Allah oleh sebab Tuhan kita, Yesus
Krisus” dan “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita
oleh Roh Kudus” (Rm. 5:1;5). Pada bagian penutup dari
suratnya iamenasehatkan para pembaca demi Kristus Tuhan
dan demi Kasih Roh untuk senantiasa bergumul bersama-
sama dengannya di dalam doa kepada Bapa (15:30).50
Senada dengan hal itu, disampaikan juga oleh Paulus dalam
suratnya kepada jemaat di Korintus dengan mencirikan
pelayanannya sebagai yang berpusat pada Yesus Kristus,
kekuatan Roh Kudus dan Allah (1 Kor. 2:1-5). Allah telah
menyatakan hikmat-Nya yang tersembunyi kepadaku melalui
Roh, memberi pikiran Kristus (1 Kor. 2:9-16). Roh Allah
memimpin umat untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan (1 Kor.
12:3), Allah telah meneguhkan dalam Kristus dan telah
mengurapi dan memateraikan dengan Roh Kudus (2 Kor. 3:4-
18). Roh menghasilkan dalam diri suatu kerinduan akan
kebangkitan dan bersama kebangkitan itu, penebusan yang
seutuhnya dan kehadiran yang berkesinambungan bersama
Tuhan (2 Kor 5:1-10).51
Di bagian lain, Paulus menggandengkan karya Roh dan
persatuan dengan Kristus sebagai penggenapan janji-janji
Allah (Gal 3:1-4:6). Ia juga menekankan bahwa penyembahan
oleh Roh Allah yaitu sama dengan bermegah dalam Kristus
Yesus (Flp. 3:3). Di surat Kolose Paulus mengajarkan kepada
pembaca-pembacanya untuk membiarkan perkataan Kristus
yang penuh dengan kekayaan diam di antara mereka (Kol.
3:16), sementara dalam perikop yang sejajar di Efesus ia
menyebutnya sebagai sesuatu yang dipenuhi dengan Roh
Kudus, mengucap syukur kepada Allah Bapa dalam nama
Tuhan kita Yesus Kristus (Ef. 5:18-20). Dalam suatu bagian
yang mungkin merupakan himne, ia merujuk kepada jemaat
Allah dan pusatnya sebagai pengakuan iman akan Kristus
yang dibenarkan oleh Roh Kudus (1 Tim. 3:15-16).52
Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa begitu banyak
perikop di dalam Perjanjian Baru di mana Allah bertindak
dengan cara rangkap tiga. Hal ini yaitu kumpulan bukti yang
kuat dalam menunjukan bahwa telah ada pemaknaan
keimanan mengenai ketritunggalan Allah sebelum rumusan
iman ini dikonsepsikan.
e. Personalitas
Konsep mengenai personalitas mengacu dari eksistensi
atau keberadaan-Nya yang disebutkan secara personal namun
memiliki relasi antara satu dengan yang lain. Oleh sebab itu
pada pokok ini membahas hal-hal yang berkenaan dengan
personalitas tiap-tiap pribadi.
1) Allah Bapa
Dalam Perjanjian Lama, nama Allah yaitu YHWH
(adonay) yang muncul sebanyak hampir tujuh ribu kali,
sedangkan Allah menyebut diri-Nya Bapa hanya sekitar dua
puluh kali. Baik dalam penekanan monotheisme maupun
perintah yang melarang patung-patung untuk penyembahan
mendasari transendensi Allah di atas semua ciptaan yang
dibandingkan dengan-Nya.Allah disebut Bapa merunjuk pada
hubungan yang ada antara diri-Nya dengan bangsa Israel (Kel
4: 22-23) dan menunjuk kepada pada pemilihan Allah yang
bebas, bukan pada aktivitas seksual dan memperanakan
secara fisik. Seperti pengambaran dari dewa-dewi di dunia
kuno yang sering dihubungkan dengan prokreasi. Dengan
demikian orang Israel diajarkan untuk menghindari pemikiran
tentang Allah yang dikaitkan dengan hal-hal fisik terutama
reproduksi manusia. Sebaliknya, sebagai Bapa, Allah dengan
bebas telah memilih mereka dalam sejarah keselamatan.53
Dialah yang menciptakan Israel, yang memicu Israel
dapat hidup sebagai bangsa (Ul 32:6; Yes 64:8), dan Dialah
yang memilih Israel menjadi sekutu dan mengangkat serta
menjadikan mereka anak-anak-Nya.
Sedangkan dalam perjajian baru penekanan utama
mengenai konsep Allah Bapa muncul setidaknya dari tiga
perspektif. Pertama yaitu Bapa dari Yesus (Bapaku dalam
Matius 10:32), lalu Bapa dari para murid (Bapa kami
dalam Matius 6:9) dan terakhir yaitu Bapa dari semua orang
percaya (Bapamu dalam Matius 6:32). Dari dua perspektif di
atas pada dasarnya sama-sama menekankan tentang sosok
Allah yang senantiasa yaitu pencipta dan pemelihara
kehidupan.54
2) Allah Anak/ Firman
Firman atau dalam Bahasa Yunani yaitu logoj (Logos)
dapat juga diterjemahkan sebagai rasio, atau ucapan. Tidak
dapat disangkal bahwa premis yang mendasari nama ini
yaitu ajaran yang konsisten dari kitab suci bahwa baik di
dalam penciptaan maupun penciptaan ulang, Allah
menyatakan diri dengan firman. Dengan firman Ia mencipta,
memelihara, dan memerintah segala sesuatu.
Di dalam Perjanjian Lama, firman yang olehnya Allah
menyatakan diri diketahui untuk pertama kali pada saat
penciptaan. Hipostasis dan eksistensi kekal ini dibiarkan
tidak diungkapkan. Di dalam Amsal 8, sekalipun Firman
digambarkan bersifat personal dan kekal, ia juga dikaitkan
dengan penciptaan. namun dalam Perjanjian Baru, Yohanes
menyebutnya Anak (Kristus) sebagai sang Firman sebab di
dalam Dia dan oleh Dialah Allah menyatakan diri-Nya di dalam
penciptaan (Yoh. 1:3, 14) dan bahkan lebih jauh lagi ia
menyatakan secara tegas bahwa Firman ini sudah ada pada
mulanya (Yoh. 1:1), hal ini berarti bahwa ia bukan menjadi
Firman; Ia bukan yang pertama dibentuk dan ditetapkan pada
waktu penciptaan. Baik secara pribadi maupun berdasar
natur, Ia sejak kekekalan yaitu Firman. Selain itu, Ia sendiri
yaitu Allah, senantiasa bersama Allah (Yoh.1:2), ada di
pangkuan Bapa (Yoh.1:18), dan merupakan objek dari kasih
kekal-Nya dan pengomunikasian diri-Nya (Yoh. 5:27; 17:24). Ia
dapat menyatakan Bapa sepenuhnya sebab sejak kekekalan
Ia berbagian di dalam natur ilahi-Nya, kehidupan ilahi-Nya dan
kasih ilahi-Nya. sebab Allah mengomunikasikan diri-Nya
kepada Firman, maka Firman dapat mengomunikasikan diri-
Nya kepada manusia, sebagaimana yang terjadi dalam
inkarnasinya sebagai manusia Yesus yang hadir dalam
panggung sejarah manusia, sehingga status Anak bagi Yesus
yaitu dalam pengertian metafisis bukan hubungan teokratis
sebagaimana kata ini melekat pada bangsa Israel. Walaupun
sebagai perantara Yesus digambarkan bergantung serta
tunduk kepada Bapa, itu bukan berarti mengurangi kesatuan
esensi-Nya dengan Bapa, dan gelar Allah tidak akan
diterapkan secara tepat kepada Yesus jika Ia tidak benar-
benar berkopartisipasi di dalam natur Allah.55
3) Allah Roh/ Roh Kudus
Roh Allah disebutkan hampir empat ratus kali di dalam
Perjanjian Lama dan secara umum Roh dilihat sebagai kuasa
Allah yang sedang bekerja, terkadang sebagai suatu
perpanjangan dari personalitas Ilahi tapi juga sebagai sebuah
atribut Ilahi yang termanifestasi dan berkuasa di dunia. Di
samping itu, paralelisme puisi Ibrani mengimplikasikan bahwa
Roh Allah sama dengan YHWH (Mazmur 139:7), serta sebagai
kuasa Ilahi atau nafas Allah dan aktivitas Allah yang
termanifestasi dan berkuasa di dunia. Sehingga tak jarang
bahasa antropormorfis mengidentifikasikan Roh selayaknya
satu pribadi, seperti membimbing, mengajar, dan memberi
hidup. (Kej. 1:2), serta memberi kuasa untuk beragam bentuk
pelayanan dalam kerajaan Allah (Bil. 27:18; Hak. 3:10; 1 Sam.
19:20,23).56
Dalam Perjanjian Lama memang ada distingsi antara Allah
dan Roh-Nya namun natur distingsinya masih samar sebab
Yesus belum dimuliakan (Yoh. 7:39) dan dalam pengertian
khusus hari pentakosta, di mana untuk pertama kalinya
eksistensi personal dan keilahian dari Roh secara jelas terlihat.
Selanjutnya serangkaian atriibut ilahi dikenakan secara setara
kepada Roh Allah dan Allah sendiri, sebagaimana Anak
memiliki relasi dengan Bapa, demikianlah Roh memiliki relasi
dengan Anak. Sebagaimana Anak bersaksi dan
mempermuliakan Bapa (Yoh. 1:18; 17:4, 6), demikianlah Roh
bersaksi demi mempermuliakan Anak (Yoh. 15:26; 16:14).
Sebagaimana tidak ada seorang pun dapat datang kepada
Bapa kecuali melalui Anak (Mat. 11:27), demikian pula tidak
ada seorang pun dapat berkata Yesus yaitu Tuhan kecuali
oleh Roh Kudus (1 Kor. 12:3).57
Dari pemaparan di atas, yang bertolak dari
inkomprehensibilitas dan penyataan Allah sebagai unsur-unsur
esensial dari ajaran Allah Tritunggal. Jelaslah bahwa, manusia
lewat kemampuan dirinya sendiri tidak akan pernah dapat
mengenal dan memahami Allah. Namun dengan penyataan-
Nya di panggung sejarah, sebagaimana kesaksian Alkitab
telah membuat Allah dapat dikenali dan mungkin dipahami
walau tak tuntas. Mengacu dari kedua hal ini, maka tidak dapat
dipungkiri bahwa ajaran Tritunggal mengandung misteri dan
sulit untuk dianalogikan, sebab di satu sisi, penyelarasan
tentang penyataan Allah mengahasilkan sifat paradoksal, dan
di sisi lain, bersinergi dengan realita. Jadi, Tritunggal yaitu
konsepsi ajaran yang tidak kontradiksi dengan kesaksian
Alkitab, walau tak sesuai dengan kerangka berpikir manusia.
Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa pembahasan mengenai
Allah Tritunggal tak pernah sepi dari peredaran dan selalu
menjadi topik yang senantiasa penuh dengan keruncingan
sebab sifatnya yang seolah-olah ambigu hingga menghasilkan
interpretasi yang berbeda dari berbagai pihak, baik dalam
maupun dari pihak luar Kekristenan.
C. Kontra Ortodoksi
Perjalanan perumusan konsep ajaran Tritunggal tentunya
tidak pernah lepas dari berbagi macam propaganda yang
selalu mencoba dan tidak henti-hentinya mengintimidasi ajaran
yang ortodoksi. Kesulitan dalam memahami ajaran Tritunggal
juga turut menjadikan propaganda ini terus berlanjut, dan
Berikut hadirkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan
rumusan iman Tritunggal.
1. Subordinasionalisme
Tokoh utama dari konsep ini yaitu Arius (± tahun 256)
seorang presbiter asal Aleksandria yang mengajarkan bahwa
Kristus yaitu pencipta yang berpraeksistensi dan juga
makluk. Arius berpandangan bahwa Yesus Kristus
diperanakan pada suatu waktu dan ada waktu di mana Ia tidak
ada, dan dengan begitu Dia dapat berubah seperti manusia
pada umumnya sehingga Dia dapat diteladankan. Arius
menafsirkan bagian-bagian kitab suci yang berbicara tentang
Kristus sebagai yang menderita, makin bertumbuh, makan,
tidur, dan minum yaitu tanda bahwa Ia bukanlah Allah,
melainkan makluk. Sedangkan bagian-bagian kitab suci yang
menjelaskan tentang Dia sebagai Pencipta segala sesuatu,
memperlihatkan bahwa Ia bukanlah sekedar manusia biasa.
sebab itu, Arius tapaknya melihat Dia sebagai semacam
setengah ilah atau malaikat dan tidak melihatnya sebagai
kesatuan dari dua hakikat, Ilahi dan manusiawi, melainkan
sebagai suatu hakikat yang terdiri dari atas unsur-unsur
tertentu, yakni bertubuh manusia dengan jiwa malaikat.58
Pandangan ini pada perkembangannya sering juga disebut
Arianisme, walau terkadang para penganutnya (kaum Arian)
sering menyangkal hubungan formal apapun dengan Arius,
namun sangat jelas bahwa segala klaim dari kaum Arian
memiliki persamaan dengan apa yang Arius ajarkan.59 Sesuai
dengan namanya Subordinasionalisme, pandangan ini
merupakan penyangkalan teradap konsubstansialitas Anak
dengan Bapa; dengan kata lain, pernyataannya bahwa hanya
Bapa yang dalam pengertian yang mutlak yaitu satu-satunya
Allah yang sejati. Hal ini menghasilkan pemahaman bahwa
Anak yaitu keberadaan dengan tingkat yang lebih rendah
dan tidak senatur dengan Bapa. Mereka menempatkan Anak
di antara Bapa dan ciptaan, dan memberi batas interpretasi
yang luas berkaitan dengan tempat apa sesungguhnya yang
Anak tempati. Jarak antara Allah dan dunia yaitu infinit, dan
setiap titik manapun dari rentang tempat ini dapat
diberikan kepada Anak, mulai dari tahta di sebelah Allah
sampai posisi di samping ciptaan, malaikat, atau manusia.
Arianisme menyatakan bahwa Anak memang kekal,
diperanakan dari substansi Bapa, bukan ciptaan dan bukan
dijadikan dari yang tidak ada, namun tetap inferior dan
subordinat terhadap Bapa. Hanya Bapa yang yaitu Sang
Allah dan sumber keIlaian. Anak yaitu Allah sebab telah
menerima natur-Nya dari Bapa melalui pengkomunikasian
yang memberi Anak tempat di luar Bapa dan menyebut Dia
seperti Bapa. Di samping itu, mereka menyatakan bahwa Anak
dan Roh Kudus diciptakan oleh kehendak bebas Bapa
sebelum penciptaan dunia, dan hanya disebut Allah sebab
jabatan-Nya, serta mengklaim bahwa tujuan dari Anak ialah
memberi hukum kepada manusia. Sesudah itu Ia diangkat
ke suatu posisi di Sorga dan Roh tidak lebih dari suatu kuasa
Ilahi.60 Dari pemaparan ini, maka terlihat jelas bahwa
pandangan Subordinasionalisme lebih menekankan pada
keesaan Allah secara mutlak sehingga hubungan yang ada
antara ketiga pribadi bersifat strata dan terpisah tanpa ada
indikasi kesatuan.
2. Monarkianisme
Seperti halnya Subordinasionalisme, paham
Monarkianisme juga menyangkal kejamakan (tres personae)
yang ada dalam substansi Allah. Namun, jika
Subordinasionalisme menempatkan Anak dan Roh Kudus di
luar Allah. Maka, Monarkianisme berusaha menegakkan
kesatuan dengan menyerap keilaian Anak dan Roh Kudus ke
dalam substansi Bapa, sehingga semua distingsi atau
perbedaan di antara ketiga pribadi melebur menjadi satu
secara mutlak. Paham ini mengembangkan ajarannya dengan
memahami bahwa unsur Ilahi yaitu semacam kegiatan atau
penampakan dari satu Allah yang tunggal. Paham ini
dinamakan sesuai dengan terminologi kata monarkianisme.
Yaitu, berpegang teguh pada kesatuan dan ketunggalan dari
keilaian.61 Paham monarkianisme sendiri dapat diklasifikan
atau dikelompokan menjadi dua bentuk, yaitu sebagai berikut:
a) Monarkianisme Dinamis
Monakianisme Dinamis menganggap pribadi (ketigaan) ilahi
yaitu aktivitas atau energi Allah. Jadi, nama paham ini
berasal dari kata Yununi untuk energi yaitu dynamis. Tokoh
utama dari paham ini ialah Theodotus dari Byzamtium (± tahun
190). Ia mengemumakan bahwa Yesus sebenarnya hanyalah
seorang guru yang mengajarkan kebenaran rohani dan sosok
teladan dalam persekutuan dengan Allah.62Ia tidak lebih dari
manusia biasa yang baru diberi kekuatan oleh Roh Kudus
(hanyalah merupakan kekuatan ilahi) pada saat pembaptisan-
Nya. Yesus lambat-laun menjadi sekehendak dengan Allah.
Oleh sebab itu, Yesus dianggap sebagai Anak Allah. Dengan
acuan dan pandangan yang demikian konsepsi Monakianisme
Dinamis juga disebut sebagai aliran Adoptianisme.63
b) Monarkianisme Modalis
Jika dinamis memandang keberagaman Allah yaitu
aktivitas atau energi Allah. Maka, modalis menganggap pribadi
(ketigaan) dalam diri Allah yaitu tiga, tiga nama, tiga kedok,
tiga bentuk, tiga cara muncul atau barada Allah. Nama modalis
juga merupakan pemaknaan dari kata Latin modus atau cara
berada. Modalis juga berpegang pada kesatuan,
ketidakterbagian dan ketunggalan dari Ilahian itu. Salah satu
tokoh utama dari pandangan ini ialah Praxeas (± tahun 210)
menyatakan bahwa Allah secara keseluruhan hadir dalam diri
Yesus. Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah gelar yang
dikenakan pada keberadaan yang esa. Bapa sendirilah yang
masuk ke dalam rahim perawan Maria dan Allah sepenuhnya
menderita, mati dan bangkit.64
Selain Praxeas, tokoh lain dari pandangan ini yaitu
Sebellius (± tahun 215) menyatakan bahwa Allah sebagai
Bapa yaitu pencipta dan pemberi hukum; sebagai Anak,
Allah yang sama itu memproyeksikan diri-Nya untuk
menunaikan tugas penebusan dan sebagi Roh Kudus, Allah
yang sama pula menjelma mengerjakan pembaharuan dan
pengudusan, atau dengan kata lain, Allah pada dasarnya tidak
terdiri dari tiga pribadi, melainkan hanyalah tiga topeng dalam
sandiwara atau tiga pertunjukan dalam tiga masa,yang di
mana Allah pertama menjadi Bapa pada zaman Perjanjian
Lama, lalu menjadi Anak (Yesus Kristus) di zaman
Perjanjian Baru, dan pada terakhirnya menjadi Roh Kudus di
zaman gereja.
Dari pandangan monarkianisme baik aliran dinamis
maupun modalis sama-sama menolak keberagaman (tres
personae) dalam Allah. Dengan demikian, ajaran ini berbeda
dengan ajaran Trinitarian. Sehingga tidak mengherankan jika
pandangan semacam ini ditolak pada saat konsili dan
dinyatakan bidat.
Jadi, intinya yaitu gereja tidak bisa semata-mata
menerima ajaran subordinasi maupun monarkianisme atau
sekedar menyatukannya. Itulah sebabnya, gereja menolaknya
sebab pada dasarnya tereduksi menjadi ajaran sesat yang
sama. Jikasubordinasi menyatukan yang temporal di dalam
satu kesatuan yang korelatif dengan yang kekal, sedangkan
monarkianisme mencoba untuk membuat dunia temporal
menyediakan kejamakan sebagai pelengkap bagi dunia yang
kekal dan menyediakan kesatuan realitas sebagai satu
keutuhan.
Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa
meski secara terminologi istilah Tritunggal tidak terdapat dalam
Alkitab namun dari dalamnya mengandung dan menyediakan
bahan-bahan yang menjadi dasar dari ajaran ini. Oleh sebab
itu, pada bagian ini akan membahas pokok ajaran Allah
Tritunggal yang berdasar tinjauan Alkitab. Baik dari
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
A. Perjanjian Lama
Penyataan Trinitarian dalam Perjanjian Lama belumlah
komplit, sebab apa yang ditampilkan mengindikasikan
eksistensi Trinitarian Allah yangsecara khusus berisikan
sebuah organisme penyataan. Bak sebuah pentas drama,
Perjanjian Lama yaitu bagian pertama dari pertunjukan
Tritunggal yang secara bertahap dilakonkan. Melalui
penyataan Allah dalam nama-namapersonal menghadirkan
pengenalan akan keberagaman yang eksis di dalam
keberadaan Allah.Dalam Perjanjian Lama, Nama Elohim yang
secara gramatikal memiliki bentuk plural hadir di tengah
monoteisme Israel yang ketat tidak pernah mengalami
keberatan. Keadaan Ini menandakan bahwa kejamakan yang
dimiliki Nama ini tidak mengandung unsur-unsur
politeisme, dan lebih merujuk pada kekayaan kepenuhan-Nya
secara mutlak yang berisi keragaman tertinggi. Hal ini sagat
jelas pada waktu penciptaan, di mana Elohim mencipta
dengan mengucapkan Firman-Nya yang bukan hanya sekedar
bunyi, melainkan suatu kekuatan yang begitu besar sehingga
dengan Firman-Nya Ia mencipta dan menopang dunia ini.67
Pekerjaan penciptaan dan providensi ditetapkan bukan
hanya oleh Firman, namun juga oleh Roh-Nya (Kej. 1:2; Mzm.
33:6; Yes. 40:7, dst.). Jika Allah menjadikan segala sesuatu
oleh firman-Nya sebagai agen mediasi, melalui Roh-Nyalah Ia
imanen di dalam ciptaan dan menghidupkan serta menjadikan
semuanya indah. Jadi, menurut Perjanjian Lama, telah jelas
dalam penciptaan bahwa sagala sesuatu tidak lepas dari
eksistensi dan pemeliharaan penyebab rangkap tiga. Elohim
dan kosmos tidak ditempatkan bersebelahan secara dualistis;
justru sebaliknya, prinsip objektif dunia yang diciptakan Allah
yaitu firman-Nya, dan prinsip subjektifnya yaitu Roh-Nya.
Dunia pertama-tama dipikirkan Allah dan sesudah itu dijadikan
oleh ucapan-Nya yang maha kuasa; sesudah menerima
eksistensinya, dunia tidak berada secara terpisah dari Dia atau
bertentangan dengan Dia, melainkan terus mendapatkan
perhentiannya di dalam roh-Nya.68 Dalam Perjanjian Lamajuga
penyebab rangkap tiga lebih jelas dalam domain penyataan
dan pekerjaan penciptaan ulang. Nama YHWH yang
menyatakan Allah dan membuat diri-Nya dapat diketahui
sebagai Allah Perjanjian dan penyataan dalam sejarah.
Sebagai YHWH, Ia tidak menyatakan diri-Nya secara langsung
dan tanpa mediasi (Kel. 33:20). Kembali dengan firman-Nya, Ia
menjadikan diri-Nya diketahui dan menyelamatkan, serta
memelihara umat-Nya (Mzm. 107:20). Pembawa firman
penyataan yang penebus itu yaitu malaikat Tuhan. Walau
dengan jelas berdistingsi dengan dari YHWH, malaikat ini
menyandang nama, menjalankan kuasa, memicu
pembebasan, membagi berkat, serta menerima penyembahan
dan hormat yang sama. Roh Allah yaitu prinsip dari seluruh
kehidupan dan kesejahteraan, prinsip dari semua anugerah
dan kuasa. Ia yaitu kekuatan fisik (Hak. 14:6; 15:14),
keterampilan artistik (Kel. 28:3; 31:1-5 dan I Taw. 28:12-19),
kemampuan untuk mengatur (Bil. 11:17 dan I Sam. 16:13),
intelek dan hikmat (Ayb. 32:8; Yes. 11:2), kekudusan dan
pembaharuan (Mzm. 51:12; Yes. 63:10). Roh akan berdiam
dalam ukuran yang tidak biasa di atas Mesias (Yes. 11:2; 42:1;
61:1), namun sesudah itu dicurahkan kepada semua orang (Yl.
2: 28-29; Yes. 32:15; Yeh. 36:26-27; dan Za. 12:10), dan
memberi semua orang hati dan roh yang baru (Yeh. 36:26-
27). Prinsip Ilahi rangkap tiga inilah yang mendasari
penciptaan serta menopang seluruh penyataan Perjanjian
Lama.69
B. Perjanjian Baru
Perkembangan sejati ide Trinitarian Perjanjian
Lamaditemukan dalam Perjanjian Baru. namun , ide ini
muncul ke permukaan dengan jauh lebih jelas bukan sebagai
hasil penalaran abstrak tentang keberadaan ilahi, melainkan
melalui penyataan diri Allah di dalam penampakan diri, firman
dan perbuatan. Di dalam inkarnasi Anak dan pencurahan Roh
Kudus, satu-satunya Allah sejati dinyatakan sebagai Bapa,
Anak dan Roh Kudus. Peristiwa ini bukanlah sesuatu yang
baru, melainkan sudah pernah ada dalam peristiwa
penciptaan. Bapa menyandang Nama ini dalam relasinya
dengan Anak, yaitu Dia telah menciptakan segala sesuatu
(Mat. 7:11; Luk. 3:38; Yoh. 4:21; Kis. 17:28; I Kor. 8:6; Ibr
12:9). Segala sesuatu menderivasi eksistensi mereka dari Dia
(I Kor. 8:6). Sedangkan Anak yang menyandang nama ini
sebab memiliki relasi dengan Bapa dan identik dengan Logos,
yang melaluinya Bapa menciptakan segala sesuatu (Yoh. 1:3; I
Kor. 8:6; Kol. 1:15-17; Ibr. 1:3). Roh Kudus menerima Nama
khususnya disebab kan pekerjaan-Nya, Ia yaitu Roh yang
sama bersama-sama dengan Bapa dan Anak memperindah
dan melengkapkan segala sesuatu di dalam penciptaan (Mat.
1:18; Mrk. 1:12; Luk. 1:35; 4:1, 14; Rm. 1:4). Selain itu, semua
penulis Perjanjian Baru mengajarkan bahwa ketiga pribadi ini
yaitu yang menyatakan diri kepada Bapa leluhur. Dalam
Anak Allah yang berinkarnasi penggenapan dari setiap nubuat
dan bayang-bayang Perjanjian Lama, penggenapan dari para
Nabi dan Raja, para Imam dan korban, Hamba Tuhan dan
Anak Daud, malaikat Tuhan dan hikmat yag dalam pencurahan
Roh Kudus yaitu perealisasian dari apa yang telah telah
dijanjikan di dalam Perjanjian Lama (Kis. 2:16; Yo. 2:28-29).70
Selain mengikuti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga
lebih jelas dalam menghadirkan dogtrin Tritunggal, yaitu
dengan hadirnya prinsip rangkap tiga yang hadir dalam
pekerjaan keselamatan. Bukan hanya beberapa teks
tersendiri, melainkan seluruh Perjanjian Baru, yaitu
Trinitarian dalam pengertian ini . Sebab rangkap tiga dari
seluruh keselamatan, setiap berkat dan keterberkatan ada di
dalam Allah; Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ini
bertindak secara langsung pada saat kelahiran Yesus (Mat.
1:18; Luk. 1:35) dan pada saat pembaptisannya (Mat. 3:16-17;
Mrk. 1:10-11; Luk. 1:35). Selain itu, ajaran Yesus juga memiliki
sifat Trinitarian. Ia menjelaskan tentang Bapa sebagai Roh
yang memiliki kehidupan di dalam diri-Nya (Yoh. 4:24; 5:26),
dan pengertian yang sangat unik sebab Ia menyebutnya
sebagai Bapa-Nya (Mat. 11:27; 21:37-39; Yoh. 3:16), yang
bersama-sama dengan Bapa di dalam kehidupan, kemuliaan,
dan kuasa (Yoh. 1:14; 5:26; 10:30). Di samping itu, Yesus juga
berbicara tentang Roh Kudus sebagai yang memimpin dan
memampukannya (Mrk. 1:12; Luk. 4:1, 14; Yoh. 3:34), Roh
disebutkan sebagai penolong (parakletos) yang lain, yang
akan diutus-Nya dari Bapa (Yoh. 15:26) dan akan
menginsyafikan, mengajar, dan memimpin ke dalam seluruh
kebenaran, dan akan menghibur serta tinggal untuk selama-
lamanya (Yoh. 14:16).71Yesus juga mengajarkan kepada
murid-murid-Nya sebelum terangkat mengenai seluruh
ringkasan pengajarannya ini yang terkemas dalam rumusan
baptisan. eivj to. o;noma tou/ patro.j kai. tou/ ui`ou/ kai. tou/
a`gi,ou pneu,matoj (“Dalam Nama Bapa, Anak, dan Roh
Kudus”72 (Mat. 28:19). Kalimat ini yaitu penyikapan
mengenai Allah yang yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus.73
Serta perwujutan dari objek iman.74 Di samping itu, secara
gramatikal kalimat ini juga mengandung pengajaran yang
sangat jelas mengenai kesatuan dari Allah dan juga distingsi
antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. sebab dari teks Bahasa
asli, kata nama (onoma) menggunakan bentuk tunggal, bukan
jamak dan pemakaian kata sandang (tou/) yang melekat di
tiap objek yakni Bapa (tou/ patro.j), Anak (tou/ ui`ou/), dan
Roh Kudus. (kai. tou/ a`gi,ou pneu,matoj) dalam Bahasa
Yunani mengandung pengertian berpribadi.75 Jadi, ayat ini
menegaskan tentang hanya ada satu namadan adanyan tiga
pribadi di dalamnya.
Ajaran ini dilanjutkan dan diperluas oleh para Rasul.
Mereka mengetahui dan memuliakan penyebab rangkap tiga
dari keselamatan ilahi ini. Keputusan kehendak, pemilihan,
kuasa, kasih dan kerajaan semuanya yaitu milik Bapa (Mat.
6:13, 11:26; Yoh 3:16; Rm. 8:29; Ef. 1:29; I Pet. 1:2; dll).
Pengantaraan, pendamaian, keselamatan, anugerah, hikmat,
dan kebenar-adilan yaitu berkenaan dengan Anak (Mat.
1:21; I Kor 1:30; Ef. 1:10; I Tim. 1:5; I Ptr. 1:2; I Yoh. 2:2; dll).
Sedangkan regenersi, pembaharuan, pengudusan, dan
persekutuan yaitu dari Roh Kudus (Yoh. 3:5, 14-6; Rm. 5:5,
14:17; 2 Kor. 1:21-22; I Ptr. 1:2; I Yoh. 5:6; dll). Sama seperti
Yesus pada akhirnya meringkaskan ajaran-Nya melalui
rumusan baptisan, demikian pula halnya para Rasul berulang-
ulang kali menempatkan nama-nama ini secara berdampingan
pada tingkat yang setara (I Kor. 8:6; 2 Kor. 13:13; 2 Tes. 2:13-
14; Ef. 4:4-6; I Ptr. 1:2; I Yoh. 5:4-6; Why. 1:4-6).76
Pembentukan ajaran atau doktrin Tritunggal tidak terlepas
dari sejarah kepercayaan orang Yahudi sebab Kekristenan
lahir di Israel, dan hal ini berkaitan erat dengan hidup dan
karya Yesus Kristus di tengah-tengah bangsa Yahudi. Dalam
perkembangannya, diperhadapkan dengan pluralitas
keagamaan dan kebudayaan. Sehingga terpaksa
mengkonsepsikan penghayatan keimanan sesuai dengan
konteks di mana ia hadir dan menghindari diri dari segala
bentuk intimidasi, serta agar tidak dicemari oleh para penyesat
yang senantiasa hadir dalam lingkup kemasyarakatan.
Dorongan ini menghasilkan sebuah konsep mengenai
keberadaan ketiga pribadi (tres personae) di dalam Allah yang
esa (una substantia), konsep ini lalu dikemas dengan
istilah Tritunggal. Walau secara terminologi tidak terdapat
dalam Alkitab, namun sebagai bentuk kontekstualisasi, maka
istilah ini tetap dipakai sebab telah ada dasar untuk
membangun ajaran ini.
A. Perumusan Ajaran
Pada Abad ke-2 titik berat gereja berpindah dari lingkungan
Yahudi (Palestinian) ke alam pikiran Yunani (hellenis). Dengan
demikian, gereja diperhadapkan pada masalah inkulturasi,
yang menuntut adanya kontekstualisasi dari iman ke dalam
suatu Bahasa yang dapat dimengerti oleh orang yang
berbudaya hellenis.77
1. Penjabaran Ajaran
Pada umumnya penjelasan mengenai keimanan masih
mengikuti garis utama dari pandangan yang telah disketsakan
diatas. Sang Bapa menghasilkan Logos-Nya yang kreatif,
Logos ini hadir dalam Yesus yang historis serta Roh Kudus,
pengilhaman dan pemberi terang, telah hadir sebelum Kristus
di antara para nabi dan sesudah Kristus di dalam komunitas
Kristen. Namun, ketidakkonsistenan dalam terminologi tidak
sama dengan inkoherensi dalam pemikiran.78 Hal ini terlihat
dari salah satu usaha perumusan oleh Yustinus Martir (± 160),
ialah orang pertama yang mencoba menjelaskan tentang iman
Kristen, seorang Yunani yang lahir di Palestina pada awal
abad kedua. Dalam perjalanan kehidupannya sebelum menjadi
Kristen, ia yaitu orang yang mencari kebenaran dalam
filsafat Yunani. Mula-mula ia bergabung dengan seorang filsuf
Stoa, lalu bergabung dengan aliran Aristoteles,
selanjutnya ia mengikuti Pythagoras, tak lama sesudah nya, ia
memilih menjadi pengikut seorang filsuf yang beraliran
Platonisme. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk menjadi
Kristen sesudah menyaksikan sikap orang Kristen yang tak
takut mati dalam mempertahankan keimanannya kepada
Yesus Kristus.79 Meskipun Yustinus telah menjadi orang
Kristen namun pengaruh dari filsafat masih mendonominasi
pemikirannya. Ia mengungkapkan imannya dengan memakai
bentuk-bentuk filsafat Yunani terutama platonisme. Dialah
apologet sekaligus teolog atau orang Kristen pertama yang
berusaha untuk menguraikan iman Kristen secara ilmiah.80
Pandangannya tentang konsep Tritunggal dikaitkan dengan
ide tentang malaikat Tuhan. Menurutnya sang Anak sebelum
menjadi manusia (prehuman) yaitu Allah yang mengambil
rupa seorang malaikat. Oleh sebab itu, maka kadang ia
menyebut Anak (Yesus Kristus) sebagai malaikat namun pada
dasarnya Yaesus bukanlah malaikat. Selanjutnya ia pun
melanjutkan pandangannya dengan mengatakan bahwa Bapa
alam semesta mempunyai seorang Anak yang juga pada
mulanya telah menjadi Firman Allah, yang yaitu Allah.
Firman itu pun telah menampakan-Nya dalam bentuk api yang
menyerupai seorang malaikat kepada Musa dan nabi-nabi
yang lain.81 Selanjutnya hadir dalam diri Yesus dan menjadi
manusia. Walau Yesus dilihat lebih rendah dari Allah, tapi Ia
memiliki keilahian yang berasal dari Allah. Oleh sebab itu
keilahian Yesus sama dengan keilaian Allah.82
sesudah penjabaran-penjabaran yang dilakukan, jelas
terlihat adanya sikap ambiguitas dari ajaran yang dikemukakan
sehingga membuka cela bagi berbagai macam propaganda
dari berbagai pihak untuk mendeskriditkan iman Kristen. Hal
itu dapat dilihat dari kemunculan beragam corak pemikiran
turut mengambil bagian dalam merekonstruksikan
penghayatan ini .
2. Melawan Penyesat
Dari pandangan Yustinus di atas telihat bahwa ia mengarah
pada politeisme, yang sejatinya merupakan kontradiksi dengan
nilai-nilai keimanan. Oleh sebab itu, gereja berupaya untuk
menghindari diri dan mengarahkan pandangannya ke arah
monoteisme. Perubahan ini sangat terasa dengan kehadiran
monarkianisme yang hadir melalui dua perwujudan yang satu
bersifat dinamis dan lainnya modalis. Seperti yang telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa kedua pandangan
ini pada dasarnya tidak melihat Yesus Kristus sebagai pribadi
yang memiliki distingsi dengan Bapa. Meskipun
monarkianisme mempertahankan monoteisme, namun gereja
pada umumnya tidak menerima sumbangan pemikiran
mereka, sebab pemecahan yang ditawarkan hanya mengacuh
dari bebera teks Alkitab dan menghilangkan bagian-bagian
yang menjelaskan tentang perbedaan antar pribadi yang ada
pada Allah.
Selain monarkianisme, bermuculan juga pelbagai sistem
ajaran yang mencoba merasuk tubuh gereja, salah satunya
ialah gnostisisme. Kata gnostis berarti pengetahuan atau
hikmat tinggi.83 Sesuai dengan namanya, mereka berupaya
menjelaskan makna kehidupan dan eksistensi Allah dengan
menggabungkan paham filsafat barat dengan agama timur
atau yang kenal dengan sinkritisme.84 Dalam menjabarkan
ajarannya, penganut gnostis menunjuk kepada wahyu yang
mereka terima dari Allah yang sejati sebagai sumber ajaran,
yang lalu dikemas dalam taurat baru.85Dalam aliran ini
ada dua tokoh yang sangat berpengaruh dalam pandangannya
tentang keutuhan yaitu Bassilides (90-150) dan Markion (100-
160).Bassilides tidak secara langsung membahas, tentang ide
tritunggal namun pembahasannya lebih kepada sebuah filsafat
keutuhan. Menurutnya, Tuhan Bapa yang tertinggi itu
mempunyai tujuh macam ketuhanan (Goddelijke Krachten)
yaitu nous (roh), logos (kalam), phronesia (pikiran), Sophia
(hikmat), dynamika (gaya), dikaiosyn (keadilan), dan eirene
(perdamaian). Tujuh macam gaya ini mengalami
perkembangan, dan akhirnya menjadi malaikat yang terbagi
dalam 365 golongan, dan masing-masing golongan menguasai
setiap lapisan langit. Di antara sekian banyak malaikat itu
yaitu Tuhan orang Yahudi (Tuhan Perjanjian Lama) yang
berkedudukan rendah dan hanya menghukum dengan
keadilan (tanpa kasih). Tuhan orang Kristen (Tuhan Perjanjian
Baru) yaitu bapa yang tertinggi itu (penuh dengan cinta
kasih) yang menyatakan kasih-Nya dengan mengutus Anak-
Nya (Yesus Kristus) untuk membebaskan manusia dari
“cengkeraman” Tuhan orang Yahudi. Dengan demikian
Bassilides melihat hubungan Bapa dan Anak dalam suatu
sistem hirarki belaka tanpa membahas kesamaan atau
perbedaan esensitas antara keduanya.86
Pandangan Markion pada dasarnya sama dengan pandang
Bassilides, hanya ditambahkan bahwa Tuhan Yahudi yang
terancam dengan kedatangan Yesus Kristus (Anak Tuhan
Tertinggi) itu akhirnya membunuh-Nya di atas kayu salib, namun
sebagai akibat perbuatannya, maka harus menyerahkan
kepada Tuhan tertinggi semua orang yang percaya akan
penyaliban Yesus. Markion pun tidak membahas hubungan
Bapa dan Anak secara lebih mendalam, hanya saja dikatakan
bahwa Tuhan Yesus yang diutus oleh Allah Bapa itu (untuk
menyelamatkan manusia), tidak memiliki tubuh jasmani
melainkan hanya memilki tubuh penampakan yang bersifat
sementara atau memiliki tubuh semu, tidak dilahirkan, namun
hanya menampakkan diri dengan sekonyong-konyongnya.87
Untuk menghadapi berbagai macam propaganda dan
intimidasi-intimidasi dari berbagai ajaran ini. Maka gereja
mengembangkan ajaran imannya lebih lanjut, dan hal itu
terlihat dari pada abad-abad berikutnya.
3. Upaya Perumusan
Pada akhir abad ke-2 dan sepanjang abad ke-3 menjadi
lebih jelas bagaimana sebenarnya paham Kristiani tentang
Allah. Gambaran konsepsi ini dapat dilihat dari pandangan
ketiga bapa gereja berikut:
a) Irenaeus
Irenaeus (150-202) yaitu orang Yunani, yang lahir di Asia
kecil dari keluarga Kristen. Waktu masih kecil ia sering
mendengarkan Polycarpus (salah satu murid Rasul Yohanes).
saat pemuda keluarganya pindah ke Lyon di Gallia,
Perancis. Di sana ia menjadi presbiter, dan lalu pada
tahun 177 menjabat sebagai uskup di situ. Dalam berteologi
Irenaeus menggunakan tulisan-tulisan dari para Rasul sebagai
sumber dan tradisi-tradisi gereja untuk memperkuat
pendangannya dalam menentang gnostik yang dianggapnya
sebagai penyesat dan harus diberantas. Sejalan dengan itu, ia
juga berhasil menjadi penghubung antara teologi Yunani purba
dan Teologi Latin Barat.88
Pandangan Irenaeus mengenai Tritunggal, dapat dilihat
dari rumusan pengakuan imannya, sebagai berikut:
Allah Bapa tidak dijadikan, tidak bersifat material, tidak
kelihatan; satu Allah, pencipta segalah sesuatu: inilah pokok
pertama dari iman kita.
Pokok kedua yaitu ini: Firman Allah, Anak Allah,
Kristus Yesus Tuhan kita, Dia yang dimanifestasikan kepada
Nabi-nabi seturut bentuk nubuat mereka dan sesuai dengan
cara penyataan Bapa; melalui Dia segala sesuatu
diciptakan; Dia juga yang pada akhir zaman,
menyempurnakan dan mengumpulkan segalah sesuatu,
dijadikan manusia di antara umat manusia, kelihatan dan
dapat menghasilkan perdamaian yang sempurna antara
Allah dan manusia.
Pokok ketiga yaitu Roh Kudus, melalui Dia nabi-nabi
bernubuat, dan para leluhur belajar tentang segala sesuatu
yang berasal dari Allah, dan orang benar dituntun ke jalan
kebenaran; Dia yang pada akhir zaman dicurahkan dalam
suatu cara yang baru ke atas umat manusia di seluruh bumi,
yang membaharui manusia bagi Allah.89
Jadi dapatlah dikatakan bahwa dalam penjelasannya
mengenai Allah ada dua segi yang ia tonjolkan. Pertama
mengenai keberadaan Allah yang bersifat batinia, dan kedua,
tentang penyingkapan Allah yang bersifat progresif dalam
sejarah keselamatan. Sedangkan hubungan antara pribadi
tidak di singgung. Sehingga menghadirkan kesan bahwa
seolah-olah Anak dan Roh hanyalah sekedar penampilan-
penampilan dari satu Allah.
b) Tertulianus
Tertulianus yaitu bapa teologi Latin yang dilahirkan kira-
kira tahun 150 di Kartago dan pada tahun 207 menjadi imam di
sana.90Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa
istilah Tritunggal pertama kali dipakai oleh Tertullian, namun
formulasi doktrinnya masih terlalu banyak mengalami
kepincangan. Salah satu contohnya yaitu bahwa ia melihat
dan menempatkan Allah Anak di bawah Allah Bapa. Atau
dengan kata lain, Anak Allah berkedudukan lebih rendah dari
pada Allah Bapa. Menurut Tertullian, Allah yaitu satu dalam
substansi-Nya dan tiga dalam persona atau oknum-Nya namun
dalam hubungan dengan Bapa, Anak mempunyai posisi yang
lebih rendah.91 Walaupun terdapat kepincangan dalam
konsepsinya, namun secara terminologi dari padanyalah istilah
substantia dan personae, dikenakan kepada ajaran Tritunggal.
Ia mengatakan bahwa Allah yaitu satu di dalam hakekat dan
tiga di dalam pribadinya (una substantia tres personae).92 Oleh
sebab itu, sumbangsi utama dari Tertullianus yaitu tentang
istilah yang gunakan dalam perumusan iman.
c) Origenes
Origenes lahir di Aleksandria pada tahun 185 dan
meninggal pada tahun 252 di kaisarea Palestina. Semasa
hidupnya ia habiskan dengan menulis buku yang sebagian
besar bertujuan untuk mempertahankan ajaran rasuli yang
dianggapnya sebagai satu-satunya ajaran yang benar.93
Adapun pandangannya mengenai Tritunggal tetap
mengacu pada keesaan Allah. Di samping itu, ia menekankan
perbedaan antara ketiga pribadi dengan pandangan yang
hampir mirip dengan subordinasi, namun yang menjadi
sumbangsi terbesar dalam perkembangan doktrin Tritunggal
ialah mengenai kemandirian yang pada dasarnya dimiliki oleh
tiap-tiap pribadi.94 Di samping itu, Pandangannya lebih dekat
pada teori emanasiyang mengatakan bahwa segala sesuatu
keluar (emanasi) dari Allah Bapa, dan paling pertama keluar
dari Allah ialah logos (Firman, Kalam) yaitu Yesus Kristus,
namun logos ini bukan seratus persen Allah. Semakin jauh
emanasi itu dari Allah, makin berkuranglah keallahannya.
Origenes mempunyai keyakinan bahwaAnak dan Bapa
merupakan Hipotases abadi (kekal) atau Personal Subsistence
di dalam Tuhan. Hubungan di antara kedua-Nya diterangkan
dengan menggunakan ideeternal generation (generasi kekal)
di mana hal ini meliputi subordinasi orang kedua (Second
person) terhadap orang pertama (First person) dalam
kaitannya dengan esensi. Jadi, Anak yaitu species sekunder
kekekalan yang dinamakan Theos, namun bukan Ho Teos.
Bahkan Anak kadang-kadang dipanggil Theos Deuteros.
Dengan pandangan semacam inilah Origen menyiapkan jalan
bagi orang-orang Arian untuk menyangkali keilahian Allah
Putra dan Allah Roh Kudus, serta mengarahkan gereja untuk
memandang hubungan antara ketiga pribadi dan distingsi dari
ketiganya.95
4. Pertentangan Dua Kutub
Perkembangan konsepsi mengenai nilai-nilai keimanan
menjadi semakin riuh. Kehadiran dua kutub Kekristenan yaitu
di Antiokhia dan Aleksandria telah memicu persaingan di
antara orang Kristen. Persaingan yang bersifat saling
menantang dari kedua kutub ini terlihat dari pertentangan
antara Arius dan Athanasius.
Arius (250-336) sebagai pencetus aliran Arianisme yaitu
seorang presbyter Alexander yang akhirnya berpindah ke
gereja Antiokhia, dan memberi pengaruh yang sangat
besar terhadap gereja Timur.Menurut Arius hanya Sang Bapa
saja yang tidak memiliki permulaan atau dengan kata lain
hanya Bapa saja yang bersifat kekal, sedangkan pribadi kedua
yaitu Anak (Yesus Kristus) yaitu hasil produk dari Sang Bapa
pada masa precreated (pra penciptaan), dan kepada-Nya
diberikan sifat-sifat ilahi sebagai anugerah saja. Roh kudus
yaitu ciptaan perdana dari Anak sebelum penciptaan dunia
ini. Dengan demikian Arius sebenarnya menolak kekekalan
esensi Anak dan hanya melihat-Nya sebagai yang terbesar
dari ciptaan-ciptaan Bapa yang lain. Menurutnya, atas dasar
inilah dalam karya penebus manusia, Ia (Anak) dapat diganti,
namun itu dilakukan oleh-Nya semata-mata kerena pilihan Allah
(Bapa), dan dalam pengangkatan-Nya ini Anak layak
disembah oleh manusia.
sesudah Arius memunculkan dan mempopulerkan
ajarannya, maka timbulah berbagai reaksi terutama dari
seorang uskup Alexandria bernama Athanasius, Anak
mempunyai hakikat, sifat dan kekekalan esensi yang sama
dengan Bapa dan tidak ada pemisahan dalam The essential
being of God (keberadaan Allah yang esensial). Sekalipun
demikian, ia tidak mengabaikan masalah ketritunggalan Allah
di samping keesaan-Nya dengan tetap mengakui adanya tiga
hipotases dari dalam diri Allah. Tiga hipotases ini haruslah
dilihat dalam kerangka berpikir tentang keesaan Allah
sehingga nantinya konsep ini tidak bermuara pada
politeisme.Tentang Roh Kudus, Athanasius melihat-Nya
sehakikat dengan Bapa, sama seperti Anak dan Bapa.97
B. Resolusi Ajaran
Interpretasi yang berbeda mengenai ajaran Tritunggal
mengakibatkan kontroversi ini semakin memanas dan dapat
membawa dampak terhadap perpecahan gereja dan khawatir
hal ini menggoncang kerajaannya, maka Kaisar Konstantinus
yang yaitu kaisar di kedua daerah ini terpaksa turun
tangan dan memaksa untuk mengadakan suatu sidang raya
gereja yang akhirnya dikenal sebagai konsili Nicea. Konsili ini
bersidang pada bulan Juni tahun 325 dan dihadirkan oleh
sekitar 220 uskup yang berasal dari gereja-gereja Barat
maupun Timur98, yang semuanya dipisahkan menjadi tiga
golongan yaitu: golongan pengikut Arius, ortodoks dan
golongan tengah.
Di dalam pembahasan masalah-masalah ini dirumuskan
dan disimpulkan menjadi tiga bagian,yaitu: Pertama, pengikut
Arius menolak pandangan tentang penciptaan eternal
(penciptaan yang bebas dari dimensi waktu), sedangkan
Athanasius mempertahankannya. Kedua, pengikut Arius
mengatakan bahwa Anak diciptakan dari tidak ada, sedangkan
menurut Athanasius, Anak diciptakan dari esensi Bapa. Ketiga,
pengikut Arius mengatakan bahwa Anak tidak sama
substansinya dengan Bapa, namun Athanasius berpendapat
bahwa Anak yaitu hormoousius (satu/sama zat) dengan
Bapa.99Melalui perdebatan yang sangat panjang, akhirnya
konsili ini memutuskan untuk menolak pandangan Arius,
sembari mengklaim ajaran ini sebagai bidat dan
menerima pandangan Athanasius.
Konsili Nicea ini akhirnya mengeluarkan sebuah
pernyataan yang merupakan sebuah pengakuan iman yang
terdiri dari 12 pasal, yang intinya yaitu percaya kepada
Tuhan yang Maha Esa, Bapa Yang Maha Kuasa pencipta
langit dan bumi, percaya pada satu Tuhan Yesus Kristus yang
sama substansi-Nya dengan Bapa, serta percaya kepada Allah
Roh Kudus sebagai pemberi hidup yang keluar dari sang
Bapa, dan layak menerima penyembahan yang sama seperti
dua oknum yang lain.100Dengan demikian, pada tahun 325, di
Nicea terjadi sinode yang terbilang sebagai konsili ekumenis
pertama dalam sejarah Gereja. Konsili ini memutuskan batas-
batas paham Allah Tritunggal melawan segala godaan
triteisme dan keesaan absolut Allah, serta menegaskan
keilahian yang benar dari Anak (Yesus Kristus). Berikut
rumusan pengakuan iman hasil Konsili Nicea:
Kami percaya dalam satu Allah, Bapa yang
Mahakuasa, Pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan
yang tidak kelihatan; Dan di dalam satu Tuhan Yesus
Kristus, Anak Allah, dilahirkan dari Bapa, hanya
diperanakkan, yaitu dari substansi Bapa, Allah dari Allah,
terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati,
dilahirkan bukan diciptakan, berasal dari satu substansi
dengan Bapa, melalui Siapa segala sesuatu ada, segala
sesuatu yang baik yang di sorga maupun yang di bumi, yang
oleh sebab kita manusia dan demi keselamatan kita, turun
dan menjelma, menjadi manusia, menderita dan bangkit lagi
pada hari yang ketiga, naik ke sorga, dan akan datang untuk
menghakimi yang hidup dan yang mati. Dan di dalam Roh
Kudus.101
Walau telah menetapkan batas-batas ajaran namun konsili
Nicea tampaknya tidak mengakhiri perdebatan dengan
Arianisme. Malahan dengan konsili ini kontroversi mulai
mencapai keseriusannya. Sebab, kaisar Konstantinus pada
waktu itu telah puas dengan penandatanganan pengakuan
iman, namun membiarkan interpretasi kepada masing-masing
golongan. Sehingga keputusan yang dihasilkan konsili ini
membuat kedua kelompok yang bertikai semakin terpecah-
belah dan saling konfrontasi selama hampir setengah abad.102
Hingga di awal tahun 381, kaisar Theodosius I, memerintahkan
untuk dilaksanakannya konsili gereja Timur di Konstantinopel
sebagai usaha untuk menyatukan kembali dasar iman Nicea,
sekaligus menghentikan segala permasalahan yang ada.
Maka pada bulan Mei sampai Juli tahun 381 konsili ini
dilaksanakan.103 Melalui konsili ini menghasilkan pengakuan
iman yang memperkokoh pengakuan sebelumnya dan menjadi
paham ortodoksi yang diakui oleh seluruh gereja yang
lalu menghadirkan syahadat. Adapun pengakuan iman
ini , ialah sebagai berikut:
Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang maha kuasa,
pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihat
dan tidak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal; Ia lahir dari Bapa sebelum segala
abad, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar,
dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, segala
sesuatu dijadikan oleh-Nya, Ia turun dari surga untuk kita
manusia dan untuk keselamatan kita, dan Ia menjadi daging
oleh Roh Kudus dari perawan Maria, dan menjadi manusia,
Ia pun disalibkan untuk kita pada waktu Pontius Pilatus, Ia
wafat kesengsaraan dan dimakamkan, pada hari yang
ketiga Ia bangkit menurut kitab suci, Ia naik ke surga, duduk
di sisi Bapa, Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang
yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya tak akan berakhir.
Dan akan Roh kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia
berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra disembah dan
dimuliakan, Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
Akan gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Kami
mengakui satu baptisan akan pengampunan dosa, kami
menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat.
Amin.
Dari penjabaran ini, terlihat jelas bahwa diadakannya kedua
konsili bukanlah untuk menciptakan ajaran baru, melainkan
lebih dan hanya untuk penegasan dari ajaran yang sudah
berakar atau dihayati sebelumnya sebagaimana kesaksian
Alkitab, dan pengokohannya melalui pengakuan iman atau
syahadat yaitu sebagai bentuk perlindungan diri dari
berbagai macam ajaran sesat yang hadir di lingkungan
gereja.Baik secara internal, seperti monarkianisme yang
menyangkal keilaian Anak (menentang kesetaraan Yesus
Kristus dengan Allah Bapa) dan modalisme (membagi Allah
dalam tiga modus, atau peran) maupun dari luar gereja seperti
gnostik. Dengan demikian, perumusan ajaran mengenai
Tritunggal mengasilkan sebuah restorasi yang tertuang dalam
syahadat atau pengakuan yang menjadi dasar dan sentral
iman Kristiani.
C. Perkembangan Ajaran
Pembahasan mengenai konsepsi Allah Tritunggal tidak
berhenti saat gereja-gereja melalui perwakilannya
menetapkan ajaran yang ortodoksi. Pembahasan ini terus
berkembang disetiap masa. Hal itu dapat dilihat dari
munculnya beragam pandangan dari para ahli dalam
menjabarkan konsep ini.
Berikut yaitu pandangan-pandang yang pernah
dikemukakan oleh para ahli yang dianggap dapat mewakili
masanya.
1. Zaman Bapa Gereja Hingga Abad ke-14
Selain pandangan-pandangan dari para bapa gereja yang
telah disinggung di atas. Ada seorang teolog (bapa gereja
Barat) yang berpengaruh sesudah konsili yaitu Aurelius
Augustinus. Beliau dilahirkan di Thagaste (sekarang Aljazair)
pada tahun 354. Pada masa studinya di Kartago, ia
memutuskan untuk mengabdikan diri di bidang ilmu filsafat.
Pada bulan agustus tahun 386 ia bertobat dan dibaptis pada
tahun berikutnya oleh Ambrosius. Dalam rentang waktu antara
tahun 387-400, ia gunakan untuk menulis dan menghasilkan
tiga belas buku yang kesemuanya dipakai untuk melawan
ajaran-ajaran sesat yang berkembang dimasanya. Pada tahun
388 ia kembali ke Afrika. Di sana, ia diangkat sebagai uskup
sampai meninggal pada tahun 430.
Adapun pandangan Agustinus tentang Tritunggal yaitu
penekanan terhadap keesaan Allah dan dengan tegas
mengatakan bahwa; Tritunggal yaitu satu Allah bukan tiga
Allah, dan Allah tidak berhenti untuk ada sebagai yang tunggal
(simplex) dan sebutan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus
tidaklah mengungkapkan baik perbedaan yang bersifat
substantif, kaulitatif, maupun kuantitatif sebab pada dasarnya
perbedaan itu tidak ada. Apa yang diungkapkan konsepsi ini
mengenai pribadi hanyalah suatu hubungan yang kekal namun
hubungan ini bukanlah suatu accidens (morfologi), yaitu suatu
yang ditambahkan pada keberadaan. Lebih lanjut, Augustinus
menambahkan bahwa Allah yang satu itu tidak pernah hanya
Bapa saja, melainkan senantiasa dan akan tetap demikian
nanti, bahwa Allah Tritunggal yaitu satu, yaitu Bapa, Anak
dan Roh Kudus.106 Atau dengan kata lain Augustinus hendak
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keesaan Allah
yaitu merupakan unun principium (asas dasar) dan ketiga diri
Allah selalu berkerja dalam harmoni.
Di samping Augustinus, ada juga Bapa gereja dari Timur
yaitu Jhon dari Damaskus (± 675-753). Menurutnya, Allah
yaitu satu esensi dan memiliki keberadaan-Nya dalam tiga
subsistensi. Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu satu dalam
semua hal, kecuali dalam hal memperanakan dan tidak
memperanakan. Lebih lanjut, Jhon menggambarkan bahwa
Allah yaitu esa dan memiliki Firman dan Kuasa sebagaimana
yang tertulis dalam kitab suci. Mengenai Anak yaitu Firman
Allah yang eksis pada diri-Nya dalam subsistensi-Nya yang
independen didiferensiasikan atau dibedakan sebab Firman
itu menunjukan di dalam diri-Nya atribut-atribut yang sama
sebagaimana yang dilihat di dalam Allah dan Firman itu
memiliki natur yang sama dengan Allah. Sedangkan Roh
Kudus yaitu sebuah Kuasa Esensial yang eksis dalam
kuasanya sendiri yang yaitu properti-Nya khusus, yang
keluar dari dari Bapa dan berdiam di dalam Firman.108
Selain itu, pada masa ini juga terjadi skisma antara gereja
Barat dan Timur. Perpecahan inipun membuat kedua gereja
menyusun dan merumuskan teologinya masing-masing.
Sehingga dengan demikian kedua gereja ini memiliki
perbedaan yang sangat signifikan mengenai konsep
Tritunggal.
Gereja Barat secara konsisten lebih mengutamakan esensi
Allah dibandingkan pribadi-pribadi. Sebagai konsekuensinya,
esensi lebih cenderung impersonal dan ketiga pribadi hanyalah
relasi-relasi mutual di dalam satu Esensi. Roh Kudus
dipandang sebagai ikatan kasih antara Bapa dan Anak
sehingga menghadirkan ambigu tentang independensi dari
Roh Kudus. Oleh sebab itu, kecenderungan pada modalis
menjadi ademis dalam ajaran Tritunggal gereja Barat. Di
samping itu, Trinitas dipandang sebagai sebuah teka-teki
matematis dibandingkan masalah penting dari iman dan
penyembahan, sehingga Tritunggal semakin dijauhkan dari
kehidupan dan penyembahan gereja. Sedangkan di gereja
Timur konsepsi Tritunggal secara konsisten dimulai dari ketiga
pribadi. Bapa bukanlah esensi ilahi, melainkan suatu monarki
yang dari pada-Nya asal-usal atau sebab dari natur ilahi dalam
Anak dan Roh. di samping itu, keduanya dipandang sebagai
pelaku-pelaku ilahi dalam kerangka keselamatan dan sejauh
mana hubungan antara pribadi tidak ada koneksi yang jelas.
Doktrin ini juga dijauhkan dari diskursus rasional dan
menjadikannya sebagai sentralisasi bagi kehidupan dan
penyembahan gereja.109
2. Zaman Reformasi Hingga Abad ke-17
Dalam masa reformasi sekurang-kurangnya ada dua
pandangan yang perlu diperhatikan, yaitu pandangan kedua
tokoh Reformator yang tidak lain yaitu Martin Luther dan
Yohanes Calvin.
Konsep mengenai Tritunggal dari Marthin Luther (1483-
1546) pada dasarnya masih mengikuti gereja katolik Roma
yang juga mengacu dari hasil konsili Nicea-Konstantinopel dan
bapa gereja Augustinus. Hal ini dapat dilihat dari pengakuan
iman Augsburg (1530) yang disetujui oleh Luther sendiri
sebagai bentuk penyelarasan reformasi yang
dikembangkan.110 Sementara itu, Yohanes Calvin (1509-1564)
dengan teologi teosentrisnya111, menjelaskan bahwa Allah
dalam keesaan-Nya telah menyatakan diri sebagai tiga pribadi
yang berbeda agar nama Allah tidak mengambang dan hampa
tidak terisi. Hakikat Allah yang tunggal ini menandaskan
bahwa tak ada pembagian di dalamnya. Bapa, Anak dan Roh
Kudus yaitu satu Allah dalam arti kesatuan zat.112 Hal ini
mengacu dari rumusan baptisan, di mana ketiga pribadi
ini secara bersama-sama yaitu objek iman. Dalam
keesaannya Allah dipahami sebagai tiga pribadi sebab di
mana Allah disebut secara partikular, di sana ditandakan
Bapa, Anak dan Roh Kudus yang dengan tegas menandakan
adanya distingsi antara satu dengan yang lain dan bukan
hanya sekedar gelar yang dikenakan kepada Allah yang
berujuk pada cara-cara yang berbeda atau pembagian di
dalam-Nya.113 Distingsi ini semakin nyata dengan
pemakaian kata depan akusatif (pro.j yang berarti: bersama
atau dengan) dalam injil Yohanes 1:1. Melalui ayat sama
Calvin mempertegas makna keesaan Allah sebagai satu
kesatuan dan bukan berarti ada tiga Allah.
Jadi, menurut Calvin Tritunggal yaitu konsepsi yang
berkenaan dengan penyataan Allah dalam kitab suci, di mana
Allah dibicarakan dari dua perspektif yang digabungkan ke
dalam satu istilah. Allah gambarkan sebagai yang esa secara
substantia dan kejamakan secara pribadi yang berbeda antara
satu dengan yang lain,namun bukan berarti ada tiga Allah,
sebagaimana ajaran Alkitab bahwa Allah yang esa yaitu
pokok pengakuan iman dan ada tiga pribadi, yaitu Bapa yang
yaitu sebab pertama, awal, dan asal segala hal, dan Anak
yaitu Firman-Nya atau Hikmat-Nya yang kekal dan Roh
Kudus yaitu kekuatan-Nya, kuasa-Nya, dan keampuhan-
Nya. Ketiga Pribadi itu bukan tercampur, melainkan berbeda,
namun bukan terbagi, melainkan se-Zat, sama-sama kekal,
sama-sama berkuasa, dan sederajat. 115
3. Zaman Modern Hingga Saat Ini
Pada masa modern secara khusus tidak ada satu
pandangan pun yang benar-benar baru, yang ada hanyalah
pengulangan-pengulangan dari teori-teori sebelumnya dan
kadang dengan sedikit modifikasi. Pandangan-pandangan
dalam masa ini antara lain:
Di abad ke 18 muncul tiga pandangan yang menyeruak ke
permukaan yang terkesan menentang ajaran ortodoksi
sebagaimana yang tercantum dalam pengakuan iman Nicea-
Konstantinopel. Pandangan itu berasal dari Imanuel Kant
(1724-1804) menuturkan, bahwa Allah pada hekikatnya yaitu
esa yang memproyeksikan diri-Nya sendiri kepada ciptaan
melalui Anak dan Roh dalam kerangka keselamatan. Lebih
lanjut, Kant menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada di
antara tiga pribadi demi menjaga keesaan Allah. Sedangkan
pandangan yang kedua dan hampir sama dengan itu, berasal
dari Hegel (1770-1831), yang berpandangan bahwa Allah
Bapa sebagai Allah dalam diri-Nya sendiri, Allah putera
sebagai Allah yang mengobjektifkan diri sendiri, dan Allah Roh
Kudus sebagai Allah yang kembali pada diri-Nya
sendiri.116Terakhir dari Schleirmacher (1768-1831) dengan
pandangannya bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah
sekedar merupakan tiga aspek dari diri Allah.117
Dari abad ke 19, muncul dua tokoh. Pertama, Karl Barth
(1886-1968), yang berpendapat bahwa Allah Tritunggal tidak
terdiri dari tiga pribadi, tiga kepribadian atau tiga subjek. Allah
hanya mempunyai satu (aku), satu kehendak, satu wajah, satu
sabda dan satu karya bukan tiga. Kata pribadi dipakai oleh
Barth untuk mengacu kepada Allah yang esa, yang merupakan
zat berpikir, berkehendak dan bertindak. Allah yaitu satu
pribadi dangan tiga cara berada. Hal ini berkaitan erat dengan
pewahyuan diri-Nya yang bercorak Trinitas, di mana Allah
sebagai Bapa merupakan sumber pewahyuan yang lal





