dan Akwila menyertai dia, ini di dorong oleh kasih yang dari Kristus. Mereka
bertiga sama-sama mengasihi Kristus oleh sebab itu hubungan mereka bertiga sngt akrab
secra rohani. Paulus bernazar adalah lebih mungkin sebagai penyerahan kembali kepada
pelayanan kasih karunia. Kota kengkra adalah kota pelabuhan yang terletak 9 mil jauhnya
dari kota Korintus. Pelabuhan itu ramai sebab perdagangan dengan Asia. Di Kengkrea
inilah Paulus disebut mencukur rmbutnya.
Ayat 19 menceritakan bahwa setelh sampai di Efesus Paulus meninggalkan Priskila
dn Akwila disitu. Paulus masuk kerumah ibadat dan berbicara dengan orng-orang Yahudi.
Kota Efesus adalah kota yang paling penting di Asia kecil, dimana terdpat kuil Artemis.
Setelah beberap waktu kemudian Paulus datang kembali ke kota itudn 3 thun lamanya ia
tinggal dan memberitkan Injil (20:31). Sebelum pergi ia membirkn Friskila dn Akwila tetp
tinggl di kota Efesus sebab ia akan kembali.
Ayat 20-21 memberikan gmbaran bahwa kehdiran paulus di Efesus membawa berkt
besar bagi orang-orang percaya disana, sehingga meminta Paulus untuk lebih lama lagi
tinggal disana, tetapi ia tidak menurutinya. Dia berkata kepada mereka Aku akan kembli
kepada kamu, jika Allah menghendakinya. Ia sellu ingin melakukan sesuatu hanya menurut
kehendak Allah; itulh kehidupan orang percaya yng sejati.
Ayat 22-23 ini menjelaskan perjalanan Paulus, dia sampai di Kaisarea dan setelah naik ke
darat dan memberi salam kepada jemaat artinya bahwa ia pergi ke jemaat di Yerusalem.
Menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia adalah permulaan perjalanan misi pertama
tertulis dalam fsal 13:4, dan keberangkatan yng kedua tertulis dlam fasal 15:36. dlm
perjalanan yang ketiga, ia mengajar dan memimpin agar iman orang-orng percaya lebih
teguh. Ia juga mengadakan pertemun-pertemuan untuk PI yang mendapt banyak jemaat
baru (19:23-41, 21:27-36).
d. Misi Ketiga Asia kecil dan Eropa (18:23 – 21:17)
Paulus kembali ke Asia untuk melakukan apa yang kita namakan perjalanan pemberitaan
Injil yang ketiga, dengan melewati terlebih dahulu wilayah Frigia – Galatia. Yang telah ia
kunjungi sebelumnya pada saat perjalanan pemberitaan Injil yang kedua (16:6). Ayat 24,
menceritakn bahwa seorng yang bernama Apolos dtang dari Aleksandria datang ke Efesus.
Dia adalah seorang yang berilmu tinggi dalam hl kitab syci dn juga seorang yang pintar
berkotbah. Selanjutnya ayat 25 menjelesakan lebih lnjut bahwa Apolos telah banyak belajar
dan dia mengenal Yesus tetapi pengetahuan tentang Yesus belum cukup, tetapi ia hanya
mengetahui baptisan Yohanes, yang berarti bahwa ia mengetahui pekerjaan dan kesaksian
Yohanes pembptis yang berhubungan dengan Yesus.
91
Ayat 26 memberithukn selanjutnya apa yang Apolos lakukan, dimana dia dengan
berani rumah ibadat Yahudi di Efesus. Friskila dan Akwila mendengar berita itu, sehingga
mereka membawanya kerumhnya dan keduanya mengajarnya lebih dalam tentang firman
Tuhan. Disini kita melihat bagaimana kerendahan hati Apolos, dia seorang yang sudah
mengjr rel diajar untuk mendapat kebenaran yang lebih dalam. Ayat 27 setelah Apolos
mengenal Yesus dengn baik (26) akhirnya dia dipakai Allah untuk melayani di Akhaya.
Selanjutnya di ayat 28 dikatakan bahwa dia adalah orang yang kokoh dan bersemangat
untuk membantah orang-orang yahudi dimuka umum dan membuktikan dari kitab suci
bahwa Yesus adalah Mesias.
Kemudian Pasal 19:1 ini menceritakan tentang Paulus di Efesus, disana ia
menjumpai beberapa orang murid yang memiliki sedikit pengetahuan tentang Yesus seprti
yng dimiliki Apolos. Selanjutnya di ayat 2 Paulus bertanya tentang apakah mereka sudah
menerima Roh Kudus atau belum. Pertaanyaan ini sebenarnya diajukan oleh Paulus sebab
dia ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan murid-murid atau orang percaya itu kepada
Yesus. Pertayaan Paulus itu secara lengkapnya adalah: sudahkah kamu menerima Roh
Kudus ketika (pada saat) kamu percaya ? jawabanya adalah bahwa mereka belum pernah
mendengar tentang adanya Roh Kudus, sebenarnya arti kata ini adalah bahwa mereka
belum tahu tentang karunia-karunia Roh Kudus (χαρισματα) yang diberikan secara khusus
bagi orang-orang percaya pada masa PB. Calvin berkata: mereka tidak mungkin tidak tahu
tentang Roh Kudus sebab mereka adalah orang-orang Yahudi. Di gereja sering dijumpai
orang-orang yang percaya yang belum memiliki pemahaman yang sempurna seperti mereka
ini; oleh sebab itu hamba Tuhan harus memperhatikan jemaatnya agar dapat mengajar
mereka yang masih memiliki pemahaman yang dangkal tentang kebenaran. Paulus bertanya
kepada orang-orang di Efesus ini dengan maksud hendak mengajar mereka.
Pada ayat 3-4 ini Paulus mengajar mereka yang masih memiliki pemahaman yang dangkal
tentang kebenaran dengan cara Tanya jawab. Paulus menanyakan baptisan agr dapat
memimpin mereka sampai kepada baptisan Roh Kudus. Jawaban mereka adalah bahwa
merek telah menerima baptisan Yohanes Pembaptis, sebab itu Paulus menjelaskan bahwa
Yohanes Pembaptis telah menyaksikan tentang Yesus agar mereka dipimpin kepada Yesus.
Perkataan Yohanes pembaptis yang menyaksikan tentang Yesus, yang paling penting disini
adalah “Yaitu Dia yang datang kemudian daripadaku” (Yohanes 1:27), “Anak Domba Allah
yang menghapus dosa dunia,” “Ia inilah Anak Allah,” dan “Dialah itu yang membaptis dengan
Roh Kudus” (Yohanes 1:29-34). Paulus menjelaskan ini agar mereka percaya kepada Yesus
Kristus dengan sungguh-sungguh.
Ayat 5 membuktikan bahwa murid-murid adalah orang-orang yang memiliki
kerendahan hati. Sama seperti Apolos mereka adalah murid-murid yang rendah hati dan
penurut. Pembaptisn dilakukan dalam nama Yesus, ini membedakannya dengan baptisan
Yohanes.setelah merek di baptiskan maka pada ayat 6-7 dijelaskan bahwa tatkala Paulus
menumpangkan tangannya pada mereka maka turunlah Roh Kudus keatas mereka. Tentang
penumpangn tangan jangan salah dimengerti, jangan sampai kita berpikir bahwa
penumpangan tangan akan memberi suatu karunia atau suatu kuasa dapat keluar dari
tangan yang memberi penumpangan ini . Penumpangan tangan manusia tidaklah
memberi karunia rohani, hanya Tuhanlah yang dapat memberi karunia rohani. Dalam ayat ini
juga dikatakan bahwa “Mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat,” orang-
orang percaya dapat berbahasa lidah (yang datang dari Roh Kudus) pada waktu pentakosta
di Yerusalem (2:4), kemudian di Kaisarea (10:45-46), dan sekarang di Efesus. Bernubuat
artinya memberitahu sebelumnya suatu hal yang akan terjadi, tetapi juga berarti bahwa
mengerti Firman Tuhan secara benar dan mengajar jemaat sehingga membangun gerejan-
Nya (Kisah Para Rasul 11:28; 21:9-11; 1 Korintus 14:3).
Ayat 8-9 memberitahukan bahwa selama tiga bulan Paulus di Efesus dia selalu
mengunjungi rumah ibadat dan disitu dia mengajar dengan berani. Dalam pemberitaanya ia
berusaha menyakinkan banyak orang tentang kerajaan Allah yang mengacu kepada
kedatangan Kristus yang kedua kali kelak. Injil memberitahukan bahwa berkat-berkat
kerajaan Allah telah sampai sebelumnya kepada umat manusia yaitu di dalam diri Yesus
Kristus sang Mesias. Pemberitaan tentang kerajaan Allah itu sangat penting bagi orang
Yahudi, sebab menurut mereka Mesias datang untuk memerintah sebagai Raja. Sebagian
besar orang Yahudi di Efesus menerima apa yang diberitakan oleh Paulus itu: hanya ada
beberapa orang yang tegar hatinya yang tidak mau percaya. Sekalipun demikian,
sekelompok kecil orang ini memiliki pengaruh besar terhadap orang banyak itu, sehingga
Paulus meninggalkan rumah ibadat yang membawa murid-muridnya ke sebuah ruang kuliah
92
milik seorang yang bernama Tiranus. Ada tulisan yang mengatakan bahwa Paulus mengajar
dari jam 11.00 pagi hingga jam 16.00 sore ketika arus perdagangan biasanya agak terhenti.
Paulus membuat tenda dan menjualnya pada pagi hari dan memberitakan Injil pada siang
hari. Kata jalan Tuhan adalah istilah yang umum bagi kekristenan pada waktu itu.
Ayat 10-12 memberitahukan bahwa selama dua tahun Paulus mengajar secara rutin di ruang
kuliah Tiranus sehingga membuahkan hasil, dia juga dipakai Tuhan untuk mengadakan
mukjizat. Secara lengkap di bawah ini ada dua hal yang perlu kita lihat mengenai tentang
hasil pelayanan Paulus di Efesus:
Ayat 13 Lukas penulis Kisah Para Rasul ini menuliskan suatu peristiwa yang agak
aneh tetapi kejadian itu memperlihatkan keefektifitasan pelayanan Paulus di Efesus, dimana
dikatakan sampai-sampai beberapa tukang jampi Yahudi yang berjalan keliling menyebut
nama Tuhan Yesus sebagai bagian dari mantera mereka untuk menyembuhkan penyakit
dan mengusir roh-roh jahat. Menurut sejarahnya memang pada masa itu di Efesus nama
seseorang atau dewa tertentu dianggap memiliki kuasa khusus yang dapat mengendalikan
orang yang bersangkutan jika nama itu digunakan secara benar. Jadi kemungkinan ketika
tukang-tukang jampi melihat Paulus mengadakan mukjizat dalam nama Yesus maka para
tukang jampi Yahudi itu berusaha memakai nama Yesus di dalam menjalankan profesi
mereka.
Ayat 14-16 memberitahukan tentang tujuh anak kepala rumah ibadat Yahudi di
Efesus yang bernama Skewa mempraktekkan apa yang juga telah dilakukan oleh tukang-
tukang jampi itu, dimana mereka mencoba mengusir roh jahat dengan memakai perkataan:
“Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.” Imam kepala
yang dimaksud dalam ayat ini seharusnya diterjemahkan sebagai Imam besar, ia adalah
kepala imam dari semua yang tinggal di Efesus. Apa yang dilakukan oleh tujuh anak Skewa
ini justru mempermalukan diri mereka sendiri. melalui orang yang di rasuk itu, roh jahat
berbicara: Yesus aku kenal ini tidak berarti bahwa roh jahat itu mengasihi atau percaya
kepada Yesus. Roh jahat selalu bertentangan dengan Tuhan Yesus. Roh jahat atau iblis
mengenal atau mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah (Marus 1:24), tetapi Yesus tidak
mungkin memakai roh-roh jahat ini sebagai saksi-Nya (Markus 1:25). Sekalipun mereka tahu
tentang Yesus, tetapi jikalau mereka mengatakan sesuatu tentang Dia, kita perlu
menyelidikinya sebab perkataan mereka keluar sebab mereka kadangkala lebih mengenal
keadaan rohani daripada manusia di dunia ini. Roh jahat itupun berkata Paulus ku ketahui,
tetapi kamu siapakah kamu, perkataan roh jahat ini sangat mengancam orang-orang yang
tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus. Selanjutnya dalam ayat ini juga dikatakan
bahwa anak-anak Skewa itu digagahi, akhirnya mereka lari dengan telanjang, hal ini terjadi
bagi mereka sebab mereka ingin mencoba memakai kuasa nama Yesus padahal mereka
sendiri bukan orang percaya.
Ayat 17 memberitahukan bahwa berita tentang peristiwa diatas tersebar kepada
seluruh penduduk Efesus baik orang Yahudi maupun Yunani, sehingga nama Tuhan
semakin masyur. Selanjutnya di ayat 18-19 memberitahukan bahwa nasib yang dialami tujuh
anak Skewa ini membuat banyak tukang-tukang jampi yang lain bertobat. Datang dan
mengaku di muka umum, itu berarti bahwa mereka telah meninggalkan praktek sihir mereka
sebab waktu itu orang mempercayai bahwa rahasia-rahasia sihir akan hilang ketika diakui
dihadapn umum. Para tukang-tukang jampi lainya menyerahkan kitab-kitab mereka yang
berisi mantera-mantera untuk dibakar di hadapan umum. Sejumlah naskah semacam itu
telah ditemukan. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima puluh ribu uang perak sekarang kira-kira
8500 dolar Amerika. Mereka membakar kitab-kitanya sekalipun itu sangat mahal dan
menyangkut mata pencaharian, tetapi mereka melakukan hal itu sebab mereka mengetahui
bahwa jikalau buku-buku itu tidak di bakar habis, mungkin akan mengakibatkan orang lain
akan kembali berbuat dosa.
Ayat 20 memberitahukan bahwa sebab pertobatan tukang-tukang jampi itu maka
makin tersiarlah Firman Tuhan dan kuasa Firman itupun semakin terlihat. Ayat 21
memberitahukan tentang keinginan hati Paulus untuk pergi ke Yerusalem melalui Makedonia
dan Akhaya. Paulus juga mengatakan bahwa setelah dari Yerusalem ia juga ingin
berkunjung ke Roma. Hal ini membuktikan bahwa Paulus adalah pelayan Tuhan yang
sangat gigih dalam melayani, dia tidak mengenal lelah untuk melayani Tuhan. Ayat 22
memberikan informasi, dimana sebelum Paulus memulai rencananya untuk pergi ke
Yerusalem melalui Makedonia dan Akhaya ia terlebih dahulu mengirim utusannya
(pembantunya) untuk mendahului dia. Apa yang dilakukan Paulus ini bukan hanya
mempersiapkan kedatangannya, sebab dia tidak perlu disambut dengan meriah oleh jemaat-
93
jemaat yang didirikannya di Makedonia. Tetapi tujuan Paulus mengirim Timotius dan Aratus
adalah agar mereka berdua dapat meneguhkan jemaat itu, hal ini sama seperti tujuan
Paulus mengirim Titus ke jemaat Korintus (2Kor 8:23), Efaproditus ke jemaat Filipi (Filipi
2:25), Markus ke jemaat Kolose (Kolose 4:10) dan Timotius ke Jemaat Tesalonika (1
Tesalonika 3:2) Ayat 23-41 berbicara masalah huru-hara yang dipelopori oleh Demetrius
seorang pembuat patung dewi Artemis. Dewi Artemis adalah dianggap orang-orang Efesus
sebagai anak perempuan dewa Zeus dan patungnya adalah turun dari langit, sebutan lain
baginya adalah dewi bulan yang memberi kehidupan kepada alam semesta. Patung Artemis
memiliki banyak payudara.
Setelah reda keributan yang terjadi di Efesus itu maka pada fasal 20:1-2 dijelaskan
bahwa keinginan hati Paulus untuk mengunjungi Yerusalem melalui Makedonia dan Akhya
menjadi kenyataan. Dalam ayat ini disebut bahwa Paulus minta diri (berpamitan kepada
Jemaat Efesus) hal ini memberitahukan bahwa Paulus tidak pergi begitu saja, tetapi dia juga
mengucapkan kata-kata perpisahan. Thayer mengatakan bahwa setiap perpisahan pada
waktu itu biasanya mereka saling merangkul dan saling menguatkan iman. Setelah itu
Paulus menjelajah menuju Makedonia. Dia singgah di Yunani.
Ayat 3 memberitahukan bahwa Paulus tinggal selama tiga bulan di tanah Yunani dan
ia ingin ke Siria namun akhirnya di pergi ke Makedonia, sebab di Yunani orang-orang
Yahudi bermaksud membunuh dia. Daerah Yunani yang dimaksud kemungkinan besar
adalah kota Korintus (Akhaya) dan surat Roma kemungkinan besar ditulis disini yang isinya
memberitahukan keinginannya pergi ke Roma setelah dari Yerusalem (Roma 15:22-29).
Sesudah itu ia bermksud berlayar ke Siria (Antiokia) tetapi sebab rancangan orang Yahudi
yang ingin membunuhnya, maka ia mengubah rencana perjalanannya, sehingga ia melewati
Makedonia.
Dalam ayat 4 di sebutkan ada 7 orang yang menyertai Paulus berangkat dari Korintus
(Tanah Yunani). Jika kita melihat Roma 15:25-27; 2Korintus 8; 9) maka tujuan dari ke tujuh
orang ini diatas adalah sebagai orang yang membawa persembahan dari jemaat-
jemaat non Yahudi ke Yerusalem. Dalam ayat 5 memberitahukan bahwa ketujuh orang itu
berangkat lebih dahulu ke Troas. Kita tidak tahu mengapa tujuh orang itu berangkat lebih
dahulu ke Troas. Menurut sebuah teori orang-orang Yahudi yang tersebar di manapun harus
selalu mengikuti perayaan hari-hari raya, meskipun sedang berada dalam perjalanan; sebab
itu Paulus juga bermaksud menyusul mereka ke Troas sesudah mengikuti perayaan hari
raya (roti tidak beragi).
Ayat 6 kata kami dalam ayat ini menunjukkan bahwa Lukas, penulis kitab ini
bergabung lagi dengan tim misi Paulus. Di fasal 16:11, 12 dikatakan bahwa Lukas bersama
dengan Paulus dari Troas ke Samotrake selanjutnya ke Neapolis dan kemudian ke Filipi.
Setelah itu kita melihat penjelasan selanjutnya tentang perjalanan Paulus dari Filipi pada
fasal 16:40, disana dikatakan bahwa kedua rasul itu berangkat (Paulus dan Silas). Jadi
Lukas tidak ikut bersama Paulus dalam perjalanannya keluar dari Filipi. Maka kemungkinan
besar dia tetap ada disana sebab tempat itu adalah kampung halamannya. Tetapi dalam
fasal 20:6 ini disebutkan bahwa Lukas kembali mengikuti Paulus dalam misi penginjilannya.
Ayat 7 memberitahukan tentang apa yang Paulus lakukan di Troas pada hari pertama
minggu setelah mereka tiba disana. Paulus memimpin perjamuan Tuhan, dia juga berkotbah
dengan cukup panjang sebab disebut sampai tengah malam. Berkotbah dan melakukan
perjamuan Tuhan yang ada dalam ayat ini adalah merupakan petunjuk pertama yang jelas
tentang kebiasaan orang Kristen untuk menghormati hari minggu sebagai hari ibadat. Tetapi
orang-orang Kristen pertama, sebagai orang Yahudi mungkin tetap beribadat pada hari
Sabat dan juga pada hari pertama dalam sebuah minggu.
Ayat 8-9 menjelaskan bahwa kebaktian dan perjamuan Tuhan ini dilakukan di
ruang atas atau tingkat tiga, disana Paulus berkotbah sampai tengah malam. Sebelumnya
lampu sudah disediakan cukup banyak supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diiginkan.
Tetapi Eutikhus jatuh dari lantai tiga ini , sebab dia sudah tertidur dan ketika ia
diangkat dia sudah mati.
Selanjutnya ayat 10 menceritakan bahwa Paulus turun untuk melihat Euthikus dan
dia mendekapnya. Tindakan ini dia lakukan adalah sebab kasihnya kepada anak muda itu.
kemudian ayat 11-12 menceritakan bahwa setelah itu Paulus naik kembali ke ruang atas dan
mengadakan perjamuan; habis makan masih lama lagi ia berbicara sampai fajar
menyingsing. Ketika ia berangkat mereka (jemaat itu) mengantarkan Euthikus kerumahnya
dalam keadaan hidup. Itu berarti bahwa mukjizat telah terjadi disaat Paulus mendoakan dan
mendekapnya.
94
Ayat 13-17 menjelaskan keberangkatan Paulus. Paulus memilih jalan darat sampai
ke Asos. Sementara Lukas dan teman-temanya naik kapal mengelilingi sebuah tanjung
menuju ke Asos. Di Asos Rasul Paulus naik kapal dan berlayar bersama rombongan itu ke
Metilene, kota utama dari pulau Lesbos. Dari Metilene mereka melanjutkan pelayaran
mereka diantara daratan utama dengan pulau-pulau Khios dan Samos sampai tiba di
Miletus. sebab Paulus ingin tiba di Yerusalem pada hari raya pentakosta, dia naik kapal dari
Troas yang berhenti di Miletus tetapi tidak pergi ke Efesus. Namun sebab kapal yang
dinaikinya berlabuh di Miletus untuk beberapa hari, ada waktu untuk mengirimkan utusan ke
Efesus dan meminta para pemimpin gereja di tempat itu datang ke Miletus untuk sebuah
kunjungan singkat kepadanya.
Ayat 18-35 adalah merupakan khotbah yang disampaikan Paulus kepada para
penatua jemaat dari Efesus. Kotbah ini sangat penting sebab mencerminkn kesederhanaan
gereja mula-mula. Lukas menyebut pra pemimpin dari gereja di Efesus itu penatua atau
presbyter (ay 17), sedangkan Paulus menyebut mereka penilik (ay 28). Istilah ini dalam
bahasa aslinya adalah episcopoi yang kemudian diterjemahkan dengan “penilik jemaat”
(Filipi 1:1; 1Tim3:1,2; Titus 1:7). Penatua mempunyi latar belakang Yahudi, sedangkan
penilik berlatar belakang Yunani. Jelas bahwa kedua istilah itu mengacu kepada jabatan
yang sama. Paulus merangkum pelayanan di Efesus dengan mengatakan bahwa dia telah
memberikan kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (ay. 24), memberitakan kerajaan
Allah (ay 25), yaitu dua ungkapan yang artinya sama dan dapat dipertukartempatkan. Di
dalam bagian ini kerajaan Allah mengacu pada keselamatan, yaitu tentang rangkuman dari
seluruh pemberitaan Paulus di Efesus mengenai berkat-berkat penebusan didalam Kristus
yang dapat dinikmati saat ini.
Paulus pergi ke Yerusalem sebab dorongan ilahi (sebagai tawanan Roh) dan bukan
hanya menunjuk pada dorongan hati Paulus. Roh Kudus telah menunjukkan kepada Paulus
bahwa tawanan dan penyiksaan sedang menantinya. Kemudian di ayat 28 Paulus
menegaskan suatu tugas kepada para penilik jemaat itu supaya mereka menggembalakan
jemaat Allah yang sangat berharga itu. dimana jemaat itu sangat berharga sebab jemaat itu
ditebus oleh darah Kristus Yesus. Kemudian dalam ayat 29 dan 30 Paulus menubuatkan
bahwa kesulitan akan menimpa gereja di Efesus dari dua sisi: serigala-serigala yang ganas
akan masuk ke dalam jemaat dari luar, dan guru-guru palsu akan muncul dari antara mereka
sendiri untuk membuat para murid meninggalkan kepercayaan mereka. Bertumbuhnya
ajaran sesat di Efesus digambarkan di dalam 1Timotius 1:3-7. di ayat 33-35 Paulus
mengingatkan orang-orang Efesus bahwa kebiasaanya membuat tenda bukan hanya
menyokong hidupnya sendiri tetapi juga untuk menyokong kehidupan orng-orang yang
bersama dengannya. Tujuan utama dari kebiasaan memberi di dalam gereja mula-mula
adalah untuk membantu saudara seiman yang kekurangan dan bukan untuk mendukung
pemberitaan Injil seperti sekarang ini.
Ayat 36-38 menunjukkan bahwa sebelum Paulus berpisah dari para penilik jemaat itu,
mereka berlutut dan berdoa bersama-sama. Mereka sangat berdukacita mengingat bahwa
mereka mengetahui bahwa Paulus akan mengalami kesulitan besar dan bahkan mungkin
kematian sedang menanti Paulus.
12. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)
Lukas telah mengisahkan perluasan gereja dari Yerusalem hingga Yudea dan Samaria
sampai berdirinya sebuah gereja orang bukan Yahudi yang semi mandiri di Antiokia. Dari
Antiokia Injil oleh Paulus disebarkan oleh tiga buah perjalanan pemberitaan Injil ke seluruh
Asia dan Eropa. Pemberitaan Injil di wilayah yang lain psti jug dilaksanakan oleh para rasul
yng lain. Sebagai contoh kita tidak tahu apa-apa tentang pemberitaan Injil di Mesir, dengan
pusatnya yang besar yaitu Aleksndria. Lukas hanya tertarik untuk menelusuri garis-garis
utama dari penyebaran yang ia anggap penting – yaitu ke Roma. Sekarang dia hanya tinggal
mengisahkan misi Paulus yang membawa Injil ke Roma.Jelas Lukas tidak mempunyai
maksud untuk menceritakan awal pemberitaan Injil di Roma atau awal pendirian gereja
disana, sebab dia menceritakan bagaimana saudara-saudara seiman disana menyambut
Paulus ketika sang Rasul tiba di kota itu (28:15). Kita mengetahui bahwa Paulus telah
menulis sebuah surat kepada jemaat di Roma (Rom 1:7), tetapi Lukas tidak menulis
bagaimana Injil tiba di kerajaan ini . sebab Lukas tidak bermaksud melukiskan awal
penginjilan di Roma, mungkin Lukas bermaksud untuk menunjukkan bahwa sekalipun
Paulus pertama-tama memberitakan tentang kerajaan Allah kepada orang Yahudi, dia
berbalik memberitakannya kepada orang-orang bukan Yahudi ketika orang Yahudi menolak
95
pemberitaannya (28:24-31). Perluasan gereja secara geografis bukan merupakan perhatian
utama Lukas; yang lebih diutamakannya ialah gerakan sejarah penebusan dari orang Yahudi
ke orang bukan Yahudi. Sesuai dengan maksud ini, Lukas memakai cukup banyak tempat
untuk menceritakan kisah kunjungan Paulus yang terakhir ke Yerusalem, bukan sebab
kunjungan itu penting, tetapi sebab kunjungan itu menunjukkan penolakan terakhir terhadap
Injil oleh Yerusalem.
a. Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)
Ayat 18 dan 19 menjelaskan bahwa setelah Paulus dan rombonganya disambut baik oleh
jemaat di Yerusalem, maka keesokan harinya mereka menjumpai Yakobus dan semua
penatua yang sudah berkumpul disitu. Rupanya di Yerusalem pada waktu itu tidak ada rasul.
Paulus disambut hangat oleh para pemimpin gereja di sana. Paulus menceritakan hasil
pelayanannya kepada mereka. Dimana banyak orang menjadi percaya tanpa harus mentaati
hukum Yahudi. Para pemimpin gereja di Yerusalem sangat menyetujui prosedur itu.
Ayat 20-21 memberitahukan bahwa sekalipun para pemimpin gereja di Yerusalem
senang dengan berita yang disampaikan oleh rasul Paulus, mereka juga menyampaikan
peringatan kepadannya. Mereka mengatakan bahwa ada ribuan orang percaya Yahudi yang
sebagai orang Kristen tetapi tetap rajin memelihara hukum Taurat, dan bahwa mereka itu
telah mendengar mengenai Paulus yang bukan hanya memberitakan kasih karunia kepada
orang Yahudi dengan sama sekali terlepas dari hukum Taurat, tetapi juga mengajarkan
kepada orang Yahudi di perantauan untuk melepaskan hukum Musa dan supaya mereka
jangan menyunatkan anak-anak mereka serta tidak usah menjalankan adat-istiadat
Perjanjian Lama lainya. Ini berarti bahwa Paulus mengajak orang-orang Yahudi untuk
meninggalkan Yudaisme dan tidak menjadi orang Yahudi lagi.
Ayat 22-24 memperlihatkan kepada kita bahwa Yakobus dan para penatua gereja di
Yerusalem menyadari bahwa laporan ini tidak benar dan bahwa Paulus tetap mengijinkan
orang-orang percaya Yahudi untuk tetap mentaati hukum Taurat. Namun mereka merasa
bahwa sesuatu harus dilakukan untuk memperlihatkan kepada orang-orang Kristen Yahudi
bahwa laporan ini tidak benar. Mereka mengusulkan agar Paulus menunjukkan
ketaatannya kepada Taurat untuk membuktikan bahwa dia tidak menganjurkan orang-orang
Kristen Yahudi untuk meninggalkan tradisi mereka. Ketika itu ada empat orang Yahudi
yang bernazar. Nazar itu biasanya berlaku selama tiga puluh hari, tetapi mereka telah
menajiskan diri sehingga menurut peraturan agama mereka tidak tahir selama tujuh hari
( ayat 27). Pada akhir periode ini, mereka akan mencukur rambut dan mempersembahkan
beberapa kurban pentahiran kepada Allah. Para penatua mengusulkan agar Paulus
bergabung dengan empat orang ini dan melaksanakan adat Yahudi dengan membayar biaya
untuk persembahan kurban. Tindakan ini akan membuktikan kepada jemaat Yahudi
bahwa Paulus sendiri menerima adat-istiadat Yahudi.
Selanjutnya ayat 25 berbicara, dimana Yakobus memastikan kepada Paulus bahwa
usul ini bukan merupakan perubahan dari keputusan yang telah ditetapkan dalam sidang di
Yerusalem bahwa orang-orang bukan Yahudi bebas dari hukum Taurat, tetapi hanya harus
menjauhkan diri dari hal-hal tertentu yang dapat menjadi batu sandungan bagi orang-orang
Kristen Yahudi. Ayat 26 menjelaskan bahwa Paulus menerima nasihat para penatua ini
dan selama beberapa hari (kata kerjanya dalam bentuk waktu imperfect) pergi kedalam Bait
Allah bersama dengan empat orang Yahudi itu untuk mempersembahkan kurban pentahiran.
Tidak ada perbedaan yang mendasar di dalam kesediaan Paulus selalu orang Yahudi untuk
tetap taat kepada Hukum Taurat dengan sikapnya yang tegas bahwa orang percaya yang
bukan Yahudi tidak perlu tunduk kepada hukum Taurat, sebab mereka tunduk dibawah kasih
karunia. Selaku ciptaan baru di dalam Kristus, bagi Paulus disunat atau tidak disunat bukan
sesuatu hal yang menentukan (Galatia 6:15). Bagi penginjil ini kebiasaan religius semacam
itu bukan merupakan sesuatu yang penting, sebab dunia telah disalibkan bagi dirinya dan
dirinya telah disalibkan bagi dunia (Galatia 6:14). Dia sendiri mengatakan bahwa jika
seseorang bertobat selaku orang Yahudi, hendaknya ia tetap Yahudi (1Korintus 7:18), sebab
penyunatan itu sendiri tidak mempunyai arti apa-apa. Orang Kristen Yahudi boleh saja terus
menaati hukum Taurat selaku orang Yahudi, bukan selaku orang Kristen. Akan tetapi apabila
kemudian hukum Taurat dipaksakan kepada orang Kristen bukan Yahudi sebagai dasar
keselamatan, Paulus berkeberatan dan bersikukuh dengan pendirianya tentang kebebasan
mutlak dari hukum Taurat. Tidak diragukan lagi seandainya orang percaya Yahudi ingin
menghentikan ketaatan mereka kepada Hukum Taurat, Paulus tidak akan keberatan.
Pendirian Paulus yang membiarkan kebijaksanaan menentukan prinsip pada bidang-bidang
96
tertentu merupakan masalah yang begitu sulit sehingga banyak orang yang belum
memahaminya menuduh Paulus sebagai orang yang tidak konsisten.
Ayat 27-29 memberikan gambaran bahwa tampaknya tindakan Paulus itu
memuaskan hati orang-orang Yahudi, tetapi memunculkan permusuhan dari sekelompok
orang Yahudi…dari Asia yang tidak percaya yang datang ke Yerusalem untuk ikut merayakan
hari Pentakosta. Orang-orang ini sudah mengenal Paulus di Asia, dan mereka telah melihat
Paulus di Yerusalem bersama dengan Trofimus, yaitu seorang bukan Yahudi dari Efesus
yang telah bertobat. Kini mereka melihat sang Rasul ada di pelataran untuk orang-orang
Israel dimana orang bukan Yahudi tidak boleh masuk, sehingga mereka berkesimpulan
bahwa Paulus telah membawa Trofimus ikut masuk kedalam pelataran itu. Memang di
wilayah Bait Allah ada tempat yang disediakan untuk orang bukan Yahudi. Diantara tempat
ini dengan pelataran untuk orang Israel ada sebuah pemisah yang mencantumkan
peringatan agar orang bukan Yahudi jangan melewati batas dengan ancaman hukuman mati.
Dua buah peringatan semacam ini telah ditemukan. Dengan demikian orang-orang Yahudi
dari Asia ini beranggapan bahwa Paulus telah menajiskan tempat suci ini .
Kemudian pada ayat 30 menjelaskan selanjutnya apa yang terjadi, dimana tiba-tiba
ada unjuk rasa yang secara cepat menyebar di kalangan orang banyak itu, dan Paulus di
seret keluar dari pelataran untuk orang Israel ke pelataran untuk orang bukan Yahudi.
Sesudah itu pintu gerbang yang memisahkan kedua tempat ini di tutup untuk mencegah
hal-hal yang tidak diiginkan selanjutnya. Kemudian ayat 31 memberitahukan bahwa sewaktu
orang banyak itu merencanakan untuk membunuh Paulus segera berita itu terdengar oleh
kepala pasukan yang ada di Yerusalem. Pada saat itu di sebelah barat laut wilayah bait Allah
ada menara Antonia yang merupakan Markas dari pasukan Romawi. Menara itu
berhubungan dengan pelataran Bait Allah. Disana ada sebuah pasukan yang terdiri dari
seribu orang. Pada saat Paulus hendak di bunuh secara beramai-ramai oleh orang-orang
Yahudi ditempat itu, kepala pasukan mendapat berita bahwa sebuah pemberontakan telah
terjadi. Ayat 32 membeitahukan bahwa kepala pasukan membawa sekitar 200 orang prajurit
bersama dengan perwira-perwira mereka dan tiba di tempat itu tepat pada waktunya dan
menyelematkan Paulus. Ayat 33 memberitahukan apa yang terjadi selanjutnya, dimana
kepala pasukan menangkap Paulus untuk diamankan dan memerintahkan agar dia di rantai
pada dua orang prajurit. Kemudian (34) Ketika pasukan itu berusaha untuk mengetahui
penyebab dari kerusuhan ini , teriakan jawaban masyarakat begitu simpang siur,
sehingga ia tidak dapat memperoleh jawaban yang diperlukan. sebab itu dia memerintahkan
agar Paulus di bawa ke markas. Ayat 35, tetapi ketika mereka sampai di tangga yang menuju
ke menara Antonia, orang-orang Yahudi itu semakin beringas sehingga para prajurit terpaksa
menggotong Paulus. Kemudian ayat 37 memberitahukan bahwa ketika mereka sampai
diujung tangga, Paulus mengejutkan kepala pasukan dengan menyapanya memakai bahasa
Yunani. Lalu setelah itu (38) kepala pasukan itu mengetahui bahwa Paulus bukan orang
mesir yang sudah mengacau dan mengadakan pemberotakan terhadap pemerintaham
Roma. Sejarah mencatat bahwa sekitar tiga tahun sebelum itu, seorang Yahudi dari Mesir
telah menimbulkan pemberontakan dengan memimpin empat ribu orang ke bukit zaitun,
dengan menjanjikan bahwa tembok kota akan diratakan didepan mereka dan mereka berjanji
akan mengalahkan seluruh pasuka Romawi. Para pendukung pemberontakan ini dianggap
pengacau bersenjata sebab masing-masing mereka membawa pisau yang disembunyikan di
balik jubah yang mereka pakai untuk membunuh lawan politik mereka. Pemberontakan ini
berhasil dipadamkan oleh Felix, tetapi orang Yahudi dari Mesir itu berhasil lolos. sebab
alasan tertentu kepala pasukan menyamakan tawanannya dengan orang Yahudi ini .
Ayat 39-40 menceritakan bahwa Paulus menyakinkan kepala pasukan itu bahwa dirinya
bukanlah orang Yahudi yang dari Mesir seorang pemberontak itu. Kata-kata Paulus juga
menyakinkan kepala pasukan itu bahwa dirinya selaku orang Yahudi memiliki hak memasuki
pelataran bagi orang Yahudi di Bait Allah dan bahwa dirinya adalah warga kota penting
Tarsus, kepala pasukan kemudian mengijinkan Paulus untuk berusaha menenangkan orang-
orang itu. Rasul Paulus berdiri di puncak tangga yang mengarah kepada pelataran untuk
orang bukan Yahudi, sedangkan prajurit-prajurit berdiri di bawahnya. Setelah Paulus berhasil
menarik perhatian orang-orang itu, dia mulai berbicara kepada mereka dengan memakai
dialek aram, yang merupakan bahasa umum dipakai oleh orang-orang yahudi di Palestina
dan Asia Barat.
Pasal 22. Paulus memaparkan pembelaannya kepada orang-orang Yahudi dan di
dalam pembelaan ini Paulus memaparkan juga riwayat hidupnya.
97
22:1, ayat ini adalah permulaan Paulus memberikan pembelaaannya. Dia memulai
dengan memberikan rasa hormatnya kepada orang-orang yang akan mendengar
pembelaannya itu. Sehingga dengan demikian dia berkata “ Hai Saudara-saudara dan bapa-
bapa” dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana karakter Paulus, dimana dia masih sanggup
memberikan rasa hormatnya kepada orang-orang yang mau menganyiayanya.
22:2 memebritahukan bahwa ketika orang-orang Yahudi mendengar pembelaan
Paulus dalam bahasa Ibrani membuat situasi makin tenang. Barangkali orang-orang Yahudi
menyangka bahwa Paulus akan membela diri dengan memakai bahasa Yunani, tetapi
ternyata Paulus memakai bahasa Ibrani. Jadi akhirnya nanti pembelaannya sebenarnya lebih
cocok disebut sebagai kesaksian dari seorang Yahudi yang sangat giat untuk Taurat yang
akhirnya bertobat.
22:3 ayat ini memberitahukan tentang identitasnya, bahwa dia adalah orang Yahudi
yang lahir di Tarsus suatu daerah kafir, namun demikian pada ayat ini dikatakan bahwa ia di
besarkan di Yerusalem di bawah pimpinan Rabi Gamaliel yang sangat berpengaruh dari
golongan Farisi. Paulus mengatakan bahwa oleh sebab pendidikan yang dia terima maka dia
dulunya adalah orang yang giat bekerja bagi Allah. Giat bekerja bagi Allah yang dia
maksudkan bukan hanya giat beribadah dalam hal membaca kitab suci dan menerapkan
Taurat. Tetapi juga termasuk giat dalam hal menganyiaya orang yang dianggap kafir oleh
oleh Yudaisme, termasuk apa yang dilakukan Paulus sebelum ia bertemu dengan Yesus,
yaitu dia sebagai penganyiaya orang-orang percaya dan hal yang sama seperti itulah yang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu kepadannya. Dimana mereka mau menganyiaya
Paulus sang rasul sebab dia mengajarkan ajaran yang berbeda dengan Taurat yang
dipahami oleh orang-orang Yahudi ini .
Dalam ayat 4, Paulus melanjutkan penjelasannya tentang identitas dan apa yang ia
kerjakan sebelum ia bertobat. Kalau di ayat sebelumnya dia telah berkata bahwa ia sama
seperti orang-orang Yahudi yang mau menganyiaya dia maka pada ayat ini dia semakin
memnunjukkan kesamaannya dahulu sewaktu ia belum diselamatkan dengan orang-orang
Yahudi yang mau menganyiaya dia. Kesamaan itu adalah bahwa dahulu Paulus sangat giat
untuk menangkap dan memenjarakan orang yang percaya dan hal yang sama juga seang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu.
Kemudian pada ayat 5 Paulus dengan berani mengatakan bahwa Imam besar
maupun majelis tua-tua (Imam besar, Majelis dan tua-tua adalah mengacu kepada
Sanhedrin, dewan tertinggi agama Yahudi) dapat menjadi saksi tentang apa yang dulu ia
kerjakan, sebab mereka memberikan surat resmi seperti surat tugas padanya, yang akan di
bawa ke Damsyik untuk dipakai sebagai ijin untuk menangkapi dan mengayiaya orang-orang
Yahudi yang sudah percaya yang melarikan diri ke sana.
Kemudian ayat 6-16 Rasul Paulus menceritakan kepada orang-orang Yahudi itu
tentang bagaimana ia bertobat dan yang akhirnya mengubah semangatnya yang tadinya
pengayiya orang percaya dan sekarang menjadi pemberita Injil yang dahulu sangat ia benci.
Jika kita bandingkan dengan penjelasannya yang ada dalam fasal 9, sepertinya Kisah Para
rasul 22:9 dan 9:7 sepertinya berkontradiksi. Dimana dalam Kisah Para Rasul 9:7 dikatakan
bahwa orang-orang yang bersama Paulus mendengar suara itu, tetapi pada Kisah Para
Rasul 22:9 dikatakan bahwa orang-orang yang bersama Paulus tidak mendengar suara itu.
Tetapi sebenarnya kedua ayat ini bukanlah saling berkontradiksi tetapi penerjemahan dalam
Alkitab kitalah yang kurang tepat. Di dalam Bahasa aslinya Kisah Para Rasul 22: 9 ini di
tuliskan , kata ini dapat diterjemahkan bahwa mereka tidak
mengerti suara itu. Sedangkan bahasa asli Kisah Para Rasul 9:7 , kata
ini dapat diterjemahkan bahwa mereka mendengar suara itu. Jadi kedua ayat ini bukanlah
dua ayat yang bertentangan, tetapi menjelaskan satu hal yang sama. Jadi teman
seperjalanan Paulus pada saat ini mendengar sebuah suara tetapi mereka tidak mengerti
suara itu. Selanjutnya yang perlu kita cermati dalam penjelasan Paulus yang cukup panjang
ini adalah dimana dia sangat menekankan bahwa Kristus yang telah bangkit dan naik ke
surga telah datang kepadanya melalui seorang Yahudi yang saleh menurut Hukum Taurat
dan terkenal baik diantara semua orang Yahudi di Damsyik. Ananiaslah yang mengatakan
kepada Paulus bahwa Allah nenek moyang kita, yaitu Allah Israel, telah menetapkan Paulus
untuk mengetahui kehendak-Nya dan melihat Yang Benar (yang menunjuk kepada Yesus)
dan untuk menyaksikan kepada semua orang apa yang telah dialaminya itu. Ananias
kemudian menasehati Paulus agar membiarkan dirinya dibaptis sebagai tanda pembersihan
dari dosa, sambil berseru kepada nama Tuhan. Kemudian mulai 17 hingga ayat 21 Paulus
menceritakan tentang penegasan terhadap panggilan ini yang ia terima melalui sebuah
98
penglihatan ketika kembali ke Yerusalem (9:26). sebab Paulus pada waktu itu tidak
bermaksud memberitakan cerita lengkap tentang pengalaman hidupnya, maka ia tidak
menceritakan tentang masa tiga tahun yang ia habiskan di Arab (Galatia 1:7). Dia
mengisahkan aspek lain dari pengalamannya di Yerusalem yang tidak di kisahkan oleh Lukas
sebelumnya. Kisah Para Rasul 9 mengatakan bahwa Paulus di suruh pergi dari Yerusalem
oleh saudara-saudara seiman agar dapat lolos dari suatu komplotan yang hendak
membunuhnya (9:28-30). Disini paulus menceritakan bahwa pada waktu itu, dia
meninggalkan Yerusalem sebagai jawaban terhadap sabda Allah kepadanya. Ketika ia selaku
orang Yahudi yang saleh sedang berdoa di Bait Allah, Allah telah memperingatkan dia di
dalam keadaan diliputi rasa kuasa ilahi bahwa Yerusalem tidak akan menerima kesaksiannya
sehingga ia harus segera meninggalkan Yerusalem. Paulus mengatakan bahwa pengetahuan
orang Yahudi sebelumnya tentang semangat dan kesungguhan dirinya untuk menganyiaya
orang Kristen akan mampu menyakinkan mereka tentang kesungguhan dari pertobatannya.
Tuhan menjawab bahwa dia harus meninggalkan Yerusalem sebab dia akan diutus jauh dari
Yerusalem kepada bangsa-bangsa lain.
Pada ayat 22 dan 23 memberikan gambaran bahwa sebelumnya mereka atau orang-
orang Yahudi itu mendengarkan Paulus dengan baik. Tetapi barangkali setelah mereka
mendengarkan bahwa Paulus mengatakan bahwa Tuhan menyuruhnya pergi kepada
bangsa-bangsa lain maka orang-orang Yahudi itu menjadi beringas, mereka berteriak
menuntut kematian tawanan itu (Paulus). Mereka melemparkan jubah mereka dan
menghamburkan debu ke udara sebagai tanda kemarahan. Di dalam ayat 24 di beritahukan
bahwa, oleh sebab situasi yang begitu buruk itu, maka kepala pasukan itu memberi perintah
untuk membawa Paulus ke markas untuk di periksa, dan biasanya untuk para budak akan
dilakukan penyiksaan untuk mendapatkan pengkuan dari orang-orang yang sedang diselidiki.
Tetapi untuk orang bebas hal itu tidak dapat dilakukan.
Selanjutnya ayat 25 disebut bahwa Paulus ditelentangkan untuk disesah, tetapi dia
menolak untuk di sesah dengan alasan bahwa dia adalah warga negara Roma. Seorang
warga negara Roma tidak di perbolehkan di sesah sebelum diadili secara wajar. Kemudian
ayat 26-28 memberikan penjelasan bahwa seorang perwira yang mendengar tuntutan Paulus
itu melaporkannya kepada kepala pasukan dan kemudian kepala pasukan itu datang kepada
Paulus untuk menanyakan bahwa apakah benar dia adalah warga negara Roma. Dan kepala
pasukan itu ingin membeli kewarganegaraan Paulus itu. Cara membeli yang dimaksud
adalah bahwa kepala pasukan itu dapat mengayiaya Paulus dengan sebebas-bebasnya
kemudian dia mengembalikan uang Paulus jika ia telah membeli kewarganegaraan Roma.
Jadi kepala pasukan itu mengatakan bahwa ia hendak membeli kewarganegaraan Paulus itu
dengan mahal, hal ini barangkali dia katakan sebagai suatu sindiran bagi Paulus. Tetapi
Paulus menjawab bahwa dia tidak membeli kewarga negaraan, dia memilikinya sebab dia
lahir dari orangtua yang sudah warga negara Romawi. Jadi dengan demikian kepala pasukan
itu tidak dapat menyesah Paulus sekalipun dia punya uang. Jadi di ayat 29 dijelaskan bahwa
orang-orang yang mau menyesah Paulus itu akhirnya mundur. Kepala pasukan itupun takut
sebab telah memperlakukan seorang warga negara Romawi dengan cara yang tidak sah.
Kemudian di ayat 30 diberitahukan bahwa kepala pasukan itu ingin mengetahui apa yang
menjadi tuntutan orang-orang Yahudi itu kepada Paulus, sehingga kepala pasukan itu
menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan menyerahkannya kepada Sanhedrin Yahudi
untuk disidangkan dan memberikan hukuman yang tepat kepadanya.
Pasal 23:1 Paulus mengawali pembelaanya di hadapan Sanhedrin dengan mengaku
bahwa dirinya telah bertindak dengan hati nurani yang murni dihadapan Allah, bukan hanya
di dalam melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya tetapi juga sepanjang seluruh
hidupnya. Selanjutnya ayat 2 memberitahukan bahwa Imam besar pada saat itu bernama
Ananias (sekitar tahun 47-58 M) beberapa literature mengatakan bahwa Ananias ini adalah
seorang yang serakah dan besar mulut dan suka memaksakan kehendaknya. Atas
pembelaan Paulus itu membuat Ananias menjadi marah dan memerintahkan seseorang yang
dekat dengan Paulus untuk menampar mulut Paulus. Selanjutnya ayat 3 Paulus berbicara
dengan berani dan dia juga mempersoalkan tindakan yang tidak wajar yang dilakukan oleh
anggota Sanhedrin itu, dengan menuduh mereka yang melaksanakan hukum Taurat itu
sebenarnya justru melanggar hukum Taurat. Tembok yang di kapur putih-putih adalah
tembok yang luarnya diwarnai putih tetapi dalamnya diisi dengan tanah, artinya bermuka dua.
Ananias disebut tembok yang dikapur putih-putih sebab (1).Meskipun ia adalah orang yang
tidak benar dan jahat, tetapi memakai kemuliaan kedudukan imam besar yang kudus. (2).Ia
menduduki tempat dimana seharusnya ia menyatakan keadilan menurut hukum Taurat, tetapi
99
ia memerintahkan agar menampar Paulus yang tidak bersalah itu.
Paulus menegor Ananias, Imam Besar yang berkuasa dan jahat itu untuk menyenangkan
Allah, bukan sekedar pembelaan diri. Tegoran bagi penguasa yang jahat tidak bisa lahir dari
motivasi pementingan diri sendiri. Pada umumnya pemimpin menegor orang-orang yang
lemah dan tidak berkuasa dan berkedudukan tinggi. Orang Kristen tidak boleh bersikap
demikian. Yesus sendiri menyebut Raja Herode si Serigala (Lukas 13:32) dan kepada orang-
orang Farisi yang jahat dan berkuasa ‘celakalah kamu hai ahli-ahli taurat dan ahli-ahli Farisi,
hai orang-orang munafik’ (Matius 23:13,15,16,23,25,27,29). Yohanes pembaptis berkata
kepada orang-orang Farisi dan Saduki, ‘hai kamu keturunan ular beludak’ (Matius 3:7).
Selanjutnya pada ayat 4 peserta sidang itu berkata bahwa Paulus mengejek Imam besar.
Setelah peserta sidang itu menegor Paulus dan disebut bahwa ia sudah menghina Imam
Besar, maka Paulus menjawab dalam ayat 5, dengan mengatakan bahwa dia tidak tahu
bahwa Ananias adalah Imam Besar. Dalam hal ini bisa saja Paulus menyindir kembali bahwa
Ananias tidak layak sebagai Imam Besar, sebab seorang Imam Besar seharusnya memiliki
hikmat, tidak sembarangan saja untuk memberikan perintah menampar orang lain. Tetapi
sebagian penafsir berpendapat bahwa dalam hal ini Paulus sedang minta maaf dengan
alasan bahwa dia tidak tahu bahwa Ananias adalah Imam Besar.
Kemudian di ayat 6 dikatakan bahwa sebab Paulus mengetahui bahwa diantara
yang hadir itu (anggota Sanhedrin) ada dari golongan Saduki dan Farisi, maka ia
mempergunakan pertentangan doktrin kedua golongan itu khususnya masalah kebangkitan
orang mati. Hal ini dilakukan oleh Paulus bukan semata-mata sebab ia ingin di bebaskan jadi
ia membuat alasan yang tidak benar. Sesungguhnya alasan Paulus atau pembelaan Paulus
ini adalah pembelaan yang benar, kerena memang ia mempercayai doktrin kebangkitan baik
waktu sebelum ia bertobat (waktu masih dalam golongan Farisi) lebih-lebih setelah
pertobatannya ia sangat mempercayai doktrin kebangkitan. Dia percaya bahwa Yesus telah
bangkit dari antara orang mati dan oleh sebab itulah dia melayani Tuhan dan oleh sebab
doktrin kebangkitan itu jugalah dia diadili.
Setelah Paulus menjelaskan hal itu, ayat 7-10, maka terjadilah perpecahan diantara
kedua golongan itu (Saduki dan Farisi) sebab orang Saduki tidak mempercayai adanya
kebangkitan, mereka juga tidak mempercayai adanya malaikat atau roh, sedangkan golongan
Farisi mempercayai keduanya. Kemudian golongan Farisi akhirnya membela Paulus dengan
berkata, “Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! barangkali
ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadannya.” Setelah Paulus mendapat
pembelaan dari golongan Farisi maka sidang itu semakin kacau dan sebab keributan itu
kepala pasukan Romawi takut para oposisi atau penentang Paulus akan menyerang Paulus,
sehingga kepala pasukan itu memerintahkan prajuritnya untuk mengambil Paulus dan
membawanya kembali ke menara Antonia. Selanjutnya ayat 11 memberitahukan bahwa
menghiburnya dan menguatkan hatinya dan bahkan memberitahukan kepadanya bahwa apa
yang ia inginkan, yaitu ingin pergi ke Roma untuk bersaksi tentang Kristus akan terwujud.
Kemudian ayat 12-15 memberitahukan bahwa orang-orang yang menentang Paulus yang
sangat keras itu berusaha untuk menyingkirkan Paulus dengan cara yang agak berbeda
dengan yang sebelumnya. mereka mengadakan komplotan atau gerombolan yang menyiksa
diri dalam bentuk mogok makan dan minum sampai Paulus berhasil mereka bunuh. Mereka
merencanakan mengambil Paulus dari perlindungan markas dengan memakai kuasa imam-
imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dan diperjalanan mereka akan mencegat Paulus
dan para prajurit yang membawanya, lalu setelah itu mereka akan membunuhnya sebelum
sampai kepada imam-imam dan tua-tua itu.
Ayat 16-22 memberitahukan bahwa tipu muslihat orang-orang Yahudi yang
merencanakan membunuh Paulus, di dengar oleh kepala pasukan melalui kemenakan
Paulus yang mengetahui hal itu secara natural dan sederhana. Allah tidak selalu memakai
cara yang mengherankan untuk melepaskan umat-Nya dari persoalan atau kemelut yang
besar. Sebagai orang percaya atau bukan hanya sebagai saudara kemenakan Paulus telah
melakukan tugasnya dengan baik, sebab dalam hal ini dia tidak mau melihat bahwa pelayan
Tuhan menjadi korban sebab suatu tipu muslihat dan oleh sebab kuasa Allah maka kepala
pasukan itu mempercayai kemenakan Paulus dan akhirnya dia melindungi Paulus dengan
baik.
Ayat 23-30 menjelaskan tentang usaha dari kepala pasukan (Klaudius Lisius)
menyelamatkan Paulus dari rencana pembunuhan orang-orang yang menentangnya. Allah
bekerja di dalam hati kepala pasukan itu, sehingga ia menyuruh 470 orang prajurit untuk
mengantarkan Paulus ke Kaisarea menghadap Gubernur Feliks.
100
Kemudian ayat 31-35 memberitahukan bahwa prajurit-prajurit itu membawa Paulus
ke Antipatris yaitu sebuah kota dimana ada peristirahatan yang di beri nama sesuai
dengan nama ayah Raja Herodes. Kota itu terletak di tengah perjalanan Yerusalem ke
Kaisarea. Jauhnya kota itu dari Yerusalem kira-kira 35 mil dan dari kota itu ke Kaisarea kira-
kira 27 mil. Selanjutnya setelah mereka beristirahat maka keesokan harinya Paulus dan
Pasukan berkuda itu melanjutkan perjalanan sedangkan yang lainya pulang ke Yerusalem,
sebab Paulus sudah bebas dari bahaya para pembunuh atau orang-orang yang
menginginkan nyawanya. Kemudian setelah tiba di Kaisarea, maka pasukan berkuda yang
membawa Paulus itu menyerahkan surat dari Klaudius Lisius itu kepada gubernur Feliks.
Setelah itu Feliks membaca surat itu dan bertanya kepada Paulus dari propinsi manakah
asalaya dan Paulus menjawab bahwa dia berasal dari propinsi Kilikia. Mendengar hal itu
Feliks berkata bahwa ia akan memeriksa perkara Paulus jika para pendaknya telah tiba
disana. Setelah itu Paulus di tahan di istana Herodes.
Pasal 24, ayat 1 memberitahukan bahwa lima hari setelah Paulus tiba di hadapan
Feliks maka Imam Besar Ananias bersama-sama dengan beberapa orang tua-tua dan satu
orang pengacaranya yang bernama Tertulus (sebuah nama yang umum di kerajaan Roma
pada waktu itu). Maka Tertulus sebagai kuasa hukum dari klienya (Imam Besar) langsung
menyampaikan dakwaanya terhadap Paulus untuk dipertimbangkan. Kemudian ayat 2-4 Dr.
Lukas mencatat bahwa pengacara (Tertulus) itu sebelum membacakan dakwaanya dia
memuji dan menjilat Feliks yang jahat itu sebagai negarawan yang baik. Tertulus mengatakan
bahwa bangsa Yahudi menikmati kesejahteraan dimana dalam pemerintahannya dia
menangkap banyak penjahat dan perampok dan kemudian disalibkan. Tetapi itu adalah
kebaikan yang segelintir dibandingkan dengan kejahatannya. Yosephus seorang sejarawan
Yahudi berkata bahwa selama pemerintahannya dia (Feliks) selalu berbuat jahat kepada
bangsa Yahudi, sehingga pemberontakan-pemberontakan bangsa Yahudi terus menerus
terjadi selama ia memerintah.
Selanjutnya ayat 5-6 memberitahukan bahwa Tertulus menuduh Paulus dengan
empat dakwaan, antara lain:
a. Dia di analogikan sebagai penyakit sampar () yang berarti orang yang
menyebar luaskan penyakit.
b. Dia adalah orang yang menimbulkan kekacauan. Hal ini bukan hanya terjadi bagi
Paulus. Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga sering dituntut oleh orang yang tidak mau
berbalik dari dosa-dosanya sebagai orang yang menimbulkan kekacauan. (1 Raja-Raja
18:17)
c. Seorang tokoh dari sekte nasrani. Tertulus mengatakan bahwa Paulus adalah tokoh dari
bidat atau ajaran sesat, padahal Paulus memberitakan yang benar. Justru dianggap
sebagai bidat.
d. Seorang yang mencoba melanggar kekudusan Bait Allah. Tetapi dakwaan ini juga tidak
sesuai dengan kebenarannya, sebab ia adalah seoran yang beribadah dengan segenap
hatinya.
Ayat 7-9 memberitahukan bahwa Tertulus juga mempersoalkan tindakan Klaudius Lisius
kepala pasukan Romawi di Yerusalem. Dia memutarbalikkan fakta dengan mengatakan
bahwa Paulus diambil dari mereka dengan kekerasan dan selanjutnya sepertinya mereka
menyuruh seorang saksi untuk mengatakan bahwa situasinya benar terjadi demikian. Ayat
10-21 adalah merupakan kata-kata pembelaan dari Paulus. Sebelum dia memulai
pembelaanya dia tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh Tertulus san pengacara yang
menentangnya. Paulus tidak mencoba untuk menjilat atau membujuk Feliks, tetapi dia hanya
memberitahukan tentang hal yang terjadi sebenarnya.
Paulus menjelaskan dengan tulus bahwa ia tidak bersalah dalam dakwaan yang
pertama dan yang kedua, yaitu tentang kekacauan. (1).Wali negeri Feliks mengetahui
kebudayaan Yahudi, sebab ia telah memerintah bangsa Yahudi selama 6 tahun (ay 10),
sebab itu ia tahu bahwa perbuatan Paulus tidak mengandung unsure Politik. (2).Kemudian
Paulus mengatakan bahwa dirinya baru 12 hari yang lalu datang ke Yerusalem dari daerah
jadi tidak mungkin bisa dalam waktu yang singkat itu dia menimbulkan kekacauan di
Yerusalem (ay 11-12). (3).Oleh sebab itu pendakwa-pendakwa itu tidak mempunyai bukti
yang kuat untuk mendakwanya. Paulus membela dirinya bahwa ia sama sekali tidak berbuat
apa-apa untuk didakwa sehubungan dengan undang-undang negara yang tidak terkait
dengan urusan Injil. Pembelaan ini harus disampaikan sebagai pemberita Injil. Pembelaan ini
adalah untuk memuliakan Allah.
101
Kemudian Paulus menjelaskan tentang dakwaan Tertulus yang ketiga, dimana dia
didakwa sebagai seorang tokoh sekte atau bidat. Paulus menjelaskan bahwa apa yang
dituduhkan kepadanya adalah salah, sebab sebenarnya dia memberitakan apa yang juga
diyakini oleh nenek moyang mereka. Paulus memberitakan kebangkitan orang mati yang juga
di yakini oleh nenek moyang mereka dan juga kedatangan Mesias yang akan datang. Paulus
sangat menekankan pembelaannya ini, sehingga dia mengatakannya kepada Feliks dengan
berkata, “Aku mengakui kepadamu.” Dalam ayat 14-15, Paulus menyimpulkan Iman dan
pelayananya yang isinya adalah (1) Ia bukan tokoh sekte, tetapi berbakti kepada Allah nenek
moyang mereka (Allah yang benar yang dikenal oleh janji-janji yang diberikan kepada nenk
moyang mereka), (2) Ia percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam Hukum Taurat
dan kitab Nabi-Nabi, (3) Ia percaya bahwa akan ada kebangkitan semua orang yang benar
ataupun orang-orang yang tidak benar.
Selanjutnya ayat 6 Paulus mengatakan bahwa sebab Imannya itu, dia senantisa
berusaha hidup dengan hati nurani yang murni ( ) berarti dia
selalu berubah untuk lebih baik sesuai dengan kehendak Allah dan tidak menyembunyikan
kesalahan setiap kali ia melakukannya. Hati nurani yang murni adalah kesadaran moral
manusia bukan suara Allah, naum itu adalah suatu organ yang menyampaikan suara Allah.
Biasanya saat manusia berbuat dosa, organ ini juga menjadi suram dan sulit mendengarkan
atau menyampaikan suara Allah; akan tetapi hati nurani yang percaya kepada Firman Allah
tidak memiliki keraguan, sebab taat (atau berubah) sebab Firman itu.
Kemudian ayat 17-20, Paulus membela dirinya bahwa ia tidak berbuat salah dalam
dakwaan yang keempat (Melanggar kekudusan Bait Allah, ay 6). Paulus memberi penjelasan
dengan mengatakan bahwa (1) Orang-orang Yahudi yang menggugat (21:27) tidak datang
kehadapan Feliks sebab mereka tidak mempunyai bukti bahwa Paulus bersalah. (2)
Andaikata mereka dapat menemukan kesalahan Paulus yang baru saja dihadapkan ke
Mahkamah Agama (23:11), biarlah mereka menunjukkan buktinya kepada Feliks. Ia
menantang dengan berani sebab ia yakin bahwa dirinya tidak bersalah.
Kemudian ayat 21 Paulus mengatakan bahwa ia diadili, seperti bola yang dilempar
kesana kemari hanya sebab ia bersaksi tentang kebangkitan orang-orang mati, bukan
sebab perbuatan dosa atau kesalahan. Ia mengabdikan dirinya untuk memberitakan tentang
kebangkitan orang mati dan hanya topik itu yang disampaikan dalam pengadilan.
Kebangkitan orang-orang mati yang dia maksudkan mempunyai arti bahwa setiap orang yang
sudah percaya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit, akan memperoleh kebangkitan
yang kekal. Kebangkitan yang berbahagia ini tidak tersedia bagi orang yang tidak percaya
kepada Yesus Kristus. Selanjutnya ayat 22-24 menyampaikan tentang bagaimana sifat Feliks
yang sebenarnya seperti: (1).Walaupun dia tahu bahwa Paulus seharusnya sudah dapat
dibebaskan namun ia menunda waktu sampai Lisias datang. (2).Ia atau Feliks memang agak
simpati kepada Paulus. (3).Ia mencari waktu untuk mendengarkan kebenaran Iman kepada
Yesus Kristus. (4).Ia mengharapkan uang suap dari Paulus. (5).Ia tetap menahan Paulus
untuk merebut hati orang-orang Yahudi. Sikapnya ini menunjukkan bahwa ia adalah pegawai
yang lemah yang tidak berpegang pada kebenaran yang teguh.
Lalu pada ayat 25 dikatakan bahwa Paulus memberitakan Injil kepada Feliks (ay 24)
dan berbicara tentang moralitas yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya (kebenaran
dan penguasaan diri). Kata ‘Penguasaan diri’ adalah kehidupan yang menahan nafsu.
Menurut Tacitus seorang sejarawan di Roma, Feliks adalah seorang berjiwa budak yang
melaksanakan kekuasaannya seperti raja, sesuai dengan sikapnya yang kejam dan cabul.
Jika kita melihat ayat 25 ini, dimana dia pada saat itu masih dalam status hukuman naumun
ia tetap memberitakan Injil. Itu terjadi sebab memang dia tidak tahan untuk tidak
membicarakan atau memberitan Injil. Ia juga berbicara tentang penghakiman dan Firman itu
membuat hati Feliks yang sangat jahat dan kejam itu menjadi takut. Ayat 26 memberitahukan
bahwa sebenarnya Feliks sangat mengharapkan Paulus untuk memberikan dia uang
sogokan, tetapi Paulus tidak melakukannya. Ayat 27 memberitahukan dimana sampai
akhirnya Feliks digantikan oleh Perkius Festus, namun demikian Feliks tidak juga
membebaskan Paulus yang tidak bersalah itu hanyanuntuk mengambil hati orang-orang
Yahudi.
Pasal 25. Festus datang ke Yerusalem sebagai pengganti Feliks (25:1), Rancangan
orang-orang Yahudi untuk membunuh Paulus (25:2-3), kemudian tentang bagaimana Festus
menolak permintaan orang-orang Yahudi yang meminta agar Paulus dikirim ke Yerusalem
(25:4-5), selanjutnya tentang berita pengadilan yang dipimpin oleh Festus (25:6-12), lebih
lanjut lagi Festus memaparkan perkara Paulus kepada Raja Agripa (25:13-22). Kemudian
Raja Agripa mengikuti persidangan Paulus (25:23-27). Ayat 1-3 menjelaskan tentang
kedatangan Festus ke Yerusalem sebagai pengganti Feliks dan orang-orang terkemuka
beserta para Imam-Imam kepala datang menghadap dia untuk meminta supaya Paulus di
kembalikan ke Yerusalem. Mereka meminta kepada Festus supaya Paulus di kembalikan ke
Yerusalem adalah sebab mereka ingin membunuhnya di tengah jalan. Rancangan orang
Yahudi ini kepada Paulus menunjukkan bahwa mereka telah lama meninggalkan Allah.
Mereka ingin membunuh orang yang tidak bersalah dengan cara gelap atau tanpa melalui
prosedur hokum yang jelas. Imam besar pada waktu itu adalah Ismael yang diangkat oleh
Agripa. Orang-orang yahudi yang terkemuka, adalah penatua-penatua. Anugerah yang
dimaksud dalam ayat ini adalah Kebajikan atau pemberian Festus. Orang-orang Yahudi tidak
dapat menangkap Paulus secara hukum sehingga mereka ingin menangkapnya dengan
kebajikan yang tidak adil dan jahat. ‘Orang-orang Yahudi yang terkemuka’ di mobilisasi, hal
itu menunjukkan bahwa cara mereka yang ingin membujuk Festus sungguh-sungguh
mengandalkan kekuasaan manusia daripada hukum yang adil. Kemudian ayat 4-5
memberitahukan bahwa Festus tidak memenuhi permintaan orang-orang Yahudi, tetapi ia
menganjurkan agar mereka datang ke Kaisarea dan mengajukan Dakwaanya. Meskipun
Festus tidak mengenal Allah tetapi ia melindungi Paulus, hal itu terjadi oleh sebab campur
tangan Allah yang baik. Allah mengatur semuanya ini agar Paulus pergi sampai ke Roma.
Kata tetapi () menunjukkan bahwa keputusan Festus bertentangan dengan
permintaan orang-orang Yahudi. Ia menjadi contoh seorang pegawai yang melaksanakan
segala sesuatu sesuai hukum dan keadilan dengan kokoh, seakan-akan ia mencela orang-
orang Yahudi tanpa perkataan. Jika orang-orang yang disebut percaya kepada Allah menjadi
busuk, mereka menjadi pengecut yang dipermalukan oleh orang-orang dunia.
Ayat 6-7 menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi yang mendakwa Paulus itu tidak
dapat memberikan bukti-bukti bahwa Paulus punya kesalahan yang oleh sebab itu dia layak
dihukum. Orang yang jahat selalu berusaha untuk menjatuhkan orang yang benar dengan
berbagai macam cara. Pada ayat ini juga diberitahukan bagaimana Festus mengadakan
sidang pengadilan yang membuktikan kesetiaannya kepada tugasnya. Tindakan Festus ini
berbeda dengan Feliks yang malas d

