1. Penindasan oleh Kusyan-Risyataim Diakhiri oleh Otniel (Hak 3:8-11*)
2. Penindasan oleh Eglon Diakhiri oleh Ehud (#/TB Hak 3:12-30*)
3. Orang Israel Diselamatkan dari Ancaman Orang Filistin oleh Samgar (Hak 3:31*)
4. Penindasan oleh Yabin dan Sisera Diakhiri oleh Debora dan Barak (Hak 4:1-5:31*)
5. Penindasan oleh Orang Midian Diakhiri oleh Gideon (Hak 6:1-8:35*)
6. Perampasan Kekuasaan oleh Abimelekh (Hak 9:1-57*)
7. Tola Sebagai Hakim Atas Israel (Hak 10:1,2*)
8. Yair Sebagai Hakim (Hak 10:3-5*)
9. Penindasan oleh Orang Amon Diakhiri oleh Yefta (Hak 10:6-11:40*)
10. Peperangan Antara Orang Gilead dengan Suku Efraim (Hak 12:1-7*)
11. Ebzan Sebagai Hakim (Hak 12:8-10*)
12. Elon Sebagai Hakim (Hak 12:11,12*)
13. Abdon Sebagai Hakim (Hak 12:13-15*)
14. Simeon dan Orang Filistin (Hak 13:1-16:31*)
III. KEADAAN KACAU PADA ZAMAN PARA HAKIM (HAK 17:1-21:25*)
A. Penyembahan Berhala oleh Mikha dan Perpindahan Suku Dan (Hak 17:1-18:31*)
B. Kejahatan di Gibea dan Pertempuran Melawan Suku Benyamin (Hak 19:1-21:25*)
RUT
Kitab ini dinamakan menurut tokoh wanita yang dikisahkan olehnya, seorang wanita Moab
yang sesudah kematian suaminya pergi ke Betlehem bersama ibu mertuanya yang sudah janda. Rut
menduduki tempat yang penting di dalam sejarah Israel sebab dia menjadi nenek moyang dari Raja
Daud (Rut 4:18-22) dan Yesus (Mat 1:15).
TANGGAL PENULISAN DAN PENULISNYA
Tanggal penulisan kitab ini tidak diketahui. Para sarjana Alkitab menemukan beberapa petunjuk
mengenai waktu penulisan itu di dalam kitab ini (Rut 4:17,22), yaitu bahwa kitab ini tidak mungkin
ditulis sebelum abad kesepuluh sM. Penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa kebiasaan
tertentu yang ia anggap kuno (Rut 4:6-8), suatu kenyataan yang menunjukkan bahwa kitab ini ditulis
sesudah kebiasaan ini tidak dipakai lagi.
Berapa tahun sesudah masa Daud baru kitab ini ditulis hanya bisa diduga. Sekalipun beberapa sarjana
memberi tanggal sampai abad keempat sM, banyak sarjana lainnya memberi tanggal sebelum masa
pembuangan. Robert Pfeiffer mencatat, "Sifat yang umum dari kosa kata dan susunan kalimat
Ibraninya, pemakaian ungkapan idiomatis kuno yang ada dalam prosa terbaik Perjanjian Lama… serta
gaya penulisan yang benar-benar klasik dapat dikemukakan sebagai pendukung bagi sebuah tanggal
penulisan yang lebih dini" (Introduction to the Old Testament, hlm. 718). Sekalipun demikian,
Pfeiffer memilih tanggal sekitar 400 sM dan ia berpendapat bahwa seorang penulis yang berbakat dari
masa yang kemudian bisa saja menulis kitab ini mengikuti pola yang sudah ada sebelumnya.
Edward Young yang meminta perhatian pada soal tidak disebutnya nama Salomo di dalam silsilah,
berpendapat bahwa seorang penulis yang belakangan pasti akan memperluas silsilah itu sampai
sesudah masa Daud, sebab itu kitab ini mungkin ditulis pada suatu saat dalam pemerintahan Daud
(Introduction to the Old Testament, hlm. 358).
Talmud (Baba Bathra, 14b) menyebut Samuel sebagai penulis kitab ini; pandangan ini tidak dianut
lagi oleh kalangan sarjana Yahudi maupun Kristen. Seperti halnya di dalam Kitab-kitab sejarah
Perjanjian Lama lainnya, kita tidak dapat menyebut satu pun pengarang yang dikenal sebagai penulis
kitab ini. Hal ini tentu saja tidak mengurangi nilai rohani dan keindahan sastra dari episode yang
berasal dari masa hakim-hakim ini, yang berhasil diabadikan seorang penulis Yahudi tidak dikenal.
DI DALAM LITURGI YAHUDI, Gulungan Naskah Rut dibacakan pada Hari Pentakosta.
LATAR BELAKANG SEJARAH.
Periode Hakim-hakim merupakan masa penuh gejolak dan keresahan. Persaingan di antara suku dan
penindasan asing telah melemahkan Israel secara politis, dan kemudian penyembahan berhala telah
menghisap kekuatan moral dari bangsa yang telah mengalami kuasa Allah pada saat eksodus dari
Mesir ini. namun , kisah Rut menampilkan sisi kehidupan yang berbeda dari masa ini. Di sini kita
membaca tentang kebahagiaan dan kesedihan dari sebuah keluarga yang saleh dari Betlehem. Rut,
seorang wanita Moab yang menjadi penyembah Allah Israel, menunjukkan iman dan kesetiaan
yang sangat langka pada waktu itu di Israel. Sesudah kesedihan akibat kematian suaminya, Rut
kembali ke Betlehem bersama ibu mertuanya lalu akhirnya menikah dan berbahagia dengan Boas.
Dengan demikian dia menjadi nenek moyang Daud.
RUT
I. KELUARGA ELIMELEKH PINDAH KE MOAB (RUT 1:1-5)
II. JANDA ELIMELEKH DAN MENANTUNYA KEMBALI DARI MOAB (RUT 1:6-18)
III. NAOMI DAN RUT TIBA DI BETLEHEM (RUT 1:19-22)
IV. RUT IKUT MENUAI DI LADANG BOAS (RUT 2:1-23)
V. RUT MENEMUKAN SEORANG PENEBUS (RUT 3:1-18)
VI. BOAS MENIKAHI RUT (RUT 4:1-17)
VII. RUT MENJADI NENEK MOYANG DAUD (RUT 4:18-22)
I & II SAMUEL
Judul kedua kitab ini berasal dari nama tokoh utamanya di awal I Samuel. Kata Ibrani SAMUEL
memiliki banyak arti. Sekalipun demikian, arti yang pertama kali diusulkan oleh sarjana bahasa Ibrani
dari Jerman, Gesenius, "Nama Allah" tampaknya masih menduduki peringkat paling banyak dianut
para sarjana Alkitab.
TANGGAL PENULISAN DAN PENULISNYA
Seperti halnya Kitab Perjanjian Lama lainnya, tanggal penulisan kedua kitab ini tidak diketahui
dengan pasti. Sebagian dari kesulitan untuk menentukan tanggal penulisan ini terletak pada
kenyataan bahwa sebagian besar peristiwa yang ada di dalamnya terjadi sesudah kematian
Samuel. Bagian awal dari I Samuel mungkin ditulis sekitar tahun 1000 sM, sisanya kira-kira
tiga.puluh hingga lima puluh tahun kemudian. Sekalipun Talmud menyebutkan bahwa Samuel yaitu
penulisnya, sangat mungkin sang nabi hanya menulis bagian-bagian sejarah Israel yang terjadi
sebelum masa purna baktinya dari jabatan sipil. Ada yang berpendapat, pendapat ini cukup menarik,
bahwa Abiatar menulis sebagian besar Kitab pertama dan kedua Samuel, khususnya bagian-bagian
yang membahas kehidupan di istana Daud. Abiatar sangat dekat dengan kemunculan dan nasib baik
raja besar Israel itu sebab dia ikut beberapa waktu bersama Daud dalam pelariannya. Abiatar juga
berasal dari keluarga imam sehingga memiliki kemampuan untuk menulis dan mencatat. Pendapat
yang lain mengatakan bahwa salah satu murid dari salah satu sekolah yang didirikan Samuel telah
melanjutkan tugas yang dimulai gurunya.
LATAR BELAKANG SEJARAH
Panggilan Samuel untuk menjadi nabi dan hakim Israel merupakan sebuah titik balik yang kuat di
dalam perkembangan Kerajaan Allah Perjanjian Lama. Pada masa peralihan dari kepemimpinan para
hakim pilihan Allah ke masa kerajaan, Samuel mempunyai tugas amat besar untuk memimpin
pembangunan kembali kesatuan sosial dan religius bangsa itu. Dia merupakan alat yang dipakai Allah
untuk mendirikan kerajaan Israel pada saat krisis nasional yang hebat ini, yang pentingnya hanya bisa
ditandingi oleh pengalaman eksodus saja. Tugas Samuel ialah memimpin Israel keluar dari masa
hakim-hakim dan memasuki masa raja-raja.
Dia menyelesaikan tugas para hakim bukan dengan kekuatan fisik tangannya saja, namun dengan
kuasa rohani dari ucapan dan doanya. Dia juga meletakkan landasan bagi jabatan nabi dan
mengembangkan jabatan ini hingga mencapai tingkatan imamat dan kerajaan. Sejak saat itu,
para nabi memelihara dan mengasuh kehidupan rohani bangsa itu dan merupakan sarana melalui siapa
kehendak Allah disampaikan kepada pemimpin dan kepada warga .
I & II SAMUEL
I. KEHIDUPAN DAN PELAYANAN SAMUEL (1SAM 1:1-7:17)
A. Kelahiran dan Masa Kanak-kanak Samuel (1Sam 1:1-4:1a)
B. Tabut Perjanjian Dirampas dan Kembali (1Sam 4:1b; 1Sam 7:1)
C. Kemenangan Atas Orang Filistin (1Sam 7:2-17)
II. KEHIDUPAN DAN MASA TUGAS SAUL (1SAM 8:1-14:52)
A. Israel Meminta Seorang Raja (1Sam 8:1-22)
B. Kehidupan Politik Saul (1Sam 9:1-12:25)
C. Perang Kemerdekaan (1Sam 13:1-14:52)
III. KEHIDUPAN DAN MASA TUGAS MULA-MULA DAUD (1SAM 15:1-31:13; 2SAM 1:1-
20:26)
A. Saul Ditolak oleh Samuel (1Sam 15:1-35)
B. Daud Diurapi Sebagai Raja (1Sam 16:1-13)
C. Daud di Istana Saul (1Sam 16:14-19:17)
D. Daud dalam Pelarian (1Sam 19:18-31:13)
E. Daud Raja di Hebron (2Sam 1:1-4:12)
F. Daud Raja di Yerusalem (2Sam 5:1-8:18)
G. Kehidupan Daud di Istana (2Sam 9:1-20:26)
IV. HARI-HARI TERAKHIR DAUD (2SAM 21:1)
A. Kelaparan (2Sam 21:1-14)
B. Tindakan-tindakan Kepahlawanan (2Sam 21:15-22)
C. Mazmur Daud (2Sam 22:1-51)
D. Wasiat Daud (2Sam 23:1-7)
E. Tindakan-tindakan Kepahlawanan (2Sam 23:8-39)
F. Sensus dan Tulah (2Sam 24:1-25)
I & II RAJA-RAJA
Kitab yang dikenal dengan I dan II Raja-Raja dinamakan demikian menurut isinya. Di dalam
Septuaginta, para raja Ibrani asli dianggap sebagai kesinambungan dari yang dibahas di dalam Kitab
Samuel. Kitab ini dibagi menjadi dua bagian dan diberi judul Kerajaan Ketiga dan Kerajaan Keempat.
Yerome, sekalipun tetap mempertahankan pembagian ini di dalam Vulgatanya, menyebutkan kedua
bagian ini hanya Kitab Raja-Raja.
Kedua kitab ini jelas merupakan satu kesatuan, mencakup sejarah Israel sejak masa pemerintahan
Salomo hingga pecahnya negeri itu pada zaman Zedekia. Yang dibahas di dalamnya ialah jatuh
bangunnya bangsa Israel di bawah perjanjian dengan Allah dengan menunjukkan dosa-dosa para raja
yang melanggar perjanjian itu dan menghasilkan pembuangan Israel dan Yehuda.
TANGGAL PENULISAN DAN PENGARANGNYA
II Raja-Raja diakhiri dengan dilepasnya Raja Yoyakhin dari penjara pada tahun ketiga puluh tujuh
dari masa pemenjaraannya-sekitar 562/561 sM. Kitab ini tidak mungkin sudah selesai ditulis sebelum
tanggal itu, juga tidak mungkin sesudah 536 sM, yaitu tahun kembalinya sebagian tawanan dari Babel
sebab peristiwa itu tidak disebut sama sekali. sebab kitab ini merupakan satu kesatuan dan bukan
hasil tulisan beberapa orang penulis dalam kurun waktu yang berbeda-beda, maka tanggal penulisan
kitab ini yaitu di antara 562-536 sM.
sebab pelepasan Yoyakhin hanya penting bagi orang Yahudi yang ditawan di Babel, kita dapat
berkesimpulan bahwa I & II Raja-Raja ditulis oleh seorang tawanan Yahudi yang hidup di wilayah
Babel.
SUMBER-SUMBER TULISAN
Penulis dengan jelas mengemukakan bahwa dia memakai beberapa dokumen sumber untuk menyusun
sejarah ini:
1) Kitab Riwayat Salomo (1Raj 11:41);
2) Melihat acuan-acuan tentang Riwayat Raja-raja Yehuda (mis. 1Raj 14:29) dan riwayat Raja-raja
Israel (1Raj 14:19).
Dokumen-dokumen pertama yang dipakai untuk menyusun sejarah para Raja Yehuda tidak pernah
tercampur dengan dokumen-dokumen sejarah para Raja Israel. sebab itu kita dapat mengetahui
bahwa setiap dokumen yang disebutkan di atas merupakan dokumen tersendiri. Semua kutipan dari
dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa setiap dokumen berisi bahan yang jauh lebih banyak
daripada yang dikemukakan di dalam kitab Raja-Raja ini.
beberapa penulis tertentu yang menghasilkan dokumen-dokumen pertama disebutkan untuk kita pada
nas-nas yang paralel di dalam I dan II Tawarikh: Natan, sang nabi, Ahia orang Silo dan Ido (2Taw
9:29); Semaya sang nabi dan Ido sang pelihat (2Taw 12:15*); Ido sang nabi (1Raj 13:22); Yesaya
sang nabi (2Taw 26:22; 32:32); Yehu (1Raj 16:1*). sebab dokumen sumber informasi ini
berisi nubuat, bukan hanya catatan sejarah, di sini kita berhadapan dengan catatan blak-blakan
mengenai perbuatan para raja. Tidak akan ada analis kerajaan yang berani menulis fakta-fakta jelek
tentang Daud atau Yerobeam I sebagaimana dikemukakan di sini.
TUJUAN DAN MAKSUD PENULISAN
Sekalipun perhatian utama penulis yaitu kerajaan Daud, dia membahas masalah sampingan terlebih
dahulu, yaitu kerajaan di Israel. Sesudah itu baru dia kembali membahas kerajaan Daud. Sekalipun
bangsa itu mengenali dokumen-dokumen berisi nubuat tentang sejarah ini, jumlahnya terlalu banyak,
tebal dan membosankan untuk dapat langsung menunjukkan kepada umat itu tentang kehendak Allah;
oleh sebab itulah Kitab Raja-Raja ditulis.
Dengan memakai beberapa kutipan dari berbagai dokumen ini , penulis menyusun sejarah bangsa
pilihan itu dalam kaitan dengan perjanjian Yehova (Kel 19:3-6). Mereka tidak boleh memiliki allah
lain selain Tuhan (Kel 20:2-6). Penyembahan berhala dan patung dianggap sebagai dosa yang paling
buruk di dalam kitab-kitab ini, yang setelah berkali-kali dilakukan orang Israel akhirnya membuat
mereka dibuang sebagai tawanan. Bahasa yang dipakai di, dalam kitab-kitab ini bisa dikatakan
bersifat "Deuteronomis" sebab Kitab Ulangan berbicara dengan cara yang sama terhadap dosa yang
sama yang dikutuk dalam Kitab Raja-Raja I & II. Penulis Kitab Raja-Raja mengangkat sejarah Israel
dan Yehuda di depan para tawanan itu untuk mengajar mereka bahwa satu-satunya jalan menuju
kebebasan yaitu bertobat dari penyembahan berhala, kembali kepada Allah, melaksanakan apa yang
diperintahkan di dalam perjanjian dan kembali mengandalkan janji-janji Allah. Penulis berusaha
membangkitkan keyakinan mereka akan kebenaran pengajaran ini dan memperteguh keyakinan
mereka itu.
Di dalam kaitannya dengan perjanjian, para nabi itu merupakan utusan Allah yang bertugas
mengingatkan bangsa itu akan ketetapan-ketetapan dari perjanjian ini , serta merupakan alat
Allah untuk mengawasi pelaksanaannya. Tugas mereka yaitu berusaha membuat bangsa itu setia
kepada perjanjian dengan memakai peringatan, ancaman dan janji (bdg. Yer 7:13; 11:1-8). Di dalam
Kitab Raja-Raja ini para raja dinyatakan sebagai baik atau jahat ditinjau dari kesetiaan atau
penyimpangan mereka terhadap perjanjian.
LATAR BELAKANG SEJARAH.
Bangsa Israel merupakan bangsa kuno pertama yang mengembangkan ilmu sejarah yang benar.
Bangsa lainnya seperti Asyur, Babilon dan Mesir memang menyusun juga catatan-catatan sejarah,
namun hanya bangsa Het saja di antara bangsa-bangsa non-Yahudi yang berusaha menulis Sejarah.
Pada zaman pemerintahan Daud kekuasaan Mesir sudah pudar sedang Asyur lemah, sehingga
Israel diapit oleh negeri-negeri yang lemah. Sekalipun demikian, tidak lama kemudian Asyur bangkit
di bawah pimpinan Tiglat-Pileser III (juga dinamakan Pul dalam 2Raj 15:19; tahun 745-727 sM).
Pada tahun 721 sM Samaria jatuh sebab serangan Salmaneser dan Sargon. Belakangan, di bawah
pimpinan Sanherib, Asyur menyerbu Yehuda dan berhasil menduduki banyak kota, namun mereka
gagal menguasai Yerusalem sebab ada ancaman pasukan Mesir di belakang. Esarhadon dan
Asurbanipal kemudian berhasil memperluas wilayah kekuasaan Asyur sampai ke Mesir.
Pada zaman Yosia, Firaun Nekho meminta tolong kepada Asyur untuk melawan Babilon di
Karkhemis, namun kedua kekuatan itu berhasil dikalahkan. Tidak lama kemudian Nebukadnezar yang
memperoleh kemenangan menyerbu Palestina dan pada serangan ketiga ke arah Yerusalem dia
berhasil menjarah dan memusnahkan kota itu serta menawan penduduknya (586 sM).
I & II RAJA-RAJA
.I KERAJAAN SEJAK SALOMO HINGGA REHABEAM (1RAJ 1:1-11:43)
A. Salomo Naik Takhta (1Raj 1:1-2:46)
1. Usaha Adonia Naik Takhta Digagalkan (1Raj 1:1-53)
2. Perkataan Terakhir dan Kematian Daud (1Raj 2:1-11)
3. Salomo Menyingkirkan Saingan-saingannya (1Raj 2:12-46)
B. Hikmat dan Kekayaan Salomo (1Raj 3:1-4:34)
1. Pernikahan Salomo dengan Putri Firaun (1Raj 3:1)
2. Penyembahan dan Penglihatan Salomo (1Raj 3:2-15)
3. Hikmat Salomo Ditampilkan (1Raj 3:16-28)
4. Pengaturan Kerajaan (1Raj 4:1-28)
5. Rangkuman Tentang Hikmat Salomo (1Raj 4:29-34)
C. Kegiatan Membangun oleh Salomo (1Raj 5:1-9:28)
1. Persiapan Membangun Bait Allah (1Raj 5:1-18)
2. Pembangunan Bait Allah (1Raj 6:1-38)
3. Istana Salomo dan Bangunan Lainnya (1Raj 7:1-12)
4. Perlengkapan Bait Suci (1Raj 7:13-51)
5. Pentahbisan Bait Allah (1Raj 8:1-66)
6. Pengesahan Perjanjian Daud (1Raj 8:1-66)
7. Rangkuman Kegiatan Membangun yang Dilakukan Salomo (1Raj 9:10-28)
D. Masa Kejayaan Salomo (1Raj 10:1-29)
1. Kunjungan Ratu Syeba (1Raj 10:1-13)
2. Kemuliaan dan Kekuasaan Kerajaan Salomo (1Raj 10:14-29)
E. Kemurtadan, Kemunduran dan Kematian Salomo (1Raj 11:1-43)
1. Ketidaksetiaan Salomo kepada Allah (1Raj 11:1-13)
2. Musuh dan Perpecahan yang Akan Datang (1Raj 11:14-40)
3. Kematian Salomo (1Raj 11:41-43)
.II KERAJAAN YANG TERPECAH, DARI REHABEAM SAMPAI KEJATUHAN ISRAEL
(1RAJ 12:1-2RAJ 17:41)
A. Antagonisme Mula-mula Antara Israel dengan Yehuda, dari Yerobeam Hingga Omri (1Raj
12:1-16:28)
1. Pecahnya Kerajaan (1Raj 12:1-33)
2. Pemerintahan Yerobeam I dan Kematiannya (1Raj 13:1-14:20)
3. Yehuda di Bawah Pemerintahan Rehabeam, Abiam dan Asa (1Raj 14:21-15:24)
4. Israel di Bawah Pemerintahan Nadab, Basya, Elah, Zimri dan Omri (1Raj 15:25-16:28*)
B. Mulai Ahab Hingga Yehu Naik Takhta (1Raj 16:29-2Raj 9:10)
1. Awal Pemerintahan Ahab di Israel (1Raj 16:29-34)
2. Pelayanan Elia dan Panggilan Elisa (1Raj 17:1-19:21)
3. Masa Akhir Pemerintahan Ahab dan Kematiannya (1Raj 20:1-22:40)
4. Yehuda di Bawah Pemerintahan Yosafat (1Raj 22:41-49)
5. Israel di Bawah Pemerintahan Ahazia dan Yoram (1Raj 22:50-2Raj 1:1)
6. Masa Akhir Elia Sampai Pengangkatannya ke Surga (2Raj 1:2-2:11)
7. Elisa Diperkenalkan (2Raj 2:12-25)
8. Yoram Menyerang Moab (2Raj 3:1-27)
9. Pelayanan Elisa sebagai Nabi (2Raj 4:1-8:15)
10. Masa Pemerintahan Yoram dan Ahazia di Yehuda (2Raj 8:16-29)
11. Yehu Diangkat Menjadi Raja Israel (2Raj 9:1-10)
C. Dari Yehu Hingga Hancurnya Kerajaan Israel (2Raj 9:11)
1. Masa Pemerintahan Yehu (2Raj 9:11-10:3)
2. Atalya dari Yehuda (2Raj 11:1-20)
3. Yehuda di Bawah Pemerintahan Yoas (2Raj 11:21-12:21)
4. Israel di Bawah Pemerintahan Yoahas dan Yoas (2Raj 13:1-25)
5. Yehuda di Bawah Pemerintahan Amazia dan Azarya (2Raj 14:1-22)
6. Masa Pemerintahan Yerobeam II di Israel (2Raj 14:23-29)
7. Masa Pemerintahan Azarya di Yehuda (2Raj 15:1-7)
8. Masa Pemerintahan Zakharia, Salum, Menahem, Pekahya, dan Pekah di Israel (2Raj 15:8-
31)
9. Yehuda di Bawah Pemerintahan Yotam dan Ahas (2Raj 15:32-16:20)
10. Kehancuran dan Pembuangan Israel (2Raj 17:1-41)
.III KERAJAAN YEHUDA HINGGA KEHANCURAN AKHIR BANGSA ISRAEL
(2RAJ 18:1- 25:30)
A. Kerajaan di Bawah Pemerintahan Hizkia (2Raj 18:1-20:21)
1. Aneka Pembaharuan yang Diadakan Hizkia (2Raj 18:1-12)
2. Luput dari Dua Serbuan Sanherib (2Raj 18:13)
3. Hizkia Jatuh Sakit dan Kesembuhannya (2Raj 20:1-11)
4. Utusan Merodakh-Baladan (2Raj 20:12-19)
5. Kematian Hizkia (2Raj 20:20,21)
B. Pemerintahan Manasye dan Amon (2Raj 21:1-26)
1. Kejahatan dan Kematian Manasye (2Raj 21:1-18)
2. Dosa-dosa dan Kematian Amon (2Raj 21:19-26)
C. Pembaharuan di Yehuda dan Israel oleh Yosia (2Raj 22:1-23:30)
D. Hari-hari Terakhir Yehuda (2Raj 23:31-25:26)
1. Pemerintahan dan Penawanan Yoahas (2Raj 23:31-34)
2. Masa Pemerintahan Yoyakim dan Serbuan Nebukadnezar (2Raj 23:34-24:7)
3. Masa Pemerintahan Yoyakhin dan Pembuangannya (2Raj 24:8-16)
4. Masa Pemerintahan Zedekia (2Raj 24:17-20)
5. Pengepungan dan Kejatuhan Yerusalem (2Raj 25:1-21)
6. Gubernur Boneka, Gedalya (2Raj 25:22-26)
E. Penutup: Pembebasan Yoyakhin (2Raj 25:27-30)
I & II TAWARIKH
Di dalam Alkitab Ibrani, Kitab Tawarikh berjudul dibrê hãy-yamîm, "Rangkaian kejadian”
(harfiahnya, kabar) dari zaman itu." Jurnal sejarah lainnya, yang kini sudah tidak ada lagi, seperti
Dibre Hay-yamim Raja Daud" (1Taw 27:24) memakai istilah yang sama ini. sebab itu judul ini
berarti "catatan tahunan," atau "Tawarikh," sebagaimana diusulkan oleh Yerome, salah satu Bapa
Gereja, dan dipakai hingga sekarang. Kitab I dan II Raja-Raja menyebutkan catatan tahunan yang
sama dengan judul "Dibre Hay-yamim raja-raja Israel" (mis. 1Raj 14:19) "raja-raja Yehuda" (1Raj
14:29). Namun, sebutan-sebutan itu tidak mungkin mengacu pada kedua Kitab Tawarikh yang
sekarang, yang baru ditulis sekitar seratus tahun sesudah Kitab Raja-Raja, sehingga menimbulkan
kesan adanya kitab sejenis lainnya yang hilang.
Kedua kitab ini pernah hanya merupakan satu kitab saja. Pembagian yang ada sekarang menjadi dua
jilid muncul saat Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar tahun
150 sM, sekalipun sekarang semua Alkitab mengikutinya, termasuk juga kitab-kitab yang memakai
bahasa Ibrani. Selain itu, dalam pengaturan kanon pertama, Kitab Tawarikh diletakkan pada akhir
Perjanjian Lama. Dengan demikian dalam Luk 11:51 Kristus berbicara tentang semua sahid dari
Habil di dalam kitab pertama (Kej 4) hingga Zakharia di kitab terakhir (2Taw 24).
TANGGAL PENULISAN DAN PENULIS.
Penulis Tawarikh tidak mengemukakan kapan, atau oleh siapa, kedua kitab ini ditulis. Kitab-kitab ini
mencatat rangkaian peristiwa hingga Koresy mengeluarkan ketetapan pada tahun 538 sM yang berisi
izin bagi orang-orang Yahudi untuk kembali ke tanah kelahiran mereka (2Taw 36:22). Selain itu,
daftar keturunan mereka menyebut cucu Raja Yekhonya, yaitu Zerubabel (1Taw 3:19), yang
memimpin orang Yahudi kembali pada tahun 537 sM. Penulis kemudian mengisahkan keturunan
Zerubabel hingga dua orang cucunya, yaitu Pelaca dan Yesaya (1Taw 3:21), atau hingga sekitar tahun
500 sM. Menyusul empat nama orang-orang yang hubungannya dengan Raja Yekhonya tidak
disebutkan dengan jelas. namun keluarga dari tokoh terakhir, yaitu Sekhanya (1Taw 3:21) ditelusuri
terus sampai kepada tujuh buyutnya (1Taw 3:24). Jadi, jika Sekhanya merupakan orang yang hidup
sezaman dengan Raja Yekhonya yang lahir pada tahun 616 sM, maka empat angkatan tambahan ini
menuntun kita hingga sekitar tahun 500 sM sebagai, tanggal penulisan yang paling awal bagi Kitab-
kitab Tawarikh ini berlandaskan pada bukti yang ada di dalam naskah Tawarikh itu sendiri.
Sekalipun demikian, asal-usul Kitab Tawarikh ini ditunjukkan secara kuat oleh hubungannya yang
erat dengan sebuah Kitab Perjanjian Lama lainnya, yaitu Kitab Ezra, yang melukiskan rangkaian
peristiwa sejak ketetapan yang dikeluarkan oleh Raja Koresy hingga tahun 457 sM. Tradisi Ibrani
menegaskan bahwa Ezra menulis Kitab Tawarikh dan Kitab Ezra, kesimpulan mana dibenarkan oleh
hasil penelitian akademis modern dari William F. Albright (JBL, 40 1921, hlm. 104-124); dan kedua
kitab ini memiliki gaya penulisan dan jenis laporan yang sama. Hal ini tampak dari seringnya
ada daftar dan daftar keturunan, penekanan yang sama pada ritual upacara, dan juga perhatian yang
besar terhadap Taurat Musa. Selain itu, ayat-ayat penutup Kitab Tawarikh (2Taw 36:22,23) diulang
kembali sebagai ayat-ayat pembuka Kitab Ezra (1Taw 1:1-3a). Semua ini tampaknya untuk
menunjukkan bahwa Kitab Tawarikh dan Kitab Ezra merupakan satu sejarah yang berkesinambungan
yang telah disusun oleh Ezra pada sekitar tahun 450 sM. Kenyataan bahwa Kitab II Tawarikh berakhir
di tengah-tengah ketetapan Koresy menunjukkan bahwa pada saat Ezra diilhamkan untuk menulis
Kitab Tawarikh sebagai bagian akhir dari Perjanjian Lama, ia dengan sengaja menuntun pembacanya
kembali kepada Kitab Ezra. Bagian yang kedua dari tulisannya ini Ia tampaknya sudah diletakkan
oleh Allah di dalam kanon Alkitab sebagai kelanjutan catatan sejarah dari Kitab Raja-Raja.
Page 34 of 130
Selanjutnya, sebab Kitab Ezra terpisah dari Kitab Tawarikh di dalam susunan Alkitab Ibrani oleh
otobiografi dari Nehemia yang menyebut tentang Raja Darius II yang memerintah sejak 423 sM
(Neh 12:22), maka kita dapat menentukan tanggal penggabungan Kitab Tawarikh dan ditutupnya
kanon Perjanjian Lama pada sekitar tahun 420 sM.
Jika Ezra (Ezr 7:6) yaitu penulis dari Kitab-kitab Tawarikh ini, maka kedudukannya sebagai ahli
kitab sangat mungkin menjelaskan pengetahuan yang cukup mendalam mengenai sumber-sumber
sejarah yang ada saat itu di dalam kedua kitab ini. Sumber-sumber ini termasuk tulisan dari
nabi-nabi awal seperti Samuel, Natan, Gad (1Taw 29:29), Ahiya, Ido, Semaya (2Taw 9:29; 12:15),
Yehu putra Hanani (2Taw 20:34) dan nabi-nabi yang kemudian seperti Yesaya (2Taw 32:32) dan
Hosai (2Taw 33:19-ASV). Acuan utama dari penulis Kitab Tawarikh ini yaitu "kitab raja-raja
Yehuda dan Israel" (2Taw 16:11; 25:26, dll.) bersama dengan "tafsiran (midras) Kitab Raja-Raja"
(2Taw 24:27). namun sekalipun kedua Kitab Tawarikh ini sering kali mengikuti Kitab Raja-Raja
secara cukup cermat, Kitab Raja-Raja yang ada pada kita tidak mungkin merupakan sumber masukan
yang dimaksudkan ini . Sebab ayat-ayat seperti 1Taw 9:1 dan 2Taw 27:7 menyebutkan Kitab
Raja-Raja" sebagai sumber masukan tambahan bagi beberapa daftar keturunan tertentu atau beberapa
peperangan yang tidak dicantumkan di dalam Kitab Raja-Raja yang ada pada kita. Acuan utama ini
pastilah merupakan catatan istana yang lebih luas lagi dan kini sudah tidak ada, yang juga
mencantumkan beberapa tulisan nubuat dari Yehu (2Taw 20:34) atau beberapa pasal dari Yes 36; 37;
38; 39 (2Taw 32:32). Dari sumber inilah Kitab Raja-Raja dan Tawarikh mendapat masukan
utamanya (bdg. Yes 36; 37; 38; 39 dengan 2Raj 18:13-20:19 dan 2Taw 32).
Semangat Ezra untuk memantapkan Taurat Musa (Ezr 7:10) telah membuatnya kembali dari Babel ke
tengah-tengah masyarakat Yahudi di Palestina pada tahun 458 sM. Ezra langsung mengambil
beberapa tindakan untuk menghidupkan kembali penyembahan di Bait Allah (Ezr 7:19-23,27;
8:33,34) dan untuk meniadakan pernikahan campur yang telah dilakukan oleh beberapa orang Yahudi
dengan para tetangga mereka yang kafir (Ezr 9; 10). Dalam kaitan dengan kekuasaan besar yang
diberikan kepada Ezra oleh raja Persia (Ezr 7:18,25), Ezra rupanya merupakan orang yang mengawali
dibangunnya kembali tembok-tembok pelindung Yerusalem (Ezr 4:8-16). Baru setelah Ezra
didampingi oleh Nehemia pada tahun 444 sM, tembok-tembok Yerusalem sungguh-sungguh dibangun
kembali (Ezr 4:17-23; Neh 6:15,16) dan Taurat Musa diakui sepenuhnya oleh masyarakat (Neh 8).
namun bahwa yang menjadi tujuan penulis Tawarikh ialah pembangunan kembali teokrasi tampak dari
ciri-ciri kitab itu sendiri.
Dibandingkan dengan kisah-kisah sejarah yang lain di dalam Kitab Kejadian, I dan II Samuel, serta I
dan II Raja-Raja, Kitab Tawarikh yang bertujuan memelihara kemurnian bangsa dan agama, dijejali
dengan daftar keturunan (mis: 1Taw 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9). Juga sebab kedua kitab ini bertujuan
untuk memelihara imamat dan penyembahan yang benar, kitab ini memberi lebih banyak
penekanan pada Taurat Musa, Bait Allah (1Taw 22) dan pada Tabut Perjanjian, orang-orang Lewi
serta para penyanyi (1Taw 13; 15; 16). Kitab ini tidak menyebutkan kegiatan para raja (II Sam. 9;
1Raj 3:16-28) dan juga kisah yang panjang tentang para nabi (seperti 1Raj 17:1-22:40 atau 2Raj 1:1-
8:15). Penekanan khusus pada jabatan imam membuat kedua kitab ini digolongkan dalam bagian
ketiga (tulisan-tulisan) di dalam kanon Ibrani, terpisah dari I. 2Raj 1*1 Samuel serta I dan II Raja-raja
yang dengan penekanannya pada hal-hal moral menempatkan mereka sebagai kitab nabi-nabi di
bagian yang kedua. akhirnya tujuan penulisan kedua kitab ini, yaitu memberi semangat bagi mereka
yang telah hilang harapan akibat penderitaan masa pembuangan, menjelaskan mengapa kitab-kitab ini
mengisahkan serangkaian kemenangan yang Allah berikan pada zaman kejayaan Yehuda dahulu
(2Taw 13; 14; 20; 25). Tujuan penulisan ini juga menjelaskan mengapa beberapa kegagalan Daud
(2Sam 1; 2; 3; 4) tidak disebutkan di dalam Kitab Tawarikh ini, juga beberapa dosa dan
kekalahannya yang belakangan (II Sam, 11-21) serta berbagai kegagalan Salomo (1Raj 11) dan
seluruh lembaran hitam lainnya di dalam sejarah kerajaan Yehuda.
Page 35 of 130
sebab ciri-ciri ini , sebagian besar pengritik non-Injili terhadap Perjanjian Lama saat ini
menolak kedua Kitab Tawarikh ini sebab dianggap merupakan propaganda orang Lewi abad ke-5
dengan beberapa revisi yang luas (dan bertentangan) yang dilaksanakan sampai sekitar tahun 250 sM
(demikian Adam C. Welch, Robert Pfeiffer dan W. A. L. Elmslie). Dikatakan bahwa kitab ini tidak
mungkin merupakan sejarah yang aktual namun sekadar "peristiwa yang seharusnya terjadi" (IB, III:
341). Angka-angka yang besar seperti satu juta orang Etiopia yang menyerbu (2Taw 14:9) dianggap
sebagai mustahil. Sekalipun demikian, penjelasan-penjelasan yang bisa dibenarkan, dapat
dikemukakan terhadap keberatan-keberatan semacam itu (lih. pembahasan di bawah atau Edward J.
Young, An Introduction to the Old Testament, hlm. 388-390). Lagi pula, kecaman ini berlandaskan
pada penolakan liberalisme sebelumnya bahwa Musa yang menulis Pentateukh, yang upacara-upacara
di dalamnya dibenarkan di dalam kedua Kitab Tawarikh ini. Peneliti Alkitab yang tidak percaya
dengan demikian sebelumnya terpaksa harus mengemukakan alasan-alasan yang menyanggah
keaslian sejarah kedua kitab ini. namun , beberapa penggalian purbakala di Ugarit kuno telah
membenarkan keaslian dari ritual-ritual ini di Kanaan pada zaman Musa (J. W. Jack, The Ras
Shamra Tablets: Their Bearing On the Old Testament, hlm. 29 dst.). Albright mencatat adanya
beberapa pernyataan sejarah di dalam kedua Kitab Tawarikh ini yang telah dibenarkan keasliannya
oleh penggalian purbakala (BASOR 100, 1945 hlm. 18). Selanjutnya yaitu penting bahwa sekalipun
kedua Kitab Tawarikh ini menekankan sisi yang baik dari sejarah Israel, kedua kitab ini juga tidak
menutup mata terhadap kegagalan-kegagalannya. Justru dianggap bahwa sisi yang lain ini sudah
diketahui oleh para pembacanya (seperti di 1Taw 22:8; 28:3), sehingga mereka terus menekankan,
misalnya, pengurapan kedua atas Salomo yang lebih mendorong semangat (I Taw. 1Taw 29:22) atau
perilaku mula-mula Daud yang lebih bisa dijadikan teladan (2Taw 17:3). Berbagai hukuman yang
dinubuatkan dalam I dan II Raja-Raja serta harapan-harapan para imam dalam I dan II Tawarikh
sama-sama benar dan sama-sama diperlukan. Moralitas dalam Kitab Raja-Raja yaitu pokok, namun ,
penebusan dalam Kitab Tawarikh lebih merupakan ciri khas iman Kristen.
I TAWARIKH
I. DAFTAR KETURUNAN (1TAW 1:1-9:44)
A. Para Leluhur (1Taw 1:1-54)
B. Yehuda (1Taw 2:1-4:23)
1. Kaum Hezron (1Taw 2:1-55)
2. Keluarga Daud (1Taw 3:1-24)
3. Kaum Yehuda Lainnya (1Taw 4:1-23)
C. Simeon (1Taw 4:24-43)
D. Suku-suku Trans-Yordan (1Taw 5:1-26)
E. Lewi (1Taw 6:1-81)
F. Enam Suku Lainnya (1Taw 7:1-8:40; 9:35-44)
1. Aneka Rangkuman (1Taw 7:1-40)
2. Benyamin (1Taw 8:1-40; 9:35-44)
G. Penduduk Yerusalem (1Taw 9:1-34)
II. MASA PEMERINTAHAN DAUD (1TAW 10:1-29:30)
A. Latar Belakang: Kematian Saul (1Taw 10:1-14)
B. Kenaikan Daud Menjadi Raja (1Taw 11:1-20:8)
1. Daud Mapan di Yerusalem; Pahlawan-pahlawannya (1Taw 11:1-12:40)
2. Tabut Perjanjian Dicari (1Taw 13:1-14)
3. Merdeka dari Gangguan Filistin (1Taw 14:1-17)
4. Tabut Perjanjian Dibawa ke Yerusalem (1Taw 15:1-16:43)
5. Nubuat Natan (1Taw 17:1-27)
6. Penaklukan dan Pengaturan (1Taw 18:1-17)
7. Kemenangan-kemenangan Atas Amon (1Taw 19:1-20:3)
8. Peperangan-peperangan Filistin (1Taw 20:4-8)
C. Masa akhir Daud (1Taw 21:1-29:30)
1. Sensus (1Taw 21:1-30)
2. Persiapan-persiapan Bait Allah (1Taw 22:1-19)
3. Pengaturan Orang Lewi (1Taw 23:1-26:32)
4. Pengaturan Penduduk (1Taw 27:1-34)
5. Kata-kata Terakhir (1Taw 28:1-29:30)
II TAWARIKH
I. MASA PEMERINTAHAN SALOMO (2TAW 1:1-9:31)
A. Penobatan Salomo (2Taw 1:1-17)
B. Bait Suci Salomo (2Taw 2:1-7:22)
1. Persiapan (2Taw 2:1-18)
2. Pembangunan (2Taw 3:1-4:22)
3. Penahbisan (2Taw 5:1-7:22)
C. Kerajaan Salomo (2Taw 8:1-9:31)
1. Keberhasilan-keberhasilannya (2Taw 8:1-18)
2. Kemegahannya (2Taw 9:1-31)
II. KERAJAAN YEHUDA (2TAW 10:1-36:23)
A. Pembagian Kerajaan (2Taw 10:1-11:19)
B. Para Pemimpin Yehuda (2Taw 12:1-36:16)
1. Rehabeam (2Taw 12:1-16)
2. Abia (2Taw 13:1-22)
3. Asa (2Taw 14:1-16:14)
4. Yosafat (2Taw 17:1-20:37)
5. Yoram (2Taw 21:1-20)
6. Ahazia (2Taw 22:1-9)
7. Atalya (2Taw 22:10-23:21)
8. Yoas (2Taw 24:1-27)
9. Amazia (2Taw 25:1-28)
10. Uzia (2Taw 26:1-23)
11. Yotam (2Taw 27:1-9)
12. Ahas (2Taw 28:1-27)
13. Hizkia (2Taw 29:1-32:33)
14. Manasye (2Taw 33:1-20)
15. Amon (2Taw 33:21-25)
16. Yosia (2Taw 34:1-35:27)
17. Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, Zedekia (2Taw 36:1-16)
C. Pembuangan (2Taw 36:17-23)
EZRA
Kitab Ezra, seperti halnya Kitab Rut, Ayub, Ester dan lain-lain, dinamakan menurut tokoh utamanya.
Orang Yahudi menganggap kitab ini satu dengan Kitab Nehemia (bdg. Talmud, Teks Masoret,
Yosefus), namun pengulangan Ezr 2 di dalam Neh 7 menunjukkan bahwa kedua kitab ini pada
mulanya merupakan dua kitab yang berbeda. Di dalam LXX, Kitab Ezra dan Nehemia dinamakan
Esdras B untuk membedakannya dengan kitab apkokrif Esdras A (yang berisi 2Taw 35:1 hingga
seluruh Kitab Ezra, ditambah Neh 7:73-8:11*, dengan berbagai perbedaan dan tambahan).
TANGGAL PENULISAN DAN KEPENULISAN
Sekalipun penulis kitab ini tidak disebutkan, dan narasi di dalamnya memakai kata ganti orang
pertama dan ketiga, sangat mungkin Ezra sendirilah yang menulis kitab ini dengan memakai beberapa
ketetapan, surat dan daftar keturunan sebagai narasumber. Beberapa dokumen Babel memakai cara
narasi semacam ini sehingga perubahan pemakaian kata ganti orang tidak merupakan petunjuk bahwa
penulisnya berbeda. Juga kenyataan bahwa penulis menyebut dirinya sebagai "ahli kitab, mahir dalam
Taurat Musa" (Ezr 7:6) tidak bisa dipakai sebagai petunjuk bahwa Ezra bukan penulisnya (bdg. Bil
12:3).
sebab Ezra hidup hingga zaman Nehemia (Neh 7:73-8:8; 12:36), dia memiliki cukup banyak waktu
untuk menyelesaikan kitab ini di antara April 456 sM, pada saat rangkaian peristiwa di Ezr 10:17-44
terjadi, dan musim panas tahun 444 sM, pada saat Nehemia tiba di, Yerusalem dari istana Persia.
Robert Dick Wilson (’ Ezra-Nehemiah," ISBE, II, 1083) mengemukakan bahwa bahasa Ibrani yang
dipakai Ezra lebih mirip dengan yang dipakai dalam Daniel, Hagai dan Tawarikh daripada yang
dipakai penulis Yesus bin Sirakh (sebuah kitab apokrif yang ditulis sekitar tahun 180 sM), dan bahwa
bagian-bagian tertentu Kitab Ezra yang memakai bahasa Aram (Ezr 4:7-6:18; 7:12-26) sangat mirip
dengan bahasa Aram dari papirus Elefan yang berasal dari abad kelima sM.
Kitab Ezra mencatat penggenapan janji Allah kepada bangsa Israel melalui Yeremia bahwa Dia akan
membawa mereka kembali ke negeri mereka sesudah pembuangan selama tujuh puluh tahun. Melalui
pertolongan dan perlindungan tiga orang raja Persia (Koresy, Darius dan Artahsasta) dan
kepemimpinan tokoh-tokoh Yahudi yang perkasa seperti Zerubabel. Yosua, Hagai, Zakharia dan Ezra,
pembangunan kembali Bait Suci dapat diselesaikan dan penyembahan yang benar di Yerusalem dapat
dipulihkan.
Enam pasal pertama meliput rangkaian peristiwa selama dua atau tiga tahun pertama pemerintahan
Raja Koresy (538-530 sM) dan enam tahun pertama dari masa pemerintahan Raja Darius I (521-486
sM). Empat pasal yang terakhir (ditambah Ezr 4:7-23) mencatat rangkaian peristiwa selama bagian
pertama masa pemerintahan Artahsasta I (464-423 sM). Raja Kambises (530522 sM) dan Smerdis
(522 sM) tidak disebutkan, dan hanya satu ayat saja (Ezr 4:6) yang menyebut Raja Ahasyweros (486-
465 sM). Jadi, sekalipun delapan puluh tahun yang penting dari sejarah Persia di bawah dinasti
Akhaemenes dijangkau oleh kitab Ezra, hampir tidak ada sebutan tentang delapan tabun pertama yang
penting di antara tahun 515 sM dan 457 sM, saat mana orang Persia melakukan dua usaha yang
besar namun gagal untuk menaklukkan Yunani dan rangkaian peristiwa dalam Kitab Ester terjadi.
saat adegan di dalam kitab ini dimulai, orang Yahudi baru saja menyaksikan jatuhnya kerajaan
Neo-Babel yang mereka benci, pada tahun 539 sM, oleh Koresy raja Persia. Daniel baru saja diberi
kedudukan terhormat oleh Darius orang Media yang ditugaskan oleh Koresy untuk memerintah
wilayah Neo-Babel (Dan 5:30-6:2).
EZRA
I. PARA TAWANAN KEMBALI DARI BABEL (EZR 1:1-2:70)
A. Ketetapan Raja Koresy (Ezr 1:1-4)
B. Persiapan untuk Mengadakan Perjalanan Pulang (Ezr 1:5-11)
C. Orang-orang yang Kembali (Ezr 2:1-70)
II. PEMBANGUNAN KEMBALI BAIT SUCI DIMULAI (EZR 3:1-4:24)
A. Mezbah dan Dasar (Ezr 3:1-13)
B. Perlawanan Terhadap Pembangunan (Ezr 4:1-24)
III. PEMBANGUNAN DISELESAIKAN (EZR 5:1-6:22)
A. Pekerjaan Pembangunan Dilanjutkan (Ezr 5:1-5)
B. Surat Tatnai kepada Darius (Ezr 5:6-17)
C. Ketetapan Koresy dan Darius (Ezr 6:1-12)
D. Bait Suci Diselesaikan (Ezr 6:13-22)
IV. PERJALANAN EZRA KE YERUSALEM (EZR 7:1-8:36)
A. Ezra Diperkenalkan (Ezr 7:1-10)
B. Surat Artahsasta kepada Ezra (Ezr 7:11-28)
C. Perjalanan ke Yerusalem (Ezr 8:1-36)
V. REFORMASI BESAR (EZR 9:1-10:44)
A. Laporan yang Menyedihkan dan Doa Ezra (Ezr 9:1-15)
B. Pernikahan Campuran Ditinggalkan (Ezr 10:1-17)
C. Daftar Orang-orang yang Beristri wanita Asing (Ezr 10:18-44)
NEHEMIA
Seperti halnya Kitab Ezra, kitab ini judulnya juga disesuaikan dengan nama tokoh utamanya. Lihat
pendahuluan Kitab Ezra untuk mengetahui lebih lanjut tentang hubungan antara kedua kitab ini dan
hubungan kedua kitab ini dengan kitab apokrif Esdras A.
Kenyataan bahwa seluruh narasi ditulis dalam bentuk orang pertama tunggal di banyak bagian
merupakan bukti bahwa kitab ini ditulis oleh Nehemia sendiri. Di bagian-bagian yang menyebut
Nehemia dengan memakai bentuk orang ketiga tunggal (Neh 8:8; 10:1; 12:26,47) dapat dijelaskan
sesuai dengan kepenulisannya. Misalnya, Neh 12:26; 12:47, yang tampaknya mengacu balik kepada
zaman Nehemia, dilakukan sebagai tindakan penyesuaian dengan zaman orang lain. Untuk tujuan
keseragaman gaya penulisan, yaitu lebih baik memakai kata ganti orang ketiga daripada
mengatakan, "Pada zaman X dan pada zaman saya." Lagi pula, Nehemia mungkin sudah purna bakti
sebagai gubernur dan di sini dia sedang mengenang masa pemerintahannya.
Keberatan serius terhadap kesatuan kitab ini telah diutarakan oleh beberapa orang pakar sebab
penyebutan Yadua sebanyak dua kali di dalam satu pasal (Neh 12:11,22) sebagai buyut dari imam
besar Elyasib dan sebagai Darius orang Persia (Neh 12:22). Berbagai argumen yang mendukung
pandangan bahwa Yadua hidup mendekati akhir abad kelima sM dan yang mengidentifikasi Darius
orang Persia sebagai Darius II (423-404 sM) dikemukakan pada tafsiran Neh 12:2.
Kesesuaian sejarah dari kitab ini telah dibuktikan oleh penemuan kumpulan papirus dari Elefantin
yang menyebut bahwa Yohanan (Neh 12:22,23) merupakan imam besar di Yerusalem dan putra-putra
Sanbalat (musuh besar Nehemia) merupakan gubernur Samaria pada tahun 408 sM. Kita juga
mengetahui Bari kumpulan papirus ini bahwa Nehemia sudah berhenti sebagai gubernur Yudea
sebelum tahun ini , sebab Bagoas disebut sebagai memegang jabatan ini .
Artahsasta I, yang kepadanya Nehemia melayani sebagai juru minuman, yaitu putra Ahasyweros
yang menikahi Ester sebagai ratunya. Perayaan Purim (Est 9:20-32) diresmikan pada tanggal 8 Maret
473 sM, hanya delapan tahun sebelum Artahsasta I menjadi raja. Pada musim semi tahun 457 sM,
Ezra memimpin sebuah ekspedisi orang Yahudi kembali ke Yerusalem dengan restu Artahsasta; dan
pada musim semi berikutnya dia sudah menyelesaikan pengujian orang-orang Yudea yang menikahi
wanita asing (lih. tafsiran-tafsiran Ezr 10).
Salah satu hasil sampingan dari kebangunan rohani di bawah Ezra rupanya yaitu usaha di pihak
orang Yahudi untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Kejadian ini menimbulkan amarah
Rehum dan Simsai yang menulis sebuah surat tuduhan kepada Artahsasta (Ezr 4:7-16). Raja
memerintahkan untuk menghentikan pekerjaan itu hingga dikeluarkan ketetapan lain (Ezr 4:21).
Sesudah Rehum dan Simsai menerima keputusan ini dari sang raja mereka langsung bergegas
menuju ke Yerusalem dan "dengan kekerasan mereka memaksa orang-orang itu menghentikan"
pekerjaan mereka, mungkin dengan merobohkan kembali tembok yang telah mulai dibangun dan
membakar pintu-pintu gerbang (Ezr 4:23; Neh 1:3). Berita tentang malapetaka inilah yang
mengejutkan Nehemia dan membuatnya berlutut di hadapan Allah.
Kitab Nehemia meliput jangka waktu sekitar paling sedikit dua puluh tahun dari Desember 445 sM
hingga 425 sM pada saat Nehemia meninggalkan Babel untuk membersihkan Yerusalem dan seluruh
provinsi itu dari berbagai kejahatan yang merajalela sejak ditinggalkan olehnya pada tahun 432 sM.
Karier Ezra dan Nehemia bertumpang tindih, sebagaimana dapat dilihat dari Neh 7:73-8:8; 12:26.
Sangat mungkin bahwa Maleakhi bernubuat pada zaman Nehemia menjadi gubernur, sebab banyak
kejahatan yang dikecam olehnya dijumpai menonjol di dalam Kitab Nehemia.
Akhirnya harus dikemukakan bahwa tidak ada bagian dalam Kitab Perjanjian Lama yang lebih hebat
memberi kita dorongan untuk mengabdi serta semangat yang kuat untuk melakukan pekerjaan Tuhan
daripada Kitab Nehemia. Teladan dari kerinduan Nehemia pada kebenaran Firman Allah, apa pun
harga atau akibatnya, merupakan teladan yang sangat dibutuhkan saat ini. Kiranya studi yang disertai
doa atas kitab ini membuat makin banyak umat Allah "tetap berjuang untuk mempertahankan iman
yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."
NEHEMIA
I. NEHEMIA TIBA DI YERUSALEM (NEH 1:1-2:20)
A. Berita Menyedihkan dari Yerusalem dan Doa Nehemia (Neh 1:1-11).
B. Permohonan Nehemia Dikabulkan (Neh 2:1-8).
C. Survei Nehemia Atas Tembok-tembok dan Laporannya (Neh 2:9-20).
II. PEMBANGUNAN TEMBOK (NEH 3:1-6:19).
A. Para Pekerja dan Tugas-tugas Mereka (Neh 3:1-32).
B. Perlawanan dari Musuh (Neh 4:1-23)
C. Aneka Pembaharuan yang Dilakukan Nehemia Selaku Gubernur (Neh 5:1-19).
D. Pembangunan Tembok Selesai Sekalipun Ada beberapa Intrik (Neh 6:1-7:4).
III. ANEKA PEMBAHARUAN SIPIL DAN RELIGIUS DI YERUSALEM (NEH 7:5-10:39).
A. Daftar Orang Yahudi yang Kembali Bersama Zerubabel (Neh 7:5-73).
B. Pembacaan Hukum Allah dan Ketaatan pada Hukum Allah (Neh 7:73-8:17).
C. Sebuah Pengakuan Umum dan Perjanjian (Neh 9:1-10:39).
IV. DAFTAR PENDUDUK (NEH 11:1-12:26).
V. PENAHBISAN TEMBOK DAN PENGATURAN PELAYANAN BAIT ALLAH (NEH 12:27-
47).
VI. ANEKA PEMBAHARUAN TERAKHIR NEHEMIA (NEH 13:1-30).
ESTER
Judul kitab ini disesuaikan dengan nama tokoh utamanya, Ester. Nama ini merupakan sebuah nama
Persia yang artinya Bintang. Nama Ibraninya yaitu Hadasa, Bunga Pacar Belanda (lih. Est 2:7).
TANGGAL PENULISAN DAN KEPENULISAN.
Dapat dipastikan bahwa kitab ini ditulis sesudah 465 sM sebab masa pemerintahan Ahasyweros (486-
465 sM) diungkapkan dengan memakai istilah dalam bentuk waktu lampau (Est 10:2). Namun
penulis kitab ini menunjukkan pengetahuan yang sangat mendalam mengenai masa pemerintahan raja
ini serta perabotan di dalam istana di Susan (yang musnah akibat kebakaran pada sekitar tahun
535 sM) sehingga tidak mungkin kitab ini ditulis sesudah masa pemerintahan Artahsasta I (464-424
sM). Sekalipun Yosefus menduga bahwa yang menulis kitab ini yaitu Mordekhai, tampaknya Est
10:2,3 menutup kemungkinan ini . Sekalipun demikian, penulis kitab ini pastilah seorang Yahudi
yang tinggal di Persia pada saat terjadinya rangkaian peristiwa yang dikisahkan di dalam kitab ini dan
yang boleh membaca catatan resmi dari para raja Media dan Persia (Est 2:23; 9:20; 10:2). beberapa
istilah dan nama Persia murni muncul di dalam kitab ini, dan gaya Ibraninya sangat mirip dengan
gaya yang ada di dalam Kitab Ezra, Nehemia dan Tawarikh.
KESESUAIAN SEJARAH DAN TUJUAN PENULISAN.
Sekalipun telah diajukan beberapa keberatan terhadap kesesuaian sejarah dari kitab ini, kisah yang
dikemukakan di dalamnya sangat masuk akal sehingga mungkin kejadiannya yaitu pada masa
pemerintahan Ahasyweros. Pernyataan tentang jangkauan kekuasaan Ahasyweros (Est 1:1; 8:9)
sesuai dengan pernyataan sejarah yang dikemukakan oleh Herodotus (Histories, 3.97, 98; 7.0), dan
fakta itu tidak cocok untuk raja Persia lainnya. Perayaan besar yang diadakan pada tahun ketiga
pemerintahan Ahasyweros (Est 1:3) sesuai dengan tanggal yang dikemukakan Herodotus (7.8)
sebagai saat sang raja Persia membuat rencana untuk mengirim pasukan ke Yunani. Gambaran
mengenai istananya (Est 1:6) telah dibenarkan oleh penemuan arkeologi. Pengambilan seorang istri
baru dalam tahun ketujuh pemerintahannya (Est 2:16) sesuai dengan gambaran Herodotus tentang
perhatian baru sang raja terhadap haremnya sesudah serangan ke Yunani gagal total (9.108, 109).
Perayaan Purim yang disebut dalam 2 Makabe 15:36 sebagai dilaksanakan pada tahun 160 sM tidak
mungkin diadakan tanpa alasan tertentu. Penjelasan yang paling masuk akal ialah bahwa perayaan
ini dilaksanakan sebagai peringatan akan rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam kitab ini.
Orang-orang Yahudi senantiasa menerima kitab ini sebagai kitab kanonik.
Bila kita memperhatikan tujuan dari penulisan kitab ini, langsung timbul pertanyaan mengapa tidak
ada sebutan tentang doa, ibadah, Yerusalem dan Bait Allah serta nama Allah, kecuali sedikit petunjuk
tentang doa dan pemeliharaan ilahi (Est 4:14; 4:16; 9:31). Ada yang mengemukakan pendapat bahwa
pada masa itu terlalu berbahaya untuk menyembah Yehova secara terbuka sehingga semua sebutan
yang berkenaan dengan Dia secara cermat ditiadakan. Akan namun pandangan semacam ini
menunjukkan adanya pemahaman yang rendah mengenai pengilhaman Alkitab. Tampaknya lebih
tepat untuk berkesimpulan bahwa "sebab orang Yahudi, katakanlah, tidak lagi berada di dalam garis
teokrasi, maka Nama Allah Perjanjian tidak lagi dikaitkan dengan mereka. Jadi, Kitab Ester ini ditulis
untuk menunjukkan bagaimana Pengaturan Ilahi mengatasi segala sesuatu, bahkan di negeri yang jauh
dan asing sekalipun umat Allah tetap berada dalam tangan Allah. namun sebab mereka berada di
negeri jauh ini dan bukan di Tanah Perjanjian maka Nama-Nya tidak disebutkan" (Edward J. Young,
An Introduction to the Old Testament, hlm. 349).
Page 44 of 130
LATAR BELAKANG SEJARAH.
Sejak 722 sM, suku-suku Israel utara dipindahkan sebagai tawanan ke, antara lain, "kota-kota orang
Media" (2Raj 17:6). Selanjutnya, sesudah Babel ditaklukkan oleh Koresy pada tahun 539 sM,
sebagian orang Yahudi yang telah dibawa ke label oleh I Nebukadnezar mungkin berpindah ke arah
timur menuju ke Susan dan kota-kota lain di Medo-Persia, seperti yang dilakukan oleh Mordekhai
(Est 2:5,6). Namun dari jutaan orang Yahudi yang terserak di seluruh wilayah Timur Dekat, hanya
sekitar 50.000 orang yang memilih untuk kembali ke Tanah Perjanjian bersama Zerubabel dan Yesua
pada tahun 536 sM (Ezr 2:64-67).
Menurut Ezr 6:15, Bait Suci yang kedua selesai dibangun pada tahun 515 sM pada tahun keenam
pemerintahan Raja Darius I. Baru tiga puluh dua tabun kemudian, Ahasyweros, putra Darius I,
mengadakan "perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya" (Est 1:3). Rangkaian peristiwa yang
dikisahkan kitab ini meliputi periode sepuluh tahun sejak perjamuan ini (thn. 483 sM) hingga
perayaan Purim (thn. 473 sM). Enam belas tahun sesudah perayaan Purim yang,, pertama, Ezra
membawa rombongannya kembali ke Yerusalem (Ezr 7:9). Jadi, rangkaian peristiwa di dalam kitab
ini cocok di antara pasal enam dan tujuh dari Kitab Ezra.
ESTER
I. RATU WASTI DICERAIKAN (EST 1:1-22).
II. ESTER DIJADIKAN RATU (EST 2:1-23).
III. MUSLIHAT HAMAN MEMUSNAHKAN ORANG YAHUDI (EST 3:1-15).
IV. KEPUTUSAN ESTER (EST 4:1-17).
V. PERJAMUAN PERTAMA ESTER (EST 5:1-14).
VI. HAMAN DIRENDAHKAN DI HADAPAN MORDEKHAI (EST 6:1-14).
VII. PERJAMUAN KEDUA ESTER (EST 7:1-10).
VIII. KETETAPAN TANDINGAN DARI MORDEKHAI (EST 8:1-17).
IX. ORANG YAHUDI MENANG, DAN PURIM DILEMBAGAKAN (EST 9:1-10:3).
AYUB
Nama dari kitab ini maupun tokoh utamanya, iyyob muncul di dalam naskah-naskah non-alkitabiah
sejak tahun 2000 sM. Judul Ayub ini diambil dari versi Vulgata yang berbahasa Latin.
JENIS PENULISAN
Inti dari kitab ini yaitu puisi, yang disusun bagaikan sebuah permata di antara pendahuluan dan
penutup yang berupa prosa epik. Struktur A B A semacam itu sering dijumpai di dalam naskah-
naskah kuno. Sebagai contoh, Hamurabi menempatkan hukum-hukumnya di antara sebuah
pendahuluan dan penutup berupa puisi. Sebuah karya sastra Mesir, The Eloguent Peasant, berisi
sembilan buah protes sang petani yang berbentuk semi puisi di antara pendahuluan dan penutup
berbentuk prosa.
Bersama dengan Amsal, Pengkhotbah dan di dalam beberapa hal tertentu, Kidung Agung, Ayub
tergolong jenis sastra Hikmat (hokma), yaitu jenis penulisan yang banyak contohnya dengan aneka
bentuk dalam sastra Timur Dekat. Di dalam kanon Perjanjian Lama, sumbangan khas dari kitab-kitab
sastra Hikmat ialah uraian kitab-kitab ini tentang relevansi penyataan perjanjian pokok melalui
Musa dengan isu-isu besar kehidupan manusia di dalam dunia ini, lebih khusus lagi, isu-isu kehidupan
manusia terlepas dari konteks teokratis sejarah Israel yang khas itu. ada banyak kesamaan formal
di antara Kitab Ayub ini dengan berbagai tulisan sastra Hikmat non-alkitabiah; misalnya, gaya dialog
dan berbagai pokok pembahasan seperti masalah penderitaan dan keinginan untuk mati. Sekalipun
demikian, ajaran yang hakiki dari Kitab Ayub sama sekali berbeda dengan sastra Hikmat non-
alkitabiah sebab Kitab Ayub menyajikan pesan khusus tentang penyataan penebusan, hikmat Allah
yang menjadikan hikmat manusia itu kebodohan. Bahkan struktur penulisannya, jika dipandang secara
menyeluruh, merupakan struktur yang unik-sebuah karya agung yang diakui secara universal.
Terkait erat dengan bentuk penulisan ialah masalah kesesuaian dengan sejarah. Ayub jelas merupakan
tokoh sejarah (bdg Yeh 14:14,20; Yak 5:11), dan apa yang dialami olehnya pada dasarnya yaitu
sebagaimana yang dikisahkan di dalam kitab ini. Sekalipun demikian, puisi yang indah dalam
beberapa bagian telah mendorong adanya kesepakatan umum untuk menyimpulkan bahwa laporan
kisah pengalaman Ayub itu tidak bersifat harfiah, namun tulisan bebas. Lagi pula, gaya epik semi puitis
dari pendahuluan dan penutup (dengan susunan bait dan pengulangannya), walaupun tidak berarti
bahwa narasi ini harus dianggap sebagai legenda, menunjukkan kemungkinan bahwa beberapa rincian
dibahas secara kiasan dengan bebas.
KEPENULISAN DAN TANGGAL PENULISAN
Pembahasan mengenai kepenulisan Kitab Ayub oleh sebagian besar kritikus modem diperumit oleh
keraguan mereka tentang kesatuan kitab ini sebagaimana adanya sekarang. Bukti-bukti yang ada
bukan terutama dari luar kitab ini, sebab sekalipun teks LXX tentang Ayub lebih pendek sekitar
seperlima dari teks Masoret, bagian-bagian yang dihilangkan jelas tidak penting. Bagian-bagian yang
secara luas dianggap sebagai tambahan terhadap karya asli yaitu bagian pendahuluan dan penutup,
syair tentang hikmat (ps. 28), bahan dari Elihu (ps. 32-37) dan bagian atau seluruh wejangan Tuhan
(ps. 38-41). Demikian pula pasal Ayb 24; 25; 26; 27 dianggap sangat rancu. Sekalipun demikian,
pembelaan yang kuat terhadap integritas dari teks yang ada pada kita saat ini ada dalam kesatuan
struktural yang mengagumkan dari keseluruhan dan aneka ragam hubungan timbal balik di antara
semua bagiannya.
Masalah tanggal penulisan telah memperoleh berbagai jawaban yang menunjukkan bahwa tanggal
penulisan yang tepat sulit untuk diketahui. Tanggal penulisan kitab ini jangan dikacaukan dengan
tanggal terjadinya peristiwa yang dikisahkan. Tokoh Ayub rupanya hidup pada awal zaman leluhur
Israel. Dapat dilihat, misalnya, lamanya hidup Ayub dan juga banyaknya pelaksanaan agama yang
sejati (sebagaimana ditandai dengan beberapa penyataan adikodrati) di luar batas-batas perjanjian
dengan Abraham serta aneka perkembangan ekonomi dan politik masa dini di dalam kitab ini. Jadi,
pertanyaan mengenai tanggal penulisan kitab ini yaitu : Berapa lamakah’kisah tentang Ayub itu
dikisahkan-baik secara lisan atau setidak-tidaknya sebagian secara tertulis-sebelum seorang penulis
Israel yang tidak diketahui namanya, dengan ilham ilahi, mengubah tradisi ini menjadi Kitab
Ayub yang kanonik. Sebagian besar kritikus yang negatif memilih tanggal zaman Pembuangan atau
pasca-Pembuangan. Kesimpulan ini dipengaruhi oleh cara mereka menafsirkan keterikatan di antara
Ayub, Yesaya dan Yeremia-serta oleh tanggal yang mereka berikan untuk penulisan beberapa bagian
dari Kitab Yesaya. Tanggal yang paling ekstrem (abad ke-2 sM) tampaknya tidak mungkin sebab
bertentangan sekali dengan fragmen-fragmen naskah Kitab Ayub yang ditemukan di antara temuan di
Laut Mati, khususnya fragmen dalam naskah berbahasa Ibrani kuno. Kemegahan dan spontanitas
kitab ini dan penciptaan ulangnya yang sangat tegas akan berbagai sentimen manusia yang berada
pada awal dalam perkembangan penyataan ilahi menunjuk’ kepada permulaan zaman pra-
Pembuangan, yaitu zaman sebelum adanya sumbangan doktrin, khususnya eskatologi, dari para nabi.
Banyak pakar konservatif memilih sebuah tanggal pada zaman Salomo, yaitu pada zaman Sastra
Hikmat Alkitabiah (bdg. misalnya kemiripan-kemiripan di antara kitab ini dengan Mzm 88; 89 yang
berasal dari zaman Salomo; bdg. 1Raj 4:31).
T E M A
Dengan perantaraan masalah teodise, Kitab Ayub mengumandangkan kembali tuntutan religius yang
pokok dari Perjanjian. Kitab ini meminta manusia untuk menyerahkan diri tanpa syarat kepada Tuhan.
Dan cara dari Perjanjian ini, yaitu penyerahan diri kepada Sang Pencipta yang transenden dan tidak
terpahami ini sama dengan jalan hikmat. sebab itu, Kitab Ayub memberi kepada Gereja
kesaksian yang tepat tentang penyataan penebusan di hadapan berbagai aliran hikmat dunia.
AYUB
.I MALAPETAKA HIKMAT AYUB DICOBAI (AYB 1:1-2:10)
A. Hikmat Ayub Diutarakan (Ayb 1:1-5)
B. Hikmat Ayub Disangkal dan Diperagakan (Ayb 1:6-2:10)
1. Permusuhan oleh Iblis (Ayb 1:6-12)
2. Integritas Ayub (Ayb 1:13-22)
3. Kegigihan Iblis (Ayb 2:1-6)
4. Kesabaran Ayub ( Ayb 2:7-10)
.II KELUHAN: JALAN HIKMAT HILANG (AYB 2:11-3:26)
A. Kedatangan Orang-orang Berhikmat (Ayb 2:11-13)
B. Ketidaksabaran Ayub (Ayb 3:1-26)
.III PENGHAKIMAN: JALAN HIKMAT DIBUAT KABUR DAN DIJELASKAN (AYB 4:1-
41:34)
A. Keputusan-keputusan Manusia (Ayb 4:1-37:24)
1. Putaran Pertama Perdebatan (Ayb 4:1-14:22)
a. Kata-kata Nasihat Pertama dari Elifas (Ayb 4:1-5:27)
b. Jawaban Ayub kepada Elifas (Ayb 6:1-7:21)
c. Kata-kata Nasihat Pertama dari Bildad (Ayb 8:1-22)
d. Jawaban Ayub kepada Bildad (Ayb 9:1-10:22)
e. Kata-kata Nasihat Pertama dari Zofar (Ayb 11:1-20)
f. Jawaban Ayub kepada Zofar (Ayb 12:1-14:22)
2. Putaran Kedua Perdebatan (Ayb 15:1-21:34)
a. Kata-kata Nasihat Kedua dari Elifas (Ayb 15:1-35)
b. Jawaban Kedua Ayub kepada Elifas (Ayb 16:1-17:16)
c. Kata-kata Nasihat Kedua dari Bildad (Ayb 18:1-21)
d. Jawaban Kedua Ayub kepada Bildad (Ayb 19:1-29)
e. Kata-kata Nasihat Kedua dari Zofar (Ayb 20:1-29)
f. Jawaban Ayub kepada Zofar (Ayb 21:1-34)
3. Putaran Ketiga Perdebatan (Ayb 22:1-31:40)
a. Kata-kata Nasihat Ketiga dari Elifas (Ayb 22:1-30)
b. Jawaban Ketiga Ayub kepada Elifas (Ayb 23:1-24:25)
c. Kata-kata Nasihat Ketiga dari Bildad (Ayb 25:1-6)
d. Jawaban Ketiga Ayub kepada Bildad (Ayb 26:1-14)
e. Pengajaran Ayub kepada Rekan-rekan yang Membisu (Ayb 27:1-28:28)
f. Protes Terakhir Ayub (Ayb 29:1-31:40)
B. Suara Allah (#/TB Ayb 38:1-41:34)
1. Tantangan Ilahi (Ayb 38:1-40:2)
2. Ayub Menyerah (Ayb 40:3-5)
3. Tantangan Ilahi Diulangi (Ayb 40:6-41:34

