ta dengar dan kita perhatikan.
2) Kristologi Injil Matius
Kristologi Matius, yang ditujukan bagi para pendengar Yahudi, sangat menekankan
keyahudian Yesus. Raison d’etre (alasan keberadaan) kristologi Matius adalah upaya untuk
menggambarkan Yesus sebagai sosok yang memenuhi standar Yudaisme pada zaman-Nya,
bahkan memenuhi tradisi Yudais kuno, yaitu PL. Sekalipun dalam pemberitaan Matius terdapat
sejumlah gelar eksklusif, seperti ‘Anak Allah,’ yang dikenakan kepada Yesus, sesungguhnya
penulis hanya menyisipkannya sebagai pelengkap bagi tema-tema utamanya, yaitu Yesus
sebagai Mesias yang memenuhi harapan umat Yahudi, Yesus sebagai guru (rabbi) Yahudi dan
Yesus sebagai inaugurator Kerajaan Allah.
Matius adalah Injil semitis yang ditulis untuk menguatkan umat Kristen Yahudi dan
sebagai apologi bagi orang-orang Yahudi yang belum percaya. Sejak awal, Matius
mengidentifikasi Yesus sebagai keturunan raja Daud dan Abraham. Dalam alur pemikiran
tradisi Yudais, Matius mengidentifikasi Yesus sebagai sosok Imanuel dalam Yesaya 7:14 (bdk.
Mat. 1:23). Motif keyahudian Injil ini terutama tampak dalam penggambaran peran Yesus
sebagai penggenapan harapan mesianis PL (Mat. 2:4; 2:6). Dengan derajat yang berbeda-beda,
hal ini terlihat dalam seluruh teks Injil Matius.
Matius menunjukkan bahwa peran dan pelayanan Yesus merupakan penggenapan nubuat
Yesaya, terutama mengenai Hamba Tuhan yang menderita (lht. Mat. 3:17, bdk, Yes. 42:1).
Dalam seluruh Injil ini terdapat enam rujukan langsung kepada Yesaya 53. Hal ini
menunjukkan bahwa Matius memang mengidentifikasi Yesus dengan harapan mesianis Israel
(lht. Mat. 20:20-28 dan terutama 26:26-30). Harapan tentang penebusan dalam Yesaya 53
dipandang telah digenapi melalui penyaliban Yesus. Di samping itu, Matius juga menampilkan
Yesus sebagai penggenapan hukum Taurat atau hukum Musa yang baru. Seperti Musa, Yesus
memimpin keluaran baru dan Israel baru. Lebih eksplisit lagi, melalui banyak kutipan PL,
Matius menggambarkan Yesus sebagai satu-satunya sosok yang menggenapi hukum Taurat dan
nubuat PL (Mat. 3:15; 5:17-48;12:17-21; 13:35; 21:5, 16, 42; 22:44; 23:39; 26:31; 27:9, 35, 46).
Sebagai agama, Yudaisme sangat menekankan peran rabbi atau guru dengan murid-murid
di sekitarnya (bdk. Elia dan Elisa, 1Raj. 19:19-21). Dalam Yudaisme waktu itu, hubungan
murid-guru seperti ini merupakan hal yang lazim. Karena itu, sekalipun gelar rabbi jarang
digunakan dalam Injil ini, wajar jika Matius menggambarkan Yesus sebagai guru dengan
kelompok murid-murid-Nya sendiri. Memang, dalam Injil ini, Yesus dinyatakan sebagai Mesias
dengan lebih jelas dan lebih eksplisit ketimbang dalam dua Injil Sinoptik yang lain. Sekalipun
demikian, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai seorang rabbi(Mat. 3:15; 5:17-48; 11:27;
13:10-17; 23:8) dan orang lain juga mengenal Dia sama seperti guru-guru yang lain, sehingga
menyebut-Nya ‘guru’ (Mat. 8:19; 9:11; 12:38; 17:24; 19:16; 22:16, 24, 36). Sebagai guru, Yesus
digambarkan sebagai penyata kehendak Allah dan guru Israel yang benar. Salah satu motif
penulis Injil ini adalah menjawab penolakan Israel atas ajaran-Nya (bdk. Mat. 11:1-12:50).
Sama seperti yang terjadi atas nabi-nabi PL, ajaran Yesus pun ditolak oleh Israel (Mat. 5:10-12;
24:14). Lebih dari itu, pengajaran Yesus dengan perumpamaan – yang oleh Matius sangat
ditekankan – merupakan model pengajaran rabbinik waktu itu. Peran Yesus sebagai guru sangat
menonjol dalam Khotbah di Bukit. Matius menggambarkan Yesus sebagai ‘duplikat’ Musa,
terutama dalam penekanannya pada ajaran etis. Lokasi tempat Ia mengajar mengingatkan
kita kepada gunung Sinai, tempat Musa menyampaikan hukum Taurat (lht. Mat. 5:21, 31, 33,
38, 43). Hal ini bertentangan dengan berita Lukas (Luk. 6:27-35). Hal yang perlu dicatat,
penggambaran Yesus sebagai ‘duplikat’ Musa adalah untuk menegaskan otentisitas misi Yesus
kepada para pendengar semitis-Nya.
Salah satu kekhasan ajaran Yesus sebagai Mesias adalah penerapannya pada diri sendiri
dan bukan sekadar mengajarkannya kepada orang lain. Inilah prinsip dasar Matius dalam
menampilkan Yesus ketika Ia mengajar tentang Kerajaan Allah. Pengharapan Yahudi akan
Kerajaan Allah terutama bersifat teologis. Kerajaan Allah adalah harapan apokaliptis. Ciri khas
pelayanan Yesus adalah eskhatologi yang sudah direalisasi, yaitu realitas kekinian Kerajaan
Allah secara waktuwi. Ringkasan pesan Yesus terdapat dalam 4:17, “Bertobatlah, sebab
Kerajaan Surga sudah dekat.” Dengan bekata demikian, Yesus menekankan betapa penting
11
pelayanan yang dilakukan-Nya, karena melalui pelayanan tersebut Ia menghadirkan Kerajaan
Allah yang dinantikan oleh umat Yahudi.
Dalam Injil Matius, imanensi Kerajaan Allah, yang digambarkan dengan berbagai
perumpamaan, sangat mencolok jika dibandingkan dengan Injil-injil yang lain. Dalam
perumpamaan-perumpamaan tersebut, Yesus menekankan bahwa sekalipun Kerajaan Allah
saat ini belum terwujud secara sempurna, namun Kerajaan tersebut telah hadir dan berkembang
dalam diri pada murid-Nya. Hal ini terlihat dengan jelas dalam perumpamaan tentang biji
sesawi dan ragi. Perlu dicatat bahwa dalam hal ini Yesus tidak hanya dilukiskan sebagai utusan
Kerajaan Allah, melainkan penghadir Kerajaan itu. Bahkan Yesus diperlihatkan sebagai Raja
Kerajaan itu. Ia adalah Anak Daud dan Anak Manusia yang diharapkan oleh umat Yahudi.
Jadi, ringkasnya, tema utama kristologi Matius adalah: pertama, bahwa Yesus merupakan
pelanjut tradisi Yahudi dan tradisi Kitab Suci. Yesus diperlihatkan sebagai penggenapan hukum
Musa dan sosok mesianis dalam kitab para nabi. Ia menggenapi nyanyian Yesaya tentang
Hamba Tuhan yang menderita, terutama dalam Yesaya 53. Kedua, Yesus diperlihatkan sebagai
seorang guru, yang menaati adat-kebiasaan rabbinik konvensional. Sebagai guru, Yesus
diperlihatkan sebagai ‘duplikat’ Musa, terutama melalui Khotbah di Bukit, guru yang belum
pernah diterima oleh umat Israel. Ketiga, misi Yesus yang ditunjukkan dalam 4:17 adalah
meresmikan kehadiran Kerajaan Allah di bumi, dan dengan demikian menggenapi harapan
eskhatologis Yahudi. Dalam semua itu, Matius menggambarkan Yesus sebagai Mesias yang
dinantikan oleh umat Israel. Namun, sama seperti nabi-nabi alkitabiah yang lain, Ia ditolak oleh
umat-Nya.
3) Kristologi Injil Lukas
a) Yesus sebagai nabi
Dalam Lukas 9:18-19 (bdk. Mk. 8:27-28) penulis menunjukkan dengan jelas bahwa selama
masa pelayanan-Nya, Yesus dipahami sebagai seorang nabi. Orang banyak mengira Dia adalah
Yohanes Pembaptis, Elia atau salah seorang di antara para nabi zaman dulu. Apakah penulis
Lukas juga memahami Yesus sebagai nabi? Dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul,
kata profētēs seringkali digunakan. Dalam Injil Lukas kita temukan kata ini 27 kali.
4:24 Ketika Yesus masuk rumah ibadat (synagoge) di Nazaret dan membaca gulungan
kitab, ia dilukiskan sebagai seorang nabi sesuai dengan tradisi Yesaya. Merupakan hal yang
penting bahwa ketika mengawali pelayanan publik-Nya Yesus tampil sebagai seorang nabi.
Ketika orang banyak mulai berpaling dari pada-Nya, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu,
sesung-guhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Kemudian Ia memberi contoh
pengalaman Elia dan Elisa.
7:16 Suatu waktu, Yesus mengadakan perjalanan ke Nain dan membangkitkan anak
seorang janda di sana. Cerita ini jelas mengingatkan kita pada sosok Elia (1Raj. 17). Orang
banyak memuliakan Allah dan bernyanyi, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah
kita.”
7:39 Yesus makan malam di rumah seorang Farisi dan di sana seorang wanita pendosa
mengurapi-Nya dengan minyak urapan. Melihat hal ini, orang Farisi itu berkata dalam hati,
“Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini;
tentu Ia tahu bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.”
9:8,19 Telah dikatakan bahwa dalam satu dan lain hal, pada umumnya orang banyak
memahami Yesus sebagai seorang nabi. Herodes mendengar bahwa Yesus mungkin adalah
Yohanes Pembaptis atau Elia, atau salah seorang nabi zaman dulu yang telah bangkit kembali
(Luk. 9:7-8). Segera setelah itu, Yesus bertanya kepada para murid-Nya mengenai siapakah Dia
menurut orang banyak. Murid-murid itu menjawab, “Yohanes Pembaptis, ada juga yang
mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah
bangkit” (Luk. 9:18-19).
13:33 Selama perjalanan-Nya, beberapa orang Farisi mengingatkan Yesus bahwa Herodes
ingin membunuh-Nya. Yesus menyatakan rencana-Nya, bahwa hal itu harus terjadi di
Yerusalem, seperti dikatakan-Nya, “sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak
di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan melempari dengan
batu orang-orang yang diutus kepadamu!”
12
24:19 Pernyataan yang paling tegas bahwa Yesus adalah seorang nabi diucapkan oleh salah
seorang murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Ketika sedang berada dalam perjalanan menuju
Emaus, salah seorang murid Yesus tanpa disadari menyatakan kepada Yesus sendiri, “Apa
yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam
pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.”
Menurut Lukas, sebutan ‘nabi’ berasal dari Yesus sendiri dan kemudian diikuti oleh orang
lain. Dari ayat-ayat di atas, secara eksplisit ditunjukkan bahwa Yesus adalah seorang nabi
(profētēs). Pembangkitan anak janda Nain, celaan orang Farisi, pernyataan tentang para nabi
yang dibunuh di Yerusalem dan perikop tentang perjalanan ke Emaus, semua adalah bahan
Lukas sendiri (lazim diberi symbol ‘L’). Bahkan kisah penolakan terhadap Yesus di Nazaret itu
pun khas Lukas, meskipun sebagian didasarkan pada paralelismenya dalam Injil Markus. Dari
semua itu dapat dikatakan bahwa gambaran Lukas tentang Yesus sebagai nabi sama sekali
berbeda dengan gambaran dalam kedua Injil Sinoptik yang lain, yang tidak begitu menekankan
peran kenabian Yesus. Dalam Injil Lukas, pernyataan-pernyataan mengenai kenabian Yesus
selalu ditempatkan secara tepat pada bagian-bagian pelayanan-Nya: pada awal pelayanan-Nya
di Galilea, dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem dan di Yerusalem setelah kebangkitan-
Nya. Kemudian dalam Kisah dengan jelas ditunjukkan bahwa Yesus adalah seorang nabi
menurut tradisi Musa (Kis. 3:22-23; 7:37).
Namun perlu diingat, jika kristologi hanya bergantung pada gelar-gelar yang dikenakan
kepada Yesus, maka gambaran Lukas tentang diri Yesus sebagai seorang nabi tentu kurang
memadai. Gelar-gelar tersebut tidak cukup mencerminkan teologi Lukas tentang Yesus.
Conzelmann mengatakan bahwa unsur-unsur khas kristologi Lukas tidak dapat disimpulkan
hanya berdasar analisis statistik atas gelar-gelar yang dikenakan kepada Yesus.[51]
Di atas telah disinggung secara singkat, salah satu unsur utama gambaran Lukas tentang
Yesus sebagai seorang nabi adalah dalam rangka menghubungkan Dia dengan nabi-nabi PL. Ia
membaca gulungan kitab Yesaya, membuat mujizat sebagaimana dilakukan oleh Elia dan Elisa,
menghubungkan diri-Nya dengan Yunus dan hadir dalam roh Musa. Ketika para murid
mencoba bertindak sebagai nabi dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan
orang-orang Samaria sebagaimana dilakukan Elia, Yesus justru menegur mereka (Luk. 9:54-55).
Roh Allah diam dalam diri seorang nabi merupakan motif penting dalam PL (Yeh. 2:2; Mi.
3:8 dsb.), dan menurut Lukas, pada diri Yesus pun terjadi demikian. Dalam beberapa ayat jelas
dikatakan bahwa Roh Allah diam dalam diri-Nya (Luk. 2:27; 3:16, 22; 4:1, 14). Yesus juga
menggunakan bahasa kenabian. Ia mengutuk kota-kota (Luk. 10:13-16), mencela para
pemimpin agama (Luk. 11:37—12:3), memba-wa pemisahan (12:49-53), dan dengan lantang
memproklamasikan Kerajaan Allah.
Ciri khas Injil Lukas lainnya, yang menggambarkan Yesus sebagai seorang nabi, tampak
dari pengulangan motif penolakan.[52] Kisah hidup para nabi biasanya berakhir dengan
ketidakberuntungan, dan Lukas sangat sadar akan hal ini. Ia membeberkan tindakan para
leluhur Israel yang telah menganiaya dan membunuh para nabi. Bahkan kota besar Sion dikenal
bukan karena menerima para nabi, melainkan karena menjadi tempat kematian mereka (13:34).
Ketika Yesus ditangkap, diadili dan dieksekusi, Ia menggenapi peran puncak para nabi yang
perkataannya jarang sekali menyenangkan hati para pendengarnya.
Benar bahwa Lukas menampilkan Yesus sebagai seorang nabi. Namun, memusatkan
perhatian hanya pada peran Yesus sebagai seorang nabi akan kehilangan aspek-aspek lain dari
kristologi Lukas yang demikian kaya. Dalam Injil ini, Yesus tidak hanya digambarkan sebagai
seorang nabi, melainkan juga sebagai Anak Allah, Anak Manusia, Kristus dan Tuhan (kurios).
b) Anak Allah dan Anak Manusia
Injil Lukas menggunakan sejumlah gelar bagi Yesus yang juga kita temukan dalam Injil
Matius dan Markus. Kadang-kadang penulis Injil ini menyebut Yesus ‘Anak Allah.’ Bahkan
gelar ini diperkenalkan sejak awal. Gabriel memberitahukan kepada Maria bahwa ia akan
melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamai-Nya ‘Yesus.’ Selanjutnya, malaikat ini
menyatakan, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk.
1:31-32). Dalam 1:35, Gabriel memberi penjelasan, “Roh Kudus akan turun ke atasmu dan
kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu, anak yang akan kaulahirkan
13
itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Menjadi jelas bahwa Yesus disebut sebagai Anak Allah
karena lahir oleh kuasa Allah.
Selanjutnya, bagi penulis Injil ini, gelar Anak Allah bagi Yesus lebih menunjuk pada
hubungan Yesus dengan Allah Bapa yang unik. Bercermin pada hubungan antara Yesus dengan
Bapa yang unik ini, dalam hubungannya dengan Allah para murid Yesus pun dapat disebut
‘anak-anak Allah Yang Mahatinggi’ (6:35). Namun demikian, sesuai dengan pernyataan
Gabriel, keanakallahan Yesus tetap istimewa, sebab bukan hanya terkait dengan hubungan erat-
Nya dengan Bapa, melainkan terkait pula dengan kuasa Allah yang menjadi penyebab
kelahiran-Nya.
Tentang cerita pencobaan di padang gurun, kita temukan kisah serupa seperti yang terdapat
dalam Matius (Luk. 4:3, 9; bdk. Mat. 4:3, 6). Namun, dalam cerita transfigurasi kita temukan
perbedaan mengenai suara dari surga. Dalam Injil Lukas dikatakan, “Inilah Anak-Ku yang
Kupilih, dengarkanlah Dia” (9:35). Sedangkan dalam Injil Matius dinyatakan, “Inilah Anak
yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5) dan dalam
Markus dikatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mk. 9:7). Di samping
kesamaan dengan kedua Injil Sinoptik yang lain, dalam Injil Lukas kita temukan pula dua
penggunaan gelar ‘Anak Allah’ yang khas Lukas, yaitu dalam ucapan setan-setan ketika Yesus
menyembuhkan orang-orang sakit, “Engkaulah Anak Allah” (4:41) dan dalam pertanyaan
Sanhedrin kepada Yesus, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (22:70).
Pertanyaannya, apakah dengan menggunakan gelar ‘Anak Allah’ bagi Yesus, Lukas
bermaksud membicarakan hakikat keilahian Yesus? Jika dicermati dari setiap konteksnya,
agaknya penulis Injil Lukas lebih bermaksud menandaskan kedudukan dan peran Yesus dalam
rangkaian karya dan penyataan diri Allah daripada membicarakan hakikat ontologis-Nya.
Penginjil ingin menunjukkan kepada pembaca, khususnya Teofilus, atau bahkan para pembaca
yang lain, bahwa melalui diri Yesus, Allah sendirilah yang sedang berkarya, menya-takan diri
dan kehendak-Nya.
Dalam pemberitahuan malaikat Gabriel kepada Maria, jelas bahwa yang hendak
ditekankan oleh penginjil adalah kuasa ajaib Allah yang akan terjadi pada Maria, berkenaan
dengan kelahiran Yesus. Dalam peristiwa transfigurasi, penulis ingin menekankan bahwa Yesus
adalah Raja Mesias, Hamba Tuhan, yang telah ditentukan Allah. Karena itu, digunakanlah
formulasi peneguhan raja yang diambil dari Mazmur raja (Mzm. 2:7) dan digabungkan dengan
nyanyian Hamba Tuhan dalam Yesaya 42:1. Ucapan setan-setan yang keluar dari tubuh orang-
orang sakit yang disembuhkan oleh Yesus tentu tidak terlepas dari pengertian tentang kuasa
Allah yang bekerja melalui Yesus. Tiap orang yang dikenan Allah dan kepadanya diberi kuasa
untuk melakukan mujizat dalam rangka mendemonstrasikan kuasa Allah dapat disebut sebagai
anak Allah. Dalam hal ini, sekali lagi, yang dipermasalahkan bukanlah hakikat ontologis Yesus,
melainkan kuasa Allah yang sedang bekerja melalui-Nya. Pemaknaan gelar ‘Anak Allah’ dalam
pertanyaan Sanhedrin tentu tidak terlepas dari pengertian populer atas gelar tersebut di
lingkungan orang-orang Yahudi waktu itu. Tiap orang saleh yang taat kepada Allah, begitu pula
raja Israel sebagai simbol pemerintahan teokratis Allah, lazim disebut anak Allah. Penolakan
Sanhedrin terhadap pengakuan Yesus terutama bukan karena Dia dianggap telah menciderai
iman monoteis mereka, melainkan karena Yesus dituduh telah mengaku sebagai Raja Mesias
yang ditetapkan Allah. Realitas yang terjadi pada diri Yesus berbeda dengan harapan mereka
mengenai sosok Raja Mesias. Bagi mereka, Raja Mesias adalah raja dari garis keturunan Daud,
yang akan memulihkan kejayaan Israel atas bangsa-bangsa. Sedang dalam diri Yesus, mereka
mendapatkan kesederhanaan, bahkan kelemahan.
Di samping gelar ‘Anak Allah,’ penginjil juga mengenakan gelar ‘Anak Manusia’ kepada
Yesus, sama seperti kedua Injil Sinoptik yang lain. Injil-injil Sinoptik mengenakan gelar ini
kepada Yesus dalam pelayanan-Nya di depan umum, dalam penderitaan-Nya dan dalam
kedatangan-Nya kembali dengan kemuliaan (lihat Luk. 6:22, bdk. Mat. 5:11; Luk. 12:8, bdk.
Mat. 10:32; Luk. 22:48, bdk. Mat. 26:49; Mk. 14:45). Di samping itu, dalam Injil Lukas kita
temukan pula beberapa penggunaan gelar ini secara khas, yang tidak terdapat dalam kedua Injil
Sinoptik yang lain. Kita dapat melihat penggunaan tersebut, misalnya dalam 17:22; 18:8; 19:10;
21:36 dan 24:7. Kita tidak dapat memastikan sumber serta makna gelar ini dalam Injil Lukas.
Namun secara sederhana, penginjil agaknya menyamakan gelar ini dengan Mesias. Kita ambil
contoh Lukas 17:22, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak
Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.” Ada beberapa penafsiran atas ucapan Yesus
ini.[53]
14
Mungkin yang dimaksud ‘waktu’ dalam ayat ini adalah waktu Mesias, sekalipun cara
pengungkapan seperti ini tidak begitu lazim. Kemungkinan lain, yang dimaksud adalah saat
ketika kerajaan Mesias tiba, atau saat ketika para murid Yesus berkumpul bersama-Nya di
surga. Mana pun penafsiran yang diterima, semuanya berkenaan dengan kehadiran Mesias.
Tidak mengada-ada jika kita menduga bahwa pemakaian gelar ini dilatarbelakangi oleh gagasan
‘Anak Manusia’ dalam Daniel 7, sosok penyata Allah yang penuh kuasa dan kemuliaan, yang
sudah menjadi harapan populer umat Yahudi.
c) Anak Daud
Dalam Injil Matius, gelar ‘Anak Daud’ memiliki makna yang amat penting, yaitu untuk
menunjukkan bahwa Yesus benar-benar Raja Mesias, yang lahir dari garis keturunan Daud.
Dalam Injil Lukas kita hanya dapat menemukan penggunaan gelar ini tiga kali, dua kali dalam
permohonan Bartimeus agar matanya dicelikkan (18:38-39) dan dalam pertanyaan Yesus
kepada ahli-ahli Taurat, “Bagaimana orang dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah Anak
Daud? Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada
Tuanku, ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan
kakimu.’ Jadi Daud menyebut Dia tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (20:41-44).
Namun dari 1:32, 69; 2:4; 3:31, jelas bahwa penginjil melihat Yesus sebagai keturunan
Daud. Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit, dalam sebutan Yesus sebagai ‘Anak Daud’
terkandung pengertian bahwa Yesus dipahami sebagai Raja Mesias dari garis keturunan Daud,
sebagaimana dinubuatkan oleh nabi-nabi. Dengan kata lain, penginjil ingin menunjukkan
bahwa Yesus sesungguhnya adalah Mesias yang dinantikan oleh umat Israel.
d) Kristus
Sekalipun gelar ‘Kristus’ bagi Yesus relatif jarang digunakan dalam Injil Lukas, namun
gelar ini memiliki makna sangat penting. Sebutan ‘Kristen’ bagi orang-orang beriman – yang
secara tidak langsung berkenaan dengan Kristus – dalam Injil Lukas kita temukan 12 kali
(sedangkan dalam Kisah kita temukan 24 kali). Dalam 2:11, penginjil menuturkan kepada para
pembaca bahwa malaikat berkata kepada para gembala, “Hari ini telah lahir bagimu
Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (terjemahan LAI). Dalam bahasa Yunani,
kataKhristos Kurios tidak menggunakan kata sandang (article), sehingga secara harfiah dapat
diterjemahkan ‘Kristus Tuhan,’ dan memiliki dua kemungkinan interpretasi. Khristos
Kurios dapat diartikan ‘Tuhan yang diurapi,’ tetapi dapat juga berarti ‘Kristus dari Tuhan,’
(Lord’s Christ) di mana kata ‘Tuhan’ menunjuk kepada Allah sendiri. Agaknya alternatif kedua
lebih tepat. Dengan ungkapanKhristos Kurios (‘Kristus Tuhan’ atau ‘Mesias Allah’) penginjil
bermaksud menunjukkan bahwa Yesus adalah Kristus yang ditetapkan oleh Allah sendiri.
Pemaknaan ini sejajar dengan nazar Simeon bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat ton
Khriston Kuriou, ‘Mesias Tuhan,’ yang oleh LAI diterjemahkan ‘Mesias, yaitu Dia yang diurapi
Tuhan’ (2:26).
Dalam khotbah-Nya di rumah ibadah (synagoge) di Nazaret (yang hanya terdapat dalam
Injil Lukas). Yesus mengawalinya dengan membaca ayat-ayat dari kitab Yesaya, “Roh Tuhan
ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada
orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada
orang-orang tawanan, dan pengli-hatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-
orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun Rahmat Tuhan telah datang” (4:18-19; bdk.
Yes. 61:1). Pengurapan yang dimaksud di sini adalah pengaruniaan Roh Kudus. Menjadi
‘Kristus’ berarti masuk ke dalam relasi istimewa dengan Allah dan juga dengan Roh Kudus
(yang adalah Allah sendiri dalam kuasa dinamis-Nya).
Menarik untuk diperhatikan bahwa ketiga Injil Sinoptik memiliki versi pengakuan Petrus di
Kaesaria Filipi yang berbeda-beda. Dalam Injil Matius, Petrus mengatakan, “Engkau adalah
Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16). Dalam Injil Markus kita temukan jawaban
Petrus secara singkat, “Engkau adalah Mesias” (Mk. 8:29) dan dalam Injil Lukas, Petrus
menjawab, “Mesias dari Allah” (Luk. 9:20). Pemahaman Injil Lukas terhadap Yesus sangat
khas, yaitu bahwa Dia adalah Kristus dari Allah (bdk. 2: 26). Allah telah mengutus dan
mengaruniakan kuasa kepada-Nya melalui Roh Kudus. Bagi Lukas, Mesias adalah seseorang
15
yang dipanggil oleh Allah, diperlengkapi oleh Allah dan diutus oleh Allah. Ia bukanlah sosok
independen, melainkan kepunyaan Allah.[54]
Keistimewaan Injil Lukas yang lain adalah bahwa bagi penginjil, Mesias itu harus
menderita. Penderitaan merupakan bagian integral dari kemesiasan. Dalam hal ini, penginjil
tidak memulai pemberita-annya dengan melihat Kitab Suci dan kemudian mencocokkannya
dengan kehidupan Yesus, melainkan sebaliknya, ia memulai pemberitaannya dari diri Yesus
dan penderitaan-Nya, baru kemudian menemukan bahwa Kitab Suci sudah menubuatkannya
lebih dulu. Dengan demikian, standar pemberitaan penginjil adalah Yesus sendiri, bukan
pengetahuannya sendiri mengenai Kitab Suci. Bahwa Mesias harus menderita, hal ini menuntut
tanggapan: yakni iman kepada-Nya! Dalam penderitaan Mesias itu penginjil melihat bahwa
Allah sendiri sedang bertindak, melaksanakan karya penyelamatan-Nya bagi umat manusia.
Tentu saja, hal ini tidak harus dipahami sebagai anugerah yang murah, sebab beriman kepada
Mesias yang mendeita berarti pula panggilan untuk mengikuti jejak-Nya.
e) Tuhan
Gelar untuk Yesus yang paling populer dalam Injil Lukas adalah ‘Tuhan’ (dalam Injil
Lukas gelar ini kita temukan 103 kali).[55] Sapaan ‘Tuhan’ (kurios) lazim digunakan dalam
masyarakat waktu itu dengan bermacam-macam arti, seperti: pemilik sesuatu (misalnya keledai,
19:33; kebun anggur, 29:13), sebutan sopan dari seorang hamba kepada tuannya (13:8; 14:22),
atau sapaan hormat bagi seseorang yang pantas untuk dihormati. Namun istilah ini dapat juga
dikenakan kepada dewa-dewa. Dalam Septuaginta, kata ini digunakan untuk menerjemahkan
kata Ibrani Yahwe. Lukas berkali-kali menggunakan sapaan ini bagi Allah (misalnya, 1:6, 9).
Menyebut Yesus ‘Tuhan’ berarti memberi gelar yang amat penting. Namun yang jelas, dalam
mengenakan gelar ini kepada Yesus, penginjil sama sekali tidak bermaksud membicarakan
hakikat Yesus secara ontologis, melainkan menempatkan Yesus dalam posisi yang amat tinggi
dan terhormat di samping Allah sendiri.[56] Kesulitannya, di samping dikenakan kepada Yesus,
sapaan ini juga dikenakan bagi Allah sendiri. Jadi, untuk mengetahui siapakah yang dirujuk
oleh gelar ini harus dilihat dari konteksnya.
c. Konsep Injil-injil Sinoptik tentang manusia
Injil-injil Sinoptik memandang Yesus sebagai citra manusia sejati yang utuh dan sempurna.
Hal yang menonjol dalam kemanusiaan Yesus adalah pengaruh-Nya yang kuat atas orang lain,
perhatian dan kasih-Nya kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, kebaikan hati-Nya,
sikap yang tidak mementingkan diri sendiri dan kerelaan-Nya untuk berkorban, serta penilaian-
Nya yang lebih bersifat rohani daripada kebendaan. Injil-injil Sinoptik ingin memberi gambaran
tentang manusia sempurna sebagaimana ditampilkan oleh Yesus.
1) Dinyatakan bahwa manusia lebih unggul daripada binatang. Pada waktu Yesus
berkata, “Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Mat. 10:31), secara implisit Ia
memperlihatkan perbandingan yang tak perlu dipersoalkan. Hal senada kita temukan dalam
kecaman Yesus kepada orang-orang yang menentang-Nya ketika Ia menyembuhkan orang sakit
pada hari Sabat, sedangkan mereka sendiri menyelamatkan hewan mereka yang terjatuh ke
dalam jurang, sekalipun pada hari Sabat.
2) Manusia dipandang bernilai di hadapan Allah. Dalam konteks yang sama seperti ketika
Yesus membandingkan manusia dengan burung pipit, Dia mengatakan bahwa sehelai rambut
manusia pun diperhatikan Allah (Mat. 10:30). Ini merupakan cara radikal untuk menunjukkan
betapa berharganya manusia di hadapan Allah. Namun lebih jauh Yesus juga memberi batasan
mengenai siapa yang berharga di hadapan Allah. Mereka adalah yang disebut ‘anak-anak
Allah,’ yaitu orang-orang yang menunjukkan iman dan pertobatan. Di samping keberhargaan
manusia di hadapan Allah, Injil-injil Sinoptik juga mewartakan keterbatasan manusia apabila
mereka hidup di luar Allah. Manusia tidak memiliki kedaulatan mutlak, sehingga tidak dapat
berbuat sesuka hatinya di luar kuasa Allah. Nilai manusia lebih tinggi daripada kemampuan dan
prestasi yang dimilikinya. Nilai-nilai rohani manusia secara utuh lebih berharga daripada
kenyataan lahiriahnya. Ini jelas dari perkataan Yesus, bahwa lebih baik seseorang kehilangan
anggota badannya daripada kehilangan nyawanya (Mk. 9:43-47).
16
3) Dalam Injil-injil Sinoptik tidak terdapat pandangan dualistis mengenai jasmani dan
rohani seperti dalam pemikiran Gnostik. Injil-injil Sinoptik tidak memandang jahat hal-hal yang
bersifat jasmaniah. Yesus juga tidak memberi tekanan pada kehidupan asketis yang anti perkara
duniawi, bahkan Ia dikecam karena sikap-Nya ini (Mat. 11:19). Hal yang menajiskan orang
adalah apa yang keluar dari hatinya, dan bukan apa yang masuk ke dalam perutnya (Mk. 7:14
dst.). Kenajisan berasal dari pikiran manusia dan bukan dari dagingnya. Namun daging itu
berfungsi untuk melayani pikiran manusia (Mat. 26:41; Mk. 14:38). Seringkali kata ‘darah dan
daging’ dipakai dalam pengertian ‘manusia’ (seutuhnya).
4) Melalui teladan serta ajaran-Nya, jelas bahwa Yesus tidak menghendaki agar manusia
hidup secara individual, tanpa memperhatikan orang lain di luar dirinya. Yesus setuju dengan
pandangan PL bahwa manusia berada dalam solidaritas dengan sesamanya, termasuk dalam
pemerataan tanggung jawab. Yesus merasa prihatin atas orang-orang yang tersingkir dan
dipandang rendah dalam masyarakat, prihatin atas orang-orang miskin dan menderita, dan juga
atas orang-orang cacat. Dia bergaul dengan orang-orang yang dianggap bercela, seperti
pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Mat. 11:19); Ia berusaha membawa mereka masuk
ke dalam Kerajaan Allah (Mat. 21:31). Khotbah di Bukit berisi pola ajaran yang menempatkan
manusia dalam jalinan dengan sesamanya. Ajaran itu tidak akan berarti jika manusia hidup
secara individual terlepas dari sesamanya. Perhatian terhadap sesama manusia dipertegas lagi
dalam hukum kasih (Mat. 22:39) dan perintah untuk berbela rasa dengan mereka yang
menderita (Mat. 25:34-40). Mengasihi orang lain juga berarti terbuka untuk mengampuni
kesalahan mereka (Mat. 18:21-22; Luk. 17:3-4).
5) Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah diharapkan mampu mematuhi peraturan-
peraturan Allah (Mat. 5:18-19; Luk. 16:17). Manusia dikehendaki agar patuh kepada Allah dan
tidak diberi kewenangan untuk menentukan kebenarannya sendiri. Aliran filsafat humanisme
dan eksistensialisme modern tidak mengakui hal ini. Bahkan ajaran Yesus dianggap
mengganggu kebebasan manusia untuk menentukan keputusan. Namun penolakan seperti ini
telah ada sejak zaman Yesus sendiri. Pandangan Yesus tentang manusia menuntut tanggung
jawab total di hadapan Allah. Hidup yang mementingkan diri sendiri tentu tidak mungkin
memenuhi tanggung jawab ini. Ketaatan yang dikehendaki Allah bukanlah pembatas bagi
kebebasan manusia, sebab kebebasan yang sejati justru ditemukan dalam penyerahan diri
kepada kehendak Allah yang sempurna. Hal ini sesuai dengan citra manusia yang diciptakan
sebagai gambar Allah. Sehubungan dengan itu, Yesus adalah teladan manusia sempurna.
Dialah gambar Allah sejati, yang sepenuhnya taat kepada kehendak Allah. Menurut ajaran
Yesus, manusia akan menemukan jati dirinya yang sejati jika ia taat dan bergantung kepada
Allah.
6) Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan (Mat. 19:4). Keduanya
ditempatkan dalam kedudukan setara dan merupakan dasar pembentukan rumah tangga (Mat.
19:5-6). Dalam hal ini, Yesus merujuk kembali pada peristiwa penciptaan manusia dalam
Kejadian 1:26-27 dan 2:18-24. Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dan
menempatkan dalam peran masing-masing sedemikian rupa untuk saling menolong dan
melengkapi sebagai teman sepadan. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga, dikatakan bahwa
hubungan mereka telah menjadi ‘satu daging,’ suatu ungkapan yang melukiskan kesatuan utuh
suami-isteri yang tak terpisah-pisahkan. Yesus mengritik dengan keras praktik yang terjadi
dalam masyarakat Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, hampir segala hal didominasi oleh laki-laki,
sedangkan perempuan tidak mendapat tempat yang setara dengan laki-laki. Dalam hampir
segala aspek, perempuan tidak diberi tempat untuk bergabung dengan laki-laki dalam
kedudukan yang sejajar (termasuk dalam pendidikan agama dan perannya dalam peribadahan).
Dalam kehidupan Israel purba, kedudukan dan kebebasan perempuan sangat dibatasi oleh
hukum dan adat-istiadat Yahudi:
a) Peran perempuan sangat dibatasi, dan sangat sedikit atau bahkan tidak memiliki
kewenangan apa pun dalam kehidupan rumah tangga dan sosial.
b) Sebagian besar perempuan dikurung di rumah ayah atau suaminya.
c) Mereka dianggap rendah (inferior) terhadap laki-laki dan berada di bawah kekuasaan
laki-laki, entah ayahnya (sebelum menikah) atau suaminya (setelah menikah).
d) Sejak periode Bait Allah kedua, perempuan dilarang memberi kesaksian dalam
pengadilan. Mereka tidak boleh keluar di depan umum atau bercakap-cakap dengan orang
asing. Ketika berada di luar rumah, mereka harus mengenakan kerudung rangkap. Mereka telah
17
menjadi orang Yahudi kelas dua, yang disisihkan dari peribadahan dan pengajaran agama,
dengan status sedikit lebih tinggi daripada budak. Kedudukan mereka di tengah masyarakat
sudah ditetapkan dalam Kitab Suci Ibrani dan penafsiran atasnya. Kedudukan mereka tidak
jauh berbeda dengan perempuan Afganistan selama kekuasaan diktator Taliban dewasa ini. Hal
seperti ini juga terjadi dalam kehidupan bangsa-bangsa bukan Yahudi waktu itu.
d. Perlakuan Yesus yang radikal terhadap perempuan
Dalam beberapa bagian Injil-injil Sinoptik, Yesus berupaya untuk lebih memanusiakan
perempuan. Matius dan Lukas banyak membicarakan hal ini. Berita tentang kelahiran Yesus
pun berpusat pada peran seorang anak dara, dengan menempatkan perempuan dalam
kedudukan yang sangat terhormat. Bahkan dalam Injil Lukas, kisah itu didominasi oleh peran
Elizabet dan Maria. Pada saat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, Ia tidak membedakan
antara laki-laki dan perempuan (Mat. 4:23-25; 9:35-38; 14:13-21; Mk. 1:32-34). Bahkan dalam
beberapa bagian diceritakan secara khusus bagaimana Yesus menyembuhkan perempuan.
Walaupun rasul-rasul yang dipilih Yesus semuanya laki-laki, namun di antara orang banyak
yang mengikuti-Nya ada pula para perempuan. Dasar pernikahan sebagaimana dipaparkan
dalam Markus 10:6 dst. dan Matius 19:4 dst. menandaskan kesetaraan kedudukan laki-laki dan
perempuan. Ketika Yesus dibawa ke Golgota, di antara sekian banyak orang yang mengikuti-
Nya, hanya beberapa perempuanlah yang benar-benar mengasihi Dia (Luk. 23:27); kaum
perempuanlah yang selalu berjaga di kaki salib (Luk. 23:49); merekalah yang memperhatikan
kubur Yesus dan meminyaki serta menaruh rempah-rempah untuk-Nya (Luk. 23:56); mereka
pula yang berada di kubur Yesus sewaktu pertama kali menyaksikan kebangkitan-Nya (Luk.
24:1). Dengan fakta tersebut, agaknya Yesus tidak sependapat dengan pandangan Yudaisme,
yang menganggap perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Cara pandang Yesus terhadap
perempuan memang sangat revolusioner bagi zamannya.
Kristus telah merobohkan tradisi dan hukum Yahudi yang berlaku selama berabad-abad.
Secara konsisten Ia memperlakukan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk setara. Ia
merombak sejumlah aturan PL yang memberlakukan ketidaksetaraan gender. Ia menolak untuk
mengikuti aturan tingkahlaku yang ditetapkan oleh tiga kelompok keagamaan Yahudi utama
waktu itu, yaitu kaum Esseni, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Karena itu, tindakan
Yesus terhadap perempuan benar-benar revolusioner. Misalnya:
o Ia mengabaikan hukum ritual tentang kenajisan. Markus 5:25-34 menguraikan tindakan
Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun.
Dalam masyarakat Yudea waktu itu, merupakan pelanggaran berat jika seorang laki-laki
bercakap-cakap dengan perempuan yang bukan isteri atau anaknya.
o Ia berbicara dengan seorang perempuan asing. Dari sumber di luar Injil-injil Sinoptik,
kita membaca bahwa Yesus berdialog dengan perempuan asing. Yohanes 4:7-5:30 mengisahkan
percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Secara ritual, perempuan itu dobel
najis, karena, ia adalah seorang perempuan, dan lagi pula ia seorang asing. Laki-laki dilarang
berbicara dengan perempuan, kecuali perempuan itu adalah keluarganya sendiri. Dalam Matius
15:22-28, Yesus juga menolong seorang perempuan Kanaan, seorang asing yang lain. Meskipun
Ia menggambarkan orang-orang non-Yahudi sebagai ‘anjing,’ Ia bersedia berbicara dengannya,
dan menyembuhkan anak perempuannya yang dikuasai Iblis.
o Ia mengajar murid-murid perempuan. Dalam tradisi Yahudi waktu itu, perempuan tidak
boleh diajar. Pada abad pertama Masehi, rabbi Eliezer menulis, “Perkataan Taurat lebih baik
dibakar daripada dipercayakan kepada perempuan … Orang yang mengajarkan Taurat kepada anak
perempuannya sama seperti orang yang mengajarkan percabulan kepadanya.” Yesus telah merobohkan
tradisi yang telah berabad-abad ini. Dalam Lukas 10:38-42, Ia mengajar Maria, saudara Marta.
o Ia menggunakan terminologi yang menyetarakan perempuan dengan laki-laki.
- Lukas 13:16 menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang perempuan
yang dikuasai Iblis. Ia menyebut perempuan itu keturunan Abraham, yang menyiratkan bahwa
ia dipandang setara dengan para laki-laki keturunan Abraham. Ungkapan ‘anak Abraham’
lazimnya digunakan untuk menyebut seorang laki-laki Yahudi, sedangkan ungkapan ‘keturunan
Abraham’ untuk menyebut seorang perempuan, tidak pernah kita temukan di tempat lain.
Agaknya sebutan ini merupakan kreasi Yesus sendiri.
18
- Lukas 7:35-8:50 menguraikan bagaimana Yesus mengampuni dosa perempuan. Ia
menyebut perempuan dan laki-laki (yaitu semua orang) sebagai anak-anak hikmat.
o Ia menerima perempuan dalam lingkaran orang-orang dekat-Nya. Lukas 8:1-3
menggambarkan para pengikut Yesus yang termasuk orang-orang dekat-Nya, yaitu 12 orang
laki-laki dan sejumlah murid perempuan (Maria Magdalena, Johana, Susana dan "banyak yang
lain"). Agaknya sekitar separuh pengikut terdekat-Nya adalah para wanita.
o Setelah bangkit, Yesus pertama kali menampakkan diri kepada para wanita.Matius 28:9-
10 menguraikan bagaimana Maria Magdalena dan Maria yang lain adalah pengikut Yesus yang
pertama kali bertemu dengan-Nya setelah kebangkitan-Nya. (Namun cerita ini bertentangan
dengan perikop Lukas 24:13-35, yang menyatakan bahwa orang yang pertama kali melihat
Yesus adalah Kleopas, Petrus atau para murid semuanya).
o Para wanita ikut hadir ketika Yesus dieksekusi. Matius 27:55-56 dan Markus 15:40-41
mengisahkan banyak wanita dari Galilea yang mengikuti Yesus dan hadir dalam penyaliban-
Nya, sekalipun mereka hanya melihat dari jauh, sedangkan para pria, termasuk Petrus (Mat.
26:69-72), melarikan diri dari arena. (Yoh. 19:25-27 memberitakan hal yang berbeda. Penulis
Yohanes menceritakan bahwa pada waktu itu Yohanes ikut hadir bersama para wanita).
o Dalam berbagai episode Injil-injil Sinoptik, diceritakan bahwa Yesus memperlakukan
perempuan dan laki-laki secara yang sejajar. Penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul
menceritakan banyak episode secara parallel, sekali waktu berkenaan dengan wanita, dan dalam
kesempatan lain berkenaan dengan pria. Misalnya:
- Simeon dan Hana dalam Lukas 2:25-38
- Janda di Sarfat dan Naaman dalam Lukas 4:25-38
- Penyembuhan seorang laki-laki yang dirasuk setan dan penyembuhan ibu mertua
Petrus yang dimulai dari Lukas 4:31
- Perempuan berdosa dan Simon, mulai dari Lukas 7:36
- Ananias dan Safira dalam Kisah 5:1-11
- Dionisius dan Damaris dalam Kisah 17:34
- Lidia dan pertobatan seorang narapidana dalam Kisah 16:14-34
Ben Witherington III, dalam bukunya “Women in the Earliest Churches,”mendaftar sejumlah
kesetaraan laki-laki dan perem-puan; dan mengutip H. Flender, ia menyimpulkan:
"Dengan caranya sendiri Lukas mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai
kesamaan kedudukan di hadapan Allah. Keduanya setara dalam kehormatan dan anugerah; keduanya
dikaruniai dengan karunia-karunia yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama."
o Yesus memberi perhatian kepada para janda: dalam seluruh pelayanan-Nya, berulang
kali Yesus menunjukkan betapa penting mendukung para janda. Injil Lukas sendiri memuat
enam referensi mengenai para janda (Luk. 2:36, 4:26, 7:11, 18:1, 20:47 dan 21:1).
o Tentang perceraian: pada zaman Yesus, seorang laki-laki boleh menceraikan isterinya,
namun seorang isteri tidak mempunyai hak untuk menceraikan suaminya. Praktik ini didukung
tujuh referensi dalam Kitab Suci Ibrani (PL), di mana seorang suami secara sepihak boleh
memberikan surat cerai kepada isterinya. Namun tidak kita temukan satu pun petunjuk tentang
adanya seorang isteri yang memberikan surat cerai seperti itu kepada suaminya. Dalam Markus
10:11-12 dan Matius 19:1-12, Yesus membuang tradisi ini dan menyatakan bahwa tidak ada
suami atau isteri yang boleh menceraikan pasangannya. Kalaupun Musa mengizinkan
perceraian, itu bukan karena perceraian dikehendaki Allah, melainkan karena kedegilan hati
umat Israel. Dalam kedua perikop Injil Sinoptik tersebut dengan jelas Yesus memperlakukan
suami dan isteri dengan setara.




