Secara etimologis, kata „Hermeneutik‟ berasal dari bahasa Yunani: Hermeneuo –
Hermeneus: penunjuk jalan, yang berarti „menafsirkan, menjelaskan atau menerjemahkan.
Istilah tersebut menurut mitos Yunani, diambil dari seorang tokoh yang bernama „dewa
Hermes‟, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas untuk menyampaikan pesan Jupiter
kepada manusia.
Sejak saat itu Hermes menjadi seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi
tertentu. Berhasil tidak misinya itu sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu
disampaikan.
Oleh sebab itu, Hermeneutik pada akhirnya diartikan sebagai proses menafsirkan
atau menerjemahkan sesuatu dari ketidakjelasan menjadi jelas.
Jadi „Hermeneutik‟ yaitu ilmu yang mengajarkan prinsip-prinsip dan metode-
metode penafsiran Alkitab yang menyangkut latar belakang historis, geografis, situasi
manusia dan tata bahasa (gramatika). Maka Hermeneutik dibutuhkan untuk mencari
maksud sesungguhnya dari Alkitab kepada pembacanya.
DEFINISI
Dalam Perjanjian Lama diambil dari kata Ibrani:
a. Pathar = membuka, menjelaskan mimpi – penerjemah (Kej. 40:8, 16, 22; 41:8,
12, 13, 15).
b. Pithron = terjemahan, menjelaskan (Kej. 40:5, 8, 12, 18).
c. Melitysah = suatu terjemahan (Ams. 1:6).
d. Luwth = mengumandangkan, menerjemahkan (Kej. 42:23), duta besar (2 Taw.
32:31).
e. Sheber = solusi – mimpi (Hab. 7:15).
Dalam Perjanjian Baru diambil dari kata Yunani:
a. Hermeneuo = menerjemahkan, menjelaskan dalam kata-kata (Yoh. 1:38, 41-42;
Ibr. 7:2).
b. Hermeneia = menerjemahkan, penjelasan mengenai perkataan yang kabur (1 Kor.
12:10).
c. Dirmeneuo = menerjemahkan, menjelaskan secara saksama dan penuh (Luk.
24:27).
d. Methermeneuo = menerjemahkan ke dalam bahasa seseorang yang kita ingin
berkomunikasi (Mat. 1:23; Mrk. 5:41, 15:22, 34; Yoh. 1:42; Kis. 4:36).
FUNGSI
a. Adanya Gap (Celah / Jarak / Rentang) antara Alkitab & saat ini.
1. Historical Gap (Rentang Sejarah)
Ini timbul sebab adanya perbedaan waktu. Penulis kitab suci hidup
pada zaman dulu dan kejadian-kejadian yang ditulisnya juga pada zaman
dulu dan semua ini tentu sangat berbeda dengan jaman sekarang.
Dulu nabi-nabi berjalan kaki, sebab tidak ada mobil, haruskah
pendeta zaman sekarang juga demikian?
Dulu puji-pujian menggunakan rebana, gambus, kecapi dan
sebagainya, sebab belum ada piano, organ, drum dan sebagainya; haruskah
puji-pujian zaman sekarang meniru mereka?
Dulu anggur dan minyak sering dipakai sebagai obat (Mark. 6:13;
Luk. 10:34; Yes 1:6) dan sebab nya Paulus dan Yakobus menganjurkannya
(1 Tim. 5:23; Yak. 5:14). Haruskah kita sekarang, sesudah ada obat-obatan
modern yang lebih manjur, tetap mengikuti anjuran mereka?
2. Cultural Gap (Rentang Budaya)
Mereka yaitu bangsa yang berbeda dan tinggal di tempat yang
berbeda dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang berbeda pula dengan
kita, seperti:
a. Perendahan/pengabaian terhadap perempuan.
b. Penggunaan tudung kepala bagi perempuan dalam kebaktian
(1 Kor. 11:5-6, 13-15).
c. Sarai menamai Abraham tuannya (1 Pet. 3:6) dan
sebagainya.
3. Linguistic Gap (Rentang Bahasa)
Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Aram. Tidak
mungkin bisa menerjemahkan bahasa-bahasa itu ke dalam bahasa kita
secara sempurna.
Persoalan ini ditimbulkan sebab adanya perbedaan dalam hal:
a. Grammar (Tata bahasa).
b. Vocabulary (Perbendaharaan kata).
c. Ungkapan-ungkapan yang punya pengertian khusus, seperti:
membenci (Luk. 14:26), give glory to the Lord / God (Yos
7:19) dan sebagainya.
4. Perbedaan Geologis & Biologis
Alkitab ditulis di negeri yang lain dengan kondisi geografis yang
berbeda dengan sekarang. Ditulis oleh beberapa pengarang dan ditujukan
kepada bermacam-macam pembaca (kelompok pembaca).
b. Adanya ayat-ayat yang sulit.
Dalam Alkitab banyak terdapat ayat-ayat yang sulit untuk dimengerti. Hal
ini membutuhkan penafsiran. (Misalnya: Kej. 6:6; Luk. 14:26; 1 Yoh 3:9) dan
sebagainya.
HUBUNGAN
Hermeneutik tidak terisolasi dari lingkup lainnya dari studi biblikal. Ini juga terkait
dengan studi dari kanon, kritik tekstual, kritik historikal, eksegesis dan teologi biblikal dan
sistimatik.
Diagram di bawah ini menyarikan dan menunjukkan pentingnya dan peran inti dari
hermeneutik dalam pengembangan sebuah Teologi:
Studi
Kanon
Kritik
Teks
Kritik
Historikal
Hermeneutik
(Eksegesis)
Teologi
Sistematik
Teologi
Biblikal
ALKITAB
Keberadaan Alkitab - firman Allah, seringkali diobok-obok, baik oleh mereka yang
sedang mencari kebenaran atau yang sedang mencari kesalahan Alkitab. Ini telah
berlangsung berabad-abad. Pantang menyerah dari satu generasi ke generasi seterusnya.
Namun keberadaan Alkitab - firman Allah, tetap tak tergoyahkan. Mengingat Allah sendiri
yang bertanggungjawab memelihara firman-Nya.
a. Alkitab yaitu firman Allah (2 Tim. 3:16-17).
Ada beberapa pandangan dasar tentang Alkitab:
1. Alkitab yaitu firman Allah tanpa salah dalam teks aslinya.
2. Alkitab yaitu firman Allah untuk semua orang.
3. Alkitab yang sekarang yaitu sama dengan teks aslinya.
4. Alkitab memiliki maksud yang dapat dimengerti dari terjemahannya.
5. Alkitab merupakan satu kesatuan.
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Alkitab itu:
1. Berisi firman iblis (ada perkataan Iblis).
2. Berisi firman Allah.
3. Berisi sebagian firman Allah (yang tidak masuk akal ditolak).
4. Berisi kandungan firman Allah.
5. Berisi yang bisa menjadi firman Allah (tergantung situasi & keadaan).
Firman atau kata-kata berarti menampung pengalaman komunikasi. Jikalau
orang Kristen mau memiliki hubungan yang intim dengan Allah, maka harus
mendengar isi hati Allah dalam Alkitab. Hal ini tidak dapat dilakukan secara
sekejap, tapi harus secara terus menerus dan teratur.
b. Alkitab yaitu Makanan Rohani (Mat. 4:4).
Makanan dapat disebut sebagai sumber energi/daya hidup. Makan perlu
teratur, bergizi tinggi dan dimakan sendiri (tidak diwakilkan).
c. Alkitab dapat membuat orang Kristen menjadi Dewasa Rohani (Ef. 4:13-14).
d. Alkitab sebagai Senjata Rohani orang Kristen (Mat. 4:1-11, Ef. 6:12,17).
e. Alkitab yaitu Dasar segala Pengajaran & Khotbah dalam Gereja (Kis. 17:11).
KESALAHAN PENAFSIRAN ALKITAB
a. Tidak percaya kepada kebenaran Alkitab, seperti mukjizat dan sebagainya.
b. Melalaikan bahasa asli Alkitab.
c. Melalaikan konteks dari bagian yang akan ditafsir.
d. Kurang memperhatikan latar belakang.
e. Kurang memperhatikan bentuk dari bagian yang akan ditafsir: sejarah, nubuat,
puisi, perumpamaan, surat-surat dan sebagainya.
f. Menafsirkan secara harafiah yang kaku. Contoh: Markus 9:43: menyesatkan –
penggal.
g. Fantasi / imajinasi yang tidak terkontrol (spekulasi). Contoh Lukas 19:1-10: naik
pohon itu sombong?
TUJUAN FIRMAN ALLAH
2 Timotius 3:14-17:
Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Alkitab dapat memberi hikmat kepada siapa saja.
2. Alkitab dibutuhkan manusia supaya mereka tahu akan jalan keselamatan.
3. Alkitab dibutuhkan orang-orang Kristen untuk pertumbuhan rohani
4. Alkitab dibutuhkan hamba-hamba Tuhan untuk kehidupan dan pelayanannya. Dan
melalui 2 Timotius 4:1-2 dijelaskan:
a. Hamba-hamba Tuhan harus memberitakan firman Allah kepada orang-
orang yang belum Kristen, supaya mereka akan tahu jalan keselamatan.
b. Hamba-hamba Tuhan harus memberitakan firman Allah kepada orang-
orang Kristen, supaya mereka dapat bertumbuh dalam Kristus.
c. TAPI, sebelum kita dapat menuruti firman Allah atau menyampaikannya
kepada orang-orang lain kita harus mengerti dengan benar isinya.
d. Untuk mengerti isi Alkitab dengan benar kita harus menguasai cara untuk
mempelajari Alkitab.
ISI ALKITAB
Alkitab yaitu kumpulan dari 66 buku (kitab) yang ditulis dalam jangka waktu lebih
dari 1500 tahun oleh lebih dari 40 penulis yang berbeda-beda karakter dan latar
belakangnya.
Penulis-penulisnya terdiri dari raja-raja, anak raja, gembala, penjala ikan dan orang-
orang yang berpengetahuan / kaum intelektual. Ada penulis-penulis yang berpendidikan
dan ada juga yang tidak berpendidikan dari berbagai lapisan masyarakat. Namun mereka
telah menuliskan satu inti berita yang sama, yaitu berita keselamatan.
Kitab dalam Alkitab terdiri dari 2 bagian: 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab
Perjanjian Baru. Kata „Perjanjian‟ berarti „Persetujuan‟ atau „Janji‟.
Inti berita Perjanjian Lama ialah hukum dan janji Allah mengenai Juruselamat yang
akan datang.
Inti berita Perjanjian Baru ialah Injil dan penggenapan janji-janji dalam Perjanjian
Lama mengenai Kristus. Perjanjian Lama merupakan sejarah umat Allah, bangsa Yahudi.
Melalui bangsa inilah Juruselamat itu telah dinobatkan untuk datang ke dalam dunia.
Perjanjian Baru menguraikan riwayat kehidupan Yesus dan penyebaran iman Kristen.
Garis besar singkat mengenai kitab-kitab dalam Alkitab ini, akan menolong kita
mengerti dengan lebih baik bagian-bagian yang lebih kecil yang ingin kita pelajari. Kitab-
kitab dalam Alkitab dikelompokkkan menurut isinya.
PERJANJIAN LAMA
1. Kitab-Kitab Taurat
Kejadian
Penciptaan dunia, asal mula dosa, air bah, riwayat (sejarah) Abraham,
Ishak, Yakub (Israel) dengan kedua belas anaknya dan bagaimana mereka
hidup di Mesir.
Keluaran
Bagaimana Musa memimpin keturunan Israel keluar dari Mesir menuju
Kanaan, pemberian hukum Taurat dan pembangunan Kemah Suci.
Imamat
Peraturan-Peraturan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel sesuai
dengan kehidupan dan ibadah mereka.
Bilangan
Pengembaraan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun, sebab
mereka tidak taat dan memberontak.
Ulangan
Pengulangan hukum taurat.
2. Kitab-Kitab Sejarah
Yosua
Masuknya bangsa Israel ke negeri Kanaan dan menduduki negeri itu.
Hakim-Hakim
Kekalahan bangsa Israel dan pembebasan di bawah hakim-hakim.
Rut
Riwayat Naomi dan Rut.
I & II Samuel
Riwayat pemerintahan Daud
I Raja-Raja
Riwayat Salomo dan pembagian kerajaan antara Rehabeam dan Yerobeam,
serta pelayanan Nabi Elia.
II Raja-Raja
Lanjutan tentang riwayat bangsa Israel dan bangsa Yehuda, pelayanan Nabi
Elia dan pembuangan ke Babel.
I & II Tawarikh
Pengulangan tentang riwayat bangsa Yehuda dan Israel.
Ezra
Kembalinya sisa-sisa bangsa Yahudi dari Babel ke Yerusalem, pelayanan
Ezra dan pembangunan kembali Bait Suci.
Nehemia
Kembalinya Nehemia ke Yerusalem sesudah pembuangan dan pembangunan
kembali tembok kota.
Ester
Perlindungan Allah atas umat Nya melalui pelayanan Ester.
3. Kitab-Kitab Syair
Ayub
Riwayat Ayub, penderitaan dan kemenangannya.
Mazmur
Nyanyian pujian dan ibadah.
Amsal
Hikmat Allah yang diberikan kepada Salomo.
Pengkhotbah
Hikmat manusia yang diungkapkan oleh Salomo.
Kidung Agung
Nyanyian kasih, suatu contoh tentang kasih Allah kepada jemaat-Nya, yaitu
mempelai Kristus.
4. Nabi-Nabi Besar
Yesaya
Nubuat-nubuat tentang Yerusalem, Israel, Yehuda, dan bangsa-bangsa di
bumi. Kitab ini juga berisi nubuat-nubuat tentang Mesias, berkenaan dengan
kelahiran Kristus, keilahian-Nya, pelayanan-Nya, kematian-Nya dan
pemerintahan-Nya yang akan datang dalam kerajaan seribu tahun.
Yeremia
Nubuat-Nubuat yang memperingatkan tentang pembuangan dan hukuman
yang akan datang.
Ratapan
Ratapan Yeremia atas Yerusalem.
Yehezkiel
Nubuatnubuat selama masa pembuangan dengan hukuman dan kemuliaan
Allah.
Daniel
Nubuat-nubuat mengenai kebangkitan dan kejatuhan kerajaan-kerajaan di
dunia.
5. Nabi-Nabi Kecil
Nubuat-nubuat Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum,
Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi, juga nubuat-nubuat
mengenai Yehuda dan Israel.
PERJANJIAN BARU
1. Injil
Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Riwayat kehidupan Yesus Kristus
(Kelahiran, pelayanan sampai kematian).
2. Sejarah
Kisah Para Rasul. Asal mula dan penyebaran jemaat.
3. Surat
Roma, I & II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I & II
Tesalonika, I & II Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, I & II
Petrus, I, II & III Yohanes dan Yudas. Surat-surat untuk memperbaiki
kesalahan di dalam jemaat dan untuk mengajar serta mendorong orang-
orang percaya di dalam iman.
4. Nubuat
Wahyu. Nubuat-nubuat mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali serta
peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah kedatangan-Nya yang
kedua kali.
Sebelum kita memikirkan metode untuk mempelajari Alkitab (ini berhubungan
dengan akal atau ketrampilan kita) kita harus lebih dahulu memikirkan keadaan hati kita
(ini berhubungan dengan kerohanian kita).
Sikap-sikap yang dibutuhkan untuk mempelajari Alkitab secara yang benar (Amsal
2:1-6):
1. Sikap yang mau belajar dan terbuka untuk diajar (ayat 1-2).
2. Sikap yang bergantung pada Allah untuk mengerti firman-Nya (ayat 3).
a. Untuk mengerti firman Allah dengan benar kita harus dilahirkan
kembali (1 Kor. 2:14-15).
b. Untuk mengerti firman Allah dengan benar kita harus diajar oleh Roh
Kudus (Yoh. 16:13-15).
3. Sikap yang rajin dan bertekun (ayat 4).
a. Pelayanan Roh Kudus sebagai guru kita tidak berarti bahwa kita harus
berusaha untuk mengerti Alkitab.
b. Pengertian yang tepat akan isi Alkitab tidak terjadi secara otomatis
tanpa usaha kita (2 Tim. 2:15).
4. Sikap yang positif atau optimistis (ayat 5-6).
METODE
Definisi Metode: mengerjakan langkah-langkah tertentu dalam urutan yang tertentu
untuk menjamin hasil yang tertentu.
sesudah memperhatikan metode untuk keperluan secara umum di atas, maka untuk
Penerapan dalam Penyelidikan Alkitab yaitu Sama!!!
Nilai dari pemakaian metode untuk mempelajari Alkitab:
1. Metode yang baik akan menolong kita untuk menghindari kita dari 3 hal:
a. Menghindari kita membuang waktu.
b. Menghindari ketidak saksamaan / ketidaktelitian.
c. Menghidari kedangkalan dalam pengertian dan pelayanan
2. Metode yang baik akan memungkinkan 3 hal bagi kita:
a. Memungkinkan kita berpikir untuk diri sendiri.
b. Memungkinkan kita mengalami sukacita dalam penemuan.
c. Memungkinkan kita makin jatuh cinta dengan pengarang Alkitab yaitu Allah
sendiri.
Ada 2 cara mempelajari Alkitab:
1. Cara Deduktif
Penafsiran Alkitab yang sudah mempunyai kesimpulan tertentu, sebelum
kita mempelajari Alkitab. sebab itu, penyelidikan Alkitab cara ini memiliki tujuan
untuk mencari ayat-ayat yang mendukung kesimpulannya tersebut.
Contoh: a. Pada dunia medis
b. Pada Alkitab
2. Cara Induktif
Penafsiran yang terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab. Kemudian
baru menarik kesimpulan yang berdasarkan data dan fakta Alkitab yang telah
ditemukan.
Contoh: a. Pada Alkitab
b. Pada dunia medis
Kesimpulan
Pendekatan yang memakai metode induktif merupakan cara mempelajari Alkitab
yang paling dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sebab metode ini merupakan
kesimpulan dari apa yang dinyatakan Allah sendiri di dalam Alkitab.
LANGKAH-LANGKAH DALAM METODE INDUKTIF
1. Observasi (Pengamatan)
Langkah pengamatan ialah suatu usaha mencari data atau fakta
Alkitab untuk dipakai sebagai bahan bukti penafsiran.
Pertanyaan: “Apakah yang saya lihat di sini?”
2. Interpretasi (Penafsiran)
Langkah penafsiran ialah suatu usaha mencoba mengupas arti yang
dimaksudkan oleh pengarang melalui kalimat-kalimat yang ditulisnya.
Pertanyaan: “Apakah yang dimaksudkan oleh pengarang?”
3. Aplikasi (Penerapan)
Langkah penerapan ialah suatu usaha menaati apa yang telah kita
amati dan tafsirkan.
Pertanyaan: “Apakah yang harus saya lakukan berdasarkan arti dari
bagian Alkitab ini?”
Ketiga langkah di atas, harus dilakukan dalam urutan tersebut, sebab satu langkah
merupakan dasar untuk langkah yang berikutnya dan semua langkah ini harus dikerjakan
dengan baik, kalau kita ingin mencapai sasaran yang mantap, yaitu pengertian yang benar
akan isi Alkitab.
LANGKAH-LANGKAH PENGAMATAN
1. Mengamati dan bertanya: “Apa yang saya lihat di sini?”
Seorang pembelajar Alkitab perlu memahami bahwa kecakapan pertama yang
harus kita kuasai ialah melatih otak kita untuk mengerti dengan teliti apa yang
tertulis dalam sebuah nats Alkitab (Mrk. 8:18).
Pentingnya langkah ini:
Kalau pengamatan kita tidak lengkap atau tidak tepat ada kemungkinan besar
bahwa penafsiran dan penerapan kita tidak akan lengkap dan tidak tepat pula.
Proses / langkah-langkah untuk mengamati satu ayat atau satu paragraf:
Langkah pertama dalam proses pengamatan: Berdoa. Doa merupakan pengakuan
akan keterbatasan diri sendiri dan permintaan kepada Allah untuk menolong keterbatasan
itu.
Teladan pemazmur: Mazmur 119:18; 30-34.
Penyediaan penolong: Yohanes 16:12-15.
2. Bacalah nats yang akan diselidiki berkali-kali.
Ini tahap permulaan yang merupakan pengenalan akan isi nats.
a. Bacalah konteks dulu.
1. Arti konteks:
Bagian-bagian sebelum dan sesudah bagian yang mau dipelajari.
2. Kepentingan konteks:
Untuk memulai mengenal seseorang, maka perlu tahu akan latar
belakangnya. Sama dalam hal mengenal isi Alkitab. Konteks
merupakan latar belakang bagian Alkitab yang ingin diamati.
3. Tahap-tahap dalam bacaan konteks.
Kalau mau mengamati ayat baca paragrafnya.
Kalau mau mengamati paragraf baca pasalnya.
b. Bacalah nats yang akan diselidiki beberapa kali.
3. Amatilah fakta-fakta / data-data dalam nats.
a. Sebenarnya semua yang ditemukan dalam satu nats Alkitab perlu diamati.
namun yaitu sukar bagi seseorang untuk mengamati sesuatu kalau tidak
mengetahui apa yang harus diperhatikan.
b. Oleh sebab itu berikut ini yaitu daftar hal-hal yang perlu diperhatikan
setiap kali kita mempelajari Alkitab
1. Pribadi-pribadi / oknum-oknum.
Contoh: - Nama-nama / pribadi.
Allah, Tuhan Yesus, Roh Kudus, Malaikat, iblis.
- Kata ganti orang seperti Dia, Ia, mereka, kamu, aku, kita.
- Dan sebagainya.
2. Pernyataan-pernyataan.
Contoh: - Semua orang sudah berbuat dosa dan kehilangan
kemuliaan Allah.
- Akulah jalan kebenaran dan hidup.
- Dan sebagainya.
3. Pertanyaan-pertanyaan.
Contoh: - Menurut kamu siapakah Aku?
- Siapakah yang harus aku utus
- Dan sebagainya.
4. Perintah-perintah.
Contoh: - Kasihilah Tuhan Allah-Mu dengan segenap kekuatanmu!
- Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang
kudus kepada Allah.
- Dan sebagainya.
5. Keadaan atau Situasi.
Contoh: - Semua yang mendengar firman Allah itu menjadi takut.
- Maka terjadilah kegemparan di tengah-tengah umat itu.
- Dan sebagainya.
6. Tempat.
Contoh: - Lalu Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun.
- Penatua-penatua diundang untuk datang ke Efesus.
- Dan sebagainya.
7. Waktu atau masa.
Contoh: - Ketika Yesus keluar dari bait Allah.
- Ketika tiba hari Pentakosta.
- Dan sebagainya.
8. Cara-cara.
Contoh: - Percayalah kepada-Ku maka engkau akan selamat.
- Jika engkau mengakui segala dosamu, maka Ia akan
mengampunimu.
- Dan sebagainya.
9. Alasan-alasan.
Contoh: - Sebab dosamu sudah diampuni, maka jangan berbuat
dosa lagi.
- Sebab Yesus sudah bangkit, maka engkau juga sudah
dibangkitkan.
- Dan sebagainya.
Cara untuk mengamati fakta-fakta dalam nats:
a. Pakailah kertas dan tuliskan / catatlah apa yang diamati.
1. Catatan ini mendorong kita untuk berpikir.
2. Kalau dicatat maka pengamatan kita tidak akan hilang sehingga dapat
dipakai lagi.
b. Amatilah nats melalui pemakaian pertanyaan-pertanyaan.
1. Pakailah pertanyaan-pertanyaan sebagai alat-alat untuk mendorong dan /
mempertajam pikiran kita.
2. Pertanyaan-pertanyaan dapat dibandingkan dengan layaknya sinar-X.
3. Kita perlu melatih pikiran kita supaya kita mulai mengamati sama seperti
seorang wartawan yang selalu mempergunakan 6 pertanyaan utama.
4. Ada 6 pertanyaan utama untuk mengamati Alkitab, yaitu:
a. Siapakah?
Misalnya:
Siapakah yang terlibat dalam nats ini?
Siapakah yang berkata dalam nats ini?
Siapakah yang mendengar dalam nats ini?
Siapakah pokok pernyataan ini?
Dan sebagainya.
b. Apakah?
Misalnya:
Apakah pokok pembahasan?
Apakah yang dikatakan tentang pokok itu?
Apakah yang terjadi?
Dan sebagainya.
c. Kapan?
Misalnya:
Kapan ini terjadi?
Kapan hal ini akan terjadi?
Dan sebagainya.
d. Di manakah?
Misalnya:
Di manakah ini terjadi?
Apakah ada gerakan geografis dalam nats ini?
Dan sebagainya.
e. Mengapakah?
Misalnya:
Mengapakah hal ini terjadi atau akan terjadi?
Mengapa orang ini berkata demikian?
Mengapa ini terjadi pada saat ini?
Dan sebagainya.
f. Bagaimanakah?
Misalnya:
Bagaimana caranya ini terjadi?
Bagaimana caranya ini dapat terjadi?
Dan sebagainya.
5. Mungkin semua pertanyaan ini tidak akan dijawab dari satu nats, namun
kita selalu perlu memulai dengan pertanyaan-pertanyaan ini.
Untuk mendorong supaya sungguh berpikir dan menjaga agar
pengamatan kita lengkap, maka:
Dalam paragraf, maka satu pertanyaan dapat dipakai untuk
semua ayat sekaligus atau semua pertanyaan dapat dipakai ayat
demi ayat.
Ada banyak variasi dalam pemakaian 6 pertanyaan ini, sebab
itu perlu proses berpikir yang dinamis. Silakan kreatif !
Contoh dari Yohanes 5:24:
1. Siapakah? - Siapakah yang terlibat?
- Aku – Tuhan Yesus (konteks ayat 19).
- mu – orang-orang Yahudi (konteks ayat 18).
- Barangsiapa.
- Dia yang mengutus – Allah (konteks ayat 23).
2. Apakah? - Apakah yang terjadi?
- Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi
yang dikatakannya?
- Barangsiapa 1. Mendengar perkataan-Nya.
2. Percaya kepada Allah.
- Orang itu 1. Mempunyai hidup yang kekal.
2. Tidak turut dihukum.
3. Sudah pindah dari maut ke hidup.
3. Kapan? - Kapan ini terjadi?
- sesudah Yesus menyembuhkan orang pada hari
Sabat (Yohanes 5:1-8).
- Pada saat orang Yahudi berusaha untuk membunuh
Yesus (Yohanes 5:10-18).
- Sudah pindah – telah terjadi kalau telah percaya.
4. Di mana? - Di manakah peristiwa ini terjadi?
- Di Yerusalem di Bait Allah.
5. Mengapakah? 1. Mengapakah: 1. Punya hidup kekal?
2. Tidak turut dihukum?
sebab >>> sudah pindah.
2. Mengapa sudah pindah?
sebab >>> mendengar + percaya
6. Bagaimana caranya?
1. Mendengar perkataan-Nya
Sebab dan
2. Percaya kepada Allah
1. Mempunyai hidup yang kekal
Akibat dan
2. Tidak turut dihukum
4. Amatilah struktur / susunan antara fakta-fakta yang sudah diamati.
Definisi struktur yaitu hubungan dan hubungan timbal balik antara bagian-bagian
yang membentuk kesatuan.
1. Contoh dari hidup sehari-hari.
a. Mobil
b. Gedung
2. Sama dengan kesusasteraan.
a. Apa saja yang bermaksud atau bertujuan mempunyai struktur?
b. Setiap kali ada 2 dari apa saja maka struktur (yaitu: 2 kata, 2 frase, 2
ayat, 2 kalimat, 2 paragraf, 2 pasal, dan seterusnya).
Kepentingan Struktur:
1. Pada waktu sang pengarang menulis kitabnya, ia mempunyai tujuan yang tertentu
untuk kitab itu.
2. Ia memakai struktur untuk mencapai tujuan itu.
3. Allah memakai struktur itu untuk menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia.
4. Setiap kitab, pasal, paragraf dan ayat mempunyai struktur tertentu.
5. Tugas kita yaitu untuk menemukan struktur itu.
Ada 2 macam struktur yang harus diamati:
Struktur meliputi: - tata bahasa
- kesusasteraan
1. Amatilah struktur yang berhubungan dengan Tata Bahasa.
Biasanya dipakai untuk mengamati struktur dalam ayat atau paragraf.
a. Seorang pengarang menyatakan pikirannya / gagasannya melalui tata
bahasanya.
b. sebab itu maka tata bahasa yaitu penting untuk pengamatan dan
penafsiran Alkitab.
c. Yang dicari yaitu hubungan antara kata-kata, yaitu apakah hubungan
antara kata ini dan kata itu?
d. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai untuk mengamati struktur
secara tata bahasa:
Apakah pokok?
Apakah predikat?
Apakah kata kerja?
Apakah kata sifat?
Dan lainnya.
2. Amatilah struktur yang berhubungan dengan Kesusasteraan.
Biasanya dipakai dalam paragraf atau antara paragraf-paragraf.
a. Amatilah kata-kata penghubung (misalnya: sebab, sebab , supaya,
jikalau, maka dan lainnya).
1. Kata-kata penghubung ini penting sebab merupakan alat-alat
yang dipakai penulis untuk menyusun bahannya.
Contoh: Engsel pintu.
2. Jadi kata-kata penghubung ini merupakan tanda-tanda struktur.
b. Pemakaian hukum-hukum struktur untuk mengamati struktur (lihat
daftar hukum-hukum struktur).
5. Amatilah bentuk kesusasteraannya.
a. Kita perlu bertanya apakah bentuk kesusasteraan yang ada dalam bagian ini?
Misalkan: pidato, surat, cerita, sajak, perumpamaan, nubuatan dan lainnya.
b. Dapat lebih dari satu bentuk kesusasteraan yang dipakai dalam satu paragraf.
c. Pengamatan ini penting untuk langkah penafsiran.
HUKUM-HUKUM STRUKTUR
1. PERBANDINGAN: ada hal-hal yang dibandingkan (kata-kata kunci = sama seperti,
demikian, sama dengan dan lainnya).
Contoh: Yohanes 3:8, 14.
Matius 7:24-27.
2. KONTRAS: ada hal-hal yang dibedakan, yaitu hubungan yang saling berlawanan
(kata-kata kunci = namun , melainkan, dan lainnya).
Contoh: Matius 7:24-27.
Efesus 2:8-9.
Roma 6:23.
Galatia 5:16-26.
Yohanes 7:30-31.
Wahyu 3:17.
3. SEBAB - AKIBAT: satu hal yang menyebabkan hal lain (kata-kata kunci = sebab ,
sebab, jikalau, maka dan lainnya).
Contoh: Matius 7:24-27.
Roma 1:18-32.
Roma 5:1.
4. PENGULANGAN: ada kata-kata atau frase-frase yang diulangi (kadang-kadang persis
sama - kadang-kadang mirip).
Contoh: Ibrani 11.
1 Korintus 13.
Matius 5:21-48.
Efesus 1:3-14.
Lukas 15.
Wahyu 2-3.
5. PENINGKATAN PIKIRAN: ada fakta-fakta / ide-ide yang menunjukan adanya
perkembangan pikiran di dalam suatu paragraf, pasal atau kitab.
Contoh: Yakobus 1:14-15.
Roma 1:18-32.
Roma 5:3-5.
6. PUNCAK atau KLIMAKS: penyusunan bahan sehingga ada fakta atau ide yang
menjadi puncak dari semua fakta atau ide yang ada dalam satu paragraf, pasal atau
kitab.
Contoh: Roma 1-3.
2 Petrus 1:3-9.
7. TITIK PERUBAHAN ARAH: bahan tersusun sehingga berputar pada satu faktor.
Contoh: 2 Samuel 11-12.
Yohanes 6:66.
Roma 12:1.
8. PERTUKARAN: ada unsur-unsur yang diganti. Sering dipakai untuk menguatkan
kontras atau perbandingan.
Contoh: Roma 5:12-21.
Galatia 5:16-26.
Efesus 4:25-32.
9. KELANJUTAN: satu pokok dimulai, kemudian ada pemisah, nanti pokok
dilanjutkan.
Contoh: Kejadian 13-14, 18-19.
Markus 4:1-98, 13-20.
10. UMUM KE TERTENTU: ada pernyataan umum yang diusul dengan contoh-
contoh tertentu.
Contoh: Matius 6:1-18.
Efesus 4:17-31.
Galatia 5:16-26.
11. TERTENTU KE UMUM: ada contoh-contoh tertentu yang disusul dengan
pernyataan umum.
Contoh: Yakobus 2:1-6
12. PERSIAPAN / PENDAHULUAN: ada pemasukan latar belakang untuk peristiwa-
peristiwa atau gagasan-gagasan.
Contoh: Kejadian 2:4-25; 3.
Lukas 3:1-3, 4-7.
Daniel 1:1.
Wahyu 1.
13. PENYINGKATAN / RINGKASAN: dapat ditulis sebelum atau sesudah satuan /
seksi dalam kitab.
Contoh: Yosua 12.
Hakim-hakim 1-2.
14. TANYA JAWAB: ada pertanyaan atau persoalan yang disusul dengan jawaban.
Contoh: Markus 12:13-37.
Roma 6-7.
Roma 8:31-39.
15. TUJUAN: satu ayat / paragraf menjelaskan tujuan penulis untuk bagian sebelum
atau sesudahnya.
Contoh: Efesus 1:4, 5, 6.
Efesus 1:17, 18.
16. BUKTI: satu bagian membuktikan pernyataan dari bagian sebelum atau sesudahnya
Contoh: Yohanes 8:13-59... 9:1-41.
Matius 9:2 ... 9:5-6.
17. KESEJAJARAN: satu frase atau kalimat sejajar dengan frase atau kalimat yang
berikut. Urutan kata yang penting
Contoh: Lukas 6:43, 44, 45.
Saran-saran tentang pemakaian hukum struktur:
1. Di dalam satu nats ada kemungkinan besar bahwa semua hukum struktur tidak dapat
diamati.
2. Namun demikian ada baiknya kalau semua hukum struktur dicari untuk mendorong
kita untuk sungguh-sungguh mengamati bagian ini dan untuk menjaga agar tidak ada
struktur yang tidak diamati.
CONTOH PENGAMATAN FAKTA-FAKTA
Mazmur 1:1-6 & Lukas 4:1-13 sebagai satu cara untuk menyusun hasil dari
pengamatan fakta-fakta dan struktur.
Contoh I:
Mazmur 1:1-6 dengan memakai 6 Pertanyaan Utama:
1. Siapakah?
- Siapakah yang terlibat (pokok)?
Orang yang berbahagia atau orang yang benar (ayat 1, 2, 3, 5, 6).
Orang fasik (ayat 1, 4, 5, 6).
Orang berdosa (ayat 1, 5).
Tuhan (ayat 2, 6).
2. Apakah?
- Apakah yang dikatakan tentang orang yang berbahagia (orang benar)?
Dia tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayat 1).
Dia tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayat 1).
Dia tidak duduk dalam kumpulan orang pencemooh (ayat 1).
Dia memakai Taurat Tuhan (ayat 2).
Dia merenugkan Taurat Tuhan siang dan malam (ayat 2).
Dia seperti pohon yang: (1) ditanam ditepi aliran air; (2) yang menghasilkan
buahnya pada musimnya; (3) yang tidak layu daunnya (ayat 3).
Apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 3).
Tuhan mengenal jalan orang benar (ayat 6).
- Apakah yang dikatakan tentang orang yang fasik?
Dia seperti sekam yang ditiup angin (ayat 4).
Dia tidak akan tahan dalam penghakiman (ayat 5).
Jalannya menuju kebinasaan (ayat 6).
- Apakah yang dikatakan tentang orang berdosa?
Dia tidak akan tahan dalam perkumpulan orang benar (ayat 5).
3. Kapan?
- Kapan orang yang berbahagia merenungkan Taurat Tuhan?
Siang (ayat 2).
Malam (ayat 2).
- Kapan pohon menghasikan buahnya?
Pada musimnya (ayat 3).
4. Di manakah?
- Di manakah pohon yang berbuah ditanam ?
Di tepi aliran air (ayat 3).
5. Mengapakah?
- Mengapakah orang benar berbahagia?
sebab tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayat 1).
sebab tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayat 1).
sebab tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (ayat 1).
sebab menyukai Taurat Tuhan (ayat 2)
sebab merenungkan Taurat siang dan malam (ayat 2).
sebab ditanam di tepi aliran air (ayat 3).
sebab menghasilkan buah pada musimnya (ayat 3).
sebab tidak layu daunnya (ayat 3).
sebab apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 3).
sebab berkumpul dengan orang benar (ayat 5).
sebab Tuhan mengenal jalan orang benar (ayat 6).
- Mengapakah orang fasik binasa ?
sebab seperti sekam ditiupkan angin (ayat 4).
sebab tidak tahan dalam penghakiman (ayat 5).
sebab berdosa maka tidak bisa kumpul orang benar (ayat 5).
sebab jalan orang fasik menuju kebinasaan (ayat 6).
6. Bagaimanakah?
- Bagaimanakah cara hidup orang benar?
Caranya tidak berjalan menurut nasihat orang fasik (ayat 1).
Caranya tidak berdiri di jalan orang berdosa (ayat 1).
Caranya tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (ayat 1).
Caranya menyukai Taurat Tuhan (ayat 2).
Caranya merenungkan Taurat siang dan malam (ayat 2).
Contoh II:
Lukas 4:1-13 dengan memakai 6 Pertanyaan Utama:
1. Siapakah?
- Siapakah yang terlibat?
Yesus (ayat 1-13).
Roh Kudus (ayat 1).
Iblis (ayat 2-13).
Semua kerajaan dunia (ayat 6-7).
Tuhan Allah (ayat 8,12).
Malaikat-malaikat (ayat 10).
2. Apakah?
- Apakah yang terjadi?
Yesus penuh dengan Roh Kudus (ayat 1).
Yesus kembali dari sungai Yordan (ayat 1).
Yesus dibawa oleh Roh kudus ke padang gurun (ayat 1).
Yesus tinggal 40 hari di padang gurun (ayat 2).
Yesus dicobai Iblis (ayat 2-12).
____________________ 21
3. Kapan?
- Kapan Yesus dicobai?
Sesudah kembali dari sungai Yordan (tempat pembaptisan dan pengakuan)
(3:21).
Sesudah empat puluh hari tidak makan apa-apa (ayat 2).
Sesudah Dia menjadi lapar (ayat 2).
4. Di manakah?
- Di manakah Yesus dicobai?
Di padang gurun (ayat 3).
Di suatu tempat yang tinggi (ayat 5).
Di Yerusalem – Bubungan bait Allah (ayat 9).
5. Mengapakah?
- Mengapakah Yesus dicobai?
sebab dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (ayat 1).
6. Bagaimanakah?
- Bagaimanakah cara iblis mencobai Yesus?
Ada 3 pencobaan tercatat:
Iblis mencobai Yesus untuk menjadikan roti dari batu (ayat 3).
Iblis mencobai Yesus supaya menyembah dia untuk mendapatkan semua
kerajaan dunia (ayat 5-7).
Iblis mencobai Yesus supaya menjatuhkan dirinya dari bubungan bait Allah
untuk membuktikan bahwa Yesus yaitu Anak Allah (ayat 9-10).
- Bagaimanakah caranya Yesus menjawab iblis?
Ada 3 jawaban tercatat:
Kata-Nya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” – ini kutipan dari
Ulangan 8:3 (ayat 4).
Kata-Nya, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya
kepada Dia sajalah engkau berbakti.”– ini kutipan dari Ulangan 6:13 (ayat 8).
Kata-Nya, “Ada Firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” – ini
kutipan dari Ulangan 6:16 (ayat 12).
____________________ 22
PENAFSIRAN
1. Tugas Penafsiran
a. Langkah-langkah dalam metode induktif.
1. Pengamatan - Apa yang saya lihat di sini?
2. Penafsiran - Apakah maksud si pengarang untuk tulisannya?
b. Usaha kita dalam langkah penafsiran ialah mencoba mengupas arti yang
dimaksudkan oleh pengarang melalui kalimat-kalimat yang dituliskannya.
1. Tujuan utama dalam penafsiran ialah menemui pengertian si penulis.
2. Jadi kalau kita membuat penafsiran, kita harus selalu bertanya: “Apakah arti
nats ini bagi si pengarang?” Dan bukan, “Apakah arti yang saya tangkap?”
3. Lihatlah 2 Petrus 1:20-21.
2. Kepentingan Penafsiran
a. Dalam pelayanan penginjilan (Galatia 1:6-10).
b. Dalam pelayanan pembinaan (Yakobus 3:1).
3. Orang-orang Injili menafsirkan Alkitab berdasarkan beberapa keyakinan.
a. Keyakinan pertama: Alkitab yaitu Firman Allah tanpa salah dalam bahasa
aslinya.
b. Keyakinan kedua: arti Alkitab dapat dimengerti dalam terjemahan-terjemahan.
c. Keyakinan ketiga: Alkitab merupakan satu kesatuan.
1. Tidak ada pertentangan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Perjanjian Lama yaitu persiapan untuk Perjanjian Baru (Lukas 24:44-47).
Perjanjian Baru yaitu kegenapan dari Perjanjian Lama (Matius 5:17-19).
2. namun antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ada peningkatan dalam
penyataan (Yohanes 1:17).
d. Keyakinan keempat: Alkitab yaitu penafsir yang terbaik untuk Alkitab sendiri.
e. Keyakinan kelima: pada umumnya bahasa yang dipakai dalam Alkitab yaitu
bahasa biasa, sehingga dapat dimengerti dengan makna yang biasa.
f. Keyakinan keenam: kalau kita ingin mengerti arti Alkitab, maka kita harus
belajar dengan hati yang terbuka (Yohanes 7:17).
g. Keyakinan ketujuh: ajaran dari Roh Kudus mutlak untuk perlu mengerti Alkitab
(Yohanes 16:13; 1 Korintus 2:6-16).
4. Alat-alat yang dipakai untuk penafsiran
a. Alkitab sendiri – ini yang pertama daripada buku-buku tentang Alkitab.
b. Terjemahan-terjemahan lain dalam bahasa Indonesia, Inggris, Yunani, Ibrani dan
lainnya.
c. Kamus umum dalam bahasa Indonesia.
d. Konkordansi.
e. Kamus Alkitab.
f. Buku-buku tafsiran.
LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PENAFSIRAN
1. Berdoa.
2. Tentukanlah hal-hal yang perlu ditafsirkan dan urutannya.
____________________ 23
a. Berdasarkan pengamatan, bertanyalah tentang hal-hal yang kurang jelas
artinya.
b. Kita harus belajar cara untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut,
berdasarkan fakta-fakta Alkitab yang telah kita temui dalam langkah pengamatan.
c. Misalnya,
1. Apakah arti kata itu, kalimat itu dan lainnya?
2. Apakah maksud penulis untuk kata ini, kalimat ini, contoh ini dan lainnya?
3. Mengapa dia berkata demikian?
4. Dan lainnya.
d. Pilihlah hal-hal yang paling penting untuk di jawab dan ditafsirkan.
Dari semua hal-hal ini yang kurang jelas dan yang perlu ditafsirkan,
Bertanyalah: “Apakah yang paling penting untuk mengerti arti nats ini dan
maksud si pengarang?
3. Tafsirkanlah hal-hal / pertanyaan-pertanyaan yang terpenting dalam urutan
kepentingannya (yaitu hal-hal yang terpenting dulu kemudian hal yang kedua
pentingnya dan seterusnya).
Untuk menafsirkan hal-hal ini, pakailah prinsip-prinsip penafsiran:
a. Ada prinsip-prinsip umum (selalu dipakai dulu).
b. Ada prinsip-prinsip khusus (yaitu bentuk kesusasteraan sajak, kiasan, nubuatan
perumpamaan dan lainnya) yang dipakai kalau perlu sesudah prinsip-prinsip
umum dipakai.
PENAFSIRAN KATA-KATA KIASAN
1. Kata kiasan yaitu kata atau susunan kata yang dipakai untuk menyampaikan
sesuatu dengan arti yang simbolis.
2. Sangat penting untuk mengerti dan membedakan hal-hal ini :
Contoh dari Lukas 22:18-20 - Ada beda penafsiran antara Luther & Zwingli.
3. Jenis-Jenis Gaya Bahasa Kiasan:
a. Simile
Simile yaitu bahasa kiasan yang membandingkan dua obyek dengan
memakai kata-kata „seperti‟, „bagaikan‟.
Biasanya Simile hanya memperbandingkan persamaan dua obyek ini.
b. Metaphor
Metaphor yaitu bahasa kiasan yang memperbandingkan secara
langsung dua obyek dengan tujuan yang jelas. Biasanya dua obyek
tidak mirip, namun obyek yang dibandingkan itu mengambil alih
sebagian sifat, pengertian dari obyek lain. Contoh: Lukas 13:32.
Metaphor yang dipakai untuk melukis Allah disebut:
1. Anthropopathisme
Istilah ini dipakai menunjuk kepada perasaan, kegemaran dan
keinginan manusia yang dipakai untuk melukis keberadaan Allah.
Contoh: Ibrani 10:31.
2. Anthropomorphisme
Istilah ini menunjuk kepada bentuk / organ manusia yang dipakai
untuk melukis keberadaan Allah.
____________________ 24
c. Metonymy
Metonymy yaitu bahasa kiasan yang mencoba menghubungkan satu
hal dengn hal lain, sebab keduanya sering diasosiasikan atau yang satu
dapat menunjuk yang lain.
Contoh: Kejadian 42:38 & Roma 3:30.
d. Synecdoche
Synecdoche yaitu bahasa kiasan yang mengasosiasikan dua obyek,
yang sebenarnya mempunyai hubungan ‟bagian‟ dengan ‟keseluruhan‟,
atau sebaliknya.
Contoh: Kisah Para Rasul 27:37.
e. Personifikasi
Personifikasi yaitu bahasa kiasan yang memberi pelukisan yang
bersifat „mempribadikan‟ atas suatu hal.
Contoh: Mazmur 98:8.
f. Apostrophe
Apostrophe sangat dekat dengan personifikasi. Hanya Apostrophe
dipakai dalam suatu seruan atau hanya sejenisnya, yang ditujukan
kepada suatu obyek dan sekaligus mempribadikannya.
Contoh: Yesaya 54:1.
g. Hyperbole
Hyperbole yaitu bahasa kiasan yang dengan sengaja membesar-
besarkan sesuatu demi penegasan.
Contoh : 119:136a.
h. Irony
Irony yaitu bahasa kiasan yang menyampaikan arti yang sebaliknya,
dengan demikian diharapkan dapat memberikan penegasan.
Contoh: 2 Samuel 6:20.
i. Euphemism
Euphemism yaitu bahasa kiasan yang mencoba menggantikan suatu
kata/atau ungkapan dengan kata/ungkapan yang walaupun tidak begitu
berhubungan langsung, namun yang dianggap lebih halus/sopan.
Contoh: Imamat 18:6.
j. Interrogation
Interrogation yaitu semacam pertanyaan retoris yang tidak perlu
dijawab, namun maksud atau jawabannya sudah jelas.
Contoh: Yeremia 32:27, Mazmur 8:5a, Matius 7:16b.
4. Proses untuk menafsirkan kata-kata kiasan :
a. Amatilah nats dengan teliti.
1. Tanyalah: “Apakah arti yang normal masuk akal atau tidak?”
2. Kalau masuk akal, terima arti normal saja, kecuali terpaksa
menolak oleh sebab konteks atau prinsip-prinsip lain.
b. Kalau dianggap kiasan, pakailah konteks untuk menafsirkan arti yang
bersifat kiasan. Jika memungkinkan cobalah menentukan bagian
Alkitab yang hendak ditafsir itu termasuk bahasa kiasan jenis apa.
c. Janganlah membiarkan imajinasi pribadi penafsir menjadi patokan dalam
menafsir bahasa kiasan. Penafsir Alkitab sangat dianjurkan
menyelidiki kembali latar belakang penulis atau pembicara bahasa
kiasan tersebut.
d. Sebelum seorang penafsir menafsir arti dari suatu bagian yang bersifat
kiasan, ia terlebih dahulu harus mengerti arti harafiah dari bagian
tersebut. Misalnya perkataan Tuhan Yesus Yohahes 10:7, ”... Akulah
pintu ... .” Arti pintu ini harus perlu diselidiki dari segi konteks, latar
belakang waktu itu dan lain-lain. Ini berarti sebelum seorang penafsir
lebih maju dalam melihat bagaimana Tuhan Yesus memakai bahasa
kiasan ini ia harus sudah menguasai „konsep‟ pintu ini dengan baik.
e. Pakailah nats-nats yang sejajar sebagai perbandingan untuk penafsiran.
PENAFSIRAN PERUMPAMAAN
1. Perumpamaan yaitu kisah yang diceritakan dengan maksud untuk
menyampaikan suatu kebenaran yang bersifat moral atau rohani.
2. Biasanya perumpamaan mempunyai 3 unsur:
a. Latar belakang
b. Kisah / cerita
c. Aplikasi
3. Biasanya perumpamaan satu pokok utama.
Petunjuk Untuk Menafsirkan Perumpamaan
1. Pikirkanlah dulu arti yang sebenarnya. Pelajaran rohani harus didasarkan ini.
2. Perhatikanlah latar belakang / konteks perumpamaan kalau latar belakang itu
dinyatakan (yaitu ada pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan dan lain-
lain).
Kalau latar belakang nyata, maka latar belakang itu sangat penting untuk
penafsiran dan harus ada hubungan antara latar belakang dan penafsiran.
3. Carilah penafisran tentang ajaran utama perumpamaan. Ini bisa diperoleh dari
isi perumpamaan atau dari aplikasinya.
Biasanya tidak perlu berusaha menafsirkan setiap detail dari perumpamaan.
Cukup menafsirkan hal-hal utama.
4. Kalau menghadapi persoalan-persoalan untuk mengerti isi dari kisah, maka
pelajarilah latar belakangnya yang berhubungan dengan sejarah dan
kebudayaan.
5. Bandingkanlah penafsiran dengan ajaran lain dalam Alkitab.
6. Hal-hal penting berhubungan dengan penafsiran perumpamaan
Perumpamaan dalam Alkitab yaitu cerita-cerita yang dipakai dengan
maksud untuk menjelaskan suatu ajaran moral atau kebenaran rohani, sebab
cerita ini memiliki beberapa persamaan dengan ajaran atau kebenaran
tersebut. Itu sebabnya perumpamaan sering disebut sebagai cerita berasal dari
dunia namun dengan makna surgawi. l
Beberapa hal tentang perumpamaan :
Sumber dari perumpamaan
Kebanyakan berasal dari kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus telah
menaruh banyak perhatian kepada keadaan, peristiwa, kebiasaan di sekitar
Dia.
Tujuan dari perumpamaan
Pada dasarnya pemakaian perumpamaan yaitu untuk mengajar suatu
kebenaran. Sebab dengan pemakaian perumpamaan para pendengar lebih
mudah mengerti kebenaran rohani.
Struktur dari perumpamaan
Biasanya suatu bagian tentang perumpamaan terdiri dari 3 unsur, yakni
sebab atau latar belakang diberinya perumpamaan, isi perumpamaan dan
pengajaran/penjelasan/penutup.namun tidak semua perumpamaan memiliki
lengkap 3 unsur ini.
Perumpamaan Tuhan Yesus dapat dibagi ke dalam 2 macam corak:
1. Yang dimulai dengan kata benda dalam kasus nominatif. Ini berarti tanpa
suatu formula pembahasan.
Contoh: Markus 4:3, 12:1, Lukas 7:41.
2. Yang dimulai dengan pelbagai formula pendahuluan, seperti „seumpama‟
(Mat. 11:16), „sama seperti‟ (Mat. 25:14), „jika ‟ (Mrk. 13:28), bentuk
pertanyaan (Mat. 24:45), bentuk kondisional (Mat. 18:12) dan bentuk
perintah (Mat. 5:25).
Berdasarkan sedikit pengenalan terhadap perumpamaan dalam PB,
terdapat beberapa prinsip penafsiran yang perlu diperhatikan:
1. Mencoba memperhatikan unsur sebab / latar belakang dan pengajaran /
penjelasan / penutup dari suatu perumpamaan.
2. Mencoba menguasai isi dari perumpamaan tersebut dengan baik.
3. Seorang penafsir harus menguasai terlebih dahulu pengertian harfiah dari
perumpamaan.
4. Biasanya pada suatu perumpamaan hanya terdapat satu tujuan utama,
walaupun tidak selalu demikian.
5. Buatlah satu tafsiran yang natural dan sederhana untuk perumpamaan.
6. Perumpamaan bukan dasar yang baik untuk membangun doktrin.
PENAFSIRAN NUBUATAN
Pada umumnya terdapat tiga sikap utama manusia terhadap firman Allah
berkenaan dengan nubuatan. Satu golongan terdiri dari orang-orang Kristen,
termasuk juga hamba-hamba Tuhan yang mengabaikan aspek Alkitab ini,
dan bersikap masa bodoh saja, disebabkan hal ini memakan banyak waktu
dan usaha maupun disebabkan sebab pengalaman-pengalaman pahit di
masa lampau.
Golongan lain mengambil arah bertentangan dengan golongan di atas dan
menjadikan studi tentang nubuatan sebagai hal yang bisa dijangkau oleh
para sarjana saja.
Golongan yang lain mengambil sikap lebih maju yaitu dengan berusaha
sebaik mungkin mempelajari nubuatan namun juga berusaha menjadikannya
berarti bagi hidup orang-orang beriman dan bukan suatu ilmu yang tinggi
belaka.
Pentingnya mempelajari nubuatan Alkitab.
1. Porsi nubuatan dalam firman Allah termasuk besar sekali. Buku-
buku Nabi-Nabi besar (4 buah) dan Nabi-Nabi Kecil (12 buah)
dalam PL.
Dan Wahyu dalam PB merupakan nubuatan waktu dituliskan.
Ada orang yang menganggap bahwa buku-buku Yunus dan
Kidung Agung termasuk dalam golongan di atas jadi ada
sekurang-kurangnya 17 buah Alkitab yang bersifat nubuatan atau
sama dengan ¼ dari isi Alkitab (25%). Ada pula yang mengatakan
bahwa ada 1189 pasal dalam Alkitab yang bersifat nubuatan.
Sungguh disayangkan bahwa kebanyakan orang kristen hanya
puas dengan mempelajari 75% dari isi Alkitab. Bukankah firman
Allah berkata: ”Segala Tulisan yang diilhamkan Allah, memang
bermanfaat untuk mengajar ... ,” (2 Tim. 3:16).
2. Perintah Ilahi kepada kita termasuk mempelajari nubuatan:
Yohanes 5:3 merupakan pernyataan Yesus yang berhubungan
dengan nats-nats yang menubuatkan diri-Nya.
2 Timotius 3:14-15 melanjutkan penyelidikan firman Allah yang
sebagian di antaranya merupakan nubuatan.
Yosua 1:8 perintah menekuni firman Allah siang malam
termasuk juga nubuatan-nubuatan (bandingkan Yoh. 5:46, Luk.
24:27). Di samping perintah Ilahi ialah agar kita mempelajari
firman Allah, ternyata juga berkat-berkat illahi ada dijanjikan bagi
usaha ini. (Why. 1:3 & 2 Pet. 1:19).
Kita tak dapat mengabaikan nubuatan-nubuatan Alkitab dan
sekaligus mengharap tidak merombak firman Allah dan tidak
kehilangan berkata-kata ilahi yang dijanjikan bagi kita.
3. Pemahaman nubuatan menetapkan iman kita kepada firman Allah.
Ulangan 18:21-22, memberikan kriteria menentukan serang nabi.
Dan jika kita mempelajari nubuatan-nubuatan firman Allah kita
akan turut kagum bersama berjuta-juta manusia menyaksikan
bahwa banyak nubuatan Alkitab itu sudah digenapi, secara akurat.
Hosea misalnya berkata: ”Sebab selama orang Israel akan diam
dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu
berhala dan tiada efod dan terafim. Ternyata sesudah itu Israel
tidak mempunyai raja bertahun-tahun, tiada korban sejak tahun 70
SM, tak ada penyembahan berhala sejak penawanan di Babel.
4. Penyelidikan nubuatan Alkitab menempatkan kebenaran metode
penafsiran „literal‟ (normal). Penggenapan banyak nubuatan
seperti terlihat pada observasi di atas membuktikan akuratnya
metode penafsiran „literal‟. Ternyata arti kata-kata firman Allah
persis sebagaimana dikatakan kata-kata firman Allah tak usah
diputar balikkan untuk mencari arti tersembunyi dibalik kata-kata
itu, tak perlu ditafsirkan secara alegori.
Alkitab buku luar biasa itu ditulis bagi orang-orang biasa dengan
keinginan agar mereka bisa mudah menangkap maknanya.
Bahasanya normal atau literal. Dan jika lukisan digunakan
artinya bisa dimengerti dari konteks dan tentunya tidak
bertentangan dengan maksud normal dari keseluruhan natsnya.
Contoh lain tentang penggenapan secara akurat nubuatan
Alkitab, bisa dilihat dalam Zakharia (di mana dikatakan bahwa
Mesias akan menunggangi keledai putih dipenuhi oleh Yesus
secara literal). Amos 1:10 membuatkan tentang kota Tirus ditelan
api ternyata kota Tirus benar-benar habis. Yesus bangkit pada hari
ketiga sebagaimana dinubuatkan.
sebab banyak sekali nubuatan-nubuatan itu telah dipenuhi
secara tepat, maka patutlah kita percaya bahwa nubuatan-nubuatan
masa depan pasti akan dipenuhi. Hal ini menetapkan hati bahwa
Alkitab harus ditafsirkan secara „literal‟ (normal).
5. Pengertian akan nubuatan membantu kita mengetahui perspektif
ilahi tentang sejarah. Lensa nubuatan Alkitabiah membantu kita
melihat sejarah dan kaitan-kaitan peristiwa di dalamnya secara
tepat.
Fakta sejarah menunjukkan pula bahwa ada suatu tujuan dan
suatu rencana di balik semua kejadian (Theological View). Sebab
pada hakikatnya segala sesuatu telah berlaku sebab diizinkan
Allah (Permissive Will), meskipun tidak semua perkara yang
berlaku, telah berlaku di bawah pimpinan Allah (Directly
Purpose). Setan memang penguasa / penghuni bumi sementara ini.
Namun Allah masih tetap pemiliknya. Nubuatan menunjukkan
mengapa bangsa-bangsa bangkit dan jatuh (Dan. 2:7) dan mengapa
manusia telah tertekan oleh gelombang kemerosotan akhlak (Dan.
4:17).
6. Pemahaman nubuatan Alkitabiah memberikan perspektif ilahi
perihal sejarah dunia zaman ini. Pertanyaan-pertanyaan yang rumit
tentang zaman ini sudah terlebih dahulu dinubuatkan dalam
Alkitab (Mat. 13; Why. 2-3; 2 Pet. 2, 3:7; 1 Tim. 4), bisa
menjawab mengapa arah zaman ini bergerak seperti sekarang ini,
kemurtadan dunia „Kekristenan‟, maupun bangkitnya banyak
guru-guru palsu.
Di 2 Timotius 3, menunjuk bahwa zaman ini akan dipenuhi
dengan perkembangan pendekatan hidup dunia (kafir), kenakalan
kaum muda, profesi keagamaan yang hampa. Bagi orang-orang
beriman studi nubuatan menolong mereka menyusun dasar yang
sehat bagi tujuan dan perjalanan hidupnya.
7. Pemahaman nubuatan memberikan perspektif ilahi tentang
perkara-perkara akhir zaman. Pelajaran aspek ini memiliki
pengelihatan hidup yang seimbang, dan sikap terhadap hidup ini
disesuaikan. Dua sikap yaitu pesimistik dan optimistik melanda
hidup manusia. Ia menjadi pesimis terhadap perkembangan moral
dan spiritual yang semakin merosot (2 Tim. 3:13) dan terhadap
usaha pembangunan organisasi-organisasi gerejawi yang hampa
akan persatuan Roh.
Ia pesimis sebab sadar bahwa sekali waktu anti Kristus akan
datang dan dengan durhakanya. Ia mengarahkan semua
penyembahan keagamaan bagi dirinya sendiri (2 Tes. 2:4).
Manusia sadar betapa ia rindu untuk mengusahakan perdamaian
dunia, bahwa perdamaian sejati tidak akan datang ke dunia ini
sampai Raja Damai sendiri datang dan memerintah. Seorang
beriman akan optimis sebab mengetahui dari nubuatan itu bahwa
mereka akan menikmati akhir yang menyenangkan (Why. 21:4).
Studi hal-hal yang akan datang dalam Alkitab menyebabkan
seorang beriman aktif melakukan penginjilan sedunia sebab ia
sadar akan hukuman yang dahsyat menanti orang yang tanpa
Kristus (Why. 21:4). Ia juga memperhatikan kesuciannya sebab
kesadaran bahwa „Kita masing-masing akan memberikan apa kira-
kira dari hal diri kita sendiri kepada Allah‟ (II Kor. 5:10). Dan
bahwa sistem hidupnya kini akan lenyap (1 Yoh. 2:17).
8. Pemahaman nubuatan merupakan „Finishing Touch‟ kepada setiap
doktrin Alkitab. Semua doktrin Alkitab hanya bisa dimengerti
jika disorot dari segi nubuatan.
Doktrin setan (Demonology) bisa memberi penghargaan sebab
ia akan dihancurkan.
Soteorologi berhubungan erat dengan keadaan orang beriman
kelak yang kan menerima permuliaan, memerintah bersama
Kristus, dan melayani serta berbakti kepada Nya.
Azas hamartologi (dosa) mengungkapkan bahwa kutuk dan
akibatnya yang menimpa binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan
dan lain-lain akan ditiadakan.
Konsep eklesiologi (gereja) memperlihatkan bahwa masa depan
penuh bahagia dan pengharapan waktu ia diangkat sebagai
mempelai perempuan tak bercacat dan bersama Tuhan selama-
lamanya.
Pemahaman Alkitab hanya lengkap jika disertai dengan studi
nubuatan. Dan sungguh menyegarkan dan memuaskan adanya
jika kita mengetahui akhir dari segala sesuatu.
9. Penyelidikan nubuatan mengarahkan kehidupan doa orang kristen.
jika mengetahui arah gerak Allah kita dapat mengikuti jejak
perjalanan-Nya secara segera (Why. 22:22); kedamaian bagi
Yerusalem yang telah hancur tapi di sanalah Kristus akan
memerintah sebagai Raja (Mat. 9:6-13).
Kita tidak akan berdoa agar si anti Kristus diselamatkan (Why.
20:10), sebab nasib akhirnya sudah jelas.
10. Pemahaman nubuatan Alkitab, membantu kita mengerti orang-
orang Yahudi dan tempat mereka dalam sejarah dunia. Mengapa
orang-orang Yahudi yang menjadi monumen nubuatan Allah
disiksa oleh berbagai bangsa, seperti Mesir, Siria, Babel, Persia,
Yunani, Roma dan bahkan berserakan dianiaya oleh Perancis,
Polandia, Italia, Jerman dan bangsa-bangsa di semenanjung
Balkan dan kini bersitegang dengan negara-negara Islam.
Mereka tersebar dan dianiaya, namun mereka tidak punah
dan tidak pula melebur ke dalam bangsa lain hingga
pengembalian ke Palestina akhir-akhir ini.
Beberapa ayat penting di bawah ini memberikan sedikti
gambaran tentang nubuat terhadap nasib mereka:
Ulangan 28:63-68 : Mengapa mereka menderita?
Kejadian 27:29 : Menentukan tuntutan Allah bagi
sikap bangsa.
Yehezkiel 11:17 : Menubuatkan nasib akhir Israel.
2 Korintus 3:14-16 : Menubuatkan kebutaan Israel
terhadap Injil Yesus Kristus.
Roma 11:25-26 : Mengenai pelepasan kebutaan
rohani Israel.
Zakharia 12:10 : Masa pertobatan masal Israel.
Orientasi hidup yang benar hanya bisa dimiliki oleh orang
yang mengetahui orientasi ilahi dalam sejarah manusia. Dan
ini hanya bisa diperoleh dengan jalan memahami nubuatan-
nubuatan Alkitab yang menumbuhkan ketaatan yang
sungguh kepada Allah, memberikan perspektif ilahi tentang
masa lampau, masa kini dan masa depan, memelihara
keseimbangan pengertian firman Allah dan mengetahui
bagaimana sepatutnya seseorang berdoa.
Hukum-hukum utama penafsiran nubuatan ialah:
1. Penafsiran Literal
Alasan mengapa metode ini tidak diterapkan ialah usaha secara
halus mengabaikan teks Alkitab dengan tujuan menyelaraskan
Alkitab dengan praduga penafsir.
Tafsiran literal merupakan hasil pengamatan cara Allah
menyatakan dan mengenai wahyu-Nya. Perjanjian Baru tidak
mengenal cara lain dalam menggenapi nubuatan Perjanjian
Lama kecuali secara literal.
Pola nubuatan yang sudah digenapi, itulah juga pola yang
belum digenapi. Dengan demikian harus dikatakan bahwa itulah
pola yang dipilih Allah untuk menyatakan dan menggenapi
nubuatan-Nya.
2. Penafsiran harus menuruti harmoni dari nubuatan-nubuatan.
Dalam 2 Petrus 1:20-21 menyatakan bahwa tiada nubuatan yang
ditafsirkan secara tersendiri. Nubuatan harus ditafsirkan sesuai
dengan program ilahi.
Dengan mempertimbangkan porsi-porsi nubuatan yang lain
secara menyeluruh, sebab tiap nubuatan yaitu sebagian dari
skema nubuatan menyeluruh. Dengan demikian satu nubuatan
menerangi nubuatan lainnya.
3. Penafsiran haruslah memperhatikan perspektif dari nubuatan.
Meskipun nampaknya ada beberapa nubuatan tersendiri,
seringkali mereka bersama menunjukkan pada satu penglihatan
besar, sehingga mereka harus dikelompokkan dalam satu visi
besar itu.
Misalnya terlihat dalam nubuatan-nubuatan yang
berhubungan dengan penawanan di Babel, peristiwa-peristiwa
yang berhubungan dengan hari Tuhan, pengembalian dari Babel,
penyebaran (diaspora) Israel, pengumpulan di masa mendatang
dari seluruh penjuru dunia.
4. Penafsiran haruslah dengan memperhatikan unsur waktu.
Peristiwa-peristiwa yang barangkali terpisah waktu
penggenapannya bisa disatukan ke dalam satu nubuatan.
Misalnya: Kedatangan Kristus Pertama Kali (KKPK) dan
Kedatangan Kristus Kedua Kali (KKKK), seringkali dinubuatkan
bersama-sama meskipun ternyata ada dua bagian yang terpisah
jauh. Kedua peristiwa itu ditempatkan sebagai saling
mendampingi (side by side), namun ternyata mereka digenapi
secara berjauhan sekali.
5. Penafsiran nubuatan haruslah berpusat pada Kristus. Berita-berita
nubuatan memusatkan diri pada pribadi dan perbuatan Yesus
Kristus (1 Pet. 1:10; Why. 19:10).
6. Penafsiran harus juga memperhatikan sejarah. Latar belakang
nabi dan nubuatan haruslah diperhatikan sebelum seseorang
mengaran penafsiran. Ini permulaan usaha guna mengartikan
nubuatan. Nama orang, peta, adat, kultur, binatang dan tumbuh-
tumbuhan haruslah diperhatikan juga.
7. Penafsiran haruslan memperhatikan gramatika juga.
8. Penafsiran haruslah memperhatikan „Law of Double Reference‟.
9. Penafsiran haruslah bersifat konsisten, satu metode haruslah
digunakan secara konsisten dalam penafsiran nubuatan.
Kesalahan akan terjadi jika ada pencampuran metode
penafsiran.
Alkitab berisi tentang:
Sejarah, tapi bukan buku Sejarah.
Pengetahuan, tapi bukan buku Sains.
Masa depan, tapi bukan buku Ramalan.
Filosofi hidup, tapi bukan buku Filsafat.
Makhluk hidup, tapi bukan buku Biologi.
Sifat manusia, tapi bukan buku Psikologi.
Perilaku sosial, tapi bukan buku Sosiologi.
Alam semesta, tapi bukan buku Ilmu Alam.
Alkitab itu firman Allah.
Septuaginta yaitu terjemahan Kitab-kitab dalam Alkitab Ibrani atau Tanakh, yang juga
merupakan anggota Kontrak Lama di Alkitab Kristen, dari Bahasa Ibrani (ditulis dalam huruf
Ibrani kuno) ke dalam bahasa Yunani gaya Koine pada masa seratus tahun ke-3 sM. Terjemahan
ini disebut “Septuaginta” yang dalam bahasa Yunani artinya yaitu 70 (tujuh puluh) dan
sering ditulis sebagai “LXX” sebab kanon disusun 70 orang imam Yahudi yang diberi tugas
oleh Ptolemaios II Philadelphos (285-247 sM), Raja Mesir untuk diisikan ke Perpustakaan
Alexandria (Iskandariyah), Naskah ini memasukkan beberapa terjemahan kuno yang berada saat
itu dan dalam dunia ilmiah di beri kode naskah atau G.1
Ada yang mengatakan juga Kitab Septuaginta merupakan terjemahan Perjanjian Lama ke dalam
bahasa Yunani yang diperkirakan diterjemahkan sekitar abad ke-3 sM. Kitab Septuaginta
dikerjakan di Alexsandria, Mesir untuk memenuhi kebutuhan orang Yahudi diaspora yang
berbicara bahasa Yunani. Septuaginta dapat juga ditulis dengan angka Romawi “LXX” (artinya
70) sebab diperkirakan diterjemahkan oleh sekitar 72 orang dalam jangka waktu sekitar 72 hari.
Ptolomeus II Philadelpos menulis surat kepada imam besar di Yerusalem supaya dapat
mengirimkan gulungan Kitab Taurat (Perjanjian Lama) dan dipilih masing-masing enam orang
serjana yang fasih berbahasaa Ibrani dan Yunani dari setiap suku bangsa Israel (12 suku),
sehingga jumlah para serjana ini ada72 orang. Kabarnya para penerjemah ini bekera secara
terpisah dan diilhami oleh Allah sehingga setiap penerjemah menerjemahkan teks yang sama
dengan kata-kata yang sama, seakan-akan mereka didikte bersama-sama. Baahkan semua huruf
yang dipakai dalam setiap terjemahan ini persis sama. Diperkirakan hanya kitab-kitab
Pentateukh yang diterjemahkan di Alexsandria, kemudian lambat laun diterjemahkan juga kitab-
kitab Perjanjian Lama sampai masa menjelang sekitar 100 tahun sM. Orang-orang Yahudi di
Alexsandria menyebut Septuaginta dengan tangan terbuka. Namun, orang Yahudi di Plestina
menolaknya sebab mereka hanya mengakui versi-versi dalam bahasa Ibrani.2
2.2. Sejarah Munculnya Septuaginta (LXX)
Sejarah Septuaginta tidak saja terselubung dalam kekunoan namun ditutupi oleh legenda-
legenda Yahudi dan Kristen yang menonjolkan sumbernya yang ajaib. Menurut legenda-legenda
ini, para penerejmah bekerja seacra terpisah satu dengan yang lain, namun menghasilkan
terjemahan-terjemahan yang memiliki kecocokan secra harfiah satu sama lain. sebab
Septuaginta dinamai menurut jumlah para penejermah yang dalam tradisi dinyatakan sebanyak
tujuh puluh orang (bahasa Latin Septuaginta ‘tujuh puluh’, sehingga namanya disebut juga
LXX. Rupanya Septuaginta berasal dari komunikasi Yahudi di Alexsandria anatar tahun 250
samapai tahun 100 sM. Perkembangannya serupa dengan perkembangan targum-targum.
Berbagai terjemahan tidak resmi dibuat sesuai deangan kebutuhan, lalu teksnya ditetapkan pada
awal tarikh Masehi, pada saat terjemahan ini menajadi Perjanjian Lama yang terotoritas
dalam jemaat Kristen.
Septuaginta memperlihatkan banyak variasi dalam pandangan teologis dan dalam
kesesuaian haarfiah maupun ketelitian terjemahannya, sehingga bacaan-bacaannya tidak dapat
diterima secara sembarangan. Walaupun demikian, Septuaginta sangat penting dalam penelitian
teks, sebab mewakili bentuk teks Ibrani sebelum adanya pembakuan pada abad-abad permulaan
tarikh Masehi. Bersama-saama dengan Taurat Samaria dan Naskah-naskah Laut Mati,
Septuaginta merupakan bukti terpenting dari bentuk-bentuk teks Ibrani sebelum ada teks
Masora.3
Septuaginta pada permulaannya hanyalah terjemahan darai Taurat yaitu lima kitab
pertama dalam Alkitab yang merupakan kitab suci orang Yahudi dan diyakini hasil susunan
Musa bahasa Yunani Koine merupakan bahasa umum (lingua franca) di kawasan Laut Tengah
pada zaman sejak matinya Alexsander Luhur (tahun 323 sM) hingga berdirinya kerajaan
Bizantin Yunani (tahun 600 M). sebab belakang ditemukan aci intinya terjemahan lengkap
seluruh Alkitab Ibrani, maka dalam perkembangan agama Kristen disebut sebagai Kontrak Lama
Kristen atau Kontrak Lam Yunani (“ Greek Old Testament”). Pada kenyataannya Septuaginta
dikerjakan oleh 72 orang berbakat yang mengenal adun mengenai hukum-hukum Yahudi dan
dapat menterjemahakan dengan adun ke dalam bahasa Yunani. Berada juga yang mengatakan
bahwa ke 72 orang ini bersumber dari 6 orang dari tiap suku Israel yang berjumlah 12 (6 x
12 =72), namun argumen ini masih perlu dipertanyakan (baca: Important Early Translations of
the Bible).
Pada masa seratus tahun 19 dan masa seratus tahun 20 tersedia banyak sekali translasi
Alkitab ke dalam berbagai bahasa. Namun sebelumnya, Alkitab yang tersedia hanya terdapat
dalam sebagain penerjemahan saja. Penerjemahan Alkitab mula-mula terjadi k dalam bahasa
Yunani yaitu Septuaginta tercatat dari masa seratus tahun ke 3 hingga ke 2 sebelum Kristus
(abad ke-3 hingga masa seratus tahun ke-2 sM). Bukan hanya sebagai terjemahan yang tertua
namun juga berjasa sebagi penghubung selang Kitab Kontrak Lama dengan Kontrak Baru yang
mempergunakan bahasa Yunani sebagai bahasa penulisannya. Argumen sebenarnya untuk
memainkan penerjemahan ini yaitu untuk memenuhi keperluan pendidikan dan liturgus dari
komunitas Yahudi di Aleksandria yang banyaknya cukup luhur. Lebih banyak dari mereka telah
lepas sama sekali dari ingatan bahasa Ibrani atau telah tumbuh dan cakap sehari-hari dengan
bahasa Yunani Umum. namun mereka yaitu orang Yahudi dan berhasrat mengerti Kitab-kitab
suci Tua, dimana tempat bergantungnya Iman dan hidup mereka. Keperluan Septuaginta sangat
jelas. Disamping sebagai terjemahan pertama yang pernah di buat dari Kitab bercakap Ibrani,
juga merupakan media untuk membawa pemikiran keagamaan orang-orng Ibrani untuk dunia,
Septuaginta juga merupakan Kitab yang dipakai pada saat Jemaat Kristen mula-mula, dan para
penulis Kontrak Baru sering mengutip dari Septuaginta. Pengaruh lanjutan dari Septuaginta juga
membuat Origen menggabungkan Septuaginta ke dalam karya bernama Hexapla, yaitu edisi
kesarjanaan yang cukup berlilit dari Kontrak Lama. Berabad-abad Septuagintaa mempunyai
pengaruh yang lebar, seperti menjadi dasar penerjemahan Kontrak Lama ke dalam bahasa Latin,
Koptik, Gothic, Armenian, Georgia, Etiopia, Aram Kristen Palestina, Syria, Arab, dan Slavonic.
Dan yang saangat terpenting saat ini dipakai Otoritas dalam teks Akitabiah dari Kontrak Lama
untuk Gereja Ortodok Yunani.4




