Trinitas merupakan sentrum dari teologi kristiani, dan juga pusat hidup
beriman Gereja. Sebagai pusat hidup Gereja, iman kepada Allah yang Trinitas
bukan sekadar doktrin yang wajib diterima, melainkan perlu penerapan konkret
dalam hidup Gereja. Leonardo Boff melihat Allah Trinitas sebagai satu
persekutuan kasih dari pribadi-pribadi Ilahi (Bapa–Putera–Roh Kudus).
Persekutuan Trinitas ini , menurut Boff, yaitu model ideal dari
persekutuan umat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas relevansi
dari konsep Allah Trinitas menurut Boff bagi Komunitas Basis Gerejawi (KBG).
Metode yang digunakan yaitu kajian literatur dengan menerapkan analisis isi.
Hasil dari penelitian ini yaitu sebuah pemahaman atas KBG sebagai ranah
perwujudan konkret dari persekutuan Trinitas. sebab itu, sebagai komunitas
basis, semua anggota mengimitasi hubungan kasih Trinitas sehingga memiliki
kesederajatan dan persekutuan kasih di dalam komunitas ini .
Doktrin tentang Trinitas yaitu satu doktrin terpenting dalam Kekristenan.
Doktrin ini merupakan bentuk pengungkapan iman seorang Kristiani kepada
Allah yang esa sekaligus memiliki tiga pribadi: Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Formulasi tradisional dalam bahasa Yunani berbunyi mia ousia, treis
hypostaseis (satu hakikat, tiga pribadi). Konsep tentang Allah Trinitas seperti ini
bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. sebab itulah, sering kali orang
keliru dan terjebak dalam pemahaman salah. Pemahaman salah ini ,
sebenarnya bukanlah persoalan yang baru muncul di zaman modern melainkan
persoalan klasik sejak abad ke-2. Kesulitan utama yang dihadapi pada waktu itu
yaitu bagaimana mendamaikan antara warisan iman Yudaisme yang monoteis
mutlak dan pengakuan akan keilahian Putera yang sehakikat dengan Allah
Bapa. 1 sebab itu muncul kecenderungan menyangkal ketigaan pribadinya,
padahal ketigaan pribadi ini , secara amat nyata dibicarakan dalam Kitab
Suci. Kesulitan ini telah pula diatasi oleh Gereja melalui konsili-konsili
awal dalam Kekristenan.
Pada waktu konsili-konsili awal digelar (abad ke-3 sampai abad ke-5),
teologi tentang Trinitas lebih berfokus pada aspek doktrinal. Aspek doktrinal ini
kemudian semakin didalami pada abad pertengahan dan masih berlanjut sampai
awal abad ke-20. Mereka berupaya menjelaskan tentang Allah Tritunggal
menurut ajaran yang sejati sebagaimana dibicarakan dalam Kitab Suci. Orientasi
doktrinal mulai mengalami pembaruan di awal abad ke-20 yang ditandai antara
lain dengan karya-karya Karl Barth dan Karl Rahner. Orientasi baru ini sering
disebut dengan istilah trinitarian renaissance yaitu pembaharuan teologi
Trinitas. 2 Dalam arus pemikiran baru ini, penekanannya bergeser ke aspek
praktis, walaupun aspek doktrinal tidak ditinggalkan sama sekali. Ada banyak
teolog modern yang berorientasi pada makna praktis teologi Trinitas bagi hidup
manusia. lah s tunya yaitu Karl Rahner.3
Leonardo Boff, salah satu teolog modern, juga berada dalam arus
pemahaman baru tentang Trinitas. Penekanan Boff yaitu penerapan
persekutuan Trinitas ke dalam persekutuan manusia yang konkret. Konsep yang
dikemukakan Boff yaitu Allah Tritunggal sebagai Allah persekutuan. 4
Pemikiran Boff ini menjadi objek studi dari banyak teolog. Ada sejumlah
penelitian terdahulu yang mencoba menerapkan konsep Boff tentang “Allah
persekutuan” ke dalam berbagai situasi konkret hidup manusia. Sardono et all.
meneliti tentang relevansi pemikiran Boff ini ke dalam kehidupan sosial
politik.5 Sedangkan Melburan melihat relevansi persekutuan Trinitas menurut
Boff dalam kehidupan komunitas religius.6 Ada pula yang meneliti hubungan
antara moderasi beragama dan konsep Boff tentang Trinitas sebagai Allah
persekutuan. 7 Berkaitan dengan moderasi beragama, Taroreh juga meneliti
penerapan konsep Allah persekutuan bagi pembebasan warga dari
radikalisme beragama. 8 Sementara Dalihade, menerapkan konsep Trinitas
sebagai Allah persekutuan menurut Boff ke dalam upaya pelestarian lingkungan
hidup.9 Dalam penelitian ini, penulis berfokus pada persekutuan kasih antara
ketiga pribadi Ilahi, menurut pandangan Boff, dan penerapannya bagi kehidupan
Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Tujuan penelitian ini yaitu melihat
persekutuan kasih dalam Trinitas sebagai model dan ideal bagi kehidupan
bersama para anggota KBG.
Hasil dan Pembahasan
Konsep Boff tentang Allah Trinitas Sebagai Persekutuan
Sebelum pembahasan mengenai konsep Boff tentang Trinitas, terlebih
dahulu dipaparkan secara singkat ajaran Alkitab tentang Trinitas dan pandangan
umum di era patristik. Kitab Suci Perjanjian Lama telah memulai konsep
tentang Allah yang Trinitas ini walaupun masih implisit. Indikasi bahwa Allah
yaitu Tritungg l telah terdapat dalam Kitab Kejadian pasal satu, sebagaimana
dapat ditemukan dalam penyebutan tentang Sang Pencipta itu sebagai “Allah”,
“Firman Allah”, dan “Roh Allah” (bdk. Kej 1: 1-3). Dikatakan bahwa setelah
Allah menciptakan langit dan bumi, Roh Allah melayang-layang di atas air yang
masih diliputi kegelapan. Lalu Allah menciptakan benda-benda langit yang
menjadi penerang. Ketika Allah menciptakan benda-benda langit, dan
menciptakan pula keteraturan dalam alam semesta serta seluruh isi bumi, Allah
menciptakan dengan FirmanNya. Firman Allah merupakan agen penciptaan
alam semesta. Di kemudian hari konsep ini digunakan juga oleh rasul Yohanes.
Yohanes berkata bahwa Firman itu pada mulanya berada bersama Allah, dan
bahwa “segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun
yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1: 1-3). Firman itulah
yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.
Ayat lain yang juga menunjukkan ketritunggalan Allah dalam Perjanjian
Lama yaitu Kejadian 1:26. “baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar
dan rupa Kita”. Kata “Kita” merupakan kata ganti diri jamak. Hal ini berarti,
bahwa subjek yang berkata itu lebih dari satu pribadi. Penggunaan kata jamak
ini menunjukkan, bahwa Allah bukan hanya satu pribadi, tetapi lebih dari satu
pribadi. Penafsiran seperti ini telah digunakan oleh para teolog terkenal seperti
Karl Barth dan banyak yang mengikutinya. Sebagai contoh, dari antara banyak
teolog masa kini yaitu Dylfard Edward Pandey.14
Selanjutnya dalam Perjanjian Baru, konsep ini semakin nyata
walaupun istilah Trinitas itu sendiri tidak digunakan. Dalam Perjanjian Baru
terdapat sejumlah ayat yang secara lebih jelas mengungkapkan tentang
ketritunggalan Allah. Dalam pembaptisan Yesus di sungai Yordan tampak
bahwa Allah hadir di sana sebagai Allah yang Tritunggal: Bapa yang berseru
dari langit, Putera yaitu Yesus yang dibaptis di sungai Yordan, dan Roh Kudus
dalam rupa burung merpati yang turun ke atas Yesus. (bdk. Mat. 3: 13-17; Mrk.
1:9-11; Luk. 3:21-22; Yoh. 1: 32-34). Selain itu ada pula rumusan
ketritunggalan Allah yang juga amat jelas. Dalam Injil Matius, dikisahkan
tentang Yesus yang menampakkan diri setelah kebangkitanNya dan mengutus
kesebelas murid-Nya untuk mewartakan Injil. Yesus menyampaikan kepada
14 Dylfard Eduard Pandey, “Allah Tritunggal: Sebuah Risalah Teologis Alkitabiah
Tentang Keesaan Dan Ketritunggalan Allah,” Davar: Jurnal Teologi 1, no. 1 (2020): 43–64.
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 1, Juni. 2024 62
para murid-Nya suatu tugas perutusan untuk membaptis “dalam nama Bapa,
Anak, dan Roh Kudus” (bdk. Mat.28:18-19).
Fakta biblikal di atas merupakan dasar refleksi Gereja tentang Allah
Tritunggal. Konsep tentang Allah Tritunggal merupakan kesimpulan dari
seluruh sejarah penyataan diri Allah dalam Alkitab. Iman kepada Allah
Tritunggal yaitu tanggapan manusia atas penyataan diri Allah ini . Tetapi
iman juga menuntut rasionalitas walaupun upaya memahami Allah yang
transenden itu bukanlah hal yang mudah dicapai oleh rasionalitas manusia.
Allah yaitu Pencipta yang pada dasarnya tidak dapat dibatasi oleh ruang dan
waktu, sedangkan manusia yaitu ciptaan yang terbatas. sebab itu secara
mutlak rasionalitas manusia yang terbatas tidak mungkin memahami secara
penuh tentang Allah yang transenden itu.
Walaupun demikian, para Bapa Gereja, tetap berupaya menggunakan akal
budi mereka untuk memahami ajaran alkitabiah ini dan mengembangkannya
dalam refleksi teologis mereka. Istilah Trinitas itu sendiri dapat dikatakan
merupakan ciptaan dari para Bapa Gereja, sebab memang tidak digunakan
secara eksplisit dalam Alkitab. Istilah trias (Yunani) pertama kali dipakai oleh
Teofilus dari Antiokhia pada akhir abad kedua, kemudian kata Trinitas (Latin)
digunakan oleh Tertullianus. 15 Para Bapa Gereja yang lain menerima istilah
ini dan menggunakannya pula dalam tulisan-tulisan mereka. Istilah ini
diterima secara cepat dan digunakan secara luas oleh sebab dapat
mempermudah pengungkapan tentang inti iman Kristiani yang telah terdapat
dalam Kitab Suci.
Beberapa Bapa Gereja seperti Tertullianus, Origenes, dan Agustinus,
memberikan refleksi yang mendalam tentang Trinitas. Agustinus misalnya
menulis buku De Trinitate yang terdiri dari 15 volume. Pada dasarnya, seperti
para Bapa Gereja yang lain, Agustinus mengemukakan bahwa Allah itu
merupakan satu substansi ke-Allahan yang terdiri dari tiga pribadi. Selanjutnya
di abad pertengahan, teologi Trinitas semakin didalami. Salah satu tokoh
terkenal abad pertengahan yang menguraikan teologi Trinitas yaitu Thomas
Aquinas. Thomas Aquinas menekankan penggunaan akal budi dalam upaya
memahami Allah Tritunggal, walaupun dia akui pula bahwa akal budi tetap
terbatas. Menurut Aquinas pembicaraan tentang Allah pada dasarnya merupakan
ranah wahyu .16
Bany k or g yang telah mencoba untuk menjelaskan konsep tentang
Tritunggal ini dari sisi rationalitas, tetapi kemudian sebab ketidakmampuan dan
keterbatasan akal budi mereka, menyebabkan munculnya berbagai ajaran heresi
atau bidah di dalam Gereja. Dalam sejarah Gereja, berbagai ajaran heresi yang
mempunyai pemahaman yang berbeda tentang konsep Trinitas ini, antara lain
Triteisme, Arianisme, Monarkhianisme, Sabellianisme (Modalisme).17 Ajaran-
ajaran sesat ini menyangsikan iman tentang ketritunggalan Allah dan telah
menyebabkan banyak kebingungan di kalangan umat Kristiani abad itu.
Salah satu yang paling mengguncang Gereja abad itu ialah Arianisme
yang dipelopori oleh Arius, seorang Imam dari Alexandria. Dalam
pandangannya, Arius menyangkal ke-Allahan dari Putera (Logos). Ia melihat
Logos sebagai ciptaan Allah yang pertama, sehingga Logos tidak termasuk
dalam dunia Ilahi maupun jasmani, namun berada di antaranya.18 Bagi Arius,
sebab Putera diciptakan, maka Ia tidak sehakekat dengan Bapa. Dengan
penolakan atas keilahian Putera ini, Arianisme tidak menerima konsep Allah
yang Trinitas. Pandangannya yang sesat ini kemudian membuat Arius
diekskomunikasi dalam sinode Alexandria pada tahun 319, dan sekali lagi oleh
Konsili Nicea tahun 325 yang diadakan untuk menjawabi ajaran Arius. Dengan
diadakan konsili yang membahas persoalan yang disulut oleh Arius ini ,
membuktikan bahwa Arianisme memang sangat berpengaruh dan mengguncang
iman akan Allah Tritunggal kala itu.
Kemunculan Arianisme dan bidah-bidah yang lain ternyata memiliki pula
hikmahnya bagi perkembangan teologi dalam Gereja, terutama berdampak besar
bagi perkembangan pandangan Gereja tentang Allah Trinitas. Ajaran-ajaran
sesat itu telah mendorong Gereja untuk merumuskan iman sejati tentang Trinitas
secara sistematis melalui konsili-konsili awal. Munculnya rumusan pengakuan
iman yang dikenal dengan Credo Nicea-Konstantinopel, bermula dari tanggapan
Gereja atas pandangan-pandangan sesat tentang Trinitas pada zaman itu, melalui
konsili di Nicea dan kemudian di Konstantinopel.
Untuk memahami konsepsi ketritunggalan Allah tidak serta merta melalui
rasionalisasi semata, sebab Allah itu mengatasi akal budi manusia (supra
rationem) walaupun juga tidak berarti bertentangan dengan akal budi (contra
rationem). 19 Maka untuk memahami Allah yang Tritunggal, perlu dibarengi
dengan iman, seperti kata Thomas Aquinas, bahwa “iman menolong budi, indera
tak mencukupi.”20 Diktum ini, setidaknya memberikan pencerahan, bahwa akal
budi manusia memiliki keterbatasan. sebab itu, mutlak perlu iman untuk
memahami Allah yang begitu transenden. Dengan iman Allah membuka realitas
lain yang tak dapat dijangkau oleh akal budi manusia.
Meskipun Allah Tritunggal terdiri dari tiga pribadi Ilahi akan tetapi
ketiganya memiliki relasi yang sama antara Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
Relasi inilah yang kemudian menjadikan mereka sebagai satu persekutuan kasih.
Kata Yunani yang digunakan untuk mengungkapkan hal ini yaitu perichoresis,
di mana terdapat relasi timbal balik dari pribadi-pribadi Ilahi sedemikian rupa
sehingga satu pribadi Ilahi berada seluruhnya dalam pribadi Ilahi yang lain.
Relasi yang demikian menjadikan ketiga pribadi merupakan satu hakikat
walaupun tetap dibedakan antara pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus.21
Dengan kata lain Allah Tritunggal memiliki satu kodrat keAllahan yang
menegaskan hubungan satu sama lain yang tak terpisahkan. Sedangkan pribadi
Allah Tritunggal menunjukkan perbedaan ketiga-Nya secara riil. Bapa bukan
Putera, Putera bukan Roh Kudus. Perbedaan ketiga-Nya secara riil, dapat dilihat
dari deskripsi asal setiap pribadi Ilahi dalam Kitab Suci. Bapa kekal tidak
berasal dari mana pun, tetapi Dia melahirkan Putera, Putera lahir dari Bapa, dan
Roh Kudus datang dari Bapa dan Putera.22 Namun perbedaan ketiga Pribadi
Ilahi secara riil, tidak membagi kesatuan ilahi.
Konsep Leonardo Boff tentang Allah Tritunggal sebagai Allah
persekutuan muncul dari pengalaman Boff ketika melayani paroki-paroki di
komunitas-komunitas miskin di Brazil. Pada masa itu ia mulai menghargai
ajaran dasar teologi pembebasan, yang menekankan tindakan praksis
berdasarkan iman Kristiani atas nama orang-orang yang tertindas dalam
warga . Boff, kemudian melihat kesatuan pribadi-pribadi Trinitas sebagai
sebuah persekutuan kasih. Ketiga pribadi itu merupakan satu kehidupan dengan
kesamaan derajat tanpa yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan segala sesuatu
dimiliki bersama dan dibagikan pula bersama.23 Boff menjelaskan, bahwa Allah
Trinitas yang diimani oleh umat Kristiani, berada dalam korelasi abadi. Pribadi-
pribadinya, tinggal bersama, berada bersama, dan saling meresapi satu sama
lain, sehingga merupakan satu Allah yang tunggal.24 Dengan demikian Allah
merupakan persekutuan dari pribadi-pribadi Ilahi: Bapa, Putera, dan Roh Kudus,
sebab sejak awal mula Allah yang esa tidak berada dalam kesepian, tetapi
hidup di dalam persekutuan.25
Boff menegaskan lebih lanjut gambaran persekutuan dan korelasi pribadi-
pribadi ilahi di dalam Trinitas. Ia memperlihatkan peresapan penuh yang timbal
balik antara pribadi-pribadi Ilahi. Boff menggunakan istilah perichoresis yaitu
istilah yang telah digunakan oleh para Bapa Gereja, untuk menjelaskan
hubungan timbal balik antara ketiga Pribadi Ilahi. Istilah perichoresis ini berasal
dari bahasa Yunani, yang dapat diartikan sebagai, “berada bersama”, “tinggal
bersama”, atau “saling meresapi”.26 Dengan demikian dapat dipahami, bahwa
ketiga pribadi Ilahi yang berada bersama-sama merupakan satu kesatuan, tanpa
ada perbedaan derajat, dalam arti tidak ada yang lebih tinggi, lebih besar, atau
lebih dahulu dari yang lain.
Pemahaman Trinitas sebagai persekutuan kasih antara Bapa, Putera, dan
Roh Kudus ini, kemudian menemukan relevansinya dengan kehidupan bersama
umat manusia. Dalam pemahaman ini semua orang sama martabatnya, dan harus
dihormati di dalam kekhasan mereka masing-masing yang berbeda-beda.
Berpangkal dari pandangan di atas, Boff, kemudian menarik konsekuensinya
bagi kehidupan manusia, warga , dan Gereja. Allah sebagai Trinitas dapat
menjadi model dan inspirasi untuk membangun warga , yang ditandai oleh
persaudaraan, kesamaan, kemitraan, yang kemudian memberi ruang yang luas
bagi ekspresi pribadi atau kelompok, sebagai anggota-anggota yang sederajat
tetapi dipersatukan oleh suatu persekutuan. Dengan demikian, menurut Boff,
persekutuan Allah Tritunggal, dapat membawa pengaruh yang besar dalam
sebuah sistem pemerintahan, baik di dalam Gereja maupun di dalam
warga . Boff menyoroti pentingnya kesatuan yang tidak terpisahkan
23 Boff, Allah Persekutuan, 103.
24 Boff, 143.
25 Boff, 1.
26 Boff, 103.
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 1, Juni. 2024 66
sembari menghormati keanekaragaman yang ada. Trinitas dilihat Boff bukan
hanya sebuah konsep teologis, tetapi juga model bagi kita dalam membangun
warga berdasarkan cinta kasih, dan solidaritas di antara sesama manusia.27
Berkaitan dengan pemerintahan di dalam warga , menurut Boff,
sebuah pemerintahan yang ideal yaitu pemerintahan di mana setiap anggota
memiliki kesamaan derajat, terlepas dari sistem kepemimpinan yang dibangun.28
Kepemimpinan apa pun, pada dasarnya perlu mengedepankan persekutuan
sebab persekutuan merupakan bentuk relasi yang paling sempurna, di mana
setiap orang dituntut untuk menghargai perbedaan satu sama lain. Dalam
kehidupan bersama di warga atau di dalam Gereja sendiri penting
membangun sebuah komunitas yang inklusif di mana setiap anggota dapat
saling mendukung dan memperkuat satu sama lain, sebagaimana tercermin
dalam persatuan antara pribadi-pribadi Ilahi di dalam persekutuan Trinitas. Oleh
sebab itu, dalam komunitas mana pun, penting diperhatikan, bahwa setiap
individu setara martabatnya dan masing-masing individu layak dihargai
keunikan dan perbedaannya.
KBG Sebagai Perwujudan Persekutuan Kasih Trinitas
Komunitas Basis Gerejawi (KBG), tentu bukan lagi istilah yang asing bagi
umat Kristiani di masa kini. Komunitas seperti ini mulai berkembang pertama-
tama di Brazil sekitar tahun 1960-an. 29 Pakaenoni mengutip seorang teolog
Brazil, Marcello Azevedo, mengatakan bahwa awal keberadaan Komunitas
Basis Gerejawi di Brazil dapat diidentifikasi antara tahun 1963-1967.30 Sebelum
terbentuknya KBG, setidaknya ada tiga gerakan di dalam lingkup Gereja di
Brazil yang menjadi latar belakang.31 Pertama, lahirnya gerakan Evangelisasi
Komunitarian yang terungkap melalui katekese popular Barra do Pirai tahun
1956. Tujuan utama dari katekese ini, ialah mewujudkan misi penginjilan, dan
peranan sebuah Gereja lokal bagi kehidupan beriman seluruh umat. Hal ini
dilakukan mengingat keterbatasan jumlah imam dan biarawan untuk melayani
misi ini sehingga kaum awam perlu dilibatkan. Kedua, “Gerakan Natal”
(The Natal Movement) tahun 1962. Gerakan ini bertujuan untuk memperhatikan
orang-orang Kristiani yang tidak aktif lagi dalam kehidupan sebagai warga
Gereja. Mereka tidak berpartisipasi dalam kehidupan paroki dan juga tidak
menerima pelayanan Sabda dan Sakramen. Di samping itu, terkandung pula
dalam gerakan ini, sebuah misi untuk pembebasan dunia melalui preferensi
keberpihakan kaum Kristiani, kepada orang-orang miskin dan tertindas. Ketiga,
Gerakan Pendidikan Dasar (Movimento de educacao de base) tahun 1965.
Gerakan ini menjadi cikal bakal dari pendidikan dasar dalam konteks Gereja dan
negara Brazil. Pendidikan dijadikan sebagai sebuah proses penyadaran bagi para
peserta didik untuk menghadapi aneka realitas hidup. Tujuan akhir dari
pendidikan seperti itu yaitu membangkitkan kesadaran warga untuk
menemukan solusi atas berbagai permasalahan seperti kesehatan, pendidikan
dan kehidupan sosial-politik.
Gerakan-gerakan seperti disebutkan di atas, pada akhirnya melahirkan
Komunitas Basis Gerejawi yang tersebar dalam warga sebagai basis
perjuangan. Hal ini mendapat dukungan dari Konferensi Wali Gereja Brazil
melalui Konferensi Kedua (CELAM II) di Medelin, 1968. Dukungan ini
telah menyebabkan perkembangan pesat KBG dalam waktu singkat. Gerakan
KBG ini lebih lanjut diterima pula oleh berbagai Gereja lokal di luar negara
Brazil.
Gereja di Asia melalui Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC)
mempromosikan gerakan KBG ini ke seluruh warga Katolik di negara-negara
Asia melalui sidang umum di Bandung tahun 1990.32 Di Indonesia Gerakan
KBG ini ditetapkan sebagai cara baru hidup menggereja melalui Sidang Agung
Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2000. Selanjutnya keuskupan-
keuskupan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, menjawabi gerakan yang
diserukan oleh SAGKI ini . Gereja di Nusa Tenggara Timur misalnya,
keuskupan-keuskupan mengembangkan komunitas-komunitas basis yang
bersifat devosional (misalnya kelompok untuk doa dan pendalaman iman) yang
telah dimulai tahun 1950-an, menuju KBG yang baru seturut semangat CELAM
II di Medelin.
KBG yaitu komunitas kecil akar rumput dari Gereja yang menekankan
partisipasi aktif, kepemimpinan bersama, dan komitmen terhadap keadilan
sosial. KBG juga meningkatkan martabat dan tanggung jawab kaum awam
dalam Gereja, dan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para anggotanya.
Biasanya komunitas kecil ini merupakan bagian dari struktur sebuah
paroki. Dalam komunitas ini dipilih seorang pemimpin atau penggerak
yang secara resmi dilantik oleh pastor paroki. Komunitas ini merupakan
komunitas iman yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang berasal dari
latar belakang budaya yang berbeda-beda. Tetapi, sebab imannya yang sama
kepada Kristus, mereka disatukan sebagai sebuah persekutuan anak-anak Allah.
KBG pada saat ini masih lebih banyak terarah kepada kegiatan-kegiatan Rohani.
Pergeseran dari KBG lama sebagai kelompok devosional ke KBG sebagai
kelompok perjuangan bersama misalnya mengatasi masalah-masalah sosial
belum sepenuhnya terjadi. 34 Walaupun demikian, kegiatan-kegiatan sosial
kewarga an tidak diabaikan sama sekali.
KBG berfokus pada pengembangan iman setiap anggota komunitas yang
bersifat holistik, yaitu rohani dan jasmani, individual dan sosial, penguatan ke
dalam dan misi evangelisasi ke luar. Hal ini terealisasi dalam kegiatan-kegiatan
yang dilakukan di dalam komunitas. KBG menjadi tonggak dalam menjalankan
misi evangelisasi Gereja di tengah warga . Dengan demikian, KBG
menunjukkan eksistensinya sebagai persekutuan yang utuh dan berintegritas.
Untuk itu, sebagai sebuah persekutuan, setiap anggotanya berupaya
menunjukkan relasi yang baik dalam membangun kerja sama di dalam
komunitas.
Model persekutuan Trinitas yang ditawarkan oleh Boff lewat sumbangsih
pemikirannya, sangat cocok dan relevan bila diterapkan di dalam KBG.
Hubungan dalam Trinitas yang disebut perichoresis, menurut Boff merupakan
model ideal yang mendorong suatu komunitas untuk mengimitasinya. Model
relasi ideal ini menjadi kekuatan untuk transformasi kehidupan warga ,
yaitu mewujudkan suatu cara baru menjalani kehidupan menurut gambaran
Trinitas.35 Dengan pandangan terhadap Trinitas seperti ini, Boff tidak hanya
berhenti pada tingkatan ajaran teologi, melainkan juga menjadikan kehidupan
Trinitas sebagai dasar dari transformasi sosial dan pembebasan manusia dari
berbagai tekanan. Persekutuan di dalam Allah Trinitas menjadi model bagi
persekutuan dalam KBG.
Dari pemahaman-pemahaman di atas, konsep Trinitas Boff sebagai Allah
Persekutuan memiliki implikasi terhadap kehidupan dalam KBG. Kehidupan di
dalam KBG sebagai sebuah persekutuan iman selayaknya merupakan cerminan
dari pe sekutuan kasih Trinitas. KBG yang mencerminkan persekutuan dalam
Tritunggal Mahakudus merupakan gagasan mendalam yang dapat dieksplorasi
dari beberapa sudut pandang.
Pertama, dari sudut kesatuan dalam perbedaan. Ketiga pribadi Trinitas
berbeda namun bersatu dalam keselarasan sempurna. Demikian pula, KBG
menyatukan individu-individu dengan beragam latar belakang, bakat, dan
perspektif, yang berupaya untuk berfungsi sebagai satu tubuh di dalam Kristus.
Setiap anggota menyumbangkan karunia dan pengalaman unik mereka, yang
memperkaya komunitas dan hal ini mencerminkan kekayaan dalam Trinitas.
Kedua, dari segi saling mengasihi dan tidak mementingkan diri sendiri. Kasih
sempurna antara Bapa, Putera, dan Roh Kudus bersifat penyerahan diri dan
pengorbanan. Anggota KBG bertujuan untuk menumbuhkan kasih yang sama
dalam komunitas mereka, menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan
mereka sendiri dan mempraktekkan sikap saling mendukung. Kasih tanpa
pamrih ini mencerminkan kasih agape yang dicontohkan oleh Kristus dan
mencerminkan hubungan abadi dalam Trinitas.
Ketiga, misi dan tujuan Bersama. Tritunggal Mahakudus bersatu dalam
misi penciptaan, penebusan, dan pengudusan. Demikian pula, KBG memiliki
tujuan yang sama, didorong oleh iman dan keinginan untuk melayani Tuhan dan
komunitasnya. Misi bersama ini menyatukan anggota dalam tujuan bersama,
melampaui perbedaan individu dan mencerminkan sifat kolaboratif dari karya
Tritunggal. Keempat, komunikasi dan bersekutu dalam doa dan kearifan.
Tritunggal selalu berkomunikasi dan bersekutu, berbagi pemikiran dan niatnya.
KBG berupaya menciptakan ruang untuk komunikasi terbuka, doa, dan
pemahaman bersama. Melalui pendengaran Sabda dan refleksi yang penuh doa,
para anggota mencari bimbingan Tuhan dan berusaha untuk bertindak selaras
dengan kehendak-Nya, dan hal ini menggemakan kesatuan tujuan dalam
Tritunggal.
Kelima, transformasi dan pertumbuhan yang konsisten. Hubungan dalam
Tritunggal yang konsisten, merupakan hal ideal yang diupayakan dalam KBG.
KBG dapat berfungsi sebagai katalisator transformasi sosial yang dimulai dari
pribadi dan komunitas. Melalui berbagi pengalaman, doa, dan dukungan, para
anggota dapat bertumbuh dalam iman, pengertian, dan kasih mereka secara
konsisten. Hal ini mencerminkan konsistensi yang berkelanjutan dalam
Tritunggal.
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 1, Juni. 2024 70
Persekutuan kasih yang menjadi kesatuan antara pribadi-pribadi Ilahi di
dalam Allah yang Trinitas, menjadi dasar untuk perkembangan sebuah KBG.
Para anggota komunitas menunjukkan relasi yang penuh antara para
anggotanya. Meskipun komunitas basis itu sendiri memiliki struktur yang
menjadi acuan dalam membangun kehidupan bersama di dalam komunitas,
tetapi hal ini bukanlah sebuah tembok pemisah yang membatasi relasi antara
para anggota komunitas. Para anggota komunitas basis dituntut untuk saling
mengisi satu sama lain, berada bersama, dan saling meresapi satu sama lain
sebagai sebuah komunitas yang merupakan persekutuan kasih.
KBG merupakan persekutuan iman, di mana unsur comunio di dalamnya
sangat kental. Oleh sebab itu, KBG sebenarnya tidak menekankan pola dan
gaya kepemimpinan yang sentralistis dan hierarkis, melainkan setiap anggota
memiliki peran yang seimbang, desentralistis dengan pembagian tugas serta
tanggung jawab. Dengan demikian, pemahaman ini merujuk pada kesetaraan
derajat semua anggota komunitas.36 Setiap anggota komunitas dipanggil untuk
saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Hal ini berarti bahwa setiap
anggota di dalam komunitas basis berupaya mengutamakan nilai-nilai
persaudaraan dan cinta kasih, yang bermuara pada kepenuhan eksistensial
sebuah komunitas. Sebagai sebuah komunitas, terkandung di dalamnya nilai-
nilai konvensional yang bertujuan pada kebaikan bersama (Bonum Commune)
anggota komunitas.
KBG sebagai sebuah persekutuan iman, juga selalu berorientasi pada nilai-
nilai Kristiani yang ditanam di dalam komunitas ini . Maka, peran anggota
komunitas demi memperjuangkan nilai-nilai Kristiani sangat penting dalam
menunjang pertumbuhan dan perkembangan anggota komunitas. KBG,
setidaknya memiliki sebuah corak yang khas, sehingga dapat dibedakan dari
organisasi-organisasi warga lainnya. Untuk itu, dibutuhkan model
persekutuan yang khas dari Kristus, sebagai contoh dan teladan hidup di dalam
komunitas umat.
Sebagai sebuah persekutuan, KBG menjadikan relasi persekutuan Trinitas
sebagai model dalam membangun hubungan yang harmonis di dalam komunitas
ini . Relasi penuh dan total yang ditunjukkan di dalam ketiga pribadi Ilahi,
menjadi spirit di dalam komunitas. Setiap anggota komunitas, mengupayakan
dan menghidupi kesetaraan derajat di dalam komunitas, di mana tidak ada yang
lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan semuanya sama-sama dihargai
martabat dan perannya. Struktur yang dibangun di dalam komunitas gerejawi
hany seb tas pada pembagian tugas, bukan berorientasi pada kekuasaan.
Struktur hanyalah sebuah formalitas yang membantu dalam proses kerja di
dalam komunitas tanpa mereduksi esensi dari makna komunitas itu sendiri.
Konsep Allah Trinitas sebagai persekutuan menurut Boff, tepat dijadikan
model persekutuan yang ideal di dalam KBG. Boff melihat adanya relasi
interpersonal yang khas di antara ketiga pribadi Ilahi: Bapa, Putera, dan Roh
Kudus. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam KBG, sehingga setiap
anggota mampu untuk saling menghargai dan saling menghormati sesama
anggota tanpa memandang rendah atau mendiskriminasi walaupun berasal dari
latar belakang sosial, budaya dan ekonomi yang berbeda. KBG sebagai sebuah
persekutuan iman selayaknya mengedepankan kesetaraan semua anggota tanpa
membedakan status sosial atau ekonomi, sehingga yang miskin dan yang kaya,
yang berjabatan tinggi dan rakyat jelata dapat duduk sama rendah dan berdiri
sama tinggi di hadapan Tuhan. Dengan demikian misi evangelisasi yang
diemban umat beriman Kristiani di tengah warga dapat terlaksana secara
efektif.




