• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjanjian lama 2. Tampilkan semua postingan

Perjanjian lama 2


 Membangun kembali kota itu.

Ketika  pada akhirnya ia  pergi  ke Yerusalem, ia  bertugas  sebagai  gubernur  sipil  dengan

kuasa dari raja Persia.

ESTER

“Allah mengatur di belakang layar”

RINGKASAN CERITA

Ester, anak angkat pamannya, Mordekhai dijadikan ratu oleh Raja Persia Xerxes, yang juga

dikenal  dengan  nama  raja  Ahasyweros.  Perdana  menterinya,  Haman,  membenci  orang

Yahudi dan bersekongkol untuk melenyapkan mereka. Sasaran utamanya ialah Mordekhai.

Ester  dengan kepintarannya membuat raja mengalihkan  keputusannya terhadap bangsa

Yahudi, dan Haman akhirnya digantung. Mordekhai kemudian diberi kekuasaan dan bangsa

Yahudi memperingati peristiwa itu dengan perayaan.

TEMPAT KEJADIAN

Kisah ini terjadi di ibu kota Persia, Susan, pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros yang

memerintah pada tahun 486-465 S.M.

TUJUAN KITAB ESTER

Ada tiga alasan mengapa kitab ini ditulis:

1. Alasan yang paling utama ialah untuk menerangkan kepada bangsa Yahudi mengenai

asal mula Perayaan Purim yang mereka rayakan antara tanggal 13 dan 15 bulan Adar

(Februari-Maret). Lihat Ester 9:20-32 dan Est 3:7.

2. Alasan lain yang jelas mengapa kitab itu ditulis ialah untuk memperingatkan umat

terhadap  anti-Semitisme.  Bangsa  Yahudi  adalah  umat  Allah  yang  istimewa,  yang

menduduki tempat yang unik dalam sejarah dan memiliki  kuasa untuk bertahan

melawan  segala  yang  jahat.  Ester  merupakan  salah  satu  episoda  sejarah  yang

menarik.

3. Kitab  ini  juga  memperlihatkan  kuasa  Allah  untuk  mengendalikan  peristiwa  dan

memelihara umat-Nya, bahkan pada saat segala sesuatu tampaknya tak bersahabat

dengan mereka.

CIRI-CIRI ISTIMEWA

1. Kitab  ini  tidak  pernah  sekali  pun  menyebut-nyebut  Allah,  namun  kehadiran-Nya

terasa di mana-mana.

2. Kitab ini menggambarkan istana Persia dan adat-istiadatnya secara mendetail.

3. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab dalam Alkitab yang judulnya diambil

dari nama wanita.

4. Banyak orang meragukan nilai kitab ini, sebab  nasionalisme Yahudinya yang sangat

kuat dan kurangnya acuan kepada Allah. Namun kisah dan pesan yang disampaikan

tidak boleh diabaikan.

AYUB

“Mengapa orang tak berdosa harus menderita”

ORANG-ORANG ISRAEL YANG BIJAKSANA

Selain oleh para nabi  dan imam, umat Allah juga dilayani  oleh sekelompok orang yang

dinamakan "Orang-orang berhikmat". Mereka ini adalah para pembimbing dan penasihat

yang menghabiskan waktu mereka untuk memutuskan cara-cara yang paling bijaksana dan

paling benar untuk menjalani kehidupan dan menjalankan pemerintahan. Hasil penelitian

mereka selalu diterapkan dalam kehidupan nyata. Kita mengetahui hal ini dari kitab-kitab

mereka  yang  biasanya  disebut  "Kitab  Hikmat"  (Ayub,  Amsal,  Pengkhotbah,  ditambah

beberapa Mazmur). Kadangkala mereka memberikan nasihat mereka dalam bentuk pepatah

yang singkat dan jelas atau "amsal". Selain itu mereka juga berbicara mengenai masalah-

masalah besar dalam kehidupan, terutama masalah penderitaan.

SIAPAKAH AYUB?

Apa yang kita ketahui mengenai Ayub tidak lebih daripada apa yang digambarkan pada

permulaan kitab itu. Rupanya ia orang yang terkenal (Yeh 14:14,20), namun oleh sebab 

tidak ada acuan terhadap sejarah orang Israel,  Ayub mungkin hidup jauh sebelum umat

Allah  bermukim  di  Kanaan.  Beberapa  orang  berpendapat  bahwa  kisah  mengenai

penderitaannya  dipakai  oleh  beberapa  penulis  yang  tak  dikenal  sebagai  latar  belakang

untuk membicarakan masalah penderitaan. Kita pun tidak tahu kapan kitab itu ditulis. Minat

terhadap hikmat Allah sudah ada sejak zaman Salomo, dan kitab ini mungkin ditulis pada

zaman pemerintahannya.

POKOK PERMASALAHAN

Kitab ini menyangkut suatu pertanyaan abadi yaitu "Mengapa orang yang tak berdosa harus

menderita?" Ayub adalah seorang yang baik yang tiba-tiba kehilangan segalanya. Seperti

banyak dari penderitaan kita, rasanya hal ini tidak adil. Jawaban baku teman-temannya --

bahwa Allah menghakimi orang yang jahat, dan oleh sebab nya pasti Ayub telah melakukan

kejahatan -- sama sekali tidak cocok. Mereka mengatakannya dengan berbagai cara. Elifas

sopan  dan  sedikit  berbau  mistik.  Bildad,  seorang  tradisionalis,  mengutarakannya

berdasarkan pendapat yang sudah lama dikenal, sementara Zofar adalah pembantah Allah

yang kurang ajar dan kasar. Ketiga mereka pada akhirnya kehilangan kesabaran terhadap

Ayub.  Sesungguhnya,  pada  percakapan  ketiga,  Bildad  hanya  berbicara  sedikit  sekali,

sementara Zofar menolak untuk berbicara lagi. Ayub berdebat dengan kedua orang itu dan

dengan Allah;  dan  dengan demikian  ia  mengajukan  pertanyaan-pertanyaan yang hanya

dapat dijawab dalam Perjanjian Baru. Oleh sebab  Elihu masih muda, ia tidak dihargai oleh

yang lain. Argumentasinya penuh dengan keyakinan orang muda, namun  juga agak kacau

dan tidak matang. Percakapan dengan Elihu mungkin baru belakangan ditambahkan pada

kitab itu.

MAZMUR

“Pujian dan ucapan syukur”

BAGAIMANA MAZMUR DIKUMPULKAN

Mazmur merupakan kumpulan puji-pujian dan doa yang dikumpulkan selama kurun waktu

yang panjang dalam sejarah umat Israel, paling tidak sejak zaman Daud sampai sesudah

pembuangan ke Babel. Kita boleh juga menamakannya sebagai 'kumpulan dari kumpulan-

kumpulan',  sebab  seratus  lima  puluh  mazmur  itu  dibagi  dalam  lima  buku: Maz  1:1-

41:13; Maz 42:1-72:20; Maz 73:1-89:52; Maz 90:1-106:48; Maz 107:1-150:6. Walaupun para

ahli  Alkitab melihat adanya beberapa perbedaan dalam kelompok-kelompok Mazmur ini,

namun   itu jelas bukan mengenai  isi  pokoknya.  Lain dengan buku nyanyian kita,  Mazmur

berisi doa dan ucapan syukur, permohonan dan puji-pujian yang tidak beraturan urutannya.

Beberapa Mazmur ditulis  lebih  dari  satu  kali,  Sebagai  contoh, Mazmur 14 = Mazmur 53;

Mazmur  60:5-12 = Mazmur  108:6-13;  Mazmur  14 = Mazmur  40:13-17.  Kita  menemukan

beberapa Mazmur yang diulang dalam kitab- kitab lain dalam Perjanjian Lama, dan kita juga

menemukan Mazmur yang tidak berada dalam kumpulan utama. Dalam penelitian ini kita

akan mengelompokkan mazmur-mazmur berdasarkan pokok yang berbeda, dan melihat apa

saja yang dapat kita pelajari darinya dewasa ini.

PUISI IBRANI

Sebagian besar puisi masa kini bersanjak, namun  tidak demikian halnya dengan puisi Israel

kuno. Para penyair cenderung untuk membandingkan suatu ungkapan dengan ungkapan

yang lain, kadang-kadang hal yang sama diulang dengan cara yang berbeda, kadangkala

dengan kebalikannya. Sebagai contoh, lihatlah Mazmur 146:3: "Janganlah percaya kepada

para  bangsawan,  kepada  anak  manusia  yang  tidak  dapat  memberikan  keselamatan."

atau Mazmur 11:5: "Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang

yang mencintai kekerasan." Kadang pemikiran itu dilanjutkan dalam ayat berikutnya. Puisi

semacam  ini  tidak  terlalu  banyak  kehilangan  arti  pada  waktu  diterjemahkan  ke  dalam

bahasa lain dan ini berarti bahwa kita tetap dapat menikmatinya pada masa kini. Beberapa

pemazmur  mulai  menulis  setiap  baris  atau  sejumlah  baris  dengan  huruf  yang

sama. Mazmur 119 memakai hampir seluruh alfabet Ibrani dengan cara ini.

MAZMUR DAN PENYEMBAHAN

Sejumlah besar mazmur pada mulanya merupakan doa-doa atau puji-pujian pribadi, namun 

banyak  yang  kemudian  ditulis  untuk  penyembahan  umum.  Ada  yang  ditujukan  untuk

pemimpin biduan atau untuk para penyanyi  Rumah Tuhan seperti  'bani  korah'.  Mazmur-

mazmur itu dipakai untuk upacara penyembahan di Rumah Tuhan, terutama pada waktu

diadakan upacara-upacara besar. Seperti halnya buku nyanyian kita yang berisi beraneka

macam pujian yang ditulis oleh penggubah yang berbeda-beda, pada tempat dan situasi

yang berbeda pula, Mazmur berisi penyembahan bangsa Israel sepanjang zaman.

AMSAL

“Jadilah bijaksana!”

KITAB KEBIJAKSANAAN

Amsal merupakan hasil karya beberapa penulis, tiga di antaranya dikenal dengan nama --

Salomo, Agur dan Lemuel. Paling sedikit satu bagian dari kitab ini ditulis oleh orang yang

tidak dikenal.  Kitab ini  kebanyakan berisi  petuah-petuah Salomo (Ams 10:1-22:16;  25:1-

29:27). Dia dikenal sebagai penulis 3.000 Amsal dan 1.005 lagu-lagu (1Ra 4:31-32). Kitab ini

berisi hasil penelitian lengkap yang telah dikumpulkan oleh Salomo dan para penulis lainnya

dari  berbagai  sumber,  ditambah dengan pengalaman hidup mereka sendiri.  Tujuan dari

kitab  ini  jelas  terangkum  dalam  pembukaannya  (Ams  1:2-6).  Penekanan  yang  sering

diulang-ulang dalam kitab ini adalah takut akan Tuhan.

APAKAH AMSAL ITU?

Pengajaran dengan memakai Amsal merupakan salah satu cara mengajar yang paling kuno

di dunia ini. Dalam pengajaran seperti itu dipakai kalimat-kalimat sederhana, yang mudah

diingat dan diturunkan dari generasi ke generasi. Salomo adalah seorang yang mepunyai

keahlian dalam berbagai bidang. Dia bukan hanya seorang raja, namun  juga seorang filsuf

yang memiliki  kemampuan intuisi dan pengertian yang luar biasa, dan ia juga seorang

ilmuwan murni.  namun   sayang, dalam kehidupan pribadinya, ia tidak selalu hidup sesuai

dengan hikmat yang diketahuinya.

HIKMAT DARI ALLAH

Dalam  Amsal,  hikmat  dikatakan  sudah  ada  bersama  Allah  sepanjang  zaman.  Hikmat

dipersonifikasikan sehingga seringkali dianggap pelambang Kristus (Ams 8:23-31; lihat Yoh

1:2;  Ibr  1:2;  Kol  2:3).  Dijelaskan bahwa hikmat tersedia bagi  semua orang.  Orang yang

bijaksana adalah mereka yang tanggap pada perintah Allah, sedangkan orang yang bodoh

mengabaikannya. Hikmat sangat penting di dalam dunia kehidupan (Ams 4:7).

BENTUK

Banyak  usaha  dilakukan  untuk  menganalisis  Kitab  Amsal.  Beberapa  komentator

mengemukakan tiga bagian yang ditandai  dengan judul  'amsal  salomo' (Ams 1:1;  10:1;

25:1). Selanjutnya ada pendapat bahwa amsal dengan kata ganti orang kedua adalah amsal

yang  diperuntukkan  bagi  Salomo  yang  diajarkan  oleh  guru-gurunya,  sedangkan  amsal

dengan kata  ganti  orang ketiga  adalah amsal  yang dibuat  oleh Salomo sendiri.  Namun

demikian, hal ini sukar dipastikan.

PENGKHOTBAH

“Apa sebenarnya hidup ini?”

APA ISI PENGKHOTBAH?

Seseorang yang membaca Pengkhotbah untuk pertama kalinya akan kaget dengan adanya

perpaduan yang aneh antara iman dan fatalisme yang terdapat dalam kitab itu. Kadang-

kadang penulis seakan-akan pasrah pada semua kegagalan dan kesia-siaan hidup; pada

kesempatan lain ia seakan-akan menasihatkan kita untuk menikmati  hidup selagi  masih

bisa dilakukan; dan sementara itu terdapat banyak petunjuk bahwa Allah mengetahui apa

yang sedang terjadi dan bahwa kita harus bergantung pada-Nya serta melayani Dia, dan

bahwa  pada  suatu  ketika  kita  harus  bertanggung  jawab  kepada-Nya.  Beberapa  orang

berpendapat bahwa perbedaan pandangan ini  merupakan hasil  pemikiran dari  beberapa

penulis, yang masing-masing mencoba untuk saling memperbaiki, dan bukan hanya hasil

seorang penulis. Mereka melihat bahwa kitab ini bertentangan dengan isinya sendiri dan

dengan banyak ajaran alkitabiah lainnya.  namun ,  kita tidak perlu mengambil  kesimpulan

seperti itu jika kita mengerti bahwa Pengkhotbah merupakan semacam traktat Perjanjian

Lama  yang  diperuntukkan  bagi  orang-orang  dunia.  Para  penulis  seakan-akan  berkata:

"Kalau begitu marilah kita melihat bagaimana rasanya hidup tanpa Allah. Apa yang akan

Anda peroleh jika hanya hidup untuk hal-hal duniawi? Hidup menjadi sia-sia dan tanpa arti,

menjengkelkan dan penuh dengan penderitaan. namun , Allah bisa mengubah semua itu!

SIAPA PENULIS PENGKHOTBAH DAN KAPAN DITULIS?

Penulis mengatakan bahwa ia adalah anak Daud (Pengk 1:1) dan raja Yerusalem. Sementara

orang berpendapat bahwa ia tentu Salomo, walaupun namanya tidak ditulis dalam kitab itu.

Jelas bahwa cara hidup dan perhatiannya terhadap kebijaksanaan tercermin di sini, dan hal

ini merupakan kesimpulan yang kita harapkan dari padanya setelah ia menjalani kehidupan

panjang yang seringkali bersifat duniawi. Kesulitan dengan pandangan ini ialah bahwa ia

berbicara mengenai para penerusnya di Yerusalem (Pengk 2:9), dan yang jelas hanya ada

seorang  penerus.  Hal  lain  ialah  bahwa  bahasa  yang  dipakai  untuk  menulis  kitab  ini

digunakan jauh sesudah zaman Salomo. Oleh sebab nya jika Pengkhotbah merupakan hasil

karyanya,  maka  kemungkinan  bahasanya  diperbarui.  Atau  mungkin  juga,  seperti

diperkirakan oleh sementara orang, kitab ini merupakan suatu studi berdasarkan nasihat-

nasihat Salomo. Oleh sebab  hal-hal di atas, maka penentuan tahun penulisan secara tepat

menjadi sangat sukar. Jika betul kitab itu tulisan Salomo pada masa-masa akhir hidupnya,

maka  kemungkinannya  ialah  bahwa kitab  itu  ditulis  paling  awal  sekitar  tahun 940  SM.

Apabila kitab itu hasil karya orang lain, maka kemungkinannya ditulis paling lambat sekitar

tahun 200 SM.

SI PENGKHOTBAH

Penulis biasa memanggil dirinya Kohelet, kata yang boleh jadi berarti pengkhotbah, guru,

juru  debat  atau  bahkan  berarti  pemimpin  suatu  parlemen  (Pengk  1:1).  Pada  waktu

membicarakan masalah hidup dan mati,  yang ada dalam pikirannya adalah kepentingan

orang  lain  (Pengk  12:9-12).  Oleh  sebab  itu,  kita  juga  dapat  mengambil  pelajaran  dari

pengalaman dan nasihatnya pada saat kita membaca kitab ini.

KIDUNG AGUNG

“Sebuah kisah cinta”

JUDUL

Nama Kidung Agung merupakan terjemahan harafiah dari judul dalam bahasa Ibrani yang

artinya cara untuk menyatakan lagu yang terbaik atau terindah.

PENULIS

Ada delapan acuan kepada Salomo dalam Kidung Agung, dan secara tradisional ia danggap

sebagai  penulisnya.  Bait  pertama dapat  berarti  nyanyian  itu  ditulis  oleh Salomo,  namun 

dapat juga berati "untuk" atau "tentang" Salomo. Selain nama Salomo, tidak diberikan latar

belakang sejarah lainnya. Oleh sebab  itu, tidak mungkin untuk menentukan penulis atau

waktu penulisan kitab itu dengan pasti. Namun demikian, tidak ada hal dalam kitab ini yang

menolak bahwa waktu penulisan terjadi pada masa Salomo.

ISI

Kidung  Agung  pada  dasarnya  merupakan  puisi  cinta.  Isinya  merupakan  puji-pujian  dan

penyataan sukacita dalam kisah cinta antara seorang pria dan wanita. Bahasanya berbobot

dan ekspresif; di dalamnya terkandung suatu apresiasi terhadap daya tarik fisik yang ditulis

dengan  gamblang dan  tanpa  tedeng aling-aling.  Nama Allah  tidak  disebut-sebut  dalam

Kidung Agung dan banyak orang menganggap bahwa kitab ini dimasukkan dalam Alkitab

oleh sebab  kitab ini merupakan gambaran nyata dari kasih Allah kepada umat-Nya. Namun,

Kidung Agung sendiri tidak mengandung maksud agar pembaca mencari arti tersembunyi di

dalamnya.

BENTUK

Para ahli Alkitab akan melihat suatu kesatuan dalam kitab ini; dan jelas bahwa pengulangan

kata-kata,  ungkapan  dan  buah  pikiran  menunjukkan  karya  penulisan  yang  biasa.  Tidak

selalu mudah untuk mengidentifikasikan tokoh-tokoh yang berbeda, atau mengetahui siapa

yang sedang berbicara dan kapan berbicaranya. Di samping dua orang kekasih itu, rupanya

terdapat  sekelompok  teman  yang  berada  bersama  mereka  pada  saat-saat  tertentu,  di

antaranya adalah putri-putri Yerusalem, demikian juga dengan warga Yerusalem.

LATAR BELAKANG

Latar  belakang  syair  kebanyakan  di  daerah  pedesaan,  boleh  jadi  pada  musim  semi,

walaupun hal ini boleh jadi ditulis semata-mata sebagai bagian dari puisi. Si penulis pasti

sangat akrab dengan cerita-cerita rakyat; ia menyebutkan dua puluh satu jenis tanaman

dan lima belas kelompok binatang.

YESAYA

“Keselamatan dan penghakiman”

PESANNYA

"Yesaya" berarti  "Tuhan adalah keselamatan" dan dia adalah nabi  keselamatan.  Namun,

keselamatan dan penghakiman selalu bersama-sama dalam Alkitab; jika Anda tidak mau

diselamatkan, maka Anda akan dihakimi. Oleh sebab  itu, Yesaya menggabungkan kedua

tema  ini:  penghakiman  (Yes  1:1-35:10)  dan  keselamatan  (Yes  40:1-66:24).  Kedua  tema

utama ini dipadukan dengan adanya bagian bersejarah tentang Raja Hizkia (Yes 36:1-39:8).

WAKTU

Yesaya menerima visinya pada masa pemerintahan empat orang raja yaitu Uzia, Yotam,

Ahas dan Hizkia (Yes 1:1). Raja Uzia wafat pada tahun 740 sebelum Masehi (lihat Yes 6:1),

dan Hizkia pada tahun 687 sebelum Masehi, dengan demikian visi-visi Yesaya mencakup

kurun waktu setengah abad.

NUBUATAN

Yesaya adalah seorang nabi, bukan semata-mata seorang pengkhotbah dan Kitab Yesaya

merupakan  buku  nubuatan,  bukan  hanya  buku  sejarah.  Yesaya  tidak  hanya  mampu

menganalisis keadaan, namun  juga memiliki  banyak visi. Nubuatan mengatakan bahwa

ada Allah yang mengetahui hari depan dan yang mengungkapkan sebagian rencana-Nya

kepada para nabi.

LATAR BELAKANG

Waktu Yesaya mulai bekerja, Israel sedang berada di ambang kehancuran. Dalam tahun 722

sebelum Masehi kerajaan utara dengan kesepuluh sukunya dikalahkan oleh bangsa Asyur

(2Ra 17). namun  kerajaan selatan, Yehuda, sedang menuju nasib yang sama. Secara sosial,

politis  mereka sudah rusak,  demikian juga iman percaya mereka.  Kerajaan utama telah

dihukum dan musnah. namun , Yehuda berbeda. Negeri itu harus dihakimi, namun  oleh sebab 

adanya perjanjian abadi dengan Allah, maka Yehuda juga akan diselamatkan. Pada suatu

saat,  dari  Yehuda  akan  datang  seorang  Hamba  Tuhan,  Sang  Juruselamat  yang  akan

menyelamatkan bukan hanya Yehuda, namun  seluruh dunia.

CARA PENULISAN DAN KESATUAN

Menurut  pasal Yes  1:1,  penulisnya  ialah  Yesaya.  Namun  demikian,  seringkali  orang

beranggapan bahwa ketiga  bagian  kitab  Yesaya (Yes  1:1-35:10; Yes  36:1-39:8; Yes  40:1-

46:13) ditulis oleh penulis yang berbeda-beda. Alasan ini didasarkan pada bentuk penulisan

yang jelas berbeda antara pasal Yes 1:1-35:10 dengan bagian lain, juga munculnya nama-

nama Bel dan Nebo, dewa-dewa Babel dan bahkan nama Koresy, penakluk dari kerajaan

Babel dan nubuatan Yesaya mengenai kembalinya bangsa Yehuda dari pembuangan jauh

sebelum pembuangan itu  sendiri  terjadi.  namun   kitab  itu  sendiri  menekankan mengenai

kemampuan Allah untuk mengungkapkan hari depan (misalnya Yes 41:21-27; 42:8,9; 44:6-

8; 48:3). Tidak ada bukti tertulis bahwa terdapat dua atau lebih kitab Yesaya dan tidak ada

bukti tentang penulis-penulis lainnya. Perjanjian Baru mengutip dari berbagai bagian dari

kitab ini dan mengacunya ke Yesaya.

YEREMIA

“Kesia-siaan formalitas”

MASALAH NUBUATAN

Kitab  Yeremia sulit  dibaca secara  berurutan  sebab  panjang dan  tidak memiliki   pola

kronologis yang teratur.

PENJELASAN

Pertama, tidak ada alasan mengapa suatu buku harus dibuat dalam urutan kronologis yang

teratur.  Kitab  ini  tidak  dimaksudkan  sebagai  buku  sejarah,  walaupun  berisi  fakta-fakta

sejarah.  Yeremia  merupakan  kitab  nubuatan,  bukan  semata-mata  buku  sejarah.  Kedua,

dalam pasal Yer 36 diterangkan bahwa telah terjadi penulisan kembali  dari  kitab aslinya.

Raja Yoyakim membaca naskah aslinya, namun  kemudian dibakarnya. Secara umum dapat

dikatakan bahwa pasal Yer 1:1-20:18 kebanyakan ditulis pada masa pemerintahan Yosia dan

sisanya dari masa pemerintahan Yoyakim, yaitu Yoyakim dan Zedekia. Selain itu, bagian

pertama terutama berisi  nubuatan ditambah dengan sedikit  biografi dan sejarah,  namun 

bagian kedua merupakan biografi dan sejarah ditambah sedikit nubuatan.

KEHIDUPAN DAN ZAMAN YEREMIA

Yeremia menjadi nabi selama lebih dari empat puluh tahun: dari tahun ketiga belas Raja

Yosia,  yaitu  tahun  627  SM  sampai  penghancuran  kota  Yerusalem dan  permulaan  masa

pengasingan dalam tahun 587/6 SM. Yeremia dibesarkan pada masa pemerintahan Raja

Manasye yang membelot dari Tuhan, dan melihat sedikit perbaikan pada zaman reformasi

Yosia, namun  tidak terjadi pertobatan secara nasional. Pada permulaan masa ini Asyur dan

Mesir merupakan dua kekuatan besar. Bangsa Asyur dikalahkan oleh Babel pada tahun 612

SM dan demikian halnya dengan Mesir yang dihancurkan di Karkemis pada tahun 605 SM.

Sejak saat itu Yeremia terus menerus mendorong Yehuda untuk menyerah kepada Babel,

untuk menerima segala konsekuensi dari dosa-dosa mereka yaitu Pembuangan. Dia tahu

bahwa masa Pembuangan akan berakhir dengan pengampunan dan pemulihan Allah secara

dramatis.

PESIMIS ATAU OPTIMIS?

Yeremia sering disebut "Nabi Kehancuran". namun  dia juga "Nabi yang Pengharapannya tak

pernah goyah". Hukuman atas dosa tidak dapat dihindari, namun  di atas semua itu Yeremia

melihat bahwa Allah selalu menunggu untuk mengampuni. Yeremia membeberkan tiga dosa

yang utama:

 penyembahan berhala. Yer 7:30-8:3; 19:1-15

 amoralitas. Yer 5:1-9

 nubuatan palsu: Yer 7:3-11; 14:11-16; 23:9-40

Ajaran Yeremia yang utama ialah bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui dosa-dosa kita

atau bahkan menyesalinya saja. Pertobatanlah yang dituntut oleh Allah.

RATAPAN

“Kota yang sedang berduka”

JUDUL

Kitab ini tidak memiliki  judul dalam kitab Perjanjian Lama Ibrani, namun  dikenal dengan

kata pertamanya, yaitu "How". Judul "Nyanyian pemakaman" atau "Ratapan" diberikan oleh

rabi-rabi bangsa Yahudi yang mula-mula.

PENULIS

Penulisnya  tidak  dikenal.  Kitab  ini  ditempatkan  sesudah  Yeremia  dalam  Septuaginta,

kemungkinan  besar  hal  ini  disebabkan  oleh  hubungan  sejarah  kedua  kitab  tersebut.

Pandangan penulis terhadap raja yang bertakhta pada masa itu (Rat 4:20) dan mengenai

ketergantungan  kepada  bangsa-bangsa  lain  berbeda  dari  pandangan  Yeremia.  namun ,

penulis dan Yeremia (yang dijuluki "nabi cengeng") memiliki  temperamen yang serupa,

dan keduanya melihat penghakiman Tuhan di balik tragedi yang mereka tulis (lihat Rat 2:1-

8). Jika kitab ini merupakan suatu kesatuan, sudah hampir pasti bahwa penulisnya hidup

pada zaman yang sama dengan Yeremia.

WAKTU

Penentuan waktu penulisan secara tepat tergantung kepada apakah karangan ini  ditulis

oleh seorang atau beberapa penulis. Pendapat yang masuk akal ialah bahwa pasal Rat 1-

4 ditulis  oleh  seorang  saksi  mata  pada  waktu  jatuhnya  Yerusalem dan  pemulaan  masa

Pembuangan (yaitu tahun 587 SM), dan bahwa pasal Rat 5 ditambahkan pada tahun 550 SM

waktu mereka sudah menjalani masa Pembuangan untuk beberapa waktu.

BENTUK

Kitab ini merupakan suatu koleksi puisi yang tersusun rapi, sebagian besar ditulis dalam

bentuk  "nyanyian  pemakaman"  --  kecuali  pasal Rat  5.  Pasal Rat  1-4 merupakan  puisi

"akrostik", setiap baik berikutnya dimulai dengan sebuah huruf dari alfabet Ibrani secara

beraturan. (Terdapat sedikit pengecualian terhadap aturan ini dan pasal Rat 3 merupakan

puisi  akrostik  yang  lebih  lengkap).  Boleh  jadi  pola  ini  sebagian  dimaksudkan  untuk

memudahkan penghafalan dalam tata ibadah.

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

2Ra  25:8-12 harus  dibaca  sebagai  latar  belakang  kisah  Kitab  Ratapan.  Pembuangan

merupakan suatu kejadian yang luar biasa dalam sejarah kaum Yehuda, dan merupakan

salah satu pengaruh terbesar dalam mengembangkan pengertian mereka tentang Allah.

Kejatuhan Yerusalem yang menghancurkan dalam tahun 587 SM menuntut penjelasan dan

inilah  yang  diberikan  oleh  si  penulis.  Sebagian  besar  dari  tanda-tanda  yang  kelihatan

mengenai  pilihan  Tuhan  atas  Yehuda  sudah  dihancurkan  (kota,  Bait  Allah,  kebaktian-

kebaktian dll.). Dengan berani penulis menghadapi kenyataan pahit dari dosa orang Yeuda,

dan maksud Allah yang terssembunyi daalam pemurnian melalui penghakiman. Jawaban

atas pertanyaan (yang sering diajukan oleh mereka yang berada dalam pencobaan) "Di

manakah  Tuhan?",  dijawab  oleh  penulis  dengan  tantangan  yang  berarti  dalam,  yaitu:

"Cobalah untuk mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh Tuhan".

YEHEZKIEL

“Laporan seorang penjaga”

LATAR BELAKANG

Dalam tahun 597 SM raja Babel, Nebukadnezar mengangkut raja Yoyakim ke Babel bersama

dengan  sepuluh  ribu  penduduk  utama  bangsa  Israel.  Pemerintahan  boneka  yang

ditinggalkannya  di  Yerusalem  memberontak,  dan  dalam  tahun  587  SM  Nebukadnezar

menghancurkan seluruh kota dan mengangkut lebih banyak penduduk ke pembuangan.

PENULIS

Diperkirakan  bahwa kitab  Yehezkiel  disusun  oleh beberapa pengarang atau  ditulis  lama

sesudah pengarangnya meninggal, namun  pemakaian kata ganti orang pertama, waktu yang

tepat,  data  pribadi  yang  diberikan  secara  rinci,  dan  gaya  penulisan  yang  sama  dalam

keseluruhan  kitab  merupakan  indikasi  kuat  bahwa  Yehezkiel  sendiri  yang  memastikan

bahwa semua nubuatannya ditulis dan menjelang akhir hidupnya ia menyusunnya dengan

cermaat ke dalam bentuk buku. Yehezkiel dibesarkan di Yehuda dan boleh jadi pada masa

remajanya ia dipengaruhi oleh pembaruan raja Yosia dan nubuatan Yeremia. Dia seorang

imam yang dibuang ke Babel pada tahun 597 SM, kemungkinan bersama-sama dengan raja

Yoyakim,  dan  tulisannya  sangat  dipengaruhi  oleh  latar  belakang  keimamannya.  Dalam

pembuangan ia  bermukim di  Tel-Abib  di  tepi  sungai  Kedar.  Lima tahun kemudian,  pada

waktu  ia  berumur tiga  puluh tahun,  ia  mendapat  penglihatan  dari  Tuhan dan  dipanggil

menjadi nabi. Dia mungkin saja memiliki  kedudukan penting (Yeh 8:1; 14:1), walaupun

kebanyakan  orang  menolak  peringatannya  (Yeh  3:25),  atau  tidak  menganggapnya

denganserius (Yeh 33:30-32).

ISI KITAB

Dalam kitab Yehezkiel, kita dapat membaca kisah kehidupan nabi itu dan nubuat-nubuatnya

yang mencakup kurun waktu mulai dari tahun 597 sampai 570 SM. Kitab Yehezkiel terbagi

dalam empat  bagian  penting.  Pasal Yeh  1-24 khususnya  berisi  nubuatan  yang  diberikan

sebelum tahun 587 SM pada waktu Yehezkiel memperhadapkan umat dengan dosa mereka,

serta menunjukkan bahwa kejatuhan Yerusalem tidak dapat dihindari dan merupakan dosa

yang  sepatutnya  mereka  terima.  Pasal Yeh  25:1-32:32 merupakan  nubuatan  tentang

penghakiman terhadap bangsa- bangsa yang ada di sekeliling Yerusalem. Pasal Yeh 33:1-

39:29 ditulis setelah kejatuhan Yerusalem dan Yehezkiel mendorong orang-orang buangan

untuk bertobat dari dosa-dosa lama mereka, dan menjadi anggota masyarakat baru yang

menyerahkan diri untuk melayani Tuhan. Bagian akhir berisi harapan tentang kembalinya

bangsa Israel dari pembuatan sampai padda akhir zaman, dan berisi penglihatan Yehezkiel

tentang  Yerusalem  baru.  Kita  akan  lebih  banyak  belajar  dari  kitab  Yehezkiel  jika  kita

melihatnya sebagai  pesan kepada suatu bangsa yang istimewa,  yang sungguh-sungguh

memerlukan pertolongan dalam suatu keadaan yang nyata.

DANIEL

“Orang yang diberi karunia penglihatan”

SIAPAKAH DANIEL

Daniel  adalah  seorang tawanan perang yang ditangkap oleh  Nebukadnezar,  raja  Babel,

pada  waktu  Yerusalem  jatuh.  Bersama-sama  dengan  orang  Yahudi  dari  golongan  atas

lainnya, Daniel diangkut ke Babel, dididik, dan dipekerjakan pada pemerintah. Dia bekerja di

bawah  Nebukadnezar,  Belsyazar  dan  Darius  dari  tahun  605  SM sampai  536.  Namanya

berarti "Allah adalah hakimku", namun  di Babel ia diberi nama baru. Seperti nama aslinya

yang mengandung nama Allah Israel, yaitu El, maka nama barunya pun mengandung nama

dewa Babel, Bel. Beltsazar mungkin berarti "Semoga dewa Bel melindungi raja". Perhatikan

tiga hal mengenai Daniel, yaitu dia adalah seorang yang sangat bijaksana, sangat mudah

bergaul dan rajin berdoa.

JAWABAN ATAS PERTANYAAN YANG MENGIBAKAN

Mazmur 137, sama seperti halnya nubuatan ini, ditulis di Babel: "Di tepi sungai-sungai Babel

di  sanalah  kita  duduk  sambil  menangis,  apabila  kita  mengingat  Sion."  Hidup  dalam

pengasingan sangat  menghancurkan  moral  bangsa Yahudi.  Mereka merasa bahwa Allah

telah meninggalkan mereka. Oleh sebab  itu, mereka menggantungkan harpa mereka dan

menolak  untuk  bernyanyi:  "Bagaimanakah  kita  menyanyikan  nyanyian  Tuhan  di  negeri

asing?" Itulah pertanyaan mereka yang mengibakan. Daniel menjawab pertanyaan mereka.

Ia menunjukkan bahwa Allah tetap Allah, walaupun mereka berada di Babel.

DANIEL DAN ANTIOKUS EFIFANUS

Bagian kedua kitab Daniel berisi gambaran yang mengandung nubuatan yang dapat kita

lihat sudah digenapi secara detail dalam pemerintahan Antiokus Efifanus, yang memerintah

sebagian besar Asia Kecil, Siria dan Palestina dari tahun 175 sampai 164 SM. Banyak penulis

tentang Daniel menolak adanya nubuatan di kitab kedua ini dan berpendapat bahwa kitab

ini, sebenarnya, ditulis sekitar tahun 165 SM, bukan oleh Daniel namun  oleh seorang penulis

tak dikenal. Keberatan mereka yang utama rupanya menyangkut konsep nubuatan sebagai

ramalan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, khususnya nubuatan yang sangat

rinci. namun  nubuatan-nubuatan ini mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Tuhan Yesus

(Matius 24:15) dan harus diakui bahwa paling tidak dua, mungkin tiga nubuatan digenapi: di

zaman  dan  pada  Akhir  Zaman.  Keempat  binatang  buas  yang  dilukiskan  dalam Daniel

7 boleh jadi ditafsirkan dalam tiga cara, yaitu sebagai kerajaan-kerajaan besar dunia, masa

lalui, sekarang dan masa yang akan datang.

HOSEA

“Umat yang tidak setia; Allah yang setia”

WAKTU PENULISAN

Raja-raja  yang  disebutkan  dalam Hos  1:1 merupakan  petunjuk  tentang  kurun  waktu

terpanjang  bagi  berlakunya  nubuatan  Hosea,  yaitu  dari  780-692  SM,  namun   rupanya

sebagian besar karyanya ditulis dalam periode antara tahun-tahun terakhir pemerintahan

Yerobeam  dan  jatuhnya  Samarian  --  yaitu  dari  kira-kira  tahun  755-722  SM.  Hosea

merupakan penulis kedua dari empat penulis yang dikenal sebagai nabi abad kedelapan

(Amos, Hosea, Yesaya dan Mikha).

PENULISNYA

Hosea  adalah  satu-satunya  nabi  dari  kerajaan  Israel  utara  yang  tulisannya  dapat

diselamatkan. Ayahnya bernama Beeri, namun  tidak diceritakan mengenai kota kelahirannya

atau latar  belakang masa mudanya.  Beberapa orang berpendapat  bahwa Hosea adalah

seorang tukang roti, sebab ia menunjukkan pengetahuan yang terinci mengenai usaha ini

(Hos 7:4-8). namun  ia juga memiliki  banyak pengetahuan mengenai perladangan (Hos

10:11-13; 13:3), oleh sebab nya kita tidak dapat menentukan secara pasti. Mungkin yang

paling ialah bahwa Hosea bekerja sebagai seorang nabi profesional.

UNTUK SITUASI BAGAIMANA TULISANNYA DITUJUKAN

Hampir semua nubuatan dalam Hosea ditujukan bagi bangsa Israel (biasanya disebut Efraim

-- nama suku terbesar),  walaupun ada beberapa yang ditujukan kepada Yehuda.  Agama

orang Israel sudah sedemikian bobrok; secara resmi mereka menyembah Allah, namun  di

mana-mana ibadah mereka bercampur dengan penyembahan berhala dan paham Baalisme.

Negeri  itu cukup stabil  dan makmur di  bawah pemerintahan Yerobeam, namun   beberapa

tahun sesudah kematiannya terjadi  kemunduran yang sangat  cepat,  baik  dalam bidang

ekonomi maupun politik. Mereka terombang-ambing di antara kekuasaan Asyur dan Mesir,

namun  mereka mengabaikan Allah. Akhirnya mereka dikalahkan oleh Asyur dalam tahun 721

SM.

KELUARGANYA

Hidup kekeluargaan Hosea agar tragis. Allah memerintahkannya untuk menikahi seorang

wanita  yang  tidak  setia  kepadanya.  Hosea  mencintai  istrinya,  Gomer,  dan  mereka

memperoleh  tiga  orang  anak  yang  nama-namanya  sungguh-sungguh  merupakan  pesan

bagi Israel. Namun, tak lama kemudian Gomer melarikan diri dan menjadi seorang pelacur.

Hosea  masih  mencintainya,  dan  pada  akhirnya,  waktu  Gomer  menjadi  budak,  ia

membelinya  kembali.  Status  Gomer  sebagai  istrinya  kemudian  dipulihkan,  walaupun

sebelumnya ia harus menjalani masa penyucian terlebih dahulu.

PESANNYA

Hubungan perkawinan Hosea sendiri memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan

antara  Allah  dan  Israel.  Allah  mengasihi  Israel  dan  bahkan  pada  waktu  mereka

meninggalkan Dia dan menyembah dewa-dewa lain,  Allah masih mengasihi  mereka dan

rindu untuk memulihkan mereka menjadi umat-Nya kembali. Oleh sebab  penderitaan yang

dialaminya,  Hosea dapat  menjelaskan betapa Allah menderita  sebab  kasih-Nya kepada

umat  yang  tidak  setia.  Oleh  sebab   itu,  Hosea  menyerang penyembahan  berhala  yang

dilakukan  oleh  orang  Israel  dan  memanggil  mereka  untuk  bertobat  serta  kembali

menyembah  Allah  yang  mengasihi  mereka  dan  yang  dengan  penuh  sukacita  akan

mengampuni mereka serta memulihkan mereka.

YOEL

“Penghakiman dan belas kasihan”

SIAPAKAH YOEL?

Nama Yoel berarti "Yehova adalah Allah". Itulah nama anak tertua Samuel (1Sa 8:2), namun 

tidak banyak yang kita ketahui tentang nabi Yoel selain gambaran singkat mengenai dirinya

sendiri dalam Yoe 1:1. Umum berpendapat bahwa ia adalah salah satu dari sekian banyak

nabi Perjanjian Lama yang terdahulu. Boleh jadi ia telah mengenal baik nabi Elia maupun

Elisa di masa mudanya. Ia bernubuat di kerajaan selatan, yaitu Yehuda, mungkin dalam

zaman pemerintahan Yoas (2Ra 11 dan 2Ra 12).

APA LATAR BELAKANGNYA?

Ungkapan  kuncinya  adalah  "Hari  Tuhan".  Negeri  ini  baru  saja  dihancurkan  oleh  hama

belalang,  dan  bagi  Yoel  peristiwa  ini  mengandung  makna  spiritual.  Ia  percaya  bahwa

belalang-belalang itu merupakan hukuman ilahi, yaitu reaksi Allah terhadap dosa manusia.

namun  hukuman yang lebih besar akan segera tiba: Yehuda dikelilingi oleh bangsa-bangsa

yang  jahat  bagaikan  sekumpulan  belalang.  Harapan  mereka  satu-satunya  hanya

pertobatan.  Kitab  ini  memfokuskan  penghakiman  yang  sudah  lampau  (belalang),

penghakiman yang sedang dihadapi (bangsa-bangsa), tersedianya belas kasihan Allah dan

panggilan Allah untuk bertobat (Yoe 1:13-20; 2:12-17).

APA PESANNYA?

Walaupun demikian,  Yoel  adalah seorang nabi  harapan.  Sebenarnya ia  dinamakan "nabi

kebangunan rohani" (Yoe 2:18-32). Kita dapat melihat hal ini terutama dalam peristiwa Hari

Pentakosta  pada  waktu  nubuatan  Yoel  digenapi.  Tentu  saja  beberapa  nubuatan  masih

menunggu  penggenapannya  (Yoe  2:28,29;  Kis  2:16-21).  namun   kita  juga  dapat  melihat

dalam kitab  Yoel  suatu  ramalan  mengenai  berkumpulnya kembali  orang  Israel  di  tanah

leluhur mereka dan mengenai penghakiman atas bangsa-bangsa (Yoe 3:2-7; Mat 25:32).

KITAB NUBUATAN YANG SANGAT INDAH

Sebagai literatur, Yoel merupakan kitab yang indah. Tidak pernah ditemukan dalam kitab-

kitab lain gambaran yang begitu terperinci  mengenai  kehancuran yang disebabkan oleh

awan belalang yang bergulung-gulung. Dan berkat kepandaiannya, Yoel melihat kumpulan

belalang  ini  sebagai  suatu  ilustrasi  yang  luar  biasa  mengenai  rombongan  musuh  yang

mengelilingi Yehuda yang akan membawa penghukuman dari Allah.

AMOS

“Nabi bagi masyarakat yang makmur”

SANG NABI

Amos bukan seorang nabi profesional. Ia seorang penggembala (Amo 1:1) dan boleh jadi

seorang peternak domba yang senantiasa pergi ke pasar untuk menjual domba-dombanya.

Mungkin dalam rangka perjalanan niaganya itulah ia mulai berkhotbah. Tempat tinggalnya

di Tekoa,  dua belas mil  di  sebelah selatan Yerusalem. sebab  ia berkhotbah di  kerajaan

Israel  bagian  utara,  maka  tentu  saja  ia  tidak  diterima  dengan  baik  --  orang  selatan

berkhotbah di utara (Amo 7:12)! Walaupun ia bukan seorang nabi profesional (Amo 7:14), ia

telah mendengar suara Allah dan ia merasa tidak memiliki  pilihan lain selain berkhotbah

(Amo 1:12).

WAKTU PENULISAN

Amos menandai waktu khotbahnya dengan "dua tahun sebelum gempa bumi". Gempa bumi

itu  merupakan  suatu  peristiwa  bersejarah  yang  penting  (lihat Amo  8:8;  9:5;  Zak  14:5),

namun  waktunya yang tepat tidak lagi dapat dilacak. Waktunya mungkin sekitar tahun 760

SM. Dua orang Raja disebutkan di sini, yaitu Uzia yang memerintah dari tahun 783-742 SM

dan Yerobeam II dari tahun 786-746 SM.

KEADAAN SAAT ITU

Amos berkhotbah kepada suatu masyarakat yang belum pernah mengalami keadaan sebaik

itu.

1. Masa damai.  Kerajaan Asyur yang penuh kuasa dipimpin oleh penguasa-penguasa

yang lemah, sehingga Israel dibiarkan begitu saja.

2. Masa  kemakmuran.  Perdagangan  maju  dan  untuk  beberapa  waktu  Israel  cukup

makmur.

3. Masa  penuh  masalah.  Kekayaan  tidak  dibagi  rata  dalam  masyarakat.  Si  kaya

bertambah kaya, sedangkan si miskin bukan hanya bertambah miskin, namun  dengan

sengaja ditindas oleh si kaya. Pada waktu yang bersamaan mereka mulai melupakan

Allah dalam kehidupan mereka. Mereka tetap menampilkan sikap beragama mereka,

namun  semua itu tidak berarti apa-apa bagi mereka.

GAYANYA

Amos tentunya seorang pemberani. Khotbahnya langsung pada sasaran. Ia tidak pernah

berpura-pura dengan kata-katanya, bahkan waktu berdebat dengan seorang imam (Amo

7:17). Nubuatannya penuh dengan penghakiman dan kebinasaan. Ia menggambarkan Allah

sebagai seekor singa yang mengaum-aum, dan kita dapat membayangkan bagaimana ia

menyampaikan  khotbahnya  bak  singa  sedang  mengaum  kepada  para  pendengar  yang

enggan mendengar dan malu, yang ketenteramannya sudah diganggunya dengan kasar.

Secara keseluruhan, ada saat-saat kelembutan di dalam nubuatnya dan kitab ini diakhiri

dengan suatu pesan pengharapan.

OBAJA

“Si Penuntut balas sudah datang”

PENULIS

 OBAJA. Namanya berarti  "hamba Tuhan", namun   jati  dirinya yang sebenarnya tidak

jelas. Beberapa orang dalam Perjanjian Baru memakai nama ini.

 NAHUM. Namanya berarti "penghibur". Tidak ada yang diketahui tentang dia, kecuali

bahwa ia adalah penduduk asli Elkosy, mungkin sebuah kota yang letaknya duapuluh

mil  di  sebelah  barat  daya  Yerusalem.  Sebenarnya,  kedua  "nama"  tersebut  lebih

menunjukkan fungsi kedua nabi tersebut daripada tentang jati diri mereka.

WAKTU PENULISAN

  OBAJA.  Penentuan  waktu  penulisan  banyak  bergantung  pada  waktu  penaklukkan

Yerusalem yang dimaksud dalam ayat Oba 1:10-14. Penaklukkan ini mungkin yang

dilakukan oleh bangsa Babel dalam tahun 587 SM (jika demikian halnya, maka Obaja

ditulis  pada pertengahan abad keenam),  atau penaklukkan oleh bangsa Arab dan

Filistin di abad kesembilan. Kebanyakan ahli berpegang pada abad keenam.

  NAHUM. Waktu penulisan ialah antara tahun 663 SM, ketika Tebe ditaklukkan oleh

bangsa Asyur (lihat Nah 3:8-10) dan kekalahan Niniwe, ibukota Asyur, oleh tentara

gabungan antara Medes dan orang Babilonia di tahun 612 SM seperti digambarkan

dengan jelas dalam Nah 2:6-8.

LATAR BELAKANG

Kesamaan yang terdapat dalam kedua kitab itu ialah suasana kebencian dari musuh-musuh

umat Allah. Obaja menyerang Edom dan Nahum, Asyur. Kedua bangsa yang sedang berada

di puncak kekuasaan itu bersikap congkak dan menindas. Bangsa Edom adalah "sepupu

dekat" bangsa Israel --  Esau, nenek moyang bangsa Edom adalah saudara Yakub --  dan

permusuhan antara kedua bersaudara itu tercermin dalam peperangan yang sering terjadi

antara  Israel  dan Edom. Asyur  yang berada di  puncak kejayaannya merupakan sumber

ketakutan bagi seluruh Asia barat, dan bertanggung jawab atas kekejaman yang luar biasa

dalam peperangan, terutama terhadap Mesir.

CIRI-CIRI

Kedua  kitab  nubuatan  ini  ditulis  dalam bentuk  puisi,  dan  berisi  gambaran  yang  paling

realistis  mengenai  pengepungan dan penyerangan terhadap sebuah kota dalam seluruh

Perjanjian  Lama.  Kedua  nabi  mengungkapkan  keinginan  untuk  membalas  dendam,

membayangkan dengan penuh sukacita setiap detail dari keruntuhan musuh-musuh bangsa

Israel.  Hal  yang  tidak  biasa  dari  kedua  kitab  ini  ialah  tidak  adanya  tulisan  mengenai

hukuman terhadap bangsa Israel dan panggilan untuk bertobat yang merupakan hal yang

umum dalam tulisan-tulisan Amos dan Mikha di  abad kedelapan.  Dalam Perjanjian Baru

tidak terdapat acuan langsung terhadap kedua kitab ini.

YUNUS

“Bagaimana mungkin Allah memberkati orang jahat?”

NABI YANG LAIN DARIPADA YANG LAIN

Walaupun kitab Yunus dimasukkan dalam kumpulan kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama,

kitab ini lain daripada yang lain. Pertama, kitab ini merupakan kisah tentang insiden yang

terjadi dalam kehidupan sang nabi. Pesan yang sebenarnya pendek sekali (Yun 3:4). Juga,

rupa-rupanya kitab ini ditulis oleh orang lain yang berbicara tentang Yunus sebagai orang

ketiga, tidak seperti kitab-kitab lainnya dalam Alkitab. Selain dari kitab ini, yang kita ketahui

tentang  Yunus  ialah  bahwa  ia  berkhotbah  di  kerajaan  utara  pada  waktu  pemerintahan

Yerobeam II (2Raj 14:25), yaitu sekitar tahun 780 SM. namun  hal ini tidak berarti bahwa kitab

ini disusun seawal itu. Boleh jadi kitab ini ditulis lama sesudah itu, yaitu ketika bangsa Israel

memerlukan pelajaran yang oleh Yunus harus dipelajari dengan susah payah.

BAGAIMANA HALNYA DENGAN IKAN PAUS ITU?

Orang-orang modern sukar untuk menerima kisah Yunus, sebab  tidak mudah bagi mereka

mempercayai bahwa ia dapa


perjanjian lama 2

 


lah 

namun Allah namun  setia kepada mereka, mereka tetap 

menjadi umat pilihan Allah dan berhak atas janji-janji Allah. 


Hal ini nyata dalam kehidupan bangsa Israel yang dijelaskan 

dalam kedua kitab ini.  

6. Garis Besar Kitab  

Garis besar kitab I Tawarikh, yaitu: 

a. Silsilah garis Daud (psl. 1-9) 

   Adam ke Abraham (1) 

   Abraham ke Yakub  

   Yakub ke Daud (2) 

   Yakub ke pengasingan (3) 

   Silsilah dua belas suku (4-8) 

   Penduduk Yerusalem (9) 

b. Penobatan Daud (psl. 10-12) 

   Kematian Saul (10) 

   Pengangkatan Daud (11) 

  Perebutan Yerusalem 

  Pahlawan-pahlawan Daud 

c. Pemerintahan Daud (psl. 13-28) 

   Daud dan tabut Suci (13-17) 

  Daud membawa tabut ke Kidon 

  Kemenangan raja Daud atas Filistin 

  Daud membawa tabut ke Yerusalem 

  Kerinduan Daud mendirikan Bait Suci 

   Peperangan raja Daud (18-20) 

   Sensus dan dosa raja Daud (21) 

58 

 

   Pembangunan Bait Suci (22-26) 

  Penugasan kaum Lewi 

  Penugasan kelompok musisi 

  Penugasan penjaga gerbang 

  Penugasan bendahara 

  Penugasan para hakim  

   Pamong praja kerajaan (27) 

   Instruksi terakhir Daud (28) 

d. Saat terakhir Daud (psl. 29) 

Garis besar kitab II Tawarikh 

a. Pemeritahan raja Israel (psl. 1-9) 

   Penobatan raja Salomo 

   Pembangunan Bait Suci 

   Kesohoran raja Salomo 

b. Pemerintahan raja Yehuda 

   Raja Rehabeam  

   Raja Asa 

   Raja Yosafat 

   Raja Yoas 

   Raja Uzia  .............................................Nabi Amos, 

Hosea 

   Raja Yotam .......................................... Nabi Yesaya 

   Raja Ahaz ............................................ Nabi Mikha 

   Raja Hizkia ..........................................Nabi Hosea 

59 

 

   Raja Manasye 

   Raja Yosia ..........................................Nabi Yeremia, 

Zefanya 

   Raja Yoyakim ................................... Nabi Daniel 

   Raja Yoyakin .....................................Nabi Yehezkiel 

   Raja Zedekia 

c. Dekrit Koresh, raja Persia (psl. 36) 

   Menugaskan bangsa membangun kembali Yerusalem 

   Memulangkan remnan untuk kembali ke Yerusalem 

 

Kitab Ezra 

1. Judul Kitab. 

Dalam Tanakh kuno, Ezra dan Nehemia dianggap satu kitab 

yang disebut Kitab Ezra. Sedang Josephus dalam Againts 

Apiuon 1.8 dan Jerome dalam Preface to the Commentary on 

Galatians juga menganggap kitab Ezra dan Nehemia itu satu 

unit. Walaupun begitu Tanakh modern membagi dua yaitu : 

Kitab Ezra dan Kitab Nehemia. Selain itu beberapa ahli 

menyanggah Kitab Ezra dan Nehemia satu unit sebab  daftar 

pada Ezra 2 dan Nehemia 7 itu pada dasarnya sama, maka 

sulit diterima jika daftar yang sama dicantumkan dalam satu 

kitab.  

2. Penulis 

Kitab Ezra tidak mencantumkan penulisnya.  Namun Talmud 

menunjuk Ezra sebagai penulisnya. Para Pakar modern 

60 

 

setuju kalau Ezra memang penulis kitab ini dengan 

memakai  beragam dokumen (psl. 4:7-16), silsilah (psl. 

2:1-70) dan memo pribadi (psl. 7:27 – 9:15) sebagai 

sumbernya.  Selain itu dari segi isi, Ezra merupakan tokoh 

kunci dalam kitab ini. Hal ini mendukung bahwa Ezra penulis 

kitab ini. 

3. Tahun Penulisan 

Berdasarkan tatabahasanya, kitab ini mirip dengan papirus 

Aramaik abad kelima milik kaum Yahudi di Elephantine, 

Mesir. Berdasarkan hal ini maka penulisan kitab ini pada awal 

kehidupan Ezra yang sezaman dengan Nehemia (Neh. 8:1-9; 

12:36). Ezra mungkin menyelesaikan kitab ini ketika peristiwa 

psl. 10:17-44 tengah berlangsung di saat Nehemia tiba di 

Yerusalem. Oleh sebab  itu penulisan kitab ini yaitu : 457 – 

444 sM. 

4. Tema 

Tema Kitab ini yaitu pemulihan spiritual, moral dan sosial dari 

kaum Remnan yang pulang dibawah kepemimpinan 

Zerubabel dan Ezra. Hal ini nyata dari isi kitab ini dimana 

dalam kitab  ini dipaparkan bagaimana Allah menggenapi 

janjinya untuk memulangkan umatNya ke tanah perjanjian 

sesudah  70 tahun di tempat pengasingan sesuai dengan 

nubuatan para nabi. Hal ini dimulai dengan dekrit Koresh, 

Raja Persia yang mengijinkan kaum Remnan pulang. Mereka 

begitu antusias untuk membangun kembali puing-puing Bait 

 

 

Suci. Namun selama 18 tahun terhambat oleh gangguan 

musuh-musuh dari utara. Akhirnya dekrit Darius mengijinkan 

gelombang kedua kaum Remnan untuk pulang 

menyelesaikan pembangunan Bait Suci (Ezra 1 – 6). Dalam 

Ezra 7-10 juga dijelaskan tentang imam Ezra yang mengajar 

umat tentang hukum taurat dan mereformasi kehidupan 

rohani bangsa. 

5. Garis Besar 

I. Pemulihan Dipimpin Zerubabel (psl. 1-6). 

a. Dikeluarkannya dekrit Koresh (psl. 1). 

b. Diadakannya sensus (psl. 2). 

c. Dipersiapkannya rekontruksi Bait Suci (psl. 3). 

d. Dihalanginya oleh pihak oposisi (psl. 4). 

e. Dituntaskannya Rekontruksi Bait Suci (psl. 5-6). 

II. Pembaharuan dipimpin oleh Ezra (psl. 7-10). 

a. Pemulangan ke Yerusalem (psl. 7-8). 

b. Pembaharuan Yerusalem (psl. 9-10). 

 

Kitab Nehemia 

1. Judul 

Judul kitab ini didasarkan akan isi kitab. Dimana isi kitab ini 

menceritakan tentang Nehemia, juru minum raja Persia. Kata 

Nehemia artinya ‘Yahwe menghibur’. 

 

  

 

2. Penulis. 

Banyak ahli menyakini bahwa  Nehemia, kolega Ezra yaitu  

penulis kitab ini. Hal ini didasarkan pada psl. 1:1 yang 

berbunyi: “Perkataan Nehemia bin Hakhalya” . Selain itu 

pemakaian kata ganti orang pertama dalam kisah kepulangan 

Bangsa Israel ke Tanah Kanaan itu menunjuk kepada 

Nehemia sebagai pemimpin saat itu (psl. 1 – 7; 12:31 – 

13:31). 

3. Tahun Penulisan. 

Berdasarkan catatan sejarah yang ada maka kitab Nehemia 

ini ditulis sekitar tahun 445-425 sM. Hal ini sesuai dengan isi 

kitab ini  dimana peristiwanya terjadi pada tahun-tahun 

ini . 

4. Tema. 

Tema kitab ini yaitu pemulihan spiritual, moral dan sosial 

kaum Israel.  Kitab ini sebenarnya melanjutkan sejarah 

bangsa Yahudi yang pulang dari pengasingan. Nehemia yang 

yaitu  juru minum Artahsasta (Raja Persia) mengundurkan 

diri untuk menjadi gubernur Yerusalem. Bersama dengan 

Ezra, Nehemia mulai membangun kembali kota Yerusalem 

dengan memperbaiki Tembok Yerusalem yang telah hancur. 

5. Tujuan penulisan 

Tujuan penulisan kitab ini yaitu untuk menunjukkan tangan 

Allah yang menegakkan umatNya di atas tanah air mereka 

sendiri sesudah  bertahun-tahun hidup dalam pengasingan. 

 

6. Garis besar 

I. Rekontruksi tembok Yerusalem (psl. 1 – 7). 

a. Persiapan rekontruksi (1-2) 

b. Proses rekontruksi (3-7). 

II.  Reformasi umat Allah di Yerusalem (psl. 8 – 13). 

a.   Reformasi kovenan (8-10). 

      b.   Rededikasi umat Kovenan (11-13). 

 

KITAB ESTER 

1. Judul 

Kitab ini menganbil judul dari karakter tokohnya, yang nama 

Ibraninya: Hadassah: myrtle yang kemudian diganti dengan 

nama Ester (bhs Persia artinya Dewi Bintang). Namun kata 

ini  dalam bahasa Ibraninya artinya: ‘sembunyi’. 

2. Penulis 

Kitab ini tidak memberi petunjuk apa-apa tentang siapa 

penulisnya. Siapapun dia, ia tentu tahu betul tentang 

kebudayaan Persia. Dari isinya terdeteksi semua tanda 

seseorang yang pernah berada disana, sebab ia dapat 

menjelaskan banyak peristiwa sebagai layaknya saksi mata. 

Mungkin saja ia orang Yahudi. Ada yang berpendapat bahwa 

Ezra atau Nehemia yang menulisnya, namun tak ada bukti 

otentik yang mendukung pendapat ini. 

 

3. Tahun penulisan 

Segala peristiwa yang terjadi dalam Kitab Ester, muncul juga 

dalam Kitab Ezra pasal 6 dan 7, antara kepulangan pertama 

yang dipimpin oleh Zerubabel dan kepulangan kedua yang 

dipimpin oleh Ezra. Oleh sebab  itu kemungkinan Kitab Ester 

ditulis sekitar tahun 470 – 435 sM, selama tahun-tahun 

terakhir kekuasaan Ahasveros (lih. 10:2-3), atau pada masa 

kekuasaan  putranya, Zerxes (thn. 464-424). 

4. Tema  

Tema kitab ini yaitu kesetiaan Allah terhadap kovenannya.  

Kitab Ester mengisahkan tentang seorang gadis cantik 

Yahudi yang dipilih oleh raja Persia Ahasveros untuk menjadi 

ratunya. Ketika Haman berencana memusnahkan orang 

Yahudi, maka Mordekai saudara sepupu Ester mencoba 

menyelamatkan kaumnya melalui Ester. Dengan 

mempertaruhkan nyawanya, ia memohon kepada sang raja 

untuk menmyelamatkan kaum Yahudi dari tangan Haman, si 

Amalek itu. Walaupun nama Allah tersembunyi dalam kitab 

ini. Providensia Allah menyebar jelas dalam setiap cerita 

didalamnya.  Allah tetap setia pada kovenanNya dan Ia terus 

membela umatNya dalam pencobaan penihilan sebuah 

bangsa. 

5. Garis besar 

I. Malapetaka mengancam kaum Yahudi (psl. 1 – 3). 

a. Pemilihan Ratu Ester (1-2). 

 

b. Persekongkolan Haman (3). 

II. Maharaja meluputkan Kaum Yahudi (psl. 4 – 10). 

a. Keputusan Ester (4-5). 

b. Kekalahan Haman (6-7). 

c. Ketetapan Raja (8). 

d. Kesemarakan Purim (9). 

e. Kejayaan Mordekai (10). 


 

KITAB – KITAB PUISI 

 

 sesudah  kita melakukan survei untuk kitab-kitab sejarah, 

maka selanjutnya kita akan mensurvei kitab-kitab yang 

digolongkan sebagai kitab puisi. Kitab puisi ini lebih pendek 

sebab  hanya terdiri dari lima kitab yaitu Ayub, Mazmur, Amsal, 

Pengkhotbah dan Kidung Agung. Kitab ini berisi tentang 

pengalaman para penulis. Dimana kitab ini memaparkan 

pengalaman nyata manusia yang mengutak-atik masalah-

masalah pelik dan mengungkapkan realita secara merata. 

Khususnya pengalaman rohani kaum saleh dan beragam cara 

mengatasi hidup yang berubah-rubah di bawah matahari. 

 Hikmat dari kata dasar bahasa Ibrani hakam tersebar 

disetiap kitab puisi sebagai ciri khas yang saling melengkapi. 

1. Kitab Ayub mengajarkan hikmat, bawasanya Allah yaitu  

Hakim yang adil, sekalipun yang dialami manusia seperti 

Ayub seakan akan tidak adil. 

2. Kitab  Mazmur mengajarkan hikmat untuk senantiasa taat 

kepada semua perintah sesuai petunjuk hukum-hukumNya. 

3. Kitab Amsal mengajarkan hikmat bahwa orang benar akan 

diberkati, sedang  orang fasik pasti dihukum. 

4. Kitab Pengkhotbah mengajarkan hikmat bahwa pada 

akhirnya akan ada penghakiman Allah. 

5. Kitab Kidung Agung mengajarkan hikmat, bawasanya Tuhan 

yaitu  Hikmat kasih sumber segala kasih. 

Tiga macam Kitab Puisi Ibrani: 

1. Puisi syair lagu. 

Melalui puji-pujian kepada Tuhan Pencipta dan Penebus. 

   Kitab Mazmur. 

2. Puisi Moral agama. 

Melalui pengajaran hidup penulis-penulis Amsal dan ibarat. 

   Kitab Amsal dan Kitab Pengkhotbah. 

3. Puisi drama kehidupan. 

Melalui pengalaman kebahagiaan dan penderitaan. 

   Kitab Ayub dan Kidung Agung. 

 

KITAB AYUB 

1. Judul 

Judul kitab ini diambil dari tokoh utama yang diceritakan oleh 

kitab ini yaitu Ayub. Nama Ayub berasal dari kata Ibrani IYOB 

dari akar kata AYAB yang artinya ‘memusuhi’ (to be hostile 

to), ‘menjadi musuh’ (to be an enemy), ‘aku ingin menjerit’ (I 

will exclaim), ‘membenci’ (hatred), ‘celaka’ (the cry of woe). 

Arti sesungguhnya sulit dipastikan sebab  kurangnya bukti-

bukti otentik. Namun yang pasti nama Ayub mengingatkan 

kita akan aib yang harus ditanggung Ayub yang saleh dan 

berintegritas tinggi, sehingga ia disangka orang terkena tulah 

dari Allah. 

 

2. Penulis. 

Memang tidak ada bukti yang otentik untuk menunjukkan 

siapa penulis kitab Ayub. Walaupun begitu ada beberapa ahli 

yang mengusulkan nama Elihu, Musa dan Salomo sebagai 

penulis kitab ini. Namun dilihat dari detail yang dicatat dan 

dari nama kitabnya saja kemungkinan besar bahwa Ayub 

menulis autobiografinya sendiri (bdn. Yunus, Ester). 

3. Tahun penulisan. 

Tahun penulisan kitab Ayub ini sangat sulit untuk dijelaskan. 

Walaupun begitu ada beberapa prinsip pandangan tentang 

tanggal penulisan kitab Ayub. Diantaranya yaitu: 

o Ayub hidup pada masa Patriakhat.  Hal ini nyata dari umur 

Ayub 140 tahun (42:16) umur yang langka zaman 

Patriakhat, kekayaan Ayub dimana harta kekayaan 

dibanding dengan jumlah ternak (1:3) merupakan tipe 

khas zaman Patriakhat, seperti halnya Abraham Ishak 

dan Yakub, Ayub yaitu  imam dalam keluarganya (1:5), 

tidak disebut-sebutnya Bani Israel atau Taurat Musa 

menunjukkan masa itu sebelum Musa. 

o Walaupun begitu para ahli menganggap bagian-bagian 

puisi kitab Ayub (3:1 – 42:6) berasal dari waktu yang lebih 

kemudian. Kemiripan kitab Ayub dengan Kitab Yeremia 

(bnd. Ayb. 3:3-26 dengan Yer. 20:14-18), dengan paroan 

akhir Kitab Yesaya (terutama nyanyian hamba Tuhan 

yang menderita Yes. 52:13 – 53:12), dengan Mazmur  8 

(bnd. Ayb. 7:17,18 dengan Maz. 8:6,7) dan dengan Ams. 

8 (bnd. Ayb. 15:7,8 dengan Ams. 8:22,25) semuanya 

menunjuk pada abad ke-7 sM.  

Dari data-data diatas kemungkinan kitab Ayub ini ditulis 

sebelum kitab Amsal namun penyusunan akhirnya 

diselesaikan zaman penulisan kitab Amsal. Oleh sebab  itu 

Kitab Ayub ditulis tahun 700 – 600 sM. 

4. Tema 

Tema kitab ini yaitu tentang theodicy.  Theodicy atau problem 

of evil yaitu ketika kebaikan, keadilan dan kedaulatan Allah 

ditantang oleh eksistensi penderitaan dan kejahatan. Kitab ini 

memang membahas pertanyaan yang sudah usang : 

“Mengapa orang benar menderita, kalau Allah yaitu  Allah 

yang penuh belas kasihan ?” Kisah ayub sengaja 

mengajarkan tentang kedaulatan Allah dan kebutuhan 

manusia untuk memahaminya. Ketiga sobat Ayub 

memberi  jawaban yang pada hakekatnya sama yaitu 

semua penderitaan diakibatkan oleh dosa. Namun Elihu 

menyatakan bahwa penderitaan sering terjadi untuk 

memurnikan orang benar. Tujuan Allah melucuti seluruh 

pembenaran diri Ayub dan membawanya ketingkat 

penyerahan diri secara lebih total kepada Allah. 

5. Tujuan penulisan 

Selain yang sudah dijelaskan dalam points tema diatas, 

tujuan kitab ini yaitu memaparkan konflik berabad-abad 

 

antara Allah dan Satan dan menunjukkan kaitan penderitaan 

akibat konflik ini. Pada akhirnya kitab ini membuntikan 

kebenaran yang dicatat Rom. 8:28. 

6.   Garis besar. 

I. Prolog : Kesengsaraan Ayub (psl. 1-2). 

A. Karakter Ayub dipaparkan 

B. Karakter Ayub dibahas 

C. Karakter Ayub diuji – coba 

1. Iman dan fasilitas 

a. Allah memberi  fasilitas 

b. Satan mengambil fasilitas 

c. Ayub mengembalikan fasilitas 

2. Iman dan integritas 

a. Allah menguji integritas Ayub 

b. Satan merusak integriotas Ayub 

c. Ayub mempertahankan integritas 

II. Dialog : Ayub dan para sahabat (psl. 3-26). 

A. Ratapan Ayub 

B. Keluhan sahabat 

1. Tanggapan Elifas 

2. Tanggapan Bildad 

3. Tanggapan Zofar 

C. Kegelisahan sahabat 

1. Komentar Elifas 

2. Komentar Bildad 

 

3. Komentar Zofar 

III. Monolok : Elihu (psl. 27-41). 

A. Dari Ayub ke Ayub 

1. Mengingat masa silam. 

2. Melihat masa sekarang 

B. Dari Elihu untuk Ayub. 

C. Dari Tuhan untuk Ayub 

1. Dimanakah engkau ? 

2. Dapatkah engkau ? 

3. Siapakah yang dapat ? 

IV. Epilog : Allah. 

A. Penyesalan Ayub 

B. Pemulihan Ayub 

 

KITAB MAZMUR 

1. Judul 

Dalam Bahasa Ibrani, kitab Mazmur berjudul Tehilim atau 

Sefer Tehilim (Kitab-kitab Tahlil) atau disingkat Tilim (Kidung 

pujian). Septuaginta memberi nama Psalmoi (Mazmur) yaitu 

lagu-lagu atau puisi-puisi yang dinyanyikan dengan iringan 

musik. Kata Psalmos berasal dari psallein artinya ‘memetik 

senar’ pengiring lagu. 

2. Penulis 

Sekalipun sebagian besar teks Mazmur tidak menunjukkan 

siapa penulisnya, namun judulnya sering memberi petunjuk 

tentang penulisnya. Para penulis itu diantaranya : Ethan 

menulis 1 Mazmur yaitu psl. 89; Musa menulis 1 Mazmur 

yaitu psl. 90; Salomo menulis 2 Mazmur yaitu psl. 72 dan 

127; Korah menulis 12 Mazmur yaitu psl. 42, 44-49, 84-85, 

87-88;  Asaf menulis 12 Mazmur yaitu psl. 50, 73-83 dan 

Daud menulis 73 Mazmur. 

3. Tahun penulisan 

sebab  cakupan kronologis yang sangat luas, pengaturan 

tema yang melebar dan banyaknya orang yang hidup dalam 

beragam kondisi, kitab Mazmur merefleksikan multi-suasana 

dan pengalaman yang sangat relevan bagi para pembacanya 

tanpa menghiraukan di zaman apa ia hidup. Dibawah ini 

dijelaskan penanggalan kitab Mazmur menurut Archer yaitu : 

Mazmur 90 merupakan Mazmur pertama yang ditulis Musa 

sekitar tahun 1405 sM. Mazmur Daud aslinya ditulis sekitar 

tahun 1020-975 sM. Mazmur Asaf diperkirakan ditulis tahun 

pada periode yang sama. Mazmur 127 ditulis pada masa 

pemerintahan Salomo yaitu tahun 950 sM. Untuk Mazmur 

Korah sulit untuk menentukan tahun penulisannya sebab sulit 

untuk memastikan masa keturunan Korah. Namun ada 

kemungkinan Mazmur ini  ditulis pada masa 

pengasingan. 

4. Tema 

Sulit untuk menggeneralisasi sebuah tema untuk kumpulan 

150 Mazmur ini sebab Mazmur ini  mencakup beragam 

perasaan, keadaan dan tema. Namun secara keseluruhan 

tema umum kitab Mazmur yaitu Ibadah, yang secara hakiki 

merupakan penawar keresahan melalui respon pribadi 

terhadap karya Allah. Mazmur merupakan ekspresi ibadah, 

iman dan kehidupan rohani umat Israel. Dalam Mazmur, kita 

punya cermin hati umat Allah yang mencatat pengalaman 

manusia yang sederhana, universal, dalam pancangan 

pribadi, perjanjian, rancangan dan kehadiran Allah. 

5. Tujuan penulisan 

Untuk mengekspresikan respon pribadi orang percaya atas 

kebajikan dan anugerah Allah. Oleh sebab  itu kebanyakan 

Mazmur berisikan catatan isi hati pemazmur yang terdalam 

tentang keputusasaan, kecemasan, atau syukur yang muncul 

bahkan disaat menghadapi perlawanan dari musuh-musuh 

Allah atau ketika pengalami pemeliharaan Allah. 

6. Cara menafsir Mazmur. 

Ada empat cara menafsir Kitab Mazmur yaitu: 

o Berdasarkan latar belakang sejarah peristiwanya. 

o Berkaitan dengan aspek-aspek tata ibadah Israel. 

o Berhubungan dengan  srtuktur dan motif penulisnya. 

o Berdasarkan metode gramatika-historika, dengan 

memperhatikan : penggenapan nubuatan-nubuatan 

Mazmur khusus mengacu pada Yesus Kristus. 

   Tipikal Mesianik. Pemazmur mempunyai tipe Kristus 

(34:20), namun unsur-unsur lainnya kurang sesuai. 

 

Dalam hal ini, mungkin Yesus dan para rasulNya 

mengaplikasikan ungkapan mazmur yang mirip 

dengan pengalaman mereka (109:8 bnd. Kis. 1:20). 

   Tipologi Mesianik. Kendati para pemazmur 

mendeskripsikan pengalaman pribadi, bahasa mereka 

yang melampaui mereka, menjadi kenyataan historis 

dalam diri Kristus secara : pertama, mesianik. 

Mengacu pada keluarga Daud atau raja tertentu, 

namun hanya akan mencapai puncak 

penggenapannya dalam pribadi Kristus, Anak Daud 

(2). Kedua, profetik. Mengacu langsung pada Kristus 

tanpa acuan kepada orang lain (110). 

 

KITAB AMSAL 

1. Judul 

Amsal memperoleh namanya dari isinya yaitu pepatah atau 

peribahasa yang menyampaikan kebenaran dengan cara 

yang ringkas dan tajam. Kata Ibrani Mashal (terjemahan 

Indonesia : misal atau perumpamaan) yang juga berarti 

‘paralel’ , ‘serupa’, ‘perbandingan’. Amsal merujuk pada suatu 

perbandingan atau tamsil yang menggaris bawahi peribahasa 

moral. Sebagai pepatah ringkas, sebuah Amsal merujuk pada 

suatu antitesis. Judul ini berasal dari fakta bahwa tulisan ini 

yaitu  ringkasan pengajaran moral dan spiritual yang 

 

dirancang untuk memungkinkan seseorang dapat hidup 

bijaksana. 

2. Penulis. 

Menurut 1 Raja-raja 4:32, Salomo menggubah 3000 amsal 

dan 1005 lagu. Sekalipun dia memang menulis sebagaian 

besar dari kitab Amsal ini, paruh terakhir menunjukkan bahwa 

dia bukan satu-satunya penulis kitab ini. Rinciannya yaitu 

Salomo menulis psl. 1-24, koleksi Hizkia psl. 25-29, koleksi 

Agur psl. 30 dan koleksi Lemuel psl. 31. 

3. Tahun Penulisan 

Sebagai Kitab Hikmat, Amsal bukanlah sebuah kitab sejarah 

namun  lebih kepada hasil karya sekolah hikmat di Israel. 

Amsal-amsal Salomo ditulis sebelum wafatnya di tahun 931 

sM dan koleksinya disimpan para juru tulis Raja Hizkia sekitar 

tahun 700 sM. Sedang Amsal yang lain juga ditulis sekitar 

tahun ini . Oleh sebab  itu kitab Amsal ini ditulis tahun 

950 – 700 sM. 

4. Tema 

Tema dari kitab ini yaitu  hikmat untuk hidup melalui 

pengajaran khusus dalam setiap persoalan hidup: kebebalan, 

dosa, kebaikan, kesehatan, kemiskinan, lidah, kesombongan, 

kerendahan hati, keadilan, keluarga, dendam, perselisihan, 

keserakahan, kasih, kemalasan, sahabat, kehidupan dan 

kermatian. Tidak ada kitab selain Amsal yang lebih praktis 

dalam menyampaikan hikmat hidup sehari-hari. 

Tesis : “Takut akan Tuhan yaitu  awal hikmat” (1:7; 9:10). 

Absennya takut akan Allah menuju pada kebebalan hidup 

tanpa kendali. Takut akan Tuhan artinya ‘berdiri takjub sebab  

karakterNya dan kekuasaanNya yang kudus’. Pada saat 

bersamaan, Amsal menunjukkan bahwa hikmat sejati 

mengarahkan pembaca pada takut akan Tuhan (2:1-5). 

5. Hikmat dalam Kitab Amsal. 

Dalam Amsal 8 hikmat dipersonifikasikan sebagai spirit 

(ruach) hikmat (hokmah). Ia tidak diciptakan, sebab sejak 

semula ia telah bersama-sama dengan Tuhan. Psl. 8:22 

berbunyi “ Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan 

pekerjaanNya, sebagai perbuatanNya yang pertama-tama 

dahulu kala.” Kata yang digunakan untuk ‘menciptakan’ 

bukanlah kata bara (menciptakan) atau asa (membuat) 

melainkan qanah yang artinya ‘lebih merujuk pada memiliki’, 

mendapatkan atau mengupayakan ukuran standart 

(kanon/ruler) hikmat untuk memulai segala sesuatu pada 

mulanya. Pengertian ini menunjukkan bahwa hikmat itu sudah 

ada sejak kekal sebagai standart pengukur pekerjaan Allah 

sumber hikmat itu. 

   Hikmat itu bersifat ilahi (8:22-31) 

   Hikmat itu sumber kehidupan (3:18; 8:35-36). 

   Hikmat itu benar dan pengukur moral (8:8-9). 

   Hikmat itu tersedia bagi yang mau menerimanya (8:1-6) 

   Hikmat itu didalam Kristus ‘sebab dalam Dialah 

tersembunyi seluruh harta hikmat dan pengetahuan’ (Kol. 

2:3). 

 

KITAB PENGKHOTBAH 

1. Judul. 

Nama Pengkhotbah berasal dari judul yang diberikan oleh 

Septuaginta. Istilah Yunani: ecclesiastes, berarti 

‘perhimpunan’ yang berasal dari kata ekklesia yaitu yang 

dipanggil keluar untuk berhimpun bersama (kaum beriman). 

Judul Ibrani Qoheleth berarti ‘seseorang yang berbicara 

dalam suatu qahalayak ramai’ yang biasanya disebut 

‘pengkhotbah’. 

2. Penulis. 

Ada dua pendapat tentang siapa penulis kitab ini yaitu: 

   Memakai bukti eksternal, dimana tradisi Yahudi mengakui 

bahwa Salomo penulis kitab ini. Hal ini juga didukung oleh 

bukti internal dimana penulis selalu merujuk kepada 

Salomo. Diantaranya yaitu : penulis memperkenalkan 

dirinya sebagai ‘Anak Daud, raja di Yerusalem’ (1:1). 

Porsi hikmatnya tak ada tandingannya (1:16 bnd. 1 Raj. 

4), kekayaannya tak habis-habisnya (2:7), dan 

pembangunan yang tak henti-hentinya (2:4-6) seluruhnya 

memberi kesan bahwa hanya orang sekaliber Salomo 

sajalah yang sanggup melakukannya.  

   Pendapat kedua menyanggah pendapat diatas, dengan 

menunjukkan bahwa kitab Pengkhotbah mempunyai gaya 

bahasa abad  5 sM yang tidak sezaman dengan Salomo, 

misalnya adanya pengaruh bahasa Aramaik serta adanya 

pinjaman kata-kata asal Persia, ditambah lagi dengan 

kegiatan-kegiatan agamis yang baru muncul di Palestina 

sekitar abad 2 sM, di tengah-tengah gejolak isme-isme 

dan perilaku hidup yang dipaparkan Pengkhotbah. 

Menurut bahasa Ibrani yang digunakan oleh Ezra-

Nehemia (abad 5 sM), maka Pengkhotbah tidak 

dimungkinkan menuliskannya lebih dini dari abad 4 sM. 

Belum lagi ada kesan yang seakan menunjuk si penulis 

bukan seorang raja, sehingga ia tak dapat mengambil 

keputusan dalam pengadilan (3:16). 

Dari kedua pendapat diatas, pendapat pertama lebih banyak 

dianut oleh para ahli, sebab alasannya lebih dapat 

dipertanggung jawabkan. 

3. Tahun Penulisan. 

Menurut tradisi Yahudi, Salomo menulis Kitab Pengkhotbah 

pada masa tuanya, seakan mengungkapkan penderitaan 

orang lanjut usia (bnd. 12:1). Ada kemungkinan, Kitab 

Pengkhotbah merupakan catatan jurnal penyesalan Salomo 

dan pertobatannya dari penyelewengan imoralitasnya yang 

tercatat dalam 1 Raj. 11. Kitab Pengkhotbah mungkin saja 

ditulis antara menjelang kematian Salomo hingga kerajaannya 

terbagi dua yaitu tahun 1000 – 900 sM. 

4. Tema. 

Tema kitab Pengkhotbah yaitu kesia-siaan hidup yang 

terpisah dari Allah. Hal itu nyata dalam : 

   Hidup tanpa Allah sia-sia saja. Pengkhotbah mencoba 

menjelaskan bahwa keberhasilan dan kebijaksanaan 

manusiawi itu akhirnya akan sia-sia jika tanpa Allah. 

   Pengkhotbah menegaskan bahwa tidak semua kenyataan 

hidup dapat seutuhnya terpahami, yang berarti kita harus 

hidup dengan mata rohani bukan mata jasmani. Oleh 

sebab  itu kunci hidup yaitu  takut akan Allah dan takluk 

kepada hukum-hukumnya. 

   Pengkhotbah menunjukkan bahwa manusia yang 

meninggalkan Tuhan akan menemukan hidup yang 

hampa dan kekecewaan. 

5. Garis besar. 

I. Pendahuluan. 

A. Permasalahan hidup dipaparkan (psl. 1-2). 

1. Kefanaan lingkaran kehidupan 

2. Kefanaan hikmat manusia 

3. Kefanaan kesukaan dan kekayaan 

4. Kefanaan materialisme 

5. Kesimpulan 

B. Perencanaan Allah yang kekal (psl. 3). 

1. Ia menetapkan peristiwa kehidupan 

2. Ia menetapakan kondisi kehidupan 

3. Ia menghakimi semua 

4. Kesimpulan 

C. Kefanaan keadaan hidup (psl. 4-5). 

1. Kekuasaan kejahatan 

2. Kefanaan kerja keras 

3. Kefanaan kesuksesan politik 

4. Kefanaan kepercayaan manusia 

5. Kefanaan kepercayaan manusia 

6. Kesimpulan. 

D.  Kefanaan hidup secara keseluruhan (psl. 6). 

1. Kekayaan tak akan memuaskan 

2. Kematian lebih baik dari pada kehidupan 

3. Kerja keras tak akan memuaskan 

E. Nasihat untuk hidup dalam kefanaan (psl. 7-12). 

1. Nasihat mengingatkan akan kejahatan manusia  

2. Nasihat mengingat akan providensia Allah 

3. Nasihat mengingat ketidakpastian hidup 

4. Nasihat mengingat proses penuaan hidup 

II. Penutup 

 

 

 

KITAB KIDUNG AGUNG 

1. Judul 

Berkaitan dengan judul kitab ini Ryrie menulis: kitab ini diberi 

judul dengan beberapa cara: Judul Ibraninya diayat 1, Kidung 

dari segala Kidung yang artinya ‘paling indah atau kidung 

terindah’. Judul Inggrisnya juga diambil dari ayat 1, Kidung 

Salomo yang menunjuk sang penulis dan canticles (Latin) 

yang artinya ‘kidung pujian’. 

2. Penulis 

Kendati ada beberapa kritikus menolak Salomo sebagai 

penulis sebab  pengartikan of Salomo pada pasal satu ayat 

satu, bukan dalam pengertian “oleh Salomo” melainkan 

“tentang Salomo”, bukti internal mendukung pendapat 

tradisional bahwa Salomo yaitu  penulisnya.  Isi kitab yang 

senada dengan segala sesuatu yang kita ketahui tentang 

hikmat Salomo, menyulitkan mereka yang tidak mengakui 

Salomo sebagai Sang penulis. Nama Salomo disebut tujuh 

kali (1:1,5; 3:7,9,11; 8:11,12), dan dia diidentifikasi sebagai 

mempelai laki-laki. 

3. Tahun penulisan 

Kidung Agung ini ditulis mungkin pada awal karir 

pemerintahan Salomo sekitar tahun 965 sM.  Saat itu, 

Salomo baru mempunyai 60 istri dan 80 selir (6:8). 

Selanjutnya 700 istri dan 300 selir (1 Raj. 11:3). 

 

82 

 

4. Tema 

Tema kitab ini yaitu cinta kasih. Hal ini nyata dari isi kitab 

Kidung Agung yang yaitu  kidung cinta yang penuh dengan 

beragam metafora dan ibarat yang dirancang untuk 

melukiskan cara pandang Allah tentang kasih dan 

pernikahan: keindahan cinta suami-istri.  

5. Garis besar 

I. Judul Kidung cinta 

II. Jatuh cinta (1-3) 

III. Bersatu dalam cinta kasih (3-5) 

IV. Bergumul dalam cinta kasih (5-7) 

V. Dewasa dalam cinta kasih (7-8). 

 


KITAB – KITAB NABI BESAR 

 

 sesudah  kita mempelajari kitab puisi maka dibawah ini 

akan kita pelajari kitab-kitab yang digolongkan sebagai kitab 

nabi-nabi. Kitab nabi-nabi ini menceritakan tentang kehidupan 

para nabi sebagai utusan Allah untuk Israel. Menurut 1 Sam. 9:9 

para nabi Israel awalnya disebut ro’eh (pelihat) yaitu seseorang 

yang bisa melihat hal-hal diluar alam penglihatan atau 

pendengaran biasa. Istilah lain dari etimologi sejenisnya yaitu  

hozeh atau “seseorang yang melihat secara supranatural” (2 

Sam. 24:11). Belakangan pelihat Ibrani lebih umum disebut 

nabhi. Nama ini dikaitkan dengan akar kata nabu (Akadia), 

“memanggil atau memberitakan”, “yang dipanggil Allah” secara 

pasif, atau “pemberita” secara aktif. Kata nabi yang berasal dari 

kata Ibrani navi secara hakiki berarti ‘seorang juru bicara resmi 

(yang diberi otoritas berbicara)’. Pengertian ini diambil dari 

etimologi yang tidak jelas sumbernya, namun dipakai dalam tiga 

perikop Perjanjian Lama yaitu Kel. 6:28 – 7:2, Bil. 12:1-8, dan Ul. 

18:9-22. 

 Kitab nabi-nabi dalam kitab Perjanjian Lama terbagi 

dalam dua golongan yaitu Kitab nabi-nabi besar dan Kitab nabi-

nabi kecil. Dibawah ini akan dijelaskan introduksi kitab yang 

digolongkan sebagai kitab nabi-nabi besar. Diantaranya yaitu: 

 

 

84 

 

KITAB YESAYA 

1. Judul 

Nama Yesaya diambil dari nama penulis yang menyusun 

kitabnya dibawah inspirasi Roh Kudus. Nama Ibrani, 

YESAYAHU yang berarti “Yahweh yaitu  keselamatan”, 

cocok dengan ringkasan unggulan tema dan isi kitab ini. 

2. Penulis. 

Penulis kitab ini yaitu Yesaya bin Amos. Buktinya yaitu: 

   Dalam Yes. 1:1 dijelaskan bahwa Yesaya yang mendapat 

penglihatan yag akhirnya dituliskan menjadi Kitab Yesaya. 

   Kitab Yesaya yang dikutib dalam kitab Perjanjian Baru 

selalu dikaitkan dengan nabi Yesaya. Misalnya: Kutiban 

psl. 40-66 yang tercatat dalam Mat. 3:3; 12:17-21; Luk. 

3:4-6; dll. 

3. Tahun penulisan. 

Yesaya memiliki rentang waktu pelayanan yang sangat 

panjang. Pelayanannya dimulai menjelang akhir masa 

pemerintahan Raja Uzia (790-739 sM), berlanjut selama 

pemerintahan raja Yotam (739-731 sM), Raja Ahaz (731-715 

sM) dan Hizkia (715-686 sM). Dia meloncati beberapa tahun 

masa Hizkia sebab  Yes. 37:38 mencatat kematian Sanherib 

pada 681 sM. Raja Hizkia digantikan oleh anaknya yang 

lalim, Raja Manasye yang membuang ibadah kepada Yahwe 

dan sudah tentu melawan tugas Yesaya. Dari keterangan di 

atas maka kitab Yesaya ditulis antara tahun 740 – 680 sM. 

 

4. Tema. 

Tema kitab Yesaya yaitu keselamatan yaitu  dari Yahwe. 

Hal ini nampak dari istilah keselamatan yang muncul sekitar 

26 kali dalam Yesaya. Oleh sebab  itu Yesaya suka disebut 

nabi penginjil sebab  ia banyak berbicara mengenai 

keselamatan dan karya penebusan mesias. Kitab ini banyak 

menyebutkan tentang pribadi dan karya Mesias dibanding 

kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya.  

5. Garis besar. 

I. Nubuat penghukuman (psl. 1-39). 

A. Nubuat melawan Yehuda (1-12). 

1. Penghukuman Yehuda 

2. Pengutusan nabi 

3. Penantian Mesias 

B. Nubuat melawan bangsa-bangsa (13-23). 

1. Babel, Asyur, Filistin 

2. Moab, Damsyik, Etiopia 

3. Mesir, babel, Edom 

4. Arab, Yerusalem, Tirus 

C. Nubuat datangnya hari Tuhan (24-27). 

1. Masa penganiayaan 

2. Masa pendamaian 

D. Nubuat atas Israel dan Yehuda (28-35). 

1. Laknat atas Samaria 

2. Laknat atas Yehuda 

 

3. Menantikan Mesias 

4. Menantikan kerajaanNya 

E. Nubuat atas Sanherib (36-39). 

1. Kenistaan Asyur. 

2. Kebenaran Allah 

3. Ancaman Asyur 

4. Kemenangan atas Asyur 

5. Kebodohan Hizkia 

III. Nubuat Pendamaian (psl. 40-66). 

A. Nubuat tentang penebusan Israel 

B. Nubuat tentang penyelamatan Israel. 

1. Kemuliaan hamba yang menderita 

2. Pemulihan masa depan Israel. 

 

KITAB YEREMIA 

1. Judul 

Kitab ini mengambil judul dari nama penulisnya yaitu Yeremia 

yang berasal dari kata Ibrani YIRME-YAHU yang artinya 

‘Yahwe menetapkan atau Yahwe meninggikan’.  Dilihat dari 

kata kerjanya rama arti harafiahnya yaitu  ‘Tuhan 

melemparkan’ baik dalam pengertian meletakkan fondasi 

atau pun ‘melemparkan’ sang nabi kedalam dunia yang keji 

atau ‘dilempar’ ke bawah untuk ‘menghakimi bangsa-bangsa’. 

 

 

2. Penulis 

Penulis kitab ini yaitu  Yeremia bin Hilkia (psl. 1:1). Ia 

berasal dari salah satu kota imam di Anatot tanah Benyamin. 

Ia mendiktekan nubuat-nubuatnya kepada Baruk juru tulisnya, 

kecuali psl. 52.  Yeremia dicap sebagai nabi yang suka 

menangis (9:1; 134:17). Ia juga nabi yang sendirian, sebab  

demi pelayanannya ia tidak boleh menikah (16:2). Semula ia 

enggan menjalankan tugasnya sebagai nabi sebab  merasa 

usianya masih muda (1:6), namun akhirnya ia malah 

membuktikan komitmennya yang konstan dalam 

menyuarakan suara kenabian dan nubuat-nubuat 

penghakiman Allah atas Yehuda yang telah menyimpang jauh 

dari Tuhan. Ia rela ditolak, dipenjarakan,. dipukuli dan bahkan 

hampir dibunuh (11:189-23; 18:18; 20:1-3; 37:11 – 38:28). 

3. Tahun penulisan 

Kitab Yeremia ini ditulis kira-kira tahun 627 – 585 sM.  Saat 

pelayanan di Yerusalem. Nabi Yeremia ini sezaman dengan 

Zefanya, Habakuk dan Yeheskiel. Nabi Yeremia merupakan 

nabi terakhir di Yerusalem. Tidak ada yang tahu pasti 

bagaimana masa akhir hidupnya, namun menurut tradisi 

Yahudi Yeremia mati dibunuh ketika ia berada di Mesir (bnd. 

Ibr. 11:37). 

4. Tema. 

Tema kitab Yeremia yaitu  penghakiman dan pemulihan. 

Dimana dalam kitab ini dijelaskan tentang keseimbangan 


 

antara pengumuman penghakiman (bagian pembukaan) dan 

pengharapan pemulihan (bagian penutup).  Memang saat itu 

situasi Yerusalem penuh dengan konflik dimana banyak 

pelanggaran yang dilakukan khususnya penyembahan 

kepada berhala (22:9; 32:29). Namun Yeremia tetap 

mengasihi umat Yehuda dan tetap mendoakan mereka 

(14:7,20). 

5. Garis besar. 

I. Pengutusan Yeremia (psl. 1). 

A. Panggilan  

B. Peneguhan 

II. Nubuat atas Yehuda (psl. 2-45). 

A. Penghukuman atas Yehuda 

1. Dosa dan hukuman 

2. Periuk pecah di tangan penjunan 

3. Raja-raja dan nabi-nabi palsu 

4. Pengasingan Yehuda 

B.   Penolakan terhadap Yeremia 

1.   Reaksi Yehuda 

2.   Nasehat Yeremia 

C. Pengharapan pemulihan 

D. Kejatuhan Yerusalem 

      III. Nubuat atas bangsa lain (psl. 46-51). 

A. Mesir dan Filistin 

B. Moab dan Amon 

89 

 

C. Edom dan Damsyik 

D. Arab dan Babel. 

      IV. Nasib umat Tuhan (psl. 52). 

   A.  Nasib Yerusalem 

   B.  Nasib umat. 

 

KITAB RATAPAN 

1. Judul 

Judulnya terdapat pada kata pertama di pasal pertama di ayat 

pertama kitab ini : AIKAH (“Bagaimana !” atau “Akh !”).  Dilihat 

dari pokok permasalahannya, kitab ini juga disebut Qinot atau 

ratapan-ratapan menurut Septuaginta dan Vulgata. 

2. Penulis. 

Penulis Kitab Ratapan memang tak disebut namanya,  namun 

ada dua bukti yang menunjukkan bahwa Yeremia sebagai 

penulis kitab ini.      Bukti itu yaitu  

   Bukti eksternal. Konsensus tradisi Yahudi merujuk kitab 

ini ditulis oleh Yeremia. Septuaginta menunjuk Yeremia 

sebagai nabi yang meratapi penawanan dan penhancuran 

Yerusalem. 

   Bukti internal. Penulis yaitu  saksi mata pengepungan 

Yerusalem dan kejatuhannya yang terlukis jelas dalam 

kitab ini (1:134-15; 2:6-9; 4:1-12). Selanjutnya ada frase 

yang serupa dalam Kitab Yeremia dan kitab Ratapan 

(mis. Putri dari) (lih. 2 Taw. 35:25). 


3. Tahun penulisan 

Kitab ini ditulis sesudah  kejatuhan Yerusalem yang selesai 

tahun 586 sM dan masa-masa pembuangan. Oleh sebab  itu 

tahun penulisannya kira-kira 586-585 sM. 

4. Tema. 

Tema utama kitab ini yaitu ratapan dan berkabung atas 

kesengsaraan bangsa Yehuda yang telah jatuh dalam dosa 

dan kerusakan kota suci dan bait suci yang begitu 

memilukan. Tuntutan penghakiman Allah atas dosa Yehuda 

telah dijatuhkan. Nabi berseru kepada bangsa yang dihukum 

bahwa Allah yaitu  adil dan benar dalam tindakanNya. 

sebab  itu mereka dihimbau untuk menaklukkan diri mereka 

dibawah tangan kemurahanNya disertai dengan pertobatan 

yang sungguh. 

Yahwe memang telah mencurahkan murkaNya, namun 

sebab  kemurahanNya, Ia tetap setia terhadap kovenanNya. 

Tak berkesusdahan kasih setia Tuhan, tak habis-habis 

rahmatNya. Selalu baru setiap pagi, besar kesetiaanMu 

(3:22-23). 

5. Garis besar 

Pasal 1 : Dosa yang menghancurkan Yerusalem 

Pasal 2 : Dosa yang dihukum Allah 

Pasal 3 : Dosa yang memicu ratapan nabi 

Pasal 4 : Dosa yang mengakibatkan penderitaan 

Pasal 5 : Dosa memohon pengampunan dosa. 

 

KITAB YEHEZKIEL 

1. Judul. 

Kitab Yehezkiel juga memperoleh judul dari nama penulisnya. 

YEH’ZKE’L artinya ‘Yahwe menguatkan’. 

2. Penulis. 

 Penulisnya yaitu  Imam Yehezkiel bin Buzi yang menerima 

panggilan sebagai nabi ketika berada di pengasingan di 

Babel (1:1-3).  Jabatannya sebagai nabi terfokus pada 

keprihatinannya pada bait suci, keimaman, korban dan 

kemuliaan Allah. Kita mengenal Yehezkiel seluruhnya dari 

tulisannya sendiri. Dia menikah (24:15-18), tinggal dirumah 

sendiri (bnd. 3:24; 8:1) dan dengan sesama tawanan memiliki 

kehidupan yang relatif bebas. 

3. Tahun penulisan 

 Kitab Yehezkiel berisi banyak tanggal sehingga nubuatan-

nubuatannya dapat ditentukan waktunya lebih akurat. Hampir 

semua almanak dalam kitab ini menunjukkan waktu Yehezkiel 

menerima firman Tuhan. Almanak lainnya yaitu  kedatangan 

utusan yang melaporkan kejatuhan Yerusalem (33:21). Ketika 

ia menerima panggilannya sebagai nabi sekitar tahun 593 

sM, Yehezkiel aktif selama 22 tahun. Nubuat terakhir 

diterimanya sekitar tahun 571 sM. Oleh sebab  itu kitab ini 

ditulis antara tahun 593-571 sM. 

 

 

4. Tema. 

 Tema kitab ini yaitu kejatuhan sebab  dosa. Kejatuhan 

Yerusalem dan pengasingan Babel merupakan ukuran yang 

dibutuhkan untuk menunjukkan anugerah Allah bila Ia harus 

mendisiplin umatNya yang tidak taat dan merebut mereka 

kembali dari kemurtatan. Suatu hari kelak Yahwe akan 

memulihkan umatNya yang bertobat dan menegakkan 

mereka kembali kedalam kemuliaan theokrasi di akhir zaman. 

Pelayanan Yehezkiel yaitu  mengingatkan umat, sebelum 

mereka diasingkan dan meyakinkan mereka akan perjanjian 

kovenan Allah yang tidak berubah. 

5. Garis besar. 

 I.   Pengutusan dan pemanggilan Yehezkiel (psl. 1-3)  

 A.  Yehezkiel melihat kemuliaan Allah 

 B.   Yehezkiel diutus memberitakan Firman Tuhan. 

     II.   Penghakiman atas Yerusalem dan Yehuda (psl. 4-24). 

A. Empat tanda datangnya penghakiman. 

B. Dua pemberitahuan datangnya penghakiman 

C. Empat nubuat melalui penglihatan 

D. Kepastian datangnya penghaliman 

      III.  Nubuat melawan bangsa lain (psl. 25-32). 

A. Amon dan Moab 

B. Edom dan Filistin 

C. Tirus dan Sidon 

      IV.  Nubuat pemulihan bani Israel (psl. 33-48). 

A. Kembalinya Israel ke tanah perjanjian 

B. Pemulihan Israel dalam Kerajaan Baru. 

 

KITAB DANIEL 

1. Judul 

Kitab ini diberi judul sesuai dengan nama penulisnya. Kata 

DANI’EL artinya ‘Allah yaitu  Hakimku’. Dalam Septuaginta, 

Daniel menjadi basis judul dalam bahasa Latin, Inggris dan 

Indonesia. 

2.  Penulis 

     Para ahli setuju bahwa penulis kitab ini yaitu  Daniel.  Hal ini 

nyata dari isi kitab Daniel. Dalam Dan. 12:4 dan 7:2 

dijelaskan bagaimana Daniel menerima penglihatan yang 

akhirnya dituliskan menjadi sebuah kitab yaitu kitab Daniel.  

3.  Tahun penulisan 

 Jikalau kitab ini ditulis oleh Daniel maka kitab ini ditulis Daniel 

pada masa pembuangan di babel yaitu antara tahun 605 – 

537 sM. 

4. Tema 

 Tema kitab Daniel yaitu  kuasa kedaulatan Allah sebagai 

Allah sejati yang menghancurkan kuasa dunia yang 

memberontak dan yang setia menyertai umat kovenanNya, 

sesuai imannya yang kokoh. Kitab Daniel ditulis untuk 

menguatkan kepercayaan kaum Yahudi yang diasingkan. 

Allah yang berdaulat mempunyai rancangan tersendiri untuk 

 

bangsa Israel selama dan sesudah  masa dominasi bangsa-

bangsa kafir. Ini yaitu  masa bangsa kafir yang dimulai dari 

pengasingan di babel, yang akan berakhir dengan 

ditegakkannya kerajaan Mesias sebagai batu yang tidak 

diolah tangan manusia, yang menjadi gunung besar yang 

memenuhi seluruh bumi (2:34-35, lih. 7:13-14). 

5. Garis besar 

 I.   Sejarah pribadi Daniel (psl. 1). 

  A.  Pengasingannya di Babel 

  B.  Kesetiaannya di Babel. 

  C.  Reputasinya di Babel. 

 II.  Nubuat buat bangsa-bangsa  (psl. 2-7). 

A. Mimpi Nebukadnesar : Patung Besar  (2). 

B. Tungku api : pelajaran iman (3). 

C. Penglihatan Nebukadnesar : pohon besar  (4). 

D. Pesta Belshazar : Tulisan di dinding  (5). 

E. Dekrit Darius : Daniel di gua singa (6). 

F. Penglihatan Daniel : empat maklhuk  (7). 

      III. Nubuat buat bangsa Israel  (psl. 8-12). 

 A.  Penglihatan Daniel : Domba  (8). 

 B.  Nubuat Daniel : “70 Minggu”  (9). 

 C.  Panorama Daniel : Israel yang akan datang (10-12). 

 

 

 

KITAB – KITAB NABI KECIL 

 

 sesudah  kitab mempelajari kitab nabi-nabi besar maka kita 

akan mempelajari kitab nabi-nabi kecil.  Nama kitab nabi-nabi 

kecil berasal sejak masa Augustinus (akhir abad ke-4). Disebut 

kecil atau minor sebab  lebih singkat dibanding dengan kitab 

nabi-nabi besar. Kitab nabi-nabi kecil ini terdiri dari dua belas 

kitab. Dibawah ini akan dijelaskan introduksi dari setiap kitab. 

 

KITAB HOSEA 

1. Judul 

Judul kitab menurut nama penulisnya yaitu Hosea. Hosea ini 

merupakan salah satu nabi di kerajaan utara. Nama Hosea 

ini menarik sebab nama Hosea, Yosua dan Yesus diambil 

dari akar kata ibrani yang sama yaitu HOSHEA artinya 

‘keselamatan’. Sebagai utusan Allah Hosea menawarkan 

keselamatan kepada bangsanya jika mereka berbalik dari 

penyembahan berhala kepada Tuhan. 

2. Penulis. 

Berdasarkan Hos. 1:1 maka dapat disimpulkan bahwa kitab 

ini merupakan Firman Tuhan yang ditujukan kepada Hosea. 

Oleh sebab  itu para ahli setuju bahwa Hosea yaitu  penulis 

kitab ini. 

 

 

3. Tahun penulisan 

Menurut Hos. 1:1, Hosea melayani pada masa pemerintahan 

raja-raja Yehuda: Raja Uzia (767-739 sM), Raja Yotam (739-

731 sM), Raja Ahaz (731-715 sM) dan raja Hizkia (715-686 

sM) serta pemerintahan raja Israel: Raja Yeroboam II (782-

752 sM). Oleh sebab  itu kemungkinan kitab ini ditulis tahun 

782-686 sM. 

4. Tema 

Kitab Hosea ditulis untuk mendemontrasikan betapa besar 

dan tak putus-putusnya kasih setia Allah bagi Israel, umat 

pilihanNya yang terus menerus menyeleweng dengan ilah-

ilah lain. Melalui pengalaman pernikahan Hosea, kitab ini 

menunjukkan betapa hati Allah yang penuh kasih setia, 

senantiasa rindu memberkati umatNya dengan menyediakan 

segala sesuatu yang mereka mereka perlukan. Demi 

mempertahankan tujuan ini , tema Hosea merupakan 

saksi kuat melawan kerajaan Utara, sebab  kerajaan ini telah 

tidak setia terhadap kovenan mereka dengan Tuhan, 

sebagaimana tercatat dalam kitab ini dengan membeberkan 

rusaknya moral “istrinya” baik secara publik maupun pribadi. 

Bersama itu pula sang nabi menghimbau agar bangsanya 

bertobat dan kembali dengan hati remuk kepada Allah 

mereka yang panjang sabar. Hal ini dinyatakan dari sudut 

pandang kasih Yahwe kepada Israel sebagai anak-anak 

kesayanganNya dan sebagai istri kovenanNya. 


 

5. Garis besar 

I.  Pendahuluan  (1:1). 

II. Pernikahan Hosea (1-3) 

 A.  Keadaan keluarga nabi Hosea (1) 

1. Pernikahan Hosea: ketidaksetiaan Israel 

2. Anak-anak Hosea: penghakiman Israel. 

3. Masa depan Israel: pemulihan Israel. 

B.   Pemulihan melalui penghukuman (2). 

1. Hukuman Tuhan atas Israel 

2. Pemulihan Tuhan atas Israel. 

C.   Pemulihan pernikahan Hosea (3). 

1. Perintah ilahi 

2. Respon ketaatan Hosea 

3. Keterangan lukisan 

      III. Pemberitaan Hosea (psl. 4-14). 

 A.   Acungan tangan Tuhan atas Israel (4-6) 

1. Menyingkap pelanggaran Israel. 

2. Menyerukan penghakiman Israel 

3. Menubuatkan pemulihan Israel. 

B.   Perlawanan Tuhan atas Israel (7-11). 

1. Kesalahan dan penghukuman Israel. 

2. Kasih setia dan belas kasihan Tuhan 

C.   Penanganan Tuhan melawan Israel (12-14). 

1. Pendakwaan 

2. Penuntutan. 

 

KITAB YOEL 

1.   Judul. 

 Dalam bahasa Ibraninya YOEL berarti “Yahwe-Allah”. Nama 

ini sangat sesuai dengan pemberitaan Yoel yang 

menegaskan bahwa Allah yaitu  yang berdaulat, pemilik 

seluruh ciptaan dan seluruh bangsa di muka bumi, yang 

harus tunduk dibawah kontrol kuasaNya sebagai Allah 

sejarah. 

2. Penulis. 

 Seperti tercantum pada psl. 1:1, penulisnya yaitu  Yoel 

artinya ‘Yahwe yaitu  Allah’. Kita tidak dapat informasi lain 

tentang dirinya kecuali nama ayahnya yaitu Petuel (1:1). 

3. Tahun penulisan 

 Dalam Alkitab memang tidak disebutkan secara rinci tentang 

masa penulisan kitab ini. Namun dilihat dari segi isinya maka 

kitab ini menceritakan masa-masa pra-pengasingan ke Babel 

(lih. nubuatan Yoel 3:2b; 1:9; 1:15; 2:1-11). Oleh sebab  itu 

tahun penulisan kitab ini yaitu  antara tahun 835 – 400 sM. 

4. Tema 

 Tema kitab ini yaitu Peringatan untuk bertobat. Dimana Yoel 

memakai  bala kelaparan dan serbuan belalang yang 

menyerang Yehuda secara mendadak, sebagai obyek 

pelajaran untuk memperingatkan serangan mendatang 

terhadap Israel, pada Hari Tuhan. Secara kilat, dalam 

99 

 

hitungan jam, setiap pucuk tanaman habis ludes. Jika bangsa 

ini bertobat dan kembali kepada Tuhan, Allah akan 

memulihkan hubunganNya dengan Israel dan akan 

memberkatinya.  

5. Garis besar 

 I.  Hari Tuhan dalam sejarah (psl. 1). 

A. Datangnya belalang. 

B. Datangnya kemarau. 

      II.  Hari Tuhan dinubuatkan (psl. 2-3). 

 A.  Hari Tuhan mendekat 

1. Nubuat serangan atas Yehuda. 

2. Kondisi keselamatan Yehuda. 

B.  Hari Tuhan menjelang. 

1. Peristiwa akhir sebelum hari Tuhan. 

2. Peristiwa hari Tuhan. 

a. Penghakiman bangsa-bangsa. 

      b. Penghakiman Yehuda. 

 

KITAB AMOS 

1.  Judul 

 Nama kitab ini diambil dari nama tokohnya. Nama Amos 

dalam bahasa Ibraninya berarti ‘beban’ atau ‘pemikul beban’ 

yang cocok dengan beban yang ditanggungnya. Sekalipun ia 

berasal dari Yehuda (bukan Israel), ia diberi beban untuk 

100 

 

menyampaikan peringatan menentang dosa-dosa mereka 

yang ada di Israel. 

2. Penulis. 

 Kitab ini ditulis oleh Amos (lih. 1:1; 7:14; 7:10).  Amos yaitu  

seorang peternak dan petani. Ia pemungut buah ara di hutan. 

Ia berasal dari Tekoa, yang terletak dekat Betlehem sekitar 

10 mil di selatan Yerusalem. 

3. Tahun penulisan. 

 Amos memberitahukan pembacanya bahwa ia hidup pada 

zaman Uzia raja Yehuda (790-739 sM) dan zaman Yerobeam 

bin Yoas raja Israel (793-753 sM), dua tahun sebelum gempa 

bumi (1:1).  Oleh sebab  itu kitab ini ditulis kira-kira tahun 

760-750 sM 

4. Tema. 

 Tema kitab ini yaitu Penghakiman dan Pengharapan. Nubuat 

yang disampaikan Amos bernada penghakiman, yang diakhiri 

dengan kata-kata pengharapan. Amos mengingatkan bahwa 

Tuhan Allah yang berdaulat akan datang sebagai pejuang 

yang menghakimi bangsa-bangsa yang telah memberontak 

terhadap otoritasNya.  Israel secara khusus akan dihukum 

sebab  pelanggarannya melawan kovenan Allah. Amos 

berusaha menarik suku-suku utara yang makmur dan 

materialistis dibawah pemerintahan Raja Yerobeam untuk 

bertobat sebagai satu-satunya jalan keluar dari penghakiman 

yang semakin mendekat. Dalam prosesnya kitab ini 

101 

 

menunjukkan kebencian Allah terhadap kejahatan, sebab 

kekudusanNya dan keadilanNya terpicu untuk melawan dosa 

Israel. Ia tak dapat membiarkan dosa lewat begitu saja tanpa 

ada yang dihukum. Kendati demikian, Allah akan tetap 

menyisakan remnan yang bertobat dan suatu saat mereka 

akan dipulihkan sebab  kovenan Tuhan untuk menarik segala 

bangsa kepada diriNya sendiri. 

5. Garis besar. 

 I.   Prakata : Penulis dan tema (psl. 1). 

 II.  Delapan penghakiman Amos (psl. 2). 

  A.  Atas Damsyik, Filistin dan Tirus. 

  B.  Atas Edom, Amon dan Moab. 

  C.  Atas Yehuda dan Israel. 

 III. Nubuat Amos (psl. 3-6). 

A. Malapetaka Israel. 

B. Ratapan atas Israel 

C. Teguran terhadap umat. 

D. Teguran terhadap seluruh bangsa. 

     IV.  Lima penglihatan Amos (psl. 7-8). 

A. Belalang, Api, Tali sipat. 

B. Selingan sejarah – Oposisi Imam di Betel. 

C. Bakul buah tropis 

D. Penghakiman Tuhan. 

     V.   Lima janji pemulihan bagi Israel (psl. 9). 

 

102 

 

KITAB OBAJA 

1.  Judul 

     Nama kitab diambil dari nama tokohnya yaitu Obaja. Kata 

Obaja dalam bahasa Ibrani OBEDYAH artinya ‘Hamba 

Yahwe’ atau ‘yang beribadah kepada Yahwe’. 

2.  Penulis. 

 Penulis kitab ini yaitu Obaja (1:1).  Obaja yaitu  seorang nabi 

asal Yehuda yang tidak begitu dikenal. Tidak diketahui asal-

usul dan latar belakang keluarganya. Ayahnya tidak 

dicantumkan, hal ini memberi kesan ia bukan berasal dari 

garis keturunan raja atau keluarga imam. 

3. Tahun penulisan. 

 Perode kepenulisan kitab ini berkait dengan perlawanan 

Edom terhadap Yerusalem (1:1-14). Dimana diceritakan 

bahwa Edom membantu bangsa-bangsa yang melakukan 

penyerbuan ke Yerusalem. Ada empat penyerbuan ke 

Yerusalem yang penting yaitu:  

a.  Sisak Raja Mesir selama pemerintahan Rehobeam (926 

sM) (1 Raj.  14:25-26). 

b. Filistin dan Arab selama pemerintahan Jehoram (848-841 

sM)          (2 Taw. 21:16-17). 

c. Raja Yoas raja Israel selama pemerintahan Amazia (790 

sM) (2 Raj. 14:13-14). 

d. Babilon selama periode (605-586 sM) (2 Raj. 24-256). 

103 

 

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kitab 

ini ditulis antara tahun 926-586 sM. 

4.  Tema. 

     Tema Obaja yaitu  sebuah pengulangan konsep kebenaran 

bahwa keangkuhan datang sebelum kejatuhan. Obaja 

menyatakan bahwa Edom berada dibawah laknat sebab  

beria-ria di atas kemalangan yang menimpa Yerusalem. 

5. Garis besar 

 I.    Nubuat penghakiman Edom (1-9). 

A. Kepastian penghakiman (1-4). 

B. Kesudahan penghakiman (5-9). 

     II.   Dasar penghakiman Edom (10-14) 

A. Akibat kasih yang memudar (10). 

B. Akibat keangkuhan (11-12). 

C. Akibat kebengisan (13-14). 

      III. Waktu penghakiman Edom (15). 

      IV.  Hasil penghakiman Edom (16-19). 

      V.   Nubuat pembebasan Israel (19-21). 

 

 

KITAB YUNUS 

1.  Judul 

     Dalam bahasa Ibrani, YONAH berarti ‘merpati’. Septuaginta 

menerjemahkan kata ini kedalam bahsa Yunani menjadi 

Ionas dan Alkitab Latin Vulgata memakai  judul Jonas.  

 

2. Penulis. 

 Penulis kitab ini yaitu  Yunus Bin Amitai (1:1). Ia seorang 

nabi dari Galilea di Kerajaan Utara, Israel. 

3. Tahun penulisan 

 Dalam 2 Raj. 14:27 Yunus terkait dengan pemerintahan 

Yerobeam II di Israel (793-753 sM).  Yunus melayani sesudah 

zaman Elisa dan tepat sebelum masa Amos dan Hosea. 

Walaupun tidak ada prasasti yang menyebutkan adanya 

reformasi rohani seperti yang dilukiskan dalam kitab ini, 

selama pemerintahan Ashurdan III, memang pernah terjadi 

suatu alih kepercayaan terhadap monoteisme yang cukup 

beralasan untuk bisa dihubungkan dengan khotbah Yunus. 

Pertobatan Niniwe mungkin terjadi pada masa pemerintahan 

Ashurdan III (777-755 sM).  Dari keterangan diatas maka 

disimpulkan bahwa kitab ini ditulis antara tahun 793-753 sM. 

4. Tema. 

 Kitab Yunus dengan jelas mendemonstrasikan bahwa Allah 

kaum Ibrani : 

a. Berbelas kasihan terhadap segala bangsa di muka bumi. 

b. Berdaulat atas makluk apapun di alam semesta. 

c. Berurusan dengan persoalan manusia sekecil apapun. 

Yunus juga mendemonstrasikan bahwa pengampunan yaitu  

hak Tuhan (2:9), dan kemurahan Allah boleh ditawarkan 

kepada siapa saja yang mau bertobat atau berbalik dari 

kejahatannya serta kembali kepada hukum-hukum Allah 

 biasanya . Kitab ini juga mengkritik Yunus yang berburuk 

sangka bahwa Allah seolah-olah tidak memegang janjiNya 

untuk menghukum musuh-musuhNya. Sulit bagi sang nabi 

untuk menerima fakta bahwa Allah berhak tidak jadi 

menghukum atau menunda waktu penghukuman dan ba