)
.IV PENGAKUAN DOSA: MAN HIKMAT DIPEROLEH KEMBALI (AYB 42:1-6)
.V PEMULIHAN: KEMENANGAN HIKMAT AYUB (AYB 42:7-17)
A. Hikmat Ayub Dibenarkan (Ayb 42:7-9)
B. Hikmat Ayub Diberkati (Ayb 42:10-17)
MAZMUR
Di antara kitab-kitab kuno, tidak ada kitab yang demikian menarik hati manusia seperti Kitab Mazmur
ini. Di dalam Alkitab tidak ada kitab lain yang berisi pengalaman religius yang demikian beragam
seperti di dalam kitab ini. Di sini iman bangsa Israel terungkap dengan jelas, sebab Israel mengetahui
kebenaran penyataan ilahi dari pengalaman. Di dalam berbagai Mazmur, pemahaman Israel tentang
masa lalu dipadukan dengan penyembahan sehingga menjadi abadi. Pengalaman pribadi di sini
dikaitkan dengan kehidupan bersama bangsa Israel. Oleh sebab itu, di dalam Kitab Mazmur ada
unsur universal yang hanya bisa muncul dari ekspresi gabungan berbagai pengalaman rohani manusia
dalam banyak periode sejarah dan dalam berbagai situasi kehidupan. Setiap orang didorong oleh
keinginannya untuk memberi tanggapan kepada Allah yang hidup. Mereka semua dipersatukan
oleh keinginan hati mereka untuk menanggapi dengan memakai perasaan terdalam mereka. Setiap
jenis pengalaman religius tercermin di dalam ujian hidup sehari-hari dan diproyeksikan ke dalam
hidup orang percaya masa kini. Dengan demikian di dalam setiap Mazmur ada suatu keabadian
yang menjadikan kitab ini senantiasa dapat dikenakan kepada setiap zaman di dalam sejarah.
Istilah "Mazmur" berasal dari LXX yang memakai nama Psalmoi, untuk kumpulan kidung ini. Salah
satu naskah Alkitab yang utama, Codex Alexandrinus, menambahkan sebutan "Pemazmur" dengan
memakai istilah Yunani Psalterion. Sekalipun demikian, Alkitab berbahasa Ibrani menyebutkan kitab
ini dengan nama Tehillîm, yang artinya "Puji-pujian." Di dalam sastra para rabi istilah ini kemudian
diambil alih menjadi Séper Tehillîm yang artinya "Kitab Puji-pujian." Akar kata dari istilah Ibrani dan
Yunani itu berarti memainkan alat musik. Seiring dengan waktu istilah ini menjadi berarti
bernyanyi dengan iringan alat musik, sebuah ciri dalam ibadah Israel yang dipopulerkan dengan
menyanyikan lagu-lagu kaum Lewi. Banyak Mazmur memberi bukti bahwa Mazmur ini
dipakai oleh paduan suara dan para peserta ibadah sebagai lagu pujian sedang yang lain tidak
demikian. Akan namun , seluruh kumpulan Mazmur ini mengungkapkan kerinduan yang terdalam dan
penuh semangat dari Israel secara keseluruhan untuk beribadah di hadapan Allah.
Salah satu hal pertama yang tampak saat membaca kitab ini ialah bahwa setiap Mazmur mempunyai
judul sendiri. Bagaimana judul-judul itu bisa ditafsirkan dengan tepat merupakan persoalan paling
sulit di dalam kitab ini. Kadang-kadang, penulisnya yang ditekankan pada judulnya, sedang kali yang
lain hubungan yang ditekankan. Alasan penggubahan sebuah Mazmur kadang-kadang juga
dikemukakan. Judul-judul tertentu mengacu kepada pemakaian Mazmur ini di dalam ibadah
umum. Judul-judul yang lain menunjukkan hasil yang diinginkan dari permainan alat musik tertentu.
Yang lain lagi melukiskan sifat dasar dari Mazmur ini seperti;
1) Sebuah kidung untuk dinyanyikan dengan bantuan alat musik (mizmor),
2) Sebuah nyanyian (shir),
3) Lagu kebangsaan (maskil) atau
4) Sebuah ratapan (mittam).
Semua Mazmur kecuali tiga puluh empat di antaranya memiliki semacam judul yang ditulis di atas
Mazmur ini . Ketiga puluh empat Mazmur pertama judul disebut sebagai "anak-anak yatim piatu"
Yahudi. Di antara Mazmur-mazmur yang berjudul, tujuh puluh tiga memakai nama ie Dawid yang
pada umumnya diterjemahkan sebagai Mazmur Daud. Sekalipun demikian, istilah ini mungkin
juga berarti "milik Daud," "berkaitan dengan Daud," "tentang Daud," "untuk Daud," "dipersembahkan
kepada Daud," "dengan gaya Daud," atau "oleh Daud." Judul-judul ini tidak selalu menunjukkan
penulis Mazmur itu, entah yang mengacu kepada Daud atau kepada yang lainnya. LXX
menambahkan nama Daud untuk lima belas Mazmur yang tidak disebut demikian di dalam naskah
Page 50 of 130
Ibrani aslinya. Di samping itu ada tujuh puluh tiga Mazmur yang menyebut Daud (delapan puluh
delapan di dalam LXX), dua belas dikaitkan dengan Asaf, dua belas dengan bani Korah, dua dengan
Salomo, satu dengan Etan dan satu dengan Musa.
Sekalipun judul-judul ini tidak termasuk di dalam naskah asli, judul-judul itu didasarkan pada
tradisi yang cukup kuno. Suatu perbandingan antara Naskah Masoret dengan LXX menunjukkan
bahwa judul-judul ini sudah ada sebelum terjemahan LXX sebab beberapa petunjuk tentang
musik sudah tidak bisa dimengerti oleh para penerjemah LXX dan judul-judul ini tidak menjadi
baku. Sekalipun judul-judul di atas itu bukan merupakan bagian dari naskah asli, judul-judul itu layak
untuk dipertimbangkan sebab menunjukkan usaha pertama manusia untuk menulis sebuah pengantar
untuk Kitab Mazmur.
STRUKTUR.
Sekalipun Kitab Mazmur tampaknya tidak memiliki perencanaan, itu tidak berarti bahwa mazmur-
mazmur yang tercantum di dalamnya tidak disusun secara pasti. Sekalipun pokok pembahasannya
tidak teratur, sistem pengaturan yang diikutinya jauh lebih jelas. Kitab ini dibagi menjadi lima bagian
yang terdiri atas kumpulan beberapa mazmur. Menurut Midrash on the Psalms, sebuah tafsir Mazmur
Yahudi kuno, pembagian menjadi lima jilid dibuat sesuai dengan kelima Kitab Taurat. Jadi mungkin
para penyusun kitab ini sejak semula memiliki maksud untuk memparalelkan lima tanggapan umat ini
dengan lima Panggilan Allah.
Bukti berikutnya tentang adanya sebuah rencana yaitu kehadiran sebuah kidung pujian pada akhir
dari masing-masing kelima jilid itu. Mzm 41; 72; 89; 106; 150 berisi kidung pujian untuk setiap
jilid, sedang pasal Mzm 1 merupakan pengantar umum kepada mazmur lainnya. Mzm 2; 42; 73;
90; 107 merupakan pengantar kepada masing-masing jilid.
Pengaturan yang cermat ini merupakan bukti bahwa edisi final dari kitab ini dirancang untuk sesuai
dengan skema ibadah Yahudi. ada hubungan yang menakjubkan di antara empat Kitab Taurat
pertama dengan empat jilid pertama Kitab Mazmur. sebab seorang penganut Yudaisme Palestina
menyelesaikan pembacaan Taurat setiap tiga tahun, sangat mungkin bahwa penggunaan Mazmur
dijadwalkan untuk sesuai dengan hal ini . Menurut tradisi kuno, tampaknya delapan bagian dari
Taurat diperuntukkan bagi hari-hari Sabat sepanjang dua bulan bersamaan dengan bagian-bagian yang
cocok dari kitab para nabi. N. H. Snaith (Hymns of the Temple, hlm. 18) menunjukkan bahwa
serangkaian mazmur mungkin dipakai dengan cara serupa itu. Menurut perhitungannya pembacaan
Kitab Keluaran diawali pada hari Sabat ke empat puluh dua, pembacaan Kitab Imamat selesai dibaca
pada hari Sabat ke tujuh puluh tiga, Kitab Bilangan pada hari Sabat ke sembilan puluh dan Kitab
Ulangan pada hari Sabat yang ke seratus tujuh belas. Hari-hari Sabat ini sesuai persis dengan setiap
pasal pertama dalam setiap jilid Kitab Mazmur. Tidak ada mazmur yang bisa lebih cocok daripada
Mzm 1 untuk mempersiapkan tiga tahun "merenungkan Taurat" yang akan datang. Mzm 23,
misalnya, akan mendampingi pembacaan kisah Yakub di Betel.
PENGUMPULAN DAN PERTUMBUHANNYA.
Pengaturan mazmur yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sebuah proses pertumbuhan. Jauh
sebelum kitab ini terbentuk seperti sekarang, sudah ada kumpulan-kumpulan mazmur yang lebih
kecil. Secara bertahap, kumpulan-kumpulan yang lebih kecil ini dijadikan satu.
Di dalam pengelompokan menjadi lima jilid sekarang, ikatan kelompok yang lebih kecil masih
kelihatan. Selain kumpulan mazmur Daud, ada beberapa mazmur yang dikaitkan dengan bani Korah
dan Asaf. Pada Mzm 72:20 dinyatakan bahwa, "Sekianlah doa-doa Daud bin Isai," sekalipun masih
ada mazmur-mazmur Daud lainnya sesudah itu. Kumpulan-kumpulan lebih kecil lainnya termasuk
Mazmur Ziarah dan Mazmur Haleluya. Berbagai bagian tertentu juga menunjukkan kecenderungan
Page 51 of 130
yang jelas untuk memakai kata Yahweh atau Elohim, yang menunjukkan keberadaan kata-kata itu
sejak semula pada kumpulan-kumpulan khusus. Kumpulan-kumpulan berikut mungkin sekali sudah
beredar secara terpisah sebelum kemudian dipersatukan:
Mzm 3:1-41:13. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk
memakai nama Yahweh (272 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 15 kali pemakaian nama
Elohim).
Mzm 51:1-72:20. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk
memakai nama Elohim (208 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 48 kali pemakaian nama
Yahweh).
Mzm 50; 73:1-83:18. Kumpulan mazmur perserikatan bani Lewi yang dikaitkan dengan Asaf.
Mzm 42:1-49:20. Kumpulan mazmur serikat bani Lewi yang dikaitkan dengan bani Korah.
Mzm 90:1-99:9. Mazmur-mazmur Sabat yang dikaitkan secara erat dengan ibadah Sabat.
Mzm 113:1-118:29. Mazmur-mazmur Halel dari Mesir, dikaitkan dengan ibadah pada Perayaan
Paskah (bdg. Mzm 136).
Mzm 120:1-134:3. Nyanyian Ziarah yang mungkin dikidungkan oleh para peziarah saat berziarah
menuju ke Bait Allah.
Mzm 146:1-150:6. Mazmur haleluya yang dinyanyikan pada perayaan-perayaan.
T. H. Robinson (The Poetry of the Old Testament) dan lain-lain menunjukkan bahwa sebelum menjadi
lima kelompok, kitab ini terdiri dari tiga kelompok. Ketiga kelompok ini, 1-41-42-89-90-150,
mungkin telah dibagi lagi menjadi bentuk yang sekarang untuk disesuaikan dengan pembagian Kitab
Taurat. Terlepas dari apakah teori ini bisa dibuktikan atau tidak, pemahaman yang benar tentang.sifat
susunan Kitab Mazmur ini penting. Melalui proses bertahap berupa pengumpulan, penyusunan
kembali dan perbaikan, Allah memelihara harta ini, yaitu tanggapan Israel atas penyataan diri-Nya.
PENANGGALAN.
Sistem penanggalan yang tepat untuk Kitab Mazmur tidak mungkin dibuat. Orang-orang yang
bertanggung jawab atas edisi terakhir Kitab Mazmur dan juga para pengumpul sebelumnya, berusaha
untuk menyediakan sebuah kitab nyanyian bagi angkatan mereka sendiri. Pada saat-saat mengalami
tekanan dan kesulitan, mereka berusaha menghidupkan kembali semangat masa lalu untuk mencukupi
kebutuhan zaman mereka. Proses perbaikan dan penyesuaian membuat banyak mazmur kelihatan
lebih baru daripada bentuk aslinya. N. H. Snaith (Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 285)
mengatakan, "Sedikit Mazmur kalau tidak ditulis sebelum masa pembuangan tentu seluruhnya ditulis
sesudah masa pembuangan. beberapa mazmur mungkin mengandung unsur-unsur yang berbeda
waktu lebih dari seribu tahun." beberapa pakar mengikuti pendapat Duhm dan mengatakan bahwa
sebagian besar mazmur digubah pada zaman Makabe. Sekalipun demikian, arus masa kini di kalangan
pakar seperti Gunkel, Snaith, Patterson, Oesterley dan lain-lain cenderung menyebutkan tanggal yang
lebih dini. Frasa, "Buku Doa dan Puji-pujian Bait Allah Yang Kedua," bisa tetap berlaku untuk
seluruh kumpulan sebab penyuntingan terakhir dilaksanakan sesudah masa pembuangan. Akan namun
banyak Mazmur berasal dari zaman sebelum pembuangan, dengan beberapa unsur yang asal-usulnya
yaitu pada masa pra-Daud. Pengenalan akan bahan yang dini dan yang kemudian ini menjadikan
Kitab Mazmur malah lebih berharga sebagai catatan tentang seluruh sejarah tanggapan Israel kepada
Allah selaku Umat Pilihan-Nya.
Sekalipun penting untuk mengetahui latar belakang sejarah dan tanggal yang tepat dari suatu nas
waktu menafsir, hal itu tidak terlalu merupakan keharusan saat menafsirkan Mazmur dibandingkan
dengan nas Perjanjian Lama lainnya. sebab universalitas kebenaran yang ada di dalamnya, kitab
ini tidak terlalu perlu memperhatikan latar belakang sejarah itu. Pesan-pesannya yang tidak tergantung
waktu menjadikannya bisa digunakan pada zaman pra-pembuangan, pasca-pembuangan dan pada
zaman kita. Sekalipun demikian, keabadian ini jangan membuat kita tidak berusaha untuk mengetahui
latar belakang saat mazmur tertentu digubah sejauh hal itu dimungkinkan. Gaya penulisan, sebutan-
sebutan pada peristiwa sejarah tertentu, bahasa yang dipakai, pemikiran-pemikiran teologis yang
terungkap dan bukti-bukti di dalam nas lainnya tetap harus dipelajari, sebab setiap nas menjadi makin
hidup jika latar belakang itu dipahami secara benar. Sekalipun keadaan makin hidup itu sangat
diperlukan, sikap dogmatis dalam menyebutkan penulis, tanggal serta situasi waktu penulisan tidak
pada tempatnya sebab setiap pesan kitab ini bersifat abadi. Harus diingat bahwa sejarah memiliki cara
untuk berulang berkali-kali.
BENTUK SYAIR.
Orang Ibrani telah mewariskan kepada dunia sebuah bentuk pengungkapan syair yang sederhana dan
kekanak-kanakan. Ungkapan berbentuk syair itu lebih berasal dari hati ketimbang dari keinginan
untuk mengungkapkannya dengan keindahan seni. sebab bahasa Ibrani yaitu bahasa bergambar,
setiap kata yang dipakai itu jelas dan gamblang. Akar-akar kata kerjanya menggambarkan tindakan
yang kelihatan, sedang pemakaiannya memberi ruang untuk memakai imajinasi yang kuat. Di
dalam bahasa ini ada ungkapan perasaan yang sangat kuat yang cocok untuk menunjukkan
kerinduan religius yang membara.
Sekalipun puisi Ibrani tidak memiliki sajak dan lemah sistem metrisnya, puisi Ibrani memiliki ciri-ciri
penggantinya. Sebaliknya dari dasar-dasar utama sajak Inggris ini, orang Ibrani menggunakan dua ciri
khusus yang utama-penekanan aksen (irama) dan paralelisme. Menurut F. C. Eiselen (The Psalms and
Other Sacred Writings) irama yaitu "pengulangan harmonis dari hubungan suara tertentu." Pola
aksen yang terdiri dari dua, tiga atau empat hitungan irama memungkinkan dibuatnya pengulangan
harmonis ini. beberapa suku kata yang tanpa tekanan di antara setiap hitungan irama disusun secara
bergantian di antara suku kata yang panjang dan suku kata yang pendek. Bentuk pengaturan semacam
ini tergantung pada irama di dalam setiap anak kalimat dan keseimbangan irama di antara anak-anak
kalimat itu. Hasilnya yaitu suara yang naik dan turun secara menyenangkan sehingga sanggup
mengungkapkan semangat yang hidup, kepastian yang tenang, keceriaan, ratapan atau ungkapan
emosional lainnya.
Ciri khusus utama yang kedua di dalam syair Ibrani ialah keseimbangan di antara bentuk dan makna
yang dinamakan paralelisme. Sang penyair mengemukakan sebuah pemikiran; kemudian pemikiran
itu diperkuat lagi dengan pengulangan, variasi atau kontras. Ada tiga bentuk utama paralelisme yang
dapat dijumpai di seluruh Kitab Mazmur.
1. Sinonim. Baris kedua mengulangi baris pertama dengan kata-kata yang sedikit berbeda (bdg
Mzm 1:2).
2. Antitetis. Baris kedua merupakan kontras yang tajam dari kalimat pertama (bdg Mzm 1:6).
3. Sintetis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan menambah pemikiran semula (bdg
Mzm 7:1).
Tiga bentuk yang kurang utama membantu menambah kekayaan dan keragaman dari syair Ibrani.
1. Introver. Kalimat kedua paralel dengan kalimat ketiga dan kalimat pertama paralel dengan
kalimat keempat (bdg Mzm 30:8-10; 137:5,6).
2. Klimaktis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan membawa pemikirannya kepada
klimaks (bdg Mzm 29:1,2).
3. Emblematis. Kalimat kedua melanjutkan pemikiran kalimat pertama dengan mengangkatnya ke
alam yang lebih tinggi atau dengan memakai sebuah simile (bdg Mzm 1:4).
Ada faktor-faktor lain yang menjelaskan keefektifan paralelisme. Inti masalahnya ialah harapan dan
kepuasan pembacanya. Kalimat pertama akan selalu menimbulkan suatu rasa berharap, sedang
kalimat-kalimat berikutnya akan memuaskan harapan ini . Penyair bisa membuat variasi dengan
mengubah tingkat pengharapan atau cara memuaskan pengharapan itu dengan memakai kontras untuk
menunjukkan apa yang tidak diharapkan. Paralelisme yang dipergunakan ini kadang-kadang lengkap,
kadang-kadang tidak lengkap dengan satu unsur yang tidak ada; dan pada saat-saat tertentu
ditambahkan sebuah unsur pelengkap untuk memberi rasa puas yang lebih baik. Bukan hanya
paralelisme namun juga irama berpola menghasilkan rasa penantian pemuasan ini. G. B. Gray (The
Forms of Hebrew Poetry, 1915) telah memberi nama kepada dua jenis irama dasar ini. "Irama yang
menyeimbangkan" menghasilkan kepuasan tertentu sebab jumlah penekanan aksennya sama
(Mzm 2:2 atau Mzm 3:3). "Irama yang menggema" menghasilkan perasaan berbeda dengan
memberi tekanan yang lebih sedikit pada kalimat kedua dibandingkan dengan kalimat pertama
(Mzm 3:2). Yang paling sering dipakai dari bentuk yang kedua yaitu irama Quinah, yang dipakai
dalam ratapan dan nyanyian penguburan.
Di samping paralelisme dan irama, dua unsur lain mempengaruhi syair Ibrani. Ini bukan karakteristik
khusus, sebab ini ada di dalam semua syair. Yang pertama yaitu sifat emosional yang
menghasilkan suatu ekspresi yang memuncak. Kata-kata atau frasa khusus yang penuh kuasa dapat
menghasilkan hal ini. Pemakaian suara tekak yang banyak dapat menampilkan suasana keras. Bunyi
mendesis yang tajam dapat mengungkapkan kemenangan atau kesedihan atas sebuah kekalahan. Kata
yang meniru suara dapat dengan mudah menunjukkan pesannya. Unsur kedua yaitu nilai membantu
ingatan Bari sebuah syair yang membantu pembaca mengingatnya. Sebagai ganti pemakaian sajak,
pemazmur kadang-kadang memanfaatkan pengaturan akrostik. Setiap baris atau beberapa baris akan
diawali dengan huruf-huruf dalam abjad Ibrani. Mzm 119 merupakan contoh yang baik sekali sebab
setiap baris di dalam kelompok delapan baris diawali dengan huruf yang sama. Kedua puluh dua
huruf dalam abjad Ibrani dipakai dalam kelompok-kelompok yang berurutan. Cara semacam itu
membuat mazmur ini lebih mudah dihafalkan. Sesungguhnya, hanya delapan atau sembilan
mazmur yang disusun demikian secara keseluruhan. Masing-masing mazmur ini bersifat sebagai
amsal dan akan mengalami suatu keterpisahan pemikiran jika saja pengaturan menurut abjad ini tidak
dipakai.
berdasar gaya pokoknya, syair Ibrani sangat berbeda dengan syair modem. Sekalipun demikian,
pola syair Ibrani memiliki kemiripan yang erat dengan pola syair Timur Dekat. ada beberapa
kesamaan dalam gaya antara syair-syair di Israel dengan yang di Mesir dan Mesopotamia. Akan
namun , kesamaan yang paling mencolok tampak jelas jika syair Ibrani dibandingkan dengan syair-syair
Ugarit. Syair Ugarit pada dasarnya merupakan jenis Kanaan-Siria. Kanaan dan Siria berhubungan
dekat dengan Israel di sepanjang sejarah pra-pembuangan. Kemiripan-kemiripan utamanya yaitu
dalam hal metafora, frasa, irama dan paralelisme-semua berkenaan dengan gaya penulisan dan
pemakaian frasa. Perbedaan secara religius dan teologis jauh melebihi semua kesamaan ini.
KLASIFIKASI.
Suatu perbandingan sekilas dari syair-syair di dalam Mazmur menunjukkan bahwa syair-syair itu
tidak dikelompokkan menurut pokok bahasannya. Pokok-pokok ini , yang dibahas atau
disinggung, meliputi pengalaman manusia. Sekalipun berbagai topik itu terlalu banyak untuk
didaftarkan, lima pokok utama dapat dikenali:
1. Kesadaran akan kehadiran Allah.
2. Pengakuan akan perlunya mengucap syukur.
3. Persekutuan pribadi dengan Allah.
4. Mengingat peranan Allah dalam sejarah.
5. Perasaan dibebaskan dari musuh.
Telah ada banyak usaha untuk mengklasifikasi mazmur-mazmur menurut sebuah patokan yang sudah
dipertimbangkan sebelumnya. Mowinckel dan lain-lain memusatkan klasifikasi mereka pada isi
dengan mengembangkan berbagai sub-divisi berdasar topik secara rinci. Yang lain berusaha
mengungkapkan suasana hati dari penulis setiap mazmur. Kalangan yang lain lagi telah
menggunakan berbagai jenis mazmur sebagai kriteria klasifikasi. Ini berawal hanya dengan
pembagian menjadi tiga yaitu nyanyian pujian, doa dan kidung iman. Baru-baru ini Gunkel telah
melaksanakan pekerjaan yang sangat berharga dengan mengidentifikasi lebih jauh jenis-jenis atau
kategori ini. Dasar pikiran pokoknya ialah bahwa mazmur pada mulanya merupakan nyanyian
pemujaan yang dipakai saat Israel beribadah. Oleh sebab itu Gunkel menggolongkan setiap
mazmur menurut "rumusan yang berulang secara tetap" dari setiap jenis tertentu. Gunkel menemukan
lima jenis utama sebagai berikut:
1. Nyanyian Pujian.
2. Ratapan Nasional.
3. Mazmur Kerajaan (termasuk Mazmur Mesianis).
4. Ratapan Individu.
5. Ucapan Syukur Individu.
Kepada jenis-jenis ini Gunkel menambahkan beberapa jenis minor yang masing-masing jenisnya
hanya diwakili oleh beberapa mazmur saja.
6. Nyanyian Ziarah.
7. Ucapan Syukur Bangsa.
8. Syair Hikmat.
9. Liturgi Taurat.
10. Jenis-jenis Campuran.
Jenis-jenis ini merupakan skema yang terakhir dan paling mutakhir dari Gunkel (bdg. N. H. Snaith
dalam Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 235 dst.). Sebelumnya, Gunkel telah memasukkan
juga jenis-jenis minor lainnya seperti "Berkat dan Kutuk" serta "Mazmur Nubuat" (bdg. John
Patterson, The Praises of Israel, hlm. 32). Kepada jenis-jenis ini masih dapat ditambahkan Mazmur-
mazmur Mesianis.
Sekalipun usaha untuk merumuskan sebuah sistem klasifikasi itu sangat menarik, ada suatu
keadaan tidak menentu sekitar Kitab Mazmur yang tidak memungkinkan klasifikasi secara mutlak.
Keadaan tidak menentu ini disebabkan oleh sifat abadi dan universal dari kumpulan ini. Sebetulnya,
setiap metode klasifikasi memberi pandangan yang berbeda tentang Kitab Mazmur sehingga
memungkinkan seseorang memahami banyak seginya yang ada.
NILAI ABADI.
Kitab Mazmur mula-mula yaitu sebuah kesaksian yang hidup tentang iman Israel. Setiap mazmur
merupakan bukti tentang pemikiran dan perasaan dari orang Ibrani yang tidak terhitung jumlahnya.
Semua mazmur-mazmur itu menggemakan aspirasi dan harapan dari orang laki-laki dan wanita di
setiap era sejarah Israel. Di dalamnya tercermin kesulitan dan pergumulan umat Allah. Mazmur-
mazmur itu menunjukkan peziarahan dari keraguan menuju kepastian dalam abad-abad kritis dari
pimpinan Allah ini. Setiap mazmur itu senantiasa menunjuk kepada kemenangan atas keputusasaan
oleh iman kepada Allah yang hidup. Sejarah Israel jelas akan kurang tanpa bukti-bukti mengenai
tanggapan iman kepada penyataan Allah ini.
KEDUA, Kitab Mazmur merupakan suatu latar belakang yang penting bagi pelayanan Yesus. Dia
mempelajari Mazmur di dalam lingkungan keluarga Yahudi-Nya. saat dibaptiskan, misiNya
diutarakan dengan memakai kata-kata dari salah satu mazmur. Di kayu salib, sebuah mazmur diingat
oleh-Nya pada saat-saat terakhir-Nya di situ. Mazmur lebih banyak dikutip di dalam Perjanjian Baru
dibandingkan dengan kitab lain apa pun dari Perjanjian Lama. ada sekitar seratus acuan atau
petunjuk langsung dari Kitab Mazmur di dalam Perjanjian Baru. Frasa-frasa dan ayat-ayat dibawa
untuk menjelaskan, sifat dan pesan Yesus selaku Mesias.
KETIGA, Kitab Mazmur terbukti merupakan sumber yang sangat diperlukan untuk bahan ibadah.
Orang Kristen di seluruh dunia telah terbantu untuk menghampiri Allah secara pribadi di dalam
penyembahan. Mzm 51 mengutarakan pikiran dari orang berdosa yang bertobat. Mzm 32
menunjukkan betapa sukacita yang bisa dialami oleh seorang yang memperoleh pengampunan dosa.
Mzm 23 mengungkapkan rasa percaya yang biasa dimiliki oleh banyak anak Tuhan. Mzm 103
menyampaikan pujian kepada Allah yang seharusnya dilakukan semua orang percaya. Mazmur-
mazmur yang lain memuaskan kebutuhan ibadah yang mendasar, memperkaya pengalaman pribadi
setiap orang yang mencari.
Akhirnya, Kitab Mazmur telah menjadi kitab puji-pujian sepanjang zaman. Tidak ada kitab pujian lain
yang telah dipakai demikian lama oleh demikian banyak orang. Kitab ini dibaca, dikidungkan atau
dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun. Samuel Terrien mengatakan tentang hal ini , "Tidak ada
kitab pujian dan doa lain yang sudah dipakai selama waktu demikian lama dan oleh demikian banyak
orang laki-laki’ dan wanita yang sangat beragam" (The Psalms and Their Meaning Today, hlm.
vii). Pada zaman informal, Kitab Mazmur memberi suatu bahasa yang sangat diperlukan untuk
penyembahan. Melalui ciptaan Luther, "A Mighty Fortress Is Our God," ciptaan Isaac Watts, "Jesus
Shall Reign," dan juga, "O God, Our Help in Ages Past," pesan Kitab Mazmur berkumandang di
seluruh dunia.
MAZMUR
SUSUNAN YANG ADA SEKARANG DARI KITAB MAZMUR JELAS MENUNJUKKAN
GARIS BESARNYA SENDIRI:
• JILID I. MZM 1:1-41:13.
• JILID II. MZM 42:1-72:20.
• JILID III. MZM 73:1-89:52.
• JILID IV. MZM 90:1-106:48.
• JILID V. MZM 107:1-150:6.
AMSAL
AJARAN DARI AMSAL.
Inti dari Kitab Amsal ialah ajaran tentang prinsip moral dan prinsip etika. Keunikan kitab ini yaitu
bahwa sebagian besar isinya merupakan ajaran yang disajikan dengan cara memperlihatkan
kontrasnya. Yang terutama patut diperhatikan ialah pasal Ams 10; 11; 12; 13; 14; 15, di mana hampir
setiap ayat dipisahkan dengan kata "namun ."
Pada bagian pertama, pasal Ams 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9, juga dipergunakan kontras-antara yang baik
dan yang jahat. Kebaikan dalam bagian ini ditunjukkan secara menonjol oleh beberapa kata-hikmat,
didikan, pengertian, kebenaran, keadilan, kejujuran, pengetahuan, kebijaksanaan, ilmu, pertimbangan-
pertimbangan-namun khususnya hikmat, yang muncul tujuh belas kali pada bagian ini dan dua puluh
dua kali pada bagian selebihnya dari kitab ini. Teks penting dari kitab ini ialah pernyataan terkenal
pada Ams 1:7, "Takut akan TUHAN yaitu permulaan pengetahuan," yang diulang pada akhir bagian
ini (Ams 9:10). Pernyataan ini muncul kembali kata per kata secara alfabetis (dengan klausa dibalik)
dalam Mzm 111:10, dan dalam bentuk yang hampir sama, sebagai klimaks dari Ayub pasal Ams 28,
yang menggambarkan secara puitis sekali pencarian akan hikmat.
Yang unik pada bagian Amsal ini ialah personifikasi hikmat sebagai seorang wanita . Ini terlihat
pertama kali dalam Ams 3:15. Sebetulnya, kata ganti dalam Ams 3:15-18 yang merujuk pada hikmat
dapat diterjemahkan dengan "itu" (Ing., it) maupun "dia" (Ing., she), namun personifikasi ini
diterima sebab rujukan-rujukan sesudahnya. Ams 7:4 membuka jalan bagi personifikasi ini ,
"Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku wanita ."’ Personifikasi itu menjadi jelas
dalam pasal Ams 8; 9, di mana Hikmat mengundang orang-orang tidak berpengetahuan untuk ikut
dalam perjamuannya. Hanya di dalam Kitab Amsal dan hanya pada bagian pertama inilah hikmat
dipersonifikasikan seperti itu.
Untuk memahami bagian pertama ini orang perlu sekali mengenali personifikasi ini . sebab kata
"hikmat" dalam bahasa Ibrani merupakan kata benda jenis feminin, maka wajar jika kata ini
dipersonifikasikan sebagai seorang wanita . Lebih penting lagi, penulis Amsal membedakan
antara "hikmat," wanita yang bijaksana, dengan wanita sundal, wanita asing.
Sebagaimana hikmat berarti semua kebajikan, demikian juga barangkali wanita asing ini
melambangkan dan menyiratkan segala dosa.
Kontrasnya sengaja dipersiapkan secara artistik. Hikmat berseru-seru di jalan-jalan (Ams 8:3). Ia
mengajak, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" (Ams 9:4). Sebaliknya, wanita
bebal yang mengajak menikmati air curian dan yang tamu-tamunya, yaitu penghuni dunia orang
mati (Ams 9:17,18), memberi undangan yang sama, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah
ke mari" (Ams 9:16). Hikmat mengajak orang tak berpengalaman untuk membuang dosa; wanita
sundal mengajaknya untuk menuruti nafsunya.
Dengan demikian, bagian ini, Ams 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9, mempertentangkan dosa dengan
kebenaran. Kata-kata seperti "hikmat," "didikan," "pengertian," dan sebagainya pada seluruh bagian
ini bukan saja berarti kecerdasan dan kecakapan manusia, melainkan juga berlawanan dengan hal
yang jahat. Jadi, yang dimaksud hikmat di sini yaitu sifat moral. Perlu diperhatikan bahwa ini
merupakan pemakaian yang khusus. Pada sebagian besar pemakaian dalam Perjanjian Lama, hikmat
yaitu sekadar kecakapan atau kecerdikan. Bahkan dalam Kitab Pengkhotbah di mana hikmat juga
ditekankan, hikmat yaitu sekadar kecerdasan manusia dan sebab nya termasuk di dalam kesia-siaan
(Pkh 2:12-15). Hanya dalam Ayb 28 dan dalam mazmur-mazmur tertentu (37:30; 51:8; 90:12;
111:10) konsep dari Kitab Amsal mengenai hikmat tampak nyata. Bahkan hikmat (kebijaksanaan)
yang membuat Salomo termasyhur dalam kitab-kitab sejarah, sebenarnya bukan hikmat ini. Salomo
Page 58 of 130
termasyhur sebab kecakapannya dalam ilmu alam (1Raj 4:33) dan hukum (1Raj 3:16-28) dan
kecerdikannya yang luar biasa (1Raj 10:1-9). Amsal menambahkan konsep tentang ketajaman
mental, kelurusan moral, yang merupakan satu-satunya hal yang menjadikan akal budi berarti.
Pada bagian kedua, Amsal Salomo, Ams 10:1-22:16, ajarannya disajikan, nyaris hanya melalui
pernyataan satu ayat. Pada seluruh pasal Ams 15, ajaran diberikan lewat kontras yang ditunjukkan
oleh kata "namun " di tengah hampir setiap ayat. sebab nya, lebih sering muncul persamaan gagasan
daripada perbedaan.
Bagian ini meliputi pokok yang luas dan tak teruraikan. namun , sudut pandangnya konsisten. Salomo
membedakan hikmat dengan kebodohan. Dan sebagaimana dalam Bagian 1, ini bukan pertentangan
antara kecerdasan dengan kebodohan akal budi manusia, melainkan pertentangan antara hikmat
(kebijaksanaan) moral dengan dosa. Pada bagian ini, hikmat tidak pernah dipersonifikasikan, namun
sinonim-sinonim yang sama untuk kata itu pada Bagian I dipakai di sini-pengertian, kebenaran,
didikan/ajaran. Orang bodoh juga mempunyai sinonim-sinonim: pencemooh, pemalas, orang curang.
Bagian-bagian berikutnya (lihat Garis Besar) melanjutkan tema ini. Seperti ditunjukkan oleh Toy
(Crawford H. Toy, ICC dalam Proverb, hlm. xi), etika dalam kitab ini sangat tinggi. Di sini
ditekankan tentang kejujuran, kesetiaan, penghargaan terhadap jiwa dan hak milik. Orang didorong
untuk memperjuangkan keadilan, cinta kasih, dan belas kasihan kepada orang lain. Suatu kehidupan
rumah tangga yang baik, disertai didikan yang hati-hati terhadap anak-anak dan kedudukan yang
terhormat bagi wanita tercermin di sini.
Mengenai pandangan keagamaan, Tuhan dipahami sebagai pencipta moralitas serta keadilan, dan
tersirat juga monoteisme. namun , di sini sedikit sekali disebut tentang Hukum Taurat dan nubuat
(Ams 29:18), keimaman dan persembahan kurban (Ams 15:8; 21:3,27). Sang penulis sendiri yang
berbicara, dengan mengajarkan prinsip-prinsip bahwa perilaku yang benar berasal dari Tuhan.
KEPENULISAN.
Nama Salomo muncul pada tiga bagian kitab ini-Ams 1:1; 10:1; 25:1. Jadi, ada klaim bahwa bagian-
bagian pokok kitab ini ditulis oleh Salomo, sesungguhnya dia juga menulis semua bagian, kecuali
Bagian III, Ams 22:17-24:22; IV, Ams 24:23-34; dan VI, Ams 30:1-31:31. Para sarjana kritis
membantah klaim ini. Toy (op. cit. hlm. xix), yang membantah bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa
dan berpendapat bahwa Yesaya dan para nabi bukanlah penulis kitab-kitab yang berkaitan dengan diri
mereka, cukup wajar untuk tidak mengakui Salomo sebagai penulis karya ini. berdasar banyak
petunjuk internal, dia menyatakan bahwa kitab ini ditulis pada zaman pasca-Pembuangan. Driver
(S. R. Driver, Introduction to the Literature of the Old Testament, edisi keempat, hlm. 381 dst.)
berpendapat bahwa bagian-bagian kitab ini berasal dari zaman pra-Pembuangan, namun sedikit saja-
kalaupun ada-yang ditulis oleh Salomo. Pfeiffer (Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old
Testament, hlm. 649-659) meneliti ciri-ciri khas internal Kitab Amsal dan berpikir untuk menetapkan
tanggal dari berbagai strata. sebab sastra hikmat di Mesir pada sekitar 1700-1500 SM murni bersifat
sekular, dia berkesimpulan bahwa strata keagamaan dalam Amsal pasti berasal dari abad keempat
SM. Setelah puas merekonstruksi sejarah pemikiran di Israel, dia menetapkan tanggal Kitab Amsal
dalam kaitan dengan perkembangan itu. Kesimpulannya yaitu bahwa kitab ini diselesaikan sesudah
400 SM dan beberapa waktu sebelum akhir abad ketiga SM.
W. F. Albright ("Some Canaanite-Phoenician Sources of Hebrew Wisdom" dalam Wisdom in Israel
and the Ancient Near East, disunting oleh M. Noth dan D. W. Thomas, hlm. 13) mempelajari
kemiripan bahasa Kitab Amsal dengan bahasa Ugarit, lalu dia berpendapat bahwa kitab ini
"seluruh isinya barangkali berasal dari zaman pra-Pembuangan, namun bahwa kebanyakan dari
padanya disampaikan secara lisan hingga abad kelima. Dia berpendapat bahwa Salomo mungkin
menulis bagian intinya. Lihat juga artikel oleh salah seorang murid Albright, Cullen I. K. Story, "The
Book of Proverbs and Northwest Semitic Literature," JBL, LXIV (1945), 319-337. Charles T. Fritsch
Page 59 of 130
(The Book of Proverbs, IB, Vol. IV, hlm. 775) berdasar alasan-alasan seperti itq mengemukakan
pendapat yang sangat mirip. Oesterley (W. O. E. Oesterley, The Book of Proverbs, hlm. xxvi)
memberi tanggal sebelum zaman Pembuangan untuk sebagian besar kitab itu, namun untuk Bagian I,
Ams 1:1-9:18, dan Bagian VI, Ams 30:1-31:31, dia memberi tanggal abad ketiga "dan sangat
mungkin lebih belakangan lagi."
Faktanya yaitu bahwa perhatian paling teliti atas bukti-bukti internal ini tidak dapat menetapkan
tanggal untuk kitab ini atau kumpulan-kumpulannya. Sekalipun amsal-amsal sekular mungkin
lahir lebih dulu daripada amsal-amsal keagamaan, atau sekalipun aforisme satu baris ada lebih dulu
daripada bentuk-bentuk amsal yang lebih maju, toh perkembangan bentuk-bentuk amsal yang rumit
dan bersifat keagamaan pasti telah berkembang sepenuhnya sebelum zaman Salomo. Sekalipun
Yeremia melawan orang-orang bijaksana pada zamannya (Yer 18:18), hal ini tidak memberi bukti
apa-apa mengenai tanggal penulisannya. Dia juga menentang para imam, para nabi dan para raja,
namun itu tidak membuktikan bahwa jabatan-jabatan ini berasal dari zaman pasca-Pembuangan!
Pendekatan paling menjanjikan untuk menentukan tanggal penulisan berdasar kriteria internal
ialah pendekatan Albright melalui perbandingan kata-kata dan bentuk-bentuk dalam bahasa Ugarit.
Bukti-bukti eksternal kita tidak begitu lengkap seperti yang kita harapkan, namun itu tidak boleh sama
sekali dihilangkan. Sebagai contoh, Ams 15:8 dikutip dengan rumusan, "Ada tertulis," dalam
Dokumen Imam Zadok (kolom XI, baris 20; C. Rabin, The Zadokite Documents, hlm. 58). Ini
menunjukkan bahwa kitab ini dianggap sebagai kanonik pada abad kedua SM. Karya Salomo
mengenai "amsal dan perumpamaan" disebut dalam Kitab Yesus bin Sirakh 47:17, bertanggal sekitar
180 SM. Meskipun demikian, tidak ada bukti eksternal sebelum ini. Oesterley menyatakan adanya
kasus peminjaman dari Amsal oleh Story of Ahikar dalam abad kelima (lih. tafsiran tentang Ams
23:14).. Pendapat orang mengenai tanggal penulisan Kitab Amsal sangat dipengaruhi oleh
pandangannya tentang kitab-kitab lainnya. Jika orang berpendapat bahwa Pentateukh belum ditulis
sampai 400 SM dan Kitab-kitab para nabi sebagian besar berasal dari zaman pasca-Pembuangan,
maka dia pasti akan menolak bahwa Salomo menulis Kitab Amsal. namun , jika tanggal penulisan
ditetapkan pada zaman pra-Pembuangan untuk Pentateukh, Mazmur dan Kitab-kitab Para Nabi
(sebagaimana oleh pengarang ini) maka tampaknya tidak ada alasan yang kuat untuk menyangkal
anggapan tradisional bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang menyebut namanya.
Fritsch (op. cit., hlm. 770) keberatan terhadap kebiasaan mengagung-agungkan kebijaksanaan Salomo
padahal "dia telah melakukan banyak kekeliruan yang bodoh dalam segala bidang sepanjang
hidupnya." Rasanya ini yaitu penilaian yang kasar terhadap raja Israel yang paling cemerlang ini.
Bahwa dia telah melakukan kesalahan-kesalahan pada masa pemerintahannya yang panjang selama
empat puluh tahun, itu yaitu jelas; namun arkeologi memberi kesaksian mengenai kecakapan
Salomo di bidang arsitektur, kemampuan dalam pemerintahan, dan berbagai penemuan dalam bidang
teknik yang berhubungan dengan pengecoran tembaga di Ezion-Geber. Memang, pada masa tuanya
dia bersifat menindas (1Raj 12:10), namun kemunduran pada masa tuanya itu jangan sampai membuat
kita lupa pada kecemerlangannya saat muda. Lebih banyak kritikus menyatakan keberatan terhadap
karakter Salomo sebab dia memiliki banyak sekali isteri. Akan namun , penelitian yang cermat
terhadap berbagai teks (dan itu yaitu satu-satunya sumber kita) memperlihatkan bahwa teks-teks itu
tidak menggambarkan Salomo sebagai manusia penuh nafsu. Sebagai seorang raja penting atas suatu
wilayah yang mencakup banyak raja kecil dari negara-negara kota (polis), Salomo pasti mengadakan
banyak perjanjian. Tentu saja, dalam banyak kasus, perjanjian-perjanjian seperti itu dikuatkan oleh
perkawinan Salomo dengan anak wanita para raja kecil itu, sebagaimana kebiasaan kuno dan
sebagaimana dalam kasus aliansi dengan Mesir (1Raj 9:16,17). Tidak diragukan bahwa perkawinan-
perkawinan Salomo sebagian besar merupakan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik. Kesalahan
Salomo sebagian besar bukan terletak pada nafsu, melainkan pada tindakannya mengizinkan para
isterinya-yang dari segi politik penting-membawa masuk penyembahan kafir mereka ke dalam kota
Allah (1Raj 11:7-9).
Kita sama sekali tidak mengetahui siapa penulis bagian-bagian lain dari Amsal (III, Ams 22:17-
24:22*; IV, Ams 24:23-34; VI, Ams 30:1-31:31). Lihat berbagai keterangan di dalam Tafsiran.
sebab nya, kita tidak mungkin bersikap dogmatis mengenai tanggal penulisan bagian-bagian ini ,
kecuali mengatakan bahwa kita tidak perlu menetapkan tanggal penyuntingan final kitab ini
sesudah berdasar tradisi zaman Alkitab berakhir-yaitu sekitar 400 SM.
KUMPULAN-KUMPULAN DALAM KITAB AMSAL.
Toy (op. cit., hlm. vii, viii), dan orang-orang lain yang mengikuti pandangannya berpendapat bahwa
munculnya kalimat atau ayat yang sama pada ‘banyak bagian kitab ini menunjukkan adanya penulis-
penulis berbeda untuk bagian-bagian itu. Toy mencatat lebih dari lima puluh persamaan, meskipun
sebagian tidak terlalu mirip. Dia secara kurang hati-hati mengabaikan Ams 15:13; 17:22. Sebagian
besar dari persamaan ini diberi perhatian dalam bagian Tafsiran tentang pembahasan ini. Toy tidak
memberi perhatian yang cukup terhadap fakta nyata bahwa dalam banyak.hal bagian dari sebuah
ayat diulang dengan variasi-variasi yang mungkin penting. Pengulangan ini tidak memberi
bukti apa-apa mengenai adanya kumpulan amsal dari penulis-penulis berbeda. Kadang-kadang
pengulangan ini juga berada dalam bagian yang oleh Toy dianggap merupakan kumpulan yang
menyatu, seperti Ams 14:12; 16:25. Di sini Toy terpaksa memberi kesan bahwa ada kumpulan-
kumpulan tambahan. Lebih jauh, ada pengulangan serupa pada sebuah karya dari Mesir yang
dianggap ditulis oleh penulis yang sama (bdg. Tafsiran dari Ams 22:28). Kelihatannya pendapat Toy
didasarkan pada asumsi yang keliru. Jelas bahwa ada beberapa kumpulan berbeda dalam Amsal,
sebagaimana ditunjukkan oleh judul-judulnya; namun bukti-bukti internal berupa kesamaan-kesamaan
ini tidak cukup untuk membantah bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang dinyatakan berasal dari
dia.
AMSAL DAN SASTRA HIKMAT LAIN.
Sebagaimana penulisan puisi pada zaman purba tidak terbatas pada bangsa Ibrani, demikian juga
bentuk sastra dari Amsal bukanlah khas Ibrani. Kita tidak perlu heran jika menemukan kumpulan-
kumpulan amsal di Mesir dan Mesopotamia pada zaman purba. Beberapa karya seperti itu patut
diperhatikan, namun ada dua yang paling penting-Story of Ahikar dan Wisdom of Amen-em-opet, yang
harus dianggap rendah dalam beberapa detail.
Salah satu yang paling tua di antara karya-karya Hikmat ini yaitu Instruction of Ptah-Hotep, yang
berasal dari sekitar 2450 SM di Mesir. Ada beberapa hal dalam karya ini yang diduga memiliki
persamaan dengan Kitab Amsal, namun gaya penulisannya seperti amsal dan dalam beberapa hal
gagasan-gagasannya sama. Misalnya, dalam Instruction of Ptah-Hotep ada perintah agar anak-anak
taat, perintah agar rendah hati, bersikap adil, berhati-hati jika berada di meja orang yang terhormat,
lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dan sebagainya. Jelas nasihat yang saleh seperti itu
sudah ada sejak lama dan merupakan sifat lazim masyarakat Timur. Persamaan antara tulisan-tulisan
itu dengan Amsal tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul kitab yang kita bicarakan ini.
Pandangan serupa berlaku untuk Instruction of Ani dan sastra Mesir mula-mula lainnya. Beberapa
karya sastra Mesopotamia patut diperhatikan. Apa yang dikenal sebagai Ayub versi Babel, berjudul I
Will Praise the Lord of Wisdom, mengingatkan kita pada Ayub dam Alkitab kita. Di situ diceritakan
seorang laki-laki dengan penyakit hebat yang disembuhkan oleh dewa-dewa. Ada juga Dialogue
about Human Misery, yang kadang-kadang disebut Kitab pengkhotbah versi Babel. Kesamaan kata-
katanya dengan Kitab Pengkhotbah kecil sekali, namun di dalamnya ada beberapa petuah.
Berbagai batu tulis dari Babel yang berasal dari abad kedelapan SM atau sebelumnya, berisi juga
amsal-amsal yang menasihati orang untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, tidak berkata-kata
gegabah, tidak ikut dalam pertengkaran orang lain, dsb. Lagi-lagi, sebab prinsip-prinsip moral ini
sangat umum, maka keberadaannya di dalam batu-batu tulis itu tidak membuktikan apa-apa mengenai
asal-usul Kitab Amsal, kecuali bahwa kitab itu dengan demikian seharusnya dianggap bertentangan
Page 61 of 130
dengan latar belakangnya. Sebagaimana Musa mungkin mengambil dari hukum-hukum Hammurabi,
dan sebagaimana Daud menggunakan beberapa bentuk puisi Kanaan, demikian juga Salomo dan para
penerusnya mempunyai kekayaan materi latar belakang untuk digunakan sebagai ilustrasi. namun ,
dalam semua hal ini, bahan kuno yang bersifat umum itu dibentuk lagi oleh sang penulis Ibrani, yang
dengan ilham Roh Allah menulis penyataan Allah bagi umat-Nya. (Semua tulisan ini dapat dilihat
secara enak dalam koleksi hasil suntingan James B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to
the Old Testament, edisi kedua).
Yang lebih penting bagi penelaahan kita ialah Story of Ahikar, sebuah cerita dari Mesopotamia yang
dibumbui banyak amsal. Cerita ini telah lama dikenal, sebab ada bagian-bagiannya yang muncul
pada tulisan-tulisan pengarang Kristen mula-mula. namun pada tahun 1906, sebelas lembar papirus
yang memuat kisah ini ditemukan dalam penggalian-penggalian terhadap koloni Yahudi di
Elefantin, Mesir. Salinan ini berasal dari sekitar 400 SM. Ahikar yaitu penasihat Raja Sanherib dan
Raja Esarhaddon di Asyur (Siria) sekitar 700 SM. Dia mengadopsi kemenakan laki-lakinya, yang
dengan tipu muslihat membujuk raja untuk mengeksekusi Ahikar. namun , sang eksekutor yang
bersahabat dengan terhukum, menyembunyikan Ahikar untuk sementara, kemudian memulihkan
kedudukannya saat murka raja telah mereda. Dua pertiga dari buku kecil ini berisi ucapan-ucapan
Ahikar yang menampilkan beberapa persamaan dengan Amsal. W. O. E. Oesterley dalam The Book
Of Proverbs (hlm. xxxvii-lii) mencatat tiga puluh tiga persamaan, yang barangkali merupakan jumlah
yang agak dibesar-besarkan. Story (op. cit. hlm. 329-336) juga memberi perbandingan-
perbandingan penting. Sebagian besar dari persamaan-persamaan ini bersifat umum. Misalnya, Ahikar
memperingatkan orang untuk tidak memandang wanita yang dandanannya merangsang atau
menaruh nafsu birahi terhadapnya, sebab ini yaitu dosa terhadap Allah (bdg. Ams 6:25, dsb.). Dia
juga mendesak seorang ayah untuk menundukkan anak laki-lakinya saat anak itu masih muda, jika
tidak maka dia akan memberontak saat dia merasa lebih kuat (bdg. Ams 19:18). namun , disangsikan
bahwa ada kaitan langsung antara amsal-amsal Ahikar dengan amsal-amsal dalam Alkitab. Lebih
jauh, amsal-amsal dari Ahikar kurang memiliki nilai moral seperti Kitab Amsal. Amsal-amsal ini
tidak menampilkan perbedaan antara orang bijaksana dengan orang berdosa, yang menjadi ciri khas
dari Amsal; sebaliknya amsal-amsal itu lebih bersifat sekular. Meskipun demikian, Kitab Amsal
kadang-kadang memakai latar belakang sekular ini untuk mengembangkan ajaran moralnya.
Sesungguhnya, sulit menentukan-jika ada ketergantungan-karya mana yang menjadi peminjam. Story
of Ahikar, kendatipun berlatar belakang Asyur, telah beredar di antara bangsa Yahudi dan di
kemudian hari di antara orang-orang Kristen. Salinan terbaik yang kita miliki yaitu dari sumber
Yahudi. Amsal-amsal Ahikar sangat mungkin dipengaruhi oleh Kitab Amsal atau oleh
perbendaharaan amsal umum bangsa Yahudi, (lihat Tafsiran tentang Ams 23:14 mengenai
kemungkinan Ahikar meminjam dari Amsal).
Beberapa orang menganggap kasus ini berbeda dengan Wisdom of Amen-em-Opet bangsa Mesir.
Kumpulan amsal yang luar biasa ini bahkan lebih banyak memiliki kesamaan dengan kitab dalam
Alkitab daripada yang dimiliki Ahikar. Tanggal penyusunannya tidak pasti. Papirus di atas lebih baru
daripada karya ini, namun papirus sendiri tidak dapat diketahui tanggalnya. F. Ll Griffith mengerjakan
penerjemahan utama dari bahasa Mesir. Oesterley melaporkan tanggal yang diberikan oleh Griffith
untuk kitab ini ialah abad ketujuh sampai keenam SM, sedang H. O. Lange bahkan memberi
tanggal yang lebih belakangan. Oesterley sendiri menetapkan tanggal karya ini yaitu abad
kedelapan atau sesudahnya (The Wisdom of Egypt, hlm. 9, 10). Albright mendukung tanggal lebih
awal, kira-kira 1100-1000 SM (op. cit. hlm. 6). Jika tanggal ini diterima, gagasan apapun mengenai
asal-usulnya pasti bermuara pada karya asli bangsa Mesir. John A. Wilson (ANET, hlm. 421), dalam
terjemahannya atas karya ini , tidak mempunyai komitmen apapun mengenai tanggal penulisan.
Sifat dari persamaan-persamaan ini harus diamati. Dalam telaahnya yang tajam, Oesterley
melihat bahwa Wisdom of Amen-em-Opet sama sekali tidak berciri Mesir. Karya ini memiliki etika
yang tinggi serta konsep mulia tentang Allah-menunjuk pada semacam monoteisme. Dia menyatakan
bahwa "yang seperti itu tidak ditemukan di manapun dalam sastra Mesir zaman pra-Kristen" (op. cit.,
Page 62 of 130
hlm. 24). Oesterley menemukan beberapa persamaan dengan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama
selain Amsal, misalnya Ul 19:14; 25:13-15; 27:18; 1Sam 2:6-8; Mzm 1; Yer 17:6 dst.). namun ayat-
ayat ini tidak terlalu penting, sebab sebagian besar membicarakan tema-tema yang juga ada
dalam Kitab Amsal, di mana ada banyak persamaan-Oesterly mencatat lebih dari empat puluh
persamaan (The Book of Proverbs, hlm. xxxvii-liii). Persamaan-persamaan itu ada dengan banyak
bagian dari Amsal. namun , yang paling menonjol yaitu dengan bagian Ams 22:17-23:14. Semuanya
kecuali lima dari ayat-ayat ini memiliki persamaan dengan Amen-em-Opet. Yang paling mencolok
dari semua, kitab Mesir ini dibagi menjadi tiga puluh pasal (yang cukup panjang) dan ditutup dengan
nasihat untuk menaati tiga puluh pasal ini. Bagian ini dalam Kitab Amsal, yang meluas sehingga
mencakup Ams 22:17-24:22, katanya berisi tiga puluh petuah (Oesterley, op. cit. hlm. 192). Kata
pengantar dari bagian ini dalam Amsal yaitu "Bukankah sudah kusuratkan bagimu beberapa perkara
yang indah" (Ams 22:20, dalam Terjemahan Lama). Ini bisa dengan lebih benar dibaca dengan
sedikit sekali vokal yang berbeda, "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu" (dari Alkitab versi
Bahasa Indonesia Sehari-hari). Harus diakui bahwa penemuan hanya tiga puluh petuah dalam enam
puluh sembilan ayat ini agak tidak terduga. Dan tiga puluh petuah ini nyaris tidak sepanjang tiga
puluh pasal dari kitab Mesir itu. Toh, persamaannya menonjol. Oesterley (The Wisdom of Egypt, hlm.
105) menunjukkan fakta yang aneh bahwa bagian Ams 22:17-23:12 mempunyai persamaan dengan
seluruh ayat kecuali tiga ayat pada bagian-bagian yang terserak dalam karya Mesir itu. namun , bagian-
bagian lain dari Amsal yang mempunyai lebih sedikit persamaan, yakni pada umumnya persamaan
dengan pasal X dan pasal XXI dari Amen-em-Opet. Dari sini dia menjelaskan dengan cukup masuk
akal bahwa penggunaan bahan pinjaman berbeda pada bagian-bagian yang berlainan dari dua kitab
itu. Tidak ada karya yang meminjam langsung dari karya lainnya. Pada beberapa bagian, dua-duanya
diambil dari sumber petuah-petuah yang sama. namun dari keunikan karya bangsa Mesir itu Oesterley
berpendapat bahwa dua-duanya bersumber pada latar belakang hikmat dan teologi Ibrani:
Barangkali kita bisa melihat lebih jauh. Banyak yang telah diperoleh dari bacaan, "Tiga puluh petuah
sudah kutuliskan untukmu." Jelas bahwa tiga puluh petuah dalam bagian Amsal ini bukan disalin dari
kitab bangsa Mesir yang terdiri dari tiga puluh pasal di atas. Sebenarnya, separuh terakhir dari bagian
dalam Kitab Amsal tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kitab Mesir itu. Kata "tiga puluh"
dalam Amsal mungkin mengikuti contoh "tiga puluh" pada karya bangsa Mesir, namun bagaimanapun
juga, itu bukan dipinjam secara meniru mentah-mentah. Sebaliknya, kita perlu melihat di sini contoh
lain tentang pemakaian khusus bilangan dalam sastra Hikmat. Contoh-contoh yang terkenal ialah
keterangan-keterangan yang berbentuk klimaks "tiga hal… bahkan, ada empat hal" yang terlalu sulit
untuk dimengerti (Ams 30:18 dst.) atau "enam perkara bahkan, tujuh perkara" (Ams 6:16-19).
Keterangan-keterangan itu dapat dicocokkan dengan sastra Ugarit. Baal dikatakan membenci dua
persembahan, bahkan tiga (C. H. Gordon, Ugaritic Literature, hlm. 30). Baal merebut enam puluh
enam kota, bahkan tujuh puluh tujuh kota (ibid., hlm. 36). Kemudian, tujuh puluh tujuh saudara,
bahkan delapan puluh delapan yang disebutkan (i bid., hlm. 55). Banyak contoh lain dapat diberikan.
Tampaknya dalam petuah-petuah dari Amen-em-Opet dan dalam Ams 22:20 kita mempunyai dua
contoh pemakaian tertulis dari bilangan tiga puluh, yang mungkin dapat diperbanyak jika sumber-
sumber kita mengenai Hikmat bangsa Mesir dan bangsa Ibrani kuno lebih lengkap. Mengenai
perbandingan-perbandingan yang rinci dari Kitab Amsal dengan peribahasa-peribahasa Mesir, lihat
tafsiran atas ayat-ayat di dalam Tafsiran.
Kita juga perlu menyebut dua kitab apokrif, Yesus bin Sirakh, kira-kira dari tahun 180 SM, dan
Kebijaksanaan Salomo, yang mungkin sedikit lebih belakangan. Yang luar biasa menarik, kitab-kitab
ini dalam beberapa hal mencontoh Kitab Amsal. namun , dua-duanya berasal dari zaman belakangan,
dan memperlihatkan perkembangan lebih jauh dalam personifikasi hikmat dan dalam soal-soal lain.
Materi-materinya diambil dari Kitab Amsal, bukan sebaliknya, dan sebab itu kita tidak perlu banyak
mengacu pada kitab-kitab ini untuk tujuan kita sekarang.
AMSAL
I. PENGHARGAAN SALOMO TERHADAP HIKMAT, YAITU TAKUT AKAN TUHAN.
AMS 1:1-9:18.
A. Pendahuluan. Ams 1:1-7
B. wanita bijaksana, Hikmat, lawan wanita jahat. Ams 1:8-9:18
II. BEBERAPA MACAM AMSAL SATU AYAT DARI SALOMO. AMS 10:1-22:16
A. Amsal-amsal yang menampilkan kontras. Ams 10:1-15:33
B. Amsal-amsal yang kebanyakan menampilkan persamaan. Ams 16:1-22:16
III. AMSAL-AMSAL ORANG BIJAK, TIGA PULUH AMS 22:17-24:22
IV. AMSAL-AMSAL ORANG BIJAK, TAMBAHAN. AMS 24:23-34
V. AMSAL-AMSAL SALOMO YANG DISUNTING OLEH PEGAWAI-PEGAWAI HIZKIA.
AMS 25:1-29:27
VI. TAMBAHAN YANG TERAKHIR. AMS 30:1-31:31.
A. Perkataan-perkataan Agur. Ams 30:1-33.
B. Perkataan-perkataan Lemuel. Ams 31:1-9.
C. Syair alfabetis tentang isteri yang cakap. Ams 31:10-31.
PENGKHOTBAH
Kitab Pengkhotbah mendapat namanya dari Alkitab versi Yunani, yang judulnya yaitu ekkle-
siaste-s, "sidang. Secara harfiah nama ini dalam bahasa Ibrani yaitu qõhelet, "orang yang
bersidang/berhimpun." Ini dianggap mempunyai arti:
1) "orang yang menghimpun" amsal-amsal bijak (bdg. Pkh 12:9,10), atau
2) "orang yang berbicara di hadapan sidang/perhimpunan," yaitu seorang pengkhotbah atau
pembicara, dengan pengertian bahwa orang menghimpun suatu kelompok orang untuk berbicara
kepada mereka. Pengertian umum dari masing-masing hal itu yaitu bahwa kata ini
merupakan suatu judul teknis untuk menunjukkan suatu jabatan.
Hingga abad kesembilan belas diyakini secara umum bahwa Salomo menulis seluruh kitab ini .
Kini sebagian besar pakar sependapat bahwa Salomo bukan sang penulis, sebaliknya karya ini
disusun pada zaman-zaman sesudah Pembuangan. namun , mereka biasa mengasumsikan bahwa
Salomo yaitu tokoh sentral kitab ini , dan bahwa seorang penulis yang tidak dikenal
menggunakan dia sebagai alat sastra untuk menyampaikan pesannya. Dia tidak bermaksud menipu
para pembacanya yang mula-mula, dan pasti kenyataannya tidak seorang pun disesatkan. Tidak
adanya kepastian tentang kepenulisannya tidak menghancurkan kanonitas kitab ini .
T U J U A N.
Maksud utama sang penulis ialah menunjukkan berdasar pengalaman pribadi bahwa apabila
semua tujuan dan berkat-berkat duniawi itu sendiri dijadikan tujuan akhir, akan membawa kepada
kekecewaan dan kehampaan. Kebajikan paling mulia dalam hidup ini ialah menghormati dan
mematuhi Allah, dan menikmati hidup ini sepanjang orang dapat melakukannya. Jadi, sang penulis
yaitu orang yang penuh iman; dia hanya sangsi pada usaha dan hikmat manusia.
PENGKHOTBAH
I. PENDAHULUAN PKH 1:1-3
A. Judul Pkh 1:1
B. Tema Pkh 1:2,3
II. TEMA DIPERLIHATKAN (I) PKH 1:4-2:26
A. Melalui Kehidupan Manusia Secara Umum Pkh 1:4-11
B. Melalui Pengetahuan Pkh 1:12-18
C. Melalui Kesenangan Pkh 2:1-11
D. Melalui Nasib Semua Manusia Pkh 2:12-17
E. Melalui Kerja Keras Manusia Pkh 2:18-23
F. Kesimpulan: Nikmatilah Hidup Sepanjang Anda Bisa Pkh 2:24-26
III. TEMA DIPERLIHATKAN (II) PKH 3:1-4:16
A. Melalui Hukum-hukum Allah Pkh 3:1-15
B. Melalui Kefanaan Pkh 3:16-22
C. Melalui Penindasan Kejahatan Pkh 4:1-3
D. Melalui Pekerjaan Pkh 4:4-6
E. Melalui Penumpukan Kekayaan Secara Kikir Pkh 4:7-12
F. Melalui Sifat Sementara dari Popularitas Pkh 4:13-16
IV. KATA-KATA NASIHAT (A) PKH 5:2-7
V. TEMA DIPERLIHATKAN (III) PKH 5:8-6:12
A. Melalui Kekayaan yang Dapat Dinikmati Pkh 5:8-20
B. Melalui Kekayaan yang Tidak Dapat Dinikmati Pkh 6:1-9
C. Melalui Kepastian Nasib Pkh 6:10-12
VI. KATA-KATA NASIHAT (B) PKH 7:1-8:8
A. Kehormatan Lebih Berharga daripada Kemewahan Pkh 7:1
B. Ketenangan Hati Lebih Baik daripada Kesembronoan Pkh 7:2-7
C. Sikap Hati-hati Lebih Baik daripada Gegabah Pkh 7:8-10
D. Hikmat Disertai Kekayaan Lebih Baik daripada Hikmat Belaka Pkh 7:11,12
E. Sikap Pasrah Lebih Baik daripada Sikap Mendongkol Pkh 7:15-22
F. Sikap Tidak Berlebihan Lebih Baik daripada Sikap Keterlaluan Pkh 7:15-22
G. Laki-laki Lebih Baik daripada wanita Pkh 7:23-29
H. Berkompromi Kadang Lebih Baik daripada Berjalan Lurus Pkh 8:1-8
VII. TEMA DIPERLIHATKAN PKH 8:9-9:16
A. Melalui Keanehan Kehidupan Pkh 8:9-13
B. Kesimpulan: Nikmatilah Hidup Sepanjang Anda Bisa Pkh 8:14-9:16
VIII. KATA-KATA NASIHAT PKH 9:17-12:8
A. Beberapa Pelajaran tentang Hikmat dan Kebodohan Pkh 9:17-10:15
B. Beberapa Pelajaran tentang Pemerintahan Para Raja Pkh 10:16-20
C. Beberapa Pelajaran tentang Sikap Berhati-hati Berlebihan Pkh 11:1-8

