reka
bercahaya menunggangi unta betina putih bersayap. Sungguh mereka telah terbebas dari kehinaan. Mulia
tanpa beban. Tengkuk mereka bertahta emas lebih lembut dari sutera sebab kemuliaan mereka dari Allah
‘Azza wa Jalla.”321
Abu Said berkata bahwa Nabi memandang kepada Ali seraya berkata, “Orang ini danSyiahnya yaitu
orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”322
Dari Ali dia berkata,“Rasulullah Saw bersabda kepadaku, ‘Engkau dan Syiahmu berada dalam surga.’”323
Dari Muhammad bin Ali berkata, “Aku bertanya tentang Ali kepada Ummu Salamah, istri Nabi Saw.”
Ummu Salamah menjawab, ‘Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dan
Syiahnya yaitu orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.’”324
Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata, Rasulullah Saw berkhutbah dan aku mendengar beliau
bersabda,
“Wahai manusia! Barang siapa membenci kami Ahlul Bait niscaya ia akan dibangkitkan oleh Allah
dalam keadaan Yahudi.”
Aku bertanya, ‘Meskipun dia berpuasa dan salat, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab,
‘Meskipun dia berpuasa dan salat dan menganggap dirinya seorang muslim…, maka aku memohon
ampunan untuk Ali dan Syiahnya.’”325
Dari Abu Hurairah, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih anda cintai,
aku ataukah Fatimah?” Rasul bersabda, ‘Fatimah lebih aku cintai dari pada kamu, sementara kamu lebih
mulia darinya. Sehingga seakan-akan aku bersamamu di telagaku, sementara manusia diusir dari telaga.
Sesungguhnya di atas telaga itu ada cawan-cawan seperti bilangan bintang di langit. Sungguh aku, kamu,
Al-Hasan, Al-Husain, Fatimah, Aqil, dan Jafar berada di surga bersama di atas dipan-dipan yang saling
berhadapan. Kamu bersamaku dan Syiahmu di surga.’ kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat,
Mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.’ (QS. Al-Hijr [15]: 44)
“Tidak seorang pun memperhatikan temannya di belakang.’”326
Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Tiadakah engkau rela ber-samaku di dalam surga, Al-Hasan dan
Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para istri kita di belakang keturunan kita, dan
Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita?” 327
Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Sesungguhnya empat kelompok pertama yang akan masuk surga
yaitu aku dan engkau, Al-Hasan dan Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para
istri kita di belakang keturunan kita, dan Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita?”328
Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Engkau dan Syiahmu akan mendatangiku di telaga dengan puas
meminumnya, wajah-wajah kalian bercahaya, sedang musuh-musuhmu akan mendatangiku kehausan
dan berwajah buruk.”329
Dari Ali bin Abi Thalib ra, “Kekasihku Saw bersabda, ‘Wahai Ali! Engkau dan Syiahmu akan menghadap
Allah dalam keadaan ridha dan diridhai sedang musuhmu dalam keadaan marah dan jijik.’”330
Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata, “Sufyani akan muncul di Syam … dan mereka akan membunuh Syiah
keluarga Muhammad di Kufah. Kemudian penduduk Khurasan keluar menyambut Al-Mahdi.”331
Al-Thabari (w. 310 H/923 M) dalam Tafsîr Al-Thabarî, menuliskan tentang tafsir Q.S Al-Bayyinah [98]:
7, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu yaitu
sebaik-baik makhluk, Rasulullah Saw bersabda, ‘Engkau ya Ali dan Syiahmu.’332
Semua riwayat yang tertera di atas membuktikan bahwa anggapan yang mengatakan Syiah
muncul pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan yaitu keliru. sebab istilah “Syiah Ali”
diucapkan sendiri oleh lisan suci Rasulullah Saw untuk pengikut Ali bin Abi Thalib, bukan produk
sejarah seperti yang dituduhkan.
Lebih-lebih, hadis-hadis ini diriwayatkan oleh para ulama besar Ahlus Sunnah, seperti Al-
Thabari yang kitab tafsirnya diakui oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan, Ibnu Taimiyah (w. 728
H/1328 M) saat ditanya tentang tafsir yang paling mendekati kebenaran dengan Alquran dan
Alsunnah, antara Al-Zamakhsyari (w. 538/1143 M), Al-Qurthubi (w. 671 H/1273 M), dan Al-Baghawi
(w. 510/1116) , dia berkata, “Adapun kitab tafsir paling sahih di antara tafsir-tafsir yang ada di hadapan
manusia, yaitu Tafsir Muhammad bin Jarir Al-Thabari. sebab beliau menyebutkan perkataan para salaf
dengan sanad-sanad yang kuat. Tidak ada bidah di dalamnya…”333
Syiah Lahir sesudah Perang Shiffin?
artikel Panduan MUI halaman 21 menyebutkan: “Tampaknya pendapat yang paling populer yaitu
bahwa Syiah lahir sesudah gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali dengan pihak Muawiyah
bin Abu Sufyan di Shiffin yang disebut sebagai peristiwa at-Tahkim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah
pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij
(orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah disebut Syiah
Ali (Pengikut Ali).”
Tanggapan:
Dari hadis-hadis yang telah dikutip sebelumnya, tampak bahwa pernyataan seperti ini telah
terbantah. Peristiwa yang dinukil di atas justru sedang mengisahkan tentang munculnya kelompok-
kelompok yang menentang khalifah yang sah, yaitu Ali bin Abu Thalib (w. 40 H/661 M), yang
dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan (w. 60 H/680 M) dan para pengikutnya serta golongan
pembangkang lainnya yang kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij.
Banyak hadis dan riwayat yang memberikan peringatan dan kecaman keras kepada seseorang
atau pun kelompok yang secara terang-terangan melakukan tindakan makar dan pemberontakan
terhadap pemerintahan yang sah, seperti apa yang dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan
terhadap kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.
Rasulullah Muhammad Saw dalam banyak kesempatan telah memperingatkan kepada umatnya
berulang kali, untuk tidak ber-tindak keliru dengan melakukan penentangan dan pembangkangan
kepada Ali bin Abu Thalib. Perhatikan catatan riwayat ini:
Pertama, Al-Hakim (w. 405 H/1014 M) dalam Kitab Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain, meriwayatkan
dari Auf bin Abi Utsman Al-Nahdi berkata,“Seseorang berkata kepada Salman , ‘Apa yang menjadikan
engkau lebih mencintai Ali?’ Salman berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barang siapa
mencintai Ali berarti dia mencintaiku dan barang siapa membenci Ali berarti dia membenciku.’”334
Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), namun mereka tidak
meriwayatkannya.”
Al-Dzahabi berkata tentang riwayat ini, “Sesuai syarat Bukhari dan Muslim.”
Kedua, Al-Hakim dalam kitab yang sama meriwayatkan hadis dari Ahmad bin Ja’far Al-Qathi’i,
dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari ayahku (Ahmad bin Hanbal), dari Sa’id bin Muhammad
Al-Warraq, dari Ali bin Al-Hazur berkata, “Aku mendengar Abu Maryam Al-Tsaqafi berkata, ‘Aku
mendengar ‘Ammar bin Yasir ra berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda kepada Ali,
‘Wahai Ali sungguh beruntung orang yang mencintaimu dan membenarkanmu. Sungguh celak a orang yang
membencimu dan mendustakanmu.’”
Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya, namun mereka (Bukhari dan Muslim) tidak
meriwayatkannya.”335
Ketiga, Imam Muslim bin Al-Hajjaj (w. 261 H/875 M) membuat bab khusus dalam kitab Al-Iman
dalam Shahîh Muslim ‘Bab Mencintai Al-Anshar dan Ali ra Bagian dari Iman ’. Kemudian Imam
Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari ‘Adi bin Tsabit, dari Zurr berkata, Ali berkata, “Demi Yang
membagi surga dan mencabut nyawa! Sungguh jaminan Nabi yang Ummi Saw kepadaku, “Hanyalah yang
mencintaiku seorang mukmin dan hanyalah yang membenciku seorang munafiq.’”336
Jika membenci Ali bin Abi Thalib sama dengan membenci Rasulullah Saw, bagaimana kita
menyikapi orang yang memerangi Ali bin Abi Thalib dan membangkang terhadap kepemiminannya?
Dan dimana pula kita akan memosisikan Muawiyah saat berperang melawan Ali bin Abi
Thalib di Shiffin? Sebab terdapat hadis dari Rasulullah Saw berbunyi “Ali bersama hak dan hak bersama
Ali” sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain, dari Abu Sa’id
Ahmad bin Ya’qub Al-Tsaqafi dari tulisan aslinya, dari Al-Husein bin Ali bin Syabib Al-Ma’mari, dari
Abdullah bin Shalih Al-Azdi, dari Muhammad bin Sulaiman bin Al-Asbihani, dari Sa’id bin Muslim
Al-Makki, dari ‘Umrah binti Abdurrahman berkata, “saat Ali hendak pergi ke Bashrah, beliau datang
menemui Ummu Salamah, istri Nabi Saw, untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Ummu Salamah
berkata, ‘Pergilah dalam lindungan dan naungan Allah. Demi Allah, sesungguhnya engkau bersama hak dan
hak bersamamu. Seandainya aku tidak takut bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebab beliau telah
memerintahkan kami untuk tetap diam di rumah-rumah kami, pastilah aku pergi bersamamu, …’”337Al-Hakim
berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), namun keduanya tidak
meriwayatkannya.”
Al-Dzahabi (w. 748 H/1374 M) berkata riwayat ini, “Sesuai syarat Bukhari Muslim.”
Dalam benak kita “Ali bersama hak dan hak bersama Ali” tidak hanya dalam satu persoalan dan satu
waktu saja, Nabi Saw juga menegaskan sahabat beliau yang bernama ‘Ammar bin Yasir, berada dalam
pihak yang benar saat perang Shiffin, yaitu di pihak Ali bin Abi Thalib.
Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya meriwayatkan, dari Ummu salamah berkata, “Sesungguhnya
Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ammar, ‘Engkau akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang (dari
umat Islam).’”338
Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/855 M) dalam Musnad-nya, yang ditahkik Syuaib Arnauth, memuat
hadis Rasulullah Saw, “Kasihan ‘Ammar dia akan dibunuh oleh kelompok zalim, ‘Ammar mengajak
mereka ke Surga sedang mereka mengajak ‘Ammar ke neraka….”339
Penahkik berkata, “Hadis ini sahih. Bukhari meriwayatkan dua buah hadis serupa, juga Ibnu Hibban.
Para perawi hadisnya tsiqah.”
Ali bin Abi Thalib Sahabat Utama?
artikel Panduan MUI halaman 22 menyatakan: “Sebab kelompok setia Syiah Ali yang terdiri dari
sebagian sahabat Rasulullah dan sebagain besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin
Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan sesudah Rasul dari pada Abu Bakar dan Umar b in Al-
Khatthab.”
Tanggapan:
Benarkah sangkaan yang mengatakan bahwa sahabat dan tabi’in tidak ada yang berkeyakinan
bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan sesudah Rasul daripada Abu
Bakar dan Umar? Jawabannya akan segera diperoleh pada beberapa hadis berikut ini;
Imam Bukhari (w. 256 H/870 M) meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada
Ali, “Engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.”340
Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M) dalamTârîkh Al-Khulafâ, menyatakan,
Pasal pertama, “Hadis-hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Ali bin Abu Thalib,
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak ada yang diriwayatkan tentang keutamaan untuk seorang
sahabat Rasulullah Saw sebagaimana yang telah diriwayatkan untuk Ali ra.”
Pasal kedua, “Tentang keutamaannya (Ali) kw. Keutamaan ini banyak sekali, agung dan
masyhur sehingga Imam Ahmad berkata, “Tidak pernah ada riwayat tentang keutamaan seorang pun
sebagaimana riwayat tentang (keutamaan) Ali.”
Ismail Al-Qadhi, Al-Nasa’i dan Abu Ali Al-Naisaburi berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan
tentang hak seseorang dari sahabat dengan sanad-sanad yang baik, yang lebih banyak daripada riwayat
yang datang tentang Ali.”341
Ibnu Hajar Al-’Asqalani (w. 852 H/1448 M) dalam Kitab Fath Al-Bârî, menyebutkan beberapa hadis
terkait pintu Ali menuju masjid Nabi. Di antaranya yaitu ;
Hadis Sa’ad bin Abi Waqqash (Rasulullah Saw memerintahkan kami menutup pintu-pintu
menuju masjid dan membiarkan pintu Ali). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasa’i
dengan sanad-sanad yang kuat. sedang Al-Thabarani meriwayatkan dalam (Mu’jam-pen)
Al-Awsath dengan para perawi yang tsiqah (Maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah, engkau
menutup pintu-pintu kami. Rasulullah bersabda, “Bukanlah aku yang menutupnya, namun Allah.”).342
Dari Zaid bin Arqam(Di antara sahabat ada yang memiliki pintu menuju masjid, maka Rasulullah
Saw bersabda, “Tutup-lah pintu-pintu ini kecuali pintu Ali.” Maka mereka mengeluhkannya,
Rasulullah pun bersabda, “Demi Allah, aku tidaklah menutup atau membukanya sesuatu, namun aku
diperintahkan atas sesuatu, maka aku mengikutinya.”). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Al-
Nasa’i dan Al-Hakim dengan para perawi yang seluruhnya tsiqah.343
Dari Ibnu Abbas(Rasulullah Saw memerintahkan (menutup-pen) pintu-pintu masjid, maka aku
menutupnya kecuali pintu Ali) dalam riwayat lain (Dan memerintahkan menutup pintu selain pintu
Ali. Beliau pernah masuk masjid dalam keadaan junub melalui pintu ini ). Kedua hadis ini
diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasa’i dengan para perawi yang tsiqah.
Dari Jabir bin Samurah (Rasulullah Saw memerintahkan menutup setiap pintu kecuali pintu Ali. Seuatu
kali beliau melaluinya dalam keadaan junub). Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Thabarani.
Dari Ibnu Umar (Kami di zaman Rasulullah Saw berkata, sebaik-baik manusia yaitu Rasulullah,
kemudian Abu Bakar dan Umar. Namun Ali dianugerahi tiga kelebihan yang seandainya aku
memperoleh salah satu dari ketiganya, maka lebih aku cintai dari segala kenikmatan. Yaitu, Rasulullah
Saw menikahkannya dengan puteri-nya dan memiliki anak darinya. Semua pintu masjid ditutup ke-
cuali pintunya. Dan ia diberikan panji pada perang Khaibar). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad
denan sanad hasan. sedang Al-Nasa’i meriwayatkannya melalui jalur Al-’Ala’ bin
Arrar(Maka aku berkata kepada Ibnu Umar, “Ceritakan padaku tentang Ali dan Utsman?” Maka
Ibnu Umar berkata, ‘Adapun Ali tidak perlu lagi seseorang menanyakan tentang dirinya, cukup anda
perhatikan kedudukannya di sisi Rasulullah Saw, sebab beliau Saw telah menutup semua pintu rumah
kami yang tembus ke Masjid Nabi dan membiarkan pintu Ali.’). Seluruh perawinya yaitu perawi
peringkat sahih selain Al-’Ala’ yang ditsiqahkan oleh Yahya bin Ma’in dan selainnya.”
Semua hadis ini saling menguatkan satu sama lain dan setiap jalur periwayatan baik
sebagai hujjah mengingat ba-nyaknya hadis-hadis ini .344
Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib
dan Al-Tirmidzi (w. 279 H/892 M) dalam Jâmi’ Al-Tirmidzîmeriwayatkan hadis yang sama:
Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqas dari ayahnya, ia berkata, “Muawiyah bin Abu Sufyan
memerintahkan Sa’ad (untuk mencaci Ali bin Abi Thalib). Apa yang mencegah anda dari mencaci Abu
Turab (Ali bin Abi Thalib-pen)?” Sa’ad menjawab, ‘Ada tiga hal yang aku pernah dengar dari Rasulullah
Saw yang membuatku tidak mungkin mencacinya. Andaikan salah satu dari tiga hal itu aku miliki, maka
itu lebih aku sukai daripada seekor unta merah;
Pertama, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Ali untuk menggantikannya memimpin dalam
sebagian perang. Maka Ali bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, engkau menjadikank u
pemimpin para wanita dan anak-anak kecil?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidakkah engkau rela kedudukanmu
di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja, tidak ada kenabian sesudah ku.’
Kedua, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda pada perang Khaibar, ‘Niscaya aku berikan panji
ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun
mencintainya.Selanjutnya Rasulullah bersabda, ‘Panggilkan Ali.’ Lalu Ali datang menemui beliau dalam
keadaan sedang sakit mata, kemudian Nabi memberi ludah pada matanya dan menyerahkan panji
kepadanya, maka Allah memberikan kemenangan di tangannya .’
Ketiga, ‘Pada saat turun ayat Maka katakanlah (kepada me-reka): “Mari kita panggil anak-
anak kami dan anak-anak kalian.”345kemudian Rasul Saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan
Husein. Lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah merekalah keluargaku.’”346
Ibnu Hajar dalam Kitab Fath Al-Bârî berkata, “Sesungguhnya Ali mencintai Allah dan Rasul-Nya dan
dicintai Allah dan Rasul-Nya yaitu wujud hakikat mahabbah (kecintaan). sebab jika tidak, maka setiap
muslim bersekutu dengan Ali pada sifat ini. Dalam hadis ini disi-nyalir firman Allah Swt dalam QS.
Âli ‘Imrân [3]: 31, (Katakanlah; jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mencintai kalian). Seakan-akan beliau Saw mengisyaratkan bahwa Ali sangat sempurna dalam
mengikuti Rasulullah Saw, sehingga layak mendapatkan kecintaan dari Allah Swt. Oleh sebab itu,
kecintaan terhadap Ali yaitu tanda keimanan, dan kebencian kepadanya yaitu tanda kemunafikan.”347
Satu hal yang penting yang tidak dapat dimungkiri oleh ulama mana pun, bahkan termasuk Ibnu
Taimiyah harus mengakui bahwa Ali yaitu jiwa Nabi Saw. Sebagaimana tertera dalam QS. Âli Imrân
[3]: 61 (ayat Mubahalah).
Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Jawâbu Shahîh liman Baddala Dîn Al-Masîhmenyatakan, “Telah ditetapkan
dalam kitab-kitab sahih tentang hadis datangnya utusan Najran yang terdapat dalam Bukhari, Muslim dari
Hudzaifah dan telah dikeluarkan oleh Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqas yang berkata, ‘saat turun ayat ini
Maka katakanlah, marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-
perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian dan diri-diri kami …Rasulullah Saw
memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, seraya bersabda, ‘Ya Allah, merekalah keluargaku.’”
sesudah itu Ibnu Taimiyah mengutip dalam catatan kaki halaman ini bahwa Ibnu Jarir
Al-Thabari telah meriwayatkan hadis ini dalam tafsirnya (Tafsir Al-Thabari yang dipuji
kesahihannya oleh Ibnu Taimiyah) dari jalur periwayatan yang ba-nyak saat menafsirkan QS.
Âli ‘Imrân [3]: 61.348
Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H/850 M) dalam Kitab Al-Mushannaf meriwayatkan dari Abdurahman bin
Auf, “saat Rasulullah Saw menaklukkan kota Mekkah, beliau pergi ke Thaif ….kemudian beliau Saw
bersabda, ‘Wahai manusia sesungguhnya aku akan meninggalkan kalian, maka aku berwasiat kepada kalian
tentang Itrah-ku sebagai kebaikan, dan sesungguhnya telah dijanjikan untuk kalian haud, demi yang jiwaku
di tangannya supaya mendirikan salat, menunaikan zakat, atau aku utus kepada mereka seorang dariku atau
yang seperti diriku, …….maka manusia mengira bahwa orang itu yaitu Abu Bakar atau Umar, kemudian
beliau Saw memegang tangan Ali seraya berkata, ‘Ini.’”349
Riwayat tentang kedudukan Ali di sisi Rasul Saw seperti, ‘Kedudukan Harun di sisi Musa,’ juga
disampaikan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Jâmi’ Al-Shahîh,yang ditahkik oleh Syuaib
Arnauth, Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau rela kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun
di sisi Musa? Hanya saja, tidak ada Nabi sesudah ku.”350
Hadis ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa dari segi kenabianlah yang membedakan antara
kedudukan Rasulullah Saw dengan Ali bin Abi Thalib, sebab itu di penghujung khutbahnya, Nabi
Saw menegaskan, ”hanya saja tidak ada Nabi sesudah ku.”
Lebih jelasnya kita dapat melihat ayat Alquran bagaimana posisi Harun di sisi Musa yang
nantinya kita dapat menilai bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah Saw.
﴾23﴿َوَاْشرِْكُه ِفي َاْمِري ﴾13﴿اْشُدْد ِبِه َاْزِري ﴾03﴿َهاُروَن َاِخي ﴾92﴿َواْجَعْل ِلي َوِزيًرا ِمْن َاْهِلي
Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun,
saudaraku.Teguhkanlah dengan Dia ke-kuatanku, dan sertakanlah ia dalam urusanku.
(QS. Thâhâ [20]: 29-32)
Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa Harun merupakan wazir dan saudara Musa as.
Sementara di dalam hadis disebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai wazir dan saudara
Rasulullah Saw.
Oleh sebab itu, jika Allah Swt meneguhkan kekuatan Musa as dengan Harun as dan
menyertakan beliau dalam urusannya, maka Allah Swt juga meneguhkan kekuatan Rasulullah Saw
dengan Ali bin Abi Thalib dan menyertakan beliau dalam urusannya.
Sebagai tambahan, sesungguhnya Harun as merupakan orang yang paling alim dari kaum Musa
as, maka begitu pula Ali bin Abi Thalib yaitu yang paling alim dari umat Rasulullah Saw.
berdasar semua kesaksian di atas sangatlah sulit untuk di-asumsikan bahwa para sahabat dan
tabi’in tidak memahami dan meyakini akan keutamaan Ali bin Abi Thalib atas para sahabat lainnya.
Syiah Bersifat Politis?
Di dalam artikel Panduan MUI halaman 22 menyatakan: “Istilah Syi’ah pada era kekhalifahan Ali
hanyalah bermakna pembelaan dan duku-ngan politik. Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada era
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saa t itu melawan
pihak Mu’awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak aqidah seperti yang dikenal pada masa
sesudahnya hingga sekarang.
Tanggapan:
Benarkah sangkaan dan anggapan ini di atas? Bahwa pembelaan dan dukungan kepada Ali
bin Abi Thalib oleh para sahabat hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik semata dan
tanpa memiliki sandaran akidah di dalamnya? Jawaban terhadap asumsi di atas akan didapati
jawabannya pada keterangan beberapa hadis di bawah ini:
Imam Muslim dalam Shahîh-nya, Al-Nasa’i dalam Al-Sunan Al-Kubrâ, dan Al-Tirmidzi dalam Jâmi’
Al-Tirmidzîmencatat sebuah hadis dari Zir, bahwa Ali berkata, “Demi zat yang membelah biji-bijian
dan menciptakan manusia, sesungguhnya jaminan dari Nabi Saw kepada aku yaitu , tidak ada yang
mencintaiku, kecuali seorang mukmin dan tidak ada yang membenciku kecuali seorang munafik.”351
Jika kita perhatikan pada pernyataan di atas bahwa istilah “Syiah” tidak ada kaitannya dengan
akidah lantas apa yang dapat kita pahami dari kata “mukmin” yang disabdakan oleh Rasulullah Saw
bagi pecinta Ali bin Abu Thalib?
Ibnu Hibban mencatat dalam Shahîh-nya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya, Ibnu Al-Maghazili (w.
483 H/1090 M) dalam Manâqib-nya, Al-Suyuthi dalam Jam’ Al-Jawâmi’-nya, dan Al-Albani dalam
Silsilah Al-Ahâdîts Al-Shahîhah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda, “Demi Zat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak membenci kami Ahlul Bait kecuali Allah akan
memasukkannya ke dalam neraka.”352
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak, hadis dari Abu Tsabit maula Abu Dzar , “Aku
mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Ali bersama Alquran dan Alquran bersama Ali. Keduanya tidak akan
berpisah hingga menyusulku di telaga.’”353
Al-Dzahabi mengomentari hadis ini, “Sahih. Abu Sai’id ‘Uqaisha’ (salah satu perawi) seorang yang
tsiqah dan diikuti.”
Jika Ali dipadankan dengan Alquran, maka bagaimana mungkin bisa Syiah pada masa itu hanya
mengikuti Ali sebagai kepentingan politik semata?
Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami Al-Syafi’i, (w. 974 H/1567 M) mengutip hadis Nabi
Muhammmad Saw yang mengatakan, “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, seorang hamba
tidak dikatakan beriman kepadakuhingga dia mencintaiku, dan tidak mencintaiku hingga dia mencinta i
keluargaku. Aku memerangi orang yang memerangi mereka [keluargaku], dan berdamai dengan orang yang
berdamai dengan mereka, dan memusuhi orang yang memusuhi mereka. Hati-hatilah kalian, barang siapa
menyakiti kerabatku [keluarga] sungguh dia telah menyakitiku, dan barang siapa telah menyak itiku berarti
telah menyakiti Allah ta’ala.”354
Pertanyaan yang muncul kemudian yaitu benarkah anggapan sebagian mereka yang berkata
bahwa mencintai keluarga Nabi tidak memiliki kaitan dan hubungan simetris dengan persoalan
akidah? Sementara dalam riwayat ini Rasulullah secara tegas mengatakan “Seorang hamba tidak
dikatakan beriman hingga dia mencintaiku, dan tidak mencintaiku hingga dia mencintai keluargaku....”
Kesahihan hadis ini dan yang senada dengannya tidaklah bisa dibuktikan dalam literatur
Syiah semata, namun juga bisa ditelaah dalam beberapa referensi Ahlus Sunnah, seperti:
Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan, “Ali berkata, ‘Demi Allah, di antara sumpah
Rasulullah Saw kepadaku ialah, ‘Sesungguhnya yang membenciku hanyalah seorang munafik dan yang
mencintaiku hanyalah seorang mukmin.’”355
Penahkik kitab berkata, “Sanadnya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim selain Adi bin Tsabit.”
Ahmad bin Hanbal, dalam Kitab Fadhâil Al-Shahâbah, tahkik Washiyullah bin Muhammad Abbasi
menyampaikan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Sesungguhnya kami mengetahui orang-orang
munafik kaum Ansharmelalui kebencian mereka kepada Ali.”356Penahkik berkata, “Sanadnya sahih.”
Ibnu ‘Asakir dalam kitab Târîkh Madînah Dimasyq, secara panjang lebar meriwayatkan ratusan hadis
dalam satu jilid khusus tentang Imam Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya.
Ali bin Muhammad Al-Himyari (w. 323 H/935 M) menyatakan dalam Kitab Juz-u bahwa Harun bin
Ishaq dari Sufyan bin Uyainah dari Zuhri dari Yazid bin Khushaifah dari Busr bin Said dari Abu
Sa’id Al-Khudri berkata, “Tidaklah kami mengetahui orang-orang munafik pada masa Rasulullah Saw
melainkan dengan kebenciannya kepada Ali.”357
Pandangan Ulama Rijal terhadap Para Perawi Hadis di atas
Harun bin Ishaq
Al-Dzahabi dalam kitab Al-Kâsyif menyebutkan Harun bin Ishâq Al-Himdâni Al-Kûfi seorang
yang hafiz. Beliau meriwayatkan hadis dari Ibn ‘Uyainah dan Mu’tamar. Al -Tirmidzi, Al-
Nasai’, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Muhamili meriwayatkan hadis dari beliau.Dia
seorang yang tsiqah dan ahli ibadah yang wafat pada 258 H.”358
Sufyan bin Uyainah
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Taqrîb Al-Tahdzîb menyebut-kan, “Sufyan bin Uyainah
bin Abi Imran Maimun Al-Hilali. Yaitu, Abu Muhammad Al-Kufi kemudian Al-Makki. “Seorang
yang tsiqah, hafiz, faqih, dan imam hujjah, hanya saja hafalannya berubah. Boleh jadi dia
mengelabui riwayat namun dari orang yang tsiqah…”359
Muhammad bin Muslim Al-Zuhri
Al-Dzahabi dalam kitab Al-Kâsyif menyatakan, “Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin
Abdullah bin Syihab Al-Zuhri Abu Bakar. Dia salah satu yang paling berpengetahuan.”360
Sementara Ibnu Hajar Al-’Asqalani menyebutkan dalam kitabnya Taqrîb Al-Tahdzîb,
“Muhammad bin Muslim bin Ubaidullah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin Al-Harits
bin Zuhrah bin Kilab Al-Qurasyi, Al-Zuhri dan kunyahnya Abu Bakar. Beliau yaitu seorang
yang faqih, hafiz, disepakati kemuliaan dan ke-taqwaannya. Beliau salah seorang tokoh utama
dalam rangkaian hadis (thabaqat) keempat.”361
Yazid bin Khushaifah
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrîb Al-Tahdzîb menyatakan, “Yazid bin Abdullah bin
Khushaifah yaitu anak Abdullah yang dinasabkan kepada kakeknya. Dia seorang yang
tsiqah.”362
Busr bin Said
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrîb Al-Tahdzîb menyatakan, “Busr bin Said Al-Madani seorang ahli
ibadah. Sahaya Ibnu Al-Hadrami. Dia seorang tsiqah yang terhormat.”363
Sementara Al-Dzahabi dalam Al-Kasyif menyatakan, “Busr bin Sa’id Al-Madani yaitu seorang yang
zuhud. Beliau meriwayatkan hadis dari Zaid, Abu Hurairah, dan Sa’ad. Muhaddis yang meriwayatkan dari
beliau yaitu dua orang anak Al-Asyajj, Zaid bin Muslim, dan banyak lagi. Wafat pada tahun 100 tanpa
meninggalkan warisan sedikit pun.”364
Syiah Ali Generasi Awal
Di dalam artikel Panduan MUI halaman 30 menyatakan: “Telah dijelaskan bahwa Syiah Ali generasi
awal yaitu kaum muslimin yang lurus, bersih dan selamat sebab berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah,
dan tidak merendahkan keutamaan para sahabat Rasulullah saw. Mereka juga tidak menuding para sahabat
kafir.
Tanggapan:
Benar adanya, bahwa Syiah Ali generasi awal yaitu kaum muslimin yang lurus. Pendapat ini
berlaku umum yang diyakini oleh kaum Muslimin sepanjang zaman. Namun tidak demikian halnya
dengan Ibnu Taimiyah, ia justru berpendapat sebaliknya terkait dengan keimanan Ali dan Syiah Ali
pada masa itu.
Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhâj Al-Sunnah Al-Nabawiyah menyatakan, ”Kondisi politik lebih
tertata pada masa kepemimpinan Muawiyah daripada masa Ali, sebab itu, wajib menganggap para pejabat
Muawiyah lebih baik daripada para pejabat Ali.”365
Ibnu Taimiyah juga menyatakan,”Para pejabat Muawiyah yaitu pendukung (Syiah) Utsman. Di
antara mereka yaitu para Nashibi yang membenci Ali. Pendukung Utsman dan para Nashibi lebih utama
daripada pendukung Ali.”366
Kemudian Ibnu Taimiyah melanjutkan, “Bagaimana bisa Imam dan pejabat yang sempurna – dalam
pandangan mereka (Syiah) – lebih banyak kekacauan dan sedikit keteraturan dari imam dan pejabat tidak
sempurna, bahkan kafir dan fasiq dalam pandangan mereka? Sahabat-sahabat Ali tidak mempunyai ilmu
pengetahuan, agama, keberanian dan kedermawanan. Mereka tidak layak dalam menangani urusan dunia atau
pun akhirat.”367
Dengan demikian Ibnu Taimiyah dengan sangat meyakinkan telah meyakini bahwa orang-orang
yang membenci Ali bin Abi Thalib itu, kedudukan mereka lebih utama daripada Pengikut Ali dan
orang-orang yang mencintai Ali. Kaum Nashibi (pembenci Ali) lebih berilmu, agamis, berani, dan
dermawan daripada sahabat Ali (Syiah-pen).
Bahkan menurut Ibnu Taimiyah para pencinta Ali bin Abi Thalib sama sekali tidak memiliki
keistimewaan dibandingkan para pengikut Muawiyah. Dimana para pejabat Muawiyah dia anggap
sebagai orang-orang yang luar biasa. Pertanyaannya yaitu Mengapa Ibnu Taimiyah berpendapat
demikian? Jawabannya cukup jelas, sebab para pejabat Muawiyah, mereka yaitu orang-orang yang
sangat membenci Ali dan keluarganya.
Lalu apa ucapan Muawiyah terhadap keluarga Rasul yang lain semisal Al-Husain? Inilah
sikap resmi Muawiyah bin Abi Sufyan yang didokumentasikan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab
Minhâj Al-Sunnah:
و من المعلوم ان عمر بن سعد امير السرية التي قتلت الحسين مع ظلمه وتقديمه الدنيا على الدين لم يصل في المعصية
بي عبي
عظم ذنبا من عمر بن سعد إلى فعل المختار بن ا
كذب و ا
ظهر اإلنتصار للحسين و قتل قاتله بل كان هذا ا
د الذي ا
فهذا الشيعي شر من ذلك الناصبي
Sebagaimana yang telah diketahui, bahwa Umar bin Sa’ad yaitu panglima pasukan Sariyah
(peperangan kecil) yang telah membunuh Al-Husain dengan kezalimannya dan memprioritaska n
dunia daripada agama, akan namun Umar bin Sa’ad tidak dianggap bermaksiat dibandingkan
perbuatan Mukhtar bin Abi Ubaid (Syiah) yang menampakkan dukungannya kepada Al-Husein dan
membunuh orang- orang yang telah membunuh Al-Husein (nasibi). Bahkan Mukhtar seorang
pendusta dan lebih berdosa daripada Umar bin Sa’ad. Inilah keburukan Syia h dibandingkan Nashibi
(pembenci Ali).”368
Inilah penghargaan Ibnu Taimiyah kepada pembunuh keluarga Nabi Saw. Pernyataannya
ini , juga sekaligus jawaban atas tuduhan yang selama ini dilontarkan kepada pencinta Al-
Husein, yaitu ”bahwa para Syiah Kufah -lah yang telah membunuh Al-Husein”. Namun pada
kenyataannya, pembunuh beliau yaitu Nashibi (pembenci keluarga Nabi Saw) yang dalam
pandangan Ibnu Taimiyah lebih mulia daripada pencinta keluarga Nabi Saw.
Hadis Ghadir Khum
Di dalam artikel Panduan MUI halaman 71 sampai halaman 74 menyatakan: “Kaum Syiah
mewajibkan beriman kepada imamah Ali bin Abi Thalib berdasar hadis yang populer di kalangan Syi’ah
yang disebut hadis Ghadir Khum. Bunyi hadis ini yaitu , “Man Kuntu Maulahu fa ‘Aliyyun Maulahu”
(Siapa yang menjadikan aku (nabi) sebagai kekasihnya, maka inilah Ali juga kekasihnya), maka perlu dijelaskan
hakikatnya secara terang benderang sebagai berikut.”
“Tidak ditemukan satupun ayat Al-Qur’an yang sarih (tegas) dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah
saw perihal imamah Ali sebagai rukun iman atau pokok agama (ushuluddin) yang menyebabkan kekafiran orang
Islam yang tidak mempercayainya. Untuk mengukuhkannya, Syiah Rafidhah banyak mengandalkan hadis
Ghadir Khum yang konon isinya Nabi telah melantik Ali sebagai khalifah sesudah pulang dari Haji Wada’ tahun
10 H pada tanggal 18 Dzulhijah. Sejak era Daulah Buwaihi abad ke-4 H, hari itu dijadikan hari raya Syi’ah
yaitu Idul Ghodir yang mereka anggap lebih agung dari Idul Fitri dan Idul Adha.”
“Keyakinan adanya pelantikan Ali di Ghadir Khum (letaknya dekat Juhfah 170 km dari kota Madinah),
telah dibantah oleh seluruh ulama sahabat, tabiin dan generasi sesudah nya. Peristiwa itu tidak pernah
diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis yang sahih seperti al-Bukhari dan Muslim.”
Tanggapan:
Agaknya penulis yang mengatasnamakan wakil dari MUI ini terkesan agak ceroboh dan kurang
berhati-hati. Apa pasal? Untuk menjawabnya, marilah kita simak perihal hadis Ghadir Khum yang
kemutawatiran hadis ini diakui oleh bayak pihak baik penulis hadis yang berasal dari mazhab Ahlus
Sunnah maupun Syiah.
Menurut catatan para ulama penulis hadis, dikatakan bahwa hadis ini memiliki jalur periwayatan
yang cukup banyak. Hadis ini diriwayatkan oleh para ahli hadis dan ahli tafsir di dalam kitab-kitab
mereka, di antaranya:
Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Imam Ahmad 2/71 nomor 641. Imam Ahmad bin Hanbal
mengategorikan hadis ini sahîh li ghairih. sebab memiliki sanad yang sahih dari jalur periwayatan
lain yang mencapai tiga puluh sahabat.
Al-Dzahabi dalam Siyar A’lâm Al-Nubalâ’ meriwayatkan sebuah hadis Ghadir Khum dengan predikat
hasan dan tinggi sekali dan matannya mutawatir (حديث حسن عال جدا، و متنه فمتواتر).369
Hadis ini juga diriwayatkan di dalam MustadrakAl-Hâkim juz 3, h.119-120 yang mengambil jalur
Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam. Hadis ini berpredikat sahih atas syarat Imam Bukhari dan
Muslim.
Al-Dzahabi dalam Mukhtashar Istidrak Al-Dzahabi ‘alâ Mustadrak Al-Hâkim menyebut bahwa hadis ini
memiliki dua belas jalur periwayatan.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi dalam Sunan 10/214.
Al-Nasai dalam Al-Khashâish, hal. 96,
Imam Bazzar dalam Musnad 3/189,
Ibnu Hibban dalam ShahîhIbnu Hibbân nomor 2205 dan jalur periwayatan lain sebagaimana tertera di
dalam kitab-kitab hadis.
Fakhrurrazi dalam tafsirnya Mafâtih Al-Ghaib,
Jalal Al-Din Al-Suyuthi dalam Al-Durr Al-Mantsur,
Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahîh-nya,
Abu Dawud Al-Sijistani dalam Sunan-nya,
Ibnu Majah Al-Qazwini dalam Sunan-nya,
Ibnu Katsir Al-Dimasyqi dalam Al-Târîkh-nya,
Ibnu Al-Atsir Al-Syaibani dalam Jâmi’ Al-Ushul,
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tahdzîb Al-Tahdzîb dan dalam Fath Al-Bârî,
Jarullah Al-Zamakhsyari dalam Rabî’ Al-Abrâr,
Ibnu ‘Asakir dalam Târîkh Al-Kabîr,
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya,
Al-Suyuthi dalam Târîkh Al-Khulafâ’,
Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Sirr Al-’Âlamîn,
Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhâj Al-Sunnah.
Selain itu, lebih dari tiga ratus ulama Ahlus Sunnah lainnya yang meriwayatkan peristiwa Ghadir
Khum yang bersejarah ini dalam kitab-kitab mereka. Bahkan seorang ahli hadis seperti Ibnu Jarir Al-
Thabari, seorang ulama Ahlus Sunnah yang hidup pada abad ke 3 dan ke 4 Hijriah, telah
meriwayatkan hadis ini dari tujuh puluh lima periwayatan dalam sebuah kitab yang beliau beri nama
Al-Wilâyah.
Begitu juga dengan Hafizh Abu Al-’Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sa’id Ibnu ‘Uqdah Al-
Kufi (w. 332 H/944 M), seorang ulama yang hidup pada abad ke 3 dan ke 4 Hijriah, telah menulis
sebuah kitab yang berkaitan dengan peristiwa ini yang juga diberi nama Al-Wilâyah. Beliau telah
mengumpulkan 105 jalur periwayatan disertai pula dengan penelitian dan komentar-komentarnya
yang sangat berharga.
Selain itu, Ibnu Katsir (w. 774 H/1373 M) mencatat dalam Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah bahwa penulis
tafsir dan tarikh, Ibnu Jarir Al-Thabari (w. 310 H/922 M) telah mengumpulkan hadis-hadis peristiwa
Ghadir Khum dalam dua jilid kitab berjudul Ghadîr Khumm. Peristiwa ini dicatat oleh para ahli
hadis dengan berbagai jalur periwayatan dan redaksi berbeda-beda tanpa membedakan antara riwa-
yat yang sahih dan daif. Selain Ibnu Jarir Al-Thabari, Ibnu Katsir juga mencatat nama Ibnu ‘Asakir
Al-Syafi’i (w. 571/1176 M) yang merekam peristiwa ini dalam Târîkhnya.370
Oleh sebab itu, menyatakan bahwa peristiwa Ghadir Khum tidak terdapat dalam kitab-kitab
Ahlus Sunnah merupakan bentuk penye-lewengan yang paling kentara.
Peristiwa Al-Ghadir yaitu peristiwa besar dalam sejarah kehidupan Nabi Saw yang terjadi pada
18 Dzulhijjah 10 H. Dalam peristiwa ini, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah terakhir di Ghadir
Khum sekembalinya dari Haji Wada’. Ghadir Khum yaitu suatu tempat antara Mekkah dan
Madinah, dekat Juhfah sekitar 200 km dari Mekkah.
Rasulullah menghentikan perjalanannya sesaat dan meme-rintahkan semua orang yang telah
mendahului kafilah Rasulullah agar kembali dan berkumpul bersama Rasulullah. Rasulullah juga
memerintahkan agar mereka menunggu orang-orang yang belum sampai ke tempat itu. saat setiap
karavan telah berkumpul; saat setiap orang hadir di tempat itu, Rasulullah memerintahkan para
sahabatnya untuk membuat mimbar sederhana dari sadel unta yang ditumpuk-tumpuk. Kemudian
duri-duri dari pohon akasia disingkirkan agar tidak melukai orang-orang yang hadir di sana.
Rasulullah kemudian naik ke mimbar itu (agar bisa dilihat setiap orang yang hadir di sana) dan mulai
memberikan khutbah yang panjang (yang dicatat oleh para penulis Rasulullah).
Hari sangat panas membakar pada waktu itu. Orang-orang yang hadir sampai harus
memanjangkan pakaiannya untuk melindungi kaki mereka dan juga kepala mereka dari sen gatan
matahari gurun yang tiada ampun. Rasulullah memulai dakwahnya sebagai berikut:
Menurut salah satu versi sejarah, peristiwa ini terjadi kira-kira tujuh puluh hari sebelum
Rasulullah Saw, 28 Shafar 11 H. Memang, peristiwa besar ini asing di kalangan umumnya kaum
muslimin. Padahal peristiwa ini paling besar dalam sejarah hidup Nabi Saw, dihadiri oleh 90.000
sahabat Nabi Saw. Ada juga ahli sejarah yang mengatakan dihadiri 114.000 sahabat; ada juga yang
mengatakan 120.000 sahabat; dan ada yang mengatakan dihadiri oleh 124.000 sahabat. Jadi, tidak ada
satu pun khutbah dan hadis Nabi Saw dalam waktu yang sama didengar langsung oleh sejumlah
besar sahabat Nabi Saw seperti dalam peristiwa Al-Ghadir. sebab nya para ahli hadis mengatakan,
“Tidak ada satu pun hadis Nabi Saw yang kemutawatirannya melebihi kemutawatiran hadis Al-
Ghadir.” Adapun mengapa peristiwa dan hadis Al-Ghadir asing di kalangan umumnya kaum
muslimin, itu persoalan lain. Kita mesti bertanya secara kritis dan objektif.
Berikut ini yaitu khutbah Rasulullah Saw di Ghadir Khum terkait dengan wilayah
(kepempimpinan) Ali bin Abu Thalib,
بيه،
بو عامر العقدي قال: حدثنا ك ثير بن زيد، عن محمد بن عمر بن علي، عن ا
حدثنا إبراهيم بن مرزوق، قال: ، حدثنا ا
خذًا بيد علي،
ن النبي )ص( حضر الشجرة بخم فخرج ا
ن هللا عز و جل عن علي، ا
لستم تشهدون ا
يها الناس، ا
فقال: يا ا
ن هللا عز و جل و رسوله مولياكم؟
نفسكم، و ا
ولى بكم من ا
ن هللا و رسوله ا
لستم تشهدون ا
ربكم؟ قالوا: بلى، قال: ا
و قال: فإن عليًا مواله، شك إبن مرزوق، إني قد تركت في
كم ما إن قالوا: بلى، قال: فمن كنت مواله فإن هذا مواله، ا
هل بيتي.
يديكم، و ا
خذتم به لن تضلوا، ك تاب هللا سببه با
ا
Ibrahim bin Marzuq telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Abu ‘Amir Al-Aqadiy telah
menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Katsir bin Zaid telah menceritakan kepadaku dari Muhammad
bin Umar bin Ali dari Ayahnya, dari Ali, ‘Bahwa Nabi Saw berteduh di Khum kemudian Beliau keluar
sambil memegang tangan Ali. Beliau berkata, ‘Wahai manusia, bukankah kalian bersaksi bahwa Allah
‘Azza wa Jalla yaitu Rabb kalian? Orang-orang berkata, ‘Benar’. Bukankah kalian bersaksi bahwa
Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri dan Allah ‘Azza wa Jalla
dan Rasul-Nya yaitu mawla bagi kalian? Orang-orang berkata, ‘Benar’. Beliau Saw berkata, ‘Maka
barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya maka dia ini juga sebagai mawlanya’ atau [Rasul Saw
berkata] ‘Maka Ali sebagai mawlanya’ [keraguan ini dari Ibnu Marzuq].
‘Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian
tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah yang berada di tangan kalian dan Ahlul Bait-ku.’”371
Perhatikan hadis Ghadir Khum riwayat Imam Muslim dengan empat jalur periwayatan hadis
dari Zaid bin Arqam ra, di antaranya yaitu :
ثنى عليه و وعظ و قام رسول هللا صلى هللا عليه و سلم يوما فينا خطيبا ب
ماء يدعى خما بين مكة و المدينة فحمد هللا و ا
جيب
تي رسول ربي فا
ن يا
نا بشر يوشك ا
نما ا
يها الناس فا
ال ا
ما بعد ا
ذكر ثم قال ا
[Zaid bin Arqam] berkata, “Rasulullah Saw berdiri di antara kami dan berkhutbah di suatu
tempat bernama Khum di antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, memberikan
nasihat, dan peringatan, Beliau bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanyalah
manusia biasa, sebentar lagi utusan Rabbku akan datang dan ia akan diperkenankan.”372
Tampak dalam riwayat Muslim di atas bahwa Rasulullah Saw berkhutbah di Gadhir Khum
sebab ingin berwasiat sehubungan dengan sebentar lagi ia akan segera wafat. Wasiat ini yaitu
berpegang teguh pada Al-Tsaqalain dan mengangkat Imam Ali sebagai maula bagi kaum mukmin.
Seputar Makna Maula
artikel Panduan MUI halaman 74 menyatakan:
“Hadis Ghadir Khum dengan redaksi yang berbeda -beda diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Al-
Hakim. Menurut para ulama teks hadis itu sebatas keutamaan Ali yang memiliki latar belakang yang khusus
(sabab wurud) dan bukan pengangkatan khalifah sesudah beliau. Teks hadis itu jelasnya bukan kepemimpinan
umat (al-wilayah/al-imarah), melainkan kasih sayang dan tolong menolong yang muncul dari dua pihak (al-
walayah/al-muwalah yang darinya berasal kata ‘al-waliyyu’ dan ‘al-maula’ sebagaimana teks hadis).”
Tanggapan:
Dari penjelasan hadis-hadis di atas terbukti dan diakui bahwa peristiwa pelantikan Rasulullah
Saw atas Imam Ali ra benar-benar terjadi. Apabila peristiwa ini dipandang sebagai bukan pe-
ngangkatan Imam Ali sebagai pengganti Rasulullah Saw dengan mengatakan bahwa kata maula
hanyalah untuk menegaskan sikap cinta, kasih sayang dan tolong menolong Rasulullah Saw terhadap
Imam Ali ra, maka ini justru menunjukkan bahwa cinta yaitu pondasi ketaatan terhadap
kepemimpinan, sebagaimana disitir oleh Alquran;
ُنوَبُكْم َوهللُا َغُفوٌر َرِحيٌم ُقْل
ُ
ِبُعوِني ُيْحِبْبُكُم هللُا َوَيْغِفْر َلُكْم ذ وَن هللَا َفاتَّ ﴾13﴿ ِإْن ُكْنُتْم ُتِحبُّ
Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.(QS. Âli ‘Imrân [3]: 31)
Lebih jauh, satu-satunya yang dapat mengikat ketaatan tanpa imbalan yaitu ikatan cinta,
sebagaimana disitir juga oleh Alquran:
َة فِ َمَودَّ
ْ
ال
َّ
ُكْم َعَلْيِه َاْجًرا ِإال
ُ
َاْسَال
َ
ُقْرَبى...... ُقْل ال
ْ
﴾32﴿ي ال
… Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali
kasih sayang terhadap Al-Qurba.”(QS. Al-Syûrâ [42]: 23)
Ini menandakan bahwa pernyataan Rasulullah Saw di Ghadir Khum pada hakikatnya yaitu
pernyataan tentang ketaatan terhadap pemimpin berdasar cinta sebagaimana perlakuan umat
Islam terhadap Nabi Saw dengan ikatan cinta itu.
Bagaimana mungkin Rasulullah Saw menyampaikan sesuatu hal yang biasa saja dalam bentuk
deklarasi khusus di Ghadir Khum yang dihadiri oleh ratusan ribu sahabat?
Benar adanya, bahwa arti dari kata ‘maula’ di dalam bahasa Arab memiliki banyak makna.
Setidaknya terdapat enam belas arti dari kata ‘maula’ yaitu; pemilik, pengatur, pemerdeka,
penghancur, tetangga, ciptaan, penjamin dosa, menantu, keponakan, pemberi nikmat, yang
mencintai, teman, penolong, yang ditaati, teman, dan yang terakhir yaitu yang bermakna berhak
mengendalikan segala urusan. Maka jika Rasulullah Muhammad Saw, menggandengkan nama
‘maula’ pada diri beliau, maka arti yang diinginkan yaitu bahwa Rasulullah yaitu yang berhak
mengendalikan diri umat Islam dalam segenap urusan. sebab nya saat Rasul mengatakan ‘man
kuntu maulahu’ artinya jika kalian menganggap saya (Rasulullah) yang berhak mengendalikan diri
kita, ‘fa ‘aliyyun maula’ Ali yaitu yang berhak mengendalikan diri kita (sesudah Rasulullah)…
Mungkin jawaban yang paling memuaskan untuk memberikan penjelasan makna dari kata
‘maula’ yang disampaikan oleh Rasul Saw pada peristiwa Ghadir Khum yaitu dialog dari kisah di
bawah ini. Sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam ahli hadis Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-
nya,
Hadis dari Al-Barra bin ‘Azib, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah Saw dalam sebuah perjalanan,
kemudian kami berhenti di Ghadir Khum dan diseru untuk salat berjama’ah, maka kami melaksanakan salat
dzuhur. Kemudian beliau memegang tangan Ali dan berkata, ‘Bukankah kalian mengetahui bahwasanya
aku lebih utama dari kaum Mukminin itu sendiri?’ Mereka menjawab, ‘Benar!’ Beliau berkata, ‘Barang
siapa menjadikanku sebagai walinya, maka Ali yaitu walinya. Ya Allah! Muliakanlah orang yang
memuliakannya, musuhilah orang yang memusuhinya.’ Kemudian Umar bin Khatthab menjumpai Ali
sesudah itu, dan berkata padanya, ‘Selamat bagimu wahai Ibnu Abi Thalib, engkau telah menjadi wali bagi
seluruh kaum Mukminin dan Mukminat.’”373
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Mir Ali Al-Hamadzani Al-Syafi’i dalam Mawaddah Al-Qurbâ,
pada bab Mawaddah kelima; Al-Hafidz Al-Qunduzi dalam Yanâbî’ Al-Mawaddah, bab 4; Al-Hafidz
Abu Na’im dalam Hilyah Al-Auliyâ’. Begitu juga dengan Ibnu Al-Shabbagh Al-Maliki dalam Al-Fushûl
Al-Muhimmah dari Al-Hafidz Abi Al-Fath, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai sekalian manusia,
sesungguhnya Allah Swt yaitu waliku, dan aku lebih utama dari diri kalian sendiri. Ketahuilah! Barang siapa
menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali yaitu walinya.”
Begitu juga dengan Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya; Al-Nasa’i dalam Al-Khashâ’is-
nya, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Shawâ’iq Al-Muhriqah, Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khatib Al-
Baghdadi dalam Târîkh-nya, dengan sanad yang berasal dari Abu Hurairah ra.
Al-Jauzi dan yang lainnya, meriwayatkan syair Hasan bin Tsabit Al-Anshari, salah satu sahabat
mulia Rasulullah Saw sebagai wujud mahabbah kepada Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin, Ali
bin Abi Thalib pada peristiwa Al-Ghadir ini. Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Hasan bin
Tsabit Al-Anshari, “Wahai Hasan, engkau senantiasa mendukung Ruh Al-Quds, dan dengan mulutmu
engkau menolong kami.”
Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa Hasan bin Tsabit berdiri sesudah Rasulullah selesai dari
khutbahnya pada peristiwa Al-Ghadir, kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah! Apakah Engkau
mengizinkan aku untuk membacakan beberapa bait syairku ini?” Nabi menjawab, ‘Bacakanlah! Semoga
engkau diberkati Allah Swt.’ Kemudian ia naik ke tempat yang paling tinggi, dan melantunkan syairnya:
Pada hari Al-Ghadir Nabi mereka memanggil
Di Khum, maka dengarkanlah Rasul menyeru siapakah wali kalian
Mereka menjawab, ‘Di sana tak tampak orang, yang pura -pura buta
Tuhanmu yaitu pemimpin kita, dan engakau yaitu wali kami.’
Tidak seorang pun dari kami dalam wilayah, berpaling untuk ingkar
Maka beliau berkata kepadanya, ‘Bangkit wahai Ali, sesungguhnya aku merelakanmu.’
‘Menjadi imam dan pemberi petunjuk sesudah ku.’
‘Barang siapa menjadikan aku sebagai walinya.’
‘Maka ini ali sebagai walinya.’
Maka jadilah kalian semua sebagai penolongnya secara jujur, di sana ia berdoa,
‘Ya Allah! Jadikalah wali orang yang menjadikannya wali, dan musuhilah orang-orang yang memusuhi
Ali.’
Riwayat ini juga dibawakan oleh Al-Hafizh Ibnu Mardawaih, Ahmad bin Musa, dalam kitabnya
Al-Manâqib. Al-Muwafiq bin Ahmad Al-Khawarizmi dalam Al-Manâqib dan dalam pasal empat kitab
Maqtal Al-Husain. Jalal Al-Din Al-Suyuthi dalam kitabnya Risâlah Al-Azhâr. Al-Hafizh Abu Sa’id Al-
Khurkausyi dalam Syaraf Al-Mustafâ. Al-Hafizh Jamaluddin Al-Zarandi dalam Nuzhum Durar Al-
Samthin. Al-Hafizh Abu Na’im dalam Mâ Nuzila min Al-Qur’ân fî ‘Ali. Syaikh Sa’id Al-Sajastani dalam
kitabnya Al-Wilâyah. Sabth Ibnu Al-Jauzi dalam Tazkiyah Al-Khawâsh, Allamah Al-Kanji Al-Syafi’i
dalam Kifâyah Al-Thâlib.
Penolakan Hadis Ghadir Khum
Di dalam artikel Panduan MUI halaman 74-75 menyatakan: “Jika teks hadis (Ghadir Khum) itu
menegaskan (sharih) tentang pelantikan Ali sebagai khalifah sesudah Rasulullah, pasti sudah dipakai sebagai
dalil dan hujjah oleh Ali bin Abi Thalib saat Rasulullah wafat sebelum pengangkatan Abu Bakr sebagai khalifah,
atau pada saat musyawarah enam tokoh sahabat sesudah wafatnya Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab
untuk menetapkan khalifah baru, dan juga telah dijadikan dalil oleh Abu Musa al-Asy’ari untuk memantapkan
posisi Khalifah Ali pada saat peristiwa Tahkim (arbitrase) antara Khalifah Ali dan Mu’awiyah sesudah perang
Shiffin. Namun tak ada satu sahabat pun, termasuk Ali yang memahaminya demikian. Sahabat yaitu orang
yang paling memahami maksud perkataan Rasul dan kemurnian bahasa Arab mereka tidak diragukan lagi.
Pemahaman ulama sahabat yang menjadi ijma’ yaitu bentuk Qoth’iy dalam memahami Al-Quran dan hadis.
Tanggapan:
Andai saja penulis artikel yang mengatasnamakan dewan MUI ini sedikit memiliki bekal
profesionalisme sebagai seorang peneliti yang jujur maka kesimpulan seperti di atas tidak akan
pernah dituliskan. Mari kita buktikan keragu-raguan di atas dengan membuka literatur sejarah dan
hadis yang telah dituliskan oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah sendiri terkait sikap dan tindakan Ali,
bahwa Ali tak pernah mengingatkan khalayak akan kedudukan beliau di hadapan manusia lainnya.
Benarkah demikian? Beberapa catatan penting di bawah ini yaitu jawabannya;
Suatu kali Ali bin Abi Thalib meminta kesaksian para sahabat Rasul dalam masjid Kufah yang
lapang, kemudian beliau berkata, “Bersumpahlah kalian kepada Allah! Siapa pun yang mendengar
Rasulullah Saw berkata, “Barang siapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali yaitu walinya”, maka
bersaksilah! Kemudian serempak orang-orang pun bersaksi.
Pada sebagian periwayatan yang lain diceriakan bahwa jumlah orang-orang yang telah bersaksi
yaitu tiga puluh orang sahabat, dan dalam riwayat yang lain dikatakan sebanyak sepuluh orang
lebih.374
Begitu pula sesudah pengangkatan Abu Bakar yang berlangsung di Saqifah , Ali menolak
memberikan baiat selama kurun waktu enam bulan dari pembaiatan Abu Bakar ini . Enam bulan
yaitu sebuah waktu yang cukup panjang. Dalam kurun waktu itu, Ali tak henti-hentinya
membuktikan hak kewaliannya atas umat Islam. Peristiwa ini dimuat di dalam kitab-kitab Ahlus
Sunnah. 375
Muhammad Abduh dalam kitab Nahjul Balaghah, khutbah nomor tiga, Khalifah Ali berkata,“Demi
Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal dia tahu bahwa
kedudukanku sehubungan dengan itu yaitu sama dengan kedudukan poros pada penggilingan, air bah
mengalir menjauh dariku dan burung tidak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap
kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berfikir, apakah aku harus bertindak ataukah
menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah, dan orang
muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai dia menemui Allah.
Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana, maka aku mengambil kesabaran walaupun dia menusuk
di mata dan mencekik di kerongkongan.” 376
Dr. Subhi Shalih menahkik Kitab Nahj Al-Balâghah tentang surat Imam Ali kepada penduduk
Mesir dan kepada Malik Al-Asytar. Khalifah Ali berkata,“Amma ba’du, sesungguhnya Allah Swt telah
me-ngutus Muhammad sebagai pemberi peringatan bagi seluruh alam, saat beliau wafat
musliminmemperselisihkan suatu urusan sepeninggalnya. Demi Allah, jiwaku tidak pernah menemukan
semacam ini, tidak pernah terlintas di hatiku bahwa Arab mencemaskan suatu urusan sepeninggalnya dari
Ahlul Baitnya.”377
Ibnu Qutaibah (w. 276 H) dalam Al-Imâmah wa Al-Siyâsah h. 20 menulis, “Sesungguhnya Ali
membawa Fatimah dengan mengendarai keledai berjalan bersamanya di waktu malam menuju rumah-rumah
orang Anshar menanyakan tentang dukungan mereka demikian pula Fatimah, mereka berkata, ‘Wahai Putri
Rasulullah Saw telah berlalu baiat kita kepada orang ini, seandainya putra pamanmu lebih dahulu mendatangi
kita tentu kami tidak akan meninggalkannya.’ Maka Ali berkata, ‘Apakah mungkin aku akan tinggalkan jasad
Rasulullah Saw di rumahnya dan aku keluar menghadapi manusia serta menentang mereka dalam
kepemimpinannya?’”378
Dengan demikian hujjah dan argumentasi Ali dengan hadis ‘Al-Ghadir’ terhadap khalayak dalam
menetapkan kekhilafahan dan kepemimpinannya atas umat, yaitu adil dan kuat, bahwa maksud kata
‘maula’ dalam hadis Rasulullah Saw yaitu keutamaan dalam bertindak dan berbuat dalam masalah-
masalah umat dan kepemimpinan.
Beberapa ulama besar Ahlus Sunnah bahkan menuliskan di dalam kitab mereka bahwa beberapa
sahabat menolak untuk membaiat Abu Bakar, di antaranya pengarang Al-Mawâqif , Fakhr Al-Razi,
Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Ibnu Abi Al-Hadid, Al-Thabari, Bukhari, Muslim dan lain-lain. Al-Asqalani,
Al-Baladzari dalam Thârîkh-nya, Ibnu Qutaibah dalam Al-Imâmah wa Al-Siyâsah, Muhammad Khawan
Syah dalam Raudhah Al-Shâf î, Ibnu Abd Al-Barr dalam Al-Istî’âb dan lain-lain menceritakan bahwa
Sa’ad bin Ubadah, sekelompok Khazraj dan Quraisy tidak membaiat Abu Bakar, delapan belas tokoh
dari sahabat Nabi juga menolaknya. Mereka yaitu pengikut Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya,
yaitu: 1. Salman Al-Farisi; 2. Abu Dzar Al-Ghifari; 3. Miqdad bin Aswad Al-Kindi; 4. Ubay bin Ka’ab;
5. Ammar bin Yasir; 6. Khalid bin

