• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label di dalam alkitab 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label di dalam alkitab 4. Tampilkan semua postingan

di dalam alkitab 4

 


Dalam surat yang pertama kepada Jemaat di Korintus, rasul Paulus menuliskan salamnya sebagai 

berikut: “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari 

Sostenes, saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus 

Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang 

berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. Kasih karunia dan 

damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu” (1Kor.1:1-3). 

          Jelas, bahwa alamat surat ditujukan kepada mereka yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, 

bahkan yang dikuduskan dalam Kristus Yesus! Walaupun demikian kedudukan orang-orang yang 

terpanggil ini tidak serta merta berkata kata  bahwa mereka sudah tidak duniawi lagi! Dua ayat di bawah 

ini meneguhkan fakta ini.                        

1Kor.3:3 “sebab  kamu masih umat  duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah 

hal itu menunjukkan, bahwa kamu umat  duniawi dan bahwa kamu hidup secara umat wi?”  

1Kor.3:4 sebab  jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan 

Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu umat  duniawi yang bukan rohani? 

           Jemaat di Korintus dikategorikan sebagai “umat  Duniawi,” sebab  masih ada iri hati, 

perselisihan, dan juga kelompokisme! Hal ini harus menyadarkan Gereja Tuhan sekarang, khususnya 

yang menganggap dirinya sudah rohani, pada hal menurut ukuran Tuhan belum. Bagi para pembaca artikel  

ini, marilah kita menerima teguran firman Tuhan dan bertobat, agar jangan kelak menjadi kecewa sebab  

merasa sudah berkenan, namun tidak diterima sebagai mempelai-Nya! Itulah sebabnya artikel  ini sampai 

di tangan para pembaca! 

            Saat menerangkan tentang kebangkitan, Paulus menuliskan kebenaran firman Tuhan ini: “Ada 

tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, namun  kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh 

duniawi” (1Kor.15:40). Hal ini harus menyadarkan, bahwa selama kita hidup di dunia ini memang 

memakai tubuh duniawi, yang disebut juga “tubuh dosa” (Ro.6:6), bahkan “tubuh maut” (Ro.7:24). Dan 

patut diketahui, bahwa akhir dari tubuh duniawi ini yaitu  kematian, sebagai kemah yang pasti akan 

roboh dan ditinggalkan selama-lamanya. 

            Sebab itu, ke mana konsentrasi tujuan hidup kita sekarang? Kepada hal-hal duniawi untuk tubuh 

duniawi, ataukah kepada hal-hal sorgawi untuk tubuh sorgawi? Dan tujuan hidup itu dikendalikan oleh 

pikiran anda. Inilah pernyataan firman-Nya. 

Rom.8:5-8 “Sebab mereka yang hidup menurut daging (tubuh duniawi), memikirkan (phroneo) hal-hal yang dari 

daging; mereka yang hidup menurut Roh (tubuh sorgawi), memikirkan (phroneo) hal-hal yang dari Roh. 

sebab  keinginan/pikiran (phronema) daging yaitu  maut, namun  keinginan/pikiran (phronema) Roh 

yaitu  hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan/pikiran (phronema) daging yaitu  perseteruan 

terhadap Allah, sebab  ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka 

yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” 

          Bila memfokuskan diri terhadap hal-hal duniawi, pastilah pikiran akan menuju kepada hal-hal 

duniawi juga. Sebaliknya, bila memfokuskan hal-hal sorgawi, pikiran pasti menuju hal-hal sorgawi. 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa pikiran umat  yaitu  bagian dari jiwa, di mana terjadi peperangan 

antara Roh Allah dan Daging umat , seperti dikatakan firman Tuhan dalam Gal.5:17 “Sebab keinginan 

daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- 

sebab  keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” 

          Selama jiwa kita terpengaruh hanya oleh keinginan tubuh (melalui kelima panca-indera), maka 

pikiran kita pasti menjadi duniawi, sebab keinginannya hanya berorientasi kepada pemuasan tubuh 

duniawi. Namun jika  Roh Allah mulai mempengaruhi jiwa, khususnya pikiran, maka orientasi 

hidup dapat mengarah kepada tubuh sorgawi. Sebab itu, hati-hatilah dengan apa yang anda lihat! 

Khususnya pada zaman kemajuan teknologi sekarang ini, gambar-gambar yang merangsang hawa nafsu 

dengan mudah disaksikan di layar kaca (televisi), layar perak (bioskop), computer dan smartphone. 

          Pengalaman pertentangan dalam jiwa dialami sendiri oleh Paulus, walaupun posisinya yaitu  rasul, 

pernah bertemu dengan Yesus secara pribadi, namun dengan jujur ia berkata kata  demikian: “Sebab aku 

tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai umat , tidak ada sesuatu yang baik. Sebab 

kehendak memang ada di dalam aku, namun  bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku 

kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, 

yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang 

memperbuatnya, namun  dosa yang diam di dalam aku” (Rom.7:18-20). 

          Kesadaran bahwa “dosa yang diam dalam tubuhnya” itulah yang menyebabkan Paulus beteriak 

dengan seruan: “Aku, umat  celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” 

Ucapan ini bukan dikatakannya pada saat belum bertobat, namun  setelah bertobat, bahkan sudah menjadi 

rasul. Dia mengerti, bahwa selama tubuhnya belum diubahkan, maka semua umat  masih 

menyandang “tubuh dosa,” yang dapat mengakibatkan maut. Itulah sebabnya disebut “tubuh maut.” 

            Ketahuilah, bahwa begitu umat  dilahirkan oleh ibunya, ia sudah menyandang dosa, seperti 

dikatakan Daud dalam mazmurnya: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku 

dikandung iartikel ” (Maz.51:7). sebab  itu, Paulus menuliskan dalam 

1Kor.15:46-49 “namun  yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, namun  yang alamiah; lalu  barulah 

datang yang rohaniah. umat  pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, umat  kedua berasal 

dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk 

sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, 

demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.” 

            Pernyataan ini menunjukkan, bahwa tidak ada seorangpun yang baru dilahirkan langsung menjadi 

rohani. Semuanya bermula dari yang alamiah, lalu  setelah melalui proses barulah menjadi rohani. 

Sebab itu, siapa yang menyadari dirinya mula-mula duniawi, menyandang tubuh maut, perlu menyeru 

kepada Dia, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan!” (Rom.10:13). 

           Ingatlah! Yang duniawi pasti akan berakhir dengan kematian, seperti dinyatakan firman ini: Lalu 

Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan 

dari dunia ini. sebab  itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab 

jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” (Yoh.8:23-24). 

            Proses dari umat  duniawi ke umat  sorgawi hanya dapat terwujud dalam hidup orang-orang 

yang menyadari, bahwa hanya kuasa Allah yang dapat mengubahkan demikian! Sebab yang alamiah – 

hal-hal di bumi dan dari bumi – tidak mungkin diubah dengan proses alamiah untuk menjadi sorgawi. 

Yang sorgawi, atau yang berkualitas atas, hanya dapat dilakukan melalui proses dari atas, dengan 

berkat-berkat sorgawi oleh Bapa sorgawi! 

Yak.1:17-18 “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan 

dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan sebab  pertukaran. Atas kehendak-

Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi 

anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.” 

            Dan Bapa sorgawi memberikan segala kualitas dari atas, yang sorgawi, dalam paket “di dalam 

Kristus” sebab kasih-Nya kepada umat : “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang 

dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam 

Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-

Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-

Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang 

dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” 

Sebagai Pencipta, sebelum dunia dijadikan, Allah sudah menentukan, bahwa setiap 

orang yang berada di dalam Kristus dijadikan orang-orang pilihan-Nya, yang akan 

dikaruniai dengan segala berkat rohani di dalam sorga, supaya menjadi kudus dan tak 

bercacat, sebab mengalami perubahan dari kemuliaan kepada kemuliaan sehingga 

menjadi umat  sorgawi! 

 

I. POHON KEHIDUPAN umat   

           Kehidupan umat  kadang-kadang dikiaskan oleh Tuhan sebagai pohon atau kayu. Dengarkanlah 

ucapan Tuhan Yesus kepada banyak wanita , yang menangisi Dia saat memikul kayu salib: “Sebab 

jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?" 

(Luk.23:31). 

           Jelas, bahwa yang dimaksud dengan “kayu hidup” yaitu  Diri-Nya sendiri, sedangkan “kayu 

kering” yaitu  kiasan untuk umat  yang tidak memiliki roh yang hidup atau mati rohani. Mereka mati 

rohaninya sebab  dosa atau pelanggaran terhadap hukum Allah, seperti dikatakan dalam surat Efesus 

pasal dua: “Kamu dahulu sudah mati sebab  pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efs.2:1). 

 

 

JATUH KE TANGAN SIAPAKAH ANDA? 

Pohon atau kayu dipakai  dalam berbagai segi kehidupan. Ada kayu-kayu yang dikerjakan 

melulu dari buah pikiran umat , namun ada juga yang dikerjakan oleh adanya arahan dari Sang 

Pencipta. Sebab itu, pohon kehidupan anda dikerjakan oleh arahan siapa saja?  

Yang jelas, semua kita pasti ditangani oleh orang tua, ibu bapa. lalu , juga oleh saudara-

saudara dalam keluarga, kerabat, lingkungan teman-teman bermain atau berinteraksi; dan saat mulai 

bersekolah oleh para pengajar. Ada pengajar duniawi dan ada pengajar rohani, yakni hamba-hamba 

Tuhan. Inilah tokoh-tokoh yang mengerjakan pohon kehidupan anda: 

1. Tokoh Penebang pohon.  

            Bila kehidupan anda jatuh ke tangan “Tokoh Penebang Pohon,” maka dapat dipastikan kehidupan 

anda akan menjadi “Barang Dagangan” saja! Artinya: Kehidupan anda akan dimanipulasi bagi 

keuntungan diri tokoh semacam ini! 

            Pada zaman dahulu, kayu banyak dipakai sebagai “kayu bakar,” yang dipakai  untuk memasak 

makanan atau untuk obyek pemanasan, khususnya bila musim dingin tiba. Jadi, kayu dipakai untuk 

kenyamanan para pemakainya agar tubuhnya nikmat, namun  kayu itu sendiri menjadi hangus terbakar. 

            Pada dasarnya umat  memiliki sifat egoistis, mementingkan diri sendiri. Dan ini terjadi dalam 

kehidupan saudara-saudara Yusuf, yang tega menjualnya kepada orang Ismael, saudagar-saudagar Midian 

(Kej.37:27-28). Pada masa Nehemiah, ia menegor keras orang-orang yang mencari keuntungan diri 

dengan menjual sesama orang Yahudi. 

Neh.5:8 “Berkatalah aku kepada mereka: "Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang 

Yahudi yang dijual kepada bangsa-bangsa lain. namun  kamu ini justru menjual saudara-saudaramu, 

supaya mereka dibeli lagi oleh kami!" Mereka berdiam diri sebab  tidak dapat membantah.” 

Sifat egoisme umat , yang akan memuncak pada akhir zaman (2Tim.3:1-2), 

memunculkan banyak “Tokoh Penebang pohon” yang hanya berorientasi kepada 

keuntungan materi, mengorbankan orang banyak demi keuntungan pribadinya! Hal 

demikian inilah yang mendatangkan masa yang teramat sukar! 

2. Tokoh Pemahat Patung. 

            Bila kayu pohon jatuh ke tangan pemahat patung, pastilah dia segera memakai alat-alat dan 

keahliannya untuk menjadikan benda pujaan! Bahkan yang lebih berbahaya menjadi obyek 

penyembahan! Dan itulah yang telah dilakukan oleh banyak promotor terhadap orang-orang yang 

memiliki keunikan atau talenta tertentu. 

           Dengan pertolongan “Sang Pemahat Patung.” maka orang-orang tertentu dapat menjadi orang 

ternama, yang lalu  menjadi idola bagi masyarakat. Bukankah hal itu terjadi dalam praktik hidup di 

dunia ini. Di tangan promotor mereka dijadikan “Bintang-bintang.” Ada Bintang Penyanyi, Bintang 

Film, Bintang Olah-raga dsb. Celakanya, kalau orang-orang yang sudah naik karirnya menjadi “Bintang” 

itu lalu  menyombongkan dirinya sedemikian rupa, sehingga menganggap dirinya layak menerima 

pujian dan penyembahan umat ! 

           John Lenon, tatkala diwawancarai, dia mengucapkan ucapan sesumbarnya “Aku lebih populer dari 

Tuhan!” Bahkan, lebih berani dia lalu  menantang: “Siapa yang lebih dulu tenggelam, The Beatles 

atau Tuhan!” namun , John Lenon tewas di tembak oleh penggemarnya sendiri! Oprah Winfrey tidak takut 

berkata kata  dirinya “Allah!” 

Dalam Alkitab, kita juga membaca adanya seorang yang tinggi hati, yakni “Penguasa Tirus” 

Yeh.28:1-10. Marilah kita membaca ayat 1-2, yang berbunyi: Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 

"Hai anak umat , katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: sebab  engkau 

menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku yaitu  Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. 

Padahal engkau yaitu  umat , bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah.” 

Menurut beberapa penafsir, orang ini yaitu  Ithobaal III (tahun 591-573 s.M.). Dalam Kisah Para Rasul 

tercatat nama Simon, si penyihir, yang dikatakan Alkitab: “Orang ini yaitu  kuasa Allah yang terkenal 

sebagai Kuasa Besar”  (Kis.8:9-10). 

Ingat! Iblis memang memakai orang-orang tertentu, untuk menjadikan umat  

tertentu menjadi tokoh idola, yang dapat membalikkan orang banyak dari 

penyembahan kepada Allah menjadi penyembahan kepada dirinya. 

3. Tokoh Pengrajin. 

Melalui para pengrajin, maka kayu-kayu dapat dijadikan produk-produk yang berguna bagi 

kehidupan orang lain, seperti halnya dengan kursi, meja, rumah, jembatan dll. Dalam praktek kehidupan, 

inilah tokoh-tokoh pendidik, yang membuat anak didiknya menjadi umat  yang berguna bagi orang 

lain. Termasuk dalam tokoh-tokoh ini yaitu  para pendidik, baik itu orang tua yang mendidik dengan 

baik, dan juga guru-guru sekolah. 

Kita patut berterima-kasih terhadap orang-orang, yang membaktikan diri dalam 

pendidikan, sehingga diri kita masing-masing dijadikan umat  yang berguna bagi 

kehidupan jasmaniah/sementara dalam dunia ini.  

4. Allah Roh Kudus melalui Hamba-hamba Allah yang diurapi. 

 Di sisi lain dari kehidupan jasmaniah di bumi, ada kehidupan lain yang jauh lebih penting! Itulah 

kehidupan kekal, yang akan berlangsung selama-lamanya atau tanpa batas waktu! 

Yes.26:4 “Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH yaitu  gunung batu yang kekal.” 

1Tim.1:17 “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak 

nampak, yang esa! Amin.” 

Allah yang kekal telah mengaruniakan kepada umat  Anugerah terbesar, Anak-Nya, Yesus 

Kristus, yang menjelma menjadi Anak umat , dengan tugas menebus umat  dari cengkeraman dosa 

dan mendidik mereka supaya menjadi “umat  Ilahi” atau “umat  Allah.” 

Titus.2:11-12 “sebab  kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua umat  sudah nyata. Ia mendidik kita 

supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil 

dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” 

Menyelamatkan dengan mengorbankan Darah-Nya sebagai harga tebusan, dan mendidik dengan 

mengutus Roh Kudus dan hamba-hamba-Nya yang diurapi. Dalam Perjanjian Lama hal ini 

diaktualisasikan dengan memilih Bezaliel dan Aholiab dan kawan-kawannya untuk mengerjakan kayu 

dari padang gurun, yang disalut dengan emas murni dan dimasukkan ke dalam Bait Allah, Tabernakel. 

Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, yang bangkit dan berada di sebelah kanan Bapa, 

mencurahkan Roh Kudus serta mengutus hamba-hamba-Nya yang diurapi agar 

mendidik orang percaya memiliki karakter Kristus, sehingga layak masuk dalam 

kemuliaan Allah yang telah disediakan sebelum dunia dijadikan.  

PUNYAI HUBUNGAN DENGAN SUMBER HIDUP  

 Harus diakui, bahwa sesuatu yang dikatakan “hidup” atau “on” pasti berhubungan dengan sumber 

hidup. Hand phone kita disebut “hidup,” bila berhubungan dengan baterai. Saat baterai habis, maka kita 

perlu menghubungkan dengan tombol listrik. Namun, saat tombol listrik juga padam, maka pastilah 

jaringan penghantar tegangan tinggi itu terputus dari pusat tenaga listrik. Dan lebih parah bila generator di 

pusat tenaga listriknya tidak hidup atau sumbernya mati! 

 Demikian juga halnya dengan roh umat . Selama roh umat  tidak terhubung oleh Roh Kudus, 

maka umat  rohnya mati. Dan hal ini disebabkan sebab  adanya hal-hal yang tidak kudus disebabkan 

perbuatan dosa atau pelanggaran terhadap hukum Allah atau Kebenaran! Di mana tidak ada kebenaran, 

hubungan dengan Tuhan terputus, maka di situ roh-roh najis beroperasi, yang akhirnya 

mendatangkan hukuman.  

 Ucapan Tuhan Yesus dalam Luk.23:31, yang berbunyi: “Sebab jikalau orang berbuat demikian 

dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?" – Merupakan  pertanyaan, bila 

perlakuan tentara Roma yang sedemikian buruk terhadap keumat an Yesus yang tanpa salah, apa yang 

akan terjadi bagi bangsa Israel, yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Roma, bahkan 

terlebih lagi berdosa besar terhadap Allah, sebab  menolak dan membunuh Dia, Sang Kebenaran itu? 

Fakta sejarah mencatat tatkala Yerusalem dihancurkan  panglima Titus pada tahun 70, maka banyak 

orang Israel mati sebab  perang melawan Roma (Josephus berkata kata  satu juta orang Yahudi mati!).  

 Bila tidak memiliki hubungan dengan Sumber Hidup, kematianlah yang akan diterimanya. Dan 

kita ketahui, bahwa di dalam Yesus, Firman, ada kehidupan, seperti dinyatakan dalam Yoh.1:1-4 ini: 

“Pada mulanya yaitu  Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu yaitu  Allah. 

Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak 

ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu 

yaitu  terang umat .” 

 Dalam pengajaran tentang pokok anggur yang benar, Tuhan Yesus mengatakan: “Akulah pokok 

anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia 

berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di 

dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, lalu  dikumpulkan orang dan 

dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yoh.15:5-6). 

Jelas, bahwa seseorang akan menjadi “kayu kering” apabila mereka menolak untuk 

tinggal tetap di dalam Firman-Nya, Sumber kehidupan itu. Untuk setia (faithful) tentu 

dibutuhkan iman (faith), bahwa Dia, Yesus, benar-benar Allah yang diutus/turun dari 

sorga untuk membawa kita naik, menjadi umat sorgawi.

 Untuk mengubah hidup umat  duniawi menjadi sorgawi, maka cara satu-satunya yaitu  melalui 

hubungan dengan Pribadi Sorgawi, Sang Sumber Hidup, yang turun dari sorga, seperti telah dikatakan-

Nya: Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, 

Aku bukan dari dunia ini” (Yoh.8:23). “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan 

kehendak-Ku, namun  untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh.6:38). 

Anak umat  diutus – turun dari sorga ke bumi: Allah menjadi umat  – dengan tugas 

menjadikan umat  yang percaya kepada-Nya menjadi “umat  Allah,” seperti dikatakan Paulus 

kepada Timotius: “namun  engkau hai umat  Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, 

kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1Tim.6:11). Dengan kata lain, Yesus sebagai Allah yang 

menjadi umat  bertugas menjadikan “umat  duniawi” menjadi “umat  sorgawi” atau “umat  

Allah.” 

Surat Paulus kepada jemaat di Korintus menuliskan wahyu ini: “Makhluk-makhluk alamiah sama 

dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari 

sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari 

yang sorgawi” (1Kor.15:48-49). 

  

 Sebagai umat , yang dilahirkan oleh ibu dan bapa, maka kita masing-masing terlahir dalam 

keadaan dosa, sebab  Adam pertama, yang dibuat dari debu telah jatuh ke dalam dosa,  akibatnya 

makhluk-makhluk alamiah semuanya akan kembali menjadi debu. Namun, ada kabar gembira, bahwa ada 

pribadi sorgawi, Adam kedua, yang bukan dari debu tanah, namun  Dia yaitu  Sang Firman, yang rela 

menjadi umat  untuk melakukan tugas Bapa yang Maha-Agung, untuk mengubah umat  duniawi 

menjadi sorgawi, melalui Firman! Dan inilah  pernyataan-Nya dalam Yoh.1:1 “Pada mulanya yaitu  

Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu yaitu  Allah.” 

 Untuk melimpahkan sifat sorgawi-Nya kepada orang percaya, maka Tuhan menerangkan proses 

pelimpahan tsb melalui dialog tentang “Roti Sorga.” Mengapa? Sebab, apa yang dimakan umat , akan 

menjadi bagian dalam dirinya; seperti sering kita dengar ungkapan kata ini: “You are what you eat!” Bila 

kita makan banyak minyak, maka darah kita pasti mengandung banyak minyak juga. Jelas, darah 

seseorang kandungannya berisi serupa dengan apa yang dimakannya. Demikian pula jiwa seseorang 

akan menjadi serupa dengan jiwa-Nya, yang sorgawi, bila mereka makan “Roti Hidup yang 

diturunkan dari sorga” itu! Dan inilah dialog yang dipaparkan-Nya. 

Yoh.6:48-58 “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. 

Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang 

telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang 

Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Orang-orang Yahudi bertengkar 

antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk 

dimakan." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak 

makan daging Anak umat  dan minum darah-Nya, kamu tidak memiliki  hidup di dalam dirimu. 

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia memiliki  hidup yang kekal dan Aku akan 

membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku yaitu  benar-benar makanan dan darah-Ku yaitu  

benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku 

di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga 

barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti 

seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup 

selama-lamanya." 

 Firman, yang yaitu  Allah (Yoh.1:1), harus “dimakan” dalam arti didengar, direnungkan (untuk 

dimengerti) dan dilakukan, supaya Allah dan seluruh aspek hidup-Nya atau seluruh karakter-Nya, 

menjadi bagian kehidupan yang kelihatan (inilah yang disebut “menjadi daging”) dan menjadi jiwa atau 

menjadi pikiran, perasaan dan kehendak kita (inilah yang disebut “menjadi darah”). 

 Bagian penting yang sering tidak dilakukan yaitu  merenungkan FirmanTuhan! Paralel dengan ini 

dalam hal jasmani yaitu  masalah “mencerna,” yang dimulai dari mulut, ke kerongkongan, perut dan 

lalu  usus. Firman Tuhan yang sukar dimengerti perlu dicerna lebih lama. Hal ini dilakukan oleh 

hewan-hewan yang memamah-biak, yang memiliki “empat perut,” sehingga mampu menguraikan rumput 

yang dimakannya menjadi darah dan daging, bahkan juga susu. Demikianlah yang harus kita lakukan, bila 

ingin mengalami perubahan jiwa – perubahan pikiran, perasaan dan kehendak duniawi sehingga menjadi 

jiwa yang sorgawi. 

Maz.1:1-3 “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang 

berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, namun  yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, 

dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang 

menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” 

Adakah keinginan untuk memiliki kepribadian sorgawi? Allah menyediakan makanan 

rohani, “Roti yang turun dari sorga” yakni Firman-Nya yang hidup, agar setiap orang 

yang memakannya akan mengalami perubahan kepribadian, dari duniawi ke sorgawi. 

Haleluyah! 

II. ALLAH MEMILIH “KAYU PENAGA”  

  

 Saat Musa diperintahkan Tuhan membangun Kemah Suci atau Tabernakel, maka umat Israel 

diminta untuk mempersembahkan bahan-bahan, yang akan dipakai  bagi pembuatannya. Marilah kita 

membaca diskripsinya. 

Kel.25:1-5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku 

persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus 

kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain 

ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, 

kulit lumba-lumba dan kayu penaga.” 

Itulah keterangan singkat tentang bahan-bahan, yang dipakai bagi pembangunan Kemah Suci, 

sedangkan bahan-bahan untuk operasionalnya dituliskan dalam ayat-ayat berikutnya: “minyak untuk 

lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras 

dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada” (Kel.25:6-7). 

lalu , dalam ayat 8 dan 9 disimpulkan tentang tujuan pembangunan Kemah Suci: “Dan 

mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. 

Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala 

perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya" (Kel.25:8-9). 

 

 

KEMAH SUCI ROHANI 

 Bila membaca Alkitab, kita harus menangkap tujuan Allah sebenarnya dalam memberikan firman-

Nya. Dalam terjemahan Alkitab bahasa negara kita , ayat 2Tim.2:15 berbunyi demikian: “Usahakanlah 

supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus 

terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Terjemahan ini kurang tepat; terjemahan versi King 

James berbunyi: “Study to shew thyself approved unto God, a workman that needeth not to be ashamed, 

rightly dividing (orthotomeō)  the word of truth.” 

 Kata orthotomeō dari keterangan konkordansi Strong: to make a straight cut, that is, 

(figuratively) to dissect (expound) correctly (the divine message) – arti harafiah orthotomeō yaitu  

“membuat potongan lurus,” dan arti kiasannya: “menguraikan secara benar (berita ilahi).” Jadi 

terjemahan 2Tim.2:15 yang lebih baik berbunyi: “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah 

sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang menguraikan secara benar Perkataan 

Kebenaran.” 

 Di sinilah dibutuhkan guru-guru atau pengajar-pengajar Alkitab yang penuh Roh Kudus, sebab 

hanya dengan pencerahan Roh-Nya, maka firman-Nya dapat diuraikan secara tepat! Sebab itu, rasul 

Paulus mengingatkan jemaat di Galatia dengan firman Tuhan ini: “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas 

berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil 

lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk 

memutarbalikkan Injil Kristus. namun  sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang 

memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, 

terkutuklah dia” (Gal.1:6-8). 

 Sebab itu, rasul Paulus meminta agar jemaat Tuhan berdoa bagi para pemberita firman, agar 

mereka dikaruniai perkataan yang benar dalam pemberitaannya (Efs.6:18-20). Bukankah para pembaca 

kadang-kadang mendengar pemberita firman, yang mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari 

kebenaran firman-Nya? 

 Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh Musa membangun Kemah Suci, yang sebenarnya hanya 

merupakan bayangan saja (Ibr.10:1); sedangkan dalam Perjanjian Baru diterangkan hakekat sebenarnya 

yaitu  “Kemah Sejati” yang dibangun Tuhan! Seperti dinyatakan dalam Ibr.8:1-2 “Inti segala yang kita 

bicarakan itu ialah: kita memiliki  Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta 

Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang 

didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh umat .” 

 Yang menjadi pertanyaan? Apakah sebenarnya “Kemah Sejati” itu? Biarlah Alkitab sendiri yang 

menjawabnya! 1Kor.3:16 mengatakan: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu yaitu  bait Allah dan bahwa 

Roh Allah diam di dalam kamu?” Juga 1Kor.6:19 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu yaitu  

bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu 

bukan milik kamu sendiri?” 

 Jelas, bahwa “Kemah Suci” buatan Musa itu yaitu  bayangan dari hakekat yang sebenarnya: 

“Kemah Sejati”, yakni diri kita atau tubuh kita! Tuhan tidak ingin hanya segelintir pribadi yang menjadi 

Bait-Nya, namun kelak semua umat tebusan-Nya yang kudus roh, jiwa dan tubuhnya, akan bersama-sama 

menjadi “Kemah Allah,” sebagaimana dinubuatkan dalam Wah.21:1-3 yang berbunyi: “Lalu aku melihat  

langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, 

dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, 

dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin wanita  yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku 

mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah 

umat  dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan 

menjadi Allah mereka.” 

 

PERSEMBAHAN YANG ROHANI 

 Sebagaimana Musa mengatakan bagi pendirian Kemah Suci perintah ini: “Inilah persembahan 

khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda, 

kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan 

kayu penaga,” maka kitapun harus mempersembahkan masing-masing untuk membangun Kemah Sejati. 

 Dari keterangan Ibr.8:2, yang berbunyi: “kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh 

umat ” mengandung arti, bahwa persembahan khusus yang harus diberikan tentunya bukan benda-

benda jasmaniah seperti dilakukan umat Israel, namun diri kitalah yang harus dipersembahkan dengan 

kualitas hidup rohani sedemikian, sehingga dapat didirikan oleh Tuhan sebagai bagian dari Kemah 

Allah yang kekal (Wah.21:3)! 

 Yang sangat menarik, bahwa salah satu bahan utama bagi struktur Kemah Suci buatan Musa 

yaitu  kayu penaga! sebab  itu, pelajaran ini hendak mengupas pentingnya persembahan “kayu penaga 

rohani” bagi pembangunan Kemah Sejati, yang akan menjadi Kemah Allah. Dan itulah orang-orang 

percaya yang menjadi tiang-tiang dalam Gereja di sepanjang zaman.  

“Kayu penaga rohani” yaitu  bayangan dari keumat an, yang bertujuan beralih 

dari “umat  Duniawi” ke “umat  Sorgawi” sebab percaya Tuhan, yang mampu 

mengubah dari kemuliaan kepada kemuliaan (2Kor.3:18). 

 Pada zaman gereja awal, tatkala Paulus berkunjung ke Yerusalem, maka ia bertemu dengan tokoh-

tokoh gereja di sana, yang dipandang sebagai tiang gereja, seperti tertulis dalam Gal.2:9 “Dan setelah 

melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang 

dipandang sebagai sokoguru (tiang) jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai 

tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada 

orang-orang yang bersunat.” 

Allah mencari orang-orang percaya, yang menyediakan dirinya untuk dibentuk 

sedemikian sehingga menjadi tiang-tiang dalam Gereja-Nya. Mereka yaitu  orang-

orang yang rela mempersembahkan persembahan rohani. 

Sejajar dengan kayu, maka bahan yang dipakai  dalam pembangunan “Rumah Allah” rohani 

yaitu  “batu” rohani, dan rahasia ini diungkapkan dalam surat Petrus. 

1Pet.2:1-5 “sebab  itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian 

dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang 

rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap 

kebaikan Tuhan. Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh umat , namun  

yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk 

pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan 

rohani yang sebab  Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” 

 Untuk dapat mempersembahkan persembahan rohani bagi pembangunan Kemah Allah, maka 

orang percaya harus melakukan hal-hal seperti tertulis dalam ayat-ayat di atas: 

1. Membuang – segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian 

dan fitnah. 

2. Selalu menginginkan Firman yang murni & rohani – supaya bertumbuh & selamat. 

3. Datang kepada Tuhan untuk dipergunakan – berarti penyerahan diri sepenuhnya (roh, jiwa & 

tubuh) yang hidup, kudus dan berkenan (Ro.12:1-2). 

Anda ingin mengalami perubahan dari “umat  Duniawi” ke “umat  Sorgawi”? 

Ikutilah langkah-langkah perjalanan rohani ini: Buanglah secara total dosamu, 

Bersekutulah dengan Firman-Nya yang murni dan rohani, dan Serahkanlah seutuhnya 

keumat anmu kepada Tuhan, maka pasti anda termasuk kelompok orang yang 

menjadi Kemah Allah! 

III.  LAKUKAN PERJALANANMU KE YERUSALEM SORGAWI 

  

Sebagaimana perjalanan bapak orang percaya, Abraham, dari Ur-Kasdim ke “Kota Allah,” yang 

merupakan “cetak biru (blue-print) perjalanan iman semua orang percaya,” seperti dinyatakan dalam 

Ibrani 11:16 “namun  sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air 

sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, sebab  Ia telah mempersiapkan sebuah kota 

bagi mereka;” dan umat Israel melakukan perjalanan dari Mesir ke Kanaan, Tanah Perjanjian yang 

berpusatkan Yerusalem; demikian pula dengan Gereja-Nya, yang melakukan perjalanan kehidupan dari 

dunia ini menuju ke tujuan akhir, Yerusalem Baru atau Yerusalem Sorgawi (Wah.3:12; 21:2)! 

Ibr.12:22 “namun  kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada 

beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah.” 

 

Semua orang beriman harus merindukan hal-hal yang lebih baik dari sekedar berkat 

duniawi, dan itulah “Tanah Air Sorgawi,” dimana terletak “Kota Allah yang hidup, 

Yerusalem Sorgawi.” Hanya dengan kerinduan demikian mereka dapat memiliki 

semangat dalam menjalani perjalanan imannya. 

 

 

IKUTILAH PIMPINAN ROH KUDUS 

 Seperti umat Israel, yang dapat keluar dari tanah perbudakan Mesir hanya dengan “darah anak 

domba Paskah,” demikian halnya dengan Gereja Tuhan, dapat lepas dari perbudakan kuasa dosa hanya 

oleh Darah Yesus, Anak Domba Allah: “darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala 

dosa” (1Yoh.1:7) “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang 

mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah 

melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (Wah.1:5).  

 Namun, pengalaman kelepasan barulah awal dari perjalanan iman. Mereka perlu dipimpin oleh 

“Tiang Awan dan Api” selama perjalanannya di padang gurun! Demikian pula Gereja-Nya perlu dipimpin 

oleh Roh Kudus, yang menaungi – bagaikan fungsi awan – dan menerangi – bagaikan fungsi api.  

 Tepat lima puluh hari setelah keluar dari Mesir, umat Israel mengalami perjumpaan ilahi, sebab  

Allah hadir dalam api, seperti dicatat oleh Musa ini: “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit 

fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, 

sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Lalu Musa membawa bangsa itu keluar 

dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. Gunung Sinai 

ditutupi seluruhnya dengan asap, sebab  TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung 

seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat” (Kel.19:16-18). 

 Pengalaman pertemuan dengan Tuhan di gunung Sinai, yaitu  suatu pengalaman yang luar biasa, 

sebab Alkitab mengatakan “gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan.” Dan hal ini terjadi 50 

hari setelah mereka mengalami kelepasan oleh darah anak domba. Hari ke-50 dalam bahasa Yunani 

disebut: “Pentakosta,” seperti ditulis dalam Kis.2:1 “saat  tiba hari Pentakosta (pentēkostē = ke-50), 

semua orang percaya berkumpul di satu tempat.” Dan itulah hari pencurahan Roh Kudus bagi Gereja-

Nya. 

jika  orang percaya telah mengalami penebusan oleh Darah Yesus, dan mau 

dipimpin Roh untuk meninggalkan umat  duniawinya, maka ia akan mengalami 

kepenuhan Roh, yang membuat dirinya memiliki roh takut Tuhan, sehingga mampu 

menyempurnakan kekudusan. 

2Kor.7:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, sebab  kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri 

kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita 

dalam takut akan Allah.” 

Dengan menguduskan diri, maka hal itu berarti menyediakan diri untuk didiami Roh Allah yang 

kudus (1Kor.3:16; 6:19)! Dan semuanya ini harus dilakukan dengan kerelaan hati, seperti halnya dengan 

persembahan-persembahan yang diberikan umat Israel: “dari setiap orang yang terdorong hatinya, 

haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu” (Kel.25:2b). 

DIPILIH KAYU PENAGA 

 

 

Kel.25:3-5 “Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua, 

kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-

lumba dan kayu penaga.”  

 Yang menjadi pertanyaan: Apakah kayu Penaga atau Shittim wood itu? Beberapa versi 

terjemahan Alkitab Inggris dituliskan “acacia wood,” namun versi King James maupun Young Literal 

Translation memakai kata “shittim wood.” Dan penterjemah sering menyamakan “acacia” dengan 

“cedar.” Namun, tatkala membaca Yesaya 41:19, mulailah timbul kesulitan dalam terjemahan tsb, sebab 

jelas dibedakan antara “cedar” dengan “shittah” (jamaknya: shittim); sehingga beberapa terjemahan 

menyebut “cedar” dan “acacia.”    

Isa.41:19 KJV: “I will plant in the wilderness the cedar, the shittah tree, and the myrtle, and the oil tree; I will set in 

the desert the fir tree, and the pine, and the box tree together.”  

Isa.41:19 ASV “I will put in the wilderness the cedar, the acacia, and the myrtle, and the oil-tree; I will set in the 

desert the fir-tree, the pine, and the box-tree together.” 

Yes.41:19 “Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku 

akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di 

sampingnya.” 

Para pakar Alkitab berbeda pendapat, apakah kayu shittim itu sama dg kayu aras atau acacia. 

Kenyataan, bahwa ada beberapa jenis kayu aras yang sudah tidak ada lagi pada zaman ini. Jadi, rupanya 

demikian juga dengan nasib kayu shittim. Namun, pada umumnya mereka setuju bahwa kayu ini keras 

dan tahan ngengat, tidak mudah lapuk sebab  punya zat penahan hama di dalamnya. Kayu penaga atau 

“shittim wood” dalam Alkitab King James dicatat sebanyak 27 kali! Sedangkan kata “Shittim” yang 

menunjuk kepada daerah atau tempat dituliskan sebanyak 5 kali, itulah tempat di mana Yosua melepas 

dua pengintai (Yos.2:1) dan tempat umat Israel berangkat menuju sungai Yordan (Yos.3:1). 

 Alkitab jelas menuliskan, bahwa pohon penaga yang menghasilkan kayu penaga (shittim wood) 

ini ditanam Tuhan di padang gurun (Ibrani: arabah), itulah tempat perjalanan umat Israel keluar dari 

Mesir ke semenanjung Sinai, sehingga mereka memperoleh kayu penaga untuk dipersembahkan bagi 

pembangunan Kemah Suci. Jelas, bahwa jika  umat Tuhan tidak keluar dari Mesir menuju Tanah 

Perjanjian mereka tidak akan menemukan kayu penaga tsb. 

 Sebagaimana telah diterangkan, bahwa kayu penaga yaitu  persembahan yang sangat penting dan 

berguna bagi pembangunan struktur Kemah Suci (papan-papan jenang, tiang-tiang, kayu pemikul, kayu 

palang) maupun seluruh alat Kemah Suci (Tabut Perjanjian, Mezbah Dupa, Meja Roti, dan Mezbah 

Korban Bakaran), sebab semuanya memakai kayu penaga! 

Hanya orang percaya, yang dilepaskan oleh Darah Yesus dari belenggu dosa, dan 

mau dipimpin oleh Roh Kudus untuk hidup dalam kesucian, sebab  rindu mencapai 

Yerusalem Sorgawi, merekalah yang dapat memberikan persembahan tubuh yang 

hidup, kudus dan berkenan untuk dijadikan Bait Kudus Tuhan! 

Namun masih ada satu syarat lagi, seperti halnya dengan kayu penaga yang sifatnya keras dan 

tahan ngengat, tidak mudah lapuk sebab  punya zat penahan hama di dalamnya, demikian juga harus 

dimiliki oleh Gereja Tuhan. 

Tahan ngengat dan tidak mudah lapuk menunjuk kepada sifat ketekunan, yang tidak mudah putus 

asa, sebab ketekunan menimbulkan tahan uji, yang akhirnya membuahkan pengharapan. Itulah orang-

orang percaya yang dapat bersukacita/bermegah saat menghadapi derita, sebab berfokus kepada tujuan: 

Yerusalem Sorgawi, seperti yang dialami oleh Yosua dan Kaleb. 

Rom.5:3-5 “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, sebab  kita tahu, 

bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji/pengalaman dan 

tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, sebab  kasih Allah telah 

dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” 

Yang berkeinginan mengubah hidup dari umat  duniawi ke umat  sorgawi,  

milikilah sukacita pengharapan atau kemegahan saat mengalami derita sebab  tujuan 

yang benar ini, sebab pengharapan yang demikian akan dicurahi Kasih Agape yang 

membuat anda mampu bertahan! (Kis.5:41; 2Tes.1:5). 

IV. JADILAH ORANG PILIHAN TUHAN 

 

 

 Proses yang dilakukan Tuhan untuk menjadikan seseorang "umat  Duniawi" menjadi "umat  

Sorgawi" yaitu  Dipanggil, Dipilih dan dijadikan orang yang Setia. Hanya dengan melakukan ketiga 

tahapan inilah, yang akan menang dalam melakukan peperangan rohani yang dihadapinya. 

Wah.17:14 "Mereka akan berperang melawan Anak Domba. namun  Anak Domba akan mengalahkan mereka, 

sebab  Ia yaitu  Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia 

juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia." 

 Dalam perumpamaan tentang undangan pesta raja dalam Mat.22:1-14, bangsa Yahudi sebagai 

umat pilihan tidak menghiraukan undangan khusus tsb, sehingga undangan diberikan kepada semua 

orang, bangsa-bangsa lain bukan Yahudi, yakni kita sebagai Gereja-Nya. Namun dari antara mereka yang 

terpanggil, ada tamu undangan, yang tidak mau memakai pakaian ganti yang telah disediakan raja di 

depan pintu masuk ruang pesta! Masalahnya, tidak menghargai ketentuan sang raja. Dan inilah 

gambaran "Orang-orang Kristen" yang sudah terpanggil, namun tidak mau memakai "Pakaian Anugerah" 

yakni "Kebenaran yang dianugerahkan dalam Kristus Yesus," atau dalam praktek hidup disebut tidak 

mau hidup kudus! Dan akibatnya, kita membaca pernyataan Firman Tuhan ini: "Sebab banyak yang 

dipanggil, namun  sedikit yang dipilih" (Mat.22:14). 

 Sangat disayangkan bukan? Sebab begitu banyak orang telah terpanggil untuk menjadi orang 

percaya, namun mereka tidak terpilih, bahkan lebih menyedihkan bila yang sudah terpilih lalu  tidak 

setia! Mengapa hal ini terjadi? Kunci dari semuanya itu yaitu , sebab  mereka tidak tetap bersama-sama 

dengan Dia! 

Kita Dipanggil untuk hidup kudus (1Pet.1:15-16); Dipilih bila mau hidup kudus 

(Kol.3:12), dan Setia bila tetap hidup kudus bersama dengan Tuhan, atau disebut 

"Menjadi mempelai Kristus," sehingga menjadi orang pilihan yang mengalami segala 

berkat rohani yang telah disediakan-Nya!  

 

TUJUAN PRIORITAS ORANG PILIHAN-NYA 

 Untuk mengerti, mengapa Tuhan memanggil dan memilih Gereja-Nya, marilah kita melihat apa 

yang dilakukan-Nya terhadap para pengikut awal Tuhan Yesus, 

Mark.3:13-15 "lalu  naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka 

pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan (Sama artinya dengan: memilih!) dua belas orang untuk menyertai 

Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan." 

 Perhatikan urutan prioritas dari maksud panggilan dan pilihan-Nya. Prioritas utama yaitu  

menyertai! Dan inilah tujuan mulia dari Tuhan Yesus, menjadikan kita menjadi Mempelai-Nya. Tujuan 

kedua dan ketiga barulah memberitakan Injil dan mengusir setan.  

 Dan tujuan rohani dalam hubungan mempelai yaitu  Menjadi Satu, sebagaimana dinyatakan 

dalam hal pernikahan: "Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan wanita , 

sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga 

keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. sebab  itu, apa 

yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan umat " (Mark10:6-9). Yoh.17:11, 21, 22 

"supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita." 

 Pemilihan untuk menjadi "Mempelai Kristus" ini dilambangkan oleh pemilihan "Kayu Penaga," 

yang terpilih untuk dipakai  dalam Kemah Suci sebagai perabot-perabotnya, baik di _________, Ruangan 

Suci dan Ruang Maha Suci. 

Di _________: Kayu penaga dipakai untuk Mezbah Korban Bakaran, yang lalu  disalut 

dengan logam tembaga! (Kel.27:1-8). 

Dalam Ruangan Suci:  Kayu penaga dipakai untuk Tiang Pintu Kemah sebanyak lima buah 

(Kel.26:36-37), Papan-papan dan Kayu-kayu lintang (Kel.26:18, 26-28), Meja Roti Pertunjukan 

(Kel.25:23-30), Mezbah Dupa (Kel.30:1-6) serta Kayu-kayu pengusung untuk Meja Roti Pertunjukan dan 

Mezbah Dupa. Semua kayu penaga dalam Ruangan Suci ini disalut dengan emas! 

 

 

Dalam Ruangan Maha Kudus: Kayu penaga dipakai untuk Tiang dari Tirai sebanyak empat 

buah (Kel.26:31-35), Papan-papan dan Kayu-kayu lintang, Tabut Perjanjian (Kel.25:10-15) dengan kayu-

kayu pengusung yang juga dibuat dari kayu penaga; dan semuanya disalut dengan emas murni! 

Perabot-perabot dari kayu penaga, yang dipakai dalam Kemah Suci ini, semuanya yaitu  

bayangan dari "Orang-orang Pilihan," yang berpartisipasi membangun Bait Suci dalam mendirikan 

Kerajaan-Nya, Kerajaan Imam (Kel.19:5-6; 1Pet.2:9). Sebagaimana dengan kayu penaga yang kuat, tidak 

mudah rapuh sebab tahan hama sebab  memiliki zat anti hama, demikian orang-orang pilihan-Nya yang 

dipakai Tuhan yaitu  orang-orang beriman, yang tetap setia dalam Tuhan, sebab tidak mengikuti 

keinginan daging yang merusakkan nilai-nilai rohani dan sorgawi. 

Efs.4:21-24 "sebab  kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran 

yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus 

menanggalkan umat  lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan (which is 

corrupt according to the deceitful lusts), supaya kamu dibaharui di dalam roh dari pikiranmu, dan 

mengenakan umat  baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan 

kekudusan yang sesungguhnya." 

 Kata "kebinasaan" atau "corrupt" diterjemahkan dari kata "phtheirō," yang bermakna: merusak, 

menghancurkan (melalui proses, khususnya secara kiasan melalui pengaruh moral - merusakkan 

tabiat/akhlak), seperti besi yang dirusakkan karat (pelahan namun pasti hancur akhirnya). Itulah akibat 

dari keinginan daging yang dibiarkan bercokol dalam "umat  lama," yakni mereka yang hidup secara 

duniawi (bagaikan benih yang jatuh di semak duri)! 

 Satu-satunya cara menangkal yaitu  mengikuti firman Tuhan yang dituliskan sebelumnya: 

"mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam 

Yesus."  

 Mendengar tentang Dia/Yesus membuat iman timbul, seperti firman-Nya ini: "Jadi, iman timbul 

dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Namun, tidak cukup hanya 

memperoleh iman, kita perlu memiliki iman yang teguh, yang tak tergoyahkan. Dan hal itu dapat dialami 

bila firman-Nya menjelma menjadi darah dan daging kita, artinya umat  lama ditanggalkan dan 

umat  baru timbul dan berkembang. Hal ini terwujud sebab  kita diajar di dalam Dia, Sang 

Kebenaran! 

 Ungkapan "diajar di dalam Dia" yaitu  suatu pernyataan, bahwa untuk menjadi murid sejati dari 

Tuhan Yesus, kita harus memasukkan diri untuk dibentuk di dalam Dia, Sang Firman Kebenaran. Dan hal 

ini dinyatakan dalam Roma 6:17, yang berbunyi: " namun  syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu 

hamba dosa, namun  sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan 

kepadamu" =  but ye have obeyed from the heart that form of doctrine which was delivered you" (KJV) = 

"but you have obeyed from the heart that form of doctrine to which you were delivered" (MKJV). 

 Kami terjemahkan dari MKJV, yang lebih bagus terjemahannya: "namun  syukurlah kepada Allah! 

Dahulu memang kamu hamba dosa, namun  sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati bentuk 

pengajaran yang kepadanya kamu diserahkan." 

 Sebagaimana dengan kayu penaga, yang diserahkan kepada para ahli perabotan yang diurapi 

Tuhan, yakni Bezaliel, Aholiab dan kawan-kawannya (Baca Kel.31:1-6), demikianlah hidup orang-orang 

pilihan-Nya yang mau dipakai dalam pembangunan Tubuh Kristus. Dan syarat utama dapat dibentuk 

memiliki roh kelemah-lembutan, sebab  lebih dahulu mengalami kehancuran hati sebab dukacita ilahi, 

sebab  sadar kemiskinan rohaninya (Mat.5:3-5). 

Orang pilihan masuk dalam pembangunan Tubuh Kristus yaitu  mereka, yang sadar 

kemiskinan rohaninya, dan sebab nya berdukacita sehingga lembut hatinya dan 

menyerahkan diri untuk dipakai bagi Kerajaan-Nya.  


 

 

Maz.24:1 "Mazmur Daud. TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di 

dalamnya." 

 Ayat ini jelas berkata kata , bahwa bumi yaitu  milik Allah! Sebagai Pemilik, bumi ditetapkan 

sebagai "Tempat Penyemaian" benih ilahi, agar tumbuh anak-anak Allah, yang serupa dan segambar 

dengan Yesus, Sang Anak Allah! Saat penciptaan, Allah telah memberi pernyataan ini: Berfirmanlah 

Allah: "Baiklah Kita menjadikan umat  menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa 

atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala 

binatang melata yang merayap di bumi" (Kej.1:26). 

 Perlu diperhatikan, bahwa bumi yang dimandatkan kepada umat  untuk dikuasai ini yaitu  

bumi yang telah direnovasi! Sebab sebelumnya firman-Nya berkata kata , bahwa “Bumi belum berbentuk 

dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan 

air” (Kej.1:2). Sedangkan Kej.1:3-31 menerangkan tentang proses renovasi dan berita Allah dalam 

penciptaan umat . 

Kej.1:1 yaitu  awal berita bahwa Allah yaitu  Penciptanya: “Pada mulanya Allah menciptakan 

langit dan bumi” Hal ini terjadi pada masa lampau yang tidak diketahui waktunya, namun sudah 

direncanakan sebagai tempat penyemaian benih ilahi. Saat itu, malaikat-malaikat (yang juga diistilahkan 

dalam Alkitab sebagai "anak Allah") turut menyaksikan dengan bertempik sorak, sebab kagum 

menyaksikan hanya dengan ucapan-Nya bumi tercipta! Hal ini dinyatakan dalam kitab Ayub. 

Ayub 38:4, 7 "Di manakah engkau, saat  Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau memiliki  

pengertian! ......... pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah 

bersorak-sorai?" 

 Dan bumi hasil ciptaan-Nya itu dimaksudkan untuk didiami oleh umat , yang akan berkuasa 

atas semua ciptaan-Nya, seperti tertulis dalam kitab Mazmur 8:5-7 "Apakah umat , sehingga Engkau 

mengingatnya? Apakah anak umat , sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah 

membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 

Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah 

kakinya." 

 Tatkala maksud ini diketahui para malaikat, sebagian dari mereka menggerutu! Mungkin kata-kata 

semacam ini keluar dari mulut mereka: "O, umat  hendak diproyeksikan menjadi penguasa atas segala 

ciptaan-Nya? Jadi mereka akan memerintah kami, para malaikat?...... O, tidak, tidak, kami tidak setuju!" 

Sebab itulah, begitu Hawa dibentuk, maka Iblis dan para malaikat pengikutnya yang telah 

memberontak (disebut dalam Alkitab: “roh-roh jahat”) bertindak cepat untuk menipunya, mungkin 

sebelum Adam sempat menerangkan perintah Tuhan. Dan akibatnya, umat  jatuh ke dalam dosa!  

 

TERIMALAH YANG BENAR 

 Bumi yang seharusnya dimandatkan kepada umat  untuk dikuasai, diambil alih oleh Iblis, 

seperti dinyatakan dalam 1Yoh.5:19-21 "Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia 

berada di bawah kuasa si jahat. Akan namun  kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah 

mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam 

Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia yaitu  Allah yang benar dan hidup yang kekal. 

Anak-anakku, waspyaitu  terhadap segala berhala." 

 Maksud kedatangan Yesus, Sang Anak Allah, selain untuk menebus serta membebaskan umat  

dari dosa, juga memberikan pengertian supaya kita mengenal Yang Benar! Jelas, bahwa Kebenaran tidak 

dapat dipisahkan dari Pribadi Yang Benar, Anak Allah, Sang Firman (Yoh.1:1), yang akan mendirikan 

Kerajaan yang hanya berisikan kebenaran (Rom.14:17). sebab  itu, janganlah kita menuruti "Penguasa 

Palsu, Iblis,” yang merebut bumi dari tangan umat , Adam, penerima mandat sebenarnya (Kej.1:26, 

28).   

 

 

 Untuk memulihkan mandat tsb, Dia datang merekrut umat , yang mau percaya kepada Yesus 

Kristus, Panglima Kerajaan, dan yang sedia dididik agar dijadikan pemenang-pemenang mengalahkan si 

jahat. Sebab itu, ada peringatan terpenting: "Waspyaitu  terhadap segala berhala!"  

 Berhala yaitu  segala hal yang diidolakan, ditinggikan/dipentingkan, lebih dari pada Allah! Dan 

hal itu dapat berupa benda-benda, baik ciptaan Tuhan (pohon, binatang dsb), maupun ciptaan umat  

(patung-patung dsb), maupun "Mammon" atau Kekayaan, yang dipakai oleh Iblis sebagai senjata 

ampuhnya pada akhir zaman! (Mat.6:24). Dan celakanya, dalam diri setiap