an Markus lebih tertarik menuliskan pernyataan sang kepala
pasukan tentang keTuhanan Yesus, di sisi lain Lukas lebih meniliknya dari
segi kemanusiaan Yesus, sebagai salah satu tema pokok dalam kitabnya.
sebab itulah, ia menangkap pernyataan kepala pasukan seperti yang
tertulis dalam kitabnya.
74. Apakah Yesus mengatakan “TuhanKu, TuhanKu mengapa Engkau
meninggalkan Aku?” dalam bahasa Ibrani (Matius 27:46) atau dalam
bahasa Aram? (Markus 15:34)
(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Ibrani)
Pertanyaan apakah Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani atau bahasa Aram
di atas kayu salib dapat dijawab. sedang alasan mengapa Matius dan
Markus mencatat dalam dialek yang berbeda mungkin sebab sesudah
peristiwa itu terjadi, cara membicarakan peristiwa itu adalah dalam bahasa
Aram, dan mungkin juga disebabkan oleh para penerima Injil itu sendiri.
namun , semua itu bukan masalah yang valid bagi Alkitab.
Sebagian orang memperkirakan Markus 15:34 menggunakan bahasa Aram
dalam Perjanjian Baru, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani.” namun sebagian
lainnya meragukan Yesus berbicara dalam bahasa Aram, sebab orang-
orang di sekitar situ mendengar Yesus memanggil Elia (Matius 27:47 dan
Markus 15:35-36). Dengan penjelasan semacam ini orang akan
mengatakan bahwa Yesus berteriak, “Eli, Eli” dan bukan “Eloi, Eloi”
Mengapa? sebab dalam bahasa Ibrani, Eli dapat berarti “Tuhanku”,
ataupun kependekan dari Eliyahu, yaitu Elia. namun dalam bahasa Aram,
Eloi hanya dapat berarti “Tuhanku”, sehingga tidak mungkin dikelirukan
dengan nama nabi Elia.
Perlu diperhatikan bahwa kata “lama” (mengapa) sama-sama dipakai
dalam bahasa Ibrani dan bahasa Aram dan sabakh merupakan kata kerja
yang terdapat bukan saja dalam bahasa Aram namun juga Kitab Mishnah
berbahasa Ibrani.
Tampaknya Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani, lalu mengapa tercatat
juga kata-kata-Nya dalam bahasa Aram? Perlu diketahui bahwa Yesus
tinggal dalam kelompok masyarakat multi-bahasa. Ia amat mungkin dapat
berbicara bahasa Yunani (bahasa yang digunakan orang Yunani dan Roma),
bahasa Aram (digunakan oleh masyarakat Timur Dekat) dan bahasa Ibrani,
bahasa pengajaran dalam agama Yahudi, yang telah dihidupkan dalam
bentuk Mishnah Ibrani yang ditulis pada masa-masa pembangunan Bait
Tuhan kedua kalinya. Bahasa Ibrani dan Aram sama-sama berasal dari
bahasa Semit, dan sama-sama muncul dalam kitab Injil, jadi hal ini di
atas tidaklah mengherankan. Tidak menjadi masalah bagi orang Kristen
jika salah satu penulis kitab Injil menggunakan bahasa Ibrani sedang
yang lainnya menggunakan bahasa Aram yang amat mirip dengan bahasa
Ibrani itu. Alasan perbedaan penggunaan kedua bahasa itu mungkin
disebabkan sebab saat mereka mengingat dan mendiskusikan kisah
tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus, mereka
mempercakapkannya dalam bahasa Aram. Alasan di atas hanyalah
kemungkinan, kendati demikian pertanyaan Shabbir ini tetap tidak menjadi
masalah, kecuali Markus menuliskannya dalam bahasa Arab!
(Bivin/Blizzard 1994:10)
75. Apakah ucapan Yesus yang terakhir adalah, “Ya Bapa, ke dalam
tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46) atau “Sudah
selesai”? (Yohanes 19:30)
(Kategori: ayat-ayat diartikan secara sempit)
“Apa ucapan Yesus yang terakhir sebelum Ia mati?” itulah inti pertanyaan
Shabbir untuk menggiring kepada pertentangan di atas. Namun pertanyaan
di atas tidak menunjukkan pertentangan melainkan hanyalah pernyataan
yang berbeda dari dua pihak penyaksi pada saat kejadian, tergantung
dimana posisi mereka menggambarkan kejadian ini dari perspektif yang
berbeda. Lukas bukanlah saksi mata langsung dalam peristiwa ini, jadi ia
mencatat kata-kata penyaksi yang ada di sana pada saat itu. sedang
Yohanes adalah saksi mata peristiwa itu. Apa yang mereka berdua tuliskan
adalah moment-moment yang terakhir dari Yesus sebelum wafatNya.
Dalam keseluruhan ke 4 Kitab Injil, ada tercantum 7 tahapan perkataan
yang diucapkan Yesus selama Ia tergantung di kayu salib, yang diistilahkan
dengan “7 perkataan salib”. Tampak dari narasi penulisan maupun topiknya
bahwa 5 perkataan salib yang pertama diucapkan Yesus dalam jeda waktu
yang berbeda! (1) “Ampunilah mereka”, (2) “Engkau bersama Aku di
Firdaus”, (3) “Inilah anakmu!... Inilah ibumu”, (4) “Mengapa Engkau
meninggalkan Aku”, (5) “Aku haus”, (6) “Sudah selesai”, (7) “Kuserahkan
nyawaKu”.
Namun perkataan salib yang ke-6 dan ke-7 adalah ucapan yang dicatat
sebagai perkataan-perkataan yang paling akhir sesaat sebelum Yesus
menyerahkan nyawa-Nya.
Jika Yesus mengatakan „sudah selesai‟ kemudian disusul „Ya Bapa, ke
dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku‟, ataupun sebaliknya, maka
sebenarnya kedua perkataan salib yang terakhir ini justru merupakan
sebuah induk kalimat dengan diikuti anak kalimatnya. Dan pencatatan
terhadap salah satu dari klausa kalimat itu (yang mana saja!) tetap akan
terhisap sebagai ucapan Yesus yang terakhir.
Dapat dikatakan, Lukas menuliskan kata terakhir Yesus yang ia anggap
penting bagi kitabnya yang memang lebih menitikberatkan pada
kemanusiaan Kristus yang menyerahkan nyawa-nya kepada Bapa
(perhatikan pertanyaan sebelumnya). Disisi lain, Yohanes mengutip ucapan
terakhir Yesus dengan melihat kepada penggenapan nubuat yang dilakukan
Yesus, sehingga ia menuliskannya dengan “sudah selesai”. Dengan
pemahaman ini, tidak ada pertentangan dalam ayat-ayat ini melainkan
hanya perbedaan penekanan saja.
76. Apakah kepala perwira di Kapernaum datang sendiri kepada Yesus
dan meminta-Nya untuk menyembuhkan hambanya (Matius 8:5) atau
ia mengirimkan beberapa orang tua-tua Yahudi dan teman-temannya
menghadap Yesus? (Lukas 7:3-6)
(Kategori: ayat diartikan secara sempit dan salah memahami maksud
penulis)
Keadaan di atas bukan sebuah pertentangan melainkan lebih merupakan
kesalahpahaman terhadap isi cerita dan maksud penulis. Kepala perwira
pada awalnya mengirimkan pesan kepada Yesus melalui orang tua-tua
Yahudi. Dan tentu tidak menutup kemungkinan bahwa ia juga datang
kepada Yesus sesudah terjalin kontak dengan Yesus (dihubungi orang tua-
tua Yahudi). Matius menyebutkan kepala perwira yang menghadap, sebab
memang dia yang punya urusan (yang membutuhkan). Dari cerita-cerita
lainnya kita tahu baha perbuatan seseorang yang disuruhkan untuk
dikerjakan kepada orang lain adalah sebenarnya dilakukan melalui dirinya.
Contoh paling jelas dapat kita lihat dari baptisan yang dilakukan oleh
murid-murid Yesus namun Alkitab mengistilahkan bahwa Yesuslah yang
membaptis (Yohanes 4:1-2).
77. Apakah Adam mati pada saat ia memakan buah (buah pengetahuan
yang baik dan yang jahat, Kejadian 2:17), atau ia hidup sampai
berusia 930 tahun? (Kejadian 5:5)
(Kategori: salah memahami cara kerja Tuhan dalam sejarah)
Kitab Suci menggambarkan kematian dalam tiga bentuk, yaitu: 1) mati
secara fisik, yang ditandai dengan berakhirnya kehidupan di bumi; 2) mati
secara roh, yang ditandai dengan terputusnya hubungan dengan Tuhan;
dan 3) kematian kekal, yaitu di dalam neraka. Mati yang dibicarakan dalam
Kejadian 2:17 adalah kematian nomor dua yaitu terpisah dari Tuhan,
sedang kematian yang disebutkan dalam Kejadian 5:5 adalah kematian
yang pertama, yaitu mati secara fisik yang diakhiri dengan berakhirnya
kehidupan di dunia ini.
Seperti kekeliruan kebanyakan para Muslim, Shabbir pun melihat hal di
atas sebagai kontradiksi sebab ia tidak memahami pengertian maut secara
rohani yang artinya terpisah total dari Tuhan, sebab dia tidak melihat
bahwa Adam memiliki hubungan langsung dengan Tuhan yang dimulai
sejak pertama kali tinggal di Taman Eden. Padahal, pemisahan rohani
(yaitu kematian rohani) jelas-jelas ditunjukkan dalam Kejadian pasal 3
saat Adam diusir keluar dari Taman Eden dan jauh dari hadirat Tuhan.
Ironisnya, peristiwa diusirnya Adam dari Taman Eden juga terdapat dalam
Al Qur‟an (Sura 2:36). Keduanya diusir keluar tanpa alasan, sebab (seperti
yang diyakini oleh umat Islam) Adam telah diampuni dosanya. Bila tidak
berdosa, tentulah mereka tidak akan kehilangan Firdaus, suatu tempat
yang memang diciptakan Tuhan tadinya bagi ciptaan-Nya semula. Ini
merupakan contoh bagaimana Al Qur‟an meminjam cerita dari kitab
sebelumnya tanpa pemahaman sebenarnya atau signifikansinya, sehingga
terciptalah asumsi sendiri yang melatari kontradiksi di atas.
(Untuk lebih memahami pengertian dan signifikansi tentang kematian
rohani dan bagaimana hal ini telah memicu perselisihan hampir
di semua front di antara umat Kristen dan Islam, baca artikel yang berjudul
“The Humaneutical Key” oleh Jay Smith)
78. Apakah Tuhan menetapkan usia manusia hanya sampai 120 tahun
saja (Kejadian 6:3) atau lebih? (Kejadian 11:12-16)
(Kategori: salah membaca ayat)
Dalam Kejadian 6:3 kita baca:
“Berfirmanlah Tuhan: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam
manusia sebab manusia itu adalah daging, namun umurnya akan seratus
dua puluh tahun saja.”
Shabbir menganggap pernyataan ini bertentangan dengan usia orang-
orang yang pada waktu itu yang mencapai usia lebih dari 120 tahun seperti
yang disebutkan dalam Kejadian 11:12-16. Saya yakin hal ini terjadi
sebab Shabbir salah membaca atau salah memahami ayat bacaan di atas.
Seratus dua puluh tahun usia yang disebutkan Tuhan dalam Kejadian 6:3
tidak mungkin berbicara mengenai batas usia manusia sementara orang-
orang yang lebih tua umurnya disebutkan dalam kitab Kejadian (malahan
dalam pasal-pasal yang berdekatan, termasuk Nuh sendiri). Angka itu lebih
ditujukan untuk jangka waktu yang diberikan oleh Tuhan selama 120 tahun
sebelum air bah betul-betul didatangkan. Itulah jangka waktu peringatan
kepada Nuh, seperti yang kita baca dalam 1 Petrus 3:20: “Tuhan tetap
menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya.”
Dengan demikian ayat dalam Kejadian 6:3 akan selaras dengan yang
terdapat dalam Kejadian 11.
(Geisler/Howe 1992:41)
79. Selain Yesus apakah tidak ada orang lain yang telah naik ke surga
(Yohanes 3:13) atau ada? (2 Raja-raja 2:11)
(Kategori: salah memahami ayat)
Memang ada beberapa orang yang telah naik ke surga tanpa harus mati
seperti misalnya Elia dan Henokh (Kejadian 5:24). Dalam Yohanes 3:13
pengetahuan yang superior dari Yesus, tentang hal-hal surgawi sedang
ditonjolkan. Yesus sedang mengatakan “Tidak ada orang lain yang
pertama-tama dapat berbicara mengenai hal ini seperti Aku, sebab Aku
telah turun dari surga.” Ia menyatakan tidak seorangpun yang pernah naik
ke surga dan membawa pesan itu ke bawah seperti yang Ia bawa. Ia tidak
menyangkal bahwa ada orang lain yang juga naik ke surga seperti Elia dan
Henokh, namun Yesus lebih menekankan bahwa tidak ada orang di bumi ini
yang telah ke surga dan balik, dengan membawa pesan seperti yang
disampaikan-Nya.
80. Apakah Abyatar (Markus 2:26) atau Ahimelekh (1 Samuel 21:1;
22:20) yang menjadi imam besar saat Daud masuk ke dalam Bait
Tuhan dan memakan roti persembahan untuk Tuhan?
(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Ibrani dan konteks
historis)
Yesus mengatakan bahwa peristiwa di atas terjadi pada hari-hari Abyatar
menjabat sebagai imam besar, padahal jika kita baca dalam 1 Samuel,
bukan Abyatar yang menjabat sebagai imam besar pada saat itu,
melainkan ayahnya, Ahimelekh
Bandingkan dengan gaya bahasa Ibrani yang berbunyi, “…saat Raja Daud
menjadi gembala…” bukankah ini tidak dianggap sebagai kesalahan,
walaupun Daud belum menjadi raja pada saat itu? Maka sama halnya
dengan Abyatar, yang segera menjadi imam besar, dan itulah dia yang
paling diingat orang dengan gelarnya. Lagipula peristiwa itu benar-benar
terjadi “pada hari-hari Abyatar”, sebab ia benar hidup dan hadir dalam
peristiwa itu. Kita tahu mengenai hal itu dari 1 Samuel 22:20, saat
Abyatar melarikan diri dari kejaran orang-orang Saul sebab seluruh
keluarga ayahnya dan kota mereka telah dihancurkan. Dengan demikian,
pernyataan Yesus ini dapat diterima.
(Archer 1994:362)
81. Apakah tubuh Yesus dirempahi menurut tradisi orang Yahudi
sebelum Ia dikuburkan (Yohanes 19:39-40) atau para perempuan
datang merempah-rempahinya sesudah Yesus dikuburkan? (Markus
16:1)
(Kategori: ayat diartikan sempit)
Yohanes 19:39-40 menyebutkan bahwa Yusuf dan Nikodemus datang
merempahi tubuh Yesus dengan 50 kati minyak mur dan mengkafani-Nya
dengan kain lenan. Kita juga tahu dari penulis kitab Injil sinoptik bahwa
sesudah dirempah-rempahi, tubuh Yesus ditaruh di dalam sebuah kubur
batu yang besar. Meskipun kitab sinoptik tidak menyebutkan tentang
merempahi tubuh Yesus pada saat dikuburkan bukan berarti tubuh Yesus
tidak dirempah-rempahi. Tidak ada pertentangan dalam cerita ini.
Yesus mati sekitar jam 3 sore (Markus 15:34-37). Yusuf dan Nikodemus
harus mempersiapkan proses penguburan secara cepat sebelum hari Sabat
mulai, mulai dari menghadap Pilatus untuk minta izin penguburan,,
menurunkan jenazah Yesus, membeli kain lenan dan rempah-rempah, dan
perempahan, pengkafanan hingga kepada persiapan masuk ke kubur batu.
Dan para wanita tahu semua proses pemakaman yang dilakukan terhadap
Yesus (Matius 27:61). Anda tentu tidak berpikir bahwa Yusuf dan
Nikodemus hanya membungkus tubuh Yesus lalu menguburkannya di
dalam bukit batu.
Jikalau Markus 16:1 diartikan bahwa para wanita datang dengan maksud
untuk melakukan keseluruhan proses pemakaman, maka mereka juga
seharusnya juga akan mengkafani-Nya kembali dengan kain lenan,
walaupun ini tidak disebutkan. Mereka bukan datang untuk pemakaman.
Jadi lebih benar mengartikan mereka memberi rempah-rempah
tambahan atas tubuh Yesus sesudah Yusuf dan Nikodemus sebagai bentuk
penghormatan terakhir kepada guru mereka.
82. Apakah para perempuan membeli rempah-rempah sesudah hari
Sabat (Markus 16:1) atau sebelum hari Sabat? (Lukas 23:55 – 24:1)
(Kategori: ayat diartikan secara sempit)
Dalam beberapa kisah detail tentang kebangkitan Yesus di dalam Injil,
terungkap bahwa ada dua kelompok perempuan dalam perjalanan menuju
kubur batu dan berharap akan saling bertemu di sana. Perhatikan
pertanyaan nomor 86 untuk lebih jelasnya mengenai dua kelompok ini.
Jelaslah bahwa Maria Magdalena dan kelompoknya membeli rempah-
rempah sesudah hari Sabat, seperti yang tertulis dalam Markus 16:1.
sedang Yohana dan teman-temannya membeli rempah-rempah
sebelum hari Sabat seperti yang disebutkan dalam Lukas 23:56. Hanya
Lukas yang menceritakan tentang Yohana dan kelompoknya, menandakan
Lukas hendak menekankan peran penting Yohana dan teman-temannya
dalam kisah kebangkitan Yesus.
83. Apakah perempuan-perempuan mendatangi kubur Yesus
„menjelang fajar menyingsing‟ (Matius 28:1) atau „sesudah matahari
terbit‟ (Markus 16:2)
(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit)
Untuk meniadakan salah paham yang tidak perlu seperti di atas mari kita
perhatikan sejenak terhadap empat ayat di bawah ini:
Matius 28:1; „menjelang menyingsingnya fajar…pergilah mereka
menengok kubur itu‟
Markus 16:2; „dan pagi-pagi benar…sesudah matahari terbit (just
after sunrise)…pergilah mereka ke kubur (on their way to the tomb)‟
Lukas 24:1; „namun pagi-pagi benar…mereka pergi ke kubur‟
Yohanes 20:1; pagi-pagi benar saat hari masih gelap…pergilah
Maria Magdalena ke kubur itu‟
Dari keempat ayat di atas kita mudah menemukan jawaban mengenai hal
ini. dari kitab Lukas kita mengerti bahwa pagi-pagi sekali mereka
berangkat pergi ke kubur. Dari kitab Matius kita lihat bahwa matahari
sedang siap menyingsing saat mereka berangkat pergi. Yohanes
menjelaskan kepergian perempuan-perempuan saat matahari belum
benar-benar terbit, melainkan keadaan masih gelap menjelang pagi. Dan
Markus menyatakan bahwa matahari terbit saat mereka sedang pergi
dalam perjalanan. Tentu waktu terus bergulir seiring dengan terbitnya
matahari selama perjalanan perempuan-perempuan itu keluar dari
Yerusalem.
84. Apakah para perempuan yang pergi ke kubur hendak meminyaki
tubuh Yesus dengan rempah-rempah (Markus 16:1; Lukas 23:55 –
24:1), atau untuk melihat kuburan (Matius 28:1) atau tanpa maksud
apa-apa? (Yohanes 20:1)
(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit)
Jawaban pertanyaan ini berkaitan dengan nomor 81 di atas. Kita tahu
bahwa mereka pergi ke kubur untuk memberi rempah-rempah
tambahan pada tubuh Yesus, seperti yang diinformasikan Lukas dan
Markus. namun walaupun Matius dan Yohanes tidak memberi alasan
yang spesifik mengenai hal ini bukan berarti bahwa mereka pergi tanpa
alasan tertentu. Mereka hendak menambahkan rempah-rempah, walaupun
tidak semua penulis kitab Injil menyebutkan hal ini . Kita tentunya
tidak berharap bahwa semua pernak-pernik cerita akan dituliskan persis
sama dalam setiap kitab Injil. Ke-empat Kitab Injil itu adalah kesaksian dari
4 penulis yang berbeda segi cakupannya, bukan fotocopy yang satu
terhadap lainnya.
85. saat para perempuan tiba di kubur batu, apakah batu itu „sudah
terguling‟ (Markus 16:4, Lukas 24:2), „telah diambil dari kubur‟
(Yohanes 20:1) atau mereka melihat malaikat yang melakukannya?
(Matius 28:1-6)
(Kategori: salah membaca ayat)
Tuduhan Shabbir ini sangat dibuat-buat. Matius tidak mengatakan bahwa
para perempuan melihat malaikat menggulingkan batu itu. sesudah
mencatat para perempuan pergi ke kubur, Matius menceritakan tentang
gempa bumi yang terjadi saat mereka masih dalam perjalanannya. Ayat
2 menyebutkan, “Maka terjadilah gempa bumi yang hebat.” Bahasa asli
Yunani menyebutkannya dengan, “dan saat itu telah terjadi gempa bumi
yang hebat.” saat para perempuan ini berbicara dengan malaikat di ayat
5, kita tahu dari Markus16:5 bahwa mereka telah mendekati kubur batu
dan masuk ke dalamnya, sedang malaikat itu duduk di tempat di amna
tubuh Yesus dibaringkan sebelumnya. Oleh sebab itu, jawaban atas
pertanyaan ini adalah bahwa “batu itu telah terguling” saat para
perempuan tiba di kubur Yesus. Tidak ada pertentangan apapun dalam hal
ini dengan pemakaian bahasa ilustratif “batu telah diambil dari kubur.”
86. (Dalam Matius 16:2; 28:7; Markus 16:5-6; Lukas 24:4-5; 23) Para
perempuan diberitahukan mengenai apa yang telah terjadi dengan
tubuh Yesus, sedang dalam Yohanes 20:2 disebutkan bahwa
Maria Magdalena tidak diberitahukan.
(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit)
Malaikat memberitahukan kepada para perempuan bahwa Yesus telah
bangkit dari kematian. Kitab Matius, Markus dan Lukas menceritakan hal
ini. perbedaan semu mengenai jumlah malaikat akan jelas jika kita
menyadari bahwa ada dua kelompok perempuan disini. Maria Magdalena
dan kelompoknya (luhat ayat-ayat terdapat istilah “kami”) mungkin
berangkat dari rumah Yohanes. Sebaliknya, Yohana dan beberapa
perempuan lain yang tidak disebutkan namanya, berangkat dari tempat
Herodes di bagian kota lainnya. Yohana adalah isteri Khuza, bendahara
Herodes (Lukas 8:3) dan sebab itu kemungkinan besar ia dan teman-
temannya berangkat dari istana Herodes.
Dengan demikian ini, jelas bahwa malaikat pertama (yang menggulingkan
batu dan memberitahukan Maria Magdalena dan Salome tentang
keberadaan Yesus) telah menghilang, saat Yohana dan kawan-kawannya
datang. saat mereka tiba di sana (Lukas 24:3-8) ada dua malaikat yang
menampakkan diri dan memberitahu mereka kabar baik, dan sesudah itu
mereka bergegas memberitahukan kepada para rasul. Dalam Lukas 24:10,
perempuan-perempuan itu disebutkan bergabung semuanya, sebab
mereka bersama-sama menemui para rasul.
Kini kita mulai tahu mengapa Maria Magdalena tidak melihat para malaikat.
Yohanes 20:1 menyebutkan bahwa Maria datang ke kubur dan kita tahu
dari kitab lainnya bahwa Salome dan Maria yang lain ada bersamanya,
(walau Maria Magdalena diduga berjalan lebih cepat mendahului yang lain).
saat dilihatnya batu kubur itu terguling, ia sendiri langsung lari
memanggil para rasul dan mengira bahwa Yesus telah diambil orang.
sedang Maria yang lain dan Salome (yang ditinggalkan Maria
Magdalena) berusaha mencari tahu dengan melihat ke dalam kubur Yesus,
dimana akhirnya mereka menemukan malaikat yang memberitahukan
mereka apa yang telah terjadi. Jadi kita lihat bahwa para malaikat telah
memberitahukan kepada para perempuan itu, namun Maria Magdalena
sendiri pergi sebelum sempat bertemu dengan para malaikat itu.
87. Apakah pertemuan pertama antara Maria Magdalena dengan Yesus
yang telah bangkit itu terjadi pada saat kedatangannya yang pertama
ke kubur (Matius 28:9) ataukah kedatangannya yang kedua (Yohanes
20:11-17)? Dan bagaimana reaksinya?
(Kategori: ayat diartikan dengan pikiran sempit)
Telah kita ketahui bersama dari jawaban terakhir bahwa Maria Magdalena
sendiri berlari mendapatkan para rasul sesudah ia melihat batu kubur itu
telah terguling. Oleh sebab itu, saat dikatakan dalam Matius 28:9 bahwa
Yesus bertemu dengan mereka, Maria Magdalena tidak ada disana. Namun
di dalam Markus 16:9 kita melihat bahwa Yesus menampakkan diri-Nya
pertama-tama kepada Maria Magdalena sesudah ia, Petrus dan Yohanes
kembali ke kubur untuk pertama kalinya (Yohanes 20:1-18). Dari sini kita
melihat bahwa Petrus dan Yohanes melihat kubur itu kosong dan kembali
ke rumah meninggalkan Maria yang menangis di pintu kubur itu. Disinilah
Maria kemudian melihat dua malaikat di sisi kubur batu dan akhirnya
bertemu dengan Yesus.
Sebenarnya ada beberapa masalah sehubungan dengan cerita kebangkitan
Yesus ini, dan beberapa diantaranya telah disinggung di sini. Kami ingin
sekali menjelaskan seluruh cerita ini, sayangnya buku ini tidak akan cukup,
sebab itu kami hanya menjawab hal-hal yang dipermasalahkan oleh
Shabbir. Jika anda belum puas dengan penjelasan di atas, anda dapat
membaca cerita lengkapnya dalam buku John Wenham yang berjudul
“Easter Enigma” (terbitan terbaru tahun 1996, Paternoster Press).
Diakui bahwa penjelasan atau uraian peristiwa di atas tidak semuanya
merujuk kepada teks spesifik dari kitab Injil. Meskipun demikian,
penjelasan ini tetap dapat diterima sebab setiap penulis kitab Injil
melaporkan dari sudut pandang yang berbeda; dengan kata lain tidak
masalah jika ada penambahan atau pengurangan detail cerita pada setiap
kitab Injil yang berbeda, sebab hal ini justru akan menambah
(bukan mengurangi) kredibilitas kitab Injil. Cerita yang sepertinya berbeda
dan berpotensi memicu konflik akhirnya dapat diselesaikan dengan
melihat pada beberapa sudut pandang, sehingga penyelesaian semacam itu
justru akan membebas kitab Injil dari usaha-usaha kolusi diantara si
penulis asli kitab itu sendiri maupun dari para editornya di kemudian hari.
88. Apakah Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menunggu-
Nya di Galilea (Matius 28:10) atau Ia akan pergi kepada Bapa dan
Tuhan-Nya (Yohanes 20:17)?
(Kategori: salah membaca ayat)
Kontradiksi semu di atas mempersoalkan, “Apa yang diinstruksikan Yesus
kepada murid-murid-Nya?” Shabbir memakai ayat dalam Matius 28:20 dan
Yohanes 20:17 untuk menunjukkan terjadinya pertentangan di dalam
Alkitab. Padahal kedua ayat ini terjadi pada waktu yang berbeda, pada hari
yang sama sehingga tidak ada alasan meyakini bahwa Yesus hanya
memberi satu buah perintah kepada murid-murid-Nya.
Satu lagi kelalaian Shabbir dalam membaca ayat dan pasal-pasal Alkitab
yang mengabaikan situasi di seputar kebangkitan Yesus pada hari Minggu.
(Saya katakan hari Minggu sebab hari itu adalah hari pertama dalam satu
minggu). Kedua ayat di atas sebenarnya tidak saling bertentangan
melainkan saling melengkapi, sebab kedua ayat di atas tidak menunjuk
pada waktu dan kejadian yang sama. Matius 28:10 berbicara mengenai
kelompok perempuan yang bertemu dengan Yesus dalam perjalanan
mereka pulang untuk menceritakan kepada murid-murid Yesus. Yaitu Kubur
kosong! Dan pada saat itulah mereka menerima instruksi pertama kali dari
Yesus untuk diteruskan kepada murid-murid-Nya yang lain.
sedang Yohanes 20:17 terjadi beberapa waktu sesudah ayat di atas,
(untuk memahami keterangan waktu, perhatikan bacaan mulai dari awal
pasal ini) dan terjadi saat Maria sendiri berdiri di dekat kubur dan
menangis sebab kejadian yang menimpanya. Ia melihat Yesus dan
disanalah Yesus memberi instruksi lain lagi untuk diteruskan kepada
para muridNya.
89. sesudah mendengar perintah Yesus, apakah para murid kembali ke
Galilea dengan segera (Matius 28:17) ataukah setidaknya sesudah 40
hari kemudian? (Lukas 24:33,49; Kisah Para Rasul 1:3-4)
(Kategori: tidak membaca seluruh ayat dan salah mengutip ayat)
Pertentangan di atas mempersoalkan kapan para murid kembali ke Galilea
sesudah peristiwa penyaliban. Kelihatannya ada pertentangan dalam Matius
28:17 yang menyatakan bahwa mereka segera kembali, sedang dalam
Lukas 24:33,49 dan Kisah Para Rasul 1:4 dikatakan bahwa mereka baru
kembali sesudah 40 hari. namun sebenarnya kedua asumsi di atas adalah
salah.
Yesus menampakkan diri banyak kali kepada mereka, kadang-kadang Ia
menampakkan diri kepada satu orang, kadang-kadang sekelompok orang
dan ada saatnya saat semua murid-muridNya sedang berkumpul, bahkan
Paulus dan Stefanus juga melihat penampakan diri Yesus sesudah peristiwa
kenaikan Yesus (Baca 1 Korintus 15:5-8 dan Kisah Para Rasul 7:55-56).
Yesus menampakkan diri di Galilea dan Yerusalem namun dan di tempat
lain. Matius 28:16-20 memberi ringkasan tentang semua penampakkan
diri Yesus, dan sebab nya sangat tidak pada tempatnya untuk menekankan
urutan kronologisnya seperti yang dilakukan oleh Shabbir.
Pertanyaan Shabbir yang kedua (kembali ke Galilea sesudah 40 hari)
malahan lebih lemah tanpa dasar dibandingkan pertanyaan sebelumnya
yang telah dijawab. Hal ini sebab Shabbir tidak mencatat seluruh Kisah
Para Rasul 1:4 secara utuh yang berbunyi: “Pada suatu hari saat Ia
makan bersama-sama dengan mereka. Ia melarang mereka meninggalkan
Yerusalem dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa
(seperti yang telah mereka dengar daripadaNya).”
Lukas, penulis kitab Para Rasul ini, tidak menyebutkan kapan Yesus
mengucapkan ini. namun dalam kitab Lukas, ia menuliskan hal yang sama
seperti Matius, dan mengelompokkan semua penampakan Yesus, sehingga
kembali pembacaan pada Lukas 24:36-49 tidak memerlukan penekanan
kronologisnya. Namun dari kitab Matius dan Yohanes, kita tahu bahwa
sedikitnya beberapa dari murid Yesus memang pergi ke Galilea dan
bertemu dengan Yesus disana; peristiwa mana diduga terjadi sesudah
pertemuan pertama mereka di Yerusalem dan tentu saja sebelum 40 hari
pada saat Yesus naik ke surga.
90. Apakah orang-orang Midian menjual Yusuf kepada orang-orang
Ismael (Kejadian 37:28) atau kepada Potifar, pegawai firaun?
(Kejadian 37:36)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Pertanyaan di atas sangat aneh dan jelas menunjukkan bahwa Shabbir
telah salah paham terhadap ayat dalam Kejadian 37:25-36. Pertanyaannya
adalah “Kepada siapa orang-orang Midian menjual Yusuf?” Ayat 28
mengatakan kepada orang Ismael dan ayat 36 menyatakan kepada Potifar.
Para saudagar kafilah yang sedang lewat saat itu terdiri atas saudagar-
saudagar Ismael dan Midian. Mereka yang membeli Yusuf dari tangan
kakak-kakaknya kemudian menjualnya kepada Potifar di Mesir. Kata-kata
“orang Ismael” dan “orang Midian” memang sering dicampur-adukkan. Dan
hal ini akan jelas jika anda membaca ayat 27 dan 28 bersamaan.
Penggunaan kedua kata ini juga dapat dengan jelas dibaca dalam Hakim-
hakim 8:24.
91. Siapakah yang membawa Yusuf ke Mesir, orang Ismael (Kejadian
37:28), orang Midian (Kejadian 37:36), atau saudara-saudara Yusuf?
(Kejadian 45:4)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Kontradiksi di atas, mengikuti kontradiksi yang dipertanyakan Shabbir
sebelumnya. Sekali lagi ini memperlihatkan betapa Shabbir tidak mampu
memahami isi cerita maupun situasi sejarah. Ia menanyakan, “Siapa yang
membawa Yusuf ke Mesir?” Dari pertanyaan Shabbir sebelumnya, kita tahu
bahwa baik saudagar Ismael maupun saudagar Midian sama-sama
bertanggung jawab dalam membawa Yusuf ke Mesir (sebab mereka adalah
satu kelompok orang yang sama), sedang kakak-kakaknya juga sama
bertanggung jawab dalam menjual Yusuf kepada saudagar ini .
Dengan demikian kakak-kakaknya dituntut pertanggung-jawaban oleh
Yusuf dalam kejadian 45:4. Jadi seperti yang kita lihat dari pertanyaan
sebelumnya, ketiga pihak sama-sama berperan dalam membawa Yusuf ke
Mesir.
92. Apakah Tuhan dapat berubah pikiran (menyesal) (Kejadian 6:7;
Keluaran 32:4; 1 Samuel 15:10-11, 35) atau tidak pernah berubah
pikiran (menyesal)? (1 Samuel 15:24)
(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam sejarah, dan salah
memahami penggunaan bahasa Ibrani)
“Kontradiksi” ini umumnya hanya timbul dalam terjemaham lama naskah
Alkitab ke dalam bahasa Inggris (juga Indonesia). sebab itu maka jalan
keluarnya diambil dengan melihat kepada konteks dan peristiwa yang
terjadi.
Tuhan tahu bahwa Saul akan gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai
Raja Israel. Sekalipun begitu Tuhan mengizinkan Saul menjadi raja dan
memakainya dengan luar biasa untuk menjalankan rencana-Nya. Saul
sangat efektif sebagai pemimpin Israel dalam memberi keberanian
kepada rakyatnya dan memberi kebanggaan kepada bangsanya dengan
mengalahkan musuh-musuh Israel pada waktu perang.
Tuhan telah mengetahui hal ini jauh hari sebelum terjadi (Kejadian
49:8-10), dimana Dia akan mengangkat raja-raja untuk memimpin Israel
yang dipilih dari suku Yehuda. Saul berasal dari suku Benyamin, oleh
sebab itu jelas bahwa Saul dan keturunannya bukan pilihan Tuhan yang
permanen untuk menduduki kerajaan Israel. sedang Daud,
penggantinya berasal dari suku Yehuda, dan keturunannya berhak mewarisi
tahtanya.
Tuhan mahatahu dalam segala hal, jadi Ia tidak akan pernah berubah
pikiran terhadap Saul, sebab Ia tahu bahwa Saul akan meninggalkan-Nya
dan sebab itu tahtanya akan diberikan kepada orang lain.
Kata Ibrani yang digunakan dalam menyatakan pikiran dan perasaan Tuhan
terhadap sikap Saul yang berbalik dari Tuhan adalah “niham”. Dan ini
diterjemahkan sebagai „menyesal‟ seperti di atas. namun seperti bahasa-
bahasa pada umumnya, kata ini dapat memiliki lebih dari satu arti.
Misalnya, bahasa Inggris hanya memiliki satu kata untuk „cinta‟, bahasa
Yunani punya sedikitnya 4 kata untuk itu, dan bahasa Ibrani punya lebih
banyak lagi. Kata cinta dalam bahasa Ibrani dan Yunani tidak selalu dapat
begitu saja diartikan dengan „cinta‟ dalam bahasa Inggris jikalau ingin
dipertahankan kedalaman dan keluasan makna aslinya. Dan masalah
seperti inilah yang selalu dihadapi para penterjemah.
Mereka yang menerjemahkan Alkitab King James (seperti yang dipakai oleh
Shabbir) menerjemahkan kata „niham‟ sebanyak 41 kali sebagai
„menyesal‟, diantara 108 kata „niham‟ yang memakai arti lain dalam Alkitab
bahasa Ibrani. Kita tahu bahwa para penerjemah saat itu bekerja dengan
jumlah naskah-naskah yang lebih sedikit daripada yang tersedia di saat ini.
penemuan naskah-naskah yang lebih tua serta benda-benda arkeologis di
sepanjang abad terakhir turut memberi akses kepada pemahaman
kata-kata Alkitab Ibrani yang lebih akurat. Oleh sebab itu, kebanyakan
para penerjemah sekarang ini lebih akurat menerjemahkan “niham”
sebagai bersikap melunak, bersedih, menyatakan rasa simpati, menghibur,
menyesal, bertobat, dan lain-lain, sesuai dengan konteks yang dibicarakan.
Dengan pemikiran seperti itu, terjemahan ayat ini secara lebih tepat
seharusnya berbunyi, “Tuhan bersedih sebab telah menjadikan Saul
sebagai raja.” Tuhan tidak pernah berbohong atau menyesal sebab ia
bukan manusia yang pernah menyesal. Kalimat „Tuhan bersedih dengan
menjadikan Saul sebagai raja‟ menunjukkan bahwa Ia memiliki emosi. Dia
mengerti penderitaan manusia dan mendengarkan permintaan tolong
mereka, namun amarah dan kegeraman-Nya akan bangkit jika Ia melihat
manusia menderita akibat perbuatan orang lain.
Sebagai akibat dari pemberontakan Saul, maka Tuhan dan rakyat Israel
pun turut menanggung derita. namun Tuhan juga telah merencanakan sejak
awalnya bahwa Saul dan keturunannya yang bukan berasal dari suku
Yehuda tidak akan terus duduk di atas tahta. sebab itu, saat Saul
menghadap nabi Samuel (ayat 24-25) untuk meminta kembali penyertaan
Tuhan dan supaya ia tidak disingkirkan dari tahtanya, maka Samuel
menjawab bahwa Tuhan telah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah
pendirian-Nya. Tuhan tidak menyesali hal ini, sebab telah difirmankan
begitu ratusan tahun sebelum Saul menjadi raja.
Jadi tidak ada yang bertentangan disini. Pertanyaannya adalah “Apakah
Tuhan menyesal?” Jawabannya, “Tidak, Tuhan tidak pernah menyesal
(dalam arti berubah pikiranNya karen kecewa)”. Namun Ia selalu
menanggapi situasi dan perilaku setiap anak-anakNya dengan penuh kasih
sayang atau dengan murka, sehingga Ia akan menjaid sedih dan geram
jika manusia berbuat jahat.
(Archer 1994)
93. Bagaimana mungkin ahli sihir di Mesir dapat merubah air menjadi
darah (Keluaran 7:22) jika semua air di Mesir telah diubah oleh Musa
dan Harun? (Keluaran 7:20-21)
(Kategori: tidak membaca seluruh ayat dan memaksakan pemikiran
sendiri)
Pertanyaan ini agak lucu. Tentu saja
Musa dan Harus tidak mengubah
seluruh air menjadi darah seperti yang
dikatakan Shabbir, melainkan hanya
air di sungai Nil (perhatikan ayat 20).
Jadi masih tersedia banyak air yang
dapat digunakan oleh ahli sihir Firaun.
Kita dapat mengetahui hal ini pada
ayat berikutnya (ayat 24) yang
menyebutkan: “namun semua orang
Mesir menggali-gali di sekitar sungai Nil, mencari air untuk diminum, sebab
mereka tidak dapat meminum air sungai Nil.”
Jadi dimanakah sulitnya untuk para ahli sihir melakukan hal yang sama
dengan Musa dan harus? Dalam hal ini, Shabbir bukan saja tidak membaca
ayat namun juga telah mengartikan ayat ini dengan tidak semestinya.
94. Apakah Daud (1 Samuel 17:23,50) atau Elhanan (2 Samuel 21:19)
yang membunuh Goliat?
(Kategori: kesalahan penulis ulang)
Pertentangan tentang siapa yang membunuh
Goliat (Daud atau Elhanan) timbul sebab
kesalahan dari penulis ulang.
2 Samuel 21:19, berbunyi:
“Dan terjadi pertempuran melawan orang
Filistin, di Gob; Elhanan bin Yaare Oregim,
orang Bethlehem itu, menewaskan Goliat,
orang Gat itu, yang gagang tombaknya seperti
pesa tukang tenun.”
Sebagai teks Masorit, tentu saja ayat ini bertentangan dengan kitab 1
Samuel dan kisah pertempuran Daud melawan Goliat. namun jika kita
melihat kitab 1 Tawarikh 20:5 yang mengisahkan cerita yang sama, kita
dapat dengan mudah mengetahui alasan yang sesungguhnya. Disebutkan
disitu:
“Maka terjadilah lagi pertempuran melawan orang Filistin, lalu Elhanan bin
yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat, orang Gat itu, yang gagang
tombaknya seperti pesa tukang tenun.”
Jika kedua ayat di atas dikaji dalam bahasa Ibrani, maka jelas bahwa kisah
dalam 1 Tawarikh-lah yang benar dan tepat. Ini bukan sebab semata kita
tahu bahwa memang Daud yang membunuh Goliat, namun juga sebab
faktor bahasa Ibrani.
saat para penulis menyalin ulang naskah yang mula-mula, dapat
dipastikan bahwa naskah itu telah buram dan rusak pada bagian kitab 2
Samuel. Akibatnya timbullah dua atau tiga kesalahan (perhatikan Gleason
L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, hal 179(, yaitu:
Tanda untuk obyek langsung dalam kalimat 1 Tawarikh adalah „-t yang
muncul di depan kata „Lahmi‟. Dalam keburaman naskah, penulis ulang
telah salah membacanya dengan mengartikannya dengan b-t atau b-y-t
(„beth‟), akibatnya muncullah kata BJt hal-Lahmi (orang Bethlehem) dalam
ayat ini .
Penulis ulang dalam kitab 2 Samuel salah membaca kata „saudara‟ („-h,
huruf h dengan sebuah titik di bawahnya), yaitu tanda untuk obyek
langsung („-t) sebelum g-l-y-t („Goliat‟). Oleh sebab itu si penyalin menulis
“Goliat” sebagai orang yang ditewaskan, dan bukan „saudaranya‟ Goliat,
seperti yang tertulis dalam kitab 1 Tawarikh.
Penulis ulang salah menempatkan kata „tukang tenun‟ („-r-g-ym), dan
meletakkannya sesudah kata Elhanan sebagai nama keluarga (ben y-„r-y‟-r-
g-ym, „ben yaerey „ore-gim,-gim, yang artinya „anak dari hutan tukang
tenun‟, yang tentu saja mustahil sebagai nama ayah seseorang). Dalam
Kitab Tawarikh, ore-gim (tukang tenun) diletakkan tepat sesudah m e n v
(gagang) – sehingga memberi pengertian yang tepat.
Kesimpulan: kesalahan dalam 2 Samuel adalah kesalahan yang bisa dilacak
dari jurutulis dalam menyalin ulang kata aslinya, dan yang dapat dikoreksi
melalui teks internal kitab 1 Tawarikh 20:5. Jadi, Daud-lah yang
membunuh Goliat.
Penjelasan di atas sekaligus menunjukkan kejujuran dan keterbukaan dari
para penulis ulang dan penerjemah (baik orang Yahudi maupun orang
Kristen). Walaupun mereka mudah untuk merubah kesalahan yang terlacak
ini, namun hal ini tidak mereka lakukan, demi menjunjung kebenaran
dan otentiknya naskah-naskah yang diturunkan.
Pasal di atas memang dapat memberi kesan pertentangan seperti yang
dikritik oleh Shabbir, namun kami tidak khawatir untuk menjelaskannya.
Ayat ini merupakan contoh tepat untuk menunjukkan bahwa manusia dapat
saja salah dalam menyalin ulang naskah papyrus yang telah buram dan
rusak, namun Tuhan tetap menjaga kebenaran ajaran-Nya.
95. Apakah Saul sendiri yang menghunus pedangnya untuk membunuh
dirinya (1 Samuel 31:4-6) atau orang Amalek yang melakukannya?
(2 Samuel 1:1-16)
(Kategori: salah membaca ayat)
Perlu diperhatikan bahwa penulis kitab 1 dan 2 Samuel tidak memusatkan
ceritanya kepada orang Amalek. Jadi dalam kenyataannya Saul sendirilah
yang membunuh diri, walau kemudian orang Amalek mencari pujian
dengan mengaku seolah dialah yang membunuh Saul. Penulis menuliskan
bagaimana Saul mati dan bagaimana orang Amalek menceritakan kematian
Saul. Kisah orang Amalek bahwa ia sedang berada di Gunung Gilboa (2
Samuel 1:6) agaknya kurang benar. Ia mungkin datang untuk menjarah
barang-barang dari tubuh orang yang sudah mati. Bagaimanapun ia telah
ada disana sebelum tentara Filistin tiba dan tidak menemukan mayat Saul
sampai keesokan harinya (1 Samuel 31:8). Kita tahu bagaimana kesaksian
Daud bahwa orang Amalek beranggapan bahwa ia memberitahukan kabar
baik tentang kematian Saul (2 Samuel 1:10). Tampaknya ia mendatangi
mayat Saul, mengambil mahkota dan kalungnya kemudian mengarang
cerita tentang kematian Saul supaya ia mendapat hadiah dari Daud sebab
telah menewaskan musuhnya. namun rencana jahat orang Amalek ini justru
memicu dampak dramatis balik bagi dirinya sendiri.
96. Apakah setiap orang itu berdosa (1 Raja-raja 8:46; 2 Tawarikh
6:36; Amsal 20:9; Ulangan 7:20; 1 Yohanes 1:8-10) ataukah ada
beberapa orang yang tidak berdosa? (1 Yohanes 3:1, 8-9, 4:7, 5:1)
(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Yunani dan memaksakan
menurut pemikiran sendiri)
Kontradiksi semu di atas mempermasalahkan, “Apakah setiap orang
berdosa?” lalu beberapa ayat yang meng-iya-kannya didaftarkan Shabbir
dari dalam Perjanjian Lama, untuk dikonfrontasikan dengan sebuah ayat
dari Perjanjian Baru dalam 1 Yohanes 1:8-10:
“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita
sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita,
maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa
kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa
kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan
firman-Nya tidak ada di dalam kita.”
sesudah itu Shabbir mengatakan, “Seorang Kristen yang sejati tidak
mungkin berdosa sebab mereka adalah anak-anak Tuhan.” Pernyataan itu
didukung beberapa ayat dari 1 Yohanes yang menyebutkan bahwa orang
Kristen adalah anak-anak Tuhan. Disini Shabbir mengutarakan
pendapatnya bahwa mereka yang menjadi anak-anak Tuhan berarti tidak
berdosa. Memang benar bahwa seseorang yang lahir dari Tuhan tidak
berkebiasaan berbuat dosa (Yakobus 2:14f), namun itu bukan berarti bahwa
mereka sama sekali tidak akan jatuh dalam dosa sebab kita masih tinggal
di dunia yang penuh dosa dan pelanggaran. 1 Yohanes 3:9 menyatakan:
“Setiap orang yang lahir dari Tuhan tidak (terus) berbuat dosa lagi
(continue to sin), sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak
dapat (terus) berbuat dosa (go on sinning) sebab ia lahir dari Tuhan.”
Shabbir mengutip ayat dari 1 Yohanes 3:9 dari terjemahan Yunani yang
kurang tepat. Dalam Alkitab terjemahan yang lebih baru seperti NIV (New
International Version), mereka menerjemahkannya secara tepat dengan
menggunakan kata kini (present continuous) dalam ayat ini , yaitu
seperti apa yang tertulis dalam bahasa Yunaninya. Oleh sebab itu ayat
ini seharusnya berbunyi, “Mereka yang lahir dari Tuhan tidak akan
terus berbuat dosa…dan mereka tidak dapat berbuat dosa terus.” Yaitu
suatu gagasan bahwa hidup yang berketerusan di dalam dosa akan mati,
sebab kini di pendosa yang bertobat itu telah mendapat pertolongan
Tuhan melalui kuasa Roh Kudus.
Lucu sekali melihat cara membaca Shabbir yang melompat-lompat dalam
menyatakan maksudnya demi untuk menekankan kontradiksinya. Ia
memulai dengan 1 Yohanes 1 kemudian lompat ke 1 Yohanes 3-5 dan baru
kembali lagi ke 1 Yohanes 1 dengan mengutip ayat 8, yang mengatakan
bahwa semua manusia berdosa (dengan harapan untuk menunjukkan
pertentangan). Padahal tidak ada pertentangan disini dan jelas Shabbir
tidak mengerti cara membaca surat para rasul dan salah memahami tema
yang kian berkembang lewat surat-surat yang berjalan. Dengan kata lain,
cara Shabbir membaca surat ini dari awal kemudian pindah ke bagian
tengah lalu kembali lagi ke bagian awal adalah cara yang tidak seharusnya
dalam membaca Alkitab (lain halnya dengan membaca surat-surat Al
Qur‟an).
Kitab suci jelas menyatakan bahwa semua manusia telah berdosa, kecuali
satu yaitu Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab itu, kami tidak menyalahkan
Shabbir disini. Saya setuju dan senang dengan pernyataan Shabbir yang
kedua, yang mengatakan bahwa orang Kristen adalah anak-anak Tuhan.
namun pernyataan Shabbir yang ketiga itulah yang memicu
perselisihan; ia tidak mengetahui bagaimana sebuah tema dikembangkan
dalam sebuah surat. Inti dari surat Yohanes adalah panggilan untuk hidup
kudus dan benar sebab pengampunan dosa yang diberikan melalui
kematian Kristus. Untuk itulah kita dipanggil, yaitu untuk tidak terus hidup
dalam dosa melainkan berubah menjadi tidak bercacat cela seperti halnya
Kristus yang tidak berdosa. Dalam upayanya memicu kontradiksi,
Shabbir telah salah menggunakan ayat, sehingga ayat bacaan yang tadinya
dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah pertentangan justru tidak saling
bertentangan.
97. Apakah kita perlu menolong orang lain dalam menanggung
bebannya (Galatia 6:2) atau kita hanya perlu menanggung beban kita
sendiri? (Galatia 6:5)
(Kategori: salah membaca ayat)
Inti pertanyaan di atas adalah: “Siapa yang akan menanggung beban, dan
bebannya siapa?” Menurut Galatia 6:2 kita harus menanggung beban
sesama sedang Galatia 6:5 mengatakan kita cukup menanggung beban
kita sendiri.
Sama sekali tidak ada pertentangan disini. Ini bukanlah masalah “ini atau
itu” melainkan “ini dan itu”. Jika anda membaca Galatia 6:1-5 dengan
benar, maka dapat anda lihat bahwa orang percaya bukan saja diminta
untuk saling menolong pada saat orang lain membutuhkan pertolongan,
mendapat kesulitan dan pencobaan, namun juga mereka harus menanggung
beban mereka sendiri.
Tidak ada yang sulit dan bertentangan dalam hal ini, sebab keduanya
sama-sama diperintahkan.
98. Apakah Yesus menampakkan diri kepada keduabelas orang murid-
Nya (1 Korintus 15:5) atau hanya kepada sebelas orang? (Matius
27:3-5, 28:16; Markus 16:14, Lukas 24:9,33, Kisah Para Rasul 1:9-
26)
(Kategori: salah membaca ayat)
Tidak ada pertentangan pada kisah di atas, andaikata anda memperhatikan
bagaimana kata-kata itu digunakan. Dalam semua referensi yang
digunakan untuk sebelas orang murid intinya, maka materi yang dikisahkan
itu adalah akurat menurut waktu pengisahan. sesudah Yudas mati, murid-
murid Yesus tinggal sebelas orang dan hal ini terus berlangsung sampai
akhirnya Matias dipilih menggantikan Yudas Iskariot.
Dalam 1 Korintus 15:5, kata umum (generic) “kedua belas” orang murid
digunakan sebab Matias sudah diperhitungkan ke dalam dua belas orang
murid Yesus, sebab ia juga turut menyaksikan kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus, seperti ayat yang digunakan oleh Shabbir dalam Kisah Para
Rasul 1:21-22.
99. Apakah Yesus langsung pergi ke Gurun sesudah Ia dibaptis (Markus
1:12-13), atau Ia pergi terlebih dahulu ke Galilea, mencari murid-
murid, kemudian menghadiri perkawinan di Kana? (Yohanes 1:35,43,
2:1-11)
(Kategori: salah membaca ayat)
Pertentangan semu di atas menanyakan: “Kemana Yesus pergi selama tiga
hari sesudah Ia dibaptis?” Markus 1:12-13 menyebutkan Ia pergi ke padang
gurun dan berpuasa selama 40 hari, sementara kitab Yohanes seolah-olah
menyebutkan bahwa pada keesokan harinya sesudah Yesus dibaptis, Ia
pergi ke Betani dan hari kedua Ia ada di Galilea, dan hari ketiga ada di
Kana? (Yohanes 1:35; 1:43; 2:1-11). Kesan ini seolah benar jika anda
tidak membaca keseluruhan ayat mulai dari Yohanes 1:19. Penjelasan
tentang baptisan Yesus dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis sendiri, “Dan
inilah kesaksian Yohanes saat orang Yahudi dari Yerusalem mengutus
beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia:
“Siapakah engkau?” (Ayat 19). Dan ia menunjuk kepada peristiwa
pembaptisan yang telah lewat. Bila tidak yakin, periksalah bentuk kata
kerja lampau yang digunakan Yohanes saat Ia melihat Yesus datang
kepadanya dalam ayat 29-30 dan 32. Sambil memperhatikan Yesus, ia
menceritakan kepada orang-orang bagaimana hubungan Yesus dengan
baptisan dan signifikansinya. Tidak ada alasan untuk beranggapan bahwa
baptisan itu terjadi pada saat Yohanes berbicara disitu. sebab itu tidak ada
alasan untuk menunjukkan pertentangan pasal ini dengan yang ada di
dalam Injil Markus.
100. Apakah Yusuf membawa lari bayi Yesus ke Mesir (Matius 2:13-23)
atau ia membawa-Nya ke rumah Tuhan di Yerusalem dan kembali ke
Galilea? (Lukas 2:21-40)
(Kategori: salah memahami konteks sejarah)
Kontradiksi semu di atas tampaknya menanyakan:
“Apakah nyawa bayi Yesus terancam di Yerusalem?”
Menurut Matius 2:13-23 “ya” sedang menurut Lukas
2:21-40 agaknya “tidak”.
Kedua cerita di atas sebenarnya saling melengkapi kisah
hidup Yesus pada masa bayi dan bukan bertentangan
sama sekali. Perlu waktu bagi Herodes untuk menyadari
bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang Majus. Injil
Matius mengatakan bahwa ia membunuh semua bayi
laki-laki yang berusia kurang dari 2 tahun di Bethlehem
dan sekitarnya. Sebelum itu Yusuf dan Maria
mempunyai kesempatan bebas untuk melakukan ritual adat istiadat di
rumah Tuhan di Yerusalem, lalu kembali ke Nazareth di Galilea. Dari situ
mereka pergi ke Mesir, dan sesudah Herodes mati barulah mereka kembali
lagi.
101. saat Yesus berjalan di atas air, apakah murid-murid-Nya
menyembah Dia (Matius 14:33) atau mereka bingung dan tercengang
sebab kedegilan hati mereka? (Markus 6:51-52)
(Kategori: tidak membaca seluruh ayat)
Kontradiksi semu di atas menanyakan: “saat Yesus berjalan di atas air,
bagaimana respon murid-murid-nya?” Matius 14:33 menyebutkan mereka
menyembah Dia. sedang Markus 6:51-52 menyebutkan bahwa mereka
tercengang dan tidak juga mengerti siapa Yesus yang melakukan mujizat
dengan memberi makan 5000 orang.
Lagi-lagi ini bukan sebuah kontradiksi melainkan dua ayat yang saling
melengkapi. Jika Shabbir membaca seluruh ayat dalam Matius, ia akan
mendapatkan bahwa baik Injil Matius (ayat 26-28) maupun Markus
menyebutkan bahwa para murid mula-mula tercengang dan panik, mengira
bahwa Ia adalah hantu. Ini terjadi sebab mereka masih belum mengerti
dari mujizat sebelumnya siapakah Yesus itu. namun sesudah mereka sadar
dari rasa terkejut, Injil Matius menjelaskan bahwa mereka menyembah Dia.
Dalam kesimpulan ini, berdasar pengujian semua bukti yang ada kami bisa
menjelaskan praktis setiap ayat yang dianggap saling bertentangan oleh Shabbir
Ally.
Jika kita perhatikan 101 kontradiksi semu di atas, maka pertentangan ini
dapat dibedakan ke dalam 15 kategori kesalahan, yang melatarbelakangi setiap
pertentangan yang ditulis oleh Shabbir. Setiap kategori menunjukkan berapa
kali Shabbir membuat kesalahan, dan jika anda hitung maka semua kategori
kesalahan ini berjumlah lebih dari 101 buah. Ini semata-mata sebab
Shabbir membuat kesalahan lebih dari satu kali dalam beberapa pertanyaan
tertentu.
Kategori kesalahan ini adalah:
Salah memahami isi cerita/konteks historis – 15 kali
Salah memahami ayat – 15 kali
Salah memahami penggunaan bahasa Ibrani – 13 kali
Mengartikan ayat secara sempit – 13 kali
Salah memahami maksud penulis – 12 kali
Akibat kesalahan dari penulis ulang – 9 kali
Salah memahami cara kerja Tuhan dalam sejarah – 6 kali
Salah memahami penggunaan bahasa Yunani – 4 kali
Tidak membaca seluruh ayat – 4 kali
Salah mengutip ayat – 4 kali
Salah memahami kata-kata – 3 kali
Terlalu mengartikan secara hurufiah – 3 kali
Menggunakan pemikiran sendiri- 3 kali
Salah mengkaitkan cerita yang satu dengan yang lainnya – 1 kali
Telah ditemukan naskah tulisan yang lebih awal – 1 kali
Dengan rendah hati kami akui kami tidak dapat memberi penjelasan atau
pemahaman secara spesifik dalam buku ini, dan kami harap hal ini dapat
dimaklumi. Telah kita ketahui bersama bahwa para pengarang kitab Injil menulis
dengan sudut pandang yang berbeda-beda, di satu sisi ada penambahan dan di
satu sisi ada pengurangan cerita yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ini
menunjukkan bahwa ke-empat penulis kitab Injil menulis secara bebas dan tidak
dipengaruhi siapapun dengan kata lain tidak ada kolusi baik dengan sesama
pengarang maupun editor. Dan kemampuannya dalam menyelesaikan konflik
dengan pemikiran yang serupa membuat kredibilitasnya semakin tinggi.
Penjelasan di atas menunjukkan adanya kejujuran dan keterbukaan dari para
penulis ulang dan penerjemah (baik orang Yahudi maupun orang Kristen).
Walaupun mudah untuk merubah kesalahan secara sistematis ini, namun hal
ini tidak dilakukan supaya kita dapat mempertahankan naskah yang sejati.
Ayat di atas memang dapat memicu kesan pertentangan seperti yang
dilakukan oleh Shabbir, namun kami tidak khawatir untuk menjelaskannya.
Dalam bukletnya, Shabbir menuliskan dua ayat pada bagian bawah, yang perlu
kita jawab:
1. “Sebab Tuhan tidak menghendaki kekacauan…” (1 Korintus 14:33)
Benar sekali bahwa Tuhan bukan pengarang yang dapat memicu
kekacauan. Amat sedikit yang bisa membingungkan di dalam Alkitab. saat
kita paham membaca seluruh ayat asli serta konteks yang
melatarbelakanginya, kebingungan itu akan sirna. Tentu saja kita
membutuhkan para ahli untuk menjelaskan semua hal ini , sebab
tulisan-tulisan ini telah ditulis oleh para penulis ulang 2000-3500 tahun
yang lalu.
Hal serupa juga terjadi dalam Al Qur‟an. Pada pembacaannya yang pertama
(hingga ke-sepuluh) terhadap Al Qur‟an banyak hal yang tidak akan jelas.
Ambil contoh surat pertamanya yang misterius itu. Tampaknya sesudah 1400
tahun penelitian, orang-orang hanya dapat mengira-ngira apa, kapan, dan
bagaimana surat misterius itu terjadi di bumi pada waktu itu. Begitu pula
ada banyak cerita yang tidak sejalan dengan cerita Alkitab, melainkan
asalnya terdapat dalam kisah-kisah apokrip Talmud (di abad kedua!). ini
benar-benar membingungkan! namun , kita sekarang dapat menjelajahi
konteks sejarah itu dari tulisan-tulisan itu sehingga kita tahu bahwa surat-
surat demikian bukan diwenangkan oleh Tuhan, namun ditulis oleh tangan
manusia, beberapa abad sesudah wahyu Tuhan yang otentik itu
dikanonisasikan orang.
2. “…Setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh” (Lukas 11:17)
Alkitab tidak terpecah-pecah. Yesus berbicara mengenai si pemecah besar-
besaran, yaitu Setan yang terbagi-bagi dan melawan diri mereka sendiri.
namun , hal ini dijauhkan dari Alkitab. Sebuah buku yang empat kali
lebih tebal isinya daripada Al Qur‟an, dengan keabsahan yang disetujui
hingga 99,999%! Benar-benar sebuah buku yang ajaib!
Dan akhirnya, kami tutup dengan dua petikan ayat firman Tuhan di bawah ini:
“Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah
orang lain dan menyelidiki perkaranya.” (Amsal 18:17)
“…sebagaimana pula Paulus, saudara kita yang terkasih, telah menuliskannya
kepadamu sesuai dengan hikmat yang telah diberikan kepadanya. Dan seperti
dalam semua surat yang berbicara kepada mereka mengenai hal-hal ini, yang di
dalamnya terdapat beberapa hal yang sulit dipahami, sama seperti kitab-kitab
yang lainnya juga, yang sedang mereka -yang tidak terpelajar dan tidak teguh-
selewengkan menuju kehancuran diri mereka sendiri.” (2 Petrus 3:15-16)
.jpeg)
