Setiap agama memiliki kitab suci yang menjadi sumber
pengajaran dan melaluinya dirumuskan berbagai konsep
kehidupan, baik yang bersifat material maupun spiritual. Dari
segi material, ajaran kitab suci bertujuan untuk menuntun dan
mengarahkan manusia ke dalam suatu tatanan kehidupan
yang dianggap paling baik. Sedangkan dari segi spiritual,
mendorong manusia untuk dapat mengenal sosok yang
menciptakan manusia dan seluruh alam semesta serta yang
mengatur segala hal, atau yang disebut sang mahakuasa atau
Tuhan. Oleh sebab itu, setiap agama memahami bahwa
segala orientasi yang berkenaan dengan manusia maupun
segala sesuatu yang terdapat dalam alam semesta tidak
pernah lepas dari campur tangan Tuhan.
Sebagian besar agama-agama kebudayaan, tradisional
maupun kebatinan memahami bahwa fenomena yang
diperlihatkan alam, seyogyanya merupakan ekspektasi dari
pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya agama-agama ini
sering menggambarkan sosok Tuhan dalam bentuk kekuatan-
kekuatan alam. Seperti angin, hujan, petir, dan lain
sebagainya. Sehingga tak mengherankan bila mereka
merefleksikan kepercayaannya dengan menyembah lebih dari
satu tuhan atau dewa-dewa, yang biasa disebut dengan
politheisme. Berkenaan dengan itu, beberapa agama yang
beraliran Abrahamis, memiliki pemahaman yang berbeda serta
kecenderungan menentang konsep dari agama yang lain. Hal
ini dilatarbelakangi oleh ajaran mereka yang menitikberatkan
pada keesaan Allah atau monoteis, serta menganggapnya
sebagai suatu kekafiran dan keyakinan yang melekatnya
dipandang najis. Sebagimana tradisi keagamaan ini yang
mengacu pada sosok Abraham sebagai teladan iman yang
benar di hadapan Allah.
Adapun dalam Kekristenan, pandangan tentang Allah
tidak bergantung pada alam untuk memberi kebenaran
tentang-Nya, melainkan kepada Yesus Kristus dan Roh Kudus
yang merupakan visualisasi dari Allah sendiri. Kekristenan
melihat Allah dari tiga aspek, di satu pihak bahwa Allah
(transendensi) itu tidak boleh turun dari surga, di lain pihak
Allah itu menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus
(presensi), dan melalui karya Roh Kudus di dalam hati setiap
orang percaya (imanensi) untuk menginsyafi. Oleh sebab itu,
di antara ketiganya mempunyai tekanan yang sama tanpa
harus melebur antara satu dan dengan yang lain, sehingga
ajaran Kekristenan tentang Allah tidak mengikuti kedua
pandangan di atas. Baik konsep politheisme maupun
monotheisme. Kekristenan memahami bahwa Allah dalam
keesaan-Nya memiliki kejamakan. Hal ini didasari bukanlah
oleh penarikan kesimpulan dari hasil pemikiran para
cendekianwan Kristen melalui rasio yang diciptakan oleh Allah,
melainkan suatu konsep yang tak dapat dihindari oleh mereka,
sebab Allah telah sedemikian rupa menyatakan dan
memperkenalkan diri-Nya. Melalui kesadaran inilah, lalu
menghadirkan konsep Tritunggal yang notabene memiliki
perbedaan sekaligus keistimewaan dari agama-agama lain.
Konsep ini sendiri tidak pernah dipakai di luar Kekristenan,
bahkan di dalam Alkitab, kata atau istilah ini tidak tercantum.
Itulah mengapa ajaran Tritunggal sering dianggap sebagai
bentuk penyimpangan sebab tak Alkitabiah.
Dalam sejarah perumusan ajaran Tritunggal terjadi
perdebatan sengit di antara bapa-bapa gereja hingga
membentuk beberapa kali rapat oikumenis (konsili) yang
bertujuan untuk mencari solusi dan memaksa gereja untuk
merumuskan ajaran mengenai pokok Tritunggal ke dalam
bahasa yang dapat dipahami atau secara ilmiah. lalu
mengesahkannya menjadi sebuah pengakuan iman yang
ortodoksi, walau masih terdapat begitu banyak kontroversi.
Pada saat ini, kontroversi Tritunggal terus berlanjut dan
semakin riuh. Penolakan atas keyakinan Kekristenan, baik
secara teoretis maupun secara keseluruhan atau membatasi
relevansinya pada wilayah pribadi, mengasumsikan bahwa
intuisi Kekristenan kurang lebih memiliki bobot yang sama
dengan intuisi indrawi, logis dan matematis dalam membangun
suatu pandangan dunia. Perkembangan pemikiran ilmiah yang
semakin klompleks turut berperan memberi dorongan
terhadap munculnya asumsi secara bertahap, bahwa manusia
dapat secara utuh memahami asal-usul dunia dan
penghuninya. Pemahaman ini membuat banyak orang Kristen
menganggap tidak perlu bersandar pada kebenaran yang
selama ini diwahyukan, seperti Alkitab. Pola pemikiran ilmiah
yang berorientasi pada hal yang bisa diamati secara fisik atau
yang disebut gerakan modernisasi (liberalis) telah merusak
sendi-sendi gereja yang mengakibatkan munculnya
skeptisisme baru terhadap setiap hal supranatural dalam
tatanan keiman Kekristenan yang disebabkan corak pemikiran
dewasa ini, yang tak henti-hentinya dan terus berusaha untuk
mendiskreditkan doktrin-doktrin dasar iman Kristen terhadap
Allah Tritunggal.
Persoalan mengenai perbedaan, keunikan dan
keistimewaan konsep Allah Tritunggal yang dimiliki orang
Kristen, dari konsep Allah yang terdapat pada agama-agama
yang lain, pada kenyataannya telah memunculkan banyak
propaganda dalam masyarakat umum, baik dalam konteks
lintas agama maupun kebudayaan global. Mereka selalu
berupaya memahami konsep ini dengan bertitik tolak dari
pemahaman mereka sendiri dan menyamakan konsep
Tritunggal dengan konsep Allah dari agama-agama yang lain,
sehingga terjadi kesalah-pahaman dan ketidakpengertian,
serta berasumsi bahwa konsep Allah yang dimiliki orang
Kristen tidak memiliki validitas dengan kerangka berpikir
manusia.
Ada juga yang menganggap bahwa Kekristenan
menyembah lebih dari satu Allah (bertuhan tiga), atau dengan
kata lain, menyejajarkan Tritunggal dengan Triteisme. Mereka
lalu secara tidak langsung atau mungkin secara terang-
terangan menyatakan bentuk penolakan terhadap rumusan
Tritunggal. Hal ini terlihat jelas dari kalimat “Tiada Tuhan selain
Allah” yang ada dalam syahadatnya selalu dikumandangkan.
Serta bentuk-bentuk tauhid yang menandaskan keesaan Allah
dan mengkafirkan (syirik) kelompok-kelompok yang
mempersekutukan Allah (musyrik), yang di dalamnya juga
termasuk orang Kristen, oleh mereka diketegorikan ke dalam
kelompok ini.
Keadaan ini menuntut gereja untuk berbenah diri
sembari merespon dan menghadapi berbagai macam
intimidasi dari pihak luar. Berbarengan dengan itu, munculah
gerakan fundamentalisme yang secara sporadis menghadirkan
gagasan dan paradigma baru dalam memahami dan
memaknai iman Kristen, terlebih lagi dalam merekonstruksikan
doktrin Tritunggal, yang pada akhirnya mempengaruhi
pengajaran yang selama ini dipegang dan diyakini sebagai
paham ortodoksi.
Sejalan dengan itu, perkembangan teologi yang beraneka
ragam telah membuat kemajemukan dalam tubuh Kekristenan.
Kemajemukan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan gaya
berteologis dari berbagai aliran-aliran yang ada dalam
Kekristenan. Di satu pihak, aliran garis utama lebih bersikap
konservatif dengan mempertahankan pengajaran-pengajaran
dogmatis dan menjadikan hal itu sebagai yang utama dalam
berteologi, sedangkan di pihak lain, berada aliran garis tengah
yang lebih mengfokuskan pengajarannya pada hal-hal yang
bersifat kontemporer (inovatif) atau teologi praktis, sehingga
terjadi pengabaian terhadap nilai-nilai dogmatis (tradisional).
Perbedaan ini turut melahirkan sikap saling mengintimidasi
serta mengklaim bahwa ajarannya yang paling benar,
sehingga membingungkan kaum awam atau anggota jemaat
untuk menentukan sikap dalam memahami dan memaknai
nilai-nilai dogmatis yang di dalamnya terdapat esensi dari
Tritunggal itu sendiri.
Menyimak persoalan yang begitu kompleks menyangkut
konsepsi atau ajaran mengenai Allah Tritunggal. Maka, sebuah
keharusan bagi gereja untuk tetap mempertahankan ajaran
yang ada dari berbagai tekanan dan intimidasi dari pihak
eksternal maupun internal. Gereja seharusnya dapat berkaca
dari pengalaman para pendahulu, bagaimana sikap mereka
dalam menghadapi tekanan, dan keberanian dalam
menyatakan kebenaran Tritunggal melalui rumusan-rumusan
yang telah terkonsepkan berdasar refleksi iman. Senada
dengan itu, gereja dituntut untuk dapat mempertanggung
A. Tritunggal dalam Teologi Kristen
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai doktrin
Tritunggal, maka ada baiknya terlebih dahulu melihat
bagaiman posisi dogtrin ini dalam kasanah ilmu teologi dan
hubungannya dengan doktrin utama dalam Kekristenan.
Kedudukan doktrin dalam teologi Kristen sangatlah
fundamen dan merupakan fondasi dalam kerangka teologi
atau dengan kata lain semua doktrin secara otomatis akan
runtuh jika doktrin ini runtuh. Hal ini cukup beralasan
mengingat semua unsur dari kerangka teologi Kristen
bergantung pada kebenaran tentang ke-Tritungal-an Allah.1
Menurut H. Smith: “saat Trinitas ditinggalkan, maka bagian-
bagian dari iman, seperti perdamaian dan regenerasi dengan
sendirinya akan ditinggalkan2” dari pernyataan ini maka dapat
dikatakan doktrin Tritunggal memiliki posisi sentral dalam
teologi Kristen. Untuk lebih jelasmya, maka berikut ini akan
dipaparkan hubungan Tritunggal dengan dokrin-doktrin utama
dalam teologi Kristen
1. Allah (Proper)
Hubungan antara Tritunggal dengan doktrin Allah terletak
pada pewahyuan (revelation). Melalui pewahyuan Allah
menyatakan diri-Nya (yang transenden) kepada manusia atau
“keluar dari selubung-selubung-Nya”, dan hanya dengan
melalui wahyu inilah manusia dapat mengenal Allah dan
memahami Allah yang transenden. Dalam mewahjuhkan diri-
Nya, pertama-tama Allah melakukannya melalui apa yang
disebut wahyu umum (general reveletion of God) yaitu melalui
penciptaan, namun semenjak peristiwa Eden atau kejatuhan
manusia dalam dosa, membuatnya mengalami distorsi dalam
segala aspek hidup sehingga tidak lagi mengenal Allah melalui
wahyu umum-Nya. Sehingga dengan demikian Allah
memprakarsai wahyu khusus (spesial revelation of God)
kepada manusia melalui pribadi kedua (Anak) dari Tritunggal.
Melalui wahyu khusus inilah ke-Tritungga-an Allah menjadi
dikenal oleh manusia. Sebab ketiganya terlibat secara aktif di
dalamnya. Di mana Bapa sebagai yang dinyatakan, Anak
sebagai yang menyatakan dan Roh sebagai yang
memungkinkan penyataan. Dengan demikian Tritunggal
yaitu cara yang paling intelegen untuk mengerti Allah
sebagai pribadi.3
2. Kristologi (Kristus) & Pneumaologi (Roh Kudus)
Sebenarnya agak sulit untuk memberi garis pemisah
yang jelas antara doktirn tritunggal dan doktrin kristologi serta
Pneumatologi sebab ketiganya mempunyai hubungan atau
keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lainnya. Kristus
yaitu salah satu oknum dari Allah tritunggal, disamping sang
bapa dan roh kudus.4 Memang secara historis perdebatan
kristologi terjadi lebih dulu dari pada perdebatan tentang
doktrin Tritunggal, namun secara hakiki sebenarnya ada
hubungan timbal balik antara kedua doktrin ini. Doktrin
tritunggal tak dapat dibenarkan jika Kristologi ternyata keliru,
demikian juga kristologi tak dapat dibenarkan jika ternyata
doktrin tritunggal keliru. sama seperti kristus, roh kudus yaitu
salah satu oknum-oknum tritunggal. Dengan demikian
kekeliruan doktrin tritunggal menggugurkan pneumatologi dan
sebaliknya.5
3. Soteriologi (keselamatan)
Selain hubungan dengan teologi, kristologi dan
pneumatologi, doktrin tritunggal pun memiliki hubungan yang
sangat erat dengan doktrin soteriologi (keselamatan). Keeratan
hubungan dapat dijelaskan melalui peranan ketiga oknum
Allah dalam rencana keselamatan manusia. Seluruh tindakan
Allah harus dilihat dari kacamata soteriologi, sebab segala
sesuatu yang dilakukan Allah seperti tindakan penciptaan (oleh
Allah Bapa) penebusan (oleh Allah Anak), dan pewahyuan
(oleh Allah Roh Kudus) merupakan “isi” dari sejarah
keselamatan yang telah dirancangkan sejak kekekalan. Jadi,
rencana atau keselamatan manusia tak dapat dilepaskan dari
keterlibatan ketiga oknum Allah ini.6 Memang dalam semua
tindakan ilahi ini ketiga-Nya terlibat secara aktif, namun secara
khusus dapat dikatakan bahwa Allah bapa yaitu Allah
perancang keselamatan, Allah Anak yaitu pelaksana karya
keselamatan, dan Allah Roh Kudus yaitu mediator dalam
karya keselamatan.
B. Misteri Doktrin Tritunggal
Doktrin Tritunggal yaitu doktrin yang paling sukar
dipahami, pandangan ini dapat dijumpai oleh hampir semua
orang yang mempelajari Tritunggal, baik mahasiswa maupun
para praktisi teologi. Seperti kata Luther, Tritunggal yaitu
misteri yang tersembunyi dalam terang penyataan Ilahi.7 Hal
yang sama juga diungkapkan oleh Tozer: “Untuk merenungkan
Tritunggal, pikiran kita akan melangka ke arah Timur taman
Eden dan memijak di tanah suci. Segala upaya yang paling
tuluspun untuk mencoba memahami rahasianya Tritunggal
akan tetap sia-sia. Rasa lapar mengenai kebenaran Ilahi akan
berganti dengan rasa takut dan hormat. Keadaan ini juga
dialami penulis, sehingga dalam mempelajari Tritunggal
seluruh daya dan upaya tidak akan pernah membuahkan hasil
jika tidak diterangi oleh cahaya dan restu dari Sang Ilahi.
Namun berkenaan dengan rumusan konsepsi mengenai
Tritunggal sering dijumpai hal-hal yang membuatnya menjadi
sukar untuk dipahami dan membuat doktirn Tritunggal seolah
terbalut dalam kemisterian absolut. Keadaan ini setidaknya
dapat ditinjau dari tiga perspektif berikut:
1. Teologis
Teologi kristen mempunyai pandangan yang unik tentang
Allah (God is the wholy other). Di dalam Alkitab, Allah
dinyatakan dengan begitu jelas yang meliputi diri maupun
esensi-Nya. Keberadaan, sifat atau karakter, atribusi dan
karya-karya Allah. Dari semuanya itu, ditemukan bahwa; 1)
Allah itu Esa; 2) Ada tiga Pribadi yang memiliki kualitas yang
sama dalam segala hal. Dua kenyataan inilah yang
mengharuskan para teolog untuk menyusun dasar-dasar
teologi yang seimbang dalam artian tidak menekankan salah
satu aspek baik keesaan maupun ketiga pribadi, dan
mengabaikan yang lain ataupun maupun sebaliknya. Inilah
kesulitan yang dialami dimana kedua hal ini harus memperoleh
penekan yang sama.
Disamping itu, dari persepektif ini terdapat juga tiga fakta
yang memicu kebenaran Tritunggal menjadi sulit
dimengerti dan dipahami;
Pertama, Tritunggal yaitu kebenaran yang bersifat dan
berdasar wahyu Allah. Artinya kebenaran Tritunggal
bukanlah hasil spekulasi manusia, namun merupakan anugerah
dari Allah yang tidak bisa dimengerti, juga tidak bisa dibantah
(tolak) sehingga hanya bisa diterima. Kebenaran ini
berpadanan dengan kerangka pikir wahyu bertingkat
(progresive revelation8) yaitu wahyu yang bergerak maju, dari
yang kurang jelas hingga akhirnya menjadi semakin jelas.
Dalam sejarah manusia sejak Perjanjian Lama hingga
Perjanjian baru pernyataan diri Allah dalam setiap momentum
menjadi semakin jelas. Kebenaran ini harus diterima dengan
iman dan jika tidak maka akan menimbulkan kesulitan dalam
memahaminya. Seperti kata Hoflan, jangan sekali-kali
berspekulasi dan mengemukakan pertanyaan yang nadanya
untuk mencari tahu.
Di balik pernyataannya dalam sejarah umat manusia.
Manusia hanya dapat berbicara mengenai Allah dalam
8 Sebagai contoh; konsepsi wahyu bertingkat dapat dipahami dengan
mendeskripsikan karakter seseorang. Saat pembuahan karakternya
(sangat tidak jelas), kehamilan (menjadi tidak jelas), kelahiran (menjadi
kurang jelas), masa anak-anak (kurang jelas) dan dewasa (menjadi jelas)
dst.
keterkaitannya dengan Allah sendiri, yakni dalam sebuah
hubungan yang sangat relasional.
Kedua, Tritunggal yaitu kebenaran dari Sang Pencipta.
Artinya, kapasitas manusia sebagai ciptaan sangat tidak
mungkin untuk memahami Tritunggal (Pencipta). Siapakah
gerangan manusia yang mau memahami-Nya atau
mungkinkah ciptaan memahami Pencipta dengan sempurna?
Tak dapat dipungkiri terdapat perbedaan kualitatif antara
pencipta dengan yang dicipta. Perbedaan ini menghadirkan
gap atau jurang pemisah antara Allah dan manusia. Dengan
demikian mempelajari Tritunggal berarti sedang berbicara
tentang Ia (Allah) yang yang luput dari segala usaha manusia
untuk memahami-Nya. Sebab Pencipta yaitu kekal (tak
terbatas) dan yang dicipta yaitu fana (terbatas). Maka secara
natural memahami Trintunggal sampai tuntas yaitu sebuah
keniscayaan.9 Dalam menyikapi hal ini, Nifrik dan Boland
mengatakan bahwa; jika hendak berbicara mengenai ke-
Tritunggal-an maka haruslah didahului dengan sikap insaf,
bahwa apa yang sedang dibicarakan yaitu Allah yang hidup,
bukan suatu pengertian atau persoalan yang dapat diselidiki
dan diuraikan dengan terang akal budi. Bila hendak
memecahkan suatu persoalan, maka paham kita haruslah
melebihi persoalan ini , sehingga dapat ditangkap dan
dikuasai. Namun yang terjadi justru sebaliknya jika bertemu
dengan Allah yang hidup, sebab kitalah yang ditangkap dan
dikuasai oleh Dia.
Ketiga, Tritunggal yaitu kebenaran mengenai Allah yang
Esa (the only one God). Artinya tidak ada yang lain seperti
Allah, sehingga membuat kita tak mungkin menemukan
sesuatu yang dapat menggambarkan tentang diri-Nya secara
sempurna. Mengenai hal ini Stephen Tong (2010)
mengatakan; bahwa dalam memahami sesuatu kita
membutuhkan persamaan untuk dijadikan jembatan analogi
dan tanpa itu tidak mungkin sesuatu dapat dipahami. Lebih
lanjut menurut A. W. Tozer, ketiadaan analogi membuat kita
membayangkan Allah dengan terpaksa menggunakan sesuatu
yang bukan Allah sebagai bahan untuk diolah oleh pikiran.
Jadi bagaimanapun kita membayangkan Allah, sebenarnya
Allah tidaklah seperti yang dibayangkan.
Dengan demikian, hal-hal inilah yang memicu doktrin
Tritunggal menjadi sukar untuk dipahami. Di butuhkan
keteguhan iman, ketulusan, kerendahan hati dan penyerahan
total kepada Dia yang yaitu sumber kebenaran untuk
mengetahui kebenaran itu sendiri.
2. Filosofis
Kesulitan dalam memahami doktrin Tritunggal tidak hanya
dari perspektif teologis. Hal yang sama juga terjadi dari
perspektif filosofis. Bagaimana mungkin satu itu sekaligus
tiga? menurut Thiessen, Tritunggal yaitu teka-teki intelektual
yang sulit dipecahkan bahkan lebih merupakan suatu
kontradiksi sebab rasio tidak mampu memecahkan misteri ini.
Kesulitan yang dijumpai dalam perspektif ini berkenaan
dengan kemutlakan rasional sebagai dasar kebenaran mutlak.
Untuk menjawab persoalan ini, maka dipakai teori dari
John Loke, di mana ia membagi pengetahuan kedalam tiga
bentuk. Pertama, rasional (masuk akal), ini berkenaan dengan
proses penalaran dalam memperoleh kebenaran, yaitu dengan
menguji dan menelusuri pikiran-pikiran yang dimiliki dari
sensasi dan refleksi serta melalui deduksi secara ilmiah.
Kedua, kontra raasional (tidak masuk akal), yaitu hal-hal yang
tidak sesuai atau tidak dapat dipadankan dengan pikiran
maupun ide-ide yang jelas dan nyata. Ketiga, supra rasional
(melampaui akal), yakni hal-hal yang kebenaran atau
kemungkinannya tidak dapat diperoleh dari prinsip-prinsip
sebagaimana yang terdapat dalam pengetahuan yang
rasional.11
Jadi dalam memahami Tritunggal, kita harus berangkat dari
fakta bahwa manusia yaitu “ada” sebab diadakan oleh
“Sang Mahaada” yang tidak pernah menjadi ada (Allah), atau
dengan kata lain, manusia merupakan makluk yang diciptakan
oleh Allah dan hal ini juga menyangkut keseluruhan aspek
dalam diri manasia termasuk rasio. Sehingga dapat dikatakan
bahwa rasio yang dimiliki manusia yaitu rupa atau gambar
(replika) dalam kualitas yang lebih rendah (diciptakan) dari
rasio sempurna (Pencipta), itu berarti rasio sempurna (Allah)
harus diklasifikasi ke dalam wilayah supra rasional.
Dengan demikian tidak dapat dipungkiri, bahwa antara
rasional dan supra rasional terdapat gap, ruang kosong,
daerah vakum atau daerah es. Hal-hal inilah yang
mengakibatkan kesulitan-kesulitan rasional-filosofis dalam
memahami doktrin Tritunggal. Menanggapi keadaan ini Paul
Tillich mengatakan bahwa; iman akan Allah akan melampaui
akal budi, melampaui akal bukan berarti tak masuk akal,
paradoks namun bukan absurd.12 Atau dengan kata lain,
hanya akal yang “mengalami” dapat mencapai Allah dan bukan
akal yang ‘menelaah’.
3. Empiris
Kesulitan empiris yang dimaksudkan pada bagian ini ialah
kesulitan yang dihubungkan dengan kenyataan bahwa Allah itu
“ada” walau tidak kelihatan dan tidak “ada” yang sama dengan-
Nya dalam keberadaan. Allah itu yaitu Ia yang tidak pernah
identik dengan apa yang disebut sebagai Allah, yang dialami
sebagai Allah, yang dirindukan dan disembah.13 Hal yang
sama diungkapkan oleh Woodword dan Duncan: tidak ada
sesuatu yang dapat disandingkan dengan ketritunggalan
dalam keesaan-Nya dan keesaan dalam ketritunggalan-Nya.
Tidak ada tiga orang yang secara struktur yaitu seorang
manusia dan tidak ada tiga orang yang masing-masing
mempunyai kualitas yang sama dan pengetahuan yang
lengkap tentang apa yang dilakukan atau dipikirkan oleh yang
lain. Setiap individu memagari dirinya dengan kebebsan
pribadi, dan tidak ada manusia yang memiliki kepribadian yang
jamak seperti yang dinyatakan tentang Allah. Mengacu dari
realita bahwa ketiadaan analogi untuk disejajarkan atau hanya
sekedar mendekatinya menghasilkan kesulitan dalam
memahami Allah.
Keaadaan ini pada dasarnya disebabkan oleh hakikat
keberadaan segalah sesuatu (apapun dan siapapun) ini
bersifat alamiah (natural) sedangkan Allah Tritunggal bersifat
supra natural. Dengan demikian jelaslah bahwa kedua hal ini
tidak bisa disandingkan. Hal ini sejalan dengan pemikiran
Boettner. Ia mengungkapkan bahwa; Dalam Ke-Allah-an
terdapat kepribadian yang unik dan tidak sama dengan
manusia. Sebagaimana dalam tatanan ekosistem, tanaman
hidup tidak memiliki kesadaran, binatang tidak mempunyai
perasaan dan manusia jauh melebihi kesemuanya, sebab
padanya mempunyai kesadaran moral dan memiliki akal budi.
Dengan demikian, pada tingkatan manusia tidak dapat
dijangkau oleh tanaman maupun binatang. Jadi, tidak perlu
heran jika kita tidak bisa mengerti tentang Allah yang pada
dasarnya memiliki tingkatam yang memang jauh melebihi kita.
C. Equilibrium
Kedudukan doktrin Tritunggal yang begitu fundamen dalam
teologi Kristen mengharuskan setiap warga gereja atau semua
orang yang mengaku dirinya Kristen untuk belajar tentang
doktrin ini. saat tuntutan untuk memahami doktrin Tritunggal
menjadi kewajiban bagi setiap warga gereja, maka muncullah
keruwetan dalam memaknainya sebagaimana yang telah
disinggung di atas. Berkenaan dengan itu, maka sikap yang
benar dalam proses pembelajaran sekiranya akan membantu
kita untuk dapat menelusuri kemisteriusan dari doktirn
Tritunggal.
God is the mistery and unique being yaitu realitas yang
tak dapat disangkal oleh seluruh teolog yang pernah
mendalami tentang Tritunggal. Keunikan dan kemisteriusan-
Nya seolah menjadi momok bagi ilmu pengetahuan untuk
menyingkapi dan menguraikan pemahaman yang holistik
tentang Allah. Namun jika realitas ini dilepas maka Allah akan
kehilangan nilai ke-Allah-an dan tidak lebih dari sekedar
proyeksi otak manusia. Barth berkata, ‘Allah bukanlah Allah,
seandainya Dia bukanlah Dia sama sekali lain, Dia yang asing
yang sama sekali lain dan tak terpahami.14 Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa Allah yang dapat dipahami, diuraikan,
dikonsepsikan secara menyeluruh, pada dasarnya IA bukanlah
Allah. Berkenaan dengan ini, Luther dalam ajarannya tentang
Allah memaparkan dua aspek yang unik dari Allah, yaitu; Allah
yang diwahyukan (revealated God) dan Allah yang
disembunyikan (the hidden God). Menurutnya, Allah yang
disembunyikan seperti bulan di langit yang hanya dapat dilihat
bagian depannya, tanpa bisa melihat bagian belakangnya.15
Demikianlah Allah yang begitu ajaib dan besar sehingga ada
bagian yang tersembunyi yang belum diwahyukan sehingga
kemisterisan-Nya tanpa jelas. Jadi Deus revelatus (Allah yang
dinyatakan), masih merupakan Deus abconditus (Allah yang
tersembunyi). Senada dengan itu, Calvin pun memahami
bahwa Allah yang keberadaan-Nya yang terdalam tidak dapat
diselami, dengan kata lain hakikat Allah tak terpahami
sehingga keilahian-Nya sepenuhnya luput dari pengertian
manusia, kecuali melalui wahyu Allah.16
Dengan demikian dalam mempelajari doktrin Tritunggal,
kita harus memiliki sikap pengharapan yang tinggi terhadap
kemisteriusan dan keunikan Allah ini. Dengan begitu Allah
akan tetap menjadi Allah. Sebaliknya jika setiap usaha untuk
memahaminya secara sempurna dengan menghilangkan
realitas ilahi maka kita sama seperti menurunkan Allah dari
takhta serta menobatkan akal dan pikiran kita menjadi allah.
Barth menulis dalam bukunya Der Romerbrief, bahwa
keunikan pada Allah akan lenyap, jika orang tidak melihat
“jurang, daerah es, wilayah gurun” yang harus disebrangi, jika
kita sungguh ingin melangkah dari kefanaan ke kekekalan17,
biarkanlah Allah tetap menjadi Allah dengan membiarkan dan
menghargai ruang gelap dalam diri-Nya tanpa usaha
menjadikannya seterang mungkin. Sebagaimana yang
dikatakan Milinos, “kita akan dapat menjunjung Allah lebih
tinggi, jikalau kita mengetahui bahwa Allah itu tidak dapat
dimengerti dan berada diluar jangkauan pengertian kita”.18
Disamping itu, mempelajari Tritunggal sama halnya dengan
belajar dari Dia dan tentang Dia. Pengenalan tentang Allah
hanya dimungkinkan sepanjang hal itu dinyatakan sendiri oleh
Allah. sebab yang terbatas tidak mungkin memahami
sepenuhnya tentang Dia yang tak terbatas. Jadi pengenalan ini
yaitu inadaequaat (kemustahilan), sebagaimana yang
dikatakan Calvin, finitum non capax infiniti (yang fana tidak
mungkin memahami yang tidak fana atau kekal).19 Oleh sebab
itu, wahyu menjadi satu-satu jalan bagi kita untuk memahami
kebenaran Tritunggal. Sebab dengan demikian, Allah akan
selalu bertindak sebagai subjek dan bukan objek. Ia akan
selalu mengawasi setiap orang yang sementara mempelajari
tentang Dia. Itulah sebabnya objek dari teologi bukanlah Allah
melainkan wahyu/iman manusia kepada Allah.
Jikalau kebenaran Tritunggal ini besifat dan berdasar
wahyu, maka satu-satu jalan untuk memahaminya ialah
dengan totalitas iman yang penuh kepasrahan. Iman inilah
yang nantinya akan menuntun kepada pengertian akan
kebenaran. Seperti kata Anselmus dalam Fides quares
intellectum (iman yang mencari pengertian), I believe in order
to know and not I know in order to believe (aku percaya
supaya aku mengerti dan bukan aku mengert supaya aku
percaya). Sikap yang demikian tidak memerlukan bukti lebih
lanjut, sebab hal ini menandakan kebimbangan dan
memperoleh bukti berarti menyatakan bahwa iman itu sia-sia.21
Keadaan yang sama juga membuat Tozer (1995) mengawali
pembahasan tentang Allah yang tak dapat dimengerti dengan
sebuah kalimat doa yang berbunyi:
Tuhan, dilema yang kami hadapi besar sekali! Di
hadirat-Mu kami patut berdiam diri, namun kasih bergelora di
hati kami untuk berbicara. Seandainya kami berdiam diri,
maka batu-batu akan berseruh; namun jika kami
berbicara, apa yang harus kami katakan? Ajarlah kami
mengetahui apa yang kami belum kami ketahui, sebab tidak
ada manusia yang dapat mengetahui hal-hal tentang Allah,
hanya Roh Allah yang dapat. jika akal tak berdaya,
biarlah iman yang menyangga kami, dan kami akan berpikir
bahwa kami sudah percaya, bukan supaya kami percaya.
Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Akhir kata, biarlah tuntunan iman menjadi mutlak dalam
menelaah setiap jengkal pengetahuan kita dalam mempelajari
Tritunggal, sehingga menghadirkan rasa kagum dan hormat
akan kebesaran Allah. Sebagaiman yang dilakukan oleh Barth,
ia membiarkan rahasia Allah dengan seluruh kesungguhannya
tak tersentuh dan tidak berusaha membongkar dengan akal
budi. Ia tidak berikhtiar untuk membedah rahasia Ilahi dengan
pisau rasio, melainkan menyembah-Nya. “Biarkanlah aku
mencari Engkau dalam kerinduan dan merindukan Engkau di
dalam mencari Engkau; biarkanlah aku menemukan Engkau di
dalam kasih dan mengasihi Engkau di dalam menemukan
Engkau”.22 Kebenaran Tritunggal yang jauh melampaui akal
dan pengertian manusia, seharusnya manuntun manusia untuk
masuk ke dalam puji-pujian kepada-Nya. Doktrin Tritunggal
tidak memecahkan rahasia hakikat Allah, melainkan mau
mengajak manusia untuk turut serta dalam memuliakan Allah
dengan puji-pujian dan penyembahan.
Tritunggal yaitu istilah yang dipakai untuk
mengkonsepsikan nilai keimanan umat Kristiani, lalu
dijadikan rumusan pengakuan iman bagi seluruh gereja,
sebagaimana yang dirumuskan pada konsili di Nicea tahun
325 dan dikokohkan di konsili Konstantinopel pada tahun 381
oleh bapak-bapak gereja. Walau Istilah Tritunggal tidak
terdapat dalam seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru. Namun, seluruh Alkitab mengandung ajaran
mengenai keesaan Allah yang memiliki tiga pribadi dalam
eksistensinya.23 Oleh sebab itu, untuk menerjemahkan ajaran
ini maka gereja terpaksa menggunakan istilah di luar Alkitab
sebagai upaya mengkontekstualisasikan ajaran ini .
A. Pengertian Tritunggal
Kata Tritunggal secara etimologis, berasal dari bahasa
Latin Trinitas. Kata ini terdiri dari dua kata. Pertama yaitu
trinus, yaitu kata sifat yang berarti memiliki tiga atau tiga kali
lipat. Kedua yaitu kata unitas, yaitu kata benda dari kata
dasar unus, yang bearti satu, tunggal atau esa. Jadi, dalam
bahasa Latin, Trinitas yaitu tiga serangkai atau tiga dalam
satu.24 Tertulianus, seorang teolog Latin yang menulis pada
awal abad ke-3, dianggap menggunakan kata Trinitas untuk
pertama kalinya, saat ia menjelaskan bahwa Bapa, Anak dan
Roh Kudus yaitu satu dalam esensi (substansi) bukan satu
dalam persona.25 Sedangkan dalam bahasa Yunani, kata ini
berpadanan dengan kata tριάς (trias) yang berarti satu set dari
tiga atau berjumlah tiga. pemakaian pertama kali kata ini
dalam bentuk Yunani, tercatat dalam teologi Kristen yaitu
oleh Teofilus dari Antiokhia sekitar tahun 170, ia menggunakan
kata ini untuk mendefinisikan tentang Allah yang memiliki
Firman-Nya secara internal di dalam Diri-Nya yang bersama-
sama dalam kisah penciptaan.26 Adapun dalam bahasa
Inggris, kata Tritunggal disinonimkan dengan kata trinity.
Namun jika dianalisis, kata ini tidak efektif dalam
merekonstruksikan makna yang terkandung di dalamnya,
sebab hanya menunjuk arti tiga tanpa adanya implikasi
kesatuan dari ketiganya.27 Dalam kamus bahasa Indonesia,
kata Tritunggal memiliki arti yang berbeda dengan Trinitas.
Tritunggal diartikan sebagai kesatuan dari tiga orang dan
Trinitas yaitu keesaan tiga oknum Allah.28 Jadi, bahasa
Indonesia tampaknya menyerap bahasa Latin namun tidak
menyejajarkan kedua kata ini sebagaimana lazim dilakukan
oleh para teolog.
Seperti halnya etimologi, secara terminologi istilah
Tritunggal pun diformulasikan dari dua makna.
Pertama, satu hakikat (una substantia). Kata ini terkadang
dipakai untuk mengartikan sesuatu yang individual atau
juga dapat berarti jenis atau kelas yang ke dalamnya sesuatu
yang individual digolongkan. Namun, hal ini tak dapat
mengungkapkan jenis kesatuan yang dibicarakan. Walau para
bapa gereja (Athanasius dan Origenes) tak jarang
membicarakan kesatuan hakikat sebagai kesatuan jenis atau
tipe dan nyaris bersifat triteistis tentang hakikat Allah Bapa. Ini
bukanlah yang utama walau terkadang berdampingan dan
diidentifikasikan dengan pemakaian istilah hakikat, sebab
kesatuan Allah harus dibicarakan sebagai kesatuan jenis, dan
hal itu pada diri-Nya sendiri. Bapa gereja menjelaskan
kesatuan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai yang
berbagi dalam esensi yang sama. Mereka lebih lanjut,
menggabungkan gagasan ini dengan pernyataan kitab suci
bahwa Sang Anak diperanakan dari Allah, artinya bahwa ke-
Allah-an membeda-bedakan dirinya sendiri.29 Oleh sebab itu,
dalam konteks ini, pengertian hakikat (substantia) oleh bapa-
bapa gereja diartikan bukan sebagai pengelompokan
melainkan sebagai pembentuk jenis. Hal ini berarti hakikat
Allah tidak dibagi-bagi di antara ketiga pribadi, namun secara
penuh dengan segala kesempurnaan dalam setiap pribadi,
sehingga memiliki kesatuan hakikat. Dengan demikian, pribadi-
pribadi dalam diri Allah merupakan kesatuan numerik yang
identik dan tidak memiliki eksistensi di luar dan terpisah dari
ketiga pribadi.30
Kedua, yaitu Tiga pribadi (tres personae). Para Bapa gereja
menggunanakan kata pribadi untuk mendefinisikan ketigaan
dari Tritunggal. Kata ini berasal dari bahasa Latin personae,
dan padanannya dalam bahasa Yunani yaitu prosopon atau
hypostatis. Bapa, Anak dan Roh Kudus dikatakan yaitu tiga
hypostatis atau pribadi dalam satu hakikat.
Kata persona atau prosopon aslinya yaitu sebutan untuk
topeng yang dipakai para aktor dalam drama. sebab
pergeseran makna, kata-kata itu lalu merujuk pada
peran atau karakter yang akan dimainkan. Dalam pemakaian
ini, kata-kata ini mengandung makna karakteristik yang
khusus atau istimewa dan juga keberadaan individual yang
nyata. Sedangkan hypostatis dapat juga diartikan sebagai cara
berada. Namun, oleh para Bapa gereja pemakaian kata ini
tidak mengacu pada makna aslinya, melainkan diberikan
pemaknaan baru. Sebab, baik kata persona, prosopon,
maupun hypostatis bukanlah diimplikasikan atau dimaknai
sebagai modus-modus, melainkan eksistensi diri sebagai fitur
esesnsialnya31, atau “pusat kesadaran”.32 Oleh sebab itu,
formula una substantia tres persone yaitu untuk menjelaskan
kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan maupun
keragaman-Nya.
Jadi, meskipun dalam istilah Tritunggal mengandung
misteri dan paradoksal, para bapa gereja tetap menggunakan
istilah ini sebab dianggap tidak kotradiksi dengan kesaksian
Alkitab33, sebagaimana hasil keputusan yang telah ditetapkan
sebagai paham ortodoksi dan lalu dijadikan rumusan
pengakuan iman bersama bagi seluruh gereja. Yaitu bahwa
Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu esa menurut hakikat (una
substantia) di mana ketiganya yaitu sama esensi-Nya, sama
kedudukan-Nya, sama kuasa-Nya, dan sama kemuliaan-Nya,
dan merupakan tiga Pribadi (tres personae) yang
eksistensinya berbeda antara satu dengan yang lain.34 Allah
dilukiskan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun bukan
berarti Allah terbagi menjadi tiga.35 Oleh sebab itu, kata
Tritunggal (tiga satu) dalam teologi Kristen dimaknai sebagai
pengakuan yang seimbang antara tiga dan satu. Penekanan
terhadap tiga dan mengabaikan satu, dan sebaliknya,
menjadikan kata ini kehilangan pengertiannya yang benar di
dalam teologi.36 Hal inilah yang menandaskan sifat
ekskulsivisme dari iman Kristen dalam memahami Allah,
sebab berbeda dengan konsep monoteis yang menekankan
ketunggalan Allah dan triteisme yang menyembah tiga tuhan
maupun polities yang memuja banyak dewa.
B. Unsur-unsur Esensial
Allah Tritunggal sebagaimana dipaparkan di atas,
merupakan ajaran yang sangat sulit untuk dimengerti,
dijelaskan, diterima dan dipercaya, serta diungkapkan dengan
kata-kata atau istilah-istilah manusia, sebab di dalamnya
terdapat misteri (supra rasio) dan paradoks dengan kerangka
berpikir manusia sebagai ciptaan saat diperhadapkan
dengan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, pada bagian ini akan
membahas mengenai unsur-unsur esensial dari Tritunggal
dengan bertitik tolak dari keterbatasan manusia dalam
memahami Allah dan penyataan Allah dalam panggung
sejarah sebagai dasar utama hadirnya ajaran Tritunggal.
1. Inkomprehensibilitas Allah
Tidak ada pengetahuan yang tuntas tentang Allah. Tidak
ada nama yang membuat esensi-Nya diketahui. Tidak ada
konsep yang mencakup diri-Nya secara utuh. Tidak ada
deskripsi yang mendefinisikan Dia secara penuh. Allah tidak
dapat diungkapkan, digerakan, dan tidak benama. Bahkan
kata-kata seperti Bapa, Allah atau Tuhan bukanlah nama yang
riil, itu hanyalah sebutan-sebutan yang diambil dari rahmat dan
pekerjaan-pekerjaan-Nya. lalu untuk sebutan esa, baik,
pencipta, penguasa, atau apapun kata yang dilekatkan pada-
Nya, tidak akan pernah bisa mengungkapkan esensinya yang
sejati, melainkan hanya mengungkapkan kuasa-kuasa-Nya.
Ringkasnya, Ia melampaui segala keberadan dan pemahaman
manusia. Dia tidak dapat dipahami secara tuntas dan haruslah
demikian.
Sebagaimana tidak ada intelek yang mampu memahami
Allah secara semestinya, demikianlah tidak ada definisi yang
mampu mendeskripsikan Allah secara semestinya sebab
Allah yaitu keberadaan Ilahi yang tidak dapat diungkapkan,
dibayangkan atau diandaikan dengan apapun. Manusia
berbicara mengenai Allah dengan caranya sendiri dan
mengetahui apa yang telah Allah nyatakan tentang diri-Nya
sendiri, namun natur keberadaan Allah dan eksistensi-Nya di
dalam seluruh ciptaan sama sekali tidak dapat dipahami
secara tuntas.37
berdasar realita dan kenyataan ini , maka
inkomprehensibilitas Allah yaitu titik berangkat untuk dapat
memahami bahwa manusia pada dasarnya selalu terikat pada
persepsi indrawi dan selalu menderivasi materi pemikirannya
dari dunia yang kelihatan, dan tidak dapat melihat hal spiritual
sebab terikat pada ruang dan waktu, sehingga pemikirannya
senantiasa bersifat material, finit dan berlimitasi. Oleh sebab
itu, semua determinasi tentang Allah merupakan
penggambaran yang telah terkontaminasi corak berfikir
indrawi. Dalam hal ini, semua pemikiran dan pembicaraan
tentang Allah seharusnya tidak diperbolehkan, sebab yang
dipikirkan dan bicarakan tentang Allah yaitu sesuatu yang
melampaui kemampuan dari perspektif intelektual.38 Di
samping itu, Allah juga tak dapat diimajinasikan sebab Allah
sesungguhnya tetap seperti diri-Nya dan bukan suatu hantu
atau fantasi untuk ditransformasikan sehingga pengetahuan
manusia tentang Allah, tidak lebih dari pabrik-pabrik berhala
sehingga memproyeksikan Allah berdasar alur berpikir atau
mendefinisikan Allah tak lebih dari ciptaan otaknya
sendiri.39Maka dapat dipastikan bahwa, manusia tak akan
pernah bisa mengetahui siapa Allah secara subjektif tanpa
Allah menyatakan diri-Nya secara objektif di dalam alam
ciptaan-Nya. Atau dengan kata lain, jika Allah tidak
menyatakan diri-Nya, tidak ada pula pengetahuan tentang-
Nya. namun , jika Ia telah menyatakan diri-Nya, ada sesuatu,
betapa kecilnya itu, yang dapat menuntun manusia menuju
pengetahuan ini . Namun, telah terbukti bahwa perihal
tidak dapat diketahuinya Allah berkoinsidensi secara persis
dengan penyataan diri-Nya dalam panggung sejarah.40
Dengan demikian, Allah tidak akan pernah dapat dipahami
secara tuntas. Allah hanya dapat dikenal dan diketahui sejauh
mana Ia menyatakan dan memperkenalkan diri-Nya. Oleh
sebab itu untuk dapat mengenal Allah, Alkitab menjadi
sumber utama sebab melalui media ini lah Allah telah
menyatakan Diri-Nya dalam panggung sejarah.
2. Penyataan Allah tentang Diri-Nya
Penyataan, atau dalam bahasa Ibraninya gala, dan Yunani
apokalupto, serta bahasa Latin revelo yaitu gagasan tentang
membuka selubung dari sesuatu yang tersembunyi atau
dengan kata lain membuat jelas apa yang samar-samar. Hal
ini tentunya tidak lepas dari inisiatif dari Allah sendiri untuk
berpengapa dalam panggung sejarah agar manusia dapat
mengenal-Nya.41Dalam penyataan ini , Allah menyatakan
diri-Nya, baik sebagai yang esa, personalitas dan rangkap tiga.
Oleh sebab itu, pada bagian ini, akan dibahas mengenai
keTritunggalan Allah yang hadir melalui penyataan ini ,
sebagaimana yang ditertulis di dalam Alkitab, mulai dari kitab
Perjanjian Lama, hingga Perjanjian Baru.
a. Teofani
Dalam Alkitab terdapat cukup banyak perikop di mana
Malaikat Tuhan muncul dan diidentifikasi sebagai sebagai
Allah sendiri. Perikop-perikop ini berisi petunjuk-petunjuk
tentang pluralitas di dalam Allah. Di Kejadian 16:7-13, Sang
malaikat berbicara sebagai Allah, Ia berkata kepada Hagar,
“Aku kana membuat sangat banyak keturunanmu,” dan
memberi informasi kepadanya tentang kelahiran Ismail yang
akan segera terjadi dan tentang nama yang harus diberikan
kepadanya. Hagar menjawab Malaikat itu, menyebut Tuhan
yang berbicara kepadanya sebagai “Allah yang melihat”. Lalu,
di Kej. 21:17-18, Malaikat itu sekali-lagi berbicara kepada
Hagar tentang anaknya, sekali lagi menggunakan suara Allah:
“Aku akan membuat dia menjadi bangsa besar.” Di Kej. 22:11-
18, saat Abraham hampir mempersembahkan Ishak di atas
altar, Malaikat Tuhan memanggil dari sorga, memberi janji-
janji sesuai dengan kovenan yang sudah Allah tetapkan.
Perkataan Malaikat itu di sini setara dengan perkataan Tuhan
dalam Kejadian 12:1-3: “Aku akan membuat engkau menjadi
bangsa yang besar, dan memberkati engkau.” Sekali lagi, di
Kej. 31:10-13, saat berbicara kepada Yakub, Malaikat itu
mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Allah yang di Bethel. Di
Kel. 3:2-6, Malaikat Tuhan tampak kepada Musa dari nyala api
yang keluar dari semak, sementara dari semak itu sendiri
Tuhan melihat, berbicara dan memperkenalkan diri-Nya
sebagai Allah.
lalu , setalah menaklukan Kanaan, Malaikat di Hakim-
hakim 2:1-5 berbicara dalam nama YHWH, mengatakan “telah
Ku tuntun kamu keluar dari Mesir.... Aku telah berfirman: Aku
tidak akan membatalkan perjanjian Ku dengan kamu. namun
kamu tidak mendengarkan firman-Ku.” saat menampakan
diri kepada Gideon, Malaikat Tuhan (Hak. 6:12, 20, 21, 22)
yaitu Tuhan (ay. 14, dst., 23-24). Lalu saat Ia menampakan
diri-Nya kepada orang tua Simson, Manoah dan istrinya (Hak.
13:3-23), Malaikat Tuhan disamakan oleh istri Manoah pada
pemunculan pertama-Nya dengan abdi Allah (ay. 3-8),
sementara yang kedua kali ia yaitu Malaikat Allah dan juga
seorang manusi (ay. 9-20). sesudah itu, dalam perasaan gentar
bercampur takut, pasangan itu menyadari bahwa dengan
melihat Malaikat itu sama dengan melihat Allah. Dalam
kemunculan, Malaikat itu tampak sebagai manusia, namun
secara bersamaan disetarakan dengan Allah. Di sini terdapat
satu sosok yang diidentifikasi dengan Allah, namun berbeda
dengan-Nya. Namun dalam Kitab Suci tidak ada penjelasan
tentang bagaimana ini bisa terjadi dan seluruh rangkaian
peristiwa ini dilihat dalam perspektif hanya ada Allah
yang esa.42
Terkait dengan itu, pada beberapa kesempatan lain Allah
menampakan diri dalam bentuk bertubuh fisik atau Theofani.
Peristiwa yang paling terkenal yaitu kunjungan tiga orang
atau malaikat kepada Abraham (Kej. 18:1), namun di depan
Abraham berdiri tiga orang (ay. 2). Ia memberi mereka
keramahtamahan semitik sebagaimana lazimnya (ay. 3-8),
termasuk makanan. Lalu “Tuhan” berbicara, dalam kata-kata
yang hanya dapat dikatakan oleh Allah. Allah berkata:
“sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan
engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu akan mempunyai
seorang anak laki-laki” (ay. 10). Sekali lagi narasi itu mencatat
bahwa “Tuhan” berbicara dengan Abraham (ay. 13). Orang-
orang itu berbelok ke Sodom, sementara Tuhan berbicara
dengan Abraham (ay. 22 dst.). lalu Ttuhan pergi dan
meninggalkan Abraham. (ay. 33), sementara dua (tidak lagi
tiga) malaikat itu tiba di Sodom (Kej. 19:1). Dua malaikat itu
mengumumkan kepada Lot bahwa bahwa Tuhan telah
mengutus mereka untuk menghancurkan temapat itu (ay. 13),
namun sesudah pelarian Lot yang genting, Tuhanlah yang
menhancurkan kota itu (ay. 24, 25). Dalam kedua pasal ini
didapati penyebutan manusia, malaikat dan Tuhan yang terus
ditempatkan berasama-sama, seolah-olah tanpa batasan.
Perikop ini memang mengandung begitu banyak misteri
sehingga memicu banyak diskusi antar rabi-rabi,
meskipun baru sejak Justinur Martir pada abad ke-2 orang-
orang Kristen mulai mempertimbankan implikasi-implikasi dari
peristiwa itu dan sejak saat itu pulalah masalah Tritunggal
mulai muncul.
Selain cerita Abraham, pertemuan Yosua dengan panglima
balatentara Tuhan (Yosua. 5:13-15) juga berhak mendapat
perhatian lebih banyak dari pada yang sering diterimanya.
Figur misterius ini tampak sebagai seorang manusia, namun
mungkin yaitu seorang malaikat. Akan namun Yosua
menyembah Dia dan tidak ditegur sebab hal itu. Keadaaan ini
terbalik dengan Rasul Yohanes saat ia menyembah malaikat
(Wahyu 19:10; 22:8-9), sebab pada dua kesempatan itu ia
ditegur dengan keras. Terlebih lagi, panglima balatentara
Tuhan (perlu diingat bahwa pada saat itu Yosua sendiri juga
menyandang gelar yang sama) berbicara kepadanya dalam
bahasa yang sama dengan yang dipakai saat berbicara
dengan Musa di semak yang menyalah. Dengan demikian,
dalam keseluruhan pokok ini sangat jelas bahwa Allah tampak
sebagai seorang manusia, agen berpribadi yang berbicara
debagai Allah, namun bukan Allah.
Dibalik semua episode ini terdapat monoteisme yang
mempengaruhi segala aspek. Israel berulang kali di ajarkan
bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Dia yang membawa umat-
Nya kedalam kovenan dengan-Nya. Sebagaimana inti dari
iman Israel dalam Ulangan 6:4-5: “Dengarlah, hai orang Israel:
Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan sengenap jiwamu dan
dengan segenap kekuatanmu.” Kata-kata ini terkandung dalam
seluruh hukum, dengan begitu sangatlah jelas bahwa Israel
menolak dengan tegas segala macam bentuk politeisme.
Dalam konteks langsung, agama-agama Kanaan merupakan
ancaman dan tantangan bagi Israel, namun deklarasi yang
mengesankan ini dimasukkan dalam lingkup semua objek
penyembahan kafir yang disebutkan dalam literatur sejarah
dan nabi.
Dengan demikian, dalam perspektif iman monoteistik, yang
dinyatakan berulang kali, kita seharusnya memahami bahwa
pokok-pokok mengenai teofani merupakan petunjuk mengenai
distingsi dalam keberadaan Allah yang berulang kali
disingkapkan dalam waktu ke waktu. Peristiwa-peristiwa ini
tidak pernah sedikitpuun dimaksudkan untuk mengakomodasi
anggapan kafir tentang pluralitas allah-allah. Peristiwa itu
cocok dengan kerangka kerja monoteistik.
b. Distingsi
Dalam beberapa perikop, Allah berbicara kepada Allah,
tidak dalam deliberasi diri atau dalam keadaan sendiri, namun
tampak sebagai pelaku-pelaku yang berdistingsi. Dalam
Mazmur 110:1 dikatakan: “Firman Tuhan kepada Tuanku:
Duduklah di samping kanan Ku sampai Kubuat musuh-
musuhmu menjadi tumpuan kakimu”. Dari perikop ini terlihat
Allah berbicara kepada satu sosok yang Daud sebut Tuan
(Adonay)nya. Dalam Mazmur penobatan ini, Daud sang raja
memberi penghormatan kepada satu sosok yang tampak lebih
dari pada raja. Tuan Daud ini mempunyai otoritas dan kuasa
yang lebih besar dibandingkan kuasa dan otoritas Daud. Ia dan
Allah sepenuhnya sependapat. Ditambahkan pula suatu janji
bahwa Ia takan pernah merubah pikiran dalam dekrit-Nya
bahwa Tuan ini yaitu imam untuk selama-lamanya menurut
peraturan Melkisedek. Mazmur ini menunjuk kepada pribadi
dan kuasa Kristus, dan sering dikutip di Perjanjian Baru, baik
oleh Yesus tentang diri-Nya (Mrk. 12:36, dan paralel-
paralelnya) dan oleh Petrus tentang Yesus (Kis. 2:33-35).
Mazmur ini tidak sampai secara implisit mengidentifikasi Tuan
Daud dengan Allah, namun kaitan yang dinyatakan yaitu
kaitan yang paling dekat.43
lalu dalam Mazmur 45:7-8, menunjukan kepada
pernikahan rajawi yang tiba-tiba berubah menjadi
penghormatan ilahi, dan jelaslah bahwa sosk rajawi yang
disebutkan sebagai Allah di ayat enam diurapi oleh Allah di
ayat tujuh. Dalam tatanan Bahasanya tidak mengizinkan
pelemahan apapun. Oleh sebab itu, pada waktu mazmur ini
digubah masih terkandung dan merupakan sebuah misteri,
sebab hal ini hanya akan dapat dipahami dengan kerangka
berpikir melaui perspektif inkarnasi. Di samping itu, ada juga
rangkaian pujian di Yesaya 63:8-14, yang menunjukan sejarah
perjalanan bangsa Israel yang diwarnai oleh beragam
peristiwa di dalamnya. Allah menjadi juruselamat mereka (ayat
8), malaikat di hadirat-Nya menyelamatkan mereka (ayat 9), Ia
mengasihi, mengasihani, dan menggendong mereka, namun
mereka mendukakan Roh Kudus-Nya, maka Ia berperang
melawan mereka (ayat 10). Lalu Ia mengingat bahwa dalam
hati mereka telah ditaruh Roh Kudus (ayat 11), maka Roh
Tuhan memberi mereka perhentian (ayat 14). Rangkaian
pujian ini membuat Roh Allah terlihat cukup jelas dan
dipersonalisasikan sehingga membuka jalan menuju pada
perkembangan yang penuh dilalu hari sebagai
hypostasis yang berbeda dalam pemikiran Yahudi hingga
Kekristenan.44
c. Keesaan
Konsep mengenai keesaan Allah berakar dari bangsa Israel
dalam Perjanjian Lama. Konsep ini hadir dalam lingkungan
yang penuh dengan pluralitas keagamaan dan bertumbuh di
daerah yang memiliki banyak dewa-dewa yang dijadikan
sebagai objek penyembahan. Mereka saling membandingkan
dewa-dewa yang ada, dan berpindah ke dewa yang dianggap
paling hebat atau paling besar. Dewa-dewa ini dianggap
sebagai yang memelihara kehidupan dan setiap bidang
kehidupan memiliki dewanya sendiri. Seperti di bidang politik,
sosial, ekonomi, militer, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
sebab itu, mereka bisa saling memuja dan menyembah
dewa-dewa yang dianggap paling sesuai dengan
kesejahteraan yang mereka butuhkan. namun hal demikian
tidak berlaku dalam kehidupan bangsa Israel. Jika bangsa-
bangsa sekitarnya menyembah suatu dewa yang hanya
memiliki ruang lingkup yang kecil dan terbatas. Israel
menyembah satu Allah yang bersifat universal dan supra
alamiah. Konsep Allah yang esa ini bukan satu untuk satu
suku, melainkan satu untuk seluruh alam semesta.45 Konsep
ini lalu diajarkan dan di ulangi terus-menerus, sampai
sebelum Musa mati, dia mengulanginya lagi dalam satu ayat
yang disebut sebagai Syamma, ayat emas, ayat kunci untuk
mengerti seluruh Taurat, yaitu terdapat dalam Ulangan 6 : 4,
berkata demikian: ְׁשַמע(Syema' =Dengarlah) ִיְׂשָרֵאל (Yisra'el =
Israel)ְיהָוה (Yehovah Dibaca 'Adonay = Tuhan) ֱאֵהינּו
('Eloheinu = Allah Kita) ְיהָוה (Yehovah Dibaca 'Adonay =
Tuhan) ד Ayat ini, merupakan prinsip dasar .(Ekhad = Esa) ֶאָח
untuk mengerti seluruh Taurat dan wahyu Tuhan di dalam
Perjanjian Lama. Orang Israel mengetahui bahwa segala
kebajikan di dalam iman kepercayaan dimulai dengan
meletakan iman mereka di atas dasar ini.46
Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel
saat ia akan meninggalkan mereka, sebenarnya merupakan
suatu pengakuan iman yang ditekankan pada bangsa Israel
agar jangan melupakan Allah. Pengakuan iman ini bukanlah
rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang
diperoleh dengan memandang kepada gejala-gejala alam
semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan
didasarkan pada pengalaman Musa dan umat Israel sendiri,
sejak Allah memperkenalkan diri melalui karya selamat dengan
membebaskan bangsa Israel dari tanah perhambaan di Mesir
hingga di dataran Moab. Senada dengan hal itu, Allah
memperkenalkan diri dengan Firrman dan karya-Nya.
Pertama-tama diakui bahwa Allah Israel yaitu ְיהָוה yang
melalui Nama ini Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai
sekutu Israel dan yang telah memenuhi perjanjian dengan
nenek moyang bangsa Israel. Dengan mengingatkan kepada
Nama itu Musa bermaksud menekankan bahwa Allah yaitu
setia, yang telah benar-benar memegang teguh kepada apa
yang telah difirmankan dan diperbuat. Hal itu bukanlah suatu
teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel, melainkan benar-
benar kenyataan yang dinyatakan disepAnjang sejarah
kehidupan mereka. Selanjutnya dalam pengakuan iman, Allah
disebutkan sebagai yang ד esa, atau bisa juga) ֶאָחֽ
diterjemahkan dengan kata saja), artinya tidak ada allah lain
kecuali Allah yang telah menjadi sekutu mereka. Jadi dalam
hubungan pernyataan ini, kata ekhad menunjuk pada
kedudukan Allah yang khas terhadap allah-allah lain dan
bertentangan dengan allah-allah yang dimiliki oleh bangsa-
bangsa di sekitar Israel. Atau dengan kata lain, kata ini lebih
menunjuk pada pengertian etis, sebab keesaan Allah di dalam
Firman dan Karya-Nya senantiasa dihubungkan dengan kasih
yang esa kepada-Nya. Hanya Allah-lah yang menjadi sekutu
Israel dan tidak ada sekutu lain yang patut dikasihi.47
Pengertian tentang keesaan yang ditemukan dalam
Perjanjian lama, juga dalam Perjanjian Baru. Salah satunya
dalam Yohanes 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa
mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan
mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus”. Kata-kata yang
diterjemahkan dengan satu-satunya Allah yang benar yaitu
to.n mo,non avlhqino.n qeo.n (ton monon alẻthinon Theon),
kata ini juga bisa diterjemahkan dengan Allah yang satu dan
benar atau satu-satunya yang benar-benar Allah. Jadi jelaslah
melalui ayat ini bahwa tidak ada allah lain kecuali Allah Israel
dan keesaan Allah dalam ayat ini, bukanlah hasil pemikiran
spekulatif yang diperoleh dari hasil dengan memandang
gejala-gejala alam atau penjabaran berdasar hukum akal.
Melainkan berdasar penyataan Allah di dalam Firman dan
karya-Nya, yang semuanya menunjuk pada Allah sebagai
sekutu umat-Nya. Seperti halnya yang terdapat dalam
Perjanjian Lama, kata esa dalam Perjanjian Baru juga tidak
menekankan kepada angka secara matematis. Jadi, baik
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sama-sama
menekan keesaan sebagai objek penyembahan kepada satu-
satunya yang disebut Allah dan hal itu menuntut sesuatu dari
orang yang menerima wahyu ini, yaitu tidak bisa sembarangan
berserah atau menyerahkan diri kepada ilah-ilah lain dan harus
menyerahkan totalitas penyembahan kepada Allah yang esa
dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan
segenap kekuatan serta akal budi untuk mengasihi Dia.48 Atau
dengan kata lain, seluruh aspek hidup harus merupakan
kesatuan di hadapan Allah.
Disamping itu, penyataan mengenai keesaan Allah juga
menekankan sifat-sifat atau natur Allah yang tidak ada pada
siapapun. Sifat-sifat itu antara lain: Transenden (lain dari yang
lain dan melampaui segalah segala sesuatu), Kudus atau Suci
(tidak ada bandingannya sekaligus menjadi sumber segala
kesucian), Mutlak (hanya Dia satu-satunya yang melampaui
segala sesuatu yang relatif), Sempurna (satu-satunya yang
tidak berkekurangan, yang mencukupi diri sendiri, serta
menjadi sumber yang mencukupi yang lain), Kekal (tidak
mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir, serta
menjadi sumber dari kekekalan).49
d. Rangkap tiga
Konsep mengenai rangkap tiga yaitu mengacu dari
tulisan Alkitab yang menyebutkan ketiga pribadi secara
bersama-sama dan setara sebagai objek iman. Oleh sebab
itu, pada bagian ini akan memfokuskan pembahasan
mengenai rangkap tiga atau triadik yang terdapat dalam
Perjanjian Baru khususnya dalam tulisan-tulisan Paulus.
Diawali dari introduksi suratnya kepada jemaat di Roma, ia
menggambarkan dirinya sebagai rasul yang dikuduskan untuk
mengabarkan injil Allah, tentang Anak, dan menurut Roh
Kudus yang dinyatakan oleh kebangkitan Yesus Kristus dari
antara orang mati, bahwa Ia yaitu Anak Allah yang maha
kuasa (Rm. 1:1-4). Dalam menggambarkan akibat-akibat
keselamatan oleh Allah, ia mengatakan, “kita hidup dalam
damai sejahtera dengan

