sus Hidup (ay
22-35). Kita mengetahui bahwa berita tentang penangkapan, pengadilan dan penyaliban
Yesus dari Nazaret sudah tersebar luas, dan orang-orang juga telah mendengar berita
bohong bahwa para pengikut Yesus telah mencuri mayat-Nya untuk membuat orang
berpikir bahwa Ia telah menggenapi janji-Nya dan telah bangkit dari anatara orang mati.
Tetapi Petrus pada ayat 22 menjelaskan kebenaran kepada mereka: bahwa Yesus
benar-benar telah bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan itu membuktikan
bahwa Ia adalah Mesias. Selanjutnya Petrus memberikan beberapa bukti Yesus sudah
bangkit , dan kemudian mengundang mereka agar percaya kepada Kristus dan
diselamatkan.
Bukti yang pertama adalah Pribadi Yesus Kristus sendiri. (ay 22-24) para
pendengar Petrus mengetahui bahwa Yesus adalah pribadi yang nyata dari Nazaret, dan
bahwa Ia telah melakukan banyak tanda dan mukjizat. Sebagian dari mereka pernah
mendengar Dia berbicara dan memperhatikan kehidupan-Nya, bahkan mereka melihat
Dia membangkitkan orang mati, namun mereka tidak menemukan kesalahan apapun
pada-Nya – dan hal-hal ini tidak terjadi di tempat yang terpencil (Kisah Para Rasul 26:26).
Kembali pada ayat 23 Petrus menunjukkan kesalahan dan dosa-dosa para
pendengarnya, dimana mereka telah ikut menyerahkan Yesus dan bahkan membunuh-
Nya dan bangsa itu disebut sebagai bangsa durhaka. Selanjutnya kata sengsara pada
ayat 24 diterjemahkan sama dengan sakit melahirkan, dan itu berarti bahwa kubur adalah
rahim yang melahirkan Yesus didalam kemuliaan kebangkitan.
Bukti Perus yang kedua adalah nubuat Daud (ayat 25-31). Dia mengutip Mazmur
16:8-11, yaitu ayat yang jelas-jelas tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri sebab ia
telah mati dan dikuburkan. Daud sebagai nabi Allah menulis tentang Mesias, bahwa
Nyawa-Nya tidak akan tetap berada dalam dunia orang mati (Hades), atau bahwa tubuh-
Nya tidak akan tetap ada dan membusuk di kuburan.
Bukti yang ketiga adalah kesaksian dari orang-orang percaya (ayat 33) sesudah
kebangkitan-Nya, Yesus tidak menampakkan diri pada dunia pada umumnya, tetapi
hanya kepada pengikut-pengikutNya, yang telah diberi amanat supaya mereka bersaksi
kepada yang lain bahwa Dia hidup (Kisah Para Rasul 1:3,22). Sekarang jika kita melihat
ketidak beranian para murid sebelum Dia bangkit dan dibandingkan dengan keberanian
mereka setelah Yesus bangkit adalah sangat menakjubkan sekali. Apalagi pada masa itu
berita mereka sangat dikecam oleh banyak orang dan kerap kali membawa mereka
kepada penghakiman, tetapi sebab Yesus benar-benar bangkit mereka tetap
memberitakan hal ini tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Bukti Petrus yang keempat ialah Kehadiran Roh Kudus (ayat 33-36). Jika Roh
Kudus ada di dunia ini, maka Allahlah yang mengutus. Yoel mengumumkan bahwa pada
suatu saat nanti Roh Kudus akan datang, dan Yesus sendiri berjanji untuk mengutus Roh
Kudus kepada umat-Nya (Lukas 24:49; Yoh 14:26; Kisah Para Rasul 1:4). Tetapi bila
Yesus tetap mati dan tidak bangkit, maka tidak akan dapat mengutus Roh Kudus yang
dijanjikan-Nya; jadi Dia pasti hidup dan lebih daripada itu Dia tidak akan dapat mengutus
Roh Kudus kalau Dia tidak kembali ke Surga. Untuk menunjang pernyaan ini Petrus
mengutip Mazmur 110:1, satu ayat yang tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri.
Petrus dari keempat bukti kebangkitan Kristus ini sekaligus juga menunjukkan dosa
orang-orang Yahudi, dimana: Yesus adalah Mesias tetapi mereka telah menyalibkan Dia
(Kisah Para Rasul 2:23). Petrus menunjukkan bahwa Israel telah mebunuh Mesiasnya
sendiri! itu adalah dosa dan kejahatan yang terbesar sepanjang sejara! Kotbah Petrus in
membuat para pendengarnya sangat ketakutan dan seolah-olah tidak ada harapan lagi
bagi mereka untuk diselamatkan. Ia menjelaskan mengapa hal itu terjadi: untuk
menyelamatkan orang-orang berdosa (ayat 37-41).
43
Sebelum bagian penutup kotbah Petrus, para pendengarnya telah ketakutan dan
akhirnya mengajukan pertayaan: “Apakah yang harus kami perbuat saudara-saudara?”
pertayaan lahir atas ketakutan yang sangat mendalam setelah mengetahui bahwa
mereka adalah orang yang sangat berdosa dan tidak terampunkan. Kemudian Petrus
memberitahukan kepada mereka bagaimana agar diselamatkan: mereka harus bertobat
dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Yesus Kristus. Kemudian mereka mereka
juga dihimbau untuk membuktikan ketulsan pertobatan dan iman mereka dengan cara di
baptis dalam nama Yesus Kristus. Terjemahan bahasa Indonesia Kisah Para rasul 2:38
menyiratkan bahwa orang harus di baptis agar diselamatkan. Pada hal dalam bahasa
aslinya: untuk pengampunan dosamu, kata untuk disini memakai kata eis yang
mempunyai arti atas dasar (sebab ). Jadi seharusnya ayat 38 diterjemahkan demikian:
“…Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu di baptis dalam
nama Yesus Kristus atas dasar (sebab ) pengapunan dosamu, maka kamu akan
menerima karunia Roh Kudus.” Memang jika kita mempelajari Kisah Para Rasul ini
secara keseluruhan maka kita akan melihat bahwa yang merupakan keinginan yang
pertama dari orang yang sudah diselamatkan adalah meminta diri di baptis. Hampir tidak
ditemukan dalam Kisah Para Rasul bahwa ada orang yag bertobat tetapi tidak dibaptis.
d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)
Orang-orang percaya masih terus menggunakan Bait Allah sebagai tempat
mereka berjemaat dan melayani; disamping itu mereka juga bersekutu di rumah-rumah.
Ke- 3000 orang yang baru bertobat itu memerlukan bimbingan di dalam Firman Allah dan
persekutuan dengan umat Allah supaya mereka dapat bertumbuh dan menjadi saksi
yang efektf. Satu hal yang perlu diteladani oleh gereja masa kini dari gereja mula-mula,
dimana gereja mula-mula bukan hanya menjemaatkan orang-orang yang sudah bertobat,
tetap juga memuridkannya agar menjadi saksi bagi Kristus yang efektif.
Dalam ayat 42 ini kita juga menjumpai kata “memecahkan roti” ini lebih mengacu
kepada makan bersama. Dan setelah itu mereka sejenak mengingat Tuhan dengan apa
yang kita sebut “Perjamuan Tuhan.” Roti dan anggur adalah hal-hal yang biasa ada di
meja makan orang Yahudi. Kata persekutuan mempunyai arti lebih dari sekedar
“berkumpul.” Hal itu berarti memiliki kebersamaan dan mungkin mengacu kepada saling
berbagi harta tetapi harus diingat bahwa apa yang dilakukan dalam persekutuan gereja
mula-mula ini tidaklah sama dengan komunisme modern, sebab program itu mereka
lakukan secara sukarela, bersifat sementara dan digerakkan oleh kasih. Bukan sebab
paksaan, dan bukan sebab dorongan politik.
Di bawah ini ada beberapa karakteristik Gereja mula-mula, yaitu: bersatu (2:44),
disukai oleh banyak orang (ay, 47a), berkembang (ay, 47b), Mempunyai kesaksian yang
kuat diantara orang-orang Yahudi yang belum diselamatkan, Mereka bersekutu setiap
hari (Kisah Para Rasul 2:46), melayani setiap hari (Kisah Para Rasul 6:1), memenangkan
jiwa setiap hari (2:47), dan menyelidiki Kitab Suci setiap hari (Kisah Para Rasul 17:11).
Kemudian sebelum kita melanjutkan pebahasan kita kepada fasal tiga, kita mengingat
kembali bahwa janji Tuhan masih tetap berlaku: “Barang siapa yang berseru kepada
nama Tuhan akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:21; Roma 10:13). Sudahkah anda
berseru? Sudahkah anda percaya kepada Yesus Kristus untuk keselamatan diri anda?
2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)
a. Mukjizat dan khotbah Petrus (3:1-26)
Saat itu orang-orang percaya masih terikat pada Bait Allah, dan pada waktu-
waktu doa tradisional (Mazmur 55:18; Daniel 6:10; Kisah Para Rasul 10:30). Selanjutnya
jika kita melihat Kisah Para Rasul 1-10 adalah menggambarkan satu perubahan
pemberitaan Injil yang berangsur-angsur dari Israel ke non Israel, dan dari kekristenan
Yahudi (Kisah Para Rasul 21:20) kepada “satu tubuh” yang terdiri dari orang Yahudi dan
non Yahudi. Perlu waktu yang cukup supaya orang-orang Yahudi yang percaya dapat
benar-benar memahami tempat orang-orang non Yahudi dalam program Allah dan
pemahaman ini terjadi melalui banyak pertentangan.
Kisah Para Rasul 3:1-26, sangat penting kita pahami terutama dalam hal
penyampaian dan isi kotbah dari para Rasul kepada orang-orang Yahudi yang sangat
berhasil dan akhirnya mengakibatkan permusuhan pertama dari para pemimpin Yahudi.
44
Pada ayat 1 terlihat nama Petrus dan Yohanes, dimana kedua orang ini sering
disebut sebagai rasul yang utama dalam gereja mula-mula. Kedua tokoh ini sering terlihat
secara bersama-sama dalam kitab suci, mereka adalah rekan seprofesi. Sebelum
menjadi murid Yesus, yaitu sebagai penangkap ikan (Lukas 5:10); mereka sama-sama
mempersiapkan jamuan paskah terakhir bagi Tuhan Yesus (Lukas 22:8); mereka sama-
sama berlari ke pekuburan pada hari kebangkitan Yesus (Yoh 20:3-4) dan mereka
melayani orang-orang Samaria yang percaya kepada Yesus Kristus (Kisah Para Rasul
8:14), sekarang setelah mereka penuh dengan Roh Kudus. Rasul-rasul ini tidak lagi
bersaing untuk menjadi yang terbesar, melainkan bekerja bersama-sama dengan setia
untuk membangun gereja. Pada pasal 3:1 kedua rasul ini terlihat masih melanjutkan
kebiasaan menyembah Allah secara Yahudi di Bait Allah. Pukul tiga petang merupakan
saat berdoa dan mempersembahkan kurban malam hari.
Kemudian dalam ayat 2, kita menemui kata “Orang lumpuh sejak lahirnya”. Kata
ini menekankan bahwa penyakit kelumpuhan itu bukan penyakit yang mudah
disembuhkan, atau barangkali lebih tepatnya disebut bahwa penyakit itu tidak akan bisa
disembuh oleh medis. Orang lumpuh itu diusung dan diletakkan di pintu gerbang indah
untuk mengharapkan pemberian sedekah, bukan yang bersifat rohani tetapi lebih bersifat
materi. Hal ini juga banyak terjadi pada masa kini, banyak orang pergi ke gereja bukan
untuk mendapatkan hal-hal rohani tetapi ingin mendapatkan berkat materi saja, namun
yang berbeda disini adalah bahwa Petrus hamba Tuhan itu memberitakan kepadanya
bahwa yang paling berharga baginya adalah Kristus dan dia menyuruh orang lumpuh itu
untuk bangkit, dia percaya dan dia menuruti Petrus untuk berdiri, walaupun memang
dengan bantuan tangan Petrus. Sedangkan dalam gereja masa kini, banyak orang
datang gereja dengan motivasi ingin mendapatkan berkat materi dan ternyata
pengkotbahnya juga mengkotbahkan hal-hal yang materi, sekarang ada banyak pendeta
hanya berkotbah bagaimana supaya sukses dalam dunia usaha. Tentu hal-hal seperti ini
berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus. Rasul Petrus tahu bahwa ada
orang yang ingin mendapatkan kesembuhan badani, tetapi dia membimbingnya untuk
menerima kesembuhan rohani, yaitu sembuh dari penyakit dosa melalui percaya kepada
Kristus dan setelah itu kesembuhan badani mengikutinnya.
Ayat 3-4 menceritakan bahwa orang lumpuh itu melihat Petrus dan Yohanes mau
berjalan melewati tempat dimana si orang lumpuh itu diletakkan, kemudian orang lumpuh
itu berkata “lihatlah kepada kami” melalui perkataan itu terjadilah kontak mata, antara
Petrus dengan dia. Kontak mata selalu penting, dimana biasanya kontak kepribadian bisa
timbul sebab dimulai dengan kontak mata. Petrus dan Yohanes perlu menatap orang
lumpuh itu, demikian juga dengan orang lumpuh itu perlu juga menatap kedua rasul itu.
Tetapi kita jangan sampai mengatakan bahwa kuasa Tuhan terjadi sebab tatapan mata
Petrus. Kita lebih setuju mengatakan bahwa pelayanan yang berhasil adalah pelayanan
dimana pelayan dan yang dilayani ada dalam perhatian yang penuh.
Pada ayat 5-6 ini terlihat bahwa orang lumpuh itu mendapatkan yang jauh lebih
besar daripada apa yang dia harapkan. Perkataan Petrus “Emas dan perak tidak ada
padaku, tetapi apa yang kupunyai ku berikan kepadamu” perkataan ini menunjukkan
kematangan rohani Petrus, dia kaya dalam hal rohani. Perkataan itu juga
menggambarkan bahwa betapa Petrus menempatkan Yesus yang paling berharga dalam
hidupnya. Kita sering berkata bahwa kita lebih menghargai Kristus lebih dari segala
sesuatunya, tetapi kadang kala kita lupa dan kadang kita sudah lebih menghargai emas
dan perak atau hal-hal duniawi lainnya. Petrus juga mengalami kepuasan hidup di dalam
Kristus sehingga dia selalu memberitakan nama Kristus itu. Dalam ayat ini juga Petrus
berkata “Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu berjalanlah” perintah ini
menunjukkan keyakinan dari Petrus pada kuasa Kristus. Petrus memakai kata yang
pendek tetapi memiliki kuasa yang luar biasa.
Ayat 7 menjelaskan bahwa Allah menyembuhkan orang lumpuh itu, dan pada
ayat ini juga terlihat bahwa Petrus memiliki keyakinan yang kuat, dia yakin bahwa orang
lumpuh itu akan sembuh. Lebih lanjut kita akan terpesona membaca ayat 8, dimana yang
lumpuh sejak lahirnya itu melonjak dan memuji-muji Tuhan.
Pada ayat 9-10 dijelaskan bahwa semua rakyat melihat dia takjub dan heran.
Pada kesempatan seperti itu, Petrus belum puas sebab apa yang paling di inginkannya
bukanlah supaya orang lain mengetahui bahwa Yesus adalah penyembuh, tetapi Petrus
mau menjelaskan bahwa Yesuslah satu-satunya juruselamat. Peristiwa yang terjadi pada
45
ayat 9-10 itu, membuat orang-orang ramai mengerumuni Petrus. Keadaan seperti ini
adalah kesempatan yang sangat baik bagi Petrus untuk berkotbah tentang Injil.
Pada ayat 12, Petrus menjelaskan bahwa apa yang terjadi kepada orang lumpuh
itu bukan sebab kehebatan dan kuasa Petrus tetapi murni hanya sebab kuasa Allah.
Hal ini menjadi pelajaran bagi para pengkotbah dan pelayan Tuhan, dimana mukjizat
yang benar seharusnya hanya meninggikan nama Tuhan, bukan pengkotbahnya.
Kemudian pada ayat 13 Petrus menegaskan bahwa Allah Israel, yaitu Allah yang
dipercaya oleh nenek moyang merekalah yang menyembuhkan orang lumpuh itu.
Maksudnya bahwa mukjizat itu adalah pekerjaan Allah yang dikenal oleh orang Israel
sejak dahulu, yaitu Abraham Ishak dan Yakub yang seharusnya sudah mereka percayai
oleh sebab janji-janjin-Nya kepada mereka (12-13). Ayat ini juga menjelaskan bahwa
mukjizat itu terjadi oleh sebab Kristus adalah penggenapan nubuatan nabi-nabi sejak
dahulu (21-24). Oleh sebab itu kedatangan Krstus sebenarnya bukanlah sesuatu yang
aneh untuk mereka percayai, sebab kedatangan-Nya adalah penggenapan janji Allah.
Petrus menjelaskan bahwa orang Israel harus percaya kepada Allah dan hamba-Nya
yaitu Yesus yang telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Kata hamba-Nya dikutip dari
Yesaya 52:13-53, yaitu nama Mesias. Petrus menyebut Yesus sebagai hamba sebab
penderitaan-Nya yang tertulis dalam ayat 13-15, dimana Dia merendahkan diri-Nya
dengan mengambil rupa seorang hamba seperti yang dijelaskan dalam Filipi 2:7 khotbah
Petrus ini bukan hanya menjelaskan fakta tentang Kristus, tetapi juga menegor dosa-
dosa mereka, yaitu tentang apa yang telah mereka lakukan kepada Yesus. Mereka bukan
hanya menyerahkan Yesus kepada Filatus untuk di hakimi, tetapi mereka juga menolak
anjuran Filatus dan mencegah Filatus untuk melepaskan Yesus. Dosa mereka adalah
merupakan dosa yang sangat keji yang selama ini tidak mereka perhatikan. Selama ini
mereka berpikir bahwa mereka telah melakukan tindakan yang benar dengan
menyalibkan Yesus, ternyata itu adalah dosa yang sangat besar. Kemudian di ayat 14
menjelaskan lebih dalam lagi dimana tindakan mereka adalah merupakan penghianatan
yang keji terhadap kebenaran, yaitu mereka membunuh Yesus yang benar dan
membebaskan si pembunuh. Dalam PL Mesias sering disebut sebagai yang Kudus dan
yang Benar (Yesaya 53:11; Yeremia 33:15). Bandingkan dengan Yohanes 6:69; Kisah
Para Rasul 7:52; 22:14; 1 Yohanes 2:1).
Selanjutnya pasal 3:15, merupakan bagan isi kotbah Petrus yang sangat penting,
disini Petrus sedang memperlihatkan dosa-dosa para pendengarnya kembali dengan
lebih tegas, dimana mereka telah membunuh Yesus yaitu Dia yang Petrus sebut sebagai
yang meminpin kepada hidup, “Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup telah kamu
bunuh…” ini menunjukkan betapa besarnya dosa mereka. Mereka telah menolak dan
membunuh Tuhan yang memberi kehidupan kepada manusia. Selanjutnya ayat ini juga
berkata “…tetapi Allah telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Berita ini juga
sebenarnya bernuansa penghakiman Allah terhadap ketidakbenaran orang Yahudi.
Kebangkitan Yesus adalah kebenaran yang terbukti sendiri. Kemudian dalam ayat 15 ini
juga Petrus berkata “Tentang hal itu kami adalah saksi,” perlu kita ingat bahwa
persyaratan sebagai rasul Kristus adalah orang yang melihat dan menyaksikan
kebangkitan Yesus dengan mata sendiri. Kata bersaksi dalam bahasaYunani μαρτυρια itu
selalu ada hubungannya dengan martir, artinya bahwa setiap oeang yang menjadi saksi
bagi Kristus harus siap menjadi martir.
Pada ayat 16, menjelaskan bahwa kepercayaan dalam nama Yesus telah
memberi kesembuhan kepada orang lumpuh itu. Petrus beriman kepada Yesus, tetapi
orang lumpuh itu sepertinya tidak memiliki iman yang sama dengan Petrus, tetapi ia
mentaati Petrus yang beriman, itu berarti bahwa akhirnya orang lumpuh itu juga percaya
pada apa yang dipercaya Petrus (dia juga beriman).
Kemudian dilanjutkan dengan ayat 17, dimana Petrus seolah memberikan
penghiburan kepada para pendengarnya dia berkata “Kamu telah berbuat demikian
sebab ketidaktahuan,” ini merupakan kalimat yang menghibur dan memberi
pengharapan kepada orang-orang berdosa yang membunuh Yesus Kristus Anak Allah,
mereka mempunyai kesempatan untuk bertobat dengan kata-kata yang menghiburkan.
“Kamu telah berbuat demikin sebab ketidaktahuan,” perkataan ini bukan berarti bahwa
mereka dianggap tidak berdosa. Tindakan mereka tetap dosa meskipun dilakukan sebab
ketidaktahuan. Hanya disini Petrus menegor mereka dengan lembut.
Pada ayat 18, Petrus menjelaskan bahwa penderitaan Mesias adalah
penggenapan nubuatan, bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Memang
46
dalam Perjanjian Lama hal itu tidak di jelaskan secara gamblang. Namun dalam bagian
ini Petrus menjelaskannya dengan menunjukkan bahwa Hamba yang menderita (Yesaya
53) adalah mengacu kepada penderitaan-Nya.
Selanjutnya pada ayat 19-21 Petrus menantang orang-orang Yahudi agar
bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah. Ini akan berarti mengubah
pandangan mereka tentang Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias Allah. Hasilnya
akan berupa kenyataan bahwa dosa mereka dihapuskan dan mereka dapat menikmati
waktu kelegaan yang dijanjikan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, yang mengacu kepada
kedatangan Tuhan yang kedua kali. Lebih lanjut kata Pemulihan segala sesuatu
(αποκαταστασεωζ) adalah juga menunjuk kepada kemuliaan yang akan terjadi pada
waktu Yesus datang kedua kali, pada waktu itu semua mahluk akan menjadi baru, itulah
kemuliaan (3:21).
Ayat 22, merupakan lanjutan dari ayat 21, dimana pada ayat 21 telah dikatakan
tentang waktu Yesus tinggal di sorga sampai pemulihan segala sesuatunnya. Waktu
yang dimaksud disini mengacu pada masa Perjanjian Baru, yaitu waktu bagi jemaat
untuk percaya kepada-Nya. Musa telah membicarakan tentang masa itu (PB) dalam
Ulangan 18:15 dikatakan “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-
saudaramu, sama seperti aku akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; Dialah
yang harus kamu dengarkan” ayat ini telah digenapi dalam Kristus. Nabi (yang dimaksud
oleh ayat ini adalah Yesus) adalah pengantara manusia dengan Allah (1Tim 2:5).
Jika kita mengadakan penelitian antara Musa dan Yesus Kristus, memang memiliki
banyak persamaan dimana: Musa memimpin umat Tuhan dengan Firman dan Roh
Kudus, bukan dengan pedang. Hidup matinya Umat Allah bergantung pada Firman Allah
yang disampaikan Musa. Demikian pula Mesias memimpin jemaat dengan Firman dan
Roh Kudus, hidup atau matinya jemaat bergantung pada Firman Mesias.
Selanjutnya ayat 23 menjelaskan bahwa orang yang tidak mendengar Nabi itu
akan binasa sampai kekal. Ayat 24, mengatakan bahwa semua nabi termasuk Musa telah
menubuatkan kedatangan Mesias dan hal itu telah digenapi. Nubuatan tentang Mesias
bukan hanya bersifat lisan, tetapi semua acara, peraturan dan bahan-bahan untuk korban
dalam Perjanjian Lama adalah melambangkan zaman Mesias, yang merupakan nubuat
Mesianis. GZ. Berkouwer mengatakan, “Nubuat tentang Mesias dalam PL, bukan
sekedar nubuat yang berulang kali, melainkan seluruh karya penggenapan Allah
mengandung karya Mesianis, sehingga jika kita tidak menggabungkan PL dengan PB kita
tidak dapat memahami Firman Allah
Dalam ayat 25, kata kamu sangat ditekankan oleh Petrus, dengan maksud agar
mereka mempercayai Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya Petrus mengungkapkan tentang
Janji Allah kepada Abraham, yang ada dalam Kejadian 12:3; 22:18; 26:4; 28:14. di
dalam Kejadian 12:3 tertulis “…dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat
berkat,” ini menunjukkan tentang keselamatan yang bersifat universal. Kejadian 22:18 “…
Oleh keturunanmulah semua bangsa dimuka bumi akan mendapat berkat.” Jadi dalam
ayat 25 ini Petrus menjelaskan tentang penggenapan janji Allah di dalam Yesus Kristus
dan mengundang mereka untuk bertobat.
Pada ayat 26 ini Petrus menjelaskan betapa Allah sangat mengasihi bangsa itu, dimana
Allah membangkitkan Yesus dan mengutus-Nya kepada mereka, supaya mereka
mendapat berkat dan supaya mereka masing-masing kembali dari segala kejahatan
mereka. Istilah Hamba-Nya dalam ayat ini adalah menunjukkan ketaatan Mesias untuk
menggenapi kehendak Allah.
b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37).
Salah satu tujuan utama dari penulisan kitab Kisah Para Rasul adalah
menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang telah menolak dan menyalibkan Yesus
melanjutkan pemberontakan mereka terhadap Allah dengan menolak Injil tentang Yesus
yang telah bangkit dan naik ke sorga, sebagaimana telah diberitakan oleh para rasul.
Fasal 4:1-37 ini membahas awal penenatangan dari para pemimpin Yahudi.
Ayat 1dan 2, memberitahukan dimana Imam-imam dan kepala pengawal Bait
Allah, serta orang-orang Saduki, sangat marah sebab rasul-rasul itu mengajar bahwa
dalam nama Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Imam-imam yang dimaksud
disini lebih tepatnya ditafsirkan sebagai anggota golongan Imam dari golongan Saduki.
Golongan ini adalah yang tidak sepakat dengan golongan Farisi mengenai penafsiran
hukum Taurat dan juga menolak doktrin tentang kebangkitan, dan menolak doktrin
47
tentang adanya malaikat dan setan. Tetapi dalam ayat ini Orang-orang Saduki lebih jelas
dianggap sebagai orang-orang yang sepaham dengan Imam-Imam dari golongan Saduki.
Sementara kepala pengawal Bait Allah adalah seorang pejabat tinggi yang kekuasaan-
Nya berada langsung di bawah imam besar dan bertanggung jawab atas pemeliharaan
ketenangan dan keteraturan Bait Allah. Dalam ayat ini, kita juga menemukan kata sangat
marah διαπονουμενοι diterjemahkan being distressed, dalam bahasa Indonesia dapat
diterjemahkan sebagai suatu perasaan yang tidak suka, atau sangat sakit hati. Imam-
imam merasa sakit hati sebab kuasa rasul-rasul yang mengajar orang banyak itu
bertentangan dengan kuasa yang mereka miliki. Orang-orang saduki sangat marah atas
pemberitaan rasul-rasul tentang kebangkitan Yesus, sebab mereka tidak mempercayai
adanya kebangkitan.
Ayat 3 terlihatlah reaksi imam-imam dan orang-orang saduki itu, dimana Petrus
dan Yohanes ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara. Peraturan Rabi Yahudi
melarang adanya pemeriksaan di malam hari, oleh sebab itu rasul-rasul di tahan pada
malam itu di penjara.
Ayat 4 menjelaskan tentang akibat dari khotbah dan berita penahanan itu,
dimana jumlah orang percaya semakin meningkat. Hal ini jelas sekali menunjukkan
bahwa pelayanan rasul-rasul itu berhasil bukan sebab apa yang mereka katakan tetapi
juga dipengaruhi oleh kesaksian hidup mereka yang kokoh di dalam apa yang mereka
ajarkan. Mereka rela di penjara demi Injil. Sidang yang dimaksud dalam ayat 5 dan 6
adalah merupakan sidang tertinggi bagi orang Yahudi. Sidang yang sama, beberapa
bulan sebelumnya sudah menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, (bandingkan
dengan ayat 15). Sidang ini terdiri dari pemimpin-pemimpin Yahudi atau para imam, tua-
tua dan ahli-ahli Taurat. Yang merupakan guru professional tentang Perjanjian Lama.
Murid-murid mereka dinamakan orang-orang Farisi. Ketika itu Imam besar yang bertugas
adalah Kayafas dan ia juga pimpinan Sanhedrin. Ayah mertuanya Hanas, adalah mantan
Imam besar dan kini merupakan semacam pejabat senior. Menurut Wiersbe Mahkamah
Agama yang berkumpul pada waktu itu (ayat 5-7), pada dasarnya terdiri dari keluarga
Imam besar, sebab pada waktu itu sistem agama Yahudi sudah begitu bobrok, sehingga
jabatan-jabatan agama dialihkan dari anggota keluarga yang satu kepada anggota
keluarga yang lain tanpa menghormati Firman Allah. Ketika Hanas berhenti dari jabatan
ke imaman maka Kayafas menantunya dipilih untuk menempati jabatan itu.
Kemudian ayat 7, Petrus dan Yohanes diperhadapkan kepada sidang Sanhedrin
dan dituntut untuk mengatakan dengan kuasa siapa mereka bertindak seperti itu, mereka
adalah orang awam, tetapi mengapa mereka berani mengajar dan berkotbah. Kemudian
diayat 8, dikatakan bahwa Petrus penuh dengan Roh Kudus, oleh sebab itu dia berbicara
dengan begitu berani dan penuh dengan hikmat. Di ayat 9 Petrus dengan hikmat Ilahi
seakan menanyakan kembali mengapa mereka diadili sebab melakukan kebajikan,
bukankah yang diadili seharusnya adalah tindakan kejahatan. Cara Petrus ini sangat baik
sekali di terapkan dalam situasi dimana jika kita dalam keadaan dipojokkan sebab
kebenaran. Dia tidak marah, tetapi dia menunjukkan kesalahan dari si penuntut, lalu
kemudian dia menjelaskan lebih rinci dalam ayat yang selanjutnya.
Pada ayat 10 Petrus menjelaskan mengenai bagaimana mukjizat itu terjadi.
Sebenarnya kemungkinan besar para anggota Sanhedrin sudah berkali-kali melihat
pengemis lumpuh itu. Sebab itu ada pertayaan yang besar bagi mereka bagaimana
orang itu disembuhkan? Petrus menjawab “Dalam Nama Yesus Kristus, Orang Nazaret”
perkataan Petrus ini pasti sangat melukai hati para anggota Mahkamah Agama itu,
mereka berpikir bahwa setelah Yesus mati dan dikuburkan maka semuanya langsung
beres. Tetapi ternyata murid-murid-Nya memproklamirkan bahwa Dia hidup. Kita tahu
bahwa orang-orang Saduki tidak percaya adanya kebangkitan orang mati, tetapi Petrus
tetap memberitahukan kebenaran, dia tidak takut sedikitpun meskipun mereka sedang
dalam ancaman penjara dan hukuman mati. Sikap ini adalah sikap dari hamba Tuhan
yang sangat mengasihi Tuhan, dimana dia tidak mau berkompromi demi mencari aman.
Ayat 11 adalah penjelasan Petrus yang lebih dalam, dia mengutip dari Mazmur
118:22. Petrus berkata bahwa Yesus adalah Batu Penjuru yang dibuang oleh tukang-
tukang bangunan, sementara tukang bangunan yang dimaksud adalah orang-orang yang
duduk di depan Petrus itu sendiri, yaitu para anggota sidang Sanhedrin. Hal ini juga
menunjukkan keberanian Petrus yang mengemukakan secara langsung tentang dosa
mereka, yaitu membunuh Yesus. Dalam ayat ini Petrus melambangkan Yesus sebagai
batu penjuru. Batu bukanlah hal yang baru bagi orang-orang yang ahli dalam Kitab Suci
48
Perjanjian Lama. Mereka tahu bahwa batu karang adalah lambang dari Allah (Ulangan
32:4,15,18,31; 2 Samuel 22:2; Mazmur 18:3; Yesaya 28:16), Nabi Daniel juga telah
menggunakan istilah batu karang untuk menggambarkan Mesias dan kedatangan
Kerajaan-Nya di dunia (Daniel 2:31-45). Orang Yahudi tersandung pada batu ini dan
menolak Dia seperti yang dinubuatkan dalam Mazmur 118:22. Namun bagi mereka yang
percaya kepada-Nya, Yesus Kristus adalah batu penjuru yang berharga. Batu penjuru
adalah batu yang menyambungkan dua tembok Bait Allah. Batu ini merupakan batu
fondasi.
Kemudian dalam ayat 12, Petrus menjelaskan bahwa batu penjuru itu adalah
Juru selamat. Petrus juga memandang penyembuhan si pengemis sebagai gambaran
kesembuhan rohani yang membawa kepada keselamatan. Menurut Wiersbe kata
disembuhkan dalam ayat 9 yang sudah kita bahas sebelumnya adalah memakai kata
Yunani yang sama diterjemahkan sebagai keselamatan dalam ayat 12, sebab
keselamatan berarti kesembuhan dari penyakit rohani. Yesus Kristus adalah Dokter
Agung, yaitu satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan penyakit manusia yang
terbesar, yaitu penyakit dosa. (Markus 2:14-17). Pada waktu Petrus berbicara dia
mengingat semua umat Israel (Kisah Para Rasul 4:10), sebab berita itu masih khusus
ditujukan kepada orang Yahudi. Bahkan Mazmur 118 yang dikutip oleh Petrus adalah
berbicara tentang keselamatan bagi umat Israel pada masa yang akan datang.
Pada ayat 13-14, kita melihat bahwa ada tiga hal yang menyebabkan anggota
sidang itu tutup mulut, dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantah apa yang
dikatakan Petrus, antara lain: (1) Rasul-rasul yang bukan orang terpelajar itu dapat
berkata-kata dengan berani dan terus terang, ini bisa kita lihat dalam ayat 13a. (2)
sebab rasul-rasul itu adalah murid Yesus Kristus, ini dapat kita lihat dalam ayat 13b
mereka dapat berkata-kata dengan berani sebab di pimpin oleh Yesus. (3) orang yang
lumpuh yang sembuh itu telah menjadi saksi yang nyata di depan mata mereka, dimana
dia berdiri disamping rasul-rasul itu, ini terlihat dalam ayat 14.
Ayat 15 menceritakan bahwa setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu disuruh
sementara untuk meninggalkan ruang sidang mereka masih mengadakan rapat tertutup.
Ini memperlihatkan perbedaan yang sangat menyolok, dimana rasul-rasul itu berbicara
secara terus terang dihadapan banyak orang secara umum, tetapi sebaliknya anggota
sidang itu mengadakan pertemuan rahasia. Ini dapat digambarkan sebagai perbedaan
antara terang dan gelap. Kebenaran selalu terang dan adil, tetapi ketidak benaran selalu
keji dan licik. Selanjutnya dalam sidang tertutup itu ada indikasi bahwa mereka mau
menyangkali mukjizat yang telah terjadi itu, tetapi mereka tidak dapat sebab telah
tersebar kepada seluruh penduduk Yerusalem. Jika kejadian itu tersebar sedemikian
mereka tentu akan menutupinya meskipun hal itu benar dan nyata.
Selanjutnya ayat 17-18 adalah memberitahukan bahwa sidang Sanhedrin itu
akhirnya memutuskan untuk mengancam rasul-rasul supaya tidak berbicara lagi dengan
siapapun dalam nama itu (dalam nama Yesus).
Selanjutnya pada ayat 19 dan 20 para rasul itu memberi jawaban yang tajam dan
benar. Petrus berkata “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan
Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah, sebab tidak mungkin bagi kami untuk
tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar.” Para rasul
itu lebih memilih taat kepada Allah daripada kepada manusia.
Selanjutnya ayat 21-22 disebutkan bahwa sidang itu tidak mempunyai alasan
untuk menghukum rasul Petrus dan Yohanes, akhirnya mereka semakin keras
mengancam rasul-rasul itu supaya tidak berbicara lagi dalam Nama Yesus. Anggota
sidang itu bertindak demikian sebab mereka takut akan semakin banyak lagi orang yang
memuliakan nama Tuhan sebab apa yang telah terjadi itu, dimana orang yang lumpuh
sejak lahirnya itu sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, dengan demikian penyakit
ini adalah penyakit yang tidak mungkin bisa di sembuhkan oleh manusia.
Ayat 23-24, menceritakan dimana setelah Petrus dan Yohanes meninggalkan
ruang sidang itu, mereka menemui teman-teman mereka (rasul-rasul lain). Hal ini
membuktikan dimana sesama pelayan dan umat Tuhan membutuhkan persatuan dan
butuh untuk saling menguatkan. Di dalam doa, mereka menyebut Allah dengan kata
Δεσποτα di terjemahkan tuan. Dalam penggunaanya kata ini biasanya digunakan untuk
panggilan seorang budak kepada tuannya atau panggilan seorang budak kepada
majikannya. Jadi dengan demikian para rasul berseru kepada nama Tuhan dengan
menganggap diri mereka sebagai hamba atau budak dan telah memutuskan untuk selalu
49
menaati tuannya yaitu Yesus Kristus. Mereka juga menyebut Allah sebagai pencipta
langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dengan demikian kita mengetahui iman mereka,
dimana mereka percaya bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan segala
isinya dan oleh sebab itu juga mereka percaya bahwa Allah berkuasa untuk menjawab
doa mereka.
Ayat 25-26 sebagian merupakan kutipan dari Mazmur 2:1, melalui kutipan ini
Rasul-rasul berseru kepada nama Tuhan sesuai dengan yang dinubuatkan dalam
Perjanjian Lama. Jika di ayat 23-24 di gambarkan bahwa Allah berfirman melalui ciptaan-
Nya dan ayat ini (25-26) menjelaskan bahwa Allah berfirman melalui firman-Nya yang
tertulis yaitu Alkitab. Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa kutipan dari Mazmur ini
telah di genapi melalui penderitaan Yesus. Kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa lain
(banyak orang) terus menerus menentang Kristus bahkan sampai sekarang, mulai dari
bangsa Romawi dan Yahudi yang menyalibkan Yesus, tetapi tindakan mereka sia-sia.
Pertentangan kepada Injil adalah pertentangan terhadap Allah dan Injil akan lebih
tersebar pada masa penganyiayaan.
Selanjutnya ayat 27-29 dijelaskan bahwa orang-orang percaya kembali menyebut
Yesus sebagai “Hamba-Mu yang Kudus, yang juga adalah diurapi.” Para orang percaya
yang berdoa itu mengidentifiksikan beberapa orang yang menjadi wakil dari banyak raja
di bumi dan dari banyak pembesar-pembesar di bumi ini yang melawan Kristus Yesus,
dimana Herodes Antipas yang adalah raja atas Yehuda dan Perea adalah mewakili raja-
raja di bumi, Pontius Pilatus wali negeri Romawi bagi Yudea adalah mewakili para
pembesar. Musuh-musuh lain di dalam Mazmur itu di identifikasikan sebagai bangsa-
bangsa dan suku-suku bangsa Israel yang bangkit melawan Yesus Kristus. Tetapi dibalik
semua tindakan manusia yang jahat itu, para rasul tahu bahwa semua itu adalah
penggenapan dari semua yang telah ditentukan Allah. Dalam ayat ini kita juga melihat
perkataan: “lihatlah bagaimana mereka mengancam kami” hal ini tidak berarti mereka
meminta Allah untuk turut merasakan penderitaan mereka, melainkan memohon supaya
Tuhan campur tangan, agar ancaman tindakan itu diubahkan menjadi penggenapan
kehendak Allah. Pada waktu itu rasul-rasul tidak menganggap penganyiayaan itu akan
mengganggu penginjilan mereka. Mereka percaya bahwa Allah akan menggenapi
kehendak-Nya dengan kuasa-Nya yang besar. Rasul-rasul itu tidak berdoa supaya
musuh-musuh mereka tersingkir, sebaliknya mereka berdoa supaya Allah menguatkan
mereka untuk memamfaatkan keadaan mereka sebaik-baiknya dan mencapai apa yang
telah ditetapkan oleh Allah. Mereka memohon kemampuan Ilahi, bukan melarikan diri dan
Allah mengaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan. Kemudian Kisah Para Rasul 4:30
dimana mereka berdoa supaya Allah melakukan tanda-tanda heran dan mukjizat-
mukjizat dalam pelayanan mereka, hal itu sangat di butuhkan waktu itu, mengingat
bahwa mereka sering di fitnah dan ditekan oleh penguasa dan ahli-ahli taurat. Jadi
mukjizat dapat dipergunakan sebagai sarana untuk Penginjilan mereka.
Selanjutnya pada ayat 31 ada suatu peristiwa yang hebat, dimana ketika mereka
sedang berdoa goyanglah tempat dimana mereka berkumpul, dan selanjutnya dikatakan
bahwa mereka penuh dengan Roh yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih berani
lagi untuk mberitakan Injil. Peristiwa ini adalah merupakan jawaban doa mereka. Perlu
kita ingat bahwa peristiwa itu bukan pentakosta yang kedua, sebab tidak akan ada
pentakosta yang kedua, sama seperti tidak akan ada peristiwa Golgota yang kedua.
Peristiwa itu adalah pemenuhan kembali dengan Roh, guna memperlengkapi orang-
orang percaya untuk melayani.
Ayat 32-37 adalah merupakan satu rangkaian tentang sifat dan ciri persekutuan
gereja mula-mula. Ayat ini hampir sama dengan pasal 2:42-47. salah satu ciri khas yang
menonjol dari gereja yang dipenuhi Roh, dimana sangat terlihat adanya kesatuan, hal ini
dimanifestasikan dalam cara hidup mereka yang saling membagi kebutuhan materi.
Untuk membantu jemaat yang lainnya maka orang yang memiliki harta menjual hartanya
untuk dibagi-bagikan kepada yang membutuhkannya. Dan para Rasul mengawasi
pelayanan kasih ini. Sebelum fasal ini diakhiri ada satu nama yang mendapat perhatian
khusus, yaitu orang yang menjadi salah satu contoh yang suka menjual hartanya untuk
membagi-bagikannya kepada jemaat yang membutuhkannya. Namanya adalah Yusuf,
oleh rasul-rasul dia di beri nama Barnabas. Nama keluarga Barnabas dapat berarti anak
penghiburan, atau anak yang memberi dorongan atau semangat. Nama seperti ini
biasanya disebut kepada orang yang memiliki watak yang sama dengan arti namanya.
50
c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)
Kemunafikan adalah kebohongan yang disengaja, mencoba membuat orang lain
mengira bahwa kita lebih rohani daripada yang sebenarnya. Nama Ananias berarti Allah
itu pemurah, jadi nama Ananias itu adalah nama yang sangat baik, tetapi pemilik nama
ini (Ananias dalam Kisah Para Rasul 5:1) barangkali tidak tahu atau mungkin sengaja
melupakan bahwa Allah itu bukan hanya pemurah, tetapi juga Maha Kudus; dan Safira
artinya cantik, tetapi sudah kenyataan bahwa dia buruk sekali sebab dosa. Jadi tak
heran kalau beberapa orang terkejut ketika melihat Allah membunuh kedua orang itu
hanya sebab berbohong mengenai transaksi bisnis dan persembahan mereka ke
Gereja. Tetapi jika kita memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dosa itu, maka kita
akan sependapat bahwa Allah telah melakukan hal yang benar dengan menghukum
mereka. Mengapa Ananias dan Safira di bunuh oleh Allah, yang tertera dalam Kisah Para
rasul 5:1-11, seperti berikut ini: Pada awalnya dosa Ananias dan Safira dikipasi oleh Iblis
(5:3); dan ini merupakan masalah serius. Kalau Iblis tidak dapat mengalahkan gereja
dengan serangan dari luar, maka ia akan masuk dan bekerja dari dalam. Ia tahu
bagaimana memperdayakan pikiran dan hati anggota-anggota gereja, bahkan orang-
orang Kristen yang sungguh-sungguh, dan memaksa mereka melakukan perintah-
perintahnya. Iblis membuat Ananias dan Safira berdusta yang akhirnya membawa
mereka kepada kematian. Tuhan ingin semua orang mengetahui bahwa Dia tidak akan
mentolerir dusta di dalam gereja-Nya. Dosa Ananias dan Safira adalah digerakkan oleh
kesombongan dan kesombongan adalah dosa yang secara khusus di benci Allah (Amsal
8:13). Tentu saat itu gereja sangat memuji Allah atas pemberian yang sangat besar dari
Barnabas ketika itu Iblis berbisik kepada pasangan suami-isteri ini, “Kalian juga dapat
membuat orang lain berpikir bahwa kerohanian kalian setinggi Barnabas” dan suami isteri
itu bukannya menolak pendekatan Iblis, mereka malah menyerah dan menyusun
rencana. Alasan lain bahwa mereka pantas dihukum mati, sebab dosa mereka ditujukan
melawan gereja Tuhan, mereka mendustai Roh Kudus, mereka disebut mencobai Roh
Kudus. Allah sangat mengasihi gereja-Nya dan memeliharanya dengan sangat baik,
sebab gereja itu dibeli dengan darah Anak Allah dan ditempatkan di dunia untuk
mempermuliakan nama-Nya, tetapi Iblis ingin menghancurkannya dengan memakai
orang-orang yang ada dalam persekutuan gereja mula-mula itu. Seandainya Petrus tidak
waspada, tentu Ananias dan Safira akan menjadi orang yang berpengaruh di gereja dan
akhirnya mereka akan dipakai oleh Iblis lebih hebat lagi untuk menghancurkan gereja.
Di dalam 1Timotius 3:15 Gereja di sebut sebagai tiang penopang dan dasar
kebenaran. Iblis menyerangnya dengan dusta. Gereja adalah Bait Allah – tempat tinggal
Allah (1 Korintus 3:16) dan Iblis juga ingin masuk dan tinggal di dalamnya. Gereja adalah
prajurit-prajurit Allah (2Tim 2:1-4), dan Iblis berusaha memasukkan sebanyak mungkin
penghianat ke dalamnya. Gereja tidak akan ada dalam bahaya selama Iblis hanya
menyerang dari luar; sebaliknya jika Iblis menyerang dari dalam, gereja berada dalam
bahaya. Ananias mati dan dikuburkan, dan Safira bahkan tidak mengetahui hal itu! Iblis
selalu membiarkan para pengikutnya berada dalam kegelapan, sedangkan Allah
memimpin hamba-hamba-Nya di dalam terang (Yoh 15:15) Petrus menuduh Safira
mencobai Roh Tuhan, yaitu dengan sengaja tidak menaati Allah untuk melihat sampai
berapa jauh Allah membiarkan dia. Sebenarnya mereka mencobai Allah dan menantang
Dia untuk bertindak – dan Dia benar-benar bertindak dengan cepat dan tuntas. Tentu ini
sangat bertentangan dengan Firman Allah dalam Matius 4:7, “Janganlah engkau
mencobai Tuhan Allahmu.” Akibat peristiwa ini, takut akan Tuhan melanda gereja dan
semua orang yang mendengar kabar itu (Kisah Para Rasul 5:11). Menjadi renungan bagi
kita, mari kita memeriksa kehidupan kita sendiri untuk melihat apakah yang kita katakan
sesuai dengan yang kita lakukan. Apakah yang kita doakan di depan umum sungguh-
sungguh tulus? Apakah kita menyanyikan lagu-lagu rohani atau pujian kepada Tuhan
dengan tulus, atau sekedar kebiasaan. Kita telah bergerak dari “kuasa yang besar” dan
“kasih karunia yang berlimpah-limpah” (Kisah Para Rasul 4:33) ke “ketakutan yang luar
biasa”; dan semuanya ini harus ada dalam gereja. “marilah kita mengucap syukur dan
beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan
takut. Sebab “Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:28-29).
Ayat 12 ada kata tanda (σημει) dan mukjizat (τερατα). Kedua kata ini
sebenarnya adalah mengacu kepada suatu keajaiban. Pada waktu gereja mula-mula
Allah melakukan keajaiban-keajaiban agar orang-orang percaya pada Injil (Ibrani 2:4).
51
Kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias terbukti melalui keajaiban-keajaiban yang
dinyatakan oleh rasul-rasul.
Ayat 13 memberikan penjelasan kepada kita, dimana orang-orang yang belum
percaya, sangat sulit untuk masuk kedalam persekutuan orang percaya. Sebab orang
yang belum bertobat adalah orang yang belum berdamai dengan Allah atau disebut
sebagai seteru Allah dan oleh sebab itulah mereka tidak akan bergabung dengan orang-
orang yang sudah bertobat, kecuali setelah mereka bertobat sungguh-sungguh. Apalagi
saat itu baru saja mereka melihat ada pasangan suami isteri yang merupakan seteru
Allah dihukum atau dibunuh oleh Allah sebab dosa-dosanya. Tetapi dalam ayat ini
meskipun orang-orang tidak berani menggabungkan diri dengan mereka tetapi mereka
sangat dihormati oleh orang banyak, sekalipun mereka bukan orang-orang yang
terpelajar tetapi mereka dihormati. Pada ayat 13 peristiwa Ananias dan Safira membuat
orang banyak (yang tidak percaya) takut menggabungkan diri dengan orang-orang
percaya.
Tetapi pada ayat 14, dijelaskan bahwa hukuman yang sangat dahsyat terhadap
Ananias dan Safira itu membawa banyak orang berbalik kepada Tuhan. Banyak orang
yang akhirnya menjadi percaya setelah melihat kuasa Allah yang nyata dan dahsyat itu.
Selanjutnya kita melihat pada ayat 15, dimana orang-orang percaya banyak datang
membawa orang sakit supaya apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya
mengenai salah seorang diantaranya dan dengan demikian dia disembuhkan oleh Tuhan.
Yang harus kita ingat dimana mukjizat terjadi bukan sebab Petrus atau rasul-rasul lain,
orang-orang yang sembuh dari penyakitnya itu bukan sebab para rasul, tetapi sebab
mereka beriman kepada Tuhan. Pada waktu Yesus berada di dunia ini, seorang ibu yang
sakit pendarahan hanya memegang jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Tetapi orang itu
sembuh bukan sebab jumbai jubah Yesus punya jimat, tetapi hanya sebab yang
memegang jumbai jubah-Nya itu percaya kepada-Nya, oleh sebab itu dia disembuhkan.
Hal yang sama juga terjadi di Kisah Para Rasul 5: 15 ini. Selanjutnya ayat 16,
juga merupakan lanjutan yang memberitahukan bahwa banyak orang dari sekitar
Yerusalem datang dan berduyun-duyun serta membawa orang-orang sakit dan yang
diganggu roh jahat dan semua mereka disembuhkan. Kata mereka semua disembuhkan,
menunjuk bahwa tidak ada yang tidak dapat disembuhkan oleh Tuhan lewat perantaraan
rasul-rasulnya. Hal ini membuktikan bahwa Allah senantiasa menyertai mereka dalam
pemberitaan Injil.
d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)
Mulai Kisah Para Rasul 5:17 kita akan kembali melihat, dimana Imam Besar dan
para pengikutnya dan juga Mazhab Saduki menentang Gereja dan Para Rasul. Imam
besar ingin mempertahankan kuasanya yang semakin merosot; ia menjadi iri hati dan
mulai menganyiaya rasul-rasul. Mazhab Saduki juga ikut, sebab telinga mereka sudah
panas mendengarkan pengajaran rasul-rasul tentang kebangkitan orang mati, pada hal
mazhab saduki sangat menentang doktrin itu. Jadi dengan demikian Mazhab Saduki ikut
iri hati kepada rasul-rasul itu. Jadi jika kita melihat ayat ini, maka kita mengetahui bahwa
penentang-penentang itu menentang rasul-rasul adalah digerakkan oleh iri hati, bukan
sebab mereka melihat bahwa apa yang diajarkan para rasul itu adalah pengajaran yang
salah. Kadangkala orang mudah saja menyalahkan yang benar hanya sebab iri hati.
Dalam Amsal 14:30 dikatakan bahwa iri hati membusukkan tulang. Selanjutnya pada ayat
18 di jelaskan bahwa mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu di masukkan ke dalam
penjara. Hal itu mereka lakukan hanya sebab mereka iri hati, lagi pula mereka tidak
menemukan kesalahan pada rasul-rasul itu.
Selanjutnya pada ayat 19-20 diberitahukan bahwa pada waktu malam, Malaikat
Tuhan membuka pintu-pintu penjara dan membawa mereka keluar, lalu menyuruh
mereka (rasul-rasul) pergi ke Bait Allah untuk berkotbah tentang Injil (Firman Hidup).
Malaikat Tuhan dalam ayat ini berbeda dengan Malaikat ALLAH (Kristus dalam Perjanjian
Lama) malaikat yang dimaksud disini adalah malaikat biasa, yaitu yang disuruh Tuhan
untuk menolong para rasul. Dalam Kisah Para Rasul ini, kita akan menemukan beberapa
peristiwa dimana malaikat melayani sebagai pernyataan pemeliharaan Allah atas umat-
Nya (8:26; 10:3,7; 12:7-11,23; 27:23). Selanjutnya adalah kata Firman Hidup, yang
disebut dalam ayat ini adalah berarti Firman kebenaran yang membawa kepada hidup
yang kekal (Injil/ kabar baik).
52
Kemudian selanjutnya pada ayat 21, disebutkan bahwa para rasul itu menaati
pesan itu (berkotbah di Bait Allah). Mereka sangat mengasihi Kristus dan Injil dan dengan
senang hati mereka tetapi memberitakan Injil, walaupun itu akan membawa mereka
kembali ke penjara. Sementara para rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah, Imam besar
dan pengikut-pengikutnya menyuruh mahkamah agama berkumpul dan menyuruh orang-
orangnya mengambil rasul-rasul itu dari penjara untuk disidangkan. Mereka tidak tahu
bahwa rasul-rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah.
Maka selanjutnya pada ayat 22-23 memberitahukan bahwa para pejabat-pejabat
yang diutus ke penjara untuk mengambil para rasul itu terheran-heran sebab rasul-rasul
itu tidak ada disana, pada hal para penjaga tetap ada di depan pintu untuk menjaga
penjara itu. Dengan membaca ayat ini jelas sekali terbukti bahwa rasul-rasul itu
dikeluarkan secara ajaib. Orang-orang yang dimasukkan kedalam penjara itu tidak
ditemui padahal pintu penjara terkunci dengan sangat rapih. Pikiran manusia sangat sulit
memahami yang seperti ini, akan tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita percaya
kepada Allah yang Maha Kuasa. Teolog-teolog liberal tidak mempercayai hal-hal yang
ajaib yang seperti ini, mereka ingin menghancurkan Iman Kristen yang benar.
Ayat 24 menjelaskan bahwa petugas yang pergi ke penjara untuk mengambil
para rasul itu melaporkan kepada kepala pengawal Bait Allah dan Imam-imam kepala,
dan setelah mereka mendengar laporan itu mereka menjadi cemas dan bertanya-tanya
tentang apa yang telah terjadi pada rasul-rasul itu. Kata cemas (διηπορουν) seharusnya
di terjemahkan “tidak tahu berbuat apa-apa sebab bingung.” Kuasa Allah sangat besar
melindungi rasul-rasul itu, sehingga mereka bingung dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Sebenarnya mereka harus bertobat setelah melihat keajaiban-keajaiban itu, tetapi
mereka keras hati dan tetap menentang Injil. Oleh sebab itu mereka untuk selamanya
akan tetap bingung, kecuali mereka bertobat dan tidak lagi menentang Injil.
Pada ayat 25 memberitahukan bahwa ada orang yang melaporkan kepada tua-tua dan
mahkamah agama itu, bahwa rasul-rasul yang dipenjarakan itu sedang mengajar Firman
Tuhan di Bait Allah. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para Rasul itu tidak ada lain yang
ingin mereka lakukan selain menuruti perintah Allah. Allah memerintahkan kepada
mereka untuk berkotbah di Bait Allah dan mereka menaatinya.
Selanjutnya pada ayat 26 kepala pengawal Bait Allah mengambil kedua rasul itu.
Mereka menangkap kedua rasul itu dengan cara tidak sah, tetapi kedua rasul itu
mengikuti kepala pengawal Bait Allah beserta anak buahnya dengan tak gentar. Para
rasul adalah pemberita Firman Hidup, bukan pelanggar hokum oleh sebab itu mereka
tidak takut sedikitpun, sebab mereka bukan pelanggar hukum. Sebaliknya dalam ayat ini
dikatakan bahwa yang menangkap merekalah yang takut dilempari orang banyak,
lagipula kalau hal itu sempat terjadi maka mereka akan kehilangan jabatannya, sebab
jabatan itu boleh tetap pada mereka jika ada dukungan orang banyak.
Kisah Para Rasul 5:27-28, menjelaskan bahwa Petrus dan Yohanes
diperhadapkan kepada mahkamah agama, dan Imam Besar menanyai mereka, tetapi
kelihatannya dalam ayat ini Imam besar tidak mempunyai pertayaan yang tidak dapat
dijawab oleh para Rasul itu, oleh sebab itu Imam Besar akhirnya hanya melarang mereka
untuk berbicara dalam nama Yesus. Imam Besar itu berkata “dengan keras kami
melarang kamu mengajar dalam nama itu”. Penggalan ayat ini memberi gambaran bagi
kita bahwa Imam besar tidak menyukai nama Yesus, sehingga ia tidak menyebut nama
Yesus tetapi hanya memakai kata nama itu. Mereka menegor dengan kalimat kamu
hendak menanggungkan darah orang itu kepada kami. Hal ini menunjukkan kemunafikan
Imam Besar itu, dia sendiri telah berjuang untuk keras sebagai pemimpin untuk
membunuh Yesus, tetapi sekarang ia berlaku seperti sama sekali ia tidak ada kaitanya
dengan kematian Yesus. Mereka juga tidak tahu bahwa tujuan utama pemberitaan Injil
yang dilakukan Petrus dan Yohanes itu bukanlah untuk mempersalahkan orang lain,
tetapi untuk membimbing orang berdosa kepada keselamatan.
Pada ayat 29 Petrus menjawab mereka dengan penuh hikmat, jawaban ini juga
merupakan penghakiman kepada peserta sidang itu. Petrus berkata: “Kita harus lebih
taat kepada Allah daripada kepada manusia.” Allah telah mencurahkan Roh Kudus
kepada Rasul-rasul dan memberi tugas kepada mereka untuk memberitakan Injil. Oleh
sebab itu mereka tidak menghiraukan larangan manusia untuk melaksanakan tugas
yang dipercayakan Allah. Jadi larangan manusia tidak akan mengubah pendirian mereka.
Kemudian pada ayat 30-32 kita melihat bahwa rasul-rasul itu juga tidak mau
mengubah berita mereka. Petrus malah mendakwa para pemimpin agama dengan
53
tuduhan pembunuhan terhadap Yesus (lihat kembali Kisah Para Rasul 3:13-14; 4:10),
dan sekali lagi mengatakan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati.
Orang-orang Saduki pasti akan semakin marah mendengar hal itu. Petrus dengan tegas
berkata bahwa mereka adalah saksi dari kebangkitan itu. Kata saksi adalah istilah
hukum. Seorang saksi yang menghadapi pengadilan harus bersaksi menurut kebenaran
yang telah disaksikannya.
Ayat 33, memberitahukan bagaimana reaksi oleh peserta sidang itu tentang
jawaban Petrus. Hati mereka tertusuk dan bermaksud untuk membunuh para rasul.
Dalam fasal 2:37 orang-orang yang mendengar perkataan Petrus terharu dan akhirnya
banyak orang yang bertobat, tetapi pada bagian ini Mahkamah agama sebaliknya
bermaksud membunuh Petrus dan Yohanes. Mahkamah Agama itu sudah tinggi hati dan
sangat sulit untuk bertobat, sebaliknya mereka hanya ingin mempertahankan kedudukan
mereka.
Selanjutnya ayat 34-39, menjelaskan tentang pendapat dari seorang yang
bernama Gamaliel guru dari Paulus. Dia adalah tokoh yang sangat dihormati oleh orang
banyak. Seakan-akan dia (Gamaliel) membela rasul-rasul, tetapi cara yang dilakukan
sangat tidak tepat. Nasihat Gamaliel sebenarnya tidak bijaksana dan berbahaya, tetapi
Allah menggunakannya untuk menyelamatkan para rasul dari kematian. Gamaliel adalah
orang Farisi, tetapi orang-orang Saduki menerima pendapatnya, hal itu membuktikan
bahwa dia adalah orang yang terhormat. Terlepas dari kenyataan bahwa Gamaliel
memakai kepala dingin dan bukan emosi yang memanas, namun pendekatannya masih
tetap salah. Pertama-tama, dia menggolongkan Yesus dan para Rasul sama dengan dua
orang pemberontak yang bernama Teudas dan Yudas, jadi bagi Gamaliel Yesus adalah
seorang fanatik yang berusaha memerdekakan bangsanya dari penjajahan Romawi. Dia
lupa bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah bangkit dari antara orang mati, dia juga lupa
bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah melakukan mukjizat yang seperti Yesus lakukan.
Memang harus diakui bahwa Gamaliel mempunyai logika yang baik, yang membuat
orang lain mengikuti pola pikirnya. Menurut pola pikirnya bahwa perusuh selalu akan ada
tetapi segera setelah itu akan lenyap, dengan demikian dia berpikir bahwa Yeus dan para
Rasul adalah perusuh. Kesalahan yang kedua adalah dimana dia mempunyai pandangan
bahwa yang tidak berasal dari Allah akan gagal, hal ini memang benar, tetapi jangan lupa
bahwa keberhasilan bukanlah selalu tanda dari kebenaran. Iblis sudah berhasil
menguasai manusia yang berdosa, tetapi itu bukan bukti kebenaran Iblis. Kita dapat
melihat bahwa kadangkala aliran sesat lebih cepat berkembang daripada gereja yang
memberitakan kebenaran. Kelemahan ketiga dari nasehat Gamaliel itu adalah, dimana
dia ingin mendorong mahkamah agama itu untuk bersikap netral.
Ayat 40 menjelaskan bahwa mahkamah agama itu akhirnya menerima nasehat
Gamaliel sehingga mereka tidak membunuh rasul-rasul. Tetapi walaupun demikian rasul-
rasul itu tidak dilepaskan begitu saja. mahkamah agama itu akhirnya menyesah mereka.
Mungkin tiga puluh sembilan pukulan (II Korintus 11:24), sebab tidak menaati perintah
Sanhedrin sebelumnya.
Ayat 41 dan 42 menjelaskan bahwa para rasul sama sekali tidak berkurang
semangatnya, sebab mereka menganggap penderitaan sebab nama Yesus adalah
suatu kehormatan. Mereka melanjutkan terus pengajaran mereka dan memberitakan Injil
tentang Yesus yang adalah Mesias, baik secara umum di pelataran dan untuk bangsa
Yahudi di Bait Allah dan di dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen yang diadakan di
rumah-rumah milik perseorangan.
3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)
a. Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)
Gereja sedang mengalami kesulitan dalam tahun-tahun permulaan dan hal ini
mempersulit para rasul untuk melayani setiap orang. Orang Yahudi yang berbahasa
Yunani datang ke Palestina dari Negara lain, sehingga mereka mungkin tidak dapat
berbahasa Aram. Sedangkan orang Ibrani adalah penduduk Yahudi dari daerah itu dapat
berbicara dalam bahasa Aram maupun Yunani. Kenyataan bahwa orang-orang luar itu
telah terabaikan, telah menimbulkan situasi yang dapat memecah belah gereja. Namun
demikian para rasul telah menyelesaikan masalah itu dengan sangat bijaksana dan
sama sekali tidak memberi tempat berpijak bagi Iblis dalam persekutuan itu. sebab
adanya sungut-sungut dalam tubuh gereja itu, maka para rasul mempelajari situasinya
54
kemudian menyimpulkan bahwa merekalah yang salah, dimana mereka sangat sulit
membagi waktu antara pelayanan Firman, doa dan juga pelayanan meja (pelayanan
kasih). Kita harus mengingat bahwa tugas mulia yang diberikan kepada para Rasul
adalah untuk memberitakan Firman Allah atau Injil (Matius 28:19-20). Tetapi ternyata
pemberitaan mereka terhambat sebab sibuk juga mengurusi meja (pelayanan kasih).
Para rasul berkata “kami tidak merasa puas, sebab kami melalaikan Firman Allah untuk
melayani meja.” Perkataan rasul-rasul ini sebenarnya bukan sebab mengabaikan
pelayanan kasih, tetapi menegaskan bahwa perlu membagi tugas untuk pelayanan
ini .
Selanjutnya pada ayat 3 para rasul menyuruh jemaat itu untuk memilih tujuh
orang yang akan melanyani meja. Hal ini membuktikan bahwa cara kepemimpinan
Gereja mula-mula bukanlah sistim otoriter. Dalam hal ini kita melihat bahwa keputusan
diambil dari hasil kesepakatan jemaat bukan keputusan dari para rasul saja. ada dua
kwalifikasi dari orang yang akan dipilih ini antara lain: penuh Roh dan Hikmat, dan
terkenal baik. Hal ini menjadi pelajaran bagi gereja Tuhan masa kini, dimana untuk
memilih pelayan, seharusnya dipilih langsung oleh Jemaat, dan pemimpin jemaat
seharusnya akan memilih dengan kriteria yang seperti ini. Pelayan tidak dipilih oleh
pemimpin dan pelayan juga tidak dipilih berdasarkan kriteria kaya atau miskinnya
seseorang.
Ayat 4 adalah merupakan alasan dari para rasul itu supaya jemaat memilih
pelayanan meja. Kisah Para Rasul 6:5 menjelaskan bahwa jemaat menerima usul dari
para rasul itu, sehingga mereka memilih εξελεξαντο dalam bahasa Yunani cara
pemilihan yang seperti ini tidak ditentukan dari atas. Sekali lagi yang perlu kita ingat
bahwa cara pemilihan seperti ini bukanlah berdasarkan kediktatoran pemimpin tetapi
dari sifat demokratis dari gereja.
Pada ayat 5 ini juga di daftarkan nama-nama yang terpilih sebagai pelayan meja
ini , antara lain: Stefanus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan
Nikolaus. Selanjutnya ayat 6 menjelaskan bahwa ketujuh orang yang telah dipilih oleh
jemaat itu ditahbiskan lewat penumpangan tangan para rasul. Hal seperti ini sudah biasa
di praktekkan dalam Perjanjian lama (Kejadian 48:13; Imamat 1:4; Bilangan 27:23).
Ketujuh orang yang terpilih diatas akhirnya di dalam tradisi gereja mereka disebut
sebagai diaken. Tetapi dalam ayat ini tidak disebut demikian. Ayat 7 menjelaskan bahwa
pemilihan ketujuh orang ini menambah keefektifitasan pelayanan rasul-rasul. Oleh
sebab itu semakin banyak orang yang menjadi percaya, bahkan sejumlah besar imam
menjadi percaya.
4. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)
Kisah Para Rasul 6:8-15 berbicara tentang Stefanus. Dia adalah seorang yang penuh
Roh Kudus, dia sebenarnya dipilih untuk melayani meja. Tetapi Tuhan memakai dia bukan
hanya melayani meja saja. dia juga memenangkan jiwa yang terhilang dan bahkan dipakai
Tuhan untuk menunjukkan mukjizat. Kesaksian Stefanus menjadi klimaks dari kesaksian
gereja kepada orang Yahudi. Sesudah itu berita Injil tersebar kepada orang-orang Samaria
dan kemudian kepada orang-orang non Yahudi. Orang Yahudi dari berbagai bangsa tinggal
di Yerusalem di daerahnya masing-masing dan beberapa dari kelompok etnis ini mempunyai
sinagoga sendiri. orang-orang yang dimerdekakan ini (Libertini) adalah keturunan bangsa
Yahudi yang pernah di tawan tetapi memperoleh kebebasan dari Romawi. sebab Paulus
berasal dari Tarsus di Kilikia (Kisah Para Rasul 21:39), maka

