• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Injil sinoptik 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Injil sinoptik 1. Tampilkan semua postingan

Injil sinoptik 1

 



 Perjanjian Baru ditulis oleh para pengikut Yesus 

yang percaya kepadaNya.  Fakta ini sangat jelas terlihat 

dalam seluruh nafas tulisan Perjanjian Baru.  sebab  itu 

sajian sistematis tentang pribadi Yesus dalam Perjanjian 

Baru yaitu  sama dengan menyajikan secara sistematis 

kepercayaan para penulis Perjanjian Baru.Sejak abad ke 

18 di bawah pengaruh rasionalisme, para pengarang 

teologi Barat telah bertanya-tanya apakah kepercayaan 

para penulis Perjanjian Baru itu benar atau apakah 

sebetulnya Yesus dalam kenyataan sangat berbeda 

dibandingkan dengan gambaran yang mereka berikan.  

Apakah penulis-penulis Perjanjian Baru sedang 

mengisahkan cerita fiksi atau tidak.  Orang-orang skeptis 

yang ekstrim berpikir bahwa para penulis kitab-kitab Injil 

”menceritakan fiksi”.  Dan bahwa kitab-kitab Injil tidak 

bernilai sejarah.  Penulis-penulis yang tidak begitu 

ekstrim ingin menghilangkan beberapa bagian dari Injil 

yang mereka anggap tidak benar.  Pandangan tradisional 

yaitu pandangan orang-orang Kristen yang percaya 

menyebutkan bahwa para penulis kitab-kitab Injil 

mencatat apa yang mereka alami secara tepat dan dengan 

demikian kepercayaan mereka mengenai siapa Yesus itu 

betul-betul tepat dan sesuai dengan apa yang Yesus 

sendiri inginkan agar para pembaca percaya mengenai 

diri-Nya.1  

Dalam penulisan makalah ini, penulis akan 

menyajikan suatu penyelidikan dari data-data dalam 

Perjanjian Baru khususnya dalam kitab-kitab Injil 

Sinoptik tentang apa siapakah Yesus itu.  Di sini penulis 

akan membahas tentang apakah pikiran Yesus tentang 

diriNya sendiri, apakah pandangan-pandangan orang-

orang lain mengenai Yesus, dan apakah hubungan di 

antara keduanya.  Penulis akan mempelajari sebutan-

sebutan yang dipakai Yesus terhadap diriNya dan 

bagaimana orang-orang lain menyebut Dia.  Pendekatan 

pada pokok ini yang dilakukan dengan cara menyelidiki 

gelar-gelar Kristus akan memberikan pandangan yang 

berharga.  Pertanyaan yang harus ditanyakan yaitu , 

”Apakah artinya gelar-gelar ini  dalam pelayanan 

Yesus, yaitu bagi orang-orang yang Ia layani?”  

Seringkali arti gelar-gelar tertentu dalam pelayanan 

Yesus berbeda dengan artinya dalam penjelasan-

penjelasan para ahli teologia sistematis dalam sejarah 

gereja. 

YESUS SEBAGAI MANUSIA 

 

Dalam kitab-kitab Injil sinoptik akan didapatkan 

tiga gambaran mengenai Yesus dari Nazaret.  Dalam 

masing-masing gambaran ini  ada  perbedaan 

dalam banyak hal, namun semua berpusat pada manusia 

yang sama di antara tiga kitab Injil sinoptik, hanya 

Markus yang memberikan petunjuk dalam kata-kata 

pembukaannya dengan memperkenalkan seseorang yang 

lebih dari seorang manusia; namun di antara ketiga 

penulis lainnya itu, Markuslah yang lebih memusatkan 

perhatiannya kepada Yesus sebagai manusia.   

 

Pentingnya Kemanusiaan Yesus 

 

Pentingnya kemanusiaan Yesus tidak dapat 

diremehkan sifatnya soteriologis, maksudnya berkenaan 

dengan karya keselamatan manusia.  Persoalan yang 

dihadapi oleh manusia ialah jurang yang memisahkan 

dirinya dengan Allah.  Memang jurang ini bersifat 

ontologis.  Allah berada begitu tinggi di atas manusia 

sehingga Ia tidak dapat dikneal oleh akal manusia yang 

tidak dibimbing.  Jikalai Allah harus dikenal dan 

diketahui maka Allah harus mengambil inisiatif untuk 

memperkenalkan diri-Nya kepada manusia.  Namun 

masalahnya bukan sekadar ontologis.2  Di antara Allah 

dan manusia juga ada  jurang yang lain, yaitu jurang 

yang rohani dan moral.  Jurang ini tercipta oleh dosa 

manusia.  Kedatangan Yesus sebagai manusia dengan 

misi penyelamatan nampak sangat kental dalam 

keseluruhan Injil-injil sinoptik.  Kemanusiaan Yesus tidak 

pernah diragukan oleh para penulis Injil.  Keabsahan 

pekerjaan Yesus dalam karya penyelamatan-Nya uamh 

dikerjakan dalam kematian Yesus sangat tergantung pada 

kenyataan kemusiaan-Nya.  

 

Kemanusiaan Yesus yang sejati telah diserang 

secara terutama dari dua arah yaitu dari ajaran sesat 

Doketisme dan Appolinarisme.  Ajaran-ajaran sesat ini 

memaksa gereja untuk merenungkan dengan teliti serta 

mengucapkan pemahaman mereka dengan sangat cermat 

mengenai pokok ini.  Gereja mula-mula telah menghadapi 

serangan bidat doketisme, yang mengajarkan bahwa 

Yesus tidak benar-benar memiliki tubuh fisik atau natur 

manusia. Bidat ini berusaha untuk menyangkal 

kemanusiaan Yesus.  Mereka mengajarkan bahwa Yesus 

hanya ”kelihatannya” memiliki suatu tubuh tetapi pada 

kenyataannya hanya seperti suatu keberadaan yang 

memakai topeng.  Yohanes melawan ajaran ini dengan 

mengatakan bahwa mereka yang menyangkali kedatangan 

Yesus yang menjadi daging yaitu  anti-Kristus.   

Ajaran bidat lain, yaitu ajaran sesat Apolinarisme 

menerima kemanusiaa yang sejati dari Yesus tetapi tidak 

seluruhnya. Apolinarisme merupakan sebuah contoh 

terlalu membesar-besarkan sesuatu yang baik. Menurut 

Apolinarius, Yesus merupakan sebuah persenyawaan, 

sebagian dari persenyawaan itu (beberapa unsur Yesus) 

yaitu  manusiawi dan sisanya merupakan unsur ilahi.3 

Jadi sekalipun Yesus itu manusia biasa, Ia agak berbeda 

dengan manusia lainnya sebab  Dia tidak memiliki apa 

yang dimiliki manusia.  Jadi di dalam Yesus sama sekali 

tidak mungkin terjadi pertentangan di antara manusia 

dengan yang ilahi. Yang ada hanyalah pusat kesadaran, 

dan pusat kesadaran itu bersifat ilahi.  Yesus tidak 

memiliki kehendak manusia. sebab nya ia tidak dapat 

berbuat dosa sebab  pribadi-Nya dikuasai oleh jiwa yang 

ilahi.4  Bidat monofisit telah sejak lama ditentang oleh 

gereja.  Bidat ini menyatakan bahwa sebenarnya Yesus 

bukan memiliki dua natur tetapi hanya satu natur, yaitu 

percampuran antara manusia dan ilahi yang disebut natur 

”theanthropic” (ilahi-manusiawi).  Bidat monofisit 

memanusiakan yang ilahi dan mengilahikan yang 

manusia.5  Pengajaran bidat-bidat ini tidaklah benar.  

sebab  para penulis Injil-injil dengan tanpa keraguan 

sedikitpun menyajikan Yesus sebagai manusia. 

 

 

Yesus sebagai manusia sejati dipaparkan secara 

luas dan gambalang dalam seluruh Injil Sinoptik.  Yesus 

sepenuhnya manusia seperti manusia lainnya.  Ia 

memiliki segala unsur kemanusiaan yang perlu yang 

ada  di dalam diri manusia.  Bukti pertama yang 

patut diperhatikan ialah bahwa Yesus memiliki tubuh 

jasmani seperti manusia lainnya.  Dia dilahirkan.  Yesus 

tidak turun dari surga dan dengan tiba-tiba 

menampakkan diri di bumi. 

 

Para penulis Injil Sinoptik memiliki keyakinan 

yang kokoh dan tak tergoyahkan bahwa Yesus yaitu  

seorang manusia sejati.  Hal ini didukung oleh tulisan-

tulisan tentang kelahiranNya sebagai manusia biasa 

meskipun benihNya berbeda dari manusia biasa, sebab  

kelahiran Yesus dari anak dara6, namun Yesus tetap 

memiliki garis keturunan manusia dan kelahiranNya dari 

manusia biasa.  Matius dan Lukas keduanya menekankan 

bahwa kemanusiaan Kristus dikandung dalam Roh 

Kudus (Mat. 1:18; Luk. 1:35).  Matius memberikan 

penekanan yang cukup jelas tentang Maria tidak 

bersetubuh dengan seorang laki-laki sebelum kelahiran 

Yesus (Mat. 1:18-25).  Demikian pula dengan Markus 

menekankan bahwa Yesus yaitu  ”anak Maria” daripada 

mengatakan anak Yusuf (kebiasaan Yahudi biasanya 

menggunakan nama ayah).7  Catatan mengenai 

kelahiranNya menggambarkan Yesus dalam keluarga 

manusia yang biasa.  

Ketiga injil menekankan kemanusiaan Yesus.  

Matius menekankan garis keturunan manusia-Nya (Mat. 

1:1-17), kelahiran-Nya sebagai manusia (Mat. 1:25), dan 

masa kanak-kanak-Nya (Mat. 2:1-23).  Demikian pula 

dengan Lukas yang menekankan kelahiran-Nya dan 

status-Nya yang rendah (Mat. 2:1-20) ia menyesuaikan 

diri dengan tradisi orang yahudi (Mat. 2:21-24) , dan 

pertumbuhan sebagai anak laki-laki muda (Mat. 2:41-

52).  Markus menekankan kemanusiaan Yesus lebih dari 

Matius dan Lukas melalui penekanannya pada karya, 

kehidupan, dan aktivitas Yesus.  Ketiganya menekankan 

kemanusiaan-Nya pada karya, kehiduan, dan aktivitas 

Yesus.  Letiganya menekankan kemanusiaan-Nya dalam 

pencobaan (Mat. 4;1-11; mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).  Hal-

hal seperti mengatur kapal-kapal nelayan, membayar 

pajak, berbicara pada orang yang berbeda, berkeringat 

                                                                   

6 Doktrin kelahiran Kristus dari anak dara 

menyatakan bahwa kelahiran Kristus yaitu  akibat dari suatu 

mujizat pada waktu dikandung oleh Maria. Anak dara Maria 

mengandung seorang bayi dengan kuasa Roh Kudus, tanpa 

peran sertia dari seorang bapa.  Mujizat kelahiran Kristus 

menjelaskan kepada kita mengenai natur yang dimilikiNya.  

KelahiranNya dari seorang perempuan menunjukkan bahwa 

Dia yaitu  benar-benar manusia dan menjadi sama dengan 

manusia biasa tetapi kemanusiaan Kristus tidaklah sama 

dengan manusia biasa yang lahir dengan dosa asal sedangkan 

Kristus tidak demikian. 

 

darah, menangis sebab  ditinggalkan di atas kayu salib, 

semua mencerminkan kemanusiaan Yesus.  Namun Ia 

bukan manusia biasa; Ia mengampuni dosa, Ia memiliki 

otoritas atas alam, menyatakan Shekinah allah, semua itu 

”menempatkan Ia pada kelas-Nya sendiri.”8 

Satu-satunya peristiwa pada masa kanak-kanak 

Yesus yang diceritakan memperlihatkan keadaan keluarga 

yang bersifat manusia biasa.  Kecemasan orang tua 

sebab  kehilangan anaknya dilukiskan Lukas dengan 

gamblang.  Demikian juga komentar Lukas bahwa Yesus 

patuh kepada orangtuanya merupakan kesimpulan 

mengenai kehidupan Yesus dalam seluruh masa 

pertumbuhanNya (Lukas 2:51).  Penuturan Lukas 

selanjutnya bahwa Yesus ”makin bertambah besar dan 

bertambah hikmatNya dan besarNya” (Lukas 2:40-52) 

memperlihatkan perkembangan manusia biasa secara 

normal.  Tidak ada suatu tandapun yang menunjukkan 

perkembangan yang luar biasa. 

Ketiga kitab Injil sinoptik menganggap 

pembaptisan Yesus sebagai permulaan pelayanannya.  

Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kesamaan 

Yesus dengan orang-orang yang datang untuk dibaptis 

oleh Yohanes, tetapi pada saat itu juga suara dari surga 

dengan jelas membedakan Yesus dari orang-orang di 

sekitarnya.  Pencobaan–pencobaan yang dialamiNya 

selanjutnya sekali lagi diceritakan dengan maksud untuk 

memperlihatkan bahwa Yesus sama seperti semua orang 

lain diperhadapkan dengan pencobaan-pencobaan moral.9  

Jika pencobaan-pencobaan yang dicatat itu sungguh-

sungguh terjadi10 dan tidak ada catatan yang 

menunjukkan hal yang bertentangan – maka itu 

menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh seorang 

manusia tetapi harus diingat bahwa pencobaan-pencobaan 

yang terjadi pada Yesus ada hubunganNya dengan 

misiNya sebagai Mesias dan jenis pencobaan yang 

dihadapiNya yaitu  pencobaan yang khusus bagiNya.  

Penulis-penulis kitab Injil tidak menyatakan bahwa 

pencobaan-pencobaan yang dialami Yesus itu sama 

dengan pencobaan-pencobaan yang menimpa kita (seperti 

dikatakan juga dalam Ibrani 4:15).11 

Semua kitab Injil sinoptik menggambarkan Yesus 

dengan latar belakang kehidupan orang-orang Yahudi, 

bersama dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, 

orang-orang Saduki dan pengikut-pengikut Herodes.  

Masa hidup-Nya termasuk dalam kehidupan Palestina 

                                                                   

8 Donald Guthrie, New Testament Theology  (Downers 

Grove, III.: InterVarsity, 1981), p. 222. 

9 Donald Guthrie Teologi Perjanjian Baru Jilid 1, p. 

246. 

10 Pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus yaitu  

pencobaan yang sungguh-sungguh terjadi sebab  Ia yaitu  

manusia yang sejati. keadaanNya yang tidak berdosa tidak 

berarti bahwa Ia tidak mungkin mengalami pencobaan yang 

sebenarnya. 

11 Ada pendapat (misalnya Tinsley 1960) bahwa 

baptisan dan pencobaan Kristus merupakan pengulangan dari 

pengalaman bangsa Israel sesudah meninggalkan Mesir (lihat 

kitab Keluaran). Yesus yaitu  Israel yang baru. Murid-

muridNya harus mengikuti teladanNya dan mereka akan 

mengalami pengalaman yang serupa. 

pada abad pertama.  Orang-orang yang disembuhkan-

Nya dan yang diajar-Nya yaitu  orang-orang yang 

menghadapi ketegangan-ketegangan sosial dan politik 

yang dihadapi Yesus juga.  Hal-hal yang biasa dilakukan 

oleh orang-orang pada waktu itu, seperti makan bersama-

sama dengan orang-orang lain dalam rumah-rumah 

mereka, mempersiapkan perahu-perahu nelayan 

penangkap ikan, membayar pajak, bercakap-cakap 

dengan bemacam-macam orang; semuanya itu 

membuktikan bahwa para penulis kitab-kitab Injil 

menggambarkan Yesus sebagai manusia di antara 

manusia-manusia lain, yang melakukan perbuatan yang 

lazim dilakukan oleh orang-orang biasa. Mereka semua 

mencatat keprihatinan-Nya yang dalam terhadap orang-

orang yang hidup dalam keadaan sosial yang tidak beres, 

kritik-Nya terhadap kemunafikan, percakapan-

percakapan-Nya dengan para pemimpin agama.  Mereka 

juga menyebutkan pergumulan-Nya yang berat di taman 

Getsemani.  Lukas khususnya menaruh perhatian pada 

keringat darah, yang menandakan adanya pertentangan 

batin manusia yang hebat yang tidak dapat dihindari.  

Matius dan Markus juga menuliskan tentang teriakan-

Nya dari kayu salib pada waktu ditinggalkan Bapa.  

Namun demikian, tetap pada perbedaan hakiki antara 

Yesus dengan orang-orang lain.  Setiap penulis kitab-

kitab injil mengemukakan dengan cara mereka masig-

masing.  Manusia yang ini membuat pernyataann-

pernyataan yang paling luar biasa mengenai diri-Nya 

sendiri.  Ia menyatakan dosa, memerintah alam, 

mengusir setan. Ia dimuliakan dihadapan ketiga murid-

Nya dengan cara yang tidak mungkin dapat dilakukan 

oleh manusia lainnya.  Ia menggunakan dan menerima 

gelar-gelar yang menempatkan Dia pada tingkat 

tersendiri. 

Para penulis kitab injil sinoptik tidak mencoba 

untuk memecahkan persoalan antara kesamaan Yesus 

dengan manusia dan perbedaan-Nya dari orang-orang 

lain. Bahkan,nampaknya mereka tidak sadar akan adanya 

persoalan ini. 

 

Yesus sebagai Manusia yang Tidak Berdosa 

 

Dalam rangka menyelidiki kemanusiaan Yesus 

penelis harus memikirkan juga keterangan Perjanjian 

Baru yang jelas mengenai keadaan –Nya yang tidak 

berdosa.  Ada beberapa macam bukti mengenai hal ini, 

sebagaimana yang diuraikan di bawah ini. 

Meskipun Injil Sinoptik menyajikan Yesus sebagai 

seorang manusia, mereka juga mengindikasikan Ia bukan 

manusia biasa, Ia lahir dari seorang anak dara dan tidak 

berdosa.  sebab  lahir dari seorang perawan, Ia tidak 

memiliki natur dan kecenderungan pada dosa (perhatikan 

Yak. 1:14-15).  Yesus memanggil manusia untuk 

bertobat tetapi tidak ada catatan yang khusus dalam 

kitab-kitab injil sinoptik mengenai pernyataan Yesus 

sendiri sebagai bahwa Ia tidak berdosa, tetapi ada tanda-

tanda di dalam yang mendukung ketidakberdosaan Yesus 

 

 

itu.12  Para peneliti Perjanjian baru akan dapat segera 

berkata bahwa tidak ada bukti yang bertentangan dengan 

kesaksian rasul-rasul pada waktu-waktu selanjutnya 

mengenai ketidakberdosa-Nya itu.  Yesus tidak pernah 

membuat pengakuan dosa.  Ia memulai pelayanan-Nya 

dengan memanggil orang-orang untuk bertobat, walaupan 

Ia sendiri tidak pernah menyatakan kebutuhan-Nya untuk 

bertobat pada waktu ia dibaptiskan oleh Yohanes, pada 

mulanya Yohanes ragu-ragu (menurut Mat 3:14), tetapi 

akhirnya ia setuju untuk membaptiskan-Nya.  Yesus 

menyatakan bahwa Ia dibaptis ”untuk menggenapi 

seluruh kebenaran ”, bukan untuk menyatakan pertobatan 

dari dosa13. 

 Tuhan Yesus memperlihatkan sikap penolakan 

yang peka terhadap yang jahat misalnya pada waktu Ia 

menghardik usaha Petrus yang salah yang ingin 

membelokkan Dia dari konsekuensi misi-Nya sebagai 

Mesias.  Hal ini menyatakan secara tidak langsung bahwa 

tidak ada pikiran yang jahat dalam diri Yesus (Mat 

16:23).  Memang kata-kata pada waktu itu menghardik 

petrus, ”Enyahlah Iblis”, memperlihatkan reaksi yang 

tajam terhadap kehadiran iblis, terutama ketika Iblis hadir 

dalam kata-kata yang diucapkan oleh salah seorang 

murid-Nya yang terdekat.14  Mungkin lebih baik bila 

hardikan itu ditafsirkan bahwa Petrus seolah-olah 

bertindak sebagai Iblis daripada memperkirakan bahwa 

Iblis menguasai Petrus. 

 Mengenai hal pencobaan, Matius dan Lukas 

memberi kesan yang kuat bahwa Yesus memperoleh 

kemenangan yang lengkap.  Tidak ada tanda apapun 

bahwa Yesus bersikap bimbang terhadap si pencoba,  

sebab  pencobaan-pencobaan itu dapat dianggap 

mewakili segala pencobaan yang terjadi sepanjang 

pelayanan Yesus, maka kemenangan atas yang jahat ini 

pula dapat dianggap terjadi dalam seluruh kehidupan-

Nya.  Tentu saja pencobaan-pencobaan yang dicatat itu 

berhubungan dengan permulaan pelayanan Yesus, tetapi 

semuanya itu memberi pengaruh untuk keseluruhan.15   

Pencobaan itu juga menekankan bahwa meskipun Ia diuji 

dalam semua area seperti orang-orang lainnya, namun Ia 

tidak berdosa (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13). 

Dia mengajarkan murid-muridNya untuk mengakui 

dosa mereka serta memohon pengampunan, namun tidak 

ada laporan bahwa Ia mengaku dosa dna mohon 

                                                                   

12 Dengan maksud membela ajaran bahwa Yesus tidak 

berdosa, Gereja RK mengajarkan bahwa Maria juga dilahirkan 

tanpa dosa.  Ajaran ini  sama sekali tidak didasari oleh 

bukti yang alkitabiah. Juga harus diperhatikan bahwa ajaran 

tentang kelahiran Yesus dari seorang anak dara tidak menjamin 

bahwa Yesus tidak berdosa.  Namun apa yang dapat dikatakan 

ialah bahwa melalui kelahiran yang ajaib ini tidak dapat 

mengharapkan seseorang yang demikian luar biasa sehingga 

ketidakberdosaan-Nya bukanlah hal yang mengherankan.   

13 Yohanes merasa ragu-ragu mungkin sebab  ia sadar 

bahwa Yesus lebih unggul daripada dia, sehingga ia 

menganggap bahwa Yesuslah yang harus membaptis dia 

dengan Roh, bukan dia yang membaptis Yesus dengan air. 

  14 E. Best, The Temptation and the Passion: The 

Markan Soteriology  (Cambridge: CUP, 1965), p. 29.  

15 Donald Guthrie, p. 256. 

pengampunan untuk diri-Nya sendiri.  Sekalipun Ia pergi 

ke Bait Suci, namun tidak ada laporan bahwa Ia 

mempersembahkan kurban untuk diri-Nya dan dosa-

dosa-Nya.  Selain dituduh menghujat, tidak ada dosa lain 

yang dituduhkan kepada-Nya; dan tentu saja, apabila Dia 

memang Allah, maka hal-hal yang dilakukan-Nya itu 

(misalnya: mengampuni dosa) bukanlah hujat.  

Sekalipun bukan merupakan bukti yang mutlak, namun 

ada  juga banyak bukti mengenai ketidakbersalahan-

Nya atas tuduhan-tuduhan yang menyebabkan Dia 

disalibkan.  Isteri Pilatus menasihati, ”Jangan engkau 

mencampuri perkara orang benar itu” (Mat. 27:19); 

penjahat yang disalib di sebelahnya mengatakan, ”Orang 

ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk 23:41); dan 

bahkan Yudas pernah mengatakan, ”Aku telah berdosa 

sebab  menyerahkan darah yang yang tak bersalah” (Mat 

27:4). 

Ketidak berdosaan Yesus juga dikuatkan oleh 

kisah-kisah dalam Injil.  ada  laporan mengenai 

pencobaan yang dialami-Nya, namun tidak pernah 

tercatat bahwa Dia berbuat dosa.  Tidak ada sesuatupun 

yang dilaporkan mengenai diri-Nya yang bertentangan 

dengan hukum Allah tentang hal yang benar dan yang 

salah; segala sesuatu yang dilakukan-Nya yaitu  selaras 

dengan kehendak Allah.  Dengan demikian, berdasar  

pernyataan tertulis maupun kebungkaman tentang 

pokok-pokok tertentu, mau tidak mau berkesimpulan 

bahwa Alkitab bersaksi tentang keadaan Yesus yang 

tidak berdosa.16  Yesus pernah dengan tajam menuduh 

para ahli Taurat dan orang-orang farisi sebab  

kemunafikan mereka, dan tidak adanya tuduhan balik 

terhadap Yesus mendukung pandangan bahwa tidak 

seorangpun dapat menuduh Dia sebagai seorang yang 

munafik.  Yesus sendiri dapat melakukan apa yang Ia 

harapkan dari orang lain.  Ia mendorong orang-orang 

agar menjadi sempurna sama seperti Bapa sorgawi yang 

sempurna (mat. 5:48).  Pasti Ia sendiri munafik jika ada 

keraguan sedikit saja mengenai peringatan itu, mungkin 

akan timbul pertanyaan apakah Ia sendiri perlu menjadi 

lebih sempurna. Tetapi peringatan itu ditujukan-Nya 

kepada orang-orang lain, bukan kepada diri-Nya sendiri.   

Seluruh pengajaran Yesus dalam kitab-kitab Injil 

Sinoptik disusun dengan nada moral yang tetap tinggi 

dan tidak ada seorang pun dari pengdengarnya menuduh 

bahwa Dia tidak hidup sesudai dengan ajaran-Nya 

sendiri.  Ia membedakan diri-Nya dengan para 

pendengar-Nya pada waktu Ia menyebutkan bahwa 

mereka, walaupun jahat, mengetahui bagaimana 

memberi pemberian yang baik kepada anak-anak mereka 

(Mat 7:11, Luk 11:13). 

                                                                   

16 Tentu saja ada orang-orang yang mengganggap 

bahwa Yesus berbuat dsoa.  Antara lain, Nels Ferre, yang 

menemukan dalam perilaku Yesus kurangnya percaya yang 

sempurna pada Allah Bapa, yang merupakan dosa tida 

percaya.  Bagaimanapun juga, tafsiran Ferre itu salah, dan 

pandangannya tentang dosa sangat dipengaruhi oleh 

pengertian eksistensial dan bukan pengertian alkitabiah.  

 

Ada satu pernyataan Yesus yang seringkali 

menimbulkan debat dan pertanyaan di kalangan teolog 

ataupun orang-orang Kristen yaitu  perkataan Yesus 

kepada seorang pemimpin muda yang memanggil Dia 

dengan perkataan ”Guru yang Baik” (Mrk 10:17-18, Luk 

18:18-19).   Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku 

baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah 

saja.”  Di sini Ia menegaskan bahwa hanya ada satu yang 

baik, yaitu Allah.  Pertanyaan yang muncul kemudian 

yaitu  apakah Yesus sedang menyatakan bahwa Ia 

sendiri juga tidak baik?  Beberapa orang berpendapat 

bahwa Yesus sebagai manusia mengakui tidak memiliki 

kebaikan mutlak dari Allah yang tak dapat dicobai, 

kebaikan-Nya sebagai manusia merupakan hasil dari 

pertahanan terhadap pencobaan dan ketaatan sempurna 

yang mencakup penderitaan.  Tetapi pandangan demikian 

menimbulkan perkiraan tentang adanya tingkat-tingkat 

kebaikan, dan hal ini hanya mengaburkan masalah.17 

Pendapat yang lebih baik ialah, bahwa Yesus 

sedang menantang orang muda itu tentang dasar dari 

penilaiannya mengenai kebaikan, dengan maksud agar 

penghormatannya kepada Yesus mempunyai dasar yang 

benar. Penekanan diberikan pada kata sifat, jadi hanya 

ditanyakan Yesus ialah tentang arti ’kebaikan’.  Kata 

’baik’ jangan digunakan sebagai istilah pujian yang 

kosong.  Tidak terlihat adanya kesan untuk membuat 

perbedaan antara Yesus dengan Allah.18  Dengan 

perkataan lain, maksud Yesus bertanya, ”Mengapa 

kaukatakan Aku baik?”, ialah agar orang muda itu 

memberikan alasan dari pernyataannya.  Catatan Matius 

yang menyatakan ”Apakah sebabnya engkay bertanya 

kepadaKu tentang apa yang baik?” (Mat 19:16), 

menggeser penekanan dan mengurangi kesulitan moral 

yang diperkirakan ada.  Pandangan mengenai kebaikan 

tidak dibicarakan dan hal itu hanyalah merupakan awal 

dari tantangan langsung kepada orang muda itu tentang 

hukum Taurat. 

 

KEILAHIAN YESUS 

 

 Keilahian Yesus dapat dilihat dari perbuatan-

perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah saja, 

seperti: mengampuni dosa, dan demonstrasi kuasa dan 

mujizat yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.  Tetapi 

keilahian Yesus dapat dipelajari dari keberadaannya 

sebagai pribadi yang memiliki gelar-gelar yang dipakai 

Yesus sendiri bagi diriNya dan orang-orang di sekitarnya 

memandangNya saat itu. 

 

Yesus sebagai Mesias 

 

Istilah Mesias banyak sekali dipakai dalam Gereja 

Kristen bagi pribadi Yesus.  Istilah ini sama dengan 

istilah Kristus atau κρίστος  dalam bahasa Yunani yang 

berarti “Yang diurapi”.  Hal ini nyata dengan adanya 

                                                                   

fakta bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus 

pada masa-masa permulaan disebut sebagai orang-orang 

Kristen; dan hal ini merupakan kesaksian yang 

mengesankan akan konsep Kristus dalam pemikiran 

mereka.  Mereka begitu yakin bahwa Yesus yaitu  

Mesias dan mereka begitu giat dalam memberitakan hal 

itu hingga orang-orang lain menyebut mereka “pengikut-

pengikut Kristus.”  Hal ini terjadi di Antiokia sebab  di 

sanalah pertama kali murid-murid itu disebut Kristen.  Di 

sanalah pertama kali jemaat di bangun di tengah-tengah 

orang-orang bukan yahudi (KPR 11:26).   

Orang-orang Yahudi tidak akan menyebut orang-

orang percaya sebagai pengikut Mesias, sebab  mereka 

tidak pernah mengakui bahwa jemaat Kristen memiliki 

hak untuk mempergunakan istilah itu bagi Yesus.  Tetapi 

bagi orang-orang bukan Yahudi tidak ada keberatan 

seperti itu dan mereka sebenarnya tidak memperdulikan 

dampak dari nama itu.  Pemakaian kata ”Kristus” secara 

terus menerus kelihatannya tidak berarti bagi mereka.  

Mereka seharusnya pada sumber-sumber orang 

Yahudilah didapat keterangan tentang betapa pentingnya 

gelar itu bagi Yesus dan bagi orang-orang pada 

zamannya.  Baru setelah itu keterangan dari kitab-kitab 

Injil akan dapat dimengerti dengan benar. 

 

1. Latar Belakang dalam Perjanjian Lama 

 

Ada empat sumber utama untuk agama Yahudi 

pada zaman itu yaitu Perjanjian lama, tulisan-tulisan 

Apokrifa dan Pseudepigrafa, naskah-naskah Laut Mati 

(Qumran) dan tulisan-tulisan para rabi.  Gagasan tentang 

Mesias harus dipelajari dari masing-masing sumber 

ini . 

Mempelajari kebenaran Yesus sebagai Mesias 

perlu diperhatikan dua topik berkenaan dengan latar 

belakang pengharapan mesianis dalam PL.  Yang 

pertama, pemahaman pemakaian  x;yvim'  / meshiah 

(diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani sebagai cristo.j 

/ kristos) dalam Perjanjian Lama.  Yang kedua yaitu  

pengertian yang tepat tentang konsep “Anak Daud” 

dalam Perjanjian Lama.  Kedua topik ini  sangat 

penting dalam perkembangan pengharapan mesianis 

orang-orang Yahudi.  

Sebenarnya arti dari kata  x;yvim' dalam 

Perjanjian Lama yaitu  sangat luas dan dalam 

prakteknya dapat dipakaikan untuk siapapun yang 

diurapi Allah, yaitu orang yang mendapatkan panggilan 

dan misi istimewa dari Allah.  Istilah ini  paling 

sering dipakai untuk raja bangsa Israel (contohnya, 1 

Sam 2:10, 35: 24:6; 26:9, 11, 16, 23), tetapi juga dipakai 

untuk imam-imam (contohnya, Imamat 4:3,5, 16; 8:12; 

Mazmur 84:10), nabi-nabi (contohnya 1 Raja 19:16), dan 

bapa-bapa leluhur (I Tawarikh 16:22; Mazmur 105:15). 

Bahkan istilah ini dipakai dalam Yes 45: I untuk Koresy, 

raja Persia, yang diberi peranan sebagai agen 

keselamatan bagi umat Allah.  Dalam Daniel 9:25 istilah 

ini  (dalam konteks ini dygIn" x:yvim ) dipakai 

 

sebagai terminus technicus untuk Mesias yang akan 

menyelematkan umat Allah pada akhir zaman.19  

Selain pemakaian kata  x:yvim dalam Perjanjian 

Lama, ada juga beberapa nas yang, menurut kebanyakan 

penafsir injili, menubuatkan kedatangan seorang Raja 

yang akan datang pada akhir zaman (Mesias).   Contoh 

yang dapat disebutkan yaitu : Kejadian 49:10; Bilangan 

24:17; Yesaya 9:6-7; Mikha 5:2; Zakharia 9:9.  Juga, 

beberapa ayat dan Kitab Mazrnur, yaitu 2:2 dan 110:1, 

ditafsirkan dalam Perjanjian Baru sebagai nubuatan 

tentang Yesus sebagai Mesias (KPR 4:25-26; Matius 

22:44; Markus 12:36; Lukas 20:42; KPR 2:34).  

Walaupun hanya beberapa ayat dalam Perjanjian 

Lama menyebutkan seorang Raja yang akan datang pada 

akhir zaman, beberapa pasal dalam Perjanjian Lama 

menggambarkan zaman mesianis dan aktivitas Allah pada 

waktu itu (contohnya Yesaya 26-29; 40-42; Yehezkiel 40-

48: Daniel 12; YoeI 2:28-3:21).  Kenyataan ini konsisten 

dengan kecenderungan orang-orang dari Timur Tengah 

untuk lebih mengutamakan fungsi dari pada agen. 

Dalam Perjanjian Lama, terutama dalam kitab nabi-

nabi, banyak disebutkan tentang masa kemesiasan yang 

akan datang yang menawarkan masa depan yang cerah 

bagi umat Allah (Yes 26-29; 40; Yeh 40-48; dan 12; Yl 

2:28-3:21), tetapi hanya sedikit dikatakan tentang Mesias.  

Gelar itu tidak dipakai untuk penyelamar yang akan 

datang, bahkan tokoh yang akan membuka zaman yang 

akan datang yaitu  Allah sendiri.  Tetapi, walaupun 

istilah ”Mesias” itu tidak muncul secara tersendiri, ada 

bermacam-macam penggunaannya dalam rangkaian kata 

seperti Mesias Tuhan (yaitu yang diurapi Tuhan).  

Gagasan mengenai pengurapan seseorang untuk suatu 

misi khusus muncul beberapa kali, terutama bagi raja-raja 

dan imam-imam (Im 4:3), juga nbai0nabi (I Raj 19:16) 

dan bapak-bapak leluhur Israel (Mzm 105:15), dan 

bahkan bagi seorang raja kafir, yaitu Koresy (Yes 45:1).  

Pengurapan yang menunjukkan tugas khusus ini kemudia 

digunakan dalam hal yang lebih teknis, khususnya bagi 

seseorang yang akan dipilih Allah sebagai alat-Nya untuk 

menyelamatkan umat-Nya.  Dapat dikatakan bahwa 

Perjanjian lama mempersiapkan jalan bagi Mesias dan 

banyak perikop Perjanjian lama mengenai Mesias itu 

dikutip dalam Perjanjian Baru. 

 

2. Latar Belakang pada Masa Perjanjian Baru 

 

Selama masa transisi antara masa Perjanjian Lama 

dan Perjanjian baru, arti dari istilah itu mengalami 

beberapa perubahan, dan arti teknis dari orang-orang yang 

diurapi Tuhan menjadi lebih menonjol (Mazmur salomo 

17-18).  Pengharapan akan kedatangan Mesias 

mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tetapi yang paling 

menonjol ialah gagasan mengenai Raja keturunan Daud, 

yang akan mendirikan kerajaan di dunia bagi umat Israel 

dan akan menghancurkan musuh-musuh Israel.  Mesias 

akan merupakan tokoh politik, tetapi dengan 

                                                                   

19 Tom Sappington, “Diktat Kuliah Teologia 

Perjanjian Baru”  (Jogyakarta: Sekolah Tinggi Teologi Injili 

Indonesia, t.t.), p. 27. 

kecenderungan ke arah agama.  Konsep itu merupakan 

gabungan yang aneh dari pengharapan bersifat nasional 

dan pengharapan rohani.20 

Dari naskah-naskah Laut Mati disebutkan adanya 

dua orang Mesias, seorang dari harun dan seorang dari 

Israel (Bdg 1 QS 9:11).  sebab  persekutuan di Qumran 

itu merupakan suatu masyarakat imam, tidaklah 

mengherankan bila ditemukan bahwa Mesias dari Harun 

lebih penting daripada Mesias dari Israel.  Sampai sejauh 

mana pentingnya pandangan yang berbeda tentang 

Mesias ini bagi penetapan penggunaan istilah dalam 

Perjanjian baru masih diperdebatkan, tetapi sedikitnya 

hal itu membuktikan adanya pandangan yang berbeda-

beda mengenai karakter yang tepat dari jabatan Mesias. 

Perlu dicatat bahwa tidak ada bukti tentang 

penggunaan istilah ”Mesias” oleh para rabi sebelum 

tahun 70 sM, tetapi keterangan tentang ajaran rabi pada 

itu sedikit sekali.21  Di samping itu istilah ini tidak 

pernah dipakai oleh Yosefus dalam usahanya untuk 

membuat agama Yahudi dapat lebih diterima oleh orang-

orang Roma.  Istilah itu muncul dalam Apokalipsis ezra 

dan Barukh, yang keduanya sejaman dengan masa 

terbentuknya jemaat kristus; dan seperti pada masa 

antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.  

Kelihatannya gelar itu dihubungkan dengan gagasan 

seorang Anak Daud terutama dalam IV Ezra 12:32-34.   

Dari penyelidikannya yang singkat tentang latar 

belakang ini, jelaslah bahwa gagasan tentang Mesias 

yang akan datang sudah tersebar luas di antara orang-

orang Yahudi, tetapi asal mula dan watak dari Mesias 

yang akan datang itu tidak dimengerti dengan jelas.  

Kelompok yang  berbeda-beda cenderung untuk 

membayangkan Mesias sesuai dengan keyakinan mereka 

sendiri, misalnya kelompok iman di Qumran 

menafsirkannya dengan istilah-istilah imam, kelompok-

kelompok nasionalis dengan istilah-istilah politik, dan 

sebagainya.  Dalam memikirkan bagaimana Yesus 

menggunakan istilah Mesias, harus diingat bahwa ia 

memperhatikan pengertian yang paling populer dari 

istilah itu.  Sudah tentu pemikiran populer cenderung 

pada kedatangan seorang pemimpin politik yang akan 

membebaskan orang-orang Yahud dari beban tekanan 

Roma.  Dengan mengingat gagasan populer ini , 

dapat dimengerti mengerti mengapa Yesus menghindari 

penggunaan istilah ini. 

Ada beberapa sumber informasi tentang 

pengharapan mesianis orang-orang Yahudi pada masa 

Perjanjian Baru yang paling penting yaitu Mazmur-

mazmur Solomo 17-18 yang ditulis antara tahun 70-45 

S.M. di Yerusalem, sebab  dalam kedua pasal ini  

Mesias digambarkan dengan lengkap.  Selain itu ada 

beberapa ayat dalam tulisan-tulisan dan Qumran yang 

bernilai ( IQS 9:11; IQS 4QPaIr. 3; CDC 19:10—11; 

                                                                   

20:1; 12:23-24; 14:19), tetapi pandangan berbagai tulisan 

ini  tidak selalu sama. Juga konsep Mesias muncul 

dalam Benediction 14 dan Shemoneh Esreh, beberapa nas 

dalam Targum, IV Ezra 12:32,11 Bar. 29:3; 30:1, dan I 

Henokh 48:10; 52:4, tetapi relevansi pengajaran 

dokumen-dokumen ini terhadap kepercayaan orang-orang 

Yahudi belum disetujui oleh semua penafsir, sebab  

mungkin waktu penulisannya sesudah masa Perjanjian 

Baru.22 

Tulisan-tulisan dari masa Perjanjian Baru 

menggambarkan pengharapan mesianis orang-orang 

Yahudi bahwa Mesias yaitu  seorang tokoh yang sangat 

diurapi oleh Allah. Ia memiliki suatu hubungan yang 

sangat dekat dengan Allah, sehingga kehidupannya suci.  

Ia tidak sombong, tetapi bengantung pada Allah, dan ia 

penuh belas kasihan terhadap orang-orang yang lain.  Ia 

juga sangat kuat di dalam Tuhan sehingga kata-katanya 

berkuasa.  Jelas ia yaitu  seorang tokoh yang unik, tetapi 

orang-orang Yahudi tidak pernah membayangkan bahwa 

ia akan menyamakan diri-nya dengan Allah sehingga ia 

layak disebut Allah Anak.  Ide itu di luar bayangan orang-

orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru. 

Sang Mesias juga mempunyai pelayanan yang 

unik.  Dari semua pengharapan pelayanan Mesias yang 

paling penting bagi orang-orang Yahudi yang sedang 

dijajah oleh Roma ialah bahwa Mesias akan 

mengalahkan, menghukum dan memerintahkan musuh-

musuh bangsa orang-orang Yahudi (yaitu bangsa-bangsa 

lain).  Mesias akan membawa kemerdekaan bagi orang-

orang Yahudi.  Namun yang tidak disadari orang-orang 

Yahudi yaitu  bahwa pelayanan Mesias bukan hanya 

pelayanan militer, sebab  ia juga akan menghakimi, 

mendisiplin dan menyempurnakan bangsa Yahudi, 

kemudian membimbing serta memerintah mereka dan 

memberkati mereka sebagai umat Allah.  

Pengharapan mesianis ini berkembang pada masa 

penjajahan bangsa Yahudi, sehingga banyak orang 

Yahudi pada masa Perjanjian Baru menantikan 

kedatangan Mesias.  Ada banyak unsur pengharapan 

ini  yang benar, tetapi pengertian orang-orang 

Yahudi terhadap Mesias kurang lengkap, kurang 

seimbang, dan kurang Alkitabiah sehingga ada tabrakan 

antara pengharapan mereka dengan pengajaran Yesus 

mengenai diri-Nya sendiri.  

 

3. Pemakaian Mesias dalam Kitab-kitab Injil 

Sinoptik 

 

Markus menggunakan istilah ”Mesias” hanya tujuh 

kali dalam seluruh Injilnya.  Bisa diduga bahwa Yesus 

tidak menganjurkan pemakaian istilah ini  selama 

hidup-Nya di dunia, mengingat pemakaian istilah ini  

di Palestina pada jamanNya.  Ia bukanlah Mesias dalam 

arti yang sesuai dengan pengertian orang pada umumnya 

ketika mendengar istilah itu.  Dan sebab nya, memakai 

istilah ini  akan mengundang kesalalahpahaman. 

Pengertian orang-orang Yahudi kurang lengkap 

mengenai hakekat dan fungsi Mesias.  Yesus tidak 

                                                                   

22 Tom Sappington, p. 28. 

memakai istilah ini  untuk menggambarkan diri-Nya 

sendiri. Memang jika Ia memakai istilah ini , maka 

hal itu dapat menyebabkan salah pengertian mengenai 

hakekat dan pelayananNya.  Itu sebabnya roh-roh jahat 

dilarang berbicara “sebab  mereka tahu bahwa Ia yaitu  

Mesias” (Lukas 4:41), dan orang-orang yang 

disembuhkanNya tidak diperbolehkan untuk bersaksi 

kepada orang-orang lain tentang apa yang dilakukanNya 

kepada mereka (contohnya Markus 1:44; 5:43; 7:36 dan 

ayat-ayat yang sejajar dalam Injil Matius dan Lukas).  Itu 

sebabnya juga pertanyaan Yohanes Pembaptis mengenai 

kemesiasan Yesus dijawab secara tidak langsung (Matius 

11:2-6; Lukas 7:18-23).  

Walaupun demikian ketika Petrus menyebut Yesus 

“Mesias” (“Kristus”), maka Ia tidak menyangkal hal itu; 

melainkan Ia menerima pengakuannya (Matius 16:13-20; 

bdg. Markus 8:27-30; Lukas 9:18-21), asal kemesiasan-

Nya tidak diberitahukan kepada orang-orang lain, yang 

belum menjadi murid-murid-Nya. 

Dari data-data di atas dapat diambil suatu 

kesimpulan bahwa Yesus memang yaitu  “Mesias”, raja 

bangsa Yahudi yang sangat diurapi Allah.  Namun 

kemesiasan  Nya tidak sama dengan yang diharapkan 

oleh orang-orang Yahudi.  Oleh sebab  itu, sebelum 

Yesus mati dan bangkit Ia tidak terbiasa mengakui secara 

langsung kepada orang-orang yang belum percaya 

kepada-Nya bahwa Ia yaitu  Mesias.  Ketika Ia sudah 

bangkit, baru Ia mengambil inisiatif untuk menjelaskan 

kemesiasan-Nya dengan para murid-Nya (Lukas 24:26, 

46).23 

Tujuan Injil Matius ada dua yaitu: pertama, untuk 

membuktikan bahwa Yesus yaitu  Mesias.  Mesias 

yaitu  suatu sebutan Yahudi bagi raja Israel yang akan 

membawa keselamatan bagi Israel pada akhir zaman.  

Matius menyajikan Yesus sebagai Mesias Israel (Yang 

Diurapi) yang menggenapi peran dari nabi, imam dan 

raja dalam satu Pribadi.  Kedua untuk menyajikan 

kerajaan sesuai dengan rencana Allah.  Yesus yaitu  

Mesias Israel dan bangsa itu telah menolak sang Mesias.  

Matius menjelaskan bahwa kerajaan yang telah 

ditawarkan kepada orang Yahudi telah ditunda oleh 

sebab  penolakan Israel.  Kerajaan Mesias di dunia akan 

didirikan pada saat Kedatangan-Nya Kedua.24  

Matius juga memberikan tekanan Yesus sebagai 

Anak Daud (Mat. 9:27; 12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9 15; 

22:42).  Di Matius 9:27 sangatlah jelas orang buta itu 

mengerti Anak Daud yaitu  Mesias yang dapat 

melakukan pekerjaan Mesias, seperti mencelikkan mata 

orang buta (Yes. 35:5), yang merupakan pekerjaan Allah 

(Mzm. 146:8).  Penggunaan nama dalam Matisu 21:9 

menyatakan signifikansinya sebagai datangnya Penebus 

                                                                   

 

yang akan membawa keselamatan kepada bangsa itu dan 

membebaskannya, pada waktunya akan membawa berkat 

(Mzm. 118:25-26). 

 

Yesus sebagai Anak Manusia 

 

Dalam keempat Injil, Yesus senantiasa menyebut 

diri-Nya ”Anak Manusia.”  ungkapan ini muncul lebihd 

ari delapan puluh kali.  Hal menarik dalam studi 

Kristologi Injil-injil sinoptik yaitu  bahwa istilah “Anak 

Manusia” sering dipakai oleh Yesus untuk diri-Nya 

sendiri, tetapi tidak pernah dipakai oleh orang lain untuk 

Yesus.  Mengapa? Apa arti istilah ini ?  Banyak 

pengajar injili suka membedakan antara Yesus sebagai 

“Anak Allah” dan “Anak manusia”.  Menurut mereka 

“anak Allah” menunjukkan kepada ke-Allahan Yesus, 

sedangkan “Anak Manusia” menekankan kemanusiaan-

Nya.  Penjelasan ini sangat sederhana sehingga mudah 

dijelaskan dan dipahami, tetapi kurang akurat sebagai 

tafsiran dalam konteks pelayanan Yesus, sebab  untuk 

dapat menafsirkan secara akurat pengertian ini , 

maka diperlukan suatu studi yang benar tentang latar 

belakang pemahaman ini . 

 

 

1. Sumber-sumber Informasi Mengenai ”Anak 

Manusia”  

 

Ada tiga sumber informasi yang sering dipelajari 

dengan tujuan supaya lebih mengerti arti gelar “anak 

manusia”.  Yang pertama, “anak manusia” dipakai 

beberapa kali dalam Perjanjian Lama.  Misalnya dalam 

ayat-ayat tertentu “anak manusia”  ( ~d"a'-!b,) berarti 

“manusia” (misalnya Bilangan 23: 19a, “Allah bukanlah 

manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, 

sehingga Ia menyesal”; bdg. Mazmur 144:3). Tetapi 

“anak manusia” juga dipakai dalam Kitab Daniel dengan 

arti yang lain, dan latar belakang ini jauh lebih penting.  

Asal mula istilah Anak Manusia bermula dari 

Daniel 7:13 dimana Ia digambarkan sebagai yang penuh 

dengan kemenangan membawa kerajaan kepada bapa.  

Posisi Anak Manusia di sebelah kanan Bapa 

menghubungkan pada Mazmur 110:1 dan Ia yang yaitu  

Tuhan.  Matius 26:63-64 menunjukkan bahwa istilah itu 

pada dasarnya sinonim dengan Anak Allah.  Istilah itu 

menekankan berbagai tema: otoritas (Mrk. 2:10), 

pemuliaan (Mat 25:31); kerendahan (Mat. 8:20); 

penderitaan dan kematian (Mrk. 10:45); relasi dengan 

Roh Kudus (Mat. 12:32); keselamatan (Luk. 19:10).25  

Yesus memikirkan diri-Nya dalam pengertian Mesias 

surgawi yang menggenapi pelayanan di dunia atas 

manusia yang puncaknya dapat dilihat dalam gambaran 

kemuliaan akhir.26Dalam Daniel pasal 7 nabi Daniel 

menggambarkan suatu penglihatan yang ia terima.  Daniel