Teori tritunggal 2

 


Allah oleh sebab  Tuhan kita, Yesus 

Krisus” dan “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita 

oleh Roh Kudus” (Rm. 5:1;5). Pada bagian penutup dari 

suratnya iamenasehatkan para pembaca demi Kristus Tuhan 

dan demi Kasih Roh untuk senantiasa bergumul bersama-

sama dengannya di dalam doa kepada Bapa (15:30).50 

Senada dengan hal itu, disampaikan juga oleh Paulus dalam 

suratnya kepada jemaat di Korintus dengan mencirikan 

pelayanannya sebagai yang berpusat pada Yesus Kristus, 

kekuatan Roh Kudus dan Allah (1 Kor. 2:1-5). Allah telah 

menyatakan hikmat-Nya yang tersembunyi kepadaku melalui 

Roh, memberi  pikiran Kristus (1 Kor. 2:9-16). Roh Allah 

memimpin umat untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan (1 Kor. 

12:3), Allah telah meneguhkan dalam Kristus dan telah 

mengurapi dan memateraikan dengan Roh Kudus (2 Kor. 3:4-

18). Roh menghasilkan dalam diri suatu kerinduan akan 

kebangkitan dan bersama kebangkitan itu, penebusan yang 

seutuhnya dan kehadiran yang berkesinambungan bersama 

Tuhan (2 Kor 5:1-10).51 

Di bagian lain, Paulus menggandengkan karya Roh dan 

persatuan dengan Kristus sebagai penggenapan janji-janji 

Allah (Gal 3:1-4:6). Ia juga menekankan bahwa penyembahan 

oleh Roh Allah yaitu  sama dengan bermegah dalam Kristus 

Yesus (Flp. 3:3). Di surat Kolose Paulus mengajarkan kepada 

pembaca-pembacanya untuk membiarkan perkataan Kristus 

yang penuh dengan kekayaan diam di antara mereka (Kol. 

3:16), sementara dalam perikop yang sejajar di Efesus ia 

menyebutnya sebagai sesuatu yang dipenuhi dengan Roh 

Kudus, mengucap syukur kepada Allah Bapa dalam nama 

Tuhan kita Yesus Kristus (Ef. 5:18-20). Dalam suatu bagian 


yang mungkin merupakan himne, ia merujuk kepada jemaat 

Allah dan pusatnya sebagai pengakuan iman akan Kristus 

yang dibenarkan oleh Roh Kudus (1 Tim. 3:15-16).52 

Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa begitu banyak 

perikop di dalam Perjanjian Baru di mana Allah bertindak 

dengan cara rangkap tiga. Hal ini yaitu  kumpulan bukti yang 

kuat dalam menunjukan bahwa telah ada pemaknaan 

keimanan mengenai ketritunggalan Allah sebelum rumusan 

iman ini  dikonsepsikan. 

e. Personalitas 

Konsep mengenai personalitas mengacu dari eksistensi 

atau keberadaan-Nya yang disebutkan secara personal namun 

memiliki relasi antara satu dengan yang lain. Oleh sebab  itu 

pada pokok ini   membahas hal-hal yang berkenaan dengan 

personalitas tiap-tiap pribadi. 

1) Allah Bapa 

Dalam Perjanjian Lama, nama Allah yaitu  YHWH 

(adonay) yang muncul sebanyak hampir tujuh ribu kali, 

sedangkan Allah menyebut diri-Nya Bapa hanya sekitar dua 

puluh kali. Baik dalam penekanan monotheisme maupun 

perintah yang melarang patung-patung untuk penyembahan 

mendasari transendensi Allah di atas semua ciptaan yang 

dibandingkan dengan-Nya.Allah disebut Bapa merunjuk pada 

hubungan yang ada antara diri-Nya dengan bangsa Israel (Kel 

4: 22-23) dan menunjuk kepada pada pemilihan Allah yang 

bebas, bukan pada aktivitas seksual dan memperanakan 

secara fisik. Seperti pengambaran dari dewa-dewi di dunia 

kuno yang sering dihubungkan dengan prokreasi. Dengan 

demikian orang Israel diajarkan untuk menghindari pemikiran 

tentang Allah yang dikaitkan dengan hal-hal fisik terutama 

reproduksi manusia. Sebaliknya, sebagai Bapa, Allah dengan 

bebas telah memilih mereka dalam sejarah keselamatan.53 

Dialah yang menciptakan Israel, yang memicu  Israel 

dapat hidup sebagai bangsa (Ul 32:6; Yes 64:8), dan Dialah 

yang memilih Israel menjadi sekutu dan mengangkat serta 

menjadikan mereka anak-anak-Nya. 

Sedangkan dalam perjajian baru penekanan utama 

mengenai konsep Allah Bapa muncul setidaknya dari tiga 

perspektif. Pertama yaitu  Bapa dari Yesus (Bapaku dalam 

Matius 10:32), lalu  Bapa dari para murid (Bapa kami 


dalam Matius 6:9) dan terakhir yaitu  Bapa dari semua orang 

percaya (Bapamu dalam Matius 6:32). Dari dua perspektif di 

atas pada dasarnya sama-sama menekankan tentang sosok 

Allah yang senantiasa yaitu  pencipta dan pemelihara 

kehidupan.54 

2) Allah Anak/ Firman 

Firman atau dalam Bahasa Yunani yaitu  logoj (Logos) 

dapat juga diterjemahkan sebagai rasio, atau ucapan. Tidak 

dapat disangkal bahwa premis yang mendasari nama ini 

yaitu  ajaran yang konsisten dari kitab suci bahwa baik di 

dalam penciptaan maupun penciptaan ulang, Allah 

menyatakan diri dengan firman. Dengan firman Ia mencipta, 

memelihara, dan memerintah segala sesuatu. 

Di dalam Perjanjian Lama, firman yang olehnya Allah 

menyatakan diri diketahui untuk pertama kali pada saat 

penciptaan. Hipostasis dan eksistensi kekal ini  dibiarkan 

tidak diungkapkan. Di dalam Amsal 8, sekalipun Firman 

digambarkan bersifat personal dan kekal, ia juga dikaitkan 

dengan penciptaan. namun  dalam Perjanjian Baru, Yohanes 

 

 

menyebutnya Anak (Kristus) sebagai sang Firman sebab  di 

dalam Dia dan oleh Dialah Allah menyatakan diri-Nya di dalam 

penciptaan (Yoh. 1:3, 14) dan bahkan lebih jauh lagi ia 

menyatakan secara tegas bahwa Firman ini sudah ada pada 

mulanya (Yoh. 1:1), hal ini berarti bahwa ia bukan menjadi 

Firman; Ia bukan yang pertama dibentuk dan ditetapkan pada 

waktu penciptaan. Baik secara pribadi maupun berdasar  

natur, Ia sejak kekekalan yaitu  Firman. Selain itu, Ia sendiri 

yaitu  Allah, senantiasa bersama Allah (Yoh.1:2), ada di 

pangkuan Bapa (Yoh.1:18), dan merupakan objek dari kasih 

kekal-Nya dan pengomunikasian diri-Nya (Yoh. 5:27; 17:24). Ia 

dapat menyatakan Bapa sepenuhnya sebab  sejak kekekalan 

Ia berbagian di dalam natur ilahi-Nya, kehidupan ilahi-Nya dan 

kasih ilahi-Nya. sebab  Allah mengomunikasikan diri-Nya 

kepada Firman, maka Firman dapat mengomunikasikan diri-

Nya kepada manusia, sebagaimana yang terjadi dalam 

inkarnasinya sebagai manusia Yesus yang hadir dalam 

panggung sejarah manusia, sehingga status Anak bagi Yesus 

yaitu  dalam pengertian metafisis bukan hubungan teokratis 

sebagaimana kata ini melekat pada bangsa Israel. Walaupun 

sebagai perantara Yesus digambarkan bergantung serta 

 

tunduk kepada Bapa, itu bukan berarti mengurangi kesatuan 

esensi-Nya dengan Bapa, dan gelar Allah tidak akan 

diterapkan secara tepat kepada Yesus jika Ia tidak benar-

benar berkopartisipasi di dalam natur Allah.55 

3) Allah Roh/ Roh Kudus 

Roh Allah disebutkan hampir empat ratus kali di dalam 

Perjanjian Lama dan secara umum Roh dilihat sebagai kuasa 

Allah yang sedang bekerja, terkadang sebagai suatu 

perpanjangan dari personalitas Ilahi tapi juga sebagai sebuah 

atribut Ilahi yang termanifestasi dan berkuasa di dunia. Di 

samping itu, paralelisme puisi Ibrani mengimplikasikan bahwa 

Roh Allah sama dengan YHWH (Mazmur 139:7), serta sebagai 

kuasa Ilahi atau nafas Allah dan aktivitas Allah yang 

termanifestasi dan berkuasa di dunia. Sehingga tak jarang 

bahasa antropormorfis mengidentifikasikan Roh selayaknya 

satu pribadi, seperti membimbing, mengajar, dan memberi 

hidup. (Kej. 1:2), serta memberi kuasa untuk beragam bentuk 

pelayanan dalam kerajaan Allah (Bil. 27:18; Hak. 3:10; 1 Sam. 

19:20,23).56 

 

Dalam Perjanjian Lama memang ada distingsi antara Allah 

dan Roh-Nya namun natur distingsinya masih samar sebab  

Yesus belum dimuliakan (Yoh. 7:39) dan dalam pengertian 

khusus hari pentakosta, di mana untuk pertama kalinya 

eksistensi personal dan keilahian dari Roh secara jelas terlihat. 

Selanjutnya serangkaian atriibut ilahi dikenakan secara setara 

kepada Roh Allah dan Allah sendiri, sebagaimana Anak 

memiliki relasi dengan Bapa, demikianlah Roh memiliki relasi 

dengan Anak. Sebagaimana Anak bersaksi dan 

mempermuliakan Bapa (Yoh. 1:18; 17:4, 6), demikianlah Roh 

bersaksi demi mempermuliakan Anak (Yoh. 15:26; 16:14). 

Sebagaimana tidak ada seorang pun dapat datang kepada 

Bapa kecuali melalui Anak (Mat. 11:27), demikian pula tidak 

ada seorang pun dapat berkata Yesus yaitu  Tuhan kecuali 

oleh Roh Kudus (1 Kor. 12:3).57 

Dari pemaparan di atas, yang bertolak dari 

inkomprehensibilitas dan penyataan Allah sebagai unsur-unsur 

esensial dari ajaran Allah Tritunggal. Jelaslah bahwa, manusia 

lewat kemampuan dirinya sendiri tidak akan pernah dapat 

mengenal dan memahami Allah. Namun dengan penyataan-

Nya di panggung sejarah, sebagaimana kesaksian Alkitab 

telah membuat Allah dapat dikenali dan mungkin dipahami 

walau tak tuntas. Mengacu dari kedua hal ini, maka tidak dapat 

dipungkiri bahwa ajaran Tritunggal mengandung misteri dan 

sulit untuk dianalogikan, sebab di satu sisi, penyelarasan 

tentang penyataan Allah mengahasilkan sifat paradoksal, dan 

di sisi lain, bersinergi dengan realita. Jadi, Tritunggal yaitu  

konsepsi ajaran yang tidak kontradiksi dengan kesaksian 

Alkitab, walau tak sesuai dengan kerangka berpikir manusia. 

Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa pembahasan mengenai 

Allah Tritunggal tak pernah sepi dari peredaran dan selalu 

menjadi topik yang senantiasa penuh dengan keruncingan 

sebab  sifatnya yang seolah-olah ambigu hingga menghasilkan 

interpretasi yang berbeda dari berbagai pihak, baik dalam 

maupun dari pihak luar   Kekristenan. 

C. Kontra Ortodoksi 

Perjalanan perumusan konsep ajaran Tritunggal tentunya 

tidak pernah lepas dari berbagi macam propaganda yang 

selalu mencoba dan tidak henti-hentinya mengintimidasi ajaran 

yang ortodoksi. Kesulitan dalam memahami ajaran Tritunggal 

juga turut menjadikan propaganda ini terus berlanjut, dan 

Berikut   hadirkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan 

rumusan iman Tritunggal. 

1. Subordinasionalisme 

Tokoh utama dari konsep ini yaitu  Arius (± tahun 256) 

seorang presbiter asal Aleksandria yang mengajarkan bahwa 

Kristus yaitu  pencipta yang berpraeksistensi dan juga 

makluk. Arius berpandangan bahwa Yesus Kristus 

diperanakan pada suatu waktu dan ada waktu di mana Ia tidak 

ada, dan dengan begitu Dia dapat berubah seperti manusia 

pada umumnya sehingga Dia dapat diteladankan. Arius 

menafsirkan bagian-bagian kitab suci yang berbicara tentang 

Kristus sebagai yang menderita, makin bertumbuh, makan, 

tidur, dan minum yaitu  tanda bahwa Ia bukanlah Allah, 

melainkan makluk. Sedangkan bagian-bagian kitab suci yang 

menjelaskan tentang Dia sebagai Pencipta segala sesuatu, 

memperlihatkan bahwa Ia bukanlah sekedar manusia biasa. 

sebab  itu, Arius tapaknya melihat Dia sebagai semacam 

setengah ilah atau malaikat dan tidak melihatnya sebagai 

kesatuan dari dua hakikat, Ilahi dan manusiawi, melainkan 

sebagai suatu hakikat yang terdiri dari atas unsur-unsur 

tertentu, yakni bertubuh manusia dengan jiwa malaikat.58 

Pandangan ini pada perkembangannya sering juga disebut 

Arianisme, walau terkadang para penganutnya (kaum Arian) 

sering menyangkal hubungan formal apapun dengan Arius, 

namun sangat jelas bahwa segala klaim dari kaum Arian 

memiliki persamaan dengan apa yang Arius ajarkan.59 Sesuai 

dengan namanya Subordinasionalisme, pandangan ini 

merupakan penyangkalan teradap konsubstansialitas Anak 

dengan Bapa; dengan kata lain, pernyataannya bahwa hanya 

Bapa yang dalam pengertian yang mutlak yaitu  satu-satunya 

Allah yang sejati. Hal ini menghasilkan pemahaman bahwa 

Anak yaitu  keberadaan dengan tingkat yang lebih rendah 

dan tidak senatur dengan Bapa. Mereka menempatkan Anak 

di antara Bapa dan ciptaan, dan memberi  batas interpretasi 

yang luas berkaitan dengan tempat apa sesungguhnya yang 

Anak tempati. Jarak antara Allah dan dunia yaitu  infinit, dan 

setiap titik manapun dari rentang tempat ini  dapat 

diberikan kepada Anak, mulai dari tahta di sebelah Allah 

sampai posisi di samping ciptaan, malaikat, atau manusia. 

 

Arianisme menyatakan bahwa Anak memang kekal, 

diperanakan dari substansi Bapa, bukan ciptaan dan bukan 

dijadikan dari yang tidak ada, namun tetap inferior dan 

subordinat terhadap Bapa. Hanya Bapa yang yaitu  Sang 

Allah dan sumber keIlaian. Anak yaitu  Allah sebab  telah 

menerima natur-Nya dari Bapa melalui pengkomunikasian 

yang memberi Anak tempat di luar Bapa dan menyebut Dia 

seperti Bapa. Di samping itu, mereka menyatakan bahwa Anak 

dan Roh Kudus diciptakan oleh kehendak bebas Bapa 

sebelum penciptaan dunia, dan hanya disebut Allah sebab  

jabatan-Nya, serta mengklaim bahwa tujuan dari Anak ialah 

memberi  hukum kepada manusia. Sesudah itu Ia diangkat 

ke suatu posisi di Sorga dan Roh tidak lebih dari suatu kuasa 

Ilahi.60 Dari pemaparan ini, maka terlihat jelas bahwa 

pandangan Subordinasionalisme lebih menekankan pada 

keesaan Allah secara mutlak sehingga hubungan yang ada 

antara ketiga pribadi bersifat strata dan terpisah tanpa ada 

indikasi kesatuan. 

2. Monarkianisme 

Seperti halnya Subordinasionalisme, paham 

Monarkianisme juga menyangkal kejamakan (tres personae) 

yang ada dalam substansi Allah. Namun, jika 

Subordinasionalisme menempatkan Anak dan Roh Kudus di 

luar Allah. Maka, Monarkianisme berusaha menegakkan 

kesatuan dengan menyerap keilaian Anak dan Roh Kudus ke 

dalam substansi Bapa, sehingga semua distingsi atau 

perbedaan di antara ketiga pribadi melebur menjadi satu 

secara mutlak. Paham ini mengembangkan ajarannya dengan 

memahami bahwa unsur Ilahi yaitu  semacam kegiatan atau 

penampakan dari satu Allah yang tunggal. Paham ini 

dinamakan sesuai dengan terminologi kata monarkianisme. 

Yaitu, berpegang teguh pada kesatuan dan ketunggalan dari 

keilaian.61 Paham monarkianisme sendiri dapat diklasifikan 

atau dikelompokan menjadi dua bentuk, yaitu sebagai berikut: 

a) Monarkianisme Dinamis 

Monakianisme Dinamis menganggap pribadi (ketigaan) ilahi 

yaitu  aktivitas atau energi Allah. Jadi, nama paham ini 


berasal dari kata Yununi untuk energi yaitu dynamis. Tokoh 

utama dari paham ini ialah Theodotus dari Byzamtium (± tahun 

190). Ia mengemumakan bahwa Yesus sebenarnya hanyalah 

seorang guru yang mengajarkan kebenaran rohani dan sosok 

teladan dalam persekutuan dengan Allah.62Ia tidak lebih dari 

manusia biasa yang baru diberi kekuatan oleh Roh Kudus 

(hanyalah merupakan kekuatan ilahi) pada saat pembaptisan-

Nya. Yesus lambat-laun menjadi sekehendak dengan Allah. 

Oleh sebab  itu, Yesus dianggap sebagai Anak Allah. Dengan 

acuan dan pandangan yang demikian konsepsi Monakianisme 

Dinamis juga disebut sebagai aliran Adoptianisme.63 

b) Monarkianisme Modalis 

Jika dinamis memandang keberagaman Allah yaitu  

aktivitas atau energi Allah. Maka, modalis menganggap pribadi 

(ketigaan) dalam diri Allah yaitu  tiga, tiga nama, tiga kedok, 

tiga bentuk, tiga cara muncul atau barada Allah. Nama modalis 

juga merupakan pemaknaan dari kata Latin modus atau cara 

berada. Modalis juga berpegang pada kesatuan, 

ketidakterbagian dan ketunggalan dari Ilahian itu. Salah satu 

 

tokoh utama dari pandangan ini ialah Praxeas (± tahun 210) 

menyatakan bahwa Allah secara keseluruhan hadir dalam diri 

Yesus. Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah gelar yang 

dikenakan pada keberadaan yang esa. Bapa sendirilah yang 

masuk ke dalam rahim perawan Maria dan Allah sepenuhnya 

menderita, mati dan bangkit.64 

Selain Praxeas, tokoh lain dari pandangan ini yaitu  

Sebellius (± tahun 215) menyatakan bahwa Allah sebagai 

Bapa yaitu  pencipta dan pemberi hukum; sebagai Anak, 

Allah yang sama itu memproyeksikan diri-Nya untuk 

menunaikan tugas penebusan dan sebagi Roh Kudus, Allah 

yang sama pula menjelma mengerjakan pembaharuan dan 

pengudusan, atau dengan kata lain, Allah pada dasarnya tidak 

terdiri dari tiga pribadi, melainkan hanyalah tiga topeng dalam 

sandiwara atau tiga pertunjukan dalam tiga masa,yang di 

mana Allah pertama menjadi Bapa pada zaman Perjanjian 

Lama, lalu  menjadi Anak (Yesus Kristus) di zaman 

Perjanjian Baru, dan pada terakhirnya menjadi Roh Kudus di 

zaman gereja.

Dari pandangan monarkianisme baik aliran dinamis 

maupun modalis sama-sama menolak keberagaman (tres 

personae) dalam Allah. Dengan demikian, ajaran ini berbeda 

dengan ajaran Trinitarian. Sehingga tidak mengherankan jika 

pandangan semacam ini ditolak pada saat konsili dan 

dinyatakan bidat. 

Jadi, intinya yaitu  gereja tidak bisa semata-mata 

menerima ajaran subordinasi maupun monarkianisme atau 

sekedar menyatukannya. Itulah sebabnya, gereja menolaknya 

sebab  pada dasarnya tereduksi menjadi ajaran sesat yang 

sama. Jikasubordinasi menyatukan yang temporal di dalam 

satu kesatuan yang korelatif dengan yang kekal, sedangkan 

monarkianisme mencoba untuk membuat dunia temporal 

menyediakan kejamakan sebagai pelengkap bagi dunia yang 

kekal dan menyediakan kesatuan realitas sebagai satu 

keutuhan.

Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa 

meski secara terminologi istilah Tritunggal tidak terdapat dalam 

Alkitab namun dari dalamnya mengandung dan menyediakan 

bahan-bahan yang menjadi dasar dari ajaran ini. Oleh sebab  

itu, pada bagian ini   akan membahas pokok ajaran Allah 

Tritunggal yang berdasar  tinjauan Alkitab. Baik dari 

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. 

A. Perjanjian Lama 

Penyataan Trinitarian dalam Perjanjian Lama belumlah 

komplit, sebab apa yang ditampilkan mengindikasikan 

eksistensi Trinitarian Allah yangsecara khusus berisikan 

sebuah organisme penyataan. Bak sebuah pentas drama, 

Perjanjian Lama yaitu  bagian pertama dari pertunjukan 

Tritunggal yang secara bertahap dilakonkan. Melalui 

penyataan Allah dalam nama-namapersonal menghadirkan 

pengenalan akan keberagaman yang eksis di dalam 

keberadaan Allah.Dalam Perjanjian Lama, Nama Elohim yang 

secara gramatikal memiliki bentuk plural hadir di tengah 

monoteisme Israel yang ketat tidak pernah mengalami 

keberatan. Keadaan Ini menandakan bahwa kejamakan yang 

dimiliki Nama ini  tidak mengandung unsur-unsur 

 

politeisme, dan lebih merujuk pada kekayaan kepenuhan-Nya 

secara mutlak yang berisi keragaman tertinggi. Hal ini sagat 

jelas pada waktu penciptaan, di mana Elohim mencipta 

dengan mengucapkan Firman-Nya yang bukan hanya sekedar 

bunyi, melainkan suatu kekuatan yang begitu besar sehingga 

dengan Firman-Nya Ia mencipta dan menopang dunia ini.67 

Pekerjaan penciptaan dan providensi ditetapkan bukan 

hanya oleh Firman, namun  juga oleh Roh-Nya (Kej. 1:2; Mzm. 

33:6; Yes. 40:7, dst.). Jika Allah menjadikan segala sesuatu 

oleh firman-Nya sebagai agen mediasi, melalui Roh-Nyalah Ia 

imanen di dalam ciptaan dan menghidupkan serta menjadikan 

semuanya indah. Jadi, menurut Perjanjian Lama, telah jelas 

dalam penciptaan bahwa sagala sesuatu tidak lepas dari 

eksistensi dan pemeliharaan penyebab rangkap tiga. Elohim 

dan kosmos tidak ditempatkan bersebelahan secara dualistis; 

justru sebaliknya, prinsip objektif dunia yang diciptakan Allah 

yaitu  firman-Nya, dan prinsip subjektifnya yaitu  Roh-Nya. 

Dunia pertama-tama dipikirkan Allah dan sesudah itu dijadikan 

oleh ucapan-Nya yang maha kuasa; sesudah menerima 

eksistensinya, dunia tidak berada secara terpisah dari Dia atau 


bertentangan dengan Dia, melainkan terus mendapatkan 

perhentiannya di dalam roh-Nya.68 Dalam Perjanjian Lamajuga 

penyebab rangkap tiga lebih jelas dalam domain penyataan 

dan pekerjaan penciptaan ulang. Nama YHWH yang 

menyatakan Allah dan membuat diri-Nya dapat diketahui 

sebagai Allah Perjanjian dan penyataan dalam sejarah. 

Sebagai YHWH, Ia tidak menyatakan diri-Nya secara langsung 

dan tanpa mediasi (Kel. 33:20). Kembali dengan firman-Nya, Ia 

menjadikan diri-Nya diketahui dan menyelamatkan, serta 

memelihara umat-Nya (Mzm. 107:20). Pembawa firman 

penyataan yang penebus itu yaitu  malaikat Tuhan. Walau 

dengan jelas berdistingsi dengan dari YHWH, malaikat ini 

menyandang nama, menjalankan kuasa, memicu  

pembebasan, membagi berkat, serta menerima penyembahan 

dan hormat yang sama. Roh Allah yaitu  prinsip dari seluruh 

kehidupan dan kesejahteraan, prinsip dari semua anugerah 

dan kuasa. Ia yaitu  kekuatan fisik (Hak. 14:6; 15:14), 

keterampilan artistik (Kel. 28:3; 31:1-5 dan I Taw. 28:12-19), 

kemampuan untuk mengatur (Bil. 11:17 dan I Sam. 16:13), 

intelek dan hikmat (Ayb. 32:8; Yes. 11:2), kekudusan dan 

 

pembaharuan (Mzm. 51:12; Yes. 63:10). Roh akan berdiam 

dalam ukuran yang tidak biasa di atas Mesias (Yes. 11:2; 42:1; 

61:1), namun  sesudah itu dicurahkan kepada semua orang (Yl. 

2: 28-29; Yes. 32:15; Yeh. 36:26-27; dan Za. 12:10), dan 

memberi  semua orang hati dan roh yang baru (Yeh. 36:26-

27). Prinsip Ilahi rangkap tiga inilah yang mendasari 

penciptaan serta menopang seluruh penyataan Perjanjian 

Lama.69 

B. Perjanjian Baru 

Perkembangan sejati ide Trinitarian Perjanjian 

Lamaditemukan dalam Perjanjian Baru. namun , ide ini  

muncul ke permukaan dengan jauh lebih jelas bukan sebagai 

hasil penalaran abstrak tentang keberadaan ilahi, melainkan 

melalui penyataan diri Allah di dalam penampakan diri, firman 

dan perbuatan. Di dalam inkarnasi Anak dan pencurahan Roh 

Kudus, satu-satunya Allah sejati dinyatakan sebagai Bapa, 

Anak dan Roh Kudus. Peristiwa ini bukanlah sesuatu yang 

baru, melainkan sudah pernah ada dalam peristiwa 

penciptaan. Bapa menyandang Nama ini dalam relasinya 

dengan Anak, yaitu  Dia telah menciptakan segala sesuatu 

 

 

(Mat. 7:11; Luk. 3:38; Yoh. 4:21; Kis. 17:28; I Kor. 8:6; Ibr 

12:9). Segala sesuatu menderivasi eksistensi mereka dari Dia 

(I Kor. 8:6). Sedangkan Anak yang menyandang nama ini 

sebab  memiliki relasi dengan Bapa dan identik dengan Logos, 

yang melaluinya Bapa menciptakan segala sesuatu (Yoh. 1:3; I 

Kor. 8:6; Kol. 1:15-17; Ibr. 1:3). Roh Kudus menerima Nama 

khususnya disebab kan pekerjaan-Nya, Ia yaitu  Roh yang 

sama bersama-sama dengan Bapa dan Anak memperindah 

dan melengkapkan segala sesuatu di dalam penciptaan (Mat. 

1:18; Mrk. 1:12; Luk. 1:35; 4:1, 14; Rm. 1:4). Selain itu, semua 

penulis Perjanjian Baru mengajarkan bahwa ketiga pribadi ini 

yaitu  yang menyatakan diri kepada Bapa leluhur. Dalam 

Anak Allah yang berinkarnasi penggenapan dari setiap nubuat 

dan bayang-bayang Perjanjian Lama, penggenapan dari para 

Nabi dan Raja, para Imam dan korban, Hamba Tuhan dan 

Anak Daud, malaikat Tuhan dan hikmat yag dalam pencurahan 

Roh Kudus yaitu  perealisasian dari apa yang telah telah 

dijanjikan di dalam Perjanjian Lama (Kis. 2:16; Yo. 2:28-29).70 

Selain mengikuti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga 

lebih jelas dalam menghadirkan dogtrin Tritunggal, yaitu 

 

dengan hadirnya prinsip rangkap tiga yang hadir dalam 

pekerjaan keselamatan. Bukan hanya beberapa teks 

tersendiri, melainkan seluruh Perjanjian Baru, yaitu  

Trinitarian dalam pengertian ini . Sebab rangkap tiga dari 

seluruh keselamatan, setiap berkat dan keterberkatan ada di 

dalam Allah; Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ini 

bertindak secara langsung pada saat kelahiran Yesus (Mat. 

1:18; Luk. 1:35) dan pada saat pembaptisannya (Mat. 3:16-17; 

Mrk. 1:10-11; Luk. 1:35). Selain itu, ajaran Yesus juga memiliki 

sifat Trinitarian. Ia menjelaskan tentang Bapa sebagai Roh 

yang memiliki kehidupan di dalam diri-Nya (Yoh. 4:24; 5:26), 

dan pengertian yang sangat unik sebab Ia menyebutnya 

sebagai Bapa-Nya (Mat. 11:27; 21:37-39; Yoh. 3:16), yang 

bersama-sama dengan Bapa di dalam kehidupan, kemuliaan, 

dan kuasa (Yoh. 1:14; 5:26; 10:30). Di samping itu, Yesus juga 

berbicara tentang Roh Kudus sebagai yang memimpin dan 

memampukannya (Mrk. 1:12; Luk. 4:1, 14; Yoh. 3:34), Roh 

disebutkan sebagai penolong (parakletos) yang lain, yang 

akan diutus-Nya dari Bapa (Yoh. 15:26) dan akan 

menginsyafikan, mengajar, dan memimpin ke dalam seluruh 

kebenaran, dan akan menghibur serta tinggal untuk selama-

lamanya (Yoh. 14:16).71Yesus juga mengajarkan kepada 

murid-murid-Nya sebelum terangkat mengenai seluruh 

ringkasan pengajarannya ini yang terkemas dalam rumusan 

baptisan. eivj to. o;noma tou/ patro.j kai. tou/ ui`ou/ kai. tou/ 

a`gi,ou pneu,matoj (“Dalam Nama Bapa, Anak, dan Roh 

Kudus”72 (Mat. 28:19). Kalimat ini yaitu  penyikapan 

mengenai Allah yang yaitu  Bapa, Anak dan Roh Kudus.73 

Serta perwujutan dari objek iman.74 Di samping itu, secara 

gramatikal kalimat ini juga mengandung pengajaran yang 

sangat jelas mengenai kesatuan dari Allah dan juga distingsi 

antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. sebab  dari teks Bahasa 

asli, kata nama (onoma) menggunakan bentuk tunggal, bukan 

jamak dan pemakaian  kata sandang (tou/) yang melekat di 

tiap objek yakni Bapa (tou/ patro.j), Anak (tou/ ui`ou/), dan 

Roh Kudus. (kai. tou/ a`gi,ou pneu,matoj) dalam Bahasa 

Yunani mengandung pengertian berpribadi.75 Jadi, ayat ini 

menegaskan tentang hanya ada satu namadan adanyan tiga 

pribadi di dalamnya. 

Ajaran ini dilanjutkan dan diperluas oleh para Rasul. 

Mereka mengetahui dan memuliakan penyebab rangkap tiga 

dari keselamatan ilahi ini. Keputusan kehendak, pemilihan, 

kuasa, kasih dan kerajaan semuanya yaitu  milik Bapa (Mat. 

6:13, 11:26; Yoh 3:16; Rm. 8:29; Ef. 1:29; I Pet. 1:2; dll). 

Pengantaraan, pendamaian, keselamatan, anugerah, hikmat, 

dan kebenar-adilan yaitu  berkenaan dengan Anak (Mat. 

1:21; I Kor 1:30; Ef. 1:10; I Tim. 1:5; I Ptr. 1:2; I Yoh. 2:2; dll). 

Sedangkan regenersi, pembaharuan, pengudusan, dan 

persekutuan yaitu  dari Roh Kudus (Yoh. 3:5, 14-6; Rm. 5:5, 

14:17; 2 Kor. 1:21-22; I Ptr. 1:2; I Yoh. 5:6; dll). Sama seperti 

Yesus pada akhirnya meringkaskan ajaran-Nya melalui 

rumusan baptisan, demikian pula halnya para Rasul berulang-

ulang kali menempatkan nama-nama ini secara berdampingan 

pada tingkat yang setara (I Kor. 8:6; 2 Kor. 13:13; 2 Tes. 2:13-

14; Ef. 4:4-6; I Ptr. 1:2; I Yoh. 5:4-6; Why. 1:4-6).76 


Pembentukan ajaran atau doktrin Tritunggal tidak terlepas 

dari sejarah kepercayaan orang Yahudi sebab  Kekristenan 

lahir di Israel, dan hal ini berkaitan erat dengan hidup dan 

karya Yesus Kristus di tengah-tengah bangsa Yahudi. Dalam 

perkembangannya, diperhadapkan dengan pluralitas 

keagamaan dan kebudayaan. Sehingga terpaksa 

mengkonsepsikan penghayatan keimanan sesuai dengan 

konteks di mana ia hadir dan menghindari diri dari segala 

bentuk intimidasi, serta agar tidak dicemari oleh para penyesat 

yang senantiasa hadir dalam lingkup kemasyarakatan. 

Dorongan ini menghasilkan sebuah konsep mengenai 

keberadaan ketiga pribadi (tres personae) di dalam Allah yang 

esa (una substantia), konsep ini lalu  dikemas dengan 

istilah Tritunggal. Walau secara terminologi tidak terdapat 

dalam Alkitab, namun sebagai bentuk kontekstualisasi, maka 

istilah ini tetap dipakai  sebab  telah ada dasar untuk 

membangun ajaran ini. 

A. Perumusan Ajaran 

Pada Abad ke-2 titik berat gereja berpindah dari lingkungan 

Yahudi (Palestinian) ke alam pikiran Yunani (hellenis). Dengan 

demikian, gereja diperhadapkan pada masalah inkulturasi, 

yang menuntut adanya kontekstualisasi dari iman ke dalam 

suatu Bahasa yang dapat dimengerti oleh orang yang 

berbudaya hellenis.77 

1. Penjabaran Ajaran 

Pada umumnya penjelasan mengenai keimanan masih 

mengikuti garis utama dari pandangan yang telah disketsakan 

diatas. Sang Bapa menghasilkan Logos-Nya yang kreatif, 

Logos ini hadir dalam Yesus yang historis serta Roh Kudus, 

pengilhaman dan pemberi terang, telah hadir sebelum Kristus 

di antara para nabi dan sesudah  Kristus di dalam komunitas 

Kristen. Namun, ketidakkonsistenan dalam terminologi tidak 

sama dengan inkoherensi dalam pemikiran.78 Hal ini terlihat 

dari salah satu usaha perumusan oleh Yustinus Martir (± 160), 

ialah orang pertama yang mencoba menjelaskan tentang iman 

Kristen, seorang Yunani yang lahir di Palestina pada awal 

abad kedua. Dalam perjalanan kehidupannya sebelum menjadi 

Kristen, ia yaitu  orang yang mencari kebenaran dalam 

filsafat Yunani. Mula-mula ia bergabung dengan seorang filsuf 

Stoa, lalu  bergabung dengan aliran Aristoteles, 

 

selanjutnya ia mengikuti Pythagoras, tak lama sesudah nya, ia 

memilih menjadi pengikut seorang filsuf yang beraliran 

Platonisme. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk menjadi 

Kristen sesudah  menyaksikan sikap orang Kristen yang tak 

takut mati dalam mempertahankan keimanannya kepada 

Yesus Kristus.79 Meskipun Yustinus telah menjadi orang 

Kristen namun pengaruh dari filsafat masih mendonominasi 

pemikirannya. Ia mengungkapkan imannya dengan memakai 

bentuk-bentuk filsafat Yunani terutama platonisme. Dialah 

apologet sekaligus teolog atau orang Kristen pertama yang 

berusaha untuk menguraikan iman Kristen secara ilmiah.80 

Pandangannya tentang konsep Tritunggal dikaitkan dengan 

ide tentang malaikat Tuhan. Menurutnya sang Anak sebelum 

menjadi manusia (prehuman) yaitu  Allah yang mengambil 

rupa seorang malaikat. Oleh sebab itu, maka kadang ia 

menyebut Anak (Yesus Kristus) sebagai malaikat namun  pada 

dasarnya Yaesus bukanlah malaikat. Selanjutnya ia pun 

melanjutkan pandangannya dengan mengatakan bahwa Bapa 

alam semesta mempunyai seorang Anak yang juga pada 

mulanya telah menjadi Firman Allah, yang yaitu  Allah. 

Firman itu pun telah menampakan-Nya dalam bentuk api yang 

menyerupai seorang malaikat kepada Musa dan nabi-nabi 

yang lain.81 Selanjutnya hadir dalam diri Yesus dan menjadi 

manusia. Walau Yesus dilihat lebih rendah dari Allah, tapi Ia 

memiliki keilahian yang berasal dari Allah. Oleh sebab  itu 

keilahian Yesus sama dengan keilaian Allah.82 

sesudah  penjabaran-penjabaran yang dilakukan, jelas 

terlihat adanya sikap ambiguitas dari ajaran yang dikemukakan 

sehingga membuka cela bagi berbagai macam propaganda 

dari berbagai pihak untuk mendeskriditkan iman Kristen. Hal 

itu dapat dilihat dari kemunculan beragam corak pemikiran 

turut mengambil bagian dalam merekonstruksikan 

penghayatan ini . 

2. Melawan Penyesat 

Dari pandangan Yustinus di atas telihat bahwa ia mengarah 

pada politeisme, yang sejatinya merupakan kontradiksi dengan 

nilai-nilai keimanan. Oleh sebab  itu, gereja berupaya untuk 

menghindari diri dan mengarahkan pandangannya ke arah 

monoteisme. Perubahan ini sangat terasa dengan kehadiran 

monarkianisme yang hadir melalui dua perwujudan yang satu 

bersifat dinamis dan lainnya modalis. Seperti yang telah 

dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa kedua pandangan 

ini pada dasarnya tidak melihat Yesus Kristus sebagai pribadi 

yang memiliki distingsi dengan Bapa. Meskipun 

monarkianisme mempertahankan monoteisme, namun gereja 

pada umumnya tidak menerima sumbangan pemikiran 

mereka, sebab pemecahan yang ditawarkan hanya mengacuh 

dari bebera teks Alkitab dan menghilangkan bagian-bagian 

yang menjelaskan tentang perbedaan antar pribadi yang ada 

pada Allah. 

Selain monarkianisme, bermuculan juga pelbagai sistem 

ajaran yang mencoba merasuk tubuh gereja, salah satunya 

ialah gnostisisme. Kata gnostis berarti pengetahuan atau 

hikmat tinggi.83 Sesuai dengan namanya, mereka berupaya 

menjelaskan makna kehidupan dan eksistensi Allah dengan 

menggabungkan paham filsafat barat dengan agama timur 

atau yang kenal dengan sinkritisme.84 Dalam menjabarkan 

 

ajarannya, penganut gnostis menunjuk kepada wahyu yang 

mereka terima dari Allah yang sejati sebagai sumber ajaran, 

yang lalu  dikemas dalam taurat baru.85Dalam aliran ini 

ada dua tokoh yang sangat berpengaruh dalam pandangannya 

tentang keutuhan yaitu Bassilides (90-150) dan Markion (100-

160).Bassilides tidak secara langsung membahas, tentang ide 

tritunggal namun  pembahasannya lebih kepada sebuah filsafat 

keutuhan. Menurutnya, Tuhan Bapa yang tertinggi itu 

mempunyai tujuh macam ketuhanan (Goddelijke Krachten) 

yaitu nous (roh), logos (kalam), phronesia (pikiran), Sophia 

(hikmat), dynamika (gaya), dikaiosyn (keadilan), dan eirene 

(perdamaian). Tujuh macam gaya ini mengalami 

perkembangan, dan akhirnya menjadi malaikat yang terbagi 

dalam 365 golongan, dan masing-masing golongan menguasai 

setiap lapisan langit. Di antara sekian banyak malaikat itu 

yaitu  Tuhan orang Yahudi (Tuhan Perjanjian Lama) yang 

berkedudukan rendah dan hanya menghukum dengan 

keadilan (tanpa kasih). Tuhan orang Kristen (Tuhan Perjanjian 

Baru) yaitu  bapa yang tertinggi itu (penuh dengan cinta 

kasih) yang menyatakan kasih-Nya dengan mengutus Anak-

 

 

Nya (Yesus Kristus) untuk membebaskan manusia dari  

“cengkeraman” Tuhan orang Yahudi. Dengan demikian 

Bassilides melihat hubungan Bapa dan Anak dalam suatu 

sistem hirarki belaka tanpa membahas kesamaan atau 

perbedaan esensitas antara keduanya.86 

Pandangan Markion pada dasarnya sama dengan pandang 

Bassilides, hanya ditambahkan bahwa Tuhan Yahudi yang 

terancam dengan kedatangan Yesus Kristus (Anak Tuhan 

Tertinggi) itu akhirnya membunuh-Nya di atas kayu salib, namun  

sebagai akibat perbuatannya, maka harus menyerahkan 

kepada Tuhan tertinggi semua orang yang percaya akan 

penyaliban Yesus. Markion pun tidak membahas hubungan 

Bapa dan Anak secara lebih mendalam, hanya saja dikatakan 

bahwa Tuhan Yesus yang diutus oleh Allah Bapa itu (untuk 

menyelamatkan manusia), tidak memiliki tubuh jasmani 

melainkan hanya memilki tubuh penampakan yang bersifat 

sementara atau memiliki tubuh semu, tidak dilahirkan, namun  

hanya menampakkan diri dengan sekonyong-konyongnya.87 

Untuk menghadapi berbagai macam propaganda dan 

intimidasi-intimidasi dari berbagai ajaran ini. Maka gereja 

 

mengembangkan ajaran imannya lebih lanjut, dan hal itu 

terlihat dari pada abad-abad berikutnya. 

3. Upaya Perumusan 

Pada akhir abad ke-2 dan sepanjang abad ke-3 menjadi 

lebih jelas bagaimana sebenarnya paham Kristiani tentang 

Allah. Gambaran konsepsi ini dapat dilihat dari pandangan 

ketiga bapa gereja berikut: 

a) Irenaeus 

Irenaeus (150-202) yaitu  orang Yunani, yang lahir di Asia 

kecil dari keluarga Kristen. Waktu masih kecil ia sering 

mendengarkan Polycarpus (salah satu murid Rasul Yohanes). 

saat  pemuda keluarganya pindah ke Lyon di Gallia, 

Perancis. Di sana ia menjadi presbiter, dan lalu  pada 

tahun 177 menjabat sebagai uskup di situ. Dalam berteologi 

Irenaeus menggunakan tulisan-tulisan dari para Rasul sebagai 

sumber dan tradisi-tradisi gereja untuk memperkuat 

pendangannya dalam menentang gnostik yang dianggapnya 

sebagai penyesat dan harus diberantas. Sejalan dengan itu, ia 

juga berhasil menjadi penghubung antara teologi Yunani purba 

dan Teologi Latin Barat.88  

Pandangan Irenaeus mengenai Tritunggal, dapat dilihat 

dari rumusan pengakuan imannya, sebagai berikut: 

Allah Bapa tidak dijadikan, tidak bersifat material, tidak 

kelihatan; satu Allah, pencipta segalah sesuatu: inilah pokok 

pertama dari iman kita. 

Pokok kedua yaitu  ini: Firman Allah, Anak Allah, 

Kristus Yesus Tuhan kita, Dia yang dimanifestasikan kepada 

Nabi-nabi seturut bentuk nubuat mereka dan sesuai dengan 

cara penyataan Bapa; melalui Dia segala sesuatu 

diciptakan; Dia juga yang pada akhir zaman, 

menyempurnakan dan mengumpulkan segalah sesuatu, 

dijadikan manusia di antara umat manusia, kelihatan dan 

dapat menghasilkan perdamaian yang sempurna antara 

Allah dan manusia. 

Pokok ketiga yaitu  Roh Kudus, melalui Dia nabi-nabi 

bernubuat, dan para leluhur belajar tentang segala sesuatu 

yang berasal dari Allah, dan orang benar dituntun ke jalan 

kebenaran; Dia yang pada akhir zaman dicurahkan dalam 

suatu cara yang baru ke atas umat manusia di seluruh bumi, 

yang membaharui manusia bagi Allah.89 

Jadi dapatlah dikatakan bahwa dalam penjelasannya 

mengenai Allah ada dua segi yang ia tonjolkan. Pertama 

mengenai keberadaan Allah yang bersifat batinia, dan kedua, 

tentang penyingkapan Allah yang bersifat progresif dalam 

sejarah keselamatan. Sedangkan hubungan antara pribadi 

 

 

tidak di singgung. Sehingga menghadirkan kesan bahwa 

seolah-olah Anak dan Roh hanyalah sekedar penampilan-

penampilan dari satu Allah. 

b) Tertulianus 

Tertulianus yaitu  bapa teologi Latin yang dilahirkan kira-

kira tahun 150 di Kartago dan pada tahun 207 menjadi imam di 

sana.90Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa 

istilah Tritunggal pertama kali dipakai oleh Tertullian, namun  

formulasi doktrinnya masih terlalu banyak mengalami 

kepincangan. Salah satu contohnya yaitu  bahwa ia melihat 

dan menempatkan Allah Anak di bawah Allah Bapa. Atau 

dengan kata lain, Anak Allah berkedudukan lebih rendah dari 

pada Allah Bapa. Menurut Tertullian, Allah yaitu  satu dalam 

substansi-Nya dan tiga dalam persona atau oknum-Nya namun  

dalam hubungan dengan Bapa, Anak mempunyai posisi yang 

lebih rendah.91 Walaupun terdapat kepincangan dalam 

konsepsinya, namun secara terminologi dari padanyalah istilah 

substantia dan personae, dikenakan kepada ajaran Tritunggal. 

Ia mengatakan bahwa Allah yaitu  satu di dalam hakekat dan 

 

 

tiga di dalam pribadinya (una substantia tres personae).92 Oleh 

sebab  itu, sumbangsi utama dari Tertullianus yaitu  tentang 

istilah yang gunakan dalam perumusan iman. 

c) Origenes 

Origenes lahir di Aleksandria pada tahun 185 dan 

meninggal pada tahun 252 di kaisarea Palestina. Semasa 

hidupnya ia habiskan dengan menulis buku yang sebagian 

besar bertujuan untuk mempertahankan ajaran rasuli yang 

dianggapnya sebagai satu-satunya ajaran yang benar.93 

Adapun pandangannya mengenai Tritunggal tetap 

mengacu pada keesaan Allah. Di samping itu, ia menekankan 

perbedaan antara ketiga pribadi dengan pandangan yang 

hampir mirip dengan subordinasi, namun  yang menjadi 

sumbangsi terbesar dalam perkembangan doktrin Tritunggal 

ialah mengenai kemandirian yang pada dasarnya dimiliki oleh 

tiap-tiap pribadi.94 Di samping itu, Pandangannya lebih dekat 

pada teori emanasiyang mengatakan bahwa segala sesuatu 

keluar (emanasi) dari  Allah Bapa, dan paling pertama keluar 

dari Allah ialah logos (Firman, Kalam) yaitu Yesus Kristus, 

 

 

namun  logos ini bukan seratus persen Allah. Semakin jauh 

emanasi itu dari Allah, makin berkuranglah keallahannya. 

Origenes mempunyai keyakinan bahwaAnak dan Bapa 

merupakan Hipotases abadi (kekal) atau Personal Subsistence 

di dalam Tuhan. Hubungan di antara kedua-Nya diterangkan 

dengan menggunakan ideeternal generation (generasi kekal) 

di mana hal ini meliputi subordinasi orang kedua (Second 

person) terhadap orang pertama (First person) dalam 

kaitannya dengan esensi. Jadi, Anak yaitu  species sekunder 

kekekalan yang dinamakan Theos, namun  bukan Ho Teos. 

Bahkan Anak kadang-kadang dipanggil Theos Deuteros. 

Dengan pandangan semacam inilah Origen menyiapkan jalan 

bagi orang-orang Arian untuk menyangkali keilahian Allah 

Putra dan Allah Roh Kudus, serta mengarahkan gereja untuk 

memandang hubungan antara ketiga pribadi dan distingsi dari 

ketiganya.95 

4. Pertentangan Dua Kutub 

Perkembangan konsepsi mengenai nilai-nilai keimanan 

menjadi semakin riuh. Kehadiran dua kutub Kekristenan yaitu 

di Antiokhia dan Aleksandria telah memicu persaingan di 


antara orang Kristen. Persaingan yang bersifat saling 

menantang dari kedua kutub ini terlihat dari pertentangan 

antara Arius dan Athanasius. 

Arius (250-336) sebagai pencetus aliran Arianisme yaitu  

seorang presbyter Alexander yang akhirnya berpindah ke 

gereja Antiokhia, dan memberi  pengaruh yang sangat 

besar terhadap gereja Timur.Menurut Arius hanya Sang Bapa 

saja yang tidak memiliki permulaan atau dengan kata lain 

hanya Bapa saja yang bersifat kekal, sedangkan pribadi kedua 

yaitu Anak (Yesus Kristus) yaitu  hasil produk dari Sang Bapa 

pada masa precreated (pra penciptaan), dan kepada-Nya 

diberikan sifat-sifat ilahi sebagai anugerah saja. Roh kudus 

yaitu  ciptaan perdana dari Anak sebelum penciptaan dunia 

ini. Dengan demikian Arius sebenarnya menolak kekekalan 

esensi Anak dan hanya melihat-Nya sebagai yang terbesar 

dari ciptaan-ciptaan Bapa yang lain. Menurutnya, atas dasar 

inilah dalam karya penebus manusia, Ia (Anak) dapat diganti, 

namun  itu dilakukan oleh-Nya semata-mata kerena pilihan Allah 

(Bapa), dan dalam pengangkatan-Nya ini Anak layak 

disembah oleh manusia.

 

sesudah  Arius memunculkan dan mempopulerkan 

ajarannya, maka timbulah berbagai reaksi terutama dari 

seorang uskup Alexandria bernama Athanasius, Anak 

mempunyai hakikat, sifat dan kekekalan esensi yang sama 

dengan Bapa dan tidak ada pemisahan dalam The essential 

being of God (keberadaan Allah yang esensial). Sekalipun 

demikian, ia tidak mengabaikan masalah ketritunggalan Allah 

di samping keesaan-Nya dengan tetap mengakui adanya tiga 

hipotases dari dalam diri Allah. Tiga hipotases ini haruslah 

dilihat dalam kerangka berpikir tentang keesaan Allah 

sehingga nantinya konsep ini tidak bermuara pada 

politeisme.Tentang Roh Kudus, Athanasius melihat-Nya 

sehakikat dengan Bapa, sama seperti Anak dan Bapa.97 

B. Resolusi Ajaran 

Interpretasi yang berbeda mengenai ajaran Tritunggal 

mengakibatkan kontroversi ini semakin memanas dan dapat 

membawa dampak terhadap perpecahan gereja dan khawatir 

hal ini menggoncang kerajaannya, maka Kaisar Konstantinus 

yang yaitu  kaisar di kedua daerah ini  terpaksa turun 

 

tangan dan memaksa untuk mengadakan suatu sidang raya 

gereja yang akhirnya dikenal sebagai konsili Nicea. Konsili ini 

bersidang pada bulan Juni tahun 325 dan dihadirkan oleh 

sekitar 220 uskup yang berasal dari gereja-gereja Barat 

maupun Timur98, yang semuanya dipisahkan menjadi tiga 

golongan yaitu: golongan pengikut Arius, ortodoks dan 

golongan tengah. 

Di dalam pembahasan masalah-masalah ini dirumuskan 

dan disimpulkan menjadi tiga bagian,yaitu: Pertama, pengikut 

Arius menolak pandangan tentang penciptaan eternal 

(penciptaan yang bebas dari dimensi waktu), sedangkan 

Athanasius mempertahankannya. Kedua, pengikut Arius 

mengatakan bahwa Anak diciptakan dari tidak ada, sedangkan 

menurut Athanasius, Anak diciptakan dari esensi Bapa. Ketiga, 

pengikut Arius mengatakan bahwa Anak tidak sama 

substansinya dengan Bapa, namun  Athanasius berpendapat 

bahwa Anak yaitu  hormoousius (satu/sama zat) dengan 

Bapa.99Melalui perdebatan yang sangat panjang, akhirnya 

konsili ini  memutuskan untuk menolak pandangan Arius, 

 

sembari mengklaim ajaran ini  sebagai bidat dan 

menerima pandangan Athanasius.  

Konsili Nicea ini akhirnya mengeluarkan sebuah 

pernyataan yang merupakan sebuah pengakuan iman yang 

terdiri dari 12 pasal, yang intinya yaitu  percaya kepada 

Tuhan yang Maha Esa, Bapa Yang Maha Kuasa pencipta 

langit dan bumi, percaya pada satu Tuhan Yesus Kristus yang 

sama substansi-Nya dengan Bapa, serta percaya kepada Allah 

Roh Kudus sebagai pemberi hidup yang keluar dari sang 

Bapa, dan layak menerima penyembahan yang sama seperti 

dua oknum yang lain.100Dengan demikian, pada tahun 325, di 

Nicea terjadi sinode yang terbilang sebagai konsili ekumenis 

pertama dalam sejarah Gereja. Konsili ini memutuskan batas-

batas paham Allah Tritunggal melawan segala godaan 

triteisme dan keesaan absolut Allah, serta menegaskan 

keilahian yang benar dari Anak (Yesus Kristus). Berikut 

rumusan pengakuan iman hasil Konsili Nicea: 

Kami percaya dalam satu Allah, Bapa yang 

Mahakuasa, Pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan 

yang tidak kelihatan; Dan di dalam satu Tuhan Yesus 

Kristus, Anak Allah, dilahirkan dari Bapa, hanya 

diperanakkan, yaitu dari substansi Bapa, Allah dari Allah, 

 

terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, 

dilahirkan bukan diciptakan, berasal dari satu substansi 

dengan Bapa, melalui Siapa segala sesuatu ada, segala 

sesuatu yang baik yang di sorga maupun yang di bumi, yang 

oleh sebab kita manusia dan demi keselamatan kita, turun 

dan menjelma, menjadi manusia, menderita dan bangkit lagi 

pada hari yang ketiga, naik ke sorga, dan akan datang untuk 

menghakimi yang hidup dan yang mati. Dan di dalam Roh 

Kudus.101 

Walau telah menetapkan batas-batas ajaran namun konsili 

Nicea tampaknya tidak mengakhiri perdebatan dengan 

Arianisme. Malahan dengan konsili ini kontroversi mulai 

mencapai keseriusannya. Sebab, kaisar Konstantinus pada 

waktu itu telah puas dengan penandatanganan pengakuan 

iman, namun  membiarkan interpretasi kepada masing-masing 

golongan. Sehingga keputusan yang dihasilkan konsili ini 

membuat kedua kelompok yang bertikai semakin terpecah-

belah dan saling konfrontasi selama hampir setengah abad.102 

Hingga di awal tahun 381, kaisar Theodosius I, memerintahkan 

untuk dilaksanakannya konsili gereja Timur di Konstantinopel 

sebagai usaha untuk menyatukan kembali dasar iman Nicea, 

sekaligus menghentikan segala permasalahan yang ada.  

 

Maka pada bulan Mei sampai Juli tahun 381 konsili ini 

dilaksanakan.103 Melalui konsili ini menghasilkan pengakuan 

iman yang memperkokoh pengakuan sebelumnya dan menjadi 

paham ortodoksi yang diakui oleh seluruh gereja yang 

lalu  menghadirkan syahadat. Adapun pengakuan iman 

ini , ialah sebagai berikut: 

Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang maha kuasa, 

pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihat 

dan tidak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, 

Putra Allah yang tunggal; Ia lahir dari Bapa sebelum segala 

abad, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar, 

dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, segala 

sesuatu dijadikan oleh-Nya, Ia turun dari surga untuk kita 

manusia dan untuk keselamatan kita, dan Ia menjadi daging 

oleh Roh Kudus dari perawan Maria, dan menjadi manusia, 

Ia pun disalibkan untuk kita pada waktu Pontius Pilatus, Ia 

wafat kesengsaraan dan dimakamkan, pada hari yang 

ketiga Ia bangkit menurut kitab suci, Ia naik ke surga, duduk 

di sisi Bapa, Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang 

yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya tak akan berakhir. 

Dan akan Roh kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia 

berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra disembah dan 

dimuliakan, Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. 

Akan gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Kami 

mengakui satu baptisan akan pengampunan dosa, kami 

menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat. 

Amin.

 

Dari penjabaran ini, terlihat jelas bahwa diadakannya kedua 

konsili bukanlah untuk menciptakan ajaran baru, melainkan 

lebih dan hanya untuk penegasan dari ajaran yang sudah 

berakar atau dihayati sebelumnya sebagaimana kesaksian 

Alkitab, dan pengokohannya melalui pengakuan iman atau 

syahadat yaitu  sebagai bentuk perlindungan diri dari 

berbagai macam ajaran sesat yang hadir di lingkungan 

gereja.Baik secara internal, seperti monarkianisme yang 

menyangkal keilaian Anak (menentang kesetaraan Yesus 

Kristus dengan Allah Bapa) dan modalisme (membagi Allah 

dalam tiga modus, atau peran) maupun dari luar gereja seperti 

gnostik. Dengan demikian, perumusan ajaran mengenai 

Tritunggal mengasilkan sebuah restorasi yang tertuang dalam 

syahadat atau pengakuan yang menjadi dasar dan sentral 

iman Kristiani. 

C. Perkembangan Ajaran 

Pembahasan mengenai konsepsi Allah Tritunggal tidak 

berhenti saat  gereja-gereja melalui perwakilannya 

menetapkan ajaran yang ortodoksi. Pembahasan ini terus 

berkembang disetiap masa. Hal itu dapat dilihat dari 


 

munculnya beragam pandangan dari para ahli dalam 

menjabarkan konsep ini. 

Berikut yaitu  pandangan-pandang yang pernah 

dikemukakan oleh para ahli yang dianggap dapat mewakili 

masanya. 

1. Zaman Bapa Gereja Hingga Abad ke-14 

Selain pandangan-pandangan dari para bapa gereja yang 

telah disinggung di atas. Ada seorang teolog (bapa gereja 

Barat) yang berpengaruh sesudah  konsili yaitu  Aurelius 

Augustinus. Beliau dilahirkan di Thagaste (sekarang Aljazair) 

pada tahun 354. Pada masa studinya di Kartago, ia 

memutuskan untuk mengabdikan diri di bidang ilmu filsafat. 

Pada bulan agustus tahun 386 ia bertobat dan dibaptis pada 

tahun berikutnya oleh Ambrosius. Dalam rentang waktu antara 

tahun 387-400, ia gunakan untuk menulis dan menghasilkan 

tiga belas buku yang kesemuanya dipakai  untuk melawan 

ajaran-ajaran sesat yang berkembang dimasanya. Pada tahun 

388 ia kembali ke Afrika. Di sana, ia diangkat sebagai uskup 

sampai meninggal pada tahun 430.

 

Adapun pandangan Agustinus tentang Tritunggal yaitu  

penekanan terhadap keesaan Allah dan dengan tegas 

mengatakan bahwa; Tritunggal yaitu  satu Allah bukan tiga 

Allah, dan Allah tidak berhenti untuk ada sebagai yang tunggal 

(simplex) dan sebutan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus 

tidaklah mengungkapkan baik perbedaan yang bersifat 

substantif, kaulitatif, maupun kuantitatif sebab  pada dasarnya 

perbedaan itu tidak ada. Apa yang diungkapkan konsepsi ini 

mengenai pribadi hanyalah suatu hubungan yang kekal namun  

hubungan ini bukanlah suatu accidens (morfologi), yaitu suatu 

yang ditambahkan pada keberadaan. Lebih lanjut, Augustinus 

menambahkan bahwa Allah yang satu itu tidak pernah hanya 

Bapa saja, melainkan senantiasa dan akan tetap demikian 

nanti, bahwa Allah Tritunggal yaitu  satu, yaitu Bapa, Anak 

dan Roh Kudus.106 Atau dengan kata lain Augustinus hendak 

menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keesaan Allah 

yaitu  merupakan unun principium (asas dasar) dan ketiga diri 

Allah selalu berkerja dalam harmoni.

 

Di samping Augustinus, ada juga Bapa gereja dari Timur 

yaitu Jhon dari Damaskus (± 675-753). Menurutnya, Allah 

yaitu  satu esensi dan memiliki keberadaan-Nya dalam tiga 

subsistensi. Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu  satu dalam 

semua hal, kecuali dalam hal memperanakan dan tidak 

memperanakan. Lebih lanjut, Jhon menggambarkan bahwa 

Allah yaitu  esa dan memiliki Firman dan Kuasa sebagaimana 

yang tertulis dalam kitab suci.  Mengenai Anak yaitu  Firman 

Allah yang eksis pada diri-Nya dalam subsistensi-Nya yang 

independen didiferensiasikan atau dibedakan sebab  Firman 

itu menunjukan di dalam diri-Nya atribut-atribut yang sama 

sebagaimana yang dilihat di dalam Allah dan Firman itu 

memiliki natur yang sama dengan Allah. Sedangkan Roh 

Kudus yaitu  sebuah Kuasa Esensial yang eksis dalam 

kuasanya sendiri yang yaitu  properti-Nya khusus, yang 

keluar dari dari Bapa dan berdiam di dalam Firman.108 

Selain itu, pada masa ini juga terjadi skisma antara gereja 

Barat dan Timur. Perpecahan inipun membuat kedua gereja 

menyusun dan merumuskan teologinya masing-masing. 

Sehingga dengan demikian kedua gereja ini  memiliki 

 

perbedaan yang sangat signifikan mengenai konsep 

Tritunggal. 

Gereja Barat secara konsisten lebih mengutamakan esensi 

Allah dibandingkan  pribadi-pribadi. Sebagai konsekuensinya, 

esensi lebih cenderung impersonal dan ketiga pribadi hanyalah 

relasi-relasi mutual di dalam satu Esensi. Roh Kudus 

dipandang sebagai ikatan kasih antara Bapa dan Anak 

sehingga menghadirkan ambigu tentang independensi dari 

Roh Kudus. Oleh sebab  itu, kecenderungan pada modalis 

menjadi ademis dalam ajaran Tritunggal gereja Barat. Di 

samping itu, Trinitas dipandang sebagai sebuah teka-teki 

matematis dibandingkan  masalah penting dari iman dan 

penyembahan, sehingga Tritunggal semakin dijauhkan dari 

kehidupan dan penyembahan gereja. Sedangkan di gereja 

Timur konsepsi Tritunggal secara konsisten dimulai dari ketiga 

pribadi. Bapa bukanlah esensi ilahi, melainkan suatu monarki 

yang dari pada-Nya asal-usal atau sebab dari natur ilahi dalam 

Anak dan Roh. di samping itu, keduanya dipandang sebagai 

pelaku-pelaku ilahi dalam kerangka keselamatan dan sejauh 

mana hubungan antara pribadi tidak ada koneksi yang jelas. 

Doktrin ini juga dijauhkan dari diskursus rasional dan 

menjadikannya sebagai sentralisasi bagi kehidupan dan 

penyembahan gereja.109 

2. Zaman Reformasi Hingga Abad ke-17 

Dalam masa reformasi sekurang-kurangnya ada dua 

pandangan yang perlu diperhatikan, yaitu pandangan kedua 

tokoh Reformator yang tidak lain yaitu Martin Luther dan 

Yohanes Calvin. 

Konsep mengenai Tritunggal dari Marthin Luther (1483-

1546) pada dasarnya masih mengikuti gereja katolik Roma 

yang juga mengacu dari hasil konsili Nicea-Konstantinopel dan 

bapa gereja Augustinus. Hal ini dapat dilihat dari pengakuan 

iman Augsburg (1530) yang disetujui oleh Luther sendiri 

sebagai bentuk penyelarasan reformasi yang 

dikembangkan.110 Sementara itu, Yohanes Calvin (1509-1564) 

dengan teologi teosentrisnya111, menjelaskan bahwa Allah 

dalam keesaan-Nya telah menyatakan diri sebagai tiga pribadi 

yang berbeda agar nama Allah tidak mengambang dan hampa 

tidak terisi. Hakikat Allah yang tunggal ini  menandaskan 

 

bahwa tak ada pembagian di dalamnya. Bapa, Anak dan Roh 

Kudus yaitu  satu Allah dalam arti kesatuan zat.112 Hal ini 

mengacu dari rumusan baptisan, di mana ketiga pribadi 

ini  secara bersama-sama yaitu  objek iman. Dalam 

keesaannya Allah dipahami sebagai tiga pribadi sebab  di 

mana Allah disebut secara partikular, di sana ditandakan 

Bapa, Anak dan Roh Kudus yang dengan tegas menandakan 

adanya distingsi antara satu dengan yang lain dan bukan 

hanya sekedar gelar yang dikenakan kepada Allah yang 

berujuk pada cara-cara yang berbeda atau pembagian di 

dalam-Nya.113  Distingsi ini  semakin nyata dengan 

pemakaian  kata depan akusatif (pro.j yang berarti: bersama 

atau dengan) dalam injil Yohanes 1:1. Melalui ayat sama 

Calvin mempertegas makna keesaan Allah sebagai satu 

kesatuan dan bukan berarti ada tiga Allah.

Jadi, menurut Calvin Tritunggal yaitu  konsepsi yang 

berkenaan dengan penyataan Allah dalam kitab suci, di mana 

 

Allah dibicarakan dari dua perspektif yang digabungkan ke 

dalam satu istilah. Allah gambarkan sebagai yang esa secara 

substantia dan kejamakan secara pribadi yang berbeda antara 

satu dengan yang lain,namun  bukan berarti ada tiga Allah, 

sebagaimana ajaran Alkitab bahwa Allah yang esa yaitu  

pokok pengakuan iman dan ada tiga pribadi, yaitu Bapa yang 

yaitu  sebab pertama, awal, dan asal segala hal, dan Anak 

yaitu  Firman-Nya atau Hikmat-Nya yang kekal dan Roh 

Kudus yaitu  kekuatan-Nya, kuasa-Nya, dan keampuhan-

Nya. Ketiga Pribadi itu bukan tercampur, melainkan berbeda, 

namun bukan terbagi, melainkan se-Zat, sama-sama kekal, 

sama-sama berkuasa, dan sederajat. 115 

3. Zaman Modern Hingga Saat Ini 

Pada masa modern secara khusus tidak ada satu 

pandangan pun yang benar-benar baru, yang ada hanyalah 

pengulangan-pengulangan dari teori-teori sebelumnya dan 

kadang dengan sedikit modifikasi. Pandangan-pandangan 

dalam masa ini antara lain: 

Di abad ke 18 muncul tiga pandangan yang menyeruak ke 

permukaan yang terkesan menentang ajaran ortodoksi 

 

sebagaimana yang tercantum dalam pengakuan iman Nicea-

Konstantinopel. Pandangan itu berasal dari Imanuel Kant 

(1724-1804) menuturkan, bahwa Allah pada hekikatnya yaitu  

esa yang memproyeksikan diri-Nya sendiri kepada ciptaan 

melalui Anak dan Roh dalam kerangka keselamatan. Lebih 

lanjut, Kant menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada di 

antara tiga pribadi demi menjaga keesaan Allah. Sedangkan 

pandangan yang kedua dan hampir sama dengan itu, berasal 

dari Hegel (1770-1831), yang berpandangan bahwa Allah 

Bapa sebagai Allah dalam diri-Nya sendiri, Allah putera 

sebagai Allah yang mengobjektifkan diri sendiri, dan Allah Roh 

Kudus sebagai Allah yang kembali pada diri-Nya 

sendiri.116Terakhir dari Schleirmacher (1768-1831) dengan 

pandangannya bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah 

sekedar merupakan tiga aspek dari diri Allah.117 

Dari abad ke 19, muncul dua tokoh. Pertama, Karl Barth 

(1886-1968), yang berpendapat bahwa Allah Tritunggal tidak 

terdiri dari tiga pribadi, tiga kepribadian atau tiga subjek. Allah 

hanya mempunyai satu (aku), satu kehendak, satu wajah, satu 

sabda dan satu karya bukan tiga. Kata pribadi dipakai oleh 

Barth untuk mengacu kepada Allah yang esa, yang merupakan 

zat berpikir, berkehendak dan bertindak. Allah yaitu  satu 

pribadi dangan tiga cara berada. Hal ini berkaitan erat dengan 

pewahyuan diri-Nya yang bercorak Trinitas, di mana Allah 

sebagai Bapa merupakan sumber pewahyuan yang lal