Berbagai ajaran agama dalam kualitas yang
berbeda-beda telah muncul di tengah masya-
rakat manusia. Menurut kenyataan sejarah,
agama senantiasa menjadi unsur mutlak bagi
kehidupan; sebagai motivasi, pembentuk
watak, dan akhlak manusia yang tidak dapat
diingkari oleh siapa pun.1 Dengan melihat
1Dalam hubungan ini, betapa pentingnya peranan
agama dalam kehidupan manusia sejak zaman pra-
sejarah ketika umat manusia masih berada dalam taraf
kehidupan serba primitif sampai zaman modern
sekarang, ketika manusia telah mengalami taraf
kehidupan serba ganda dalam kebudayaan dan
kenyataan sejarah umat manusia, “kita” dapat
mengetahui bahwa agama merupakan faktor
yang besar pengaruhnya terhadap dinamika
individual dan sosial, sehingga dapat dikata-
kan, bahwa tidak ada masyarakat manusia di
dunia yang pernah hidup dinamis tanpa agama
perkembangan peradabannya. Oleh sebab itu, dapat
dikatakan, mempelajari ajaran agama bukan semata-
mata untuk kepentingan ilmu pengetahuan belaka,
namun juga untuk kepentingan pribadi pemeluknya
sendiri. Lihat, Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-
Agama Besar, (Jakarta: Golden Terayon Press, 1990),
Advent dalam dunia Kristen termasuk denominasi. Denominasi ini bila dilihat dari sejarahnya merupakan pecahan
dari gereja Kristen Protenstan, ketika Kristen Protestan tidak kuasa untuk mengendalikan Advent. Semakin lama
semakin lepas dan tidak mau kembali lagi kepadanya. Pergerakan Advent segera dan dengan cepat berkembang ke
seluruh dunia. Dalam usaha menyiarkan agamanya, umat Advent di Indonesia menyelenggarakan zending yang
kuat (tangguh) berpusat di Jakarta untuk wilayah Indonesia Barat dan di Manado untuk wilayah Indonesia timur
dengan nama Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Penelusuran tentang transmisi Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh di Indonesia bermaksud merekonstruksi terhadap gerakan yang diamininya, terutama mengenai
pertumbuhan dan perkembangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah
yang meliputi empat tahap, yaitu heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi. Sedangkan untuk memperoleh
eksplanasi tentang persoalan yang diteliti digunakan pendekatan multi-dimensional.
sama sekali, baik agama dalam pengertian
sempit maupun luas.2
Joachim Wach, seorang tokoh Ilmu Per-
bandingan Agama, dalam General Revelation
and Religions of the World, mengatakan,
“tidak ada satu agama yang benar sendiri
dalam arti bahwa agama yang lain keliru;
sebaliknya tidak semuanya benar. namun
disamping semuanya mengandung kebenaran,
agama-agama tidak saja berbeda satu sama
lain dalam masalah-masalah dimana mereka
adalah benar semua, namun juga dalam
sejumlah kebenaran dan kekuatan penting
yang dimilikinya”.3 Wach berkeyakinan, pemi-
kirannya itu merupakan koreksi yang tepat
terhadap tuntutan Kristen atau non-Kristen
sehubungan dengan masalah kebenaran
(agama).4
Soal pokok yang mau tak mau mesti
dihadapi umat Kristen dalam kelangsungan
sejarahnya adalah tentang pewartaan Yesus
Kristus kepada manusia yang bergerak dalam
corak pikiran yang berkembang. Alam pikiran
yang ditentukan oleh otonomi manusia, oleh
pengetahuan empiris yang melalui mencip-
takan dunia manusia dan mengatur segala
sesuatu, pemikiran yang menjadi sadar akan
sejarah dan ciri historis segala apa. Ini suatu
pemikiran dan dunia yang berpusatkan pada
manusia sendiri, ketika bukan manusia
melainkan Allah menjadi problem.5
Pada abad-abad pertama, Gereja dihadap-
kan dengan persoalan-persoalan.6 Sementara,
hampir di sepanjang sejarah Gereja tampaklah
pergumulan mereka yang masih muda itu
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Krirtus Pada
Umat Kristen, (Yogyakarta: PT Kanisius, 1988), 214.
6Persoalan-persoalan yang dihadapi Gereja pada
abad-abad pertama, adalah, pertama: Pengakuan yang
diambil alih dari ajaran Yahudi, yaitu bahwa Tuhan
Allah adalah Esa dan, kedua, Pengakuan bahwa Yesus
Kristus adalah Tuhan. Lihat, Harun Hadiwijono, Iman
Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), 103-4.
untuk merumuskan kepercayaannya tentang
Tuhan Allah. Di dalam pergumulan itu dapat
disaksikan, bagaimana Gereja di satu pihak
berusaha untuk menghindarkan diri dari
bahaya mempertahankan keesaan Allah
dengan melepaskan ketritunggalan-Nya.7
Sementara di lain pihak dapat disaksikan pula,
bagaimana Gereja bergumul untuk menghin-
darkan diri dari bahaya mempertahankan
ketritunggalan Allah dengan melepaskan
keesaan-Nya.8
Pada abad ketiga, di Roma munculah
Praxeas. Ia mengajarkan, bahwa tuhan Allah
adalah roh. Sebagai roh, tuhan Allah disebut
Bapak. Allah ini telah mengenakan daging
atau menjadi manusia. Praxeas mempertahan-
kan keesaan Allah. Tuhan Allah adalah satu.
Bapak dan Anak adalah satu pribadi, yaitu
pribadi tuhan Allah. namun Praxeas
melepaskan ketritunggalan atau di sini lebih
tepat disebut kedwi-tunggalan. Sebutan Bapak
dan Anak tidak menunjukkan perbedaan,
kecuali sebagai roh dan daging di dalam diri
Juru Selamat Yesus Kristus.9 Sebaliknya
terdapat golongan ahli pikir Kristen yang
waktu itu ada berusaha mempertahankan
ketritunggalan Allah, namun melepaskan
keesaan-Nya.10 Hal itu, sebut saja, seperti
dilakukan Paulus dari Samosata. Dalam
pendapatnya, tuhan Allah hanya dapat dipan-
dang sebagai satu pribadi saja.11
Perselisihan pendapat terbesar di kalangan
pemikir Trinitas adalah kontroversi pan-
dangan Arius dan Athanasius. Para Bapak
Gereja dulu, tidak mempunyai konsepsi yang
7Bahwa orang sedemikian menekankan kepada
ajaran bahwa Allah adalah Esa, sehingga sebutan
Bapak, Anak, dan roh Kudus seolah-olah hanya
dipandang sebagai sifat-sifat Allah saja. Hadiwijono,
Iman Kristen,104.
8Bahwa orang sedemikian menekankan kepada
perbedaan antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus,
sehingga ketiganya itu seolah-olah berdiri sendiri-
sendiri tanpa ada kesatuannya. Hadiwijono, Iman
Kriste.
jelas tentang Trinitas. Sebagian di antara
mereka membenarkan Logos sebagai akal non-
manusiawi (impersonal reason), yang menjadi
manusia pada saat penciptaan. Sementara yang
lain, memandang Dia sebagai manusia yang
ko-eternal dengan Bapak yang memiliki sifat
esensi kekekalan. Sementara itu, sebagian lagi
memandangnya sebagai suruhan (sub-ordina-
tion) atau kedudukannya di bawah Bapak.
Sedangkan roh Kudus tidak mendapat tempat
penting dalam pembicaraan mereka.12
Pada 325 M., diselenggarakan konsili umat
Nasrani pertama di kota Nicea dibawah
perintah Kaisar Konstantin. Berkumpullah di
kota tersebut sejumlah 2048 Uskup. Mereka
datang dengan pendirian masing-masing.13
Setelah konsili pertama, ketenangan yang
diharapkan belum diperoleh. Pada 381 M.,
diulang lagi konsili dengan mengambil tempat
di Konstantinopel. Adapun yang menjadi
bahan diskursus masih berkisar pada soal
i'tikad di sekitar kedudukan Yesus dan Ruh al-
Kudus. Pada tahun 431 M., diadakan lagi
konsili di Episus (Efase), tema utamanya
masih mempersoalkan tentang ketuhanan
oknum yang tiga. Persoalan itu masih terus
dilakukan hingga tahun 451 M., di
Chalcedon.14
Council Chalcedon tidak menetapkan akhir
dari perselisihan Kristologis. Mesir, Syiria,
dan Palestina merupakan tempat tinggal
mayoritas di antara pengikut fanatik dari
penantang Eutychian.15 Sedangkan Roma
kemudian semakin menjadi pusat orthodoxy. 16
Dengan demikian, kuat dugaan, proses
perkembangan dogmatis pertama-tama berasal
dari Timur dan kemudian berkembang di
Barat.
Pertentangan-pertentangan itu menjadi
bibit perpecahan secara resmi pada 1054 M.
Mulai saat itu, Gereja terpecah menjadi dua,
yaitu: Rum Katholika dan Yunani Katholika
(Greek Catholica). Pada 1517 M., Rum
Katholik pun mengalami perpecahan yang
lebih berat, yaitu Rum Katholika dan
Protestan, dengan Luther sebagai pelopornya.
Gerakan reformasi Luther pada mulanya tidak
dimaksudkan untuk memisahkan diri dari
Gereja Rum Katholik, namun ketegangan-
ketegangan berikutnya ternyata tidak dapat
dijembatani. sebab itu, jalan satu-satunya
yang adalah memisahkan diri dari Gereja Rum
Katholik yang dipimpin oleh Paus.17
Gereja reformatoris yang mendasarkan diri
pada semboyan Ecclesia semper reformanda
(Gereja yang terus menerus diperbaiki) terus
mengayunkan langkah pembaharuannya. Pada
akhirnya, resiko dari pembaharuan tersebut
dihadapkan kepada simalakama (pilihan-
pilihan sulit), yaitu untuk menegaskan batas
antara “pembaharuan” dan “kebebasan” dan
“perpecahan-kelembagaan”.18 Hal tersebut
terjadi, sebab telah timbul demikian banyak
lembaga gerejawi dengan berdasarkan
penekanan ajarannya masing-masing.
Hingga di sini, di sepanjang sejarahnya,
Gereja Protestan yang jumlahnya demikian
banyak tersebut, berjuang untuk menentukan
batas-batas dari ide reformasi Gereja dan
bergulat dengan ekses yang terkandung dalam
gerakan pembaharuan tersebut. Hal yang perlu
diketahui, dalam hubungan latar belakang
sejarah ini adalah Gereja Protestan yang
majemuk tersebut masing-masing berdiri
sendiri, berbeda dengan Gereja Katholik yang
memiliki hierarki dengan satu pusat, yaitu
Paus di Roma. Gereja Protestan tidak
memiliki suatu pusat bersama yang berhak
mengatur keseluruhannya, sebagaimana gereja
Katholik Roma. Gereja Protestan hanya dapat
diwakili oleh suatu lembaga, apabila memang
telah terdapat kesepakatan bersama.19 Adapun
Gereja-gereja Protestan di Indonesia, secara
umum merupakan bagian dari warisan sejarah
reformasi tersebut. Mereka merupakan
perwujudan dari berbagai (pluriformitas)
warisan tradisi reformatoris yang dibawa oleh
para utusan Lembaga Pekabaran Injil serta
Gereja-gereja Protestan di dunia Barat.
1. Sejarah Pertumbuhan dan Perkem-
bangan
Pada permulaan abad ke-19, tumbuh
kebangunan besar tentang kedatangan Yesus
yang kedua kali. Kebangunan besar seperti itu
belum pernah terjadi pada abad-abad
sebelumnya. Dari kebangunan besar tersebut,
kemudian lahir Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh.20
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
merupakan ciptaan seorang berkebangsaan
Amerika Serikat bernama James White. Mula-
mula ia memeluk agama Kristen Baptis Hari
Ketujuh yang mempersucikan hari Sabath
(Sabtu). Kemudian masuk Advent sebagai
pengikut Miller (Millerism), namun sebab
kecewa terhadap ramalan Miller, kemudian
White menciptakan Gereja Baru dengan nama
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh pada
1844 M.21 Gereja ini mulai ada dan
bertumbuh-kembang di Amerika serta mulai
membangun reputasinya pada 1860 M.22
Pada musim bunga 1861 M., para
pemimpin di Battle Creek menganjurkan agar
setiap perkumpulan Advent yang bercerai-
berai segera mengorganisir diri di bawah
nama Masehi Advent Hari Ketujuh.
Merespons anjuran tersebut, pada Oktober
1861 M., langkah pertama telah diambil
menuju pembentukan Michigan Conference.
Conference setingkat dengan Uni dengan
mengangkat sebuah Komite yang diketuai oleh
Joseph Bates.
Pada 1862 M., Gereja-gereja dari beberapa
negara bagian bertemu untuk membentuk
Konferensi (Uni). Michigan sendiri sudah
membentuk Komite Uni pada bulan Oktober
1862 M., di Gereja Monterey dengan memilih
seorang anggotanya (anggota biasa) untuk
menjadi Ketua, yaitu: William S. Higley.
Akhirnya pada Mei 1863 M., delegasi dari
beberapa konferensi yang baru terbentuk itu
berkumpul di Bettle Creek. Mereka merumus-
kan sebuah konstitusi untuk organisasi
General Conference. Perutusan-perutusan itu
dengan semangat yang tinggi memilih James
White sebagai Ketua Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh yang pertama.23 Namun, sebab
James White tidak menerima jabatan Ketua,
John Byington kemudian dipilih mengganti-
kan James White. Akan namun , dua tahun
kemudian White menerima tanggung jawab
itu, tepatnya pada 1865 M. Selama hidupnya,
James White menduduki jabatan sebagai
Ketua General Conference. Ia menentukan
sebuah prosedur untuk membayarkan gaji
tetap kepada pekerja-pekerja Injil melalui
tunjangan sistematis. Dengan sendirinya para
pekerja Injil harus selalu membawa surat
kredensi sebagai tanda bahwa ia telah dengan
sah diangkat sebagai juru bicara pergerakan.
Ditambahkan pula, bahwa tidak seorang
pekerja pun dibenarkan mengadakan
perjalanan dari satu daerah ke daerah yang
lain, atas kehendaknya sendiri atau atas
permintaan Gereja setempat. Panggilan harus
diatur oleh kedua daerah yang bersangkutan.
Dengan demikian, umat Allah setelah
menemukan pekabarannya yang khusus.
Mereka telah berhasil mengorganisir diri.
Dalam waktu yang singkat mereka siap
melancarkan tugas missi sedunia.24
Pada 1869 M., Mary L. Priest dan beberapa
kalangan yang semuanya terdiri atas
perempuan mendirikan Vigiland Missionary
Society di South Lancaster, Massachusetts.
Kegiatan mereka, meliputi: penyediakan wak-
tu untuk mengunjungi tetangga-tetangganya;
menolong orang sakit yang berkekurangan dan
melayangkan doa bagi mereka; serta
mengirimkan beribu-ribu traktat dan surat
kepada banyak orang, baik yang jauh maupun
yang dekat. Tahun berikutnya, S.N. Haskell
mendirikan Persekutuan New England Tract
and Missionary (T.M.), dan mengajak
didirikannya T.M., di seluruh New England.
Pada 1873 M., pendeta Haskell diminta
memimpin persekutuan-persekutuan T.M.
Persekutuan-persekutuan itu kemudian
semakin menguat, sehingga pada tahun 1882
M., telah menjadi International Tract
Missionary Society.
Pada 1888 M., beberapa pejabat pemerintah
mengajukan diadakannya Blair Sunday Bill
(Undang-undang Hari Minggu) kepada
Congress (Dewan Perwakilan Rakyat Amerika
Serikat). Setelah itu, kecemasan dan
kegelisahan besar terjadi di kalangan
pemimpin-pemimpin umat Masehi Advent
Hari Ketujuh, yang melihat kalau hal itu
dibatalkan, suatu saat kelak sebuah Undang-
undang hari Minggu nasional akan segera
menjadi sebuah kenyataan. Pada 1889 M.,
Masehi Advent Hari Ketujuh mendirikan
National Religious Liberty Association. Salah
satu usaha yang telah dicapainya ialah
mengumpulkan nama 250.000 orang yang
menentang rencana Undang-undang hari
Minggu. Persekutuan ini berdiri sendiri, lepas
dari General Conference.
Dengan kalimat yang singkat dapat
dikatakan, bahwa pada 1890-an terlalu banyak
organisasi yang terpisah-pisah yang bekerja
dan berdiri sendiri. Di antara mereka kadang-
kadang bersaing satu sama lain. Selain itu,
masih pada 1890-an juga dibentuk organisasi
yang terlalu sentralisasi, yaitu “segala putusan
penting harus dibuat di Battle Creek”.
Akibatnya, sedikit sekali kebebasan untuk
membuat keputusan yang diberikan kepada
Uni dan daerah setempat.25 Kesalahan dasar
yang lain ialah perluasan lembaga-lembaga,
dengan akibat terlalu banyak anggota umat
percaya berkumpul di satu tempat saja. Review
and Herald Publishing Association dan Battle
Creek Sanitarium telah diperbesar melebihi
batas kemampuannya. Sementara orang-orang
Advent di mana-mana terus berpindah ke
Battle Creek, sehingga seperduapuluh-lima
dari jumlah seluruh anggota mereka
berkumpul di Gereja Sabath Tabernacle pada
tiap-tiap hari Sabat. 26
Lembaga-lembaga yang didirikan
kemudian bekerja secara berlebihan disertai
dengan sifat haus akan kuasa dan
mementingkan diri sendiri. Mereka cenderung
kehilangan rasa pengabdian. Sebagai
imbasnya muncul penilaian yang tidak sehat
dalam urusan-urusan keuangan. Sambil
memandang dengan sedih dan sungguh-
sungguh kepada wajah-wajah pemimpin yang
berkumpul pada 1901 M., dalam rapat besar
General Conference, Ellen G. White,
berkata:27
“O, jiwaku hancur memikirkan hal ini…
Bahwa orang-orang inilah yang berdiri
sendiri di tempat yang suci dan menjadi
suara Allah bagi orang banyak,
sebagaimana pandangan dan harapan dari
General Conference di masa lalu. Apa
yang kita perlukan sekarang ialah re-
organisasi. Kita akan mulai lagi dari dasar
dan membangunnya atas prinsip yang lain.”
Para utusan mengeluarkan suara reaksi
ketika Ny. White mengucapkan kalimat itu.
Sekalipun perubahan besar diadakan, pada
akhirnya banyak para utusan yang memuji
Tuhan, sebab kemajuan-kemajuan yang
dicapai dalam hati setiap utusan rapat itu.
Rapat General Conference selanjutnya
diadakan di Oakland, California. Di sana
kemudian dibangun percetakan Pacific Press
(sebelum dipindahkan ke Mountain View).
Pada tahun-tahun selanjutnya, proses
pembentukan Uni dan pembentukan depar-
temen-departemen diselesaikan. Organisasi
bentukan 1901 M., dan 1903 M., itu tidak
dapat dikatakan sudah sempurna. namun ,
sedikitnya-banyak telah memberikan
pengertian yang lebih luas akan struktur dan
semangat pekerjaan mereka.
Pada tahun selanjutnya, sebuah unit
administrasi didirikan lagi. Beberapa Divisi
dibentuk (waktu itu di seluruh dunia terdapat
12 Divisi). Divisi ini merupakan bagian dari
General Conference. Ia membawahi langsung
beberapa buah Uni. Uni pun membawahi
sidang-sidang. Pembentukan divisi-divisi
dimaksudkan agar setiap anggota sidang
mempunyai hubungan yang tidak terputus
dengan General Conference.
Sebagai agama mission, sebelum tahun
1870-an berakhir, pekerja-pekerja Masehi
Advent Hari Ketujuh telah menjelajahi Swiss
(daerah Prusia), Perancis, dan Italia. J.N.
Loughborough bekerja di Inggris, dan John G.
Matteson, yang pernah pergi ke Battle Creek
untuk menyusun huruf-huruf cetak agar dapat
mencetak majalahnya sendiri di Denmark.28
Pada 1880-an mulailah penyebrangan ke
negara-negara Mesir, Rusia, Australia, Afrika
Selatan, Hongkong, Pitcairn, dan Turki. Pada
tahun-tahun tersebut Ellen Gold White berada
di Eropa. G.I. Butler juga mengadakan
perjalanan ke Eropa. Ellen Gold White-lah
ketua General Confernce tang pertama kali
melakukan lawatan ke luar negeri. Pada 1890-
an para pekerja Masehi Advent Hari Ketujuh
bertambah luas. Finlandia, Mexico, Chili,
Brazilia, Jepang, Fiji, Iceland, India, dan
negara-negara lain menerima para pembawa
kabar Advent.29
Pada Desember 1899 M., Ralph Waldo
Munson dari New York, Amerika, bersama
keluarganya menuju Singpura. Mereka tiba di
Teluk Bayur tepat pada 1 Januari 1900 M.
Munson sebelumnya bekerja sebagai seorang
Missionary Methodist. Akan namun , sebelum
tahun 1900 M., ia tertarik untuk masuk dan
menjadi seorang Advent.
Di Singapura Munson membaptiskan
seorang dari Padang bernama Timothy (Tay
Hong Siang). Kemudian bersama Timothy,
Munson dan keluarga pindah ke Padang
(Indonesia). Semula di Padang ia hanya ingin
membuka percetakan. Akan namun lebih dari
itu, ia pun membuka klinik kecil dan
mengadakan baptisan pertama kepada seorang
warga Padang bernama Siregar. Setelah
dibaptis namanya kemudian dikenal Imanuel
Siregar.
Setelah dari Padang (Sumatera Barat),
Munson melanjutkan missinya
ke Jawa dengan membuka percetakan di
Sukabumi pada tahun 1909 M. Pada 1912 M.,
didirikan organisasi lokal di Kramat Pulo
Jakarta dengan sebutan West Java Mission.
Demikianlah daerah-daerah lain secara
berturut-turut, masing-masing: East Java
Mission (1913 M.), North Sumatera Mission
(1917 M.), South Sumatera Mission (1917
M.), Sulawesi Mission (1923 M.), Ambon
Mission (1929 M.) dan Batak Land Mission
(1927 M.). Selanjutnya perhatikan tabel
statistik perkembangan Gereja Advent di
Indonesia antara tahun 1904-1928, sebagai
berikut:
Pada 1928-1929 M., ketika bangsa
Indonesia mulai bangkit dan bersatu melawan
pemerintah Hindia Belanda dengan diada-
kannya Kongres Pemuda Indonesia pertama
yang dilanjutkan dengan dikumandangkannya
“Sumpah Pemuda” (28 Oktober 1928 M.),
terjadi suatu peristiwa penting dalam sejarah
pertumbuhan dan perkembangan Advent di
Indonesia, yaitu: Pertama: Netherland East
Indies Mission (NEIS) yang berada di bawah
Malaya Union Mission (MUM) pada tahun
1929 M., berubah dan kemudian berkiblat ke
Central Eropa Division (CED). Kedua:
Masalah pembelian sekolah (Netherland
Training School). Sebagai background
pembelian sekolah tersebut, adalah:
1. Bidang Politik, yaitu Jerman kalah dalam
perang menimbulkan banyak kehilangan
daerah kekuasaan mereka. Termasuk di
dalamnya daerah kekuasaan Gereja
Advent. Perlu diketahui, bahwa Jerman
ketika itu merupakan tempat para
missionary dan memiliki banyak harta
benda. Maka mereka meminta kepada
General Conference, agar Netherland East
Indies Mission untuk mereka.
2. Para Missionary dari Amerika bekerjanya
kurang cepat, sehingga mereka sangat
memerlukan bantuan tambahan.30 Melihat
kenyataan demikian, maka pada rapat
Netherland East Indies Mission dibentuk-
lah kepengurusan baru dengan komposisi
sebagai berikut:
Presiden : B. Ohme
Sekretaris dan bendahara: H. Schell
Bidang Sekretariat : Drinhause
Anggota: Tan Ki Siang, T. H. Rondonuwu
Ditambah seluruh Ketua-ketua Daerah.
Dari rapat tersebut dapat dicatat, bahwa:
(1) Pusat N.E.I.M. bertempat di Bandung; (2)
Membangun kantor dan Gereja atas bantuan
Central Eropa seharga $ 4.000,00; (3)
Membeli sebuah rumah untuk training school
di Cimindi Bandung. Mulai N.E.I.M. yang
baru itu diorganisir, Gereja sudah berdiri 57
buah dengan 7 lokal mission. Pada 1938 M.,
dari Central Eropa Division (C.E.D.) kembali
ke Far Eastern Division (F.E.D.).31
Setelah perang kemerdekaan, Gereja
Masehi Advent Hari Ketujuh meluas ke
seluruh pelosok Indonesia, khususnya daerah-
daerah tempat agama Kristen yang sudah
terkenal. Pertumbuhan Gereja yang cepat
menyebabkan pada 1964, Uni di Indonesia
dibagi menjadi Uni Indonesia Barat berpusat
di Jakarta dan Uni Indonesia Timur berpusat di
Manado. Mulai 1970 kedua Uni yang ada di
Indonesia, dipimpin orang Indonesia.32
Sebagai agama mission, Gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh mendirikan lembaga-
lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar
hingga perguruan tinggi. Mereka juga
mendirikan klinik kesehatan hingga rumah
sakit, percetakan, dan yayasan sosial lainnya.33
Menurut catatan statistik, pada 2011 Gereja
Advent di Uni Indonesia Bagian Barat telah
berdiri 718 Gereja dengan 101.768 anggota
jemaat.34 Sedangkan di Uni Indonesia Bagian
Timur telah didirikan 725 Gereja dengan
108.466 anggota jemaat.35
Gereja Advent telah memasuki 202 dari
230 negara dan wilayah yang diakui
oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sampai 30 September 2013, anggota Gereja
Advent yang dibaptis berjumlah 18.028.769
orang. Dalam dekade terakhir, sekitar satu juta
orang per tahun bergabung dengan gereja
Advent, melalui pembaptisan dan pengakuan
iman. Dengan mencermati perkembangan
tersebut, kuat dugaan, Gereja ini merupakan
“denominasi Protestan yang paling luas
penyebarannya di dunia”.36 Perkembangan
Gereja ini terutama terjadi di negara- negara
berkembang.
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah
badan yang terorganisasi dan beranggotakan
anggota-anggota Advent. Kelompok-
kelompok yang tidak masuk anggota salah
satu Gereja (sebab mereka terpencil di suatu
tempat) menjadi anggota Gereja Daerah.
Daerah (Local Conference) ialah badan yang
terdiri dari Gereja-Gereja yang terdapat di
salah satu daerah atau provinsi tertentu.
Utusan dari sidang, bersama pendeta-
pendeta sidang dan anggota komite daerah,
dan anggota komite General Conference yang
kebetulan ada mengadakan rapat (konperensi
daerah) sekali dalam beberapa tahun. Rapat
tersebut memilih atau mengangkat ketua,
sekretaris, dan bendahara daerah, pegawai-
pegawai departemen daerah dan anggota-
anggota komite daerah. Anggota komite
daerah terdiri dari ketua, sekretaris dan
bendahara daerah, pemimpin-pemimpin
departemen daerah dan anggota-anggota
gereja yang diangkat. Untuk jangka waktu
antara satu rapat (konperensi) daerah dan
konperensi daerah berikutnya komite tersebut
memiliki wewenang penuh untuk menjalankan
segala urusan daerah itu.
Uni (union conference), terdiri dari
beberapa daerah. Utusan dari daerah bersama
segenap anggota komite Uni, dan juga anggota
Komite General Conference yang kebetulan
datang berkunjung, berkumpul sekali dalam
beberapa tahun (konperensi Uni) untuk
memilih ketua, sekretaris dan bendahara Uni,
para pemimpin departemen-departemen Uni
dan anggota-anggota komite Uni. Ketua Uni,
sekretaris dan bendahara, pemimpin-pemimpin
departemen, dan ketua-ketua daerah, otomatis
menjadi anggota Komite Uni.
General Conference (Divisi), terdiri dari
Uni-Uni yang terdapat di seluruh dunia,
berikut daerah-daerah yang terpencil. Rapat
General Conference diadakan sekali dalam
empat tahun, dan para pemilih (voters) dalam
rapat itu terdiri dari pendeta-pendeta dan
anggota dari Uni dan komite General
Conference. Pada rapat (konperensi) itu dipilih
ketua, sekretaris, dan bendahara General
Conference, demikian juga pemimpin
departemen General Conference dan ketua
Divisi, yang semuanya itu membentuk komite
General Conference. Ketua Uni dan pemimpin
dari beberapa lembaga tertentu otomatis
menjadi anggota komite General Conference.
Hanya pada rapat General Conference boleh
diadakan perubahan-perubahanan pada buku
Peraturan Sidang dan Konstitusi General
Conference. Selain daripada itu tidak boleh.
Komite General Conference menentukan
besar budget operasi (operating budget),
menentukan besarnya bantuan ke pelbagai
tempat di seluruh dunia, dan membuat
peraturan kerja. Divisi bukanlah sesuatu badan
yang terpisah, melainkan ia merupakan bagian
dari General Conference, mewakili General
Conference di tempat yang ditunjuk. Ketua
Divisi, bertindak juga sebagai salah satu
Sekretaris General Conference.
Organisasi missi (di luar Amerika Serikat)
berbeda sedikit dengan conference organi-
zation (yang terdapat di Amerika). Oleh
sebab ketua, sekretaris dan bendahara Uni
diangkat dalam rapat divisi, dan ketua,
sekretaris dan bendahara daerah diangkat pada
waktu diadakan rapat konferensi Uni. Gereja
Advent secara formil dibentuk atau diorganisir
pada tahun 1861 M., dan local conference
(daerah) juga dibentuk pada tahun itu. General
Conference mulai diorganisir pada tahun 1863
M., dan Divisi dibentuk pada tahun 1913 M.
Uni pertama dibentuk di Australia pada tahun
1894 M., dan sejak tahun 1901 M., pem-
bentukan Uni sudah tetap. Distrik yang lambat
laun menjadi dasar akan pembentukan Uni,
mula-mula dibentuk pada tahun 1894 M., dan
menjadi wadah induk yang tidak mengikat
bagi daerah-daerah (local conperence), yang
mengadakan konperensinya setiap tahun atau
satu kali dalam dua tahun, di bawah pimpinan
General Conference. Di sini tidak ada rantai
yang putus antara General Conference dan
anggota sidang, melainkan hubungan yang
membuat seluruh dunia menjadi satu, dan
memberikan kebebasan dan kekompakan.
Sifat yang khas dari organisasi Gereja
Masehi Advent Hari Ketujuh adalah, “Setiap
anggota gereja mempunyai suara dalam
memilih pegawai-pegawai daerah. Para utusan
dari daerah memberikan suaranya memilih
pegawai-pegawai Uni, dan para utusan dari
Uni memberikan suaranya memilih pegawai-
pegawai General Conference. Dengan cara
ini, maka berarti setiap Uni, Daerah,
Lembaga, Gereja dan anggota gereja-gereja,
secara langsung mempunyai suara dalam
pemilihan orang-orang yang memegang
tanggung jawab di General Conference.
Selanjutnya, perhatikan struktur organisasi
General Masehi Advent Hari Ketujuh
sebagaimana skema berikut:
Tabel 2
Struktur Organisasi
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Pada permulaan perkembangan pekerjaan
Masehi Advent Hari Ketujuh, persekutuan
(societies) dan persatuan (association) yang
menangani beberapa aspek pekerjaan, seperti:
Sekolah Sabat dan penerbitan, kegiatan
mereka tidak terikat penuh pada General
Conference. Persekutuan dan persatuan itu
Wawan Hernawan Menelusuri Transmisi Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh di Indonesia
bekerja sebagaimana kemampuan mereka di
tiap-tiap daerah. Kadang-kadang yang satu dan
yang lainnya saling bersaing dalam hal uang
dan tenaga pekerja. Di tingkat General
Conference hanya terdiri atas tiga orang
sekretaris. Tugas dari masing-masing
sekretaris tersebut adalah mengurus masalah-
masalah missi di luar negeri, masalah-masalah
penginjilan di dalam negeri, dan masalah-
masalah pendidikan.
Pada perkembangan dewasa ini, seluruh
bidang pekerjaan yang banyak itu diurus oleh
General Conference, melalui departemen yang
masing-masingnya dipimpin oleh seorang
sekretaris. Dalam mengerjakan tugas-tugasnya
seorang Sekretaris tersebut dibantu oleh
asisten-asisten dan anggota staf lainnya.
Seluruh departemen itu tunduk pada peraturan-
peraturan yang dikeluarkan oleh General
Conference. Divisi, Uni, dan daerah, juga
mempunyai departemen-departemen yang
sama dengan General Conference. Seorang
sekretaris yang memimpin departemen juga
sama baik dengan yang ada di atas maupun di
bawahnya. Dengan sekretaris-sekretaris
departemen yang sama baik yang ada di atas
maupun dibawahnya, dan juga dengan
sekretaris-sekretaris departemen lainnya. Oleh
sebab Komite Daerah terbatas anggotanya,
maka tidak semua sekretaris departemen
otomatis menjadi anggota Komite Daerah,
namun semua tunduk ke bawah peraturan-
peraturan daerah itu.
Dalam kesempatan-kesempatan yang
diluaskan peraturan itu, dan dengan bekerja
sama dengan departemen yang lain, sekretaris
departemen daerah berusaha meningkatkan
kemampuan kepemimpinan sekretaris
departemen sidang. Maka, mulai dari General
Conference sampai ke sidang, departemen-
departemen bekerja melalui garis-garis yang
sudah tertentu, bekerja sama antara yang satu
dengan yang lainnya. Berikut ini bagan
Organisasi Departemen-Departemen Masehi
Adven Hari Ketujuh:
Tabel 3
Organisasi Departemen-Departemen
Masehi Advent Hari Ketujuh
Keterangan singkatan-singkatan di atas:
P = Pendidikan
K = Kesehatan
AB = Anggota
Bekerja
KA = Kebebasan
Agama
C = Percetakan
RT = Radio dan
TV
SS = Sekolah Sabat
T = Pertarakan
TL = Penatalayanan
PMA = Pemuda
Missionaris
Advent
M = Kependetaan
Dari sejumlah bahasan sebagaimana
disebutkan sebelumnya, ditemukan, bahwa
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
merupakan perwujudan dari berbagai
(pluriformitas) warisan tradisi reformatoris
yang dibawa oleh para utusan Lembaga
Pekabaran Injil serta Gereja-gereja Protestan
di dunia Barat. Gereja ini lahir setelah James
White (berkebangsaan Amerika Serikat)
mengalami kebangunan besar tentang
kedatangan Yesus yang kedua kali. Gereja ini
mulai berdiri pada 1844 M., dan bertumbuh-
kembang mula-mula di Amerika pada 1860
M., yang kemudian segera dan dengan cepat
menyebar ke seluruh dunia.
Sifat khas dari Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh adalah setiap anggota Gereja
mempunyai suara dalam memilih pegawai-
pegawai daerah. Para utusan dari daerah
memberikan hak suaranya untuk memilih
pegawai-pegawai Uni, dan para utusan dari
Uni memberikan hak suaranya untuk memilih
pegawai-pegawai General Conference. Mela-
Wawan Hernawan Menelusuri Transmisi Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh di Indonesia
lui cara ini, setiap Uni, Daerah, Lembaga,
Gereja, dan anggota Gereja-gereja, mempu-
nyai hak suara dalam pemilihan dan dalam
menentukan orang-orang pemegang tanggung
jawab pada General Conference. Melalui cara
ini pula proses transmisi Gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh di Indonesia dapat
tumbuh dan bekembang dengan cepat
dibanding “denominasi-denominasi” Gereja
lainnya.
Masehi Advent Hari Ketujuh secara resmi ditetapkan sebagai organisasi pada
21 Mei 1863. Nama organisasi ini ditetapkan oleh orang orang yang menamakan
dirinya Adventist. Kelompok Adventist adalah orang orang yang menanti dan meyakini
kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali dan beribadah pada hari sabat atau hari sabtu
(Tambunan, 1999). Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dalam Bahasa Inggris disebut
“Seventh Day Adventist” merupakan nama dari denominasi kristen yang berciri khas
kepercayaan bahwa Yesus akan datang untuk kedua kali dan beribadah pada hari sabat.
Tokoh yang berperan penting dalam pembentukan awal Kelompok Adventist dan
peletakan dasar Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di dunia adalah James White,
Ellen White, Josep Bates dan Hiram Edson. Awalnya ajaran ini berkembang hanya di
Amerika Utara hingga tahun 1874, namun kemudian setelah adanya utusan misionari
ke berbagai negara maka Kelompok Adventist berkembang ke seluruh dunia. Pada
tahun 1863 kelompok ini memiliki anggota sebanyak 3500 jiwa kemudian bertambah
hingga sembilan juta pada 1996.
Selanjutnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berkembang ke seluruh dunia
salah satunya adalah ke Indonesia. Perintisan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di
Indonesia pertama kali dimulai oleh Ralph Waldo Munson yang dikirim oleh kantor
konferens Michigan pada 1899 ke Padang. Dalam waktu satu tahun Munson dapat
membatiskan dua orang kepala keluarga Tionghoa dan 20 orang lainnya sedang belajar.
Tahun 1901 Pendeta Munson melakukan penjualan 100 buku alkitab berbahasa
Belanda kepada orang orang Belanda di Medan. Penjualan buku ini menjadi awal
perintisan dari kelompok Adventist di Medan. Pada tahun 1905 seorang Batak yang
merantau ke Padang yakni Imannuel Siregar dibaptis oleh Munson. Imanuel Siregar
kemudian pulang kampung ke Tarutung kemudian ke Bungabondar, Sipirok untuk
menyebarkan kepercayaannya.
Kelompok Adventist pertama di Tanah Karo diawali oleh tukang jahit, tukang
foto dan tukang kayu pada tahun 1955 hingga 1958 di Kabanjahe dan Berastagi.
Mereka adalah Jamada Manullang, M. manik, P. Tampubolon, M. Siregar, dan
Siboro. Di tahun 1956 Mahadin Panjaitan berkontribusi menyebarkan injil di Berastagi
dengan menjadi guru injil, guru sekolah dasar, dan guru sekolah Bahasa Inggris. Pada
rentang waktu 1955 hingga 1957 menunjukkan sudah adanya kelompok Adventist di
Tanah Karo tetapi kelompok ini belum terorganisasi dan belum memiliki tempat
perkumpulan.
Tahun 1958 Pdt. Dr. Thomas Sinulingga yang mengenal Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh di Bandung pulang kampung ke Tanah Karo dan menyebarkan injil.
Awalnya Dr. Thomas adalah Laskar Siliwangi yang kemudian meminta pensiun dari
TNI dan memutuskan bersekolah di Sekolah kependetaan di Institut Theologia dan
Keguruan Advent Cisarua Bandung. Pdt. Dr. Thomas Sinulingga membangun
beberapa lembaga pendidikan di Tanah Karo dibantu oleh Pansa Tampubolon. Mereka
merintis pendidikan Kristen di Kuta buluh. Sumbul adalah daerah Kab. Karo yang
menjadi tempat perkumpulan awal Adventist di Tanah Karo. Di tahun 1960 didirikan
sekolah SMP dan SMA Advent Lau Rakit, perumahan guru dan perumahan pendeta.
Dalam menyebarkan kepercayaannya Pansa Tampubolon dan Pdt. Dr. Thomas
Sinulingga pernah mengumpulkan 5000 orang untuk diinjili dan diberi makan di laut
rakit. Di tahun 1966 didirikan SD Advent Sumbul. Di tahun 1978 berdiri lembaga
pendidikan SMP Advent Sumbul. Pekerjaan yang dilakukan oleh Pdt. Dr. Thomas
Sinulingga dan Pansa Tampubolon di tahun 1958 menghasilkan kelompok-kelompok
adventist dan pendirian gereja dalam kurun waktu 3 tahun di berbagai daerah di tanah
Karo.
Kelompok Adventist terus berkembang hingga menciptakan perkumpulan
terorganisasi di Kabupaten Karo. Kelompok Adventist sering disebut sebagai jemaat
dan dinamai berdasarkan daerah tinggalnya. Kelompok Adventist di Tanah Karo
diorganisasikan dalam 4 distrik yakni distrik Karo Utara, distrik Karo Barat, Distrik
Karo Timur dan Distrik Karo Selatan. Adapun jemaat di Distrik karo utara yakni
Jemaat Sumbul, Jemaat Filadelfia Berastagi, Jemaat Kuta Rakyat, Jemaat Gongsol,
Jemaat Ajijahe, dan Jemaat Kabanjahe. Distrik Karo barat terdiri atas Jemaat Jinabun,
Jemaat Batu Karang, Jemaat Bintang Meriah, Jemaat Susuk, Jemaat Tapak Kuda,
Jemaat Mardinding, Jemaat Tanjung, Jemaat Kuta Buluh, Jemaat Laurakit, Jemaat
Kuta Galuh, Jemaat Penampen dan Jemaat Lau Buluh. Kemudian Distrik Karo Timur
memiliki Jemaat Barus Jahe, Jemaat Barus Julu, Jemaat Penampen, Jemaat Bingkawan,
Jemaat Kinabung, Jemaat Maranatha dan Jemaat Pancur Batu. Lalu Distrik Karo
selatan dengan Jemaat Kutambaru, Jemaat Tiga Binaga, Jemaat Juhar, Jemaat Pancur
Ganjang, Jemaat Perbesi, Jemaat Kuta Gugung dan Jemaat Mangon Mulih
Terdapat berbagai latar belakang yang mengawali adanya kelompok Adventist
di berbagai tempat di Kabupaten Karo beberapa diantaranya adalah pertemuan Pendeta
Thomas Sinulingga dengan tokoh warga di kampung tersebut, khotbah yang
menarik perhatian warga , penggunaan teknologi dalam menyebarkan injil,
pembentukan kumpulan pemuda dengan misi kerja bakti, klub sepak bola, band musik,
tabiat jemaat yang berbeda hingga pemberian ilmu mengenai kesehatan dan ilmu
pertanian. Dengan kegiatan ini banyak terbentuk kelompok Adventist dan berdirinya
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Kabupaten Karo.
Kelompok Adventist memiliki misi untuk memanggil semua orang menjadi
murid Yesus Kristus. Memberikan injil kekal pekabaran tiga malaikat ( wahyu 14 : 6 –
12) dan mempersiapkan semua orang untuk kedatangan Kristus kembali yang tidak
lama lagi. Sesuai dengan misi ini Kelompok Adventist menjalankan kegiatan kegiatan
diantaranya kebaktian pada hari sabat, evangelisasi, pendidikan, pelayanan kesehatan,
pelayanan warga dan pelayanan ketika bencana alam.
Nilai nilai yang dianut Kelompok Adventist seperti merayakan hari sabat,
beribadah pada hari sabtu, tidak melakukan pekerjaan pada hari sabtu, mengutamakan
hidup sehat dengan melakukan pertarakan makanan, memandu warga untuk tidak
makan sirih, tidak makan tembakau, tidak makan babi, tidak merokok, tidak minum
teh, peraturan penggunaan musik, tidak merayakan natal, tidak memakai
perhiasan menjadikan adanya perbedaan besar antara kelompok Adventist dengan
budaya warga di Kabupaten Karo. Hal ini mengakibatkan kelompok Adventist
memiliki perkembangan yang cenderung lebih lambat secara kuantitas dibandingkan
kelompok kelompok warga yang berasal dari gereja gereja lain di Kabupaten
Karo. Namun di samping itu walaupun jumlah warga yang menjadi bagian dari
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tidak mengalami perkembangan yang pesat
dibandingkan gereja lain, kelompok ini masih tetap eksis dan memegang teguh
kepercayaannya hingga kini.
Penelitian mengenai sejarah perkembangan kelompok Adventist di Kabupaten
Karo akan menguraikan mengenai tindakan pelaku sejarah pada rentang waktu, cita
cita kemanusiaan, tempat dan kejadian yang terkait dalam satu bagian yang akan
menjawab apa, siapa, dimana, apabila, bagaimana, mengapa dan apa akibat, yang
dihubungkan dengan orang orang Adventist dan kegiatannya. Penelitian ini akan
menjelaskan bagaimana kepercayaan dan ajaran kelompok Adventist hingga perbedaan
nilai nilai yang dianut kelompok Adventist dengan budaya warga Karo. Penelitian
ini juga akan menjelaskan di tengah tengah banyaknya gereja yang muncul dan
berkembang di Tanah Karo mengapa Kelompok Adventist dengan nilai nilainya yang
berbeda masih tetap ada di Tanah Karo.
Kelompok Adventist turut memberikan dampak bagi warga di Tanah Karo
dan generasi selanjutnya. Perkembangan kelompok Adventist memiliki nilai nilai
sejarah yang amat penting dan sangat menarik. Penelitian rentang tahun 1958-2016
juga belum pernah dilakukan oleh karena itu gagasan penelitian mengenai Kelompok
Adventist di Kabupaten Karo tepatnya distrik Karo Utara perlu dilakukan dengan
memakai metode penelitian sejarah.

