Torah 2

 


liban Yeshua tiga hari sebelumnya, Tuhan sendiri 

muncul di samping mereka dan mengajar mereka dari Kitab Suci Yahudi. “Dan 

Dia menjelaskan kepada mereka hal-hal mengenai diri-Nya di dalam seluruh 

kitab-kitab yang dimulai dari Mosheh dan dari seluruh Para Nabi” (Luk. 24:13-

36). Sekali lagi, sebagai pengikut-Nya, kita juga harus bisa menceritakan 

bagaimana Yeshua disingkapkan di dalam Kitab Suci Yahudi. 

4. “Gereja” lahir pada hari raya Yahudi Shavu’ot (Pentakosta) di antara orang-orang 

Yahudi di Yerusalem. Khotbah Petrus selama perayaan itu (Kis. 2:1-41) seluruhnya 

yaitu  Yahudi, banyak mengutip dari para nabi dan David, yang tidak akan berarti 

apa-apa bagi Goyim (orang-orang bukan Yahudi) yang dapat mendengarnya (jika 

hadir). sebab  itu, sepertinya 3000 orang yang diselamatkan pada hari itu 

semuanya yaitu  orang Yahudi. Para anggota gereja baru yang paling mula-mula 

bertemu secara teratur di Bait Suci, tempat di mana Goyim (orang-orang bukan 

Yahudi) secara eksplisit dilarang (Kis. 2:46). Perhatikan bahwa rasul Petrus dan 

Yohanes tercatat pergi ke Bait Suci untuk berdoa pada waktu kurban minchah 

(sore) (Kis. 3:1), dan pelayanan mereka berlanjut secara eksklusif di antara orang-

orang Yahudi, “yang di antaranya ada puluhan ribu orang Yahudi yang telah 

menjadi percaya dan berapi-api bagi Torah” (Kis. 21:20). Bahkan sesudah mereka 

dipenjara namun  secara ajaib diloloskan, seorang malaikat berkata-kata  kepada mereka, 

“Pergilah, berdirilah di Bait Suci dan beritakanlah segala firman hidup ini kepada 

bangsa itu,” (Kis. 5:20). 

Penglihatan Petrus dan kunjungannya ke rumah Kornelius, seorang ger tzeddeq 

(“orang asing yang takut akan Elohim”) yang menghadiri sinagoga dan 

menjalankan kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi Yahudi (Kis. 10), 

menyebabkan krisis hati nurani bagi Petrus. Pertama, dalam penglihatannya dia 

mengatakan bahwa dia tidak akan pernah memakan binatang yang “tidak kosher” 

yang diperlihatkan kepadanya, dan kedua, dia memiliki keraguan bahkan untuk 

memasuki rumah orang non-Yahudi. Ini menunjukkan, antara lain, betapa 

mendalamnya Petrus dalam menjaga Torah, bahkan setelah menghabiskan tiga 

tahun di bawah pengajaran Yeshua. 

5. Belakangan, saat Konsili Yerusalem menulis surat mereka kepada Goyim 

(orang-orang bukan Yahudi) mengenai hubungan mereka dengan Torah, mereka 

menasihati mereka untuk pertama-tama berpantang terhadap hal-hal yang akan 

membuat mereka menjadi kejijikan bagi orang-orang Yahudi, dengan asumsi 

bahwa mereka nantinya akan berlanjut untuk belajar Torah Mosheh dan Kitab-

Kitab Suci Yahudi lainnya (Kis. 15:19-21), “Sebab, sejak dahulu, Kitab Mosheh 

diberitakan di setiap kota, dan sampai sekarang Kitab itu dibacakan di sinagoga-

sinagoga pada setiap hari Shabbat.” 

6. Rasul Paulus dibesarkan sebagai seorang Yahudi yang menjaga Torah, yang 

belajar di bawah didikan Rabbi Gamaliel di Yerusalem (Kis. 22:3) – cucu dari 

Rabbi Hillel yang terkenal. Rabbi Sha’ul (demikian Paulus biasa dipanggil) sudah 

terkenal dalam kepemimpinan Yahudi pada zamannya, dan bahkan memiliki 

hubungan dengan Sanhedrin dan Imam Besar Yisra’el (Kis. 9:1-2). namun  bahkan 

setelah pertobatannya di jalan menuju Damaskus (Kis. 9:1-21), ia masih 

mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Yahudi. Dalam Kis. 23:6 ia mengaku, 

“Aku yaitu  (bukan “dulunya”) seorang Farisi.” Dia bahkan menyatakan bahwa 

sehubungan dengan ketaatan kepada Torah, dia “tidak bercela”, yang 

menunjukkan bahwa dia menjaga gaya hidup Yahudi sampai hari kematiannya 

(Flp. 3:6). Paulus bersaksi bahwa dia menjaga Torah sepanjang hidupnya (Kis. 

25:7-8, lihat juga Kis. 28:17). 

 

Paulus mengambil sumpah Nazir (Kis. 18:18), hidup “dalam ketaatan Torah” (Kis. 

21:23-24), dan bahkan mempersembahkan kurban-kurban di Bait Suci Yahudi 

(Kis. 21:26). Perhatikan bahwa Paulus tidak hanya membayar kurban-kurbannya 

sendiri untuk dilepaskan dari sumpah Nazirnya, namun  juga membayar kurban-

kurban untuk empat orang percaya Yahudi lainnya! Perhatikan juga bahwa ini 

dilakukan atas permintaan khusus Yakobus, kepala Gereja Yerusalem (dan 

saudara tiri Yeshua). 

Paulus secara teratur menghadiri sinagoga. “Mereka tiba di Tesalonika, tempat 

yang ada sinagoga orang-orang Yahudi. Dan sebagaimana yang biasa bagi 

Paulus, ia masuk ke antara mereka. Dan selama tiga Shabbat ia bertukar pikiran 

dengan mereka tentang kitab suci” (Kis. 17:1-2). 

saat Paulus menulis kepada gereja-gereja Goyim (non-Yahudi), “Semua 

tulisan suci diilhami Elohim dan bermanfaat untuk pengajaran, untuk teguran, 

untuk perbaikan, untuk pendidikan dalam kebenaran, sehingga manusia Elohim 

yang diperlengkapi untuk setiap pekerjaan baik dapat menjadi sempurna” (2 Tim. 

3:16-17), tentu saja dia merujuk kepada Kitab-kitab Suci Yahudi, sebab  Perjanjian 

Baru waktu itu belum disusun bagi gereja Kristen. 

Bahkan, untuk memahami tulisan-tulisan Paulus, kita perlu mengingat 

pelatihannya sebagai seorang Rabbi saat dia mengutip Kitab Suci dalam tulisan-

tulisannya. Misalnya, saat dia menulis, “Dan mereka semuanya telah minum 

minuman rohani yang sama; sebab mereka meminum dari batu karang rohani 

yang mengikuti mereka; dan batu karang itu yaitu  Mesias” (1 Kor. 10:4), dia 

mengutip dari sebuah cerita yang belakangan dituliskan di dalam Talmud (yaitu, 

bahwa sejak saat Mosheh memukul batu karang di Horev dan mengeluarkan air 

hingga kematian Miryam (Kel. 20:1), batu karang pemberi air ini “mengikuti anak-

anak Yisra’el melalui padang gurun dan menyediakan air bagi mereka setiap hari” 

(Taanit, 9a dan Bava Metizia, 86b). 

7. Banyak denominasi Kristen mengaku percaya pada otoritas baik Kitab Suci 

“Perjanjian Lama” dan Perjanjian Baru, sementara secara fungsional 

menyingkirkan studi Torah ke tumpukan debu sejarah. Jika Kitab-kitab Suci 

Yahudi dianggap serius sepenuhnya, tradisi-tradisi denominasi ini berusaha untuk 

menjelaskan pembacaan mereka (contohnya, janji-janji perjanjian yang dibuat 

kepada etnis Yisra’el) dan merampas maksud teks tersebut sebagai hanya berlaku 

semata-mata kepada Gereja. 

Ini picik dan tidak konsisten, sebab  mustahil untuk memahami tulisan-tulisan 

Perjanjian Baru (termasuk Gereja itu sendiri) sementara mengabaikan konteks 

budaya dan theologis yang menjadi bagiannya. Selain itu, harus diingat bahwa teks 

Yunani dari Perjanjian Baru memperoleh otoritas dan kebenarannya dari Kitab-

kitab Suci Yahudi, dan bukan sebaliknya.  

Dengan kata lain: Meskipun memungkinkan bahwa Kitab-Kitab Suci Ibrani itu 

benar dan Kitab-Kitab Suci Yunani itu tidak, yaitu  mustahil bagi Kitab-Kitab 

Suci Yunani itu benar jika Kitab-Kitab Suci Ibrani itu tidak. 

Banyak ahli theologi Kristen mundur sampai sejauh hal ini, membaca Perjanjian 

Baru (dan khususnya pemikiran-pemikiran tertentu yang dianggap berasal dari 

Rasul Paulus) sebagai filter interpretasi untuk mempelajari teks Ibrani. Para ahli 

theologia dengan tradisi-tradisi Barat ini harus secara sadar mengingat ucapan, “a 

text without a context is a pretext”; “sebuah teks tanpa konteks yaitu  dalih” dan 

bertobat dari ajaran-ajaran sesat mereka tentang “Replacement Theology” 

(Theologi Penggantian) dan sikap anti-Semitisme. 


Jadi benar, untuk alasan ini (dan banyak alasan lainnya), penting, bahkan vital, bagi 

orang Kristen untuk mempelajari Torah sebagai bagian dari seluruh nasihat Elohim (2 

Tim. 2:15). 

Namun perlu dicatat, bahwa artikel ini tidak mendukung doktrin salah bahwa 

orang Kristen dibenarkan (atau minimal, dikuduskan) oleh syarat-syarat perjanjian yang 

diberikan di Sinai (yaitu, sefer habrit yang diberikan kepada Mosheh dan disahkan oleh 

70 tua-tua Yisra’el). Tidak, pandangan itu salah sebab  berbagai alasan (yang akan 

dijelaskan dalam artikel Olam HaTorah). Artikel ini hanya menyatakan bahwa orang 

Kristen seharusnya “sadar Torah” dan menganggap serius pembacaan sederhana, 

konteks, dan maksud dari Kitab Suci Yahudi saat kata-kata Yeshua dan para rasul-Nya 

dibaca. Hanya dengan demikian Kitab Suci Perjanjian Baru akan dipahami dalam 

konteks interpretasi yang tepat. 

Kita semua – apakah lahir sebagai orang Yahudi atau bukan – menjadi bagian dari 

mishpachah (keluarga) Elohim terkasih melalui kasih dan anugerah Elohim yang 

diperluas melalui Putra-Nya Yeshua. Dialah satu-satunya Juruselamat dan Pembela kita, 

dan tidak ada zechut (jasa) atau kapparah (penutupan pendamaian) lain di hadapan 

YHVH selain di dalam Yeshua. Mereka yang menolak Yeshua, binasa secara rohani – baik 

mereka yang dilahirkan sebagai orang Yahudi atau bukan (1 Yoh. 5:12). 

Semua ini mengarah kepada pertanyaan terkait: 

Bagaimana Kita Dapat Menjadi Murtad dari YHVH? 

Itu terjadi secara perlahan-lahan, dalam tahapan-tahapan yang halus. Si Jahat tidak 

datang kepada kita di suatu hari dan langsung berkata-kata , “Berhentilah mempelajari Kitab 

Suci,” sebab  dia tahu kita akan segera menolak ini sebagai anjuran jahat. Tidak, 

sebaliknya dia datang dan memberi tahu kita bahwa kita tidak perlu belajar terlalu dalam, 

“Lagi pula, TUHAN Yesus mengasihi kamu dan telah menyelesaikan masalah dosa-

dosamu dengan kasih karunia-Nya, jadi kamu bisa tenang, bukan? Sudah memperoleh 

jaminan keselamatan.” “Kamu tidak bisa dibenarkan di hadapan Tuhan dengan 

perbuatan-perbuatan baikmu,” desisnya, “Jadi mengapa harus repot-repot belajar 

Torah? Biar pendeta dan ahli theologia saja yang belajar seperti Torah itu!” 

Sesudah beberapa waktu, kita belajar semakin sedikit, semakin malas, sampai akhirnya 

kita sama sekali meninggalkan pelajaran Kitab Suci yang serius (walaupun kadang-

kadang masih membaca renungan harian). Kita tidak berpikir bahwa ini seharusnya 

membuat kita khawatir, bagaimanapun, sebab  kita masih menghadiri ibadah dan 

“berusaha menjadi orang baik” dengan menghindari dosa yang lebih besar. 

Namun, gaya hidup seperti ini pada akhirnya mengarah kepada kemurtadan, sebab  

tanpa mempelajari Kitab Suci sebagai prioritas utama kita, kita akan segera melupakan 

panggilan TUHAN dalam hidup kita. Dosa-dosa kecil dengan segera tidak lagi terlalu 

mengganggu kita; dan kita mendapati diri kita berkompromi di sana-sini, dengan hati 

yang terbagi-bagi terhadap hal-hal yang biasanya membuat kita mengernyitkan dahi... 

Kita mulai lupa bahwa kita selalu berjalan di atas tempat suci di hadapan Hadirat YHVH, 

dan hidup kita akan menjadi semakin dan semakin najis dan diluar jangkauan dari rasa 

takut akan Elohim. Menghadiri ibadah akan segera menjadi bukan keharusan, meskipun 

kita memastikan akan menghadiri hari-hari raya besar, setidaknya supaya kelihatan 

beribadah. Kemudian dosa-dosa yang lebih besar datang, dan bersama mereka datanglah 

masalah, rasa kesal, rasa malu, putus asa, dan rasa “keterasingan” dari Yeshua. 

Keluarga kita akan melihat hal ini. Begitu juga sahabat-sahabat kita. Kesaksian dan 

pengakuan kita akan ternoda. Segera anak-anak kita akan berpikir bahwa belajar Kitab 

Suci dan ketaatan kepada Firman Elohim yaitu  “pilihan gaya hidup”, dan mereka akan 

tergelincir lebih jauh ke dalam gaya hidup mereka sendiri yang malas, najis dan terasing 

dari Tuhan (חס־ושלום khas-vesholem—kiranya Surga melarang). 

Penyembuhan untuk kejatuhan kepada kemurtadan ini yaitu  kembali kepada Torah 

(instruksi) dan Kitab Suci-Nya, dan dengan mempelajarinya dengan segenap hati, jiwa, 

pikiran, dan kekuatan kita... 

Ingatlah akan perintah yang pertama dan terbesar-Nya: 

ָך׃ ֹאֶדֶֽ ָכל־מְׁ ָך ּובְׁ שְׁ ָכל־ַנפְׁ ָך ּובְׁ ָבבְׁ ָכל־לְׁ הָוה ֱאֹלֶהיָך בְׁ ָת ֵאת יְׁ ָאַהבְׁ  וְׁ

ve’ahavta ‘et Adonai ‘eloheikha bekhol levavekha uvekhol nafshekha uvekhol me’odekha 

Lagipula, bukankah Amanat Agung TUHAN Yeshua yaitu  menjadikan bangsa-bangsa 

itu murid-murid-Nya? Dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang Dia 

perintahkan? (Mat. 28:19-20) 

Memelihara Torah: Kembali Kepada Perjanjian 

Sinai? 

Beberapa orang, sesudah menemukan sukacita dalam akar Ibrani dari iman mereka, 

ingin membawanya kepada “tingkatan berikutnya” dengan menjadi “pemelihara Torah,” 

yang artinya mereka wajib mengikuti perintah-perintah yang ada dalam tulisan-tulisan 

Mosheh, dan diinterpretasikan oleh otoritas-otoritas Rabbinik tertentu sebagai 

halakhah, atau “cara berjalan” dalam kehidupan Yahudi. Posisi ini disebut “neo-

Ebionisme,” dinamakan sesuai sekte orang Ebionit yang, meskipun mereka tampaknya 

menerima Yeshua sebagai Mesias, menolak ajaran-ajaran Paulus dan bersikeras bahwa 

tulisan-tulisan Mosheh harus ditaati dengan ketat bagi pengikut Yeshua yang sejati. 

Orang Neo-Ebionit akan berkata-kata  bahwa sebab  Yeshua dan para pengikut-Nya yang 

mula-mula yaitu  “pemelihara Torah”, kita juga harus demikian. Mereka akan 

menunjukkan bahwa satu-satunya referensi dalam Tanakh untuk perjanjian baru (brit 

chadashah) yaitu  dalam Yeremia 31:31-34, di mana dinyatakan dengan jelas bahwa 

YHVH akan memberikan Torah-Nya di bagian dalam kita dan akan menuliskannya pada 

hati kita: 

ֲתֶבָנהָנַתִתי  ַעל־ִלָבם ֶאכְׁ ָבם וְׁ ִקרְׁ ֹוָרִתי בְׁ  ֶאת־תֶֽ

natatti ‘et-torati beqirbam ve’al-libbam akhtavennah 

Kemudian Matius 5:17-20 akan dikutip sebagai teks bukti bahwa Yeshua secara eksplisit 

mengajar para pengikut-Nya untuk memelihara perintah-perintah Mosheh (yaitu, 

Torah): 

ה ּתֹור 

ים יאִׁ נ בִ

 

ים ּסֹופ רִׁ ים פ רּושִׁ

ִׁם י מ  ַהש  ַמל כּותֶ

Segera sesudah mengatakan hal-hal ini, Yeshua melanjutkan dengan menjelaskan apa 

yang Dia maksudkan dengan berkata-kata  bahwa kebenaran kita harus melebihi kebenaran 

para ahli Torah dan orang Farisi. “Kamu telah mendengar apa yang telah dikatakan 

kepada mereka pada zaman dahulu... namun  Aku berkata-kata  kepadamu...” (Mat. 5:21-48). 

namun  perhatikan bahwa dalam setiap kasus Yeshua mengambil p'shat (makna lahiriah) 

dari perintah itu dan memindahkannya ke dalam, ke “bagian dalam”, dengan 

“menuliskannya pada hati kita”: 

Lama (ditulis pada loh-loh batu) Baru (ditulis pada hati) 

Jangan membunuh (Kel. 20:13; Ul. 5:17) Jangan marah / dendam (Mat. 5:21-24) 

Jangan berzinah (Kel. 20:14; Ul. 5:18) Jangan bernafsu kepada (Mat. 5:22-32) 

Jangan bersaksi palsu (Kel. 20:16; Ul. 

5:20) 

Kejujuran yang sederhana (Mat. 5:33-37) 

Keadilan mata ganti mata (Kel. 21:24) Pengampunan (Mat. 5:38-42) 

Kasihi sesama; bencilah musuh (Im. 

19:18) 

Kasihi semua orang (Mat. 5:43-48) 

Kebenaran luar Kebenaran di dalam (Mat. 6:1-4) 

Doa yang dirumuskan Doa yang tersembunyi (Mat. 6:5-6) 

Religiusitas yang mencolok Puasa yang tersembunyi (Mat. 6:16-18) 

Bagian luar Batiniah (Mat 7:12) 

Batiniah, dan Bukan Lahiriah 

Jelaslah bahwa midrash Yeshua mengenai perintah-perintah ini dimaksudkan untuk 

mengalihkan fokus dari kebenaran yang hanya berupa tampilan lahiriah (seperti yang 

dipengaruhi oleh beberapa pemimpin Yahudi pada zaman Yeshua) menuju kepada 

motivasi hati secara batiniah. Dalam pengertian inilah kebenaran kita harus melampaui 

bentuk-bentuk ketaatan lahiriah yang terperinci seperti yang dipraktekkan oleh para ahli 

Torah dan orang Farisi. Yeshua meletakkan Torah ke bagian dalam dan menuliskannya 

pada hati kita. 

Bahkan, Yeshua mengutarakan kata-kata keras bagi orang-orang Yahudi yang berpegang 

pada “tradisi-tradisi para tua-tua”, namun  “membuat tidak berlaku firman Elohim” demi 

tradisi Yahudi: 

 

ּסֹוְפִרים ְפרּוִשים

Matius 23:2-3 yaitu  teks bukti lain yang akan dikutip oleh seorang neo-Ebionit untuk 

mendukung pandangan bahwa para pengikut Yeshua harus menjalankan ajaran para 

rabbi: 

ּסֹוְפִרים ְפרּוִשים

Sepintas tampaknya Yeshua mengatakan bahwa para pengikut-Nya harus 

mempraktekkan dan memelihara tradisi-tradisi Yahudi sebagaimana yang diuraikan 

ahli-ahli Torah dan orang-orang Farisi. Namun, saat kita membaca dengan cermat 

konteks dari perikop ini, kita memperhatikan bahwa kata-kata ini tidak diragukan lagi 

menunjukkan ironi dan cemoohan sebab  mereka hanya menampilkan kebenaran luar 

yang mereka tunjukkan secara lahiriah (Mat. 23:13-36). Jika Yeshua benar-benar 

bermaksud agar para pengikut-Nya mempraktekkan dan memelihara apa yang diajarkan 

para ahli Torah dan orang Farisi, mengapa Dia terus mengecam mereka sebagai orang 

munafik yang “menutup kerajaan surga di hadapan orang-orang,” melakukan “kepura-

puraan” dalam doa-doa mereka yang panjang, dan melakukan perjalanan panjang 

menyeberangi lautan untuk membuat satu orang petobat menjadi “anak neraka” yang 

dua kali lipat dari diri mereka sendiri? Apakah Yeshua ingin kita mempraktekkan dan 

memelihara hal-hal semacam ini? Sebaliknya, keseluruhan konteks perikop ini 

menunjukkan bahwa para pengikut Yeshua tidak boleh tunduk pada otoritas mereka. 

Interpretasi ini lebih lanjut dibuktikan dengan pernyataan Yeshua bahwa kita harus 

tunduk kepada-Nya saja sebagai Guru dan tidak boleh menyebut siapa pun “rabbi,” 

sebutan tradisional para pemimpin Yahudi saat itu (Mat. 23:8). 

Perjanjian dan Torah 

Sebenarnya, Torah itu apa? Seperti diketahui, kata itu sendiri berasal dari akar kata yang 

artinya “arah”, atau “tujuan”, atau “instruksi”. namun  bukankah semua istilah ini relatif 

terhadap sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mendasar sebagai tujuan atau “gol” dari 

instruksi semacam itu? Lagipula, apa artinya memberi instruksi atau mengarahkan 

seseorang tanpa tujuan? Apakah Anda akan menghadiri sebuah kelas pengajaran jika 

tidak ada pengetahuan yang disampaikan? Apakah Anda akan membaca peta yang 


 

memiliki petunjuk arah yang tidak mengarah ke mana pun? 

Jadi, apa tujuan dari Torah? Bukankah – pada akhirnya – diperdamaikan dengan 

Elohim, berada dalam hubungan yang hidup dengan Dia, singkatnya, berada dalam 

persekutuan yang penuh kasih dengan Dia? Tapi bagaimana itu bisa dilakukan? Apakah 

melalui perilaku “mengikuti aturan”, atau adakah hal lain yang perlu disediakan untuk 

mencapai tujuan ini? 

Bukankah “Torah” pada dasarnya yaitu  tanggapan manusia terhadap “sesuatu yang 

lain”, dan bukankah hal yang lebih mendasar ini yaitu  perjanjian Elohim? 

Torah yaitu  fungsi dari perjanjian – sebagai tanggung jawab manusia – dan sebab  itu 

Torah telah berubah dalam terang perjanjian Elohim yang berbeda. Misalnya, para 

patriark paling awal – dari Adam hingga Noah hingga Avraham – semuanya menjalankan 

Torah dalam artian bahwa mereka berhubungan dengan Elohim melalui perjanjian. 

Pertimbangkan bahwa Noah, Avraham, dan bahkan Mosheh sendiri mempersembahkan 

kurban darah kepada Elohim sebelum Torah tambahan diberikan di Sinai (Kel. 5:3). 

Mengingat perbedaan ini, kita perlu membatasi topik dan mengajukan pertanyaan: 

Apakah kita terikat untuk memelihara syarat-syarat perjanjian yang dibuat dengan 

Yisra’el di Sinai, atau apakah memang ada perjanjian baru yang telah diberlakukan 

dengan cara yang mana kita sekarang dapat mendekat kepada Elohim? Dengan kata lain, 

apakah kehidupan, pengurbanan kematian, dan kebangkitan Yeshua hanyalah sarana 

untuk memperbaharui hubungan perjanjian Sinai dengan Elohim, atau apakah itu 

merupakan jalan yang benar-benar baru untuk ada dalam hubungan dengan Dia? 

Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan apa yang kita maksud 

dengan “Torah” dan tanggung jawab perjanjian kita di hadapan YHVH. 

Sekarang apa yang Yeshua ajarkan kepada kita tentang perjanjian baru dengan Elohim? 

Apakah Dia fokus pada ritual, doa wajib atau tradisi-tradisi para tua-tua sebagai sarana 

memelihara Torah? Tidak, Dia mengatakan bahwa Torah dijalankan oleh tanggapan hati 

kita terhadap kematian dan kebangkitan pengurbanan-Nya bagi kita, dan ditunjukkan 

dengan mengasihi Elohim dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita, dan 

dengan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. “Pada kedua perintah ini,” kata-

Nya, “tergantung seluruh hukum dan para nabi” (Mat. 22:35-40; lihat juga Yoh. 15:12-

14). 

Dengan kata lain, mengasihi Elohim dan sesama yaitu  sasaran atau maksud dari Torah, 

dan, seperti yang ditulis Paulus dalam Roma 13:10, “Kasih yaitu  penggenapan hukum” 

(lihat juga Gal. 5:14). 

ܐ ܵ ܹ݁ܗ ܚܲܘܒ  ܪܼܝܒ  ܐ ܠܼܩܲ ܵ ܼܝܫܬ  ݂ ܒ 

ܵ

ܪ ܠ ܐ ܸܡܼܛܠ ܵܣܼܥܲ ܵ ܚܲܘܒ  ܼܝܗ ܕ 

ܵ

ܵܢܡܲܘܵܣܐ ݈ܗܲܘ݂ ܡܲܘܠ  ݂܀ ܕ 

chubba l’qariveh bishta la sa’ar metul d’chubba mulayeh hu d’namusa 

 

ܠܹ݁ܗ ܼ ܝܪ ܟ  ܹ݁ ܵܐ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܓ  ܚܕ  ܼܲ ݂ܐ ܒ  ܵ

݂ ܸܡܠܬ  ܠܹ݁ ܼܡܲ ܵܗܝ ܸܡܬ  ݂ ܒ  ܸܚܒ 

ܲ

ܼ ܬ  ݂ ܕ  ܟ  ܵ ܪܼܝܒ  ݂ ܠܼܩܲ ܝܟ  ݂ ܼܐܲ ܵܫܟ  ܦ   ݂܀ ܼܢܲ

kulleh geir namusa bachda melta metmale b’hay d’tachev l’qarivakh eikh nafshakh 

Torah Yeshua yaitu  kasih. saat kita benar-benar mengasihi Elohim dan sesama kita, 

oleh fakta itu kita menggenapi maksud dari berbagai peraturan, keputusan, dan 

ketetapan seperti yang terdapat dalam tulisan-tulisan Mosheh. Maka dalam pengertian 

 

ini, dan berdasar  janji-janji perjanjian baru yang kita miliki di dalam Yeshua, kita 

sungguh-sungguh memiliki arah, tujuan, dan instruksi untuk perjalanan hidup. 

Halakhah Yeshua yaitu  jalan kasih, dan kasih ini sepenuhnya melampaui peranan 

tingkah laku mentaati aturan sebagai cara kita untuk benar-benar berkomunikasi dengan 

Elohim dan dengan sesama kita. 

Olam HaTorah 

Belas Kasihan Mengalahkan Penghakiman 

ܘ ܸܙܠܘ ܦ 

ܲ

ܐ ܚܵܢܵܢܐ ܵܡܼܢܲܘ ܼܝܼܠ ܥܹ݁ ܵ ݂ ݈ܐܵܢܐ ܒ 

ܵ

ܐ ܘܠ ܵ

ܚܬ  ܒ  ܸ

݂ ܕ 

ܵ

ܝܪ ܠ ܹ݁ ݂ ܓ  ܼܝܬ  ݂ܐ ܸܐܬ  ܐܩܪܹ݁ ܸ

ܐ ܕ  ܼܝܩܹ݁ ܕ 

 ܠܼܙܲ

݂

ܵ

ܵܛܝܹ݂݁ܐ ܸܐܠ  ݂܀ ܠܼܚܲ

zel yilaf manav chnana ba’e na v’la devchta la geir ‘etit deqre l’zaddiqe ‘ela l’chataye 

Pengantar 

Dalam Kitab Suci Ibrani, hukum YHVH (torat Adonai) mengacu pada pewahyuan 

kehendak Elohim bagi umat manusia untuk hidup benar di hadapan-Nya dalam terang 

realitas dan kekudusan-Nya: 

ִשיַבת ָנֶפש  ִמיָמה מְׁ הָוה תְׁ ִתי׃ תֹוַרת יְׁ ִכיַמת ֶפֶֽ הָוה ֶנֱאָמָנה ַמחְׁ  ֵעדּות יְׁ

torat Adonai temimah meshivat nafesh ‘edut Adonai ne’emanah machkimat peti 

ֵרי  ה׃ ַאשְׁ הָוֶֽ תֹוַרת יְׁ ִכים בְׁ הֹלְׁ יֵמי־ָדֶרְך ַהֶֽ ִמֶֽ  תְׁ

‘ashrei temimei darekh haholekhim betorat Adonai 

Dengan berfungsi sebagai “kaca pembesar” dari kondisi rohani kita, Torah YHVH 

menyingkapkan standar kehidupan ilahi yang dituntut dari seorang tzaddiq (orang 

benar) dan juga kebenaran tentang kebutuhan kita sendiri untuk dibebaskan dari diri kita 

sendiri. Meskipun demikian, untuk dibenarkan di hadapan YHVH, hukum sebagai 

hukum menuntut agar kita hidup sebagai pribadi-pribadi yang sempurna secara moral, 

tanpa memandang keturunan, kelemahan, status sosial, pendidikan, dan sebagainya. 

הָוה ֱאֹלֵה  דִֹשים ִכי ֲאִני יְׁ ִייֶתם קְׁ ֶתם ִוהְׁ ַקִדשְׁ ִהתְׁ  יֶכם: וְׁ

vehitqadishtem vihyitem qedoshim ki ‘ani Adonai ‘eloheikhem 

Seperti yang Yeshua sendiri katakan dalam Mat. 5:48: 

ܘ ܝܠ ܗܼܘܲ ܹ݁ ܘ݂ܲܢ ܵܗܟ  ݈ܢܬ  ܐ ܼܐܲ ܡܼܝܪܹ݁ ܵܢܐ ܓ  ܼܲ ܝܟ 

ܘ݂ܲܢ ܼܐܲ ܲܘܟ  ܐܒ  ܲ

ܼ ܵܝܐ ܕ  ܫܼܡܲ ܼܲ ܒ  ܡܼܝܪ ܕ   ܀ ݈ܗܘ݂ܲ ܓ 

h’vav hakhil antun g’mire aykana davukun d’vashmaya g’mir hu 

 

Dan seperti yang dikatakan Yakobus, orang Benar: 

ܝܵܢܐ ܝܪ ܼܐܲ ܹ݁ ܠܹ݁ܗ ܓ  ܼ ܟ  ܪ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܕ  ݂ܐ ܵܢܼܛܲ ܵ ܚܕ  ܼܲ ܥ ܘܒ 

ܲ

ܠܹ݁ܗ ܵܫܼܪ ܼ ݂ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܠܟ  ܒ  ܼܝܲ ܼܚܲ  ݂܀ ܸܐܬ 

ayna geir d’kuleh namusa natar v’vachda shara l’khuleh namusa etchayav 

 

Memang, bahkan suara hati nurani kita memberikan kesaksian untuk suatu “keharusan” 

untuk selalu melakukan apa yang kita tahu (secara intuitif) itu benar.  

Rabbi Hillel berkata-kata , “Apa yang dibenci oleh dirimu sendiri, jangan lakukan itu pada 

orang lain” (Mishnah, Avot). 

ܠ ܼ ܝܢ ܵܡܐ ܟ  ܹ݁ ܵܨܒ  ܘ݂ܲܢ ܕ  ܘ݂ܲܢ ܐ݈ܢܬ  ܕ  ܸܢܥܒ  ܘ݂ܲܢ ܕ  ܝ ܠܟ  ܼܢܲ ܵܢܐ ݈ܐܵܢܵܫܐ ܒ  ܼܲ ݂ ܵܗܟ  ܘ݂ܲܢ ܵܐܦ  ݈ܢܬ  ܘ ܼܐܲ ܕ  ܸ  ܥܒ 

ܝܪ ܵܗܼܢܲܘ ܠܗܘ݂ܲܢ ܹ݁ ܼܝܹ݁ܐ ܵܢܡܲܘܵܣܐ ܓ  ܢܒ 

 ݂܀ ܼܘܲ

kul ma d’tzaven ‘tun d’nebdun l’kun b’nay ‘nasha hakhana af antun ‘ved l’hun hanav geir 

namusa vanviye 

 

Aspek moral dari hukum diekspresikan secara konkret dalam luchot ha’even, loh-loh batu 

bertuliskan Aseret Hadiberot – Sepuluh Perintah – dan merupakan persyaratan moral 

mendasar yang diberikan oleh YHVH Elohim Yisra’el kepada umat-Nya. 

Akan namun , hukum moral Elohim tidak berubah atau menyesuaikan diri terhadap 

kelemahan dan kerapuhan umat manusia, dan untuk selamanya tetap berdiri sebagai 

kebenaran dari tuntutan Elohim bagi jiwa manusia untuk tidak bercela di hadapan-Nya. 

Jika kita tidak menyadari hal ini, itu sebab  kita secara moral tertidur atau mati; namun, 

saat kita sadar dan menjadi hidup, hidup itu sendiri menjadi tragis. Seperti yang 

dikatakan Rasul Paulus, “Dan pada suatu waktu aku pernah hidup tanpa torah, namun  

saat perintah itu datang, dosa hidup kembali dan aku mati” (Rom. 7:9). 

Ini yaitu  pengakuan akan kondisi keberdosaan kita, dan hal ini sendiri merupakan 

anugerah dari surga, sebab  tanpa kesadaran ini kita tidak akan pernah tahu kebutuhan 

hati kita akan suatu pengharapan kekal yang dapat menanggulangi vonis hukuman 

pembuangan dan kematian kekal yang ditempatkan atas kita semua... Kita tidak akan 

pernah mengejar teshuvah (pertobatan). 

Dalam tradisi Yahudi, hukum moral seringkali disamakan dengan Torah Mosheh, yaitu 

613 mitzvot, mishpatim, dan chuqqim spesifik yang ditemukan dalam kumpulan tulisan 

Mosheh. Dalam tradisi rabbinik, berbagai perintah, keputusan, dan ketetapan ini 

selanjutnya dilengkapi dan didefinisikan oleh “Hukum Lisan”, yang dianggap mengikat 

dalam agama Yahudi. Bahkan, dalam beberapa tradisi Yudaisme Ortodoks, klaim 

tersebut bahkan lebih jauh lagi, bahwa Elohim sendiri terikat kepada Torah Mosheh sama 

seperti seorang insinyur terikat pada cetak biru dari seorang arsitek. 

Potensi sumber kebingungan mengenai status hukum Elohim yaitu  meskipun benar 

bahwa aspek moral yang mendasari Torah Mosheh itu memang tidak berubah (seperti 

yang diteguhkan Yeshua sendiri), berbagai hukum seremonial dan sipil, yang merupakan 

fungsi ekspresi perjanjian hukum, mungkin tidak demikian. Dengan kata lain, jika YHVH 


 

membuat perjanjian baru dengan Yisra’el, maka, meskipun aspek moral dari hukum itu 

akan tetap mengikat selamanya (misalnya, “kasihilah YHVH, Elohimmu” dan “kasihilah 

sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”), ekspresi ritual dari perjanjian mungkin 

mengalami perubahan, berdasar  syarat-syarat perjanjian yang baru. 

Artikel eksplorasi ini berusaha untuk menunjukkan bahwa Torah Mosheh, dengan 

ekspresi perjanjian yang ditentukan di Sinai sebagai hukum seremonial dan sipil, tidak 

dapat diubah dan dimiliki secara eksklusif oleh bangsa Yisra’el, namun  tunduk kepada 

tujuan dan rencana yang lebih besar dari YHVH untuk menebus seluruh umat manusia 

dari kondisi terasing dan terhilang dari Dia. 

Mendefinisikan Istilah-istilah 

Pertanyaan tentang apakah “Torah” itu kekal dan tidak berubah, pertama-tama 

mengharuskan kita mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah “Torah”. Berikut 

yaitu  beberapa cara untuk memahami istilah ini: 

1. Torah sebagai tulisan Mosheh. Seringkali orang menganggap kata Torah 

merujuk pada lima kitab pertama dari Alkitab Ibrani: Kejadian, Keluaran, Imamat, 

Bilangan, dan Ulangan (kadang-kadang disebut “chumash.”). Di antara banyak 

orang Yahudi Ortodoks, Torah secara harfiah mengacu pada huruf demi huruf 

yang ditulis di atas perkamen kosher seperti yang didiktekan dari surga dan dicatat 

dengan sempurna oleh Mosheh di atas Gunung Sinai. Tulisan-tulisan Mosheh ini 

telah dipelihara dengan cermat oleh para ahli Torah Yahudi (soferim; juru tulis) 

selama ribuan tahun dalam bentuk Sefer Torah, atau gulungan kitab Torah, yang 

dianggap sebagai benda paling suci dalam kehidupan orang Yahudi.  

Perhatikan bahwa Torah dalam pengertian ini tidak hanya merujuk pada 

perkamen-perkamen fisik yang membentuk Sefer Torah, namun  juga berbagai 

mitzvot, chuqqim, dan mishpatim yang ditetapkan pada perjanjian Sinai, dengan 

Sepuluh Perintah sebagai fondasi yang mendasarinya. 

2. Torah sebagai Hukum Tertulis dan Lisan. Pemahaman Yahudi yang lebih 

tradisional tentang kata Torah mengacu pada gulungan kitab Torah Tertulis 

Mosheh dan Torah Lisan, keduanya dipercayai diturunkan kepada Mosheh di 

Sinai. Torah Tertulis (disebut Torah shebikhtav) terdiri dari Lima Kitab Mosheh; 

Torah Lisan (disebut Torah sheb’al peh) kemudian disusun sebagai Mishna dan 

Talmud, dan menyediakan komentar otoritatif resmi untuk Torah Tertulis. 

Seringkali kata-kata para nabi (nevi’im) dan tulisan-tulisan (ketuvim) dimasukkan 

dalam penggunaan kata Torah ini (meskipun mereka diberikan posisi lebih rendah 

dalam hal otoritas pewahyuan). Jadi, dalam penggunaan ini, Torah mengacu pada 

apa yang biasanya disebut Kitab Suci Perjanjian Lama (yaitu, Tanakh) serta 

Mishna/Talmud. 

3. Torah sebagai Halakhah dan Tradisi Yahudi. Definisi Torah sebelumnya 

tidak benar-benar memberikan keadilan bagi pandangan tradisional (dan 

Rabbinikal), yang menganggap Torah tidak hanya Torah tertulis dan lisan, nevi’im 

dan ketuvim (yaitu, Nakh), namun  juga seluruh korpus dari Literatur religius 

Yahudi seperti yang diekspresikan sebagai pandangan mayoritas para rabbi dan 

keputusan hukum mereka sejak masa penghancuran Kuil Kedua (periode 

Sanhedrin dan zugot) hingga saat ini. Secara kolektif pandangan Torah ini dapat 

disebut sebagai halakhah, garis transmisi dari Elohim kepada Mosheh (dalam 

Torah), melalui para nabi, melalui orang-orang dari Majelis Agung, para Rabbi 

Talmud dan literatur Talmud, hingga beberapa hukum-hukum abad pertengahan 

dan respon mereka. Singkatnya, halakhah mengacu pada kumpulan korpus 

hukum, adat istiadat, dan tradisi rabbinik Yahudi. Halakhah juga mencakup 

 

gagasan rabbinik gezerah – menempatkan “pagar” di sekeliling perintah-perintah 

Torah tertulis untuk memastikan kepatuhan terhadap mitzvot. 

Yang cukup menarik, tradisi Yahudi tampaknya berjalan dua arah dengan gagasan 

tentang Torah sebagai halakhah. Di satu sisi, ia cenderung menghitung berbagai 

perintah Kitab Suci dan terlibat dalam berbagai diskusi halakhik (hukum) 

mengenai makna dan penerapan kasus hukum, dan di sisi lain ia cenderung 

menyaring berbagai perintah kepada prinsip-prinsip yang lebih umum, yang 

jumlahnya semakin sedikit dan sedikit. Sebagai contoh, dalam Makkot 23b-24a 

pembahasan dimulai dari penjumlahan 613 perintah yang disebutkan dalam 

Torah, hingga pengurangan jumlah oleh David menjadi 11 (Mazmur 15), hingga 

pengurangan jumlah oleh Yesaya menjadi enam (Yesaya 33:15-16); hingga 

pengurangan jumlah oleh Mikha menjadi tiga (Mikha 6:8); hingga pengurangan 

jumlah oleh Yesaya menjadi dua (Yesaya 56:1); hingga satu perintah penting oleh 

Habakuk (“namun  orang benar akan hidup oleh imannya” – Habakuk 2:4). 

Berkaitan dengan ini, penting untuk diperhatikan bahwa rasul Paulus sebelumnya 

telah menyaring perintah-perintah kepada prinsip iman yang sama ini (Rom. 1:17, 

Gal. 3:11, Ibr. 10:38). 

4. Torah sebagai Instruksi Ilahi. Kata Torah berasal dari akar kata ירה (yod-

resh-hey) yang berarti “menembakkan anak panah” atau “tepat mengenai 

sasaran”. Dalam bentuk kata bendanya, kata tersebut pada dasarnya berarti “arah” 

atau “instruksi” kepada umat manusia tentang penyingkapan kehendak Elohim. 

Jika dipahami dengan cara yang paling umum ini, Torah jelas mendahului 

pemberian hukum Sinaitik kepada Yisra’el, seperti yang ditunjukkan oleh contoh 

berikut: 

• Adam dan Havvah diperintahkan bahwa hanya ada satu Elohim yang kepada-

Nya mereka harus taat dalam hubungan perjanjian (Kej. 2:16-17). Ini pada 

dasarnya yaitu  perintah pertama (“Akulah YHVH, Elohimmu.”) 

• Sesudah dosa mereka (yang pada intinya merupakan pelanggaran terhadap 

perintah kedua, “Elohim lain-lain tidak akan ada bagimu di hadapan-Ku”), 

Adam dan Havvah diberikan anugerah janji penebusan (Kej. 3:15) dan hukum 

pengurbanan darah (Kej. 3:21). 

• Baik Qayin maupun Hevel membawa persembahan-persembahan kepada 

YHVH, namun  persembahan Hevel dianggap sebagai persembahan yang benar 

(yaitu, darah) sedangkan persembahan Qayin ditolak (Kej. 4:3-7). 

• Setelah Qayin membunuh saudaranya, diberikan perintah keenam: “Engkau 

tidak akan membunuh” (Kej. 4:10-16). 

• Hanokh yaitu  orang yang begitu saleh sehingga Elohim berkenan kepadanya, 

sebab  ia berjalan sendiri dengan Elohim, sehingga dia “tidak ada” lagi pada 

akhirnya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang berkenan dan orang lainnya 

tidak, jika tidak ada instruksi dari YHVH? 

• Shet dan putranya Enos mulai memanggil Nama YHVH (Kej. 4:26), dan 

keturunan mereka Noah “berjalan sendiri dengan Elohim” (Kej. 6:9). 

• Banjir Besar yaitu  penghakiman YHVH terhadap kerusakan dan kekejaman 

di seluruh dunia, sebab  segala daging telah merusak jalannya di atas bumi 

(Kejadian 7). 

• Noah mempersembahkan kurban kepada YHVH dan membedakan antara 

binatang yang “tahir” dan “tidak tahir” (Kej. 7, 8:20). Elohim selanjutnya 

memberikan kepadanya hukum-hukum tentang larangan makan darah (Kej. 

9:4) dan melembagakan otoritas pemerintahan manusia terhadap 

pelanggaran-pelanggaran berat (Kej. 9:6-7). 

• Humanisme penyembahan berhala dari Babel kuno dihakimi oleh YHVH (Kej. 

11). 

• Perjanjian yang Elohim buat dengan Avraham bersifat unilateral dalam arti 

bahwa hanya Elohim yang berpartisipasi dalam ritual perjanjian (Kej. 15:9-21). 

Tanggapan iman Avraham diperhitungkan kepadanya sebagai tzedaqah 

(kebenaran). 

• Tentang Avraham ada tertulis bahwa “akibat Avraham yang mendengarkan 

(shema) terhadap suara-Ku, dan dia menjaga (shamar) tanggung jawab-Ku, 

perintah-perintah-Ku (mitzvot), ketetapan-ketetapan-Ku (chuqqim), dan 

hukum-hukum-Ku (torah) (Kej. 26:5). 

• Noah, Avraham, Yitzhaq, dan Ya’aqov semuanya mempersembahkan kurban-

kurban yang diterima kepada YHVH, dengan demikian menyiratkan 

pemahaman tentang hukum-hukum pengurbanan. 

• Mosheh menaati perintah-perintah YHVH dan pergi ke Mitzrayim untuk 

membebaskan orang Yisra’el dari perbudakan sebelum dia diberikan hukum di 

Gunung Sinai. 

Jadi, dalam pengertian yang paling umum dari istilah ini, Torah dapat dipahami secara 

sederhana sebagai instruksi tentang bagaimana hidup benar di hadapan Elohim dan 

dengan manusia. Yang disyaratkan dalam definisi ini yaitu  penegakan suatu perjanjian 

antara Elohim dan manusia di mana ruang lingkup dari apa yang merupakan Torah (yaitu 

syarat-syarat perjanjian) dapat dipahami. 

Dalam hal ini, delapan perjanjian yang dinyatakan dalam Kitab Suci (Perjanjian Edenik, 

Adamik, Noahik, Avrahamik, Palestina, Mosaik, Davidik, dan Perjanjian Baru) masing-

masing menyajikan seperangkat hukum yang berbeda (walaupun tidak eksklusif satu 

sama lain) tentang bagaimana menjadi benar dalam berhubungan dengan Elohim. 

Terlebih lagi masing-masing perjanjian pada akhirnya didasarkan pada janji Benih yang 

akan datang yang akan menyingkirkan qelalah (kutuk) atas umat manusia dan 

mengembalikan anak-anak manusia kembali kepada Elohim. 

Mempertanyakan Dogma Maimonides 

Kekekalan Torah Mosheh (atau perjanjian yang diberikan di Sinai) yaitu  salah satu 

prinsip paling mendasar dari iman Yahudi. Bahkan, prinsip kesembilan Rambam 

(Mishneh Torah) yaitu  percaya bahwa hukum yang diberikan kepada Mosheh di 

Gunung Sinai seluruhnya tidak dapat diubah dan tidak pernah akan digantikan oleh 

bentuk lain dari Torah: Ani ma’amim be’emunah sh’leimah, shezot ha-Torah lo t’hei 

muchlefet velo t’hei Torah acheret me’eit ha-borei yitbarakh sh’mo (“Aku percaya dengan 

keyakinan penuh bahwa Torah tidak akan berubah dan tidak akan ada lagi Torah dari 

Sang Pencipta, terpujilah Nama-Nya“). Bahkan sekarang ini keyakinan akan kekekalan 

Torah ini diekspresikan setiap kali seremoni Keriat Torah selesai di sinagoga, saat 

gulungan Torah diangkat dan orang-orang mendeklarasikan: 

ל׃ ָרֵאֶֽ ֵני ִישְׁ ֵני בְׁ זֹאת ַהתֹוָרה ֲאֶשר־ָשם ֹמֶשה ִלפְׁ  וְׁ

vezot hattorah ‘asher-sam Mosheh lifnei benei Yisra’el 


 

saat pernyataan ini dideklarasikan, diklaim bahwa gulungan yang diangkat di hadapan 

jemaah sepenuhnya identik dengan Torah yang diterima Mosheh sendiri saat berada di 

Gunung Sinai ribuan tahun yang lalu. Dengan demikian, respon ini yaitu  semacam 

“memilih percaya” terhadap pekerjaan soferim (juru tulis; ahli Torah) dan pekerjaan 

mereka dalam melestarikan gulungan-gulungan Torah selama berabad-abad. 

Perubahan Tekstual oleh Soferim 

Namun, merupakan fakta sejarah bahwa naskah asli Torah bukanlah aksara persegi 

(disebut ketav Ashurit) yang telah dilestarikan selama berabad-abad oleh soferim (juru 

tulis; ahli Torah), melainkan ketav Ivri – aksara awal yang menyerupai aksara Fenisia 

kuno. Pernyataan ini lahir bukan hanya oleh ahli paleo-linguis terpercaya, namun  oleh 

otoritas Yahudi sendiri, sebab  Talmud (Sanhedrin 21b) sendiri mengatakan: 

Mar Zutra atau, seperti yang dikatakan beberapa orang, Mar ‘Ukba berkata-kata : Awalnya 

Torah diberikan kepada Yisra’el dalam huruf Ibrani dan dalam bahasa suci [Ibrani]; 

kemudian, pada zaman Ezra, Torah diberikan dalam aksara Ashshurith dan bahasa 

Aramaik. [Akhirnya], mereka memilih untuk Yisra’el aksara Ashshurith dan bahasa 

Ibrani, meninggalkan huruf-huruf Ibrani dan bahasa Aramaik untuk hedyototh. Siapa 

yang dimaksud dengan ‘hedyototh’? — R. Hisda menjawab: Orang Cuthea (yaitu, orang 

Samaria). Dan apa yang dimaksud dengan huruf-huruf Ibrani? —R. Hisda berkata-kata : 

Aksara libuna’ah. 

Kata “mereka” dalam pernyataan ini mengacu pada orang-orang dari Majelis Agung, dan 

khususnya, Ezra sang Juru Tulis yang mentransliterasi aksara Ibrani kuno ke dalam 

aksara Aramaik pada zamannya. Ezra melakukan ini untuk menjauhkan orang Yahudi 

dari orang Samaria pindahan yang tinggal di Yisra’el sesudah kembalinya tawanan 

Yahudi di Babel (Torah Samaria masih menggunakan ketav Ivri yang lebih tua dan masih 

ada sampai sekarang). 

Sekarang pertanyaan yang perlu ditanyakan yaitu : Dengan otoritas apa Ezra 

menerjemahkan Torah menjadi ketav Ashurit, khususnya sebab  Mosheh sendiri dalam 

Torah menyatakan: “Kalian tidak akan menambah atas perkataan, yang aku 

memerintahkan »kalian, dan kalian tidak akan mengurangi dari dia, untuk menjaga » 

perintah-perintah YHVH, Elohim kalian, yang aku memerintahkan »kalian” (Ul. 4:2)? 

Tidak ada korespondensi satu-banding-satu antara kedua aksara, baik dalam morfologi 

maupun dalam fonetik, jadi bukankah jelas bahwa transliterasi Ezra merupakan 

perubahan nyata dalam Torah itu sendiri? 

Selain itu, penambahan hiasan kaligrafi dari soferim, secara khusus tagin (atau 

“mahkota”) yang dipasangkan kepada tujuh dari 22 huruf aksara Ashurit, dengan ini 

patut dicurigai, begitu pula spekulasi-spekulasi mistik yang dilontarkan oleh berbagai 

pengikut Kabbalah mengenainya. 

Catatan penting: Tuhan Yeshua mendukung pembagian tiga bagian Tanakh (Torah, 

Nevi’im, Ketuvim; Luk. 24:44) maupun otoritas Torah (Mat. 5:17-18) dan dengan 

demikian menyetujui transliterasi Ezratik, dan oleh sebab  itu orang Kristen tidak perlu 

meragukan otoritas dari teks Ibrani dari Perjanjian Lama .... 

Perubahan Torah di Olam Haba 

Orang-orang bijak percaya tentang adanya dua olam (dunia): Dunia sekarang ini (olam 

hazeh) dan dunia yang akan datang (olam haba), dengan sebuah dunia ‘transisi’ Mesianik 

di suatu masa di titik pertemuan (setiap olam mencerminkan durasi waktu yang ‘tidak 

dapat ditentukan’, namun  bukan ‘durasi tak terbatas’). Pertanyaan yang perlu 

dipertimbangkan yaitu  apakah Torah, yang dipahami di sini merujuk pada berbagai 

mitzvot yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Mosheh, akan tetap sebagai perintah-

perintah “abadi”, atau apakah kondisi-kondisi dunia akan diubah sedemikian rupa 

sehingga perintah-perintah itu tidak lagi akan berlaku? 

Beberapa orang bijak Yahudi (seperti Rebbe Schneerson) mengatakan bahwa dalam 

yemot HaMashiach (hari-hari Mesias) Torah akan ditaati dengan lebih ketat, namun  di 

olam haba – dunia yang akan datang – “mitzvot akan ditiadakan,” yang mana berarti 

bahwa mereka tidak lagi akan dibutuhkan, sebab  mereka akan menjadi “seperti cahaya 

lilin yang ditiadakan dalam nyala terang cahaya matahari di tengah hari”. Dengan kata 

lain, di surga sendiri tidak akan ada serangkaian mitzvot yang akan diikuti dengan 

cermat, sebab  Substansi dari apa yang dimaksudkan oleh perintah-perintah itu akan 

terwujud sepenuhnya. Seperti yang dikatakan Schneerson, “Di dunia yang akan datang, 

mitzvot akan ditiadakan. Hukum-hukum Torah tidak lagi menjadi isi dari hubungan ilahi 

dengan realitas ekstrinsik. Sebaliknya, mereka akan sepenuhnya dan secara tegas 

disadari di dalam dunia yang tidak lagi terpisah dari sumbernya, tidak terhalang oleh 

‘hukum-hukum’ yang mendefinisikan dunia fana dan terbatas.” 

Berlawanan dengan dogma Rambam, tidak semua orang bijak Yahudi setuju dengan teori 

pendiktean Torah sebagai dokumen yang kekal: 

“Kami sama sekali tidak mengakui apa yang diletakkan Maimonides, bahwa 

keseluruhan Torah tidak akan berubah, sebab  tidak ada bukti yang menentukan untuk 

ini – baik dari nalar dan logika maupun dari Alkitab. Sungguh, orang-orang bijak 

memberitahu kita bahwa Yang Kudus akan memberikan Torah baru di masa depan. 

Jika Raja kita akan berkehendak untuk mengubah Torah, atau menukarnya dengan 

yang lain, apa pun yang diinginkan sang Raja, apakah itu akan turun di atas Gunung 

Sinai atau gunung-gunung perkasa lainnya, atau bahkan di lembah, di sana untuk 

muncul kedua kalinya di depan mata semua yang hidup, kami akan menjadi yang 

pertama-tama melakukan kehendak-Nya, apa pun perintah-Nya.” 

R’ Avraham Hayim Viterbo (dikutip dari Marc Shapiro. Littman:2004, dalam The 

Littman Library of Jewish Civilization) 

Perubahan Torah di Zaman Mesianik 

Dalam yemot hamashiach – hari-hari Mesias – banyak orang bijak Yahudi berdebat 

bahwa Torah akan mengalami perubahan. Sebagai contoh, sebuah bagian dalam 

Vaiyiqra Rabah 9:7 menyatakan: ‘Di Waktu Yang Akan Datang semua kurban akan 

ditiadakan, namun  ucapan syukur tidak akan ditiadakan.’ Bagian ini dikutip oleh banyak 

otoritas, termasuk Nahmanides dalam komentarnya tentang Imamat 23:17. Tampaknya 

ini mengacu pada zaman mesianik dan bukan waktu kebangkitan, sebab  teks bukti yang 

dikutip dari Yeremia 33:11 yaitu  nubuatan mesianik. 

Dalam Imamat Rabba, disebutkan bahwa semua kurban dan doa-doa akan dihapuskan 

dalam hari-hari Mesias, kecuali untuk persembahan-persembahan syukur dan doa-doa 

ucapan syukur, sebab , seperti yang dijelaskan oleh Isaac ben Judah Abrabanel (1437-

1508), dalam hari-hari bahagia itu akan tidak ada Kecenderungan Jahat dan dengan 

demikian tidak ada dosa, sehingga tidak akan diperlukan persembahan-persembahan 

atau doa-doa untuk pendamaian pelanggaran. Tentu saja, Imamat Rabba ditulis pada 

abad kelima, yaitu sekitar empat ratus tahun setelah penghancuran Kuil Kedua dan 

penghentian ritual kurban, yang membuatnya relatif mudah bagi para penulis untuk 

memikirkan kemungkinan semacam itu.” 

Perubahan Torah di Olam Hazeh 

namun  bahkan di zaman ini, yang disebut olam hazeh, kita menemukan bukti bahwa 

Torah tidaklah tak dapat diubah dan bersifat kekal seperti yang dipertahankan oleh 

Rambam dan tradisi Rabbinik. sebab  itu, menjadi pelajaran untuk mempertimbangkan 

bagaimana Mosheh sendiri mengubah Torah selama masa hidupnya saat dia pertama 

kali menginstruksikan b’nei Yisra’el untuk makan Paskah di rumah masing-masing (Kel. 

12) namun  kemudian memperingati pelaksanaannya “di tempat yang YHVH akan memilih 

untuk membuat nama-Nya bertabernakel di sana” (Ul. 16:2). Kemudian juga, Torah 

diubah untuk mengizinkan memakan daging yang tidak disembelih di tempat suci 

sebagai tindakan pengurbanan (bandingkan Im. 17 dan Ul. 12:15-16). Hal ini juga terlihat 

dari berbagai hukum tentang pengumpulan manna yang ditiadakan setelah bangsa 

Yisra’el menduduki negeri itu. Singkatnya, sebab  keadaan sejarah telah berubah, 

beberapa hukum lama yang diberikan kepada generasi padang gurun ditiadakan, dan 

hukum yang lebih baru dibuat. 

Yeshua juga menunjukkan bahwa Mosheh telah mengubah pengertian Torah Elohim 

dalam olam hazeh. Sebagai contoh, pertimbangkan ayat ini dari Injil Matius: 

Kata-kata Yeshua ini dengan jelas menyiratkan bahwa Mosheh diizinkan untuk 

memerintahkan hal-hal yang tidak berasal dari YHVH “sebab  kekerasan hati manusia.” 

Artinya, Elohim mengizinkan Mosheh untuk membuat “hukum” tentang perceraian 

sebab  Dia tahu bahwa orang-orang akan bertindak bertentangan dengan kehendak-Nya 

yang sempurna. 

Pertimbangkan juga bagaimana Raja David tampaknya telah melampaui (yaitu, 

mengubah) kata-kata literal Torah sehubungan dengan perjanjian YHVH dengannya – 

dan selanjutnya pewahyuan yang datang kepadanya sebagai nabi Hashem (YHVH). 

sebab  bahkan David menambah kepada kata-kata Mosheh dengan merancang dan 

merencanakan Beit Hamiqdash – Kuil Kudus – yang akan dibangun oleh putranya 

Salomo di Yerusalem: 


Apa yang terjadi di sini? Jelas bahwa Raja David mengubah Torah Mosheh dari tempat 

suci yang berpusat di mishkan, menjadi tempat suci yang berpusat di Kuil. Selain itu, ia 

juga mengubah tugas kohanim (para imam) dan persyaratan usia mereka (ditambah lagi 

menambahkan jadwal baru pelayanan bagi mereka). Perhatikan khususnya bahwa teks 

dari 1 Tawarikh menyatakan bahwa perubahan kepada pola yang secara eksplisit 

diperintahkan kepada Mosheh disetujui sebagai akibat dari pewahyuan dari YHVH 

sendiri. 

ית׃ פ  ִנֶֽ ֲאכֹות ַהַתבְׁ ִכיל כֹל ַמלְׁ הָוה ָעַלי ִהשְׁ ָתב ִמַיד יְׁ  ַהכֹל ִבכְׁ

hakkol bikhtav miyyad Adonai ‘alai hiskil kol mal’akhot hattavnit 

Seseorang mungkin berpendapat bahwa ini bukan benar-benar perubahan Torah, namun  

kemudian kita perlu menafsirkan dengan agak longgar arti istilah “perubahan” di sini, 

sebab  modifikasi David atas pola suci yang diperintahkan Mosheh untuk diikuti 

menyentuh setiap aspek dari mishkan dan bagian-bagiannya, termasuk peran keimaman 

itu sendiri dan aktivitasnya. Bahkan secara nyata, perubahan formulasi Mosheh dari 

mishkan kepada Beit Hamiqdash merupakan perubahan besar dalam kehidupan orang-

orang Yahudi, dan hanya dibenarkan jika Raja David benar-benar dan secara ilahi diberi 

wewenang untuk melampaui instruksi-instruksi jelas yang diberikan oleh YHVH dalam 

Torah Mosheh. 

Selanjutnya, menurut para rabbi sendiri, Torah (entah bagaimana) diubah saat Kuil 

Kedua dihancurkan pada tahun 70 M dan sistem pengurbanan ditinggalkan. namun  

apakah ini tidak mempengaruhi arti Torah, terutama saat Anda mempertimbangkan 

bahwa hampir separuh dari 613 perintah Torah tertulis ditemukan dalam kitab Imamat, 

Torat Kohanim (hukum para imam), dan banyak tulisan yang ditemukan di dalam 

Talmud didasarkan pada itu? Hanya melalui penafsiran ulang rabbinik (yaitu, 

perubahan) dari Torah maka Yudaisme – sebagai suatu sistem yang tidak berbasis Kuil – 

dapat terus ada di dunia, terlepas dari ajaran Yohanan ben Zakkai, orang bijak Yahudi 

pada abad pertama, yang dianggap berjasa dengan dogma bahwa pengurbanan hewan 

dapat diganti dengan doa dan perbuatan-perbuatan kebaikan: 

Rabban Yohanan ben Zakkai pernah berjalan dengan muridnya, Rabbi Joshua, di dekat 

Yerusalem setelah penghancuran Kuil. Rabbi Joshua melihat kepada reruntuhan Kuil 

dan berkata-kata : “Celaka bagi kita! Tempat di mana penebusan bagi dosa-dosa orang 

Yisra’el melalui ritual pengurbanan hewan telah menjadi reruntuhan!” Kemudian 

Rabban Yohanan ben Zakkai mengucapkan kata-kata penghiburan ini kepadanya: 

“Jangan bersedih hati, anakku. Ada cara lain untuk mendapatkan penebusan meskipun 

Kuil telah dihancurkan. Kita sekarang harus mendapatkan penebusan melalui 

perbuatan-perbuatan kebaikan.” sebab  ada tertulis, “sebab  Aku menginginkan 

kebaikan (ֵחֵסד chesed), dan bukan kurban (ז ַבח zevach).” (Hos. 6:6). Siddur Sim 

Shalom, (Avot DeRabbi Natan) Jules Harlow, ed. (New York: United Synagogue of 

Conservative Yudaism) 

לֹא ִתי וְׁ ַדַעת ֱאֹלִהים ֵמעֹלֹות: -ִכי ֶחֶסד ָחַפצְׁ  ָזַבח וְׁ

ki chesed chafatzti velo-zavach veda’at ‘elohim me’olot 

ֵחֵסד זֶַבח 

ַדַעת

עֹלָה

 

Bahkan, “Yudaisme tanpa Kuil” ini memotong hampir separuh dari perintah-perintah 

eksplisit yang diberikan oleh Elohim kepada Mosheh dalam Torah sekaligus menegakkan 

Yudaisme rabbinik sebagai otoritas penafsiran Torah bagi orang Yahudi di seluruh 

Diaspora. Pastinya perubahan otoritas ini menunjukkan perubahan dalam Torah! 

Brit Chadashah dan Torah 

Setelah Yeshua datang untuk menebus Yisra’el dari dosa-dosanya (sebagai Mashiach ben 

Yosef – Hamba yang Menderita dari Yesaya 53), Kuil Kedua dihancurkan dan orang-

orang Yahudi mulai menderita Galut (pembuangan) selama hampir 2000 tahun. 

Berbagai teknik penafsiran kemudian dipakai  oleh tradisi rabbinik untuk mendirikan 

suatu bentuk ibadah Yahudi yang tidak memerlukan kehadiran Kuil di bumi, dan Torah 

menjadi hal ketaatan batiniah, dengan doa-doa menggantikan kurban-kurban hewan, 

dsb.. 

Orang percaya Yahudi Mesianik sebaliknya memahami bahwa Perjanjian Baru (Yer. 

31:31-33) mulai digenapi, suatu keadaan “sudah tapi belum” yang menunggu 

penggenapan eskatologis lengkap saat Yeshua datang kembali sebagai Mashiach ben 

David untuk mendirikan kerajaan-Nya di Yerusalem. Sementara makna batiniah dari 

Torah, yang disaring sebagai perintah untuk mengasihi Elohim dan sesama melalui kuasa 

Ruach Haqodesh (Roh Kudus) yang mendiami, menjadi prinsip penuntun kehidupan 

iman. 

Kitab Ibrani menyediakan penjelasan utama Perjanjian Baru tentang perjanjian “baru” 

ini, mengutip langsung dari referensi Yeremia untuk mendirikan penerapannya melalui 

karya Mashiach demi kita (Ibr. 8:8-12). Menariknya, kata “baru” yang dipakai  yaitu  

καινός kainos, dalam bahasa Yunani, sebuah kata yang bukan memiliki arti “diperbarui”, 

melainkan “belum pernah terdengar”, “sama sekali baru”, atau “unik”. Perjanjian baru 

mengubah cara memperoleh pembenaran dan kebenaran di hadapan YHVH (melalui 

iman di dalam kasih karunia Elohim sebagaimana didemonstrasikan dalam 

mempersembahkan Putra-Nya sebagai kapparah (penebusan, pendamaian) dosa kita), 

namun  itu tidak mengubah makna batin dari Torah untuk mengasihi YHVH dan mengasihi 

sesama (seperti yang akan dibuktikan oleh contoh-contoh dari tulisan-tulisan perjanjian 

baru ini): 

• Terhadap seorang pun janganlah berhutang apa saja kecuali mengasihi seorang 

terhadap yang lain, sebab  dia yang mengasihi orang lain telah menggenapi torah. 

Sebab, “Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi 

dusta, jangan mengingini,” dan seandainya ada suatu perintah yang lain, ia sudah 

disimpulkan dalam firman ini, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Kasih 

tidak berbuat yang jahat kepada sesama, sebab  itu kasih yaitu  penggenapan 

torah. (Rom. 13:8-10) 

• Sebab seluruh torah digenapi dalam satu perkataan, yaitu: “Kasihilah sesamamu 

seperti dirimu sendiri!” (Gal. 5:14) 

• Sebab, inilah berita yang telah kamu dengarkan dari semula, bahwa kita 

seharusnya mengasihi seorang terhadap yang lain. (1 Yoh. 3:11) 

• “Oleh sebab  itu, segala apa saja yang kamu inginkan agar manusia lakukan 

kepadamu, demikian jugalah kamu lakukan kepada mereka, sebab  inilah isi 

Torah dan Kitab Para Nabi. (Mat. 7:12) 

• Dan seorang dari mereka, seorang ahli torah, bertanya sambil mencobai Dia dan 

berkata-kata , “Guru, manakah perintah terbesar di dalam Torah?” Dan YESHUA 

berkata-kata  kepadanya, “Kasihilah YHVH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan 

dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Inilah perintah yang 

pertama dan yang terbesar. Dan yang kedua, yang sama dengan itu: Kasihilah 

sesamamu seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh 

isi Torah dan Kitab Para Nabi.” (Mat. 22:35-40) 

• Dan tampaklah seorang ahli torah berdiri untuk mencobai Dia dan mengatakan, 

“Guru, dengan berbuat apa aku dapat mewarisi hidup yang kekal?” Dan Dia 

berkata-kata  kepadanya, “Apa yang telah tertulis di dalam Torah? Bagaimana kamu 

membacanya?” Dan sambil menjawab, dia berkata-kata , “Kasihilah YHVH, Elohimmu, 

dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap 

kekuatanmu dan dengan segenap pikiranmu; dan kasihilah sesamamu seperti 

dirimu sendiri.” Dan, Dia berkata-kata  kepadanya, “Engkau telah menjawab dengan 

benar, lakukanlah itu, maka kamu akan hidup.” (Luk. 10:25-28) 

Kesimpulan 

Untuk mengajukan pertanyaan apakah “Torah” dapat diubah jelas sedikit lebih rumit 

daripada yang kita duga sebelumnya. Pertama kita perlu mendefinisikan apa yang 

dimaksud dengan kata “Torah,” dan kemudian kita perlu mempertimbangkan apakah 

makna Torah itu dapat berubah. 

Jika Torah dipahami secara umum merujuk kepada “hukum moral” sebagai perintah 

secara akal budi manusia untuk hidup sesuai kewajiban, jelas bahwa prinsip universal 

semacam itu tidak dapat diubah, namun  juga secara langsung menimbulkan rasa 

keterbuangan di dalam hati kita, sebab  dengan demikian kondisi moral kita terungkap. 

Suara hati nurani yaitu  saksi bahwa kita semua melanggar standar-standar kepatutan 

dan kesucian secara terus-terusan. Kita semua memiliki perasaan intuitif moralitas 

“sebab dan akibat”, namun kita hidup baik dalam keadaan keputusasaan hidup secara 

sadar, atau kita (secara tidak rasional) berharap dikecualikan dari putusan hukum. 

Namun, sama seperti tidak mungkin 2+2 tidak sama dengan 4, demikian juga tidak ada 

pengecualian-pengecualian yang sah terhadap kewajiban untuk mematuhi hukum moral 

Elohim yang sempurna (Namun, perhatikan bahwa hukum yang dipahami demikian 

yaitu  “cermin” hanya jika kita memilih untuk melihat “ke dalamnya” (sebagai lawan dari 

melihat “kepadanya”). Dengan kata lain, dibutuhkan integritas dan keberanian pribadi 

untuk melihat kepada diri sendiri dan mengakui keterbuangan dan kesalahan Anda di 

hadapan hukum moral. Dengan melakukan demikian, bagaimanapun, sebuah 

pengharapan diperkenalkan untuk kasih karunia dan pembebasan ilahi, sebuah 

kebenaran “asing” yang dapat diperoleh melalui iman). 

Jika Torah dibatasi han