Pemahaman mengenai Allah Tritunggal menuai banyak pertanyaan dari
pelbagai pihak dan agama. Hal ini tak hanya terjadi sejak zaman dulu ketika
para Bapa Gereja merumuskannya, namun juga masih menimbulkan
pertanyaan hingga zaman sekarang. Dalam Kitab Suci pun tidak pernah kita
jumpai mengenai kata Allah Tritunggal atau pun penjelasan mengenai Allah
Tritunggal. Perdebatan tentang Allah Tritunggal memang telah terjadi sejak
era para Bapa Gereja. Pertanyaan demi pertanyaan tak pernah lepas untuk
membuktikan serta menjelaskan mengenai Allah Tritunggal. Bagaimanakah
memahami Allah dengan tiga bentuk yang berbeda? Pertanyaan demi
pertanyaan serta perdebatan mengenai Allah Tritunggal seakan tiada habisnya.
Pembuktian dan pembelaan mengenai hakikat satu Allah dengan tiga pribadi
selalu menuai serangan dari para bidaah dan dari mereka yang tidak percaya
serta tidak mengimaninya.
Pergumulan mengenai Allah Tritunggal tidaklah terjadi hanya di zaman
ini namun sejak zaman Gereja awal. Pada masa itu, hal ini yang
dibuktikan dengan adanya serangan ajaran dari Monarkhianisme yang
menekankan hanya pada kesatuan Allah semata yakni dengan menggunakan
konsep monarkhi atau pemerintahan dengan satu Allah. Hal ini tentu saja
menyangkal konsep “satu kodrat Allah” dengan “tiga pribadi” dalam realitas
Allah Tritunggal.
Adalah Tertullianus, seorang Bapa Gereja awal dari Afrika, yang
memberikan banyak pembelaan serta perlawanan terhadap ajaran bidaah yang
bertentang dengan ajaran kristiani. Selain membela iman, Tertullianus pulalah
yang memberikan nama Trinitas bagi Allah Tritunggal yakni satu kodrat
Allah dengan tiga pribadi. Lantas, bagaimanakah Tertullianus merumuskan
konsep mengenai Allah Tritunggal atau Trinitas ini ?
Dalam karya tulis ini, penulis ingin mendalami perihal konsep Trinitas
yang telah digaungkan oleh Tertullianus. Dalam pendalaman konsep ini
penulis menggunakan buku Tertullianus yang berjudul Against Praxeas.
Sebab dalam buku ini lah Tertullianus membela iman kristiani dengan
menggaungkan Trinitas dan membela iman kristiani akan Allah Tritunggal
melawan Praxeas yang bertentangan dengan ajaran Gereja.
Tertullianus merupakan seorang apologetik yang berasal dari Afrika,
lebih tepatnya yakni berasal dari Karthago. Karthago merupakan sebuah kota
di Afrika yang nantinya terkenal sebab munculnya St. Agustinus yang
menjadi Uskup di sana. Tertullianus memiliki nama lengkap yakni Quintus
Septimus Florens Tertullianus. Ia merupakan seorang yang dilahirkan dari
keluarga bukan pemeluk Kristiani. Kelahirannya diperkirakan pada sekitar
tahun 160 M. Dalam keluarganya Tertullianus mendapatkan pendidikan yang
mumpuni dan bermutu yakni pendidikan berkenaan dengan retorika, filsafat,
hukum, dan sejarah.1
Tertullianus lahir dari keluarga yang cukup mapan, sebab ayahnya
bekerja sebagai seorang Perwira Prokonsuler yang ada di daerah Afrika. Ayah
dan ibunya merupakan pengikut paganisme. 2 Selain itu pula, Tertullianus
dikenal sebagai seorang yang memiliki watak keras, pendirian yang kukuh,
serta individualis. 3 Tertullianus merupakan seorang apologet tersohor di
daerah Afrika. Dalam karya-karya serta pemikirannya, ia berupaya untuk
menunjukkan dua tujuan pokok. Pertama yakni, Tertullianus berupaya untuk
membuktikan salahnya tuduhan berat dari pihak orang-orang kafir terhadap
agama baru yakni Kristen. Kedua yakni, tujuan yang paling positif dan
misioner yaitu menyebarluaskan pesan Injil melalui dialog dengan
kebudayaan zaman itu.4
Tertullianus merupakan seorang ahli hukum terkemuka yang mengetahui
bahasa Yunani dan bahasa Latin. Ia mahir dalam berbahasa Latin sebab telah
lama bekerja di Roma, padahal ia sendiri berasal dari Afrika. Oleh sebab
itulah, ia menulis seluruh karyanya menggunakan bahasa Latin.5 Ia terkenal
sebagai seorang yang genius dan pujangga Gereja terbesar di Barat sebelum
hadirnya St. Agustinus. Pada masa itu ketika orang-orang Kristen dengan latar
belakang Yunani masih berdebat perihal keilahian Kristus serta hubungan-
Nya dengan Allah Bapa, Tertullianus sudah berupaya untuk menyatukan
kepercayaan itu serta menjelaskan posisi ortodoksnya. Oleh sebab pemikiran
inilah ia merumuskan doktrin Trinitas yang pertama kali ia cetuskan yakni una
substantia tres personae atau satu substansi tiga hakikat pribadi.6
Namun pada akhirnya sebab sifat keras kepala yang dimilikinya yakni
seorang tradisionalis – konservatif, Tertullianus akhirnya keluar dari
persekutuan Gereja Katolik namun tetap beriman pada Kristus. Akhirnya ia
mengikuti mazhab Montanus yang berjuang sangat keras untuk memulihkan
keadaan iman umat kristiani seperti pada awalnya yakni karismatik.7 Seiring
berjalannya waktu, ia akhirnya mendirikan sekte sendiri berdasarkan dari
pemikirannya ini . 8 Berkat upaya serta usaha yang dilakukan oleh St.
Agustinus, ajaran-ajaran Tertullianus yang masih terhubung dengan iman
Kristiani dapat didamaikan dengan Gereja dan masih relevan untuk dipelajari
hingga saat ini.9
III. PERSOALAN TEOLOGIS SEMASA TERTULLIANUS
Persoalan teologis yang terjadi pada masa Tertullianus berkarya yakni
perihal Kristologi dalam Logos. Persoalan ini juga dihadapi pula oleh Ireneus.
Dalam pemahaman mengenai Kristologi ini Ireneus lebih memandang segi
kemanusiaan dari Yesus yakni Firman menjadi Manusia, sedangkan
Tertullianus sendiri lebih memandang segi keilahian dari Yesus Kristus.
Penekanan dari Tertullianus mengenai tema keilahian Yesus Kristus tentu
berdasarkan sebuah alasan. Alasan yang menengarai pilihan Tertullianus
untuk melihat dan mendalami keilahian Yesus Kristus ialah sebab ada
perkembangan baru dalam pemikiran umat Kristiani mengenai Yesus Kristus
sendiri. Keilahian Yesus Kristus telah digeser oleh pemahaman dari segi
kemanusiaan Yesus Kristus. Alhasil, ciri kemanusiaan Yesus Kristus lebih
dipentingkan dan terjadi ketidakseimbangan pemahaman antara keilahian dan
kemanusiaan Yesus Kristus.
Selain itu pula, ada alasan lainnya yakni adanya kemunduran Gnosis.
Dengan kata lain muncul pemahaman mengenai Yesus Kristus menjadi tokoh
mitologis belaka. Selain itu pula, perkembangan doketisme juga kian
bertumbuh semakin pesat. Dalam ketiga Injil Sinoptik dan dalam karangan-
karangan Paulus sangatlah tidak mudah disesuaikan dengan Gnosis dan
doketisme. ada sebuah kesulitan yang terjadi yakni oleh sebab
penyesuaian ini yang disebabkan oleh pandangan bahwa Yesus Kristus
secara jelas merupakan seorang tokoh historis dan manusiawi. Persoalan
pokok yang dialami oleh Tertullianus yakni berkaitan dengan transenden dan
keilahian Yesus Kristus sendiri.11
Dalam hal lainnya persoalan yang dihadapi oleh Tertullianus bukan lagi
mengenai Yesus Kristus yang menjadi Seorang Juru Selamat umat manusia
seperti halnya Ireneus dari Lyon, melainkan tentang bagaimana Yesus Kristus
merupakan keilahian itu sendiri, tentang bagaimana keilahian Firman Allah
dan Anak Allah dalam keberadaan-Nya. Penekanan yang lebih dicondongkan
oleh Tertullianus yakni berkaitan dengan kelihaian Yesus Kristus dalam pra-
eksistensi-Nya termasuk mengenai hubungan Firman Allah dan Anak Allah
dengan keallahan.
Tertullianus sering sekali dikenal sebagai tokoh Bapa Gereja yang
mencetuskan pertama kali nama Trinitas untuk Allah Tritunggal yang
menunjukkan Allah dalam ketiga pribadi ilahi yakni Allah Bapa, Allah Putra,
dan Allah Roh Kudus. Ajaran dari Tertullianus memiliki keserupaan dengan
ajaran Irenenus dari Lyon. Ajarannya yakni berkaitan dengan pribadi Allah
yang mempunyai Sabda dan Roh yang beserta dengan-Nya. Pengajaran serta
karya dari Tertullianus berkaitan dengan ajaran Trinitas sangatlah penting
hingga kini. Tertullianus terus menggali pemahaman-pemahaman yang tepat
berkaitan Trinitas dengan caranya untuk dapat mengungkapkan dengan baik
tentang keesaan dari Allah maupun ketiga pribadi. Tertullianus memiliki
gagasan bahwa Allah memiliki satu hakikat/kodrat dengan tiga pribadi.
Namun adanya tiga pribadi ini bukan berarti Allah lebih dari satu. Ketiga
pribadi ini sangatlah penting guna sejarah keselamatan dan untuk
oikonomia ilahi sehingga ada diferensiasi triganda dari keesaan Allah.13
Tertullianus juga memberikan dua istilah dari bahasa latin seperti
substantia dan persona. Menurut Tertullianus, substantia yakni sebuah
kepemilikan yang berasal dari konsep Ireneus berkenaan dengan esensi.
Substantia menurut Tertullianus mencoba menjelaskan bahwa Bapa, Putra,
dan Roh Kudus merupakan satu substantia. Substantia dari Trinitas
merupakan sebuah keilahian pada diri-Nya sendiri. Persona menurut
Tertullianus yakni entitas individual. Persona merujuk pada ketiga manifestasi
atau persona dalam Trinitas (Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Kata persona
merupakan istilah untuk dapat membedakan antara Bapa, Putra, dan Roh
Kudus untuk dapat memelihara kesatuan dari Tuhan. Oleh sebab itulah, Tuhan
bereksistensi sebagai satu substansi/kodrat keilahian dalam tiga persona
keilahian. Term dari substantia mendeskripsikan kesatuan dari Tuhan dan
term persona mendeskripsikan mengenai fakta bahwa Tuhan memiliki tiga
relasi untuk menyediakan sebuah penjelasan dari perbedaan antara Bapa,
Putra, dan Roh Kudus.14
Pemikiran dan perumusan Allah Tritunggal atau Trinitas dari Tertullianus
yang termaktub dalam buku Againts Praxeas ini tentu tak lepas dari latar
belakang serta situasi yang terjadi pada zamannya. Buku Againts Praxeas
memiliki 31 pasal. Pada pasal II sampai XIII memuat pasal-pasal yang
mencakup prinsip dasar pembangunan doktrin Allah Tritunggal atau Trinitas.
Dalam buku ini Tertullianus memberikan pembelaan iman akan iman
kristiani secara khusus dan perumusan mengenai Trinitas. Pada zamannya
berkembang Monarkhianisme yang menekankan hanya ada satu Allah dalam
kesatuannya saja dan menyangkal adanya konsep Allah Tritunggal. Ajaran
Monarkhianisme menggagas bahwa Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh
Kudus merupakan satu Pribadi yang sama dan Tunggal.
Tertullianus berjuang mempertahankan pandangan mengenai Trinitas
ini dengan melawan Praxeas yang memegang peranan penting dalam
aliran Monarkhianisme Dinamis atau Sabellianisme. Dengan ajarannya
ini Praxeas telah melakukan dua aspek tindakan yang bertentangan
dengan ajaran Gereja yang berujung pada ajaran sesat yakni pertama Praxeas
mengesampingkan nubuat dan membawa masuk pada ajaran sesat di Roma
dan kedua Praxeas menyingkirkan Parakletos dan ia telah menyalibkan Bapa.
Menurut pandangan dari Tertullianus ajaran dari Praxeas mencoba
mempertahankan doktrin mengenai keesaan dari Allah, namun sejatinya di
balik hal ini ada ajaran sesat yang berasal dari iblis dan bukan dari
Allah.15
Menurut pandangan dari Tertullianus, ketiga pribadi dari Allah ini
berbeda – “bukan dalam kondisi melainkan dalam derajat, bukan dalam
hakikat melainkan dalam bentuk, bukan dalam kuasa melainkan dalam
rupa”.16 Tertullianus juga menekankan adanya relasi penting antara Allah
Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Hal ini diungkapkannya dalam pasal II
dan III mengenai relasi Trinitas dan Unitas yang mengungkapkan bahwa
ketiganya menyatu di dalam satu substansi, namun kesatuan substansi Allah
ini terdistribusi dalam Tiga Pribadi. Ketiga Pribadi ini menyatu dalam satu
substansi, kondisi, kuasa, dan kekuasaan hingga sampailah pada Satu Allah
yakni Unitas terhadap Trinitas.17
Tertullianus juga menekan mengenai Trinitas dalam Unitas yang
menggagas bahwa Ketiga Pribadi Allah, tidak berarti Tiga Allah yang
berbeda, melainkan Satu Allah dalam Tiga Pribadi (Persona). Hal ini
dituliskannya dalam pasal III yang menjelaskan bahwa Allah harus diterima
dalam ekonomi-Nya atau pengaturan di dalam diri-Nya sendiri. Tertullianus
menyebutkan bahwa Allah sebagai Pribadi Pertama, Yesus sebagai Pribadi
Kedua, dan Roh Kudus sebagai Pribadi Ketiga. Tertullianus menyebut Yesus
Kristus sebagai Pribadi Kedua sekaligus sebagai Anak. Hal ini berarti Anak
berasal dari substansi Allah Bapa. Anak akan mewakili Allah Bapa dengan
melakukan kehendak Allah Bapa dan menerima semua kekuasaan dari Bapa.
Roh Kudus sebagai Pribadi Ketiga keluar dari Bapa melalui Anak. Oleh sebab
itulah, Anak dapat menerima kekuasaan yang berasal dari Bapa oleh sebab
pemberian Bapa dan harus mengembalikan seluruhnya kepada Bapa.18
Valentinus memberikan gagasannya bahwa relasi Bapa dan Putra seperti
AEON yang terpisah. Jadi antara Bapa dan Putra terpisah sebagai dua
substansi. Valentinus membagi dan memisahkan kedudukan serta relasi antara
Bapa dan Putera serta mengambil jarak dari-Nya. Berkenaan dengan hal
ini Tertullianus memberikan perlawanan dengan gagasan bahwa antara
Bapa dan Putera merupakan satu kesatuan dengan mengutip Injil Yohanes
“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30). Tertullianus melukiskan relasi
Trinitas antara Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus dalam analogi
antara matahari dengan sinar matahari serta sumber air dengan sungai yang
mengalir. Hal ini ia upayakan untuk menjelaskan perbedaan keduanya namun
saling terkait yang bukan hanya dua namun tiga yakni berkaitan dengan Roh
Kudus. Sebab firman tak pernah terpisah dari Allah.19 Dalam pembahasan
Trinitas di pasal XIII Tertullianus kembali membela ajaran Trinitas dengan
pandangan bahwa Allah Trinitas bukanlah konsep allah politeisme seperti
yang telah dituduhkan oleh Monarkhianisme Dinamis atau Sabellisme.
Tertullianus membela keesaan Allah Tritunggal dengan memandang
penggunaan dari kata “Tuhan” yang dipakai bersama untuk Allah.
Tertullianus merupakan Bapa Gereja yang sangatlah penting bagi Gereja
Kristen awal. Pemikiran serta pembelaannya terhadap ajaran iman kristiani
berperan penting bagi keutuhan serta ketahanan iman kristiani yang bertahan
hingga saat ini. Pemikiran serta gagasannya berkenaan dengan konsep Trinitas
telah menggaung sekian ratus tahun jalannya yang menjadi fondasi bagi ajaran
Allah Tritunggal hingga saat ini. Hal ini membuktikan bahwasanya ajaran dan
karya dari Tertullianus berpengaruh bagi perkembangan dan penguatan iman
kristiani. Sebagaimana dalam pergulatan hidup dan iman ajarannya,
Tertullianus memberikan penekanan yang sangatlah kuat mengenai penjelasan
akan Yesus Kristus. Yesus Kristus sebagai Pribadi Kedua dari Trinitas atau
Allah Tritunggal menjadi fokus ajaran iman dan pendalaman imannya. Oleh
sebab itulah, Tertullianus berjasa besar bagi Gereja. Sebab doktrin ajaran
Trinitas yang diutarakannya memiliki kesamaan rumusan dengan Kredo Nikea
Konstantinopel yang baru disusun seratus tahun berselang.
Joas Adyprasetya merupakan seorang Teolog Indonesia yang berfokus
pada Teologi agama-agama. Adyprasetya yang lahir di Madiun, 8 januari 1970
merupakan seorang Pendeta aktif di Gereja Kristen Indonesia Jemaat Pondok
Indah, Jakarta. Adiprasetya juga aktif sebagai dosen tetap dan pernah menjadi
ketua di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta. Fokus Adiprasetya
meliputi Trinitas, Teologi agama-agama, eklesiologi, Teologi Konstruktif-
sistematika, dan liturgi. Disertasinya yang kemudian dipublikasikan dalam
bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, An Imaginative Glimpse: The Trinity
and Multiple religious Participations menjadi acuan utama penulis ketika
menyusun kerangka teori dari penelitan ini.9
2.1.2 Relasi antar Agama menurut Joas Adyprasetya
Melalui buku, Mencari Dasar Bersama, Adiprasetyna memperlihatkan
permasalahan yang terjadi di Indonesia terkati agama-agama. Ia mencatat
setidaknya ada empat permasalahan, yaitu:
a. Adiprasetya melihat adanya kegagalan dalam perjumpaan antar-
iman. Hal tersebut disebabkan oleh dialog yang terjebak pada
dogmatis-doktriner yang bersifat arogan. Adiprasetya melihat
pendekatan baik pendekatan Eklesiosentris, Teosentris, atau
Kristosentris nampaknya masih berputar pada sikap yang kurang
baik. Menurutnya, keberadaan iman harus didekati melalui sudut
etika atau etikosentrisme. Hal ini pun akan memberikan cara berfikir
baru dalam mengahadapi persoalan dialog antar-iman.
b. Adiprasetya juga melihat bahwa perjumpaan antar-iman hanya
menjadi diskursus di berbagai kalangan elit yang membuat
kehidupan umat beriman terlepas dari kehidupan iman lain yang
berada di sekitarnya.
c. Adiprasetya melihat permasalah yang ada di Indonesia secara khusus
bahwa perjumpaan antar-iman semata-mata hanya menjadi proyek
yang menguntungkan pihak tertentu. Salah satu contoh yang
dirujuknya yaitu dalam dialog antar-iman nampaknya menjadi
kepentingan bagi para kaum politik. Maksudnya, dialog tidak
sungguh-sungguh mencari akar bersama, melainkan terjebak pada
kepentingan tertentu.
d. Terakhir, Adiprasetya mencatat bahwa sumber konflik sosial yang
terjadi di Indonesia membuktikan bahwa dialog antar iman tidak
berdampak pada kebaikan bersama.10
Lebih jauh, Adiprasetya mengatakan bahwa ada dua tawaran kerangka
berpikir untuk menjadi dasar dalam menghadirkan dialog etika, yaitu kerangka
filosofis dan kerangka Teologis. Kerangka filosofis berfokus pada universitas
dan fondasionalisme (dasar untuk membangun pengetahuan). Kerangka ini
banyak dipakai oleh para filsuf yang bertujuan agar ada pendekatan global
yang bersifat universal. Kerangka Teologis berfokus pada pendekatan global
dengan menggunakan perjumpaan antar-iman. Dalam kerangka ini hadir
pendekatan baru yaitu etikosentrisme. Adiprasetya melihat pendekatan baru
ini banyak memberikan perubahan khususnya dalam menghadirkan
pendekatan baru selain ekslusivisme, inklusivisme dan pluralisme. Bagi,
Adiprasetya pertanyaan yang terus menggangu terkait pendekatan tersebut
dalam relasi antar-iman yaitu sudah relevankah ketiganya atau masih
dibutuhkankah pendekatan lain?
2.2 Trinitas
Joas Adiprasetya di dalam An Imaginative Glimpse menolak untuk terjebak
dalam polarisasi ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Ia lalu mencari jalan
lain dan menemukannya dalam doktrin Trinitas. Menurutnya, dalam sejarah
Kekristenan tersedia pintu dan jalan untuk mendapatkan keselamatan, yaitu
melalui Trinitas. Dengan pendekatan Trinitas, Adiprasetya menolak monoteisasi
yang mengedepankan kesamaan lalu mengabaikan keunikan Kekristenan. Salah
satu contoh yang dikemukakan Adiprasetya yaitu dialog antara umat Kristen
dan Islam ketika berbicara masalah Allah cenderung menempuh jalan aman
dengan tujuan menghindari perdebatan dan perpecahan. Dialog ini tiba pada
kesimpulan bahwa Kristen dan Islam mempunyai kesamaan yaitu percaya satu
Allah. Hal ini memperlihatkan bahwa keyakinan terhadap Allah Trinitas
dihilangkan padahal identitas Kekristenan ada pada Trinitas itu sendiri. Ketiga,
hilangnya imajinasi dan kentalnya dogmatisme dalam dialog agama-agama. Hal
ini muncul sebagai akibat dari relasi dengan agama-agama lain. Umumnya, umat
Kristen langsung mengedepankan pendekatan dogmatis yaitu mengatakan bahwa
Yesus satu-satunya jalan keselamatan dan tidak ada keselamatan lain selain
Kristus.
Adiprasetya memahami Trinitas melalui sembilan (9) Prinsip yaitu:
a. Misteri
Umat Kristen seharusnya menghargai bahwa Allah Trinitas yaitu
Sang misteri yang melampaui seluruh ciptaan. Ia menyatakan dirinya
melalui Sang Anak. Artinya, semua ciptaan tidak akan bisa menjangkau
Dia sepenuhnya.
b. Doksologis
Manusia bisa sampai pada sebuah keyakinan bahwa doktrin yaitu
perumusan dari umat percaya kepada Allah Yang menyapa melalui
Yesus dengan pertolongan Roh Kudus.
c. Keesaan
Trinitas menggagas Keesaan Allah. Maksudnya, Allah bukanlah
tiga melainkan Esa atau Satu. Salah satu contoh yang dikemukakan oleh
Adiprasetya sebagai sesuatu yang keliru yaitu kadang tanpa disadari
muncul pemahaman Politeis yang juga diartikan sebagai Triteisme yaitu
dengan mengatakan kepercayaan kepada Allah Bapa, Allah Anak, dan
Allah Roh Kudus. Di sini, kata Allah disebut tiga kali dan
mengandaikan adanya tiga Allah.
d. Kesetaraaan
Kesetaraan yang dimaksud di sini berbicara tentang hakikat Ketiga
Pribadi Ilahi. Ketiganya ada dalam satu hakikat yang setara, tidak
hirarki.
e. Persekutuan Relasional
Allah yang kita kenal dan kita percaya yaitu Allah persekutuan
yang saling berelasi secara sempurna. Sang Bapa di dalam Anak dan
Roh , Sang Anak di dalam Bapa dan Roh, dan Roh di dalam Sang Bapa
dan Anak. Relasi tersebut yaitu relasi persekutuan yang sempurna
(Perikoresis).
f. Distingsi
Adiprasetya menganggab bahwa ketiga Pribadi itu berbeda.
Berbeda yang dimaksud di sini bukanlah keterpisahan.
g. Kesatuan Ekonomik
Ketiga Pribadi bersama-sama mengarahkan cinta kasih-Nya keluar
kepada ciptaan dan berkarya secara Ekonomik. Jadi bisa dikatakan
bahwa Sang Bapa mencipta bersama Anak dan Roh Kudus, dan Sang
Anak menyelamatkan bersama Bapa dan Roh Kudus, dan Roh Kudus
menyempurnakan Bersama Sang Bapa dan Anak.
h. Partisipasi
Adiprasetya mengatakan bahwa doktrin Trinitas sangat partisipatif.
Ciptaan dimungkinkan mengambil bagian dalam persekutuan Allah
Trinitas.
i. Kesatuan Hipostatik
Prinsip ini tidaklah khusus bagi Trinitas, namun ini dkhususkan
bagi Kristologi. Dua hakikat yaitu Allah sepenuhnya dan Manusia
sepenuhnya melekat pada diri Kristus.
Kehadiran “yang lain” dalam persekutuan Allah Trinitas
Buku An Imaginatif Glimpse yang ditulis oleh Adiprasetya berusaha
merangkum pemikiran dari tiga tokoh yakni Raimunda Panikkar, Gavin
D’Costa, dan S. Mark Heim. Menurut Adiprasetya, ketiganya mempunyai
kesamaan yaitu mereka mengkritik Pluralisme dengan mengusulkan pasca-
Pluralisme yang nantinya akan melampaui Pluralisme. Mereka juga
mempunyai Perspektivisme yang berakar pada tradisi Kekristenan yang
berada dalam Allah Trinitas. Melaluinya, mereka terbuka terhadap agama lain
dengan keramahan, sehingga agama-agama lain termasuk Kekristenan yang
menjadi agama mereka diberi ruang di dalam Allah trinitas, tanpa mengubah
identitas dan tradisi agama-agama lain.13 Singkatnya, Adiprasetya melihat
bahwa ketiga tokoh tersebut meradikalkan Pluralisme, meradikalkan
Eksklusivisme , dan meradikalkan Inklusivisme.
Adiprasetya menggabungkan ketiga hal tersebut dengan memakai
doktrin Trinitas yang disebut Perikoresis yang berasal dari bapa Gereja.
Perikoresis di ambil dari dua bahasa Yunani yaitu "Peri" (περί) yang artinya
“disekitar" atau “keliling”, dan "Choresis" (χώρησις) yang berasal dari kata
"chora" (χώρα) yang berarti "ruang", "tempat." dan ‘berputar”. yang secara
harfiah dapat diartikan sebagai "gerak memutar" atau "perpindahan di sekitar."
Dalam konteks teologis, ini menggambarkan hubungan dinamis dan interaktif
antara pribadi-pribadi dalam Tritunggal, menciptakan kesatuan yang
harmonis14. Menurut Thomas F. Torrance Perikoresis artinya keberdiaman
yang sepenuh-penuhnya muncul saling berdiam di mana setiap pribadi
Bapa,Anak dan Roh Kudus berada dalam dua Pribadi yang lain.
Adiprasetya mencatat bahwa Perikoresis tidak akan bisa dipahami jika
tidak ada khora atau ruang kosong di dalam Allah. Adiprasetya berangkat dari
pemikiran Moltman yang mengatakan bahwa itu akan menjadi sebuah ruang
bagi ciptaan yang akan menjadi tujuan akhir dari agama-agama. Inkarnasi
yang dilakukan Allah dalam diri Yesus Kristus menjadi tempat pengosongan
diri Allah untuk mencapai kepenuhan dan kesempurnaan. Artinya inkarnasi
Anak dapat dijadikan sebagai refleksi keterbukaan dari Trinitas kepada dunia.
melaluinya seluruh dunia bisa eksis di dalam Allah dan Allah di dalam dunia,
Namun, perlu dicatat bahwa Yesus Kristus tidak dapat disetarakan dengan
dunia.
2.2.3 menimbang kehadiran “yang lain” dalam persekutuan Allah
Trinitas
Dalam Tradisi Kristen ada tiga bentuk Perikoresis antara lain :
A. Perichooresis Hakikat
Perikoresis Hakikat dipakai oleh bapa Gereja yang bernama
gregorius Nazaiansus. Perchoresis Hakikat dulunya tidak dipakai untuk
Trinitas namun hanya dipakai untuk Kristus yang hadir untuk menjelaskan
dua hakikat Kristus yaitu Ilahi dan Manusiawi yang saling memasuki
secara sempurna sehingga dua hakikat Kristus tidak terpisah, tidak terbagi
dan tidak berubah Lawler berpendapat bahwa dua hakikat Kristus bisa
bersatu tanpa bercampur. Dengan menggunakan sebuah gambaran melalui
aksi Perikoresis yaitu memperlihatkan sebuah perkembangan yang lebih
jelas apalagi jika dibandingkan dengan cara teolog-teolog sebelumnya,
Lawler memperlihatkan bahwa hakikat kemanusiaan Yesus lebih
memainkan sebuah peran yang lebih di dalam perikhoresis. Hal ini
membuat hakikat kemanusiaan Kristus berada dalam posisi yang pasif.
Oleh sebab itu, Maximus mengatakan “keseluruhan kekuatan dari
kemanusiaan Kristus, dengan segala keterbukaan kepada penderitaan tidak
terhalang oleh persatuan itu.” Peran dari hakikat kemanusiaan Yesus tidak
pernah menghilangkan identitas utama Kristus dari hakikat keilahian.
Pseudo-Cyrilus juga berpendapat bahwa kedua hakikat tidak bisa
berubah menjadi satu yang tetap, namun disatukan secara Hipostatik dengan
menerima sebuah ‘’penetrasi” (tidak berasal dari daging melainkan dari
keilahian) yang tidak tercampur dan tidak berubah. Penetrasi ganda yaitu
keilahian dan kemanusiaan Kristus tidak juga muncul secara bersama,
melainkan hadir melalui relasi kausalitas. Hal tersebut bermula ketika
keilahian yang merasuk melalui daging lalu diikuti oleh daging yang telah
dirasuk oleh keilahian. Artinya, hakikat Ilahi merasuk kepada hakikat
manusawi. Selanjutnya, hakikat manusia yang telah dirasuki oleh Ilahi
disebut sebagai humanisasi atau inkarnasi.18
Yohanes damaskus seorang Teolog tahun 676-749 juga
memperkenalkan sebuah perkembangan yang baru mengenai relasi antara
perikhoresis hakikat dan perikhoresis Pribadi. Yohanes membalik sebuah
pemikiran dari Teolog-Teolog sebelumnya yang mengatakan bahwa
Perikhoresis pertama yaitu Kristus kemudian baru Trinitas.19 Hal ini pun
berdampak kepada melemahnya ciri dinamis dari perikoresis hakikat.
Namun pada kesempatan yang lain Yohanes juga berbicara tentang dua
hakikat Kristus yang saling merasuk ke dalam dengan yang lainnya. Hal
inipun mempertahankan keseimbangan antara proses yang mutual dan
yang asimetris. Singkatnya, Yohanes ingin mengatakan bahwa hakikat
Ilahi melingkupi segala sesuatu dan meresapinya dengan sebebas-
bebasnya.20
B. Perikoresis Pribadi
Jenis ini di adopsi dari Perchoresis Hakikat yang diterapkan kepada
tiga Pribadi yang dikenal sebagai Trinitas dengan bahasa yang sama
bahwa ketiga-tiganya berada dalam satu dengan yang lain dengan begitu
erat sehingga tidak dapat dipisahkan.21 Perikoresis pribadi awalnya
diterapkan oleh Pseudo-Cyrilus yang mempunyai tujuan untuk melawan
tuduhan triteisme yang mengarah kepada konsep Kristen tentang Trinitas,
Tujuannya agar Trinitas mempunyai kesetaraan di dalam esensi dan juga
antara perbedaan-perbedaan dalam relasi terkait asal mereka.22 Ketiga
Pribadi ini berdiam satu dengan yang lainnya. Yohanes mengatakan dalam
De Fide orthodoxa, “Anak ada di dalam Bapa dan Roh Kudus; Roh Kudus
di dalam Bapa dan Anak: dan Bapa di dalam Anak dan Roh Kudus, namun
tidak ada peleburan atau percampuran atau pembauran, dan hanya ada
gerak yang satu dan sama”.
Adiprasetya menyimpulkan pemikiran di atas melalui penjelasan
Prestige yaitu “Perikoresis ‘kepada’ satu dengan lainnya bahwa tiga
pribadi yaitu sama atau setara dan Perkoresis ‘di dalam’ satu dengan
yang lainnya mengimplikasikan bahwa mereka berbatasan dan sekaligus
saling merenggang.”
C. Perikoresis Realitas
Jenis ini membuat ciptaan bisa mengambil bagian bagian ke dalam
Allah Trinitas yaitu melalui satu Pribadi yaitu Yesus Kristus, semua
ciptaan bisa mengatakan, “Ya mereka menerima Yesus”, namun di dalam
Yesus Kristus juga seluruh ciptaan menikmati cinta Allah walaupun
mereka berkata tidak atau menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat. Menurut Adiprasetya semuanya itu akan mungkin dilakukan
ketika mereka diciptakan melalui Yesus Kristus. Di dalam “Ya” ini setiap
orang beragama yang berada dalam kemajemukan bisa mengatakan “Ya”
dengan percaya kepada Yesus dan bisa mengatakan “tidak” dengan
menolak Yesus.
Adiprasetya juga berpendapat bahwa karakter dari Perikoresis
jangan sampai menghilangkan ciri timbal-baliknya. Ia menggunakan
konsep Maximus tentang perbedaan antara Allah dan ciptaan yang dapat
disatukan tanpa adanya percampuran.26 Hal yang menarik juga yaitu ketika
Maximus merepresentasikan manusia sebagai perwakilan seluruh ciptaan
(bersama kita dan melalui kita).
Dari ketiga bentuk perikoresis di atas, nampaknya kehadiran “yang
lain” bisa dipahami dalam perikoresis realitas, sebab semua ciptaan di
ciptakan dalam Sang Anak, sehingga agama-agama lain dapat
mengekspresikan iman mereka kepada Allah Tritunggal.
Selain itu bentuk-bentuk perikoresis, ada juga empat dimensi yang
memungkinkan Adiprasetya bisa berimajinasi untuk melakukan
pendekatan terhadap agama lain, yaitu:
a. Kesatuan Realitas
Dimensi ini mengarah kepada elemen penyatu perikoresis di mana
semua realitas baik yang Ilahi ataupun bukan dapat disatukan tanpa
menghilangkan keunikan masing-masing. Dimensi ini sangat cocok
dipakai untuk mendekati Hinduisme di mana Atman yaitu Brahman
dan sebaliknya. Caranya yaitu menghubungkan Bapa dengan nirguna
Brahman, Anak yang menunjuk saguna Brahman, dan Roh Kudus
kepada Atman.
b. Khora
Khora yaitu sebuah dimensi kedua yang merujuk pada penciptaan
dan pengosongan oleh Tritunggal melalui tindakan kontraksi diri.
Tanpa khora tidak akan ada perikoresis sebab sebuah tarian yaitu
menghubungkan perikoresis dengan Khora, sebab sebuah tarian hanya
berlangsung dalam khora. Dimensi ini menurut Adiprasetya lebih
cocok jika direpresentasikan oleh kekosongan Buddhaisme dan
ateisme. Menurut Adiprasetya, Kekosongan yang mendasar dari
Buddhisme berasal dari internal keIlahian. Namun, ada perbedaan di
dalam pendekatan yang menggunakan Khora sebagai sebuah
kekosongan yang dihubungkan dengan kekosongan samsara Buddha.
Perbedaan tersebut bisa dilihat dengan menggunakan perpektif
kenosis. Kenosis yang dimaksudkan di sini tidak hanya dilakukan oleh
Anak namun oleh ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Sementara itu,
ateisme menilai khoras ebagai tempat bagi dunia dan kemanusiaan.
Hal ini berbeda dengan Buddha yang mengatakan bahwa khora sebagai
tujuan ultima. Ini berbeda dengan ateisme yang tidak
memperhitungkan keilahian sebab mereka tidak akan percaya akan
adanya keilahian.
c. Relasi Personal
Adiprasetya agaknya setuju dengan dua pemikiran dari Panikkar
dan Heim di mana setiap umat dapat memenuhi yang Ilahi melalui
relasi personal atau ikonik. Dalam dimensi ini nampaknya Islam dan
Yudaisme dapat merepresentasikan dengan baik relasi personal yang
dimaksud. Dua agama ini melihat Allah sebagai ada yang transenden,
d. Kemungkinan
Kemungkinan menjadi sebuah dimensi yang sangat cocok
digunakan jika berbicara dengan agama-agama lokal. Adiprasetya
melihat mereka agak kurang diberikan perhatian oleh banyak orang
termasuk para Teolog-Teolog dan juga Pemerintah. Adiprasetya
mencoba menafsirkan ulang ide dari Kearney dengan menggeser
kemungkinan dari inti ke-Ilahian. Allah yang menjadi misteri
nampaknya sangat cocok dipakai sebab menurut Adiprasetya dalam
penyempurnaan Eskatologis Allah akan muncul dengan mengagetkan.
Ia akan merengkuh semua ciptaan melalui Sang Anak dan Roh Kudus.
Perspekif ini nampaknya mengharuskan setiap umat Kristen untuk
terlibat secara aktif baik melalui dialog dan kritis untuk menawarkan
kepercayaan diri kosmik yang nantinya akan ada penerimaan yang baik
dari umat Kristen kepada penganut Agama-agama lokal.
Adiprasetya juga mengambil pendapat dari Moltmann yang menilai
bahwa pemikiran Karl Barth dan Karl Rahner tentang bahaya teisme terhadap
kekristenan tidak relevan. Moltman berpendat bahwa yang berbahaya
bukanlah teisme namun monoteismelah yang berbahaya sebab memusatkan
Allah sebagai subjek Ilahi yang Tunggal.31 Moltman mengatakan bahwa
puncak penyatuan total yaitu ketika Allah di dalam dunia dan dunia di dalam
Allah. Moltmann juga mengatakan bahwa Roh pencipta akan selalu hadir bagi
seluruh ciptaan. Namun dibalik pemikiran moltman Adiprasetya tidak
sepenuhnya sependapat, yakni Adiprasetya melihat bahwa akan ada masalah
jika Moltman mengatakan di dalam-di luar yaitu akan adanya kebebasan dari
ciptaan tidak sepenuhnya meyakinkan apakah itu bisa dipertahankan dengan
tidak meninggalkan relasi dengan Sang pencipta. Adiprasetya menawarkan
dua konsep yaitu keseluruhan ciptaan berada dalam Allah Tritunggal dan yang
kedua yaitu keseluruhan ciptaan berada d dalam ruang kosong Allah Khora
yang akan menunjukkan kemana arah agama-agama lain selain Kristen.
Adiprasetya juga mengutip pendapat Gunton yaitu seluruh ciptaan hadir di
dalam Kristus yang juga sama dengan pendapat Adiprasetya yaitu seluruh
ciptaan hadir di dalam Allah Tritunggal.