• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label mengenal syiah 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenal syiah 11. Tampilkan semua postingan

mengenal syiah 11


 reka 

bercahaya menunggangi unta betina putih bersayap. Sungguh mereka telah terbebas dari kehinaan. Mulia  

tanpa beban. Tengkuk mereka bertahta emas lebih lembut dari sutera sebab  kemuliaan mereka dari Allah 

‘Azza wa Jalla.”321 

Abu Said berkata bahwa Nabi memandang kepada Ali seraya berkata,  “Orang ini danSyiahnya yaitu  

orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”322 

Dari Ali dia berkata,“Rasulullah Saw bersabda kepadaku, ‘Engkau dan Syiahmu berada dalam surga.’”323 

Dari Muhammad bin Ali berkata, “Aku bertanya tentang Ali kepada Ummu Salamah, istri Nabi Saw.” 

Ummu Salamah menjawab, ‘Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dan 

Syiahnya yaitu  orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.’”324 

Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata, Rasulullah Saw berkhutbah dan aku mendengar beliau 

bersabda, 

“Wahai manusia! Barang siapa membenci kami Ahlul Bait niscaya ia akan dibangkitkan oleh Allah 

dalam keadaan Yahudi.” 

Aku bertanya, ‘Meskipun dia berpuasa dan salat, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, 

‘Meskipun dia berpuasa dan salat dan menganggap dirinya seorang muslim…, maka aku memohon 

ampunan untuk Ali dan Syiahnya.’”325 

Dari Abu Hurairah, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih anda cintai, 

aku ataukah Fatimah?” Rasul bersabda, ‘Fatimah lebih aku cintai dari pada kamu, sementara kamu lebih 

mulia darinya. Sehingga seakan-akan aku bersamamu di telagaku, sementara manusia diusir dari telaga. 

Sesungguhnya di atas telaga itu ada cawan-cawan seperti bilangan bintang di langit. Sungguh aku, kamu, 

Al-Hasan, Al-Husain, Fatimah, Aqil, dan Jafar berada di surga bersama di atas dipan-dipan yang saling 

berhadapan. Kamu bersamaku dan Syiahmu di surga.’ kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat, 

Mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.’ (QS. Al-Hijr [15]: 44) 

“Tidak seorang pun memperhatikan temannya di belakang.’”326 

Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Tiadakah engkau rela ber-samaku di dalam surga, Al-Hasan dan 

Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para istri kita di belakang keturunan kita, dan 

Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita?” 327 

Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Sesungguhnya empat kelompok pertama yang akan masuk surga 

yaitu  aku dan engkau, Al-Hasan dan Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para 

istri kita di belakang keturunan kita, dan Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita?”328 

Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Engkau dan Syiahmu akan mendatangiku di telaga dengan puas 

meminumnya, wajah-wajah kalian bercahaya, sedang  musuh-musuhmu akan mendatangiku kehausan 

dan berwajah buruk.”329 

Dari Ali bin Abi Thalib ra, “Kekasihku Saw bersabda, ‘Wahai Ali! Engkau dan Syiahmu akan menghadap 

Allah dalam keadaan ridha dan diridhai sedang  musuhmu dalam keadaan marah dan jijik.’”330 

Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata, “Sufyani akan muncul di Syam … dan mereka akan membunuh Syiah 

keluarga Muhammad di Kufah. Kemudian penduduk Khurasan keluar menyambut Al-Mahdi.”331 

Al-Thabari (w. 310 H/923 M) dalam Tafsîr Al-Thabarî, menuliskan tentang tafsir Q.S Al-Bayyinah [98]: 

7, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu yaitu  

sebaik-baik makhluk, Rasulullah Saw bersabda, ‘Engkau ya Ali dan Syiahmu.’332 

 

Semua riwayat yang tertera di atas membuktikan bahwa anggapan yang mengatakan Syiah 

muncul pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan yaitu  keliru. sebab  istilah “Syiah Ali” 

diucapkan sendiri oleh lisan suci Rasulullah Saw untuk pengikut Ali bin Abi Thalib, bukan produk 

sejarah seperti yang dituduhkan. 

Lebih-lebih, hadis-hadis ini  diriwayatkan oleh para ulama besar Ahlus Sunnah, seperti Al-

Thabari yang kitab tafsirnya diakui oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan, Ibnu Taimiyah (w. 728 

H/1328 M) saat  ditanya tentang tafsir yang paling mendekati kebenaran dengan Alquran dan 

Alsunnah, antara Al-Zamakhsyari (w. 538/1143 M), Al-Qurthubi (w. 671 H/1273 M), dan Al-Baghawi 

(w. 510/1116) , dia berkata, “Adapun kitab tafsir paling sahih di antara tafsir-tafsir yang ada di hadapan 

manusia, yaitu  Tafsir Muhammad bin Jarir Al-Thabari. sebab  beliau menyebutkan perkataan para salaf 

dengan sanad-sanad yang kuat. Tidak ada bidah di dalamnya…”333 

 

Syiah Lahir sesudah  Perang Shiffin? 

artikel  Panduan MUI halaman 21 menyebutkan: “Tampaknya pendapat yang paling populer yaitu  

bahwa Syiah lahir sesudah  gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali dengan pihak Muawiyah 

bin Abu Sufyan di Shiffin yang disebut sebagai peristiwa at-Tahkim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah 

pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij 

(orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah disebut Syiah 

Ali (Pengikut Ali).”  

 

Tanggapan: 

Dari hadis-hadis yang telah dikutip sebelumnya, tampak bahwa pernyataan seperti ini telah 

terbantah. Peristiwa yang dinukil di atas justru sedang mengisahkan tentang munculnya kelompok-

kelompok yang menentang khalifah yang sah, yaitu Ali bin Abu Thalib (w. 40 H/661 M), yang 

dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan (w. 60 H/680 M) dan para pengikutnya serta golongan 

pembangkang lainnya yang kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij.  

Banyak hadis dan riwayat yang memberikan peringatan dan kecaman keras kepada seseorang 

atau pun kelompok yang secara terang-terangan melakukan tindakan makar dan pemberontakan 

terhadap pemerintahan yang sah, seperti apa yang dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan 

terhadap kekhalifahan Ali bin Abu Thalib. 

Rasulullah Muhammad Saw dalam banyak kesempatan telah memperingatkan kepada umatnya 

berulang kali, untuk tidak ber-tindak keliru dengan melakukan penentangan dan pembangkangan 

kepada Ali bin Abu Thalib. Perhatikan catatan riwayat ini: 

Pertama, Al-Hakim (w. 405 H/1014 M) dalam Kitab Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain, meriwayatkan 

dari Auf bin Abi Utsman Al-Nahdi berkata,“Seseorang berkata kepada Salman , ‘Apa yang menjadikan 

engkau lebih mencintai Ali?’ Salman berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,  ‘Barang siapa 

mencintai Ali berarti dia mencintaiku dan barang siapa membenci Ali berarti dia membenciku.’”334 

Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), namun mereka tidak 

meriwayatkannya.” 

Al-Dzahabi berkata tentang riwayat ini, “Sesuai syarat Bukhari dan Muslim.” 

Kedua, Al-Hakim dalam kitab yang sama meriwayatkan hadis dari Ahmad bin Ja’far Al-Qathi’i, 

dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari ayahku (Ahmad bin Hanbal), dari Sa’id bin Muhammad 

Al-Warraq, dari Ali bin Al-Hazur berkata, “Aku mendengar Abu Maryam Al-Tsaqafi berkata, ‘Aku 

mendengar ‘Ammar bin Yasir ra berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda kepada Ali, 

‘Wahai Ali sungguh beruntung orang yang mencintaimu dan membenarkanmu. Sungguh celak a orang yang 

membencimu dan mendustakanmu.’” 

Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya, namun mereka (Bukhari dan Muslim) tidak 

meriwayatkannya.”335 

Ketiga, Imam Muslim bin Al-Hajjaj (w. 261 H/875 M) membuat bab khusus dalam kitab Al-Iman 

dalam Shahîh Muslim ‘Bab Mencintai Al-Anshar dan Ali ra Bagian dari Iman ’. Kemudian Imam 

Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari ‘Adi bin Tsabit, dari Zurr berkata, Ali berkata, “Demi Yang 

membagi surga dan mencabut nyawa! Sungguh jaminan Nabi yang Ummi Saw kepadaku, “Hanyalah yang 

mencintaiku seorang mukmin dan hanyalah yang membenciku seorang munafiq.’”336 

 

Jika membenci Ali bin Abi Thalib sama dengan membenci Rasulullah Saw, bagaimana kita 

menyikapi orang yang memerangi Ali bin Abi Thalib dan membangkang terhadap kepemiminannya?  

Dan dimana pula kita akan memosisikan Muawiyah saat  berperang melawan Ali bin  Abi 

Thalib di Shiffin? Sebab terdapat hadis dari Rasulullah Saw berbunyi “Ali bersama hak dan hak bersama 

Ali” sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain, dari Abu Sa’id 

Ahmad bin Ya’qub Al-Tsaqafi dari tulisan aslinya, dari Al-Husein bin Ali bin Syabib Al-Ma’mari, dari 

Abdullah bin Shalih Al-Azdi, dari Muhammad bin Sulaiman bin Al-Asbihani, dari Sa’id bin Muslim 

Al-Makki, dari ‘Umrah binti Abdurrahman berkata,  “saat  Ali hendak pergi ke Bashrah, beliau datang 

menemui Ummu Salamah, istri Nabi Saw, untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Ummu Salamah 

berkata, ‘Pergilah dalam lindungan dan naungan Allah. Demi Allah, sesungguhnya engkau bersama hak dan 

hak bersamamu. Seandainya aku tidak takut bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebab  beliau telah 

memerintahkan kami untuk tetap diam di rumah-rumah kami, pastilah aku pergi bersamamu, …’”337Al-Hakim 

berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), namun keduanya tidak 

meriwayatkannya.” 

Al-Dzahabi (w. 748 H/1374 M) berkata riwayat ini, “Sesuai syarat Bukhari Muslim.” 

 

Dalam benak kita “Ali bersama hak dan hak bersama Ali” tidak hanya dalam satu persoalan dan satu 

waktu saja, Nabi Saw juga menegaskan sahabat beliau yang bernama ‘Ammar  bin Yasir, berada dalam 

pihak yang benar saat perang Shiffin, yaitu di pihak Ali bin Abi Thalib.  

Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya meriwayatkan, dari Ummu salamah berkata, “Sesungguhnya 

Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ammar, ‘Engkau akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang (dari 

umat Islam).’”338 

Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/855 M) dalam Musnad-nya, yang ditahkik Syuaib Arnauth, memuat 

hadis Rasulullah Saw, “Kasihan ‘Ammar dia akan dibunuh oleh kelompok zalim, ‘Ammar mengajak 

mereka ke Surga sedang  mereka mengajak ‘Ammar ke neraka….”339 

Penahkik berkata, “Hadis ini sahih. Bukhari meriwayatkan dua buah hadis serupa, juga Ibnu Hibban. 

Para perawi hadisnya tsiqah.” 

Ali bin Abi Thalib Sahabat Utama? 

artikel  Panduan MUI halaman 22 menyatakan: “Sebab kelompok setia Syiah Ali yang terdiri dari 

sebagian sahabat Rasulullah dan sebagain besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin 

Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan sesudah  Rasul dari pada Abu Bakar dan Umar b in Al-

Khatthab.” 

 

Tanggapan: 

Benarkah sangkaan yang mengatakan bahwa sahabat dan tabi’in tidak ada yang berkeyakinan 

bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan sesudah  Rasul daripada Abu 

Bakar dan Umar? Jawabannya akan segera diperoleh pada beberapa hadis berikut ini; 

Imam Bukhari (w. 256 H/870 M) meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada 

Ali, “Engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.”340 

 

Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M) dalamTârîkh Al-Khulafâ, menyatakan,  

Pasal pertama, “Hadis-hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Ali bin Abu Thalib, 

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak ada yang diriwayatkan tentang keutamaan untuk seorang 

sahabat Rasulullah Saw sebagaimana yang telah diriwayatkan untuk Ali ra.”  

Pasal kedua, “Tentang keutamaannya (Ali) kw. Keutamaan ini  banyak sekali, agung dan 

masyhur sehingga Imam Ahmad berkata,  “Tidak pernah ada riwayat tentang keutamaan seorang pun 

sebagaimana riwayat tentang (keutamaan) Ali.”  

Ismail Al-Qadhi, Al-Nasa’i dan Abu Ali Al-Naisaburi berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan 

tentang hak seseorang dari sahabat dengan sanad-sanad yang baik, yang lebih banyak daripada riwayat 

yang datang tentang Ali.”341 

 

Ibnu Hajar Al-’Asqalani (w. 852 H/1448 M) dalam Kitab Fath Al-Bârî, menyebutkan beberapa hadis 

terkait pintu Ali menuju masjid Nabi. Di antaranya yaitu ;  

Hadis Sa’ad bin Abi Waqqash (Rasulullah Saw memerintahkan kami menutup pintu-pintu 

menuju masjid dan membiarkan pintu Ali). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasa’i 

dengan sanad-sanad yang kuat. sedang  Al-Thabarani meriwayatkan dalam (Mu’jam-pen) 

Al-Awsath dengan para perawi yang tsiqah (Maka mereka berkata,  “Wahai Rasulullah, engkau 

menutup pintu-pintu kami. Rasulullah bersabda, “Bukanlah aku yang menutupnya, namun  Allah.”).342 

Dari Zaid bin Arqam(Di antara sahabat ada yang memiliki pintu menuju masjid, maka Rasulullah 

Saw bersabda, “Tutup-lah pintu-pintu ini kecuali pintu Ali.” Maka mereka mengeluhkannya,  

Rasulullah pun bersabda, “Demi Allah, aku tidaklah menutup atau membukanya sesuatu, namun aku 

diperintahkan atas sesuatu, maka aku mengikutinya.”). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Al-

Nasa’i dan Al-Hakim dengan para perawi yang seluruhnya tsiqah.343 

Dari Ibnu Abbas(Rasulullah Saw memerintahkan (menutup-pen) pintu-pintu masjid, maka aku 

menutupnya kecuali pintu Ali) dalam riwayat lain (Dan memerintahkan menutup pintu selain pintu 

Ali. Beliau pernah masuk masjid dalam keadaan junub melalui pintu ini ). Kedua hadis ini  

diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasa’i dengan para perawi yang tsiqah.  

Dari Jabir bin Samurah (Rasulullah Saw memerintahkan menutup setiap pintu kecuali pintu Ali. Seuatu 

kali beliau melaluinya dalam keadaan junub). Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Thabarani.  

Dari Ibnu Umar (Kami di zaman Rasulullah Saw berkata, sebaik-baik manusia yaitu  Rasulullah, 

kemudian Abu Bakar dan Umar. Namun Ali dianugerahi tiga kelebihan yang seandainya aku 

memperoleh salah satu dari ketiganya, maka lebih aku cintai dari segala kenikmatan. Yaitu, Rasulullah 

Saw menikahkannya dengan puteri-nya dan memiliki anak darinya. Semua pintu masjid ditutup ke-

cuali pintunya. Dan ia diberikan panji pada perang Khaibar). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad 

denan sanad hasan. sedang  Al-Nasa’i meriwayatkannya melalui jalur Al-’Ala’ bin 

Arrar(Maka aku berkata kepada Ibnu Umar,  “Ceritakan padaku tentang Ali dan Utsman?” Maka 

Ibnu Umar berkata,  ‘Adapun Ali tidak perlu lagi seseorang menanyakan tentang dirinya, cukup anda 

perhatikan kedudukannya di sisi Rasulullah Saw, sebab  beliau Saw telah menutup semua pintu rumah 

kami yang tembus ke Masjid Nabi dan membiarkan pintu Ali.’). Seluruh perawinya yaitu  perawi 

peringkat sahih selain Al-’Ala’ yang ditsiqahkan oleh Yahya bin Ma’in dan selainnya.” 

Semua hadis ini  saling menguatkan satu sama lain dan setiap jalur periwayatan baik 

sebagai hujjah mengingat ba-nyaknya hadis-hadis ini .344 

 

Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib 

dan Al-Tirmidzi (w. 279 H/892 M) dalam Jâmi’ Al-Tirmidzîmeriwayatkan hadis yang sama:  

Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqas dari ayahnya, ia berkata,  “Muawiyah bin Abu Sufyan 

memerintahkan Sa’ad (untuk mencaci Ali bin Abi Thalib). Apa yang mencegah anda dari mencaci Abu 

Turab (Ali bin Abi Thalib-pen)?” Sa’ad menjawab, ‘Ada tiga hal yang aku pernah dengar dari Rasulullah 

Saw yang membuatku tidak mungkin mencacinya. Andaikan salah satu dari tiga hal itu aku miliki, maka 

itu lebih aku sukai daripada seekor unta merah; 

Pertama, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Ali untuk menggantikannya memimpin dalam 

sebagian perang. Maka Ali bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, engkau menjadikank u 

pemimpin para wanita dan anak-anak kecil?’  Rasulullah menjawab, ‘Tidakkah engkau rela kedudukanmu 

di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja, tidak ada kenabian sesudah ku.’  

Kedua, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda pada perang Khaibar, ‘Niscaya aku berikan panji 

ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun 

mencintainya.Selanjutnya Rasulullah bersabda, ‘Panggilkan Ali.’ Lalu Ali datang menemui beliau dalam 

keadaan sedang sakit mata, kemudian Nabi memberi ludah pada matanya dan menyerahkan panji 

kepadanya, maka Allah memberikan kemenangan di tangannya .’ 

Ketiga, ‘Pada saat turun ayat Maka katakanlah (kepada me-reka): “Mari kita panggil anak-

anak kami dan anak-anak kalian.”345kemudian Rasul Saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan 

Husein. Lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah merekalah keluargaku.’”346 

 

Ibnu Hajar dalam Kitab Fath Al-Bârî berkata, “Sesungguhnya Ali mencintai Allah dan Rasul-Nya dan 

dicintai Allah dan Rasul-Nya yaitu  wujud hakikat mahabbah (kecintaan). sebab  jika tidak, maka setiap 

muslim bersekutu dengan Ali pada sifat ini. Dalam hadis ini disi-nyalir firman Allah Swt dalam QS. 

Âli ‘Imrân [3]: 31, (Katakanlah; jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya 

Allah mencintai kalian). Seakan-akan beliau Saw mengisyaratkan bahwa Ali sangat sempurna dalam 

mengikuti Rasulullah Saw, sehingga layak mendapatkan kecintaan dari Allah Swt. Oleh sebab  itu, 

kecintaan terhadap Ali yaitu  tanda keimanan, dan kebencian kepadanya yaitu  tanda kemunafikan.”347 

 

Satu hal yang penting yang tidak dapat dimungkiri oleh ulama mana pun, bahkan termasuk Ibnu 

Taimiyah harus mengakui bahwa Ali yaitu  jiwa Nabi Saw. Sebagaimana tertera dalam QS. Âli Imrân 

[3]: 61 (ayat Mubahalah). 

Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Jawâbu Shahîh liman Baddala Dîn Al-Masîhmenyatakan, “Telah ditetapkan 

dalam kitab-kitab sahih tentang hadis datangnya utusan Najran yang terdapat dalam Bukhari, Muslim dari 

Hudzaifah dan telah dikeluarkan oleh Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqas yang berkata, ‘saat  turun ayat ini 

Maka katakanlah, marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-

perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian dan diri-diri kami …Rasulullah Saw 

memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, seraya bersabda, ‘Ya Allah, merekalah keluargaku.’” 

sesudah  itu Ibnu Taimiyah mengutip dalam catatan kaki halaman ini  bahwa Ibnu Jarir 

Al-Thabari telah meriwayatkan hadis ini  dalam tafsirnya (Tafsir Al-Thabari yang dipuji 

kesahihannya oleh Ibnu Taimiyah) dari jalur periwayatan yang ba-nyak saat  menafsirkan QS. 

Âli ‘Imrân [3]: 61.348 

 

Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H/850 M) dalam Kitab Al-Mushannaf  meriwayatkan dari Abdurahman bin 

Auf, “saat  Rasulullah Saw menaklukkan kota Mekkah, beliau pergi ke Thaif ….kemudian beliau Saw 

bersabda, ‘Wahai manusia sesungguhnya aku akan meninggalkan kalian, maka aku berwasiat kepada kalian 

tentang Itrah-ku sebagai kebaikan, dan sesungguhnya telah dijanjikan untuk kalian haud, demi yang jiwaku 

di tangannya supaya mendirikan salat, menunaikan zakat, atau aku utus kepada mereka seorang dariku atau 

yang seperti diriku, …….maka manusia mengira bahwa orang itu yaitu  Abu Bakar atau Umar, kemudian 

beliau Saw memegang tangan Ali seraya berkata, ‘Ini.’”349 

 

Riwayat tentang kedudukan Ali di sisi Rasul Saw seperti, ‘Kedudukan Harun di sisi Musa,’ juga 

disampaikan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Jâmi’ Al-Shahîh,yang ditahkik oleh Syuaib 

Arnauth, Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau rela kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun 

di sisi Musa? Hanya saja, tidak ada Nabi sesudah ku.”350 

Hadis ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa dari segi kenabianlah yang membedakan antara 

kedudukan Rasulullah Saw dengan Ali bin Abi Thalib, sebab itu di penghujung khutbahnya, Nabi 

Saw menegaskan, ”hanya saja tidak ada Nabi sesudah ku.” 

Lebih jelasnya kita dapat melihat ayat Alquran bagaimana posisi Harun di sisi Musa yang 

nantinya kita dapat menilai bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah  Saw. 

 ﴾23﴿َوَاْشرِْكُه ِفي َاْمِري   ﴾13﴿اْشُدْد ِبِه َاْزِري   ﴾03﴿َهاُروَن َاِخي   ﴾92﴿َواْجَعْل ِلي َوِزيًرا ِمْن َاْهِلي 

Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun,  

saudaraku.Teguhkanlah dengan Dia ke-kuatanku, dan sertakanlah ia dalam urusanku.  

(QS. Thâhâ [20]: 29-32) 

Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa Harun merupakan wazir dan saudara Musa as. 

Sementara di dalam hadis disebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai wazir dan saudara 

Rasulullah Saw.  

Oleh sebab  itu, jika Allah Swt meneguhkan kekuatan Musa as dengan Harun as dan 

menyertakan beliau dalam urusannya, maka Allah Swt juga meneguhkan kekuatan Rasulullah Saw 

dengan Ali bin Abi Thalib dan menyertakan beliau dalam urusannya.  

Sebagai tambahan, sesungguhnya Harun as merupakan orang yang paling alim dari kaum Musa 

as, maka begitu pula Ali bin Abi Thalib yaitu  yang paling alim dari umat Rasulullah Saw.  

berdasar  semua kesaksian di atas sangatlah sulit untuk di-asumsikan bahwa para sahabat dan 

tabi’in tidak memahami dan meyakini akan keutamaan Ali bin Abi Thalib atas para sahabat lainnya. 

 

Syiah Bersifat Politis? 

Di dalam artikel  Panduan MUI halaman 22 menyatakan: “Istilah Syi’ah pada era kekhalifahan Ali 

hanyalah bermakna pembelaan dan duku-ngan politik. Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada era 

kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saa t itu melawan 

pihak Mu’awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak aqidah seperti yang dikenal pada masa 

sesudahnya hingga sekarang.  

 

Tanggapan: 

Benarkah sangkaan dan anggapan ini  di atas? Bahwa pembelaan dan dukungan kepada Ali 

bin Abi Thalib oleh para sahabat hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik semata dan 

tanpa memiliki sandaran akidah di dalamnya? Jawaban terhadap asumsi di atas akan didapati 

jawabannya pada keterangan beberapa hadis di bawah ini:  

Imam Muslim dalam Shahîh-nya, Al-Nasa’i dalam Al-Sunan Al-Kubrâ, dan Al-Tirmidzi dalam Jâmi’ 

Al-Tirmidzîmencatat sebuah hadis dari Zir, bahwa Ali berkata,  “Demi zat yang membelah biji-bijian 

dan menciptakan manusia, sesungguhnya jaminan dari Nabi Saw kepada aku yaitu , tidak ada yang 

mencintaiku, kecuali seorang mukmin dan tidak ada yang membenciku kecuali seorang munafik.”351 

Jika kita perhatikan pada pernyataan di atas bahwa istilah “Syiah” tidak ada kaitannya dengan 

akidah lantas apa yang dapat kita pahami dari kata “mukmin” yang disabdakan oleh Rasulullah Saw 

bagi pecinta Ali bin Abu Thalib? 

Ibnu Hibban mencatat dalam Shahîh-nya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya, Ibnu Al-Maghazili (w. 

483 H/1090 M) dalam Manâqib-nya, Al-Suyuthi dalam Jam’ Al-Jawâmi’-nya, dan Al-Albani dalam 

Silsilah Al-Ahâdîts Al-Shahîhah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda, “Demi Zat 

yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak membenci kami Ahlul Bait kecuali Allah akan 

memasukkannya ke dalam neraka.”352 

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak, hadis dari Abu Tsabit maula Abu Dzar , “Aku 

mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Ali bersama Alquran dan Alquran bersama Ali. Keduanya tidak akan 

berpisah hingga menyusulku di telaga.’”353 

Al-Dzahabi mengomentari hadis ini, “Sahih. Abu Sai’id ‘Uqaisha’ (salah satu perawi) seorang yang 

tsiqah dan diikuti.” 

Jika Ali dipadankan dengan Alquran, maka bagaimana mungkin bisa Syiah pada masa itu hanya 

mengikuti Ali sebagai kepentingan politik semata? 

Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami Al-Syafi’i, (w. 974 H/1567 M) mengutip hadis Nabi 

Muhammmad Saw yang mengatakan, “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, seorang hamba 

tidak dikatakan beriman kepadakuhingga dia mencintaiku, dan tidak mencintaiku hingga dia mencinta i 

keluargaku. Aku memerangi orang yang memerangi mereka [keluargaku], dan berdamai dengan orang yang 

berdamai dengan mereka, dan memusuhi orang yang memusuhi mereka. Hati-hatilah kalian, barang siapa 

menyakiti kerabatku [keluarga] sungguh dia telah menyakitiku, dan barang siapa telah menyak itiku berarti 

telah menyakiti Allah ta’ala.”354 

Pertanyaan yang muncul kemudian yaitu  benarkah anggapan sebagian mereka yang berkata 

bahwa mencintai keluarga Nabi tidak memiliki kaitan dan hubungan simetris dengan persoalan 

akidah? Sementara dalam riwayat ini Rasulullah secara tegas mengatakan “Seorang hamba tidak 

dikatakan beriman hingga dia mencintaiku, dan tidak mencintaiku hingga dia mencintai keluargaku....”  

 

Kesahihan hadis ini  dan yang senada dengannya tidaklah bisa dibuktikan dalam literatur 

Syiah semata, namun juga bisa ditelaah dalam beberapa referensi Ahlus Sunnah, seperti: 

Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan, “Ali berkata, ‘Demi Allah, di antara sumpah 

Rasulullah Saw kepadaku ialah, ‘Sesungguhnya yang membenciku hanyalah seorang munafik dan yang 

mencintaiku hanyalah seorang mukmin.’”355 

Penahkik kitab berkata, “Sanadnya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim selain Adi bin Tsabit.” 

Ahmad bin Hanbal, dalam Kitab Fadhâil Al-Shahâbah, tahkik Washiyullah bin Muhammad Abbasi 

menyampaikan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Sesungguhnya kami mengetahui orang-orang 

munafik kaum Ansharmelalui kebencian mereka kepada Ali.”356Penahkik berkata, “Sanadnya sahih.” 

Ibnu ‘Asakir dalam kitab Târîkh Madînah Dimasyq, secara panjang lebar meriwayatkan ratusan hadis 

dalam satu jilid khusus tentang Imam Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya. 

Ali bin Muhammad Al-Himyari (w. 323 H/935 M) menyatakan dalam Kitab Juz-u bahwa Harun bin 

Ishaq dari Sufyan bin Uyainah dari Zuhri dari Yazid bin Khushaifah dari Busr bin Said dari Abu 

Sa’id Al-Khudri berkata, “Tidaklah kami mengetahui orang-orang munafik pada masa Rasulullah Saw 

melainkan dengan kebenciannya kepada Ali.”357 

 

Pandangan Ulama Rijal terhadap Para Perawi Hadis di atas 

Harun bin Ishaq 

 Al-Dzahabi dalam kitab Al-Kâsyif menyebutkan Harun bin Ishâq Al-Himdâni Al-Kûfi seorang 

yang hafiz. Beliau meriwayatkan hadis dari Ibn ‘Uyainah dan Mu’tamar. Al -Tirmidzi, Al-

Nasai’, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Muhamili meriwayatkan hadis dari beliau.Dia 

seorang yang tsiqah dan ahli ibadah yang wafat pada 258 H.”358 

Sufyan bin Uyainah  

 Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Taqrîb Al-Tahdzîb menyebut-kan, “Sufyan bin Uyainah 

bin Abi Imran Maimun Al-Hilali. Yaitu, Abu Muhammad Al-Kufi kemudian Al-Makki. “Seorang 

yang tsiqah, hafiz, faqih, dan imam hujjah, hanya saja hafalannya berubah. Boleh jadi dia 

mengelabui riwayat namun dari orang yang tsiqah…”359 

Muhammad bin Muslim Al-Zuhri 

 Al-Dzahabi dalam kitab Al-Kâsyif menyatakan, “Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin 

Abdullah bin Syihab Al-Zuhri Abu Bakar. Dia salah satu yang paling berpengetahuan.”360 

 Sementara Ibnu Hajar Al-’Asqalani menyebutkan dalam kitabnya Taqrîb Al-Tahdzîb, 

“Muhammad bin Muslim bin Ubaidullah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin Al-Harits 

bin Zuhrah bin Kilab Al-Qurasyi, Al-Zuhri dan kunyahnya Abu Bakar. Beliau yaitu  seorang 

yang faqih, hafiz, disepakati kemuliaan dan ke-taqwaannya. Beliau salah seorang tokoh utama 

dalam rangkaian hadis (thabaqat) keempat.”361 

Yazid bin Khushaifah 

 Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrîb Al-Tahdzîb menyatakan, “Yazid bin Abdullah bin 

Khushaifah yaitu  anak Abdullah yang dinasabkan kepada kakeknya. Dia seorang yang 

tsiqah.”362 

Busr bin Said 

 Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrîb Al-Tahdzîb menyatakan, “Busr bin Said Al-Madani seorang ahli 

ibadah. Sahaya Ibnu Al-Hadrami. Dia seorang tsiqah yang terhormat.”363 

 Sementara Al-Dzahabi dalam Al-Kasyif menyatakan, “Busr bin Sa’id Al-Madani yaitu  seorang yang 

zuhud. Beliau meriwayatkan hadis dari Zaid, Abu Hurairah, dan Sa’ad. Muhaddis yang meriwayatkan dari 

beliau yaitu  dua orang anak Al-Asyajj, Zaid bin Muslim, dan banyak lagi. Wafat pada tahun 100 tanpa 

meninggalkan warisan sedikit pun.”364 

Syiah Ali Generasi Awal 

Di dalam artikel  Panduan MUI halaman 30 menyatakan: “Telah dijelaskan bahwa Syiah Ali generasi 

awal yaitu  kaum muslimin yang lurus, bersih dan selamat sebab  berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah, 

dan tidak merendahkan keutamaan para sahabat Rasulullah saw. Mereka juga tidak menuding para sahabat 

kafir. 

 

Tanggapan: 

Benar adanya, bahwa Syiah Ali generasi awal yaitu  kaum muslimin yang lurus. Pendapat ini 

berlaku umum yang diyakini oleh kaum Muslimin sepanjang zaman. Namun tidak demikian halnya 

dengan Ibnu Taimiyah, ia justru berpendapat sebaliknya terkait dengan keimanan Ali dan Syiah Ali 

pada masa itu. 

Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhâj Al-Sunnah Al-Nabawiyah menyatakan, ”Kondisi politik lebih 

tertata pada masa kepemimpinan Muawiyah daripada masa Ali, sebab  itu, wajib menganggap para pejabat 

Muawiyah lebih baik daripada para pejabat Ali.”365 

Ibnu Taimiyah juga menyatakan,”Para pejabat Muawiyah yaitu  pendukung (Syiah) Utsman. Di 

antara mereka yaitu  para Nashibi yang membenci Ali. Pendukung Utsman dan para Nashibi lebih utama 

daripada pendukung Ali.”366 

Kemudian Ibnu Taimiyah melanjutkan, “Bagaimana bisa Imam dan pejabat yang sempurna – dalam 

pandangan mereka (Syiah) – lebih banyak kekacauan dan sedikit keteraturan dari imam dan pejabat tidak 

sempurna, bahkan kafir dan fasiq dalam pandangan mereka? Sahabat-sahabat Ali tidak mempunyai ilmu 

pengetahuan, agama, keberanian dan kedermawanan. Mereka tidak layak dalam menangani urusan dunia atau 

pun akhirat.”367 

Dengan demikian Ibnu Taimiyah dengan sangat meyakinkan telah meyakini bahwa orang-orang 

yang membenci Ali bin Abi Thalib itu, kedudukan mereka lebih utama daripada Pengikut Ali dan 

orang-orang yang mencintai Ali. Kaum Nashibi (pembenci Ali) lebih berilmu, agamis, berani, dan 

dermawan daripada sahabat Ali (Syiah-pen).  

Bahkan menurut Ibnu Taimiyah para pencinta Ali bin Abi Thalib sama sekali tidak memiliki 

keistimewaan dibandingkan para pengikut Muawiyah. Dimana para pejabat Muawiyah dia anggap 

sebagai orang-orang yang luar biasa. Pertanyaannya yaitu  Mengapa Ibnu Taimiyah berpendapat 

demikian? Jawabannya cukup jelas, sebab  para pejabat Muawiyah, mereka yaitu  orang-orang yang 

sangat membenci Ali dan keluarganya. 

Lalu apa ucapan Muawiyah terhadap keluarga Rasul yang lain semisal Al-Husain? Inilah 

sikap resmi Muawiyah bin Abi Sufyan yang didokumentasikan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab 

Minhâj Al-Sunnah: 

و من المعلوم ان عمر بن سعد امير السرية التي قتلت الحسين مع ظلمه وتقديمه الدنيا على الدين لم يصل في المعصية 

بي عبي

 

عظم ذنبا من عمر بن سعد إلى فعل المختار بن ا

 

كذب و ا

 

ظهر اإلنتصار للحسين و قتل قاتله بل كان هذا ا

 

د الذي ا

 فهذا الشيعي شر من ذلك الناصبي

Sebagaimana yang telah diketahui, bahwa Umar bin Sa’ad yaitu  panglima pasukan Sariyah 

(peperangan kecil) yang telah membunuh Al-Husain dengan kezalimannya dan memprioritaska n 

dunia daripada agama, akan namun  Umar bin Sa’ad tidak dianggap bermaksiat dibandingkan 

perbuatan Mukhtar bin Abi Ubaid (Syiah) yang menampakkan dukungannya kepada Al-Husein dan 

membunuh orang- orang yang telah membunuh Al-Husein (nasibi). Bahkan Mukhtar seorang 

pendusta dan lebih berdosa daripada Umar bin Sa’ad. Inilah keburukan Syia h dibandingkan Nashibi 

(pembenci Ali).”368 

Inilah penghargaan Ibnu Taimiyah kepada pembunuh keluarga Nabi Saw. Pernyataannya 

ini , juga sekaligus jawaban atas tuduhan yang selama ini dilontarkan kepada pencinta Al-

Husein, yaitu ”bahwa para Syiah Kufah -lah yang telah membunuh Al-Husein”. Namun pada 

kenyataannya, pembunuh beliau yaitu  Nashibi (pembenci keluarga Nabi Saw) yang dalam 

pandangan Ibnu Taimiyah lebih mulia daripada pencinta keluarga Nabi Saw.  

 

 

Hadis Ghadir Khum 

Di dalam artikel  Panduan MUI halaman 71 sampai halaman 74 menyatakan: “Kaum Syiah 

mewajibkan beriman kepada imamah Ali bin Abi Thalib berdasar  hadis yang populer di kalangan Syi’ah 

yang disebut hadis Ghadir Khum. Bunyi hadis ini  yaitu , “Man Kuntu Maulahu fa ‘Aliyyun Maulahu” 

(Siapa yang menjadikan aku (nabi) sebagai kekasihnya, maka inilah Ali juga kekasihnya), maka perlu dijelaskan 

hakikatnya secara terang benderang sebagai berikut.” 

“Tidak ditemukan satupun ayat Al-Qur’an yang sarih (tegas) dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah 

saw perihal imamah Ali sebagai rukun iman atau pokok agama (ushuluddin) yang menyebabkan kekafiran orang 

Islam yang tidak mempercayainya. Untuk mengukuhkannya, Syiah Rafidhah banyak mengandalkan hadis 

Ghadir Khum yang konon isinya Nabi telah melantik Ali sebagai khalifah sesudah  pulang dari Haji Wada’ tahun 

10 H pada tanggal 18 Dzulhijah. Sejak era Daulah Buwaihi abad ke-4 H, hari itu dijadikan hari raya Syi’ah 

yaitu Idul Ghodir yang mereka anggap lebih agung dari Idul Fitri dan Idul Adha.” 

“Keyakinan adanya pelantikan Ali di Ghadir Khum (letaknya dekat Juhfah 170 km dari kota Madinah), 

telah dibantah oleh seluruh ulama sahabat, tabiin dan generasi sesudah nya. Peristiwa itu tidak pernah 

diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis yang sahih seperti al-Bukhari dan Muslim.” 

 

Tanggapan: 

Agaknya penulis yang mengatasnamakan wakil dari MUI ini terkesan agak ceroboh dan kurang 

berhati-hati. Apa pasal? Untuk menjawabnya, marilah kita simak perihal hadis Ghadir Khum yang 

kemutawatiran hadis ini diakui oleh bayak pihak baik penulis hadis yang berasal dari mazhab Ahlus 

Sunnah maupun Syiah. 

Menurut catatan para ulama penulis hadis, dikatakan bahwa hadis ini memiliki jalur periwayatan 

yang cukup banyak. Hadis ini diriwayatkan oleh para ahli hadis dan ahli tafsir di dalam kitab-kitab 

mereka, di antaranya: 

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Imam Ahmad 2/71 nomor 641. Imam Ahmad bin Hanbal 

mengategorikan hadis ini sahîh li ghairih. sebab  memiliki sanad yang sahih dari jalur periwayatan 

lain yang mencapai tiga puluh sahabat.  

Al-Dzahabi dalam Siyar A’lâm Al-Nubalâ’ meriwayatkan sebuah hadis Ghadir Khum dengan predikat 

hasan dan tinggi sekali dan matannya mutawatir (حديث حسن عال جدا، و متنه فمتواتر).369 

Hadis ini  juga diriwayatkan di dalam MustadrakAl-Hâkim juz 3, h.119-120 yang mengambil jalur 

Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam. Hadis ini berpredikat sahih atas syarat Imam Bukhari dan 

Muslim.  

Al-Dzahabi dalam Mukhtashar Istidrak Al-Dzahabi ‘alâ Mustadrak Al-Hâkim menyebut bahwa hadis ini 

memiliki dua belas jalur periwayatan. 

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi dalam Sunan 10/214.   

Al-Nasai dalam Al-Khashâish, hal. 96,  

Imam Bazzar dalam Musnad 3/189,  

Ibnu Hibban dalam ShahîhIbnu Hibbân nomor 2205 dan jalur periwayatan lain sebagaimana tertera di 

dalam kitab-kitab hadis.  

Fakhrurrazi dalam tafsirnya Mafâtih Al-Ghaib, 

Jalal Al-Din Al-Suyuthi dalam Al-Durr Al-Mantsur, 

Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahîh-nya, 

Abu Dawud Al-Sijistani dalam Sunan-nya, 

Ibnu Majah Al-Qazwini dalam Sunan-nya, 

Ibnu Katsir Al-Dimasyqi dalam Al-Târîkh-nya, 

Ibnu Al-Atsir Al-Syaibani dalam Jâmi’ Al-Ushul, 

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tahdzîb Al-Tahdzîb dan dalam Fath Al-Bârî, 

Jarullah Al-Zamakhsyari dalam Rabî’ Al-Abrâr, 

Ibnu ‘Asakir dalam Târîkh Al-Kabîr, 

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya,  

Al-Suyuthi dalam Târîkh Al-Khulafâ’, 

Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Sirr Al-’Âlamîn, 

Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhâj Al-Sunnah. 

Selain itu, lebih dari tiga ratus ulama Ahlus Sunnah lainnya yang meriwayatkan peristiwa Ghadir 

Khum yang bersejarah ini dalam kitab-kitab mereka. Bahkan seorang ahli hadis seperti Ibnu Jarir Al-

Thabari, seorang ulama Ahlus Sunnah yang hidup pada abad ke 3 dan ke 4 Hijriah, telah 

meriwayatkan hadis ini dari tujuh puluh lima periwayatan dalam sebuah kitab yang beliau beri nama 

Al-Wilâyah. 

Begitu juga dengan Hafizh Abu Al-’Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sa’id Ibnu ‘Uqdah Al-

Kufi (w. 332 H/944 M), seorang ulama yang hidup pada abad ke 3 dan ke 4 Hijriah, telah menulis 

sebuah kitab yang berkaitan dengan peristiwa ini yang juga diberi nama Al-Wilâyah. Beliau telah 

mengumpulkan 105 jalur periwayatan disertai pula dengan penelitian dan komentar-komentarnya 

yang sangat berharga. 

Selain itu, Ibnu Katsir (w. 774 H/1373 M) mencatat dalam Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah bahwa penulis 

tafsir dan tarikh, Ibnu Jarir Al-Thabari (w. 310 H/922 M) telah mengumpulkan hadis-hadis peristiwa 

Ghadir Khum dalam dua jilid kitab berjudul Ghadîr Khumm. Peristiwa ini  dicatat oleh para ahli 

hadis dengan berbagai jalur periwayatan dan redaksi berbeda-beda tanpa membedakan antara riwa-

yat yang sahih dan daif. Selain Ibnu Jarir Al-Thabari, Ibnu Katsir juga mencatat nama Ibnu ‘Asakir 

Al-Syafi’i (w. 571/1176 M) yang merekam peristiwa ini dalam Târîkhnya.370 

Oleh sebab itu, menyatakan bahwa peristiwa Ghadir Khum tidak terdapat dalam kitab-kitab 

Ahlus Sunnah merupakan bentuk penye-lewengan yang paling kentara. 

Peristiwa Al-Ghadir yaitu  peristiwa besar dalam sejarah kehidupan Nabi Saw yang terjadi pada 

18 Dzulhijjah 10 H. Dalam peristiwa ini, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah terakhir di Ghadir 

Khum sekembalinya dari Haji Wada’. Ghadir Khum yaitu  suatu tempat antara Mekkah dan 

Madinah, dekat Juhfah sekitar 200 km dari Mekkah. 

Rasulullah menghentikan perjalanannya sesaat  dan meme-rintahkan semua orang yang telah 

mendahului kafilah Rasulullah agar kembali dan berkumpul bersama Rasulullah. Rasulullah juga 

memerintahkan agar mereka menunggu orang-orang yang belum sampai ke tempat itu. saat  setiap 

karavan telah berkumpul; saat  setiap orang hadir di tempat itu, Rasulullah memerintahkan para 

sahabatnya untuk membuat mimbar sederhana dari sadel unta yang ditumpuk-tumpuk. Kemudian 

duri-duri dari pohon akasia disingkirkan agar tidak melukai orang-orang yang hadir di sana. 

Rasulullah kemudian naik ke mimbar itu (agar bisa dilihat setiap orang yang hadir di sana) dan mulai 

memberikan khutbah yang panjang (yang dicatat oleh para penulis Rasulullah).  

Hari sangat panas membakar pada waktu itu. Orang-orang yang hadir sampai harus 

memanjangkan pakaiannya untuk melindungi kaki mereka dan juga kepala mereka dari sen gatan 

matahari gurun yang tiada ampun. Rasulullah memulai dakwahnya sebagai berikut:  

Menurut salah satu versi sejarah, peristiwa ini terjadi kira-kira tujuh puluh hari sebelum 

Rasulullah Saw, 28 Shafar 11 H. Memang, peristiwa besar ini asing di kalangan umumnya kaum 

muslimin. Padahal peristiwa ini paling besar dalam sejarah hidup Nabi Saw, dihadiri oleh 90.000 

sahabat Nabi Saw. Ada juga ahli sejarah yang mengatakan dihadiri 114.000 sahabat; ada juga yang 

mengatakan 120.000 sahabat; dan ada yang mengatakan dihadiri oleh 124.000 sahabat. Jadi, tidak ada 

satu pun khutbah dan hadis Nabi Saw dalam waktu yang sama didengar langsung oleh sejumlah 

besar sahabat Nabi Saw seperti dalam peristiwa Al-Ghadir. sebab nya para ahli hadis mengatakan, 

“Tidak ada satu pun hadis Nabi Saw yang kemutawatirannya melebihi kemutawatiran hadis Al-

Ghadir.” Adapun mengapa peristiwa dan hadis Al-Ghadir asing di kalangan umumnya kaum 

muslimin, itu persoalan lain. Kita mesti bertanya secara kritis dan objektif.  

Berikut ini yaitu  khutbah Rasulullah Saw di Ghadir Khum terkait dengan wilayah 

(kepempimpinan) Ali bin Abu Thalib, 

بيه، 

 

بو عامر العقدي قال: حدثنا ك ثير بن زيد، عن محمد بن عمر بن علي، عن ا

 

حدثنا إبراهيم بن مرزوق، قال: ، حدثنا ا

خذًا بيد علي، 

 

ن النبي )ص( حضر الشجرة بخم فخرج ا

 

ن هللا عز و جل عن علي، ا

 

لستم تشهدون ا

 

يها الناس، ا

 

فقال: يا ا

ن هللا عز و جل و رسوله مولياكم؟ 

 

نفسكم، و ا

 

ولى بكم من ا

 

ن هللا و رسوله ا

 

لستم تشهدون ا

 

ربكم؟ قالوا: بلى، قال: ا

و قال: فإن عليًا مواله، شك إبن مرزوق، إني قد تركت في

 

كم ما إن قالوا: بلى، قال: فمن كنت مواله فإن هذا مواله، ا

هل بيتي.

 

يديكم، و ا

 

خذتم به لن تضلوا، ك تاب هللا سببه با

 

 ا

Ibrahim bin Marzuq telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Abu ‘Amir Al-Aqadiy telah 

menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Katsir bin Zaid telah menceritakan kepadaku dari Muhammad 

bin Umar bin Ali dari Ayahnya, dari Ali, ‘Bahwa Nabi Saw berteduh di Khum kemudian Beliau keluar 

sambil memegang tangan Ali. Beliau berkata, ‘Wahai manusia, bukankah kalian bersaksi bahwa Allah 

‘Azza wa Jalla yaitu  Rabb kalian? Orang-orang berkata, ‘Benar’. Bukankah kalian bersaksi bahwa 

Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri dan Allah ‘Azza wa Jalla 

dan Rasul-Nya yaitu  mawla bagi kalian? Orang-orang berkata, ‘Benar’. Beliau Saw berkata, ‘Maka 

barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya maka dia ini juga sebagai mawlanya’ atau [Rasul Saw 

berkata] ‘Maka Ali sebagai mawlanya’ [keraguan ini dari Ibnu Marzuq].  

‘Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian 

tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah yang berada di tangan kalian dan Ahlul Bait-ku.’”371 

 

Perhatikan hadis Ghadir Khum riwayat Imam Muslim dengan empat jalur periwayatan hadis 

dari Zaid bin Arqam ra, di antaranya yaitu : 

ثنى عليه و وعظ و قام رسول  هللا صلى هللا عليه و سلم يوما فينا خطيبا ب

 

ماء يدعى خما بين مكة و المدينة فحمد هللا و ا

جيب

 

تي رسول ربي فا

 

ن يا

 

نا بشر يوشك ا

 

نما ا

 

يها الناس فا

 

ال ا

 

ما بعد ا

 

 ذكر ثم قال ا

[Zaid bin Arqam] berkata, “Rasulullah Saw berdiri di antara kami dan berkhutbah di suatu 

tempat bernama Khum di antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, memberikan  

nasihat, dan peringatan, Beliau bersabda,  ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanyalah 

manusia biasa, sebentar lagi utusan Rabbku akan datang dan ia akan diperkenankan.”372 

Tampak dalam riwayat Muslim di atas bahwa Rasulullah Saw berkhutbah di Gadhir Khum 

sebab  ingin berwasiat sehubungan dengan sebentar lagi ia akan segera wafat. Wasiat ini  yaitu  

berpegang teguh pada Al-Tsaqalain dan mengangkat Imam Ali sebagai maula bagi kaum mukmin. 

 

Seputar Makna Maula 

artikel  Panduan MUI halaman 74 menyatakan: 

“Hadis Ghadir Khum dengan redaksi yang berbeda -beda diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Al-

Hakim. Menurut para ulama teks hadis itu sebatas keutamaan Ali yang memiliki latar belakang yang khusus 

(sabab wurud) dan bukan pengangkatan khalifah sesudah beliau. Teks hadis itu jelasnya bukan kepemimpinan 

umat (al-wilayah/al-imarah), melainkan kasih sayang dan tolong menolong yang muncul dari dua pihak (al-

walayah/al-muwalah yang darinya berasal kata ‘al-waliyyu’ dan ‘al-maula’ sebagaimana teks hadis).” 

 

Tanggapan: 

Dari penjelasan hadis-hadis di atas terbukti dan diakui bahwa peristiwa pelantikan Rasulullah 

Saw atas Imam Ali ra benar-benar terjadi. Apabila peristiwa ini  dipandang sebagai bukan pe-

ngangkatan Imam Ali sebagai pengganti Rasulullah Saw dengan mengatakan bahwa kata maula 

hanyalah untuk menegaskan sikap cinta, kasih sayang dan tolong menolong Rasulullah Saw terhadap 

Imam Ali ra, maka ini justru menunjukkan bahwa cinta yaitu  pondasi ketaatan terhadap 

kepemimpinan, sebagaimana disitir oleh Alquran;  

ُنوَبُكْم َوهللُا َغُفوٌر َرِحيٌم ُقْل 

ُ

ِبُعوِني ُيْحِبْبُكُم هللُا َوَيْغِفْر َلُكْم ذ وَن هللَا َفاتَّ  ﴾13﴿ ِإْن ُكْنُتْم ُتِحبُّ

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah 

mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha 

Penyayang.(QS. Âli ‘Imrân [3]: 31) 

Lebih jauh, satu-satunya yang dapat mengikat ketaatan tanpa imbalan yaitu  ikatan cinta, 

sebagaimana disitir juga oleh Alquran: 

َة فِ  َمَودَّ

ْ

 ال

َّ

ُكْم َعَلْيِه َاْجًرا ِإال

ُ

 َاْسَال

َ

ُقْرَبى...... ُقْل ال

ْ

 ﴾32﴿ي ال

… Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali 

kasih sayang terhadap Al-Qurba.”(QS. Al-Syûrâ [42]: 23) 

 

Ini menandakan bahwa pernyataan Rasulullah Saw di Ghadir Khum pada hakikatnya yaitu  

pernyataan tentang ketaatan terhadap pemimpin berdasar  cinta sebagaimana perlakuan umat 

Islam terhadap Nabi Saw dengan ikatan cinta itu. 

Bagaimana mungkin Rasulullah Saw menyampaikan sesuatu hal yang biasa saja dalam bentuk 

deklarasi khusus di Ghadir Khum yang dihadiri oleh ratusan ribu sahabat?  

Benar adanya, bahwa arti dari kata ‘maula’ di dalam bahasa Arab memiliki banyak makna. 

Setidaknya terdapat enam belas arti dari kata ‘maula’ yaitu; pemilik, pengatur, pemerdeka,  

penghancur, tetangga, ciptaan, penjamin dosa, menantu, keponakan, pemberi nikmat, yang 

mencintai, teman, penolong, yang ditaati, teman, dan yang terakhir yaitu  yang bermakna berhak 

mengendalikan segala urusan. Maka jika Rasulullah Muhammad Saw, menggandengkan nama 

‘maula’ pada diri beliau, maka arti yang diinginkan yaitu  bahwa Rasulullah yaitu  yang berhak 

mengendalikan diri umat Islam dalam segenap urusan. sebab nya saat  Rasul mengatakan ‘man 

kuntu maulahu’ artinya jika kalian menganggap saya (Rasulullah) yang berhak mengendalikan diri 

kita, ‘fa ‘aliyyun maula’ Ali yaitu  yang berhak mengendalikan diri kita (sesudah  Rasulullah)…  

Mungkin jawaban yang paling memuaskan untuk memberikan penjelasan makna dari kata 

‘maula’ yang disampaikan oleh Rasul Saw pada peristiwa Ghadir Khum yaitu  dialog dari kisah di 

bawah ini. Sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam ahli hadis Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-

nya, 

 

Hadis dari Al-Barra bin ‘Azib, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah Saw dalam sebuah perjalanan, 

kemudian kami berhenti di Ghadir Khum dan diseru untuk salat berjama’ah, maka kami melaksanakan salat 

dzuhur. Kemudian beliau memegang tangan Ali dan berkata, ‘Bukankah kalian mengetahui bahwasanya 

aku lebih utama dari kaum Mukminin itu sendiri?’ Mereka menjawab, ‘Benar!’ Beliau berkata, ‘Barang 

siapa menjadikanku sebagai walinya, maka Ali yaitu  walinya. Ya Allah! Muliakanlah orang yang 

memuliakannya, musuhilah orang yang memusuhinya.’ Kemudian Umar bin Khatthab menjumpai Ali 

sesudah  itu, dan berkata padanya, ‘Selamat bagimu wahai Ibnu Abi Thalib, engkau telah menjadi wali bagi 

seluruh kaum Mukminin dan Mukminat.’”373 

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Mir Ali Al-Hamadzani Al-Syafi’i dalam Mawaddah Al-Qurbâ, 

pada bab Mawaddah kelima; Al-Hafidz Al-Qunduzi dalam Yanâbî’ Al-Mawaddah, bab 4; Al-Hafidz 

Abu Na’im dalam Hilyah Al-Auliyâ’. Begitu juga dengan Ibnu Al-Shabbagh Al-Maliki dalam Al-Fushûl 

Al-Muhimmah dari Al-Hafidz Abi Al-Fath, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai sekalian manusia, 

sesungguhnya Allah Swt yaitu  waliku, dan aku lebih utama dari diri kalian sendiri. Ketahuilah! Barang siapa 

menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali yaitu  walinya.” 

Begitu juga dengan Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya; Al-Nasa’i dalam Al-Khashâ’is-

nya, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Shawâ’iq Al-Muhriqah, Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khatib Al-

Baghdadi dalam Târîkh-nya, dengan sanad yang berasal dari Abu Hurairah ra.  

Al-Jauzi dan yang lainnya, meriwayatkan syair Hasan bin Tsabit Al-Anshari, salah satu sahabat 

mulia Rasulullah Saw sebagai wujud mahabbah kepada Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin,  Ali 

bin Abi Thalib pada peristiwa Al-Ghadir ini. Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Hasan bin 

Tsabit Al-Anshari, “Wahai Hasan, engkau senantiasa mendukung Ruh Al-Quds, dan dengan mulutmu 

engkau menolong kami.” 

Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa Hasan bin Tsabit berdiri sesudah  Rasulullah selesai dari 

khutbahnya pada peristiwa Al-Ghadir, kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah! Apakah Engkau 

mengizinkan aku untuk membacakan beberapa bait syairku ini?” Nabi menjawab, ‘Bacakanlah! Semoga 

engkau diberkati Allah Swt.’ Kemudian ia naik ke tempat yang paling tinggi, dan melantunkan syairnya:  

Pada hari Al-Ghadir Nabi mereka memanggil 

Di Khum, maka dengarkanlah Rasul menyeru siapakah wali kalian 

Mereka menjawab, ‘Di sana tak tampak orang, yang pura -pura buta 

Tuhanmu yaitu  pemimpin kita, dan engakau yaitu  wali kami.’ 

Tidak seorang pun dari kami dalam wilayah, berpaling untuk ingkar 

Maka beliau berkata kepadanya, ‘Bangkit wahai Ali, sesungguhnya aku merelakanmu.’  

‘Menjadi imam dan pemberi petunjuk sesudah ku.’  

‘Barang siapa menjadikan aku sebagai walinya.’ 

‘Maka ini ali sebagai walinya.’ 

Maka jadilah kalian semua sebagai penolongnya secara jujur, di sana ia berdoa,  

‘Ya Allah! Jadikalah wali orang yang menjadikannya wali, dan musuhilah orang-orang yang memusuhi 

Ali.’ 

Riwayat ini juga dibawakan oleh Al-Hafizh Ibnu Mardawaih, Ahmad bin Musa, dalam kitabnya 

Al-Manâqib. Al-Muwafiq bin Ahmad Al-Khawarizmi dalam Al-Manâqib dan dalam pasal empat kitab 

Maqtal Al-Husain. Jalal Al-Din Al-Suyuthi dalam kitabnya Risâlah Al-Azhâr. Al-Hafizh Abu Sa’id Al-

Khurkausyi dalam Syaraf Al-Mustafâ. Al-Hafizh Jamaluddin Al-Zarandi dalam Nuzhum Durar Al-

Samthin. Al-Hafizh Abu Na’im dalam Mâ Nuzila min Al-Qur’ân fî ‘Ali. Syaikh Sa’id Al-Sajastani dalam 

kitabnya Al-Wilâyah. Sabth Ibnu Al-Jauzi dalam Tazkiyah Al-Khawâsh, Allamah Al-Kanji Al-Syafi’i 

dalam Kifâyah Al-Thâlib. 

 

Penolakan Hadis Ghadir Khum 

Di dalam artikel  Panduan MUI halaman 74-75 menyatakan: “Jika teks hadis (Ghadir Khum) itu 

menegaskan (sharih) tentang pelantikan Ali sebagai khalifah sesudah  Rasulullah, pasti sudah dipakai  sebagai 

dalil dan hujjah oleh Ali bin Abi Thalib saat Rasulullah wafat sebelum pengangkatan Abu Bakr sebagai khalifah, 

atau pada saat musyawarah enam tokoh sahabat sesudah  wafatnya Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab 

untuk menetapkan khalifah baru, dan juga telah dijadikan dalil oleh Abu Musa  al-Asy’ari untuk memantapkan 

posisi Khalifah Ali pada saat peristiwa Tahkim (arbitrase) antara Khalifah Ali dan Mu’awiyah sesudah  perang 

Shiffin. Namun tak ada satu sahabat pun, termasuk Ali yang memahaminya demikian. Sahabat yaitu  orang 

yang paling memahami maksud perkataan Rasul dan kemurnian bahasa Arab mereka tidak diragukan lagi. 

Pemahaman ulama sahabat yang menjadi ijma’ yaitu  bentuk Qoth’iy dalam memahami Al-Quran dan hadis. 

 

Tanggapan: 

Andai saja penulis artikel  yang mengatasnamakan dewan MUI ini sedikit memiliki bekal 

profesionalisme sebagai seorang peneliti yang jujur maka kesimpulan seperti di atas tidak akan 

pernah dituliskan. Mari kita buktikan keragu-raguan di atas dengan membuka literatur sejarah dan 

hadis yang telah dituliskan oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah sendiri terkait sikap dan tindakan Ali, 

bahwa Ali tak pernah mengingatkan khalayak akan kedudukan beliau di hadapan manusia lainnya. 

Benarkah demikian? Beberapa catatan penting di bawah ini yaitu  jawabannya;  

Suatu kali Ali bin Abi Thalib meminta kesaksian para sahabat Rasul dalam masjid Kufah yang 

lapang, kemudian beliau berkata, “Bersumpahlah kalian kepada Allah! Siapa pun yang mendengar 

Rasulullah Saw berkata, “Barang siapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali yaitu  walinya”,  maka 

bersaksilah! Kemudian serempak orang-orang pun bersaksi. 

Pada sebagian periwayatan yang lain diceriakan bahwa jumlah orang-orang yang telah bersaksi 

yaitu  tiga puluh orang sahabat, dan dalam riwayat yang lain dikatakan sebanyak sepuluh orang 

lebih.374 

Begitu pula sesudah  pengangkatan Abu Bakar yang berlangsung di Saqifah , Ali menolak 

memberikan baiat selama kurun waktu enam bulan dari pembaiatan Abu Bakar ini . Enam bulan 

yaitu  sebuah waktu yang cukup panjang. Dalam kurun waktu itu, Ali tak henti-hentinya 

membuktikan hak kewaliannya atas umat Islam. Peristiwa ini dimuat di dalam kitab-kitab Ahlus 

Sunnah. 375 

Muhammad Abduh dalam kitab Nahjul Balaghah, khutbah nomor tiga, Khalifah Ali berkata,“Demi 

Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal dia tahu bahwa 

kedudukanku sehubungan dengan itu yaitu  sama dengan kedudukan poros pada penggilingan, air bah 

mengalir menjauh dariku dan burung tidak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap 

kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berfikir, apakah aku harus bertindak ataukah 

menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah, dan orang 

muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai dia menemui Allah. 

Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana, maka aku mengambil kesabaran walaupun dia menusuk 

di mata dan mencekik di kerongkongan.” 376 

Dr. Subhi Shalih menahkik Kitab Nahj Al-Balâghah tentang surat Imam Ali kepada penduduk 

Mesir dan kepada Malik Al-Asytar. Khalifah Ali berkata,“Amma ba’du, sesungguhnya Allah Swt telah 

me-ngutus Muhammad sebagai pemberi peringatan bagi seluruh alam, saat  beliau wafat 

musliminmemperselisihkan suatu urusan sepeninggalnya. Demi Allah, jiwaku tidak pernah menemukan 

semacam ini, tidak pernah terlintas di hatiku bahwa Arab mencemaskan suatu urusan sepeninggalnya dari 

Ahlul Baitnya.”377 

Ibnu Qutaibah (w. 276 H) dalam Al-Imâmah wa Al-Siyâsah h. 20 menulis, “Sesungguhnya Ali 

membawa Fatimah dengan mengendarai keledai berjalan bersamanya di waktu malam menuju rumah-rumah 

orang Anshar menanyakan tentang dukungan mereka demikian pula Fatimah, mereka  berkata, ‘Wahai Putri 

Rasulullah Saw telah berlalu baiat kita kepada orang ini, seandainya putra pamanmu lebih dahulu mendatangi 

kita tentu kami tidak akan meninggalkannya.’ Maka Ali berkata, ‘Apakah mungkin aku akan tinggalkan jasad 

Rasulullah Saw di rumahnya dan aku keluar menghadapi manusia serta menentang mereka dalam 

kepemimpinannya?’”378 

Dengan demikian hujjah dan argumentasi Ali dengan hadis ‘Al-Ghadir’ terhadap khalayak dalam 

menetapkan kekhilafahan dan kepemimpinannya atas umat, yaitu  adil dan kuat, bahwa maksud kata 

‘maula’ dalam hadis Rasulullah Saw yaitu  keutamaan dalam bertindak dan berbuat dalam masalah-

masalah umat dan kepemimpinan. 

Beberapa ulama besar Ahlus Sunnah bahkan menuliskan di dalam kitab mereka bahwa beberapa 

sahabat menolak untuk membaiat Abu Bakar, di antaranya pengarang Al-Mawâqif , Fakhr Al-Razi, 

Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Ibnu Abi Al-Hadid, Al-Thabari, Bukhari, Muslim dan lain-lain. Al-Asqalani, 

Al-Baladzari dalam Thârîkh-nya, Ibnu Qutaibah dalam Al-Imâmah wa Al-Siyâsah, Muhammad Khawan 

Syah dalam Raudhah Al-Shâf î, Ibnu Abd Al-Barr dalam Al-Istî’âb dan lain-lain menceritakan bahwa 

Sa’ad bin Ubadah, sekelompok Khazraj dan Quraisy tidak membaiat Abu Bakar, delapan belas tokoh 

dari sahabat Nabi juga menolaknya. Mereka yaitu  pengikut Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya, 

yaitu: 1. Salman Al-Farisi; 2. Abu Dzar Al-Ghifari; 3. Miqdad bin Aswad Al-Kindi; 4. Ubay bin Ka’ab; 

5. Ammar bin Yasir; 6. Khalid bin