eaksi / teguran Maria baru diceritakan
dalam ay 48. Ini menunjukkan bahwa Yesusnyalah yang dipentingkan dalam
cerita ini, bukan Yusuf ataupun Marianya! Gereja yang lebih mengutamakan
Maria dari pada Yesus, jelas sudah menyimpang dari Alkitab! Istilah ‘alim ulama’
diterjemahkan ‘teachers’ (= guru-guru) oleh NIV / NASB. Rupanya ini adalah ahli-
ahli Taurat pada saat itu.
c) Mengapa Yesus sengaja tinggal di Yerusalem dan berdiskusi dengan para ahli
Taurat itu? Untuk belajar Firman Tuhan. Ini menunjukkan Ia rindu pada Firman
Tuhan. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara rindu pada Firman Tuhan?
Dan apakah kerinduan itu saudara wujudkan dengan mencari Firman Tuhan?
Jangan merasa aneh kalau Yesus perlu belajar Firman Tuhan. Jangan lupa
bahwa Yesus adalah Allah dan manusia dalam satu pribadi sehingga Ia
mempunyai 2 pikiran, yaitu ilahi dan manusia, yang timbul tenggelam secara
bergantian. Pikiran ilahiNya tentu saja mahatahu dan tidak perlu belajar, tetapi
pikiran manusiaNya terbatas / tidak mahatahu sehingga perlu belajar dan bisa
mengalami pertumbuhan pengetahuan (bdk. ay 40,52 - bertumbuh dalam
hikmat).
Ini bertentangan dengan ajaran Apolinarianism, yang mengatakan bahwa
pikiran Yesus berasal dari LOGOS. Di sini Ia belajar Firman Tuhan melalui suatu
diskusi (ay 46b-47). Kalau saudara adalah orang kristen yang tidak senang
berdiskusi tentang Firman Tuhan, ada sesuatu yang aneh / tidak beres dalam diri
saudara! Mungkin ini juga untuk menyiapkan orang-orang Yahudi untuk melihat dan
mengakui adanya hikmat ilahi dalam diriNya. Supaya Yusuf dan Maria sadar
bahwa Ia bukan anak biasa.
3) Pertanyaan Maria dan jawaban Yesus (ay 48-49).
Dalam ay 48 Maria bertanya / menegur Yesus dengan berkata: "Nak,
mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan
cemas mencari Engkau". Dan dalam ay 49 Yesus menjawab: "Mengapa kamu
mencari Aku? Tidak-kah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah
BapaKu?"
a) Ini adalah kata-kata Yesus yang pertama yang dicatat dalam Kitab Suci.
b) ‘Rumah BapaKu’. RSV/NIV/NASB: my Father’s house (= rumah BapaKu). Dalam
bahasa Yunaninya kata ‘house / rumah’ itu sebetulnya tidak ada. Jadi terjemahan
hurufiahnya hanyalah: I must be in my Father’s (= Aku harus ada dalam milik
BapaKu). KJV menterjemahkan: my Father’s business (= kesibukan BapaKu).
c) William Barclay memberi komentar: "See how gently but very definitely Jesus
takes the name father from Joseph and gives it to God" (= Lihatlah betapa
dengan lembut tetapi pasti Yesus mengambil nama / sebutan bapa dari Yusuf
dan memberikannya kepada Allah). Kalau kita membetulkan orang lain, seringkali
kita melakukannya dengan pasti / tegas, tetapi tidak dengan lembut. Atau dengan
lembut, tetapi tidak pasti / tegas. Kita perlu belajar dari Yesus dalam hal ini!
d) Kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa Ia bukanlah anak biasa, sebab
sekalipun Ia adalah manusia, tetapi Ia juga adalah Allah sendiri! Dalam Kitab
Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebab setiap
kitab Injil menyoroti Yesus dari sudut yang berbeda.
Matius menekankan Yesus sebagai Raja.
Markus menekankan Yesus sebagai Hamba.
Lukas menekankan Yesus sebagai manusia.
29
Yohanes menekankan Yesus sebagai Allah. Text yang kita bahas hari ini ada
dalam Injil Lukas yang menekankan kemanusiaan Yesus, tetapi tidak berarti
bahwa Lukas mengabaikan keilahian Yesus! Text ini sendiri memang sangat
menekankan kemanusiaan Yesus dengan menceritakan pertumbuhan Yesus
secara fisik dan pertumbuhan hikmatNya dsb (ay 40,52), tetapi disela-sela
text ini tetap terlihat keilahian Yesus! Ini mengajar kita untuk melihat doktrin-
doktrin dan juga ayat-ayat Kitab Suci secara seimbang. Kata-kata Yesus ini
juga menunjukkan bahwa kewajiban terhadap Allah lebih besar dan harus
lebih diutamakan dari pada kewajiban terhadap orang tua.
4) Ketidakmengertian Yusuf dan Maria (ay 50,51b). Sesuatu yang baik dari Maria di sini
adalah: sekalipun ia tidak mengerti kata-kata Yesus, tetapi ia menyimpannya dalam
hati! Bandingkan dengan banyak orang kristen yang sekalipun mengerti Firman
Tuhan, tetapi tidak menyimpannya dalam hati! 5) Mereka lalu kembali ke Nazaret dan
Yesus hidup dalam ketundukan kepada ‘orang tua’nya (ay 51). Kata-kata ‘tetap hidup
dalam asuhan mereka’ (ay 51) salah terjemahan. Seharusnya adalah ‘tunduk / taat
kepada mereka’. KJV: and was subject unto them (= dan tunduk kepada mereka).
NIV/RSV: and was obedient to them (= dan taat kepada mereka). NASB: and He
continued in subjection to them (= dan Ia tetap tunduk kepada mereka). Ini
merupakan sesuatu yang harus kita teladani: tunduk pada otoritas di atas kita. Anak
kepada orang tua. Istri kepada suami. Murid terhadap guru. Rakyat kepada
pemerintah. Pegawai kepada boss.
h. Pasal 4:14-9:50.
Pelayanan di Galilea. Konsisten dengan penolakan terhadap kuasa dunia dan
penyangkalan diri, maka Yesus kembali ke Galilea, dan bukan ke Yerusalem tempat
kekuasaan bagi Israel. Galilea menunjukkan tujuan akhir dari misi penebusan Allah. Pola
ini pada tahun-tahun berikutnya menemukan wujud yang utuh dalam pelayanan Paulus.
Setia terhadap asal-usul-Nya sebagai anak Israel sejati, Yesus memulai pelayanan di
dalam rumah-rumah sembahyang.tetapi segera dipaksa keluar dari sana, sebab orang
Yahudi tidak bersedia menerima dan mengakui Dia sebagai Mesias yang dinubuatkan
PL. Pasal 4:14-6:11 Pelayanan Awal. Dalam waktu singkat Yesus segera popular. Lukas
melaporkan “Tetapi kabar tentang Yesus makin tersiar…(4:15).
Pasal 5:33-39 Pengkritik dan kritikannya. Siapa para pengkritik ini? Dalam
Matius, yang datang kepada Yesus adalah ‘murid-murid Yohanes’ (Yohanes Pembaptis)
(Mat 9:14). Dalam Markus, yang datang kepada Yesus adalah ‘orang-orang’ (Mark 2:18).
Dalam Lukas, yang datang kepada Yesus adalah ‘orang-orang Farisi’ (ay 33). Tetapi ini
sebetulnya salah terjemahan. NIV/NASB: ‘they’ (= mereka). Kalau kata ‘they’ / ‘mereka’
ini dihubungkan dengan kontex sebelumnya, yaitu Luk 5:30-32, maka kata ‘they’ /
‘mereka’ ini menunjuk kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Cara
mengharmoniskan bagian-bagian ini adalah dengan menafsirkan bahwa ‘orang-orang’
dalam Mark 2:18 adalah gabungan dari ‘murid-murid Yohanes’ dan ‘orang-orang Farisi
dan ahli-ahli Taurat’. Sekarang ada 2 kemungkinan: a).Kedua grup itu datang kepada
Yesus, tetapi Matius dan Lukas hanya menceritakan salah satu. b).Orang-orang Farisi
menghasut murid-murid Yohanes untuk melancarkan kritik kepada Yesus tentang murid-
muridNya. Matius hanya menyoroti grup orang yang betul-betul datang kepada Yesus
yaitu murid-murid Yohanes. Lukas menyoroti grup yang menjadi sumber terjadinya
persoalan itu, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sedangkan Markus menyoroti
keduanya. Murid-murid Yohanes Pembaptis mengkritik Yesus. Yohanes Pembaptis
adalah orang yang diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus (Luk 1:16-17,76).
Jadi sebetulnya pada waktu Yesus mulai pelayanan, maka murid-murid Yohanes ini
seharusnya lalu mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka memang melakukan hal ini
atas pengarahan Yohanes (Yoh 1:35-37). Tetapi sebagian lain dari murid-murid Yohanes
ini menganggap Yesus justru sebagai saingan (Yoh 3:26). Mereka ini tidak mengikut
Yesus dan terus membentuk kelompok sendiri. Penerapan: Kesalahan seperti ini perlu
diwaspadai. Jangan sampai saudara hanya mengikut pendeta atau gereja atau aliran
tertentu. Saudara harus mengikut Yesus! Dan perlu diperhatikan bahwa kesalahan
seperti ini bisa terjadi pada murid dari Yohanes Pembaptis, yang adalah seorang hamba
Tuhan / nabi yang betul-betul ingin membawa murid-muridnya kepada Tuhan. Ini tentu
akan lebih mudah lagi terjadi pada murid-murid dari ‘hamba Tuhan’ yang memang ingin
mengarahkan orang kepada dirinya sendiri dan bukan kepada Tuhan. Kritikan mereka
(ay 33).
30
a) Mereka berkata: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian
juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-muridMu makan dan minum’ (ay 33).
Penerapan: Dalam hidup orang kristen / gereja ada hal-hal yang remeh, seperti: Cara
memuji Tuhan dengan / tanpa band, dengan / tanpa tepuk tangan; Bolehkah makan
dideh / darah?; Bolehkah orang mati diperabukan?
b) Hal-hal yang cukup penting, seperti: predestinasi atau Providence of God. Bisakah
keselamatan hilang? Haruskah orang kristen berbahasa roh / lidah?
c) Hal-hal yang sangat penting / essential, seperti: Kitab Suci adalah Firman Allah.
Yesus dan Roh Kudus adalah Allah sendiri. Yesus adalah satu-satunya jalan ke
surga. Adanya surga dan neraka. Kita diselamatkan sebab iman kepada Yesus dan
bukan sebab perbuatan baik / ketaatan. Membicarakan, mengetahui / mengerti
tentang perbedaan yang remeh dan perbedaan yang cukup penting adalah hal yang
harus dilakukan. Tetapi jangan terus menerus menyoroti hal-hal itu sehingga
melupakan persamaan dalam hal-hal yang essential / sangat penting. Sebagai
contoh, kalau kita sebagai orang Reformed bertemu dengan orang Arminian dan lalu
berdebat tentang predestinasi dan melupakan bahwa kita dan mereka sama-sama
percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat, maka kita tidak bisa
bersatu / saling mengasihi dengan mereka. Kita lupa bahwa dia adalah saudara
seiman kita dan kita akan menganggapnya sebagai musuh kita! Boleh saja kita
membicarakan / memperdebatkan tentang predestinasi dengan mereka, tetapi kalau
tidak mendapat titik temu, maka ingatlah persamaan yang mendasar yang ada antara
kita dengan mereka.
d) Tentang puasa, dalam Kitab Suci / Perjanjian Lama sebetulnya keharusan puasa
bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x, yaitu pada hari raya Pendamaian
(Im 16:29-34 Im 23:26-32 Bil 29:7-11). Tetapi orang-orang Farisi berpuasa 2 x
seminggu (Luk 18:12), yaitu pada hari Senin dan Jum’at (menurut tradisi ini adalah
hari dimana Musa naik ke Gunung Sinai). Sedang murid-murid Yohanes berpuasa,
mungkin sebab : sedih sebab penangkapan terhadap Yohanes. ikut-ikutan
orang Farisi. ajaran / teladan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 11:18). Jadi, mereka
berpuasa bukan sebab diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu adalah
puasa yang diharuskan oleh Firman Tuhan, pasti Yesus juga menyuruh murid-
muridNya berpuasa), tetapi sebab keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai
tradisi. Tetapi mereka lalu memaksa orang lain (murid-murid Yesus) untuk juga
berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu.
Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup. Penerapan: Dalam gereja
ada: Hal-hal yang dilakukan sebab diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci.
Misalnya: Perjamuan Kudus, Baptisan, pemberitaan Firman Tuhan, Pemberitaan Injil,
doa, adanya tua-tua / diaken, dsb. Hal-hal yang dilakukan sebab tradisi /
kebijaksanaan manusia. Misalnya: adanya katekisasi sebelum baptisan, pendeta
memakai toga dalam kebaktian, adanya doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman
Rasuli dalam kebaktian, penggunaan organ / band dalam kebaktian, tepuk tangan
dalam kebaktian, dsb. Hal-hal seperti ini tidak mutlak, dan kita tidak boleh memaksa
siapapun untuk melakukan hal-hal ini .
e) Jawaban Yesus terhadap kritikan itu (ay 34-39): Jawaban Yesus ini terdiri dari 3
bagian:
Untuk bisa mengerti jawaban Yesus ini, kita perlu mengerti tradisi orang Yahudi
pada jaman itu dalam pernikahan. Mereka berbulan madu di rumah. 1 minggu
setelah pernikahan, rumah terus dibuka. Teman-teman dekat mempelai
bersama-sama dengan mempelai berdua dan mempelai berdua diperlakukan
sebagai raja dan ratu. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak mungkin ada
seorang sahabat yang lalu berpuasa. Tradisi inilah yang menjadi latar belakang
jawaban Yesus. Saat dimana Yesus (mempelai pria) bersama-sama dengan
murid-muridNya (sahabat-sahabat mempelai pria) adalah saat bersukacita,
bukan saat susah, sehingga tidak cocok untuk berpuasa. Penerapan: Saat
bersama / dekat dengan Yesus adalah saat sukacita. Apakah saudara
bersukacita kalau saudara dekat dengan Yesus? Atau ada hal-hal lain yang
membuat saudara lebih bersukacita, seperti dapat uang / gangthao, bersama
teman-teman, piknik, dsb.
Yesus berkata bahwa pada saat mempelai pria ‘diambil dari mereka’, maka
mereka akan berpuasa. Sukar untuk menafsirkan dengan pasti apa maksud ayat
31
ini. (1).Saat Yesus mati disalib. Ini adalah pandangan dari hampir semua
penafsir. Ini berarti bahwa setelah kematian Yesus barulah murid-murid
berpuasa. Tetapi problem dengan pandangan ini adalah: Kitab Suci tidak pernah
menceritakan bahwa murid-murid Yesus berpuasa antara kematian dan
kebangkitan Yesus! (2).Saat Yesus naik ke surga. Problem dengan pandangan
ini adalah: saat Yesus naik ke surga, bukan merupakan saat dukacita bagi murid-
murid Yesus. Padahal Mat 9:15 jelas menunjukkan bahwa itu adalah saat
dukacita. Hal-hal lain yang menyebabkan bagian ini makin sukar ditafsirkan
dengan pasti adalah: Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun sehingga Yesus
hadir / ada lagi bersama murid-muridNya. Tetapi bagaimanapun, ini bukanlah
kehadiran jasmani, tetapi kehadiran secara rohani. Apakah kita harus
menganggap Yesus ada atau tidak ada bersama murid-muridNya? Puasa-
puasa yang dilakukan dalam Kisah Rasul semua terjadi setelah Pentakosta.
Tetapi dilakukan bukan sebab dukacita tetapi biasanya berhubungan dengan
pelayanan (Kis 13:2-3 Kis 14:23). Semua ini menyebabkan saya tidak bisa
mengambil kesimpulan yang pasti tentang arti ayat ini.
Puasa dilakukan pada saat sedih (Bdk ay 34 dengan Mark 2:19 dan Mat 9:15).
Ay 34: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai
itu bersama mereka?’. Mark 2:19 - ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki
berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?'. Mat 9:15 - ‘Dapatkah
sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama
mereka?’. Kata ‘berdukacita’ ini dalam bahasa Yunaninya adalah PENTHEIN,
yang artinya ’to mourn’ (= berkabung). Dari sini jelas bahwa Yesus mengatakan
bahwa saat yang tepat untuk berpuasa adalah pada waktu kita sedih /
berkabung. Jadi tidak sepatutnya kita berpuasa sekedar sebagai tradisi, tanpa
tujuan / sebab apa-apa, atau sekedar melaksanakan kewajiban. Banyak gereja /
orang kristen berpuasa pada Jum’at Agung dan sekitarnya. Apa alasannya?
sedih sebab penderitaan dan kematian Kristus? Ini lucu, sebab seharusnya kita
bersukacita bukan sedih. Mengapa? sebab tanpa penderitaan dan kematian
Kristus, kita tidak ada harapan. untuk ikut merasakan penderitaan Kristus? Ini
juga lucu, sebab Kristus rela menderita supaya kita bebas dari penderitaan /
hukuman. Kita bisa berpuasa pada saat kita merasa sedih sebab ada dosa yang
menyebabkan kita lalu tidak merasakan kehadiran Kristus dalam hidup kita.
Tentu saja puasa pada saat seperti ini harus disertai dengan pertobatan dari
dosa ini .
Satu hal perlu ditekankan adalah: ay 34-35 tidak berarti bahwa setelah kematian
Kristus, gereja harus berpuasa terus menerus. J. A. Alexander: "But this would
be equivalent to saying that the Saviour’s exaltation would consign his people to
perpetual sorrow. For he evidently speaks of grief and fasting as inseparable, and
in Matthew’s narrative of his reply, the former term is substituted for the latter
(Matt 9:15)" [= Tetapi ini sama dengan berkata bahwa pemuliaan Juruselamat itu
akan menandai umatNya dengan kesedihan kekal / terus menerus. sebab Ia
dengan jelas berbicara tentang kesedihan dan puasa sebagai 2 hal yang tak
terpisahkan, dan dalam cerita Matius tentang jawabanNya, istilah yang pertama
menggantikan istilah yang terakhir (Mat 9:15)].
Calvin: Baju / kantong tua mudah pecah / sobek. Ini menggambarkan
kelemahan murid-murid Yesus. Kain yang belum susut / anggur baru
menggambarkan disiplin yang terlalu keras. Jadi, artinya: belum waktunya
menyuruh murid-murid yang lemah itu melakukan disiplin yang begitu keras
seperti puasa.
William Barclay: Arti ay 36: kadang-kadang ‘menambal’ adalah suatu
ketololan. Kita harus memulai dengan sesuatu yang baru. Arti ay 37-38:
pikiran kita harus lentur / elastis, dalam arti kita harus mau menerima ide-ide
baru. Keberatan saya: kelihatannya ay 36-38 merupakan 2 perumpamaan
yang menunjuk pada satu arti yang sama. Yesus sering memberikan
beberapa perumpamaan berturut-turut untuk menekankan suatu kebenaran
tertentu. Contoh: Luk 15 memberikan 3 cerita berturut-turut yang mempunyai
penekanan / arti / fokus yang sama.
William Hendriksen: Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada
keselamatan / kekayaan rohani dalam Kristus. Baju baru / kantong baru
32
menunjuk pada rasa syukur dan sukacita. Inilah sikap yang tepat untuk
menerima berkat-berkat rohani di dalam Kristus.
Anggur baru / kain yang belum susut menunjuk pada keselamatan sebab
iman. Baju / kantong tua menunjuk pada keselamatan sebab perbuatan
baik. 2 ajaran ini tidak cocok untuk digabungkan.
Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada kekristenan. Baju /
kantong tua menunjuk pada Yudaisme / agama Yahudi. Dua ajaran ini tidak
bisa digabungkan. Yesus anti pada syncretisme (= penggabungan 2 agama
atau lebih).
Kekristenan bukanlah Yudaisme yang ditambal-tambal. Harus buang sama
sekali dan mulai dengan suatu yang baru. Saya paling condong pada arti ke
5.
Ay 39: Ayat ini tidak ada dalam Matius maupun Markus. a) Ini juga adalah
ayat sukar yang mempunyai 2 macam penafsiran: (a).Anggur tua menunjuk
pada ajaran Yesus, sebab anggur tua tidak mempunyai kemegahan seperti
anggur baru. Tetapi toh anggur tua lebih enak / lebih baik dari anggur baru
(ajaran orang Farisi). Jadi, maksud Yesus dengan ay 39 ini ialah: murid-
muridKu sudah mengecap ajaranKu yang lebih enak sehingga mereka pasti
tidak akan mau kembali pada ajaran orang Farisi / Yudaisme (anggur baru).
Keberatan: • ajaran orang Farisi ada lebih dulu dari ajaran Yesus, sehingga
aneh kalau digambarkan dengan anggur baru. Jawab: perumpamaan ini
hanya menunjukkan bahwa ajaran Yesus lebih baik dari ajaran orang Farisi,
dan tidak mempersoalkan yang mana yang lebih baru atau lebih lama. •
dalam ay 37-38, anggur baru menunjuk pada kekristenan / ajaran Yesus.
Jawab: ay 37-38 dan ay 39 adalah 2 perumpamaan yang berbeda / terpisah.
(b).Anggur tua menunjuk pada ajaran orang Farisi; anggur baru menunjuk
pada ajaran Yesus. Ayat ini menyerang kekolotan orang Farisi yang tidak
mau berubah / tidak mau menerima ajaran baru. Keberatan terhadap
penafsiran ini: mengapa anggur tua yang lebih enak ditujukan pada ajaran
orang Farisi? Bukankah ajaran Yesus yang lebih enak? Jawabnya: ini adalah
suatu perumpamaan. Tujuannya hanya menyerang kekolotan orang Farisi
tanpa mempersoalkan ajaran siapa yang lebih enak. Bandingkan dengan Luk
18:1-8 dimana Allah digambarkan sebagai hakim yang lalim. Saya condong
pada penafsiran ini.
i. Pasal 8:26-39. Kasus kerasukan setan.
1) Tempat terjadinya kasus ini. Ay 26: “Lalu mendaratlah Yesus dan murid-muridNya di
tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea”. Mat 8:28 - ‘Gadara’. Mark 5:1
- ‘Gerasa’. Ada 2 cara pengharmonisan: a) Ada yang mengatakan bahwa Gerasa
terletak 12 mil sebelah tenggara Gadara dan mungkin peristiwa itu terjadi di antara
dua tempat itu sehingga Matius menyebut Gadara dan Markus menyebut Gerasa. A.
T. Robertson: “Dr. Thomson discovered by the lake the ruins of Khersa (Gerasa).
This village is in the district of the city of Gadara some miles southeastward so that it
can be called after Gerasa or Gadara” [= Dr. Thomson menemukan dekat danau
reruntuhan dari Khersa (Gerasa). Desa ini ada di daerah kota Gadara beberapa mil di
sebelah tenggaranya sehingga tempat itu bisa disebut Gerasa atau Gadara] bahwa
ada yang mengatakan ‘Gergesa’, dan ini berbeda dengan Gadara maupun Gerasa.
Gadara dan Gerasa adalah kota yang lebih besar / penting, sedangkan Gergesa
adalah tempat / kota yang sama sekali tidak penting. Pulpit Commentary lalu berkata
bahwa mungkin di kota kecil itulah terjadi peristiwa ini, dan sebab itu Markus dan
Lukas tidak mau menggunakan nama kota kecil yang tidak dikenal itu, tetapi
menggunakan kota yang lebih besar di dekatnya, yang lebih dikenal. Leon Morris
(Tyndale) mengatakan bahwa nama ‘Gergesa’ itu ‘diciptakan’ oleh Origen.A T.
Robertson mengatakan bahwa Matius menggunakan ‘Gadara’; sedangkan Markus
dan Lukas menggunakan ‘Gerasa’. Jadi, tidak ada ‘Gergesa’.
2) Jumlah orang yang kerasukan setan. Ay 27: “Setelah Yesus naik ke darat, datanglah
seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan
sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi dalam
pekuburan”. Mark 5:2 juga mengatakan ‘seorang’. Bdk. Mat 8:28 - “Setibanya di
seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang
kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak
33
seorangpun yang berani melalui jalan itu”. Jadi, Matius mengatakan ‘dua orang’,
tetapi Markus dan Lukas mengatakan ‘seorang’. Pengharmonisan: Perhatikan bahwa
Markus dan Lukas tidak berkata ‘hanya seorang’. Mereka hanya menceritakan salah
satu saja, mungkin sebab orang itu lebih dikenal, dan / atau sebab orang itu lebih
parah keadaannya. Pulpit Commentary memberikan kemungkinan lain, yaitu sebab
hanya satu yang berdialog dengan Yesus, maka yang satu itulah yang diceritakan
oleh Markus dan Lukas (hal 206).
3) Apa yang dilakukan Setan terhadap orang yang ia rasuk. a).Memberinya kekuatan
yang luar biasa. Ay 29b: “sebab sering roh itu menyeret-nyeret dia, maka untuk
menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, tetapi ia memutuskan segala pengikat itu ...”.
Calvin: “Naturally, he was not able to break the chains; and hence we infer that Satan
is sometimes permitted to make extraordinary movements, the effect of which goes
beyond our comprehension and beyond ordinary means” (= Secara wajar ia tidak
bisa memutuskan rantai; dan sebab itu kami menyimpulkan bahwa Setan kadang-
kadang diijinkan untuk membuat gerakan-gerakan yang luar biasa, yang akibatnya
melampaui pengertian kita dan melampaui cara-cara biasa) - hal 429-430.
b).Menyiksanya secara fisik. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan
dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”.
c).Menyiksanya secara batin. Ini dilakukan oleh setan, antara lain dengan
membawanya ke tempat sunyi / kuburan / bukit-bukit. Ay 27b: “orang itu dirasuki oleh
setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah,
tetapi dalam pekuburan”. Ay 29c: “ia dihalau oleh setan itu ke tempat-tempat yang
sunyi”. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil
berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”. Orang yang kerasukan setan itu
menyembah Yesus. Ay 28a: “Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di
hadapanNya”. Mark 5:6 - “Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia
mendapatkanNya lalu menyembahNya”. Mengapa orang itu menyembah Yesus?
William Hendriksen: “This ‘homage,’ however, is an act of fear rather than humble
reverence” (= Tetapi, ‘penghormatan / penyembahan’ ini merupakan tindakan dari
ketakutan dari pada rasa hormat yang rendah hati). Yesus menyuruh setan-setan itu
keluar dari orang itu. Ay 28-29a: “(28) Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu
tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: ‘Apa urusanMu dengan
aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepadaMu, supaya
Engkau jangan menyiksa aku.’ (29) Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan
roh jahat itu keluar dari orang itu”. Jawaban / tanggapan setan. Ay 28: “Ketika ia
melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara
keras: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku
memohon kepadaMu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.’. Bdk. Mat 8:29 - “Dan
mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah?
Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”. Mark 5:7 - “dan
dengan keras ia berteriak: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang
Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!’”. a) ‘Apa urusanMu dengan aku, hai
Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi?’.
j. Asal dan Tujuan Injil Lukas disebut tulisan Lukas yang pertama dialamatkan pada
Theofilus (Luk. 1:1), sedangkan Kisah Para Rasul adalah tulisan yang kedua, yang juga
dialamatkan kepada Theofilus (Kis. 1:1). Kisah Para Rasul dialamatkan kepada seorang
pejabat yang berlatar belakang non Yahudi. Kisah Para Rasul dialamatkan pada semua
orang yang dipimpin oleh Theofilus dan semua orang yang berkondisi seperti Theofilus
atau non Yahudi/kafir, agar beroleh keselamatan. Theofilus mewakili orang-orang yang
diperintahkan dan orang-orang yang tidak atau yang belum percaya pada Kristus.
Seluruh karya dikerjakan agar seorang Teofilus, dapat memperoleh laporan yang teratur
dan dapat dipercaya mengenai perkembangnya agama Kristen walaupun ia sudah
memiliki beberapa informasi mengenai ke Antiokhia dan dari sana ke Roma. Tanggal
Penulisan Tanggalnya tidak dinyatakan dengan tepat; Kis memang tidak ditulis lebih dulu
daripada peristiwa-peristiwa terakhir yang dicatatnya, yakni penahanan Paulus selama 2
tahundi Roma (Kis. 28:30), yang mungkin meliputi tahun 60 M, tapi berapa tahun
sesudah itu Kis ditulis. Dugaan paling kuat sekitar tahun 61-62M. Lukas atas inspirasi
Roh Kudus mengakhiri tulisannya dalam Kisah Para Rasul pada pokok : rasul Paulus
berada di Roma menantikan masa kesengsaraannya, namun tetap dalam kondisi
melayani dan membimbing banyak orang kepada Tuhan Yesus. Paulus mengontrak
34
sebuah rumah yang dijaga prajurit (Kis. 28:16), selama dua tahun (Kis. 28:30). Paulus
naik banding pada Kaisar oleh sebab itu, ia berada di Roma. Namun saat itu Lukas
belum sempat menulis bahwa Paulus berdiridihadapan Kaisar untuk naik banding. Lukas
tidak menulis tentang penyiksaan dibawah Kaisar Nero (64 AD) atau kematian Paulus (68
AD), maupun pengrusakan Yerusalem (70 AD). Bukan dilatarbelakangi bahwa Lukas
segan menulis atau ingin menyembuyikan peristiwa-peristiwa penting ini , melainkan
peristiwa ini belum terjadi saat menyelesaikan dokumennya. Inti Berita Inti berita
yang paling kuat dalam dokumen ini adalah: Kristus Yang Telah Bangkit. Kitab PL,
sejarah kebangkitan, kesaksian-kesaksian para Rasul dan demontrasi pekerjaan Roh
Kudus adalah saksi bahwa Yesus adalah Tuhan dan yang diurapi (Mesias).
35
TAFSIRAN PERJANJIAN BARU
(KISAH PARA RASUL)
A. Penulis
Penulis Kisah Para Rasul sama dengan penulis Injil Lukas, keduanya merupakan satu
buku dua jilid dan ditujukan kepada seseorang yang bernama Teofilus. Pendapat yang umum
tentang siapa penulis Kisah Para Rasul dan Injil Lukas adalah Lukas, seorang dokter medis,
sebab sering memakai istilah medis. Menurut beberapa ahli bahwa kunci untuk mengetahui
sang penulis diberikan oleh tiga bagian yang memakai sebutan “kami” dimana narasi disajikan
memakai bentuk orang pertama jamak (Kis 16:10-17; 20:5 – 21:18; 27:1 – 28:16), dengan
demikian menunjukkan bahwa penulisnya adalah rekan seperjalanan Paulus dan ia
mempergunakan buku harian perjalananya sebagai sumber penulisan. Maka orang yang lebih
tepat yang memenuhi criteria ini diatas adalah Lukas. Seorang dokter medis yang
mengikuti perjalanan pemberitaan Injil Paulus hanyalah Lukas (Kolose 4:14; 2Tim 4:11; Filemon
1:24). Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas. Tradisi
gereja juga secara seragam menyebut bahwa penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas rekan
seperjalanan Paulus
B. Tempat dan Waktu Penulisan
Dalam kitab ini tidak ada ditemukan tentang dimana tempat kitab ini ditulis. Oleh sebab
itu sampai hari ini tidak ada penafsir yang dapat memastikan suatu tempat sebagai tempat
penulisan kitab ini. Menurut tradisi sesudah Yerome kitab ini di tulis di Roma, tetapi banyak juga
penafsir yang mengatakan bahwa tempat penulisan kitab ini kemungkinan besar adalah di
Makedonia, Alexandria. Disamping perkiraan-perkiraan diatas ada juga beberapa penafsir lebih
setuju dengan pendapat bahwa tempat penulisannya tidak diketahui. Mengenai waktu penulisan
kitab ini Charles F. Feiffer mengatakan bahwa waktu penulisan kitab ini sangat terkait dengan
masalah endingnya yang mendadak, oleh sebab itu menurut beliau penulisan kitab ini
kemungkinan besar adalah pada suatu tanggal yang tidak lama sesudah akhir narasi dan jika
demikian maka Kisah Para Rasul ditulis kira-kira tahun 62 M. Pendapat ini juga didukung oleh
Yune Sune Park dalam bukunya Tafsiran Kisah Para Rasul dimana beliau mengatakan bahwa
kemungkinan besar kitab ini ditulis pada waktu Paulus di penjara Roma; Oleh sebab peristiwa
pengadilan Paulus di Roma tidak tertulis dalam kita ini, dan jikalau demikian maka kemungkinan
besar penulisan kitab ini adalah kira-kira tahun 62 M.
C. Tujuan Penulisan
Dalam Kisah Para Rasul 1 terlihat tujuan utama penulisan Kisah Para Rasul adalah
untuk menyakinkan Teofilus bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadannya adalah sungguh
benar (Kisah Para Rasul 1:4). Penerima pertama dari surat (kitab Kisah Para Rasul) adalah
Teofilus dan jika kita membandingkan antara Injil Lukas 1:1 dengan Kisah Para Rasul 1:1 dapat
disimpulkan bahwa penerima Injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah orang yang sama. Tetapi
ada yang sangat indah dalam penyelidikan ini, dimana dalam Lukas 1:1 Teofilus di beri gelar
sebagai Yang Mulia, gelar ini biasa dipakai kepada orang-orang besar (pegawai pemerintahan
yang terpandang) Paulus sering menggunakan gelar ini kepada pegawai-pegawai
pemerintahan Romawi, seperti kepada Feliks dan Festus (Kisah Para Rasul 23:26; 24:2; 26:25)
tetapi dalam Kisah Para Rasul 1:1 gelar yang mulia tidak lagi mengikuti nama Teofilus. Hal
ini sangat mungkin diakibatkan sebab sebelum Teofilus membaca Injil Lukas dia adalah
orang yang belum percaya, tetapi setelah ia membaca Injil Lukas dia akhirnya bertobat dan oleh
sebab itu Lukas menyapa dia bukan lagi sebagai seorang yang mulia yang harus ditakuti, tetapi
Teofilus yang telah dianggap sebagai sahabat.
D. Garis Besar Isi
36
1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)
a. Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)
b. Pemilihan Matias (1:15-26)
c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-4)
d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)
2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)
a. Mujizat dan khotbah Petrus (3:1-26)
b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37)
c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)
d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)
3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)
a. Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)
b. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)
c. Injil Di Samaria (8:4-25)
d. Pertobatan Sida-sida Etopia (8:26-40)
e. Pertobatan Saulus (9:1-31)
f. Pelayanan Petrus di Palestina dan Orang-orang yang bertobat pertama di luar bangsa
Yahudi (9:32 – 11:18)
g. Pendirian Gereja Orang Bukan Yahudi di Antiokia (11:19-30)
h. Penganyiayaan oleh Herodes Agripa (12:1-25)
4. Perluasan Gereja di Asia Kecil dan Eropa (13:1-21:17)
a. Misi Pertama Galatia (13:1-14:28)
b. Persoalan di Gereja yang bukan Yahudi dan Sidang di Yerusalem (15:1-35)
c. Misi kedua, Asia kecil dan Eropa (15:36 – 18:22)
d. Misi ketiga Asia kecil dan Eropa (18:23 – 21:17)
5. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)
a. Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)
b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)
E. Tafsiran
1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)
a. Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)
Kisah 1 ayat 1 dan 2 merupakan pengantar singkat yang menghubungkan Kisah
Para Rasul dengan Injil Lukas. Ayat pengantar Injil Lukas ini (1:1-4) dimaksudkan
untuk membantu memahami Kisah Para Rasul 1:1,2 yang merupakan kilas balik ke
belakang atau kepada buku jilid yang pertama. Oleh sebab itu Lukas menulis “…dalam
bukuku yang pertama,” hal ini menunjukkan bahwa Injil Lukas dan Kisah Para
Rasul adalah satu karya yang terdiri dari dua jilid. Penerima kitab ini adalah Teofilus.
sebagian teolog mengatakn bahwa Teofilus bukanlah nama pribadi tetap sebagai
sebutan kepada orang yang percaya pada masa itu. Namun pendapat diatas adalah
pendapat yang tidak tepat, mengingat bahwa dalam Injil Lukas di belakang nama Teofilus
ada nama sebutan yaitu yang mulia, jadi sangat tidak mungkin bahwa Teofilus sebagai
nama sebutan. Jadi yang tepat adalah bahwa nama Teofilus adalah nama pribadi.
Namun kita tidak tahu secara pasti siapa Teofilus, tetapi nama sebutan yang mulia dalam
Injil Lukas membawa kita kepada suatu pemikiran bahwa Teofilus kemungkinan besar
adalah seorang pejabat dalam pemerintahan Romawi yang baru bertobat sebab
membaca Injil Lukas. Alas an ini dimungkinkan mengingat bahwa sebutan yang mulia
sering dipakai dalam kisah Para Rasul kepada orang-orang terpandang yang duduk
dalam pemerintahan Romawi. Keempat Injil berisi tentang segala sesuatu yang telah di
kerjakan Yesus; Kisah Para Rasul mencatat pelayanan yang selanjutnya dari Kristus
yang naik ke Sorga, yaitu pelayanan-Nya melalui Roh Kudus yang bekerja dalam diri
para rasul.
Kisah Para Rasul 1: 3, menjelaskan bahwa setelah Yesus bangkit, Dia secara
berulang-ulang menampakkan diri, membuktikan bahwa Dia hidup sehingga murid-murid
yang semula masih meragukan hal ini akhirnya tidak dapat untuk tidak percaya.
Kata selama empat puluh hari berulang-ulang Yesus menampakkan diri, lebih tepatnya
ditafsirkan bahwa hal ini benar sebanyak empat puluh hari dan secara berturut-
berturut, sebab jika kadang Yesus menampakkan diri tetapi kadang tidak kelihatan itu
akan membingungkan sekali dimana orang-orang akan menyangka Yesus
37
menampakkan diri yang dimaksud disitu hanya seperti penampakan dalam PL, pada hal
yang dimaksudkan bahwa Yesus berulang-ulang menampakkan diri berarti bahwa Yesus
menunjukkan bahwa Dia benar-benar telah bangkit dan hidup dan juga memiliki tubuh
yang nyata. Lagi pula ada beberapa kali Alkitab memakai kata empat puluh hari yang
mengacu kepada empat puluh hari yang berturut-turut, misalnya dalam Kel 34 Musa
berpuasa 40 hari, Elia berjalan di gunung horeb selama 40 hari dengan kekuatan
makanan yang dikirim oleh Allah (1 Raja-raja 19:4-8), Yesus berpuasa empat puluh hari
(Matius 4:2), penggunaan kata empat puluh hari dengan ayat-ayat diatas memiliki
persamaan dengan Kisah Para Rasul 1:3 ini.
Ayat 4 merupakan pengulangan dari perintah yang ada di dalam Lukas 24:29,
para rasul di perintahkan untuk tetap enunggu janji Bapa di Yerusalem. Dewasa ini ada
banyak pertayaan tentang mengapa harus di Yerusalem, kita dapat menjawabnya
dengan satu jawaban yang singkat, dimana hal itu telah dinubuatkan dalam Yesaya 2:3
“…sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem,” hal ini
merupakan nubuatan bahwa dari Yerusalem akan dimula pekerjaan Perjanjian Baru.
Murid-murid disuruh untuk menantikan janji Bapa, sebab sebentar lagi mereka akan
berjuang dalam pemberitaan Injil. Sama seperti prajurit yang harus diperlengkapi dengan
senjata dan latihan perang yang handal, demikian juga para murid diperlengkapi dengan
kuasa Roh Kudus.
Pada ayat 5 berbicara tentang baptisan Yohanes dan baptisan Roh Kudus,
dalam nats yang berbeda Yohanes pembaptis telah memberitahukan tentang baptisan
Roh Kudus yang akan terjadi kelak (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33)
dan dalam Kisah Para Rasul ini nubuatan Yohanes itu digenapi. Yesus juga sudah
menjanjikan kedatangan Roh Kudus (Yoh 14:16 – 18,26-27; 15:26-27; 16:7-15) hal itu
akan merupakan pencurahan kuasa kepada murid sehingga mereka mampu melayani
Tuhan dan melaksanakan kehendakNya (Lukas 24:49). Jika kita membaca kitab Injil
maka kita akan mendapati bahwa para rasul memiliki pandangan politik yang kuat atas
kerajaan dan mereka sangat menginginkan kedudukan dan hak-hak mereka sebagai
orang Yahudi yang loyal kepada Tuhan, mereka ingin mengalahkan musuh-musuh
mereka dan membangun suatu kerajaan yang kokoh di bawah pemerintahan Mesias
sebagai raja mereka.
Kisah Para Rasul 1:6 hal yang sama juga terulang kembali, tetapi Tuhan tidak
marah, Dia memberi jawaban dalam ayat 7-8, dengan berkata: “Engkau tidak perlu
mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu
akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun keatas kamu dan kamu akan menjadi
saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan sampai keujung bumi” secara implisit
pernyataan Tuhan Yesus ini memberi gambaran bahwa murid-murid di harapkan
lebih baik mengerjakan tugasnya untuk memberitakan Injil daripada banyak bertanya
tentang apa yang harus dikerjakan Bapa sehubungan dengan kerajaan secara Politis,
dimana Kristus memerintah sebagai Raja. Dari ayat delapan ini, ada yang sering kurang
diperhatikan oleh para penafsir yaitu tentang urutan nama kota, mulai dari Yerusalem
dimana murid-murid menerima baptisan Roh Kudus lalu keluar ke Seluruh Yudea,
Samaria dan Sampai ujung bumi. Urut-urutan nama kota ini bukan tidak ada
artinya, tetapi hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Pemberitaan Injil tidak dibatasi
hanya pada daerah-daerah tertentu, tetapi lebih dimulai dari tempat kita masing-masing,
dan berakhir sampai dimana Tuhan mau kita memberitakan-Nya. Kata ujung bumi sering
ditafsirkan mengacu ke pada kota Roma yang sangat terkenal pada masa itu, tetapi jika
kita menafsirkannya sekarang ini kata ujung bumi dapat diterjemahkan bahwa
pemberitaan Injil itu akan sampai keseluruh pelosok bumi ini, sampai tidak ada yang tidak
pernah mendengarkan Injil. Kata saksi sering sekali muncul dalam Kisah Para Rasul.
Saksi adalah seseorang yang memberitahukan apa yang telah dilihat dan di dengarnya
(Kisah Para Rasul 4:19,20). Setiap kata saksi yang ada di Kisah Para Rasul dalam
pengertian Yunaninya (Marturia), selalu mengandung pengertian martir atau Syahid.
Kisah Para Rasul 1:9-11 adalah menekankan tentang jaminan kedatangan Yesus
yang kedua kali, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kenakan Tuhan Yesus Ke Sorga
adalah suatu bagian penting dari pelayanan-Nya, sebab kalau Dia tidak kembali kepada
Bapa-Nya, maka Dia tidak dapat memenuhi janji-Nya untuk mengutus Roh Kudus (Yoh
16:5-15). Lagi pula sekarang ini Yesus di Sorga menjadi Imam Besa yang berdoa untuk
kita (Ibrani 4:14-16). Yesus juga menjadi pembela kita dihadapan Bapa dan mengampuni
kita bila kita mengakui dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:9-2:2). Pernyataan Wiersbe tentang
38
ayat ini, dimana beliau mengatakan bahwa Kisah Para Rasul 1:9-11 adalah jaminan
kedatangan Yesus yang Kedua kali dapat diterima, sebab pada ayat ini ada
perkataan malaikat yang mengatakan: “…Yesus ini yang terangkat ke sorga
meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang samaseperti kamu melihat
Dia naik Ke Sorga.” Jadi setiap orang yang percaya bahwa Yesus telah naik ke sorga
dengan wujud dan yang dapat dilihat manusia secara nyata seharusnya percaya juga
bahwa Dia akan datang kedua kali dengan meiliki tubuh atau wujud yang nyata dan
dapat dilihat oleh manusia. Oleh sebab itu kedatangan-Nya kembali yang dimaksud
disini adalah kedatangan-Nya di awan-awan di hadapan semua orang (Matius 24:30;
26:64; Wahyu 1:7) bukan kedatangan-Nya yang sekejap mata bagi gereja (1Kor15:51-52;
1 Tesalonika 4:13-18).
Kisah Para Rasul 1:12-14, menjelaskan bahwa murid-murid itu menuruti perintah
Guru mereka (Yesus), mereka kembali ke Yerusalem dari bukit Zaitun, mereka naik ke
ruang atas yang kemungkinan besar adalah milik Yohanes Markus (Kis 12:12). Disana
mereka bertekun dan bersehati untuk berbhakti sambil menantikan Roh Kudus turun. Jika
dikaitkan dengan berdoa, maka dapat dipastikan bahwa mereka berdoa dengan tekun
dan dengan sehati. Cara seperti ini sangat kita butuhkan dalam gereja kita masing-
masing, sebab jika ada sungut-sungut dan perselisihan dalam hati orang-orang yang
berdoa maka mereka tidak dapat berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka berdoa
dengan bertekun dapat dijelaskan bahwa mereka sabar sampai doanya terkabul. Dan
selalu memberikan waktu untuk berdoa.
b. Pemilihan Matias (Kisah Para Rasul 1: 15-26)
Bagian ini adalah bagian yang sangat penting untuk dibahas dengan baik sebab
dalam bagian ini ada beberapa hal yang sering diperdebatkan. Seperti: Petrus dianggap
sebagai orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin, kemudian pemilihan
Matias yang dianggap gagal sebab menurut mereka bahwa Pauluslah yang layak
sebagai pengganti jabatan Rasul yang ditinggalkan Yudas, mereka yang berpendapat
demikian ber argument dimana setelah Matias dipilih namanya tidak disebut-sebut lagi
dalam Kisah Para Rasul, dan justru Pauluslah banyak menempati dalam pembahasan
selanjutnya Kisah Para Rasul. Persoalan-persoalan ini adalah merupakan persoalan
yang sangat penting dijelaskan.
Mengenai Petrus (ay 15) yang berdiri sebagai pemimpin, bukan berarti dia
mengangkat diri sendiri tetapi sebenarnya sebelumnya Tuhan Yesus telah pernah
menubuatkan bahwa dia akan menjadi pemimpin, namun pemimpin yang kita aksud
disini berbeda dengan yang dipahami oleh Roma Katholik. Yesus telah menubuatkan
tentang Petrus dalam Matius 16:19; Lukas 22:31-32; Yohanes 21:15-17. dan memang
jika mempelajari kitab Injil, maka kita akan melihat bahwa Petrus dianggap sebagai murid
yang cukup terpandang, namanya selalu menempati urutan yang pertama dalam setiap
daftar nama para rasul termasuk juga dalam Kisah Para Rasul 1:13. Supaya kita
mendapat kejelasan tentang kepemimpinan Petrus maka kita akan kembali membahas
kitab Injil, secara khusus Matius 16:16-18, dimana sesudah Pertrus mengakui bahwa
Yesus adalah Mesias, seperti berikut ini “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,”
ia di puji oleh Yesus “Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini Aku akan
mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan
kuberikan kunci kerajaan sorga.” Dari ayat ini kita akan membahas dua hal yang penting,
yang pertama ungkapan Batu karang, yang kedua adalah kalimat yang mengatakan
Kepadamu akan kuberikan kunci kerajaan Sorga.
Kita akan mulai dengan yang pertama: Batu Karang, dalam bahasa Yunani
πετρα adalah kata benda feminism dan Petrus πετροσ adalah kata benda Maskulin yang
berarti “batu.” Oleh sebab itu batu karang dalam bentuk feminim tidak menunjuk kepada
Petrus sendiri, tetapi kepada Firman Allah yang diucapkan oleh Iman Petrus, yaitu
pengakuan Iman Petrus (Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup). Bandingkan
dengan Efesus 2:20, Wahyu 21:14. Dalam Alkitab tertulis bahwa Firman Allah adalah
batu karang (Matius 7:24). Hal ini berbeda dengan pandangan Katolik bahwa Petrus
dianggap sebagai batu karang. Padahal jika membaca kitab Injil, kita akan menemukan
bahwa Petrus bukanlah batu karang jemaat; Ia pernah bersalah sesudah menerima
Firman Yesus (Matius 16:22,23; 26:69-75) dan juga pernah ditegur Paulus sebab
tindakan munafik (Galatia 2:11-14).
39
Kemudian hal yang kedua, yaitu tentang kalimat “Kepadamu akan Kuberikan
kunci Kerajaan Sorga”, kuasa yang di berikan oleh Tuhan Yesus tidak hanya kepada
Petrus. Kunci kerajaan sorga adalah hak khusus untuk memberitakan Injil dengan kuasa
rasuli. Semua rasul menerima hak itu dan dapat memakainya dengan kuasa ini .
Petrus adalah salah satu diantara mereka. Ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi juga
memiliki hak yang sama (Matius 23:13); hanya mereka menyalahgunakan hak itu.
Mengenai pemilihan Matias yang dianggap merupakan kesalahan para rasul.
Untuk menjawab hal ini kita harus menafsirkan nats ini (Kis 1:15-26) dengan
melihat bahwa para rasul ada dalam pimpinan Allah. Alasan mengapa para rasul di sebut
ada dalam pimpinan Allah, dimana mereka sudah mengerti kebenaran dan Roh Kudus
menggerakkan Petrus mengutip Mazmur 69:26 dan Mazmur 109:8, jadi pemilihan itu
dilakukan bukan tidak berdasar, tetapi sebab pimpinan Roh Kudus. Lagi pula hal itu
dapat dibuktikan dengan ayat yang lain, dimana Matias juga diberi kuasa oleh Roh Kudus
sama dengan kuasa yang diberikan kepada rasul-rasul yang diplih langsung oleh Yesus.
(Kisah Para Rasul 2:1-4,14). Biasanya orang yang berpikiran bahwa Matias adalah
pilihan yang salah sebab menganggap bahwa Pauluslah yang dipilih Allah untuk
menggantikan jabatan kerasulan Yudas. Pada hal Paulus sendiri mengakui bahwa dia
tidak termasuk dalam golonganke 12 Rasul (Galatia 1:15-24;1Kor 15:8-9). Lagi pula
tugas kedua belas rasul itu yang palng utama adalah untuk melayani 12 suku Israel,
sedangkan Paulus diutus kepada orang-orang non Yahudi (Galatia 2:1-10). Hal yang lain
yang perlu di ingat bahwa kedua belas rasul itu (termasuk Matias) dipersiapkan untuk
duduk di 12 tahkta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Lukas 22:28-30).
Masih ada satu pertayaan lain yang sering juga menjadi perdebatkan yaitu
mengapa Yudas harus digantikan, padahal setelah Yakobus mati dan rasul-rasul yang
lain mati tidak diganti. Alasannya adalah sebab tugas paling uama dari kedua belas rasul
itu untuk menjadi saksi terutama kepada orang Yahudi. Jadi sejak berita itu sudah
ersebar kepada orang-orang non Yahudi maka penekanan kepada orang Yahudipun
mulai menurun. Jadi setelah Rasul Yakobus mati syahid ( Kisah 12) tidak diganti lagi
sebab secara resmi kesaksian kepada bangsa Israel sudah selesai dan berita itu (Injil)
sudah tersebar kepada orang Yahudi dan juga non Yahudi. Kemudian tentang Kisah
Para Rasul 1:18, seakan-akan bertentangan dengan Matius 27:3-10. dimana dalam
Kisah Para Rasul 1:18 disebut bahwa Yudas telah membeli tanah dengan upah
kejahatannya, sedangkan dalam Matius 27:3-10 disebut bahwa Yudas melemparkan
uangnya ke dalam Bait Suci, dan kemudian para imam mengumpulkannya dan membeli
sebidang tanah dan tanah itu akhirnya disebut Hakal Dama. Wiersbe menjelaskan bahwa
kedua nats ini adalah saling melengkapi, Yudas tidak membeli tanah itu sendiri, tetapi
uangnya dipaki untuk membeli tanah itu atas dasar itulah dia dianggap sebagai
pembelinya. Dalam bahasa Aram Hakal Dama mempunyai arti mengenai Yudas yang
menyerahkan Yesus, membuktikan bahwa pencurahan darah Yesus adalah benar-benar
terjadi dalam sejarah. Jadi tanah itu disebut Tanah Darah bukan sebab darah Yudas.
Tetapi sebab ketiga puluh keeping uang perak itu dipandang sebagai “uang darah,”
maka tanah itu disebut tanah darah.
Sebagai pembahasan penutup dari fasal satu ini, kita akhiri dengan membahas
cara pemilihan Matias, yaitu dengan membuang undi. Ini adalah peristiwa terakhir dalam
Alkitab yang berkenaan dengan membuang undi. Cara ini dilakukan pada masa itu
sebab sulitnya untuk mengetahui kehendak Allah, berhubung Firman Allah belum
seluruhnya di wahyukan dengan jelas, tetapi kini Firman Allah telah komplit. Jadi jika kita
mau mencari kehendak Allah lebih baik kita bertanya kepada Alkitab.
c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-41)
Kisah Para Rasul 2:1 adalah berbicara tentang dimana gereja menantikan
pencurahan Roh Kudus. Hal itu terlihat jelas dari isi ayat yang pertama ini, “Ketika tiba
hari pentakosta, semua orang percaya berkumpul disuatu tempat.” Pentakosta berarti “ke
lima puluh” sebab dilakukan lima puluh hari setelah perayaan buah sulung (Imamat
23:15-22). Hari-hari raya Yahudi yang tercatat dalam Imamat 23 merupakan garis besar
pekerjaan Tuhan Yesus Kristus. Paskah menggambarkan kematian-Nya sebagai Anak
Domba Allah (1 Korintus 5:7; Yohanes 1:29), dan hari raya buah sulung menggambarkan
kebangkitan-Nya dari antara orang mati (1 Korintus 15:20-23) kemudian lima puluh hari
setelah hari raya buah sulung adalah hari raya Pentakosta, yang merupakan awal
40
perluasan gereja Bangsa Yahudi memperingati diberikannya Hukum Taurat, tetapi orang
Kristen merayakannya sebab diberikannya Roh Kudus kepada Gereja.
Para teolog mengatakan bahwa hari raya buah sulung selalu dirayakan sehari
sesudah sabat sesudah paskah, berarti pada hari minggu (hari sabat adalah hari
ketujuh). Yesus bangkit pada hari pertama, yaitu satu hari setelah sabat (hari minggu),
Yesus bangkit sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Korintus
15:20). Jadi dengan demikian hari pentakosta (lima puluh hari setelah perayaan buah
sulung) tepat pada hari minggu, dengan alasan bahwa lima puluh hari setelah perayaan
buah sulung itu sama dengan 7 minggu (hari yang ketujuh adalah sabat, tambah satu
hari). Kebenaran ini telah diungkapkan oleh Wiersbe dan lebih lanjut beliau mengatakan
bahwa orang Kristen bersekutu dan berbakti pada hari minggu, hari pertama sebab pada
hari itu Tuhan Yesus bangkit dari kematian, dan itu juga hari Roh Kudus diberikan
kepada Gereja.
Ayat 2 ini menunjukkan bahwa hari Pencurahan Roh Kudus adalah merupakan
peristiwa yang terjadi diluar dugaan para murid. Memang setelah Tuhan Yesus naik ke
Sorga murid-murid menantikan dengan bertekun menantikan pencurahan Roh Kudus,
tetapi tentang hari apa, jam berapa dan bagaimana carannya mereka tidak tahu. Hal itu
terlihat dimana ayat 2 ini dimulai dengan kata “Tiba-tiba turunlah dari langit..” dengan
jelas ayat dua ini juga memberitahukan bahwa ada tiga tanda yang menakjubkan yang
menyertai kedatangan Roh Kudus, yaitu suatu tiupan angin keras, lidah-lidah seperti
nyala api, dan orang-orang percaya yang memuji Tuhan dalam berbagai macam bahasa.
Yune Sun Park mengomentari ayat ini dengan mengatakan bahwa bunyi seperti tiupan
angin keras melambangkan kelahiran baru oleh kuasa Roh Kudus, sebagai penggenapan
janji Tuhan Yesus (Yoh 3:3,8). Api melambangkan kuasa yang menebarkan dan
menaklukkan. Dua hal ini terjadi secara bersamaan, hal itu berarti orang yang telah
mengalami kelahiran baru harus memberitakan atau menyaksikan Injil.
Kemudian ayat 3 adalah merupakan tanda pencurahan Roh Kudus, seperti yang
telah dijelaskan diatas.Dalam ayat 4, ada kalimat yang mengatakan “… penuhlah mereka
dengan Roh Kudus…” pemenuhan Roh itu berkaitan dengan kuasa untuk bersaksi dan
melayani (Kisah Para rasul 1:8). Di dalam Efesus 5:18 kita dihimbau untuk tetap penuh
dalam Roh, sebab memang kita membutuhkannya dalam melayani Tuhan. Wiersbe
memberikan komentar bahwa pada hari Pentakosta orang-orang Kristen dipenuhi dengan
Roh Kudus dan mengalami baptisan Roh Kudus; tetapi sesudah itu mereka berkali-kali
dipenuhi (Kisah Para Rasul 4:8,31;9:17;13:9), tetapi tidak menerima baptisan Roh lagi.
Kata ”baptize” dalam bahasa Yunani mempunyai dua arti, yaitu arti harafiah dan
arti kiasan. Secara harafiah, kata itu berarti “menenggelamkan,” tetapi secara kiasan kata
itu berarti “di identifikasikan dengan.” Baptisan Roh adalah tindakan Allah, yang dengan-
Nya Dia mengidentifikasikan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus, kepala gereja
yang ditinggikan itu, dan membentuk tubuh rohani Kristus di dunia (1Korintus 12:12-14).
Dalam sejarah, hal ini terjadi pada hari Pentakosta; tetapi sekarang hal itu terjadi pada
kapan saja setiap ada orang berdosa yang percaya kepada Kristus dan dilahirkan
kembali. Baptisan Roh itu terjadi dalam dua tahap: orang-orang Yahudi yang percaya di
baptis pada hari pentakosta dan orang-orang non- Yahudi di baptis dan ditambahkan ke
dalam Tubuh Kristus di rumah Kornelius. Kemudian dalam ayat 4, hal yang lain yang
perlu kita pahami adalah tentang perkataan: “…Lalu mereka mulai berkata-kata dalam
bahasa-bahasa yang lain…” untuk mempelajari hal ini kita harus melihat kelanjutan ayat
ini, yaitu mulai ayat 5-13, dimana Lukas mendaftarkan adanya orang-orang yang datang
dari lima belas lokasi geografis dan dengan jelas menegaskan bahwa penduduk masing-
masing tempat itu mendengar Petrus dan kawan-kawannya menyatakan perbuatan besar
yang dilakukan oleh Tuhan dalam bahasa yang mereka mengerti. Jadi yang dimaksud
dengan bahasa yang lain bukan berarti bahasa yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut
jika kita melihat dalam ayat 6 dan 8, kata “bahasa” yang dipakai disana adalah διαλεκτω
dalam bahasa Inggris dialect . Dalam bahasa Indonesia kata ini mengacu kepada suatu
bahasa daerah atau dialek dari beberapa Negara atau daerah (21:40; 22:2; 26:14).
Dalam Kisah Para Rasul dan juga 1Korintus disebutkan mengenai berkata-kata
dalam bahasa Roh itu adalah menunjuk kepada pengalaman yang sama, yaitu memuji
Allah di dalam Roh dalam bahasa yang dapat di mengerti, kecuali ada keterangan lain.
Berbicara tentang bahasa yang sering diperdebatkan dalam nats ini, para komentator
Alkitab mengatakan bahwa peristiwa Pentakosta merupakan kebalikan dari kacau
balaunya bahasa pada masa pembangunan menara Babel (Kej 11:1-9), dimana
41
hukuman Allah di Babel mencerai beraikan manusia, sedangkan berkat Allah pada hari
pentakosta mempersatukan orang-orang percaya di dalam Roh yang memakai bahasa
manusia. Di Babel bahasa seorang dengan yang lainnya berbeda dan tidak saling
mengerti, sementara pada Pentakosta orang-orang memuji Allah dan sebagian yang
mendengar mengerti kata-kata pujian itu. Pembangunan menara Babel sebenarnya ingin
meninggikan manusia, tetapi di Pentakosta orang-orang meninggikan nama Tuhan.
Pembangunan menara Babel adalah bentuk pemberontakan kepada Allah sedangkan
Pentakosta adalah orang-orang yang percaya tunduk dan merendahkan hati kepada
Allah. Sebelum mengakhiri ayat 4 ini, kita juga melihat ada satu hal yang indah yang
sering terlupakan dari pesan ayat 4 ini, dimana Ayat ini juga memberitahukan bahwa Injil
bukan hanya pada satu suku bangsa dan bahasa. Tetapi untuk seluruh dunia. Allah ingin
berbicara kepada setiap orang di dalam bahasa masing-masing dan memberikan berita
keselamatan dalam Yesus Kristus, “Sampai keujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).
Ayat 5, memberitahukan bahwa pada saat itu orang-orang Israel datang dari
berbagai daerah dimana mereka tinggal dan berkumpul di Yerusalem untuk merayakan
hari Pentakosta.
Dalam ayat 6 dikatakan bahwa mereka bingung dan tercengang-cengang sebab
mereka mendengar rasul-rasul berkata-kata dalam bahasa Negara (daerah) dimana
mereka tinggal.
Ayat 7 ini juga sudah dijelaskan dalam ayat yang ke lima dan keenam. Mungkin
yang agak penting kita pahami disini bahwa yang dimaksud dengan orang Galilea, disini
bisa saja menunjuk kedua belas rasul tetapi juga bisa menunjuk kepada 120 orang itu,
sebab sebagian besar diantara mereka mengikuti Yesus dari Galilea sampai Yerusalem.
Ayat 8, kembali memberitahukan bahwa bahasa yang dipakai oleh para rasul itu
adalah bahasa yang dapat dimengerti oleh berbagai daerah atau Negara. Selanjutnya
ayat 9 -11 menguraikan asal daerah dan Negara orang-orang Yahudi yang datang itu.
Menurut uraian ayat ini orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi datang dari 16 daerah,
berkumpul di Yerusalem untuk mendengar Injil. Dengan kenyataan ini kita dapat
menyimpulkan bahwa pencurahan Roh Kudus adalah permulaan pemberitaan Injil ke
seluruh dunia. Kemudian ayat 12 dan 13 adalah merupakan respons dari orang banyak
tentang hal apa yang terjadi itu, sebagian ada yang tercengang dan berkata apa yang
terjadi ini, tetapi sebagian malah menghujat dengan berkata bahwa “Mereka sedang
mabuk oleh anggur manis”. Anggur manis (γλευκουζ) adalah sari buah anggur yang
beragi dan mengandung unsur yang memabukkan.
Ayat 14 – 40, adalah berisi tentang kotbah Petrus yang sangat luar biasa sekali.
Pada saat Petrus berkotbah dia tidak menggunakan bahasa yang tidak dapat dimengerti
oleh para pendengarnya. Dia menggunakan bahasa Aram yaitu bahasa yang mereka
pergunakan sehari-hari. Kotbah Petrus itu paling tidak berisi tiga penjelasan: Ia
Menjelaskan apa yang sedang terjadi: Roh Kudus sudah datang (ay. 14-21). Ayat 14 ini
memperlihatkan kepemimpinan Petrus yang disertai dengan wibawa yang dari Allah Roh
Kudus. Selanjutnya pada ayat yang 15 Petrus menjelaskan bahwa orang-orang percaya
itu bukan sedang mabuk anggur manis sebab waktu itu masih jam sembilan pagi. Petrus
menjelaskan demikian sebab sebelum jam sembilan pagi pada hari Sabat atau hari raya
lainya orang-orang Yahudi Ortodoks tidak akan makan atau minum dan biasanya mereka
tidak akan minum anggur kecuali kalau sedang makan. Secara umum orang Yahudi tidak
akan minum anggur di pagi hari lihat Pengkotbah 10:16. selanjutnya pada ayat 16 Petrus
engatakan bahwa apa yang sedang terjadi itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama,
sebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang Yahudi sangat menjung-jung tinggi
Perjanjian Lama. Kemudian yang Petrus maksud tentang hari-hari terakhir dalam ayat 17
adalah εν ται εσχαταιζ adalah menunjuk pada zaman baru yang dinantikan oleh para nabi
di Perjanjian Lama. Hari-hari terakhir yang dimaksud adalah awal zaman baru dimana
Allah menggenapi rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Kelanjutan dari ayat 17
ini ada kalimat Aku akan mencurahkan Roh-Ku keatas semua manusia, hal ini
menekankan bahwa orang-orang yang akan mendapat berkat itu tanpa dibatasi oleh ras,
suku dan bahasa, bukan hanya kepada orang-orang Yahudi saja tetapi tanpa terkecuali
(semua manusia). Kemudian dalam ayat ini diikuti kata Nubuat, penglihatan, mimpi yang
merupakan cara Allah untuk menyatakan Firman-Nya dalam zaman Perjanjian Lama.
Seluruh kalimat ini mengandung makna bahwa dalam Perjanjian Baru, semua orang
percaya akan memperoleh anugerah Roh Kudus. Jadi bukan hanya orang-orang khusus
yang dapat meneria Firman seperti imam dan nabi-nabi dalam PL. dalam PB tidak ada
42
imam atau nabi seperti pada zaman PL. Tuhan Yesuslah imam besar dan orang-orang
percaya adalah imam-imam yang dapat berdiri dihadapan Allah (1Petrus 2:9). Ia
Memberitahukan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB (ay 19-21) ayat ini
menjelaskan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB, Dimana akan terjadi
perang (darah, api, gumpalan asap) dan berbagai bencana seperti perubahan matahari
dan bulan sebagai tanda murka Allah. Petrus mengungkapkan hal ini adalah supaya
pendengarnya ketakutan dan menyadari bahwa mereka butuh pertolongan, sebab tanda-
tanda ini adalah merupakan ancaman kebinasaan yang sangat menakutkan bagi setiap
orang. Tetapi barang siapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.
Ia menjelaskan bagaimana Roh Kudus datang adalah sebab Ye




