Gereja Orthodox “Yunani”, namun ibadahnya dan aqidahnya yaitu ibadah dan aqidah “Semitik” dari ujung
kaki sampai ujung rambut. Di dalam pikiran orang-orang Kristen Timur pada abad keenam ini,
Konstantinopel yaitu Tahta Ke-Episkop-an yang pertama dalam “Sistim Pentarkhi” , yaitu : pertama
Konstantinopel, sesudah itu baru Roma,Aleksandria, Antiokia dan Yerusalem.
Sejak saat itu Patriarkh Konstantinopel memakai gelar “Patriarkh Ekumenis” yang tentu saja seperti yang
dapat diduga Episkop Romalah yang menentang akan hal ini, terutama Paus Santo Gregorius Agung, yang
mengkompilasi ‘Liturgi Pra-Sidikara” , yang tetap digunakan Gereja Orthodox sampai sekarang pada saat
Puasa Catur Dasa, namun yang tak dikenal oleh Gereja Roma Katolik.
Di Gereja Barat pada abad keenam ini, disamping Paus Gregorius Agung, Santo Benediktus dari Nursia
(480-542) dan para muridnya sangat mempengaruhi sejarah selanjutnya Gereja Barat. Disamping
itu Santo Columba dan Santo Agustinus dari Canterbury yaitu misionaris-misionaris Gereja Barat
yang bekerja di Inggris dan Irlandia. Pada tahun 589 di Toledo, Spanyol, Gereja Barat tanpa persetujuan
Gereja Timur dan bertentangan dengan Kanon ketujuh dari Konsili Ekumenis
Ketiga, menambah kata “filioque” pada Pengakuan Iman Nikea untuk menekankan keilahian Kristus
dalam menghadapi Kaum Barbarian yang mengikuti faham Arianisme, sebab penginjilan Ulfilas yang telah
kita sebut sebelumnya. Namun tambahan ini mengakibatkan dampak yang sangat tidak kecil bagi Sejarah
Gereja.
Sementara itu di Semenanjung Arabia Sang Bayi Muhammad yang nantinya akan menjadi Nabi besar bagi
agama Islam telah lahir pada abad keenam ini (tahun 570). Semenanjung yang mana dikelilingi oleh orang-
orang Kristen Timur (Non-Kalsedonia/Monofisit di Mesir maupun Ethiopia yang mempunyai Koloni di
Yemen, serta Monofisit di Syria Barat, dan Pre-Efesus/ Gereja Timur Assyria/ Nestorian di Persia, serta
Orthodox/Kalsedonian yang banyak melakukan perdagangan di Semenanjung Arab) dan orang-orang
Yahudi terutama di Madinah. Ketika lahirnya bayi Muhammad sudah dalam keadaan sebagai anak-yatim,
pada masa kecil dia diasuh oleh kakeknya Abdul-Muttalib, sesudah kakeknya meninggal diasuh pamannya
Abu Thalib yang sering berdangang ke Syria. Dan kanak-kanak Muhammadpun diajak dalam perjalanan
dagang ini. Dalam pergaulannya berdagang ini Muhammad yang masih muda itu banyak bertemu dengan
orang-orang Kristen Timur, yang biarpun dalam rumusan Kristologinya berbeda antara Orthodox,
Monofisit, dan Nestorian ini, namun praktek ibadahnya dan ethos kehidupannya tak banyak beda satu sama
lain. Mendengar dan memperhatikan dari mereka inilah akhirnya Muhammad melestarikan banyak hal
dari apa yang dijumpai dari agama-agama terdahulu ini dalam agama Islam, sehingga hal ini menerangkan
banyaknya kemiripan-kemiripan antara praktek-praktek Iman Kristen Orthodox dan agama Islam.
Menginjak abad ketujuh, muncullah tulisan yang mengatas-namakan diri sebagai ditulis oleh Dionysius
dari Areopagus, murid Rasul Paulus. Tulisan ini diterima dengan tangan terbuka baik oleh mereka yang
menolak Konsili Kalsedonia (Monofisit), maupun pembela Konsili Kalsedonia (Orthodox). Namun dalam
tulisan Dionysian ini ada mengandung ajaran yang bermasalah yaitu bahwa Yesus Kristus, Firman
Allah/Anak Allah yang menjelma itu, hanya memiliki satu kehendak dan tindakan insani -ilahiah atau
ilahi-insaniah saja, yang sama sekali membaurkan dua kegiatan dan tindakan yang berbeda dari kodrat
ilahiNya dan kodrat manusiawiNya. Ajaran ini disebut sebagai monothelitisme ( artinya: Kristus hanya
memiliki satu kehendak insani-ilahiah/ilahi -insaniah) atau mononergisme ( artinya: Kristus hanya
memiliki satu tindakan, kegiatan atau energi insani-ilahiah/ilahi-insaniah saja). Banyak yang berharap
bahwa rumusan ini akan mempersatukan kembali perpecahan kaum Monofisit kepada Gereja Orthodox.
Namun harapan itu tak pernah terjadi, sebab ajaran ini ditentang mati-matian oleh Aghios Maximos Sang
Pengaku Iman (wafat: 662) dari Konstantinopel, yang umurnya 10 tahun lebih muda dari Muhammad,
serta Paus Santo Martin dari Roma (wafat: 665). Menurut keduanya ini Kristus memiliki kepenuhan
kehendak, energi, tindakan, dan perbuatan ilahi, yang satu dan sama dengan kehendak Bapa dan RohNya.
Namun Kristus juga memiliki kepenuhan kehendak, energi, tindakan, dan perbuatan manusiawi yang
sama dengan semua manusia lainnya. Keselamatan itu terjadi dalam fakta bahwa Yesus Kristus sebagai
manusia sejati, secara bebas dan secara sukarela menyerahkan kehendak manusiawinya ( yang persis sama
dengan kehendak segenap manusia lainnya) kepada kehendak ilahiNya (yang yaitu kehendak Allah
sendiri). Sehingga Anak Allah yang ilahi ini menjadi manusia yang nyata dan sejati dengan kehendak
manusiawi yang nyata dan sejati, sehingga sebagai manusia yang nyata Dia dapat memenuhi “seluruh
kebenaran Allah” dalam ketaatan yang sempurna dan sukarela kepada Sang Bapa. Melalui tindakan
manusiawiNya yang nyata itulah Yesus Kristus membebaskan semua manusia dari dosa dan maut sebagai
Adam yang Baru dan yang terakhir. Aghios Maximos dan Santo Martin sangat menderita sekali dalam
penganiayaan pemerintah sebab menentang bidat monothelitisme ini. Mereka dipenjara, disiksa, dan
lidah Maximos dipotong agar tidak bisa berkotbah oleh kekuasaan pemerintah yang sangat ingin
menggunakan monothelitisme sebagai jalan menyatukan kembali kaum Monofisit.
Namun akhirnya ajaran kedua orang suci inilah yang menang. Konsili Ekumenis Keenam yang
diadakan di Konstantinopel tahun 680-681 meneguhkan secara resmi ajaran mereka dan secara resmi
pula menghukumkan Patriarkh Sergius dari Konstantinopel, serta Paus Honorius dari Roma yang
mengajarkan monothelitisme, bersama semua pendukung mereka. Di kalangan ummat Syria ada yang
memegang teguh ajaran ini, terutama yang dipimpin oleh Rahib Maron, dan memisahkan diri dari Gereja,
sehingga mereka disebut ummat Maronit yang sampai sekarang masih banyak kita jumpai di Libanon,
namun yang sudah menggabung dengan Gereja Roma Katolik sejak zaman Perang Salib. Sehingga, makin
terpecah lagilah Gereja Syria ini. Aghios Maximos menulis buku-buku rohani yang mendalam pada saat ini,
demikian pula Aghios Yohanes Klimakus dari Gunung Sinai menulis “Tangga Naik ke Yang
Ilahi” serta Aghios Andreas dari Kreta mencipta Kidung Kanon Pertobatan, yang masih tetap dilagukan
dalam Gereja Orthodox pada saat Masa Puasa Agung Catur Dasa.
Nabi Muhammad sedang ditengah-tengah misinya untuk menyebarkan dan menegakkan agama Islam,
ketika Byzantium dibawah Kaisar Heraklius berperang melawan Persia, serta merebut Salib asli yang
dirampas mereka, lalu dibawa ke Konstantinopel. Kedatangan Salib itu disambut meriah, sehingga
dilestarikan dalam pesta Gereja Orthodox sebagai “Pesta Pengangkatan Salib” setiap tanggal 14
September. Kekaisaran dalam keadaan terkuras habis tenaganya sebab perang melawan Persia ini,
sehingga sewafatnya Nabi Muhammad, ketika daerah-daerah Byzantium di Mesir, Palestina dan Syria
direbut Islam tak banyak yang dapat dilakukan. Disamping itu ummat Monofisit yang sangat banyak di
daerah itu memang membenci Byzantium sebab Iman Kalsedonian mereka. Sehingga ketika Islam muncul
tak ada perlawanan dari mereka, sebaliknya mereka yang mengundang tentrana Muslim untuk bersama-
sama melawan Byzantium, sebab dianggap dengan berada di bawah Islam mereka bebas dari tekanan
Byzantium. Hal yang terbukti salah di kemudian hari, yang effeknya masih dapat dirasakan sampai
sekarang.. Demikian juga sikap ummat Nestorian di Persia. Islam diharapkan membebaskan mereka dari
tekan Shah Persia, dan merekapun ternyata keliru. Dalam tingkat non-politik Byzantium dan Islam
mempunyai hubungan yang baik, misalnya para pedagang Arab justru dibangunkan Mesjid untuk mereka
beribadah di Konstantinopel dan mereka tak pernah dipaksa menjadi Kristen. Kalifah al-Ma’mun
mengadakan hubungan yang baik dengan Kaisar Byzantium terutama dalam hal mendapatkan nashak-
naskah Yunani dan klasik yang akan diterjemahkan dalam bahasa Arab. Orang-orang Kristen Byzantium
secara tingkat sosial saling mengadakan kontak dengan kaum Muslim. sebab sikap kaum Monofisit dan
Nestorian inilah sebabnya mengapa dengan mudah daerah-daerah Kristen Orthodox itu ditaklukkan Islam
sebab memang tidak ada perlawanan dari penduduk setempat, malah mereka diundang oleh kaum
Monofisit di Mesir, Syria, dan Libanon serta kaum Nestorian di Irak dan Persia.
Karya Konsili Kelima dan Konsili Keenam ini dilanjutkan lagi di Konstantinopel, di ruangan berkubah
(Trullo) dari istana Kerajaan untuk membahas peraturan 102 buah Hukum Kanon, yang disebut Kanon
Konsili Quinisext (Kelima-Keenam). Dalam Hukum Kanon ini ditegaskan orang menikah boleh ditahbis
jadi diaken dan kemudian presbyter, namun yang sudah ditahbis tak boleh menikah jika tadinya tidak
menikah. Dan hanya orang yang tidak menikah saja yang harus jadi Episkop. Ditetapkan juga batas umur
orang yang akan ditahbis, serta larangan rohaniwan berpartisipasi dalam politik atau dalam
perekonomian. Juga larangan orang awam masuk ke Ruangan Mezbah tanpa perlu, serta melarang
perkawinan campuran, dan masih banyak lagi.
4.Konsili Ekumenis Ketujuh dan Terakhir (787 ) di Konstantinopel
Pada saat abad kedelapan ini kekalifahan Islam sudah tersebar di seluruh Timur Tengah, dan Byzantium
telah sering mengalami serangan tentara kaum Muslimin Arab dari arah selatan. Syria yang berbatasan
dengan Byzantiumpun sudah berada dibawah kedaulatan Islam. Kaum Muslimin tak henti-hentinya
menyerang ajaran Tritunggal Kudus, Keilahian Kristus, Penyaliban, Kebangkitan, dan penggunaan Ikon
(gambar-gambar agamawi) dalam Gereja. Gambar-gambar itu dianggap sebagai berhala, sebab Islam
memang anti-gambar. Serangan Islam ini sedikit-banyak mempengaruhi sebagian orang Kristen. Apalagi
saat itu di Byzantium, sedang bangkit diantara kaum intelektual aliran filsafat Neo-Platonisme yang
meremehkan benda jasmani dan menekankan hal yang bersifat “idea”. Ikon yaitu benda jasmani, maka
berdasarkan pandangan filsafat kafir ini, maka ikonpun direndahkan dan diremehkan. Kedua faham ini
mempengaruhi Kaisar Leo III dari Isauria ( 717-741) dan Kaisar Konstantinus V ( 741-775), yang sudah
lama ingin menaklukkan Gereja pada kehendak raja. Masalah ini digunakan sebagai alasan untuk menekan
Gereja dan melarang penggunaan Ikon dalam Gereja. sesudah mengadakan sidang tahun 753 dan disitu
dinyatakan bahwa Allah itu tak kelihatan jadi tak dapat digambar, sebagaimana pula argumentasi kaum
Muslimin (dan beberapa ayat Alkitab yang melarang penggunaan patung, yang juga dilarang Gereja
Orthodox) yang mempengaruhi argumentasi sidang tadi, maka perintah dikeluarkan bahwa semua gambar
harus dihapus dan semua ikon dibakar. Perlawanan terhadap Ikon ini dikenal sebagai Gerakan Bidat
Ikonoklasme.
Ikonoklasme
Memang Gereja Timur melarang penggunaan patung dari zaman purba sampai sekarang, namun sejak
zaman katakombe ( terowongan bawah tanah tempat persembunyian mereka dan digunakan untuk
penguburan dan ibadah, pada saat zaman aniaya) telah menyatakan iman mereka dalam wujud simbol-
simbol dan gambar-gambar, dan itulah permulaan ikon, yang asalnya berasal dari perintah Allah kepada
Musa untuk membuat patung kerubim dan gambar-gambar kerubim di Kemah Suci, dan juga dilukisnya
gambar-gambar semacam itu di Bait Allah yang dibangun Salomo (Sulaiman). Orang Kristen Orthodox yang
mempertahankan penggunaan ikon dibunuh dan dianiaya oleh Kaisar ini, sehingga terjadi pertumpahan
darah yang hebat diantara ummat Kristen Orthodox oleh aniaya tentara raja. Para Episkop banyak yang
ditekan untuk secara resmi menentang penggunaan Ikon. Sehingga tahun 762 dan 775, terkenal
sebagai “dekade berdarah” dalam sejarah Gereja Timur ini, sebab banyaknya orang Kristen Orthodox,
terutama diantara para rahib yang dipenjara, disiksa, dan dibunuh sebab mempertahankan Ikon itu.
Gereja tidak hendak tunduk pada kehendak manusia, sebab hanya Kristus, dan bukan Kaisar, itulah Kepala
Gereja. Tuhan tidak berlama-lama membiarkan ummatNya menderita.
Pada tahun 780 Maharatu Theodora naik tahta ( 780-802). Penganiayaan dihentikan dan Konsili diadakan
di kota Nikea pada tahun 787 untuk membahas mengenai masalah Ikon ini. Inilah Konsili Ekumenis
yang Ketujuh dan Terakhir dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang satu, yang secara tanpa putus
berjalan dalam sejarah sampai abad kedelapan itu. Konsili ini menjelaskan makna Theologia Ikon,
mengikuti penjelasan yang dilakukan oleh Aghios Yohanes Damaskinos (Yuhana Al-Mansyur) dari
Damaskus Syria. Yuhana Al-Mansyur yaitu anak seorang pegawai tinggi dari kalifah Islam di Damaskus,
Syria. Diapun akhirnya diangkat menjadi pegawai tinggi dari kalifah Yazid di Syria ini. Entah sebab apa dia
tinggalkan karir duniawinya, dan masuk ke biara, serta akhirnya menjadi presbyter. Pada saat
penganiayaan orang-orang Kristen Orthodox di Byzantium, Aghios Yohanes bebas dari aniaya itu sebab
dia hidup dalam wilayah Islam. Sehingga dia bebas menulis dan mengkritik para penentang Ikon tanpa
ditangkap tentara raja. Argumentasi yang berdasarkan Alkitab dan Iman Rasuliah dalam tulisan Aghios
Damaskinos inilah yang diikuti dalam Konsili Ketujuh ini.
Inti terpokok Iman Kristen yaitu Yesus Kristus. Dan Dia yaitu “Firman yang Menjadi manusia” (Yohanes
1:14). Dengan demikian Yesus Kristus yaitu Firman Allah yang ber “Inkarnasi” ( “Mendaging”). Maka
“Inkarnasi Kristus” sebagai Firman Allah itulah inti iman Kristen. Allah memang tak dapat dilihat, jadi tak
dapat digambar apalagi dipatungkan. Itulah sebabnya Perjanjian Lama,- dan dalam hal ini sikap Al Qur’an
juga - serta Iman Orthodox sendiri melarang Allah ( Bapa) digambar. Namun dalam Yesus Kristus, Allah
melalui “FirmanNya” telah menjadi nampak, yaitu menjadi daging. Maka kedagingan dari kemanusiaan
Firman itu sekarang dapat digambar untuk membuktikan bahwa Firman betul-betul jadi manusia. Disitulah
tempatnya Ikon itu. Menolak Ikon berarti menolak bahwa betul-betul Yesus Kristus itu manusia, yaitu
menolak Inkarnasi Firman Allah. Islam hanya percaya Firman Allah yang diturunkan menjadi Kitab: “Al-
Qur’an” . Oleh sebab itu penegasan makna Wahyu dalam Islam yaitu dalam wujud “Kaligrafi” (“Tulis
Indah Huruf Arab”), membuat ikon atau gambar dalam Islam memang akan bertentangan dengan inti
kewahyuan Firman sebagai tulisan. Namun menolak “ikon” dalam Iman Kristen justru sebaliknya, sebab
itu berarti menolak kemanusiaan, kewujud-dagingan, dan Inkarnasi dari Firman Allah yang menjadi
manusia itu. “Kaligrafi” (Tulis Indah Huruf Arab) dalam Islam itulah “Ikonografi” dalam Iman Kristen
Orthodox. sebab yang ditekankan pada “ikonografi” itu justru yaitu fakta “inkarnasi” serta fakta
“kemanusiaan kongkrit” dari Penjelmaan Firman Allah/Kalimatullah yang menjadi daging, maka
Konsili dengan tegas mengatakan bahwa Allah (Bapa) dilarang diwujudkan dalam gambar apalagi dalam
patung. Demikian juga berlaku bagi Roh Kudus, serta keberadaan Kristus sebelum jadi manusia. Dengan
kata lain larangan hukum Musa untuk tidak menggambarkan Allah dalam bentuk apapun tetap dijaga
dengan keras, namun fakta Inkarnasi dari Firman Allah menjadi manusiapun dijaga keras dengan ekspresi
yang kongkrit dalam wujud “ikonografi”.
Jelas ikon berbeda dari dan bukan merupakan berhala. Sebab berhala yaitu penggambaran Allah secara
bentuk makhluk dan diberi bakti dan sembah sebagai ilah, ikon bukan gambarNya Allah, dan tak diberi
bakti seperti Allah sendiri. Dengan Ikon ditegaskan bahwa oleh Inkarnasi Firman Allah maka segala sesuatu
yang jasmani sekarang dikuduskan oleh Kristus, yang jasmani ini terutama yaitu ummat manusia yang
telah ditebus dalam Kristus. Itulah sebabnya isi dari Ikonografi, bukan hanya Kristus saja, namun semua
mereka yang menjadi dampak langsung dari Inkarnasi itu, yaitu para orang-orang yang telah dikuduskan
oleh Kristus dalam Roh Kudus: Theotokos, para Nabi, para Rasul, dan segenap orang suci. Demikianlah
ikonografi menjelaskan bahwa melalui Kristus yang yaitu “ikon” (Gambar) dari Allah yang tak kelihatan
(Kolose 1:15), segenap manusia yang ditebus olehNya dikembalikan kepada kodrat asli (“fitrah”) yang
atasnya manusia diciptakan menurut “gambar (eikon, demuth) dan rupa (omoiousin, tselem) Allah“ (
Kejadian 1:26). Jadi pertentangan masalah Ikon bukanlah sekedar pertentangan masalah lukisan, dan
bukan pula masalah berhala, namun masalah betulkah Firman Allah telah menjadi manusia, dan betul-betul
berwujud jasmani, yang dengan begitu dapat dilukis, tanpa melanggar larangan penggambaran Allah dan
keilahian yang tidak nampak itu.
Pada abad ini Aghios Yohanes Damaskinos mencipta Kidung-Kidung Kanon Sembahyang Fajar
Paskah dan Kidung-Kidung Dukacita untuk upacara penguburan dalam Gereja Orthodox serta Kidung
Hasta-Nada yaitu kumpulan kidung-kidung yang menggunakan delapan Irama yang berbeda yang
dilagukan secara berputar dalam tiap minggu, Semuanya ini tetap menjadi bagian ibadah Gereja Orthodox
sampai sekarang. Juga dia menulis buku yang disebut “Exposisi Lengkap Iman Orthodox” yang
merupakan pembahasan sistimatis seluruh doktrin Kekristenan Orthodox sejak zaman purba yang dapat
ditemukan dalam bukunya “Sumber Ilmu-Pengetahuan” . Dia juga menulis buku polemik menyanggah
tuduhan Islam.
Pada saat abad kedelapan ini Gereja Barat mengalami banyak pertobatan dari suku-suku Barbarian.
Pemberita Injil terbesar Gereja Barat pada abad ini yaitu Santo Bonafasius ( wafat tahun 754). Untuk
pertama kalinya pada abad Paus Roma menjadi pemimpin-pemimpin duniawi yang menguasai tanah-tanah
di Itali, serta mengadakan hubungan dengan raja-raja yang baru muncul dari keluarga Carolingian yang
berasal dari suku-suku Barbar ini. Dari keluarga inilah Karel Agung muncul, yang pada tanggal 25
Desember 800 dimahkotai untuk mendirikan Kerajaan di Eropa Barat yang telah hilang, dengan nama
Kerajaan Romawi Suci, jadi mengadakan perpecahan politik dengan Kerajaan Byzantium. Agar dapat
mendirikan Kerajaan Baru dengan dukungan Paus Roma ini, maka Karel Agung menyerang keabsahan
Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur. Dia menuduh Gereja Timur sebagai “penyembah berhala” sebab
sikapnya terhadap ikon, serta menuduh Gereja Timurlah yang menghilangkan “filioque” dari Pengakuan
Iman yang ditambahkan oleh Konsili Toledo (tahun 589) dari Gereja Barat ini.
Tuduhan-tuduhan ini termaktub dalam buku “Liber Carolini” yang telah diserahkan lebih dahulu kepada
Paus Hadrianus I di Roma oleh Karel Agung, pada tahun 792. Namun pada tahun 808 Paus Leo
III mengadakan reaksi atas tuduhan Karel Agung terhadap Gereja Timur ini, sehingga dia membuat
Pengakuan Iman Nikea tanpa “filioque” diukirkan pada suatu lempeng perak dan di letakkan di pintu
Gereja Santo Petrus.
Sesudah Konsili tahun 787 itu, perlawanan terhadap ikon berlanjut terus di Kerajaan Byzantium. Ketika
Ratu Irini meninggal pada tahun 802, Kaisar Leo dari Armenia menjadi Kaisar. Pada tahun 812 dia
memerintahkan ikon-ikon supaya dijauhkan tempatnya dari jemaat. Pada saat Mingu Palem tahun
815 Aghios Theodoros, mengadakan arak-arakan membawa ikon-ikon di Konstantinopel, namun dicegat
oleh tentara kerajaan , semua orang itu dianiaya dan disiksa serta banyak yang mati dibunuh.. Hanya pada
sat pemerintahan Ratu Theodora pada tahun 843, ikon-ikon betul-betul dikembalikan ke Gereja secara
resmi, pada Minggu Pertama Masa Puasa Catur Dasa, dan disebut sebagai “Kemenangan Orthodoxia”
yang sampai sekarang pada Minggu Pertama Puasa Catur Dasa ini masih diperingati dan dirayakan dalam
Gereja Orthodox.. Pengembalian Ikon ini disebut “Kemenangan Orthodoxia” , sebab ini menutup
lingkaran pembahasan Kristologi sejak Nikea (325) sampai pada batasnya yang tertuntas.
Pada saat Nikea dituntaskan keyakinan bahwa Yesus itu betul-betul “Allah sejati yang keluar dari Allah
sejati” dan “Satu Dzat Hakekat dengan Sang Bapa”. Konsili kedua (381) menegaskan kesatuan Keilahian
Yesus Kristus ini dengan Bapa dan Roh Kudus, serta Konsili ketiga ( 431) menegaskan bahwa keilahian tadi
tidak hilang ketika Dia berada dalam rahim Maryam, sehingga Maryam disebut Theotokos. sedang
Konsili Keempat (451) menegaskan sifat hubungan dan kesatuan antara keilahian dan kemanusiaanNya,
dan Konsili Kelima (553) meneguhkan apa yang dirumuskan oleh Konsili Keempat. sedang Konsili
Keenam menegaskan dan meneguhkan akan sifat kemanusiaan Kristus yang memiliki kehendak manusia
yang sempurna, sehingga “monothelitisme” ditolak. Integritas kemanusiaan Kristus itu secara lebih
kongkrit dan tak diragukan lagi ditegaskan dalam Konsili Ketujuh dengan bukti bahwa Dia dapat dilukis
dalam Ikon sebab Dia betul-betul menjadi manusia yang nampak dan dapat dilihat. Demikianlah dalam
seluruh Konsili yang tujuh buah ditegaskan keilahian penuh dan kemanusiaan penuh dari Kristus yang satu
itu secara tuntas. Dan itulah “inti Iman Kristen Orthodox:”. Oleh sebab itu penegasan secara kongkrit dan
tuntas dari kemanusiaan Kristus dalam Ikon itu menutup dan memeteraikan kebenaran Orhodoxia,
sehingga itu disebut “Kemenangan Orthodoxia” yang telah dibuka dan diawali dengan penegasan secara
kongkrit dan penuh akan keilahian Kristus dalam Konsili Petama.
C. Zaman Penyebaran ke Utara
Masa Pasca-Konsili Ekumenis:
Dari Penginjilan Bangsa Slavia (863) sampai jatuhnya Konstantinopel (1453) ke Tangan Turki
1. Penginjilan Negara-Negara Eropa Timur (863)
Meskipun usaha Karel Agung untuk memasukkan Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur dalam Kerajaan
Romawi Suci yang didirikannya itu tak berhasil, Paus di Roma makin memaksakan kuasanya kepada
seluruh Gereja di Barat. Paus-paus yang kuat seperti Nikholas I ( 858-867 ) menekan keras semua pengaruh
awam dan memusatkan semua kekuasaan pada hierarkhi Paus. Usaha sentralisasi pada Paus ini dtunjang
oleh dokumen-dokumen palsu “Dekrit Isidorus Dari Seville” dan “Donasi Konstantinus” yang ternyata
karangan kaum Frankish dan Jermanik itu sendiri, yang menyatakan bahwa Paus di Roma mempunyai
kekuasaan politis atas seluruh wilayah sekitar Roma, sehingga wilayah itu disebut “negara kepausan”.
Sementara itu yang menjadi Patriarkh di Gereja Timur yaitu Photius. Dia mengutus dua orang kakak-
beradik (Konstantinus dan Methodius) berbangsa Yunani: untuk menyebarkan Injil ke Moravia diantara
bangsa Slavia. Mereka tiba disana pada tahun 863, dan mereka telah menciptakan alfabet Slavia yang
berdasarkan alfabet Yunani (sekarang disebut alfabet Slavonik Lama atau Bulgaria Lama) untuk
menterjemahkan kitab-kitab Gerejawi ke dalam bahasa Slavia ini. sebab Gereja Orthodox selalu percaya
pasa inkarnasi Injil pada budaya setempat. Misi dari kedua kakak-beradik itu konflik dengan misi Gereja
Barat yang juga ada di Moravia ini. Gereja Barat memaksakan bahwa hanya bahasa Ibrani, Yunani dan Latin
saja yang boleh digunakan sebagai bahasa keagamaan Gereja. sebab para misionaris ini dari Gereja Barat
kedua kakak-beradik ini melaporkan situasi tadi ke Paus Hadrianus II (tahun 869), serta mereka
mendapatkan restu atas usaha mereka dari Paus Roma juga. Konstantinus meninggal pada tahun 869, serta
menjadi rahib sebelum meninggal dengan nama Kyrilos, serta diakui sebagai orang suci Gereja. sebab
itulah alfabet yang mereka ciptakan itu terkenal dengan nama huruf“Kyrilik” ( “Cyrillic”) yang digunakan
di banyak negara-negara Eropa Timur dan Rusia sampai sekarang. Methodius diangkat menjadi Episkop,
dan ketika dia kembali kepada karya misinya, dia ditangkap dan dipenjarakan oleh para misionaris Gereeja
Barat tadi dengan pertolongan Raja Louis Orang Jerman. Ketika Paus Yohanes mengetahui hal itu pada
tahun 873, dia menuntut agar Methodius dibebaskan. Namun ketika Methodius meninggal, semua karyanya
musnah, sebab para muridnya banyak yang ditangkap,dibuang atau dijual sebagai budak oleh kekuasaan
negara Romawi Suci Jermanik, yang benci Byzantium, melalui para rohaniwan Gereja Barat itu. Sebagian
lagi ada yang melarikan diri ke Bulgaria dan terjadi banyak pertobatan disana. Dan ummat Bulgaria ini
akhirnya terkait dengan Gereja Konstantinopel. Dari Serbia ini usaha misi Gereja Orthodox di Timur
berkembang ke daerah-derah Serbia, serta pada akhirnya ke Kiev serta Rusia Utara. Inilah sungguh-
sungguh masa gerakan misi yang sangat luar biasa bagi Gereja Timur.
2. Konflik Terbuka Gereja Timur dan Gereja Barat (861-886)
Ketegangan-ketegangan yang sudah kita lihat antara Gereja Timur dan Gereja Barat ini menjadi konflik
terbuka untuk pertama kalinya antara tahun 861-886. Pada saat itu ada dua partai yang saling berebut
pengaruh di Konstantinopel baik secara politis maupun gerejawi, yang satu Partai Konservatif dan lainnya
Partai Moderat. Untuk mencapai perdamian dalam Gereja maka Patriarkh Phtoius yang tadinya orang
awam itulah yang dijadikan pemimpin Gereja. Partai Konservatif yang ekstrim tidak puas akan hal ini, lalu
meminta bantuan Paus di Roma, menggunakan nama baik Ignatius, Patriarkh yang sekarang sudah
pensiun untuk melawan Photius dan pemerintah yang memilih dia. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh
Paus Nikholas untuk ikut campur-tangan pada masalah Gereja Timur ini, sebab perkembangan sentralisai
kepausan di Barat itu. Paus Nikholas lalu mengadakan Konsili di kota Konstantinopel pada tahun 861 untuk
menyelesaikan pertikaian kedua partai itu. Namun ketika para utusan Paus tiba di Konstantinopel Photius
memang Patriarkh yang sah, dan semuanya diselesaikan dengan damai. Namun ketika para utusan itu
kembali ke Roma, Paus Nikholas tidak mau menerima hasil keputusan tadi, lalu mengadakan Konsilinya
sendiri di kota Roma pada tahun 863, dia memecat Photius serta menyatakan bahwa Ignatius yang sudah
pensiun itu harus jadi Patriarkh yang sah. Namun pernyataannya ini tak diperdulikan oleh siapapun di
Gereja Timur.
Pada tahun 866 dan 867 Gereja Bulgaria sesuai dengan situasi politiknya kadang-kadang memihak Roma ,
namun kadang-kadang memihak Konstantinopel. Pada tahun 867 Photius mengadakan Konsili yang
dihadiri oleh 500 Episkop yang mengutuk Paus Nikholas sebab ikut campur-tangan masalah internal dari
Gereja Bulgaria. Namun pada tahun yang sama itu terjadi suatu perubahan politik di Konstantinopel,
Basilius I menjadi Kaisar dengan membunuh Kaisar sebelumnya, dan untuk alasan politiknya dia memecat
Photius sebagai Patriarkh dan Ignatius yang pensiun diangkat lagi menggantikannya. Pada tahun 869 Paus
Hadrianius II pengganti Paus Nikholas di Roma, mengutuk Photius lagi atas masalah Bulgaria. Namun pada
tahun 877, situasi menjadi berubah ketika Photius harus menjadi Patriarkh lagi sebab Ignatius yang saleh
itu meninggal dunia. Pada tahun 879 suatu Konsili yang sangat besar diadakan oleh pimpinan Photius dan
utusan Paus dari Roma juga diundang datang. Dalam Konsili yang dipimpin oleh Photius ini sendiri, maka
dipilah-jelaskan oleh Patriarkh Photius mengenai kedudukan Paus di Roma dalam hubungannya dengan
Patriarkh dan Gereja Konstantinopel. Serta hal itu diterima oleh Paus Yohanes VIII yang menjadi Paus yang
baru di Roma. Konsili tahun 863 dan 869 yang mengutuk Photius dinyatakan batal dan tak berlaku, serta
dengan tegas diakui bahwa Konsili tahun 787 tentang “ikon” diakui sebagai Konsili Ketujuh, serta
Pengakuan Iman Nikea “tanpa filioque” diteguhkan kembali.
Photius secara resmi diakui sebagai orang kudus Gereja. Dia yaitu seorang theoloog yang banyak menulis
buku, terutama mengenai masalah “filioque” yang mengajarkan Ke-Esa-an Allah dengan mengatakan
bahwa Roh Kudus itu hanya keluar dari Bapa saja, sebagaimana Firmanpun diperanakkan dari Sang Bapa
yang satu dan yang sama itu. Dia membela Tradisi Gereja yang otentik dalam menentang pernytaan diri
Paus Nikhloas yang berlebih-lebihan itu, dan akhirnya menjaga kesatuan dengan Gereja Roma serta Paus
Yohanes VIII. Dia yang mensponsori misi besar-besaran kepada bangsa Salvia.
Abad kesembilan ini secara umum dapat dikatakan sebagai abad yang sangat penting bagi Gereja Timur.
Ini yaitu abad kebangkitan di Gereja Timur, sedang di Gereja Barat ini yaitu abad sentralisasi yang makin
bertambah di sekitar diri Paus. Satu-satunya theoloog yang dapat disebut dari Gereja Barat pada saat ini
yaitu John Scotus Erigena (wafat 877).
3. Penginjilan Rusia ( 988)
Menginjak abad kesepuluh kita masih berjumpa dengan kebangkitan ilmu di Gereja timur, dimana ilmu-
ilmu dari para penulis non-Kristus Yunani itu mulai dipelajari kembali, tiulisan para Bapa Gereja mulai
dikumpulkan, serta “Kisah Hidup Para Orang Kudus” mulai dikompilasi untuk menjelaskan sisi
kharismatis dari pengalaman Gereja dimana dibuktikan bahwa sepanjang segala zaman Roh Kudus masih
berkarya dengan segala macam mukjizatnya dan pengudusannya seperti yang nampak dalam kehidupan
mereka ini, serta “Lavra Agung” ( Biara Terbesar di Gunung Athos Yunani) didirikan oleh Aghios
Athanasios dari Gunung Athos (960), Aghios Simeon Neos Theologos menulis sangat luas dan
mendalam mengenai makna pengalaman “Dibaptis dalam Roh Kudus” serta pengalaman melihat Terang
Tak Tercipa serta menyatu tenggelam dalam Terang tadi yang yaitu tenggelam dalam Roh Kudus. Gereja
dan negara Byzantium makin saling merembesi, terutama Gereja makin mengendalikan masalah-masalah
perkawinan dan keluarga.
Pada tahun 869 Tsar Boris dari Bulgaria dibaptiskan dengan Kaisar Mikhael III dari Konstantinopel
sebagai “ Bapak Baptis” (‘Bapa Selam”, “Papa Serani”). Sehingga dengan demikian Gereja Bulgaria secara
kokoh berada dalam persekutuan dengan Gereja Konstantinopel, terutama pada saat anaknya Tsar
Sumeon Gereja Bulgaria makin berkembang. Pada akhir abad kesembilan suatu sekte Bidat Bogomil,
suatu sekte dualisme yang menolak keilahian Kristus dan Sakramen-Sakramen Gereja sedang berkembang,
namun ditolak Gereja, mereka berkembang sampai ke Serbia, terutama di Bosnia. Kebanyakan dari anggota
sekte ini menjadi Muslim ketika Turki menguasai daerah Bosnia.
Pada tahun 988 para bawahan dari penguasa wilayah Kiev dibaptis di sungai Dnieper dibawah
pimpinan Pangeran Vladimir yang Agung, dengan demikian memulai sejarah Gereja Orthodox di Ukraina
dan Rusia. Valdimir menerima Iman Kristen Orthodox dari Konstantinopel, sesudah mengadakan
penyelidikan dari semua agama yang ada, dia menemukan tidak ada agama yang keindahannya melebihi
Kekristenan Orthodox. Dia dibaptis di Konstantinopel dengan Kaisar Basilius sebagai Bapak Baptisnya.
Akhirnya dia menikah dengan Puteri Anna dari Konstantinopel, untukmengokohkan pertalian keluarga
Kerajaan. Sesudah baptisannya itu Vladimir mengalami suatu pengalaman pertobatan yang sungguh-
sungguh, sehingga banyak menanamkan prinsip-prisip Kristen dalam kerajaan yang dipimpinnya, serta dia
mengabarkan Iman Kristen Orthodox kepada seluruh bawahannya. sebab apa yang dilakukan dan
kekudusan hidupnya ini ia telah diakui sebagai orang kudus Gereja bersama dengan neneknya Putri Olga
yang telah menjadi Kristen sebelumnya, dan banyak mempengaruhi dia dalam keputusannya untuk
menjadi Kristen.
Pada akhir abad kesembilan sampai masuk abad kesepuluh Gereja Barat mengalami salah satu periode
yang paling gelap dalam sejarah. Gelombang-gelombang baru penyerbuan menghancurkan keamanan
kekaisaran yang diciptkan Karel Agung. Ggereja Barat menderita dominasi para penguasa-penguasa dari
antara kaum awam. Komunikasi dengan Gereja Timur sama sekali terputus. Namun demikian terjadilah
permulaan gerakan pembaruan di Gereja Barat yang dimulai dari Biara Cluny di Perancis.
D. Zaman Perpecahan
4. Perpecahan ( Skisma ) Besar (1054): Gereja Barat (Roma Katolik) Pecah Dengan Gereja Timur (
Orthodox)
Masuk ke dalam abad kesebelas kita temui peristiwa menyedihkan, yaitu perpecahan besar-besaran antara
Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Konstantinopel). Peristiwa ini dimulai dengan larangan
penggunaan Liturgi Gereja Timur Yunani di Italia Selatan oleh Paus Roma, serta sebagai balasannya
dilaranglah penggunaan Liturgi Gereja Barat Latin di Konstantinopel oleh Patriarkh. Pada tahun 1053 Paus
di Roma mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk bertemu dengan Patriarkh yang sedang
menjabat: Mikhael Kerularios. Tetapi Patriarkh tidak mau menerima mereka, sebab dia melihat bahwa
tujuan kedatangan mereka mempunyai motivasi politik. sebab lelah menunggu dan sebab jengkel
merasa tidak dihormati,, maka kepala rombongan utusan ini, yaitu: Kardinal Humbert, pada tanggal 16
Juli 1054, menempatkan dokumen “pengkutukan” ( “anathema” ) dan pengkucilan terhadap Patriarkh
Mikhael Kerularius dan semua yang bersimpati kepadanya, diatas mezbah (altar) Gereja Aghia Sophia,
namun dia tetap memuji Konstantinopel sebagai “Kota yang Amat Orthodox”. Kutukan ini landasannya
sebab Gereja Timur tidak menggunakan “filioque”, mengijinkan para Presbyter (“Rohaniwan Tertahbis”)
menikah, kesalahan-kesalahan liturgis sebab tidak sama dengan yang dipraktekkan dalam Gereja Latin.
Tindakan Kardinal Humbert ini ditanggapi Patriarkh Mikhael Kerularios dengan mengadakan Konsili Para
Patriarkh dan Episkop-Episkop Gereja Timur dengan menyatakan “anathema” dan “pengkucilan” terhadap
semua yang bertanggung jawab atas peristiwa “16 Juli 1054”. Dia mendaftar semua yang dianggap
penyalah-gunaan Gereja Latin. Sejak saat itu usaha untuk menyatukan kembali antara Gereja Barat yang
kemudian dikenal sebagai Gereja Roma Katolik dengan Gereja Timur yang tetap disebut sebagai Gereja
Orthodox atau Orthodox Yunani menjadi tak mungkin lagi. Maka terjadilah skisma (perpecahan) yang
permanen sampai sekarang. Semua usaha untuk persatuan tak satupun membuahkan hasil, bahkan
pengangkatan secara simbolik “anathema tahun 1054” ini yang dilakukan di zaman modern pada tahun
1966 oleh Paus Paulus VI dari Gereja Roma Katolik dan Patriarkh Athenagoras dari Gereja Orthodox itupun
tak berdampak apa-apa dalam usaha kesatuan Gereja ini. Gereja Barat (Roma Katolik) tetap terpisah dari
Gereja Timur ( Orthodox) dan tetap berjalan menurut jalannya sendiri sampai kini.
5. Masa Perang Salib
Dengan hampir kebanyakan daerah Kristen Orthodox di sebelah timur di kuasai Islam terutama Palestina,
maka sulit bagi orang-orang Kristen di Barat untuk mengadakan ziarah ke Tanah Suci. Maka di Gereja Barat
timbul suatu gerakan untuk merebut Tanah Suci dari tangan musuh. Maka oleh kotbah-kotbah beberapa
pemimpin Gereja di Barat Perang Salib merebut Tanah Suci itu dimulai pada tahun 1096. Mereka bergerak
maju menuju ke Timur dari Eropa Barat dengan dipimpin Uskup dan para pastor serta tentara-tentara
Katolik Barat. Gerakan ini tak terpisah dari apa yang terjadi di Gereja Barat. Pada pertengahan abad
kesebelas ini terjadi pembaharuan di Gereja Barat yang berpusat pada diri Paus. Gerakan ini sering disebut
sebagai“Pembaharuan Gregorian” menggunakan nama dari penggerak utamanya yaitu Paus Gregorius
VII atau Hildebrand.
Tujuan Gerakan ini yaitu untuk menegakkan Gereja Katolik Roma kokoh terpisah dari ketergantungan
kepada kekuasaan pemerintah manapun. Akibatnya, ini makin amat sangat memperluas pernyataan diri
Paus di Roma akan kedudukannya. Sehingga usaha untuk berdamai dengan Gereja Timur makin sulit.
Misalnya pada tahun 1089 untuk mengadakan hubungan yang baik, Gereja Timur meminta pengakuan
iman dari Paus Urbanus II, dia menolak melakukannya, sebab dia merasa jika memberikan pengakuan iman
itu berarti Uskup Roma dapat dihakimi oleh orang lain di dalam Gereja. Dan pada saat Perang Salib yang
pertama tahun 1096 itulah kedudukan Paus di Roma sebagai penguasa sudah mapan sekali. Pada akhirnya
para tentara perang salib inilah yang memeteraikan skisma (perpecahan) diantara dua Gereja ini. Para
pasukan Salib itu merebut Yerusalem pada tahun 1099, serta mengusir ummat Islam dari situ, namun juga
mendirikan suatu Hierarkhi Kegerajaan Latin, dan mengusir Patriarkh Timur yang sah baik di Yerusalem
maupun di Antiokhia. Sejak saat itu baik di Palestina maupun di Syria terbentuk suatu Kepatriarkhan Latin
Ritus Timur, sebagai tandingan dari Kepatriarkhan Timur Orthodox yang sah. Kaum Roma Katolik (Latin)
yang menggunakan Ritus Timur, yaitu Tata Ibadah dan Spiritualitas Gereja Orthodox, baik di Palestina
maupun di Syria itu akhirnya dikenal dengan nama kaum “Melkit” , yaitu nama yang tadinya digunakan
oleh kaum “Monofisit” ( Yakobit) di Syria untuk menyebut Ummat Kristen Syria Orthodox yang membela
rumusan Kalsedonia. Sehingga sekarang Gereja dari Tradisi Syria ini terbagi jadi lima bagian, yaitu: Syria-
Antiokhia Orthodox (Kalsedonia) yang tetap bersatu dengan segenap Gereja Orthodox alur utama lainnya
dan meskipun mereka yaitu orang Syria asli dan Patriarkhnya yang sekarang (1997) Ignatius IV yaitu
orang Syria mereka disebut “Orthodox Yunani”, hasil pemaksaan Hirarkhi Latin pada saat Perang Salib:
Syria-Roma Katolik Ritus Timur : “Maronit” dan “Melkit” , serta kelompok yang memisahkan diri pada
Konsili Kalsedon Syria-Antiokhia Yakobit ( Monofisit, Oriental Orthodox), dan Ummat Syria di Persia yang
memisah dari Gereja Antiokhia dan menerima Nestorius sebagai simbol theologi mereka: Syria-Kaldea
(Pre-Kalsedonian) yang disebut Gereja “Nestorian” atau Gereja Persia.
Sementara itu di Gereja Barat terjadi pembaharuan-pembaharuan Cistercian dari Ordo Benediktin
(sekarang terkenal sebagai “trappist” ). Wakil terbesar dari Gerakan ini yaitu Bernard dari Clairvaux.
Dia berkotbah kepada para pasukan Salib dan ikut berperang bersama Abelard. Gerakan Carthusian dari
kebiaraan para petapa juga terjadi pada zaman ini.
Di daerah-daerah yang diduduki Islam terutama di Syria dan Irak, orang-orang Kristen setempat
(Monofisit, Nestorian, Orthodox) yang menjadi kelompok minoritas yang dilindungi (ahlul dzimma)
diminta untuk menterjemahkan karya sastra, dan ilmu-ilmu pengetahuan Kristen Timur, maupun Yunani
klasik dari bahasa Yunani atau terjemahan Syria ke dalam bahasa Arab, oleh para kalifah Islam. Hal ini
terjadi pada saat pemerintahan Kalifah Al-Ma’mun yang mendirikan Balai Terjemahan yang disebut
sebagai Baitul Hikmat. Terjemahan keilmuan dari Gereja Timur ke dalam bahasa Arab itu sangat
membantu perkembangan keilmuan dalam Islam. Terjemahan bahasa Arab ini akhirnya juga tersebar
sampai ke kalifahan Islam di Eropa, Cordova, Spanyol. Disana karya terjemahan bahasa Arab itu
diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin. Dari situlah orang-orang Kristen Barat yang selama ini
terkurung dalam zaman kegelapan menemukan kembali keilmuan Kristen dari Gereja Timur melalui Islam,
dan dengan demikian membantu bangkitnya filsafat Skolastikisme di Barat yang berpuncak pada tulisan-
tulisan Thomas Aquinas.
E. Zaman Kesesakan
Ancaman Turki, Perkembangan Orthodoxia di luar Konstantinopel, dan Usaha-usaha Penyatuan
Gereja (abad 12 s/d abad 14)
a. Ancaman Turki
Menginjak abad kedua belas kekaisaran Byzantium dibawah wangsa Comnenus, harus menghadapi tiga
musuh sekaligus. Dari Barat harus menghadapi Pasukan Salib, dari selatan harus menghadapi ancaman
kekalifahan Arab, serta musuh baru yang muncul yaitu bangsa Turki yang berasal dari Timur. Mereka
yaitu suku Tartar, yang telah memeluk agama Islam ketika mereka menghancurkan Bagdad.
Kaisar Alexios Comnenus menetapkan bahwa Gunung Athos di semenanjung Khalkidiki, Yunani, harus
menjadi pusat kerahiban Gereja Orthodox, dan sampai sekarang menjadi pusat spiritualitas Gereja
Orthodox internasional. Theologia Iman Kristen Orthodox pada saat ini sudah begitu mapan, yang pada
pokoknya merupakan Theologia dari Ketujuh Konsili bersama dengan praktek-praktek awal Gereja Purba,
serta penjelasan-penjelasannya dalm tulisan para Bapa Gereja. Sehingga theologia Iman Kristen Orthodox
bukanlah pendapat perorangan namun Iman segenap Gereja itu sendiri, sikap yang mana tetap menjadi ciri
khas dari Gereja Orthodox masakini juga. Perorangan boleh menggunakan gaya dan caranya sendiri dalam
menyampaikan iman yang satu dan yang sama irtu, namun isinya yaitu iman yang tak berbeda dari Iman
yang sejak zaman purba diimani Gereja sejak awal, dibela dan dijelaskan dalam Ketujuh Konsili, serta
dijabarkan oleh para Bapa Gereja dan dihidupi dalam perayaan-perayaan Ibadah dan Liturgi Gereja.
Sementara itu di Kiev, Rusia, Kekristenan Orthodox terus berkembang. Pada tahun 1124 dilaporkan terjadi
kebakaran 600 buah gedung Gereja, menunjukkan banyaknya gedung Gereja saat itu, dan sekaligus
perkembangan Kekristenan disitu. Rusia mewarisi theologia dan liturgi yang sudah mapan dari sejarah
Kekristenan me;lalui Byzantium dan seluruh iman Gereja Purba tanpa dikurangi, diubah ataupun
ditambah. Sehingga Iman Gereja Orthodox Rusia ataupun Gereja Orthodox dimanapun yaitu satu dan
sama. Pada awal abad ini Pangeran Vladimir Monomakhos menulis buku “Amanat Untuk Anak-
Anakku” suatu nasihat kepada anak-anaknya bagaimana seharusnya menjadi pemimpin Kristen.
Sementara itu Gereja Serbia pada tahun 1217 mendapat restu dari Konstantinopel untuk menjadi Gereja
mandiri melalui usaha Sava, dan pada tahun 1219 Sava sendiri diangkat menjadi Episkop Agung yang
pertama oleh Patriarkh Manuel dari Konstantinopel. Hal ini terjadi sesudah Kaisar Byzantium
memberikan ummat Serbia kerajaan bagi mereka di tanah asli mereka. Ini terjadi atas usaha pemimpin
mereka Nemanya ( 1113-1199). Pada saat abad dimana Gereja Serbia diakui sebagai Gereja mandiri,
demikian pula Gereja Bulgaria, dengan Episkop Agung dari Tvorno sebagai pemimpin Gereja Bulgaria.
Gereja Barat bersama dengan sentralisasi kepausan juga menyaksikan bangkitnya aliran Victoria dari
Theologia Agustinian yang dipimpin oleh Hugo (meninggal 1141) dan Richard dari Santo Victor. Juga
pada saat ini Petrus Lombardus menulis karyanya yang terkenal “Kalimat-Kalimat” .
b. Perang Salib Keempat dan Konsili Lyons
Abad ketiga belas diawali dengan apa yang dianggap sebagai peneguhan terakhir dari Skisma Gereja Barat
dengan Gereja Timur, yaitu peristiwa Perang Salib Keempat. Pada tahun 1204 Pasukan Salib Roma
Katolik itu gagal menyerang Islam, mereka berbalik menyerbu Konstantinopel. Kota Kristen itu dirampok
habis-habisan. Mereka menghancurkan dan mencuri benda-benda suci dari gereja-gereja. Mereka
memporak-porandakan dan menajiskan altar-altar (mezbah-mezbah). Banjir darah memenuhi
Konstantinopel. Diperkirakan orang Kristen Orthodox yang mati dalam Perang Salib Keempat di tangan
ummat Latin ini jauh lebih banyak dari ummat Islam yang mati di tangan mereka selama Perang Salib itu.
Seorang Kardinal Latin Thomas Morosini diangkat sebagai Patriarkh Konstantinople, sementara
Patriarkh yang sah diusir dalam pembuangan. Demikian juga seseorang bernama Frank diangkat jadi
kaisar, sementara bersama Patriarkh yang sah, Kaisar Konstantinopel melarikan diri dari serbuan tadi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, orang-orang Latin Roma Katolik dari Gereja Barat, menjadi musuh
yang terang-terangan di dalam pikiran orang-orang Kristen Orthodox di Timur. Tulisan-tulisan dari Gereja
Orthodox saat ini mulai diarahkan untuk menyerang Kepausan dan Gereja Latin Roma Katolik itu sendiri.
Pemerintahan orang Latin Roma Katolik di Konstantinopel berakhir sampai tahun 1261, ketika
Kaisar Mikhael Paleologos, berhasil merebut Konstantinopel kembali dari tangan ummat Roma Katolik
Latin itu, serta menempatkan kembali Patriarkh yang sah pada tempatnya.
Kaisar Mikhael III dalam situasi yang tak dapat ditahan sebab dari Timur diserang Turki, dan dia sendiri
tak dapat menjamin bahwa Pasukan Salib dari Gereja Barat tidak akan kembali menyerang lagi. Oleh
sebab nya, demi alasan politik, dia mengrim utusan para Episkop menghadiri Konsili dari Gereja Barat
di Lyons pada tahun 1274 dengan harapan mendapatkan sympathy serta bantuan ekonomi dan militer
bagi kerajaan yang hampir roboh itu. Gereja Barat mengusulkan pada utusan-utusan Kaisar asal mau
mengakui Paus di Roma sebagai penguasa tertinggi, mereka boleh menjalankan tata-ibadah Timur milik
mereka sendiri, dan boleh tanpa menggunakan “filioque” , asal doktrin keluarnya Roh Kudus dari “Bapa
dan Putra” diakui, dan tidak disangkal sebagai bidat. sebab dalam keadaan terdesak maka usulan Konsili
itu diterima oleh para utusan Mikhael, yaitu: Paus di Roma yaitu Penguasa Tertingggi, “filioque” harus
diterima – untuk yang pertama kalinya hal ini dituntut dalam sejarah. Namun ternyata janji orang-orang
barat itu kosong belaka. Mikhael tak pernah mendapat bantuan apapun sampai matinya pada tahun 1282.
Melihat fakta ini, maka akta penyatuan Gereja di Lyons ini langsung ditolak oleh semua Episkop dari Timur,
segera sesudah Mikhael meninggal. sebab dianggap menyalahi Iman Gereja dengan tindakannya itu, maka
Kaisar Mikhael meninggal tanpa diberikan upacara pemakaman secara Gerejani.
c. Gereja Rusia dan Gereja Barat
Sementara itu pada abad ketiga belas ini Rusia berada dibawah penyerbuan bangsa Mongolpada tahun
1237 dan dijajah oleh kaum Tartar ini. Negara Kiev runtuh pada tahun 1240. Pada tahun 1231 Alexander
Nevsky menjadi Pangeran di Novgorod dan pada tahun 1240 berhasil memimpin bangsa Rusia memukul
mundur orang-orang Roma katolik Swedia yang menyerang Rusia. Dia juga berhasil mengadakan
perundingan dengan Khan Batu, untuk meringankan beban jajahan mereka atas rakyat Rusia, dia rela
membayar upeti kepada orang Mongol asalkan negaranya mendapatkan damai. Dia pulang dari Mongol
dengan mendapat gelar Pangeran Agung Kiev. Dia meninggal pada tahun 1263, dan diakui sebagai orang
suci Gereja sebab kekudusan pribadinya, hikmat praktis, dan diplomasinya – yang semuanya itu
didedikasikan demu rakyatnya atas nama Kristus.
Abad ketiga belas ini di Gereja Barat disebut sebagai “abad paling agung.”. sebab Gereja Barat mulai
menemukan lagi keilmuan melalui terjemahan bahasa Latin dari bahasa Arab karya-karya Kristen Timur
yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani dan terjemahan Syria oleh orang-orang Kristen Timur dalam
daulat Islam seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya. Muncullah kegiatan “skolastikisme” yang
menetukan arah theologi Gereja Barat selanjutnya. Diantara tokoh-tokoh skolastis ini yaitu Duns Scotus
serta Albertus Magnus dan muridnya Thomas Aquinas yang menulis “Summa Theologia” yang
menggunakan prinsip-prinsip logika dan filsafat daripada prinsip-prinsip Alkitab, yang mendominasi
theologi resmi Gereja Katolik Roma sampai Konsili Vatikan Kedua pada paruhan terakhir abad keduapuluh.
Disinilah yang membedakan cara berteologi Gereja Orthodox dan Roma Katolik. sebab Gereja Orthodox
tetap setia pada prinsip theologia konsili, serta penjabaran para bapa gereja, yang dialami dalam liturgi,
theologia yang mana yaitu iman am Gereja dan berlandaskan Alkitab, bukan filsafat.
d. Gregorios Palamas: Essensi (Dzat Hakekat) Allah dan Energi Allah
Pada abad keempat belas kita jumpai perdebatan theologia yang menarik di Gereja Timur, sekitar theologia
Aghios Gregorios Palamas. Dia yaitu seorang rahib di Gunung Athos, dimana praktek Doa Yesus : ‘Tuhan
Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah hamba orang berdosa ini” dengan menyatukan pikiran dan hati
melalui disiplin tubuh yang ketat. dan berfokuskan pada “Nama Yesus” itu dilaksanakan. Sehingga mereka
mengalami keteduhan batin (“hesykhia”) tenggelam dalam hadirat Roh Kudus dalam penyatuan dengan
Yesus Kristus. Itulah sebabnya metode doa yang sampai sekarang tetap digunakan oleh ummat Orthodox
ini, disebut sebagai“hesykhasme” Banyak dari para rahib ini maupun ummat awam Orthodox dalam
pengalaman doa mereka secara demikian mengalami persekutuan dan panunggalan yang nyata dengan
Allah, termasuk mendapatkan penglihatan rohani akan Terang Ilahi yang Tak Tercipta., seperti yang dilihat
para murid ketika Yesus dimuliakan diatas gunung. Pada tahun 1326 pengalaman melihat Terang Ilahi Tak
Tercipta dalam praktek Doa Yesus itu dikecam oleh Barlaam dari Kalabria, Itali. Dia yaitu orang Yunani
namun yang mengikuti faham humanisme dari “renaissance” Gereja Barat yang menggunakan filsafat dan
ide theologia Barat dimana kemungkinan bagi manusia untuk mengalami persekutuan dan pengalaman
panunggalan dengan Allah itu disangkal. Kecaman dari Barlaam ini dihadapi oleh Gregorios Palamas yang
membela posisi Iman Kristen Orthodox bahwa manusia dapat mengalami persekutuan dan panunggalan
dengan Allah secara sungguh-sungguh melalui Kristus dan oleh Roh Kudus di dalam Gereja.
Suatu Konsili padsa tahun 1346 mendukung pengajaran Gregorios Palamas ini. Dalam pengajaran itu
ditegaskan bahwa panunggalan yang dimaksud bukanlah panunggalan secara “pantheistis” seperti yang
diajarkan filsafat kafir, namun panunggalan secara Kristologis, Pnevmatologis dan Ekklesiologis. Artinya
oleh iman melalui baptisan kita manunggal dengan kematian dan kebangkitan Kristus artinya manunggal
dalam kehidupan Kristus sendiri. Hidup Kristus itu disampaikan kepada manusia oleh Roh Kudus, dan
pengalaman hidup Kristus, yang yaitu Hidup Allah sendiri, oleh Roh Kudus itu dialami dalam pengalaman
sakramental, ibadah dan doa dalam persekutuan Gereja.
Dengan demikian kita mengalami hidup Allah tadi secara nyata. Menyatu pada hidup
Allah bukanlah menyatu pada “Essensi” ( Dzat-Hakekat) Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh filsafat
“pantheisme” mistik, sebab itu tidak mungkin. Namun menyatu dengan tindakan, hadirat dan energi
Allah yang memang tak tercipta dan bersifat ilahi.( misalnya yang nampak dalam wujud terang ilahi tadi).
Energi-energi Ilahi ini disalurkan atau dikaruniakan kepada manusia melalui Rahmat Ilahi atau Kasih
Karunia Allah,dan terbuka bagi partisipasi, ma’rifat dan pengalaman manusia.
Pada Konsili yang diadakan pada tahun 1347 dan 1351 sekali posisi Gregorios Palamas ini diteguhkan
persis seperti yang diajarkan Alkitab dan Tradisi Theologis Gereja Orthodox sepanjang segala abad. Sejak
saat itu perbedaan theologis mengenai “Essensi, Supra-Essensi”(“Adi Dzat-Hakekat”) dan “Energi-
energi” Ilahi menjadi bagian resmi dari Doktrin Gereja Orthodox.. Banyak orang sebab tak mengerti
posisi Iman Kristen Orthodox akan perbedaan essensi dan energi ilahi ini menuduh Gereja Orthodox yaitu
Gereja Mistik, dalam arti pantheisme, yang juga amat ditolak oleh Gereja Orthodox. Gereja Orthodox yaitu
Gereja yang sangat kharismatis, dengan penekanannnya pada pengalaman Roh Kudus oleh Energi Ilahi
secara nyata, namun dengan corak yang amat berbeda sekali dari penghayatan Gerakan Kharismatik
modern. Sementara itu Kaisar Yohanes V Paleologos masih mengharapkan bahwa Gereja Barat akan
memberikan bantuan dari serangan Turki yang makin mendesak itu. Dia mengadakan persekutuan dengan
Gereja Roma tanpa ada usaha untuk penyatuan secara resmi. Pada abad keempat belas ini Gereja Barat
sendiri sedang mengalami masalah internal. Pausnya ditawan di Avignon, dan ada tiga orang yang
menyatakan diri sebagai Paus. Inilah yang disebut “Skisma Besar” dalam Gereja Barat.
e. Situasi di Rusia, Serbia dan Bulgaria
Rusia bagian selatan masih dibawah penjajahan Tartar pada abad keempat belas ini, namun bagian utara
merdeka dari penjajahan dan dibawah pimpinan Pangeran Yohanes Kalita sebagai bupati
dan Metropolitan ( Episkop Agung yang Berkedudukan di Ibu Kota ) Alexis sebagai pimpinan Gereja.
Orang yang sangat berjasa bagi pembangunan Rusia utara ini yaitu Aghios Sergios Radonesh, yang lahir
tahun 1314 dan menjadi rahib tahun 1334. Dia hidup dalam segala kesederhanaan, melaksanakan puasa,
tinggal dalam hutan, hidup dalam doa yang mendalam. Akibatnya banyak orang yang menjadi muridnya,
Sehingga hutan itu menjadi perkampungan dan akhirnya berubah menjadi kota. Dia menjadi Bapa Rohani
dari Metropolitan Alexis. Dia dipenuhi karunia-karunia Roh Kudus: kesembuhan ilahi, penglihatan-
penglihatan yang luar biasa, serta mengetahui hati orang. Para pemimpin nasional selalu mohon
nasihatnya. Dan ketika pangeran Dimitri Donskoi akan mengusir penjajah Tartar, dia diberkati oleh
Aghios Sergios ini, sehingga dia mendapat kemenangan dan membebaskan Rusia sekali dan untuk
selamanya dari penjajahan Tartar.
Pada saat yang sama Aghios Stephanos dari Perm mengadakan penginjilan diantara suku-suku Zyria,
menterjemahkan kitab-kitab Gereja ke dalam bahasa mereka dengan menggunakan alfabet yang
diciptakannya untuk mereka. Usaha penginjilan ini akan menjadi fondasi bagi usaha penginjilan
selanjutnya dalam Gereja Orthodox Rusia baik di antara suku-suku Siberia, Jepang, Alaska, maupun Korea.
Serbia mengalami perkembangan yang pesat dibawah pimpinan rajanya Stefanus Dushan dan Gereja
Serbia menjadi keptriarkhan mandiri pada tahun 1346. sedang Gereja Bulgaria dibawah
pimpinan Aghios Klemen dari Ochrid dan pertapaan kerahiban Zoografou bagi ummat Bulgaria dibangun
di gunung Athos, Yunani.
f. Usaha Penyatuan Yang Terakhir : Konsili Ferrara-Florence
Menginjak abad kelima belas Gereja Barat sedang mengalami gejolak mengenai hubungan antara Paus dan
Konsili-Konsili Gereja. Ada yang mengatakan kuasa Paus berada diatas Konsili-Konsili, ada yang
mengatakan Konsili-Konsili diatas Paus. Salah satu Konsili Gereja Barat pada saat ini, Ferrara –
Florence (1438-1439) didukung para paus. Wakil-wakil Gereja Timur ikut datang demi untuk meminta
bantuan lagi dalam perjuangannya melawan Turki. Yang ikut hadir dari Timur saat itu yaitu
Kaisar Yohanes VIII, dan Patriarkh Yosef dari Konstantinopel dan Metropolitan dari Kiev, seorang
Yunani bernama Isidoros yang diterima dalam “derajat yang sama” dengan kaum Latin. Meskipun dalam
Konsili ini diputuskan suatu doktrin yang sangat keras mengenai kekuasan Paus, “filioque” dan “api
penyucian” , Kaisar Byzantium amat tak perduli dengan ajaran dan theologia, asalkan dia dibantu Gereja
Barat melawan Turki melalui penyatuan dengan Gereja Barat.
Semua Episkop Orthodox mau menandatangani keputusan ini, kecuali Markus Evgenikus, Episkop dari
Efesus. Tiga keputusan doktrinal Konsili ini sangat berlawanan dengan ajaran Orthodox mengenai
kedudukan Paus, mengenai “filioque” dan sekaligus mengenai “api penyucian” yang memang tak dipercayai
adanya oleh Gereja Orthodox. Hasil usaha penyatuan di Florence ini tidak diumumkan sampai tahun 1452
di Konstantinopel di Gereja Aghia Sofia.
F. Zaman Penjajahan
Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Turki (1453) dan Masa Turkokratia (abad 15 s/d abad 19)
1. Orthodoxia di bawah Islam
Serangan pasukan Turki yang terus menerus, serta bantuan Gereja Barat yang selalu diharapkan namun
tak pernah terbukti itu, akhirnya dampaknya tak dapat dibendung lagi. Dibawah pimpinan Sultan
Muhammad II, pada tanggal 29 Mei 1453, pasukan Turki Muslim berhasil menyerbu Konstantinopel dan
menjebolnya. Konstantinopelpun jatuh ke tangan Turki, dan ini menandai runtuhnya Kekaisaran
Byzantium.. Dan Muhammad II merebut kota itu serta menamakannya “Istanbul” sampai saat ini. Gereja
Aghia Sophia dijadikan Mesjid. Berturut-turut Serbia pada tahun 1459, Yunani pada tahun 1459-60, Bosnia
pada tahun 1463 (dimana banyak kaum “Bogomil” yang keluar dari Gereja itu akhirnya menjadi Muslim),
dan akhirnya Mesir pada tahun 1517, jatuh ke tangan Turki. Selama 400 tahun sesudah itu bangsa Turki
Muslim menjajah ummat Kristen Orthodox di seluruh bekas wilayah Kerajaan Byzantium. Inilah masa yang
terkenal dalam sejarah Gereja Orthodox sebagai masa "Turkokratia" atau masa “Kekuasan Penjajahan
Turki”.
Pada saat ini Patriarkh Konstantinopel dalam keadaan yang sangat sulit, sebab sekarang harus berada
dibawah kekuasaan Penguasa yang bukan Kristen. Dari waktu ke waktu Sultan yang berbeda-beda
memperlakukan para Patriarkh dengan cara yang berbeda-beda juga. Sering mereka dipecat dan diganti
sekendak Sultan, banyak diantaranya yang mati digantung tanpa sebab-sebab yang jelas.. Tak jarang pula
Sultan memperjual-belikan kedudukan Patriarkh ini bagi siapa yang mau membayar paling mahal kepada
Sultan. Patriarkh dijadikan sebagai “Ethnarkh” yaitu pemimpin masyarakat Kristen Orthodox, yang harus
menarik pajak pada ummat Kristen yang ada di seluruh wilayah Turki. Ummat Kristen Orthodox dilarang
menjadi tentara, namun mereka ditarik pajak untuk hal itu. Mereka tidak diijinkan menjadi saksi dalam
pengadilan, serta tidak diperkenankan untuk mengajukan orang Muslim ke pengadilan. Mereka dilarang
membangun Gereja yang baru, hanya kadang-kadang dijinkan membangun Gereja lama yang telah rusak.
Mereka dilarang membangun rumah lebih tinggi dari rumah-rumah kaum Muslimin, dilarang naik kuda
yang hanya diperuntukkan bagi kaum Musliminm saja, mereka hanya boleh naik keledai saja. Mereka harus
mengenakan pakaian dan topi yang berbeda dari Kaum muslimin.
Dengan berlalunya waktu, anak-anak mereka banyak yang diambil secara paksa oleh pemerintah untuk di-
Islamkan dan dijadikan pasukan pemerintah yang disebut “Jannisari”. Sering mereka menjadi korban
amukan massa tanpa ada perlindungan hukum, gereja-gereja mereka dirusak, atau rumah-rumah mereka
diserbu. Meskipun tidak selalu terjadi demikian. Ummat Kristen diijinkan murtad ke Islam dan akan diberi
prioritas-prioritas tertentu jika mereka melakukan, namun ummat Islam diancam hukum mati jika sampai
menjadi Kristen. Dan dalam keadaan semacam ini penginjjilan sangat mustahil dilakukan. Memang ada
disana-sini pertobatan dari Islam ke Iman Kristen Orthodox, namun segera hal itu ketahuan orang tadi pasti
akan dibunuh. Demikianlah situasi Ummat Kristen Orthodox pada zaman Turkokratia Muslim ini.
Sesudah kejatuhan Konstantinopel itu hal yang pertama dilakukan oleh Patriarkh Gennadios
Skholarios yaitu menolak akta penyatuan Florence. Dia dibawah tekanan yang kuat dari Agios Markos
dari Efesus dalam tindakannya ini. Aghios Markos yaitu pembela yang amat kokoh dari Iman Orthodox.,
dan menyebut usaha persatuan di Florence itu sebagai “penyatuan fasik”. Demikianlah kejatuhan
Byzantium tidak berarti kejatuhan Orthodoxia. Biarpun secara manifestasi kesejarahan Gereja Orthodox
mengalami kegoncangan-kegoncangan, namun iman dan kehidupan Gerejawinya sama sekali tak tersentuh
oleh perubahan-perubahan luar ini. Imannya tetap utuh terlindungi asli dan murni tanpa ada pengurangan
ataupun penambahan, sejak zaman rasul sampai masa abad keruntuhan Byzantium ini, dan bahkan sampai
abad modern inipun.
2. Kerajaan Rusia Orthodox
Dengan jatuhnya Byzantium ke tangan kaum Muslimin, benih terbentuknya kekaisaran Rusia mulai
berakar di Moskow. Ivan III Yang Agung (1462-1505), Pangeran dari Moskow, dapat mengalahkan Rusia
utara dan menyatukan dengan daerah Rusia lainnya. Dia menikah dengan puteri Sophia Paleologos dari
Byzantium pada tahun 1472, serta menerima gelar Tsar ( bentuk bahasa Slavia untuk kata “Kaisar”) dan
mengambil alih lambang Garuda Berkepala Dua dari Byzantium, serta menyebut Moskow sebagai Roma
Ketiga , sebagaimana Konstantinopel disebut sebagai Roma Kedua (Roma Baru).
Di Rusia pada abad kelima belas ini terjadi permasalahan mengenai peranan Gereja dalam kehidupan
politik dan sosial dari bangsa itu. Kelompok “bukan pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Nilus dari Sora
( Nil Sorsky) mengajarkan bahwa Gereja terutama biara tak boleh memiliki dan menguasai tanah yang
luas, serta harus bebas dari pengaruh dan kendali langsung dari pemerintah, demi semangat kemiskinan
dan kerendahan hati. sedang kelompok “pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Yosef dari Volotsk,
sehingga kelompok ini sering disebut “Yosefit”, mengajarkan bahwa Gereja dan negara harus memiliki
hubungan yang erat, dan bahwa Gereja harus melayani kebutuhan sosial dan politik dari bangsa Rusia yang
sedang muncul ini.




