kontradiksi alkitab 3

 


cium Yesus atau tidak. Tampaknya Shabbir terlalu 

memaksakan pertanyaan di atas. Bahwa Yohanes tidak menyebutkan 

sebuah ciuman, bukan berarti bahwa Yudas tidak menggunakan sebuah 

ciuman. Kita sering menemukan dalam kitab Injil bahwa ada penulis yang 

dengan sengaja menuliskan informasi tertentu sedang  yang lainnya 

tidak. namun  itu tidak berarti bahwa keduanya bertentangan, melainkan 

sebagai saksi mata, mereka melihat peristiwa dari maksud pandangan yang 

lain, sehingga mereka menuliskan kesaksian-kesaksian berdasar  apa 

yang mereka pandang penting untuk dituliskan. 

(Light of Life III 1992:107) 

48. Apakah Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok 

(Yohanes 13:38) atau menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok 

dua kali? (Markus 14:30,72) 

(Kategori: penemuan naskah yang lebih tua) 

Tuduhan di atas menyatakan pertentangan mengenai perkataan Yesus 

kepada Petrus, mana yang benar, “sebelum ayam berkokok, engkau telah 

menyangkal Aku tiga kali” ataukah “sebelum ayam berkokok dua kali, 

engkau telah menyangkal Aku tiga kali”. Masalah ini sebenarnya terletak 

pada fakta naskah-naskah. Mari kita simak. 

Matius 26:33-35, 74-75, “sebelum ayam berkokok engkau telah 

menyangkal Aku tiga kali.” 

Lukas 22:31-34, 60-62, “hari ini ayam tidak akan berkokok sebelum 

engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.” 

Yohanes 13:38, “sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 

tiga kali.” 

Dengan melihat kutipan di atas, maka terlihat bahwa ayat dalam Markus 

berbeda sendiri. Namun beberapa naskah Markus yang tua memang tidak 

memuat kata-kata tentang berkokoknya ayam untuk pertama kali seperti 

yang dicantumkan dalam terjemahan King James (ayat 14:68). 

Penjelasan yang masuk akal adalah bahwa kokok ayam yang pertama 

(dalam terjemahan King James) memang merupakan kata tambahan, 

namun  kata yang lain, yaitu “kedua kali” (dalam ayat 30 dan 72) merupakan 

kata aslinya seperti yang terdapat dalam Alkitab terjemahan New 

International. Se-ekor ayam dapat saja )dan seringkali) berkokok lebih dari 

satu kali, sekali ia berkokok. Maka dalam hal ini tidak ada pertentangan 

mutlak. Sebab kokok ayam yang pertama dan yang kedua bisa berentetan, 

dan Petrus teringat akan perkataan Yesus saat  ayam berkokok yang 

kedua kali. Jika kita mendengar ayam telah berkokok dua kali, tentu itu 


___________________ 45 

     

 

berarti ada kokok ayam yang pertama kali. Dalam hal ini, Markus hanya 

memberi  informasi tanbahan dibandingkan penulis kitab Injil lainnya. 

49. Apakah Yesus memikul salib-Nya sendiri (Yohanes 19:17) atau 

tidak? (Matius 27:31-32) 

(Kategori: salah mengartikan ayat, atau ayat dicocokkan dengan 

pertimbangan sempit) 

Yohanes 19:17 menyatakan bahwa Yesus memikul 

salib-Nya sendiri ke tempat yang bernama “tempat 

tengkorak”. sedang  Matius 27:31-32 

mengatakan bahwa Ia disalibkan di Golgota namun  

Simon dari Kirene-lah yang dipaksa untuk memikul 

salib-Nya menuju ke Golgota. 

Markus 15:20-21 sama dengan Matius memberi  

informasi tambahan bahwa Yesus mulai memikul 

salib sejak dari istana Pilatus (Praetorium). 

sedang  Simon, ia sedang berjalan dari luar kota 

melintasi jalan yang dilalui oleh Yesus yang sedang 

memikul salib. Ini menunjukkan bahwa Yesus telah 

melalui jalan yang cukup jauh, mulai dari tempat Pilatus sampai di jalan 

ini . Saat itu, kondisi Yesus teramat lemah akibat dicambuk dan 

disiksa, dan Ia tidak sanggup lagi membawa salib yang berat sehingga Ia 

terjatuh atau hampir tak mampu berjalan ke depan. Melihat hal ini, seorang 

pasukan kemudian memaksa Simon untuk menggantikan Yesus 

membawakan salib-Nya. Lukas 23:26 juga sepakat menyatakan bahwa 

Simon ditahan untuk ganti memikul salib Yesus, sementara Yesus 

dibebaskan dari pikulan. Dengan demikian tidak ada pertentangan, Yesus 

yang memulai memikul salib namun  kemudian Simon yang mengambil alih 

di tengah-tengah perjalanan, sampai ke tempat tujuan. 

 

 

50. Apakah Yesus mati sebelum tirai Bait Tuhan terbelah dua (Matius 

27:50-51; Markus 15:37-38) atau sesudah nya? (Lukas 23:45-46) 

(Kategori: salah mengartikan ayat) 

sesudah  membaca tiga ayat dalam Matius 27:50-51, Markus 15:37-38 dan 

Lukas 23:45-46, tidak jelas pada bagian mana Shabbir menemukan 

pertentangan. Ketiga ayat diatas menunjuk kepada fakta bahwa pada saat 

Yesus wafat maka tirai Bait Tuhan terbelah dua. Apakah hanya sebab  

Matius dan Markus menceritakan peristiwa kematian Yesus lebih dulu 


___________________ 46 

     

 

daripada terbelahnya tirai Bait Tuhan, sedang  Lukas sebaliknya, maka 

ayat-ayat di atas dapat dianggap saling bertentangan? Justru Matius 

menggambarkan bahwa kedua peristiwa ini terjadi “bersamaan” dan kedua 

penulis lainnya tidak menyangkal hal ini. 

Mereka semua setuju bahwa dua peristiwa di atas terjadi secara 

berbarengan dan justru menjadi alasan yang kuat; sebab  tirai Bait Tuhan 

ini  melambangkan batas pemisahan antara Tuhan dan manusia. 

saat  tirai ini  terkoyak dengan matinya sang Mesias, maka manusia 

kini memiliki kembali kesempatan untuk tidak dipisahkan (yang dulu 

terhilang oleh pengusiran terhadap Adam dari hadirat Tuhan di taman 

Eden) dan kini dipersatukan kembali dengan Tuhan. 

51. Apakah Yesus mengatakan segala sesuatu secara terbuka kepada 

semua orang (Yohanes 18:20) ataukah Ia hanya terbuka untuk 

murid-murid-Nya? (Markus 4:34, Matius 13:10-11) 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Alasan orang-orang mengatakan bahwa Yesus bertentangan dalam hal 

berkata-kata secara tersembunyi atau terus terang, khususnya yang 

berhubungan dengan perumpamaan, adalah sebab  kekurangpahaman 

mereka terhadap isi cerita serta budaya yang mendasarinya. 

Jawaban pertanyaan ini membutuhkan pengetahuan yang melatarbelakangi 

cerita ini, dan saya berharap penjelasan ringkas saya disini dapat 

dimengerti. 

Pertama, apa itu perumpamaan? Perumpamaan adalah sebuah cerita untuk 

menjelaskan, menekankan atau mengilustrasikan suatu pengajaran, namun  

bukan pengajaran itu sendiri. Yesus adalah Rabi (Guru) Yahudi. Dalam 

tulisan para Rabi ada terdapat hampir 4000 perumpamaan. Dan sebagai 

seorang Rabi, Yesus juga melakukan tradisi seperti ini, Ia menginstruksikan 

ajaran-Nya melalui perumpamaan. Yesus menggunakan cerita yang kaya 

yang diketahui oleh orang-orang Yahudi tentang tanaman, binatang dan 

lain-lain. Oleh sebab  itu perumpamaan-perumpamaan Yesus mudah 

dimengerti oleh para pendengar-Nya. Perumpamaan-perumpamaan itu 

bukan saja kaya imajinasi namun  juga halus, sehingga bisa dimengerti oleh 

orang-orang awam, namun  pada saat yang sama mensita dan memutar-

mutar otak para sarjana demi mendapatkan arti yang sedalam dan 

seluasnya untuk perumpamaan. Jadi Yesus seringkali memperjelas dan 

memperlebar arti sebuah perumpamaan kepada para pengikut dan murid-

murid terdekat-Nya untuk menjawab keingintahuan mereka atau untuk 

menginstruksikan pemahaman ajaran-ajaran yang lebih jauh lagi kepada 

mereka, sebagaimana layaknya seorang guru Yahudi. 


___________________ 47 

     

 

Hal ini dapat dilihat dari Markus 33-34, yang menyebutkan, “Dalam banyak 

perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka 

(orang banyak) sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa 

perumpamaan (untuk menjelaskan, menekankan, atau mengilustrasikan 

pengajaran) Ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka. namun  kepada 

murid-murid-Nya ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri 

(mengajarkan lebih banyak lagi supaya mereka dapat lebih mengerti 

dibandingkan orang-orang banyak pada saat itu).” 

Artinya, perumpamaan bukanlah ajaran rahasia, dan juga bukan 

merupakan pengetahuan yang hanya dapat diketahui oleh sebagian orang 

yang benar-benar ingin mengetahui. Sangat tidak masuk akal (dan tidak 

memiliki dasar sejarah) jika dikatakan bahwa Yesus membingungkan orang 

banyak. Dia berkeliling berkhotbah dan memberi  pengajaran dan 

peristah kepada orang banyak. Jadi saat  Yesus diadili, mengenai ajaran-

Nya (Yohanes 18:20), maka Ia layak berkata, “Aku selalu mengajar di 

rumah-rumah ibadat dan di Bait Tuhan, tempat semua orang Yahudi 

berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.” Dan Yesus 

benar. Dia tidak melempar batu sembunyi tangan. 

Banyak menyenangi ajaran Yesus sebab  banyak ajaran moral dan 

perumpamaan yang bagus di dalamnya, namun  tidak banyak orang yang 

mau mengikuti-Nya sebab  harga yang harus dibayarkan terlalu mahal 

(lihat Lukas 9:57-61, 14:25-27,33). Dan hal inilah yang baru saja dipahami 

oleh para pengikut-Nya sebab  mereka benar-benar mengikut Yesus. 

Rahasia kerajaan surga adalah seperti yang dikatakan dan dijelaskan 

kepada murid-murid-Nya dalam Matius 13:10-11: “Maka datanglah murid-

murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: Mengapa Engkau berkata-kata 

kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus: Kepadamu diberi 

karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, namun  kepada mereka 

tidak. Rahasia ini  intinya ialah bahwa Yesus adalah Tuhan, Yesus 

adalah Raja, Yesus adalah Mesias, Yesus adalah tokoh yang dibicarakan 

oleh para nabi, Yesus adalah Juruselamat umat manusia, Yesus adalah 

wahyu terbesar dari Tuhan, Dialah Alfa dan Omega (Wahyu 21:6-8, 22:12-

16), dan Dialah satu-satunya jalan menuju Bapa di surga (Yohanes 3:36, 

Roma 6:23). 

Firman-Nya bukan saja menyelamatkan manusia namun  juga untuk 

menghakimi mereka yang “mendengar namun  tidak mengerti, melihat namun  

tidak menanggapi” (Matius 13:14) terhadap mereka yang tidak mau 

mengerti dan bertobat serta tunduk kepada Tuhan. 

52. Apakah Yesus sudah disalibkan (Markus 15:23) atau masih berada 

di tempat Pilatus (Yohanes 19:14) pada jam enam saat  peristiwa 

penyaliban terjadi? 


___________________ 48 

     

 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Jawaban paling mudah untuk pertanyaan di atas adalah dengan memahami 

bahwa para penulis kitab Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) 

menggunakan sistem bilangan waktu yang berbeda dengan yang digunakan 

oleh Yohanes. Para penulis Injil sinoptik memakai sistem tradisional Ibrani, 

dimana jam mulai dihitung sejak matahari terbit (Jadi jam awal harinya 

kurang lebih pukul enam menurut perhitungan modern). Itu berarti bahwa 

penyaliban Yesus yang dilakukan sekitar jam tiga menurut sistem tradisi 

Ibrani, adalah sama dengan pukul sembilan pagi waktu perhitungan 

modern. 

Sebaliknya, Yohanes menggunakan sistem perhitungan jam menurut 

orang-orang Romawi, yang satu harinya dihitung mulai dari tengah malam 

sampai tengah malam berikutnya, seperti yang kita lakukan saat ini. Pliny 

the Elder (Natural History 2.77) dan Macrobius (Saturnalia 1.3) dapat 

memberi  informasi lebih banyak mengenai hal ini. jadi penyaliban Yesus 

yang dilaksanakan pada pukul tiga menurut perhitungan jam Ibrani, adalah 

sama dengan jam 9.00 pagi menurut hitungan jam Romawi. 

Jawaban di atas bukan asal memelintir, melainkan benar-benar bahwa 

Yohanes menggunakan sistem hitungan waktu cara Romawi, walaupun ia 

adalah orang Ibrani sama seperti Matius, Markus dan Lukas. Injil Yohanes 

ditulis sesudah  ketiga Injil sebelumnya ditulis, yaitu sekitar tahun 90 M. 

pada saat itu Yohanes sedang tinggal di Efesus, yang menjadi ibukota 

propinsi Roma di Asia, sehingga ia menjadi terbiasa menggunakan hitungan 

waktu berdasar  cara orang-orang Roma. Bukti lebih jauh dapat 

ditemukan dalam tulisan Yohanes 20:19, “saat  hari sudah malam pada 

hari pertama minggu itu.” Itu berarti hari Minggu malam, sedang  

menurut orang Ibrani itu adalah hari berikutnya, sebab  sebuah hari, 

menurut mereka, dimulai pada saat matahari terbenam. 

(Archer 1994:363-364) 

 

 

53. Dua orang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, apakah 

mereka turut menghujat Yesus (Markus 15:32) atau tidak? (Lukas 

23:43) 

(Kategori: terlalu mengartikan ayat secara hurufiah) 

Pertentangan semu di atas mempertanyakan apakah dari dua orang 

penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, kedua-duanya ikut 

menghujat atau hanya salah satunya saja. Markus 15:23 mengatakan 


___________________ 49 

     

 

bahwa kedua-duanya menghujat, sedang  Lukas 23:43 mengatakan, 

yang satu menghujat dan yang lainnya membela Yesus. Tidak sulit untuk 

melihat apa yang sedang terjadi pada saat itu. Pada awalnya memang 

kedua penjahat itu sama-sama menghujat Yesus, namun  sesudah  Yesus 

berdoa kepada Bapa-Nya, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak 

tahu apa yang mereka perbuat,” salah satu di antara mereka langsung 

tersentuh hatinya dan berubah pikiran dan bertobat di atas kayu salib, 

sedang  yang lainnya tetap sikapnya terus menghujat. 

Ada sebuah pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa ini yaitu bahwa 

Tuhan mengijinkan kita untuk bertobat setiap saat, tidak peduli kejahatan 

atau dosa apapun yang kita perbuat. Kedua penjahat ini merupakan 

gambaran bagi kita semua. Beberapa diantara kita saat  berhadapan 

dengan Kristus terus saja menolak dan menghujat Dia, sedang  yang 

lainnya mengakui bahwa mereka adalah orang berdosa dan meminta 

ampun kepada-Nya. Kabar baiknya adalah bahwa sama seperti penjahat di 

kayu salib ini, kita dapat diampuni dan dibebaskan dari kesalahan kita, 

bahkan saat  sedang „menghadapi kematian‟ sekalipun. 

54. Apakah Yesus naik ke surga/Firdaus pada hari yang sama dengan 

peristiwa penyaliban (Lukas 23:43) atau dua hari sesudah  

penyaliban? (Yohanes 20:17) 

(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam sejarah) 

 

Anggapan bahwa Yesus bertentangan (atau kitab Injil 

saling bertentangan) dalam hal naik ke surga atau 

tidaknya sesudah  kematian-Nya di kayu salib adalah 

berdasar  asumsi yang terkait dengan „Firdaus‟, 

disamping masalah kontekstualisasi. 

Yesus berkata kepada penjahat yang disalibkan, 

“Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku 

di dalam firdaus.” Ini tentu benar walaupun penjahat itu mati pada hari 

yang sama di bumi ini, namun  di Firdaus “hari ini” dapat berarti hari apa 

saja di bumi, sebab  waktu di alam akhirat lain dimensinya dari waktu 

dunia. 

Yesus berkata kepada Maria Magdalena (Alkitab terjemahan King James), 

bahwa Ia belum “naik” kepada Bapa-Nya, namun  kata ini  dapat juga 

berarti Ia belum “pulang” kepada Bapa-Nya. 

Sebelum bumi ini terbentuk Yesus ada bersama-sama dengan Tuhan, dan 

Ia adalah Tuhan (Yohanes 1 dan Filipi 2:6-11). namun  kemudian Ia 

meninggalkan seluruh kemuliaan-Nya dan menjadi manusia sepenuhnya 


___________________ 50 

     

 

sekaligus Tuhan sepenuhnya di dalam dunia. Selanjutnya, Tuhan 

mengangkat Yesus ke tempat yang maha tinggi sekali lagi, dan duduk di 

sebelah kanan-Nya (Kisah Para Rasul 7:56). Dengan dimensi waktu dan 

ruang dan massa yang berbeda pada diri Yesus sekarang ini, maka 

perkataan-Nya, “Aku belum pergi kepada Bapa” tidak menghilangkan 

kemungkinan bahwa Ia berada di surga pada saat antara kematian dan 

kebangkitan-Nya menurut “waktu manusia” (walaupun surga tidak memiliki 

ikatan waktu). Saya akan berikan satu kalimat analogi untuk menjelaskan 

hal ini meskipun tidak bisa sempurna: saya pergi ke rumah asal saya dan 

tempat dimana saya tumbuh tanpa harus kembali ke sana. Kembali disini 

berarti saya pindah dan tinggal di tempat asal saya. 

namun  untuk pemahaman yang lebih tepat tentang ayat ini, kita harus 

berurusan dengan konteksnya. Ayat “Janganlah kamu memegang Aku, 

sebab Aku belum pergi kepada Bapa, namun  pergilah kepada saudara-

saudara-Ku…” dalam konteksnya dapat berarti, “Jangan menahan Aku, 

Maria – Aku belum meninggalkanmu. Kamu masih akan melihat-Ku lagi. 

namun  sekarang, Aku ingin kamu pergi dan memberitahukan kepada murid-

murid-Ku bahwa Aku akan segera pergi kepada BapaKu, namun  belum 

sekarang ini.” 

Baik dalam agama Islam maupun Kristen percaya kepada kebangkitan dari 

tubuh, dan hidup di alam perantara. Lukas menyatakan bahwa Yesus telah 

mati dan Roh-Nya naik ke Firdaus (bandingkan dengan ayat 46). namun , 

Yohanes mengatakan bahwa tubuh Yesus dibangkitkan dari kematian, dan 

dalam keadaan seperti itu Ia belum naik kepada bapa-Nya. Faktor waktulah 

yang membuat pernyataan di atas terkesan paradox, namun  sesungguhnya 

kedua ayat ini  tidak saling bertentangan. 

 

 

 

 

 

 

55. Paulus dalam perjalanannya ke Damaskus melihat cahaya dari 

langit dan mendengar sebuah suara. Apakah orang-orang yang ikut 

bersamanya juga mendengar suara itu (Kisah Para Rasul 9:7) atau 

tidak? (Kisah Para Rasul 22:9) 


___________________ 51 

     

 

(Kategori: salah paham tentang penggunaan 

bahasa Yunani atau ayat dipahami secara sempit) 

Walaupun kata Yunani yang persis sama digunakan 

untuk kedua kejadian ini (yaitu akouo) namun ia 

mempunyai 2 makna yang berbeda, yaitu 

mendengar (suaranya) dan mendengarkan 

(pesannya). Jadi penjelasannya menjadi jelas, 

bahwa para pesertanya Paulus mendengar sesuatu 

namun tidak memahami apa yang dikatakan. 

Paulus sebaliknya, mendengarkannya dan 

memahaminya. Tak ada kontradiksi apapun. 

56. saat  Paulus melihat cahaya dan jatuh ke tanah, apakah teman-

teman seperjalanannya juga jatuh (Kisah Para Rasul 26:14) atau 

tidak jatuh ke tanah? (Kisah Para Rasul 9:7) 

(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Yunani atau ayat dipahami 

secara sempit) 

(Kita tidak tahu kenapa Shabbir mau memaksakan kesimpulan bahwa ayat 

dalam Kisah Para Rasul 9:7 harus menegaskan “jatuh” atau “tidak-

jatuhnya” teman-teman seperjalanan Paulus). Kisah Para Rasul 26:14 

menyebutkan bahwa mereka semua jatuh ke tanah saat  ada cahaya 

memancar ke sekeliling, sebelum terdengar suara. Sebaliknya Kisah Para 

Rasul 9:7 hanya mengatakan bahwa teman-teman Saulus „termangu-

mangu/tidak dapat berkata-kata‟ sesudah  suara itu terdengar (tidak ada 

urusannya dengan jatuh-tidaknya). namun  sebab  mereka memang jatuh 

tanpa ada ayat yang menyanggahnya, maka ada cukup waktu bagi mereka 

untuk berdiri sementara suara itu berbicara kepada Saulus, apalagi sebab  

perkataan suara itu tidak ditujukan kepada mereka dan tidak ada artinya 

apa-apa bagi mereka. Sebaliknya bagi Saulus, ia tahu bahwa suara 

ini  ditujukan kepadanya sehingga ia menjadi takut dan tiba-tiba 

tersadar bahwa ia telah begitu lama menyiksa dan membunuh para 

pengikut Tuhan. Sebelumnya ia berpikir bahwa ia melayani Tuhan dengan 

membunuh mereka, padahal kenyataannya tidak. Kesadaran yang 

menakutkan seperti inilah yang membuat orang termasuk Saulus, tetap 

tersungkur di tanah lebih lama dibandingkan teman-temannya. 

(Haley, hal 359) 

57. Apakah suara itu memberitahukan Paulus apa yang harus 

dikerjakannya, saat  ia masih berbaring di tanah (Kisah Para Rasul 

26:16-18), ataukah ia diperintahkan untuk pergi ke Damaskus untuk 

mengetahui apa yang harus ia kerjakan? (Kisah Para Rasul 9:7, 

22:10) 


___________________ 52 

     

 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Seperti yang kita baca dengan jelas pada Kisah Para Rasul 9 dan 22, Paulus 

memang diberitahukan tugas-tugasnya di Damaskus. namun  dalam Kisah 

Para Rasul 26, konteksnya berbeda. Pada bagian ini, tampak bahwa Paulus 

tidak mempermasalahkan kronologis atau urutan tempat kejadian, sebab  

ia telah berbicara kepada orang-orang yang telah mendengar ceritanya. 

Dalam Kisah Para Rasul 9:1-31, Lukas, penulis kitab Kisah Para Rasul 

menceritakan tentang pertobatan Saulus. 

58. Apakah 24.000 orang Israel mati sebab  tulah di Sitim (Bilangan 

25:1,9) atau hanya 23.000 orang? (1 Korintus 10:8) 

(Kategori: salah merujukkan cerita yang satu dengan yang lain) 

Pertentangan di sini mempermasalahkan mengenai jumlah orang Israel 

yang mati sebab  tulah yang terjadi di Sitim (yang dalam pamflet Shabbir 

salah menyebutnya sebagai Sitin). Kitab Bilangan 25:1-9 dan 1 Korintus 

10:8 dianggap saling bertolak belakang. Namun Shabbir telah menunjuk 

tulah yang keliru dalam hal ini. 

Jika Shabbir telah membaca konteks dalam 1 Korintus 10, ia akan melihat 

bahwa Paulus menunjuk kepada tulah yang terjadi dalam Keluaran 32:28, 

yang terjadi di gunung Sinai dan bukan seperti yang disebutkan dalam 

Bilangan 25, yang terjadi di Sitim, diantara orang-orang Moab. Jika ragu-

ragu, coba baca ayat ke-7 dari 1 Korintus 10, yang mengutip praktis sama 

dengan Keluaran 32:6, “Sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan 

minum, kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” 

Sekarang, mungkin masih dipersoalkan, dalam Keluaran 32 dikatakan 

bahwa jumlah orang Israel yang mati adalah 3.000 orang (ayat 28), seperti 

ada pertentangan baru dalam hal ini, namun  sebenarnya mudah diluruskan 

jika kita baca ayat selanjutnya. 3.000 orang yang mati itu (ayat 28) adalah 

mereka yang mati sebab  pedang. namun  kejadian ini masih diikuti lagi 

dengan tulah yang Tuhan kirimkan kepada mereka yang menentang Dia 

dalam ayat 35, “Demikianlah TUHAN menulahi bangsa itu, sebab  mereka 

telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun.” Tulah inilah yang 

ditunjuk oleh Paulus dalam 1 Korintus 10:8. 

(Geisler/Howe 1992:458-459). 

59. Apakah keluarga Yakub yang pindah ke Mesir berjumlah 70 orang 

(Kejadian 46:27) atau hanya 74 orang? (Kisah Para Rasul 7:14) 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Pertentangan semu di atas menyangkut jumlah anggota keluarga Yakub 

yang pindah ke Mesir. Menurut Shabbir, ke-dua ayat dalam Kejadian 46:1-


___________________ 53 

     

 

27 dan Kisah Para Rasul 7:14 saling bertentangan, padahal tidak, keduanya 

sama-sama benar. Dalam kitab Kejadian 46:27 disebutkan, jumlah 

keturunan Yakub yang ikut pindah ke Mesir adalah 66 orang seperti yang 

disebutkan pada ayat 26. Hal ini disebabkan sebab  Yehuda beserta kedua 

anaknya telah berada di Mesir. sedang  yang disebutkan dalam ayat 27 

adalah jumlah seluruh anggota keluarga Yakub, termasuk Yusuf beserta 

kedua anaknya dan Yehuda, sehingga semuanya berjumlah 70 orang. 

Jumlah ini menunjuk kepada jumlah anggota keluarga Yakub yang akhirnya 

tinggal di Mesir dan bukannya anggota keluarga yang berangkat 

bersamanya ke Mesir. 

Dalam kitab Septuaginta dan Gulungan Kitab laut Mati, jumlah yang 

disebutkan adalah 75 orang. Jumlah ini menunjuk kepada tiga orang cucu 

dan dua orang cicit dari Yusuf yang disebutkan dalam Bilangan 26:28-37, 

dan pada bagian akhir Septuaginta nama mereka ditulis seperti yang 

tertulis dalam Kejadian 46:20. Oleh sebab  itu Kisah Para Rasul 7:14 yang 

mengutip ucapan Stefanus sebelum ia mati adalah benar sebab  ia merujuk 

kepada Septuaginta. 

60. Apakah Yudas membeli sebuah lading dengan uang kotor hasil 

pengkhianatannya terhadap Yesus (Kisah Para Rasul 1:18) atau ia 

melemparkan uang ini  ke dalam Bait Tuhan? (Matius 27:5) 

(Kategori: salah memahami maksud penulis) 

Pertentangan semu di atas menanyakan, “Apa yang dilakukan oleh Yudas 

dengan uang hasil mengkhianati Yesus?” Kisah Para Rasul 1:18 

menyatakan bahwa Yudas membeli sebidang tanah, sedang  dalam 

Matius 27:5 dikatakan bahwa uang itu dilempar ke dalam Bait Tuhan yang 

kemudian digunakan oleh para imam-imam untuk membeli sebidang tanah. 

namun  dengan sedikit penyidikan, ternyata kalimat dalam ayat yang satu 

merupakan ringkasan dari kalimat ayat lainnya. 

 

Matius 27:1-10 menggambarkan secara detail peristiwa yang terjadi pada 

pengkhianatan Yudas terhadap Yesus, serta keabsahannya sebagai bagian 

dari penggenapan Kitab Suci. Khususnya, Matius mengutip Kitab Zakharia 

11:12-13 yang dianggap sebagai penjelasan dari nubuatan yang terdapat 

dalam kitab Yeremia 19:1-13 dan 32:6-9. 

sedang  dalam Kisah Para Rasul 1:18-19, Lukas menggambarkan 

kesimpulan ringkas yang telah diketahui oleh orang banyak, sebagai 

penjelasan dari ucapan Petrus di kalangan orang-orang percaya (situasi 

yang sama juga terjadi pada pertanyaan nomor 57). Ilustrasi keadaan ini 

dapat dilihat pada ayat 19 yang mengatakan, “Hal itu diketahui oleh semua 

penduduk Yerusalem.” 


___________________ 54 

     

 

Amat mungkin bahwa kitab Injil telah beredar di antara orang-orang 

percaya pada saat Lukas menulis. Dengan demikian Lukas tidak perlu 

menjelaskan panjang lebar mengenai fakta-fakta kematian Yudas.  

61. Apakah Yudas mati dengan cara gantung diri (Matius 27:5) atau 

jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah sehingga semua isi 

perutnya tertumpah keluar? (Kisah Para Rasul 1:18) 

(Kategori: ayat diartikan secara sempit) 

Kontradiksi “semu” ini berkaitan dengan kenyataan bahwa dalam kitabnya 

Matius menyebutkan Yudas mati gantung diri, sedang  Kisah Para Rasul 

1:18, Lukas mengatakan bahwa Yudas mati dengan cara jatuh tertelungkup 

sehingga semua isi perutnya tumpah keluar. Kendati demikian kedua 

pernyataan ini sama-sama benar. 

Matius 27:1-10 menyatakan dalam fakta lurus bahwa yudas mati 

menggantung diri. Di sisi lain, Lukas dalam tulisannya pada Kisah para 

Rasul 1:18-19 memperkaya kesan kepada para pembacanya dengan 

lanjutan ceritanya, sebab  sesungguhnya semua orang pada saat itu sudah 

tahu dan tidak menyangkal bahwa Yudas mati gantung diri. Menurut cerita 

tradisi, Yudas gantung diri di tepi tebing yang curam, di atas Lembah 

Hinnom. namun  tali yang menggantungnya akhirnya putus dan Yudas pun 

jatuh ke bawah seperti yang digambarkan oleh Lukas. 

62. Apakah “Tanah Darah” yang dibeli Yudas dinamakan demikian 

sebab  para imam-imam membelinya dengan uang darah (Matius 

27:8) atau sebab  kematian yang berdarah bagi Yudas? (Kisah Para 

Rasul 1:19) 

(Kategori: salah memahami tulisan) 

Shabbir mempertanyakan tanah tempat Yudas mati dikubur dinamakan 

tanah darah? Matius 27:8 mengatakan alasannya adalah sebab  tanah itu 

dibeli dengan uang darah, sedang  menurut Shabbir dalam Kisah Para 

Rasul 1:19 menyebutkan bahwa tanah ini  dinamakan demikian 

sebab  darah Yudas tertumpah dalam kematiannya. 

Lihatlah bahwa kedua ayat di atas sama-sama setuju bahwa tanah itu dibeli 

dengan uang darah. Pada permulaan ayatnya, Kisah Para Rasul 1:18-19 

mengatakan, “Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah 

kejahatannya.” Jadi, asumsinya tanah itu dibeli dengan uang darah, 

kemudian ditambahkan kesan oleh penulis atas apa yang telah terjadi 

terhadap Yudas yang menemui kematiannya di atas tanah itu. 


___________________ 55 

     

 

63. Bagaimana mungkin korban tebusan Kristus yang diberikan bagi 

semua manusia (Markus 10:45; 1 Timotius 2:5-6), adalah juga 

merupakan korban tebusan dari orang fasik? (Amsal 21:18) 

(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam historis) 

Pertentangan ini mempertanyakan, “Siapa yang menjadi korban tebusan 

dan untuk siapa?” Shabbir menggunakan ayat dalam Markus 10:45 dan 1 

Timotius 2:5-6 untuk menunjukkan bahwa Yesus telah menjadi tebusan 

bagi semua orang. Lalu ayat ini dibandingkan dengan Amsal 21:18, yang 

menyebutkan, “Orang fasik dipakai sebagai tebusan bagi orang benar, dan 

pengkhianat sebagai ganti orang jujur.” 

Sebenarnya tidak ada pertentangan dalam kedua ayat di atas sebab  

korban tebusan yang dibicarakan berbeda. Korban tebusan merupakan 

bayaran dari seseorang terhadap pihak lain. Korban ini dapat saja diberikan 

oleh orang baik kepada orang lain seperti yang dilakukan Kristus bagi 

dunia, atau bisa juga dari orang jahat sebagai bayaran atas kejahatan yang 

telah dilakukannya kepada orang lain, seperti yang kita lihat dalam Amsal 

di atas. 

Shabbir menggunakan ayat dalam Markus dan 1 Timotius sebagai dasar 

asumsi bahwa Yesus itu baik dan sebab  itu tidak seharusnya dijadikan 

korban tebusan bagi orang jahat. Shabbir merefleksikan ajaran Islam yang 

membantah seseorang dapat menebus kesalahan orang lain atau menjadi 

korban bagi kesalahan orang lain. SALAH! Shabbir tidak seharusnya 

memaksakan interpretasi Alkitab menurut ajaran Islam. Alkitab 

membuktikan Maha Kasihnya Tuhan (yang tidak dibuktikan oleh tuhan-

tuhan lain, kecuali meng-klaim saja) dengan menunjukkan bahwa Kristus 

telah menjadi tebusan bagi orang berdosa. Galatia 3:13-14 dan 1 Petrus 

2:23-25 mengatakan bahwa Yesus menjadi terkutuk sebab  kita. Oleh 

sebab  itu Yesus telah menggenapi bahkan Amsal di atas sekalipun. 

Sekali lagi perkiraan Shabbir disini keluar dari konteks ayat yang 

dipermasalahkan. Markus 10:45 mengutip perkataan Yesus, yang sekaligus 

menubuatkan waktu kematian-Nya yang akan segera datang dan alasan 

kematian-Nya, yaitu bahwa Ia akan menjadi korban pembayaran untuk 

menebus semua dosa manusia. Dalam 1 Timotius 2:5-6, Paulus 

menyatakan, melalui korban penebusan dosa yang Tuhan berikan, yaitu 

melalui pengantara Yesus, dan korban kematianNya di kayu salib, Tuhan 

sekali lagi menjembatani hubunganNya dengan manusia. 

sedang  Amsal 21:18 berbicara mengenai tebusan yang berbeda, yang 

dibayarkan Tuhan (melalui Mesir) pada saat keluarnya bangsa Israel dari 

Mesir; sebagaimana diterangkan dalam kitab Yesaya, khususnya pasal 43:3 

(dengan penerangan ayat 16 dan 17). 


___________________ 56 

     

 

“Sebab Akulah YAHWEH, Tuhanmu, Yang Mahakudus, Tuhan Israel, 

Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir dan memberi  

Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.” 

 

64. Apakah semua isi Kitab Suci bermanfaat (2 Timotius 3:16) atau 

tidak? (Ibrani 7:18) 

(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam sejarah) 

Tuduhan kontradiksi telah dikenakan kepada Alkitab yang mengatakan 

bahwa seluruh isi Kitab Suci bermanfaat; sementara ayat lain menyebutkan 

bahwa hukum sebelumnya adalah tidak kuat dan tidak berguna. 

Permasalahan disini adalah masalah kontekstual tentang Perjanjian Lama 

dan Perjanjian Baru, yang berkembang sebab  kurang memahami apa yang 

dijanjikan Tuhan waktu berfirman lewat para nabi. 

Kami merasa perlu untuk menjelaskan hal-hal yang melatarbelakangi 

ucapan ini kepada para pembaca yang awam terhadap Alkitab sehingga 

dapat lebih memahami maksudnya. Sebagai ilustrasi, kami akan 

merujukkan pertanyaan di atas dengan pertanyaan nomor 92 yang 

memperlihatkan betapa kaya arti dari beberapa  kata-kata Ibrani yang 

digunakan dalam Alkitab (yaitu kata Ibrani „niham‟ yang berarti berubah 

pikiran, menyesal, bertobat atau dukacita) 

Firman Tuhan berasal daripada-Nya saja, dan tentu bermanfaat untuk 

mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk 

mendidik orang dalam kebenaran, seperti yang dicantumkan dalam 2 

Timotius. Ini merupakan pernyataan umum yang menunjuk kepada semua 

perkara yang datangnya dari Tuhan. 

Ibrani 7 secara khusus berbicara mengenai suatu hukum yang berlaku bagi 

sebuah masyarakat pada suatu masa yang spesifik dan terbatas, tentang 

sistem pengorbanan Kemah Musa, kemudian dalam Bait Suci di Yerusalem. 

Tuhan meneguhkan dalam suatu Kontrak atau Perjanjian dengan umat-

Nya, Israel, sebuah sistem dimana mereka diharuskan untuk 

mempersembahkan korban, binatang yang disembelih, agar Tuhan 

mengampuni dosa-dosa mereka; khususnya apa yang Tuhan sebut sebagai 

“korban sebab  dosa” dan “korban kesalahan” dalam Kitab Imamat pasal 4-

6. 

Konsep substitusi “korban yang mati sebagai pengganti” ini adalah hal yang 

asing bagi Islam, namun adalah sangat mendasar bagi umat Yahudi dan 

Kristen. Penebusan dosa harus dilakukan. Dosa harus dihukum. Hukum 

Tuhan yang kudus dan adil adalah “upah dosa adalah maut”. Harga upah 

itu harus dibayar! Ada yang harus mati untuk membayar upah itu. Dan 


___________________ 57 

     

 

tidak ada pengampunan dosa tanpa adanya cucuran darah (yang 

melambangkan maut itu), sebab  Tuhan menuntut keadilan mutlak. Bila 

Tuhan hanya mengampuni dengan menutup mata saja terhadap dosa, itu 

akan tidak adil sama sekali. Minta pengampunan saja tidak cukup harganya 

untuk membayar “upah dosa”, melainkan harus tetap dibayar dengan 

nyawa/kematian, yang dilambangkan dalam sebuah korban (binatang), 

yaitu berupa korban-penebusan. 

Sistem penebusan dosa seperti ini diutarakan dalam Perjanjian Lama 

sebanyak 79 kali! Dimana darah binatang yang menjadi korban penebusan 

sementara (yang harus dilakukan berulang kali terus-menerus), yang kelak 

akan digantikan secara permanen dengan “darah Anak Domba” sebagai 

Perjanjian Baru dari Tuhan. Yaitu darah Yesus Kristus untuk penebusan 

dosa manusia, sekali dan selamanya. Maka Tuhan berfirman, 

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku 

akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, 

bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang 

mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa 

mereka keluar dari tanah Mesir” (saat  Tuhan pertama kali mengadakan 

Perjanjian kepada bangsa Israel di Gunung Sinai sesudah  diselamatkan dari 

kejaran bangsa Mesir) 

“namun  beginilah Perjanjian (Baru) yang Kuadakan dengan kaum Israel 

sesudah waktu itu, Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan 

menuliskannya dalam hati mereka” (Yeremia 31:31-33). Perjanjian Baru ini 

akan membayar harga satu kali untuk selamanya atas dosa-dosa manusia 

(Ibrani 7:27), bukan seperti Perjanjian Lama yang mengharuskan 

pembayaran berulang-ulang dari domba atau binatang lain. 

Tuhan berfirman pula dalam Perjanjian Lama mengenai Mesias, 

Juruselamat yang akan melakukan penebusan dosa ini  (dalam 

Perjanjian Baru). Seorang Mesias yang bukan berasal dari Imamat Lewi, 

namun  seorang yang sempurna yang berasal dari suku Yehuda yang akan 

menjadi imam bagi Tuhan. Orang sempurna itu, yaitu Mesias, akan menjadi 

korban pengganti itu yang akan membayar sekaligus harga sepenuhnya, 

sehingga Dia-lah yang dapat menghampiri Tuhan, bukan berdasar  

keturunan (seperti Imamat Lewi) namun  berdasar  kesempurnaan-Nya 

sendiri. Jika orang-orang mengikuti Mesias ini dan menerima bayaran 

penebusan dari hukuman dosanya, maka Tuhan akan menuliskan hukum 

Taurat dalam hati dan pikiran mereka, dan Tuhan dapat menyalurkan belas 

kasihan-Nya sepenuhnya kepada mereka, sebab  tuntutan Hukum 

Keadilan-nya (“upah dosa ialah maut”) telah dipenuhi oleh Yesus sebagai 

korban sembelihan di atas kayu salib. Oleh sebab  itu semua orang yang 

percaya kepada-Nya kini dapat menghampiri Tuhan, sebab  Tuhan ingin 

memiliki hubungan intim dengan ciptaan-Nya (Kejadian 3:8-11) namun  

hanya dosalah yang menghalangi itu terjadi. 

Kalau membaca seluruh Perjanjian Lama dengan teliti hal ini dapat 

dimengerti. Semua isi Alkitab memang berguna, termasuk semua 

penjelasan tentang sistem korban sembelihan. Namun Tuhan juga berjanji 

untuk membuat perjanjian baru dengan umat-Nya yaitu bahwa korban 

hewan yang kurang sempurna akan diganti dengan korban sempurna, 

Mesias, Yesus itu. Korban hewan dalam Hukum Taurat hanya bersifat 

sementara menantikan korban yang sempurna yang membawa 

keselamatan bagi semua yang percaya kepada-Nya, (lihat Galatia 3:19-25; 

Ibrani 9:11-28). 

Banyak kitab menggambarkan Sang Mesias yang datang dengan membawa 

perjanjian baru. Dalam hal ini, Tuhan menjadikan Yesus “sebagai korban 

penebusan dosa” dan dikatakan, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang 

ditanggungnya, dan kesengsaraan kita dipikulnya, padahal kita mengira dia 

kena tulah, dipukul dan ditindas Tuhan. namun  dia tertikam oleh sebab  

pemberontakan kita, dia diremukkan oleh sebab  kejahatan kita; ganjaran 

yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya.” (Lihat 

Yesaya 53). 

Anda dapat saja membayar harga dosa-dosa anda – harganya adalah maut 

yang kekal. Dengan kata lain, Anda akan mati sebagai bayaran atas dosa-

dosa Anda dan masuk ke api jahanam neraka yang kekal. Atau, sebab  

kasih Tuhan, Anda dapat meminta Sang Mesias untuk membayarkan harga 

ini  sebagai pengganti bagi Anda. Inilah yang akan membuat Anda 

berdamai dengan Tuhan. Tuhan akan mengizinkan Anda masuk surga yang 

kekal sebab  keadilan-Nya sudah dipuaskan. Yohanes Pembaptis telah 

berseru saat  ia melihat Yesus Mesias, “Lihatlah Anak Domba Tuhan, yang 

menghapus dosa dunia.” Melalui korban kematian-Nya, sistem 

pengorbanan lama yang mengorbankan binatang terus-menerus menjadi 

tidak berlaku lagi sebab  sudah tergenapi. 

Yohanes juga mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak (Yesus), ia 

beroleh hidup yang kekal, namun  barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia 

tidak akan melihat hidup, melainkan murka Tuhan tetap ada di atasnya.” 

(Yohanes 1:29; 3:36). 

Pengikut-pengikut Yesus telah berjalan di dalam „janji yang baru‟ dan yakin 

bahwa darah Yesus telah menebus segala dosa mereka. Mereka tidak hidup 

di bawah „janji lama‟ yang dibuat Tuhan dengan orang-orang Israel di 

Gunung Sinai. Di dalam hidup di bawah „janji baru‟ ini, para pengikut Yesus 

tetap memiliki hukum yang mengatur. Isinya tetap berhubungan dengan 

apa yang telah tertulis dalam Perjanjian Lama, namun  tentunya dalam 

konteks yang baru, yaitu yang telah digenapi di dalam Yesus Kristus. Jadi 

jelas ada kesinambungan, penyingkapan dan pembaharuan dari kedua 

„janji‟ ini  – baru dan lama. Dengan demikian jelas bahwa kitab suci 

bermanfaat untuk dipelajari, untuk mengetahui dari mana kita berasal dan 

kemana kita akan pergi. 

Catatan: Pararel dengan isu yang ditampilkan Shabbir di atas, tidakkah Al 

Qur‟an terang-terangan memposisikan Yesus sebagai legislative, pembuat 

Undang-Undang Ilahi? Sebab siapakah Dia yang boleh menjungkir-balikkan 

Hukum Tuhan, “yang haram menjadi halal”? (Surat 3:49-50). [DAN sebab  

Islam menolak konsep penebusan dosa, maka bagaimanakah teologi Islam 

harus memberi jawab terhadap kontradiksi sifat-sifat Tuhan yang 

Mahakasih (yang mengampuni dosa umatNya), namun  juga sekaligus Maha-

adil (tidak bisa mengampuni, sebab  setiap dosa harus dihukum demi 

keadilan-Nya). Hanya konsep substitusilah (penebusan oleh korban 

pengganti) yang dapat menjembatani ketegangan antara kasih-Nya dan 

Adil-Nya!]. 

65. Tulisan apa yang sebenarnya terdapat di atas salib Yesus, sebab  

(baik Matius 27:37, Markus 15:26, Lukas 22:38 dan Yohanes 19:19) 

semuanya menuliskannya secara berlainan? 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Pertentangan semu di atas timbul dari pertanyaan, “Apa sebenarnya yang 

tertulis di atas kayu salib?” sebab  ayat-ayat di dalam Matius 27:37, 

Markus 15:26, Lukas 23:38 dan Yohanes 19:19 menuliskan kalimat yang 

berbeda-beda tentang tulisan di atas kayu salib Yesus. namun  hal ini 

sebenarnya dapat dengan mudah dipahami jika kita membaca ayat 

Yohanes 19:20, yang berbunyi: 

“Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat dimana 

Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam 

bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.” 

Adalah menarik bahwa Pilatus dikatakan yang menuliskan teks ini , 

dan bisa saja tulisan ini  ditulis dalam berbagai bahasa yang dikuasai 

oleh Pilatus. namun , inti tuduhan yang dikenakan kepada Yesus untuk apa 

Dia disalibkan, adalah tuduhan, bahwa Yesus mengklaim diriNya sebagai 

“Raja Orang Yahudi”. Ini terdapat dalam semua kitab Injil secara jelas. Jika 

kita tidak mengerti kunci tuduhan ini, mungkin kita akan terjebak ke dalam 

sebuah pertentangan, namun  kenyataannya tidak demikian. Untuk 

penjelasan lebih lanjut, silahkan perhatikan penjelasan Archer. (Archer 

1982:345-346). 

66. Apakah Herodes yang ingin membunuh Yohanes Pembaptis (Matius 

14:5) atau istrinya, Herodias? (Markus 6:20) 

(Kategori: salah memahami maksud penulis) 

Kontradiksi semu di atas menunjuk pada perkiraan Shabbir, “Apakah 

Herodes ingin membunuh Yohanes Pembaptis atau tidak?” Shabbir 

menggunakan Matius 14:5 sebagai ayat pendukung untuk membuktikan 

bahwa Herodes berniat membunuh Yohanes, sedang  Markus 6:20 

membuktikan bahwa Herodes tidak ingin membunuhnya. Padahal cerita 

pada kedua ayat di atas saling melengkapi. 

Jika kita baca seluruh kisah dalam Matius 14:1-11 dan Markus 6:14-29, 

maka sejauh yang kita baca di dalamnya tidak terdapat pertentangan 

apapun. Mencari-cari pertentangan demikian sama saja dengan mencari-

cari permasalahan seperti pertanyaan pada nomor 50. Pada kedua pasal di 

atas, kita baca bahwa Herodes memerintahkan untuk memenjarakan 

Yohanes Pembaptis atas desakan dan pengaruh istrinya, Herodias. Jadi 

jelas pengaruh itulah yang menjadi faktor penting atas dipenggalnya kepala 

Yohanes Pembabtis. Markus menuliskan cerita ini lebih mendetail 

dibandingkan kitab Matius yang ditulis belakangan. sebab  itu Matius tidak 

mau membuang-buang waktu dengan menceritakan hal-hal yang telah 

diketahui sebelumnya melalui kitab Markus. Hal lainnya yang perlu 

diperhatikan juga, Markus tidak mengatakan dalam kitabnya, bahwa 

Herodes tidak mau membunuh Yohanes, namun  disebutkan bahwa Herodes 

menyimpan ketakutan kepadanya, sebab  Yohanes adalah orang yang 

benar dan suci, dan ditambahkan lagi oleh Matius, sebab  Yohanes 

mempunyai pengaruh besar diantara banyak orang. 

67. Apakah murid Yesus yang kesepuluh dari dua belas orang murid-

murid-Nya bernama Tadeus (Matius 10:1-4; Markus 3:13-19) ataukah 

Yudas anak Yakobus? (Lukas 6:12-16) 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Kedua ayat diatas sama-sama benar. Pada masa itu sudah biasa bagi 

orang-orang Yahudi menggunakan lebih dari satu nama. Misalnya, Simon 

atau Kefas, dipanggil juga Petrus (Markus 3:16) dan Saulus dipanggil juga 

Paulus (Kisah Para Rasul 13:9). Tak ada bukti pemakaian nama tunggal 

secara eksklusif sampai diganti dengan nama lain. Kedua nama mereka 

dapat tetap digunakan secara bergantian. 

 

 

68. Apakah pria yang Yesus lihat sedang duduk di rumah cukai, yang 

kemudian dipanggil menjadi murid-Nya itu, bernama Matius (Matius 

9:9) atau Lewi? (Markus 2:14; Lukas 5:27) 


(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Jawaban pertanyaan diatas persis sama dengan pertanyaan sebelumnya, 

dimana kedua ayat ini  sama-sama benar. Matius dipanggil juga Lewi 

seperti yang dikatakan kedua ayat di atas. 

Adalah menarik mengetahui bahwa Shabbir Ally pernah juga melakukan 

kebiasaan semacam ini. dalam persiapan perdebatan di Birmingham, 

Inggris pada bulan Februari 1998, ia tanpa merasa bersalah menggunakan 

nama samaran (Abdul Abu Saffiyah, yang artinya Abdul, ayah dari Saffiyah, 

nama anak perempuannya) untuk mengelabui lawan berdebatnya, yaitu 

Jay Smith. Dengan menyembunyikan identitasnya itu, ia menolak persiapan 

yang telah dilakukan sah oleh Bapak Smith. Jadi, sementara dia boleh 

bermain dengan nama ganda, kini ia menuduhnya sebagai kontradiksi 

saat  berhadapan dengan nama ganda yang terjadi pada orang-orang 

Palestina di abad pertama. Padahal praktek di zaman itu, mereka dapat 

menggunakan hal itu secara legal dan tidak mencurangi siapapun. 

Adalah absah menggunakan nama alternatif secara jujur. namun  dalam 

kecurangan dan praktek penipuan seperti yang dilakukan Mr. Ally Shabbir 

di atas, hanyalah menunjukkan adanya kaitan munafik bila masih juga 

mengajukan dua pertanyaan seperti di atas. 

69. Apakah Yesus disalibkan pada siang hari sesudah  perjamuan Paskah 

(Markus 14:12-17) atau pada siang hari sebelum perjamuan Paskah? 

(Yohanes 13:1,30,29,18:28) 

(Kategori: salah memahami konteks historis) 

Yesus disalibkan pada siang hari sebelum perjamuan Paskah. Alasan 

Markus seolah-olah mengatakan bahwa peristiwa penyaliban itu terjadi 

sesudah  perjamuan Paskah, hanyalah merupakan masalah budaya dan 

kontekstualisasinya. 

Bukti kencang dalam kitab Injil adalah bahwa Yesus mati pada saat 

menjelang malam Paskah, saat  perjamuan Paskah akan disantap, sesudah  

matahari terbenam. Sebelum kita tuntaskan masalah ini, harap perhatikan 

bahwa Markus 14 telah menjelaskan bahwa Yesus tidak makan perjamuan 

Paskah bersama murid-murid-Nya. 

Lukas 14:12 menyebutkannya sebagai “Hari Raya Roti Tidak Beragi” yang 

disebutnya juga sebagai “Paskah”. Seperti namanya, hari raya ini 

diselenggarakan dengan memakan roti yang tidak beragi. Ini adalah 

perintah yang ditaati orang-orang Yahudi bahkan taat sampai saat ini untuk 

perjamuan Paskah, sebab  Tuhan memerintahkannya dengan amat jelas, 

“Dalam bulan pertama, pada hari yang ke 14 pada waktu petang…kamu 

makanlah roti yang tidak beragi, sampai pada hari yang ke-21 bulan itu, 

pada waktu petang.” (Baca Keluaran 12:1-20). 

Kata Yunani untuk “roti tak beragi” adalah “azymos”. Kata inilah yang 

digunakan oleh Markus dalam “Hari Raya Roti Tidak Beragi” pasal 14:12, 

sedang  kata Yunani untuk roti biasa (beragi) adalah “artos”. Seluruh 

penulis kitab Injil termasuk Markus, menulis yang sama, bahwa saat itu 

merupakan perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya memakan 

artos (roti biasa beragi). “Dan saat  Yesus dan murid-muridNya sedang 

makan, Yesus mengambil roti (artos), mengucap berkat, memecah-

mecahkannya lalu memberi nya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, 

inilah tubuh-Ku.” (Markus 14:22). Oleh sebab  itu, perjamuan makan pada 

malam itu walaupun sebuah perjamuan Paskah namun itu bukan 

perjamuan Paskah dengan Roti Tidak Beragi sebab itu hanya dapat dimulai 

pada waktu petang tanggal 14 saat Yesus ada di kayu salib. 

Hal ini  ditunjukkan dengan adanya penggunaan kata yang berbeda 

pada pasal yang sama. sebab  untuk Paskah tidak mungkin mereka akan 

memakan sesuatu yang telah dilarang oleh Tuhan (yaitu roti beragi – artos) 

dan tidak memakan sesuatu yang diperintahkan untuk dimakan (yaitu roti 

tidak beragi – azymos). 

Jikalau begitu, lalu apa maksud Markus 14 dalam ayat 12-17? 

Pertama, kita baca, “ada tradisi pada waktu itu untuk menyembelih domba 

Paskah.” Perjamuan Paskah hanya dilaksanakan pada hari ke-14 pada 

bulan Nisan. namun  ternyata ada perbedaan pendapat dalam hal 

menentukan hari itu, sebab  mereka menggunakan sistem kalender yang 

berbeda untuk menghitung hari-hari raya. Tampaknya perbedaan tradisi ini 

terus berlanjut sampai pada masa kehidupan Yesus. Jadi memang sebagian 

orang sudah bisa mulai menjalankan tradisi mereka dengan mengorbankan 

domba Paskah pada hari itu, sementara sebagian orang lainnya 

menganggap bahwa Paskah baru akan dirayakan esok malamnya. 

Perbedaan kebiasaan ini disebabkan sebab  hari Yahudi dimulai pada jam 

6.00 petang sedang  hari Romawi mulai pada jam 12.00 tengah malam. 

Kedua, murid-murid-Nya bertanya kepada Yesus, “Ke tempat mana Engkau 

kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” 

Mereka tidak menyangka bahwa malam itu Yesus akan segera 

menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dunia sama seperti domba 

Paskah dalam Keluaran 12 yang dikorbankan untuk menyelamatkan orang 

Israel dari murka Tuhan terhadap orang Mesir. Yesus sesungguhnya telah 

menjelaskan kepada mereka, namun  mereka tidak dapat memahami 

pengorbanan ini sebab  berbagai alasan, termasuk saat  Yesus dielu-

elukan oleh orang-orang Israel sebagai Mesias (Raja Penyelamat, bukan 

korban), yang masih terus „bergema di telinga mereka‟. Dia tidak 

menyatakan bahwa Ia akan makan perjamuan Paskah bersama-sama 

dengan mereka. Yesus sangat ingin, namun  Ia tahu hari-Nya tidak sampai 

untuk melakukannya. Tidak ada peluang bagi satu dogma pun yang dapat 

menyatakan bahwa perjamuan Paskah harus dimakan pada hari yang sama 

saat  ruang perjamuan ini  dipinjam dan disiapkan. namun  yang pasti, 

orang-orang Yahudi, sebab  telah diatur dalam Keluaran 12, 

mempersiapkan rumah mereka untuk Hari Raya Roti Tidak Beragi. 

Ketiga, dalam beberapa cara, Kitab Injil menceritakan tentang Perjamuan 

Makan Malam Terakhir, dalam bentuk penggenapan karya Yesus, seperti 

misalnya Lukas 22 yang menuliskan kerinduan Yesus untuk makan 

perjamuan Paskah “ini” bersama dengan murid-murid-Nya. Lalu apakah 

Lukas mengatakan bahwa saat itu adalah Perjamuan Paskah? Tidak bukan? 

Mengapa? Antara lain sebab  penggunaan yang sama untuk kata artos dan 

azymos. Yesus memang menjadikan makan malam terakhir ini sebagai 

sejenis santapan Paskah (tidak dalam artian sebenarnya melainkan 

simboliknya) sebab  Ia hendak bersekutu secara khusus dengan murid-

murid-Nya, menyadari akhirnya Ia harus masuk ke dalam penderitaan 

beberapa jam sesudah  itu. 

Ia juga ingin menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Paskah itu 

berbicara tentang diri-Nya, yaitu bahwa Ia adalah korban yang memberi  

Perjanjian Baru yang telah Tuhan janjikan (lihat pertanyaan nomor 63 dan 

34) seperti domba yang disembelih 1.500 tahun lalu untuk menyelamatkan 

orang-orang Israel dari murka Tuhan. Dalam perjamuan ini , Yesus 

menggambarkan diri-Nya sebagai “Anak Domba Tuhan yang menghapus 

dosa dunia” seperti yang dikatakan Yohanes Pembaptis tentang diri-Nya 

(Yohanes 1:29). Ia ingin menyantap makanan ini  bersama mereka 

sebab  Ia mengatakan, “Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia 

beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Tuhan” (Lukas 22:16). Dan 

kegenapan itu adalah kematian-Nya, “Sebab anak domba Paskah kita juga 

telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Korintus 5:7). 

Jika pengertian di atas benar (satu dari dua penjelasan di atas diperoleh 

dari penelitian saya sendiri), maka tidak ada pertentangan dalam hal ini. 

Yesus mati sebelum hari raya Paskah. 

 

70. Apakah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya supaya diselamatkan dari 

penyaliban (Matius 26:39; Markus 14:36; Lukas 22:42) atau tidak 

berdoa untuk itu? (Yohanes 12:27) 

(Kategori: salah membaca ayat) 

Pertentangan semu mempertanyakan, “Apakah 

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya agar mencegah 

diri-Nya dari penyaliban?” seperti yang 

diperlihatkan Matius 26:39; Markus 14:36 dan 

Lukas 22:42; sementara Yohanes 12:27 

mengesankan Yesus tidak berdoa seperti itu 

kepada Bapa-Nya? 

Usaha mempertentangkan cerita di atas 

tampaknya sia-sia saja. Matius 26:39, Markus 

14:36 dan Lukas 22:42 menceritakan kisah yang 

sama yang terjadi di Taman Getsmani sebelum Yesus ditahan. Dalam 

seluruh cerita ini tidak ada satu katapun yang menyatakan bahwa Yesus 

meminta agar penyaliban itu dicegah, melainkan untuk mengekspresikan 

kengerian-nya atas sakit dan penderitaan yang akan Ia alami pada saat Ia 

diadili, dianiaya, dipukul, dicambuk, sendirian ditinggalkan orang lain dan 

bahkan pengalaman yang paling menakutkan, yaitu keterpisahan-Nya 

dengan Tuhan kelak di kayu salib, hingga kepada pengalaman penyaliban 

itu sendiri beberapa jam dari sekarang ini. namun , yang terpenting dalam 

kondisi seperti itu, Yesus tetap meminta kehendak Bapa-Nya untuk 

diwujudkan, sebab  menyadari bahwa inilah klimaksnya yang Ia akan 

disalibkan, mati dan dibangkitkan untuk menebus dosa seluruh umat 

manusia di dunia. 

Yohanes 12:27 menulis hal ini dari situasi yang berbeda, sebelum saat dan 

kejadian ini  di atas berlangsung. Dikatakan bahwa Yesus berbicara 

kepada orang banyak pada Perayaan Paskah di Bait Tuhan di Yerusalem 

(bahkan sebelum pertemuan Yesus dengan kedua belas murid-murid-Nya 

di ruang atas). Dalam kesempatan ini Yesus mengatakan sesuatu yang 

hampir serupa dengan kalimat diatas, yaitu bukan meminta agar 

penyaliban dicegah: “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan 

Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? tidak, sebab untuk 

itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa muliakanlah nama-Mu!” 

Kembali disini diberitahukan perasaan-Nya yang sedang terganggu, bukan 

pernyataan yang menunjukkan bahwa Yesus hendak meminta pembatalan 

peristiwa penyaliban. 

 

71. Apakah Yesus tiga kali bolak-balik untuk berdoa (Matius 26:36-46; 

Markus 14:32-42) atau satu kali (Lukas 22:39-46) dari tempat murid-

murid-Nya? 

(Kategori: ayat diartikan dengan pemikiran sempit) 

Shabbir menanyakan berapa kali Yesus meninggalkan murid-muridNya 

untuk berdoa sendirian di Taman Getsmani pada malam Ia ditangkap. 

Matius 26:36-46 dan Markus 14:32-42 menggambarkan hanya satu kali. 

namun  sekali lagi, sesungguhnya tidak ada kontradiksi dalam pertanyaan 

diatas jika Anda menyadari bahwa ketiga kalimat di atas saling melengkapi 

saat  dilaporkan oleh tiga orang yang berbeda dengan gaya dan fokus 

yang berbeda. 

Perhatikan bahwa Lukas sama sekali tidak menyebutkan bahwa Yesus tidak 

meninggalkan murid-muridNya tiga kali dan berdoa. Meskipun tidak 

menyebut tiga kali, bukan berarti Yesus tidak melakukan hal ini . 

Lukas jelas tidak menganggap keadaan ini  relevan untuk kitabnya. 

72. saat  Yesus berdoa untuk kedua kalinya, apakah kata-kata-Nya 

tetap sama (Markus 14:39) atau berbeda? (Matius 26:42) 

(Kategori: memaksakan pengertian sendiri) 

Kontradiksi semu di atas membandingkan Matius 26:36-46 dengan Markus 

14:32-42, khususnya ayat 42 dan 39, yang sebenarnya tidak terdapat 

sedikitpun pertentangan. Shabbir mempertanyakan: “Apa yang disebutkan 

dalam doa Yesus yang kedua kali?” di taman Getsmasni. 

Shabbir memegang teguh perkataan Markus bahwa “kata-kata dalam 

doanya yang kedua sama seperti yang pertama” (Markus 14:39). namun  

mari kita lihat bersama apa yang dikatakan Markus tentang doa kedua ini 

dalam Markus 14:39: “Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu 

juga” 

Tidak satupun dalam ayat ini menyebutkan bahwa Yesus menyebutkan 

kata-kata yang sama persis dalam doanya seperti doa sebelumnya, namun  

maksud Markus mengatakan “mengucapkan doa yang itu juga” adalah 

dalam arti inti doa seperti yang disebutkan dalam Matius. (Bila bukan inti 

doa yang dimaksudkan, tentu doa Yesus ini amat singkat dan tidak akan 

mengambil waktu satu jam, ayat 40). Jika kita bandingkan kedua doa yang 

dinaikkan oleh Yesus di taman Getsmani dalam kitab Matius (ayat 39 dan 

42) dapat kita lihat bahwa pada dasarnya maksud kedua doa ini sama, 

walaupun tidak menggunakan kata-kata yang sama. Di ayat 44, Matius 

mengatakan bahwa Kristus “berdoa untuk yang ketiga kalinya dan 

mengucapkan doa yang itu juga.” Jadi jiia menurut Shabbir dua doa yang 


pertama berbeda, lalu doa Yesus yang ketiga sama dengan doa yang 

mana? 

Tampaknya Shabbir hanya memahami doa Yesus dari kata-kata hurufiah 

ala formula doa Islam yang sebenarnya tidak demikian dilakukan Yesus. 

Mungkin anda berpikir bahwa doa di atas merupakan bentuk doa tetap 

yang diulang-ulang setiap hari, seperti yang dilakukan oleh umat Islam. 

namun  sebenarnya doa ini adalah doa curahan dari hati yang “dijeritkan” 

oleh Yesus sebab  tekanan dan situasi yang amat pekat yang dihadapi-Nya. 

Suasana doa semacam itu dicetuskan dalam ikatan kasih yang 

mengalahkan bentuk-bentuk ikatan aksara yang hurufiah yang diharuskan 

sama oleh Shabbir. 

73. Apakah kepada pasukan mengatakan bahwa Yesus adalah orang 

benar (Lukas 23:47) atau Yesus adalah Anak Tuhan? (Markus 15:39) 

(Kategori: ayat diartikan secara sempit) 

Pertanyaan di atas berkaitan dengan pernyataan yang diajukan oleh kepala 

pasukan pada saat Yesus mati di kayu salib, didasarkan pada dua ayat 

dalam Markus 15:39 dan Lukas 23:47. namun  seperti yang sebelum-

sebelumnya, kedua ayat di atas bukan merupakan pertentangan melainkan 

pernyataan yang saling melengkapi. 

Matius 27:54 dan Markus 15:39 sama-sama setuju bahwa kepala pasukan 

menyatakan Yesus adalah “Anak Tuhan!” namun  Lukas 23:47 menyebutkan 

bahwa kepala pasukan itu mengatakan Yesus adalah “orang benar”. 

Apakah teramat sulit dipercaya jika kepala pasukan itu mengatakan kedua-

duanya? (Bahkan ada lagi ucapannya yang tidak dicatat sebab  dianggap 

kurang relevan atau signifikan). Pola ini  sering terjadi pada 

penyaksian Injil, sebab  tidak satupun kitab Injil menyatakan bahwa 

ucapan kepala pasukan pada salah satu ayat di atas merupakan 

keseluruhan ucapannya. Oleh sebab  itu jangan berpikiran sempit atas apa 

yang dikatakan oleh kepala pasukan terhadap Yesus. 

Matius d