Dalam surat yang pertama kepada Jemaat di Korintus, rasul Paulus menuliskan salamnya sebagai
berikut: “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari
Sostenes, saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus
Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang
berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. Kasih karunia dan
damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu” (1Kor.1:1-3).
Jelas, bahwa alamat surat ditujukan kepada mereka yang dipanggil menjadi orang-orang kudus,
bahkan yang dikuduskan dalam Kristus Yesus! Walaupun demikian kedudukan orang-orang yang
terpanggil ini tidak serta merta berkata kata bahwa mereka sudah tidak duniawi lagi! Dua ayat di bawah
ini meneguhkan fakta ini.
1Kor.3:3 “sebab kamu masih umat duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah
hal itu menunjukkan, bahwa kamu umat duniawi dan bahwa kamu hidup secara umat wi?”
1Kor.3:4 sebab jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan
Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu umat duniawi yang bukan rohani?
Jemaat di Korintus dikategorikan sebagai “umat Duniawi,” sebab masih ada iri hati,
perselisihan, dan juga kelompokisme! Hal ini harus menyadarkan Gereja Tuhan sekarang, khususnya
yang menganggap dirinya sudah rohani, pada hal menurut ukuran Tuhan belum. Bagi para pembaca artikel
ini, marilah kita menerima teguran firman Tuhan dan bertobat, agar jangan kelak menjadi kecewa sebab
merasa sudah berkenan, namun tidak diterima sebagai mempelai-Nya! Itulah sebabnya artikel ini sampai
di tangan para pembaca!
Saat menerangkan tentang kebangkitan, Paulus menuliskan kebenaran firman Tuhan ini: “Ada
tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, namun kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh
duniawi” (1Kor.15:40). Hal ini harus menyadarkan, bahwa selama kita hidup di dunia ini memang
memakai tubuh duniawi, yang disebut juga “tubuh dosa” (Ro.6:6), bahkan “tubuh maut” (Ro.7:24). Dan
patut diketahui, bahwa akhir dari tubuh duniawi ini yaitu kematian, sebagai kemah yang pasti akan
roboh dan ditinggalkan selama-lamanya.
Sebab itu, ke mana konsentrasi tujuan hidup kita sekarang? Kepada hal-hal duniawi untuk tubuh
duniawi, ataukah kepada hal-hal sorgawi untuk tubuh sorgawi? Dan tujuan hidup itu dikendalikan oleh
pikiran anda. Inilah pernyataan firman-Nya.
Rom.8:5-8 “Sebab mereka yang hidup menurut daging (tubuh duniawi), memikirkan (phroneo) hal-hal yang dari
daging; mereka yang hidup menurut Roh (tubuh sorgawi), memikirkan (phroneo) hal-hal yang dari Roh.
sebab keinginan/pikiran (phronema) daging yaitu maut, namun keinginan/pikiran (phronema) Roh
yaitu hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan/pikiran (phronema) daging yaitu perseteruan
terhadap Allah, sebab ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka
yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”
Bila memfokuskan diri terhadap hal-hal duniawi, pastilah pikiran akan menuju kepada hal-hal
duniawi juga. Sebaliknya, bila memfokuskan hal-hal sorgawi, pikiran pasti menuju hal-hal sorgawi.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa pikiran umat yaitu bagian dari jiwa, di mana terjadi peperangan
antara Roh Allah dan Daging umat , seperti dikatakan firman Tuhan dalam Gal.5:17 “Sebab keinginan
daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging --
sebab keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”
Selama jiwa kita terpengaruh hanya oleh keinginan tubuh (melalui kelima panca-indera), maka
pikiran kita pasti menjadi duniawi, sebab keinginannya hanya berorientasi kepada pemuasan tubuh
duniawi. Namun jika Roh Allah mulai mempengaruhi jiwa, khususnya pikiran, maka orientasi
hidup dapat mengarah kepada tubuh sorgawi. Sebab itu, hati-hatilah dengan apa yang anda lihat!
Khususnya pada zaman kemajuan teknologi sekarang ini, gambar-gambar yang merangsang hawa nafsu
dengan mudah disaksikan di layar kaca (televisi), layar perak (bioskop), computer dan smartphone.
Pengalaman pertentangan dalam jiwa dialami sendiri oleh Paulus, walaupun posisinya yaitu rasul,
pernah bertemu dengan Yesus secara pribadi, namun dengan jujur ia berkata kata demikian: “Sebab aku
tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai umat , tidak ada sesuatu yang baik. Sebab
kehendak memang ada di dalam aku, namun bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku
kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat,
yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang
memperbuatnya, namun dosa yang diam di dalam aku” (Rom.7:18-20).
Kesadaran bahwa “dosa yang diam dalam tubuhnya” itulah yang menyebabkan Paulus beteriak
dengan seruan: “Aku, umat celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”
Ucapan ini bukan dikatakannya pada saat belum bertobat, namun setelah bertobat, bahkan sudah menjadi
rasul. Dia mengerti, bahwa selama tubuhnya belum diubahkan, maka semua umat masih
menyandang “tubuh dosa,” yang dapat mengakibatkan maut. Itulah sebabnya disebut “tubuh maut.”
Ketahuilah, bahwa begitu umat dilahirkan oleh ibunya, ia sudah menyandang dosa, seperti
dikatakan Daud dalam mazmurnya: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku
dikandung iartikel ” (Maz.51:7). sebab itu, Paulus menuliskan dalam
1Kor.15:46-49 “namun yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, namun yang alamiah; lalu barulah
datang yang rohaniah. umat pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, umat kedua berasal
dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk
sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah,
demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.”
Pernyataan ini menunjukkan, bahwa tidak ada seorangpun yang baru dilahirkan langsung menjadi
rohani. Semuanya bermula dari yang alamiah, lalu setelah melalui proses barulah menjadi rohani.
Sebab itu, siapa yang menyadari dirinya mula-mula duniawi, menyandang tubuh maut, perlu menyeru
kepada Dia, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan!” (Rom.10:13).
Ingatlah! Yang duniawi pasti akan berakhir dengan kematian, seperti dinyatakan firman ini: Lalu
Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan
dari dunia ini. sebab itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab
jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” (Yoh.8:23-24).
Proses dari umat duniawi ke umat sorgawi hanya dapat terwujud dalam hidup orang-orang
yang menyadari, bahwa hanya kuasa Allah yang dapat mengubahkan demikian! Sebab yang alamiah –
hal-hal di bumi dan dari bumi – tidak mungkin diubah dengan proses alamiah untuk menjadi sorgawi.
Yang sorgawi, atau yang berkualitas atas, hanya dapat dilakukan melalui proses dari atas, dengan
berkat-berkat sorgawi oleh Bapa sorgawi!
Yak.1:17-18 “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan
dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan sebab pertukaran. Atas kehendak-
Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi
anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.”
Dan Bapa sorgawi memberikan segala kualitas dari atas, yang sorgawi, dalam paket “di dalam
Kristus” sebab kasih-Nya kepada umat : “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang
dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam
Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-
Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-
Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang
dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.”
Sebagai Pencipta, sebelum dunia dijadikan, Allah sudah menentukan, bahwa setiap
orang yang berada di dalam Kristus dijadikan orang-orang pilihan-Nya, yang akan
dikaruniai dengan segala berkat rohani di dalam sorga, supaya menjadi kudus dan tak
bercacat, sebab mengalami perubahan dari kemuliaan kepada kemuliaan sehingga
menjadi umat sorgawi!
I. POHON KEHIDUPAN umat
Kehidupan umat kadang-kadang dikiaskan oleh Tuhan sebagai pohon atau kayu. Dengarkanlah
ucapan Tuhan Yesus kepada banyak wanita , yang menangisi Dia saat memikul kayu salib: “Sebab
jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?"
(Luk.23:31).
Jelas, bahwa yang dimaksud dengan “kayu hidup” yaitu Diri-Nya sendiri, sedangkan “kayu
kering” yaitu kiasan untuk umat yang tidak memiliki roh yang hidup atau mati rohani. Mereka mati
rohaninya sebab dosa atau pelanggaran terhadap hukum Allah, seperti dikatakan dalam surat Efesus
pasal dua: “Kamu dahulu sudah mati sebab pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efs.2:1).
JATUH KE TANGAN SIAPAKAH ANDA?
Pohon atau kayu dipakai dalam berbagai segi kehidupan. Ada kayu-kayu yang dikerjakan
melulu dari buah pikiran umat , namun ada juga yang dikerjakan oleh adanya arahan dari Sang
Pencipta. Sebab itu, pohon kehidupan anda dikerjakan oleh arahan siapa saja?
Yang jelas, semua kita pasti ditangani oleh orang tua, ibu bapa. lalu , juga oleh saudara-
saudara dalam keluarga, kerabat, lingkungan teman-teman bermain atau berinteraksi; dan saat mulai
bersekolah oleh para pengajar. Ada pengajar duniawi dan ada pengajar rohani, yakni hamba-hamba
Tuhan. Inilah tokoh-tokoh yang mengerjakan pohon kehidupan anda:
1. Tokoh Penebang pohon.
Bila kehidupan anda jatuh ke tangan “Tokoh Penebang Pohon,” maka dapat dipastikan kehidupan
anda akan menjadi “Barang Dagangan” saja! Artinya: Kehidupan anda akan dimanipulasi bagi
keuntungan diri tokoh semacam ini!
Pada zaman dahulu, kayu banyak dipakai sebagai “kayu bakar,” yang dipakai untuk memasak
makanan atau untuk obyek pemanasan, khususnya bila musim dingin tiba. Jadi, kayu dipakai untuk
kenyamanan para pemakainya agar tubuhnya nikmat, namun kayu itu sendiri menjadi hangus terbakar.
Pada dasarnya umat memiliki sifat egoistis, mementingkan diri sendiri. Dan ini terjadi dalam
kehidupan saudara-saudara Yusuf, yang tega menjualnya kepada orang Ismael, saudagar-saudagar Midian
(Kej.37:27-28). Pada masa Nehemiah, ia menegor keras orang-orang yang mencari keuntungan diri
dengan menjual sesama orang Yahudi.
Neh.5:8 “Berkatalah aku kepada mereka: "Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang
Yahudi yang dijual kepada bangsa-bangsa lain. namun kamu ini justru menjual saudara-saudaramu,
supaya mereka dibeli lagi oleh kami!" Mereka berdiam diri sebab tidak dapat membantah.”
Sifat egoisme umat , yang akan memuncak pada akhir zaman (2Tim.3:1-2),
memunculkan banyak “Tokoh Penebang pohon” yang hanya berorientasi kepada
keuntungan materi, mengorbankan orang banyak demi keuntungan pribadinya! Hal
demikian inilah yang mendatangkan masa yang teramat sukar!
2. Tokoh Pemahat Patung.
Bila kayu pohon jatuh ke tangan pemahat patung, pastilah dia segera memakai alat-alat dan
keahliannya untuk menjadikan benda pujaan! Bahkan yang lebih berbahaya menjadi obyek
penyembahan! Dan itulah yang telah dilakukan oleh banyak promotor terhadap orang-orang yang
memiliki keunikan atau talenta tertentu.
Dengan pertolongan “Sang Pemahat Patung.” maka orang-orang tertentu dapat menjadi orang
ternama, yang lalu menjadi idola bagi masyarakat. Bukankah hal itu terjadi dalam praktik hidup di
dunia ini. Di tangan promotor mereka dijadikan “Bintang-bintang.” Ada Bintang Penyanyi, Bintang
Film, Bintang Olah-raga dsb. Celakanya, kalau orang-orang yang sudah naik karirnya menjadi “Bintang”
itu lalu menyombongkan dirinya sedemikian rupa, sehingga menganggap dirinya layak menerima
pujian dan penyembahan umat !
John Lenon, tatkala diwawancarai, dia mengucapkan ucapan sesumbarnya “Aku lebih populer dari
Tuhan!” Bahkan, lebih berani dia lalu menantang: “Siapa yang lebih dulu tenggelam, The Beatles
atau Tuhan!” namun , John Lenon tewas di tembak oleh penggemarnya sendiri! Oprah Winfrey tidak takut
berkata kata dirinya “Allah!”
Dalam Alkitab, kita juga membaca adanya seorang yang tinggi hati, yakni “Penguasa Tirus”
Yeh.28:1-10. Marilah kita membaca ayat 1-2, yang berbunyi: Maka datanglah firman TUHAN kepadaku:
"Hai anak umat , katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: sebab engkau
menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku yaitu Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan.
Padahal engkau yaitu umat , bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah.”
Menurut beberapa penafsir, orang ini yaitu Ithobaal III (tahun 591-573 s.M.). Dalam Kisah Para Rasul
tercatat nama Simon, si penyihir, yang dikatakan Alkitab: “Orang ini yaitu kuasa Allah yang terkenal
sebagai Kuasa Besar” (Kis.8:9-10).
Ingat! Iblis memang memakai orang-orang tertentu, untuk menjadikan umat
tertentu menjadi tokoh idola, yang dapat membalikkan orang banyak dari
penyembahan kepada Allah menjadi penyembahan kepada dirinya.
3. Tokoh Pengrajin.
Melalui para pengrajin, maka kayu-kayu dapat dijadikan produk-produk yang berguna bagi
kehidupan orang lain, seperti halnya dengan kursi, meja, rumah, jembatan dll. Dalam praktek kehidupan,
inilah tokoh-tokoh pendidik, yang membuat anak didiknya menjadi umat yang berguna bagi orang
lain. Termasuk dalam tokoh-tokoh ini yaitu para pendidik, baik itu orang tua yang mendidik dengan
baik, dan juga guru-guru sekolah.
Kita patut berterima-kasih terhadap orang-orang, yang membaktikan diri dalam
pendidikan, sehingga diri kita masing-masing dijadikan umat yang berguna bagi
kehidupan jasmaniah/sementara dalam dunia ini.
4. Allah Roh Kudus melalui Hamba-hamba Allah yang diurapi.
Di sisi lain dari kehidupan jasmaniah di bumi, ada kehidupan lain yang jauh lebih penting! Itulah
kehidupan kekal, yang akan berlangsung selama-lamanya atau tanpa batas waktu!
Yes.26:4 “Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH yaitu gunung batu yang kekal.”
1Tim.1:17 “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak
nampak, yang esa! Amin.”
Allah yang kekal telah mengaruniakan kepada umat Anugerah terbesar, Anak-Nya, Yesus
Kristus, yang menjelma menjadi Anak umat , dengan tugas menebus umat dari cengkeraman dosa
dan mendidik mereka supaya menjadi “umat Ilahi” atau “umat Allah.”
Titus.2:11-12 “sebab kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua umat sudah nyata. Ia mendidik kita
supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil
dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.”
Menyelamatkan dengan mengorbankan Darah-Nya sebagai harga tebusan, dan mendidik dengan
mengutus Roh Kudus dan hamba-hamba-Nya yang diurapi. Dalam Perjanjian Lama hal ini
diaktualisasikan dengan memilih Bezaliel dan Aholiab dan kawan-kawannya untuk mengerjakan kayu
dari padang gurun, yang disalut dengan emas murni dan dimasukkan ke dalam Bait Allah, Tabernakel.
Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, yang bangkit dan berada di sebelah kanan Bapa,
mencurahkan Roh Kudus serta mengutus hamba-hamba-Nya yang diurapi agar
mendidik orang percaya memiliki karakter Kristus, sehingga layak masuk dalam
kemuliaan Allah yang telah disediakan sebelum dunia dijadikan.
PUNYAI HUBUNGAN DENGAN SUMBER HIDUP
Harus diakui, bahwa sesuatu yang dikatakan “hidup” atau “on” pasti berhubungan dengan sumber
hidup. Hand phone kita disebut “hidup,” bila berhubungan dengan baterai. Saat baterai habis, maka kita
perlu menghubungkan dengan tombol listrik. Namun, saat tombol listrik juga padam, maka pastilah
jaringan penghantar tegangan tinggi itu terputus dari pusat tenaga listrik. Dan lebih parah bila generator di
pusat tenaga listriknya tidak hidup atau sumbernya mati!
Demikian juga halnya dengan roh umat . Selama roh umat tidak terhubung oleh Roh Kudus,
maka umat rohnya mati. Dan hal ini disebabkan sebab adanya hal-hal yang tidak kudus disebabkan
perbuatan dosa atau pelanggaran terhadap hukum Allah atau Kebenaran! Di mana tidak ada kebenaran,
hubungan dengan Tuhan terputus, maka di situ roh-roh najis beroperasi, yang akhirnya
mendatangkan hukuman.
Ucapan Tuhan Yesus dalam Luk.23:31, yang berbunyi: “Sebab jikalau orang berbuat demikian
dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?" – Merupakan pertanyaan, bila
perlakuan tentara Roma yang sedemikian buruk terhadap keumat an Yesus yang tanpa salah, apa yang
akan terjadi bagi bangsa Israel, yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Roma, bahkan
terlebih lagi berdosa besar terhadap Allah, sebab menolak dan membunuh Dia, Sang Kebenaran itu?
Fakta sejarah mencatat tatkala Yerusalem dihancurkan panglima Titus pada tahun 70, maka banyak
orang Israel mati sebab perang melawan Roma (Josephus berkata kata satu juta orang Yahudi mati!).
Bila tidak memiliki hubungan dengan Sumber Hidup, kematianlah yang akan diterimanya. Dan
kita ketahui, bahwa di dalam Yesus, Firman, ada kehidupan, seperti dinyatakan dalam Yoh.1:1-4 ini:
“Pada mulanya yaitu Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu yaitu Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak
ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu
yaitu terang umat .”
Dalam pengajaran tentang pokok anggur yang benar, Tuhan Yesus mengatakan: “Akulah pokok
anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia
berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di
dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, lalu dikumpulkan orang dan
dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yoh.15:5-6).
Jelas, bahwa seseorang akan menjadi “kayu kering” apabila mereka menolak untuk
tinggal tetap di dalam Firman-Nya, Sumber kehidupan itu. Untuk setia (faithful) tentu
dibutuhkan iman (faith), bahwa Dia, Yesus, benar-benar Allah yang diutus/turun dari
sorga untuk membawa kita naik, menjadi umat sorgawi.
Untuk mengubah hidup umat duniawi menjadi sorgawi, maka cara satu-satunya yaitu melalui
hubungan dengan Pribadi Sorgawi, Sang Sumber Hidup, yang turun dari sorga, seperti telah dikatakan-
Nya: Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini,
Aku bukan dari dunia ini” (Yoh.8:23). “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan
kehendak-Ku, namun untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh.6:38).
Anak umat diutus – turun dari sorga ke bumi: Allah menjadi umat – dengan tugas
menjadikan umat yang percaya kepada-Nya menjadi “umat Allah,” seperti dikatakan Paulus
kepada Timotius: “namun engkau hai umat Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah,
kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1Tim.6:11). Dengan kata lain, Yesus sebagai Allah yang
menjadi umat bertugas menjadikan “umat duniawi” menjadi “umat sorgawi” atau “umat
Allah.”
Surat Paulus kepada jemaat di Korintus menuliskan wahyu ini: “Makhluk-makhluk alamiah sama
dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari
sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari
yang sorgawi” (1Kor.15:48-49).
Sebagai umat , yang dilahirkan oleh ibu dan bapa, maka kita masing-masing terlahir dalam
keadaan dosa, sebab Adam pertama, yang dibuat dari debu telah jatuh ke dalam dosa, akibatnya
makhluk-makhluk alamiah semuanya akan kembali menjadi debu. Namun, ada kabar gembira, bahwa ada
pribadi sorgawi, Adam kedua, yang bukan dari debu tanah, namun Dia yaitu Sang Firman, yang rela
menjadi umat untuk melakukan tugas Bapa yang Maha-Agung, untuk mengubah umat duniawi
menjadi sorgawi, melalui Firman! Dan inilah pernyataan-Nya dalam Yoh.1:1 “Pada mulanya yaitu
Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu yaitu Allah.”
Untuk melimpahkan sifat sorgawi-Nya kepada orang percaya, maka Tuhan menerangkan proses
pelimpahan tsb melalui dialog tentang “Roti Sorga.” Mengapa? Sebab, apa yang dimakan umat , akan
menjadi bagian dalam dirinya; seperti sering kita dengar ungkapan kata ini: “You are what you eat!” Bila
kita makan banyak minyak, maka darah kita pasti mengandung banyak minyak juga. Jelas, darah
seseorang kandungannya berisi serupa dengan apa yang dimakannya. Demikian pula jiwa seseorang
akan menjadi serupa dengan jiwa-Nya, yang sorgawi, bila mereka makan “Roti Hidup yang
diturunkan dari sorga” itu! Dan inilah dialog yang dipaparkan-Nya.
Yoh.6:48-58 “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati.
Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang
telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang
Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Orang-orang Yahudi bertengkar
antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk
dimakan." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak
makan daging Anak umat dan minum darah-Nya, kamu tidak memiliki hidup di dalam dirimu.
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia memiliki hidup yang kekal dan Aku akan
membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku yaitu benar-benar makanan dan darah-Ku yaitu
benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku
di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga
barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti
seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup
selama-lamanya."
Firman, yang yaitu Allah (Yoh.1:1), harus “dimakan” dalam arti didengar, direnungkan (untuk
dimengerti) dan dilakukan, supaya Allah dan seluruh aspek hidup-Nya atau seluruh karakter-Nya,
menjadi bagian kehidupan yang kelihatan (inilah yang disebut “menjadi daging”) dan menjadi jiwa atau
menjadi pikiran, perasaan dan kehendak kita (inilah yang disebut “menjadi darah”).
Bagian penting yang sering tidak dilakukan yaitu merenungkan FirmanTuhan! Paralel dengan ini
dalam hal jasmani yaitu masalah “mencerna,” yang dimulai dari mulut, ke kerongkongan, perut dan
lalu usus. Firman Tuhan yang sukar dimengerti perlu dicerna lebih lama. Hal ini dilakukan oleh
hewan-hewan yang memamah-biak, yang memiliki “empat perut,” sehingga mampu menguraikan rumput
yang dimakannya menjadi darah dan daging, bahkan juga susu. Demikianlah yang harus kita lakukan, bila
ingin mengalami perubahan jiwa – perubahan pikiran, perasaan dan kehendak duniawi sehingga menjadi
jiwa yang sorgawi.
Maz.1:1-3 “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang
berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, namun yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang
menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
Adakah keinginan untuk memiliki kepribadian sorgawi? Allah menyediakan makanan
rohani, “Roti yang turun dari sorga” yakni Firman-Nya yang hidup, agar setiap orang
yang memakannya akan mengalami perubahan kepribadian, dari duniawi ke sorgawi.
Haleluyah!
II. ALLAH MEMILIH “KAYU PENAGA”
Saat Musa diperintahkan Tuhan membangun Kemah Suci atau Tabernakel, maka umat Israel
diminta untuk mempersembahkan bahan-bahan, yang akan dipakai bagi pembuatannya. Marilah kita
membaca diskripsinya.
Kel.25:1-5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku
persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus
kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain
ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah,
kulit lumba-lumba dan kayu penaga.”
Itulah keterangan singkat tentang bahan-bahan, yang dipakai bagi pembangunan Kemah Suci,
sedangkan bahan-bahan untuk operasionalnya dituliskan dalam ayat-ayat berikutnya: “minyak untuk
lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras
dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada” (Kel.25:6-7).
lalu , dalam ayat 8 dan 9 disimpulkan tentang tujuan pembangunan Kemah Suci: “Dan
mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.
Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala
perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya" (Kel.25:8-9).
KEMAH SUCI ROHANI
Bila membaca Alkitab, kita harus menangkap tujuan Allah sebenarnya dalam memberikan firman-
Nya. Dalam terjemahan Alkitab bahasa negara kita , ayat 2Tim.2:15 berbunyi demikian: “Usahakanlah
supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus
terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Terjemahan ini kurang tepat; terjemahan versi King
James berbunyi: “Study to shew thyself approved unto God, a workman that needeth not to be ashamed,
rightly dividing (orthotomeō) the word of truth.”
Kata orthotomeō dari keterangan konkordansi Strong: to make a straight cut, that is,
(figuratively) to dissect (expound) correctly (the divine message) – arti harafiah orthotomeō yaitu
“membuat potongan lurus,” dan arti kiasannya: “menguraikan secara benar (berita ilahi).” Jadi
terjemahan 2Tim.2:15 yang lebih baik berbunyi: “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah
sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang menguraikan secara benar Perkataan
Kebenaran.”
Di sinilah dibutuhkan guru-guru atau pengajar-pengajar Alkitab yang penuh Roh Kudus, sebab
hanya dengan pencerahan Roh-Nya, maka firman-Nya dapat diuraikan secara tepat! Sebab itu, rasul
Paulus mengingatkan jemaat di Galatia dengan firman Tuhan ini: “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas
berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil
lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk
memutarbalikkan Injil Kristus. namun sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang
memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu,
terkutuklah dia” (Gal.1:6-8).
Sebab itu, rasul Paulus meminta agar jemaat Tuhan berdoa bagi para pemberita firman, agar
mereka dikaruniai perkataan yang benar dalam pemberitaannya (Efs.6:18-20). Bukankah para pembaca
kadang-kadang mendengar pemberita firman, yang mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari
kebenaran firman-Nya?
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh Musa membangun Kemah Suci, yang sebenarnya hanya
merupakan bayangan saja (Ibr.10:1); sedangkan dalam Perjanjian Baru diterangkan hakekat sebenarnya
yaitu “Kemah Sejati” yang dibangun Tuhan! Seperti dinyatakan dalam Ibr.8:1-2 “Inti segala yang kita
bicarakan itu ialah: kita memiliki Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta
Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang
didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh umat .”
Yang menjadi pertanyaan? Apakah sebenarnya “Kemah Sejati” itu? Biarlah Alkitab sendiri yang
menjawabnya! 1Kor.3:16 mengatakan: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu yaitu bait Allah dan bahwa
Roh Allah diam di dalam kamu?” Juga 1Kor.6:19 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu yaitu
bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu
bukan milik kamu sendiri?”
Jelas, bahwa “Kemah Suci” buatan Musa itu yaitu bayangan dari hakekat yang sebenarnya:
“Kemah Sejati”, yakni diri kita atau tubuh kita! Tuhan tidak ingin hanya segelintir pribadi yang menjadi
Bait-Nya, namun kelak semua umat tebusan-Nya yang kudus roh, jiwa dan tubuhnya, akan bersama-sama
menjadi “Kemah Allah,” sebagaimana dinubuatkan dalam Wah.21:1-3 yang berbunyi: “Lalu aku melihat
langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu,
dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga,
dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin wanita yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku
mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah
umat dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan
menjadi Allah mereka.”
PERSEMBAHAN YANG ROHANI
Sebagaimana Musa mengatakan bagi pendirian Kemah Suci perintah ini: “Inilah persembahan
khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda,
kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan
kayu penaga,” maka kitapun harus mempersembahkan masing-masing untuk membangun Kemah Sejati.
Dari keterangan Ibr.8:2, yang berbunyi: “kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh
umat ” mengandung arti, bahwa persembahan khusus yang harus diberikan tentunya bukan benda-
benda jasmaniah seperti dilakukan umat Israel, namun diri kitalah yang harus dipersembahkan dengan
kualitas hidup rohani sedemikian, sehingga dapat didirikan oleh Tuhan sebagai bagian dari Kemah
Allah yang kekal (Wah.21:3)!
Yang sangat menarik, bahwa salah satu bahan utama bagi struktur Kemah Suci buatan Musa
yaitu kayu penaga! sebab itu, pelajaran ini hendak mengupas pentingnya persembahan “kayu penaga
rohani” bagi pembangunan Kemah Sejati, yang akan menjadi Kemah Allah. Dan itulah orang-orang
percaya yang menjadi tiang-tiang dalam Gereja di sepanjang zaman.
“Kayu penaga rohani” yaitu bayangan dari keumat an, yang bertujuan beralih
dari “umat Duniawi” ke “umat Sorgawi” sebab percaya Tuhan, yang mampu
mengubah dari kemuliaan kepada kemuliaan (2Kor.3:18).
Pada zaman gereja awal, tatkala Paulus berkunjung ke Yerusalem, maka ia bertemu dengan tokoh-
tokoh gereja di sana, yang dipandang sebagai tiang gereja, seperti tertulis dalam Gal.2:9 “Dan setelah
melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang
dipandang sebagai sokoguru (tiang) jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai
tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada
orang-orang yang bersunat.”
Allah mencari orang-orang percaya, yang menyediakan dirinya untuk dibentuk
sedemikian sehingga menjadi tiang-tiang dalam Gereja-Nya. Mereka yaitu orang-
orang yang rela mempersembahkan persembahan rohani.
Sejajar dengan kayu, maka bahan yang dipakai dalam pembangunan “Rumah Allah” rohani
yaitu “batu” rohani, dan rahasia ini diungkapkan dalam surat Petrus.
1Pet.2:1-5 “sebab itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian
dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang
rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap
kebaikan Tuhan. Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh umat , namun
yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk
pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan
rohani yang sebab Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”
Untuk dapat mempersembahkan persembahan rohani bagi pembangunan Kemah Allah, maka
orang percaya harus melakukan hal-hal seperti tertulis dalam ayat-ayat di atas:
1. Membuang – segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian
dan fitnah.
2. Selalu menginginkan Firman yang murni & rohani – supaya bertumbuh & selamat.
3. Datang kepada Tuhan untuk dipergunakan – berarti penyerahan diri sepenuhnya (roh, jiwa &
tubuh) yang hidup, kudus dan berkenan (Ro.12:1-2).
Anda ingin mengalami perubahan dari “umat Duniawi” ke “umat Sorgawi”?
Ikutilah langkah-langkah perjalanan rohani ini: Buanglah secara total dosamu,
Bersekutulah dengan Firman-Nya yang murni dan rohani, dan Serahkanlah seutuhnya
keumat anmu kepada Tuhan, maka pasti anda termasuk kelompok orang yang
menjadi Kemah Allah!
III. LAKUKAN PERJALANANMU KE YERUSALEM SORGAWI
Sebagaimana perjalanan bapak orang percaya, Abraham, dari Ur-Kasdim ke “Kota Allah,” yang
merupakan “cetak biru (blue-print) perjalanan iman semua orang percaya,” seperti dinyatakan dalam
Ibrani 11:16 “namun sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air
sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, sebab Ia telah mempersiapkan sebuah kota
bagi mereka;” dan umat Israel melakukan perjalanan dari Mesir ke Kanaan, Tanah Perjanjian yang
berpusatkan Yerusalem; demikian pula dengan Gereja-Nya, yang melakukan perjalanan kehidupan dari
dunia ini menuju ke tujuan akhir, Yerusalem Baru atau Yerusalem Sorgawi (Wah.3:12; 21:2)!
Ibr.12:22 “namun kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada
beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah.”
Semua orang beriman harus merindukan hal-hal yang lebih baik dari sekedar berkat
duniawi, dan itulah “Tanah Air Sorgawi,” dimana terletak “Kota Allah yang hidup,
Yerusalem Sorgawi.” Hanya dengan kerinduan demikian mereka dapat memiliki
semangat dalam menjalani perjalanan imannya.
IKUTILAH PIMPINAN ROH KUDUS
Seperti umat Israel, yang dapat keluar dari tanah perbudakan Mesir hanya dengan “darah anak
domba Paskah,” demikian halnya dengan Gereja Tuhan, dapat lepas dari perbudakan kuasa dosa hanya
oleh Darah Yesus, Anak Domba Allah: “darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala
dosa” (1Yoh.1:7) “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang
mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah
melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (Wah.1:5).
Namun, pengalaman kelepasan barulah awal dari perjalanan iman. Mereka perlu dipimpin oleh
“Tiang Awan dan Api” selama perjalanannya di padang gurun! Demikian pula Gereja-Nya perlu dipimpin
oleh Roh Kudus, yang menaungi – bagaikan fungsi awan – dan menerangi – bagaikan fungsi api.
Tepat lima puluh hari setelah keluar dari Mesir, umat Israel mengalami perjumpaan ilahi, sebab
Allah hadir dalam api, seperti dicatat oleh Musa ini: “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit
fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras,
sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Lalu Musa membawa bangsa itu keluar
dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. Gunung Sinai
ditutupi seluruhnya dengan asap, sebab TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung
seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat” (Kel.19:16-18).
Pengalaman pertemuan dengan Tuhan di gunung Sinai, yaitu suatu pengalaman yang luar biasa,
sebab Alkitab mengatakan “gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan.” Dan hal ini terjadi 50
hari setelah mereka mengalami kelepasan oleh darah anak domba. Hari ke-50 dalam bahasa Yunani
disebut: “Pentakosta,” seperti ditulis dalam Kis.2:1 “saat tiba hari Pentakosta (pentēkostē = ke-50),
semua orang percaya berkumpul di satu tempat.” Dan itulah hari pencurahan Roh Kudus bagi Gereja-
Nya.
jika orang percaya telah mengalami penebusan oleh Darah Yesus, dan mau
dipimpin Roh untuk meninggalkan umat duniawinya, maka ia akan mengalami
kepenuhan Roh, yang membuat dirinya memiliki roh takut Tuhan, sehingga mampu
menyempurnakan kekudusan.
2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri
kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita
dalam takut akan Allah.”
Dengan menguduskan diri, maka hal itu berarti menyediakan diri untuk didiami Roh Allah yang
kudus (1Kor.3:16; 6:19)! Dan semuanya ini harus dilakukan dengan kerelaan hati, seperti halnya dengan
persembahan-persembahan yang diberikan umat Israel: “dari setiap orang yang terdorong hatinya,
haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu” (Kel.25:2b).
DIPILIH KAYU PENAGA
Kel.25:3-5 “Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua,
kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-
lumba dan kayu penaga.”
Yang menjadi pertanyaan: Apakah kayu Penaga atau Shittim wood itu? Beberapa versi
terjemahan Alkitab Inggris dituliskan “acacia wood,” namun versi King James maupun Young Literal
Translation memakai kata “shittim wood.” Dan penterjemah sering menyamakan “acacia” dengan
“cedar.” Namun, tatkala membaca Yesaya 41:19, mulailah timbul kesulitan dalam terjemahan tsb, sebab
jelas dibedakan antara “cedar” dengan “shittah” (jamaknya: shittim); sehingga beberapa terjemahan
menyebut “cedar” dan “acacia.”
Isa.41:19 KJV: “I will plant in the wilderness the cedar, the shittah tree, and the myrtle, and the oil tree; I will set in
the desert the fir tree, and the pine, and the box tree together.”
Isa.41:19 ASV “I will put in the wilderness the cedar, the acacia, and the myrtle, and the oil-tree; I will set in the
desert the fir-tree, the pine, and the box-tree together.”
Yes.41:19 “Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku
akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di
sampingnya.”
Para pakar Alkitab berbeda pendapat, apakah kayu shittim itu sama dg kayu aras atau acacia.
Kenyataan, bahwa ada beberapa jenis kayu aras yang sudah tidak ada lagi pada zaman ini. Jadi, rupanya
demikian juga dengan nasib kayu shittim. Namun, pada umumnya mereka setuju bahwa kayu ini keras
dan tahan ngengat, tidak mudah lapuk sebab punya zat penahan hama di dalamnya. Kayu penaga atau
“shittim wood” dalam Alkitab King James dicatat sebanyak 27 kali! Sedangkan kata “Shittim” yang
menunjuk kepada daerah atau tempat dituliskan sebanyak 5 kali, itulah tempat di mana Yosua melepas
dua pengintai (Yos.2:1) dan tempat umat Israel berangkat menuju sungai Yordan (Yos.3:1).
Alkitab jelas menuliskan, bahwa pohon penaga yang menghasilkan kayu penaga (shittim wood)
ini ditanam Tuhan di padang gurun (Ibrani: arabah), itulah tempat perjalanan umat Israel keluar dari
Mesir ke semenanjung Sinai, sehingga mereka memperoleh kayu penaga untuk dipersembahkan bagi
pembangunan Kemah Suci. Jelas, bahwa jika umat Tuhan tidak keluar dari Mesir menuju Tanah
Perjanjian mereka tidak akan menemukan kayu penaga tsb.
Sebagaimana telah diterangkan, bahwa kayu penaga yaitu persembahan yang sangat penting dan
berguna bagi pembangunan struktur Kemah Suci (papan-papan jenang, tiang-tiang, kayu pemikul, kayu
palang) maupun seluruh alat Kemah Suci (Tabut Perjanjian, Mezbah Dupa, Meja Roti, dan Mezbah
Korban Bakaran), sebab semuanya memakai kayu penaga!
Hanya orang percaya, yang dilepaskan oleh Darah Yesus dari belenggu dosa, dan
mau dipimpin oleh Roh Kudus untuk hidup dalam kesucian, sebab rindu mencapai
Yerusalem Sorgawi, merekalah yang dapat memberikan persembahan tubuh yang
hidup, kudus dan berkenan untuk dijadikan Bait Kudus Tuhan!
Namun masih ada satu syarat lagi, seperti halnya dengan kayu penaga yang sifatnya keras dan
tahan ngengat, tidak mudah lapuk sebab punya zat penahan hama di dalamnya, demikian juga harus
dimiliki oleh Gereja Tuhan.
Tahan ngengat dan tidak mudah lapuk menunjuk kepada sifat ketekunan, yang tidak mudah putus
asa, sebab ketekunan menimbulkan tahan uji, yang akhirnya membuahkan pengharapan. Itulah orang-
orang percaya yang dapat bersukacita/bermegah saat menghadapi derita, sebab berfokus kepada tujuan:
Yerusalem Sorgawi, seperti yang dialami oleh Yosua dan Kaleb.
Rom.5:3-5 “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, sebab kita tahu,
bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji/pengalaman dan
tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, sebab kasih Allah telah
dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
Yang berkeinginan mengubah hidup dari umat duniawi ke umat sorgawi,
milikilah sukacita pengharapan atau kemegahan saat mengalami derita sebab tujuan
yang benar ini, sebab pengharapan yang demikian akan dicurahi Kasih Agape yang
membuat anda mampu bertahan! (Kis.5:41; 2Tes.1:5).
IV. JADILAH ORANG PILIHAN TUHAN
Proses yang dilakukan Tuhan untuk menjadikan seseorang "umat Duniawi" menjadi "umat
Sorgawi" yaitu Dipanggil, Dipilih dan dijadikan orang yang Setia. Hanya dengan melakukan ketiga
tahapan inilah, yang akan menang dalam melakukan peperangan rohani yang dihadapinya.
Wah.17:14 "Mereka akan berperang melawan Anak Domba. namun Anak Domba akan mengalahkan mereka,
sebab Ia yaitu Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia
juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."
Dalam perumpamaan tentang undangan pesta raja dalam Mat.22:1-14, bangsa Yahudi sebagai
umat pilihan tidak menghiraukan undangan khusus tsb, sehingga undangan diberikan kepada semua
orang, bangsa-bangsa lain bukan Yahudi, yakni kita sebagai Gereja-Nya. Namun dari antara mereka yang
terpanggil, ada tamu undangan, yang tidak mau memakai pakaian ganti yang telah disediakan raja di
depan pintu masuk ruang pesta! Masalahnya, tidak menghargai ketentuan sang raja. Dan inilah
gambaran "Orang-orang Kristen" yang sudah terpanggil, namun tidak mau memakai "Pakaian Anugerah"
yakni "Kebenaran yang dianugerahkan dalam Kristus Yesus," atau dalam praktek hidup disebut tidak
mau hidup kudus! Dan akibatnya, kita membaca pernyataan Firman Tuhan ini: "Sebab banyak yang
dipanggil, namun sedikit yang dipilih" (Mat.22:14).
Sangat disayangkan bukan? Sebab begitu banyak orang telah terpanggil untuk menjadi orang
percaya, namun mereka tidak terpilih, bahkan lebih menyedihkan bila yang sudah terpilih lalu tidak
setia! Mengapa hal ini terjadi? Kunci dari semuanya itu yaitu , sebab mereka tidak tetap bersama-sama
dengan Dia!
Kita Dipanggil untuk hidup kudus (1Pet.1:15-16); Dipilih bila mau hidup kudus
(Kol.3:12), dan Setia bila tetap hidup kudus bersama dengan Tuhan, atau disebut
"Menjadi mempelai Kristus," sehingga menjadi orang pilihan yang mengalami segala
berkat rohani yang telah disediakan-Nya!
TUJUAN PRIORITAS ORANG PILIHAN-NYA
Untuk mengerti, mengapa Tuhan memanggil dan memilih Gereja-Nya, marilah kita melihat apa
yang dilakukan-Nya terhadap para pengikut awal Tuhan Yesus,
Mark.3:13-15 "lalu naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka
pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan (Sama artinya dengan: memilih!) dua belas orang untuk menyertai
Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan."
Perhatikan urutan prioritas dari maksud panggilan dan pilihan-Nya. Prioritas utama yaitu
menyertai! Dan inilah tujuan mulia dari Tuhan Yesus, menjadikan kita menjadi Mempelai-Nya. Tujuan
kedua dan ketiga barulah memberitakan Injil dan mengusir setan.
Dan tujuan rohani dalam hubungan mempelai yaitu Menjadi Satu, sebagaimana dinyatakan
dalam hal pernikahan: "Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan wanita ,
sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga
keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. sebab itu, apa
yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan umat " (Mark10:6-9). Yoh.17:11, 21, 22
"supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita."
Pemilihan untuk menjadi "Mempelai Kristus" ini dilambangkan oleh pemilihan "Kayu Penaga,"
yang terpilih untuk dipakai dalam Kemah Suci sebagai perabot-perabotnya, baik di _________, Ruangan
Suci dan Ruang Maha Suci.
Di _________: Kayu penaga dipakai untuk Mezbah Korban Bakaran, yang lalu disalut
dengan logam tembaga! (Kel.27:1-8).
Dalam Ruangan Suci: Kayu penaga dipakai untuk Tiang Pintu Kemah sebanyak lima buah
(Kel.26:36-37), Papan-papan dan Kayu-kayu lintang (Kel.26:18, 26-28), Meja Roti Pertunjukan
(Kel.25:23-30), Mezbah Dupa (Kel.30:1-6) serta Kayu-kayu pengusung untuk Meja Roti Pertunjukan dan
Mezbah Dupa. Semua kayu penaga dalam Ruangan Suci ini disalut dengan emas!
Dalam Ruangan Maha Kudus: Kayu penaga dipakai untuk Tiang dari Tirai sebanyak empat
buah (Kel.26:31-35), Papan-papan dan Kayu-kayu lintang, Tabut Perjanjian (Kel.25:10-15) dengan kayu-
kayu pengusung yang juga dibuat dari kayu penaga; dan semuanya disalut dengan emas murni!
Perabot-perabot dari kayu penaga, yang dipakai dalam Kemah Suci ini, semuanya yaitu
bayangan dari "Orang-orang Pilihan," yang berpartisipasi membangun Bait Suci dalam mendirikan
Kerajaan-Nya, Kerajaan Imam (Kel.19:5-6; 1Pet.2:9). Sebagaimana dengan kayu penaga yang kuat, tidak
mudah rapuh sebab tahan hama sebab memiliki zat anti hama, demikian orang-orang pilihan-Nya yang
dipakai Tuhan yaitu orang-orang beriman, yang tetap setia dalam Tuhan, sebab tidak mengikuti
keinginan daging yang merusakkan nilai-nilai rohani dan sorgawi.
Efs.4:21-24 "sebab kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran
yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus
menanggalkan umat lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan (which is
corrupt according to the deceitful lusts), supaya kamu dibaharui di dalam roh dari pikiranmu, dan
mengenakan umat baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan
kekudusan yang sesungguhnya."
Kata "kebinasaan" atau "corrupt" diterjemahkan dari kata "phtheirō," yang bermakna: merusak,
menghancurkan (melalui proses, khususnya secara kiasan melalui pengaruh moral - merusakkan
tabiat/akhlak), seperti besi yang dirusakkan karat (pelahan namun pasti hancur akhirnya). Itulah akibat
dari keinginan daging yang dibiarkan bercokol dalam "umat lama," yakni mereka yang hidup secara
duniawi (bagaikan benih yang jatuh di semak duri)!
Satu-satunya cara menangkal yaitu mengikuti firman Tuhan yang dituliskan sebelumnya:
"mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam
Yesus."
Mendengar tentang Dia/Yesus membuat iman timbul, seperti firman-Nya ini: "Jadi, iman timbul
dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Namun, tidak cukup hanya
memperoleh iman, kita perlu memiliki iman yang teguh, yang tak tergoyahkan. Dan hal itu dapat dialami
bila firman-Nya menjelma menjadi darah dan daging kita, artinya umat lama ditanggalkan dan
umat baru timbul dan berkembang. Hal ini terwujud sebab kita diajar di dalam Dia, Sang
Kebenaran!
Ungkapan "diajar di dalam Dia" yaitu suatu pernyataan, bahwa untuk menjadi murid sejati dari
Tuhan Yesus, kita harus memasukkan diri untuk dibentuk di dalam Dia, Sang Firman Kebenaran. Dan hal
ini dinyatakan dalam Roma 6:17, yang berbunyi: " namun syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu
hamba dosa, namun sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan
kepadamu" = but ye have obeyed from the heart that form of doctrine which was delivered you" (KJV) =
"but you have obeyed from the heart that form of doctrine to which you were delivered" (MKJV).
Kami terjemahkan dari MKJV, yang lebih bagus terjemahannya: "namun syukurlah kepada Allah!
Dahulu memang kamu hamba dosa, namun sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati bentuk
pengajaran yang kepadanya kamu diserahkan."
Sebagaimana dengan kayu penaga, yang diserahkan kepada para ahli perabotan yang diurapi
Tuhan, yakni Bezaliel, Aholiab dan kawan-kawannya (Baca Kel.31:1-6), demikianlah hidup orang-orang
pilihan-Nya yang mau dipakai dalam pembangunan Tubuh Kristus. Dan syarat utama dapat dibentuk
memiliki roh kelemah-lembutan, sebab lebih dahulu mengalami kehancuran hati sebab dukacita ilahi,
sebab sadar kemiskinan rohaninya (Mat.5:3-5).
Orang pilihan masuk dalam pembangunan Tubuh Kristus yaitu mereka, yang sadar
kemiskinan rohaninya, dan sebab nya berdukacita sehingga lembut hatinya dan
menyerahkan diri untuk dipakai bagi Kerajaan-Nya.
Maz.24:1 "Mazmur Daud. TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di
dalamnya."
Ayat ini jelas berkata kata , bahwa bumi yaitu milik Allah! Sebagai Pemilik, bumi ditetapkan
sebagai "Tempat Penyemaian" benih ilahi, agar tumbuh anak-anak Allah, yang serupa dan segambar
dengan Yesus, Sang Anak Allah! Saat penciptaan, Allah telah memberi pernyataan ini: Berfirmanlah
Allah: "Baiklah Kita menjadikan umat menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa
atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala
binatang melata yang merayap di bumi" (Kej.1:26).
Perlu diperhatikan, bahwa bumi yang dimandatkan kepada umat untuk dikuasai ini yaitu
bumi yang telah direnovasi! Sebab sebelumnya firman-Nya berkata kata , bahwa “Bumi belum berbentuk
dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan
air” (Kej.1:2). Sedangkan Kej.1:3-31 menerangkan tentang proses renovasi dan berita Allah dalam
penciptaan umat .
Kej.1:1 yaitu awal berita bahwa Allah yaitu Penciptanya: “Pada mulanya Allah menciptakan
langit dan bumi” Hal ini terjadi pada masa lampau yang tidak diketahui waktunya, namun sudah
direncanakan sebagai tempat penyemaian benih ilahi. Saat itu, malaikat-malaikat (yang juga diistilahkan
dalam Alkitab sebagai "anak Allah") turut menyaksikan dengan bertempik sorak, sebab kagum
menyaksikan hanya dengan ucapan-Nya bumi tercipta! Hal ini dinyatakan dalam kitab Ayub.
Ayub 38:4, 7 "Di manakah engkau, saat Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau memiliki
pengertian! ......... pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah
bersorak-sorai?"
Dan bumi hasil ciptaan-Nya itu dimaksudkan untuk didiami oleh umat , yang akan berkuasa
atas semua ciptaan-Nya, seperti tertulis dalam kitab Mazmur 8:5-7 "Apakah umat , sehingga Engkau
mengingatnya? Apakah anak umat , sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah
membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah
kakinya."
Tatkala maksud ini diketahui para malaikat, sebagian dari mereka menggerutu! Mungkin kata-kata
semacam ini keluar dari mulut mereka: "O, umat hendak diproyeksikan menjadi penguasa atas segala
ciptaan-Nya? Jadi mereka akan memerintah kami, para malaikat?...... O, tidak, tidak, kami tidak setuju!"
Sebab itulah, begitu Hawa dibentuk, maka Iblis dan para malaikat pengikutnya yang telah
memberontak (disebut dalam Alkitab: “roh-roh jahat”) bertindak cepat untuk menipunya, mungkin
sebelum Adam sempat menerangkan perintah Tuhan. Dan akibatnya, umat jatuh ke dalam dosa!
TERIMALAH YANG BENAR
Bumi yang seharusnya dimandatkan kepada umat untuk dikuasai, diambil alih oleh Iblis,
seperti dinyatakan dalam 1Yoh.5:19-21 "Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia
berada di bawah kuasa si jahat. Akan namun kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah
mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam
Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia yaitu Allah yang benar dan hidup yang kekal.
Anak-anakku, waspyaitu terhadap segala berhala."
Maksud kedatangan Yesus, Sang Anak Allah, selain untuk menebus serta membebaskan umat
dari dosa, juga memberikan pengertian supaya kita mengenal Yang Benar! Jelas, bahwa Kebenaran tidak
dapat dipisahkan dari Pribadi Yang Benar, Anak Allah, Sang Firman (Yoh.1:1), yang akan mendirikan
Kerajaan yang hanya berisikan kebenaran (Rom.14:17). sebab itu, janganlah kita menuruti "Penguasa
Palsu, Iblis,” yang merebut bumi dari tangan umat , Adam, penerima mandat sebenarnya (Kej.1:26,
28).
Untuk memulihkan mandat tsb, Dia datang merekrut umat , yang mau percaya kepada Yesus
Kristus, Panglima Kerajaan, dan yang sedia dididik agar dijadikan pemenang-pemenang mengalahkan si
jahat. Sebab itu, ada peringatan terpenting: "Waspyaitu terhadap segala berhala!"
Berhala yaitu segala hal yang diidolakan, ditinggikan/dipentingkan, lebih dari pada Allah! Dan
hal itu dapat berupa benda-benda, baik ciptaan Tuhan (pohon, binatang dsb), maupun ciptaan umat
(patung-patung dsb), maupun "Mammon" atau Kekayaan, yang dipakai oleh Iblis sebagai senjata
ampuhnya pada akhir zaman! (Mat.6:24). Dan celakanya, dalam diri setiap




