hkan
berhak menyelamatkan siapa saja yang Ia perkenan, dan
kapanpun Ia mau (seperti perihal pertobatan para awak
kapal).
5. Garis besar.
I. Pelarian Yunus (1:1-17).
A. Alasan pelariannya (1:1-2).
B. Rute pelariannya (1:3).
C. Hasil pelariannya (1:4-17).
II. Doa Yunus (2:1-10).
A. Karakteristik doanya (2:1-9).
B. Jawaban doanya (2:10).
III. Khotbah Yunus (3:1-10).
A. Perintah Allah untuk berkhotbah (3:1-3)
B. Isi khotbah Yunus (3:4).
C. Dampak khotbah Yunus (3:5-10).
IV. Pelajaran Yunus (4:1-11).
A. Keluhan Yunus kepada Allah (4:1-3).
B. Kurikulum Allah bagi Yunus (4:4-11).
KITAB MIKA
1. Judul.
Diambil dari nama penulisnya MIKAH. Judul kitab dalam
Septuaginta yaitu Michaias dan dalam Vulgate Micha.
2. Penulis.
Penulis kitab ini yaitu Mikha (1:1). Dalam kitab Yer. 26:18,
Mikha singkatan MICHAYAH artinya ‘Siapakah yang seperti
Yahwe ?’. Mikha berasal dari Moresyet, sebuah kota sekitar
40 km di barat daya Yerusalem dekat kota Gad di Gfilistin.
Moresyet berlokasi dikaki bukit yang subur di Yudea dekat
Lakhish, sebuah kota perdagangan internasional.
3. Tahun penulisan
Mikha bernubuat pada masa pemerintahan Yotam (750-732
sM), Ahas (736-716 sM0 dan Hizkia (716-687 sM). Mikha
secara khusus bernubuat kepada Yehuda namun juga pada
kerajaan Utara, Israel dan menubuatkan kejatuhan Samaria
(1:6). Bagian yang baik dari pelayanannya terjadi sebelum
penawanan bangsa Asyur pada tahun 722 sM, kemungkinan
sekitar tahun 700 sM. Dari penjelasan diatas dapat
disimpulkan bahwa penulisan kitab ini yaitu tahun 750 – 687
sM.
4. Tema.
Tema kitab ini yaitu penghakiman dan pemulihan. Mikha
menunjukkan bagaimana umat Allah telah gagal untuk hidup
sesuai dengan ketetapan kovenanNya yang telah dibuat
dengan Israel yang tersedia berkat untuk ketaatan (Ul. 28:1-
14) dan laknat untuk ketidak taatan, oleh sebab nya mereka
disingkirkan dari tanah perjanjian (Ul. 28:15-68). Dalam
prosesnya, Mikha membeberkan ketidak adilan Yudea dan
mendeklarasikan kebenaran dan keadilan yang Yahwe
tunjukkan untuk mendisiplin mereka. Ia mendakwa Israel dan
Yehuda sebab dosa penganiayaan, menyuap para hakim,
nabi dan imam, ketamakan, penipuan, keangkuhan dan
kekerasan. Tentu saja disiplin yang diterapkan pada bangsa
ini mendemonstrasikan kasih Allah kepada mereka dan
bahwa ia akan memulihkan mereka.
Tema penghakiman begitu menonjol dalam ketiga berita
Mikha, namun ia juga menegaskan kebenaran pemulihan.
Lebih jauh, Mikha mengacu pada prinsip remnan disetiap
bagian ketiga beritanya (2:12; 4:7; 5:7-8; 7:18). Dia
mengumumkan bahwa dimasa yang akan datang Yahwe
akan memulihkan umatNya di suatu tempat mulia pada
kedatangan Mesias yang kedua kali.
5. Garis besar.
I. Prakata (1:1).
II. Berita pertama: Hukuman atas Yehuda (1-2).
A. Nubuat penghukuman.
B. Ratapan Mikha bagi umat.
C. Dosa-dosa Yehuda.
D. Nubuat tentang perhimpunan kembali.
III. Berita kedua: Malapetaka diikuti pembebasan (3-5).
108
A. Hukuman atas para pemimpin bangsa (3).
B. Berkat-berkat kerajaan atas bangsa.
IV. Berita ketiga: Pengaduan dosa dan janji berkat (6-7).
KITAB NAHUM
1. Judul.
Sama dengan kitab nabi kecil lainnya, nama kitab diambil dari
nama nabi yang bernubuat. Judul yang digunakan di
Septuaginta Naoum dan Vulgata yaitu Nahum.
2. Penulis.
Penulis kitab ini yaitu Nahum (1:1). Kata Nahum atau
NACHAM artinya ‘menarik nafas untuk menghibur’. Nahum ini
berasal dari Elkos. Para ahli mengatakan bahwa Elkos ini
diyakini berada di selatan Yehuda. Memang sesuai dengan
psl. 1:15 Nahum diutus untuk menjadi nabi di Yehuda.
3. Tahun penulisan.
Nahum berbicara tentang kejatuhan Tebes yang sudah lewat
(3:8-10). Tebes runtuh tahun 663 sM. Selanjutnya dalan
ketiga pasalnya Nahum menubuatkan kejatuhan Niniwe dan
hal itu terjadi pada tahun 612 sM. Dengan demikian Nahum
menyampaikan nubuatnya atara tahun 663-612 sM atau
mendekati akhir masanya sebab ia mewakili kejatuhan
Niniwe yang mendekat (2:1; 3:14). Oleh sebab itu kitab ini
ditulis antara tahun 663-612 sM.
4. Tema
Tema kitab Nahum yaitu penghukuman Allah atas bangsa
yang berdosa. Pertobatan Niniwe sesudah peringatan Nabi
Yunus ternyata tidak bertahan lama. sebab mereka kembali
ke pola kehidupan mereka yang bengis dan keji. Dan Niniwe
tak mungkin lagi luput dari malapetaka yang dinubuatkan
Yang Maha Kudus melalui Nahum. Kebengisan, kekuatan
dan kecongkakan akhirnya berhenti dibawah kedaulatan
Allah. Selain itu kitab ini juga menjelaskan tentang kejatuhan
Asyur, sebagai penghukuman dari Allah. Kitab ini ditulis untuk
memberi penghiburan kepada Yehuda.
5. Garis besar.
I. Nubuat penghukuman Allah atas Niniwe (1).
II. Hukuman Allah atas Niniwe (2).
III. Alasan penghukuman Allah atas Niniwe (3).
KITAB HABAKUK
1. Judul.
Nama kitab diambil dari nama penulisnya yaitu Habakuk.
Kata ini berasal dari bahasa Ibrani CHABAQ yang artinya
‘memeluk’. Apa maksudnya ? Kita harus memahaminya
dalam bentuk aktif, ‘seseorang yang memeluk atau
bergantung.’ Dalam kebingungannya sebab akan diserbu,
sang nabi akhirnya bergantung pada Yahwe sebagai Tuhan
keselamatannya dan kekuatannya.
2. Penulis.
Kitab ini ditulis oleh Habakuk (1:1). Habakuk
mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang nabi (1:1; 3:1).
Selain itu ia juga seorang imam. Hal ini nyata dari doa-doa
serta pujiannya yang selalu diakhiri dengan pernyataan ‘untuk
pemimpin biduan, dengan musik kecapi.’
3. Tahun penulisan.
sebab kitab ini mengantisipasi datangnya serbuan tentara
Babel yang terkenal kehebatannya, Habakuk mungkin
melayani pada masa pemerintahan Yoyakim, Raja Yehuda.
Babel belum menyerang Yehuda (1:6; 2:1) dan nubuat
Habakuk disampaikan tak lama sebelum penyerbuan Babel
sekitar tahun 606 sM. Oleh sebab itu penulisan kitab ini
sekitar tahun 606 sM.
4. Tema.
Tema kitab ini yaitu pergumulan dan kemenangan. Kitab ini
menjelaskan kebingungan Habakuk menjelang datangnya
serbuan Babel yang bengis. Hal ini terkait dengan masalah
iman yaitu:
Mengapa Allah tidak menjatuhkan hukuman atas
kejahatan yang semakin meningkat dan merajalela di
Yehuda (1:1-4).
Mengapa Allah yang kudus memakai bangsa lalim seperti
Babel sebagai alat penghakiman (1:12 – 2:1).
Habakuk menggumuli kebingungan itu dalam terang firman
Tuhan, yang akhirnya menyingkapkan teka-tekinya, sehingga
kitabnya ditutup dengan Mazmur kemenangan. Kitab ini boleh
juga disebut THEODICY, pembelaan terhadap kebaikan dan
kuat kuasa Allah untuk mengatasi kejahatan.
5. Garis besar.
I. Kebingungan Habakuk : Iman teruji (1-2).
A. Persoalan pertama: Mengapa Allah mengijinkan
kejahatan ?
B. Jawaban pertama dari Allah.
C. Persoalan kedua: Mengapa Allah memakai bangsa
lalim ?
D. Jawaban kedua dari Allah.
II. Pujian Habakuk: Iman berkemenangan (3).
A. Pujian bagi pribadi Allah.
B. Pujian bagi kekuatan Allah.
C. Pujian untuk tujuan Allah.
D. Pujian iman kepada Allah.
KITAB ZEFANYA
1. Judul.
Nama kitab ini diambil dari nama penulisnya yaitu Zefanya,
berasal dari kata Ibrani TSAPHAN-YAH yang artinya
‘tersembunyi’ atau ‘disembunyikan Tuhan’ (2:3). Judul kitab
dalam Septuaginta dan Vulgata yaitu Sophonias.
2. Penulis.
Seperti tercantum dalam 1:1, kitab ini ditulis oleh Zefanya bin
Kusyi bin Gedalya bin Amarya bin Hizkia. Dengan
tercatatnya silsilah leluhur empat generasi nabi ini,
pembukaan kitab ini termasuk unik. Biasanya informasi
silsilah hanya dicatat sebatas ayah sang nabi (bnd. Yes. 1:1;
Yer. 1:1; Hos. 1:1). Silsilah yang panjang memberi kesan
adanya darah biru sang nabi, dimana kakek cicitnya yaitu
raja Hizkia yang terkenal saleh.
3. Tahun Penulisan.
Dari catatan pendahuluan (1:10), Zefanya bernubuat dalam
pemerintahan Raja Hosia, raja Yehuda (640-609 sM). Dosa
dan pelanggaran yang dituduhkan Zefanya kepada
Yerusalem dan Yehuda (1:4-13; 3:1-7) mengindikasikan
bahwa ia bernubuat sebelum reformasi Yosia, sebab tiang-
tiang berhala masih tegak berdiri (zaman Manasye dan
Amon). Oleh sebab itu kitab ini ditulis kira-kira tahun 640-609
sM.
4. Tema.
Kitab ini menyajikan pernyataan yang paling luas dalam
Perjanjian Lama mengenai Hari Tuhan. Zefanya bernubuat
untuk memperingatkan Yehuda dan Yerusalem akan
datangnya ‘Hari Tuhan’ yang dasyat (1:14), sebagai ganjaran
dan hukuman akibat kemerosotan moral dan kemunduran
rohani sebab pengaruh Raja Manasye dan Raja Amon yang
tidak adil (3:1-7).
Tema ‘Hari Tuhan’ mengacu pada kekudusan dan keadilan
Allah yang harus menghancurkan dosa sekaligus menuntut
bangsa-bangsa di dunia untuk bertanggung jawab di
hadapanNya. Di sisi lain Allah yang berpengasihan juga
mengajak umatNya untuk bertobat, agar mereka menikmati
berkat kovenanNya. Ada kemungkinan peringatan Zefanya
begitu mempengaruhi raja sehingga memicu gerakan
reformasinya. Pada tahun ke-12 masa pemerintahannya (627
sM), Raja Yosia mulai memberasihkan bangsa dari
penyembahan berhala dan kembali menghidupkan ibadah
yang benar. Delapan tahun kemudian ia memerintahkan
untuk memperbaiki dan menyucikan bait suci Salomo,. Pada
saat itulah salinan kitab Torah ditemukan (2 Raj. 22:8).
5. Garis besar.
I. Penghakiman pada hari Yahwe.
A. Penghakiman atas isi seluruh bumi.
B. Penghakiman atas Yehuda (1).
C. Penghakiman atas bangsa-bangsa (2).
B’ Penghakiman atas Yerusalem (3).
A’ Penghakiman atas isi seluruh bumi
II. Pemulihan pada hari Yahwe.
KITAB HAGAI
1. Judul.
Judul kitabnya diambil dari nama penulisnya yaitu Hagai
berasal dari kata CHAGGAI. Judul kitab dalam Septuaginta
Aggaios dan dalam Vulgata, Aggaeus.
2. Penulis kitab ini yaitu Hagai. Hal ini nyata dari isi kitab
dimana dalam kitab ini diceritakan tentang firman yang
diberikan kepada nabi Hagai untuk disampaikan kepada
umatnya. Oleh sebab itu para ahli mengakui Hagai sebagai
penulis kitab ini. Nama Hagai artinya ‘pesta’ atau ‘perayaan’,
memberi kesan bahwa ia mungkin dilahirkan pada hari raya,
walaupun memang tak ada catatan yuang mendukung hal itu.
Hagai hanya dikenal melalui kitabnya dan ia disebut-sebut
dalam Ezr. 5:1-2; 6:14. Ia memperkenalkan dirinya sebagai
Nabi Hagai (1:1), namun tanpa silsilah. Ia hidup sezaman
dengan Zakharia dan Zerubabel.
3. Tahun penulisan.
Dengan dikeluarkannya dekrit Raja Persia, Koresh (538 sM),
hampir 50.000 orang Yahudi diijinkan pulang ke Yerusalem.
Termasuk Zerubabel (Ezr. 1:2-4 bdn. Yes. 44:28), Imam
Besar Yosua, Nabi Hagai dan Nabi Zakharia.
Korban persembahan akan diletakkan lagi diatas mesbah
(Ezr. 3:1-6), dan pada tahun kedua kepulangan mereka,
fondasi bait suci diletakkan (Ezr. 3:8-13; 5:16).
Pembangunan menjadi terhambat oleh adanya gangguan
Samaria dan tekanan Persia, ditambah lagi dengan
kemunduran rohani. Enambelas tahun berikutnya dalam
pemerintahan Darius Hystaspes, raja Persia (521-486 sM)
rekontruksi dihentikan sama sekali. Pada tahun kedua
pemerintahan Darius (520 sM) Tuhan mengutus Hagai untuk
mendorong umat Yahudi dalam merekontruksi bait Suci
mereka (1:1 bnd. Ezr. 5:1-2). Oleh sebab itu penulisan kitab
ini yaitu sekitar tahun 520 sM.
4. Tema
Tema kitab ini yaitu dorongan untuk maju. Kitab ini berisi
empat berita (bnd. Garis besar) yang penting untuk memberi
semangat merekontruksi Bait Suci. Memang waktu itu bangsa
Yahudi sedang memasuki masa-masa sulit sesudah kembali
ke Yerusalem. Pembangunan Bait Suci belum terselesaikan
dan Tuhan melalui nabi Hagai mendorong jemaat untuk
kembali bersemangat membangun Bait Suci.
5. Garis besar.
I. Berita pertama: Panggilan membangun Bait Suci
A. Teguran pertama dan remedinya.
B. Teguran kedua dan responnya.
II. Berita kedua: Panggilan mempertahankan kovenan.
A. Pendahuluan.
B. Kemuliaan mendatang.
III. Berita ketiga: Panggilan mentahirkan hidup
A. Pendahuluan.
B. Ketaatan umat.
IV. Berita keempat: Panggilan mengharapkan masa depan.
A. Datangnya kekalahan.
B. Datangnya pemulihan.
KITAB ZAKhARIA
1. Judul
Judul kitab ini diambil dari nama penulisnya yaitu Zakharia.
Kata Zakharia berarti ‘Yahwe ingat’. sedang versi
Septuaginta dan Vulgata menyebutnya Zacharias.
2. Penulis.
biasanya para ahli setuju bahwa kitab ini ditulis oleh
Zakharia. Hal ini nyata dari isi kitabnya yang berisi
penglihatan yang diberikan Allah kepada Zakharia untuk
disampaikan ke umatNya. Zakharia bin Berekhya bin Ido
yaitu imam yang memimpin kaum Lewi (Neh. 12:4),
sezaman dengan nabi Zerubabel (Ezr. 6:14).
3. Tahun penulisan
Zakharia masih sangat muda (2:4) ketika bekerjasama
dengan Hagai dalam seruan pembangunan di tahun 520 sM.
Nubuatnya yang terakhir (7) terjadi dua tahun kemudian (518
sM). Oleh sebab itu kitab ini kemungkinan ditulis tahun 520 –
518 sM.
4. Tema.
Tema kitab ini yaitu pemulihan. Kitab Zakharia ditulis untuk
memberi semangat kepada kaum remnan yang pulang untuk
menyelesaikan rekonstruksi bait suci. Sang nabi juga
menunjukkan bahwa Tuhan bekerja dalam memulihkan Israel
untuk kembali ke warisan rohani mereka dalam
mempersiapkan kedatangan Mesias. Secara doktrinal, kitab
Zakharia menunjukkan pentingnya peran Bait Suci guna
mengembalikan relasi kaum Israel kepada Allahnya. Kitab ini
juga memperlihatkan providensia Allah untuk membawa
kembali umatNya ke tanah air mereka dan hal itu menyoroti
dekatnya hari Mesias yang akan memulihkan kehidupan
rohani umatNya.
5. Garis besar
I. Ajakan pertobatan (1-6)
II. Delapan penglihatan
A. Penglihatan kuda dan penunggangnya.
B. Penglihatan empat tanduk dan empat pandai besi.
C. Penglihatan penyelidik dengan tali sipat
D. Penglihatan menorah emas
E. Penglihatan skrol terbang
F. Penglihatan perempuan dalam gantang.
G. Penglihatan empat kereta perang.
III. Penobatan Imam besar Yosua
IV. Pertanyaan tentang puasa (7-8).
V. Nubuat tentang masa depan (9-14).
A. Nubuat pertama: Penolakan terhadap Mesias
B. Nubuat kedua: Pemerintahan Mesias
KITAB MALEAKHI
1. Judul.
Judul kitab ini diambil dari nama tokoh utama dalam kitab ini
yaitu Maleakhi. Dalam Septuaginta disebut Malachias sedang
bahasa Latinnya Maleachi.
2. Penulis.
Maleakhi Cuma disebut namanya sebagai penulis dalam psl
1:1. Sekalipun ada tradisi Yahudi yang kurang berbobot
mengatakan bahwa kitab ini ditulis oleh Nehemia, sebab
‘Maleakhi’ dalam bahasa Ibrani Malak-i artinya ‘utusanku’,
bisa berarti utusan tak bernama (anonim). Keabsahan
penulisnya, tanggal penulisannya dan kesaatuan kitabnya tak
perlu diragukan. “Mal(e)ak-i“ (utusanku) bisa juga merupakan
kependekan MALAK-YAH (utusan atau malaikat TUHAN).
Hal ini senada dengan isi kitab yang mengantisipasi
kedatangan utusan Allah (bnd. 3:1), nubuatan tentang
datangnya pendahulu Mesias, Yohanes pembabtis (Mat.
11:10).
3. Tahun penulisan
Ditinjau dari bukti-bukti internal, nubuat jelas terjadi pada
pertengahan abad ke-5 sM (435 sM). Kesimpulan ini ditarik
dari beberapa indikasi.
a. Bait suci telah selesai dibangun dan persembahan korban
menurut hukum Musa telah dilaksanakan kemabali (1:7;
3:1).
b. Gubernur Persia yang berkuasa saat itu, tidak mungkin
masih ada pada pemerintahan Gubernur Nehemia (445
sM atau 433 sM).
c. Dosa-dosa yang dituntut Maleakhi sama dengan yang
dikoreksi Nehemia selama term kedua pelayanannya yaitu
Kelesuan keimaman (1:6; Neh. 13:4-9).
Mengabaikan perpuluhan untuk keperluan kaum Lewi
(3:7-12 bnd. Neh. 13:10-13).
Banyaknya kawin campur dengan wanita asing (2:10-
16 bnd. Neh. 13:23-28). Hal ini masuk akal bila
memperkirakan bahwa Maleakhi telah memprotes
semua kejahatan itu mendahului kembalinya Nehemia,
sehingga sesuai jika diperkirakan sekitar tahun 435
sM.
4. Tema
Tema kitab ini yaitu teguran untuk hidup benar dihadapan
Tuhan. Dalam kitab ini Maleakhi menegur umat sebab
kelalaian mereka terhadap ibadah sejati mereka kepada Allah
dan memanggil mereka untuk bertobat (1:6; 3:7).
Persembahan yang kudus yaitu mempersembahkan diri
secara hidup kudus dan berkenan kepada Allah. Maleakhi
mengarahkan jemaaat untuk memiliki ketulusan terhadap
Tuhan dan menjaga integritas yang murni dihadapan Allah,
sehingga Ia tak segan-segan mencurahkan berkat
kemurahanNya atas panen dan kesejahteraan bangsa. Israel
terutama harus hidup sesuai dengan panggilannya sebagai
bangsa yang kudus seraya menunggu kedatangan Mesias.
Pengharapan muncul melalui penghakiman yang bertujuan
menyelamatkan.
5. Garis besar.
I. Hak-hak khusus bagi Israel (1).
A. Kasih Allah dinyatakan.
B. Kasih Allah diragukan.
C. Kasih Allah dipaparkan.
II. Dosa-dosa Israel (2).
A. Penyelewengan.
B. Kawin campur.
C. Parentesis: Kedatangan Elia.
D. Kekerasan.
E. Perceraian.
III. Janji-janji pada Bangsa Israel (3-4).
A. Kedatanga utusan Kovenan.
B. Kedatangan pendahulu Mesias
C. Kedatangan hari Tuhan.
Kejadian merupakan kitab yang mengisahkan aneka permulaan. Kitab ini menyajikan kisah yang
megah tentang permulaan segala sesuatu yang dijadikan ada oleh sang Khalik. Kitab ini menjawab
pertanyaan manusia mengenai asal usul dunia, tanaman, hewan dan umat manusia. Kitab ini
mengisahkan penetapan lembaga keluarga, asal mula dosa, penganugerahan penyataan ilahi,
pertumbuhan dan perkembangan bangsa manusia dan awal rencana Allah untuk menyediakan
penebusan melalui umat pilihan-Nya. Kitab ini menyajikan dan mengilustrasikan kebenaran-
kebenaran abadi, dan kitab ini memecahkan beberapa teka-teki, rahasia dan situasi membingungkan
dari segi kehendak Allah bagi umat-Nya. Dengan bahasa yang jernih dan penuh makna penulisnya
mengemukakan berbagai rencana dan maksud Allah yang telah dinyatakan-Nya di samping keajaiban-
keajaiban tindakan-Nya terhadap manusia.
Kejadian mengarahkan pembacanya kembali ke saat maha penting dari penciptaan saat mana
Khalik yang mahakuasa bersabda menjadikan berbagai keajaiban tak tersaingi berupa matahari, bulan,
bintang-bintang, planet, galaksi, tanaman dan makhluk-makhluk hidup serta satu orang yang Ia
ciptakan sesuai dengan gambar-Nya. Di dalam lima puluh pasal ini, penulis yang terilhamkan
menyingkapkan drama penciptaan; dia mengisahkan bagaimana dosa merayap muncul dengan pasti
dan tanpa ampun untuk mendatangkan kehancuran, kekacauan dan maut; dia menunjukkan buah-buah
tragis dari dosa berupa kekalahan menyedihkan orang tua kita yang pertama; dan dia memperlihatkan
bagaimana kemudian kejahatan manusia yang bertumpuk menghasilkan kehancuran dan nyaris
kepunahan kehidupan umat manusia. Di dalam awal yang baru penulis menelusuri pertumbuhan umat
yang baru itu dan akhirnya karier yang mempesona dari Abraham, Ishak, Yakub dan anak-anaknya.
Kitab ini diakhiri dengan kematian Yusuf di Mesir.
Kej 1:1-11:32* mengemukakan kisah manusia sejak diciptakan hingga awal kehidupan Abraham.
Kej 12:1-50:26* mengisahkan rangkaian tindakan Allah terhadap umat pilihan-Nya-Abraham, Ishak,
Yakub, Yusuf serta keturunan mereka. Di sepanjang narasi ini perhatian utama penulis ialah untuk
mengemukakan maksud Yehovah menciptakan dan menuntun umat pilihan ini . Bukan hanya
Kejadian, namun seluruh Alkitab menunjukkan bahwa melalui umat pilihan ini Tuhan berusaha
menyatakan sifat dan jalan-jalan-Nya kepada dunia, menanamkan kehendak kudus-Nya di bumi, dan
menyebarkan "kabar baik" tentang penebusan kepada seluruh umat manusia. Bangsa-bangsa dan
perseorangan disebutkan dan dikisahkan di dalam kitab ini hanya sejauh mereka itu sesuai dengan
rencana dan maksud agung Tuhan. Bangsa Sumer, Het, Babel dan Asyur, disebutkan manakala
sejarah mereka menyentuh sekilas kehidupan bangsa pilihan itu, tampil sejenak untuk menunjukkan
maksud Allah bagi dunia. Pada setiap tahap, Roh berusaha menjadikan penyataan Allah jelas bagi
manusia dari segala zaman. Di dalam drama yang bergerak dengan cepat ini, tersingkaplah rencana
Allah.
yaitu tepat untuk menyatakan bahwa Musa yaitu penulis yang bertanggung jawab dari kitab ini.
Kitab ini merupakan kitab pertama dari Pentateukh, yang oleh Alkitab maupun tradisi dikaitkan
dengan Musa. Sulit untuk menemukan seorang tokoh di sepanjang sejarah Israel yang lebih
memenuhi syarat untuk menulis sejarah ini. Terlatih dalam "segala hikmat orang Mesir" (Kis 7:22*),
Musa oleh Tuhan dipersiapkan untuk memahami berbagai catatan, tulisan dan kisah lisan yang ada
saat itu. Sebagai seorang nabi yang kepadanya diberikan kehormatan luar biasa untuk dapat
bersekutu selama beberapa jam dengan Allah di Sinai, Musa cukup dibekali untuk mencatat bagi
semua orang gambaran Tuhan tentang kegiatan-Nya sepanjang zaman. Mana ada tokoh lain di
sepanjang segala abad yang memiliki kuasa dan iman semacam dirinya, serta menikmati hubungan
yang demikian intim dengan Yehovah?
Pada zaman modern, penemuan catatan-catatan kuno seperti Surat-surat dari Amarna, sastra Ugarit
(atau Ras Shamra) dan lempengan-lempengan tanah liat dari Mesopotamia (Mari dan Nuzu) telah
memungkinkan para sarjana menyusun ulang latar belakang sejarah dan budaya dari kisah Alkitab dan
menemukan bagaimana bentuk kehidupan di Mesir, Palestina dan Mesopotamia sepanjang masa
Alkitab. Sangat mungkin banyak peninggalan lisan dan tertulis, yang menjangkau balik jauh ke masa
kuno, tersedia bagi sarjana Ibrani terkemuka ini , yang pendidikannya di Mesir dan pendidikan
lanjutnya di wilayah gunung Sinai telah menjadikan dirinya memahami berbagai gerakan dunia yang
penting. Menurut tradisi Yahudi, saat ahli Taurat yang terkemuka, Ezra, kembali ke Yerusalem dari
Babel dengan membawa beberapa naskah Perjanjian Lama berbahasa Ibrani, dia mulai bekerja dengan
sangat giat untuk memelihara, menyalin dan menyunting naskah-naskah kuno yang ada padanya itu.
Jika seseorang berharap untuk menemukan di dalam Kitab Kejadian kisah ilmiah tentang bagaimana
dunia dijadikan dengan segala pertanyaan mengenai kehidupan primitif terjawab dalam bahasan
teknis keilmuan yang dikenal guru besar atau peneliti ilmiah, dia akan kecewa. Kitab Kejadian bukan
merupakan usaha untuk menggumuli atau menjawab masalah-masalah teknis ilmiah. Kitab ini
membicarakan soal-soal yang jauh melampaui bidang ilmu. Penulis berusaha untuk memperkenalkan
kita dengan Allah abadi serta menunjukkan makna kudus dari diri, maksud dan sikap Allah terhadap
makhluk-makhluk ciptaan-Nya sementara Ia melaksanakan kehendak-Nya yang kudus. Kitab yang
sangat menonjol kedalaman dan keunggulan moralnya, martabat dan kemegahannya ini, melukiskan
Allah abadi yang berkarya menyiapkan sebuah tempat di mana makhluk-makhluk kesayangannya bisa
hidup dan bertumbuh serta memancarkan kemuliaan ilahi.
Nama Keluaran diterjemahkan dari bahasa Inggris, Exodus, yang merupakan transliterasi dari
Septuaginta dan sampai kepada kita melalui Vulgata Latin. Di dalam bahasa Yunani, kata ini
berarti "keberangkatan" atau "kepergian." Judul Ibrani bagi kitab ini merupakan frasa pertamanya,
"Inilah nama," atau sering langsung "Nama-nama" begitu saja. Sebagai nama yang melukiskan isi
kitab ini, Keluaran tidak memuaskan sebab kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir hanya
menghabiskan tidak sampai setengah bagian kitab ini.
Alkitab menyebutkan bahwa penulis Kitab Keluaran ini, bersama dengan empat kitab lainnya dalam
Pentateukh, yaitu Musa. Penelitian Alkitab dari segi sejarah dan sastra telah menjadikan kitab-kitab
ini suatu himpunan naskah yang ditulis oleh beberapa orang penulis sejak abad ke-9 hingga abad ke-5
sM. Pandangan radikal yang menolak bahwa Musa ikut menulis sebagian dari kitab-kitab ini tidak
dianut luas lagi saat ini seperti halnya satu angkatan yang lalu. Sekalipun masih banyak sarjana liberal
yang mempertanyakan soal kepenulisan Pentateukh oleh Musa, berbagai penemuan arkeologis telah
membuat para pakar dari latar belakang teologis menghargai lebih tinggi kesejarahan dari peristiwa-
peristiwa yang dikisahkan.
Keluaran membahas kisah bangsa Israel mulai dari tempat di mana Kitab Kejadian berhenti. Kurun
waktu yang panjang di antara Yusuf dan Musa dikemukakan dalam dua ayat ringkas (Kel 1:6,7*), dan
kemudian diuraikan situasi yang sama sekali baru dari keturunan Yakub. Tamu-tamu istimewa Firaun
dan Yusuf telah menjadi bangsa budak, sasaran dari ketakutan dan kebencian para penguasa mereka.
saat Firaun berusaha mengendalikan bangsa Ibrani itu melalui penindasan yang keji, Allah
bertindak untuk melepaskan mereka. Sang pembebas, Musa, lebih dahulu dipersiapkan dan baru
kemudian, dengan kuasa Allah, pembebasan yang terkenal itu berlangsung. Meskipun demikian,
penebusan dari cengkeraman Mesir, bukan sekadar pembebasan dari perbudakan saja. Allah
membawa Israel keluar dari Mesir agar Dia dapat membawa mereka, selaku bangsa yang dipersiapkan
sendiri oleh-Nya, ke Negeri Yang Dijanjikan. Jadi, tema utama dari Keluaran, bukan sekadar tindakan
penebusan yang luar biasa oleh Allah, melainkan juga pengadopsian dan peresmian Israel selaku umat
Allah. E. E. Flack mengatakan, "Keluaran tidak diragukan lagi merupakan kitab paling penting yang
pernah ada yang membahas berdirinya sebuah bangsa" ("Interpretation of Exodus," Interpretation,
Jan. 1949). "Seluruh sejarah atau filsafat sejarah Ibrani sesudah ini sebagaimana tercermin di dalam
kitab nabi-nabi melihat balik ke peristiwa Keluaran sebagai tindakan kreatif Allah yang menciptakan
berdirinya bangsa Ibrani"
Tanggal terjadinya peristiwa Keluaran merupakan persoalan bagi para peneliti selama berabad-abad,
dan dengan adanya berbagai penemuan arkeologi modern, hangatnya perdebatan malah makin
meningkat, sekalipun fakta sejarah tetap agak suram. Tanggalnya yang sudah ditentukan yaitu paling
cepat 1580 sM sedang paling lambat yaitu 1230 sM. sebab Alkitab hampir tidak memberi
masukan untuk menyusun sebuah kronologi, hendaknya diingat bahwa tanggal yang ditetapkan untuk
peristiwa Keluaran bukan merupakan masalah doktrin, melainkan hanya informasi sejarah. Secara
umum dianggap bahwa orang Israel masuk ke Mesir saat keponakan Semit mereka, orang Hiksos,
sedang berkuasa, mungkin sekitar 1700 sM. Jika mereka tinggal di Mesir selama 430 tahun (Kel
12:40*), maka tanggal kepergian mereka pastilah sekitar tahun 1270 sM. Sebagian besar bukti
arkeologi yang kita miliki tampaknya menunjuk kepada sebuah tanggal tertentu pada abad ketiga
Page 4 of 130
belas. Pembangunan Pitom dan Raamses (Kel 1:11*), yaitu Rameses Agung, memerintah pada saat
itu. Data yang dikemukakan oleh arkeologi bagi kejatuhan beberapa besar kota kerajaan di Kanaan,
dari Lakhis hingga Hazor, juga yaitu abad ketiga belas. Penelitian Nelson Glueck di wilayah
Transyordan dan gurun Negeb telah menemukan kenyataan bahwa bangsa-bangsa Moab, Amon,
Edom dan Amori tidak tinggal di wilayah ini dan siap untuk menentang kemajuan Israel sebelum
abad ketiga belas (bdg. The Other Side of Jordan dan Rivers in the Desert). Kesulitan utama untuk
menemukan tanggal terjadinya peristiwa Keluaran pada abad ketiga belas dijumpai di 1Raj 6:1*. Di
situ dikemukakan bahwa Bait Suci mulai dibangun 480 tahun sesudah peristiwa Keluaran, yaitu pada
tahun keempat pemerintahan Salomo. Tahun keempat pemerintahan Salomo yaitu sekitar tahun 960
sM sehingga rupanya peristiwa Keluaran terjadi pada tahun 1440 sM; dan tanggal ini bukan hanya
bertentangan dengan bukti arkeologi, namun juga dengan tanggal yang didapat dari Kel 12:40*. Telah
diusulkan pemecahan dengan menganggap tahun-tahun dari 1Raj 6* sebagai berarti dua belas
angkatan, waktu sesungguhnya tidak lebih daripada tiga ratus tahun. Sekalipun demikian, kenyataan
bahwa tanggal terjadinya peristiwa Keluaran tidak dapat ditentukan tidak mengurangi kesejarahan
kitab ini maupun berita utamanya tentang penebusan oleh Allah.
KELUARAN
I. PEMBEBASAN ISRAEL (KEL 1:1-18:27)
A. Pendahuluan (Kel 1:1-7)
B. Perbudakan di Mesir (Kel 1:8-22)
C. Pembebas Dipersiapkan (Kel 2:1-4:31)
1. Kelahiran dan Terpeliharanya Musa (Kel 2:1-25)
2. Panggilan dan Penugasan Musa (Kel 3:1-4:31)
D. Tugas Musa kepada Firaun (Kel 5:1-7:7)
1. Pemunculan Musa Pertama di Hadapan Firaun (Kel 5:1-23)
2. Janji dan Perintah Yehovah Dibaharui (Kel 6:2-14)
3. Musa Diutus untuk Kembali Menghadap Firaun (Kel 6:29-7:7)
E. Keajaiban-keajaiban Allah di Mesir (Kel 7:8-11:10)
1. Penugasan Ilahi Musa dan Harun Diuji (Kel 7:8-15)
2. Tulah Pertama-Air Menjadi Darah (Kel 7:14-25)
3. Tulah Kedua-Katak (Kel 8:1-15)
4. Tulah Ketiga-Nyamuk (Kel 8:16-19)
5. Tulah Keempat-Lalat Pikat (Kel 8:20-32)
6. Tulah Kelima-Sampar pada Ternak (Kel 9:1-7)
7. Tulah Keenam-Barah (Kel 9:8-12)
8. Tulah Ketujuh-Hujan Es (Kel 9:13-35)
9. Tulah Kedelapan-Belalang (Kel 10:1-20)
10. Pengumuman Tulah Terakhir (Kel 11:1-10)
F. Paskah dan Kepergian Israel (Kel 12:1-15:21)
1. Penyucian Israel (Kel 12:1-28)
2. Tulah Kesepuluh-Hukuman Allah Atas Mesir (Kel 12:29-36)
3. Keluar dari Mesir (Kel 12:37-15:21)
a. Kepergian Israel (Kel 12:37-42)
b. Peraturan-peraturan Selanjutnya untuk Paskah (Kel 12:43-51)
c. Pengudusan Anak Sulung (Kel 13:1-16)
d. Melewati Laut Kolsom (Kel 13:17-14:31)
e. Nyanyian Musa (Kel 15:1-21)
f. Israel di Padang Gurun (Kel 15:22-18:27)
II. ISRAEL DI SINAI (KEL 19:1-40:38)
A. Peresmian Perjanjian di Sinai (Kel 19:1-24:11)
B. Aneka Petunjuk untuk Kemah Suci dan Imam (Kel 24:12-31:18)
C. Perjanjian Dilanggar dan Dipulihkan (Kel 32:1-34:35)
D. Pembangunan Tempat Ibadah (Kel 35:1-39:43)
E. Pendirian dan Penyucian Kemah Suci (Kel 40:1-38)
Imamat merupakan judul terjemahan dari bahasa Inggris Leviticus. Judul bahasa Inggris ini
berasal dari judul dalam Vulgata Latin, Leviticus yang berasal dari kata Levitikon, "mengenai orang-
orang Lewi," judul yang ada di LXX. Bagi orang Yahudi kitab ini dikenal melalui kata
pertamanya, wayyigrã, "Dan Dia memanggil," sesuai dengan kebiasaan. orang Yahudi yang
memberi nama kepada banyak kitab Perjanjian Lama menurut kata atau kelompok kata
pertamanya. Pemakaian kata "Dan" pada awal dari kitab ini tidak berarti bahwa isi dari kitab ini
merupakan lampiran dari sebuah kitab lainnya. Pokok pembahasan dari Kitab Keluaran dilanjutkan,
namun kitab ini merupakan kesatuan yang berdiri sendiri. Dalam hal ini, perhatikan bahwa beberapa
kitab Perjanjian Lama lainnya diawali dengan "Dan" dalam teks Ibraninya, misalnya: Keluaran,
Bilangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut.
Kitab Imamat menyajikan rencana Allah untuk mengajar umat pilihan-Nya bagaimana menghampiri
Dia dengan cara yang kudus. Penekanan khusus diberikan kepada tugas keimaman untuk menjadikan
pendekatan kepada Allah ini penuh hormat dan kudus. Dengan demikian kitab ini membahas jabatan
imam atau "jabatan orang Lewi," yang ayat acuannya kita jumpai dalam Ibr 7:11* di mana dipakai
istilah "imamat Lewi."
TANGGAL PENULISAN DAN KEPENULISANNYA
"Mereka juga menempatkan para imam pada golongan-golongannya dan orang-orang Lewi pada
rombongan-rombongannya untuk melakukan ibadah kepada Allah yang diam di Yerusalem, sesuai
dengan yang ada tertulis dalam kitab Musa" (Ezr 6:18*).
Ezra sang penyalin mengacu kepada gulungan Imamat waktu melukiskan sumber yang dipakai pada
zamannya untuk menentukan prosedur yang tepat waktu mendedikasikan Bait Allah yang dibangun
kembali itu. Kitab Imamat sendiri secara berkesinambungan menekankan peranan Musa dalam
mencatat peraturan-peraturan yang diberikan kepadanya oleh Allah untuk ibadah yang benar di dalam
upacara-upacara di Kemah Suci. Kenyataan bahwa tentu sudah harus ada peraturan-peraturan sebelum
bisa ada ibadah yang teratur oleh para imam dan bangsa itu mengharuskan adanya kekuatan
pengendali yang sentral dan waktu yang telah ditentukan. Kita dapat memahami kenyataan ini secara
paling baik di dalam peranan Musa dalam meresmikan ibadah di Kemah Suci. Bangsa-bangsa pada
zaman Musa telah memiliki berbagai tata ibadah yang pasti dan rinci jauh sebelum dia tampil. Kita
tidak perlu beranggapan bahwa berbagai tata ibadah untuk penyembahan Yehovah yang sudah pasti
ini merupakan sebuah hasil evolusi bertahap atau bahwa catatan dalam Kitab Imamat merupakan
penemuan yang belakangan yaitu pada zaman Ezra.
BAHAN LATAR BELAKANG.
Bentuk yang sangat sederhana dari Kitab Imamat telah memusingkan para kritikus. Beberapa di
antara mereka melihat bagian kedua (ps. 17-27), yang menguraikan dasar-dasar manusia untuk
bersekutu dengan Allah, sebagai tambahan yang belakangan dari sebuah "Kitab Kekudusan."
Sekalipun demikian, pergeseran penekanan saja sudah bisa menjelaskan perbedaan antara kedua
bagian utama kitab ini.
Orang bisa saja mengatakan bahwa Kitab Imamat disampaikan kepada kita melalui Musa untuk
mengantisipasi "kurban abadi" itu-Yesus Kristus-dari Perjanjian Baru. Kitab Ibrani menyajikan
gambaran ini dalam Perjanjian Baru, dan Kitab Imamat menyediakan latar belakang bagi aspek-aspek
Page 7 of 130
yang lebih penting tentang "imam menurut peraturan Melkisedek." Sesungguhnya, studi tentang Kitab
Imamat memiliki nilai abadi hanya bila studi itu menunjuk kepada Yesus Kristus-Imam Besar kita.
IMAMAT
.I BAGAIMANA ORANG MENGHAMPIRI ALLAH (IM 1:1-16:34)
A. Hukum-hukum tentang Kurban (Im 1:1-7:38)
1. Peraturan-peraturan Umum (Im 1:1-6:7)
a. Pendahuluan (Im 1:1,2)
b. Kurban Bakaran (Im 1:3-17)
c. Kurban Sajian (Im 2:1-16)
d. Kurban Keselamatan (Im 3:1-17)
e. Kurban Penghapus Dosa (Im 4:1-5:13)
f. Kurban Penebus Salah (Im 5:14-6:7)
2. Peraturan-peraturan Lebih Terinci Mengenai Berbagai Persembahan Kurban Ini (Im 6:8-
7:38)
B. Kesaksian Sejarah (Im 8:1-10:20)
1. Permulaan Persembahan Kurban (Im 8:1-36)
2. saat Pertama Kali Dipersembahkan (Im 9:1-24)
3. Penyalahgunaan Persembahan oleh Nadab dan Abihu (Im 10:1-20)
C. Hukum-hukum Kesucian (Im 11:1-15:33)
1. Yang Boleh Dimakan atau Disentuh (Im 11:1-47)
2. Melahirkan Anak (Im 12:1-8)
3. Kusta (Im 13:1-14:57)
4. Kesucian Seksual (Im 15:1-33)
D. Hari Pendamaian (Im 16:1-34)
.II BAGAIMANA ORANG MEMELIHARA HUBUNGAN DENGAN ALLAH
(IM 17:1-27:34*)
A. Kekudusan Bangsa Itu (Im 17:1-20:27)
1. Berkenaan dengan Makanan (Im 17:1-16)
2. Berkenaan dengan Pernikahan (Im 18:1-30)
3. Berkenaan dengan Tatanan Sosial (Im 19:1-37)
4. Hukuman untuk Ketidaktaatan (Im 20:1-27)
B. Kekudusan Para Imam dan Persembahan Mereka (Im 21:1-22:33)
C. Kekudusan Waktu (Im 23:1-25:55)
1. Penggunaan Hari Secara Kudus (Im 23:1-44)
2. Penggunaan Benda Secara Kudus (Im 24:1-23)
3. Penggunaan Tahun Secara Kudus (Im 25:1-55)
D. Berbagai Janji dan Peringatan (Im 26:1-46)
E. Pengucapan Nazar (Im 27:1-34)
BILANGAN
JUDUL DAN JANGKAUAN KITAB
Di antara beberapa judul kuno dari kitab ini ada satu judul yang dipakai dalam Alkitab Ibrani
kita, yaitu bemidbar yang artinya "di padang gurun." Judul ini diambil dari anak kalimat yang
menonjol di baris pertama dan cukup jelas melukiskan seluruh isinya. Judul bahasa Inggrisnya berasal
dari versi Septuaginta (LXX) yang melalui Vulgata Latin diperoleh judul Numbers. (Indonesia:
Bilangan.) Hanya beberapa pasal saja (1-4; 26) yang membahas pembilangan (sensus), sedang
sebagian besar kitab ini membahas hukum-hukum, ketetapan-ketetapan dan pengalaman Israel saat
di padang gurun. Sekalipun demikian, kita tidak boleh meremehkan pentingnya dua sensus di dalam
kitab ini, yang pertama diadakan di Sinai sebagai persiapan untuk pengembaraan di padang gurun,
sedang satunya dilaksanakan dekat Sungai Yordan, hampir empat puluh tahun kemudian, sebagai
persiapan untuk memasuki negeri yang dijanjikan. Dapat dikatakan bahwa kedua sensus ini
memisahkan kitab ini menjadi dua bagian. Jadi pasal Bil 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9; 10; 11; 12; 13; 14;
15; 16; 17; 18; 19; 20; 21* diawali dengan sensus pertama dan membahas pengalaman Israel selama
di padang gurun, sedang pasal Bil 22; 23; 24; 25; 26; 27; 28; 29; 30; 31; 32; 33; 34; 35; 36*
diawali dengan sensus angkatan yang baru dan mengisahkan peristiwa pada bulan-bulan sebelum
mereka memasuki Kanaan. Kisah Bileam yang memisahkan dua bagian ini merupakan engsel
(penghubung) sastra yang akan kita bahas nanti.
Bilangan tidak dapat dipelajari terlepas dari Keluaran, Imamat dan Ulangan. Sebagai contoh, Kel
19:1* mengisahkan tibanya Israel di padang gurun Sinai pada bulan ketiga sesudah orang Israel
meninggalkan Mesir. Dari bulan ketiga hingga bulan kedua belas mereka menerima Dasa Titah,
perintah dan petunjuk untuk mendirikan Kemah Suci, dan berbagai perintah tentang sistem
mempersembahkan kurban yang dikemukakan di dalam Imamat. Di dalam Bilangan, bangsa Israel
memperoleh pelajaran tentang hidup sebagai suatu perhimpunan. Sistem keagamaan, sipil dan militer
mereka diatur sebagai persiapan bagi mereka dalam melakukan perjalanan, ibadah dan penaklukan
sebagai satu bangsa.
beberapa hukum dan peraturan yang melengkapi rincian-rincian legal dan seremonial dari Keluaran
dan Imamat disisipkan dalam kitab ini. Tanggal paling dini yang disebutkan kitab ini ialah dalam Bil
9:1* yang mencatat bahwa pada bulan pertama dari tahun kedua bangsa itu diberi peraturan untuk
melaksanakan peringatan Paskah yang pertama. Bil 1:1,2* menyebutkan bahwa Israel, saat berada
di Sinai, melakukan sensus pada bulan kedua dari tahun kedua dan menerima perintah-perintah
tambahan yang sebagian besar menyangkut upacara agamawi (ps. 5-10) dan sesudah itu
meninggalkan Sinai pada tanggal dua puluh bulan kedua pada awal tahun kedua sesudah keluar dari
Mesir (Bil 10:11*). Jadi, Bilangan mengisahkan sejarah gerakan Israel sejak lima belas hari terakhir
di Sinai (Bil 1:1; 10:1*) hingga mereka sampai di dataran Moab, sebelah timur Yordan, pada tahun
keempat puluh (Bil 22:1; 26:3; 33:50*).
Urutan peristiwa yang dikisahkan dalam Kitab Bilangan yaitu : Dari Sinai Israel mengembara ke
utara memasuki padang gurun Paran. Di sana, para pengintai yang membawa pulang "kabar busuk"
menimbulkan pemberontakan dan bangsa itu tidak bersedia masuk ke Kanaan. Akibat pemahaman
yang bodoh, mereka menderita kekalahan di tangan bangsa kafir dan disuruh mengembara kembali di
padang gurun sepanjang tiga puluh delapan tahun lagi. Pada akhir periode ini mereka pergi ke dataran
Moab, di sebelah timur Yordan, dan mengalahkan serta menduduki seluruh wilayah Trans-Yordan di
utara Sungai Arnon. Di sini mereka terjerumus ke dalam dosa dengan para wanita Moab dan
Midian serta menyembah dewa-dewa mereka. Israel, kini generasi baru, dihitung lagi, dan atas
perintah Allah mereka kemudian menghancurkan orang Midian yang telah demikian mengusik
mereka. Gad, Ruben dan setengah suku Manasye diberi tanah di tepi timur Sungai Yordan, dan Musa
Page 9 of 130
mengangkat Yosua sebagai penggantinya. Dari pasal Bil 20* hingga pasal Bil 36* kitab ini membahas
rangkaian peristiwa pada tahun keempat puluh (Bil 36:13*). Banyaknya hukum dan peraturan
menjadikan bagian ini memiliki banyak kesamaan dengan Kitab Ulangan.
G. B. Gray mengemukakan pandangan beberapa peneliti Alkitab dari segi sejarah dan sastra saat ia
mengatakan tentang Kitab Bilangan, "Banyak yang dikisahkan di sini tentang zaman Musa dapat
dibuktikan sebagai tidak menurut sejarah… (ICC, hlm. ilii). Sekalipun demikian, dia mengakui bahwa
beberapa persoalan yang dikemukakan "tidak bertentangan dengan fakta-fakta dan kondisi sejarah."
Dalam usaha untuk menerangkan Kitab Bilangan tanpa mengakui bahwa Musa menulisnya, banyak
ahli mengemukakan bahwa kitab ini merupakan perpaduan beberapa dokumen. Menurut para ahli itu
sebagian besar dari Kitab Bilangan berasal dari dokumen P (Priestly; para imam), yang menurut
mereka tidak ditulis sebelum abad keenam atau kelima sM, terutama oleh para imam zaman pasca-
pembuangan. Mereka berpendapat bahwa sebagian dari Kitab Bilangan berasal dari dokumen "J" dan
"E," dua buah dokumen yang tidak lebih tua dari abad kesembilan dan kedelapan sM. Bahkan
dokumen-dokumen yang lebih dini ini, menurut mereka, berjarak demikian jauh dari zaman Musa dan
tradisi-tradisinya demikian kacau sehingga hampir tidak mengisahkan apa-apa tentang zaman Musa.
Pandangan itu membuat kita berhadapan dengan kitab yang ditulis lebih daripada lima ratus tahun
atau lebih sejak kejadian sesungguhnya oleh berbagai penulis, penyunting dan penyusun yang
berbeda. Kitab Bilangan, menurut para peneliti itu, "tidak memiliki kesatuan ungkapan religius" dan
"mustahil untuk merangkum pengertian-pengertian dasarnya atau untuk menunjukkan nilai religius
dari kitab ini sebab hal-hal itu berbeda-beda di tiap bagiannya" (ibid; hlm. xlvii). Alasan-alasan
pokok yang dikemukakan Gray dan lain-lain untuk mendukung hipotesis dokumenter tentang asal-
usul dari Pentateukh ini tidak lagi dianggap sahih oleh para sarjana teori sumber yang paling
terkemuka. E. E. Flack di dalam Interpretation (1959, XIII, hlm. 6) mengatakan, "Kecenderungan
dalam pemikiran mutakhir ialah mengenali bahan-bahan dini di dalam Pentateukh dan berusaha untuk
mencari suatu pemecahan yang lebih memuaskan bagi masalah struktur penulisannya ketimbang yang
diberikan oleh teori dokumenter itu" (lih. juga B. D. Eerdmans, Oudtestamenttische Studien, Bag. VI,
1949). C. H. Gordon di dalam artikelnya Homer and the Bible (Hebrew Union College Annual, vol
XXVI, 1955) mengemukakan bahwa "naskah-naskah yang baru ditemukan menunjukkan bahwa
banyak bahan yang dianggap berasal dari dokumen ‘P’ ternyata sangat dini, bahkan pra Musa." Di
sini Gordon menuduh para penganut pandangan dokumenter ini sebagai memberi tanggal hipotesis
kepada strata (dokumen) hipotesis dan menyebutnya penelitian "sejarah." Sekalipun demikian,
berbagai kecenderungan mutakhir di kalangan akademis belum menghasilkan penerimaan umum
terhadap klaim-klaim yang dikemukakan kitab ini (sebanyak delapan puluh kali atau lebih) bahwa
"Tuhan berfirman kepada Musa" atau bahwa "Musa menuliskan perjalanan mereka…" (Bil 33:2*).
Orang harus bertanya apakah para penipu yang suka memamerkan kesucian mereka menyisipkan
kata-kata "Tuhan berfirman kepada Musa" agar tulisan mereka kedengarannya memiliki otoritas.
Pakar ilmu purbakala terkemuka, W. F. Albright, menunjukkan bahwa penipu yang suka
memamerkan kesucian dan pseudepigrafi tidak umum di dunia Timur pra-Helenistik.
Sesungguhnya, penemuan ilmu purbakala modern telah memaksa beberapa sarjana mengubah sikap
mereka mengenai asal-usul sebagian besar bahan dalam Kitab Bilangan. Banyak arkeolog modern
yang kompeten bahkan bergantung pada acuan geografis di dalam Pentateukh untuk menuntun
penggalian mereka. Pada tahun 1959, Nelson Glueck, sesudah keberhasilan penggalian selama
bertahun-tahun di negeri Alkitab, saat berbicara tentang "memori sejarah" yang menakjubkan dari
Alkitab, mengatakan, "Dapat dinyatakan secara pasti bahwa tidak ada penemuan purbakala yang
pernah bertentangan dengan acuan Alkitab" (Rivers in the Desert, hlm. 31).
Kitab Bilangan, bersama dengan kitab-kitab lain dalam Pentateukh, sudah lama memperhadapkan
para sarjana dengan masalah-masalah yang sulit. Namun banyak persoalan telah berhasil dipecahkan
Page 10 of 130
berdasar data tambahan yang baru saja ditemukan. Sebuah contoh yang bagus ada di dalam
tafsiran atas Bil 34:15*. Pendekatan kritikus terhadap Alkitab sering kali negatif dan merusak, sebab
dia mulai dengan menolak unsur adikodratinya. Kita harus melihat teks Kitab Bilangan dengan sikap
positif dan dengan percaya pada hal-hal yang adikodrati. Kita bisa saja kritis terhadap nas dan
mengetahui berbagai kesulitan di dalamnya tanpa menutup pikiran kita terhadap makna
sesungguhnya. Di dalam hal-hal yang melibatkan unsur adikodrati, kita harus mencari arti yang paling
jelas menurut metode penafsiran yang berdasar teknik-teknik ahli sejarah dan ahli tata bahasa. Jika
Alkitab mengatakan bahwa ada campur tangan adikodrati, kita harus menerima itu sebagaimana
adanya. Di mana Alkitab tidak menyebutkan demikian, kita tidak perlu memaksakan makna
adikodrati ke dalam nas ini ; sebab penempatan hal yang adikodrati itu dimaksudkan sebagai
perbuatan yang luar biasa dan bukan perbuatan yang biasa. Dengan demikian, apa yang dipahami
seseorang mengenai asal usul Kitab Bilangan tergantung pada filsafat yang sudah dianut sebelumnya.
Jika filsafat dasarnya bersifat naturalistis, dia akan berkesimpulan bahwa kitab yang adikodrati pasti
merupakan kecurangan dan khayalan. Namun jika seseorang percaya bahwa Sang Wujud Tertinggi
bisa saja campur tangan di dalam kehidupan umat manusia, dia tidak akan menemui kesulitan untuk
memahami keluarnya Israel dari Mesir sebagai suatu peristiwa adikodrati.
Sekalipun demikian, kita juga harus mengetahui bahwa ada sistem pengaturan hal yang adikodrati itu.
Musa tidak selalu mengadakan mukjizat, Allah juga tidak mendiktekan setiap kata dari nas yang
diilhamkan oleh-Nya. Sang nabi tidak diragukan lagi memanfaatkan jasa banyak juru tulis (bdg. Bil
11:16,25*) yang menjelaskan pemakaian kata ganti orang ketiga. Allah secara langsung menyatakan
sebagian kitab itu kepada Musa, termasuk peraturan untuk tinggal menetap di negeri yang dijanjikan
dan rincian prosedur upacara keagamaan. Namun di sisi lain, Musa dan para juru tulisnya mungkin
memiliki beberapa dokumen dan banyak tradisi lisan. Roh Allah mencegah mereka berbuat salah
dalam hal fakta, doktrin atau keputusan. Kisah Bileam dan Balak (ps. 22-24) merupakan satu-satunya
bagian dalam kitab ini yang tidak secara jelas dihubungkan dengan Musa dan yang di dalamnya Musa
tidak disebut.
BILANGAN
BAGIAN PERTAMA: ISRAEL DI PADANG GURUN (BIL 1:1-21:35)
I. SENSUS PERTAMA DI PADANG GURUN SINAI (BIL 1:1-4:49)
A. Sensus Pasukan Tempur Israel (Bil 1:1-54)
B. Pengaturan Kemah (Bil 2:1-34)
C. Fungsi Imamat Putra-putra Harun (Bil 3:1-4)
D. Tugas dan Sensus Suku Lewi (Bil 3:5-39)
E. Sensus Laki-laki Sulung (Bil 3:40-51)
F. Sensus Angkatan Kerja Suku Lewi dan Tugas Mereka (Bil 4:1-49)
II. GULUNGAN IMAMAT PERTAMA (BIL 5:1-10:10)
A. Pemisahan Orang yang Najis (Bil 5:1-4)
B. Kompensasi Untuk Pelanggaran dan Honor Imam (Bil 5:5-10)
C. Pengadilan Terhadap Kecemburuan (Bil 5:11-31)
D. Hukum Orang Bernazar (Bil 6:1-21)
E. Berkat Imam (Bil 6:22-27)
F. Persembahan Pemimpin Suku (Bil 7:1-89)
G. Kandil Emas (Bil 8:1-4)
H. Peringatan Paskah yang Pertama dan Perayaan Paskah Tambahan yang Pertama (Bil 9:1-14)
I. Awan Menutupi Kemah Suci (Bil 9:15-23)
J. Dua Nafiri Perak (Bil 10:1-10)
.III DARI PADANG GURUN SINAI KE PADANG GURUN PARAN (BIL 10:11-14:45*; BDG.
BIL 10:12; 13:26)
A. Meninggalkan Sinai (Bil 10:1-36)
1. Perintah Untuk Berangkat (Bil 10:11-28)
2. Hobab Diundang Menjadi Penunjuk Jalan (Bil 10:29-32)
3. Tabut Perjanjian (Bil 10:33-36)
B. Tabera dan Kibrot-Taawa (Bil 11:1-35)
1. Tabera (Bil 11:1-3)
2. Mana Disediakan (Bil 11:4-9)
3. Tujuh Puluh Tua-tua Musa Sebagai Pejabat (Bil 11:10-30)
4. Hukuman Dengan Burung Puyuh di Kibrot-Taawa (Bil 11:31-35)
C. Pemberontakan Miryam dan Harun (Bil 12:1-16)
D. Kisah Tentang Pengintai (Bil 13:1-14:45)
1. Para Pengintai, Tugas dan Laporan Mereka (Bil 13:1-33)
2. Umat Itu Patah Semangat dan Memberontak (Bil 14:1-10)
3. Syafaat Musa (Bil 14:11-39)
4. Usaha Menyerbu Horma yang Sia-sia (Bil 14:40-45)
.IV GULUNGAN IMAMAT KEDUA (BIL 15:1-19:22)
A. Rincian Upacara Agama (Bil 15:1-41)
1. Jumlah Kurban Sajian dan Kurban Api-apian (Bil 15:1-16)
2. Persembahan Kue Hasil Panen Pertama (Bil 15:17-21)
3. Kurban Penghapusan Dosa yang Tidak Disengaja (Bil 15:22-31)
4. Hukuman Bagi Pelanggar Sabat (Bil 15:32-36)
5. Jumbai-jumbai (Bil 15:37-41)
B. Pemberontakan Korah, Datan dan Abiram (Bil 16:1-35)
C. Rangkaian Peristiwa yang Membenarkan Imamat Harun (Bil 16:36-17:13)
D. Berbagai Tugas dan Penghasilan Imam dan Orang Lewi (Bil 18:1-32)
E. Air Pentahiran Bagi Orang yang Najis sebab Kena Mayat (Bil 19:1-22)
.V DARI PADANG GURUN ZIN HINGGA PADANG RUMPUT MOAB (BIL 20:1-22:1)
A. Padang Gurun Zin (Bil 20:1-21)
1. Dosa Musa-sekitar Kadesy (Bil 20:1-13)
B. Di Wilayah Gunung Hor (Bil 20:22-21:3)
1. Kematian Harun (Bil 20:22-29)
2. Arad Orang Kanaan Dikalahkan di Horma (Bil 21:1-3)
C. Perjalanan Menuju Padang Rumput Moab (Bil 21:4-22:1)
1. Pemberontakan Dalam Perjalanan Mengelilingi Edom (Bil 21:4-9)
2. Tempat-tempat yang Dilewati saat Meninggalkan Araba (Bil 21:10-20)
3. Kekalahan Orang Amori (Bil 21:21-32)
4. Kekalahan Og, Raja Basan (Bil 21:33-35)
5. Tiba Di Dataran Moab (Bil 22:1)
BAGIAN KEDUA: PERSEKONGKOLAN ASING MENENTANG ISRAEL (BIL 22:2-25:18)
I. KEGAGALAN BALAK UNTUK MEMBUAT TUHAN MEMUSUHI ISRAEL (BIL 22:2-
24:25)
A. Balak Memanggil Bileam (Bil 22:2-40)
B. Nubuat-nubuat Bileam (Bil 22:41-24:25)
II. KEBERHASILAN BALAK DALAM MEMBUAT ISRAEL BERPALING DARI TUHAN
(BIL 25:1-18)
A. Dosa di Baal-Peor (Bil 25:1-5)
B. Semangat Pinehas (Bil 25:6-18)
BAGIAN KETIGA: PERSIAPAN UNTUK MEMASUKI NEGERI YANG DIJANJIKAN (BIL
26:1-36:13)
I. SENSUS KEDUA DI DATARAN MOAB (BIL 26:1-65)
II. HUKUM WARISAN (BIL 27:1-11)
III. PENGANGKATAN PENGGANTL MUSA (BIL 27:12-23)
IV. GULUNGAN IMAMAT KETIGA (BIL 28:1-29:40)
A. Pendahuluan (Bil 28:1,2*)
B. Persembahan-persembahan Harian (Bil 28:3-8)
C. Persembahan-persembahan Sabat (Bil 28:9,10)
D. Persembahan-persembahan Bulanan (Bil 28:11-15)
E. Persembahan-persembahan Tahunan (Bil 28:16-29:40)
1. Perayaan Roti Tidak Beragi (#/TB Bil 28:1b-25)
2. Perayaan Tujuh Minggu (Bil 28:26-31)
3. Perayaan Nafiri (Bil 29:1-6)
4. Hari Pendamaian (Bil 29:7-11)
5. Perayaan Pondok Daun (Bil 29:12-40)
V. KEABSAHAN NAZAR wanita (BIL 30:1-16)
VI. PERTEMPURAN DENGAN BANGSA MIDIAN (BIL 31:1-54)
A. Kehancuran Bangsa Midian (Bil 31:1-18)
B. Pentahiran Para Prajurit Perang (Bil 31:19-24)
C. Membagi Hasil Rampasan Perang (Bil 31:25-54)
VII. DUA SETENGAH SUKU MENETAP DI TRANS-YORDAN (BIL 32:1-42)
A. Tanggapan Musa Terhadap Permohonan Gad dan Ruben (Bil 32:1-33)
B. Kota-kota yang Dibangun Kembali Oleh Gad dan Ruben (Bil 32:34-38)
C. Gilead Diduduki Oleh Suku Manasye (Bil 32:39-42)
VIII. RUTE DARI MESIR KE YORDAN (BIL 33:1-49)
IX. PERINTAH-PERINTAH MENGENAI TINGGAL MENETAP DI KANAAN (BIL 33:50-
35:34)
A. Pengusiran Penduduk, Pembuatan Batas, Pembagian Tanah (Bil 33:50-34:29)
B. Kota-kota Suku Lewi & Kota-kota Perlindungan (Bil 35:1-34)
X. PERNIKAHAN AHLI WARIS wanita (BIL 36:1-13)
ULANGAN
Judul kitab ini merupakan terjemahan dari judul bahasa Inggrisnya yang tampaknya berlandaskan
pada sebuah kesalahan terjemahan atas frasa, "salinan hukum ini" (Ul 17:18) menjadi to
deuterononiion touto ("hukum yang kedua ini") oleh LXX. Judul Ibrani aslinya ialah devdrina,
"perkataan-perkataan," yang berasal dari kebiasaan memakai kata(-kata) pembukaan sebuah kitab
sebagai judulnya. Ulangan dibuka dengan pernyataan, "Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan
Musa" (Ul 1:1a). sebab perjanjian-perjanjian kuno antara kerajaan yang kalah perang dengan
kerajaan yang mengalahkannya dimulai dengan cara persis ini, judul Ibrani ini mengarahkan perhatian
kita pada salah satu petunjuk yang mengidentifikasi jenis penulisan kitab ini.
TANGGAL DAN KEPENULISAN,
Asal-usul kitab ini sangat penting dalam studi modem berdasar sejarah dan sastra atas Pentateukh
dan, sesungguhnya, dalam berbagai studi tentang jenis penulisan dan teologi Perjanjian Lama pada
umumnya. Menurut Hipotesis Perkembangan yang lebih tua, Kitab Ulangan berasal dari abad ketujuh
sM dan merupakan, kiasan bagi reformasi yang diadakan raja Yosia (bdg. 2Raj 22:3-23:25), yang
diduga untuk sistem keagamaan yang terpusat (bdg. tafsiran Ul 12:4-14). Pandangan ini dengan
berbagai perubahan tetap dipertahankan di kalangan kritikus yang negatif; namun sebagian menunjuk
pada tanggal pasca-pembuangan, sedang yang lain menelusuri pembuatan hukum dalam Kitab
Ulangan ini hingga ke awal zaman kerajaan atau bahkan sebelum zaman kerajaan. Yang penting di
dalam menentukan tanggal penulisan beberapa dokumen yang diduga dari Pentateukh ialah
kecenderungan untuk menjelaskan pertentangan peraturan-peraturan di dalam kitab ini bukan dengan
menggunakan evolusi kronologis yang panjang melainkan dengan menetapkan sumber-sumber
geografis-kultus yang berbeda untuk peraturan-peraturan ini . Jadi Kitab Ulangan, khususnya,
ditelusuri sampai ke sebuah tempat ibadah di Sikhem. Bukannya mengaitkan kitab ini dengan
keempat Kitab Pentateukh sebelumnya, sebuah pendekatan modem berpikir tentang adanya
Caturkitab dan sebuah tradisi penulisan Deuteronomis yang meliputi semua kitab dari Ulangan hingga
II Raja-Raja.
Kalangan sarjana Kristen ortodoks masa kini bergabung dengan kalangan Kristen yang lebih tua dan
tradisi Yahudi dalam menerima pernyataan Kitab Ulangan sendiri bahwa kitab ini merupakan salam
perpisahan dan nasihat seremonial terakhir dari Musa kepada jemaat Israel di dataran Moab. Dalam
Ul 31:9* 2Raj 24* dikatakan bahwa Musa menulis dan juga mengucapkan "perkataan hukum Taurat
itu". Seorang pejabat teokratis, sangat mungkin, telah melengkapi dokumen ini dengan mencatat
kematian Musa (ps. 34) dan mungkin juga nyanyian kesaksian Musa (ps. 32) serta wasiatnya (ps. 33).
Mungkin pejabat ini juga menambahkan beberapa unsur kerangka singkat tertentu ke dalam dokumen
hukum ini.
Kesatuan dan keaslian kitab ini sebagai hasil karya Musa dipastikan melalui kesesuaian yang
mencolok dari struktur kitab ini dengan struktur jenis perjanjian yang dikeluarkan oleh penguasa
dalam bentuk klasik pertengahan kedua seribu tahun sM. (Lihat keterangan lebih jauh di bawah dan
pelajari Tafsiran untuk rinciannya. Lihat juga M. G. Kline, "Dynasty Covenant," WTJ, XXIII
PERISTIWA HISTORIS
Kitab Ulangan dapat ditafsirkan secara memadai hanya dalam kerangka pelaksanaan perjanjian
penebusan Allah. Janji-janji yang diberikan kepada para leluhur dan akhirnya betul-betul digenapi di
dalam Kristus pernah mengalami penggenapan sebagai lambang dan bersifat sementara dalam
berbagai perjanjian dengan Israel yang dilaksanakan melalui Musa. Dengan Perjanjian Sinai teokrasi
didirikan, dengan Musa sebagai wakil Tuhan sebagai raja atas Israel di dunia. Kemudian, saat
angkatan pemberontak yang keluar dari Mesir telah meninggal semua di padang gurun dan kematian
Musa sudah dekat, perjanjian itu perlu dibaharui dengan angkatan yang baru. Upacara inti yang
menentukan ialah penahbisan umat yang yaitu hamba Tuhan ini melalui suatu sumpah kepada
Tuhan mereka. Khususnya, pemerintahan Allah yang secara simbolis diwakili oleh dinasti perantara
itu harus ditegaskan dengan memperoleh komitmen Israel untuk menaati Yosua sebagai pengganti
Musa di dalam rantai dinasti ini .
Bagian dari prosedur baku yang diikuti di Timur Dekat kuno saat raja-raja agung memberi
perjanjian kepada bangsa-bangsa yang dikuasainya ialah dipersiapkannya sebuah teks upacara sebagai
dokumen perjanjian dan saksi. Kitab Ulangan merupakan dokumen yang dipersiapkan Musa sebagai
saksi atas perjanjian turun-temurun yang diberikan Tuhan kepada Israel di dataran Moab (bdg. Ul
31:26).
ULANGAN
I. MUKADIMAH: PERANTARA PERJANJIAN (UL 1:1-5)
II. PENDAHULUAN HISTORIS: SEJARAH PERJANJIAN (UL 1:6-4:49)
A. Dari Horeb ke Horma (Ul 1:6-2:1)
B. Maju ke Arnon (Ul 2:2-23)
C. Menaklukkan Trans-Yordan (Ul 2:24-3:29)
D. Rangkuman Perjanjian (Ul 4:1-49)
III. KETENTUAN-KETENTUAN: HIDUP MENURUT PERJANJIAN (UL 5:1-26:19)
A. Perintah Agung (Ul 5:1-11:32)
1. Kekuasaan Perjanjian Allah (Ul 5:1-33)
2. Prinsip Penyerahan (Ul 6:1-25)
3. Program Penaklukan (Ul 7:1-26)
4. Hukum tentang Manna (Ul 8:1-20)
5. Peringatan tentang Loh Batu yang Dihancurkan (Ul 9:1-10:11)
6. Panggilan untuk Komitmen (Ul 10:12-11:32)
B. Berbagai Perintah Pelengkap (Ul 12:1-26:19)
1. Pengudusan dengan Upacara Agamawi (Ul 12:1-16:17)
a. Kesetiaan kepada Mezbah Allah (Ul 12:1-32)
b. Penolakan Atas Kemurtadan (Ul 13:1-18)
c. Kewajiban Sebagai Anak-anak Tuhan (Ul 14:1-15:23)
d. Ziarah-ziarah Tanda Patuh (Ul 16:1-17)
2. Keadilan Pengadilan Pemerintah (Ul 16:18-21:23)
a. Para Hakim dan Mezbah Allah (Ul 16:18-17:13)
b. Para Raja dan Perjanjian Allah (Ul 17:14-20)
c. Para Imam dan Nabi (Ul 18:1-22)
d. Jaminan Keadilan (Ul 19:1-21)
e. Penghakiman Bangsa-bangsa (Ul 20:1-20)
f. Kewenangan Tempat Ibadah dan Rumah (Ul 21:1-23)
3. Kekudusan Tatanan Ilahi (Ul 22:1-25:19)
a. Ketetapan-ketetapan Mengenai Bekerja dan Menikah (Ul 22:1-30)
b. Jemaat Tuhan (Ul 23:1-18)
c. Perlindungan bagi yang Lemah (Ul 23:19-24:22)
d. Kekudusan Perseorangan (Ul 25:1-19)
4. Mengakui Allah Sebagai Raja Penebus (Ul 26:1-19)
III. SANKSI-SANKSI: PENGESAHAN PERJANJIAN (UL 27:1-30:20)
A. Upacara Pengesahan di Kanaan (Ul 27:1-26)
B. Pengumuman Sanksi (Ul 28:1-68)
1. Berkat (Ul 28:1-14)
2. Kutuk (Ul 28:15-68)
C. Panggilan untuk Mengucapkan Ikrar Perjanjian (Ul 29:1-29)
D. Pemulihan Fundamental (Ul 30:1-10)
E. Keputusan Radikal (Ul 30:11-20)
IV. PENGATURAN DINASTI: KESINAMBUNGAN PERJANJIAN (UL 31:1-34:12)
A. Pengaturan-pengaturan Terakhir (Ul 31:1-29)
B. Nyanyian Saksi (Ul 31:30-32:47)
C. Wasiat Musa (Ul 32:48-33:29)
D. Penggantian Dinasti (Ul 34:1-12)
YOSUA
Kitab pertama dari bagian kedua di dalam kanon Perjanjian Lama Ibrani, Kitab Nabi-nabi, dinamakan
sesuai dengan tokoh utamanya, yaitu YOSUA. Tidak ada tradisi Yahudi kuno atau bukti berupa
naskah kuno bahwa kitab ini pernah merupakan kesatuan dengan kelima kitab atau Kitab Taurat
(Lih. E. J. Young. Introduction to the Old Testament, hlm. 157 dst.).
KEPENULISAN DAN TANGGAL PENULISAN.
Kitab ini tampaknya merupakan sebuah kesatuan yang disusun oleh satu orang penulis, bukan dengan
memakai dua atau lebih sumber utama yang kemudian disunting dan disunting ulang selama berabad-
abad. Meskipun Yosua sendiri tercatat telah menghasilkan beberapa dokumen tertentu (Yos 18:9;
24:26), dia tidak mungkin merupakan penulis dari seluruh kitab yang dinamakan menurut dirinya ini.
Di dalam kitab ini dicatat kematiannya (Yos 24:29,30) dan serangkaian peristiwa yang baru terjadi
sesudah kematiannya: pendudukan Hebron oleh Kaleb (Yos 15:13b, 14; bdg.Hak 1:1,10,20),
pendudukan Debir oleh Otniel (Yos 15:15-19; bdg. Hak 1:1,11-15) dan pendudukan Lesem oleh suku
Dan (Yos 19:47; bdg. Hak 17; 18) sesaat sesudah penyembahan berhala dibiarkan di Israel (namun
bdg. Yos 24:31). Semua peristiwa ini mungkin terjadi sebelum penindasan oleh Kusyan atau semasa
Otniel menjabat sebagai hakim (Hak 3:8-11) sekitar 1370 hingga 1330 sM.
Dalam pada itu, penulis merupakan seorang saksi mata dari banyak peristiwa yang dicantumkan (mis.
Yos 5:1,6). Rahab masih hidup saat kitab ini ditulis (Yos 6:25). Kitab ini pasti juga ditulis pada
zaman pra-Salomo (Yos 16:10; bdg. 1Raj 9:16); pra-Daud (Yos 15:63; bdg. 2Sam 5:5-9); sebelum
abad kedua belas saat Tirus menguasai Sidon, sebab orang Fenisia masih disebut orang Sidon (Yos
13:4-6); dan kitab ini pasti ditulis sebelum 1200 sM sesudah mana lebih banyak orang Filistin
memasuki Palestina, sebab mereka belum merupakan ancaman pada zaman Yosua (lih. taf. atas Yos
13:2*b-4a).
Tampaknya besar kemungkinan bahwa kitab ini ditulis pada saat Otniel menjadi hakim (k.l. 1370-
1330 sM. Lih. taf. atas Yos 1:4). Sangkut paut yang jauh lebih besar dengan berbagai urusan suku
Yehuda (bdg. kisah yang terinci mengenai penyerbuan ke selatan di Yos 10:1-23*, perhatian terhadap
Kaleb dan Otniel di Yos 14:1-15; 15:13-19; daftar yang panjang mengenai batas-batas dan kota-kota
Yehuda di Yos 15:1-63*) menunjukkan bahwa penulis mungkin tinggal di wilayah Yehuda. Dia
hanya memberi gambaran yang sekilas mengenai batas-batas dari suku-suku Yusuf yang penting
walaupun di wilayah mereka terletak Silo (Yos 16:1-17:11). Jika penulis tinggal di wilayah Yehuda,
dapat dipahami bahwa dia lebih dulu melukiskan seluruh wilayah geografis daerah ini tanpa
menjelaskan waktunya (Yos 11:16). sebab berkali-kali disebutkan bahwa suku Lewi tidak
memperoleh tanah warisan (Yos 13:14,33; 14:3,4; 18:7), penulis mungkin yaitu seorang imam
TUJUAN PENULISAN DAN NILAI.
Tujuan penulisan kitab ini ialah melanjutkan sejarah Israel yang diawali di dalam Pentateukh serta
untuk menunjukkan kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya dengan para leluhur dan bangsa teokratis
ini dengan menempatkan setiap suku di wilayah masing-masing (Yos 11:23; ). Selanjutnya,
kekudusan Allah tampak di dalam hukumanNya terhadap orang-orang Kanaan yang jahat dan di
dalam desakan-Nya agar Israel, waktu ikut dalam perang suci ini , harus membuang segala
kejahatan. Aspek ketiga dari hubungan Allah dengan manusia yang dikemukakan dalam kitab ini
ialah keselamatan yang dari Allah. Nama Yosua sendiri, bentuk Ibrani dari Yesus, artinya, "Yehova
yaitu keselamatan." Dengan demikian sejarah penebusan tentang masuknya Israel ke Kanaan serta
mendudukinya yaitu gambaran tentang pengalaman rohani seorang Kristen berupa pergumulan,
kemenangan dan berkat rohani (Ef 1:3; 2:6; 6:12) melalui kuasa perkasa Allah. (Ef 1:19,20; 6:10).
Dalam Ibrani 4 perhentian di Kanaan dari semua pergumulan sia-sia di padang gurun dikemukakan
sebagai lambang dari perhentian rohani kita saat ini di dalam karya Kristus yang telah selesai dan di
dalam syafaat-Nya yang terus berlanjut yang memungkinkan kita untuk mengalahkan diri dan Iblis.
LATAR BELAKANG SEJARAH.
Data untuk menentukan keadaan sejarah dari peristiwa eksodus dari Mesir dan penaklukan Kanaan
disediakan oleh catatan Alkitab dan riset arkeologi. Para leluhur tinggal di Kanaan selama masa yang
oleh para arkeolog disebut Zaman Perunggu Menengah (2100-1550 sM). Yusuf mungkin naik takhta
pada waktu pemerintahan Dinasti Kedua belas di Mesir. Kemudian raja baru yang memberontak
melawan (qum’al) Mesir dan yang tidak mengenal Yusuf (Kel 1:8) pasti yaitu seorang penguasa
Hiksos dari wilayah Delta Nil. sebab penguasa ini menindas orang Israel dengan memaksa
mereka untuk mendirikan Pitom dan Raamses (Kel 1:11), Israel tidak meninggalkan Mesir pada saat
orang Mesir sendiri mengusir Dinasti Hiksos ini sekitar tahun 1570 sM. Firaun dari Dinasti
Kedelapan belas (yang beribu kota di Tibes namun yang memiliki istana tambahan di Memfis,
Heliopolis, dan mungkin juga di Bubastis) terus memperbudak orang Israel hingga pada akhirnya
Musa menuntun orang Israel keluar dari Mesir sekitar tahun 1447 sM (bdg.1Raj 6:1), yaitu pada saat
pemerintahan Amenhotep II (1450-1423 sM). Yosua tampaknya membawa Israel memasuki Kanaan
sekitar tahun 1407 sM yaitu pada Zaman Perunggu Akhir (1550-1200 sM). Penempatan suku-suku di
Wilayah Kanaan dilaksanakan sekitar tahun 1400 sM, dan Yosua hidup hingga tahun 1390 sM atau
sesudah itu. Sebuah pandangan alternatif menyebutkan tanggal eksodus dari Mesir yaitu pada masa
pemerintahan Firaun Raamses II sesaat sesudah tahun 1300 sM. Orang-orang yang menganut
pandangan ini menafsirkan 480 tahun pada 1Raj 6:1 sebagai dua belas angkatan penuh.
Pada saat bangsa Israel memasuki Kanaan, Firaun Amenhotep III (1410-1372 sM) sedang tidak
menaruh perhatian pada wilayah jajahan di Asia sehingga sebagian besar raja kecil di Palestina dan
Siria memberontak terhadap Mesir atau tidak bersedia membayar upeti. Surat-surat yang ditulis di
atas lempengan tanah liat yang berhasil digali pada 1887 di Tel el-Amarna di Mesir, tempat yang
dahulu merupakan ibu kota putra Amenhotep, yaitu Akhenaton (1380-1363 sM), merupakan arsip
kerajaan dari kedua raja ini . Sebagian besar merupakan surat dari para pangeran di Palestina dan
Siria, wilayah jajahan Mesir, sepanjang tahun 1400-1360 sM di mana mereka memohon bantuan
Firaun untuk mengatasi serangan dari kota kerajaan lain di sekitarnya atau dari suku Habiru (atau
Apiru). Habiru biasanya menunjuk kepada sekelompok tentara sewaan. Di dalam hal ini yang
dimaksudkan ialah pasukan dari Siria yang disewa oleh para pangeran Kanaan yang memberontak
terhadap Mesir. Jadi kitab ini tidak menyebutkan apa-apa mengenai Mesir mungkin disebabkan oleh
kenyataan bahwa Mesir memiliki politik luar negeri yang lemah sejak Amenhotep III hingga Seti
(1313-1301), yaitu Firaun selanjutnya yang menyerbu Palestina. Bahkan pada saat menyerbu orang
Het di Siria, pasukan Mesir menyusuri daerah pantai dan menghindari wilayah pegunungan.
Pada zaman Yosua dan Hakim-hakim, upacara religius di Kanaan telah merosot hingga tingkat
kebebasan dan kekejaman yang paling menjijikkan-sebagaimana dapat dipelajari dari lempengan-
Page 20 of 130
lempengan hasil galian di Ras Syanua (Ugarit) serta peninggalan-peninggalan yang masih ada dari
berbagai praktik agama kesuburan yang berhasil digali di Bet-San, Megido, dan lain-lain. Sifat dursila
dari dewa-dewa Kanaan telah membuat para penganutnya terjerumus ke dalam ritus-ritus yang paling
rendah di seluruh Timur Dekat kuno seperti pelacuran baik wanita maupun pria, penyembahan ular,
dan persembahan kurban bayi, arena kebiasaan religius semacam itu merupakan kebiasaan yang
secara moral dan rohani sangat mencemarkan, orang dapat segera melihat mengapa Allah
memerintahkan Israel untuk memusnahkan orang Kanaan. Jadi bangsa itu serta kota tempat tinggal
mereka harus dihancurkan agar kehidupan religius Israel tidak terancam sebab berhubungan dengan
bangsa penyembah berhala semacam itu. W. F. Albright secara tepat sekali menjelaskan isu-isu yang
terkait saat menulis,
Menguntungkan bagi masa depan monoteisme bahwa orang-orang Israel pada masa penaklukan
Kanaan merupakan bangsa yang seperti keledai liar, yang dilimpahi dengan kekuatan primitif serta
kehendak yang kejam untuk hidup, sebab pemusnahan orang-orang Kanaan yang terjadi waktu itu
mencegah penyatuan total dari dua bangsa yang hampir pasti akan menekan patokan-patokan yang
dibuat Yahwe sampai ke taraf yang mustahil dipulihkan. Jadi, orang Kanaan dengan penyembahan
gila-gilaan mereka dan dengan agama kesuburan mereka dalam bentuk lambang ular dan
ketelanjangan yang membangkitkan birahi, serta mitologi mereka yang mencolok digantikan oleh
Israel dengan kesederhanaan pengembara dan kemurnian hidup, monoteisme yang luhur serta standar
etika yang keras.
YOSUA
I. MEMASUKI NEGERI YANG DIJANJIKAN (YOS 1:1-5:12)
A. Allah Menugaskan Yosua (Yos 1:1-9)
B. Yosua Menggerakkan Bangsa Israel Menyeberang Yordan (Yos 1:10-18)
C. Tugas Para Pengintai (Yos 2:1-14)
D. Menyeberang Sungai Yordan (Yos 3:1-5:1)
E. Pembaharuan Penyunatan & Pelaksanaan Paskah (Yos 5:2-12)
II. PENAKLUKAN NEGERI YANG DIJANJIKAN (YOS 5:13-12:24)
A. Penampilan Panglima Balatentara Tuhan (Yos 5:13-6:5)
1. Jatuhnya Yerikho (Yos 6:6-8:29)
2. Kekalahan di Ai Akibat Dosa Akhan (Yos 7:1-26)
3. Serangan Kedua dan Pembakaran Ai (Yos 8:1-29)
B. Peresmian Perjanjian Israel Sebagai Hukum Negeri (Yos 8:30-35)
1. Perjanjian dengan Caturkota Orang Gibeon (Yos 9:1-27)
2. Kehancuran Koalisi orang Amori (Yos 10:1-43)
C. Penyerangan di Utara (Yos 11:1-15)
D. Rangkuman Tentang Penaklukan (Yos 11:16-23)
E. Lampiran: Daftar Raja-raja yang Dikalahkan (Yos 12:1-24)
III. PEMBAGIAN NEGERI YANG DIJANJIKAN (YOS 13:1-22:34)
A. Perintah Allah untuk Membagi Negeri Itu (Yos 13:1-7)
B. Wilayah Suku-suku Trans-Yordan (Yos 13:8-33)
C. Awal Pembagian Kanaan (Yos 14:1-15)
D. Wilayah Suku Yehuda (Yos 15:1-63)
E. Wilayah Efraim dan Manasye (Yos 16:1-17:18)
F. Wilayah Tujuh Suku yang Lain (Yos 18:1-19:51)
G. Warisan Suku Lewi (Yos 20:1-21:42)
1. Penetapan Kota-kota Perlindungan (Yos 20:1-9)
2. Penetapan Kota-kota Suku Lewi (Yos 21:1-42)
H. Ringkasan Penaklukan dan Pembagian Negeri (Yos 21:43-45)
I. Lampiran: Berangkatnya Suku-suku Trans-Yordan (Yos 22:1-34)
IV. PANGGILAN TERAKHIR UNTUK SETIA KEPADA PERJANJIAN DI NEGERI YANG
DIJANJIKAN (YOS 23:1-24:33)
A. Pidato Perpisahan Yosua kepada Para Pemimpin Israel (Yos 23:1-16)
B. Pembaharuan Komitmen Terhadap Perjanjian di Sikhem (Yos 24:1-28)
C. Lampiran: Kematian Yosua dan Perilaku Israel Sesudahnya (Yos 24:29-33)
HAKIM-HAKIM
Kitab ini memperoleh namanya dari para pemimpin (shop’tim) yang melepaskan Israel dari
serangkaian penindasan oleh kekuatan asing sepanjang kurun waktu di antara kematian Yosua dan
awal berdirinya kerajaan.
Istilah shopet memiliki konotasi yang lebih luas daripada istilah "hakim" yang merupakan terjemahan
dari istilah Inggris, "judge." Di Kartago dan Ugarit kuno, istilah ini dipakai untuk pejabat
pemerintahan atau pemimpin negara dari kalangan sipil. Sastra Kanaan yang memakai bahasa Ugarit
kuno memanfaatkan istilah shptn yang artinya "hakim kita" dalam hubungan sejajar dengan mlkn
yang artinya "raja kita" (Ba’al, V, hlm. 32). Sekalipun demikian, kurun waktu pemerintahan para
shop’tim di Alkitab harus dibedakan dengan kurun waktu pemerintahan para raja. Pada masa
pemerintahan para Hakim ada sikap anti kerajaan yang jelas (bdg. Hak 9:8-15) sekalipun tekanan
dari luar dari para calon penyerbu akhirnya membuat bangsa itu menuntut adanya seorang raja (1Sam
8). Para hakim yaitu tokoh-tokoh yang diurapi Roh, diangkat oleh Allah dan memperoleh kuasa dari
Allah pula untuk mengatasi berbagai krisis tertentu di dalam sejarah Israel. Allah sendiri dilihat
sebagai Raja Israel (1Sam 8:7), sekalipun dosa bangsa itu sering kali mengurangi kenyataan luhur ini
menjadi keadaan yang kacau (Hak 21:25). Para hakim memiliki wewenang dari Allah di bidang
militer maupun sipil, dapat memberi keputusan hukum jika diperlukan (Hak 4:4,5).
Dalam Hak 11:27* Allah Israel disebut hashhõpét, yaitu "Sang Hakim." "Hukuman" (mishpãtîm)
Allah merupakan bagian dari perintah yang dikenal dengan nama hukum (tora) Yehovah (bdg. Mzm
19:8; 119:7).
TANGGAL PENULISAN DAN PENULISNYA
Seperti Kitab-kitab sejarah lainnya di dalam Perjanjian Lama, kitab ini tidak diketahui penulisnya.
Sekalipun demikian, bukti menurut nas membantu kita untuk menentukan tanggal kira-kira dari
penulisannya. Kehancuran Silo sudah disimpulkan sebelumnya (Hak 18:31). Kata-kata, "Dada zaman
itu tidak ada raja di antara orang Israel" (Hak 17:6) memberi kesan ditulis pada zaman kerajaan.
Kenyataan bahwa orang Yebus disebutkan sebagai masih menduduki Yerusalem (Hak 1:21)
menunjukkan bahwa tanggal penulisan yaitu sebelum direbutnya Yebus pada masa pemerintahan
Daud. Demikian pula disebutnya Gezer (Hak 1:29) menunjukkan suatu tanggal sebelum Firaun
menganugerahkan kota itu sebagai hadiah pernikahan putrinya dengan Salomo (1Raj 9:16).
Bukti dari dalam nas sendiri dengan demikian menunjukkan tanggal penulisan Kitab Hakim-hakim
yaitu pada awal berdirinya kerajaan (k.l. 1050-1000 sM) mungkin pada zaman pemerintahan Saul
atau pada awal pemerintahan Daud. Talmud (Baba Bathra, 14b) dan tradisi Kristen mula-mula
menyebutkan bahwa penulisnya yaitu Samuel. Sekalipun bukti yang tersedia tidak memungkinkan
kita membuat kesimpulan yang tegas mengenai penulis kitab ini, petunjuk yang ada memang
menunjukkan bahwa penulisnya yaitu orang sezaman dengan dia. Penulis mungkin memanfaatkan
sumber lisan dan juga sumber tertulis, namun bentuk kitab ini sebagaimana kita memperolehnya
menunjukkan adanya kesatuan yang membantah tentang adanya pola penyusunan yang rumit.
LATAR BELAKANG SEJARAH
Angkatan yang masuk ke Kanaan di bawah pimpinan Yosua telah menyelesaikan banyak dengan cara
menduduki berbagai tempat strategis dan menempatkan setiap suku di wilayah yang telah ditetapkan.
Sekalipun demikian, tugas untuk menaklukkan dan menduduki masih jauh dari selesai. Kubu-kubu
pertahanan orang Kanaan yang penting telah dilewati begitu saja oleh Yosua dan sebab itu setiap
suku diharuskan melanjutkan sendiri pertempuran untuk menduduki wilayah yang diserahkan kepada
mereka (Yos 13:1-7).
HAKIM-HAKIM
I. PENDAHULUAN (HAK 1:1-2:5*)
A. Latar Belakang Politik Zaman Hakim-hakim (Hak 1:1-36*).
B. Latar Belakang Religius Zaman Hakim-hakim (Hak 2:1-5*)
II. SEJARAH HAKIM-HAKIM (HAK 2:6-16:31*)
A. Kegagalan Israel untuk Menaklukkan Kerajaan-kerajaan Musuh (Hak 2:6-3:6*).
B. Para Penindas dan Pelepas Israel (Hak 3:7-16:31*)




