• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label doktrin masehi advent 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin masehi advent 7. Tampilkan semua postingan

doktrin masehi advent 7

 


Berbagai ajaran agama dalam kualitas yang 

berbeda-beda telah muncul di tengah masya-

rakat manusia. Menurut kenyataan sejarah, 

agama senantiasa menjadi unsur mutlak bagi 

kehidupan; sebagai motivasi, pembentuk 

watak, dan akhlak manusia yang tidak dapat 

diingkari oleh siapa pun.1 Dengan melihat 

                                                 

1Dalam hubungan ini, betapa pentingnya peranan 

agama dalam kehidupan manusia sejak zaman pra-

sejarah ketika umat manusia masih berada dalam taraf 

kehidupan serba primitif sampai zaman modern 

sekarang, ketika manusia telah mengalami taraf 

kehidupan serba ganda dalam kebudayaan dan 

kenyataan sejarah umat manusia, “kita” dapat 

mengetahui bahwa agama merupakan faktor 

yang besar pengaruhnya terhadap dinamika 

individual dan sosial, sehingga dapat dikata-

kan, bahwa tidak ada masyarakat manusia di 

dunia yang pernah hidup dinamis tanpa agama 

                                                                            

perkembangan peradabannya. Oleh sebab  itu, dapat 

dikatakan, mempelajari ajaran agama bukan semata-

mata untuk kepentingan ilmu pengetahuan belaka, 

namun  juga untuk kepentingan pribadi pemeluknya 

sendiri. Lihat, Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-

Agama Besar, (Jakarta: Golden Terayon Press, 1990), 


Advent dalam dunia Kristen termasuk denominasi. Denominasi ini bila dilihat dari sejarahnya merupakan pecahan 

dari gereja Kristen Protenstan, ketika Kristen Protestan tidak kuasa untuk mengendalikan Advent. Semakin lama 

semakin lepas dan tidak mau kembali lagi kepadanya. Pergerakan Advent segera dan dengan cepat berkembang ke 

seluruh dunia. Dalam usaha menyiarkan agamanya, umat Advent di Indonesia menyelenggarakan zending  yang 

kuat (tangguh) berpusat di Jakarta untuk wilayah Indonesia Barat dan di Manado untuk wilayah Indonesia timur 

dengan nama Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Penelusuran tentang transmisi Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh di Indonesia bermaksud merekonstruksi terhadap gerakan yang diamininya, terutama mengenai 

pertumbuhan dan perkembangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah 

yang meliputi empat tahap, yaitu heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi. Sedangkan untuk memperoleh 

eksplanasi tentang persoalan yang diteliti digunakan pendekatan multi-dimensional. 

 

sama sekali, baik agama dalam pengertian 

sempit maupun luas.2  

Joachim Wach, seorang tokoh Ilmu Per-

bandingan Agama, dalam General Revelation 

and Religions of the World, mengatakan, 

“tidak ada satu agama yang benar sendiri 

dalam arti bahwa agama yang lain keliru; 

sebaliknya tidak semuanya benar. namun  

disamping semuanya mengandung kebenaran, 

agama-agama tidak saja berbeda satu sama 

lain dalam masalah-masalah dimana mereka 

adalah benar semua, namun  juga dalam 

sejumlah kebenaran dan kekuatan penting 

yang dimilikinya”.3 Wach berkeyakinan, pemi-

kirannya itu merupakan koreksi yang tepat 

terhadap tuntutan Kristen atau non-Kristen 

sehubungan dengan masalah kebenaran 

(agama).4 

Soal pokok yang mau tak mau mesti 

dihadapi umat Kristen dalam kelangsungan 

sejarahnya adalah tentang pewartaan Yesus 

Kristus kepada manusia yang bergerak dalam 

corak pikiran yang berkembang. Alam pikiran 

yang ditentukan oleh otonomi manusia, oleh 

pengetahuan empiris yang melalui mencip-

takan dunia manusia dan mengatur segala 

sesuatu, pemikiran yang menjadi sadar akan 

sejarah dan ciri historis segala apa. Ini suatu 

pemikiran dan dunia yang berpusatkan pada 

manusia sendiri, ketika bukan manusia 

melainkan Allah menjadi problem.5  

Pada abad-abad pertama, Gereja dihadap-

kan dengan persoalan-persoalan.6 Sementara, 

hampir di sepanjang sejarah Gereja tampaklah 

pergumulan mereka yang masih muda itu 

                                                 

Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Krirtus Pada 

Umat Kristen, (Yogyakarta: PT Kanisius, 1988), 214.  

6Persoalan-persoalan yang dihadapi Gereja pada 

abad-abad pertama, adalah, pertama: Pengakuan yang 

diambil alih dari ajaran Yahudi, yaitu bahwa Tuhan 

Allah adalah Esa dan, kedua, Pengakuan bahwa Yesus 

Kristus adalah Tuhan. Lihat, Harun Hadiwijono, Iman 

Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), 103-4. 

untuk merumuskan kepercayaannya tentang 

Tuhan Allah. Di dalam pergumulan itu dapat 

disaksikan, bagaimana Gereja di satu pihak 

berusaha untuk menghindarkan diri dari 

bahaya mempertahankan keesaan Allah 

dengan melepaskan ketritunggalan-Nya.7 

Sementara di lain pihak dapat disaksikan pula, 

bagaimana Gereja bergumul untuk menghin-

darkan diri dari bahaya mempertahankan 

ketritunggalan Allah dengan melepaskan 

keesaan-Nya.8 

Pada abad ketiga, di Roma munculah 

Praxeas. Ia mengajarkan, bahwa tuhan Allah 

adalah roh. Sebagai roh, tuhan Allah disebut 

Bapak. Allah ini telah mengenakan daging 

atau menjadi manusia. Praxeas mempertahan-

kan keesaan Allah. Tuhan Allah adalah satu. 

Bapak dan Anak adalah satu pribadi, yaitu 

pribadi tuhan Allah. namun  Praxeas 

melepaskan ketritunggalan atau di sini lebih 

tepat disebut kedwi-tunggalan. Sebutan Bapak 

dan Anak tidak menunjukkan perbedaan, 

kecuali sebagai roh dan daging di dalam diri 

Juru Selamat Yesus Kristus.9 Sebaliknya 

terdapat golongan ahli pikir Kristen yang 

waktu itu ada berusaha mempertahankan 

ketritunggalan Allah, namun  melepaskan 

keesaan-Nya.10 Hal itu, sebut saja, seperti 

dilakukan Paulus dari Samosata. Dalam 

pendapatnya, tuhan Allah hanya dapat dipan-

dang sebagai satu pribadi saja.11 

Perselisihan pendapat terbesar di kalangan 

pemikir Trinitas adalah kontroversi pan-

dangan Arius dan Athanasius. Para Bapak 

Gereja dulu, tidak mempunyai konsepsi yang 

                                                 

7Bahwa orang sedemikian menekankan kepada 

ajaran bahwa Allah adalah Esa, sehingga sebutan 

Bapak, Anak, dan roh Kudus seolah-olah hanya 

dipandang sebagai sifat-sifat Allah saja. Hadiwijono, 

Iman Kristen,104. 

8Bahwa orang sedemikian menekankan kepada 

perbedaan antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus, 

sehingga ketiganya itu seolah-olah berdiri sendiri-

sendiri tanpa ada kesatuannya. Hadiwijono, Iman 

Kriste. 

jelas tentang Trinitas. Sebagian di antara 

mereka membenarkan Logos sebagai akal non-

manusiawi (impersonal reason), yang menjadi 

manusia pada saat penciptaan. Sementara yang 

lain, memandang Dia sebagai manusia yang 

ko-eternal dengan Bapak yang memiliki sifat 

esensi kekekalan. Sementara itu,  sebagian lagi 

memandangnya sebagai suruhan (sub-ordina-

tion) atau kedudukannya di bawah Bapak. 

Sedangkan roh Kudus tidak mendapat tempat 

penting dalam pembicaraan mereka.12  

Pada 325 M., diselenggarakan konsili umat 

Nasrani pertama di kota Nicea dibawah 

perintah Kaisar Konstantin. Berkumpullah di 

kota tersebut sejumlah 2048 Uskup. Mereka 

datang dengan pendirian masing-masing.13 

Setelah konsili pertama, ketenangan yang 

diharapkan belum diperoleh. Pada 381 M., 

diulang lagi konsili dengan mengambil tempat 

di Konstantinopel. Adapun yang menjadi 

bahan diskursus masih berkisar pada soal 

i'tikad di sekitar kedudukan Yesus dan Ruh al-

Kudus. Pada tahun 431 M., diadakan lagi 

konsili di Episus (Efase), tema utamanya 

masih mempersoalkan tentang ketuhanan 

oknum yang tiga. Persoalan itu masih terus 

dilakukan hingga tahun 451 M., di 

Chalcedon.14 

Council Chalcedon tidak menetapkan akhir 

dari perselisihan Kristologis. Mesir, Syiria, 

dan Palestina merupakan tempat tinggal 

mayoritas di antara pengikut fanatik dari 

penantang Eutychian.15 Sedangkan Roma 

kemudian semakin menjadi pusat orthodoxy. 16 

Dengan demikian, kuat dugaan, proses 

                                                 

perkembangan dogmatis pertama-tama berasal 

dari Timur dan kemudian berkembang di 

Barat. 

Pertentangan-pertentangan itu menjadi 

bibit perpecahan secara resmi pada 1054 M. 

Mulai saat itu, Gereja terpecah menjadi dua, 

yaitu: Rum Katholika dan Yunani Katholika 

(Greek Catholica). Pada 1517 M., Rum 

Katholik pun mengalami perpecahan yang 

lebih berat, yaitu Rum Katholika dan 

Protestan, dengan Luther sebagai pelopornya. 

Gerakan reformasi Luther pada mulanya tidak 

dimaksudkan untuk memisahkan diri dari 

Gereja Rum Katholik, namun ketegangan-

ketegangan berikutnya ternyata tidak dapat 

dijembatani. sebab  itu,  jalan satu-satunya 

yang adalah memisahkan diri dari Gereja Rum 

Katholik yang dipimpin oleh Paus.17 

Gereja reformatoris yang mendasarkan diri 

pada semboyan Ecclesia semper reformanda  

(Gereja yang terus menerus diperbaiki) terus 

mengayunkan langkah pembaharuannya. Pada 

akhirnya, resiko dari pembaharuan tersebut 

dihadapkan kepada simalakama (pilihan-

pilihan sulit), yaitu untuk menegaskan batas 

antara “pembaharuan” dan “kebebasan” dan 

“perpecahan-kelembagaan”.18 Hal tersebut 

terjadi, sebab  telah timbul demikian banyak 

lembaga gerejawi dengan berdasarkan 

penekanan ajarannya masing-masing. 

Hingga di sini, di sepanjang sejarahnya, 

Gereja Protestan yang jumlahnya demikian 

banyak tersebut, berjuang untuk menentukan 

batas-batas dari ide reformasi Gereja dan 

bergulat dengan ekses yang terkandung dalam 

gerakan pembaharuan tersebut. Hal yang perlu 

diketahui, dalam hubungan latar belakang 

sejarah ini adalah Gereja Protestan yang 

majemuk tersebut masing-masing berdiri 

sendiri, berbeda dengan Gereja Katholik yang 

memiliki hierarki dengan satu pusat, yaitu 

Paus di Roma. Gereja Protestan tidak 

memiliki suatu pusat bersama yang berhak 

mengatur keseluruhannya, sebagaimana gereja 

                                                 

Katholik Roma. Gereja Protestan hanya dapat 

diwakili oleh suatu lembaga, apabila memang 

telah terdapat kesepakatan bersama.19 Adapun 

Gereja-gereja Protestan di Indonesia, secara 

umum merupakan bagian dari warisan sejarah 

reformasi tersebut. Mereka merupakan 

perwujudan dari berbagai (pluriformitas) 

warisan tradisi reformatoris yang dibawa oleh 

para utusan Lembaga Pekabaran Injil serta 

Gereja-gereja Protestan di dunia Barat. 

 

 

1. Sejarah Pertumbuhan dan Perkem-

bangan 

Pada permulaan abad ke-19, tumbuh 

kebangunan besar tentang kedatangan Yesus 

yang kedua kali. Kebangunan besar seperti itu 

belum pernah terjadi pada abad-abad 

sebelumnya. Dari kebangunan besar tersebut, 

kemudian lahir Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh.20 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

merupakan ciptaan seorang berkebangsaan 

Amerika Serikat bernama James White. Mula-

mula ia memeluk agama Kristen  Baptis Hari 

Ketujuh yang mempersucikan hari Sabath 

(Sabtu). Kemudian masuk Advent sebagai 

pengikut Miller (Millerism), namun  sebab  

kecewa terhadap ramalan Miller, kemudian 

White menciptakan Gereja Baru dengan nama 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh pada 

1844 M.21 Gereja ini mulai ada dan 

bertumbuh-kembang di Amerika serta mulai 

membangun reputasinya pada 1860 M.22  

Pada musim bunga 1861 M., para 

pemimpin di Battle Creek menganjurkan agar 

setiap perkumpulan Advent yang bercerai-

berai segera  mengorganisir diri di bawah 

nama Masehi Advent Hari Ketujuh. 

Merespons anjuran tersebut, pada Oktober 

                                                 

1861 M., langkah pertama telah diambil 

menuju pembentukan Michigan Conference. 

Conference setingkat dengan Uni dengan 

mengangkat sebuah Komite yang diketuai oleh 

Joseph Bates. 

Pada 1862 M., Gereja-gereja dari beberapa 

negara bagian bertemu untuk membentuk 

Konferensi (Uni). Michigan sendiri sudah 

membentuk Komite Uni pada bulan Oktober 

1862 M., di Gereja Monterey dengan memilih 

seorang anggotanya (anggota biasa) untuk 

menjadi Ketua, yaitu: William S. Higley. 

Akhirnya pada Mei 1863 M., delegasi dari 

beberapa konferensi yang baru terbentuk itu 

berkumpul di Bettle Creek. Mereka merumus-

kan sebuah konstitusi untuk organisasi 

General Conference. Perutusan-perutusan itu 

dengan semangat yang tinggi memilih James 

White sebagai Ketua Gereja Masehi Advent 

Hari Ketujuh  yang pertama.23 Namun, sebab  

James White tidak menerima jabatan Ketua, 

John Byington kemudian dipilih mengganti-

kan James White. Akan namun , dua tahun 

kemudian White menerima tanggung jawab 

itu, tepatnya pada 1865 M. Selama hidupnya, 

James White menduduki jabatan sebagai 

Ketua General Conference. Ia menentukan 

sebuah prosedur untuk membayarkan gaji 

tetap kepada pekerja-pekerja Injil melalui 

tunjangan sistematis. Dengan sendirinya para 

pekerja Injil harus selalu membawa surat 

kredensi sebagai tanda bahwa ia telah dengan 

sah diangkat sebagai juru bicara pergerakan. 

Ditambahkan pula, bahwa tidak seorang 

pekerja pun dibenarkan mengadakan 

perjalanan dari satu daerah ke daerah yang 

lain, atas kehendaknya sendiri atau atas 

permintaan Gereja setempat. Panggilan harus 

diatur oleh kedua daerah yang bersangkutan. 

Dengan demikian, umat Allah setelah 

menemukan pekabarannya yang khusus. 

Mereka telah berhasil mengorganisir diri. 

                                                 


Dalam waktu yang singkat mereka siap 

melancarkan tugas missi sedunia.24 

Pada 1869 M., Mary L. Priest dan beberapa 

kalangan yang semuanya terdiri atas 

perempuan mendirikan Vigiland Missionary 

Society di South Lancaster, Massachusetts. 

Kegiatan mereka, meliputi: penyediakan wak-

tu untuk mengunjungi tetangga-tetangganya; 

menolong orang sakit yang berkekurangan dan 

melayangkan doa bagi mereka; serta 

mengirimkan beribu-ribu traktat dan surat 

kepada banyak orang, baik yang jauh maupun 

yang dekat. Tahun berikutnya, S.N. Haskell 

mendirikan Persekutuan New England Tract 

and Missionary (T.M.), dan mengajak 

didirikannya T.M., di seluruh New England. 

Pada 1873 M., pendeta Haskell diminta 

memimpin persekutuan-persekutuan T.M. 

Persekutuan-persekutuan itu kemudian 

semakin menguat, sehingga pada tahun 1882 

M., telah menjadi International Tract 

Missionary Society. 

Pada 1888 M., beberapa pejabat pemerintah 

mengajukan diadakannya Blair Sunday Bill 

(Undang-undang Hari Minggu) kepada 

Congress (Dewan Perwakilan Rakyat Amerika 

Serikat). Setelah itu, kecemasan dan 

kegelisahan besar terjadi di kalangan 

pemimpin-pemimpin umat Masehi Advent 

Hari Ketujuh, yang melihat kalau hal itu 

dibatalkan, suatu saat kelak sebuah Undang-

undang hari Minggu nasional akan segera 

menjadi sebuah kenyataan. Pada 1889 M., 

Masehi Advent Hari Ketujuh mendirikan 

National Religious Liberty Association. Salah 

satu usaha yang telah dicapainya ialah 

mengumpulkan nama 250.000 orang yang 

menentang rencana Undang-undang hari 

Minggu. Persekutuan ini berdiri sendiri, lepas 

dari General Conference. 

Dengan kalimat yang singkat dapat 

dikatakan, bahwa pada 1890-an terlalu banyak 

organisasi yang terpisah-pisah yang bekerja 

dan berdiri sendiri. Di antara mereka kadang-

kadang bersaing satu sama lain. Selain itu, 

masih pada 1890-an juga dibentuk organisasi 

                                                 

yang terlalu sentralisasi, yaitu “segala putusan 

penting harus dibuat di Battle Creek”. 

Akibatnya, sedikit sekali kebebasan untuk 

membuat keputusan yang diberikan kepada 

Uni dan daerah setempat.25 Kesalahan dasar 

yang lain ialah perluasan lembaga-lembaga, 

dengan akibat terlalu banyak anggota umat 

percaya berkumpul di satu tempat saja. Review 

and Herald Publishing Association dan Battle 

Creek Sanitarium telah diperbesar melebihi 

batas kemampuannya. Sementara orang-orang 

Advent di mana-mana terus berpindah ke 

Battle Creek, sehingga seperduapuluh-lima 

dari jumlah seluruh anggota mereka 

berkumpul di Gereja Sabath Tabernacle pada 

tiap-tiap hari Sabat. 26 

Lembaga-lembaga yang didirikan 

kemudian bekerja secara berlebihan disertai 

dengan sifat haus akan kuasa dan 

mementingkan diri sendiri. Mereka cenderung 

kehilangan rasa pengabdian. Sebagai 

imbasnya muncul  penilaian yang tidak sehat 

dalam urusan-urusan keuangan. Sambil 

memandang dengan sedih dan sungguh-

sungguh kepada wajah-wajah pemimpin yang 

berkumpul pada 1901 M., dalam rapat besar 

General Conference, Ellen G. White, 

berkata:27  

“O, jiwaku hancur memikirkan hal ini… 

Bahwa orang-orang inilah yang berdiri 

sendiri di tempat yang suci dan menjadi 

suara Allah bagi orang banyak, 

sebagaimana pandangan dan harapan dari 

General Conference di masa lalu. Apa 

yang kita perlukan sekarang ialah re-

organisasi. Kita akan mulai lagi dari dasar 

dan membangunnya atas prinsip yang lain.”  

Para utusan mengeluarkan suara reaksi 

ketika Ny. White mengucapkan kalimat itu. 

Sekalipun perubahan besar diadakan, pada 

akhirnya banyak para utusan yang memuji 

                                                 

Tuhan, sebab  kemajuan-kemajuan yang 

dicapai dalam hati setiap utusan rapat itu. 

Rapat General Conference selanjutnya 

diadakan di Oakland, California. Di sana 

kemudian dibangun percetakan Pacific Press 

(sebelum dipindahkan ke Mountain View). 

Pada tahun-tahun selanjutnya, proses 

pembentukan Uni dan pembentukan depar-

temen-departemen diselesaikan. Organisasi 

bentukan 1901 M., dan 1903 M., itu tidak 

dapat dikatakan sudah sempurna. namun , 

sedikitnya-banyak  telah memberikan 

pengertian yang lebih luas akan struktur dan 

semangat pekerjaan mereka. 

Pada tahun selanjutnya, sebuah unit 

administrasi didirikan lagi. Beberapa Divisi 

dibentuk (waktu itu di seluruh dunia terdapat 

12 Divisi). Divisi ini merupakan bagian dari 

General Conference. Ia membawahi langsung 

beberapa buah Uni. Uni pun membawahi 

sidang-sidang. Pembentukan divisi-divisi 

dimaksudkan agar setiap anggota sidang 

mempunyai hubungan yang tidak terputus 

dengan General Conference. 

Sebagai agama mission, sebelum tahun 

1870-an berakhir, pekerja-pekerja Masehi 

Advent Hari Ketujuh telah menjelajahi Swiss 

(daerah Prusia), Perancis, dan Italia. J.N. 

Loughborough bekerja di Inggris, dan John G. 

Matteson, yang pernah pergi ke Battle Creek 

untuk menyusun huruf-huruf cetak agar dapat 

mencetak majalahnya sendiri di Denmark.28  

Pada 1880-an mulailah penyebrangan ke 

negara-negara Mesir, Rusia, Australia, Afrika 

Selatan, Hongkong, Pitcairn, dan Turki. Pada 

tahun-tahun tersebut Ellen Gold White berada 

di Eropa. G.I. Butler juga mengadakan 

perjalanan ke Eropa. Ellen Gold White-lah 

ketua General Confernce tang pertama kali 

melakukan lawatan ke luar negeri. Pada 1890-

an para pekerja Masehi Advent Hari Ketujuh 

bertambah luas. Finlandia, Mexico, Chili, 

Brazilia, Jepang, Fiji, Iceland, India, dan 

negara-negara lain menerima para pembawa 

kabar Advent.29 

Pada Desember 1899 M., Ralph Waldo 

Munson dari New York, Amerika, bersama 

                                                 

keluarganya menuju Singpura. Mereka tiba di 

Teluk Bayur tepat pada 1 Januari 1900 M. 

Munson sebelumnya bekerja sebagai seorang 

Missionary Methodist. Akan namun , sebelum 

tahun 1900 M., ia tertarik untuk masuk dan 

menjadi seorang Advent. 

Di Singapura Munson membaptiskan 

seorang dari Padang bernama Timothy (Tay 

Hong Siang). Kemudian bersama Timothy, 

Munson dan keluarga pindah ke Padang 

(Indonesia). Semula di Padang ia hanya ingin 

membuka percetakan. Akan namun  lebih dari 

itu, ia pun membuka klinik kecil dan 

mengadakan baptisan pertama kepada seorang 

warga Padang bernama Siregar. Setelah 

dibaptis namanya kemudian dikenal Imanuel 

Siregar. 

Setelah dari Padang (Sumatera Barat), 

Munson melanjutkan missinya 

 ke Jawa dengan membuka percetakan di 

Sukabumi pada tahun 1909 M. Pada 1912 M., 

didirikan organisasi lokal di Kramat Pulo 

Jakarta dengan sebutan West Java Mission. 

Demikianlah daerah-daerah lain secara 

berturut-turut, masing-masing: East Java 

Mission (1913 M.), North Sumatera Mission 

(1917 M.), South Sumatera Mission (1917 

M.), Sulawesi Mission (1923 M.), Ambon 

Mission (1929 M.) dan Batak Land Mission 

(1927 M.). Selanjutnya perhatikan tabel 

statistik perkembangan Gereja Advent di 

Indonesia antara tahun 1904-1928, sebagai 

berikut: 

 

Pada 1928-1929 M., ketika bangsa 

Indonesia mulai bangkit dan bersatu melawan 

pemerintah Hindia Belanda dengan diada-

kannya Kongres Pemuda Indonesia pertama 

yang dilanjutkan dengan dikumandangkannya 

“Sumpah Pemuda” (28 Oktober 1928 M.), 

terjadi suatu peristiwa penting dalam sejarah 

pertumbuhan dan perkembangan Advent di 

Indonesia, yaitu: Pertama: Netherland East 

Indies Mission (NEIS) yang berada di bawah 

Malaya Union Mission (MUM) pada tahun 

1929 M., berubah dan kemudian berkiblat ke 

Central Eropa Division (CED). Kedua: 

Masalah pembelian sekolah (Netherland 

Training School). Sebagai background 

pembelian sekolah tersebut, adalah: 

1. Bidang Politik, yaitu Jerman kalah dalam 

perang menimbulkan banyak kehilangan 

daerah kekuasaan mereka. Termasuk di 

dalamnya daerah kekuasaan Gereja 

Advent. Perlu diketahui, bahwa Jerman 

ketika itu merupakan tempat para 

missionary dan memiliki banyak harta 

benda. Maka mereka meminta kepada 

General Conference, agar Netherland East 

Indies Mission untuk mereka. 

2. Para Missionary dari Amerika bekerjanya 

kurang cepat, sehingga mereka sangat 

memerlukan bantuan tambahan.30 Melihat 

kenyataan demikian, maka pada rapat 

Netherland East Indies Mission dibentuk-

lah kepengurusan baru dengan komposisi 

sebagai berikut:  

Presiden : B. Ohme  

Sekretaris dan bendahara: H. Schell 

Bidang Sekretariat : Drinhause  

Anggota: Tan Ki Siang, T. H. Rondonuwu 

Ditambah seluruh Ketua-ketua Daerah. 

Dari rapat tersebut dapat dicatat, bahwa: 

(1) Pusat N.E.I.M. bertempat di Bandung; (2) 

Membangun kantor dan Gereja atas bantuan 

Central Eropa seharga $ 4.000,00; (3) 

Membeli sebuah rumah untuk training school 

                                                 

di Cimindi Bandung. Mulai N.E.I.M. yang 

baru itu diorganisir, Gereja sudah berdiri 57 

buah dengan 7 lokal mission. Pada 1938 M., 

dari Central Eropa Division (C.E.D.) kembali 

ke Far Eastern Division (F.E.D.).31 

Setelah perang kemerdekaan, Gereja 

Masehi Advent Hari Ketujuh meluas ke 

seluruh pelosok Indonesia, khususnya daerah-

daerah tempat agama Kristen yang sudah 

terkenal. Pertumbuhan Gereja yang cepat 

menyebabkan pada 1964, Uni di Indonesia 

dibagi menjadi Uni Indonesia Barat berpusat 

di Jakarta dan Uni Indonesia Timur berpusat di 

Manado. Mulai 1970 kedua Uni yang ada di 

Indonesia, dipimpin orang Indonesia.32  

Sebagai agama mission, Gereja Masehi 

Advent Hari Ketujuh mendirikan lembaga-

lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar 

hingga perguruan tinggi. Mereka juga 

mendirikan klinik kesehatan hingga rumah 

sakit, percetakan, dan yayasan sosial lainnya.33 

Menurut catatan statistik, pada 2011 Gereja 

Advent di Uni Indonesia Bagian Barat telah 

berdiri 718 Gereja dengan 101.768 anggota 

jemaat.34 Sedangkan di Uni Indonesia Bagian 

Timur telah didirikan 725 Gereja dengan 

108.466 anggota jemaat.35 

Gereja Advent telah memasuki 202 dari 

230 negara dan wilayah yang diakui 

oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Sampai 30 September 2013, anggota Gereja 

Advent yang dibaptis berjumlah 18.028.769 

orang. Dalam dekade terakhir, sekitar satu juta 

orang per tahun bergabung dengan gereja 

                                                 

Advent, melalui pembaptisan dan pengakuan 

iman. Dengan mencermati perkembangan 

tersebut, kuat dugaan, Gereja ini merupakan 

“denominasi Protestan yang paling luas 

penyebarannya di dunia”.36 Perkembangan 

Gereja ini terutama terjadi di negara- negara 

berkembang. 

 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah 

badan yang terorganisasi dan beranggotakan 

anggota-anggota Advent. Kelompok-

kelompok yang tidak masuk anggota salah 

satu Gereja (sebab  mereka terpencil di suatu 

tempat) menjadi anggota Gereja Daerah. 

Daerah (Local Conference) ialah badan yang 

terdiri dari Gereja-Gereja yang terdapat di 

salah satu daerah atau provinsi tertentu. 

Utusan dari sidang, bersama pendeta-

pendeta sidang dan anggota komite daerah, 

dan anggota komite General Conference yang 

kebetulan ada mengadakan rapat (konperensi 

daerah) sekali dalam beberapa tahun. Rapat 

tersebut memilih atau mengangkat ketua, 

sekretaris, dan bendahara daerah, pegawai-

pegawai departemen daerah dan anggota-

anggota komite daerah. Anggota komite 

daerah terdiri dari ketua, sekretaris dan 

bendahara daerah, pemimpin-pemimpin 

departemen daerah dan anggota-anggota 

gereja yang diangkat. Untuk jangka waktu 

antara satu rapat (konperensi) daerah dan 

konperensi daerah berikutnya komite tersebut 

memiliki wewenang penuh untuk menjalankan 

segala urusan daerah itu. 

Uni (union conference), terdiri dari 

beberapa daerah. Utusan dari daerah bersama 

segenap anggota komite Uni, dan juga anggota 

Komite General Conference yang kebetulan 

datang berkunjung, berkumpul sekali dalam 

beberapa tahun (konperensi Uni) untuk 

memilih ketua, sekretaris dan bendahara Uni, 

para pemimpin departemen-departemen Uni 

dan anggota-anggota komite Uni. Ketua Uni, 

                                                 

sekretaris dan bendahara, pemimpin-pemimpin 

departemen, dan ketua-ketua daerah, otomatis 

menjadi anggota Komite Uni. 

General Conference (Divisi), terdiri dari 

Uni-Uni yang terdapat di seluruh dunia, 

berikut daerah-daerah yang terpencil. Rapat 

General Conference diadakan sekali dalam 

empat tahun, dan para pemilih (voters) dalam 

rapat itu terdiri dari pendeta-pendeta dan 

anggota dari Uni dan komite General 

Conference. Pada rapat (konperensi) itu dipilih 

ketua, sekretaris, dan bendahara General 

Conference, demikian juga pemimpin 

departemen General Conference dan ketua 

Divisi, yang semuanya itu membentuk komite 

General Conference. Ketua Uni dan pemimpin 

dari beberapa lembaga tertentu otomatis 

menjadi anggota komite General Conference. 

Hanya pada rapat General Conference boleh 

diadakan perubahan-perubahanan pada buku 

Peraturan Sidang dan Konstitusi General 

Conference. Selain daripada itu tidak boleh. 

Komite General Conference menentukan 

besar budget operasi (operating budget), 

menentukan besarnya bantuan ke pelbagai 

tempat di seluruh dunia, dan membuat 

peraturan kerja. Divisi bukanlah sesuatu badan 

yang terpisah, melainkan ia merupakan bagian 

dari General Conference, mewakili General 

Conference di tempat yang ditunjuk. Ketua 

Divisi, bertindak juga sebagai salah satu 

Sekretaris General Conference.  

Organisasi missi (di luar Amerika Serikat) 

berbeda sedikit dengan conference organi-

zation (yang terdapat di Amerika). Oleh 

sebab  ketua, sekretaris dan bendahara Uni 

diangkat dalam rapat divisi, dan ketua, 

sekretaris dan bendahara daerah diangkat pada 

waktu diadakan rapat konferensi Uni. Gereja 

Advent secara formil dibentuk atau diorganisir 

pada tahun 1861 M., dan local conference 

(daerah) juga dibentuk pada tahun itu. General 

Conference mulai diorganisir pada tahun 1863 

M., dan Divisi dibentuk pada tahun 1913 M. 

Uni pertama dibentuk di Australia pada tahun 

1894 M., dan sejak tahun 1901 M., pem-

bentukan Uni sudah tetap. Distrik yang lambat 

laun menjadi dasar akan pembentukan Uni, 

mula-mula dibentuk pada tahun 1894 M., dan 

menjadi wadah induk yang tidak mengikat 

bagi daerah-daerah (local conperence), yang 

mengadakan konperensinya setiap tahun atau 

satu kali dalam dua tahun, di bawah pimpinan 

General Conference. Di sini tidak ada rantai 

yang putus antara General Conference dan 

anggota sidang, melainkan hubungan yang 

membuat seluruh dunia menjadi satu, dan 

memberikan kebebasan dan kekompakan. 

Sifat yang khas dari organisasi Gereja 

Masehi Advent Hari Ketujuh adalah, “Setiap 

anggota gereja mempunyai suara dalam 

memilih pegawai-pegawai daerah. Para utusan 

dari daerah memberikan suaranya memilih 

pegawai-pegawai Uni, dan para utusan dari 

Uni memberikan suaranya memilih pegawai-

pegawai General Conference. Dengan cara 

ini, maka berarti setiap Uni, Daerah, 

Lembaga, Gereja dan anggota gereja-gereja, 

secara langsung mempunyai suara dalam 

pemilihan orang-orang yang memegang 

tanggung jawab di General Conference. 

Selanjutnya, perhatikan struktur organisasi 

General Masehi Advent Hari Ketujuh 

sebagaimana skema berikut: 

Tabel 2 

Struktur Organisasi  

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

 

 

Pada permulaan perkembangan pekerjaan 

Masehi Advent Hari Ketujuh, persekutuan 

(societies) dan persatuan (association) yang 

menangani beberapa aspek pekerjaan, seperti: 

Sekolah Sabat dan penerbitan, kegiatan 

mereka tidak terikat penuh pada General 

Conference. Persekutuan dan persatuan itu 

Wawan Hernawan Menelusuri Transmisi Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh di Indonesia 

 

bekerja sebagaimana kemampuan mereka di 

tiap-tiap daerah. Kadang-kadang yang satu dan 

yang lainnya saling bersaing dalam hal uang 

dan tenaga pekerja. Di tingkat General 

Conference hanya terdiri atas tiga orang 

sekretaris. Tugas dari masing-masing 

sekretaris tersebut adalah  mengurus masalah-

masalah missi di luar negeri, masalah-masalah 

penginjilan di dalam negeri, dan masalah-

masalah pendidikan. 

Pada perkembangan dewasa ini, seluruh 

bidang pekerjaan yang banyak itu diurus oleh 

General Conference, melalui departemen yang 

masing-masingnya dipimpin oleh seorang 

sekretaris. Dalam mengerjakan tugas-tugasnya 

seorang Sekretaris tersebut dibantu oleh 

asisten-asisten dan anggota staf lainnya. 

Seluruh departemen itu tunduk pada peraturan-

peraturan yang dikeluarkan oleh General 

Conference. Divisi, Uni, dan daerah, juga 

mempunyai departemen-departemen yang 

sama dengan General Conference. Seorang 

sekretaris yang memimpin departemen juga 

sama baik dengan yang ada di atas maupun di 

bawahnya. Dengan sekretaris-sekretaris 

departemen yang sama baik yang ada di atas 

maupun dibawahnya, dan juga dengan 

sekretaris-sekretaris departemen lainnya. Oleh 

sebab  Komite Daerah terbatas anggotanya, 

maka tidak semua sekretaris departemen 

otomatis menjadi anggota Komite Daerah, 

namun  semua tunduk ke bawah peraturan-

peraturan daerah itu. 

Dalam kesempatan-kesempatan yang 

diluaskan peraturan itu, dan dengan bekerja 

sama dengan departemen yang lain, sekretaris 

departemen daerah berusaha meningkatkan 

kemampuan kepemimpinan sekretaris 

departemen sidang. Maka, mulai dari General 

Conference sampai ke sidang, departemen-

departemen bekerja melalui garis-garis yang 

sudah tertentu, bekerja sama antara yang satu 

dengan yang lainnya. Berikut ini bagan 

Organisasi Departemen-Departemen Masehi 

Adven Hari Ketujuh: 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3 

Organisasi Departemen-Departemen 

Masehi Advent Hari Ketujuh 

 

 

Keterangan singkatan-singkatan di atas: 

P = Pendidikan 

K  = Kesehatan 

AB  = Anggota 

Bekerja 

KA  = Kebebasan 

Agama 

C  = Percetakan 

RT  = Radio dan 

TV 

SS = Sekolah Sabat 

T  = Pertarakan 

TL  = Penatalayanan 

PMA = Pemuda 

Missionaris 

Advent 

M  = Kependetaan 

  

Dari sejumlah bahasan sebagaimana 

disebutkan sebelumnya, ditemukan, bahwa 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

merupakan perwujudan dari berbagai 

(pluriformitas) warisan tradisi reformatoris 

yang dibawa oleh para utusan Lembaga 

Pekabaran Injil serta Gereja-gereja Protestan 

di dunia Barat. Gereja ini  lahir setelah James 

White (berkebangsaan Amerika Serikat) 

mengalami kebangunan besar tentang 

kedatangan Yesus yang kedua kali. Gereja ini 

mulai berdiri pada 1844 M., dan bertumbuh-

kembang mula-mula di Amerika pada 1860 

M., yang kemudian segera dan dengan cepat 

menyebar ke seluruh dunia. 

Sifat khas dari Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh adalah setiap anggota Gereja 

mempunyai suara dalam memilih pegawai-

pegawai daerah. Para utusan dari daerah 

memberikan hak suaranya untuk memilih 

pegawai-pegawai Uni, dan para utusan dari 

Uni memberikan hak suaranya untuk memilih 

pegawai-pegawai General Conference. Mela-

Wawan Hernawan Menelusuri Transmisi Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh di Indonesia 

lui cara ini, setiap Uni, Daerah, Lembaga, 

Gereja, dan anggota Gereja-gereja, mempu-

nyai hak suara dalam pemilihan dan dalam 

menentukan orang-orang pemegang tanggung 

jawab pada General Conference. Melalui cara 

ini pula proses transmisi Gereja Masehi 

Advent Hari Ketujuh di Indonesia dapat 

tumbuh dan bekembang dengan cepat 

dibanding “denominasi-denominasi” Gereja 

lainnya. 



Masehi Advent Hari Ketujuh secara resmi ditetapkan sebagai organisasi pada 

21 Mei 1863. Nama organisasi ini ditetapkan oleh orang orang yang menamakan 

dirinya Adventist. Kelompok Adventist adalah orang orang yang menanti dan meyakini 

kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali dan beribadah pada hari sabat atau hari sabtu 

(Tambunan, 1999). Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dalam Bahasa Inggris disebut 

“Seventh Day Adventist” merupakan nama dari denominasi kristen yang berciri khas 

kepercayaan bahwa Yesus akan datang untuk kedua kali dan beribadah pada hari sabat. 

Tokoh yang berperan penting dalam pembentukan awal Kelompok Adventist dan 

peletakan dasar Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di dunia adalah James White, 

Ellen White, Josep Bates dan Hiram Edson. Awalnya ajaran ini berkembang hanya di 

Amerika Utara hingga tahun 1874, namun kemudian setelah adanya utusan misionari 

ke berbagai negara maka Kelompok Adventist berkembang ke seluruh dunia. Pada 

tahun 1863 kelompok ini memiliki anggota sebanyak 3500 jiwa kemudian bertambah 

hingga sembilan juta pada 1996. 

Selanjutnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berkembang ke seluruh dunia 

salah satunya adalah ke Indonesia. Perintisan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di 

Indonesia pertama kali dimulai oleh Ralph Waldo Munson yang dikirim oleh kantor 

konferens Michigan pada 1899 ke Padang. Dalam waktu satu tahun Munson dapat 

membatiskan dua orang kepala keluarga Tionghoa dan 20 orang lainnya sedang belajar. 

Tahun 1901 Pendeta Munson melakukan penjualan 100 buku alkitab berbahasa 

Belanda kepada orang orang Belanda di Medan. Penjualan buku ini  menjadi awal 

perintisan dari kelompok Adventist di Medan. Pada tahun 1905 seorang Batak yang 

merantau ke Padang yakni Imannuel Siregar dibaptis oleh Munson. Imanuel Siregar 

kemudian pulang kampung ke Tarutung kemudian ke Bungabondar, Sipirok untuk 

menyebarkan kepercayaannya. 

Kelompok Adventist pertama di Tanah Karo diawali oleh tukang jahit, tukang 

foto dan tukang kayu pada tahun 1955 hingga 1958 di Kabanjahe dan Berastagi. 

Mereka adalah Jamada Manullang, M. manik, P. Tampubolon, M. Siregar, dan 

Siboro.  Di tahun 1956 Mahadin Panjaitan berkontribusi menyebarkan injil di Berastagi 

dengan menjadi guru injil, guru sekolah dasar, dan guru sekolah Bahasa Inggris. Pada 

rentang waktu 1955 hingga 1957 menunjukkan sudah adanya kelompok Adventist di 

Tanah Karo tetapi kelompok ini belum terorganisasi dan belum memiliki tempat 

perkumpulan. 

Tahun 1958 Pdt. Dr. Thomas Sinulingga yang mengenal Gereja Masehi Advent 

Hari Ketujuh di Bandung pulang kampung ke Tanah Karo dan menyebarkan injil. 

Awalnya Dr. Thomas adalah Laskar Siliwangi yang kemudian meminta pensiun dari 

TNI dan memutuskan bersekolah di Sekolah kependetaan di Institut Theologia dan 

Keguruan Advent Cisarua Bandung. Pdt. Dr. Thomas Sinulingga membangun 

beberapa lembaga pendidikan di Tanah Karo dibantu oleh Pansa Tampubolon. Mereka 

merintis pendidikan Kristen di Kuta buluh. Sumbul adalah daerah Kab. Karo yang 

menjadi tempat perkumpulan awal Adventist di Tanah Karo. Di tahun 1960 didirikan 

sekolah SMP dan SMA Advent Lau Rakit, perumahan guru dan perumahan pendeta. 

Dalam menyebarkan kepercayaannya Pansa Tampubolon dan Pdt. Dr. Thomas 

Sinulingga pernah mengumpulkan 5000 orang untuk diinjili dan diberi makan di laut 

rakit. Di tahun 1966 didirikan SD Advent Sumbul. Di tahun 1978 berdiri lembaga 

pendidikan SMP Advent Sumbul. Pekerjaan yang dilakukan oleh Pdt. Dr. Thomas 

Sinulingga dan Pansa Tampubolon di tahun 1958 menghasilkan kelompok-kelompok 

adventist dan pendirian gereja dalam kurun waktu 3 tahun di berbagai daerah di tanah 

Karo. 

Kelompok Adventist terus berkembang hingga menciptakan perkumpulan 

terorganisasi di Kabupaten Karo. Kelompok Adventist sering disebut sebagai jemaat 

dan dinamai berdasarkan daerah tinggalnya. Kelompok Adventist di Tanah Karo 

diorganisasikan dalam 4 distrik yakni distrik Karo Utara, distrik Karo Barat, Distrik 

Karo Timur dan Distrik Karo Selatan. Adapun jemaat di Distrik karo utara yakni 

Jemaat Sumbul, Jemaat Filadelfia Berastagi, Jemaat Kuta Rakyat, Jemaat Gongsol, 

Jemaat Ajijahe, dan Jemaat Kabanjahe. Distrik Karo barat terdiri atas Jemaat Jinabun, 

Jemaat Batu Karang, Jemaat Bintang Meriah, Jemaat Susuk, Jemaat Tapak Kuda, 

Jemaat Mardinding, Jemaat Tanjung, Jemaat Kuta Buluh, Jemaat Laurakit, Jemaat 

Kuta Galuh, Jemaat Penampen dan Jemaat Lau Buluh. Kemudian Distrik Karo Timur 

memiliki Jemaat Barus Jahe, Jemaat Barus Julu, Jemaat Penampen, Jemaat Bingkawan, 

Jemaat Kinabung, Jemaat Maranatha dan Jemaat Pancur Batu. Lalu Distrik Karo 

selatan dengan Jemaat Kutambaru, Jemaat Tiga Binaga, Jemaat Juhar, Jemaat Pancur 

Ganjang, Jemaat Perbesi, Jemaat Kuta Gugung dan Jemaat Mangon Mulih 

Terdapat berbagai latar belakang yang mengawali adanya kelompok Adventist 

di berbagai tempat di Kabupaten Karo beberapa diantaranya adalah pertemuan Pendeta 

Thomas Sinulingga dengan tokoh warga  di kampung tersebut, khotbah yang 

menarik perhatian warga , penggunaan teknologi dalam menyebarkan injil, 

pembentukan kumpulan pemuda dengan misi kerja bakti, klub sepak bola, band musik, 

tabiat jemaat yang berbeda hingga pemberian ilmu mengenai kesehatan dan ilmu 

pertanian. Dengan kegiatan ini banyak terbentuk kelompok Adventist dan berdirinya 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Kabupaten Karo. 

Kelompok Adventist memiliki misi untuk memanggil semua orang menjadi 

murid Yesus Kristus. Memberikan injil kekal pekabaran tiga malaikat ( wahyu 14 : 6 – 

12) dan mempersiapkan semua orang untuk kedatangan Kristus kembali yang tidak 

lama lagi. Sesuai dengan misi ini Kelompok Adventist menjalankan kegiatan kegiatan 

diantaranya kebaktian pada hari sabat, evangelisasi, pendidikan, pelayanan kesehatan, 

pelayanan warga  dan pelayanan ketika bencana alam. 

Nilai nilai yang dianut Kelompok Adventist seperti merayakan hari sabat, 

beribadah pada hari sabtu, tidak melakukan  pekerjaan pada hari sabtu, mengutamakan 

hidup sehat dengan melakukan pertarakan makanan, memandu warga  untuk tidak 

makan sirih, tidak makan tembakau, tidak makan babi, tidak merokok, tidak minum 

teh, peraturan penggunaan musik, tidak merayakan natal, tidak memakai  

perhiasan menjadikan adanya perbedaan besar antara kelompok Adventist dengan 

budaya warga  di Kabupaten Karo. Hal ini mengakibatkan kelompok Adventist 

memiliki perkembangan yang cenderung lebih lambat secara kuantitas dibandingkan  

kelompok kelompok warga  yang berasal dari gereja gereja lain di Kabupaten 

Karo. Namun di samping itu walaupun jumlah warga  yang menjadi bagian dari 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tidak mengalami perkembangan yang pesat 

dibandingkan gereja lain, kelompok ini masih tetap eksis dan memegang teguh 

kepercayaannya hingga kini. 

Penelitian mengenai sejarah perkembangan kelompok Adventist di Kabupaten 

Karo akan menguraikan mengenai tindakan pelaku sejarah pada rentang waktu, cita 

cita kemanusiaan, tempat dan kejadian yang terkait dalam satu bagian yang akan 

menjawab apa, siapa, dimana, apabila, bagaimana, mengapa dan apa akibat, yang 

dihubungkan dengan orang orang Adventist dan kegiatannya. Penelitian ini akan 

menjelaskan bagaimana kepercayaan dan ajaran kelompok Adventist hingga perbedaan 

nilai nilai yang dianut kelompok Adventist dengan budaya warga  Karo. Penelitian 

ini juga akan menjelaskan di tengah tengah banyaknya gereja yang muncul dan 

berkembang di Tanah Karo mengapa Kelompok Adventist dengan nilai nilainya yang 

berbeda masih tetap ada di Tanah Karo. 

Kelompok Adventist turut memberikan dampak bagi warga  di Tanah Karo 

dan  generasi selanjutnya. Perkembangan kelompok Adventist memiliki nilai nilai 

sejarah yang amat penting dan sangat menarik. Penelitian rentang tahun 1958-2016 

juga belum pernah dilakukan oleh karena itu gagasan penelitian mengenai Kelompok 

Adventist di Kabupaten Karo tepatnya distrik Karo Utara perlu dilakukan dengan 

memakai  metode penelitian sejarah. 

 


Ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sebagian besar menyerupai mainstream Kristen Protestan, dan
khususnya gereja-gereja injili. Gereja Advent mengajarkan otoritas Alkitab dan keselamatan yang diperoleh
melalui iman di dalam Yesus Kristus. Dua puluh Delapan Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah yaitu 
pernyataan resmi doktrin gereja ini.
Denominasi ini juga memiliki sejumlah ajaran yang khas yang membedakannya dari gereja-gereja Kristen
lainnya (meskipun beberapa kepercayaan seperti ini juga diajarkan di gereja-gereja lain). Ajaran Gereja
Advent paling menonjol, antara lain: percaya pada kekekalan Sepuluh Perintah Allah, ketidaksadaran
manusia dalam kematian, keabadian bersyarat, pelayanan pendamaian Yesus Kristus di kaabah surgawi, dan
"pengadilan pemeriksaan" yang dimulai tahun 1844. Selain itu, Gereja Advent menganut ajaran tradisional
historis yaitu sistem keyakinan eskatologis yang mengajarkan adanya umat yang sisa, krisis akhir zaman
yang universal, dan kedatangan Yesus Kristus secara literal sebelum masa milenium dimana orang percaya
tinggal di surga.
Keyakinan Resmi
Sumber Otoritas
Sejarah Perkembangan
Kebenaran Zaman ini dan Pilar Ajaran
Persamaan dan Variasi Ajaran
Persamaan dengan Doktrin Protestan lainnya
Sabat dan Hukum
Kaabah Sorgawi dan Pengadilan Pemeriksaan
Eskatologi
Umat yang Sisa
Kedatangan Kedua Yesus Kristus
Neraka dan Keadaan Orang Mati
Roh Nubuat
Ajaran-ajaran lain
Soteriologi
Doktrin Keselamatan and Kehendak Bebas
Kesempurnaan tanpa Dosa
Penciptaan
Ibadah dan Pelayanan
Tata Ibadah
Perjamuan Kudus
Baptisan
Referensi
Daftar isi
Gereja Masehi Advent hari Ketujuh menyatakan ajaran gereja dalam sebuah pernyataan resmi yang dikenal
sebagai 28 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah. Pernyataan Keyakinan Dasar ini diputuskan dalam Rapat
Umum Sedunia pada tahun 1980, dan kemudian Keyakinan Nomor 11 ditambahkan pada tahun 2005.[1]
Versi yang lebih sederhana Pernyataan Keyakinan ini yaitu  Sumpah Baptisan.
Selain Keyakinan Dasar ini ada sejumlah "Pernyataan Resmi (http://www.adventist.org/beliefs/statements/in
dex.html)" yang diputuskan dalam tiap Rapat Umum Sedunia. The Seventh-day Adventist Bible Commentary
yaitu  ekspresi teologi Gereja Advent yang lebih rinci.
Keyakinan Dasar No. 1 menyatakan "Kitab Suci yaitu  pernyataan kehendak Allah yang tidak pernah
salah. Kitab Suci merupakan standar tabiat, ujian pengalaman, pengungkap doktrin-doktrin yang
berwenang dan catatan yang dapat dipercaya akan perbuatan Allah dalam sejarah." Para Teologian Gereja
Advent umumnya menolak inspirasi verbal Kitab Suci yang diyakini oleh sebagian gereja-gereja Kristen
konservatif evangelis. Mereka percaya bahwa Allah mengilhami pikiran dari penulis Alkitab, dan kemudian
penulis menyatakan ilham tersebut dalam kata-kata mereka sendiri.[2] Pandangan ini dikenal sebagai
"inspirasi pikiran".
Para Teologian Advent umumnya menolak pendekatan kritik tinggi pada Kitab Suci. Pernyataan Resmi (htt
p://adventist.org/beliefs/other-documents/other-doc4.html) tahun 1986 menyatakan "mengajurkan pelajar-
pelajar Alkitab untuk menghindari penggunaan prasuposisi dan deduksi resultan yang terkait dengan
metode historis-kritis."[3], namun  walaupun demikian beberapa teologian denomenasi ini tetap menggunakan
metode ini.[4]
Pada awal berdirinya, ajaran Gereja Advent cenderung legalistik dan perfeksionis, namun  menjelang akhir
abad ke-19 ajaran-ajaran Advent lebih menekanan pada kasih karunia. Salah satu faktor utama yang
berkontribusi terhadap pergeseran teologis yaitu  Rapat Umum tahun 1888 di Minneapolis dimana gereja
mengembangkan lebih banyak ajaran yang berfokus pada Yesus dan "pembenaran oleh iman".[5] Salah satu
faktor lainnya yaitu  diskusi yang berlangsung antara Gereja Advent dan gereja-gereja injili pada 1950-an,
yang hasilnya yaitu  penerbitan buku berjudul Seventh-day Adventists Answer Questions on Doctrine.[6]
Para pendiri Gereja Advent memiliki konsep ajaran dinamis yang mereka sebut Kebenaran Zaman Ini,
dengan demikian mereka menentang kekakuan creedal dan memiliki keterbukaan terhadap pemahaman
teologis baru yang dibangun di atas doktrin utama yang menjadi ciri khas gereja.[7] Kebenaran Zaman Ini
yaitu  konsep yang menyatakan bahwa Tuhan menuntun gereja pada kebenaran secara dinamis, sehingga
keyakinan gereja saat ini "merupakan ujian kepada orang-orang dari angkatan ini, bukan tes untuk orang-
orang generasi sebelumnya"[8]  
Dalam buku Counsels to Writers and Editors ditulis sebagai berikut:
"Tidak ada alasan mengambil posisi bahwa tidak ada kebenaran lagi yang akan
diungkapkan, atau semua pengertian kita tentang Kitab Suci tanpa kesalahan. Doktrin-
doktrin tertentu dipercaya sebagai kebenaran selama bertahun-tahun oleh jemaat, bukan
merupakan bukti bahwa gagasan-gagasan itu tidak bisa salah. Lamanya satu ajaran dianut
Keyakinan Resmi
Sumber Otoritas
Sejarah Perkembangan
Kebenaran Zaman ini dan Pilar Ajaran
tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri
sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang saksama. "[9]
Pandangan ini senada dengan pendahuluan untuk 28 Uraian Doktrin Dasar Alkitab: "Revisi dari pernyataan
ini diharapkan pada Rapat Umum Sedunia ketika gereja dipimpin oleh Roh Kudus untuk dapat memahami
sepenuhnya kebenaran Alkitab atau menemukan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ajaran
Firman Tuhan."[10]
namun  walaupun demikian, kemungkinan perubahan dinamis dalam keyakinan Gereja Advent tidak
takbatas.[11] Keyakinan-keyakinan utama yang merupakan pilar ajaran gereja harus menjadi dasar teologi
Advent dan pilar ajaran inilah yang memberikan Gereja Advent suatu identitas.[12] Pilar ajaran Gereja antara
lain:[13] pengadilan pemeriksaan, ajaran kaabah surgawi, pekabaran tiga malaikat, hukum Tuhan, iman
kepada Yesus, Sabat, keadaan orang mati , dan karunia nubuat.[14]
Sebuah survei tahun 2002 pada orang-orang Advent di seluruh dunia menunjukkan penerimaan keyakinan
berikut:[15][16]
Doktrin Persentase Adventis yang setuju
Sabat 96%
Kedatangan Yesus yang kedua kali 93%
Keadaan Tidur untuk orang mati 93%
Kaabah dan 1844 86% (35% percaya ada lebih dari satu interpretasi doktrin ini)
Kewenangan Ellen White 81% (50% melihat perlu untuk reinterpretasi tulisan Ellen White)
Keselamatan melalui Kristus saja 95%
Penciptaan dalam 6 hari 93%
Gereja Advent menganut doktrin sentral Kristen Protestan: Trinitas, inkarnasi, kelahiran dari perawan,
korban pendamaian, pembenaran oleh iman, penciptaan, dosa asal, kedatangan Tuhan yang kedua,
kebangkitan orang mati, dan penghakiman terakhir.
Dalam Seventh-day Adventists Answer Questions on Doctrine (1957), Gereja Advent menguraikan doktrin
utama yang mereka yang sama dengan agama Kristen Protestan.
Sama dengan Kristen Konservatif, kami percaya-
1. Bahwa Allah yaitu  maha Pencipta, penopang, dan penguasa alam semesta, dan bahwa
Dia yaitu  kekal, mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir.
2. Bahwa Keilahian, Trinitas, terdiri dari Allah Bapa, Kristus Anak, dan Roh Kudus.
3. Bahwa Kitab Suci yaitu  wahyu Tuhan yang diinspirasikan kepada manusia, dan bahwa
Alkitab yaitu  satu-satunya aturan iman dan praktik.
4. Bahwa Kristus Yesus yaitu  Allah, dan bahwa Dia telah ada dengan Bapa dari zaman
kekekalan.
5. Bahwa Roh Kudus yaitu  pribadi keilahian yang memiliki sifat Bapa dan Anak.
6. Bahwa Kristus, Firman Allah, berinkarnasi melalui konsepsi ajaib dan kelahiran perawan,
dan bahwa Ia menjalani hidup yang benar-benar tidak berdosa di bumi.
Persamaan dan Variasi Ajaran
Persamaan dengan Doktrin Protestan lainnya
7. Bahwa kematian penebusan Yesus Kristus yaitu  korban pengganti, sekali untuk
selamanya yang cukup untuk menebus umat manusia yang hilang.
8. Bahwa Yesus Kristus bangkit dalam tubuh dan secara harfiah dari kubur.
9. Bahwa Dia naik dalam tubuh dan secara harfiah ke surga.
10. Bahwa Dia sekarang menjabat sebagai pembela manusia alam pelayanan imam dan
mediasi di hadapan Bapa.
11. Bahwa Dia akan kembali datang secara pribadi dalam premillennial yang sudah dekat.
12. Bahwa manusia diciptakan tanpa dosa, tapi telah jatuh kedalam dosa yang yang
menyebabkan perpisahan dengan Allah dan mengalami kerusakan total.
13. Bahwa keselamatan melalui Kristus yaitu  karena anugerah, melalui iman dalam
darahNya.
14. Bahwa pintu masuk pada kehidupan baru di dalam Kristus yaitu  dengan regenerasi,
atau kelahiran baru.
15. Bahwa manusia dibenarkan oleh iman.
16. Bahwa manusia dikuduskan oleh berdiamnya Kristus melalui Roh Kudus.
17. Bahwa orang-orang kudus akan dimuliakan pada saat dibangkitkan atau diubahkan,
ketika Tuhan kembali.
18. Bahwa akan ada pengadilan Tuhan bagi semua orang.
19. Bahwa injil harus diberitakan sebagai saksi ke seluruh dunia. "[17]
Semua doktrin-doktrin ini, dengan pengecualian pada nomor 11 (tentang kedatangan Kristus pada
premillennial ), dianut oleh banyak pihak antara Protestan konservatif atau injili. Gereja-gereja Protestan
memiliki pandangan berbeda-beda tentang milenium.
Mengenai ajaran keselamatan, pernyataan resmi Gereja ada dalam "The Dynamics of Salvation" tahun
1980.[18]
Gereja Advent percaya bahwa "prinsip-prinsip utama hukum Allah diwujudkan dalam Sepuluh Perintah
Allah", dan perintah ini yaitu  "mengikat bagi semua orang di segala zaman" (Dasar Kepercayaan no. 19).
Meskipun hukum upacara dan upacara kurban dari Perjanjian Lama telah digenapi oleh kematian Yesus
Kristus, Sepuluh Perintah Allah tetap berlaku untuk orang Kristen. Kata-kata Yesus Kristus dalam Matius
5:17-20 yaitu  dasar untuk keyakinan ini:
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau
kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini,
satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang
paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat
yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; namun  siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam
Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu
tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."
Gereja Advent percaya bahwa hari ketujuh tiap pekan, yakni Sabtu, yaitu  hari Sabat alkitabiah yang
ditetapkan Allah "untuk tujuan luhur memperkaya hubungan Allah dan manusia".[19] Perlu dicatat bahwa
Sabat yaitu  pesan berulang dalam Alkitab yang disebutkan dalam kisah Penciptaan, di Gunung Sinai,
dalam pelayanan Yesus Kristus, dan dalam pelayanan para rasul. Hari Sabat berfungsi sebagai peringatan
mingguan untuk Penciptaan dan merupakan simbol penebusan, baik dari perbudakan Mesir dan perhambaan
dosa. Dengan memelihara hari Sabat, manusia diingatkan cara Tuhan membuat mereka kudus, seperti yang
Sabat dan Hukum
ia lakukan untuk hari Sabat. Orang Advent menunjukkan kesetiaan mereka kepada Allah dengan menjaga
perintah dalam Sepuluh Perintah Allah. Hari Sabat juga merupakan waktu bagi orang Advent untuk
digunakan untuk Allah dan dengan sesama manusia.
Orang Advent percaya bahwa Sabat bukan hanya hari istirahat namun  juga dimaksudkan sebagai hari kudus
bagi orang percaya untuk bertumbuh secara rohani.[20] Meskipun Gereja Advent tidak percaya bahwa
mereka diselamatkan oleh memelihara Sabtu sebagai hari Sabat, mereka memahami makna yang jauh lebih
besar pada pemeliharaan hari Sabtu dibandingkan makna hari kudus bagi denominasi Kristen lain yang
beribadah pada hari Minggu.
Gereja Advent mengajarkan bahwa tidak ada bukti berubahan hari Sabat ke hari Minggu dalam Alkitab.[21]
Mereka sebaliknya mengajarkan bahwa perubahan itu disebabkan oleh kebiasaan berkumpul orang-orang
Kristen di Roma pada hari Minggu[22] yang tujuannya untuk membedakan diri dari Yahudi[23][24] dan untuk
menyelaraskan diri dengan otoritas politik.[25][26] Perubahan ini menjadi lebih universal diterima setelah
Kaisar Romawi Konstantinus I menitahkan kesucian Hari Minggu tahun 321 M[27] dan keputusan Konsili
Laodikia dalam kanon 29 yang menyatakan bahwa orang Kristen harus menghindari bekerja pada hari
Minggu.[19][28][29]
Gereja Advent mengajarkan bahwa ada satu kaabah di surga yang dicontoh oleh kaabah yang didirikan
Musa, sesuai dengan interpretasi mereka pada Ibrani 8 dan 9. Setelah kematian, kebangkitan dan
kenaikanNya, Yesus Kristus memasuki kaabah di surga sebagai Imam Besar yang Mahatinggi, "melayani
demi kepentingan kita, memungkinkan orang-orang percaya memperoleh keuntungan dari korban
pendamaian yang diadakanNya." (Kepercayaan Dasar no. 24). Orang Advent percaya bahwa Kristus
melayani di bagian pertama dari kaabah (ruang suci) hingga Oktober 1844; setelah waktu itu Ia memasuki
bagian kedua dari kaabah (ruang Maha Kudus) dalam pemenuhan Hari Pendamaian. Orang Advent percaya
bahwa karya penebusan Kristus mencakup kematiannya di kayu Salib dan pelayanan keimamatanNya di
kaabah surgawi.
Pengadilan Pemeriksaan yaitu  doktrin unik untuk Gereja Advent. Doktrin ini mengajarkan bahwa
penghakiman umat Allah dimulai pada tanggal 22 Oktober 1844 ketika Kristus memasuki ruang Mahakudus
di kaabah surgawi. Orang Advent mengalaskan ajaran Pengadilan pemeriksaan ini dari gambaran dalam
teks-teks seperti Daniel 7:9-10, 1 Petrus 4:17 dan Wahyu 20:12. Tujuan dari Pengadilan ini yaitu  untuk
memisahkan orang yang benar-benar percaya dari mereka yang palsu.
Dasar alkitabiah dari ajaran Pengadilan Pemeriksaan ini ditantang pada tahun 1980 oleh seorang mantan
teolog Advent Desmond Ford pada Sanctuary Review Committee. Meskipun Gereja Advent secara resmi
tetap meneguhkan posisi dasar doktrin ini, sejak tahun 1980 banyak dari anggota Gereja yang liberal terus
mengkritisi dari ajaran ini. Menurut survei tahun 2002 di seluruh dunia, menurut para pemimpin gereja lokal
diperkirakan hanya 86% dari anggota gereja yang menerima ajaran.
Gereja Advent menyatakan dirinya sebagai umat yang sisa seperti yang disebutkan dalam Wahyu 12:17 (htt
p://www.sabda.org/sabdaweb/bible/verse/?b=66&c=12&v=17). Menurut mereka dua tanda umat yang sisa,
yakni: menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus, merujuk kepada mereka sebab mereka
mengajarkan pengudusan Hari Sabat dan memiliki Roh Nubuat. Mereka juga mengajarkan umat yang sisa
Kaabah Sorgawi dan Pengadilan Pemeriksaan
Eskatologi
Umat yang Sisa
ini bertugas untuk "mengumumkan tibanya hari penghukuman, menyatakan keselamatan melalui Kristus,
serta memaklumkan dekatnya kedatangan-Nya yang kedua kali.(Dasar Kepercayaan No.13) (http://www.adv
entist.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=22&Itemid=54); tugas yang tercakup dalam
Pekabaran Tiga Malaikat dalam Wahyu 14:6-12 (http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=66&c=1
4&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky). Sebelum pembaptisan, calon anggota akan ditanyakan
pertanyaan sebagai berikut, "Apakah saudara menerima dan percaya bahwa Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh merupakan gereja yang sisa menurut nubuat Alkitab dan bahwa orang-orang dari segala bangsa,
suku, dan bahasa diundang dan diterima ke dalam persekutuannya?"[30]
Gereja Advent percaya pada Kedatangan Kedua Yesus Kristus yang segera, terlihat, nyata, dan universal
yang akan didahului dengan "masa kesukaran".[31] Ajaran ini didasarkan pada Wahyu 1:7 (http://www.sabd
a.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=66&c=1&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky) yang menyatakan
bahwa, "setiap mata akan melihat Dia." Kedatangan Kedua Yesus Kristus bersamaan dengan kebangkitan
dan pemuliaan orang-orang kudus, seperti yang dijelaskan dalam 1 Tesalonika 4:16 (http://www.sabda.org/s
abdaweb/bible/chapter/?b=52&c=4&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky). Orang Advent percaya
bahwa orang fasik akan dibangkitkan setelah milenium. Dibandingkan dengan pandangan eskatologi Kristen
lainnya, pandangan Gereja Advent paling dekat dengan Premilenialisme. Keadaan bumi akan terus
memburuk sampai "masa kesukaran", (yang mirip dengan Kesengsaraan Besar pada ajaran premillennialist
klasik), pada saat itu otoritas sipil dan keagamaan akan bergabung menganiaya umat Tuhan, khususnya
mereka yang menguduskan Sabat hari ketujuh. Masa kesukaran akan berakhir dengan kedatangan Kristus,
yang akan menandai dimulainya milenium.
Gereja Advent menolak teologi dispensationalist dan pengangkatan pretribulation, yang mengajarkan bahwa
gereja akan tetap di bumi selama krisis akhir zaman. Gereja Advent mengajarkan bahwa pemerintahan
seribu tahun Kristus akan mengambil tempat di surga, bukan di bumi, dan akan melibatkan semua orang
ditebus Allah, bukan hanya bangsa Israel jasmani.(Lihat Dasar Kepercayaan 26 dan 27 (https://id.wikisourc
e.org/wiki/Dasar-Dasar_Kepercayaan_Gereja_Masehi_Advent_Hari_Ketujuh)) Gereja Advent menafsirkan
kitab Wahyu menggunakan metode historis, namun  juga mengajarkan tafsiran bahwa beberapa nubuatan akan
digenapi pada masa yang akan datang.
Gereja Advent percaya bahwa kematian yaitu  suatu keadaan ketidaksadaran saat seseorang menanti
kebangkitan.[32] Mereka mendasarkan kepercayaan ini pada teks-teks Alkitab seperti Pengkhotbah 9:5 (htt
p://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=21&c=9&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky)
yang menyatakan "orang mati tidak tahu apa-apa", dan 1 Tesalonika 4:13-18 (http://www.sabda.org/sabdawe
b/bible/chapter/?b=52&c=4&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky) yang berisi uraian tentang
orang mati dibangkitkan dari kubur pada kedatangan kedua Yesus Kristus. Ayat-ayat ini menunjukkan
bahwa kematian yaitu  suatu bentuk tidur.
Gereja Advent mengajarkan bahwa kebangkitan orang benar akan terjadi pada kedatangan kedua Yesus,
sedangkan kebangkitan orang fasik akan terjadi setelah milenium dalam Wahyu 20 (http://www.sabda.org/sa
bdaweb/bible/chapter/?b=66&c=20&version=tb&lang=indonesia&theme=clearsky). Mereka menolak
doktrin neraka sebagai siksaan kekal, namun  mereka percaya bahwa orang fasik akan secara kekal
dihancurkan setelah milenium. Istilah teologis untuk ajaran ini yaitu  Annihilationisme.
Pandangan Gereja Advent tentang kematian dan neraka mencerminkan keyakinan mendasar mereka dalam:
(a) keabadian bersyarat (atau kondisionalisme), yang bertolak belakang dengan kekekalan jiwa, dan (b) sifat
holistik manusia, sebagai lawan pandangan bipartit atau tripartit. Itu sebabnya institusi pendidikan Advent
Kedatangan Kedua Yesus Kristus
Neraka dan Keadaan Orang Mati
berusaha melibatkan bukan hanya pikiran, namun  semua aspek kemanusiaan dari seseorang.
Ajaran Keabadian Bersyarat yaitu  salah satu doktrin yang digunakan oleh para kritikus (khususnya pada
masa lalu) dan denominasi Kristen lainnya untuk mengklaim bahwa gereja Advent bukanlah bagian dari
denominasi Kristen.[33] Ajaran ini kemudian berkembang dalam Kekristenan khususnya bagi yang beraliran
evangelikal, sebagaimana diungkapkan oleh British Evangelical Alliance dalam laporan ACUTE yang
menyatakan doktrin itu yaitu  "pandangan minoritas kelompok evangelikal" yang telah "tumbuh dalam
evangelisme dalam beberapa tahun terakhir".[34]
Gereja percaya karunia nubuat diwujudkan dalam pelayanan Ellen White, yang kadang-kadang disebut
sebagai "Roh Nubuat". Dalam Dasar-Dasar Kepercayaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dinyatakan
bahwa:
"tulisan- tulisannya merupakan sumber kebenaran yang bersifat terusmenerus dan
mempunyai kuasa untuk menghibur jemaat, membimbing, memberikan petunjuk dan
perbaikan. Tulisan-tulisan itu menyatakan dengan jelas bahwa Alkitab merupakan ukuran,
dan dengan itulah pengajaran dan pengalaman harus diuji." Dasar Kepercayaan no. 18 [35]
Dua pernyataan resmi lainnya tentang pelayanan nubuatan dari Ellen White baru-baru ini diputuskan pada
Konferensi Umum Se-dunia. Pada dokumen A Statement of Confidence in the Spirit of Prophecy tanggal
30 Juni 1995 menyatakan bahwa Ellen White "melakukan pekerjaan nabi, dan bahkan lebih", dan
tulisannya "membawa otoritas ilahi, baik untuk hidup saleh dan untuk ajaran gereja", dan menganjurkan,
"sebagai gereja kita mencari kuasa Roh Kudus untuk menerapkan nasihat yang diilhami yang terkandung
dalam tulisan-tulisan Ellen G White pada kehidupan kita." [36] Dalam dokumen Resolution on the Spirit of
Prophecy tanggal 3 Juli 2005 tertulis, "kami menegaskan peran penting tulisan-tulisan Ellen G. White
masih berperan dalam menuntun gerakan Adventist dan dalam mempertahankan persatuan Gereja dunia.
Akibatnya, kami menyerukan kepada angota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di seluruh dunia dengan
doa mempelajari tulisan-tulisannya, dalam rangka memahami lebih penuh tujuan Allah bagi umat-umat-
Nya." [37]
Ajaran-ajaran lain
Gereja Advent menganut pandangan yang sama dengan kebanyakan Kristen Protestan, dosa mengakibatkan
manusia mewarisi kodrat yang rusak dan terpisah secara rohani dari Allah. Dosa dengan demikian dipahami
sebagai keadaan semua manusia dan manusia tidak dapat melepaskan diri dari keadaan ini tanpa anugerah
Allah.[38] Mayoritas Advent percaya bahwa semua manusia mewarisi kodrat kemanusiaan yang telah rusak
dari Adam. Bukan saja mewarisi kodrat kemanusiaan yang sudah rusak, namun  juga turut menanggung akibat
pelanggaran Adam.[39]
Doktrin Keselamatan dalam Gereja Advent banyak dipengaruhi oleh tradisi Wesleyan, yang merupakan
ekspresi Arminianisme. Hal ini terlihat dalam dua hal. Pertama, adanya penekanan dalam ajaran Gereja
Advent pada penyucian sebagai konsekuensi yang diperlukan dan tak terelakkan dari keselamatan dalam
Kristus. Penekanan pada ketaatan ini tidak dianggap mengurangi prinsip reformasi sola fide ("iman saja"),
Roh Nubuat
Soteriologi
Doktrin Keselamatan and Kehendak Bebas
melainkan untuk memberikan keseimbangan yang penting bagi doktrin pembenaran oleh iman, dan untuk
menghindari pengaruh antinomianisme.[40] Sementara menegaskan bahwa orang Kristen diselamatkan
sepenuhnya oleh kasih karunia Allah, Gereja Advent juga menekankan ketaatan kepada hukum Allah
sebagai respon yang tepat untuk keselamatan.
Kedua, Gereja Advent menekankan ajaran Kehendak Bebas, setiap individu bebas untuk menerima atau
menolak tawaran keselamatan Tuhan. Karena itu Gereja Advent menolak pandangan doktrin Calvinis ,
yakni: takdir (atau pemilihan tanpa syarat), penebusan terbatas, dan ketekunan orang-orang kudus ("sekali
diselamatkan tetap selamat"). Seventh-day Adventists Answer Questions on Doctrine menyatakan bahwa
Gereja Advent percaya: "Setiap individu bebas untuk memilih atau menolak tawaran keselamatan melalui
Kristus; kami tidak percaya bahwa Allah telah menakdirkan sebagian orang akan diselamatkan dan sebagian
lainnya akan dihukum."[17] Kebebasan memilih untuk menerima atau menolak Allah merupakan bagian
integral dari tema Kontroversi Besar:
"Tuhan dapat mencegah dosa dengan menciptakan alam semesta yang seperti robot, yang
akan melakukan apa yang telah ditentukan supaya mereka melakukan. namun  Allah dalam
kasihNya menciptakan makhluk yang bisa dengan bebas berkehendak untuk mengasihiNya
- dan tanggapan itu hanyalah mungkin dari makhluk yang memiliki kebebasan memilih." [41]
Keyakinan bahwa telah diselamatkan yaitu  bagian dari Keyakinan Resmi Gereja.[42] namun  menurut survei
tahun 2002 di seluruh dunia pada para pemimpin gereja lokal, diperkirakan hanya 69% dari orang Advent
yang merasa yakin telah diselamatkan.[43]
Pertanyaan tentang apakah manusia dapat mencapai keadaan sempurna tanpa dosa telah lama menjadi topik
yang kontroversial dalam Gereja Advent. Dalam bukunya The Sanctuary Service (1947), M.L Andreasen
mengajarkan bahwa kesempurnaan tanpa dosa dapat dicapai,[44] ajaran ini tetap dipegang sebagian anggota
Gereja Advent khususnya yang berpandangan konservatif. Ajaran ini menyatakan bahwa orang percaya
pada akhir zaman harus dan akan mencapai keadaan tanpa dosa yang sama dengan sifat alami Adam dan
Hawa sebelum berdosa. Kelompok konservatif percaya bahwa ajaran ini yaitu  ajaran resmi Gereja Advent
yang asli, dan mereka juga menuduh bahwa para pemimpin Gereja telah keliru dan menyimpang dari ajaran
asli itu.[45]
namun , beberapa teolog Gereja Advent seperti Edward Heppenstall mengemukakan pandangan bahwa
Kesempurnaan tanpa Dosa tidak mungkin dicapai dalam hidup ini, sehingga setiap orang percaya akan
selalu bergantung pada pengampunan Tuhan selama hidup di dunia ini. Happenstall mengungkapkan bahwa
konsep "kesempurnaan" dalam Alkitab mengacu pada kedewasaan rohani, bukan ketidakberdosaan
mutlak.[46] Dalam pengertian teologis, penyucian yaitu  proses seumur hidup yang akan dialami tiap-tiap
orang percaya hingga Kedatangan Kedua Yesus Kristus, dimana orang percaya kemudian akan dimuliakan
pada saat kebangkitan.
Gereja Advent menafsirkan pasal-pasal awal Kitab Kejadian secara harfiah[47] dan menolak teori evolusi,
dan mereka mengikuti Teori Penciptaan bumi yang berusia muda (sekitar 6000 tahun literal) dan Banjir
Global. Dalam Dasar-dasar kepercayaan dinyatakan:
"Di dalam enam hari Tuhan menjadikan "langit dan bumi" dan semua makhluk hidup yang
ada di atas bumi, dan berhenti pada hari ketujuh pada minggu yang pertama itu." Dasar
Kepercayaan no. 6 [10]
Kesempurnaan tanpa Dosa
Penciptaan
Orang Advent percaya bahwa Tuhan juga menciptakan dunia-dunia lain yang dihuni oleh makhluk cerdas di
suatu tempat di alam semesta, yang sudah ada sebelum penciptaan bumi dan murni.[48]
"Langit" yang disebutkan dalam Kejadian 1 dan 2 mungkin menunjuk kepada planet-planet
serta bintang-bintang yang paling dekat kepada bumi. Sesungguhnya, bumi, ganti ciptaan
pertama Kristus, sangat mungkin yaitu  ciptaan-Nya yang terakhir. Alkitab melukiskan
anak-anak Allah, kemungkinan yang dimaksud yaitu  Adam-Adam dari dunia-dunia yang
tidak pernah jatuh ke dalam dosa, berjumpa dengan Allah, mengadakan pertemuan di
sebuah sudut yang jauh di alam semesta (Ayb. 1:6-12). Sebegitu jauh, belum ada
penemuan mengenai planet-planet yang dihuni. Tampaknya tempat yang dimaksudkan itu
amat jauh di keluasan alam semesta di luar jangkauan sistem bimasakti kita yang telah
dicemari dosa ini, untuk menjamin supaya jangan sampai ditulari dosa.[49]
Ibadah gereja tiap pekan dilakukan pada hari Sabtu, biasanya dimulai dengan acara Sabat Sekolah yang
merupakan waktu untuk belajar Alkitab dalam kelompok kecil. Gereja Advent menggunakan penuntun
"Pelajaran Sekolah Sabat" yang berkaitan dengan pendalaman Alkitab atau doktrin tertentu setiap triwulan.
Pada saat yang sama pertemuan yang tersisah disediakan untuk anak-anak dan remaja sesuai dengan
kelompok masing-masing (mirip dengan sekolah Minggu di gereja kristen lainnya). Setelah Acara Sekolah
Sabat, jemaat bergabung bersama lagi untuk kebaktian umum seperti ibadah Protestan Evangelikal lainnya,
dengan khotbah sebagai pusat ibadah. Ibadah dengan bernyanyi, pembacaan Alkitab, doa dan persembahan,
termasuk persepuluhan (atau pengumpulan uang), yaitu  ibadah standar lainnya. Selain ibadah pada hari
Sabtu, beberapa gereja-gereja lokal juga menyelenggarakan ibadah tengah pekan pada petang hari Rabu, dan
ibadah buka Sabat pada petang hari Jumat.[50]
Gereja Advent biasanya menyelenggarakan perjamuan kudus empat kali setahun. Perjamuan Kudus yaitu 
ibadah terbuka yang dapat diikuti untuk anggota dan bukan anggota gereja.[51] Ibadah ini dimulai dengan
upacara pembasuhan kaki, yang dikenal sebagai "Perintah Kerendahan Hati", yang didasarkan pada Yohanes
13.[52] Perintah Kerendahan Hati dimaksudkan gambaran Kristus membasuh kaki murid-muridNya 'pada
Perjamuan Terakhir' dan mengingatkan peserta ibadah untuk merendahkan hati dengan melayani satu sama
lain.[53][54] Peserta dipisahkan berdasarkan jenis kelamin ke ruang yang terpisah untuk melakukan ritual ini,
meskipun beberapa jemaat memungkinkan pasangan suami istri untuk melakukan pembasuhan kaki
bersama. Setelah selesai, peserta kembali ke tempat utama untuk mengikuti Perjamuan Tuhan, dengan
menerima roti tidak beragi dan meminum anggur yang tidak difermentasi.[55][56]
Gereja Advent menyelenggarakan pembaptisan pada anggota jemaat dengan cara pencelupan penuh, cara
yang mirip dengan gereja-gereja Baptis. Mereka berpendapat bahwa baptisan yang membutuhkan
pengetahuan, pemahaman dan tanggung jawab moral. Oleh karena itu, mereka tidak menerima pembaptis
bayi atau anak-anak yang belum dapat menunjukkan pemahaman dan tanggung jawab moral. Gereja Advent
percaya bahwa baptisan yaitu  pernyataan kepada umum yang bersangkutan menyerahkan hidupnya kepada
Ibadah dan Pelayanan
Tata Ibadah
Perjamuan Kudus
Baptisan
Yesus dan itu merupakan prasyarat untuk keanggotaan gereja. Baptisan hanya dipraktikkan setelah calon
baptisan telah melalui pelajaran Alkitab. Menurut Alkitab, tindakan baptisan menunjukkan bahwa orang
yang telah bertobat dari dosa dan ingin hidup dalam Kristus. Kisah Para Rasul 8:36-37.