• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Injil sinoptik 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Injil sinoptik 4. Tampilkan semua postingan

Injil sinoptik 4


 ta dengar dan kita perhatikan. 

 

2)    Kristologi Injil Matius 

 

Kristologi Matius, yang ditujukan bagi para pendengar Yahudi, sangat menekankan 

keyahudian Yesus. Raison d’etre (alasan keberadaan) kristologi Matius adalah upaya untuk 

menggambarkan Yesus sebagai sosok yang memenuhi standar Yudaisme pada zaman-Nya, 

bahkan memenuhi tradisi Yudais kuno, yaitu PL. Sekalipun dalam pemberitaan Matius terdapat 

sejumlah gelar eksklusif, seperti ‘Anak Allah,’ yang dikenakan kepada Yesus, sesungguhnya 

penulis hanya menyisipkannya sebagai pelengkap bagi tema-tema utamanya, yaitu Yesus 

sebagai Mesias yang memenuhi harapan umat Yahudi, Yesus sebagai guru (rabbi) Yahudi dan 

Yesus sebagai inaugurator Kerajaan Allah. 

Matius adalah Injil semitis yang ditulis untuk menguatkan umat Kristen Yahudi dan 

sebagai apologi bagi orang-orang Yahudi yang belum percaya. Sejak awal, Matius 

mengidentifikasi Yesus sebagai keturunan raja Daud dan Abraham. Dalam alur pemikiran 

tradisi Yudais, Matius mengidentifikasi Yesus sebagai sosok Imanuel dalam Yesaya 7:14 (bdk. 

Mat. 1:23). Motif keyahudian Injil ini terutama tampak dalam penggambaran peran Yesus 

sebagai penggenapan harapan mesianis PL (Mat. 2:4; 2:6). Dengan derajat yang berbeda-beda, 

hal ini terlihat dalam seluruh teks Injil Matius. 

Matius menunjukkan bahwa peran dan pelayanan Yesus merupakan penggenapan nubuat 

Yesaya, terutama mengenai Hamba Tuhan yang menderita (lht. Mat. 3:17, bdk, Yes. 42:1). 

Dalam seluruh Injil ini terdapat enam rujukan langsung kepada Yesaya 53. Hal ini 

menunjukkan bahwa Matius memang mengidentifikasi Yesus dengan harapan mesianis Israel 

(lht. Mat. 20:20-28 dan terutama 26:26-30). Harapan tentang penebusan dalam Yesaya 53 

dipandang telah digenapi melalui penyaliban Yesus. Di samping itu, Matius juga menampilkan 

Yesus sebagai penggenapan hukum Taurat atau hukum Musa yang baru. Seperti Musa, Yesus 

memimpin keluaran baru dan Israel baru. Lebih eksplisit lagi, melalui banyak kutipan PL, 

Matius menggambarkan Yesus sebagai satu-satunya sosok yang menggenapi hukum Taurat dan 

nubuat PL (Mat. 3:15; 5:17-48;12:17-21; 13:35; 21:5, 16, 42; 22:44; 23:39; 26:31; 27:9, 35, 46). 

Sebagai agama, Yudaisme sangat menekankan peran rabbi atau guru dengan murid-murid 

di sekitarnya (bdk. Elia dan Elisa, 1Raj. 19:19-21). Dalam Yudaisme waktu itu, hubungan 

murid-guru seperti ini merupakan hal yang lazim. Karena itu, sekalipun gelar rabbi jarang 

digunakan dalam Injil ini, wajar jika Matius menggambarkan Yesus sebagai guru dengan 

kelompok murid-murid-Nya sendiri. Memang, dalam Injil ini, Yesus dinyatakan sebagai Mesias 

dengan lebih jelas dan lebih eksplisit ketimbang dalam dua Injil Sinoptik yang lain. Sekalipun 

demikian, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai seorang rabbi(Mat. 3:15; 5:17-48; 11:27; 

13:10-17; 23:8) dan orang lain juga mengenal Dia sama seperti guru-guru yang lain, sehingga 

menyebut-Nya ‘guru’ (Mat. 8:19; 9:11; 12:38; 17:24; 19:16; 22:16, 24, 36). Sebagai guru, Yesus 

digambarkan sebagai penyata kehendak Allah dan guru Israel yang benar. Salah satu motif 

penulis Injil ini adalah menjawab penolakan Israel atas ajaran-Nya (bdk. Mat. 11:1-12:50). 

Sama seperti yang terjadi atas nabi-nabi PL, ajaran Yesus pun ditolak oleh Israel (Mat. 5:10-12; 

24:14). Lebih dari itu, pengajaran Yesus dengan perumpamaan – yang oleh Matius sangat 

ditekankan – merupakan model pengajaran rabbinik waktu itu. Peran Yesus sebagai guru sangat 

menonjol dalam Khotbah di Bukit. Matius menggambarkan Yesus sebagai ‘duplikat’ Musa, 

terutama dalam penekanannya pada ajaran etis. Lokasi tempat Ia mengajar mengingatkan 

kita kepada gunung Sinai, tempat Musa menyampaikan hukum Taurat (lht. Mat. 5:21, 31, 33, 

38, 43). Hal ini bertentangan dengan berita Lukas (Luk. 6:27-35). Hal yang perlu dicatat, 

penggambaran Yesus sebagai ‘duplikat’ Musa adalah untuk menegaskan otentisitas misi Yesus 

kepada para pendengar semitis-Nya. 

Salah satu kekhasan ajaran Yesus sebagai Mesias adalah penerapannya pada diri sendiri 

dan bukan sekadar mengajarkannya kepada orang lain. Inilah prinsip dasar Matius dalam 

menampilkan Yesus ketika Ia mengajar tentang Kerajaan Allah. Pengharapan Yahudi akan 

Kerajaan Allah terutama bersifat teologis. Kerajaan Allah adalah harapan apokaliptis. Ciri khas 

pelayanan Yesus adalah eskhatologi yang sudah direalisasi, yaitu realitas kekinian Kerajaan 

Allah secara waktuwi. Ringkasan pesan Yesus terdapat dalam 4:17, “Bertobatlah, sebab 

Kerajaan Surga sudah dekat.” Dengan bekata demikian, Yesus menekankan betapa penting 

11 

 

pelayanan yang dilakukan-Nya, karena melalui pelayanan tersebut Ia menghadirkan Kerajaan 

Allah yang dinantikan oleh umat Yahudi. 

Dalam Injil Matius, imanensi Kerajaan Allah, yang digambarkan dengan berbagai 

perumpamaan, sangat mencolok jika dibandingkan dengan Injil-injil yang lain. Dalam 

perumpamaan-perumpamaan tersebut, Yesus menekankan bahwa sekalipun Kerajaan Allah 

saat ini belum terwujud secara sempurna, namun Kerajaan tersebut telah hadir dan berkembang 

dalam diri pada murid-Nya. Hal ini terlihat dengan jelas dalam perumpamaan tentang biji 

sesawi dan ragi. Perlu dicatat bahwa dalam hal ini Yesus tidak hanya dilukiskan sebagai utusan 

Kerajaan Allah, melainkan penghadir Kerajaan itu. Bahkan Yesus diperlihatkan sebagai Raja 

Kerajaan itu. Ia adalah Anak Daud dan Anak Manusia yang diharapkan oleh umat Yahudi. 

Jadi, ringkasnya, tema utama kristologi Matius adalah: pertama, bahwa Yesus merupakan 

pelanjut tradisi Yahudi dan tradisi Kitab Suci. Yesus diperlihatkan sebagai penggenapan hukum 

Musa dan sosok mesianis dalam kitab para nabi. Ia menggenapi nyanyian Yesaya tentang 

Hamba Tuhan yang menderita, terutama dalam Yesaya 53. Kedua, Yesus diperlihatkan sebagai 

seorang guru, yang menaati adat-kebiasaan rabbinik konvensional. Sebagai guru, Yesus 

diperlihatkan sebagai ‘duplikat’ Musa, terutama melalui Khotbah di Bukit, guru yang belum 

pernah diterima oleh umat Israel. Ketiga, misi Yesus yang ditunjukkan dalam 4:17 adalah 

meresmikan kehadiran Kerajaan Allah di bumi, dan dengan demikian menggenapi harapan 

eskhatologis Yahudi. Dalam semua itu, Matius menggambarkan Yesus sebagai Mesias yang 

dinantikan oleh umat Israel. Namun, sama seperti nabi-nabi alkitabiah yang lain, Ia ditolak oleh 

umat-Nya. 

 

3)    Kristologi Injil Lukas 

 

a)    Yesus sebagai nabi 

 

Dalam Lukas 9:18-19 (bdk. Mk. 8:27-28) penulis menunjukkan dengan jelas bahwa selama 

masa pelayanan-Nya, Yesus dipahami sebagai seorang nabi. Orang banyak mengira Dia adalah 

Yohanes Pembaptis, Elia atau salah seorang di antara para nabi zaman dulu. Apakah penulis 

Lukas juga memahami Yesus sebagai nabi? Dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, 

kata profētēs seringkali digunakan. Dalam Injil Lukas kita temukan kata ini 27 kali. 

4:24    Ketika Yesus masuk rumah ibadat (synagoge) di Nazaret dan membaca gulungan 

kitab, ia dilukiskan sebagai seorang nabi sesuai dengan tradisi Yesaya. Merupakan hal yang 

penting bahwa ketika mengawali pelayanan publik-Nya Yesus tampil sebagai seorang nabi. 

Ketika orang banyak mulai berpaling dari pada-Nya, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, 

sesung-guhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Kemudian Ia memberi contoh 

pengalaman Elia dan Elisa. 

7:16    Suatu waktu, Yesus mengadakan perjalanan ke Nain dan membangkitkan anak 

seorang janda di sana. Cerita ini jelas mengingatkan kita pada sosok Elia (1Raj. 17). Orang 

banyak memuliakan Allah dan bernyanyi, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah 

kita.” 

7:39    Yesus makan malam di rumah seorang Farisi dan di sana seorang wanita pendosa 

mengurapi-Nya dengan minyak urapan. Melihat hal ini, orang Farisi itu berkata dalam hati, 

“Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; 

tentu Ia tahu bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” 

9:8,19 Telah dikatakan bahwa dalam satu dan lain hal, pada umumnya orang banyak 

memahami Yesus sebagai seorang nabi. Herodes mendengar bahwa Yesus mungkin adalah 

Yohanes Pembaptis atau Elia, atau salah seorang nabi zaman dulu yang telah bangkit kembali 

(Luk. 9:7-8). Segera setelah itu, Yesus bertanya kepada para murid-Nya mengenai siapakah Dia 

menurut orang banyak. Murid-murid itu menjawab, “Yohanes Pembaptis, ada juga yang 

mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah 

bangkit” (Luk. 9:18-19). 

13:33 Selama perjalanan-Nya, beberapa orang Farisi mengingatkan Yesus bahwa Herodes 

ingin membunuh-Nya. Yesus menyatakan rencana-Nya, bahwa hal itu harus terjadi di 

Yerusalem, seperti dikatakan-Nya, “sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak 

di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan melempari dengan 

batu orang-orang yang diutus kepadamu!” 

12 

 

24:19 Pernyataan yang paling tegas bahwa Yesus adalah seorang nabi diucapkan oleh salah 

seorang murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Ketika sedang berada dalam perjalanan menuju 

Emaus, salah seorang murid Yesus tanpa disadari menyatakan kepada Yesus sendiri, “Apa 

yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam 

pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.” 

 

Menurut Lukas, sebutan ‘nabi’ berasal dari Yesus sendiri dan kemudian diikuti oleh orang 

lain. Dari ayat-ayat di atas, secara eksplisit ditunjukkan bahwa Yesus adalah seorang nabi 

(profētēs). Pembangkitan anak janda Nain, celaan orang Farisi, pernyataan tentang para nabi 

yang dibunuh di Yerusalem dan perikop tentang perjalanan ke Emaus, semua adalah bahan 

Lukas sendiri (lazim diberi symbol ‘L’). Bahkan kisah penolakan terhadap Yesus di Nazaret itu 

pun khas Lukas, meskipun sebagian didasarkan pada paralelismenya dalam Injil Markus. Dari 

semua itu dapat dikatakan bahwa gambaran Lukas tentang Yesus sebagai nabi sama sekali 

berbeda dengan gambaran dalam kedua Injil Sinoptik yang lain, yang tidak begitu menekankan 

peran kenabian Yesus. Dalam Injil Lukas, pernyataan-pernyataan mengenai kenabian Yesus 

selalu ditempatkan secara tepat  pada bagian-bagian pelayanan-Nya: pada awal pelayanan-Nya 

di Galilea, dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem dan di Yerusalem setelah kebangkitan-

Nya. Kemudian dalam Kisah dengan jelas ditunjukkan bahwa Yesus adalah seorang nabi 

menurut tradisi Musa (Kis. 3:22-23; 7:37). 

Namun perlu diingat, jika kristologi hanya bergantung pada gelar-gelar yang dikenakan 

kepada Yesus, maka gambaran Lukas tentang diri Yesus sebagai seorang nabi tentu kurang 

memadai. Gelar-gelar tersebut tidak cukup mencerminkan teologi Lukas tentang Yesus. 

Conzelmann mengatakan bahwa unsur-unsur khas kristologi Lukas tidak dapat disimpulkan 

hanya berdasar analisis statistik atas gelar-gelar yang dikenakan kepada Yesus.[51] 

Di atas telah disinggung secara singkat, salah satu unsur utama gambaran Lukas tentang 

Yesus sebagai seorang nabi adalah dalam rangka menghubungkan Dia dengan nabi-nabi PL. Ia 

membaca gulungan kitab Yesaya, membuat mujizat sebagaimana dilakukan oleh Elia dan Elisa, 

menghubungkan diri-Nya dengan Yunus dan hadir dalam roh Musa. Ketika para murid 

mencoba bertindak sebagai nabi dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan 

orang-orang Samaria sebagaimana dilakukan Elia, Yesus justru menegur mereka (Luk. 9:54-55). 

Roh Allah diam dalam diri seorang nabi merupakan motif penting dalam PL (Yeh. 2:2; Mi. 

3:8 dsb.), dan menurut Lukas, pada diri Yesus pun terjadi demikian. Dalam beberapa ayat jelas 

dikatakan bahwa Roh Allah diam dalam diri-Nya (Luk. 2:27; 3:16, 22; 4:1, 14). Yesus juga 

menggunakan bahasa kenabian. Ia mengutuk kota-kota (Luk. 10:13-16), mencela para 

pemimpin agama (Luk. 11:37—12:3), memba-wa pemisahan (12:49-53), dan dengan lantang 

memproklamasikan Kerajaan Allah. 

Ciri khas Injil Lukas lainnya, yang menggambarkan Yesus sebagai seorang nabi, tampak 

dari pengulangan motif penolakan.[52] Kisah hidup para nabi biasanya berakhir dengan 

ketidakberuntungan, dan Lukas sangat sadar akan hal ini. Ia membeberkan tindakan para 

leluhur Israel yang telah menganiaya dan membunuh para nabi. Bahkan kota besar Sion dikenal 

bukan karena menerima para nabi, melainkan karena menjadi tempat kematian mereka (13:34). 

Ketika Yesus ditangkap, diadili dan dieksekusi, Ia menggenapi peran puncak para nabi yang 

perkataannya jarang sekali menyenangkan hati para pendengarnya. 

Benar bahwa Lukas menampilkan Yesus sebagai seorang nabi. Namun, memusatkan 

perhatian hanya pada peran Yesus sebagai seorang nabi akan kehilangan aspek-aspek lain dari 

kristologi Lukas yang demikian kaya. Dalam Injil ini, Yesus tidak hanya digambarkan sebagai 

seorang nabi, melainkan juga sebagai Anak Allah, Anak Manusia, Kristus dan Tuhan (kurios). 

 

b)    Anak Allah dan Anak Manusia 

 

Injil Lukas menggunakan sejumlah gelar bagi Yesus yang juga kita temukan dalam Injil 

Matius dan Markus. Kadang-kadang penulis Injil ini menyebut Yesus ‘Anak Allah.’ Bahkan 

gelar ini diperkenalkan sejak awal. Gabriel memberitahukan kepada Maria bahwa ia akan 

melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamai-Nya ‘Yesus.’ Selanjutnya, malaikat ini 

menyatakan, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 

1:31-32). Dalam 1:35, Gabriel memberi penjelasan, “Roh Kudus akan turun ke atasmu dan 

kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu, anak yang akan kaulahirkan 

13 

 

itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Menjadi jelas bahwa Yesus disebut sebagai Anak Allah 

karena lahir oleh kuasa Allah. 

Selanjutnya, bagi penulis Injil ini, gelar Anak Allah bagi Yesus lebih menunjuk pada 

hubungan Yesus dengan Allah Bapa yang unik. Bercermin pada hubungan antara Yesus dengan 

Bapa yang unik ini, dalam hubungannya dengan Allah para murid Yesus pun dapat disebut 

‘anak-anak Allah Yang Mahatinggi’ (6:35). Namun demikian, sesuai dengan pernyataan 

Gabriel, keanakallahan Yesus tetap istimewa, sebab bukan hanya terkait dengan hubungan erat-

Nya dengan Bapa, melainkan terkait pula dengan kuasa Allah yang menjadi penyebab 

kelahiran-Nya. 

Tentang cerita pencobaan di padang gurun, kita temukan kisah serupa seperti yang terdapat 

dalam Matius (Luk. 4:3, 9; bdk. Mat. 4:3, 6). Namun, dalam cerita transfigurasi kita temukan 

perbedaan mengenai suara dari surga. Dalam Injil Lukas dikatakan, “Inilah Anak-Ku yang 

Kupilih, dengarkanlah Dia” (9:35). Sedangkan dalam Injil Matius dinyatakan, “Inilah Anak 

yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5) dan dalam 

Markus dikatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mk. 9:7). Di samping 

kesamaan dengan kedua Injil Sinoptik yang lain, dalam Injil Lukas kita temukan pula dua 

penggunaan gelar ‘Anak Allah’ yang khas Lukas, yaitu dalam ucapan setan-setan ketika Yesus 

menyembuhkan orang-orang sakit, “Engkaulah Anak Allah” (4:41) dan dalam pertanyaan 

Sanhedrin kepada Yesus, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (22:70). 

Pertanyaannya, apakah dengan menggunakan gelar ‘Anak Allah’ bagi Yesus, Lukas 

bermaksud membicarakan hakikat keilahian Yesus? Jika dicermati dari setiap konteksnya, 

agaknya penulis Injil Lukas lebih bermaksud menandaskan kedudukan dan peran Yesus dalam 

rangkaian karya dan penyataan diri Allah daripada membicarakan hakikat ontologis-Nya. 

Penginjil ingin menunjukkan kepada pembaca, khususnya Teofilus, atau bahkan para pembaca 

yang lain, bahwa melalui diri Yesus, Allah sendirilah yang sedang berkarya, menya-takan diri 

dan kehendak-Nya. 

Dalam pemberitahuan malaikat Gabriel kepada Maria, jelas bahwa yang hendak 

ditekankan oleh penginjil adalah kuasa ajaib Allah yang akan terjadi pada Maria, berkenaan 

dengan kelahiran Yesus. Dalam peristiwa transfigurasi, penulis ingin menekankan bahwa Yesus 

adalah Raja Mesias, Hamba Tuhan, yang telah ditentukan Allah. Karena itu, digunakanlah 

formulasi peneguhan raja yang diambil dari Mazmur raja (Mzm. 2:7) dan digabungkan dengan 

nyanyian Hamba Tuhan dalam Yesaya 42:1. Ucapan setan-setan yang keluar dari tubuh orang-

orang sakit yang disembuhkan oleh Yesus tentu tidak terlepas dari pengertian tentang kuasa 

Allah yang bekerja melalui Yesus. Tiap orang yang dikenan Allah dan kepadanya diberi kuasa 

untuk melakukan mujizat dalam rangka mendemonstrasikan kuasa Allah dapat disebut sebagai 

anak Allah. Dalam hal ini, sekali lagi, yang dipermasalahkan bukanlah hakikat ontologis Yesus, 

melainkan kuasa Allah yang sedang bekerja melalui-Nya. Pemaknaan gelar ‘Anak Allah’ dalam 

pertanyaan Sanhedrin tentu tidak terlepas dari pengertian populer atas gelar tersebut di 

lingkungan orang-orang Yahudi waktu itu. Tiap orang saleh yang taat kepada Allah, begitu pula 

raja Israel sebagai simbol pemerintahan teokratis Allah, lazim disebut anak Allah. Penolakan 

Sanhedrin terhadap pengakuan Yesus terutama bukan karena Dia dianggap telah menciderai 

iman monoteis mereka, melainkan karena Yesus dituduh telah mengaku sebagai Raja Mesias 

yang ditetapkan Allah. Realitas yang terjadi pada diri Yesus berbeda dengan harapan mereka 

mengenai sosok Raja Mesias. Bagi mereka, Raja Mesias adalah raja dari garis keturunan Daud, 

yang akan memulihkan kejayaan Israel atas bangsa-bangsa. Sedang dalam diri Yesus, mereka 

mendapatkan kesederhanaan, bahkan kelemahan. 

Di samping gelar ‘Anak Allah,’ penginjil juga mengenakan gelar ‘Anak Manusia’ kepada 

Yesus, sama seperti kedua Injil Sinoptik yang lain. Injil-injil Sinoptik mengenakan gelar ini 

kepada Yesus dalam pelayanan-Nya di depan umum, dalam penderitaan-Nya dan dalam 

kedatangan-Nya kembali dengan kemuliaan (lihat Luk. 6:22, bdk. Mat. 5:11; Luk. 12:8, bdk. 

Mat. 10:32; Luk. 22:48, bdk. Mat. 26:49; Mk. 14:45). Di samping itu, dalam Injil Lukas kita 

temukan pula beberapa penggunaan gelar ini secara khas, yang tidak terdapat dalam kedua Injil 

Sinoptik yang lain. Kita dapat melihat penggunaan tersebut, misalnya dalam 17:22; 18:8; 19:10; 

21:36 dan 24:7. Kita tidak dapat memastikan sumber serta makna gelar ini dalam Injil Lukas. 

Namun secara sederhana, penginjil agaknya menyamakan gelar ini dengan Mesias. Kita ambil 

contoh Lukas 17:22, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak 

Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.” Ada beberapa penafsiran atas ucapan Yesus 

ini.[53] 

14 

 

Mungkin yang dimaksud ‘waktu’ dalam ayat ini adalah waktu Mesias, sekalipun cara 

pengungkapan seperti ini tidak begitu lazim. Kemungkinan lain, yang dimaksud adalah saat 

ketika kerajaan Mesias tiba, atau saat ketika para murid Yesus berkumpul bersama-Nya di 

surga. Mana pun penafsiran yang diterima, semuanya berkenaan dengan kehadiran Mesias. 

Tidak mengada-ada jika kita menduga bahwa pemakaian gelar ini dilatarbelakangi oleh gagasan 

‘Anak Manusia’ dalam Daniel 7, sosok penyata Allah yang penuh kuasa dan kemuliaan, yang 

sudah menjadi harapan populer umat Yahudi.   

        

c)    Anak Daud 

 

Dalam Injil Matius, gelar ‘Anak Daud’ memiliki makna yang amat penting, yaitu untuk 

menunjukkan bahwa Yesus benar-benar Raja Mesias, yang lahir dari garis keturunan Daud. 

Dalam Injil Lukas kita hanya dapat menemukan penggunaan gelar ini tiga kali, dua kali dalam 

permohonan Bartimeus agar matanya dicelikkan (18:38-39) dan dalam pertanyaan Yesus 

kepada ahli-ahli Taurat, “Bagaimana orang dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah Anak 

Daud? Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada 

Tuanku, ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan 

kakimu.’ Jadi Daud menyebut Dia tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (20:41-44). 

Namun dari 1:32, 69; 2:4; 3:31, jelas bahwa penginjil melihat Yesus sebagai keturunan 

Daud. Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit, dalam sebutan Yesus sebagai ‘Anak Daud’ 

terkandung pengertian bahwa Yesus dipahami sebagai Raja Mesias dari garis keturunan Daud, 

sebagaimana dinubuatkan oleh nabi-nabi. Dengan kata lain, penginjil ingin menunjukkan 

bahwa Yesus sesungguhnya adalah Mesias yang dinantikan oleh umat Israel. 

 

d)    Kristus 

 

Sekalipun gelar ‘Kristus’ bagi Yesus relatif jarang digunakan dalam Injil Lukas, namun 

gelar ini memiliki makna sangat penting. Sebutan ‘Kristen’ bagi orang-orang beriman – yang 

secara tidak langsung berkenaan dengan Kristus – dalam Injil Lukas kita temukan 12 kali 

(sedangkan dalam Kisah kita temukan 24 kali). Dalam 2:11, penginjil menuturkan kepada para 

pembaca bahwa malaikat berkata kepada para gembala, “Hari ini telah lahir bagimu 

Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (terjemahan LAI). Dalam bahasa Yunani, 

kataKhristos Kurios tidak menggunakan kata sandang (article), sehingga secara harfiah dapat 

diterjemahkan ‘Kristus Tuhan,’ dan memiliki dua kemungkinan interpretasi. Khristos 

Kurios dapat diartikan ‘Tuhan yang diurapi,’ tetapi dapat juga berarti ‘Kristus dari Tuhan,’ 

(Lord’s Christ) di mana kata ‘Tuhan’ menunjuk kepada Allah sendiri. Agaknya alternatif kedua 

lebih tepat. Dengan ungkapanKhristos Kurios (‘Kristus Tuhan’ atau ‘Mesias Allah’) penginjil 

bermaksud menunjukkan bahwa Yesus adalah Kristus yang ditetapkan oleh Allah sendiri. 

Pemaknaan ini sejajar dengan nazar Simeon bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat ton 

Khriston Kuriou, ‘Mesias Tuhan,’ yang oleh LAI diterjemahkan ‘Mesias, yaitu Dia yang diurapi 

Tuhan’ (2:26). 

Dalam khotbah-Nya di rumah ibadah (synagoge) di Nazaret (yang hanya terdapat dalam 

Injil Lukas). Yesus mengawalinya dengan membaca ayat-ayat dari kitab Yesaya, “Roh Tuhan 

ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada 

orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada 

orang-orang tawanan, dan pengli-hatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-

orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun Rahmat Tuhan telah datang” (4:18-19; bdk. 

Yes. 61:1). Pengurapan yang dimaksud di sini adalah pengaruniaan Roh Kudus. Menjadi 

‘Kristus’ berarti masuk ke dalam relasi istimewa dengan Allah dan juga dengan Roh Kudus 

(yang adalah Allah sendiri dalam kuasa dinamis-Nya).      

Menarik untuk diperhatikan bahwa ketiga Injil Sinoptik memiliki versi pengakuan Petrus di 

Kaesaria Filipi yang berbeda-beda. Dalam Injil Matius, Petrus mengatakan, “Engkau adalah 

Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16). Dalam Injil Markus kita temukan jawaban 

Petrus secara singkat, “Engkau adalah Mesias” (Mk. 8:29) dan dalam Injil Lukas, Petrus 

menjawab, “Mesias dari Allah” (Luk. 9:20). Pemahaman Injil Lukas terhadap Yesus sangat 

khas, yaitu bahwa Dia adalah Kristus dari Allah (bdk. 2: 26). Allah telah mengutus dan 

mengaruniakan kuasa kepada-Nya melalui Roh Kudus. Bagi Lukas, Mesias adalah seseorang 

15 

 

yang dipanggil oleh Allah, diperlengkapi oleh Allah dan diutus oleh Allah. Ia bukanlah sosok 

independen, melainkan kepunyaan Allah.[54] 

Keistimewaan Injil Lukas yang lain adalah bahwa bagi penginjil, Mesias itu harus 

menderita. Penderitaan merupakan bagian integral dari kemesiasan. Dalam hal ini, penginjil 

tidak memulai pemberita-annya dengan melihat Kitab Suci dan kemudian mencocokkannya 

dengan kehidupan Yesus, melainkan sebaliknya, ia memulai pemberitaannya dari diri Yesus 

dan penderitaan-Nya, baru kemudian menemukan bahwa Kitab Suci sudah menubuatkannya 

lebih dulu. Dengan demikian, standar pemberitaan penginjil adalah Yesus sendiri, bukan 

pengetahuannya sendiri mengenai Kitab Suci. Bahwa Mesias harus menderita, hal ini menuntut 

tanggapan: yakni iman kepada-Nya! Dalam penderitaan Mesias itu penginjil melihat bahwa 

Allah sendiri sedang bertindak, melaksanakan karya penyelamatan-Nya bagi umat manusia. 

Tentu saja, hal ini tidak harus dipahami sebagai anugerah yang murah, sebab beriman kepada 

Mesias yang mendeita berarti pula panggilan untuk mengikuti jejak-Nya.  

 

 

e)    Tuhan 

 

Gelar untuk Yesus yang paling populer dalam Injil Lukas adalah ‘Tuhan’ (dalam Injil 

Lukas gelar ini kita temukan 103 kali).[55] Sapaan ‘Tuhan’ (kurios) lazim digunakan dalam 

masyarakat waktu itu dengan bermacam-macam arti, seperti: pemilik sesuatu (misalnya keledai, 

19:33; kebun anggur, 29:13), sebutan sopan dari seorang hamba kepada tuannya (13:8; 14:22), 

atau sapaan hormat bagi seseorang yang pantas untuk dihormati. Namun istilah ini dapat juga 

dikenakan kepada dewa-dewa. Dalam Septuaginta, kata ini digunakan untuk menerjemahkan 

kata Ibrani Yahwe. Lukas berkali-kali menggunakan sapaan ini bagi Allah (misalnya, 1:6, 9). 

Menyebut Yesus ‘Tuhan’ berarti memberi gelar yang amat penting. Namun yang jelas, dalam 

mengenakan gelar ini kepada Yesus, penginjil sama sekali tidak bermaksud membicarakan 

hakikat Yesus secara ontologis, melainkan menempatkan Yesus dalam posisi yang amat tinggi 

dan terhormat di samping Allah sendiri.[56] Kesulitannya, di samping dikenakan kepada Yesus, 

sapaan ini juga dikenakan bagi Allah sendiri. Jadi, untuk mengetahui siapakah yang dirujuk 

oleh gelar ini harus dilihat dari konteksnya. 

 

c.     Konsep Injil-injil Sinoptik tentang manusia 

 

Injil-injil Sinoptik memandang Yesus sebagai citra manusia sejati yang utuh dan sempurna. 

Hal yang menonjol dalam kemanusiaan Yesus adalah pengaruh-Nya yang kuat atas orang lain, 

perhatian dan kasih-Nya kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, kebaikan hati-Nya, 

sikap yang tidak mementingkan diri sendiri dan kerelaan-Nya untuk berkorban, serta penilaian-

Nya yang lebih bersifat rohani daripada kebendaan. Injil-injil Sinoptik ingin memberi gambaran 

tentang manusia sempurna sebagaimana ditampilkan oleh Yesus. 

1)    Dinyatakan bahwa manusia lebih unggul daripada binatang. Pada waktu Yesus 

berkata, “Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Mat. 10:31), secara implisit Ia 

memperlihatkan perbandingan yang tak perlu dipersoalkan. Hal senada kita temukan dalam 

kecaman Yesus kepada orang-orang yang menentang-Nya ketika Ia menyembuhkan orang sakit 

pada hari Sabat, sedangkan mereka sendiri menyelamatkan hewan mereka yang terjatuh ke 

dalam jurang, sekalipun pada hari Sabat. 

2)    Manusia dipandang bernilai di hadapan Allah. Dalam konteks yang sama seperti ketika 

Yesus membandingkan manusia dengan burung pipit, Dia mengatakan bahwa sehelai rambut 

manusia pun diperhatikan Allah (Mat. 10:30). Ini merupakan cara radikal untuk menunjukkan 

betapa berharganya manusia di hadapan Allah. Namun lebih jauh Yesus juga memberi batasan 

mengenai siapa yang berharga di hadapan Allah. Mereka adalah yang disebut ‘anak-anak 

Allah,’ yaitu orang-orang yang menunjukkan iman dan pertobatan. Di samping keberhargaan 

manusia di hadapan Allah, Injil-injil Sinoptik juga mewartakan keterbatasan manusia apabila 

mereka hidup di luar Allah. Manusia tidak memiliki kedaulatan mutlak, sehingga tidak dapat 

berbuat sesuka hatinya di luar kuasa Allah. Nilai manusia lebih tinggi daripada kemampuan dan 

prestasi yang dimilikinya. Nilai-nilai rohani manusia secara utuh lebih berharga daripada 

kenyataan lahiriahnya. Ini jelas dari perkataan Yesus, bahwa lebih baik seseorang kehilangan 

anggota badannya daripada kehilangan nyawanya (Mk. 9:43-47). 

16 

 

3)    Dalam Injil-injil Sinoptik tidak terdapat pandangan dualistis mengenai jasmani dan 

rohani seperti dalam pemikiran Gnostik. Injil-injil Sinoptik tidak memandang jahat hal-hal yang 

bersifat jasmaniah. Yesus juga tidak memberi tekanan pada kehidupan asketis yang anti perkara 

duniawi, bahkan Ia dikecam karena sikap-Nya ini (Mat. 11:19). Hal yang menajiskan orang 

adalah apa yang keluar dari hatinya, dan bukan apa yang masuk ke dalam perutnya (Mk. 7:14 

dst.). Kenajisan berasal dari pikiran manusia dan bukan dari dagingnya. Namun daging itu 

berfungsi untuk melayani pikiran manusia (Mat. 26:41; Mk. 14:38). Seringkali kata ‘darah dan 

daging’ dipakai dalam pengertian ‘manusia’ (seutuhnya). 

4)    Melalui teladan serta ajaran-Nya, jelas bahwa Yesus tidak menghendaki agar manusia 

hidup secara individual, tanpa memperhatikan orang lain di luar dirinya. Yesus setuju dengan 

pandangan PL bahwa manusia berada dalam solidaritas dengan sesamanya, termasuk dalam 

pemerataan tanggung jawab. Yesus merasa prihatin atas orang-orang yang tersingkir dan 

dipandang rendah dalam masyarakat, prihatin atas orang-orang miskin dan menderita, dan juga 

atas orang-orang cacat. Dia bergaul dengan orang-orang yang dianggap bercela, seperti 

pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Mat. 11:19); Ia berusaha membawa mereka masuk 

ke dalam Kerajaan Allah (Mat. 21:31). Khotbah di Bukit berisi pola ajaran yang menempatkan 

manusia dalam jalinan dengan sesamanya. Ajaran itu tidak akan berarti jika manusia hidup 

secara individual terlepas dari sesamanya. Perhatian terhadap sesama manusia dipertegas lagi 

dalam hukum kasih (Mat. 22:39) dan perintah untuk berbela rasa dengan mereka yang 

menderita (Mat. 25:34-40). Mengasihi orang lain juga berarti terbuka untuk mengampuni 

kesalahan mereka (Mat. 18:21-22; Luk. 17:3-4). 

5)    Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah diharapkan mampu mematuhi peraturan-

peraturan Allah (Mat. 5:18-19; Luk. 16:17). Manusia dikehendaki agar patuh kepada Allah dan 

tidak diberi kewenangan untuk menentukan kebenarannya sendiri. Aliran filsafat humanisme 

dan eksistensialisme modern tidak mengakui hal ini. Bahkan ajaran Yesus dianggap 

mengganggu kebebasan manusia untuk menentukan keputusan. Namun penolakan seperti ini 

telah ada sejak zaman Yesus sendiri. Pandangan Yesus tentang manusia menuntut tanggung 

jawab total di hadapan Allah. Hidup yang mementingkan diri sendiri tentu tidak mungkin 

memenuhi tanggung jawab ini. Ketaatan yang dikehendaki Allah bukanlah pembatas bagi 

kebebasan manusia, sebab kebebasan yang sejati justru ditemukan dalam penyerahan diri 

kepada kehendak Allah yang sempurna. Hal ini sesuai dengan citra manusia yang diciptakan 

sebagai gambar Allah. Sehubungan dengan itu, Yesus adalah teladan manusia sempurna. 

Dialah gambar Allah sejati, yang sepenuhnya taat kepada kehendak Allah. Menurut ajaran 

Yesus, manusia akan menemukan jati dirinya yang sejati jika ia taat dan bergantung kepada 

Allah. 

6)    Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan (Mat. 19:4). Keduanya 

ditempatkan dalam kedudukan setara dan merupakan dasar pembentukan rumah tangga (Mat. 

19:5-6). Dalam hal ini, Yesus merujuk kembali pada peristiwa penciptaan manusia dalam 

Kejadian 1:26-27 dan 2:18-24. Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dan 

menempatkan dalam peran masing-masing sedemikian rupa untuk saling menolong dan 

melengkapi sebagai teman sepadan. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga, dikatakan bahwa 

hubungan mereka telah menjadi ‘satu daging,’ suatu ungkapan yang melukiskan kesatuan utuh 

suami-isteri yang tak terpisah-pisahkan. Yesus mengritik dengan keras praktik yang terjadi 

dalam masyarakat Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, hampir segala hal didominasi oleh laki-laki, 

sedangkan perempuan tidak mendapat tempat yang setara dengan laki-laki. Dalam hampir 

segala aspek, perempuan tidak diberi tempat untuk bergabung dengan laki-laki dalam 

kedudukan yang sejajar (termasuk dalam pendidikan agama dan perannya dalam peribadahan). 

Dalam kehidupan Israel purba, kedudukan dan kebebasan perempuan sangat dibatasi oleh 

hukum dan adat-istiadat Yahudi: 

 

a)    Peran perempuan sangat dibatasi, dan sangat sedikit atau bahkan tidak memiliki 

kewenangan apa pun dalam kehidupan rumah tangga dan sosial. 

b)    Sebagian besar perempuan dikurung di rumah ayah atau suaminya. 

c)    Mereka dianggap rendah (inferior) terhadap laki-laki dan berada di bawah kekuasaan 

laki-laki, entah ayahnya (sebelum menikah) atau suaminya (setelah menikah). 

d)    Sejak periode Bait Allah kedua, perempuan dilarang memberi kesaksian dalam 

pengadilan. Mereka tidak boleh keluar di depan umum atau bercakap-cakap dengan orang 

asing. Ketika berada di luar rumah, mereka harus mengenakan kerudung rangkap. Mereka telah 

17 

 

menjadi orang Yahudi kelas dua, yang disisihkan dari peribadahan dan pengajaran agama, 

dengan status sedikit lebih tinggi daripada budak. Kedudukan mereka di tengah masyarakat 

sudah ditetapkan dalam Kitab Suci Ibrani dan penafsiran atasnya. Kedudukan mereka tidak 

jauh berbeda dengan perempuan Afganistan selama kekuasaan diktator Taliban dewasa ini. Hal 

seperti ini juga terjadi dalam kehidupan bangsa-bangsa bukan Yahudi waktu itu. 

 

 

 

d.    Perlakuan Yesus yang radikal terhadap perempuan 

 

Dalam beberapa bagian Injil-injil Sinoptik, Yesus berupaya untuk lebih memanusiakan 

perempuan. Matius dan Lukas banyak membicarakan hal ini. Berita tentang kelahiran Yesus 

pun berpusat pada peran seorang anak dara, dengan menempatkan perempuan dalam 

kedudukan yang sangat terhormat. Bahkan dalam Injil Lukas, kisah itu didominasi oleh peran 

Elizabet dan Maria. Pada saat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, Ia tidak membedakan 

antara laki-laki dan perempuan (Mat. 4:23-25; 9:35-38; 14:13-21; Mk. 1:32-34). Bahkan dalam 

beberapa bagian diceritakan secara khusus bagaimana Yesus menyembuhkan perempuan. 

Walaupun rasul-rasul yang dipilih Yesus semuanya laki-laki, namun di antara orang banyak 

yang mengikuti-Nya ada pula para perempuan. Dasar pernikahan sebagaimana dipaparkan 

dalam Markus 10:6 dst. dan Matius 19:4 dst. menandaskan kesetaraan kedudukan laki-laki dan 

perempuan. Ketika Yesus dibawa ke Golgota, di antara sekian banyak orang yang mengikuti-

Nya, hanya beberapa perempuanlah yang benar-benar mengasihi Dia (Luk. 23:27); kaum 

perempuanlah yang selalu berjaga di kaki salib (Luk. 23:49); merekalah yang memperhatikan 

kubur Yesus dan meminyaki serta menaruh rempah-rempah untuk-Nya (Luk. 23:56); mereka 

pula yang berada di kubur Yesus sewaktu pertama kali menyaksikan kebangkitan-Nya (Luk. 

24:1). Dengan fakta tersebut, agaknya Yesus tidak sependapat dengan pandangan Yudaisme, 

yang menganggap perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Cara pandang Yesus terhadap 

perempuan memang sangat revolusioner bagi zamannya. 

Kristus telah merobohkan tradisi dan hukum Yahudi yang berlaku selama berabad-abad. 

Secara konsisten Ia memperlakukan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk setara. Ia 

merombak sejumlah aturan PL yang memberlakukan ketidaksetaraan gender. Ia menolak untuk 

mengikuti aturan tingkahlaku yang ditetapkan oleh tiga kelompok keagamaan Yahudi utama 

waktu itu, yaitu kaum Esseni, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Karena itu, tindakan 

Yesus terhadap perempuan benar-benar revolusioner. Misalnya: 

o   Ia mengabaikan hukum ritual tentang kenajisan. Markus 5:25-34 menguraikan tindakan 

Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun. 

Dalam masyarakat Yudea waktu itu, merupakan pelanggaran berat jika seorang laki-laki 

bercakap-cakap dengan perempuan yang bukan isteri atau anaknya. 

o   Ia berbicara dengan seorang perempuan asing. Dari sumber di luar Injil-injil Sinoptik, 

kita membaca bahwa Yesus berdialog dengan perempuan asing. Yohanes 4:7-5:30 mengisahkan 

percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Secara ritual, perempuan itu dobel 

najis, karena, ia adalah seorang perempuan, dan lagi pula ia seorang asing. Laki-laki dilarang 

berbicara dengan perempuan, kecuali perempuan itu adalah keluarganya sendiri. Dalam Matius 

15:22-28, Yesus juga menolong seorang perempuan Kanaan, seorang asing yang lain. Meskipun 

Ia menggambarkan orang-orang non-Yahudi sebagai ‘anjing,’ Ia bersedia berbicara dengannya, 

dan menyembuhkan anak perempuannya yang dikuasai Iblis. 

o   Ia mengajar murid-murid perempuan. Dalam tradisi Yahudi waktu itu, perempuan tidak 

boleh diajar. Pada abad pertama Masehi, rabbi Eliezer menulis, “Perkataan Taurat lebih baik 

dibakar daripada dipercayakan kepada perempuan … Orang yang mengajarkan Taurat kepada anak 

perempuannya sama seperti orang yang mengajarkan percabulan kepadanya.” Yesus telah merobohkan 

tradisi yang telah berabad-abad ini. Dalam Lukas 10:38-42, Ia mengajar Maria, saudara Marta. 

o   Ia menggunakan terminologi yang menyetarakan perempuan dengan laki-laki. 

-          Lukas 13:16 menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang perempuan 

yang dikuasai Iblis. Ia menyebut perempuan itu keturunan Abraham, yang menyiratkan bahwa 

ia dipandang setara dengan para laki-laki keturunan Abraham. Ungkapan ‘anak Abraham’ 

lazimnya digunakan untuk menyebut seorang laki-laki Yahudi, sedangkan ungkapan ‘keturunan 

Abraham’ untuk menyebut seorang perempuan, tidak pernah kita temukan di tempat lain. 

Agaknya sebutan ini merupakan kreasi Yesus sendiri. 

18 

 

-          Lukas 7:35-8:50 menguraikan bagaimana Yesus mengampuni dosa perempuan. Ia 

menyebut perempuan dan laki-laki (yaitu semua orang) sebagai anak-anak hikmat. 

o   Ia menerima perempuan dalam lingkaran orang-orang dekat-Nya. Lukas 8:1-3 

menggambarkan para pengikut Yesus yang termasuk orang-orang dekat-Nya, yaitu 12 orang 

laki-laki dan sejumlah murid perempuan (Maria Magdalena, Johana, Susana dan "banyak yang 

lain"). Agaknya sekitar separuh pengikut terdekat-Nya adalah para wanita. 

o   Setelah bangkit, Yesus pertama kali menampakkan diri kepada para wanita.Matius 28:9-

10 menguraikan bagaimana Maria Magdalena dan Maria yang lain adalah pengikut Yesus yang 

pertama kali bertemu dengan-Nya setelah kebangkitan-Nya. (Namun cerita ini bertentangan 

dengan perikop Lukas 24:13-35, yang menyatakan bahwa orang yang pertama kali melihat 

Yesus adalah Kleopas, Petrus atau para murid semuanya). 

o   Para wanita ikut hadir ketika Yesus dieksekusi. Matius 27:55-56 dan Markus 15:40-41 

mengisahkan banyak wanita dari Galilea yang mengikuti Yesus dan hadir dalam penyaliban-

Nya, sekalipun mereka hanya melihat dari jauh, sedangkan para pria, termasuk Petrus (Mat. 

26:69-72), melarikan diri dari arena. (Yoh. 19:25-27 memberitakan hal yang berbeda. Penulis 

Yohanes menceritakan bahwa pada waktu itu Yohanes ikut hadir bersama para wanita). 

o   Dalam berbagai episode Injil-injil Sinoptik, diceritakan bahwa Yesus memperlakukan 

perempuan dan laki-laki secara yang sejajar. Penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul 

menceritakan banyak episode secara parallel, sekali waktu berkenaan dengan wanita, dan dalam 

kesempatan lain berkenaan dengan pria. Misalnya: 

-      Simeon dan Hana dalam Lukas 2:25-38 

-      Janda di Sarfat dan Naaman dalam Lukas 4:25-38 

-      Penyembuhan seorang laki-laki yang dirasuk setan dan penyembuhan ibu mertua 

Petrus yang dimulai dari Lukas 4:31 

-      Perempuan berdosa dan Simon, mulai dari Lukas 7:36 

-      Ananias dan Safira dalam Kisah 5:1-11 

-      Dionisius dan Damaris dalam Kisah 17:34 

-      Lidia dan pertobatan seorang narapidana dalam Kisah 16:14-34 

 

Ben Witherington III, dalam bukunya “Women in the Earliest Churches,”mendaftar sejumlah 

kesetaraan laki-laki dan perem-puan; dan mengutip H. Flender, ia menyimpulkan: 

 

"Dengan caranya sendiri Lukas mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai 

kesamaan kedudukan di hadapan Allah. Keduanya setara dalam kehormatan dan anugerah; keduanya 

dikaruniai dengan karunia-karunia yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama." 

 

o   Yesus memberi perhatian kepada para janda: dalam seluruh pelayanan-Nya, berulang 

kali Yesus menunjukkan betapa penting mendukung para janda. Injil Lukas sendiri memuat 

enam referensi mengenai para janda (Luk. 2:36, 4:26, 7:11, 18:1, 20:47 dan 21:1). 

o   Tentang perceraian: pada zaman Yesus, seorang laki-laki boleh menceraikan isterinya, 

namun seorang isteri tidak mempunyai hak untuk menceraikan suaminya. Praktik ini didukung 

tujuh referensi dalam Kitab Suci Ibrani (PL), di mana seorang suami secara sepihak boleh 

memberikan surat cerai kepada isterinya. Namun tidak kita temukan satu pun petunjuk tentang 

adanya seorang isteri yang memberikan surat cerai seperti itu kepada suaminya. Dalam Markus 

10:11-12 dan Matius 19:1-12, Yesus membuang tradisi ini dan menyatakan bahwa tidak ada 

suami atau isteri yang boleh menceraikan pasangannya. Kalaupun Musa mengizinkan 

perceraian, itu bukan karena perceraian dikehendaki Allah, melainkan karena kedegilan hati 

umat Israel. Dalam kedua perikop Injil Sinoptik tersebut dengan jelas Yesus memperlakukan 

suami dan isteri dengan setara.