Maraknya berbagai denominasi yang ada di belahan dunia berimbas juga di tanah Minahasa
yang sebagian besar jemaatnya menjadi bagian dalam lingkup pelayanan Gereja Masehi Injili di
Minahasa. Ada berbagai macam strategi yang dilakukan oleh berbagai denominasi dalam
mempengaruhi pemikiran warga gereja. Anggota jemaat GMIM tidak luput dari strategi denominasi
yang lain untuk ‘mencuri domba’ namun dengan memakai cara-cara yang tidak alkitabiah dalam
mempengaruhi warga gereja. Hal itu dilakukan oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
(GMAHK). Pengaruh dari ajaran GMAHK yang melakukan pendekatan-pendekatan yang tidak etis
memicu sebagian warga gereja yang ada di lingkup pelayanan GMIM yang dibaptis kembali
dengan diselam dan ada yang tdak mau lagi makan daging babi serta ada yang tidak beraktifitas
pada hari Sabtu melainkan pada saat ibadah di hari Minggu. Hadirnya aliran-aliran baru yang
menawarkan ajaran-ajaran yang baru pula membuat gereja harus lebih ekstra keras untuk
menghadapi semuanya. Gereja Masehi Injili di Minahasa yang dalam perjalanan sejarah gerejanya
untuk menyampaikan Injil sehingga bisa berdiri sendiri, tidak lepas juga dari begitu banyak
persoalan baik itu dari orang pribumi (orang- orang Minahasa) sendiri maupun dari dalam gereja itu
sendiri yang pada akhirnya juga sedikit mempengaruhi tentang pemikiran-pemikiran yang ada di
internal warga GMIM.
Tak dapat dipungkiri bahwa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) berada dalam
setiap lingkungan warga dimana mereka tinggal harus dikenal sebagai warga yang baik dalam
integritas kekristenannya dan dalam mengusahakan kesejahteraan semua orang. Ciri khas dari
GMAHK yaitu beribadah pada hari Sabtu. Mereka berkumpul dalam satu lingkaran keluarga saat
hari Jumat senja dan menyambut hari Sabat dengan doa dan nyanyian, dan menutup hari Sabat pada
Sabtu senja dengan doa dan pernyataan syukur. Hari Sabat mereka isi dengan berbakti di rumah
atau di gereja, mengunjungi orang sakit, dan bacaan-bacaan sekular atau siaran televisi sekular
tidak diperkenankan pada hari ini . Dengan kata lain, tidak melakukan aktivitas bekerja pada
hari Sabtu melainkan dilakukan pada hari Minggu.
Pengajaran tentang kesesuaian hari Sabat yang sebenarnya menjadi perdebatan hingga
saat ini. Beberapa bantahan Kristen terhadap doktrin Sabat antara lain: Yesus sudah meniadakan
hukum Sabat (Yohanes 5:18; Sabat diberikan bukan kepada manusia secara umum, namun kepada
Israel saja (Keluaran 31:12-17). Dewasa ini, GMAHK yang menuduh bahwa umat Kristiani telah
melanggar perintah keempat dari sepuluh perintah Allah tentang “Ingatlah dan kuduskanlah hari
Sabat.” Kita harus menyadari bahwa tidak ada ayat Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa hari ketujuh ini yaitu hari Sabtu dalam kalender
masehi atau kalender Yahudi.
Denominasi tertentu termasuk di dalamnya GMAHK masih tetap mempertahankan ajaran
tentang pengertian baptisan sebagai baptizo yang memiliki arti leksikal “mencelupkan” atau
“menyelamkan.” Penganut baptisan percik termasuk di dalamnya GMIM pada hakikatnya tidak
mempersoalkan cara baptisan; penganut baptisan selamlah yang selalu mempersoalkan cara
baptisan. Jika baptisan melambangkan kematian Kristus di atas salib, maka baptisan-ulang akan
sama artinya dengan menyalibkan Kristus untuk kedua kalinya (bdk. Ibr. 6:1- 6; Rm.6:10-11).
Sejak dekade 1860-an saat dimulai, kesehatan menjadi penekanan dari GMAHK. Mereka
dikenal oleh sebab “pesan kesehatan” mereka yang menganjurkan vegetarianisme dan kepatuhan
terhadap hukum halal-haram dalam Imamat 11. Pesan kesehatan ini yaitu berpantang dari daging
babi, kerang, dan makanan lain yang digolongkan sebagai “makanan haram”. Gereja mencegah
anggotanya dari penggunaan alkohol, tembakau atau obat-obatan terlarang. Selain itu, orang-orang
Advent menghindari konsumsi kopi dan minuman yang mengandung kafein.
GMAHK memiliki ajaran untuk berpantangan terhadap jenis makanan tertentu. Dalam
Kejadian 11:1, binatang yang halal yaitu , binatang yang berkaki empat, yang berkuku belah,
bersela panjang dan memamah biak yaitu binatang yang boleh untuk dimakan. Kristen Advent
juga memiliki pantangan untuk memakan segala hewan yang hidup di air terutama ikan-ikan yang
tidak bersisik dan bersirik seperti lele, belut, cumi-cumi, kepiting. Ajaran umum yang dipegang
oleh gereja mayoritas yang lainnya yaitu sesuatu itu menjadi haram, hanya kalau makanan yang
sudah masuk mulut dan kemudian keluar lagi dari mulut dan kemudian dinajiskan maka itulah yang
haram (Mat. 11: 15).
Ada dua sakramen dalam GMAHK, yaitu: Baptisan dan Perjamuan Kudus. Sejak
permulaan Gereja Advent, sebagaimana memperoleh warisan dari Protestan, menolak pandangan
mengenai sakramen sebagai sebuah tindakan yang di dalamnya merupakan bagian anugerah yang
mendatangkan keselamatan. Baptisan dengan diselamkan melambangkan kematian, penguburan,
dan kebangkitan Kristus diakui GMAHK sebagai syarat masuk ke dalam keanggotaan gereja.
Baptisan hanya dapat diberikan pada orang dewasa dan yang mengaku bertobat sehingga menolak
baptisan terhadap anak-anak. Sakramen memberi peranan yang penting juga bagi gereja di
segala tempat dimanapun Injil itu diberitakan. Namun, dalam pelayanannya tidak terlepas juga dari
permasalahan yang menghadang dari dalam gereja maupun dari luar gereja. Permasalahan itu baik
dari segi ajaran gerejawi maupun prakteknya.
Sejarah Kehadiran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK)
Oikumenis yaitu sebuah gerakan untuk mempersatukan gereja-gereja yang berbeda-beda
dalam ajaran-ajaran masing-masing. De Jonge menuliskan, “Mulai disadari bahwa gereja belum
oikumenis kalau masih ada tembok pemisah antara gereja-gereja Prostestan, gereja-gereja Ortodoks
dan Gereja Katolik-Roma. Gereja oikumenis bertujuan untuk meniadakan tembok-tembok pemisah
ini sehingga tiga golongan ini dapat bertemu dan mencoba menjadi esa lagi. Hanya demikian gereja
betul-betul oikumenis.”1 Inilah dasar munculnya oikumenis ini. Selanjutnya di alinea berikutnya De
Jong melanjutkan, “Jadi arti modern kata oikumenis tidak lagi menunjuk kepada suatu kenyataan,
seperti dahulu, namun kepada satu tujuan yang hendak dicapai melalui suatu usaha dan pergumulan,
yaitu gereja yang satu (esa), kudus, am dan rasuli dari credo (pengakuan iman), yang dipercayai dan
oleh sebab itu harus diwujudkan secara nyata.”2 Semangat inilah yang diharapakan dapat
mempersatukan kembali seluruh gereja-gereja di bumi ini.
Drewes dan Mojau, menuliskan, “Ada tiga konfensi atau pengakuan iman oikumenis yang
terkenal dan diterima oleh hampir semua gereja: a) Pengakuan Iman Rasuli (Lat. Symbolum
Apostolicum); b) Pengakuan Iman Nicea- Konstantinopel (Nicaenum), keduanya berasal dari abad
ke 4 M; c) Pengakuan Iman Athanasius (Athanasianum) berkembang sekitar tahun 450-600 M.”3
Pengakuan iman Kristen ini pada dasarnya yaitu pengakuan kepada Allah Tritunggal.
Keterpisahan Gereja-gereja Oikumenikal dan Evangelikal disebabkan juga oleh berbagai
hal yang lain, seperti metode dan teologi mereka. Gereja- gereja Oikumenikal cenderung lebih
menitikberatkan pada dimensi sosial atau antroposentrisme dari Injil, dalam artian keselamatan itu
berdampak sosial dan kemanusiaan secara keseluruhan. Sedangkan Gereja-gereja Evangelikal
cenderung lebih menitikberatkan dimensi spiritual individu-individu dari Injil, dalam artian bahwa
pertobatan dan kesalehan pribadi merupakan kunci keselamatan.4 Dari segi teologi juga terdapat
perbedaan baik menyangkut pemahaman akan misi, ataupun masalah-masalah khusus seperti soal
Roh Kudus dan pekerjaan- Nya, baptisan, pemahaman akan karunia-karunia dan lain
sebagainya.5Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yaitu denominasi Kristen yang beraliran
evangelis. Gereja ini muncul di Amerika Serikat pada pertengahan abad 19. Ellen G. White, salah
seorang pionir dan pendiri gereja Advent, yang kata- katanya dan tulisan-tulisannya sangat
mempengaruhi cara pandang gereja Advent menuliskan, “Allah mempunyai anak-anak, banyak dari
antara mereka sedang berada di gereja Protestan, dan sejumlah besar berada di dalam gereja
Katolik, yaitu mereka yang lebih tulus menuruti terang dan melakukan yang terbaik yang mereka
tahu lebih daripada sejumlah besar orang Advent pemelihara Sabat yang tidak berjalan dalam
terang.”
Kalimat ini dengan jelas menunjukkan bahwa gereja Advent sangat menghargai
kemajemukan agama namun melakukan cara-cara penginjilan yang tidak elegan. Selain itu,
Bruinsma menuliskan, “Barangsiapa dari antara kita menyatakan secara dogmatis siapa yang
diselamatkan atau siapa yang tidak diselamatkan, sedang mempermainkan Allah, sebab mengambil
hak istimewa yang hanya menjadi milik-Nya. Tuhan saja yang mengetahui hati; Dia saja yang dapat
menghakimi motif-motif; dan hanya Dia yang mengetahui umat- Nya. Sebagai umat Masehi
Advent Hari Ketujuh, kita tidak dipanggil untuk memberi penghakiman atas mereka yang
diselamatkan atau tidak diselamatkan.”7 Terlihat bahwa gereja Advent menghargai dan
menghormati gereja-gereja lainnya namun tidak mempedulikan strategi yang dipakai.
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh merupakan sebuah lembaga keagamaan. Seperi halnya
ini dengan gereja yang dimiliki oleh umat Kristen pada umumnya, bahkan sejarah mencatat
gereja ini dibentuk melalui suatu rentetan progresif dari peristiwa-peristiwa sejarah yang para
perintisnya tiba pada suatu pemahaman yang lebih dalam terhadap pemahaman kitab suci, yang
dipelopori oleh William Miller.8
Kepercayaan dasar Masehi Advent Hari Ketujuh menerima Alkitab sebagai salah satunya
kepercayaan dan memegang dasar kepercayaan yang pasti sebagai ajaran langsung dari kitab suci
yang disediakan,terdiri dari pengertian gereja dan pernyataan dari kitab suci, bila mana gereja
dituntun oleh Roh Kudus pada pengertian yang lebih sempurna akan kebenaran atau memperoleh
bahasa yang lebih baik dalam menyatukan ajaran dari firman Allah.9
“Penganut-penganut Seventh-day Adventist menganggap Nyonya White sebagai nabi.
F.M.Wilcox, redaktur-utama dari majalah Adventist yang terpenting: “Review and Herald”
menulis: “dalam pekerjaan Nyonya White sebagai nabi, sebagai pesuruh Allah kepada jemaat-
jemaat, ia dipimpin oleh Roh yang sama yang dahulu memimpin nabi-nabi dan pesuruh-pesuruh.”
… Nyonya White menganggap dirinya seperti itu juga. Tanpa segan ia berani menulis:
“Barangsiapa menolak atau menganggap-rendah Kesaksian-kesaksian yang diberikan kepada saya,
bukannya menolak saya, melainkan Tuhan!” Dalam praktek penganut- penganut Seventh-day
Adventist menganggap “testimonies” (Kesaksian- kesaksian) Nyonya White “lebih lengkap dan
lebih jelas daripada Alkitab.”
Ellen White membenarkan pandangan Edson itu. Di lain pihak, Bates, Edson, dan lain-lain
menyimpulkan bahwa Ellen G. White memiliki karunia nubuat, bagaikan Para nabi Perjanjian
Lama. Kendati dalam pernyataan imannya Gereja Adventist menyatakan bahwa Alkitab antara lain
yaitu kaidah mutlak yang mangatasi dan mengukur semua ajaran, namun sebab mereka juga
meyakini dan menyatakan bahwa Ellen yaitu “pembawa amanat Allah” maka tulisan-tulisannya
juga diyakini sebagai “sumber-kebenaran yang berwibawa serta memberi bagi gereja kunci dan
bimbingan”, termasuk untuk memahami Alkitab. Bahkan menurut banyak pemerhati, kaum
Adventist membaca Alkitab dibawah terang tulisan Ellen.”11
Ellen G. White, di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yaitu seorang wanita sangat
sederhana yang mana dilhami Tuhan, baik dari pemikirannya maupun dengan khayal-khayal
nubuatanya. Para pemimpin pergerakan Advent sejak awal percaya bahwa Ellen G. White memiliki
karunia nubuat yang benar, mereka percaya bahwa melalui Dia dan perannya Allah menyampaikan
pengkabaran yang diinspirasikan bagi gereja- Nya yang menuntun tumbuh dan berkembang hingga
pesat khususnya di Amerika Serikat serta banyak bergerak di dalam pelayanan kesehatan.12
Pengajaran tentang Hari Sabat
Dietrich Kuhl menjelaskan bahwa dua abad yang pertama orang-orang percaya bersekutu dan
beribadah di rumah masing-masing. sebab Tuhan Yesus bangkit pada hari minggu, maka jemaat
Kristen berkumpul pada hari minggu (Kis 20:7), yang pada tahun 321 hari minggu itu ditetapkan
sebagai hari raya di Eropa.13 Dengan kata lain, pengikut JalanTuhan baik dari golongan Yahudi,
yang lazim disebut Sekte Netsarim maupun dari golongan non Yahudi, yang lazim disebut Kristen,
tetap beribadah pada hari sabat dan bersekutu di sinagoge. Namun sejak Abad ke-2 M, muncul
suatu kesadaran baru bahwa Yesus yang bangkit dari kematian, pada hari pertama minggu itu,
dimaknai sebagai suatu bentuk hari beribadah Kekristenan non Yahudi, yang setara dengan sabat
Yahudi. Gejala ini semakin memuncak saat Kekristenan menjadi agama negara dibawah pengaruh
kaisar Konstantin. Pada tahun 321 M, dia mengeluarkan ketetapan yang disebut Edik Milano. Pada
dasarnya, Konstantin menghubungkan ketetapannya, tidak berhubungan dengan ibadah Kristen atau
Hukum yang keempat dari Sepuluh Hukum. Dia menghubungkan hari Minggu melalui nama
kekafiran yang secara tradisional disebut Hari Matahar. Kini, ibadah Minggu telah meluas diseluruh
dunia dan menjadi bagian dari kehidupan spiritual kekristenan, yang dihubungkan dengan
kebangkitan Yesus dari kematian, sesudah terkubur dalam bumi selama tiga hari tiga malam. Selain
orang-orang Yahudi ada kelompok-kelompok lain yang juga memegang Sabat dengan setia. Mereka
antara lain yaitu orang-orang Samaria dan komunitas Eseni di Qumran, yang dalam banyak hal
bahkan memegang Sabat lebih ketat lagi. Contohnya, orang-orang Samaria menafsirkan Keluaran
16:29 secara hurufiah, sehingga mereka tidak keluar rumah sama sekali di hari ketujuh. Dan kedua
kelompok ini juga tidak menyalakan api di hari Sabat, sehingga melewatkan malam Sabat dalam
kegelapan.
Ada kelompok orang Kristen yang disebut sebagai kaum antinomian yang mengabaikan
hari Sabat sebab menganggap hari Sabat sama sekali tidak ada relevansinya dengan Kristen hari ini
mengingat orang Kristen sudah hidup dizaman anugerah sehingga tidak terikat semua perintah
dalam Dekalog termasuk perintah keempat.15 Ada kelompok orang Kristen lain yang
mengelompokkan orang-orang yang gagal menjalankan perintah tentang hari Sabat ke dalam
kumpulan orang yang akan menerima hukuman kekal dalam api neraka.16 Sedangkan di tengah-
tengah kedua kubu terdapat kelompok orang Kristen yang menerapkan perintah ini secara tersirat.17
Tradisi Yahudi merinci apa yang boleh dilakukan pada hari Sabat dan apa yang dilarang.
Luther menekankan bahwa umat Kristen tidak terikat dengan hari tertentu, sedangkan Calvin
melihat betapa penting suatu hari penyegaran untuk tubuh dan jiwa; itulah suatu anugerah Tuhan
kepada seluruh warga .18 Calvin membeberkan tiga kegunaan perintah ke-4, yaitu: sebagai (1)
hari istirahat rohani;
(2) hari ibadah komunal; dan (3) hari untuk melakukan perbuatan baik bagi
sesama. Bagi Calvin, sejauh itu menyangkut “istirahat rohani,” ibadah komunal, dan perbuatan
baik, maka hukum ke-4 masih berlaku bagi orang Kristen hari ini dan seharusnya dijalankan dengan
penuh ketekunan, namun bukan legalistik ataupun takhayul. sebab begitu rumit dan pentingnya
perintah ini, dengan panjang lebar Calvin menguraikan manfaatnya yang pertama yaitu bahwa hari
Sabat yaitu bayangan istirahat rohani yang merupakan hal terpenting.19
Sekarang, sesudah Kristus datang, bagaimana seharusnya orang Kristen menerapkan
perintah ini? Jawaban Calvin: “Sejauh ini berhubungan dengan aspek seremonial ... itu telah
berlalu. Hal yang penting bagi kita yaitu substansinya 20
Sabat perlu dijaga dengan kebebasan penuh sebab Kristus telah memenuhi tuntutan seluruh Taurat,
dan dengan demikian telah membatalkan penerapan ketat Sabat yang melambangkan ketaatan total
kepada Taurat. Calvin mengatakan, “Hari ini kita tidak lagi memiliki figur yang kaku dan Tuhan
telah memberi kita kebebasan penuh.”21 Calvin berkata bahwa umat Tuhan tidak boleh “terus
terburu-buru dan menjadi orang yang serba sibuk.”22 Calvin menambahkan bahwa ada
korespondensi yang dekat antara simbol luar dengan realitas yang di dalam, maka kita harus
beristirahat sepenuhnya agar Allah dapat bekerja di dalam kita.23 Dengan demikian, istirahat yang
dimaksudkan yaitu istirahat yang menyangkut fisik maupun pengekangan keinginan-keinginan
dosa kita.
Calvin memberi aplikasi bagaimana menjadikan hari Minggu sebagai hari ibadah komunal.
Menurutnya, ibadah harus dilakukan dengan rajin dan serius. Idealnya kita harus menyembah
Tuhan tanpa berhenti, namun sebab kelemahan, bahkan sebab kemalasan kita, maka perlu dipilih
satu hari untuk melakukannya.24 Demi menyesuaikan diri dengan kelemahan kita, Allah hanya
menuntut satu hari untuk ibadah komunal. Dengan demikian yaitu sangat alami bagi kita untuk
mengabdikan satu hari ini sepenuhnya bagi Tuhan. Calvin menambahkan, “jika kita menjadikan
hari Minggu untuk mencari nafkah atau untuk olahraga dan kesenangan, bagaimana Allah bisa
dimuliakan olehnya?” Oleh sebab itu, orang Kristen harus dengan saleh beribadah pada hari
Minggu. ia bahkan mengusulkan agar toko-toko ditutup pada hari Minggu. sebab menekankan
seriusnya menjaga hari Minggu sebagai hari ibadah, ia sering dituduh sebagai penganut Sabatarian
legalistik. Tuduhan ini jelas tidak tepat sebab alasannya mengusulkan toko-toko ditutup pada hari
Minggu lebih bersifat praktikal, yakni guna menyediakan lebih banyak waktu dan kebebasan untuk
menghadiri ibadah yang Tuhan telah perintahkan.25Selain itu,seperti kata Blacketer,penekanan
Calvin pada ibadah Minggu bukanlah kewajiban kaku dalam “ikatan Taurat,” melainkan “satu
bentuk disiplin yang menolong kita dalam proses pengudusan.”26
Calvin menekankan kembali pentingnya melakukan Sabat sebagai ungkapan syukur kita
atas anugerah Allah. Ia telah memberi kita enam hari untuk bekerja, jadi, “apakah terlalu banyak
untuk meminta satu hari diperuntukkan bagi-Nya?” Frasa “Engkau harus bekerja enam hari”
bukanlah sebuah perintah, melainkan satu izin untuk bekerja. Allah dapat saja mengikat kita dengan
banyak hal sedemikian rupa sehingga kita tidak mungkin bebas, namun Ia lebih berkenan
membimbing kita layaknya seorang ayah membimbing anak-anaknya.27 Calvin menyebut dua
alasan mengapa ibadah berganti dari hari Sabtu ke Minggu. Pertama, hari Minggu dipilih untuk
menunjukkan kebebasan kristiani sebab Kristus dengan kebangkitan-Nya telah membebaskan kita
dari segala ikatan Taurat dan kewajibannya.28 Dalam kebebasannya orang Kristen bisa saja
beribadah pada hari Sabtu, namun sebab banyaknya takhayul berkaitan dengan hari ini , dan
demi menghilangkannya, maka orang Kristen mula-mula “menyingkirkan hari sucinya orang
Yahudi” dan dengan demikian, orang Kristen sekarang beribadah pada hari Minggu untuk “menjaga
ketertiban, keteraturan, dan kedamaian di dalam gereja.”29 Kita melihat di sini bahwa pandangan
Calvin tentang perubahan hari ibadah berakar kuat pada kebenaran Alkitab. Jewet mengatakan
bahwa tidaklah benar saat mengatakan bahwa pandangan Calvin dalam poin ini lebih didorong
oleh faktor kemudahan daripada dasar alkitabiah.
Secara keseluruhan isi perikop Yohanes 5:1-18 menceritakan tentang pekerjaan
penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus Kristus pada hari Sabat di kolam Betesda. Pekerjaan yang
dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat itu sangat ditentang oleh orang Yahudi, sebab ada tradisi
pada waktu itu yang tidak memperbolehkan umat untuk melaksanakan pekerjaan pada hari Sabat.
Sikap orang Yahudi menentang Yesus itulah, sehingga Yesus mengatakan: “Bapa-Ku bekerja
sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Kalimat ini menunjukkan kuasa-Nya sebagai Anak
Allah, dan sebagai Anak Allah, Ia layak bekerja sama dengan Bapa.31 Yesus juga sebagai Anak
Allah telah datang untuk mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya dan menyediakan keselamatan melalui
kematian-Nya di atas kayu salib.32 sebab itulah Ia mengatakan “Akupun bekerja juga”. Yesus juga
menjalankan apa yang dikehendaki oleh Bapa kepada-Nya yaitu menghadirkan keselamatan kepada
orang-orang yang percaya kepada Allah. Dan pekerjaan ini berlangsung terus sampai Ia mati,
bangkit dan naik ke sorga.
Menurut Paulus, pembenaran manusia di dalam Allah tidak tergantung pada banyaknya
atau sedikitnya ia mematuhi hukum Taurat; manusia dibenarkan oleh anugerah semata-mata.
Manusia tidak dapat mengusahakan sendiri anugerah itu, namun harus menerimanya dari kasih Allah
di dalam Yesus Kristus.33 Bagi Paulus, iman bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebaliknya
penerimaan anugerah Allah dalam Yesus Kristus (bnd. Rm. 1:6-7) dan dengan demikian justru iman
itulah merupakan inti dan sumber dari kehidupan rohani, termasuk perbuatan-perbuatan (bnd. Rm.
9:31-10:3).34 Maksud Allah membenarkan manusia oleh sebab iman (Rm. 3:30; Gal. 3:8) yaitu
bahwa Ia menerima manusia, bukan sebab manusia itu beriman (sebab manusia itu benar),
melainkan sebab kebaikan-Nya sendiri. Kebenaran manusia bukanlah dasar bagi kebenaran Allah.
Sebaliknya, kebenaran Allah yaitu kesempatan bagi manusia untuk menerima (percaya kepada)
kebenaran Allah itu. Dengan membenarkan manusia yang berdosa, Allah tidak berarti
membenarkan dosa manusia itu sendiri. Kebenaran oleh iman bukanlah asuransi hidup kekal,
melainkan kesempatan baru yang diberikan Allah kepada manusia yang dilumpuhkan dosa, untuk
hidup sebagai anak-anak-Nya.35 Keselamatan melalui hukum Taurat akan berpasangan dengan
sikap manusia yang berusaha memenuhi tuntutan Taurat itu. Keselamatan tanpa hukum Taurat
berpasangan dengan sikap yang sama sekali lain, yaitu sikap manusia yang mengharapkan
keselamatan sepenuhnya dari rahmat Allah saja. Itulah iman.
Pengajaran tentang Makanan Halal dan Haram
Dalam Perjanjian Lama ada banyak makanan yang diharamkan. Untuk itu diatur
sedemikian rupa dalam kitab Imamat, mana yang boleh dimakan dan mana yang haram. Namun
secara umum dapat dilihat, apa pun yang diharamkan dalam Perjanjian Lama sebagai simbol
kenajisan. Ini bisa sebab dianggap jorok, tidak sehat, tidak memenuhi syarat dan lain seba-gainya.
Sehingga sesuatu yang diharamkan itu yaitu ekspresi dosa (najis = haram). Simbol-simbol itu
muncul dalam Perjanjian Lama sebagai konsekuensi hidup beragama, yaitu Taurat. Mereka harus
memenuhi tiap tuntutan yang ada, dan aturan aturan dengan ketat. Dan hal-hal yang diharamkan
yaitu sebagai wujud kutuk akibat dosa.
Dalam kitab Roma dengan jelas kita lihat bahwa pada akhirnya tidak ada yang mampu
memenuhi hukum Taurat, sehingga tidak ada yang layak selamat. Keselamatan dalam Perjanjian
Lama pun pada akhirnya hanyalah sebab kasih karunia Allah. Dalam Perjanjian Baru, Yesus
Kristus Tuhan telah menebus kita dengan menanggung segala konsekuensi dosa-dosa kita.
Penebusan ini telah memerdekakan orang percaya dari kutuk-kutuk akibat dosa, itu sebab dalam
Perjanjian Baru tidak lagi ada yang diharamkan. Tuhan Yesus sendiri berkata: “Bukan apa yang
masuk ke dalam mulut (yang dimakan) yang menajiskan orang,
melainkan apa yang keluar dari mulut (sumpah serapah, kebohongan) yang menajiskan orang”
(Mat. 15:11). Lalu, Rasul Paulus sebagai hamba Yesus, yang juga Yahudi sejati, orang Farisi, ahli
Taurat, yang sangat mengerti soal halal dan haram mengatakan: “Segala sesuatu halal bagiku, namun
bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, namun aku tidak membiarkan diriku
diperhamba oleh suatu apa pun” (1 Kor. 6:12-13). Dia juga mengatakan: “Makanan tidak membawa
kita lebih dekat kepada Allah (halal atau haram). Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan,
dan kita tidak untung apa-apa kalau kita makan” (1 Kor. 8:8). Dan masih banyak bagian lain dari
Alkitab yang membicarakan soal makan dan minum itu halal, dan bahwa ada penggenapan
Perjanjian Lama di sana sesudah kematian Yesus Kristus di salib. Simbol najis telah digenapi dalam
penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus, tidak lagi ada kutuk. Di sini termasuk babi yang
diharamkan dalam Perjanjian Lama, dan makanan lainnya.
Walaupun demikian, ajaran GMAHK bukan hanya menekankan tentang keharaman
melainkan dikaitkan dengan suatu penyakit sebab makanan yang haram tidak sehat bagi tubuh.
Penyakit (disease) itu sendiri yaitu keadaan tertentu yang menyebabkan keseimbangan
(homeostasis) seseorang tidak berfungsi dengan baik. Beberapa jenis penyakit yang masuk ke
dalam tubuh berasal dari luar misalnya melalui infeksi, kecelakaan atau keracunan. Beberapa jenis
penyakit lainnya merupakan akibat terjadinya perubahan di dalam tubuhnya. Sesuatu telah merusak
keseimbangan yang normal dan sehat dalam tubuhnya.37
Pandangan Ellen G. White tentang kesehatan merupakan sebuah hukum yang sangat
familiar dikalangan umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Kesehatan khususnya, diartikan
sebagai pola hidup yang harus ditekankan pada umatnya, sedangkan hal-hal yang merusak
kesehatan merupakan sesuatu yang harus dijauhi dan apabila seseorang melanggarnya maka akan
mendapat sebuah dosa yang menyebabkan kerusakan dalam diri manusia itu sendiri. Kesehatan
yaitu suatu berkat yang tidak ternilai harganya, yang lebih erat hubungan dengan suara hati
manusia dan agama lebih daripada yang disadari orang.38
Ellen G. White lebih menekankan tentang hal bertarak (pengendalian diri) dalam sebuah
hasrat dan keinginan yang memicu manusia khilaf dan tidak bisa mengontrol diri,baik
berupa makanan,minuman,nikotin serta yang menyebabkan kecanduan lainnya sehingga dapat
merusak pikiran dan kesehatan manusia.39 Hal lain yang ditekankannya yaitu mengenai halal dan
haram dalam makanan, yang dipedomani oleh jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Misalnya, daging babi, hewan bersisik dan binatang berkuku tajam yang keseluruhannya ini
menurut mereka merupakan sesuatu yang diharamkan.40 Bagi orang Yahudi keselamatan akan
terjadi jika manusia melakukan Hukum Taurat dengan setia, namun bagi Paulus keselamatan bukan
diperoleh
dengan melakukan Hukum Taurat, namun sebab iman di dalam Kristus. Beriman kepada Kristus
berarti manusia menerima kembali pembenaran yang mulia dari Allah. Inilah yang disebut “The
Saving Righteousness of God” oleh Schreiner.”41 David L. Bartlett mengatakan, bahwa saat kita
beriman kepada Yesus berarti kita meresponi atau menerima anugerah karya keselamatan yang ada
ditangan Allah. Allah telah mengulurkan tangan-Nya, tinggal bagaimana respons manusia terhadap
tawaran Allah yang mulia itu.42 Dalam hal ini, tidak semua manusia mengulurkan tangannya untuk
memegang tangan Allah sebab mata imannya masih diselimuti oleh kekerasan hatinya sendiri.
John Murray mengungkapkan bahwa iman bukanlah sesuatu perbuatan yang layak
mendapatkan imbalan kasih Allah. Bukan iman yang menyelamatkan, melainkan iman kepada
Yesus Kristus; bahkan lebih tegas lagi, bukan iman kepada Kristus yang menyelamatkan,
melainkan Kristus yang menyelamatkan melalui iman.43 Usaha manusia bukannya tidak penting
untuk bisa mendapatkan keselamatan, ‘’namun dalam usaha ini kita pasti berhasil, sebab Allah
sendiri yang bekerja di dalam diri sehingga kita menghendaki dan melakukan kehendak-Nya.’’44
Pengajaran tentang Sakramen Baptisan Kudus
Ada kalanya istilah sakramen memiliki arti yang lebih spesifik dan sempit. Suatu sakramen
dijelaskan sebagai suatu tanda yang kelihatan, dimana melalui Allah memberi janji anugerah-
Nya di dalam bentuk yang kelihatan. Sakramen-sakramen itu terdiri dari unsur-unsur yang terlihat
seperti air, roti atau anggur; suatu aktivitas yang ditetapkan oleh Allah dalam kaitannya dengan
tanda dan aplikasi dari penebusan Kristus diberikan kepada orang percaya.45 Sakramen baptisan dan
perjamuan merupakan bentuk nonverbal dari komunikasi. Keduanya tidak pernah dimaksudkan
untuk berdiri sendiri tanpa disertai Firman Tuhan. Kedua sakramen itu mengkonfirmasikan Firman
Tuhan sehingga pelaksanaan sakramen harus sejalan dan berjalan bersama dengan pemberitaan
Firman Tuhan.46
Yohanes Calvin yaitu seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan
generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke-
16, namun peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti
ajaran dan tata gereja yang digariskan Calvin tersebar di seluruh dunia. Gereja-gereja itu diberi
nama Gereja Calvinis. Di Indonesia, gereja-gereja yang bercorak Calvinis merupakan golongan
gereja yang terbesar.47
Yohanes Calvin melihat gereja yang benar apabila Firman diberitakan secara benar dan
sakramen-sakramen dilayankan sesuai dengan Firman Tuhan. Bukan hak manusia untuk
memisahkan yang dipilih dan yang ditolak atau untuk memisahkan diri dari gereja yang kelihatan
selama masih ada sisa-sisa pelayanan Firman atau pelayanan sakramen yang benar.48 Menurut
Calvin, gereja mempunyai peranan kunci dalam hubungan antara manusia dengan Allah sebagai
sarana atau saluran pemberitaan firman dan pelayanan sakramen untuk membina orang percaya
yang merupakan pusat kehidupan gereja.49
Sakramen Baptisan Kudus hanya dapat dilakukan kalau ada calon-calon yang sudah
dipersiapkan dengan matang untuk menerima sakramen itu. namun juga dalam hal ini, harus
dilaksanakan kapan saja diperlukan dan bersamaan dengan penelaahan dan pengenalan akan
Firman. Bagi Calvin, Firman dan sakramen yaitu sama pentingnya dan harus menjadi bagian
integral dari pelayanan ibadah setiap Minggu di dalam gereja-gereja.50
Calvin menganggap bahwa sakramen (baptisan dan perjamuan) dilihat sebagai yang
memberi identitas dan merupakan anugerah bagi iman kita. Allah yang mengetahui kelemahan
iman kita, dan menyesuaikan diri terhadap keterbatasan kita.51 Kenyataan juga bahwa Alkitab
menyebut sakramen-sakramen sudah cukup sebagai bukti bahwa sakramen-sakramen itu perlu,
sebab apa yang diperintahkan Allah harus dilakukan oleh manusia.52
Baptisan merupakan salah satu sakramen yang diakui oleh Gereja Protestan. Pembaptisan
berasal dari kata Yunani “Baptizo” yang berarti membasahi.53 Arti kata “baptisma”, “baptismos”
(kata benda) dan kata kerjanya “baptiso” mempunyai arti selam dan cuci. Di dalam Perjanjian Baru
mempunyai 3 arti, yaitu: a) membaptiskan, yaitu bagi orang lain (Mat. 3;11); b) membaptiskan diri
atau membiarkan diri dibaptis oleh orang lain (Mat. 3:13), yaitu dengan aktif mau dibaptis,
menyuruh orang membaptiskan; c) dibaptis, menerima baptisan orang lain (Mat. 3:16).54 Kata kerja
yang lain “bapto” – “to dip, dye” (membenamkan, mencelup, mencelupkan) yang terdapat dalam
Luk. 16:24; Yoh. 13:26; Why. 19:13. Kata benda “baptisma” yaitu hal membenamkan: a) hal
tenggelam dalam celaka(Mar.20:22,23;Luk.12:50).Katainiberasaldari153BC,satuiman,satu
baptisan; b) baptis (Mat. 3:17; Mrk. 1:4; 11:30; Luk. 3:3) dan kata “baptismos” berarti mandi
menurut Taurat Musa (Mrk. 7:4; Ibr. 6:2), dan kata “baptistis” berarti pembaptis (Mat. 3:1;
16:14).55 Dari uraian di atas terlihat arti baptis, yaitu selain selam juga berarti mencuci, percik,
menyiram, mandi dan lain-lain. Oleh sebab itu, menurut arti kata maka kedua jenis itu dapat dipakai
semua. Di dalam agama Yahudi melakukan penyiraman “baptiso” (Kel. 29:4; Bil. 19:7) sebagai
tanda penyucian. Kata “basuh” di dalam Yohanes 36:25,29 mengandung arti rohani dan moral,
namun segala upacara orang Yahudi telah dihapus sesudah Kristus menggenapkan penebusan (Ibr.
6:2; 8:3).56
Tidak terdapat pertentangan di antara hampir semua denominasi bahwa “unsur-unsur
lahiriah yang dipergunakan di dalam sakramen ini yaitu air” dan bahwa orang yang dibaptis
yaitu dibaptiskan di dalam nama Allah Trinitas. Sejumlah denominasi Kristen mengharuskan
penyelaman sebab mereka merasa bahwa tanpa penyelaman tidak ada baptisan. Mereka bersikeras
bahwa pengertian dari kata bahasa Yunani baptizo yang dipakai di dalam Perjanjian Baru yaitu
“menyelamkan/mencelupkan”. Sebenarnya, kata baptizo ini tidak berarti menyelamkan. namun
bukan berarti kata ini tidak bisa dipergunakan dalam tindakan yang melibatkan penyelaman. Hanya
saja kata ini tidak dipakai dalam pengertian itu secara tepat.
Dalam 1 Korintus 10:1-2, kata baptisan tidak dapat diterjemahkan dengan pengertian
penyelaman. Kita semua tahu dengan pasti bahwa bahwa tidak seorang Israel-pun yang
ditenggelamkan saat menyeberangi Laut Merah. Alkitab secara tegas mencatat bahwa mereka
berjalan melalui daerah yang kering. Justru hanya orang-orang Mesir yang ditenggelamkan!
Baptisan bagi nenek moyang orang Israel ini secara jelas tidak ditafisrkan dan diperluas dengan
imajinasi bahwa sudah terjadi pencelupan atau penenggelaman.58 Selain itu, dalam Ibrani 9:10, kata
asliya mengatakan “pelbagai baptisan”. Pandangan penyelamatan yaitu asing bagi tata cara orang
Yahudi. Bahkan kata “menyelam” sama sekali tidak muncul di dalam kata asli Yunani atau Ibrani
dalam Alkitab dari segala bentuknya.59
Baptisan yaitu tenggelam dan bangun kembali sebagai manusia baru. Dari hidup baru ini,
air baptisan juga mempunyai berbagai makna positif alkitabiah. Air baptisan melambangkan air
hidup Allah (Yoh. 4:1-42); “hidup” berarti air yang mengalir dan sebab nya sehat, berlawanan
dengan air “mati’ yang diam sehingga di dalamnya dapat berkembang berbagai macam bibit
penyakit. Jadi, air baptisan memiliki makna ganda, yaitu melambangkan kekuatan dosa dan
kejahatan di mana hidup kita dapat tenggelam, dan kekuatan Allah yangmenghidupkan.60
Di dalam Kisah Para Rasul 1:5, adanya janji Kristus bagi murid-murid-Nya. “tidak lama
lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Dibaptis dengan Roh
Kudus yaitu mendapatkan Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka, bukan diselamkan ke dalam
Roh Kudus. Yang menjadi makna hakiki dari baptisan yaitu kesatuan dengan Kristus dan Allah
Trinitas dengan cara dibersihkan dari dosa, baik itu dengan cara diselamkan atau dipercik atau
dicurahi. Dalam baptisan, kita secara pribadi dinamakan dalam konteks dan paguyuban tiga pribadi
Tritunggal. Sebagai akibatnya, kepribadian kita tidak dapat direduksi lagi. Baptisan kudus yaitu
tindakan sakramental yang mempertahankan identitas ini dan membuatnya terus berada pada
fokus sebagaimana kita terlibat dalam “formasi oleh kebangkitan”.61 Baptisan Kudus yaitu
penerapan utama dari komunitas kebangkitan yang sekali dan selamanya mengatakan siapa diri kita
dalam paguyuban yang kita cari saat kita mengikuti Yesus.62 Kehidupan Kristen yaitu
kehidupan Yesus yang telah bangkit, sebuah hidup dalam diri kita yang digenapi oleh Roh Kudus
dan fokusnya terdapat dalambaptisan.63
Dalam Lukas 11:38 ditemukan kata baptizo di mana orang Farisi melihat Yesus tidak
membaptizo tangannya sebelum Ia makan. Disini berarti Yesus tidak mencuci atau membersihkan
tangan-Nya. Berikutnya dalam Injil Markus 7:4 kata baptizo kembali dipakai. “Dan kalau pulang
dari pasar mereka tidak juga makan kalau tidak terlebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak
warisan lain lagi yang mereka pegang umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-
perkakas tembaga”. Pada ayat ini kata baptizo dua kali dipakai yang bila diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia berarti membersihkan dan mencuci. Kata baptizo dalam Galatia 3:27 yang
disebutkan,”sebab kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus”, hal ini
menunjuk pada penyucian.
Petrus berbicara tentang baptisan dengan pengacuan khusus kepada “pengampunan dosa”
dan “karunia Roh Kudus” (Kis. 2:38). Paulus menekankan pada “permandian kelahiran kembali dan
oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit. 3:5) dan juga Paulus mengkhususkan
kewajiban untuk berjalan di dalam kehidupan baru yang menjadi milik mereka yang telah dibaptis
(Rm. 4:12). namun tema paling dominan dari rujukan Allkitab tentang baptisan yaitu kesatuan
dengan Kristus dan Allah Trinitas yang mencakup dan melebihi semua aspek- aspek terkait lainnya
dari pengertian sakramen Baptisan ini (Mat. 28:19; 1 Kor. 12:13; Gal. 3:27).
Bentuk tambahan dalam Mrk 16:15,16 mengatakan ‘pergilah keseluruh dunia dan
beritakanlah injil kepada segala makhluk. Mereka yang percaya dan dibaptiskan akan diselamatkan;
namun mereka yang tidak percaya akan dihukum”. Dengan demikian elemen berikut ini jelas
nampak dalam perintah yang berotoritas ini: (a) para murid harus pergi ke seluruh dunia dan
memberitakan injil kepada segala bangsa supaya orang-orang bertobat dan mengenal Yesus sebagai
Juruselamat yang dijanjikan; (b) mereka yang menerima Kristus dengan iman harus dibaptiskan
dalam nama Allah Tritunggal sebagai lambang dan meterai dari kenyataan bahwa mereka masuk
dalam hubungan yang baru dengan Tuhan dan
mereka berkewajiban menjalani hidup mereka menurut hukum Kerajaan Allah; (c) Mereka harus
dibawa pada pelayanan Firman bukan saja sebagai suatu proklamasi berita sukacita, namun juga
sebagai suatu penjelasan dari segala misteri, hak istimewa, serta tugas dari perjanjian yang baru.
Sebagai dorongan bagi para murid, Yesus menambahkan: “Dan ketahuilah Aku (yang telah
memegang segala otoritas untuk memberitakan perintah ini) menyertai kamu sampai kepada
kesudahan zaman.”
Baptisan juga mengandung beberapa makna, yaitu: Pertama, baptisan merupakan tanda
pembersihan dan pengampunan dari dosa-dosa kita. Kedua, baptisan menunjukkan bahwa orang itu
sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus, yaitu dikuburkan dan dibangkitkan bersama-sama dengan
Kristus, didiami oleh oleh Roh Kudus, diadopsi menjadi keluarga Allah, dan dikuduskan oleh Roh
Kudus.
Baptisan yaitu pengakuan iman dalam Kristus ( Rm 6 : 3-4; 1 Pet 3:21; Kis 8:37), yang
berhubungan dengan pengakuan di depan umum bahwa Yesus Kristus yaitu Tuhan dan Juru
Selamat ( Kis 2 :38 ; 10 :48; 8:16). Baptisan yaitu mengalami persekutuan dengan Kristus (Kol
2:12). Calon baptis dihubungkan oleh iman dengan Tuhan yang atas nama Nya ia dibaptis, supaya
dalam pengertian tertentu ia ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam
Perjanjian Baru yaitu saat orang berdosa bergabung dalam persekutuan dengan penebusan
Kristus, hidup, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan pemerintahan- Nya (Gal 2:20; Ef 2:5-6;). Ini
tidak berarti bahwa keselamatan diberikan melalui acara pembaptisan itu sendiri. Hanya iman yang
menyelamatkan atau lebih tepat Kristus yang menyelamatkan.66 Allah tidak menganggap baptisan
menjadi syarat guna keselamatan kita, namun jangan kita meremehkan atau acuh tak acuh terhadap
Baptisan Kudus.
Dengan masuk ke dalam Kristus, kita berbagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dan
dalam iman, kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. namun kesatuan dengan Kristus ini
membuat kita juga berbagian dalam Roh, sebab Roh yaitu Roh Tuhan. Berada dalam Kristus,
menjadi milik-Nya, berarti “memiliki” Roh, dan seorang yang tidak memiliki Roh Kristus, “ia
bukan milik Kristus”. Orang yang disatukan dengan Kristus oleh baptisan dan dibaptis ke dalam
tubuh-Nya, juga dibaptis ke dalam Roh Kudus yang memenuhi tubuh Kristus.
Di dalam baptisan, kita menjadi milik Allah, Allah menandai kita, memberi tanda
kepemilikan atas kita. Saat orang dibaptis, dia dilihat sebagai bayangan Kristus, “yang diurapi”. Di
dalam gereja, anugerah Allah mengalir tidak hanya di kepala namun juga keseluruh tubuh dan tidak
hanya Kristus namun juga pengikut-
pengikut Kristus.69 Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi anggota tubuh-Nya, bukan
hanya untuk percaya. Baptisan bukan hanya melambangkan keselamatan namun juga melambangkan
persekutuan. Baptisan tidak hanya melambangkan hidup baru kita dalam Kristus, melainkan
menggambarkan penggabungan seseorang dalam Tubuh Kristus.
saat baptisan digambarkan seolah-olah sebagai aktivitas yang diciptakan oleh manusia
dan bukannya kesatuan yang tercipta oleh Allah, makna yang sebenarnya telah dikontradiksikan.
Inilah keberatan yang terutama dari pandangan kaum Baptis tentang ketetapan baptisan, kaum
Baptis berpendapat bahwa baptisan hanya boleh diberikan kepada orang-orang dewasa, sebab
hanya orang-orang dewasa yang berkemampuan untuk mengerjakan aktivitas yang dengannya
seseorang menyatukan dirinya dengan Kristus. Kaum Baptis bersikeras bahwa hanya orang-orang
dewasalah yang merupakan penerima baptisan yang benar. Hal ini mereka pertahankan dengan dua
alasan: bahwa anak-anak tidak berkemampuan untuk pengalaman dan aktivitas yang diharuskan
oleh baptisan dan bahwa Alkitab tidak memberi bukti baptisan bagi anak-anak (yaitu bayi).
Dalam Matius 19:14, Yesus Kristus berkata “janganlah menghalang-halangi mereka datang
kepada-Ku”. Hal ini sebab Allah memerintahkan orang-orang percaya untuk memberi tanda
dan meterai kovenan kepada anak-anak mereka, dan baptisan merupakan tanda dan meterai yang
berkaitan dengan hal yang telah diperintahkan Allah ini (Gal. 3:16-17), dan Allah telah
mengubah tanda dan meterai namun tidak mengubah kovenan-Nya yang kekal. Menurut Calvin,
baptisan anak-anak kecil lebih didasarkan pada ketetapan gereja daripada perintah langsung Kitab
Suci dan akan menjadi sumber yang miskin dan lemah apabila hanya bisa mengacu pada otoritas
Gereja. Bagi Calvin. Dalam baptisan anak-anak, kita menaati kehendak Allah, yang mengendaki
agar mereka dibiarkan datang kepada-Nya (Mat.19:14).
Pada dasarnya, anak-anak memang tidak berkemampuan untuk mengefektifkan kesatuan
dengan Kristus namun demikian juga dengan orang dewasa. Semuanya telah bobrok dan tidak
mampu melakukan apa pun untuk mengefektifkan kesatuan dengan Allah namun dengan kuasa-Nya
maka Allah mampu melakukan hal itu.75 Menurut Yohanes Calvin, baptisan yaitu tanda bahwa
kita telah diterima masuk kedalam persekutuan Gereja, supaya sesudah kita ditanamkan di dalam
Kristus, kita terhisap anak-anak Allah.
Baptisan dilayankan kepada anak-anak orang beriman selaku meterai perjanjian anugerah,
sebab mereka sudah terhisab anggota perjanjian itu berdasarkan kelahiran mereka dalam
lingkungan jemaat Kristen. Bagi Emanuel Singgih, amanat membaptis belum tentu
mengimplikasikan keanggotaan gereja dan belum tentu juga dapat dijadikan dasar atau diidentikkan
dengan kristenisasi. Masalahnya kita sudah salah kaprah mengidentikkan baptisan dengan
keanggotaan gereja institusional. Singgih tidak menganjurkan penghapusan baptisan namun supaya
kita ingat bahwa praktek baptisan yang kita lakukan sekarang merupakan sebuah perkembangan
sejarah yang tidak lagi persis sama mengikuti apa yang termaktub di dalam teks Alkitab Perjanjian
Baru.
Saksi-saksi baptisan hendaklah berjanji bahwa mereka akan turut bertanggungjawab atas
pendidikan anak yang akan dibaptis. Mereka perlu mengerti dengan baik apa artinya baptisan dan
apa artinya perjanjian. Oleh sebab itu perlu sekali, bahwa saksi-saksi baptisan juga diturut-sertakan
dalam percakapan pastoral, sebelum baptisan diadakan.80 Baptisan anak-anak mewajibkan orangtua
untuk mendidik anaknya dengan mengikuti Kristus, sehingga anaknya itu nanti ingin juga menjadi
pengikut Kristus. Oleh sebab itu, sikap orangtua dan saksi-saksi yaitu penting sekali.
Beberapa gereja membaptis anak-anak yang dibawa oleh orang tuanya atau walinya yang
siap untuk di dalam gereja dan bersama gereja, membesarkan anak- anak itu dalam iman Kristen.
Gereja-gereja lain hanya melakukan baptisan orang percaya yang dapat membuat pengakuan iman
secara pribadi. Beberapa di antara gereja-gereja ini menganjurkan agar anak-anak diserahkan dan
diberkati dalam suatu kebaktian yang biasanya meliputi pengucapan syukur untuk karunia anak itu
dan juga janji ibu dan bapak untuk melakukan kewajibannya sebagai orangtua Kristen dan ikut serta
dalam pengajaran kateketik.
Orangtua yang melihat baptisan anak secara sesat dan merasa bahwa sebab air baptisan
yang telah dipercikkan ke atas anak-anaknya, maka mereka akan selamat, tentunya tidak
menyatakan iman. Tidak ada pengajaran Alkitab tentang keselamatan bayi sebab baptisan.83
Orangtua beriman yang memberi anaknya untuk dibaptis harus pertama-tama meyakini fakta
bahwa ia sepenuhnya menerima janji perjanjian Allah baginya dan bagi anaknya. Maka ia
menyadari bahwa anaknya telah dikhususkan sebagai yang kudus oleh Allah.84 namun orangtua
harus secara serius untuk mendorong anaknya di dalam memberi
makanan dan pengenalan akan Allah, menyadari bahwa tindakan ini yaitu sebagai bukti penting
dari imannya di dalam Allah. Selama iman datang dari mendengarkan Firman Allah, orangtua akan
menyadari bahwa anak-anak mereka harus dididik di dalam Firman sejak masa muda.
Baptisan Kristen meletakkan tanggungjawab dan tugas yang penting pada orangtua. Mereka
harus menyahut beberapa soal yang dihadapkan kepada mereka, antara lain mengenai kewajiban
mereka untuk mendidik anak-anaknya sendiri sebagai anak-anak Tuhan pula. Allah telah menepati
janji-Nya terhadap orangtua dan anak itu; sekarang tibalah giliran orangtua itu untuk mewujudkan
nazarnya kepada Tuhan.86 Mereka harus mendidik anak mereka dalam “takut akan Kristus”. Kata
takut disini berarti rasa segan, hormati, penaklukan diri kepada Firman Tuhan (bdk. Ams. 9:10; Kis.
9:31; Ef. 5:21). Kata Yunani “paideia” dalam Efesus 6:4 yang diterjemahkan dengan “pengajaran
yang sopan” sebetulnya dapat diartikan pimpinan bagi anak.87 Orangtua harus mencurahkan segala
perhatian dan tenaganya bagi pendidikan anak-anaknya dalam suasana Kristen sejati, sampai
kepada saat anak-anak itu sendiri akan bertanggungjawab tentang kepercayaan dan tingkah lakunya
di hadapanTuhan.
Pada waktu baptisan anak-anak, Allah mengadakan perjanjian dengan keluarga-keluarga.
Pada saat itu orangtua berdiri di hadapan Allah dan di hadapan jemaat-Nya. Sebelum baptisan
dilayankan, orangtua harus menjawab beberapa pertanyaan, agar menjadi nyata bahwa mereka
minta baptisan dengan maksud yang benar dan bukan oleh sebab kebiasaan atau kepercayaan
takhyul.89 Pertanyaan itu mengandung tanggung jawab yang sangat besar, bukan saja bagi orangtua
yang membawa anak-anak mereka untuk dibaptis, melainkan juga bagi majelis yang melayani
baptisan dengan memberi juga pendidikan gerejawi bagi anak-anak sebelum anak-anak itu
diterima di Perjamuan Kudus.90
Pada waktu anak dibaptis, orangtua berjanji dan janji itu sama dengan ikrar, bahwa mereka
akan mendidik anaknya dalam ajaran keselamatan yang murni. Orangtua wajib selalu
memprioritaskan pendidikan ini . Pendidikan ajaran Kristen lebih penting daripada pendidikan
umum dan lebih penting lagi dari usaha mendapatkan kemakmuran duniawi atau kedudukan
tinggi.91 Allah mempercayakan anak-anak kepada orangtua yang beriman supaya anak-anak itu
dididik untuk menghormati dan mengasihi Allah dalam pelayanan kepada Dia dan kemudian
menjadi benih gereja dan harus membangun gereja kelak serta pengharapan gereja di masadatang.
Keabsahan baptisan tidak terletak pada karakter pendeta yang melaksanakannya, atau
karakter orang yang menerimanya. Baptisan merupakan tanda dari janji keselamatan kepada semua
orang yang percaya kepada Kristus. Oleh sebab hal itu merupakan janji Allah, maka keabsahan
dari janji itu terletak pada apakah karakter Allah dapat dipercaya.93 Oleh sebab baptisan berkaitan
dengan janji Allah, maka baptisan itu tidak pelu dilaksanakan lebih dari satu kali. Dibaptis lebih
dari satu kali menunjukkan keraguan pada integritas dan kesungguhan janji Allah.94
Dalam 2 Timotius 2:19, “Tuhan mengenal siapa milik-Nya.” Melalui baptisan, orang yang
mengaku percaya diterima menjadi anggota gereja, namun Tuhan-lah yang mengetahui hati
manusia. Tuhan melihat bukan kepada pengakuan percaya melalui bibir melainkan kepada
pengakuan percaya dari hati yang benar-benar percaya. Orang-orang yang benar-benar dilahirkan
kembali oleh Roh Kudus dan menjadi anggota gereja yang am yang keanggotaanya tidak terlihat.95
Dalam Roma 10:9-10, mungkin rasul Paulus berbicara mengenai baptisan dan kalau orang bertobat
tapi belum dibapis, maka haruslah ia dibaptis, menjadi tanda penyucian rohani dan pengakuan di
muka umum bahwa ia percaya dan menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat dan Tuhan-nya,
namun pengakuan Kristen tidak berakhir dengan baptisan ini melainkan melalui hidup, kesaksian,
tindakan dalam tiap kesempatan dan di mana saja pun kitaberada.96
Baptisan bukanlah aksi individual, melainkan aksi dari seorang indivdu yang
mengidentifikasikan diri dengan sebuah kelompok. Bagi Yesus, kelompok itu yaitu umat
Allah/gereja. Berbagai kebutuhan dunia mensyaratkan adanya suatu keluarga yang punya hubungan
benar dengan Allah. Pada baptisan, kita bergabung dengan sebuah kelompok yang mengaku diri
terhilang.97 Tim Stafford memandang baptisan sebagai semacam upacara pernikahan dalam hal
iman. Baptisan membuat ide-ide abstrak seperti “komitmen’ menjadi bersifat sangat publik dan
praktis. Dalam keluarga Tim Stafford, dirayakan baptisan masing-masing orang seperti hari ulang
tahun ataupun hari perayaan pernikahan. Keluarganya mencoba mengkhususkan hari itu, tahun
demi tahun dan mengingat apa artinya.98 Walaupun begitu, mungkin cara terbaik bagi kita untuk
mengenang baptisan kita yaitu melalui partisipasi penuh dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Pada
baptisan kita menyerahkan diri kita sendiri kepada umat Allah dalam segala masalah dan duka
mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus.
Dalam lingkup pelayanan GMIM masih adanya perbedaan pemahaman dari jemaat tentang
hari Sabat khususnya pandangan ekstrem bahwa Sabat di Sabtu lebih tinggi dari hari yang lain
sehingga kesakralannya lebih terasa dan tidak ada kompromistis untuk tidak beribadah, bekerja,
menolong orang lain dan lain-lain. Selain itu, masih ada perbedaan pemahaman dari jemaat tentang
makanan haram khususnya pandangan ekstrem bahwa makanan haram yang dimakan akan
membuat orang percaya berdosa dan tidak mendapatkan keselamatan. Bahkan ada perbedaan
pemahaman dari jemaat tentang baptisan khususnya pandangan ekstrem bahwa baptisan menjadi
lebih kudus apabila dilakukan pada seseorang yang sudah berumur 12 tahun ke atas disebab kan
ada pengakuan iman secara pribadi kepada Tuhan dan baptisan selam lebih alkitabiah daripada
dipercik. Pandangan jemaat tentang perbedaan pengajaran antara GMAHK dan GMIM khususnya
pandangan ekstrem tidak bisa lepas dari tiga pengajaran pokok tentang sabat, makanan haram dan
baptisan kudus yang menjadi perdebatan dalam pelayanan. Oleh sebab itu, warga GMIM
sebaiknya mempelajari alkitab secara kritis dengan memohon hikmatNya sehingga tidak mudah
terpengaruh oleh ajaran ekstrem dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan seharusnya di aras
jemaat ada suatu pertemuan yang membahas khusus tentang pengajaran ekstrem dan bagaimana
jemaat diperlengkapi untuk membentengi diri dengan pengajaran yang berusaha untuk
menggoyahkan iman dan seyoganya pelayan khusus lebih proaktif dalam melihat fenomena yang
terjadi di jemaat dan melakukan tindakan pencegahan dengan memberi pengajaran yang benar dan
alkitabiah kepada warga GMIM.

