Penerapan trinitas

 


Trinitas merupakan sentrum dari teologi kristiani, dan juga pusat hidup 

beriman Gereja. Sebagai pusat hidup Gereja, iman kepada Allah yang Trinitas 

bukan sekadar doktrin yang wajib diterima, melainkan perlu penerapan konkret 

dalam hidup Gereja. Leonardo Boff melihat Allah Trinitas sebagai satu 

persekutuan kasih dari pribadi-pribadi Ilahi (Bapa–Putera–Roh Kudus). 

Persekutuan Trinitas ini , menurut Boff, yaitu  model ideal dari 

persekutuan umat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas relevansi 

dari konsep Allah Trinitas menurut Boff bagi Komunitas Basis Gerejawi (KBG). 

Metode yang digunakan yaitu  kajian literatur dengan menerapkan analisis isi. 

Hasil dari penelitian ini yaitu  sebuah pemahaman atas KBG sebagai ranah 

perwujudan konkret dari persekutuan Trinitas. sebab  itu, sebagai komunitas 

basis, semua anggota mengimitasi hubungan kasih Trinitas sehingga memiliki 

kesederajatan dan persekutuan kasih di dalam komunitas ini . 

 

Doktrin tentang Trinitas yaitu  satu doktrin terpenting dalam Kekristenan. 

Doktrin ini merupakan bentuk pengungkapan iman seorang Kristiani kepada 

Allah yang esa sekaligus memiliki tiga pribadi: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. 

Formulasi tradisional dalam bahasa Yunani berbunyi mia ousia, treis 

hypostaseis (satu hakikat, tiga pribadi). Konsep tentang Allah Trinitas seperti ini 

bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. sebab  itulah, sering kali orang 

keliru dan terjebak dalam pemahaman salah. Pemahaman salah ini , 

sebenarnya bukanlah persoalan yang baru muncul di zaman modern melainkan 

persoalan klasik sejak abad ke-2. Kesulitan utama yang dihadapi pada waktu itu 

yaitu  bagaimana mendamaikan antara warisan iman Yudaisme yang monoteis 

mutlak dan pengakuan akan keilahian Putera yang sehakikat dengan Allah 

Bapa. 1  sebab  itu muncul kecenderungan menyangkal ketigaan pribadinya, 

padahal ketigaan pribadi ini , secara amat nyata dibicarakan dalam Kitab 

Suci. Kesulitan ini  telah pula diatasi oleh Gereja melalui konsili-konsili 

awal dalam Kekristenan. 

Pada waktu konsili-konsili awal digelar (abad ke-3 sampai abad ke-5), 

teologi tentang Trinitas lebih berfokus pada aspek doktrinal. Aspek doktrinal ini 

kemudian semakin didalami pada abad pertengahan dan masih berlanjut sampai 

awal abad ke-20. Mereka berupaya menjelaskan tentang Allah Tritunggal 

menurut ajaran yang sejati sebagaimana dibicarakan dalam Kitab Suci. Orientasi 

doktrinal mulai mengalami pembaruan di awal abad ke-20 yang ditandai antara 

lain dengan karya-karya Karl Barth dan Karl Rahner. Orientasi baru ini sering 

disebut dengan istilah trinitarian renaissance yaitu pembaharuan teologi 

Trinitas. 2  Dalam arus pemikiran baru ini, penekanannya bergeser ke aspek 

 

praktis, walaupun aspek doktrinal tidak ditinggalkan sama sekali. Ada banyak 

teolog modern yang berorientasi pada makna praktis teologi Trinitas bagi hidup 

manusia. lah s tunya yaitu  Karl Rahner.3 

Leonardo Boff, salah satu teolog modern, juga berada dalam arus 

pemahaman baru tentang Trinitas. Penekanan Boff yaitu  penerapan 

persekutuan Trinitas ke dalam persekutuan manusia yang konkret. Konsep yang 

dikemukakan Boff yaitu  Allah Tritunggal sebagai Allah persekutuan. 4 

Pemikiran Boff ini menjadi objek studi dari banyak teolog. Ada sejumlah 

penelitian terdahulu yang mencoba menerapkan konsep Boff tentang “Allah 

persekutuan” ke dalam berbagai situasi konkret hidup manusia. Sardono et all. 

meneliti tentang relevansi pemikiran Boff ini  ke dalam kehidupan sosial 

politik.5 Sedangkan Melburan melihat relevansi persekutuan Trinitas menurut 

Boff dalam kehidupan komunitas religius.6 Ada pula yang meneliti hubungan 

antara moderasi beragama dan konsep Boff tentang Trinitas sebagai Allah 

persekutuan. 7  Berkaitan dengan moderasi beragama, Taroreh juga meneliti 

penerapan konsep Allah persekutuan bagi pembebasan warga  dari 

radikalisme beragama. 8  Sementara Dalihade, menerapkan konsep Trinitas 

sebagai Allah persekutuan menurut Boff ke dalam upaya pelestarian lingkungan 

hidup.9 Dalam penelitian ini, penulis berfokus pada persekutuan kasih antara 

ketiga pribadi Ilahi, menurut pandangan Boff, dan penerapannya bagi kehidupan 

Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Tujuan penelitian ini yaitu  melihat 

persekutuan kasih dalam Trinitas sebagai model dan ideal bagi kehidupan 

bersama para anggota KBG. 

 

Hasil dan Pembahasan 

Konsep Boff tentang Allah Trinitas Sebagai Persekutuan 

Sebelum pembahasan mengenai konsep Boff tentang Trinitas, terlebih 

dahulu dipaparkan secara singkat ajaran Alkitab tentang Trinitas dan pandangan 

umum di era patristik. Kitab Suci Perjanjian Lama telah memulai konsep 

 

tentang Allah yang Trinitas ini walaupun masih implisit. Indikasi bahwa Allah 

yaitu  Tritungg l telah terdapat dalam Kitab Kejadian pasal satu, sebagaimana 

dapat ditemukan dalam penyebutan tentang Sang Pencipta itu sebagai “Allah”, 

“Firman Allah”, dan “Roh Allah” (bdk. Kej 1: 1-3). Dikatakan bahwa setelah 

Allah menciptakan langit dan bumi, Roh Allah melayang-layang di atas air yang 

masih diliputi kegelapan. Lalu Allah menciptakan benda-benda langit yang 

menjadi penerang. Ketika Allah menciptakan benda-benda langit, dan 

menciptakan pula keteraturan dalam alam semesta serta seluruh isi bumi, Allah 

menciptakan dengan FirmanNya. Firman Allah merupakan agen penciptaan 

alam semesta. Di kemudian hari konsep ini digunakan juga oleh rasul Yohanes. 

Yohanes berkata bahwa Firman itu pada mulanya berada bersama Allah, dan 

bahwa “segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun 

yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1: 1-3). Firman itulah 

yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. 

Ayat lain yang juga menunjukkan ketritunggalan Allah dalam Perjanjian 

Lama yaitu  Kejadian 1:26. “baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar 

dan rupa Kita”. Kata “Kita” merupakan kata ganti diri jamak. Hal ini berarti, 

bahwa subjek yang berkata itu lebih dari satu pribadi. Penggunaan kata jamak 

ini menunjukkan, bahwa Allah bukan hanya satu pribadi, tetapi lebih dari satu 

pribadi. Penafsiran seperti ini telah digunakan oleh para teolog terkenal seperti 

Karl Barth dan banyak yang mengikutinya. Sebagai contoh, dari antara banyak 

teolog masa kini yaitu  Dylfard Edward Pandey.14  

Selanjutnya dalam Perjanjian Baru, konsep ini  semakin nyata 

walaupun istilah Trinitas itu sendiri tidak digunakan. Dalam Perjanjian Baru 

terdapat sejumlah ayat yang secara lebih jelas mengungkapkan tentang 

ketritunggalan Allah. Dalam pembaptisan Yesus di sungai Yordan tampak 

bahwa Allah hadir di sana sebagai Allah yang Tritunggal: Bapa yang berseru 

dari langit, Putera yaitu Yesus yang dibaptis di sungai Yordan, dan Roh Kudus 

dalam rupa burung merpati yang turun ke atas Yesus. (bdk. Mat. 3: 13-17; Mrk. 

1:9-11; Luk. 3:21-22; Yoh. 1: 32-34). Selain itu ada pula rumusan 

ketritunggalan Allah yang juga amat jelas. Dalam Injil Matius, dikisahkan 

tentang Yesus yang menampakkan diri setelah kebangkitanNya dan mengutus 

kesebelas murid-Nya untuk mewartakan Injil. Yesus menyampaikan kepada 

 

14  Dylfard Eduard Pandey, “Allah Tritunggal: Sebuah Risalah Teologis Alkitabiah 

Tentang Keesaan Dan Ketritunggalan Allah,” Davar: Jurnal Teologi 1, no. 1 (2020): 43–64. 

Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 1, Juni. 2024 62 

para murid-Nya suatu tugas perutusan untuk membaptis “dalam nama Bapa, 

Anak, dan Roh Kudus” (bdk. Mat.28:18-19).  

Fakta biblikal di atas merupakan dasar refleksi Gereja tentang Allah 

Tritunggal. Konsep tentang Allah Tritunggal merupakan kesimpulan dari 

seluruh sejarah penyataan diri Allah dalam Alkitab. Iman kepada Allah 

Tritunggal yaitu  tanggapan manusia atas penyataan diri Allah ini . Tetapi 

iman juga menuntut rasionalitas walaupun upaya memahami Allah yang 

transenden itu bukanlah hal yang mudah dicapai oleh rasionalitas manusia. 

Allah yaitu  Pencipta yang pada dasarnya tidak dapat dibatasi oleh ruang dan 

waktu, sedangkan manusia yaitu  ciptaan yang terbatas. sebab  itu secara 

mutlak rasionalitas manusia yang terbatas tidak mungkin memahami secara 

penuh tentang Allah yang transenden itu.  

Walaupun demikian, para Bapa Gereja, tetap berupaya menggunakan akal 

budi mereka untuk memahami ajaran alkitabiah ini dan mengembangkannya 

dalam refleksi teologis mereka. Istilah Trinitas itu sendiri dapat dikatakan 

merupakan ciptaan dari para Bapa Gereja, sebab  memang tidak digunakan 

secara eksplisit dalam Alkitab. Istilah trias (Yunani) pertama kali dipakai oleh 

Teofilus dari Antiokhia pada akhir abad kedua, kemudian kata Trinitas (Latin) 

digunakan oleh Tertullianus. 15  Para Bapa Gereja yang lain menerima istilah 

ini  dan menggunakannya pula dalam tulisan-tulisan mereka. Istilah ini 

diterima secara cepat dan digunakan secara luas oleh sebab  dapat 

mempermudah pengungkapan tentang inti iman Kristiani yang telah terdapat 

dalam Kitab Suci.  

Beberapa Bapa Gereja seperti Tertullianus, Origenes, dan Agustinus, 

memberikan refleksi yang mendalam tentang Trinitas. Agustinus misalnya 

menulis buku De Trinitate yang terdiri dari 15 volume. Pada dasarnya, seperti 

para Bapa Gereja yang lain, Agustinus mengemukakan bahwa Allah itu 

merupakan satu substansi ke-Allahan yang terdiri dari tiga pribadi.  Selanjutnya 

di abad pertengahan, teologi Trinitas semakin didalami. Salah satu tokoh 

terkenal abad pertengahan yang menguraikan teologi Trinitas yaitu  Thomas 

Aquinas. Thomas Aquinas menekankan penggunaan akal budi dalam upaya 

memahami Allah Tritunggal, walaupun dia akui pula bahwa akal budi tetap 

 

terbatas. Menurut Aquinas pembicaraan tentang Allah pada dasarnya merupakan 

ranah wahyu .16  

Bany k or g yang telah mencoba untuk menjelaskan konsep tentang 

Tritunggal ini dari sisi rationalitas, tetapi kemudian sebab  ketidakmampuan dan 

keterbatasan akal budi mereka, menyebabkan munculnya berbagai ajaran heresi 

atau bidah di dalam Gereja. Dalam sejarah Gereja, berbagai ajaran heresi yang 

mempunyai pemahaman yang berbeda tentang konsep Trinitas ini, antara lain 

Triteisme, Arianisme, Monarkhianisme, Sabellianisme (Modalisme).17  Ajaran-

ajaran sesat ini menyangsikan iman tentang ketritunggalan Allah dan telah 

menyebabkan banyak kebingungan di kalangan umat Kristiani abad itu.  

Salah satu yang paling mengguncang Gereja abad itu ialah Arianisme 

yang dipelopori oleh Arius, seorang Imam dari Alexandria. Dalam 

pandangannya, Arius menyangkal ke-Allahan dari Putera (Logos).  Ia melihat 

Logos sebagai ciptaan Allah yang pertama, sehingga Logos tidak termasuk 

dalam dunia Ilahi maupun jasmani, namun berada di antaranya.18 Bagi Arius, 

sebab  Putera diciptakan, maka Ia tidak sehakekat dengan Bapa. Dengan 

penolakan atas keilahian Putera ini, Arianisme tidak menerima konsep Allah 

yang Trinitas. Pandangannya yang sesat ini kemudian membuat Arius 

diekskomunikasi dalam sinode Alexandria pada tahun 319, dan sekali lagi oleh 

Konsili Nicea tahun 325 yang diadakan untuk menjawabi ajaran Arius. Dengan 

diadakan konsili yang membahas persoalan yang disulut oleh Arius ini , 

membuktikan bahwa Arianisme memang sangat berpengaruh dan mengguncang 

iman akan Allah Tritunggal kala itu. 

Kemunculan Arianisme dan bidah-bidah yang lain ternyata memiliki pula 

hikmahnya bagi perkembangan teologi dalam Gereja, terutama berdampak besar 

bagi perkembangan pandangan Gereja tentang Allah Trinitas. Ajaran-ajaran 

sesat itu telah mendorong Gereja untuk merumuskan iman sejati tentang Trinitas 

secara sistematis melalui konsili-konsili awal. Munculnya rumusan pengakuan 

iman yang dikenal dengan Credo Nicea-Konstantinopel, bermula dari tanggapan 

Gereja atas pandangan-pandangan sesat tentang Trinitas pada zaman itu, melalui 

konsili di Nicea dan kemudian di Konstantinopel. 

 

Untuk memahami konsepsi ketritunggalan Allah tidak serta merta melalui 

rasionalisasi semata, sebab  Allah itu mengatasi akal budi manusia (supra 

rationem) walaupun juga tidak berarti bertentangan dengan akal budi (contra 

rationem). 19  Maka untuk memahami Allah yang Tritunggal, perlu dibarengi 

dengan iman, seperti kata Thomas Aquinas, bahwa “iman menolong budi, indera 

tak mencukupi.”20 Diktum ini, setidaknya memberikan pencerahan, bahwa akal 

budi manusia memiliki keterbatasan. sebab  itu, mutlak perlu iman untuk 

memahami Allah yang begitu transenden. Dengan iman Allah membuka realitas 

lain yang tak dapat dijangkau oleh akal budi manusia.   

Meskipun Allah Tritunggal terdiri dari tiga pribadi Ilahi akan tetapi 

ketiganya memiliki relasi yang sama antara Bapa dan Putera dan Roh Kudus. 

Relasi inilah yang kemudian menjadikan mereka sebagai satu persekutuan kasih. 

Kata Yunani yang digunakan untuk mengungkapkan hal ini yaitu  perichoresis, 

di mana terdapat relasi timbal balik dari pribadi-pribadi Ilahi sedemikian rupa 

sehingga satu pribadi Ilahi berada seluruhnya dalam pribadi Ilahi yang lain. 

Relasi yang demikian menjadikan ketiga pribadi merupakan satu hakikat 

walaupun tetap dibedakan antara pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus.21 

Dengan kata lain Allah Tritunggal memiliki satu kodrat keAllahan yang 

menegaskan hubungan satu sama lain yang tak terpisahkan. Sedangkan pribadi 

Allah Tritunggal menunjukkan perbedaan ketiga-Nya secara riil. Bapa bukan 

Putera, Putera bukan Roh Kudus. Perbedaan ketiga-Nya secara riil, dapat dilihat 

dari deskripsi asal setiap pribadi Ilahi dalam Kitab Suci. Bapa kekal tidak 

berasal dari mana pun, tetapi Dia melahirkan Putera, Putera lahir dari Bapa, dan 

Roh Kudus datang dari Bapa dan Putera.22 Namun perbedaan ketiga Pribadi 

Ilahi secara riil, tidak membagi kesatuan ilahi.  

Konsep Leonardo Boff tentang Allah Tritunggal sebagai Allah 

persekutuan muncul dari pengalaman Boff ketika melayani paroki-paroki di 

komunitas-komunitas miskin di Brazil. Pada masa itu ia mulai menghargai 

ajaran dasar teologi pembebasan, yang menekankan tindakan praksis 

berdasarkan iman Kristiani atas nama orang-orang yang tertindas dalam 

 

warga . Boff, kemudian melihat kesatuan pribadi-pribadi Trinitas sebagai 

sebuah persekutuan kasih. Ketiga pribadi itu merupakan satu kehidupan dengan 

kesamaan derajat tanpa yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan segala sesuatu 

dimiliki bersama dan dibagikan pula bersama.23 Boff menjelaskan, bahwa Allah 

Trinitas yang diimani oleh umat Kristiani, berada dalam korelasi abadi. Pribadi-

pribadinya, tinggal bersama, berada bersama, dan saling meresapi satu sama 

lain, sehingga merupakan satu Allah yang tunggal.24 Dengan demikian Allah 

merupakan persekutuan dari pribadi-pribadi Ilahi: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, 

sebab  sejak awal mula Allah yang esa tidak berada dalam kesepian, tetapi 

hidup di dalam persekutuan.25  

Boff menegaskan lebih lanjut gambaran persekutuan dan korelasi pribadi-

pribadi ilahi di dalam Trinitas. Ia memperlihatkan peresapan penuh yang timbal 

balik antara pribadi-pribadi Ilahi. Boff menggunakan istilah perichoresis yaitu 

istilah yang telah digunakan oleh para Bapa Gereja, untuk menjelaskan 

hubungan timbal balik antara ketiga Pribadi Ilahi. Istilah perichoresis ini berasal 

dari bahasa Yunani, yang dapat diartikan sebagai, “berada bersama”, “tinggal 

bersama”, atau “saling meresapi”.26  Dengan demikian dapat dipahami, bahwa 

ketiga pribadi Ilahi yang berada bersama-sama merupakan satu kesatuan, tanpa 

ada perbedaan derajat, dalam arti tidak ada yang lebih tinggi, lebih besar, atau 

lebih dahulu dari yang lain.  

Pemahaman Trinitas sebagai persekutuan kasih antara Bapa, Putera, dan 

Roh Kudus ini, kemudian menemukan relevansinya dengan kehidupan bersama 

umat manusia. Dalam pemahaman ini semua orang sama martabatnya, dan harus 

dihormati di dalam kekhasan mereka masing-masing yang berbeda-beda. 

Berpangkal dari pandangan di atas, Boff, kemudian menarik konsekuensinya 

bagi kehidupan manusia, warga , dan Gereja. Allah sebagai Trinitas dapat 

menjadi model dan inspirasi untuk membangun warga , yang ditandai oleh 

persaudaraan, kesamaan, kemitraan, yang kemudian memberi ruang yang luas 

bagi ekspresi pribadi atau kelompok, sebagai anggota-anggota yang sederajat 

tetapi dipersatukan oleh suatu persekutuan. Dengan demikian, menurut Boff, 

persekutuan Allah Tritunggal, dapat membawa pengaruh yang besar dalam 

sebuah sistem pemerintahan, baik di dalam Gereja maupun di dalam 

warga . Boff menyoroti pentingnya kesatuan yang tidak terpisahkan 

 

23 Boff, Allah Persekutuan, 103. 

24 Boff, 143.  

25 Boff, 1. 

26 Boff, 103. 

Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 1, Juni. 2024 66 

sembari menghormati keanekaragaman yang ada. Trinitas dilihat Boff bukan 

hanya sebuah konsep teologis, tetapi juga model bagi kita dalam membangun 

warga  berdasarkan cinta kasih, dan solidaritas di antara sesama manusia.27 

Berkaitan dengan pemerintahan di dalam warga , menurut Boff, 

sebuah pemerintahan yang ideal yaitu  pemerintahan di mana setiap anggota 

memiliki kesamaan derajat, terlepas dari sistem kepemimpinan yang dibangun.28 

Kepemimpinan apa pun, pada dasarnya perlu mengedepankan persekutuan 

sebab  persekutuan merupakan bentuk relasi yang paling sempurna, di mana 

setiap orang dituntut untuk menghargai perbedaan satu sama lain. Dalam 

kehidupan bersama di warga  atau di dalam Gereja sendiri penting 

membangun sebuah komunitas yang inklusif di mana setiap anggota dapat 

saling mendukung dan memperkuat satu sama lain, sebagaimana tercermin 

dalam persatuan antara pribadi-pribadi Ilahi di dalam persekutuan Trinitas. Oleh 

sebab  itu, dalam komunitas mana pun, penting diperhatikan, bahwa setiap 

individu setara martabatnya dan masing-masing individu layak dihargai 

keunikan dan perbedaannya.  

 

KBG Sebagai Perwujudan Persekutuan Kasih Trinitas 

Komunitas Basis Gerejawi (KBG), tentu bukan lagi istilah yang asing bagi 

umat Kristiani di masa kini. Komunitas seperti ini mulai berkembang pertama-

tama di Brazil sekitar tahun 1960-an. 29  Pakaenoni mengutip seorang teolog 

Brazil, Marcello Azevedo, mengatakan bahwa awal keberadaan Komunitas 

Basis Gerejawi di Brazil dapat diidentifikasi antara tahun 1963-1967.30 Sebelum 

terbentuknya KBG, setidaknya ada tiga gerakan di dalam lingkup Gereja di 

Brazil yang menjadi latar belakang.31 Pertama, lahirnya gerakan Evangelisasi 

Komunitarian yang terungkap melalui katekese popular Barra do Pirai tahun 

1956. Tujuan utama dari katekese ini, ialah mewujudkan misi penginjilan, dan 

peranan sebuah Gereja lokal bagi kehidupan beriman seluruh umat. Hal ini 

dilakukan mengingat keterbatasan jumlah imam dan biarawan untuk melayani 

misi ini  sehingga kaum awam perlu dilibatkan. Kedua, “Gerakan Natal” 

(The Natal Movement) tahun 1962. Gerakan ini bertujuan untuk memperhatikan 

orang-orang Kristiani yang tidak aktif lagi dalam kehidupan sebagai warga 

 

Gereja. Mereka tidak berpartisipasi dalam kehidupan paroki dan juga tidak 

menerima pelayanan Sabda dan Sakramen. Di samping itu, terkandung pula 

dalam gerakan ini, sebuah misi untuk pembebasan dunia melalui preferensi 

keberpihakan kaum Kristiani, kepada orang-orang miskin dan tertindas. Ketiga, 

Gerakan Pendidikan Dasar (Movimento de educacao de base) tahun 1965. 

Gerakan ini menjadi cikal bakal dari pendidikan dasar dalam konteks Gereja dan 

negara Brazil. Pendidikan dijadikan sebagai sebuah proses penyadaran bagi para 

peserta didik untuk menghadapi aneka realitas hidup. Tujuan akhir dari 

pendidikan seperti itu yaitu  membangkitkan kesadaran warga  untuk 

menemukan solusi atas berbagai permasalahan seperti kesehatan, pendidikan 

dan kehidupan sosial-politik.  

Gerakan-gerakan seperti disebutkan di atas, pada akhirnya melahirkan 

Komunitas Basis Gerejawi yang tersebar dalam warga  sebagai basis 

perjuangan. Hal ini mendapat dukungan dari Konferensi Wali Gereja Brazil 

melalui Konferensi Kedua (CELAM II) di Medelin, 1968. Dukungan ini  

telah menyebabkan perkembangan pesat KBG dalam waktu singkat. Gerakan 

KBG ini lebih lanjut diterima pula oleh berbagai Gereja lokal di luar negara 

Brazil.  

Gereja di Asia melalui Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 

mempromosikan gerakan KBG ini ke seluruh warga Katolik di negara-negara 

Asia melalui sidang umum di Bandung tahun 1990.32 Di Indonesia Gerakan 

KBG ini ditetapkan sebagai cara baru hidup menggereja melalui Sidang Agung 

Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2000. Selanjutnya keuskupan-

keuskupan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, menjawabi gerakan yang 

diserukan oleh SAGKI ini . Gereja di Nusa Tenggara Timur misalnya, 

keuskupan-keuskupan mengembangkan komunitas-komunitas basis yang 

bersifat devosional (misalnya kelompok untuk doa dan pendalaman iman) yang 

telah dimulai tahun 1950-an, menuju KBG yang baru seturut semangat CELAM 

II di Medelin. 

KBG yaitu  komunitas kecil akar rumput dari Gereja yang menekankan 

partisipasi aktif, kepemimpinan bersama, dan komitmen terhadap keadilan 

sosial. KBG juga meningkatkan martabat dan tanggung jawab kaum awam 

dalam Gereja, dan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para anggotanya.

Biasanya komunitas kecil ini  merupakan bagian dari struktur sebuah 

paroki. Dalam komunitas ini  dipilih seorang pemimpin atau penggerak 

yang secara resmi dilantik oleh pastor paroki. Komunitas ini merupakan 

komunitas iman yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang berasal dari 

latar belakang budaya yang berbeda-beda. Tetapi, sebab  imannya yang sama 

kepada Kristus, mereka disatukan sebagai sebuah persekutuan anak-anak Allah. 

KBG pada saat ini masih lebih banyak terarah kepada kegiatan-kegiatan Rohani. 

Pergeseran dari KBG lama sebagai kelompok devosional ke KBG sebagai 

kelompok perjuangan bersama misalnya mengatasi masalah-masalah sosial 

belum sepenuhnya terjadi. 34  Walaupun demikian, kegiatan-kegiatan sosial 

kewarga an tidak diabaikan sama sekali. 

KBG berfokus pada pengembangan iman setiap anggota komunitas yang 

bersifat holistik, yaitu rohani dan jasmani, individual dan sosial, penguatan ke 

dalam dan misi evangelisasi ke luar. Hal ini terealisasi dalam kegiatan-kegiatan 

yang dilakukan di dalam komunitas. KBG menjadi tonggak dalam menjalankan 

misi evangelisasi Gereja di tengah warga . Dengan demikian, KBG 

menunjukkan eksistensinya sebagai persekutuan yang utuh dan berintegritas. 

Untuk itu, sebagai sebuah persekutuan, setiap anggotanya berupaya 

menunjukkan relasi yang baik dalam membangun kerja sama di dalam 

komunitas. 

 Model persekutuan Trinitas yang ditawarkan oleh Boff lewat sumbangsih 

pemikirannya, sangat cocok dan relevan bila diterapkan di dalam KBG. 

Hubungan dalam Trinitas yang disebut perichoresis, menurut Boff merupakan 

model ideal yang mendorong suatu komunitas untuk mengimitasinya. Model 

relasi ideal ini  menjadi kekuatan untuk transformasi kehidupan warga , 

yaitu mewujudkan suatu cara baru menjalani kehidupan menurut gambaran 

Trinitas.35 Dengan pandangan terhadap Trinitas seperti ini, Boff tidak hanya 

berhenti pada tingkatan ajaran teologi, melainkan juga menjadikan kehidupan 

Trinitas sebagai dasar dari transformasi sosial dan pembebasan manusia dari 

berbagai tekanan. Persekutuan di dalam Allah Trinitas menjadi model bagi 

persekutuan dalam KBG.  

Dari pemahaman-pemahaman di atas, konsep Trinitas Boff sebagai Allah 

Persekutuan memiliki implikasi terhadap kehidupan dalam KBG. Kehidupan di 

dalam KBG sebagai sebuah persekutuan iman selayaknya merupakan cerminan 

dari pe sekutuan kasih Trinitas. KBG yang mencerminkan persekutuan dalam 

Tritunggal Mahakudus merupakan gagasan mendalam yang dapat dieksplorasi 

dari beberapa sudut pandang.  

Pertama, dari sudut kesatuan dalam perbedaan. Ketiga pribadi Trinitas 

berbeda namun bersatu dalam keselarasan sempurna. Demikian pula, KBG 

menyatukan individu-individu dengan beragam latar belakang, bakat, dan 

perspektif, yang berupaya untuk berfungsi sebagai satu tubuh di dalam Kristus. 

Setiap anggota menyumbangkan karunia dan pengalaman unik mereka, yang 

memperkaya komunitas dan hal ini mencerminkan kekayaan dalam Trinitas. 

Kedua, dari segi saling mengasihi dan tidak mementingkan diri sendiri. Kasih 

sempurna antara Bapa, Putera, dan Roh Kudus bersifat penyerahan diri dan 

pengorbanan. Anggota KBG bertujuan untuk menumbuhkan kasih yang sama 

dalam komunitas mereka, menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan 

mereka sendiri dan mempraktekkan sikap saling mendukung. Kasih tanpa 

pamrih ini mencerminkan kasih agape yang dicontohkan oleh Kristus dan 

mencerminkan hubungan abadi dalam Trinitas.  

Ketiga, misi dan tujuan Bersama. Tritunggal Mahakudus bersatu dalam 

misi penciptaan, penebusan, dan pengudusan. Demikian pula, KBG memiliki 

tujuan yang sama, didorong oleh iman dan keinginan untuk melayani Tuhan dan 

komunitasnya. Misi bersama ini menyatukan anggota dalam tujuan bersama, 

melampaui perbedaan individu dan mencerminkan sifat kolaboratif dari karya 

Tritunggal. Keempat, komunikasi dan bersekutu dalam doa dan kearifan. 

Tritunggal selalu berkomunikasi dan bersekutu, berbagi pemikiran dan niatnya. 

KBG berupaya menciptakan ruang untuk komunikasi terbuka, doa, dan 

pemahaman bersama. Melalui pendengaran Sabda dan refleksi yang penuh doa, 

para anggota mencari bimbingan Tuhan dan berusaha untuk bertindak selaras 

dengan kehendak-Nya, dan hal ini menggemakan kesatuan tujuan dalam 

Tritunggal.  

Kelima, transformasi dan pertumbuhan yang konsisten. Hubungan dalam 

Tritunggal yang konsisten, merupakan hal ideal yang diupayakan dalam KBG. 

KBG dapat berfungsi sebagai katalisator transformasi sosial yang dimulai dari 

pribadi dan komunitas. Melalui berbagi pengalaman, doa, dan dukungan, para 

anggota dapat bertumbuh dalam iman, pengertian, dan kasih mereka secara 

konsisten. Hal ini mencerminkan konsistensi yang berkelanjutan dalam 

Tritunggal. 

Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 1, Juni. 2024 70 

Persekutuan kasih yang menjadi kesatuan antara pribadi-pribadi Ilahi di 

dalam Allah yang Trinitas, menjadi dasar untuk perkembangan sebuah KBG. 

Para anggota komunitas menunjukkan relasi yang penuh antara para 

anggotanya. Meskipun komunitas basis itu sendiri memiliki struktur yang 

menjadi acuan dalam membangun kehidupan bersama di dalam komunitas, 

tetapi hal ini bukanlah sebuah tembok pemisah yang membatasi relasi antara 

para anggota komunitas. Para anggota komunitas basis dituntut untuk saling 

mengisi satu sama lain, berada bersama, dan saling meresapi satu sama lain 

sebagai sebuah komunitas yang merupakan persekutuan kasih.  

KBG merupakan persekutuan iman, di mana unsur comunio di dalamnya 

sangat kental. Oleh sebab  itu, KBG sebenarnya tidak menekankan pola dan 

gaya kepemimpinan yang sentralistis dan hierarkis, melainkan setiap anggota 

memiliki peran yang seimbang, desentralistis dengan pembagian tugas serta 

tanggung jawab. Dengan demikian, pemahaman ini merujuk pada kesetaraan 

derajat semua anggota komunitas.36 Setiap anggota komunitas dipanggil untuk 

saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Hal ini berarti bahwa setiap 

anggota di dalam komunitas basis berupaya mengutamakan nilai-nilai 

persaudaraan dan cinta kasih, yang bermuara pada kepenuhan eksistensial 

sebuah komunitas. Sebagai sebuah komunitas, terkandung di dalamnya nilai-

nilai konvensional yang bertujuan pada kebaikan bersama (Bonum Commune) 

anggota komunitas.  

KBG sebagai sebuah persekutuan iman, juga selalu berorientasi pada nilai-

nilai Kristiani yang ditanam di dalam komunitas ini . Maka, peran anggota 

komunitas demi memperjuangkan nilai-nilai Kristiani sangat penting dalam 

menunjang pertumbuhan dan perkembangan anggota komunitas. KBG, 

setidaknya memiliki sebuah corak yang khas, sehingga dapat dibedakan dari 

organisasi-organisasi warga  lainnya. Untuk itu, dibutuhkan model 

persekutuan yang khas dari Kristus, sebagai contoh dan teladan hidup di dalam 

komunitas umat.  

Sebagai sebuah persekutuan, KBG menjadikan relasi persekutuan Trinitas 

sebagai model dalam membangun hubungan yang harmonis di dalam komunitas 

ini . Relasi penuh dan total yang ditunjukkan di dalam ketiga pribadi Ilahi, 

menjadi spirit di dalam komunitas. Setiap anggota komunitas, mengupayakan 

dan menghidupi kesetaraan derajat di dalam komunitas, di mana tidak ada yang 

lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan semuanya sama-sama dihargai 

martabat dan perannya. Struktur yang dibangun di dalam komunitas gerejawi 

hany  seb tas pada pembagian tugas, bukan berorientasi pada kekuasaan. 

Struktur hanyalah sebuah formalitas yang membantu dalam proses kerja di 

dalam komunitas tanpa mereduksi esensi dari makna komunitas itu sendiri.  

Konsep Allah Trinitas sebagai persekutuan menurut Boff, tepat dijadikan 

model persekutuan yang ideal di dalam KBG. Boff melihat adanya relasi 

interpersonal yang khas di antara ketiga pribadi Ilahi: Bapa, Putera, dan Roh 

Kudus. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam KBG, sehingga setiap 

anggota mampu untuk saling menghargai dan saling menghormati sesama 

anggota tanpa memandang rendah atau mendiskriminasi walaupun berasal dari 

latar belakang sosial, budaya dan ekonomi yang berbeda. KBG sebagai sebuah 

persekutuan iman selayaknya mengedepankan kesetaraan semua anggota tanpa 

membedakan status sosial atau ekonomi, sehingga yang miskin dan yang kaya, 

yang berjabatan tinggi dan rakyat jelata dapat duduk sama rendah dan berdiri 

sama tinggi di hadapan Tuhan. Dengan demikian misi evangelisasi yang 

diemban umat beriman Kristiani di tengah warga  dapat terlaksana secara 

efektif.