Perjanjian Baru ditulis oleh para pengikut Yesus
yang percaya kepadaNya. Fakta ini sangat jelas terlihat
dalam seluruh nafas tulisan Perjanjian Baru. sebab itu
sajian sistematis tentang pribadi Yesus dalam Perjanjian
Baru yaitu sama dengan menyajikan secara sistematis
kepercayaan para penulis Perjanjian Baru.Sejak abad ke
18 di bawah pengaruh rasionalisme, para pengarang
teologi Barat telah bertanya-tanya apakah kepercayaan
para penulis Perjanjian Baru itu benar atau apakah
sebetulnya Yesus dalam kenyataan sangat berbeda
dibandingkan dengan gambaran yang mereka berikan.
Apakah penulis-penulis Perjanjian Baru sedang
mengisahkan cerita fiksi atau tidak. Orang-orang skeptis
yang ekstrim berpikir bahwa para penulis kitab-kitab Injil
”menceritakan fiksi”. Dan bahwa kitab-kitab Injil tidak
bernilai sejarah. Penulis-penulis yang tidak begitu
ekstrim ingin menghilangkan beberapa bagian dari Injil
yang mereka anggap tidak benar. Pandangan tradisional
yaitu pandangan orang-orang Kristen yang percaya
menyebutkan bahwa para penulis kitab-kitab Injil
mencatat apa yang mereka alami secara tepat dan dengan
demikian kepercayaan mereka mengenai siapa Yesus itu
betul-betul tepat dan sesuai dengan apa yang Yesus
sendiri inginkan agar para pembaca percaya mengenai
diri-Nya.1
Dalam penulisan makalah ini, penulis akan
menyajikan suatu penyelidikan dari data-data dalam
Perjanjian Baru khususnya dalam kitab-kitab Injil
Sinoptik tentang apa siapakah Yesus itu. Di sini penulis
akan membahas tentang apakah pikiran Yesus tentang
diriNya sendiri, apakah pandangan-pandangan orang-
orang lain mengenai Yesus, dan apakah hubungan di
antara keduanya. Penulis akan mempelajari sebutan-
sebutan yang dipakai Yesus terhadap diriNya dan
bagaimana orang-orang lain menyebut Dia. Pendekatan
pada pokok ini yang dilakukan dengan cara menyelidiki
gelar-gelar Kristus akan memberikan pandangan yang
berharga. Pertanyaan yang harus ditanyakan yaitu ,
”Apakah artinya gelar-gelar ini dalam pelayanan
Yesus, yaitu bagi orang-orang yang Ia layani?”
Seringkali arti gelar-gelar tertentu dalam pelayanan
Yesus berbeda dengan artinya dalam penjelasan-
penjelasan para ahli teologia sistematis dalam sejarah
gereja.
YESUS SEBAGAI MANUSIA
Dalam kitab-kitab Injil sinoptik akan didapatkan
tiga gambaran mengenai Yesus dari Nazaret. Dalam
masing-masing gambaran ini ada perbedaan
dalam banyak hal, namun semua berpusat pada manusia
yang sama di antara tiga kitab Injil sinoptik, hanya
Markus yang memberikan petunjuk dalam kata-kata
pembukaannya dengan memperkenalkan seseorang yang
lebih dari seorang manusia; namun di antara ketiga
penulis lainnya itu, Markuslah yang lebih memusatkan
perhatiannya kepada Yesus sebagai manusia.
Pentingnya Kemanusiaan Yesus
Pentingnya kemanusiaan Yesus tidak dapat
diremehkan sifatnya soteriologis, maksudnya berkenaan
dengan karya keselamatan manusia. Persoalan yang
dihadapi oleh manusia ialah jurang yang memisahkan
dirinya dengan Allah. Memang jurang ini bersifat
ontologis. Allah berada begitu tinggi di atas manusia
sehingga Ia tidak dapat dikneal oleh akal manusia yang
tidak dibimbing. Jikalai Allah harus dikenal dan
diketahui maka Allah harus mengambil inisiatif untuk
memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Namun
masalahnya bukan sekadar ontologis.2 Di antara Allah
dan manusia juga ada jurang yang lain, yaitu jurang
yang rohani dan moral. Jurang ini tercipta oleh dosa
manusia. Kedatangan Yesus sebagai manusia dengan
misi penyelamatan nampak sangat kental dalam
keseluruhan Injil-injil sinoptik. Kemanusiaan Yesus tidak
pernah diragukan oleh para penulis Injil. Keabsahan
pekerjaan Yesus dalam karya penyelamatan-Nya uamh
dikerjakan dalam kematian Yesus sangat tergantung pada
kenyataan kemusiaan-Nya.
Kemanusiaan Yesus yang sejati telah diserang
secara terutama dari dua arah yaitu dari ajaran sesat
Doketisme dan Appolinarisme. Ajaran-ajaran sesat ini
memaksa gereja untuk merenungkan dengan teliti serta
mengucapkan pemahaman mereka dengan sangat cermat
mengenai pokok ini. Gereja mula-mula telah menghadapi
serangan bidat doketisme, yang mengajarkan bahwa
Yesus tidak benar-benar memiliki tubuh fisik atau natur
manusia. Bidat ini berusaha untuk menyangkal
kemanusiaan Yesus. Mereka mengajarkan bahwa Yesus
hanya ”kelihatannya” memiliki suatu tubuh tetapi pada
kenyataannya hanya seperti suatu keberadaan yang
memakai topeng. Yohanes melawan ajaran ini dengan
mengatakan bahwa mereka yang menyangkali kedatangan
Yesus yang menjadi daging yaitu anti-Kristus.
Ajaran bidat lain, yaitu ajaran sesat Apolinarisme
menerima kemanusiaa yang sejati dari Yesus tetapi tidak
seluruhnya. Apolinarisme merupakan sebuah contoh
terlalu membesar-besarkan sesuatu yang baik. Menurut
Apolinarius, Yesus merupakan sebuah persenyawaan,
sebagian dari persenyawaan itu (beberapa unsur Yesus)
yaitu manusiawi dan sisanya merupakan unsur ilahi.3
Jadi sekalipun Yesus itu manusia biasa, Ia agak berbeda
dengan manusia lainnya sebab Dia tidak memiliki apa
yang dimiliki manusia. Jadi di dalam Yesus sama sekali
tidak mungkin terjadi pertentangan di antara manusia
dengan yang ilahi. Yang ada hanyalah pusat kesadaran,
dan pusat kesadaran itu bersifat ilahi. Yesus tidak
memiliki kehendak manusia. sebab nya ia tidak dapat
berbuat dosa sebab pribadi-Nya dikuasai oleh jiwa yang
ilahi.4 Bidat monofisit telah sejak lama ditentang oleh
gereja. Bidat ini menyatakan bahwa sebenarnya Yesus
bukan memiliki dua natur tetapi hanya satu natur, yaitu
percampuran antara manusia dan ilahi yang disebut natur
”theanthropic” (ilahi-manusiawi). Bidat monofisit
memanusiakan yang ilahi dan mengilahikan yang
manusia.5 Pengajaran bidat-bidat ini tidaklah benar.
sebab para penulis Injil-injil dengan tanpa keraguan
sedikitpun menyajikan Yesus sebagai manusia.
Yesus sebagai manusia sejati dipaparkan secara
luas dan gambalang dalam seluruh Injil Sinoptik. Yesus
sepenuhnya manusia seperti manusia lainnya. Ia
memiliki segala unsur kemanusiaan yang perlu yang
ada di dalam diri manusia. Bukti pertama yang
patut diperhatikan ialah bahwa Yesus memiliki tubuh
jasmani seperti manusia lainnya. Dia dilahirkan. Yesus
tidak turun dari surga dan dengan tiba-tiba
menampakkan diri di bumi.
Para penulis Injil Sinoptik memiliki keyakinan
yang kokoh dan tak tergoyahkan bahwa Yesus yaitu
seorang manusia sejati. Hal ini didukung oleh tulisan-
tulisan tentang kelahiranNya sebagai manusia biasa
meskipun benihNya berbeda dari manusia biasa, sebab
kelahiran Yesus dari anak dara6, namun Yesus tetap
memiliki garis keturunan manusia dan kelahiranNya dari
manusia biasa. Matius dan Lukas keduanya menekankan
bahwa kemanusiaan Kristus dikandung dalam Roh
Kudus (Mat. 1:18; Luk. 1:35). Matius memberikan
penekanan yang cukup jelas tentang Maria tidak
bersetubuh dengan seorang laki-laki sebelum kelahiran
Yesus (Mat. 1:18-25). Demikian pula dengan Markus
menekankan bahwa Yesus yaitu ”anak Maria” daripada
mengatakan anak Yusuf (kebiasaan Yahudi biasanya
menggunakan nama ayah).7 Catatan mengenai
kelahiranNya menggambarkan Yesus dalam keluarga
manusia yang biasa.
Ketiga injil menekankan kemanusiaan Yesus.
Matius menekankan garis keturunan manusia-Nya (Mat.
1:1-17), kelahiran-Nya sebagai manusia (Mat. 1:25), dan
masa kanak-kanak-Nya (Mat. 2:1-23). Demikian pula
dengan Lukas yang menekankan kelahiran-Nya dan
status-Nya yang rendah (Mat. 2:1-20) ia menyesuaikan
diri dengan tradisi orang yahudi (Mat. 2:21-24) , dan
pertumbuhan sebagai anak laki-laki muda (Mat. 2:41-
52). Markus menekankan kemanusiaan Yesus lebih dari
Matius dan Lukas melalui penekanannya pada karya,
kehidupan, dan aktivitas Yesus. Ketiganya menekankan
kemanusiaan-Nya pada karya, kehiduan, dan aktivitas
Yesus. Letiganya menekankan kemanusiaan-Nya dalam
pencobaan (Mat. 4;1-11; mrk 1:12-13; Luk 4:1-13). Hal-
hal seperti mengatur kapal-kapal nelayan, membayar
pajak, berbicara pada orang yang berbeda, berkeringat
6 Doktrin kelahiran Kristus dari anak dara
menyatakan bahwa kelahiran Kristus yaitu akibat dari suatu
mujizat pada waktu dikandung oleh Maria. Anak dara Maria
mengandung seorang bayi dengan kuasa Roh Kudus, tanpa
peran sertia dari seorang bapa. Mujizat kelahiran Kristus
menjelaskan kepada kita mengenai natur yang dimilikiNya.
KelahiranNya dari seorang perempuan menunjukkan bahwa
Dia yaitu benar-benar manusia dan menjadi sama dengan
manusia biasa tetapi kemanusiaan Kristus tidaklah sama
dengan manusia biasa yang lahir dengan dosa asal sedangkan
Kristus tidak demikian.
darah, menangis sebab ditinggalkan di atas kayu salib,
semua mencerminkan kemanusiaan Yesus. Namun Ia
bukan manusia biasa; Ia mengampuni dosa, Ia memiliki
otoritas atas alam, menyatakan Shekinah allah, semua itu
”menempatkan Ia pada kelas-Nya sendiri.”8
Satu-satunya peristiwa pada masa kanak-kanak
Yesus yang diceritakan memperlihatkan keadaan keluarga
yang bersifat manusia biasa. Kecemasan orang tua
sebab kehilangan anaknya dilukiskan Lukas dengan
gamblang. Demikian juga komentar Lukas bahwa Yesus
patuh kepada orangtuanya merupakan kesimpulan
mengenai kehidupan Yesus dalam seluruh masa
pertumbuhanNya (Lukas 2:51). Penuturan Lukas
selanjutnya bahwa Yesus ”makin bertambah besar dan
bertambah hikmatNya dan besarNya” (Lukas 2:40-52)
memperlihatkan perkembangan manusia biasa secara
normal. Tidak ada suatu tandapun yang menunjukkan
perkembangan yang luar biasa.
Ketiga kitab Injil sinoptik menganggap
pembaptisan Yesus sebagai permulaan pelayanannya.
Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kesamaan
Yesus dengan orang-orang yang datang untuk dibaptis
oleh Yohanes, tetapi pada saat itu juga suara dari surga
dengan jelas membedakan Yesus dari orang-orang di
sekitarnya. Pencobaan–pencobaan yang dialamiNya
selanjutnya sekali lagi diceritakan dengan maksud untuk
memperlihatkan bahwa Yesus sama seperti semua orang
lain diperhadapkan dengan pencobaan-pencobaan moral.9
Jika pencobaan-pencobaan yang dicatat itu sungguh-
sungguh terjadi10 dan tidak ada catatan yang
menunjukkan hal yang bertentangan – maka itu
menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh seorang
manusia tetapi harus diingat bahwa pencobaan-pencobaan
yang terjadi pada Yesus ada hubunganNya dengan
misiNya sebagai Mesias dan jenis pencobaan yang
dihadapiNya yaitu pencobaan yang khusus bagiNya.
Penulis-penulis kitab Injil tidak menyatakan bahwa
pencobaan-pencobaan yang dialami Yesus itu sama
dengan pencobaan-pencobaan yang menimpa kita (seperti
dikatakan juga dalam Ibrani 4:15).11
Semua kitab Injil sinoptik menggambarkan Yesus
dengan latar belakang kehidupan orang-orang Yahudi,
bersama dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi,
orang-orang Saduki dan pengikut-pengikut Herodes.
Masa hidup-Nya termasuk dalam kehidupan Palestina
8 Donald Guthrie, New Testament Theology (Downers
Grove, III.: InterVarsity, 1981), p. 222.
9 Donald Guthrie Teologi Perjanjian Baru Jilid 1, p.
246.
10 Pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus yaitu
pencobaan yang sungguh-sungguh terjadi sebab Ia yaitu
manusia yang sejati. keadaanNya yang tidak berdosa tidak
berarti bahwa Ia tidak mungkin mengalami pencobaan yang
sebenarnya.
11 Ada pendapat (misalnya Tinsley 1960) bahwa
baptisan dan pencobaan Kristus merupakan pengulangan dari
pengalaman bangsa Israel sesudah meninggalkan Mesir (lihat
kitab Keluaran). Yesus yaitu Israel yang baru. Murid-
muridNya harus mengikuti teladanNya dan mereka akan
mengalami pengalaman yang serupa.
pada abad pertama. Orang-orang yang disembuhkan-
Nya dan yang diajar-Nya yaitu orang-orang yang
menghadapi ketegangan-ketegangan sosial dan politik
yang dihadapi Yesus juga. Hal-hal yang biasa dilakukan
oleh orang-orang pada waktu itu, seperti makan bersama-
sama dengan orang-orang lain dalam rumah-rumah
mereka, mempersiapkan perahu-perahu nelayan
penangkap ikan, membayar pajak, bercakap-cakap
dengan bemacam-macam orang; semuanya itu
membuktikan bahwa para penulis kitab-kitab Injil
menggambarkan Yesus sebagai manusia di antara
manusia-manusia lain, yang melakukan perbuatan yang
lazim dilakukan oleh orang-orang biasa. Mereka semua
mencatat keprihatinan-Nya yang dalam terhadap orang-
orang yang hidup dalam keadaan sosial yang tidak beres,
kritik-Nya terhadap kemunafikan, percakapan-
percakapan-Nya dengan para pemimpin agama. Mereka
juga menyebutkan pergumulan-Nya yang berat di taman
Getsemani. Lukas khususnya menaruh perhatian pada
keringat darah, yang menandakan adanya pertentangan
batin manusia yang hebat yang tidak dapat dihindari.
Matius dan Markus juga menuliskan tentang teriakan-
Nya dari kayu salib pada waktu ditinggalkan Bapa.
Namun demikian, tetap pada perbedaan hakiki antara
Yesus dengan orang-orang lain. Setiap penulis kitab-
kitab injil mengemukakan dengan cara mereka masig-
masing. Manusia yang ini membuat pernyataann-
pernyataan yang paling luar biasa mengenai diri-Nya
sendiri. Ia menyatakan dosa, memerintah alam,
mengusir setan. Ia dimuliakan dihadapan ketiga murid-
Nya dengan cara yang tidak mungkin dapat dilakukan
oleh manusia lainnya. Ia menggunakan dan menerima
gelar-gelar yang menempatkan Dia pada tingkat
tersendiri.
Para penulis kitab injil sinoptik tidak mencoba
untuk memecahkan persoalan antara kesamaan Yesus
dengan manusia dan perbedaan-Nya dari orang-orang
lain. Bahkan,nampaknya mereka tidak sadar akan adanya
persoalan ini.
Yesus sebagai Manusia yang Tidak Berdosa
Dalam rangka menyelidiki kemanusiaan Yesus
penelis harus memikirkan juga keterangan Perjanjian
Baru yang jelas mengenai keadaan –Nya yang tidak
berdosa. Ada beberapa macam bukti mengenai hal ini,
sebagaimana yang diuraikan di bawah ini.
Meskipun Injil Sinoptik menyajikan Yesus sebagai
seorang manusia, mereka juga mengindikasikan Ia bukan
manusia biasa, Ia lahir dari seorang anak dara dan tidak
berdosa. sebab lahir dari seorang perawan, Ia tidak
memiliki natur dan kecenderungan pada dosa (perhatikan
Yak. 1:14-15). Yesus memanggil manusia untuk
bertobat tetapi tidak ada catatan yang khusus dalam
kitab-kitab injil sinoptik mengenai pernyataan Yesus
sendiri sebagai bahwa Ia tidak berdosa, tetapi ada tanda-
tanda di dalam yang mendukung ketidakberdosaan Yesus
itu.12 Para peneliti Perjanjian baru akan dapat segera
berkata bahwa tidak ada bukti yang bertentangan dengan
kesaksian rasul-rasul pada waktu-waktu selanjutnya
mengenai ketidakberdosa-Nya itu. Yesus tidak pernah
membuat pengakuan dosa. Ia memulai pelayanan-Nya
dengan memanggil orang-orang untuk bertobat, walaupan
Ia sendiri tidak pernah menyatakan kebutuhan-Nya untuk
bertobat pada waktu ia dibaptiskan oleh Yohanes, pada
mulanya Yohanes ragu-ragu (menurut Mat 3:14), tetapi
akhirnya ia setuju untuk membaptiskan-Nya. Yesus
menyatakan bahwa Ia dibaptis ”untuk menggenapi
seluruh kebenaran ”, bukan untuk menyatakan pertobatan
dari dosa13.
Tuhan Yesus memperlihatkan sikap penolakan
yang peka terhadap yang jahat misalnya pada waktu Ia
menghardik usaha Petrus yang salah yang ingin
membelokkan Dia dari konsekuensi misi-Nya sebagai
Mesias. Hal ini menyatakan secara tidak langsung bahwa
tidak ada pikiran yang jahat dalam diri Yesus (Mat
16:23). Memang kata-kata pada waktu itu menghardik
petrus, ”Enyahlah Iblis”, memperlihatkan reaksi yang
tajam terhadap kehadiran iblis, terutama ketika Iblis hadir
dalam kata-kata yang diucapkan oleh salah seorang
murid-Nya yang terdekat.14 Mungkin lebih baik bila
hardikan itu ditafsirkan bahwa Petrus seolah-olah
bertindak sebagai Iblis daripada memperkirakan bahwa
Iblis menguasai Petrus.
Mengenai hal pencobaan, Matius dan Lukas
memberi kesan yang kuat bahwa Yesus memperoleh
kemenangan yang lengkap. Tidak ada tanda apapun
bahwa Yesus bersikap bimbang terhadap si pencoba,
sebab pencobaan-pencobaan itu dapat dianggap
mewakili segala pencobaan yang terjadi sepanjang
pelayanan Yesus, maka kemenangan atas yang jahat ini
pula dapat dianggap terjadi dalam seluruh kehidupan-
Nya. Tentu saja pencobaan-pencobaan yang dicatat itu
berhubungan dengan permulaan pelayanan Yesus, tetapi
semuanya itu memberi pengaruh untuk keseluruhan.15
Pencobaan itu juga menekankan bahwa meskipun Ia diuji
dalam semua area seperti orang-orang lainnya, namun Ia
tidak berdosa (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13).
Dia mengajarkan murid-muridNya untuk mengakui
dosa mereka serta memohon pengampunan, namun tidak
ada laporan bahwa Ia mengaku dosa dna mohon
12 Dengan maksud membela ajaran bahwa Yesus tidak
berdosa, Gereja RK mengajarkan bahwa Maria juga dilahirkan
tanpa dosa. Ajaran ini sama sekali tidak didasari oleh
bukti yang alkitabiah. Juga harus diperhatikan bahwa ajaran
tentang kelahiran Yesus dari seorang anak dara tidak menjamin
bahwa Yesus tidak berdosa. Namun apa yang dapat dikatakan
ialah bahwa melalui kelahiran yang ajaib ini tidak dapat
mengharapkan seseorang yang demikian luar biasa sehingga
ketidakberdosaan-Nya bukanlah hal yang mengherankan.
13 Yohanes merasa ragu-ragu mungkin sebab ia sadar
bahwa Yesus lebih unggul daripada dia, sehingga ia
menganggap bahwa Yesuslah yang harus membaptis dia
dengan Roh, bukan dia yang membaptis Yesus dengan air.
14 E. Best, The Temptation and the Passion: The
Markan Soteriology (Cambridge: CUP, 1965), p. 29.
15 Donald Guthrie, p. 256.
pengampunan untuk diri-Nya sendiri. Sekalipun Ia pergi
ke Bait Suci, namun tidak ada laporan bahwa Ia
mempersembahkan kurban untuk diri-Nya dan dosa-
dosa-Nya. Selain dituduh menghujat, tidak ada dosa lain
yang dituduhkan kepada-Nya; dan tentu saja, apabila Dia
memang Allah, maka hal-hal yang dilakukan-Nya itu
(misalnya: mengampuni dosa) bukanlah hujat.
Sekalipun bukan merupakan bukti yang mutlak, namun
ada juga banyak bukti mengenai ketidakbersalahan-
Nya atas tuduhan-tuduhan yang menyebabkan Dia
disalibkan. Isteri Pilatus menasihati, ”Jangan engkau
mencampuri perkara orang benar itu” (Mat. 27:19);
penjahat yang disalib di sebelahnya mengatakan, ”Orang
ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk 23:41); dan
bahkan Yudas pernah mengatakan, ”Aku telah berdosa
sebab menyerahkan darah yang yang tak bersalah” (Mat
27:4).
Ketidak berdosaan Yesus juga dikuatkan oleh
kisah-kisah dalam Injil. ada laporan mengenai
pencobaan yang dialami-Nya, namun tidak pernah
tercatat bahwa Dia berbuat dosa. Tidak ada sesuatupun
yang dilaporkan mengenai diri-Nya yang bertentangan
dengan hukum Allah tentang hal yang benar dan yang
salah; segala sesuatu yang dilakukan-Nya yaitu selaras
dengan kehendak Allah. Dengan demikian, berdasar
pernyataan tertulis maupun kebungkaman tentang
pokok-pokok tertentu, mau tidak mau berkesimpulan
bahwa Alkitab bersaksi tentang keadaan Yesus yang
tidak berdosa.16 Yesus pernah dengan tajam menuduh
para ahli Taurat dan orang-orang farisi sebab
kemunafikan mereka, dan tidak adanya tuduhan balik
terhadap Yesus mendukung pandangan bahwa tidak
seorangpun dapat menuduh Dia sebagai seorang yang
munafik. Yesus sendiri dapat melakukan apa yang Ia
harapkan dari orang lain. Ia mendorong orang-orang
agar menjadi sempurna sama seperti Bapa sorgawi yang
sempurna (mat. 5:48). Pasti Ia sendiri munafik jika ada
keraguan sedikit saja mengenai peringatan itu, mungkin
akan timbul pertanyaan apakah Ia sendiri perlu menjadi
lebih sempurna. Tetapi peringatan itu ditujukan-Nya
kepada orang-orang lain, bukan kepada diri-Nya sendiri.
Seluruh pengajaran Yesus dalam kitab-kitab Injil
Sinoptik disusun dengan nada moral yang tetap tinggi
dan tidak ada seorang pun dari pengdengarnya menuduh
bahwa Dia tidak hidup sesudai dengan ajaran-Nya
sendiri. Ia membedakan diri-Nya dengan para
pendengar-Nya pada waktu Ia menyebutkan bahwa
mereka, walaupun jahat, mengetahui bagaimana
memberi pemberian yang baik kepada anak-anak mereka
(Mat 7:11, Luk 11:13).
16 Tentu saja ada orang-orang yang mengganggap
bahwa Yesus berbuat dsoa. Antara lain, Nels Ferre, yang
menemukan dalam perilaku Yesus kurangnya percaya yang
sempurna pada Allah Bapa, yang merupakan dosa tida
percaya. Bagaimanapun juga, tafsiran Ferre itu salah, dan
pandangannya tentang dosa sangat dipengaruhi oleh
pengertian eksistensial dan bukan pengertian alkitabiah.
Ada satu pernyataan Yesus yang seringkali
menimbulkan debat dan pertanyaan di kalangan teolog
ataupun orang-orang Kristen yaitu perkataan Yesus
kepada seorang pemimpin muda yang memanggil Dia
dengan perkataan ”Guru yang Baik” (Mrk 10:17-18, Luk
18:18-19). Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku
baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah
saja.” Di sini Ia menegaskan bahwa hanya ada satu yang
baik, yaitu Allah. Pertanyaan yang muncul kemudian
yaitu apakah Yesus sedang menyatakan bahwa Ia
sendiri juga tidak baik? Beberapa orang berpendapat
bahwa Yesus sebagai manusia mengakui tidak memiliki
kebaikan mutlak dari Allah yang tak dapat dicobai,
kebaikan-Nya sebagai manusia merupakan hasil dari
pertahanan terhadap pencobaan dan ketaatan sempurna
yang mencakup penderitaan. Tetapi pandangan demikian
menimbulkan perkiraan tentang adanya tingkat-tingkat
kebaikan, dan hal ini hanya mengaburkan masalah.17
Pendapat yang lebih baik ialah, bahwa Yesus
sedang menantang orang muda itu tentang dasar dari
penilaiannya mengenai kebaikan, dengan maksud agar
penghormatannya kepada Yesus mempunyai dasar yang
benar. Penekanan diberikan pada kata sifat, jadi hanya
ditanyakan Yesus ialah tentang arti ’kebaikan’. Kata
’baik’ jangan digunakan sebagai istilah pujian yang
kosong. Tidak terlihat adanya kesan untuk membuat
perbedaan antara Yesus dengan Allah.18 Dengan
perkataan lain, maksud Yesus bertanya, ”Mengapa
kaukatakan Aku baik?”, ialah agar orang muda itu
memberikan alasan dari pernyataannya. Catatan Matius
yang menyatakan ”Apakah sebabnya engkay bertanya
kepadaKu tentang apa yang baik?” (Mat 19:16),
menggeser penekanan dan mengurangi kesulitan moral
yang diperkirakan ada. Pandangan mengenai kebaikan
tidak dibicarakan dan hal itu hanyalah merupakan awal
dari tantangan langsung kepada orang muda itu tentang
hukum Taurat.
KEILAHIAN YESUS
Keilahian Yesus dapat dilihat dari perbuatan-
perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah saja,
seperti: mengampuni dosa, dan demonstrasi kuasa dan
mujizat yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Tetapi
keilahian Yesus dapat dipelajari dari keberadaannya
sebagai pribadi yang memiliki gelar-gelar yang dipakai
Yesus sendiri bagi diriNya dan orang-orang di sekitarnya
memandangNya saat itu.
Yesus sebagai Mesias
Istilah Mesias banyak sekali dipakai dalam Gereja
Kristen bagi pribadi Yesus. Istilah ini sama dengan
istilah Kristus atau κρίστος dalam bahasa Yunani yang
berarti “Yang diurapi”. Hal ini nyata dengan adanya
fakta bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus
pada masa-masa permulaan disebut sebagai orang-orang
Kristen; dan hal ini merupakan kesaksian yang
mengesankan akan konsep Kristus dalam pemikiran
mereka. Mereka begitu yakin bahwa Yesus yaitu
Mesias dan mereka begitu giat dalam memberitakan hal
itu hingga orang-orang lain menyebut mereka “pengikut-
pengikut Kristus.” Hal ini terjadi di Antiokia sebab di
sanalah pertama kali murid-murid itu disebut Kristen. Di
sanalah pertama kali jemaat di bangun di tengah-tengah
orang-orang bukan yahudi (KPR 11:26).
Orang-orang Yahudi tidak akan menyebut orang-
orang percaya sebagai pengikut Mesias, sebab mereka
tidak pernah mengakui bahwa jemaat Kristen memiliki
hak untuk mempergunakan istilah itu bagi Yesus. Tetapi
bagi orang-orang bukan Yahudi tidak ada keberatan
seperti itu dan mereka sebenarnya tidak memperdulikan
dampak dari nama itu. Pemakaian kata ”Kristus” secara
terus menerus kelihatannya tidak berarti bagi mereka.
Mereka seharusnya pada sumber-sumber orang
Yahudilah didapat keterangan tentang betapa pentingnya
gelar itu bagi Yesus dan bagi orang-orang pada
zamannya. Baru setelah itu keterangan dari kitab-kitab
Injil akan dapat dimengerti dengan benar.
1. Latar Belakang dalam Perjanjian Lama
Ada empat sumber utama untuk agama Yahudi
pada zaman itu yaitu Perjanjian lama, tulisan-tulisan
Apokrifa dan Pseudepigrafa, naskah-naskah Laut Mati
(Qumran) dan tulisan-tulisan para rabi. Gagasan tentang
Mesias harus dipelajari dari masing-masing sumber
ini .
Mempelajari kebenaran Yesus sebagai Mesias
perlu diperhatikan dua topik berkenaan dengan latar
belakang pengharapan mesianis dalam PL. Yang
pertama, pemahaman pemakaian x;yvim' / meshiah
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani sebagai cristo.j
/ kristos) dalam Perjanjian Lama. Yang kedua yaitu
pengertian yang tepat tentang konsep “Anak Daud”
dalam Perjanjian Lama. Kedua topik ini sangat
penting dalam perkembangan pengharapan mesianis
orang-orang Yahudi.
Sebenarnya arti dari kata x;yvim' dalam
Perjanjian Lama yaitu sangat luas dan dalam
prakteknya dapat dipakaikan untuk siapapun yang
diurapi Allah, yaitu orang yang mendapatkan panggilan
dan misi istimewa dari Allah. Istilah ini paling
sering dipakai untuk raja bangsa Israel (contohnya, 1
Sam 2:10, 35: 24:6; 26:9, 11, 16, 23), tetapi juga dipakai
untuk imam-imam (contohnya, Imamat 4:3,5, 16; 8:12;
Mazmur 84:10), nabi-nabi (contohnya 1 Raja 19:16), dan
bapa-bapa leluhur (I Tawarikh 16:22; Mazmur 105:15).
Bahkan istilah ini dipakai dalam Yes 45: I untuk Koresy,
raja Persia, yang diberi peranan sebagai agen
keselamatan bagi umat Allah. Dalam Daniel 9:25 istilah
ini (dalam konteks ini dygIn" x:yvim ) dipakai
sebagai terminus technicus untuk Mesias yang akan
menyelematkan umat Allah pada akhir zaman.19
Selain pemakaian kata x:yvim dalam Perjanjian
Lama, ada juga beberapa nas yang, menurut kebanyakan
penafsir injili, menubuatkan kedatangan seorang Raja
yang akan datang pada akhir zaman (Mesias). Contoh
yang dapat disebutkan yaitu : Kejadian 49:10; Bilangan
24:17; Yesaya 9:6-7; Mikha 5:2; Zakharia 9:9. Juga,
beberapa ayat dan Kitab Mazrnur, yaitu 2:2 dan 110:1,
ditafsirkan dalam Perjanjian Baru sebagai nubuatan
tentang Yesus sebagai Mesias (KPR 4:25-26; Matius
22:44; Markus 12:36; Lukas 20:42; KPR 2:34).
Walaupun hanya beberapa ayat dalam Perjanjian
Lama menyebutkan seorang Raja yang akan datang pada
akhir zaman, beberapa pasal dalam Perjanjian Lama
menggambarkan zaman mesianis dan aktivitas Allah pada
waktu itu (contohnya Yesaya 26-29; 40-42; Yehezkiel 40-
48: Daniel 12; YoeI 2:28-3:21). Kenyataan ini konsisten
dengan kecenderungan orang-orang dari Timur Tengah
untuk lebih mengutamakan fungsi dari pada agen.
Dalam Perjanjian Lama, terutama dalam kitab nabi-
nabi, banyak disebutkan tentang masa kemesiasan yang
akan datang yang menawarkan masa depan yang cerah
bagi umat Allah (Yes 26-29; 40; Yeh 40-48; dan 12; Yl
2:28-3:21), tetapi hanya sedikit dikatakan tentang Mesias.
Gelar itu tidak dipakai untuk penyelamar yang akan
datang, bahkan tokoh yang akan membuka zaman yang
akan datang yaitu Allah sendiri. Tetapi, walaupun
istilah ”Mesias” itu tidak muncul secara tersendiri, ada
bermacam-macam penggunaannya dalam rangkaian kata
seperti Mesias Tuhan (yaitu yang diurapi Tuhan).
Gagasan mengenai pengurapan seseorang untuk suatu
misi khusus muncul beberapa kali, terutama bagi raja-raja
dan imam-imam (Im 4:3), juga nbai0nabi (I Raj 19:16)
dan bapak-bapak leluhur Israel (Mzm 105:15), dan
bahkan bagi seorang raja kafir, yaitu Koresy (Yes 45:1).
Pengurapan yang menunjukkan tugas khusus ini kemudia
digunakan dalam hal yang lebih teknis, khususnya bagi
seseorang yang akan dipilih Allah sebagai alat-Nya untuk
menyelamatkan umat-Nya. Dapat dikatakan bahwa
Perjanjian lama mempersiapkan jalan bagi Mesias dan
banyak perikop Perjanjian lama mengenai Mesias itu
dikutip dalam Perjanjian Baru.
2. Latar Belakang pada Masa Perjanjian Baru
Selama masa transisi antara masa Perjanjian Lama
dan Perjanjian baru, arti dari istilah itu mengalami
beberapa perubahan, dan arti teknis dari orang-orang yang
diurapi Tuhan menjadi lebih menonjol (Mazmur salomo
17-18). Pengharapan akan kedatangan Mesias
mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tetapi yang paling
menonjol ialah gagasan mengenai Raja keturunan Daud,
yang akan mendirikan kerajaan di dunia bagi umat Israel
dan akan menghancurkan musuh-musuh Israel. Mesias
akan merupakan tokoh politik, tetapi dengan
19 Tom Sappington, “Diktat Kuliah Teologia
Perjanjian Baru” (Jogyakarta: Sekolah Tinggi Teologi Injili
Indonesia, t.t.), p. 27.
kecenderungan ke arah agama. Konsep itu merupakan
gabungan yang aneh dari pengharapan bersifat nasional
dan pengharapan rohani.20
Dari naskah-naskah Laut Mati disebutkan adanya
dua orang Mesias, seorang dari harun dan seorang dari
Israel (Bdg 1 QS 9:11). sebab persekutuan di Qumran
itu merupakan suatu masyarakat imam, tidaklah
mengherankan bila ditemukan bahwa Mesias dari Harun
lebih penting daripada Mesias dari Israel. Sampai sejauh
mana pentingnya pandangan yang berbeda tentang
Mesias ini bagi penetapan penggunaan istilah dalam
Perjanjian baru masih diperdebatkan, tetapi sedikitnya
hal itu membuktikan adanya pandangan yang berbeda-
beda mengenai karakter yang tepat dari jabatan Mesias.
Perlu dicatat bahwa tidak ada bukti tentang
penggunaan istilah ”Mesias” oleh para rabi sebelum
tahun 70 sM, tetapi keterangan tentang ajaran rabi pada
itu sedikit sekali.21 Di samping itu istilah ini tidak
pernah dipakai oleh Yosefus dalam usahanya untuk
membuat agama Yahudi dapat lebih diterima oleh orang-
orang Roma. Istilah itu muncul dalam Apokalipsis ezra
dan Barukh, yang keduanya sejaman dengan masa
terbentuknya jemaat kristus; dan seperti pada masa
antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kelihatannya gelar itu dihubungkan dengan gagasan
seorang Anak Daud terutama dalam IV Ezra 12:32-34.
Dari penyelidikannya yang singkat tentang latar
belakang ini, jelaslah bahwa gagasan tentang Mesias
yang akan datang sudah tersebar luas di antara orang-
orang Yahudi, tetapi asal mula dan watak dari Mesias
yang akan datang itu tidak dimengerti dengan jelas.
Kelompok yang berbeda-beda cenderung untuk
membayangkan Mesias sesuai dengan keyakinan mereka
sendiri, misalnya kelompok iman di Qumran
menafsirkannya dengan istilah-istilah imam, kelompok-
kelompok nasionalis dengan istilah-istilah politik, dan
sebagainya. Dalam memikirkan bagaimana Yesus
menggunakan istilah Mesias, harus diingat bahwa ia
memperhatikan pengertian yang paling populer dari
istilah itu. Sudah tentu pemikiran populer cenderung
pada kedatangan seorang pemimpin politik yang akan
membebaskan orang-orang Yahud dari beban tekanan
Roma. Dengan mengingat gagasan populer ini ,
dapat dimengerti mengerti mengapa Yesus menghindari
penggunaan istilah ini.
Ada beberapa sumber informasi tentang
pengharapan mesianis orang-orang Yahudi pada masa
Perjanjian Baru yang paling penting yaitu Mazmur-
mazmur Solomo 17-18 yang ditulis antara tahun 70-45
S.M. di Yerusalem, sebab dalam kedua pasal ini
Mesias digambarkan dengan lengkap. Selain itu ada
beberapa ayat dalam tulisan-tulisan dan Qumran yang
bernilai ( IQS 9:11; IQS 4QPaIr. 3; CDC 19:10—11;
20:1; 12:23-24; 14:19), tetapi pandangan berbagai tulisan
ini tidak selalu sama. Juga konsep Mesias muncul
dalam Benediction 14 dan Shemoneh Esreh, beberapa nas
dalam Targum, IV Ezra 12:32,11 Bar. 29:3; 30:1, dan I
Henokh 48:10; 52:4, tetapi relevansi pengajaran
dokumen-dokumen ini terhadap kepercayaan orang-orang
Yahudi belum disetujui oleh semua penafsir, sebab
mungkin waktu penulisannya sesudah masa Perjanjian
Baru.22
Tulisan-tulisan dari masa Perjanjian Baru
menggambarkan pengharapan mesianis orang-orang
Yahudi bahwa Mesias yaitu seorang tokoh yang sangat
diurapi oleh Allah. Ia memiliki suatu hubungan yang
sangat dekat dengan Allah, sehingga kehidupannya suci.
Ia tidak sombong, tetapi bengantung pada Allah, dan ia
penuh belas kasihan terhadap orang-orang yang lain. Ia
juga sangat kuat di dalam Tuhan sehingga kata-katanya
berkuasa. Jelas ia yaitu seorang tokoh yang unik, tetapi
orang-orang Yahudi tidak pernah membayangkan bahwa
ia akan menyamakan diri-nya dengan Allah sehingga ia
layak disebut Allah Anak. Ide itu di luar bayangan orang-
orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru.
Sang Mesias juga mempunyai pelayanan yang
unik. Dari semua pengharapan pelayanan Mesias yang
paling penting bagi orang-orang Yahudi yang sedang
dijajah oleh Roma ialah bahwa Mesias akan
mengalahkan, menghukum dan memerintahkan musuh-
musuh bangsa orang-orang Yahudi (yaitu bangsa-bangsa
lain). Mesias akan membawa kemerdekaan bagi orang-
orang Yahudi. Namun yang tidak disadari orang-orang
Yahudi yaitu bahwa pelayanan Mesias bukan hanya
pelayanan militer, sebab ia juga akan menghakimi,
mendisiplin dan menyempurnakan bangsa Yahudi,
kemudian membimbing serta memerintah mereka dan
memberkati mereka sebagai umat Allah.
Pengharapan mesianis ini berkembang pada masa
penjajahan bangsa Yahudi, sehingga banyak orang
Yahudi pada masa Perjanjian Baru menantikan
kedatangan Mesias. Ada banyak unsur pengharapan
ini yang benar, tetapi pengertian orang-orang
Yahudi terhadap Mesias kurang lengkap, kurang
seimbang, dan kurang Alkitabiah sehingga ada tabrakan
antara pengharapan mereka dengan pengajaran Yesus
mengenai diri-Nya sendiri.
3. Pemakaian Mesias dalam Kitab-kitab Injil
Sinoptik
Markus menggunakan istilah ”Mesias” hanya tujuh
kali dalam seluruh Injilnya. Bisa diduga bahwa Yesus
tidak menganjurkan pemakaian istilah ini selama
hidup-Nya di dunia, mengingat pemakaian istilah ini
di Palestina pada jamanNya. Ia bukanlah Mesias dalam
arti yang sesuai dengan pengertian orang pada umumnya
ketika mendengar istilah itu. Dan sebab nya, memakai
istilah ini akan mengundang kesalalahpahaman.
Pengertian orang-orang Yahudi kurang lengkap
mengenai hakekat dan fungsi Mesias. Yesus tidak
22 Tom Sappington, p. 28.
memakai istilah ini untuk menggambarkan diri-Nya
sendiri. Memang jika Ia memakai istilah ini , maka
hal itu dapat menyebabkan salah pengertian mengenai
hakekat dan pelayananNya. Itu sebabnya roh-roh jahat
dilarang berbicara “sebab mereka tahu bahwa Ia yaitu
Mesias” (Lukas 4:41), dan orang-orang yang
disembuhkanNya tidak diperbolehkan untuk bersaksi
kepada orang-orang lain tentang apa yang dilakukanNya
kepada mereka (contohnya Markus 1:44; 5:43; 7:36 dan
ayat-ayat yang sejajar dalam Injil Matius dan Lukas). Itu
sebabnya juga pertanyaan Yohanes Pembaptis mengenai
kemesiasan Yesus dijawab secara tidak langsung (Matius
11:2-6; Lukas 7:18-23).
Walaupun demikian ketika Petrus menyebut Yesus
“Mesias” (“Kristus”), maka Ia tidak menyangkal hal itu;
melainkan Ia menerima pengakuannya (Matius 16:13-20;
bdg. Markus 8:27-30; Lukas 9:18-21), asal kemesiasan-
Nya tidak diberitahukan kepada orang-orang lain, yang
belum menjadi murid-murid-Nya.
Dari data-data di atas dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa Yesus memang yaitu “Mesias”, raja
bangsa Yahudi yang sangat diurapi Allah. Namun
kemesiasan Nya tidak sama dengan yang diharapkan
oleh orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu, sebelum
Yesus mati dan bangkit Ia tidak terbiasa mengakui secara
langsung kepada orang-orang yang belum percaya
kepada-Nya bahwa Ia yaitu Mesias. Ketika Ia sudah
bangkit, baru Ia mengambil inisiatif untuk menjelaskan
kemesiasan-Nya dengan para murid-Nya (Lukas 24:26,
46).23
Tujuan Injil Matius ada dua yaitu: pertama, untuk
membuktikan bahwa Yesus yaitu Mesias. Mesias
yaitu suatu sebutan Yahudi bagi raja Israel yang akan
membawa keselamatan bagi Israel pada akhir zaman.
Matius menyajikan Yesus sebagai Mesias Israel (Yang
Diurapi) yang menggenapi peran dari nabi, imam dan
raja dalam satu Pribadi. Kedua untuk menyajikan
kerajaan sesuai dengan rencana Allah. Yesus yaitu
Mesias Israel dan bangsa itu telah menolak sang Mesias.
Matius menjelaskan bahwa kerajaan yang telah
ditawarkan kepada orang Yahudi telah ditunda oleh
sebab penolakan Israel. Kerajaan Mesias di dunia akan
didirikan pada saat Kedatangan-Nya Kedua.24
Matius juga memberikan tekanan Yesus sebagai
Anak Daud (Mat. 9:27; 12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9 15;
22:42). Di Matius 9:27 sangatlah jelas orang buta itu
mengerti Anak Daud yaitu Mesias yang dapat
melakukan pekerjaan Mesias, seperti mencelikkan mata
orang buta (Yes. 35:5), yang merupakan pekerjaan Allah
(Mzm. 146:8). Penggunaan nama dalam Matisu 21:9
menyatakan signifikansinya sebagai datangnya Penebus
yang akan membawa keselamatan kepada bangsa itu dan
membebaskannya, pada waktunya akan membawa berkat
(Mzm. 118:25-26).
Yesus sebagai Anak Manusia
Dalam keempat Injil, Yesus senantiasa menyebut
diri-Nya ”Anak Manusia.” ungkapan ini muncul lebihd
ari delapan puluh kali. Hal menarik dalam studi
Kristologi Injil-injil sinoptik yaitu bahwa istilah “Anak
Manusia” sering dipakai oleh Yesus untuk diri-Nya
sendiri, tetapi tidak pernah dipakai oleh orang lain untuk
Yesus. Mengapa? Apa arti istilah ini ? Banyak
pengajar injili suka membedakan antara Yesus sebagai
“Anak Allah” dan “Anak manusia”. Menurut mereka
“anak Allah” menunjukkan kepada ke-Allahan Yesus,
sedangkan “Anak Manusia” menekankan kemanusiaan-
Nya. Penjelasan ini sangat sederhana sehingga mudah
dijelaskan dan dipahami, tetapi kurang akurat sebagai
tafsiran dalam konteks pelayanan Yesus, sebab untuk
dapat menafsirkan secara akurat pengertian ini ,
maka diperlukan suatu studi yang benar tentang latar
belakang pemahaman ini .
1. Sumber-sumber Informasi Mengenai ”Anak
Manusia”
Ada tiga sumber informasi yang sering dipelajari
dengan tujuan supaya lebih mengerti arti gelar “anak
manusia”. Yang pertama, “anak manusia” dipakai
beberapa kali dalam Perjanjian Lama. Misalnya dalam
ayat-ayat tertentu “anak manusia” ( ~d"a'-!b,) berarti
“manusia” (misalnya Bilangan 23: 19a, “Allah bukanlah
manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia,
sehingga Ia menyesal”; bdg. Mazmur 144:3). Tetapi
“anak manusia” juga dipakai dalam Kitab Daniel dengan
arti yang lain, dan latar belakang ini jauh lebih penting.
Asal mula istilah Anak Manusia bermula dari
Daniel 7:13 dimana Ia digambarkan sebagai yang penuh
dengan kemenangan membawa kerajaan kepada bapa.
Posisi Anak Manusia di sebelah kanan Bapa
menghubungkan pada Mazmur 110:1 dan Ia yang yaitu
Tuhan. Matius 26:63-64 menunjukkan bahwa istilah itu
pada dasarnya sinonim dengan Anak Allah. Istilah itu
menekankan berbagai tema: otoritas (Mrk. 2:10),
pemuliaan (Mat 25:31); kerendahan (Mat. 8:20);
penderitaan dan kematian (Mrk. 10:45); relasi dengan
Roh Kudus (Mat. 12:32); keselamatan (Luk. 19:10).25
Yesus memikirkan diri-Nya dalam pengertian Mesias
surgawi yang menggenapi pelayanan di dunia atas
manusia yang puncaknya dapat dilihat dalam gambaran
kemuliaan akhir.26Dalam Daniel pasal 7 nabi Daniel
menggambarkan suatu penglihatan yang ia terima. Daniel




