di sini, adalah pencobaan bukanlah dimaksudkan untuk melakukan dosa.
Pencobaan adalah memampuhkan kita untuk menaklukan dosa. Pencobaan akan
menjadikan kita orang lebih baik, makin kuat dan murni serta menang di dalam
menghadapi kesengsaraan. Pencobaan bukan hukuman bagi manusia. Allah dapat
memakai ujian, pencobaan untuk mempertajam dan memurnikan orang percaya. Jadi
kita harus melihat seluruh peristiwa Yesus bukan sebagai pencobaan saja, tetapi
lebih dari itu, sebagai ujian bagi Yesus. Selanjutnya, tempat terjadinya pencobaan
ini adalah Padang Gurun. Terletak diantara Yerusalem dan Laut Mati. Di dalam
PL disebut Yeshimmon yang berarti pembinasaan, dan nama itu cocok dengan
keadaan Padang Gurun. Ukuran panjang 50 km, dan lebar 20 km. tanahnya
bercampur coklat, berlereng-lereng, memberikan kesan sangat menakutkan, bukit-
bukitnya Nampak berdebu tebal, dan tanah kapur, panas dan sering menyebabkan
adanya fatamorgana, dan membentuk lereng curam yang membentang dengan Laut
Mati dengan kedalaman 400 m lebih.
3) Ada beberapa hal yang perlu kita catat lebih lanjut sebelum mempelajari cerita
tentang pencobaan Yesus secara terperinci:
a) Semua penulis Injil nampaknya menekankan segeranya terjadi pencobaan
setelah pembaptisan Yesus. Markus menceritakannya sebagai berikut: “segera
15
sesudah itu Roh memimpin Dia ke Padang Gurun (Mark. 1:12). Salah satu
kebenaran hidup ialah, setelah suatu peristiwa besar terjadi, maka segeralah
muncul reaksi. Dan didalam reaksi itu seringkali terkandung bahaya-bahaya. Hal
itu pern////;ah dialami oleh Elia, pada waktu menaklukan para Baal (1Raj. 18:17-
40). Setelah pembunuhan ini Isebel marah dan Elia dikejar untuk dibunuh.
Elia yang berani, namun melarikan diri dengan ketakutan untuk menyelamatkan
nyawanya. Ini reaksi yang penuh bahaya. Agaknya sudah menjadi hokum
kehidupan bahaya setelah berhasil bertahan dengan kekuatan dan mencapai
puncaknya. Yesus berhasil menaklukan si pencoba. Oleh sebab itu, seyogyanya
kita berjaga-jaga meskipun kita sedang mengalami puncak sukses kehidupan.
Perlu waspada agar tidak jatuh ke dalam pencobaan, di mana ada bahaya
besar yang mengancam.
b) Pengalaman Yesus bukan pengalaman kulit luar saja. Pengalaman batiniah,
sebab pada waktu itu Yesus berjuang secara hebat di dalam hati, pikiran dan
jiwa-Nya. Buktinya iaiah bahwa tidak mungkin ada gunung dimana orang bisa
melihat seluruh kerajaan di seluruh muka bumi. Pencobaan itu datang kepada
kita lewat pikiran, angan-angan dan kehendak hati dan jiwa kita.
c) Kita tidak boleh beranggapan bahwa Yesus mengalahkan si pencoba itu hanya
dengan satu tindakan saja, dan bahwa si pencoba itu tidak akan kembali lagi.
Kita mengetahui bahwa si pencoba itu datang dan berbicara kepada Yesus di
Kota Kaisarea Filipi, ketika Petrus berusaha membujuk Yesus untuk tidak
mengambil jalan ke Kayu Salib. Ketika itu juga Yesus mengatakan kata-kata
yang pernah dikatakanNya “Enyahlah Iblis…”(Mat. 16:23). Setelah semua berlalu
maka Yesus berkata kepada muridNya, demikian: Kamulah yang tetap tinggal
bersama dengan Aku di dalam segal pencobaan yang Aku alami (Luk. 22:28) dan
di dalam sejarah tidak pernah ada perjuangan hebat seperti yang dialami Yesus
(Luk. 22:42-44).
d) Pencobaan hanya datang kepada orang-orang tertentu, yaitu yang mempunyai
kekuatan-kekuatan khusus. Sanday, melukiskan pencobaan itu sebagai “masalah
tentang tindakan yang harus dilakukan berhubung dengan adanya kekuatan-
kekuatan supra natural.” Ingat, bahwa pencobaan itu datang melalui kecapakan
serta kepandaian yang kita miliki.
e. Pasal 5: 1-2. Pendahuluan Matius terhadap khotbah di bukit Dalam Matius 5:1-2, Matius
menulis; “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah
duduk, datanglah murid-murid kepadaNya, maka Yesus mulai berbicara dan mengajar
mereka. Di dalam kalimat pendahuluan ada tiga pokok yang menunjukkan
pentingnya khotbah di Bukit.
1) Yesus mulai mengajar setelah Ia duduk.
2) Rabi Yahudi yang secara resmi mengajar, maka ia dengan sikap duduk, hanya
kadang-kadang berdiri. Tetapi forrmalnya atau resminya ialah duduk di tempat yang
sudah disediakan. Jadi dalam konteks ini, pengajaran yang hendak disampaikan
oleh Yesus sangat penting dan bersifat resmi.
3) Yesus mulai berbicara dan mengajar mereka.
4) Hal ini bukan suatu ungkapan biasa dan juga bukan sekedar kata-kata. Dalam
bahasa Yunani kata “Mulai berbicara,” adalah meliputi: a. Ucapan yang penuh
wibawa, serius dan khidmat b. Membuka isi hati dengan tulus dan ikhlas dan
melahirkan sesuatu hal yang ada dalam pikiran
5) Mulai mengajar mereka. Dalam Yunani “mengajar,” bentuk lampau. Ada dua macam
lampau yaitu: aorist, dan imperfek. c.1. aorist adalah sudah terjadi dan selesai c.2.
imperfek adalah tindakan pada masa lampau yang berulang-ulang, terus-menerus
dan bahkan merupakan kebiasaan. Dalam teks ini, menggunakan imperfek.
f. Matius 5:3. Berbahagialah dalam teks Yunani menggunakan kata “makarios,” yang
berarti diberkatilah.” Artinya kesukacitaan yang mengandung rahasia dalam dirinya.
Orang yang diberkati pasti berbahagia. Miskin. Ada dua kata miskin dalam Yunani:
1) Ptokhos adalah kemiskinan yang mutlak dan yang mengharuhkan. Ptokos
mempunyai hubungan dengan asal kata “ptosein yang berarti membungkuk,
berjongkok.
2) Penes adalah keadaan miskin, namun masih berkecukupan. Artinya masih bisa
menikmati makan seadanya, hidup sangat sederhana.
16
5. Injil Markus
Seluruh injil Markus dapat ditangkap dalam satu ayat yang berbunyi “sebab Anak
manusia….Markus 10:45.” Pasal per pasal dalam dokumen ini tidak lepas dari ayat ini yaitu
pelayanan dan pengorbanan Yesus Kristus. Penulis Secara umum disetujui bahwa Markus
sebagai penulisnya meskipun secara teknik Injil Markus sama sekali tidak menyebutkan
bahwa Markus adalah penulisnya. Kata Markus diterjemahkan dalam bahasa inggris
“according to Mark” yang boleh diterjemahkan “Karya Markus” kemudian ditambahkan oleh
para ahli kira-kira sebelum 125 AD. Bagaimanapun juga kita memiliki cukup bukti yang kuat
dari tradisi gereja mula-mula (bukti external) dan dari informasi dalam Injil itu sendiri (bukti
internal) bahwa Markus adalah penulisnya.
a. Markus yang dimaksud disini adalah anak Maria yang nama lengkapnya Yohanes
Markus (Yohanes nama Ibrani sedang Markus nama Latin) yang rumahnya
berkedudukan di Yerusalem yang ddipakai untuk pertemuan-pertemuan ibadah gereja
mula-mula (Kis. 12:12). Anak rohani Petrus (rupanya dimenangkan oleh Petrus)
sehingga Petrus memanggilnya Markus anakku (1 Pet. 5:13 dalam kolose 4:10 disebut
sebagai saudara sepupu Barnabas. Berdasarkan pengakuan tradisi gereja mula-mula
tidak diragukan lagi kalau dia penulisnya. Seorang ahli sejarah bernama Papias, hidup
sekitar 110 AD mencatat bahwa Markus penulisnya. Bahkan ia menambahkan informasi
tentang Markus sebagai berikut:
1) Dia bukanlah seorang saksi mata diantara murid-murid Tuhan Yesus yang pertama
2) Dia hanya mengumpulkan bahan-bahan dari Petrus dan mendengarkan kotbah-
kotbah Petrus
3) Dia menulis secara tepat dan akurat semua yang diterima dari Petrus meskipun
tidak terorganisir dengan baik secara kronologis
4) Dia menafsirkan secara tepat dan akurat dari bahasa Aramik kedalam bahasa
Yunani atau Latin Pengakuan Papias ini diperkuat oleh pengakuan bapak-bapak
gereja mula-mula lainnya seperti kesaksian Justin Martyr (Dialogue 106 Anti
Marcionate, Prologue To Mark 160-180 AD) oleh Irenius (Againts Elaucion 4.5
200AD), oleh tulisan Clement dari Alexandria 125 AD dan oleh Origen 230 AD yang
keduanya dikutip oleh Eusebius (Eclesiaslical History 2.15. 2.6. 14.6, 6.25.5).
Meskipun tidak secara eksplisit Alkitab juga sarat dengan bukti internal bahwa
penulis Injil Markus adalah Yohanes Markus.
Ada bukti-bukti dari dalam Alkitab bahwa Markus yang dimaksudkan oleh bapa-
bapa gereja mula-mula dalah Yohanes Markus yang 10x disebut dalam PB (Kis. 12:12-
25; 13:5,13; 15:37, 39; Kol. 4:10; 2 Tim. 4:11; Fi. 24; 1 Pet. 5:13). Secara historis cocok
kalau dia penulisnya sebab :
1) Dia paham betul geografi Palestina khususnya Yerusalam (5:1; 6:53; 8:10; 11:1;
13:3).
2) Dia paham dengan baik bahasa Aramik yang merupakan bahasa sehari-hari
Palestina (5:41; 7:11)
3) Dia hidup ditengah-tengah hokum dan tradisi Yahudi (1:21; 2:14, 18; 7:2-4). Ada
juga cirri-ciri penulis yang menandai ada hubungan khusus dengan Petrus. Ceritera
yang blak-blakan dan ungkapan secara antusias, persis gaya petrus seabagai
seorang saksi mata (1:16-20, 29-31, 35-38; 5: 21, 35-43; 6:39, 53; 9:14-15; 10:32).
Penulis memakai istilah Petrus dan mendalam untuk segala penyajiannya (8:29, 32;
9:5-6; 10: 28-30; 14: 29-31). Termasuk penggunaan istilah “dan Petrus” dalam 16:7
juga kesamaan antara garis besar injil ini dengan kotbah Petrus di Caesaria (Kis.
10:34-43). Jadi, berdasarkan bukti-bukti eksternal maupun internal yang dipaparkan
diatas, maka tidak ada pilihan lain kecuali Markus adalah sebagai kandidat pertama
penulis kitab ini.
b. Tanggal dan Tempat Penulisan.
Banyak sarjana yang percaya bahwa Injil Markus adalah Injil yang pertama kali
ditulis sebelum ketiga Injil lainnya, tetapi tidak ada kepastian kapan ditulis secara tepat.
Meskipun demikian dengan mempertimbangan nubuatan Yesus tentang penghacuran
Bait Allah (13:2, 14-23), sudah barang tentu ditulis sebelum penggenapan pada tahun 70
AD. Bapa-bapa gereja seperti Irenaeus, Clement of Alexandria, Origen memberi
penyataan secara tegas bahwa Injil ini ditulis sebelum kematian Petrus sebagai martyr
pada tahun 64-68 AD. Mungkin ditulis pada tahun 55-60 AD. Melihat bahwa injil
langsung ditujukkan kepada pembaca Roma dan tradisi mula-mula memberi indikasi
bahwa paling tidak ditujukan kepada pembaca yang berasal dari Roma maka bisa ditarik
17
kesimpulan bahwa ditulis di Roma. Apalagi dalam injil ini menjelaskan adapt istiadat
Yahudi (7:3-4; 14:21; 15:42), menterjemahkan bahasa Aramik ke dalam Yunani (13:17;
5:41; 7:11; 9:43), memakai cara penghitungan waktu gaya Roma (6:48; 13:35).
Tema dan tujuan tema Injil Markus terkandung dalam Markus 10:45 yaitu Yesus
berperan sebagai Hamba yang menderita. Markus menunjukkan kepada pembacanya
yang berlatar belakang non Yahudi bagaimana Anak Allah telah ditolak oleh umatNya
sendiri dan mulai menjangkau bangsa-bangsa kafir. Dari Kitab ini, dapat menemukan
informasi yang dekat ke masa hidup Yesus. Tujuan Markus ialah untuk memberikan
gambaran mengenai Yesus apa adanya. Westcott, menyebutnya “Markus adalah
sebuah rekaman dari kehidupan Yesus. A. B. Bruce, mengatakan bahwa Kitab ini ditulis
dari sudut pandang kenangan yang hidup dan penuh kasih. Lebih lanjut beliau
mengatakan cirinya yang utama ialah “realisme.” Jika mau mengadakan pendekatan
terhadap sebuah biografi Yesus, maka haruslah didasarkan kepada Injil Markus, sebab
pemaparannya sederhana dan dramatis. Bagi Markus, Yesus adalah Allah ditengah-
tengah manusia, bukan manusia biasa.
c. Pasal 1:1-4. Markus mengawali cerita Yesus dengan menoleh jauh kebelakang. Ia tidak
memulainya dengan cerita kelahiran. Ia bahkan tidak mulai dengan Yohanes Pembaptis
di Padan Gurun. Injil Markus dimulai dengan nubuat para nabi pada masa silam. Dengan
kata lain, Kitab ini dimulai jauh pada masa lampau dalam pikiran Allah. Para pengikut
Stoa adalah orang-orang yang sangat percaya akan rencana Allah yang teratur. Markus
Aurelius, berkata “ segala sesuatu mengenai Allah sarat dengan nubuatan. Segala
sesuatu mengalir dari Sorga.” Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari dalam konteks
ini:
1) Allah adalah adalah Allah yang secara khas mewujudkan rencana-Nya. Sejarah
bukanlah sesuatu yang acak dari rangkaian peristiwa yang tidak saling
berhubungan. Sejarah adalah suatu proses yang diarahkan oleh Allah, yang melihat
tujuan akhir pada permulaan peristiwa.
2) Hidup ini akan menjadi lain, jika seseorang melakukan semua yang bisa dilakukan
untuk mendekatkan tujuan akhir daripada memimpikan suatu tujuan yang tak
terjangkau. Menjadi alat Tuhan dalam pemberitaan kabar baik adalah sangat
terhormat. Membantu dalam proses besar adalah sesuatu yang sangat terpuji.
Tujuan tidak akan pernah diraih, kecuali ada orang yang mengupayakannya. Petikan
dari Kitab nabi yang digunakan oleh Markus sebetulnya bersifat sugestif. “Aku
menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu.”
(kutipan Maleakhi 3:1) Dalam konteks Maleakhi, pernyataan ini adalah suatu
ancaman. Para imam gagal dalam mengemban kewajiban mereka. Kurban-kurban
yang bercacat dan bukan yang terbaik, pelayanan Bait Allah mereka rasakan sebagi
suatu yang meletihkan. Jadi utusan itu datang untuk membersihkan dan menyucikan
ibadah di Bait Allah sebelum Dia yang diurapi Allah tampil di bumi. Dengan begitu,
kedatangan Kristus merupakan penyucian kehidupan.
Yohanes datang dan memberitakan baptisan pertobatan. Orang Yahudi terbiasa
dengan ritus-ritus pembersihan. Imamat 11-15 menguraikannya. Tertulianus, berkata
“Orang Yahudi membersihkan dirinya setiap hari, sebab setiap hari ia cemar.”
Pembersihan dan penyucian simbolik telah merasuk ke dalam struktur ritus Yahudi.
Seorang yang bukan Yahudi tentu saj tidak bersih sebab ia tidak pernah mematuhi
bagian-bagian hukum agama Yahudi. Oleh sebab itu, bilamana seorang bukan Yahudi
menjadi proselit, yaitu bertobat dan memeluk iman orang Yahudi, maka ia harus
menjalani tiga hal, yaitu:
1) Sunat. Suatu keharusan sebab merupakan tanda perjanjian
2) Kurban. Harus dibuat untuknya sebab ia perlu penebusan dan hanya darah yang
dapat menebus dosa.
3) Baptisan. Yang melambangkan pembersihan dari semua kotorannya pada masa
lalu. Oleh sebab itu, baptisan bukan hanya sekedar pemercikan air, tetapi mandi
agar seluruh badan terendam. Orang Yahudi mengenal baptisan, akan tetapi yang
mengherankan sehubungan dengan baptisan Yohanes adalah bahwa ia, seorang
Yahudi menuntut orang-orang Yahudi supaya melakukan sesuatu yang sebetulnya
hanya diperlukan untuk non Yahudi. Yohanes telah melakukan suatu terobosan
yang luar biasa yakni, bahwa “menjadi seorang Yahudi secara ras bukan berarti
menjadi anggota umat pilihan Allah; seorang Yahudi bisa saja berstatus sama
18
dengan non Yahudi; bukan cara hidup Yahudi, melainkan kehidupan yang
dibersihkan, itulah yang milik Allah.” Baptisan diiringi dengan pengakuan.
4) Untuk berbalik kepada Allah, pengakuan harus dilakukan kepada tiga pihak yang
berbeda, yaitu:
a) Confession in your self Memang manusiawi bila kita menutup mata terhadap apa
yang tidak ingin dilihat, dan di atas semuanya terhadap dosa pribadi kita.
Contoh: Tentang “anak yang hilang,” Di dunia ini satu hal yang paling sulit
adalah diri sendiri. Langkah pertama untuk bertobat dan untuk menjalin
hubungan yang benar dengan Allah adalah mengakui dosa kita kepada diri
sendiri.
b) Confession to peaple’s because your error/evil for his Pengakuan kepada orang
yang kepadanya kita bersalah adalah penting. Rintangan manusiawi harus
disingkirkan sebelum rintangan ilahi dapat berlalu. Pengakuan kepada Allah
lebih mudah daripada pengakuan kepada sesama. Akan tetapi tidak akan ada
pengampunan tanpa kerendahan hati.
c) Confession to God. Akhir pengakuan adalah awal pengampunan. Hanya bila
seorang berkata “saya telah berdosa,” maka Allah berkesempatan bersabda, “
Aku mengampuni.”
d. Pasal 1:5-8. Mengapa Yohanes sangat berpengaruh terhadap kaum sebangsanya? Ia
adalah orang yang mewujudkan beritanya di dalam kehidupannya. Bukan hanya kata-
kata, tetapi keseluruhan hidupnya merupakan suatu protes. Ada tiga hal yang
merupakan hal nyata bahwa ia memprotes kehidupan pada masa itu.
1) Tempat tinggalnya di padan gurun. Diantara pusat Yudea dan Laut Mati terletak di
padang gurun yang paling mengerikan di dunia. Padang gurun ini disebut dalam PL
“Yesimmon” dalam LAI disebut Padang belantara, yang berarti: penghancuran.
2) Pakaian yang ia pakai ialah dari jubah bulu unta yang melingkar di ikat pinggang dari
kulit. Demikian juga dengan Elia (2Raj2 1:8)
3) Makanannya, yakni belalang dan madu hutan. Belalang barangkali merupakan
binatang yang diperbolehkan dalam hokum untuk dimakan (Im. 11:22, 23); tetapi
bisa jadi juga adalah buncis atau kacang, karop, yang merupakan makanan orang
paling miskin
6. Injil Lukas
Renan, sebagaimana yang dikutip oleh Hugh Martin, mengatakan Injil Lukas
merupakan “kitab terindah” Harus diakui bahwa Lukas dalam penulisanya sangat
memperhatikan unsure-unsur sastra dibanding dengan injil-injil yang lain. Lebih dari pada itu,
ia juga menampilkan potret Yesus secara mengagungkan yaitu dengan menyuguhkan cerita-
cerita yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pembacanya. Masih banyak lagi cerita
tentang kitab ini, sehingga tidak heran menjadi kegemaran bagi banyak orang.
a. Penulis Injil Lukas. Tidak ada bukti hitam di atas putih bahwa Lukas adalah penulis Injil
ini. Ini berbeda dengan surat-surat Paulus, yang secara jelas mengatakan bahwa Paulus
adalah penulisnya. Tetapi tradisi (cerita yang diturunkan turun temurun dari mulut ke
mulut) mengatakan bahwa Lukas adalah penulis Injil ini. Hal-hal yang dijadikan dasar
adalah:
1) Dari Luk 1:1-4 dan Kis 1:1-2 terlihat dengan jelas bahwa Injil Lukas dan Kitab Kisah
Para Rasul ditulis oleh orang yang sama (dan juga ditujukan kepada orang yang
sama). Selanjutnya dari istilah ‘kami’ yang digunakan dalam Kitab Kisah Para Rasul
(Kis 16:10 20:5 dsb), terlihat bahwa penulisnya adalah teman seperjalanan Paulus.
Ini cocok dengan diri Lukas yang memang sering menyertai Paulus dalam
perjalanannya.
2) Adanya istilah-istilah / bahasa kedokteran yang dipakai dalam Injil Lukas maupun
kitab Kisah Para Rasul, dan juga fakta menunjukkan bahwa penulis Injil ini lebih teliti
dari Matius ataupun Markus pada waktu menggambarkan suatu penyakit. Misalnya:
istilah ‘kuatlah kaki dan mata kaki orang itu’ (Kis 3:7b). Istilah ‘demam keras’ (Luk
4:38 bdk. Mat 8:14 Mark 1:30). Istilah ‘penuh kusta’ (Luk 5:12 bdk. Mat 8:2 Mark
1:40). Istilah ‘seorang yang mati tangan kanannya’ (Luk 6:6 bdk. Mat 12:10 Mark 3:1).
Istilah putus telinga kanannya’ (Luk 22:50 bdk. Mat 26:51 Mark 14:47). Semua ini
cocok dengan diri Lukas yang adalah seorang tabib.
19
a) Lukas adalah seorang tabib (Kol 4:14). Paulus tidak pernah mengecam Lukas
dalam hal ini, dan ini menunjukkan bahwa kekristenan tidak mengecam dokter
ataupun obat!
b) Lukas bukanlah orang Yahudi. Ini terlihat dari Kol 4:10-11,14 dimana Paulus
membedakan antara 3 teman Yahudinya (Kol 4:10-11 - ‘mereka yang bersunat’)
dan Lukas (Kol 4:14). Dengan demikian, Lukas adalah satu-satunya penulis
Perjanjian Baru yang bukan Yahudi. Tradisi menyatakan bahwa Lukas berasal
dari Antiokhia. Ia adalah teman sekerja Paulus yang gigih, seorang dokter, dan
meninggal pada tahun 84 M. Dialah penulis injil ini (Kolose 4:14 ; 2 Timotius
4:11). Pada umumnya Lukas juga diakui sebagai penulis kitab Kisah Para Rasul.
Ia termasuk di dalam kelompok kisah para rasul yang menggunakan kata ganti
“kami” (16:10-16; 20:5-15, 27:1-28, dll). Para bapa-bapa gereja misalnya Clement
dari Alexandria, Irenius dan Tertulianus ikut menegaskan bahwa Lukas adalah
penulisnya. b. Tahun Penulisan. sebab buku ini sangat erat kaitan dengan kitab
Kisah Para Rasul, maka sangat mungkin ditulis sekitar tahun 60 M. Ketika Paulus
ditahan di Kaisaria, yaitu pada tahun 60 M. Lukas rupanya berada disekitar itu.
Sambil menunggu perkara Paulus, ia menghabiskan waktunya untuk menyusun
Injil ini.
b. Tempat Penulisan di Kaisarea. Penerima Injil Lukas: Theofilus: Lukas 1:1-4. Ia
bermaksud menguatkan iman Theofilus, yaitu seorang pejabat tinggi pemerintah Romawi
yang bertobat. Lukas ingin menunjukkan bahwa iman Kristen itu patut dianut.
Selanjutnya, ia menegaskan bahwa Injil Allah diperuntukkan bagi dunia/seluruh umat
manusia, bukan hanya orang Yahudi saja. Injil adalah kebenaran yang universal. Lukas
ingin merubah paradigma pemerintah Romawi yang berpikir bahwa kekristenan adalah
sekte didalam agama Yahudi (Kis. 18:12-17) dan ia menunjukkan perbedaannya.
Sejalan dengan tujuan utamanya yaitu menunjukkan bahwa Injil itu merupakan
kebenaran yang patut dipercayai, maka Lukas, merasa perlu menjelaskan metode yang
dipakainya untuk menyusun kitabnya. Sebelum menulis, ia menegaskan bahwa ia telah
mengadakan riset yang menyeluruh dan cermat dalam kurun waktu tertentu. Untuk hal
itu, ia telah menghubungi beberapa saksi mata salah satu diantaranya adalah Maria ibu
Yesus. Dari wanita ini, ia berhasil mengumpulkan bahan-bahan berkenaan dengan masa
kecil dan masa kanak-kanak Yohanes maupun Yesus. Sekalipun Lukas tidak bermaksud
menyusun sebuah biografi, namun ia berusaha keras agar tulisannya disusun dengan
teratur dan lengkap.
Dalam Kitab Suci Indonesia istilah ‘Theofilus yang mulia’ diletakkan dalam ay 1,
tetapi sebetulnya adalah seperti dalam terjemahan Inggris, dimana istilah itu diletakkan
pada akhir ay 3. 2) Siapakah Theofilus itu? Ada penafsir yang berpendapat bahwa
‘Theofilus’ bukanlah nama seseorang, tetapi maksudnya adalah ‘orang-orang kristen’.
Alasannya:
1) Tidak mungkin Lukas menuliskan Injilnya hanya untuk satu orang saja.
2) Theofilus berasal dari 2 kata Yunani, yaitu THEOS (= God / Allah) dan PHILIA (= love
/ kasih), sehingga ‘Theofilus’ = God-lover / God-beloved / a friend of God (= pecinta
Allah / orang yang dicintai Allah / sahabat Allah). Jawaban terhadap hal ini:
a) Pauluspun menuliskan beberapa suratnya (seperti Timotius, Titus, Filemon)
hanya untuk satu orang saja. sebab itu apa anehnya kalau Lukas menuliskan
Injilnya untuk satu orang saja? b).Kata ‘mu / engkau’ (ay 3-4) dalam bahasa
Yunaninya ada dalam bentuk singular / tunggal. Kalau ‘Theofilus’ menunjuk pada
‘orang-orang kristen’ maka pasti Lukas menggunakan ‘mu / engkau’ dalam
bentuk plural / jamak.
b) Adanya sebutan ‘yang mulia’ (ay 1), tidak memungkinkan bahwa istilah
‘Theofilus’ menunjuk kepada orang-orang kristen. Tidak ada alasan bagi Lukas
untuk menyebut orang-orang kristen dengan sebutan ‘yang mulia’. Sebutan
‘Theofilus yang mulia’: Dari sebutan ‘yang mulia’ ini kita bisa menyimpulkan
bahwa Theofilus adalah orang yang mempunyai jabatan tinggi. Ini bukanlah
sesuatu yang aneh pada jaman itu, dan sebab itu istilah ini tidak menunjukkan
Lukas sebagai orang yang menjilat. Bandingkan dengan Kis 26:25 dimana
Paulus menyebut Festus dengan istilah ‘Festus yang mulia’. Ini menggunakan
kata Yunani yang sama. Sebutan ini menunjukkan adanya sopan santun! Dan ini
menunjukkan bahwa orang kristen harus sopan (bdk. 1Kor 13:5 - ‘tak lakukan
yang tak sopan’).
20
Ada gereja-gereja Liberal yang mengabaikan Injil dan doktrin, tetapi hanya
menekankan ajaran moral dan etika. Ini tentu salah. Tetapi orang kristen yang injili
seringkali jatuh pada extrim satunya, yaitu hanya menekankan Injil dan doktrin, tetapi
mengabaikan moral dan etika, sehingga menjadi orang yang tak tahu sopan santun. Ini
tentu juga salah, sebab akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Tetapi kalau kita
melihat pada Kis 1:1, maka pada waktu Lukas menuliskan Kisah Rasul kepada orang
yang sama, ia tidak lagi menggunakan istilah ‘yang mulia’ ini. Ada orang yang berkata
bahwa ini disebabkan sebab pada saat itu Theofilus telah bertobat dan menjadi orang
Kristen.
c. Alasan dan tujuan penulisan Injil Lukas :
1) Adanya orang-orang tertentu yang menuliskan ‘Injil’. ‘Banyak orang telah berusaha
menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,
seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi
mata dan pelayan Firman’ (ay 1-2). ‘Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara
kita’ (ay 1). Kata Yunani yang oleh Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘telah terjadi’,
diterjemahkan bermacam-macam: NASB/RSV: accomplished (= telah terjadi). NIV:
fulfilled (= digenapi). KJV: surely believed (= dipercaya dengan pasti). Calvin
menerima terjemahan KJV dan mengatakan bahwa istilah ini menunjuk pada hal-hal
yang diketahui dengan pasti / tanpa keraguan. Kata Yunaninya adalah
PEPLEROPHOREMENON, suatu participle yang berasal dari kata dasar
PLEROPHOREO, yang berasal dari 2 kata Yunani, yaitu PLERES [= full (= penuh /
lengkap)] + PHOREO / PHERO [= to bring (= membawa)]. Jadi artinya adalah to
bring to fulness / to fulfill (= menggenapi). Memang istilah ini bisa diartikan to be fully
convinced (= diyakinkan sepenuhnya) seperti dalam Roma 14:5, tetapi itu kalau
istilah ini ditujukan kepada manusia. Di sini istilah ini ditujukan pada peristiwa,
sehingga lebih cocok diterjemahkan fulfilled (= digenapi). Hendriksen menerima
terjemahan fulfilled, dan lalu berkata: "It is clear from Luke’s entire Gospel that he
regards history not as the sum total of chance occurrences, or as the result of a
series of fortuitous circumstances, but as the fulfilment of the divine plan; hence also
of prophecy" (= Adalah jelas dari seluruh Injil Lukas bahwa ia menganggap sejarah
bukan sebagai jumlah dari kejadian-kejadian yang bersifat kebetulan, atau sebagai
hasil dari suatu seri keadaan-keadaan yang bersifat kebetulan, tetapi sebagai
penggenapan rencana ilahi; sebab nya juga penggenapan nubuat). Bdk. Luk 1:45,54-
55,69-70 2:38 3:3-6 4:21,43 7:20 9:22,44 12:50 18:31-33 19:41-44 24:25-28,44-49.
Hendriksen berkata lagi: "It is comforting to know that history - including that of our
own lives - is the fulfilment of God’s plan. This does not cancel human responsibility"
(= Adalah sesuatu yang menghibur kalau kita tahu bahwa sejarah - termasuk sejarah
hidup kita sendiri - adalah penggenapan rencana Allah. Ini tidak membatalkan /
membuang tanggung jawab manusia). Orang-orang tertentu lalu menuliskan
peristiwa-peristiwa itu dan menyebarkan tulisan-tulisan mereka (ay 2). Mereka ini
disebut sebagai ‘saksi mata dan pelayan Firman’. “Firman’ di sini tidak menunjuk
kepada Yesus, tetapi pada Injil. mereka disebut ‘saksi mata’ sebab mereka
menerima Firman / Injil. Setelah itu mereka menjadi ‘pelayan Firman’ dimana mereka
memberitakan Firman / Injil itu. Ini orang kristen yang benar, setelah menerima
Firman / Injil lalu memberitakan Firman / Injil! Bagaimana dengan saudara? Mereka
ini bukanlah Matius atau Markus, dan lebih-lebih pasti bukan Yohanes, yang
menuliskan Injil Yohanes setelah Lukas menuliskan Injilnya.
2) Tulisan-tulisan ini bukannya tulisan yang sesat, dan sebab itu Lukas tidak
menyerang orang-orang ini (misalnya dengan menyebut mereka nabi palsu /
pengajar sesat dsb). Tetapi rupa-rupanya tulisan-tulisan itu kurang akurat dan / atau
kurang lengkap, sehingga Lukas, yang tidak mau Injil diselewengkan sedikitpun, lalu
menyelidiki dengan seksama dan lalu membukukannya dengan teratur (ay 3).
a) William Hendriksen: "The Christian religion is not a matter of ‘cunning devised
myths’ (2Pet 1:16), but rests on solid, historical fact" [= agama kristen bukanlah
persoalan ‘dongeng-dongeng yang direncanakan dengan licik / cerdik’ (2Pet
1:16), tetapi berlandaskan pada fakta historis yang kuat / kokoh]. Bandingkan ini
dengan pandangan Liberal, teori Demythologizing dari Bultmann, yang
mengatakan bahwa ada banyak dongeng dalam Kitab Suci, seperti Kej 1-11,
cerita-cerita tentang mujijat-mujijat dalam ke-empat Kitab Injil, dsb. Kalau
21
memang ini benar, untuk apa Lukas susah-susah menyelidiki fakta sejarah yang
benar dan lalu membukukannya?
b) “Lukas menyelidiki dan lalu menuliskan” dan “Lukas diilhami Roh Kudus pada
waktu menulis” bukanlah 2 hal yang kontradiksi. Banyak orang berpendapat
bahwa kalau pendeta belajar buku theologia / tafsiran dan lalu menyusun
khotbah, maka itu adalah ‘firman dari manusia’. Kalau mau yang dari Tuhan,
maka kita hanya perlu berdoa untuk meminta pimpinan Roh Kudus. Tetapi
ternyata disini pada waktu Lukas menulis Firman Tuhan / Kitab Suci (bukan
sekedar khotbah!), ia menyelidikinya lebih dulu! William Barclay: "No one would
deny that the gospel of Luke is an inspired document; and yet Luke begins by
affirming that it is the product of the most careful historical research. God’s
inspiration does not come to the man who sits with folded hands and lazy mind
and only waits, but to the man who thinks and seeks and searches" (= tidak
seorangpun yang menyangkal bahwa Injil Lukas adalah suatu dokumen yang
diilhamkan; dan sekalipun demikian Lukas memulainya dengan menegaskan
bahwa Injil ini adalah hasil dari penyelidikan sejarah yang paling teliti.
Pengilhaman Allah tidak datang kepada orang yang duduk dengan tangan dilipat
dan pikiran yang malas dan hanya menunggu, tetapi kepada orang yang berpikir
dan mencari dan menyelidiki). Catatan: Kata-kata Barclay ini tidak bisa
diberlakukan secara mutlak. Tentu tidak berarti bahwa semua orang yang
mencari dan menyelidiki lalu mendapatkan ilham. Juga tidak semua orang yang
mendapatkan ilham mendapatkannya setelah mencari dan menyelidiki. Tetapi
sekalipun demikian kita tetap bisa mendapatkan inti dari kata-kata Barclay ini,
yaitu bahwa kalau kita ingin mendapatkan kebenaran dari Tuhan, tidak cukup
bagi kita untuk hanya berdoa dan menunggu. Kita juga harus mau berusaha
dengan belajar, berpikir, merenungkan Firman Tuhan dsb.
c) “Dengan teratur”. Jangan mengartikan ini sebagai ‘chronologis / sesuai dengan
urut-urutan waktu’. Tidak ada satu buku sejarahpun yang benar-benar
chronologis, sebab kalau demikian, justru akan terjadi kekacauan. Memang
secara umum, Injil Lukas ini cukup chronologis, tetapi tidak mutlak. Jadi, yang
dimaksud dengan ‘dengan teratur’ di sini adalah penyusunan topik-topiknya.
Lukas lalu mengirimkan Injil Lukas ini kepada Theofilus supaya Theofilus
mendapatkan pengertian yang pasti / tepat. Ini terlihat dari ay 4. Tetapi ay 4
dalam versi Kitab Suci Indonesia ini salah terjemahan. Dalam ay 4 versi Kitab
Suci Indonesia kelihatannya bahwa semua yang diterima oleh Theofilus selama
ini sudah benar, dan Lukas menuliskan Injilnya ini supaya Theofilus makin yakin
akan hal itu. Tetapi bandingkan dengan terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di
bawah ini: NIV: ‘so that you may know the certainty of the things you have been
taught’ (= supaya kamu bisa mengetahui kepastian dari hal-hal yang telah
diajarkan kepadamu) - ini mirip dengan KJV. NASB: ‘so that you may know the
exact truth about the things you have been taught’ (= supaya kamu bisa
mengetahui kebenaran yang persis tentang hal-hal yang telah diajarkan
kepadamu) - ini mirip dengan RSV.
d) ‘The things you have been taught’ (= hal-hal yang telah diajarkan kepadamu).
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘you have been taught’ adalah KATECHETHES,
dari mana kata ‘Catechism’ (= katekisasi / pelajaran dasar) diturunkan. Kata
Yunani itu juga digunakan dalam Kis 18:25 Ro 2:18 Gal 6:6a. Katekisasi /
pelajaran dasar adalah sesuatu yang penting! Lukas tidak mau membiarkan
dasar dari Theofilus itu miring sekalipun hanya sedikit.
e) ‘So that you may know the certainty / the exact truth’ (= supaya kamu bisa
mengetahui kepastian / kebenaran yang persis). Ini menunjukkan bahwa ada hal-
hal yang kurang akurat dalam pengajaran yang diterima oleh Theofilus selama
ini, dan Lukas menuliskan Injilnya dan mengirimkannya kepada Theofilus untuk
mengoreksi kesalahan-kesalahan itu. Dia tahu tentang kebenaran adalah
sesuatu yang vital! sebab itu maulah belajar Firman Tuhan, datang dalam
Pemahaman Alkitab, belajar makalah / cassette dsb. Gereja membutuhkan
ajaran yang sangat ketat / akurat! sebab itu maulah belajar yang njlimet / sukar!
Jangan berkata: ‘Saya toh bukan pendeta, jadi tak perlu belajar terlalu akurat /
njlimet’! Ingat bahwa Theofilus juga bukan pendeta, tetapi toh Lukas
menganggap perlu bahwa ia mempunyai pengertian yang akurat. Persiapan
22
Pelayanan Yesus (1:5-4:13) ada 10 perumpamaan dalam Injil Lukas yang
tidak ada dalam injil lain, misalnya: - mengenai anak yang hilang - kisah
Lazarus - perempuan-perempuan yang melayani Yesus - uang mina - Yesus
diurapi oleh perempuan berdosa Nyanyian pujian Maria Lukas 1:46-55 Alasan
memuji Tuhan: Nyanyian Zakaria : Sukacita (1:67-79). Zakaria adalah seorang
Imam yang termasuk kelompok Abia. Setiap keturunan Harun secara
otomatis/langsung menjadi Imam. Itu berarti untuk tugas keimaman terlalu
banyak orang. sebab itu, mereka dibagi dalam 24 rombongan. Para Imam
ini bertugas hanya pada waktu: Paskah, Pentakosta dan Tabernakel.
Selama satu tahun setiap rombongan melayani dua periode, tiap periode satu
minggu lamanya. Imam yang mencintai pekerjaannya menanti-nantikan hari itu.
Seorang imam hanya boleh menikah dengan wanita garis keturunan yang
sungguh-sungguh Yahudi. Suatu keberuntungan besar kalau imam dapat
menikah dengan wanita keturunan Harun, sebagaimana Elizabeth dan Zakaria.
2:1-7.
Dalam kekaisaran Romawi secara periodik diadakan sensus penduduk
dengan dua tujuan yaitu: untuk memungut pajak dan untuk memperoleh calon-calon
bagi wajib militer sebab itu, penduduk orang Yahudi dikecualikan dari wajib militer
sebab sensus bagi mereka hanya memungut pajak. 2:21-24. Yesus menjalani
upacara kuno yang harus dilakukan oleh setiap anak laki-laki Yahudi, seperti:
a) Sunat. Pada usia 8 hari, atau tepat hari sabat akan dilakukan sunat jasmani. Hal
ini dianggap suci dan saat itu anak diberi nama
b) Penebusan Anak Sulung. Menurut hukum Keluaran 13:2, semua anak sulung
manusia dan binatang adalah kudus bagi Allah. Hukum itu mungkin merupakan
pengakuan akan kuasa anugerah Allah yang memberi kehidupan atau juga bisa
merupakan sisa-sisa kepercayaan kuno dimana anak-anak dipersembahkan
kepada dewa-dewa. Jelas, apabila hal ini dilakukan secara harafiah, maka akan
kacau. sebab itu, diadakan suatu upacara yang disebut penebusan anak sulung
(Bil. 18:16) ditetapkan korban sejumlah 5 sikal seolah-olah orangtuanya membeli
anak sulungnya itu dari Allah. Jumlah itu harus dibayar kepada Imam. Jumlah itu
tidak boleh dibayarkan sebelum 31 hari sesudah kelahiran dan tidak boleh
ditunda terlalu lama.
c) Penyucian sesudah kelahiran. Apabila seorang wanita melahirkan, dan jika
anaknya laki-laki mak ia tidak suci selama 40 hari dan jika melahirkan
perempuan, maka masa cemarnya 80 hari. Selama itu wanita tidak boleh masuk
Bait Suci atau mengambil bagian dalam upacara keagamaan. Dalam Imamat 12,
pada akhir masa itu ia harus membawa domba untuk korban bakaran dan seekor
merpati muda. Apabila tidak sanggup membawa domba maka ia juga dapat
mengganti dengan burung dara yang lain. Persembahan dua ekor merpati
sebagai pengganti domba dan merpati secara teknis disebut persembahan orang
miskin. (itulah persembahan Maria dan Yusuf).
d. Pasal 1:67-80.
1) Zakharia bernubuat:
a) Zakharia penuh dengan Roh Kudus, dan ia lalu bernubuat (ay 67). Kalau
peristiwa dalam Kis 2, dimana rasul-rasul penuh dengan Roh Kudus dan lalu
berbahasa Roh, dianggap oleh golongan Pentakosta dan Kharismatik sebagai
dasar untuk mengajar bahwa orang yang penuh Roh Kudus harus berbahasa
Roh, maka adalah sesuatu yang aneh kalau ay 67 ini tidak mereka jadikan dasar
untuk mengajar bahwa orang yang penuh Roh Kudus harus bernubuat! Tetapi
kita tahu bahwa orang yang penuh dengan Roh Kudus memang tidak harus
berbicara dalam bahasa Roh, ataupun bernubuat. Hal-hal itu bisa terjadi, tetapi
tidak harus terjadi!
b) Mulut / lidah Zakharia yang tadinya dibuat bisu oleh Tuhan sehingga tidak
berguna, sekarang dipakai untuk bernubuat. Ini menunjukkan bahwa apakah kita
bisa berguna untuk Tuhan atau tidak, itu tergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Kita cuma harus mau menyediakan diri kita untuk dipakai oleh Tuhan.
c) Bernubuat tidak identik dengan meramal masa depan. Bernubuat berarti
berbicara sebagai mulut Allah, dimana ramalan masa depan bisa ada, tetapi bisa
juga tidak.
23
d) Orang bernubuat tidak berbicara seakan-akan Ia adalah Allah / Yesus sendiri.
Perhatikan bahwa dalam nubuat ini Zakharia menggunakan kata ganti orang
ketiga (He / Ia) untuk Allah.
2) Nubuat Zakharia:
a) Zakharia memulai nubuatnya dengan memuji Tuhan (ay 68a). Dan pujian itu
didasarkan atas lawatan Allah. Dalam ay 68b dikatakan bahwa lawatan Allah itu
membawa kelepasan kepada umatNya, dan dalam ay 78b-79 menerangi /
mengarahkan orang yang dalam gelap / bayang-bayang maut. Penerapan: Kalau
Tuhan melawat umatNya pasti ada gunanya, misalnya menyelamatkan, memberi
janji, menegur dosa, menghibur dsb. Tidak mungkin seperti dalam Toronto
Blessing (atau lebih tepat Toronto Curse!) dimana ‘Tuhan melawat’ hanya untuk
membuat orang tertawa terbahak-bahak, nggeblak, jerking, dsb, tanpa ada
gunanya, bahkan membuat orang kristen kelihatan seperti orang gila (bdk. 1Kor
14:23). Dari ay 71 kelihatannya kelepasan dalam ay 68 ini merupakan
keselamatan secara jasmani / politis, yaitu dari penjajahan Roma, tetapi
sebetulnya tidak demikian. Alasannya: a) Bagian pertama dari nubuat ini (ay 68-
75) harus dihubungkan dengan bagian kedua (ay 76-79) yang jelas menunjukkan
keselamatan secara rohani.
b) Disamping itu, bagian pertama nubuat ini menghubungkan keselamatan dengan
tanduk keselamatan dari keturunan Daud (yaitu Yesus), sehingga jelas ini tidak
berbicara tentang keselamatan politis / jasmani, tetapi rohani. Tujuan Tuhan
melepaskan umatNya: Untuk menunjukkan rahmat / belas kasihanNya (ay
72a ;78) dan untuk menggenapi janjiNya kepada Abraham (ay 72b-73).
c) Supaya umatNya bisa beribadah kepada Allah tanpa takut, dalam kebenaran dan
kekudusan (ay 74-75).
Beribadah kepada Allah. KJV/RSV/NIV/NASB: serve (= melayani). Kita
memang diselamatkan untuk melayani (Ef 2:10 2Kor 5:15). Tanpa takut.
sebab sudah bebas dari musuh / sudah selamat, maka kita tidak boleh
takut (bdk. Maz 27:1-dst Maz 56:12 Ro 8:31-39 2Tim 1:7 1Yoh 4:17-18).
Dalam kebenaran dan kekudusan. Ini perlu kita tekankan dalam hidup, studi,
pekerjaan, maupun pelayanan kita!
Seumur hidup kita. Ini menunjukkan bahwa pelayanan dan pengudusan
harus kita lakukan seumur hidup kita, dan tidak boleh ada saat dimana kita
berhenti melayani / menguduskan diri! Apakah saudara adalah orang yang
sudah pensiun dari pelayanan? Atau sudah bosan dengan usaha untuk
membuang dosa tertentu sehingga saudara menyerah terus pada dosa
ini ? Kalau ya, bertobatlah!
Cara Tuhan memberi keselamatan / kelepasan adalah dengan:
Menumbuhkan tanduk keselamatan (ay 69-70). Tanduk keselamatan
dalam keturunan Daud’. Ini jelas menunjuk kepada Yesus, bukan
Yohanes Pembaptis, sebab Yohanes Pembaptis bukan dari keturunan
Daud / Yehuda, tetapi Lewi (Ingat Zakharia adalah seorang imam).
Sejak jaman Perjanjian Lama, Tuhan sudah menjanjikan akan
munculnya Mesias dari keturunan Daud (ay 70 bdk. Yer 23:5). Tetapi,
sejak pembuangan ke Babilonia, keturunan Daud praktis hancur. Tetapi
janji Allah ini tetap berlaku dan akhirnya tergenapi! Penerapan: pada
saat semua harapan rasanya musnah, tetaplah percaya pada janji
Tuhan. Tetapi awas, jangan beriman seperti orang-orang Faith
Movement, yang tetap ‘beriman’ sekalipun tidak punya dasar Firman
Tuhan apapun.
Memberikan Surya pagi (ay 78b). ‘Surya pagi’ ini jelas menunjuk kepada
Yesus (ay 78b bdk. Yes 9:1-2 Yes 40:1-2 dan khususnya Mal 4:2).
Yesus menyinari mereka yang ada dalam gelap dan dalam naungan /
bayang-bayang maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai
sejahtera (ay 79). Tanpa Kristus, semua orang ada dalam gelap dan
dalam bayang-bayang maut! Dengan Kristus atau ikut Kristus, maka kita
ada di jalan damai sejahtera. Kelepasan dalam ay 68 berhubungan
dengan tindakan Tuhan menum-buhkan tanduk keselamatan dalam
keturunan Daud, yang menunjuk kepada Yesus (ay 69). Demikian juga
orang bisa lepas dari kegelapan dan bayang-bayang maut dan pindah
24
ke jalan damai sejahtera hanyalah sebab Surya pagi, yang menunjuk
kepada Yesus (ay 78b-79). Semua ini menunjukkan bahwa keselamatan
yang sejati tidak bisa terlepas dari Yesus! sebab itu renungkan:
sudahkah saudara ada di dalam Yesus?
3) Fungsi Yohanes Pembaptis
a) Baru mulai ay 76 Zakharia berbicara tentang anaknya (Yohanes Pembaptis). Dari
tadi ia berbicara meninggikan Tuhan, Yesus, dan Kerajaan Allah. Sekarang ia
berbicara tentang anaknya, itupun untuk menunjukkan pelayanan Yohanes
Pembaptis sebagai orang yang mendahului Yesus untuk menyiapkan jalan bagi
Yesus (ay 76b). Sesuatu yang menarik adalah bahwa pada waktu menyebut
anaknya, ia tidak berkata ‘anakku’ tetapi ‘anak’. KS Indonesia: ‘hai anakku’. Ini
salah terjemahan. NIV: my child (= anakku). Ini juga salah. NASB: child (= anak).
Ini menunjukkan ia tidak mempersoalkan anak itu sebagai anaknya, tetapi ia
mempersoalkan bagaimana anak itu bisa berguna untuk Tuhan. Orang yang
penuh Roh Kudus tidak mempersoalkan diriku, anakku, uangku, rumahku,
mobilku dsb, tetapi akan mempersoalkan Tuhan, Kerajaan Allah, Yesus, dsb, dan
mempersoalkan bagaimana segala sesuatu bisa berguna untuk Tuhan.
b) Ay 77-78a: Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Yesus (ay 76b)
dengan cara memberi pengertian tentang keselamatan (ay 77a). Saat itu orang
Yahudi mempunyai konsep yang salah tentang Mesias Mereka percaya Mesias
adalah raja duniawi yang akan melepaskan mereka dari penjajahan Romawi.
Sesuatu yang aneh dan perlu direnungkan adalah: sudah tahu orang Yahudinya
mempunyai pemikiran begitu, mengapa Tuhan memberikan nubuat yang seolah-
olah mendukung pandangan ini (ay 71,74)? Ini menunjukkan bahwa Tuhan
memang sering sengaja memberikan hal-hal yang sukar dalam Kitab Suci,
sehingga orang yang tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh akan
mendapatkan arti yang salah sehingga tersesat dan binasa. Bacalah Mat 13:10-
17 dan 2Pet 3:16 yang jelas mengajarkan hal ini. 2Pet. 3:16 berbunyi: "Hal itu
dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara
ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-
orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya,
memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga
mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain". Mereka percaya keselamatan
sebab perbuatan baik, dan keselamatan sebab mereka bangsa pilihan. Tugas
Yohanes Pembaptis adalah meluruskan pengertian mereka dalam hal-hal yang
salah ini. Ini menunjukkan pentingnya pengertian. Tanpa pengertian yang benar
tentang keselamatan, kita tidak mungkin bisa selamat. Penerapan: Orang
Kharismatik sering menganggap bahwa orang Protestan, khususnya yang
menekankan belajar Firman Tuhan, sebagai ahli-ahli Taurat. Memang bisa saja
ada orang Protestan yang seperti ahli Taurat, yaitu kalau mereka cuma belajar
tapi tidak melakukan. Tetapi penekanan pengetahuan / belajar Firman Tuhan itu
sendiri adalah sesuatu yang benar! Keselamatan itu didapatkan melalui
pengampunan dosa (ay 77b). Jadi, keselamatan bukan didapatkan melalui
perbuatan baik, tetapi melalui pengampunan dosa. Bdk. Maz 32:1-2 Maz 130:3-4
Daniel 9:9. Dan tentu saja pengampunan dosa itu hanya kita dapatkan kalau kita
percaya kepada Yesus (Ef 1:7 Ef 4:32 Kis 10:43). Kalau saudara salah
pengertian tentang keselamatan dalam hal ini, jangan harap saudara bisa
selamat! Ay 78a adalah sambungan ay 77. Jadi, bisa adanya pengampunan dosa
disebabkan sebab adanya belas kasihan Allah.
e. Pasal 2:1-7.
1) Sensus (ay 1-2):
a) Sensus ini diperintahkan oleh kaisar Agustus (ay 1), dan semua penafsir
berpendapat bahwa sensus ini dilakukan untuk kepentingan pajak. Dengan
adanya sensus ini Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem (ay 3-5) sehingga
akhirnya Yesus lahir di Betlehem (ay 6-7), menggenapi nubuat nabi Mikha dalam
Mikha 5:1 yang berbunyi: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil
di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang
akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak
dahulu kala". Tanpa ia sadari, kaisar kafir ini melakukan sesuatu yang
menyebabkan tergenapinya nubuat Firman Tuhan. Ini bukan sekedar merupakan
25
suatu kebetulan, tetapi Tuhan menguasai dan mengarahkan kaisar kafir ini
untuk melaksanakan RencanaNya! Bandingkan dengan Amsal 21:1 yang
berbunyi: "Hati raja seperti batang air dalam tangan TUHAN, dialirkannya ke
mana Ia ingini"
b) William Barclay mengatakan bahwa ada actual documents (= dokumen
sebenarnya) dari setiap sensus yang dilakukan mulai tahun 20 Masehi sampai
tahun 270 Masehi, dan dari data-data ini terlihat bahwa sensus ini dilakukan
setiap 14 tahun. Sensus yang paling awal yang ada dokumennya, dilakukan pada
tahun 20 Masehi. Tetapi ini tidak mungkin menunjuk pada sensus dalam Luk 2:1-
2 ini. sebab sensus itu diadakan setiap 14 tahun, maka sensus sebelumnya
seharusnya terjadi pada tahun 6 Masehi. Tetapi sensus yang inipun masih
kurang pagi untuk bisa dihubungkan dengan sensus dalam Luk 2:1-2 ini. Para
penafsir menganggap bahwa sensus pada tahun 6 Masehi inilah yang dimaksud
dengan sensus dalam Kis 5:37. Kalau tahun 6 Masehi ini dikurangi lagi dengan
14 tahun, maka bisa didapatkan tahun 8 Sebelum Masehi sebagai tahun
pelaksanaan sensus dalam Luk 2:1-2 ini. Ini menimbulkan problem sebab tahun
8 SM tidak cocok dengan saat kelahiran Kristus. Kalau Yesus lahir pada tahun 8
SM, maka itu berarti Ia memulai pelayananNya pada tahun 22 Masehi, dan
penyucian Bait Allah dalam Yoh 2 terjadi pada tahun 23 Masehi. Dalam Yoh 2:20
dikatakan bahwa Bait Allah itu dibangun selama 46 tahun (dan saat itu belum
selesai pembangunannya), dan ini menunjukkan bahwa Bait Allah itu mulai
dibangun pada 23 SM. Ini tidak cocok, sebab dari sejarah diketahui bahwa
pembangunan Bait Allah itu dimulai pada tahun 19 SM (dan baru selesai secara
total pada tahun 64 Masehi). Pemecahan problem ini: Mungkin sensus di wilayah
Herodes dimulai terlambat, sebab Herodes takut melakukannya mengingat
orang Yahudi ‘alergi’ terha-dap sensus gara-gara peristiwa sensus dalam 2Sam
24 / 1Taw 21. o Mungkin saat itu periodenya bukan 14 tahun, tetapi kurang dari
itu.
2) Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem (ay 3-5):
Sensus ini mengharuskan setiap orang untuk mendaftarkan diri di kotanya
sendiri (ay 3). Yusuf adalah keturunan Daud (1:27; 2:4), dan demikian juga dengan
Maria (1:32,69). Yesus memang harus muncul / lahir dari keturunan Daud (bdk. Yes
11:1 Yer 23:5-6 Mat 1:1,6 Luk 3:31 Ro 1:1-3 2Tim 2:8). Dalam 1Sam 20:6 dikatakan
bahwa Betlehem adalah kota Daud. sebab itu Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem
(ay 4-5). Ada beberapa hal yang bisa dipelajari tentang bagian ini: (a).Jarak Nazaret
ke Betlehem sekitar 80-90 mil. Ini jelas merupakan penderitaan, khususnya untuk
Maria yang sudah hamil tua. Mereka berserah dan tunduk pada kehendak Tuhan,
tetapi yang mereka dapatkan justru bukanlah jalan yang mulus tetapi jalan yang
penuh penderitaan! Penerapan: kalau saudara beriman dan taat kepada Tuhan,
jangan terlalu heran kalau jalan saudara justru menjadi sukar. Juga jangan menjadi
takut, kecewa dan lalu meninggalkan jalan itu, sebab jalan yang sempit itulah yang
menuju pada kehidupan (bdk. Mat 7:13-14). (b).Mereka taat kepada pemerintah.
Pengadaan sensus tidak bertentangan dengan Firman Tuhan (bdk. Bil 1:1-dst Bil
26:1-dst). Dalam 2Sam 24 / 1Taw 21 Daud melakukan sensus dan dihukum oleh
Tuhan, sebab ia melakukan sensus itu untuk memuaskan kesombongannya.
sebab sensus itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, sekalipun sensus itu
menyukarkan hidup mereka, Yusuf dan Maria tetap tunduk! Kita memang harus
tunduk pada pemerintah, selama pemerintah tidak menyuruh kita melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan Firman Tuhan (Ro 13:1-7 bdk. Kis 5:29). Penerapan:
apakah saudara mau tunduk pada peraturan peme-rintah yang menyukarkan hidup
saudara tetapi tidak bertentangan dengan Firman Tuhan? (c). Luk 2:1-7 ini pasti
terjadi setelah Mat 1:18-25, sehingga saat itu Maria sudah menjadi istri Yusuf. Tetapi
mengapa dalam ay 5 Maria tetap disebut sebagai ‘tunangan Yusuf’? Rupanya sebab
sekalipun mereka sudah menjadi suami istri, mereka tidak melakukan hubungan sex
(bdk. Mat 1:24-25).
3) Mengapa Maria ikut pergi ke Betlehem? Ada beberapa kemungkinan jawaban:
(a).Kebanyakan penafsir mengatakan bahwa sebetulnya hanya laki-laki (yaitu Yusuf)
saja yang harus pergi untuk mendaftar, tetapi ada juga penafsir yang beranggapan
bahwa laki-laki maupun perempuan harus mendaftar. sebab itulah Maria harus ikut.
(b).Maria sebetulnya tidak harus ikut, tetapi saat itu ada banyak gosip yang beredar
26
tentang Maria yang terlalu cepat mengandung. sebab itu Yusuf tidak tega
membiarkan Maria di Nazaret, dan membawanya pergi ke Betlehem. Ini mengajar
kita bahwa di dalam menghadapi problem, suami istri perlu ada kesatuan dan saling
mendukung! (c).Yusuf ingin ada bersama dengan Maria pada saat Yesus lahir. Ingat
bahwa Yusuf juga adalah orang Yahudi yang pasti menanti-nantikan kedatangan
Mesias. (d).Mereka tahu tentang nubuat dalam Mikha 5:1 yang mengatakan bahwa
Mesias harus lahir di Betlehem, dan sebab itu mereka sengaja pergi ke Betlehem
supaya nubuat itu tergenapi. Calvin menolak kemungkinan ini dengan alasan:
kepergian mereka ke Betlehem disebutkan alasannya secara explicit dalam ay 5:
‘supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria’. sebab itu Calvin berpendapat
bahwa mereka pergi ke Betlehem bukan dengan tujuan supaya Kristus lahir di sana,
tetapi sebab tangan / pengaturan Allah (Providence of God) membimbing mereka
seperti orang buta ke tempat dimana Kristus harus dilahirkan. Calvin lalu
menambahkan: "Thus we see that the holy servants of God, even though they
wander from their design, unconscious where they are going, still keep the right path,
because God directs their steps" (= Demikianlah kita lihat bahwa pelayan-pelayan
yang kudus dari Allah, sekalipun mereka menyimpang dari rencana mereka, tidak
sadar kemana mereka pergi, tetap ada di jalan yang benar, sebab Allah
mengarahkan / memimpin langkah-langkah mereka).
Penjelasan: Yusuf dan Maria pasti sudah mempersiapkan dan
merencanakan banyak hal tentang Yesus yang akan dilahirkan itu. Mungkin
mempersiapkan uangnya, kamarnya, tempat tidurnya, dsb. Tetapi perintah untuk
melakukan sensus itu kelihatannya membuyarkan segala persiapan dan rencana
mereka. Tetapi toh semua ini ada dalam pimpinan Tuhan! Penerapan: kalau
everything goes wrong (= segala sesuatu berjalan salah) dengan rencana saudara
(baik rencana jasmani maupun rohani), maka itu tetap pimpinan Tuhan! Ini tentu tak
berarti bahwa kita boleh sembarangan dalam memilih jalan ataupun terlalu mudah
‘menyerah’ pada kehendak / Rencana Allah! Kita tetap punya tanggung jawab untuk
memilih jalan yang terbaik, dan berusaha secara maximal untuk mencapainya. Kalau
semua itu sudah kita lakukan dan ternyata semua hancur berantakan, barulah kita
harus berserah pada kehendak / Rencana Allah.
4) Kelahiran Yesus (ay 6-7):
a) ’Anaknya yang sulung’ (ay 7a). Istilah ‘anak sulung’, ditambah dengan banyak
bagian Kitab Suci yang berbicara tentang adanya saudara-saudara Yesus (Mat
12:46,47 / Mark 3:31-32 / Luk 8:19-20 Mat 13:55-56 Yoh 2:12 Yoh 7:3,5,10 Kis
1:14), menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria pasti mempunyai anak-anak lain
setelah kelahiran Yesus. Seorang penafsir (Pulpit Commentary) menganggap
Yusuf dan Maria tidak mempunyai anak lain selain Yesus, dengan alasan: istilah
‘anak sulung’ bisa diartikan ‘anak tunggal’ seperti dalam Ibr 1:6. Dalam arti yang
sebenarnya, memang Yesus adalah Anak Tunggal dari Allah (Yoh 3:16). Tetapi
dalam Ibr 1:6 Yesus disebut sebagai Anak Allah yang sulung, itu disebabkan
sebab kita yang percaya kepada Yesus juga adalah anak-anak Allah (Yoh 1:12),
sekalipun kita adalah ‘anak-anak adopsi’. Bandingkan ini dengan Rom 8:29 yang
berbunyi: ‘supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak
saudara’. Dengan demikian, istilah ‘anak sulung’ dalam Ibr 1:6 tidak bisa diartikan
sebagai ‘anak tunggal’!
b) ‘dibaringkannya di dalam palungan, sebab tidak ada tempat bagi mereka di
rumah penginapan’ (ay 7b). Bagi Yusuf dan Maria ini adalah sesuatu yang
kelihatannya kontradiksi dengan Firman Tuhan. Katanya Maria akan melahirkan
Anak Allah yang maha tinggi, lalu mengapa Anaknya lahir dalam palungan? Anak
Allah yang mahatinggi mau lahir dalam palungan. Yesus mau direndahkan /
menjadi miskin, supaya kita bisa ditinggikan / menjadi kaya (secara rohani!). Bdk.
2Kor 8:9. Istilah ‘miskin menjadi kaya’ jelas harus sdiartikan secara rohani. Hal ini
terlihat jelas kalau saudara membaca seluruh kontex (2Kor 8:1-9). Calvin: "When
he was thrown into a stable, and placed in a manger, and a lodging refused him
among men, it was that heaven might be opened to us, not as a temporary
lodging, but as our eternal country and inheritance, and that angels might receive
us into their abode" (= Pada saat Ia dilemparkan ke dalam kandang, dan
diletakkan dalam palungan, dan penginapan menolak menerimaNya di antara
manusia, tujuannya adalah supaya surga terbuka bagi kita, bukan sebagai
27
penginapan sementara, tetapi sebagai negeri dan warisan yang kekal, dan
supaya malaikat-malaikat menerima kita dalam tempat tinggal mereka).
c) Pemilik penginapan hanya memberikan tempat hewan sebab : ia tidak tahu
bahwa yang akan dilahirkan oleh Maria adalah Mesias / Anak Allah. memang
semua kamar penuh sehingga tidak ada lagi tempat untuk mereka. sebab itu
sebetulnya ia tidak bisa terlalu disalahkan. Tetapi kalau sekarang saudara
menolak Kristus untuk tinggal dalam hati saudara sebagai Juruselamat dan
Tuhan saudara, saudara menolak dengan suatu pengetahuan / kesadaran bahwa
Ia adalah Anak Allah, maka penolakan saudara harus disalahkan! sebab itu,
terimalah Ia sebagai Juruselamat dan Tuhan dalam hidup saudara!
f. Pasal 2:36-40.
Hana adalah Janda. Ia telah mengenal kesedihan namun tidak bersedih.
Kesediaan dapat membuat kita menjadi keras, sedih, marah, dll tapi kesediaan juga
dapat membuat kita baik. Bagaimana kita menanggapinya. Usia 84 tahun yang tua
namun tidak berhenti berharap. Umur dapat menggerogoti kecantikan dan kekuatan
tubuh serta waktu dapat menggerogoti hidup sehingga harapan jadi mati dan hidup jadi
membosankan dan menerima hidup apa adanya. Bagaimana keadaan Hana pada saat
itu? a). Ia tidak pernah berhenti untuk beribadah Gereja adalah ibu kita dalam iman. Kita
merengutkan diri sendiri dan harta yang tak ternilai harganya bila kita lalai dalam ibadah.
b).Tidak hentinya untuk berdoa.
g. Pasal 2:40-52.
1) Merayakan Paskah di Yerusalem:
a) Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah di
sana (ay 41).
b) Di sini disebutkan ‘orang tua’ Yesus, yang jelas menunjuk kepada Yusuf dan
Maria. Maria memang adalah ibu Yesus, tetapi Yusuf sebetulnya bukanlah ayah
Yesus, tetapi tetap disebut orang tua sebab secara legal / hukum Yesus adalah
anak Yusuf.
c) Paskah. Ini jelas bukan Paskahnya orang kristen yang menunjuk pada
kebangkitan Yesus. Ini adalah Paskah Perjanjian Lama (Inggris: Passover), yaitu
merayakan saat orang Israel lepas dari tulah ke 10 (kematian anak sulung)
sebab adanya darah domba pada ambang pintu. Paskah / hari raya roti tak
beragi adalah salah satu dari 3 hari raya dimana orang Yahudi harus pergi
berbakti di Yerusalem (Kel 23:14-17). Sebetulnya yang harus berbakti di
Yerusalem hanyalah orang laki-laki saja (Kel 23:17), tetapi ternyata Maria juga
ikut. Ini menunjukkan kesalehannya dimana ia mau melakukan lebih banyak dari
yang diperintahkan oleh Tuhan. Penerapan: Kalau saudara menuruti Firman
Tuhan apakah saudara mau menurutinya sesedikit / seminim mungkin? Misalnya
apakah saudara rela memberikan persembahan lebih dari 10 %?
d) Merayakan Paskah di Yerusalem merupakan hal yang cukup berat, sebab
mereka harus tinggal di Yerusalem selama 8 hari, yaitu 1 hari untuk Paskahnya
dimana mereka menyembelih domba Paskah, dan 7 hari untuk merayakan hari
raya roti tak beragi (Kel 12:15 Im 23:5-6). sebab itu dalam ay 43 digunakan
bentuk jamak ‘hari-hari perayaan’. Tetapi sekalipun ini cukup berat, mereka tetap
mau mentaati! Penerapan: Apakah saudara mau taat pada perintah yang berat,
atau hanya yang ringan saja? Ketika Yesus berusia 12 tahun maka Ia diajak oleh
orang tuanya untuk pergi ke Yerusalem pada Paskah (ay 42). Mengapa pada
usia 12 tahun? William Barclay: "A Jewish boy became a man when he was 12
years of age" (= seorang anak laki-laki Yahudi menjadi seorang laki-laki pada
saat ia berusia 12 tahun). Pada saat usia 12 tahun seorang anak laki-laki menjadi
BAR MITSVAH [the son of the law / commandment (= anak hukum / perintah)].
Ini tentu tidak berarti bahwa sebelum usia 12 tahun Yesus tidak pernah berbakti.
Ia tentu juga berbakti tetapi tidak di Yerusalem / Bait Allah. b) Yusuf dan Maria
mengajak Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ini berarti: Orang
tua harus mengarahkan anaknya kepada Tuhan. Jangan membiarkan anak itu
tumbuh bebas dan memilih kepercayaannya sendiri. Kalau saudara percaya
bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Bapa / ke surga (Yoh 14:6),
maka saudara harus mengarahkan anak saudara kepada Yesus!
2) Yesus tertinggal di Bait Allah :
28
a) Pada saat meninggalkan Yerusalem, orang-orang Yahudi itu biasanya pulang
beramai-ramai (dalam rombongan besar). Ini menyebabkan Yusuf dan Maria bisa
tidak mengetahui kalau Yesus tidak ada di antara mereka (ay 43-44). Setelah
tahu bahwa Yesus tidak ada bersama mereka, maka kembalilah Yusuf dan Maria
untuk mencari Yesus. Akhirnya mereka menemukan Yesus di Bait Allah (ay 45-
46a). Jadi, pada saat semua sudah meninggalkan Bait Allah, Yesusnya masih di
sana. Yesus merasa krasan di Bait Allah, dan ini kontras dengan banyak orang
kristen yang tidak krasan ada di gereja dan langsung meninggalkan gereja begitu
kebaktian selesai!
b) Yesus berdiskusi dengan ‘alim ulama’ (ay 46b-47). a) Sesuatu yang menarik
dalam bagian ini adalah: setelah Yusuf dan Maria menemukan Yesus (ay 46a),
yang diceritakan lebih dulu bukanlah reaksi / pertanyaan / teguran Maria, tetapi
apa yang Yesus lakukan (ay 46b-47). R




