• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Quran Wahyu tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quran Wahyu tuhan. Tampilkan semua postingan

Quran Wahyu tuhan

 


Siapa Jay Smith? Dapat ditelusuri di link ini.

Sekitar 600 siswa memenuhi The Rattray Lecture Theatre dengan banyak

lagi berkumpul di pintu-pintu dan gang-gang sekitar ruang pertemuan. Dan

ada sekitar 200 orang menonton lewat layar TV yg disediakan kampus.

Para 'pakar' Liberal

Meminjam materi 'pakar' Kristen Liberal, Shabir sebelumnya menyerang

otentisitas Injil Perjanjian Baru; menunjuk pada tuduhan tambal sulam,

tidak konsisten dalam manuskrip-manuskrip dan mengatakan bahwa

beberapa buku (eg. 2 Peter) tidak ditulis oleh para apostle.

Ia menggunakan karya-karya Bruce Metzger, emeritus professor of New

Testament at Princeton theological Seminary, dan penulis ‘Manuscripts of the

Greek Bible’. Saat debat berlangsung nampak jelas bahwa ia sekedar

mengutip (copy-paste) dari Metzger, dan sebenarnya Bruce Metzger sendiri

mengutip pendapat-pendapat dari penulis lain.

Bukti Manuskrip

Jay Smith memulai pembelaannya dengan resume dampak Injil terhadap

sejarah dunia sebelum menguraikan dukungan Qur’an pada otoritas Injil dan

membedakan bukti arkeologis dan manuskrip kedua kitab suci itu.

Dalam diskusi, Qur’an kalah telak.

Dalam balasannya, Shabir menekankan kembali point-pointnya terdahulu

dan kemudian mengritik keras hukum-hukum Perjanjian Lama. Seperti juga

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 1 

di Birmingham ia tidak berupaya [baca: tidak mampu] membela historisitas

Qur’an dan tradisi Islam.

Pembalasan Jay menunjukkan fakta bahwa hingga kini para akademisi

Muslim belum memiliki jawaban atas pertanyaan otentisitas historis Quran-

nya sendiri. Ia lalu menunjukkan sebuah buku berjudul ‘101 Penjelasan Atas

Kontradiksi Dalam Injil’ menjawab buku Shabir yg tadinya disampaikan di

Birmingham.

Diskusi Berguna

Setelah debat itu, beberapa siswa Muslim menghampiri Shabir dan bertanya

mengapa ia tidak sanggup membela historisitas Qur’an. Jelas bahwa mereka

menunggu jawaban yg ia tidak mampu berikan. Dua kelompok siswa Muslim

dan siswa atheis mengucapkan selamat kepada Jay Smith.

Buku ‘Penjelasan Atas Kontradiksi Dalam Alkitab (PL-PB)’ bisa

didapatkan gratis via email: namasamaran@riseup.net

Kritik historis Jay Smith terhadap Qur’an dan Hadis dibahas dalam isu Isa al

Masih dalam judul ‘Problems With The Qur'an’.

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 2 

Debat Kedua;

vs. Jamal Badawi

"Is The Qur'an The Word of God?"

BY JAY SMIthn


Bulan Agustus 1995 saya diundang berdebat tentang topik, "Apakah Qur'an

yaitu  Firman Tuhan?" dengan Jamal Badawi. Debat ini berlangsung di

Trinity College, Cambridge dan setelah tesis kami berdua disampaikan

kepada hadirin, disediakan 1 jam bagi pertanyaan untuk hadirin Muslim

maupun non-Muslim. Dibawah ini yaitu  isi tesis saya dalam debat itu.

Karena tingginya perhatian pada topik ini, kami menempatkan tesis ini

beserta dengan 10 tesis apologis lainnya dan beberapa sanggahan Muslim

disini.


Islam mengatakan bahwa Qur'an bukan saja wahyu dari Tuhan tetapi

pengungkapan terakhir kepada umat manusia. Ini bisa dilihat dari klaim

islam tentang quran sebagai "Ibu semua kitab" dalam Surah 43:2-4. Muslim

bersikeras bahwa Qur'an yaitu  ungkapan pernyataan Tuhan paling akhir

dan setiap kata dalam Quran sama persis dengan apa kata Allah. Kitab

Quran yang asli disimpan di surga. Surah 85:21-22 mengatakan, "Nay this is

a glorious Qur'an, (inscribed) in a tablet preserved." Para pakar Islam oleh

karena itu mengatakan bahwa surah ini merujuk pada kitab Quran yang

disimpan di surga dan oleh karena itu tidak pernah diciptakan. Qur'an yg

tersebar di bumi yaitu  identik dengan yg disimpan di surga, bahkan sampai

kepada tanda titik, judul dan pembagian bab. Persis sama!

Menurut tradisi Muslim, wahyu-wahyu ini diturunkan (Tanzil atau Nazil),

pada bagian langit ketujuh yg paling bawah pada bulan Ramadan, pada

malam lailat al Qadari (Surah 17:85). Sejak itu wahyu-wahyu diturunkan

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 3 

pada Muhamad secara bertahap, sesuai kebutuhan, lewat Jibril (Surah

25:32). Jadi, setiap huruf bebas dari pengaruh manusia, sehingga

menampakkan Qur'an sebagai suci, memiliki otoritas dan integritas.

Pernyataan-pernyataan diatas tidak pernah terbukti benar. Karena orang

selalu enggan untuk memaparkan pertanyaan tentang Qur'an dan Muhamad

karena takut mengundang reaksi negatif. [Karena muslim memang alergi

terhadap setiap pemikiran kritis. Makanya mayoritas masyarakatarakat

muslim kagak pernah maju-maju sampe sekarang, tetep miskin, stupid dan

terbelakang. Kalo mau pinter dan maju harus sekolah dan berguru ke orang-

orang ‘kafir’ di dunia Barat sana. Banyak yg meninggalkan negerinya sendiri

untuk mendapatkan kehidupan yg lebih layak di negeri kafir. Tapi setelah

hidup enak di negeri kafir, bukannya berterimaksih malah mau ngejadiin

Barat sebagai negeri taklukan islam! Sungguh masyarakatarakat muslim yg

tak tahu balas budi. Memang islam tak pernah mengajarkan orang untuk

menjadi baik budi. -adm].

Baru sekarang, para pakar Islam sekuler menguji kembali sumber-sumber

islam ini. Dan mereka menemukan bahwa Qur'an tidak diturunkan kepada

satu orang, tetapi merupakan kumpulan atau pengeditan oleh sekelompok

orang selama beberapa abad (Rippin 1985:155; dan 1990:3,25, 60). Jadi,

Qur'an yg kita baca sekarang tidak sama dengan apa yg ada pada abad ke

7M. Kemungkinan merupakan hasil abad 8M dan 9M (Wansbrough

1977:160-163). Akibatnya, tahap pembentukan Islam, menurut mereka,

tidak berlangsung pada masa Muhamad, namun berkembang selama 200-

300 tahun berikutnya setelah kematian nabi islam (Humphreys 1991:71, 83-

89).

Sumber-sumber materi bagi periode ini sangat sedikit. Dan diluar Qur'an,

semua sumber berusia jauh setelah abad 7. Sebelum tahun 750M kita tidak

memiliki dokumen yg bisa diverifikasi yg bisa menjelaskan periode

pembentukan Islam ini (Wansbrough 1978:58-59). Tidak ada satupun

materi yg eksis guna membuktikan materi tradisi Islam ini. Dokumen

berikutnya hanyalah mencontek dokumen-dokumen sebelumnya, yg tidak

lagi eksis (kalau memang pernah eksis). [Crone 1987:225-226; Humphreys

1991:73].

Periode klasik ini (sekitar 800 AD) menggambarkan masa lalu tetapi dari

sudut pandangnya sendiri, seperti orang dewasa menulis tentang masa

kecilnya yg cenderung mengingat-ngingat hal yg manis-manis saja sehingga

kesaksian ini bersifat tidak obyektif dan oleh karena itu tidak dapat diterima

sebagai otentik (lihat studi Crone tentang problema tradisi, khususnya

mereka yg tergantung cerita-cerita para penyair setempat di Mekah... 1987,

pp.203-230 dan ‘Slaves on Horses’, 1980, pp.3-17).

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 4 

Akibatnya, jurang pendapat antara pakar sejarah dengan Muslim semakin

besar: Muslim ortodox percaya penuh bahwa wahyu Islam yaitu  intervensi

Ilahi lewat Jibril selama periode 22 thnn (610-632 A.D.), masa yg

menetapkan hukum dan tradisi yg akhirnya membentuk Islam. Tetapi teori

ini pula diragukan sejarawan sekuler karena ini mengasumsikan bahwa pada

abad ke 7, Islam, sebuah agama yg terdiri dari hukum dan tradisi yg

njelimet dibentuk dalam sebuah budaya nomad terbelakang dan berfungsi

penuh dalam hanya 22 thnn.

Wilayah Arabia sebelumnya tidak dikenal sebagai wilayah dunia beradab.

Periode ini bahkan dicap sebagai periode Jahiliyah (period keterbelakangan).

Wilayah Arabia sebelum Muhamad tidak memiliki budaya maju, apalagi

infrastruktur yg diperlukan untuk menciptakan keadaan yg mendukung

pembentukan Islam (Rippin 1990:3-4). Jadi, bagaimana Islam diciptakan

secepat dan serapih itu? dalam lingkungan padang pasir yg terbelakang?

Muncullah kelompok-kelompok pakar sejarah baru tentang Islam, seperti

dari. John Wansbrough, Michael Cook [dari SOAS, London], Patricia Crone

dari Oxford - Cambridge, Yehuda Nevo dari University of Jerusalem,

Andariew Rippin dari Canada, dll.

Tulisan saya ini didasarkan atas studi mereka guna dapat mengerti asal-usul

Qur'an. Ini merupakan materi yg perlu dihadapi para apologis Muslim

dengan serius karena kebanyakan data mereka meragukan claim-claim para

pakar Muslim tradisonal tentang Qur'an dan Muhamad.

Mari kita mulai.

B: PROBLEMA dengan TRADISI-TRADISI ISLAM

B1: SUMBER-SUMBER ISLAM

Semua studi tentang Quran harus dimulai dengan masalah sumber-sumber

primer dan sumber-sumber sekunder. Sumber-sumber primer yaitu  materi

yg paling dekat pada peristiwa yang bersangkutan. Sumber sekunder hanya

menyangkut materi akhir-akhir ini, dan tergantung sumber-sumber primer.

Dalam Islam, sumber-sumber primer yg kita miliki yaitu  150-300 thnn

setelah peristiwa yang bersangkutan, dan oleh karena itu cukup jauh dari

peristiwa ini  (Nevo 1994:108; Wansbrough 1978:119; Crone

1987:204).

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 5 

Oleh karena itu, sumber-sumber sekunder, tergantung dari materi lain,

kebanyakan tidak lagi eksis.

Sumber-sumber pertama dan terbesar yaitu  "tradisi Muslim atau Islam."

Tradisi Muslim merupakan tulisan-tulisan yg disusun Muslim pada abad ke 8-

10M tentang apa yg dikatakan dan dilakukan Muhamad pada abad 7M serta

komentar-komentar tentang Qur'an. Ini merupakan materi yang paling luas

yg pernah kita miliki tentang masa dini Islam. Tradisi-tradisi ini juga ditulis

secara lebih mendetil, mencakup tanggal-tanggal dan keterangan tentang

apa yg terjadi. Mereka merupakan pelengkap Qur'an.

Qur'an sendiri sulit diikuti, membingungkan pembaca karena meloncat dari

cerita yang satu ke cerita yang lain, dengan sedikit narasi latar belakang

ataupun penjelasan, oleh karena itulah diperlukan Tradisi karena mereka

menambahkan detil-detil yg hilang.

Dalam beberapa hal tertentu, Tradisi lebih kuat ketimbang Qur'an. Contoh,

saat Qur'an menyebut tentang tiga kali sholat (surah 11:114; 17:78-79;

30:17-18 dan 24:5, sementara Tradisi menyebut lima kali sholat, yg

kemudian diterima Muslim. (Glasse 1991:381).

Para pengarang Tradisi ini bukan penulis, melainkan pengumpul dan editor

yg mengumpulkan informasi yg disampaikan kepada mereka dan lalu

mereproduksinya. Ada banyak pengumpul informasi, tetapi empat orang

dianggap yg paling otoritatif oleh Muslim dan kesemuanya mengumpulkan

materi mereka antara thnn 750-923 AD. (atau 120-290 tahun setelah

kematian Muhamad).

Sirat Rasulullah yaitu  kesaksian tentang kehidupan tradisonal nabi

(termasuk berbagai pertempurannya). Yang paling komprehensif ditulis oleh

Ibn Ishaq (w. 765 AD), walau tidak ada satupun manuskripnya eksis di

jaman ini. Akibatnya, kita tergantung Sirat-nya Ibn Hisham (wafat 833 AD),

yg katanya diambil dari Ibn Ishaq, meski, menurut pengakuannya sendiri

(menurut riset Patricia Crone) ia menghindari topik-topik yg dianggap

rawan, seperti hal-hal yg dianggapnya keterlaluan, dan hal-hal yg tidak

dapat ia percaya. (Crone 1980:6).

Hadis yaitu  ribuan laporan pendek atau narasi (akhbar) tentang perkataan

dan kelakuan muhammad yg dikumpulkan Muslim di abad 9-10M. Yang

paling terkenal yaitu  koleksi hadis al-Bukhari (w. 870 AD) dan dianggap

para muslim sebagai yg paling otoritatif. Ta'rikh yaitu  sejarah atau

kronologi kehidupan sang ‘nabi,’ yg paling terkenal ditulis oleh al-Tabari (w.

923 AD) pada permulaan abad ke 10M. Tafsir yaitu  komentar dan exegesis

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 6 

tentang Qur'an, bahasa dan konteks; yang paling terkenal ditulis al-Tabari

(w. 923 AD).

B2: TANGGAL-TANGGAL TERLAMBAT

Nah, pertanyaan pertama yaitu , mengapa tradisi-tradisi diatas ini ditulis

begitu terlambat? 150-300 tahun setelah kejadian?

“Kita tidak memiliki satupun kesaksian dari masyarakatarakat Islam selama

150 tahun pertama, antara invasi-invasi Arab pertama [permulaan abad ke

7] dan timbulnya naratif-naratif sira-maghazi dari literatur Islam paling dini”

[menuju abad ke8]. (Wansbrough 1978:119).

Masa’ tidak ada sedikitpun bukti-bukti atas perkembangan tradisi kuno Arab

menuju Islam selama 150 thnn itu? Faktanya memang, kita tidak temukan

apa-apa! (Nevo 1994:108; Crone 1980:5)

Muslim ada yg tidak setuju dan bersikeras bahwa ada bukti tradisi-tradisi yg

lebih dini, khususnya dari Muwatta oleh Malik ibn Anas (lahir thnn 712M dan

wafat 795M). Norman Calder dalam bukunya ‘Studies in Early Muslim

Jurisprudence’ tidak setuju dengan tanggal dini itu dan mempertanyakan

apakah karya-karya itu bisa diatribusikan kepada para pengarang-

pengarang dini. Katanya, kebanyakan teks jaman itu merupakan "teks-teks

sekolah," ditransmisikan dan dikembangkan selama beberapa generasi dan

dalam bentuk yg jelas jauh lebih modern dari pada jaman ‘pengarang-

pengarang asli.’

Setelah adanya asumsi bahwa hukum Shafi'i (yg menuntut bahwa semua

hadis dicari sumbernya ke Muhamad) hanya berlaku sesudah thn 820, ia

menyimpulkan bahwa karena Mudawwana sama sekali tidak menyinggung

otoritas kenabian Muhamad (padahal Muwatta melakukannya), ini berarti

bahwa Muwatta pastilah dokumen paling akhir.

Akibatnya, Calder menempatkan Muwatta tidak sebelum thn 795, tetapi

setelah ditulisnya Mudawwana pada thn 854. Malah Calder menempatkan

Muwatta bukan di abad ke 7 tapi ke abad 11 di Cordoba, Spanyol (Calder

1993). Kalau memang ia benar, maka kita memang tidak memiliki bukti

apapun tentang tradisi dari masa permulaan Islam.

Humphreys mengatakan, "Muslimin, kami asumsikan, pastilah sangat

berhati-hati dalam mencatat prestasi spektakuler mereka, sementara

masyarakat yg mereka jajah, yg jauh lebih berpendidikan dan beradab, pasti

sulit mengerti nasib apa yg menimpa mereka." (Humphreys 1991:69)

Namun menurut Humphreys, semua yg kita temukan dari periode dini ini

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 7 

yaitu  sumber-sumber yg , "entah terpecah-pecah (fragmented) atau

mewakili perspektif yg sangat spesifik atau bahkan eksentrik," sehingga

menjadikan sulit untuk merekonstruksi abad pertama Islam secara memadai

(Humphreys 1991:69).

Pertanyaannya, oleh karena itu, dari mana para penyusun abad ke 8 dan 9M

mendapatkan materi mereka? Jawabannya? Kita tidak tahu! "Bukti atas

dokumentasi sebelum 750 AD terdiri dari hampir seluruhnya kutipan-kutipan

meragukan yg tercatat dalam kompilasi abad berikutnya." (Humphreys

1991:80)

KESIMPULAN, tidak adanya bukti yg meyakinkan bahwa Tradisi atau bahkan

Qur'an memang berbicara secara jujur tentang kehidupan Muhamad

(Schacht 1949:143-154). Kita diminta untuk percaya bahwa dokumen-

dokumen ini, yg tertulis ratusan tahun dianggap akurat, walau tidak

dibarengi dengan bukti diluar Isnad, yg tidak lebih dari daftar nama-nama

mereka yg menurunkan tradisi-tradisi ini. Bahkan Isnad tidak didukung oleh

dokumen yg bisa membuktikan otentisitas mereka! (Humphreys 1991:81-

83). Lebih jelas tentang Isnad, di akhir paper ini.

B2a: TULISAN

Muslim membela diri dengan mengatakan bahwa tanggal-tanggal terlambat

dari sumber-sumber primer itu dikarenakan tradisi tulisan dalam kawasan

terisolasi itu pada jaman itu belum ada. Ini jelas omong kosong karena

tradisi menulis diatas kertas sudah dimulai jauh sebelum abad ke 7. Kertas

tulis diciptakan di abad ke empat dan digunakan secara luas di dunia

beradab setelah itu. Dinasti Persia, Umayyad, bermarkas di Syria, daerah yg

tadinya Kristen Byzantin dan BUKAN Arab. Mereka merupakan budaya maju

yg menggunakan sekretaris dalam istana-istana Kalifah, dan membuktikan

bahwa penulisan manuskrip sudah dikembangkan disitu.

Dikatakan bahwa jazirah Arab (atau dikenal sebagai Hijaz) di abad ke 7 dan

sebelumnya merupakan daerah perdagangan dengan karavan-karavan

melewati rute-rute utara-selatan dan mungkin timur-barat. Walau bukti-

bukti menunjukkan bahwa perdagangan sebagian besar bersifat lokal (akan

didiskusikan nanti), tradisi karavan memang sudah ada. bagaimana para

pemilik karavan mencatat harga-harga dagangan mereka? dengan

menghafal angka-angka?!

Dan akhirnya, kita harus bertanya, BAGAIMANA KITA BISA MENDAPATKAN

QURAN, KALAU TIDAK ADA ORANG SAAT ITU YG BISA MENULIS DI ATAS

KERTAS?!? Muslimin bersikeras bahwa eksistensi sejumlah kodifikasi Quran

ada tidak lama setelah wafatnya Muhamad, seperti miliknya Abdullah ibn

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 8 

Mas'ud, Abu Musa, dan Ubayy b. Ka'b (Pearson 1986:406). Apa kodeks-

kodeks itu kalau bukan dokumen tertulis?

Teks Usman sendiri harus ditulis, kalau tidak maka tidak akan disebut TEKS!

Teknologi menulis diatas kertas sudah ada, tetapi karena alasan tertentu,

tidak ada data-data yg membuktikan adanya dokumen-dokumen sebelum

750 AD.

B2b: UMUR

Pakar Muslim juga ada yg mengatakan bahwa alasan tidak adanya dokumen

dini itu yaitu  karena usia tua! Bahan penulisan sumber-sumber primer itu

entah rapuh karena usia atau karena manusia tidak hati-hati dalam

menanganinya dan oleh karena itulah lumrah kalau mereka hancur.

Argumen ini agak aneh. The British Library saja memiliki ribuan dokumen yg

ditulis oleh masyarakat yg hidup di sekitar jazirah Arab, Timur tengah dan

jauh lebih dini dari masa islam. Yg dipertontonkan yaitu  manuskrip-

manuskrip Perjanjian Baru seperti Codex Syniaticus dan Codex

Alexandariinus, keduanya ditulis di abad ke 4, atau 300-400 tahun sebelum

periode Muhamad! Kok mereka tidak rapuh karena usia?!

Argumen tak ada dokumen karena usia tua ala Muslim ini lemah

menyangkut Qur'an itu sendiri. "Teks Usman" Qur'an (kodeks final yg

dianggap disusun oleh Zaid ibn thnabit, dibawah pengawasan kalif ketiga,

Usman) dianggap Muslimin sebagai literatur yg paling penting yg pernah

ditulis. Seperti yg kami sebutkan sebelumnya, menurut Surah 43:2-4, Quran

yaitu  "ibu segala buku." Keunikannya yaitu  karena Quran ini yaitu 

duplikat persis dari "kalam abadi" yg eksis di surga (Surah 85:22).

Tradisi Muslim mengatakan bahwa semua kodeks dan manuskrip yg

bersaingan dengannya DIHANCURKAN setelah 646-650. Bahkan "copy

Hafsah," dari mana resensi final diambil telah DIBAKAR. Kalau teks Usman

ini begitu penting, MENGAPA OH MENGAPA TIDAK DITULIS PADA KERTAS,

atau pada bahan lain yg bisa awet sampai sekarang? Kalau memang

manuskrip-manuskrip dini rapuh karena usia, mengapa mereka tidak diganti

dengan tulisan-tulisan pada kulit binatang, seperti dokumen-dokumen kuno

lainnya --yg lebih tua dari eksistensi islam-- sampai sekarang masih eksis?

Kita tidak memiliki bukti absolut apapun tentang teks asal Qur'anic

(Schimmel 1984:4). Kita juga tidak memiliki ke-empat copy yg dibuat dari

resensi ini dan dikirim ke Mekah, Medinah, Basra dan Damascus (lihat

argumen Gilchrist dalam bukunya “Jam' al-Qur'an”, 1989, pp.140-154, dan

juga “The Quran” tulisan Ling & Safadi, 1976, pp.11-17).

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 9 

Bahkan kalau copy-copy ini rapuh karena usia, mana mungkin tidak ada

sedikitpun bekas-bekas fragmen yg dapat kita jadikan bahan rujukan? Pada

akhir abad ke 6, Islam meluas sampai Afrika Utara dan Spanyol dan bahkan

sampai ke India. Qur'an merupakan buku suci para penjajah Muslim itu. Nah,

kalau memang begitu, pastilah ada dokumen-dokumen ataupun manuskrip

Qur'an yang masih eksis sampai hari ini. Nyatanya, tidak ada apapun yg

tersisa dari periode itu!

Sementara itu, Perjanjian Baru milik Kristen dapat dibuktikan oleh lebih dari

5300 manuskrip Yunani, 10.000 Latin Vulgates dan paling tidak 9300 versi

dini, sehingga total manuskrip kuno Perjanjian Baru mencapai lebih dari

24.000 manuskrip YANG MASIH EKSIS (McDowell 1990:43-55), kebanyakan

ditulis antara 25-400 tahun setelah masa penyaliban Kristus (McDowell

1972:39-49). Tetapi ISLAM TIDAK DAPAT MENUNJUKKAN SATU

MANUSKRIPpun sebelum abad ke DELAPAN! (Lings & Safadi 1976:17;

Schimmel 1984:4-6). Dokumen Injil Kristen yg umurnya jauh ratusan thn

sebelum quran masih eksis, tapi dokumen/manuskrip quran yg umurnya

lebih muda – yg seharusnya msh ada -- raib entah kmana. Lalu bagaimana

kita membuktikan bahwa quran itu otentik?

Kalau Kristen, bisa menyimpan puluhan-ribu manuskrip kuno dan semuanya

ditulis jauh sebelum abad ke 7, pada saat KERTAS BELUM DICIPTAKAN,

sampai harus menulis pada papirus yg akhirnya juga rapuh tetapi dicatat

kembali lagi secara berulang-ulang, mengapa Muslim tidak mampu

menunjukkan satu manuskrip apapun dari abad Quran dikatakan,

‘diturunkan’?! Jadi, argumen bahwa quran-quran kuno rapuh dimakan rayap

yaitu  alasan yg dicari-cari.

B2c: MANUSKRIP

Muslim masih ngotot juga dan mengatakan bahwa mereka toh memiliki

‘resensi Usmani’ ini berupa copy-copy orijinal dari abad ke 7. Ada Muslim yg

mengatakan copy-copy asli itu disimpan di Mekah, Kairo dan hampir di

setiap kota kuno yg dijajah Islam. Tapi kalau saya meminta data yg bisa

membuktikan usia manuskrip-manuskrip itu, (mengingat sekarang hal itu

bisa dilakukan dengan teknik ‘carbon-dating’) ternyata manuskrip-manuskrip

ini  belum pernah diuji usianya. Muslim hingga kini tidak berani

melakukan verifikasi usia dokumen dengan metode Carbon-dating pada

manuskrip Usmani.

Memang ada dua dokumen yg bisa dipercaya dan sering dirujuk Muslim. Ini

dinamakan dengan manuskrip Samarkand, yg disimpan di Perpustakaan

Soviet di Tashkent, Uzbekistan (bagian selatan ex Uni Soviet), dan

manuskrip Topkapi, yg berada Museum Topkapi di Istanbul, Turki. Kedua

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 10 

dokumen ini memang tua, dan sudah banyak dianalisa secara etimologis dan

paleografis oleh para skriptologis dan ahli kaligrafi Arab.

MANUSKRIP SAMARKAND – diambil dari ‘Jam' al-Qur'an’-nya Gilchrist

1989, pp. 148-150:

Manuskrip Samarkand bukan dokumen komplet. Malah, dari 114 surah yg

ditemukan di Qur'an sekarang, hanya surah-surah 2-43 yg termasuk

didalamnya. Dari surah-surah ini pun kebanyakan teks hilang. Inskripsi teks

codex Samarkand ini menawarakan masalah karena tidak reguler. Ada

halaman-halaman yg ditulis secara rapi dan seragam, sementara ada yg

tidak rapi dan tidak seimbang (Gilchrist 1989:139 and 154). Di beberapa

halaman, teks itu sangat ekspansif, sementara di halaman-halaman lain

teksnya berjejalan dan padat. Kadang, huruf Arab KAF dikecualikan dari teks,

sementara ditempat lain, huruf itu tidak hanya diperluas tetapi malah

merupakan huruf dominan di teks yang bersangkutan. Karena kebanyakan

halaman-halaman manuskrip begitu berbeda satu sama lain, asumsinya

yaitu  bahwa manuskrip Samarkand ini  merupakan kumpulan teks

dari manuskrip-manuskrip yg berbeda (Gilchrist 1989:150).

Bahkan dalam satu teks bisa ditemukan iluminasi artistic antara sesama

surah, biasanya dalam bentuk barisan kotak-kotak berwarna dan 151 medali

merah, hijau, biru dan oranye. Iluminasi ini menunjukkan kepada para

skriptologis bahwa kodex itu berasal dari abad ke SEMBILAN, karena hiasan-

hiasan ornamen macam itu sudah pasti bukan praktek manuskrip jaman

Usman abad ke 7 yg kemudian dibagi-bagikannya ke provinsi-provinsi

jajahan Islam (Lings & Safadi 1976:17-20; Gilchrist 1989:151).

MANUSKRIP TOPKAPI - Manuskrip ini berada di Istanbul, Turki dan juga

ditulis pada papyrus dan tidak memiliki vokalisasi (Gilchrist, 1989, pp.151-

153). Seperti manuskrip Samarkand, manuskrip Turki ini dihiasi ornamen-

ornamen medali yg menunjukkan jaman yg lebih maju, BUKAN ABAD 7

(Lings & Safadi 1976:17-20).

Muslim juga mengatakan bahwa ini pasti juga salah satu dari copy-copy

orijinal, kalau bukan memang yg asli yg dikumpulkan Zaid ibn thabit pada

abad ke 7. Tetapi tidak sulit membandingkannya dengan codex Samarkand

dan anda akan melihat bahwa tidak mungkin keduanya berasal dari jaman

Usman. Misalnya, codex Topkapi memiliki 18 garis per halaman sementara

codex Samarkand hanya memiliki setengahnya, antara 8-12 garis per

halaman; codex Istanbul ditulis dalam bahasa formal, kata-kata dan garis-

garis ditulis secara seragam, sementara teks codex Samarkand sering

amburadul dan terdistorsi. Sulit dipercaya bahwa kedua manuskrip ini ditulis

oleh jawatan yg sama.

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 11 

ANALISA MANUSKRIP:

Para pakar menggunakan 3 tes untuk menentukan usia manuskrip. Mereka

menguji usia kertas manuskrip itu dengan menggunakan proses kimiawi

seperti ‘carbon-14 dating’. Penentuan usia antara +/-20 tahun sangat

dimungkinkan. Tapi orang enggan menggunakan cara ini karena jumlah

materi yg harus dihancurkan untuk proses ini (antara 1-3 gram) bisa

menghancurkan manuskrip ini . Jadi digunakanlah bentuk carbon-14

dating yg lebih canggih yg dikenal dengan nama AMS (Accelerator Mass

Spectometry) yg hanya memerlukan 0,5-1mg materi untuk diuji

(Vanderkam 1994:17). Namun sampai sekarangpun, manuskrip-manuskrip

Islam itu tidak pernah diuji dengan metode yg canggih ini. Pihak muslim

ketakutan. Ada apakah gerangan kok takut?!

Para pakar juga akan mempelajari tinta manuskrip dan dapat menentukan

daerah asalnya atau apakah tulisannya telah dihapus atau ditulis diatasnya

secara berulang kali. Tetapi akses pada manuskrip itu terutama dihalangi

oleh para pejabat muslim yg sangat ketakutan untuk menyerahkannya

kepada riset ilmiah.

Jadi terpaksa para pakar hanya bisa menganalisa gaya tulisannya, apakah

manuskrip itu memang kuno atau dari jaman yg lebih modern. Bidang studi

ini dinamakan dengan Paleografi. Gaya-gaya penulisan berubah dengan

jaman. Perubahan ini biasanya seragam karena manuskrip selalu ditulis oleh

kaligrafis professional. Dan mereka selalu mengikuti aturan yg sudah

ditetapkan, dengan hanya modifikasi secara bertahap (Vanderkam 1994:16).

dengan mempelajari tulisan tangan yg tanggalnya sudah diketahui dan

melihat perkembangan mereka, seorang paleografer bisa membandingkan

mereka dengan teks-teks yg tidak ada tanggalnya dan menentukan asal

periode mereka.

Pengujian paleografis terhadap kedua manuskrip Samarkand dan Topkapi

mencapai kesimpulan yang sangat menarik tentang tanggal asal mereka.

Bukti inilah merupakan argument yg paling kuat bahwa kedua manuskrip

ini  BUKAN berasal dari jaman Usman ataupun eksis di abad ke tujuh.

HURUF KUFI

Apa yg tidak disadari kebanyakan Muslim yaitu  bahwa kedua manuskrip ini

ditulis dengan huruf Kufi, huruf yg menurut pakar Quran modern seperti

Martin Lings dan Yasin Hamid Safadi, tidak muncul sebelum abad ke 8

(setelah thn 790), dan sama sekali tidak digunakan di Mekah dan Medinah di

abad ke 7 (Lings & Safadi 1976:12-13,17; Gilchrist 1989:145-146; 152-153).

Alasannya sangat mudah. Huruf Kufi, yg dikenal dengan nama al-Khatt al-

Kufi, berasal dari kota KUFA di IRAK (Lings & Safadi 1976:17).… Kota Kufa

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 12 

itu dulunya merupakan kota Sassanid atau Persia sebelum masa

pendudukan Arab (637-8 AD). Jadi, walaupun bahasa Arab dikenal disana,

bahasa itu bukan bahasa dominan, apalagi huruf dominan, kecuali pada

masa berikutnya saat penjajahan islam.

Fakta menunjukkan bahwa huruf Kufi disempurnakan pada akhir abad 8

(sampai 150 tahun setelah kematian Muhamad) dan setelah itu digunakan

secara luas diseluruh kawasan wilayah jajahan Muslim (Lings & Safadi

1976:12,17; Gilchrist 1989:145-146). Ini masuk akal karena sejak 750AD,

kerajaan Abbasid menguasai Islam, dan karena latar belakang Persia

mereka, bermarkas di Kufa dan Bagdad. Oleh karena itu mereka ingin agar

huruf mereka mendominasi. Karena mereka sendiri dulunya didominasi

Umayyad (yg bermarkas di Damascus) selama 100 tahun, kini bisa

dimengerti bagaimana huruf Arab yg berasal dari kawasan pengaruh mereka,

seperti huruf Kufi, berkembang ke dalam apa yg kita temukan pada kedua

manuskrip ini.

FORMAT

Faktor lain yg menunjuk pada usia jauh setelah abad ke 7 yaitu  melihat

pada format penulisannya. Gaya huruf Kufi yang ber-elongasi (panjang),

mereka menggunakan lembaran yang lebih lebar ketimbang tinggi. Ini

dikenal sebagai ‘the landscape format', format yg dipinjam dari dokumen-

dokumen Kristen Syria dan Iraq dari abad ke 8 dan 9. Format manuskrip

Arab lebih dini semuanya ditulis dalam format ‘tegak.’ (terima kasih kepada

Hugh Goodacre dari the Oriental and India Office Collections, yg menunjuk

saya pada fakta ini bagi debat South Bank).

Oleh karena itu, kedua manuskrip Topkapi dan Samarkand, karena mereka

ditulis dalam huruf Kufi dan menggunakan ‘landscape format,’ tidak mungkin

ditulis 150 tahun sebelum dikumpulkannya Resensi Usman; paling dini

yaitu  thn 700-an atau permulaan 800-an (Gilchrist 1989:144-147).

SKRIPs MA’IL dan MASHQ

Jadi, apa huruf yg digunakan di jazirah Hijaz (Arab) pada saat itu? Kita tahu

bahwa ada huruf Arab yg paling dini (tua) yg kebanyakan Muslim awam

tidak mengetahuinya. Ini merupakan huruf al-Ma'il Script, yg dikembangkan

di Hijaz, khususnya di Mekah dan Medinah, dan huruf Mashq, juga

dikembangkan di Medinah (Lings & Safadi 1976:11; Gilchrist 1989:144-145).

Hururf al-Ma'il digunakan pada abad 7 dan mudah di-identifikasi, karena

ditulis agak miring (lihat contoh pada halaman 16 dari buku Gilchrist, Jam'

al-Qur'an, 1989). Malah, kata al-Ma'il berarti "miring." Huruf ini bertahan

selama dua abad sebelum kemudian ditinggalkan.

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 13 

Hururf Mashq juga dimulai pada abad ke 7, tetapi terus digunakan berabad-

abad kemudian. Bentuknya lebih horizontal dan ciri khasnya yaitu  gayanya

yg lebih bulat dan relaks (Gilchrist 1989:144). Jika Qur'an disusun pada

abad ke 7 ini, maka paling tidak Quran ditulis dalam huruf Ma'il atau Mashq.

Anehnya, memang ada Qur'an yg ditulis dalam huruf Ma'il, dan dianggap

sebagai Qur'an yg paling kuno yg kita miliki. Tetapi Quran ini tidak berada di

Istanbul atau Tashkent, melainkan, ironisnya, di British Library di London

(Lings & Safadi 1976:17,20; Gilchrist 1989:16,144). Ini juga dikatakan

berasal dari sekitar akhir abad ke 8, oleh Martin Lings, mantan kurator

manuskrip the British Library, yg sendirinya yaitu  seorang Muslim!!

Oleh karena itu, dengan bantuan analisa huruf, kita yakin bahwa tidak ada

manuskrip Quran yg eksis di dunia ini sebelum abad ke 7 (Gilchrist

1989:147-148,153). Hampir semua fragmen-fragmen manuskrip Quran dini

tidak berasal dari jaman lebih dini dari 100 tahun setelah kematian

Muhamad. dalam bukunya, ‘Calligraphy and Islamic Culture’, Annemarie

Schimmel menggaris-bawahi point ini dengan mengatakan bahwa Quran-

quran yg baru-baru ini ditemukan di Sanaa, "fragmen-fragmennya berasal

dari pertengahan abad ke 8." (Schimmels 1984:4)

Kedelapan Qur'an dari Sanaa ini memang misterius karena pemerintah

Yemen tidak mengijinkan orang-orang Jerman yg menemukannya untuk

mengumumkan penemuan mereka ini. Mungkinkah ini untuk

menyembunyikan asal jaman Quran-quran itu? Ada yg mengatakan bahwa

huruf dalam kedelapan Quran ini tidak mirip dengan Quran yg kita miliki

sekarang. Kami masih menunggu perkembangan ini.

B3: KREDIBILITAS

Bagaimana dengan kredibilitas penyusunan HADIS? Seperti dibahas

sebelumnya, teks-teks bersejarah tentang Islam masa dini disusun antara

thn 850-950 AD. (Humphreys 1991:71). Semua materi kemudian

menggunakan penyusunan ini sebagai patokan mereka, sementara materi

yg lebih dini tidak dapat dipastikan otentisitasnya (Humphreys 1991:71-72).

Bisa saja bahwa tradisi-tradisi sebelumnya tidak lagi relevan, sehingga

dibiarkan rapi atau dihancurkan. Kita tidak tahu. Apa yg kita tahu yaitu 

bahwa para penyusun itu kemungkinan besar mengambil materi mereka dari

koleksi yg disusun dalam abad sekitar 800 AD, dan bukan dari dokumen yg

ditulis dalam abad ke 7, dan jelas bukan juga dari Muhamad atau para

sahabatnya (Humphreys 1991:73, 83; Schacht 1949:143-145; Goldziher

1889-90:72).

Kita juga tahu bahwa kebanyakan susunan mereka yaitu  cuplikan-cuplikan

dari Akhbar-akhbar (anekdot dan anak kalimat) yg mereka anggap bisa

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 14 

diterima walau kriterianya masih misterius (Humphreys 1991:83). Sekarang

nampak jelas bahwa aliran-aliran hukum permulaan abad ke 9 mencakupkan

doktrin-doktrin mereka sendiri dengan mengatakan bahwa mereka datang

dari para sahabat nabi dan bahkan dari nabi sendiri (Schacht 1949:153-154).

Schacht memastikan bahwa sumber ketetapan ini yaitu  al-Shafi'i (w. 820

AD). Ialah yg menentukan bahwa semua tradisi hukum harus dilacak

kembali ke Muhamad guna memastikan kredibilitasnya. Hasilnya, tradisi

hukum dalam jumlah besar yg mencari otoritas sang ‘nabi’ ini timbul dari

jaman Shafi'i dan sesudahnya, dan akibatnya mengekspresikan doktrin-

doktrin Irak saat itu, dan bukan doktrin-doktrin Arab kuno (Schacht

1949:145). Agenda inilah yg diberlakukan oleh setiap aliran hukum

sehubungan dengan pemilihan tradisi pada abad 9 dan 10, yg dipercaya

sebagai cara menguji otentisitas hadis.

Wansbrough setuju dengan Humphreys dan Schacht kala ia mengatakan

bahwa data-data literatur, walau menunjukkan diri sebagai sesuai dengan

jaman terjadinya peristiwa yang bersangkutan, sebenarnya berasal dari

masa jauh setelah berlangsungnya peristiwa ini , menurut pandangan

mata jaman itu dan agar sesuai dengan tujuan dan agenda jaman itu.

(Rippin 1985:155-156).

Contoh, kaum Shi'ah. Agenda mereka sudah jelas karena mereka

mengatakan bahwa dari 2000 hadis sahih, mayoritas hadis (1.750) berasal

dari Ali, menantu nabi, yg menjadi panutan kaum Shi'ah. Anda mungkin

akan bertanya: Kalau otentisitas bagi hadis-hadis oleh Shi’ah sepenuhnya

bersifat politis, bagaimana dengan penyusun-penyusun tradisi lainnya?

Pertanyaan yg harus diajukan yaitu , adakah kebenaran sejarah yg bisa kita

selidiki? Schacht dan Wansbrough keduanya skeptis tentang point ini

(Schacht 1949:147-149; Wansbrough 1978:119).

Patricia Crone mengatakan bahwa kredibilitas tradisi sudah hilang akibat

subyektivitas setiap individu penyusun hadis. Katanya; Karya-karya

penyusun pertama seperti Abu Mikhnaf, Sayf b.'Umar, 'Awana, Ibn Ishaq

dan Ibn al-Kalbi tidak lebih dari timbunan tradisi-tradisi yg terpencar-pencar

dan tidak merefleksikan satu kepribadian, aliran, tempat ataupun waktu:

karena Ibn Ishaq dari Medinah menyampaikan tradisi yg menguntungkan

Iraq, pihak Sayf Iraqi Sayf memiliki tradisi yg menentangnya. Dan kesemua

kompilasi dikarakterisasi oleh pencakupan material yg mendukung aliran-

aliran legal dan doktrin yg saling bertentangan. (Crone 1980:10).

Dengan kata lain, aliran-aliran hukum setempat membentuk tradisi-tradisi

berbeda, dan bergantung pada hukum setempat dan pendapat para pakar

setempat (Rippin 1990:76-77). Pada akhrinya, pakar-pakar itu menyadari

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 15 

perbedaan ini dan melihat perlunya menyatukan hukum Islam. Solusinya

tercapai dengan memohon pada tradisi nabi, yg akan memiliki otoritas atas

pendapat (ra'y) pakar. Oleh karena itu, tradisi yg diatribusikan kepada nabi

mulai berkembang biak dari sekitar thn 820 AD (Schacht 1949:145; Rippin

1990:7).

Contoh, Sirat Rasulullah yg memberikan materi terbaik atas kehidupan

muhammad. Nampaknya Sirat mengambil sejumlah informasi dari Qur'an.

Walaupun Isnad digunakan untuk menentukan otentisitas (yg sekarang

diragukan kebenarannya, seperti yg akan kita lihat nanti), otoritasnya

tergantung dari otoritas Qur'an, yg kredibilitasnyapun diragukan (juga akan

dibahas dalam sesi berikutnya).

Menurut G. Levi Della Vida, pembentukan Sirat didasarkan pada hal-hal

berikut: Semakin meningkatnya pemujaan terhadap sosok Muhamad

mengakibatkannya tumbuh sebagai tokoh legenda dengan karakter yg di-

idolakan, persis seperti karakter-karakter yg ada dalam tradisi Yahudi atau

Kristen (mungkin juga Iran). (Levi Della Vida 1934:441)

Ia menjelaskan bahwa material ini menjadi terorganisasi, tersistematisasi

dalam aliran Muhaddithun Medinah lewat sebuah 'midariash,' yg terdiri dari

ayat-ayat Quran dalam mana exegesis menganggap ilusi menjadi peristiwa

nyata dalam hidup nabi. dengan cara inilah sejarah periode Medinah

terbentuk. (Levi Della Vida 1934:441)

Dengan begitu kita memiliki dokumen-dokumen dengan kredibilitas lemah

(Crone 1987:213-215). Bahkan materi-materi sebelumnya tidak banyak

membantu. Maghazi, atau cerita-cerita pertempuran-pertempuran nabi,

yaitu  dokumen-dokumen Muslim paling dini yg kita miliki. Mereka

seharusnya memberikan gambaran tentang jaman itu, tetapi merekapun

tidak menyebut sedikitpun tentang ajaran dan kehidupan muhammad. Malah

anehnya, dokumen-dokumen ini tidak sedikitpun memuat pemujaan

terhadap Muhamad sebagai nabi!

B4: KONTRADIKSI

Masalah berikutnya yaitu  bahwa tradisi-tradisi ini penuh dengan

kontradiksi, kebingungan, tidak konsisten dan malah keanehan. Contoh,

Crone bertanya, "Apa yg kami lakukan dengan pernyataan Baladhuri bahwa

Qiblat dalam mesjid Kufan pertama yaitu  arah barat... bahwa ada begitu

banyak Fatima, dan bahwa ‘Ali kadang disebut sebagai adik Muhamad? Ini

sebuah tradisi yg informasinya tidak berarti apa-apa dan entah berakhir

kemana." (Crone 1980:12)

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 16 

Al-Tabari, contohnya, sering memberikan kesaksian berbeda dan bahkan

berlawanan tentang peristiwa yg sama (Kennedy 1986:362). Pertanyaan

tentang bagaimana al-Tabari mengedit materinya oleh karena itu

merupakan sebuah tanda tanya. Apakah ia memilih akhbar (narasi pendek)

untuk mengembangkan dan mengilustrasikan tema-tema penting tentang

sejarah kenegaraan Islam? Kita tidak tahu.

Ibn Ishaq mengatakan bahwa Muhamad mengisi kekosongan politik saat

memasuki Yathrib (Medinah), tetapi kemudian mengatakan bahwa ia

MEREBUT otoritas dari penguasa yg sudah mantap disana (Ibn Hisham

ed.1860:285, 385, 411). Ibn Ishaq juga mengatakan bahwa Yahudi di

Medinah sangat suportif terhadap tetangga-tetangga Arab mereka, namun

toh dilecehkan juga oleh mereka (Ibn Hisham ed.1860:286, 372, 373, 378).

Jadi yg mana yg bisa dipercaya? Seperti dikatakan Crone, "Cerita-cerita ini

disampaikan dengan sama sekali tidak mempedulikan fakta sejarah Medinah

ketika itu." (Crone 1987:218)

Contoh lain: Perbedaan antara satu penyusun dengan penyusun yg lain

(Rippin 1990:10-11). Terdapat banyak variasi atas satu tema. Contoh, ke 15

kesaksian berbeda tentang pertemuan Muhamad dengan wakil agama non-

Islam yg meramalkan kenabiannya (Crone 1987:219-220). Ada tradisi yg

menyebuntukan pertemuan ini terjadi tatkala Muhamad masih bayi (Ibn

Hisham ed.1860:107), ada yg mengatakan ia berusia 9 atau 12 (Ibn Sa'd

1960:120), sementara ada juga yg mengatakan bahwa ia kala itu berusia 25

(Ibn Hisham ed.1860:119).

Ada yg mengatakan bahwa ia bertemu kaum Kristen Ethiopia (Ibn Hisham

ed.1860:107), ada juga yg bilang Yahudi, bukan Ethiopia (Abd al-Razzaq

1972: 318), sementara ada juga yg mengatakan Muhamad ketemu peramal

atau seorang Kahin di entah Mekah atau Ukaz atau Dhu'l-Majaz (Ibn Sa'd

1960:166; Abd al-Razzaq 1972:317; Abu Nu'aym 1950:95, 116f). Crone

menyimpulkan bahwa kita memiliki tidak lebih dari "lima belas versi fiktif

tentang peristiwa yg tidak pernah terjadi." (Crone 1987:220)

Jadi, akibatnya sulit menentukan mana hadis yg sahih dan mana yg harus

dibuang. Inilah problema Muslim sampai sekarang!!!

B5: PERSAMAAN

Dipihak lain, kebanyakan tradisi menunjukkan materi sama seperti yg lain,

menunjukkan daur ulang data yg sama selama berabad-abad TANPA

MENUNJUKAN ASAL MUASALNYA.

Contoh: Sejarah al-Tabari tentang kehidupan muhammad yg mirip dengan

Siratnya Ibn Hisham dan mirip dengan "Komentar tentang Qur'an-nya" yg

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 17 

juga tidak berbeda dengan koleksi Hadisnya Bukhari. Karena persamaan-

persamaan ini pada tanggal yang cukup terlambat (dari jaman Muhamad),

ini menunjukkan adanya satu sumber di abad ke 9, yg menjadi rujukan

mereka (Crone 1980:11). Apakah ini menunjukkan adanya "canon" materi

yg disetujui Ulama saat itu? Mungkin, kita tidak tahu pasti. Pertanyaannya

yaitu , apakah sumber-sumber primer eksis, dan kalau begitu bagaimana

kita mengenalinya dengan menggunakan sumber-sumber sekunder yg kita

miliki?

B6: PROLIFERASI

Seperti telah disebutkan sebelumnya, penyusunan Quran mulai timbul tidak

sebelum abad 8 (200-300 tahun setelah peristiwa yang bersangkutan). Tiba-

tiba mereka berkembang biak menjadi ratusan ribu. Mengapa? Siapa yg bisa

menjelaskan proliferasi ini?

Contoh, kematian 'Abdallah, ayah Muhamad. Para penyusun pertengahan

dan akhir abad 8 (Ibn Ishaq and Ma'mar) setuju bahwa Abdallah wafat dan

meninggalkan Muhamad sebagai anak yatim; tetapi detil kematiannya tidak

dicatat, ‘hanya auwloh yang tahu' (Cook 1983:63).

Namun 50 tahun kemudian, Waqidi, tidak hanya menulis tentang kapan

Abdallah wafat, tetapi bagaimana, dimana dan berapa umurnya dan bahkan

dimana persisnya penguburannya. Menurut Michael Cook, "evolusi dalam 50

tahun ini dari ketidakpastian kepada kepastian dan detil persis menunjukkan

sesuatu yg diketahui Waqidi sebagai bukan fakta" (Cook 1983:63-65). Ini

memang khas Waqidi. Ia selalu rajin memberi data-data persis, lokasi, nama,

semantara Ibn Ishaq tidak memiliki apa-apa (Crone 1987:224). "Tidak

heran," Crone mengatakan, bahwa para pakar begitu senang dengan Waqidi:

dimana lagi mereka bisa menemukan info-info mendetil tentang apapun yg

ingin mereka ketahui? Namun mengingat bahwa informasi ini tidak diketahui

di jaman sebelumnya, jaman Ibn Ishaq, kebenaran Waqidi sangat diragukan.

Dan jika informasi rawan yg tumbuh dalam hanya dua generasi antara Ibn

Ishaq dan Waqidi, tidak sulit untuk berkesimpulan bahwa lebih banyak lagi

informasi rawan yg terkumpul dalam tiga generasi antara muhammad

dengan Ibn Ishaq." (Crone 1987:224)

Para pakar Muslim sadar akan fenomena proliferasi ini dan alasan mereka

yaitu : agama Islam baru mulai menstabilisasi diri pada saat itu. Jadi

wajarlah kalau karya-karya tulisan tampil semakin banyak. Tulisan-tulisan

sebelumnya, kata mereka ,tidak lagi relevan bagi Islam baru dan akibatnya

harus dibuang ataupun hilang (Humphreys 1991:72).

Walau teori ini bisa dimengerti, mengapa kalau begitu tidak ada sedikitpun

dokumen yg disimpan dalam sebuah perpustakaan atau dalam koleksi

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 18 

seseorang? Ternyata tidak ada sedikitpun yg tersisa dari Quran-quran pada

jaman dini. Ini mencurigakan!

Yang lebih penting yaitu  teks Quran-nya Usman (resensi final) yg katanya

dikumpulkan oleh Zaid ibn Thabit tahun 646-650 AD. Menurut tradisi,

semua copy dan kodeks dibakar Kalif Usman tidak lama kemudian

dan ia hanya meninggalkan satu teks, yg dibuatkan kedalam 4 copy.

NAH, DIMANA KEEMPAT COPY ITU? Quran yg kita miliki sekarang tidak

lebih dini dari 690-750 AD. (Schimmel 1984:4) Jadi apakah para pakar

Muslim diatas itu bersedia mengakui bahwa keempat copy ini JUGA

DIBUANG karena mereka tidak lagi relevan bagi Islam baru?!

Di pertengahan abad ke 9, timbul kira-kira 600.000 hadith. Malah, menurut

tradisi, jumlah itu begitu banyaknya sampai kalif yg berkuasa meminta Al

Bukhari untuk mengoleksi pernyataan asli ‘nabi’ dari ke 600.000 ini !

JELAS, PADA SAAT ITUPUN SUDAH ADA KERAGUAN tentang KEBANYAKAN

HADIS.

Bukhari tidak pernah menyebutkan persyaratan bagi pilihannya, kecuali

pernyataan samar-samar tentang "tidak dapat dipercaya" atau "tidak cocok"

(Humphreys 1991:73). Pada akhirnya, ia hanya memilih 7397 hadis, atau

kira-kira hanya 1,2% dari hadis yg ada! Namun, menghitung ayat-ayat yg

diulang-ulang, net total yaitu  2762 dari ke 600.000 (A.K.C. 1993:12). Ini

berarti bahwa dari 600.000 hadis, 592.603 yaitu  PALSU dan harus dibuang.

Jadi 99% dari hadis yg ada, dianggap MENCURIGAKAN, RAWAN,

TIDAK JELAS!! ...Luar biasa!!

Dari mana asal ke 600.000 hadis ini kalau mereka dianggap mencurigakan?

Apakah mereka direkam dalam tulisan? Apakah ada bukti eksistensi mereka?

Tidak sedikitpun!! Fakta bahwa mereka tiba-tiba muncul pada periode itu

(abad ke 9, 250 tahun setelah peristiwa ybs), dan secepat itu pula mereka

ditolak atau diterima, dan tidak pada masa sebelumnya. Ini membenarkan

pernyataan Schacht bahwa para penyususn di abad 9 perlu mensahihkan

hukum-hukum dan tradisi dengan mencari-cari hubungan ke muhammad.

dalam ketergesa-gesaan mereka, mereka meminjam terlalu banyak yg

kemudian memaksakan Ulama untuk turun tangan dan meresmikan hadis yg

mereka anggap mendukung agenda mereka. Ini tetap mengundang

pertanyaan tentang bagaimana caranya (metode) mereka diputuskan

menjadi hadis yg otentik dan mana yg tidak.

B7: ISNAD

Inilah, kata pakar Muslim sebagai cara untuk menentukan mana hadis yg

sahih dan mana yg tidak, yaitu penyampaian secara lisan (oral transmission)

yg dalam bahasa Arab disebut Isnad. Ini, kata mereka yaitu  ilmu yg

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 19 

dipakai Bukhari, Tabari dan para penyusun abad ke 9 dan 10 untuk

mensahkan kompilasi mereka. untuk mengetahui siapa penulis asli hadis-

hadis itu, para penyusun memberikan sebuah daftar nama yg katanya, bisa

ditelusuri sampai jaman nabi sendiri.

Jad, untuk memberikan kredibilitas kepada hadis, sebuah daftar nama

disertakan pada setiap dokumen yg, katanya, menunjukkan dari siapa hadis

itu diturunkan. Jadi misalnya: Saya menerima ini dari Si A yg menerimanya

dari Si B yang menerimanya dari sahabat nabi.' (Rippin 1990:37-39)

Di Barat, transmisi secara lisan ini memang diragukan, tetapi di Arab, ini

cara untuk menyampaikan sejarah. Problemanya, transmisi secara lisan ini

dengan mudah bisa dimanipulasi karena tidak adanya formula tertulis atau

dokumentasi untuk membuktikannya. Jadi, ini mudah dimanipulasi menurut

agenda sang orator.

Petanyaan selanjutnya yaitu , dari mana kita tahu bahwa nama-nama ini

otentik? Apakah orang yg menyampaikan Isnad itu memang mengatakan hal

yg memang benar?

Dalam tradisi Arab, semakin panjang daftar Isnad, semakin besar

kredibilitasnya. Sama seperti kita sekarang mengutip nama-nama orang

untuk memback-up pernyataan kita. Bedanya, para penyusun abad ke 9

TIDAK memiliki dokumen untuk membuktikannya. Orang-orang yg disebut

dalam Isnad sudah lama mati dan tidak dapat membuktikan apa yg

dikatakannya.

Anehnya, "semakin kebelakang, isnad semakin tumbuh.' Dalam beberapa

teks, sebuah pernyataan diatribusikan kepada seorang kalif Umayyad,

misalnya. Namun di tempat lain, pernyataan yg sama ditemukan dalam

bentuk hadis yg isnad lengkap sampai ke Muhamad atau sahabatnya."

(Rippin 1990:3)

Lebih-lebih lagi, ilmu Isnad hanya dimulai pada abad ke 10, jauh setelah

Isnad-isnad itu seharusnya disusun (Humphreys 1991:81). Karena ini ilmu

yg sangat tidak jelas kepastiannya, sejarawan memakai teori mudah:

semakin panjang daftarnya, semakin mencurigakan otentisitasnya.' Kita

tidak akan pernah tahu apakah nama-nama dalam isnad memang memberi

informasi yang sama, atau memang benar-benar memberikan info.

B8: STORYTELLING

Possibly the greatest argument against the use of Muslim Tradition as a

source is the problem of transmission. To better understand the argument

we need to delve into the hundaried or so years prior to Ibn Ishaq (765A.D.),

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 20 

and after the death of Muhammad in (632 A.D.), since, "the Muslim 'rabbis'

to whom we owe [Muhammad's] biography were not the original memory

banks of the Prophet's tradition." (Crone 1980:5)

According to Patricia Crone, a Danish researcher in this field of source

criticism, we know little about the original material, as the traditions have

been reshaped by a progression of storytellers over a period of a century

and a half (Crone 1980:3). these storytellers were called Kussas. It is

believed that they compiled their stories using the model of the Biblical

legends which were quite popular in and around the Byzantine world at that

time, as well as stories of Iranian origin. From their stories there grew up a

literature which belonged to the historical novel rather than to history (Levi

Della Vida 1934:441).

Within these stories were examples of material which were transmitted by

oral tradition for generations before they were written down. they were of

two kinds: Mutawatir (material handed down successively) and Mashhur

(material which was well-known or widely known) (Welch 1991:361).

Patricia Crone, in her book: Meccan Trade and the Rise of Islam, maintains

that most of what the later compilers received came from these story-tellers

(Kussas) who were traditionally the real repositories of history: ...it was the

storytellers who created the [Muslim] tradition. the sound historical tradition

to which they are supposed to have added their fables simply did not exist.

It is because the storytellers played such a crucial role in the formation of

the tradition that there is so little historicity to it. As storyteller followed

upon storyteller, the recollection of the past was reduced to a common stock

of stories, themes, and motifs that could be combined and recombined in a

profusion of apparently factual accounts. Each combination and

recombination would generate new details, and as spurious information

accumulated, genuine information would be lost. In the absence of an

alternative tradition, early scholars were forced to rely on the tales of

storytellers, as did Ibn Ishaq, Waqidi, and other historians. It is because

they relied on the same repertoire of tales that they all said such similar

things. (Crone 1987:225).

Because the earliest written accounts of Muhammad's life were not written

until the late Umayyid period (around 750 A.D.), "the religious tradition of

Islam," Crone believes, "is thus a monument to the destruction rather than

the preservation of the past," (Crone 1980:7) and "it is [this] tradition where

information means nothning and leads nowhere." (Crone 1980:12) therefore,

it stands to reason that Muslim Tradition is simply not trustworthny as it has

had too much development during the course of its transmission from one

generation to the next. In fact, we might as well repeat what we have

already stated: the traditions are relevant only when they speak on the

period in which they were written, and nothing more.

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 21 

there are so many difficulties in the traditions: the late dates for the earliest

manuscripts, the loss of credibility due to a later agenda, and the

contradictions which are evident when one reads them, as well as the

proliferation due to aggressive redaction by the storytellers, and the inexact

science of Isnad used for corroboration. Is it any wonder that historians,

while obliged to refer to the material presented by Muslim Tradition (because

of its size and scope), prefer to find alternative explanations to the

traditionally accepted ideas and theories, while looking elsewhere for further

source material? Having referred earlier to the Qur'an, it makes sense,

therefore, to return to it, as there are many Muslim scholars who claim that

it is the Qur'an itself which affords us the best source for its own authority,

and not the traditions.

ali5196 (Translator)

TRANSLATION DEDICATED TO NAMASAMARAN

Sumber 01 - Sumber 02 - Sumber 03

See also: Bukti historis terbentuknya Quran.

Lihat juga; Sejarah Quran, 4 artikel

twitter: @islamexpose

email: namasamaran@riseup.net 22