cium Yesus atau tidak. Tampaknya Shabbir terlalu
memaksakan pertanyaan di atas. Bahwa Yohanes tidak menyebutkan
sebuah ciuman, bukan berarti bahwa Yudas tidak menggunakan sebuah
ciuman. Kita sering menemukan dalam kitab Injil bahwa ada penulis yang
dengan sengaja menuliskan informasi tertentu sedang yang lainnya
tidak. namun itu tidak berarti bahwa keduanya bertentangan, melainkan
sebagai saksi mata, mereka melihat peristiwa dari maksud pandangan yang
lain, sehingga mereka menuliskan kesaksian-kesaksian berdasar apa
yang mereka pandang penting untuk dituliskan.
(Light of Life III 1992:107)
48. Apakah Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok
(Yohanes 13:38) atau menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok
dua kali? (Markus 14:30,72)
(Kategori: penemuan naskah yang lebih tua)
Tuduhan di atas menyatakan pertentangan mengenai perkataan Yesus
kepada Petrus, mana yang benar, “sebelum ayam berkokok, engkau telah
menyangkal Aku tiga kali” ataukah “sebelum ayam berkokok dua kali,
engkau telah menyangkal Aku tiga kali”. Masalah ini sebenarnya terletak
pada fakta naskah-naskah. Mari kita simak.
Matius 26:33-35, 74-75, “sebelum ayam berkokok engkau telah
menyangkal Aku tiga kali.”
Lukas 22:31-34, 60-62, “hari ini ayam tidak akan berkokok sebelum
engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”
Yohanes 13:38, “sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku
tiga kali.”
Dengan melihat kutipan di atas, maka terlihat bahwa ayat dalam Markus
berbeda sendiri. Namun beberapa naskah Markus yang tua memang tidak
memuat kata-kata tentang berkokoknya ayam untuk pertama kali seperti
yang dicantumkan dalam terjemahan King James (ayat 14:68).
Penjelasan yang masuk akal adalah bahwa kokok ayam yang pertama
(dalam terjemahan King James) memang merupakan kata tambahan,
namun kata yang lain, yaitu “kedua kali” (dalam ayat 30 dan 72) merupakan
kata aslinya seperti yang terdapat dalam Alkitab terjemahan New
International. Se-ekor ayam dapat saja )dan seringkali) berkokok lebih dari
satu kali, sekali ia berkokok. Maka dalam hal ini tidak ada pertentangan
mutlak. Sebab kokok ayam yang pertama dan yang kedua bisa berentetan,
dan Petrus teringat akan perkataan Yesus saat ayam berkokok yang
kedua kali. Jika kita mendengar ayam telah berkokok dua kali, tentu itu
___________________ 45
berarti ada kokok ayam yang pertama kali. Dalam hal ini, Markus hanya
memberi informasi tanbahan dibandingkan penulis kitab Injil lainnya.
49. Apakah Yesus memikul salib-Nya sendiri (Yohanes 19:17) atau
tidak? (Matius 27:31-32)
(Kategori: salah mengartikan ayat, atau ayat dicocokkan dengan
pertimbangan sempit)
Yohanes 19:17 menyatakan bahwa Yesus memikul
salib-Nya sendiri ke tempat yang bernama “tempat
tengkorak”. sedang Matius 27:31-32
mengatakan bahwa Ia disalibkan di Golgota namun
Simon dari Kirene-lah yang dipaksa untuk memikul
salib-Nya menuju ke Golgota.
Markus 15:20-21 sama dengan Matius memberi
informasi tambahan bahwa Yesus mulai memikul
salib sejak dari istana Pilatus (Praetorium).
sedang Simon, ia sedang berjalan dari luar kota
melintasi jalan yang dilalui oleh Yesus yang sedang
memikul salib. Ini menunjukkan bahwa Yesus telah
melalui jalan yang cukup jauh, mulai dari tempat Pilatus sampai di jalan
ini . Saat itu, kondisi Yesus teramat lemah akibat dicambuk dan
disiksa, dan Ia tidak sanggup lagi membawa salib yang berat sehingga Ia
terjatuh atau hampir tak mampu berjalan ke depan. Melihat hal ini, seorang
pasukan kemudian memaksa Simon untuk menggantikan Yesus
membawakan salib-Nya. Lukas 23:26 juga sepakat menyatakan bahwa
Simon ditahan untuk ganti memikul salib Yesus, sementara Yesus
dibebaskan dari pikulan. Dengan demikian tidak ada pertentangan, Yesus
yang memulai memikul salib namun kemudian Simon yang mengambil alih
di tengah-tengah perjalanan, sampai ke tempat tujuan.
50. Apakah Yesus mati sebelum tirai Bait Tuhan terbelah dua (Matius
27:50-51; Markus 15:37-38) atau sesudah nya? (Lukas 23:45-46)
(Kategori: salah mengartikan ayat)
sesudah membaca tiga ayat dalam Matius 27:50-51, Markus 15:37-38 dan
Lukas 23:45-46, tidak jelas pada bagian mana Shabbir menemukan
pertentangan. Ketiga ayat diatas menunjuk kepada fakta bahwa pada saat
Yesus wafat maka tirai Bait Tuhan terbelah dua. Apakah hanya sebab
Matius dan Markus menceritakan peristiwa kematian Yesus lebih dulu
___________________ 46
daripada terbelahnya tirai Bait Tuhan, sedang Lukas sebaliknya, maka
ayat-ayat di atas dapat dianggap saling bertentangan? Justru Matius
menggambarkan bahwa kedua peristiwa ini terjadi “bersamaan” dan kedua
penulis lainnya tidak menyangkal hal ini.
Mereka semua setuju bahwa dua peristiwa di atas terjadi secara
berbarengan dan justru menjadi alasan yang kuat; sebab tirai Bait Tuhan
ini melambangkan batas pemisahan antara Tuhan dan manusia.
saat tirai ini terkoyak dengan matinya sang Mesias, maka manusia
kini memiliki kembali kesempatan untuk tidak dipisahkan (yang dulu
terhilang oleh pengusiran terhadap Adam dari hadirat Tuhan di taman
Eden) dan kini dipersatukan kembali dengan Tuhan.
51. Apakah Yesus mengatakan segala sesuatu secara terbuka kepada
semua orang (Yohanes 18:20) ataukah Ia hanya terbuka untuk
murid-murid-Nya? (Markus 4:34, Matius 13:10-11)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Alasan orang-orang mengatakan bahwa Yesus bertentangan dalam hal
berkata-kata secara tersembunyi atau terus terang, khususnya yang
berhubungan dengan perumpamaan, adalah sebab kekurangpahaman
mereka terhadap isi cerita serta budaya yang mendasarinya.
Jawaban pertanyaan ini membutuhkan pengetahuan yang melatarbelakangi
cerita ini, dan saya berharap penjelasan ringkas saya disini dapat
dimengerti.
Pertama, apa itu perumpamaan? Perumpamaan adalah sebuah cerita untuk
menjelaskan, menekankan atau mengilustrasikan suatu pengajaran, namun
bukan pengajaran itu sendiri. Yesus adalah Rabi (Guru) Yahudi. Dalam
tulisan para Rabi ada terdapat hampir 4000 perumpamaan. Dan sebagai
seorang Rabi, Yesus juga melakukan tradisi seperti ini, Ia menginstruksikan
ajaran-Nya melalui perumpamaan. Yesus menggunakan cerita yang kaya
yang diketahui oleh orang-orang Yahudi tentang tanaman, binatang dan
lain-lain. Oleh sebab itu perumpamaan-perumpamaan Yesus mudah
dimengerti oleh para pendengar-Nya. Perumpamaan-perumpamaan itu
bukan saja kaya imajinasi namun juga halus, sehingga bisa dimengerti oleh
orang-orang awam, namun pada saat yang sama mensita dan memutar-
mutar otak para sarjana demi mendapatkan arti yang sedalam dan
seluasnya untuk perumpamaan. Jadi Yesus seringkali memperjelas dan
memperlebar arti sebuah perumpamaan kepada para pengikut dan murid-
murid terdekat-Nya untuk menjawab keingintahuan mereka atau untuk
menginstruksikan pemahaman ajaran-ajaran yang lebih jauh lagi kepada
mereka, sebagaimana layaknya seorang guru Yahudi.
___________________ 47
Hal ini dapat dilihat dari Markus 33-34, yang menyebutkan, “Dalam banyak
perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka
(orang banyak) sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa
perumpamaan (untuk menjelaskan, menekankan, atau mengilustrasikan
pengajaran) Ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka. namun kepada
murid-murid-Nya ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri
(mengajarkan lebih banyak lagi supaya mereka dapat lebih mengerti
dibandingkan orang-orang banyak pada saat itu).”
Artinya, perumpamaan bukanlah ajaran rahasia, dan juga bukan
merupakan pengetahuan yang hanya dapat diketahui oleh sebagian orang
yang benar-benar ingin mengetahui. Sangat tidak masuk akal (dan tidak
memiliki dasar sejarah) jika dikatakan bahwa Yesus membingungkan orang
banyak. Dia berkeliling berkhotbah dan memberi pengajaran dan
peristah kepada orang banyak. Jadi saat Yesus diadili, mengenai ajaran-
Nya (Yohanes 18:20), maka Ia layak berkata, “Aku selalu mengajar di
rumah-rumah ibadat dan di Bait Tuhan, tempat semua orang Yahudi
berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.” Dan Yesus
benar. Dia tidak melempar batu sembunyi tangan.
Banyak menyenangi ajaran Yesus sebab banyak ajaran moral dan
perumpamaan yang bagus di dalamnya, namun tidak banyak orang yang
mau mengikuti-Nya sebab harga yang harus dibayarkan terlalu mahal
(lihat Lukas 9:57-61, 14:25-27,33). Dan hal inilah yang baru saja dipahami
oleh para pengikut-Nya sebab mereka benar-benar mengikut Yesus.
Rahasia kerajaan surga adalah seperti yang dikatakan dan dijelaskan
kepada murid-murid-Nya dalam Matius 13:10-11: “Maka datanglah murid-
murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: Mengapa Engkau berkata-kata
kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus: Kepadamu diberi
karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, namun kepada mereka
tidak. Rahasia ini intinya ialah bahwa Yesus adalah Tuhan, Yesus
adalah Raja, Yesus adalah Mesias, Yesus adalah tokoh yang dibicarakan
oleh para nabi, Yesus adalah Juruselamat umat manusia, Yesus adalah
wahyu terbesar dari Tuhan, Dialah Alfa dan Omega (Wahyu 21:6-8, 22:12-
16), dan Dialah satu-satunya jalan menuju Bapa di surga (Yohanes 3:36,
Roma 6:23).
Firman-Nya bukan saja menyelamatkan manusia namun juga untuk
menghakimi mereka yang “mendengar namun tidak mengerti, melihat namun
tidak menanggapi” (Matius 13:14) terhadap mereka yang tidak mau
mengerti dan bertobat serta tunduk kepada Tuhan.
52. Apakah Yesus sudah disalibkan (Markus 15:23) atau masih berada
di tempat Pilatus (Yohanes 19:14) pada jam enam saat peristiwa
penyaliban terjadi?
___________________ 48
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Jawaban paling mudah untuk pertanyaan di atas adalah dengan memahami
bahwa para penulis kitab Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas)
menggunakan sistem bilangan waktu yang berbeda dengan yang digunakan
oleh Yohanes. Para penulis Injil sinoptik memakai sistem tradisional Ibrani,
dimana jam mulai dihitung sejak matahari terbit (Jadi jam awal harinya
kurang lebih pukul enam menurut perhitungan modern). Itu berarti bahwa
penyaliban Yesus yang dilakukan sekitar jam tiga menurut sistem tradisi
Ibrani, adalah sama dengan pukul sembilan pagi waktu perhitungan
modern.
Sebaliknya, Yohanes menggunakan sistem perhitungan jam menurut
orang-orang Romawi, yang satu harinya dihitung mulai dari tengah malam
sampai tengah malam berikutnya, seperti yang kita lakukan saat ini. Pliny
the Elder (Natural History 2.77) dan Macrobius (Saturnalia 1.3) dapat
memberi informasi lebih banyak mengenai hal ini. jadi penyaliban Yesus
yang dilaksanakan pada pukul tiga menurut perhitungan jam Ibrani, adalah
sama dengan jam 9.00 pagi menurut hitungan jam Romawi.
Jawaban di atas bukan asal memelintir, melainkan benar-benar bahwa
Yohanes menggunakan sistem hitungan waktu cara Romawi, walaupun ia
adalah orang Ibrani sama seperti Matius, Markus dan Lukas. Injil Yohanes
ditulis sesudah ketiga Injil sebelumnya ditulis, yaitu sekitar tahun 90 M.
pada saat itu Yohanes sedang tinggal di Efesus, yang menjadi ibukota
propinsi Roma di Asia, sehingga ia menjadi terbiasa menggunakan hitungan
waktu berdasar cara orang-orang Roma. Bukti lebih jauh dapat
ditemukan dalam tulisan Yohanes 20:19, “saat hari sudah malam pada
hari pertama minggu itu.” Itu berarti hari Minggu malam, sedang
menurut orang Ibrani itu adalah hari berikutnya, sebab sebuah hari,
menurut mereka, dimulai pada saat matahari terbenam.
(Archer 1994:363-364)
53. Dua orang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, apakah
mereka turut menghujat Yesus (Markus 15:32) atau tidak? (Lukas
23:43)
(Kategori: terlalu mengartikan ayat secara hurufiah)
Pertentangan semu di atas mempertanyakan apakah dari dua orang
penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, kedua-duanya ikut
menghujat atau hanya salah satunya saja. Markus 15:23 mengatakan
___________________ 49
bahwa kedua-duanya menghujat, sedang Lukas 23:43 mengatakan,
yang satu menghujat dan yang lainnya membela Yesus. Tidak sulit untuk
melihat apa yang sedang terjadi pada saat itu. Pada awalnya memang
kedua penjahat itu sama-sama menghujat Yesus, namun sesudah Yesus
berdoa kepada Bapa-Nya, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak
tahu apa yang mereka perbuat,” salah satu di antara mereka langsung
tersentuh hatinya dan berubah pikiran dan bertobat di atas kayu salib,
sedang yang lainnya tetap sikapnya terus menghujat.
Ada sebuah pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa ini yaitu bahwa
Tuhan mengijinkan kita untuk bertobat setiap saat, tidak peduli kejahatan
atau dosa apapun yang kita perbuat. Kedua penjahat ini merupakan
gambaran bagi kita semua. Beberapa diantara kita saat berhadapan
dengan Kristus terus saja menolak dan menghujat Dia, sedang yang
lainnya mengakui bahwa mereka adalah orang berdosa dan meminta
ampun kepada-Nya. Kabar baiknya adalah bahwa sama seperti penjahat di
kayu salib ini, kita dapat diampuni dan dibebaskan dari kesalahan kita,
bahkan saat sedang „menghadapi kematian‟ sekalipun.
54. Apakah Yesus naik ke surga/Firdaus pada hari yang sama dengan
peristiwa penyaliban (Lukas 23:43) atau dua hari sesudah
penyaliban? (Yohanes 20:17)
(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam sejarah)
Anggapan bahwa Yesus bertentangan (atau kitab Injil
saling bertentangan) dalam hal naik ke surga atau
tidaknya sesudah kematian-Nya di kayu salib adalah
berdasar asumsi yang terkait dengan „Firdaus‟,
disamping masalah kontekstualisasi.
Yesus berkata kepada penjahat yang disalibkan,
“Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku
di dalam firdaus.” Ini tentu benar walaupun penjahat itu mati pada hari
yang sama di bumi ini, namun di Firdaus “hari ini” dapat berarti hari apa
saja di bumi, sebab waktu di alam akhirat lain dimensinya dari waktu
dunia.
Yesus berkata kepada Maria Magdalena (Alkitab terjemahan King James),
bahwa Ia belum “naik” kepada Bapa-Nya, namun kata ini dapat juga
berarti Ia belum “pulang” kepada Bapa-Nya.
Sebelum bumi ini terbentuk Yesus ada bersama-sama dengan Tuhan, dan
Ia adalah Tuhan (Yohanes 1 dan Filipi 2:6-11). namun kemudian Ia
meninggalkan seluruh kemuliaan-Nya dan menjadi manusia sepenuhnya
___________________ 50
sekaligus Tuhan sepenuhnya di dalam dunia. Selanjutnya, Tuhan
mengangkat Yesus ke tempat yang maha tinggi sekali lagi, dan duduk di
sebelah kanan-Nya (Kisah Para Rasul 7:56). Dengan dimensi waktu dan
ruang dan massa yang berbeda pada diri Yesus sekarang ini, maka
perkataan-Nya, “Aku belum pergi kepada Bapa” tidak menghilangkan
kemungkinan bahwa Ia berada di surga pada saat antara kematian dan
kebangkitan-Nya menurut “waktu manusia” (walaupun surga tidak memiliki
ikatan waktu). Saya akan berikan satu kalimat analogi untuk menjelaskan
hal ini meskipun tidak bisa sempurna: saya pergi ke rumah asal saya dan
tempat dimana saya tumbuh tanpa harus kembali ke sana. Kembali disini
berarti saya pindah dan tinggal di tempat asal saya.
namun untuk pemahaman yang lebih tepat tentang ayat ini, kita harus
berurusan dengan konteksnya. Ayat “Janganlah kamu memegang Aku,
sebab Aku belum pergi kepada Bapa, namun pergilah kepada saudara-
saudara-Ku…” dalam konteksnya dapat berarti, “Jangan menahan Aku,
Maria – Aku belum meninggalkanmu. Kamu masih akan melihat-Ku lagi.
namun sekarang, Aku ingin kamu pergi dan memberitahukan kepada murid-
murid-Ku bahwa Aku akan segera pergi kepada BapaKu, namun belum
sekarang ini.”
Baik dalam agama Islam maupun Kristen percaya kepada kebangkitan dari
tubuh, dan hidup di alam perantara. Lukas menyatakan bahwa Yesus telah
mati dan Roh-Nya naik ke Firdaus (bandingkan dengan ayat 46). namun ,
Yohanes mengatakan bahwa tubuh Yesus dibangkitkan dari kematian, dan
dalam keadaan seperti itu Ia belum naik kepada bapa-Nya. Faktor waktulah
yang membuat pernyataan di atas terkesan paradox, namun sesungguhnya
kedua ayat ini tidak saling bertentangan.
55. Paulus dalam perjalanannya ke Damaskus melihat cahaya dari
langit dan mendengar sebuah suara. Apakah orang-orang yang ikut
bersamanya juga mendengar suara itu (Kisah Para Rasul 9:7) atau
tidak? (Kisah Para Rasul 22:9)
___________________ 51
(Kategori: salah paham tentang penggunaan
bahasa Yunani atau ayat dipahami secara sempit)
Walaupun kata Yunani yang persis sama digunakan
untuk kedua kejadian ini (yaitu akouo) namun ia
mempunyai 2 makna yang berbeda, yaitu
mendengar (suaranya) dan mendengarkan
(pesannya). Jadi penjelasannya menjadi jelas,
bahwa para pesertanya Paulus mendengar sesuatu
namun tidak memahami apa yang dikatakan.
Paulus sebaliknya, mendengarkannya dan
memahaminya. Tak ada kontradiksi apapun.
56. saat Paulus melihat cahaya dan jatuh ke tanah, apakah teman-
teman seperjalanannya juga jatuh (Kisah Para Rasul 26:14) atau
tidak jatuh ke tanah? (Kisah Para Rasul 9:7)
(Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Yunani atau ayat dipahami
secara sempit)
(Kita tidak tahu kenapa Shabbir mau memaksakan kesimpulan bahwa ayat
dalam Kisah Para Rasul 9:7 harus menegaskan “jatuh” atau “tidak-
jatuhnya” teman-teman seperjalanan Paulus). Kisah Para Rasul 26:14
menyebutkan bahwa mereka semua jatuh ke tanah saat ada cahaya
memancar ke sekeliling, sebelum terdengar suara. Sebaliknya Kisah Para
Rasul 9:7 hanya mengatakan bahwa teman-teman Saulus „termangu-
mangu/tidak dapat berkata-kata‟ sesudah suara itu terdengar (tidak ada
urusannya dengan jatuh-tidaknya). namun sebab mereka memang jatuh
tanpa ada ayat yang menyanggahnya, maka ada cukup waktu bagi mereka
untuk berdiri sementara suara itu berbicara kepada Saulus, apalagi sebab
perkataan suara itu tidak ditujukan kepada mereka dan tidak ada artinya
apa-apa bagi mereka. Sebaliknya bagi Saulus, ia tahu bahwa suara
ini ditujukan kepadanya sehingga ia menjadi takut dan tiba-tiba
tersadar bahwa ia telah begitu lama menyiksa dan membunuh para
pengikut Tuhan. Sebelumnya ia berpikir bahwa ia melayani Tuhan dengan
membunuh mereka, padahal kenyataannya tidak. Kesadaran yang
menakutkan seperti inilah yang membuat orang termasuk Saulus, tetap
tersungkur di tanah lebih lama dibandingkan teman-temannya.
(Haley, hal 359)
57. Apakah suara itu memberitahukan Paulus apa yang harus
dikerjakannya, saat ia masih berbaring di tanah (Kisah Para Rasul
26:16-18), ataukah ia diperintahkan untuk pergi ke Damaskus untuk
mengetahui apa yang harus ia kerjakan? (Kisah Para Rasul 9:7,
22:10)
___________________ 52
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Seperti yang kita baca dengan jelas pada Kisah Para Rasul 9 dan 22, Paulus
memang diberitahukan tugas-tugasnya di Damaskus. namun dalam Kisah
Para Rasul 26, konteksnya berbeda. Pada bagian ini, tampak bahwa Paulus
tidak mempermasalahkan kronologis atau urutan tempat kejadian, sebab
ia telah berbicara kepada orang-orang yang telah mendengar ceritanya.
Dalam Kisah Para Rasul 9:1-31, Lukas, penulis kitab Kisah Para Rasul
menceritakan tentang pertobatan Saulus.
58. Apakah 24.000 orang Israel mati sebab tulah di Sitim (Bilangan
25:1,9) atau hanya 23.000 orang? (1 Korintus 10:8)
(Kategori: salah merujukkan cerita yang satu dengan yang lain)
Pertentangan di sini mempermasalahkan mengenai jumlah orang Israel
yang mati sebab tulah yang terjadi di Sitim (yang dalam pamflet Shabbir
salah menyebutnya sebagai Sitin). Kitab Bilangan 25:1-9 dan 1 Korintus
10:8 dianggap saling bertolak belakang. Namun Shabbir telah menunjuk
tulah yang keliru dalam hal ini.
Jika Shabbir telah membaca konteks dalam 1 Korintus 10, ia akan melihat
bahwa Paulus menunjuk kepada tulah yang terjadi dalam Keluaran 32:28,
yang terjadi di gunung Sinai dan bukan seperti yang disebutkan dalam
Bilangan 25, yang terjadi di Sitim, diantara orang-orang Moab. Jika ragu-
ragu, coba baca ayat ke-7 dari 1 Korintus 10, yang mengutip praktis sama
dengan Keluaran 32:6, “Sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan
minum, kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.”
Sekarang, mungkin masih dipersoalkan, dalam Keluaran 32 dikatakan
bahwa jumlah orang Israel yang mati adalah 3.000 orang (ayat 28), seperti
ada pertentangan baru dalam hal ini, namun sebenarnya mudah diluruskan
jika kita baca ayat selanjutnya. 3.000 orang yang mati itu (ayat 28) adalah
mereka yang mati sebab pedang. namun kejadian ini masih diikuti lagi
dengan tulah yang Tuhan kirimkan kepada mereka yang menentang Dia
dalam ayat 35, “Demikianlah TUHAN menulahi bangsa itu, sebab mereka
telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun.” Tulah inilah yang
ditunjuk oleh Paulus dalam 1 Korintus 10:8.
(Geisler/Howe 1992:458-459).
59. Apakah keluarga Yakub yang pindah ke Mesir berjumlah 70 orang
(Kejadian 46:27) atau hanya 74 orang? (Kisah Para Rasul 7:14)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Pertentangan semu di atas menyangkut jumlah anggota keluarga Yakub
yang pindah ke Mesir. Menurut Shabbir, ke-dua ayat dalam Kejadian 46:1-
___________________ 53
27 dan Kisah Para Rasul 7:14 saling bertentangan, padahal tidak, keduanya
sama-sama benar. Dalam kitab Kejadian 46:27 disebutkan, jumlah
keturunan Yakub yang ikut pindah ke Mesir adalah 66 orang seperti yang
disebutkan pada ayat 26. Hal ini disebabkan sebab Yehuda beserta kedua
anaknya telah berada di Mesir. sedang yang disebutkan dalam ayat 27
adalah jumlah seluruh anggota keluarga Yakub, termasuk Yusuf beserta
kedua anaknya dan Yehuda, sehingga semuanya berjumlah 70 orang.
Jumlah ini menunjuk kepada jumlah anggota keluarga Yakub yang akhirnya
tinggal di Mesir dan bukannya anggota keluarga yang berangkat
bersamanya ke Mesir.
Dalam kitab Septuaginta dan Gulungan Kitab laut Mati, jumlah yang
disebutkan adalah 75 orang. Jumlah ini menunjuk kepada tiga orang cucu
dan dua orang cicit dari Yusuf yang disebutkan dalam Bilangan 26:28-37,
dan pada bagian akhir Septuaginta nama mereka ditulis seperti yang
tertulis dalam Kejadian 46:20. Oleh sebab itu Kisah Para Rasul 7:14 yang
mengutip ucapan Stefanus sebelum ia mati adalah benar sebab ia merujuk
kepada Septuaginta.
60. Apakah Yudas membeli sebuah lading dengan uang kotor hasil
pengkhianatannya terhadap Yesus (Kisah Para Rasul 1:18) atau ia
melemparkan uang ini ke dalam Bait Tuhan? (Matius 27:5)
(Kategori: salah memahami maksud penulis)
Pertentangan semu di atas menanyakan, “Apa yang dilakukan oleh Yudas
dengan uang hasil mengkhianati Yesus?” Kisah Para Rasul 1:18
menyatakan bahwa Yudas membeli sebidang tanah, sedang dalam
Matius 27:5 dikatakan bahwa uang itu dilempar ke dalam Bait Tuhan yang
kemudian digunakan oleh para imam-imam untuk membeli sebidang tanah.
namun dengan sedikit penyidikan, ternyata kalimat dalam ayat yang satu
merupakan ringkasan dari kalimat ayat lainnya.
Matius 27:1-10 menggambarkan secara detail peristiwa yang terjadi pada
pengkhianatan Yudas terhadap Yesus, serta keabsahannya sebagai bagian
dari penggenapan Kitab Suci. Khususnya, Matius mengutip Kitab Zakharia
11:12-13 yang dianggap sebagai penjelasan dari nubuatan yang terdapat
dalam kitab Yeremia 19:1-13 dan 32:6-9.
sedang dalam Kisah Para Rasul 1:18-19, Lukas menggambarkan
kesimpulan ringkas yang telah diketahui oleh orang banyak, sebagai
penjelasan dari ucapan Petrus di kalangan orang-orang percaya (situasi
yang sama juga terjadi pada pertanyaan nomor 57). Ilustrasi keadaan ini
dapat dilihat pada ayat 19 yang mengatakan, “Hal itu diketahui oleh semua
penduduk Yerusalem.”
___________________ 54
Amat mungkin bahwa kitab Injil telah beredar di antara orang-orang
percaya pada saat Lukas menulis. Dengan demikian Lukas tidak perlu
menjelaskan panjang lebar mengenai fakta-fakta kematian Yudas.
61. Apakah Yudas mati dengan cara gantung diri (Matius 27:5) atau
jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah sehingga semua isi
perutnya tertumpah keluar? (Kisah Para Rasul 1:18)
(Kategori: ayat diartikan secara sempit)
Kontradiksi “semu” ini berkaitan dengan kenyataan bahwa dalam kitabnya
Matius menyebutkan Yudas mati gantung diri, sedang Kisah Para Rasul
1:18, Lukas mengatakan bahwa Yudas mati dengan cara jatuh tertelungkup
sehingga semua isi perutnya tumpah keluar. Kendati demikian kedua
pernyataan ini sama-sama benar.
Matius 27:1-10 menyatakan dalam fakta lurus bahwa yudas mati
menggantung diri. Di sisi lain, Lukas dalam tulisannya pada Kisah para
Rasul 1:18-19 memperkaya kesan kepada para pembacanya dengan
lanjutan ceritanya, sebab sesungguhnya semua orang pada saat itu sudah
tahu dan tidak menyangkal bahwa Yudas mati gantung diri. Menurut cerita
tradisi, Yudas gantung diri di tepi tebing yang curam, di atas Lembah
Hinnom. namun tali yang menggantungnya akhirnya putus dan Yudas pun
jatuh ke bawah seperti yang digambarkan oleh Lukas.
62. Apakah “Tanah Darah” yang dibeli Yudas dinamakan demikian
sebab para imam-imam membelinya dengan uang darah (Matius
27:8) atau sebab kematian yang berdarah bagi Yudas? (Kisah Para
Rasul 1:19)
(Kategori: salah memahami tulisan)
Shabbir mempertanyakan tanah tempat Yudas mati dikubur dinamakan
tanah darah? Matius 27:8 mengatakan alasannya adalah sebab tanah itu
dibeli dengan uang darah, sedang menurut Shabbir dalam Kisah Para
Rasul 1:19 menyebutkan bahwa tanah ini dinamakan demikian
sebab darah Yudas tertumpah dalam kematiannya.
Lihatlah bahwa kedua ayat di atas sama-sama setuju bahwa tanah itu dibeli
dengan uang darah. Pada permulaan ayatnya, Kisah Para Rasul 1:18-19
mengatakan, “Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah
kejahatannya.” Jadi, asumsinya tanah itu dibeli dengan uang darah,
kemudian ditambahkan kesan oleh penulis atas apa yang telah terjadi
terhadap Yudas yang menemui kematiannya di atas tanah itu.
___________________ 55
63. Bagaimana mungkin korban tebusan Kristus yang diberikan bagi
semua manusia (Markus 10:45; 1 Timotius 2:5-6), adalah juga
merupakan korban tebusan dari orang fasik? (Amsal 21:18)
(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam historis)
Pertentangan ini mempertanyakan, “Siapa yang menjadi korban tebusan
dan untuk siapa?” Shabbir menggunakan ayat dalam Markus 10:45 dan 1
Timotius 2:5-6 untuk menunjukkan bahwa Yesus telah menjadi tebusan
bagi semua orang. Lalu ayat ini dibandingkan dengan Amsal 21:18, yang
menyebutkan, “Orang fasik dipakai sebagai tebusan bagi orang benar, dan
pengkhianat sebagai ganti orang jujur.”
Sebenarnya tidak ada pertentangan dalam kedua ayat di atas sebab
korban tebusan yang dibicarakan berbeda. Korban tebusan merupakan
bayaran dari seseorang terhadap pihak lain. Korban ini dapat saja diberikan
oleh orang baik kepada orang lain seperti yang dilakukan Kristus bagi
dunia, atau bisa juga dari orang jahat sebagai bayaran atas kejahatan yang
telah dilakukannya kepada orang lain, seperti yang kita lihat dalam Amsal
di atas.
Shabbir menggunakan ayat dalam Markus dan 1 Timotius sebagai dasar
asumsi bahwa Yesus itu baik dan sebab itu tidak seharusnya dijadikan
korban tebusan bagi orang jahat. Shabbir merefleksikan ajaran Islam yang
membantah seseorang dapat menebus kesalahan orang lain atau menjadi
korban bagi kesalahan orang lain. SALAH! Shabbir tidak seharusnya
memaksakan interpretasi Alkitab menurut ajaran Islam. Alkitab
membuktikan Maha Kasihnya Tuhan (yang tidak dibuktikan oleh tuhan-
tuhan lain, kecuali meng-klaim saja) dengan menunjukkan bahwa Kristus
telah menjadi tebusan bagi orang berdosa. Galatia 3:13-14 dan 1 Petrus
2:23-25 mengatakan bahwa Yesus menjadi terkutuk sebab kita. Oleh
sebab itu Yesus telah menggenapi bahkan Amsal di atas sekalipun.
Sekali lagi perkiraan Shabbir disini keluar dari konteks ayat yang
dipermasalahkan. Markus 10:45 mengutip perkataan Yesus, yang sekaligus
menubuatkan waktu kematian-Nya yang akan segera datang dan alasan
kematian-Nya, yaitu bahwa Ia akan menjadi korban pembayaran untuk
menebus semua dosa manusia. Dalam 1 Timotius 2:5-6, Paulus
menyatakan, melalui korban penebusan dosa yang Tuhan berikan, yaitu
melalui pengantara Yesus, dan korban kematianNya di kayu salib, Tuhan
sekali lagi menjembatani hubunganNya dengan manusia.
sedang Amsal 21:18 berbicara mengenai tebusan yang berbeda, yang
dibayarkan Tuhan (melalui Mesir) pada saat keluarnya bangsa Israel dari
Mesir; sebagaimana diterangkan dalam kitab Yesaya, khususnya pasal 43:3
(dengan penerangan ayat 16 dan 17).
___________________ 56
“Sebab Akulah YAHWEH, Tuhanmu, Yang Mahakudus, Tuhan Israel,
Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir dan memberi
Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.”
64. Apakah semua isi Kitab Suci bermanfaat (2 Timotius 3:16) atau
tidak? (Ibrani 7:18)
(Kategori: salah memahami cara Tuhan bekerja dalam sejarah)
Tuduhan kontradiksi telah dikenakan kepada Alkitab yang mengatakan
bahwa seluruh isi Kitab Suci bermanfaat; sementara ayat lain menyebutkan
bahwa hukum sebelumnya adalah tidak kuat dan tidak berguna.
Permasalahan disini adalah masalah kontekstual tentang Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru, yang berkembang sebab kurang memahami apa yang
dijanjikan Tuhan waktu berfirman lewat para nabi.
Kami merasa perlu untuk menjelaskan hal-hal yang melatarbelakangi
ucapan ini kepada para pembaca yang awam terhadap Alkitab sehingga
dapat lebih memahami maksudnya. Sebagai ilustrasi, kami akan
merujukkan pertanyaan di atas dengan pertanyaan nomor 92 yang
memperlihatkan betapa kaya arti dari beberapa kata-kata Ibrani yang
digunakan dalam Alkitab (yaitu kata Ibrani „niham‟ yang berarti berubah
pikiran, menyesal, bertobat atau dukacita)
Firman Tuhan berasal daripada-Nya saja, dan tentu bermanfaat untuk
mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran, seperti yang dicantumkan dalam 2
Timotius. Ini merupakan pernyataan umum yang menunjuk kepada semua
perkara yang datangnya dari Tuhan.
Ibrani 7 secara khusus berbicara mengenai suatu hukum yang berlaku bagi
sebuah masyarakat pada suatu masa yang spesifik dan terbatas, tentang
sistem pengorbanan Kemah Musa, kemudian dalam Bait Suci di Yerusalem.
Tuhan meneguhkan dalam suatu Kontrak atau Perjanjian dengan umat-
Nya, Israel, sebuah sistem dimana mereka diharuskan untuk
mempersembahkan korban, binatang yang disembelih, agar Tuhan
mengampuni dosa-dosa mereka; khususnya apa yang Tuhan sebut sebagai
“korban sebab dosa” dan “korban kesalahan” dalam Kitab Imamat pasal 4-
6.
Konsep substitusi “korban yang mati sebagai pengganti” ini adalah hal yang
asing bagi Islam, namun adalah sangat mendasar bagi umat Yahudi dan
Kristen. Penebusan dosa harus dilakukan. Dosa harus dihukum. Hukum
Tuhan yang kudus dan adil adalah “upah dosa adalah maut”. Harga upah
itu harus dibayar! Ada yang harus mati untuk membayar upah itu. Dan
___________________ 57
tidak ada pengampunan dosa tanpa adanya cucuran darah (yang
melambangkan maut itu), sebab Tuhan menuntut keadilan mutlak. Bila
Tuhan hanya mengampuni dengan menutup mata saja terhadap dosa, itu
akan tidak adil sama sekali. Minta pengampunan saja tidak cukup harganya
untuk membayar “upah dosa”, melainkan harus tetap dibayar dengan
nyawa/kematian, yang dilambangkan dalam sebuah korban (binatang),
yaitu berupa korban-penebusan.
Sistem penebusan dosa seperti ini diutarakan dalam Perjanjian Lama
sebanyak 79 kali! Dimana darah binatang yang menjadi korban penebusan
sementara (yang harus dilakukan berulang kali terus-menerus), yang kelak
akan digantikan secara permanen dengan “darah Anak Domba” sebagai
Perjanjian Baru dari Tuhan. Yaitu darah Yesus Kristus untuk penebusan
dosa manusia, sekali dan selamanya. Maka Tuhan berfirman,
“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku
akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,
bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang
mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa
mereka keluar dari tanah Mesir” (saat Tuhan pertama kali mengadakan
Perjanjian kepada bangsa Israel di Gunung Sinai sesudah diselamatkan dari
kejaran bangsa Mesir)
“namun beginilah Perjanjian (Baru) yang Kuadakan dengan kaum Israel
sesudah waktu itu, Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan
menuliskannya dalam hati mereka” (Yeremia 31:31-33). Perjanjian Baru ini
akan membayar harga satu kali untuk selamanya atas dosa-dosa manusia
(Ibrani 7:27), bukan seperti Perjanjian Lama yang mengharuskan
pembayaran berulang-ulang dari domba atau binatang lain.
Tuhan berfirman pula dalam Perjanjian Lama mengenai Mesias,
Juruselamat yang akan melakukan penebusan dosa ini (dalam
Perjanjian Baru). Seorang Mesias yang bukan berasal dari Imamat Lewi,
namun seorang yang sempurna yang berasal dari suku Yehuda yang akan
menjadi imam bagi Tuhan. Orang sempurna itu, yaitu Mesias, akan menjadi
korban pengganti itu yang akan membayar sekaligus harga sepenuhnya,
sehingga Dia-lah yang dapat menghampiri Tuhan, bukan berdasar
keturunan (seperti Imamat Lewi) namun berdasar kesempurnaan-Nya
sendiri. Jika orang-orang mengikuti Mesias ini dan menerima bayaran
penebusan dari hukuman dosanya, maka Tuhan akan menuliskan hukum
Taurat dalam hati dan pikiran mereka, dan Tuhan dapat menyalurkan belas
kasihan-Nya sepenuhnya kepada mereka, sebab tuntutan Hukum
Keadilan-nya (“upah dosa ialah maut”) telah dipenuhi oleh Yesus sebagai
korban sembelihan di atas kayu salib. Oleh sebab itu semua orang yang
percaya kepada-Nya kini dapat menghampiri Tuhan, sebab Tuhan ingin
memiliki hubungan intim dengan ciptaan-Nya (Kejadian 3:8-11) namun
hanya dosalah yang menghalangi itu terjadi.
Kalau membaca seluruh Perjanjian Lama dengan teliti hal ini dapat
dimengerti. Semua isi Alkitab memang berguna, termasuk semua
penjelasan tentang sistem korban sembelihan. Namun Tuhan juga berjanji
untuk membuat perjanjian baru dengan umat-Nya yaitu bahwa korban
hewan yang kurang sempurna akan diganti dengan korban sempurna,
Mesias, Yesus itu. Korban hewan dalam Hukum Taurat hanya bersifat
sementara menantikan korban yang sempurna yang membawa
keselamatan bagi semua yang percaya kepada-Nya, (lihat Galatia 3:19-25;
Ibrani 9:11-28).
Banyak kitab menggambarkan Sang Mesias yang datang dengan membawa
perjanjian baru. Dalam hal ini, Tuhan menjadikan Yesus “sebagai korban
penebusan dosa” dan dikatakan, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang
ditanggungnya, dan kesengsaraan kita dipikulnya, padahal kita mengira dia
kena tulah, dipukul dan ditindas Tuhan. namun dia tertikam oleh sebab
pemberontakan kita, dia diremukkan oleh sebab kejahatan kita; ganjaran
yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya.” (Lihat
Yesaya 53).
Anda dapat saja membayar harga dosa-dosa anda – harganya adalah maut
yang kekal. Dengan kata lain, Anda akan mati sebagai bayaran atas dosa-
dosa Anda dan masuk ke api jahanam neraka yang kekal. Atau, sebab
kasih Tuhan, Anda dapat meminta Sang Mesias untuk membayarkan harga
ini sebagai pengganti bagi Anda. Inilah yang akan membuat Anda
berdamai dengan Tuhan. Tuhan akan mengizinkan Anda masuk surga yang
kekal sebab keadilan-Nya sudah dipuaskan. Yohanes Pembaptis telah
berseru saat ia melihat Yesus Mesias, “Lihatlah Anak Domba Tuhan, yang
menghapus dosa dunia.” Melalui korban kematian-Nya, sistem
pengorbanan lama yang mengorbankan binatang terus-menerus menjadi
tidak berlaku lagi sebab sudah tergenapi.
Yohanes juga mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada Anak (Yesus), ia
beroleh hidup yang kekal, namun barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia
tidak akan melihat hidup, melainkan murka Tuhan tetap ada di atasnya.”
(Yohanes 1:29; 3:36).
Pengikut-pengikut Yesus telah berjalan di dalam „janji yang baru‟ dan yakin
bahwa darah Yesus telah menebus segala dosa mereka. Mereka tidak hidup
di bawah „janji lama‟ yang dibuat Tuhan dengan orang-orang Israel di
Gunung Sinai. Di dalam hidup di bawah „janji baru‟ ini, para pengikut Yesus
tetap memiliki hukum yang mengatur. Isinya tetap berhubungan dengan
apa yang telah tertulis dalam Perjanjian Lama, namun tentunya dalam
konteks yang baru, yaitu yang telah digenapi di dalam Yesus Kristus. Jadi
jelas ada kesinambungan, penyingkapan dan pembaharuan dari kedua
„janji‟ ini – baru dan lama. Dengan demikian jelas bahwa kitab suci
bermanfaat untuk dipelajari, untuk mengetahui dari mana kita berasal dan
kemana kita akan pergi.
Catatan: Pararel dengan isu yang ditampilkan Shabbir di atas, tidakkah Al
Qur‟an terang-terangan memposisikan Yesus sebagai legislative, pembuat
Undang-Undang Ilahi? Sebab siapakah Dia yang boleh menjungkir-balikkan
Hukum Tuhan, “yang haram menjadi halal”? (Surat 3:49-50). [DAN sebab
Islam menolak konsep penebusan dosa, maka bagaimanakah teologi Islam
harus memberi jawab terhadap kontradiksi sifat-sifat Tuhan yang
Mahakasih (yang mengampuni dosa umatNya), namun juga sekaligus Maha-
adil (tidak bisa mengampuni, sebab setiap dosa harus dihukum demi
keadilan-Nya). Hanya konsep substitusilah (penebusan oleh korban
pengganti) yang dapat menjembatani ketegangan antara kasih-Nya dan
Adil-Nya!].
65. Tulisan apa yang sebenarnya terdapat di atas salib Yesus, sebab
(baik Matius 27:37, Markus 15:26, Lukas 22:38 dan Yohanes 19:19)
semuanya menuliskannya secara berlainan?
(Kategori: salah membaca ayat)
Pertentangan semu di atas timbul dari pertanyaan, “Apa sebenarnya yang
tertulis di atas kayu salib?” sebab ayat-ayat di dalam Matius 27:37,
Markus 15:26, Lukas 23:38 dan Yohanes 19:19 menuliskan kalimat yang
berbeda-beda tentang tulisan di atas kayu salib Yesus. namun hal ini
sebenarnya dapat dengan mudah dipahami jika kita membaca ayat
Yohanes 19:20, yang berbunyi:
“Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat dimana
Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam
bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.”
Adalah menarik bahwa Pilatus dikatakan yang menuliskan teks ini ,
dan bisa saja tulisan ini ditulis dalam berbagai bahasa yang dikuasai
oleh Pilatus. namun , inti tuduhan yang dikenakan kepada Yesus untuk apa
Dia disalibkan, adalah tuduhan, bahwa Yesus mengklaim diriNya sebagai
“Raja Orang Yahudi”. Ini terdapat dalam semua kitab Injil secara jelas. Jika
kita tidak mengerti kunci tuduhan ini, mungkin kita akan terjebak ke dalam
sebuah pertentangan, namun kenyataannya tidak demikian. Untuk
penjelasan lebih lanjut, silahkan perhatikan penjelasan Archer. (Archer
1982:345-346).
66. Apakah Herodes yang ingin membunuh Yohanes Pembaptis (Matius
14:5) atau istrinya, Herodias? (Markus 6:20)
(Kategori: salah memahami maksud penulis)
Kontradiksi semu di atas menunjuk pada perkiraan Shabbir, “Apakah
Herodes ingin membunuh Yohanes Pembaptis atau tidak?” Shabbir
menggunakan Matius 14:5 sebagai ayat pendukung untuk membuktikan
bahwa Herodes berniat membunuh Yohanes, sedang Markus 6:20
membuktikan bahwa Herodes tidak ingin membunuhnya. Padahal cerita
pada kedua ayat di atas saling melengkapi.
Jika kita baca seluruh kisah dalam Matius 14:1-11 dan Markus 6:14-29,
maka sejauh yang kita baca di dalamnya tidak terdapat pertentangan
apapun. Mencari-cari pertentangan demikian sama saja dengan mencari-
cari permasalahan seperti pertanyaan pada nomor 50. Pada kedua pasal di
atas, kita baca bahwa Herodes memerintahkan untuk memenjarakan
Yohanes Pembaptis atas desakan dan pengaruh istrinya, Herodias. Jadi
jelas pengaruh itulah yang menjadi faktor penting atas dipenggalnya kepala
Yohanes Pembabtis. Markus menuliskan cerita ini lebih mendetail
dibandingkan kitab Matius yang ditulis belakangan. sebab itu Matius tidak
mau membuang-buang waktu dengan menceritakan hal-hal yang telah
diketahui sebelumnya melalui kitab Markus. Hal lainnya yang perlu
diperhatikan juga, Markus tidak mengatakan dalam kitabnya, bahwa
Herodes tidak mau membunuh Yohanes, namun disebutkan bahwa Herodes
menyimpan ketakutan kepadanya, sebab Yohanes adalah orang yang
benar dan suci, dan ditambahkan lagi oleh Matius, sebab Yohanes
mempunyai pengaruh besar diantara banyak orang.
67. Apakah murid Yesus yang kesepuluh dari dua belas orang murid-
murid-Nya bernama Tadeus (Matius 10:1-4; Markus 3:13-19) ataukah
Yudas anak Yakobus? (Lukas 6:12-16)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Kedua ayat diatas sama-sama benar. Pada masa itu sudah biasa bagi
orang-orang Yahudi menggunakan lebih dari satu nama. Misalnya, Simon
atau Kefas, dipanggil juga Petrus (Markus 3:16) dan Saulus dipanggil juga
Paulus (Kisah Para Rasul 13:9). Tak ada bukti pemakaian nama tunggal
secara eksklusif sampai diganti dengan nama lain. Kedua nama mereka
dapat tetap digunakan secara bergantian.
68. Apakah pria yang Yesus lihat sedang duduk di rumah cukai, yang
kemudian dipanggil menjadi murid-Nya itu, bernama Matius (Matius
9:9) atau Lewi? (Markus 2:14; Lukas 5:27)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Jawaban pertanyaan diatas persis sama dengan pertanyaan sebelumnya,
dimana kedua ayat ini sama-sama benar. Matius dipanggil juga Lewi
seperti yang dikatakan kedua ayat di atas.
Adalah menarik mengetahui bahwa Shabbir Ally pernah juga melakukan
kebiasaan semacam ini. dalam persiapan perdebatan di Birmingham,
Inggris pada bulan Februari 1998, ia tanpa merasa bersalah menggunakan
nama samaran (Abdul Abu Saffiyah, yang artinya Abdul, ayah dari Saffiyah,
nama anak perempuannya) untuk mengelabui lawan berdebatnya, yaitu
Jay Smith. Dengan menyembunyikan identitasnya itu, ia menolak persiapan
yang telah dilakukan sah oleh Bapak Smith. Jadi, sementara dia boleh
bermain dengan nama ganda, kini ia menuduhnya sebagai kontradiksi
saat berhadapan dengan nama ganda yang terjadi pada orang-orang
Palestina di abad pertama. Padahal praktek di zaman itu, mereka dapat
menggunakan hal itu secara legal dan tidak mencurangi siapapun.
Adalah absah menggunakan nama alternatif secara jujur. namun dalam
kecurangan dan praktek penipuan seperti yang dilakukan Mr. Ally Shabbir
di atas, hanyalah menunjukkan adanya kaitan munafik bila masih juga
mengajukan dua pertanyaan seperti di atas.
69. Apakah Yesus disalibkan pada siang hari sesudah perjamuan Paskah
(Markus 14:12-17) atau pada siang hari sebelum perjamuan Paskah?
(Yohanes 13:1,30,29,18:28)
(Kategori: salah memahami konteks historis)
Yesus disalibkan pada siang hari sebelum perjamuan Paskah. Alasan
Markus seolah-olah mengatakan bahwa peristiwa penyaliban itu terjadi
sesudah perjamuan Paskah, hanyalah merupakan masalah budaya dan
kontekstualisasinya.
Bukti kencang dalam kitab Injil adalah bahwa Yesus mati pada saat
menjelang malam Paskah, saat perjamuan Paskah akan disantap, sesudah
matahari terbenam. Sebelum kita tuntaskan masalah ini, harap perhatikan
bahwa Markus 14 telah menjelaskan bahwa Yesus tidak makan perjamuan
Paskah bersama murid-murid-Nya.
Lukas 14:12 menyebutkannya sebagai “Hari Raya Roti Tidak Beragi” yang
disebutnya juga sebagai “Paskah”. Seperti namanya, hari raya ini
diselenggarakan dengan memakan roti yang tidak beragi. Ini adalah
perintah yang ditaati orang-orang Yahudi bahkan taat sampai saat ini untuk
perjamuan Paskah, sebab Tuhan memerintahkannya dengan amat jelas,
“Dalam bulan pertama, pada hari yang ke 14 pada waktu petang…kamu
makanlah roti yang tidak beragi, sampai pada hari yang ke-21 bulan itu,
pada waktu petang.” (Baca Keluaran 12:1-20).
Kata Yunani untuk “roti tak beragi” adalah “azymos”. Kata inilah yang
digunakan oleh Markus dalam “Hari Raya Roti Tidak Beragi” pasal 14:12,
sedang kata Yunani untuk roti biasa (beragi) adalah “artos”. Seluruh
penulis kitab Injil termasuk Markus, menulis yang sama, bahwa saat itu
merupakan perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya memakan
artos (roti biasa beragi). “Dan saat Yesus dan murid-muridNya sedang
makan, Yesus mengambil roti (artos), mengucap berkat, memecah-
mecahkannya lalu memberi nya kepada mereka dan berkata: “Ambillah,
inilah tubuh-Ku.” (Markus 14:22). Oleh sebab itu, perjamuan makan pada
malam itu walaupun sebuah perjamuan Paskah namun itu bukan
perjamuan Paskah dengan Roti Tidak Beragi sebab itu hanya dapat dimulai
pada waktu petang tanggal 14 saat Yesus ada di kayu salib.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya penggunaan kata yang berbeda
pada pasal yang sama. sebab untuk Paskah tidak mungkin mereka akan
memakan sesuatu yang telah dilarang oleh Tuhan (yaitu roti beragi – artos)
dan tidak memakan sesuatu yang diperintahkan untuk dimakan (yaitu roti
tidak beragi – azymos).
Jikalau begitu, lalu apa maksud Markus 14 dalam ayat 12-17?
Pertama, kita baca, “ada tradisi pada waktu itu untuk menyembelih domba
Paskah.” Perjamuan Paskah hanya dilaksanakan pada hari ke-14 pada
bulan Nisan. namun ternyata ada perbedaan pendapat dalam hal
menentukan hari itu, sebab mereka menggunakan sistem kalender yang
berbeda untuk menghitung hari-hari raya. Tampaknya perbedaan tradisi ini
terus berlanjut sampai pada masa kehidupan Yesus. Jadi memang sebagian
orang sudah bisa mulai menjalankan tradisi mereka dengan mengorbankan
domba Paskah pada hari itu, sementara sebagian orang lainnya
menganggap bahwa Paskah baru akan dirayakan esok malamnya.
Perbedaan kebiasaan ini disebabkan sebab hari Yahudi dimulai pada jam
6.00 petang sedang hari Romawi mulai pada jam 12.00 tengah malam.
Kedua, murid-murid-Nya bertanya kepada Yesus, “Ke tempat mana Engkau
kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”
Mereka tidak menyangka bahwa malam itu Yesus akan segera
menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa dunia sama seperti domba
Paskah dalam Keluaran 12 yang dikorbankan untuk menyelamatkan orang
Israel dari murka Tuhan terhadap orang Mesir. Yesus sesungguhnya telah
menjelaskan kepada mereka, namun mereka tidak dapat memahami
pengorbanan ini sebab berbagai alasan, termasuk saat Yesus dielu-
elukan oleh orang-orang Israel sebagai Mesias (Raja Penyelamat, bukan
korban), yang masih terus „bergema di telinga mereka‟. Dia tidak
menyatakan bahwa Ia akan makan perjamuan Paskah bersama-sama
dengan mereka. Yesus sangat ingin, namun Ia tahu hari-Nya tidak sampai
untuk melakukannya. Tidak ada peluang bagi satu dogma pun yang dapat
menyatakan bahwa perjamuan Paskah harus dimakan pada hari yang sama
saat ruang perjamuan ini dipinjam dan disiapkan. namun yang pasti,
orang-orang Yahudi, sebab telah diatur dalam Keluaran 12,
mempersiapkan rumah mereka untuk Hari Raya Roti Tidak Beragi.
Ketiga, dalam beberapa cara, Kitab Injil menceritakan tentang Perjamuan
Makan Malam Terakhir, dalam bentuk penggenapan karya Yesus, seperti
misalnya Lukas 22 yang menuliskan kerinduan Yesus untuk makan
perjamuan Paskah “ini” bersama dengan murid-murid-Nya. Lalu apakah
Lukas mengatakan bahwa saat itu adalah Perjamuan Paskah? Tidak bukan?
Mengapa? Antara lain sebab penggunaan yang sama untuk kata artos dan
azymos. Yesus memang menjadikan makan malam terakhir ini sebagai
sejenis santapan Paskah (tidak dalam artian sebenarnya melainkan
simboliknya) sebab Ia hendak bersekutu secara khusus dengan murid-
murid-Nya, menyadari akhirnya Ia harus masuk ke dalam penderitaan
beberapa jam sesudah itu.
Ia juga ingin menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Paskah itu
berbicara tentang diri-Nya, yaitu bahwa Ia adalah korban yang memberi
Perjanjian Baru yang telah Tuhan janjikan (lihat pertanyaan nomor 63 dan
34) seperti domba yang disembelih 1.500 tahun lalu untuk menyelamatkan
orang-orang Israel dari murka Tuhan. Dalam perjamuan ini , Yesus
menggambarkan diri-Nya sebagai “Anak Domba Tuhan yang menghapus
dosa dunia” seperti yang dikatakan Yohanes Pembaptis tentang diri-Nya
(Yohanes 1:29). Ia ingin menyantap makanan ini bersama mereka
sebab Ia mengatakan, “Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia
beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Tuhan” (Lukas 22:16). Dan
kegenapan itu adalah kematian-Nya, “Sebab anak domba Paskah kita juga
telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Korintus 5:7).
Jika pengertian di atas benar (satu dari dua penjelasan di atas diperoleh
dari penelitian saya sendiri), maka tidak ada pertentangan dalam hal ini.
Yesus mati sebelum hari raya Paskah.
70. Apakah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya supaya diselamatkan dari
penyaliban (Matius 26:39; Markus 14:36; Lukas 22:42) atau tidak
berdoa untuk itu? (Yohanes 12:27)
(Kategori: salah membaca ayat)
Pertentangan semu mempertanyakan, “Apakah
Yesus berdoa kepada Bapa-Nya agar mencegah
diri-Nya dari penyaliban?” seperti yang
diperlihatkan Matius 26:39; Markus 14:36 dan
Lukas 22:42; sementara Yohanes 12:27
mengesankan Yesus tidak berdoa seperti itu
kepada Bapa-Nya?
Usaha mempertentangkan cerita di atas
tampaknya sia-sia saja. Matius 26:39, Markus
14:36 dan Lukas 22:42 menceritakan kisah yang
sama yang terjadi di Taman Getsmani sebelum Yesus ditahan. Dalam
seluruh cerita ini tidak ada satu katapun yang menyatakan bahwa Yesus
meminta agar penyaliban itu dicegah, melainkan untuk mengekspresikan
kengerian-nya atas sakit dan penderitaan yang akan Ia alami pada saat Ia
diadili, dianiaya, dipukul, dicambuk, sendirian ditinggalkan orang lain dan
bahkan pengalaman yang paling menakutkan, yaitu keterpisahan-Nya
dengan Tuhan kelak di kayu salib, hingga kepada pengalaman penyaliban
itu sendiri beberapa jam dari sekarang ini. namun , yang terpenting dalam
kondisi seperti itu, Yesus tetap meminta kehendak Bapa-Nya untuk
diwujudkan, sebab menyadari bahwa inilah klimaksnya yang Ia akan
disalibkan, mati dan dibangkitkan untuk menebus dosa seluruh umat
manusia di dunia.
Yohanes 12:27 menulis hal ini dari situasi yang berbeda, sebelum saat dan
kejadian ini di atas berlangsung. Dikatakan bahwa Yesus berbicara
kepada orang banyak pada Perayaan Paskah di Bait Tuhan di Yerusalem
(bahkan sebelum pertemuan Yesus dengan kedua belas murid-murid-Nya
di ruang atas). Dalam kesempatan ini Yesus mengatakan sesuatu yang
hampir serupa dengan kalimat diatas, yaitu bukan meminta agar
penyaliban dicegah: “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan
Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? tidak, sebab untuk
itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa muliakanlah nama-Mu!”
Kembali disini diberitahukan perasaan-Nya yang sedang terganggu, bukan
pernyataan yang menunjukkan bahwa Yesus hendak meminta pembatalan
peristiwa penyaliban.
71. Apakah Yesus tiga kali bolak-balik untuk berdoa (Matius 26:36-46;
Markus 14:32-42) atau satu kali (Lukas 22:39-46) dari tempat murid-
murid-Nya?
(Kategori: ayat diartikan dengan pemikiran sempit)
Shabbir menanyakan berapa kali Yesus meninggalkan murid-muridNya
untuk berdoa sendirian di Taman Getsmani pada malam Ia ditangkap.
Matius 26:36-46 dan Markus 14:32-42 menggambarkan hanya satu kali.
namun sekali lagi, sesungguhnya tidak ada kontradiksi dalam pertanyaan
diatas jika Anda menyadari bahwa ketiga kalimat di atas saling melengkapi
saat dilaporkan oleh tiga orang yang berbeda dengan gaya dan fokus
yang berbeda.
Perhatikan bahwa Lukas sama sekali tidak menyebutkan bahwa Yesus tidak
meninggalkan murid-muridNya tiga kali dan berdoa. Meskipun tidak
menyebut tiga kali, bukan berarti Yesus tidak melakukan hal ini .
Lukas jelas tidak menganggap keadaan ini relevan untuk kitabnya.
72. saat Yesus berdoa untuk kedua kalinya, apakah kata-kata-Nya
tetap sama (Markus 14:39) atau berbeda? (Matius 26:42)
(Kategori: memaksakan pengertian sendiri)
Kontradiksi semu di atas membandingkan Matius 26:36-46 dengan Markus
14:32-42, khususnya ayat 42 dan 39, yang sebenarnya tidak terdapat
sedikitpun pertentangan. Shabbir mempertanyakan: “Apa yang disebutkan
dalam doa Yesus yang kedua kali?” di taman Getsmasni.
Shabbir memegang teguh perkataan Markus bahwa “kata-kata dalam
doanya yang kedua sama seperti yang pertama” (Markus 14:39). namun
mari kita lihat bersama apa yang dikatakan Markus tentang doa kedua ini
dalam Markus 14:39: “Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu
juga”
Tidak satupun dalam ayat ini menyebutkan bahwa Yesus menyebutkan
kata-kata yang sama persis dalam doanya seperti doa sebelumnya, namun
maksud Markus mengatakan “mengucapkan doa yang itu juga” adalah
dalam arti inti doa seperti yang disebutkan dalam Matius. (Bila bukan inti
doa yang dimaksudkan, tentu doa Yesus ini amat singkat dan tidak akan
mengambil waktu satu jam, ayat 40). Jika kita bandingkan kedua doa yang
dinaikkan oleh Yesus di taman Getsmani dalam kitab Matius (ayat 39 dan
42) dapat kita lihat bahwa pada dasarnya maksud kedua doa ini sama,
walaupun tidak menggunakan kata-kata yang sama. Di ayat 44, Matius
mengatakan bahwa Kristus “berdoa untuk yang ketiga kalinya dan
mengucapkan doa yang itu juga.” Jadi jiia menurut Shabbir dua doa yang
pertama berbeda, lalu doa Yesus yang ketiga sama dengan doa yang
mana?
Tampaknya Shabbir hanya memahami doa Yesus dari kata-kata hurufiah
ala formula doa Islam yang sebenarnya tidak demikian dilakukan Yesus.
Mungkin anda berpikir bahwa doa di atas merupakan bentuk doa tetap
yang diulang-ulang setiap hari, seperti yang dilakukan oleh umat Islam.
namun sebenarnya doa ini adalah doa curahan dari hati yang “dijeritkan”
oleh Yesus sebab tekanan dan situasi yang amat pekat yang dihadapi-Nya.
Suasana doa semacam itu dicetuskan dalam ikatan kasih yang
mengalahkan bentuk-bentuk ikatan aksara yang hurufiah yang diharuskan
sama oleh Shabbir.
73. Apakah kepada pasukan mengatakan bahwa Yesus adalah orang
benar (Lukas 23:47) atau Yesus adalah Anak Tuhan? (Markus 15:39)
(Kategori: ayat diartikan secara sempit)
Pertanyaan di atas berkaitan dengan pernyataan yang diajukan oleh kepala
pasukan pada saat Yesus mati di kayu salib, didasarkan pada dua ayat
dalam Markus 15:39 dan Lukas 23:47. namun seperti yang sebelum-
sebelumnya, kedua ayat di atas bukan merupakan pertentangan melainkan
pernyataan yang saling melengkapi.
Matius 27:54 dan Markus 15:39 sama-sama setuju bahwa kepala pasukan
menyatakan Yesus adalah “Anak Tuhan!” namun Lukas 23:47 menyebutkan
bahwa kepala pasukan itu mengatakan Yesus adalah “orang benar”.
Apakah teramat sulit dipercaya jika kepala pasukan itu mengatakan kedua-
duanya? (Bahkan ada lagi ucapannya yang tidak dicatat sebab dianggap
kurang relevan atau signifikan). Pola ini sering terjadi pada
penyaksian Injil, sebab tidak satupun kitab Injil menyatakan bahwa
ucapan kepala pasukan pada salah satu ayat di atas merupakan
keseluruhan ucapannya. Oleh sebab itu jangan berpikiran sempit atas apa
yang dikatakan oleh kepala pasukan terhadap Yesus.
Matius d
.jpeg)
