Injil sinoptik 7

 


eaksi / teguran Maria baru diceritakan

dalam ay  48.  Ini  menunjukkan  bahwa Yesusnyalah  yang  dipentingkan  dalam

cerita  ini,  bukan  Yusuf  ataupun  Marianya!  Gereja  yang  lebih  mengutamakan

Maria dari pada Yesus, jelas sudah menyimpang dari Alkitab! Istilah ‘alim ulama’

diterjemahkan ‘teachers’ (= guru-guru) oleh NIV / NASB. Rupanya ini adalah ahli-

ahli Taurat pada saat itu. 

c) Mengapa Yesus sengaja tinggal di Yerusalem dan berdiskusi dengan para ahli

Taurat itu? Untuk belajar Firman Tuhan. Ini menunjukkan Ia rindu pada Firman

Tuhan. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara rindu pada Firman Tuhan?

Dan apakah kerinduan itu saudara wujudkan dengan mencari  Firman Tuhan?

Jangan  merasa  aneh  kalau  Yesus  perlu  belajar  Firman  Tuhan.  Jangan  lupa

bahwa  Yesus  adalah  Allah  dan  manusia  dalam  satu  pribadi  sehingga  Ia

mempunyai  2  pikiran,  yaitu  ilahi  dan manusia,  yang timbul  tenggelam secara

bergantian. Pikiran ilahiNya tentu saja mahatahu dan tidak perlu belajar, tetapi

pikiran manusiaNya terbatas / tidak mahatahu sehingga perlu belajar dan bisa

mengalami  pertumbuhan  pengetahuan  (bdk.  ay  40,52  -  bertumbuh  dalam

hikmat). 

Ini  bertentangan  dengan  ajaran  Apolinarianism,  yang  mengatakan  bahwa

pikiran Yesus berasal dari LOGOS. Di sini  Ia belajar Firman Tuhan melalui suatu

diskusi  (ay  46b-47).  Kalau  saudara  adalah  orang  kristen  yang  tidak  senang

berdiskusi tentang Firman Tuhan, ada sesuatu yang aneh / tidak beres dalam diri

saudara!  Mungkin ini juga untuk menyiapkan orang-orang Yahudi untuk melihat dan

mengakui  adanya  hikmat  ilahi  dalam diriNya.    Supaya  Yusuf  dan  Maria  sadar

bahwa Ia bukan anak biasa. 

3) Pertanyaan Maria dan jawaban Yesus (ay 48-49). 

Dalam  ay  48  Maria  bertanya  /  menegur  Yesus  dengan  berkata:  "Nak,

mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan

cemas  mencari  Engkau".  Dan  dalam  ay  49  Yesus  menjawab:  "Mengapa  kamu

mencari  Aku?  Tidak-kah  kamu  tahu,  bahwa  Aku  harus  berada  di  dalam  rumah

BapaKu?" 

a) Ini adalah kata-kata Yesus yang pertama yang dicatat dalam Kitab Suci. 

b)  ‘Rumah BapaKu’. RSV/NIV/NASB: my Father’s house (= rumah BapaKu). Dalam

bahasa Yunaninya kata ‘house / rumah’ itu sebetulnya tidak ada. Jadi terjemahan

hurufiahnya hanyalah: I must be in my Father’s (= Aku harus ada dalam milik

BapaKu). KJV menterjemahkan: my Father’s business (= kesibukan BapaKu). 

c) William Barclay memberi  komentar:  "See how gently but very definitely Jesus

takes  the  name father  from Joseph  and  gives  it  to  God"  (=  Lihatlah  betapa

dengan lembut tetapi pasti Yesus mengambil nama / sebutan bapa dari Yusuf

dan memberikannya kepada Allah). Kalau kita membetulkan orang lain, seringkali

kita melakukannya dengan pasti / tegas, tetapi tidak dengan lembut. Atau dengan

lembut, tetapi tidak pasti / tegas. Kita perlu belajar dari Yesus dalam hal ini! 

d) Kata-kata  Yesus  ini  menunjukkan  bahwa  Ia  bukanlah  anak  biasa,  sebab 

sekalipun Ia adalah manusia, tetapi  Ia juga adalah Allah sendiri!  Dalam Kitab

Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebab  setiap

kitab Injil menyoroti Yesus dari sudut yang berbeda. 

 Matius menekankan Yesus sebagai Raja. 

 Markus menekankan Yesus sebagai Hamba.

 Lukas menekankan Yesus sebagai manusia.

29


 Yohanes menekankan Yesus sebagai Allah. Text yang kita bahas hari ini ada

dalam Injil Lukas yang menekankan kemanusiaan Yesus, tetapi tidak berarti

bahwa Lukas mengabaikan keilahian Yesus! Text ini sendiri memang sangat

menekankan kemanusiaan Yesus dengan menceritakan pertumbuhan Yesus

secara fisik dan pertumbuhan hikmatNya dsb (ay 40,52), tetapi disela-sela

text ini tetap terlihat keilahian Yesus! Ini mengajar kita untuk melihat doktrin-

doktrin dan juga ayat-ayat Kitab Suci secara seimbang. Kata-kata Yesus ini

juga menunjukkan bahwa kewajiban terhadap Allah lebih besar dan harus

lebih diutamakan dari pada kewajiban terhadap orang tua. 

4) Ketidakmengertian Yusuf dan Maria (ay 50,51b). Sesuatu yang baik dari Maria di sini

adalah: sekalipun ia tidak mengerti kata-kata Yesus, tetapi ia menyimpannya dalam

hati!  Bandingkan  dengan  banyak  orang  kristen  yang  sekalipun  mengerti  Firman

Tuhan, tetapi tidak menyimpannya dalam hati! 5) Mereka lalu kembali ke Nazaret dan

Yesus hidup dalam ketundukan kepada ‘orang tua’nya (ay 51). Kata-kata ‘tetap hidup

dalam asuhan mereka’ (ay 51) salah terjemahan. Seharusnya adalah ‘tunduk / taat

kepada mereka’. KJV: and was subject unto them (= dan tunduk kepada mereka).

NIV/RSV: and was obedient to them (= dan taat kepada mereka). NASB: and He

continued  in  subjection  to  them  (=  dan  Ia  tetap  tunduk  kepada  mereka).  Ini

merupakan sesuatu yang harus kita teladani: tunduk pada otoritas di atas kita. Anak

kepada  orang  tua.  Istri  kepada  suami.  Murid  terhadap  guru.  Rakyat  kepada

pemerintah. Pegawai kepada boss. 

h. Pasal 4:14-9:50.

Pelayanan di Galilea. Konsisten dengan penolakan terhadap kuasa dunia dan

penyangkalan diri,  maka Yesus kembali  ke Galilea,  dan bukan ke Yerusalem tempat

kekuasaan bagi Israel. Galilea menunjukkan tujuan akhir dari misi penebusan Allah. Pola

ini pada tahun-tahun berikutnya menemukan wujud yang utuh dalam pelayanan Paulus.

Setia terhadap asal-usul-Nya sebagai anak Israel  sejati,  Yesus memulai  pelayanan di

dalam rumah-rumah sembahyang.tetapi segera dipaksa keluar dari sana, sebab orang

Yahudi tidak bersedia menerima dan mengakui Dia sebagai Mesias yang dinubuatkan

PL. Pasal 4:14-6:11 Pelayanan Awal. Dalam waktu singkat Yesus segera popular. Lukas

melaporkan “Tetapi kabar tentang Yesus makin tersiar…(4:15). 

Pasal  5:33-39  Pengkritik  dan  kritikannya.  Siapa  para  pengkritik  ini?  Dalam

Matius, yang datang kepada Yesus adalah ‘murid-murid Yohanes’ (Yohanes Pembaptis)

(Mat 9:14). Dalam Markus, yang datang kepada Yesus adalah ‘orang-orang’ (Mark 2:18).

Dalam Lukas, yang datang kepada Yesus adalah ‘orang-orang Farisi’ (ay 33). Tetapi ini

sebetulnya salah terjemahan. NIV/NASB: ‘they’ (= mereka). Kalau kata ‘they’ / ‘mereka’

ini  dihubungkan  dengan  kontex  sebelumnya,  yaitu  Luk  5:30-32,  maka  kata  ‘they’  /

‘mereka’  ini  menunjuk  kepada  orang-orang  Farisi  dan  ahli-ahli  Taurat.  Cara

mengharmoniskan bagian-bagian  ini  adalah dengan menafsirkan bahwa ‘orang-orang’

dalam Mark 2:18 adalah gabungan dari ‘murid-murid Yohanes’ dan ‘orang-orang Farisi

dan ahli-ahli  Taurat’.  Sekarang ada 2 kemungkinan: a).Kedua grup itu datang kepada

Yesus, tetapi Matius dan Lukas hanya menceritakan salah satu. b).Orang-orang Farisi

menghasut murid-murid Yohanes untuk melancarkan kritik kepada Yesus tentang murid-

muridNya. Matius hanya menyoroti grup orang yang betul-betul datang kepada Yesus

yaitu  murid-murid  Yohanes.  Lukas  menyoroti  grup  yang  menjadi  sumber  terjadinya

persoalan itu, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sedangkan Markus menyoroti

keduanya.  Murid-murid  Yohanes  Pembaptis  mengkritik  Yesus.  Yohanes  Pembaptis

adalah orang yang diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus (Luk 1:16-17,76).

Jadi  sebetulnya  pada  waktu  Yesus  mulai  pelayanan,  maka  murid-murid  Yohanes  ini

seharusnya lalu mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka memang melakukan hal ini

atas pengarahan Yohanes (Yoh 1:35-37). Tetapi sebagian lain dari murid-murid Yohanes

ini  menganggap Yesus justru  sebagai  saingan (Yoh 3:26).  Mereka ini  tidak mengikut

Yesus dan terus membentuk kelompok sendiri. Penerapan: Kesalahan seperti ini perlu

diwaspadai.  Jangan sampai saudara hanya mengikut  pendeta atau gereja atau aliran

tertentu.  Saudara  harus  mengikut  Yesus!  Dan  perlu  diperhatikan  bahwa  kesalahan

seperti ini bisa terjadi pada murid dari Yohanes Pembaptis, yang adalah seorang hamba

Tuhan / nabi yang betul-betul ingin membawa murid-muridnya kepada Tuhan. Ini tentu

akan lebih mudah lagi terjadi pada murid-murid dari ‘hamba Tuhan’ yang memang ingin

mengarahkan orang kepada dirinya sendiri dan bukan kepada Tuhan. Kritikan mereka

(ay 33). 

30


a) Mereka berkata: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian

juga  murid-murid  orang  Farisi,  tetapi  murid-muridMu makan dan  minum’  (ay  33).

Penerapan: Dalam hidup orang kristen / gereja ada hal-hal yang remeh, seperti: Cara

memuji Tuhan dengan / tanpa band, dengan / tanpa tepuk tangan; Bolehkah makan

dideh / darah?; Bolehkah orang mati diperabukan? 

b) Hal-hal yang cukup penting, seperti: predestinasi atau Providence of God. Bisakah

keselamatan hilang? Haruskah orang kristen berbahasa roh / lidah?

c) Hal-hal  yang  sangat  penting  /  essential,  seperti:  Kitab  Suci  adalah  Firman Allah.

Yesus dan  Roh Kudus adalah  Allah  sendiri.  Yesus  adalah  satu-satunya  jalan  ke

surga. Adanya surga dan neraka. Kita diselamatkan sebab  iman kepada Yesus dan

bukan  sebab   perbuatan  baik  /  ketaatan.  Membicarakan,  mengetahui  /  mengerti

tentang perbedaan yang remeh dan perbedaan yang cukup penting adalah hal yang

harus  dilakukan.  Tetapi  jangan  terus  menerus  menyoroti  hal-hal  itu  sehingga

melupakan  persamaan  dalam  hal-hal  yang  essential  /  sangat  penting.  Sebagai

contoh, kalau kita sebagai orang Reformed bertemu dengan orang Arminian dan lalu

berdebat tentang predestinasi dan melupakan bahwa kita dan mereka sama-sama

percaya  kepada  Yesus  sebagai  satu-satunya  Juruselamat,  maka  kita  tidak  bisa

bersatu  /  saling  mengasihi  dengan mereka.  Kita  lupa  bahwa dia  adalah  saudara

seiman  kita  dan  kita  akan  menganggapnya  sebagai  musuh  kita!  Boleh  saja  kita

membicarakan / memperdebatkan tentang predestinasi dengan mereka, tetapi kalau

tidak mendapat titik temu, maka ingatlah persamaan yang mendasar yang ada antara

kita dengan mereka. 

d) Tentang puasa, dalam Kitab Suci /  Perjanjian Lama sebetulnya keharusan puasa

bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x, yaitu pada hari raya Pendamaian

(Im  16:29-34  Im  23:26-32  Bil  29:7-11).  Tetapi  orang-orang  Farisi  berpuasa  2  x

seminggu (Luk 18:12), yaitu pada hari Senin dan Jum’at (menurut tradisi ini adalah

hari dimana Musa naik ke Gunung Sinai). Sedang murid-murid Yohanes berpuasa,

mungkin  sebab :    sedih  sebab   penangkapan  terhadap  Yohanes.    ikut-ikutan

orang Farisi.  ajaran / teladan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 11:18). Jadi, mereka

berpuasa bukan sebab  diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu adalah

puasa  yang  diharuskan  oleh  Firman  Tuhan,  pasti  Yesus  juga  menyuruh  murid-

muridNya berpuasa), tetapi sebab  keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai

tradisi.  Tetapi  mereka  lalu  memaksa  orang  lain  (murid-murid  Yesus)  untuk  juga

berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu.

Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup. Penerapan: Dalam gereja

ada:  Hal-hal yang dilakukan sebab  diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci.

Misalnya: Perjamuan Kudus, Baptisan, pemberitaan Firman Tuhan, Pemberitaan Injil,

doa,  adanya  tua-tua  /  diaken,  dsb.    Hal-hal  yang  dilakukan  sebab   tradisi  /

kebijaksanaan  manusia.  Misalnya:  adanya  katekisasi  sebelum  baptisan,  pendeta

memakai toga dalam kebaktian, adanya doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman

Rasuli dalam kebaktian, penggunaan organ / band dalam kebaktian, tepuk tangan

dalam kebaktian, dsb. Hal-hal seperti ini tidak mutlak, dan kita tidak boleh memaksa

siapapun untuk melakukan hal-hal ini . 

e) Jawaban Yesus terhadap kritikan itu  (ay 34-39):  Jawaban Yesus ini  terdiri  dari  3

bagian: 

 Untuk bisa mengerti jawaban Yesus ini, kita perlu mengerti tradisi orang Yahudi

pada jaman itu dalam pernikahan. Mereka berbulan madu di rumah. 1 minggu

setelah  pernikahan,  rumah  terus  dibuka.  Teman-teman  dekat  mempelai

bersama-sama  dengan  mempelai  berdua  dan  mempelai  berdua  diperlakukan

sebagai  raja  dan  ratu.  Dalam  keadaan  seperti  ini  tentu  tidak  mungkin  ada

seorang sahabat yang lalu berpuasa. Tradisi inilah yang menjadi latar belakang

jawaban  Yesus.  Saat  dimana  Yesus  (mempelai  pria)  bersama-sama  dengan

murid-muridNya  (sahabat-sahabat  mempelai  pria)  adalah  saat  bersukacita,

bukan  saat  susah,  sehingga  tidak  cocok  untuk  berpuasa.  Penerapan:  Saat

bersama  /  dekat  dengan  Yesus  adalah  saat  sukacita.  Apakah  saudara

bersukacita  kalau  saudara  dekat  dengan  Yesus?  Atau  ada  hal-hal  lain  yang

membuat  saudara lebih  bersukacita,  seperti  dapat  uang /  gangthao,  bersama

teman-teman, piknik, dsb. 

 Yesus  berkata  bahwa  pada  saat  mempelai  pria  ‘diambil  dari  mereka’,  maka

mereka akan berpuasa. Sukar untuk menafsirkan dengan pasti apa maksud ayat

31


ini.  (1).Saat  Yesus  mati  disalib.  Ini  adalah  pandangan  dari  hampir  semua

penafsir.  Ini  berarti  bahwa  setelah  kematian  Yesus  barulah  murid-murid

berpuasa. Tetapi problem dengan pandangan ini adalah: Kitab Suci tidak pernah

menceritakan  bahwa  murid-murid  Yesus  berpuasa  antara  kematian  dan

kebangkitan Yesus! (2).Saat Yesus naik ke surga. Problem dengan pandangan

ini adalah: saat Yesus naik ke surga, bukan merupakan saat dukacita bagi murid-

murid  Yesus.  Padahal  Mat  9:15  jelas  menunjukkan  bahwa  itu  adalah  saat

dukacita.  Hal-hal  lain  yang  menyebabkan  bagian  ini  makin  sukar  ditafsirkan

dengan pasti adalah: Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun sehingga Yesus

hadir  /  ada lagi  bersama murid-muridNya. Tetapi  bagaimanapun,  ini  bukanlah

kehadiran  jasmani,  tetapi  kehadiran  secara  rohani.  Apakah  kita  harus

menganggap Yesus ada atau tidak  ada  bersama murid-muridNya?  Puasa-

puasa  yang  dilakukan  dalam Kisah  Rasul  semua  terjadi  setelah  Pentakosta.

Tetapi  dilakukan bukan sebab  dukacita tetapi  biasanya berhubungan dengan

pelayanan  (Kis  13:2-3  Kis  14:23).  Semua  ini  menyebabkan  saya  tidak  bisa

mengambil kesimpulan yang pasti tentang arti ayat ini. 

 Puasa dilakukan pada saat sedih (Bdk ay 34 dengan Mark 2:19 dan Mat 9:15).

Ay 34: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai

itu bersama mereka?’. Mark 2:19 - ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki

berpuasa  sedang  mempelai  itu  bersama  mereka?'.  Mat  9:15  -  ‘Dapatkah

sahabat-sahabat mempelai  laki-laki  berdukacita selama mempelai  itu bersama

mereka?’.  Kata ‘berdukacita’  ini  dalam bahasa Yunaninya adalah PENTHEIN,

yang artinya ’to mourn’ (= berkabung). Dari sini jelas bahwa Yesus mengatakan

bahwa  saat  yang  tepat  untuk  berpuasa  adalah  pada  waktu  kita  sedih  /

berkabung. Jadi tidak sepatutnya kita berpuasa sekedar sebagai tradisi, tanpa

tujuan / sebab apa-apa, atau sekedar melaksanakan kewajiban. Banyak gereja /

orang kristen berpuasa pada Jum’at Agung dan sekitarnya. Apa alasannya? 

sedih sebab  penderitaan dan kematian Kristus? Ini lucu, sebab  seharusnya kita

bersukacita  bukan  sedih.  Mengapa? sebab   tanpa  penderitaan  dan  kematian

Kristus, kita tidak ada harapan.  untuk ikut merasakan penderitaan Kristus? Ini

juga lucu,  sebab  Kristus rela menderita supaya kita bebas dari penderitaan /

hukuman. Kita bisa berpuasa pada saat kita merasa sedih sebab  ada dosa yang

menyebabkan  kita  lalu  tidak  merasakan  kehadiran  Kristus  dalam  hidup  kita.

Tentu saja  puasa pada saat seperti  ini  harus disertai  dengan pertobatan dari

dosa ini . 

 Satu hal perlu ditekankan adalah: ay 34-35 tidak berarti bahwa setelah kematian

Kristus, gereja harus berpuasa terus menerus. J. A. Alexander: "But this would

be equivalent to saying that the Saviour’s exaltation would consign his people to

perpetual sorrow. For he evidently speaks of grief and fasting as inseparable, and

in Matthew’s narrative of his reply, the former term is substituted for the latter

(Matt 9:15)" [= Tetapi ini sama dengan berkata bahwa pemuliaan Juruselamat itu

akan menandai umatNya dengan kesedihan kekal /  terus menerus. sebab  Ia

dengan jelas berbicara tentang kesedihan dan puasa sebagai 2 hal  yang tak

terpisahkan, dan dalam cerita Matius tentang jawabanNya, istilah yang pertama

menggantikan istilah yang terakhir (Mat 9:15)].

 Calvin:  Baju  /  kantong  tua  mudah  pecah  /  sobek.  Ini  menggambarkan

kelemahan  murid-murid  Yesus.  Kain  yang  belum  susut  /  anggur  baru

menggambarkan disiplin yang terlalu keras.  Jadi,  artinya:  belum waktunya

menyuruh murid-murid yang lemah itu melakukan disiplin yang begitu keras

seperti puasa.

 William  Barclay:  Arti  ay  36:  kadang-kadang  ‘menambal’  adalah  suatu

ketololan.  Kita  harus  memulai  dengan  sesuatu  yang  baru.  Arti  ay  37-38:

pikiran kita harus lentur / elastis, dalam arti kita harus mau menerima ide-ide

baru.  Keberatan saya:  kelihatannya ay 36-38 merupakan 2 perumpamaan

yang  menunjuk  pada  satu  arti  yang  sama.  Yesus  sering  memberikan

beberapa perumpamaan berturut-turut untuk menekankan suatu kebenaran

tertentu. Contoh: Luk 15 memberikan 3 cerita berturut-turut yang mempunyai

penekanan / arti / fokus yang sama. 

 William Hendriksen: Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada

keselamatan  /  kekayaan  rohani  dalam Kristus.  Baju  baru  /  kantong  baru

32


menunjuk  pada  rasa  syukur  dan  sukacita.  Inilah  sikap  yang  tepat  untuk

menerima berkat-berkat rohani di dalam Kristus. 

 Anggur baru / kain yang belum susut menunjuk pada keselamatan sebab 

iman.  Baju  /  kantong  tua  menunjuk  pada  keselamatan  sebab   perbuatan

baik. 2 ajaran ini tidak cocok untuk digabungkan. 

 Kain yang belum susut  /  anggur baru menunjuk pada kekristenan. Baju /

kantong tua menunjuk pada Yudaisme / agama Yahudi. Dua ajaran ini tidak

bisa digabungkan. Yesus anti pada syncretisme (= penggabungan 2 agama

atau lebih). 

 Kekristenan bukanlah Yudaisme yang ditambal-tambal. Harus buang sama

sekali dan mulai dengan suatu yang baru. Saya paling condong pada arti ke

5. 

 Ay 39: Ayat ini tidak ada dalam Matius maupun Markus. a) Ini juga adalah

ayat sukar yang mempunyai 2 macam penafsiran: (a).Anggur tua menunjuk

pada ajaran Yesus, sebab  anggur tua tidak mempunyai kemegahan seperti

anggur baru. Tetapi toh anggur tua lebih enak / lebih baik dari anggur baru

(ajaran orang Farisi).  Jadi,  maksud Yesus dengan ay 39 ini  ialah:  murid-

muridKu sudah mengecap ajaranKu yang lebih enak sehingga mereka pasti

tidak akan mau kembali pada ajaran orang Farisi / Yudaisme (anggur baru).

Keberatan: • ajaran orang Farisi ada lebih dulu dari ajaran Yesus, sehingga

aneh  kalau  digambarkan  dengan  anggur  baru.  Jawab:  perumpamaan  ini

hanya menunjukkan bahwa ajaran Yesus lebih baik dari ajaran orang Farisi,

dan  tidak  mempersoalkan  yang  mana yang lebih  baru  atau lebih  lama.  •

dalam ay 37-38,  anggur baru menunjuk pada kekristenan /  ajaran Yesus.

Jawab: ay 37-38 dan ay 39 adalah 2 perumpamaan yang berbeda / terpisah.

(b).Anggur tua menunjuk pada ajaran orang Farisi;  anggur baru menunjuk

pada ajaran Yesus. Ayat  ini  menyerang kekolotan orang Farisi  yang tidak

mau  berubah  /  tidak  mau  menerima  ajaran  baru.  Keberatan  terhadap

penafsiran ini: mengapa anggur tua yang lebih enak ditujukan pada ajaran

orang Farisi? Bukankah ajaran Yesus yang lebih enak? Jawabnya: ini adalah

suatu perumpamaan.  Tujuannya hanya menyerang kekolotan orang Farisi

tanpa mempersoalkan ajaran siapa yang lebih enak. Bandingkan dengan Luk

18:1-8 dimana Allah digambarkan sebagai hakim yang lalim. Saya condong

pada penafsiran ini. 

i. Pasal 8:26-39. Kasus kerasukan setan. 

1) Tempat terjadinya kasus ini. Ay 26: “Lalu mendaratlah Yesus dan murid-muridNya di

tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea”. Mat 8:28 - ‘Gadara’. Mark 5:1

- ‘Gerasa’.  Ada 2 cara pengharmonisan: a) Ada yang mengatakan bahwa Gerasa

terletak 12 mil sebelah tenggara Gadara dan mungkin peristiwa itu terjadi di antara

dua tempat itu sehingga Matius menyebut Gadara dan Markus menyebut Gerasa. A.

T. Robertson: “Dr. Thomson discovered by the lake the ruins of Khersa (Gerasa).

This village is in the district of the city of Gadara some miles southeastward so that it

can be called after Gerasa or Gadara” [= Dr. Thomson menemukan dekat danau

reruntuhan dari Khersa (Gerasa). Desa ini ada di daerah kota Gadara beberapa mil di

sebelah tenggaranya sehingga tempat itu bisa disebut Gerasa atau Gadara] bahwa

ada yang mengatakan ‘Gergesa’, dan ini berbeda dengan Gadara maupun Gerasa.

Gadara dan Gerasa adalah kota  yang lebih besar /  penting,  sedangkan Gergesa

adalah tempat / kota yang sama sekali tidak penting. Pulpit Commentary lalu berkata

bahwa mungkin di kota kecil itulah terjadi peristiwa ini, dan sebab  itu Markus dan

Lukas  tidak  mau  menggunakan  nama  kota  kecil  yang  tidak  dikenal  itu,  tetapi

menggunakan kota yang lebih besar di dekatnya, yang lebih dikenal.  Leon Morris

(Tyndale)  mengatakan  bahwa  nama  ‘Gergesa’  itu  ‘diciptakan’  oleh  Origen.A  T.

Robertson mengatakan bahwa Matius menggunakan ‘Gadara’;  sedangkan Markus

dan Lukas menggunakan ‘Gerasa’. Jadi, tidak ada ‘Gergesa’. 

2) Jumlah orang yang kerasukan setan. Ay 27: “Setelah Yesus naik ke darat, datanglah

seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan

sudah  lama  ia  tidak  berpakaian  dan  tidak  tinggal  dalam  rumah,  tetapi  dalam

pekuburan”.  Mark  5:2  juga  mengatakan  ‘seorang’.  Bdk.  Mat  8:28  -  “Setibanya  di

seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang

kerasukan  setan  menemui  Yesus.  Mereka  sangat  berbahaya,  sehingga  tidak

33


seorangpun yang berani  melalui  jalan  itu”.  Jadi,  Matius  mengatakan  ‘dua  orang’,

tetapi Markus dan Lukas mengatakan ‘seorang’. Pengharmonisan: Perhatikan bahwa

Markus dan Lukas tidak berkata ‘hanya seorang’. Mereka hanya menceritakan salah

satu saja, mungkin sebab  orang itu lebih dikenal, dan / atau sebab  orang itu lebih

parah keadaannya. Pulpit Commentary memberikan kemungkinan lain, yaitu sebab 

hanya satu yang berdialog dengan Yesus, maka yang satu itulah yang diceritakan

oleh Markus dan Lukas (hal 206). 

3) Apa yang dilakukan Setan terhadap orang yang ia rasuk. a).Memberinya kekuatan

yang luar  biasa.  Ay 29b: “sebab  sering roh itu menyeret-nyeret  dia,  maka untuk

menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, tetapi ia memutuskan segala pengikat itu ...”.

Calvin: “Naturally, he was not able to break the chains; and hence we infer that Satan

is sometimes permitted to make extraordinary movements, the effect of which goes

beyond our comprehension and beyond ordinary means” (= Secara wajar ia tidak

bisa memutuskan rantai; dan sebab  itu kami menyimpulkan bahwa Setan kadang-

kadang diijinkan untuk membuat gerakan-gerakan yang luar biasa, yang akibatnya

melampaui  pengertian  kita  dan  melampaui  cara-cara  biasa)  -  hal  429-430.

b).Menyiksanya secara fisik. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan

dan  di  bukit-bukit  sambil  berteriak-teriak  dan  memukuli  dirinya  dengan  batu”.

c).Menyiksanya  secara  batin.  Ini  dilakukan  oleh  setan,  antara  lain  dengan

membawanya ke tempat sunyi / kuburan / bukit-bukit. Ay 27b: “orang itu dirasuki oleh

setan-setan  dan  sudah lama ia  tidak  berpakaian  dan  tidak  tinggal  dalam rumah,

tetapi dalam pekuburan”. Ay 29c: “ia dihalau oleh setan itu ke tempat-tempat yang

sunyi”. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil

berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”. Orang yang kerasukan setan itu

menyembah Yesus. Ay 28a: “Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di

hadapanNya”.  Mark  5:6  -  “Ketika  ia  melihat  Yesus  dari  jauh,  berlarilah  ia

mendapatkanNya  lalu  menyembahNya”.  Mengapa  orang  itu  menyembah  Yesus?

William Hendriksen: “This ‘homage,’ however, is an act of fear rather than humble

reverence” (= Tetapi,  ‘penghormatan /  penyembahan’ ini  merupakan tindakan dari

ketakutan dari pada rasa hormat yang rendah hati). Yesus menyuruh setan-setan itu

keluar  dari  orang  itu.  Ay  28-29a:  “(28)  Ketika  ia  melihat  Yesus,  ia  berteriak  lalu

tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: ‘Apa urusanMu dengan

aku,  hai  Yesus Anak Allah  Yang Mahatinggi?  Aku  memohon kepadaMu,  supaya

Engkau jangan menyiksa aku.’ (29) Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan

roh jahat itu keluar dari orang itu”.  Jawaban / tanggapan setan. Ay 28: “Ketika ia

melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara

keras:  ‘Apa urusanMu dengan aku,  hai  Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku

memohon kepadaMu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.’. Bdk. Mat 8:29 - “Dan

mereka  itupun  berteriak,  katanya:  ‘Apa  urusanMu dengan  kami,  hai  Anak  Allah?

Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”. Mark 5:7 - “dan

dengan keras ia berteriak: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang

Mahatinggi?  Demi  Allah,  jangan siksa  aku!’”.  a)  ‘Apa  urusanMu dengan aku,  hai

Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi?’. 

j. Asal  dan  Tujuan  Injil  Lukas disebut  tulisan  Lukas  yang  pertama  dialamatkan  pada

Theofilus (Luk. 1:1), sedangkan Kisah Para Rasul adalah tulisan yang kedua, yang juga

dialamatkan kepada Theofilus (Kis. 1:1). Kisah Para Rasul dialamatkan kepada seorang

pejabat yang berlatar belakang non Yahudi. Kisah Para Rasul dialamatkan pada semua

orang yang dipimpin oleh Theofilus dan semua orang yang berkondisi seperti Theofilus

atau non Yahudi/kafir, agar beroleh keselamatan. Theofilus mewakili orang-orang yang

diperintahkan  dan  orang-orang  yang  tidak  atau  yang  belum  percaya  pada  Kristus.

Seluruh karya dikerjakan agar seorang Teofilus, dapat memperoleh laporan yang teratur

dan  dapat  dipercaya  mengenai  perkembangnya  agama  Kristen  walaupun  ia  sudah

memiliki  beberapa informasi mengenai ke Antiokhia dan dari  sana ke Roma. Tanggal

Penulisan Tanggalnya tidak dinyatakan dengan tepat; Kis memang tidak ditulis lebih dulu

daripada peristiwa-peristiwa terakhir yang dicatatnya, yakni penahanan Paulus selama 2

tahundi  Roma  (Kis.  28:30),  yang  mungkin  meliputi  tahun  60  M,  tapi  berapa  tahun

sesudah itu Kis ditulis. Dugaan paling kuat sekitar tahun 61-62M. Lukas atas inspirasi

Roh Kudus mengakhiri  tulisannya dalam Kisah Para Rasul pada pokok : rasul Paulus

berada  di  Roma  menantikan  masa  kesengsaraannya,  namun  tetap  dalam  kondisi

melayani  dan  membimbing  banyak  orang  kepada  Tuhan  Yesus.  Paulus  mengontrak

34


sebuah rumah yang dijaga prajurit (Kis. 28:16), selama dua tahun (Kis. 28:30). Paulus

naik banding pada Kaisar oleh sebab  itu, ia berada di Roma. Namun saat itu Lukas

belum sempat menulis bahwa Paulus berdiridihadapan Kaisar untuk naik banding. Lukas

tidak menulis tentang penyiksaan dibawah Kaisar Nero (64 AD) atau kematian Paulus (68

AD),  maupun pengrusakan Yerusalem (70  AD).  Bukan dilatarbelakangi  bahwa Lukas

segan menulis atau ingin menyembuyikan peristiwa-peristiwa penting ini , melainkan

peristiwa ini  belum terjadi saat menyelesaikan dokumennya. Inti Berita Inti berita

yang  paling  kuat  dalam dokumen  ini  adalah:  Kristus  Yang  Telah  Bangkit.  Kitab  PL,

sejarah  kebangkitan,  kesaksian-kesaksian  para  Rasul  dan  demontrasi  pekerjaan  Roh

Kudus adalah saksi bahwa Yesus adalah Tuhan dan yang diurapi (Mesias).

35


TAFSIRAN PERJANJIAN BARU

(KISAH PARA RASUL)

A. Penulis

Penulis Kisah Para Rasul sama dengan penulis Injil Lukas, keduanya merupakan satu

buku dua jilid dan ditujukan kepada seseorang yang bernama Teofilus. Pendapat yang umum

tentang siapa penulis Kisah Para Rasul dan Injil  Lukas adalah Lukas, seorang dokter medis,

sebab  sering memakai istilah medis.  Menurut beberapa ahli bahwa kunci untuk mengetahui

sang penulis diberikan oleh tiga bagian yang memakai sebutan “kami” dimana narasi disajikan

memakai  bentuk  orang  pertama jamak  (Kis  16:10-17;  20:5  –  21:18;  27:1  –  28:16),  dengan

demikian  menunjukkan  bahwa  penulisnya  adalah  rekan  seperjalanan  Paulus  dan  ia

mempergunakan buku harian perjalananya sebagai sumber penulisan. Maka orang yang lebih

tepat  yang  memenuhi  criteria  ini   diatas  adalah  Lukas.  Seorang  dokter  medis  yang

mengikuti perjalanan pemberitaan Injil Paulus hanyalah Lukas (Kolose 4:14; 2Tim 4:11; Filemon

1:24). Oleh sebab  itu dapat disimpulkan bahwa penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas. Tradisi

gereja juga secara seragam menyebut bahwa penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas rekan

seperjalanan Paulus

B. Tempat dan Waktu Penulisan

Dalam kitab ini tidak ada ditemukan tentang dimana tempat kitab ini ditulis. Oleh sebab 

itu  sampai  hari  ini  tidak  ada penafsir  yang dapat  memastikan  suatu  tempat  sebagai  tempat

penulisan kitab ini. Menurut tradisi sesudah Yerome kitab ini di tulis di Roma, tetapi banyak juga

penafsir  yang  mengatakan  bahwa  tempat  penulisan  kitab  ini  kemungkinan  besar  adalah  di

Makedonia, Alexandria. Disamping perkiraan-perkiraan diatas ada juga beberapa penafsir lebih

setuju dengan pendapat bahwa tempat penulisannya tidak diketahui. Mengenai waktu penulisan

kitab ini  Charles F. Feiffer  mengatakan bahwa waktu penulisan kitab ini sangat terkait dengan

masalah  endingnya  yang  mendadak,  oleh  sebab   itu  menurut  beliau  penulisan  kitab  ini

kemungkinan besar adalah pada suatu tanggal yang tidak lama sesudah akhir narasi dan jika

demikian maka Kisah Para Rasul ditulis kira-kira tahun 62 M. Pendapat ini juga didukung oleh

Yune Sune Park dalam bukunya Tafsiran Kisah Para Rasul dimana beliau mengatakan bahwa

kemungkinan besar kitab ini ditulis pada waktu Paulus di penjara Roma; Oleh sebab  peristiwa

pengadilan Paulus di Roma tidak tertulis dalam kita ini, dan jikalau demikian maka kemungkinan

besar penulisan kitab ini adalah kira-kira tahun 62 M.

C. Tujuan Penulisan

Dalam Kisah Para Rasul 1 terlihat  tujuan utama penulisan Kisah Para Rasul  adalah

untuk menyakinkan Teofilus bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadannya adalah sungguh

benar (Kisah Para Rasul 1:4).  Penerima pertama dari  surat (kitab Kisah Para Rasul)  adalah

Teofilus dan jika kita membandingkan antara Injil Lukas 1:1 dengan Kisah Para Rasul 1:1 dapat

disimpulkan bahwa penerima Injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah orang yang sama. Tetapi

ada yang sangat indah dalam penyelidikan ini, dimana dalam Lukas 1:1 Teofilus di beri gelar

sebagai Yang Mulia, gelar ini biasa dipakai kepada orang-orang besar (pegawai pemerintahan

yang  terpandang)  Paulus  sering  menggunakan  gelar  ini   kepada  pegawai-pegawai

pemerintahan Romawi, seperti kepada Feliks dan Festus (Kisah Para Rasul 23:26; 24:2; 26:25)

tetapi  dalam Kisah Para Rasul 1:1 gelar  yang mulia tidak lagi  mengikuti  nama Teofilus.  Hal

ini  sangat mungkin diakibatkan sebab  sebelum Teofilus membaca Injil Lukas dia adalah

orang yang belum percaya, tetapi setelah ia membaca Injil Lukas dia akhirnya bertobat dan oleh

sebab  itu Lukas menyapa dia bukan lagi sebagai seorang yang mulia yang harus ditakuti, tetapi

Teofilus yang telah dianggap sebagai sahabat.

D. Garis Besar Isi

36


1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)

a.    Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)

b. Pemilihan Matias (1:15-26)

c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-4)

d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)

2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)

a.     Mujizat dan khotbah Petrus (3:1-26)

b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37)

c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)

d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)

3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)

a.   Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)

b. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)

c. Injil Di Samaria (8:4-25)

d. Pertobatan Sida-sida Etopia (8:26-40)

e. Pertobatan Saulus (9:1-31)

f. Pelayanan Petrus di Palestina dan Orang-orang yang bertobat pertama di luar bangsa

Yahudi (9:32 – 11:18)

g. Pendirian Gereja Orang Bukan Yahudi di Antiokia (11:19-30)

h. Penganyiayaan oleh Herodes Agripa (12:1-25)

4. Perluasan Gereja di Asia Kecil dan Eropa (13:1-21:17)

a.   Misi Pertama Galatia (13:1-14:28)

b. Persoalan di Gereja yang bukan Yahudi dan Sidang di Yerusalem (15:1-35)

c. Misi kedua, Asia kecil dan Eropa (15:36 – 18:22)

d. Misi ketiga Asia kecil dan Eropa (18:23 – 21:17)

5. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)

a.    Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)

b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)

E. Tafsiran

1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)

a. Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)

Kisah 1 ayat 1 dan 2 merupakan pengantar singkat yang menghubungkan Kisah

Para Rasul dengan Injil Lukas. Ayat pengantar Injil Lukas ini  (1:1-4) dimaksudkan

untuk  membantu  memahami  Kisah  Para  Rasul  1:1,2  yang  merupakan  kilas  balik  ke

belakang atau kepada buku jilid yang pertama. Oleh sebab  itu Lukas menulis “…dalam

bukuku  yang pertama,”  hal  ini   menunjukkan  bahwa Injil  Lukas  dan  Kisah  Para

Rasul adalah satu karya yang terdiri  dari dua jilid.  Penerima kitab ini adalah Teofilus.

sebagian  teolog  mengatakn  bahwa  Teofilus  bukanlah  nama  pribadi  tetap  sebagai

sebutan kepada orang yang percaya pada masa itu.  Namun pendapat  diatas adalah

pendapat yang tidak tepat, mengingat bahwa dalam Injil Lukas di belakang nama Teofilus

ada nama sebutan yaitu yang mulia, jadi sangat tidak mungkin bahwa Teofilus sebagai

nama  sebutan.  Jadi  yang  tepat  adalah  bahwa  nama  Teofilus  adalah  nama  pribadi.

Namun kita tidak tahu secara pasti siapa Teofilus, tetapi nama sebutan yang mulia dalam

Injil Lukas membawa kita kepada suatu pemikiran bahwa Teofilus kemungkinan besar

adalah  seorang  pejabat  dalam  pemerintahan  Romawi  yang  baru  bertobat  sebab 

membaca Injil  Lukas. Alas an ini dimungkinkan mengingat bahwa sebutan yang mulia

sering  dipakai  dalam kisah  Para  Rasul  kepada  orang-orang  terpandang  yang  duduk

dalam pemerintahan Romawi. Keempat Injil berisi tentang segala sesuatu yang telah di

kerjakan Yesus;  Kisah Para Rasul  mencatat  pelayanan yang selanjutnya dari  Kristus

yang naik ke Sorga, yaitu pelayanan-Nya melalui  Roh Kudus yang bekerja dalam diri

para rasul.

Kisah Para Rasul 1: 3, menjelaskan bahwa setelah Yesus bangkit, Dia secara

berulang-ulang menampakkan diri, membuktikan bahwa Dia hidup sehingga murid-murid

yang semula masih meragukan hal ini  akhirnya tidak dapat untuk tidak percaya.

Kata selama empat puluh hari berulang-ulang Yesus menampakkan diri, lebih tepatnya

ditafsirkan bahwa hal ini  benar sebanyak empat puluh hari dan secara berturut-

berturut, sebab  jika kadang Yesus menampakkan diri tetapi kadang tidak kelihatan itu

akan  membingungkan  sekali  dimana  orang-orang  akan  menyangka  Yesus

37


menampakkan diri yang dimaksud disitu hanya seperti penampakan dalam PL, pada hal

yang dimaksudkan bahwa Yesus berulang-ulang menampakkan diri berarti bahwa Yesus

menunjukkan bahwa Dia benar-benar telah bangkit dan hidup dan juga memiliki tubuh

yang nyata. Lagi pula ada beberapa kali Alkitab memakai kata empat puluh hari yang

mengacu kepada empat  puluh hari  yang berturut-turut,  misalnya dalam Kel  34 Musa

berpuasa  40  hari,  Elia  berjalan  di  gunung  horeb  selama  40  hari  dengan  kekuatan

makanan yang dikirim oleh Allah (1 Raja-raja 19:4-8), Yesus berpuasa empat puluh hari

(Matius  4:2),  penggunaan  kata  empat  puluh  hari  dengan  ayat-ayat  diatas  memiliki

persamaan dengan Kisah Para Rasul 1:3 ini.

Ayat 4 merupakan pengulangan dari perintah yang ada di dalam Lukas 24:29,

para rasul di perintahkan untuk tetap enunggu janji Bapa di Yerusalem. Dewasa ini ada

banyak  pertayaan  tentang  mengapa  harus  di  Yerusalem,  kita  dapat  menjawabnya

dengan satu jawaban yang singkat, dimana hal itu telah dinubuatkan dalam Yesaya 2:3

“…sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem,” hal ini

merupakan  nubuatan  bahwa  dari  Yerusalem akan dimula  pekerjaan  Perjanjian  Baru.

Murid-murid  disuruh  untuk  menantikan  janji  Bapa,  sebab  sebentar  lagi  mereka  akan

berjuang dalam pemberitaan Injil. Sama seperti prajurit yang harus diperlengkapi dengan

senjata dan latihan perang yang handal, demikian juga para murid diperlengkapi dengan

kuasa Roh Kudus.

Pada  ayat  5  berbicara  tentang  baptisan  Yohanes  dan  baptisan  Roh  Kudus,

dalam nats yang berbeda Yohanes pembaptis telah memberitahukan tentang baptisan

Roh Kudus yang akan terjadi kelak (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33)

dan  dalam Kisah  Para  Rasul  ini  nubuatan  Yohanes  itu  digenapi.  Yesus  juga  sudah

menjanjikan kedatangan Roh Kudus (Yoh 14:16 – 18,26-27; 15:26-27; 16:7-15) hal itu

akan merupakan pencurahan kuasa kepada murid sehingga mereka mampu melayani

Tuhan dan  melaksanakan kehendakNya (Lukas  24:49).  Jika  kita  membaca kitab  Injil

maka kita akan mendapati bahwa para rasul memiliki pandangan politik yang kuat atas

kerajaan  dan  mereka  sangat  menginginkan  kedudukan dan  hak-hak  mereka  sebagai

orang  Yahudi  yang  loyal  kepada  Tuhan,  mereka  ingin  mengalahkan  musuh-musuh

mereka dan membangun suatu kerajaan yang kokoh di  bawah pemerintahan Mesias

sebagai raja mereka. 

Kisah Para Rasul 1:6 hal yang sama juga terulang kembali, tetapi Tuhan tidak

marah,  Dia  memberi  jawaban  dalam ayat  7-8,  dengan  berkata:  “Engkau  tidak  perlu

mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa menurut  kuasa-Nya. Tetapi  kamu

akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun keatas kamu dan kamu akan menjadi

saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan sampai keujung bumi” secara implisit

pernyataan Tuhan Yesus ini  memberi gambaran bahwa murid-murid di harapkan

lebih  baik  mengerjakan  tugasnya  untuk  memberitakan  Injil  daripada  banyak bertanya

tentang apa yang harus dikerjakan Bapa sehubungan dengan kerajaan secara Politis,

dimana Kristus memerintah sebagai Raja. Dari ayat delapan ini, ada yang sering kurang

diperhatikan oleh para penafsir  yaitu tentang urutan nama kota, mulai dari  Yerusalem

dimana  murid-murid  menerima  baptisan  Roh  Kudus  lalu  keluar  ke  Seluruh  Yudea,

Samaria  dan  Sampai  ujung  bumi.  Urut-urutan  nama  kota  ini   bukan  tidak  ada

artinya,  tetapi  hal  itu sebenarnya menunjukkan bahwa Pemberitaan Injil  tidak dibatasi

hanya pada daerah-daerah tertentu, tetapi lebih dimulai dari tempat kita masing-masing,

dan berakhir sampai dimana Tuhan mau kita memberitakan-Nya. Kata ujung bumi sering

ditafsirkan mengacu ke pada kota Roma yang sangat terkenal pada masa itu, tetapi jika

kita  menafsirkannya  sekarang  ini  kata  ujung  bumi  dapat  diterjemahkan  bahwa

pemberitaan Injil itu akan sampai keseluruh pelosok bumi ini, sampai tidak ada yang tidak

pernah mendengarkan Injil.  Kata saksi  sering sekali  muncul dalam Kisah Para Rasul.

Saksi adalah seseorang yang memberitahukan apa yang telah dilihat dan di dengarnya

(Kisah  Para  Rasul  4:19,20).  Setiap  kata  saksi  yang  ada  di  Kisah  Para  Rasul  dalam

pengertian Yunaninya (Marturia), selalu mengandung pengertian martir atau Syahid.

Kisah Para Rasul 1:9-11 adalah menekankan tentang jaminan kedatangan Yesus

yang kedua kali, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kenakan Tuhan Yesus Ke Sorga

adalah suatu bagian penting dari pelayanan-Nya, sebab  kalau Dia tidak kembali kepada

Bapa-Nya, maka Dia tidak dapat memenuhi janji-Nya untuk mengutus Roh Kudus (Yoh

16:5-15). Lagi pula sekarang ini Yesus di Sorga menjadi Imam Besa yang berdoa untuk

kita (Ibrani 4:14-16). Yesus juga menjadi pembela kita dihadapan Bapa dan mengampuni

kita bila kita mengakui dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:9-2:2). Pernyataan Wiersbe tentang

38


ayat  ini,  dimana beliau mengatakan bahwa Kisah  Para Rasul  1:9-11  adalah jaminan

kedatangan  Yesus  yang  Kedua  kali  dapat  diterima,  sebab   pada  ayat  ini   ada

perkataan  malaikat  yang  mengatakan:  “…Yesus  ini  yang  terangkat  ke  sorga

meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang samaseperti kamu melihat

Dia naik Ke Sorga.” Jadi setiap orang yang percaya bahwa Yesus telah naik ke sorga

dengan wujud dan yang dapat dilihat manusia secara nyata seharusnya percaya juga

bahwa Dia akan datang kedua kali  dengan meiliki  tubuh atau wujud yang nyata dan

dapat  dilihat  oleh  manusia.  Oleh  sebab   itu  kedatangan-Nya kembali  yang  dimaksud

disini  adalah kedatangan-Nya di  awan-awan di  hadapan semua orang (Matius 24:30;

26:64; Wahyu 1:7) bukan kedatangan-Nya yang sekejap mata bagi gereja (1Kor15:51-52;

1 Tesalonika 4:13-18).

Kisah Para Rasul 1:12-14, menjelaskan bahwa murid-murid itu menuruti perintah

Guru mereka (Yesus), mereka kembali ke Yerusalem dari bukit Zaitun, mereka naik ke

ruang atas yang kemungkinan besar adalah milik Yohanes Markus (Kis 12:12). Disana

mereka bertekun dan bersehati untuk berbhakti sambil menantikan Roh Kudus turun. Jika

dikaitkan dengan berdoa, maka dapat dipastikan bahwa mereka berdoa dengan tekun

dan  dengan  sehati.  Cara  seperti  ini  sangat  kita  butuhkan dalam gereja  kita  masing-

masing,  sebab jika  ada sungut-sungut  dan perselisihan dalam hati  orang-orang yang

berdoa  maka  mereka  tidak  dapat  berdoa  dengan  sungguh-sungguh.  Mereka  berdoa

dengan bertekun dapat dijelaskan bahwa mereka sabar sampai doanya terkabul.  Dan

selalu memberikan waktu untuk berdoa.

b. Pemilihan Matias (Kisah Para Rasul 1: 15-26)

Bagian ini adalah bagian yang sangat penting untuk dibahas dengan baik sebab 

dalam bagian ini ada beberapa hal yang sering diperdebatkan. Seperti: Petrus dianggap

sebagai orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin, kemudian pemilihan

Matias  yang  dianggap  gagal  sebab   menurut  mereka  bahwa  Pauluslah  yang  layak

sebagai pengganti jabatan Rasul yang ditinggalkan Yudas,  mereka yang berpendapat

demikian ber argument dimana setelah Matias dipilih namanya tidak disebut-sebut lagi

dalam Kisah Para Rasul, dan justru Pauluslah banyak menempati dalam pembahasan

selanjutnya  Kisah  Para  Rasul.  Persoalan-persoalan  ini  adalah  merupakan  persoalan

yang sangat penting dijelaskan. 

Mengenai  Petrus  (ay  15)  yang  berdiri  sebagai  pemimpin,  bukan  berarti  dia

mengangkat  diri  sendiri  tetapi  sebenarnya  sebelumnya  Tuhan  Yesus  telah  pernah

menubuatkan  bahwa dia  akan  menjadi  pemimpin,  namun  pemimpin  yang  kita  aksud

disini  berbeda dengan yang dipahami oleh Roma Katholik.  Yesus telah menubuatkan

tentang Petrus dalam Matius 16:19; Lukas 22:31-32; Yohanes 21:15-17. dan memang

jika mempelajari kitab Injil, maka kita akan melihat bahwa Petrus dianggap sebagai murid

yang cukup terpandang, namanya selalu menempati urutan yang pertama dalam setiap

daftar  nama  para  rasul  termasuk  juga  dalam  Kisah  Para  Rasul  1:13.  Supaya  kita

mendapat kejelasan tentang kepemimpinan Petrus maka kita akan kembali membahas

kitab Injil,  secara khusus Matius 16:16-18,  dimana sesudah Pertrus mengakui bahwa

Yesus adalah Mesias, seperti berikut ini “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,”

ia  di  puji  oleh  Yesus  “Engkau  adalah  Petrus  dan  diatas  batu  karang  ini  Aku  akan

mendirikan  jemaat-Ku  dan  alam  maut  tidak  akan  menguasainya.  Kepadamu  akan

kuberikan kunci kerajaan sorga.” Dari ayat ini kita akan membahas dua hal yang penting,

yang  pertama  ungkapan  Batu  karang,  yang  kedua  adalah  kalimat  yang  mengatakan

Kepadamu akan kuberikan kunci kerajaan Sorga. 

Kita  akan  mulai  dengan  yang  pertama:  Batu  Karang, dalam  bahasa  Yunani

πετρα adalah kata benda feminism dan Petrus πετροσ adalah kata benda Maskulin yang

berarti “batu.” Oleh sebab  itu batu karang dalam bentuk feminim tidak menunjuk kepada

Petrus  sendiri,  tetapi  kepada  Firman  Allah  yang  diucapkan  oleh  Iman  Petrus,  yaitu

pengakuan Iman Petrus (Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup).  Bandingkan

dengan Efesus 2:20, Wahyu 21:14. Dalam Alkitab tertulis bahwa Firman Allah adalah

batu karang (Matius 7:24).  Hal  ini  berbeda dengan pandangan Katolik  bahwa Petrus

dianggap sebagai batu karang. Padahal jika membaca kitab Injil, kita akan menemukan

bahwa  Petrus  bukanlah  batu  karang  jemaat;  Ia  pernah  bersalah  sesudah  menerima

Firman  Yesus  (Matius  16:22,23;  26:69-75)  dan  juga  pernah  ditegur  Paulus  sebab 

tindakan munafik (Galatia 2:11-14).

39


Kemudian  hal  yang  kedua,  yaitu  tentang  kalimat  “Kepadamu akan  Kuberikan

kunci Kerajaan Sorga”,  kuasa yang di berikan oleh Tuhan Yesus tidak hanya kepada

Petrus. Kunci kerajaan sorga adalah hak khusus untuk memberitakan Injil dengan kuasa

rasuli. Semua rasul menerima hak itu dan dapat memakainya dengan kuasa ini .

Petrus adalah salah satu diantara mereka. Ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi juga

memiliki hak yang sama (Matius 23:13); hanya mereka menyalahgunakan hak itu. 

Mengenai  pemilihan  Matias  yang  dianggap merupakan kesalahan  para  rasul.

Untuk  menjawab  hal  ini   kita  harus  menafsirkan  nats  ini  (Kis  1:15-26)  dengan

melihat bahwa para rasul ada dalam pimpinan Allah. Alasan mengapa para rasul di sebut

ada dalam pimpinan Allah, dimana mereka sudah mengerti kebenaran dan Roh Kudus

menggerakkan Petrus mengutip  Mazmur  69:26 dan Mazmur 109:8,  jadi  pemilihan itu

dilakukan bukan tidak berdasar,  tetapi  sebab  pimpinan Roh Kudus.  Lagi pula hal  itu

dapat dibuktikan dengan ayat yang lain, dimana Matias juga diberi kuasa oleh Roh Kudus

sama dengan kuasa yang diberikan kepada rasul-rasul yang diplih langsung oleh Yesus.

(Kisah  Para  Rasul  2:1-4,14).  Biasanya  orang  yang  berpikiran  bahwa  Matias  adalah

pilihan  yang  salah  sebab   menganggap  bahwa  Pauluslah  yang  dipilih  Allah  untuk

menggantikan jabatan kerasulan Yudas. Pada hal Paulus sendiri  mengakui bahwa dia

tidak  termasuk  dalam golonganke  12  Rasul  (Galatia  1:15-24;1Kor  15:8-9).  Lagi  pula

tugas kedua belas rasul  itu yang palng utama adalah untuk melayani 12 suku Israel,

sedangkan Paulus diutus kepada orang-orang non Yahudi (Galatia 2:1-10). Hal yang lain

yang perlu di ingat bahwa kedua belas rasul itu (termasuk Matias) dipersiapkan untuk

duduk di 12 tahkta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Lukas 22:28-30).

Masih  ada  satu  pertayaan  lain  yang  sering  juga  menjadi  perdebatkan  yaitu

mengapa Yudas harus digantikan, padahal setelah Yakobus mati dan rasul-rasul yang

lain mati tidak diganti. Alasannya adalah sebab  tugas paling uama dari kedua belas rasul

itu  untuk  menjadi  saksi  terutama  kepada  orang  Yahudi.  Jadi  sejak  berita  itu  sudah

ersebar  kepada  orang-orang  non  Yahudi  maka penekanan kepada orang  Yahudipun

mulai menurun. Jadi setelah Rasul Yakobus mati syahid ( Kisah 12) tidak diganti lagi

sebab  secara resmi kesaksian kepada bangsa Israel sudah selesai dan berita itu (Injil)

sudah tersebar kepada orang Yahudi  dan juga non Yahudi.  Kemudian tentang Kisah

Para  Rasul  1:18,  seakan-akan  bertentangan  dengan  Matius  27:3-10.  dimana  dalam

Kisah  Para  Rasul  1:18  disebut  bahwa  Yudas  telah  membeli  tanah  dengan  upah

kejahatannya,  sedangkan  dalam  Matius  27:3-10  disebut  bahwa  Yudas  melemparkan

uangnya ke dalam Bait Suci, dan kemudian para imam mengumpulkannya dan membeli

sebidang tanah dan tanah itu akhirnya disebut Hakal Dama. Wiersbe menjelaskan bahwa

kedua nats ini adalah saling melengkapi, Yudas tidak membeli tanah itu sendiri, tetapi

uangnya  dipaki  untuk  membeli  tanah  itu  atas  dasar  itulah  dia  dianggap  sebagai

pembelinya. Dalam bahasa Aram Hakal Dama mempunyai arti  mengenai Yudas yang

menyerahkan Yesus, membuktikan bahwa pencurahan darah Yesus adalah benar-benar

terjadi dalam sejarah. Jadi tanah itu disebut Tanah Darah bukan sebab  darah Yudas.

Tetapi  sebab  ketiga  puluh  keeping  uang perak  itu  dipandang sebagai  “uang darah,”

maka tanah itu disebut tanah darah.

Sebagai pembahasan penutup dari fasal satu ini, kita akhiri dengan membahas

cara pemilihan Matias, yaitu dengan membuang undi. Ini adalah peristiwa terakhir dalam

Alkitab  yang  berkenaan  dengan  membuang  undi.  Cara  ini  dilakukan  pada  masa  itu

sebab   sulitnya  untuk  mengetahui  kehendak  Allah,  berhubung  Firman  Allah  belum

seluruhnya di wahyukan dengan jelas, tetapi kini Firman Allah telah komplit. Jadi jika kita

mau mencari kehendak Allah lebih baik kita bertanya kepada Alkitab.

c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-41)

Kisah  Para  Rasul  2:1  adalah  berbicara  tentang  dimana  gereja  menantikan

pencurahan Roh Kudus. Hal itu terlihat jelas dari isi ayat yang pertama ini, “Ketika tiba

hari pentakosta, semua orang percaya berkumpul disuatu tempat.” Pentakosta berarti “ke

lima puluh”  sebab  dilakukan lima puluh hari  setelah perayaan buah sulung  (Imamat

23:15-22). Hari-hari raya Yahudi yang tercatat dalam Imamat 23 merupakan garis besar

pekerjaan Tuhan Yesus Kristus. Paskah menggambarkan kematian-Nya sebagai Anak

Domba Allah (1 Korintus 5:7; Yohanes 1:29), dan hari raya buah sulung menggambarkan

kebangkitan-Nya dari antara orang mati (1 Korintus 15:20-23) kemudian lima puluh hari

setelah  hari  raya  buah  sulung  adalah  hari  raya  Pentakosta,  yang  merupakan  awal

40


perluasan gereja Bangsa Yahudi memperingati diberikannya Hukum Taurat, tetapi orang

Kristen merayakannya sebab  diberikannya Roh Kudus kepada Gereja.

Para teolog mengatakan bahwa hari raya buah sulung selalu dirayakan sehari

sesudah  sabat  sesudah  paskah,  berarti  pada  hari  minggu  (hari  sabat  adalah  hari

ketujuh). Yesus bangkit pada hari pertama, yaitu satu hari setelah sabat (hari minggu),

Yesus bangkit  sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Korintus

15:20). Jadi dengan demikian hari pentakosta (lima puluh hari setelah perayaan buah

sulung) tepat pada hari minggu, dengan alasan bahwa lima puluh hari setelah perayaan

buah sulung itu sama dengan 7 minggu (hari yang ketujuh adalah sabat, tambah satu

hari). Kebenaran ini telah diungkapkan oleh Wiersbe dan lebih lanjut beliau mengatakan

bahwa orang Kristen bersekutu dan berbakti pada hari minggu, hari pertama sebab  pada

hari  itu  Tuhan  Yesus  bangkit  dari  kematian,  dan  itu  juga  hari  Roh  Kudus  diberikan

kepada Gereja.

Ayat 2 ini menunjukkan bahwa hari Pencurahan Roh Kudus adalah merupakan

peristiwa yang terjadi diluar dugaan para murid. Memang setelah Tuhan Yesus naik ke

Sorga murid-murid menantikan dengan bertekun menantikan pencurahan Roh Kudus,

tetapi tentang hari apa, jam berapa dan bagaimana carannya mereka tidak tahu. Hal itu

terlihat dimana ayat 2 ini dimulai dengan kata “Tiba-tiba turunlah dari langit..”  dengan

jelas ayat dua ini juga memberitahukan bahwa ada tiga tanda yang menakjubkan yang

menyertai  kedatangan Roh Kudus,  yaitu  suatu  tiupan angin  keras,  lidah-lidah  seperti

nyala api, dan orang-orang percaya yang memuji Tuhan dalam berbagai macam bahasa.

Yune Sun Park mengomentari ayat ini dengan mengatakan bahwa bunyi seperti tiupan

angin keras melambangkan kelahiran baru oleh kuasa Roh Kudus, sebagai penggenapan

janji  Tuhan  Yesus  (Yoh  3:3,8).  Api  melambangkan  kuasa  yang  menebarkan  dan

menaklukkan.  Dua hal  ini  terjadi  secara  bersamaan,  hal  itu  berarti  orang  yang telah

mengalami kelahiran baru harus memberitakan atau menyaksikan Injil. 

Kemudian ayat 3 adalah merupakan tanda pencurahan Roh Kudus, seperti yang

telah dijelaskan diatas.Dalam ayat 4, ada kalimat yang mengatakan “… penuhlah mereka

dengan Roh Kudus…” pemenuhan Roh itu berkaitan dengan kuasa untuk bersaksi dan

melayani (Kisah Para rasul 1:8). Di dalam Efesus 5:18 kita dihimbau untuk tetap penuh

dalam Roh,  sebab   memang  kita  membutuhkannya  dalam melayani  Tuhan.  Wiersbe

memberikan komentar bahwa pada hari Pentakosta orang-orang Kristen dipenuhi dengan

Roh Kudus dan mengalami baptisan Roh Kudus; tetapi sesudah itu mereka berkali-kali

dipenuhi (Kisah Para Rasul 4:8,31;9:17;13:9), tetapi tidak menerima baptisan Roh lagi. 

Kata ”baptize” dalam bahasa Yunani mempunyai dua arti, yaitu arti harafiah dan

arti kiasan. Secara harafiah, kata itu berarti “menenggelamkan,” tetapi secara kiasan kata

itu berarti “di identifikasikan dengan.” Baptisan Roh adalah tindakan Allah, yang dengan-

Nya Dia mengidentifikasikan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus, kepala gereja

yang ditinggikan itu, dan membentuk tubuh rohani Kristus di dunia (1Korintus 12:12-14).

Dalam sejarah, hal ini terjadi pada hari Pentakosta; tetapi sekarang hal itu terjadi pada

kapan  saja  setiap  ada  orang  berdosa  yang  percaya  kepada  Kristus  dan  dilahirkan

kembali. Baptisan Roh itu terjadi dalam dua tahap: orang-orang Yahudi yang percaya di

baptis pada hari pentakosta dan orang-orang non- Yahudi di baptis dan ditambahkan ke

dalam Tubuh Kristus di rumah Kornelius. Kemudian dalam ayat 4, hal yang lain yang

perlu kita pahami adalah tentang perkataan: “…Lalu mereka mulai berkata-kata dalam

bahasa-bahasa yang lain…” untuk mempelajari hal ini kita harus melihat kelanjutan ayat

ini, yaitu mulai ayat 5-13, dimana Lukas mendaftarkan adanya orang-orang yang datang

dari lima belas lokasi geografis dan dengan jelas menegaskan bahwa penduduk masing-

masing tempat itu mendengar Petrus dan kawan-kawannya menyatakan perbuatan besar

yang dilakukan oleh Tuhan dalam bahasa yang mereka mengerti. Jadi yang dimaksud

dengan bahasa yang lain bukan berarti bahasa yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut

jika kita melihat dalam ayat 6 dan 8, kata “bahasa” yang dipakai disana adalah διαλεκτω

dalam bahasa Inggris dialect . Dalam bahasa Indonesia kata ini mengacu kepada suatu

bahasa daerah atau dialek dari beberapa Negara atau daerah (21:40; 22:2; 26:14). 

Dalam Kisah Para Rasul dan juga 1Korintus disebutkan mengenai berkata-kata

dalam bahasa Roh itu adalah menunjuk kepada pengalaman yang sama, yaitu memuji

Allah di dalam Roh dalam bahasa yang dapat di mengerti, kecuali ada keterangan lain.

Berbicara tentang bahasa yang sering diperdebatkan dalam nats ini,  para komentator

Alkitab  mengatakan  bahwa  peristiwa  Pentakosta  merupakan  kebalikan  dari  kacau

balaunya  bahasa  pada  masa  pembangunan  menara  Babel  (Kej  11:1-9),  dimana

41


hukuman Allah di Babel mencerai beraikan manusia, sedangkan berkat Allah pada hari

pentakosta mempersatukan orang-orang percaya di dalam Roh yang memakai bahasa

manusia.  Di  Babel  bahasa  seorang  dengan  yang  lainnya  berbeda  dan  tidak  saling

mengerti,  sementara  pada  Pentakosta  orang-orang  memuji  Allah  dan  sebagian  yang

mendengar mengerti kata-kata pujian itu. Pembangunan menara Babel sebenarnya ingin

meninggikan  manusia,  tetapi  di  Pentakosta  orang-orang  meninggikan  nama  Tuhan.

Pembangunan menara Babel adalah bentuk pemberontakan kepada Allah sedangkan

Pentakosta  adalah  orang-orang  yang  percaya  tunduk  dan  merendahkan  hati  kepada

Allah. Sebelum mengakhiri  ayat 4 ini, kita juga melihat ada satu hal yang indah yang

sering terlupakan dari pesan ayat 4 ini, dimana Ayat ini juga memberitahukan bahwa Injil

bukan hanya pada satu suku bangsa dan bahasa. Tetapi untuk seluruh dunia. Allah ingin

berbicara kepada setiap orang di dalam bahasa masing-masing dan memberikan berita

keselamatan dalam Yesus Kristus, “Sampai keujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

Ayat  5,  memberitahukan bahwa pada saat  itu  orang-orang  Israel  datang dari

berbagai daerah dimana mereka tinggal dan berkumpul di Yerusalem untuk merayakan

hari Pentakosta. 

Dalam ayat 6 dikatakan bahwa mereka bingung dan tercengang-cengang sebab 

mereka  mendengar  rasul-rasul  berkata-kata  dalam  bahasa  Negara  (daerah)  dimana

mereka tinggal.

Ayat 7 ini juga sudah dijelaskan dalam ayat yang ke lima dan keenam. Mungkin

yang agak penting kita pahami disini bahwa yang dimaksud dengan orang Galilea, disini

bisa saja menunjuk kedua belas rasul tetapi juga bisa menunjuk kepada 120 orang itu,

sebab  sebagian besar diantara mereka mengikuti Yesus dari Galilea sampai Yerusalem.

Ayat 8, kembali memberitahukan bahwa bahasa yang dipakai oleh para rasul itu

adalah bahasa yang dapat dimengerti  oleh berbagai daerah atau Negara. Selanjutnya

ayat 9 -11 menguraikan asal daerah dan Negara orang-orang Yahudi yang datang itu.

Menurut uraian ayat ini orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi datang dari 16 daerah,

berkumpul  di  Yerusalem  untuk  mendengar  Injil.  Dengan  kenyataan  ini  kita  dapat

menyimpulkan bahwa pencurahan Roh Kudus adalah permulaan pemberitaan Injil  ke

seluruh dunia. Kemudian ayat 12 dan 13 adalah merupakan respons dari orang banyak

tentang hal apa yang terjadi itu, sebagian ada yang tercengang dan berkata apa yang

terjadi  ini,  tetapi  sebagian  malah  menghujat  dengan berkata  bahwa  “Mereka  sedang

mabuk oleh  anggur  manis”.  Anggur  manis  (γλευκουζ)  adalah  sari  buah  anggur  yang

beragi dan mengandung unsur yang memabukkan.

Ayat 14 – 40, adalah berisi tentang kotbah Petrus yang sangat luar biasa sekali.

Pada saat Petrus berkotbah dia tidak menggunakan bahasa yang tidak dapat dimengerti

oleh para pendengarnya.  Dia menggunakan bahasa Aram yaitu bahasa yang mereka

pergunakan  sehari-hari.  Kotbah  Petrus  itu  paling  tidak  berisi  tiga  penjelasan:  Ia

Menjelaskan apa yang sedang terjadi: Roh Kudus sudah datang (ay. 14-21). Ayat 14 ini

memperlihatkan kepemimpinan Petrus yang disertai dengan wibawa yang dari Allah Roh

Kudus. Selanjutnya pada ayat yang 15 Petrus menjelaskan bahwa orang-orang percaya

itu bukan sedang mabuk anggur manis sebab waktu itu masih jam sembilan pagi. Petrus

menjelaskan demikian sebab sebelum jam sembilan pagi pada hari Sabat atau hari raya

lainya orang-orang Yahudi Ortodoks tidak akan makan atau minum dan biasanya mereka

tidak akan minum anggur kecuali kalau sedang makan. Secara umum orang Yahudi tidak

akan minum anggur di pagi hari lihat Pengkotbah 10:16. selanjutnya pada ayat 16 Petrus

engatakan bahwa apa yang sedang terjadi itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama,

sebagaimana  kita  ketahui  bahwa  orang-orang  Yahudi  sangat  menjung-jung  tinggi

Perjanjian Lama. Kemudian yang Petrus maksud tentang hari-hari terakhir dalam ayat 17

adalah εν ται εσχαταιζ adalah menunjuk pada zaman baru yang dinantikan oleh para nabi

di Perjanjian Lama. Hari-hari terakhir yang dimaksud adalah awal zaman baru dimana

Allah menggenapi rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Kelanjutan dari ayat 17

ini  ada  kalimat  Aku  akan  mencurahkan  Roh-Ku  keatas  semua  manusia,  hal  ini

menekankan bahwa orang-orang yang akan mendapat berkat itu tanpa dibatasi oleh ras,

suku dan bahasa, bukan hanya kepada orang-orang Yahudi saja tetapi tanpa terkecuali

(semua manusia). Kemudian dalam ayat ini diikuti kata Nubuat, penglihatan, mimpi yang

merupakan cara Allah untuk menyatakan Firman-Nya dalam zaman Perjanjian Lama.

Seluruh  kalimat  ini  mengandung makna bahwa dalam Perjanjian  Baru,  semua orang

percaya akan memperoleh anugerah Roh Kudus. Jadi bukan hanya orang-orang khusus

yang dapat meneria Firman seperti imam dan nabi-nabi dalam PL. dalam PB tidak ada

42


imam atau nabi seperti pada zaman PL. Tuhan Yesuslah imam besar dan orang-orang

percaya  adalah  imam-imam  yang  dapat  berdiri  dihadapan  Allah  (1Petrus  2:9).  Ia

Memberitahukan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB (ay 19-21) ayat ini

menjelaskan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB, Dimana akan terjadi

perang (darah, api, gumpalan asap) dan berbagai bencana seperti perubahan matahari

dan bulan sebagai  tanda murka Allah.  Petrus mengungkapkan hal  ini  adalah supaya

pendengarnya ketakutan dan menyadari bahwa mereka butuh pertolongan, sebab tanda-

tanda ini adalah merupakan ancaman kebinasaan yang sangat menakutkan bagi setiap

orang. Tetapi barang siapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Ia menjelaskan bagaimana Roh Kudus datang adalah sebab  Ye