alam melaksanakan tugasnya. Feliks menunda
tugasnya yang harus dilakukannya (24:22-27) tetapi oleh sebab campur tangan Allah, Festus
mengganti Feliks. Ayat 8 Menunjukkan bahwa Paulus membantah bahwa dia telah bersalah
terhadap hukum Taurat, Bait Allah dan bahkan juga kepada Kaisar. Ayat 9 memberitahukan
bahwa Festus ingin mengambil hati orang-orang Yahudi sehingga ia meminta Paulus supaya
ia di adili di Yerusalem. Festus adalah wali negri yang baru, oleh sebab itu dia belum
berpengalaman dengan masalah yang seperti ini dan disamping itu dia juga masih ingin
mencari popularitas dan dukungan dari orang-orang Yahudi. Dengan demikian maka Festus
meminta kepada Paulus supaya perkaranya disidangkan di Yerusalem.
Kemudian pada ayat 10-12 Paulus memberikan reaksinya bahwa ia sangat tidak
setuju dengan permintaan Festus itu. Rencana persidangan di Yerusalem sangat tidak masuk
di akal bagi Paulus. Di Yerusalem Paulus harus diselamatkan dari rencana pembunuhan atas
dirinya, dan rasanya sangat bodoh untuk kembali kesana lagi. Sekalipun Paulus tidak dapat
dibuktikan bersalah. Festus nampaknya bersedia berunding dengan orang-orang Yahudi
dengan mengorbankan Paulus, dan Paulus tentu saja mengkwatirkan akibat dari sikap
semacam itu. Tinggal satu tindakan untuk mengelak bahaya ini yang masih terbuka bagi
Paulus sebagai warga negara Roma yaitu meminta pertimbangan Kaisar. Dia yakin bahwa di
Roma ia akan diadili dengan baik. Selanjutnya jika kita melihat ayat 11 maka akan jelas
bahwa ayat itu akan menunjukkan bahaya kematian di tangan orang Yahudi sesungguhnya
menantikan Paulus di Yerusalem. Rasul itu mengemukakan bahwa ia akan rela menjalani
hukuman mati apabila memang terbukti bahwa dirinya bersalah. Tetapi hukuman mati harus
dijatuhkan oleh pemerintah Roma, dan bukan oleh orang Yahudi. sebab itu Paulus naik
banding kepada Kaisar. Kemudian ayat 12 memberitahukan bahwa peserta sidang yang
dipimpin oleh Festus (bukan Sanhedrin) mengijinkan Paulus naik banding kepada Kaisar.
Ayat 13 menunjukkan bahwa ketika Paulus menunggu saat yang baik bagi Feliks
untuk memberangkatkannya kepada Kaisar, datanglah tamu Agung yang berkunjung ke kota
itu. Tamu Agung itu adalah Raja Agripa II. Dia adalah cucu dari Herodes Agung dan anak dari
Herodes Agripa I yang telah membunuh Yakobus (anak Zebedeus) dan tamu yang lain
adalah Bernike, yaitu adik dari Agripa II sendiri. Menurut Morgan (seorang penafsir Alkitab)
bahwa Agripa II pada saat itu hidup secara asusila bersama adiknya sendiri (Bernike). Pada
waktu itu Bernike hidup dengan kakaknya sendiri sebagai suami isteri dan selain itu juga ia
juga sering hidup secara asusila. Morgan juga mengatakan bahwa pada waktu Bernike masih
kecil ia pernah menikah dengan pangeran Galkis pamanya sendiri.
Selanjutnya pada ayat 15-23 Festus berkata kepada Agripa dan Bernike yang
sepertinya membela Paulus, namum sebenarnya perkataannya itu berdasarkan sistem
hukum Romawi. Dalam ayat ini kita melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Festus ini adalah
bahwa ia menunjukkan kelemahan orang-orang Yahudi yang ingin mendapatkan hadiah atau
mendapatkan Paulus dengan tanpa melalui persidangan yang benar.
Dalam gambaran yang diberikan Festus kepada Agripa dan Bernike memang ia (Festus)
tidak memutarbalikkan kebenaran. Dari segala-galanya memang jelas bahwa orang-orang
Yahudi tidak saja ingin memeriksa Paulus, tetapi mereka ingin membunuhnya. Pada zaman
itu Hukum Romawi tidak membenarkan suatu penghukuman tanpa adanya pemeriksaan
yang baik. Oleh sebab Festus juga meminta pertimbangan dari Agripa maka Agripa meminta
supaya dia sendiri (Agripa) langsung mendengar sendiri persoalannya dari Paulus.
Pada ayat 24-27 menunjukkan bahwa Festus mengucapkan kata-kata pembukaan
yang singkat untuk memperkenalkan Paulus kepada para hadirin. Bangsa Yahudi telah
menuntut hukuman bagi Paulus. Tetapi apa yang belum dikatakan dahulu oleh Festus,
dikatakannya sekarang yaitu bahwa orang ini tidak patut menerima hukuman mati. Sekarang
orang ini (Paulus) naik banding kepada Kaisar. Dalam hal ini Festus berada dalam
kesukaran, yaitu dengan cara bagaimana ia menulis surat pengantarnya kepada Kaisar.
Yang sangat menarik perhatian kita disini adalah bahwa semenjak perkara Paulus berjalan
senantiasa dikatakan bahwa tidak ditemukan kesalahan apapun padanya (21:34; 23:30;
24:22; 25:7,18,27; 26:31,32). Dengan terus terang Festus mengatakan keinginannya bahwa
pemeriksaan sekarang ini akan memberikan bahan-bahan bagi laporannya. Terlebih-lebih
sebab Agripa pasti dapat dianggap sebagai seorang ahli di bidang ini, maka Festus telah
mencurahkan segala pengharapannya kepadannya.
Selanjutnya kita masuk fasal 26, fasal ini masih dalam konteks dimana Paulus
dihadapkan kepada Agripa. Pada ayat 1 dikatakan bahwa sang Raja Agripa memberikan
kesempatan kepada Paulus untuk membela diri. Maka sang rasul memberi isyarat dengan
tangannya sebagai tanda menghormati raja itu. Lalu setelah itu dia mulai berbicara untuk
mengutarakan pembelaanya. Kemudian dalam ayat 2-5 Paulus mengungkapkan rasa terima
kasihnya sebab diberi kesempatan menyajikan pembelaanya di hadapan Raja Agripa,
sebab Raj Agripa sangat mengenal kebiasaan dan masalah orang-orang Yahudi. Memang
Agripa menerima takhtanya dari Roma tetapi ia juga memahami orang-orang Yahudi dan
tergolong sebagai Raja yang sering membantu setiap persoalan orang-orang Yahudi. Oleh
sebab itu Paulus percaya bahwa ia (Agripa) dapat memahami atau mengetahui tentang apa
yang terjadi padanya setelah ia menjelaskan hal ini kepadanya (Agripa). Selanjutnya
Paulus menyampaikan pembelaanya, dimana ia berusaha menyakinkan Agripa bahwa
pemberitaannya hanyalah merupakan penggenapan Iman Yahudi yang telah diwariskan
kepadanya. Sang Rasul mengisahkan pendidikanya, pertama-tama ditengah bangsanya, di
Tarsus Kilikia dan baru kemudian di Yerusalem. Lalu setelah itu Paulus mengatakan bahwa
semua orang Yahudi mengenal bahwa ia adalah seorang dari Mazhab Farisi yang sering
dianggap sebagai mazhab garis keras dalam agama Yahudi.
Kemudian pada ayat 6-8 Paulus menjelaskan bahwa ia menghadap pengadilan
sebab mengharapkan kegenapan janji. Dan bagi orang Farisi salah satu janji yang sangat
penting adalah terkait dalam harapan akan adanya kebangkitan. Sekarang Paulus dibawa
kepada pengadilan justru sebab mengaharapkan kegenapan janji yang sudah diyakini oleh
nenek moyang mereka secara turun temurun itu. Menurut Paulus bagi setiap orang yang
memahami janji Allah yang telah dianugerahkan kepada para nenek moyang, maka
seharusnya akan mempercayai bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati.
Selanjutnya ayat 9-11 Paulus menjelaskan bahwa dahulu ia sebagai orang Yahudi ia
termasuk golongan yang menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi ia memiliki pandangan yang
demikian bukan sebab hanya sekedar ikut-ikutan tetapi sudah dia pikirkan dengan baik.
Keputusan itu adalah keyakinannya sendiri. Untuk menjelaskan hal itu Paulus menceritakan
sikap hidupnya sebagai orang Farisi. Bersamaan dengan itu Paulus mengakui dosa-dosanya,
sebab tindakan-tindakannya itu melawan anak-anak Allah. Dalam kerja sama yang erat
dengan Sanhedrin, ia menghambat orang-orang yang menghambat nama Yesus sebagai
Mesias. Pada waktu itu rupanya Sanhedrin sangat memperhitungkan pribadi Paulus.
Kepadanya dipercayakan perintah-perintah, suaranya juga adalah suara-suara yang
menentukan. Juga dalam rumah-rumah ibadah dia sangat menyulitkan orang yang percaya
kepada Kristus Yesus. juga keluar Palestina Paulus pergi dan mengunjungi rumah-rumah
ibadah dengan maksud untuk membinasakan orang-orang ayng percaya kepada Yesus
Kristus.
Ayat 12-15 ini adalah satu-satunya dari tiga kisah pertobatan Paulus yang berisi kata-
kata sukar bagimu menendang ke galah ransang. Kata sukar disini artinya ‘menyakitkan’
sedangkan galah ransang adalah sebuah tongkat yang bias any dibuat sebagai pelecut atau
pemukul hewan-hewan penarik beban. Kalimat ini merupakan sebuah kiasan yang dijumpai
di dalam bahasa Yunani dan bahasa Latin, tetapi ketika itu tidak dikenal di dalam bahasa
Ibrani atau Aram. Mungkin ungkapan ini menunjukkan bahwa nurani Paulus tidak
sepenuhnya sejahtera ketika menganyiaya orang-orang Kristen. Kita jangan berpikir bahwa
pada saat itu Paulus sudah menyadari dosanya. Sebab di bagian yang lain dia menceritakan
bahwa dia menganyiaya gereja tanpa pengetahuan (1Timotius 1:13). Sekalipun demikian
jauh di dalam pikiranya ada semacam keyakinan bahwa mungkin saja Stefanus dan
orang Kristen lainya itulah yang benar; dan sekarang Tuhan menunjukkan kapadanya bahwa
tekanan ini mereupakan tekanan yang datang dari Tuhan.
Ayat 16-18 Paulus mengatakan kepada Agripa bahwa dirinya telah dipanggil oleh
Tuhan. Pengalaman itu menyakinkan dirinya bahwa Yesus yang di anyiayanya selama ini,
hidup, dan telah mengutus dia kepada bangsa ini yaitu bangsa Israel dan juga bangsa-
bangsa lain. Paulus membuka persoalan inti kepada Raja Agripa. Pemberitaanya bukan
hanya kepada orang Israel tetapi juga kepada orang yang bukan Israel; semuanya harus
dicerahkan, yaitu berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah.
Dengan demikian mereka akan memperoleh engampunan dosa dan mendapat bagian dalam
apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan oleh iman kepada Kristus. Ayat
yang merupakan rangkuman dari pemberitaan Paulus.
Kemudian ayat 19-21 merupakan rangkuman sederhana tentang semua pengalaman
pemberitaan Injil rasul Paulus. Paulus pertama-tama memberitakan tentang pertobatan di
Damsyik, kemudian di Yerusalem lalu diseluruh wilayah Yudea dan juga kepada bangsa-
bangsa bukan Yahudi, sebagaimana ditugaskan kepadanya. Selanjutnya Paulus mengatakan
bahwa sebab ketaatan untuk tugas itulah orang-orang Yahudi menangkapnya di Bait Allah
dan mencoba membunuhnya. Mungkin Festus tidak mengerti akan hal ini tetapi jika benar
bahwa Agripa adalah orang yang memahami Yudaisme maka dia akan mengetahui mengapa
orang-orang Yahudi itu mau membunuh Paulus, yaitu sebab mereka tidak mau orang yang
bukan Yahudi sejajar dengan mereka sebagai orang yang mendapat keselamatan (umat
pilihan). Kemudian ayat 22-23, Paulus mengakhiri pembelaannya dengan menandaskan
bahwa pemberitaan yang disampaikannya tidak lebih daripada apa yang telah dinubuatkan
oleh Musa dan para Nabi, yaitu bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia
adalah yang pertama yang bangkit dari antara orang mati dan bahwa Ia memberikan terang
kepada orang Yahudi dan non Yahudi. inilah alas an yang membuat Paulus sebelumnya
demikian menekankan kebangkitan. Harapan orang Yahudi sejak dahulu tentang kebangkitan
sekarang telah memperoleh makna yang baru sebab kebangkitan Kristus. Kebangkitan
Mesias bukanlah kebangkitan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan awal dari kebangkitan itu
sendiri. Kristus adalah “Yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Korintus
15:20). “Yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Kolose 1:18). Selanjutnya pada ayat
24 Festus berkata dengan suara keras dengan nada yang amat kesal bahwa Paulus sudah
gila sebab gagasan-gasan atau ilmunya yang sangat tidak masuk akal bagi seorang Romawi
seperti Festus. Jadi sebab gagasan-gagasan Paulus ini tidak masuk diakal Festus
maka dia menganggap bahwa Paulus bukanlah orang yang waras lagi. Tetapi selanjutnya
pada ayat 25-27, Paulus menjawab bahwa dirinya tidak gila dan dia mengatakan kebenaran
dengan pikiran yang sehat. Paulus kemudian mengajak Agripa untuk membela
kewarasannya dan kebenaran yang baru saja dikemukakan olehnya. Dia mengingatkan
Agripa bahwa kebangkitan Kristus bukan merupakan peristiwa yang belum didengarnya
sebab tidak terjadi di tempat ang terpencil dimana tidak ada orang yang dapat melihatnya.
Setiap orang membandingkan amanat ini dengan amanat para nabi, pasti
berkesimpulan bahwa pandangan Paulus ini adalah benar; sebab itu Paulus langsung
mengajukan pertayaan ini kepada raja, “Percayakah engkau …kepada para nabi?”
tetapi kemudian Paulus memberikan jawaban sendiri dengan mengatakan bahwa Paulus
tahu bahwa Agripa percaya kepada mereka. Pertanyaaan ini menempatkan Agripa pada
posisi yang sulit. Selaku wakil pemerintah Roma dan rekan sejawat Festus, ia tidak ingin
dianggap gila sebab menyetujui pendapat Paulus. Sehingga tidaklah menguntungkan bagi
dia untuk mempercayai apa yang dikatakan Paulus dan mengakui bahwa dirinya percaya
kepada para nabi. Disisi lain jika ia berkata bahwa ia tidak percaya kepada para nabi maka itu
akan merusak hubungannya dengan orang-orang Yahudi. sebab itu Agripa berusaha
mengelak dengan berkata, “hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen.” Kemudian
ayat 29 Paulus menanggapi apa yang dikatakan oleh Aripa itu dengan sangat serius dia
berkata bahwa dia berdoa supaya Agripa dan bahkan semua yang mendengarnya pada saat
itu menjadi sama seperti dirinya yang percaya kepada Kristus Yesus, kecuali hukuman yang
dia tanggung.
Ayat 30-32 memberitahukan bahwa ketika Paulus mengakhiri pembelaanya, Festus,
Agripa dan Bernike mengundurkan diri bersama dengan para penasihat mereka untuk
merundingkan masalah ini lebih lanjut. Jelas bahwa Paulus tidak melanggar peraturan sama
sekali, sehingga tidak dapat dijatuhi hukuman mati ataupun hukuman penjara baginya. Agripa
berkata bahwa seharusnya dia sudah bisa bebas tetapi sebab ia meminta naik banding
maka ia harus menuruti jalur hukum dengan baik.
b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)
Pada bagian ini Lukas menceritakan Perjalanan Paulus dari Palestina ke Italia dan
penerimaan dirinya di Roma. Lukas menceritakan kisah perjalanan itu sangat rinci
menunjukkan bahwa peristiwa ini sangat penting bagi tujuan penulisannya. Motif dari
perjalanan ini menurut susunan penulisan Lukas bukanlah untuk menceritakan tentang
permulaan dari pemberitaan Injil di Roma, tetapi lebih menunjukkan penolakan Injil oleh
orang Yahudi di Roma dan penerimaannya oleh orang non Yahudi. kenyataan ini membawa
salah satu motif pokok dari keseluruhan kitab ini kepada puncaknya – yakni penolakan atas
Israel dan munculnya gereja bukan Yahudi.
Kisah Para Rasul 27:1-5 memberithukan bahwa perjalanan Paulus ini diawali dengan
kata Kami, itu berarti bahwa Lukas dan Aristarkus mendampingi Paulus untuk menuju ke
Roma dan dalam bagian lain Alkitab seperti dalam Kolose 4:10; Filipi 1:24 mengatakan
bahwa Lukas melayani Paulus selama di penjara Roma. Pasukan Kaisar yang dimaksud
dalam ayat ini adalah perwira polisi yang ditugaskan untuk membawa tahanan-tahanan ke
Roma. ‘Adramitium’ adalah nama pelabuhan di Asia kecil yang menjadi nama kapal. Perwira
Yulius juga ramah kepada Paulus sejak permulaan perjalanan hingga sampai pada akhir
perjalananya. Pada ayat 6 dikatakan bahwa di Mira mereka berganti kapal, mereka
meninggalkan kapal yang sebelumnya mereka tumpangi dan menaiki kapal pengangkut
gandum yang berlayar dari Aleksandria menuju Italia. Pada saat itu Mesir merupakan sumber
utama persediaan gandum bagi Roma, dan pengankutan gandum di antara Aleksandria dan
Roma merupakan bisnis penting yang langsung ditangani oleh negara.
Ayat 7 mengisahkan selanjutnya perjalanan dari Mira ke wilayah yang tekanan
anginnya keras dan yang membuat perjalanan agak sulit. Dengan usaha yang keras mereka
melewati kesulitan itu hingga mereka sampai di Kinidus, yaitu sebuah tanjung yang terletak di
daerah barat daya Asia kecil. Dari sana mereka harus memilih diantara menunggu angin
yang lebih baik dan baru berlayar ke Barat atau Keselatan langsung menju Kreta. sebab
angin sepertinya tiak bersahabat maka mereka memilih alternatif yang kedua dan berlayar ke
selatan melalui Salmone yang terletak pada ujung timur Kreta dan kemudian berlayar
sepanjang pantai menuju ke Barat. Ayat 8 memberitahukan bahwa setelah mereka berlayar
sepanjang pantai dengan susah payah, maka mereka tiba di sebuah pelabuhan yang
dinamakan pelabuhan Indah ditengah-tengah pulau itu.
Ayat 9 menjelaskan bahwa tantangan untuk melanjutkan perjalanan akan lebih besar,
sebab mulai pertengahan bulan sepetember sampai November adalah masa berbahaya
untuk pelayaran di laut tengah. Waktu puasa ada dalam masa ini (Imamat 23:26-32). Maka
oleh sebab itu Paulus memperingatkan mereka seperti pada ayat 10-13, untuk tidak
berlayar, tetapi perwira itu tidak mau mendengarkannya, sehingga mereka terus melanjutkan
pelayaran.
Ternyata tidak seberapa lama lagi angin berubah menjadi angin yang sangat
kencang, seperti yang dikatakan dalam ayat 14 bahwa angin tiba-tiba berubah menjadi angin
badai yang bertiup dari Timur Laut. Ayat 15 ketika itu mereka sudah tidak jauh lagi dari
Feniks tujuan pelayaran mereka. Tetapi sebab kapal itu tidak tahan kepada angin haluan,
mereka akhirnya menyerah saja dan membiarkan kapal terobang ambing. Kemudian ayat 16,
dimana setelah mereka tiba di pulau kecil Kauda mereka merasa perlu untuk mengangkat
skoci yang terikap pada kapal itu. Ketika itu skoci ini sudah demikian penuh berisi air
sehingga hanya dapat dinaikkan ke atas kapal dengan susah payah. Selanjutnya ayat 17
mereka mengusahakan untuk meliliti kapal itu dengan tali. Mungkin supaya kapal itu tidak
pecah jika dipakai kembali. Kapal itu kini terapung-apung dibawa arus ke barat daya menuju
Kirene. Dilepas di Afrika Utara ada sebuah daerah beting berbahaya yang bernama
Sirtis, sebab takut terseret kesana maka para pelaut itu menurunkan layar. Dan sekarang
mereka berlayar dengan memkai dorongan angin. Pada keesokan harinya (ayat 18) badai
belum mereda sehingga mereka perlu membuang muatan kapal. Sampai pada keesokan
harinya juga (ayat 19) badai juga belum reda maka peralatan kapal juga sebagian harus
dibuang untuk mengurangi beban. Selanjutnya ayat 20, sebab para pelaut hanya bergantung
pada matahari dan bintang untuk navigasi, akhirnya harapan untuk tertolong sudah tidak ada
lagi. Sebab mereka tidak tahu dimana mereka berada dan sedang kemana mereka diseret
oleh badai itu.
Kemudian pada ayat 21-22 Lukas menuliskan bahwa setelah beberapa hari lamanya
mereka dalam keadaan yang sangat sulit itu maka mereka tidak dapat lagi berpikir dengan
jernih, sehingga mereka tidak mau makan. Tetapi dalam keadaan seperti itulah maka Paulus
berdiri untuk menasehati mereka, supaya mereka bertabah hati. Paulus juga menghiburkan
hati semua orang yang ada dalam kapal itu dengan berkata bahwa tak satupun diantara
mereka yang akan mati ditelan oleh ombak atau badai itu. Tetapi kalau kapal yang mereka
tumpangi Paulus berkata bahwa itu akan hancur. Ayat 23-24 adalah berisi tentang apa yang
menjadi alas an Paulus mengatakan bahwa mereka tidak akan binasa oleh badai itu. Paulus
berkata bahwa Malaikat Allah telah datang menguatkan hatinya dan mengatakan bahwa
mereka tidak akan ada yang binasa. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah berkehendak
agar Paulus menghadap Kaisar, oleh sebab itu nyawa Paulus di jamin oleh Allah ditengah-
badai apapun Tuhan akan menolongnya. Kemudian Paulus kembali menegaskan (ayat 25-
26) supaya mereka tabah sebab dia percaya pada apa yang dikatakan oleh Allah, tetapi
mereka harus mendamparkan kapal itu di suatu pulau.
Pada ayat 27-29 dijelaskan bahwa pada malam yang keempat belas mereka masih
terombang ambing di Laut Adria. tetapi anak-anak kapal merasa bahwa mereka sudah dekat
dengan daratan sehingga mereka membuang empt sauh di buritan sebab takut kapal itu aan
terkandas di salah satu batu karang. Laut Adria yang dimaksud disini adalah Laut yang
terletak antara Pulau Malta dan Italia dan diantara Yunani dan Kreta. Kemudian ayat 30-32
menjelaskan bahwa sejumlah anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri, mereka
seolah-olah hendak membuang sauh di haluan kapal itu. Pada hakekatnya mereka ingin
berkayuh terus hingga ke daratan. dengan sebuah sekoci tentulah batu karang itu tidak
seberapa membahayakan. Kemudian Paulus berbicara demikian positif tentang akibat-akibat
dari usaha menyelamatkan diri sendiri. Hal ini Paulus ketahui bukanlah sebab dia suah
menglihat suatu penglihatan dari Tuhan, tetapi murni sebab keyakinannya akan janji Tuhan
bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka dari bahaya itu dan oleh sebab itu Paulus
hendak mengingatkan orang-orang disitu supaya mereka tidak egoistis dan membuat jalan
sendiri yang tidak mengikuti kemauan Tuhan. Dan akhirnya Paulus berbicara kepada kepala
pasukan dan sehingga mereka memotong tali-tali sekoci supaya tidak ada yang dapat
melarikan diri. Ayat 33-36 menjelaskan bahwa setelah malam berlalu dan menjelang siang
Paulus kembali berbicara kepada anak-anak kapal, dimana mereka masih harus
mengorbankan banyak tenaga. Sudah berhari-hari lamanya mereka tidak makan, oleh sebab
itu Paulus menasehati mereka agar makan sebab mereka masih harus mengeluarkan
segenap kekuatan mereka. Pada saat ini Paulus sekali lagi mengingatkan mereka bahwa tak
satupun diantara mereka yang akan binasa. Kemudian tampaknya mereka mengikuti apa
yang dikatakan oleh Paulus dan Paulus memimpin doa syukur dan kemudian mereka makan.
Kemudian ayat 37 Lukas memberitahukan berapa jumlah orang yang ada di dalam
kapal itu, yaitu dua ratus tujuh puluh enam jiwa banyaknya. Ayat 38 menjelaskan bahwa
setelah mereka kenyang mereka membuang gandum ke laut untuk meringankan kepal itu.
Sebab jika kapal itu semakin ringan maka kemungkinan untuk selamat semakin besar. Pada
Ayat 39 Lukas memberitahukan bahwa ketika hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk
yang rata pantainya. Sekarang teluk itu bernama teluk St. Paulus. Namun pada waktu itu
mereka tidak tahu nama teluk itu, dan setelah mereka berunding mereka memutuskan untuk
mendamparkan kapal itu disana.
Kemudian pada ayat 40 kita melihat ada tiga tindakan yang mereka lakukan untuk
berusaha mencapai daratan itu. Yang pertama, mereka memotong tali sauh, yang kedua
mereka mengulurkan tali-tali kemudi sehingga mereka dapat mengemudikan kapal itu, dan
yang ketiga mereka menikkan layar kecil di tiang depan; dengan demikian kapal itu mendapat
angin yang cukup untu bisa memasuki teluk itu. Lalu pada ayat 41 ternyata rencana yang
bagus itu gagal sebab kapal itu melanggar busung pasir sehingga haluanya sekaligus
terpancang dan tidak dapat bergerak lagi. Dan datanglah badai yang menerpa buritan kapal
sehingga membuat buritan kapal itu menjadi hancur dan tidak tertolong lagi.
Selanjutnya pada ayat 42-44 Lukas menuliskan tentang kepanikan orang-orang yang
ada dalam kapal yang sudah hancur itu. Para Prajurit mengetahui bahwa mereka harus
menjamin para tahanan itu dengan nyawa mereka sendiri. Tetapi pada saat yang demikian ini
para tahanan itu sangat mudah untuk melarikan diri, oleh sebab itu tampa berpikir panjang
maka para prajurit itu hendak membunuh semua para tahanan itu. Tetapi kepala pasukan itu
atau Yulius menggagalkan maksud para Prajurit itu demi kepentingan Paulus. Yulius
menyuruh semua orang yang pintar berenang untuk lebih dahulu berenang menuju
kedaratan. Kemudian yang lainya menyusul dengan menggunakan pecahan-pecahan kapal
dan papan-papan sampai akhirnya semuanya mereka sampai kedaratan.
Pasal 28:1 berbicara dimana setelah rombongan Paulus tiba di darat mereka
menemukan bahwa pulau itu adalah pulau Malta yang terletak sekitar seratus mil di sebelah
selatan Sisilia. Malta adalah Istilah Kanaan yang berarti tempat perlindungan, yang ditinggali
oleh masyarakat keturunan Fenesia. Dalam ayat 2 Lukas mengatakan bahwa penduduk
pulau itu (). Kata barbaroi tidak berkonotasi bahwa Lukas merendahkan mereka,
tetapi menjelaskan bahwa bahasa mereka sulit dimengerti. Keramahan mereka membuktikan
bahwa mereka adalah suku yang tergolong baik. Selanjutnya pada ayat 3 Lukas menulis
tantang tangan Paulus yang digigit oleh ular beludak. Ada beberapa teolog yang meragukan
ayat ini sebab sekarang di pulau Malta tidak ada ular beludak; tetapi pada tahun 1835
seorang ilmuan yang bernama Lewing menyaksikan bahwa ia melihat ada ular beludak di
pulau itu. Waktu orang-orang disana melihat bahwa Paulus digigit ular beracun maka mereka
segera bereaksi, sehingga pada ayat 4-6 mereka menduga bahwa Paulus adalah seorang
pembunuh yang harus mati. Mereka berpikir bahwa karam kapal adalah hukuman baginya
dan itupun tidak cukup sehingga dewi keadilan seperti yang mereka yakini akhirnya ingin
membunuh Paulus. Akan tetapi setelah Paulus mengibaskan ular itu kedalam api dan Paulus
sama sekali tidak sakit, sementara orang-orang disitu menanti-nanti apa yang akan terjadi
kepada Paulus, dan sampai lama akhirnya mereka melihat bahwa Paulus tidak apa-apa,
sehingga mereka menyangka bahwa Paulus adalah dewa, sebab dia tidak tersentuh oleh
nasib manusia biasa. sebab jika dia adalah manusia biasa maka dia akan mati sebab ular itu
adalah ular yang sangat beracun. Kemudian ayat 7-10 Lukas menjelaskan bahwa setelah itu
Paulus menginap di rumah Gubernur Publius yang menyambutnya dengan sukarela dan ia
menyembuhkan orang-orang sakit menurut Firman Tuhan (Lukas 10:8-9). “Ketika itu ayah
Publius terbaring sebab sakit demam dan disentri. Biasanya dimanapun Paulus tinggal dia
akan selalu memberitakan Injil, maka sangat mungkin bahwa adanya jemaat Kristen di Malta
adalah hasil pelayanan Paulus sewaktu mereka singgah disana, yang dalam nats ini tidak
terlalu dijelaskan oleh Lukas, sebab Lukas sepertinya menitik beratkan penulisannya tentang
bagaimana Tuhan menolong dan mencukupkan apa yang mereka butuhkan untuk sampai ke
Roma.
Selanjutnya ayat 11-16 Lukas menuliskan bahwa setelah tiga bulan lamanya mereka
tinggal di Malta maka mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dalam penulisannya,
Lukas sangat teliti sekali, sehingga sampai lambang kapal yang mereka tumpangi juga
disebutkan disini. Lambang kapal ini adalah Dioskuri, lambang ini melukiskan Kastor
dan Poluk yaitu saudara kembar yang menurut Mythologi Yunani lahir dari Zeus dan Leda
dan sesudah keduanya mati diangkat ke langit sebagai bintang dan kemudian dipuja oleh
para pelaut sebagai dewa pelindung kapal mereka. Setelah mereka sampai di Putioli Lukas
mencatat bahwa mereka bertemu dengan orang-orang yang sudah percaya disana dan
mereka tinggal disana selama tujuh hari. Paulus mengucap syukur atas pertemuan itu dan
Lukas mengatakan bahwa hati Paulus terhibur dan hatinya semakin dikuatkan. Akhirnya
setelah tujuh hari mereka meninggalkan tempat itu dan kembali melanjutkan perjalanan
mereka menuju ke Roma dan sesampainya disana Paulus tidak ditahan seperti narapidana
lainnya. Paulus tinggal di sebuah rumah yang disewanya sendiri. Hal itu mungkin terjadi
sebab pertolongan Yulius kepala perwira yang membawanya ke situ.
Kemudian ayat 17-20 Lukas mencatat bahwa setelah tiga hari mereka sampai di
Roma, Paulus memanggil orang-orang Yahudi yang terkemuka di kota itu dan dia
menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada mereka. Dia mengatakan bahwa dia
tidak menolak satupun dari hukum Yahudi dan sebagai orang yang tidak bersalah, ia
diserahkan selaku tahanan kepada pemerintah Roma. Sekalipun sebenarnya orang-orang
Romawi ingin membebaskanya, namun orang-orang Yahudi mengajukan keberatan terhadap
keputusan itu, sehingga Paulus beranggapan bahwa satu-satunya cara untuk lolos adalah
dengan meminta naik banding kepada Kaisar. Sekalipun demikian Paulus tidak membuat
tuduhan apapun kepada orang-orang Yahudi, sehubungan perlakuan mereka terhadapnya.
Dia menjadi tahanan hanya sebab pengharapan Israel, dengan itu Paulus hendak
mengatakan bahwa iman Kristen yang dianutnya merupakan penggenapan sejati dari
pengharapan umat Allah.
Ayat 21-22 menjelaskan bahwa Pemimpin-peminpin Yahudi di Roma mengatakan
bahwa mereka tidak menerima surat atau utusan dari Yerusalem dengan tuduhan apapun
terhadap Paulus. Selanjutnya secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa mereka
tidak tahu apa-apa tentang sekte yang dianut oleh Paulus selain mendengar bahwa sekte itu
dimana-mana mendapat kecaman yang keras. Secara logis bahwa para pemimpin Yahudi
tidak mengemukakan seluruh kebenaran. Mustahil bahwa mereka tidak mendengar apa-apa
tentang gereja Kristen di Roma, padahal di surat Paulus kepada Jemaat di Roma
menunjukkan bahwa di Roma sudah ada gereja Kristen yang sangat bersemangat. Kemudian
mustahil juga jika mereka mengatakan tidak mendengar apa-apa tentang Paulus dari
Yerusalem sebab hubungan antara orang Yahudi di Yerusalem dan di Roma tetap terjalin
dan berkesinambungan. Sekalipun demikian, jelas tidak ada tuduhan sah yang dapat
diarahkan kepada Paulus, sehingga orang-orang Yahudi menganggap bahwa lebih bijaksana
untuk tidak melibatkan diri dalam kasus Paulus agar tidak menimbulkan amarah pemerintah
Roma. Ayat 23 menjelaskan bahwa pada hari yang telah ditentukan berkumpullah orang-
orang (para pemimpin Yahudi) di rumah yang ditempati Paulus. Pada kesempatan ini Paulus
memberitakan tentang kerajaan Allah dengan berusaha menyakinkan mereka tentang Yesus.
kedua hal ini jelas merupakan konsep yang sinonim. Paulus berusaha menunjukkan bahwa
hal-hal tentang Yesus dan kerajaan Allah merupakan penggenapan yang sempurna dari
hukum Musa dan nubuat para nabi dan bahwa iman nenek moyang Israel memperoleh
penggenapannya di dalam iman Kristen.
Kemudian pada ayat 24-27 Lukas menulis bagaimana tanggapan para pemimpin
Yahudi di Roma terhadap pemberitaan Paulus. Dari antara mereka ada yang menjadi
percaya, tetapi sebagian besar menolaknya. Melihat hal ini Paulus mengutip Yesaya 6:9, 10
yang melukiskan kebebalan dan kekerasan rohani dari umat Allah. Keadaan mereka tidak
tertolong lagi sebab mereka tidak mampu berbalik kepada Allah untuk disembuhkan. Ayat 28
merupakan puncak dari Kisah Para Rasul, dalam ayat ini Lukas menuliskan perkataan
Paulus, “Keselamatan yang dari pada Allah ini (sekarang: mulai sekarang) disampaikan
kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya.” Sampai disini kita melihat
pergerakan pemberitaan Injil, disamping itu kita juga melihat bahwa banyak pemimpin Yahudi
yang ada di Roma menolak Injil sama seperti pemimpin Yahudi yang ada di Yerusalem yang
menolak Yesus sebagai Mesias dan bahkan menyalibkan-Nya. Jadi sifat para pemimpin
Yahudi dan sebagian besar orang Yahudi lainya menunjukkan sifat penolakan mereka
terhadap Injil dan juga pemberitanya yang dalam waktu itu kemanapun Paulus pergi
memberitakan Injil orang-orang Yahudi banyak menolaknya dan malah orang-orang yang non
Yahudi menerima dia dan Injil yang dia beritakan. Jadi ayat 28 ini merupakan klimaksnya,
dimana oleh sebab pemberontakan Israel sudah sempurna maka sekarang Injil memperoleh
tempat di kalangan bangsa bukan Yahudi.
Selanjutnya ayat 29 kita melihat bahwa setelah selesai Paulus berbicara maka orang
yang mendengarnya bubar dengan berbagai perbedaan pendapat. Kemudian ayat 30-31
adalah merupakan ayat penutup dari Kisah Para Rasul yang bisa dikatakan sebagai akhir
yang tiba-tiba. Disini Lukas tidak menjelaskan tentang bagaimana akhir pemenjaraan Paulus.
Tetapi walaupun demikian Lukas tetap memberitahukan tentang aktifitas Paulus di Roma
selama dua tahun, dimana ia tinggal dirumah yang dia sewa sendiri dan dia menerima orang-
orang yang datang kepadanya dan bahkan ia memberitakan Injil kepada siapapun yang
datang kepadanya. Namun sampai akhir kitab ini kita tidak tahu tentang hasil dari
persidangan dimana dia telah naik banding kepada Kaisar, apakah dia dinyatakan tidak
bersalah dan dibebaskan atau sebaliknya dia dinyatakan bersalah dan dihukum mati? Atau
ada opsi yang ketiga, barangkali kasus itu diabaikan saja. Sampai pada akhir Kisah Para
Rasul ini kita tidak menemui penjelasan dari Lukas mengenai hal itu. Tetapi jika kita
memperhatikan ayat 30 ini maka kita akan lebih condong setuju dengan beberapa penafsir
Kisah Para Rasul yang mengatakan bahwa kemungkinan Paulus dibebaskan setelah dua
tahun penahananya dan sesudah itu ia melibatkan diri dalam pelayanan selanjutnya dan
akhirnya ditahan kembali di Roma. Tradisi mengatakan bahwa Paulus dihukum mati di Roma
sekitar atau sesudah tahun 64 Masehi, itu berarti ada dua atau tiga tahun antara penulisan
Kisah Para Rasul dengan kematian Rasul Paulus. Hal ini menguatkan dugaan bahwa hasil
naik bandingnya Paulus tidak membawa dia kepada hukuman mati, sebab jika itu terjadi
pastilah Lukas akan menuliskanya. Lagi pula Philo seorang sejarawan Yahudi berkata bahwa
penahanan selama dua tahun adalah penahan yang paling lama dalam hukum Roma, dan
setelah itu dia bisa dilepaskan. Pada akhirnya kita melihat bahwa Injil Kristus tidak dapat di
bendung atau ditahan, dengan penuh kuasa Injil tersebar sampai kemana-mana. Sudahkah
anda pergi memberitakan Injil? Apakah anda sendiri adalah orang yang berusaha
membendung Injil? Jika anda bukan seorang yang membendung atau menahan Injil maka
anda harus pergi memberitakannya.

