang-kadang Ia 

menampakkan diri kepada satu orang, kadang-kadang sekelompok orang 

dan ada saatnya saat  semua murid-muridNya sedang berkumpul, bahkan 

Paulus dan Stefanus juga melihat penampakan diri Yesus sesudah  peristiwa 

kenaikan Yesus (Baca 1 Korintus 15:5-8 dan Kisah Para Rasul 7:55-56). 

Yesus menampakkan diri di Galilea dan Yerusalem namun  dan di tempat 

lain. Matius 28:16-20 memberi  ringkasan tentang semua penampakkan 

diri Yesus, dan sebab nya sangat tidak pada tempatnya untuk menekankan 

urutan kronologisnya seperti yang dilakukan oleh Shabbir. 

Pertanyaan Shabbir yang kedua (kembali ke Galilea sesudah  40 hari) 

malahan lebih lemah tanpa dasar dibandingkan pertanyaan sebelumnya 

yang telah dijawab. Hal ini sebab  Shabbir tidak mencatat seluruh Kisah 

Para Rasul 1:4 secara utuh yang berbunyi: “Pada suatu hari saat  Ia 

makan bersama-sama dengan mereka. Ia melarang mereka meninggalkan 

Yerusalem dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa 

(seperti yang telah mereka dengar daripadaNya).” 

Lukas, penulis kitab Para Rasul ini, tidak menyebutkan kapan Yesus 

mengucapkan ini. namun  dalam kitab Lukas, ia menuliskan hal yang sama 

seperti Matius, dan mengelompokkan semua penampakan Yesus, sehingga 

kembali pembacaan pada Lukas 24:36-49 tidak memerlukan penekanan 

kronologisnya. Namun dari kitab Matius dan Yohanes, kita tahu bahwa 

sedikitnya beberapa dari murid Yesus memang pergi ke Galilea dan 

bertemu dengan Yesus disana; peristiwa mana diduga terjadi sesudah  

pertemuan pertama mereka di Yerusalem dan tentu saja sebelum 40 hari 

pada saat Yesus naik ke surga. 

90. Apakah orang-orang Midian menjual Yusuf kepada orang-orang 

Ismael (Kejadian 37:28) atau kepada Potifar, pegawai firaun? 

(Kejadian 37:36) 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Pertanyaan di atas sangat aneh dan jelas menunjukkan bahwa Shabbir 

telah salah paham terhadap ayat dalam Kejadian 37:25-36. Pertanyaannya 

adalah “Kepada siapa orang-orang Midian menjual Yusuf?” Ayat 28 

mengatakan kepada orang Ismael dan ayat 36 menyatakan kepada Potifar. 

Para saudagar kafilah yang sedang lewat saat itu terdiri atas saudagar-

saudagar Ismael dan Midian. Mereka yang membeli Yusuf dari tangan 

kakak-kakaknya kemudian menjualnya kepada Potifar di Mesir. Kata-kata 

“orang Ismael” dan “orang Midian” memang sering dicampur-adukkan. Dan 

hal ini akan jelas jika anda membaca ayat 27 dan 28 bersamaan. 

Penggunaan kedua kata ini juga dapat dengan jelas dibaca dalam Hakim-

hakim 8:24. 

 

 

91. Siapakah yang membawa Yusuf ke Mesir, orang Ismael (Kejadian 

37:28), orang Midian (Kejadian 37:36), atau saudara-saudara Yusuf? 

(Kejadian 45:4) 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Kontradiksi di atas, mengikuti kontradiksi yang dipertanyakan Shabbir 

sebelumnya. Sekali lagi ini memperlihatkan betapa Shabbir tidak mampu 

memahami isi cerita maupun situasi sejarah. Ia menanyakan, “Siapa yang 

membawa Yusuf ke Mesir?” Dari pertanyaan Shabbir sebelumnya, kita tahu 

bahwa baik saudagar Ismael maupun saudagar Midian sama-sama 

bertanggung jawab dalam membawa Yusuf ke Mesir (sebab  mereka adalah 

satu kelompok orang yang sama), sedang  kakak-kakaknya juga sama 

bertanggung jawab dalam menjual Yusuf kepada saudagar ini . 

Dengan demikian kakak-kakaknya dituntut pertanggung-jawaban oleh 

Yusuf dalam kejadian 45:4. Jadi seperti yang kita lihat dari pertanyaan 

sebelumnya, ketiga pihak sama-sama berperan dalam membawa Yusuf ke 

Mesir. 

92. Apakah Tuhan dapat berubah pikiran (menyesal) (Kejadian 6:7; 

Keluaran 32:4; 1 Samuel 15:10-11, 35) atau tidak pernah berubah 

pikiran (menyesal)? (1 Samuel 15:24) 

(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam sejarah, dan salah 

memahami penggunaan bahasa Ibrani) 

“Kontradiksi” ini umumnya hanya timbul dalam terjemaham lama naskah 

Alkitab ke dalam bahasa Inggris (juga Indonesia). sebab  itu maka jalan 

keluarnya diambil dengan melihat kepada konteks dan peristiwa yang 

terjadi. 

Tuhan tahu bahwa Saul akan gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai 

Raja Israel. Sekalipun begitu Tuhan mengizinkan Saul menjadi raja dan 

memakainya dengan luar biasa untuk menjalankan rencana-Nya. Saul 

sangat efektif sebagai pemimpin Israel dalam memberi  keberanian 

kepada rakyatnya dan memberi  kebanggaan kepada bangsanya dengan 

mengalahkan musuh-musuh Israel pada waktu perang. 

Tuhan telah mengetahui hal ini  jauh hari sebelum terjadi (Kejadian 

49:8-10), dimana Dia akan mengangkat raja-raja untuk memimpin Israel 

yang dipilih dari suku Yehuda. Saul berasal dari suku Benyamin, oleh 

sebab  itu jelas bahwa Saul dan keturunannya bukan pilihan Tuhan yang 

permanen untuk menduduki kerajaan Israel. sedang  Daud, 

penggantinya berasal dari suku Yehuda, dan keturunannya berhak mewarisi 

tahtanya. 

Tuhan mahatahu dalam segala hal, jadi Ia tidak akan pernah berubah 

pikiran terhadap Saul, sebab  Ia tahu bahwa Saul akan meninggalkan-Nya 

dan sebab  itu tahtanya akan diberikan kepada orang lain. 

Kata Ibrani yang digunakan dalam menyatakan pikiran dan perasaan Tuhan 

terhadap sikap Saul yang berbalik dari Tuhan adalah “niham”. Dan ini 

diterjemahkan sebagai „menyesal‟ seperti di atas. namun  seperti bahasa-

bahasa pada umumnya, kata ini dapat memiliki lebih dari satu arti. 

Misalnya, bahasa Inggris hanya memiliki satu kata untuk „cinta‟, bahasa 

Yunani punya sedikitnya 4 kata untuk itu, dan bahasa Ibrani punya lebih 

banyak lagi. Kata cinta dalam bahasa Ibrani dan Yunani tidak selalu dapat 

begitu saja diartikan dengan „cinta‟ dalam bahasa Inggris jikalau ingin 

dipertahankan kedalaman dan keluasan makna aslinya. Dan masalah 

seperti inilah yang selalu dihadapi para penterjemah. 

Mereka yang menerjemahkan Alkitab King James (seperti yang dipakai oleh 

Shabbir) menerjemahkan kata „niham‟ sebanyak 41 kali sebagai 

„menyesal‟, diantara 108 kata „niham‟ yang memakai arti lain dalam Alkitab 

bahasa Ibrani. Kita tahu bahwa para penerjemah saat itu bekerja dengan 

jumlah naskah-naskah yang lebih sedikit daripada yang tersedia di saat ini. 

penemuan naskah-naskah yang lebih tua serta benda-benda arkeologis di 

sepanjang abad terakhir turut memberi  akses kepada pemahaman 

kata-kata Alkitab Ibrani yang lebih akurat. Oleh sebab  itu, kebanyakan 

para penerjemah sekarang ini lebih akurat menerjemahkan “niham” 

sebagai bersikap melunak, bersedih, menyatakan rasa simpati, menghibur, 

menyesal, bertobat, dan lain-lain, sesuai dengan konteks yang dibicarakan. 

Dengan pemikiran seperti itu, terjemahan ayat ini  secara lebih tepat 

seharusnya berbunyi, “Tuhan bersedih sebab  telah menjadikan Saul 

sebagai raja.” Tuhan tidak pernah berbohong atau menyesal sebab  ia 

bukan manusia yang pernah menyesal. Kalimat „Tuhan bersedih dengan 

menjadikan Saul sebagai raja‟ menunjukkan bahwa Ia memiliki emosi. Dia 

mengerti penderitaan manusia dan mendengarkan permintaan tolong 

mereka, namun  amarah dan kegeraman-Nya akan bangkit jika Ia melihat 

manusia menderita akibat perbuatan orang lain. 

Sebagai akibat dari pemberontakan Saul, maka Tuhan dan rakyat Israel 

pun turut menanggung derita. namun  Tuhan juga telah merencanakan sejak 

awalnya bahwa Saul dan keturunannya yang bukan berasal dari suku 

Yehuda tidak akan terus duduk di atas tahta. sebab  itu, saat  Saul 

menghadap nabi Samuel (ayat 24-25) untuk meminta kembali penyertaan 

Tuhan dan supaya ia tidak disingkirkan dari tahtanya, maka Samuel 

menjawab bahwa Tuhan telah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah 

pendirian-Nya. Tuhan tidak menyesali hal ini, sebab  telah difirmankan 

begitu ratusan tahun sebelum Saul menjadi raja. 

Jadi tidak ada yang bertentangan disini. Pertanyaannya adalah “Apakah 

Tuhan menyesal?” Jawabannya, “Tidak, Tuhan tidak pernah menyesal 

(dalam arti berubah pikiranNya karen kecewa)”. Namun Ia selalu 

menanggapi situasi dan perilaku setiap anak-anakNya dengan penuh kasih 

sayang atau dengan murka, sehingga Ia akan menjaid sedih dan geram 

jika manusia berbuat jahat. 

(Archer 1994) 

93. Bagaimana mungkin ahli sihir di Mesir dapat merubah air menjadi 

darah (Keluaran 7:22) jika semua air di Mesir telah diubah oleh Musa 

dan Harun? (Keluaran 7:20-21) 

(Kategori: tidak membaca seluruh ayat dan memaksakan pemikiran 

sendiri) 

 

Pertanyaan ini agak lucu. Tentu saja 

Musa dan Harus tidak mengubah 

seluruh air menjadi darah seperti yang 

dikatakan Shabbir, melainkan hanya 

air di sungai Nil (perhatikan ayat 20). 

Jadi masih tersedia banyak air yang 

dapat digunakan oleh ahli sihir Firaun. 

Kita dapat mengetahui hal ini pada 

ayat berikutnya (ayat 24) yang 

menyebutkan: “namun  semua orang 

Mesir menggali-gali di sekitar sungai Nil, mencari air untuk diminum, sebab 

mereka tidak dapat meminum air sungai Nil.” 

Jadi dimanakah sulitnya untuk para ahli sihir melakukan hal yang sama 

dengan Musa dan harus? Dalam hal ini, Shabbir bukan saja tidak membaca 

ayat namun  juga telah mengartikan ayat ini dengan tidak semestinya. 


94. Apakah Daud (1 Samuel 17:23,50) atau Elhanan (2 Samuel 21:19) 

yang membunuh Goliat? 

(Kategori: kesalahan penulis ulang) 

Pertentangan tentang siapa yang membunuh 

Goliat (Daud atau Elhanan) timbul sebab  

kesalahan dari penulis ulang. 

2 Samuel 21:19, berbunyi: 

“Dan terjadi pertempuran melawan orang 

Filistin, di Gob; Elhanan bin Yaare Oregim, 

orang Bethlehem itu, menewaskan Goliat, 

orang Gat itu, yang gagang tombaknya seperti 

pesa tukang tenun.” 

Sebagai teks Masorit, tentu saja ayat ini bertentangan dengan kitab 1 

Samuel dan kisah pertempuran Daud melawan Goliat. namun  jika kita 

melihat kitab 1 Tawarikh 20:5 yang mengisahkan cerita yang sama, kita 

dapat dengan mudah mengetahui alasan yang sesungguhnya. Disebutkan 

disitu: 

“Maka terjadilah lagi pertempuran melawan orang Filistin, lalu Elhanan bin 

yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat, orang Gat itu, yang gagang 

tombaknya seperti pesa tukang tenun.” 

Jika kedua ayat di atas dikaji dalam bahasa Ibrani, maka jelas bahwa kisah 

dalam 1 Tawarikh-lah yang benar dan tepat. Ini bukan sebab  semata kita 

tahu bahwa memang Daud yang membunuh Goliat, namun  juga sebab  

faktor bahasa Ibrani. 

saat  para penulis menyalin ulang naskah yang mula-mula, dapat 

dipastikan bahwa naskah itu telah buram dan rusak pada bagian kitab 2 

Samuel. Akibatnya timbullah dua atau tiga kesalahan (perhatikan Gleason 

L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, hal 179(, yaitu: 

Tanda untuk obyek langsung dalam kalimat 1 Tawarikh adalah „-t yang 

muncul di depan kata „Lahmi‟. Dalam keburaman naskah, penulis ulang 

telah salah membacanya dengan mengartikannya dengan b-t atau b-y-t 

(„beth‟), akibatnya muncullah kata BJt hal-Lahmi (orang Bethlehem) dalam 

ayat ini . 

Penulis ulang dalam kitab 2 Samuel salah membaca kata „saudara‟ („-h, 

huruf h dengan sebuah titik di bawahnya), yaitu tanda untuk obyek 

langsung („-t) sebelum g-l-y-t („Goliat‟). Oleh sebab  itu si penyalin menulis 

“Goliat” sebagai orang yang ditewaskan, dan bukan „saudaranya‟ Goliat, 

seperti yang tertulis dalam kitab 1 Tawarikh. 

Penulis ulang salah menempatkan kata „tukang tenun‟ („-r-g-ym), dan 

meletakkannya sesudah  kata Elhanan sebagai nama keluarga (ben y-„r-y‟-r-

g-ym, „ben yaerey „ore-gim,-gim, yang artinya „anak dari hutan tukang 

tenun‟, yang tentu saja mustahil sebagai nama ayah seseorang). Dalam 

Kitab Tawarikh, ore-gim (tukang tenun) diletakkan tepat sesudah  m e n v 

(gagang) – sehingga memberi  pengertian yang tepat. 

Kesimpulan: kesalahan dalam 2 Samuel adalah kesalahan yang bisa dilacak 

dari jurutulis dalam menyalin ulang kata aslinya, dan yang dapat dikoreksi 

melalui teks internal kitab 1 Tawarikh 20:5. Jadi, Daud-lah yang 

membunuh Goliat. 

Penjelasan di atas sekaligus menunjukkan kejujuran dan keterbukaan dari 

para penulis ulang dan penerjemah (baik orang Yahudi maupun orang 

Kristen). Walaupun mereka mudah untuk merubah kesalahan yang terlacak 

ini, namun  hal ini  tidak mereka lakukan, demi menjunjung kebenaran 

dan otentiknya naskah-naskah yang diturunkan. 

Pasal di atas memang dapat memberi kesan pertentangan seperti yang 

dikritik oleh Shabbir, namun  kami tidak khawatir untuk menjelaskannya. 

Ayat ini merupakan contoh tepat untuk menunjukkan bahwa manusia dapat 

saja salah dalam menyalin ulang naskah papyrus yang telah buram dan 

rusak, namun Tuhan tetap menjaga kebenaran ajaran-Nya. 

95. Apakah Saul sendiri yang menghunus pedangnya untuk membunuh 

dirinya (1 Samuel 31:4-6) atau orang Amalek yang melakukannya? 

(2 Samuel 1:1-16) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Perlu diperhatikan bahwa penulis kitab 1 dan 2 Samuel tidak memusatkan 

ceritanya kepada orang Amalek. Jadi dalam kenyataannya Saul sendirilah 

yang membunuh diri, walau kemudian orang Amalek mencari pujian 

dengan mengaku seolah dialah yang membunuh Saul. Penulis menuliskan 

bagaimana Saul mati dan bagaimana orang Amalek menceritakan kematian 

Saul. Kisah orang Amalek bahwa ia sedang berada di Gunung Gilboa (2 

Samuel 1:6) agaknya kurang benar. Ia mungkin datang untuk menjarah 

barang-barang dari tubuh orang yang sudah mati. Bagaimanapun ia telah 

ada disana sebelum tentara Filistin tiba dan tidak menemukan mayat Saul 

sampai keesokan harinya (1 Samuel 31:8). Kita tahu bagaimana kesaksian 

Daud bahwa orang Amalek beranggapan bahwa ia memberitahukan kabar 

baik tentang kematian Saul (2 Samuel 1:10). Tampaknya ia mendatangi 

mayat Saul, mengambil mahkota dan kalungnya kemudian mengarang 

cerita tentang kematian Saul supaya ia mendapat hadiah dari Daud sebab  

telah menewaskan musuhnya. namun  rencana jahat orang Amalek ini justru 

memicu  dampak dramatis balik bagi dirinya sendiri. 

96. Apakah setiap orang itu berdosa (1 Raja-raja 8:46; 2 Tawarikh 

6:36; Amsal 20:9; Ulangan 7:20; 1 Yohanes 1:8-10) ataukah ada 

beberapa orang yang tidak berdosa? (1 Yohanes 3:1, 8-9, 4:7, 5:1) 

(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Yunani dan memaksakan 

menurut pemikiran sendiri) 

Kontradiksi semu di atas mempermasalahkan, “Apakah setiap orang 

berdosa?” lalu beberapa  ayat yang meng-iya-kannya didaftarkan Shabbir 

dari dalam Perjanjian Lama, untuk dikonfrontasikan dengan sebuah ayat 

dari Perjanjian Baru dalam 1 Yohanes 1:8-10: 

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita 

sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, 

maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa 

kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa 

kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan 

firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 

sesudah  itu Shabbir mengatakan, “Seorang Kristen yang sejati tidak 

mungkin berdosa sebab  mereka adalah anak-anak Tuhan.” Pernyataan itu 

didukung beberapa  ayat dari 1 Yohanes yang menyebutkan bahwa orang 

Kristen adalah anak-anak Tuhan. Disini Shabbir mengutarakan 

pendapatnya bahwa mereka yang menjadi anak-anak Tuhan berarti tidak 

berdosa. Memang benar bahwa seseorang yang lahir dari Tuhan tidak 

berkebiasaan berbuat dosa (Yakobus 2:14f), namun  itu bukan berarti bahwa 

mereka sama sekali tidak akan jatuh dalam dosa sebab  kita masih tinggal 

di dunia yang penuh dosa dan pelanggaran. 1 Yohanes 3:9 menyatakan: 

“Setiap orang yang lahir dari Tuhan tidak (terus) berbuat dosa lagi 

(continue to sin), sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak 

dapat (terus) berbuat dosa (go on sinning) sebab  ia lahir dari Tuhan.” 

Shabbir mengutip ayat dari 1 Yohanes 3:9 dari terjemahan Yunani yang 

kurang tepat. Dalam Alkitab terjemahan yang lebih baru seperti NIV (New 

International Version), mereka menerjemahkannya secara tepat dengan 

menggunakan kata kini (present continuous) dalam ayat ini , yaitu 

seperti apa yang tertulis dalam bahasa Yunaninya. Oleh sebab  itu ayat 

ini  seharusnya berbunyi, “Mereka yang lahir dari Tuhan tidak akan 

terus berbuat dosa…dan mereka tidak dapat berbuat dosa terus.” Yaitu 

suatu gagasan bahwa hidup yang berketerusan di dalam dosa akan mati, 

sebab  kini di pendosa yang bertobat itu telah mendapat pertolongan 

Tuhan melalui kuasa Roh Kudus. 

Lucu sekali melihat cara membaca Shabbir yang melompat-lompat dalam 

menyatakan maksudnya demi untuk menekankan kontradiksinya. Ia 

memulai dengan 1 Yohanes 1 kemudian lompat ke 1 Yohanes 3-5 dan baru 

kembali lagi ke 1 Yohanes 1 dengan mengutip ayat 8, yang mengatakan 

bahwa semua manusia berdosa (dengan harapan untuk menunjukkan 

pertentangan). Padahal tidak ada pertentangan disini dan jelas Shabbir 

tidak mengerti cara membaca surat para rasul dan salah memahami tema 

yang kian berkembang lewat surat-surat yang berjalan. Dengan kata lain, 

cara Shabbir membaca surat ini  dari awal kemudian pindah ke bagian 

tengah lalu kembali lagi ke bagian awal adalah cara yang tidak seharusnya 

dalam membaca Alkitab (lain halnya dengan membaca surat-surat Al 

Qur‟an). 

Kitab suci jelas menyatakan bahwa semua manusia telah berdosa, kecuali 

satu yaitu Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab  itu, kami tidak menyalahkan 

Shabbir disini. Saya setuju dan senang dengan pernyataan Shabbir yang 

kedua, yang mengatakan bahwa orang Kristen adalah anak-anak Tuhan. 

namun  pernyataan Shabbir yang ketiga itulah yang memicu  

perselisihan; ia tidak mengetahui bagaimana sebuah tema dikembangkan 

dalam sebuah surat. Inti dari surat Yohanes adalah panggilan untuk hidup 

kudus dan benar sebab  pengampunan dosa yang diberikan melalui 

kematian Kristus. Untuk itulah kita dipanggil, yaitu untuk tidak terus hidup 

dalam dosa melainkan berubah menjadi tidak bercacat cela seperti halnya 

Kristus yang tidak berdosa. Dalam upayanya memicu  kontradiksi, 

Shabbir telah salah menggunakan ayat, sehingga ayat bacaan yang tadinya 

dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah pertentangan justru tidak saling 

bertentangan. 

97. Apakah kita perlu menolong orang lain dalam menanggung 

bebannya (Galatia 6:2) atau kita hanya perlu menanggung beban kita 

sendiri? (Galatia 6:5) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Inti pertanyaan di atas adalah: “Siapa yang akan menanggung beban, dan 

bebannya siapa?” Menurut Galatia 6:2 kita harus menanggung beban 

sesama sedang  Galatia 6:5 mengatakan kita cukup menanggung beban 

kita sendiri. 

Sama sekali tidak ada pertentangan disini. Ini bukanlah masalah “ini atau 

itu” melainkan “ini dan itu”. Jika anda membaca Galatia 6:1-5 dengan 

benar, maka dapat anda lihat bahwa orang percaya bukan saja diminta 

untuk saling menolong pada saat orang lain membutuhkan pertolongan, 

mendapat kesulitan dan pencobaan, namun  juga mereka harus menanggung 

beban mereka sendiri. 

Tidak ada yang sulit dan bertentangan dalam hal ini, sebab  keduanya 

sama-sama diperintahkan. 

98. Apakah Yesus menampakkan diri kepada keduabelas orang murid-

Nya (1 Korintus 15:5) atau hanya kepada sebelas orang? (Matius 

27:3-5, 28:16; Markus 16:14, Lukas 24:9,33, Kisah Para Rasul 1:9-

26) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Tidak ada pertentangan pada kisah di atas, andaikata anda memperhatikan 

bagaimana kata-kata itu digunakan. Dalam semua referensi yang 

digunakan untuk sebelas orang murid intinya, maka materi yang dikisahkan 

itu adalah akurat menurut waktu pengisahan. sesudah  Yudas mati, murid-

murid Yesus tinggal sebelas orang dan hal ini terus berlangsung sampai 

akhirnya Matias dipilih menggantikan Yudas Iskariot. 

Dalam 1 Korintus 15:5, kata umum (generic) “kedua belas” orang murid 

digunakan sebab  Matias sudah diperhitungkan ke dalam dua belas orang 

murid Yesus, sebab  ia juga turut menyaksikan kematian dan kebangkitan 

Yesus Kristus, seperti ayat yang digunakan oleh Shabbir dalam Kisah Para 

Rasul 1:21-22. 

99. Apakah Yesus langsung pergi ke Gurun sesudah  Ia dibaptis (Markus 

1:12-13), atau Ia pergi terlebih dahulu ke Galilea, mencari murid-

murid, kemudian menghadiri perkawinan di Kana? (Yohanes 1:35,43, 

2:1-11) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Pertentangan semu di atas menanyakan: “Kemana Yesus pergi selama tiga 

hari sesudah  Ia dibaptis?” Markus 1:12-13 menyebutkan Ia pergi ke padang 

gurun dan berpuasa selama 40 hari, sementara kitab Yohanes seolah-olah 

menyebutkan bahwa pada keesokan harinya sesudah  Yesus dibaptis, Ia 

pergi ke Betani dan hari kedua Ia ada di Galilea, dan hari ketiga ada di 

Kana? (Yohanes 1:35; 1:43; 2:1-11). Kesan ini seolah benar jika anda 

tidak membaca keseluruhan ayat mulai dari Yohanes 1:19. Penjelasan 

tentang baptisan Yesus dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis sendiri, “Dan 

inilah kesaksian Yohanes saat  orang Yahudi dari Yerusalem mengutus 

beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: 

“Siapakah engkau?” (Ayat 19). Dan ia menunjuk kepada peristiwa 

pembaptisan yang telah lewat. Bila tidak yakin, periksalah bentuk kata 

kerja lampau yang digunakan Yohanes saat  Ia melihat Yesus datang 

kepadanya dalam ayat 29-30 dan 32. Sambil memperhatikan Yesus, ia 

menceritakan kepada orang-orang bagaimana hubungan Yesus dengan 

baptisan dan signifikansinya. Tidak ada alasan untuk beranggapan bahwa 

baptisan itu terjadi pada saat Yohanes berbicara disitu. sebab  itu tidak ada 

alasan untuk menunjukkan pertentangan pasal ini dengan yang ada di 

dalam Injil Markus. 


 

100. Apakah Yusuf membawa lari bayi Yesus ke Mesir (Matius 2:13-23) 

atau ia membawa-Nya ke rumah Tuhan di Yerusalem dan kembali ke 

Galilea? (Lukas 2:21-40) 

(Kategori: salah memahami konteks sejarah) 

Kontradiksi semu di atas tampaknya menanyakan: 

“Apakah nyawa bayi Yesus terancam di Yerusalem?” 

Menurut Matius 2:13-23 “ya” sedang  menurut Lukas 

2:21-40 agaknya “tidak”. 

Kedua cerita di atas sebenarnya saling melengkapi kisah 

hidup Yesus pada masa bayi dan bukan bertentangan 

sama sekali. Perlu waktu bagi Herodes untuk menyadari 

bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang Majus. Injil 

Matius mengatakan bahwa ia membunuh semua bayi 

laki-laki yang berusia kurang dari 2 tahun di Bethlehem 

dan sekitarnya. Sebelum itu Yusuf dan Maria 

mempunyai kesempatan bebas untuk melakukan ritual adat istiadat di 

rumah Tuhan di Yerusalem, lalu kembali ke Nazareth di Galilea. Dari situ 

mereka pergi ke Mesir, dan sesudah  Herodes mati barulah mereka kembali 

lagi. 

101. saat  Yesus berjalan di atas air, apakah murid-murid-Nya 

menyembah Dia (Matius 14:33) atau mereka bingung dan tercengang 

sebab  kedegilan hati mereka? (Markus 6:51-52) 

(Kategori: tidak membaca seluruh ayat) 

Kontradiksi semu di atas menanyakan: “saat  Yesus berjalan di atas air, 

bagaimana respon murid-murid-nya?” Matius 14:33 menyebutkan mereka 

menyembah Dia. sedang  Markus 6:51-52 menyebutkan bahwa mereka 

tercengang dan tidak juga mengerti siapa Yesus yang melakukan mujizat 

dengan memberi makan 5000 orang. 

Lagi-lagi ini bukan sebuah kontradiksi melainkan dua ayat yang saling 

melengkapi. Jika Shabbir membaca seluruh ayat dalam Matius, ia akan 

mendapatkan bahwa baik Injil Matius (ayat 26-28) maupun Markus 

menyebutkan bahwa para murid mula-mula tercengang dan panik, mengira 

bahwa Ia adalah hantu. Ini terjadi sebab  mereka masih belum mengerti 

dari mujizat sebelumnya siapakah Yesus itu. namun  sesudah  mereka sadar 

dari rasa terkejut, Injil Matius menjelaskan bahwa mereka menyembah Dia. 

 

Dalam kesimpulan ini, berdasar  pengujian semua bukti yang ada kami bisa 

menjelaskan praktis setiap ayat yang dianggap saling bertentangan oleh Shabbir 

Ally. 

Jika kita perhatikan 101 kontradiksi semu di atas, maka pertentangan ini  

dapat dibedakan ke dalam 15 kategori kesalahan, yang melatarbelakangi setiap 

pertentangan yang ditulis oleh Shabbir. Setiap kategori menunjukkan berapa 

kali Shabbir membuat kesalahan, dan jika anda hitung maka semua kategori 

kesalahan ini  berjumlah lebih dari 101 buah. Ini semata-mata sebab  

Shabbir membuat kesalahan lebih dari satu kali dalam beberapa pertanyaan 

tertentu. 

Kategori kesalahan ini  adalah: 

   Salah memahami isi cerita/konteks historis – 15 kali 

   Salah memahami ayat – 15 kali 

   Salah memahami penggunaan bahasa Ibrani – 13 kali 

   Mengartikan ayat secara sempit – 13 kali 

   Salah memahami maksud penulis – 12 kali 

   Akibat kesalahan dari penulis ulang – 9 kali 

   Salah memahami cara kerja Tuhan dalam sejarah – 6 kali 

   Salah memahami penggunaan bahasa Yunani – 4 kali 

   Tidak membaca seluruh ayat – 4 kali 

   Salah mengutip ayat – 4 kali 

   Salah memahami kata-kata – 3 kali 

   Terlalu mengartikan secara hurufiah – 3 kali 

   Menggunakan pemikiran sendiri- 3 kali 

   Salah mengkaitkan cerita yang satu dengan yang lainnya – 1 kali 

   Telah ditemukan naskah tulisan yang lebih awal – 1 kali 

Dengan rendah hati kami akui kami tidak dapat memberi  penjelasan atau 

pemahaman secara spesifik dalam buku ini, dan kami harap hal ini dapat 

dimaklumi. Telah kita ketahui bersama bahwa para pengarang kitab Injil menulis 

dengan sudut pandang yang berbeda-beda, di satu sisi ada penambahan dan di 

satu sisi ada pengurangan cerita yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ini 

menunjukkan bahwa ke-empat penulis kitab Injil menulis secara bebas dan tidak 

dipengaruhi siapapun dengan kata lain tidak ada kolusi baik dengan sesama 

pengarang maupun editor. Dan kemampuannya dalam menyelesaikan konflik 

dengan pemikiran yang serupa membuat kredibilitasnya semakin tinggi. 

Penjelasan di atas menunjukkan adanya kejujuran dan keterbukaan dari para 

penulis ulang dan penerjemah (baik orang Yahudi maupun orang Kristen). 

Walaupun mudah untuk merubah kesalahan secara sistematis ini, namun  hal 

ini  tidak dilakukan supaya kita dapat mempertahankan naskah yang sejati. 

Ayat di atas memang dapat memicu  kesan pertentangan seperti yang 

dilakukan oleh Shabbir, namun  kami tidak khawatir untuk menjelaskannya. 

Dalam bukletnya, Shabbir menuliskan dua ayat pada bagian bawah, yang perlu 

kita jawab: 

1. “Sebab Tuhan tidak menghendaki kekacauan…” (1 Korintus 14:33) 

Benar sekali bahwa Tuhan bukan pengarang yang dapat memicu  

kekacauan. Amat sedikit yang bisa membingungkan di dalam Alkitab. saat  

kita paham membaca seluruh ayat asli serta konteks yang 

melatarbelakanginya, kebingungan itu akan sirna. Tentu saja kita 

membutuhkan para ahli untuk menjelaskan semua hal ini , sebab  

tulisan-tulisan ini  telah ditulis oleh para penulis ulang 2000-3500 tahun 

yang lalu. 

Hal serupa juga terjadi dalam Al Qur‟an. Pada pembacaannya yang pertama 

(hingga ke-sepuluh) terhadap Al Qur‟an banyak hal yang tidak akan jelas. 

Ambil contoh surat pertamanya yang misterius itu. Tampaknya sesudah  1400 

tahun penelitian, orang-orang hanya dapat mengira-ngira apa, kapan, dan 

bagaimana surat misterius itu terjadi di bumi pada waktu itu. Begitu pula 

ada banyak cerita yang tidak sejalan dengan cerita Alkitab, melainkan 

asalnya terdapat dalam kisah-kisah apokrip Talmud (di abad kedua!). ini 

benar-benar membingungkan! namun , kita sekarang dapat menjelajahi 

konteks sejarah itu dari tulisan-tulisan itu sehingga kita tahu bahwa surat-

surat demikian bukan diwenangkan oleh Tuhan, namun  ditulis oleh tangan 

manusia, beberapa abad sesudah  wahyu Tuhan yang otentik itu 

dikanonisasikan orang. 

2. “…Setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh” (Lukas 11:17) 

Alkitab tidak terpecah-pecah. Yesus berbicara mengenai si pemecah besar-

besaran, yaitu Setan yang terbagi-bagi dan melawan diri mereka sendiri. 

namun , hal ini  dijauhkan dari Alkitab. Sebuah buku yang empat kali 

lebih tebal isinya daripada Al Qur‟an, dengan keabsahan yang disetujui 

hingga 99,999%! Benar-benar sebuah buku yang ajaib! 

Dan akhirnya, kami tutup dengan dua petikan ayat firman Tuhan di bawah ini: 

“Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah 

orang lain dan menyelidiki perkaranya.” (Amsal 18:17) 

“…sebagaimana pula Paulus, saudara kita yang terkasih, telah menuliskannya 

kepadamu sesuai dengan hikmat yang telah diberikan kepadanya. Dan seperti 

dalam semua surat yang berbicara kepada mereka mengenai hal-hal ini, yang di 

dalamnya terdapat beberapa hal yang sulit dipahami, sama seperti kitab-kitab 

yang lainnya juga, yang sedang mereka -yang tidak terpelajar dan tidak teguh- 

selewengkan menuju kehancuran diri mereka sendiri.” (2 Petrus 3:15-16)