Injil sinoptik 8


 sus Hidup (ay

22-35). Kita mengetahui bahwa berita tentang penangkapan, pengadilan dan penyaliban

Yesus dari Nazaret sudah tersebar luas, dan orang-orang juga telah mendengar berita

bohong bahwa para pengikut  Yesus telah  mencuri  mayat-Nya untuk membuat  orang

berpikir bahwa Ia telah menggenapi janji-Nya dan telah bangkit dari anatara orang mati.

Tetapi  Petrus  pada  ayat  22  menjelaskan  kebenaran  kepada  mereka:  bahwa  Yesus

benar-benar  telah  bangkit  dari  antara  orang  mati,  dan  kebangkitan  itu  membuktikan

bahwa Ia adalah Mesias. Selanjutnya Petrus memberikan beberapa bukti Yesus sudah

bangkit  ,  dan  kemudian  mengundang  mereka  agar  percaya  kepada  Kristus  dan

diselamatkan. 

Bukti  yang  pertama adalah  Pribadi  Yesus  Kristus  sendiri.  (ay  22-24)  para

pendengar Petrus mengetahui bahwa Yesus adalah pribadi yang nyata dari Nazaret, dan

bahwa Ia telah melakukan banyak tanda dan mukjizat.  Sebagian dari  mereka pernah

mendengar Dia berbicara dan memperhatikan kehidupan-Nya, bahkan mereka melihat

Dia  membangkitkan orang mati,  namun mereka tidak menemukan kesalahan apapun

pada-Nya – dan hal-hal ini tidak terjadi di tempat yang terpencil (Kisah Para Rasul 26:26).

Kembali  pada  ayat  23  Petrus  menunjukkan  kesalahan  dan  dosa-dosa  para

pendengarnya, dimana mereka telah ikut menyerahkan Yesus dan bahkan membunuh-

Nya dan bangsa itu disebut sebagai bangsa durhaka. Selanjutnya kata sengsara pada

ayat 24 diterjemahkan sama dengan sakit melahirkan, dan itu berarti bahwa kubur adalah

rahim yang melahirkan Yesus didalam kemuliaan kebangkitan. 

Bukti Perus yang kedua adalah nubuat Daud (ayat 25-31). Dia mengutip Mazmur

16:8-11, yaitu ayat yang jelas-jelas tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri sebab  ia

telah  mati  dan  dikuburkan.  Daud sebagai  nabi  Allah menulis  tentang  Mesias,  bahwa

Nyawa-Nya tidak akan tetap berada dalam dunia orang mati (Hades), atau bahwa tubuh-

Nya tidak akan tetap ada dan membusuk di kuburan. 

Bukti yang ketiga adalah kesaksian dari orang-orang percaya (ayat 33) sesudah

kebangkitan-Nya,  Yesus  tidak  menampakkan  diri  pada  dunia  pada  umumnya,  tetapi

hanya kepada pengikut-pengikutNya, yang telah diberi amanat supaya mereka bersaksi

kepada yang lain bahwa Dia hidup (Kisah Para Rasul 1:3,22). Sekarang jika kita melihat

ketidak beranian para murid sebelum Dia bangkit dan dibandingkan dengan keberanian

mereka setelah Yesus bangkit adalah sangat menakjubkan sekali. Apalagi pada masa itu

berita  mereka  sangat  dikecam oleh  banyak orang  dan  kerap  kali  membawa mereka

kepada  penghakiman,  tetapi  sebab   Yesus  benar-benar  bangkit  mereka  tetap

memberitakan hal ini  tanpa ada rasa takut sedikitpun. 

Bukti Petrus yang  keempat  ialah Kehadiran Roh Kudus (ayat 33-36). Jika Roh

Kudus ada di dunia ini, maka Allahlah yang mengutus. Yoel mengumumkan bahwa pada

suatu saat nanti Roh Kudus akan datang, dan Yesus sendiri berjanji untuk mengutus Roh

Kudus kepada umat-Nya (Lukas 24:49; Yoh 14:26; Kisah Para Rasul 1:4).  Tetapi bila

Yesus tetap mati dan tidak bangkit, maka tidak akan dapat mengutus Roh Kudus yang

dijanjikan-Nya; jadi Dia pasti hidup dan lebih daripada itu Dia tidak akan dapat mengutus

Roh Kudus kalau Dia  tidak kembali  ke Surga.  Untuk menunjang pernyaan ini  Petrus

mengutip Mazmur 110:1, satu ayat yang tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri.

Petrus dari keempat bukti kebangkitan Kristus ini  sekaligus juga menunjukkan dosa

orang-orang Yahudi, dimana: Yesus adalah Mesias tetapi mereka telah menyalibkan Dia

(Kisah Para Rasul 2:23). Petrus menunjukkan bahwa Israel telah mebunuh Mesiasnya

sendiri! itu adalah dosa dan kejahatan yang terbesar sepanjang sejara! Kotbah Petrus in

membuat para pendengarnya sangat ketakutan dan seolah-olah tidak ada harapan lagi

bagi  mereka  untuk  diselamatkan.  Ia  menjelaskan  mengapa  hal  itu  terjadi:  untuk

menyelamatkan orang-orang berdosa (ayat 37-41).

43


Sebelum bagian penutup kotbah Petrus, para pendengarnya telah ketakutan dan

akhirnya mengajukan pertayaan: “Apakah yang harus kami perbuat saudara-saudara?”

pertayaan  lahir  atas  ketakutan  yang  sangat  mendalam  setelah  mengetahui  bahwa

mereka adalah orang yang sangat berdosa dan tidak terampunkan. Kemudian Petrus

memberitahukan kepada mereka bagaimana agar diselamatkan: mereka harus bertobat

dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Yesus Kristus. Kemudian mereka mereka

juga dihimbau untuk membuktikan ketulsan pertobatan dan iman mereka dengan cara di

baptis dalam nama Yesus Kristus. Terjemahan bahasa Indonesia Kisah Para rasul 2:38

menyiratkan bahwa orang harus di baptis agar diselamatkan. Pada hal dalam bahasa

aslinya:  untuk  pengampunan  dosamu,  kata  untuk  disini  memakai  kata  eis  yang

mempunyai arti atas dasar (sebab ). Jadi seharusnya ayat 38 diterjemahkan demikian:

“…Bertobatlah  dan  hendaklah  kamu  masing-masing  memberi  dirimu  di  baptis  dalam

nama  Yesus  Kristus  atas  dasar  (sebab )  pengapunan  dosamu,  maka  kamu  akan

menerima  karunia  Roh  Kudus.”  Memang  jika  kita  mempelajari  Kisah  Para  Rasul  ini

secara  keseluruhan  maka  kita  akan  melihat  bahwa  yang  merupakan keinginan  yang

pertama dari orang yang sudah diselamatkan adalah meminta diri di baptis. Hampir tidak

ditemukan dalam Kisah Para Rasul bahwa ada orang yag bertobat tetapi tidak dibaptis. 

d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)

Orang-orang  percaya  masih  terus  menggunakan  Bait  Allah  sebagai  tempat

mereka berjemaat dan melayani; disamping itu mereka juga bersekutu di rumah-rumah.

Ke- 3000 orang yang baru bertobat itu memerlukan bimbingan di dalam Firman Allah dan

persekutuan  dengan umat  Allah  supaya mereka dapat  bertumbuh dan  menjadi  saksi

yang efektf. Satu hal yang perlu diteladani oleh gereja masa kini dari gereja mula-mula,

dimana gereja mula-mula bukan hanya menjemaatkan orang-orang yang sudah bertobat,

tetap juga memuridkannya agar menjadi saksi bagi Kristus yang efektif.

Dalam ayat 42 ini kita juga menjumpai kata “memecahkan roti” ini lebih mengacu

kepada makan bersama. Dan setelah itu mereka sejenak mengingat Tuhan dengan apa

yang kita sebut “Perjamuan Tuhan.” Roti dan anggur adalah hal-hal yang biasa ada di

meja  makan  orang  Yahudi.  Kata  persekutuan  mempunyai  arti  lebih  dari  sekedar

“berkumpul.” Hal itu berarti memiliki kebersamaan dan mungkin mengacu kepada saling

berbagi harta tetapi harus diingat bahwa apa yang dilakukan dalam persekutuan gereja

mula-mula ini  tidaklah sama dengan komunisme modern,  sebab  program itu  mereka

lakukan secara sukarela, bersifat sementara dan digerakkan oleh kasih. Bukan sebab 

paksaan, dan bukan sebab  dorongan politik.

Di bawah ini ada beberapa karakteristik Gereja mula-mula, yaitu: bersatu (2:44),

disukai oleh banyak orang (ay, 47a), berkembang (ay, 47b), Mempunyai kesaksian yang

kuat diantara orang-orang Yahudi yang belum diselamatkan, Mereka bersekutu setiap

hari (Kisah Para Rasul 2:46), melayani setiap hari (Kisah Para Rasul 6:1), memenangkan

jiwa setiap hari (2:47), dan menyelidiki Kitab Suci setiap hari (Kisah Para Rasul 17:11).

Kemudian sebelum kita melanjutkan pebahasan kita kepada fasal tiga, kita mengingat

kembali  bahwa janji  Tuhan masih  tetap berlaku:  “Barang siapa yang berseru kepada

nama Tuhan akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:21; Roma 10:13). Sudahkah anda

berseru? Sudahkah anda percaya kepada Yesus Kristus untuk keselamatan diri anda? 

2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)

a. Mukjizat dan khotbah Petrus (3:1-26)

Saat itu orang-orang percaya masih terikat  pada Bait  Allah,  dan pada waktu-

waktu doa tradisional (Mazmur 55:18; Daniel 6:10; Kisah Para Rasul 10:30). Selanjutnya

jika  kita  melihat  Kisah  Para  Rasul  1-10  adalah  menggambarkan  satu  perubahan

pemberitaan Injil yang berangsur-angsur dari Israel ke non Israel, dan dari kekristenan

Yahudi (Kisah Para Rasul 21:20) kepada “satu tubuh” yang terdiri dari orang Yahudi dan

non Yahudi. Perlu waktu yang cukup supaya orang-orang Yahudi yang percaya dapat

benar-benar  memahami  tempat  orang-orang  non  Yahudi  dalam  program  Allah  dan

pemahaman ini terjadi melalui banyak pertentangan.

Kisah  Para  Rasul  3:1-26,  sangat  penting  kita  pahami  terutama  dalam  hal

penyampaian dan isi kotbah dari para Rasul kepada orang-orang Yahudi yang sangat

berhasil dan akhirnya mengakibatkan permusuhan pertama dari para pemimpin Yahudi.

44


Pada ayat 1 terlihat nama Petrus dan Yohanes, dimana kedua orang ini sering

disebut sebagai rasul yang utama dalam gereja mula-mula. Kedua tokoh ini sering terlihat

secara  bersama-sama  dalam  kitab  suci,  mereka  adalah  rekan  seprofesi.  Sebelum

menjadi murid Yesus, yaitu sebagai penangkap ikan (Lukas 5:10); mereka sama-sama

mempersiapkan jamuan paskah terakhir bagi Tuhan Yesus (Lukas 22:8); mereka sama-

sama  berlari  ke  pekuburan  pada  hari  kebangkitan  Yesus  (Yoh  20:3-4)  dan  mereka

melayani orang-orang Samaria yang percaya kepada Yesus Kristus (Kisah Para Rasul

8:14),  sekarang  setelah  mereka  penuh dengan Roh Kudus.  Rasul-rasul  ini  tidak  lagi

bersaing untuk menjadi yang terbesar, melainkan bekerja bersama-sama dengan setia

untuk membangun gereja.  Pada pasal  3:1  kedua rasul  ini  terlihat  masih  melanjutkan

kebiasaan menyembah Allah secara Yahudi di Bait Allah. Pukul tiga petang merupakan

saat berdoa dan mempersembahkan kurban malam hari.

Kemudian dalam ayat 2, kita menemui kata “Orang lumpuh sejak lahirnya”. Kata

ini  menekankan  bahwa  penyakit  kelumpuhan  itu  bukan  penyakit  yang  mudah

disembuhkan, atau barangkali lebih tepatnya disebut bahwa penyakit itu tidak akan bisa

disembuh oleh medis. Orang lumpuh itu diusung dan diletakkan di pintu gerbang indah

untuk mengharapkan pemberian sedekah, bukan yang bersifat rohani tetapi lebih bersifat

materi. Hal ini juga banyak terjadi pada masa kini, banyak orang pergi ke gereja bukan

untuk mendapatkan hal-hal rohani tetapi ingin mendapatkan berkat materi saja, namun

yang berbeda disini adalah bahwa Petrus hamba Tuhan itu memberitakan kepadanya

bahwa yang paling berharga baginya adalah Kristus dan dia menyuruh orang lumpuh itu

untuk bangkit,  dia percaya dan dia  menuruti  Petrus untuk berdiri,  walaupun memang

dengan  bantuan  tangan  Petrus.  Sedangkan  dalam  gereja  masa  kini,  banyak  orang

datang  gereja  dengan  motivasi  ingin  mendapatkan  berkat  materi  dan  ternyata

pengkotbahnya juga mengkotbahkan hal-hal yang materi, sekarang ada banyak pendeta

hanya berkotbah bagaimana supaya sukses dalam dunia usaha. Tentu hal-hal seperti ini

berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus. Rasul Petrus tahu bahwa ada

orang yang ingin mendapatkan kesembuhan badani,  tetapi  dia membimbingnya untuk

menerima kesembuhan rohani, yaitu sembuh dari penyakit dosa melalui percaya kepada

Kristus dan setelah itu kesembuhan badani mengikutinnya.

Ayat 3-4 menceritakan bahwa orang lumpuh itu melihat Petrus dan Yohanes mau

berjalan melewati tempat dimana si orang lumpuh itu diletakkan, kemudian orang lumpuh

itu berkata “lihatlah kepada kami” melalui perkataan itu terjadilah kontak mata, antara

Petrus dengan dia. Kontak mata selalu penting, dimana biasanya kontak kepribadian bisa

timbul sebab  dimulai dengan kontak mata. Petrus dan Yohanes perlu menatap orang

lumpuh itu, demikian juga dengan orang lumpuh itu perlu juga menatap kedua rasul itu.

Tetapi kita jangan sampai mengatakan bahwa kuasa Tuhan terjadi sebab  tatapan mata

Petrus. Kita lebih setuju mengatakan bahwa pelayanan yang berhasil adalah pelayanan

dimana pelayan dan yang dilayani ada dalam perhatian yang penuh.

Pada ayat 5-6 ini terlihat bahwa orang lumpuh itu mendapatkan yang jauh lebih

besar daripada apa yang dia harapkan. Perkataan Petrus “Emas dan perak tidak ada

padaku,  tetapi  apa yang kupunyai  ku berikan  kepadamu”  perkataan  ini  menunjukkan

kematangan  rohani  Petrus,  dia  kaya  dalam  hal  rohani.  Perkataan  itu  juga

menggambarkan bahwa betapa Petrus menempatkan Yesus yang paling berharga dalam

hidupnya.  Kita  sering  berkata  bahwa  kita  lebih  menghargai  Kristus  lebih  dari  segala

sesuatunya, tetapi kadang kala kita lupa dan kadang kita sudah lebih menghargai emas

dan perak atau hal-hal duniawi lainnya. Petrus juga mengalami kepuasan hidup di dalam

Kristus sehingga dia selalu memberitakan nama Kristus itu. Dalam ayat ini juga Petrus

berkata  “Demi  nama  Yesus  Kristus  orang  Nazareth  itu  berjalanlah”  perintah  ini

menunjukkan  keyakinan  dari  Petrus  pada  kuasa  Kristus.  Petrus  memakai  kata  yang

pendek tetapi memiliki kuasa yang luar biasa.

Ayat 7 menjelaskan bahwa Allah menyembuhkan orang lumpuh itu, dan pada

ayat ini juga terlihat bahwa Petrus memiliki keyakinan yang kuat, dia yakin bahwa orang

lumpuh itu akan sembuh. Lebih lanjut kita akan terpesona membaca ayat 8, dimana yang

lumpuh sejak lahirnya itu melonjak dan memuji-muji Tuhan. 

Pada ayat 9-10 dijelaskan bahwa semua rakyat melihat dia takjub dan heran.

Pada kesempatan seperti itu, Petrus belum puas sebab apa yang paling di inginkannya

bukanlah supaya orang lain mengetahui bahwa Yesus adalah penyembuh, tetapi Petrus

mau menjelaskan bahwa Yesuslah satu-satunya juruselamat. Peristiwa yang terjadi pada

45


ayat  9-10  itu,  membuat  orang-orang  ramai  mengerumuni  Petrus.  Keadaan seperti  ini

adalah kesempatan yang sangat baik bagi Petrus untuk berkotbah tentang Injil.

Pada ayat 12, Petrus menjelaskan bahwa apa yang terjadi kepada orang lumpuh

itu bukan sebab  kehebatan dan kuasa Petrus tetapi murni hanya sebab  kuasa Allah.

Hal ini  menjadi  pelajaran bagi para pengkotbah dan pelayan Tuhan, dimana mukjizat

yang benar seharusnya hanya meninggikan nama Tuhan, bukan pengkotbahnya.

Kemudian pada ayat 13 Petrus menegaskan bahwa Allah Israel, yaitu Allah yang

dipercaya  oleh  nenek  moyang  merekalah  yang  menyembuhkan  orang  lumpuh  itu.

Maksudnya bahwa mukjizat itu adalah pekerjaan Allah yang dikenal oleh orang Israel

sejak dahulu, yaitu Abraham Ishak dan Yakub yang seharusnya sudah mereka percayai

oleh sebab  janji-janjin-Nya kepada mereka (12-13). Ayat ini juga menjelaskan bahwa

mukjizat itu terjadi oleh sebab  Kristus adalah penggenapan nubuatan nabi-nabi sejak

dahulu (21-24). Oleh sebab  itu kedatangan Krstus sebenarnya bukanlah sesuatu yang

aneh untuk mereka percayai,  sebab kedatangan-Nya adalah penggenapan janji  Allah.

Petrus menjelaskan bahwa orang Israel  harus percaya kepada Allah dan hamba-Nya

yaitu Yesus yang telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Kata hamba-Nya dikutip dari

Yesaya 52:13-53, yaitu nama Mesias. Petrus menyebut Yesus sebagai hamba sebab 

penderitaan-Nya  yang  tertulis  dalam  ayat  13-15,  dimana  Dia  merendahkan  diri-Nya

dengan mengambil rupa seorang hamba seperti yang dijelaskan dalam Filipi 2:7 khotbah

Petrus ini  bukan hanya menjelaskan fakta tentang Kristus, tetapi  juga menegor dosa-

dosa mereka, yaitu tentang apa yang telah mereka lakukan kepada Yesus. Mereka bukan

hanya menyerahkan Yesus kepada Filatus untuk di hakimi, tetapi mereka juga menolak

anjuran Filatus dan mencegah Filatus untuk melepaskan Yesus. Dosa mereka adalah

merupakan dosa yang sangat keji yang selama ini tidak mereka perhatikan. Selama ini

mereka  berpikir  bahwa  mereka  telah  melakukan  tindakan  yang  benar  dengan

menyalibkan Yesus, ternyata itu adalah dosa yang sangat besar. Kemudian di ayat 14

menjelaskan lebih dalam lagi dimana tindakan mereka adalah merupakan penghianatan

yang  keji  terhadap  kebenaran,  yaitu  mereka  membunuh  Yesus  yang  benar  dan

membebaskan si pembunuh. Dalam PL Mesias sering disebut sebagai yang Kudus dan

yang Benar (Yesaya 53:11; Yeremia 33:15). Bandingkan dengan Yohanes 6:69; Kisah

Para Rasul 7:52; 22:14; 1 Yohanes 2:1). 

Selanjutnya pasal 3:15, merupakan bagan isi kotbah Petrus yang sangat penting,

disini  Petrus  sedang  memperlihatkan  dosa-dosa  para  pendengarnya  kembali  dengan

lebih tegas, dimana mereka telah membunuh Yesus yaitu Dia yang Petrus sebut sebagai

yang  meminpin  kepada  hidup,  “Demikianlah  Ia,  Pemimpin  kepada  hidup  telah  kamu

bunuh…” ini  menunjukkan betapa besarnya dosa mereka. Mereka telah menolak dan

membunuh Tuhan yang memberi kehidupan kepada manusia. Selanjutnya ayat ini juga

berkata “…tetapi Allah telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Berita ini juga

sebenarnya  bernuansa  penghakiman  Allah  terhadap  ketidakbenaran  orang  Yahudi.

Kebangkitan Yesus adalah kebenaran yang terbukti sendiri. Kemudian dalam ayat 15 ini

juga  Petrus  berkata  “Tentang  hal  itu  kami  adalah  saksi,”  perlu  kita  ingat  bahwa

persyaratan  sebagai  rasul  Kristus  adalah  orang  yang  melihat  dan  menyaksikan

kebangkitan Yesus dengan mata sendiri. Kata bersaksi dalam bahasaYunani μαρτυρια itu

selalu ada hubungannya dengan martir, artinya bahwa setiap oeang yang menjadi saksi

bagi Kristus harus siap menjadi martir.

Pada  ayat  16,  menjelaskan  bahwa  kepercayaan  dalam  nama  Yesus  telah

memberi kesembuhan kepada orang lumpuh itu. Petrus beriman kepada Yesus, tetapi

orang lumpuh itu  sepertinya tidak memiliki  iman yang sama dengan Petrus,  tetapi  ia

mentaati Petrus yang beriman, itu berarti bahwa akhirnya orang lumpuh itu juga percaya

pada apa yang dipercaya Petrus (dia juga beriman). 

Kemudian  dilanjutkan  dengan  ayat  17,  dimana  Petrus  seolah  memberikan

penghiburan  kepada  para  pendengarnya  dia  berkata  “Kamu  telah  berbuat  demikian

sebab   ketidaktahuan,”  ini  merupakan  kalimat  yang  menghibur  dan  memberi

pengharapan kepada orang-orang berdosa yang membunuh Yesus Kristus Anak Allah,

mereka mempunyai kesempatan untuk bertobat dengan kata-kata yang menghiburkan.

“Kamu telah berbuat demikin sebab  ketidaktahuan,” perkataan ini bukan berarti bahwa

mereka dianggap tidak berdosa. Tindakan mereka tetap dosa meskipun dilakukan sebab 

ketidaktahuan. Hanya disini Petrus menegor mereka dengan lembut. 

Pada  ayat  18,  Petrus  menjelaskan  bahwa  penderitaan  Mesias  adalah

penggenapan  nubuatan,  bahwa  Mesias  yang  diutus-Nya  harus  menderita.  Memang

46


dalam Perjanjian Lama hal itu tidak di jelaskan secara gamblang. Namun dalam bagian

ini Petrus menjelaskannya dengan menunjukkan bahwa Hamba yang menderita (Yesaya

53) adalah mengacu kepada penderitaan-Nya. 

Selanjutnya  pada  ayat  19-21  Petrus  menantang  orang-orang  Yahudi  agar

bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah. Ini akan berarti mengubah

pandangan mereka tentang Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias Allah.  Hasilnya

akan berupa kenyataan bahwa dosa mereka dihapuskan dan mereka dapat menikmati

waktu kelegaan yang dijanjikan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, yang mengacu kepada

kedatangan  Tuhan  yang  kedua  kali.  Lebih  lanjut  kata  Pemulihan  segala  sesuatu

(αποκαταστασεωζ)  adalah  juga  menunjuk  kepada  kemuliaan  yang  akan  terjadi  pada

waktu Yesus datang kedua kali, pada waktu itu semua mahluk akan menjadi baru, itulah

kemuliaan (3:21).

Ayat 22, merupakan lanjutan dari ayat 21, dimana pada ayat 21 telah dikatakan

tentang  waktu  Yesus tinggal  di  sorga  sampai  pemulihan  segala  sesuatunnya.  Waktu

yang dimaksud disini  mengacu  pada masa Perjanjian  Baru,  yaitu  waktu  bagi  jemaat

untuk  percaya  kepada-Nya.  Musa telah  membicarakan  tentang  masa itu  (PB)  dalam

Ulangan  18:15  dikatakan  “Seorang  nabi  dari  tengah-tengahmu,  dari  antara  saudara-

saudaramu, sama seperti aku akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; Dialah

yang harus kamu dengarkan” ayat ini telah digenapi dalam Kristus. Nabi (yang dimaksud

oleh ayat ini  adalah Yesus) adalah pengantara manusia dengan Allah (1Tim 2:5).

Jika  kita  mengadakan  penelitian  antara  Musa  dan  Yesus  Kristus,  memang  memiliki

banyak  persamaan  dimana:  Musa  memimpin  umat  Tuhan  dengan  Firman  dan  Roh

Kudus, bukan dengan pedang. Hidup matinya Umat Allah bergantung pada Firman Allah

yang disampaikan Musa. Demikian pula Mesias memimpin jemaat dengan Firman dan

Roh Kudus, hidup atau matinya jemaat bergantung pada Firman Mesias. 

Selanjutnya ayat 23 menjelaskan bahwa orang yang tidak mendengar Nabi itu

akan binasa sampai kekal. Ayat 24, mengatakan bahwa semua nabi termasuk Musa telah

menubuatkan kedatangan Mesias dan hal itu telah digenapi. Nubuatan tentang Mesias

bukan hanya bersifat lisan, tetapi semua acara, peraturan dan bahan-bahan untuk korban

dalam Perjanjian Lama adalah melambangkan zaman Mesias, yang merupakan nubuat

Mesianis.  GZ.  Berkouwer  mengatakan,  “Nubuat  tentang  Mesias  dalam  PL,  bukan

sekedar  nubuat  yang  berulang  kali,  melainkan  seluruh  karya  penggenapan  Allah

mengandung karya Mesianis, sehingga jika kita tidak menggabungkan PL dengan PB kita

tidak dapat memahami Firman Allah

Dalam ayat 25, kata kamu sangat ditekankan oleh Petrus, dengan maksud agar

mereka mempercayai Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya Petrus mengungkapkan tentang

Janji Allah kepada Abraham, yang ada  dalam Kejadian 12:3; 22:18; 26:4; 28:14. di

dalam Kejadian 12:3 tertulis “…dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat

berkat,” ini menunjukkan tentang keselamatan yang bersifat universal. Kejadian 22:18 “…

Oleh keturunanmulah semua bangsa dimuka bumi akan mendapat berkat.” Jadi dalam

ayat 25 ini Petrus menjelaskan tentang penggenapan janji Allah di dalam Yesus Kristus

dan  mengundang  mereka  untuk  bertobat.

Pada ayat 26 ini Petrus menjelaskan betapa Allah sangat mengasihi bangsa itu, dimana

Allah  membangkitkan  Yesus  dan  mengutus-Nya  kepada  mereka,  supaya  mereka

mendapat  berkat  dan  supaya  mereka  masing-masing  kembali  dari  segala  kejahatan

mereka. Istilah Hamba-Nya dalam ayat ini adalah menunjukkan ketaatan Mesias untuk

menggenapi kehendak Allah.

b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37).

Salah  satu  tujuan  utama  dari  penulisan  kitab  Kisah  Para  Rasul  adalah

menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang telah menolak dan menyalibkan Yesus

melanjutkan pemberontakan mereka terhadap Allah dengan menolak Injil tentang Yesus

yang telah bangkit dan naik ke sorga, sebagaimana telah diberitakan oleh para rasul.

Fasal 4:1-37 ini membahas awal penenatangan dari para pemimpin Yahudi. 

Ayat  1dan 2,  memberitahukan dimana Imam-imam dan kepala  pengawal  Bait

Allah, serta orang-orang Saduki, sangat marah sebab  rasul-rasul itu mengajar bahwa

dalam nama Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Imam-imam yang dimaksud

disini lebih tepatnya ditafsirkan sebagai anggota golongan Imam dari golongan Saduki.

Golongan ini adalah yang tidak sepakat dengan golongan Farisi mengenai penafsiran

hukum  Taurat  dan  juga  menolak  doktrin  tentang  kebangkitan,  dan  menolak  doktrin

47


tentang adanya malaikat dan setan. Tetapi dalam ayat ini Orang-orang Saduki lebih jelas

dianggap sebagai orang-orang yang sepaham dengan Imam-Imam dari golongan Saduki.

Sementara kepala pengawal Bait Allah adalah seorang pejabat tinggi yang kekuasaan-

Nya berada langsung di bawah imam besar dan bertanggung jawab atas pemeliharaan

ketenangan dan keteraturan Bait Allah. Dalam ayat ini, kita juga menemukan kata sangat

marah διαπονουμενοι  diterjemahkan being distressed,  dalam bahasa Indonesia  dapat

diterjemahkan sebagai suatu perasaan yang tidak suka, atau sangat sakit hati.  Imam-

imam  merasa  sakit  hati  sebab   kuasa  rasul-rasul  yang  mengajar  orang  banyak  itu

bertentangan dengan kuasa yang mereka miliki. Orang-orang saduki sangat marah atas

pemberitaan rasul-rasul tentang kebangkitan Yesus, sebab  mereka tidak mempercayai

adanya kebangkitan. 

Ayat 3 terlihatlah reaksi imam-imam dan orang-orang saduki itu, dimana Petrus

dan  Yohanes  ditangkap  dan  dimasukkan  kedalam  penjara.  Peraturan  Rabi  Yahudi

melarang adanya pemeriksaan di malam hari, oleh sebab  itu rasul-rasul di tahan pada

malam itu di penjara. 

Ayat  4  menjelaskan  tentang  akibat  dari  khotbah  dan  berita  penahanan  itu,

dimana  jumlah  orang  percaya  semakin  meningkat.  Hal  ini  jelas  sekali  menunjukkan

bahwa pelayanan rasul-rasul itu berhasil bukan sebab  apa yang mereka katakan tetapi

juga dipengaruhi oleh kesaksian hidup mereka yang kokoh di dalam apa yang mereka

ajarkan. Mereka rela di penjara demi Injil.  Sidang yang dimaksud dalam ayat 5 dan 6

adalah  merupakan sidang tertinggi  bagi  orang Yahudi.  Sidang yang sama,  beberapa

bulan  sebelumnya  sudah  menjatuhkan  hukuman  mati  kepada  Yesus,  (bandingkan

dengan ayat 15). Sidang ini terdiri dari pemimpin-pemimpin Yahudi atau para imam, tua-

tua dan ahli-ahli  Taurat.  Yang merupakan guru professional tentang Perjanjian Lama.

Murid-murid mereka dinamakan orang-orang Farisi. Ketika itu Imam besar yang bertugas

adalah Kayafas dan ia juga pimpinan Sanhedrin. Ayah mertuanya Hanas, adalah mantan

Imam besar dan kini merupakan semacam pejabat senior. Menurut Wiersbe Mahkamah

Agama yang berkumpul pada waktu itu (ayat 5-7), pada dasarnya terdiri dari keluarga

Imam besar, sebab  pada waktu itu sistem agama Yahudi sudah begitu bobrok, sehingga

jabatan-jabatan  agama  dialihkan  dari  anggota  keluarga  yang  satu  kepada  anggota

keluarga yang lain tanpa menghormati Firman Allah. Ketika Hanas berhenti dari jabatan

ke imaman maka Kayafas menantunya dipilih untuk menempati jabatan itu. 

Kemudian ayat 7, Petrus dan Yohanes diperhadapkan kepada sidang Sanhedrin

dan dituntut untuk mengatakan dengan kuasa siapa mereka bertindak seperti itu, mereka

adalah orang awam, tetapi mengapa mereka berani mengajar dan berkotbah. Kemudian

diayat 8, dikatakan bahwa Petrus penuh dengan Roh Kudus, oleh sebab itu dia berbicara

dengan begitu berani dan penuh dengan hikmat. Di ayat 9 Petrus dengan hikmat Ilahi

seakan  menanyakan  kembali  mengapa  mereka  diadili  sebab   melakukan  kebajikan,

bukankah yang diadili seharusnya adalah tindakan kejahatan. Cara Petrus ini sangat baik

sekali  di  terapkan  dalam situasi  dimana  jika  kita  dalam keadaan  dipojokkan  sebab 

kebenaran.  Dia  tidak  marah,  tetapi  dia  menunjukkan kesalahan dari  si  penuntut,  lalu

kemudian dia menjelaskan lebih rinci dalam ayat yang selanjutnya.

Pada  ayat  10  Petrus  menjelaskan  mengenai  bagaimana  mukjizat  itu  terjadi.

Sebenarnya  kemungkinan  besar  para  anggota  Sanhedrin  sudah  berkali-kali  melihat

pengemis  lumpuh itu.  Sebab itu  ada  pertayaan  yang  besar  bagi  mereka  bagaimana

orang itu disembuhkan? Petrus menjawab “Dalam Nama Yesus Kristus, Orang Nazaret”

perkataan  Petrus  ini  pasti  sangat  melukai  hati  para  anggota  Mahkamah  Agama  itu,

mereka berpikir bahwa setelah Yesus mati dan dikuburkan maka semuanya langsung

beres.  Tetapi  ternyata murid-murid-Nya memproklamirkan bahwa Dia hidup. Kita tahu

bahwa orang-orang Saduki tidak percaya adanya kebangkitan orang mati, tetapi Petrus

tetap memberitahukan kebenaran, dia tidak takut sedikitpun meskipun mereka sedang

dalam ancaman penjara dan hukuman mati. Sikap ini adalah sikap dari hamba Tuhan

yang sangat mengasihi Tuhan, dimana dia tidak mau berkompromi demi mencari aman.

Ayat 11 adalah penjelasan Petrus yang lebih dalam, dia mengutip dari Mazmur

118:22. Petrus berkata bahwa Yesus adalah Batu Penjuru yang dibuang oleh tukang-

tukang bangunan, sementara tukang bangunan yang dimaksud adalah orang-orang yang

duduk di  depan Petrus itu sendiri,  yaitu para anggota sidang Sanhedrin.  Hal  ini  juga

menunjukkan keberanian Petrus  yang  mengemukakan secara langsung tentang dosa

mereka, yaitu membunuh Yesus. Dalam ayat ini Petrus melambangkan Yesus sebagai

batu penjuru. Batu bukanlah hal yang baru bagi orang-orang yang ahli dalam Kitab Suci

48


Perjanjian Lama. Mereka tahu bahwa batu karang adalah lambang dari Allah (Ulangan

32:4,15,18,31;  2  Samuel  22:2;  Mazmur  18:3;  Yesaya  28:16),  Nabi  Daniel  juga  telah

menggunakan  istilah  batu  karang  untuk  menggambarkan  Mesias  dan  kedatangan

Kerajaan-Nya di  dunia  (Daniel  2:31-45).  Orang Yahudi  tersandung pada batu ini  dan

menolak Dia seperti yang dinubuatkan dalam Mazmur 118:22. Namun bagi mereka yang

percaya kepada-Nya, Yesus Kristus adalah batu penjuru yang berharga. Batu penjuru

adalah batu yang menyambungkan dua tembok Bait Allah. Batu ini  merupakan batu

fondasi.

Kemudian dalam ayat 12,  Petrus menjelaskan bahwa batu penjuru itu adalah

Juru selamat. Petrus juga memandang penyembuhan si  pengemis sebagai gambaran

kesembuhan  rohani  yang  membawa  kepada  keselamatan.  Menurut  Wiersbe  kata

disembuhkan dalam ayat 9 yang sudah kita bahas sebelumnya adalah memakai kata

Yunani  yang  sama  diterjemahkan  sebagai  keselamatan  dalam  ayat  12,  sebab 

keselamatan  berarti  kesembuhan  dari  penyakit  rohani.  Yesus  Kristus  adalah  Dokter

Agung,  yaitu  satu-satunya dokter  yang dapat  menyembuhkan penyakit  manusia  yang

terbesar,  yaitu  penyakit  dosa.  (Markus  2:14-17).  Pada  waktu  Petrus  berbicara  dia

mengingat semua umat Israel (Kisah Para Rasul 4:10), sebab berita itu masih khusus

ditujukan kepada orang Yahudi. Bahkan Mazmur 118 yang dikutip oleh Petrus adalah

berbicara tentang keselamatan bagi umat Israel pada masa yang akan datang.

Pada ayat 13-14, kita melihat bahwa ada tiga hal yang menyebabkan anggota

sidang itu  tutup mulut,  dan tidak dapat  berbuat  apa-apa untuk membantah apa yang

dikatakan  Petrus,  antara  lain:  (1)  Rasul-rasul  yang  bukan  orang  terpelajar  itu  dapat

berkata-kata  dengan  berani  dan  terus  terang,  ini  bisa  kita  lihat  dalam ayat  13a.  (2)

sebab  rasul-rasul itu adalah murid Yesus Kristus, ini dapat kita lihat dalam ayat 13b

mereka dapat berkata-kata dengan berani sebab  di pimpin oleh Yesus. (3) orang yang

lumpuh yang sembuh itu telah menjadi saksi yang nyata di depan mata mereka, dimana

dia berdiri disamping rasul-rasul itu, ini terlihat dalam ayat 14.

Ayat 15 menceritakan bahwa setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu disuruh

sementara untuk meninggalkan ruang sidang mereka masih mengadakan rapat tertutup.

Ini memperlihatkan perbedaan yang sangat menyolok, dimana rasul-rasul itu berbicara

secara terus terang dihadapan banyak orang secara umum, tetapi sebaliknya anggota

sidang itu mengadakan pertemuan rahasia. Ini dapat digambarkan sebagai perbedaan

antara terang dan gelap. Kebenaran selalu terang dan adil, tetapi ketidak benaran selalu

keji  dan licik.  Selanjutnya dalam sidang tertutup itu  ada indikasi  bahwa mereka mau

menyangkali  mukjizat  yang  telah  terjadi  itu,  tetapi  mereka  tidak  dapat  sebab   telah

tersebar  kepada seluruh  penduduk  Yerusalem.  Jika  kejadian  itu  tersebar  sedemikian

mereka tentu akan menutupinya meskipun hal itu benar dan nyata.

Selanjutnya  ayat  17-18  adalah  memberitahukan  bahwa  sidang  Sanhedrin  itu

akhirnya memutuskan untuk mengancam rasul-rasul supaya tidak berbicara lagi dengan

siapapun dalam nama itu (dalam nama Yesus). 

Selanjutnya pada ayat 19 dan 20 para rasul itu memberi jawaban yang tajam dan

benar. Petrus berkata “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan

Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah, sebab tidak mungkin bagi kami untuk

tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar.” Para rasul

itu lebih memilih taat kepada Allah daripada kepada manusia.

Selanjutnya ayat  21-22 disebutkan bahwa sidang itu  tidak mempunyai  alasan

untuk  menghukum  rasul  Petrus  dan  Yohanes,  akhirnya  mereka  semakin  keras

mengancam rasul-rasul  itu  supaya  tidak  berbicara  lagi  dalam Nama Yesus.  Anggota

sidang itu bertindak demikian sebab  mereka takut akan semakin banyak lagi orang yang

memuliakan nama Tuhan sebab  apa yang telah terjadi itu, dimana orang yang lumpuh

sejak lahirnya itu sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, dengan demikian penyakit

ini adalah penyakit yang tidak mungkin bisa di sembuhkan oleh manusia.

Ayat  23-24,  menceritakan  dimana setelah  Petrus dan Yohanes meninggalkan

ruang  sidang  itu,  mereka  menemui  teman-teman  mereka  (rasul-rasul  lain).  Hal  ini

membuktikan dimana sesama pelayan dan umat Tuhan membutuhkan persatuan dan

butuh  untuk saling menguatkan.  Di  dalam doa,  mereka  menyebut  Allah dengan kata

Δεσποτα di terjemahkan tuan. Dalam penggunaanya kata ini biasanya digunakan untuk

panggilan  seorang  budak  kepada  tuannya  atau  panggilan  seorang  budak  kepada

majikannya.  Jadi  dengan  demikian  para  rasul  berseru  kepada  nama  Tuhan  dengan

menganggap diri mereka sebagai hamba atau budak dan telah memutuskan untuk selalu

49


menaati  tuannya  yaitu  Yesus Kristus.  Mereka  juga  menyebut  Allah  sebagai  pencipta

langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dengan demikian kita mengetahui iman mereka,

dimana mereka percaya bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan segala

isinya dan oleh sebab  itu juga mereka percaya bahwa Allah berkuasa untuk menjawab

doa mereka.

Ayat  25-26 sebagian merupakan kutipan dari  Mazmur 2:1,  melalui  kutipan ini

Rasul-rasul  berseru  kepada  nama  Tuhan  sesuai  dengan  yang  dinubuatkan  dalam

Perjanjian Lama. Jika di ayat 23-24 di gambarkan bahwa Allah berfirman melalui ciptaan-

Nya dan ayat ini (25-26) menjelaskan bahwa Allah berfirman melalui firman-Nya yang

tertulis yaitu Alkitab. Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa kutipan dari Mazmur ini

telah di genapi melalui penderitaan Yesus. Kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa lain

(banyak orang) terus menerus menentang Kristus bahkan sampai sekarang, mulai dari

bangsa Romawi dan Yahudi yang menyalibkan Yesus, tetapi tindakan mereka sia-sia.

Pertentangan  kepada  Injil  adalah  pertentangan  terhadap  Allah  dan  Injil  akan  lebih

tersebar pada masa penganyiayaan.

Selanjutnya ayat 27-29 dijelaskan bahwa orang-orang percaya kembali menyebut

Yesus sebagai “Hamba-Mu yang Kudus, yang juga adalah diurapi.” Para orang percaya

yang berdoa itu mengidentifiksikan beberapa orang yang menjadi wakil dari banyak raja

di bumi dan dari banyak pembesar-pembesar di bumi ini yang melawan Kristus Yesus,

dimana Herodes Antipas yang adalah raja atas Yehuda dan Perea adalah mewakili raja-

raja  di  bumi,  Pontius  Pilatus  wali  negeri  Romawi  bagi  Yudea  adalah  mewakili  para

pembesar.  Musuh-musuh lain di  dalam Mazmur itu di  identifikasikan sebagai bangsa-

bangsa dan suku-suku bangsa Israel yang bangkit melawan Yesus Kristus. Tetapi dibalik

semua  tindakan  manusia  yang  jahat  itu,  para  rasul  tahu  bahwa  semua  itu  adalah

penggenapan dari semua yang telah ditentukan Allah. Dalam ayat ini kita juga melihat

perkataan: “lihatlah bagaimana mereka mengancam kami” hal ini tidak berarti  mereka

meminta Allah untuk turut merasakan penderitaan mereka, melainkan memohon supaya

Tuhan  campur  tangan,  agar  ancaman  tindakan  itu  diubahkan  menjadi  penggenapan

kehendak Allah. Pada waktu itu rasul-rasul tidak menganggap penganyiayaan itu akan

mengganggu  penginjilan  mereka.  Mereka  percaya  bahwa  Allah  akan  menggenapi

kehendak-Nya  dengan  kuasa-Nya  yang  besar.  Rasul-rasul  itu  tidak  berdoa  supaya

musuh-musuh mereka tersingkir,  sebaliknya mereka berdoa supaya Allah menguatkan

mereka untuk memamfaatkan keadaan mereka sebaik-baiknya dan mencapai apa yang

telah ditetapkan oleh Allah. Mereka memohon kemampuan Ilahi, bukan melarikan diri dan

Allah mengaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan. Kemudian Kisah Para Rasul 4:30

dimana  mereka  berdoa  supaya  Allah  melakukan  tanda-tanda  heran  dan  mukjizat-

mukjizat  dalam  pelayanan  mereka,  hal  itu  sangat  di  butuhkan  waktu  itu,  mengingat

bahwa  mereka  sering  di  fitnah  dan  ditekan  oleh  penguasa  dan  ahli-ahli  taurat.  Jadi

mukjizat dapat dipergunakan sebagai sarana untuk Penginjilan mereka. 

Selanjutnya pada ayat 31 ada suatu peristiwa yang hebat, dimana ketika mereka

sedang berdoa goyanglah tempat dimana mereka berkumpul, dan selanjutnya dikatakan

bahwa mereka penuh dengan Roh yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih berani

lagi untuk mberitakan Injil. Peristiwa ini adalah merupakan jawaban doa mereka. Perlu

kita  ingat  bahwa peristiwa  itu  bukan  pentakosta  yang  kedua,  sebab   tidak  akan  ada

pentakosta  yang  kedua,  sama seperti  tidak  akan  ada  peristiwa Golgota  yang  kedua.

Peristiwa  itu  adalah  pemenuhan  kembali  dengan  Roh,  guna  memperlengkapi  orang-

orang percaya untuk melayani.

Ayat 32-37 adalah merupakan satu rangkaian tentang sifat dan ciri persekutuan

gereja mula-mula. Ayat ini hampir sama dengan pasal 2:42-47. salah satu ciri khas yang

menonjol dari gereja yang dipenuhi Roh, dimana sangat terlihat adanya kesatuan, hal ini

dimanifestasikan  dalam  cara  hidup  mereka  yang  saling  membagi  kebutuhan  materi.

Untuk membantu jemaat yang lainnya maka orang yang memiliki harta menjual hartanya

untuk  dibagi-bagikan  kepada  yang  membutuhkannya.  Dan  para  Rasul  mengawasi

pelayanan kasih ini. Sebelum fasal ini diakhiri ada satu nama yang mendapat perhatian

khusus, yaitu orang yang menjadi salah satu contoh yang suka menjual hartanya untuk

membagi-bagikannya kepada jemaat yang membutuhkannya. Namanya adalah Yusuf,

oleh rasul-rasul dia di beri nama Barnabas. Nama keluarga Barnabas dapat berarti anak

penghiburan,  atau  anak  yang  memberi  dorongan  atau  semangat.  Nama  seperti  ini

biasanya disebut kepada orang yang memiliki watak yang sama dengan arti namanya.

50


c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)

Kemunafikan adalah kebohongan yang disengaja, mencoba membuat orang lain

mengira bahwa kita lebih rohani daripada yang sebenarnya. Nama Ananias berarti Allah

itu pemurah, jadi nama Ananias itu adalah nama yang sangat baik, tetapi pemilik nama

ini (Ananias dalam Kisah Para Rasul 5:1) barangkali tidak tahu atau mungkin sengaja

melupakan bahwa Allah itu bukan hanya pemurah, tetapi juga Maha Kudus; dan Safira

artinya cantik,  tetapi  sudah kenyataan bahwa dia  buruk sekali  sebab  dosa.  Jadi  tak

heran kalau beberapa orang terkejut  ketika melihat  Allah membunuh kedua orang itu

hanya  sebab   berbohong  mengenai  transaksi  bisnis  dan  persembahan  mereka  ke

Gereja. Tetapi jika kita memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dosa itu, maka kita

akan  sependapat  bahwa Allah  telah  melakukan  hal  yang  benar  dengan menghukum

mereka. Mengapa Ananias dan Safira di bunuh oleh Allah, yang tertera dalam Kisah Para

rasul 5:1-11, seperti berikut ini: Pada awalnya dosa Ananias dan Safira dikipasi oleh Iblis

(5:3);  dan ini  merupakan masalah serius.  Kalau Iblis  tidak dapat mengalahkan gereja

dengan  serangan  dari  luar,  maka  ia  akan  masuk  dan  bekerja  dari  dalam.  Ia  tahu

bagaimana  memperdayakan  pikiran  dan  hati  anggota-anggota  gereja,  bahkan  orang-

orang  Kristen  yang  sungguh-sungguh,  dan  memaksa  mereka  melakukan  perintah-

perintahnya.  Iblis  membuat  Ananias  dan  Safira  berdusta  yang  akhirnya  membawa

mereka kepada kematian. Tuhan ingin semua orang mengetahui bahwa Dia tidak akan

mentolerir dusta di dalam gereja-Nya. Dosa Ananias dan Safira adalah digerakkan oleh

kesombongan dan kesombongan adalah dosa yang secara khusus di benci Allah (Amsal

8:13). Tentu saat itu gereja sangat memuji Allah atas pemberian yang sangat besar dari

Barnabas ketika itu Iblis berbisik kepada pasangan suami-isteri ini,  “Kalian juga dapat

membuat orang lain berpikir bahwa kerohanian kalian setinggi Barnabas” dan suami isteri

itu  bukannya  menolak  pendekatan  Iblis,  mereka  malah  menyerah  dan  menyusun

rencana. Alasan lain bahwa mereka pantas dihukum mati, sebab  dosa mereka ditujukan

melawan gereja Tuhan, mereka mendustai Roh Kudus, mereka disebut mencobai Roh

Kudus.  Allah  sangat  mengasihi  gereja-Nya  dan  memeliharanya  dengan  sangat  baik,

sebab   gereja  itu  dibeli  dengan  darah  Anak  Allah  dan  ditempatkan  di  dunia  untuk

mempermuliakan  nama-Nya,  tetapi  Iblis  ingin  menghancurkannya  dengan  memakai

orang-orang yang ada dalam persekutuan gereja mula-mula itu. Seandainya Petrus tidak

waspada, tentu Ananias dan Safira akan menjadi orang yang berpengaruh di gereja dan

akhirnya mereka akan dipakai oleh Iblis lebih hebat lagi untuk menghancurkan gereja. 

Di  dalam 1Timotius  3:15 Gereja  di  sebut  sebagai  tiang  penopang dan dasar

kebenaran. Iblis menyerangnya dengan dusta. Gereja adalah Bait Allah – tempat tinggal

Allah (1 Korintus 3:16) dan Iblis juga ingin masuk dan tinggal di dalamnya. Gereja adalah

prajurit-prajurit Allah (2Tim 2:1-4), dan Iblis berusaha memasukkan sebanyak mungkin

penghianat  ke  dalamnya.  Gereja  tidak  akan  ada  dalam  bahaya  selama  Iblis  hanya

menyerang dari luar; sebaliknya jika Iblis menyerang dari dalam, gereja berada dalam

bahaya. Ananias mati dan dikuburkan, dan Safira bahkan tidak mengetahui hal itu! Iblis

selalu  membiarkan  para  pengikutnya  berada  dalam  kegelapan,  sedangkan  Allah

memimpin  hamba-hamba-Nya  di  dalam  terang  (Yoh  15:15)  Petrus  menuduh  Safira

mencobai Roh Tuhan, yaitu dengan sengaja tidak menaati Allah untuk melihat sampai

berapa jauh Allah membiarkan dia. Sebenarnya mereka mencobai Allah dan menantang

Dia untuk bertindak – dan Dia benar-benar bertindak dengan cepat dan tuntas. Tentu ini

sangat  bertentangan  dengan  Firman  Allah  dalam  Matius  4:7,  “Janganlah  engkau

mencobai Tuhan Allahmu.” Akibat peristiwa ini, takut akan Tuhan melanda gereja dan

semua orang yang mendengar kabar itu (Kisah Para Rasul 5:11). Menjadi renungan bagi

kita, mari kita memeriksa kehidupan kita sendiri untuk melihat apakah yang kita katakan

sesuai dengan yang kita lakukan. Apakah yang kita doakan di depan umum sungguh-

sungguh tulus? Apakah kita menyanyikan lagu-lagu rohani atau pujian kepada Tuhan

dengan tulus, atau sekedar kebiasaan. Kita telah bergerak dari “kuasa yang besar” dan

“kasih karunia yang berlimpah-limpah” (Kisah Para Rasul 4:33) ke “ketakutan yang luar

biasa”; dan semuanya ini harus ada dalam gereja. “marilah kita mengucap syukur dan

beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan

takut. Sebab “Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:28-29). 

Ayat  12  ada   kata  tanda  (σημει)  dan  mukjizat  (τερατα).  Kedua  kata  ini

sebenarnya  adalah  mengacu  kepada suatu  keajaiban.  Pada waktu  gereja  mula-mula

Allah melakukan keajaiban-keajaiban agar orang-orang percaya pada Injil  (Ibrani  2:4).

51


Kebenaran  bahwa  Yesus  adalah  Mesias  terbukti  melalui  keajaiban-keajaiban  yang

dinyatakan oleh rasul-rasul.

Ayat 13 memberikan penjelasan kepada kita, dimana orang-orang yang belum

percaya, sangat sulit  untuk masuk kedalam persekutuan orang percaya. Sebab orang

yang  belum bertobat  adalah  orang  yang  belum berdamai  dengan  Allah  atau  disebut

sebagai seteru Allah dan oleh sebab itulah mereka tidak akan bergabung dengan orang-

orang yang sudah bertobat, kecuali setelah mereka bertobat sungguh-sungguh. Apalagi

saat  itu baru saja mereka melihat ada pasangan suami isteri  yang merupakan seteru

Allah  dihukum atau  dibunuh  oleh  Allah  sebab   dosa-dosanya.  Tetapi  dalam ayat  ini

meskipun orang-orang tidak berani menggabungkan diri dengan mereka tetapi mereka

sangat  dihormati  oleh  orang  banyak,  sekalipun  mereka  bukan  orang-orang  yang

terpelajar tetapi mereka dihormati. Pada ayat 13 peristiwa Ananias dan Safira membuat

orang  banyak  (yang  tidak  percaya)  takut  menggabungkan  diri  dengan  orang-orang

percaya. 

Tetapi pada ayat 14, dijelaskan bahwa hukuman yang sangat dahsyat terhadap

Ananias dan Safira itu membawa banyak orang berbalik kepada Tuhan. Banyak orang

yang akhirnya menjadi percaya setelah melihat kuasa Allah yang nyata dan dahsyat itu.

Selanjutnya  kita  melihat  pada  ayat  15,  dimana  orang-orang  percaya  banyak  datang

membawa  orang  sakit  supaya  apabila  Petrus  lewat,  setidak-tidaknya  bayangannya

mengenai salah seorang diantaranya dan dengan demikian dia disembuhkan oleh Tuhan.

Yang harus kita ingat dimana mukjizat terjadi bukan sebab  Petrus atau rasul-rasul lain,

orang-orang yang sembuh dari penyakitnya itu bukan sebab  para rasul, tetapi sebab 

mereka beriman kepada Tuhan. Pada waktu Yesus berada di dunia ini, seorang ibu yang

sakit pendarahan hanya memegang jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Tetapi orang itu

sembuh  bukan  sebab   jumbai  jubah  Yesus  punya  jimat,  tetapi  hanya  sebab   yang

memegang jumbai jubah-Nya itu percaya kepada-Nya, oleh sebab  itu dia disembuhkan.

Hal yang sama juga terjadi di Kisah Para Rasul 5: 15 ini. Selanjutnya ayat 16,

juga  merupakan  lanjutan  yang  memberitahukan  bahwa  banyak  orang  dari  sekitar

Yerusalem datang  dan  berduyun-duyun serta  membawa orang-orang  sakit  dan  yang

diganggu roh jahat dan semua mereka disembuhkan. Kata mereka semua disembuhkan,

menunjuk bahwa tidak ada yang tidak dapat disembuhkan oleh Tuhan lewat perantaraan

rasul-rasulnya.  Hal ini  membuktikan bahwa Allah senantiasa menyertai mereka dalam

pemberitaan Injil.

d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)

Mulai Kisah Para Rasul 5:17 kita akan kembali melihat, dimana Imam Besar dan

para pengikutnya dan juga Mazhab Saduki menentang Gereja dan Para Rasul.  Imam

besar ingin mempertahankan kuasanya yang semakin merosot; ia menjadi iri  hati  dan

mulai menganyiaya rasul-rasul. Mazhab Saduki juga ikut, sebab  telinga mereka sudah

panas mendengarkan pengajaran rasul-rasul tentang kebangkitan orang mati, pada hal

mazhab saduki sangat menentang doktrin itu. Jadi dengan demikian Mazhab Saduki ikut

iri hati kepada rasul-rasul itu. Jadi jika kita melihat ayat ini, maka kita mengetahui bahwa

penentang-penentang itu menentang rasul-rasul adalah digerakkan oleh iri  hati,  bukan

sebab  mereka melihat bahwa apa yang diajarkan para rasul itu adalah pengajaran yang

salah.  Kadangkala orang mudah saja menyalahkan yang benar hanya sebab  iri  hati.

Dalam Amsal 14:30 dikatakan bahwa iri hati membusukkan tulang. Selanjutnya pada ayat

18 di  jelaskan bahwa mereka menangkap rasul-rasul  itu,  lalu  di  masukkan ke dalam

penjara. Hal itu mereka lakukan hanya sebab  mereka iri  hati,  lagi  pula mereka tidak

menemukan kesalahan pada rasul-rasul itu.

Selanjutnya pada ayat 19-20 diberitahukan bahwa pada waktu malam, Malaikat

Tuhan  membuka  pintu-pintu  penjara  dan  membawa  mereka  keluar,  lalu  menyuruh

mereka (rasul-rasul)  pergi  ke Bait  Allah untuk berkotbah tentang Injil  (Firman Hidup).

Malaikat Tuhan dalam ayat ini berbeda dengan Malaikat ALLAH (Kristus dalam Perjanjian

Lama) malaikat yang dimaksud disini adalah malaikat biasa, yaitu yang disuruh Tuhan

untuk menolong para rasul. Dalam Kisah Para Rasul ini, kita akan menemukan beberapa

peristiwa dimana malaikat melayani sebagai pernyataan pemeliharaan Allah atas umat-

Nya  (8:26;  10:3,7;  12:7-11,23;  27:23).  Selanjutnya  adalah  kata  Firman  Hidup,  yang

disebut dalam ayat ini adalah berarti Firman kebenaran yang membawa kepada hidup

yang kekal (Injil/ kabar baik). 

52


Kemudian selanjutnya pada ayat 21, disebutkan bahwa para rasul itu menaati

pesan itu (berkotbah di Bait Allah). Mereka sangat mengasihi Kristus dan Injil dan dengan

senang  hati  mereka  tetapi  memberitakan  Injil,  walaupun  itu  akan  membawa  mereka

kembali ke penjara. Sementara para rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah, Imam besar

dan pengikut-pengikutnya menyuruh mahkamah agama berkumpul dan menyuruh orang-

orangnya mengambil rasul-rasul itu dari penjara untuk disidangkan. Mereka tidak tahu

bahwa rasul-rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah. 

Maka selanjutnya pada ayat 22-23 memberitahukan bahwa para pejabat-pejabat

yang diutus ke penjara untuk mengambil para rasul itu terheran-heran sebab rasul-rasul

itu tidak ada disana, pada hal para penjaga tetap ada di  depan pintu untuk menjaga

penjara  itu.  Dengan  membaca  ayat  ini  jelas  sekali  terbukti  bahwa  rasul-rasul  itu

dikeluarkan  secara  ajaib.  Orang-orang  yang  dimasukkan  kedalam  penjara  itu  tidak

ditemui padahal pintu penjara terkunci dengan sangat rapih. Pikiran manusia sangat sulit

memahami yang seperti ini, akan tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita percaya

kepada Allah yang Maha Kuasa. Teolog-teolog liberal tidak mempercayai hal-hal yang

ajaib yang seperti ini, mereka ingin menghancurkan Iman Kristen yang benar.

Ayat 24 menjelaskan bahwa petugas yang pergi  ke penjara untuk mengambil

para rasul itu melaporkan kepada kepala pengawal Bait Allah dan Imam-imam kepala,

dan setelah mereka mendengar laporan itu mereka menjadi cemas dan bertanya-tanya

tentang apa yang telah terjadi pada rasul-rasul itu. Kata cemas (διηπορουν) seharusnya

di terjemahkan “tidak tahu berbuat apa-apa sebab  bingung.” Kuasa Allah sangat besar

melindungi rasul-rasul itu, sehingga mereka bingung dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Sebenarnya  mereka  harus  bertobat  setelah  melihat  keajaiban-keajaiban  itu,  tetapi

mereka keras hati dan tetap menentang Injil. Oleh sebab  itu mereka untuk selamanya

akan  tetap  bingung,  kecuali  mereka  bertobat  dan  tidak  lagi  menentang  Injil.

Pada ayat 25 memberitahukan bahwa ada orang yang melaporkan kepada tua-tua dan

mahkamah agama itu, bahwa rasul-rasul yang dipenjarakan itu sedang mengajar Firman

Tuhan di Bait Allah. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para Rasul itu tidak ada lain yang

ingin  mereka  lakukan  selain  menuruti  perintah  Allah.  Allah  memerintahkan  kepada

mereka untuk berkotbah di Bait Allah dan mereka menaatinya. 

Selanjutnya pada ayat 26 kepala pengawal Bait Allah mengambil kedua rasul itu.

Mereka  menangkap  kedua  rasul  itu  dengan  cara  tidak  sah,  tetapi  kedua  rasul  itu

mengikuti kepala pengawal Bait  Allah beserta anak buahnya dengan tak gentar.  Para

rasul adalah pemberita Firman Hidup, bukan pelanggar hokum oleh sebab  itu mereka

tidak takut sedikitpun, sebab  mereka bukan pelanggar hukum. Sebaliknya dalam ayat ini

dikatakan  bahwa  yang  menangkap  merekalah  yang  takut  dilempari  orang  banyak,

lagipula kalau hal itu sempat terjadi maka mereka akan kehilangan jabatannya, sebab

jabatan itu boleh tetap pada mereka jika ada dukungan orang banyak.

Kisah  Para  Rasul  5:27-28,  menjelaskan  bahwa  Petrus  dan  Yohanes

diperhadapkan kepada mahkamah agama, dan Imam Besar menanyai  mereka,  tetapi

kelihatannya dalam ayat ini Imam besar tidak mempunyai pertayaan yang tidak dapat

dijawab oleh para Rasul itu, oleh sebab itu Imam Besar akhirnya hanya melarang mereka

untuk  berbicara  dalam  nama  Yesus.  Imam  Besar  itu  berkata  “dengan  keras  kami

melarang kamu mengajar dalam nama itu”. Penggalan ayat ini memberi gambaran bagi

kita bahwa Imam besar tidak menyukai nama Yesus, sehingga ia tidak menyebut nama

Yesus tetapi  hanya  memakai  kata  nama itu.  Mereka  menegor  dengan kalimat  kamu

hendak menanggungkan darah orang itu kepada kami. Hal ini menunjukkan kemunafikan

Imam  Besar  itu,  dia  sendiri  telah  berjuang  untuk  keras  sebagai  pemimpin  untuk

membunuh Yesus, tetapi sekarang ia berlaku seperti sama sekali ia tidak ada kaitanya

dengan kematian Yesus. Mereka juga tidak tahu bahwa tujuan utama pemberitaan Injil

yang  dilakukan Petrus  dan Yohanes itu  bukanlah  untuk  mempersalahkan orang  lain,

tetapi untuk membimbing orang berdosa kepada keselamatan. 

Pada ayat 29 Petrus menjawab mereka dengan penuh hikmat, jawaban ini juga

merupakan penghakiman kepada peserta sidang itu. Petrus berkata: “Kita harus lebih

taat  kepada  Allah  daripada  kepada  manusia.”  Allah  telah  mencurahkan  Roh  Kudus

kepada Rasul-rasul dan memberi tugas kepada mereka untuk memberitakan Injil. Oleh

sebab   itu  mereka  tidak  menghiraukan  larangan  manusia  untuk  melaksanakan tugas

yang dipercayakan Allah. Jadi larangan manusia tidak akan mengubah pendirian mereka.

Kemudian pada ayat  30-32 kita  melihat  bahwa rasul-rasul  itu  juga tidak mau

mengubah  berita  mereka.  Petrus  malah  mendakwa  para  pemimpin  agama  dengan

53


tuduhan pembunuhan terhadap Yesus (lihat kembali Kisah Para Rasul 3:13-14; 4:10),

dan sekali lagi mengatakan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati.

Orang-orang Saduki pasti akan semakin marah mendengar hal itu. Petrus dengan tegas

berkata  bahwa  mereka  adalah  saksi  dari  kebangkitan  itu.  Kata  saksi  adalah  istilah

hukum. Seorang saksi yang menghadapi pengadilan harus bersaksi menurut kebenaran

yang telah disaksikannya.

Ayat  33,  memberitahukan  bagaimana  reaksi  oleh  peserta  sidang  itu  tentang

jawaban  Petrus.  Hati  mereka  tertusuk  dan  bermaksud  untuk  membunuh  para  rasul.

Dalam fasal 2:37 orang-orang yang mendengar perkataan Petrus terharu dan akhirnya

banyak  orang  yang  bertobat,  tetapi  pada  bagian  ini  Mahkamah  agama  sebaliknya

bermaksud membunuh Petrus dan Yohanes. Mahkamah Agama itu sudah tinggi hati dan

sangat sulit untuk bertobat, sebaliknya mereka hanya ingin mempertahankan kedudukan

mereka. 

Selanjutnya  ayat  34-39,  menjelaskan  tentang  pendapat  dari  seorang  yang

bernama Gamaliel guru dari Paulus. Dia adalah tokoh yang sangat dihormati oleh orang

banyak.  Seakan-akan dia  (Gamaliel)  membela rasul-rasul,  tetapi  cara yang dilakukan

sangat tidak tepat. Nasihat Gamaliel sebenarnya tidak bijaksana dan berbahaya, tetapi

Allah menggunakannya untuk menyelamatkan para rasul dari kematian. Gamaliel adalah

orang  Farisi,  tetapi  orang-orang  Saduki  menerima pendapatnya,  hal  itu  membuktikan

bahwa  dia  adalah  orang  yang  terhormat.  Terlepas  dari  kenyataan  bahwa  Gamaliel

memakai kepala dingin dan bukan emosi yang memanas, namun pendekatannya masih

tetap salah. Pertama-tama, dia menggolongkan Yesus dan para Rasul sama dengan dua

orang pemberontak yang bernama Teudas dan Yudas, jadi bagi Gamaliel Yesus adalah

seorang fanatik yang berusaha memerdekakan bangsanya dari penjajahan Romawi. Dia

lupa bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah bangkit dari antara orang mati, dia juga lupa

bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah melakukan mukjizat yang seperti Yesus lakukan.

Memang  harus  diakui  bahwa  Gamaliel  mempunyai  logika  yang  baik,  yang  membuat

orang lain mengikuti pola pikirnya. Menurut pola pikirnya bahwa perusuh selalu akan ada

tetapi segera setelah itu akan lenyap, dengan demikian dia berpikir bahwa Yeus dan para

Rasul adalah perusuh. Kesalahan yang kedua adalah dimana dia mempunyai pandangan

bahwa yang tidak berasal dari Allah akan gagal, hal ini memang benar, tetapi jangan lupa

bahwa  keberhasilan  bukanlah  selalu  tanda  dari  kebenaran.  Iblis  sudah  berhasil

menguasai  manusia  yang berdosa,  tetapi  itu  bukan bukti  kebenaran  Iblis.  Kita  dapat

melihat bahwa kadangkala aliran sesat lebih cepat berkembang daripada gereja yang

memberitakan kebenaran. Kelemahan ketiga dari nasehat Gamaliel itu adalah, dimana

dia ingin mendorong mahkamah agama itu untuk bersikap netral. 

Ayat 40 menjelaskan bahwa mahkamah agama itu akhirnya menerima nasehat

Gamaliel sehingga mereka tidak membunuh rasul-rasul. Tetapi walaupun demikian rasul-

rasul itu tidak dilepaskan begitu saja. mahkamah agama itu akhirnya menyesah mereka.

Mungkin tiga puluh sembilan pukulan (II Korintus 11:24), sebab  tidak menaati perintah

Sanhedrin sebelumnya. 

Ayat  41  dan  42  menjelaskan  bahwa para  rasul  sama sekali  tidak  berkurang

semangatnya,  sebab  mereka  menganggap  penderitaan  sebab   nama  Yesus  adalah

suatu kehormatan. Mereka melanjutkan terus pengajaran mereka dan memberitakan Injil

tentang Yesus yang adalah Mesias, baik secara umum di pelataran dan untuk bangsa

Yahudi di Bait Allah dan di dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen yang diadakan di

rumah-rumah milik perseorangan.

3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)

a. Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)

Gereja sedang mengalami kesulitan dalam tahun-tahun permulaan dan hal ini

mempersulit  para rasul  untuk melayani  setiap orang.  Orang Yahudi  yang berbahasa

Yunani  datang ke Palestina dari  Negara lain,  sehingga mereka mungkin  tidak dapat

berbahasa Aram. Sedangkan orang Ibrani adalah penduduk Yahudi dari daerah itu dapat

berbicara dalam bahasa Aram maupun Yunani. Kenyataan bahwa orang-orang luar itu

telah terabaikan, telah menimbulkan situasi yang dapat memecah belah gereja. Namun

demikian  para  rasul  telah  menyelesaikan  masalah  itu  dengan sangat  bijaksana dan

sama sekali  tidak memberi  tempat  berpijak bagi Iblis  dalam persekutuan itu.  sebab 

adanya sungut-sungut dalam tubuh gereja itu, maka para rasul mempelajari situasinya

54


kemudian  menyimpulkan  bahwa merekalah  yang  salah,  dimana mereka  sangat  sulit

membagi  waktu antara pelayanan Firman,  doa dan juga pelayanan meja (pelayanan

kasih).  Kita  harus  mengingat  bahwa tugas  mulia  yang  diberikan  kepada para  Rasul

adalah untuk memberitakan Firman Allah atau Injil  (Matius 28:19-20). Tetapi  ternyata

pemberitaan mereka terhambat sebab  sibuk juga mengurusi meja (pelayanan kasih).

Para rasul berkata “kami tidak merasa puas, sebab  kami melalaikan Firman Allah untuk

melayani  meja.”  Perkataan  rasul-rasul  ini  sebenarnya  bukan  sebab   mengabaikan

pelayanan  kasih,  tetapi  menegaskan  bahwa  perlu  membagi  tugas  untuk  pelayanan

ini . 

Selanjutnya pada ayat  3 para rasul  menyuruh jemaat itu untuk memilih tujuh

orang  yang  akan  melanyani  meja.  Hal  ini  membuktikan  bahwa  cara  kepemimpinan

Gereja mula-mula bukanlah sistim otoriter. Dalam hal ini kita melihat bahwa keputusan

diambil dari hasil kesepakatan jemaat bukan keputusan dari para rasul saja. ada dua

kwalifikasi dari orang yang akan dipilih ini  antara lain: penuh Roh dan Hikmat, dan

terkenal  baik.  Hal  ini  menjadi  pelajaran  bagi  gereja  Tuhan masa kini,  dimana untuk

memilih  pelayan,  seharusnya  dipilih  langsung  oleh  Jemaat,  dan  pemimpin  jemaat

seharusnya  akan  memilih  dengan kriteria  yang  seperti  ini.  Pelayan tidak  dipilih  oleh

pemimpin  dan  pelayan  juga  tidak  dipilih  berdasarkan  kriteria  kaya  atau  miskinnya

seseorang. 

Ayat  4  adalah  merupakan alasan  dari  para  rasul  itu  supaya  jemaat  memilih

pelayanan meja. Kisah Para Rasul 6:5 menjelaskan bahwa jemaat menerima usul dari

para  rasul  itu,  sehingga  mereka  memilih  εξελεξαντο  dalam  bahasa  Yunani  cara

pemilihan yang seperti  ini tidak ditentukan dari atas. Sekali  lagi yang perlu kita ingat

bahwa cara pemilihan seperti  ini  bukanlah berdasarkan kediktatoran pemimpin tetapi

dari sifat demokratis dari gereja. 

Pada ayat 5 ini juga di daftarkan nama-nama yang terpilih sebagai pelayan meja

ini ,  antara  lain:  Stefanus,  Filipus,  Prokhorus,  Nikanor,  Timon,  Parmenas  dan

Nikolaus. Selanjutnya ayat 6 menjelaskan bahwa ketujuh orang yang telah dipilih oleh

jemaat itu ditahbiskan lewat penumpangan tangan para rasul. Hal seperti ini sudah biasa

di  praktekkan  dalam Perjanjian  lama  (Kejadian  48:13;  Imamat  1:4;  Bilangan  27:23).

Ketujuh  orang  yang  terpilih  diatas  akhirnya  di  dalam  tradisi  gereja  mereka  disebut

sebagai diaken. Tetapi dalam ayat ini tidak disebut demikian. Ayat 7 menjelaskan bahwa

pemilihan ketujuh orang ini  menambah keefektifitasan pelayanan rasul-rasul. Oleh

sebab itu semakin banyak orang yang menjadi percaya, bahkan sejumlah besar imam

menjadi percaya.

4. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)

Kisah Para Rasul 6:8-15 berbicara tentang Stefanus. Dia adalah seorang yang penuh

Roh Kudus, dia sebenarnya dipilih untuk melayani meja. Tetapi Tuhan memakai dia bukan

hanya melayani meja saja. dia juga memenangkan jiwa yang terhilang dan bahkan dipakai

Tuhan  untuk  menunjukkan  mukjizat.  Kesaksian  Stefanus  menjadi  klimaks  dari  kesaksian

gereja kepada orang Yahudi. Sesudah itu berita Injil tersebar kepada orang-orang Samaria

dan kemudian kepada orang-orang non Yahudi. Orang Yahudi dari berbagai bangsa tinggal

di Yerusalem di daerahnya masing-masing dan beberapa dari kelompok etnis ini mempunyai

sinagoga sendiri.  orang-orang yang dimerdekakan ini  (Libertini)  adalah keturunan bangsa

Yahudi yang pernah di tawan tetapi memperoleh kebebasan dari Romawi. sebab  Paulus

berasal dari Tarsus di Kilikia (Kisah Para Rasul 21:39), maka