• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Tafsir alkitab septuaginta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir alkitab septuaginta. Tampilkan semua postingan

Tafsir alkitab septuaginta

  


Secara etimologis, kata „Hermeneutik‟ berasal dari bahasa Yunani: Hermeneuo – 

Hermeneus: penunjuk jalan, yang berarti „menafsirkan, menjelaskan atau menerjemahkan. 

Istilah tersebut menurut mitos Yunani, diambil dari seorang tokoh yang bernama „dewa 

Hermes‟, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas untuk menyampaikan pesan Jupiter 

kepada manusia.     

 Sejak saat itu Hermes menjadi seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi 

tertentu. Berhasil tidak misinya itu sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu 

disampaikan.  

 Oleh sebab  itu, Hermeneutik pada akhirnya diartikan sebagai proses menafsirkan 

atau menerjemahkan sesuatu dari ketidakjelasan menjadi jelas.  

 Jadi „Hermeneutik‟ yaitu  ilmu yang mengajarkan prinsip-prinsip dan metode-

metode penafsiran Alkitab yang menyangkut latar belakang historis, geografis, situasi 

manusia dan tata bahasa (gramatika). Maka Hermeneutik dibutuhkan untuk mencari 

maksud sesungguhnya dari Alkitab kepada pembacanya. 

 

DEFINISI 

Dalam Perjanjian Lama diambil dari kata Ibrani: 

a. Pathar = membuka, menjelaskan mimpi – penerjemah (Kej. 40:8, 16, 22; 41:8, 

12, 13, 15). 

b. Pithron = terjemahan, menjelaskan (Kej. 40:5, 8, 12, 18). 

c. Melitysah = suatu terjemahan (Ams. 1:6). 

d. Luwth = mengumandangkan, menerjemahkan (Kej. 42:23), duta besar (2 Taw. 

32:31). 

e. Sheber = solusi – mimpi (Hab. 7:15). 

 

Dalam Perjanjian Baru diambil dari kata Yunani: 

a. Hermeneuo = menerjemahkan, menjelaskan dalam kata-kata (Yoh. 1:38, 41-42; 

Ibr. 7:2). 

b. Hermeneia = menerjemahkan, penjelasan mengenai perkataan yang kabur (1 Kor. 

12:10). 

c. Dirmeneuo = menerjemahkan, menjelaskan secara saksama dan penuh (Luk. 

24:27). 

d. Methermeneuo = menerjemahkan ke dalam bahasa seseorang yang kita ingin 

berkomunikasi (Mat. 1:23; Mrk. 5:41, 15:22, 34; Yoh. 1:42; Kis. 4:36). 

 

FUNGSI 

a. Adanya Gap (Celah / Jarak / Rentang) antara Alkitab & saat ini. 

1. Historical Gap (Rentang Sejarah) 

 Ini timbul sebab  adanya perbedaan waktu. Penulis kitab suci hidup 

pada zaman dulu dan kejadian-kejadian yang ditulisnya juga pada zaman 

dulu dan semua ini tentu sangat berbeda dengan jaman sekarang.   

 Dulu nabi-nabi berjalan kaki, sebab  tidak ada mobil, haruskah 

pendeta zaman sekarang juga demikian?  

 Dulu puji-pujian menggunakan rebana, gambus, kecapi dan 

sebagainya, sebab  belum ada piano, organ, drum dan sebagainya; haruskah 

puji-pujian zaman sekarang meniru mereka?  

 

 Dulu anggur dan minyak sering dipakai sebagai obat (Mark. 6:13; 

Luk. 10:34; Yes 1:6) dan sebab nya Paulus dan Yakobus menganjurkannya 

(1 Tim. 5:23; Yak. 5:14). Haruskah kita sekarang, sesudah  ada obat-obatan 

modern yang lebih manjur, tetap mengikuti anjuran mereka? 

 

2. Cultural Gap (Rentang Budaya) 

 Mereka yaitu  bangsa yang berbeda dan tinggal di tempat yang 

berbeda dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang berbeda pula dengan 

kita, seperti:  

a. Perendahan/pengabaian terhadap perempuan.  

b. Penggunaan tudung kepala bagi perempuan dalam kebaktian 

(1 Kor. 11:5-6, 13-15).  

c. Sarai menamai Abraham tuannya (1 Pet. 3:6) dan 

sebagainya.    

                                 

3. Linguistic Gap (Rentang Bahasa) 

 Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Aram. Tidak 

mungkin bisa menerjemahkan bahasa-bahasa itu ke dalam bahasa kita 

secara sempurna.  

Persoalan ini ditimbulkan sebab  adanya perbedaan dalam hal:  

a. Grammar (Tata bahasa).  

b. Vocabulary (Perbendaharaan kata). 

c. Ungkapan-ungkapan yang punya pengertian khusus, seperti: 

membenci (Luk. 14:26), give glory to the Lord / God (Yos 

7:19) dan sebagainya.   

 

4. Perbedaan Geologis & Biologis   

 Alkitab ditulis di negeri yang lain dengan kondisi geografis yang 

berbeda dengan sekarang. Ditulis oleh beberapa pengarang dan ditujukan 

kepada bermacam-macam pembaca (kelompok pembaca). 

    

b. Adanya ayat-ayat yang sulit. 

 Dalam Alkitab banyak terdapat ayat-ayat yang sulit untuk dimengerti. Hal 

ini membutuhkan penafsiran. (Misalnya: Kej. 6:6; Luk. 14:26; 1 Yoh 3:9) dan 

sebagainya.  

 

HUBUNGAN  

 Hermeneutik tidak terisolasi dari lingkup lainnya dari studi biblikal. Ini juga terkait 

dengan studi dari kanon, kritik tekstual, kritik historikal, eksegesis dan teologi biblikal dan 

sistimatik. 

 Diagram di bawah ini menyarikan dan menunjukkan pentingnya dan peran inti dari 

hermeneutik dalam pengembangan sebuah Teologi: 

 

 

 

 

 

 

Studi  

Kanon 

Kritik  

Teks 

Kritik 

Historikal 

Hermeneutik 

(Eksegesis) 

Teologi 

Sistematik 

Teologi 

Biblikal 

 

ALKITAB 

  

 Keberadaan Alkitab - firman Allah, seringkali diobok-obok, baik oleh mereka yang 

sedang mencari kebenaran atau yang sedang mencari kesalahan Alkitab. Ini telah 

berlangsung berabad-abad. Pantang menyerah dari satu generasi ke generasi seterusnya. 

Namun keberadaan Alkitab - firman Allah, tetap tak tergoyahkan. Mengingat Allah sendiri 

yang bertanggungjawab memelihara firman-Nya. 

a. Alkitab yaitu  firman Allah (2 Tim. 3:16-17). 

 Ada beberapa pandangan dasar tentang Alkitab: 

1. Alkitab yaitu  firman Allah tanpa salah dalam teks aslinya. 

2. Alkitab yaitu  firman Allah untuk semua orang. 

3. Alkitab yang sekarang yaitu  sama dengan teks aslinya. 

4. Alkitab memiliki maksud yang dapat dimengerti dari terjemahannya. 

5. Alkitab merupakan satu kesatuan.  

 

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Alkitab itu: 

1. Berisi firman iblis (ada perkataan Iblis). 

2. Berisi firman Allah. 

3. Berisi sebagian firman Allah (yang tidak masuk akal ditolak). 

4. Berisi kandungan firman Allah. 

5. Berisi yang bisa menjadi firman Allah (tergantung situasi & keadaan). 

 

 Firman atau kata-kata berarti menampung pengalaman komunikasi. Jikalau 

orang Kristen mau memiliki hubungan yang intim dengan Allah, maka harus 

mendengar isi hati Allah dalam Alkitab. Hal ini tidak dapat dilakukan secara 

sekejap, tapi harus secara terus menerus dan teratur. 

 

b. Alkitab yaitu  Makanan Rohani (Mat. 4:4). 

 Makanan dapat disebut sebagai sumber energi/daya hidup. Makan perlu 

teratur, bergizi tinggi dan dimakan sendiri (tidak diwakilkan). 

 

c. Alkitab dapat membuat orang Kristen menjadi Dewasa Rohani (Ef. 4:13-14). 

 

d. Alkitab sebagai Senjata Rohani orang Kristen (Mat. 4:1-11, Ef. 6:12,17). 

 

e. Alkitab yaitu  Dasar segala Pengajaran & Khotbah dalam Gereja (Kis. 17:11). 

 

KESALAHAN PENAFSIRAN ALKITAB 

a. Tidak percaya kepada kebenaran Alkitab, seperti mukjizat dan sebagainya. 

b. Melalaikan bahasa asli Alkitab. 

c.   Melalaikan konteks dari bagian yang akan ditafsir. 

d. Kurang memperhatikan latar belakang. 

e.   Kurang memperhatikan bentuk dari bagian yang akan ditafsir: sejarah, nubuat, 

puisi, perumpamaan, surat-surat dan sebagainya. 

f.    Menafsirkan secara harafiah yang kaku. Contoh: Markus 9:43: menyesatkan – 

penggal. 

g. Fantasi / imajinasi yang tidak terkontrol (spekulasi). Contoh Lukas 19:1-10: naik 

pohon itu sombong? 

 

TUJUAN FIRMAN ALLAH 

 

2 Timotius 3:14-17: 

Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa: 

1. Alkitab dapat memberi hikmat kepada siapa saja. 

2. Alkitab dibutuhkan manusia supaya mereka tahu akan jalan keselamatan.  

3. Alkitab dibutuhkan orang-orang Kristen untuk pertumbuhan rohani 

4. Alkitab dibutuhkan hamba-hamba Tuhan untuk kehidupan dan pelayanannya. Dan 

melalui 2 Timotius 4:1-2 dijelaskan:  

a. Hamba-hamba Tuhan harus memberitakan firman Allah kepada orang-

orang yang belum Kristen, supaya mereka akan tahu jalan keselamatan. 

b. Hamba-hamba Tuhan harus memberitakan firman Allah kepada orang-

orang Kristen, supaya mereka dapat bertumbuh dalam Kristus. 

c. TAPI, sebelum kita dapat menuruti firman Allah atau menyampaikannya 

kepada orang-orang lain kita harus mengerti dengan benar isinya.  

d. Untuk mengerti isi Alkitab dengan benar kita harus menguasai cara untuk 

mempelajari Alkitab. 

ISI ALKITAB 

 

  Alkitab yaitu  kumpulan dari 66 buku (kitab) yang ditulis dalam jangka waktu lebih 

dari 1500 tahun oleh lebih dari 40 penulis yang berbeda-beda karakter dan latar 

belakangnya.  

 Penulis-penulisnya terdiri dari raja-raja, anak raja, gembala, penjala ikan dan orang-

orang yang berpengetahuan / kaum intelektual. Ada penulis-penulis yang berpendidikan 

dan ada juga yang tidak berpendidikan dari berbagai lapisan masyarakat. Namun mereka 

telah menuliskan satu inti berita yang sama, yaitu berita keselamatan. 

 Kitab dalam Alkitab terdiri dari 2 bagian: 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab 

Perjanjian Baru. Kata „Perjanjian‟ berarti „Persetujuan‟ atau „Janji‟.  

 Inti berita Perjanjian Lama ialah hukum dan janji Allah mengenai Juruselamat yang 

akan datang.  

 Inti berita Perjanjian Baru ialah Injil dan penggenapan janji-janji dalam Perjanjian 

Lama mengenai Kristus. Perjanjian Lama merupakan sejarah umat Allah, bangsa Yahudi. 

Melalui bangsa inilah Juruselamat itu telah dinobatkan untuk datang ke dalam dunia. 

Perjanjian Baru menguraikan riwayat kehidupan Yesus dan penyebaran iman Kristen. 

 Garis besar singkat mengenai kitab-kitab dalam Alkitab ini, akan menolong kita 

mengerti dengan lebih baik bagian-bagian yang lebih kecil yang ingin kita pelajari. Kitab-

kitab dalam Alkitab dikelompokkkan menurut isinya. 

 

PERJANJIAN LAMA 

1. Kitab-Kitab Taurat 

   Kejadian  

Penciptaan dunia, asal mula dosa, air bah, riwayat (sejarah) Abraham, 

Ishak, Yakub (Israel) dengan kedua belas anaknya dan bagaimana mereka 

hidup di Mesir.  

   Keluaran  

Bagaimana Musa memimpin keturunan Israel keluar dari Mesir menuju 

Kanaan, pemberian hukum Taurat dan pembangunan Kemah Suci.  

   Imamat  

Peraturan-Peraturan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel sesuai 

dengan kehidupan dan ibadah mereka.  

   Bilangan  

Pengembaraan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun, sebab  

mereka tidak taat dan memberontak.  

   Ulangan  

Pengulangan hukum taurat.  

 

2. Kitab-Kitab Sejarah 

   Yosua  

Masuknya bangsa Israel ke negeri Kanaan dan menduduki negeri itu. 

   Hakim-Hakim  

Kekalahan bangsa Israel dan pembebasan di bawah hakim-hakim.  

   Rut  

Riwayat Naomi dan Rut.  

   I & II Samuel  

Riwayat pemerintahan Daud   


 

 

   I Raja-Raja  

Riwayat Salomo dan pembagian kerajaan antara Rehabeam dan Yerobeam, 

serta pelayanan Nabi Elia.  

   II Raja-Raja 

Lanjutan tentang riwayat bangsa Israel dan bangsa Yehuda, pelayanan Nabi 

Elia dan pembuangan ke Babel.  

   I & II Tawarikh  

Pengulangan tentang riwayat bangsa Yehuda dan Israel.  

   Ezra  

Kembalinya sisa-sisa bangsa Yahudi dari Babel ke Yerusalem, pelayanan 

Ezra dan pembangunan kembali Bait Suci.  

   Nehemia  

Kembalinya Nehemia ke Yerusalem sesudah  pembuangan dan pembangunan 

kembali tembok kota.  

   Ester  

Perlindungan Allah atas umat Nya melalui pelayanan Ester.  

 

3. Kitab-Kitab Syair 

   Ayub  

Riwayat Ayub, penderitaan dan kemenangannya.  

   Mazmur  

Nyanyian pujian dan ibadah.  

   Amsal  

Hikmat Allah yang diberikan kepada Salomo.  

   Pengkhotbah  

Hikmat manusia yang diungkapkan oleh Salomo.  

   Kidung Agung  

Nyanyian kasih, suatu contoh tentang kasih Allah kepada jemaat-Nya, yaitu 

mempelai Kristus. 

 

4. Nabi-Nabi Besar 

   Yesaya  

Nubuat-nubuat tentang Yerusalem, Israel, Yehuda, dan bangsa-bangsa di 

bumi. Kitab ini juga berisi nubuat-nubuat tentang Mesias, berkenaan dengan 

kelahiran Kristus, keilahian-Nya, pelayanan-Nya, kematian-Nya dan 

pemerintahan-Nya yang akan datang dalam kerajaan seribu tahun.  

   Yeremia  

Nubuat-Nubuat yang memperingatkan tentang pembuangan dan hukuman 

yang akan datang.  

   Ratapan  

Ratapan Yeremia atas Yerusalem.  

   Yehezkiel  

Nubuatnubuat selama masa pembuangan dengan hukuman dan kemuliaan 

Allah.  

   Daniel  

Nubuat-nubuat mengenai kebangkitan dan kejatuhan kerajaan-kerajaan di 

dunia.  

 

 

5. Nabi-Nabi Kecil 

   Nubuat-nubuat Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, 

Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi, juga nubuat-nubuat 

mengenai Yehuda dan Israel. 

 

PERJANJIAN BARU  

1. Injil 

   Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Riwayat kehidupan Yesus Kristus 

(Kelahiran, pelayanan sampai kematian). 

 

2. Sejarah 

   Kisah Para Rasul. Asal mula dan penyebaran jemaat. 

 

3. Surat 

   Roma, I & II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I & II 

Tesalonika, I & II Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, I & II 

Petrus, I, II & III Yohanes dan Yudas. Surat-surat untuk memperbaiki 

kesalahan di dalam jemaat dan untuk mengajar serta mendorong orang-

orang percaya di dalam iman.  

 

4. Nubuat 

   Wahyu. Nubuat-nubuat mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali serta 

peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah kedatangan-Nya yang 

kedua kali.  

 

 Sebelum kita memikirkan metode untuk mempelajari Alkitab (ini berhubungan  

dengan akal atau ketrampilan kita) kita harus lebih dahulu memikirkan keadaan hati kita 

(ini berhubungan dengan kerohanian kita).  

 

 Sikap-sikap yang dibutuhkan untuk mempelajari Alkitab secara yang benar  (Amsal 

2:1-6): 

1. Sikap yang mau belajar dan terbuka untuk diajar (ayat 1-2).  

2. Sikap yang bergantung pada Allah untuk mengerti firman-Nya (ayat 3). 

a. Untuk mengerti firman Allah dengan benar kita harus dilahirkan 

kembali (1 Kor. 2:14-15).  

b. Untuk mengerti firman Allah dengan benar kita harus diajar oleh Roh 

Kudus (Yoh. 16:13-15). 

3. Sikap yang rajin dan bertekun (ayat 4). 

a. Pelayanan Roh Kudus sebagai guru kita tidak berarti bahwa kita harus 

berusaha untuk mengerti Alkitab.   

b. Pengertian yang tepat akan isi Alkitab tidak terjadi secara otomatis 

tanpa usaha kita (2 Tim. 2:15). 

4. Sikap yang positif atau optimistis (ayat 5-6). 

 

METODE  

 Definisi Metode: mengerjakan langkah-langkah tertentu dalam urutan yang tertentu  

                 untuk menjamin hasil yang tertentu. 

 

 

  sesudah  memperhatikan metode untuk keperluan secara umum di atas, maka untuk 

Penerapan dalam Penyelidikan Alkitab yaitu  Sama!!! 

  

Nilai dari pemakaian metode untuk mempelajari Alkitab:  

1. Metode yang baik akan menolong kita untuk menghindari kita dari 3 hal: 

a. Menghindari kita membuang waktu. 

b. Menghindari ketidak saksamaan / ketidaktelitian.  

c. Menghidari kedangkalan dalam pengertian dan pelayanan 

 

2. Metode yang baik akan memungkinkan 3 hal bagi kita: 

a. Memungkinkan kita berpikir untuk diri sendiri. 

b. Memungkinkan kita mengalami sukacita dalam penemuan. 

c. Memungkinkan kita makin jatuh cinta dengan pengarang Alkitab yaitu Allah 

sendiri. 

 

Ada 2 cara mempelajari Alkitab:  

1. Cara Deduktif 

  Penafsiran Alkitab yang sudah mempunyai kesimpulan tertentu, sebelum 

 kita mempelajari Alkitab. sebab  itu, penyelidikan Alkitab cara ini memiliki tujuan 

 untuk mencari ayat-ayat yang mendukung kesimpulannya tersebut. 

 Contoh:  a. Pada dunia medis 

     b. Pada Alkitab 

 

2. Cara Induktif 

  Penafsiran yang terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab. Kemudian 

 baru menarik kesimpulan yang berdasarkan data dan fakta Alkitab yang telah 

 ditemukan. 

  Contoh:  a. Pada Alkitab 

   b. Pada dunia medis 

 

Kesimpulan 

 Pendekatan yang memakai metode induktif merupakan cara mempelajari Alkitab 

yang paling dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sebab  metode ini merupakan 

kesimpulan dari apa yang dinyatakan Allah sendiri di dalam Alkitab. 

 

LANGKAH-LANGKAH DALAM METODE INDUKTIF 

 1.  Observasi (Pengamatan) 

               Langkah pengamatan ialah suatu usaha mencari data atau fakta 

 Alkitab untuk dipakai sebagai bahan bukti penafsiran.      

 Pertanyaan: “Apakah yang saya lihat di sini?” 


 

 2.  Interpretasi (Penafsiran) 

       Langkah penafsiran ialah suatu usaha mencoba mengupas arti yang 

 dimaksudkan oleh pengarang melalui kalimat-kalimat yang ditulisnya. 

Pertanyaan: “Apakah yang dimaksudkan oleh pengarang?” 

 

 3.  Aplikasi (Penerapan) 

  Langkah penerapan ialah suatu  usaha  menaati  apa yang telah kita 

  amati dan tafsirkan. 

Pertanyaan: “Apakah  yang  harus saya lakukan berdasarkan arti dari 

bagian  Alkitab ini?” 

 

 Ketiga langkah di atas, harus dilakukan dalam urutan tersebut, sebab  satu langkah  

merupakan dasar untuk langkah yang berikutnya dan semua langkah ini  harus dikerjakan  

dengan baik, kalau kita ingin mencapai sasaran yang mantap, yaitu pengertian yang benar  

akan isi Alkitab. 

 

LANGKAH-LANGKAH PENGAMATAN  

1.  Mengamati dan bertanya: “Apa yang saya lihat di sini?” 

 Seorang pembelajar Alkitab perlu memahami bahwa kecakapan pertama yang 

 harus kita kuasai ialah melatih otak kita untuk mengerti dengan teliti apa yang 

 tertulis dalam sebuah nats Alkitab (Mrk. 8:18).  

  

Pentingnya langkah ini: 

 Kalau pengamatan kita tidak lengkap atau tidak tepat ada kemungkinan besar 

bahwa penafsiran dan penerapan kita tidak akan lengkap dan tidak tepat pula. 

 

Proses / langkah-langkah untuk mengamati satu ayat atau satu paragraf: 

 Langkah pertama dalam proses pengamatan: Berdoa. Doa merupakan pengakuan 

akan keterbatasan diri sendiri dan permintaan kepada Allah untuk menolong keterbatasan 

itu. 

   Teladan pemazmur: Mazmur 119:18; 30-34. 

   Penyediaan penolong: Yohanes 16:12-15. 

  

2. Bacalah nats yang akan diselidiki berkali-kali. 

Ini tahap permulaan yang merupakan pengenalan akan isi nats. 

a. Bacalah konteks dulu. 

1. Arti konteks:  

  Bagian-bagian sebelum dan sesudah bagian yang mau dipelajari. 

2. Kepentingan konteks: 

  Untuk memulai mengenal seseorang, maka perlu tahu akan latar      

 belakangnya. Sama dalam hal mengenal isi Alkitab. Konteks 

 merupakan latar belakang bagian Alkitab yang ingin diamati. 

3. Tahap-tahap dalam bacaan konteks. 

   Kalau mau mengamati ayat baca paragrafnya. 

   Kalau mau mengamati paragraf baca pasalnya. 

b. Bacalah nats yang akan diselidiki beberapa kali. 

 

3. Amatilah fakta-fakta / data-data dalam nats. 

 a. Sebenarnya semua yang ditemukan dalam satu nats Alkitab perlu diamati.   

     namun  yaitu  sukar bagi seseorang untuk mengamati sesuatu kalau tidak  

   mengetahui apa yang harus diperhatikan.  

 b. Oleh sebab  itu berikut ini yaitu  daftar hal-hal yang perlu diperhatikan   

      setiap kali kita mempelajari Alkitab  

        1. Pribadi-pribadi / oknum-oknum.  

Contoh: - Nama-nama / pribadi.  

  Allah, Tuhan Yesus, Roh Kudus, Malaikat, iblis. 

    - Kata ganti orang seperti Dia, Ia, mereka, kamu, aku, kita. 

     - Dan sebagainya. 

      2. Pernyataan-pernyataan. 

 Contoh:  - Semua orang sudah berbuat dosa dan kehilangan  

        kemuliaan Allah. 

- Akulah jalan kebenaran dan hidup. 

- Dan sebagainya. 

3. Pertanyaan-pertanyaan. 

Contoh:  - Menurut kamu siapakah Aku? 

    - Siapakah yang harus aku utus  

    - Dan sebagainya.  

4. Perintah-perintah.  

Contoh:  -  Kasihilah Tuhan Allah-Mu dengan segenap kekuatanmu! 

- Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang 

kudus kepada Allah.  

- Dan sebagainya.     

5. Keadaan atau Situasi. 

Contoh:  - Semua yang mendengar firman Allah itu menjadi takut. 

- Maka terjadilah kegemparan di tengah-tengah umat itu.  

- Dan sebagainya.   

6. Tempat.  

Contoh: - Lalu Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun. 

  - Penatua-penatua diundang untuk datang ke Efesus. 

  - Dan sebagainya. 

7. Waktu atau masa. 

Contoh: - Ketika Yesus keluar dari bait Allah. 

  - Ketika tiba hari Pentakosta. 

  - Dan sebagainya. 

8. Cara-cara. 

Contoh: - Percayalah kepada-Ku maka engkau akan selamat. 

     - Jika engkau mengakui segala dosamu, maka Ia akan                                       

 mengampunimu. 

     - Dan sebagainya. 

9. Alasan-alasan. 

Contoh: - Sebab dosamu sudah diampuni, maka jangan berbuat  

                dosa lagi. 

  - Sebab Yesus sudah bangkit, maka engkau juga sudah  

    dibangkitkan. 

                                                  - Dan sebagainya. 


 

Cara untuk mengamati fakta-fakta dalam nats: 

 a. Pakailah kertas dan tuliskan / catatlah apa yang diamati. 

  1. Catatan ini mendorong kita untuk berpikir.  

  2. Kalau dicatat maka pengamatan kita tidak akan hilang sehingga dapat    

     dipakai lagi. 

  

 b. Amatilah nats melalui pemakaian pertanyaan-pertanyaan. 

 1. Pakailah pertanyaan-pertanyaan sebagai alat-alat untuk mendorong dan /  

       mempertajam pikiran kita. 

 2. Pertanyaan-pertanyaan dapat dibandingkan dengan layaknya sinar-X. 

 3. Kita perlu melatih pikiran kita supaya kita mulai mengamati sama seperti  

     seorang wartawan yang selalu mempergunakan 6 pertanyaan utama. 

 4. Ada 6 pertanyaan utama untuk mengamati Alkitab, yaitu: 

 a. Siapakah? 

  Misalnya: 

   Siapakah yang terlibat dalam nats ini? 

   Siapakah yang berkata dalam nats ini? 

   Siapakah yang mendengar dalam nats ini? 

   Siapakah pokok pernyataan ini?  

   Dan sebagainya. 

  b. Apakah? 

Misalnya: 

   Apakah pokok pembahasan? 

   Apakah yang dikatakan tentang pokok itu? 

   Apakah yang terjadi? 

   Dan sebagainya. 

  c. Kapan? 

Misalnya: 

   Kapan ini terjadi? 

   Kapan hal ini akan terjadi? 

   Dan sebagainya. 

  d. Di manakah? 

Misalnya: 

   Di manakah ini terjadi? 

   Apakah ada gerakan geografis dalam nats ini? 

   Dan sebagainya. 

  e. Mengapakah? 

Misalnya:  

   Mengapakah hal ini terjadi atau akan terjadi? 

   Mengapa orang ini berkata demikian? 

   Mengapa ini terjadi pada saat ini? 

   Dan sebagainya. 

  f. Bagaimanakah? 

Misalnya: 

   Bagaimana caranya ini terjadi? 

   Bagaimana caranya ini dapat terjadi? 

   Dan sebagainya. 

 

   5. Mungkin semua pertanyaan ini tidak akan dijawab dari satu nats, namun    

     kita selalu perlu memulai dengan pertanyaan-pertanyaan ini.  

 Untuk mendorong supaya sungguh berpikir dan menjaga agar    

 pengamatan kita lengkap, maka: 

   Dalam paragraf, maka satu pertanyaan dapat dipakai untuk 

semua ayat sekaligus atau semua pertanyaan dapat dipakai ayat 

demi ayat. 

   Ada banyak variasi dalam pemakaian 6 pertanyaan ini, sebab   

            itu perlu proses berpikir yang dinamis. Silakan kreatif ! 

 

Contoh dari Yohanes 5:24: 

    1. Siapakah? - Siapakah yang terlibat? 

        - Aku – Tuhan Yesus (konteks ayat 19). 

        - mu – orang-orang Yahudi (konteks ayat 18). 

        - Barangsiapa. 

        - Dia yang mengutus – Allah (konteks ayat 23). 

       

2. Apakah? - Apakah yang terjadi? 

                               - Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi  

        yang dikatakannya? 

                                - Barangsiapa  1. Mendengar perkataan-Nya. 

           2. Percaya kepada Allah.  

                                           - Orang itu   1. Mempunyai hidup yang kekal. 

       2. Tidak turut dihukum. 

       3. Sudah pindah dari maut ke hidup. 

 

  3. Kapan? - Kapan ini terjadi? 

     - sesudah  Yesus menyembuhkan orang pada hari  

        Sabat (Yohanes 5:1-8). 

     - Pada saat orang Yahudi berusaha untuk membunuh 

       Yesus (Yohanes 5:10-18). 

     - Sudah pindah – telah terjadi kalau telah percaya. 

 

4. Di mana? - Di manakah peristiwa ini terjadi? 

     - Di Yerusalem di Bait Allah. 

  

  5. Mengapakah?  1. Mengapakah: 1. Punya hidup kekal? 

            2. Tidak turut dihukum? 

      sebab   >>> sudah pindah. 

                  2. Mengapa sudah pindah?  

         sebab   >>> mendengar + percaya 

 

6. Bagaimana caranya? 

                            1. Mendengar perkataan-Nya 

                                                            Sebab                   dan 

                                       2. Percaya kepada Allah 

                                                  1. Mempunyai hidup yang kekal 

                       Akibat         dan 

      2. Tidak turut dihukum 


 

4. Amatilah struktur / susunan antara fakta-fakta yang sudah diamati. 

 Definisi struktur yaitu  hubungan dan hubungan timbal balik antara bagian-bagian 

yang membentuk kesatuan.  

       1. Contoh dari hidup sehari-hari. 

             a. Mobil 

             b. Gedung 

       2. Sama dengan kesusasteraan. 

             a. Apa saja yang bermaksud atau bertujuan mempunyai struktur? 

                         b. Setiap kali ada 2 dari apa saja maka struktur (yaitu: 2 kata, 2 frase, 2  

       ayat, 2 kalimat, 2 paragraf, 2 pasal, dan seterusnya). 

 

Kepentingan Struktur: 

1. Pada waktu sang pengarang menulis kitabnya, ia mempunyai tujuan yang tertentu 

untuk kitab itu.  

2. Ia memakai struktur untuk mencapai tujuan itu. 

3. Allah memakai struktur itu untuk menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia. 

4. Setiap kitab, pasal, paragraf dan ayat mempunyai struktur tertentu.  

5. Tugas kita yaitu  untuk menemukan struktur itu.  

  

Ada 2 macam struktur yang harus diamati: 

Struktur meliputi:   - tata bahasa  

          - kesusasteraan 

 

  1. Amatilah struktur yang berhubungan dengan Tata Bahasa.  

      Biasanya dipakai untuk mengamati struktur dalam ayat atau paragraf. 

                          a. Seorang pengarang menyatakan pikirannya / gagasannya melalui tata  

        bahasanya. 

  b. sebab  itu maka tata bahasa yaitu  penting untuk pengamatan dan  

      penafsiran Alkitab. 

  c. Yang dicari yaitu  hubungan antara kata-kata, yaitu apakah hubungan  

      antara kata ini dan kata itu? 

  d. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai untuk mengamati struktur  

      secara tata bahasa: 

   Apakah pokok? 

   Apakah predikat? 

   Apakah kata kerja? 

   Apakah kata sifat? 

   Dan lainnya. 

 

2. Amatilah struktur yang berhubungan dengan Kesusasteraan.  

    Biasanya dipakai dalam paragraf atau antara paragraf-paragraf. 

             a. Amatilah kata-kata penghubung (misalnya: sebab, sebab , supaya,  

       jikalau, maka dan lainnya). 

      1. Kata-kata penghubung ini penting sebab  merupakan alat-alat  

          yang dipakai penulis untuk menyusun bahannya. 

                      Contoh: Engsel pintu. 

2. Jadi kata-kata penghubung ini merupakan tanda-tanda struktur.  

  b. Pemakaian hukum-hukum struktur untuk mengamati struktur (lihat    

      daftar hukum-hukum struktur). 


5. Amatilah bentuk kesusasteraannya. 

a. Kita perlu bertanya apakah bentuk kesusasteraan yang ada dalam bagian ini? 

Misalkan: pidato, surat, cerita, sajak, perumpamaan, nubuatan dan lainnya. 

b. Dapat lebih dari satu bentuk kesusasteraan yang dipakai dalam satu paragraf. 

c. Pengamatan ini penting untuk langkah penafsiran. 

 

 

 

HUKUM-HUKUM STRUKTUR 

 

 1. PERBANDINGAN: ada hal-hal yang dibandingkan (kata-kata kunci = sama seperti,     

     demikian, sama dengan dan lainnya). 

     Contoh: Yohanes 3:8, 14. 

       Matius 7:24-27. 

 

 2. KONTRAS: ada hal-hal yang dibedakan, yaitu hubungan yang saling berlawanan                                                                                         

     (kata-kata kunci = namun , melainkan, dan lainnya). 

     Contoh: Matius 7:24-27. 

   Efesus 2:8-9. 

   Roma 6:23. 

   Galatia 5:16-26. 

   Yohanes 7:30-31. 

   Wahyu 3:17. 

 

 3. SEBAB - AKIBAT: satu hal yang menyebabkan hal lain (kata-kata kunci = sebab ,   

     sebab, jikalau, maka dan lainnya). 

     Contoh: Matius 7:24-27. 

      Roma 1:18-32. 

      Roma 5:1. 

  

 4. PENGULANGAN: ada kata-kata atau frase-frase yang diulangi (kadang-kadang persis      

     sama - kadang-kadang mirip). 

    Contoh: Ibrani 11. 

      1 Korintus 13. 

      Matius 5:21-48. 

      Efesus 1:3-14. 

      Lukas 15. 

      Wahyu 2-3.  

   

 5. PENINGKATAN PIKIRAN: ada fakta-fakta / ide-ide yang menunjukan adanya  

     perkembangan pikiran di dalam suatu paragraf, pasal atau kitab. 

     Contoh: Yakobus 1:14-15. 

      Roma 1:18-32. 

      Roma 5:3-5.  

 

 6. PUNCAK atau KLIMAKS: penyusunan bahan sehingga ada fakta atau ide yang  

    menjadi puncak dari semua fakta atau ide yang ada dalam satu paragraf, pasal atau  

    kitab. 

    Contoh: Roma 1-3. 

      2 Petrus 1:3-9. 

    

7. TITIK PERUBAHAN ARAH: bahan tersusun sehingga berputar pada satu faktor. 

     Contoh: 2 Samuel 11-12. 

       Yohanes 6:66. 

       Roma 12:1. 


 

 8. PERTUKARAN: ada unsur-unsur yang diganti. Sering dipakai untuk menguatkan  

     kontras atau perbandingan. 

     Contoh:  Roma 5:12-21. 

   Galatia 5:16-26. 

       Efesus 4:25-32. 

        

 9. KELANJUTAN: satu pokok dimulai, kemudian ada pemisah, nanti pokok  

     dilanjutkan. 

     Contoh: Kejadian 13-14, 18-19. 

      Markus 4:1-98, 13-20. 

  

10. UMUM KE TERTENTU: ada pernyataan umum yang diusul dengan contoh- 

      contoh tertentu. 

      Contoh:     Matius 6:1-18. 

        Efesus 4:17-31. 

        Galatia 5:16-26. 

 

11. TERTENTU KE UMUM: ada contoh-contoh tertentu yang disusul dengan  

      pernyataan umum. 

      Contoh:  Yakobus 2:1-6 

  

12. PERSIAPAN / PENDAHULUAN: ada pemasukan latar belakang untuk peristiwa- 

      peristiwa atau gagasan-gagasan. 

      Contoh:    Kejadian 2:4-25; 3. 

        Lukas 3:1-3, 4-7. 

        Daniel 1:1. 

        Wahyu 1. 

   

13. PENYINGKATAN / RINGKASAN: dapat ditulis sebelum atau sesudah satuan /  

      seksi dalam kitab. 

      Contoh:  Yosua 12. 

                Hakim-hakim 1-2. 

 

14. TANYA JAWAB: ada pertanyaan atau persoalan yang disusul dengan jawaban. 

      Contoh:  Markus 12:13-37. 

                Roma 6-7. 

           Roma 8:31-39.  

     

15. TUJUAN: satu ayat / paragraf menjelaskan tujuan penulis untuk bagian sebelum  

      atau sesudahnya. 

      Contoh:  Efesus 1:4, 5, 6. 

                Efesus 1:17, 18. 

  

16. BUKTI: satu bagian membuktikan pernyataan dari bagian sebelum atau sesudahnya 

Contoh: Yohanes 8:13-59... 9:1-41. 

              Matius 9:2 ... 9:5-6. 

  

17. KESEJAJARAN: satu frase atau kalimat sejajar dengan frase atau kalimat yang  

   berikut. Urutan kata yang penting 

   Contoh:  Lukas 6:43, 44, 45.       


Saran-saran tentang pemakaian hukum struktur: 

1. Di dalam satu nats ada kemungkinan besar bahwa semua hukum struktur tidak dapat  

    diamati. 

2. Namun demikian ada baiknya kalau semua hukum struktur dicari untuk mendorong  

    kita untuk sungguh-sungguh mengamati bagian ini dan untuk menjaga agar tidak ada         

struktur yang tidak diamati. 

 

CONTOH PENGAMATAN FAKTA-FAKTA  

 Mazmur 1:1-6 & Lukas 4:1-13 sebagai satu cara untuk menyusun hasil dari 

pengamatan fakta-fakta dan struktur. 

 

Contoh I: 

Mazmur 1:1-6 dengan memakai 6 Pertanyaan Utama: 

1. Siapakah? 

- Siapakah yang terlibat (pokok)? 

   Orang yang berbahagia atau orang yang benar (ayat 1, 2, 3, 5, 6). 

   Orang fasik (ayat 1, 4, 5, 6). 

   Orang berdosa (ayat 1, 5). 

   Tuhan (ayat 2, 6). 

 

2. Apakah? 

- Apakah yang dikatakan tentang orang yang berbahagia (orang benar)? 

   Dia tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayat 1). 

   Dia tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayat 1). 

   Dia tidak duduk dalam kumpulan orang pencemooh (ayat 1). 

   Dia memakai Taurat Tuhan (ayat 2). 

   Dia merenugkan Taurat Tuhan siang dan malam (ayat 2). 

   Dia seperti pohon yang: (1) ditanam ditepi aliran air; (2) yang menghasilkan 

buahnya pada musimnya; (3) yang tidak layu daunnya (ayat 3). 

   Apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 3). 

   Tuhan mengenal jalan orang benar (ayat 6). 

- Apakah yang dikatakan tentang orang yang fasik? 

   Dia seperti sekam yang ditiup angin (ayat 4). 

   Dia tidak akan tahan dalam penghakiman (ayat 5). 

   Jalannya menuju kebinasaan (ayat 6). 

- Apakah yang dikatakan tentang orang berdosa? 

   Dia tidak akan tahan dalam perkumpulan orang benar (ayat 5). 

 

3. Kapan? 

- Kapan orang yang berbahagia merenungkan Taurat Tuhan? 

   Siang (ayat 2). 

   Malam (ayat 2). 

- Kapan pohon menghasikan buahnya? 

   Pada musimnya (ayat 3). 

 

4. Di manakah? 

- Di manakah pohon yang berbuah ditanam ? 

   Di tepi aliran air (ayat 3). 


 

5. Mengapakah? 

- Mengapakah orang benar berbahagia? 

   sebab  tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayat 1). 

   sebab  tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayat 1). 

   sebab  tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (ayat 1). 

   sebab  menyukai Taurat Tuhan (ayat 2)  

   sebab  merenungkan Taurat siang dan malam (ayat 2). 

   sebab  ditanam di tepi aliran air (ayat 3). 

   sebab  menghasilkan buah pada musimnya (ayat 3). 

   sebab  tidak layu daunnya (ayat 3). 

   sebab  apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 3). 

   sebab  berkumpul dengan orang benar (ayat 5). 

   sebab  Tuhan mengenal jalan orang benar (ayat 6). 

- Mengapakah orang fasik binasa ? 

   sebab  seperti sekam ditiupkan angin (ayat 4). 

   sebab  tidak tahan dalam penghakiman (ayat 5). 

   sebab  berdosa maka tidak bisa kumpul orang benar (ayat 5). 

   sebab  jalan orang fasik menuju kebinasaan (ayat 6). 

 

6. Bagaimanakah? 

- Bagaimanakah cara hidup orang benar? 

   Caranya tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayat 1). 

   Caranya tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayat 1). 

   Caranya tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (ayat 1). 

   Caranya menyukai Taurat Tuhan (ayat 2). 

   Caranya merenungkan Taurat siang dan malam (ayat 2). 

 

Contoh II: 

Lukas 4:1-13 dengan memakai 6 Pertanyaan Utama: 

1. Siapakah?  

      - Siapakah yang terlibat? 

   Yesus (ayat 1-13). 

   Roh Kudus (ayat 1). 

   Iblis (ayat 2-13). 

   Semua kerajaan dunia (ayat 6-7). 

   Tuhan Allah (ayat 8,12). 

   Malaikat-malaikat (ayat 10). 

 

2. Apakah?  

      - Apakah yang terjadi? 

   Yesus penuh dengan Roh Kudus (ayat 1). 

   Yesus kembali dari sungai Yordan (ayat 1). 

   Yesus dibawa oleh Roh kudus ke padang gurun (ayat 1). 

   Yesus tinggal 40 hari di padang gurun (ayat 2). 

   Yesus dicobai Iblis (ayat 2-12). 

 

 

 

____________________ 21 

 

 

 

 

3. Kapan?  

      - Kapan Yesus dicobai? 

   Sesudah kembali dari sungai Yordan (tempat pembaptisan dan pengakuan) 

(3:21). 

   Sesudah empat puluh hari tidak makan apa-apa (ayat 2). 

   Sesudah Dia menjadi lapar (ayat 2). 

 

4. Di manakah?  

      - Di manakah Yesus dicobai? 

   Di padang gurun (ayat 3). 

   Di suatu tempat yang tinggi (ayat 5). 

   Di Yerusalem – Bubungan bait Allah (ayat 9). 

 

5. Mengapakah? 

- Mengapakah Yesus dicobai? 

   sebab  dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (ayat 1). 

 

6. Bagaimanakah?  

      - Bagaimanakah cara iblis mencobai Yesus? 

   Ada 3 pencobaan tercatat:  

   Iblis mencobai Yesus untuk menjadikan roti dari batu (ayat 3). 

   Iblis mencobai Yesus supaya menyembah dia untuk mendapatkan semua 

kerajaan dunia (ayat 5-7). 

   Iblis mencobai Yesus supaya menjatuhkan dirinya dari bubungan bait Allah 

untuk membuktikan bahwa Yesus yaitu  Anak Allah (ayat 9-10). 

       - Bagaimanakah caranya Yesus menjawab iblis? 

    Ada 3 jawaban tercatat: 

   Kata-Nya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” – ini kutipan dari 

Ulangan 8:3 (ayat 4). 

   Kata-Nya, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya 

kepada Dia sajalah engkau berbakti.”– ini kutipan dari Ulangan 6:13 (ayat 8). 

   Kata-Nya, “Ada Firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” – ini  

kutipan dari Ulangan 6:16 (ayat 12). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

____________________ 22 

 

 

 

 

PENAFSIRAN 

 

1. Tugas Penafsiran  

a. Langkah-langkah dalam metode induktif. 

1. Pengamatan - Apa yang saya lihat di sini? 

2. Penafsiran - Apakah maksud si pengarang untuk tulisannya? 

 

b. Usaha kita dalam langkah penafsiran ialah mencoba mengupas arti yang  

    dimaksudkan oleh pengarang melalui kalimat-kalimat yang dituliskannya. 

1. Tujuan utama dalam penafsiran ialah menemui pengertian si penulis.  

2. Jadi kalau kita membuat penafsiran, kita harus selalu bertanya: “Apakah arti 

nats ini bagi si pengarang?” Dan bukan, “Apakah arti yang saya tangkap?” 

3. Lihatlah 2 Petrus 1:20-21. 

 

2. Kepentingan Penafsiran 

a. Dalam pelayanan penginjilan (Galatia 1:6-10). 

b. Dalam pelayanan pembinaan (Yakobus 3:1). 

 

3. Orang-orang Injili menafsirkan Alkitab berdasarkan beberapa keyakinan. 

  a. Keyakinan pertama: Alkitab yaitu  Firman Allah tanpa salah dalam bahasa   

     aslinya.  

  b. Keyakinan kedua: arti Alkitab dapat dimengerti dalam terjemahan-terjemahan. 

  c. Keyakinan ketiga: Alkitab merupakan satu kesatuan. 

1. Tidak ada pertentangan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.       

  Perjanjian Lama yaitu  persiapan untuk Perjanjian Baru (Lukas 24:44-47). 

 Perjanjian Baru yaitu  kegenapan dari Perjanjian Lama (Matius 5:17-19). 

2. namun  antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ada peningkatan dalam   

       penyataan (Yohanes 1:17). 

 d. Keyakinan keempat: Alkitab yaitu  penafsir yang terbaik untuk Alkitab sendiri. 

 e. Keyakinan kelima: pada umumnya bahasa yang dipakai dalam Alkitab yaitu   

       bahasa biasa, sehingga dapat dimengerti dengan makna yang biasa. 

 f. Keyakinan keenam: kalau kita ingin mengerti arti Alkitab, maka kita harus    

     belajar dengan hati yang terbuka (Yohanes 7:17). 

 g. Keyakinan ketujuh: ajaran dari Roh Kudus mutlak untuk perlu mengerti Alkitab    

       (Yohanes 16:13; 1 Korintus 2:6-16). 

 

4. Alat-alat yang dipakai untuk penafsiran 

a. Alkitab sendiri – ini yang pertama daripada buku-buku tentang Alkitab. 

b. Terjemahan-terjemahan lain dalam bahasa Indonesia, Inggris, Yunani, Ibrani dan  

    lainnya. 

c. Kamus umum dalam bahasa Indonesia. 

d. Konkordansi. 

e. Kamus Alkitab. 

f. Buku-buku tafsiran. 

 

LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENAFSIRAN 

1. Berdoa. 

2. Tentukanlah hal-hal yang perlu ditafsirkan dan urutannya. 

____________________ 23 

 

 

 

 

    a. Berdasarkan pengamatan, bertanyalah tentang hal-hal yang kurang jelas  

        artinya. 

    b. Kita harus belajar cara untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut,  

  berdasarkan fakta-fakta Alkitab yang telah kita temui dalam langkah pengamatan. 

    c. Misalnya, 

 1. Apakah arti kata itu, kalimat itu dan lainnya? 

 2. Apakah maksud penulis untuk kata ini, kalimat ini, contoh ini dan lainnya?  

 3. Mengapa dia berkata demikian? 

 4. Dan lainnya. 

 d. Pilihlah hal-hal yang paling penting untuk di jawab dan ditafsirkan. 

     Dari semua hal-hal ini yang kurang jelas dan yang perlu ditafsirkan,  

     Bertanyalah: “Apakah yang paling penting untuk mengerti arti nats ini dan  

     maksud si pengarang? 

3. Tafsirkanlah hal-hal / pertanyaan-pertanyaan yang terpenting dalam urutan  

 kepentingannya (yaitu hal-hal yang terpenting dulu kemudian hal yang kedua  

 pentingnya dan seterusnya). 

 Untuk menafsirkan hal-hal ini, pakailah prinsip-prinsip penafsiran: 

 a. Ada prinsip-prinsip umum (selalu dipakai dulu). 

 b. Ada prinsip-prinsip khusus (yaitu bentuk kesusasteraan sajak, kiasan, nubuatan  

     perumpamaan dan lainnya) yang dipakai kalau perlu sesudah  prinsip-prinsip  

     umum dipakai. 

 

PENAFSIRAN KATA-KATA KIASAN  

  1. Kata kiasan yaitu  kata atau susunan kata yang dipakai untuk menyampaikan  

   sesuatu dengan arti yang simbolis. 

 

  2. Sangat penting untuk mengerti dan membedakan hal-hal ini : 

   Contoh dari Lukas 22:18-20 - Ada beda penafsiran antara Luther & Zwingli.   

 

  3. Jenis-Jenis Gaya Bahasa Kiasan: 

    a. Simile 

Simile yaitu  bahasa kiasan yang membandingkan dua obyek dengan 

memakai kata-kata „seperti‟, „bagaikan‟. 

Biasanya Simile hanya memperbandingkan persamaan dua obyek ini. 

 

b. Metaphor 

Metaphor yaitu  bahasa kiasan yang memperbandingkan secara 

langsung dua obyek dengan tujuan yang jelas. Biasanya dua obyek 

tidak mirip, namun  obyek yang dibandingkan itu mengambil alih 

sebagian sifat, pengertian dari obyek lain. Contoh: Lukas 13:32. 

Metaphor yang dipakai untuk melukis Allah disebut: 

1. Anthropopathisme  

Istilah ini dipakai menunjuk kepada perasaan, kegemaran dan 

keinginan manusia yang dipakai untuk melukis keberadaan Allah. 

Contoh: Ibrani 10:31. 

2. Anthropomorphisme  

Istilah ini menunjuk kepada bentuk / organ manusia yang dipakai   

untuk melukis keberadaan Allah. 

____________________ 24 

 

 

 

 

c. Metonymy 

Metonymy yaitu  bahasa kiasan yang mencoba menghubungkan satu 

hal dengn hal lain, sebab  keduanya sering diasosiasikan atau yang satu 

dapat menunjuk yang lain.  

Contoh: Kejadian 42:38 & Roma 3:30. 

 

d. Synecdoche 

Synecdoche yaitu  bahasa kiasan yang mengasosiasikan dua obyek, 

yang sebenarnya mempunyai hubungan ‟bagian‟ dengan ‟keseluruhan‟, 

atau sebaliknya. 

Contoh: Kisah Para Rasul 27:37. 

 

e. Personifikasi 

Personifikasi yaitu  bahasa kiasan yang memberi pelukisan yang 

bersifat „mempribadikan‟ atas suatu hal. 

Contoh: Mazmur 98:8. 

 

f. Apostrophe 

Apostrophe sangat dekat dengan personifikasi. Hanya Apostrophe 

dipakai dalam suatu seruan atau hanya sejenisnya, yang ditujukan 

kepada suatu obyek dan sekaligus mempribadikannya. 

Contoh: Yesaya 54:1. 

 

g. Hyperbole 

Hyperbole yaitu  bahasa kiasan yang dengan sengaja membesar-

besarkan sesuatu demi penegasan. 

Contoh : 119:136a. 

 

h. Irony 

Irony yaitu  bahasa kiasan yang menyampaikan arti yang sebaliknya, 

dengan demikian diharapkan dapat memberikan penegasan. 

Contoh: 2 Samuel 6:20. 

 

i. Euphemism 

Euphemism yaitu  bahasa kiasan yang mencoba menggantikan suatu 

kata/atau ungkapan dengan kata/ungkapan yang walaupun tidak begitu 

berhubungan langsung, namun  yang dianggap lebih halus/sopan.  

Contoh: Imamat 18:6. 

 

j. Interrogation 

Interrogation yaitu  semacam pertanyaan retoris yang tidak perlu 

dijawab, namun  maksud atau jawabannya sudah jelas. 

Contoh: Yeremia 32:27, Mazmur 8:5a, Matius 7:16b. 

  

  4. Proses untuk menafsirkan kata-kata kiasan :  

a. Amatilah nats dengan teliti.  

  1. Tanyalah: “Apakah arti yang normal masuk akal atau tidak?”  

  2. Kalau masuk akal, terima arti normal saja, kecuali terpaksa 

menolak oleh sebab  konteks atau prinsip-prinsip lain.  

b. Kalau dianggap kiasan, pakailah konteks untuk menafsirkan arti yang 

bersifat kiasan. Jika memungkinkan cobalah menentukan bagian 

Alkitab yang hendak ditafsir itu termasuk bahasa kiasan jenis apa.  

c. Janganlah membiarkan imajinasi pribadi penafsir menjadi patokan dalam 

menafsir bahasa kiasan. Penafsir Alkitab sangat dianjurkan 

menyelidiki kembali latar belakang penulis atau pembicara bahasa 

kiasan tersebut. 

d. Sebelum seorang penafsir menafsir arti dari suatu bagian yang bersifat 

kiasan, ia terlebih dahulu harus mengerti arti harafiah dari bagian 

tersebut. Misalnya perkataan Tuhan Yesus Yohahes 10:7, ”... Akulah 

pintu ... .” Arti pintu ini harus perlu diselidiki dari segi konteks, latar 

belakang waktu itu dan lain-lain. Ini berarti sebelum seorang penafsir 

lebih maju dalam melihat bagaimana Tuhan Yesus memakai bahasa 

kiasan ini ia harus sudah menguasai „konsep‟ pintu ini dengan baik. 

e. Pakailah nats-nats yang sejajar sebagai perbandingan untuk penafsiran.  

 

PENAFSIRAN PERUMPAMAAN  

 1. Perumpamaan yaitu  kisah yang diceritakan dengan maksud untuk   

     menyampaikan suatu kebenaran yang bersifat moral atau rohani.  

      2. Biasanya perumpamaan mempunyai 3 unsur:  

a. Latar belakang  

b. Kisah / cerita  

        c. Aplikasi  

3. Biasanya perumpamaan satu pokok utama.  

 

Petunjuk Untuk Menafsirkan Perumpamaan 

1. Pikirkanlah dulu arti yang sebenarnya. Pelajaran rohani harus didasarkan ini. 

2. Perhatikanlah latar belakang / konteks perumpamaan kalau latar belakang itu 

dinyatakan (yaitu ada pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan dan lain-

lain).  

Kalau latar belakang nyata, maka latar belakang itu sangat penting untuk 

penafsiran dan harus ada hubungan antara latar belakang dan penafsiran.  

3. Carilah penafisran tentang ajaran utama perumpamaan. Ini bisa diperoleh dari 

isi perumpamaan atau dari aplikasinya.  

Biasanya tidak perlu berusaha menafsirkan setiap detail dari perumpamaan. 

Cukup menafsirkan hal-hal utama.  

4. Kalau menghadapi persoalan-persoalan untuk mengerti isi dari kisah, maka 

pelajarilah latar belakangnya yang berhubungan dengan sejarah dan 

kebudayaan. 

5. Bandingkanlah penafsiran dengan ajaran lain dalam Alkitab.  

6. Hal-hal penting berhubungan dengan penafsiran perumpamaan  

Perumpamaan dalam Alkitab yaitu  cerita-cerita yang dipakai dengan 

maksud untuk menjelaskan suatu ajaran moral atau kebenaran rohani, sebab  

cerita ini memiliki beberapa persamaan dengan ajaran atau kebenaran 

tersebut. Itu sebabnya perumpamaan sering disebut sebagai cerita berasal dari 

dunia namun  dengan makna surgawi. l

 

Beberapa hal tentang perumpamaan : 

   Sumber dari perumpamaan 

Kebanyakan berasal dari kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus telah 

menaruh banyak perhatian kepada keadaan, peristiwa, kebiasaan di sekitar 

Dia. 

 

   Tujuan dari perumpamaan 

Pada dasarnya pemakaian perumpamaan yaitu  untuk mengajar suatu 

kebenaran. Sebab dengan pemakaian perumpamaan para pendengar lebih 

mudah mengerti kebenaran rohani. 

 

   Struktur dari perumpamaan 

Biasanya suatu bagian tentang perumpamaan terdiri dari 3 unsur, yakni 

sebab atau latar belakang diberinya perumpamaan, isi perumpamaan dan 

pengajaran/penjelasan/penutup.namun  tidak semua perumpamaan memiliki 

lengkap 3 unsur ini. 

 

 Perumpamaan Tuhan Yesus dapat dibagi ke dalam 2 macam corak: 

1. Yang dimulai dengan kata benda dalam kasus nominatif. Ini berarti tanpa 

suatu formula pembahasan.  

Contoh: Markus 4:3, 12:1, Lukas 7:41. 

 

2. Yang dimulai dengan pelbagai formula pendahuluan, seperti „seumpama‟ 

(Mat. 11:16), „sama seperti‟ (Mat. 25:14), „jika ‟ (Mrk. 13:28), bentuk 

pertanyaan (Mat. 24:45), bentuk kondisional (Mat. 18:12) dan bentuk 

perintah (Mat. 5:25). 

 

Berdasarkan sedikit pengenalan terhadap perumpamaan dalam PB, 

terdapat beberapa prinsip penafsiran yang perlu diperhatikan: 

1. Mencoba memperhatikan unsur sebab / latar belakang dan pengajaran / 

penjelasan / penutup dari suatu perumpamaan. 

2. Mencoba menguasai isi dari perumpamaan tersebut dengan baik. 

3. Seorang penafsir harus menguasai terlebih dahulu pengertian harfiah dari 

perumpamaan. 

4. Biasanya pada suatu perumpamaan hanya terdapat satu tujuan utama, 

walaupun tidak selalu demikian. 

5. Buatlah satu tafsiran yang natural dan sederhana untuk perumpamaan. 

6. Perumpamaan bukan dasar yang baik untuk membangun doktrin. 

 

PENAFSIRAN NUBUATAN  

 Pada umumnya terdapat tiga sikap utama manusia terhadap firman Allah 

berkenaan dengan nubuatan. Satu golongan terdiri dari orang-orang Kristen, 

termasuk juga hamba-hamba Tuhan yang mengabaikan aspek Alkitab ini, 

dan bersikap masa bodoh saja, disebabkan hal ini memakan banyak waktu 

dan usaha maupun disebabkan sebab  pengalaman-pengalaman pahit di 

masa lampau.  

 Golongan lain mengambil arah bertentangan dengan golongan di atas dan 

menjadikan studi tentang nubuatan sebagai hal yang bisa dijangkau oleh 

para sarjana saja.  

 

 Golongan yang lain mengambil sikap lebih maju yaitu dengan berusaha 

sebaik mungkin mempelajari nubuatan namun juga berusaha menjadikannya 

berarti bagi hidup orang-orang beriman dan bukan suatu ilmu yang tinggi 

belaka.  

 

Pentingnya mempelajari nubuatan Alkitab.  

1.  Porsi nubuatan dalam firman Allah termasuk besar sekali. Buku-

buku Nabi-Nabi besar (4 buah) dan Nabi-Nabi Kecil (12 buah) 

dalam PL.  

 Dan Wahyu dalam PB merupakan nubuatan waktu dituliskan. 

Ada orang yang menganggap bahwa buku-buku Yunus dan 

Kidung Agung termasuk dalam golongan di atas jadi ada 

sekurang-kurangnya 17 buah Alkitab yang bersifat nubuatan atau 

sama dengan ¼ dari isi Alkitab (25%). Ada pula yang mengatakan 

bahwa ada 1189 pasal dalam Alkitab yang bersifat nubuatan. 

 Sungguh disayangkan bahwa kebanyakan orang kristen hanya 

puas dengan mempelajari 75% dari isi Alkitab. Bukankah firman 

Allah berkata: ”Segala Tulisan yang diilhamkan Allah, memang 

bermanfaat untuk mengajar ... ,” (2 Tim. 3:16).  

 

2.  Perintah Ilahi kepada kita termasuk mempelajari nubuatan:  

Yohanes 5:3 merupakan pernyataan Yesus yang berhubungan 

dengan nats-nats yang  menubuatkan diri-Nya.  

 2 Timotius 3:14-15 melanjutkan penyelidikan firman Allah yang 

sebagian di antaranya merupakan nubuatan.  

 Yosua 1:8 perintah menekuni firman Allah siang malam 

termasuk juga nubuatan-nubuatan (bandingkan Yoh. 5:46, Luk. 

24:27). Di samping perintah Ilahi ialah agar kita mempelajari 

firman  Allah, ternyata juga berkat-berkat illahi ada dijanjikan bagi 

usaha ini. (Why. 1:3 & 2 Pet. 1:19).  

 Kita tak dapat mengabaikan nubuatan-nubuatan Alkitab dan 

sekaligus mengharap tidak merombak firman Allah dan tidak 

kehilangan berkata-kata ilahi yang dijanjikan bagi kita.  

   

3.  Pemahaman nubuatan menetapkan iman kita kepada firman Allah. 

Ulangan 18:21-22, memberikan kriteria menentukan serang nabi. 

Dan jika  kita mempelajari nubuatan-nubuatan firman Allah kita 

akan turut kagum bersama berjuta-juta manusia menyaksikan 

bahwa banyak nubuatan Alkitab itu sudah digenapi, secara akurat. 

 Hosea misalnya berkata: ”Sebab selama orang Israel akan diam 

dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu 

berhala dan tiada efod dan terafim. Ternyata sesudah itu Israel 

tidak mempunyai raja bertahun-tahun, tiada korban sejak tahun 70 

SM, tak ada penyembahan berhala sejak penawanan di Babel.  

    

4.  Penyelidikan nubuatan Alkitab menempatkan kebenaran metode  

penafsiran „literal‟ (normal). Penggenapan banyak nubuatan  

seperti terlihat pada observasi di atas membuktikan akuratnya 

metode penafsiran „literal‟. Ternyata arti kata-kata firman Allah 

persis sebagaimana dikatakan kata-kata firman Allah tak usah 

diputar balikkan untuk mencari arti tersembunyi dibalik kata-kata 

itu, tak perlu ditafsirkan secara alegori.  

 Alkitab buku luar biasa itu ditulis bagi orang-orang biasa dengan 

keinginan agar mereka bisa mudah menangkap maknanya. 

Bahasanya normal atau literal. Dan jika  lukisan digunakan 

artinya bisa dimengerti dari konteks dan tentunya tidak 

bertentangan dengan maksud normal dari keseluruhan natsnya.  

 Contoh lain tentang penggenapan secara akurat nubuatan 

Alkitab, bisa dilihat dalam Zakharia (di mana dikatakan bahwa 

Mesias akan menunggangi keledai putih dipenuhi oleh Yesus 

secara literal). Amos 1:10 membuatkan tentang kota Tirus ditelan 

api ternyata kota Tirus benar-benar habis. Yesus bangkit pada hari 

ketiga sebagaimana dinubuatkan.  

 sebab  banyak sekali nubuatan-nubuatan itu telah dipenuhi 

secara tepat, maka patutlah kita percaya bahwa nubuatan-nubuatan 

masa depan pasti akan dipenuhi. Hal ini menetapkan hati bahwa 

Alkitab harus ditafsirkan secara „literal‟ (normal).  

 

5.  Pengertian akan nubuatan membantu kita mengetahui perspektif  

ilahi tentang sejarah. Lensa nubuatan Alkitabiah membantu kita 

melihat sejarah dan kaitan-kaitan peristiwa di dalamnya secara 

tepat.  

 Fakta sejarah menunjukkan pula bahwa ada suatu tujuan dan 

suatu rencana di balik semua kejadian (Theological View). Sebab 

pada hakikatnya segala sesuatu telah berlaku sebab  diizinkan 

Allah (Permissive Will), meskipun tidak semua perkara yang 

berlaku, telah berlaku di bawah pimpinan Allah (Directly 

Purpose). Setan memang penguasa / penghuni bumi sementara ini. 

 Namun Allah masih tetap pemiliknya. Nubuatan menunjukkan 

mengapa bangsa-bangsa bangkit dan jatuh (Dan. 2:7) dan mengapa 

manusia telah tertekan oleh gelombang kemerosotan akhlak (Dan. 

4:17). 

 

6.  Pemahaman nubuatan Alkitabiah memberikan perspektif ilahi  

perihal sejarah dunia zaman ini. Pertanyaan-pertanyaan yang rumit 

tentang zaman ini sudah terlebih dahulu dinubuatkan dalam 

Alkitab (Mat. 13; Why. 2-3; 2 Pet. 2, 3:7; 1 Tim. 4), bisa 

menjawab mengapa arah zaman ini bergerak seperti sekarang ini, 

kemurtadan dunia „Kekristenan‟, maupun bangkitnya banyak 

guru-guru palsu.  

 Di 2 Timotius 3, menunjuk bahwa zaman ini akan dipenuhi 

dengan perkembangan pendekatan hidup dunia (kafir), kenakalan 

kaum muda, profesi keagamaan yang hampa. Bagi orang-orang 

beriman studi nubuatan menolong mereka menyusun dasar yang 

sehat bagi tujuan dan perjalanan hidupnya.  

 

7.  Pemahaman nubuatan memberikan perspektif ilahi tentang  

perkara-perkara akhir zaman. Pelajaran aspek ini memiliki 

pengelihatan hidup yang seimbang, dan sikap terhadap hidup ini 

disesuaikan. Dua sikap yaitu pesimistik dan optimistik melanda 

hidup manusia. Ia menjadi pesimis terhadap perkembangan moral 

dan spiritual yang semakin merosot (2 Tim. 3:13) dan terhadap 

usaha pembangunan organisasi-organisasi gerejawi yang hampa 

akan persatuan Roh.  

 Ia pesimis sebab  sadar bahwa sekali waktu anti Kristus akan 

datang dan dengan durhakanya. Ia mengarahkan semua 

penyembahan keagamaan bagi dirinya sendiri (2 Tes. 2:4). 

 Manusia sadar betapa ia rindu untuk mengusahakan perdamaian 

dunia, bahwa perdamaian sejati tidak akan datang ke dunia ini 

sampai Raja Damai sendiri datang dan memerintah. Seorang 

beriman akan optimis sebab  mengetahui dari nubuatan itu bahwa 

mereka akan menikmati akhir yang menyenangkan (Why. 21:4). 

 Studi hal-hal yang akan datang dalam Alkitab menyebabkan 

seorang beriman aktif melakukan penginjilan sedunia sebab  ia 

sadar akan hukuman yang dahsyat menanti orang yang tanpa 

Kristus (Why. 21:4). Ia juga memperhatikan kesuciannya sebab  

kesadaran bahwa „Kita masing-masing akan memberikan apa kira-

kira dari hal diri kita sendiri kepada Allah‟ (II Kor. 5:10). Dan 

bahwa sistem hidupnya kini akan lenyap (1 Yoh. 2:17).  

 

8.  Pemahaman nubuatan merupakan „Finishing Touch‟ kepada setiap  

doktrin Alkitab. Semua doktrin Alkitab hanya bisa dimengerti 

jika  disorot dari segi nubuatan.  

 Doktrin setan (Demonology) bisa memberi penghargaan sebab  

ia akan dihancurkan.  

 Soteorologi berhubungan erat dengan keadaan orang beriman 

kelak yang kan menerima permuliaan, memerintah bersama 

Kristus, dan melayani serta berbakti kepada Nya.  

 Azas hamartologi (dosa) mengungkapkan bahwa kutuk dan 

akibatnya yang menimpa binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan 

dan lain-lain akan ditiadakan.  

 Konsep eklesiologi (gereja) memperlihatkan bahwa masa depan 

penuh bahagia dan pengharapan waktu ia diangkat sebagai 

mempelai perempuan tak bercacat dan bersama Tuhan selama-

lamanya.  

 Pemahaman Alkitab hanya lengkap jika  disertai dengan studi 

nubuatan. Dan sungguh menyegarkan dan memuaskan adanya 

jika  kita mengetahui akhir dari segala sesuatu.  

 

 

9.  Penyelidikan nubuatan mengarahkan kehidupan doa orang kristen.  

jika  mengetahui arah gerak Allah kita dapat mengikuti jejak 

perjalanan-Nya secara segera (Why. 22:22); kedamaian bagi 

Yerusalem yang telah hancur tapi di sanalah Kristus akan 

memerintah sebagai Raja (Mat. 9:6-13).  

Kita tidak akan berdoa agar si anti Kristus diselamatkan (Why. 

20:10), sebab  nasib akhirnya sudah jelas.  

 

10. Pemahaman nubuatan Alkitab, membantu kita mengerti orang-

orang Yahudi dan tempat mereka dalam sejarah dunia. Mengapa 

orang-orang Yahudi yang menjadi monumen nubuatan Allah 

disiksa oleh berbagai bangsa, seperti Mesir, Siria, Babel, Persia, 

Yunani, Roma dan bahkan berserakan dianiaya oleh Perancis, 

Polandia, Italia, Jerman dan bangsa-bangsa di semenanjung 

Balkan dan kini bersitegang dengan negara-negara Islam. 

 Mereka tersebar dan dianiaya, namun mereka tidak punah 

dan tidak pula melebur ke dalam bangsa lain hingga 

pengembalian ke Palestina akhir-akhir ini.  

   Beberapa ayat penting di bawah ini memberikan sedikti 

gambaran tentang nubuat terhadap nasib mereka:  

   Ulangan 28:63-68     :   Mengapa mereka menderita?  

   Kejadian 27:29  :   Menentukan tuntutan Allah bagi  

                                            sikap bangsa.  

   Yehezkiel 11:17  :   Menubuatkan nasib akhir Israel.  

   2 Korintus 3:14-16  :   Menubuatkan kebutaan Israel  

       terhadap Injil Yesus Kristus.  

   Roma 11:25-26  :   Mengenai pelepasan kebutaan  

    rohani Israel.  

   Zakharia 12:10  :   Masa pertobatan masal Israel.  

 

Orientasi hidup yang benar hanya bisa dimiliki oleh orang 

yang mengetahui orientasi ilahi dalam sejarah manusia. Dan 

ini hanya bisa diperoleh dengan jalan memahami nubuatan-

nubuatan Alkitab yang menumbuhkan ketaatan yang 

sungguh kepada Allah, memberikan perspektif ilahi tentang 

masa lampau, masa kini dan masa depan, memelihara 

keseimbangan pengertian firman Allah dan mengetahui 

bagaimana sepatutnya seseorang berdoa.  

 

Hukum-hukum utama penafsiran nubuatan ialah:  

1.  Penafsiran Literal 

Alasan mengapa metode ini tidak diterapkan ialah usaha secara 

halus mengabaikan teks Alkitab dengan tujuan menyelaraskan 

Alkitab dengan praduga penafsir.  

  Tafsiran literal merupakan hasil pengamatan cara Allah 

menyatakan dan mengenai wahyu-Nya. Perjanjian Baru tidak 

mengenal cara lain dalam menggenapi nubuatan Perjanjian 

Lama kecuali secara literal.  


  Pola nubuatan yang sudah digenapi, itulah juga pola yang 

belum digenapi. Dengan demikian harus dikatakan bahwa itulah 

pola yang dipilih Allah untuk menyatakan dan menggenapi 

nubuatan-Nya.  

 

2.   Penafsiran harus menuruti harmoni dari nubuatan-nubuatan. 

Dalam 2 Petrus 1:20-21 menyatakan bahwa tiada nubuatan yang 

ditafsirkan secara tersendiri. Nubuatan harus ditafsirkan sesuai 

dengan program ilahi.  

   Dengan mempertimbangkan porsi-porsi nubuatan yang lain 

secara menyeluruh, sebab  tiap nubuatan yaitu  sebagian dari 

skema nubuatan menyeluruh. Dengan demikian satu nubuatan 

menerangi nubuatan lainnya.  

 

3.  Penafsiran haruslah memperhatikan perspektif dari nubuatan. 

Meskipun nampaknya ada beberapa nubuatan tersendiri, 

seringkali mereka bersama menunjukkan pada satu penglihatan 

besar, sehingga mereka harus dikelompokkan dalam satu visi 

besar itu.  

  Misalnya terlihat dalam nubuatan-nubuatan yang 

berhubungan dengan penawanan di Babel, peristiwa-peristiwa 

yang berhubungan dengan hari Tuhan, pengembalian dari Babel, 

penyebaran (diaspora) Israel, pengumpulan di masa mendatang 

dari seluruh penjuru dunia.  

 

4.  Penafsiran haruslah dengan memperhatikan unsur waktu. 

Peristiwa-peristiwa yang barangkali terpisah waktu 

penggenapannya bisa disatukan ke dalam satu nubuatan. 

Misalnya: Kedatangan Kristus Pertama Kali (KKPK) dan 

Kedatangan Kristus Kedua Kali (KKKK), seringkali dinubuatkan 

bersama-sama meskipun ternyata ada dua bagian yang terpisah 

jauh. Kedua peristiwa itu ditempatkan sebagai saling 

mendampingi (side by side), namun ternyata mereka digenapi 

secara berjauhan sekali. 

  

5.  Penafsiran nubuatan haruslah berpusat pada Kristus. Berita-berita 

nubuatan memusatkan diri pada pribadi dan perbuatan Yesus 

Kristus (1 Pet. 1:10; Why. 19:10).  

 

6.  Penafsiran harus juga memperhatikan sejarah. Latar belakang 

nabi dan nubuatan haruslah diperhatikan sebelum seseorang 

mengaran penafsiran. Ini permulaan usaha guna mengartikan 

nubuatan. Nama orang, peta, adat, kultur, binatang dan tumbuh-

tumbuhan haruslah diperhatikan juga. 

 

7.   Penafsiran haruslan memperhatikan gramatika juga. 

 

8.   Penafsiran haruslah memperhatikan „Law of Double Reference‟.  

 

9.  Penafsiran haruslah bersifat konsisten, satu metode haruslah 

digunakan secara konsisten dalam penafsiran nubuatan. 

Kesalahan akan terjadi jika  ada pencampuran metode 

penafsiran. 

 

  

 

Alkitab berisi tentang: 

Sejarah, tapi bukan buku Sejarah. 

Pengetahuan, tapi bukan buku Sains. 

Masa depan, tapi bukan buku Ramalan. 

Filosofi hidup, tapi bukan buku Filsafat. 

Makhluk hidup, tapi bukan buku Biologi. 

Sifat manusia, tapi bukan buku Psikologi. 

Perilaku sosial, tapi bukan buku Sosiologi. 

Alam semesta, tapi bukan buku Ilmu Alam. 

Alkitab itu firman Allah. 

 


 


Septuaginta yaitu  terjemahan Kitab-kitab dalam Alkitab Ibrani atau Tanakh, yang juga

merupakan anggota Kontrak Lama di Alkitab Kristen, dari Bahasa Ibrani (ditulis dalam huruf

Ibrani kuno) ke dalam bahasa Yunani gaya Koine pada masa seratus tahun ke-3 sM. Terjemahan

ini  disebut “Septuaginta” yang dalam bahasa Yunani artinya yaitu  70 (tujuh puluh) dan

sering ditulis sebagai “LXX” sebab kanon disusun 70 orang imam  Yahudi yang diberi tugas

oleh  Ptolemaios  II  Philadelphos  (285-247  sM),  Raja  Mesir  untuk  diisikan  ke  Perpustakaan

Alexandria (Iskandariyah), Naskah ini memasukkan beberapa  terjemahan kuno yang berada saat

itu dan dalam dunia ilmiah di beri kode naskah atau G.1

Ada yang mengatakan juga Kitab Septuaginta merupakan terjemahan Perjanjian Lama ke dalam

bahasa  Yunani  yang  diperkirakan  diterjemahkan  sekitar  abad  ke-3  sM.  Kitab  Septuaginta

dikerjakan  di  Alexsandria,  Mesir  untuk  memenuhi  kebutuhan  orang  Yahudi  diaspora  yang

berbicara bahasa Yunani. Septuaginta dapat juga  ditulis dengan angka Romawi “LXX” (artinya

70) sebab  diperkirakan diterjemahkan oleh sekitar 72 orang dalam jangka waktu sekitar 72 hari.

Ptolomeus  II  Philadelpos  menulis  surat  kepada  imam  besar  di  Yerusalem  supaya  dapat

mengirimkan gulungan Kitab Taurat (Perjanjian Lama) dan dipilih masing-masing enam orang

serjana  yang  fasih  berbahasaa  Ibrani  dan  Yunani  dari  setiap  suku  bangsa  Israel  (12  suku),

sehingga jumlah para serjana ini  ada72 orang. Kabarnya para penerjemah ini bekera secara

terpisah dan diilhami oleh  Allah sehingga setiap penerjemah menerjemahkan teks yang sama

dengan kata-kata yang sama, seakan-akan mereka didikte bersama-sama. Baahkan semua huruf

yang  dipakai  dalam  setiap  terjemahan  ini   persis  sama.  Diperkirakan  hanya  kitab-kitab

Pentateukh yang diterjemahkan di Alexsandria, kemudian lambat laun diterjemahkan juga kitab-

kitab Perjanjian Lama sampai masa menjelang sekitar 100 tahun sM. Orang-orang Yahudi di

Alexsandria  menyebut  Septuaginta  dengan tangan terbuka.  Namun, orang Yahudi  di  Plestina

menolaknya sebab  mereka hanya mengakui versi-versi dalam bahasa Ibrani.2

2.2. Sejarah Munculnya Septuaginta (LXX)

Sejarah Septuaginta tidak saja terselubung dalam kekunoan namun  ditutupi oleh legenda-

legenda  Yahudi dan Kristen yang menonjolkan sumbernya yang ajaib. Menurut legenda-legenda

ini,  para  penerejmah  bekerja  seacra  terpisah  satu  dengan  yang  lain,  namun  menghasilkan

terjemahan-terjemahan  yang  memiliki  kecocokan  secra  harfiah  satu  sama  lain.  sebab 

Septuaginta dinamai menurut jumlah para penejermah yang dalam tradisi dinyatakan sebanyak

tujuh  puluh  orang  (bahasa  Latin  Septuaginta ‘tujuh  puluh’,  sehingga  namanya  disebut  juga

LXX. Rupanya Septuaginta  berasal dari komunikasi Yahudi di Alexsandria anatar tahun 250

samapai  tahun  100  sM.  Perkembangannya  serupa  dengan  perkembangan  targum-targum.

Berbagai terjemahan tidak resmi dibuat sesuai deangan kebutuhan, lalu teksnya ditetapkan pada

awal tarikh Masehi, pada saat terjemahan ini  menajadi Perjanjian Lama yang terotoritas

dalam jemaat Kristen.

Septuaginta  memperlihatkan  banyak  variasi  dalam  pandangan  teologis  dan  dalam

kesesuaian haarfiah maupun ketelitian terjemahannya, sehingga bacaan-bacaannya tidak dapat

diterima secara sembarangan. Walaupun demikian, Septuaginta sangat penting dalam penelitian

teks, sebab  mewakili bentuk teks Ibrani sebelum adanya pembakuan pada abad-abad permulaan

tarikh  Masehi.  Bersama-saama  dengan  Taurat  Samaria  dan  Naskah-naskah  Laut  Mati,

Septuaginta  merupakan  bukti  terpenting  dari  bentuk-bentuk  teks  Ibrani  sebelum  ada  teks

Masora.3

Septuaginta  pada  permulaannya  hanyalah  terjemahan  darai  Taurat  yaitu  lima  kitab

pertama dalam Alkitab yang merupakan kitab suci orang Yahudi  dan diyakini  hasil  susunan

Musa bahasa Yunani Koine merupakan bahasa umum (lingua franca) di kawasan Laut Tengah

pada  zaman  sejak  matinya  Alexsander  Luhur  (tahun  323  sM)  hingga  berdirinya  kerajaan

Bizantin  Yunani  (tahun 600 M).  sebab  belakang ditemukan aci  intinya  terjemahan lengkap

seluruh Alkitab Ibrani, maka dalam perkembangan agama Kristen disebut sebagai Kontrak Lama

Kristen atau Kontrak Lam Yunani (“ Greek Old Testament”). Pada kenyataannya Septuaginta

dikerjakan oleh 72 orang berbakat yang mengenal adun mengenai hukum-hukum Yahudi dan

dapat menterjemahakan dengan adun ke dalam bahasa Yunani. Berada juga yang mengatakan

bahwa ke 72 orang ini  bersumber dari 6 orang dari tiap suku Israel yang berjumlah 12 (6 x

12 =72), namun  argumen ini masih perlu dipertanyakan (baca: Important Early Translations of

the Bible).

Pada masa seratus tahun 19 dan masa seratus tahun 20 tersedia banyak sekali translasi

Alkitab ke dalam berbagai bahasa. Namun sebelumnya, Alkitab yang tersedia hanya terdapat

dalam sebagain  penerjemahan saja.  Penerjemahan Alkitab  mula-mula  terjadi  k dalam bahasa

Yunani yaitu Septuaginta  tercatat  dari  masa seratus tahun ke 3 hingga ke 2 sebelum Kristus

(abad ke-3 hingga masa seratus tahun ke-2 sM). Bukan hanya sebagai terjemahan yang tertua

namun  juga berjasa sebagi penghubung selang Kitab Kontrak Lama dengan Kontrak Baru yang

mempergunakan  bahasa  Yunani  sebagai  bahasa  penulisannya.  Argumen  sebenarnya  untuk

memainkan penerjemahan ini yaitu  untuk memenuhi keperluan pendidikan dan liturgus dari

komunitas Yahudi di Aleksandria yang banyaknya cukup luhur. Lebih banyak dari mereka telah

lepas sama sekali  dari ingatan bahasa Ibrani atau telah tumbuh dan cakap sehari-hari dengan

bahasa Yunani Umum. namun  mereka yaitu  orang Yahudi dan berhasrat mengerti Kitab-kitab

suci Tua, dimana tempat bergantungnya Iman dan hidup mereka. Keperluan Septuaginta sangat

jelas. Disamping sebagai terjemahan pertama yang pernah di buat dari Kitab bercakap Ibrani,

juga merupakan media untuk membawa pemikiran keagamaan orang-orng Ibrani untuk dunia,

Septuaginta juga merupakan Kitab yang dipakai pada saat Jemaat Kristen mula-mula, dan para

penulis Kontrak Baru sering mengutip dari Septuaginta. Pengaruh lanjutan dari Septuaginta juga

membuat  Origen menggabungkan  Septuaginta  ke dalam karya  bernama Hexapla,  yaitu  edisi

kesarjanaan  yang  cukup  berlilit  dari  Kontrak  Lama.  Berabad-abad  Septuagintaa  mempunyai

pengaruh yang lebar, seperti menjadi dasar penerjemahan Kontrak Lama ke dalam bahasa Latin,

Koptik, Gothic, Armenian, Georgia, Etiopia, Aram Kristen Palestina, Syria, Arab, dan Slavonic.

Dan yang saangat terpenting saat ini dipakai Otoritas dalam teks Akitabiah dari Kontrak Lama

untuk Gereja Ortodok Yunani.4