• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label doktrin masehi advent 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin masehi advent 6. Tampilkan semua postingan

doktrin masehi advent 6

 


 Maraknya berbagai denominasi yang ada di belahan dunia berimbas juga di tanah Minahasa 

yang sebagian besar jemaatnya menjadi bagian dalam lingkup pelayanan Gereja Masehi Injili di 

Minahasa. Ada berbagai macam strategi yang dilakukan oleh berbagai denominasi dalam 

mempengaruhi pemikiran warga gereja. Anggota jemaat GMIM tidak luput dari strategi denominasi 

yang lain untuk ‘mencuri domba’ namun  dengan memakai  cara-cara yang tidak alkitabiah dalam 

mempengaruhi warga gereja. Hal itu dilakukan oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

(GMAHK). Pengaruh dari ajaran GMAHK yang melakukan pendekatan-pendekatan yang tidak etis 

memicu  sebagian warga gereja yang ada di lingkup pelayanan GMIM yang dibaptis kembali 

dengan diselam dan ada yang tdak mau lagi makan daging babi serta ada yang tidak beraktifitas 

pada hari Sabtu melainkan pada saat ibadah di hari Minggu. Hadirnya aliran-aliran baru yang 

menawarkan ajaran-ajaran yang baru pula membuat gereja harus lebih ekstra keras untuk 

menghadapi semuanya. Gereja Masehi Injili di Minahasa yang dalam perjalanan sejarah gerejanya 

untuk menyampaikan Injil sehingga bisa berdiri sendiri, tidak lepas juga dari begitu banyak 

persoalan baik itu dari orang pribumi (orang- orang Minahasa) sendiri maupun dari dalam gereja itu 

sendiri yang pada akhirnya juga sedikit mempengaruhi tentang pemikiran-pemikiran yang ada di 

internal warga GMIM. 

Tak dapat dipungkiri bahwa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) berada dalam 

setiap lingkungan warga  dimana mereka tinggal harus dikenal sebagai warga yang baik dalam 

integritas kekristenannya dan dalam mengusahakan kesejahteraan semua orang. Ciri khas dari 

GMAHK yaitu beribadah pada hari Sabtu. Mereka berkumpul dalam satu lingkaran keluarga  saat  

hari Jumat senja dan menyambut hari Sabat dengan doa dan nyanyian, dan menutup hari Sabat pada 

Sabtu senja dengan doa dan pernyataan syukur. Hari Sabat mereka isi dengan berbakti di rumah 

atau di gereja, mengunjungi orang sakit, dan bacaan-bacaan sekular atau siaran televisi sekular 

tidak diperkenankan pada hari ini . Dengan kata lain, tidak melakukan aktivitas bekerja pada 

hari Sabtu melainkan dilakukan pada hari Minggu. 

Pengajaran tentang kesesuaian hari Sabat yang sebenarnya  menjadi perdebatan hingga 

saat ini. Beberapa bantahan Kristen terhadap doktrin Sabat antara lain: Yesus sudah meniadakan 

hukum Sabat (Yohanes 5:18; Sabat diberikan bukan kepada manusia secara umum, namun  kepada 

Israel saja (Keluaran 31:12-17). Dewasa ini, GMAHK yang menuduh bahwa umat Kristiani telah 

melanggar perintah keempat dari sepuluh perintah Allah tentang “Ingatlah dan kuduskanlah hari 

Sabat.” Kita harus menyadari bahwa tidak ada ayat Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun 

Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa hari ketujuh ini  yaitu  hari Sabtu dalam kalender 

masehi atau kalender Yahudi. 

Denominasi tertentu termasuk di dalamnya GMAHK masih tetap mempertahankan ajaran 

tentang pengertian baptisan sebagai baptizo yang memiliki arti leksikal “mencelupkan” atau 

“menyelamkan.” Penganut baptisan percik termasuk di dalamnya GMIM pada hakikatnya tidak 

mempersoalkan cara baptisan; penganut baptisan selamlah yang selalu mempersoalkan cara 

baptisan. Jika baptisan melambangkan kematian Kristus di atas salib, maka baptisan-ulang akan 

sama artinya dengan menyalibkan Kristus untuk kedua kalinya (bdk. Ibr. 6:1- 6; Rm.6:10-11). 

Sejak dekade 1860-an saat  dimulai, kesehatan menjadi penekanan dari GMAHK. Mereka 

dikenal oleh sebab “pesan kesehatan” mereka yang menganjurkan vegetarianisme dan kepatuhan 

terhadap hukum halal-haram dalam Imamat 11. Pesan kesehatan ini yaitu  berpantang dari daging 

babi, kerang, dan makanan lain yang digolongkan sebagai “makanan haram”. Gereja mencegah 

anggotanya dari penggunaan alkohol, tembakau atau obat-obatan terlarang. Selain itu, orang-orang 

Advent menghindari konsumsi kopi dan minuman yang mengandung kafein. 

GMAHK memiliki ajaran untuk berpantangan terhadap jenis makanan tertentu. Dalam 

Kejadian 11:1, binatang yang halal yaitu , binatang yang berkaki empat, yang berkuku belah, 

bersela panjang dan memamah biak yaitu  binatang yang boleh untuk dimakan. Kristen Advent 

juga memiliki pantangan untuk memakan segala hewan yang hidup di air terutama ikan-ikan yang 

tidak bersisik dan bersirik seperti lele, belut, cumi-cumi, kepiting. Ajaran umum yang dipegang 

oleh gereja mayoritas yang lainnya yaitu  sesuatu itu menjadi haram, hanya kalau makanan yang 

sudah masuk mulut dan kemudian keluar lagi dari mulut dan kemudian dinajiskan maka itulah yang 

haram (Mat. 11: 15). 

Ada dua sakramen dalam GMAHK, yaitu: Baptisan dan Perjamuan Kudus. Sejak 

permulaan Gereja Advent, sebagaimana memperoleh warisan dari Protestan, menolak pandangan 

mengenai sakramen sebagai sebuah tindakan yang di dalamnya merupakan bagian anugerah yang 

mendatangkan keselamatan. Baptisan dengan diselamkan melambangkan kematian, penguburan, 

dan kebangkitan Kristus diakui GMAHK sebagai syarat masuk ke dalam keanggotaan gereja. 

Baptisan hanya dapat diberikan pada orang dewasa dan yang mengaku bertobat sehingga menolak 

baptisan terhadap anak-anak. Sakramen memberi  peranan yang penting juga bagi gereja di 

segala tempat dimanapun Injil itu diberitakan. Namun, dalam pelayanannya tidak terlepas juga dari 

permasalahan yang menghadang dari dalam gereja maupun dari luar gereja. Permasalahan itu baik 

dari segi ajaran gerejawi maupun prakteknya. 

 

Sejarah Kehadiran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) 

Oikumenis yaitu  sebuah gerakan untuk mempersatukan gereja-gereja yang berbeda-beda 

dalam ajaran-ajaran masing-masing. De Jonge menuliskan, “Mulai disadari bahwa gereja belum 

oikumenis kalau masih ada tembok pemisah antara gereja-gereja Prostestan, gereja-gereja Ortodoks 

dan Gereja Katolik-Roma. Gereja oikumenis bertujuan untuk meniadakan tembok-tembok pemisah 

ini sehingga tiga golongan ini dapat bertemu dan mencoba menjadi esa lagi. Hanya demikian gereja 

betul-betul oikumenis.”1 Inilah dasar munculnya oikumenis ini. Selanjutnya di alinea berikutnya De 

Jong melanjutkan, “Jadi arti modern kata oikumenis tidak lagi menunjuk kepada suatu kenyataan, 

seperti dahulu, namun  kepada satu tujuan yang hendak dicapai melalui suatu usaha dan pergumulan, 

yaitu gereja yang satu (esa), kudus, am dan rasuli dari credo (pengakuan iman), yang dipercayai dan 

oleh sebab itu harus diwujudkan secara nyata.”2 Semangat inilah yang diharapakan dapat 

mempersatukan kembali seluruh gereja-gereja di bumi ini. 

Drewes dan Mojau, menuliskan, “Ada tiga konfensi atau pengakuan iman oikumenis yang 

terkenal dan diterima oleh hampir semua gereja: a) Pengakuan Iman Rasuli (Lat. Symbolum 

Apostolicum); b) Pengakuan Iman Nicea- Konstantinopel (Nicaenum), keduanya berasal dari abad 

ke 4 M; c) Pengakuan Iman Athanasius (Athanasianum) berkembang sekitar tahun 450-600 M.”3 

Pengakuan iman Kristen ini pada dasarnya yaitu  pengakuan kepada Allah Tritunggal. 

Keterpisahan Gereja-gereja Oikumenikal dan Evangelikal disebabkan juga oleh berbagai 

hal yang lain, seperti metode dan teologi mereka. Gereja- gereja Oikumenikal cenderung lebih 

menitikberatkan pada dimensi sosial atau antroposentrisme dari Injil, dalam artian keselamatan itu 

berdampak sosial dan kemanusiaan secara keseluruhan. Sedangkan Gereja-gereja Evangelikal 

cenderung lebih menitikberatkan dimensi spiritual individu-individu dari Injil, dalam artian bahwa 

pertobatan dan kesalehan pribadi merupakan kunci keselamatan.4 Dari segi teologi juga terdapat 

perbedaan baik menyangkut pemahaman  akan misi, ataupun masalah-masalah khusus seperti soal 

Roh Kudus dan pekerjaan- Nya, baptisan, pemahaman akan karunia-karunia dan lain 

sebagainya.5Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yaitu  denominasi Kristen yang beraliran 

evangelis. Gereja ini muncul di Amerika Serikat pada pertengahan abad 19. Ellen G. White, salah 

seorang pionir dan pendiri gereja Advent, yang kata- katanya dan tulisan-tulisannya sangat 

mempengaruhi cara pandang gereja Advent menuliskan, “Allah mempunyai anak-anak, banyak dari 

antara mereka sedang berada di gereja Protestan, dan sejumlah besar berada di dalam gereja 

Katolik, yaitu mereka yang lebih tulus menuruti terang dan melakukan yang terbaik yang mereka 

tahu lebih daripada sejumlah besar orang Advent pemelihara Sabat yang tidak berjalan dalam 

terang.”

Kalimat ini dengan jelas menunjukkan bahwa gereja Advent sangat menghargai 

kemajemukan agama namun  melakukan cara-cara penginjilan yang tidak elegan. Selain itu, 

Bruinsma menuliskan, “Barangsiapa dari antara kita menyatakan secara dogmatis siapa yang 

diselamatkan atau siapa yang tidak diselamatkan, sedang mempermainkan Allah, sebab  mengambil 

hak istimewa yang hanya menjadi milik-Nya. Tuhan saja yang mengetahui hati; Dia saja yang dapat 

menghakimi motif-motif; dan hanya Dia yang mengetahui umat- Nya. Sebagai umat Masehi 

Advent Hari Ketujuh, kita tidak dipanggil untuk memberi  penghakiman atas mereka yang 

diselamatkan atau tidak diselamatkan.”7 Terlihat bahwa gereja Advent menghargai dan 

menghormati gereja-gereja lainnya namun  tidak mempedulikan strategi yang dipakai. 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh merupakan sebuah lembaga keagamaan. Seperi halnya 

ini  dengan gereja yang dimiliki oleh umat Kristen pada umumnya, bahkan sejarah mencatat 

gereja ini  dibentuk melalui suatu rentetan progresif dari peristiwa-peristiwa sejarah yang para 

perintisnya tiba pada suatu pemahaman yang lebih dalam terhadap pemahaman kitab suci, yang 

dipelopori oleh William Miller.8 

Kepercayaan dasar Masehi Advent Hari Ketujuh menerima Alkitab sebagai salah satunya 

kepercayaan dan memegang dasar kepercayaan yang pasti sebagai ajaran langsung dari kitab suci 

yang disediakan,terdiri dari pengertian gereja dan pernyataan dari kitab suci, bila mana gereja 

dituntun oleh Roh Kudus pada pengertian yang lebih sempurna akan kebenaran atau memperoleh 

bahasa yang lebih baik dalam menyatukan ajaran dari firman Allah.9 

“Penganut-penganut Seventh-day Adventist menganggap Nyonya White sebagai nabi. 

F.M.Wilcox, redaktur-utama dari majalah Adventist yang terpenting: “Review and Herald” 

menulis: “dalam pekerjaan Nyonya White sebagai nabi, sebagai pesuruh Allah kepada jemaat-

jemaat, ia dipimpin oleh Roh yang sama yang dahulu memimpin nabi-nabi dan pesuruh-pesuruh.” 

… Nyonya White menganggap dirinya seperti itu juga. Tanpa segan ia berani menulis: 

“Barangsiapa menolak atau menganggap-rendah Kesaksian-kesaksian yang diberikan kepada saya, 

bukannya menolak saya, melainkan Tuhan!” Dalam praktek penganut- penganut Seventh-day 

Adventist menganggap “testimonies” (Kesaksian- kesaksian) Nyonya White “lebih lengkap dan 

lebih jelas daripada Alkitab.”

Ellen White membenarkan pandangan Edson itu. Di lain pihak, Bates, Edson, dan lain-lain 

menyimpulkan bahwa Ellen G. White memiliki karunia nubuat, bagaikan Para nabi Perjanjian 

Lama. Kendati dalam pernyataan imannya Gereja Adventist menyatakan bahwa Alkitab antara lain 

yaitu  kaidah mutlak yang mangatasi dan mengukur semua ajaran, namun sebab  mereka juga 

meyakini dan menyatakan bahwa Ellen yaitu  “pembawa amanat Allah” maka tulisan-tulisannya 

juga diyakini sebagai “sumber-kebenaran yang berwibawa serta memberi bagi gereja kunci dan 

bimbingan”, termasuk untuk memahami Alkitab. Bahkan menurut banyak pemerhati, kaum 

Adventist membaca Alkitab dibawah terang tulisan Ellen.”11 

Ellen G. White, di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yaitu  seorang wanita sangat 

sederhana yang mana dilhami Tuhan, baik dari pemikirannya maupun dengan khayal-khayal 

nubuatanya. Para pemimpin pergerakan Advent sejak awal percaya bahwa Ellen G. White memiliki 

karunia nubuat yang benar, mereka percaya bahwa melalui Dia dan perannya Allah menyampaikan 

pengkabaran yang diinspirasikan bagi gereja- Nya yang menuntun tumbuh dan berkembang hingga 

pesat khususnya di Amerika Serikat serta banyak bergerak di dalam pelayanan kesehatan.12 

 

Pengajaran tentang Hari Sabat 

Dietrich Kuhl menjelaskan bahwa dua abad yang pertama orang-orang percaya bersekutu dan 

beribadah di rumah masing-masing. sebab  Tuhan Yesus bangkit pada hari minggu, maka jemaat 

Kristen berkumpul pada hari minggu (Kis 20:7), yang pada tahun 321 hari minggu itu ditetapkan 

sebagai hari raya di Eropa.13 Dengan kata lain, pengikut JalanTuhan  baik dari golongan Yahudi, 

yang lazim disebut Sekte Netsarim maupun dari golongan non Yahudi, yang lazim disebut Kristen, 

tetap beribadah pada hari sabat dan bersekutu di sinagoge. Namun sejak Abad ke-2 M, muncul 

suatu kesadaran baru bahwa Yesus yang bangkit dari kematian, pada hari pertama minggu itu, 

dimaknai sebagai suatu bentuk hari beribadah Kekristenan non Yahudi, yang setara dengan sabat 

Yahudi. Gejala ini semakin memuncak saat Kekristenan menjadi agama negara dibawah pengaruh 

kaisar Konstantin. Pada tahun 321 M, dia mengeluarkan ketetapan yang disebut Edik Milano. Pada 

dasarnya, Konstantin menghubungkan ketetapannya, tidak berhubungan dengan ibadah Kristen atau 

Hukum yang keempat dari Sepuluh Hukum. Dia menghubungkan hari Minggu melalui nama 

kekafiran yang secara tradisional disebut Hari Matahar. Kini, ibadah Minggu telah meluas diseluruh 

dunia dan menjadi bagian dari kehidupan spiritual kekristenan, yang dihubungkan dengan 

kebangkitan Yesus dari kematian, sesudah  terkubur dalam bumi selama tiga hari tiga malam. Selain 

orang-orang Yahudi ada kelompok-kelompok lain yang juga memegang Sabat dengan setia. Mereka 

antara lain yaitu  orang-orang Samaria dan komunitas Eseni di Qumran, yang dalam banyak hal 

bahkan memegang Sabat lebih ketat lagi. Contohnya, orang-orang Samaria menafsirkan Keluaran 

16:29 secara hurufiah, sehingga mereka tidak keluar rumah sama sekali di hari ketujuh. Dan kedua 

kelompok ini juga tidak menyalakan api di hari Sabat, sehingga melewatkan malam Sabat dalam 

kegelapan.

Ada kelompok orang Kristen yang disebut sebagai kaum antinomian yang mengabaikan 

hari Sabat sebab  menganggap hari Sabat sama sekali tidak ada relevansinya dengan Kristen hari ini 

mengingat orang Kristen sudah hidup dizaman anugerah sehingga tidak terikat semua perintah 

dalam Dekalog termasuk perintah keempat.15 Ada kelompok orang Kristen lain yang 

mengelompokkan orang-orang yang gagal menjalankan perintah tentang hari Sabat ke dalam 

kumpulan orang yang akan menerima hukuman kekal dalam api neraka.16 Sedangkan di tengah-

tengah kedua kubu terdapat kelompok orang Kristen yang menerapkan perintah ini secara tersirat.17 

Tradisi Yahudi merinci apa yang boleh dilakukan pada hari Sabat dan apa yang dilarang. 

Luther menekankan bahwa umat Kristen tidak terikat dengan hari tertentu, sedangkan Calvin 

melihat betapa penting suatu hari penyegaran untuk tubuh dan jiwa; itulah suatu anugerah Tuhan 

kepada seluruh warga .18 Calvin membeberkan tiga kegunaan perintah ke-4, yaitu: sebagai (1) 

hari istirahat rohani; 

(2) hari ibadah komunal; dan (3) hari untuk melakukan perbuatan baik bagi 

 

sesama. Bagi Calvin, sejauh itu menyangkut “istirahat rohani,” ibadah komunal, dan perbuatan 

baik, maka hukum ke-4 masih berlaku bagi orang Kristen hari ini dan seharusnya dijalankan dengan 

penuh ketekunan, namun bukan legalistik ataupun takhayul. sebab  begitu rumit dan pentingnya 

perintah ini, dengan panjang lebar Calvin menguraikan manfaatnya yang pertama yaitu bahwa hari 

Sabat yaitu  bayangan istirahat rohani yang merupakan hal terpenting.19 

Sekarang, sesudah  Kristus datang, bagaimana seharusnya orang Kristen menerapkan 

perintah ini? Jawaban Calvin: “Sejauh ini berhubungan dengan aspek seremonial ... itu telah 

berlalu. Hal yang penting bagi kita yaitu  substansinya 20 

Sabat perlu dijaga dengan kebebasan penuh sebab  Kristus telah memenuhi tuntutan seluruh Taurat, 

dan dengan demikian telah membatalkan penerapan ketat Sabat yang melambangkan ketaatan total 

kepada Taurat. Calvin mengatakan, “Hari ini kita tidak lagi memiliki figur yang kaku dan Tuhan 

telah memberi  kita kebebasan penuh.”21 Calvin berkata bahwa umat Tuhan tidak boleh “terus 

terburu-buru dan menjadi orang yang serba sibuk.”22 Calvin menambahkan bahwa ada 

korespondensi yang dekat antara simbol luar dengan realitas yang di dalam, maka kita harus 

beristirahat sepenuhnya agar Allah dapat bekerja di dalam kita.23 Dengan demikian, istirahat yang 

dimaksudkan yaitu  istirahat yang menyangkut fisik maupun pengekangan keinginan-keinginan 

dosa kita. 

 

Calvin memberi  aplikasi bagaimana menjadikan hari Minggu sebagai hari ibadah komunal. 

Menurutnya, ibadah harus dilakukan dengan rajin dan serius. Idealnya kita harus menyembah 

Tuhan tanpa berhenti, namun sebab  kelemahan, bahkan sebab  kemalasan kita, maka perlu dipilih 

satu hari untuk melakukannya.24 Demi menyesuaikan diri dengan kelemahan kita, Allah hanya 

menuntut satu hari untuk ibadah komunal. Dengan demikian yaitu  sangat alami bagi kita untuk 

mengabdikan satu hari ini sepenuhnya bagi Tuhan. Calvin menambahkan, “jika kita menjadikan 

hari Minggu untuk mencari nafkah atau untuk olahraga dan kesenangan, bagaimana Allah bisa 

dimuliakan olehnya?” Oleh sebab itu, orang Kristen harus dengan saleh beribadah pada hari 

Minggu. ia bahkan mengusulkan agar toko-toko ditutup pada hari Minggu. sebab  menekankan 

seriusnya menjaga hari Minggu sebagai hari ibadah, ia sering dituduh sebagai penganut Sabatarian 

legalistik. Tuduhan ini jelas tidak tepat sebab  alasannya mengusulkan toko-toko ditutup pada hari 

Minggu lebih bersifat praktikal, yakni guna menyediakan lebih banyak waktu dan kebebasan untuk 

menghadiri ibadah yang Tuhan telah perintahkan.25Selain itu,seperti kata Blacketer,penekanan 

Calvin pada ibadah Minggu bukanlah kewajiban kaku dalam “ikatan Taurat,” melainkan “satu 

bentuk disiplin yang menolong kita dalam proses pengudusan.”26 

Calvin menekankan kembali pentingnya melakukan Sabat sebagai ungkapan syukur kita 

atas anugerah Allah. Ia telah memberi  kita enam hari untuk bekerja, jadi, “apakah terlalu banyak 

untuk meminta satu hari diperuntukkan bagi-Nya?” Frasa “Engkau harus bekerja enam hari” 

bukanlah sebuah perintah, melainkan satu izin untuk bekerja. Allah dapat saja mengikat kita dengan 

banyak hal sedemikian rupa sehingga kita tidak mungkin bebas, namun Ia lebih berkenan 

membimbing kita layaknya seorang ayah membimbing anak-anaknya.27 Calvin menyebut dua 

alasan mengapa ibadah berganti dari hari Sabtu ke Minggu. Pertama, hari Minggu dipilih untuk 

menunjukkan kebebasan kristiani sebab  Kristus dengan kebangkitan-Nya telah membebaskan kita 

dari segala ikatan Taurat dan kewajibannya.28 Dalam kebebasannya orang Kristen bisa saja 

beribadah pada hari Sabtu, namun sebab  banyaknya takhayul berkaitan dengan hari ini , dan 

demi menghilangkannya, maka orang Kristen mula-mula “menyingkirkan hari sucinya orang 

Yahudi” dan dengan demikian, orang Kristen sekarang beribadah pada hari Minggu untuk “menjaga 

ketertiban, keteraturan, dan kedamaian di dalam gereja.”29 Kita melihat di sini bahwa pandangan 

Calvin tentang perubahan hari ibadah berakar kuat pada kebenaran Alkitab. Jewet mengatakan 

bahwa tidaklah benar saat  mengatakan bahwa pandangan Calvin dalam poin ini lebih didorong 

oleh faktor kemudahan daripada dasar alkitabiah.

Secara keseluruhan isi perikop Yohanes 5:1-18 menceritakan tentang pekerjaan 

penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus Kristus pada hari Sabat di kolam Betesda. Pekerjaan yang 

dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat itu sangat ditentang oleh orang Yahudi, sebab  ada tradisi 

pada waktu itu yang tidak memperbolehkan umat untuk melaksanakan pekerjaan pada hari Sabat. 

Sikap orang Yahudi menentang Yesus itulah, sehingga Yesus mengatakan: “Bapa-Ku bekerja 

sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Kalimat ini menunjukkan kuasa-Nya sebagai Anak 

Allah, dan sebagai Anak Allah, Ia layak bekerja sama dengan Bapa.31 Yesus juga sebagai Anak 

Allah telah datang untuk mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya dan menyediakan keselamatan melalui 

kematian-Nya di atas kayu salib.32 sebab  itulah Ia mengatakan “Akupun bekerja juga”. Yesus juga 

menjalankan apa yang dikehendaki oleh Bapa kepada-Nya yaitu menghadirkan keselamatan kepada 

orang-orang yang percaya kepada Allah. Dan pekerjaan ini berlangsung terus sampai Ia mati, 

bangkit dan naik ke sorga. 

Menurut Paulus, pembenaran manusia di dalam Allah tidak tergantung pada banyaknya 

atau sedikitnya ia mematuhi hukum Taurat; manusia dibenarkan oleh anugerah semata-mata. 

Manusia tidak dapat mengusahakan sendiri anugerah itu, namun  harus menerimanya dari kasih Allah 

di dalam Yesus Kristus.33 Bagi Paulus, iman bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebaliknya 

penerimaan anugerah Allah dalam Yesus Kristus (bnd. Rm. 1:6-7) dan dengan demikian justru iman 

itulah merupakan inti dan sumber dari kehidupan rohani, termasuk perbuatan-perbuatan (bnd. Rm. 

9:31-10:3).34 Maksud Allah membenarkan manusia oleh sebab  iman (Rm. 3:30; Gal. 3:8) yaitu  

bahwa Ia menerima manusia, bukan sebab  manusia itu beriman (sebab  manusia itu benar), 

melainkan sebab  kebaikan-Nya sendiri. Kebenaran manusia bukanlah dasar bagi kebenaran Allah. 

Sebaliknya, kebenaran Allah yaitu  kesempatan bagi manusia untuk menerima (percaya kepada) 

kebenaran Allah itu. Dengan membenarkan manusia yang berdosa, Allah tidak berarti 

membenarkan dosa manusia itu sendiri. Kebenaran oleh iman bukanlah asuransi hidup kekal, 

melainkan kesempatan baru yang diberikan Allah kepada manusia yang dilumpuhkan dosa, untuk 

hidup sebagai anak-anak-Nya.35 Keselamatan melalui hukum Taurat akan berpasangan dengan 

sikap manusia yang berusaha memenuhi tuntutan Taurat itu. Keselamatan tanpa hukum Taurat 

berpasangan dengan sikap yang sama sekali lain, yaitu sikap manusia yang mengharapkan 

keselamatan sepenuhnya dari rahmat Allah saja. Itulah iman.

 

Pengajaran tentang Makanan Halal dan Haram 

Dalam Perjanjian Lama ada banyak makanan yang diharamkan. Untuk itu diatur 

sedemikian rupa dalam kitab Imamat, mana yang boleh dimakan dan mana yang haram. Namun 

secara umum dapat dilihat, apa pun yang diharamkan dalam Perjanjian Lama sebagai simbol 

kenajisan. Ini bisa sebab  dianggap jorok, tidak sehat, tidak memenuhi syarat dan lain seba-gainya. 

Sehingga sesuatu yang diharamkan itu yaitu  ekspresi dosa (najis = haram). Simbol-simbol itu 

muncul dalam Perjanjian Lama sebagai konsekuensi hidup beragama, yaitu Taurat. Mereka harus 

memenuhi tiap tuntutan yang ada, dan aturan aturan dengan ketat. Dan hal-hal yang diharamkan 

yaitu  sebagai wujud kutuk akibat dosa. 

Dalam kitab Roma dengan jelas kita lihat bahwa pada akhirnya tidak ada yang mampu 

memenuhi hukum Taurat, sehingga tidak ada yang layak selamat. Keselamatan dalam Perjanjian 

Lama pun pada akhirnya hanyalah sebab  kasih karunia Allah. Dalam Perjanjian Baru, Yesus 

Kristus Tuhan telah menebus kita dengan menanggung segala konsekuensi dosa-dosa kita. 

Penebusan ini telah memerdekakan orang percaya dari kutuk-kutuk akibat dosa, itu sebab dalam 

Perjanjian Baru tidak lagi ada yang diharamkan. Tuhan Yesus sendiri berkata: “Bukan apa yang 

masuk ke dalam mulut (yang dimakan) yang menajiskan orang, 

 

melainkan apa yang keluar dari mulut (sumpah serapah, kebohongan) yang menajiskan orang” 

(Mat. 15:11). Lalu, Rasul Paulus sebagai hamba Yesus, yang juga Yahudi sejati, orang Farisi, ahli 

Taurat, yang sangat mengerti soal halal dan haram mengatakan: “Segala sesuatu halal bagiku, namun  

bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, namun  aku tidak membiarkan diriku 

diperhamba oleh suatu apa pun” (1 Kor. 6:12-13). Dia juga mengatakan: “Makanan tidak membawa 

kita lebih dekat kepada Allah (halal atau haram). Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan, 

dan kita tidak untung apa-apa kalau kita makan” (1 Kor. 8:8). Dan masih banyak bagian lain dari 

Alkitab yang membicarakan soal makan dan minum itu halal, dan bahwa ada penggenapan 

Perjanjian Lama di sana sesudah  kematian Yesus Kristus di salib. Simbol najis telah digenapi dalam 

penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus, tidak lagi ada kutuk. Di sini termasuk babi yang 

diharamkan dalam Perjanjian Lama, dan makanan lainnya. 

Walaupun demikian, ajaran GMAHK bukan hanya menekankan tentang keharaman 

melainkan dikaitkan dengan suatu penyakit sebab  makanan yang haram tidak sehat bagi tubuh. 

Penyakit (disease) itu sendiri yaitu  keadaan tertentu yang menyebabkan keseimbangan 

(homeostasis) seseorang tidak berfungsi dengan baik. Beberapa jenis penyakit yang masuk ke 

dalam tubuh berasal dari luar misalnya melalui infeksi, kecelakaan atau keracunan. Beberapa jenis 

penyakit lainnya merupakan akibat terjadinya perubahan di dalam tubuhnya. Sesuatu telah merusak 

keseimbangan yang normal dan sehat dalam tubuhnya.37 

Pandangan Ellen G. White tentang kesehatan merupakan sebuah hukum yang sangat 

familiar dikalangan umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Kesehatan khususnya, diartikan 

sebagai pola hidup yang harus ditekankan pada umatnya, sedangkan hal-hal yang merusak 

kesehatan merupakan sesuatu yang harus dijauhi dan apabila seseorang melanggarnya maka akan 

mendapat sebuah dosa yang menyebabkan kerusakan dalam diri manusia itu sendiri. Kesehatan 

yaitu  suatu berkat yang tidak ternilai harganya, yang lebih erat hubungan dengan suara hati 

manusia dan agama lebih daripada yang disadari orang.38 

Ellen G. White lebih menekankan tentang hal bertarak (pengendalian diri) dalam sebuah 

hasrat dan keinginan yang memicu  manusia    khilaf  dan tidak bisa mengontrol diri,baik 

berupa makanan,minuman,nikotin serta yang menyebabkan kecanduan lainnya sehingga dapat 

merusak pikiran dan kesehatan manusia.39 Hal lain yang ditekankannya yaitu  mengenai halal dan 

haram dalam makanan, yang dipedomani oleh jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. 

Misalnya, daging babi, hewan bersisik dan binatang berkuku tajam yang keseluruhannya ini  

menurut mereka merupakan sesuatu yang diharamkan.40 Bagi orang Yahudi keselamatan akan 

terjadi jika manusia melakukan Hukum Taurat dengan setia, namun  bagi Paulus keselamatan bukan 

diperoleh 

dengan melakukan Hukum Taurat, namun  sebab  iman di dalam Kristus. Beriman kepada Kristus 

berarti manusia menerima kembali pembenaran yang mulia dari Allah. Inilah yang disebut “The 

Saving Righteousness of God” oleh Schreiner.”41 David L. Bartlett mengatakan, bahwa saat  kita 

beriman kepada Yesus berarti kita meresponi atau menerima anugerah karya keselamatan yang ada 

ditangan Allah. Allah telah mengulurkan tangan-Nya, tinggal bagaimana respons manusia terhadap 

tawaran Allah yang mulia itu.42 Dalam hal ini, tidak semua manusia mengulurkan tangannya untuk 

memegang tangan Allah sebab  mata imannya masih diselimuti oleh kekerasan hatinya sendiri. 

John Murray mengungkapkan bahwa iman bukanlah sesuatu perbuatan yang layak 

mendapatkan imbalan kasih Allah. Bukan iman yang menyelamatkan, melainkan iman kepada 

Yesus Kristus; bahkan lebih tegas lagi, bukan iman kepada Kristus yang menyelamatkan, 

melainkan Kristus yang menyelamatkan melalui iman.43 Usaha manusia bukannya tidak penting 

untuk bisa mendapatkan keselamatan, ‘’namun  dalam usaha ini kita pasti berhasil, sebab  Allah 

sendiri yang bekerja di dalam diri sehingga kita menghendaki dan melakukan kehendak-Nya.’’44 

 

Pengajaran tentang Sakramen Baptisan Kudus 

Ada kalanya istilah sakramen memiliki arti yang lebih spesifik dan sempit. Suatu sakramen 

dijelaskan sebagai suatu tanda yang kelihatan, dimana melalui Allah memberi  janji anugerah-

Nya di dalam bentuk yang kelihatan. Sakramen-sakramen itu terdiri dari unsur-unsur yang terlihat 

seperti air, roti atau anggur; suatu aktivitas yang ditetapkan oleh Allah dalam kaitannya dengan 

tanda dan aplikasi dari penebusan Kristus diberikan kepada orang percaya.45 Sakramen baptisan dan 

perjamuan merupakan bentuk nonverbal dari komunikasi. Keduanya tidak pernah dimaksudkan 

untuk berdiri sendiri tanpa disertai Firman Tuhan. Kedua sakramen itu mengkonfirmasikan Firman 

Tuhan sehingga pelaksanaan sakramen harus sejalan dan berjalan bersama dengan pemberitaan 

Firman Tuhan.46 

Yohanes Calvin yaitu  seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan 

generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke-

16, namun peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti 

ajaran dan tata gereja  yang digariskan Calvin  tersebar di  seluruh  dunia. Gereja-gereja  itu diberi 

 

nama Gereja Calvinis. Di Indonesia, gereja-gereja yang bercorak Calvinis merupakan golongan 

gereja yang terbesar.47 

Yohanes Calvin melihat gereja yang benar apabila Firman diberitakan secara benar dan 

sakramen-sakramen dilayankan sesuai dengan Firman Tuhan. Bukan hak manusia untuk 

memisahkan yang dipilih dan yang ditolak atau untuk memisahkan diri dari gereja yang kelihatan 

selama masih ada sisa-sisa pelayanan Firman atau pelayanan sakramen yang benar.48 Menurut 

Calvin, gereja mempunyai peranan kunci dalam hubungan antara manusia dengan Allah sebagai 

sarana atau saluran pemberitaan firman dan pelayanan sakramen untuk membina orang percaya 

yang merupakan pusat kehidupan gereja.49 

Sakramen Baptisan Kudus hanya dapat dilakukan kalau ada calon-calon yang sudah 

dipersiapkan dengan matang untuk menerima sakramen itu. namun  juga dalam hal ini, harus 

dilaksanakan kapan saja diperlukan dan bersamaan dengan penelaahan dan pengenalan akan 

Firman. Bagi Calvin, Firman dan sakramen yaitu  sama pentingnya dan harus menjadi bagian 

integral dari pelayanan ibadah setiap Minggu di dalam gereja-gereja.50 

Calvin menganggap bahwa sakramen (baptisan dan perjamuan) dilihat sebagai yang 

memberi  identitas dan merupakan anugerah bagi iman kita. Allah yang mengetahui kelemahan 

iman kita, dan menyesuaikan diri terhadap keterbatasan kita.51 Kenyataan juga bahwa Alkitab 

menyebut sakramen-sakramen sudah cukup sebagai bukti bahwa sakramen-sakramen itu perlu, 

sebab  apa yang diperintahkan Allah harus dilakukan oleh manusia.52 

Baptisan merupakan salah satu sakramen yang diakui oleh Gereja Protestan. Pembaptisan 

berasal dari kata Yunani “Baptizo” yang berarti membasahi.53 Arti kata “baptisma”, “baptismos” 

(kata benda) dan kata kerjanya “baptiso” mempunyai arti selam dan cuci. Di dalam Perjanjian Baru 

mempunyai 3 arti, yaitu: a) membaptiskan, yaitu bagi orang lain (Mat. 3;11); b) membaptiskan diri 

atau membiarkan diri dibaptis oleh orang lain (Mat. 3:13), yaitu dengan aktif mau dibaptis, 

menyuruh orang membaptiskan; c) dibaptis, menerima baptisan orang lain (Mat. 3:16).54 Kata kerja 

yang lain “bapto” – “to dip, dye” (membenamkan, mencelup, mencelupkan) yang terdapat dalam 

Luk. 16:24; Yoh. 13:26; Why. 19:13. Kata benda “baptisma” yaitu hal membenamkan: a) hal 

tenggelam dalam celaka(Mar.20:22,23;Luk.12:50).Katainiberasaldari153BC,satuiman,satu 

 

baptisan; b) baptis (Mat. 3:17; Mrk. 1:4; 11:30; Luk. 3:3) dan kata “baptismos” berarti mandi 

menurut Taurat Musa (Mrk. 7:4; Ibr. 6:2), dan kata “baptistis” berarti pembaptis (Mat. 3:1; 

16:14).55 Dari uraian di atas terlihat arti baptis, yaitu selain selam juga berarti mencuci, percik, 

menyiram, mandi dan lain-lain. Oleh sebab itu, menurut arti kata maka kedua jenis itu dapat dipakai 

semua. Di dalam agama Yahudi melakukan penyiraman “baptiso” (Kel. 29:4; Bil. 19:7) sebagai 

tanda penyucian. Kata “basuh” di dalam Yohanes 36:25,29 mengandung arti rohani dan moral, 

namun  segala upacara orang Yahudi telah dihapus sesudah  Kristus menggenapkan penebusan (Ibr. 

6:2; 8:3).56 

Tidak terdapat pertentangan di antara hampir semua denominasi bahwa “unsur-unsur 

lahiriah yang dipergunakan di dalam sakramen ini yaitu  air” dan bahwa orang yang dibaptis 

yaitu  dibaptiskan di dalam nama Allah Trinitas. Sejumlah denominasi Kristen mengharuskan 

penyelaman sebab  mereka merasa bahwa tanpa penyelaman tidak ada baptisan. Mereka bersikeras 

bahwa pengertian dari kata bahasa Yunani baptizo yang dipakai di dalam Perjanjian Baru yaitu  

“menyelamkan/mencelupkan”. Sebenarnya, kata baptizo ini tidak berarti menyelamkan. namun  

bukan berarti kata ini tidak bisa dipergunakan dalam tindakan yang melibatkan penyelaman. Hanya 

saja kata ini tidak dipakai dalam pengertian itu secara tepat. 

Dalam 1 Korintus 10:1-2, kata baptisan tidak dapat diterjemahkan dengan pengertian 

penyelaman. Kita semua tahu dengan pasti bahwa bahwa tidak seorang Israel-pun yang 

ditenggelamkan saat  menyeberangi Laut Merah. Alkitab secara tegas mencatat bahwa mereka 

berjalan melalui daerah yang kering. Justru hanya orang-orang Mesir yang ditenggelamkan! 

Baptisan bagi nenek moyang orang Israel ini secara jelas tidak ditafisrkan dan diperluas dengan 

imajinasi bahwa sudah terjadi pencelupan atau penenggelaman.58 Selain itu, dalam Ibrani 9:10, kata 

asliya mengatakan “pelbagai baptisan”. Pandangan penyelamatan yaitu  asing bagi tata cara orang 

Yahudi. Bahkan kata “menyelam” sama sekali tidak muncul di dalam kata asli Yunani atau Ibrani 

dalam Alkitab dari segala bentuknya.59 

Baptisan yaitu  tenggelam dan bangun kembali sebagai manusia baru. Dari hidup baru ini, 

air baptisan juga mempunyai berbagai makna positif alkitabiah. Air baptisan melambangkan air 

hidup Allah (Yoh. 4:1-42); “hidup” berarti air yang mengalir dan sebab nya sehat, berlawanan 

dengan air “mati’ yang diam sehingga di dalamnya dapat berkembang berbagai macam bibit 

penyakit. Jadi, air baptisan memiliki makna ganda, yaitu melambangkan kekuatan dosa dan 

kejahatan di mana hidup kita dapat tenggelam, dan kekuatan Allah yangmenghidupkan.60 

Di dalam Kisah Para Rasul 1:5, adanya janji Kristus bagi murid-murid-Nya. “tidak lama 

lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Dibaptis dengan Roh 

 

Kudus yaitu  mendapatkan Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka, bukan diselamkan ke dalam 

Roh Kudus. Yang menjadi makna hakiki dari baptisan yaitu  kesatuan dengan Kristus dan Allah 

Trinitas dengan cara dibersihkan dari dosa, baik itu dengan cara diselamkan atau dipercik atau 

dicurahi. Dalam baptisan, kita secara pribadi dinamakan dalam konteks dan paguyuban tiga pribadi 

Tritunggal. Sebagai akibatnya, kepribadian kita tidak dapat direduksi lagi. Baptisan kudus yaitu  

tindakan sakramental yang mempertahankan identitas ini  dan membuatnya terus berada pada 

fokus sebagaimana kita terlibat dalam “formasi oleh kebangkitan”.61 Baptisan Kudus yaitu  

penerapan utama dari komunitas kebangkitan yang sekali dan selamanya mengatakan siapa diri kita 

dalam paguyuban yang kita cari saat  kita mengikuti Yesus.62 Kehidupan Kristen yaitu  

kehidupan Yesus yang telah bangkit, sebuah hidup dalam diri kita yang digenapi oleh Roh Kudus 

dan fokusnya terdapat dalambaptisan.63 

Dalam Lukas 11:38 ditemukan kata baptizo di mana orang Farisi melihat Yesus tidak 

membaptizo tangannya sebelum Ia makan. Disini berarti Yesus tidak mencuci atau membersihkan 

tangan-Nya. Berikutnya dalam Injil Markus 7:4 kata baptizo kembali dipakai. “Dan kalau pulang 

dari pasar mereka tidak juga makan kalau tidak terlebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak 

warisan lain lagi yang mereka pegang umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-

perkakas tembaga”. Pada ayat ini kata baptizo dua kali dipakai yang bila diterjemahkan dalam 

bahasa Indonesia berarti membersihkan dan mencuci. Kata baptizo dalam Galatia 3:27 yang 

disebutkan,”sebab  kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus”, hal ini 

menunjuk pada penyucian. 

Petrus berbicara tentang baptisan dengan pengacuan khusus kepada “pengampunan dosa” 

dan “karunia Roh Kudus” (Kis. 2:38). Paulus menekankan pada “permandian kelahiran kembali dan 

oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit. 3:5) dan juga Paulus mengkhususkan 

kewajiban untuk berjalan di dalam kehidupan baru yang menjadi milik mereka yang telah dibaptis 

(Rm. 4:12). namun  tema paling dominan dari rujukan Allkitab tentang baptisan yaitu  kesatuan 

dengan Kristus dan Allah Trinitas yang mencakup dan melebihi semua aspek- aspek terkait lainnya 

dari pengertian sakramen Baptisan ini (Mat. 28:19; 1 Kor. 12:13; Gal. 3:27). 

Bentuk tambahan dalam Mrk 16:15,16 mengatakan ‘pergilah keseluruh dunia dan 

beritakanlah injil kepada segala makhluk. Mereka yang percaya dan dibaptiskan akan diselamatkan; 

namun  mereka yang tidak percaya akan dihukum”. Dengan demikian elemen berikut ini jelas 

nampak dalam perintah yang berotoritas ini: (a) para murid harus pergi ke seluruh dunia dan 

memberitakan injil kepada segala bangsa supaya orang-orang bertobat dan mengenal Yesus sebagai 

Juruselamat yang dijanjikan; (b) mereka yang menerima Kristus dengan iman harus dibaptiskan 

dalam nama Allah Tritunggal sebagai lambang dan meterai dari kenyataan bahwa mereka masuk 

dalam hubungan yang baru dengan Tuhan dan 

 

mereka berkewajiban menjalani hidup mereka menurut hukum Kerajaan Allah; (c) Mereka harus 

dibawa pada pelayanan Firman bukan saja sebagai suatu proklamasi berita sukacita, namun  juga 

sebagai suatu penjelasan dari segala misteri, hak istimewa, serta tugas dari perjanjian yang baru. 

Sebagai dorongan bagi para murid, Yesus menambahkan: “Dan ketahuilah Aku (yang telah 

memegang segala otoritas untuk memberitakan perintah ini) menyertai kamu sampai kepada 

kesudahan zaman.” 

Baptisan juga mengandung beberapa makna, yaitu: Pertama, baptisan merupakan tanda 

pembersihan dan pengampunan dari dosa-dosa kita. Kedua, baptisan menunjukkan bahwa orang itu 

sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus, yaitu dikuburkan dan dibangkitkan bersama-sama dengan 

Kristus, didiami oleh oleh Roh Kudus, diadopsi menjadi keluarga Allah, dan dikuduskan oleh Roh 

Kudus. 

Baptisan yaitu  pengakuan iman dalam Kristus ( Rm 6 : 3-4; 1 Pet 3:21; Kis 8:37), yang 

berhubungan dengan pengakuan di depan umum bahwa Yesus Kristus yaitu  Tuhan dan Juru 

Selamat ( Kis 2 :38 ; 10 :48; 8:16). Baptisan yaitu  mengalami persekutuan dengan Kristus (Kol 

2:12). Calon baptis dihubungkan oleh iman dengan Tuhan yang atas nama Nya ia dibaptis, supaya 

dalam pengertian tertentu ia ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam 

Perjanjian Baru yaitu  saat  orang berdosa bergabung dalam persekutuan dengan penebusan 

Kristus, hidup, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan pemerintahan- Nya (Gal 2:20; Ef 2:5-6;). Ini 

tidak berarti bahwa keselamatan diberikan melalui acara pembaptisan itu sendiri. Hanya iman yang 

menyelamatkan atau lebih tepat Kristus yang menyelamatkan.66 Allah tidak menganggap baptisan 

menjadi syarat guna keselamatan kita, namun  jangan kita meremehkan atau acuh tak acuh terhadap 

Baptisan Kudus. 

Dengan masuk ke dalam Kristus, kita berbagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dan 

dalam iman, kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. namun  kesatuan dengan Kristus ini 

membuat kita juga berbagian dalam Roh, sebab  Roh yaitu  Roh Tuhan. Berada dalam Kristus, 

menjadi milik-Nya, berarti “memiliki” Roh, dan seorang yang tidak memiliki Roh Kristus, “ia 

bukan milik Kristus”. Orang yang disatukan dengan Kristus oleh baptisan dan dibaptis ke dalam 

tubuh-Nya, juga dibaptis ke dalam Roh Kudus yang memenuhi tubuh Kristus. 

Di dalam baptisan, kita menjadi milik Allah, Allah menandai kita, memberi tanda 

kepemilikan atas kita. Saat orang dibaptis, dia dilihat sebagai bayangan Kristus, “yang diurapi”. Di 

dalam gereja, anugerah Allah mengalir tidak hanya di kepala namun  juga keseluruh tubuh dan tidak 

hanya Kristus namun  juga pengikut- 

 

pengikut Kristus.69 Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi anggota tubuh-Nya, bukan 

hanya untuk percaya. Baptisan bukan hanya melambangkan keselamatan namun  juga melambangkan 

persekutuan. Baptisan tidak hanya melambangkan hidup baru kita dalam Kristus, melainkan 

menggambarkan penggabungan seseorang dalam Tubuh Kristus. 

saat  baptisan digambarkan seolah-olah sebagai aktivitas yang diciptakan oleh manusia 

dan bukannya kesatuan yang tercipta oleh Allah, makna yang sebenarnya telah dikontradiksikan. 

Inilah keberatan yang terutama dari pandangan kaum Baptis tentang ketetapan baptisan, kaum 

Baptis berpendapat bahwa baptisan hanya boleh diberikan kepada orang-orang dewasa, sebab  

hanya orang-orang dewasa yang berkemampuan untuk mengerjakan aktivitas yang dengannya 

seseorang menyatukan dirinya dengan Kristus. Kaum Baptis bersikeras bahwa hanya orang-orang 

dewasalah yang merupakan penerima baptisan yang benar. Hal ini mereka pertahankan dengan dua 

alasan: bahwa anak-anak tidak berkemampuan untuk pengalaman dan aktivitas yang diharuskan 

oleh baptisan dan bahwa Alkitab tidak memberi  bukti baptisan bagi anak-anak (yaitu bayi). 

Dalam Matius 19:14, Yesus Kristus berkata “janganlah menghalang-halangi mereka datang 

kepada-Ku”. Hal ini sebab  Allah memerintahkan orang-orang percaya untuk memberi  tanda 

dan meterai kovenan kepada anak-anak mereka, dan baptisan merupakan tanda dan meterai yang 

berkaitan dengan hal yang telah diperintahkan Allah ini  (Gal. 3:16-17), dan Allah telah 

mengubah tanda dan meterai namun  tidak mengubah kovenan-Nya yang kekal. Menurut Calvin, 

baptisan anak-anak kecil lebih didasarkan pada ketetapan gereja daripada perintah langsung Kitab 

Suci dan akan menjadi sumber yang miskin dan lemah apabila hanya bisa mengacu pada otoritas 

Gereja. Bagi Calvin. Dalam baptisan anak-anak, kita menaati kehendak Allah, yang mengendaki 

agar mereka dibiarkan datang kepada-Nya (Mat.19:14). 

Pada dasarnya, anak-anak memang tidak berkemampuan untuk mengefektifkan kesatuan 

dengan Kristus namun  demikian juga dengan orang dewasa. Semuanya telah bobrok dan tidak 

mampu melakukan apa pun untuk mengefektifkan kesatuan dengan Allah namun  dengan kuasa-Nya 

maka Allah mampu melakukan hal itu.75 Menurut Yohanes Calvin, baptisan yaitu  tanda bahwa 

kita telah diterima masuk kedalam persekutuan Gereja, supaya sesudah   kita ditanamkan di dalam 

Kristus, kita terhisap anak-anak Allah.

Baptisan dilayankan kepada anak-anak orang beriman selaku meterai perjanjian anugerah, 

sebab mereka sudah terhisab anggota perjanjian itu berdasarkan kelahiran mereka dalam 

lingkungan jemaat Kristen. Bagi Emanuel Singgih, amanat membaptis belum tentu 

mengimplikasikan keanggotaan gereja dan belum tentu juga dapat dijadikan dasar atau diidentikkan 

dengan kristenisasi. Masalahnya kita sudah salah kaprah mengidentikkan baptisan dengan 

keanggotaan gereja institusional. Singgih tidak menganjurkan penghapusan baptisan namun  supaya 

kita ingat bahwa praktek baptisan yang kita lakukan sekarang merupakan sebuah perkembangan 

sejarah yang tidak lagi persis sama mengikuti apa yang termaktub di dalam teks Alkitab Perjanjian 

Baru.

Saksi-saksi baptisan hendaklah berjanji bahwa mereka akan turut bertanggungjawab atas 

pendidikan anak yang akan dibaptis. Mereka perlu mengerti dengan baik apa artinya baptisan dan 

apa artinya perjanjian. Oleh sebab  itu perlu sekali, bahwa saksi-saksi baptisan juga diturut-sertakan 

dalam percakapan pastoral, sebelum baptisan diadakan.80 Baptisan anak-anak mewajibkan orangtua 

untuk mendidik anaknya dengan mengikuti Kristus, sehingga anaknya itu nanti ingin juga menjadi 

pengikut Kristus. Oleh sebab itu, sikap orangtua dan saksi-saksi yaitu  penting sekali.

Beberapa gereja membaptis anak-anak yang dibawa oleh orang tuanya atau walinya yang 

siap untuk di dalam gereja dan bersama gereja, membesarkan anak- anak itu dalam iman Kristen. 

Gereja-gereja lain hanya melakukan baptisan orang percaya yang dapat membuat pengakuan iman 

secara pribadi. Beberapa di antara gereja-gereja ini menganjurkan agar anak-anak diserahkan dan 

diberkati dalam suatu kebaktian yang biasanya meliputi pengucapan syukur untuk karunia anak itu 

dan juga janji ibu dan bapak untuk melakukan kewajibannya sebagai orangtua Kristen dan ikut serta 

dalam pengajaran kateketik.

Orangtua yang melihat baptisan anak secara sesat dan merasa bahwa sebab  air baptisan 

yang telah dipercikkan ke atas anak-anaknya, maka mereka akan selamat, tentunya tidak 

menyatakan iman. Tidak ada pengajaran Alkitab tentang keselamatan bayi sebab  baptisan.83 

Orangtua beriman yang memberi  anaknya untuk dibaptis harus pertama-tama meyakini fakta 

bahwa ia sepenuhnya menerima janji perjanjian Allah baginya dan bagi anaknya. Maka ia 

menyadari bahwa anaknya telah dikhususkan sebagai yang kudus oleh Allah.84 namun  orangtua 

harus secara serius untuk mendorong anaknya di dalam memberi  

 

makanan dan pengenalan akan Allah, menyadari bahwa tindakan ini yaitu  sebagai bukti penting 

dari imannya di dalam Allah. Selama iman datang dari mendengarkan Firman Allah, orangtua akan 

menyadari bahwa anak-anak mereka harus dididik di dalam Firman sejak masa muda.

Baptisan Kristen meletakkan tanggungjawab dan tugas yang penting pada orangtua. Mereka 

harus menyahut beberapa soal yang dihadapkan kepada mereka, antara lain mengenai kewajiban 

mereka untuk mendidik anak-anaknya sendiri sebagai anak-anak Tuhan pula. Allah telah menepati 

janji-Nya terhadap orangtua dan anak itu; sekarang tibalah giliran orangtua itu untuk mewujudkan 

nazarnya kepada Tuhan.86 Mereka harus mendidik anak mereka dalam “takut  akan Kristus”. Kata 

takut disini berarti rasa segan, hormati, penaklukan diri kepada Firman Tuhan (bdk. Ams. 9:10; Kis. 

9:31; Ef. 5:21). Kata Yunani “paideia” dalam Efesus 6:4 yang diterjemahkan dengan “pengajaran 

yang sopan” sebetulnya dapat diartikan pimpinan bagi anak.87 Orangtua harus mencurahkan segala 

perhatian dan tenaganya bagi pendidikan anak-anaknya dalam suasana Kristen sejati, sampai 

kepada saat anak-anak itu sendiri akan bertanggungjawab tentang kepercayaan dan tingkah lakunya 

di hadapanTuhan.

Pada waktu baptisan anak-anak, Allah mengadakan perjanjian dengan keluarga-keluarga. 

Pada saat itu orangtua berdiri di hadapan Allah dan di hadapan jemaat-Nya. Sebelum baptisan 

dilayankan, orangtua harus menjawab beberapa pertanyaan, agar menjadi nyata bahwa mereka 

minta baptisan dengan maksud yang benar dan bukan oleh sebab  kebiasaan atau kepercayaan 

takhyul.89 Pertanyaan itu mengandung tanggung jawab yang sangat besar, bukan saja bagi orangtua 

yang membawa anak-anak mereka untuk dibaptis, melainkan juga bagi majelis yang melayani 

baptisan dengan memberi  juga pendidikan gerejawi bagi anak-anak sebelum anak-anak itu 

diterima di Perjamuan Kudus.90 

Pada waktu anak dibaptis, orangtua berjanji dan janji itu sama dengan ikrar, bahwa mereka 

akan mendidik anaknya dalam ajaran keselamatan yang murni. Orangtua wajib selalu 

memprioritaskan pendidikan ini . Pendidikan ajaran Kristen lebih penting daripada pendidikan 

umum dan lebih penting lagi dari usaha mendapatkan kemakmuran duniawi atau kedudukan 

tinggi.91 Allah mempercayakan anak-anak kepada orangtua yang beriman supaya anak-anak itu 

dididik untuk menghormati dan mengasihi Allah dalam pelayanan kepada Dia dan kemudian 

menjadi benih gereja dan harus membangun gereja kelak serta pengharapan gereja di masadatang.

 

Keabsahan baptisan tidak terletak pada karakter pendeta yang melaksanakannya, atau 

karakter orang yang menerimanya. Baptisan merupakan tanda dari janji keselamatan kepada semua 

orang yang percaya kepada Kristus. Oleh sebab  hal itu merupakan janji Allah, maka keabsahan 

dari janji itu terletak pada apakah karakter Allah dapat dipercaya.93 Oleh sebab  baptisan berkaitan 

dengan janji Allah, maka baptisan itu tidak pelu dilaksanakan lebih dari satu kali. Dibaptis lebih 

dari satu kali menunjukkan keraguan pada integritas dan kesungguhan janji Allah.94 

Dalam 2 Timotius 2:19, “Tuhan mengenal siapa milik-Nya.” Melalui baptisan, orang yang 

mengaku percaya diterima menjadi anggota gereja, namun Tuhan-lah yang mengetahui hati 

manusia. Tuhan melihat bukan kepada pengakuan percaya melalui bibir melainkan kepada 

pengakuan percaya dari hati yang benar-benar percaya. Orang-orang yang benar-benar dilahirkan 

kembali oleh Roh Kudus dan menjadi anggota gereja yang am yang keanggotaanya tidak terlihat.95 

Dalam Roma 10:9-10, mungkin rasul Paulus berbicara mengenai baptisan dan kalau orang bertobat 

tapi belum dibapis, maka haruslah ia dibaptis, menjadi tanda penyucian rohani dan pengakuan di 

muka umum bahwa ia percaya dan menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat dan Tuhan-nya, 

namun  pengakuan Kristen tidak berakhir dengan baptisan ini melainkan melalui hidup, kesaksian, 

tindakan dalam tiap kesempatan dan di mana saja pun kitaberada.96 

Baptisan bukanlah aksi individual, melainkan aksi dari seorang indivdu yang 

mengidentifikasikan diri dengan sebuah kelompok. Bagi Yesus, kelompok itu yaitu  umat 

Allah/gereja. Berbagai kebutuhan dunia mensyaratkan adanya suatu keluarga yang punya hubungan 

benar dengan Allah. Pada baptisan, kita bergabung dengan sebuah kelompok yang mengaku diri 

terhilang.97 Tim Stafford memandang baptisan sebagai semacam upacara pernikahan dalam hal 

iman. Baptisan membuat ide-ide abstrak seperti “komitmen’ menjadi bersifat sangat publik dan 

praktis. Dalam keluarga Tim Stafford, dirayakan baptisan masing-masing orang seperti hari ulang 

tahun ataupun hari perayaan pernikahan. Keluarganya mencoba mengkhususkan hari itu, tahun 

demi tahun dan mengingat apa artinya.98 Walaupun begitu, mungkin cara terbaik bagi kita untuk 

mengenang baptisan kita yaitu  melalui partisipasi penuh dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Pada 

baptisan kita menyerahkan diri kita sendiri kepada umat Allah dalam segala masalah dan duka 

mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus.

Dalam lingkup pelayanan GMIM masih adanya perbedaan pemahaman dari jemaat tentang 

hari Sabat khususnya pandangan ekstrem bahwa Sabat di Sabtu lebih tinggi dari hari yang lain 

sehingga kesakralannya lebih terasa dan tidak ada kompromistis untuk tidak beribadah, bekerja, 

menolong orang lain dan lain-lain. Selain itu, masih ada perbedaan pemahaman dari jemaat tentang 

makanan haram khususnya pandangan ekstrem bahwa makanan haram yang dimakan akan 

membuat orang percaya berdosa dan tidak mendapatkan keselamatan. Bahkan ada perbedaan 

pemahaman dari jemaat tentang baptisan khususnya pandangan ekstrem bahwa baptisan menjadi 

lebih kudus apabila dilakukan pada seseorang yang sudah berumur 12 tahun ke atas disebab kan 

ada pengakuan iman secara pribadi kepada Tuhan dan baptisan selam lebih alkitabiah daripada 

dipercik. Pandangan jemaat tentang perbedaan pengajaran antara GMAHK dan GMIM khususnya 

pandangan ekstrem tidak bisa lepas dari tiga pengajaran pokok tentang sabat, makanan haram dan 

baptisan kudus yang menjadi perdebatan dalam pelayanan. Oleh sebab  itu, warga GMIM 

sebaiknya mempelajari alkitab secara kritis dengan memohon hikmatNya sehingga tidak mudah 

terpengaruh oleh ajaran ekstrem dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan seharusnya di aras 

jemaat ada suatu pertemuan yang membahas khusus tentang pengajaran  ekstrem dan bagaimana 

jemaat diperlengkapi untuk membentengi diri dengan pengajaran yang berusaha untuk 

menggoyahkan iman dan seyoganya pelayan khusus lebih proaktif dalam melihat fenomena yang 

terjadi di jemaat dan melakukan tindakan pencegahan dengan memberi pengajaran yang benar dan 

alkitabiah kepada warga GMIM.