Injil sinoptik 14

  


a. Kitab-kitab Injil  

 

Keempat kitab pertama dalam PB (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) disebut: kitab-

kitab Injil. Sebagaimana dibicarakan sebelumnya, ‘Injil’ telah menjadi satu istilah teknis 

untuk menunjuk kepada jenis tulisan dengan kandungan isi seperti itu: kumpulan cerita 

(perkataan dan perbuatan/kehidupan)  ‘sosok’ tertentu.  

Sebetulnya penulis kitab-kitab ini tidak menyebut tlisan mereka dengan nama ini. 

Meskipun demikian, nama ini sudah bergulir dalam tradisi gereja sejak abad ke-2 Masehi. 

Sampai sekarang nama ini tetap dipakai dan malah menjadi sangat popular, bukan hanya 

di kalangan komunitas Kristen, namun  juga komunitas-komunitas lainnya yang memahami 

bahwa ‘Injil’ yaitu  Kitab Sucinya orang Kristen.  

Membaca kitab-kitab (Injil) ini secara sekilas, orang akan memperoleh kesan bahwa 

keempat kitab ini  sama-sama berisi cerita tentang kehidupan Tuhan Yesus 

(bagaimana kehidupan-Nya yang singkat itu telah dijalani-Nya, apa-apa saja yang Ia 

katakan/ajarkan, bagaimana Ia memperlakukan orang-orang yang ada di sekitar-Nya, dan 

bagaimana akhir hidup-Nya). Akan namun , bila kita memberi waktu untuk membaca 

kitab-kitab ini secara lebih cermat, lalu coba memprbandingkannya dengan memakai 

cerita tentang kehidupan ini sebagai takarannya, maka kita akan menemukan data bahwa 

ada yang tidak sama dalam penuturan keempat kitab ini . Ketidak samaan yang jelas 

terutama sekali yaitu  antara ketiga kitab pertama (Matius, Markus, dan Lukas) dan kitab 

keempat (Yohanes).  

Ketidaksamaan itu antara lain terlihat dalam hal-hal berikut:  

 

Topik Matius, Markus, Lukas Yohanes 

Awal pelayanan Yesus Setelah Yohanes Pembaptis 

dipenjara (Mrk. 1:14/par)  

Untuk satu masa, Yohanes 

dan Yesus pernah bekerja 

pada masa yang sama (3:22-

24) 

Perjalanan ke Yerusalem 1 kali saja, yakni pada akhir 

pelayanan-Nya.  

Beberapa kali (2:13; 5:1; 

7:10; 12:12) 

Waktu penangkapan Yesus Sesudah makan paskah 

(Mrk 14:12 dst./par) 

Sebelum makan Paskah 

(band. Yoh.18:28; 19:14) 

Pembersihan Bait Suci Pada akhir pelayanan Yesus 

(Mrk 11:15 dst./par) 

Awal pelayanan Yesus 

(2:13 dst.) 

 

Daftar ini hanyalah sebagian saja dari data yang menunjukkan bahwa ada yang tidak 

sama di antara keempat kitab yang bercerita tentang Sosok yang sama ini. sebab  

ketidaksamaan ini, maka studi mengenai kitab-kitab Injil ini dikelompok-kan menjadi: 

studi ketiga kitab Injil pertama (sinoptik) dan studi erhadap injil keempat (Yohanes).  

 

 

b. Injil-Injil Sinoptik 

 

Ketiga kitab Injil pertama dikenal juga dengan nama ‘Injil-injil Sinoptik’. ‘Sinoptik’ 

yaitu  sebuah frasa dalam bahasa Yunani (syn + opsis) yang secara harfiah berarti: dapat 

dilihat secara bersama. Artinya, kalau ketiga kitab ini  diletakkan secara bersejajar, 

maka akan terlihat bahwa dalam banyak hal, ketiganya sejajar. 

Misalnya: 

∗ dalam hal penyusunan bahan (lihat: Mat. 13, Mrk 14, Luk 8 [ttg perumpamaan] 

∗ dalam hal bahasa dan coraknya (contoh: Mat. 21:23-27 = Mrk 11:27-33 = Luk 20:1-

8  dan Mat 24:4-8 = Mrk 13:5-8 = Luk 21:8-11). 

∗ Dalam hal pilihan kata dan susunan kalimat, kesejajaran di antara ketiganya sangat 

terlihat. Ini merupakan sisi yang menarik, mengingat makna kalimat bahasa Yunani 

tidak ditentukan oleh urutan tempat kata, sebab  dal m bahasa ini, fungsi kata 

dinyatakan dalam kasusnya. Bagaimana tulisan-tulisan yang berasal dari orang-orang 

yang berbeda memiliki  kesamaan/kesejajaran seperti itu?  

 

Ternyata, selain sejajar, ketiga kitab Injil ini juga memperlihatkan data ketidaksamaan 

yang menarik untuk diperhatikan. Misalnya: 

⇒ Lihat bagian awal dan akhir ketiga kitab ini.  

∗ Informasi yang ada dalam Mat. dan Luk. tidak ada dal m Mrk. 

∗ Informasi yang ada dalam bagian awal dan akhir dalam Mat. dan Luk. pun tidak 

sama. (Band. mis. daftar silsilah dalam Mat 1:1 dst. dengan Luk 3:23 dst.) 

⇒ Lihat juga informasi dalam Mat 28:9, 16 di mana Tuhan Yesus yang bangkit itu 

menampakkan diri di Yerusalem dan di Yudea, sedangk menurut Luk 24, 

penampakan ini hanya terjadi di Yerusalem.  

⇒ Lihat: Mat. 6:25-34 = Luk12:22-31 dan Mat 12: 43-45 = Luk 11:24-26. 

∗ Bahan-bahan ini tidak ada dalam Markus. 

⇒ Lihat: Mat. 27:62-66; Mrk 4:26-29; dan Luk 19:1-10. 

∗ Bahan-bahan ini hanya ada dalam masing-masing kitab. Markus dan Lukas tidak 

memiliki  bahan yang ada dalam Matius 27:62-66; Matius dan Markus tidak 

memiliki  bahan yang ada dalam Lukas 19:1-10; Matius dan Lukas tidak 

memiliki  bahan yang ada dalam Markus 4:26-29.  

 

 

c. Masalah Sinoptik 

 

Data yang menunjukkan bahwa dalam ketiga kitab Injil pertama ada banyak hal yang 

sejajar (sama), namun  juga sekaligus tidak sedikit yang tidak sama, mendorong orang 

untuk bertanya: Mengapa bisa demikian? Bagaimana kesamaan/kesejajaran dan 

perbedaan ini dapat dijelaskan? Sebutan khas untuk persoalan ini yaitu : Masalah 

Sinoptik (Synoptic Problem).  

Sudah lama para pakar studi PB berupaya untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan 

(masalah) ini.  

 

Dari studi sistematik yang telah dilakukan selama ini, lahirlah apa yang disebut sebagai 

‘teori 4 sumber’  

1. Ada 1 kitab Injil yang menjadi skeleton (kerangka) bagi dua kitab Injil lainnya. 

Dalam hal ini, skeleton itu yaitu : Injil Markus. Teori ini menyatakan bahwa 

penulis Injil Matius dan penulis Injil Lukas sama-sama memakai Markus sebagai 

sumber bersama mereka berdua. Ini menjelaskan mengapa secara kerangka dasar, 

ketiga kitab ini sejajar. 

2. Selain memakai Markus, para penulis kedua kitab ini (Matius dan Lukas) juga 

memakai sumber bersama lainnya, yang disebut: Quelle (disingkat: Q, bahasa 

Jerman yang berarti: sumber). Isi dari Q ini umumnya yaitu  ‘perkataan-perkataan 

Yesus’, sehingga sumber ini biasa juga disebut sebagai sumber kumpulan 

perkataan-perkataan Jesus (Jesus’ sayings). Ini menjelaskan bagaimana Matius dan 

Lukas memiliki  bahan yang sama yang tidak ditemukan dalam Markus). 

3. Ada sumber khusus yang dipakai oleh penulis Injil Matius. Selain memakai Markus 

dan Q, penulis Injil Matius juga memiliki  sumbernya sendiri. Ini menjelaskan 

mengapa ada bahan yang hanya ada dalam Matius dan tidak ada dalam Lukas dan 

Markus.  

4. Ada sumber khusus yang dipakai oleh penulis Injil Lukas. Selain memakai Markus 

dan Q, Lukas juga memiliki  sumbernya sendiri. Ini menjelaskan mengapa ada 

bahan yang hanya ada dalam Lukas dan tidak ada dalam M tius dan Markus. 

 

 

d. Injil Yohanes dan Tulisan-tulisan Yohanes 

 

sebab  cara penyajiannya yang tidak sama dengan ketiga kitab Injil lainnya, Injil 

keempat ini sering dibicarakan secara terpisah. Kitab keempat ini bahkan dikelompokkan 

ke dalam ‘tulisan-tulisan Yohanes’ (Johannine Writings), bersama dengan surat 1-3 

Yohanes. Selain sebab  terkait dengan satu nama yang s ma, Yohanes, keempat kitab ini 

juga dicermati memiliki  sudut pandang eskhatologis (pandangan mengenai akhir 

zaman) yang sama, sudut pandang yang tidak sama dengan yang ada dalam Injil-injil 

sinoptik dan juga surat-surat Paulus. Sudut pandang eskhatologis dalam tulisan-tulisan 

Yohanes dilihat sebagai refleksi terhadap pandangan Gnostisisme. Di atas sudah 

disebutkan antara lain hal-hal yang lain dalam Injil Yohanes dibandingkan dengan Injil-

injil Sinoptik. Selain itu, dapat juga disebutkan bahwa dalam Injil keempat ini, kata-

kata/khotbah Yesus umumnya jauh lebih panjang. 

 

 

e. Keterangan singkat mengenai masing-masing kitab 

 

1. Matius (ditulis sekitar tahun 85-90 M).  

Kalau seseorang menulis, tentu saja ia memerlukan bahan untuk tulisannya. Sebagaimana 

didiskusikan di atas, studi mengenai sumber-sumber da i Injil-injil Sinoptik 

menghasilkan teori bahwa bahan yang dipakai oleh penulis Injil Matius yaitu :  Injil 

Markus,  tradisi tentang Yesus yang dipakai secara khusus oleh penulis kitab Injil ini, dan 

kumpulan perkataan Yesus (= Q), seperti disebut di atas.  

 

Bahan Markus dikembangkan oleh penulis Injil Matius. Ia mengembangkannya di bagian 

awal dan juga di bagian akhir. Di bagian awal ada:  

- daftar silsilah Yesus (dimulai dari Abraham dan berakhir pada Yusuf (1:2-17).  

- Cerita tentang kelahiran Yesus (1:18-25). Di sini, Yusuf sebagai ayah Yesus 

dinyatakan dengan tegas. 

- Cerita tentang Orang Majus (2:1-12) 

- Penyingkiran ke Mesir (2:13-15) 

- Pembunuhan anak-anak (2:16-18) 

- Kembali lagi ke Nazaret (2:19-23). 

Sesudah itu, Matius mengikuti kerangka Markus (walaupun dalam beberapa hal ada juga 

yang tidak persis sama). Dalam bagian akhir, setelah cerita mengenai ‘Kubur Kosong’, 

Matius mengembangkannya dengan bahan mengenai penamak n Yesus yang bangkit 

yang berlangsung di atas bukit di Galilea (28:16-20).  

Matius mengelompokkan bahannya sesuai dengan tema-te a sebagai berikut: 

- Khotbah di atas Bukit (pasal 5-7) 

- Cerita Mukjizat (pasal 8-9) 

- Risiko menjadi utusan Tuhan (pasal 10) 

- Perumpamaan (pasal 13) 

- Tata Hidup Berjemaat (pasal 18) 

- Pengajaran mengenai kaum Farisi, Parousia, dan penghakiman terakhir (pasal 23-25). 

Hal menarik lainnya: perikop Kitab Suci (PL) sering dikutip untuk membuktikan 

kebenaran sebuah peristiwa dalam hubungan dengan Yesus. Lihat: 1:22; 2:5; 2:15; 2:17; 

2:23; 3:3; 4:14; 8:17; 12:17; 13:35; 21:4; 26:56; 27:9.  

Diduga kuat bahwa jemaat Kristen yang di dalamnya kit b ini lahir yaitu  persekutuan 

dengan latar belakang Yahudi, sebab  dalam beberapa b gian, orang-orang bukan Yahudi 

(baca: kafir) ditunjuk sebagai ‘orang luar’ (5:47; 6:7, 32; 10:5-6, 17-18; 18:17).  Tidak 

ada petunjuk langsung dalam kitab ini yang menyatakan  bahwa penulisnya yaitu  

seorang yang bernama Matius. Kalau sampai popular dengan nama ini, maka tradisi 

gerejalah yang menyebutnya demikian. 

 

2. Markus (ditulis sekitar tahun 68-70 M).  

Umum diterima bahwa ini yaitu  kitab Injil kanonik tertua. Kitab ini dipakai oleh 

penulis-penulis kitab-kitab Injil Matius dan Lukas. Dari mana penulis Injil Markus 

memperoleh bahan yang dipergunakan untuk penulisannya? Besar sekali kemungkinan, 

kebanyakan bahannya merupakan tradisi lisan. Penulis memasukkan bahan-bahan 

ini  ke dalam kerangka tulisan yang berawal dari pembaptisan sampai kepada 

kebangkitan Yesus. Dengan kata lain, penulis kitab ini juga bertanggung jawab memberi 

‘ setting’ terhadap bahan-bahan lisan yang tersedia padanya.  

Ketika menuangkannya dalam bentuk tulisan, penulis berada di bawah pemahaman 

bahwa Sosok Yesus, semasa hidup-Nya, ingin supaya Diri-Nya (sebagai Messias) tidak 

digembar-gemborkan lebih dulu, melainkan dirahasiakan. Dalam studi PB, isu ini dikenal 

dengan istilah ‘Rahasia Messianik’.  

- Setan/roh jahat dilarang memberitahukan siapa Yesus (1:34; 3:12). 

- Para murid juga mendapat larangan serupa (8:30; 9:9) 

- Orang-orang yang telah disembuhkan-Nya dilarang bercerita tentangnya (1:44; 45:43; 

7:36; 8:26)  


Ciri penting lainnya yaitu  bahwa para murid berulang kali dinilai ‘tidak mengerti’. Ini 

dapat dilihat dalam 4:40; 6:52; 8:16; 9:10; 9:32).  

Persekutuan jemaat Markus lebih didominasi oleh orang-orang dengan latar belakang 

kafir (bukan Yahudi). Dikatakan demikian sebab  beberapa  adat dan kebiasaan Yahudi 

diberi penjelasan (7:3-4, 11c, 19c). Ini mengindikasikan bahwa alamat tulisannya tidak 

begitu mengenal adat dan kebiasaan Yahudi ini. Sama seperti Injil Matius, penulis kitab 

Injil Markuspun tidak mencantumkan namanya sendiri dalam tulisannya. Nama Markus 

yang diberikan untuk kitab ini juga merupakan warisn tradisi gereja sejak era mula-

mula. 

 

3. Lukas (ditulis sekitar tahun 85 M).  

Dari segi bahasanya yang bagus, diduga kuat penulisya yaitu  seorang yang cukup 

berpendidikan (disebut-sebut sebagai ‘tabib’). Sama dengan Matius, penulis Injil Lukas 

juga memakai Markus dan Q sebagai sumbernya. Di samping itu, ia juga punya sumber 

khususnya sendiri 

Kerangka Markus diikutinya. Ini terlihat dalam pasal 3-21. Terhadap kerangka ini, ia 

menambahkan  bagian pengantar (pasal 1-2), yang berisi: penjelasan pribadi tentang 

penulisannya (1:1-4), pemberitahuan kelahiran Yohanes Pembaptis (1:5-25), 

pemberitahuan kelahiran  Yesus (126-38), kunjungan Maria kepada Elizabet (1:39-45) 

nyanyian pujian Maria (1:46-55), kelahiran Yohanes Pembaptis (1:57-66), nyanyian 

pujian Zakharia (1:67-80) kelahiran Yesus, masa kanak-kanak Yesus (pasal 2). Dalam 

cerita tentang sengsara Tuhan Yesus (pasal 22-23), terlihat sekali bahwa Lukas 

menunjukkan corak penulisan yang lain dibandingkan de gan sumbernya. Untuk bagian 

akhir (pasal 24), Lukas memakai banyak bahan khususnya.  

Salah satu aspek khas dalam kitab injil ini, dibandingkan dengan ketiga kitab injil 

sinoptik lainnya, yaitu  perhatian yang diberikan oleh Yesus terhadap kaum marginal 

(berdosa, miskin, dan yang terbuang dalam masyarakat). Ada beberapa  cerita (termasuk 

perumpamaan) yang mengungkapkan kepedulian sosial. Cerita-cerita seperti: Yesus 

diurapi oleh seorang perempuan berdosa (7:36 dst.),  

Nama penulisnya juga tidak tertera dalam tulisan ini. Sama dengan dua tulisan 

sebelumnya, nama ini yaitu  warisan tradisi gereja. Dalam 1:1, penerima tulisan ini 

disapa secara khusus, sebagai “Teofilus yang mulia”. Ada dua teori yang dikemukakan 

sehubungan dengan alamat ini. Pertama, ia memang yaitu  seorang pribadi. Kalau 

begitu, ia mestilah seseorang dengan status khusus di tengah-tengah masyarakat, 

misalnya seorang pembesar dalam tatanan pemerintahan Roma, namun  sudah menjadi 

pengikut Kristus. Kedua, nama ini bermakna simbolis. Artinya, ia tidak menunjuk 

kepada seseorang secara tertentu namun  kepada komunitas luas yang ‘mencintai Allah’ 

(sesuai dengan makna dari nama ini : θεος (= Allah) + φιλια (= cinta). Nama alamat 

yang sama muncul juga dalam Kitab Kisah Para Rasul. Ini merupakan hal penting yang 

harus diingat sebab  sangat berguna untuk memahami tulisan Lukas ini. 

 

 

4. Yohanes (sekitar tahun 90 M).  

Tradisi Yohanes mengenai Yesus agak lain dibandingka  dengan yang ada dalam ketiga 

kitab injil pertama. sebab  kelainan ini pula, maka tiga kitab injil pertama sering 

dibicarakan secara terpisah (sinoptik). Diduga kuat, Yohanes memperoleh bahan untuk 

tulisannya dari sumber yang tidak sama dengan Matius, Markus, dan Lukas. Seperti 

ditunjuk dalam daftar di atas, ada beberapa data yang tidak sinkron,  misalnya tentang 

jumlah kunjungan Yesus ke Yerusalem semasa hidupnya. Injil-injil sinoptik memberi 

kesan kunjungan ini  hanya sekali semasa pelayanannya, sedangkan dalam injil 

Yohanes, kunjungan terjadi lebih dari satu kali.  

(Selanjutnya, kitab ini akan dibicarakan bersama denga  kelompok ‘Johannine 

Writings’)  

  

Luk 9: 28-36, Mrk 9: 2-8, Mat 17: 1-8 

 

A. Konteks Literer 

 

 Kisah transfigurasi yang terdapat dalam Luk 9:28-36 tidak dapat dilepaskan begitu saja 

dari keseluruhan kisah perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem. Kisah ini dapat dikatakan 

sebagai kisah persiapan Yesus sebelum Ia memasuki Kota Yerusalem. Pada kisah sebelum 

transfigurasi dikisahkan Petrus yang mulai mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang berasal 

dari Allah. Pernyataan dari Petrus ini akhirnya membuka babak baru bagi perjalanan hidup 

Yesus bersama dengan para murid-Nya. Sebelum pernyataan dari Petrus (Luk 9:22-27), Yesus 

lebih berfokus pada ‘usaha’ untuk menyatakan siapa diri-Nya yang sebenarnya. Namun, setelah 

pernyataan dari Petrus ini, fokus Yesus berubah pada tema kemuridan. Yesus kini lebih banyak 

memberikan pengajaran kepada para murid-Nya dan juga mulai memberikan penjelasan 

mengenai penderitaan yang akan Ia alami. Sosok Mesias yang dipikirkan oleh para murid adalah 

sosok Mesias yang jaya dan bukannya Mesias yang harus menderita dan wafat. Hal inilah yang 

ingin dikritisi oleh Yesus kepada para murid-Nya. Tema ini akhirnya mendapatkan 

‘kepenuhannya’ dalam kisah transfigurasi dan akhirnya Allah sendirilah yang menyatakan 

bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah. Kisah transfigurasi menjadi bagian penting dalam 

‘kemuridan’, karena dari sinilah para murid diminta secara langsung oleh Allah untuk 

mendengarkan Yesus. Seorang murid harus mendengarkan gurunya.  

 Ketika Yesus akan memulai karya-Nya di Galilea, suara yang turun dari langit terdengar 

bagi-Nya saat Ia dibaptis. Kini ketika Yesus akan memasuki Kota Suci Yerusalem, suara yang 

sama terdengar dari awan saat transfigurasi. Pada saat Yesus akan memulai suatu karya besar 

tampak bahwa Allah turut-serta bersama-Nya dan terus mendukung-Nya. Maka dapat dikatakan 

bahwa kisah ini ingin menguatkan para murid dan pembaca bahwa Yesus adalah Mesias yang 

dinantikan. Setiap pengajaran yang diberikan oleh Yesus merupakan pengajaran yang akan 

membawa kepada kemuliaan. Para murid dikisahkan untuk selalu mendengarkan setiap 

perkataan yang diberikan oleh Yesus sampai dengan masuk ke dalam Kota Yerusalem kesan 

terlihat jelas dalam kisah Yesus yang mengusir roh dari seorang anak yang sakit (Luk 9:37-43a). 

Para murid masih belum dapat mengusir roh dari anak ini , maka dari itu para murid secara 

tidak langsung masih harus mendengarkan Yesus sebagai guru mereka.  

  

 

B. Konteks Sinoptik 

Konteks dekat 

No. Sebelum Kisah Transfigurasi Sesudah Kisah Transfigurasi 

1. LUKAS 

9: 18-22 

Pengakuan Petrus 

9: 22-27 

Pemberitaan pertama 

tentang penderitaan 

Yesus dan syarat-

syarat mengikut Dia 

 

LUKAS 

9: 37-43a  

Yesus mengusir roh 

dari seorang anak yang 

sakit 

9: 43b-45 

Pemberitahuan kedua 

tentang penderitaan 

Yesus 

 

2. MATIUS 

16: 13-20 

Pengakuan Petrus 

16: 21-28 

Pemberitaan pertama 

tentang penderitaan 

Yesus dan syarat-

syarat mengikut Dia 

 

MATIUS 

17: 14-21             

Yesus menyembuhkan 

seorang anak muda 

yang sakit ayan 

17: 22-23 

Pemberitahuan kedua 

tentang penderitaan 

Yesus 

 

3. MARKUS 

8: 27-30     

Pengakuan Petrus 

8: 31-9:1 

Pemberitaan pertama 

tentang penderitaan 

Yesus dan syarat-

syarat mengikut Dia 

 

MARKUS 

9:14-29            

Yesus mengusir roh 

dari seorang anak yang 

bisu 

9:30-32 

Pemberitahuan kedua 

tentang penderitaan 

Yesus 

 

 

Konteks jauh 

Kisah Transfigurasi masuk ke dalam konteks “Perjalanan Yesus ke Yerusalem”. 

Aktor: 

1. Yesus 

2. Petrus, Yohanes, dan Yakobus 

3. Musa dan Elia 

4. (Suara pernyataan Allah dari dalam awan) 

  

Tempat: 

1. Perjalanan dari bawah gunung menuju ke puncak gunung (28) 

2. Di atas gunung (29-36) 

 

Waktu: 

Tidak dijelaskan dengan pasti 

Topik: 

1. Yesus, Yohanes, Yakobus, dan Petrus naik ke gunung untuk berdoa (28). 

2. Yesus berubah rupa (penuh kemuliaan) yang disertai dengan penampakan Musa dan Elia 

(29-31). 

3. Tanggapan Petrus ketika melihat penampakan kemuliaan Yesus, Musa dan Elia (33). 

4. Pernyataan dari Allah tentang Yesus (34-36). 

 

Struktur: 

Tempat Ayat Tokoh Kegiatan 

Lembah 28 

Yesus, Petrus,  Yakobus, 

dan Yohanes  

Perjalanan ke puncak gunung 

Puncak gunung 

29-31 

Yesus, Musa, dan Elia Yesus berubah rupa dan disertai 

penampakan dua tokoh besar 

33 

Yesus, Musa, Elia, Petrus, 

Yohanes, dan  Yakobus 

Tanggapan Petrus atas 

penglihatan yang ia lihat 

34-35 

Yesus, Musa, Elia, Petrus, 

Suara Allah, Petrus, 

Yakobus, dan Yohanes 

Pernyataan dari Allah tentang 

Yesus 

36 

Yesus, Petrus, Yakobus, dan 

Yohanes 

Yesus kembali seperti biasa 

setelah transfigurasi dan tinggal 

seorang diri bersama para murid 

 

Susunan linear: 

Yesus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes (28) 

Yesus berubah rupa (29) 

Musa dan Elia (30) 

Yesus, berbicara dengan Musa dan Elia dalam Kemuliaan (31) 

Musa dan Elia (32-33) 

Pernyataan dari Allah tentang Yesus (34-35)  

Yesus, Petrus, Yohanes, dan Yakobus (36) 

 

Matius Markus Lukas 

1Enam hari kemudian  2Enam hari kemudian  28Kira-kira delapan hari  

 

Yesus membawa Petrus, 

Yakobus dan Yohanes 

saudaranya, dan bersama-sama 

dengan mereka Ia naik ke 

sebuah gunung yang tinggi. Di 

situ mereka sendiri saja. 

 

Yesus membawa Petrus, 

Yakobus dan Yohanes dan 

bersama-sama dengan mereka 

Ia naik ke sebuah gunung 

yang tinggi. Di situ mereka 

sendirian saja.  

 

Lalu Yesus berubah rupa di 

depan mata mereka, 

sesudah segala pengajaran itu, 

Yesus membawa Petrus, 

Yohanes, dan Yakobus, lalu  

 

naik ke atas gunung untuk 

berdoa. 

2Lalu Yesus berubah rupa di 

depan mata mereka; wajah-

Nya bercahaya seperti 

matahari dan pakaian-Nya 

menjadi putih bersinar seperti 

terang. 

29Ketika Ia sedang berdoa, 

rupa wajah-Nya berubah  

 

dan pakaian-Nya menjadi 

putih berkilau-kilauan. 

 

3dan pakaian-Nya sangat 

putih berkilat-kilat. Tidak 

seorang pun di dunia ini yang 

dapat mengelantang pakaian 

seperti itu. 

3Maka nampak kepada mereka 

Musa dan Elia sedang 

berbicara dengan Dia. 

4Maka nampaklah kepada 

mereka Elia bersama dengan 

Musa, keduanya sedang 

berbicara dengan Yesus. 

30Dan tampaklah dua orang 

berbicara dengan Dia, yaitu 

Musa dan Elia. 


 

  31Keduanya menampakkan 

diri dalam kemuliaan dan 

berbicara tentang tujuan 

kepergian-Nya yang akan 

digenapi-Nya di Yerusalem. 

  32Sementara itu Petrus dan 

teman-temannya telah tertidur 

dan ketika mereka terbangun 

mereka melihat Yesus dalam 

kemuliann-Nya: dan kedua 

orang yang berdiri di dekat-

Nya itu. 

 

 

4Kata Petrus kepada Yesus:  

“ Tuhan, betapa bahagianya 

kami berada di tempat ini. Jika 

Engkau mau, biarlah kudirikan 

di sini tiga kemah, satu untuk 

Engkau, satu untuk Musa, dan 

satu untuk Elia.” 

 

 

5Kata Petrus kepada Yesus: 

“Rabi, betapa bahagianya 

kami berada di tempat ini. 

Baiklah kami dirikan tiga 

kemah, satu untuk Engkau, 

satu untuk Musa dan satu 

untuk Elia.” 

33Dan ketika kedua orang itu 

hendak meninggalkan Yesus, 

Petrus berkata kepada-Nya: 

“Guru, betapa bahagianya 

kami berada di tempat ini. 

Baiklah kami dirikan sekarang 

tiga kemah, satu untuk 

Engkau, satu untuk Musa, dan 

satu untuk Elia.” Tetapi Petrus 

tidak tahu  apa yang 

dikatakan-Nya itu. 

5Dan tiba-tiba sedang Ia 

berkata-kata turunlah awan 

yang terang menaungi mereka 

dan dari dalam awan itu 

terdengar suara yang berkata:  

 

 

 

6Ia berkata demikian, sebab 

tidak tahu apa yang harus 

dikatakannya, karena mereka 

sangat ketakutan. 

34Sementara Ia berkata 

demikian, datanglah awan 

menaungi mereka. Dan ketika 

mereka masuk ke dalam awan 

itu, takutlah mereka. 

7Maka datanglah awan 

menaungi mereka dan dari 

dalam awan itu terdengar 

35Maka terdengarlah suara dari 

dalam awan itu, yang berkata: 

 

“Inilah Anak yang Kukasihi, 

kepada-Nyalah Aku berkenan, 

dengarkanlah Dia.” 

suara: “Inilah Anak yang 

Kukasihi, dengarkanlah 

Dia.” 

“Inilah Anak-Ku yang 

Kupilih, dengarkanlah Dia.” 

6Mendengar itu tersungkurlah 

murid-murid-Nya dan mereka 

sangat ketakutan. 

  

7Lalu Yesus datang kepada 

mereka dan menyentuh mereka 

sambil berkata: “Berdirilah, 

jangan takut!” 

 

 

8Dan sekonyong-konyong 

waktu mereka memandang 

sekeliling mereka, mereka 

tidak melihat seorang pun lagi 

bersama mereka, kecuali 

Yesus seorang diri. 

 

 

 

 

 

36Ketika suara itu terdengar, 

nampaklah Yesus tinggal 

seorang diri. Dan murid-murid 

itu merahasiakannya, dan pada 

masa itu mereka tidak 

menceriterakan kepada siapa 

pun apa yang telah mereka 

lihat itu.  

8Dan ketika mereka 

mengangkat kepala, mereka 

tidak melihat seorang pun 

kecuali Yesus seorang diri.  

9Pada waktu mereka turun dari 

gunung itu, Yesus berpesan 

kepada mereka:  

“Jangan kamu ceriterakan 

penglihatan itu kepada seorang 

pun sebelum Anak Manusia 

dibangkitkan dari antara orang 

mati.” 

9Pada waktu mereka turun 

dari gunung itu, Yesus 

berpesan kepada mereka, 

supaya mereka jangan 

menceriterakan kepada 

seorang pun apa yang telah 

mereka lihat itu, sebelum 

Anak Manusia bangkit dari 

antara orang mati. 

 

 10Mereka memegang pesan 

tadi sambil mempersoalkan di 

antara mereka apa yang 

 

 

 

dimaksud dengan “bangkit 

dari antara orang mati.” 

10Lalu murid-murid-Nya 

bertanya kepada-Nya: “Kalau 

demikian mengapa ahli-ahli 

Taurat berkata bahwa Elia 

harus datang dahulu?” 

 

11Lalu mereka bertanya 

kepada-Nya: “Mengapa ahli-

ahli Taurat berkata, bahwa 

Elia harus datang dahulu?” 

 

11Jawab Yesus: “Memang Elia 

akan datang dan memulihkan 

segala sesuatu. 

12Jawab Yesus: “Memang 

Elia akan datang dahulu dan 

memulihkan segala sesuatu. 

Hanya, bagaimanakah dengan 

yang ada tertulis mengenai 

Anak Manusia, bahwa Ia akan 

banyak menderita dan akan 

dihinakan? 

 

12Dan Aku berkata kepadamu: 

Elia sudah datang, tetapi orang 

tidak mengenal dia, dan 

memperlakukannya menurut 

kehendak mereka. Demikian 

juga Anak Manusia akan 

menderita oleh mereka.” 

13Tetapi Aku berkata 

kepadamu: Memang Elia 

sudah datang dan orang 

memperlakukan dia menurut 

kehendak mereka, sesuai 

dengan yang ada tertulis 

tentang dia.” 

 

13Pada waktu itu mengertilah 

murid-murid Yesus bahwa Ia 

berbicara tentang Yohanes 

Pembaptis. 

   

 

Lukas: Delapan hari kemudian:  

Hari yang pertama dalam Minggu 

(hari kebangkitan) 

Markus Enam hari kemudian: hari yang ketujuh   

Matius Enam hari kemudian: hari yang ketujuh, 

sama dengan kisah yang ada dalam  

Kitab Kel 24:16 

 

a. Markus ayat 2: Waktu enam hari yang ada pada awal Injil Markus tampaknya bukan suatu 

hal yang wajar terjadi. Karena Markus tidak biasa menggunakan catatan waktu seperti ini. 

Catatan waktu enam hari ini pula mungkin Markus ingat akan kisah yang terdapat dalam Kel 

24:16, di mana menyamakan penampakan Musa pada hari yang ketujuh. Sesudah enam hari 

sama artinya hari yang ketujuh, jika ayat 1 ini dikaitkan dengan ayat 5, di mana ada kata 

kemah ada suatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Kemah menurut pengertian orang 

Yahudi merupakan tempat pertemuan dan komunikasi antara Tuhan dan manusia. Ucapan 

Petrus ini mungkin ada kaitannya dengan Pesta Pondok Daun. Pesta ini berlangsung selama 

seminggu, dan hari ketujuh merupakan hari penutupan pesta. Pada hari yang ketujuh ini pula 

Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus naik kegunung. Puncak pesta (hari ketujuh), 

yang dibarengi dengan penampakan Yesus (transfigurasi) mau menyatakan bahwa Yesuslah 

pemenuhan janji Allah. Markus ingin menggambarkan bahwa Yesus mengetahui kerinduan 

orang Yahudi akan kedatangan Mesias. Yesus yang digambarkan sedang menyendiri dan 

merenungi misi-Nya, akhirnya merasa diperkuat dengan pernyataan Allah bahwa Ia akan 

menjadi Mesias sesuai dengan kehendak Allah.  

 

b. Matius ayat 1: Penyebutan keterangan waktu dalam penginjil Matius (enam hari kemudian), 

setidaknya ingin menyampaikan gagasan mengenai kisah yang pernah tercatat dalam Kitab 

Keluaran 24:16. Di mana kisah ini menggambarkan penampakan Allah kepada Musa di 

Gunung Sinai. Penampakan terjadi di gunung karena gunung merupakan tempat yang identik 

dengan kisah pewahyuan Ilahi. Jemaat Matius masih dipengaruhi oleh tradisi Yahudi yang 

kuat, sehingga untuk menggambarkan Yesus, Matius mensejajarkannya dengan tokoh Musa. 

Yesus adalah Musa Baru yang membawa keselamatan (eksodus) dari perbudakan. Maka, 

penggambaran kembali teks-teks dalam Perjanjian Lama dengan terang Yesus Kristus begitu 

 

terasa dalam tulisan Matius, untuk menyatakan bahwa Yesuslah penggenapan para nabi yang 

akan membawa orang kepada keselamatan sama seperti Musa dalam peristiwa eksodus.  

 

c. Lukas ayat 28: Kata-kata kira-kira delapan hari kemudian, dalam Injil Lukas mau 

menyatakan hari yang pertama dalam Minggu, yaitu hari Minggu, hari setelah hari Sabat 

(bisa jadi berasal dari tradisi iman Kristiani). Lukas mungkin ingin mengaitkan peristiwa 

transfigurasi dengan peristiwa kebangkitan Yesus. Hal ini terlihat jelas ketika dikaitkan 

dengan ayat 30, Luk 24:4 dan Kis 1:10, di mana dalam ayat ini  terdapat penampakan 

dua orang. Hal-hal keajaiban yang terkait dengan Yesus dalam Lukas selalu dikaitkan dengan 

kemunculan dua orang yang bisa dikatakan sebagai ‘saksi’. Dapat dikatakan pula, bahwa hal 

ini adalah keajaiban Yesus yang benar adanya. Sinar kemuliaan pada kisah Perjanjian Lama 

(kisah Musa) turun pada wajah Musa, kini dalam kisah Yesus turun pula pada diri-Nya. Hal 

ini mau menyatakan bahwa Yesus adalah Musa Baru yang berasal dari Surga.  

Doa: Hanya dalam Injil Lukas dinyatakan bahwa Yesus mengundurkan diri ke gunung untuk 

berdoa (peristiwa pembaptisan Luk 3:21). Yesus digambarkan sebagai pribadi yang selalu 

berdoa sebelum memulai suatu peristiwa yang penting (bdk Mat 10:1-4; Mrk 3:13-19; Luk 

6:12-16). Lukas ingin menggambarkan Yesus yang selalu berusaha untuk membangun 

hubungan yang baik dengan Bapa-Nya melalui kebiasaan Yesus dengan berdoa. Gambaran 

Yesus yang selalu berdoa, merupakan contoh konkret yang ingin disampaikan oleh Lukas 

kepada para pembacanya, Yesus yang selalu berkomunikasi dengan Tuhan sebagai Anak 

Allah, atau mungkin juga untuk memberikan contoh teladan kepada para murid-Nya 

mengenai cara membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Kehidupan doa ini juga sejalan 

dengan tugas para murid dan misi Gereja, maka dari itu Yesus selalu berusaha memberikan 

teladan ini kepada para murid-Nya. Doa bagi Yesus merupakan cara untuk membangun 

kedekatan dengan Tuhan, di mana hal ini tampak dalam penyebutan kata ‘Bapa atau Bapa-

Ku’ (Luk 10:21-22; 22:41-45; 23:34, Luk 46; 11:2; 22:29). Selain itu, dengan berdoa, Yesus 

merasa semakin dikuatkan dalam menjalani tugas perutusan Keilahiaan-Nya untuk 

pelayanan-Nya kepada yang lain. Dalam konteks kisah transfigurasi, doa menjadi sarana 

untuk berkomunikasi dengan Tuhan dalam perjalanan-Nya (exodus) ke Yerusalem. Tokoh 

yang digambarkan mewakili surga ialah Musa dan Elia. Dua tokoh inilah yang memberikan 

peneguhan dalam persiapan-Nya untuk memasuki Yerusalem. Inilah moment di mana Yesus 


meminta ‘restu’ dari yang Ilahi sebelum memasuki Yerusalem. Kehidupan doa seperti inilah 

yang ingin ditekankan kepada jemaat Kristen Lukas, penginjil ingin mengajak jemaatnya 

untuk tetap tekun berdoa sebagaimana Yesus yang juga tekun dalam berdoa.  

 

     pemakaian  kata Tuhan, Rabi dan guru: 

 

Lukas: guru 

Gelar penghormatan atas wibawa 

Yesus. Lukas ingin menghilangkan 

unsur ke-Yahudi-an dengan 

menggunakan bahasa yang lebih 

universal. 

Markus Rabi: Gelar dari kalangan Yahudi untuk 

menyebut seorang pengajar agama. 

Matius Tuhan: Matius ingin menampilkan sosok 

Yesus sebagai Tuhan yang mulia yang 

pantas disembah 

 

a. Matius: Penginjil Matius menggunakan kata ‘Tuhan’ untuk menyebut pribadi Yesus. 

Mengapa? Bisa jadi karena Matius berusaha untuk menghindari pemakaian  kata ‘rabi’ 

kepada Yesus (Mat 23:8), ia menggunakan kata ‘rabi’ untuk menyebut Yesus hanya pada 

saat pengkhianatan Yudas (Mat 26:49). Atau juga karena memang sejak awal Matius ingin 

menampilkan sosok Yesus sebagai Tuhan yang mulia dan layak untuk disembah. Penginjil 

Matius dalam berbagai kisah bisa dikatakan sering untuk menggunakan kata ‘Tuhan’ (bdk 

Mat 2:2-11; 8:2; 8:25; 14:33; 28:17) yang mau menyatakan bahwa Yesuslah Tuhan yang 

akan terus melanjutkan karya penyelamatan-Nya terkhusus dalam jemaat Gereja Matius. 

Sebutan ‘Tuhan’ dalam konteks ini bukan sekadar sebagai bentuk penghormatan. ‘Tuhan’ 

adalah sebutan yang dapat dikaitkan dengan paham eskatologis.  

 

b. Markus: Penginjil Markus menggunakan kata ‘Rabi’ untuk menyebut pribadi Yesus. Kata 

‘rabi’ berasal dari kata Ibrani ‘rav’ yang berarti ‘besar’, yang juga dipakai sebagai bentuk 

penghormatan. Tradisi Yudaisme menyatakan bahwa kata ‘rabi’ digunakan untuk menyebut 

seseorang yang bertugas mengajar Torah Yahudi. Markus menyebut Yesus sebagai rabi 

untuk menghormati-Nya atau mengagungkan-Nya, di mana identitas Yesus sebagai rabi 

terasa di masa itu. Selain itu, kemungkinan besar mengapa Markus masih menggunakan kata 

‘rabi’ untuk menyebut Yesus karena Markus masih terikat dengan tradisi Yahudi. Penginjil 


Markus masih berada dalam pengaruh Yahudi yang kuat sehingga ia masih menggunakan 

istilah-istilah yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Yahudi. 

Penulisan dengan pemakaian  istilah Yahudi ini bisa jadi karena jemaat yang ingin dituju 

oleh penginjil Markus adalah Jemaat Kristen Yahudi yang memang masih memegang teguh 

adat istiadat dan peraturan Yahudi.  

 

c. Lukas: Penginjil Lukas menggunakan kata ‘guru’ untuk menyebut pribadi Yesus. Kata 

‘guru’ yang ada dalam Injil Lukas ingin menerjemahkan kata ‘rabi’ dalam Injil Markus. 

Istilah ‘rabi’ merupakan istilah yang hanya dimengerti oleh orang-orang Yahudi, sehingga 

orang-orang non-Yahudi tidak mengerti arti dan maksud dari kata ‘rabi’. Penginjil Lukas 

berusaha untuk membuat injilnya lebih bersifat universal, maka dari itu ia berusaha untuk 

mengganti semua kata dalam per-istilah-an Yahudi yang sulit dimengerti oleh orang-orang 

non-Yahudi, maka dari itu penginjil Lukas menggunakan kata ‘guru’. ‘Guru’ dalam ayat 33, 

bisa diartikan sebagai gelar kehormatan yang diberikan sebagai pengakuan akan wibawa 

pribadi Yesus. 

 

     Tokoh Musa dan Elia 

 

Lukas: Musa dan Elia 

Tokoh dalam PL yang ingin 

menyatakan bahwa Yesuslah 

tokoh yang selama ini telah 

dipersiapkan oleh dua tokoh PL 

ini  selama hidup mereka.  

Markus Musa dan Elia: Tokoh yang penting dalam 

dimensi eskatologis, bersama dengan Yesus 

sebagai pemenuhannya. 

Matius Musa dan Elia: Yesus disebut juga sebagai 

Musa Baru dan penampakan para tokoh 

Perjanjian Lama ingin menguatkan posisi 

Yesus sebagai penyelamat dan pengantara 

umat-Nya. 

 

a. Matius: Penginjil Matius memberikan penekanan yang hampir sama dengan Penginjil 

Lukas. Perlu diingat bahwa Yesus dalam Matius digambarkan sebagai Musa Baru. Hal ini 

sebenarnya juga tampak dalam kisah transfigurasi dalam Injil Matius. Dikisahkan bahwa 

Yesus membawa ketiga murid-Nya, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes, bisa jadi ketiga 

  

 

orang ini merupakan kelompok inti dari keduabelas rasul. Namun, bisa jadi juga hal ini 

terjadi karena Yesus ingin menyamakan kejadian pada masa Musa, di mana Musa pun 

membawa tiga orang, Harun, Nadab dan Abihu ke atas Gunung Sinai (Kel 24:1). Pada masa 

itu, Tuhan menampakkan diri kepada Musa di atas gunung, mungkin juga karena hal ini 

Yesus pun mengajak ketiga murid untuk menyaksikan pernyataan Tuhan kepada Yesus di 

atas gunung sama seperti zaman Musa. Musa merupakan tokoh yang berperan penting 

sebagai perantara antara Tuhan dan Israel ketika perjanjian antara Tuhan dan Israel di buat di 

Gunung Sinai. Sedangkan Elia merupakan tokoh nabi yang besar, yang mengarahkan 

kembali Israel kepada Tuhan. Penggambaran tokoh besar ini sepertinya ingin menyatakan 

kepada pembaca bahwa Yesus adalah sosok yang akan menjadi perantara antara umat-Nya 

dan Tuhan, serta menjadi sosok yang akan mengarahkan kembali umat-Nya kepada Tuhan.     

 

b. Markus: Tokoh Musa dan Elia yang ditampilkan dalam kisah transfigurasi mau menyatakan 

mengenai tokoh yang dikaitkan dengan hukum (Musa) dan nabi (Elia). Kedua tokoh ini 

merupakan penggambaran orang-orang yang memiliki iman kepada Tuhan. Kisah 

transfigurasi  ini mau menyatakan kepenuhan janji Allah yang telah dibuat-Nya. Dua tokoh 

ini dapat dikaitkan dengan dimensi eskatologi (Why 11: 3-13), di mana dalam Kitab 2 Raj 

2:11 dikatakan “Elia naik ke Surga dalam angin badai dibawa oleh kereta kuda berapi” dan 

menurut Mal 4:5 Elia merupakan nabi yang akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Kisah 

yang ditulis oleh Markus ini memiliki perbedaan dalam kaitannya dengan penyebutan tokoh 

Musa dan Elia. Hanya dalam Markus dituliskan “Elia bersama dengan Musa”, sedangkan 

dalam Injil Sinoptik yang lainnya dituliskan Musa dan Elia. Walaupun demikian, Markus 

memiliki anggapan yang sama dengan pengarang sinoptik lainnya, bahwa Musa dan Elia 

merupakan tokoh yang penting.  

 

c. Lukas: Penginjil Lukas memasukkan tokoh Musa dan Elia ke dalam kisah penampakan 

Yesus, karena kedua tokoh ini memang memiliki peranan yang besar dalam Perjanjian Lama. 

Kedua tokoh ini pula yang dikaitkan sebagai tokoh yang akan datang kembali pada akhir 

zaman. Musa dalam Lukas tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang membawa hukum Tuhan 

tetapi juga sebagai nabi pemimpin yang telah membebaskan umat-Nya (lytrōtēs; Kis 7:35). 

Ia juga menyatakan bahwa ‘Tuhan akan membangkitkan bagimu seorang nabi seperti aku’ 


(Ul 18:15; Kis 3:22; 7:37). Jika dikaitkan antara Yesus dan Musa, maka hubungan di antara 

dua tokoh ini adalah sebagai Penebus-Nabi yang menghadapi penolakan (Kis 7:33-41, 51-

53). Tokoh Musa yang tampil dalam kisah ini mau mengulang kembali kisah yang pernah 

terjadi juga dalam kehidupan Musa. Sedangkan Elia adalah tokoh seorang nabi-keajaiban 

yang mau menggambarkan pelayanan Yesus (Luk 4:25-26; 7:11-17). Selain itu, Elia 

merupakah tokoh yang dinyatakan sebagai nabi yang mempersiapkan kedatangan yang 

dijanjikan (Mal 4:5). Tokoh-tokoh ini tentu ingin memberikan kesan yang semakin kuat 

terhadap Yesus, bahwa Dialah Mesias yang telah dijanjikan oleh Allah. Yesus merupakan 

kepenuhan yang telah dijanjikan oleh Allah melalui para nabi. 

 

Tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem Luk 9:31 

 

Lukas: Bila dibaca dengan baik, hanya Lukas yang menceritakan mengenai tujuan kepergian 

Yesus ke Yerusalem. Kepergian-Nya (exodus) ke Yerusalem merupakan kepenuhan dari 

tugas perutusan-Nya di dunia. Penyampaian hal ‘tujuan kepergian Yesus’ inilah yang 

sebenarnya ingin lebih ditekankan oleh Lukas daripada perubahan rupa Yesus. Kisah ini mau 

menyatakan Yesus yang diberi instruksi surgawi mengenai derita yang kelak akan 

menghasilkan kemulian-Nya (24:26). Menurut teks Yunani, Musa dan Elia berbicara dengan 

Yesus mengenai exodus yang bisa berarti juga ‘keluaran’. Kata ini sendiri memiliki beberapa 

makna, seperti keluaran dari derita, dari kubur (kebangkitan), dari kehidupan keduniaan 

(kebangkitan), dari lingkungan bumi (kenaikkan). Namun para ahli sepakat bahwa kata 

exodus dikaitkan dengan proses peralihan yang akan dialami oleh Yesus dari dunia kepada 

kemulian surgawi. “Yang akan digenapi-Nya di Yerusalem”, pernyataan ini mau menyatakan 

peristiwa yang sejak dahulu sudah direncanakan oleh Allah kepada manusia demi 

keselamatan mereka. Yerusalem bukan hanya tempat kematian para nabi, namun juga tempat 

Yesus akan menggenapi rencana Allah. Bisa ditafsirkan bahwa kedatangan Musa dan Elia 

bukan untuk menghibur Yesus, melainkan untuk menjelaskan kaitan antara sabda Allah 

dalam Perjanjian Lama dan perjalanan Yesus ke Yerusalem. Kematian Yesus inilah 

“peristiwa Ilahi”. 

 

 

 

      Awan dalam pandangan Matius, Markus dan Lukas 

 

Lukas: Awan  

Penampakan Allah yang ingin 

menyampaikan suatu perkara 

kepada manusia.   

Markus  Awan: Lambang kehadiran Allah. 

Matius Awan: Tempat yang diselubungi oleh Allah 

adalah tempat yang suci dan merupakan lambang 

kehidupan dan harapan. 

 

Matius: Awan melambangkan kehadiran Allah, dalam 2 Mak 2:8 “Kelak semuanya akan 

ditunjukkan oleh Tuhan dan kemuliaan Tuhan serta awan akan tampak lagi, sebagaimana 

Salomo pun telah berdoa juga, supaya tempat itu disucikan secara istimewa”. Awan yang 

turun dari surga ini mau menyatakan bahwa Allah telah memberikan kemah surgawi yang 

lebih berharga daripada kemah buatan manusia, dan lambang perlindungan Allah atas umat-

Nya. 

 

Markus: Awan yang turun dalam Injil Markus ini mau menyatakan bahwa tempat yang 

dituruni oleh awan ini  adalah tempat yang suci dan melambangkan kehidupan dan 

harapan. Awan ini merupakan simbol dari kehadiran Allah dalam Kel 40:34-38 di mana 

‘awan’ menaungi kemah pertemuan dan meyimbolkan kemuliaan Allah.  

 

Lukas: Awan dalam konteks ayat ini mau menyatakan terjadinya teofani, yaitu penampakan 

Allah untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada manusia. Pada teks Perjanjian Lama, 

awan merupakan manifestasi atas kehadiran Allah (Kel 19:9; 33:9; 34:5). Di sana disebutkan 

bahwa awan ilahi menaungi Kemah Suci ketika kemah itu selesai didirikan. Awan ilahi inilah 

yang menjadi tanda kehadiran nyata Allah di tengah-tengah Bangsa Israel. Maka, dapat 

dikatakan bahwa awan yang menaungi Yesus, Musa dan Elia mau menyatakan bahwa Petrus 

tidak perlu bersusah-susah untuk membuatkan kemah untuk mereka bertiga, karena 

kehadiran Allah menaungi mereka secara khusus. Ketika Petrus, Yohanes dan Yakobus 

dimasukan ke dalam awan, dapat diartikan bahwa tiga murid ini  diikutsertakan dalam 

lingkup Ilahi.  

 

  Pernyataan Allah tentang Yesus dalam Matius, Markus dan Lukas 

 

Lukas: “Inilah Anak-Ku yang 

Kupilih, dengarkanlah Dia.” 

Allah ingin agar para murid yang 

mendengarkan suara ini bersedia untuk 

mendengarkan pengajaran Yesus. 

Pengajaran seorang Mesias tentang 

sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya 

yang masih belum dapat dipahami oleh 

para murid.  

Markus “Inilah Anak yang Kukasihi, 

dengarkanlah Dia.” 

Pernyataan yang berasal dari Allah ini 

ingin mengajak para murid yang 

mendengarkan suara ini untuk rela 

mendengarkan Yesus.  

Matius  “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-

Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah 

Dia.” 

Suara yang turun dari awan yang juga 

didengar oleh para murid. Suara inilah 

yang menguatkan identitas Yesus.  

 

Matius: Pernyataan Allah dalam Injil Matius ini memiliki arti yang hampir sama dengan 

kisah dalam Mat 3:17. Di mana suara dari langit ini merupakan pernyataan dari surga yang 

diberikan bukan untuk Yesus semata, melainkan untuk dunia dan para pembaca. Allah 

sendirilah yang membenarkan identitas Yesus, bukannya manusia. Inilah kisah yang mau 

menegaskan bahwa Yesus merupakan pribadi yang akan menggenapkan seluruh kebenaran 

rencana Allah. Yesus adalah Mesias; Hamba Tuhan dan Anak Terkasih Allah. Ungkapan ini 

merupakan gabungan dari Yes 42:1 dan Kej 22:2 yang menggambarkan Mesias yang juga 

adalah raja, hamba dan Tuhan. Yesuslah Allah yang beserta manusia. Di dalam diri-Nyalah 

menyatu masa lampau Israel dalam keutuhan tanpa cela. 

 

Markus:  Suara yang berasal dari Allah bila dicermati pada Mrk 1:9-11 memiliki perbedaan. 

Di sana disebutkan “Engkaulah…”, sedangkan dalam ayat ini disebutkan “Inilah….”, maka 

dimungkinkan ketiga murid Yesus mendengarkan suara yang berasal dari awan itu. Ada 

perbedaan antara pernyataan Allah pada Yesus di Mrk 1:11 dengan Mrk 9:7, pada bagian 

awal pernyataan dari Allah ini untuk mengantar pelayanan Yesus di Galilea, sedangkan pada 

bagian kedua untuk mengawali perjalanan-Nya serta menegaskan identitas-Nya yang akan 

 

wafat di salib. “Dengarkanlah Dia”, mau menyatakan bahwa para murid yang mendengar 

suara dari Tuhan ini diminta untuk mendengarkan semua perkataan-Nya. Terkhusus selama 

perjalanan-Nya ke Yerusalem bersama para murid-Nya, di mana saat itu merupakan saat 

pengajaran bagi para murid. Tema Kristologi dan kemuridan begitu terasa selama masa 

perjalanan Yesus bersama dengan para murid-Nya ini.  

  

Lukas: Ketika Yesus dibaptis, Ia disapa oleh suara dari langit, dan kini para murid yang 

disapa oleh suara ini. Allah menyatakan amanat-Nya sama dengan  amanat Yesus, karena 

Yesus adalah Anak-Nya. Jika Yesus adalah Anak Allah, maka setiap orang yang menjalin 

hubungan dengan-Nya terkhusus para murid harus ‘mendengarkan-Nya’. Yesus 

menggantikan tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama yang membuat-Nya harus ‘didengarkan’. 

Kata yang harus didengarkan dalam hal ini adalah kenyataan bahwa Ia akan menempuh jalan 

salib dan akan kembali kepada Bapa. Jalan ini pula yang akan ditempuh oleh setiap orang 

yang akan mengikuti-Nya.  

 

 

 

 Kisah transfigurasi  yang terdapat dalam ketiga Injil sinoptik memiliki makna yang 

mendalam. Bukan hanya untuk menegaskan ‘kemesiasan’ Yesus yang telah diucapkan oleh 

Petrus melainkan juga untuk menyoroti sengsara dan kematian Yesus dengan sinar kemuliaan-

Nya. Kisah ini ingin menghilangkan ‘skandal salib’ yang pada masa Gereja awal belum bisa 

diterima. Kisah ini mau menyatakan bahwa sengsara dan kematian yang akan dialami oleh Yesus 

memang sudah menjadi kehendak Allah yang akan mengantarkan-Nya menjadi Putra Allah. 

Rahasia kesengsaraan, kebangkitan serta kenaikkan yang merupakan bagian dari satu perjalanan 

(exodus) menuju kemuliaan. Kisah transfigurasi merupakan kepenuhan dari prediksi Yesus pada 

Luk 9: 26-27, bahwa anak manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya. ‘Kemuliaan’ dan 

‘Kerajaan Allah’ berkaitan dengan pribadi dan sabda dari Yesus. Lukas sendiri telah menuliskan 

bahwa Yesuslah ‘kemuliaan bagi Israel’ (Luk 2:32) dan secara ekstensif menyatakan bahwa 

Yesus sebagai raja dalam perjalanan terakhir ke Yerusalem (Luk 19:11). Identitas Yesus sebagai 

seorang nabi terlihat eksplisit, namun Lukas telah menyatakannya dalam Kisah pada Luk 7:16, 

‘seorang nabi telah dibangkitkan oleh Allah untuk mengunjungi umat-Nya’. Peran kenabian 

Yesus setidaknya dapat terlihat dalam pernyataan terakhir “dengarkanlah Dia”, yang dikaitkan 

dengan Ul 18:15 yang mau menyatakan bahwa Yesus bukan hanya sebagai Anak Allah dan 

Orang pilihan, tetapi juga sebagai Nabi sama seperti Musa. Berbeda dengan Matius yang 

menekankan kisah transfigurasi untuk mempersiapkan orang bagi pewahyuan Yesus yang lebih 

besar, yaitu tugas perutusan mengajar Gereja. Walaupun demikian, para pengarang Injil Sinoptik 

menyejajarkan kisah transfigurasi ini dengan peristiwa Getsemani yang mau menyatakan 

kemuliaan Mesias dalam kelemahan manusiawi-Nya.    

 Akhirnya, dalam tulisan terakhirnya, Lukas menyatakan bahwa para murid tidak 

menceritakan apa pun yang telah mereka saksikan ‘selama masa’ ini . Dari tulisan ini 

setidaknya dapat ditarik dua poin penting yang dapat menambah wawasan. Pertama, para murid 

menjadi diam karena teringat akan pesan yang telah diberikan dengan ‘keras’ oleh Yesus dalam 

Luk 9:21. Kedua, hanya sesudah ‘exodus’ para murid dimampukan untuk menjadi lebih berani 

mewartakan apa yang telah mereka rasakan dengan dorongan Roh Kudus yang akhirnya 

membuat mereka menjadi ‘pelayan sabda’ (Luk 1:2).