di dalam alkitab 5

 


umat  ada “keinginan” 

yang tak terlihat, namun dapat dikategorikan sebagai berhala juga, seperti firman-Nya dalam Kol.3:5 

"sebab  itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa 

nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala." 

 Untuk menjadi barisan Tuhan, yang berkuasa membina dan membentuk umat  seperti maksud 

Allah dalam merekrut orang-orang pilihan-Nya, maka mereka harus dilepaskan dari kuasa setan terlebih 

dulu, lalu  diberi kuasa supaya dapat bertugas mengusir setan dalam diri orang-orang yang 

mendengar pemberitaan Injil. 

Untuk maksud dan tujuan yang mulia inilah, maka Tuhan Yesus memanggil, memilih atau 

menetapkan para rasul, yang menjadi pengikut awal, dan lalu  dengan cara yang sama Roh Kudus 

melakukan terhadap semua orang percaya!   

Mark.3:13-15 "lalu  naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka 

pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan (Sama tujuannya dengan: memilih!) dua belas orang untuk 

menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan." 

 Prioritas utama dalam panggilan pelayanan yaitu  untuk menyertai Dia! Sebab keinginan utama-

Nya suatu hubungan khusus, dengan menjadikan para pengikutnya "Mempelai Kristus." Istilah 

"mempelai" dipakai Alkitab untuk berkata kata  suatu hubungan pribadi yang sangat intim, yang terbuka! 

Sehingga tercapai tujuan tertinggi, menjadi satu dengan Kristus, yang dilambangkan sebagai Tubuh 

Kristus (Yoh.17:22-23). 

 Untuk menjadikan orang-orang pilihan-Nya berkualitas, melalui hubungan pribadi dengan Dia, 

maka Alkitab memakai kata "menetapkan." Kata ini diterjemahkan dari bahasa Yunani: "poieo," dan 

bermakna "mengisi dengan kualitas (poios)." Dalam Mat.4:19 diterjemahkan dengan kata: "menjadikan" 

seperti kita baca ini: Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan 

penjala umat ." 

Adakah anda berminat dijadikan "Orang Pilihan-Nya," serta bekerjasama membina 

"umat  Duniawi" dan menjadikan mereka "umat  Sorgawi"? Siapkan waktu untuk 

bersekutu dengan Tuhan Yesus, supaya dapat diisi dengan kualitas hidup yang 

rohani/sorgawi! 

Orang-orang pilihan inilah yang dilambangkan dalam Kemah Suci atau Tabernakel oleh Kayu 

Penaga, yang dipilih dari sekian banyak macam kayu, sebab  memiliki sifat khusus yang berkenan di 

pemandangan Allah. 

 

TUGAS PALING DASAR 

 Orang-orang pilihan Tuhan, sebagaimana dengan Kayu Penaga, kayu pilihan yang dipakai dalam 

Kemah Suci, yaitu  mereka yang mau menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup kudus, seperti 

dinyatakan dalam firman-Nya ini: “namun  hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu 

sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab 

Aku kudus” 1Pet.1:15-16. 

 Namun perlu diingat, bahwa kayu tsb diperoleh bangsa Israel tatkala mereka telah keluar dari 

Mesir dan mengikuti tuntunan Tuhan dengan tiang awan dan api. Keluar dari Mesir yaitu  bayangan 

rohani kehidupan orang-orang yang rela meninggalkan hal-hal duniawi, sebab  mau mengikuti 

pimpinan Roh Kudus dalam perjalanan iman menuju tanah air sorgawi.  

Ayat-ayat di bawah ini berkata kata  betapa pentingnya dunia harus mati bagi kita, dan kita mati 

bagi dunia (arti mati yaitu  berpisah total)! 

Kol.3:5 “sebab  itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa 

nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.” 

Tit.2:12 “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita 

hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” 

Kedatangan-Nya ke dalam dunia yang pertama, selain bertujuan menebus umat  

dari dosa-dosa mereka, juga mendidik orang percaya, yang mau dipimpin Roh Kudus, 

untuk meninggalkan keinginan-keinginan duniawi serta mematikan segala sesuatu 

yang duniawi. 

Faktanya, dari umat Israel yang telah keluar dari Mesir, jumlah yang tercatat yaitu  603.550 orang, 

namun hanya dua orang saja yang dapat masuk tanah perjanjian, yakni Yosua dan Kaleb! Mengapa 

kebanyakan dari mereka mati di padang belantara? Sebab walaupun tubuh mereka keluar dari Mesir, namun  

Mesir tidak keluar dari pikiran mereka! Pikiran mereka masih duniawi, tidak sorgawi, sehingga tidak 

memiliki  kerinduan mewarisi “Tanah air sorgawi” seperti yang dilakukan oleh Abraham, bapak orang 

percaya! 

Ibr.11:16 “namun  sekarang mereka (yakni: Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf dll) merindukan tanah air yang lebih 

baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, sebab  Ia telah 

mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” Sebab itu, tugas paling dasar dari seseorang yang ingin masuk 

alam sorgawi yaitu  mengubah arah pikirannya yang duniawi dengan kerinduan “Tanah air sorgawi.”! 

Dan inilah yang disebut dengan pertobatan! 

 Baik Yohanes Pembaptis, nabi terakhir dari Perjanjian Lama, maupun Tuhan Yesus sebagai Nabi 

Agung, bahkan sebagai Messias, mengatakan kalimat yang serupa: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga 

sudah dekat!” (Mat.3:2; 4:17). Kata “bertobat” dari kata Yunani metanoeō, memiliki  makna “memikir 

secara berbeda” atau mengubah arah pikiran, menimbang kembali; dari kata noieō, berarti “melatih 

pikiran” – berpikir, menimbang. 

 Mengapa seseorang dapat mengubah pikiran atau menimbang kembali keputusannya? sebab  ia 

menerima masukan perkataan atau nasihat dari orang lain. Dan itulah yang telah terjadi terhadap mereka, 

yang bahkan sudah mengambil keputusan untuk bunuh diri, namun  membatalkannya sebab  menerima 

Berita Injil. Nah, itulah sebabnya Tuhan mengutus para Pemberita Injil memberitakan “Kabar Baik,” 

bahwa ada jalan keselamatan bagi umat  duniawi, yang seharusnya dibinasakan sebab  tidak bertobat, 

supaya menerima hidup kekal dan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dengan percaya dan menerima Tuhan 

Yesus! 

Orang-orang pilihan Tuhan, yang memberitakan Berita Injil, dilambangkan sebagai 

Kayu Penaga, yang dipilih untuk dijadikan Mezbah Korban Bakaran dalam Kemah 

Suci. Tugas dasar mereka yaitu  membalikkan pikiran orang-orang percaya, dari 

duniawi menjadi sorgawi! 

 

KEHIDUPAN ATAU KEMATIAN? 

 Sebelum Musa berpisah dengan umat Israel, ia menubuatkan apa yang akan menimpa bangsa ini 

di lalu  hari, yaitu mereka akan menolak firman Tuhan. Firman yang diucapkan Musa demikian 

bunyinya: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu 

kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, 

baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan 

berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang 

dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, 

untuk memberikannya kepada mereka." 

  

Pertobatan yaitu  soal pilihan! Mau menuruti suara Tuhan atau suara hati sendiri. 

Namun perlu diperhatikan, bahwa dampak pemilihan kita masing-masing akan 

membuat hal yang benar-benar bertolak belakang, Kehidupan kekal atau Kematian 

kekal. 

sebab  perjanjian-Nya dengan Abraham, maka Allah yang yaitu  Mahakuasa, Mahatahu, 

Berhikmat dan Setia, menetapkan untuk memunculkan seorang Antikristus, yang menjadi cambuk bagi 

Israel pada akhir zaman agar mereka bertobat, supaya dengan demikian perjanjian-Nya dapat digenapkan! 

Dan apa yang dinubuatkan Musa kira-kira 1400-1500 tahun sebelum Masehi tersebut, telah menjadi fakta 

tatkala Yesus, Sang Juruselamat disalibkan pada tahun 30 Masehi. Sampai sekarang, ketumpulan hati 

mereka masih berlangsung sampai menjelang kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya, tatkala mereka 

berada dalam sengsara besar, barulah bertobat dan menerima Dia. Haleluyah! 

 sebab  penolakan umat pilihan-Nya ini, maka Allah membuka peluang bagi bangsa-bangsa bukan 

Yahudi untuk menerima keselamatan melalui Berita Injil. Dan Pemberita Injil pertama dalam zaman 

anugerah bagi Gereja-Nya, dilakukan sendiri oleh Yesus, Tuhan dan Kristus, Allah yang menjelma 

menjadi umat ! Benar-benar suatu kesempatan dan penghormatan luar biasa dari Allah terhadap 

umat  yang berdosa.  

Oh, betapa besar dan mulianya kasih Allah, sehingga Tuhan Yesus dalam dialognya dengan 

Nikodemus, seorang farisi, mengatakan kalimat ini: “sebab  begitu besar kasih Allah akan dunia ini, 

sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-

Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16). 

 Dalam percakapan tentang penghakiman y.a.d., Tuhan Yesus menerangkan tentang Diri-Nya, 

yang diakui Nikodemus sebagai pribadi utusan Allah: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai 

guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau 

adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 

 Tanda-tanda yang dikatakan Nikodemus pastilah tanda-tanda yang kelihatan, yang duniawi, yang 

tidak mungkin dilakukan oleh umat . Dia percaya bahwa Yesus diutus Allah, seorang Pribadi yang 

sorgawi. lalu  Tuhan Yesus melanjutkan pembicaraan dengan contoh hal-hal duniawi, yakni soal 

kelahiran, air dan angin. Hal-hal duniawi ini dikemukakan agar Nikodemus dapat menangkap hal-hal 

yang sejajar dalam alam rohani, yakni tentang Kelahiran Baru, Firman (yang dibayangkan dengan air) 

dan Roh Kudus (yang dibayangkan dengan angin). lalu  Tuhan Yesus melanjutkan dengan kalimat 

ini. 

Yoh.3:12-15 "Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu 

akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? Tidak ada seorang pun yang 

telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak umat . Dan sama seperti 

Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak umat  harus ditinggikan, supaya setiap 

orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal." 

 Dengan ucapan ini, Tuhan Yesus ingin menanamkan pengertian penting ini kepada Nikodemus, 

jikalau dirinya ingin mengerti hal-hal sorgawi, haruslah ia menerima kenyataan bahwa Diri-Nya turun 

dari sorga sebagai “Anak umat ” – Allah menjelma menjadi umat  – dengan maksud untuk 

“ditinggikan” di atas kayu salib, supaya menanggung kutuk dosa atas seluruh umat , supaya umat  

yang percaya kepada-Nya dapat diampuni dan dapat dibenarkan: “yaitu Yesus, yang telah diserahkan 

sebab  pelanggaran kita dan dibangkitkan sebab  pembenaran kita” (Rom.4:25). 

 Dalam Kemah Suci, berita pengampunan dosa ini dilambangkan dengan korban-korban yang 

dipersembahkan di atas Mezbah Korban Bakaran secara tetap. Korban-korban hewan tersebut yaitu  

bayangan dari korban Yesus, Sang “Anak Domba Allah” diatas kayu salib, seperti diserukan Yohanes 

Pembaptis kepada kedua muridnya: "Lihatlah Anak domba Allah!" (Yoh.1:36; 1Yoh.2:2). 

Orang-orang pilihan Tuhan serupa dengan Kayu Penaga, kayu pilihan, yang dipakai 

untuk Mezbah Korban Bakaran, yaitu  mereka yang tahu berterima-kasih atas 

penebusan dirinya, sehingga ingin memberitakan Berita Pendamaian bagi orang-

orang berdosa, agar memilih Kehidupan dan hidup kekal! 

 

 

VI. KERINDUAN BERALIH KE TEMPAT YANG LEBIH BAIK 

 Setiap orang yang telah mempercayai adanya sorga, pasti tidak ragu mengucapkan doa “Bapa 

kami yang di sorga.” Alasan utamanya yaitu  keinginan memperoleh hubungan dalam atmosfir sorgawi 

yang bernuansa Kerajaan-Nya dan ketertiban kehidupan ilahi. sebab  itu, doanya dilanjutkan demikian: 

“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” 

 Yang menjadi pertanyaan, apakah anda sebagai salah satu pembaca/pendengar memiliki kerinduan 

itu? Rasul Paulus, walaupun sangat senang hidup di bumi sebab  dibutuhkan dan dihargai banyak orang 

dalam hal mendidik, namun dalam batinnya ia sangat mendambakan beralih secepatnya untuk diam di 

sana, seperti dinyatakan dalam ayat ini: “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam 

bersama-sama dengan Kristus – itu memang jauh lebih baik; namun  lebih perlu untuk tinggal di dunia ini 

sebab  kamu” (Flp.1:23-24). 

  

 

LAKUKAN PERJALANAN DI TENGAH TANTANGAN IMAN 

 Untuk memperoleh kayu penaga, umat Israel harus mengikuti jalan yang diarahkan Tuhan 

dengan pimpinan Tiang Awan dan Api. Dalam aplikasi rohaninya sekarang, hal ini melambangkan 

tuntunan Roh Kudus bagi Gereja-Nya.  

 Ke mana mereka dipimpin? Ke Tanah Perjanjian! Namun, mereka harus melalui daerah Moab, 

seperti dinyatakan dalam Bil.22:1 “lalu  berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran 

Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho.” Bangsa Moab yaitu  bangsa yang terbit dari 

hubungan najis antara Lot dengan anak wanita nya sendiri (Baca ceritanya dalam kitab Kej.19:30-38). 

Jadi, perjalanan Israel harus melalui atmosfir yang najis, sebagai ujian atas hidup menjadi bangsa 

pilihan! Begitu juga dengan Gereja-Nya, yang diuji dalam hal kesucian jasmaniah maupun rohaniah. 

           Dan celakanya, di tempat persinggahan di dataran Moab, Sitim, itulah terjadi malapetaka yang 

menyebabkan kematian 23.000 orang dalam sehari (1Kor.10:8), dan lalu  bertambah menjadi 24.000 

orang secara keseluruhannya (Bil.25:9). Semua malapetaka ini terjadi sebab  bangsa Israel tidak taat 

peraturan hidup kudus, yang melarang pernikahan campur. 

Bil.25:1-2 “Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan wanita -wanita  Moab. 

wanita -wanita  ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut 

makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu.” 

 Dalam perjalanan rohani Gereja-Nya sekarang ini, kitapun akan menghadapi tantangan dan 

godaan, yang dikobarkan daging melalui keinginan-keinginan duniawi, walaupun telah menjadi orang 

percaya, yang dipanggil Tuhan keluar dari sistem dunia ini! Bukankah hal itu juga telah terjadi dalam 

kehidupan umat Israel yang telah percaya (Kel.4:31)? Akibatnya, sebagian besar dari mereka mati dalam 

perjalanan, sebab  berpikiran duniawi, seperti yang telah terjadi di Sitim. 

 Dari keterangan ini, nama “Sitim” atau “Shittim,” yang lalu  juga dipakai untuk penyebutan 

“Kayu Sitim” atau “Shittim Wood,” atau “Kayu Penaga” (terjemahan Alkitab bahasa negara kita ) 

merupakan nama peringatan tentang asal usul kayu tersebut, yang terdapat di daerah Moab. Walaupun 

nama “Shittim” memiliki  kenangan yang buruk, sebab  kejatuhan Israel dalam perzinahan jasmani dan 

rohani, namun Kayu Sitim/Penaga inilah yang dipakai Tuhan dalam Kemah Suci, sebab kayu yang 

terpilih ini dibawa keluar dari Sitim! 

 Kejatuhan Israel di Sitim terjadi sebab  perbuatan “nabi” Bileam yang ingin harta (Yud.1:11), 

sehingga memberi nasihat kepada raja Moab, Balak, agar wanita -wanita  Moab mengajak laki-

laki Israel berzinah dan menyembah Baal-Peor (Bil.25:1-3). Ajaran Bileam ternyata juga masuk ke dalam 

Gereja Tuhan, seperti dialami oleh Jemaat di Pergamus, yang ditegor Tuhan sebagai Kepala Gereja 

(Wah.2:14)!     

 

 

Wah.2:14 “namun  Aku memiliki  beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang 

menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya 

mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.” 

Kayu Penaga atau “Shittim Wood,” yang terpakai dalam Kemah Suci merupakan 

bayangan dari orang-orang percaya, yang dipanggil keluar dari dunia dan terpilih, 

sebab  mereka mau diproses keluar dari kenajisan duniawi dan mengikut pimpinan 

Roh untuk hidup kudus!  

 

ROH TAKUT AKAN TUHAN 

 Roh Kudus disebut juga sebagai “Roh kasih karunia” – “Spirit of grace” – sebab  dianugerahkan 

untuk menginsafkan umat  tentang dosa, yang hanya dapat dihapuskan oleh darah Yesus, yang 

merupakan “Darah Perjanjian” yang menguduskan. 

Ibr.10:28-31 Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua 

atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak 

Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh 

kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan yaitu  hak-Ku. Akulah yang akan 

menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya." Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam 

tangan Allah yang hidup. 

 Berbicara tentang “penghakiman Tuhan” – maka hal itu dituangkan dalam hikmat Tuhan dengan 

membuat Mezbah Korban Bakaran yang disalut dengan tembaga (Kel.27:1-2 – logam tembaga yaitu  

lambang “pehukuman” Ul.28:23). Dan hal itu berarti, siapa yang percaya kepada korban darah Yesus dan 

bertobat untuk menempuh hidup kudus akan diselamatkan, namun yang tidak mau bertobat, mereka pasti 

akan dihukum (Yoh.3:36). 

 Roh Kudus menginsafkan orang percaya, bahwa hanya oleh darah Anak Allah dosa umat  dapat 

dihapus. sebab  itu, siapa yang menolak Roh Anugerah-Nya dengan menolak tawaran pemberian darah 

Yesus akan mengalami hukuman yang mengerikan, yakni kematian kekal atau berpisah dari Allah secara 

kekal, sebab  dilemparkan ke dalam neraka dengan menderita siksa selama-lamanya (Mat.25:30; 

Wah.14:11). Orang yang percaya, bahwa perkataan Tuhan itu benar dan pasti terjadi akan memiliki roh 

takut akan Tuhan. 

Maz.33:8-9 “Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! 

Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”  

2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab  kita sekarang memiliki janji-janji itu, (Red: janji diam bersama 

Tuhan) marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian 

menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” 

 Perhatikan baik-baik! Kalimat “kita menyucikan diri kita” jelas yaitu  kata aktif, yang harus 

dikerjakan oleh sang subyek. Jadi, ada bagian hidup yang hanya dapat disucikan Tuhan, itulah roh orang 

percaya, yang hanya dapat disucikan dengan Darah Anak Domba Allah! namun  ada bagian hidup yang 

harus disucikan oleh umat , yang tentunya disertai pertolongan Tuhan, yaitu jiwanya! 

1Pet.1:22 “sebab  kamu telah menyucikan dirimu (dari kata: psuche, seharusnya diterjemahkan jiwamu) oleh 

ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, 

hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” 

Kayu Penaga/Shittim yang dipakai dalam Kemah Suci yaitu  bayangan dari orang-

orang yang percaya bahwa darah-Nya dimaksud untuk hidup kudus, sebab  itu 

menyucikan diri dengan mentaati Firman-Nya, yang dipercaya pasti terjadi. 

Haleluyah! 

 

 

VII. BERALIH KE SEBERANG 

 Untuk beralih dari Mesir ke Tanah Perjanjian, yang dijanjikan Allah kepada bapa Abraham, maka 

orang Israel harus mengalami penyeberangan. Dibawah pimpinan Musa, mereka telah menyeberangi laut 

Merah; dan dibawah pimpinan Yosua, umat Allah menyeberangi sungai Yordan, seperti diperintahkan 

Tuhan kepada Yosua. 

Yos.1:1-2 Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, 

demikian: "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, 

engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.” 

 Bila dahulu hal ini berlaku secara jasmaniah (bagi umat Israel), maka sejajar dengan pengalaman 

tersebut, sekarang bagi “Israel rohani” atau Gereja Tuhan, kita juga harus mengalami proses 

penyeberangan, namun dalam bentuk rohani. 

 

PIKIRAN KE SEBERANG 

 Berubah menjadi “umat  Sorgawi” dari “umat  Duniawi” yaitu  suatu tindakan 

menyeberang! Hal itu mengandung makna perubahan tempat/daerah dan kondisi; tadinya di dunia 

dengan kondisi dunia (serba duniawi), namun berubah tempat dan berada di sorga, dengan kondisi sorga 

(serba sorgawi). 

 Perubahan lingkungan perlu dialami sebelum seseorang dapat berubah menjadi umat  Sorgawi, 

sebab lingkungan tempat anda berada memiliki atmosfir roh tertentu! Perubahan dalam alam pikiran ke 

arah yang lebih sorgawi terjadi bila lingkungan anda berubah lebih dahulu. 

 Rom.12:1-2 mengatakan: “sebab  itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku 

menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang 

kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu yaitu  ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi 

serupa dengan dunia ini, namun  berubahlah (metamorphoō) oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu 

dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang 

sempurna.” 

 Kata metamorphoō terdiri dari dua kata, yakni “meta” berarti perubahan tempat/kondisi, serta 

“morphoō” yang berarti bentuk. Jadi, kata “berubahlah,” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris 

“transform,” mengandung arti: berubah bentuk (form) sebab  perubahan tempat/kondisi. Jadi, kalimat 

“berubahlah oleh pembaharuan budimu” bermakna perubahan bentuk pikiran sebab  adanya 

perubahan tempat dan kondisinya. 

Perubahan ke umat  sorgawi dari dua saleh Tuhan, Henoch dan Nuh, terjadi sebab  mereka 

mempersembahkan tubuh untuk bergaul dengan Allah (Kej.5:22, 24; 6:9). Sebaliknya, Tuhan 

mengingatkan bangsa Israel, agar mereka tidak membawa tubuh bergaul dengan bangsa-bangsa yang 

akan dihukum Tuhan, sebab bila mereka melakukan hal ini, maka firman-Nya memberitahukan, bahwa 

“mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di 

matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, 

Allahmu” (Yos.23:13b). 

Perubahan ke arah sorgawi atau duniawi terjadi sebab  berada dalam lingkungan 

yang sorgawi atau duniawi. Sebab, setiap teman gaul anda memiliki roh tertentu, 

yang meliputi dirinya; baik rohnya, – roh yang hidup atau roh yang mati, ataupun 

malaikat pengawalnya, – malaikat baik atau jahat. 

Dengan pergaulan yang benar, khususnya dengan Allah dan lalu  dengan orang-orang benar, 

maka setiap orang percaya pasti akan mengalami kebangkitan rohani dan rohnya terpelihara dengan baik. 

Efs.2:4-6 “namun  Allah yang kaya dengan rahmat, oleh sebab  kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada 

kita, telah menghidupkan (roh) kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-

kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan -- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan 

(roh) kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.” 

Dengan roh yang dibangkitkan/dihidupkan, setelah dilepaskan dari dosa – dosalah yang 

menceraikan umat  dari Allah Yes.59:2 – maka seseorang yang percaya kepada Tuhan Yesus akan 

mengalami metanoeō; dari kata meta = perubahan tempat/kondisi, dan kata noieō = melatih pikiran atau 

berpikir. Inilah yang dikatakan dalam bahasa negara kita  “bertobat,” dan berarti: melatih pikiran untuk 

 

berubah, sehingga bila pada masa lalu hanya memikirkan hal-hal duniawi, sekarang dapat memikirkan 

hal-hal sorgawi, seperti dinyatakan dalam firman-Nya ini. 

Kol.3:1-2 “sebab  itu, kalau kamu (yang dimaksud yaitu  “rohmu”) dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah 

perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, 

bukan yang di bumi.” Inilah yang diartikan dengan Pikiran ke seberang! 

 

MENJADI IBRANI, ORANG SEBERANG 

 Hidup yaitu  perjalanan. Bagi yang menginginkan untuk menjadi sorgawi, mereka harus 

melakukan perjalanan iman, seperti dinyatakan dalam 2Kor.5:6-8 “Maka oleh sebab  itu hati kami 

senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari 

Tuhan, – for we walk by faith, not by sight - sebab kami berjalan dengan iman, bukan dengan 

penglihatan – namun  hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada 

Tuhan.” 

 Tujuan perjalanan iman yaitu  menetap bersama Tuhan dalam Kerajaan-Nya! Sebab itu, yang 

mendambakan demikian harus mengikuti jejak iman Abraham (Rom.4:11-12), sehingga  layak disebut 

“Sahabat Allah” (Yak.2:23; Yoh.15:15). Mau? 

 Bila anda mau, dengarkanlah pesan yang disampaikan Yosua kepada seluruh bangsa Israel ini: 

“Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek 

moyangmu (Your fathers dwelt on the other side of the flood in old time), yakni Terah, ayah Abraham dan 

ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. namun  Aku mengambil Abraham, bapamu itu, 

dari seberang sungai Efrat (from the other side of the flood), dan menyuruh dia menjelajahi seluruh 

tanah Kanaan…… dst (Yos.24). 

 Kata: “di seberang” atau “on the other side” diterjemahkan dari kata Ibrani: ‛êber, dari kata 

‛âbar, yang berarti: menyeberang, to cross over. Kata ini dipakai dalam pengertian terjadi transisi, 

perubahan! Sedangkan kata “sungai Efrat” atau “the flood” diterjemahkan dari bahasa Ibrani: nâhâr, 

yang berarti aliran, dan secara kiasan berarti kemakmuran (prosperity). 

Wah.17:15 Lalu ia berkata kepadaku: "Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, yaitu  

bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.” 

 Dalam pelajaran “Konflik Terbesar,” telah diterangkan tentang Gerakan Zaman Baru (New Age 

Movement), yang berusaha menghapus segala peraturan Allah dari bumi ini dengan mengetengahkan 

ajaran setan, yang mengarahkan umat  untuk memakai kebebasan pribadinya sebagai gaya hidup. Dan 

faktanya, dewasa ini ajaran tsb diikuti oleh banyak bangsa-bangsa di bumi ini. Namun, dibalik semuanya 

ini, Setan lalu  akan memakai seorang Antikristus, yang diibaratkan Tuhan sebagai “pisau cukur 

yang dipinjam dari seberang sungai Efrat, yakni raja Ayur” (Yes.7:20; 8:7). Catatan: “raja Asyur” yaitu  

bayangan dari Antikristus y.a.d.   

Jelas, Tuhan ingin setiap orang percaya harus menyeberang meninggalkan aliran “air 

bah” yang dapat menghanyutkan umat  ke dalam kematian kekal. Dan dewasa ini, 

aliran berbahaya itu yaitu  persatuan bangsa-bangsa yang mengikuti ajaran Gerakan 

Zaman Baru dengan menolak hukum-hukum ilahi, namun berfokus pada kemakmuran 

duniawi! 

Bapa Abraham sebagai bapa semua orang beriman, disebut Alkitab sebagai “orang Ibrani” 

seperti yang kita baca dalam Kej.14:13 “lalu  datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini 

kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang 

Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram.” 

Demikian pula dalam alam rohani, sebagai orang beriman yang dibenarkan seperti Abraham, 

kitapun harus menjadi “Ibrani rohani.” Hal ini sesuai firman yang disampaikan Paulus kepada jemaat di 

Roma: “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, 

bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. namun  orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak 

nampak keyahudiannya dan sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. 

Maka pujian baginya datang bukan dari umat , melainkan dari Allah” (Rom.2:28-29). 

Marilah kita menjadi “Orang Ibrani sejati,” yaitu orang-orang yang pikirannya 

menyeberang dari duniawi ke sorgawi, sehingga kelak akan mengalami perubahan 

tempat, berdiam bersama Tuhan selama-lamanya di sorga. 

  

DITARIK KE SEBERANG OLEH KEMULIAAN TUHAN 

 Seperti halnya dengan kayu sitim, yang berada di padang gurun, namun sebab  terpilih untuk 

dijadikan Kemah Suci dan alat-alatnya, maka kayu-kayu tsb dibawa melalui pimpinan Tiang Awan dan 

Tiang Api ke seberang, melintasi sungai Yordan dan masuk ke Tanah Perjanjian, demikian juga dengan 

orang-orang yang dipanggil dan lalu  dipilih-Nya. Dan yang lebih mengagumkan yaitu  keputusan 

Allah, yang mau berdiam dalam Kemah Suci tsb. Demikian juga halnya dengan orang-orang pilihan, yang 

mengalami persekutuan pribadi dengan Tuhan – Roh Kudus akan diam dalam diri mereka. Itulah orang-

orang yang disebut secara rohani “Orang Ibrani”! 

Disebut “orang Ibrani” sebab dalam perjalanan imannya, ia “menyeberangi” sungai Efrat setelah 

diminta keluar dari negerinya, Ur-Kasdim, tempat nenek-moyangnya beribadah kepada “allah lain” 

(Yos.24:2-3). Kunci kerelaan Abraham meninggalkan negerinya disebabkan melihat kemuliaan Allah, 

seperti dikatakan Stefanus dengan ilham Roh, dalam Kis.7:2-3: “Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, 

dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita 

Abraham, saat  ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya: 

Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan 

kepadamu.” 

Penglihatan akan kemuliaan Allah inilah yang menyebabkan Abraham rela mentaati firman-Nya 

untuk keluar dari negeri, bangsa, bahkan kaum keluarganya, yang yaitu  para penyembah berhala! 

Kemuliaan Allah menjadi kunci ketekadan, sehingga Alkitab mengatakan: “sebab  iman Abraham taat, 

saat  ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia 

berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibr.11:8). 

Kalimat “tidak mengetahui tempat yang ia tuju” berarti, Abraham tidak melihat dahulu atau 

menjajaki tempat yang ditetapkan Tuhan, sebagaimana dilakukan oleh orang Israel, yang meminta kepada 

Musa untuk mengutus kedua belas pengintai (Ul.1:22). Dan apa akibatnya tatkala sepuluh pengintai itu 

melihat penduduk tanah perjanjian yaitu  raksasa? Bangsa Israel menangis dan meminta agar kembali ke 

Mesir (Bil.14:1-4)!  

Abraham disebut “bapa semua orang percaya” (Ro.4:11), sebab  memenuhi standard iman yang 

dicanangkan Tuhan! Apakah kualitas iman yang ditetapkan Tuhan? Inilah jawaban-Nya, tatkala Yesus 

berkata kata  diri sebagai Messias. 

Yoh.5:44 “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat (doxa = kemuliaan) seorang dari yang 

lain dan yang tidak mencari hormat (doxa = kemuliaan) yang datang dari Allah yang Esa?” 

Percaya yang sejati menurut standard Allah, yaitu  percaya disertai dengan usaha 

mencari kemuliaan yang datang dari Allah yang Esa! Jelas, iman sejati bukannya 

pasif, namun  aktif! Sebab kata “mencari” atau “ze ̄teō” berarti mencari, khususnya 

dalam konteks orang Ibrani: mencari dalam ibadah! 

Yoh.7:18 “Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, namun  

barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutus-Nya (MKJV: “he that seeks the glory of Him who sent 

Him” – barangsiapa mencari kemuliaan-Nya yang mengutus Dia”), ia benar dan tidak ada ketidakbenaran 

padanya.” 

 Ayat ini memberitahukan bahwa yang berimankan iman sejati, pasti akan mencari kemuliaan 

dari Bapa, yang mengutus Yesus, Sang Anak Allah. Bahkan Alkitab menjamin, mereka yang melakukan 

demikian pasti benar dan tidak ada ketidak-benaran padanya! Dan teladan terbaik dalam hal mencari 

kemuliaan Bapa telah dilakukan oleh Yesus, Anak Allah yang diutus Bapa. Dengarkanlah doa Yesus, 

menjelang saat-saat terakhir diri-Nya ditangkap dan lalu  disalibkan. 

Yoh.17:4-5 “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau 

berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri 

dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” 

 Permohonan “permuliakanlah Aku pada-Mu,” berarti meminta kemuliaan yang datangnya dari 

Bapa! Permohonan semacam ini tidak pernah diminta oleh mereka yang bersifat duniawi, walaupun 

 

_________ 22 

berpredikat “Hamba Tuhan” sekalipun. Faktanya, Yudas menginginkan uang bukan kemuliaan Bapa! 

Sebab uang baginya yaitu  kemuliaannya! Itulah sebabnya, Tuhan Yesus baru mengucapkan hal 

kemuliaan Bapa setelah Yudas pergi meninggalkan persekutuan dengan Gurunya. 

Yoh.13:31-32 “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak umat  dipermuliakan dan Allah 

dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga 

di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” 

Mereka yang ingin mencari kemuliaan dari Bapa, lebih dahulu harus melakukan usaha 

yang maha penting ini: “Mempermuliakan Bapa di bumi!” Dan inilah sebenarnya 

tujuan awal Allah mencipta umat , seperti dinyatakan oleh nabi Yesaya ini: “Umat 

yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku" (Yes.43:21). 

MENYEBERANG SUNGAI YORDAN 

Ada suatu tempat di sebelah timur sungai Yordan yang disebut “Sitim” sesuai dengan nama Kayu 

Sitim, yang dipakai dalam Kemah Suci, seperti yang kita baca ini. 

Yos.2:1 Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: "Pergilah, amat-

amatilah negeri itu dan kota Yerikho." Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang 

wanita  sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ. 

Yos.3:1 “Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke 

sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.” 

 Bila punya hati “menyeberang” dari duniawi ke sorgawi, maka secara rohani anda masuk 

kelompok “Orang Ibrani”! Hal ini telah dilakukan Abraham, yang disebut Alkitab “Orang Ibrani” 

(Kej.14:13), dan juga para peserta jejaknya seperti tertulis dalam surat Ibrani 11:16 “namun  sekarang 

mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu 

disebut Allah mereka, sebab  Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” 

Orang-orang percaya, yang mengarahkan hidupnya ke “tanah air yang lebih baik, 

tanah air sorgawi,” akan bertekad untuk menyeberang, dari umat  duniawi ke 

umat  sorgawi. 

Dalam perjalanan bangsa Israel sebelum masuk ke Tanah Perjanjian, maka mereka harus 

menyeberangi sungai Yordan. Nama “Yordan” berarti: “the descender” atau “yang membuat turun.” 

Disebut demikian sebab  air yang mengalir di sungai ini turun ke “Laut Mati,” sebuah danau yang tidak 

memiliki  aliran keluar, sehingga kadar garam dan mineral lainnya begitu tinggi dan mengakibatkan 

tidak ada kehidupan (ikan-ikan dan hewan air mati), bahkan tumbuh-tumbuhan di sekelilingnyapun tidak 

ada. 

 Itulah bayangan dari aliran duniawi, yang menghanyutkan banyak orang ke dalam kematian 

rohani, menjelang Gereja Tuhan akan diangkat ke udara dan bertemu dengan Yesus. Keadaan sungai 

Yordan dikatakan “sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai” (Yos.3:15). Itulah 

saat penyeberangan yang ditetapkan Tuhan. 

 Yos.3:1 “Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan 

sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.” Dan 

pesan penting untuk dapat menyeberang dengan baik yaitu :  

- Lihat Tabut Perjanjian, yang diangkat para imam, dan ikutilah (Yos.3:3). 

- Menguduskan diri mereka masing-masing (Yos.3:5). 

Orang-orang percaya yang mampu menyeberang dari kehidupan duniawi menjadi 

sorgawi, yaitu  mereka yang tidak hanyut oleh aliran dunia yang mematikan rohani, 

sebab memandang kepada Yesus, Mempelai Laki-laki yang telah membayar harga 

tebusan dengan darah-Nya, dan senantiasa menguduskan diri dari semua kecemaran 

jasmani dan rohani. 

VIII. KAYU SITTIM YANG TAHAN API 

 

_________ 23 

 Tentunya para pembaca akan heran mendengar pernyataan ini bukan? Bukankah semua macam 

kayu pasti terbakar habis oleh api? Benar! Namun, kayu Sittim, yang dipilih Tuhan secara khusus dan 

dijadikan bahan utama Mezbah Korban Bakaran dalam Kemah Suci itu tahan api! Pada hal di atas 

mezbah tsb api terus menerus dalam keadaan menyala! 

Im.6:8-9 TUHAN berfirman kepada Musa: "Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang 

korban bakaran. Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman 

sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.”  

 Apa rahasianya kayu mezbah tak terbakar? Jawabannya diberikan dalam Alkitab. 

Kel.27:1-2 “Haruslah engkau membuat mezbah dari kayu penaga, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya, 

sehingga mezbah itu empat persegi, namun  tiga hasta tingginya. Haruslah engkau membuat tanduk-tanduknya 

pada keempat sudutnya; tanduk-tanduknya itu haruslah seiras dengan mezbah itu dan haruslah engkau 

menyalutnya dengan tembaga.”  

 Rahasia Kayu Sitim yang terpilih tidak hangus terbakar yaitu  sebab  disalut dengan tembaga! 

Kita sudah menerangkan dalam pembicaraan awal, bahwa kayu yaitu  bayangan dari keumat an, 

namun ada istilah “Kayu Hidup” dan “Kayu kering” (Luk.23:31), dan masing-masing melambangkan 

“Keumat an Yesus dan Keumat an Orang percaya,” dan “Keumat an Orang berdosa.”  

TEMBAGA MENGKIASKAN HUKUMAN ILAHI 

Tatkala berbicara tentang “kutuk hukum Torat,” yang disebabkan sebab  umat-Nya tidak 

mendengarkan suara Tuhan dan tidak melakukan dengan setia segala perintah-Nya, maka salah satu kutuk 

berbunyi demikian: “Juga langit yang di atas kepalamu akan menjadi tembaga dan tanah yang di bawah 

pun menjadi besi” (Ul.28:23). 

 Logam tembaga melambangkan “Hukuman Ilahi yang Benar atas Dosa,” seperti dinyatakan 

dalam penglihatan rasul Yohanes atas Diri Tuhan Yesus, yang  akan datang sebagai Hakim untuk 

menghakimi dunia ini. 

Wah.1:15 “Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau 

air bah.” 

Wah.2:18 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan 

nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga.” 

 Sebagai Hakim yang adil, maka Kaki Yesus yang “bagaikan tembaga yang membara,” telah siap 

untuk menginjak-injak segala musuh-Nya! Dan hal ini juga dinyatakan dalam kitab Mazmur demikian: 

“Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-

injak para lawan kita” (Maz.60:14). Jadi, Tuhan akan melakukan “Hukuman Ilahi yang benar atas Dosa” 

terhadap semua orang yang melawan Firman. 

 Dalam penglihatan malamnya, nabi Zakaria berkata: “Aku melayangkan mataku pula, maka aku 

melihat: tampak keluar empat kereta dari antara dua gunung. Adapun gunung-gunung itu yaitu  

gunung-gunung tembaga” (Zak.6:1). Bila mencermati Zak.6:1-8, maka Tuhan akan mengirim empat roh 

dari sorga (ay.5), yang dilukiskan dengan empat kereta yang ditarik empat kuda, yang keluar dari dua 

gunung tembaga (ay.1). Dan ini jelas menerangkan tentang hukuman ilahi, yang akan ditimpakan atas 

bangsa-bangsa di keempat penjuru dunia ini. 

 Mengapa hal ini terjadi? sebab  umat  di bumi tidak mau bertobat dari dosa-dosa mereka, 

sebab menolak tawaran Allah, yang memberikan jalan pengampunan melalui percaya dan menerima 

Yesus sebagai korban pendamaian bagi dosa-dosa mereka, seperti dinyatakan dalam Injil Yohanes 3:18 

“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada 

di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” 

 

_________ 24 

 Hanya mereka yang nyawanya terbungkus kehidupan, sebab menerima Yesus, Sang Kehidupan, 

sebagai tameng atau perisai terhadap hukuman ilahi, akan selamat dari murka Allah! Dan hal ini 

digambarkan dengan kayu sittim yang dibungkus tembaga pada Mezbah Korban Bakaran! Ucapan 

Abigail secara profetis terhadap Daud, yang ingin main hakim sendiri atas suaminya Nabal yang 

menghinanya, juga berisikan kebenaran ini. Dengarkan kata-kata Abigail ini. 

1Sam.25:29 “Jika sekiranya ada seorang bangkit mengejar engkau dan ingin mencabut nyawamu, maka nyawa 

tuanku akan terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup pada TUHAN, Allahmu (MKJV: But the 

soul of my lord shall be bound in the bundle of life with Jehovah your God = namun  jiwa tuanku akan 

dibungkus dalam bungkusan kehidupan dengan Tuhan Allahmu), namun  nyawa para musuhmu akan 

diumbankan-Nya dari dalam salang umban.” 

Punyai kehidupan bagaikan kayu sittim yang terbungkus tembaga, agar dengan 

demikian hukuman ilahi atas dosa, yang seharusnya jatuh atas anda ditanggung oleh 

Yesus, Penebus dosa umat . Haleluyah! 

TERLINDUNG API sebab  KORBAN YESUS  

2Kor.5:21 “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa sebab  kita, supaya dalam Dia kita 

dibenarkan oleh Allah.”  

 Aplikasi kebenaran ini dapat kita lihat dalam perjalanan umat Israel, saat mereka menghina 

manna, yang menjadi makanan utama bangsa tsb selama 40 tahun di padang gurun.  

Bil.21:4-6 Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah 

Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.  Lalu mereka berkata-kata melawan 

Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? 

Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak." Lalu TUHAN 

menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang 

Israel yang mati. 

 Tatkala Israel mengaku berdosa, maka Tuhan berfirman demikian: "Buatlah ular tedung dan 

taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup. 

Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut 

ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup." (Bil.21:8-9). Akibat ular tedung 

yang didatangkan Tuhan, mereka yang terpagut ular mati.  

 Tuhan Yesus mau menerapkan pengalaman tersebut dalam alam rohaniah. "Dan sama seperti 

Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak umat  harus ditinggikan, supaya 

setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal."  

 Musa diperintahkan Tuhan membuat ular tedung dari tembaga! Tembaga yaitu  logam yang 

melambangkan pehukuman ilahi atas dosa. Jadi, ular tembaga yang ditinggikan untuk dipandang oleh 

bangsa Israel itu yaitu  lambang dari pehukuman Allah yang dijatuhkan kepada Anak umat  (Tuhan 

Yesus) sebagai akibat dari kesalahan umat umat . Namun, yang mau "memandang kepada ular 

tembaga itu," berarti "memandang Yesus yang terhukum" sebab  menjadi substitusi bagi dosa-dosanya, 

maka mereka akan hidup! 

Gal.3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk sebab  kita, sebab ada 

tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" 

  

Seperti halnya dengan Kayu Penaga yang dipakai untuk membuat Mezbah Korban 

Bakaran, yang disalut dengan tembaga, begitulah juga dengan mereka yang 

mengenakan Kristus (Ro.13:14) akan diluputkan dari “api pehukuman” yakni kematian 

kedua dalam api neraka (Mat.18:9). Puji Tuhan! 

IX. TIANG PINTU KEMAH YANG DISALUT EMAS 

 

_________ 25 

Dalam Kemah Suci, perabot yang berada di _________, yaitu Mezbah Korban Bakaran  yaitu  kayu 

sittim yang disalut tembaga; sedangkan Kolam Pembasuhannya seluruhnya terbuat dari tembaga. 

Berbeda halnya bila berada dalam Ruangan Suci, maka semua tiang, papan-papan, kayu lintang, bahkan 

perabot-perabotannya semuanya dibuat dari kayu sittim atau penaga yang tersalut dengan emas murni 

(Kel.25:11, 24, 31 dst). Kita mulai dengan tiang Pintu Kemah. 

Logam Tembaga melambangkan “Penghukuman Ilahi atas Dosa,” sedangkan Emas 

mengkiaskan “Kemuliaan Allah” atau “Kemuliaan Ilahi,” sebab  emas memancarkan sinar berkilau 

bila diterpa cahaya. Dan itulah yang terlihat dalam pribadi Yesus, Anak Allah. Nabi Daniel menyaksikan 

pengalamannya saat melihat Dia, yang juga sesuai dengan pengalaman rasul Yohanes. Marilah kita 

membandingkan penglihatan dua tokoh nabi besar ini. 

Dan.10:5-6 “Kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak Seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang 

emas dari ufas. Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh 

yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti 

gaduh orang banyak.” 

Wah.1:13-15 “Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak umat , berpakaian jubah yang 

panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih 

bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan 

tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.” 

 Tidak diragukan, bahwa yang dilihat Daniel “Seorang” itu pastilah Tuhan Yesus dalam 

Kemuliaan ilahi-Nya, sebab hal serupa dinyatakan oleh rasul Yohanes. Keduanya berkata kata  bahwa 

Tuhan berikat pinggangkan emas. Pinggang yaitu  tempat kekuatan dan vitalitas, sebab bila piggang 

bermasalah maka dipastikan orang tsb sukar untuk melakukan tugas yang berat. Bahkan pinggang juga 

disebut sebagai “kekuatan untuk menghasilkan” (procreative power), sebab berkali-kali Alkitab 

menyebut anak-anak atau keturunan itu “keluar dari pinggang.” Dan hal-hal tsb dinyatakan dalam 

Alkitab. 

Ams.31:17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. 

Yes.11:5 “Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada 

pinggang.” Terjemahan King James berbunyi: “And righteousness shall be the girdle of His loins (Kebenaran 

menjadi ikat pinggang-Nya), and faithfulness the girdle of His heart.” 

Kel.1:5a “Seluruh keturunan yang diperoleh (yang keluar dari pinggang) Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa (And all 

the souls that came out of the loins of Jacob were seventy souls.” 

Logam emas memiliki  arti rohani Kemuliaan Ilahi, khususnya dalam Kebenaran 

dan Kuasa! Kebenaran, yang juga kekuatan/kuasa-Nya, hendak diimpartasikan 

kepada orang percaya oleh Roh Kudus, Roh Kebenaran, supaya menjadi kuat dalam 

menghasilkan hal-hal yang benar dipemandangan Tuhan. 

 

TIANG PINTU KEMAH yaitu  PEMBATAS 

 Begitu beralih dari _________ ke Ruangan Suci, maka para imam harus melewati tirai pembatas – 

“Tirai Pintu Kemah” – yang terbuat dari kain lenan halus putih, yang dipintal dengan benang berwarna 

biru, ungu dan merah, seperti yang kita baca ini. 

Kel.26:36-37 “Juga haruslah kaubuat tirai untuk pintu kemah itu dari kain ungu tua (blue=biru), kain ungu muda 

(purple=ungu), kain kirmizi (scarlet=merah darah) dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang 

berwarna-warna. Haruslah kaubuat lima tiang dari kayu penaga untuk tirai itu dan kausalutlah itu dengan 

emas, dengan ada kaitannya dari emas, dan untuk itu haruslah kautuang lima alas dari tembaga." 

 Kita melihat adanya dua logam diperbatasan _________ dan Ruangan Suci, tembaga dan emas. 

jika  imam terus memasuki Ruangan Suci, barulah ia melihat semuanya serba emas! Hal ini 

 

_________ 26 

mengajarkan, bila anda membuat kemajuan rohani – melewati Pintu Kemah yang bersalut emas namun 

beralaskan tembaga ini – maka anda akan beralih sepenuhnya dalam atmosfir Kemuliaan Ilahi! 

Meninggalkan daerah yang ada ancaman hukuman dan masuk dalam daerah anugerah-Nya. Semua 

ini dapat diperoleh bila seseorang mau menurut pimpinan Roh-Nya! Dan ini dinyatakan oleh firman-Nya 

dalam surat Roma pasal 8. 

Rom.8:1-2 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang 

tidak hidup menurut daging namun  menurut Roh. sebab  hukum Roh, yang memberi kehidupan telah 

memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Catatan: ini yaitu  terjemahan KJV, 

yang berbeda dengan terjemahan negara kita ). 

 “Tidak ada lagi penghukuman” (dikiaskan dengan tembaga) yaitu  kabar yang sangat 

menggembirakan, yang melepaskan orang percaya dari perasaan takut dihukum! Bila hal itu terjadi? 

Jawabannya: “mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang tidak hidup menurut daging namun  menurut 

Roh.” 

 “Dalam Kristus Yesus” berarti hidup dalam Firman yang diurapi dan “menurut Roh” berarti 

menurut pimpinan Roh Kudus dan tidak menuruti keinginan daging. Sebab Roh Kudus yaitu  pembuat 

kemerdekaan! Dan hal ini dapat dialami oleh setiap orang percaya, yang selalu hidup dalam pertobatan 

yang sejati, seperti dinytakan dalam firman Tuhan ini. 

2Kor.3:16-17 “namun  apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab 

Tuhan yaitu  Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” 

Tiang-tiang Pintu Kemah melambangkan para Pelayan Tuhan, yang disalut Kemuliaan 

Ilahi, yakni kuasa Roh, dan memberitakan Kebenaran Firman yang memerdekakan, 

seperti dikatakan Yesus ini: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar 

yaitu  murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan 

memerdekakan kamu" (Yoh.8:31-32). 

Keempat warna tirai yaitu  kiasan dari warna kehidupan Tuhan Yesus, yang dilambangkan dalam 

kitab Injil sebagai: Hamba (biru yaitu  warna yang dipakai para hamba zaman dahulu – Injil Markus), 

Raja (ungu yaitu  warna yang dikhususkan bagi kebesaran raja, sehingga orang lain tidak boleh 

memakainya – Injil Matius), Orang yang menderita (merah warna yang melambangkan penderitaan 

sampai berdarah – Injil Lukas), Allah (putih lambang kesucian, sebab sifat utama Allah yaitu  Kudus – 

Injil Yohanes). 

 Tiang dari kayu sittim/penaga yaitu  lambang dari Para Pelayan Tuhan, yang menjadi 

penopang dalam Jemaat, dan disebut dalam Alkitab “Tiang-tiang Jemaat” atau dalam Alkitab terjemahan 

bahasa negara kita  “Sokoguru Jemaat.” Mereka yaitu  orang-orang percaya yang berkata kata  kehidupan 

Injil. Injil yaitu  berita kesukaan, yang berpusatkan kepada Yesus, Allah – dilambangkan dengan lenan 

putih – yang menjelma menjadi umat , menjadi hamba (warna biru), menderita disalib – mati (warna 

merah), namun bangkit, naik ke sorga dan akan datang kembali sebagai Raja (ungu). Kehidupan Injil 

menjadi nyata dalam pribadi orang percaya bila mereka penuh Roh Kudus! 

Gal.2:9 “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, 

yang dipandang sebagai sokoguru jemaat (KJV: who seemed to be pillars), berjabat tangan dengan aku dan 

dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat 

dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.” 

 Bukan hanya para rasul yang menjadi tiang jemaat, namun juga para pelayan jemaat yang 

melakukan pelayanan diakonia, seperti halnya dengan Stefanus dan Filipus yang penuh Roh, sehingga 

sanggup menerangkan firman dengan hikmat ilahi dan memberitakan Injil dengan kuasa ilahi, yakni Roh 

Kudus (Kis.6:5, 10; 7:55; 8:5, 39). 

Para pelayan yang menjadi penopang dalam Jemaat yaitu  orang-orang pilihan 

Tuhan, yang berikat-pinggangkan Kebenaran serta Kuasa Ilahi-Nya, Roh Kudus! 

 

X. PAPAN-PAPAN YANG DISALUT EMAS 

 

_________ 27 

 Setelah melalui Tirai yang tergantung pada kelima Tiang Pintu Kemah, maka para imam yang 

melayani dalam Ruangan Suci, dan imam besar yang melayani dalam Ruangan Maha Suci, akan melihat 

dinding-dinding ruangan, yang terbuat dari papan-papan kayu sittim disalut emas. Keterangan tentang 

papan-papan ini dapat kita baca dalam Kel.25:15-25 dan Kel.36:20-30; sedangkan kayu-kayu 

palang/lintang yang mempersatukannya tertulis dalam Kel.26:26-30 dan Kel.36:31-34. 

Kel.26:15-25 “Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu penaga yang berdiri tegak, 16 

sepuluh hasta panjangnya satu papan dan satu setengah hasta lebarnya tiap-tiap papan. 17 Tiap-tiap 

papan harus ada dua pasaknya (yad) yang disengkang satu sama lain; demikianlah harus kauperbuat 

dengan segala papan Kemah Suci. 18 Haruslah engkau membuat papan-papan untuk Kemah Suci, dua puluh 

papan pada sebelah selatan. 19 Dan haruslah kaubuat empat puluh alas perak di bawah kedua puluh papan 

itu, dua alas di bawah satu papan untuk kedua pasaknya (yad), dan seterusnya dua alas di bawah setiap 

papan untuk kedua pasaknya (yad). 20 Juga untuk sisi yang kedua dari Kemah Suci, pada sebelah utara, 

kaubuatlah dua puluh papan  21 dengan empat puluh alas peraknya: dua alas di bawah satu papan dan 

seterusnya dua alas di bawah setiap papan.  22 Untuk sisi belakang Kemah Suci, pada sebelah barat, 

haruslah kaubuat enam papan.  23 Dua papan haruslah kaubuat untuk sudut Kemah Suci, di sisi 

belakang.  24 Kedua papan itu haruslah kembar pasaknya di sebelah bawah dan seperti itu juga kembar 

pasaknya di sebelah atas, di dekat gelang yang satu itu; demikianlah harus kedua papan itu; haruslah itu 

merupakan kedua sudutnya. 25 Jadi harus ada delapan papan dengan alas peraknya: enam belas alas; dua 

alas di bawah satu papan dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan.” 

Kel.26:26-30 “Juga haruslah kaubuat kayu lintang dari kayu penaga: lima untuk papan-papan pada sisi yang satu 

dari Kemah Suci,  27 lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi yang kedua dari Kemah Suci, dan lima 

kayu lintang untuk papan-papan pada sisi Kemah Suci yang merupakan sisi belakangnya, pada sebelah barat.  

28 Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung 

ke ujung.  29 Papan-papan itu haruslah kausalut dengan emas, gelang-gelang itu haruslah kaubuat dari emas 

sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu haruslah kausalut dengan emas.  

30 lalu  haruslah kaudirikan Kemah Suci sesuai dengan rancangan yang telah ditunjukkan kepadamu di 

atas gunung itu.” 

 

FUNGSI UTAMA PAPAN-PAPAN TABERNAKEL  

Papan-papan yang bertindak sebagai dinding ini memiliki  fungsi utama sebagai pemisah antara 

Ruangan Suci dan Ruang Maha Kudus dari _________. Sedangkan _________ sendiri dipisahkan dari luar 

dengan Pagar _________, yang terbuat dari kain lenan halus yang dipintal benangnya dan digantungkan 

pada tiang-tiang tembaga (Kel.27:9-19). 

Menguduskan(diri) dalam bahasa Yunaninya “hagiazo,” memiliki  arti memisahkan diri dari 

pemakaian sia-sia kepada yang kudus, atau mengkhususkan diri sepenuhnya kepada Allah dan pelayanan-

Nya. 

  Untuk masuk ke _________, para Lewi dan Imam harus melalui Pintu Gerbang, yang terbuat dari 

kain lenan halus putih, yang dipintal dengan benang berwarna biru, ungu dan merah. Keempat warna ini 

menunjukkan kepada empat warna kehidupan Tuhan Yesus, sebagai Hamba, Raja, umat  dan Allah, 

yang dinyatakan dalam empat Injil. jika  seseorang percaya kepada Yesus, sebagai Pintu 

Keselamatan, maka hidupnya disucikan oleh darah-Nya! 

 

Namun, Tuhan tidak ingin umat  hanya menerima anugerah-Nya secara pasif, dikuduskan oleh 

Roh melalui percikan darah-Nya (1Pet.1:2), namun  melangkah maju dengan menguduskan/menyucikan 

dirinya melalui ketaatan kepada firman-Nya, seperti dinyatakan dalam 1Pet.1:22 “sebab  kamu telah 

menyucikan jiwamu (TB: dirimu) oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan 

kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan 

s