Pengilhaman alkitab

 


Seperti disebutkan dalam 2 Tim.3:16 bahwa tulisan yang diwahyukan

Alkitab  itu  berguna  untuk  mengajar,  menyatakan  kesalahan,  untuk

memperbaiki  kelakuan dst.  Jadi  jelas bahwa Alkitab itu  diwahyukan,

atau  dihembusi  Roh  Tuhan .  Yang  diwahyukan  itu  Alkitabnya  (Dr.  H.

Hadiwijono). Bagimana proses pewahyuan itu? Yaitu melalui para nabi,

contoh  misalnya   Mat.1:22,  dikatakan”Hal  itu  genaplah  apa  yang

difirmankan  oleh  Tuhan,  lewat  para  nabi”  (tentang  kelahiran  Tuhan

Yesus  Kristus).  Demikian  juga  dalam  Mat.2:15,  genaplah  apa  yang

difirmankan Tuhan oleh para nabi (Bahwa Yesus harus diungsikan ke

Mesir).

Para nabi itu tentunya dibimbing dan dan dipimpin oleh Roh Kudus (2

Pet.1:21).  Dengan  demikian  ada  dua  pihak  yang  terlibat  dalam

pengilhaman Alkitab,  yaitu  Roh  Kudus  (Tuhan )  yang mengilhami  dan

manusia. Bagaimana keduanya bekerjasama dalam pengilhaman ini?

Hal ini dijawab dalam berbagai teori pengilhaman.

Teori pengilhaman

Ada bermacam-macam teori pengilhaman.

1. Pengilhaman yang mekanis.

Dalam pengilhaman mekanis, penulis hanya sebagai mesin yang

menulis  gagasan-gagasan  dari  Tuhan ,  baik  idenya  bahasa

tulisannya dari kata ke kata didektekan kepada manusia. Dalam

pengilhaman ini  manusia sangat pasif.  Contoh misalnya dalam

agama Hindu,  Kitab Weda dan upanisat itu diterima dari  para

dewa  dan  dibisikkan  kepada  resi  dan  dituliskan.  Umat  Islam

mepercayai  bahwa  setelah  manusia  jatuh  dalam  dosa,  Tuhan 

mengirim utusanNya (nabi) untuk membimbing umatnya dalam

kebenaran, dengan kitab Sucinya masing masing.  Dalam Agama

Islam,  kitab  Taurat  diwahyukan  kepada  Musa,  Jabur  (Mazmur)

diwahyukan kepada Daud; Kitab Injil diwahyukan kepada nabi Isa

dan  yang  terakhir  kitab  Qur’an,  sebagai  kitab  terakhir,  yang

diwahyukan kepada nabi Mokhamat. Dan semua itu merupakan

copi dari Kitab Suci yang asli yang ada di Sorga. Sebenarnya ada

lagi  Satu  Kitab  Suci  yang  diwahyukan  kepada  nabi  Ibrahim,

sayanya keberadaan Kitab Suci ini tidak ditemukan lagi di dunia

ini.  Umat  Muslim  sangat  menghargai  kepada  Kitab  Kitab

sebelumnya,  sebagai  kitab  yang  yang  membimbing  umat

manusia  (Sura  3:3-4a,  Sura  5:68).  Bagi  Umat  Islam Al  Qur’an

bukan hanya suatu penyataan Tuhan  yang baru, namun  juga Kitab

yang  meneguhkan  kitab  yang  sebelumnya,  menjelaskan

ketidakpastian dan menyempurnakan kebenaran dari Kitab kitab

sebelumnya

Pewahyuan  Al  Qur’an,  dilakukan  oleh  malaekat  Tuhan ,  mulai

tahun 610  AD (masehi), secara bertahap dan terjadi selama 23

tahun  dan  selesai  tahun  632,  beberapa  saat  sebelum

kematiannya.  Ayat  yang  terakhir  dikirim  oleh  Tuhan   sendiri

dengan  sebuah  kalimat  penutup:Hari  ini  Aku  telah

menyempurnakan  agamamu  bagimu  dan  menyempurnakan

anugerahKu padamu dan telah memilihkan bagimu agama yaitu

Al-Islam (Sura 5:3). Menurut agama Islam Al Qur’an yaitu  Kitab

Suci  yang  paling  luas  dan  lengkap.  Terdiri  dari  114  Bab  atau

Sura,  86  sura  diwahyukan  di  Mekkah dan 28  sura  di  Madina.

Dengan ayat ayat yang berbeda beda panjang pendeknya. Yang

paling pendek yaitu  sura 103, 108,110

Pengilahaman  ini  tidak  cocok  dengan  pengilhaman  Alkitab,

sebab:

a. Lukas menulis Injilnya yang ditujukan kepada Theofilus, Matius

kepada orang Yahudi.

b. Kalau didektekan tentu gaya bahasa dan penulisannya mestinya

seragam.  sedang   kitab-kitab  dalam  Alkitab  tidak  seragam

dan memiliki  gaya bahasa sendiri sendiri.

c. Bakat, latar belakang hidup, latar belakang budaya, cara berfikir

ternyata  ternyata sangat mempengaruhi tulisan-tulisan mereka.

Daud  yang  latar  belakangnya  masyarakat  agraris,  berbeda

dengan  Musa  yang  latar  belakangkan  kerajaan  dan  kaum

intelektual, yang memperhatikan masalah tertib hukum dsb.

d. Jarak antara peristiwa dan penulisan memicu  munculnya

interpretasi yang kadang berbeda satu dengan yang lain.

2. Pengilhaman pasif atau negatip.

Dalam pengilhaman ini para penulis dijaga dan diilhami oleh Roh

Kudus,  sehingga benar  senantiasa.  Memang gaya bahasa  dan

tulisannya berbeda, namun   tidak dapat menyeleweng dan salah.

Misalnya  kalau dikatakan dalam Kejadian 1  bahwa penciptaan

dilaksanakan dalam waktu enam hari itu pasti benar.

Pandangan ini tidak sesuai dengan Alktab sebab menurut Alkitab

yang  diilhamkan  bukan  manusianya,  namun   tulisannya  (pak

Harun). Menurut hemat saya keberatan pak Harun kurang bisa

diterima,  sebenarnya  sulit  membedakan  antara  penulis  dan

tulisannya,  kalau  yang  dikatakan  Alkitab  itu  tulisannya

diwahyukan,  sebenarnya  yang  dimaksud   juga  diwahyukan

melalui  penulisnya.  Menurut  hemat  saya  pengilhaman  ini

memang masih ada kesalahan-kesalahan manusiawi. Disana ada

data historis yang salah dan pemahaman-pemahan yang salah

apalagi jika dibandingkan dengan ilmu pengetahuan  sekarang

ini.

3. Pengilhaman Dinamis.


Dalam pengilhaman Dinamis  ini  hati  penulis  diperbaharui  oleh

Roh Kudus, dilahirkan kembali, sehingga hanya orang yang baik

dan  benar  saja  yang  bisa  dipakai  sebagai  perantara  firman

Tuhan.  Sehingga  semakin  penulis   dekat  dengan  kejadiannya

semakin dapat  dipercaya.  Karena tulisan para rasul  lebih bisa

dipercaya  daripada  tulisan  sebelum  dan  sesudah  para  rasul.

Keberatan  terhadap  pengilhaman  ini  yaitu   bahwa  tidak

senantiasa orang yang benar dan baik yang dipakai oleh Tuhan .

Bileam  seorang  dukun  yang  disuruh  mengutuki  Israel  malah

memberkatinya  (Bil.  23:4),  Kayafas  memberitakan  perlunya

Kristus  mati  tersalib  (Yoh.11:50,51).  Sebelum  para  murid

mengakui Yesus sebagai Anak Tuhan , Iblis sudah tahu bahwa Ia

yaitu  anak Tuhan  (Luk.4).

4. Pengilhaman Organis

Dalam pengilhaman ini penulis bertindak sebagai organ atau alat

(Kis.9:13, dimana Tuhan  memakai manusia sebagai alat). namun 

alat  disini  bukan  alat  yang  mati  namun   alat  yang  hidup.  Dan

seperti  organ  tubuh  setiap  organ  itu  memiliki   tempat  dan

fungsinya  sendiri-sendiri.  Matius  yang  menulis  uratnya  untuk

orang  Yahudi  berusaha  menghindarkan  kata-kata  yang  bisa

menjadi  sandungan  dan  digantikan  dengan  kata  yang  lain.

Misalnya  kata  Kerajaan  Tuhan ,  diganti  dengan  kerajaan  Sorga.

Lukas yang seorang tabib, memiliki  perhatian kepada orang

miskin dan wanita dan karenanya bersikap keras terhadap orang-

orang yang kaya. 

Walau  tempat  dan  fungsinya  berbeda-beda  namun  semuanya

demi kepentingan tubuh yang satu, yaitu untuk kemuliaan nama

Tuhan. Jika hal itu dikenakan pada pengilhaman, maka beberapa

hal perlu diperhatikan:

a. Pertama,  bahwa  memang  Pengilhaman  itu  yaitu   karya  Roh

Kudus dalam hidup manusia, Roh inilah yang memberi gagasan

dan  mendorong  manusia  untuk  memberitakannya  baik  secara

tertulis maupun lisan (Mat.1:22; 2:15; 2 Pet.121; Luk.10:16).

b. Walau  demikian,  karena  ia  yaitu   organ  yang  hidup,  maka

kepribadian,  latar  belakang hidup,  budaya, cara fikir  dan adat

istiadat tidak ditiadakan: Misalnya konsep menciptakan manusia

dari  debu  tanah;  Pergilah  sampai  ke  ujung  Bumi;  Tuhan

menegakkan  bumi  pada  alasnya;  Tuhan  membuka  tingkap-

tingkap  langit  dan  mencurahkan  air  dst.  Hal  itu  menunjukkan

betapa latarbelakang mereka sama sekali tidak ditiadakan.

c. Penulis  sadar  persis  akan  pimpinan  Tuhan,  itulah  sebabnya

dalam  Galatia  1:8  dikatakan  bahwa  walau  malaekat  yang

memberitakan  Injil,  namun   jika  tidak  sesuai  dengan  yang

diberitakan  penulis  harus  ditolak,  itu  semua  karena  ia  sadar

bahwa Injil yang dia beritakan sesuai dengan kehendak Tuhan .

3

d. Penulis  bisa  membedakan  mana  kehendak  Tuhan   dan  mana

kehendak  manusia.   Dalam 1  Kor.7:6,7  dikatakan  oleh  Paulus

bahwa sebaiknya pelayan Tuhan itu tidak kawin, namun  itu hanya

pertimbangan  Paulus.  Namun  dalam  1  Kor.7:10  dikatakan

seorang isteri jangan undur dari suaminya itu yaitu  kehendak

Tuhan . Perlu dicatat disini bahwa jika dikatakan sesuatu itu yaitu 

kehendak Tuhan  tidak berarti  bahwa Tuhan  membisikkan hal  itu

kepada  penulis.   Penulis  biasanya  mencari  referensi  dari

Perjanjian Lama dan melalui pergumulan dalam hidupnya.

e. Dengan demikian sebenarnya Alkitab itu yaitu  100% manusiawi

dan juga 100% ilahi. Sifat manusiawi alkitab itu nampak dalam

bentuk  sastranya  dimana  didalamnya  ada  sejarah  (Kejadian,

keluaran,  hakim-hakim,  Samuel,  Tawarikh),  ada  petuah  dan

pepatah (amsal, Mazmur), perumpamaan (dalam Injil-Injil); Tata

ibadah, yang didalamnya ada pengakuan ada pentahbisan ada

pujian dsb. Karena itu dalam pemakaiannya harus hati-hati tidak

dapat  disamakan  begitu  saja.  Kita  harus  melihat  bagaimana

konteks Alkitab itu sendiri dan bagaimana konteks kita saat ini.

Dari  bahasa  yang  dipakai  saja  (PL  bahasa  Ibrani,  PB  bahasa

Yunani)  nampak  bahwa   Alkitab  itu  muncul  di  tengah-tengah

sejarah.

f. Sifat ilahi Alkitab. Kalau tadi dikatakan bahwa gagasannya dari

Tuhan , tidak berarti bahwa Alkitab itu dibisikkan kepada manusia

dalam  bisikkan  ilahi.  Lalu  Bagimana?   Isi  seluruh  Alkitab  itu

yaitu  tentang cinta  kasih  Tuhan   kepada manusia.  Cinta  kasih

Tuhan   itu  nyata  dalam  keterlibatan  Tuhan   dalam  sejarah  umat

manusia. namun  cinta kasih itu bukan begitau saja diterima oleh

manusia, bahkan sering manusia menolak cinta kasihnya. Itulah

sebabnya dalam Alkitab ada tindakan Tuhan  yang tidak enak bagi

manusia.  Sebagai  contoh  Kitab  Hakim-hakim  berisi  tentang

pemberontakan,  hukuman,  pertobatan  dan  pengembalian

manusia. Kasih itu Akhirnya perpuncak adalam kehadiran Tuhan

Yesus Kristus.

g. Keilahian Alkitab itu juga nampak dalam bahwa Alkitab itu berisi

tentang kesaksian manusia tentang penyataan Tuhan  dalam diri

Yesus Kristus. Jadi Alkitab itu tidak identik dengan Firman Tuhan ,

namun  merupakan kesaksian iman manusia tentang sang Firman

itu sendiri. Seperti yang dikatakan dalam Yoh.20:31 namun  semua

yang tercantum disini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa

Yesuslah  Mesias  Anak  Tuhan   supaya  kamu  oleh  imanmu

memperoleh  hidup  dalam  namanya”.  Lalu  siapa  yang

menghendaki mencatat? Pertama manusia sendiri, namun  di lain

pihak  Tuhan   menghendaki  mencatatnya  (  Kel.17:14;  Yes.8:1;

Yer.30:1).

h. Mengapa perlu dicatat? Sebab orang tidak bisa terus menerus

mempertahankan tradisi lisan sebab dengan tradisi lisan itu ada

4

dua  bahaya:  di  satu  pihak  akan  ada  pengurangan  dan

pengausan,  di  lain  pihak  ada  peluasan  dan  banyak  bumbu

bumbunya  dan  menjadi  interpretative.  Contoh:  Peristiwa

pemanggilan para penjala ikan menjadi penjala manusia. Di Injil

Matius  dan  Markus,tidak  ada  kisah  seperti  yang  diceriterakan

Lukas tentang perintah Yesus untuk menjala dan mendapat ikan

yang  luar  biasa  banyaknya  sampai  jalanya  robek  (Luk.5:1-11;

Mat.4:18-22; Mark.1:16-20).

i. Pencatatan itu sendiri  kemudian menimbulkan pemilihan mana

kitab  yang  otentik  dan  yang  tidak  otentik  atau  apa  yang

biasanya disebut sebagai persoalan kanonisasi Alkitab.  

Penggunaan Alkitab 

Dari cara pengilhamannya maka cara penggunaan Alkitab juga akan

menjadi  berbeda.  Sebagai  perbandingan  kita  akan  melihat  cara

penggunaan Al Qur’an dan Alkitab, sbb.:

1. Dalam Al Qur’an karena Qur’an yaitu  diturunkan

secara utuh dalam bisikan ilahi, maka, ia tidak boleh diubah-ubah

bahkan  diterjemahkan,  ia  juga  menjadi  norma  hukum  (undang-

Undang)  bagi  umat,  yang  harus  dilaksanakan  secara  utuh.  Jika

dalam Qur’an tidak ada hukumnya maka memakai Hadis para nabi,

jika dalam hadis nabi tidak ada, maka memakai qias atau analogi,

jika  tidak  ada  analogi  maka  memakai  fatwa  para  ulama.  Dalam

Alkitab bukan firman menjadi buku, namun   firman menjadi  daging

dan Alkitab yaitu  kesaksian tentang firman yang menjadi daging

ini.  Alkitab  merupakan hasil  pergumulan  para  penulis  yang

menyaksikan firman yang menjadi  daging itu.  Alkitab yaitu  alat

yang  dipakai  untuk  bergaul  dan  berkomunikasi  dengan  Tuhan .

Artinya,  dalam  Alkitab  itu  disaksikan  kepada  kita  bahwa  Tuhan 

dahulu telah berkarya dan berfirman kepada umatnya dalam hidup

mereka  sehari-hari,  dengan  itu  pula  Tuhan   bermaksud

memberitahukan  kepada  kita  bahwa  Tuhan   masih  berkenan

berfirman  dan  berkarya  di  tengah-tengah  umatnya  sampai

sekarang.

2. Dalam  kenyataannya  masih  sering  umat  Kristen

mempergunakan  Alkitab  sebagai  kitab  Undang-Undang.  Hal  itu

tidak  sama sekali  salah,  sebab  kadang-kadang Tuhan  Yesus  juga

memakai  dengan  cara  yang  sama.  Misalnya  ketika  Tuhan  Yesus

dicobai  di  padang  gurun  (Mat.4:4,7).  Kepada  Pemuda  kaya  raya

Tuhan Yesus menyuruh mengacu hidupnya pada apa yang tertulis

dalam Alkitab ( Mat.19:17-19). namun  cara semacam itu tidak boleh

senantiasa dilakukan, karena dalam setiap perkataan ada konteks

yang  berbeda.  Paulus  mengingatkan  agar  kita  tidak  menjadikan

Firman  Tuhan   sebagai  hukum  yang  tertulis  dan  mematikan  (2

Kor.3:6).  Kadang-kadang  para  pembaca  harus  turut  aktif

5

memikirkan  dan  mengambil  keputusan  sendiri.  Contoh  Kisah

perempuan  yang  kedapatan  berbuat  zinah  (Yoh.8:1-11).  Contoh

yang  tepat  tentang  menggunakan  Alkitab  yaitu   dalam

Perumpamaan  orang  Samaria  yang  baik  hati  (Lukas  10:25-37),

ketika Mereka bertanya bagimana memperoleh hidup yang kekal,

Tuhan  Yesus  menunjuk  apa  yang  terdapat  dalam  Hukum  Taurat

(ay.26), ketika mereka ingin membenarkan dirinya dengan bertanya

siapa  sesama  manusia  itu?  Tuhan  Yesus  membuat  sebuah

perumpamaan  dan  pendengar  disuruh  menggumulkan  dan

memutuskan  untuk  dirinya  sendiri.  Begitulah  umat  harus

memberlakukan Alkitab agar tidak menjadi Firman yang mematikan.

Sebagai contoh; Bagaimana mencari kehendak Tuhan  dalam kasus

tertentu.;

a. Tidak  semua  kasus,  kita  bisa  menemukan  jawaban  secara

langsung dalam Alkitab.

b. namun  kalau itu kehendak Tuhan pasti tidak akan bertentangan

dengan Alkitab.

c. Kehendak Tuhan pasti tidak akan merugikan orang lain.

d. Kita  bisa  minta  pertolongan  orang  lain  untuk  menemukan

kehendak Tuhan .

e. Dalam mencari kehendak Tuhan kita ambil keputusan sendiri dan

bisa saja  keputusan kita  salah.  Jika  keputusan itu  salah harus

ditobati dan mencoba mencari aspek positif dari keputusan yang

salah  ini.  Dengan  demikian  mencari  kehendak  Tuhan   itu

menuntut pemikiran, pertimbangan, pembicaraan pemilihan. 

6


jika  merunut secara keseluruhan mengenai kisah para nabi dalam Perjanjian Lama,
kita bisa memperhatikan bahwa seseorang menjadi nabi bukan sebab  kemauannya sendiri,
melainkan sebab  seseorang itu dipilih oleh Tuhan. Dalam hal ini, Tuhanlah yang memiliki 
inisiatif  untuk menentukan siapa yang akan menjadi utusan-Nya. Dalam Tradisi  Kristiani,
misalnya  menyebutkan  bahwa  Tuhan  telah  menetapkan  Yeremia  sebagai  seorang  nabi
sebelum dia lahir dari kandungan.1 Dengan dipilihnya seseorang untuk menjadi nabi, maka ia
secara tidak langsung mendapat perutusan dari Tuhan sendiri untuk memberi nubuat kepada
orang lain maupun bangsa-bangsa lain. 
Tugas dan peranan pokok panggilan kenabian berdasar  tradisi kenabian Perjanjian
Lama,  pertama-tama yaitu   untuk mengingatkan  bangsanya,  khususnya Israel,  yang lupa
akan perjanjian kasih dengan Tuhan, dan dari sini lalu menyerukan pertobatan.2 Seorang nabi
juga identik dengan penglihatannya di masa yang akan datang. memiliki  penglihatan di
masa yang akan datang bukan berarti  bahwa seorang nabi  itu  dianggap sebagai  peramal.
Penglihatan tentang masa depan ini merupakan rahmat yang diterima oleh para nabi saat  ia
dipilih oleh Tuhan untuk memberi nubuat kepada bangsa-bangsa.
berdasar   pemahaman  singkat  mengenai  apa  itu  nabi,  kita  akan  mengulas  lebih
dalam  mengenai  salah  satu  tokoh  nabi  besar  dalam  kisah  Perjanjian  Lama,  yakni  Nabi
Yesaya.  Dalam  kisahnya,  Nabi  Yesaya  merupakanseorang  nabi  yang  sering  disebut
“pangeran  para  nabi”  sebab   keagungan  sapuan  bukunya  dan  caranya  yang  kuat  dalam
menggambarkan tema keadilan dan penebusan, yang berpuncak pada nubuatan besar tentang
Mesias  dan  zaman  mesianik.  Berkaitan  dengan  pemahaman  singkat  mengenai  gambaran
seorang nabi, tulisan ini akan lebih mendalami tempat kitab Nabi Yesaya dalam Kitab Suci,
kemudian menjelaskan Nabi Yesaya dan pribadinya, nubuatnya serta konteks sejarahnya. 
2. Tempat Kitab Nabi Yesaya dalam Alkitab
Kitab Suci merupakan sebuah buku dimana sejarah dan kehidupan para nabi mendapat
tempatnya. Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Lama menjadi buku yang pertama jika
seseorang ingin mempelajari  dan mengetahui sumber informasi mengenai  para nabi Israel.
Demikian juga dengan kitab Nabi Yesaya, kitab Nabi Yesaya merupakan bagian dari kitab
nabi-nabi  besar  dalam  perjanjian  lama. Di  antara  semua  kitab  para  nabi,  Kitab  Yesaya
2 Sudarman, Nabi-nabi Israel dalam Perjanjian Lama:Sebuah pendekatan Sejarah Agama, dalam jurnal Al-
Adyan/Vol. VIII, no. 2/Juli – Desember/ 2013, hlm. 1.
merupakan kitab yang sangat panjang dan tebal. Kitab Yesaya ini seringkali dibagi menjadi
tiga bagian.  Pada bagian pertama disebut Proto Yesaya (1-39), kemudian Deutero Yesaya
(40-55), kemudian Trito Yesaya  (56-66). 
 Proto Yesaya  berasal dari Nabi Yesaya yang berkarya pada zaman sebelum
pembuangan Babel (740-700 SM).
 Deutero Yesaya  berasal dari nabi lain (anonym) yang berkarya pada zaman
pembuangan Babel (597-538 SM).
 Trito Yesaya   berasal  dari  nabi  lain (anonym) yang berkarya  pada zaman
sesudah pembuangan Babel. (538-530 SM).
Ketiga  bagian  kitab  ini  juga  menubuatkan  sesuatu  yang  berbeda,  misalnya  dalam
bagian pertama yang menubuatkan bernada ancaman terhadap Bangsa Israel yang tidak mau
bertobat. Kemudian pada bagian kedua bernada hiburan bagi bangsa Israel. Kemudian bagian
ketiga  bernubuat  tentang  harapan  kepada  bangsa  Israel  yang  mengalami  ketakutan  dan
kegelisahan. Oleh para kolektor naskah, semua nubuat ini  kemudian dikumpulkan dan
disatukan dalam suatu kitab yang diberi nama ‘Kitab Yesaya’.3
3. Istilah “Nabi” dan Gejala Kenabian
Istilah ‘nabi’ berasal dari bahasa Ibrani ‘Navi’, yang berarti mengalir seperti mata air.
Selain itu kata ‘nabi’ memiliki  makna yang berarti memberi keterangan dan mengabarkan.
Dengan demikian bisa diambil  kesimpulan bahwa  bahasa Ibrani inilah yang paling sering
digunakan untuk menjelaskan istilah ‘nabi’. Melalui para nabi dalam tradisi alkitabiah, Tuhan
telah menyatakan rencana-Nya dalam hal keselamatan dan menyatakan firman-Nya  kepada
para bangsa untuk memberitakan suatu peristiwa di masa depan.
Secara singkat dalam Perjanjian  Lama, seorang yang digelari “nabi”  atau ‘navi’ juga
digelari sebagai “pelihat”, dalam bahasa Ibrani yakni Haro’eh.4 Istilah ‘pelihat’ secara jelas
menunjukkan  karakteristik  seorang nabi,  yaitu  seseorang  yang mendapat  penglihatan  dan
mendengar suara Tuhan dan diutus untuk menyampaikannya kepada umat maupun bangsa-
bangsa. Kemampuan ini merupakan suatu karunia yang disebut karunia kenabian. Misalnya:
“Mari kita pergi kepada pelihat”,  sebab nabi yang sekarang ini disebutkan dahulu sebagai
3 P. Hendrik Njiolah, Pr., Mengenal nabi Yesaya, nabi Yeremia, nabi Yehezkiel dan nabi Amos, Yogyakarta: 
Yayasan Pustaka Nusatama, hlm. 46.
4 V. Indra Sanjaya, Pr.,… dan Firman Tuhan datang kepadaku, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 58.
pelihat (1 Sam. 9:9). Istilah ‘pelihat’ yang dikenakan pada seorang nabi juga melekat pada
diri  Yesaya.  Dalam  ayat  pertama  Kitab  Yesaya  tertulis  “Penglihatan  yang  telah  dilihat
Yesaya  bin  Amos  tentang  Yehuda  dan  Yerusalem  pada  zaman  Uzia,  Yotam,  Ahas  dan
Hizkia, raja-raja Yehuda.” (Yes. 1:1). 
Gejala kenabian dalam Nabi Yesaya tentu bisa dilihat dari latar belakang bagaimana
Yesaya itu bisa terpilih menjadi seorang nabi. Tradisi kenabian memang terus muncul dalam
sejarah Bangsa Israel, demikian juga nabi Yesaya yang dinyatakan sebagai nabi besar dalam
sejarah bangsa Israel. Pernyataan dalam kitab suci yang mengakui bahwa Yesaya merupakan
seorang nabi dilatarbelakangi  oleh pengalaman pribadi Yesaya saat  ia berjumpa dengan
malaikat.  Perjumpaan dengan malaikat  itu menjadi  tanda bagi Yesaya untuk menjalankan
misi yang diberikan Tuhan kepadanya. Kehidupan pada zaman nabi Yesaya dipenuhi oleh
situasi  sulit,  peperangan dan kemerosotan  iman.  Maka dari  itu  dapat  disimpulkan  bahwa
gejala kenabian seringkali muncul saat  situasi bangsa, khususnya Bangsa Israel mengalami
situasi sulit dan krisis iman. Dari situlah seorang nabi diutus oleh Tuhan untuk mengingatkan
kepada bangsa Israel untuk mengingat janji mereka kepada Tuhan serta mau untuk bertobat
dari perbuatan-perbuatan mereka yang jahat.
4. Nabi Yesaya dan Pribadinya
Seperti  yang  sudah  dikatakan  sebelumnya  bahwa  nabi  merupakan  seseorang  atau
pribadi  yang mendapat  perutusan langsung dari  Tuhan. Perutusan Tuhan memang kadang
kala sangat memberatkan hati para nabi yang diutusnya. Dalam Perjanjian Lama, berbagai
reaksi diutarakan oleh para nabi saat  mendapat perutusan dari Tuhan. Misalnya nabi Yunus
yang pada mulanya melarikan diri dari hadapan Tuhan saat  ia mendapat perutusan untuk
mempertobatkan Bangsa Niniwe (Yun. 1:1-3). Demikian juga Samuel yang pada awalnya
belum mengenal suara Tuhan saat  ia dipanggil oleh Tuhan, bahkan ia mengira bahwa Eli-
lah yang memanggil Samuel (1 Sam. 3:1-21).5 
Dari  kedua  contoh  reaksi  nabi  terhadap  panggilan  Tuhan  ini   dapat  diambil
kesimpulan  bahwa  nabi  sebagai  pribadi  juga  memiliki   sisi  manusiawi  dengan  segala
kekurangannya. Seorang nabi juga memiliki  kebebasan pribadi dalam menerima panggilan
Tuhan,  bisa  saja  mereka  menolak  panggilan  Tuhan  untuk  memberikan  nubuat  kepada
manusia.
Kisah  panggilan  Nabi  Yesaya  bisa  menunjukkan  bagaimana  kepribadian  sang  nabi
sangat berpengaruh dalam menangkap Firman dari Tuhan. Dalam kitabnya, Tuhan berkata
“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” kata-kata Tuhan ini
bukanlah suatu kalimat perutusan yang diutarakan kepada nabi Yesaya. Pertanyaan ini justru
mengandaikan kepekaan dari Nabi Yesaya dan kepekaannyalah yang membuat dia bersedia
menawarkan dirinya untuk menjadi seorang utusan Tuhan, meskipun dia sendiri tidak tahu
untuk apa dan kepada siapa dia diutus.6 Dan atas pertimbangan pribadinya, Yesaya akhirnya
menanggapi  pertanyaan  Tuhan  ini   dengan  kalimat,  “ini  aku,  utuslah  aku”  Hal  ini
merupakan keputusan personal yang diutarakan nabi Yesaya sebab  iman dan pengalamannya
akan Allah.7 
Dalam kisah penglihatan Nabi Yesaya (Yes. 6:5), kita ditunjukkan bagaimana reaksi
Nabi Yesaya saat  ditampakki oleh malaikat. Ia sadar bahwa ia berada dalam keadaan yang
nyaris mati, celaka dan takut sebab  ia berhadapan dengan Tuhan balatentara yang kudus.
Yesaya  sadar  bahwa  ketakutan  yang  dialaminya  disebabkan  oleh  ketidaksempurnaannya
secara moral di hadapan Tuhan sehingga ia pun mengakui dosanya dan dosa Bangsa Israel
bahwa mereka yaitu  orang-orang yang najis bibir.8 
Kata ‘najis’  mengungkapkan ketidaklayakan untuk diterima di hadirat  Tuhan sebab 
keadaan  fisik  yang sudah terkontaminasi  oleh  hal  yang  najis.9 Yesaya  menyadari  bahwa
Tuhan  yaitu   pribadi  yang  kudus  yang  terpisah  darinya  dan  bangsanya,  bukan  sebab 
melalaikan peribadatan,  tetapi  sebab  keberadaan Tuhan yang sempurna secara moral dan
menghukum  umat-Nya  yang  najis.10 Kesadaran  akan  dosanya  dan  dosa  bangsanya
menunjukkan intropeksi diri Yesaya bahwa ia tidak lebih baik dari orang-orang sebangsanya.
Sikap  ini  juga  menunjukkan  kerendahan  hati  untuk  mengakui  bahwa  kekudusan  Tuhan
yaitu  mutlak.11
5. Nabi Yesaya dan Nubuatnya
Penglihatan  Yesaya  di  Bait  Suci  Yerusalem  mau  menegaskan  misinya  untuk
menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel yang keras kepala (Yes. 6:9-13). Seperti
yang tertulis dalam kitabnya, misi yang dilakukan oleh nabi Yesaya tidaklah mudah Di satu
pihak, Yesaya harus menyampaikan firman Tuhan kepada Bangsa Israel, tetapi di lain pihak
Bangsa Israel tidak mau mendengarkan firman Tuhan, mereka menutup telinga, mata dan hati
mereka terhadap firman Tuhan (Yes. 6:10) Kendati demikian, Yesaya tidak menyerah (Yes.
8:16),  melainkan  ia  tetap  memperingatkan  Bangsa  Israel  akan  kejahatan  mereka  dan
hukuman  yang  akan  menimpa  mereka  (Yes.  1:2-9),  jika   mereka  tidak  bertobat  dan
berhenti berbuat jahat (Yes. 1:16-20). 
Sembari  memberi  nubuat  kepada  Bangsa  Israel  mengenai  ancaman  hukuman  bagi
mereka yang tidak mau bertobat, Yesaya juga menubuatkan janji keselamatan bagi bangsa
Israel yang mau bertobat.12 Nubuat tentang pemulihan kembali bangsa Israel yang tidak mau
mendengar firman Tuhan diyakini sebagai nubuat yang pasti terwujud, sebab  Allah akan
mengembalikan para hakim dan para penasehat mereka seperti dahulu (Yes. 1:26a). Sesuai
dengan janji-Nya kepada Daud (2 Sam. 7:12-16), Tuhan akan membangkitkan seorang raja
dari  keturunan  Daud  (Yes.  11:1),  yang  akan  mendasarkan  dan  mengokohkan  kerajaan
Yehuda dengan keadilan dan kebenaran untuk selama-lamanya (Yes. 9:6).13
Nubuat  Yesaya  tentang  kelahiran  seorang raja  ideal  dari  keturunan  Daud sangatlah
penting,  sebab  dari  nubuat  itulah muncul  sebuah harapan akan kedatangan Raja Mesias,
yang akan menuntun Bangsa Israel menuju pertobatan dalam naungan Tuhan. Nubuat tentang
kehadiran  raja  ideal  ini   tertulis  dalam  Yes.  7:10-17;  Yes.  9:1-6;  dan  Yes.  11:1-10.
saat   raja  Ahaz  mengalami  situasi  yang  terdesak  dan  ketakutan  saat   menghadapi
peperangan, Yesaya menyerukan agar mereka jangan takut,  melainkan harus tetap tinggal
tenang dan percaya teguh pada perlindungan Tuhan. Dengan demikian Yesaya meneguhkan
hati  mereka  dengan menubuatkan  kelahiran  seorang anak laki-laki  yang akan dinamakan
‘Immanuel’  yang  berarti  ‘Allah  beserta  kita’.  Dari  situ  anak  laki-laki  ini   menjadi
pertanda bahwa Allah selalu menyertai mereka (Yes. 7:11), sehingga mereka tidak perlu takut
akan  bahaya  apapun,  sebab   kelahiran  anak  laki-laki  ini   juga  menjadi  penjamin
keselamatan bagi mereka (Bangsa Israel).
Istilah mengenai nabi palsu tidak banyak diperdebatkan dalam sejarah Bangsa Israel.
Akan tetapi permasalahan mengenai nabi palsu ini memang cukup kompleks, entah itu sebab 
dari sisi manusianya maupun dari sisi Allah sendiri. Kita tidak bisa langsung memberi label
bahwa  nabi  itu  dikatakan  sebagai  nabi  palsu  sebab   tidak  ada  kriteria  yang  memadai
mengenai  nabi palsu,  bahkan dalam Perjanjian  Lama pun tidak menjelaskan secara detail
mengenai nabi palsu. 
Nabi-nabi  yang diutus  oleh  Tuhan merupakan  nabi  yang secara  pribadi  mengalami
sendiri perjumpaan dengan Tuhan dan menerima panggilan dari Tuhan itu secara langsung.
Nubuat yang diberikan para nabi kepada bangsa ataupun orang lain merupakan nubuat dari
Tuhan sendiri, seperti yang banyak ditulis dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi tidak semua
nubuat dari para nabi itu dapat dialami langsung oleh orang yang menerima nubuat ini .
Nubuat memang menjanjikan sesuatu yang baik kepada orang yang menerimanya, akan tetapi
jika  janji  ini   tidak  ditemukan,  tentu  orang  ini   akan  merasa  kecewa  dan
menganggap orang yang bernubuat ini  sebagai nabi palsu. 
Dalam konteks sejarah bangsa Israel persoalan mengenai nabi palsu sebenarnya tidak
menjadi perdebatan yang serius bagi seluruh bangsa Israel, khususnya sesudah pembuangan.
Dalam PL sendiri hanya mengingatkan bangsa Israel untuk berhati-hati terhadap nabi palsu.
Itupun hanya sebagian kecil orang yang mengalami kekecewaan sebab  pengharapan yang
diberikan oleh para nabi.15
7. Nabi Yesaya dan Konteks Sejarahnya
Nabi  Yesaya  hidup  pada  zaman  pemerintahan  Raja  Ahaz  (736-716  SM).  Pada
zamannya,  raja  Ahaz  mendapat  penilaian  jelek  dalam tradisi  deuteronomis.  Dalam Kitab
Raja-raja dituliskan “Ia tidak melakukan apa yang benar di mata Yahweh Allahnya, seperti
Daud bapa leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakukan raja-raja Israel” (2 Raj. 16:2-3).
Penilaian jelek itu dilatarbelakangi peristiwa peperangan yang terjadi antara Israel dan Siria.
Situasi perang itulah yang juga melatarbelakangi warta kenabian Yesaya. Berhadapan dengan
raja  Ahaz  yang  tidak  percaya  kepada  Allah,  maka  Yesaya  tampil  sebagai  nabi  yang
memberikan kepercayaan kepada rajanya.16 Yesaya mewartakan nubuatnya yang termasyhur
mengenai Immanuel yang berarti ‘Allah beserta kita’.
Pelayanan  Yesaya  berkisar  dari  sekitar  740  hingga  680  SM  (Yes.  1:1),  dan  kitab
Yesaya  memuat  tulisan-tulisan  nubuat  yang  ditulis  sepanjang  periode  ini.  Ia  memulai
pelayanannya  menjelang  akhir  pemerintahan  Uzia  (790–739  SM)  dan  berlanjut  hingga
pemerintahan  Yotam  (739–731  SM),  Ahaz  (731–715  SM),  dan  Hizkia  (715–686  SM).
Yesaya  hidup  lebih  lama  dari  Hizkia  beberapa  tahun  sebab   masih mencatat  kematian
Sanherib pada tahun 681 SM (Yes. 37:37-38). Hizkia digantikan pada tahun 686 SM oleh
putranya yakni Manasye, yang menggulingkan penyembahan kepada Yahweh dan menentang
pekerjaan Yesaya.
Dari  peristiwa ini ,  dapat  disimpulkan bahwa ada berbagai  macam situasi  yang
terjadi  pada zaman Nabi  Yesaya.  Pertama,  terjadi  kemerosotan  hidup keagamaan Bangsa
Israel di Kerajaan Yehuda, praktek penyembahan berhala terus terjadi pada saat itu. Sembari
beribadat  kepada  Tuhan  di  Yerusalem,  bangsa  Israel  juga  pergi  mempersembahkan  dan
membakar kurban di tempat-tempat pemujaan berhala. Kedua, terjadi krisis politik besar di
kerajaan Yehuda. Krisis politik pertama terjadi pada akhir zaman pemerintahan Raja Yotam
dan  pada  awal  zaman  pemerintahan  Raja  Ahaz,  yaitu  timbul  peperangan  antara  koalisi
Kerajaan Aram dan Kerajaan Israel melawan kerajaan Yehuda. Krisis politik kedua terjadi
pada zaman pemerintahan Raja Hizkia, yang memutuskan untuk memberontak terhadap Raja
Asyur.17 Dalam konteks kemerosotan agama dan krisis politik inilah yang menempatkan Nabi
Yesaya sebagai nabi yang diutus Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan ini .
8. Refleksi Teologis
Dari  pemahaman  singkat  mengenai  Nabi  Yesaya  ini  dapat  dipetik  sebuah  refleksi
mengenai seluk beluk kehidupan seorang nabi. Dari kisah nabi Yesaya ini kita bisa melihat
bagaimana kita diberi pemahaman mendasar mengenai istilah nabi sebagai orang yang diutus
oleh Allah dan juga dikatakan sebagai pelihat sebab  mereka telah menubuatkan sesuatu yang
terjadi  di  masa  yang  akan  datang.  Demikian  juga  panggilan  nabi  Yesaya  ini  juga
dilatarbelakangi oleh konteks sejarah dan kepribadian yang melekat pada nabi Yesaya. Dapat
dikatakan bahwa panggilan nabi Yesaya merupakan peristiwa yang sangat menarik sebab 
panggilannya  juga  berasal  dari  inisiatif  Tuhan  untuk  mempertobatkan  bangsa  Israel,
menghibur mereka dan juga memberi harapan kepada mereka. Panggilan nabi Yesaya untuk
memberi nubuat ini bukanlah suatu perutusan yang mudah, ia sendiri bahkan tidak diterima
oleh bangsanya, mereka menutup diri terhadap pewartaan Nabi Yesaya. 
Bercermin  dari  panggilan  nabi,  mungkin  ada  di  antara  kita  yang  dipanggil  Tuhan
dengan memiliki  karakter  pelayanan seperti  yang dimiliki  oleh Yesaya.  Dalam pelayanan
yang di lakukan, mungkin bukan umat semakin bertumbuh secara rohani, tetapi semakin buta
terhadap hal-hal rohani. Mungkin juga mengalami perasaan tidak disenangi dan ditolak oleh
umat yang dilayani. Tentu hal ini akan memberatkan hati kita dalam melakukan pelayanan.
Dari sini kita bisa meyakinkan diri  bahwa pelayanan kita dijamin oleh penyertaan Tuhan
jika  itu dijalani dengan tulus. Dengan penyertaan Tuhan kita semakin disadarkan bahwa
keberhasilan  pelayanan  dalam  konteks  nabi  Yesaya  ini  yaitu   menghasilkan  umat  yang
kudus. Penting unutk memelihara umat yang hidup dalam kekudusan, sehingga meskipun
dalam jumlah sedikit, mereka yaitu  umat yang berkenan kepada Tuhan.