• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 3. Tampilkan semua postingan

perjanjian lama 3

 


hkan 

berhak menyelamatkan siapa saja yang Ia perkenan, dan 

kapanpun Ia mau (seperti perihal pertobatan para awak 

kapal). 

5.   Garis besar. 

      I.    Pelarian Yunus (1:1-17). 

A. Alasan pelariannya (1:1-2). 

B. Rute pelariannya (1:3). 

C. Hasil pelariannya (1:4-17). 

      II.  Doa Yunus (2:1-10). 

 A.  Karakteristik doanya (2:1-9). 

 B.  Jawaban doanya (2:10). 

     III.  Khotbah Yunus (3:1-10). 

A. Perintah Allah untuk berkhotbah (3:1-3) 

B. Isi khotbah Yunus (3:4). 

C. Dampak khotbah Yunus (3:5-10). 

     IV.  Pelajaran Yunus (4:1-11). 

 A. Keluhan Yunus kepada Allah (4:1-3). 

 B.  Kurikulum Allah bagi Yunus (4:4-11). 

 

KITAB MIKA 

 

 

1. Judul. 

Diambil dari nama penulisnya MIKAH.  Judul kitab dalam 

Septuaginta yaitu  Michaias dan dalam Vulgate Micha. 

2. Penulis. 

Penulis kitab ini yaitu  Mikha (1:1). Dalam kitab Yer. 26:18, 

Mikha singkatan MICHAYAH artinya ‘Siapakah yang seperti 

Yahwe ?’.  Mikha berasal dari Moresyet, sebuah kota sekitar 

40 km di barat daya Yerusalem dekat kota Gad di Gfilistin. 

Moresyet berlokasi dikaki bukit yang subur di Yudea dekat 

Lakhish, sebuah kota perdagangan internasional. 

3. Tahun penulisan 

Mikha bernubuat pada masa pemerintahan Yotam (750-732 

sM), Ahas (736-716 sM0 dan Hizkia (716-687 sM). Mikha 

secara khusus bernubuat kepada Yehuda namun  juga pada 

kerajaan Utara, Israel dan menubuatkan kejatuhan Samaria 

(1:6). Bagian yang baik dari pelayanannya terjadi sebelum 

penawanan bangsa Asyur pada tahun 722 sM, kemungkinan 

sekitar tahun 700 sM. Dari penjelasan diatas dapat 

disimpulkan bahwa penulisan kitab ini yaitu tahun 750 – 687 

sM. 

4. Tema. 

Tema kitab ini yaitu penghakiman dan pemulihan. Mikha 

menunjukkan bagaimana umat Allah telah gagal untuk hidup 

sesuai dengan ketetapan kovenanNya yang telah dibuat 

dengan Israel yang tersedia berkat untuk ketaatan (Ul. 28:1-

 

 

14) dan laknat untuk ketidak taatan, oleh sebab nya mereka 

disingkirkan dari tanah perjanjian (Ul. 28:15-68). Dalam 

prosesnya, Mikha membeberkan ketidak adilan Yudea dan 

mendeklarasikan kebenaran dan keadilan yang Yahwe 

tunjukkan untuk mendisiplin mereka.  Ia mendakwa Israel dan 

Yehuda sebab  dosa penganiayaan, menyuap para hakim, 

nabi dan imam, ketamakan, penipuan, keangkuhan dan 

kekerasan. Tentu saja disiplin yang diterapkan pada bangsa 

ini mendemonstrasikan kasih Allah kepada mereka dan 

bahwa ia akan memulihkan mereka. 

Tema penghakiman begitu menonjol dalam ketiga berita 

Mikha, namun ia juga menegaskan kebenaran pemulihan. 

Lebih jauh, Mikha mengacu pada prinsip remnan disetiap 

bagian ketiga beritanya (2:12; 4:7; 5:7-8; 7:18). Dia 

mengumumkan bahwa dimasa yang akan datang Yahwe 

akan memulihkan umatNya di suatu tempat mulia pada 

kedatangan Mesias yang kedua kali. 

5. Garis besar. 

I.   Prakata (1:1). 

II.  Berita pertama: Hukuman atas Yehuda (1-2). 

A. Nubuat penghukuman. 

B. Ratapan Mikha bagi umat. 

C. Dosa-dosa Yehuda. 

D. Nubuat tentang perhimpunan kembali. 

      III. Berita kedua: Malapetaka diikuti pembebasan (3-5). 

108 

 

 A. Hukuman atas para pemimpin bangsa (3). 

 B.  Berkat-berkat kerajaan atas bangsa. 

      IV. Berita ketiga: Pengaduan dosa dan janji berkat (6-7). 

   

KITAB NAHUM 

1.   Judul. 

     Sama dengan kitab nabi kecil lainnya, nama kitab diambil dari 

nama nabi yang bernubuat. Judul yang digunakan di 

Septuaginta Naoum dan Vulgata yaitu  Nahum. 

2. Penulis. 

 Penulis kitab ini yaitu  Nahum (1:1).  Kata Nahum atau 

NACHAM artinya ‘menarik nafas untuk menghibur’. Nahum ini 

berasal dari Elkos. Para ahli mengatakan bahwa Elkos ini 

diyakini berada di selatan Yehuda.  Memang sesuai dengan 

psl. 1:15 Nahum diutus untuk menjadi nabi di Yehuda. 

3. Tahun penulisan. 

 Nahum berbicara tentang  kejatuhan Tebes yang sudah lewat 

(3:8-10). Tebes runtuh tahun 663 sM. Selanjutnya dalan 

ketiga pasalnya Nahum menubuatkan kejatuhan Niniwe dan 

hal itu terjadi pada tahun 612 sM. Dengan demikian Nahum 

menyampaikan nubuatnya atara tahun 663-612 sM atau 

mendekati akhir masanya sebab  ia mewakili kejatuhan 

Niniwe yang mendekat (2:1; 3:14). Oleh sebab  itu kitab ini 

ditulis antara tahun 663-612 sM. 

4. Tema 

 

 

 Tema kitab Nahum yaitu  penghukuman Allah atas bangsa 

yang berdosa. Pertobatan Niniwe sesudah  peringatan Nabi 

Yunus ternyata tidak bertahan lama. sebab  mereka kembali 

ke pola kehidupan mereka yang bengis dan keji. Dan Niniwe 

tak mungkin lagi luput dari malapetaka yang dinubuatkan 

Yang Maha Kudus melalui Nahum. Kebengisan, kekuatan 

dan kecongkakan akhirnya berhenti dibawah kedaulatan 

Allah. Selain itu kitab ini juga menjelaskan tentang kejatuhan 

Asyur, sebagai penghukuman dari Allah. Kitab ini ditulis untuk 

memberi penghiburan kepada Yehuda. 

5. Garis besar. 

 I.   Nubuat penghukuman Allah atas Niniwe (1). 

 II.  Hukuman Allah atas Niniwe (2). 

 III. Alasan penghukuman Allah atas Niniwe (3). 

 

KITAB HABAKUK 

1.  Judul. 

 Nama kitab diambil dari nama penulisnya yaitu Habakuk. 

Kata ini berasal dari bahasa Ibrani CHABAQ yang artinya 

‘memeluk’. Apa maksudnya ? Kita harus memahaminya 

dalam bentuk aktif, ‘seseorang yang memeluk atau 

bergantung.’  Dalam kebingungannya sebab  akan diserbu, 

sang nabi akhirnya bergantung pada Yahwe sebagai Tuhan 

keselamatannya dan kekuatannya. 

2. Penulis. 

 

 

 Kitab ini ditulis oleh Habakuk (1:1). Habakuk 

mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang nabi (1:1; 3:1). 

Selain itu ia juga seorang imam. Hal ini nyata dari doa-doa 

serta pujiannya yang selalu diakhiri dengan pernyataan ‘untuk 

pemimpin biduan, dengan musik kecapi.’ 

3. Tahun penulisan. 

 sebab  kitab ini mengantisipasi datangnya serbuan tentara 

Babel yang terkenal kehebatannya, Habakuk mungkin 

melayani pada masa pemerintahan Yoyakim, Raja Yehuda.  

Babel belum menyerang Yehuda (1:6; 2:1) dan nubuat 

Habakuk disampaikan tak lama sebelum penyerbuan Babel 

sekitar tahun 606 sM. Oleh sebab  itu penulisan kitab ini 

sekitar tahun 606 sM. 

4. Tema. 

 Tema kitab ini yaitu pergumulan dan kemenangan. Kitab ini 

menjelaskan kebingungan Habakuk menjelang datangnya 

serbuan Babel yang bengis. Hal ini terkait dengan masalah 

iman yaitu: 

   Mengapa Allah tidak menjatuhkan hukuman atas 

kejahatan yang semakin meningkat dan merajalela di 

Yehuda (1:1-4). 

   Mengapa Allah yang kudus memakai bangsa lalim seperti 

Babel sebagai alat penghakiman (1:12 – 2:1). 

Habakuk menggumuli kebingungan itu dalam terang firman 

Tuhan, yang akhirnya menyingkapkan teka-tekinya, sehingga  

 

kitabnya ditutup dengan Mazmur kemenangan. Kitab ini boleh 

juga disebut THEODICY, pembelaan terhadap kebaikan dan 

kuat kuasa Allah untuk mengatasi kejahatan. 

5.   Garis besar. 

      I.   Kebingungan Habakuk : Iman teruji (1-2). 

A. Persoalan pertama: Mengapa Allah mengijinkan 

kejahatan ? 

B. Jawaban pertama dari Allah. 

C. Persoalan kedua: Mengapa Allah memakai bangsa 

lalim ? 

D. Jawaban kedua dari Allah. 

      II.  Pujian Habakuk: Iman berkemenangan (3). 

A. Pujian bagi pribadi Allah. 

B. Pujian bagi kekuatan Allah. 

C. Pujian untuk tujuan Allah. 

D. Pujian iman kepada Allah. 

 

KITAB ZEFANYA 

1.   Judul. 

      Nama kitab ini diambil dari nama penulisnya yaitu Zefanya, 

berasal dari kata Ibrani TSAPHAN-YAH yang artinya 

‘tersembunyi’ atau ‘disembunyikan Tuhan’ (2:3).  Judul kitab 

dalam Septuaginta dan Vulgata yaitu  Sophonias. 

2. Penulis. 

 

 

 Seperti tercantum dalam 1:1, kitab ini ditulis oleh Zefanya bin 

Kusyi bin Gedalya bin Amarya bin Hizkia.  Dengan 

tercatatnya silsilah leluhur empat generasi nabi ini, 

pembukaan kitab ini termasuk unik. Biasanya informasi 

silsilah hanya dicatat sebatas ayah sang nabi (bnd. Yes. 1:1; 

Yer. 1:1; Hos. 1:1). Silsilah yang panjang memberi kesan 

adanya darah biru sang nabi, dimana kakek cicitnya yaitu  

raja Hizkia yang terkenal saleh. 

3. Tahun Penulisan. 

 Dari catatan pendahuluan (1:10), Zefanya bernubuat dalam 

pemerintahan Raja Hosia, raja Yehuda (640-609 sM).  Dosa 

dan pelanggaran yang dituduhkan Zefanya kepada 

Yerusalem dan Yehuda (1:4-13; 3:1-7) mengindikasikan 

bahwa ia bernubuat sebelum reformasi Yosia, sebab  tiang-

tiang berhala masih tegak berdiri (zaman Manasye dan 

Amon). Oleh sebab  itu kitab ini ditulis kira-kira tahun 640-609 

sM. 

4.  Tema. 

 Kitab ini menyajikan pernyataan yang paling luas dalam 

Perjanjian Lama mengenai Hari Tuhan.  Zefanya bernubuat 

untuk memperingatkan Yehuda dan Yerusalem akan 

datangnya ‘Hari Tuhan’ yang dasyat (1:14), sebagai ganjaran 

dan hukuman akibat kemerosotan moral dan kemunduran 

rohani sebab  pengaruh Raja Manasye dan Raja Amon yang 

tidak adil (3:1-7).  

 

 

 Tema ‘Hari Tuhan’ mengacu pada kekudusan dan keadilan 

Allah yang harus menghancurkan dosa sekaligus menuntut 

bangsa-bangsa di dunia untuk bertanggung jawab di 

hadapanNya. Di sisi lain Allah yang berpengasihan juga 

mengajak umatNya untuk bertobat, agar mereka menikmati 

berkat kovenanNya.  Ada kemungkinan peringatan Zefanya 

begitu mempengaruhi raja sehingga memicu gerakan 

reformasinya. Pada tahun ke-12 masa pemerintahannya (627 

sM), Raja Yosia mulai memberasihkan bangsa dari 

penyembahan berhala dan kembali menghidupkan ibadah 

yang benar.  Delapan tahun kemudian ia memerintahkan 

untuk memperbaiki dan menyucikan bait suci Salomo,. Pada 

saat itulah salinan kitab Torah ditemukan (2 Raj. 22:8). 

5.   Garis besar. 

      I.   Penghakiman pada hari Yahwe. 

 A.  Penghakiman atas isi seluruh bumi. 

       B.  Penghakiman atas Yehuda (1). 

  C.  Penghakiman atas bangsa-bangsa (2). 

       B’  Penghakiman atas Yerusalem (3). 

 A’  Penghakiman atas isi seluruh bumi  

      II.  Pemulihan pada hari Yahwe. 

    

KITAB HAGAI 

1.  Judul.  

 

     Judul kitabnya  diambil dari nama penulisnya yaitu Hagai 

berasal dari kata CHAGGAI. Judul kitab dalam Septuaginta 

Aggaios dan dalam Vulgata, Aggaeus. 

2. Penulis kitab ini yaitu  Hagai. Hal ini nyata dari isi kitab 

dimana dalam kitab ini diceritakan tentang firman yang 

diberikan kepada nabi Hagai untuk disampaikan kepada 

umatnya. Oleh sebab  itu para ahli mengakui Hagai sebagai 

penulis kitab ini. Nama Hagai artinya ‘pesta’ atau ‘perayaan’, 

memberi kesan bahwa ia mungkin dilahirkan pada hari raya, 

walaupun memang tak ada catatan yuang mendukung hal itu.  

Hagai hanya dikenal melalui kitabnya dan ia disebut-sebut 

dalam Ezr. 5:1-2; 6:14. Ia memperkenalkan dirinya sebagai 

Nabi Hagai (1:1), namun tanpa silsilah. Ia hidup sezaman 

dengan Zakharia dan Zerubabel. 

3. Tahun penulisan. 

 Dengan dikeluarkannya dekrit Raja Persia, Koresh (538 sM), 

hampir 50.000 orang Yahudi diijinkan pulang ke Yerusalem. 

Termasuk Zerubabel (Ezr. 1:2-4 bdn. Yes. 44:28), Imam 

Besar Yosua, Nabi Hagai dan Nabi Zakharia.  

 Korban persembahan akan diletakkan lagi diatas mesbah 

(Ezr. 3:1-6), dan pada tahun kedua kepulangan mereka, 

fondasi bait suci diletakkan (Ezr. 3:8-13; 5:16).  

Pembangunan menjadi terhambat oleh adanya gangguan 

Samaria dan tekanan Persia, ditambah lagi dengan 

kemunduran rohani. Enambelas tahun berikutnya dalam 


pemerintahan Darius Hystaspes, raja Persia (521-486 sM) 

rekontruksi dihentikan sama sekali. Pada tahun kedua 

pemerintahan Darius (520 sM) Tuhan mengutus Hagai untuk 

mendorong umat Yahudi dalam merekontruksi bait Suci 

mereka (1:1 bnd. Ezr. 5:1-2). Oleh sebab  itu penulisan kitab 

ini yaitu sekitar tahun 520 sM. 

4. Tema 

 Tema kitab ini yaitu dorongan untuk maju. Kitab ini berisi 

empat berita (bnd. Garis besar) yang penting untuk memberi 

semangat merekontruksi Bait Suci. Memang waktu itu bangsa 

Yahudi sedang memasuki masa-masa sulit sesudah  kembali 

ke Yerusalem. Pembangunan Bait Suci belum terselesaikan 

dan Tuhan melalui nabi Hagai mendorong jemaat untuk 

kembali bersemangat membangun  Bait Suci.  

5.   Garis besar. 

 I.   Berita pertama: Panggilan membangun Bait Suci 

  A.  Teguran pertama dan remedinya. 

  B.   Teguran kedua dan responnya. 

 II.  Berita kedua: Panggilan mempertahankan kovenan. 

  A.  Pendahuluan. 

  B.  Kemuliaan mendatang. 

 III. Berita ketiga: Panggilan mentahirkan hidup 

  A.  Pendahuluan. 

  B.  Ketaatan umat. 

 IV. Berita keempat: Panggilan mengharapkan masa depan. 

 

 

  A.  Datangnya kekalahan. 

  B.  Datangnya pemulihan. 

 

KITAB ZAKhARIA 

1.   Judul 

 Judul kitab ini diambil dari nama penulisnya yaitu Zakharia.  

Kata Zakharia berarti ‘Yahwe ingat’. sedang  versi 

Septuaginta dan Vulgata menyebutnya Zacharias. 

2. Penulis.  

 biasanya  para ahli setuju bahwa kitab ini ditulis oleh 

Zakharia. Hal ini nyata dari isi kitabnya yang berisi 

penglihatan yang diberikan Allah kepada Zakharia untuk 

disampaikan ke umatNya. Zakharia bin Berekhya bin Ido 

yaitu  imam yang memimpin kaum Lewi (Neh. 12:4), 

sezaman dengan nabi Zerubabel (Ezr. 6:14). 

3. Tahun penulisan 

 Zakharia masih sangat muda (2:4) ketika bekerjasama 

dengan Hagai dalam seruan pembangunan di tahun 520 sM. 

Nubuatnya yang terakhir (7) terjadi dua tahun kemudian (518 

sM). Oleh sebab  itu kitab ini kemungkinan ditulis tahun 520 – 

518 sM. 

4. Tema. 

 Tema kitab ini yaitu pemulihan. Kitab Zakharia ditulis untuk 

memberi semangat kepada kaum remnan yang pulang untuk 

menyelesaikan rekonstruksi bait suci. Sang nabi juga 

menunjukkan bahwa Tuhan bekerja dalam memulihkan Israel 

untuk kembali ke warisan rohani mereka dalam 

mempersiapkan kedatangan Mesias.  Secara doktrinal, kitab 

Zakharia menunjukkan pentingnya peran Bait Suci guna 

mengembalikan relasi kaum Israel kepada Allahnya. Kitab ini 

juga memperlihatkan providensia Allah untuk membawa 

kembali umatNya ke tanah air mereka dan hal itu menyoroti 

dekatnya hari Mesias yang akan memulihkan kehidupan 

rohani umatNya. 

5. Garis besar 

 I.    Ajakan pertobatan (1-6) 

 II.   Delapan penglihatan 

A. Penglihatan kuda dan penunggangnya. 

B. Penglihatan empat tanduk dan empat pandai besi. 

C. Penglihatan penyelidik dengan tali sipat 

D. Penglihatan menorah emas 

E. Penglihatan skrol terbang 

F. Penglihatan perempuan dalam gantang. 

G. Penglihatan empat kereta perang. 

     III.  Penobatan Imam besar Yosua 

     IV.  Pertanyaan tentang puasa (7-8). 

     V.   Nubuat tentang masa depan (9-14). 

 A.  Nubuat pertama: Penolakan terhadap Mesias 

 B.  Nubuat kedua: Pemerintahan Mesias 

  

 

KITAB MALEAKHI 

1.  Judul. 

     Judul kitab ini diambil dari nama tokoh utama dalam kitab ini 

yaitu Maleakhi. Dalam Septuaginta disebut Malachias sedang 

bahasa Latinnya Maleachi. 

2. Penulis. 

 Maleakhi Cuma disebut namanya sebagai penulis dalam psl 

1:1.  Sekalipun ada tradisi Yahudi yang kurang berbobot 

mengatakan bahwa kitab ini ditulis oleh Nehemia, sebab 

‘Maleakhi’ dalam bahasa Ibrani Malak-i artinya ‘utusanku’, 

bisa berarti utusan tak bernama (anonim).  Keabsahan 

penulisnya, tanggal penulisannya dan kesaatuan kitabnya tak 

perlu diragukan. “Mal(e)ak-i“ (utusanku) bisa juga merupakan 

kependekan MALAK-YAH (utusan atau malaikat TUHAN).  

Hal ini senada dengan isi kitab yang mengantisipasi 

kedatangan utusan Allah (bnd. 3:1), nubuatan tentang 

datangnya pendahulu Mesias, Yohanes pembabtis (Mat. 

11:10).  

3. Tahun penulisan 

 Ditinjau dari bukti-bukti internal, nubuat jelas terjadi pada 

pertengahan abad ke-5 sM (435 sM).  Kesimpulan ini ditarik 

dari beberapa indikasi. 

a. Bait suci telah selesai dibangun dan persembahan korban 

menurut hukum Musa telah dilaksanakan kemabali (1:7; 

3:1). 

b. Gubernur Persia yang berkuasa saat itu, tidak mungkin 

masih ada pada pemerintahan Gubernur Nehemia (445 

sM atau 433 sM). 

c. Dosa-dosa yang dituntut Maleakhi sama dengan yang 

dikoreksi Nehemia selama term kedua pelayanannya yaitu 

   Kelesuan keimaman (1:6; Neh. 13:4-9). 

   Mengabaikan perpuluhan untuk keperluan kaum Lewi 

(3:7-12 bnd. Neh. 13:10-13). 

   Banyaknya kawin campur dengan wanita asing (2:10-

16 bnd. Neh. 13:23-28). Hal ini masuk akal bila 

memperkirakan bahwa Maleakhi telah memprotes 

semua kejahatan itu mendahului kembalinya Nehemia, 

sehingga sesuai jika diperkirakan sekitar tahun 435 

sM. 

4. Tema 

 Tema kitab ini yaitu teguran untuk hidup benar dihadapan 

Tuhan. Dalam kitab ini Maleakhi menegur umat sebab  

kelalaian mereka terhadap ibadah sejati mereka kepada Allah 

dan memanggil mereka untuk bertobat (1:6; 3:7).   

Persembahan yang kudus yaitu  mempersembahkan diri 

secara hidup kudus dan berkenan kepada Allah. Maleakhi 

mengarahkan jemaaat untuk memiliki ketulusan terhadap 

Tuhan dan menjaga integritas yang murni dihadapan Allah, 

sehingga Ia tak segan-segan mencurahkan berkat 

kemurahanNya atas panen dan kesejahteraan bangsa.  Israel 

terutama harus hidup sesuai dengan panggilannya sebagai 

bangsa yang kudus seraya menunggu kedatangan Mesias. 

Pengharapan muncul melalui penghakiman yang bertujuan 

menyelamatkan. 

5. Garis besar. 

 I.    Hak-hak khusus bagi Israel (1). 

A. Kasih Allah dinyatakan. 

B. Kasih Allah diragukan. 

C. Kasih Allah dipaparkan. 

 II.  Dosa-dosa Israel (2). 

A. Penyelewengan. 

B. Kawin campur. 

C. Parentesis: Kedatangan Elia. 

D. Kekerasan. 

E. Perceraian. 

 III. Janji-janji pada Bangsa Israel (3-4). 

A. Kedatanga utusan Kovenan. 

B. Kedatangan pendahulu Mesias 

C. Kedatangan hari Tuhan. 

 

  

Kejadian merupakan kitab yang mengisahkan aneka permulaan. Kitab ini menyajikan kisah yang 

megah tentang permulaan segala sesuatu yang dijadikan ada oleh sang Khalik. Kitab ini menjawab 

pertanyaan manusia mengenai asal usul dunia, tanaman, hewan dan umat manusia. Kitab ini 

mengisahkan penetapan lembaga keluarga, asal mula dosa, penganugerahan penyataan ilahi, 

pertumbuhan dan perkembangan bangsa manusia dan awal rencana Allah untuk menyediakan 

penebusan melalui umat pilihan-Nya. Kitab ini menyajikan dan mengilustrasikan kebenaran-

kebenaran abadi, dan kitab ini memecahkan beberapa  teka-teki, rahasia dan situasi membingungkan 

dari segi kehendak Allah bagi umat-Nya. Dengan bahasa yang jernih dan penuh makna penulisnya 

mengemukakan berbagai rencana dan maksud Allah yang telah dinyatakan-Nya di samping keajaiban-

keajaiban tindakan-Nya terhadap manusia.  

Kejadian mengarahkan pembacanya kembali ke saat maha penting dari penciptaan saat  mana 

Khalik yang mahakuasa bersabda menjadikan berbagai keajaiban tak tersaingi berupa matahari, bulan, 

bintang-bintang, planet, galaksi, tanaman dan makhluk-makhluk hidup serta satu orang yang Ia 

ciptakan sesuai dengan gambar-Nya. Di dalam lima puluh pasal ini, penulis yang terilhamkan 

menyingkapkan drama penciptaan; dia mengisahkan bagaimana dosa merayap muncul dengan pasti 

dan tanpa ampun untuk mendatangkan kehancuran, kekacauan dan maut; dia menunjukkan buah-buah 

tragis dari dosa berupa kekalahan menyedihkan orang tua kita yang pertama; dan dia memperlihatkan 

bagaimana kemudian kejahatan manusia yang bertumpuk menghasilkan kehancuran dan nyaris 

kepunahan kehidupan umat manusia. Di dalam awal yang baru penulis menelusuri pertumbuhan umat 

yang baru itu dan akhirnya karier yang mempesona dari Abraham, Ishak, Yakub dan anak-anaknya. 

Kitab ini diakhiri dengan kematian Yusuf di Mesir.  

Kej 1:1-11:32* mengemukakan kisah manusia sejak diciptakan hingga awal kehidupan Abraham. 

Kej 12:1-50:26* mengisahkan rangkaian tindakan Allah terhadap umat pilihan-Nya-Abraham, Ishak, 

Yakub, Yusuf serta keturunan mereka. Di sepanjang narasi ini perhatian utama penulis ialah untuk 

mengemukakan maksud Yehovah menciptakan dan menuntun umat pilihan ini . Bukan hanya 

Kejadian, namun  seluruh Alkitab menunjukkan bahwa melalui umat pilihan ini Tuhan berusaha 

menyatakan sifat dan jalan-jalan-Nya kepada dunia, menanamkan kehendak kudus-Nya di bumi, dan 

menyebarkan "kabar baik" tentang penebusan kepada seluruh umat manusia. Bangsa-bangsa dan 

perseorangan disebutkan dan dikisahkan di dalam kitab ini hanya sejauh mereka itu sesuai dengan 

rencana dan maksud agung Tuhan. Bangsa Sumer, Het, Babel dan Asyur, disebutkan manakala 

sejarah mereka menyentuh sekilas kehidupan bangsa pilihan itu, tampil sejenak untuk menunjukkan 

maksud Allah bagi dunia. Pada setiap tahap, Roh berusaha menjadikan penyataan Allah jelas bagi 

manusia dari segala zaman. Di dalam drama yang bergerak dengan cepat ini, tersingkaplah rencana 

Allah.  

 

yaitu  tepat untuk menyatakan bahwa Musa yaitu  penulis yang bertanggung jawab dari kitab ini. 

Kitab ini merupakan kitab pertama dari Pentateukh, yang oleh Alkitab maupun tradisi dikaitkan 

dengan Musa. Sulit untuk menemukan seorang tokoh di sepanjang sejarah Israel yang lebih 

memenuhi syarat untuk menulis sejarah ini. Terlatih dalam "segala hikmat orang Mesir" (Kis 7:22*), 

Musa oleh Tuhan dipersiapkan untuk memahami berbagai catatan, tulisan dan kisah lisan yang ada 

saat  itu. Sebagai seorang nabi yang kepadanya diberikan kehormatan luar biasa untuk dapat 

bersekutu selama beberapa jam dengan Allah di Sinai, Musa cukup dibekali untuk mencatat bagi 

semua orang gambaran Tuhan tentang kegiatan-Nya sepanjang zaman. Mana ada tokoh lain di 

sepanjang segala abad yang memiliki kuasa dan iman semacam dirinya, serta menikmati hubungan 

yang demikian intim dengan Yehovah?  

Pada zaman modern, penemuan catatan-catatan kuno seperti Surat-surat dari Amarna, sastra Ugarit 

(atau Ras Shamra) dan lempengan-lempengan tanah liat dari Mesopotamia (Mari dan Nuzu) telah 

memungkinkan para sarjana menyusun ulang latar belakang sejarah dan budaya dari kisah Alkitab dan 

menemukan bagaimana bentuk kehidupan di Mesir, Palestina dan Mesopotamia sepanjang masa 

Alkitab. Sangat mungkin banyak peninggalan lisan dan tertulis, yang menjangkau balik jauh ke masa 

kuno, tersedia bagi sarjana Ibrani terkemuka ini , yang pendidikannya di Mesir dan pendidikan 

lanjutnya di wilayah gunung Sinai telah menjadikan dirinya memahami berbagai gerakan dunia yang 

penting. Menurut tradisi Yahudi, saat  ahli Taurat yang terkemuka, Ezra, kembali ke Yerusalem dari 

Babel dengan membawa beberapa  naskah Perjanjian Lama berbahasa Ibrani, dia mulai bekerja dengan 

sangat giat untuk memelihara, menyalin dan menyunting naskah-naskah kuno yang ada padanya itu. 

Jika seseorang berharap untuk menemukan di dalam Kitab Kejadian kisah ilmiah tentang bagaimana 

dunia dijadikan dengan segala pertanyaan mengenai kehidupan primitif terjawab dalam bahasan 

teknis keilmuan yang dikenal guru besar atau peneliti ilmiah, dia akan kecewa. Kitab Kejadian bukan 

merupakan usaha untuk menggumuli atau menjawab masalah-masalah teknis ilmiah. Kitab ini 

membicarakan soal-soal yang jauh melampaui bidang ilmu. Penulis berusaha untuk memperkenalkan 

kita dengan Allah abadi serta menunjukkan makna kudus dari diri, maksud dan sikap Allah terhadap 

makhluk-makhluk ciptaan-Nya sementara Ia melaksanakan kehendak-Nya yang kudus. Kitab yang 

sangat menonjol kedalaman dan keunggulan moralnya, martabat dan kemegahannya ini, melukiskan 

Allah abadi yang berkarya menyiapkan sebuah tempat di mana makhluk-makhluk kesayangannya bisa 

hidup dan bertumbuh serta memancarkan kemuliaan ilahi.  

 

Nama Keluaran diterjemahkan dari bahasa Inggris, Exodus, yang merupakan transliterasi dari 

Septuaginta dan sampai kepada kita melalui Vulgata Latin. Di dalam bahasa Yunani, kata ini  

berarti "keberangkatan" atau "kepergian." Judul Ibrani bagi kitab ini merupakan frasa pertamanya, 

"Inilah nama," atau sering langsung "Nama-nama" begitu saja. Sebagai nama yang melukiskan isi 

kitab ini, Keluaran tidak memuaskan sebab kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir hanya 

menghabiskan tidak sampai setengah bagian kitab ini.  

Alkitab menyebutkan bahwa penulis Kitab Keluaran ini, bersama dengan empat kitab lainnya dalam 

Pentateukh, yaitu  Musa. Penelitian Alkitab dari segi sejarah dan sastra telah menjadikan kitab-kitab 

ini suatu himpunan naskah yang ditulis oleh beberapa orang penulis sejak abad ke-9 hingga abad ke-5 

sM. Pandangan radikal yang menolak bahwa Musa ikut menulis sebagian dari kitab-kitab ini tidak 

dianut luas lagi saat ini seperti halnya satu angkatan yang lalu. Sekalipun masih banyak sarjana liberal 

yang mempertanyakan soal kepenulisan Pentateukh oleh Musa, berbagai penemuan arkeologis telah 

membuat para pakar dari latar belakang teologis menghargai lebih tinggi kesejarahan dari peristiwa-

peristiwa yang dikisahkan.  

Keluaran membahas kisah bangsa Israel mulai dari tempat di mana Kitab Kejadian berhenti. Kurun 

waktu yang panjang di antara Yusuf dan Musa dikemukakan dalam dua ayat ringkas (Kel 1:6,7*), dan 

kemudian diuraikan situasi yang sama sekali baru dari keturunan Yakub. Tamu-tamu istimewa Firaun 

dan Yusuf telah menjadi bangsa budak, sasaran dari ketakutan dan kebencian para penguasa mereka. 

saat  Firaun berusaha mengendalikan bangsa Ibrani itu melalui penindasan yang keji, Allah 

bertindak untuk melepaskan mereka. Sang pembebas, Musa, lebih dahulu dipersiapkan dan baru 

kemudian, dengan kuasa Allah, pembebasan yang terkenal itu berlangsung. Meskipun demikian, 

penebusan dari cengkeraman Mesir, bukan sekadar pembebasan dari perbudakan saja. Allah 

membawa Israel keluar dari Mesir agar Dia dapat membawa mereka, selaku bangsa yang dipersiapkan 

sendiri oleh-Nya, ke Negeri Yang Dijanjikan. Jadi, tema utama dari Keluaran, bukan sekadar tindakan 

penebusan yang luar biasa oleh Allah, melainkan juga pengadopsian dan peresmian Israel selaku umat 

Allah. E. E. Flack mengatakan, "Keluaran tidak diragukan lagi merupakan kitab paling penting yang 

pernah ada yang membahas berdirinya sebuah bangsa" ("Interpretation of Exodus," Interpretation, 

Jan. 1949). "Seluruh sejarah atau filsafat sejarah Ibrani sesudah ini sebagaimana tercermin di dalam 

kitab nabi-nabi melihat balik ke peristiwa Keluaran sebagai tindakan kreatif Allah yang menciptakan 

berdirinya bangsa Ibrani" 

Tanggal terjadinya peristiwa Keluaran merupakan persoalan bagi para peneliti selama berabad-abad, 

dan dengan adanya berbagai penemuan arkeologi modern, hangatnya perdebatan malah makin 

meningkat, sekalipun fakta sejarah tetap agak suram. Tanggalnya yang sudah ditentukan yaitu  paling 

cepat 1580 sM sedang  paling lambat yaitu  1230 sM. sebab  Alkitab hampir tidak memberi  

masukan untuk menyusun sebuah kronologi, hendaknya diingat bahwa tanggal yang ditetapkan untuk 

peristiwa Keluaran bukan merupakan masalah doktrin, melainkan hanya informasi sejarah. Secara 

umum dianggap bahwa orang Israel masuk ke Mesir saat  keponakan Semit mereka, orang Hiksos, 

sedang berkuasa, mungkin sekitar 1700 sM. Jika mereka tinggal di Mesir selama 430 tahun (Kel 

12:40*), maka tanggal kepergian mereka pastilah sekitar tahun 1270 sM. Sebagian besar bukti 

arkeologi yang kita miliki tampaknya menunjuk kepada sebuah tanggal tertentu pada abad ketiga 

Page 4 of 130

belas. Pembangunan Pitom dan Raamses (Kel 1:11*), yaitu Rameses Agung, memerintah pada saat 

itu. Data yang dikemukakan oleh arkeologi bagi kejatuhan beberapa  besar kota kerajaan di Kanaan, 

dari Lakhis hingga Hazor, juga yaitu  abad ketiga belas. Penelitian Nelson Glueck di wilayah 

Transyordan dan gurun Negeb telah menemukan kenyataan bahwa bangsa-bangsa Moab, Amon, 

Edom dan Amori tidak tinggal di wilayah ini  dan siap untuk menentang kemajuan Israel sebelum 

abad ketiga belas (bdg. The Other Side of Jordan dan Rivers in the Desert). Kesulitan utama untuk 

menemukan tanggal terjadinya peristiwa Keluaran pada abad ketiga belas dijumpai di 1Raj 6:1*. Di 

situ dikemukakan bahwa Bait Suci mulai dibangun 480 tahun sesudah peristiwa Keluaran, yaitu pada 

tahun keempat pemerintahan Salomo. Tahun keempat pemerintahan Salomo yaitu  sekitar tahun 960 

sM sehingga rupanya peristiwa Keluaran terjadi pada tahun 1440 sM; dan tanggal ini bukan hanya 

bertentangan dengan bukti arkeologi, namun juga dengan tanggal yang didapat dari Kel 12:40*. Telah 

diusulkan pemecahan dengan menganggap tahun-tahun dari 1Raj 6* sebagai berarti dua belas 

angkatan, waktu sesungguhnya tidak lebih daripada tiga ratus tahun. Sekalipun demikian, kenyataan 

bahwa tanggal terjadinya peristiwa Keluaran tidak dapat ditentukan tidak mengurangi kesejarahan 

kitab ini maupun berita utamanya tentang penebusan oleh Allah.  

 


KELUARAN 

 

I. PEMBEBASAN ISRAEL (KEL 1:1-18:27) 

 

A. Pendahuluan (Kel 1:1-7) 

B. Perbudakan di Mesir (Kel 1:8-22) 

C. Pembebas Dipersiapkan (Kel 2:1-4:31) 

1. Kelahiran dan Terpeliharanya Musa (Kel 2:1-25) 

2. Panggilan dan Penugasan Musa (Kel 3:1-4:31) 

D. Tugas Musa kepada Firaun (Kel 5:1-7:7) 

1. Pemunculan Musa Pertama di Hadapan Firaun (Kel 5:1-23) 

2. Janji dan Perintah Yehovah Dibaharui (Kel 6:2-14) 

3. Musa Diutus untuk Kembali Menghadap Firaun (Kel 6:29-7:7) 

E. Keajaiban-keajaiban Allah di Mesir (Kel 7:8-11:10) 

1. Penugasan Ilahi Musa dan Harun Diuji (Kel 7:8-15) 

2. Tulah Pertama-Air Menjadi Darah (Kel 7:14-25) 

3. Tulah Kedua-Katak (Kel 8:1-15) 

4. Tulah Ketiga-Nyamuk (Kel 8:16-19) 

5. Tulah Keempat-Lalat Pikat (Kel 8:20-32) 

6. Tulah Kelima-Sampar pada Ternak (Kel 9:1-7) 

7. Tulah Keenam-Barah (Kel 9:8-12) 

8. Tulah Ketujuh-Hujan Es (Kel 9:13-35) 

9. Tulah Kedelapan-Belalang (Kel 10:1-20) 

10. Pengumuman Tulah Terakhir (Kel 11:1-10) 

F. Paskah dan Kepergian Israel (Kel 12:1-15:21) 

1. Penyucian Israel (Kel 12:1-28) 

2. Tulah Kesepuluh-Hukuman Allah Atas Mesir (Kel 12:29-36) 

3. Keluar dari Mesir (Kel 12:37-15:21) 

a. Kepergian Israel (Kel 12:37-42) 

b. Peraturan-peraturan Selanjutnya untuk Paskah (Kel 12:43-51) 

c. Pengudusan Anak Sulung (Kel 13:1-16) 

d. Melewati Laut Kolsom (Kel 13:17-14:31) 

e. Nyanyian Musa (Kel 15:1-21) 

f. Israel di Padang Gurun (Kel 15:22-18:27) 

 

II. ISRAEL DI SINAI (KEL 19:1-40:38) 

 

A. Peresmian Perjanjian di Sinai (Kel 19:1-24:11) 

B. Aneka Petunjuk untuk Kemah Suci dan Imam (Kel 24:12-31:18) 

C. Perjanjian Dilanggar dan Dipulihkan (Kel 32:1-34:35) 

D. Pembangunan Tempat Ibadah (Kel 35:1-39:43) 

E. Pendirian dan Penyucian Kemah Suci (Kel 40:1-38) 

 

 

Imamat merupakan judul terjemahan dari bahasa Inggris Leviticus. Judul bahasa Inggris ini  

berasal dari judul dalam Vulgata Latin, Leviticus yang berasal dari kata Levitikon, "mengenai orang-

orang Lewi," judul yang ada  di LXX. Bagi orang Yahudi kitab ini dikenal melalui kata 

pertamanya, wayyigrã, "Dan Dia memanggil," sesuai dengan kebiasaan. orang Yahudi yang 

memberi  nama kepada banyak kitab Perjanjian Lama menurut kata atau kelompok kata 

pertamanya. Pemakaian kata "Dan" pada awal dari kitab ini tidak berarti bahwa isi dari kitab ini 

merupakan lampiran dari sebuah kitab lainnya. Pokok pembahasan dari Kitab Keluaran dilanjutkan, 

namun kitab ini merupakan kesatuan yang berdiri sendiri. Dalam hal ini, perhatikan bahwa beberapa 

kitab Perjanjian Lama lainnya diawali dengan "Dan" dalam teks Ibraninya, misalnya: Keluaran, 

Bilangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut.  

 

Kitab Imamat menyajikan rencana Allah untuk mengajar umat pilihan-Nya bagaimana menghampiri 

Dia dengan cara yang kudus. Penekanan khusus diberikan kepada tugas keimaman untuk menjadikan 

pendekatan kepada Allah ini penuh hormat dan kudus. Dengan demikian kitab ini membahas jabatan 

imam atau "jabatan orang Lewi," yang ayat acuannya kita jumpai dalam Ibr 7:11* di mana dipakai 

istilah "imamat Lewi."  

 

TANGGAL PENULISAN DAN KEPENULISANNYA 

 

"Mereka juga menempatkan para imam pada golongan-golongannya dan orang-orang Lewi pada 

rombongan-rombongannya untuk melakukan ibadah kepada Allah yang diam di Yerusalem, sesuai 

dengan yang ada tertulis dalam kitab Musa" (Ezr 6:18*).  

 

Ezra sang penyalin mengacu kepada gulungan Imamat waktu melukiskan sumber yang dipakai pada 

zamannya untuk menentukan prosedur yang tepat waktu mendedikasikan Bait Allah yang dibangun 

kembali itu. Kitab Imamat sendiri secara berkesinambungan menekankan peranan Musa dalam 

mencatat peraturan-peraturan yang diberikan kepadanya oleh Allah untuk ibadah yang benar di dalam 

upacara-upacara di Kemah Suci. Kenyataan bahwa tentu sudah harus ada peraturan-peraturan sebelum 

bisa ada ibadah yang teratur oleh para imam dan bangsa itu mengharuskan adanya kekuatan 

pengendali yang sentral dan waktu yang telah ditentukan. Kita dapat memahami kenyataan ini secara 

paling baik di dalam peranan Musa dalam meresmikan ibadah di Kemah Suci. Bangsa-bangsa pada 

zaman Musa telah memiliki berbagai tata ibadah yang pasti dan rinci jauh sebelum dia tampil. Kita 

tidak perlu beranggapan bahwa berbagai tata ibadah untuk penyembahan Yehovah yang sudah pasti 

ini merupakan sebuah hasil evolusi bertahap atau bahwa catatan dalam Kitab Imamat merupakan 

penemuan yang belakangan yaitu pada zaman Ezra.  

 

BAHAN LATAR BELAKANG. 

 

Bentuk yang sangat sederhana dari Kitab Imamat telah memusingkan para kritikus. Beberapa di 

antara mereka melihat bagian kedua (ps. 17-27), yang menguraikan dasar-dasar manusia untuk 

bersekutu dengan Allah, sebagai tambahan yang belakangan dari sebuah "Kitab Kekudusan." 

Sekalipun demikian, pergeseran penekanan saja sudah bisa menjelaskan perbedaan antara kedua 

bagian utama kitab ini.  

 

Orang bisa saja mengatakan bahwa Kitab Imamat disampaikan kepada kita melalui Musa untuk 

mengantisipasi "kurban abadi" itu-Yesus Kristus-dari Perjanjian Baru. Kitab Ibrani menyajikan 

gambaran ini dalam Perjanjian Baru, dan Kitab Imamat menyediakan latar belakang bagi aspek-aspek 

Page 7 of 130

yang lebih penting tentang "imam menurut peraturan Melkisedek." Sesungguhnya, studi tentang Kitab 

Imamat memiliki nilai abadi hanya bila studi itu menunjuk kepada Yesus Kristus-Imam Besar kita.  

 

 

 

IMAMAT 

 


.I BAGAIMANA ORANG MENGHAMPIRI ALLAH (IM 1:1-16:34) 

 

A. Hukum-hukum tentang Kurban (Im 1:1-7:38) 

1. Peraturan-peraturan Umum (Im 1:1-6:7) 

a. Pendahuluan (Im 1:1,2) 

b. Kurban Bakaran (Im 1:3-17) 

c. Kurban Sajian (Im 2:1-16) 

d. Kurban Keselamatan (Im 3:1-17) 

e. Kurban Penghapus Dosa (Im 4:1-5:13) 

f. Kurban Penebus Salah (Im 5:14-6:7) 

2. Peraturan-peraturan Lebih Terinci Mengenai Berbagai Persembahan Kurban Ini (Im 6:8-

7:38) 

B. Kesaksian Sejarah (Im 8:1-10:20) 

1. Permulaan Persembahan Kurban (Im 8:1-36) 

2. saat  Pertama Kali Dipersembahkan (Im 9:1-24) 

3. Penyalahgunaan Persembahan oleh Nadab dan Abihu (Im 10:1-20) 

C. Hukum-hukum Kesucian (Im 11:1-15:33) 

1. Yang Boleh Dimakan atau Disentuh (Im 11:1-47) 

2. Melahirkan Anak (Im 12:1-8) 

3. Kusta (Im 13:1-14:57) 

4. Kesucian Seksual (Im 15:1-33) 

D. Hari Pendamaian (Im 16:1-34) 

 

.II BAGAIMANA ORANG MEMELIHARA HUBUNGAN DENGAN ALLAH  

(IM 17:1-27:34*) 

 

A. Kekudusan Bangsa Itu (Im 17:1-20:27) 

1. Berkenaan dengan Makanan (Im 17:1-16) 

2. Berkenaan dengan Pernikahan (Im 18:1-30) 

3. Berkenaan dengan Tatanan Sosial (Im 19:1-37) 

4. Hukuman untuk Ketidaktaatan (Im 20:1-27) 

B. Kekudusan Para Imam dan Persembahan Mereka (Im 21:1-22:33) 

C. Kekudusan Waktu (Im 23:1-25:55) 

1. Penggunaan Hari Secara Kudus (Im 23:1-44) 

2. Penggunaan Benda Secara Kudus (Im 24:1-23) 

3. Penggunaan Tahun Secara Kudus (Im 25:1-55) 

D. Berbagai Janji dan Peringatan (Im 26:1-46) 

E. Pengucapan Nazar (Im 27:1-34) 

 

 


BILANGAN 

 

 

 

JUDUL DAN JANGKAUAN KITAB 

 

Di antara beberapa judul kuno dari kitab ini ada  satu judul yang dipakai dalam Alkitab Ibrani 

kita, yaitu bemidbar yang artinya "di padang gurun." Judul ini  diambil dari anak kalimat yang 

menonjol di baris pertama dan cukup jelas melukiskan seluruh isinya. Judul bahasa Inggrisnya berasal 

dari versi Septuaginta (LXX) yang melalui Vulgata Latin diperoleh judul Numbers. (Indonesia: 

Bilangan.) Hanya beberapa pasal saja (1-4; 26) yang membahas pembilangan (sensus), sedang  

sebagian besar kitab ini membahas hukum-hukum, ketetapan-ketetapan dan pengalaman Israel saat  

di padang gurun. Sekalipun demikian, kita tidak boleh meremehkan pentingnya dua sensus di dalam 

kitab ini, yang pertama diadakan di Sinai sebagai persiapan untuk pengembaraan di padang gurun, 

sedang  satunya dilaksanakan dekat Sungai Yordan, hampir empat puluh tahun kemudian, sebagai 

persiapan untuk memasuki negeri yang dijanjikan. Dapat dikatakan bahwa kedua sensus ini  

memisahkan kitab ini menjadi dua bagian. Jadi pasal Bil 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9; 10; 11; 12; 13; 14; 

15; 16; 17; 18; 19; 20; 21* diawali dengan sensus pertama dan membahas pengalaman Israel selama 

di padang gurun, sedang  pasal Bil 22; 23; 24; 25; 26; 27; 28; 29; 30; 31; 32; 33; 34; 35; 36* 

diawali dengan sensus angkatan yang baru dan mengisahkan peristiwa pada bulan-bulan sebelum 

mereka memasuki Kanaan. Kisah Bileam yang memisahkan dua bagian ini merupakan engsel 

(penghubung) sastra yang akan kita bahas nanti.  

 

Bilangan tidak dapat dipelajari terlepas dari Keluaran, Imamat dan Ulangan. Sebagai contoh, Kel 

19:1* mengisahkan tibanya Israel di padang gurun Sinai pada bulan ketiga sesudah orang Israel 

meninggalkan Mesir. Dari bulan ketiga hingga bulan kedua belas mereka menerima Dasa Titah, 

perintah dan petunjuk untuk mendirikan Kemah Suci, dan berbagai perintah tentang sistem 

mempersembahkan kurban yang dikemukakan di dalam Imamat. Di dalam Bilangan, bangsa Israel 

memperoleh pelajaran tentang hidup sebagai suatu perhimpunan. Sistem keagamaan, sipil dan militer 

mereka diatur sebagai persiapan bagi mereka dalam melakukan perjalanan, ibadah dan penaklukan 

sebagai satu bangsa.  

 

beberapa  hukum dan peraturan yang melengkapi rincian-rincian legal dan seremonial dari Keluaran 

dan Imamat disisipkan dalam kitab ini. Tanggal paling dini yang disebutkan kitab ini ialah dalam Bil 

9:1* yang mencatat bahwa pada bulan pertama dari tahun kedua bangsa itu diberi peraturan untuk 

melaksanakan peringatan Paskah yang pertama. Bil 1:1,2* menyebutkan bahwa Israel, saat  berada 

di Sinai, melakukan sensus pada bulan kedua dari tahun kedua dan menerima perintah-perintah 

tambahan yang sebagian besar menyangkut upacara agamawi (ps. 5-10) dan sesudah itu 

meninggalkan Sinai pada tanggal dua puluh bulan kedua pada awal tahun kedua sesudah keluar dari 

Mesir (Bil 10:11*). Jadi, Bilangan mengisahkan sejarah gerakan Israel sejak lima belas hari terakhir 

di Sinai (Bil 1:1; 10:1*) hingga mereka sampai di dataran Moab, sebelah timur Yordan, pada tahun 

keempat puluh (Bil 22:1; 26:3; 33:50*).  

 

Urutan peristiwa yang dikisahkan dalam Kitab Bilangan yaitu : Dari Sinai Israel mengembara ke 

utara memasuki padang gurun Paran. Di sana, para pengintai yang membawa pulang "kabar busuk" 

menimbulkan pemberontakan dan bangsa itu tidak bersedia masuk ke Kanaan. Akibat pemahaman 

yang bodoh, mereka menderita kekalahan di tangan bangsa kafir dan disuruh mengembara kembali di 

padang gurun sepanjang tiga puluh delapan tahun lagi. Pada akhir periode ini mereka pergi ke dataran 

Moab, di sebelah timur Yordan, dan mengalahkan serta menduduki seluruh wilayah Trans-Yordan di 

utara Sungai Arnon. Di sini mereka terjerumus ke dalam dosa dengan para wanita  Moab dan 

Midian serta menyembah dewa-dewa mereka. Israel, kini generasi baru, dihitung lagi, dan atas 

perintah Allah mereka kemudian menghancurkan orang Midian yang telah demikian mengusik 

mereka. Gad, Ruben dan setengah suku Manasye diberi tanah di tepi timur Sungai Yordan, dan Musa 

Page 9 of 130

mengangkat Yosua sebagai penggantinya. Dari pasal Bil 20* hingga pasal Bil 36* kitab ini membahas 

rangkaian peristiwa pada tahun keempat puluh (Bil 36:13*). Banyaknya hukum dan peraturan 

menjadikan bagian ini memiliki banyak kesamaan dengan Kitab Ulangan.  

 

 

 

G. B. Gray mengemukakan pandangan beberapa  peneliti Alkitab dari segi sejarah dan sastra saat  ia 

mengatakan tentang Kitab Bilangan, "Banyak yang dikisahkan di sini tentang zaman Musa dapat 

dibuktikan sebagai tidak menurut sejarah… (ICC, hlm. ilii). Sekalipun demikian, dia mengakui bahwa 

beberapa persoalan yang dikemukakan "tidak bertentangan dengan fakta-fakta dan kondisi sejarah." 

Dalam usaha untuk menerangkan Kitab Bilangan tanpa mengakui bahwa Musa menulisnya, banyak 

ahli mengemukakan bahwa kitab ini merupakan perpaduan beberapa dokumen. Menurut para ahli itu 

sebagian besar dari Kitab Bilangan berasal dari dokumen P (Priestly; para imam), yang menurut 

mereka tidak ditulis sebelum abad keenam atau kelima sM, terutama oleh para imam zaman pasca-

pembuangan. Mereka berpendapat bahwa sebagian dari Kitab Bilangan berasal dari dokumen "J" dan 

"E," dua buah dokumen yang tidak lebih tua dari abad kesembilan dan kedelapan sM. Bahkan 

dokumen-dokumen yang lebih dini ini, menurut mereka, berjarak demikian jauh dari zaman Musa dan 

tradisi-tradisinya demikian kacau sehingga hampir tidak mengisahkan apa-apa tentang zaman Musa.  

 

Pandangan itu membuat kita berhadapan dengan kitab yang ditulis lebih daripada lima ratus tahun 

atau lebih sejak kejadian sesungguhnya oleh berbagai penulis, penyunting dan penyusun yang 

berbeda. Kitab Bilangan, menurut para peneliti itu, "tidak memiliki kesatuan ungkapan religius" dan 

"mustahil untuk merangkum pengertian-pengertian dasarnya atau untuk menunjukkan nilai religius 

dari kitab ini sebab hal-hal itu berbeda-beda di tiap bagiannya" (ibid;  hlm. xlvii). Alasan-alasan 

pokok yang dikemukakan Gray dan lain-lain untuk mendukung hipotesis dokumenter tentang asal-

usul dari Pentateukh ini tidak lagi dianggap sahih oleh para sarjana teori sumber yang paling 

terkemuka. E. E. Flack di dalam Interpretation (1959, XIII, hlm. 6) mengatakan, "Kecenderungan 

dalam pemikiran mutakhir ialah mengenali bahan-bahan dini di dalam Pentateukh dan berusaha untuk 

mencari suatu pemecahan yang lebih memuaskan bagi masalah struktur penulisannya ketimbang yang 

diberikan oleh teori dokumenter itu" (lih. juga B. D. Eerdmans, Oudtestamenttische Studien, Bag. VI, 

1949). C. H. Gordon di dalam artikelnya Homer and the Bible (Hebrew Union College Annual, vol 

XXVI, 1955) mengemukakan bahwa "naskah-naskah yang baru ditemukan menunjukkan bahwa 

banyak bahan yang dianggap berasal dari dokumen ‘P’ ternyata sangat dini, bahkan pra Musa." Di 

sini Gordon menuduh para penganut pandangan dokumenter ini sebagai memberi  tanggal hipotesis 

kepada strata (dokumen) hipotesis dan menyebutnya penelitian "sejarah." Sekalipun demikian, 

berbagai kecenderungan mutakhir di kalangan akademis belum menghasilkan penerimaan umum 

terhadap klaim-klaim yang dikemukakan kitab ini (sebanyak delapan puluh kali atau lebih) bahwa 

"Tuhan berfirman kepada Musa" atau bahwa "Musa menuliskan perjalanan mereka…" (Bil 33:2*). 

Orang harus bertanya apakah para penipu yang suka memamerkan kesucian mereka menyisipkan 

kata-kata "Tuhan berfirman kepada Musa" agar tulisan mereka kedengarannya memiliki otoritas. 

Pakar ilmu purbakala terkemuka, W. F. Albright, menunjukkan bahwa penipu yang suka 

memamerkan kesucian dan pseudepigrafi tidak umum di dunia Timur pra-Helenistik.  

 

Sesungguhnya, penemuan ilmu purbakala modern telah memaksa beberapa  sarjana mengubah sikap 

mereka mengenai asal-usul sebagian besar bahan dalam Kitab Bilangan. Banyak arkeolog modern 

yang kompeten bahkan bergantung pada acuan geografis di dalam Pentateukh untuk menuntun 

penggalian mereka. Pada tahun 1959, Nelson Glueck, sesudah keberhasilan penggalian selama 

bertahun-tahun di negeri Alkitab, saat  berbicara tentang "memori sejarah" yang menakjubkan dari 

Alkitab, mengatakan, "Dapat dinyatakan secara pasti bahwa tidak ada penemuan purbakala yang 

pernah bertentangan dengan acuan Alkitab" (Rivers in the Desert, hlm. 31).  

 

Kitab Bilangan, bersama dengan kitab-kitab lain dalam Pentateukh, sudah lama memperhadapkan 

para sarjana dengan masalah-masalah yang sulit. Namun banyak persoalan telah berhasil dipecahkan 

Page 10 of 130

berdasar  data tambahan yang baru saja ditemukan. Sebuah contoh yang bagus ada  di dalam 

tafsiran atas Bil 34:15*. Pendekatan kritikus terhadap Alkitab sering kali negatif dan merusak, sebab 

dia mulai dengan menolak unsur adikodratinya. Kita harus melihat teks Kitab Bilangan dengan sikap 

positif dan dengan percaya pada hal-hal yang adikodrati. Kita bisa saja kritis terhadap nas dan 

mengetahui berbagai kesulitan di dalamnya tanpa menutup pikiran kita terhadap makna 

sesungguhnya. Di dalam hal-hal yang melibatkan unsur adikodrati, kita harus mencari arti yang paling 

jelas menurut metode penafsiran yang berdasar  teknik-teknik ahli sejarah dan ahli tata bahasa. Jika 

Alkitab mengatakan bahwa ada campur tangan adikodrati, kita harus menerima itu sebagaimana 

adanya. Di mana Alkitab tidak menyebutkan demikian, kita tidak perlu memaksakan makna 

adikodrati ke dalam nas ini ; sebab penempatan hal yang adikodrati itu dimaksudkan sebagai 

perbuatan yang luar biasa dan bukan perbuatan yang biasa. Dengan demikian, apa yang dipahami 

seseorang mengenai asal usul Kitab Bilangan tergantung pada filsafat yang sudah dianut sebelumnya. 

Jika filsafat dasarnya bersifat naturalistis, dia akan berkesimpulan bahwa kitab yang adikodrati pasti 

merupakan kecurangan dan khayalan. Namun jika seseorang percaya bahwa Sang Wujud Tertinggi 

bisa saja campur tangan di dalam kehidupan umat manusia, dia tidak akan menemui kesulitan untuk 

memahami keluarnya Israel dari Mesir sebagai suatu peristiwa adikodrati.  

 

Sekalipun demikian, kita juga harus mengetahui bahwa ada sistem pengaturan hal yang adikodrati itu. 

Musa tidak selalu mengadakan mukjizat, Allah juga tidak mendiktekan setiap kata dari nas yang 

diilhamkan oleh-Nya. Sang nabi tidak diragukan lagi memanfaatkan jasa banyak juru tulis (bdg. Bil 

11:16,25*) yang menjelaskan pemakaian kata ganti orang ketiga. Allah secara langsung menyatakan 

sebagian kitab itu kepada Musa, termasuk peraturan untuk tinggal menetap di negeri yang dijanjikan 

dan rincian prosedur upacara keagamaan. Namun di sisi lain, Musa dan para juru tulisnya mungkin 

memiliki beberapa  dokumen dan banyak tradisi lisan. Roh Allah mencegah mereka berbuat salah 

dalam hal fakta, doktrin atau keputusan. Kisah Bileam dan Balak (ps. 22-24) merupakan satu-satunya 

bagian dalam kitab ini yang tidak secara jelas dihubungkan dengan Musa dan yang di dalamnya Musa 

tidak disebut.  

 

 

BILANGAN 

  

 

 

BAGIAN PERTAMA: ISRAEL DI PADANG GURUN (BIL 1:1-21:35) 

 

I. SENSUS PERTAMA DI PADANG GURUN SINAI (BIL 1:1-4:49) 

A. Sensus Pasukan Tempur Israel (Bil 1:1-54) 

B. Pengaturan Kemah (Bil 2:1-34) 

C. Fungsi Imamat Putra-putra Harun (Bil 3:1-4) 

D. Tugas dan Sensus Suku Lewi (Bil 3:5-39) 

E. Sensus Laki-laki Sulung (Bil 3:40-51) 

F. Sensus Angkatan Kerja Suku Lewi dan Tugas Mereka (Bil 4:1-49) 

II. GULUNGAN IMAMAT PERTAMA (BIL 5:1-10:10) 

A. Pemisahan Orang yang Najis (Bil 5:1-4) 

B. Kompensasi Untuk Pelanggaran dan Honor Imam (Bil 5:5-10) 

C. Pengadilan Terhadap Kecemburuan (Bil 5:11-31) 

D. Hukum Orang Bernazar (Bil 6:1-21) 

E. Berkat Imam (Bil 6:22-27) 

F. Persembahan Pemimpin Suku (Bil 7:1-89) 

G. Kandil Emas (Bil 8:1-4) 

H. Peringatan Paskah yang Pertama dan Perayaan Paskah Tambahan yang Pertama (Bil 9:1-14) 

I. Awan Menutupi Kemah Suci (Bil 9:15-23) 

J. Dua Nafiri Perak (Bil 10:1-10) 

.III DARI PADANG GURUN SINAI KE PADANG GURUN PARAN (BIL 10:11-14:45*; BDG. 

BIL 10:12; 13:26) 

A. Meninggalkan Sinai (Bil 10:1-36) 

1. Perintah Untuk Berangkat (Bil 10:11-28) 

2. Hobab Diundang Menjadi Penunjuk Jalan (Bil 10:29-32) 

3. Tabut Perjanjian (Bil 10:33-36) 

B. Tabera dan Kibrot-Taawa (Bil 11:1-35) 

1. Tabera (Bil 11:1-3) 

2. Mana Disediakan (Bil 11:4-9) 

3. Tujuh Puluh Tua-tua Musa Sebagai Pejabat (Bil 11:10-30) 

4. Hukuman Dengan Burung Puyuh di Kibrot-Taawa (Bil 11:31-35) 

C. Pemberontakan Miryam dan Harun (Bil 12:1-16) 

D. Kisah Tentang Pengintai (Bil 13:1-14:45) 

1. Para Pengintai, Tugas dan Laporan Mereka (Bil 13:1-33) 

2. Umat Itu Patah Semangat dan Memberontak (Bil 14:1-10) 

3. Syafaat Musa (Bil 14:11-39) 

4. Usaha Menyerbu Horma yang Sia-sia (Bil 14:40-45) 

.IV GULUNGAN IMAMAT KEDUA (BIL 15:1-19:22) 

A. Rincian Upacara Agama (Bil 15:1-41) 

1. Jumlah Kurban Sajian dan Kurban Api-apian (Bil 15:1-16) 

2. Persembahan Kue Hasil Panen Pertama (Bil 15:17-21) 

3. Kurban Penghapusan Dosa yang Tidak Disengaja (Bil 15:22-31) 

4. Hukuman Bagi Pelanggar Sabat (Bil 15:32-36) 

5. Jumbai-jumbai (Bil 15:37-41) 

B. Pemberontakan Korah, Datan dan Abiram (Bil 16:1-35) 

C. Rangkaian Peristiwa yang Membenarkan Imamat Harun (Bil 16:36-17:13) 

D. Berbagai Tugas dan Penghasilan Imam dan Orang Lewi (Bil 18:1-32) 

E. Air Pentahiran Bagi Orang yang Najis sebab  Kena Mayat (Bil 19:1-22) 


.V DARI PADANG GURUN ZIN HINGGA PADANG RUMPUT MOAB (BIL 20:1-22:1) 

A. Padang Gurun Zin (Bil 20:1-21) 

1. Dosa Musa-sekitar Kadesy (Bil 20:1-13) 

B. Di Wilayah Gunung Hor (Bil 20:22-21:3) 

1. Kematian Harun (Bil 20:22-29) 

2. Arad Orang Kanaan Dikalahkan di Horma (Bil 21:1-3) 

C. Perjalanan Menuju Padang Rumput Moab (Bil 21:4-22:1) 

1. Pemberontakan Dalam Perjalanan Mengelilingi Edom (Bil 21:4-9) 

2. Tempat-tempat yang Dilewati saat  Meninggalkan Araba (Bil 21:10-20) 

3. Kekalahan Orang Amori (Bil 21:21-32) 

4. Kekalahan Og, Raja Basan (Bil 21:33-35) 

5. Tiba Di Dataran Moab (Bil 22:1) 

 

BAGIAN KEDUA: PERSEKONGKOLAN ASING MENENTANG ISRAEL (BIL 22:2-25:18) 

 

I. KEGAGALAN BALAK UNTUK MEMBUAT TUHAN MEMUSUHI ISRAEL (BIL 22:2-

24:25) 

A. Balak Memanggil Bileam (Bil 22:2-40) 

B. Nubuat-nubuat Bileam (Bil 22:41-24:25) 

II. KEBERHASILAN BALAK DALAM MEMBUAT ISRAEL BERPALING DARI TUHAN 

(BIL 25:1-18) 

A. Dosa di Baal-Peor (Bil 25:1-5) 

B. Semangat Pinehas (Bil 25:6-18) 

 

BAGIAN KETIGA: PERSIAPAN UNTUK MEMASUKI NEGERI YANG DIJANJIKAN (BIL 

26:1-36:13) 

 

I. SENSUS KEDUA DI DATARAN MOAB (BIL 26:1-65) 

II. HUKUM WARISAN (BIL 27:1-11) 

III. PENGANGKATAN PENGGANTL MUSA (BIL 27:12-23) 

IV. GULUNGAN IMAMAT KETIGA (BIL 28:1-29:40) 

A. Pendahuluan (Bil 28:1,2*) 

B. Persembahan-persembahan Harian (Bil 28:3-8) 

C. Persembahan-persembahan Sabat (Bil 28:9,10) 

D. Persembahan-persembahan Bulanan (Bil 28:11-15) 

E. Persembahan-persembahan Tahunan (Bil 28:16-29:40) 

1. Perayaan Roti Tidak Beragi (#/TB Bil 28:1b-25) 

2. Perayaan Tujuh Minggu (Bil 28:26-31) 

3. Perayaan Nafiri (Bil 29:1-6) 

4. Hari Pendamaian (Bil 29:7-11) 

5. Perayaan Pondok Daun (Bil 29:12-40) 

V. KEABSAHAN NAZAR wanita  (BIL 30:1-16) 

VI. PERTEMPURAN DENGAN BANGSA MIDIAN (BIL 31:1-54) 

A. Kehancuran Bangsa Midian (Bil 31:1-18) 

B. Pentahiran Para Prajurit Perang (Bil 31:19-24) 

C. Membagi Hasil Rampasan Perang (Bil 31:25-54) 

VII. DUA SETENGAH SUKU MENETAP DI TRANS-YORDAN (BIL 32:1-42) 

A. Tanggapan Musa Terhadap Permohonan Gad dan Ruben (Bil 32:1-33) 

B. Kota-kota yang Dibangun Kembali Oleh Gad dan Ruben (Bil 32:34-38) 

C. Gilead Diduduki Oleh Suku Manasye (Bil 32:39-42) 

 

VIII. RUTE DARI MESIR KE YORDAN (BIL 33:1-49) 

IX. PERINTAH-PERINTAH MENGENAI TINGGAL MENETAP DI KANAAN (BIL 33:50-

35:34) 

A. Pengusiran Penduduk, Pembuatan Batas, Pembagian Tanah (Bil 33:50-34:29) 

B. Kota-kota Suku Lewi & Kota-kota Perlindungan (Bil 35:1-34) 

X. PERNIKAHAN AHLI WARIS wanita  (BIL 36:1-13) 

 

 

ULANGAN 

  


Judul kitab ini merupakan terjemahan dari judul bahasa Inggrisnya yang tampaknya berlandaskan 

pada sebuah kesalahan terjemahan atas frasa, "salinan hukum ini" (Ul 17:18) menjadi to 

deuterononiion touto ("hukum yang kedua ini") oleh LXX. Judul Ibrani aslinya ialah devdrina, 

"perkataan-perkataan," yang berasal dari kebiasaan memakai kata(-kata) pembukaan sebuah kitab 

sebagai judulnya. Ulangan dibuka dengan pernyataan, "Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan 

Musa" (Ul 1:1a). sebab  perjanjian-perjanjian kuno antara kerajaan yang kalah perang dengan 

kerajaan yang mengalahkannya dimulai dengan cara persis ini, judul Ibrani ini mengarahkan perhatian 

kita pada salah satu petunjuk yang mengidentifikasi jenis penulisan kitab ini.  

 

TANGGAL DAN KEPENULISAN,  

 

Asal-usul kitab ini sangat penting dalam studi modem berdasar  sejarah dan sastra atas Pentateukh 

dan, sesungguhnya, dalam berbagai studi tentang jenis penulisan dan teologi Perjanjian Lama pada 

umumnya. Menurut Hipotesis Perkembangan yang lebih tua, Kitab Ulangan berasal dari abad ketujuh 

sM dan merupakan, kiasan bagi reformasi yang diadakan raja Yosia (bdg. 2Raj 22:3-23:25), yang 

diduga untuk sistem keagamaan yang terpusat (bdg. tafsiran Ul 12:4-14). Pandangan ini dengan 

berbagai perubahan tetap dipertahankan di kalangan kritikus yang negatif; namun sebagian menunjuk 

pada tanggal pasca-pembuangan, sedang  yang lain menelusuri pembuatan hukum dalam Kitab 

Ulangan ini hingga ke awal zaman kerajaan atau bahkan sebelum zaman kerajaan. Yang penting di 

dalam menentukan tanggal penulisan beberapa dokumen yang diduga dari Pentateukh ialah 

kecenderungan untuk menjelaskan pertentangan peraturan-peraturan di dalam kitab ini bukan dengan 

menggunakan evolusi kronologis yang panjang melainkan dengan menetapkan sumber-sumber 

geografis-kultus yang berbeda untuk peraturan-peraturan ini . Jadi Kitab Ulangan, khususnya, 

ditelusuri sampai ke sebuah tempat ibadah di Sikhem. Bukannya mengaitkan kitab ini dengan 

keempat Kitab Pentateukh sebelumnya, sebuah pendekatan modem berpikir tentang adanya 

Caturkitab dan sebuah tradisi penulisan Deuteronomis yang meliputi semua kitab dari Ulangan hingga 

II Raja-Raja.  

 

Kalangan sarjana Kristen ortodoks masa kini bergabung dengan kalangan Kristen yang lebih tua dan 

tradisi Yahudi dalam menerima pernyataan Kitab Ulangan sendiri bahwa kitab ini merupakan salam 

perpisahan dan nasihat seremonial terakhir dari Musa kepada jemaat Israel di dataran Moab. Dalam 

Ul 31:9* 2Raj 24* dikatakan bahwa Musa menulis dan juga mengucapkan "perkataan hukum Taurat 

itu". Seorang pejabat teokratis, sangat mungkin, telah melengkapi dokumen ini dengan mencatat 

kematian Musa (ps. 34) dan mungkin juga nyanyian kesaksian Musa (ps. 32) serta wasiatnya (ps. 33). 

Mungkin pejabat ini juga menambahkan beberapa unsur kerangka singkat tertentu ke dalam dokumen 

hukum ini.  

 

Kesatuan dan keaslian kitab ini sebagai hasil karya Musa dipastikan melalui kesesuaian yang 

mencolok dari struktur kitab ini dengan struktur jenis perjanjian yang dikeluarkan oleh penguasa 

dalam bentuk klasik pertengahan kedua seribu tahun sM. (Lihat keterangan lebih jauh di bawah dan 

pelajari Tafsiran untuk rinciannya. Lihat juga M. G. Kline, "Dynasty Covenant," WTJ, XXIII 


PERISTIWA HISTORIS 

 

Kitab Ulangan dapat ditafsirkan secara memadai hanya dalam kerangka pelaksanaan perjanjian 

penebusan Allah. Janji-janji yang diberikan kepada para leluhur dan akhirnya betul-betul digenapi di 

dalam Kristus pernah mengalami penggenapan sebagai lambang dan bersifat sementara dalam 

berbagai perjanjian dengan Israel yang dilaksanakan melalui Musa. Dengan Perjanjian Sinai teokrasi 

didirikan, dengan Musa sebagai wakil Tuhan sebagai raja atas Israel di dunia. Kemudian, saat  

angkatan pemberontak yang keluar dari Mesir telah meninggal semua di padang gurun dan kematian 

Musa sudah dekat, perjanjian itu perlu dibaharui dengan angkatan yang baru. Upacara inti yang 

menentukan ialah penahbisan umat yang yaitu  hamba Tuhan ini  melalui suatu sumpah kepada 

Tuhan mereka. Khususnya, pemerintahan Allah yang secara simbolis diwakili oleh dinasti perantara 

itu harus ditegaskan dengan memperoleh komitmen Israel untuk menaati Yosua sebagai pengganti 

Musa di dalam rantai dinasti ini .  

 

Bagian dari prosedur baku yang diikuti di Timur Dekat kuno saat  raja-raja agung memberi  

perjanjian kepada bangsa-bangsa yang dikuasainya ialah dipersiapkannya sebuah teks upacara sebagai 

dokumen perjanjian dan saksi. Kitab Ulangan merupakan dokumen yang dipersiapkan Musa sebagai 

saksi atas perjanjian turun-temurun yang diberikan Tuhan kepada Israel di dataran Moab (bdg. Ul 

31:26).  

 

 

 

ULANGAN 

 

 

I. MUKADIMAH: PERANTARA PERJANJIAN (UL 1:1-5) 

 

II. PENDAHULUAN HISTORIS: SEJARAH PERJANJIAN (UL 1:6-4:49) 

A. Dari Horeb ke Horma (Ul 1:6-2:1) 

B. Maju ke Arnon (Ul 2:2-23) 

C. Menaklukkan Trans-Yordan (Ul 2:24-3:29) 

D. Rangkuman Perjanjian (Ul 4:1-49) 

 

III. KETENTUAN-KETENTUAN: HIDUP MENURUT PERJANJIAN (UL 5:1-26:19) 

A. Perintah Agung (Ul 5:1-11:32) 

1. Kekuasaan Perjanjian Allah (Ul 5:1-33) 

2. Prinsip Penyerahan (Ul 6:1-25) 

3. Program Penaklukan (Ul 7:1-26) 

4. Hukum tentang Manna (Ul 8:1-20) 

5. Peringatan tentang Loh Batu yang Dihancurkan (Ul 9:1-10:11) 

6. Panggilan untuk Komitmen (Ul 10:12-11:32) 

B. Berbagai Perintah Pelengkap (Ul 12:1-26:19) 

1. Pengudusan dengan Upacara Agamawi (Ul 12:1-16:17) 

a. Kesetiaan kepada Mezbah Allah (Ul 12:1-32) 

b. Penolakan Atas Kemurtadan (Ul 13:1-18) 

c. Kewajiban Sebagai Anak-anak Tuhan (Ul 14:1-15:23) 

d. Ziarah-ziarah Tanda Patuh (Ul 16:1-17) 

2. Keadilan Pengadilan Pemerintah (Ul 16:18-21:23) 

a. Para Hakim dan Mezbah Allah (Ul 16:18-17:13) 

b. Para Raja dan Perjanjian Allah (Ul 17:14-20) 

c. Para Imam dan Nabi (Ul 18:1-22) 

d. Jaminan Keadilan (Ul 19:1-21) 

e. Penghakiman Bangsa-bangsa (Ul 20:1-20) 

f. Kewenangan Tempat Ibadah dan Rumah (Ul 21:1-23) 

3. Kekudusan Tatanan Ilahi (Ul 22:1-25:19) 

a. Ketetapan-ketetapan Mengenai Bekerja dan Menikah (Ul 22:1-30) 

b. Jemaat Tuhan (Ul 23:1-18) 

c. Perlindungan bagi yang Lemah (Ul 23:19-24:22) 

d. Kekudusan Perseorangan (Ul 25:1-19) 

4. Mengakui Allah Sebagai Raja Penebus (Ul 26:1-19) 

 

 

III. SANKSI-SANKSI: PENGESAHAN PERJANJIAN (UL 27:1-30:20) 

A. Upacara Pengesahan di Kanaan (Ul 27:1-26) 

B. Pengumuman Sanksi (Ul 28:1-68) 

1. Berkat (Ul 28:1-14) 

2. Kutuk (Ul 28:15-68) 

C. Panggilan untuk Mengucapkan Ikrar Perjanjian (Ul 29:1-29) 

D. Pemulihan Fundamental (Ul 30:1-10) 

E. Keputusan Radikal (Ul 30:11-20) 

 

IV. PENGATURAN DINASTI: KESINAMBUNGAN PERJANJIAN (UL 31:1-34:12) 

A. Pengaturan-pengaturan Terakhir (Ul 31:1-29) 

B. Nyanyian Saksi (Ul 31:30-32:47) 

C. Wasiat Musa (Ul 32:48-33:29) 

D. Penggantian Dinasti (Ul 34:1-12) 

 

 

YOSUA 

 

Kitab pertama dari bagian kedua di dalam kanon Perjanjian Lama Ibrani, Kitab Nabi-nabi, dinamakan 

sesuai dengan tokoh utamanya, yaitu YOSUA. Tidak ada tradisi Yahudi kuno atau bukti berupa 

naskah kuno bahwa kitab ini pernah merupakan kesatuan dengan kelima kitab atau Kitab Taurat  

(Lih. E. J. Young. Introduction to the Old Testament, hlm. 157 dst.).  

 

KEPENULISAN DAN TANGGAL PENULISAN.  

 

Kitab ini tampaknya merupakan sebuah kesatuan yang disusun oleh satu orang penulis, bukan dengan 

memakai dua atau lebih sumber utama yang kemudian disunting dan disunting ulang selama berabad-

abad. Meskipun Yosua sendiri tercatat telah menghasilkan beberapa dokumen tertentu (Yos 18:9; 

24:26), dia tidak mungkin merupakan penulis dari seluruh kitab yang dinamakan menurut dirinya ini. 

Di dalam kitab ini dicatat kematiannya (Yos 24:29,30) dan serangkaian peristiwa yang baru terjadi 

sesudah kematiannya: pendudukan Hebron oleh Kaleb (Yos 15:13b, 14; bdg.Hak 1:1,10,20), 

pendudukan Debir oleh Otniel (Yos 15:15-19; bdg. Hak 1:1,11-15) dan pendudukan Lesem oleh suku 

Dan (Yos 19:47; bdg. Hak 17;  18) sesaat sesudah penyembahan berhala dibiarkan di Israel (namun  

bdg. Yos 24:31). Semua peristiwa ini mungkin terjadi sebelum penindasan oleh Kusyan atau semasa 

Otniel menjabat sebagai hakim (Hak 3:8-11) sekitar 1370 hingga 1330 sM.  

 

Dalam pada itu, penulis merupakan seorang saksi mata dari banyak peristiwa yang dicantumkan (mis. 

Yos 5:1,6). Rahab masih hidup saat  kitab ini ditulis (Yos 6:25). Kitab ini pasti juga ditulis pada 

zaman pra-Salomo (Yos 16:10; bdg. 1Raj 9:16); pra-Daud (Yos 15:63; bdg. 2Sam 5:5-9); sebelum 

abad kedua belas saat  Tirus menguasai Sidon, sebab orang Fenisia masih disebut orang Sidon (Yos 

13:4-6); dan kitab ini pasti ditulis sebelum 1200 sM sesudah mana lebih banyak orang Filistin 

memasuki Palestina, sebab mereka belum merupakan ancaman pada zaman Yosua (lih. taf. atas Yos 

13:2*b-4a).  

 

Tampaknya besar kemungkinan bahwa kitab ini ditulis pada saat Otniel menjadi hakim (k.l. 1370-

1330 sM. Lih. taf. atas Yos 1:4). Sangkut paut yang jauh lebih besar dengan berbagai urusan suku 

Yehuda (bdg. kisah yang terinci mengenai penyerbuan ke selatan di Yos 10:1-23*, perhatian terhadap 

Kaleb dan Otniel di Yos 14:1-15; 15:13-19; daftar yang panjang mengenai batas-batas dan kota-kota 

Yehuda di Yos 15:1-63*) menunjukkan bahwa penulis mungkin tinggal di wilayah Yehuda. Dia 

hanya memberi  gambaran yang sekilas mengenai batas-batas dari suku-suku Yusuf yang penting 

walaupun di wilayah mereka terletak Silo (Yos 16:1-17:11). Jika penulis tinggal di wilayah Yehuda, 

dapat dipahami bahwa dia lebih dulu melukiskan seluruh wilayah geografis daerah ini  tanpa 

menjelaskan waktunya (Yos 11:16). sebab  berkali-kali disebutkan bahwa suku Lewi tidak 

memperoleh tanah warisan (Yos 13:14,33; 14:3,4; 18:7), penulis mungkin yaitu  seorang imam 

 

 

TUJUAN PENULISAN DAN NILAI.  

 

Tujuan penulisan kitab ini ialah melanjutkan sejarah Israel yang diawali di dalam Pentateukh serta 

untuk menunjukkan kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya dengan para leluhur dan bangsa teokratis 

ini  dengan menempatkan setiap suku di wilayah masing-masing (Yos 11:23; ). Selanjutnya, 

kekudusan Allah tampak di dalam hukumanNya terhadap orang-orang Kanaan yang jahat dan di 

dalam desakan-Nya agar Israel, waktu ikut dalam perang suci ini , harus membuang segala 

kejahatan. Aspek ketiga dari hubungan Allah dengan manusia yang dikemukakan dalam kitab ini 

ialah keselamatan yang dari Allah. Nama Yosua sendiri, bentuk Ibrani dari Yesus, artinya, "Yehova 

yaitu  keselamatan." Dengan demikian sejarah penebusan tentang masuknya Israel ke Kanaan serta 

mendudukinya yaitu  gambaran tentang pengalaman rohani seorang Kristen berupa pergumulan, 

kemenangan dan berkat rohani (Ef 1:3; 2:6; 6:12) melalui kuasa perkasa Allah. (Ef 1:19,20; 6:10). 

Dalam Ibrani 4 perhentian di Kanaan dari semua pergumulan sia-sia di padang gurun dikemukakan 

sebagai lambang dari perhentian rohani kita saat ini di dalam karya Kristus yang telah selesai dan di 

dalam syafaat-Nya yang terus berlanjut yang memungkinkan kita untuk mengalahkan diri dan Iblis.  

 

LATAR BELAKANG SEJARAH.  

 

Data untuk menentukan keadaan sejarah dari peristiwa eksodus dari Mesir dan penaklukan Kanaan 

disediakan oleh catatan Alkitab dan riset arkeologi. Para leluhur tinggal di Kanaan selama masa yang 

oleh para arkeolog disebut Zaman Perunggu Menengah (2100-1550 sM). Yusuf mungkin naik takhta 

pada waktu pemerintahan Dinasti Kedua belas di Mesir. Kemudian raja baru yang memberontak 

melawan (qum’al) Mesir dan yang tidak mengenal Yusuf (Kel 1:8) pasti yaitu  seorang penguasa 

Hiksos dari wilayah Delta Nil. sebab  penguasa ini  menindas orang Israel dengan memaksa 

mereka untuk mendirikan Pitom dan Raamses (Kel 1:11), Israel tidak meninggalkan Mesir pada saat 

orang Mesir sendiri mengusir Dinasti Hiksos ini  sekitar tahun 1570 sM. Firaun dari Dinasti 

Kedelapan belas (yang beribu kota di Tibes namun yang memiliki istana tambahan di Memfis, 

Heliopolis, dan mungkin juga di Bubastis) terus memperbudak orang Israel hingga pada akhirnya 

Musa menuntun orang Israel keluar dari Mesir sekitar tahun 1447 sM (bdg.1Raj 6:1), yaitu pada saat 

pemerintahan Amenhotep II (1450-1423 sM). Yosua tampaknya membawa Israel memasuki Kanaan 

sekitar tahun 1407 sM yaitu pada Zaman Perunggu Akhir (1550-1200 sM). Penempatan suku-suku di 

Wilayah Kanaan dilaksanakan sekitar tahun 1400 sM, dan Yosua hidup hingga tahun 1390 sM atau 

sesudah itu. Sebuah pandangan alternatif menyebutkan tanggal eksodus dari Mesir yaitu  pada masa 

pemerintahan Firaun Raamses II sesaat sesudah tahun 1300 sM. Orang-orang yang menganut 

pandangan ini menafsirkan 480 tahun pada 1Raj 6:1 sebagai dua belas angkatan penuh.  

 

Pada saat bangsa Israel memasuki Kanaan, Firaun Amenhotep III (1410-1372 sM) sedang tidak 

menaruh perhatian pada wilayah jajahan di Asia sehingga sebagian besar raja kecil di Palestina dan 

Siria memberontak terhadap Mesir atau tidak bersedia membayar upeti. Surat-surat yang ditulis di 

atas lempengan tanah liat yang berhasil digali pada 1887 di Tel el-Amarna di Mesir, tempat yang 

dahulu merupakan ibu kota putra Amenhotep, yaitu Akhenaton (1380-1363 sM), merupakan arsip 

kerajaan dari kedua raja ini . Sebagian besar merupakan surat dari para pangeran di Palestina dan 

Siria, wilayah jajahan Mesir, sepanjang tahun 1400-1360 sM di mana mereka memohon bantuan 

Firaun untuk mengatasi serangan dari kota kerajaan lain di sekitarnya atau dari suku Habiru (atau 

Apiru). Habiru biasanya menunjuk kepada sekelompok tentara sewaan. Di dalam hal ini yang 

dimaksudkan ialah pasukan dari Siria yang disewa oleh para pangeran Kanaan yang memberontak 

terhadap Mesir. Jadi kitab ini tidak menyebutkan apa-apa mengenai Mesir mungkin disebabkan oleh 

kenyataan bahwa Mesir memiliki politik luar negeri yang lemah sejak Amenhotep III hingga Seti 

(1313-1301),  yaitu Firaun selanjutnya yang menyerbu Palestina. Bahkan pada saat menyerbu orang 

Het di Siria, pasukan Mesir menyusuri daerah pantai dan menghindari wilayah pegunungan.  

 

Pada zaman Yosua dan Hakim-hakim, upacara religius di Kanaan telah merosot hingga tingkat 

kebebasan dan kekejaman yang paling menjijikkan-sebagaimana dapat dipelajari dari lempengan-

Page 20 of 130

lempengan hasil galian di Ras Syanua (Ugarit) serta peninggalan-peninggalan yang masih ada dari 

berbagai praktik agama kesuburan yang berhasil digali di Bet-San, Megido, dan lain-lain. Sifat dursila 

dari dewa-dewa Kanaan telah membuat para penganutnya terjerumus ke dalam ritus-ritus yang paling 

rendah di seluruh Timur Dekat kuno seperti pelacuran baik wanita maupun pria, penyembahan ular, 

dan persembahan kurban bayi, arena kebiasaan religius semacam itu merupakan kebiasaan yang 

secara moral dan rohani sangat mencemarkan, orang dapat segera melihat mengapa Allah 

memerintahkan Israel untuk memusnahkan orang Kanaan. Jadi bangsa itu serta kota tempat tinggal 

mereka harus dihancurkan agar kehidupan religius Israel tidak terancam sebab  berhubungan dengan 

bangsa penyembah berhala semacam itu. W. F. Albright secara tepat sekali menjelaskan isu-isu yang 

terkait saat  menulis,  

 

Menguntungkan bagi masa depan monoteisme bahwa orang-orang Israel pada masa penaklukan 

Kanaan merupakan bangsa yang seperti keledai liar, yang dilimpahi dengan kekuatan primitif serta 

kehendak yang kejam untuk hidup, sebab pemusnahan orang-orang Kanaan yang terjadi waktu itu 

mencegah penyatuan total dari dua bangsa yang hampir pasti akan menekan patokan-patokan yang 

dibuat Yahwe sampai ke taraf yang mustahil dipulihkan. Jadi, orang Kanaan dengan penyembahan 

gila-gilaan mereka dan dengan agama kesuburan mereka dalam bentuk lambang ular dan 

ketelanjangan yang membangkitkan birahi, serta mitologi mereka yang mencolok digantikan oleh 

Israel dengan kesederhanaan pengembara dan kemurnian hidup, monoteisme yang luhur serta standar 

etika yang keras. 

 

YOSUA 

 

 

I. MEMASUKI NEGERI YANG DIJANJIKAN (YOS 1:1-5:12) 

A. Allah Menugaskan Yosua (Yos 1:1-9) 

B. Yosua Menggerakkan Bangsa Israel Menyeberang Yordan (Yos 1:10-18) 

C. Tugas Para Pengintai (Yos 2:1-14) 

D. Menyeberang Sungai Yordan (Yos 3:1-5:1) 

E. Pembaharuan Penyunatan & Pelaksanaan Paskah (Yos 5:2-12) 

 

II. PENAKLUKAN NEGERI YANG DIJANJIKAN (YOS 5:13-12:24) 

A. Penampilan Panglima Balatentara Tuhan (Yos 5:13-6:5) 

1. Jatuhnya Yerikho (Yos 6:6-8:29) 

2. Kekalahan di Ai Akibat Dosa Akhan (Yos 7:1-26) 

3. Serangan Kedua dan Pembakaran Ai (Yos 8:1-29) 

B. Peresmian Perjanjian Israel Sebagai Hukum Negeri (Yos 8:30-35) 

1. Perjanjian dengan Caturkota Orang Gibeon (Yos 9:1-27) 

2. Kehancuran Koalisi orang Amori (Yos 10:1-43) 

C. Penyerangan di Utara (Yos 11:1-15) 

D. Rangkuman Tentang Penaklukan (Yos 11:16-23) 

E. Lampiran: Daftar Raja-raja yang Dikalahkan (Yos 12:1-24) 

 

III. PEMBAGIAN NEGERI YANG DIJANJIKAN (YOS 13:1-22:34) 

A. Perintah Allah untuk Membagi Negeri Itu (Yos 13:1-7) 

B. Wilayah Suku-suku Trans-Yordan (Yos 13:8-33) 

C. Awal Pembagian Kanaan (Yos 14:1-15) 

D. Wilayah Suku Yehuda (Yos 15:1-63) 

E. Wilayah Efraim dan Manasye (Yos 16:1-17:18) 

F. Wilayah Tujuh Suku yang Lain (Yos 18:1-19:51) 

G. Warisan Suku Lewi (Yos 20:1-21:42) 

1. Penetapan Kota-kota Perlindungan (Yos 20:1-9) 

2. Penetapan Kota-kota Suku Lewi (Yos 21:1-42) 

H. Ringkasan Penaklukan dan Pembagian Negeri (Yos 21:43-45) 

I. Lampiran: Berangkatnya Suku-suku Trans-Yordan (Yos 22:1-34) 

 

IV. PANGGILAN TERAKHIR UNTUK SETIA KEPADA PERJANJIAN DI NEGERI YANG 

DIJANJIKAN (YOS 23:1-24:33) 

A. Pidato Perpisahan Yosua kepada Para Pemimpin Israel (Yos 23:1-16) 

B. Pembaharuan Komitmen Terhadap Perjanjian di Sikhem (Yos 24:1-28) 

C. Lampiran: Kematian Yosua dan Perilaku Israel Sesudahnya (Yos 24:29-33) 

 

HAKIM-HAKIM 

 


Kitab ini memperoleh namanya dari para pemimpin (shop’tim) yang melepaskan Israel dari 

serangkaian penindasan oleh kekuatan asing sepanjang kurun waktu di antara kematian Yosua dan 

awal berdirinya kerajaan.  

 

Istilah shopet memiliki konotasi yang lebih luas daripada istilah "hakim" yang merupakan terjemahan 

dari istilah Inggris, "judge." Di Kartago dan Ugarit kuno, istilah ini dipakai untuk pejabat 

pemerintahan atau pemimpin negara dari kalangan sipil. Sastra Kanaan yang memakai bahasa Ugarit 

kuno memanfaatkan istilah shptn yang artinya "hakim kita" dalam hubungan sejajar dengan mlkn 

yang artinya "raja kita" (Ba’al, V, hlm. 32). Sekalipun demikian, kurun waktu pemerintahan para 

shop’tim di Alkitab harus dibedakan dengan kurun waktu pemerintahan para raja. Pada masa 

pemerintahan para Hakim ada  sikap anti kerajaan yang jelas (bdg. Hak 9:8-15) sekalipun tekanan 

dari luar dari para calon penyerbu akhirnya membuat bangsa itu menuntut adanya seorang raja (1Sam 

8). Para hakim yaitu  tokoh-tokoh yang diurapi Roh, diangkat oleh Allah dan memperoleh kuasa dari 

Allah pula untuk mengatasi berbagai krisis tertentu di dalam sejarah Israel. Allah sendiri dilihat 

sebagai Raja Israel (1Sam 8:7), sekalipun dosa bangsa itu sering kali mengurangi kenyataan luhur ini 

menjadi keadaan yang kacau (Hak 21:25). Para hakim memiliki wewenang dari Allah di bidang 

militer maupun sipil, dapat memberi  keputusan hukum jika diperlukan (Hak 4:4,5).  

 

Dalam Hak 11:27* Allah Israel disebut hashhõpét, yaitu "Sang Hakim." "Hukuman" (mishpãtîm) 

Allah merupakan bagian dari perintah yang dikenal dengan nama hukum (tora) Yehovah (bdg. Mzm 

19:8; 119:7).  

 

TANGGAL PENULISAN DAN PENULISNYA 

 

Seperti Kitab-kitab sejarah lainnya di dalam Perjanjian Lama, kitab ini tidak diketahui penulisnya. 

Sekalipun demikian, bukti menurut nas membantu kita untuk menentukan tanggal kira-kira dari 

penulisannya. Kehancuran Silo sudah disimpulkan sebelumnya (Hak 18:31). Kata-kata, "Dada zaman 

itu tidak ada raja di antara orang Israel" (Hak 17:6) memberi  kesan ditulis pada zaman kerajaan. 

Kenyataan bahwa orang Yebus disebutkan sebagai masih menduduki Yerusalem (Hak 1:21) 

menunjukkan bahwa tanggal penulisan yaitu  sebelum direbutnya Yebus pada masa pemerintahan 

Daud. Demikian pula disebutnya Gezer (Hak 1:29) menunjukkan suatu tanggal sebelum Firaun 

menganugerahkan kota itu sebagai hadiah pernikahan putrinya dengan Salomo (1Raj 9:16).  

 

Bukti dari dalam nas sendiri dengan demikian menunjukkan tanggal penulisan Kitab Hakim-hakim 

yaitu  pada awal berdirinya kerajaan (k.l. 1050-1000 sM) mungkin pada zaman pemerintahan Saul 

atau pada awal pemerintahan Daud. Talmud (Baba Bathra, 14b) dan tradisi Kristen mula-mula 

menyebutkan bahwa penulisnya yaitu  Samuel. Sekalipun bukti yang tersedia tidak memungkinkan 

kita membuat kesimpulan yang tegas mengenai penulis kitab ini, petunjuk yang ada memang 

menunjukkan bahwa penulisnya yaitu  orang sezaman dengan dia. Penulis mungkin memanfaatkan 

sumber lisan dan juga sumber tertulis, namun  bentuk kitab ini sebagaimana kita memperolehnya 

menunjukkan adanya kesatuan yang membantah tentang adanya pola penyusunan yang rumit.  

 

 

LATAR BELAKANG SEJARAH 

 

Angkatan yang masuk ke Kanaan di bawah pimpinan Yosua telah menyelesaikan banyak dengan cara 

menduduki berbagai tempat strategis dan menempatkan setiap suku di wilayah yang telah ditetapkan. 

Sekalipun demikian, tugas untuk menaklukkan dan menduduki masih jauh dari selesai. Kubu-kubu 

pertahanan orang Kanaan yang penting telah dilewati begitu saja oleh Yosua dan sebab  itu setiap 

suku diharuskan melanjutkan sendiri pertempuran untuk menduduki wilayah yang diserahkan kepada 

mereka (Yos 13:1-7).  

 

HAKIM-HAKIM 

 


I. PENDAHULUAN (HAK 1:1-2:5*) 

A. Latar Belakang Politik Zaman Hakim-hakim (Hak 1:1-36*). 

B. Latar Belakang Religius Zaman Hakim-hakim (Hak 2:1-5*) 

 

II. SEJARAH HAKIM-HAKIM (HAK 2:6-16:31*) 

A. Kegagalan Israel untuk Menaklukkan Kerajaan-kerajaan Musuh (Hak 2:6-3:6*). 

B. Para Penindas dan Pelepas Israel (Hak 3:7-16:31*)