• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Teori tritunggal 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori tritunggal 1. Tampilkan semua postingan

Teori tritunggal 1

 


Setiap agama memiliki kitab suci yang menjadi sumber 

pengajaran dan melaluinya dirumuskan berbagai konsep 

kehidupan, baik yang bersifat material maupun spiritual. Dari 

segi material, ajaran kitab suci bertujuan untuk menuntun dan 

mengarahkan manusia ke dalam suatu tatanan kehidupan 

yang dianggap paling baik.  Sedangkan dari segi spiritual, 

mendorong manusia untuk dapat mengenal sosok yang 

menciptakan manusia dan seluruh alam semesta serta yang 

mengatur segala hal, atau yang disebut sang mahakuasa atau 

Tuhan. Oleh sebab  itu, setiap agama memahami bahwa 

segala orientasi yang berkenaan dengan manusia maupun 

segala sesuatu yang terdapat dalam alam semesta tidak 

pernah lepas dari campur tangan Tuhan. 

Sebagian besar agama-agama kebudayaan, tradisional 

maupun kebatinan memahami bahwa fenomena yang 

diperlihatkan alam, seyogyanya merupakan ekspektasi dari 

pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya agama-agama ini  

sering menggambarkan sosok Tuhan dalam bentuk kekuatan-

kekuatan alam. Seperti angin, hujan, petir, dan lain 

sebagainya. Sehingga tak mengherankan bila mereka 

merefleksikan kepercayaannya dengan menyembah lebih dari 

 

satu tuhan atau dewa-dewa, yang biasa disebut dengan 

politheisme. Berkenaan dengan itu, beberapa agama yang 

beraliran Abrahamis, memiliki pemahaman yang berbeda serta 

kecenderungan menentang konsep dari agama yang lain. Hal 

ini dilatarbelakangi oleh ajaran mereka yang menitikberatkan 

pada keesaan Allah atau monoteis, serta menganggapnya 

sebagai suatu kekafiran dan keyakinan yang melekatnya 

dipandang najis. Sebagimana tradisi keagamaan ini  yang 

mengacu pada sosok Abraham sebagai teladan iman yang 

benar di hadapan Allah. 

Adapun dalam   Kekristenan, pandangan tentang Allah 

tidak bergantung pada alam untuk memberi  kebenaran 

tentang-Nya, melainkan kepada Yesus Kristus dan Roh Kudus 

yang merupakan visualisasi dari Allah sendiri.   Kekristenan 

melihat Allah dari tiga aspek, di satu pihak bahwa Allah 

(transendensi) itu tidak boleh turun dari surga, di lain pihak 

Allah itu menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus 

(presensi), dan melalui karya Roh Kudus di dalam hati setiap 

orang percaya (imanensi) untuk menginsyafi. Oleh sebab  itu, 

di antara ketiganya mempunyai tekanan yang sama tanpa 

harus melebur antara satu dan dengan yang lain, sehingga 

ajaran   Kekristenan tentang Allah tidak mengikuti kedua 

pandangan di atas. Baik konsep politheisme maupun 

monotheisme. Kekristenan memahami bahwa Allah dalam 

keesaan-Nya memiliki kejamakan. Hal ini didasari bukanlah 

oleh penarikan kesimpulan dari hasil pemikiran para 

cendekianwan Kristen melalui rasio yang diciptakan oleh Allah, 

melainkan suatu konsep yang tak dapat dihindari oleh mereka, 

sebab  Allah telah sedemikian rupa menyatakan dan 

memperkenalkan diri-Nya. Melalui kesadaran inilah, lalu  

menghadirkan konsep Tritunggal yang notabene memiliki 

perbedaan sekaligus keistimewaan dari agama-agama lain. 

Konsep ini sendiri tidak pernah dipakai  di luar Kekristenan, 

bahkan di dalam Alkitab, kata atau istilah ini tidak tercantum. 

Itulah mengapa ajaran Tritunggal sering dianggap sebagai 

bentuk penyimpangan sebab  tak Alkitabiah. 

Dalam sejarah perumusan ajaran Tritunggal terjadi 

perdebatan sengit di antara bapa-bapa gereja hingga 

membentuk beberapa kali rapat oikumenis (konsili) yang 

bertujuan untuk mencari solusi dan memaksa gereja untuk 

merumuskan ajaran mengenai pokok Tritunggal ke dalam 

bahasa yang dapat dipahami atau secara ilmiah. lalu  

mengesahkannya menjadi sebuah pengakuan iman yang 

ortodoksi, walau masih terdapat begitu banyak kontroversi. 

Pada saat ini, kontroversi Tritunggal terus berlanjut dan 

semakin riuh. Penolakan atas keyakinan   Kekristenan, baik 

secara teoretis maupun secara keseluruhan atau membatasi 

relevansinya pada wilayah pribadi, mengasumsikan bahwa 

intuisi Kekristenan kurang lebih memiliki bobot yang sama 

dengan intuisi indrawi, logis dan matematis dalam membangun 

suatu pandangan dunia. Perkembangan pemikiran ilmiah yang 

semakin klompleks turut berperan memberi  dorongan 

terhadap munculnya asumsi secara bertahap, bahwa manusia 

dapat secara utuh memahami asal-usul dunia dan 

penghuninya. Pemahaman ini membuat banyak orang Kristen 

menganggap tidak perlu bersandar pada kebenaran yang 

selama ini diwahyukan, seperti Alkitab. Pola pemikiran ilmiah 

yang berorientasi pada hal yang bisa diamati secara fisik atau 

yang disebut gerakan modernisasi (liberalis) telah merusak 

sendi-sendi gereja yang mengakibatkan munculnya 

skeptisisme baru terhadap setiap hal supranatural dalam 

tatanan keiman Kekristenan yang disebabkan corak pemikiran 

dewasa ini, yang tak henti-hentinya dan terus berusaha untuk 

mendiskreditkan doktrin-doktrin dasar iman Kristen terhadap 

Allah Tritunggal. 

Persoalan mengenai perbedaan, keunikan dan 

keistimewaan konsep Allah Tritunggal yang dimiliki orang 

Kristen, dari konsep Allah yang terdapat pada agama-agama 

yang lain, pada kenyataannya telah memunculkan banyak 

propaganda dalam masyarakat umum, baik dalam konteks 

lintas agama maupun kebudayaan global. Mereka selalu 

berupaya memahami konsep ini dengan bertitik tolak dari 

pemahaman mereka sendiri dan menyamakan konsep 

Tritunggal dengan konsep Allah dari agama-agama yang lain, 

sehingga terjadi kesalah-pahaman dan ketidakpengertian, 

serta berasumsi bahwa konsep Allah yang dimiliki orang 

Kristen tidak memiliki validitas dengan kerangka berpikir 

manusia. 

Ada juga yang menganggap bahwa Kekristenan 

menyembah lebih dari satu Allah (bertuhan tiga), atau dengan 

kata lain, menyejajarkan Tritunggal dengan Triteisme. Mereka 

lalu  secara tidak langsung atau mungkin secara terang-

terangan menyatakan bentuk penolakan terhadap rumusan 

Tritunggal. Hal ini terlihat jelas dari kalimat “Tiada Tuhan selain 

Allah” yang ada dalam syahadatnya selalu dikumandangkan. 

Serta bentuk-bentuk tauhid yang menandaskan keesaan Allah 

dan mengkafirkan (syirik) kelompok-kelompok yang 

mempersekutukan Allah (musyrik), yang di dalamnya juga 

termasuk orang Kristen, oleh mereka diketegorikan ke dalam 

kelompok ini.  

Keadaan ini  menuntut gereja untuk berbenah diri 

sembari merespon dan menghadapi berbagai macam 

intimidasi dari pihak luar. Berbarengan dengan itu, munculah 

gerakan fundamentalisme yang secara sporadis menghadirkan 

gagasan dan paradigma baru dalam memahami dan 

memaknai iman Kristen, terlebih lagi dalam merekonstruksikan 

doktrin Tritunggal, yang pada akhirnya mempengaruhi 

pengajaran yang selama ini dipegang dan diyakini sebagai 

paham ortodoksi. 

Sejalan dengan itu, perkembangan teologi yang beraneka 

ragam telah membuat kemajemukan dalam tubuh Kekristenan. 

Kemajemukan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan gaya 

berteologis dari berbagai aliran-aliran yang ada dalam 

Kekristenan. Di satu pihak, aliran garis utama lebih bersikap 

konservatif dengan mempertahankan pengajaran-pengajaran 

dogmatis dan menjadikan hal itu sebagai yang utama dalam 

berteologi, sedangkan di pihak lain, berada aliran garis tengah 

yang lebih mengfokuskan pengajarannya pada hal-hal yang 

bersifat kontemporer (inovatif) atau teologi praktis, sehingga 

terjadi pengabaian terhadap nilai-nilai dogmatis (tradisional). 

Perbedaan ini turut melahirkan sikap saling mengintimidasi 

serta mengklaim bahwa ajarannya yang paling benar, 

sehingga membingungkan kaum awam atau anggota jemaat 

untuk menentukan sikap dalam memahami dan memaknai 

nilai-nilai dogmatis yang di dalamnya terdapat esensi dari 

Tritunggal itu sendiri. 

Menyimak persoalan yang begitu kompleks menyangkut 

konsepsi atau ajaran mengenai Allah Tritunggal. Maka, sebuah 

keharusan bagi gereja untuk tetap mempertahankan ajaran 

yang ada dari berbagai tekanan dan intimidasi dari pihak 

eksternal maupun internal. Gereja seharusnya dapat berkaca 

dari pengalaman para pendahulu, bagaimana sikap mereka 

dalam menghadapi tekanan, dan keberanian dalam 

menyatakan kebenaran Tritunggal melalui rumusan-rumusan 

yang telah terkonsepkan berdasar  refleksi iman. Senada 

dengan itu, gereja dituntut untuk dapat mempertanggung 

 

 

A. Tritunggal dalam Teologi Kristen 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai doktrin 

Tritunggal, maka ada baiknya terlebih dahulu melihat 

bagaiman posisi dogtrin ini dalam kasanah ilmu teologi dan 

hubungannya dengan doktrin utama dalam   Kekristenan. 

Kedudukan doktrin dalam teologi Kristen sangatlah 

fundamen dan merupakan fondasi dalam kerangka teologi 

atau dengan kata lain semua doktrin secara otomatis akan 

runtuh jika doktrin ini runtuh. Hal ini cukup beralasan 

mengingat semua unsur dari kerangka teologi Kristen 

bergantung pada kebenaran tentang ke-Tritungal-an Allah.1 

Menurut H. Smith: “saat  Trinitas ditinggalkan, maka bagian-

bagian dari iman, seperti perdamaian dan regenerasi dengan 

sendirinya akan ditinggalkan2” dari pernyataan ini maka dapat 

dikatakan doktrin Tritunggal memiliki posisi sentral dalam 

teologi Kristen. Untuk lebih jelasmya, maka berikut ini akan 

dipaparkan hubungan Tritunggal dengan dokrin-doktrin utama 

dalam teologi Kristen 

 

 

1. Allah (Proper) 

Hubungan antara Tritunggal dengan doktrin Allah terletak 

pada pewahyuan (revelation). Melalui pewahyuan Allah 

menyatakan diri-Nya (yang transenden) kepada manusia atau 

“keluar dari selubung-selubung-Nya”, dan hanya dengan 

melalui wahyu inilah manusia dapat mengenal Allah dan 

memahami Allah yang transenden. Dalam mewahjuhkan diri-

Nya, pertama-tama Allah melakukannya melalui apa yang 

disebut wahyu umum (general reveletion of God) yaitu melalui 

penciptaan, namun semenjak peristiwa Eden atau kejatuhan 

manusia dalam dosa, membuatnya mengalami distorsi dalam 

segala aspek hidup sehingga tidak lagi mengenal Allah melalui 

wahyu umum-Nya. Sehingga dengan demikian Allah 

memprakarsai wahyu khusus (spesial revelation of God) 

kepada manusia melalui pribadi kedua (Anak) dari Tritunggal. 

Melalui wahyu khusus inilah ke-Tritungga-an Allah menjadi 

dikenal oleh manusia. Sebab ketiganya terlibat secara aktif di 

dalamnya. Di mana Bapa sebagai yang dinyatakan, Anak 

sebagai yang menyatakan dan Roh sebagai yang 

memungkinkan penyataan. Dengan demikian Tritunggal 

 

yaitu  cara yang paling intelegen untuk mengerti Allah 

sebagai pribadi.3 

2. Kristologi (Kristus) & Pneumaologi (Roh Kudus) 

Sebenarnya agak sulit untuk memberi  garis pemisah 

yang jelas antara doktirn tritunggal dan doktrin kristologi serta 

Pneumatologi sebab ketiganya mempunyai hubungan atau 

keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lainnya. Kristus 

yaitu  salah satu oknum dari Allah tritunggal, disamping sang 

bapa dan roh kudus.4 Memang secara historis perdebatan 

kristologi terjadi lebih dulu dari pada perdebatan tentang 

doktrin Tritunggal, namun secara hakiki sebenarnya ada 

hubungan timbal balik antara kedua doktrin ini. Doktrin 

tritunggal tak dapat dibenarkan jika Kristologi ternyata keliru, 

demikian juga kristologi tak dapat dibenarkan jika ternyata 

doktrin tritunggal keliru. sama seperti kristus, roh kudus yaitu  

salah satu oknum-oknum tritunggal. Dengan demikian 

 

kekeliruan doktrin tritunggal menggugurkan pneumatologi dan 

sebaliknya.5 

3. Soteriologi (keselamatan) 

Selain hubungan dengan teologi, kristologi dan 

pneumatologi, doktrin tritunggal pun memiliki hubungan yang 

sangat erat dengan doktrin soteriologi (keselamatan). Keeratan 

hubungan dapat dijelaskan melalui peranan ketiga oknum 

Allah dalam rencana keselamatan manusia. Seluruh tindakan 

Allah harus dilihat dari kacamata soteriologi, sebab  segala 

sesuatu yang dilakukan Allah seperti tindakan penciptaan (oleh 

Allah Bapa) penebusan (oleh Allah Anak), dan pewahyuan 

(oleh Allah Roh Kudus) merupakan “isi” dari sejarah 

keselamatan yang telah dirancangkan sejak kekekalan. Jadi, 

rencana atau keselamatan manusia tak dapat dilepaskan dari 

keterlibatan ketiga oknum Allah ini.6 Memang dalam semua 

tindakan ilahi ini ketiga-Nya terlibat secara aktif, namun  secara 

khusus dapat dikatakan bahwa Allah bapa yaitu  Allah 

perancang keselamatan, Allah Anak yaitu  pelaksana karya 

 

keselamatan, dan Allah Roh Kudus yaitu  mediator dalam 

karya keselamatan. 

B. Misteri Doktrin Tritunggal 

Doktrin Tritunggal yaitu  doktrin yang paling sukar 

dipahami, pandangan ini dapat dijumpai oleh hampir semua 

orang yang mempelajari Tritunggal, baik mahasiswa maupun 

para praktisi teologi. Seperti kata Luther, Tritunggal yaitu  

misteri yang tersembunyi dalam terang penyataan Ilahi.7 Hal 

yang sama juga diungkapkan oleh Tozer: “Untuk merenungkan 

Tritunggal, pikiran kita akan melangka ke arah Timur taman 

Eden dan memijak di tanah suci. Segala upaya yang paling 

tuluspun untuk mencoba memahami rahasianya Tritunggal 

akan tetap sia-sia. Rasa lapar mengenai kebenaran Ilahi akan 

berganti dengan rasa takut dan hormat. Keadaan ini juga 

dialami penulis, sehingga dalam mempelajari Tritunggal 

seluruh daya dan upaya tidak akan pernah membuahkan hasil 

jika tidak diterangi oleh cahaya dan restu dari Sang Ilahi. 

Namun berkenaan dengan rumusan konsepsi mengenai 

 

Tritunggal sering dijumpai hal-hal yang membuatnya menjadi 

sukar untuk dipahami dan membuat doktirn Tritunggal seolah 

terbalut dalam kemisterian absolut. Keadaan ini setidaknya 

dapat ditinjau dari tiga perspektif berikut: 

1. Teologis 

Teologi kristen mempunyai pandangan yang unik tentang 

Allah (God is the wholy other). Di dalam Alkitab, Allah 

dinyatakan dengan begitu jelas yang meliputi diri maupun 

esensi-Nya. Keberadaan, sifat atau karakter, atribusi dan 

karya-karya Allah. Dari semuanya itu, ditemukan bahwa; 1) 

Allah itu Esa; 2) Ada tiga Pribadi yang memiliki kualitas yang 

sama dalam segala hal. Dua kenyataan inilah yang 

mengharuskan para teolog untuk menyusun dasar-dasar 

teologi yang seimbang dalam artian tidak menekankan salah 

satu aspek baik keesaan maupun ketiga pribadi, dan 

mengabaikan yang lain ataupun maupun sebaliknya. Inilah 

kesulitan yang dialami dimana kedua hal ini harus memperoleh 

penekan yang sama. 

Disamping itu, dari persepektif ini terdapat juga tiga fakta 

yang memicu  kebenaran Tritunggal menjadi sulit 

dimengerti dan dipahami; 

Pertama, Tritunggal yaitu  kebenaran yang bersifat dan 

berdasar  wahyu Allah. Artinya kebenaran Tritunggal 

bukanlah hasil spekulasi manusia, namun  merupakan anugerah 

dari Allah yang tidak bisa dimengerti, juga tidak bisa dibantah 

(tolak) sehingga hanya bisa diterima. Kebenaran ini 

berpadanan dengan kerangka pikir wahyu bertingkat 

(progresive revelation8) yaitu wahyu yang bergerak maju, dari 

yang kurang jelas hingga akhirnya menjadi semakin jelas. 

Dalam sejarah manusia sejak Perjanjian Lama hingga 

Perjanjian baru pernyataan diri Allah dalam setiap momentum 

menjadi semakin jelas. Kebenaran ini harus diterima dengan 

iman dan jika tidak maka akan menimbulkan kesulitan dalam 

memahaminya. Seperti kata Hoflan, jangan sekali-kali 

berspekulasi dan mengemukakan pertanyaan yang nadanya 

untuk mencari tahu. 

Di balik pernyataannya dalam sejarah umat manusia. 

Manusia hanya dapat berbicara mengenai Allah dalam 

 

8 Sebagai contoh; konsepsi wahyu bertingkat dapat dipahami dengan 

mendeskripsikan karakter seseorang. Saat pembuahan karakternya 

(sangat tidak jelas), kehamilan (menjadi tidak jelas), kelahiran (menjadi 

kurang jelas), masa anak-anak (kurang jelas) dan dewasa (menjadi jelas) 

dst. 

keterkaitannya dengan Allah sendiri, yakni dalam sebuah 

hubungan yang sangat relasional.  

Kedua, Tritunggal yaitu  kebenaran dari Sang Pencipta. 

Artinya, kapasitas manusia sebagai ciptaan sangat tidak 

mungkin untuk memahami Tritunggal (Pencipta). Siapakah 

gerangan manusia yang mau memahami-Nya atau 

mungkinkah ciptaan memahami Pencipta dengan sempurna? 

Tak dapat dipungkiri terdapat perbedaan kualitatif antara 

pencipta dengan yang dicipta. Perbedaan ini menghadirkan 

gap atau jurang pemisah antara Allah dan manusia. Dengan 

demikian mempelajari Tritunggal berarti sedang berbicara 

tentang Ia (Allah) yang yang luput dari segala usaha manusia 

untuk memahami-Nya. Sebab Pencipta yaitu  kekal (tak 

terbatas) dan yang dicipta yaitu  fana (terbatas). Maka secara 

natural memahami Trintunggal sampai tuntas yaitu  sebuah 

keniscayaan.9 Dalam menyikapi hal ini, Nifrik dan Boland 

mengatakan bahwa; jika  hendak berbicara mengenai ke-

Tritunggal-an maka haruslah didahului dengan sikap insaf, 

bahwa apa yang sedang dibicarakan yaitu  Allah yang hidup, 

bukan suatu pengertian atau persoalan yang dapat diselidiki 

 

dan diuraikan dengan terang akal budi. Bila hendak 

memecahkan suatu persoalan, maka paham kita haruslah 

melebihi persoalan ini , sehingga dapat ditangkap dan 

dikuasai. Namun yang terjadi justru sebaliknya jika bertemu 

dengan Allah yang hidup, sebab  kitalah yang ditangkap dan 

dikuasai oleh Dia. 

Ketiga, Tritunggal yaitu  kebenaran mengenai Allah yang 

Esa (the only one God). Artinya tidak ada yang lain seperti 

Allah, sehingga membuat kita tak mungkin menemukan 

sesuatu yang dapat menggambarkan tentang diri-Nya secara 

sempurna. Mengenai hal ini Stephen Tong (2010) 

mengatakan; bahwa dalam memahami sesuatu kita 

membutuhkan persamaan untuk dijadikan jembatan analogi 

dan tanpa itu tidak mungkin sesuatu dapat dipahami. Lebih 

lanjut menurut A. W. Tozer, ketiadaan analogi membuat kita 

membayangkan Allah dengan terpaksa menggunakan sesuatu 

yang bukan Allah sebagai bahan untuk diolah oleh pikiran.

Jadi bagaimanapun kita membayangkan Allah, sebenarnya 

Allah tidaklah seperti yang dibayangkan. 

Dengan demikian, hal-hal inilah yang memicu  doktrin 

Tritunggal menjadi sukar untuk dipahami. Di butuhkan 

keteguhan iman, ketulusan, kerendahan hati dan penyerahan 

total kepada Dia yang yaitu  sumber kebenaran untuk 

mengetahui kebenaran itu sendiri.  

2. Filosofis 

Kesulitan dalam memahami doktrin Tritunggal tidak hanya 

dari perspektif teologis. Hal yang sama juga terjadi dari 

perspektif filosofis. Bagaimana mungkin satu itu sekaligus 

tiga? menurut Thiessen, Tritunggal yaitu  teka-teki intelektual 

yang sulit dipecahkan bahkan lebih merupakan suatu 

kontradiksi sebab rasio tidak mampu memecahkan misteri ini. 

Kesulitan yang dijumpai dalam perspektif ini berkenaan 

dengan kemutlakan rasional sebagai dasar kebenaran mutlak. 

Untuk menjawab persoalan ini, maka dipakai  teori dari 

John Loke, di mana ia membagi pengetahuan kedalam tiga 

bentuk. Pertama, rasional (masuk akal), ini berkenaan dengan 

proses penalaran dalam memperoleh kebenaran, yaitu dengan 

menguji dan menelusuri pikiran-pikiran yang dimiliki dari 

 

sensasi dan refleksi serta melalui deduksi secara ilmiah. 

Kedua, kontra raasional (tidak masuk akal), yaitu hal-hal yang 

tidak sesuai atau tidak dapat dipadankan dengan pikiran 

maupun ide-ide yang jelas dan nyata. Ketiga, supra rasional 

(melampaui akal), yakni hal-hal yang kebenaran atau 

kemungkinannya tidak dapat diperoleh dari prinsip-prinsip 

sebagaimana yang terdapat dalam pengetahuan yang 

rasional.11 

Jadi dalam memahami Tritunggal, kita harus berangkat dari 

fakta bahwa manusia yaitu  “ada” sebab  diadakan oleh 

“Sang Mahaada” yang tidak pernah menjadi ada (Allah), atau 

dengan kata lain, manusia merupakan makluk yang diciptakan 

oleh Allah dan hal ini juga menyangkut keseluruhan aspek 

dalam diri manasia termasuk rasio. Sehingga dapat dikatakan 

bahwa rasio yang dimiliki manusia yaitu  rupa atau gambar 

(replika) dalam kualitas yang lebih rendah (diciptakan) dari 

rasio sempurna (Pencipta), itu berarti rasio sempurna (Allah) 

harus diklasifikasi ke dalam wilayah supra rasional. 

 

Dengan demikian tidak dapat dipungkiri, bahwa antara 

rasional dan supra rasional terdapat gap, ruang kosong, 

daerah vakum atau daerah es. Hal-hal inilah yang 

mengakibatkan kesulitan-kesulitan rasional-filosofis dalam 

memahami doktrin Tritunggal. Menanggapi keadaan ini Paul 

Tillich mengatakan bahwa; iman akan Allah akan melampaui 

akal budi, melampaui akal bukan berarti tak masuk akal, 

paradoks namun bukan absurd.12 Atau dengan kata lain, 

hanya akal yang “mengalami” dapat mencapai Allah dan bukan 

akal yang ‘menelaah’. 

3. Empiris 

Kesulitan empiris yang dimaksudkan pada bagian ini ialah 

kesulitan yang dihubungkan dengan kenyataan bahwa Allah itu 

“ada” walau tidak kelihatan dan tidak “ada” yang sama dengan-

Nya dalam keberadaan. Allah itu yaitu  Ia yang tidak pernah 

identik dengan apa yang disebut sebagai Allah, yang dialami 

sebagai Allah, yang dirindukan dan disembah.13 Hal yang 

sama diungkapkan oleh Woodword dan Duncan: tidak ada 

 

sesuatu yang dapat disandingkan dengan ketritunggalan 

dalam keesaan-Nya dan keesaan dalam ketritunggalan-Nya. 

Tidak ada tiga orang yang secara struktur yaitu  seorang 

manusia dan tidak ada tiga orang yang masing-masing 

mempunyai kualitas yang sama dan pengetahuan yang 

lengkap tentang apa yang dilakukan atau dipikirkan oleh yang 

lain. Setiap individu memagari dirinya dengan kebebsan 

pribadi, dan tidak ada manusia yang memiliki kepribadian yang 

jamak seperti yang dinyatakan tentang Allah. Mengacu dari 

realita bahwa ketiadaan analogi untuk disejajarkan atau hanya 

sekedar mendekatinya menghasilkan kesulitan dalam 

memahami Allah. 

Keaadaan ini pada dasarnya disebabkan oleh hakikat 

keberadaan segalah sesuatu (apapun dan siapapun) ini 

bersifat alamiah (natural) sedangkan Allah Tritunggal bersifat 

supra natural. Dengan demikian jelaslah bahwa kedua hal ini 

tidak bisa disandingkan. Hal ini sejalan dengan pemikiran 

Boettner. Ia mengungkapkan bahwa; Dalam Ke-Allah-an 

terdapat kepribadian yang unik dan tidak sama dengan 

manusia. Sebagaimana dalam tatanan ekosistem, tanaman 

hidup tidak memiliki kesadaran, binatang tidak mempunyai 

perasaan dan manusia jauh melebihi kesemuanya, sebab 

padanya mempunyai kesadaran moral dan memiliki akal budi. 

Dengan demikian, pada tingkatan manusia tidak dapat 

dijangkau oleh tanaman maupun binatang. Jadi, tidak perlu 

heran jika kita tidak bisa mengerti tentang Allah yang pada 

dasarnya memiliki tingkatam yang memang jauh melebihi kita. 

C. Equilibrium 

Kedudukan doktrin Tritunggal yang begitu fundamen dalam 

teologi Kristen mengharuskan setiap warga gereja atau semua 

orang yang mengaku dirinya Kristen untuk belajar tentang 

doktrin ini. saat  tuntutan untuk memahami doktrin Tritunggal 

menjadi kewajiban bagi setiap warga gereja, maka muncullah 

keruwetan dalam memaknainya sebagaimana yang telah 

disinggung di atas. Berkenaan dengan itu, maka sikap yang 

benar dalam proses pembelajaran sekiranya akan membantu 

kita untuk dapat menelusuri kemisteriusan dari doktirn 

Tritunggal.  

God is the mistery and unique being yaitu  realitas yang 

tak dapat disangkal oleh seluruh teolog yang pernah 

mendalami tentang Tritunggal. Keunikan dan kemisteriusan-

Nya seolah menjadi momok bagi ilmu pengetahuan untuk 

menyingkapi dan menguraikan pemahaman yang holistik 

tentang Allah. Namun jika realitas ini dilepas maka Allah akan 

kehilangan nilai ke-Allah-an dan tidak lebih dari sekedar 

proyeksi otak manusia. Barth berkata, ‘Allah bukanlah Allah, 

seandainya Dia bukanlah Dia sama sekali lain, Dia yang asing 

yang sama sekali lain dan tak terpahami.14 Dengan demikian 

dapat dikatakan bahwa Allah yang dapat dipahami, diuraikan, 

dikonsepsikan secara menyeluruh, pada dasarnya IA bukanlah 

Allah. Berkenaan dengan ini, Luther dalam ajarannya tentang 

Allah memaparkan dua aspek yang unik dari Allah, yaitu; Allah 

yang diwahyukan (revealated God) dan Allah yang 

disembunyikan (the hidden God). Menurutnya, Allah yang 

disembunyikan seperti bulan di langit yang hanya dapat dilihat 

bagian depannya, tanpa bisa melihat bagian belakangnya.15  

Demikianlah Allah yang begitu ajaib dan besar sehingga ada 

bagian yang tersembunyi yang belum diwahyukan sehingga 

kemisterisan-Nya tanpa jelas. Jadi Deus revelatus (Allah yang 

dinyatakan), masih merupakan Deus abconditus (Allah yang 

tersembunyi). Senada dengan itu, Calvin pun memahami 

bahwa Allah yang keberadaan-Nya yang terdalam tidak dapat 

diselami, dengan kata lain hakikat Allah tak terpahami 

sehingga keilahian-Nya sepenuhnya luput dari pengertian 

manusia, kecuali melalui wahyu Allah.16 

Dengan demikian dalam mempelajari doktrin Tritunggal, 

kita harus memiliki sikap pengharapan yang tinggi terhadap 

kemisteriusan dan keunikan Allah ini. Dengan begitu Allah 

akan tetap menjadi Allah. Sebaliknya jika setiap usaha untuk 

memahaminya secara sempurna dengan menghilangkan 

realitas ilahi maka kita sama seperti menurunkan Allah dari 

takhta serta menobatkan akal dan pikiran kita menjadi allah. 

Barth menulis dalam bukunya Der Romerbrief, bahwa 

keunikan pada Allah akan lenyap, jika  orang tidak melihat 

“jurang, daerah es, wilayah gurun” yang harus disebrangi, jika 

kita sungguh ingin melangkah dari kefanaan ke kekekalan17, 

biarkanlah Allah tetap menjadi Allah dengan membiarkan dan 

menghargai ruang gelap dalam diri-Nya tanpa usaha 

menjadikannya seterang mungkin. Sebagaimana yang 

dikatakan Milinos, “kita akan dapat menjunjung Allah lebih 

tinggi, jikalau kita mengetahui bahwa Allah itu tidak dapat 

dimengerti dan berada diluar jangkauan pengertian kita”.18 

Disamping itu, mempelajari Tritunggal sama halnya dengan 

belajar dari Dia dan tentang Dia. Pengenalan tentang Allah 

hanya dimungkinkan sepanjang hal itu dinyatakan sendiri oleh 

Allah. sebab  yang terbatas tidak mungkin memahami 

sepenuhnya tentang Dia yang tak terbatas. Jadi pengenalan ini 

yaitu  inadaequaat (kemustahilan), sebagaimana yang 

dikatakan Calvin, finitum non capax infiniti (yang fana tidak 

mungkin memahami yang tidak fana atau kekal).19 Oleh sebab  

itu, wahyu menjadi satu-satu jalan bagi kita untuk memahami 

kebenaran Tritunggal. Sebab dengan demikian, Allah akan 

selalu bertindak sebagai subjek dan bukan objek. Ia akan 

selalu mengawasi setiap orang yang sementara mempelajari 

tentang Dia. Itulah sebabnya objek dari teologi bukanlah Allah 

melainkan wahyu/iman manusia kepada Allah.

 

Jikalau kebenaran Tritunggal ini besifat dan berdasar  

wahyu, maka satu-satu jalan untuk memahaminya ialah 

dengan totalitas iman yang penuh kepasrahan. Iman inilah 

yang nantinya akan menuntun kepada pengertian akan 

kebenaran. Seperti kata Anselmus dalam Fides quares 

intellectum (iman yang mencari pengertian), I believe in order 

to know and not I know in order to believe (aku percaya 

supaya aku mengerti dan bukan aku mengert supaya aku 

percaya). Sikap yang demikian tidak memerlukan bukti lebih 

lanjut, sebab  hal ini menandakan kebimbangan dan 

memperoleh bukti berarti menyatakan bahwa iman itu sia-sia.21 

Keadaan yang sama juga membuat Tozer (1995) mengawali 

pembahasan tentang Allah yang tak dapat dimengerti dengan 

sebuah kalimat doa yang berbunyi: 

Tuhan, dilema yang kami hadapi besar sekali! Di 

hadirat-Mu kami patut berdiam diri, namun  kasih bergelora di 

hati kami untuk berbicara. Seandainya kami berdiam diri, 

maka batu-batu akan berseruh; namun jika  kami 

berbicara, apa yang harus kami katakan? Ajarlah kami 

mengetahui apa yang kami belum kami ketahui, sebab  tidak 

ada manusia yang dapat mengetahui hal-hal tentang Allah, 

hanya Roh Allah yang dapat. jika  akal tak berdaya, 

 

biarlah iman yang menyangga kami, dan kami akan berpikir 

bahwa kami sudah percaya, bukan supaya kami percaya. 

Dalam nama Tuhan Yesus. Amin. 

Akhir kata, biarlah tuntunan iman menjadi mutlak dalam 

menelaah setiap jengkal pengetahuan kita dalam mempelajari 

Tritunggal, sehingga menghadirkan rasa kagum dan hormat 

akan kebesaran Allah. Sebagaiman yang dilakukan oleh Barth, 

ia membiarkan rahasia Allah dengan seluruh kesungguhannya 

tak tersentuh dan tidak berusaha membongkar dengan akal 

budi. Ia tidak berikhtiar untuk membedah rahasia Ilahi dengan 

pisau rasio, melainkan menyembah-Nya. “Biarkanlah aku 

mencari Engkau dalam kerinduan dan merindukan Engkau di 

dalam mencari Engkau; biarkanlah aku menemukan Engkau di 

dalam kasih dan mengasihi Engkau di dalam menemukan 

Engkau”.22 Kebenaran Tritunggal yang jauh melampaui akal 

dan pengertian manusia, seharusnya manuntun manusia untuk 

masuk ke dalam puji-pujian kepada-Nya. Doktrin Tritunggal 

tidak memecahkan rahasia hakikat Allah, melainkan mau 

mengajak manusia untuk turut serta dalam memuliakan Allah 

dengan puji-pujian dan penyembahan. 

 

Tritunggal yaitu  istilah yang dipakai  untuk 

mengkonsepsikan nilai keimanan umat Kristiani, lalu  

dijadikan rumusan pengakuan iman bagi seluruh gereja, 

sebagaimana yang dirumuskan pada konsili di Nicea tahun 

325 dan dikokohkan di konsili Konstantinopel pada tahun 381 

oleh bapak-bapak gereja. Walau Istilah Tritunggal tidak 

terdapat dalam seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun 

Perjanjian Baru. Namun, seluruh Alkitab mengandung ajaran 

mengenai keesaan Allah yang memiliki tiga pribadi dalam 

eksistensinya.23 Oleh sebab  itu, untuk menerjemahkan ajaran 

ini maka gereja terpaksa menggunakan istilah di luar Alkitab 

sebagai upaya mengkontekstualisasikan ajaran ini . 

A. Pengertian Tritunggal 

Kata Tritunggal secara etimologis, berasal dari bahasa 

Latin Trinitas. Kata ini terdiri dari dua kata. Pertama yaitu  

trinus, yaitu kata sifat yang berarti memiliki tiga atau tiga kali 

lipat. Kedua yaitu  kata unitas, yaitu kata benda dari kata 

dasar unus, yang bearti satu, tunggal atau esa. Jadi, dalam 

bahasa Latin, Trinitas yaitu  tiga serangkai atau tiga dalam 

 

satu.24 Tertulianus, seorang teolog Latin yang menulis pada 

awal abad ke-3, dianggap menggunakan kata Trinitas untuk 

pertama kalinya, saat  ia menjelaskan bahwa Bapa, Anak dan 

Roh Kudus yaitu  satu dalam esensi (substansi) bukan satu 

dalam persona.25 Sedangkan dalam bahasa Yunani, kata ini 

berpadanan dengan kata tριάς (trias) yang berarti satu set dari 

tiga atau berjumlah tiga. pemakaian  pertama kali kata ini 

dalam bentuk Yunani, tercatat dalam teologi Kristen yaitu  

oleh Teofilus dari Antiokhia sekitar tahun 170, ia menggunakan 

kata ini untuk mendefinisikan tentang Allah yang memiliki 

Firman-Nya secara internal di dalam Diri-Nya yang bersama-

sama dalam kisah penciptaan.26 Adapun dalam bahasa 

Inggris, kata Tritunggal disinonimkan dengan kata trinity. 

Namun jika dianalisis, kata ini tidak efektif dalam 

merekonstruksikan makna yang terkandung di dalamnya, 

sebab  hanya menunjuk arti tiga tanpa adanya implikasi 

kesatuan dari ketiganya.27  Dalam kamus bahasa Indonesia, 

kata Tritunggal memiliki arti yang berbeda dengan Trinitas. 

Tritunggal diartikan sebagai kesatuan dari tiga orang dan 

Trinitas yaitu  keesaan tiga oknum Allah.28 Jadi, bahasa 

Indonesia tampaknya menyerap bahasa Latin namun tidak 

menyejajarkan kedua kata ini sebagaimana lazim dilakukan 

oleh para teolog. 

Seperti halnya etimologi, secara terminologi istilah 

Tritunggal pun diformulasikan dari dua makna. 

Pertama, satu hakikat (una substantia). Kata ini terkadang 

dipakai  untuk mengartikan sesuatu yang individual atau 

juga dapat berarti jenis atau kelas yang ke dalamnya sesuatu 

yang individual digolongkan. Namun, hal ini tak dapat 

mengungkapkan jenis kesatuan yang dibicarakan. Walau para 

bapa gereja (Athanasius dan Origenes) tak jarang 

membicarakan kesatuan hakikat sebagai kesatuan jenis atau 

tipe dan nyaris bersifat triteistis tentang hakikat Allah Bapa. Ini 

bukanlah yang utama walau terkadang berdampingan dan 

 

 

diidentifikasikan dengan pemakaian  istilah hakikat, sebab 

kesatuan Allah harus dibicarakan sebagai kesatuan jenis, dan 

hal itu pada diri-Nya sendiri. Bapa gereja menjelaskan 

kesatuan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai yang 

berbagi dalam esensi yang sama. Mereka lebih lanjut, 

menggabungkan gagasan ini dengan pernyataan kitab suci 

bahwa Sang Anak diperanakan dari Allah, artinya bahwa ke-

Allah-an membeda-bedakan dirinya sendiri.29 Oleh sebab  itu, 

dalam konteks ini, pengertian hakikat (substantia) oleh bapa-

bapa gereja diartikan bukan sebagai pengelompokan 

melainkan sebagai pembentuk jenis. Hal ini berarti hakikat 

Allah tidak dibagi-bagi di antara ketiga pribadi, namun  secara 

penuh dengan segala kesempurnaan dalam setiap pribadi, 

sehingga memiliki kesatuan hakikat. Dengan demikian, pribadi-

pribadi dalam diri Allah merupakan kesatuan numerik yang 

identik dan tidak memiliki eksistensi di luar dan terpisah dari 

ketiga pribadi.30 

Kedua, yaitu Tiga pribadi (tres personae). Para Bapa gereja 

menggunanakan kata pribadi untuk mendefinisikan ketigaan 

 

dari Tritunggal. Kata ini berasal dari bahasa Latin personae, 

dan padanannya dalam bahasa Yunani yaitu  prosopon atau 

hypostatis. Bapa, Anak dan Roh Kudus dikatakan yaitu  tiga 

hypostatis atau pribadi dalam satu hakikat. 

Kata persona atau prosopon aslinya yaitu  sebutan untuk 

topeng yang dipakai para aktor dalam drama. sebab  

pergeseran makna, kata-kata itu lalu  merujuk pada 

peran atau karakter yang akan dimainkan. Dalam pemakaian  

ini, kata-kata ini  mengandung makna karakteristik yang 

khusus atau istimewa dan juga keberadaan individual yang 

nyata. Sedangkan hypostatis dapat juga diartikan sebagai cara 

berada. Namun, oleh para Bapa gereja pemakaian  kata ini 

tidak mengacu pada makna aslinya, melainkan diberikan 

pemaknaan baru. Sebab, baik kata persona, prosopon, 

maupun hypostatis bukanlah diimplikasikan atau dimaknai 

sebagai modus-modus, melainkan eksistensi diri sebagai fitur 

esesnsialnya31, atau “pusat kesadaran”.32 Oleh sebab  itu, 

formula una substantia tres persone yaitu  untuk menjelaskan 

 

kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan maupun 

keragaman-Nya. 

Jadi, meskipun dalam istilah Tritunggal mengandung 

misteri dan paradoksal, para bapa gereja tetap menggunakan 

istilah ini sebab  dianggap tidak kotradiksi dengan kesaksian 

Alkitab33, sebagaimana hasil keputusan yang telah ditetapkan 

sebagai paham ortodoksi dan lalu  dijadikan rumusan 

pengakuan iman bersama bagi seluruh gereja. Yaitu bahwa 

Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu  esa menurut hakikat (una 

substantia) di mana ketiganya yaitu  sama esensi-Nya, sama 

kedudukan-Nya, sama kuasa-Nya, dan sama kemuliaan-Nya, 

dan merupakan tiga Pribadi (tres personae) yang 

eksistensinya berbeda antara satu dengan yang lain.34 Allah 

dilukiskan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun  bukan 

berarti Allah terbagi menjadi tiga.35 Oleh sebab  itu, kata 

Tritunggal (tiga satu) dalam teologi Kristen dimaknai sebagai 

pengakuan yang seimbang antara tiga dan satu. Penekanan 

 

 

terhadap tiga dan mengabaikan satu, dan sebaliknya, 

menjadikan kata ini kehilangan pengertiannya yang benar di 

dalam teologi.36 Hal inilah yang menandaskan sifat 

ekskulsivisme dari iman Kristen dalam memahami Allah, 

sebab  berbeda dengan konsep monoteis yang menekankan 

ketunggalan Allah dan triteisme yang menyembah tiga tuhan 

maupun polities yang memuja banyak dewa. 

B. Unsur-unsur Esensial 

Allah Tritunggal sebagaimana dipaparkan di atas, 

merupakan ajaran yang sangat sulit untuk dimengerti, 

dijelaskan, diterima dan dipercaya, serta diungkapkan dengan 

kata-kata atau istilah-istilah manusia, sebab di dalamnya 

terdapat misteri (supra rasio) dan paradoks dengan kerangka 

berpikir manusia sebagai ciptaan saat  diperhadapkan 

dengan Sang Pencipta. Oleh sebab  itu, pada bagian ini   akan 

membahas mengenai unsur-unsur esensial dari Tritunggal 

dengan bertitik tolak dari keterbatasan manusia dalam 

memahami Allah dan penyataan Allah dalam panggung 

sejarah sebagai dasar utama hadirnya ajaran Tritunggal. 

1. Inkomprehensibilitas Allah 

Tidak ada pengetahuan yang tuntas tentang Allah. Tidak 

ada nama yang membuat esensi-Nya diketahui. Tidak ada 

konsep yang mencakup diri-Nya secara utuh. Tidak ada 

deskripsi yang mendefinisikan Dia secara penuh. Allah tidak 

dapat diungkapkan, digerakan, dan tidak benama. Bahkan 

kata-kata seperti Bapa, Allah atau Tuhan bukanlah nama yang 

riil, itu hanyalah sebutan-sebutan yang diambil dari rahmat dan 

pekerjaan-pekerjaan-Nya.  lalu  untuk sebutan esa, baik, 

pencipta, penguasa, atau apapun kata yang dilekatkan pada-

Nya, tidak akan pernah bisa mengungkapkan esensinya yang 

sejati, melainkan hanya mengungkapkan kuasa-kuasa-Nya. 

Ringkasnya, Ia melampaui segala keberadan dan pemahaman 

manusia. Dia tidak dapat dipahami secara tuntas dan haruslah 

demikian. 

Sebagaimana tidak ada intelek yang mampu memahami 

Allah secara semestinya, demikianlah tidak ada definisi yang 

mampu mendeskripsikan Allah secara semestinya sebab  

Allah yaitu  keberadaan Ilahi yang tidak dapat diungkapkan, 

dibayangkan atau diandaikan dengan apapun. Manusia 

berbicara mengenai Allah dengan caranya sendiri dan 

mengetahui apa yang telah Allah nyatakan tentang diri-Nya 

sendiri, namun  natur keberadaan Allah dan eksistensi-Nya di 

dalam seluruh ciptaan sama sekali tidak dapat dipahami 

secara tuntas.37 

berdasar  realita dan kenyataan ini , maka 

inkomprehensibilitas Allah yaitu  titik berangkat untuk dapat 

memahami bahwa manusia pada dasarnya selalu terikat pada 

persepsi indrawi dan selalu menderivasi materi pemikirannya 

dari dunia yang kelihatan, dan tidak dapat melihat hal spiritual 

sebab  terikat pada ruang dan waktu, sehingga pemikirannya 

senantiasa bersifat material, finit dan berlimitasi. Oleh sebab  

itu, semua determinasi tentang Allah merupakan 

penggambaran yang telah terkontaminasi corak berfikir 

indrawi. Dalam hal ini, semua pemikiran dan pembicaraan 

tentang Allah seharusnya tidak diperbolehkan, sebab  yang 

dipikirkan dan bicarakan tentang Allah yaitu  sesuatu yang 

melampaui kemampuan dari perspektif intelektual.38 Di 

samping itu, Allah juga tak dapat diimajinasikan sebab  Allah 

sesungguhnya tetap seperti diri-Nya dan bukan suatu hantu 

 

atau fantasi untuk ditransformasikan sehingga pengetahuan 

manusia tentang Allah, tidak lebih dari pabrik-pabrik berhala 

sehingga memproyeksikan Allah berdasar  alur berpikir atau 

mendefinisikan Allah tak lebih dari ciptaan otaknya 

sendiri.39Maka dapat dipastikan bahwa, manusia tak akan 

pernah bisa mengetahui siapa Allah secara subjektif tanpa 

Allah menyatakan diri-Nya secara objektif di dalam alam 

ciptaan-Nya. Atau dengan kata lain, jika Allah tidak 

menyatakan diri-Nya, tidak ada pula pengetahuan tentang-

Nya. namun , jika Ia telah menyatakan diri-Nya, ada sesuatu, 

betapa kecilnya itu, yang dapat menuntun manusia menuju 

pengetahuan ini . Namun, telah terbukti bahwa perihal 

tidak dapat diketahuinya Allah berkoinsidensi secara persis 

dengan penyataan diri-Nya dalam panggung sejarah.40 

Dengan demikian, Allah tidak akan pernah dapat dipahami 

secara tuntas. Allah hanya dapat dikenal dan diketahui sejauh 

mana Ia menyatakan dan memperkenalkan diri-Nya. Oleh 

sebab  itu untuk dapat mengenal Allah, Alkitab menjadi 


 

sumber utama sebab  melalui media ini lah Allah telah 

menyatakan Diri-Nya dalam panggung sejarah. 

2. Penyataan Allah tentang Diri-Nya 

Penyataan, atau dalam bahasa Ibraninya gala, dan Yunani 

apokalupto, serta bahasa Latin revelo yaitu  gagasan tentang 

membuka selubung dari sesuatu yang tersembunyi atau 

dengan kata lain membuat jelas apa yang samar-samar. Hal 

ini tentunya tidak lepas dari inisiatif dari Allah sendiri untuk 

berpengapa dalam panggung sejarah agar manusia dapat 

mengenal-Nya.41Dalam penyataan ini , Allah menyatakan 

diri-Nya, baik sebagai yang esa, personalitas dan rangkap tiga. 

Oleh sebab  itu, pada bagian ini, akan dibahas mengenai 

keTritunggalan Allah yang hadir melalui penyataan ini , 

sebagaimana yang ditertulis di dalam Alkitab, mulai dari kitab 

Perjanjian Lama, hingga Perjanjian Baru. 

a. Teofani 

Dalam Alkitab terdapat cukup banyak perikop di mana 

Malaikat Tuhan muncul dan diidentifikasi sebagai sebagai 

Allah sendiri. Perikop-perikop ini berisi petunjuk-petunjuk 

tentang pluralitas di dalam Allah. Di Kejadian 16:7-13, Sang 

malaikat berbicara sebagai Allah, Ia berkata kepada Hagar, 

“Aku kana membuat sangat banyak keturunanmu,” dan 

memberi informasi kepadanya tentang kelahiran Ismail yang 

akan segera terjadi dan tentang nama yang harus diberikan 

kepadanya. Hagar menjawab Malaikat itu, menyebut Tuhan 

yang berbicara kepadanya sebagai “Allah yang melihat”. Lalu, 

di Kej. 21:17-18, Malaikat itu sekali-lagi berbicara kepada 

Hagar tentang anaknya, sekali lagi menggunakan suara Allah: 

“Aku akan membuat dia menjadi bangsa besar.” Di Kej. 22:11-

18, saat  Abraham hampir mempersembahkan Ishak di atas 

altar, Malaikat Tuhan memanggil dari sorga, memberi  janji-

janji sesuai dengan kovenan yang sudah Allah tetapkan. 

Perkataan Malaikat itu di sini setara dengan perkataan Tuhan 

dalam Kejadian 12:1-3: “Aku akan membuat engkau menjadi 

bangsa yang besar, dan memberkati engkau.” Sekali lagi, di 

Kej. 31:10-13, saat  berbicara kepada Yakub, Malaikat itu 

mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Allah yang di Bethel. Di 

Kel. 3:2-6, Malaikat Tuhan tampak kepada Musa dari nyala api 

yang keluar dari semak, sementara dari semak itu sendiri 

 

Tuhan melihat, berbicara dan memperkenalkan diri-Nya 

sebagai Allah. 

lalu , setalah menaklukan Kanaan, Malaikat di Hakim-

hakim 2:1-5 berbicara dalam nama YHWH, mengatakan “telah 

Ku tuntun kamu keluar dari Mesir.... Aku telah berfirman: Aku 

tidak akan membatalkan perjanjian Ku dengan kamu. namun  

kamu tidak mendengarkan firman-Ku.” saat  menampakan 

diri kepada Gideon, Malaikat Tuhan (Hak. 6:12, 20, 21, 22) 

yaitu  Tuhan (ay. 14, dst., 23-24). Lalu saat  Ia menampakan 

diri-Nya kepada orang tua Simson, Manoah dan istrinya (Hak. 

13:3-23), Malaikat Tuhan disamakan oleh istri Manoah pada 

pemunculan pertama-Nya dengan abdi Allah (ay. 3-8), 

sementara yang kedua kali ia yaitu  Malaikat Allah dan juga 

seorang manusi (ay. 9-20). sesudah  itu, dalam perasaan gentar 

bercampur takut, pasangan itu menyadari bahwa dengan 

melihat Malaikat itu sama dengan melihat Allah. Dalam 

kemunculan, Malaikat itu tampak sebagai manusia, namun  

secara bersamaan disetarakan dengan Allah. Di sini terdapat 

satu sosok yang diidentifikasi dengan Allah, namun berbeda 

dengan-Nya. Namun dalam Kitab Suci tidak ada penjelasan 

tentang bagaimana ini bisa terjadi dan seluruh rangkaian 

peristiwa ini  dilihat dalam perspektif hanya ada Allah 

yang esa.42 

Terkait dengan itu, pada beberapa kesempatan lain Allah 

menampakan diri dalam bentuk bertubuh fisik atau Theofani. 

Peristiwa yang paling terkenal yaitu  kunjungan tiga orang 

atau malaikat kepada Abraham (Kej. 18:1), namun di depan 

Abraham berdiri tiga orang (ay. 2). Ia memberi mereka 

keramahtamahan semitik sebagaimana lazimnya (ay. 3-8), 

termasuk makanan. Lalu “Tuhan” berbicara, dalam kata-kata 

yang hanya dapat dikatakan oleh Allah. Allah berkata: 

“sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan 

engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu akan mempunyai 

seorang anak laki-laki” (ay. 10). Sekali lagi narasi itu mencatat 

bahwa “Tuhan” berbicara dengan Abraham (ay. 13). Orang-

orang itu berbelok ke Sodom, sementara Tuhan berbicara 

dengan Abraham (ay. 22 dst.). lalu  Ttuhan pergi dan 

meninggalkan Abraham. (ay. 33), sementara dua (tidak lagi 

tiga) malaikat itu tiba di Sodom (Kej. 19:1). Dua malaikat itu 

mengumumkan kepada Lot bahwa bahwa Tuhan telah 

mengutus mereka untuk menghancurkan temapat itu (ay. 13), 

 

namun  sesudah  pelarian Lot yang genting, Tuhanlah yang 

menhancurkan kota itu (ay. 24, 25). Dalam kedua pasal ini 

didapati penyebutan manusia, malaikat dan Tuhan yang terus 

ditempatkan berasama-sama, seolah-olah tanpa batasan. 

Perikop ini memang mengandung begitu banyak misteri 

sehingga memicu  banyak diskusi antar rabi-rabi, 

meskipun baru sejak Justinur Martir pada abad ke-2 orang-

orang Kristen mulai mempertimbankan implikasi-implikasi dari 

peristiwa itu dan sejak saat itu pulalah masalah Tritunggal 

mulai muncul. 

Selain cerita Abraham, pertemuan Yosua dengan panglima 

balatentara Tuhan (Yosua. 5:13-15) juga berhak mendapat 

perhatian lebih banyak dari pada yang sering diterimanya. 

Figur misterius ini tampak sebagai seorang manusia, namun  

mungkin yaitu  seorang malaikat. Akan namun  Yosua 

menyembah Dia dan tidak ditegur sebab  hal itu. Keadaaan ini 

terbalik dengan Rasul Yohanes saat  ia menyembah malaikat 

(Wahyu 19:10; 22:8-9), sebab  pada dua kesempatan itu ia 

ditegur dengan keras. Terlebih lagi, panglima balatentara 

Tuhan (perlu diingat bahwa pada saat itu Yosua sendiri juga 

menyandang gelar yang sama) berbicara kepadanya dalam 

 

bahasa yang sama dengan yang dipakai  saat  berbicara 

dengan Musa di semak yang menyalah. Dengan demikian, 

dalam keseluruhan pokok ini sangat jelas bahwa Allah tampak 

sebagai seorang manusia, agen berpribadi yang berbicara 

debagai Allah, namun bukan Allah. 

Dibalik semua episode ini terdapat monoteisme yang 

mempengaruhi segala aspek. Israel berulang kali di ajarkan 

bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Dia yang membawa umat-

Nya kedalam kovenan dengan-Nya. Sebagaimana inti dari 

iman Israel dalam Ulangan 6:4-5: “Dengarlah, hai orang Israel: 

Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, 

dengan segenap hatimu dan dengan sengenap jiwamu dan 

dengan segenap kekuatanmu.” Kata-kata ini terkandung dalam 

seluruh hukum, dengan begitu sangatlah jelas bahwa Israel 

menolak dengan tegas segala macam bentuk politeisme. 

Dalam konteks langsung, agama-agama Kanaan merupakan 

ancaman dan tantangan bagi Israel, namun  deklarasi yang 

mengesankan ini dimasukkan dalam lingkup semua objek 

penyembahan kafir yang disebutkan dalam literatur sejarah 

dan nabi.

 

Dengan demikian, dalam perspektif iman monoteistik, yang 

dinyatakan berulang kali, kita seharusnya memahami bahwa 

pokok-pokok mengenai teofani merupakan petunjuk mengenai 

distingsi dalam keberadaan Allah yang berulang kali 

disingkapkan dalam waktu ke waktu. Peristiwa-peristiwa ini 

tidak pernah sedikitpuun dimaksudkan untuk mengakomodasi 

anggapan kafir tentang pluralitas allah-allah. Peristiwa itu 

cocok dengan kerangka kerja monoteistik. 

b. Distingsi 

Dalam beberapa perikop, Allah berbicara kepada Allah, 

tidak dalam deliberasi diri atau dalam keadaan sendiri, namun  

tampak sebagai pelaku-pelaku yang berdistingsi. Dalam 

Mazmur 110:1 dikatakan: “Firman Tuhan kepada Tuanku: 

Duduklah di samping kanan Ku sampai Kubuat musuh-

musuhmu menjadi tumpuan kakimu”. Dari perikop ini terlihat 

Allah berbicara kepada satu sosok yang Daud sebut Tuan 

(Adonay)nya. Dalam Mazmur penobatan ini, Daud sang raja 

memberi penghormatan kepada satu sosok yang tampak lebih 

dari pada raja. Tuan Daud ini mempunyai otoritas dan kuasa 

yang lebih besar dibandingkan  kuasa dan otoritas Daud. Ia dan 

Allah sepenuhnya sependapat. Ditambahkan pula suatu janji 

bahwa Ia takan pernah merubah pikiran dalam dekrit-Nya 

bahwa Tuan ini yaitu  imam untuk selama-lamanya menurut 

peraturan Melkisedek. Mazmur ini menunjuk kepada pribadi 

dan kuasa Kristus, dan sering dikutip di Perjanjian Baru, baik 

oleh Yesus tentang diri-Nya (Mrk. 12:36, dan paralel-

paralelnya) dan oleh Petrus tentang Yesus (Kis. 2:33-35). 

Mazmur ini tidak sampai secara implisit mengidentifikasi Tuan 

Daud dengan Allah, namun kaitan yang dinyatakan yaitu  

kaitan yang paling dekat.43 

lalu  dalam Mazmur 45:7-8, menunjukan kepada 

pernikahan rajawi yang tiba-tiba berubah menjadi 

penghormatan ilahi, dan jelaslah bahwa sosk rajawi yang 

disebutkan sebagai Allah di ayat enam diurapi oleh Allah di 

ayat tujuh. Dalam tatanan Bahasanya tidak mengizinkan 

pelemahan apapun. Oleh sebab  itu, pada waktu mazmur ini 

digubah masih terkandung dan merupakan sebuah misteri, 

sebab hal ini hanya akan dapat dipahami dengan kerangka 

berpikir melaui perspektif inkarnasi. Di samping itu, ada juga 

rangkaian pujian di Yesaya 63:8-14, yang menunjukan sejarah 

perjalanan bangsa Israel yang diwarnai oleh beragam 


 

peristiwa di dalamnya. Allah menjadi juruselamat mereka (ayat 

8), malaikat di hadirat-Nya menyelamatkan mereka (ayat 9), Ia 

mengasihi, mengasihani, dan menggendong mereka, namun  

mereka mendukakan Roh Kudus-Nya, maka Ia berperang 

melawan mereka (ayat 10). Lalu Ia mengingat bahwa dalam 

hati mereka telah ditaruh Roh Kudus (ayat 11), maka Roh 

Tuhan memberi  mereka perhentian (ayat 14). Rangkaian 

pujian ini membuat Roh Allah terlihat cukup jelas dan 

dipersonalisasikan sehingga membuka jalan menuju pada 

perkembangan yang penuh dilalu  hari sebagai 

hypostasis yang berbeda dalam pemikiran Yahudi hingga   

Kekristenan.44 

c. Keesaan 

Konsep mengenai keesaan Allah berakar dari bangsa Israel 

dalam Perjanjian Lama. Konsep ini hadir dalam lingkungan 

yang penuh dengan pluralitas keagamaan dan bertumbuh di 

daerah yang memiliki banyak dewa-dewa yang dijadikan 

sebagai objek penyembahan. Mereka saling membandingkan 

dewa-dewa yang ada, dan berpindah ke dewa yang dianggap 

paling hebat atau paling besar. Dewa-dewa ini dianggap 

sebagai yang memelihara kehidupan dan setiap bidang 

kehidupan memiliki dewanya sendiri. Seperti di bidang politik, 

sosial, ekonomi, militer, maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

sebab  itu, mereka bisa saling memuja dan menyembah 

dewa-dewa yang dianggap paling sesuai dengan 

kesejahteraan yang mereka butuhkan. namun  hal demikian 

tidak berlaku dalam kehidupan bangsa Israel. Jika bangsa-

bangsa sekitarnya menyembah suatu dewa yang hanya 

memiliki ruang lingkup yang kecil dan terbatas. Israel 

menyembah satu Allah yang bersifat universal dan supra 

alamiah. Konsep Allah yang esa ini bukan satu untuk satu 

suku, melainkan satu untuk seluruh alam semesta.45 Konsep 

ini lalu  diajarkan dan di ulangi terus-menerus, sampai 

sebelum Musa mati, dia mengulanginya lagi dalam satu ayat 

yang disebut sebagai Syamma, ayat emas, ayat kunci untuk 

mengerti seluruh Taurat, yaitu terdapat dalam Ulangan 6 : 4, 

berkata demikian: ְׁשַמע(Syema' =Dengarlah) ִיְׂשָרֵאל (Yisra'el = 

Israel)ְיהָוה (Yehovah Dibaca 'Adonay = Tuhan)  ֱאֵהינּו 

('Eloheinu = Allah Kita) ְיהָוה (Yehovah Dibaca 'Adonay = 

Tuhan) ד  Ayat ini, merupakan prinsip dasar .(Ekhad = Esa) ֶאָח

 

untuk mengerti seluruh Taurat dan wahyu Tuhan di dalam 

Perjanjian Lama. Orang Israel mengetahui bahwa segala 

kebajikan di dalam iman kepercayaan dimulai dengan 

meletakan iman mereka di atas dasar ini.46 

Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel 

saat  ia akan meninggalkan mereka, sebenarnya merupakan 

suatu pengakuan iman yang ditekankan pada bangsa Israel 

agar jangan melupakan Allah. Pengakuan iman ini bukanlah 

rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang 

diperoleh dengan memandang kepada gejala-gejala alam 

semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan 

didasarkan pada pengalaman Musa dan umat Israel sendiri, 

sejak Allah memperkenalkan diri melalui karya selamat dengan 

membebaskan bangsa Israel dari tanah perhambaan di Mesir 

hingga di dataran Moab. Senada dengan hal itu, Allah 

memperkenalkan diri dengan Firrman dan karya-Nya. 

Pertama-tama diakui bahwa Allah Israel yaitu  ְיהָוה yang 

melalui Nama ini Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai 

sekutu Israel dan yang telah memenuhi perjanjian dengan 

nenek moyang bangsa Israel. Dengan mengingatkan kepada 

Nama itu Musa bermaksud menekankan bahwa Allah yaitu  

setia, yang telah benar-benar memegang teguh kepada apa 

yang telah difirmankan dan diperbuat. Hal itu bukanlah suatu 

teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel, melainkan benar-

benar kenyataan yang dinyatakan disepAnjang sejarah 

kehidupan mereka. Selanjutnya dalam pengakuan iman, Allah 

disebutkan sebagai yang ד  esa, atau bisa juga) ֶאָחֽ

diterjemahkan dengan kata saja), artinya tidak ada allah lain 

kecuali Allah yang telah menjadi sekutu mereka. Jadi dalam 

hubungan pernyataan ini, kata ekhad menunjuk pada 

kedudukan Allah yang khas terhadap allah-allah lain dan 

bertentangan dengan allah-allah yang dimiliki oleh bangsa-

bangsa di sekitar Israel. Atau dengan kata lain, kata ini lebih 

menunjuk pada pengertian etis, sebab keesaan Allah di dalam 

Firman dan Karya-Nya senantiasa dihubungkan dengan kasih 

yang esa kepada-Nya. Hanya Allah-lah yang menjadi sekutu 

Israel dan tidak ada sekutu lain yang patut dikasihi.47 

Pengertian tentang keesaan yang ditemukan dalam 

Perjanjian lama, juga dalam Perjanjian Baru. Salah satunya 

dalam Yohanes 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa 

mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan 

mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus”. Kata-kata yang 

diterjemahkan dengan satu-satunya Allah yang benar yaitu  

to.n mo,non avlhqino.n qeo.n (ton monon alẻthinon Theon), 

kata ini juga bisa diterjemahkan dengan Allah yang satu dan 

benar atau satu-satunya yang benar-benar Allah. Jadi jelaslah 

melalui ayat ini bahwa tidak ada allah lain kecuali Allah Israel 

dan keesaan Allah dalam ayat ini, bukanlah hasil pemikiran 

spekulatif yang diperoleh dari hasil dengan memandang 

gejala-gejala alam atau penjabaran berdasar  hukum akal. 

Melainkan berdasar  penyataan Allah di dalam Firman dan 

karya-Nya, yang semuanya menunjuk pada Allah sebagai 

sekutu umat-Nya. Seperti halnya yang terdapat dalam 

Perjanjian Lama, kata esa dalam Perjanjian Baru juga tidak 

menekankan kepada angka secara matematis. Jadi, baik 

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sama-sama 

menekan keesaan sebagai objek penyembahan kepada satu-

satunya yang disebut Allah dan hal itu menuntut sesuatu dari 

orang yang menerima wahyu ini, yaitu tidak bisa sembarangan 

berserah atau menyerahkan diri kepada ilah-ilah lain dan harus 

menyerahkan totalitas penyembahan kepada Allah yang esa 

 

dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan 

segenap kekuatan serta akal budi untuk mengasihi Dia.48 Atau 

dengan kata lain, seluruh aspek hidup harus merupakan 

kesatuan di hadapan Allah. 

Disamping itu, penyataan mengenai keesaan Allah juga 

menekankan sifat-sifat atau natur Allah yang tidak ada pada 

siapapun. Sifat-sifat itu antara lain: Transenden (lain dari yang 

lain dan melampaui segalah segala sesuatu), Kudus atau Suci 

(tidak ada bandingannya sekaligus menjadi sumber segala 

kesucian), Mutlak (hanya Dia satu-satunya yang melampaui 

segala sesuatu yang relatif), Sempurna (satu-satunya yang 

tidak berkekurangan, yang mencukupi diri sendiri, serta 

menjadi sumber yang mencukupi yang lain), Kekal (tidak 

mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir, serta 

menjadi sumber dari kekekalan).49 

d. Rangkap tiga 

Konsep mengenai rangkap tiga yaitu  mengacu dari 

tulisan Alkitab yang menyebutkan ketiga pribadi secara 

bersama-sama dan setara sebagai objek iman. Oleh sebab  


 

itu, pada bagian ini   akan memfokuskan pembahasan 

mengenai rangkap tiga atau triadik yang terdapat dalam 

Perjanjian Baru khususnya dalam tulisan-tulisan Paulus. 

Diawali dari introduksi suratnya kepada jemaat di Roma, ia 

menggambarkan dirinya sebagai rasul yang dikuduskan untuk 

mengabarkan injil Allah, tentang Anak, dan menurut Roh 

Kudus yang dinyatakan oleh kebangkitan Yesus Kristus dari 

antara orang mati, bahwa Ia yaitu  Anak Allah yang maha 

kuasa (Rm. 1:1-4). Dalam menggambarkan akibat-akibat 

keselamatan oleh Allah, ia mengatakan, “kita hidup dalam 

damai sejahtera dengan