umat ada “keinginan”
yang tak terlihat, namun dapat dikategorikan sebagai berhala juga, seperti firman-Nya dalam Kol.3:5
"sebab itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa
nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala."
Untuk menjadi barisan Tuhan, yang berkuasa membina dan membentuk umat seperti maksud
Allah dalam merekrut orang-orang pilihan-Nya, maka mereka harus dilepaskan dari kuasa setan terlebih
dulu, lalu diberi kuasa supaya dapat bertugas mengusir setan dalam diri orang-orang yang
mendengar pemberitaan Injil.
Untuk maksud dan tujuan yang mulia inilah, maka Tuhan Yesus memanggil, memilih atau
menetapkan para rasul, yang menjadi pengikut awal, dan lalu dengan cara yang sama Roh Kudus
melakukan terhadap semua orang percaya!
Mark.3:13-15 "lalu naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka
pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan (Sama tujuannya dengan: memilih!) dua belas orang untuk
menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan."
Prioritas utama dalam panggilan pelayanan yaitu untuk menyertai Dia! Sebab keinginan utama-
Nya suatu hubungan khusus, dengan menjadikan para pengikutnya "Mempelai Kristus." Istilah
"mempelai" dipakai Alkitab untuk berkata kata suatu hubungan pribadi yang sangat intim, yang terbuka!
Sehingga tercapai tujuan tertinggi, menjadi satu dengan Kristus, yang dilambangkan sebagai Tubuh
Kristus (Yoh.17:22-23).
Untuk menjadikan orang-orang pilihan-Nya berkualitas, melalui hubungan pribadi dengan Dia,
maka Alkitab memakai kata "menetapkan." Kata ini diterjemahkan dari bahasa Yunani: "poieo," dan
bermakna "mengisi dengan kualitas (poios)." Dalam Mat.4:19 diterjemahkan dengan kata: "menjadikan"
seperti kita baca ini: Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan
penjala umat ."
Adakah anda berminat dijadikan "Orang Pilihan-Nya," serta bekerjasama membina
"umat Duniawi" dan menjadikan mereka "umat Sorgawi"? Siapkan waktu untuk
bersekutu dengan Tuhan Yesus, supaya dapat diisi dengan kualitas hidup yang
rohani/sorgawi!
Orang-orang pilihan inilah yang dilambangkan dalam Kemah Suci atau Tabernakel oleh Kayu
Penaga, yang dipilih dari sekian banyak macam kayu, sebab memiliki sifat khusus yang berkenan di
pemandangan Allah.
TUGAS PALING DASAR
Orang-orang pilihan Tuhan, sebagaimana dengan Kayu Penaga, kayu pilihan yang dipakai dalam
Kemah Suci, yaitu mereka yang mau menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup kudus, seperti
dinyatakan dalam firman-Nya ini: “namun hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu
sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab
Aku kudus” 1Pet.1:15-16.
Namun perlu diingat, bahwa kayu tsb diperoleh bangsa Israel tatkala mereka telah keluar dari
Mesir dan mengikuti tuntunan Tuhan dengan tiang awan dan api. Keluar dari Mesir yaitu bayangan
rohani kehidupan orang-orang yang rela meninggalkan hal-hal duniawi, sebab mau mengikuti
pimpinan Roh Kudus dalam perjalanan iman menuju tanah air sorgawi.
Ayat-ayat di bawah ini berkata kata betapa pentingnya dunia harus mati bagi kita, dan kita mati
bagi dunia (arti mati yaitu berpisah total)!
Kol.3:5 “sebab itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa
nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
Tit.2:12 “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita
hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.”
Kedatangan-Nya ke dalam dunia yang pertama, selain bertujuan menebus umat
dari dosa-dosa mereka, juga mendidik orang percaya, yang mau dipimpin Roh Kudus,
untuk meninggalkan keinginan-keinginan duniawi serta mematikan segala sesuatu
yang duniawi.
Faktanya, dari umat Israel yang telah keluar dari Mesir, jumlah yang tercatat yaitu 603.550 orang,
namun hanya dua orang saja yang dapat masuk tanah perjanjian, yakni Yosua dan Kaleb! Mengapa
kebanyakan dari mereka mati di padang belantara? Sebab walaupun tubuh mereka keluar dari Mesir, namun
Mesir tidak keluar dari pikiran mereka! Pikiran mereka masih duniawi, tidak sorgawi, sehingga tidak
memiliki kerinduan mewarisi “Tanah air sorgawi” seperti yang dilakukan oleh Abraham, bapak orang
percaya!
Ibr.11:16 “namun sekarang mereka (yakni: Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf dll) merindukan tanah air yang lebih
baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, sebab Ia telah
mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” Sebab itu, tugas paling dasar dari seseorang yang ingin masuk
alam sorgawi yaitu mengubah arah pikirannya yang duniawi dengan kerinduan “Tanah air sorgawi.”!
Dan inilah yang disebut dengan pertobatan!
Baik Yohanes Pembaptis, nabi terakhir dari Perjanjian Lama, maupun Tuhan Yesus sebagai Nabi
Agung, bahkan sebagai Messias, mengatakan kalimat yang serupa: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga
sudah dekat!” (Mat.3:2; 4:17). Kata “bertobat” dari kata Yunani metanoeō, memiliki makna “memikir
secara berbeda” atau mengubah arah pikiran, menimbang kembali; dari kata noieō, berarti “melatih
pikiran” – berpikir, menimbang.
Mengapa seseorang dapat mengubah pikiran atau menimbang kembali keputusannya? sebab ia
menerima masukan perkataan atau nasihat dari orang lain. Dan itulah yang telah terjadi terhadap mereka,
yang bahkan sudah mengambil keputusan untuk bunuh diri, namun membatalkannya sebab menerima
Berita Injil. Nah, itulah sebabnya Tuhan mengutus para Pemberita Injil memberitakan “Kabar Baik,”
bahwa ada jalan keselamatan bagi umat duniawi, yang seharusnya dibinasakan sebab tidak bertobat,
supaya menerima hidup kekal dan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dengan percaya dan menerima Tuhan
Yesus!
Orang-orang pilihan Tuhan, yang memberitakan Berita Injil, dilambangkan sebagai
Kayu Penaga, yang dipilih untuk dijadikan Mezbah Korban Bakaran dalam Kemah
Suci. Tugas dasar mereka yaitu membalikkan pikiran orang-orang percaya, dari
duniawi menjadi sorgawi!
KEHIDUPAN ATAU KEMATIAN?
Sebelum Musa berpisah dengan umat Israel, ia menubuatkan apa yang akan menimpa bangsa ini
di lalu hari, yaitu mereka akan menolak firman Tuhan. Firman yang diucapkan Musa demikian
bunyinya: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu
kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup,
baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan
berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang
dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub,
untuk memberikannya kepada mereka."
Pertobatan yaitu soal pilihan! Mau menuruti suara Tuhan atau suara hati sendiri.
Namun perlu diperhatikan, bahwa dampak pemilihan kita masing-masing akan
membuat hal yang benar-benar bertolak belakang, Kehidupan kekal atau Kematian
kekal.
sebab perjanjian-Nya dengan Abraham, maka Allah yang yaitu Mahakuasa, Mahatahu,
Berhikmat dan Setia, menetapkan untuk memunculkan seorang Antikristus, yang menjadi cambuk bagi
Israel pada akhir zaman agar mereka bertobat, supaya dengan demikian perjanjian-Nya dapat digenapkan!
Dan apa yang dinubuatkan Musa kira-kira 1400-1500 tahun sebelum Masehi tersebut, telah menjadi fakta
tatkala Yesus, Sang Juruselamat disalibkan pada tahun 30 Masehi. Sampai sekarang, ketumpulan hati
mereka masih berlangsung sampai menjelang kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya, tatkala mereka
berada dalam sengsara besar, barulah bertobat dan menerima Dia. Haleluyah!
sebab penolakan umat pilihan-Nya ini, maka Allah membuka peluang bagi bangsa-bangsa bukan
Yahudi untuk menerima keselamatan melalui Berita Injil. Dan Pemberita Injil pertama dalam zaman
anugerah bagi Gereja-Nya, dilakukan sendiri oleh Yesus, Tuhan dan Kristus, Allah yang menjelma
menjadi umat ! Benar-benar suatu kesempatan dan penghormatan luar biasa dari Allah terhadap
umat yang berdosa.
Oh, betapa besar dan mulianya kasih Allah, sehingga Tuhan Yesus dalam dialognya dengan
Nikodemus, seorang farisi, mengatakan kalimat ini: “sebab begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-
Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16).
Dalam percakapan tentang penghakiman y.a.d., Tuhan Yesus menerangkan tentang Diri-Nya,
yang diakui Nikodemus sebagai pribadi utusan Allah: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai
guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau
adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
Tanda-tanda yang dikatakan Nikodemus pastilah tanda-tanda yang kelihatan, yang duniawi, yang
tidak mungkin dilakukan oleh umat . Dia percaya bahwa Yesus diutus Allah, seorang Pribadi yang
sorgawi. lalu Tuhan Yesus melanjutkan pembicaraan dengan contoh hal-hal duniawi, yakni soal
kelahiran, air dan angin. Hal-hal duniawi ini dikemukakan agar Nikodemus dapat menangkap hal-hal
yang sejajar dalam alam rohani, yakni tentang Kelahiran Baru, Firman (yang dibayangkan dengan air)
dan Roh Kudus (yang dibayangkan dengan angin). lalu Tuhan Yesus melanjutkan dengan kalimat
ini.
Yoh.3:12-15 "Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu
akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? Tidak ada seorang pun yang
telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak umat . Dan sama seperti
Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak umat harus ditinggikan, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal."
Dengan ucapan ini, Tuhan Yesus ingin menanamkan pengertian penting ini kepada Nikodemus,
jikalau dirinya ingin mengerti hal-hal sorgawi, haruslah ia menerima kenyataan bahwa Diri-Nya turun
dari sorga sebagai “Anak umat ” – Allah menjelma menjadi umat – dengan maksud untuk
“ditinggikan” di atas kayu salib, supaya menanggung kutuk dosa atas seluruh umat , supaya umat
yang percaya kepada-Nya dapat diampuni dan dapat dibenarkan: “yaitu Yesus, yang telah diserahkan
sebab pelanggaran kita dan dibangkitkan sebab pembenaran kita” (Rom.4:25).
Dalam Kemah Suci, berita pengampunan dosa ini dilambangkan dengan korban-korban yang
dipersembahkan di atas Mezbah Korban Bakaran secara tetap. Korban-korban hewan tersebut yaitu
bayangan dari korban Yesus, Sang “Anak Domba Allah” diatas kayu salib, seperti diserukan Yohanes
Pembaptis kepada kedua muridnya: "Lihatlah Anak domba Allah!" (Yoh.1:36; 1Yoh.2:2).
Orang-orang pilihan Tuhan serupa dengan Kayu Penaga, kayu pilihan, yang dipakai
untuk Mezbah Korban Bakaran, yaitu mereka yang tahu berterima-kasih atas
penebusan dirinya, sehingga ingin memberitakan Berita Pendamaian bagi orang-
orang berdosa, agar memilih Kehidupan dan hidup kekal!
VI. KERINDUAN BERALIH KE TEMPAT YANG LEBIH BAIK
Setiap orang yang telah mempercayai adanya sorga, pasti tidak ragu mengucapkan doa “Bapa
kami yang di sorga.” Alasan utamanya yaitu keinginan memperoleh hubungan dalam atmosfir sorgawi
yang bernuansa Kerajaan-Nya dan ketertiban kehidupan ilahi. sebab itu, doanya dilanjutkan demikian:
“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Yang menjadi pertanyaan, apakah anda sebagai salah satu pembaca/pendengar memiliki kerinduan
itu? Rasul Paulus, walaupun sangat senang hidup di bumi sebab dibutuhkan dan dihargai banyak orang
dalam hal mendidik, namun dalam batinnya ia sangat mendambakan beralih secepatnya untuk diam di
sana, seperti dinyatakan dalam ayat ini: “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam
bersama-sama dengan Kristus – itu memang jauh lebih baik; namun lebih perlu untuk tinggal di dunia ini
sebab kamu” (Flp.1:23-24).
LAKUKAN PERJALANAN DI TENGAH TANTANGAN IMAN
Untuk memperoleh kayu penaga, umat Israel harus mengikuti jalan yang diarahkan Tuhan
dengan pimpinan Tiang Awan dan Api. Dalam aplikasi rohaninya sekarang, hal ini melambangkan
tuntunan Roh Kudus bagi Gereja-Nya.
Ke mana mereka dipimpin? Ke Tanah Perjanjian! Namun, mereka harus melalui daerah Moab,
seperti dinyatakan dalam Bil.22:1 “lalu berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran
Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho.” Bangsa Moab yaitu bangsa yang terbit dari
hubungan najis antara Lot dengan anak wanita nya sendiri (Baca ceritanya dalam kitab Kej.19:30-38).
Jadi, perjalanan Israel harus melalui atmosfir yang najis, sebagai ujian atas hidup menjadi bangsa
pilihan! Begitu juga dengan Gereja-Nya, yang diuji dalam hal kesucian jasmaniah maupun rohaniah.
Dan celakanya, di tempat persinggahan di dataran Moab, Sitim, itulah terjadi malapetaka yang
menyebabkan kematian 23.000 orang dalam sehari (1Kor.10:8), dan lalu bertambah menjadi 24.000
orang secara keseluruhannya (Bil.25:9). Semua malapetaka ini terjadi sebab bangsa Israel tidak taat
peraturan hidup kudus, yang melarang pernikahan campur.
Bil.25:1-2 “Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan wanita -wanita Moab.
wanita -wanita ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut
makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu.”
Dalam perjalanan rohani Gereja-Nya sekarang ini, kitapun akan menghadapi tantangan dan
godaan, yang dikobarkan daging melalui keinginan-keinginan duniawi, walaupun telah menjadi orang
percaya, yang dipanggil Tuhan keluar dari sistem dunia ini! Bukankah hal itu juga telah terjadi dalam
kehidupan umat Israel yang telah percaya (Kel.4:31)? Akibatnya, sebagian besar dari mereka mati dalam
perjalanan, sebab berpikiran duniawi, seperti yang telah terjadi di Sitim.
Dari keterangan ini, nama “Sitim” atau “Shittim,” yang lalu juga dipakai untuk penyebutan
“Kayu Sitim” atau “Shittim Wood,” atau “Kayu Penaga” (terjemahan Alkitab bahasa negara kita )
merupakan nama peringatan tentang asal usul kayu tersebut, yang terdapat di daerah Moab. Walaupun
nama “Shittim” memiliki kenangan yang buruk, sebab kejatuhan Israel dalam perzinahan jasmani dan
rohani, namun Kayu Sitim/Penaga inilah yang dipakai Tuhan dalam Kemah Suci, sebab kayu yang
terpilih ini dibawa keluar dari Sitim!
Kejatuhan Israel di Sitim terjadi sebab perbuatan “nabi” Bileam yang ingin harta (Yud.1:11),
sehingga memberi nasihat kepada raja Moab, Balak, agar wanita -wanita Moab mengajak laki-
laki Israel berzinah dan menyembah Baal-Peor (Bil.25:1-3). Ajaran Bileam ternyata juga masuk ke dalam
Gereja Tuhan, seperti dialami oleh Jemaat di Pergamus, yang ditegor Tuhan sebagai Kepala Gereja
(Wah.2:14)!
Wah.2:14 “namun Aku memiliki beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang
menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya
mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.”
Kayu Penaga atau “Shittim Wood,” yang terpakai dalam Kemah Suci merupakan
bayangan dari orang-orang percaya, yang dipanggil keluar dari dunia dan terpilih,
sebab mereka mau diproses keluar dari kenajisan duniawi dan mengikut pimpinan
Roh untuk hidup kudus!
ROH TAKUT AKAN TUHAN
Roh Kudus disebut juga sebagai “Roh kasih karunia” – “Spirit of grace” – sebab dianugerahkan
untuk menginsafkan umat tentang dosa, yang hanya dapat dihapuskan oleh darah Yesus, yang
merupakan “Darah Perjanjian” yang menguduskan.
Ibr.10:28-31 Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua
atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak
Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh
kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan yaitu hak-Ku. Akulah yang akan
menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya." Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam
tangan Allah yang hidup.
Berbicara tentang “penghakiman Tuhan” – maka hal itu dituangkan dalam hikmat Tuhan dengan
membuat Mezbah Korban Bakaran yang disalut dengan tembaga (Kel.27:1-2 – logam tembaga yaitu
lambang “pehukuman” Ul.28:23). Dan hal itu berarti, siapa yang percaya kepada korban darah Yesus dan
bertobat untuk menempuh hidup kudus akan diselamatkan, namun yang tidak mau bertobat, mereka pasti
akan dihukum (Yoh.3:36).
Roh Kudus menginsafkan orang percaya, bahwa hanya oleh darah Anak Allah dosa umat dapat
dihapus. sebab itu, siapa yang menolak Roh Anugerah-Nya dengan menolak tawaran pemberian darah
Yesus akan mengalami hukuman yang mengerikan, yakni kematian kekal atau berpisah dari Allah secara
kekal, sebab dilemparkan ke dalam neraka dengan menderita siksa selama-lamanya (Mat.25:30;
Wah.14:11). Orang yang percaya, bahwa perkataan Tuhan itu benar dan pasti terjadi akan memiliki roh
takut akan Tuhan.
Maz.33:8-9 “Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!
Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”
2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab kita sekarang memiliki janji-janji itu, (Red: janji diam bersama
Tuhan) marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian
menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”
Perhatikan baik-baik! Kalimat “kita menyucikan diri kita” jelas yaitu kata aktif, yang harus
dikerjakan oleh sang subyek. Jadi, ada bagian hidup yang hanya dapat disucikan Tuhan, itulah roh orang
percaya, yang hanya dapat disucikan dengan Darah Anak Domba Allah! namun ada bagian hidup yang
harus disucikan oleh umat , yang tentunya disertai pertolongan Tuhan, yaitu jiwanya!
1Pet.1:22 “sebab kamu telah menyucikan dirimu (dari kata: psuche, seharusnya diterjemahkan jiwamu) oleh
ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas,
hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.”
Kayu Penaga/Shittim yang dipakai dalam Kemah Suci yaitu bayangan dari orang-
orang yang percaya bahwa darah-Nya dimaksud untuk hidup kudus, sebab itu
menyucikan diri dengan mentaati Firman-Nya, yang dipercaya pasti terjadi.
Haleluyah!
VII. BERALIH KE SEBERANG
Untuk beralih dari Mesir ke Tanah Perjanjian, yang dijanjikan Allah kepada bapa Abraham, maka
orang Israel harus mengalami penyeberangan. Dibawah pimpinan Musa, mereka telah menyeberangi laut
Merah; dan dibawah pimpinan Yosua, umat Allah menyeberangi sungai Yordan, seperti diperintahkan
Tuhan kepada Yosua.
Yos.1:1-2 Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu,
demikian: "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini,
engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Bila dahulu hal ini berlaku secara jasmaniah (bagi umat Israel), maka sejajar dengan pengalaman
tersebut, sekarang bagi “Israel rohani” atau Gereja Tuhan, kita juga harus mengalami proses
penyeberangan, namun dalam bentuk rohani.
PIKIRAN KE SEBERANG
Berubah menjadi “umat Sorgawi” dari “umat Duniawi” yaitu suatu tindakan
menyeberang! Hal itu mengandung makna perubahan tempat/daerah dan kondisi; tadinya di dunia
dengan kondisi dunia (serba duniawi), namun berubah tempat dan berada di sorga, dengan kondisi sorga
(serba sorgawi).
Perubahan lingkungan perlu dialami sebelum seseorang dapat berubah menjadi umat Sorgawi,
sebab lingkungan tempat anda berada memiliki atmosfir roh tertentu! Perubahan dalam alam pikiran ke
arah yang lebih sorgawi terjadi bila lingkungan anda berubah lebih dahulu.
Rom.12:1-2 mengatakan: “sebab itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku
menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu yaitu ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi
serupa dengan dunia ini, namun berubahlah (metamorphoō) oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu
dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang
sempurna.”
Kata metamorphoō terdiri dari dua kata, yakni “meta” berarti perubahan tempat/kondisi, serta
“morphoō” yang berarti bentuk. Jadi, kata “berubahlah,” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris
“transform,” mengandung arti: berubah bentuk (form) sebab perubahan tempat/kondisi. Jadi, kalimat
“berubahlah oleh pembaharuan budimu” bermakna perubahan bentuk pikiran sebab adanya
perubahan tempat dan kondisinya.
Perubahan ke umat sorgawi dari dua saleh Tuhan, Henoch dan Nuh, terjadi sebab mereka
mempersembahkan tubuh untuk bergaul dengan Allah (Kej.5:22, 24; 6:9). Sebaliknya, Tuhan
mengingatkan bangsa Israel, agar mereka tidak membawa tubuh bergaul dengan bangsa-bangsa yang
akan dihukum Tuhan, sebab bila mereka melakukan hal ini, maka firman-Nya memberitahukan, bahwa
“mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di
matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN,
Allahmu” (Yos.23:13b).
Perubahan ke arah sorgawi atau duniawi terjadi sebab berada dalam lingkungan
yang sorgawi atau duniawi. Sebab, setiap teman gaul anda memiliki roh tertentu,
yang meliputi dirinya; baik rohnya, – roh yang hidup atau roh yang mati, ataupun
malaikat pengawalnya, – malaikat baik atau jahat.
Dengan pergaulan yang benar, khususnya dengan Allah dan lalu dengan orang-orang benar,
maka setiap orang percaya pasti akan mengalami kebangkitan rohani dan rohnya terpelihara dengan baik.
Efs.2:4-6 “namun Allah yang kaya dengan rahmat, oleh sebab kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada
kita, telah menghidupkan (roh) kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-
kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan -- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan
(roh) kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.”
Dengan roh yang dibangkitkan/dihidupkan, setelah dilepaskan dari dosa – dosalah yang
menceraikan umat dari Allah Yes.59:2 – maka seseorang yang percaya kepada Tuhan Yesus akan
mengalami metanoeō; dari kata meta = perubahan tempat/kondisi, dan kata noieō = melatih pikiran atau
berpikir. Inilah yang dikatakan dalam bahasa negara kita “bertobat,” dan berarti: melatih pikiran untuk
berubah, sehingga bila pada masa lalu hanya memikirkan hal-hal duniawi, sekarang dapat memikirkan
hal-hal sorgawi, seperti dinyatakan dalam firman-Nya ini.
Kol.3:1-2 “sebab itu, kalau kamu (yang dimaksud yaitu “rohmu”) dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah
perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas,
bukan yang di bumi.” Inilah yang diartikan dengan Pikiran ke seberang!
MENJADI IBRANI, ORANG SEBERANG
Hidup yaitu perjalanan. Bagi yang menginginkan untuk menjadi sorgawi, mereka harus
melakukan perjalanan iman, seperti dinyatakan dalam 2Kor.5:6-8 “Maka oleh sebab itu hati kami
senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari
Tuhan, – for we walk by faith, not by sight - sebab kami berjalan dengan iman, bukan dengan
penglihatan – namun hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada
Tuhan.”
Tujuan perjalanan iman yaitu menetap bersama Tuhan dalam Kerajaan-Nya! Sebab itu, yang
mendambakan demikian harus mengikuti jejak iman Abraham (Rom.4:11-12), sehingga layak disebut
“Sahabat Allah” (Yak.2:23; Yoh.15:15). Mau?
Bila anda mau, dengarkanlah pesan yang disampaikan Yosua kepada seluruh bangsa Israel ini:
“Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek
moyangmu (Your fathers dwelt on the other side of the flood in old time), yakni Terah, ayah Abraham dan
ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. namun Aku mengambil Abraham, bapamu itu,
dari seberang sungai Efrat (from the other side of the flood), dan menyuruh dia menjelajahi seluruh
tanah Kanaan…… dst (Yos.24).
Kata: “di seberang” atau “on the other side” diterjemahkan dari kata Ibrani: ‛êber, dari kata
‛âbar, yang berarti: menyeberang, to cross over. Kata ini dipakai dalam pengertian terjadi transisi,
perubahan! Sedangkan kata “sungai Efrat” atau “the flood” diterjemahkan dari bahasa Ibrani: nâhâr,
yang berarti aliran, dan secara kiasan berarti kemakmuran (prosperity).
Wah.17:15 Lalu ia berkata kepadaku: "Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, yaitu
bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.”
Dalam pelajaran “Konflik Terbesar,” telah diterangkan tentang Gerakan Zaman Baru (New Age
Movement), yang berusaha menghapus segala peraturan Allah dari bumi ini dengan mengetengahkan
ajaran setan, yang mengarahkan umat untuk memakai kebebasan pribadinya sebagai gaya hidup. Dan
faktanya, dewasa ini ajaran tsb diikuti oleh banyak bangsa-bangsa di bumi ini. Namun, dibalik semuanya
ini, Setan lalu akan memakai seorang Antikristus, yang diibaratkan Tuhan sebagai “pisau cukur
yang dipinjam dari seberang sungai Efrat, yakni raja Ayur” (Yes.7:20; 8:7). Catatan: “raja Asyur” yaitu
bayangan dari Antikristus y.a.d.
Jelas, Tuhan ingin setiap orang percaya harus menyeberang meninggalkan aliran “air
bah” yang dapat menghanyutkan umat ke dalam kematian kekal. Dan dewasa ini,
aliran berbahaya itu yaitu persatuan bangsa-bangsa yang mengikuti ajaran Gerakan
Zaman Baru dengan menolak hukum-hukum ilahi, namun berfokus pada kemakmuran
duniawi!
Bapa Abraham sebagai bapa semua orang beriman, disebut Alkitab sebagai “orang Ibrani”
seperti yang kita baca dalam Kej.14:13 “lalu datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini
kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang
Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram.”
Demikian pula dalam alam rohani, sebagai orang beriman yang dibenarkan seperti Abraham,
kitapun harus menjadi “Ibrani rohani.” Hal ini sesuai firman yang disampaikan Paulus kepada jemaat di
Roma: “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat,
bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. namun orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak
nampak keyahudiannya dan sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah.
Maka pujian baginya datang bukan dari umat , melainkan dari Allah” (Rom.2:28-29).
Marilah kita menjadi “Orang Ibrani sejati,” yaitu orang-orang yang pikirannya
menyeberang dari duniawi ke sorgawi, sehingga kelak akan mengalami perubahan
tempat, berdiam bersama Tuhan selama-lamanya di sorga.
DITARIK KE SEBERANG OLEH KEMULIAAN TUHAN
Seperti halnya dengan kayu sitim, yang berada di padang gurun, namun sebab terpilih untuk
dijadikan Kemah Suci dan alat-alatnya, maka kayu-kayu tsb dibawa melalui pimpinan Tiang Awan dan
Tiang Api ke seberang, melintasi sungai Yordan dan masuk ke Tanah Perjanjian, demikian juga dengan
orang-orang yang dipanggil dan lalu dipilih-Nya. Dan yang lebih mengagumkan yaitu keputusan
Allah, yang mau berdiam dalam Kemah Suci tsb. Demikian juga halnya dengan orang-orang pilihan, yang
mengalami persekutuan pribadi dengan Tuhan – Roh Kudus akan diam dalam diri mereka. Itulah orang-
orang yang disebut secara rohani “Orang Ibrani”!
Disebut “orang Ibrani” sebab dalam perjalanan imannya, ia “menyeberangi” sungai Efrat setelah
diminta keluar dari negerinya, Ur-Kasdim, tempat nenek-moyangnya beribadah kepada “allah lain”
(Yos.24:2-3). Kunci kerelaan Abraham meninggalkan negerinya disebabkan melihat kemuliaan Allah,
seperti dikatakan Stefanus dengan ilham Roh, dalam Kis.7:2-3: “Hai saudara-saudara dan bapa-bapa,
dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita
Abraham, saat ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya:
Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan
kepadamu.”
Penglihatan akan kemuliaan Allah inilah yang menyebabkan Abraham rela mentaati firman-Nya
untuk keluar dari negeri, bangsa, bahkan kaum keluarganya, yang yaitu para penyembah berhala!
Kemuliaan Allah menjadi kunci ketekadan, sehingga Alkitab mengatakan: “sebab iman Abraham taat,
saat ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia
berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibr.11:8).
Kalimat “tidak mengetahui tempat yang ia tuju” berarti, Abraham tidak melihat dahulu atau
menjajaki tempat yang ditetapkan Tuhan, sebagaimana dilakukan oleh orang Israel, yang meminta kepada
Musa untuk mengutus kedua belas pengintai (Ul.1:22). Dan apa akibatnya tatkala sepuluh pengintai itu
melihat penduduk tanah perjanjian yaitu raksasa? Bangsa Israel menangis dan meminta agar kembali ke
Mesir (Bil.14:1-4)!
Abraham disebut “bapa semua orang percaya” (Ro.4:11), sebab memenuhi standard iman yang
dicanangkan Tuhan! Apakah kualitas iman yang ditetapkan Tuhan? Inilah jawaban-Nya, tatkala Yesus
berkata kata diri sebagai Messias.
Yoh.5:44 “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat (doxa = kemuliaan) seorang dari yang
lain dan yang tidak mencari hormat (doxa = kemuliaan) yang datang dari Allah yang Esa?”
Percaya yang sejati menurut standard Allah, yaitu percaya disertai dengan usaha
mencari kemuliaan yang datang dari Allah yang Esa! Jelas, iman sejati bukannya
pasif, namun aktif! Sebab kata “mencari” atau “ze ̄teō” berarti mencari, khususnya
dalam konteks orang Ibrani: mencari dalam ibadah!
Yoh.7:18 “Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, namun
barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutus-Nya (MKJV: “he that seeks the glory of Him who sent
Him” – barangsiapa mencari kemuliaan-Nya yang mengutus Dia”), ia benar dan tidak ada ketidakbenaran
padanya.”
Ayat ini memberitahukan bahwa yang berimankan iman sejati, pasti akan mencari kemuliaan
dari Bapa, yang mengutus Yesus, Sang Anak Allah. Bahkan Alkitab menjamin, mereka yang melakukan
demikian pasti benar dan tidak ada ketidak-benaran padanya! Dan teladan terbaik dalam hal mencari
kemuliaan Bapa telah dilakukan oleh Yesus, Anak Allah yang diutus Bapa. Dengarkanlah doa Yesus,
menjelang saat-saat terakhir diri-Nya ditangkap dan lalu disalibkan.
Yoh.17:4-5 “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau
berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Permohonan “permuliakanlah Aku pada-Mu,” berarti meminta kemuliaan yang datangnya dari
Bapa! Permohonan semacam ini tidak pernah diminta oleh mereka yang bersifat duniawi, walaupun
_________ 22
berpredikat “Hamba Tuhan” sekalipun. Faktanya, Yudas menginginkan uang bukan kemuliaan Bapa!
Sebab uang baginya yaitu kemuliaannya! Itulah sebabnya, Tuhan Yesus baru mengucapkan hal
kemuliaan Bapa setelah Yudas pergi meninggalkan persekutuan dengan Gurunya.
Yoh.13:31-32 “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak umat dipermuliakan dan Allah
dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga
di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.”
Mereka yang ingin mencari kemuliaan dari Bapa, lebih dahulu harus melakukan usaha
yang maha penting ini: “Mempermuliakan Bapa di bumi!” Dan inilah sebenarnya
tujuan awal Allah mencipta umat , seperti dinyatakan oleh nabi Yesaya ini: “Umat
yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku" (Yes.43:21).
MENYEBERANG SUNGAI YORDAN
Ada suatu tempat di sebelah timur sungai Yordan yang disebut “Sitim” sesuai dengan nama Kayu
Sitim, yang dipakai dalam Kemah Suci, seperti yang kita baca ini.
Yos.2:1 Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: "Pergilah, amat-
amatilah negeri itu dan kota Yerikho." Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang
wanita sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.
Yos.3:1 “Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke
sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.”
Bila punya hati “menyeberang” dari duniawi ke sorgawi, maka secara rohani anda masuk
kelompok “Orang Ibrani”! Hal ini telah dilakukan Abraham, yang disebut Alkitab “Orang Ibrani”
(Kej.14:13), dan juga para peserta jejaknya seperti tertulis dalam surat Ibrani 11:16 “namun sekarang
mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu
disebut Allah mereka, sebab Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.”
Orang-orang percaya, yang mengarahkan hidupnya ke “tanah air yang lebih baik,
tanah air sorgawi,” akan bertekad untuk menyeberang, dari umat duniawi ke
umat sorgawi.
Dalam perjalanan bangsa Israel sebelum masuk ke Tanah Perjanjian, maka mereka harus
menyeberangi sungai Yordan. Nama “Yordan” berarti: “the descender” atau “yang membuat turun.”
Disebut demikian sebab air yang mengalir di sungai ini turun ke “Laut Mati,” sebuah danau yang tidak
memiliki aliran keluar, sehingga kadar garam dan mineral lainnya begitu tinggi dan mengakibatkan
tidak ada kehidupan (ikan-ikan dan hewan air mati), bahkan tumbuh-tumbuhan di sekelilingnyapun tidak
ada.
Itulah bayangan dari aliran duniawi, yang menghanyutkan banyak orang ke dalam kematian
rohani, menjelang Gereja Tuhan akan diangkat ke udara dan bertemu dengan Yesus. Keadaan sungai
Yordan dikatakan “sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai” (Yos.3:15). Itulah
saat penyeberangan yang ditetapkan Tuhan.
Yos.3:1 “Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan
sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.” Dan
pesan penting untuk dapat menyeberang dengan baik yaitu :
- Lihat Tabut Perjanjian, yang diangkat para imam, dan ikutilah (Yos.3:3).
- Menguduskan diri mereka masing-masing (Yos.3:5).
Orang-orang percaya yang mampu menyeberang dari kehidupan duniawi menjadi
sorgawi, yaitu mereka yang tidak hanyut oleh aliran dunia yang mematikan rohani,
sebab memandang kepada Yesus, Mempelai Laki-laki yang telah membayar harga
tebusan dengan darah-Nya, dan senantiasa menguduskan diri dari semua kecemaran
jasmani dan rohani.
VIII. KAYU SITTIM YANG TAHAN API
_________ 23
Tentunya para pembaca akan heran mendengar pernyataan ini bukan? Bukankah semua macam
kayu pasti terbakar habis oleh api? Benar! Namun, kayu Sittim, yang dipilih Tuhan secara khusus dan
dijadikan bahan utama Mezbah Korban Bakaran dalam Kemah Suci itu tahan api! Pada hal di atas
mezbah tsb api terus menerus dalam keadaan menyala!
Im.6:8-9 TUHAN berfirman kepada Musa: "Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang
korban bakaran. Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman
sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.”
Apa rahasianya kayu mezbah tak terbakar? Jawabannya diberikan dalam Alkitab.
Kel.27:1-2 “Haruslah engkau membuat mezbah dari kayu penaga, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya,
sehingga mezbah itu empat persegi, namun tiga hasta tingginya. Haruslah engkau membuat tanduk-tanduknya
pada keempat sudutnya; tanduk-tanduknya itu haruslah seiras dengan mezbah itu dan haruslah engkau
menyalutnya dengan tembaga.”
Rahasia Kayu Sitim yang terpilih tidak hangus terbakar yaitu sebab disalut dengan tembaga!
Kita sudah menerangkan dalam pembicaraan awal, bahwa kayu yaitu bayangan dari keumat an,
namun ada istilah “Kayu Hidup” dan “Kayu kering” (Luk.23:31), dan masing-masing melambangkan
“Keumat an Yesus dan Keumat an Orang percaya,” dan “Keumat an Orang berdosa.”
TEMBAGA MENGKIASKAN HUKUMAN ILAHI
Tatkala berbicara tentang “kutuk hukum Torat,” yang disebabkan sebab umat-Nya tidak
mendengarkan suara Tuhan dan tidak melakukan dengan setia segala perintah-Nya, maka salah satu kutuk
berbunyi demikian: “Juga langit yang di atas kepalamu akan menjadi tembaga dan tanah yang di bawah
pun menjadi besi” (Ul.28:23).
Logam tembaga melambangkan “Hukuman Ilahi yang Benar atas Dosa,” seperti dinyatakan
dalam penglihatan rasul Yohanes atas Diri Tuhan Yesus, yang akan datang sebagai Hakim untuk
menghakimi dunia ini.
Wah.1:15 “Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau
air bah.”
Wah.2:18 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan
nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga.”
Sebagai Hakim yang adil, maka Kaki Yesus yang “bagaikan tembaga yang membara,” telah siap
untuk menginjak-injak segala musuh-Nya! Dan hal ini juga dinyatakan dalam kitab Mazmur demikian:
“Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-
injak para lawan kita” (Maz.60:14). Jadi, Tuhan akan melakukan “Hukuman Ilahi yang benar atas Dosa”
terhadap semua orang yang melawan Firman.
Dalam penglihatan malamnya, nabi Zakaria berkata: “Aku melayangkan mataku pula, maka aku
melihat: tampak keluar empat kereta dari antara dua gunung. Adapun gunung-gunung itu yaitu
gunung-gunung tembaga” (Zak.6:1). Bila mencermati Zak.6:1-8, maka Tuhan akan mengirim empat roh
dari sorga (ay.5), yang dilukiskan dengan empat kereta yang ditarik empat kuda, yang keluar dari dua
gunung tembaga (ay.1). Dan ini jelas menerangkan tentang hukuman ilahi, yang akan ditimpakan atas
bangsa-bangsa di keempat penjuru dunia ini.
Mengapa hal ini terjadi? sebab umat di bumi tidak mau bertobat dari dosa-dosa mereka,
sebab menolak tawaran Allah, yang memberikan jalan pengampunan melalui percaya dan menerima
Yesus sebagai korban pendamaian bagi dosa-dosa mereka, seperti dinyatakan dalam Injil Yohanes 3:18
“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada
di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”
_________ 24
Hanya mereka yang nyawanya terbungkus kehidupan, sebab menerima Yesus, Sang Kehidupan,
sebagai tameng atau perisai terhadap hukuman ilahi, akan selamat dari murka Allah! Dan hal ini
digambarkan dengan kayu sittim yang dibungkus tembaga pada Mezbah Korban Bakaran! Ucapan
Abigail secara profetis terhadap Daud, yang ingin main hakim sendiri atas suaminya Nabal yang
menghinanya, juga berisikan kebenaran ini. Dengarkan kata-kata Abigail ini.
1Sam.25:29 “Jika sekiranya ada seorang bangkit mengejar engkau dan ingin mencabut nyawamu, maka nyawa
tuanku akan terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup pada TUHAN, Allahmu (MKJV: But the
soul of my lord shall be bound in the bundle of life with Jehovah your God = namun jiwa tuanku akan
dibungkus dalam bungkusan kehidupan dengan Tuhan Allahmu), namun nyawa para musuhmu akan
diumbankan-Nya dari dalam salang umban.”
Punyai kehidupan bagaikan kayu sittim yang terbungkus tembaga, agar dengan
demikian hukuman ilahi atas dosa, yang seharusnya jatuh atas anda ditanggung oleh
Yesus, Penebus dosa umat . Haleluyah!
TERLINDUNG API sebab KORBAN YESUS
2Kor.5:21 “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa sebab kita, supaya dalam Dia kita
dibenarkan oleh Allah.”
Aplikasi kebenaran ini dapat kita lihat dalam perjalanan umat Israel, saat mereka menghina
manna, yang menjadi makanan utama bangsa tsb selama 40 tahun di padang gurun.
Bil.21:4-6 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah
Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan
Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?
Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak." Lalu TUHAN
menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang
Israel yang mati.
Tatkala Israel mengaku berdosa, maka Tuhan berfirman demikian: "Buatlah ular tedung dan
taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.
Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut
ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup." (Bil.21:8-9). Akibat ular tedung
yang didatangkan Tuhan, mereka yang terpagut ular mati.
Tuhan Yesus mau menerapkan pengalaman tersebut dalam alam rohaniah. "Dan sama seperti
Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak umat harus ditinggikan, supaya
setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal."
Musa diperintahkan Tuhan membuat ular tedung dari tembaga! Tembaga yaitu logam yang
melambangkan pehukuman ilahi atas dosa. Jadi, ular tembaga yang ditinggikan untuk dipandang oleh
bangsa Israel itu yaitu lambang dari pehukuman Allah yang dijatuhkan kepada Anak umat (Tuhan
Yesus) sebagai akibat dari kesalahan umat umat . Namun, yang mau "memandang kepada ular
tembaga itu," berarti "memandang Yesus yang terhukum" sebab menjadi substitusi bagi dosa-dosanya,
maka mereka akan hidup!
Gal.3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk sebab kita, sebab ada
tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
Seperti halnya dengan Kayu Penaga yang dipakai untuk membuat Mezbah Korban
Bakaran, yang disalut dengan tembaga, begitulah juga dengan mereka yang
mengenakan Kristus (Ro.13:14) akan diluputkan dari “api pehukuman” yakni kematian
kedua dalam api neraka (Mat.18:9). Puji Tuhan!
IX. TIANG PINTU KEMAH YANG DISALUT EMAS
_________ 25
Dalam Kemah Suci, perabot yang berada di _________, yaitu Mezbah Korban Bakaran yaitu kayu
sittim yang disalut tembaga; sedangkan Kolam Pembasuhannya seluruhnya terbuat dari tembaga.
Berbeda halnya bila berada dalam Ruangan Suci, maka semua tiang, papan-papan, kayu lintang, bahkan
perabot-perabotannya semuanya dibuat dari kayu sittim atau penaga yang tersalut dengan emas murni
(Kel.25:11, 24, 31 dst). Kita mulai dengan tiang Pintu Kemah.
Logam Tembaga melambangkan “Penghukuman Ilahi atas Dosa,” sedangkan Emas
mengkiaskan “Kemuliaan Allah” atau “Kemuliaan Ilahi,” sebab emas memancarkan sinar berkilau
bila diterpa cahaya. Dan itulah yang terlihat dalam pribadi Yesus, Anak Allah. Nabi Daniel menyaksikan
pengalamannya saat melihat Dia, yang juga sesuai dengan pengalaman rasul Yohanes. Marilah kita
membandingkan penglihatan dua tokoh nabi besar ini.
Dan.10:5-6 “Kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak Seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang
emas dari ufas. Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh
yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti
gaduh orang banyak.”
Wah.1:13-15 “Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak umat , berpakaian jubah yang
panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih
bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan
tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.”
Tidak diragukan, bahwa yang dilihat Daniel “Seorang” itu pastilah Tuhan Yesus dalam
Kemuliaan ilahi-Nya, sebab hal serupa dinyatakan oleh rasul Yohanes. Keduanya berkata kata bahwa
Tuhan berikat pinggangkan emas. Pinggang yaitu tempat kekuatan dan vitalitas, sebab bila piggang
bermasalah maka dipastikan orang tsb sukar untuk melakukan tugas yang berat. Bahkan pinggang juga
disebut sebagai “kekuatan untuk menghasilkan” (procreative power), sebab berkali-kali Alkitab
menyebut anak-anak atau keturunan itu “keluar dari pinggang.” Dan hal-hal tsb dinyatakan dalam
Alkitab.
Ams.31:17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.
Yes.11:5 “Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada
pinggang.” Terjemahan King James berbunyi: “And righteousness shall be the girdle of His loins (Kebenaran
menjadi ikat pinggang-Nya), and faithfulness the girdle of His heart.”
Kel.1:5a “Seluruh keturunan yang diperoleh (yang keluar dari pinggang) Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa (And all
the souls that came out of the loins of Jacob were seventy souls.”
Logam emas memiliki arti rohani Kemuliaan Ilahi, khususnya dalam Kebenaran
dan Kuasa! Kebenaran, yang juga kekuatan/kuasa-Nya, hendak diimpartasikan
kepada orang percaya oleh Roh Kudus, Roh Kebenaran, supaya menjadi kuat dalam
menghasilkan hal-hal yang benar dipemandangan Tuhan.
TIANG PINTU KEMAH yaitu PEMBATAS
Begitu beralih dari _________ ke Ruangan Suci, maka para imam harus melewati tirai pembatas –
“Tirai Pintu Kemah” – yang terbuat dari kain lenan halus putih, yang dipintal dengan benang berwarna
biru, ungu dan merah, seperti yang kita baca ini.
Kel.26:36-37 “Juga haruslah kaubuat tirai untuk pintu kemah itu dari kain ungu tua (blue=biru), kain ungu muda
(purple=ungu), kain kirmizi (scarlet=merah darah) dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang
berwarna-warna. Haruslah kaubuat lima tiang dari kayu penaga untuk tirai itu dan kausalutlah itu dengan
emas, dengan ada kaitannya dari emas, dan untuk itu haruslah kautuang lima alas dari tembaga."
Kita melihat adanya dua logam diperbatasan _________ dan Ruangan Suci, tembaga dan emas.
jika imam terus memasuki Ruangan Suci, barulah ia melihat semuanya serba emas! Hal ini
_________ 26
mengajarkan, bila anda membuat kemajuan rohani – melewati Pintu Kemah yang bersalut emas namun
beralaskan tembaga ini – maka anda akan beralih sepenuhnya dalam atmosfir Kemuliaan Ilahi!
Meninggalkan daerah yang ada ancaman hukuman dan masuk dalam daerah anugerah-Nya. Semua
ini dapat diperoleh bila seseorang mau menurut pimpinan Roh-Nya! Dan ini dinyatakan oleh firman-Nya
dalam surat Roma pasal 8.
Rom.8:1-2 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang
tidak hidup menurut daging namun menurut Roh. sebab hukum Roh, yang memberi kehidupan telah
memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Catatan: ini yaitu terjemahan KJV,
yang berbeda dengan terjemahan negara kita ).
“Tidak ada lagi penghukuman” (dikiaskan dengan tembaga) yaitu kabar yang sangat
menggembirakan, yang melepaskan orang percaya dari perasaan takut dihukum! Bila hal itu terjadi?
Jawabannya: “mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang tidak hidup menurut daging namun menurut
Roh.”
“Dalam Kristus Yesus” berarti hidup dalam Firman yang diurapi dan “menurut Roh” berarti
menurut pimpinan Roh Kudus dan tidak menuruti keinginan daging. Sebab Roh Kudus yaitu pembuat
kemerdekaan! Dan hal ini dapat dialami oleh setiap orang percaya, yang selalu hidup dalam pertobatan
yang sejati, seperti dinytakan dalam firman Tuhan ini.
2Kor.3:16-17 “namun apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab
Tuhan yaitu Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.”
Tiang-tiang Pintu Kemah melambangkan para Pelayan Tuhan, yang disalut Kemuliaan
Ilahi, yakni kuasa Roh, dan memberitakan Kebenaran Firman yang memerdekakan,
seperti dikatakan Yesus ini: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar
yaitu murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan
memerdekakan kamu" (Yoh.8:31-32).
Keempat warna tirai yaitu kiasan dari warna kehidupan Tuhan Yesus, yang dilambangkan dalam
kitab Injil sebagai: Hamba (biru yaitu warna yang dipakai para hamba zaman dahulu – Injil Markus),
Raja (ungu yaitu warna yang dikhususkan bagi kebesaran raja, sehingga orang lain tidak boleh
memakainya – Injil Matius), Orang yang menderita (merah warna yang melambangkan penderitaan
sampai berdarah – Injil Lukas), Allah (putih lambang kesucian, sebab sifat utama Allah yaitu Kudus –
Injil Yohanes).
Tiang dari kayu sittim/penaga yaitu lambang dari Para Pelayan Tuhan, yang menjadi
penopang dalam Jemaat, dan disebut dalam Alkitab “Tiang-tiang Jemaat” atau dalam Alkitab terjemahan
bahasa negara kita “Sokoguru Jemaat.” Mereka yaitu orang-orang percaya yang berkata kata kehidupan
Injil. Injil yaitu berita kesukaan, yang berpusatkan kepada Yesus, Allah – dilambangkan dengan lenan
putih – yang menjelma menjadi umat , menjadi hamba (warna biru), menderita disalib – mati (warna
merah), namun bangkit, naik ke sorga dan akan datang kembali sebagai Raja (ungu). Kehidupan Injil
menjadi nyata dalam pribadi orang percaya bila mereka penuh Roh Kudus!
Gal.2:9 “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes,
yang dipandang sebagai sokoguru jemaat (KJV: who seemed to be pillars), berjabat tangan dengan aku dan
dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat
dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.”
Bukan hanya para rasul yang menjadi tiang jemaat, namun juga para pelayan jemaat yang
melakukan pelayanan diakonia, seperti halnya dengan Stefanus dan Filipus yang penuh Roh, sehingga
sanggup menerangkan firman dengan hikmat ilahi dan memberitakan Injil dengan kuasa ilahi, yakni Roh
Kudus (Kis.6:5, 10; 7:55; 8:5, 39).
Para pelayan yang menjadi penopang dalam Jemaat yaitu orang-orang pilihan
Tuhan, yang berikat-pinggangkan Kebenaran serta Kuasa Ilahi-Nya, Roh Kudus!
X. PAPAN-PAPAN YANG DISALUT EMAS
_________ 27
Setelah melalui Tirai yang tergantung pada kelima Tiang Pintu Kemah, maka para imam yang
melayani dalam Ruangan Suci, dan imam besar yang melayani dalam Ruangan Maha Suci, akan melihat
dinding-dinding ruangan, yang terbuat dari papan-papan kayu sittim disalut emas. Keterangan tentang
papan-papan ini dapat kita baca dalam Kel.25:15-25 dan Kel.36:20-30; sedangkan kayu-kayu
palang/lintang yang mempersatukannya tertulis dalam Kel.26:26-30 dan Kel.36:31-34.
Kel.26:15-25 “Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu penaga yang berdiri tegak, 16
sepuluh hasta panjangnya satu papan dan satu setengah hasta lebarnya tiap-tiap papan. 17 Tiap-tiap
papan harus ada dua pasaknya (yad) yang disengkang satu sama lain; demikianlah harus kauperbuat
dengan segala papan Kemah Suci. 18 Haruslah engkau membuat papan-papan untuk Kemah Suci, dua puluh
papan pada sebelah selatan. 19 Dan haruslah kaubuat empat puluh alas perak di bawah kedua puluh papan
itu, dua alas di bawah satu papan untuk kedua pasaknya (yad), dan seterusnya dua alas di bawah setiap
papan untuk kedua pasaknya (yad). 20 Juga untuk sisi yang kedua dari Kemah Suci, pada sebelah utara,
kaubuatlah dua puluh papan 21 dengan empat puluh alas peraknya: dua alas di bawah satu papan dan
seterusnya dua alas di bawah setiap papan. 22 Untuk sisi belakang Kemah Suci, pada sebelah barat,
haruslah kaubuat enam papan. 23 Dua papan haruslah kaubuat untuk sudut Kemah Suci, di sisi
belakang. 24 Kedua papan itu haruslah kembar pasaknya di sebelah bawah dan seperti itu juga kembar
pasaknya di sebelah atas, di dekat gelang yang satu itu; demikianlah harus kedua papan itu; haruslah itu
merupakan kedua sudutnya. 25 Jadi harus ada delapan papan dengan alas peraknya: enam belas alas; dua
alas di bawah satu papan dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan.”
Kel.26:26-30 “Juga haruslah kaubuat kayu lintang dari kayu penaga: lima untuk papan-papan pada sisi yang satu
dari Kemah Suci, 27 lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi yang kedua dari Kemah Suci, dan lima
kayu lintang untuk papan-papan pada sisi Kemah Suci yang merupakan sisi belakangnya, pada sebelah barat.
28 Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung
ke ujung. 29 Papan-papan itu haruslah kausalut dengan emas, gelang-gelang itu haruslah kaubuat dari emas
sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu haruslah kausalut dengan emas.
30 lalu haruslah kaudirikan Kemah Suci sesuai dengan rancangan yang telah ditunjukkan kepadamu di
atas gunung itu.”
FUNGSI UTAMA PAPAN-PAPAN TABERNAKEL
Papan-papan yang bertindak sebagai dinding ini memiliki fungsi utama sebagai pemisah antara
Ruangan Suci dan Ruang Maha Kudus dari _________. Sedangkan _________ sendiri dipisahkan dari luar
dengan Pagar _________, yang terbuat dari kain lenan halus yang dipintal benangnya dan digantungkan
pada tiang-tiang tembaga (Kel.27:9-19).
Menguduskan(diri) dalam bahasa Yunaninya “hagiazo,” memiliki arti memisahkan diri dari
pemakaian sia-sia kepada yang kudus, atau mengkhususkan diri sepenuhnya kepada Allah dan pelayanan-
Nya.
Untuk masuk ke _________, para Lewi dan Imam harus melalui Pintu Gerbang, yang terbuat dari
kain lenan halus putih, yang dipintal dengan benang berwarna biru, ungu dan merah. Keempat warna ini
menunjukkan kepada empat warna kehidupan Tuhan Yesus, sebagai Hamba, Raja, umat dan Allah,
yang dinyatakan dalam empat Injil. jika seseorang percaya kepada Yesus, sebagai Pintu
Keselamatan, maka hidupnya disucikan oleh darah-Nya!
Namun, Tuhan tidak ingin umat hanya menerima anugerah-Nya secara pasif, dikuduskan oleh
Roh melalui percikan darah-Nya (1Pet.1:2), namun melangkah maju dengan menguduskan/menyucikan
dirinya melalui ketaatan kepada firman-Nya, seperti dinyatakan dalam 1Pet.1:22 “sebab kamu telah
menyucikan jiwamu (TB: dirimu) oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan
kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan
s




