a. Kitab-kitab Injil
Keempat kitab pertama dalam PB (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) disebut: kitab-
kitab Injil. Sebagaimana dibicarakan sebelumnya, ‘Injil’ telah menjadi satu istilah teknis
untuk menunjuk kepada jenis tulisan dengan kandungan isi seperti itu: kumpulan cerita
(perkataan dan perbuatan/kehidupan) ‘sosok’ tertentu.
Sebetulnya penulis kitab-kitab ini tidak menyebut tlisan mereka dengan nama ini.
Meskipun demikian, nama ini sudah bergulir dalam tradisi gereja sejak abad ke-2 Masehi.
Sampai sekarang nama ini tetap dipakai dan malah menjadi sangat popular, bukan hanya
di kalangan komunitas Kristen, namun juga komunitas-komunitas lainnya yang memahami
bahwa ‘Injil’ yaitu Kitab Sucinya orang Kristen.
Membaca kitab-kitab (Injil) ini secara sekilas, orang akan memperoleh kesan bahwa
keempat kitab ini sama-sama berisi cerita tentang kehidupan Tuhan Yesus
(bagaimana kehidupan-Nya yang singkat itu telah dijalani-Nya, apa-apa saja yang Ia
katakan/ajarkan, bagaimana Ia memperlakukan orang-orang yang ada di sekitar-Nya, dan
bagaimana akhir hidup-Nya). Akan namun , bila kita memberi waktu untuk membaca
kitab-kitab ini secara lebih cermat, lalu coba memprbandingkannya dengan memakai
cerita tentang kehidupan ini sebagai takarannya, maka kita akan menemukan data bahwa
ada yang tidak sama dalam penuturan keempat kitab ini . Ketidak samaan yang jelas
terutama sekali yaitu antara ketiga kitab pertama (Matius, Markus, dan Lukas) dan kitab
keempat (Yohanes).
Ketidaksamaan itu antara lain terlihat dalam hal-hal berikut:
Topik Matius, Markus, Lukas Yohanes
Awal pelayanan Yesus Setelah Yohanes Pembaptis
dipenjara (Mrk. 1:14/par)
Untuk satu masa, Yohanes
dan Yesus pernah bekerja
pada masa yang sama (3:22-
24)
Perjalanan ke Yerusalem 1 kali saja, yakni pada akhir
pelayanan-Nya.
Beberapa kali (2:13; 5:1;
7:10; 12:12)
Waktu penangkapan Yesus Sesudah makan paskah
(Mrk 14:12 dst./par)
Sebelum makan Paskah
(band. Yoh.18:28; 19:14)
Pembersihan Bait Suci Pada akhir pelayanan Yesus
(Mrk 11:15 dst./par)
Awal pelayanan Yesus
(2:13 dst.)
Daftar ini hanyalah sebagian saja dari data yang menunjukkan bahwa ada yang tidak
sama di antara keempat kitab yang bercerita tentang Sosok yang sama ini. sebab
ketidaksamaan ini, maka studi mengenai kitab-kitab Injil ini dikelompok-kan menjadi:
studi ketiga kitab Injil pertama (sinoptik) dan studi erhadap injil keempat (Yohanes).
b. Injil-Injil Sinoptik
Ketiga kitab Injil pertama dikenal juga dengan nama ‘Injil-injil Sinoptik’. ‘Sinoptik’
yaitu sebuah frasa dalam bahasa Yunani (syn + opsis) yang secara harfiah berarti: dapat
dilihat secara bersama. Artinya, kalau ketiga kitab ini diletakkan secara bersejajar,
maka akan terlihat bahwa dalam banyak hal, ketiganya sejajar.
Misalnya:
∗ dalam hal penyusunan bahan (lihat: Mat. 13, Mrk 14, Luk 8 [ttg perumpamaan]
∗ dalam hal bahasa dan coraknya (contoh: Mat. 21:23-27 = Mrk 11:27-33 = Luk 20:1-
8 dan Mat 24:4-8 = Mrk 13:5-8 = Luk 21:8-11).
∗ Dalam hal pilihan kata dan susunan kalimat, kesejajaran di antara ketiganya sangat
terlihat. Ini merupakan sisi yang menarik, mengingat makna kalimat bahasa Yunani
tidak ditentukan oleh urutan tempat kata, sebab dal m bahasa ini, fungsi kata
dinyatakan dalam kasusnya. Bagaimana tulisan-tulisan yang berasal dari orang-orang
yang berbeda memiliki kesamaan/kesejajaran seperti itu?
Ternyata, selain sejajar, ketiga kitab Injil ini juga memperlihatkan data ketidaksamaan
yang menarik untuk diperhatikan. Misalnya:
⇒ Lihat bagian awal dan akhir ketiga kitab ini.
∗ Informasi yang ada dalam Mat. dan Luk. tidak ada dal m Mrk.
∗ Informasi yang ada dalam bagian awal dan akhir dalam Mat. dan Luk. pun tidak
sama. (Band. mis. daftar silsilah dalam Mat 1:1 dst. dengan Luk 3:23 dst.)
⇒ Lihat juga informasi dalam Mat 28:9, 16 di mana Tuhan Yesus yang bangkit itu
menampakkan diri di Yerusalem dan di Yudea, sedangk menurut Luk 24,
penampakan ini hanya terjadi di Yerusalem.
⇒ Lihat: Mat. 6:25-34 = Luk12:22-31 dan Mat 12: 43-45 = Luk 11:24-26.
∗ Bahan-bahan ini tidak ada dalam Markus.
⇒ Lihat: Mat. 27:62-66; Mrk 4:26-29; dan Luk 19:1-10.
∗ Bahan-bahan ini hanya ada dalam masing-masing kitab. Markus dan Lukas tidak
memiliki bahan yang ada dalam Matius 27:62-66; Matius dan Markus tidak
memiliki bahan yang ada dalam Lukas 19:1-10; Matius dan Lukas tidak
memiliki bahan yang ada dalam Markus 4:26-29.
c. Masalah Sinoptik
Data yang menunjukkan bahwa dalam ketiga kitab Injil pertama ada banyak hal yang
sejajar (sama), namun juga sekaligus tidak sedikit yang tidak sama, mendorong orang
untuk bertanya: Mengapa bisa demikian? Bagaimana kesamaan/kesejajaran dan
perbedaan ini dapat dijelaskan? Sebutan khas untuk persoalan ini yaitu : Masalah
Sinoptik (Synoptic Problem).
Sudah lama para pakar studi PB berupaya untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan
(masalah) ini.
Dari studi sistematik yang telah dilakukan selama ini, lahirlah apa yang disebut sebagai
‘teori 4 sumber’
1. Ada 1 kitab Injil yang menjadi skeleton (kerangka) bagi dua kitab Injil lainnya.
Dalam hal ini, skeleton itu yaitu : Injil Markus. Teori ini menyatakan bahwa
penulis Injil Matius dan penulis Injil Lukas sama-sama memakai Markus sebagai
sumber bersama mereka berdua. Ini menjelaskan mengapa secara kerangka dasar,
ketiga kitab ini sejajar.
2. Selain memakai Markus, para penulis kedua kitab ini (Matius dan Lukas) juga
memakai sumber bersama lainnya, yang disebut: Quelle (disingkat: Q, bahasa
Jerman yang berarti: sumber). Isi dari Q ini umumnya yaitu ‘perkataan-perkataan
Yesus’, sehingga sumber ini biasa juga disebut sebagai sumber kumpulan
perkataan-perkataan Jesus (Jesus’ sayings). Ini menjelaskan bagaimana Matius dan
Lukas memiliki bahan yang sama yang tidak ditemukan dalam Markus).
3. Ada sumber khusus yang dipakai oleh penulis Injil Matius. Selain memakai Markus
dan Q, penulis Injil Matius juga memiliki sumbernya sendiri. Ini menjelaskan
mengapa ada bahan yang hanya ada dalam Matius dan tidak ada dalam Lukas dan
Markus.
4. Ada sumber khusus yang dipakai oleh penulis Injil Lukas. Selain memakai Markus
dan Q, Lukas juga memiliki sumbernya sendiri. Ini menjelaskan mengapa ada
bahan yang hanya ada dalam Lukas dan tidak ada dalam M tius dan Markus.
d. Injil Yohanes dan Tulisan-tulisan Yohanes
sebab cara penyajiannya yang tidak sama dengan ketiga kitab Injil lainnya, Injil
keempat ini sering dibicarakan secara terpisah. Kitab keempat ini bahkan dikelompokkan
ke dalam ‘tulisan-tulisan Yohanes’ (Johannine Writings), bersama dengan surat 1-3
Yohanes. Selain sebab terkait dengan satu nama yang s ma, Yohanes, keempat kitab ini
juga dicermati memiliki sudut pandang eskhatologis (pandangan mengenai akhir
zaman) yang sama, sudut pandang yang tidak sama dengan yang ada dalam Injil-injil
sinoptik dan juga surat-surat Paulus. Sudut pandang eskhatologis dalam tulisan-tulisan
Yohanes dilihat sebagai refleksi terhadap pandangan Gnostisisme. Di atas sudah
disebutkan antara lain hal-hal yang lain dalam Injil Yohanes dibandingkan dengan Injil-
injil Sinoptik. Selain itu, dapat juga disebutkan bahwa dalam Injil keempat ini, kata-
kata/khotbah Yesus umumnya jauh lebih panjang.
e. Keterangan singkat mengenai masing-masing kitab
1. Matius (ditulis sekitar tahun 85-90 M).
Kalau seseorang menulis, tentu saja ia memerlukan bahan untuk tulisannya. Sebagaimana
didiskusikan di atas, studi mengenai sumber-sumber da i Injil-injil Sinoptik
menghasilkan teori bahwa bahan yang dipakai oleh penulis Injil Matius yaitu : Injil
Markus, tradisi tentang Yesus yang dipakai secara khusus oleh penulis kitab Injil ini, dan
kumpulan perkataan Yesus (= Q), seperti disebut di atas.
Bahan Markus dikembangkan oleh penulis Injil Matius. Ia mengembangkannya di bagian
awal dan juga di bagian akhir. Di bagian awal ada:
- daftar silsilah Yesus (dimulai dari Abraham dan berakhir pada Yusuf (1:2-17).
- Cerita tentang kelahiran Yesus (1:18-25). Di sini, Yusuf sebagai ayah Yesus
dinyatakan dengan tegas.
- Cerita tentang Orang Majus (2:1-12)
- Penyingkiran ke Mesir (2:13-15)
- Pembunuhan anak-anak (2:16-18)
- Kembali lagi ke Nazaret (2:19-23).
Sesudah itu, Matius mengikuti kerangka Markus (walaupun dalam beberapa hal ada juga
yang tidak persis sama). Dalam bagian akhir, setelah cerita mengenai ‘Kubur Kosong’,
Matius mengembangkannya dengan bahan mengenai penamak n Yesus yang bangkit
yang berlangsung di atas bukit di Galilea (28:16-20).
Matius mengelompokkan bahannya sesuai dengan tema-te a sebagai berikut:
- Khotbah di atas Bukit (pasal 5-7)
- Cerita Mukjizat (pasal 8-9)
- Risiko menjadi utusan Tuhan (pasal 10)
- Perumpamaan (pasal 13)
- Tata Hidup Berjemaat (pasal 18)
- Pengajaran mengenai kaum Farisi, Parousia, dan penghakiman terakhir (pasal 23-25).
Hal menarik lainnya: perikop Kitab Suci (PL) sering dikutip untuk membuktikan
kebenaran sebuah peristiwa dalam hubungan dengan Yesus. Lihat: 1:22; 2:5; 2:15; 2:17;
2:23; 3:3; 4:14; 8:17; 12:17; 13:35; 21:4; 26:56; 27:9.
Diduga kuat bahwa jemaat Kristen yang di dalamnya kit b ini lahir yaitu persekutuan
dengan latar belakang Yahudi, sebab dalam beberapa b gian, orang-orang bukan Yahudi
(baca: kafir) ditunjuk sebagai ‘orang luar’ (5:47; 6:7, 32; 10:5-6, 17-18; 18:17). Tidak
ada petunjuk langsung dalam kitab ini yang menyatakan bahwa penulisnya yaitu
seorang yang bernama Matius. Kalau sampai popular dengan nama ini, maka tradisi
gerejalah yang menyebutnya demikian.
2. Markus (ditulis sekitar tahun 68-70 M).
Umum diterima bahwa ini yaitu kitab Injil kanonik tertua. Kitab ini dipakai oleh
penulis-penulis kitab-kitab Injil Matius dan Lukas. Dari mana penulis Injil Markus
memperoleh bahan yang dipergunakan untuk penulisannya? Besar sekali kemungkinan,
kebanyakan bahannya merupakan tradisi lisan. Penulis memasukkan bahan-bahan
ini ke dalam kerangka tulisan yang berawal dari pembaptisan sampai kepada
kebangkitan Yesus. Dengan kata lain, penulis kitab ini juga bertanggung jawab memberi
‘ setting’ terhadap bahan-bahan lisan yang tersedia padanya.
Ketika menuangkannya dalam bentuk tulisan, penulis berada di bawah pemahaman
bahwa Sosok Yesus, semasa hidup-Nya, ingin supaya Diri-Nya (sebagai Messias) tidak
digembar-gemborkan lebih dulu, melainkan dirahasiakan. Dalam studi PB, isu ini dikenal
dengan istilah ‘Rahasia Messianik’.
- Setan/roh jahat dilarang memberitahukan siapa Yesus (1:34; 3:12).
- Para murid juga mendapat larangan serupa (8:30; 9:9)
- Orang-orang yang telah disembuhkan-Nya dilarang bercerita tentangnya (1:44; 45:43;
7:36; 8:26)
Ciri penting lainnya yaitu bahwa para murid berulang kali dinilai ‘tidak mengerti’. Ini
dapat dilihat dalam 4:40; 6:52; 8:16; 9:10; 9:32).
Persekutuan jemaat Markus lebih didominasi oleh orang-orang dengan latar belakang
kafir (bukan Yahudi). Dikatakan demikian sebab beberapa adat dan kebiasaan Yahudi
diberi penjelasan (7:3-4, 11c, 19c). Ini mengindikasikan bahwa alamat tulisannya tidak
begitu mengenal adat dan kebiasaan Yahudi ini. Sama seperti Injil Matius, penulis kitab
Injil Markuspun tidak mencantumkan namanya sendiri dalam tulisannya. Nama Markus
yang diberikan untuk kitab ini juga merupakan warisn tradisi gereja sejak era mula-
mula.
3. Lukas (ditulis sekitar tahun 85 M).
Dari segi bahasanya yang bagus, diduga kuat penulisya yaitu seorang yang cukup
berpendidikan (disebut-sebut sebagai ‘tabib’). Sama dengan Matius, penulis Injil Lukas
juga memakai Markus dan Q sebagai sumbernya. Di samping itu, ia juga punya sumber
khususnya sendiri
Kerangka Markus diikutinya. Ini terlihat dalam pasal 3-21. Terhadap kerangka ini, ia
menambahkan bagian pengantar (pasal 1-2), yang berisi: penjelasan pribadi tentang
penulisannya (1:1-4), pemberitahuan kelahiran Yohanes Pembaptis (1:5-25),
pemberitahuan kelahiran Yesus (126-38), kunjungan Maria kepada Elizabet (1:39-45)
nyanyian pujian Maria (1:46-55), kelahiran Yohanes Pembaptis (1:57-66), nyanyian
pujian Zakharia (1:67-80) kelahiran Yesus, masa kanak-kanak Yesus (pasal 2). Dalam
cerita tentang sengsara Tuhan Yesus (pasal 22-23), terlihat sekali bahwa Lukas
menunjukkan corak penulisan yang lain dibandingkan de gan sumbernya. Untuk bagian
akhir (pasal 24), Lukas memakai banyak bahan khususnya.
Salah satu aspek khas dalam kitab injil ini, dibandingkan dengan ketiga kitab injil
sinoptik lainnya, yaitu perhatian yang diberikan oleh Yesus terhadap kaum marginal
(berdosa, miskin, dan yang terbuang dalam masyarakat). Ada beberapa cerita (termasuk
perumpamaan) yang mengungkapkan kepedulian sosial. Cerita-cerita seperti: Yesus
diurapi oleh seorang perempuan berdosa (7:36 dst.),
Nama penulisnya juga tidak tertera dalam tulisan ini. Sama dengan dua tulisan
sebelumnya, nama ini yaitu warisan tradisi gereja. Dalam 1:1, penerima tulisan ini
disapa secara khusus, sebagai “Teofilus yang mulia”. Ada dua teori yang dikemukakan
sehubungan dengan alamat ini. Pertama, ia memang yaitu seorang pribadi. Kalau
begitu, ia mestilah seseorang dengan status khusus di tengah-tengah masyarakat,
misalnya seorang pembesar dalam tatanan pemerintahan Roma, namun sudah menjadi
pengikut Kristus. Kedua, nama ini bermakna simbolis. Artinya, ia tidak menunjuk
kepada seseorang secara tertentu namun kepada komunitas luas yang ‘mencintai Allah’
(sesuai dengan makna dari nama ini : θεος (= Allah) + φιλια (= cinta). Nama alamat
yang sama muncul juga dalam Kitab Kisah Para Rasul. Ini merupakan hal penting yang
harus diingat sebab sangat berguna untuk memahami tulisan Lukas ini.
4. Yohanes (sekitar tahun 90 M).
Tradisi Yohanes mengenai Yesus agak lain dibandingka dengan yang ada dalam ketiga
kitab injil pertama. sebab kelainan ini pula, maka tiga kitab injil pertama sering
dibicarakan secara terpisah (sinoptik). Diduga kuat, Yohanes memperoleh bahan untuk
tulisannya dari sumber yang tidak sama dengan Matius, Markus, dan Lukas. Seperti
ditunjuk dalam daftar di atas, ada beberapa data yang tidak sinkron, misalnya tentang
jumlah kunjungan Yesus ke Yerusalem semasa hidupnya. Injil-injil sinoptik memberi
kesan kunjungan ini hanya sekali semasa pelayanannya, sedangkan dalam injil
Yohanes, kunjungan terjadi lebih dari satu kali.
(Selanjutnya, kitab ini akan dibicarakan bersama denga kelompok ‘Johannine
Writings’)
Luk 9: 28-36, Mrk 9: 2-8, Mat 17: 1-8
A. Konteks Literer
Kisah transfigurasi yang terdapat dalam Luk 9:28-36 tidak dapat dilepaskan begitu saja
dari keseluruhan kisah perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem. Kisah ini dapat dikatakan
sebagai kisah persiapan Yesus sebelum Ia memasuki Kota Yerusalem. Pada kisah sebelum
transfigurasi dikisahkan Petrus yang mulai mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang berasal
dari Allah. Pernyataan dari Petrus ini akhirnya membuka babak baru bagi perjalanan hidup
Yesus bersama dengan para murid-Nya. Sebelum pernyataan dari Petrus (Luk 9:22-27), Yesus
lebih berfokus pada ‘usaha’ untuk menyatakan siapa diri-Nya yang sebenarnya. Namun, setelah
pernyataan dari Petrus ini, fokus Yesus berubah pada tema kemuridan. Yesus kini lebih banyak
memberikan pengajaran kepada para murid-Nya dan juga mulai memberikan penjelasan
mengenai penderitaan yang akan Ia alami. Sosok Mesias yang dipikirkan oleh para murid adalah
sosok Mesias yang jaya dan bukannya Mesias yang harus menderita dan wafat. Hal inilah yang
ingin dikritisi oleh Yesus kepada para murid-Nya. Tema ini akhirnya mendapatkan
‘kepenuhannya’ dalam kisah transfigurasi dan akhirnya Allah sendirilah yang menyatakan
bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah. Kisah transfigurasi menjadi bagian penting dalam
‘kemuridan’, karena dari sinilah para murid diminta secara langsung oleh Allah untuk
mendengarkan Yesus. Seorang murid harus mendengarkan gurunya.
Ketika Yesus akan memulai karya-Nya di Galilea, suara yang turun dari langit terdengar
bagi-Nya saat Ia dibaptis. Kini ketika Yesus akan memasuki Kota Suci Yerusalem, suara yang
sama terdengar dari awan saat transfigurasi. Pada saat Yesus akan memulai suatu karya besar
tampak bahwa Allah turut-serta bersama-Nya dan terus mendukung-Nya. Maka dapat dikatakan
bahwa kisah ini ingin menguatkan para murid dan pembaca bahwa Yesus adalah Mesias yang
dinantikan. Setiap pengajaran yang diberikan oleh Yesus merupakan pengajaran yang akan
membawa kepada kemuliaan. Para murid dikisahkan untuk selalu mendengarkan setiap
perkataan yang diberikan oleh Yesus sampai dengan masuk ke dalam Kota Yerusalem kesan
terlihat jelas dalam kisah Yesus yang mengusir roh dari seorang anak yang sakit (Luk 9:37-43a).
Para murid masih belum dapat mengusir roh dari anak ini , maka dari itu para murid secara
tidak langsung masih harus mendengarkan Yesus sebagai guru mereka.
B. Konteks Sinoptik
Konteks dekat
No. Sebelum Kisah Transfigurasi Sesudah Kisah Transfigurasi
1. LUKAS
9: 18-22
Pengakuan Petrus
9: 22-27
Pemberitaan pertama
tentang penderitaan
Yesus dan syarat-
syarat mengikut Dia
LUKAS
9: 37-43a
Yesus mengusir roh
dari seorang anak yang
sakit
9: 43b-45
Pemberitahuan kedua
tentang penderitaan
Yesus
2. MATIUS
16: 13-20
Pengakuan Petrus
16: 21-28
Pemberitaan pertama
tentang penderitaan
Yesus dan syarat-
syarat mengikut Dia
MATIUS
17: 14-21
Yesus menyembuhkan
seorang anak muda
yang sakit ayan
17: 22-23
Pemberitahuan kedua
tentang penderitaan
Yesus
3. MARKUS
8: 27-30
Pengakuan Petrus
8: 31-9:1
Pemberitaan pertama
tentang penderitaan
Yesus dan syarat-
syarat mengikut Dia
MARKUS
9:14-29
Yesus mengusir roh
dari seorang anak yang
bisu
9:30-32
Pemberitahuan kedua
tentang penderitaan
Yesus
Konteks jauh
Kisah Transfigurasi masuk ke dalam konteks “Perjalanan Yesus ke Yerusalem”.
Aktor:
1. Yesus
2. Petrus, Yohanes, dan Yakobus
3. Musa dan Elia
4. (Suara pernyataan Allah dari dalam awan)
Tempat:
1. Perjalanan dari bawah gunung menuju ke puncak gunung (28)
2. Di atas gunung (29-36)
Waktu:
Tidak dijelaskan dengan pasti
Topik:
1. Yesus, Yohanes, Yakobus, dan Petrus naik ke gunung untuk berdoa (28).
2. Yesus berubah rupa (penuh kemuliaan) yang disertai dengan penampakan Musa dan Elia
(29-31).
3. Tanggapan Petrus ketika melihat penampakan kemuliaan Yesus, Musa dan Elia (33).
4. Pernyataan dari Allah tentang Yesus (34-36).
Struktur:
Tempat Ayat Tokoh Kegiatan
Lembah 28
Yesus, Petrus, Yakobus,
dan Yohanes
Perjalanan ke puncak gunung
Puncak gunung
29-31
Yesus, Musa, dan Elia Yesus berubah rupa dan disertai
penampakan dua tokoh besar
33
Yesus, Musa, Elia, Petrus,
Yohanes, dan Yakobus
Tanggapan Petrus atas
penglihatan yang ia lihat
34-35
Yesus, Musa, Elia, Petrus,
Suara Allah, Petrus,
Yakobus, dan Yohanes
Pernyataan dari Allah tentang
Yesus
36
Yesus, Petrus, Yakobus, dan
Yohanes
Yesus kembali seperti biasa
setelah transfigurasi dan tinggal
seorang diri bersama para murid
Susunan linear:
Yesus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes (28)
Yesus berubah rupa (29)
Musa dan Elia (30)
Yesus, berbicara dengan Musa dan Elia dalam Kemuliaan (31)
Musa dan Elia (32-33)
Pernyataan dari Allah tentang Yesus (34-35)
Yesus, Petrus, Yohanes, dan Yakobus (36)
Matius Markus Lukas
1Enam hari kemudian 2Enam hari kemudian 28Kira-kira delapan hari
Yesus membawa Petrus,
Yakobus dan Yohanes
saudaranya, dan bersama-sama
dengan mereka Ia naik ke
sebuah gunung yang tinggi. Di
situ mereka sendiri saja.
Yesus membawa Petrus,
Yakobus dan Yohanes dan
bersama-sama dengan mereka
Ia naik ke sebuah gunung
yang tinggi. Di situ mereka
sendirian saja.
Lalu Yesus berubah rupa di
depan mata mereka,
sesudah segala pengajaran itu,
Yesus membawa Petrus,
Yohanes, dan Yakobus, lalu
naik ke atas gunung untuk
berdoa.
2Lalu Yesus berubah rupa di
depan mata mereka; wajah-
Nya bercahaya seperti
matahari dan pakaian-Nya
menjadi putih bersinar seperti
terang.
29Ketika Ia sedang berdoa,
rupa wajah-Nya berubah
dan pakaian-Nya menjadi
putih berkilau-kilauan.
3dan pakaian-Nya sangat
putih berkilat-kilat. Tidak
seorang pun di dunia ini yang
dapat mengelantang pakaian
seperti itu.
3Maka nampak kepada mereka
Musa dan Elia sedang
berbicara dengan Dia.
4Maka nampaklah kepada
mereka Elia bersama dengan
Musa, keduanya sedang
berbicara dengan Yesus.
30Dan tampaklah dua orang
berbicara dengan Dia, yaitu
Musa dan Elia.
31Keduanya menampakkan
diri dalam kemuliaan dan
berbicara tentang tujuan
kepergian-Nya yang akan
digenapi-Nya di Yerusalem.
32Sementara itu Petrus dan
teman-temannya telah tertidur
dan ketika mereka terbangun
mereka melihat Yesus dalam
kemuliann-Nya: dan kedua
orang yang berdiri di dekat-
Nya itu.
4Kata Petrus kepada Yesus:
“ Tuhan, betapa bahagianya
kami berada di tempat ini. Jika
Engkau mau, biarlah kudirikan
di sini tiga kemah, satu untuk
Engkau, satu untuk Musa, dan
satu untuk Elia.”
5Kata Petrus kepada Yesus:
“Rabi, betapa bahagianya
kami berada di tempat ini.
Baiklah kami dirikan tiga
kemah, satu untuk Engkau,
satu untuk Musa dan satu
untuk Elia.”
33Dan ketika kedua orang itu
hendak meninggalkan Yesus,
Petrus berkata kepada-Nya:
“Guru, betapa bahagianya
kami berada di tempat ini.
Baiklah kami dirikan sekarang
tiga kemah, satu untuk
Engkau, satu untuk Musa, dan
satu untuk Elia.” Tetapi Petrus
tidak tahu apa yang
dikatakan-Nya itu.
5Dan tiba-tiba sedang Ia
berkata-kata turunlah awan
yang terang menaungi mereka
dan dari dalam awan itu
terdengar suara yang berkata:
6Ia berkata demikian, sebab
tidak tahu apa yang harus
dikatakannya, karena mereka
sangat ketakutan.
34Sementara Ia berkata
demikian, datanglah awan
menaungi mereka. Dan ketika
mereka masuk ke dalam awan
itu, takutlah mereka.
7Maka datanglah awan
menaungi mereka dan dari
dalam awan itu terdengar
35Maka terdengarlah suara dari
dalam awan itu, yang berkata:
“Inilah Anak yang Kukasihi,
kepada-Nyalah Aku berkenan,
dengarkanlah Dia.”
suara: “Inilah Anak yang
Kukasihi, dengarkanlah
Dia.”
“Inilah Anak-Ku yang
Kupilih, dengarkanlah Dia.”
6Mendengar itu tersungkurlah
murid-murid-Nya dan mereka
sangat ketakutan.
7Lalu Yesus datang kepada
mereka dan menyentuh mereka
sambil berkata: “Berdirilah,
jangan takut!”
8Dan sekonyong-konyong
waktu mereka memandang
sekeliling mereka, mereka
tidak melihat seorang pun lagi
bersama mereka, kecuali
Yesus seorang diri.
36Ketika suara itu terdengar,
nampaklah Yesus tinggal
seorang diri. Dan murid-murid
itu merahasiakannya, dan pada
masa itu mereka tidak
menceriterakan kepada siapa
pun apa yang telah mereka
lihat itu.
8Dan ketika mereka
mengangkat kepala, mereka
tidak melihat seorang pun
kecuali Yesus seorang diri.
9Pada waktu mereka turun dari
gunung itu, Yesus berpesan
kepada mereka:
“Jangan kamu ceriterakan
penglihatan itu kepada seorang
pun sebelum Anak Manusia
dibangkitkan dari antara orang
mati.”
9Pada waktu mereka turun
dari gunung itu, Yesus
berpesan kepada mereka,
supaya mereka jangan
menceriterakan kepada
seorang pun apa yang telah
mereka lihat itu, sebelum
Anak Manusia bangkit dari
antara orang mati.
10Mereka memegang pesan
tadi sambil mempersoalkan di
antara mereka apa yang
dimaksud dengan “bangkit
dari antara orang mati.”
10Lalu murid-murid-Nya
bertanya kepada-Nya: “Kalau
demikian mengapa ahli-ahli
Taurat berkata bahwa Elia
harus datang dahulu?”
11Lalu mereka bertanya
kepada-Nya: “Mengapa ahli-
ahli Taurat berkata, bahwa
Elia harus datang dahulu?”
11Jawab Yesus: “Memang Elia
akan datang dan memulihkan
segala sesuatu.
12Jawab Yesus: “Memang
Elia akan datang dahulu dan
memulihkan segala sesuatu.
Hanya, bagaimanakah dengan
yang ada tertulis mengenai
Anak Manusia, bahwa Ia akan
banyak menderita dan akan
dihinakan?
12Dan Aku berkata kepadamu:
Elia sudah datang, tetapi orang
tidak mengenal dia, dan
memperlakukannya menurut
kehendak mereka. Demikian
juga Anak Manusia akan
menderita oleh mereka.”
13Tetapi Aku berkata
kepadamu: Memang Elia
sudah datang dan orang
memperlakukan dia menurut
kehendak mereka, sesuai
dengan yang ada tertulis
tentang dia.”
13Pada waktu itu mengertilah
murid-murid Yesus bahwa Ia
berbicara tentang Yohanes
Pembaptis.
Lukas: Delapan hari kemudian:
Hari yang pertama dalam Minggu
(hari kebangkitan)
Markus Enam hari kemudian: hari yang ketujuh
Matius Enam hari kemudian: hari yang ketujuh,
sama dengan kisah yang ada dalam
Kitab Kel 24:16
a. Markus ayat 2: Waktu enam hari yang ada pada awal Injil Markus tampaknya bukan suatu
hal yang wajar terjadi. Karena Markus tidak biasa menggunakan catatan waktu seperti ini.
Catatan waktu enam hari ini pula mungkin Markus ingat akan kisah yang terdapat dalam Kel
24:16, di mana menyamakan penampakan Musa pada hari yang ketujuh. Sesudah enam hari
sama artinya hari yang ketujuh, jika ayat 1 ini dikaitkan dengan ayat 5, di mana ada kata
kemah ada suatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Kemah menurut pengertian orang
Yahudi merupakan tempat pertemuan dan komunikasi antara Tuhan dan manusia. Ucapan
Petrus ini mungkin ada kaitannya dengan Pesta Pondok Daun. Pesta ini berlangsung selama
seminggu, dan hari ketujuh merupakan hari penutupan pesta. Pada hari yang ketujuh ini pula
Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus naik kegunung. Puncak pesta (hari ketujuh),
yang dibarengi dengan penampakan Yesus (transfigurasi) mau menyatakan bahwa Yesuslah
pemenuhan janji Allah. Markus ingin menggambarkan bahwa Yesus mengetahui kerinduan
orang Yahudi akan kedatangan Mesias. Yesus yang digambarkan sedang menyendiri dan
merenungi misi-Nya, akhirnya merasa diperkuat dengan pernyataan Allah bahwa Ia akan
menjadi Mesias sesuai dengan kehendak Allah.
b. Matius ayat 1: Penyebutan keterangan waktu dalam penginjil Matius (enam hari kemudian),
setidaknya ingin menyampaikan gagasan mengenai kisah yang pernah tercatat dalam Kitab
Keluaran 24:16. Di mana kisah ini menggambarkan penampakan Allah kepada Musa di
Gunung Sinai. Penampakan terjadi di gunung karena gunung merupakan tempat yang identik
dengan kisah pewahyuan Ilahi. Jemaat Matius masih dipengaruhi oleh tradisi Yahudi yang
kuat, sehingga untuk menggambarkan Yesus, Matius mensejajarkannya dengan tokoh Musa.
Yesus adalah Musa Baru yang membawa keselamatan (eksodus) dari perbudakan. Maka,
penggambaran kembali teks-teks dalam Perjanjian Lama dengan terang Yesus Kristus begitu
terasa dalam tulisan Matius, untuk menyatakan bahwa Yesuslah penggenapan para nabi yang
akan membawa orang kepada keselamatan sama seperti Musa dalam peristiwa eksodus.
c. Lukas ayat 28: Kata-kata kira-kira delapan hari kemudian, dalam Injil Lukas mau
menyatakan hari yang pertama dalam Minggu, yaitu hari Minggu, hari setelah hari Sabat
(bisa jadi berasal dari tradisi iman Kristiani). Lukas mungkin ingin mengaitkan peristiwa
transfigurasi dengan peristiwa kebangkitan Yesus. Hal ini terlihat jelas ketika dikaitkan
dengan ayat 30, Luk 24:4 dan Kis 1:10, di mana dalam ayat ini terdapat penampakan
dua orang. Hal-hal keajaiban yang terkait dengan Yesus dalam Lukas selalu dikaitkan dengan
kemunculan dua orang yang bisa dikatakan sebagai ‘saksi’. Dapat dikatakan pula, bahwa hal
ini adalah keajaiban Yesus yang benar adanya. Sinar kemuliaan pada kisah Perjanjian Lama
(kisah Musa) turun pada wajah Musa, kini dalam kisah Yesus turun pula pada diri-Nya. Hal
ini mau menyatakan bahwa Yesus adalah Musa Baru yang berasal dari Surga.
Doa: Hanya dalam Injil Lukas dinyatakan bahwa Yesus mengundurkan diri ke gunung untuk
berdoa (peristiwa pembaptisan Luk 3:21). Yesus digambarkan sebagai pribadi yang selalu
berdoa sebelum memulai suatu peristiwa yang penting (bdk Mat 10:1-4; Mrk 3:13-19; Luk
6:12-16). Lukas ingin menggambarkan Yesus yang selalu berusaha untuk membangun
hubungan yang baik dengan Bapa-Nya melalui kebiasaan Yesus dengan berdoa. Gambaran
Yesus yang selalu berdoa, merupakan contoh konkret yang ingin disampaikan oleh Lukas
kepada para pembacanya, Yesus yang selalu berkomunikasi dengan Tuhan sebagai Anak
Allah, atau mungkin juga untuk memberikan contoh teladan kepada para murid-Nya
mengenai cara membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Kehidupan doa ini juga sejalan
dengan tugas para murid dan misi Gereja, maka dari itu Yesus selalu berusaha memberikan
teladan ini kepada para murid-Nya. Doa bagi Yesus merupakan cara untuk membangun
kedekatan dengan Tuhan, di mana hal ini tampak dalam penyebutan kata ‘Bapa atau Bapa-
Ku’ (Luk 10:21-22; 22:41-45; 23:34, Luk 46; 11:2; 22:29). Selain itu, dengan berdoa, Yesus
merasa semakin dikuatkan dalam menjalani tugas perutusan Keilahiaan-Nya untuk
pelayanan-Nya kepada yang lain. Dalam konteks kisah transfigurasi, doa menjadi sarana
untuk berkomunikasi dengan Tuhan dalam perjalanan-Nya (exodus) ke Yerusalem. Tokoh
yang digambarkan mewakili surga ialah Musa dan Elia. Dua tokoh inilah yang memberikan
peneguhan dalam persiapan-Nya untuk memasuki Yerusalem. Inilah moment di mana Yesus
meminta ‘restu’ dari yang Ilahi sebelum memasuki Yerusalem. Kehidupan doa seperti inilah
yang ingin ditekankan kepada jemaat Kristen Lukas, penginjil ingin mengajak jemaatnya
untuk tetap tekun berdoa sebagaimana Yesus yang juga tekun dalam berdoa.
pemakaian kata Tuhan, Rabi dan guru:
Lukas: guru
Gelar penghormatan atas wibawa
Yesus. Lukas ingin menghilangkan
unsur ke-Yahudi-an dengan
menggunakan bahasa yang lebih
universal.
Markus Rabi: Gelar dari kalangan Yahudi untuk
menyebut seorang pengajar agama.
Matius Tuhan: Matius ingin menampilkan sosok
Yesus sebagai Tuhan yang mulia yang
pantas disembah
a. Matius: Penginjil Matius menggunakan kata ‘Tuhan’ untuk menyebut pribadi Yesus.
Mengapa? Bisa jadi karena Matius berusaha untuk menghindari pemakaian kata ‘rabi’
kepada Yesus (Mat 23:8), ia menggunakan kata ‘rabi’ untuk menyebut Yesus hanya pada
saat pengkhianatan Yudas (Mat 26:49). Atau juga karena memang sejak awal Matius ingin
menampilkan sosok Yesus sebagai Tuhan yang mulia dan layak untuk disembah. Penginjil
Matius dalam berbagai kisah bisa dikatakan sering untuk menggunakan kata ‘Tuhan’ (bdk
Mat 2:2-11; 8:2; 8:25; 14:33; 28:17) yang mau menyatakan bahwa Yesuslah Tuhan yang
akan terus melanjutkan karya penyelamatan-Nya terkhusus dalam jemaat Gereja Matius.
Sebutan ‘Tuhan’ dalam konteks ini bukan sekadar sebagai bentuk penghormatan. ‘Tuhan’
adalah sebutan yang dapat dikaitkan dengan paham eskatologis.
b. Markus: Penginjil Markus menggunakan kata ‘Rabi’ untuk menyebut pribadi Yesus. Kata
‘rabi’ berasal dari kata Ibrani ‘rav’ yang berarti ‘besar’, yang juga dipakai sebagai bentuk
penghormatan. Tradisi Yudaisme menyatakan bahwa kata ‘rabi’ digunakan untuk menyebut
seseorang yang bertugas mengajar Torah Yahudi. Markus menyebut Yesus sebagai rabi
untuk menghormati-Nya atau mengagungkan-Nya, di mana identitas Yesus sebagai rabi
terasa di masa itu. Selain itu, kemungkinan besar mengapa Markus masih menggunakan kata
‘rabi’ untuk menyebut Yesus karena Markus masih terikat dengan tradisi Yahudi. Penginjil
Markus masih berada dalam pengaruh Yahudi yang kuat sehingga ia masih menggunakan
istilah-istilah yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Yahudi.
Penulisan dengan pemakaian istilah Yahudi ini bisa jadi karena jemaat yang ingin dituju
oleh penginjil Markus adalah Jemaat Kristen Yahudi yang memang masih memegang teguh
adat istiadat dan peraturan Yahudi.
c. Lukas: Penginjil Lukas menggunakan kata ‘guru’ untuk menyebut pribadi Yesus. Kata
‘guru’ yang ada dalam Injil Lukas ingin menerjemahkan kata ‘rabi’ dalam Injil Markus.
Istilah ‘rabi’ merupakan istilah yang hanya dimengerti oleh orang-orang Yahudi, sehingga
orang-orang non-Yahudi tidak mengerti arti dan maksud dari kata ‘rabi’. Penginjil Lukas
berusaha untuk membuat injilnya lebih bersifat universal, maka dari itu ia berusaha untuk
mengganti semua kata dalam per-istilah-an Yahudi yang sulit dimengerti oleh orang-orang
non-Yahudi, maka dari itu penginjil Lukas menggunakan kata ‘guru’. ‘Guru’ dalam ayat 33,
bisa diartikan sebagai gelar kehormatan yang diberikan sebagai pengakuan akan wibawa
pribadi Yesus.
Tokoh Musa dan Elia
Lukas: Musa dan Elia
Tokoh dalam PL yang ingin
menyatakan bahwa Yesuslah
tokoh yang selama ini telah
dipersiapkan oleh dua tokoh PL
ini selama hidup mereka.
Markus Musa dan Elia: Tokoh yang penting dalam
dimensi eskatologis, bersama dengan Yesus
sebagai pemenuhannya.
Matius Musa dan Elia: Yesus disebut juga sebagai
Musa Baru dan penampakan para tokoh
Perjanjian Lama ingin menguatkan posisi
Yesus sebagai penyelamat dan pengantara
umat-Nya.
a. Matius: Penginjil Matius memberikan penekanan yang hampir sama dengan Penginjil
Lukas. Perlu diingat bahwa Yesus dalam Matius digambarkan sebagai Musa Baru. Hal ini
sebenarnya juga tampak dalam kisah transfigurasi dalam Injil Matius. Dikisahkan bahwa
Yesus membawa ketiga murid-Nya, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes, bisa jadi ketiga
orang ini merupakan kelompok inti dari keduabelas rasul. Namun, bisa jadi juga hal ini
terjadi karena Yesus ingin menyamakan kejadian pada masa Musa, di mana Musa pun
membawa tiga orang, Harun, Nadab dan Abihu ke atas Gunung Sinai (Kel 24:1). Pada masa
itu, Tuhan menampakkan diri kepada Musa di atas gunung, mungkin juga karena hal ini
Yesus pun mengajak ketiga murid untuk menyaksikan pernyataan Tuhan kepada Yesus di
atas gunung sama seperti zaman Musa. Musa merupakan tokoh yang berperan penting
sebagai perantara antara Tuhan dan Israel ketika perjanjian antara Tuhan dan Israel di buat di
Gunung Sinai. Sedangkan Elia merupakan tokoh nabi yang besar, yang mengarahkan
kembali Israel kepada Tuhan. Penggambaran tokoh besar ini sepertinya ingin menyatakan
kepada pembaca bahwa Yesus adalah sosok yang akan menjadi perantara antara umat-Nya
dan Tuhan, serta menjadi sosok yang akan mengarahkan kembali umat-Nya kepada Tuhan.
b. Markus: Tokoh Musa dan Elia yang ditampilkan dalam kisah transfigurasi mau menyatakan
mengenai tokoh yang dikaitkan dengan hukum (Musa) dan nabi (Elia). Kedua tokoh ini
merupakan penggambaran orang-orang yang memiliki iman kepada Tuhan. Kisah
transfigurasi ini mau menyatakan kepenuhan janji Allah yang telah dibuat-Nya. Dua tokoh
ini dapat dikaitkan dengan dimensi eskatologi (Why 11: 3-13), di mana dalam Kitab 2 Raj
2:11 dikatakan “Elia naik ke Surga dalam angin badai dibawa oleh kereta kuda berapi” dan
menurut Mal 4:5 Elia merupakan nabi yang akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Kisah
yang ditulis oleh Markus ini memiliki perbedaan dalam kaitannya dengan penyebutan tokoh
Musa dan Elia. Hanya dalam Markus dituliskan “Elia bersama dengan Musa”, sedangkan
dalam Injil Sinoptik yang lainnya dituliskan Musa dan Elia. Walaupun demikian, Markus
memiliki anggapan yang sama dengan pengarang sinoptik lainnya, bahwa Musa dan Elia
merupakan tokoh yang penting.
c. Lukas: Penginjil Lukas memasukkan tokoh Musa dan Elia ke dalam kisah penampakan
Yesus, karena kedua tokoh ini memang memiliki peranan yang besar dalam Perjanjian Lama.
Kedua tokoh ini pula yang dikaitkan sebagai tokoh yang akan datang kembali pada akhir
zaman. Musa dalam Lukas tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang membawa hukum Tuhan
tetapi juga sebagai nabi pemimpin yang telah membebaskan umat-Nya (lytrōtēs; Kis 7:35).
Ia juga menyatakan bahwa ‘Tuhan akan membangkitkan bagimu seorang nabi seperti aku’
(Ul 18:15; Kis 3:22; 7:37). Jika dikaitkan antara Yesus dan Musa, maka hubungan di antara
dua tokoh ini adalah sebagai Penebus-Nabi yang menghadapi penolakan (Kis 7:33-41, 51-
53). Tokoh Musa yang tampil dalam kisah ini mau mengulang kembali kisah yang pernah
terjadi juga dalam kehidupan Musa. Sedangkan Elia adalah tokoh seorang nabi-keajaiban
yang mau menggambarkan pelayanan Yesus (Luk 4:25-26; 7:11-17). Selain itu, Elia
merupakah tokoh yang dinyatakan sebagai nabi yang mempersiapkan kedatangan yang
dijanjikan (Mal 4:5). Tokoh-tokoh ini tentu ingin memberikan kesan yang semakin kuat
terhadap Yesus, bahwa Dialah Mesias yang telah dijanjikan oleh Allah. Yesus merupakan
kepenuhan yang telah dijanjikan oleh Allah melalui para nabi.
Tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem Luk 9:31
Lukas: Bila dibaca dengan baik, hanya Lukas yang menceritakan mengenai tujuan kepergian
Yesus ke Yerusalem. Kepergian-Nya (exodus) ke Yerusalem merupakan kepenuhan dari
tugas perutusan-Nya di dunia. Penyampaian hal ‘tujuan kepergian Yesus’ inilah yang
sebenarnya ingin lebih ditekankan oleh Lukas daripada perubahan rupa Yesus. Kisah ini mau
menyatakan Yesus yang diberi instruksi surgawi mengenai derita yang kelak akan
menghasilkan kemulian-Nya (24:26). Menurut teks Yunani, Musa dan Elia berbicara dengan
Yesus mengenai exodus yang bisa berarti juga ‘keluaran’. Kata ini sendiri memiliki beberapa
makna, seperti keluaran dari derita, dari kubur (kebangkitan), dari kehidupan keduniaan
(kebangkitan), dari lingkungan bumi (kenaikkan). Namun para ahli sepakat bahwa kata
exodus dikaitkan dengan proses peralihan yang akan dialami oleh Yesus dari dunia kepada
kemulian surgawi. “Yang akan digenapi-Nya di Yerusalem”, pernyataan ini mau menyatakan
peristiwa yang sejak dahulu sudah direncanakan oleh Allah kepada manusia demi
keselamatan mereka. Yerusalem bukan hanya tempat kematian para nabi, namun juga tempat
Yesus akan menggenapi rencana Allah. Bisa ditafsirkan bahwa kedatangan Musa dan Elia
bukan untuk menghibur Yesus, melainkan untuk menjelaskan kaitan antara sabda Allah
dalam Perjanjian Lama dan perjalanan Yesus ke Yerusalem. Kematian Yesus inilah
“peristiwa Ilahi”.
Awan dalam pandangan Matius, Markus dan Lukas
Lukas: Awan
Penampakan Allah yang ingin
menyampaikan suatu perkara
kepada manusia.
Markus Awan: Lambang kehadiran Allah.
Matius Awan: Tempat yang diselubungi oleh Allah
adalah tempat yang suci dan merupakan lambang
kehidupan dan harapan.
Matius: Awan melambangkan kehadiran Allah, dalam 2 Mak 2:8 “Kelak semuanya akan
ditunjukkan oleh Tuhan dan kemuliaan Tuhan serta awan akan tampak lagi, sebagaimana
Salomo pun telah berdoa juga, supaya tempat itu disucikan secara istimewa”. Awan yang
turun dari surga ini mau menyatakan bahwa Allah telah memberikan kemah surgawi yang
lebih berharga daripada kemah buatan manusia, dan lambang perlindungan Allah atas umat-
Nya.
Markus: Awan yang turun dalam Injil Markus ini mau menyatakan bahwa tempat yang
dituruni oleh awan ini adalah tempat yang suci dan melambangkan kehidupan dan
harapan. Awan ini merupakan simbol dari kehadiran Allah dalam Kel 40:34-38 di mana
‘awan’ menaungi kemah pertemuan dan meyimbolkan kemuliaan Allah.
Lukas: Awan dalam konteks ayat ini mau menyatakan terjadinya teofani, yaitu penampakan
Allah untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada manusia. Pada teks Perjanjian Lama,
awan merupakan manifestasi atas kehadiran Allah (Kel 19:9; 33:9; 34:5). Di sana disebutkan
bahwa awan ilahi menaungi Kemah Suci ketika kemah itu selesai didirikan. Awan ilahi inilah
yang menjadi tanda kehadiran nyata Allah di tengah-tengah Bangsa Israel. Maka, dapat
dikatakan bahwa awan yang menaungi Yesus, Musa dan Elia mau menyatakan bahwa Petrus
tidak perlu bersusah-susah untuk membuatkan kemah untuk mereka bertiga, karena
kehadiran Allah menaungi mereka secara khusus. Ketika Petrus, Yohanes dan Yakobus
dimasukan ke dalam awan, dapat diartikan bahwa tiga murid ini diikutsertakan dalam
lingkup Ilahi.
Pernyataan Allah tentang Yesus dalam Matius, Markus dan Lukas
Lukas: “Inilah Anak-Ku yang
Kupilih, dengarkanlah Dia.”
Allah ingin agar para murid yang
mendengarkan suara ini bersedia untuk
mendengarkan pengajaran Yesus.
Pengajaran seorang Mesias tentang
sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya
yang masih belum dapat dipahami oleh
para murid.
Markus “Inilah Anak yang Kukasihi,
dengarkanlah Dia.”
Pernyataan yang berasal dari Allah ini
ingin mengajak para murid yang
mendengarkan suara ini untuk rela
mendengarkan Yesus.
Matius “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-
Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah
Dia.”
Suara yang turun dari awan yang juga
didengar oleh para murid. Suara inilah
yang menguatkan identitas Yesus.
Matius: Pernyataan Allah dalam Injil Matius ini memiliki arti yang hampir sama dengan
kisah dalam Mat 3:17. Di mana suara dari langit ini merupakan pernyataan dari surga yang
diberikan bukan untuk Yesus semata, melainkan untuk dunia dan para pembaca. Allah
sendirilah yang membenarkan identitas Yesus, bukannya manusia. Inilah kisah yang mau
menegaskan bahwa Yesus merupakan pribadi yang akan menggenapkan seluruh kebenaran
rencana Allah. Yesus adalah Mesias; Hamba Tuhan dan Anak Terkasih Allah. Ungkapan ini
merupakan gabungan dari Yes 42:1 dan Kej 22:2 yang menggambarkan Mesias yang juga
adalah raja, hamba dan Tuhan. Yesuslah Allah yang beserta manusia. Di dalam diri-Nyalah
menyatu masa lampau Israel dalam keutuhan tanpa cela.
Markus: Suara yang berasal dari Allah bila dicermati pada Mrk 1:9-11 memiliki perbedaan.
Di sana disebutkan “Engkaulah…”, sedangkan dalam ayat ini disebutkan “Inilah….”, maka
dimungkinkan ketiga murid Yesus mendengarkan suara yang berasal dari awan itu. Ada
perbedaan antara pernyataan Allah pada Yesus di Mrk 1:11 dengan Mrk 9:7, pada bagian
awal pernyataan dari Allah ini untuk mengantar pelayanan Yesus di Galilea, sedangkan pada
bagian kedua untuk mengawali perjalanan-Nya serta menegaskan identitas-Nya yang akan
wafat di salib. “Dengarkanlah Dia”, mau menyatakan bahwa para murid yang mendengar
suara dari Tuhan ini diminta untuk mendengarkan semua perkataan-Nya. Terkhusus selama
perjalanan-Nya ke Yerusalem bersama para murid-Nya, di mana saat itu merupakan saat
pengajaran bagi para murid. Tema Kristologi dan kemuridan begitu terasa selama masa
perjalanan Yesus bersama dengan para murid-Nya ini.
Lukas: Ketika Yesus dibaptis, Ia disapa oleh suara dari langit, dan kini para murid yang
disapa oleh suara ini. Allah menyatakan amanat-Nya sama dengan amanat Yesus, karena
Yesus adalah Anak-Nya. Jika Yesus adalah Anak Allah, maka setiap orang yang menjalin
hubungan dengan-Nya terkhusus para murid harus ‘mendengarkan-Nya’. Yesus
menggantikan tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama yang membuat-Nya harus ‘didengarkan’.
Kata yang harus didengarkan dalam hal ini adalah kenyataan bahwa Ia akan menempuh jalan
salib dan akan kembali kepada Bapa. Jalan ini pula yang akan ditempuh oleh setiap orang
yang akan mengikuti-Nya.
Kisah transfigurasi yang terdapat dalam ketiga Injil sinoptik memiliki makna yang
mendalam. Bukan hanya untuk menegaskan ‘kemesiasan’ Yesus yang telah diucapkan oleh
Petrus melainkan juga untuk menyoroti sengsara dan kematian Yesus dengan sinar kemuliaan-
Nya. Kisah ini ingin menghilangkan ‘skandal salib’ yang pada masa Gereja awal belum bisa
diterima. Kisah ini mau menyatakan bahwa sengsara dan kematian yang akan dialami oleh Yesus
memang sudah menjadi kehendak Allah yang akan mengantarkan-Nya menjadi Putra Allah.
Rahasia kesengsaraan, kebangkitan serta kenaikkan yang merupakan bagian dari satu perjalanan
(exodus) menuju kemuliaan. Kisah transfigurasi merupakan kepenuhan dari prediksi Yesus pada
Luk 9: 26-27, bahwa anak manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya. ‘Kemuliaan’ dan
‘Kerajaan Allah’ berkaitan dengan pribadi dan sabda dari Yesus. Lukas sendiri telah menuliskan
bahwa Yesuslah ‘kemuliaan bagi Israel’ (Luk 2:32) dan secara ekstensif menyatakan bahwa
Yesus sebagai raja dalam perjalanan terakhir ke Yerusalem (Luk 19:11). Identitas Yesus sebagai
seorang nabi terlihat eksplisit, namun Lukas telah menyatakannya dalam Kisah pada Luk 7:16,
‘seorang nabi telah dibangkitkan oleh Allah untuk mengunjungi umat-Nya’. Peran kenabian
Yesus setidaknya dapat terlihat dalam pernyataan terakhir “dengarkanlah Dia”, yang dikaitkan
dengan Ul 18:15 yang mau menyatakan bahwa Yesus bukan hanya sebagai Anak Allah dan
Orang pilihan, tetapi juga sebagai Nabi sama seperti Musa. Berbeda dengan Matius yang
menekankan kisah transfigurasi untuk mempersiapkan orang bagi pewahyuan Yesus yang lebih
besar, yaitu tugas perutusan mengajar Gereja. Walaupun demikian, para pengarang Injil Sinoptik
menyejajarkan kisah transfigurasi ini dengan peristiwa Getsemani yang mau menyatakan
kemuliaan Mesias dalam kelemahan manusiawi-Nya.
Akhirnya, dalam tulisan terakhirnya, Lukas menyatakan bahwa para murid tidak
menceritakan apa pun yang telah mereka saksikan ‘selama masa’ ini . Dari tulisan ini
setidaknya dapat ditarik dua poin penting yang dapat menambah wawasan. Pertama, para murid
menjadi diam karena teringat akan pesan yang telah diberikan dengan ‘keras’ oleh Yesus dalam
Luk 9:21. Kedua, hanya sesudah ‘exodus’ para murid dimampukan untuk menjadi lebih berani
mewartakan apa yang telah mereka rasakan dengan dorongan Roh Kudus yang akhirnya
membuat mereka menjadi ‘pelayan sabda’ (Luk 1:2).

